Politik Futuristik Al Farabi

Farabi (872 – 951) mengembangkan way of life dari Plotinus menjadi lebih luas dan lebih dalam. Praktek spiritual memerlukan kehidupan kota yang baik atau memerlukan sistem politik yang baik. Way of life bukan hanya berlaku secara personal, bukan hanya interpersonal, tetapi way of life diperlukan oleh sistem politik secara luas. Sebaliknya juga benar, praktek spiritual yang tampaknya personal perlu dukungan lembaga politik yang sehat.

Farabi sadar sepenuhnya bahwa kita perlu belajar dari sejarah terutama sejarah filsafat. Kita simak SEP meringkas sikap Farabi ini.

“First, in line with Aristotle’s Nicomachean Ethics, it comprises an intrinsically anthropological and ethical element; accordingly, falsafa madaniyya is the part of philosophy dedicated to an inquiry into the kamal al-insan, the perfection of man, as an individual. Second, just like Plato’s Politeia and Aristotle’s Politica, it moreover deals with the madina, the polis, as a whole, taking into account its makeup and administration. However, it does so strictly from two angles: it assesses the madina and its regime with respect to their success, on the one hand, in guiding citizens towards their individual perfection and, consequently, towards ultimate happiness; and on the other hand, in emulating society’s normative model, namely, the cosmic order, through the makeup of the city.”

“Pertama, sejalan dengan Etika Nikomakhean Aristoteles, filsafat ini mengandung unsur antropologis dan etika yang hakiki; karenanya, falsafa madaniyya adalah bagian filsafat yang didedikasikan untuk menyelidiki kamal al-insan, kesempurnaan manusia, sebagai individu. Kedua, seperti Politeia karya Plato dan Politica karya Aristoteles, filsafat ini juga membahas madinah, polis, secara keseluruhan, dengan mempertimbangkan susunan dan administrasinya. Akan tetapi, filsafat ini melakukan kajian secara ketat dari dua sudut pandang: ia menilai madinah dan rezimnya berkenaan dengan keberhasilannya, di satu sisi, dalam membimbing warga negara menuju kesempurnaan individu mereka dan, akibatnya, menuju kebahagiaan hakiki; dan di sisi lain, dalam meniru model normatif masyarakat, yaitu tatanan kosmik, melalui susunan kota.”

Kita, sebagai individu, memiliki way of life untuk mencapai kesempurnaan: kebahagiaan sejati. Di saat yang sama, kita membutuhkan masyarakat kota untuk mencapai kesempurnaan. Lebih dari itu, Farabi menempatkan ajaran agama sebagai prinsip amat penting. Kita ikuti lagi penjelasan SEP tentang posisi penting agama.

“It is precisely in this connection that religion, milla, as al-Farabi views it, has its place. According to him, religion is the ensemble of beliefs and rules of conduct governing a society. It is so-to-speak its ideological and legal constitution designed by its first ruler to direct its citizens towards human perfection and thus to contribute simultaneously to the attainment of individual happiness and the well-being of the city. As a consequence, on al-Farabi’s account, religion is essentially an instrument intended for application; it cannot be considered a sphere of knowledge, wisdom, and truth on its own. This notion of religion and its place within the frame of falsafa madaniyya had a tremendous impact on subsequent thinkers in the Islamic world—such as Ibn Bajja, Ibn Tufayl, and Ibn Rushd—as well as on the manner in which al-Farabi’s thought and, more particularly, what is usually referred to as his ‘political philosophy’ have been assessed in Western historiography. “

“Dalam kaitan inilah agama, milla, sebagaimana al-Farabi memandangnya, memiliki tempatnya. Menurutnya, agama adalah himpunan kepercayaan dan aturan perilaku yang mengatur masyarakat. Agama dapat dikatakan sebagai konstitusi ideologis dan hukum yang dirancang oleh penguasa pertamanya untuk mengarahkan warga negaranya menuju kesempurnaan manusia dan dengan demikian berkontribusi secara bersamaan pada pencapaian kebahagiaan individu dan kesejahteraan kota. Akibatnya, menurut al-Farabi, agama pada hakikatnya adalah instrumen yang dimaksudkan untuk diterapkan; agama tidak dapat dianggap sebagai bidang pengetahuan, kebijaksanaan, dan kebenaran dengan sendirinya. Gagasan tentang agama dan tempatnya dalam kerangka falsafah madaniyyah ini memiliki dampak yang luar biasa pada para pemikir berikutnya di dunia Islam—seperti Ibn Bajja, Ibn Tufayl, dan Ibn Rushd—serta pada cara pemikiran al-Farabi dan, lebih khusus lagi, apa yang biasanya disebut sebagai ‘filsafat politik’-nya telah dinilai dalam historiografi Barat.”

Way of life adalah alunan harmonis kebahagiaan personal, peradaban masyarakat, dan pencerahan agama yang menjadi kesatuan tak terpisahkan. Kabar baiknya, semua yang kita butuhkan untuk bahagia sudah tersedia. Tugas kita adalah untuk menjalaninya.

“And, last but not least, there are philosophers who discovered and understood these natural givens and implications already centuries ago. Hence, the only thing that remains to be done, on his account, is to put these insights into practice.”

“Dan yang terakhir, namun tidak kalah pentingnya, telah ada filsuf yang menemukan dan memahami realitas yang ada dan implikasinya secara alamiah sejak berabad-abad yang lalu. Oleh karena itu, satu-satunya hal yang masih perlu dilakukan, menurut pendapatnya, adalah menerapkan pemahaman ini dalam praktik.”

Epistemologi

Jiwa adalah aktualisasi dari badan organis alamiah. Jiwa adalah forma dari badan. Jiwa manusia memiliki beragam fakultas: terutama rasional, imajinasi, hasrat, dan nutrisi. Fakultas rasional bersumber dari pancaran intelek aktif, yang pada gilirannya, adalah anugerah dari Tuhan.

Farabi mengembangkan epistemologi matematika yang teoritis sampai epistemologi musik yang praktis. Masyarakat mengenal Farabi sebagai maestro musik. Dalam suatu acara pentas, Farabi memainkan musik membuat semua orang tertawa bahagia. Kemudian, Farabi memainkan komposisi musik yang berbeda menjadikan semua orang meneteskan air mata. Terakhir, Farabi memainkan musik jenis lain yang menjadikan semua hadirin tertidur lelap.

Bagi Farabi, epistemologi musik berbeda signifikan dengan epistemologi matematika. Meski pun keduanya, musik dan matematika, sama-sama mengkaji angka. Matematika mengembangkan beragam teori berdasar kajian rasional yang konsisten. Prosedur baku yang teruji, misal algoritma, sangat efektif untuk matematika. Sementara, musik meski sudah melakukan kajian rasional, pada tahap akhir, harus diuji oleh telinga manusia yang memiliki jiwa. Eksperimen praktis menjadi penentu akhir apakah suatu komposisi musik sebagai indah atau lainnya.

Sains, atau ilmu pengetahuan, adalah untuk meraih kepastian. Kita bisa mengembangkan penalaran deduksi dan induksi untuk sains. Tetapi, bagi Farabi, deduksi dan induksi tidak memadai. Induksi dari beberapa contoh partikular kemudian mengambil kesimpulan general adalah probabilitas atau tidak pasti nilai kebenarannya. Sedangkan deduksi dari pengetahuan universal kemudian menarik kesimpulan partikular memang benar bernilai pasti. Tetapi, kepastian deduksi bersifat prosedural. Perubahan prosedur menjadikan deduksi tidak lagi pasti.

Sains bertujuan untuk meraih kebenaran yang bersifat pasti atau bahkan pasti yang absolut. Seperti kita pasti mengetahui bahwa bagian adalah lebih kecil dari keseluruhan. Kepastian ini bukan deduksi juga bukan induksi. Kepastian ini adalah kepastian yang nyata bagi jiwa manusia.

Farabi yakin bahwa para Nabi dan orang bijak di masa lalu sudah berhasil menemukan kebenaran. Kemudian, kebenaran itu dituliskan dalam ajaran agama atau filosofis. Konsekuensinya, kita bisa menggunakan agama dan filsafat untuk dasar kajian ilmu pengetahuan.

Ontologi

Secara prinsip, ontologi Farabi sejalan dengan Platonisme versi Plotinus. Tuhan menciptakan akal, kemudian akal memancarkan jiwa, dan jiwa berinteraksi dengan alam material. Farabi merumuskan 10 tingkat akal dari Akal Pertama sampai Akal Kesepuluh yang sering disebut sebagai intelek aktif.

Secara biologi terjadi evolusi tingkat makhluk hidup. Unsur-unsur materi adalah paling dasar. Kemudian nabati atau tumbuhan memiliki kehidupan, hewan memiliki kemampuan persepsi, dan puncaknya adalah manusia dengan kemampuan rasional.

Kapasitas Fitri

Manusia memiliki kebebasan dalam arti sepenuhnya yaitu manusia bebas untuk memilih amal kebajikan atau justru memilih kejahatan.

Dalam diri manusia terdapat dorongan atau tarikan untuk bergerak menuju yang lebih sempurna. Selama proses menyempurna, manusia bisa berjalan lurus dalam kebaikan atau tergoda dalam kejahatan.

Untuk meraih kebahagiaan, manusia membutuhkan komitmen terhadap nilai-nilai etika. Komitmen etika ini bersifat pribadi tetapi penerapannya membutuhkan komitmen sosial yang kuat sampai komitmen politik.

Kota Utama

Tugas utama pemimpin kota adalah menetapkan aturan umum sebagai hukum. Warga yang memahami aturan itu, kemudian mematuhi aturan maka mereka akan berhasil meraih kebahagiaan sejati. Langkah berikutnya adalah setiap warga perlu menjalankan aturan tersebut sesuai situasi kondisi spesifik mereka. Dengan demikian, setiap warga berbeda-beda dalam prakteknya. Perbedaan dalam kebaikan ini menghasilkan suatu karya sampai maha karya oleh warga kota.

Kebahagiaan Sejati

Bahagia sejati, bagi Farabi, adalah kebahagiaan di akhirat. Sementara, kebahagiaan di dunia adalah pancaran dari kebahagiaan akhirat.

Berikut 12 kutipan terkenal Al Farabi, dikutip dari Medium:

He who speaks well does not hear bad words from anyone (Orang yang berbicara dengan baik tidak akan mendengar kata-kata buruk dari siapa pun)

Society coheres with love, lives with justice and survives with honest work (Masyarakat bersatu dengan kasih, hidup dengan keadilan dan bertahan dengan kerja yang jujur)

Long speaking people need to be listened to short (Orang yang berbicara panjang perlu didengarkan sebentar saja)

The greatest of virtues is science (Kebajikan terbesar adalah ilmu pengetahuan)

Don’t cry when a good person died. Cry for the society which lost him (Jangan menangis ketika orang baik meninggal. Menangislah untuk masyarakat yang kehilangan dia)

A man becomes a person thanks to the intellect (Seorang pria menjadi seseorang berkat kecerdasannya)

State which established by love, continues with justice (Negara yang didirikan oleh cinta, berlanjut dengan keadilan)

Philosophy precedes a religion in the time (Filsafat mendahului agama pada masanya)

A definition of philosophy and her sense consists in her assignment that it is a science about the being as a being (Definisi filsafat dan pengertiannya terdiri dari penugasannya bahwa itu adalah ilmu tentang makhluk sebagai makhluk)

An art, which has an aim to achieve the beauty, is called a philosophy or in the absolute sense it is named wisdom (Sebuah seni, yang memiliki tujuan untuk mencapai keindahan, disebut filsafat atau dalam arti absolut disebut kebijaksanaan)

To accept something on mere presumption and, likewise, to fail to investigate it may cover over, blind, and lead astray (Menerima sesuatu hanya berdasarkan praduga dan demikian juga, tidak menyelidikinya dapat menutupi, membutakan, dan menyesatkan)

A just city should favor justice and the just, hate tyranny and injustice, and give them both their just deserts (Kota yang adil harus mendukung keadilan dan yang benar, membenci tirani dan ketidakadilan, dan memberikan keduanya tempat yang adil).

Diterbitkan oleh Paman APiQ

Lahir di Tulungagung. Hobi: baca filsafat, berlatih silat, nonton srimulat. Karena Srimulat jarang pentas, diganti dengan baca. Karena berlatih silat berbahaya, diganti badminton. Karena baca filsafat tidak ada masalah, ya lanjut saja. Menyelesaikan pendidikan tinggi di ITB (Institut Teknologi Bandung). Kini bersama keluarga tinggal di Bandung.

Tinggalkan komentar