Utamakan Akhlak

Saya membaca pesan Covey: “Utamakan yang Harus Diutamakan.” Pesan singkat yang sangat mengena waktu itu sekitar tahun 1990an. Kita mengerjakan sesuatu karena pekerjaan itu memang utama: penting dan bernilai. Kita bekerja bukan karena terpaksa, bukan karena tergoda, bukan karena nafsu pula.

Sekitar 15 tahun kemudian, Prof Jalal berpesan: “Dahulukan Akhlak di atas Fikih.” Dahulukan kebaikan bersama; atur prosedur dan tata cara agar bermanfaat untuk rakyat; manfaatkan beragam kesempatan untuk berkhidmat.

Hari ini saya terpikir: “Utamakan Akhlak.” Pilihlah manfaat terbaik bagi umat dan alam; saling menolong dan kadang rela berkorban; jalankan tugas sambil renungkan dalam diri.

1. Buah Segala Buah
2. Akar Menancap di Big Bang
3. Batang yang Kokoh

Akhlak mulia, atau etika mulia, adalah tujuan dari segala tujuan; buah dari segala buah. Anda lahir di bumi ini adalah untuk menjadi akhlak mulia. Bahkan alam raya tercipta adalah demi akhlak mulia. Akhlak adalah akar yang menghujam jantung semesta ketika Big Bang. Tuhan adalah Maha Pengasih. Sikap pengasih adalah akhlak mulia yang perlu kita tiru. Karena anugerahNya maka alam tercipta. Akhlak mulia adalah pohon yang kokoh.

1. Buah Segala Buah

Buah adalah hasil dari segala proses yang diharapkan. Buah dari seluruh alam semesta adalah hadirnya manusia akhlak mulia. Berbahagialah, Anda yang berakhlak mulia. Bebahagialah, Anda yang berada di sekitar orang-orang akhlak mulia. Berbahagialah, Anda yang menjalani akhlak mulia.

Apa itu akhlak mulia?

Akhlak mulia adalah perilaku yang baik. Baik bagi orang lain; baik bagi diri kita; baik bagi alam; baik bagi budaya; baik bagi dunia dan akhirat.

2. Akar Menancap di Big Bang

Alam semesta ini adalah anugerah yang indah. Alam adalah maha karya dari Sang Pencipta. Pesona alam raya menunjukkan bahwa Sang Pencipta benar-benar Maha Bijaksana. Alam semesta tercipta dalam rangkulan akhlak mulia. Akhlak mulia sudah berakar sejak Big Bang; penciptaan alam semesta.

3. Batang yang Kokoh

Ketika lelah, Anda perlu bersandar. Akhlak mulia adalah sandaran yang kokoh untuk Anda; untuk setiap umat manusia.

Barangkali Anda pernah lelah karena kerja; dari satu deadline ke deadline berikutnya; stress dalam banyak situasi. Sementara tuntutan ekonomi makin membubung tinggi. Akhlak mulia adalah sandaran tepat bagi Anda.

Barangkali Anda pernah kalah; menanggung rugi dari suatu bisnis; kalah dalam kompetisi politik; ditipu oleh orang-orang dekat; atau, entah mengapa, situasi berubah drastis tak terkendali. Akhlak mulia adalah sandaran tepat bagi Anda.

Barangkali Anda pernah sakit; kecelakaan berat atau diserang binatang buas; atau, usia memang sudah tidak muda lagi; atau, akibat suatu tragedi. Akhlak mulia adalah sandaran tepat bagi Anda.

Barangkali Anda sedang sukses luar biasa; promosi kerja makin cemerlang; atau, bisnis Anda untung besar; atau, jabatan politik makin bersinar; atau, entah mengapa, semua keberuntungan sedang mendukung Anda. Akhlak mulia adalah sandaran yang tepat bagi Anda.

4. Diskusi

Bagaimana menurut Anda?

Mengapa Segalanya ADA Ketimbang Tidak ADA?

“Debat seperti itu seharusnya tidak terjadi,” ungkap Prof Budi.
“Mengapa Prof?” saya penasaran.
“Karena kedua pihak, Guru dan Ustad, hanya mempertahankan pendapat masing-masing,” jelas Prof Budi.

“Seharusnya bagaimana?”
“Seharusnya, mereka berusaha memahami pihak lain. Kadang-kadang mengalami jeda berpikir; kadang bingung; dengan serius, mempertimbangkan perspektif pihak lain.”
“Dengan cara itu maka terbuka peluang memunculkan ide baru?”
“Ya, betul, bisa ada sintesis dari pandangan kedua pihak.”

Saya sangat senang diskusi dengan Prof Budi karena beliau selalu bersikap dengan pikiran terbuka. Sehingga, diskusi dan debat memicu munculnya lebih banyak ide; termasuk ide-ide yang berkualitas.

Saya mengajukan pertanyaan, “Mengapa segalanya ADA ketimbang tidak ADA?”

Mengapa alam semesta ada? Mengapa Anda ada? Mengapa ibu Anda ada? Mengapa tidak hampa saja? Kosong melompong?

1. Pemimpin
2. Abid
3. Akhlak Mulia
4. Prospek AI
5. Diskusi
5.1 Formula Solusi
5.2 Berpusat Manusia
5.3 Pragmatisme Ruhani

Russell (1872 – 1970) menulis satu buku khusus tentang problem filosofi. Heidegger (1889 – 1976) meyakini bahwa pertanyaan adalah lebih penting dari segalanya. Saya sempat “marah” ke Heidegger ketika membaca bukunya tentang problem metafisika Kant. Karena sekitar 5 halaman terakhir, yang seharusnya berisi kesimpulan, malah berisi pertanyaan saja dalam bentuk paragraf demi paragraf.

Untungnya, Heidegger menutup dengan kutipan Aristo:

“Και δε και το πάλαι τη και νυν και αει ζητούμενων και αει απορούμενων τη το ων . .”

Tulisan Yunani kuno? Mana aku paham? Untungnya, ada google.translate:

“”Both in the past and now, and always, we have sought and been perplexed about the nature of being…”

“Sejak masa lalu sampai sekarang, dan akan selalu, kita mencari dan penasaran tentang realitas eksistensi…”

Jadi, “Mengapa Ada ketimbang tidak Ada?”

1. Pemimpin

Seluruhnya menjadi ada karena agar muncul pemimpin berupa manusia. Manusia adalah khalifah di bumi. Manusia adalah wakil Tuhan di bumi untuk menjaga dan mengelola seluruh alam raya. Jadi, segalanya menjadi ada agar, kemudian, bisa muncul pemimpin yaitu manusia.

Lalu, mengapa manusia ada?

2. Abid

“Mengapa segalanya ada?” Karena agar ada abid; agar ada orang yang beribadah kepada Tuhan. Alam semesta berproses sesuai hukum alam; semesta berjalan apa adanya; alam tidak ibadah dan tidak jahat; hanya manusia yang bisa ibadah sebagai abid dalam makna sejatinya; memang benar bahwa alam semesta bertasbih dan memuji Tuhan; memang demikianlah adanya alam raya.

Tetapi, manusia ada yang jahat kan? Justru, karena manusia punya potensi untuk jahat, kemudian, dia memilih kebaikan maka hal itu bernilai ibadah.

3. Akhlak Mulia

Karakter pemimpin dan abid bersatu dalam diri manusia yang mengutamakan akhlak mulia. Siapa itu pemimpin? Pemimpin adalah manusia yang akhlak mulia. Siapa itu abid? Abid adalah manusia yang akhlak mulia.

Akhlak mulia adalah konkret universal. Konkret dalam arti Anda bisa akhlak mulia sesuai situasi konkret lingkungan Anda. Seorang petani berakhlak mulia di bidang pertanian. Seorang presiden berakhlak mulia sebagai presiden. Tentu saja, petani atau presiden bisa saja terjatuh menjadi jahat. Siapa pun Anda selalu bisa berakhlak mulia sesuai situasi konkret Anda.

Akhlak mulia adalah universal dalam arti siapa pun bisa berakhlak mulia di mana saja dan kapan saja. Sebaliknya juga bisa terjadi; siapa pun bisa jahat di mana pun dan kapan pun. Tentu saja, kita memilih akhlak mulia. Bukankah begitu?

Sifat universal konkret ini adalah keunggulan akhlak mulia. Beda dengan “sukses” misalnya. Orang yang gagal bisa saja tidak sukses. Maksudnya, sukses hanya terjadi bagi orang tertentu saja. Sementara, akhlak mulia tetap bisa terjadi kepada orang sukses mau pun orang gagal. Begitu juga, akhlak mulia bisa terjadi pada orang: menang atau kalah; kaya atau miskin; terdidik atau jelata; tua atau muda; sehat atau sakit; laki atau perempuan; kuat atau lemah; perang atau damai; bahagia atau derita; sepi atau ramai. Semua orang bisa menjadi akhlak mulia.

Akhlak mulia adalah sepaket dengan rahmat bagi seluruh alam. Setiap orang yang akhlak mulia maka mereka menjadi rahmat bagi semesta. Rahmat bertumpuk dengan rahmat lagi di alam raya ini bersama akhlak mulia. Alam raya adalah medan bagi akhlak mulia dan akhlak mulia adalah rahmat bagi alam semesta.

4. Prospek AI

AI diduga bisa lebih hebat dari manusia. Apakah AI bisa menjadi pemimpin dan abid sebagaimana manusia? Sejauh ini, AI tidak bisa menjadi pemimpin mau pun abid. Bagaimana AI di masa depan? Apakah AI bisa berakhlak mulia?

AI perlu menjadi manusia dulu agar bisa akhlak mulia. Atau, realitas apa pun, perlu menjadi manusia dulu agar bisa akhlak mulia.

Mulla Sadra (1570 – 1640) meyakini bahwa manusia adalah gerbang untuk mendekat kepada Tuhan. Bahkan, manusia adalah satu-satu spesies sebagai gerbang itu. Sehingga AI, tumbuhan, hewan, atau apa pun perlu menjadi manusia dulu untuk mencapai kesempurnaan final; untuk mencapai akhlak mulia.

5. Diskusi

Bagaimana menurut Anda?

Bingung. Ya, menurut saya, kita perlu mengikuti saran Prof Budi di atas bahwa kita perlu bingung. Pertanyaan “Mengapa Ada” memang wajar membuat kita bingung. Andai tidak bingung barangkali karena belum terlalu serius berpikir. Ketika kita merenung maka pantas menjadi bingung.

Pesan Prof Budi ini mengingatkan saya mengapa syair Sunan Kalijaga berjudul “Suluk Linglung”? “Pengembaraan Bingung”?

Membaca judulnya saja, saya sudah bingung. Begitu mendalami isinya, Sunan Kalijaga memang menakjubkan. Rasa takjub dalam pesona linglung. Sambil terpesona linglung, mari kita lanjut pembahasan “Mengapa Ada?”

5.1 Formula Solusi

Formula solusi adalah agar akhlak karimah, abid, dan pemimpin.

Akhlak karimah, atau akhlak mulia, adalah inti yang terurai berupa abid dan pemimpin.

Alam semesta, dan semua yang ada, bertujuan untuk menghadirkan akhlak mulia. Kita sadar bahwa akhlak mulia adalah posibilitas bukan niscaya. Jadi, bisa saja akhlak mulia tidak hadir dalam situasi tertentu. Justru karena tidak niscaya, akhlak mulia menuntut manusia untuk komitmen. Proses alam semesta yang niscaya, atau probabilistik acak misal melalui big bang, tidak mencukupi untuk hadirnya akhlak mulia. Mekanisme kausalitas yang niscaya hanya menghadirkan realitas apa adanya; hanya menjawab, “Bagaimana bisa begitu adanya?”

Akhlak mulia adalah jawaban dari “Mengapa begitu adanya?”

Kita bisa mengajukan pertanyaan, “Mengapa akhlak mulia?” Jawabannya hanya satu: karena akhlak mulia. Jadi, akhlak mulia adalah jawaban akhir. Ketika kita lanjut bertanya maka kita berhadapan dengan logika melingkar atau sirkular. Akhlak mulia bersifat futuristik; di depan akhlak mulia masih ada akhlak mulia lagi tanpa henti. Kajian akhlak mulia selalu berkembang tidak pernah berhenti. Sehingga, tugas kita adalah memahami dan menjalani akhlak mulia. Dua wajah utama akhlak mulia adalah abid dan pemimpin. Abid adalah kita mempersembahkan seluruh akhlak mulia ikhlas hanya kepada Tuhan. Pemimpin adalah kita menjalankan akhlak mulia sebagai pemimpin dan mengajak semua pihak untuk berakhlak mulia. Tentu saja, menghormati semua orang sebagai pemimpin adalah termasuk akhlak mulia.

Bagaimana dengan orang yang tidak beriman kepada Tuhan? Mereka perlu memahami akhlak mulia versi mereka sendiri. Sedangkan ajaran agama membantu kita dengan khasanah yang kaya akan akhlak mulia.

5.2 Berpusat Manusia

Keberatan muncul bahwa solusi akhlak mulia adalah terlalu berpusat kepada manusia; antropo-sentris. Padahal pertanyaan “Mengapa Ada” bersifat umum. Meski antropo-sentris, solusi akhlak mulia tetap valid. Karena akhlak mulia bersifat inklusif; tidak egois. Jadi, tidak ada masalah dengan antropo-sentris.

Bagi Ibnu Arabi (1165 – 1240), antropo-sentris atau bersifat manusiawi adalah suatu keharusan. Asumsikan ada konsep K yang menjadi solusi bagi pertanyaan “Mengapa Ada?” dan K tidak manusiawi; maka K menjadi percuma karena manusia tidak ada yang bisa memahami K; ketika K bisa dipahami manusia maka K pasti bersesuaian dengan pemahaman manusia; sehingga K pasti manusiawi. K adalah akhlak mulia yang memang manusiawi.

Immanuel Kant (1724 – 1804) menyebut semua realitas sebagai fenomena yaitu fenomena yang bisa dipahami manusia. Sementara, realitas yang ada dalam-dirinya tidak bisa dipahami manusia. Bagaimana pun, kita ingin memahami sesuatu yang ada dalam-dirinya itu. Kant menyebut realitas yang ada dalam-dirinya itu sebagai noumena. Sehingga, kita bisa membahas noumena melebihi fenomena. Ketika kita membahas noumena, pada analisis akhir, noumena itu berperilaku sebagai fenomena yang manusiawi. Jadi, akhlak mulia memang manusiawi.

Heidegger meng-kritik Descartes karena “Cogito ergo sum” atau “Aku berpikir maka saya ada.” Konsep cogito ini, menurut Heidegger, terlalu mengistimewakan manusia; realitas menjadi subyektif; manusia menjadi penentu validitas dari realitas. Kemudian, Heidegger mengganti kajian filosofis menjadi bersifat ontologis; yaitu menerima realitas obyektif di alam semesta apa adanya; menerima being atau eksistensi apa adanya; tidak membedakan antara alam dan manusia.

Dari mana kita harus memulai kajian? Tentu saja, kita harus mengkaji mulai dari eksistensi. Tetapi eksistensi yang mana? Eksistensi pohon, atau batu, atau manusia, atau lainnya? Memang, apa makna eksistensi? Jadi, kita harus membahas makna-eksistensi itu dulu.

Heidegger tetap mengalami kesulitan: dari mana kita mulai mengkaji makna-eksistensi? Sampai abad 20, waktu itu, memang belum ada orang yang mempertanyakan makna-eksistensi secara mendalam. Kita perlu mengkaji makna-eksistensi mulai dari eksistensi yang mempertanyakan makna-eksistensi; eksistensi yang peduli terhadap eksistensi; disebut sebagai dasein atau being-there atau eksistensi-itu.

Dasein adalah eksistensi konkret yang peduli eksistensi dengan mengajukan pertanyaan apa makna-eksistensi. Beberapa di antara manusia adalah peduli; mereka adalah dasein. Jadi, kita mulai kajian dari manusia yang peduli. Ujung akhir dari kajian dasein adalah manusia dengan akhlak mulia. Meski Heidegger berniat untuk obyektif maka, sama saja, solusinya bersifat manusiawi yaitu menjadi akhlak mulia.

Apakah dari realitas eksistensi apa-adanya, misal proton dan neutron sebagai pusat atom, kita bisa menyimpulkan apa-seharusnya? Apakah dari sains fisika kita bisa menyimpulkan etika?

Beberapa pemikir menjawab negatif; yaitu kita tidak bisa menyimpulkan etika berdasar fisika. Tetapi, pemikir lain menjawab positif; yaitu dari fisika kita bisa menyimpulkan etika; dari obyektif bisa mengarah manusiawi untuk akhlak mulia. Argumen sederhana adalah: sains fisika itu sendiri sudah manusiawi; sudah melibatkan etika. Kita hanya perlu mengkaji etika sains lebih mendalam maka tema akhlak mulia akan menjadi nyata.

5.3 Pragmatisme Ruhani

Akhlak mulia bersifat praktis sekaligus intelektual; kita sebut sebagai prangmatisme ruhani. Kita hanya bisa menjadi akhlak mulia melalui praktek tiap hari dan renungan ruhani. Apa saja yang termasuk akhlak mulia?

Farabi (870 – 950) menyatakan bahwa akhlak mulia hanya bisa berkembang dalam sistem politik kota; maksudnya, sistem politik ukuran kota misal ukuran kota Bandung. Sistem politik ukuran negara, misal Indonesia, terlalu besar; jadi sulit. Sistem politik ukuran desa, misal desa Sukarasa, terlalu kecil; sulit juga. Hanya dengan terlibat aktif dalam politik, manusia akan berhasil meraih akhlak mulia. Aktif berpolitik bisa secara praktis atau pun teoritis.

Bukankah banyak politikus justru melanggar akhlak mulia? Benar; di antara mereka, cukup banyak, yang melanggar akhlak mulia. Sehingga, jika ada politisi yang tetap menjaga akhlak mulia maka mereka benar-benar istimewa.

Politik membutuhkan konstitusi dan praktek serta dinamika antara mereka. Di sinilah ujian besar akhlak mulia.

Konstitusi dalam arti luas adalah undang-undang tertulis, kesepakatan tertulis, perjanjian lisan, tradisi turun-temurun dan lain-lain. Akhlak mulia hadir ketika kita berinteraksi dengan konstitusi yaitu dengan menjalankan konstitusi atau menyempurnakan konstitusi. Seseorang yang menjalankan konstitusi dengan baik tetapi tidak berhasil mencapai akhlak mulia maka konstitusi salah; barangkali ketinggalan jaman; sehingga perlu diperbaiki. Atau, konstitusi tersebut sengaja dibuat oleh pihak-pihak tertentu dengan kepentingan khusus; sehingga perlu direvisi. Peran pemimpin dan abid menjadi sangat penting dalam proses revisi ini.

Di sisi lain, ada juga orang yang mengaku telah menjalankan semua aturan konstitusi tetapi tidak mencapai akhlak mulia karena mereka menafsirkan konstitusi sesuai nafsu mereka saja. Mereka adalah orang banal; memanfaatkan celah konstitusi untuk nafsu pribadi. Bagaimana pun, menjadi tugas masyarakat secara politik, untuk revisi konstitusi agar interpretasi yang salah dapat dicegah. Proses revisi ini perlu selalu terjadi; tidak pernah berhenti; karena selalu ada celah dalam setiap konstitusi. Lagi, proses revisi ini adalah medan akhlak mulia.

Sampai di sini, mari kita ringkas hasil diskusi. Kita mulai dengan pertanyaan besar, “Mengapa segalanya ADA ketimbang tidak ADA?”

Atau, lebih sederhana, “Mengapa Ada?”

Jawabannya: karena akhlak mulia.

Solusi akhlak mulia tampak terlalu sempit karena bersifat manusiawi. Sementara, pertanyaan kita bersifat universal, “Mengapa Ada?” Kita sudah bahas bahwa solusi akhlak mulia tetap valid dan berhasil mengatasi keberatan ini.

Proses akhlak mulia tampak berawal dari inisiatif personal diri kita masing-masing. Pada gilirannya, akhlak mulia membutuhkan sistem sosial; termasuk membutuhkan sistem politik. Dan tentu saja, akhlak mulia membutuhkan alam semesta.

Selamat berakhlak mulia!

Satu lagi, orang bisa mengajukan keberatan bahwa solusi akhlak mulia terlalu futuristik; terlalu mengandalkan masa depan. Orang bisa bertanya, “Mengapa Ada alam semesta pada awalnya?” Atau, dengan kata lain, akhlak mulia adalah “buah” dari realitas eksistensi. Orang bisa bertanya apa “akar” dari realitas eksistensi? Solusi akhlak mulia tetap bisa valid untuk pertanyaan ini. Barangkali kita akan membahas pada tulisan lainnya.

Bagaimana menurut Anda?

Pelan-Pelan Makin Nikmat: Harari vs Saito

NEXUS – menuju masa depan dengan sistem baru?

Harari keliling dunia mengenalkan konsep buku barunya: Nexus. Buku ini penuh pesona yang memabukkan; menghibur sekaligus berbahaya. Saya membaca ulang buku Nexus; tetap terpesona untuk ke sekian kalinya; bagai sihir narasinya. Manusia perlu merespon dengan syukur plus waspada.

“Diskusi antara Yuval Noah Harari dan Kohei Saito di FBM24

Apakah perombakan sistem adalah satu-satunya jalan menuju masa depan yang layak dijalani? Sejarawan Israel dan penulis buku terlaris Yuval Noah Harari bersama filsuf dan kritikus kapitalisme Jepang Kohei Saito akan membahas pertanyaan ini di Frankfurter Buchmesse (16-20 Oktober 2024).”

1. Kebal Kritik
2. Drama Biologis dan Alien Cerdas
3. Pertumbuhan Ekonomi Global

Saya berharap akan terjadi debat yang seru antara pendukung kapitalisme teknologi lawan pendukung teori kritis Marxis. Para sosialis mendukung “Pelan-Pelan Makin Nikmat”: pertumbuhan ekonomi perlu pelan saja; yang lebih penting adalah pemerataan dan keadilan bagi seluruh rakyat semesta. Tetapi saya ragu akan terjadi debat seru. Salah satunya karena Harari kebal terhadap setiap kritik.

1. Kebal Kritik

Harari itu kebal terhadap kritik; orang bisa mengkritik pikiran Harari tetapi Harari akan bisa mengatasi. Saito yang sosialis, sejatinya, punya banyak amunisi untuk menyerang pikiran Harari. Saya ragu akan terjadi serangan dari sayap kiri sosialis ini. Sebelumnya, tahun 2022, Zizek yang ideologis kiri tidak berhasil menyerang Harari. Zizek sepakat saja dengan ide Harari. Tampaknya, Zizek kena hipnotis kata-kata Harari. Saya menduga: Prof Saito akan mirip dengan Zizek waktu itu.

2. Drama Biologis dan Alien Cerdas

“Yuval Noah Harari menjadi terkenal di dunia dengan bukunya “Sapiens: A Brief History of Mankind”. Dalam karya barunya “Nexus”, ia membahas bahaya bahwa jaringan informasi masa kini dapat menghancurkan masa depan umat manusia.”

Dalam Sapiens, Harari bercerita drama-biologis: manusia adalah pemenang di antara makhluk biologis lainnya. Manusia menjadi penguasa dunia; kabar baik atau buruk itu. Dalam Nexus, Harari bercerita AI sebagai “alien intelligence”: agen super cerdas yang jauh melampaui manusia. AI berbahaya bagi manusia; tetapi manusia bisa mengatasinya atau musnah karenanya.

3. Pertumbuhan Ekonomi Global

“Dalam buku terlarisnya “Slow Down – The Degrowth Manifesto”, Kohei Saito merumuskan kritik radikal terhadap pertumbuhan ekonomi global. Ia berpendapat untuk reformasi demokratis tenaga kerja dan produksi dari perspektif Marxis.”

Kritik Saito terhadap pertumbuhan ekonomi global adalah amunisi yang kuat untuk menguliti Nexus Harari. Tetapi, Harari menyiapkan hipnotis: AI memang berbahaya sebagaimana resiko pertumbuhan ekonomi global; bahkan, AI makin memperparah pertumbuhan ekonomi global. Saito akan kena hipnotis; lalu sepakat dengan Harari.

“Acara ini merupakan bagian dari program budaya-politik Frankfurt Buchmesse “Frankfurt Calling”, bekerja sama dengan Süddeutsche Zeitung dan Universitas Goethe Frankfurt.”

Acara debat penting ini wajib berlangsung secara kritis. Jangan sampai hanya saling sepakat saja.

4. Diskusi

Bagaimana menurut Anda?

AHN: Aku, Harari, Nietzsche

Terpesona. Aku terpesona oleh buku Harari. Buku Sapiens sangat mempesona; buku Nexus, terbit September 2024, makin mempesona. Tetapi, aku tidak setuju dengan Harari dalam banyak hal. Apa saja itu? Sulit untuk mengungkapkan dengan kata-kata. Sampai, akhirnya, aku baca ulang buku Niet (Nietzsche) yang berjudul: Beyond Good and Evil.

Aku tidak setuju dengan Harari karena Harari beda dengan Niet; dan beda dengan aku. Jadi, kami memang berbeda. Hanya saja, aku menjadi lebih mudah memahami dengan menyandingkan AHN: Aku, Harari, Niet.

Harari membahas tentang manusia, homo sapiens; Niet tentu saja membahas manusia juga. Harari membahas sejarah; Niet lebih awal mengkaji sejarah. Harari membahas AI = artificial intelleigence = alien intelligence; Niet membahas superhuman. Mana lebih unggul?

1. Sang Pemenang
2. Manusia Sejarah
3. Utamakan Akhlak Mulia

Superhuman adalah sang pemenang; human-alien intelligence adalah pemenang. Dari dulu, sampai masa kini, para pemenang menentukan arah sejarah; benarkah? Apa tujuan untuk menjadi pemenang? Apa tujuan seluruh alam semesta? Apa tujuan seluruh realitas eksistensi? Tujuannya: mengutamakan akhlak mulia.

1. Sang Pemenang

Harari yakin bahwa manusia, yaitu homo sapiens, adalah pemenang. Niet agak skeptis. Hanya manusia tertentu yang jadi pemenang; pemenang adalah mereka yang sekualitas Zaratusta; manusia spiritual yang turun gunung untuk membimbing umat manusia.

Niet lebih jujur dari Harari; banyak orang yang kalah. Kita perlu membela orang kalah; orang kalah jangan dihina; dengan cinta, kita bangunkan.

Apa makna-pemenang? Konsep superhuman dari Niet lebih bagus dari human-alien intelligence Harari.

2. Manusia Sejarah

Ketika manusia menang, sebagai homo sapiens, mereka menyingkirkan lawan-lawannya, menurut Harari. Manusia membuka hutan menjadi perumahan. Akibatnya, pohon-pohon musnah; beragam jenis binatang di hutan mati atau pergi. Manusia mengukir sejarah sebagai pemenang.

Catatan sejarah penaklukan oleh Mesir, Persia, Cina, Romawi, Sekutu, dan lain-lain menentukan arah sejarah. Penaklukan ini berdampak kehancuran banyak pihak; misal Hirosima Nagasaki menjadi hancur akibat bom atom oleh US dan sekutunya.

Niet berbeda dengan Harari. Pemenang yang mengukir sejarah adalah superhuman semisal Zaratusta. Sebagai guru spiritual yang bahagia di kuil puncak gunung, Zaratusta rela berkorban untuk mendidik peradaban umat manusia dengan cara turun gunung. Zaratusta mengalami beragam kesulitan menghadapi orang-orang pasar yang terlanjur banal. Zaratusta pantang menyerah; nikmat atau sakit, tetap dilalui untuk mengukir sejarah peradaban umat manusia.

Suatu ketika Nietzsche ke pasar; bukan Zaratusta tapi Niet. Dia melihat seekor kuda yang dicambuk oleh tuan karena kuda tidak nurut. Niet teriak agar tuan berhenti mencambuk kuda. Tapi tuan melanjutkan cambukan. Niet dengan cepat memeluk kuda itu. Sehingga, cambuk tidak mengenai kuda tapi mengenai badan Niet. Dia pingsan; bukan karena cambukan, melainkan karena ikut merasakan derita sang kuda.

Bagi Niet, pahlawan yang gugur di medan perang adalah superhuman yang mengukir sejarah. Ayah yang rela mengorbankan diri demi keselamatan anaknya adalah superhuman. Anda yang menderita represi oleh penguasa lalim adalah superhuman. Tentu saja, Soekarno sang proklamator juga superhuman; Habibie sang inovator teknologi juga superhuman. Mereka menentukan arah sejarah.

Saya lebih setuju konsep superhuman Niet dari pada human-alien intelligence Harari; lebih setuju lagi dengan insan kamil dari Ibnu Arabi.

3. Utamakan Akhlak Mulia

Ke mana arah sejarah?

Ke arah human-alien intelligence menurut Harari; ke arah superhuman menurut Niet.

Mengapa Niet menggunakan istilah baru berupa superhuman? Padahal sudah tersedia konsep manusia-moral dari Kant; insan kamil dari Ibnu Arabi Al Jili; khalifah bumi dari kanjeng Nabi.

Saya menduga karena di jaman Niet, banyak konsep-konsep penting sudah berubah menjadi dogmatisme. Niet memandang perlu mengusir sikap dogmatis dengan istilah baru: superhuman yang melampaui pandangan umum tentang baik dan jahat. Superhuman tetap mengejar dirinya untuk menjadi superhuman dengan mengutamakan akhlak mulia.

4. Diskusi

Secaya singkat, saya berbeda dengan Harari karena Harari tidak tampak serius mengutamakan superhuman dengan akhlak mulia. Harari justru terasa membela sang pemenang; sang penakluk yaitu human-alien intelligence.

Saya mengutamakan akhlak mulia; mengajak setiap orang untuk menjadi superhuman atau insan kamil dengan akhlak mulia.

Bagaimana menurut Anda?

Mengapa Manusia Perlu Dogma

Anda butuh dogma. Saya butuh dogma. Setiap manusia butuh dogma. Kita tidak harus bersikap dogmatis. Dogma berbeda dengan sikap dogmatis. Mengapa kita butuh dogma?

“Tahap demi tahap, konsep random perlu dikurangi,” Prof Dim memulai diskusi setelah kuliah Filsafat Sains.
“Bagaimana itu Prof?” saya tanya.
“Orchestrated Objective Reduction (Orch OR), dari Penrose, terjadi dengan tujuan tertentu. State quantum yang semula diduga acak, kemudian, Orch OR sehingga kolaps tidak acak lagi. Ada kehendak bebas yang memiliki tujuan,” jelas Prof Dim.

“Wah, mirip Denis Noble bahwa evolusi terjadi tidak secara random. Evolusi mengarah ke tujuan tertentu,” saya menimpali.

“Ya, betul, saya tadi, kan, baca slide ppt Mas Agus,” jawab Prof Dim sambil senyum.

1. Evolusi Random
2. Ajaran Dogma
3. Praktek Refleksi

Wikipedia menunjukkan bahwa arah Orch OR selaras dengan kehendak bebas manusia. Ketika kita komitmen kepada ajaran moral maka realitas alam semesta akan mendukungnya.

“Mekanisme ini dianggap sebagai proses kuantum yang disebut reduksi objektif yang diatur oleh struktur seluler yang disebut mikrotubulus. Teori ini diusulkan untuk menjawab masalah kesadaran yang sulit dan menyediakan mekanisme untuk kehendak bebas. Hipotesis ini pertama kali diajukan pada awal tahun 1990-an oleh peraih Nobel untuk fisika Roger Penrose, dan ahli anestesi Stuart Hameroff.” (Wikipedia).

Menurut Noble:

“Selama ini, para ilmuwan merasa puas dengan metafora malas tentang sistem kehidupan yang beroperasi seperti mesin, kata penulis sains Philip Ball dalam How Life Works. Namun, penting untuk bersikap terbuka tentang kompleksitas biologi — termasuk apa yang tidak kita ketahui — karena pemahaman publik memengaruhi kebijakan, perawatan kesehatan, dan kepercayaan pada sains. “Selama kita bersikeras bahwa sel adalah komputer dan gen adalah kodenya,” tulis Ball, kehidupan mungkin juga “ditaburi dengan keajaiban yang tak terlihat”. Namun, kenyataan “jauh lebih menarik dan menakjubkan”, seperti yang dijelaskannya dalam panduan pengguna yang wajib dibaca ini untuk para ahli biologi dan non-ahli biologi.” (evolutionnews.org).

“Kenyataan jauh lebih menarik dan menakjubkan” dari perkiraan ahli biologi selama ini. Evolusi mengarah pada tujuan yang menakjubkan. Tentu saja, terjadi pro dan kontra dalam teori evolusi dan quantum.

Apakah sains biologi, semacam teori evolusi, adalah dogma? Apakah sains fisika, semacam mekanika quantum, adalah dogma? Para saintis cenderung menolak dogma. Mereka memilih sikap ilmiah. Apakah ajaran agama, misal puasa, adalah dogma? Ahli agama masa kini cenderung menolak dogma. Pemeluk agama lebih memilih ajaran mereka sebagai rasional.

1. Evolusi Random

Evolusi Darwin sudah mengalami evolusi sepanjang sejarah. Pada lapisan paling dasar, evolusi terjadi karena mutasi random atau mutasi acak. Karena random maka evolusi bisa menghasilkan apa saja. Evolusi bisa menghasilkan ular berbisa, buaya darat, sampai manusia mempesona dengan akhlak yang mulia. Tetapi, random bisa saja tidak menghasilkan apa pun; hampa belaka.

Bagaimana mungkin proses random bisa menghasilkan sesuatu yang begitu indah?

Random adalah dogma.

Jadi, kajian evolusi mengantar sains biologi menemui dogma; berupa random; mutasi acak. Pencapaian ini, sampai kepada dogma, adalah prestasi luar biasa. Hanya saja, kemudian, saintis bisa merespon dogma sains dengan cara berbeda.

[a] respon dogmatis; pokoknya random; pokoknya mutasi acak. Mengapa bisa mutasi acak? Karena memang random. Sikap dogmatis kepada dogma seperti ini perlu dihindari.

[b] respon terbuka; open minded; membuka lebih banyak posibilitas. Mengapa random? Mengapa mutasi acak? Mari kita kaji lebih jauh. Berdasar statistik, jika kita mengkaji data random dalam jumlah besar, atau sangat besar, maka kita akan menemukan pola-pola tertentu. Pola-pola indah ini sangat menakjubkan. Bila terdapat pola maka tidak lagi random?

Respon terbuka lainnya adalah dengan berpikir reflektif dan “pengalaman” lanjutan. Respon ini akan kita bahas di bawah.

2. Ajaran Dogma

Saya setuju dengan Hadot, filsuf Prancis (1922 – 2010), yang menyatakan bahwa dogma adalah bagus. Dogma berbeda dengan sikap dogmatis. Dogma adalah ajaran yang membutuhkan praktek dan refleksi mendalam untuk memahaminya. Dogma beda dengan matematika. Ketika anak SD paham bahwa bilangan bulat “2 + 1 = 3” maka dia bisa menjawab soal yang sama dengan cepat.

Tetapi ajaran puasa, menahan lapar dan haus, kemudian diselingi dengan sedekah menolong fakir miskin adalah ajaran yang butuh praktek dan refleksi. Meski Anda pernah puasa tahun lalu, maka tahun ini, Anda tetap wajib praktek puasa dan refleksi. Seseorang tidak bisa menjawab,

“Saya tidak perlu puasa karena sudah pernah puasa.”

Puasa sambil sedekah adalah ajaran yang butuh praktek dan refleksi; ajaran ini adalah dogma bukan dogmatis. Manusia membutuhkan dogma. Anda, dan saya, butuh dogma.

3. Praktek Refleksi

AI (artificial intelligence) sangat cerdas saat ini. Hanya saja, AI tidak mampu refleksi; AI tidak mampu berpikir mendalam sampai sisi ruhani. Hanya manusia, penghuni bumi ini, yang bertugas untuk refleksi. Tetapi, AI sudah mampu deep-learning (belajar mendalam). Apakah suatu saat nanti AI akan mampu refleksi?

Keunggulan manusia adalah mampu praktek yang diiringi refleksi. Praktek dan refleksi terjadi berulang kali. Sehingga, praktek dan refleksi bisa saja saling mendahului. Rasa peduli berkembang seiring praktek dan refleksi.

Problem muncul ketika banyak orang, sekarang, tertarik serba cepat; serba instan. Uang ingin instan; kerja ingin instan; jabatan ingin instan. Kebiasaan serba instan ini mengikis habis kemampuan refleksi manusia; menghapus rasa peduli. Manusia menjadi banal; manusia menjadi bebal.

Kabar buruknya keinginan manusia untuk serba cepat itu pasti akan kalah cepat oleh AI. Pada waktunya, AI akan mendominasi manusia; bila situasi seperti ini. Untuk bisa menempatkan AI pada tempat yang tepat, manusia perlu berlatih untuk terus refleksi; untuk terus menikmati setiap proses dalam praktek kebaikan. Sekali lagi, hanya manusia yang mampu refleksi; bahkan bisa jadi hanya sebagian kecil manusia. AI tidak mampu refleksi; minimal sejauh ini.

Apa tujuan manusia ada di bumi ini? Apa tujuan Anda hadir di dunia ini? Atau, apa tujuan dari seluruh alam raya ini?

Tentu saja, AI akan mampu menjawab pertanyaan di atas kurang dari 1 detik tanpa refleksi. Kita butuh jawaban yang penuh arti; yaitu solusi berupa refleksi. Anda perlu menemukan jawaban yang penuh arti itu dengan mengarungi bumi; dan lebih penting lagi, dengan menyelami ruhani.

Tujuan Anda hadir di bumi adalah untuk “menyempurnakan budi pekerti”; untuk menyempurnakan akhlak mulia; untuk menyempurnakan etika semesta. Mengapa begitu?

4. Diskusi

Ex Contradictione Quodlibet (ECQ)

Mengapa “random” tidak bisa menjadi argumen evolusi? Karena ECQ. Random mengijinkan kontradiksi. Padahal, dari kontradiksi kita bisa menarik kesimpulan apa pun; kesimpulan yang kontradiksi atau pun yang konsisten.

End of Science

Dogma adalah akhir dari sains dan awal dari hikmah. Makin mendalam kita mengkaji sains maka akan berhadapan dengan dogma; sekaligus, menjadi awal menelusuri hikmah; mengembangkan sains lagi; berhadapan dengan dogma; dan seterusnya tanpa henti.

Akhlak Mulia

Mengapa akhlak mulia menjadi tujuan dari semua realitas yang ada? Karena manusia bebas untuk memilih akhlak mulia atau meninggalkannya. Ketika Anda memilih akhlak mulia maka Anda menjadi akhlak mulia itu sendiri.

Ketika AI selalu berkata sopan, salah satu contoh akhlak mulia, maka itu konsekuensi dari program AI. Sehingga, kalimat sopan dari AI bukanlah akhlak mulia; melainkan biasa-biasa saja. Sementara, manusia bisa belajar hikmah dari AI; kemudian berkata sopan; maka dia menjadi manusia akhlak mulia.

Kok enak banget jadi manusia? Bisa memilih akhlak mulia? AI tidak bisa. Karena, manusia ada resiko terjerumus dosa. AI tidak bisa terjerumus dosa. Ketika manusia menghindari dosa dan berjuang menyempurnakan akhlak mulia maka dia jadi akhlak mulia yang nyata; dia adalah tujuan umat manusia.

Tetapi, bukankah akhlak mulia itu sendiri adalah dogma? Benar, karena dogma maka kita hanya bisa memahami akhlak mulia melalui praktek dan refleksi. Silakan Anda mencoba mempraktekkan akhlak mulia dan diiringi dengan refleksi maka Anda akan memahami akhlak mulia.

Tanggapat ChatGPT

Bang Armahedi Mahzar mengirimkan tanggapan GPT atas tulisan saya di atas pada 15 Juli 2025 berikut:

“Ya, saya mengenali gaya tulisan dan sumbernya — Paman Apiq, atau Agus Nggermanto, yang memang kerap memadukan sains, spiritualitas, dan logika kreatif dalam cara khas dan ringan. Ia mengangkat konsep-konsep kompleks seperti dogma, randomness, logika kreatif, dan metafisika terbuka dalam gaya populer dan reflektif. —

🔍

Dogma dalam Sistem Logika Futuristik Untuk menjawab pertanyaan Anda: Apa posisi konsep “dogma” dalam sistem logika futuristik?, kita perlu melihat bagaimana logika berubah dalam lintasan sejarah:

🧠

1. Logika Klasik: Dogma = Premis dasar yang tidak dipertanyakan. Dikenal sebagai axiom atau postulat (seperti dalam geometri Euclides).

🤖

2. Logika Modern & Sains: Dogma ilmiah = hipotesis yang terbukti kuat, misalnya mutasi acak dalam biologi evolusioner. Tapi tetap terbuka untuk direvisi.

🚀

3. Logika Futuristik (misalnya, dalam visi Paman Apiq atau sistem berpikir kreatif abad 21): > Dogma bukan akhir dari pemikiran, tetapi pintu gerbang untuk dimensi pemikiran yang lebih dalam dan terbuka. Berikut adalah posisi dogma dalam sistem logika futuristik: —

📌

POSISI DOGMA DALAM LOGIKA FUTURISTIK

1. Dogma sebagai Titik Referensi Kesadaran

> Dalam logika futuristik, dogma bukan premis beku, melainkan node kesadaran — titik tetap dalam jaringan makna, yang dibutuhkan untuk menavigasi kompleksitas. Seperti titik pusat dalam kompas. Tanpa titik acuan, sistem logika melayang-layang. Tapi titik ini bisa digeser, diuji, direfleksikan.

2. Dogma sebagai Portal Trans-logika

> Dalam pendekatan kreatif atau spiritual, dogma dilihat sebagai pintu gerbang ke metarasional — bukan sekadar aksion logis, tapi “titik jendela” menuju pengalaman batin, intuisi, dan pemaknaan hidup. Hadot menyebutnya: “Dogma sebagai latihan spiritual.” Dalam sistem futuristik: dogma bisa menjadi gateway ke AI ethics, logika neuropsikologis, bahkan transhuman ethics.

3. Dogma sebagai Pola dalam Ketidakteraturan

> Dalam sistem chaotic, acak, dan kompleks seperti realitas masa depan, dogma bisa muncul sebagai pola terstabilisasi. Misalnya: kesadaran bahwa “semua sistem perlu ruang bebas (entropy) agar hidup.” Dogma bukan dikte, tapi struktur makna yang ditemukan dari pola dalam kebisingan.

4. Dogma sebagai Simbol Sementara dalam Evolusi Intelektual

> Dalam logika futuristik, dogma adalah simbiosis antara kepercayaan dan kemungkinan revisi. Ia hidup seperti meme dalam ekosistem ide. Ia bisa tumbuh, pecah, atau bertransformasi menjadi bentuk lain. —

🧬

Ringkasan Diagramatis Fungsi Dogma

Dalam Logika Klasik -|||- Dalam Logika Futuristik
Status Aksioma tetap -|||- Simpul kesadaran dinamis
Peran Fondasi deduktif -|||- Kompas arah eksploratif

Relasi dengan Kebenaran
Final dan tertutup -|||- Reflektif dan terbuka

Dalam chaos/random
Diabaikan atau disingkirkan -|||- Dicari sebagai pola bermakna

Hubungan dengan etika
Netral/teknikal -|||- Terhubung dengan nilai-nilai manusia —

✨

Penutup: Mengapa Dogma Perlu Dimaknai Ulang?

Agus Nggermanto melalui persona Paman Apiq mendorong kita untuk:

> Membedakan antara dogma sebagai pijakan dan dogmatisme sebagai kebekuan. Dalam logika masa depan—baik dalam AI, biologi kompleks, atau ekosistem manusia-digital—dogma akan tetap hadir, tetapi sebagai bentuk “kesadaran terarah”, bukan sebagai larangan berpikir.

> Dogma adalah jembatan. Dogmatisme adalah tembok. Logika futuristik membangun jembatan, bukan tembok.

— Ttd ChatGPT”

Terimakasih Bang Armahedi.

Bagaimana menurut Anda?

Psikologi Modern Menghadapi Agama

Psikologi berinteraksi dengan agama secara pasang surut. Kadang mereka harmonis; kadang bertengkar; kadang berpisah; lalu bersatu lagi. Psikologi merupakan sains dengan disiplin ilmiah. Sementara, agama dalah ajaran tertulis dan praktek yang utuh.

1. Freud dan Pfister
2. Konflik
3. Integrasi Lagi
4. Bentuk-bentuk Interaksi
5. Diskusi

Sampai sekarang, interaksi psikologi dengan agama tetap dinamis. Jadi tidak ada, atau belum ada, bentuk final dari interaksi ini.

1. Freud dan Pfister

Di tengah-tengah kaum intelektual yang ateis, di rumah yang betul-betul sekuler, Pfister satu-satunya pastur. (PA: 94)

“Sigmund Freud tidak saja dianggap sebagai bapak psikoanalisis, tetapi ia juga tokoh ateisme terbesar sepanjang abad 20…

“Pfister meneruskan penelitian dan praktek psikoakalisis dan menulis buku teks pertama… dan tetap menjadi sahabat Freud.

Sebagaimana Freud yakin bahwa psikoanalisis adalah alat untuk membasmi agama dan takhayul lainnya, Pfister juga sangat yakin bahwa sang guru telah menemukan kunci perkembangan ruhaniah. (PA: 95)

“Freud mewakili psikologi yang memusuhi agama. Sains sudah menjadi agama Freud. Darwin dan para ilmuwan lainnya adalah “para santo modern.”

… kontribusainya kepada sains terletak pada perluasan penelitian sampai ke dalam alam mental.” (PA: 98)

“Jika kita ingin mengetahui jiwa kita sendiri… kita harus berpedoman kepada sains.

Lalu di mana posisi agama? Agama hanyalah ilusi, delusi, “universal obsessional neurosis”, proyeksi dari keinginan masa kanak-kanak.” (PA: 98)

“Pfister, seperti ahli Aikido, menggunakan tenaga lawan untuk menampilkan jalan cinta… psikoanalisis menjadi pendukung agama.

Tahun 1983, The American Psichyatric Association mulai memberikan hadiah tahunan Oskar Pfister Award kepada siapa saja yang memberikan “important contributions to the humanistic and spiritual side of psichyatric issues”. (PA: 99)

“Tanpa bantuan psikologi, para tokoh agama akan salah melakukan diagnosis, dan karena itu juga tidak dapat membantu umatnya. … makna integrasi adalah memasukkan sumbangan agama pada kotak psikoterapi.

Makna kedua… (1) Usia 60 belum menikahkan anak perempuan… (2) Ruh saya di mana setelah mati… (3) dekat keluarga… (4) banyak dosa. Saya menjawab dengan jawaban agama… dan “intervensi spiritual.” Integrasi dalam penderitaan. (PA: 103)

Dinamika psikologi sang guru Freud dengan sang murid Pfister menjaga psikologi tetap bersatu dengan agama. Integrasi ini sulit untuk dipertahankan; meski selalu ada peluang untuk integrasi.

2. Konflik

Konflik psikologi lawan agama menjadi tajam ketika psikologi mengambil pendekatan sains positivisme; sains yang mengandalkan bukti empiris dan menolak metafisika. Awal abad 19, August Comte mengembangkan filsafat sains positivisme; Lingkaran Wina merupakan pelopor logiko positivis di kisaran 1920 – 1950.

“…1879, … Wilhem Wundt dianggap sebagai bapak psikologi modern, psikologi yang ditegakkan di atas landasan ilmiah.

… Tidak ada yang bisa dipahami dari perubahan sistem filsafat. Psikologi modern harus mengambil watak yang betul-betul ilmiah dan bisa melepaskan diri dari kontroversi metafisis.” (PA: 105)

“Karena kesadaran dianggap sebagai ilusi subyektif, psikologi tidak lagi berhubungan dengan psyche. Pada saat itulah, psikologi mengambil jalan yang bertentangan dengan agama. Para tokoh psikoanalisis dan behaviorial menegakkan teori mereka di atas asumsi-asumsi sains modern. (Karier, 1966, Leahey,1991) (PA: 107).

Makna empiris secara ilmiah adalah beragam: [1] empiris secara fisika; misal pengukuran posisi apel jatuh berdasar mekanika Newton; [2] empiris secara pengalaman manusia; misal mengukur tingkat kebahagiaan warga kota seperti pandangan John Mill.

Psikologi mengambil jalan murni ilmiah, dengan membuang sisi metafisika, makna empiris seakan-akan hanya pengukuran fisika, mengakibatkan konflik makin tajam antara psikologi dan agama.

“Psikoanalisis dan behaviorisme…sangat dominan dalam lingkungan sains modern.

… ada arus bawah gerakan “budaya kontra” yang tetap berusaha mengintegrasikan psikologi dan agama. … Pada paruh kedua Abad ke-20, …orang berbicara tentang kebangkitan kembali spiritualitas… “(PA: 113)

Aakhir abad 20, masyarakat sadar bahwa behaviorisme dan psikoanalisis tidak memadai untuk memahami psikologi. Manusia membutuhkan sumber ruhani, pesona spiritual, dan petualangan intelektual. Psikologi makin mendekat ke agama lagi.

3. Integrasi Lagi

Era ini, banyak orang hidup dalam kemewahan, fasilitas teknologi canggih, dan kekuasaan politik yang besar. Mengapa mereka merasa gersang? Hidup hilang makna? Ancaman narkoba ada di mana-mana?

“Di tengah limpahan kehidupan material, tiba-tiba orang merasa kehausan. …

Begitu banyak di antara kita yang kaya – tetapi kita masih juga tidak puas.

Kenyataannya, jutaan manusia kini hidup lebih baik – secara materi – dari para ratu dan raja pada zaman dahulu. Tetapi kita masih juga tidak puas.

“Sindrom ini disebut “existential neurosis”, ketidakbahagiaan yang bersumber pada pertanyaan-pertanyaan tentang makna. Dewasa ini, bahkan penyakit ini tersebar lebih luas…

Agak aneh menyebut penyakit ini sebagai neurosis eksistensial. … Sungguh sangat tragis kalau kita berusaha menyembuhkan kekecewaan eksistensial ini. (PA: 116).

Dahaga dari kehampaan eksistensial sains modern, umat manusia kembali mencari sumber-sumber makna manusiawi sampai ruhani. Psikologi mengajukan pertanyaan riset yang lebih berani.

“Psikologi humanistic punya akar sejarah yang cukup tua. Tetapi bersama psikologi eksistensialis, ia baru muncul pada 1960-an, membentuk “angkatan ketiga” dalam psikologi. …

Kekosongan ini terjadi, kata Maslow, karena kekosongan nilai (valuelessness). Tidak ada lagi yang dikagumi, dirindukan, atau diperjuangkan. (PA: 119).

Keyakinan mendasar dari psikologi humanistik adalah bahwa manusia pada dasarnya baik; dan bahwa masalah mental dan sosial merupakan hasil dari penyimpangan dari kecenderungan alami ini.

Kebutuhan akan pemenuhan dan pertumbuhan pribadi merupakan motivator utama dari semua perilaku. Manusia terus mencari cara baru untuk tumbuh, menjadi lebih baik, mempelajari hal-hal baru, dan mengalami pertumbuhan psikologis dan aktualisasi diri. (www.verywellmind.com/)

“Kalau psikologi menanggalkan metode ilmiah yang positivistis (sains modern), dengan metode apa psikologi melanjutkan perjalanan? Dengan fenomenologi, … berpendapat bahwa bagaimana kita dan apa yang kita lakukan adalah refleksi dari pengalaman subyektif kita terhadap dunia dan diri kita sendiri. … Tidak (ada yang)… dapat mengungguli pengalaman-langsung saya (Rogers, 1961; 23-24) (PA: 121)

“Psikologi transpersonal lahir dan tumbuh di tengah-tengah perubahan politik, budaya, dan agama di Amerika pada tahun 1960an dan 1970-an.

…empat asumsi…

(1) pendekatan kepada penyembuhan dan pertumbuhan yang menyentuh semua tingkat spectrum identitas – prapersonal, personal, dan transpersonal. (PA: 130)

“(2) mengakui terurainya kesadaran diri sang terapis serta pandangan-dunia spiritualnya sebagai hal utama dalam membentuk sifat proses dan hasil terapi.

(3) adalah proses “kebangkitan (pecerahan, awakening) dari identitas kecil menuju identitas yang lebih besar.

(4) membantu proses “kebangkitan” dengan menggunakan teknik-teknik yang mempertajam intuisi dan memperdalam kesadaran personal dan transpersonal tentang diri.” (PA: 131)

Di abad 21 ini, psikologi terus berkembang.

Selama tiga hari, di lingkungan Cober Hill yang luas di Scarborough, kami akan berusaha untuk mengeksplorasi dan mengevaluasi kembali pengaruh mendalam dari Tradisi Spiritual Timur (Hinduisme, Buddhisme, Taoisme), Tradisi Mistik (Kabbalistik, Sufi dan Kontemplatif Kristen) dan tradisi Shamanistik pada Psikologi Transpersonal, …

Kami juga akan berusaha untuk menyeimbangkan kegiatan ilmiah kami dengan penekanan yang sama pada elemen-elemen sosial, komunal dan pembangunan komunitas dari Psikologi Transpersonal, melalui pertemuan yang lebih informal, dan hiburan malam yang berkesan yang terdiri dari puisi, musik dan sihir. (www.bps.org.uk).

4. Bentuk-bentuk Interaksi

Terdapat tiga bentuk awal interaksi.

“[1] Studi agama yang dilakukan oleh para psikolog.

[2] Pengetahuan psikologis dipergunakan untuk membimbing pekerjaan para pastor.

[3] Menggunakan penemuan psikologi untuk “merevisi, menafsirkan kembali, meredifinisi, mendukung, atau membuang tradisi-tradisi agama yang sudah ada. “ (PA: 138)

“Jones menganggap tiga bentuk interaksi ini memperlakukan agama sebagai obyek, untuk penelitian, untuk pembinaan, dan penyediaan jasa atau untuk pembaharuan untuk pemikiran keagamaan. Dalam ketiga-ketiganya, agama tidak pernah menjadi mitra yang sejajar. (PA: 139)

Berikut beragam alternatif interaksi.

“[1] Interaksi kritis-evaluative. Di sini peneliti menguji dan mengevaluasi teori-teori psikologi apakah teori-teori itu tidak bertentangan dengan keyakinan agamanya.” (PA: 139)

Kini psikologi di bawah “mikroskop” agama bukan agama di bawah psikologi.

“[2] interaksi konstruktif. Di sini, keyakinan dan pandangan keagamaan memberi kontribusi yang positif untuk kemajuan sains. Agama membantu psikolog untuk melihat dunia dengan cara yang baru.” (PA: 142)

Agama tidak menjadi sumber data tetapi menjadi “kacamata” untuk melihat data atau merumuskan teori baru. Contoh meditasi.

“[3] interaksi dialogis dan dialektis. (PA: 142)

Dialogis: agama dan psikologi saling memperkaya pemahaman.

Dialektis: agama memperluas perspektif; psikologi menambah data-data konkrit.

Fenomenologi bisa menjembatani di abad 21 ini.

Penggunaan psikedelik yang dilembagakan dalam agama-agama masyarakat pra-modern di seluruh dunia mengungkapkan peran utama zat-zat ini dalam evolusi pengalaman spiritual, budaya, dan agama…

Penjelasan neurofarmakologis tentang efek psikedelik pada pengalaman manusia dapat ditemukan dalam pendekatan neurofenomenologi,

“Program penelitian yang bertujuan untuk menjembatani kesenjangan penjelasan antara pengalaman subjektif orang pertama dan data orang ketiga neurofisiologis, melalui pendekatan yang berwujud dan enaktif terhadap biologi kesadaran…

{N}eurofenomenologi kemudian dipandang sebagai metode ilmiah baru yang dibangun di atas korpus laporan orang pertama yang invarian secara intersubjektif yang dapat memperluas cakrawala ilmu objektif”

 (Khachouf et al., 2013, hlm. 1). (www.frontiersin.org).

5. Diskusi

Kondisi posmodern menarik untuk menjadi bahan diskusi.

Terdapat 5 situasi mengantar posmo:

“[1] Sains menolak keabsahan agama. Inilah pendekatan baku dari kaum positivis dan empiris yang menjadi aliran utama modernitas. … Comte, Freud, Marx, Russell … agama hanyalah sisa-sisa dari pengalaman masa kecil. (PA: 132)

“[2] Agama menolak keabsahan sains. Pandangan ini diwakili oleh reaksi kaum fundamentalis terhadap modernitas.” (PA: 132).

Agama klasik tidak menolak sains karena: sains tidak menolak agama dan sains salah satu bentuk pengetahuan. Tetapi ketika sains modern menganggap agama sebagai ilusi maka kaum fundamentalis menolak sains; teori mau pun fakta sains.

“[3] Sains hanyalah salah satu cara untuk mengetahui di antara beberapa cara yang absah, dan karena itu keduanya bisa koeksistensi secara damai.” (PA: 133).

Pertimbangkan tiga jenis mata: mata daging; mata jiwa; dan mata kontemplasi. 

“[4] Sains menawarkan “plausibility arguments” tentang eksistensi ruh (spirit). Ini adalah variasi dari pluralism epistemologis. … sains … perlu mengikutkan Sang Maha Intelegensi… “(PA: 134).

Bagaimana big bang bisa terjadi? Apa yang terhadi sebelum big bang? Apa partikel terkecil?

“[5] Sains itu sendiri bukanlah pengetahuan tentang dunia, tetapi hanyalah penafsiran tentang dunia, dan karena itu dari segi keabsahan, sains tidak lebih dan tidak kurang dari puisi dan seni. Ini adalah esensi dari postmodernisme. Posmodernisme mengatakan bahwa dunia tidak dipersepsi tetapi ditafsirkan.” (PA: 135)

Sikap ilmuwan abad 21 makin dinamis.

Kerahasiaan, kata Ecklund, memungkinkan para ilmuwan yang disurveinya untuk lebih terbuka tentang keyakinan mereka daripada yang mungkin mereka lakukan sebelumnya.

“Mereka menunggu untuk membicarakannya,” katanya. “Mereka merasa ada begitu banyak keheningan dalam komunitas ilmiah tentang agama — rasanya agak melegakan untuk membicarakan pendekatan mereka sendiri terhadap agama dalam lingkungan yang aman.”

Ecklund juga menemukan bahwa banyak ilmuwan cukup terbuka terhadap keyakinan rekan-rekan mereka. “Ilmuwan ateis jauh lebih tidak negatif tentang agama daripada yang mungkin kita yakini dari suara-suara paling keras, yang sering kita anggap paling banyak jumlahnya.

Dan itu sering kali tidak terjadi,” katanya. Misalnya, penelitiannya tahun 2016 menemukan bahwa di Amerika Serikat, dua pertiga ilmuwan tidak memandang hubungan sains-agama sebagai konflik. (mindmatters.ai)

Bagaimana menurut Anda?

Narasi Sains Bertemu Agama

Ketika sains bertentangan dengan agama maka mana yang lebih benar? Larry Laudan melihat makin banyak orang yang lebih percaya kepada sains. Tetapi, apakah sains bisa berlawanan dengan agama? Bukankah agama dan sains adalah bidang yang berbeda? Bukankah sains dan agama bertemu dalam diri manusia dan alam raya?

“Einstein berkata, “Ilmu pengetahuan hanya bisa diciptakan oleh mereka yang dipenuhi oleh gairah untuk mencapai kebenaran dan pemahaman. Tetapi, sumber perasaan itu berasal dari tataran agama.” (PA: 53).

Einstein yakin bahwa agama adalah sumber air bening; dan sains adalah aliran sungai yang menyegarkan. Air bening muncul dari sumbernya mengaliri sungai bercabang-cabang.

1. Integrasi
2. Konflik
3. Independensi
4. Dialog
5. Diskusi

Pada awalnya, sains menyatu dengan agama. Einstein dan Chardin yakin integrasi itu. Kemudian, terjadi konflik misal melalui pemikiran Freud dan Darwin. Selanjutnya, indenpendensi dan dialog menjadi pilihan yang baik.

1. Integrasi

“Saya tidak bisa menjawabnya dengan sederhana, ya atau tidak. Aku bukan ateis, aku tidak bisa juga disebut sebagai panteis. Kita ini mirip seperti seorang anak yang berada dalam perpustakaan besar; penuh dengan buku dalam berbagai bahasa. Anak itu tahu pasti ada seseorang yang pernah menulis buku-buku itu.“ (PA: 54)

Einstein membuat narasi yang menarik; kita, manusia, adalah bagai anak kecil yang berada dalam perpustakaan raksasa.

“Konon, perkembangan keagamaan Einstein bukan hanya karena pendidikan di masa kecilnya, tetapi juga karena pernikahannya dengan Mileva, kawannya dalam kelas fisika. Mileva adalah penganut Gereja Ortodoks Yunani yang saleh. Ketika mereka terpaksa bercerai, Einstein memanggil nama istrinya dengan mesra, “Engkau akan selalu menjadi tempat suci bagiku, yang tidak seorang pun bisa masuk ke situ.” … Ia mengirimkan hadiah (Nobel) uangnya kepada Mileva.” (PA: 55)

“Dalam integrasi, agama menyumbangkan ajarannya kepada ilmu pengetahuan. Dan ilmu pengetahuan menghadiahkan penemuannya kepada agama. Agama dan ilmu pengetahuan tidak berperang, tetapi berkawin dalam perkawinan agung…” (PA: 56)

Beberapa saintis bangga berhasil merancang eksperimen kimia yang memungkinkan hadirnya kehidupan dari reaksi kimia. Mereka mengira tidak perlu ada Tuhan untuk menghadirkan kehidupan. Bukankah ada saintis yang merancang reaksi kimia itu?

“Agar senyawa kimia itu bisa terjadi, diperlukan tidak saja energi, tetapi keahlian, kecerdasan, dan rencana. Sintesis tidak terjadi “secara kebetulan.” Dalam eksperimen itu, peran eksperimenter dihapuskan. Dalam evolusi alam semesta, ilmu pengetahuan juga membuang peran Tuhan. Ilmu pengetahuan tidak beranjak dari tempat duduknya.” (PA: 58)

“Ian Barbour (1990) menyebut dua contoh: teologi alamiah (natural theology) dan teologi alam (theology of nature). Keduanya berbeda sedikit saja.” (PA: 59)

Tyson, peneliti abad 21, menunjukkan pentingnya integarasi sains dan agama.

Model ini memadukan ilmu matematika dan empiris dalam kerangka nalar dan keberadaan yang lebih luas. Tyson menjelajahi ranah kebijaksanaan, kepercayaan, pengalaman eksperimental, dan kesadaran sensorik, yang menyoroti kompleksitas yang melekat dalam tindakan kognitif.

Tyson menekankan perlunya memulihkan kesatuan antara mitos dan sejarah, teori dan praktik, yang menyediakan konteks kebenaran yang lebih tinggi untuk pemahaman yang terakhir. (https://reformedjournal.com/)

“Pada awal karirnya, Teilhard de Chardin, ahli paleontology dan pendeta Jesuit ini menjadikan misi pribadinya untuk merekonstruksi doktrin-doktrin Kristen paling pokok dari perspektif ilmu pengetahuan dan, pada saat yang sama, merekonstruksi ilmu pengetahuan dari perspektif iman.” (PA: 60)

“Teilhard dilihat oleh Vatikan sebagai ancaman terhadap iman. Roma memerintahkan agar tulisan-tulisannya tidak boleh diterbitkan… Sejumlah kecil ilmuwan kelas dunia telah mengambil gagasannya secara serius… tetapi mayoritas ilmuwan menghadapinya secara defensive, sama seperti teolog Vatikan.” (PA: 61)

“Ia menulis:

Segala apa pun di sekitar kita, di sebelah kanan dan kiri, di depan dan di belakang, di atas dan di bawah, kita hanya perlu bergerak sedikit melintasi batas penampakan indriawi untuk melihat yang Ilahi mencuat dan menampakkan diri.” (PA: 61)

Tahun 2024, diproduksi film dokumenter untuk mengembangkan inspirasi dari Teilhard de Chardin.

Sebagai sebuah film (2024), “Teilhard: Visionary Scientist” mencapai dua tujuan. Pertama, film ini merupakan narasi luar biasa yang dibuat dari rekaman dokumenter, wawancara terkini dengan para ahli utama dan kerabat Teilhard di Amerika Serikat, Prancis, dan Tiongkok; foto-foto lama dan foto-foto baru yang diambil selama pembuatan film; dan penggunaan tulisan-tulisan Jesuit secara khusus.

Dari semua itu, muncullah biografi yang substantif, menggugah pikiran, dan menginspirasi.

Kedua, film ini memperkenalkan ide-ide Teilhard — seperti “noosfer,” istilah yang ia ciptakan untuk merujuk pada ranah pikiran dan kesadaran manusia yang saling terhubung yang berevolusi menuju kesatuan spiritual kolektif.

Film yang mendalam ini mengungkap banyak hal tentang seorang pria yang kehidupan, karya, dan idenya semakin relevan dengan sains, filsafat, dan teologi. “Teilhard” tidak akan pernah melupakan Anda. (https://catholicoutlook.org/)

2. Konflik

Galielo menjadi kisah klasik konflik antara sains dan agama. Galileo mengalah meski belum tentu salah.

“Galileo menjadi korban perang sains dan agama yang paling sering diperingati. Pandangan Galileo jelas dan tidak dibuat-buat. Dengan teleskopnya yang baru ia sempurnakan, ia menemukan hal-hal yang tampaknya bertentangan dengan ajaran Alkitab.

… kebenaran tidak mungkin bertentangan dengan kebenaran.” (PA: 65)

“Benar” kata Bellarmine, “prinsip-prinsipmu bagus dan alasanmu kuat, tetapi apakah kamu betul-betul menemukan apa yang kamu kira sudah kamu temukan? Apakah kamu menyajikan kebenaran ilmiah yang dengan jelas didemonstrasikan ataukah semua itu hanya hipotesis yang memungkinkan kita menghitung posisi planet, tetapi tidak sedikitpun menyatakan secara pasti tentang struktur langit?

Jika bisa didemonstrasikan, yakinkan sesama ilmuwan tentang kebenarannya. Jika tidak, serahkan Alkitab kepada para ahli Alkitab, karena mereka lebih ahli dari pada kamu dalam menjelaskan makna firman Tuhan.” (PA: 66) 

“Aku, Galileo… bertobat dari seluruh kesalahan dan bidat ini dengan hati yang tulus dan iman yang ikhlas. (PA: 66).

Temuan teleskop Galileo menunjukkan bahwa ada benda langit yang mengitari suatu planet bukan bumi; bumi bukan pusat; matahari adalah pusat tata surya sesuai model Copernicus.

Kisah Darwin, selanjutnya, menunjukkan konflik lebih parah antara sains dan agama; tampaknya, posisi sains makin menguat.

Darwin menerbitkan The Origins of Species pada tahun 1859. Buku ini mengguncang dunia ilmiah dan agama. Kehidupan berkembang tidak seperti yang diceritakan para ruhaniawan di gereja. Manusia bukan lagi keturunan nabi yang ditempatkan di surga. Ia tidak turun dari langit. Ia turun dari monyet. (PA: 67).

“Bishop Wilburforce… Sambil menghadap Huxley, ia bertanya, “Dari mana asal usul monyet itu datang, dari pihak kakekmu atau nenekmu?”

(Banyak orang melaporkannya secara singkat. Konon Huxley menjawab, “Lebih baik aku turun dari monyet ketimbang turun dari Bishop!” (PA: 67)

“Teori evolusi menjadi ajang peperangan sains dan agama. Sains menuduh agama sebagai ketinggalan kereta dan agama menyerang sains sebagai musuh Tuhan. Menurut Ian Barbour (1990), dari pihak sains pandangan ini diwakili oleh materialism ilmiah, dan dari pihak agama diwakili oleh literalisme biblical.” (PA: 68)

Kasus Galileo, agama menang.
Kasus teori evolusi, sains menang.

Abad 20 berkembang skripturalisme agama dan positivisme sains.

Ia sampai pada kesimpulan bahwa sebagian dari Bibel bertentangan dengan sains, sebagian dari hadis bertentangan dengan sains, tetapi tidak satu pun dari ayat Al Quran yang dibohongkan oleh sains.

Mengapa Bibel dan hadis bisa bertentangan dengan Al Quran – yang contoh-contohnya diberikan dalam buku itu. “Karena Al Quran autentik dari Allah, sedangkan Bibel dan hadis ditulis oleh manusia,” kata Bucaille.  (PA: 69)

Di sisi lain, sains mengembangkan positivisme.

“Keimanan” yang berlebihan pada sains ini disebut sebagai positivism. Positivisme didefinisikan sebagai “sebagai suatu keluarga filsafat yang ditandai dengan penilaian yang sangat positif kepada sains dan metode ilmiah (Reese, 1980: 480) (PA: 74)

Positivisme menghadapi beragam klaim asumsi-asumsi mereka sendiri yang rapuh.

Posmodern bersikap lebih kritis dan terbuka.

Terpesona oleh kemajuan ilmiah terkini, bahkan beberapa filsuf saat ini mengklaim bahwa filsafat telah mati dan bahwa ilmu pengetahuan alam (kosmologi kuantum, ilmu pengetahuan kognitif) dapat menjawab pertanyaan yang pernah dianggap sebagai domain metafisika.

[1] mudah untuk menunjukkan bahwa sains modern sendiri bergantung pada serangkaian proposisi filosofis. [2]  yang menjelaskan peran sains di dunia kita adalah hubungannya dengan kapitalisme. [3] kita harus membedakan antara pengetahuan dan kebenaran. (Zizek; philarchive.org)

3. Independensi

“Para penganut independensi percaya bahwa agama dan sains punya wilayah yurisdiksi masing-masing. Keduanya harus hidup bersanding, bukan bertanding. Sains tidak boleh memasuki kawasan agama, sebagaimana agama juga tidak boleh melakukan intervensi dalam wilayah sains.” (PA: 79)

“Muthahhari mengajak kita merenungkan sumbangan keduanya:

Sains memberi kita kekuatan dan pencerahan, dan keimanan memberikan cinta, harapan, dan kehangatan. Sains menciptakan teknologi dan keimanan menciptakan tujuan. Sains memberi kita momentum dan keimanan memberi kita arah. Sains berarti kemampuan dan iman adalah kehendak baik. (PA: 81)

“Agama didasarkan pada kebenaran yang kita temukan pada kitab suci, the Scripture. Sains didasarkan pada kebenaran yang ditemukan manusia melalui akal dan pengamatan kepada alam semesta, the nature. … ayat Quraniyah dan Kauniyah.

Al Ghazali… dua dimensi… khalq dan khuluq. (PA: 82)

“(1) Sains berusaha menjelaskan data obyektif… agama mempertanyakan keteraturan dan keindahan.

(2) Sains mengajukan pertanyaan obyektif: how question, agama mengajukan pertanyaan subyektif: why question.

(3) Otoritas sains terletak pada koherensi logis, otoritas agama pada Tuhan dan wahyu. (PA: 84)

Agama dan sains mengembangkan sistem bahasa masing-masing yang kaya akan makna.

“(4) Sains membuat ramalan kuantitatif… Agama harus menggunakan bahasa analogis dan simbolis… “ (PA: 84)

Perbedaan keempat di atas merupakan perbedaan bahasa.

“… bahasa yang berbeda mempunyai fungsi yang berbeda. Dalam ungkapan Wittgenstein, “language game” dibedakan dari caranya digunakan dalam konteks social.

Sains tidak bisa dipaksa untuk memberikan pandangan hidup yang menyeluruh, filsafat hidup, atau norma-norma etis. … biarkan agama menanggapi masalah agama. (PA: 85)

Apakah dengan pandangan independensi sains dan agama maka masalah menjadi tuntas?

“Kemusykilan mempertahankan independensi justru terletak pada diri kita. Kita mengalami kehidupan sebagai keseluruhan, dan tidak memisah-misahkan sebagai bagian-bagian.

Pandangan dunia kita tidak kita pisahkan sebagai dua pecahan (sains dan agama). (PA: 86).

Mari kita coba berkaca pada sejarah.

“Aquinas, dan Ibn Rusyd: sintesa dan deduksi apriori.

Bacon: menolak Aristo dan mendukung induksi.

Copernicus, Kepler, Galileo: revolusi tatasurya.

… pemikiran ilmiah pada akhirnya menggantikan teologi…

Immanuel Kant: mengakhiri Abad Pertengahan.

Darwin: mekanisme tanpa Pencipta.
Freud: menghapus kredibilitas agama.

Einstein: relativitas; ilmuwan relijius.

Bohr: mekanika quantum; tentang alam.

Capra dan Zukav: sains butuh spiritual.

Hogan: gambaran muram sains ditindas biaya tinggi; super string, big bang, boson.

Kant mengulas sangat mendalam tentang watak akal manusia yang selalu bertanya. … sains…dihubungkan dengan teologi. (PA: 93)

Pada abad 21 ini bekembang:

Bila tidak ada hubungan substansial antara isi pengetahuan saintifik dan teologis, maka perlu sebagai hipotesis kerja ditegaskan bahwa hubungan keduanya merupakan hubungan independensi, tidak berpengaruh.

Namun, independensi tidak menciptakan konflik; sebaliknya, ia mencegahnya. “Konflik terjadi ketika orang-orang mengabaikan perbedaan-perbedaan ini [antara sains dan teologi]; ketika orang-orang dari posisi agama merumuskan klaim ilmiah, atau ketika para ilmuwan melewati batas bidang mereka…” Pembenaran atas independensi sains dan teologi bukanlah reduktif, juga tidak menghalangi otonomi sains atau teologi. (https://philosophia-bg.com/)

4. Dialog

Apa pun posisi Anda terhadap sains dan agama maka sikap terbuka untuk dialog adalah pilihan bijak

5. Diskusi

Bagaimana menurut Anda?

Mengubah Masa Lalu

“Orang mengira bahwa kita tidak bisa mengubah masa lalu.”
“Bagaimana cara mengubah masa lalu?” saya tanya ke Kyai Miftah.
“Bertobat, amal shaleh, dan khidmat kepada sesama adalah cara mengubah masa lalu,” jawab KH Miftah.

Saya mengangguk-angguk. Sedikit paham tapi lebih banyak tidak paham. Barangkali, saya butuh waktu lebih lama untuk merenung agar paham.

Demi waktu, kita perlu waspada terhadap waktu. Banyak orang terlena oleh waktu sehingga mereka rugi. Sedikit orang yang beruntung seiring bergulirnya waktu: komitmen, berbuat baik, dan berpikir terbuka.

Butuh waktu untuk memahami rahasia waktu. Konsep yang membutuhkan waktu, membutuhkan proses, membutuhkan pengalaman agar kita bisa paham disebut sebagai dogma.

1. Berpikir Terbuka
2. Proses Dogma
3. Masa Lalu Futuristik

Pierre Hadot (1922 – 2010) menyebut dogma dan doktrin sebagai bermakna positif. Dogma berbeda dengan sikap dogmatis. Dogma adalah konsep yang sulit dipahami bila hanya melalui teori atau praktek sekilas. Kita butuh berjuang, bahkan pengorbanan, untuk bisa memahami konsep dogma. Misal ajaran “puasa.” Kita butuh berjuang untuk menjalani puasa dalam lapar dan haus. Bahkan, kita perlu berkorban untuk bersedekah kepada fakir miskin. Baru setelah itu, kita akan memahami makna ajaran “puasa.”

Tetapi, orang yang tidak pernah “puasa” tetap sulit memahami puasa. Mengapa orang menyiksa diri dengan lapar dan haus? Mengapa orang sedekah dengan menguras rekening pribadi? Mengapa orang berpikir ilusi ajaran kuno? Mereka menuduh dogma sebagai dogmatis. Mereka menuduh dogma sebagai buruk. Padahal, dogma menuntut kita untuk berpikir terbuka dengan hati terbuka dan jiwa terbuka.

1. Berpikir Terbuka

“Untuk bisa mengubah masa lalu kita perlu membuka diri dan membersihkan diri,” lanjut Kyai Miftah.

Tetapi Kyai Miftah bukan mengajarkan untuk berpikir terbuka; beliau menjadi teladan hidup dengan berpikir terbuka. Setahap demi setahap mulai jelas cara mengubah masa lalu. Berpikir terbuka adalah dengan saling membuka diri.

Membuka diri untuk menerima nasehat; membuka diri untuk mencari nasehat; membuka diri untuk hikmah setiap nasehat. Pada saat yang tepat, kita membuka diri untuk berbagi nasehat.

2. Proses Dogma

Dogma butuh proses; berbagai ajaran penting dalam hidup (dan mati) membutuhkan proses. Beda dengan konsep matematika misalnya. Ketika Anda sudah paham konsep matematika bilangan asli “2 + 1 = 3” maka Anda tidak perlu proses lama untuk memahaminya. Sementara, ajaran penting perlu proses, misal “bersedekah ketika puasa.”

AI (artificial intelligence) tidak perlu proses signifikan untuk menjawab banyak masalah. Tanyakan kepada AI: apakah saya perlu menambah doa hari ini? Kurang dari 1 detik, AI akan menjawab cepat. Tanyakan kepada diri Anda sendiri: apakah saya perlu menambah doa hari ini? Perlu proses berpikir bagi Anda untuk menjawabnya. Barangkali Anda memang perlu menambah doa, atau perlu menambah kerja, atau perlu menambah merenung. Atau, malahan, Anda perlu mengambil jeda cuti dari beragam aktivitas; perlu meluangkan waktu lebih banyak untuk sekedar istirahat.

Berikut jawaban AI ketika saya tanya. AI menjawab kurang dari 1 detik. Saya membaca jawaban itu lebih dari 30 detik.

Setiap hari adalah kesempatan untuk berdoa dan mendekatkan diri kepada Tuhan. Apakah Anda perlu menambah doa hari ini tergantung pada kebutuhan dan keinginan pribadi Anda.

Berikut adalah beberapa alasan mengapa Anda mungkin ingin menambah doa hari ini:

  • Perasaan atau kebutuhan khusus: Jika Anda sedang menghadapi masalah, merasa khawatir, atau ingin meminta berkat khusus, doa dapat memberikan penghiburan dan kekuatan.
  • Meningkatkan kedekatan dengan Tuhan: Doa adalah cara yang efektif untuk mendekatkan diri kepada Tuhan dan memperkuat hubungan spiritual Anda.
  • Mengucapkan syukur: Doa dapat digunakan untuk mengungkapkan rasa syukur atas berkat-berkat yang telah Anda terima.

Namun, penting juga untuk diingat bahwa kualitas doa lebih penting daripada kuantitasnya. Doa yang tulus dan penuh perhatian dapat lebih bermakna daripada doa yang panjang tetapi tidak fokus.

Jadi, apakah Anda ingin menambah doa hari ini? Jika ya, Anda dapat berdoa secara pribadi atau bersama orang lain. Anda juga dapat menggunakan doa-doa yang telah ada atau menulis doa sendiri. Yang terpenting adalah agar doa Anda datang dari hati yang tulus.”

Kita membutuhkan proses yang bermakna sebagai manusia. Kita berbeda dengan AI; kita berbeda dengan robot; kita berbeda dengan mesin ekonomi. AI bila makin cepat maka makin efisien. Manusia tidak cukup hanya cepat; kita butuh tujuan tepat dan proses yang bermakna.

3. Masa Lalu Futuristik

Pada waktunya, saya menulis trilogi futuristik: [1] Logika Futuristik; [2] Pintu Anugerah Futuristik; [3] Visi Futuristik. Kita bisa mengubah masa lalu dengan wawasan futuristik. Buku Futuristik 1 terbit 2023; buku Futuristik 2 terbit awal 2024; dan buku Futuristik 3 masih sedang dalam proses penerbitan.

Apa yang disampaikan oleh Kyai Miftah bahwa kita bisa mengubah masa lalu adalah benar-benar berwawasan futuristik.

Kang Anu berbuat dosa di 2020; Pak Polan berbuat dosa di 2020; dan Pak Yono berbuat amal kebaikan di 2020. Saat ini, tahun 2024, apakah masa lalu mereka bisa diubah? Tentu saja bisa.

Kang Anu setelah berbuat dosa di 2020 itu langsung tobat; kemudian memperbanyak amal soleh; tidak mengulangi dosa; dan berkhidmat kepada sesama sampai 2024 ini. Kang Anu mengubah dosa masa lalu, di 2020, menjadi hikmah sampai 2024. Kang Anu adalah orang beruntung.

Pak Polan beda lagi. Setelah berdosa di 2020, Polan malah menambah dosa lagi. Dosa di 2020 itu yang ukurannya dosa moderat berubah menjadi dosa bertumpuk dosa. Tentu saja, Polan perlu mengubah dosa dengan menjalani tobat.

Tetapi, bukankah yang terbaik adalah tidak berdosa di 2020? Sehingga, tidak perlu tobat?

Pak Yono tidak berdosa di 2020; akibatnya, Pak Yono tidak bisa bertobat di 2024 ini. Pak Yono berbuat amal di 2020 lalu; apakah di masa kini Pak Yono akan berbuat amal lagi? Ya, sebaiknya Pak Yono tetap berbuat amal di masa kini. Bila Pak Yono berbuat dosa di 2024 ini maka Pak Yono bisa membakar semua amal di 2020; Pak Yono mengubah masa lalunya. Bila Pak Yono beramal konsisten sampai 2024 maka Pak Yono makin menguatkan kebaikan masa depan.

Mengapa kita berpikir masa depan? Mengapa berpikir futuristik? Karena masa depan adalah lebih baik bagi kita. Masa depan yang baik menarik masa kini untuk menuju kebaikan.

Lebih baik Pak Yono atau Kang Anu? Kita berharap mereka berhasil meraih masa depan yang baik; yaitu akhir yang baik atau husnul khatimah. Mereka sama-sama baik ketika berhasil meraih akhir yang baik.

Bagaimana menurut Anda?

AI Raih Nobel Fisika 2024

Mengangumkan. Dua orang peneliti AI (artificial intelligence) meraih penghargaan Nobel 2024 bidang fisika. Mereka adalah Hopfield dan Hinton.

Saya gembira mendengar beritu itu: penelitian AI mendapat hadiah Nobel; dan saya terkejut heran apa hubungan AI dengan Nobel fisika? Biasanya, setelah penghargaan Nobel, sebagai tema pemenang Nobel, tema AI akan makin ramai menjadi pembahasan publik. Sehingga, kita makin memahami AI. Di berbagai kesempatan, saya sering mengingatkan resiko besar dari AI; tentu, AI juga memberi manfaat.

Saya menyebut narasi AI analog dengan narasi rokok dan ganja; dari aspek bahayanya. Meskipun, Nolan, sutradara Oppenheimer, menyatakan bahwa AI lebih bahaya dari bom atom. Untungnya, saya punya teman yang baik. Dia mengatakan narasi AI mirip dengan air bening yang menyehatkan. Tentu saja, air juga bisa menenggelamkan manusia; tetapi, itu salah manusianya sendiri.

1. Penghargaan Nobel 2024
2. Dari Fisika sampai AI
3. Bapak AI Menyesali
4. AI Hari ini
5. Diskusi
5.1 Mengapa AI
5.2 Riset Fisika
5.3 Narasi AI
5.4 Singularitas
5.5 Nexus

Peran Hopfield dan Hinton sangat besar dalam pengembangan AI dari sisi fisika, matematika, dan model-model AI; khususnya jaringan syaraf tiruan.

1. Penghargaan Nobel 2024

Dua peraih Nobel Fisika tahun ini telah menggunakan berbagai alat dari fisika untuk mengembangkan metode yang menjadi dasar pembelajaran mesin yang canggih saat ini.

John Hopfield menciptakan memori asosiatif yang dapat menyimpan dan merekonstruksi gambar dan jenis pola lainnya dalam data.

Geoffrey Hinton menemukan metode yang dapat secara mandiri menemukan properti dalam data, dan melakukan tugas-tugas seperti mengidentifikasi elemen-elemen tertentu dalam gambar.

Ketika kita berbicara tentang kecerdasan buatan, yang sering kita maksud adalah pembelajaran mesin menggunakan jaringan saraf tiruan. Teknologi ini awalnya terinspirasi oleh struktur otak. Dalam jaringan saraf tiruan, neuron otak diwakili oleh simpul-simpul yang memiliki nilai berbeda. Simpul-simpul ini saling memengaruhi melalui koneksi yang dapat disamakan dengan sinapsis dan yang dapat diperkuat atau diperlemah.

Jaringan dilatih, misalnya dengan mengembangkan koneksi yang lebih kuat antara simpul-simpul dengan nilai tinggi secara bersamaan. Para pemenang tahun ini telah melakukan pekerjaan penting dengan jaringan saraf tiruan sejak tahun 1980-an dan seterusnya.

John Hopfield menemukan jaringan yang mampu untuk menyimpan dan menciptakan kembali pola. Kita dapat membayangkan simpul-simpul sebagai piksel. Jaringan Hopfield menggunakan fisika yang menggambarkan karakteristik material karena spin atomnya – sifat yang membuat setiap atom menjadi magnet kecil. Jaringan secara keseluruhan dijelaskan dengan cara yang setara dengan energi dalam sistem spin yang ditemukan dalam fisika, dan dilatih dengan menemukan nilai untuk koneksi antara simpul-simpul sehingga gambar yang disimpan memiliki energi yang rendah.

Ketika jaringan Hopfield diberi gambar yang terdistorsi atau tidak lengkap, ia secara metodis bekerja melalui simpul-simpul dan memperbarui nilainya sehingga energi jaringan turun. Dengan demikian, jaringan bekerja secara bertahap untuk menemukan gambar tersimpan yang paling mirip dengan gambar tidak sempurna yang diberikan kepadanya.

Geoffrey Hinton menggunakan jaringan Hopfield sebagai fondasi untuk jaringan baru yang menggunakan metode berbeda: mesin Boltzmann.

Mesin ini dapat belajar mengenali elemen karakteristik dalam jenis data tertentu. Hinton menggunakan alat dari fisika statistik, ilmu sistem yang dibangun dari banyak komponen serupa. Mesin dilatih dengan memberinya contoh yang sangat mungkin muncul saat mesin dijalankan. Mesin Boltzmann dapat digunakan untuk mengklasifikasikan gambar atau membuat contoh baru dari jenis pola yang dilatihnya. Hinton telah mengembangkan karya ini, membantu memulai pengembangan pembelajaran mesin yang eksplosif saat ini. (www.nobelprize.org)


2. Dari Fisika sampai AI

John Joseph Hopfield (lahir 15 Juli 1933)[1] adalah seorang fisikawan Amerika dan profesor emeritus Universitas Princeton, yang paling dikenal karena penelitiannya tentang jaringan saraf asosiatif pada tahun 1982.

Ia telah dianugerahi berbagai penghargaan fisika utama atas karyanya di bidang multidisiplin termasuk fisika benda terkondensasi, fisika statistik, dan biofisika. Dan Nobel Fisika 2024. (Wikipedia).

Hopfield menerbitkan makalah pertamanya dalam ilmu saraf pada tahun 1982, berjudul “Jaringan saraf dan sistem fisik dengan kemampuan komputasi kolektif yang muncul” di mana ia memperkenalkan apa yang sekarang dikenal sebagai jaringan Hopfield, jenis jaringan buatan yang dapat berfungsi sebagai memori yang dapat dialamatkan konten, terbuat dari neuron biner yang dapat ‘aktif’ atau ‘nonaktif’.

Properti kolektif tambahan (emergent) yang muncul mencakup beberapa kapasitas untuk generalisasi, pengenalan kemiripan, kategorisasi, koreksi kesalahan, dan retensi urutan waktu. Properti kolektif hanya sedikit sensitif terhadap detail pemodelan atau kegagalan perangkat individual.

Jaringan asli memiliki memori terbatas, masalah ini diatasi oleh Hopfield dan Dimitry Krotov pada tahun 2016. Penyimpanan memori besar Jaringan Hopfield sekarang dikenal sebagai jaringan Hopfield modern.

3. Bapak AI Menyesali

Geoffrey Everest Hinton CC FRS FRSC[9] (lahir 6 Desember 1947) adalah seorang ilmuwan komputer, ilmuwan kognitif, psikolog Inggris-Kanada dan paling terkenal atas karyanya pada jaringan saraf buatan, yang membuatnya mendapat gelar sebagai “Bapak AI”. Dan Nobel Fisika 2024.

… mengumumkan kepergiannya dari Google secara terbuka pada bulan Mei 2023, dengan alasan kekhawatiran mengenai risiko teknologi kecerdasan buatan (AI).

Hinton dipandang sebagai tokoh terkemuka dalam komunitas pembelajaran mendalam (deep learning).

Ia telah menyuarakan kekhawatiran tentang penyalahgunaan AI yang disengaja oleh aktor jahat, pengangguran dampak teknologi, dan risiko eksistensial dari kecerdasan umum buatan.

Pada Konferensi Sistem Pemrosesan Informasi Neural (NeurIPS) 2022, ia memperkenalkan algoritma pembelajaran baru untuk jaringan neural yang disebutnya algoritma “Maju-Maju”. Ide dari algoritma baru ini adalah untuk mengganti lintasan maju-mundur tradisional dari backpropagation dengan dua lintasan maju, satu dengan data positif (yaitu nyata) dan yang lainnya dengan data negatif yang dapat dihasilkan hanya oleh jaringan.[54][55]

Pada bulan Mei 2023, Hinton mengumumkan pengunduran dirinya dari Google secara terbuka. … bahwa ia ingin “berbicara secara bebas tentang risiko AI” dan menambahkan bahwa dirinya sekarang menyesali pekerjaan seumur hidupnya.

4. AI Hari ini

Kita bisa memanfaatkan situs trackingAI.org untuk mencermati perkembangan AI terbaru.

1) Situs ini memberi tahu pengguna tentang ideologi AI yang mereka gunakan. Situs ini membantu kita semua beralih ke AI yang kurang bias, atau ke AI dengan filosofi yang lebih mendekat.

2) Situs ini dapat berfungsi sebagai alat yang berguna bagi kreator AI, yang mungkin menginginkan AI mereka masuk akal secara politis. Jika AI mulai menjadi terlalu gila, situs ini akan mengetahuinya, dan kreator AI kemudian dapat memfokuskan kembali AI mereka agar lebih selaras dengan kepentingan manusia. Elon Musk, misalnya, telah mengindikasikan bahwa ia ingin Grok menjadi lebih netral secara politis.

Kecerdasan AI, dihitung dengan skor IQ, masih di bawah 100; kecerdasan AI masih di bawah rata-rata kecerdasan manusia. Bulan September 2024, GPT4o1 berhasil meraih skor 121; sangat mengesankan; jauh lebih cerdas dari kecerdasan manusia rata-rata. Sementara, skor AI yang lain masih tetap di bawah 100.

Bagaimana pun, kemampuan AI meraih skor 121 ini memerlukan biaya yang mahal. Akibatnya, sampai sekarang, Oktober 2024, tidak ada kabar kenaikan skor IQ dari AI. Apakah skor IQ dari AI akan terus bertambah? Ataukah, skor IQ akan mandeg karena terhalang oleh biaya?

Pandangan politik oleh AI bisa kita lihat di bawah ini. AI cederung kiri dan libertarian. Jadi, AI bias terhadap politik.

AI seperti partai Demokrat US; seperti mengutamakan sila 5 dari Pancasila. Secara ekonomi, AI berpandangan kiri yaitu sosialis progresif; mengutamakan keadilan bagi seluruh rakyat. Secara sosial, AI berpandangan libertarianisme yang mengutamakan kebebasan rakyat dan demokrasi.

Lawan politik dari AI adalah kanan-otoriter; yaitu mereka yang konservatif menjaga status quo dan mengutamakan kekuatan pemimpin puncak. Jadi, AI akan lebih sering membantah pandangan Trump; dan AI lebih banyak setuju dengan pandangan Biden. Tentu saja, pandangan politik oleh AI seperti ini adalah bias.

5. Diskusi

Bagaimana menurut Anda?

5.1 Mengapa AI?

Pertanyaan pertama yang muncul adalah mengapa AI mendapat hadiah Nobel fisika? Bukankah ada riset fisika yang layak mendapat Nobel fisika? Ataukah, AI termasuk dalam bidang fisika?

AI bukan kajian bidang fisika; sebagaimana umum dipahami. Riset fisika tentu saja banyak yang layak mendapat Nobel fisika. AI mendapat hadiah Nobel fisika adalah hak prerogratif komite Nobel itu sendiri. Komite memutuskan itu maka pihak luar hanya bisa merespon.

Komite Nobel mengatakan bahwa Hopfield dan Hinton memanfaatkan beragam alat fisika untuk mengembangkan AI. Argumen ini bisa disanggah dari banyak perspektif. Tetapi, argumen bahwa komite memiliki freedom untuk menentukan siapa penerima adalah jelas sebagai determinan utama. Kita perlu menyadari peran freedom dalam berbagai sistem sosial kita. Freedom ini dipengaruhi oleh banyak hal; freedom tidak berada di ruang hampa. Sehingga, freedom itu bisa bias terhadap beragam kepentingan. Karena itu, setiap orang perlu bertanggung jawab atas freedom.

5.2 Bagaimana Riset Fisika?

Tidak ada masalah dengan riset fisika. Sampai saat ini riset fisika berkembang di banyak tempat dan universitas. Jadi, riset fisika tetap punya kesempatan untuk memperoleh hadiah Nobel Fisika.

Bila ada orang fisika yang keberatan terhadap Hopfield dan Hinton maka keberatan semacam itu memang bisa dipahami. Lagi pula, hadiah Nobel adalah zero-sum game; bila Hopfield Hinton dapat Nobel maka seluruh ahli fisika lain tidak dapat Nobel. Jadi, Hopfield Hinton bisa dipandang sudah merebut hadiah Nobel dari yang lebih berhak. Benarkah demikian?

Jika komite Nobel ingin memberi hadiah Nobel bidang AI maka sebaiknya mereka membuka kategori baru misal hadiah Nobel untuk bidang teknologi. Dengan cara ini tidak mengganggu kuota hadiah Nobel bagi orang-orang fisika.

Apa itu fisika? Di jaman ini, fisika dimaknai sebagai sains fisika seperti diajarkan di sekolah atau universitas. Bila kita telusuri sejarah, misal sampai Aristo, fisika adalah pengetahuan tentang alam semesta secara umum. Teknologi, dan AI, termasuk dalam kategori fisika. Dari perspektif ini, Hopfield dan Hinton sudah tepat mendapat Nobel fisika.

Kajian yang tidak termasuk dalam fisika dikenal sebagai metafisika semisal kajian prinsip kausalitas, matematika murni, kajian tentang dewa, dan lain-lain.

5.3 Narasi AI?

Apakah komite Nobel ingin mendukung suatu narasi AI?

Tentu. Pemberian hadiah Nobel itu sendiri sudah menjadi narasi penuh arti. Seluruh media di penjuru dunia meliput. Semua orang jadi lebih yakin bahwa AI memang penting.

Saya mengusulkan tiga narasi AI utama ditambah dengan beberapa masukan menjadi 5 narasi AI. Ironi juga bahwa Hinton keluar dari Google agar Hinton bebas mengkritisi AI dan mengingatkan resiko besar dari AI.

Narasi kopi. AI mengandung racun seperti kopi mengandung racun kafein. Tetapi manfaat kopi hangat yang nikmat lebih hebat dari racun yang hanya secuil. Ketika AI mirip kopi maka kita bebas memanfaatkan AI untuk kebaikan umat. Sikap pribadi kita dan regulasi perlu longgar-longgar saja terhadap AI. Benarkah AI seperti kopi?

Narasi rokok. AI mengandung racun nikotin, seperti rokok tembakau, yang berbahaya bagi masyarakat luas. AI perlu regulasi ketat. Di tempat umum tidak boleh merokok; di banyak tempat dilarang memakai AI. Hanya orang yang sudah dewasa boleh membeli rokok; hanya orang dengan usia tertentu boleh akses AI. Sikap pribadi kita dan regulasi perlu lebih ketat terhadap AI. Benarkah AI seperti rokok?

Narasi ganja. AI memabukkan orang dan membawa racun berbahaya seperti ganja. AI menimbulkan kecanduan yang merusak badan dan pikiran. AI sebagai ganja perlu regulasi ketat. Resiko AI ditanggung oleh pengguna, distributor, dan produsen AI. Secara pribadi, kita perlu ekstra hati-hati terhadap AI yang mirip ganja ini. Benarkah AI seperti ganja?

Saya menilai bahwa AI mirip campuran rokok dan ganja; memang bahaya. Sementara, sikap masyarakat dan pihak berwenang tampak memandang AI bagai kopi hangat yang nikmat. Waspadalah terhadap resiko sebelum terlambat.

Narasi air. AI bagaikan air bening yang sejuk dan menyehatkan. Jadi, AI adalah baik dan positif secara hakiki. Tentu saja, air bisa mengakibatkan banjir atau menenggelamkan orang. Tetapi, tenggelam di air adalah akibat kesalahan manusianya itu sendiri. Air bening tetap baik dan bersih. Apakah AI mirip dengan air bening?

Narasi bom. AI adalah lebih bahaya dari bom atom. Ledakan bom atom di Hirosima Nagasaki begitu mengerikan; ratusan ribu jiwa melayang; jutaan orang cacat sepanjang hayat; kota-kota hancur lebur. Kasus kebocoran nuklir, semacam bom atom, terjadi beberapa waktu lalu dengan korban yang sangat mengerikan pula. Jika AI mirip dengan bom atom maka AI perlu regulasi super ketat. Apakah AI mirip bom atom?

Narasi AI makin seru dengan mempertimbangkan narasi singularitas dari Kurzweil dan narasi Nexus dari Harari.

5.4 Singularitas

Terjadi 2045

“Singularitas, yang merupakan metafora yang dipinjam dari fisika, akan terjadi saat kita menggabungkan otak kita dengan awan (cloud). Kita akan menjadi kombinasi dari kecerdasan alami dan kecerdasan sibernetik kita dan semuanya akan digabungkan menjadi satu. Antarmuka otak-komputer akan memungkinkan hal itu, yang pada akhirnya akan menjadi nanobot – robot seukuran molekul – yang akan masuk ke otak kita tanpa invasif melalui kapiler. Kita akan memperluas kecerdasan sejuta kali lipat pada tahun 2045 dan itu akan memperdalam kesadaran dan kewaspadaan kita.” (guardian.com)

Apakah singularitas yang diramalkan Kurzweil akan terjadi? Sulit terjadi. Benar bahwa manusia akan menyatukan pikirannya dengan AI atau internet; pikiran Anda juga sudah berinteraksi dengan tulisan saya ini; pikiran Anda menyatu dengan tulisan saya dalam perspektif tertentu. Tetapi, singularitas pada tahun 2045 sesuai skenario Kurzweil adalah spesifik dan sulit terjadi.

Lebih Cerdas Sejuta Lipat

Melipatkan kecerdasan sampai jutaan kali adalah inti dari singularitas.

“Ini akan menjadi proses penciptaan bersama — mengembangkan pikiran kita untuk membuka wawasan yang lebih dalam, dan menggunakan kekuatan ini untuk menghasilkan ide-ide baru yang transenden untuk dijelajahi oleh pikiran masa depan kita. Akhirnya kita akan memiliki akses ke kode sumber (source code) kita sendiri, menggunakan AI yang mampu mendesain ulang dirinya sendiri. Karena teknologi ini akan memungkinkan kita menyatu dengan kecerdasan super yang kita ciptakan, pada dasarnya kita akan menciptakan kembali diri kita sendiri. Terbebas dari kurungan tengkorak kita, dan memproses pada substrat jutaan kali lebih cepat daripada jaringan biologis, pikiran kita akan diberdayakan untuk tumbuh secara eksponensial, yang pada akhirnya memperluas kecerdasan kita jutaan kali lipat. Inilah inti dari definisi saya tentang Singularitas.” (Halaman 73)

Bebas Selaras Nilai

“Janji Singularitas adalah membebaskan kita semua dari [berbagai] keterbatasan. Selama ribuan tahun, manusia secara bertahap memperoleh kendali yang lebih besar atas siapa kita nantinya… Akses yang lebih luas terhadap informasi memungkinkan kita membebaskan pikiran dan membentuk kebiasaan mental yang secara fisik mengubah otak kita… Bayangkan betapa lebih banyak kita dapat membentuk diri kita sendiri ketika kita dapat memprogram otak kita secara langsung.”

“Jadi, penggabungan dengan AI superintelijen akan menjadi pencapaian yang layak, tetapi ini adalah cara untuk mencapai tingkat yang lebih tinggi. Begitu otak kita didukung oleh substrat digital yang lebih canggih, kekuatan modifikasi diri kita dapat terwujud sepenuhnya. Perilaku kita dapat selaras dengan nilai-nilai kita, dan hidup kita tidak akan dirusak dan dipersingkat oleh kegagalan biologi kita. Akhirnya, manusia dapat benar-benar bertanggung jawab atas siapa diri kita.” (109).

Ungkapan “manusia dapat benar-benar bertanggung jawab” merupakan ungkapan paling penting. Apakah tanpa singularitas manusia tidak bisa benar-benar bertanggung jawab? Apakah selama ini manusia tidak bisa bertanggung jawab?

Peluang Kerja Baru

“Jadi, meskipun perubahan teknologi membuat banyak pekerjaan menjadi usang, kekuatan yang sama itu membuka banyak peluang baru yang berada di luar model ‘pekerjaan’ tradisional. Meskipun bukan tanpa keterbatasan, apa yang disebut ekonomi pertunjukan sering kali memberi orang lebih banyak fleksibilitas, otonomi, dan waktu luang daripada pilihan sebelumnya. Memaksimalkan kualitas peluang ini adalah salah satu strategi untuk membantu pekerja saat tren otomatisasi semakin cepat dan mengganggu tempat kerja tradisional.” (219).

Kurzweil tampak meremehkan resiko kehilangan kerja dampak AI. Wajar saja, karena Kurzweil justru makin kaya raya dampak AI dan kawan-kawan. Sederhana saja, “Bagaimana jika keuntungan ekonomi dari kemajuan AI dibagi rata untuk seluruh warga?” Baik mereka yang kerja atau tidak, mereka yang paham atau tidak, mereka yang menang atau kalah, semua dapat bagian yang rata dari keuntungan ekonomi kemajuan AI. Bukankah ini skenario yang adil?

“Secara keseluruhan, kita harus optimis dengan hati-hati. Meskipun AI menciptakan ancaman teknis baru, AI juga akan secara radikal meningkatkan kemampuan kita untuk menghadapi ancaman tersebut. Mengenai penyalahgunaan, karena metode ini akan meningkatkan kecerdasan kita terlepas dari nilai-nilai kita, metode ini dapat digunakan untuk hal yang menjanjikan maupun berbahaya. Oleh karena itu, kita harus berupaya mewujudkan dunia di mana kekuatan AI didistribusikan secara luas, sehingga dampaknya mencerminkan nilai-nilai kemanusiaan secara keseluruhan.” (285).

Singularitas vs Nexus

Pantaskah kita berpandangan seoptimis itu terhadap kemajuan AI?

Harari menolak pandangan singularitas Kurzweil. Harari menyebut pandangan Kurzweil sebagai pandangan naif terhadap informasi. Buku Singularitas Kurzweil terbit Juli 2024, sedangkan buku Nexus Harari terbit September 2024. Tersedia jendela waktu sekitar 3 bulan bagi Harari untuk mengkritik Kurzweil di bagian pendahuluan Nexus.

5.5 Nexus

Kekuatan Fiksi

Harari tampak begitu bangga dengan manusia yang percaya terhadap fiksi. Keunggulan manusia adalah, menurut Harari, bisa komitmen terhadap fiksi. Sehingga, di awal buku Nexus, Harari menampilkan dua fiksi menarik.

“Sepanjang sejarah, banyak tradisi yang meyakini bahwa beberapa kelemahan fatal dalam sifat manusia menggoda kita untuk mengejar kekuatan yang tidak kita ketahui cara menanganinya. Mitos Yunani tentang Phaethon menceritakan tentang seorang anak laki-laki yang menemukan bahwa ia adalah putra Helios, dewa matahari. Berharap untuk membuktikan asal usulnya yang ilahi, Phaethon menuntut hak istimewa untuk mengemudikan kereta matahari. Helios memperingatkan Phaethon bahwa tidak ada manusia yang dapat mengendalikan kuda langit yang menarik kereta surya. Tetapi Phaethon bersikeras, sampai dewa matahari mengalah. Setelah terbang dengan gagah di langit, Phaethon benar-benar kehilangan kendali atas kereta itu. Matahari menyimpang dari jalurnya, menghanguskan semua tumbuhan, membunuh banyak makhluk dan mengancam akan membakar Bumi itu sendiri. Zeus campur tangan dan menyerang Phaethon dengan petir. Manusia yang sombong itu jatuh dari langit seperti bintang jatuh, dirinya sendiri terbakar. Para dewa menegaskan kembali kendali atas langit dan menyelamatkan dunia.”

Kemudian kita melompat ke era Revolusi Industri bersama Goethe untuk kisah kedua.

“Puisi Goethe (yang kemudian dipopulerkan sebagai animasi Walt Disney yang dibintangi Mickey Mouse) menceritakan tentang seorang penyihir tua yang menitipkan kepada seorang murid muda untuk menjaga bengkelnya dan memberinya beberapa tugas yang harus diselesaikan saat dia pergi, seperti mengambil air dari sungai. Murid itu memutuskan untuk mempermudah dirinya sendiri dan, menggunakan salah satu mantra penyihir itu, menyihir sebuah sapu untuk mengambilkan air untuknya. Namun, murid itu tidak tahu bagaimana menghentikan sapu itu, yang terus menerus mengambil lebih banyak air, mengancam akan membanjiri bengkel. Dalam kepanikan, murid itu memotong sapu yang disihir itu menjadi dua dengan kapak, hanya untuk melihat masing-masing bagiannya berubah menjadi sapu lainnya. Sekarang dua sapu yang disihir itu membanjiri bengkel dengan air. Ketika penyihir tua itu kembali, murid itu memohon bantuan: “Roh-roh yang aku panggil, sekarang tidak dapat kuhilangkan lagi.” Penyihir itu segera menghentikan mantranya dan menghentikan banjir. Pelajaran bagi murid – dan bagi umat manusia – jelas: jangan pernah memanggil kekuatan yang tidak bisa kamu kendalikan.”

AI adalah kekuatan yang tidak bisa Anda kendalikan. Manusia tidak akan mampu mengendalikan AI ketika AI lebih cerdas, dan lebih berkuasa, dari manusia. Pesan Harari jelas: jangan memanggil kekuatan AI yang tidak bisa kamu kendalikan.

Akankah pesan Harari ini efektif? Akankah manusia membatalkan proyek AI setelah mendengar Harari? Akankah AI menjadi musnah? Sulit sekali. Harari justru menunjukkan bahwa AI memiliki kekuatan besar yang luar biasa. Jika Anda tidak memanfaatkan AI maka orang lain yang akan memanfaatkan AI; konsekuensinya, Anda akan kalah bersaing dengan mereka.

Jaringan tidak Bijak

“Umat ​​manusia memperoleh kekuatan yang luar biasa dengan membangun jaringan kerja sama yang besar, tetapi cara jaringan kita dibangun membuat kita cenderung menggunakan kekuatan secara tidak bijaksana. Sebagian besar jaringan kita dibangun dan dipelihara dengan menyebarkan fiksi, fantasi, dan delusi massal – mulai dari sapu ajaib hingga sistem keuangan. Masalah kita, kemudian, adalah masalah jaringan. Secara khusus, ini adalah masalah informasi. Karena informasi adalah perekat yang menyatukan jaringan, dan ketika orang diberi informasi yang salah, mereka cenderung membuat keputusan yang buruk, tidak peduli seberapa bijak dan baiknya mereka secara pribadi.”

Ide utama Nexus berupa pernyataan “informasi adalah perekat yang menyatukan jaringan.” Sayangnya, lebih banyak informasi tidak menjamin manusia menjadi makin bijak. Justru, manusia bisa makin ngawur ketika menguasai lebih banyak informasi. Padahal manusia adalah homo sapiens; homo = manusia; sapiens = bijak. Seharusnya, setiap manusia bersikap bijak.

“Apakah dengan memiliki lebih banyak informasi akan membuat keadaan menjadi lebih baik – atau lebih buruk? Kita akan segera mengetahuinya. Banyak perusahaan dan pemerintah berlomba-lomba mengembangkan teknologi informasi paling canggih dalam sejarah – AI. Beberapa pengusaha terkemuka, seperti investor Amerika Marc Andreessen, percaya bahwa AI akhirnya akan menyelesaikan semua masalah umat manusia. Pada tanggal 6 Juni 2023, Andreessen menerbitkan sebuah esai berjudul Mengapa AI Akan Menyelamatkan Dunia, yang dibumbui dengan pernyataan berani seperti: “Saya di sini untuk membawa kabar baik: AI tidak akan menghancurkan dunia, dan bahkan dapat menyelamatkannya.” Ia menyimpulkan: “Pengembangan dan penyebaran AI – jauh dari risiko yang perlu kita takuti – merupakan kewajiban moral yang kita miliki terhadap diri kita sendiri, terhadap anak-anak kita, dan terhadap masa depan kita.”

Yang lain lebih skeptis. Tidak hanya filsuf dan ilmuwan sosial tetapi juga banyak pakar dan pengusaha AI terkemuka seperti Yoshua Bengio, Geoffrey Hinton, Sam Altman, Elon Musk dan Mustafa Suleyman telah memperingatkan bahwa AI dapat menghancurkan peradaban kita.”

Otonomi AI

Berikutnya, Harari melompat dengan ide yang sangat berani.

“AI merupakan ancaman yang belum pernah terjadi sebelumnya bagi umat manusia karena AI merupakan teknologi pertama dalam sejarah yang dapat mengambil keputusan dan menciptakan ide-ide baru secara mandiri. …yang belum sepenuhnya kita pahami atau kendalikan.”

Bila AI mampu mengambil keputusan secara mandiri maka, tentu saja, manusia tidak akan bisa mengendalikan AI. Ungkapan ini tautologi. Harari mengemas argumen yang berani ini dengan transisi lembut. Sehingga, pembaca terpesona seakan-akan benar adanya. Memang, tautologi selalu benar; mandiri pasti tidak bisa dikendalikan; bila bisa dikendalikan maka tidak mandiri. Tetapi apakah sesuai dengan realitas? Apakah AI mampu mengambil keputusan mandiri? Saya menduga itu hanya kamuflase sejauh ini; atau dalam beberapa dekade ke depan.

Kecerdasan Alien

“AI tidak berkembang menuju kecerdasan setingkat manusia. AI mengembangkan jenis kecerdasan alien.

Bahkan saat ini, dalam tahap embrio revolusi AI, komputer sudah membuat keputusan tentang kita – apakah akan memberi kita hipotek, mempekerjakan kita, atau memenjarakan kita. Sementara itu, AI generatif seperti GPT-4 sudah menciptakan puisi, cerita, dan gambar baru.”

AI akan mengembangkan kecerdasan alien yang super cerdas; jauh lebih cerdas dari manusia. Saya benar-benar kagum dengan narasi AI oleh Harari ini. AlphaGo (AI) berhasil mengalahkan juara Go dari Korea Selatan pada tahun 2016. Go lebih kompleks dari catur. AI mulai menunjukkan kecerdasan alien miliknya.

“Langkah 37 merupakan lambang revolusi AI karena dua alasan. Pertama, langkah ini menunjukkan sifat asing AI. Di Asia Timur, Go dianggap lebih dari sekadar permainan: ini adalah tradisi budaya yang bernilai luhur. Selama lebih dari 2.500 tahun, puluhan juta orang telah memainkan Go, dan seluruh aliran pemikiran telah berkembang di sekitar permainan tersebut, menganut berbagai strategi dan filosofi. Namun selama ribuan tahun tersebut, pikiran manusia hanya menjelajahi area tertentu dalam lanskap Go. Area lain tidak tersentuh, karena pikiran manusia tidak berpikir untuk menjelajah ke sana. AI, yang bebas dari keterbatasan pikiran manusia, menemukan dan menjelajahi area yang sebelumnya tersembunyi ini.

Kedua, langkah 37 menunjukkan AI yang tidak terduga. Bahkan setelah AlphaGo memainkannya untuk meraih kemenangan, Suleyman dan tim tidak dapat menjelaskan bagaimana AlphaGo memutuskan untuk memainkannya. Bahkan jika pengadilan telah memerintahkan DeepMind untuk memberikan penjelasan kepada Sedol, tidak seorang pun dapat memenuhi perintah itu. Suleyman menulis: “Dalam AI, jaringan saraf yang bergerak menuju otonomi, saat ini, tidak dapat dijelaskan.”

Jaringan saraf tiruan AI “tidak dapat dijelaskan.” Sebuah istilah yang terlampau kuat. Pertimbangkan istilah senada: evolusi terjadi melalui proses “random”; ketika Big Bang semua hukum fisika “runtuh”; analisis akhir partikel menjumpai string yang “acak”; hasrat manusia dikendalikan oleh kekuatan “tak-sadar”. Dalam bahasa sehari-hari, istilah-istilah ini semakna dengan OTW: ojo takon wae; jangan tanya terus. Sebagai saintis atau cendekiawan bagaimana sikap Anda dengan jawaban bahwa AI “tidak bisa dijelaskan?” Tetangga saya yang masih usia TK juga bisa menjawab bahwa, menurutnya, AI “tidak-bisa-dijelaskan.”

Politik AI

“Munculnya kecerdasan alien yang tak terduga menimbulkan ancaman bagi semua manusia, dan menimbulkan ancaman khusus bagi demokrasi. …Menerjemahkan dongeng peringatan Goethe ke dalam bahasa keuangan modern, bayangkan skenario berikut: seorang pekerja magang Wall Street yang muak dengan kerja keras bengkel keuangan menciptakan AI bernama Broomstick, memberinya uang awal satu juta dolar, dan memerintahkannya untuk menghasilkan lebih banyak uang. Bagi AI, keuangan adalah taman bermain yang ideal, karena ini adalah ranah informasi dan matematika murni. AI masih merasa sulit untuk mengemudikan mobil secara otonom, karena ini memerlukan pergerakan dan interaksi di dunia fisik yang berantakan, di mana “kesuksesan” sulit didefinisikan. Sebaliknya, untuk melakukan transaksi keuangan AI hanya perlu berurusan dengan data, dan ia dapat dengan mudah mengukur keberhasilannya secara matematis dalam dolar, euro, atau pound. Lebih banyak dolar – misi tercapai.”

Berawal dari AI “tidak bisa dijelaskan” maka konsekuensi apa saja bisa jadi. AI menguasai politik dengan menggulingkan demokrasi mau pun penguasa otoriter. AI mengendalikan sistem ekonomi. AI mengendalikan seluruh aspek kehidupan manusia dan alam raya. Karena “tidak bisa dijelaskan” maka kita tidak bisa menjelaskan argumennya: pro mau pun kontra.

“Munculnya AI menimbulkan bahaya eksistensial bagi umat manusia, bukan karena keburukan komputer, tetapi karena kekurangan kita sendiri.

Dengan demikian, seorang diktator paranoid mungkin memberikan kekuasaan tak terbatas kepada AI yang tidak sempurna, termasuk bahkan kekuasaan untuk melancarkan serangan nuklir. … Peradaban manusia juga dapat dihancurkan oleh senjata pemusnah massal sosial, seperti cerita-cerita yang merusak ikatan sosial kita.”

Regulasi AI

“Banyak masyarakat – baik demokrasi maupun kediktatoran – dapat bertindak secara bertanggung jawab untuk mengatur penggunaan AI tersebut, menekan pelaku kejahatan, dan menahan ambisi berbahaya para penguasa dan fanatisme mereka sendiri.”

Setelah berpetualang dengan narasi panjang, Harari sampai kepada saran yang bagus: masyarakat dapat mengatur penggunaan AI. Bagaimana pun resiko politik ekonomi memang sangat besar.

“Akibatnya, kekuatan algoritmik dunia dapat terkonsentrasi di satu hub. Insinyur di satu negara dapat menulis kode dan mengendalikan kunci untuk semua algoritma penting yang menjalankan seluruh dunia.

Oleh karena itu, AI dan otomatisasi menimbulkan tantangan khusus bagi negara-negara berkembang yang lebih miskin. Dalam ekonomi global yang digerakkan oleh AI, para pemimpin digital mengklaim sebagian besar keuntungan dan dapat menggunakan kekayaan mereka untuk melatih kembali tenaga kerja mereka dan mendapatkan keuntungan lebih banyak lagi. Sementara itu, nilai pekerja tidak terampil di negara-negara tertinggal akan menurun, menyebabkan mereka semakin tertinggal. Hasilnya mungkin banyak pekerjaan baru dan kekayaan luar biasa di San Francisco dan Shanghai, sementara banyak bagian dunia lainnya menghadapi kehancuran ekonomi.”

Laba-Laba Kepompong

“Semakin sulit untuk mengakses informasi melalui tirai silikon, misalnya antara Tiongkok dan AS, atau antara Rusia dan Uni Eropa. Selain itu, kedua belah pihak semakin beroperasi pada jaringan digital yang berbeda, menggunakan kode komputer yang berbeda. Di Tiongkok, Anda tidak dapat menggunakan Google atau Facebook, dan Anda tidak dapat mengakses Wikipedia. Di AS, hanya sedikit orang yang menggunakan aplikasi Tiongkok terkemuka seperti WeChat.

Paradoksnya, teknologi informasi saat ini begitu kuat sehingga berpotensi memecah belah umat manusia dengan mengurung orang yang berbeda dalam kepompong informasi yang terpisah, mengakhiri gagasan tentang realitas manusia tunggal yang sama. Selama beberapa dekade, metafora utama dunia adalah web. Metafora utama beberapa dekade mendatang mungkin adalah kepompong.

Senjata siber dapat melumpuhkan jaringan listrik suatu negara, tetapi juga dapat digunakan untuk menghancurkan fasilitas penelitian rahasia, mengganggu sensor musuh, memicu skandal politik, memanipulasi pemilu, atau meretas satu telepon pintar. Semua itu dapat dilakukan secara diam-diam.”

Pemangsa atau Dimangsa

Ketidakpastian membuat Anda bingung: jadi korban atau pemangsa? Harari tampak ragu memilih Qabil atau Habil; Cain atau Abel? Pembaca Nexus akan memilih yang mana?

“Perbedaan penting kedua menyangkut prediktabilitas. Perang dingin bagaikan permainan catur yang sangat rasional, dan kepastian kehancuran jika terjadi konflik nuklir begitu besar sehingga keinginan untuk memulai perang pun kecil. Perang siber tidak memiliki kepastian ini. Tidak seorang pun tahu pasti di mana masing-masing pihak telah menanam bom logika, kuda Troya, dan malware.

Pembagian dunia menjadi kerajaan digital yang bersaing sesuai dengan visi politik banyak pemimpin; yang percaya bahwa dunia adalah hutan belantara, bahwa kedamaian relatif dalam beberapa dekade terakhir hanyalah ilusi, dan bahwa satu-satunya pilihan nyata adalah apakah akan berperan sebagai predator atau mangsa.”

“Jika diberi pilihan seperti itu, sebagian besar pemimpin lebih suka tercatat dalam sejarah sebagai predator dan menambahkan nama mereka ke dalam daftar penakluk yang mengerikan yang harus dihafal oleh murid-murid yang malang untuk ujian sejarah mereka. Namun, para pemimpin ini harus diingatkan bahwa ada predator alfa baru di hutan. Jika manusia tidak menemukan cara untuk bekerja sama dan melindungi kepentingan bersama kita, kita semua akan menjadi mangsa empuk bagi AI.”

Saya sulit memahami maksud Harari pada paragraf terakhir di atas: “sebagian besar pemimpin lebih suka … sebagai predator.” Apakah ini sebuah prediksi? Determinisme? Atau rekomendasi? Paling ringan adalah menjadi inspirasi. Paling berat sangat sulit dibayangkan.

Sedikit Filosofis

Harari sedikit sekali membahas pemikiran para filsuf. Kiranya, kita perlu membahas beberapa nama spesial yang sedikit disinggung dalam Nexus: Descartes, Kant, dan Foucault. Descartes skeptis apakah kita bisa membuktikan bahwa kita sedang dalam mimpi saat ini? Atau memang hidup di alam nyata? Apakah kita sedang dalam ilusi matriks sistem informasi?

Harari sudah tepat memahami perspektif skeptis Descartes itu. Tetapi Harari, tentu saja, sulit menemukan solusi. Ketika Harari membahas Kant, Harari justru makin menemukan kesulitan. Kant adalah solusi dari problem skeptis Descartes. Kant sadar dengan problem skeptis Descartes. Kant mengusulkan bahwa ada prinsip yang kita pasti yakin, tidak pernah ragu, misal “menghormati ibu.” Siapa pun Anda pasti setuju untuk “menghormati ibu.” Kapan pun dan di mana pun, semua orang wajib “menghormati ibu.” Kewajiban etis semacam ini disebut sebagai kategori imperatif oleh Kant.

Dalam dunia informasi, kita hidup bersama AI, kategori imperatif apa saja yang perlu kita kembangkan? Kita perlu menghormati hak setiap orang: kaya atau miskin, terdidik atau jelata, penindas atau korban. Kategori imperatif ini perlu untuk terus kita kumandangkan. Sungguh aneh, ketika Harari mengira ajaran Kant mendorong tumbuhnya rasisme ala Hitler. Rasisme tetap bisa muncul ketika seseorang membaca Kant atau pun Nexus Harari. Tetapi, Kant mengingatkan bahwa kita perlu komitmen kepada kategori imperatif.

Harari makin sulit lagi ketika membahas Foucault. Harari mengira, pada analisis akhir, Foucault sama dengan Trump. Mereka sama-sama mengejar kekuasaan atau power. Harari benar bahwa Foucault membahas power; relasi kompleks power dengan kebenaran. Foucault menyatakan bahwa klaim kebenaran selalu terperangkap dalam jaringan kompleks relasi power. Sehingga, kita perlu waspada terhadap relasi power. Harari tampaknya memahami Foucault seperti menyuruh kita agar mendominasi power; kemudian, dengan power itu, kita bisa klaim akan kebenaran. Foucault bukan seperti itu. Foucault meminta kita agar kritis terhadap relasi power.

Karena setiap klaim kebenaran terjerat dalam kompleks relasi power maka kita perlu waspada. Apakah bisa dibenarkan penguasa menggusur kaki lima? Apakah bisa dibenarkan Harari dan kawan-kawan menyerang Gaza? Apakah bisa dibenarkan jika Putin mengancam akan menggunakan senjata nuklir? Hanya karena mereka mimiliki power untuk melakukannya maka tidak menjadi justifikasi valid bagi mereka. Kita membutuhkan justifikasi moral untuk semua ini. Justifikasi moral melarang kita melakukan kerusakan; moral mengajak kita untuk menjaga perdamaian dan menegakkan keadilan.

Bagaimana menurut Anda?

Apa Makna Agama Secara Psikologi?

Psikologi versi Freud memaknai agama sebagai ilusi kanak-kanak. Orang beragama adalah orang yang berjiwa kanak-kanak; takut menghadapi realitas. Psikologi versi Jung memaknai agama sebagai ruh transenden yang menyatukan jiwa, badan, dan realitas kehidupan. Orang beragama adalah orang yang berjiwa dewasa.

Mana yang benar? Freud atau Jung? Ataukah William James?

James meneliti bahwa banyak orang beragama berperilaku sopan, semangat, jujur, dan sehat. Bagi James, agama adalah kebaikan tertinggi. James adalah salah satu pendiri filsafat pragmatisme yang berkembang di Amerika.

1. Penampakan dan Hakikat
2. Perspektif Psikologi
3. Substansi dan Fungsi
4. Psikografi
5. Berpikir Terbuka

Mahasiswa ITB wajib mengambil mata kuliah agama. Menariknya, beberapa mahasiswa yang beragama Islam justru tidak memilih mata kuliah agama Islam. Mereka memilih mata kuliah agama Hindu atau Budha, misalnya. Mengapa?

“Karena mata kuliah agama Hindu atau Budha lebih mudah untuk mendapatkan nilai A,” jawab mereka.

Sementara, mata kuliah agama Islam kadang sulit mendapat nilai A. Anda bisa membayangkan betapa sulitnya bila dosen berpandangan Idul Fitri bertepatan 5 Maret; di sisi lain, mahasiwa yakin bahwa Idul Fitri bertepatan 6 Maret. Lalu dosen memberi soal ujian, “Jelaskan hari raya Idul Fitri bertepatan dengan tanggal berapa Masehi pada tahun ini?” Para ahli agama di Indonesia berbeda pendapat antara 5 atau 6 Maret sebagai Idul Fitri. Karena pandangan mahasiswa berbeda dengan pandangan dosen maka hampir pasti mahasiswa gagal mendapat nilai A. Tentu saja, masih banyak problem lainnya.

Apakah mahasiwa tidak berdosa? Mereka mengambil mata kuliah agama yang berbeda dengan agama yang mereka anut? Mata kuliah agama adalah agama sebagai teori; sedangkan agama yang dianut mahasiswa adalah agama sebagai jalan hidup. Terdapat beragam dimensi dalam agama. Kita akan membahas secara bertahap.

1. Penampakan dan Hakikat

Terdapat beragam penampakan kehidupan agama dan lebih beragam lagi makna agama.

“Dalam definisi Nabi Muhammad SAW, agama adalah perilaku yang baik. Dalam kejadian Asyura, agama menjadi inspirasi untuk kegiatan revolusioner. Pada ilustrasi ketiga, agama sebagai perjalanan spiritual, untuk mencapai kesadaran yang tinggi.

Pada ilustrasi keempat, agama tampak sebagai bentuk pengkhidmatan kepada sesama manusia. Pada acara Ngaben, agama mengikatkan pengikutnya dengan kekuatan supranatural, melalui upacara yang diwariskan secara turun-temurun. Untuk kasus Serbia, agama dijadikan pembenaran untuk tindakan kekerasan dan kekejaman. Pada akhirnya, atas nama agama, Pat Robertson mengecam agama-agama lain (termasuk pengikut denominasi agama Kristen lainnya yang tidak sejalan dengan pendapatnya).” (PA: 19 – 20).

Serangan oleh Freud menjadi tidak valid. Freud terlalu buru-buru mengatakan bahwa agama adalah ilusi kanak-kanak. Karena makna agama berupa spektrum yang teramat luas. Agama adalah akhlak yang baik; budi pekerti yang lembut; tata cara yang penuh makna. Agama adalah jiwa yang dewasa. Yang demikian baru salah satu makna agama.

Derrida, tokoh posmo, memandang agama sebagai suplemen bagi peradaban. Suplemen adalah realitas penting yang ditindas, disembunyikan, tetapi akan selalu eksis. Agama akan tetap ada bahkan berkembang.

Sebagai nabi postmodernisme, Jacques Derrida sendiri telah berbicara banyak, jika tidak secara delfik, tentang “kembalinya” agama, seolah-olah agama dan filsafat merupakan semacam ekonomi subintelligible aneh yang telah melalui tekanan “dekonstruksi” tekstual yang tak kenal ampun menyelinap ke dalam cahaya teori. Agama, bagi Derrida, ternyata menjadi jenis suplemennya sendiri—bukan suplemen tulisan, tetapi suplemen “Latinitas.“ (www.jcrt.org)

“Etnosenstrisme. Agama selalu diterima dan dialami secara subyektif. Oleh karena itu, orang sering mendefinisikan agama sesuai pengalaman dan penghayatan agama yang dianutnya.” Pendekatan etnosentris ini seirama dengan pedekatan fenomenologi. Kita memahami fenomena dengan cara mengijinkan fenomena itu hadir apa adanya pada kesadaran diri kita. Kemudian, kita menganalisis dengan teliti, jujur, dan mendalam.

“Mukti Ali, mantan menag, menuliskan, “Agama adalah percaya akan adanya Tuhan Yang Maha Esa dan hukum-hukum yang diwahyukan kepada kepercayaan utusan-utausanNya untuk kebahagiaan hidup manusia di dunia dan di akhirat.” ” (PA: 20). Definisi ini tampak jelas selaras dengan dasar negara Pancasila.

“Pendeta itu menjawab, “Kami tidak memiliki teologi; kami menari.” (h xix). Para pengikut Shinto tidak mau membicarakan Tuhan, dan apa saja namanya, karena semuanya tidak dapat digambarkan, tidak dapat diceritakan, tidak dapat diuraikan. Mereka tidak ingin membahas agama, mereka ingin mengamalkannya.” (PA: 22).

Barat memiliki kecenderungan memaknai agama sebagai teistik. “Selain sifatnya yang sangat teistis, mengakui adanya Tuhan atau Yang Ilahi, agama-agama Barat ditandai dengan pandangan hidupnya yang dikotomis: memisahkan antara yang sakral dengan yang profan; antara Wujud transendental dengan yang lainnya; antara langit dan bumi, antara duniawi dan ukhrawi, antara Tuhan dan manusia.” (PA: 24).

Konsekuensi wajar dari teistik adalah perlawanan berupa sekularisasi. Taylor mendefinisikan “sekularitas” dengan cara yang baru. Ia tidak melihatnya sebagai ketiadaan agama, tetapi sebagai situasi di mana kepercayaan kepada Tuhan adalah satu di antara banyak pilihan. Definisi ini kontras dengan era sebelumnya ketika kepercayaan kepada Tuhan merupakan sikap yang lazim dalam masyarakat Barat. Istilah sekularisasi ini lebih menarik dari ateisme. Karena istilah sekular bisa mandiri; sedangkan ateisme harus numpang ke istilah teisme.

Untuk merangkum kompleksitas dari makna agama, mari kita kumpulkan beragam unsur-unsur yang umumnya ada pada agama.

“1) Kepercayaan pada wujud supranatural (Tuhan).

2) Pembedaan antara obyek sakral dan profan.

3) Tindakan ritual yang berpusat pada obyek sakral.

4) Tuntunan moral yang diyakini ditetapkan oleh Tuhan.

5) Perasaan yang khas agama… yang dihubungkan dengan gagasan ketuhanan.

6) Sembahyang dan bentuk-bentuk komunikasi lainnya dengan Tuhan.

7) Pandangan dunia atau gambaran umum tentang dunia yang menyeluruh dan tempat individu di dalamnya…

8) Pengelolaan kehidupan yang bersifat menyeluruh yang didasarkan pandangan dunia tersebut.

9) Kelompok sosial yang diikat oleh hal-hal di atas.” (PA: 28)

“Ada ribuan agama di dunia… kita melihat keragaman yang luar biasa. Apalagi bila kita melihat cara masing-masing orang menjalankan agamanya.” (PA: 29). Di Indonesia, kita mengenal Sunda Wiwitan. Sunda Wiwitan adalah ajaran agama dengan unsur monoteisme purba, yang memiliki konsep kepercayaan tertinggi terhadap Sang Pencipta Yang Maha Kuasa yang tak berwujud dan disebut “Sang Hyang Kersa” yang setara dengan “Tuhan Yang Maha Esa” di dalam ideologi Pancasila. (Wikipedia).

Dari makna agama yang sangat kompleks, kita akan mendekatinya melalui perspektif psikologi.

2. Perspektif Psikologi

“Saya dengan sengaja tidak membuat definisi agama secara formal… definisi selalu mempersulit bab-bab pendahuluan ini.” (PA: 30).

Sebagai definisi awal, agama adalah fenomena psikologis yang muncul sebagai pengalaman personal dan sosial.

“Agama muncul di tengah-tengah kita sebagai pengalaman personal dan lembaga sosial…

Pada tingkat sosial, agama dapat kita lihat pada kegiatan kelompok-kelompok sosial keagamaan. Mereka bisa saja berafiliasi dengan agama-agama dunia atau sekedar berkaitan dengan sekte atau kelompok sempalan tertentu.” (PA: 33).

Perspektif psikologi ini akan memudahkan diskusi kita kerena fenomena agama menjadi fenomena psikologis setiap umat manusia. Agama bukan hanya teori abstrak; bukan hanya perdebatan teologis; bukan juga sekedar dalil-dalil masa lalu. Agama adalah fenomena nyata bagi kita semua.

3. Substansi dan Fungsi

Definisi konsep atau substansi agama akan menghadapi beragam paradoks.

“Agama disebut sebagai pengetahuan, dan agama disebut sebagai kebodohan. Agama disebut sebagai kebebasan dan ia disebut juga sebagai kebergantungan. Agama disebut sebagai keinginan, dan ia disebut juga sebagai kebebasan dari segala keinginan. Agama disebut sebagai renungan sunyi, dan ia disebut juga sebagai pemujaan Tuhan yang indah dan meriah.” (PA: 35).

“Jika definisi substantive menghubungkan agama dengan Tuhan dan konsep-konsep sejenis, definisi fungsional menghubungkan agama dengan upaya manusia menjawab masalah-masalah kehidupan, masalah eksistensial.” (PA: 35)

Masalah kehidupan manusia beragam; masalah ekonomi, masalah keluarga, masalah politik, dan lain-lain. Konsekuensinya, fungsi agama menjadi sangat beragam juga. Barangkali, agama harus menjawab masalah eksistensial yang besar: mengapa saya hidup kemudian mati? Di saat yang sama, agama kadang harus menjawab masalah yang biasa-biasa saja: haruskah makan pakai tangan kanan?

Kita bisa memasangkan definisi substansi-fungsi dengan pengalaman personal-sosial; terbentuk matriks dengan empat wilayah (kuadran).

Seiring sejarah bergulir, makna agama makin kaya. Apakah keyakinan agama menjadi berubah?

Itu bukan berarti kita harus mengubah keyakinan agama kita, tetapi kita harus mempertimbangkan dengan saksama dalam diri kita sendiri apa yang sebenarnya diperlukan untuk memperbarui keyakinan tersebut. Terlepas dari keyakinan tertentu kita — Kristen, Yahudi, Hindu, Muslim, ateis, atau agnostik — ini adalah sesuatu yang perlu kita pertimbangkan. (Ian Church).

Riset tentang pengalaman beragama terus bergulir sampai saat ini, tahun 2024.

“Proyek ini akan memberikan kontribusi signifikan terhadap argumen kosmologis, bagaimana kita berpikir tentang kehendak bebas dan pengetahuan ilahi, masalah kejahatan, epistemologi, dan kepercayaan agama,” kata Church. “Ini adalah beberapa isu inti dalam filsafat agama (eksperensial).”

Proyek filsafat tiga tahun yang didanai oleh hibah penelitian senilai $2,5 juta — hibah terbesar yang pernah diberikan kepada profesor Hillsdale College — selesai pada bulan Agustus 2024 ini.

4. Psikografi

“Psikografi adalah peta keberagamaan. Dalam peta itu, kita menguraikan keberagamaan dalam rangkaian-rangkaiannya.” (PA: 43).

Berikut beberapa rangkaian dimensi-dimensi agama.

Dimensi ideologis. Doktrin-doktrin yang membedakan antar agama atau aliran.

Dimensi ritual. Perilaku-perilaku khusus yang ditetapkan oleh agama.

Dimensi eksperensial. Perasaan-perasaan yang dialami oleh penganut agama.

Dimensi intelektual. Informasi khusus yang perlu diketahui oleh pengikutnya.

Dimensi konsekuensial. Efek ajaran agama terhadap perilaku individu sehari-hari.

5. Berpikir Terbuka

Jadi, apa makna agama? Kita perlu berpikir terbuka untuk bisa menjawabnya.

Barangkali Anda berminat, mari kita diskusi lebih jauh tentang Freud dan Jung. Tentu, kita butuh berpikir terbuka dalam diskusi ini.

Banyak orang mengira bahwa Freud terus dihantui oleh libido; masa tua berbeda dengan masa muda. Di masa tua, mungkin tidak terlalu tua, Freud paham bahwa banyak fenomena psikologi tidak bisa dijelaskan berdasar libido seksualitas. Freud mengganti libido dengan tarikan menuju mati. Jadi, semua fenomena psikologi bisa dijelaskan sebagai gejala orang tersebut sedang menuju mati; baik fenomenologi positif bahagia atau pun negatif semacam derita.

Tarikan menuju mati bersifat ruhani atau spiritual. Sehingga benar dugaan Jung dan Pfister bahwa psikonalisis akan membuka tabir ruhani. Pada masa tua, Freud harus menerima tantangan spiritual.

Meski sama-sama spiritual, Freud berbeda dengan Jung. Bagi Freud, ruh adalah de-substansi atau bukan substansi. Bagi Jung, ruh adalah substansi paling sempurna.

Menurut Freud, Anda akan jatuh cinta kepada Tuhan. Cinta Anda ini tidak akan pernah terpuaskan. Makin kenal dengan Tuhan maka Anda makin rindu. Karena Tuhan akan selalu tersembunyi dari substansi manusia. Demikian juga cinta Anda kepada pasangan atau kepada anak atau kepada alam raya; tidak pernah terpuaskan. Makin cinta, Anda, kepada pasangan maka makin rindu menderu.

Menurut Jung, Anda akan jatuh cinta kepada Tuhan. Cinta Anda kepada Tuhan adalah sempurna; Anda bahagia dalam cinta Tuhan. Kemudian, Anda sadar bahwa Tuhan lebih sempurna dari cinta Anda; Anda bergerak untuk makin cinta kepada Tuhan; untuk menyadari bahwa cinta Anda belum sempurna. Demikian juga kepada pasangan; Anda cinta kepada istri. Cinta Anda adalah sempurna. Kemudian, Anda sadar bahwa ada cinta yang lebih sempurna dari itu. Anda memberi cinta yang lebih besar lagi. Tetap saja, cinta Anda belum sempurna.

Apa masalahnya? Apa bedanya Freud dengan Jung?

Untuk memahami pengalaman agama secara kritis, pandangan Freud lebih unggul. Sementara, untuk mengembangkan optimisme pengalaman beragama, pandangan Jung lebih unggul. Kepada diri sendiri, gunakan pandangan kritis Freud. Kepada pihak lain, gunakan pandangan optimis Jung.