Segera terbit oleh ITB Press buku kami berjudul Way of Science.

Kata Pengantar
Buku Way of Science ini hadir sebagai upaya untuk berbagi pencerahan mengenai filsafat sains kontemporer kepada para pecinta ilmu, sains, dan teknologi yang menjadikan pengetahuan sebagai bagian utama dari jalan hidup. Secara umum, buku ini diharapkan dapat menjadi pemantik bagi semua kalangan pembaca untuk melakukan kajian yang lebih mendalam. Selain itu, para dosen, guru, dan mahasiswa dapat memanfaatkannya sebagai bahan pendukung perkuliahan, baik pada jenjang sarjana (S1 atau diploma), magister (S2), maupun doktoral (S3).
Di tengah perkembangan teknologi yang semakin pesat, misalnya kemunculan AI (artificial intelligence atau akal imitasi), kita merasakan bahwa informasi kini tersedia dalam jumlah yang melimpah dan dapat diakses dengan sangat mudah oleh siapa saja. Situasi ini melahirkan anggapan bahwa filsafat sains, bahkan filsafat secara umum, tidak lagi terlalu diperlukan. Bukankah berbagai persoalan dapat langsung ditanyakan kepada AI dan dijawab hanya dalam hitungan detik? Bahkan, ketika jawaban dirasa belum memadai, kita dapat meminta AI memperbaikinya hingga tampak semakin sempurna.
Namun, justru dalam situasi seperti inilah filsafat sains menjadi semakin penting. Mengapa demikian?
Kita memerlukan filsafat sains untuk menimbang apakah jawaban AI dapat dipercaya atau sekadar menghasilkan halusinasi informasi; apakah penggunaan AI dalam berbagai konteks tetap berada dalam batas etika dan moral; apakah ketergantungan pada AI membantu mengembangkan hakikat kemanusiaan atau justru mengikisnya;
serta apakah AI benar-benar memajukan pendidikan atau malah mempersempit ruang pertumbuhan intelektual manusia. Pertanyaan-pertanyaan semacam ini tidak dapat dijawab hanya dengan teknologi itu sendiri, melainkan membutuhkan telaah filsafat sains dan refleksi filsafat secara lebih luas.Oleh karena itu, buku yang sedang Anda baca ini mencoba menghadirkan filsafat sains bukan sekadar sebagai wacana akademik, melainkan sebagai way of life dalam menghadapi era AI.
Selanjutnya, kita akan melompat ke sepenggal bagian dari Epilog berikut.
Sains masa depan menuntut kita untuk bersikap deflasi [rendah hati dan terbuka]. Earle (lahir 1935) mengungkap karakter deflasi sains dalam World Economic Forum di Davos 2026.
“Oseanografer Sylvia Earle menanggapi dengan mengembalikan pembahasan pada asal-usulnya yang bersifat manusiawi. Para ilmuwan, ujarnya, “pada dasarnya adalah anak-anak yang tidak pernah tumbuh dewasa, yang tidak pernah berhenti mengajukan pertanyaan.” Setiap anak memulai kehidupannya dengan rasa ingin tahu yang tanpa rasa malu. “Mereka ingin tahu siapa, apa, mengapa, di mana, bagaimana—segala sesuatu. Dunia ini sebenarnya tentang apa?” Sains bukanlah ciptaan kalangan elite; sains adalah disiplin dari naluri universal. Jika kini sains tampak jauh atau sulit diakses, hal itu bukan karena rasa ingin tahu telah lenyap, melainkan karena bahasa dan institusi kadang-kadang telah mengaburkan akar-akarnya.
Optimisme Earle tersebut diimbangi oleh sudut pandang yang lebih luas. Anak anak masa kini tumbuh dengan mengetahui kebenaran-kebenaran yang bahkan tidak dapat diakses oleh pikiran paling cemerlang di masa lalu. Einstein tidak pernah melihat Bumi dari angkasa. Ia tidak pernah mengetahui mesin molekuler kehidupan.
Namun, perluasan pengetahuan ini tidak menghadirkan kepastian. Sebaliknya, ia justru menyingkap skala ketidaktahuan kita. “Apa yang telah kita pelajari,” kata Earle, “adalah besarnya apa yang belum kita ketahui.” Kita baru memetakan sebagian kecil dasar samudra; setiap penurunan ke kedalaman laut mengungkap bentuk-bentuk kehidupan baru dan sistem-sistem yang belum dikenal. Pengetahuan tidak menutup buku tentang misteri—ia justru membukanya semakin lebar.” [69]
Semakin luas perkembangan sains, maka semakin luas pula ketidaktahuan kita.
Masih di Davos 2026, Skovronsky (lahir pada 1970-an) melanjutkan gagasan Earle. Sikap rendah hati sungguh penuh arti. “Namun, Skovronsky menegaskan bahwa sains tidak memperoleh kepercayaan melalui kepastian. Sains memperoleh kepercayaan melalui kejujuran. “Dalam sains selalu terdapat hal-hal yang belum diketahui,” ujarnya, dan berpura-pura sebaliknya justru mengikis kredibilitas.
Sains tidak berjalan melalui pernyataan sepihak; sains bergerak melalui bukti yang diuji dan diuji kembali, melalui kesimpulan yang dipegang secara sementara dan direvisi apabila diperlukan. Ketika sains disajikan sebagai sesuatu yang tidak pernah keliru, kekecewaan menjadi tak terelakkan. Namun, ketika sains disajikan sebagai sebuah metode yang berlandaskan kerendahan hati dan trust maka memiliki peluang untuk bertahan.”
Selamat melanjutkan perjalanan Anda, para pembaca. Di dunia yang semakin kompleks ini, biarlah rasa ingin tahu ilmiah kita selalu dibarengi dengan kedalaman filosofis dan kearifan spiritual. Karena pada akhirnya, sains bukanlah sekadar alat untuk menguasai dunia, melainkan salah satu jalan terindah bagi manusia untuk memahami makna keberadaannya di bawah luasnya langit semesta yang penuh misteri.
