Arah Kiblat: Mudah sampai Sulit

Tugas menentukan arah kiblat adalah sangat mudah dan, sekaligus, paling sulit. Mudah saja; Anda tinggal datang ke masjid lalu lihat petunjuk arah kiblat; selesai, Anda menemukan arah kiblat. Atau, Anda bisa buka aplikasi di hp kemudian temukan arah kiblat. Apakah arah kiblat seperti itu bisa dipercaya?

Arah kiblat adalah arah yang menunjuk ke Kabah di kota Mekah. Cara paling mudah dan meyakinkan menentukan arah kiblat adalah dengan datang ke Masjid Haram; kemudian, tataplah Kabah; dan Anda berhasil menghadap arah kiblat itu. Lebih menarik lagi, ketika pintu Kabah dibuka, Anda boleh masuk ke dalam Kabah, maka ke mana pun arah Anda sholat maka Anda sudah tepat ke arah kiblat.

Bagaimana dengan orang di luar kota Mekah? Anda yang berada di luar Mekah, misal Anda di Indonesia, ke arah mana pun menunjuk maka Anda akan menunjuk ke arah langit; ke arah atas; menjauh dari bumi. Karena bumi melengkung; seperti bola. Kabah berada pada lengkungan bumi yang berbeda dari Indonesia. Kita akan membahas beberapa solusi alternatif di bawah ini.

1. Waktu Sholat
2. Kalender Hijriah
3. Arah Kiblat

Penentuan waktu sholat adalah mudah karena menggunakan jam matahari. Mudah dalam arti kita akan menemukan metode dan hasil yang makin akurat dan presisi. Membuat kalender hijriah adalah tugas sulit. Karena memanfaatkan posisi bulan terhadap matahari dari perspektif manusia bumi. Konsekuensinya, kalender hijriah perlu mengkaji dinamika bulan, matahari, dan bumi. Sedangkan penentuan arah kiblat adalah paling mudah dan paling sulit seperti kita sebut di atas.

1. Waktu Sholat

Kita ambil contoh waktu sholat duhur adalah mulai matahari di atas kepala (tergelincir) sampai bayangan suatu benda adalah sama panjang dengan panjang benda tersebut.

Atau, waktu sholat duhur adalah mulai pukul 12.00 sampai 15.00 (kita buat idealisasi untuk memudahkan).

Pukul 12.00 adalah ketika matahari di atas kepala kita; matahari tepat vertikal terhadap bumi tempat kita berpijak. Kita perlu menunggu sebentar agar matahari tergelincir; setelah tergelincir maka masuk waktu sholat duhur.

Pukul 15.00 adalah ketika bayangan tongkat 1 meter adalah tepat sama dengan 1 meter; waktu sholat duhur berahkhir. Kemudiaan, sesaat setelah itu, masuk waktu ashar.

Variasi Ideal

Variasi terjadi karena bumi ada yang di sebelah utara atau selatan katulistiwa. Variasi juga terjadi bahwa posisi matahari berbeda hari ini dengan hari kemarin mau pun esok hari. (Untuk kemudahan kita bisa menganggap geosentris; bumi diam sebagai pusat dan matahari yang gerak berputar).

Dengan demikian, lokasi yang jauh dari katulistiwa perlu melakukan kajian-kajian penyesuaian. Sementara, perbedaan posisi matahari hari demi hari terbukti berulang periodik tiap tahunnya. Posisi matahari 15 Juli berbeda dengan 15 Juni tetapi posisi matahari 15 Juli 2022 akan tetap sama dengan posisi matahari 15 Juli 2023 atau tahun kapan pun.

Bagaimana pun, kita tahu bahwa 1 tahun matahari adalah tidak tepat 365 hari tetapi pecahan sekitar 365,25 hari. Sehingga, di tahun-tahun tertentu perlu koreksi berupa tahun kabisat dengan tambahan tanggal 29 Februari.

Hasil akhirnya adalah waktu sholat duhur kurang lebih 12.00 dan berakhir kurang lebih 15.00. Nilai kurang lebih ini berbeda-beda tiap hari tetapi periodik, berulang kembali, dalam tiap tahun.

Kesimpulannya tugas menentukan waktu sholat adalah mudah, dalam arti, para ilmuwan bisa mengkajinya dan merevisi setiap saat untuk mendapatkan hasil yang lebih akurat dan presisi.

Tantangan Interpretasi

Masalah muncul ketika berbeda interpretasi. Waktu sholat subuh ada yang mulai 20 derajat di bawah ufuk; ada juga yang mulai 18 derajat di bawah ufuk; atau ada interpretasi lain lagi.

Konsekuensinya, perbedaan interpretasi menghasilkan perbedaan waktu sholat subuh. Perbedaan ini bisa diselesaikan dengan musyawarah untuk mencapai mufakat. Atau, bila tidak ada mufakat maka bisa toleransi dengan saling hormat.

2. Kalender Hijriah

Sudah jelas dan disepakati bahwa 1 tahun hijriah terdiri dari 12 bulan. Masing-masing 1 bulan terdiri dari 30 hari atau 29 hari. Tantangan sulit muncul untuk menentukan apakah besok 30 Ramadan atau 1 Syawal bila hari ini adalah 29 Ramadan.

Dinamika

Kita perlu memperhatikan dinamika bulan-matahari-bumi. Menjadi sulit dan menantang karena dinamika ini tidak periodik; atau sejauh ini, belum ditemukan sebagai periodik.

Umumnya, bulat sabit atau hilal diyakini sebagai tanda awal bulan baru. Para ilmuwan mengetahui bahwa bulan baru perlu diawali oleh rembulan baru yaitu konjungsi atau ijtimak. Dari 1 konjungsi ke konjungsi berikutnya adalah 1 siklus sinodis rembulan sekitar 29,5xyz hari.

Ketika terjadi konjungsi, kita berada di tanggal 29 Ramadan. Besok adalah 30 Ramadan atau 1 Syawal?

Periode konjungsi = 29,5xyz hari bisa dihitung berdasar waktu revolusi bumi B = 365,abc hari dan waktu revolusi rembulan R = 27,3pqr hari.

Periode konjungsi atau sinodis:

S = B*R/(B – R) = 29,5xyz hari

Kita tahu bahwa B dan R adalah data empiris. Kita perlu mengukur revolusi bumi dan rembulan secara empiris. Konsekuensinya, B dan R, adalah estimasi atau aproksimasi. Setiap pengukuran empiris menyertakan margin error dan level keyakinan. Perhitungan matematis periode konjungsi juga bersifat estimasi. Jadi, kalender hijriah memang sulit.

Visibilitas Rukyat Hilal

Arab Saudi memilih metode rukyat hilal; yaitu melihat penampakan bulan sabit. Asumsi dasar adalah besok 30 Ramadan; kecuali ada orang yang bisa melihat hilal senja itu berdampak 30 Ramadan gagal; 30 Ramadan terfalsifikasi. Bila 30 Ramadan gagal maka Saudi menetapkan bahwa besok adalah 1 Syawal.

Gagal melihat hilal bisa disebabkan oleh banyak hal: hujan, mendung, hilal terlalu dekat dengan matahari, atau lainnya. Sementara, sukses melihat hilal, sejatinya, tidak membuktikan bahwa besok adalah bulan baru; tetapi berhasil membatalkan besok 30 Ramadan.

MABIMS melangkah lebih berani dengan menetapkan kriteria 3 derajat (elongasi 6,4). Jika dari hisab diperoleh tinggi hilal 4 derajat (lebih tinggi dari 3 derajat) maka besok adalah 1 Syawal. Tidak terpengaruh apakah senja itu hilal bisa dilihat atau tertutup awan. Umumnya, tinggi 4 derajat memang hilal akan berhasil diamati.

Hisab Wujudul Hilal sampai KHGT

Tahun 2024 ini terjadi peristiwa menarik; MU beralih dari kriteria wujudul hilal (WH) ke KHGT (kalender hijriah global tunggal).

WH adalah metode hisab yang menyatakan bila hilal hakiki sudah di atas ufuk maka besok adalah 1 Syawal. Kriteria di atas ufuk ini terbebas dari halangan mendung, awan, atau hujan. Kriteria WH ini sudah ditetapkan, dihitung, secara matematis bahkan jauh hari sebelum Ramadan.

KHGT berlaku global dengan menetapkan konjungsi; kemudian hari berikutnya adalah 1 Syawal dimulai dari IDL (international date line) misal Selandia Baru.

Pada 29 Ramadan itu terjadi konjungsi, misal, sebelum fajar di Selandia Baru maka besok adalah 1 Syawal dimulai pukul 00.01 waktu Selandia Baru. Secara global, wilayah lain mengikuti 1 Syawal setelah Selandia Baru.

Andai konjungsi terjadi setelah fajar, misal pukul 06.00, di Selandia Baru maka besok adalah 30 Ramadan; 1 Syawal dimulai lusa.

Ragam Interpretasi

Saat ini kita mengenal tiga interpretasi utama:

[1] MABIMS: Indonesia dan negara tetangga mengadopsi kriteria MABIMS yaitu tinggi hilal 3 derajat.

[2] KHGT: MU menetapkan bulan baru dimulai dari IDL bila terjadi konjungsi sebelum fajar.

[3] RH: Saudi menjalankan RH (rukyat hilal) untuk memastikan apakah besok 30 Ramadan.

Di antara beragam interpretasi itu, atau ditambah interpretasi lain, bisa disatukan? Tentu bisa saja bila semua sepakat. Sejauh ini, tidak ada tanda-tanda akan sepakat. Tetapi, semua pihak perlu sepakat untuk saling hormat penuh toleransi. Jadi, membuat kalender hijriah memang tugas yang sulit.

3. Arah Kiblat

Cara mudah menentukan arah kiblat, dan sah, adalah dengan datang ke Masjid Haram; lalu, tataplah Kabah; Anda sudah mengarah kiblat dengan tepat.

Kita tahu, lebih banyak orang yang tinggal di luar Mekah, yang jauh dari Kabah secara lokasi. Akibatnya, cara mudah di atas gagal untuk diterapkan secara luas. Alternatifnya, kita perlu mencoba menentukan arah kiblat, yang pada analisis akhir, sangat sulit.

Melihat Matahari

Di hari-hari tertentu, misal 15 Juli dan 16 Juli, posisi matahari tepat di atas Kabah. Pukul 12.27 waktu Mekah matahari tepat di atas Kabah pada 15 Juli 2024; atau 15 Juli tahun-tahun berikutnya. Saat itu adalah pukul 16.27 WIB atau 17.27 WIB.

Di waktu yang tepat itu, tataplah matahari, kemudian turunkan pandangan sampai datar; Anda sudah mengarah kiblat dengan tepat. Cara ini sah dan mudah.

Apa kesulitan dengan cara di atas? Meski situasi cerah tanpa halangan, menentukan arah kiblat dengan melihat matahari tetap menghadapi kesulitan.

Bagaimana Anda tahu bahwa saat itu matahari sedang tepat di atas Kabah? Kita tahu dari informasi dan pengetahuan pada umumnya. Bagaimana informasi dan pengetahuan itu bisa bernilai benar? Kita tidak bisa menjaminnya. Tetapi, secara umum kita bisa percaya bahwa informasi di atas adalah sah.

Kesulitan kedua adalah bumi ini bulat; seperti bola atau telur. Ketika Anda mengarahkan pandang ke kiblat dengan tepat, sejatinya, Anda mengarah ke langit bukan ke Kabah.

Mari kita ilustrasikan ke wilayah Indonesia Tengah; pukul 17.28 adalah jelang maghrib; kita menunjuk ke arah matahari; itu adalah arah yang tepat ke Kabah dan matahari sedang proses terbenam. Andai kita bisa terbang lurus ke arah kiblat maka kita akan sampai ke matahari bukan ke Kabah. Jarak antara matahari dan Kabah adalah ribuan kilometer. Jadi, menentukan arah kiblat adalah sangat sulit.

Menentukan arah kiblat dengan kompas atau aplikasi atau perhitungan matematis akan menghadapi kusulitasn yang sama: mereka mengarah ke langit. Bagaimana pun, metode penentuan kiblat dengan matahari atau aplikasi tetap bisa kita terima; terutama atas pertimbangan praktis.

Menembus Bumi

Singularitas Teknologi AI: Prospek dan Histori

Beberapa ahli memprediksi terjadi singularitas pada tahun 2045; yaitu kemampuan teknologi, semisal AI, lebih cerdas dari manusia. Kemudian, teknologi ini mengembangkan teknologi lanjutan yang makin cerdas eksponensial; meninggalkan manusia jauh di belakang. Konsekuensinya, umat manusia akan tersisih dan dunia dikuasi oleh teknologi yang mandiri. Prediksi singularitas ini sungguh ngeri tapi benarkan akan terjadi?

1. Makna Singularitas
2. Disrupsi Lebih Pasti
3. Belajar Histori
4. Prospek Masa Depan
5. Siapa Kita?

Makna singularitas memang beragam. Satu hal yang lebih pasti adalah disrupsi atau keruntuhan. Ketika singularitas terjadi maka pasti terjadi disrupsi. Bahkan, sebelum terjadi singularitas, disrupsi sudah terjadi; atau, andai tidak ada singularitas maka tetap terjadi disrupsi. Sehingga, kita perlu membahas makna disrupsi lebih jeli.

Dari sejarah, kita tidak menemukan singularitas. Fakta-fakta sejarah menunjukkan beragam disrupsi. Akankah mengantar terjadinya singularitas? Karena, disrupsi makin dahsyat; eksponensial; sehingga wajar bila beberapa ahli menduga akan terjadi singularitas.

Singularitas tampak ngeri; begitu juga disrupsi. Adakah prospek kebaikan bila terjadi singularitas dan disrupsi? Saya yakin ada prospek; tetapi, resiko memang lebih besar. Sehingga, kita perlu waspada dan peduli.

Kurzweil (lahir 1948) optimis bahwa singularitas akan membawa kebaikan bagi manusia dan semesta. AI yang super cerdas bekerja sama dengan manusia untuk menjelajahi bumi dan, bahkan, alam semesta. Kita tidak menemukan alien, anggap alien memang tidak ada, maka manusia bersama AI yang akan menaklukkan semesta raya.

Akhirnya, kita akan berhadapan dengan pertanyaan paling dasar: siapa kita? Siapa manusia? Jawaban siapa sejatinya manusia akan membantu kita untuk mempelajari singularitas teknologi termasuk AI.

1. Makna Singularitas

Secara sederhana, makna singularitas adalah suatu kejadian di mana teknologi melampaui kemampuan manusia. Selanjutnya, teknologi itu menciptakan teknologi baru yang lebih canggih lagi; sehingga, kemampuan teknologi jauh di atas manusia.

According to the most popular version of the singularity hypothesis, I. J. Good‘s intelligence explosion model of 1965, an upgradable intelligent agent could eventually enter a positive feedback loop of self-improvement cycles, each new and more intelligent generation appearing more and more rapidly, causing a rapid increase (“explosion”) in intelligence which would ultimately result in a powerful superintelligence, qualitatively far surpassing all human intelligence. (Wiki)

Atau, singularitas adalah sebuah titik di masa depan di mana perkembangan teknologi sangat pesat sampai tak terkendali dan tidak bisa dikembalikan ke situasi semula.

The technological singularity—or simply the singularity[—is a hypothetical future point in time at which technological growth becomes uncontrollable and irreversible, resulting in unforeseeable consequences for human civilization. (Wiki)

Singularitas ini mengancam eksistensi manusia. Robot atau teknologi yang super cerdas bisa menindas manusia bahkan memusnahkan manusia. Di sisi lain, beberapa pemikir melihat ada banyak prospek dari singularitas untuk kemanusiaan dan alam raya.

Some scientists, including Stephen Hawking, have expressed concern that artificial superintelligence (ASI) could result in human extinction. The consequences of a technological singularity and its potential benefit or harm to the human race have been intensely debated. (Wiki).

Kita bisa mengajukan pertanyaan lebih dasar: apakah singularitas benar-benar akan terjadi?

Yudkowsky (lahir 1979) meyakini bahwa singularitas akan terjadi; bahkan terjadi dalam waktu dekat. Yudkowsky memanfaatkan deret geometri untuk membuktikan bahwa singularitas pasti terjadi. Kita akan membahas argumen Yudkowsky di bawah.

2. Disrupsi Lebih Pasti

Potensi akan terjadi singularitas memang jelas. Tetapi, saya lebih yakin yang terjadi adalah dirupsi bukan singularitas. Sebelum terjadi singularitas maka akan terjadi disrupsi; demikian juga selama dan setelah singularitas akan diiringi oleh disrupsi; andai benar-benar terjadi singularitas. Jadi, kita perlu mengkaji disrupsi lebih dalam lagi.

Revolusi, dalam sistem sosial mau pun sains, diiringi oleh disrupsi. Atau sebaliknya, situasi disrupsi mendorong revolusi. Industri telepon rumah, fixed phone, terdisrupsi oleh telepon seluler atau hp; selanjutnya, telepon seluler terdisrupsi oleh gawai internet, gadget. Termasuk layanan seluler, misal sms dan suara, terdisrupsi oleh media sosial. Kita masih bisa memberi contoh disrupsi lebih banyak lagi.

Perlu kita waspadai bahwa disrupsi adalah alamiah. Perubahan besar, misal untuk kemajuan, memang memerlukan disrupsi. Kolonialisme dan imperialisme yang berlangsung ratusan tahun adalah disrupsi; dampak dari kemajuan industrialisasi yang juga disrupsi. Dimana disrupsi industrialisasi adalah alamiah dalam arti bersifat positif; tetapi kolonialisme tidak alamiah yang bersifat negatif.

Lebih dalam lagi, kapitalisme adalah disrupsi; positif atau negatif?

Sebuah pabrik dibangun di sebuah kabupaten Jawa Timur. Pabrik itu mendorong kemajuan ekonomi bagi para pemodal. Pertumbuhan ekonomi tumbuh pesat di kabupaten itu; terutama bagi investor, atau pemilik kapital. Di saat yang sama terjadi disrupsi. Petani terusir dari sawah dan rumahnya karena dipakai bangunan pabrik. Beberapa warga yang bertahan dikepung banjir setiap musim hujan; sawah yang biasanya menyerap air hujan sudah berubah menjadi gedung pabrik dan fasilitas pendukung. Masih banyak disrupsi lainnya. Secara singkat, kehidupan sosial yang tampak wajar-wajar saja, sejatinya, terjadi disrupsi.

Ketika potensi singularitas makin besar maka dampak disrupsi ikut makin besar secara aktual.

2.1 Argumen Deret

Yudkowsky memanfaatkan deret untuk membuktikan terjadinya singularitas. Mari kita bahas argumen deret ini lebih dalam.

W = 2 + 1 + 1/2 + 1/4 + … … … = 4

K = 2 + 2 + 2 + 2 + … … … = Tak Hingga = Singularitas

W = 4 adalah waktu untuk mencapai singularitas yaitu 4 tahun. Sebagaimana diketahui bahwa waktu yang diperlukan kekuatan komputasi untuk meningkat dua kali lipat adalah setiap 2 tahun; sesuai hukum Moore. Periode berikutnya, kekuatan komputer untuk bertambah sejumlah itu hanya diperlukan waktu 1 tahun; karena kekuatan komputer sudah berlipat sebelumnya. Seterusnya, diperlukan waktu 1/2 tahun; lalu 1/4 tahun; dan seterusnya total waktu yang diperlukan adalah hanya W = 4 tahun.

Cara menghitung W = 4 sudah diketahui secara umum; siswa SMA sudah mengenal formula kalkulus dasar ini.

Bagaimana dalam 4 tahun itu terjadi singularitas?

Asumsikan kekuatan komputer awal adalah 2 satuan. Dua tahun kemudian bertambah 2 menjadi 4. Untuk bertambah 2 lagi menjadi 6, saat itu, hanya perlu waktu 1 tahun. Berikutnya, untuk bertambah 2 lagi, hanya perlu waktu 1/2 tahun; berlanjut seterusnya. (Angka-angka ini tidak tepat secara eksak; tetapi cukup memadai sebagai ilustrasi semata).

Karena kekuatan komputer bertambah 2 terus-menerus maka, pada waktunya, akan mencapai K = Tak Hingga = Singularitas. Kabar baiknya, untuk mencapai singularitas di atas hanya perlu waktu W = 4 tahun.

Terbukti bahwa singularitas terjadi dalam waktu 4 tahun.

Sejatinya, masih tersedia argumen lain untuk mendukung terjadinya singularitas. Kita mengambil contoh argumen deret di atas untuk kemudahan analisis. Secara umum terdapat tiga jenis argumen atau aliran pendukung singularitas.

[1] Percepatan atau akselerasi: perkembangan teknologi makin cepat secara eksponensial. Pada waktunya, prediksi 2045, akan terjadi singularitas.

[2] Horison: kecerdasan manusia memiliki kapasitas tertentu. AI makin cerdas, pada waktunya, akan sama dengan kecerdasan manusia. Selanjutnya, AI akan melampaui kecerdasan manusia; terjadi singularitas.

[3] Ledakan atau eksplosi: manusia dan AI saling meningkatkan kecerdasan; tercipta umpan balik positif; saling menguatkan. Pada waktunya akan terjadi singulartias,

2.2 Anti Argumen

Mengapa tidak terjadi singularitas setelah 4 tahun berlalu? Mengapa argumen deret tidak menjadi kenyataan?

Jika kita mulai perhitungan pada tahun 2010 maka singularitas terjadi pada tahun 2014. Tetapi, kita tahu, tidak terjadi singularitas pada tahun 2014.

Barangkali, kita salah memilih angka awal untuk W. Kita memilih angka awal 2 sehingga W = 4 tahun. Bisa jadi yang benar adalah angka awal 10 sehingga W dikoreksi menjadi W = 20 tahun. Konsekuensinya, singularitas baru akan terjadi tahun 2030. Sekitar 6 tahun yang akan datang.

Kita bisa memilih angka awal ini berbeda-beda, konsekuensinya, prediksi tahun singularitas juga berbeda-beda.

Anti argumen justru menyatakan bahwa argumen deret membuktikan bahwa singularitas tidak akan pernah terjadi. Karena jika singularitas terjadi maka sudah terjadi 2014 sesuai contoh di atas.

Kita bisa mengembangkan anti argumen lebih tegas lagi.

Diberikan pita sepanjang 4 meter; Anda ditugaskan memindahkan pita tersebut bertahap dengan cara memotong dan menyisakan setengahnya. Pita yang berhasil Anda pindahkan adalah P.

P = 2 + 1 + 1/2 + 1/4 + … … … = 4 meter.

Tetapi, Anda tidak akan berhasil memindahkan P = 4 meter; karena akan selalu tersisa setengah dari terakhir. Anda hanya bisa berhasil memindahkan pita P = 4 meter bila, pada langkah terakhir, Anda tidak menyisakan setengahnya; tetapi langkah ini melanggar aturan deret; konsekuensinya, argumen deret menjadi batal.

W = 4 tahun adalah tidak pernah terjadi. Ketika waktu bergulir sampai 4 tahun berlalu, hal itu menunjukkan pelanggaran terhadap aturan deret; argumen deret menjadi batal.

Kekuatan komputasi K = Tak Hingga = Singularitas tidak pernah terjadi; karena argumen deret batal. Dengan kata lain, untuk mencapai K = Tak Hingga dibutuhkan waktu sebanyak Tak Hingga juga. Kita tidak punya usia hidup sebanyak Tak Hingga tahun. Atau, kita tidak bisa mencapai waktu sampai Tak Hingga tahun yang diharapkan itu. Kesimpulan: singularitas tidak pernah terjadi.

Singularitas tidak-mungkin terjadi (not possible); tetapi bukan-mustahil untuk terjadi; not-impossible untuk terjadi. Atau, singularitas hanya kemungkinan kecil bisa terjadi; probalitas mendekati 0; tetapi bukan 0. Atau, kita bisa menyebut singularitas terjadi hanya secara parsial, lokal, dan temporal. Sementara, singularitas total sulit untuk bisa terjadi.

2.3 Argumen Alternatif

Argumen alternatif menyatakan bahwa kita perlu lebih fokus kepada alternatif dari singularitas; yaitu fokus kepada disrupsi. Kita telah menyaksikan dirupsi memang telah terjadi, sedang terjadi, dan akan tetap terjadi. Dengan perkembangan teknologi yang mengarah kepada singularitas maka dampak disrupsi makin besar. Apa respon yang diperlukan?

Kita bisa saling menukar makna-sigularitas (potensial) dengan makna-disrupsi (aktual).

Singularitas (potensial) = Disrupsi (aktual)

Untuk kemudahan pembahasan, kita kadang menyebut singularitas saja atau disrupsi saja.

3. Belajar Histori

Kurzweil membagi singularitas menjadi 6 epoch. Kita akan menirunya dengan membagi histori singularitas menjadi 7 episode; dimulai dengan episode 0.

Episode 0: Aljabar

Sekitar abad 8 dan abad 9, Aljabar Alkhwarizmi mengembangkan matematika aljabar dengan prosedur sistematis dan penggunaan angka 0 yang efisien. Berpadu dengan konteks histori lainnya, episode 0 mendorong revolusi bangsa Arab. Sebelumnya, bangsa Arab tidak diperhitungkan oleh dunia, berubah menjadi bangsa paling maju di dunia; bersaing dengan Persi, Romawi, Mesir, Cina, dan lain-lain.

Dampak disrupsi dari aljabar masih wajar; dalam arti, penindasan penguasa kepada rakyat kecil terjadi di beberapa tempat mirip dengan era sebelumnya atau bahkan lebih ringan; terjadi peperangan di berbagai wilayah seperti era sebelumnya.

Episode 1: Fisika

Abad 17, fisika berkembang secara revolusioner oleh Newton; dengan dukungan metafisika Descartes. Sains terpisah dengan moral; sehingga, saintis bebas untuk eksplorasi, atau eksploitasi, alam raya. Dengan bekal matematika kalkulus, sains mampu mengendalikan alam secara mekanis dalam bentuk beragam teknologi.

Disrupsi bahkan revolusi terjadi pada episode ini dan makin kuat dengan gabungan episode-episode selanjutnya.

Episode 2: Kimia

Sains kimia sudah berkembang sejak kuno; orang-orang ingin membuat emas dari bahan logam biasa; tentu saja, mereka tidak berhasil. Dalton (1766 – 1844 ) salah satu pelopor sains kimia terdepan dengan berhasil merumuskan atom: seluruh materi alam semesta terdiri dari materi paling kecil yaitu atom; atom tidak bisa dipecah lagi.

Sejarah selanjutnya, kita tahu bahwa atom tersusun oleh materi yang lebih kecil yaitu elektron dan inti atom; saat ini, mekanika quantum merumuskan bahwa materi tersusun fermion dan boson (sebagai pembawa gaya interaksi).

Gabungan kimia, fisika, dan matematika mendorong revolusi industri (tentu saja ditambah faktor ekonomi, politik, budaya, dan lain-lain). Industri di Eropa berkembang cepat sampai terjadi disrupsi berupa imperalisme dan kolonialisme terhadap Asia, Afrika, Australia, Amerika dan lain-lain. Barangkali, kolonialisme adalah disrupsi terbesar sepanjang sejarah.

Episode 3: Biologi

Darwin (1809 – 1882) mendobrak sains biologi dengan merumuskan teori evolusi. Keunggulan teori evolusi adalah melengkapinya dengan data-data ilmiah berupa fosil. Bagaimana pun, Darwin mengalami kesulitan bagaimana menjelaskan sifat-sifat orang tua bisa diwariskan kepada anak dan cucu mereka. Untung saja, di tempat terpisah, Mendel meneliti problem genetika dan menemukan solusinya. Teori evolusi menghadapi kesulitan sejak awal dan terbukti mampu evolusi.

Dengan teori evolusi, manusia makin yakin bahwa perubahan itu pasti terjadi. Apakah perubahan evolusi itu bisa dipercepat atau dikendalikan? Rekayasa genetika dan DNA memberi jawaban optimis.

Rekayasa genetika bibit unggul semangka, misalnya, berhasil membuat semangka tanpa biji dengan buah yang manis; cepat panen dalam jumlah besar. Kita berhasil menciptakan bibit unggul semangka melalui rekayasa genetika. Apakah kita juga bisa menciptakan bibit unggul anak manusia melalui rekayasa genetika?

Disrupsi makin besar pada tahap ini; teknologi berhasil mengeksploitasi kekuatan sains; matematika, fisika, kimia, dan biologi. Kolonialisme memenuhi belahan bumi di banyak tempat; dari kolonialisme militer sampai ekonomi. Perang Dunia I dan Perang Dunia II merupakan satu tragedi disrupsi yang sangat ngeri.

Episode 4: Otak Digital

Riset tentang otak dan perkembangan teknologi komputer saling menguatkan. Di satu sisi, komputer meniru cara kerja otak yang cerdas. Di sisi lain, manusia memahami otak dengan model komputer. Komputer adalah teknologi cerdas dalam arti yang sebenarnya.

Kita, saat ini, berada pada episode 4 dan menuju episode 5.

Singularitas makin dekat karena: [1] teknologi berkembang dengan akselerasi makin tinggi; [2] proses dan algoritma makin cerdas melampaui horison kecerdasan manusia; dan [3] kecerdasan manusia dan teknologi saling menguatkan atau terjadi umpan balik positif.

Apakah komputer akan memiliki kesadaran? Apakah komputer akan memiliki kesadaran personal dan bersosial? Apakah komputer akan memiliki kesadaran sebagai subyek fenomenologis atau transenden?

Kurzweil menjawab dengan optimis, “Komputer akan memiliki kesadaran.” Tiga skenario agar komputer memiliki kesadaran. [1] Akselerasi teknologi yang makin tinggi menjamin komputer memiliki kesadaran. [2] Mengunggah pikiran manusia ke sistem komputer. Pikiran manusia yang ada di otak dibuatkan representasi sistem digital. Kemudian, representasi otak yang ekivalen dengan representasi pikiran diunggah ke jaringan komputer. Dengan demikian, komputer memiliki pikiran dan kesadaran sebagaimana manusia. [3] Penanaman silikon ke otak manusia atau menggantikan sel otak biologis dengan sel otak silikon. Transplantasi organ, misal jantung, sudah sering terjadi. Kali ini, pada waktunya nanti, transplantasi otak berupa bahan silikon. Proses transplantasi ini bisa berangsur-angsur sehingga aman. Dengan demikian otak biologis tidak ada bedanya dengan otak silikon; atau, silikon memiliki kesadaran.

Episode 5: Super Intelligence

Perkembangan komputer cerdas tumbuh secara eksponensial. Tugas komputasi yang membutuhkan super komputer pada pertengahan abad 20 bisa diselesaikan oleh telepon genggam dalam hitungan menit di awal abad 21 ini. Kurzweil memprediksi kecerdasan komputer akan lebih cerdas dari manusia pada tahun 2029. Kita memasuki era super cerdas atau super intelligence.

Pada episode 5 ini, singularitas makin nyata; akselerasi perkembangan AI makin tak terkendali. Beberapa pemikir khawatir dengan beragam resiko eksistensial bila benar-benar terjadi. Tetapi, Kurzweil justru optimis bahwa super intelligence adalah berkah buat semesta, termasuk, berkah bagi umat manusia. Apakah Anda setuju?

Episode 6: Kecerdasan Semesta

Komputer cerdas atau AI (artificial intelligence) bekerja sama dengan manusia; AI dan manusia saling menguatkan kecerdasan; pertumbuhan kecerdasan makin eksplosif eksponensial. Kurzweil memprediksi terjadi singularitas pada tahun 2045. Manusia, yang berpadu dengan AI, akan mampu menjelajahi seluruh semesta. Bahkan, dengan nanobots, manusia bisa hidup abadi; manusia tidak akan mati dan tidak akan menua.

4. Prospek Masa Depan

Singularitas tampak ngeri; begitu juga disrupsi. Adakah prospek kebaikan bila terjadi singularitas dan disrupsi? Saya yakin ada prospek; tetapi, resiko memang lebih besar. Sehingga, kita perlu waspada dan peduli.

Kurzweil (lahir 1948) optimis bahwa singularitas akan membawa kebaikan bagi manusia dan semesta. AI yang super cerdas bekerja sama dengan manusia untuk menjelajahi bumi dan, bahkan, alam semesta. Kita tidak menemukan alien, anggap alien memang tidak ada, maka manusia bersama AI yang akan menaklukkan semesta raya.

5. Siapa Kita?

Akhirnya, kita akan berhadapan dengan pertanyaan paling dasar: siapa kita? Siapa manusia? Jawaban siapa sejatinya manusia akan membantu kita untuk mempelajari singularitas teknologi termasuk AI.

Kita bisa mengajukan pertanyaan lebih spesifik: apa keunikan manusia? Keunikan manusia adalah mampu memilih amal baik padahal bisa berbuat dosa. Komitmen terhadap amal dan dosa adalah khas milik manusia.

Apakah AI bisa berkomitmen terhadap amal dan dosa? Sehebat apa pun AI bila tidak mampu komitmen terhadap amal dosa maka tetap tidak berhasil melampaui kemanusiaan. Manusia tetap memikul tanggung jawab terhadap amal dan dosa; termasuk, bertanggung jawab terhadap resiko AI.

Bagaimana menurut Anda?

Sistem Zonasi: Studi Kasus Terbaik Aturan Hukum

Peraturan menteri menetapkan sistem zonasi untuk sekolah dasar dan menengah. Terjadi pro kontra sejak awal, tahun 2019, sampai sekarang tahun 2024. Secara prinsip, zonasi menetapkan bahwa sekolah hanya bisa menerima siswa dari zona tertentu. Dalam prakteknya, maksud zona adalah jarak atau radius antara sekolah dengan rumah calon siswa. Tulisan ini akan mengkaji zonasi secara reflektif paradigmatik. Pertama, zonasi menghadapi paradoks aturan hukum. Kedua, dalam prakteknya, zonasi merugikan lebih banyak pihak. Ketiga, kita mengusulkan beberapa alternatif solusi.

Tujuan zonasi adalah agar sekolah memperoleh siswa dari jarak, atau radius, paling dekat. Kenyataannya, banyak siswa yang berjarak 700 meter dengan sekolah tertolak oleh sekolah tersebut; kemudian, terpaksa dia harus sekolah swasta yang lebih mahal dengan jarak lebih jauh, sampai 3000 meter. Lebih banyak lagi, siswa yang tinggal di kampung, bahkan, sudah dihapuskan hak mereka untuk daftar ke sekolah terdekat karena sekolah terdekat berjarak bisa 10 km atau lebih; andai diijinkan mendaftar, siswa tersebut juga akan ditolak karena jarak yang lebih dekat dari 1 km saja banyak yang terbukti ditolak. Apa masalah zonasi? Apa solusi zonasi?

1. Paradoks Aturan Hukum
1.1 Paradoks Penetapan
1.2 Paradoks Mengikuti Aturan
1.3 Paradoks Keterbatasan dan Tidak Lengkap
2. Praktek Zonasi Gelap
2.1 Penentuan Radius
2.2 Penetapan KK
2.3 Pembelian KK
2.4 Prestasi Raport
2.5 Prestasi Lomba
3. Alternatif Solusi
3.1 Gratis Sampai Sarjana
3.2 Lotere Seleksi Universitas
3.3 Swasta Jadi Negeri
3.4 Zonasi Siswa
3.5 Seleksi Proporsi
4. Dialog Lagi
4.1 WKR: Wrong Kind of Reason
4.2 Khatir Ghazali
4.3 Visi Futuristik Biopolitik

Paradoks aturan hukum adalah inheren dalam setiap aturan. Sehingga, para pejabat perlu terbuka terhadap problem paradoks dan merespon dengan layak demi membantu para korban aturan zonasi. Praktek zonasi makin rumit karena radius ditentukan oleh KK (kartu keluarga); sementara, kemendikbud bisa percaya sepenuhnya bahwa KK adalah tanggung jawab Dukcapil. Akibatnya, banyak siswa bisa pindah KK agar bisa diterima di sekolah idaman padahal rumah siswa itu di provinsi berbeda dan jauh. Jadi, radius adalah radius semu atau radius gelap. Solusi alternatif berupa lotere untuk menerima calon siswa baru bahkan bisa lebih baik dari zonasi. Tentu, kita perlu mempertimbangkan solusi yang lebih baik dari sekedar lotere.

1. Paradoks Aturan Hukum

Setiap aturan hukum adalah paradoks: [1] paradoks ketika penetapan; [2] paradoks mengikuti aturan hukum; [3] paradoks tidak lengkap.

1.1 Paradoks Penetapan

Aturan zonasi ditetapkan pada tahun 2019. Jadi tahun 2018 dan sebelumnya, tidak ada zonasi; masyarakat tidak butuh zonasi waktu itu. Apakah pada tahun 2019 tiba-tiba kita butuh zonasi? Jawabannya adalah paradoks: ada pro dan kontra.

Kemudian, menteri menetapkan aturan zonasi pada tahun 2019. Apakah peraturan menteri itu sudah dijamin benar dan adil bagi rakyat? Jawabannya pasti paradoks: pro dan kontra. Bagaimana jika tahun 2024 atau 2025, menteri membatalkan aturan zonasi? Apakah bisa? Bisa. Karena kewenangan seorang menteri untuk menetapkan aturan (peraturan menteri) tersebut. Apakah pembatalan zonasi seperti itu benar dan adil bagi rakyat? Jawabannya sama juga: paradoks.

Karakter paradoks bukanlah cacat dari aturan hukum; karena aturan hukum memang selalu paradoks. Hanya saja, kita dan terutama para pejabat, perlu merespon paradoks dengan bijak.

1.2 Paradoks Mengikuti Aturan

Apakah suatu perilaku sesuai aturan zonasi atau pelanggaran? Jawabannya: paradoks juga.

Misal seorang siswa SMP di Medan, Sumatera Utara, kelas 8 tinggal bersama orang tuanya di kota Medan. Kemudian, dia pindah KK ke Bandung sehingga radius KK itu 150 meter terhadap SMA 3 Bandung; yang termasuk SMA favorit paling diidamkan semua orang; karena dari SMA 3 Bandung banyak siswa diterima kuliah di kedokteran dan informatika tanpa tes. Lulus SMP di Medan, kemudian, siswa itu mendaftar ke SMA 3 Bandung. Berdasar radius KK, yang hanya 150 meter, maka dia diterima di SMA 3 Bandung.

Apakah terjadi pelanggaran oleh siswa dari Medan di atas? Jawabannya selalu paradoks. Pihak pro mengatakan bahwa itu sesuai aturan. Pihak kontra mengatakan bahwa itu melanggar aturan bahkan melanggar inti dari aturan zonasi. Lagi, paradoks seperti ini adalah inheren, pasti ada, dalam aturan hukum zonasi. Kita perlu merespon dengan bijak.

Pertanyaan mendasar: apakah penetapan peraturan menteri tentang zonasi melanggar HAM (hak asasi manusia)? Jawabannya akan paradoks juga.

Perlu kita tambahkan bahwa penegakan hukum, atau law enforcement, juga mengalami paradoks yang sama. Apakah aparat memiliki hak untuk “memaksakan” suatu aturan hukum? Apa dasarnya? Apakah bisa dibenarkan? Jawabannya berupa paradoks dalam dilema.

1.3 Paradoks Keterbatasan dan Tidak Lengkap

Ketika menteri menetapkan aturan zonasi di 2019, barangkali menteri sudah mengumpulkan dan mengkaji hampir semua informasi yang tersedia. Tetapi, apakah kajian itu sudah lengkap? Pasti tidak lengkap. Andai, menteri menambah waktu 1 tahun untuk mengkaji, berencana menetapkan aturan zonasi menjadi 2020, apakah kajian menjadi lengkap? Tetap tidak lengkap.

Bagaimana pun, seorang menteri punya batasan waktu untuk menetapkan aturan hukum seperti zonasi. Jadi, menteri terbatas secara waktu, sumber daya, informasi dan lain-lain. Bila batasan ini dilonggarkan; ditambah sumber daya dan informasi, apakah penetapan aturan hukum menjadi sempurna? Tidak sempurna.

Sifat tidak lengkap dan terbatasnya waktu makin menguatkan karakter paradoks dari setiap aturan hukum; sistem zonasi memang paradoks. Lagi, kita perlu merespon dengan bijak.

2. Praktek Zonasi Gelap

Zonasi menghadapi praktek-praktek gelap: [1] penentuan radius; [2] penetapan KK; [3] pembelian KK; [4] prestasi raport; [5] prestasi lomba.

2.1 Penentuan Radius

Meski tampak mudah mengukur radius rumah ke sekolah, dalam prakteknya, adalah gelap; sulit sekali. Misal rumah Adi 350 meter sebelah timur sekolah sedangkan rumah Budi 351 meter sebelah barat sekolah, maka siapa lebih dekat? Titik sebelah mana menjadi acuan ukur bagi sekolah. Jika titik sebelah timur akan menguntungkan Adi; jika titik sebelah barat akan menguntungkan Budi; jika titik tengah maka titik tengah yang mana? Demikian juga titik rumah Adi dan Budi yang sebelah mana menjadi titik acuan?

Pertanyaan reflektif paradigmatik lebih sulit: apakah jarak menjadi penentu yang adil bagi siswa untuk diterima di suatu sekolah? Jawaban singkat: tidak tepat.

2.2 Penetapan KK

Penentuan radius berdasar KK tampak mudah; lagi, hal ini adalah gelap. KK adalah urusan Dukcapil sehingga kemendikbud merasa aman; tetapi, bukankah kemendikbud seharusnya tetap bertanggung jawab?

Perpindahan KK dibatasi minimal 6 bulan atau 12 bulan. Mengapa tidak 24 bulan atau 36 bulan? Berapa pun batasan bulannya maka, dalam praktek, akan tetap gelap. Sejatinya, kemendikbud bisa monitoring terhadap KK ini. Tetapi paradoks muncul: KK adalah wewenang Dukcapil.

Problem reflektif paradigmatik lebih sulit lagi: bagaimana nasib seorang bocah yang tidak punya KK? Apakah bocah itu kehilangan hak untuk sekolah? Lagi, apakah KK menjadi penentu hak sekolah warga secara adil? Jawaban singkat: tidak adil.

2.3 Pembelian KK

Problem lebih rumit terjadi adalah dikabarkan ada pembelian KK. Untuk pindah KK ke jarak yang dekat dengan sekolah idaman maka seseorang hanya perlu membayar uang kepada pemilik KK. Seseorang tidak harus memiliki hubungan keluarga atau lainnya; cukup transaksi finansial belaka.

Secara aturan hukum tidak ada larangan transaksi KK. Di media sosial tersebar kabar bahwa orang tua perlu menyiapkan dana kisaran 20 juta sampai 40 juta rupiah untuk pindah KK.

Problem reflektif paradigmatik makin sulit: apakah jual beli KK menjadi penentu yang adil bagi diterimanya seorang siswa di sekolah? Jawaban singkat: tidak adil.

2.4 Prestasi Raport

Prestasi raport sebagai penentu diterimanya siswa, tampak, baik-baik saja. Sejatinya, nilai raport adalah gelap. Lebih bagus mana nilai 95 dari SMP 1 dengan nilai 96 dari SMP 2? Tidak bisa ditentukan!

Beda sekolah maka beda nilai raport. Bahkan di satu sekolah saja, beda guru bisa beda nilai raportnya.

Problem paradigmatik: apakah ada standard penilaian raport? Tidak ada.

2.5 Prestasi Lomba

Barangkali prestasi lomba, semacam OSN (olimpiade sains nasional), adalah ukuran prestasi paling valid. Tetapi, OSN hanya melibatkan segelintir siswa. Misal untuk matematika, OSN hanya memberi sekitar 15 medali saja dari puluhan juta siswa di Indonesia.

Wajar, prestasi lomba diperluas ke jenis lomba yang lebih beragam. Bagaimana menentukan jenis lomba yang valid? Gelap sama sekali. Kementerian menyediakan badan kurasi; ide bagus tetapi menambah komplikasi; menambah biaya; dan cenderung tidak efektif.

Jadi, sampai di sini, sistem zonasi menghadapi problem serius secara paradigmatik mau pun praktek.

Kabar baiknya, sistem zonasi bisa menjadi studi kasus terbaik tentang aturan hukum. Kita bisa membaca peraturan menteri tentang zonasi; kita bisa mengamati dan mengalami praktek zonasi; dan kita bisa eksperimen tentang zonasi. Sementara, aturan hukum yang lain tidak sejelas sistem zonasi. Jadi, sistem zonasi adalah barang istimewa bagi studi kasus aturan hukum; sampai kapan pun.

3. Alternatif Solusi

Mempertimbangkan kompleksitas sistem zonasi, kita menyarankan agar peraturan menteri sistem zonasi diganti dengan yang lebih baik. Secara praktis, menteri atau presiden bisa membatalkan sistem zonasi dan mengganti dengan yang lebih baik. Alternatif yang lebih baik dari zonasi adalah zonasi-siswa; maksudnya, mengganti sistem zonasi-sekolah dengan sistem zonasi-siswa.

Zonasi-siswa adalah setiap siswa memiliki hak untuk mendaftar ke sekolah sesuai zonasi siswa; kemudian, seleksi ditentukan oleh profil-siswa baik dari sisi bakat, minat, kemampuan ekonomi, dan lain-lain; seleksi tidak ditentukan oleh radius jarak. Andai sulit melakukan seleksi yang rasional maka seleksi berdasar lotere, misal lempar dadu, adalah lebih baik dari radius jarak. Tentu, kita bisa mengembangkan sistem seleksi yang lebih baik dari sekedar lotere.

3.1 Gratis Sampai Sarjana

Solusi paling jelas adalah menyelenggarakan pendidikan SD, SMP, SMA/SMK, sampai sarjana/diploma dibiayai sepenuhnya oleh APBN; oleh uang rakyat atau uang negara. Dengan kata lain, pendidikan gratis untuk seluruh warga. Penggantian sistem zonasi menjadi lebih mudah pada situasi seperti ini; karena semua warga merasa aman bisa sekolah gratis. Apakah APBN mampu membiayai? Mampu! Dengan syarat pendidikan berkualitas tanpa foya-foya. Jika pejabat dan tenaga pendidikan ingin foya-foya dan mewah maka APBN tidak akan mampu. Singkatnya, APBN kita mampu untuk menyelenggarakan pendidikan gratis; hanya butuh komitmen.

3.2 Lotere Seleksi Universitas

Problem zonasi saat ini adalah karena SMA idaman tertentu memiliki peluang lebih besar untuk masuk universitas terbaik melalui jalur tanpa tes. Konsekuensinya, SMA idaman menjadi rebutan; sehingga gagal total tujuan zonasi pendidikan. Solusi sederhana: hilangkan jalur tanpa tes untuk seleksi universitas dan ganti dengan jalur lotere saja, misal, lempar dadu. Dengan demikian, zonasi tidak akan jadi masalah lagi. (Di bagian bawah kita akan bahas solusi yang lebih baik dari lotere dadu).

3.3 Swasta Jadi Negeri

Solusi yang cukup mudah adalah jadikan sekolah swasta sebagai sekolah negeri (tentu, bagi sekolah swasta yang bersedia). Dengan demikian, kita memiliki sekolah negeri SD, SMP, SMA/K, dan universitas yang berlimpah. Zonasi tidak lagi jadi masalah. Yayasan atau pengelola sekolah swasta merasa senang karena mendapat dukungan penuh dari APBN.

Pemerataan kualitas sekolah SMA mudah dilaksanakan dengan cara menetapkan batas maksimal mahasiswa baru di universitas yang sama; yang berasal dari SMA yang sama. Misal setiap universitas maksimal bisa menerima mahasiswa baru 5 orang dari SMA yang sama. Siswa SMP akan berpikir panjang untuk berkumpul masuk ke SMA favorit dengan adanya aturan maksimal ini. Siswa SMP akan cenderung menyebar ke berbagai SMA. Konsekuensinya, kualitas SMA akan merata dan meningkat.

3.4 Zonasi Siswa

Zonasi-siswa adalah solusi sejati bagi sistem zonasi yang berlaku masa kini; kita sebut zonasi masa kini sebagai zonasi-sekolah.

Setiap aturan hukum pasti menguntungkan bagi pemenang dan, dalam kadar tertentu, merugikan pihak yang kalah. Zonasi-siswa fokus kepada pihak yang kalah agar tidak menderita rugi yang tidak adil; tentu pihak yang menang tetap untung.

Zona-siswa memastikan setiap siswa SMP, tinggal di kota atau di pucuk gunung, memiliki 3 pilihan SMA dengan kualitas yang layak. Berbeda dengan zona-sekolah yang menjamin sekolah memiliki zona calon siswa di wilayah dekat sekolah. Zona-siswa menjamin setiap siswa memiliki pilihan sekolah “terdekat”nya.

Misal siswa SMP di pucuk gunung memiliki hak masuk ke SMA 1 jarak 15 km; SMA 2 jarak 20 km; SMA 3 jarak 22 km. (SMA 4 dan SMA lain jaraknya lebih dari 25 km). Beda jika zona-sekolah, karena, SMA-SMA itu sudah menutup kesempatan bagi siswa pucuk gunung; lantaran jaraknya lebih dari 5 km; atau kalau pun boleh daftar pasti tertolak karena yang diterima adalah jarak kurang dari 1 km. Zona-siswa menjamin hak sekolah bagi setiap warga. Zona-sekolah merampas hak banyak warga.

Selanjutnya, zonasi-siswa melaksanakan seleksi berdasar lotere; atau, lebih baik lagi, memakai seleksi proporsi; radius atau jarak tidak digunakan dalam seleksi. Radius atau jarak hanya digunakan untuk menentukan zonasi bagi setiap siswa.

3.5 Seleksi Proporsi

Seleksi proporsi menjadi alternatif terbaik. Tetapi, yang lebih mudah adalah seleksi melalui lotere sudah lebih baik dari berdasar radius atau seleksi tanpa tes. Kita perlu mengembangkan sistem seleksi-proporsi yang sesuai situasi kondisi terkini.

Pertama kita membedakan seleksi umum dengan seleksi khusus. Porsi seleksi khusus adalah sangat kecil, misal di bawah 5%, sehingga menjadi benar-benar istimewa. Asumsikan seleksi khusus 5%. Kedua, kita perlu memikirkan cara membagi proporsi seleksi umum.

Seleksi khusus = 5%
Kelompok kuat = 10%
Kelompok menengah = 30%
Kelompok dasar = 55%

Jika ada proporsi yang tidak terpenuhi maka dilimpahkan menjadi bagian dari kelompok dasar.

Proses klasifikasi kelompok seperti ini adalah sudah biasa dalam kajian statistik; lebih-lebih, dalam kajian artificial intelligence (AI). Kita ambil contoh klasifikasi berdasar daya ekonomi; berdasar pengeluaran-pendapatan-kekayaan. Kemudian dilaksanakan tes, semacam TOEFL, disebut SKN = sensus kompetensi nasional; atau, tes SKN ini bisa dilaksanakan rutin beberapa bulan sebelum seleksi siswa baru. Terakhir, kita mendapatkan proporsi siswa baru sesuai harapan. Semua pihak bisa merasa menjalani proses dengan adil.

Sedikit tambahan ilustrasi bahwa sistem klasifikasi adalah wajar di dunia olah raga, misal tinju. Kelas berat hanya bertarung petinju dengan bobot sangat berat; kelas ringan hanya bertarung petinju yang bobotnya ringan. Terdapat kelas menengah, kelas bulu, kelas terbang, dan lain-lain.

Berikut usulan proses seleksi proporsi.

(a) Setiap siswa memperoleh zona dengan adil. Ada kemungkinan seorang siswa ingin berpindah ke zona lain; diperbolehkan saja. Karena, pada dasarnya, setiap zona memiliki prospek yang sama. Jika ditemukan ada zona tertentu lebih menguntungkan maka bisa dilakukan revisi pada tahun berikutnya agar lebih adil.

(b) Setiap siswa bisa berjuang untuk memperoleh nilai SKN tertinggi. Sebaliknya, bagi siswa dengan SKN rendah tidak ada ancaman apa pun; layaknya tes TOEFL yang memberi keuntungan bagi skor tinggi dan tidak menghukum skor rendah.

(c) Siswa dan guru adalah satu tim untuk memperoleh nilai SKN tertinggi. Beda dengan raport, dimana guru bisa suka-suka memberi nilai tinggi atau tinggi sekali. SKN dilaksanakan oleh lembaga independen; lagi, layaknya TOEFL dilaksanakan oleh lembaga independen.

(d) Materi yang diujikan dalam SKN adalah yang paling dasar saja, misal, literasi dan numerasi saja. Bagi siswa yang memperoleh nilai SKN tertinggi, misal 25 siswa terbaik nasional, bisa menggunakan sebagai prestasi untuk jalur seleksi khusus.

(e) Nilai SKN bisa digunakan untuk seleksi SMP, SMA, dan universitas.

Diskusi kita di atas, kiranya, cukup untuk membatalkan zonasi-sekolah dan menggantinya dengan zonasi-siswa. Lebih bagus lagi bila dilaksanakan pendidikan gratis sampai sarjana/diploma.

4. Dialog Lagi

Jika zonasi-siswa lebih baik dari zonasi-sekolah maka mengapa kita tidak memilih zonasi-siswa saja? Mengapa pejabat tidak memilih zona-siswa? Mengapa rakyat tidak demo menuntut agar diberlakukan zona-siswa?

Kita akan mendiskusikannya dengan meminjam teori etika mutakhir WKR (wrong-kind-of-reason) dan teori khatir dari Ghazali serta komitmen visi futuristik.

Anda diberi uang 50 ribu rupiah dan wajib memilih satu harus dibeli dengan uang 50 ribu itu; apa pilihan Anda?

(a) Buku berkualitas.

(b) Makanan sehat.

(c) Petasan.

Membeli buku berkualitas barangkali menjadi pilihan terbaik. Makanan sehat juga bagus bila sedang lapar. Tetapi, kenyataannya banyak yang memilih petasan; petasan tidak berguna; petasan hanya main-main belaka; petasan adalah membakar uang secara nyata. Mengapa banyak yang memilih petasan?

4.1 WKR: Wrong Kind of Reason

Mereka yang memilih petasan adalah sudah bertindak salah karena didorong oleh WKR (wrong kind of reason). Sementara, mereka yang memilih buku berkualitas sudah bertindak benar karena didorong oleh RKR (right kind of reason). Meski kategori WKR dan RKR bersifat paradoks, kita akan menganggap WKR sebagai salah demi kemudahan. Demikian juga, pejabat yang mendukung zonasi-sekolah adalah salah karena WKR; sedangkan mereka yang mendukung zona-siswa adalah benar karena RKR.

Mengapa orang bisa memiliki WKR sehingga salah memilih?

Diduga karena nafsu mengambil keuntungan. Mereka adalah orang-orang yang rumahnya (KK) dekat dengan sekolah idaman. Sehingga, dengan zonasi-sekolah mereka diuntungkan; anak-anak mereka bisa langsung diterima di sekolah favorit secara otomatis berdasar radius. Jika rumah mereka jauh maka mereka bisa pindah KK dengan mudah. Apakah mereka tidak memikirkan nasib anak-anak yang rumahnya jauh? Apa lagi yang rumahnya di puncak gunung?

Tetapi mereka memiliki alasan yang rasional – bukan masalah nafsu. Jadi, sementara, alasan karena nafsu keuntungan kita tolak. Waktu itu, menteri punya alasan bahwa zona sekolah akan menjamin sekolah mendapatkan siswa-siswa yang rumahnya dekat dengan sekolah. Sehingga, siswa hemat biaya, hemat energi, dan memudahkan. Tampaknya masuk akal.

Lima tahun sudah berlalu hingga 2024 ini dan hasil zonasi-sekolah tidak seperti yang dipikirkan. Banyak siswa yang sekolahnya, terpaksa, jauh dari rumah. Dan banyak pula yang kehilangan hak untuk dapat daftar ke sekolah idaman, misal, karena rumahnya di puncak gunung. Jadi, tujuan zonasi-sekolah tidak tercapai.

Kita mengusulkan alternatif yang lebih baik yaitu zonasi-siswa sebagai pengganti dari zonasi-sekolah. Mengapa mereka tetap memilih zonasi-sekolah yang lebih buruk itu? Karena WKR. Karena mereka digerakkan oleh suatu alasan yang salah yaitu WKR.

Mengapa mereka mendapat WKR bukan RKR? Kita jawab dengan teori khatir dari Ghazali.

4.2 Khatir Ghazali

Imam Ghazali merumuskan tiga jenis khatir: khatir qalbi, khatir aqli, dan khatir rabani.

Khatir qalbi, atau persepsi-indera, adalah ide yang muncul begitu saja ketika seseorang mendapat pemicu; baik pemicu indera mau pun imajinatif.

Ketika seseorang mendengar pilihan zonasi-sekolah atau zonasi -siswa maka, refleks, dia memilih zonasi-sekolah; dia digerakkan WKR; orang lain, refleks memilih zonasi-siswa; dia RKR.

Bukan masalah sulit dalam tahap persepsi-indera ini; karena persepsi indera masih bisa diatur oleh khatir aqli atau persepsi-akal.

Persepsi-akal mengumpulkan dan menganalisis seluruh data yang ada kemudian mengambil keputusan logis rasional. Bisa saja, pada tahap persepsi-indera, memilih zonasi-sekolah; kemudian, dikoreksi persepsi-akal menjadi memilih zona-siswa; dia RKR. Tetapi, bisa juga, pada tahap persepsi-akal justru makin kukuh dengan zonasi-sekolah; dia WKR.

Khatir rabani, atau persepsi-futuristik, menjadi harapan akhir. Persepsi-futuristik memiliki tujuan masa depan terbaik bagi dirinya, bagi orang sekitar, dan alam semesta. Persepsi-futuristik melihat visi masa depan terbaik meski banyak rintangan menghadang.

Persepsi-futuristik, pada akhirnya, mengarahkan setiap orang untuk memilih zonasi-siswa; setiap orang memiliki RKR bersama persepsi-futuristik. Masalahnya, tidak semua orang berjalan sampai persepsi futuristik.

Ketiga persepsi ini, indera-akal-futuristik, terhubung secara dinamis. Hanya saja, beberapa orang dominan persepsi-indera; sehingga dia memanjakan kenikmatan indera dan keuntungan jasmani. Orang lain dominan persepsi-indera dan persepsi-akal; sehingga dia mengambil keputusan secara rasional logis. Orang lain lagi harmonis seluruhnya sampai persepsi-futuristik; sehingga dia adalah orang yang komitmen kepada kebaikan bersama.

4.3 Visi Futuristik Biopolitik

Komitmen terhadap visi futuristik menjadi penentu kita untuk memilih yang benar. Tidak mudah untuk menjaga komitmen ini karena komitmen ini bersifat politis; bukan sekedar komitmen personal. Manusia adalah biopolitik yaitu hanya bisa menjadi sempurna melalui dunia politik. Aristo, Farabi, Foucault, sampai Agamben mengembangkan konsep biopolitik yang beragam.

Menganggap aturan hukum, semisal zonasi-sekolah, sebagai urusan administrasi pemerintahan adalah reduksi yang tidak tepat. Zonasi-sekolah bermuatan politis dan berpotensi terjadi penindasan politis. Agamben memandang aspek inti biopolitik adalah eksepsi atau pengecualian. Zonasi-sekolah melakukan eksepsi; siswa yang berada dalam zona boleh daftar tetapi luar zona tidak boleh daftar; kemudian, siswa dalam radius kurang 1 km diterima tetapi lebih dari 1 km ditolak. Kita perlu waspada terhadap aspek biopolitik dari zonasi-sekolah.

Dampak lanjutan dari eksepsi adalah penindasan politik. Ribuan siswa yang tinggal di pucuk gunung dirampas haknya untuk daftar ke sekolah favorit yang ada di kota. Mereka gagal masuk SMP favorit; gagal masuk SMA favorit; gagal masuk universitas favorit. Mereka gagal mendapat pendidikan terbaik bahkan sebelum mencoba bersaing. Banyak juga siswa yang tinggal di kota tetapi tidak kebagian zona mana pun; mereka dirampas haknya. Bisakah mereka untuk tidak frustasi?

Bukankah solusinya sederhana? Menteri atau presiden tinggal membatalkan permen zonasi-sekolah kemudian menggantinya dengan permen zonasi-siswa. Tampak sederhana. Tetapi, presiden dan menteri adalah pejabat politik. Sehingga, mereka akan memperhitungkan untung rugi politis. Tidak ada jaminan presiden setuju dengan usulan masyarakat bawah yang jumlahnya jutaan itu tersebar di media sosial.

Jalan yang tersisa adalah setiap dari kita perlu aktif partisipasi dalam dunia politik; baik politik praktis mau pun politik non-praktis. Kita perlu terus menyuarakan visi futuristik yang adil makmur. Perjuangan ini bisa jadi perlu waktu beberapa bulan, beberapa tahun, atau bahkan beberapa dekade. Perjuangan harus tetap berkobar.

5. Ringkasan

Zonasi-sekolah berhasil menjadi studi kasus terbaik berkenaan dengan aturan hukum; andai, zonasi-sekolah tidak lagi berlaku, kita tetap bisa mengkajinya sebagai histori aturan hukum.

Pertama, setiap aturan hukum menghadapi beberapa paradoks yang menjadi dilema. Paradoks penetapan terjadi ketika penetapan aturan-hukum yaitu apakah aturan hukum bisa dijustifkasi. Paradoks mengikuti aturan terjadi apakah aturan hukum tersebut mengikuti aturan atau tidak. Terakhir, paradoks terjadi karena aturan hukum selalu tidak lengkap.

Kedua, kita mencermati aturan hukum zonasi dalam tataran praktek yang gelap. Dilema dan pro kontra bertebaran di mana-mana. Secara umum, zonasi-sekolah merugikan pihak korban dengan proses yang tidak adil. Hal yang sama, yaitu tataran praktek yang gelap, juga terjadi pada aturan hukum secara umum. Sehingga, kita membutuhkan alternatif solusi tanpa henti.

Ketiga, kita mengusulkan alternatif solusi berupa zonasi-siswa dan seleksi proporsi. Solusi ini berhasil melindungi pihak korban dengan cara memberi kesempatan kepada semua pihak untuk berjuang sesuai kapasitas masing-masing. Meski tetap ada korban, jumlahnya minimal dan prosesnya adil.

Bagian diskusi membahas mengapa beberapa orang mengambil keputusan salah; atau, mengapa memilih keputusan yang salah. Proses keputusan yang salah dipicu oleh WKR (wrong kind of reason). Solusinya adalah dengan mengembangkan komitmen terhadap visi futuristik. Solusi ini melibatkan komitmen personal dan politis. Jadi, aturan hukum adalah problem biopolitik bukan sekedar administrasi pemerintahan. Konsekuensinya, Anda perlu ikut aktif berpartisipasi dalam dunia politik; baik politik praktis mau pun non-praktis.

Bagaimana menurut Anda?

Tuhan Futuristik

Membaca buku Sejarah Tuhan karya Karen Armstrong sangat mempesona. Saya membacanya di awal tahun 2000an ketika usia saya akhir 20an. Selang 20 tahun kemudian, saya membaca ulang; makin banyak hal mempesona; khususnya karena saya sudah menulis dua dari tiga buku trilogi Futuristik; dan sedang menulis buku ketiga. Saya tergoda untuk mengambil beragam inspirasi serta membandingkan dengan buku Futuristik saya.

Saya terpikir untuk membuat tulisan dengan tema Tuhan Futuristik. Sejarah Tuhan mencoba menelusuri sejarah umat manusia dalam memahami Tuhan sejak ribuan tahun yang lalu; kemudian menganalisis ide Tuhan di masa kontemporer ini; dan bertanya adakah masa depan bagi Tuhan? Jawaban saya jelas: Tuhan adalah Maha Akhir. Di depan masa depan akan ada masa lebih depan lagi dan seterusnya; perjalanan jauh ke masa depan; perjalanan jauh futuristik akan mengantar kita lebih dekat kepada Maha Akhir yaitu Tuhan Futuristik.

Jadi pertanyaannya bukan sekedar adakah masa depan bagi Tuhan tetapi Tuhan adalah yang melimpahkan masa depan kepada alam semesta; sehingga alam semesta memiliki masa depan; konsekuensinya, kita memiliki makna. Tanpa masa depan, apakah ada makna? Jadi, masa depan menjadi ada karena anugerah Tuhan. Tuhan memang Futuristik.

1. Masa Depan Agama Cinta
1.1 Haus Dogma
1.2 Pembebasan
1.3 Simbol Dinamika
1.4 Diskusi
2. Adakah Masa Depan?
2.1 Kiamat Dipercepat
2.2 Ateis Normal
2.3 Perang Sains
2.4 Tumpukan Kontradiksi
2.5 Teologi Alternatif
2.6 Filosofi Wujud
2.7 Fundamentalis
2.8 Sikap Terbuka
3. Masa Depan Tuhan
3.1 Tugas Agama
3.2 Tuhan Sains
3.3 Dialog Antagonis
3.4 Kepastian Komitmen
4. Futuristik
4.1 Cara Melihat Tuhan
4.2 Masa Depan Futuristik
4.3 Bertumpuk Masa Depan
5. Dialog Masa Depan
5.1 Solusi Posmodern
5.2 Solusi Mistikus
5.3 Solusi Futuristik

Di bagian awal, kita akan diskusi masa depan agama cinta. Saya akan mengutip tulisan saya tentang agama dalam tema Filosofi Cinta. Selanjutnya, kita akan membahas masa depan Tuhan dengan mempertimbangkan tulisan Armstrong. Di bagian akhir, kita akan kristalisasi konsep futuristik dan membuka diskusi lebih luas.

1. Masa Depan Agama Cinta

Agama masa depan adalah agama pembebasan, bernuansa dinamika, dan senantiasa berputar.

1.1 Haus Dogma

Agama tetap diperlukan sampai hari ini. Agama tetap berperan penting di masa depan. Agama tetap menjadi harapan di masa lalu, masa kini, dan masa depan.

Beberapa pemikir mengira bahwa orang-orang akan meninggalkan agama karena ilmu pengetahuan dan teknologi makin maju. Dengan sains, semua misteri alam raya bisa diungkap. Akibatnya, manusia tidak perlu lagi mitologi. Dan, manusia juga tidak perlu lagi agama. Tetapi, benarkah seperti itu yang ada?

Di beberapa tempat, ada orang yang meninggalkan agama atau dari kecil memang tidak beragama. Di beberapa tempat lainnya, justru, orang berbondong-bondong memeluk agama. Agama, masih, terus tumbuh.

Kita adalah subyek. Saya adalah kulo. Anda adalah subyek. Subyek kulo tidak pernah puas hanya dengan sains dan teknologi. Kulo membutuhkan yang lebih tinggi. Kulo butuh doktrin atau dogma. Barangkali, bentuk dogma bisa berbeda-beda seiring waktu berjalan. Bagaimana pun, manusia membutuhkannya, dalam satu dan lain variasi. Manusia haus dogma. Singkatnya, di masa depan, manusia tetap butuh agama.

Dalam bahasa asalnya, dogma adalah kebenaran yang lebih dari kata-kata; lebih dari konsep abstrak. Dogma adalah kebenaran yang mengarahkan kita untuk merenungkan, mengalami, dan mengamalkan beberapa praktek kebaikan. Seiring waktu, kita akan memahami kebenaran-kebenaran itu.

1.2 Pembebasan

Agama, di awal kehadirannya, adalah gerakan pembebasan. Pembebasan dari kebodohan, pembebasan dari kebohongan, dan pembebasan dari penindasan. Dalam perkembangannya, agama bisa menempuh jalan aneka ragam. Di masa kini dan masa depan, agama tetap bisa menjadi gerakan pembebasan bagi umat manusia.

A. Kodifikasi Politik

Agama membebaskan umat manusia dari kebodohan. Agama memberi percik pencerahan setiap saat. Seiring waktu, ajaran-ajaran agama berkembang. Langkah wajar adalah membukukan ajaran agama tersebut. Di satu sisi, kodifikasi ajaran agama dalam bentuk buku, memberi kemudahan bagi umat untuk memperoleh pencerahan dari agama. Di sisi lain, kodifikasi dapat melumpuhkan ajaran agama menjadi hanya sekedar konsep yang tertulis.

Kemudian, kodifikasi ajaran agama menjadi pedoman menentukan benar atau salah. Segala sesuatu yang melanggar kodifikasi dianggap salah. Sementara, pihak-pihak tertentu memanfaatkan kodifikasi sebagai dalil untuk mengeruk beragam keuntungan materi. Agama berubah menjadi alat kepentingan tertentu bagi pihak tertentu.

Lebih parah lagi, ketika, kepentingan politik ikut bermain. Penguasa menetapkan aliran kodifikasi tertentu saja yang sah. Kodifikasi yang lain dianggap sesat. Dengan cara ini, penguasa memperoleh dukungan politik untuk mencengkeramkan kekuasaan. Penguasa korup bisa mengenakan topeng agama untuk menutupi dosa mereka.

Bagaimana pun, kodifikasi ajaran agama tetap mengandung ajaran agama. Dari kodifikasi itu, tetap, muncul percik-percik cahaya cinta. Suatu cahaya yang membebaskan umat manusia. Cahaya yang menjadikan kodifikasi itu kembali menjadi salah satu sumber ajaran agama terbaik.

B. Kebebasan

Jelas. Bebas. Agama membebaskan umat manusia. Agama adalah kebebasan. Agama adalah pembebasan. Dengan kebebasan, manusia berkonsekuensi menerima tanggung jawab. Tanpa kebebasan, maka, tidak ada tanggung jawab. Tanggung jawab memastikan adanya kebebasan.

Pertama, agama membebaskan umat manusia untuk memeluk suatu agama. Jika seseorang memeluk agama A maka dia bertanggung jawab sesuai ajaran A. Jika seseorang memeluk agama lain maka dia bertanggung jawab terhadap agama lain tersebut. Jika, seandainya, seseorang tidak beragama maka tetap saja dia harus bertanggung jawab atas pilihannya itu.

Perjalanan sejarah, tentu saja, bisa berbeda. Seorang penguasa bisa saja memaksa penduduk untuk memeluk agama A. Mereka yang tidak memeluk agama A diusir dari negara tersebut. Atau, minimal mereka kena diskriminasi sebagai minoritas, misalnya. Aliran tertentu menafsirkan ajaran A sebagai diskriminatif seperti itu. Tetapi, kita bisa mengkaji lebih mendalam tentang ajaran agama A dengan interpretasi lebih kuat: ajaran agama A adalah agama pembebasan. Agama A memberi kebebasan kepada umat manusia.

Beberapa agama bersifat ekspansif, yaitu, ada ajaran untuk mengajak orang lain memeluk agama tersebut. Hal seperti itu wajar. Karena, ketika kita yakin dengan kebenaran dan kebaikan agama A, maka, kita mengajak teman-teman kita memilih yang benar dan baik. Tentu saja, tetap dalam koridor kebebasan. Sementara, agama yang lain ada yang bersifat eksklusif, dalam arti, agama tersebut hanya diperuntukkan kelompok tertentu. Dengan demikian, mereka mencukupkan diri kepada kelompoknya sendiri. Bahkan, kelompok lain tidak boleh masuk dengan memeluk agama khusus tersebut. Kedua jenis agama di atas, sama-sama, menjaga kebebasan beragama.

Kedua, agama memberi kebebasan di dalam agama. Bahkan, ketika seseorang sudah masuk agama A, misalnya, dia tetap bebas memilih banyak hal berdasar agama A. Dia bebas memilih madzhab X atau Y atau Z. Kemudian, di dalam madzhab itu, dia masih bebas menjalani ibadah sesuai aturan atau melanggarnya. Tentu saja, dia harus bertanggung jawab atas konsekuensi pilihannya. Beribadah memperoleh pahala, sementara, melanggar bisa mendapat dosa.

Bagaimana dengan tindakan mencuri, menipu, atau korupsi? Tentu saja, agama melarang umat manusia untuk mencuri atau korupsi. Tetapi, manusia bebas saja mau mencuri atau tidak. Kemudian, dia harus bertanggung jawab atas konsekuensi kebebasan itu di dunia dan akhirat. Agama memberi petunjuk kepada umat manusia agar memilih hidup yang benar, memilih jalan yang lurus. Bagaimana pun, pilihan bebas ada di tangan Anda.

Yang menarik, agama sering memberi beban kepada manusia, justru, tujuannya agar manusia menjadi bebas. Manusia wajib puasa agar dia terbebas dari nafsunya. Manusia wajib sedekah agar dia terbebas dari serakah. Manusia wajib berdoa agar dia terbebas dari beban tiada tara. Anda memang manusia bebas.

C. Sumber Ruhani

Pancaran spirit terus menerus bersinar. Air mancur ruhani terus mengalir. Sisi ruhani terdalam umat manusia menembus setiap batas. Manusia adalah bebas.

(1) Alam fenomena. Adalah alam yang kita alami biasa setiap hari. Pagi, bangun tidur, mandi, makan, lalu kegiatan. Malam hari, tidur lagi. Terjadi seperti itu berulang kali. Di dunia fenomena bercampur antara pengetahuan dan kebodohan. Bercampur antara kepastian dan keraguan. Bercampur antara kebaikan dan kejahatan. Segala yang ada di dunia fenomena adalah sarana bagi manusia untuk bertumbuh menjadi lebih baik secara dinamis. Tetapi, justru banyak manusia yang terjebak pada kenikmatan sesaat di dunia fenomena. Agama membebaskan umat dari jeratan fenomena dan memastikan agar dunia fenomena menjadi bekal yang sempurna bagi umat manusia.

(2) Alam noumena, finitude, kepastian, hakikat. Kebaikan pasti berbuah kebaikan dan dibalas kebaikan. Kejahatan pasti dibalas dengan setimpal. Alam noumena ini pasti dan ada di sini, saat ini. Serta kekal sampai jaman abadi. Hanya saja, orang pada umumnya tidak bisa melihat noumena dengan jelas. Yang tampak bagi mereka adalah fenomena, ketidakpastian. Perlu ilmu yang tinggi agar kita bisa melihat noumena – yang benar adalah benar. Agama memastikan bahwa hukum hakikat berlaku secara benar, adil, dan baik. Ketika manusia bebas menentukan sikap, maka, dunia noumena memastikan hasilnya.

(3) Infinity, tak-terbatas, tak-hingga, chaos, anarki, bebas. Mengapa manusia bebas? Karena manusia adalah infinity, tak-terbatas. Anda bebas memilih apa saja. Anda bebas berpikir apa saja. Anda bebas sebebas-bebasnya. Bahkan chaos atau anarki. Tetapi, mengapa manusia tidak bebas terbang tinggi? Karena, selain infinity, manusia berada dalam alam fenomena dan noumena. Bagaimana pun, manusia tetap bebas menyikapi fenomena dan noumena. Agama menyadarkan manusia akan sikap bebasnya dan mengingatkan manusia agar menerapkan kebebasan dengan baik.

(4) Absolut, Mutlak, Tak-Terperi. Tuhan adalah Sang Maha Mutlak, Sang Maha Bebas, Sang Absolut. Bahasa tidak bisa membahas Absolut. Angka tidak bisa menghitung Absolut. Kita tidak mampu menggambarkan Sang Absolut. Agama membimbing umat manusia untuk lebih dekat kepada Absolut.

Dengan empat prinsip di atas, agama mendorong umat manusia untuk menjadi bebas dan membebaskan.

Beberapa orang bisa saja fokus ke prinsip (2) noumena yang bersifat pasti atas nama agama. Dengan cara itu, mereka bisa mengklaim sebagai pasti paling benar dan pihak lain sebagai salah. Tetapi, prinsip (2) tetap berhubungan dengan prinsip (1) fenomena sehingga selalu ada dinamika dan ketidakpastian. Serta, terhubung dengan prinsip (3) infinity sehingga ada kebebasan melintasi batas. Dan, apalagi jika kita sadar bahwa segalanya bersumber dari prinsip (4) Absolut, maka, wajar bagi kita untuk senantiasa memohon bimbingan melalui ajaran agama.

(5) Nothing, void, hampa, ketiadaan. Prinsip ini menyatakan, “Tiada yang nyata kecuali Sang Maha Nyata.” Manusia bebas memilih apakah akan menghadapkan wajah kepada Sang Maha Nyata atau malah ke arah kehampaan. Bagaimana pun, menatap kehampaan bisa menyadarkan manusia akan betapa pentingnya kenyataan.

1.3 Simbol Dinamika

Agama kaya akan simbol, atau perlambang. Karenanya, masing-masing orang bisa memperoleh inspirasi tiada henti dari ajaran agama. Tentu saja, agama juga mengajarkan tentang fakta. Bagaimana pun, fakta-fakta di masa lalu yang penuh makna itu, menjadi sumber inspirasi dinamis di masa kini.

Makna Tak-Terbatas

Apa makna dari simbol? Makna dari simbol atau perlambang adalah makna yang tak-terbatas. Ketika kita memaknai simbol agama, misal ajaran kitab suci, maka kita akan memukan makna vertikal dan horisontal yang sama-sama infinity.

“Perhatikan biji yang tumbuh jadi benih. Kemudian, tumbuh akar, batang, dan daun. Tiba saatnya, menjadi pohon yang menjulang tinggi, lebat, dan akhirnya berbuah. Apakah kamu yang menciptakan itu?”

Makna vertikal mengajak kita mengkaji benih tumbuhan sampai mengembangkan rekayasa genetika. Sehingga, kita bisa mengembangkan bibit unggul yang kualitas dan kuantitas benih sangat bermanfaat bagi umat manusia. Pada saatnya, benih itu menghasilkan buah yang meningkatkan taraf hidup umat manusia. Apakah kamu yang menciptakan itu? Tidak. Manusia tidak bisa menciptakan apa-apa. Manusia hanya bisa mempelajari dan rekayasa. Tuhan adalah Sang Maha Pencipta.

Makna horisontal lebih leluasa. Benih adalah simbol diri kita yang masih janin kemudian menjadi bayi. Lalu, tumbuh besar menjadi anak-anak, remaja, dan dewasa. Sebagai manusia, kita perlu berbuah, memberi manfaat nyata bagi sesama umat manusia dan semesta. Bisa juga, makna horisontal benih adalah proses kita mengembangkan suatu usaha bisnis digital. Awalnya hanya ide sebagai benih. Kemudian, melakukan beberapa eksperimen di media sosial. Dan akhirnya, berkembang menjadi bisnis digital yang berbuah memberi manfaat kepada masyarakat luas. Apakah kamu yang menciptakan itu semua? Tidak. Manusia tidak bisa menciptakan apa-apa. Manusia hanya mempelajari, mencoba-coba, dan rekayasa. Tuhan adalah Sang Maha Pencipta.

Makna vertikal dan horisontal yang tak terbatas, seperti di atas, mendorong umat manusia untuk terus bergerak dinamis.

Simbol Konkret

Meski bahasa simbol atau perlambang, bisa saja berupa ungkapan konkret. Benih adalah simbol konkret. Perahu Nabi Nuh juga simbol konkret. Tongkat Nabi Musa sama konkretnya.

Di satu sisi, simbol konkret, misal perahu, bisa kita pahami dengan mudah. Bahkan, anak-anak bisa memahami perahu Nabi Nuh dalam ukuran besar untuk menyelamatkan umat manusia pilihan dan berbagai macam binatang dari bencana banjir. Di sisi lain, simbol konkret tetap saja bisa bermakna dinamis.

Perahu bisa saja simbol dari perjalanan hidup kita. Atau, perjalanan umat manusia. Atau, simbol bagi perjalanan bumi yang terapung-apung di lautan galaksi semesta raya. Ajaran agama penuh dinamika.

Dinamika Individu

Masing-masing individu bisa memaknai simbol sesuai kapasitas dan kebutuhannya. Yang menarik adalah makna individu itu beragam dan tidak bisa diseragamkan. Ketika seorang guru menceritakan tentang perahu Nabi Nuh, maka, para siswa memaknai perahu dengan imajinasi yang berbeda-beda. Keragaman makna ini justru menunjukkan kekayaan khasanah umat.

Di satu sisi, kita perlu belajar untuk memaknai secara tepat, presisi, dan akurat. Di sisi lain, makna itu sendiri terus bergerak seiring waktu dan tempat. Sehingga, segalanya penuh warna dinamika. Terhadap keragaman makna, kita perlu saling menghargai dan mengembangkan sikap saling hormat.

1.4 Diskusi

Menimbang begitu penting peran agama bagi umat manusia, sepantasnya, kita membahas agama cinta dengan diskusi yang lebih mendalam di bagian ini.

1.4.1 Ringkasan

Kita bisa memandang agama sebagai urutan 123: (1) agama formal, (2) spirit agama, (3) pembebasan. Sebaliknya, kita bisa juga memandang agama sebagai urutan 321: (3) pembebasan, (2) spirit agama, (1) agama formal. Kedua urutan di atas sama baiknya, tetapi, berbeda dalam kadar resiko.

(1) agama formal(2) spirit agama(3) pembebasan

Urutan 123 atau 321 sama baik karena sama-sama bergerak lengkap. Resiko muncul ketika gerakan hanya berhenti di langkah tertentu saja. Misal ketika 123 hanya berhenti di (1) saja, maka, agama berubah menjadi formalisme belaka. Agama menjadi sekedar identitas diri, di mana, orang yang beragama lain bisa dianggap sebagai orang berbeda atau bahkan sebagai orang yang sesat. Cara pandang seperti ini, beresiko, memunculkan kerusuhan dalam masyarakat.

Agama bisa juga direduksi menjadi hanya ritual ibadah dan legalitas dalam beberapa aspek. Bahkan, dalam identitas satu agama yang sama, bisa saja terjadi pertikaian saling menyesatkan karena perbedaan sudut pandang terhadap ritual, misal penetapan kalender hari raya. Bisa juga, aspek legal agama digunakan untuk mengeruk keuntungan bagi pihak tertentu dan menindas pihak yang lemah.

Padahal, urutan 123 tetap sempurna ketika kita berlanjut sampai (2) spirit agama dan (3) pembebasan.

Resiko urutan 321 juga sama besar ketika, misal, berhenti hanya di (3) pembebasan. Agama direduksi hanya urusan pemahaman dan hati belaka. Mereka bebas menjalani agama, yang penting, bersumber dari suatu penafsiran tertentu. Mereka, bebas, tidak harus melakukan ritual-ritual ibadah. Mereka, bebas, tidak harus menghormati situs-situs agama masa lalu. Apa yang terjadi kemudian?

Mereka menemukan hidup yang hampa. Kebebasan tanpa pijakan yang kuat menjadikan mereka hanya melayang-layang di semesta. Mereka terlunta-lunta dalam kembara belantara pikirannya. Kebebasan tetap membutuhkan spirit agama dan ritual agama.

Kita, umat manusia, membutuhkan agama cinta. Agama yang sempurna formal, spirit, dan pembebasan.

1.4.2 Filosofi Roda Tiga

Kita akan mengingat kembali konsep filosofi siklis roda tiga. Pemahaman kita bersifat siklis. Bagai roda berputar 123, lanjut 123, dan seterusnya 123. Arah putaran bisa saja sebaliknya, 321 lanjut 321, dan seterusnya.

Agama masa depan adalah agama cinta, agama pembebasan, dan agama dinamika.

Kehidupan agama kita berputar dinamis: (1) agama formal, (2) spirit agama, (3) pembebasan, (1) agama formal, (2) spirit agama, dan seterusnya.

Alternatif arah putaran sebaliknya, sama-sama sah: (3) pembebasan, (2) spirit agama, (1) agama formal, (3) pembebasan, (2) spirit agama, dan seterusnya.

Sejak awal, agama adalah pembebasan. Di masa kini, agama adalah pembebasan. Di masa depan, agama adalah pembebasan. Agama adalah pembebasan dinamis yang berputar sempurna.

1.4.3 Agama Cinta Absolut

Nilai kebenaran agama adalah benar absolut, sudah kita bahas di bagian sebelumnya, karena merupakan kebenaran aksiomatik. Dengan konsisten mengikuti aturan logika, maka nilai kebenaran ajaran-ajaran agama adalah benar absolut. Ketika agama Islam, misalnya, mengajarkan pemeluknya untuk sholat tiap hari maka itu adalah ajaran yang benar absolut.

Yang unik dari kebenaran absolut agama adalah, di saat yang sama, bersifat dinamis. Jadi, ajaran agama bernilai benar mutlak dan dinamis. Karakter seperti ini selaras dengan karakter cinta yang kreatif. Cinta selalu benar dan dinamis. Agama memang agama cinta.

Pertama, agama benar absolut atau benar mutlak karena agama sebagai sistem aksiomatik. Perintah sholat tiap hari, misalnya, didasarkan pada kitab suci dan riwayat. Dari teks kitab suci, dan sejarah, para ahli agama menyimpulkan bahwa sholat adalah kewajiban tiap hari. Demikian juga, misalnya, menolong orang lemah adalah kewajiban bagi setiap orang beragama berdasar teks kitab suci. Dalam sistem aksiomatik seperti itu, perintah sholat dan perintah menolong orang lemah adalah selalu sah.

Kedua, agama selalu dinamis karena sistem aksiomatik agama dibangun berdasar “interpretasi” terhadap teks kitab suci dan sejarah. Kita tahu bahwa karakter interpretasi selalu dinamis terhadap ruang dan waktu. Dengan demikian, agama selalu dinamis terhadap ruang dan waktu. Ditambah lagi, ajaran agama bisa saja bersifat umum, sehingga pada tataran praktis, perlu penyesuaian di sana-sini yang dinamis.

Usaha untuk membuat interpretasi yang baku terhadap ajaran agama, tentu saja, bisa dilakukan. Standarisasi ajaran baku ini, jika berhasil, akan mampu bertahan dalam jangka waktu yang, relatif, pendek. Sebaliknya, dalam jangka panjang, pasti, kita perlu melakukan beragam revisi karena situasi dan kondisi yang sudah berubah. Kita perlu revisi terhadap setiap standar yang ada.

Ketiga, agama selalu dinamis karena agama mampu mengantisipasi masa depan dengan bahasa lambang. Agama mampu meramalkan masa depan umat manusia. Agama mampu meramalkan masa depan alam semesta. Tentu saja, semua ramalan ini berupa bahasa-bahasa lambang atau simbol. Meski, kadang menggunakan ungkapan konkret, tetap saja, ungkapan tersebut bisa dipandang sebagai lambang.

Dengan bahasa lambang, umat manusia mampu mereguk aliran air inspirasi tiada henti dari teks kitab suci dan ajaran agama secara umum. Inspirasi demi inspirasi mendorong agama bergerak lebih dinamis lagi.

Saatnya, umat manusia untuk jatuh cinta, lagi, kepada agama yang suci. Agama yang selalu dinamis. Agama yang menebarkan cinta untuk seluruh semesta raya.

2. Adakah Masa Depan?

2.1 Kiamat Dipercepat

Ancaman perang nuklir bisa menghancurkan bumi dan kehidupan ini hanya butuh waktu beberapa menit saja. Pengalaman pandemi covid menunjukkan betapa lemah sistem kesehatan umat manusia. Dan, masih banyak ancaman ngeri lainnya.

Akankah kiamat terjadi dipercepat?

Potensi bumi hancur akibat perang manusia makin mengerikan. Kita berharap masih banyak orang yang bertekad menjaga kelestarian; kemudian, berdampak lebih banyak orang untuk ikut menjaga bumi. Andai bumi tetap lestari tetapi usia matahari hanya beberapa milyar tahun ke depan saja. Reaksi nuklir di matahari akan habis. Tidak ada lagi cahaya matahari. Bumi menjadi dingin, makin dingin, dan sangat dingin. Umat manusia tidak bisa hidup lagi; manusia musnah pada kondisi seperti itu; hewan dan tumbuhan juga musnah dari bumi.

Kiamat bumi pasti terjadi. Kiamat adalah futuristik itu sendiri. Pilihannya kapan dan bagaimana kiamat itu akan terjadi.

2.2 Ateis Normal

Pemikir masa kini tidak bersikap adil terhadap pemikir masa lalu; mereka menilai penulis ajaran agama di masa lalu terjangkiti kesadaran yang keliru; sementara, mereka menganggap pemikiran masa kini adalah murni. Apakah adil?

Ateisme hanya untuk kalangan elit masa lalu; tetapi menjadi respon masyarakat normal masa kini; semua orang bisa ngaku sebagai ateis.

Nietzsche, Sartre, Ponty, dan Camus dianggap sebagai tokoh ateis; padahal, mereka hanya seakan-akan ateis bukan ateis.

Ateis bebas untuk malas.

Ayer bertanya apa gunanya percaya Tuhan.

Menurut Freud agama sebagai tidak dewasa.

Problem bagi penafsiran harfiah dan doktrin fakta obyektif.

Altizer: ide kematian tuhan adalah membebaskan; kemudian mengenali Tuhan sejati.

Tahun 60an tidak mungkin membahas Tuhan karena sudah diganti sains.

2.3 Perang Sains

Tahun 1990an, sains kembali memanggil Tuhan.

Rubenstein setuju Sartre bahwa hidup adalah kehampaan.

Auschwitz membuat polemik kekuasaan Tuhan.

Karl Bath menyatakan menjelaskan Tuhan dalam terma rasional adalah keliru radikal.

2.4 Tumpukan Kontradiksi

Paul Tillich: kecemasan tak bisa disembuhkan. Ateis yang menolak tuhan tiran, barangkali, bisa dibenarkan.

Doa adalah kontradiksi; bicara kepada yang tidak bisa dibicarakan; simbol yang menjelaskan ketersembunyian; psikologi normal. Tuhan tidak bisa dipisahkan dengan psikologi; ateis menjadi teis baru.

Teilhard de Chardin, teolog liberal, memadukan agama dengan sains (evolusi); Yesus sebagai Omega.

Williams, terpengaruh Whitehead, mengembangkan teologi proses: Tuhan adalah sahabat peristiwa.

2.5 Teologi Alternatif

Di sisi lain, teolog mempertahankan transendensi Tuhan; akal kerap tersandung.

Balthasar menganjurkan menemukan Tuhan konkret melalui seni.

Azad menekankan watak simbolis Al Quran; metaforik figuratif dan Tuhan tak bisa dibandingkan.

Schuon menegaskan Kesatuan Wujud melalui pengalaman esoterik.

Syariati reinterpretasi simbolisme agama semisal haji.

Martin Buber momen Aku-Dia dan Aku-Engkau sebagai kreativitas dinamis.

Heschel berpegang pada mitzvot dan “teologi kedalaman.”

2.6 Filosofi Wujud

Heidegger: Wujud berbeda dengan wujud-wujud partikular; Wujud yang memungkinkan eksistensi menjadi ada.

Bloch: ide tentang Tuhan adalah alamiah; mengarahkan ke masa depan.

Horkheimer memandang Tuhan sebagai cita-cita penting.

Realitas selalu kembali kepada tema sentral: Tuhan.

Pemahaman bahwa Tuhan sebagai Ada atau Tiada.

2.7 Fundamentalis

1970an, fundamentalis sebagai spiritualis politis.

Rasa benar sendiri … adalah tidak otentik; dan harus ditolak.

Tuhan bisa juga dijadikan obat mujarab dan obyek fantasi (558).

Nabi Muhammad sebagai jenius politik dan spiritual yang membangun masyarakat adil dan bermoral.

Tuhan menuntut kesucian dan keterpisahan; hanya Nabi Musa yang diijinkan berbicara dengan Tuhan di gunung Sinai; bangsa Israel tidak diijinkan.

Ateis menolak gambaran Tuhan yang terlalu harfiah.

2.8 Sikap Terbuka

Eksperimen falsafah untuk harmonisasi iman dan rasionalisme.

Al Quran bersikap sangat positif terhadap agama lain.

Einstein mengapresiasi agama mistikal. Konsmologi simbolis dan interpretasi sains.

Tuhan kaum mistik menjadi alternatif bagi konsep Tuhan personal dan abstrak rasional; misteri tak terlukiskan, keindahan, dan nilai kehidupan yang nyata. Tuhan kaum mistik butuh praktek dan rasio; bukan paket siap pakai; bukan ekstasi instan.

Mistisisme tangan kedua barangkali tidak banyak guna; seperti cerita indahnya alunan musik.

Manusia selalu menciptakan simbol-simbol baru sebagai pusat spiritualitas; menguatkan keyakinan; menumbuhkan pesona; dan memberi makna hidup. Tanpa spiritual jadi putus asa.

90% penduduk US beriman pada Tuhan tetapi berkembang fundamentalisme, sektarianisme, dan mati sengsara.

Berhala kaum fundamentalis, mau pun ateis, bukan pengganti yang tepat bagi Tuhan.

3. Masa Depan Tuhan (430)

3.1 Tugas Agama

Agama harus memberi informasi. Apakah Tuhan ada? Bagaimana dunia terbentuk? Bagaimana kecerdasan muncul? Pemahaman ini adalah penyimpangan era modern. Tugas logos untuk menjawabnya.

Tugas agama, mirip dengan seni, membantu kita hidup dengan bahagia, kreatif, dan penuh pesona bersama hal-hal sulit.

Agama adalah disiplin amaliah spiritual dan gaya hidup konkret bersahaja; lebih dari sekedar spekulasi rasional abstrak. Demikian juga dialog Sokrates menawarkan pengalaman konkret saling memberi dan menerima gagasan dengan hati terbuka.

Rasionalisme, trio Sokrates-Plato-Aristo, mengantar kita sampai kondisi tidak tahu; bukan frustasi, kondisi tidak tahu adalah mengajak kita untuk kagum, takjub, dan pesona.

Agama memupuk pengalaman transenden. Einstein, Wittgenstein, dan Popper merasa cukup nyaman berada di antara rasionalisme dan transendensi.

Terdapat perbedaan penting antara Brahman, Nirvana, Allah, dan Dao; tetapi tidak berarti yang satu “benar” dan yang lain “salah.”

Tuhan itu sangat mengagumkan; tetapi definisi umum tentang Tuhan justru membosankan; menghilangkan rasa kagum.

3.2 Tuhan Sains

Tillich sadar bahwa sulit bicara tentang Tuhan saat ini; karena mereka langsung bertanya apakah Tuhan ada; asumsi mereka bahwa Tuhan sekedar fakta. Jika Tuhan seumpama seorang dewa maka sains akan menggantikan dewa itu.

Makna asli iman dan yakin adalah Anda harus terlibat dengan simbol secara imajinatif, etis, dan amalan sehingga menimbulkan perubahan dalam diri Anda.

Penyembahan berhala selalu menjadi ancaman bagi monoteisme; berhala mendukung kelompok sendiri dan menolak pihak lain.

Ateis menolak berhala; sudah benar. Tetapi, ateis menolak iman orang lain maka ateis menjadi berhala lagi. Baggini menyebut ateis adalah komitmen dengan hati-terbuka terhadap kebenaran dan penyelidikan rasional. (435)

Awal modern, Barat bercita-cita menemukan kebenaran mutlak tetapi gagal. Kemudian kompensasi mereka adalah meganggap keyakinan relatif menjadi doktrin mutlak. Kemudian tidak serius mengkaji alternatif.

3.3 Dialog Antagonis

Diskusi antagonis: fundamentalis makin ekstrem.

Modern tidak selalu superior.

Misteri dianggap sebagai kemalasan mental dan omong kosong.

Dogma, bagi Yunani kuno, adalah kebenaran yang sulit diungkapkan dalam kata-kata; bisa dipahami melalui proses ritual, amalan, dan pengalaman. Dogma, bagi era modern, adalah klaim kebenaran yang ditetapkan pihak tertentu.

Yahudi, Kristen, dan Muslim berpikir terbuka terhadap kebenaran dari mana pun di masa awal-awal dulu.

Kritik ateis yang cerdas bisa membantu membilas pikiran kita.

3.4 Kepastian Komitmen

Adakah landasan komitmen yang pasti? Pengalaman keagamaan dan seni. Praktek belas kasih tiap hari; keluar dari preferensi diri untuk terpesona.

Individu-individu tertentu menjadi ikon kemanusiaan. Sama halnya, dengan atlit yang bergerak cepat tanpa sulit, tokoh-tokoh ini menunjukkan potensi ilahiah dan tercerahkan bagi setiap manusia.

Orang religius itu ambisius; ingin hidup penuh makna.

4. Futuristik

Selanjutnya, kita akan membahas Tuhan lebih dekat sebagai Tuhan Futuristik yaitu Sang Maha Akhir. Tuhan memiliki 99 Nama, 100 Nama, bahkan tak terhingga Nama. Dalam kesempatan ini, kita fokus kepada Sang Maha Akhir atau Futuristik.

4.1 Cara Melihat Tuhan

Seorang anak kampung mengeluh kepada gurunya,”Mohon maaf guru. Selama ini, guru sudah mengajari kami banyak hal untuk berbuat baik, bermoral, dan berakhlak. Kiranya, guru berkenan mengajari kami cara melihat Tuhan?”

Guru menjawab, “Anakku, apa kamu memiliki saringan?”
“Saya punya saringan, guru.”
“Tolong bawa saringan itu ke mari.”

Murid itu pulang lalu datang lagi dengan membawa saringan.

“Ini saringan saya, guru.”
“Tolong isi penuh saringan itu dengan air,” perintah gurunya.

Murid itu menuruti perintah guru untuk mengisi saringan dengan air. Tentu saja, air bocor dari saringan. Murid itu, lebih banyak, menumpahkan air ke saringan lagi. Hasilnya, saringan tetap tidak terisi penuh dengan air.

“Mohon maaf guru, saya tidak bisa mengisi penuh saringan ini dengan air.”
“Ikuti aku, anakku,” kata guru.

Guru mengambil saringan dari murid, lalu, berjalan menuju sungai. Murid mengikuti guru di belakangya. Tiba di tepi sungai, guru melemparkan saringan ke tengah sungai.

“Perhatikan, saringan itu sekarang terisi penuh dengan air.”

“Kamu tidak bisa melihat Tuhan dengan cara menjauhiNya. Kamu hanya bisa melihat Tuhan dengan cara berani menceburkan diri dalam Maha Baiknya Tuhan.”

Sang murid mencoba memahami maknanya.

Di bagian ini, saya akan membahas cara melihat Tuhan. Kabar baiknya, semua orang bisa melihat Tuhan. Tetapi, tidak semua orang akan berhasil. Karena ada harga yang harus dibayar: berani menceburkan diri dalam Maha Baiknya Tuhan.

(a) Belajar, Bekerja, dan Jatuh Cinta

Belajar adalah kegiatan paling penting bagi manusia untuk mampu mengenali Tuhan. Belajar matematika dan bahasa adalah utama. Lebih utama lagi, belajar untuk selalu berpikir terbuka. Membuka pikiran dan hati untuk menerima kebenaran.

Bekerja adalah memberi kebaikan. Awalnya, bekerja bisa saja tidak dibayar. Selanjutnya, bekerja memang perlu mempertimbangkan bayaran, yaitu, saling memberi dan menerima kebaikan. Lebih dari itu, bekerja adalah tanggung jawab diri kita untuk hidup mandiri dan membantu orang terdekat. Kesulitan dan tantangan kerja menguatkan kita untuk mengenali anugerah Tuhan.

Jatuh cinta menjadikan diri Anda penuh warna, penuh bahagia, dan penuh makna. Jatuh cinta kepada pasangan, suami atau istri, memudahkan Anda mengenal anugerah Tuhan. Jatuh cinta secara umum sama baiknya. Anda bisa mencintai anak, orang tua, saudara, tetangga, dan seluruh alam raya.

Komitmen Anda yang kuat untuk belajar, bekerja, dan jatuh cinta akan membuka mata dan hati Anda untuk melihat Tuhan.

(b) Karya

Awalnya, Anda cukup dengan kerja. Selanjutnya, kerja Anda perlu meningkat menjadi karya. Karya adalah kerja unik menabur kebaikan sesuai situasi paling tepat. Untuk menghasilkan karya, Anda perlu meningkatkan ilmu melalui belajar. Anda perlu sepenuh hati mencurahkan cinta dalam hasil karya. Anda mengenali Tuhan ada di sana dan di dalam dada.

(c) Maha Karya

Karya Anda bukan biasa-biasa saja. Karya Anda melejit menjadi sebuah maha karya. Ada banyak rintangan untuk mempersembahkan maha karya. Tuhan selalu ada di sisi Anda dalam proses mempersembahkan maha karya. Apa maha karya Anda?

(d) Maha Cinta

Cinta, awalnya, menggoda. Akhirnya, makin mempesona. Anda boleh jatuh cinta, bahkan, lanjutkan kepada Maha Cinta. Untuk lebih menghayati Maha Cinta, Anda bisa belajar dari maha karya terdahulu. Anda bisa membaca maha karya dari Ibnu Arabi, Rumi, Iqbal, Sunan Kalijaga, Khalil Gibran, Goethe, dan lain-lain. Tuhan adalah Maha Cinta Sejati.

(e) Serasi

Akhirnya, Anda tidak pernah berakhir menuju tujuan akhir sebagai manusia yang sempurna dalam serasi antara maha karya dan Maha Cinta. Anda sedang menghadapkan wajah kepada Tuhan semesta.

4.2 Masa Depan Futuristik

Di depan masa depan masih ada masa depan lagi. Setelah yang terakhir akan ada lebih akhir lagi. Demikianlah pikiran kita sebagai manusia; pikiran manusia adalah futuristik tanpa henti. Tuhan Yang Maha Akhir melimpahkan kapasitas futuristik kepada pikiran manusia dan kepada alam semesta. Tuhan adalah Maha Akhir atau Maha Futuristik.

Para pemikir besar menyibak rahasia atau misteri Maha Akhir dengan beragam cara. Kitab suci menyatakan dengan tegas bahwa Tuhan adalah Maha Awal dan Maha Akhir; kemudian memberi penjelasan konkret dengan ragam contoh-contoh bahasa simbolis. Sebagai manusia, kita mampu mencerna maksud simbolis kitab suci.

Bagaimana pun, akal manusia memunculkan beragam pertanyaan rasional. Pertanyaan ini sering membingungkan manusia itu sendiri meski setiap pertanyaan adalah manusiawi. Kita akan merujuk pemikiran Ibnu Arabi untuk menjawab pertanyaan penuh misteri ini.

(1) Tuhan adalah tersembunyi dalam dirinya sendiri. Tuhan adalah Al Haq yaitu kebenaran sejati; The Real.

(2) Tuhan menampakkan diri dalam bentuk Nama-Nama Indah: Maha Kasih; Maha Sayang; Maha Bijak; Maha Dahir; Maha Batin; Mawa Awal; Maha Akhir; dan lain-lain. Nama Maha Akhir adalah yang paling selaras dengan pembahasan kita yaitu Maha Futuristik.

(3) Tuhan beraksi. Tuhan menciptakan manusia maka Tuhan adalah Maha Pencipta; Tuhan mendesain alam sangat indah maka Tuhan adalah Maha Inovasi. Berkat aksi Tuhan, atau limpahan anugerah Tuhan, maka alam semesta mengalami proses dinamis tanpa henti.

(4) Alam khayal, atau alam barza atau alam mitsal atau alam imajiner, adalah penghubung antara alam indera dengan alam yang lebih tinggi. Barza bertingkat dan beragam: imajinasi, pikiran, intelek, spirit, dan lain-lain.

(5) Alam indera adalah alam fisika dan alam yang bisa dikenali oleh indera.

Lima tingkatan ontologi di atas adalah satu kesatuan. Alam yang lebih tinggi memberi fondasi bagi yang lebih rendah. Alam indera hanya bisa eksis bila ada alam barza; hanya bisa eksis bila ada aksi Tuhan. Ontologi yang lebih tinggi bermanifestasi, tajali, ke alam yang lebih rendah.

Pembahasan ontologi futuristik di atas adalah kita melakukan interpretasi simbol-simbol; bukan sekedar kajian rasional faktual; kita perlu membuka diri seluas-luasnya. Kita perlu mengalami “cara melihat Tuhan.”

Tuhan sebagai The Real selalu tersembunyi; sehingga, kita hanya bisa membahas mulai dari Nama. Maha Akhir atau Maha Futuristik adalah Nama Tuhan yang melimpahkan masa depan ke alam raya. Alam raya, baik barza mau pun fisik, menjadi eksis karena menerima limpahan masa depan dari Futuristik. Alam berproses menuju masa depan mereka. Atau, lebih tepatnya, masa depan menarik alam raya untuk menuju masa depan.

Budi, sebagai ilustrasi, adalah pemuda yang baik. Hari itu, Budi memberi paket makan siang yang enak kepada anak yatim dengan ikhlas; anak yatim tersenyum bahagia; Budi ikut bahagia.

Saat itu juga, untuk Budi, tercipta surga yang indah di alam barza. Budi bahagia bersama anak yatim yang bahagia juga. Surga ini adalah futuristik; yaitu konkret dan real tetapi seperti belum bisa diakses di hari ini. Surga futuristik ini menarik Budi, yang ada di masa kini, untuk menuju masa depan. Tarikan surga ini bisa dirasakan oleh Budi berupa rasa bahagia.

Esok harinya, Budi membelikan buku matematika untuk anak yatim itu. Surga futuristik menjadi makin indah dan makin mempesona. Andai, saatnya nanti tiba, Budi datang ke surga itu maka surga itu sudah memiliki bentangan masa depan yang lebih futuristik lagi.

Situasi bisa berubah bila, misal, Budi marah-marah tak terkendali kepada anak yatim itu. Kemarahan Budi menciptakan jurang yang tajam penuh kabut hitam; sehingga, Budi tidak bisa lagi menuju surga futuristik. Kemarahan itu menghilangkan, atau memperkecil, posibilitas Budi datang ke surga.

Budi bisa bertobat; meminta maaf kepada anak yatim; menebus kesalahan dengan berbuat baik lebih banyak kepada anak yatim. Tobat ini menciptakan jembatan kuat menuju surga futuristik diiringi cahaya terang mengalahkan kabut hitam gelap. Budi berbahagia menuju surga futuristik.

Tetapi, apakah Budi benar-benar bisa menciptakan surga futuristik? Tentu tidak. Tuhan Maha Futuristik yang melimpahkan anugerah surga kepada Budi. Tugas Budi adalah memilih berbuat amal kebaikan meski ada pilihan dosa. Tuhan yang Maha Baik melimpahkan anugerah yang besar kepada umat manusia.

Mari mengajukan pertanyaan utama kita: bagaimana masa depan futuristik? Masa depan futuristik adalah berlimpah cahaya kebaikan. Karena Tuhan yang Maha Akhir melimpahkan anugerah masa depan kepada seluruh alam. Anugerah futuristik ini lebih akhir dari yang paling akhir; setelah yang paling akhir masih ada masa depan lagi; sebagai anugerah dari Maha Akhir.

Bagaimana masa depan Tuhan? Pertanyaan ini hanya berguna untuk memancing tanda tanya. Karena Tuhan adalah Maha Akhir yang melimpahkan anugerah masa depan ke seluruh alam raya.

4.3 Bertumpuk Masa Depan

Masa depan itu banyak dan bertumpuk-tumpuk.

Anggap Budi berbuat baik kepada anak yatim, seketika tercipta taman surga futuristik, lalu Budi diam saja. Meski Budi diam tetapi tidak pernah bisa diam. Karena taman surga itu menarik Budi untuk bahagia menuju surga futuristik; Budi selalu bergerak ke masa depan. Lebih dari itu, taman surga itu sendiri juga bergerak ke masa yang lebih depan lagi.

Sementara, Budi sendiri tidak akan diam begitu saja. Budi menambah banyak amal kebaikan. Konsekuensinya, taman surga bagi Budi makin bertumpuk-tumpuk kebaikan. Jadi, masa depan adalah berlimpah tumpukan masa depan.

Tobat untuk mengubah masa lalu; orang mengira tidak bisa mengubah masa lalu. Tetapi, Anda bisa mengubah masa lalu dengan jalan tobat. Demikian juga, seseorang bisa memperburuk masa lalu dengan cara menambah dosa-dosa.

Ilustrasikan ada pejabat yang mencuri uang rakyat; pejabat itu menjadi koruptor tahun ini, tahun 2024. Pejabat itu menjerumuskan diri dalam neraka di tahun 2024. Di tahun 2025, pejabat itu tobat; dia mengembalikan semua hasil korupsi; bersedekah semua sisa harta yang ada; mengabdikan sisa hidupnya untuk membantu warga miskin. Pejabat itu mengubah masa lalu, yang berupa neraka, menjadi taman surga yang indah penuh pesona.

Dalam skenario yang berbeda, pejabat itu bisa saja menyuap jaksa dan hakim. Sehingga, pejabat itu terbebas dari hukuman di tahun 2024. Kemudian, di tahun 2025, pejabat itu korupsi lagi, mencuri uang rakyat lagi. Neraka yang sudah menyala sejak 2024 menjadi makin membara akibat suap dan korupsi tambahan. Pejabat itu makin sengsara terperosok dalam neraka.

Anda bisa mengubah masa lalu karena masa lalu dipengaruhi oleh masa depan. Komitmen Anda kepada amal kebaikan, yang membentang dari masa depan sampai masa kini, berhasil mengubah masa lalu Anda menjadi taman surga penuh pesona.

5. Dialog Masa Depan

Saatnya, kita untuk diskusi komprehensif dan dialog masa depan. Bagaimana masa depan agama dan agama masa depan? Masa depan agama adalah cerah; dan agama masa depan akan mengalami keragaman dinamika. Meski terjadi serangan dari ateis dan pencemaran agama oleh teroris berkedok agama, masa depan masih tetap cerah.

Apakah masih ada masa depan? Ada. Bahkan, di depan masa depan masih ada masa yang lebih depan lagi; realitas adalah futuristik. Tentu ada ancaman masa depan kelam semisal perang nuklir dan pandemi; tetapi tetap ada garis-garis sinar masa depan. Futuristik lebih optimis dari perkiraan.

Bagaimana masa depan Tuhan? Pertanyaan semacam ini hanya pemicu tanda tanya. Karena Tuhan adalah Maha Akhir; sehingga, Tuhan adalah yang melimpahkan masa depan sebagai anugerah kepada alam raya; Tuhan adalah Maha Futuristik.

Bagaimana manusia bisa meraih masa depan cemerlang? Dengan menjadi kamil. Manusia menjalani hidup konkret sehari-hari; berbuat baik kepada keluarga, tetangga, dan semesta luas; menghadapi beragam kesulitan dan kecemasan hidup; besyukur dan bersabar. Kemudian, manusia terbang tinggi ke alam barza; alam intelektual dan spiritual; menjadi penghuni kerajaan langit Tuhan. Manusia memilih, berusaha, dan komitmen untuk menjadi sempurna: insan kamil. Dari sisi Tuhan, anugerah tercurah kepada manusia; melalui anugerah Tuhan, manusia bisa memilih dan komitmen; manusia ditarik oleh Futuristik untuk menjadi anggota kerajaan Tuhan.

5.1 Solusi Posmodern

Posmodern, atau posmo, menawarkan solusi yang menarik berupa mikro-narasi. Posmo menolak meta-narasi; menolak narasi-besar; menolak grand-narasi. Meta-narasi perlu diganti dengan mikro-narasi; berupa narasi-narasi kecil yang beragam. Setiap kelompok manusia berhak mengembangkan narasi kecil yang sesuai dengan situasi dan kondisi konkret mereka. Kemudian, narasi kecil ini berinteraksi dengan narasi kecil lain dengan saling menjaga keharmonisan.

Bagai mikro-narasi, Tuhan hadir secara konkret dalam situasi dan kondisi tertentu. Tuhan hadir di desa Botoran bisa berbeda dengan Tuhan hadir di desa Simo, misalnya. Di Botoran, Tuhan hadir dengan mengajak warga untuk kerja dan ibadah. Warga Botoran bekerja saling membantu mengembangkan industri konveksi; memproduksi pakaian dari kain tekstil; kemudian, menjual produk konveksi di pasar atau pun online. Sementara di Simo, Tuhan hadir dengan mengajak warga bekerja sebagai perajin bubut; memproduksi beragam alat berbahan kayu semisal permainan catur, hiasan kursi, dan peralatan dapur; kemudian, mereka menjualnya di pasar atau online. Praktek ibadah warga Botoran dan Simo menampakkan kesamaan hampir di semua aspek. Perbedaan barangkali ketika mereka berbagi berkat, makanan khas daerah. Warga Botoran berbagi lebih terkonsentrasi pada warga terdekat; sementara, warga Simo berbagai ke wilayah yang lebih luas.

Perbedaan mikro-narasi antara Botoran dan Simo adalah sah dan sehat. Posmo mendukung mikro-narasi agar tumbuh secara harmonis dengan saling hormat. Mikro-narasi tumbuh subur dalam segala bidang; kerja, ibadah, seni, sains, politik, dan lain-lain.

Kita perlu mencermati beragam ide posmo yang mudah disalah-pahami. Posmo mendukung mikro-narasi tetapi menolak meta-narasi; mendukung realitas konkret tetapi menolak abstraksi belaka; mendukung absolut konkret tetapi menolak abstraksi relatif.

5.2 Solusi Mistikus

Mistikus memandang bahwa seluruh realitas adalah manifestasi dari Tuhan. Realitas menunjukkan eksistensi Tuhan yang selalu hadir tetapi, di saat yang sama, menyembunyikan hakikat Tuhan. Tuhan adalah segalanya tetapi bukan segalanya adalah Tuhan.

Sang mistikus menuliskan ajaran-ajarannya dalam bentuk syair puisi penuh inspirasi. Puisi membangkitkan rasa dalam diri manusia. Puisi menghubungkan manusia dengan semesta. Puisi menghadapkan wajah manusia kepada Tuhan.

Puisi bukan bahasa sains sehingga puisi tidak bisa ditolak oleh logika formal. Puisi mengajak logika untuk membuka mata; menatap semesta; dan menjelajahi jiwa. Puisi adalah ayat-ayat cinta dari semesta merindu Tuhan.

Langit Semesta

Saya kagum dengan trilogi Kritik dari Kant. Dalam Kritik Akal Praktik, Kant membuktikan bahwa kewajiban moral adalah paling utama: menghormati ibu, membela korban, dan cinta Tuhan. Di mana pun Anda berada, Anda wajib menjunjung moral. Bahkan di dunia fiksi pun, Anda wajib menghormati ibu dan cinta Tuhan. Bagaimana pun masih banyak tanda tanya di semesta.

Bagi Iqbal, Kant sudah berhasil mengantarkan umat manusia sampai ke pintu langit melalui pencerahan akal. Kemudian, Kant mondar-mandir antara bumi dan laingit. Ghazali membuka pintu langit untuk Kant. Kita bisa tamasya di semesta langit. Ghazali menyalakan beragam pelita; semesta langit makin mempesona.

Di langit tertinggi, Iqbal melihat seorang pemuda berkumis tebal yang sedang termenung. Iqbal heran dan bertanya kepada gurunya,

“Siapakah pemuda pemberani itu, Guru?”
“Dia adalah Nietzsche. Kata-katanya sangat tajam membelah dunia. Sebagian orang salah paham tentangnya. Sebagian yang lain, berjuang untuk memahaminya,” jelas Rumi.

Di atas langit tertinggi hanya ada rahasia demi rahasia.

Rumi menceritakan pengalaman ketika muda: Aku mencari Tuhan ke seluruh dunia. Aku datangi setiap rumah ibadah. Aku ketuk pintu-pintu rumah Tuhan. Baru sadar, bahwa aku mengetuk pintu dari dalam.

5.3 Solusi Futuristik

Futuristik meyakini bahwa masa depan lebih baik dari masa lalu; meski semua masa adalah baik. Di depan masa depan ada masa depan lagi; Tuhan adalah Maha Akhir; lebih akhir dari masa depan yang paling depan; Tuhan melimpahkan masa depan kepada semesta sehingga semesta memiliki masa depan; semesta bergerak menuju masa depan penuh makna.

Jejak Masa Depan

Tuhan meninggalkan jejak masa depan berupa tanda-tanda bagi manusia yang siap menggapainya. Tanda ini begitu jelas mengajak manusia menuju masa depan dan, di saat yang sama, tanda ini tersembunyi penuh misteri. Tanda membuka realitas dan menutupi misteri. Manusia menangkap tanda dan ditinggalkan tanda.

Kristalisasi Nama

Tanda-tanda mengkristal menjadi bahasa bagi manusia. Tentu ada beragam bahasa yang kita kenal. Bahasa mana yang paling tepat mewakili tanda? Bahasa puisi cinta semesta. Manusia perlu membaca tanda sebagai bahasa puisi cinta.

Bahasa puisi paling kuat adalah Nama-Nama Tuhan alam semesta. Kita mengenal 99 Nama, 100 Nama, 1000 Nama, atau bahkan tak hingga Nama. Siapa Nama Anda?

Merangkul Semesta

Bagaimana menurut Anda?

Generator Pythagoras Universal

Saya mengembangkan generator universal yang bisa menghasilkan segitiga Pythagoras untuk seluruh bilangan bulat n.

Misal kita ingin menentukan segitiga Pythagoras dengan salah satu sisi = 5 maka sisi-sisi lain adalah berapa? Dalam hal ini semua sisi adalah berupa bilangan bulat.

Terdapat dua solusi:

A) segitiga (3, 4, 5)

B) segitiga (5, 12, 13)

Penjelasan video ringkas (hanya dalam 1 menit) silakan berikut ini.

Sedangkan untuk pembahasan lengkap generator Pythagoras versi paman APIQ silakan video di bawah.

Untuk kepentingan edukasi, saya rekomendasikan agar fokus hanya kepada segitiga ganjil n =1 dan segitiga genap n = 2. Sementara, bagi pecinta matematika silakan eksplorasi lengkap.

Bentuk umum generator adalah:

(a^2)/n = 2b + n

a = sisi siku sebagai acuan
b = sisi siku yang lain
n = bilangan bulat positif yang mungkin
c = b + n yaitu sisi miring atau hipotenusa

Bagaimana menurut Anda?

Kita Butuh Kerja Bukan Ideologi

Benar bahwa setiap orang butuh kerja. Kita butuh kerja untuk saling memberi kebaikan, untuk saling menolong, untuk saling meringankan beban. Kerja berkembang menjadi karya, kemudian menjadi maha karya. Apa maha karya Anda?

Bisakah kerja tanpa ideologi?

Di media sosial tersebar bahwa Presiden Jokowi mengatakan kita tidak butuh ideologi. “Kita tidak butuh ideologi kita hanya bekerja.” (suara.com)

Sebaliknya, berbeda dengan Presiden Jokowi, kita selalu butuh ideologi. Kerja selalu butuh ideologi. Lebih-lebih, sistem politik sangat butuh ideologi. Selanjutnya, kita perlu mempelajari ideologi dengan kritis.

Ideologi adalah semacam ide dasar, logika dasar, sudut pandang, kerangka pikir, asumsi dasar, atau lainnya yang diterima sebagai kebenaran dasar. Melalui ideologi, kita memahami segala fenomena.

Kerja adalah untuk mencari uang; ideologi kapitalis.

Kerja adalah ibadah; ideologi ketuhanan.

Kerja adalah untuk prestasi; ideologi kemanusiaan.

Kerja adalah untuk sosialisasi; ideologi sosialis.

Kerja adalah kewajiban rakyat; ideologi komunis.

Kerja adalah ekspresi jiwa; ideologi seni.

Kita masih bisa menambah makna kerja sesuai ideologi yang beragam. Ideologi yang berbeda akan memberi makna berbeda terhadap kerja.

Kerja adalah kerja; ideologi tanpa ideologi.

Tanpa-ideologi adalah sebentuk ideologi itu sendiri yang menyiratkan untuk menolak ideologi pihak lain. Atau, tanpa-ideologi menyatakan bahwa ideologi saya yang valid; sedangkan ideologi pihak lain ditolak atau bahkan salah. Klaim tanpa-ideologi menjadi rumit karena tema ideologi menjadi hanya tersirat, implisit, dan tersembunyi.

Dalam bahasa yang lebih ringan, kita bisa menyamakan ideologi dengan paradigma. Kita perlu waspada dengan setiap paradigma. Paradigma yang salah berakibat pemahaman salah; berakibat tindakan salah; merugikan banyak pihak. Kita perlu mahir mengkaji beragam paradigma; mampu melihat realitas dari beragam paradigma. Pada akhirnya, kita perlu terus mengkaji ideologi; belajar dari pengalaman buruk dan pengalaman baik.

Bagaimana menurut Anda?