Pintu 1: Anugerah Semua

Paling penting dari semua pikiran adalah berpikir terbuka bahwa semua adalah anugerah. Anda sedang membaca tulisan ini adalah anugerah. Anda sedang berpikir untuk memperbaiki kehidupan adalah anugerah. Bahkan, bencana dan kesulitan adalah anugerah bagi kita untuk lebih kuat berpikir terbuka. Kehidupan sehari-hari adalah anugerah. Mengejar impian adalah anugerah. Waktu senggang tanpa kegiatan adalah anugerah.

Anugerah semua dan semua memang anugerah.

Tetapi, bukankah itu cara berpikir yang terlalu optimis? Benar, berpikir optimis itu sendiri adalah anugerah. Ketika Anda berpikir pesimis, sama saja, itu juga anugerah. Memang, meski semua yang ada adalah anugerah, tidak boleh menjadikan kita bermalas-malasan. Karena kita sudah mendapat banyak anugerah, maka, kita bertanggung jawab untuk mendaya-gunakan semua yang ada. Anugerah menuntut kita untuk berpikir terbuka.

1. Hidup Adalah Anugerah
2. Anugerah Ibu
3. Anugerah Kerja
4. Anugerah Ilmu
5. Anugerah Sulit
6. Anugerah Terbesar: fqr gls
7. Anugerah Sempurna: mti

Pertama, hidup adalah anugerah. Seluruh kehidupan adalah anugerah. Begitu manusia memandang hidup sebagai anugerah, maka, hidupnya makin berlimpah anugerah. Tetapi, manusia bebas untuk meyakini hidup sebagai anugerah atau bencana. Keyakinan ini, akan menjadi masa depan orang tersebut. Akibatnya, orang yang meyakini hidup sebagai bencana, maka, hidupnya bisa benar-benar jadi bencana. Karena kita bisa memilih meyakini anugerah, maka, lebih baik kita meyakini hidup sebagai anugerah dan benar-benar menjadi anugerah.

Kedua, ibu adalah anugerah bagi setiap orang. Kita menjadi hidup karena ada ibu dan bapak. Ibu mencurahkan cinta, seluruh cinta, kepada kita. Cinta ibu adalah anugerah yang menghidupi kita – dalam makna harfiah dan simbolis. Cinta dari ibu terlalu besar bagi kita. Tidak pernah bisa, kita membalas cinta ibu. Ibu telah mengandung kita selama 9 bulan dengan susah payah. Kemudian, ibu merawat kita ketika masih kecil dan nakal itu. Ibu bukan hanya mengandung dan merawat kita saja. Tetapi, ibu melakukan itu semua dengan penuh cinta. Ibu adalah anugerah utama buat kita, buat seluruh manusia. Tiba waktunya, bagi kita, untuk membalas cinta ibu.

Ketiga, kerja adalah anugerah. Setiap orang harus kerja. Setiap orang berhak kerja. Dan, setiap orang, memang bisa bekerja. Karena, kerja adalah anugerah. Maksud kerja, di sini, adalah kerja sejati. Bukan kerja sekedar mencari uang. Kerja adalah kita menebarkan kebaikan, kita berbagi anugerah. Pada gilirannya, anugerah justru berlimpah bagi kita karena kita berbagi anugerah itu. Memang, dengan bekerja, kita bisa mendapatkan uang. Dengan berkarya, kita bisa memperoleh jabatan. Tetapi poin utamanya adalah berbagi kebaikan kepada sesama. Uang dan jabatan adalah konsekuensi. Meski demikian, kita tetap perlu memikirkan mereka, uang dan jabatan itu, agar menjadi anugerah bagi seluruh semesta. Fokus utama kita adalah bekerja untuk berbagi anugerah. Karena itu, setiap orang selalu bisa bekerja, kapan saja di mana saja.

Keempat, ilmu adalah anugerah. Mencari ilmu adalah anugerah. Berbagi ilmu adalah anugerah. Dan, tentu, ilmu itu sendiri memang anugerah. Ilmu adalah anugerah yang sangat mulia, luhur. Ilmu menjadi mulia karena memuliakan ilmu dan memuliakan semua sumber ilmu.

Kelima, anugerah kesulitan. Sekilas, kesulitan bagai bencana. Tetapi, kesulitan adalah anugerah yang menjadikan kita lebih kuat. Kesulitan memicu kita untuk berpikir menemukan solusi. Kesulitan adalah anugerah yang menunjukkan arah tepat agar kita memusatkan segala perhatian, dan sumber daya, pada situasi itu. Pada akhirnya, di setiap kesulitan sesungguhnya ada kemudahan. Dari anugerah kesulitan menuju anugerah kemudahan. Bagaimana pun, kesulitan itu sendiri tetap anugerah.

Keenam, anugerah terbesar. Semua orang berhak mendapat anugerah terbesar, anugerah paling agung ini. Tetapi, tidak semua orang berhasil meraih anugerah terbesar ini. Anugerah terbesar adalah hampa. Benar, hampa adalah anugerah terbesar. Ketika Anda merasa hidup ini hampa, tak berdaya, tak punya makna, tidak bisa berbuat apa-apa, itu adalah anugerah terbesar. Ketika kita sadar bahwa kita bukan apa-apa itu adalah anugerah terbesar. Karena itu, kita membutuhkan Dia yang Maha Segalanya.

Ketujuh, anugerah sempurna. Kabar baiknya, semua orang akan menerima anugerah paling sempurna ini: mati. Pada saatnya, kita semua akan mati. Kematian adalah anugerah paling sempurna. Apa yang Anda siapkan untuk menerima anugerah paling sempurna yaitu datangnya kematian?

Kita akan fokus membahas tujuh anugerah di atas. Meski pun, sejatinya, ada lebih banyak lagi anugerah. Karena, semua adalah anugerah. Saya berharap kita bisa mengkaji tujuh anugerah di atas sampai tataran praktis. Untuk kemudian, anugerah bisa berkembang lebih luas dan lebih mendalam.

1. Hidup Adalah Anugerah

Hidup adalah anugerah. Seluruh kehidupan adalah anugerah. Begitu manusia memandang hidup sebagai anugerah, maka, hidupnya makin berlimpah anugerah. Tetapi, manusia bebas untuk meyakini hidup sebagai anugerah atau bencana. Keyakinan ini, akan menjadi masa depan orang tersebut. Akibatnya, orang yang meyakini hidup sebagai bencana, maka, hidupnya bisa benar-benar jadi bencana. Karena kita bisa memilih meyakini anugerah, maka, lebih baik kita meyakini hidup sebagai anugerah dan benar-benar menjadi anugerah.

Hidup adalah anugerah yang bernilai sangat besar. Meski, nilai hidup sangat besar, tetapi, kita memperoleh hidup ini secara gratis. Kita tidak perlu membeli hidup. Kita tidak perlu membayar hidup. Kita perlu senantiasa bersyukur atas anugerah hidup ini.

Memang benar kita memperoleh hidup secara gratis. Tetapi, orang di sekitar kita sudah banyak berkorban demi kita hidup. Ibu mengandung kita selama 9 bulan. Bapak memenuhi seluruh kebutuhan hidup kita sejak dalam kandungan ibu. Alam raya menyediakan seluruh yang kita butuhkan untuk hidup: makanan, minuman, udara, tempat tinggal, dan kehidupan sosial. Sekarang, giliran kita untuk membalas pengorbanan mereka dengan bakti terbaik.

1.1 Terbuka Menerima Hidup

Anugerah hidup menjadikan kita bahagia. Mengapa? Mengapa hidup adalah kebahagiaan? Mengapa derita adalah hanya ilusi semata?

Hidup menjadi anugerah penuh bahagia ketika kita bersikap terbuka. Waktu masih kecil, kanak-kanak, kita sangat bahagia dengan kue buatan ibu. Kita sangat bahagia dengan gendongan ayah yang mengguncang-guncang badan. Kita bahagia dengan saudara-saudara yang mengajak main bersama. Mengapa? Karena, kita selalu berpikir terbuka kepada mereka.

Saat ini, detik ini, pun Anda menjadi bahagia dengan berpikir terbuka. Anda bahagia karena membaca tulisan ini. Anda bahagia karena muncul percik-percik semangat dalam diri. Anda bahagia karena Anda terbuka menerima anugerah hidup ini.

Sebaliknya juga bisa. Pilihan ada di tangan Anda. Mungkin, Anda bisa jengkel saat ini karena masalah tertentu. Kejengkelan bisa makin meluas ke masalah-masalah lain. Hidup, saat ini, memang menjengkelkan. Tetapi, Anda tetap punya pilihan membalik kejengkelan itu menjadi anugerah. Sebuah anugerah yang menunjukkan sedang ada masalah untuk bisa dihadapi. Kita bersyukur karena rasa jengkel itu menunjukkan masalah, yang semula, tersembunyi. Langkah berikutnya, kita mencoba beberapa solusi.

Rasa jengkel bisa saja berubah menjadi amarah atau frustasi. Penderitaan-penderitaan seperti itu hanya ilusi. Kita perlu mengubah frustasi menjadi inspirasi dengan cara berpikir terbuka menerima anugerah hidup ini.

Semua adalah anugerah. Menerima hidup adalah anugerah.

Secara profesional, posisi Anda saat ini adalah anugerah. Barangkali Anda seorang karyawan, guru, direktur, pengusaha, seniman, ustad, petani, pedagang, atau lainnya adalah anugerah. Secara personal, semua hidup Anda adalah anugerah. Anda terlahir dari ibu dan ayah Anda adalah anugerah. Pasangan Anda, istri atau suami, adalah anugerah. Anak-anak Anda adalah anugerah. Tetangga-tetangga Anda dan teman-teman Anda adalah anugerah.

1.2 Menjalani Hidup

Anugerah berikutnya adalah menjalani hidup. Setelah kita berpikir terbuka dengan menerima hidup sebagai anugerah, selanjutnya adalah, menjalani hidup sebagai anugerah. Hidup itu sendiri adalah menjalani proses. Hidup adalah masa depan yang dinamis. Masa depan, future, terus-menerus memercikkan harapan agar masa kini bergerak maju menuju masa depan cemerlang. Ketika kita sampai ke masa depan itu, di saat yang sama, masa depan sudah bergerak maju lagi. Sehingga, hidup kita, terus-menerus, bergerak maju menuju masa depan cemerlang sebagai anugerah.

Tentu saja, seseorang bisa memandang masa depan sebagai masa depan yang suram. Akibatnya, dia menjalani hidup penuh derita. Tetapi, masa depan adalah posibilitas, peluang luas, untuk meraih cita-cita. Lagi pula, kita, sebagai manusia, bebas memilih masa depan yang cemerlang. Kemudian, kita penuh komitmen untuk meraih masa depan cemerlang itu. Menjalani hidup adalah anugerah yang disinari cahaya cemerlang masa depan.

Masa depan cemerlang, dalam menjalani hidup, terbuka dalam semua bidang: personal, profesional, sosial, bahkan internasional. Jelas, Anda bisa memilih masa depan pribadi Anda yang cemerlang, kemudian, Anda menjalaninya dengan penuh komitmen. Secara profesional, masa depan Anda juga cemerlang. Apa saja masa depan karir Anda? Masa depan selalu membuka kesempatan-kesempatan baru bagi Anda untuk lebih maju secara profesional. Tentu saja, ada rintangan di sana-sini sebagai bumbu agar perjuangan Anda meraih masa depan menjadi lebih bermakna.

Secara internasional, kita bisa memikirkan tatanan masa depan dunia yang lebih adil makmur. Misal, saya pikir, kita perlu menggulirkan ide bahwa hak veto yang dimiliki 5 negara di PBB perlu direvisi. Dalam beberapa kasus, veto digunakan untuk menghentikan suatu usulan bagus karena diduga bertentangan dengan kepentingan pemilik veto. PBB mengusulkan beberapa solusi untuk Palestina, misalnya. Tetapi, solusi ini berulang kali kena veto. Usulan revisi adalah hak veto yang aktif dibatasi hanya 3 negara secara bergilir. Tahun ini, yang aktif negara A, B, dan C. Sementara, negara D dan E tidak aktif. Tahun berikutnya, yang aktif misal B, C, dan D, dan seterusnya. Bagaimana pun, usulan revisi hak veto ini sendiri bisa kena veto. Memang begitulah anugerah kehidupan. Selalu ada dinamika di mana-mana.

Secara singkat, kita selalu bisa menjalani hidup sebagai anugerah. Apalagi, proses menjalani hidup selalu berada dalam sinaran cemerlang masa depan, maka, kita bisa benar-benar bahagia menjalani anugerah hidup. Bagaimana pun, semua itu bergantung kepada komitmen kita. Di mana, komitmen itu sendiri juga anugerah.

Hidup mengalir bagai air adalah cara hidup paling membahagiakan. Benarkah demikian? Benar bahwa air selalu mengalir menuju tempat yang rendah. Bila ada halangan, air bisa berhenti sejenak. Kemudian, mengalir melalui lubang-lubang kecil yang ada. Atau, air cukup diam, menunggu teman-temannya datang, agar tinggi air cukup untuk melewati penghalang itu. Akhirnya, air tiba sampai tujuan dengan selamat dengan cara mengalir.

Mengapa mengalir bagai air bisa berhasil? Karena, air selalu komitmen untuk meraih masa depan, yaitu, mencapai tujuan akhir. Anda juga bisa mengalir untuk meraih tujuan akhir. Memang, pada akhirnya, kita sampai ke hari akhir. “Sungguh, akhir itu lebih baik bagimu dari pada awal.”

1.3 Memberi Hidup ke Semua

Tiba waktunya, bagi kita, untuk memberi kehidupan. Kita berbagi makanan kepada fakir miskin. Kita berbagi ilmu kepada yang memerlukan. Kita berbagi obat kepada yang sakit. Berbagi kehidupan kepada sesama adalah anugerah. Anugerah bagi yang menerima dan anugerah bagi yang memberi. Orang bijak mengatakan, “Tangan di atas lebih baik dari tangan di bawah.”

Tangan di atas atau dermawan adalah dasar dari semua anugerah. Kita menerima kedermawanan alam raya, orang tua, dan tentu kedermawanan Tuhan yang Maha Dermawan. Kita sendiri perlu bersikap dermawan. Meski, memberi uang kepada orang lain seperti mengurangi saldo uang kita, sejatinya, justru, hal itu membuka ruang bebas untuk datangnya uang lebih banyak lagi kepada kita. Jadi, sikap dermawan bukan berpotensi mengurangi uang milik kita, tetapi, justru membuka potensi penambahan uang itu sendiri. Apalagi, uang tersebut dipakai dengan baik, maka, uang adalah anugerah bagi kita.

Tangan di atas lebih baik, tetapi, sebaliknya tidak boleh terjadi. Tidak benar bahwa tangan di bawah lebih buruk. Tidak benar bahwa penerima sumbangan adalah lebih buruk. Mereka bisa saja sama baik. Tidak ada hak bagi kita menilai siapa pun sebagai lebih buruk. Justru, kita perlu berterima kasih kepada mereka yang bersedia merima bantuan kita. Mereka memberi kesempatan kepada kita untuk menjadi tangan di atas. Sehingga, sesekali, kita perlu bersedia menjadi tangan di bawah. Agar saudara-saudara kita bisa berperan sebagai tangan di atas dengan satu dan lain cara.

Bagaimana saya bisa memberi uang karena saya tidak punya uang sama sekali? Tangan di atas tidak hanya terbatas dalam bentuk uang. Anda bisa dermawan melalui tenaga Anda, melalui doa Anda, atau melalui senyum Anda. Siapa pun Anda, selalu bisa memberi, memberi yang terbaik dari diri Anda untuk semua. Anda bisa memberi kehidupan kepada semua.

Kita menerima anugerah kehidupan, lalu, menjalani hidup, pada gilirannya, kita perlu memberi kehidupan.

Menolong anak yatim adalah memberi kehidupan kepadanya. Menolong anak yatim peradaban, yang terpojok dalam sejarah, adalah memberi kehidupan kepada kemanusiaan. Kita adalah anak yatim peradaban yang bertanggung jawab untuk menolong anak yatim lainnya. Kita adalah anak yatim yang perlu saling tolong-menolong. Anak yatim menolong anak yatim.

Bagaimana dengan kehidupan tumbuhan dan hewan? Atau, bagaimana dengan nasib alam raya di masa depan?

Kita perlu makan untuk hidup. Yang kita makan adalah tumbuhan dan hewan – ayam, sapi, ikan, telor, dan lain-lain. Bukannya kita memberi kehidupan, tetapi, kita merenggut kehidupan pihak lain demi hidup diri kita.


2. Anugerah Ibu
3. Anugerah Kerja
4. Anugerah Ilmu
5. Anugerah Sulit
6. Anugerah Terbesar: fqr gls
7. Anugerah Sempurna: mti

Mengapa Semua Bisa Jadi Anugerah?

Memang benar, ketika kita memandang semua yang ada adalah anugerah, maka, hidup kita makin bahagia dengan limpahan anugerah. Barangkali, Anda bertanya, “Bukankah itu sekedar cara pandang saja yang bersifat subyektif?” Realitas, dalam hidup ini, ada bencana yang pasti bukan anugerah. Hanya saja, secara subyektif, kita bisa memandang bencana dari perspektif positif sebagai anugerah. Dengan demikian, anugerah hanya bersifat subyektif dan tidak obyektif? Bukan, anugerah bukan sekedar subyektif. Semua yang ada adalah anugerah secara obyektif dan subyektif. Anugerah itu lebih tinggi dari kategori obyektif dan subyektif. Mari kita kaji lebih mendalam.

Semua realitas yang ada kita sebut sebagai eksistensi. Ada meja maksudnya meja adalah eksistensi. Ada pohon, ada bumi, ada manusia, dan lain-lain mereka adalah eksistensi. Agar eksistensi ini benar-benar ada maka mereka perlu anugerah waktu. Tanpa waktu, eksistensi tidak akan punya waktu untuk eksis. Karena waktu menganugerahkan waktu kepada eksistensi, maka, eksistensi punya waktu untuk eksis.

Pada gilirannya, eksistensi menerima anugerah waktu sehingga eksis. Penerimaan anugerah itu sendiri merupakan anugerah. Jika eksistensi tidak mau menerima anugerah waktu, maka, waktu menjadi tidak eksis. Waktu menjadi tidak ada. Karena eksistensi menerima anugerah waktu sebagai anugerah, maka mereka, eksistensi dan waktu, saling memberi dan menerima anugerah. Mereka menjadi eksis secara nyata. Kesimpulannya, seluruh realitas adalah anugerah itu sendiri.

Ketika seseorang menilai suatu bencana sebagai bukan anugerah, maka, orang tersebut menilai secara subyektif belaka. Secara obyektif, bencana itu sendiri tetap anugerah. Secara subyektif, memang, masing-masing orang perlu berlatih bagaimana agar bisa melihat anugerah sebagai anugerah yang nyata. Semua adalah anugerah.

Anugerah makin terbuka luas karena anugerah waktu sejati, paling utama, adalah anugerah masa depan. Setiap orang punya masa depan yang cemerlang. Masa depan adalah anugerah yang besar. Mari kita rajut masa depan cemerlang dengan mensyukuri anugerah masa kini dan berbekal masa lalu.

Pembahasan lebih lanjut tentang anugerah waktu sejati, kita bahas di bagian tersendiri.

Diterbitkan oleh Paman APiQ

Lahir di Tulungagung. Hobi: baca filsafat, berlatih silat, nonton srimulat. Karena Srimulat jarang pentas, diganti dengan baca. Karena berlatih silat berbahaya, diganti badminton. Karena baca filsafat tidak ada masalah, ya lanjut saja. Menyelesaikan pendidikan tinggi di ITB (Institut Teknologi Bandung). Kini bersama keluarga tinggal di Bandung.

Ikuti Percakapan

2 Komentar

Tinggalkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: