Waktu akan menjadi saksi. Waktu akan mengungkap segalanya. Manfaatkan waktu dengan tepat. Modal bisa dicari; tenaga kerja bisa ditambah; ruangan bisa diperluas; tetapi waktu sudah pasti terbatas. Setiap orang memperoleh 24 jam tiap hari; 365 hari tiap tahunnya; kita menelusuri waktu dari lahir sampai mati; apa manfaat waktu ini untuk kita?
Bagian 2: Manfaat Waktu
2.1 Daya Masa Depan
2.2 Hikmah Masa Lalu
2.3 Modifikasi Masa Kini
Untuk memanfaatkan waktu dengan baik, kita perlu mengutamakan masa depan; mengutamakan akhir zaman; berpikir futuristik. Masa lalu dan masa kini, berperan penting, memberi kita ketepatan situasi.
2.1 Daya Masa Depan
Masa depan, future, adalah paling utama. Future menarik kita untuk menuju future. Begitu kita sampai future, maka, future sudah melangkah ke lebih masa depan lagi. Kemudian, future itu menarik kita lagi dan seterusnya. Konsekuensinya, seluruh realitas menjadi dinamis bergerak menuju masa depan.
Kabar baiknya, masa depan adalah posibilitas yang luas dan bebas. Sehingga, kita bisa memilih masa depan apa saja sesuai cita-cita masing-masing. Bagaimana pun, ada future yang bersifat pasti, absolut, yaitu akhir zaman atau kiamat: [a] kiamat besar yaitu hancurnya seluruh dunia; [b] kiamat sedang yaitu hancurnya tata surya termasuk bumi; sekitar 20 milyar tahun lagi; [c] kiamat kecil yaitu kematian diri kita masing-masing. Tugas kita adalah memilih akhir terbaik, seperti apa, yang menjadi cita-cita kita?
Selanjutnya, kita bisa memilih cita-cita 10 tahun ke depan, tahun depan, bulan depan, dan pekan depan. Demikianlah, daya masa depan menggerakkan kita untuk maju. Andai tidak ada masa depan, kita bisa terjebak di masa kini; atau, bahkan, meratapi masa lalu. Karena ada masa depan, maka masa lalu dan masa kini menjadi penuh arti.
[a] Cita Niscaya
Kiamat dan mati adalah niscaya. Kita pasti akan mati. Absolut. Tetapi cara kita menghadapi mati bisa berbeda-beda; cara kita menyambut mati bisa berbeda; perjalanan abadi setelah mati juga bisa berbeda. Apa cita-cita Anda menghadapi mati yang niscaya?
Masing-masing orang bisa memaknai kematian dengan cara berbeda-beda. Kematian adalah proses jiwa berpindah dari mode material ke mode imajinal sampai mode intelektual. Untuk membahas ini, kita perlu mempertimbangkan paradoks perahu Theseus dari mitos Yunani Kuno.
(1) Paradoks Perahu Theseus
Terdapat banyak versi paradoks. Perahu Theseus terdiri dari 100 papan. Setiap hari, kita mengganti 1 papan dengan 1 papan baru lainnya. Setelah 100 hari, seluruh badan perahu sudah diganti dengan papan yang baru. Apakah itu tetap perahu Theseus yang sama? Atau perahu yang berbeda? Jika berbeda, sejak pergantian papan hari ke berapa menjadi perahu berbeda?
Alternatif paradoks bisa berupa dua perahu. Perahu Timur di sebelah timur dan perahu Barat di sebelah barat. Setiap hari, kita menukar 1 papan perahu Timur dengan 1 papan perahu Barat. Setelah 100 hari, seluruh papan, pada kedua perahu, sudah tertukar. Apakah yang di sebelah timur tetap perahu Timur? Atau menjadi perahu Barat? Bila berubah, sejak hari ke berapa?
Heraclitus (500 SM) menyatakan paradoks sungai. “Anda tidak pernah bisa menyeberangi sungai yang sama dua kali.” Ketika Anda menyeberangi sungai kedua kali, air sungai sudah berganti. Dan, Anda sendiri sudah berubah, bertambah umur beberapa menit. Tetapi, ketika di kampung, saya sering menyeberangi sungai yang sama sampai 3 kali. Mau 5 kali juga bisa. Jadi, apa yang sebenarnya terjadi?
Yang sebenarnya terjadi adalah jiwa sebagai penentu realitas individu. Jika Anda mengatakan perahu telah berubah maka Anda sudah berkata benar. Jika Anda mengatakan perahu tidak berubah, perahu tetap sama, maka Anda sudah berkata benar. Begitu juga tentang sungai. Anda mengatakan sungai sudah berubah atau masih tetap maka Anda sudah berkata benar. Bagi mereka yang tidak memiliki jiwa, bagi perahu dan sungai, Anda bebas memberi penilaian: sudah berubah atau masih tetap sama.
Tetapi bagi diri Anda, yang sudah bertambah tua 2 menit untuk menyeberangi sungai kedua kalinya, adalah tetap diri Anda yang sama. Jiwa Anda tetap jiwa Anda. Penambahan usia 2 menit, atau 2 bulan, atau 2 tahun, hanya menambah jiwa Anda makin sempurna.
Ketika Anda kredit motor 2 tahun, sambil membayar angsuran pertama, Anda membawa pulang motor. Bulan kedua Anda wajib membayar cicilan. Anda yang bertambah umur satu bulan ini, yang wajib bayar cicilan, adalah tetap sama dengan Anda yang membawa pulang motor bulan lalu. Anda tetap sama secara hukum, secara ekonomi, dan secara realitas eksistensi individu. Jadi, jiwa Anda tetap sebagai individu yang sama, bahkan makin sempurna.
Suatu saat akan tiba, kita akan mati. Jiwa kita tetap sama dengan diri kita. Yang merasakan nikmat kubur atau siksa kubur adalah tetap jiwa kita yang ini. Semoga kita berada di jalan terang-benderang.
(2) Kematian Fisik
Kematian bukanlah mati sebenarnya. Kematian fisik material adalah perpindahan jiwa dari mode material menuju mode imajinal yang terlepas dari halangan material. Sains materialis menghadapi kesulitan di sini. Karena mereka hanya percaya mode material maka setelah kematian hilang segalanya.
Hawking (1942 – 2018), fisikawan terkenal, pernah mengatakan bahwa setelah kematian adalah gelap semata. Asumsikan itu benar maka kita tidak bisa generalisasi. Kita tidak bisa menyimpulkan bahwa semua kematian adalah gelap semata. Barangkali, ketika meninggal, Hawking mengalami gelap. Satu tahun setelah meninggal, bisa saja dia mengalami cahaya terang. Bahkan, kita dan Hawking tidak tahu apa yang dialami neneknya setelah meninggal: gelap atau cahaya.
Sains materialis tidak berhak mengatakan apa pun tentang nasib jiwa setelah kematian badan. Karena materialis tidak mengakui mode imajinal dan mode intelektual. Mereka hanya boleh klaim, “Kami tidak tahu.”
Sementara itu sains rasionalis, filsafat, agama, dan lain-lain masih boleh terus mengkaji kehidupan setelah kematian badan material. Kematian adalah proses perpindahan jiwa dari dunia material ke dunia imajinal.
(3) Gelisah Menghadapi Mati
Siapa pun orangnya, pernah gelisah menghadapi kematian. Anda merasa gelisah menghadapi kematian Anda. Bayangkan ajal Anda tiba. Apa yang akan terjadi? Bagaimana sakitnya? Sangat menakutkan. Bagaimana nasib Anda setelah mati? Bagaimana nasib anak cucu Anda? Gelisah menghadapi kematian diri.
Ada banyak cara merespon gelisah menghadapi kematian.
[1] Menyibukkan diri dalam kehidupan sehari-hari. Bekerja dari pagi sampai sore. Lanjut dengan kegiatan malam sampai jelang tidur. Bangun tidur pagi hari lalu berangkat kerja lagi. Kita bisa lupa akan kematian. Gelisah hilang karena kita sibuk setiap hari. Tetapi, di sela-sela kesibukan, tiba-tiba gelisah datang juga.
[2] Menyibukkan diri dengan hobi yang membuat Anda benar-benar menyelam di dalamnya. Barangkali hobi seni dan olah raga bisa membuat Anda menikmati flow, mengalir dalam pesona. Bagaimana pun, gelisah ingat mati akan datang sewaktu-waktu.
[3] Beberapa orang menggunakan obat penenang agar tidak gelisah. Hati-hati karena resiko tinggi. Sebaiknya dihindari. Gelisah tetap datang lagi.
[4] Mendalami praktek agama atau meditasi bisa membuat hati tenang. Merenungi kitab suci, membaca doa dini hari, dan ibadah jasmani mau pun ruhani. Keunggulan agama adalah mampu membimbing umat untuk menghadapi kematian dan menerangi jalan setelah mati. Sesekali, gelisah akan mampir lagi.
[5] Menerima gelisah itu sendiri. Kemudian, memaknai gelisah dengan baik. Setiap gelisah datang, maknanya adalah sedang ada ketukan ke dalam diri. Ada panggilan nurani untuk menciptakan arti bagi dunia dan semua yang ada baik di masa depan, masa lalu, mau pun masa kini. Respon ini, berupa siap menerima gelisah, adalah respon yang otentik.
Heidegger (1889 – 1976) banyak membahas tema gelisah menghadapi kematian. Kita pasti akan mati. Lebih dari itu, kita memang butuh mati. Dengan mati, semua perjalanan hidup menjadi ada arti. Mati adalah yang memberi arti kepada setiap detik diri Anda. Mati adalah titik akhir yang menjadi referensi. Mati menjadikan diri kita utuh sempurna.
Tanpa kematian maka semua kehilangan makna. Anda bisa merevisi semua kerja Anda di masa depan, kapan saja, karena tidak akan mati. Semua tak ada guna. Atau, misal, setiap orang bisa mati kemudian bisa hidup lagi maka semua makna juga sirna. Seperti main game, setiap mati boleh mulai lagi. Hidup ini jadi sekedar game belaka. Justru karena Anda pasti akan mati maka hidup ini menjadi penuh arti. Dan, mati itu sendiri penuh arti. Hidup cukup satu kali, berarti, lalu mati.
Mati adalah niscaya dan kita perlu menerimanya dengan memberi makna. Kita bisa memaknai ajal dalam tiga tahap: pra-ajal, ketika-ajal, dan pasca-ajal.
Tahap (1): pra-ajal. Ajal adalah referensi bagi seluruh kehidupan. Seluruh kehidupan pra-ajal mengacu kepada ajal. Makna bisa beragam. Tetapi ajal adalah pasti bagi setiap orang. Sehingga, ajal adalah referensi paling pasti.
Orang yang tiba ajalnya, mati, sebagai pahlawan maka dia adalah pahlawan. Meski dalam hidupnya, dia pernah jadi pecundang, pernah jadi penjahat, pernah berbuat dosa, itu semua adalah pengantar bagi dirinya untuk menjadi pahlawan. Kita menyebut orang yang mati dengan baik sebagai husnul khatimah atau akhiran baik. Kita seharusnya mengejar cita-cita untuk meraih akhiran baik.
Kita perlu waspada terhadap ilusi masa lalu dan menggantinya dengan logika futuristik. Karena masa lalu, dia adalah orang baik maka saat ini dia adalah orang baik. Bisa hanya ilusi itu. Atau, karena di masa lalu, dia adalah orang jahat maka dia adalah orang jahat. Bisa ilusi juga ini. Sebaliknya dari masa lalu, kita perlu berpikir masa depan: logika futuristik. Karena dia sedang mengejar masa depan yang baik, misal husnul khatimah, maka dia adalah orang baik. Kesimpulan yang tepat tetapi belum tentu benar. Mengapa?
Jawabannya: karena kita tidak tahu masa depan yang dia kejar apakah benar-benar baik. Jadi, penilaian kita terhadap dia besifat fallible, bisa saja salah. Justru, karena fallible maka kita perlu lebih teliti. Kita berpikir dengan sikap terbuka terhadap masa depan. Dalam beberapa kasus, kita perlu musyawarah dan demokrasi untuk bisa menentukan masa depan orang atau masa depan masyarakat. Meski demikian, hasil musyawarah tetap fallible dan, diharapkan, bisa lebih baik.
Untuk kepentingan penilaian pribadi, logika futuristik lebih efektif. Anda bisa menetapkan bahwa tujuan Anda ketika ajal adalah akhiran baik. Karena itu, Anda saat ini menjadi orang baik. Karena ajal bisa datang 10 tahun lagi atau hari ini, maka kita perlu bersikap baik kapan pun. Target futuristik bisa kita buat secara bertahap: 7 tahun lagi saya akan menjadi pengusaha sukses; 4 tahun lagi saya lulus sarjana; 1 tahun lagi saya menyelesaikan proyek besar; 1 bulan lagi saya membuat ringkasan buku Logika Futuristik; 1 hari lagi saya memenuhi janji; dan saat ini saya sedang menuju masa depan itu.
Masa depan menarik diri kita untuk menuju masa depan. Masa lalu hanya menyiapkan diri kita agar kita bisa maju menuju masa depan. Jadi, masa depan adalah yang paling berarti setiap hari. Bersiaplah untuk meraih akhiran yang baik. Masa depan bisa saja tidak pasti. Tetapi, mati adalah pasti.
Ringkasnya, makna mati bagi kehidupan pra-ajal adalah sebagai kekuatan maha dahsyat yang menarik semua kehidupan individu untuk mendekatinya dan memeluknya. Sekaligus, mati adalah referensi bagi semua arti dalam hidup ini. Ingat selalu, kita pasti akan mati. Mati adalah sempurna.
Tahap (2): ketika-ajal. Ajal terjadi ketika mode imajinal begitu kuat sehingga mode material tidak lagi memadai. Umumnya, orang mati karena sudah tua. Badannya jadi lemah. Akhirnya, mati. Atau, orang muda bisa saja tiba-tiba mati: karena serangan jantung; karena kecelakaan; karena diserang lawan.
Orang menduga kematian disebabkan oleh tubuh yang gagal berfungsi, misal, gagal jantung. Karena jantung tidak bisa lagi mengalirkan darah ke seluruh tubuh maka orang tersebut menjadi mati. Bila demikian, kondisi hidup seseorang ditentukan oleh badannya. Kondisi diferensia, yaitu jiwa, ditentukan oleh genus, yaitu badan misal jantung. Asumsi seperti ini salah. Karena diferensia adalah realitas eksistensi konkret yaitu jiwa. Jadi, seharusnya dan memang, jiwa adalah yang menentukan seseorang sebagai hidup atau sudah mati.
Pandangan yang lebih benar adalah ajal terjadi ketika jiwa terus bergerak menyempurna sehingga realitas eksistensi jiwa makin tinggi dan intensifikasi substansialitasnya makin kuat. Konsekuensinya, jiwa menjadi mandiri dari badan material dan badan material tidak sanggup lagi mengikuti kemajuan jiwa. Mereka, jiwa dan badan, terpisah: terjadilah kematian. Dengan demikian, mati adalah pasti, niscaya, karena gerak substansial menyempurna adalah niscaya. Jiwa melanjutkan karir untuk gerak lebih sempurna. Badan berubah menjadi daging dan tulang, tanpa jiwa, kemudian melanjutkan siklus alamiah: dikubur, diurai oleh mikroba, dan seterusnya.
Bagaimana rasanya ketika jiwa berpisah dengan badan? Banyak sudut pandang untuk menjawab ini. Tentu saja, jawaban ini bersifat spesial. Mereka yang pernah mengalami tidak bisa bersaksi. Sedangkan, mereka yang bersaksi pasti belum berpengalaman. Bagaimana pun, kita bisa analisis rasional dan mengembangkan interpretasi.
Orang jahat akan merasakan kematian dengan rasa sakit dan derita. Sementara, orang baik akan merasakan kematian sebagai proses yang lembut. Kematian adalah proses bagi jiwa berpindah dari mode material ke mode imajinal; menuju mode eksistensi yang sepenuhnya terbebas dari mode material; atau memiliki badan yang berbeda dengan mode material.
Tahap (3): pasca-ajal. Karir jiwa kita di alam setelah kematian. Pembahasan tema ini makin spesial. Kita membutuhkan rujukan ke ajaran agama dan filsafat.
[1] Plato, Aristo, dan pemikir kuno tampak mudah saja membahas filsafat dan agama. Kisah dewa-dewa Yunani bisa saling berhubungan dengan konsep filsafat. Mereka baik-baik saja.
[2] Farabi (870 – 950) meyakini bahwa filsafat dan agama mengajarkan hakekat kebenaran yang sama. Hanya saja, pendekatan berbeda. Agama menggunakan bahasa perlambang. Sementara, filsafat menggunakan bahasa rasional. Tentu saja, sering terjadi titik temu bahasa perlambang dan rasional pada agama dan filsafat.
[3] Hegel (1770 – 1830) meyakini filsafat dan agama seiring sejalan. Hanya saja, proses dialektika terus berlanjut. Filsafat adalah proses dialektika paling matang.
[4] Sadra (1572 – 1640) meyakini agama dan filsafat adalah sama-sama kebenaran tertinggi. Para tokoh agama memiliki karunia kemampuan “membaca” perlambang dan menuangkan ke bentuk ajaran yang lebih jelas. Sementara, tokoh filsafat “membaca” perlambang dengan kemampuan rasional maksimal. Pada gilirannya, filsafat tetap membutuhkan bimbingan agama. Bagaimana pun, kita tetap perlu waspada karena ajaran agama sering dibelokkan pihak tertentu untuk kepentingan yang tidak layak.
[5] Charles Taylor (1931 – ) melihat bahwa sekularisasi telah memisahkan agama dari beragam sisi kehidupan manusia. Termasuk memisahkan agama dengan filsafat. Tetapi, pemisahan ini tidak selalu berhasil. Atau, sekularisasi tetap saja bisa bersanding dengan agama secara baik. Jadi, saat ini, kita tetap membutuhkan agama. Bahkan, kita makin membutuhkan agama.
Pasca-ajal, jiwa melanjutkan karir ke masa depan yang panjang. Bahkan, masa depan abadi. Pasca-ajal adalah mode imajinal dan mode intelektual yang lebih tinggi dari ruang dan waktu. Sehingga, ketika kita melibatkan ruang waktu maka hanya perlambang.
[a] Mode material. Sesaat setelah kematian, jiwa kita masih sama persis dengan ketika masih hidup di mode material. Jiwa memiliki memori yang kuat sebagai mode material. Jiwa memiliki badan, tangan, dan kaki yang sama seperti semula. Jiwa kita ingat akan anak, cucu, tetangga, sahabat, dan semua yang berhubungan dengannya.
[b] Pembersihan material. Seiring waktu, jiwa membersihkan diri dari ikatan-ikatan material. Mode imajinal makin menguat. Ilusi-ilusi material mulai tersingkap. Salah terlihat salah. Benar terlihat benar.
[c] Mode imajinal. Persepsi jiwa makin bening. Tak ada lagi penghalang material. Jiwa sepenuhnya dalam mode imajinal dengan badan imajinal yang bersesuaian. Jiwa kita memiliki badan yang sama dengan ketika di bumi. Hanya saja, badan imajinal lebih sempurna.
Ketika di bumi, dulu, Anda pernah memberi makan anak yatim yang miskin. Dalam mode imajinal, Anda melihat peristiwa itu dengan lebih bening. Anak yatim tersenyum bahagia memberi salam ke Anda. Anda makin bahagia. Peristiwa itu menjelma menjadi surga yang indah. Anda bisa makan, minum, dan menikmati apa saja yang Anda inginkan. Bahagia tiada tara.
Sebaliknya, pencuri yang korupsi uang sambil terbahak-terbahak melihat peristiwa korupsi itu lebih bening. Korupsi adalah api neraka. Pencuri itu tersiksa dalam kobaran api neraka yang dia buat sendiri ketika di bumi. Derita yang teramat pedih.
Kita berpikir dari bumi, di sini, masih ada problem dalam mode imajinal. Bagaimana jika suami berada di surga sedangkan istrinya ada di neraka?
Tentu saja, suami bisa hidup di surga penuh bahagia dikelilingi bidadari yang lebih cantik dari semua wanita di bumi. Suami itu sudah bisa melupakan istrinya yang di neraka. Lagi pula, istri masuk neraka karena bandel tetap berbuat dosa padahal sudah dinasehati oleh suami. Bagaimana pun, cinta suami kepada istri membuat suami rindu kepada istrinya. Puluhan bidadari bahkan ratusan bidadari tak sanggup menjadi ganti. Apa yang bisa dilakukan oleh sang suami?
Problem sebaliknya lebih rumit. Istri berada di surga sedangkan suami ada di neraka. Istri hidup bahagia tetapi suami dalam derita. Istri ditemani bidadara (bidadari pria) yang lebih tampan dari seluruh pria di dunia. Tetapi, istri tidak bisa jatuh cinta kepada bidadara. Cintanya hanya satu, untuk suami yang sedang di neraka. Andai bidadara itu dibuat sama persis dengan suaminya, tetap saja, istri itu hanya rindu kepada suami. Apa yang bisa dilakukan oleh sang istri?
Kita, yang di bumi ini, tidak mampu menemukan solusi. Bagaimana pun, mereka yang di mode imajinal menemukan solusinya sendiri.
[d] Mode intelektual. Sedikit orang melanjutkan perjalanan mendapat karunia menjadi penduduk mode intelektual. Bagi sebagian besar orang, hidup bahagia di surga mode imajinal adalah sudah lebih dari cukup. Memang benar, lebih dari cukup. Semua kebahagiaan dan kenikmatan ada di mode imajinal lebih nikmat dari seluruh kenikmatan dunia.
[e] Insan Kamil, atau Kamil adalah penduduk mode intelektual. Kamil adalah surga tertinggi paling dekat dengan Tuhan. Hanya manusia sempurna, Kamil saja, yang bisa sampai singgasana di sana. Kamil merangkul seluruh semesta untuk menghadap Tuhan. Dari satu sisi, Kamil adalah pemimpin bijak bagi semesta. Dari sisi lain, Kamil adalah manifestasi Nama Indah Tuhan.
Kamil sudah hadir di bumi ini. Kamil berada dalam mode intelektual yang melindungi mode imajinal dan mode material. Kamil adalah penjaga bumi dan alam raya ini. Dalam hidup dan mati, kamil terus-menerus berkontribusi. Kamil menebarkan legasi. Kita perlu untuk terus peduli tentang legasi. Di bagian selanjutnya, kita akan membahas lebih detil lagi.
[b] Cita Jangka Panjang
Kita perlu menetapkan cita jangka panjang; 5 tahun atau 10 tahun atau lebih jauh lagi. Kita bisa mengajukan pertanyaan apa cita Anda: (1) profesional; (2) personal-sosial; (3) mahakarya?
(1) Profesional
Apa cita profesional Anda dalam 10 atau 20 tahun ke depan?
Barangkali Anda ingin menduduki posisi strategis; atau, Anda ingin pensiun. Barangkali Anda ingin mengembangkan jaringan bisnis; mendominasi pasar; meraup untung besar. Barangkali Anda mencukupkan karir profesional sampai tahap tertentu; lalu memanfaatkan waktu luang untuk kesibukan lain; ada banyak pilihan untuk masa depan Anda.
Setelah memilih cita profesional, berikutnya, mantapkan tekad dan komitmen untuk meraihnya. Ijinkan pengalaman masa lalu dan situasi masa kini mendukung Anda untuk mencapai masa depan itu. Rintangan terjadi di sana-sini adalah biasa. Tetap tekad kuat mengejar cita. Justru rintangan-rintangan ini menjadi bumbu agar perjuangan lebih seru.
Perlu kita ingat bahwa cita-jangka-panjang, misal ingin jadi pejabat, bersifat posibel atau kemungkinan; bukan niscaya; beda dengan kematian yang pasti terjadi. Karena itu, di satu sisi, kita perlu komitmen; di sisi lain, kita perlu fleksibel. Cita-jangka-panjang masih bisa berubah. Teknologi, misalnya, bisa berubah ekstrem. Pak Andi bercita-cita menjadi pengusaha produsen telepon rumah waktu itu. Tetapi, teknologi telepon rumah nyaris tidak dipakai lagi saat ini. Pak Andi perlu fleksibel; barangkali mengubah cita-jangka-panjang, misal menjadi produsen hp atau gawai atau lainnya.
(2) Personal-Sosial
Cita personal sangat penting menjadi pelengkap bagi cita profesional sehingga menjadi imbang. Kebahagiaan Anda, makna hidup Anda, dan kedamaian Anda lebih ditentukan oleh kualitas hidup personal-sosial Anda. Sukses karir profesional hanya sekedar penunjang untuk hidup bermakna secara personal.
Tetapkan cita-jangka-panjang hidup personal Anda bersama keluarga; bersama orang tua; bersama pasangan suami istri; bersama anak-anak; dan bersama masyarakat sekitar Anda. Barangkali, Anda bercita, 10 tahun ke depan, ingin mendukung anak Anda lulus dari universitas idaman, kemudian, dia berhasil menjalani hidup dengan baik. Sukses anak Anda membuat Anda lebih bahagia, bahkan, dibanding sukses pribadi sendiri. Mantapkan komitmen Anda untuk cita-jangka-panjang ini.
Kehidupan personal memang sering lebih rumit dari kehidupan profesional. Jika Anda tidak cocok dengan karyawan maka Anda bisa memecat karyawan itu diganti dengan karyawan lain. Tetapi, Anda tidak bisa memecat anak Anda atau pasangan Anda meski terjadi beragam konflik. Setiap konflik, justru, harus menguatkan relasi Anda dengan anak atau pasangan dalam jangka panjang. Memang, sukses relasi personal-sosial ini akan menjadikan hidup kita penuh makna dan bahagia. Benar-benar layak untuk kita perjuangkan.
Bagaimana pun, cita-jangka-panjang personal bersifat posibel; bukan niscaya. Sehingga, kita butuh keduanya: komitmen kuat dan tetap fleksibel sesuai situasi nyata.
(3) Mahakarya
Setiap orang, termasuk diri kita, memiliki kesempatan untuk mempersembahkan mahakarya. Apa mahakarya Anda dalam 10 atau 30 tahun ke depan? Hidup satu kali; berarti; lalu mati.
Cita-jangka-panjang cukup menyulitkan kita karena kita harus peduli, berpikir, dan komitmen. Beda dengan cita-niscaya misal kematian yang pasti terjadi; tidak perlu berpikir apa pun, pada akhirnya, setiap orang akan mati. Cita-jangka-panjang adalah bentuk konkret dari cita-cita kita; bentuk konkret untuk menyambut kematian yang niscaya sehingga penuh makna; meraih akhir yang baik secara nyata.
[c] Cita Jangka Pendek
Apa cita 1 tahun ke depan atau pekan depan Anda?
Cita-jangka-pendek bersifat sangat dinamis menyesuaikan situasi. Kita bisa membuat beragam cita. Cita, goal, dan rencana 1 pekan ke depan, menurut saya, adalah paling penting. Buat rencana 1 pekan ke depan meliputi profesional, personal, dan mahakarya; bisa berupa catatan di kertas atau pun catatan digital. Komitmen, fleksibel, dan jeli melihat segala situasi. Barangkali, kita perlu revisi berkali-kali catatan rencana mingguan ini. Kita perlu menjamin bahwa rencana mingguan ini selaras dengan cita-jangka-panjang dan cita niscaya.
Dengan rencana mingguan, kita mampu merespon segala situasi dengan bijak. Kita tidak dipermainkan oleh situasi; kita tidak dipaksa oleh pihak luar; kita tidak diombang-ambingkan persoalan. Kita mempelajari situasi dengan teliti; mempertimbangkan cita masa depan; kemudian bersikap dengan tepat.
2.2 Hikmah Masa Lalu
Masa lalu adalah sumber hikmah. Masa lalu adalah guru. Masa lalu adalah bekal untuk maju.
[a] Penjara Masa Lalu
Masa lalu menjadi penjara bagi sebagian besar orang. Karena memang sudah berlalu maka tidak bisa diubah lagi. Padahal, kita bisa mengubah masa lalu dengan cara mengubah masa depan. Bila ada orang bersikukuh bahwa masa lalu tidak bisa diubah maka dia benar; karena dia menempatkan masa lalu sebagai masa depan; dia tidak mau mengubah masa depan; konsekuensinya, masa lalu memang tidak berubah.
Perjuangan pahit di masa lalu menjadi berbuah manis di masa depan. Kenangan masa lalu itu penuh haru. Penjara masa lalu berubah menjadi padepokan masa lalu; sasana masa lalu; pembelajaran masa lalu; ketika memperoleh cemerlang sinaran masa depan.
[b] Mengubah Masa Lalu
Cara mengubah masa lalu adalah dengan mengubah masa depan. Karena, kita membaca masa lalu berdasar acuan masa depan; bukan sebaliknya, bukan membaca masa depan berdasar masa lalu. Beratnya latihan pagi setiap hari; bangun sebelum subuh; bersiap-siap; kemudian disiplin berlatih. Beberapa puluh tahun kemudian, dia berhasil menjadi juara badminton nasional bahkan internasional. Dia mengubah masa lalu dengan meraih masa depan sebagai juara badminton.
Andai, bocah itu tidak jadi juara badminton; bocah itu malah luntang-lantung pengangguran tidak karuan; maka, masa lalunya yang berat itu menjadi sia-sia. Tetapi, bocah itu mengubah masa lalu dengan cara meraih juara badminton di masa depan. Dia mengubah masa lalu dengan cara meraih cita masa depan.
Bagaimana pun, juara badminton itu akan segera menjadi masa lalu. Apa cita masa depan bocah itu? Bila masa depan bocah itu, setelah juara badminton, justru berantakan maka dia merusak seluruh masa lalunya. Tetapi, jika masa depan bocah itu makin cemerlang maka dia mengubah masa lalu menjadi makin bermakna. Apa masa lalu yang ingin Anda ubah? Cita masa depan apa yang akan mengubah masa lalu Anda? Komitmen apa yang akan Anda kuatkan?
[c] Bekal Sejarah
Kita lahir dari sejarah; kita lahir dari ibu dan bapak kita. Sejarah adalah anugerah. Tentu saja, ada orang yang kecewa dengan sejarah dirinya; terlahir dari keluarga miskin; terlahir di wilayah terbelakang dan lain-lain yang serba tidak menguntungkan. Bukan sejarah yang jadi masalah; tetapi, bagaimana kita meraih masa depan berbekal sejarah adalah paling utama.
Seseorang bisa terlahir dari keluarga miskin. Bila, ketika dewasa, ia menjadi orang sukses maka dia sudah mengukir sejarah baru. Dia berhasil mengangkat derajat keluarga. Sejarah masa lalu menjadi kenangan yang indah.
Orang bisa saja menempatkan sejarah di posisi cita masa depan. Karena dia terlahir miskin maka tuanya akan jadi miskin. Dia yakin, di masa depan, akan tetap jadi orang miskin. Tentu saja, dia bisa benar. Padahal dia memiliki kesempatan untuk meraih masa depan cemerlang. Siapa pun kita, pasti, memiliki peluang untuk meraih masa depan cemerlang.
Jadi urutannya adalah tetapkan cita masa depan; kemudian, tatap sejarah; dan belajar dari sejarah. Anda menciptakan sejarah masa depan, yang indah, dengan berbekal sejarah masa lalu. Kita bisa meluaskan makna sejarah: sejarah orang lain; sejarah bangsa lain; sejarah peradaban lain.
[d] Gudang Budaya
Bekal sejarah yang selalu dekat dengan kita adalah bahasa. Kita hanya bisa berkembang dengan bantuan bahasa. Tanpa bahasa, apa yang bisa kita kembangkan? Bahasa adalah media komunikasi dan, di saat yang sama, adalah gudang budaya bagi seluruh umat manusia sepanjang sejarah.
[e] Masa Membentang
Waktu adalah bentangan masa depan, masa lalu, dan masa kini. Kita tidak cukup memandang waktu hanya sebagai sebuah titik waktu. Kita butuh memandang waktu sebagai bentangan waktu. Masa depan membentang ke masa lalu, kemudian, menarik masa lalu bergerak menuju masa depan dengan menyusuri masa kini.
2.3 Modifikasi Masa Kini
Tugas paling jelas adalah kita perlu modifikasi masa kini agar selaras dengan masa depan dan berbekal dari masa lalu. Kita butuh bekal untuk modifikasi masa kini yaitu butuh teknologi. Teknologi adalah teman sejati bagi umat manusia.
[a] Relasi
Teknologi adalah relasi, atau hubungan, antara manusia dan dunia. Kita selalu hidup bersama teknologi; dan teknologi hadir karena ada peran kreatif manusia. Lebih dari itu, teknologi menghubungkan situasi masa kini dengan posibilitas masa depan dan hikmah masa lalu. Dengan demikian, kita selalu bisa modifikasi teknologi yang ada agar selaras dengan cita masa depan, misal untuk meraih akhiran baik atau husnul khatimah.
Hati-hati, jangan terbalik melihat teknologi. Jangan sampai kita terjebak dengan teknologi dalam penjara masa kini. Justru, kita perlu modifikasi setiap teknologi agar mengantar kita meraih cita tertinggi nilai-nilai manusiawi. Jadi, kita selalu bisa memanfaatkan teknologi, baik yang sederhana mau pun canggih, untuk meraih cita masa depan. Mengapa selalu bisa? Karena, seperti kita sudah bahas di atas, masa depan yang menarik masa kini untuk menuju masa depan. Teknologi adalah relasi yang menghubungan masa depan dengan masa kini dan hikmah masa lalu.
[b] Interpretasi
Problem utama dari teknologi adalah interpretasi. Banyak orang mengira, melakukan interpretasi, teknologi sebagai alat atau sebagai suatu tujuan. Tetapi, teknologi lebih dari sekedar alat mau pun tujuan; teknologi adalah teman sejati bagi umat manusia.
Masalahnya, setiap interpretasi adalah valid dalam konteks masing-masing yang tepat. Ketika seseorang mengira teknologi adalah sebuah alat maka teknologi benar-benar menjadi alat. Hanya saja, terdapat resiko, pada waktunya, teknologi akan memperalat balik orang-orang itu. Demikian juga, ketika seseorang menilai teknologi sebagai tujuan maka teknologi akan menjebak orang itu dalam kurungan teknologi; teknologi sebagai tujuan berubah menjadi penjara bagi manusia. Kita perlu melangkah lebih jauh; menganggap teknologi sebagai teman sejati; teman untuk meraih cita masa depan sejati.
[c] Realitas Dunia
Teknologi membentuk realitas dunia yang baru; mengubah dunia lama menjadi dunia baru. Meski demikian, teknologi tidak bertanggung jawab atas perubahan realitas dunia itu. Tetapi, kita, sebagai manusia, justru harus bertanggung jawab atas semua perubahan realitas dunia ini. Apakah perubahan itu membawa kebaikan?
Manusia Beruntung
Hanya manusia yang memanfaatkan waktu dengan baik, mereka itu, adalah sebagai manusia beruntung. Sebagian besar manusia rugi; hanya sedikit orang yang beruntung; membentang bersama bentangan masa. Berikutnya, kita akan membahas kriteria orang-orang spesial yang beruntung itu.
[1] Yakin dan Komitmen
Orang beruntung adalah orang yang yakin dan komitmen penuh kepada akhir zaman absolut; yakin terhadap kiamat [a] besar, [b] kiamat sedang, dan [c] kiamat kecil. Kiamat besar, berupa hancurnya seluruh alam semesta, berimplikasi kepada kiamat sedang, yaitu hancurnya tata surya, dan kiamat kecil, yaitu kematian seorang manusia.
Setiap orang, termasuk kita, pasti mengalami kiamat kecil yaitu kematian diri kita; mati adalah cita-niscaya bagi setiap orang; mati adalah masa depan niscaya bagi kita. Orang yang beruntung yakin terhadap cita-niscaya ini dan komitmen tinggi untuk meraih akhir yang baik yaitu husnul khatimah. Cita-niscaya adalah gerbang cahaya untuk perjalanan panjang berikutnya.
[2] Kerja dan Mahakarya
Cita-niscaya yang ada di masa depan itu menyinari masa lalu sehingga terpancar hikmah. Kemudian, orang yang beruntung akan bekerja dan mempersembahkan mahakarya berdasar cita-niscaya masa depan dan hikmah masa lalu.
Kerja adalah menebarkan kebaikan kepada manusia dan semesta dengan cara modifikasi teknologi masa kini. Kerja yang diiringi peduli, dari dalam hati, akan membuahkan suatu karya unik seseorang. Komitmen yang kuat dari orang yang beruntung itu, akan mengantarkan hasil kerja, berproses, menjadi mahakarya. Apa mahakarya Anda?
[3] Terbuka Berbagi [a] Kebenaran dan [b] Sabar
Hidup ini sederhana dan, di saat yang sama, kompleks. Orang yang beruntung selalu berpikir-terbuka untuk berbagi “kebenaran.” Kita yakin bahwa diri kita memiliki suatu kebenaran; sehingga, kebenaran ini kita jaga penuh komitmen sampai masa depan. Di saat yang sama, kita yakin bahwa orang lain bisa saja memiliki kebenaran yang berbeda dengan keyakinan kita. Karena itu, kita bersikap terbuka untuk berbagi dan dialog. Bisa jadi akan tercipta kesepakatan antara kita dan mereka; bisa juga tidak sepakat; tidak masalah; karena kita tetap bisa saling respek.
Berikutnya, kita berbagi tentang “sabar” dengan cara yang “sabar.” Tidak ada paksaan dalam keyakinan mau pun pengetahuan. Sehingga, dengan sabar, kita sama-sama menjadi orang yang beruntung; dan menciptakan struktur masyarakat yang beruntung.
Bagaimana menurut Anda?