Pintu 2: Peka Menjadi Fakta

Rasa peduli kita menentukan mana fakta obyektif dan mana fakta subyektif. Ketika kita peka terhadap semua anugerah yang ada, maka, semua anugerah itu menjadi fakta bagi kita.

Anda membaca tulisan ini, barangkali, melalui internet. Atau, Anda sering akses internet untuk membaca atau menonton video melalui handphone atau laptop. Ketika Anda mematikan handphone, apakah, saat itu, tetap ada sinyal internet? Sinyal internet tetap ada karena ada wifi atau ada paket data. Tetapi apakah Anda bisa membaca atau menonton video jika handphone dimatikan?

Anda peka terhadap gambar dan tulisan di handphone. Sehingga, Anda bisa membaca tulisan di handphone. Tulisan di handphone itu nyata, benar-benar, ada. Tetapi, tulisan yang sama, sebenarnya ada juga di sinyal wifi Anda. Ketika handphone dimatikan, Anda tidak bisa membaca tulisan dari sinyal wifi. Anda tidak peka terhadap sinyal wifi. Sinyal wifi menjadi “tidak ada” karena kita tidak peka.

Peka menentukan sesuatu menjadi nyata atau sirna. Manusia perlu mengembangkan pendidikan setinggi-tingginya agar makin peka. Dengan peka yang tinggi, kita lebih mampu memahami lebih banyak realita dan kita bisa menciptakan realita baru melalui sains dan teknologi, misalnya.

1. Mata Semut Quantum
2. Mata Elang Gravitasi
3. Mata Manusia Dewasa
4. Anugerah di Dunia
5. Mengembangkan Makna dan Masa

Apakah Anda pernah main olah raga yang seru? Misal sepak bola atau badminton? Kadang, ketika asyik main badminton, kaki lecet hanya terasa sedikit panas. Selesai main badminton, lecet itu terasa panas sekali. Ketika asyik badminton, perhatian kita sepenuhnya dalam permainan itu. Hanya badminton yang nyata. Kaki lecet tidak nyata. Tetapi, selesai badminton, kita menjadi peka terhadap lecet di kaki. Lecet itu menjadi nyata. Bukankah itu karena perasaan subyektif? Atau, bisakah kita menunjukkan sesuatu yang benar-benar obyektif? Kita perlu mengkajinya.

1. Mata Semut Quantum

Sains fisika mengaku sebagai kajian obyektif. Sebagian besar orang, barangkali termasuk diri kita, juga berharap sains bisa benar-benar obyektif. Sains mengkaji obyek-obyek di alam semisal batu, kayu, gerak benda jatuh, benda-benda langit, molekul, atom, dan lain-lain. Termasuk mengkaji asal mula alam semesta, big bang, pergerakan alam semesta, sampai prediksi alam semesta akan hancur pada waktunya.


2. Mata Elang Gravitasi
3. Mata Manusia Dewasa
4. Anugerah di Dunia
5. Mengembangkan Makna dan Masa

Iklan

Diterbitkan oleh Paman APiQ

Lahir di Tulungagung. Hobi: baca filsafat, berlatih silat, nonton srimulat. Karena Srimulat jarang pentas, diganti dengan baca. Karena berlatih silat berbahaya, diganti badminton. Karena baca filsafat tidak ada masalah, ya lanjut saja. Menyelesaikan pendidikan tinggi di ITB (Institut Teknologi Bandung). Kini bersama keluarga tinggal di Bandung.

Ikuti Percakapan

1 Komentar

Tinggalkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: