Monster Sukses

Moli adalah wanita muda yang sukses; bahkan sukses luar biasa. Dari kecil, Moli sadar bahwa dirinya bisa sukses dengan cara berusaha. Moli memang berusaha dan berhasil meraih sukses. Kemudian, menjelang dewasa, usia 40an tahun, sukses itu menjelma menjadi monster. Kok bisa?

“Sama seperti merokok, minum, atau berjudi yang dapat berubah menjadi suatu kecanduan, kebutuhan Romolini akan kesuksesan profesional membuatnya terus bekerja keras. Ia menyibukkan diri dengan bisnis, memaksa diri untuk peran yang tinggi, dan membanggakan dirinya sebagai orang yang “selalu siap.” “

1. Monster Rakus
2. Problem Sukses
3. Sedikit Langkah

Apakah Anda ingin sukses? Belajarlah dari Moli agar bisa sukses penuh makna; agar sukses sekaligus bahagia.

1. Monster Rakus

Pengalaman Moli menunjukkan bahwa sukses itu tumbuh dari monster kecil yang menggelitik menjadi monster raksasa penuh kuasa. Awalnya, waktu kecil, Anda hanya ingin sukses belajar bahasa dan matematika. Anda ingin prestasi sekolah bagus; kemudian, mendapat pekerjaan bagus.

Anda sukses. Anda berhasil meraih cita-cita. Berjalan dengan sempurna.

Sedikit terlena, hilang semua. Mengapa? Karena monster cilik yang lucu berubah menjadi monster raksasa.

Sukses adalah monster raksasa yang memangsa segalanya. Setelah Moli sukses maka Moli ingin sukses lagi yang lebih besar. Sukses karir menghasilkan 1 juta dolar per tahun; ingin naik jadi 2 juta dolar, jadi 3 juta dolar, dan seterusnya tanpa batas. Ketika sukses 1 juta dolar, Moli bisa tidur 6 jam sehari; sukses 2 juta dolar tidur hanya 4 jam; sukses 3 juta dolar tidur hanya 2 jam. Sampai akhirnya, tidak punya waktu untuk tidur.

Bukankah dengan sukses kita justru punya banyak waktu luang dan banyak uang? Seharusnya begitu. Tetapi, monster sukses tidak akan diam seperti itu. Jika Anda diam maka pesaing Anda akan merebut sukses Anda; sehingga Anda terpuruk. Hanya ada satu keinginan monster yaitu ingin memangsa sukses yang lebih besar lagi.

2. Problem Sukses

Sukses adalah berhasil menyelesaikan masalah. Jadi, dengan sukses semua masalah beres. Tidak begitu! Yang terjadi, Moli makin sukses maka Moli makin kecanduan untuk sukses lebih besar lagi. Bukan lagi sukses menjadi monster. Tetapi, diri kita berubah menjadi monster raksasa yang mengerikan.

Korban dari monster raksasa itu, awalnya, adalah orang tersebut menjadi tidak bahagia; tidak punya waktu senggang; tidak ada kedekatan emosi dengan teman mau pun keluarga. Orang sukses menjadi merana. Korban berikutnya, hubungan keluarga runtuh; hubungan tetangga renggang; karyawan atau rekan kerja menjadi tertekan.

Bila monster sukses itu adalah pejabat – bupati, gubernur, menteri, presiden, dan lain-lain – maka korbannya adalah rakyat dan negara. Pejabat makin kaya, dampaknya rakyat makin sengsara. Bagaimana pun, pejabat itu adalah yang paling sengsara.

3. Sedikit Langkah

Hanya perlu sedikit langkah untuk menundukkan monster sukses. Langkah sedikit yang sangat sulit: ikhlas.

Bagaimana menurut Anda?

Tempat Ludah Orang Kaya

Cerita tentang Diogenes selalu menarik. Kaisar Aleksander Agung tertarik ingin hidup seperti Diogenes yang bijak, cerdas, dan sederhana. Diogenes bijak dalam arti sesungguhnya; dia penerus dari Sokrates. Diogenes cerdas dalam arti sebenarnya; dia menang debat dalam beragam cara. Diogenes merdeka dalam makna sebenarnya; dia hidup sederhana tak tergoda harta mau pun kuasa.

Berikut kita akan cerita tentang Diogenes berhadapan dengan orang kaya, penguasa, dan profesor ternama.

1. Hadiah Aleksander
2. Ludah Orang Kaya
3. Akademi Plato

Diogenes (412 – 323 SM) hidup sejaman dengan Plato dan Aristoteles; mereka sama-sama mengaku pewaris Sokrates. Tetapi mereka mengambil pelajaran yang berbeda dari Sokrates; manusia paling bijak di dunia. Diogenes menerapkan ajaran Sokrates dalam kehidupan nyata. Diogenes berguru kepada Antisthenes yang berguru kepada Sokrates. Diogenes punya murid Crates yang punya murid Zeno sang pendiri Stoic. Diogenes adalah pendiri filosofi Kinisme.

1. Hadiah Aleksander

Aleksander Agung adalah kaisar penguasa dunia waktu itu; Aleksander merupakan murid dari Aristo (filsuf terbesar sepanjang sejarah). Wajar, Aleksander terpesona ketika mendengar cerita tentang Diogenes yang bijaksana. Aleksander ingin bertemu langsung dengan Diogenes yang hidupnya sederhana di pinggir jalan, di mana saja.

Pagi itu, Diogenes sedang tiduran di pinggir jalan sambil menikmati hangatnya cahaya matahari. Aleksander menyuruh pengawalnya untuk diam; dan agar membiarkan hanya Aleksander yang mendekat ke Diogenes. Khawatir mengagetkan Diogenes, Aleksander melangkah dengan lembut.

“Benarkah Anda adalah Diogenes yang bijak itu?” Aleksander bertanya dengan sopan.

Diogenes tetap tidur.

“Saya adalah Aleksander; ijinkan saya berbicara sebentar dengan Anda wahai Diogenes,” lanjut Aleksander.

Diogenes membuka sebelah mata sedikit. Lalu, tidur lagi.

“Katakan apa yang Anda butuhkan agar saya bisa memberi hadiah untuk Anda,” Aleksander menawarkan hadiah ke Diogenes.

Diogenes membuka mata lebih lebar sambil berucap,

“Tolong Anda bergeser sedikit ke kanan agar tidak menghalangi hangatnya cahaya matahari untuk saya.”

Aleksander sedikit bergeser dan makin penasaran,

“Kiranya, Anda berkenan menyebutkan sesuatu agar saya bisa membantu?”

Diogenes menikmati hangatnya matahari dengan tetap tenang; tampak tidak terganggu dengan kehadiran Kaisar Aleksander. Kemudian, Aleksander membuat kesimpulan,

“Andai aku terlahir di dunia ini tidak sebagai Aleksander maka aku ingin terlahir sebagai Diogenes.”

Diogenes menanggapi,

“Andai aku terlahir di dunia ini tidak sebagai Diogenes maka aku ingin terlahir sebagai Diogenes.”

Bahagia itu sederhana.

2. Ludah Orang Kaya

Nama Diogenes makin terkenal seantero Athena, Yunani, dan belahan dunia. Orang-orang kaya tidak setuju dengan ajaran Diogenes yang hidup miskin itu. Orang kaya merasa bangga dengan kekayaannya.

Kata orang kaya, “Jika saya mau hidup miskin seperti Diogenes maka mudah saja. Tinggal membuang semua kekayaan. Tetapi, jika Diogenes ingin hidup kaya seperti saya maka Diogenes tidak akan bisa.”

Diogenes menjawab, “Seluruh harta kekayaanmu tidak akan mampu membeli milikku: rasa ikhlas dalam setiap keadaan.”

Yaka adalah salah satu orang terkaya (bukan nama sebenarnya). Yaka sadar tidak akan menang debat melawan Diogenes. Yaka ingin mengalahkan Diogenes dengan menunjukkan bukti nyata: hebatnya harta kekayaan.

Yaka investasi untuk membangun gedung mewah lengkap dengan taman indah yang luasnya lebih dari 3 kali lapangan sepak bola. Butuh waktu berbulan-bulan bagi Yaka untuk menyelesaikan proyek super mewah itu. Lantai mewah, karpet mewah, dinding mewah, perabotan mewah, dan semua super mewah.

Setelah selesai membangun gedung mewah itu, Yaka mengundang Diogenes untuk melihat-lihat kemewahan yang menakjubkan.

Diogenes berjalan di dalam gedung yang benar-benar super mewah itu. Yaka dengan bangga menceritakan kepada Diogenes beragam perabot mewah yang berasal dari luar negeri. Gedung super mewah dari seluruh sisi.

Tiba-tiba, Diogenes meludahi wajah Yaka.

Pengawal langsung teriak,

“Mengapa Anda meludahi wajah Tuan Yaka?”

Diogenes menjawab,

“Saya tidak menemukan tempat yang lebih pantas untuk meludah.”

Diogenes menjawab tantangan nyata dengan tindakan nyata.

3. Akademi Plato

Plato adalah maha guru filsafat. Plato adalah guru dari para profesor dan sarjana filsafat. Whitehead (1861 – 1947) menyebut, “Seluruh filsafat Barat adalah catatan kaki dari karya Plato.” Diogenes kadang datang ke Akademi Plato dan mengganggu kuliah-kuliah yang dilaksanakan oleh Plato.

Plato sendiri tetap hormat kepada Diogenes. Plato melihat “gangguan-gangguan” Diogenes itu ada benarnya sesuai dengan ajaran hikmah Sokrates.

Bagi Diogenes, cara mengajarkan hikmah melalui kelas Akademi seperti Plato adalah terlalu abstrak. Seharusnya, kita belajar filsafat dalam kehidupan nyata. Filsafat adalah way-of-life yang mengalir dalam hidup dan mati.

Diogenes meng-klaim bahwa dirinya adalah pewaris sejati dari Sokrates; bukan Plato yang mewarisi Sokrates. Plato setuju saja bahwa Diogenes adalah pewaris Sokrates tetapi Sokrates gila. Aristo tampak setuju dengan Plato bahwa Diogenes adalah Sokrates versi gila.

Bagaimana pun makna “gila” jaman dulu beda dengan jaman sekarang. Ketika ada orang yang sangat kreatif, kita sering menyebut pikiran kreatif itu sebagai pikiran gila. Seperti itulah makna gila pada jaman dahulu.

Foucault (1926 – 1984) menyebut pergeseran makna gila baru terjadi sekitar abad 18. Sebelum abad 18, makna gila adalah kreatif otentik yang jarang terjadi. Setelah abad 18, makna gila adalah penyakit gangguan jiwa. Sehingga, masa kini, orang gila perlu dipenjara di rumah sakit jiwa; perlu minum obat penenang; perlu terapi dan lain-lain.

Apakah Anda termasuk gila?

Uang Segunung untuk Apa

Kapal Titanic sangat mewah mengarungi samudera. Wisata romantis untuk memadu cinta. Bikin semua orang iri kepada mereka. Akhirnya bagaimana?

Titanic karam, tenggelam, di samudera Atlantic tahun 1929. Ratusan jiwa melayang. Umat manusia berduka.

Tahun 2023, kapal selam super mewah Titan disediakan khusus untuk orang kaya. Dengan Titan, Anda bisa tamasya ke dasar laut. Melihat indahnya dunia ikan dan karang. Lebih dari itu, Anda bersama Titan bisa mengunjungi lokasi Titanic. Melihat sisa-sisa kapal Titanic di dasar samudera; yang tenggelam hampir 100 tahun lalu. Untuk itu semua, Anda harus jadi orang super kaya; Anda harus berlimpah uang.

1. Uang untuk Apa
2. Tidak Sadar
3. Menuju Ujung

Titan hanya mengangkut 5 orang super kaya di dunia yang terpilih; menuju dasar laut yang indahnya tiada tara. Nasib, siapa bisa menduga. Titan remuk di dasar laut. Memang Titan tidak bisa meledak. Karena tekanan air di dasar laut sangat besar. Titan hanya bisa remuk seluruhnya. Penumpang dan semua yang ada dalam Titan ikut remuk tanpa bentuk. Duka umat manusia di ujung dunia.

1. Uang untuk Apa

Jadi, uang segunung untuk apa? Kasihan orang-orang super kaya yang uangnya segunung. Mereka ingin menambah gunung-gunung uang; tapi tidak juga memuaskan. Kehilangan segunung uang? Mereka tak bisa membayangkan. Sangat menakutkan karena sewaktu-waktu gunung uang bisa hilang.

Berpetualang jadi pilihan mereka; keliling dunia bersama kapal Titanic; menyelam ke dasar laut bersama Titan. Tetapi maut bisa mengancam mereka.

Tahun 2024 ini, 2 orang astronot berpetualang ke stasiun luar angkasa ISS. Mereka mendarat di ISS. Tingginya sekitar 450 km di atas bumi; seperti jarak Jakarta ke Jogja; tetapi ke arah atas menuju langit. Setelah mendarat di ISS terjadi kerusakan pesawat luar angkasa. Dua astronot itu tidak bisa pulang ke bumi; menunggu jemputan sekitar tahun 2025 di bulan Februari.

Berapa biaya untuk terbang ke luar angkasa? Kabarnya, tidak kurang dari 50 trilyun rupiah; uang segunung itu. Rencananya, beberapa tahun ke depan, penerbangan ke angkasa luar bersama Starliner ini dibuka untuk umum secara komersial. Bukan hanya astronot, siapa pun orangnya bisa ke luar angkasa asal mampu membayar.

2. Tidak Sadar

Mengapa orang berpetualang jauh ke tempat yang berbahaya? Mereka sadar tetapi tidak sadar.

Freud (1856 – 1939) yakin bahwa manusia dikendalikan oleh hasrat bawah sadar. Anda sadar membaca tulisan ini. Kesadaran Anda itu, sejatinya, dikendalikan oleh alam bawah sadar. Jadi, pada analisis akhir, Anda tidak sadar.

Orang-orang berlayar bersama Titanic, menyelam bersama Titan, ke angkasa bersama pesawat Starliner. Mereka merasa sadar tetapi dikendalikan oleh alam bawah sadar yang tidak sadar. Lalu, Freud bertanya, “Apa yang mengendalikan alam tak sadar itu?”

Hasrat atau birahi. Libido cinta yang mengendalikan alam bawah sadar menurut Freud muda. Kadang-kadang orang tanpa sadar mimpi sedang bercinta dalam tidurnya. Mimpi adalah ekspresi bawah sadar yang murni tidak sadar.

Jadi, orang berlayar bersama Titanic karena dikendalikan oleh hasrat libido? “Benar,” jawab Freud. Memang, orang mengumpulkan uang segunung agar bisa membeli tiket Titanic. Kemudian, dia naik kapal Titanic. Kemudian, dia bercinta sebagai tujuan akhir tanpa sadar. Barangkali, bercinta di atas samudera dengan fasilitas Titanic yang mewah memang indah.

Mengapa Anda sekolah? Mengapa Anda bekerja? Mengapa Anda mengejar karir? Mengapa Anda korupsi? Semua, menurut Freud muda, digerakkan oleh hasrat libido bawah sadar.

Apakah benar klaim Freud muda itu? Freud tua, setelah dewasa, menolak pandangan Freud muda. Freud tua merevisi Freud muda.

3. Menuju Ujung

Bawah sadar bukan dikendalikan oleh hasrat tetapi dikendalikan oleh keinginan menuju mati. Tentu saja, Anda tidak sadar sedang ingin menuju mati; meski sesekali sadar juga.

Freud bingung. Banyak orang yang tidak mengejar hasrat; tidak mengejar birahi. Meski mereka memiliki hasrat libido tetapi mereka tidak mengutamakan libido. Ada orang yang berpetualang ke hutan alam bebas tidak peduli dengan hasrat libido; ada orang berkreasi dalam seni sastra tidak peduli dengan hasrat libido; ada orang mengejar hobi lupa libido. Tetapi mereka semua sama; mereka semua makin dekat menuju mati.

Freud tua meyakini alam bawah sadar manusia dikendalikan oleh hasrat ingin menuju mati.

Heidegger (1889 – 1976) sampai kepada perspektif mirip dengan Freud tua. Manusia menjadi otentik dengan peduli sebagai sedang menuju mati: being-toward-death. Peduli terhadap mati menjadikan manusia gelisah. Untuk menghilangkan gelisah, sebagian orang, berpetualang bersama kapal Titanic, Titan, atau Starliner. Sebagian yang lain menyibukkan diri dengan kerja atau hobi agar lupa sedang menuju mati. Tetapi, manusia otentik justru peduli bahwa dirinya sedang menuju mati kemudian mengambil sikap yang sesuai.

Jadi, untuk apa uang segunung? Untuk menuju mati. Apakah memang perlu uang segunung? Tidak perlu. Berlebih-lebihan justru mengakibatkan Anda terlena. Hidup sederhana mendorong Anda lebih bijaksana.

Uang segunung berpotensi menjadi dosa menggunung. Dari mana asal uang segunung? Apakah prosesnya melibatkan dosa bergunung? Apakah penggunaannya berdampak dosa menggunung? Bersyukurlah dengan uang yang sedikit. Bertambah sedikit ikut bertambah syukur. Tidak punya uang tetap punya masa depan. Orang yang tidak bisa bahagia dengan kekayaan yang sedikit maka dia tidak pernah bisa bahagia dengan kekayaan yang banyak. Sedikit atau banyak tetap bahagia; tetap bersyukur atas semua karunia.

Leluhur kita berpesan, “Sangkan paraning dumadi.” Setiap diri kita berasal dari Tuhan dan sedang menuju kepada Tuhan. Bersiaplah dengan bekal terbaik: taubat, amal, membantu tetangga, membantu saudara, dan mencegah kerusakan. Tujuan kita sudah jelas yaitu meraih akhir yang baik atau husnul khatimah.

Bagaimana menurut Anda?

Terpeleset ke Masa Depan

Manusia mudah terpeleset. Karena Anda manusia maka Anda mudah terpeleset; seperti saya. Terpeleset ke jurang masa depan. Seperti apa itu?

Anak-anak saya sering bertanya, “Mengapa di surga Nabi Adam makan buah khuldi?”

Saya memandangi wajah anak saya yang lucu itu. Dia melanjutkan,

“Kan, kalo tidak makan buah khuldi, manusia tetap tinggal di surga. Asyik ya, berpetualang di surga?”

1. Mudah Terpeleset
2. Jurang Masa Depan
3. Melayang

Ada banyak jawaban yang saya berikan. Mengapa? Karena anak saya bertanya berulang kali. Saya perlu menyiapkan jawaban yang beragam.

“Kalau kamu tinggal di surga. Boleh makan apa saja. Boleh main apa saja. Hanya ada satu larangan yaitu dilarang mendekat, dilarang makan, buah khuldi. Apakah kamu akan makan buah khuldi?” saya balik tanya ke anak.

Anak saya malah tertawa. Lalu tertawa lagi. Tampaknya, kemudian, dia berpikir.

1. Mudah Terpeleset

Pasti. Kita mudah terpeleset. Anda saat ini pun pasti terpeleset; yaitu, terpeleset menuju masa depan; maju beberapa detik ke masa depan.

Masa depan adalah jurang yang licin. Sehingga, kita pasti terpeleset ke jurang masa depan itu.

“Masa depan kok jurang? Jadi menakutkan begitu,” Kakak protes ke saya.

“Lebih baik kita khawatir dengan masa depan dari pada terlena oleh masa lalu,” sahut saya agak serius.

Anda boleh khawatir dengan masa depan. Yang paling pasti dari masa depan adalah kita akan mati. Takut mati. Kemudian menyiapkan diri untuk berbuat baik sebagai bekal mati. Mari kita bertobat.

2. Jurang Masa Depan

“Ada apa di jurang masa depan itu?”

“Ada jurang lagi. Di depan masa depan, ada masa depan lagi. Akibatnya, kita akan terus melayang menuju masa depan.”

“Bukankah kita harus hidup di masa kini agar bahagia?”

“Tentu saja. Sungguh, masa depan itu lebih baik bagimu dari masa lalu.”

Orang yang terbebani masa lalu dan gelisah akan masa depan, dia adalah orang yang menderita. Orang bahagia adalah orang yang syukur di masa kini, mengambil hikmah masa lalu, dan besar hati menerima anugerah masa depan.

Sepercik rasa khawatir tentang masa depan adalah anugerah yang sangat bernilai.

3. Melayang

Jurang masa depan itu bisa saja dipenuhi bunga-bunga indah mewangi. Anda bisa bahagia tinggal di taman bunga yang indah itu. Tetapi, tetap terdapat jurang di sana. Anda akan terpeleset lagi. Terpeleset ke mana?

Terpeleset ke jurang masa depan lagi. Seterusnya, tanpa henti.

Kita perlu belajar terbang, belajar melayang, dari satu jurang ke lain jurang. Berdoa semoga masa depan terang benderang.

Kesalahan Fatal Paling Bahagia

Dudu hidup penuh bahagia. Dudu hidup sepenuhnya sesuai ajaran agama; sehingga pasti benar dan nanti masuk surga. Dudu hidup sesuai sains sehingga semua proses kehidupan berjalan ilmiah. Bonusnya, Dudu hidup dengan teknologi terkini. Dudu paling bahagia. Itulah kesalahan fatal Dudu yang membuatnya paling bahagia.

Dudu bisa merasa paling bahagia secara subyektif. Tetapi Dudu membikin derita warga sekitar dan alam sekitar. Bagaimana bisa?

Tentu, Dudu bukan nama sebenarnya. Dudu bukan orang itu. Selama Dudu tidak melanggar pidana maka baik-baik saja. Lho, memang bisa, menjalankan ajaran agama tetapi melanggar pidana? Bisa saja. Dudu bisa mencuri uang tetangga karena uang tetangga boleh dicuri; digunakan oleh Dudu untuk memperjuangkan ajaran agamanya. Dudu merasa benar, bahkan memperoleh pahala, dengan mencuri uang tetangga. Untungnya, Dudu tidak melakukan pelanggaran pidana semacam itu. Dudu hanya melakukan kesalahan fatal saja.

1. Kebenaran Abadi
2. Descartes sampai Newton
3. Buka Mata

Semoga Dudu membaca tulisan ini dan membuka mata; utamanya membuka mata hati. Sehingga Dudu meraih bahagia sejati.

1. Kebenaran Abadi

Kesalahan fatal Dudu adalah Dudu menganggap kebenaran abadi adalah konstan tanpa penyempurnaan.

Ketika Dudu memahami, menafsirkan, ayat suci maka Dudu merasa paling benar. Dudu merasa berada di jalan agama suci. Orang lain yang berbeda dengan Dudu, dianggap salah.

Dudu tidak paham bahwa kebenaran agama adalah membuka pintu penuh berkah. Dudu harusnya mendengarkan orang sekitar untuk hidup bersama penuh bahagia dalam ajaran agama.

2. Descartes sampai Newton

Dudu adalah anak cerdas. Sekolah dasar, menengah, sampai perguruan tinggi, dia selalu berprestasi. Dudu paham benar dengan teori Newton yang berkembang setelah Descartes (1596 – 1650). Teori Newton bisa menjelaskan secara ilmiah apel jatuh sampai gerhana matahari; bisa menjelaskan cara membuat jalan tol, jembatan, sampai pesawat terbang. Singkatnya, teori Newton bisa menjelaskan semua peristiwa dengan matematika yang bersifat pasti. Hebat kan?

Laplace, setelah mempelajari Newton, berkata, “Jika kita tahu informasi yang dibutuhkan maka kita bisa menentukan seluruh nasib alam raya.”

Bagaimana Newton bisa sehebat itu? Dudu mempelajari Newton dengan baik. Ketika teman-teman sekolah tidak paham Newton, Dudu adalah jagoan teori Newton. Bahkan, Dudu bisa lebih cerdas dari Newton dalam mempelajari teori Newton. Dudu menerapkan metode ilmiah gaya Newton sampai memahami ajaran agama dengan kebenaran ilmiah yang bersifat pasti.

Bagaimana Dudu bisa yakin dengan teori Newton?

[a] Posisi. Apel jatuh dari pohon. Mula-mula, posisi apel 9 meter di atas tanah. Lalu, posisi apel jatuh menjadi 8 meter, 7 meter, dan akhirnya menempel di tanah.

Mengetahui posisi, misal posisi apel, adalah sangat penting bagi Newton. Tetapi kita sulit mengetahui posisi apel karena apel berpindah-pindah dari atas ke bawah. Newton berpikir, “Ada apa di balik perpindahan posisi?” Ada kecepatan gerak.

[b] Kecepatan. Barangkali mengukur kecepatan gerak apel jatuh lebih mudah? Newton bisa menghitung kecepatan sebagai turunan atau derivasi dari perpindahan posisi. Kecepatan terbukti lebih mudah karena linear terhadap waktu. Apakah ada yang lebih mudah dari kecepatan? Newton menghitung percepatan.

[c] Percepatan. Turunan dari kecepatan adalah percepatan dan boom… benar percepatan adalah sangat mudah. Percepatan apel jatuh adalah selalu mendekati 10 (m/s^2). Dari pengukuran dan perhitungan berulang-ulang, nilai percepatan adalah selalu tetap alias konstan secara pasti. Jadi, Newton berhasil menemukan kebenaran ilmu pasti yaitu sains fisika.

Dudu berbahagia memperoleh ilmu pasti, eksak, tepat dan sempurna.

Langkah selanjutnya adalah membalik proses perhitungan. Dari informasi angka percepatan yang pasti konstan, Dudu bisa menghitung kecepatan dengan pasti dan posisi apel dengan pasti eksak tepat. Luar biasa! Semua bisa diketahui oleh sains eksak.

Contoh perhitungan eksak apel jatuh ini bisa diperluas secara umum untuk menghitung gerak rembulan dan matahari. Bahkan, Dudu berpikir gerak dari bumi ini ke surga pun bisa dihitung dengan pasti. Semua serba pasti.

Lebih luas lagi: cara memahami agama juga sama. Temukan yang pasti lalu perluas seluas-luasnya. Dudu sudah menemukan secuil kebenaran agama secara ilmiah lalu meluaskan kebenaran agama seluas-luasnya. Dudu berhasil meraih kebenaran agama paling pasti. Benar-benar kesalahan fatal paling membahagiakan oleh seorang Dudu.

Dudu perlu membuka mata dan hati. Teori Newton itu salah atau tidak lengkap. Contoh apel jatuh di atas adalah salah. Perluasan metode sains juga salah. Untung saja, Dudu berkenan membuka mata.

Di mana kesalahan fatal itu?

3. Buka Mata

Kesalahan fatal terhadi saat menghitung balik yaitu integral. Dari percepatan yang eksak pasti, integral menghasilkan kecepatan. Tidak semudah teori integral karena kecepatan membutuhkan kecepatan akhir dan kecepatan awal. Kecepatan akhir diasumsikan adalah kecepatan yang akan kita cari. Sehingga, tidak masalah dengan kecepatan akhir karena memang kita cari. Kecepatan awal adalah diam atau 0.

Dari mana kecepatan awal adalah diam atau 0?

Kecepatan awal tidak pernah diam; kecepatan awal tidak pernah 0. Apel awalnya tidak diam. Apel sejak awal ikut gerak bumi rotasi; ikut bumi mengitari matahari; ikut tatasurya berkeliling galaksi. Jadi, Newton dan Dudu tidak pernah punya ilmu pasti. Mereka hanya asumsi kecepatan awal dan lain-lain sebagai 0; padahal Dudu tidak tahu.

Untung saja Dudu taubat dan kembali ke jalan yang lurus. Dudu berpikir terbuka bersama masyarakat; hidup rukum dalam ajaran agama yang lurus, adil, dan makmur.

Catatan

Einstein sudah mengkritik teori Newton sebelum Dudu belajar teori Newton. Menurut Einstein, teori Newton menjadi ruwet dengan kerangka acuan yang berbeda; karena memang tidak ada benda diam; semua benda bergerak dengan kecepatan relatif; tidak ada kecepatan 0 itu.

Einstein memilih kecepatan cahaya sebagai konstan c selalu tetap dalam ruang hampa. Kemudian, Einstein mengembangkan teori relativitas. Memang Einstein tidak membutuhkan kecepatan 0; selesai satu masalah. Masalah lain muncul. Einstein tidak berhasil menyelesaikan persamaannya sendiri sampai akhir hayat di 1955. Pemikir sampai sekarang pun, belum punya solusi pasti.

Jadi, apa itu ilmu pasti?

Tidak ada ilmu alam yang bersifat pasti secara absolut. Ilmu pasti itu tidak terlalu pasti. Sains bersifat pasti hanya dalam batas-batas asumsi tertentu.

Galileo

Setengah atau 1 abad sebelum Newton, Galileo sudah berhasil menghitung percepatan gravitasi sebagai konstan mendekati 10. Tetapi, mengapa Galileo tidak berlanjut mengembangkan ilmu pasti seperti Newton?

Saya menduga karena belum ada peran dualisme dari Descartes kepada Galileo. Bagi Galileo, persamaan matematika yang ideal itu selalu bersatu dengan realitas konkret sesuai situasi kondisi. Sehingga, realitas tidak bisa dibuat ideal secara matematis belaka.

Beberapa tahun sebelum Galileo meninggal, Descartes menulis meditasi cogito yang memisahkan jiwa dengan materi. Menurut Descartes, kita bisa mengkaji matematika secara ideal terbebas dari materi. Newton lahir ketika dualisme Descartes ini meluas. Sehingga, Newton memiliki ruang bebas untuk mengembangkan matematika ideal berupa kalkulus. Seperti kita tahu, matematika kalkulus yang ideal itu menjadi jantung bagi perkembangan sains modern.

Newton tidak perlu takut oleh ancaman gereja ketika mengatakan matahari mengelilingi bumi. Galileo mendapat ancaman mengerikan. Dualisme Descartes berhasil memisahkan materi dengan gereja. Barangkali, kita perlu mengkaji beberapa pemikiran Galileo kembali.

Jadi apa solusi terbaik?

Terapkan logika futuristik. Berpikir untuk masa depan yang lebih baik; merangkul hikmah masa lalu dan meniti amanah masa kini.

Bagaimana menurut Anda?

Aku Berpikir Maka Saya Ada

Descarters (1596 – 1650) mengguncang dunia dengan meditasi yang berbunyi, “Cogito ergo sum.”

“Aku berpikir maka saya ada.”
“I think therefore i am.”

Dari cogito Descartes ini, umat manusia menjadi yakin dengan kemampuan berpikirnya. Jika Anda berpikir maka Anda menjadi ada. Sebaliknya juga mudah dipahami. Jika seseorang tidak mau berpikir maka dia tidak ada; tanpa berpikir, eksistensi orang itu menjadi tanpa makna. Eksistensi Anda ditentukan oleh pikiran Anda.

Cogito berhasil mendorong kemajuan sains, teknologi, dan ekonomi. Di saat yang sama, cogito berdampak bencana, eksploitasi, dan penjajahan dunia. Kita akan mencoba mencermati.

1. Kekuatan Pikiran
2. Sains Terbebas dari Agama
3. Resiko Terasing
4. Kritik Dasein
5. Aku Berbeda dengan Saya

Dalam bahasa Indonesia, kita bisa menerjemahkan cogito sebagai,

“Aku berpikir maka saya ada.”

Terjemahan ini membedakan antara “aku” dengan “saya”. Pembedaan ini kita bahas di bagian akhir karena paling penting.

1. Kekuatan Pikiran

Sangat mengagumkan bahwa cogito membangkitkan optimisme masyarakat untuk mengandalkan pikiran mereka. Padahal, Descartes menemukan cogito berdasarkan skeptisme bukan optimisme. Descartes meragukan segala sesuatu. Descartes ragu terhadap uang, ragu terhadap kenikmatan, ragu terhadap alam sekitar, ragu terhadap perang dan lain-lain. Sama juga, Descartes ragu terhadap Plato, Aristo, Ghazali, dan lain-lain.

Tetapi Descartes tidak bisa ragu bahwa dirinya sedang ragu; dirinya yakin bahwa sedang berpikir meragukan segala sesuatu. Descartes yakin, “Cogito ergo sum.”

“Aku berpikir maka saya ada.”

Tahap selanjutnya, kita bisa mengembangkan pikiran untuk mengembangkan segala sesuatu. Pikiran sehat menjadi pemandu kemajuan peradaban sehat. Sains menjadi berkembang pesat. Teknologi dan ekonomi mengikuti; berkembang maju membubung tinggi.

2. Sains Terbebas dari Agama

Ada problem besar masa itu: sains sering berbenturan dengan ajaran agama. Sains, misal, menyatakan bahwa bumi mengitari matahari tetapi agama meyakini bahwa matahari mengitari bumi. Pertentangan ini dimenangkan oleh agama. Sains harus mundur teratur. Banyak ilmuwan dihukum mati akibat benturan semacam ini.

Descartes berhasil melepaskan sains dari agama karena pikiran manusia berbeda dengan alam raya. Sains memanfaatkan pikiran manusia untuk mengkaji alam raya yang bersifat materi duniawi. Sedangkan agama mengkaji jiwa manusia yang bernilai tinggi. Dengan demikian, berdasar cogito, biar urusan duniawi ditangani oleh sekedar sains saja. Urusan nasib jiwa, yang bernilai tinggi, menjadi wewenang agama.

Pemisahan antara materi dan jiwa ini, kelak, kita kenal sebagai dualisme Descartes; menjadi solusi dan menjadi problem itu sendiri.

3. Resiko Terasing

Manusia menjadi terasing; manusia kesepian. Karena jiwa manusia terpisah dengan alam sekitarnya berdasar dualisme cogito.

Alam raya adalah alam raya tanpa kesadaran; tanpa nilai spiritual. Sehingga, manusia bebas eksplorasi alam raya sampai eksploitasi. Suatu kisah, orang bertanya kepada Descartes,

“Apakah seekor anjing punya kesadaran?”
“Tidak punya kesadaran,” jawab Descartes.

“Mengapa anjing menjerit ketika kakinya tergilas roda kereta?”
“Karena ada bagian fungsi kaki yang rusak sehingga fungsi mulut adalah untuk menjerit.”

Anjing tidak memiliki kesadaran layaknya kesadaran seorang manusia. Anjing memiliki beragam fungsi. Apakah bisa dibenarkan manusia melakukan eksploitasi kepada anjing? Eksploitasi terhadap alam raya?

Manusia menjadi terasing di dunia ini.

4. Kritik Dasein

Banyak kritik terhadap cogito. Salah satu kritik keras adalah dasein dari Heidegger (1889 – 1976). Dasein adalah manusia sejati sebagai manusia konkret apa adanya. Dasein selalu berada dalam dunia; being-in-the-world. Manusia selalu berada dalam dunia ini. Andai, manusia bisa terlepas dari dunia ini maka manusia itu akan berada dalam dunia yang lain. Manusia tidak bisa eksis hanya seorang diri. Manusia, sebagai dasein, selalu berada dalam dunia.

Bagaimana pun, dasein beda dengan dunia; dasein transenden terhadap dunia meski dasein berada dalam dunia.

5. Aku Berbeda dengan Saya

Kita sampai ke pembahasan paling penting: “Aku berpikir” adalah berbeda dengan “Saya ada.”

“Cogito ergo sum.”
“Aku berpikir maka saya ada.”

Aku adalah ruh, spiritual, fenomenologi, atau intelektual yang transenden.
Saya adalah jiwa, diri, nafsu, hasrat, rasa, atau psikologi yang imanen.

Aku adalah manusia transenden. Aku berada dalam dunia ini dan, di saat yang sama, aku melampaui seluruh dunia ini. Saya adalah manusia imanen. Saya berada dalam dunia ini dan, di saat yang sama, saya selalu interaksi dengan dunia ini. “Aku berpikir maka saya ada.”

Aku sendiri mencari Tuhan. Saya bersama masyarakat dan alam raya menghadap Tuhan.

Aku ketuk pintu masjid; aku ketuk pintu gereja; aku ketuk setiap pintu rumah Tuhan untuk mencari Tuhan. Aku mengetuk pintu dari dalam.

Saya ciptakan pertanian bersama masyarakat; saya ciptakan sistem ekonomi dan sistem politik; saya persembahkan karya sampai maha karya. Di setiap tempat, di setiap saat, bersama masyarakat, bersama alam raya, kami menghadap Tuhan.

Mengapa saya ada? “Aku berpikir maka saya ada.”

Mengapa aku berpikir? “Saya ada maka aku berpikir lagi.”

Bagaimana aku bertemu dengan saya? Bagaimana saya berpisah dengan aku? Aku adalah saya dan saya adalah aku; bagaimana pun, aku berbeda dengan saya.

Bagaimana menurut Anda?

Arah Kiblat: Mudah sampai Sulit

Tugas menentukan arah kiblat adalah sangat mudah dan, sekaligus, paling sulit. Mudah saja; Anda tinggal datang ke masjid lalu lihat petunjuk arah kiblat; selesai, Anda menemukan arah kiblat. Atau, Anda bisa buka aplikasi di hp kemudian temukan arah kiblat. Apakah arah kiblat seperti itu bisa dipercaya?

Arah kiblat adalah arah yang menunjuk ke Kabah di kota Mekah. Cara paling mudah dan meyakinkan menentukan arah kiblat adalah dengan datang ke Masjid Haram; kemudian, tataplah Kabah; dan Anda berhasil menghadap arah kiblat itu. Lebih menarik lagi, ketika pintu Kabah dibuka, Anda boleh masuk ke dalam Kabah, maka ke mana pun arah Anda sholat maka Anda sudah tepat ke arah kiblat.

Bagaimana dengan orang di luar kota Mekah? Anda yang berada di luar Mekah, misal Anda di Indonesia, ke arah mana pun menunjuk maka Anda akan menunjuk ke arah langit; ke arah atas; menjauh dari bumi. Karena bumi melengkung; seperti bola. Kabah berada pada lengkungan bumi yang berbeda dari Indonesia. Kita akan membahas beberapa solusi alternatif di bawah ini.

1. Waktu Sholat
2. Kalender Hijriah
3. Arah Kiblat

Penentuan waktu sholat adalah mudah karena menggunakan jam matahari. Mudah dalam arti kita akan menemukan metode dan hasil yang makin akurat dan presisi. Membuat kalender hijriah adalah tugas sulit. Karena memanfaatkan posisi bulan terhadap matahari dari perspektif manusia bumi. Konsekuensinya, kalender hijriah perlu mengkaji dinamika bulan, matahari, dan bumi. Sedangkan penentuan arah kiblat adalah paling mudah dan paling sulit seperti kita sebut di atas.

1. Waktu Sholat

Kita ambil contoh waktu sholat duhur adalah mulai matahari di atas kepala (tergelincir) sampai bayangan suatu benda adalah sama panjang dengan panjang benda tersebut.

Atau, waktu sholat duhur adalah mulai pukul 12.00 sampai 15.00 (kita buat idealisasi untuk memudahkan).

Pukul 12.00 adalah ketika matahari di atas kepala kita; matahari tepat vertikal terhadap bumi tempat kita berpijak. Kita perlu menunggu sebentar agar matahari tergelincir; setelah tergelincir maka masuk waktu sholat duhur.

Pukul 15.00 adalah ketika bayangan tongkat 1 meter adalah tepat sama dengan 1 meter; waktu sholat duhur berahkhir. Kemudiaan, sesaat setelah itu, masuk waktu ashar.

Variasi Ideal

Variasi terjadi karena bumi ada yang di sebelah utara atau selatan katulistiwa. Variasi juga terjadi bahwa posisi matahari berbeda hari ini dengan hari kemarin mau pun esok hari. (Untuk kemudahan kita bisa menganggap geosentris; bumi diam sebagai pusat dan matahari yang gerak berputar).

Dengan demikian, lokasi yang jauh dari katulistiwa perlu melakukan kajian-kajian penyesuaian. Sementara, perbedaan posisi matahari hari demi hari terbukti berulang periodik tiap tahunnya. Posisi matahari 15 Juli berbeda dengan 15 Juni tetapi posisi matahari 15 Juli 2022 akan tetap sama dengan posisi matahari 15 Juli 2023 atau tahun kapan pun.

Bagaimana pun, kita tahu bahwa 1 tahun matahari adalah tidak tepat 365 hari tetapi pecahan sekitar 365,25 hari. Sehingga, di tahun-tahun tertentu perlu koreksi berupa tahun kabisat dengan tambahan tanggal 29 Februari.

Hasil akhirnya adalah waktu sholat duhur kurang lebih 12.00 dan berakhir kurang lebih 15.00. Nilai kurang lebih ini berbeda-beda tiap hari tetapi periodik, berulang kembali, dalam tiap tahun.

Kesimpulannya tugas menentukan waktu sholat adalah mudah, dalam arti, para ilmuwan bisa mengkajinya dan merevisi setiap saat untuk mendapatkan hasil yang lebih akurat dan presisi.

Tantangan Interpretasi

Masalah muncul ketika berbeda interpretasi. Waktu sholat subuh ada yang mulai 20 derajat di bawah ufuk; ada juga yang mulai 18 derajat di bawah ufuk; atau ada interpretasi lain lagi.

Konsekuensinya, perbedaan interpretasi menghasilkan perbedaan waktu sholat subuh. Perbedaan ini bisa diselesaikan dengan musyawarah untuk mencapai mufakat. Atau, bila tidak ada mufakat maka bisa toleransi dengan saling hormat.

2. Kalender Hijriah

Sudah jelas dan disepakati bahwa 1 tahun hijriah terdiri dari 12 bulan. Masing-masing 1 bulan terdiri dari 30 hari atau 29 hari. Tantangan sulit muncul untuk menentukan apakah besok 30 Ramadan atau 1 Syawal bila hari ini adalah 29 Ramadan.

Dinamika

Kita perlu memperhatikan dinamika bulan-matahari-bumi. Menjadi sulit dan menantang karena dinamika ini tidak periodik; atau sejauh ini, belum ditemukan sebagai periodik.

Umumnya, bulat sabit atau hilal diyakini sebagai tanda awal bulan baru. Para ilmuwan mengetahui bahwa bulan baru perlu diawali oleh rembulan baru yaitu konjungsi atau ijtimak. Dari 1 konjungsi ke konjungsi berikutnya adalah 1 siklus sinodis rembulan sekitar 29,5xyz hari.

Ketika terjadi konjungsi, kita berada di tanggal 29 Ramadan. Besok adalah 30 Ramadan atau 1 Syawal?

Periode konjungsi = 29,5xyz hari bisa dihitung berdasar waktu revolusi bumi B = 365,abc hari dan waktu revolusi rembulan R = 27,3pqr hari.

Periode konjungsi atau sinodis:

S = B*R/(B – R) = 29,5xyz hari

Kita tahu bahwa B dan R adalah data empiris. Kita perlu mengukur revolusi bumi dan rembulan secara empiris. Konsekuensinya, B dan R, adalah estimasi atau aproksimasi. Setiap pengukuran empiris menyertakan margin error dan level keyakinan. Perhitungan matematis periode konjungsi juga bersifat estimasi. Jadi, kalender hijriah memang sulit.

Visibilitas Rukyat Hilal

Arab Saudi memilih metode rukyat hilal; yaitu melihat penampakan bulan sabit. Asumsi dasar adalah besok 30 Ramadan; kecuali ada orang yang bisa melihat hilal senja itu berdampak 30 Ramadan gagal; 30 Ramadan terfalsifikasi. Bila 30 Ramadan gagal maka Saudi menetapkan bahwa besok adalah 1 Syawal.

Gagal melihat hilal bisa disebabkan oleh banyak hal: hujan, mendung, hilal terlalu dekat dengan matahari, atau lainnya. Sementara, sukses melihat hilal, sejatinya, tidak membuktikan bahwa besok adalah bulan baru; tetapi berhasil membatalkan besok 30 Ramadan.

MABIMS melangkah lebih berani dengan menetapkan kriteria 3 derajat (elongasi 6,4). Jika dari hisab diperoleh tinggi hilal 4 derajat (lebih tinggi dari 3 derajat) maka besok adalah 1 Syawal. Tidak terpengaruh apakah senja itu hilal bisa dilihat atau tertutup awan. Umumnya, tinggi 4 derajat memang hilal akan berhasil diamati.

Hisab Wujudul Hilal sampai KHGT

Tahun 2024 ini terjadi peristiwa menarik; MU beralih dari kriteria wujudul hilal (WH) ke KHGT (kalender hijriah global tunggal).

WH adalah metode hisab yang menyatakan bila hilal hakiki sudah di atas ufuk maka besok adalah 1 Syawal. Kriteria di atas ufuk ini terbebas dari halangan mendung, awan, atau hujan. Kriteria WH ini sudah ditetapkan, dihitung, secara matematis bahkan jauh hari sebelum Ramadan.

KHGT berlaku global dengan menetapkan konjungsi; kemudian hari berikutnya adalah 1 Syawal dimulai dari IDL (international date line) misal Selandia Baru.

Pada 29 Ramadan itu terjadi konjungsi, misal, sebelum fajar di Selandia Baru maka besok adalah 1 Syawal dimulai pukul 00.01 waktu Selandia Baru. Secara global, wilayah lain mengikuti 1 Syawal setelah Selandia Baru.

Andai konjungsi terjadi setelah fajar, misal pukul 06.00, di Selandia Baru maka besok adalah 30 Ramadan; 1 Syawal dimulai lusa.

Ragam Interpretasi

Saat ini kita mengenal tiga interpretasi utama:

[1] MABIMS: Indonesia dan negara tetangga mengadopsi kriteria MABIMS yaitu tinggi hilal 3 derajat.

[2] KHGT: MU menetapkan bulan baru dimulai dari IDL bila terjadi konjungsi sebelum fajar.

[3] RH: Saudi menjalankan RH (rukyat hilal) untuk memastikan apakah besok 30 Ramadan.

Di antara beragam interpretasi itu, atau ditambah interpretasi lain, bisa disatukan? Tentu bisa saja bila semua sepakat. Sejauh ini, tidak ada tanda-tanda akan sepakat. Tetapi, semua pihak perlu sepakat untuk saling hormat penuh toleransi. Jadi, membuat kalender hijriah memang tugas yang sulit.

3. Arah Kiblat

Cara mudah menentukan arah kiblat, dan sah, adalah dengan datang ke Masjid Haram; lalu, tataplah Kabah; Anda sudah mengarah kiblat dengan tepat.

Kita tahu, lebih banyak orang yang tinggal di luar Mekah, yang jauh dari Kabah secara lokasi. Akibatnya, cara mudah di atas gagal untuk diterapkan secara luas. Alternatifnya, kita perlu mencoba menentukan arah kiblat, yang pada analisis akhir, sangat sulit.

Melihat Matahari

Di hari-hari tertentu, misal 15 Juli dan 16 Juli, posisi matahari tepat di atas Kabah. Pukul 12.27 waktu Mekah matahari tepat di atas Kabah pada 15 Juli 2024; atau 15 Juli tahun-tahun berikutnya. Saat itu adalah pukul 16.27 WIB atau 17.27 WIB.

Di waktu yang tepat itu, tataplah matahari, kemudian turunkan pandangan sampai datar; Anda sudah mengarah kiblat dengan tepat. Cara ini sah dan mudah.

Apa kesulitan dengan cara di atas? Meski situasi cerah tanpa halangan, menentukan arah kiblat dengan melihat matahari tetap menghadapi kesulitan.

Bagaimana Anda tahu bahwa saat itu matahari sedang tepat di atas Kabah? Kita tahu dari informasi dan pengetahuan pada umumnya. Bagaimana informasi dan pengetahuan itu bisa bernilai benar? Kita tidak bisa menjaminnya. Tetapi, secara umum kita bisa percaya bahwa informasi di atas adalah sah.

Kesulitan kedua adalah bumi ini bulat; seperti bola atau telur. Ketika Anda mengarahkan pandang ke kiblat dengan tepat, sejatinya, Anda mengarah ke langit bukan ke Kabah.

Mari kita ilustrasikan ke wilayah Indonesia Tengah; pukul 17.28 adalah jelang maghrib; kita menunjuk ke arah matahari; itu adalah arah yang tepat ke Kabah dan matahari sedang proses terbenam. Andai kita bisa terbang lurus ke arah kiblat maka kita akan sampai ke matahari bukan ke Kabah. Jarak antara matahari dan Kabah adalah ribuan kilometer. Jadi, menentukan arah kiblat adalah sangat sulit.

Menentukan arah kiblat dengan kompas atau aplikasi atau perhitungan matematis akan menghadapi kusulitasn yang sama: mereka mengarah ke langit. Bagaimana pun, metode penentuan kiblat dengan matahari atau aplikasi tetap bisa kita terima; terutama atas pertimbangan praktis.

Menembus Bumi

Singularitas Teknologi AI: Prospek dan Histori

Beberapa ahli memprediksi terjadi singularitas pada tahun 2045; yaitu kemampuan teknologi, semisal AI, lebih cerdas dari manusia. Kemudian, teknologi ini mengembangkan teknologi lanjutan yang makin cerdas eksponensial; meninggalkan manusia jauh di belakang. Konsekuensinya, umat manusia akan tersisih dan dunia dikuasi oleh teknologi yang mandiri. Prediksi singularitas ini sungguh ngeri tapi benarkan akan terjadi?

1. Makna Singularitas
2. Disrupsi Lebih Pasti
3. Belajar Histori
4. Prospek Masa Depan
5. Siapa Kita?

Makna singularitas memang beragam. Satu hal yang lebih pasti adalah disrupsi atau keruntuhan. Ketika singularitas terjadi maka pasti terjadi disrupsi. Bahkan, sebelum terjadi singularitas, disrupsi sudah terjadi; atau, andai tidak ada singularitas maka tetap terjadi disrupsi. Sehingga, kita perlu membahas makna disrupsi lebih jeli.

Dari sejarah, kita tidak menemukan singularitas. Fakta-fakta sejarah menunjukkan beragam disrupsi. Akankah mengantar terjadinya singularitas? Karena, disrupsi makin dahsyat; eksponensial; sehingga wajar bila beberapa ahli menduga akan terjadi singularitas.

Singularitas tampak ngeri; begitu juga disrupsi. Adakah prospek kebaikan bila terjadi singularitas dan disrupsi? Saya yakin ada prospek; tetapi, resiko memang lebih besar. Sehingga, kita perlu waspada dan peduli.

Kurzweil (lahir 1948) optimis bahwa singularitas akan membawa kebaikan bagi manusia dan semesta. AI yang super cerdas bekerja sama dengan manusia untuk menjelajahi bumi dan, bahkan, alam semesta. Kita tidak menemukan alien, anggap alien memang tidak ada, maka manusia bersama AI yang akan menaklukkan semesta raya.

Akhirnya, kita akan berhadapan dengan pertanyaan paling dasar: siapa kita? Siapa manusia? Jawaban siapa sejatinya manusia akan membantu kita untuk mempelajari singularitas teknologi termasuk AI.

1. Makna Singularitas

Secara sederhana, makna singularitas adalah suatu kejadian di mana teknologi melampaui kemampuan manusia. Selanjutnya, teknologi itu menciptakan teknologi baru yang lebih canggih lagi; sehingga, kemampuan teknologi jauh di atas manusia.

According to the most popular version of the singularity hypothesis, I. J. Good‘s intelligence explosion model of 1965, an upgradable intelligent agent could eventually enter a positive feedback loop of self-improvement cycles, each new and more intelligent generation appearing more and more rapidly, causing a rapid increase (“explosion”) in intelligence which would ultimately result in a powerful superintelligence, qualitatively far surpassing all human intelligence. (Wiki)

Atau, singularitas adalah sebuah titik di masa depan di mana perkembangan teknologi sangat pesat sampai tak terkendali dan tidak bisa dikembalikan ke situasi semula.

The technological singularity—or simply the singularity[—is a hypothetical future point in time at which technological growth becomes uncontrollable and irreversible, resulting in unforeseeable consequences for human civilization. (Wiki)

Singularitas ini mengancam eksistensi manusia. Robot atau teknologi yang super cerdas bisa menindas manusia bahkan memusnahkan manusia. Di sisi lain, beberapa pemikir melihat ada banyak prospek dari singularitas untuk kemanusiaan dan alam raya.

Some scientists, including Stephen Hawking, have expressed concern that artificial superintelligence (ASI) could result in human extinction. The consequences of a technological singularity and its potential benefit or harm to the human race have been intensely debated. (Wiki).

Kita bisa mengajukan pertanyaan lebih dasar: apakah singularitas benar-benar akan terjadi?

Yudkowsky (lahir 1979) meyakini bahwa singularitas akan terjadi; bahkan terjadi dalam waktu dekat. Yudkowsky memanfaatkan deret geometri untuk membuktikan bahwa singularitas pasti terjadi. Kita akan membahas argumen Yudkowsky di bawah.

2. Disrupsi Lebih Pasti

Potensi akan terjadi singularitas memang jelas. Tetapi, saya lebih yakin yang terjadi adalah dirupsi bukan singularitas. Sebelum terjadi singularitas maka akan terjadi disrupsi; demikian juga selama dan setelah singularitas akan diiringi oleh disrupsi; andai benar-benar terjadi singularitas. Jadi, kita perlu mengkaji disrupsi lebih dalam lagi.

Revolusi, dalam sistem sosial mau pun sains, diiringi oleh disrupsi. Atau sebaliknya, situasi disrupsi mendorong revolusi. Industri telepon rumah, fixed phone, terdisrupsi oleh telepon seluler atau hp; selanjutnya, telepon seluler terdisrupsi oleh gawai internet, gadget. Termasuk layanan seluler, misal sms dan suara, terdisrupsi oleh media sosial. Kita masih bisa memberi contoh disrupsi lebih banyak lagi.

Perlu kita waspadai bahwa disrupsi adalah alamiah. Perubahan besar, misal untuk kemajuan, memang memerlukan disrupsi. Kolonialisme dan imperialisme yang berlangsung ratusan tahun adalah disrupsi; dampak dari kemajuan industrialisasi yang juga disrupsi. Dimana disrupsi industrialisasi adalah alamiah dalam arti bersifat positif; tetapi kolonialisme tidak alamiah yang bersifat negatif.

Lebih dalam lagi, kapitalisme adalah disrupsi; positif atau negatif?

Sebuah pabrik dibangun di sebuah kabupaten Jawa Timur. Pabrik itu mendorong kemajuan ekonomi bagi para pemodal. Pertumbuhan ekonomi tumbuh pesat di kabupaten itu; terutama bagi investor, atau pemilik kapital. Di saat yang sama terjadi disrupsi. Petani terusir dari sawah dan rumahnya karena dipakai bangunan pabrik. Beberapa warga yang bertahan dikepung banjir setiap musim hujan; sawah yang biasanya menyerap air hujan sudah berubah menjadi gedung pabrik dan fasilitas pendukung. Masih banyak disrupsi lainnya. Secara singkat, kehidupan sosial yang tampak wajar-wajar saja, sejatinya, terjadi disrupsi.

Ketika potensi singularitas makin besar maka dampak disrupsi ikut makin besar secara aktual.

2.1 Argumen Deret

Yudkowsky memanfaatkan deret untuk membuktikan terjadinya singularitas. Mari kita bahas argumen deret ini lebih dalam.

W = 2 + 1 + 1/2 + 1/4 + … … … = 4

K = 2 + 2 + 2 + 2 + … … … = Tak Hingga = Singularitas

W = 4 adalah waktu untuk mencapai singularitas yaitu 4 tahun. Sebagaimana diketahui bahwa waktu yang diperlukan kekuatan komputasi untuk meningkat dua kali lipat adalah setiap 2 tahun; sesuai hukum Moore. Periode berikutnya, kekuatan komputer untuk bertambah sejumlah itu hanya diperlukan waktu 1 tahun; karena kekuatan komputer sudah berlipat sebelumnya. Seterusnya, diperlukan waktu 1/2 tahun; lalu 1/4 tahun; dan seterusnya total waktu yang diperlukan adalah hanya W = 4 tahun.

Cara menghitung W = 4 sudah diketahui secara umum; siswa SMA sudah mengenal formula kalkulus dasar ini.

Bagaimana dalam 4 tahun itu terjadi singularitas?

Asumsikan kekuatan komputer awal adalah 2 satuan. Dua tahun kemudian bertambah 2 menjadi 4. Untuk bertambah 2 lagi menjadi 6, saat itu, hanya perlu waktu 1 tahun. Berikutnya, untuk bertambah 2 lagi, hanya perlu waktu 1/2 tahun; berlanjut seterusnya. (Angka-angka ini tidak tepat secara eksak; tetapi cukup memadai sebagai ilustrasi semata).

Karena kekuatan komputer bertambah 2 terus-menerus maka, pada waktunya, akan mencapai K = Tak Hingga = Singularitas. Kabar baiknya, untuk mencapai singularitas di atas hanya perlu waktu W = 4 tahun.

Terbukti bahwa singularitas terjadi dalam waktu 4 tahun.

Sejatinya, masih tersedia argumen lain untuk mendukung terjadinya singularitas. Kita mengambil contoh argumen deret di atas untuk kemudahan analisis. Secara umum terdapat tiga jenis argumen atau aliran pendukung singularitas.

[1] Percepatan atau akselerasi: perkembangan teknologi makin cepat secara eksponensial. Pada waktunya, prediksi 2045, akan terjadi singularitas.

[2] Horison: kecerdasan manusia memiliki kapasitas tertentu. AI makin cerdas, pada waktunya, akan sama dengan kecerdasan manusia. Selanjutnya, AI akan melampaui kecerdasan manusia; terjadi singularitas.

[3] Ledakan atau eksplosi: manusia dan AI saling meningkatkan kecerdasan; tercipta umpan balik positif; saling menguatkan. Pada waktunya akan terjadi singulartias,

2.2 Anti Argumen

Mengapa tidak terjadi singularitas setelah 4 tahun berlalu? Mengapa argumen deret tidak menjadi kenyataan?

Jika kita mulai perhitungan pada tahun 2010 maka singularitas terjadi pada tahun 2014. Tetapi, kita tahu, tidak terjadi singularitas pada tahun 2014.

Barangkali, kita salah memilih angka awal untuk W. Kita memilih angka awal 2 sehingga W = 4 tahun. Bisa jadi yang benar adalah angka awal 10 sehingga W dikoreksi menjadi W = 20 tahun. Konsekuensinya, singularitas baru akan terjadi tahun 2030. Sekitar 6 tahun yang akan datang.

Kita bisa memilih angka awal ini berbeda-beda, konsekuensinya, prediksi tahun singularitas juga berbeda-beda.

Anti argumen justru menyatakan bahwa argumen deret membuktikan bahwa singularitas tidak akan pernah terjadi. Karena jika singularitas terjadi maka sudah terjadi 2014 sesuai contoh di atas.

Kita bisa mengembangkan anti argumen lebih tegas lagi.

Diberikan pita sepanjang 4 meter; Anda ditugaskan memindahkan pita tersebut bertahap dengan cara memotong dan menyisakan setengahnya. Pita yang berhasil Anda pindahkan adalah P.

P = 2 + 1 + 1/2 + 1/4 + … … … = 4 meter.

Tetapi, Anda tidak akan berhasil memindahkan P = 4 meter; karena akan selalu tersisa setengah dari terakhir. Anda hanya bisa berhasil memindahkan pita P = 4 meter bila, pada langkah terakhir, Anda tidak menyisakan setengahnya; tetapi langkah ini melanggar aturan deret; konsekuensinya, argumen deret menjadi batal.

W = 4 tahun adalah tidak pernah terjadi. Ketika waktu bergulir sampai 4 tahun berlalu, hal itu menunjukkan pelanggaran terhadap aturan deret; argumen deret menjadi batal.

Kekuatan komputasi K = Tak Hingga = Singularitas tidak pernah terjadi; karena argumen deret batal. Dengan kata lain, untuk mencapai K = Tak Hingga dibutuhkan waktu sebanyak Tak Hingga juga. Kita tidak punya usia hidup sebanyak Tak Hingga tahun. Atau, kita tidak bisa mencapai waktu sampai Tak Hingga tahun yang diharapkan itu. Kesimpulan: singularitas tidak pernah terjadi.

Singularitas tidak-mungkin terjadi (not possible); tetapi bukan-mustahil untuk terjadi; not-impossible untuk terjadi. Atau, singularitas hanya kemungkinan kecil bisa terjadi; probalitas mendekati 0; tetapi bukan 0. Atau, kita bisa menyebut singularitas terjadi hanya secara parsial, lokal, dan temporal. Sementara, singularitas total sulit untuk bisa terjadi.

2.3 Argumen Alternatif

Argumen alternatif menyatakan bahwa kita perlu lebih fokus kepada alternatif dari singularitas; yaitu fokus kepada disrupsi. Kita telah menyaksikan dirupsi memang telah terjadi, sedang terjadi, dan akan tetap terjadi. Dengan perkembangan teknologi yang mengarah kepada singularitas maka dampak disrupsi makin besar. Apa respon yang diperlukan?

Kita bisa saling menukar makna-sigularitas (potensial) dengan makna-disrupsi (aktual).

Singularitas (potensial) = Disrupsi (aktual)

Untuk kemudahan pembahasan, kita kadang menyebut singularitas saja atau disrupsi saja.

3. Belajar Histori

Kurzweil membagi singularitas menjadi 6 epoch. Kita akan menirunya dengan membagi histori singularitas menjadi 7 episode; dimulai dengan episode 0.

Episode 0: Aljabar

Sekitar abad 8 dan abad 9, Aljabar Alkhwarizmi mengembangkan matematika aljabar dengan prosedur sistematis dan penggunaan angka 0 yang efisien. Berpadu dengan konteks histori lainnya, episode 0 mendorong revolusi bangsa Arab. Sebelumnya, bangsa Arab tidak diperhitungkan oleh dunia, berubah menjadi bangsa paling maju di dunia; bersaing dengan Persi, Romawi, Mesir, Cina, dan lain-lain.

Dampak disrupsi dari aljabar masih wajar; dalam arti, penindasan penguasa kepada rakyat kecil terjadi di beberapa tempat mirip dengan era sebelumnya atau bahkan lebih ringan; terjadi peperangan di berbagai wilayah seperti era sebelumnya.

Episode 1: Fisika

Abad 17, fisika berkembang secara revolusioner oleh Newton; dengan dukungan metafisika Descartes. Sains terpisah dengan moral; sehingga, saintis bebas untuk eksplorasi, atau eksploitasi, alam raya. Dengan bekal matematika kalkulus, sains mampu mengendalikan alam secara mekanis dalam bentuk beragam teknologi.

Disrupsi bahkan revolusi terjadi pada episode ini dan makin kuat dengan gabungan episode-episode selanjutnya.

Episode 2: Kimia

Sains kimia sudah berkembang sejak kuno; orang-orang ingin membuat emas dari bahan logam biasa; tentu saja, mereka tidak berhasil. Dalton (1766 – 1844 ) salah satu pelopor sains kimia terdepan dengan berhasil merumuskan atom: seluruh materi alam semesta terdiri dari materi paling kecil yaitu atom; atom tidak bisa dipecah lagi.

Sejarah selanjutnya, kita tahu bahwa atom tersusun oleh materi yang lebih kecil yaitu elektron dan inti atom; saat ini, mekanika quantum merumuskan bahwa materi tersusun fermion dan boson (sebagai pembawa gaya interaksi).

Gabungan kimia, fisika, dan matematika mendorong revolusi industri (tentu saja ditambah faktor ekonomi, politik, budaya, dan lain-lain). Industri di Eropa berkembang cepat sampai terjadi disrupsi berupa imperalisme dan kolonialisme terhadap Asia, Afrika, Australia, Amerika dan lain-lain. Barangkali, kolonialisme adalah disrupsi terbesar sepanjang sejarah.

Episode 3: Biologi

Darwin (1809 – 1882) mendobrak sains biologi dengan merumuskan teori evolusi. Keunggulan teori evolusi adalah melengkapinya dengan data-data ilmiah berupa fosil. Bagaimana pun, Darwin mengalami kesulitan bagaimana menjelaskan sifat-sifat orang tua bisa diwariskan kepada anak dan cucu mereka. Untung saja, di tempat terpisah, Mendel meneliti problem genetika dan menemukan solusinya. Teori evolusi menghadapi kesulitan sejak awal dan terbukti mampu evolusi.

Dengan teori evolusi, manusia makin yakin bahwa perubahan itu pasti terjadi. Apakah perubahan evolusi itu bisa dipercepat atau dikendalikan? Rekayasa genetika dan DNA memberi jawaban optimis.

Rekayasa genetika bibit unggul semangka, misalnya, berhasil membuat semangka tanpa biji dengan buah yang manis; cepat panen dalam jumlah besar. Kita berhasil menciptakan bibit unggul semangka melalui rekayasa genetika. Apakah kita juga bisa menciptakan bibit unggul anak manusia melalui rekayasa genetika?

Disrupsi makin besar pada tahap ini; teknologi berhasil mengeksploitasi kekuatan sains; matematika, fisika, kimia, dan biologi. Kolonialisme memenuhi belahan bumi di banyak tempat; dari kolonialisme militer sampai ekonomi. Perang Dunia I dan Perang Dunia II merupakan satu tragedi disrupsi yang sangat ngeri.

Episode 4: Otak Digital

Riset tentang otak dan perkembangan teknologi komputer saling menguatkan. Di satu sisi, komputer meniru cara kerja otak yang cerdas. Di sisi lain, manusia memahami otak dengan model komputer. Komputer adalah teknologi cerdas dalam arti yang sebenarnya.

Kita, saat ini, berada pada episode 4 dan menuju episode 5.

Singularitas makin dekat karena: [1] teknologi berkembang dengan akselerasi makin tinggi; [2] proses dan algoritma makin cerdas melampaui horison kecerdasan manusia; dan [3] kecerdasan manusia dan teknologi saling menguatkan atau terjadi umpan balik positif.

Apakah komputer akan memiliki kesadaran? Apakah komputer akan memiliki kesadaran personal dan bersosial? Apakah komputer akan memiliki kesadaran sebagai subyek fenomenologis atau transenden?

Kurzweil menjawab dengan optimis, “Komputer akan memiliki kesadaran.” Tiga skenario agar komputer memiliki kesadaran. [1] Akselerasi teknologi yang makin tinggi menjamin komputer memiliki kesadaran. [2] Mengunggah pikiran manusia ke sistem komputer. Pikiran manusia yang ada di otak dibuatkan representasi sistem digital. Kemudian, representasi otak yang ekivalen dengan representasi pikiran diunggah ke jaringan komputer. Dengan demikian, komputer memiliki pikiran dan kesadaran sebagaimana manusia. [3] Penanaman silikon ke otak manusia atau menggantikan sel otak biologis dengan sel otak silikon. Transplantasi organ, misal jantung, sudah sering terjadi. Kali ini, pada waktunya nanti, transplantasi otak berupa bahan silikon. Proses transplantasi ini bisa berangsur-angsur sehingga aman. Dengan demikian otak biologis tidak ada bedanya dengan otak silikon; atau, silikon memiliki kesadaran.

Episode 5: Super Intelligence

Perkembangan komputer cerdas tumbuh secara eksponensial. Tugas komputasi yang membutuhkan super komputer pada pertengahan abad 20 bisa diselesaikan oleh telepon genggam dalam hitungan menit di awal abad 21 ini. Kurzweil memprediksi kecerdasan komputer akan lebih cerdas dari manusia pada tahun 2029. Kita memasuki era super cerdas atau super intelligence.

Pada episode 5 ini, singularitas makin nyata; akselerasi perkembangan AI makin tak terkendali. Beberapa pemikir khawatir dengan beragam resiko eksistensial bila benar-benar terjadi. Tetapi, Kurzweil justru optimis bahwa super intelligence adalah berkah buat semesta, termasuk, berkah bagi umat manusia. Apakah Anda setuju?

Episode 6: Kecerdasan Semesta

Komputer cerdas atau AI (artificial intelligence) bekerja sama dengan manusia; AI dan manusia saling menguatkan kecerdasan; pertumbuhan kecerdasan makin eksplosif eksponensial. Kurzweil memprediksi terjadi singularitas pada tahun 2045. Manusia, yang berpadu dengan AI, akan mampu menjelajahi seluruh semesta. Bahkan, dengan nanobots, manusia bisa hidup abadi; manusia tidak akan mati dan tidak akan menua.

4. Prospek Masa Depan

Singularitas tampak ngeri; begitu juga disrupsi. Adakah prospek kebaikan bila terjadi singularitas dan disrupsi? Saya yakin ada prospek; tetapi, resiko memang lebih besar. Sehingga, kita perlu waspada dan peduli.

Kurzweil (lahir 1948) optimis bahwa singularitas akan membawa kebaikan bagi manusia dan semesta. AI yang super cerdas bekerja sama dengan manusia untuk menjelajahi bumi dan, bahkan, alam semesta. Kita tidak menemukan alien, anggap alien memang tidak ada, maka manusia bersama AI yang akan menaklukkan semesta raya.

5. Siapa Kita?

Akhirnya, kita akan berhadapan dengan pertanyaan paling dasar: siapa kita? Siapa manusia? Jawaban siapa sejatinya manusia akan membantu kita untuk mempelajari singularitas teknologi termasuk AI.

Kita bisa mengajukan pertanyaan lebih spesifik: apa keunikan manusia? Keunikan manusia adalah mampu memilih amal baik padahal bisa berbuat dosa. Komitmen terhadap amal dan dosa adalah khas milik manusia.

Apakah AI bisa berkomitmen terhadap amal dan dosa? Sehebat apa pun AI bila tidak mampu komitmen terhadap amal dosa maka tetap tidak berhasil melampaui kemanusiaan. Manusia tetap memikul tanggung jawab terhadap amal dan dosa; termasuk, bertanggung jawab terhadap resiko AI.

Bagaimana menurut Anda?