Mudik ke Udik Futuristik

Mengapa mudik selalu membahagiakan? Mengapa mudik selalu meriah tiap tahun? Mengapa mudik makin asyik?

Karena dengan mudik, kita mengenang masa-masa indah masa lalu. Pesona nostalgia begitu menggoda. Nostalgia bertemu orang tua; bertemu orang yang dicinta; dan bertemu sahabat-sahabat lama; betapa bahagia. Tetapi pesona bahagia mudik bukan karena nostalgia masa lalu; melainkan, mudik menjadi penuh pesona karena menghadirkan nostalgia masa depan; nostalgia udik futuristik. Bagaimana bisa begitu?

Dalam buku Logika Futuristik, saya menyebutkan bahwa manusia berpikir berdasar logika masa depan; kita menempatkan masa depan sebagai paling utama. Demikian juga dalam pengalaman mudik, kita menempatkan nostalgia masa depan sebagai paling utama. Sehingga, mudik makin bertabur pesona bahagia.

1. Menuju Udik
2. Sangkan Paraning Dumadi
3. Udik Futuristik
3.1 Ibu Bapak Futuristik
3.2 Sahabat-Sahabat Tua
3.3 Masa Depan Leluhur
3.4 Doa Generasi Masa Depan
3.5 Rindu Mudik

Dalam buku Logika Futuristik jilid 2, yang berjudul 7 Pintu Anugerah, saya menempatkan sejarah masa depan sebagai Pintu Anugerah Terakhir; Augerah paripurna.

1. Menuju Udik

Secara bahasa, mudik adalah “proses menuju udik” atau proses menuju kampung. Orang-orang Jawa yang hidup di kampung, sebagiannya, merantau ke kota atau ke luar Jawa. Tiba waktu libur lebaran, orang-orang rantau ini pulang menuju kampung; menuju udik; mereka mudik.

Seiring waktu, penggunaan istilah mudik makin berkembang. Orang Betawi, yang tinggal di Ibu Kota Jakarta, bisa saja mudik ke kota Jakarta dari tempat rantau di suatu kampung. Sehingga, konotasi menuju udik, yang seakan-akan kampungan, menjadi lebih bersinar. Mudik bisa saja bermakna menuju kota.

Tetangga saya lahir di kota Bandung, besar di kota Bandung, dan menjadi tua di kota Bandung. Tetangga itu berkata, “Saya ingin mudik tetapi mudik ke mana?” Tampaknya, mudik makin menebarkan pesona daya tarik. Dalam tulisan ini, saya mencoba meluaskan daya tarik makna mudik sampai ke udik futuristik.

2. Sangkan Paraning Dumadi

Kita mengenal ajaran leluhur “sangkan paraning dumadi.” Sebagai manusia, kita perlu berpikir mendalam dari mana kita berasal; dan ke arah mana kita menuju akhir; ke mana kita mudik futuristik?

Kitab suci mengajarkan, “Sesungguhnya kita adalah milik dari Tuhan; dan sesungguhnya kita kembali kepada Nya.”

Sangkan, titik awal, eksistensi diri kita adalah anugerah dari Tuhan. Barangkali, kita tidak ingat akan sangkan berupa anugerah dari Tuhan ini. Kenangan kehidupan bayi diri kita ketika usia 1 atau 2 bulan saja, kita tidak ingat. Wajar bila kita tidak ingat tentang sangkan. Bagaimana pun, kita selalu bisa merenungi tentang sangkan sebagai anugerah Tuhan.

Paran, atau tujuan akhir, kita bisa memikirkannya. Bahkan, kita perlu merencanakan paran terbaik yaitu akhiran baik bagi diri kita. Paran bersifat personal, sosial, dan natural. Kita sendiri adalah dumadi; yaitu eksistensi konkret sebagai manusia alamiah yang hidup berbudaya; dan mati ketika waktu tiba.

3. Udik Futuristik

Mengapa mudik begitu membahagiakan? Karena dengan mudik, kita sedang menuju nostalgia masa depan; menuju udik futuristik. Kita mengira, dengan mudik, sedang menuju kenangan masa lalu. Sejatinya, kita sedang menyusuri masa depan saat menjalani mudik.


3.1 Ibu Bapak Futuristik
3.2 Sahabat-Sahabat Tua
3.3 Masa Depan Leluhur
3.4 Doa Generasi Masa Depan
3.5 Rindu Mudik

Bagaimana menurut Anda?

Anugerah Sejarah

Sejarah berlimpah hikmah. Orang yang belajar sejarah memperoleh butiran-butiran permata hikmah. Mereka yang tidak mau belajar dari sejarah akan dipaksa mengulangi kesalahan sejarah; dalam beragam variasi sejarah; dalam beragam makna sejarah. Tetapi, bagaimana cara kita belajar dari sejarah? Agar memperoleh sekarung hikmah?

Dalam buku “7 Pintu Anugerah,” saya menempatkan tema sejarah sebagai pintu ke-7; pintu terakhir; pintu paling penting untuk meraih hikmah. Berikut beberapa poin penting hikmah dari anugerah sejarah.

[a] Sejarah Masa Depan. Umumnya, kita memandang sejarah sebagai kejadian masa lalu; tetapi, kita perlu menguatkan perspektif masa depan dalam membaca sejarah; perspektif futuristik. Dengan demikian, kita lebih fokus kepada hikmah masa depan dari setiap sejarah.

Misal kita membaca sejarah proklamasi 1945; apa hikmah masa depan?

Pejuang kemerdekaan tetap semangat berjuang meski hanya bermodal bambu runcing; hanya modal seadanya; hanya kemampuan sederhana. Hikmah masa depan: kita bisa meneladani semangat para pejuang untuk mengembangkan kebaikan bersama di masa depan; sejak saat ini; meski terdapat banyak keterbatasan.

[b] Posibilitas Masa Depan. Ketika membaca sejarah maka apa saja posibilitas masa depan yang terbuka? Apa saja peluang masa depan yang ada? Apa saja kebaikan masa depan yang bisa kita kembangkan? Tentu kita akan menemukan banyak posibilitas kebaikan masa depan. Kita bisa mengembangkan beragam kreativitas dengan inspirasi dari sejarah.

[c] Kritik Sejarah. Bisa jadi, kadang-kadang, kita membaca sejarah dengan cara kritis. Kita berniat “meluruskan” sejarah yang selama ini tampak ditutupi oleh kebohongan atau kesalahan. Meski demikian, kita tetap perlu waspada terhadap niat diri kita; Apa maksud terdalam dari niat kita? Apa saja asumsi tersembunyi dari niat kita? Apa konsekuensi masa depan dari niat kita? Apa saja beragam alternatif masa depan yang mungkin dikembangkan?

Dengan waspada terhadap niat masa depan, kita tetap bisa memperoleh hikmah meski mengkaji sejarah secara kritis. Lebih-lebih, bila kita berniat menemukan inspirasi dari sejarah maka butiran permata hikmah akan bertaburan berlimpah.

Bagaimana menurut Anda?

Anugerah Urip

Hidup ini penuh bahagia; penuh makna; penuh pesona.

Kadang kala, hidup terasa bagai derita; walau sementara. Kemudian, derita berubah menjadi bahagia. Bagaimana bisa berubah menjadi bahagia? Karena “urip iku urup” – hidup itu menyala.

Dalam buku “7 Pintu Anugerah,” saya menempatkan prinsip “urip iku urup” sebagai pintu ke-6; hampir terakhir. Ajaran dari leluhur ini menyimpan segudang makna bagi kita semua.

[1] Hidup ini bercahaya. Hidup ini bertabur makna; bertabur pesona. Bersiaplah menerima pesona hidup dalam setiap kesempatan. Jangan hanya berhitung untung rugi; jangan hanya mengurusi ekonomi; jangan hanya mau menangnya sendiri. Memang kita perlu mempertimbangkan untung rugi, ekonomi, mau pun kompetisi. Tetapi, dari hal-hal seperti ini, hidup itu lebih tinggi. Bersiaplah untuk selalu bahagia dan penuh makna dalam hidup ini. Anda selalu bisa.

[2] Media sosial dan teknologi adalah realitas hidup setiap hari. Jadikan media sosial untuk mengembangkan hidup Anda lebih bercahaya. Jangan biarkan media sosial menjadi penjara. Media sosial adalah sarana bagi kita untuk berbagi kebaikan kepada sesama. Lebih dari itu, hanya Anda dan umat manusia yang bisa menjadikan media sosial menjadi penuh makna. Tanpa manusia, media sosial menjadi bukan apa-apa. Mari manfaatkan media sosial untuk kebaikan bersama.

[3] Pada waktunya, hidup ini berhenti. Anda akan mati ketika datang suatu hari. Apa yang paling penuh arti dalam hidup ini? Apa yang paling penuh arti ketika Anda mati? Bersiaplah sejak saat ini. Belajarlah dari hikmah masa lalu. Mari songsong masa depan yang memang sudah pasti: kita akan mati.

Bagaimana menurut Anda?

Problem Deduksi vs Problem Induksi

Metode berpikir deduksi dan induksi membantu kita lebih mudah untuk mengambil kesimpulan. Deduksi, kita mulai dari prinsip umum kemudian menarik kesimpulan khusus. “Setiap sapi yang sehat maka berkaki empat.” Dan, “Siputih adalah sapi yang sehat.” Kesimpulan, melalui deduksi, “Siputih berkaki empat.” Deduksi adalah valid.

Sedangkan berpikir induksi bergerak pada arah sebaliknya; dari beberapa pengamatan khusus, kemudian, menarik kesimpulan yang bersifat umum. “Kita melihat 5 sapi yang sehat, semua sapi, masing-masing berkaki empat.” Kesimpulan, berdasar induksi, “Setiap sapi yang sehat maka berkaki empat.”

Saya sudah membahas metode berpikir deduksi dan induksi dalam buku saya “Logika Futuristik.” Silakan merujuk ke buku saya bila diperlukan. Dalam tulisan kali ini, kita akan fokus terhadap problem deduksi dan problem induksi saja.

1. Problem Induksi Hume
2. Problem Deduksi
3. Solusi Falsifikasi Popper
4. Solusi Interpretasi Kuhn
5. Solusi Populasi Statistik

David Hume (1711 -1776) mengajukan problem induksi dan tidak ada solusi tuntas sampai saat ini. Kita akan mengajukan beberapa solusi dalam tulisan ini. Francis Bacon (1561 – 1626), sekitar 100 tahun lebih awal dari Hume, menolak metode deduksi dan menggantinya dengan metode induksi untuk mengembangkan pengetahuan. Apa problem dari deduksi? Kita akan membahasnya plus mengajukan beberapa solusi.

1. Problem Induksi Hume

Menurut Hume, induksi tidak bisa dijustifikasi secara rasional. Justifikasi induksi hanya bersifat probabilitas, psikologis, moral, pragmatis, spiritual, dan lain-lain. Problem justifikasi rasional logis terhadap induksi ini dikenal sebagai problem induksi dari Hume.

Ketika kita sudah melihat “5 sapi sehat, masing-masing berkaki empat” maka “apakah sapi sehat ke 6 juga berkaki empat?”

Tidak ada jaminan bahwa sapi-6 akan berkaki empat. Mungkin saja sapi-6 berkaki empat; tapi bisa jadi sapi-6 tidak berkaki empat. Tidak ada kontradiksi logis dari dua alternatif di atas; masing-masing dari kedua alternatif adalah logis. Sehingga, berpikir induktif terhadap sapi-6 akan selalu problematis secara rasional logis; itulah problem induksi.

2. Problem Deduksi

Kita bisa mengajukan beberapa problem deduksi.

“Setiap sapi sehat maka berkaki empat.”
“Siputih adalah sapi sehat.”

Kesimpulan,
“Siputih adalah berkaki empat.”

[1] Problem Realitas Univesal

Bagaimana kita bisa meyakini klaim,”Setiap sapi sehat berkaki empat?” Karena selalu ada “sapi sehat” yang luput dari pengamatan; misal sapi sehat yang hidup 500 tahun di masa lalu atau di masa depan. Jadi, realitas universal tidak pernah bisa tuntas untuk diamati.

[2] Problem Apriori Aksioma

Kita bisa membuat definisi “sapi sehat adalah sapi yang berkaki empat” secara aksiomatik. Kita menghadapi problem, “Mengapa definisi seperti itu?” Tersedia alternatif definisi sapi sehat misal sapi yang beratnya lebih dari 200 kg; terlepas dari jumlah kaki yang mereka miliki.

[3] Problem Konsekuensi

Asumsikan “semua sapi sehat berkaki empat” berhasil diamati secara tuntas sampai saat ini. Bagaimana konsekuensi masa depan? Apakah sapi sehat di masa depan tetap berkaki empat? Kita tidak yakin dengan situasi masa depan; akibatnya, kita tidak berhasil memastikan klaim universal.

[4] Problem Menyimpulkan

Umumnya, kita menarik kesimpulan deduksi berdasar modus ponen atau logika implikasi. “Modus ponen sah bila premis-premis mereka adalah sah; kita menjamin premis-premis adalah sah; maka modus ponen adalah sah.” Kita mencermati terjadi logika melingkar di sini; logika sirkular.

Barangkali kita bisa berpikir bahwa asumsi awal modus ponen sebagai sah; kemudian, kita berhasil menunjukkan hasil-hasil deduksi yang sah. Tetapi asumsi ini menghadapi logika sirkular lagi.

3. Solusi Falsifikasi Popper

Karl Popper (1902 – 1994) memberi solusi kepada problem induksi berupa falsifikasi. Popper setuju dengan Hume bahwa induksi memiliki problem yang tidak bisa diatasi. Kemudian, Popper menolak induksi sepenuhnya; kita tidak butuh induksi. Kita bisa menerapkan falsifikasi yang berupa metode deduksi.

Karena falsifikasi adalah metode deduksi maka falsifikasi menghadapi problem deduksi seperti kita sebut di atas.

Mari kita ambil contoh konkret apel jatuh bebas berdasar hukum Newton.

[a] Secara deduksi, dari hukum Newton, kecepatan apel adalah percepatan gravitasi kali waktu.

[b] Secara deduksi, akan teramati bahwa kecepatan apel pada t = 0 adalah 0; pada t = 1 adalah 10; pada t = 2 adalah 20.

[c] Dilakukan pengamatan empiris. Hasil pengamatan mungkin saja [c1] sesuai deduksi di atas; kesimpulannya, hukum Newton terkoroborasi makin kuat; atau hasil pengamatan [c2] tidak sesuai dengan deduksi di atas; kesimpulannya, hukum Newton runtuh terfalsifikasi berdasar deduksi.

Kita menghadapi problem deduksi dari falsifikasi di atas. [1] apakah hukum Newton berlaku universal? Tidak. Hukum Newton tidak berlaku untuk quantum mau pun relativitas; [2] mengapa memilih hukum Newton sebagai titik awal? sebagai aksioma apriori? Tersedia alternatif aksioma atau postulat misal mekanika Aristoteles atau mekanika relativitas Einstein; [3] apakah hukum Newton tetap konsisten di masa depan? Tidak ada jaminan. Bahkan, ketika hukum Newton sudah terkoroborasi, tetapi di masa depan, bisa saja runtuh terfalsifikasi. Kita perlu mempertimbangkan solusi interpretasi.

4. Solusi Interpretasi Kuhn

Klaim deduksi menghadapi problem yang tidak bisa diatasi. Kita bisa mengajukan solusi berupa interpretasi.

Makna-deduksi adalah sebuah interpretasi. Deduksi adalah sebuah interpretasi di antara beragam interpretasi lain yang sama kuat atau sama lemahnya.

Thomas Kuhn (1922 – 1996) mengenalkan konsep pergeseran paradigma. Ketika kita mengamati suatu fenomena maka kita memahami dan menafsirkan fenomena berdasar paradigma tertentu. Jika kita menggeser paradigma, mengganti dengan paradigma yang beda, maka kita akan mendapat pemahaman dan interpretasi yang berbeda. Perbedaan ini adalah perbedaan yang revolusioner. Sementara, proses terbentuknya suatu paradigma berupa evolusi kompleks.

Interpretasi adalah bebas. Konsekuensinya, terdapat keragaman interpretasi; mereka perlu saling respek. Karena makna-deduksi adalah sebentuk interpretasi maka akan terdapat keragaman deduksi; kita perlu saling respek. Tentu saja, induksi juga merupakan suatu interpretasi.

Mari kita ambil beberapa contoh pergeseran paradigma.

[1] Revolusi Copernicus

Sejak jaman Aristoteles, masyarakat meyakini paradigma geosentris; bumi adalah pusat alam semesta; rembulan, matahari, planet, dan bintang-bintang bergerak mengitari bumi. Ptolemy (100 -170) mengembangkan sistem astronomis yang akurat berdasar geosentris; mereka bisa menentukan kapan gerhana, musim hujan, musim panas, dan lain-lain.

Copernicus (1473 – 1543) adalah astronomer yang mengkaji Ptolemy (dan Aristo). Copernicus menemukan beberapa kesulitan untuk menentukan pergerakan venus. Untuk menyelesaikan kesulitan itu, kita membutuhkan formula adhoc. Makin lama makin banyak kesulitan dan bertambah formula adhoc. Tetapi, kesulitan-kesulitan itu bisa diatasi dengan menerima paradigma heliosentris, matahari sebagai pusat; bumi dan planet-planet lain berputar mengelilingi matahari.

Heliosentris, paradigma Copernicus, menggeser paradigma lama geosentris yang sudah diterima lebih dari 1500 tahun. Tentu saja, penolakan terhadap heliosentris terjadi di beberapa tempat.

Galileo (1564 – 1642) mengembangkan teknologi teleskop. Galileo percaya dengan heliosentris dan berhasil mengamati, dengan bantuan teleskop, ada satelit yang mengitari planet Yupiter; ada benda langit yang tidak mengitari bumi. Konsekuensinya, paradigma geosentris bisa ditolak dan makin yakin terhadap heliosentris. Bagaimana pun, penolakan terhadap heliosentris masih terjadi di banyak tempat.

Newton (1643 – 1727) berhasil membuktikan heliosentris berdasar analisis matematika, hukum mekanika klasik, dan data astronomis yang tersedia. Secara umum, paradigma heliosentris berhasil menggantikan paradigma geosentris, terhitung, sejak era Newton dan berlaku sampai hari ini.

Pergeseran paradigma heliosentris ini bersifat revolusioner besar-besaran. Pergeseran paradigma bisa saja bersifat lokal, terbatas, meski tetap revolusioner; misal penemuan sel Volta.

[2] Revolusi Volta

Sejak ribuan tahun yang lalu, umat manusia mengenali fenomena listrik pada petir. Energi petir yang sangat besar menyulitkan ilmuwan untuk bisa mengkaji fenomena listrik. Kemudian, ilmuwan berhasil menemukan fenomena listrik pada binatang-binatang tertentu. Binatang-binatang itu bisa menyengat dengan kekuatan listriknya.

Ratusan tahun waktu berlalu, para ilmuwan mengkaji fenomena listrik pada binatang. Tetapi, hanya terjadi sedikit kemajuan.

Galvani (1737 – 1798) berhasil membuat eksperimen listrik dengan menggunakan kaki katak. Eksperimen ini merupakan kemajuan besar karena katak mudah diperoleh sehingga ilmuwan lebih mudah untuk eksperimen.

Volta (1745 – 1827) melangkah lebih jauh dengan menggeser paradigma; meski kaki katak adalah bagian dari hewan hidup tetapi bukan hewan hidup itu yang menghasilkan fenomena listrik. Volta yakin bahwa fenomena listrik dihasilkan oleh materi, fisik atau kimiawi. Dengan paradigma baru itu, Volta melakukan beragam eksperimen listrik tanpa melibatkan binatang.

Singkat cerita, Volta berhasil memunculkan fenomena listrik melalui reaksi kimia tanpa melibatkan binatang. Kelak, kita mengenal eksperimen Volta dengan sebutan sel Volta yang menjadi cikal bakal teknologi batere sebagai sumber listrik.

Volta berhasil menggeser paradigma secara revolusioner yang bersifat lokal; sementara revolusi Copernicus bersifat besar-besaran.

[3] Revolusi Quantum

Umumnya, revolusi quantum bermula pada tahun 1900 ketika Planck mengenalkan konsep energi quantum sebagai satuan energi diskrit terkecil. Paradigma mekanika klasik Newton berasumsi bahwa besaran energi bersifat kontinyu; sehingga, besaran energi adalah bisa sangat kecil mendekati 0. Asumsi kontinyu seperti itu menyebabkan anomali pada radiasi benda hitam tanpa ada solusi. Planck mengusulkan pergeseran paradigma menjadi energi bersifat diskrit, berupa quantum, dan berhasil menyelesaikan anomali.

Pada tahun 1905, Einstein mengusulkan paradigma quantum yang diskrit untuk menyelesaikan anomali efek fotolistrik. Hanya saja, Einstein meyakini sifat diskrit adalah sifat dari obyek itu sendiri yaitu energi. Sementara, Planck meyakini sifat diskrit adalah metode menghitung saja; sedangkan obyek energi tetap kontinyu. Pada tahun 1908, Planck setuju bahwa obyek energi memang bersifat diskrit. Atas pertimbangan ini, Kuhn menilai revolusi quantum bermula pada 1905 oleh Einstein; pandangan umum menyatakan revolusi quantum bermula 1900 oleh Planck.

Revolusi quantum, di atas, bersifat lokal. Tetapi, quantum makin berkembang dan memunculkan lebih banyak revolusi. Bohr mengusulkan kulit atom bersifat diskrit; Schrodinger mengusulkan gelombang quantum sehingga realitas bersifat probabilistik dan superposisi semisal kucing Schrodiger; Heisenberg mengusulkan ketidakpastian quantum secara inheren. Sampai tahap ini, revolusi quantum bersifat besar-besaran.

Kita masih bisa menambahkan revolusi quantum lebih banyak: pelanggaran ineq Bell yang menolak local-hidden-variable dari EPR; sukses eksperimen dari ineq Bell; pengembangan komputer quantum; sukses observasi Higgs Boson; dan lain-lain.

Dari beberapa contoh di atas, terlihat, pergeseran paradigma berkonsekuensi pada perubahan interpretasi dan perubahan deduksi. Pada gilirannya, berkonsekuensi pada perubahan dunia itu sendiri.

Kita perlu respek terhadap keragaman interpretasi ini. Geosentris bernilai tinggi pada konteks historinya; eksperimen listrik pada binatang bernilai tinggi pada konteks historinya; besaran energi sebagai kontinyu juga bernilai tinggi pada konteks historinya. Sampai sekarang, tetap terbuka posibilitas untuk mengembangkan paradigma-paradigma baru atau merevisi paradigma yang pernah ada.

Berpikir secara induksi dan deduksi selalu berkaitan dengan paradigma tertentu dan konteks histori tertentu.

5. Solusi Populasi Statistik

Solusi populasi adalah menerapkan metode induksi dari sample terbatas meluas ke populasi terbatas. Pendekatan ini sudah banyak diterapkan dalam probabilitas dan statistik. Solusi populasi valid karena berupa solusi kompleks yang melibatkan margin error dan derajat keyakinan.

Quick count hanya menghitung 2 ribu TPS yang terbatas; kemudian, melakukan induksi terhadap 800 ribu TPS se-Indonesia; terbukti valid. Dalam kehidupan sehari-hari, koki masak soto 1 panci; kemudian, koki mencicipi sepucuk sendok untuk mengetahui tingkat asin; selanjutnya, melakukan induksi untuk 1 panci soto; terbukti valid.

Catatan Penutup

Deduksi mau pun induksi memiliki keunggulan dan problem masing-masing. Kita membutuhkan keduanya; deduksi dan induksi. Di saat yang sama, kita perlu sadar bahwa semua solusi tetap terbuka terhadap suatu kelemahan. Karena itu, kita perlu terus berpikir terbuka; baik menerapkan deduksi mau pun induksi. Sebagai manusia, kita bertanggung secara moral terhadap semua sikap yang kita pilih. Jadi, problem induksi dan problem deduksi adalah problem manusiawi.

Awal abad 20, Peirce mengenalkan metode abduksi yang melengkapi induksi dan deduksi. Abduksi adalah mempertimbangkan secara sesaksama situasi khusus tertentu untuk, kemudian, menarik kesimpulan khusus tertentu. Kadang, orang menilai abduksi adalah mirip dengan induksi tetapi dari data kasus khusus menuju kesimpulan khusus; bukan kesimpulan umum; data yang tersedia bisa jadi sangat terbatas; kadang hanya data tunggal.

Bagaimana menurut Anda?

Psikologi Agama Era Sekular

Kita berada di era sekular. Meski proses sekularisasi hanya terjadi di Barat; itu pun hanya sebagian dari Barat; tetapi, dampak sekularisasi kita rasakan sampai di sini; di Timur. Secara psikologis, kehidupan agama di masa kini menjadi berbeda dengan masa lalu; karena agama berproses, di era sekular, menjadi makin kompleks. Bagaimana perkembangan, atau kemunduran, agama di era sekular?

1. Psikologi Agama
1.1 Kawan Tanding
1.2 Pengalaman Psikologis Agama
1.3 Batasan Sains Empiris
1.4 Problem
1.5 Solusi
2. Era Sekular
2.1 Makna Sekular
2.2 Kebenaran Imanen
2.3 Peran Transendensi
3. Agama Futuristik
3.1 Agama Akal
3.2 Agama Ekologis
3.3 Agama Absolut

Orang menduga bahwa perkembangan sains mendorong terjadinya sekularisasi; bahkan mendorong ateisme. Dugaan ini tidak tepat. Dengan mudah, kita bisa melihat banyak ilmuwan adalah penganut agama yang saleh. Jadi, sains bukan sebab bagi terjadinya sekularisasi mau pun ateisme. Kita perlu mengkaji fenomena ini lebih mendalam.

1. Psikologi Agama

Mengkaji agama secara psikologis sangat menarik karena agama menjadi pengalaman personal masing-masing orang. Berbeda dengan mengkaji agama secara teologi, filosofi, hukum, ilmiah, atau lainnya. Bagaimana pun kajian agama secara psikologi tetap terbuka dengan perpespektif kajian lainnya.

1.1 Kawan Tanding

Psikologi membahas jiwa, atau ruhani, manusia. Konsekuensinya, banyak titik temu antara psikologi dan agama. Kadang psikologi berlawanan dengan agama; di kesempatan lain, psikologi selaras dengan agama. Psikologi adalah kawan tanding bagi agama.

1.2 Pengalaman Psikologis Agama

Pengalaman beragama bisa beda-beda. Seorang ibu menangis tersedu-sedu dalam khusuknya doa; dia menangis bahagia. Seorang ayah bekerja pantang menyerah demi memberi keluarga nafkah; bekerja adalah ajaran agama bagi dia seorang ayah. Seorang bocah melantunkan bacaan kitab suci menyentuh hati. Apakah pengalaman beragama seperti itu perlu dikaji secara psikologis? Ataukah, pengalaman psikologis perlu dibimbing ajaran agama?

1.3 Batasan Sains Empiris

Sukses sains, di masa kini, diakui hampir oleh seluruh umat manusia. Wajar, bagi manusia, memberi nilai tinggi kepada sains. Ketika sains mengatakan bahwa bulan depan akan terjadi gerhana matahari, maka terbukti benar. Psikologi adalah sains itu sendiri; sains tentang jiwa manusia. Bila sains psikologi berbeda pandangan dengan agama maka mana yang benar?

1.4 Problem

Problem lebih tajam bisa terjadi: psikologi menganggap agama hanya sebagai mitos kanak-kanak dan agama menganggap sains psikologi hanya sebagai opini manusia tersesat. Benturan ini memaksa banyak orang harus memilih salah satunya saja antara psikologi atau agama.

1.5 Solusi

Baik psikologi mau pun agama adalah sama-sama beragam; mereka tidak tunggal. Sehingga, bisa jadi, psikologi dan agama saling bermusuhan dalam versi tertentu. Tetapi, dalam versi yang lain, psikologi dan agama selaras.

2. Era Sekular

Era sekular memunculkan pertanyaan besar: apakah sekularisasi adalah suatu kemajuan? atau, justru suatu kemunduran peradaban? Di satu sisi, era sekular menunjukkan kemajuan di bidang ekonomi, sains, dan teknologi. Di sisi lain, era sekular berdampak pada krisis kemanusiaan, krisis lingkungan, dan krisis keamanan.

2.1 Makna Sekular

Apa makna-sekular? Ada beragam makna. Umumnya, orang memaknai sekular adalah pemisahan agama terhadap negara. Kita memilih makna-sekular yang lebih luas: sekular adalah suatu situasi di mana warga mendapat tantangan dilema untuk memilih sebagai orang beriman atau tidak. Era abad 21 ini adalah contoh era sekular; warga bebas, dalam dilema, untuk memilih menjadi beriman. Bandingkan dengan abad 15, misalnya, semua warga nyaris adalah warga yang beriman. Hanya sebagian kecil warga saja yang dalam dilema untuk memilih sikap iman atau tidak. Abad 15 adalah bukan era sekular.

Masyarakat sekular bisa menjadi masyarakat religius; bisa juga menjadi ateis; atau, kombinasi antara keduanya. Bagaimana pun, dilema akan tetap eksis di era sekular.

2.2 Kebenaran Imanen

Semua orang mengakui validitas kebenaran imanen. Saya menghirup udara adalah kebenaran imanen. Anda membaca tulisan ini adalah kebenaran imanen. Anda sedang sadar adalah kebenaran imanen. Kebenaran imanen adalah kebenaran yang dekat dengan diri kita; kebenaran yang melekat dengan diri kita; kebenaran yang konkret bisa kita rasa. Orang beriman atau tidak, semua, meyakini eksistensi kebenaran imanen dengan beragam sudut pandang.

2.3 Peran Transendensi

Kebenaran transenden melengkapi kebenaran imanen; kebenaran transenden adalah kebenaran yang melampaui segala sesuatu; kebenaran yang tak terlukiskan dengan kata-kata; kebenaran yang tak terbayangkan oleh imajinasi biasa. Kebenaran yang eksis 500 tahun di masa lalu, atau di masa depan, adalah kebenaran transenden dari diri kita sekarang. Tuhan adalah transenden dan imanen. Orang beriman dan orang tak-iman bisa berbeda pandangan tentang peran kebenaran transenden ini. Meskipun, mereka bisa sepakat tentang kebenaran imanen.

3. Agama Futuristik

Lalu, bagaimana dengan nasib agama di masa depan? Apakah agama masih eksis, punah, atau makin berkembang? Dugaan awal saya adalah agama berkembang menjadi agama futuristik. Secara konkret, agama futuristik bisa saja tetap berupa agama Islam, Kristen, Budha, Hindu, dan lain-lain. Hanya saja, masing-masing agama mengalami transformasi sesuai zaman. Kita akan mencermati model-model hasil transformasi agama: [1] agama akal; [2] agama ekologis; [3] agama absolut.

3.1 Agama Akal

Agama akal adalah agama yang mengutamakan kekuatan akal; baik akan rasional mau pun akal pencerahan yang terbuka dengan logika simbolis. Agama akan menjadi makin menarik karena akal manusia makin berkembang seiring zaman. Ditambah lagi, sains teknologi bertumpu kepada akal. Dengan demikian, agama akal selaras dengan sains teknologi. Semua agama, termasuk Islam dan Kristen, bisa bertransformasi menjadi agama akal; agama dengan kadar akal yang tinggi.

3.2 Agama Ekologis

Agama ekologis mengutamakan kekuatan bersama secara ekologis. Berbeda dengan agama akal; agama ekologis menempatkan akal sebagai satu poin penting secara ekologis. Lingkungan, tumbuhan, hewan, bumi, langit, budaya, sejarah, dan lain-lain memiliki peran penting bagi agama ekologis; mereka sama penting dengan akal; meski masing-masing memiliki peran yang berbeda; mereka saling melengkapi.

3.3 Agama Absolut

Agama absolut melanjutkan seluruh kajian dan pengalaman agama sampai absolut. Tetapi, agama tidak bisa absolut; agama hanya bisa hampir absolut. Sehingga, maksud agama absolut adalah agama hampir absolut; hampir mutlak. Justru konsep hampir-absolut adalah keunggulan dari agama absolut. Karena hampir-absolut maka agama absolut selalu bergerak maju tanpa henti menuju kebaikan absolut; menuju Tuhan Maha Absolut; menuju Tuhan Maha Sempurna.

Pesona Cinta

Dalam Lima Wacana

“Cinta itu anugerah maka berbahagialah.”

Cinta amat mempesona; kadang memabukkan; mabuk cinta tiada tara. Yang tak pernah mabuk cinta cukuplah mendengar cerita saja. Yang mabuk cinta terombang-ambing antara logika dan pesona cinta.

Kita akan berbicara cinta dalam lima wacana. Masing-masing bertabur kata cinta. Meski saya bermaksud mengungkap makna cinta, tetap saja, kata-kata yang akan bersenandung cinta. Tak ada kata yang bisa mengungkapkan cinta. Tapi, cinta memang perlu kata-kata. Tak ada kisah yang bisa menuturkan cinta. Tapi, cinta memang perlu dikisahkan. Tak ada ilmu yang cukup untuk mengkaji cinta. Tapi, cinta memang perlu dikaji.

A. Wacana Eksistensi

Cinta memang nyata. Cinta hadir dari dalam jiwa. Tidak ada keraguan terhadap eksistensi cinta. Manusia lahir ke dunia, karena cinta ibu dan ayah, untuk menebarkan cinta lebih luas. Cinta adalah eksistensi.

Kita juga yakin ada bunga di depan rumah kita, misal, ketika melihatnya. Kita yakin bunga itu eksis. Tetapi, kita bisa ragu apakah benda itu benar-benar bunga. Atau, kadang kita ragu-ragu, jangan-jangan, bunga itu cuma ilusi. Dalam banyak kasus, kita bisa mencoba menyentuh bunga itu. Akhirnya, kita yakin bunga itu benar-benar eksis.

B. Wacana Pengetahuan

Kita tahu cinta suci memang suci. Pengetahuan cinta suci adalah cinta itu sendiri. Jiwa memproduksi cinta. Jiwa mengetahui cinta dengan pasti. Hanya saja, kadang lidah terasa kelu tak mampu mengatakan cinta. Kadang, kata-kata tak mampu melukiskan cinta. Bagaimana pun, kita tahu cinta nyata dari dalam jiwa.

Apakah bunga di depan rumah kita itu bunga nyata? Atau, bunga imitasi belaka? Kita tahu ada sesuatu yang kita duga sebagai bunga. Pengetahuan kita itu, memang benar, suatu pengetahuan. Tetapi, beda dengan pengetahuan cinta nyata. Pengetahuan tentang bunga bisa benar atau, kadang, bisa salah. Sementara, pengetahuan cinta selalu benar.

C. Wacana Kebenaran

Cinta selalu benar. Pengetahuan cinta adalah hadirnya cinta dalam jiwa. Cinta tidak pernah salah. Tetapi, ucapan cinta bisa salah. Ekspresi cinta bisa salah. Formula cinta bisa salah. Sementara, hakekat cinta adalah tersingkapnya cinta oleh jiwa sehingga selalu benar.

Pengetahuan kita tentang bunga bisa benar bila, setelah diuji, ternyata memang ada bunga seperti itu. Kita bisa salah mengira bunga warna putih, ternyata, bunga warna kuning. Atau, kita mengira bunga, ternyata, hanya imitasi. Atau bahkan, ternyata hanya ilusi.

Wacana kebenaran tertinggal di belakang realita cinta. Wacana kebenaran mencoba mengukur konsep cinta. Padahal, cinta bergerak menyusuri masa lalu, masa kini, dan masa depan. Cinta merangkul dan membentangkan seluruh masa. Karena ada cinta maka menjadi benar. Karena cinta menjadi terang bersinar. Cinta merangkul kebenaran.

D. Wacana Ontologi

Hakekat semua realitas adalah cinta. Semua yang ada adalah cinta. Hanya saja ada keragaman derajat cinta. Ada cinta yang kuat. Dan, ada cinta yang lembut. Jalinan keragaman cinta menambah indah alunan cinta. Cinta meningkat dari suatu derajat ke lain derajat.

Bunga di depan rumah adalah manifestasi cinta. Dari kuncup sampai mekar bunga terindah. Menebarkan aroma cinta. Bunga tak pernah diam. Bunga terus bertumbuh kembang meniti derajat cinta demi derajat cinta. Cinta dalam jiwa kita, juga, tak pernah diam. Terus-menerus meniti derajat cinta.

Ontologi adalah realitas paling nyata, yaitu, cinta.

E. Wacana Aksiologi

Cinta itu bening nan indah. Cinta itu baik dan menebarkan kebaikan. Tetapi, manusia punya pilihan untuk terus memupuk cinta yang bening suci. Atau, membelokkan cinta menjadi hitam, merah, dan kuning. Mereka tetap cinta. Mereka bisa kembali menjadi cinta bening yang lebih paripurna.

Ekonomi adalah ekspresi cinta. Politik, dan agama, juga ekspresi cinta. Ekonomi, politik, dan agama sama-sama menyebarkan beningnya cahaya cinta. Sayangnya, manusia kadang tergoda membelokkan warna cinta. Ekonomi bisa menjadi hitam. Politik bisa menjadi merah. Agama bisa menjadi kuning. Mereka menunggu peran kita. Mereka menunggu agar kita merangkulnya untuk meniti cinta yang bening nan suci.

Aksiologi adalah bertindak mengutamakan derajat cinta. Mengenali cinta yang berbelok untuk dirangkul kembali lurus nan bening. Mengenali cinta yang tertegun untuk dirangkul mendaki langit-langit derajat cinta.

Apa lagi yang diperlukan? Kamu, ya kamu! Kamu adalah cinta. Kamu adalah cahaya cinta. Saatnya telah tiba, lebih bersinar bersama cinta. Saatnya, lebih dalam mendalami cahaya cinta dalam relung hati. Saatnya, untuk beraksi menebarkan cahaya cinta ke seluruh penjuru semesta.

Kita yakin cinta bermula dari dalam jiwa. Kemudian memancar menerpa bunga-bunga. Mekar bunga makin indah bertabur sinaran cinta. Apa saja obyek di alam semesta, yang kena sinaran cinta, menjadi indah penuh pesona.

Apakah mata cinta berbeda dengan mata biasa?

Anugerah Demokrasi

Demokrasi menjadi pilihan terbaik bagi banyak negara. Setiap warga punya hak untuk berbicara, didengarkan, berusaha saling memahami, dan, kemudian, musyawarah untuk mengambil keputusan terbaik. Kita berharap menerima demokrasi sebagai anugerah. Sayangnya, beberapa orang membelokkan demokrasi untuk meraup keuntungan pribadi. Kita perlu waspada terhadap anugerah demokrasi.

Dalam buku “7 Pintu Anugerah” saya menempatkan anugerah demokrasi sebagai pintu 5; merupakan pintu penting dari anugerah personal menuju anugerah sosial. Berikut beberapa poin penting anugerah demokrasi.

Saya menjual Buku 7 Pintu Anugrah seharga Rp77.000. Ayo beli di Shopee! https://shp.ee/midyqfg

[1] Butuh orang lain. Demokrasi mengingatkan bahwa kita butuh orang lain. Kita butuh bantuan orang lain; dan kita perlu membantu orang lain; kita butuh untuk saling membantu.

[2] Keragaman itu indah. Saling menghormati perbedaan dalam demokrasi menjadi pemandangan yang indah. Anda suka jeruk dan saya suka mangga; kita berbeda; karena itu, kita bisa saling cerita; saling terpesona.

Berbeda pandangan dan cara pikir juga makin indah dalam suasana demokratis. Saya menghormati pikiran Anda; dan Anda menghormati pikiran saya; kita saling mengisi. Bukankah indah sekali?

Tentu saja, perbedaan kriminal perlu diserahkan ke pihak berwenang. Anda ingin sedekah; Mr Q ingin mencuri; Anda berbeda dengan Mr Q. Biarkan Mr Q berurusan dengan pengadilan.

Secara umum, dalam suasana demokratis dan niat baik, keragaman perbedaan adalah keindahan yang nyata.

[3] Komunikasi untuk saling memahami. Kita berusaha untuk saling memahami melalui bahasa tersurat dan tersirat; melalui bahasa pikiran dan bahasa hati. Kita berhasil memahami orang lain atau orang lain berhasil memahami kita adalah sama-sama indah.

Bagaimana menurut Anda?

Sahabat Waktu

Sudah tiba waktunya untuk kita bersahabat dengan waktu. Tidak perlu bermusuhan dengan waktu. Jadikan waktu sebagai sahabat setiap saat. Bukankah itu hebat?

Bagian 3: Sahabat Waktu
3.1 Membentuk Karakter
3.2 Teladan Karakter
3.3 Merangkul Waktu

Kita selalu butuh waktu; untuk hidup butuh waktu; untuk bernafas butuh waktu; untuk makan butuh waktu; untuk apa pun, kita butuh waktu. Demikian juga, waktu butuh manusia untuk tampil nyata. Dengan adanya manusia, waktu menjadi terungkap dalam sejarah. Kadang di atas; kadang di bawah. Pasang surut sejarah. Sebagian orang hidup susah; sebagian hidup mewah; sebagian lagi gelisah.

3.1 Membentuk Karakter

Waktu akan mengungkap karakter sejati seorang manusia; atau, waktu adalah yang membentuk karakter manusia. Seorang pahlawan tidak terbentuk hanya dalam semalam; pahlawan terus berjuang sepanjang jaman; karakter pahlawan butuh waktu untuk menjadi matang.

Anda ingin sukses? Anda butuh karakter sukses; Anda butuh waktu untuk membentuk karakter sukses. Anda ingin bahagia? Anda butuh karakter bahagia; Anda butuh waktu untuk membentuk karakter bahagia. Anda ingin meraih akhiran baik? Anda butuh karakter baik; Anda butuh waktu untuk membentuk karakter baik.

Apa yang akan terjadi jika uang Bill Gates dibagikan semua kepada warga? Gates berkali-kali menjadi orang terkaya di dunia dengan kekayaan ratusan milyar dolar. Jika semua kekayaan itu dibagikan kepada warga maka Gates menjadi orang miskin tanpa uang, tanpa kekayaan. Apa yang akan terjadi pada Gates selanjutnya?

Eksperimen pikiran menunjukkan bahwa Gates akan membutuhkan waktu, memanfaatkan waktu, kemudian bertahap mengumpulkan kekayaan kembali. Gates akan sukses lagi; dan pada waktunya, Gates akan menjadi orang terkaya di dunia lagi. Karena sukses adalah ditentukan oleh karakter seseorang bukan oleh kekayaan yang dimiliki seseorang; harta kekayaan adalah sebuah konsekuensi. Gates tetap memiliki karakter sukses dalam contoh eksperimen pikiran ini.

Karakter baik seperti apa yang ingin Anda kembangkan seiring waktu berjalan? Apakah karakter sukses seperti Gates layak jadi teladan? Ataukah tersedia teladan karakter yang terbaik?

3.2 Teladan Karakter

Kabar baiknya ada cara mudah belajar untuk membentuk karakter positif manusia yaitu melalui teladan sejarah. Baik teladan sejarah masa lalu, teladan masa kini, mau pun teladan cita masa depan. Tersedia banyak teladan; tak terbatas. Kita bisa fokus kepada empat teladan utama; sebagian untuk diikuti; sebagian untuk dihindari; dan, kita perlu menetapkan keputusan sesuai situasi.

[1] Karakter Hitam / Buas

Orang yang membunuh orang lain adalah karakter hitam atau buas; kita perlu menghindari karakter hitam. Orang yang merusak lingkungan adalah karakter hitam; orang yang menindas orang lemah adalah karakter hitam; orang yang mencuri uang rakyat dengan korupsi adalah karakter hitam.

Contoh karakter hitam adalah perusahaan raksasa yang menyebabkan kebakaran hutan; perusahaan raksasa yang menyebabkan pedagang kecil bangkrut karena disingkirkan melalui persaingan pasar; perusahaan yang menyebabkan tukang becak dan tukang ojek kehilangan pekerjaan karena kalah bersaing; perusahaan yang menyebabkan generasi muda kecanduan game, emak-emak kecanduan media sosial, dan bapak-bapak kecanduan judi.

Pada akhir zaman, atau kehidupan akhir, karakter hitam adalah karakter binatang buas. Mereka saling menyerang; mereka saling mencakar; mereka saling menindas. Mereka tersiksa, saling menyiksa, dan menyiksa diri sendiri. Kita perlu tobat dari segala karakter buas.

Solusinya adalah kembangkan karakter peduli kepada setiap diri. Kita peduli terhadap lingkungan sekitar; menolong anak yatim; membantu fakir miskin; menjaga lingkungan bersih; menumbuhkan benih-benih. Manfaatkan waktu dan bersahabat dengan waktu maka kita akan menjadi orang-orang yang beruntung.

[2] Karakter Merah / Serakah

Orang yang eksplotasi orang lain adalah karakter merah yang serakah. Karakter merah mirip dengan karakter hitam; hanya saja, karakter merah tidak sampai membunuh orang lain; karakter merah membiarkan pihak lemah tetap hidup tertindas untuk dihisap tenaganya. Karakter merah bisa sama jahatnya, atau lebih jahat, dari karakter hitam. Kita perlu mencegah karakter merah.

Solusi karakter merah adalah dengan memupuk sikap peduli dalam diri. Tetapi, karakter merah lebih sulit disembuhkan karena mereka tidak membunuh; misalnya, karakter merah bisa berdalih mengembangkan pasar modern yang bersih padahal karakter merah menindas pedagang kecil yang ada di pasar tradisional. Bagaimana pun, kita bisa menyembuhkan karakter merah seiring waktu. Kita benar-benar butuh bersahabat dengan waktu. Mari manfaatkan waktu untuk membentuk karakter yang baik agar menjadi orang-orang yang beruntung.

[3] Karakter Kuning / Licik

Karakter kuning yang licik adalah paling sulit untuk sembuh; mereka sadar bahwa diri mereka adalah karakter buas dan karakter serakah; tetapi, mereka selalu punya dalih untuk mengatakan diri mereka sebagai tidak salah. Mereka memang licik. Kita perlu menjaga diri agar terhindar dari orang-orang licik.

Orang bisa mengenali beberapa contoh karakter licik yang berhubungan dengan politikus di Senayan atau Washington. Tetapi, di antara tokoh-tokoh agama mau pun tokoh pendidikan bisa saja terselip orang licik; misal rektor dimanipulasi oleh kepentingan politik. Bagaimana pun, di zaman ini dan zaman akhir, karakter licik adalah karakter yang paling tersiksa dirinya.

Solusi untuk menyembuhkan karakter licik memang paling sulit. Masalahnya, belum tentu orang lain yang licik; bisa jadi, justru, diri kita sendiri yang licik; kita perlu tobat sepanjang waktu.

[4] Karakter Bening / Sempurna

Karakter bening atau sempurna adalah cita-cita semua manusia yaitu jiwa yang putih bersih. Seperti cahaya bening matahari, yang sejatinya mengandung semua warna pelangi, karakter bening meliputi semua warna karakter. Dalam jiwa karakter bening tersimpan karakter hitam, merah, dan kuning. Hanya saja, semua warna ini mengalun harmonis.

Karakter hitam yang merupakan kekuatan buas untuk membunuh pihak lain, dalam rangkulan karakter bening, karakter hitam menjadi kekuatan dahsyat untuk mengatasi rintangan, memecahkan kesulitan, dan mengangkat beban bagi kebaikan bersama.

Karakter merah yang merupakan kekuatan serakah untuk menindas pihak lain, dalam rangkulan karakter bening, karakter merah menjadi kekuatan untuk mengatur, mengarahkan, dan memimpin banyak pihak sehingga memberi kebaikan bersama.

Karakter kuning yang merupakan kekuatan licik untuk manipulasi pihak lain, dalam rangkulan karakter bening, karakter kuning menjadi ide-ide kreatif, cerdik, dan kreatif untuk menghasilkan kebaikan bersama. Karakter bening merangkul semua manusia dan semua alam raya untuk menuju cita kebaikan bersama.

Siapakah teladan karakter bening? Banyak sekali dalam sejarah, orang-orang besar sebagai karakter bening. Para nabi adalah karakter bening. Para pemimpin bijak nan adil adalah karakter bening. Orang-orang kecil, yang tertindas, yang tersisihkan, namun selalu ikhlas berbagi kebaikan adalah karakter-karakter bening. Bukankah Anda sering menemui karakter bening di sekitar Anda? Bukankah Anda harus menjadi karakter bening?

3.3 Merangkul Waktu

Mari merangkul waktu apa pun itu. Orang bijak mengatakan, “Waktu adalah Tuhan.” Sebagian orang memperjelas, “Waktu adalah ciptaan Tuhan.” Waktu memang spesial. Peran penting waktu sangat besar bagi umat manusia dan alam semesta. Kita perlu lebih erat merangkul waktu. Demi waktu.

Waktu begitu jelas dan, sekaligus, tersembunyi bagi kita. Di mana pun ada kita maka selalu bersama waktu; tetapi, waktu bukan sesuatu apa pun yang dilihat oleh mata; waktu bersembunyi. Banyak orang terlena karena merasa selalu ada waktu begitu saja; ada yang terlena karena merasa waktu tidak begitu nyata. Hanya ada sedikit orang yang beruntung. Apakah Anda termasuk orang beruntung? Waktu membentang dari masa depan ke masa lalu; dengan menyusuri masa kini untuk menuju ke masa depan.

[1] Yakin dan Komitmen

Orang yang beruntung yakin bahwa akhir zaman pasti eksis; bahkan, kita sedang menuju akhir zaman yang absolut itu. Konsekuensinya, kita komitmen penuh, penuh tekad, untuk meraih cita akhir yang baik bagi seluruh umat manusia dan seluruh semesta.

[2] Kerja dan Mahakarya

Keyakinan dan komitmen berwujud nyata, spesifik, dan konkret berupa kerja dan karya kita sebagai seorang manusia. Kita bekerja adalah berbagi kebaikan untuk sesama, dan semesta, di hari ini dengan arahan cita masa depan dan berbekal hikmah masa lalu. Lebih dari itu, kita kerja dengan sentuhan suara hati yang peduli; kerja menjadi karya yang unik dari dalam diri. Lanjutkan dengan mempersembahkan mahakarya. Apa mahakarya Anda?

[3] Terbuka Berbagi [a] Kebenaran dan [b] Sabar

Sebagai seorang manusia, kita sadar bahwa diri kita terbatas. Tuhan Maha Baik menyediakan teman bagi kita sehingga kita bisa saling berbagi. Di antara banyak orang, yang sama-sama terbatas, saling berbagi untuk meraih cita masa depan menembus segala batas. Orang yang beruntung senantiasa membuka mata, membuka telinga, membuka pikiran, membuka hati, dan membuka diri untuk terus berbagi.

Kita, dengan komitmen dan tindakan konkret, berbagi kebenaran atau hak. Kebenaran mesti terungkap; hak mesti terungkap. Dari kebenaran yang sama-sama kita pahami, selanjutnya, kita merumuskan beragam ide kreatif untuk meraih cita kebaikan bersama. Bukankah itu sangat indah?

Tidak mudah. Kita perlu untuk sabar; kita dituntut untuk selalu sabar dalam kehidupan sosial; juga terhadap diri sendiri. Karena itu, berbagi kebenaran harus seiring-seirama dengan berbagi kesabaran. Kita menata diri agar sabar dalam setiap situasi dan mengajak teman-teman untuk bersikap sabar juga.

Sampai di sini, pembahasan kita sudah lengkap untuk bersahabat dengan waktu di akhir zaman ini. Semoga kita semua menjadi orang-orang yang beruntung. Bagaimana menurut Anda?

Teknologi Teman Hati

Bangun tidur nyalakan lampu; lampu adalah teknologi. Lalu, melirik hp; hp adalah teknologi. Lanjut, putar kran air cuci muka; kran adalah teknologi. Setiap saat, kita selalu bersama teknologi; teknologi adalah teman kita; bahkan, teman sejati di hati.

Dalam buku “7 Pintu Anugerah,” saya menempatkan teknologi sebagai pintu anugerah ke-4: modifikasi teknologi. Memang benar teknologi adalah teman hati, tetapi, di saat yang sama, teknologi bisa membuat patah hati; bisa membuat sesat diri.

[1] Salah menganggap teknologi sebagai alat. Yang benar, teknologi bukan sekedar alat; tetapi teman hati. Sehingga, kita perlu memperlakukan teknologi sebagai sahabat; bukan menjadikan sebagai alat.

Memang benar, hp adalah alat pengisi waktu santai. Tetapi, hp adalah sahabat kita. Ajak hp untuk berbuat amal kebaikan bersama diri kita. Apalagi, di bulan suci, seperti sekarang ini.

[2] Salah menganggap teknologi sebagai tujuan. Lagi, teknologi bukan tujuan. Beberapa orang tersesat mengejar mobil mewah, hp mewah, rumah mewah dengan teknologi canggih. Mereka kecewa karena teknologi mewah menjadi tujuan hidup mereka. Padahal, teknologi mewah atau sederhana adalah teman kita untuk beramal kebaikan.

Jangan jadi pemburu teknologi; jangan jadi kecanduan teknologi; jangan jadi hamba teknologi; jadilah teman bagi teknologi; teman hati.

[3] Suara hati teknologi. Apakah teknologi punya suara hati? Pernahkah Anda mendengar cerita Nabi Sulaiman / King Solomon mendengar suara hewan?

Teknologi selalu bersuara kepada manusia. Teknologi membisikkan suara hati kepada kita. Mengapa? Karena hanya manusia yang bisa bergerak maju sangat dekat kepada Tuhan. Teknologi ingin berpartisipasi, mengambil peran, tercatat berkontribusi membantu manusia agar lebih dekat kepada Tuhan.

Bagaimana menurut Anda?

Manfaat Waktu

Waktu akan menjadi saksi. Waktu akan mengungkap segalanya. Manfaatkan waktu dengan tepat. Modal bisa dicari; tenaga kerja bisa ditambah; ruangan bisa diperluas; tetapi waktu sudah pasti terbatas. Setiap orang memperoleh 24 jam tiap hari; 365 hari tiap tahunnya; kita menelusuri waktu dari lahir sampai mati; apa manfaat waktu ini untuk kita?

Bagian 2: Manfaat Waktu
2.1 Daya Masa Depan
2.2 Hikmah Masa Lalu
2.3 Modifikasi Masa Kini

Untuk memanfaatkan waktu dengan baik, kita perlu mengutamakan masa depan; mengutamakan akhir zaman; berpikir futuristik. Masa lalu dan masa kini, berperan penting, memberi kita ketepatan situasi.

2.1 Daya Masa Depan

Masa depan, future, adalah paling utama. Future menarik kita untuk menuju future. Begitu kita sampai future, maka, future sudah melangkah ke lebih masa depan lagi. Kemudian, future itu menarik kita lagi dan seterusnya. Konsekuensinya, seluruh realitas menjadi dinamis bergerak menuju masa depan.

Kabar baiknya, masa depan adalah posibilitas yang luas dan bebas. Sehingga, kita bisa memilih masa depan apa saja sesuai cita-cita masing-masing. Bagaimana pun, ada future yang bersifat pasti, absolut, yaitu akhir zaman atau kiamat: [a] kiamat besar yaitu hancurnya seluruh dunia; [b] kiamat sedang yaitu hancurnya tata surya termasuk bumi; sekitar 20 milyar tahun lagi; [c] kiamat kecil yaitu kematian diri kita masing-masing. Tugas kita adalah memilih akhir terbaik, seperti apa, yang menjadi cita-cita kita?

Selanjutnya, kita bisa memilih cita-cita 10 tahun ke depan, tahun depan, bulan depan, dan pekan depan. Demikianlah, daya masa depan menggerakkan kita untuk maju. Andai tidak ada masa depan, kita bisa terjebak di masa kini; atau, bahkan, meratapi masa lalu. Karena ada masa depan, maka masa lalu dan masa kini menjadi penuh arti.

[a] Cita Niscaya

Kiamat dan mati adalah niscaya. Kita pasti akan mati. Absolut. Tetapi cara kita menghadapi mati bisa berbeda-beda; cara kita menyambut mati bisa berbeda; perjalanan abadi setelah mati juga bisa berbeda. Apa cita-cita Anda menghadapi mati yang niscaya?

Masing-masing orang bisa memaknai kematian dengan cara berbeda-beda. Kematian adalah proses jiwa berpindah dari mode material ke mode imajinal sampai mode intelektual. Untuk membahas ini, kita perlu mempertimbangkan paradoks perahu Theseus dari mitos Yunani Kuno.

(1) Paradoks Perahu Theseus

Terdapat banyak versi paradoks. Perahu Theseus terdiri dari 100 papan. Setiap hari, kita mengganti 1 papan dengan 1 papan baru lainnya. Setelah 100 hari, seluruh badan perahu sudah diganti dengan papan yang baru. Apakah itu tetap perahu Theseus yang sama? Atau perahu yang berbeda? Jika berbeda, sejak pergantian papan hari ke berapa menjadi perahu berbeda?

Alternatif paradoks bisa berupa dua perahu. Perahu Timur di sebelah timur dan perahu Barat di sebelah barat. Setiap hari, kita menukar 1 papan perahu Timur dengan 1 papan perahu Barat. Setelah 100 hari, seluruh papan, pada kedua perahu, sudah tertukar. Apakah yang di sebelah timur tetap perahu Timur? Atau menjadi perahu Barat? Bila berubah, sejak hari ke berapa?

Heraclitus (500 SM) menyatakan paradoks sungai. “Anda tidak pernah bisa menyeberangi sungai yang sama dua kali.” Ketika Anda menyeberangi sungai kedua kali, air sungai sudah berganti. Dan, Anda sendiri sudah berubah, bertambah umur beberapa menit. Tetapi, ketika di kampung, saya sering menyeberangi sungai yang sama sampai 3 kali. Mau 5 kali juga bisa. Jadi, apa yang sebenarnya terjadi?

Yang sebenarnya terjadi adalah jiwa sebagai penentu realitas individu. Jika Anda mengatakan perahu telah berubah maka Anda sudah berkata benar. Jika Anda mengatakan perahu tidak berubah, perahu tetap sama, maka Anda sudah berkata benar. Begitu juga tentang sungai. Anda mengatakan sungai sudah berubah atau masih tetap maka Anda sudah berkata benar. Bagi mereka yang tidak memiliki jiwa, bagi perahu dan sungai, Anda bebas memberi penilaian: sudah berubah atau masih tetap sama.

Tetapi bagi diri Anda, yang sudah bertambah tua 2 menit untuk menyeberangi sungai kedua kalinya, adalah tetap diri Anda yang sama. Jiwa Anda tetap jiwa Anda. Penambahan usia 2 menit, atau 2 bulan, atau 2 tahun, hanya menambah jiwa Anda makin sempurna.

Ketika Anda kredit motor 2 tahun, sambil membayar angsuran pertama, Anda membawa pulang motor. Bulan kedua Anda wajib membayar cicilan. Anda yang bertambah umur satu bulan ini, yang wajib bayar cicilan, adalah tetap sama dengan Anda yang membawa pulang motor bulan lalu. Anda tetap sama secara hukum, secara ekonomi, dan secara realitas eksistensi individu. Jadi, jiwa Anda tetap sebagai individu yang sama, bahkan makin sempurna.

Suatu saat akan tiba, kita akan mati. Jiwa kita tetap sama dengan diri kita. Yang merasakan nikmat kubur atau siksa kubur adalah tetap jiwa kita yang ini. Semoga kita berada di jalan terang-benderang.

(2) Kematian Fisik

Kematian bukanlah mati sebenarnya. Kematian fisik material adalah perpindahan jiwa dari mode material menuju mode imajinal yang terlepas dari halangan material. Sains materialis menghadapi kesulitan di sini. Karena mereka hanya percaya mode material maka setelah kematian hilang segalanya.

Hawking (1942 – 2018), fisikawan terkenal, pernah mengatakan bahwa setelah kematian adalah gelap semata. Asumsikan itu benar maka kita tidak bisa generalisasi. Kita tidak bisa menyimpulkan bahwa semua kematian adalah gelap semata. Barangkali, ketika meninggal, Hawking mengalami gelap. Satu tahun setelah meninggal, bisa saja dia mengalami cahaya terang. Bahkan, kita dan Hawking tidak tahu apa yang dialami neneknya setelah meninggal: gelap atau cahaya.

Sains materialis tidak berhak mengatakan apa pun tentang nasib jiwa setelah kematian badan. Karena materialis tidak mengakui mode imajinal dan mode intelektual. Mereka hanya boleh klaim, “Kami tidak tahu.”

Sementara itu sains rasionalis, filsafat, agama, dan lain-lain masih boleh terus mengkaji kehidupan setelah kematian badan material. Kematian adalah proses perpindahan jiwa dari dunia material ke dunia imajinal.

(3) Gelisah Menghadapi Mati

Siapa pun orangnya, pernah gelisah menghadapi kematian. Anda merasa gelisah menghadapi kematian Anda. Bayangkan ajal Anda tiba. Apa yang akan terjadi? Bagaimana sakitnya? Sangat menakutkan. Bagaimana nasib Anda setelah mati? Bagaimana nasib anak cucu Anda? Gelisah menghadapi kematian diri.

Ada banyak cara merespon gelisah menghadapi kematian.

[1] Menyibukkan diri dalam kehidupan sehari-hari. Bekerja dari pagi sampai sore. Lanjut dengan kegiatan malam sampai jelang tidur. Bangun tidur pagi hari lalu berangkat kerja lagi. Kita bisa lupa akan kematian. Gelisah hilang karena kita sibuk setiap hari. Tetapi, di sela-sela kesibukan, tiba-tiba gelisah datang juga.

[2] Menyibukkan diri dengan hobi yang membuat Anda benar-benar menyelam di dalamnya. Barangkali hobi seni dan olah raga bisa membuat Anda menikmati flow, mengalir dalam pesona. Bagaimana pun, gelisah ingat mati akan datang sewaktu-waktu.

[3] Beberapa orang menggunakan obat penenang agar tidak gelisah. Hati-hati karena resiko tinggi. Sebaiknya dihindari. Gelisah tetap datang lagi.

[4] Mendalami praktek agama atau meditasi bisa membuat hati tenang. Merenungi kitab suci, membaca doa dini hari, dan ibadah jasmani mau pun ruhani. Keunggulan agama adalah mampu membimbing umat untuk menghadapi kematian dan menerangi jalan setelah mati. Sesekali, gelisah akan mampir lagi.

[5] Menerima gelisah itu sendiri. Kemudian, memaknai gelisah dengan baik. Setiap gelisah datang, maknanya adalah sedang ada ketukan ke dalam diri. Ada panggilan nurani untuk menciptakan arti bagi dunia dan semua yang ada baik di masa depan, masa lalu, mau pun masa kini. Respon ini, berupa siap menerima gelisah, adalah respon yang otentik.

Heidegger (1889 – 1976) banyak membahas tema gelisah menghadapi kematian. Kita pasti akan mati. Lebih dari itu, kita memang butuh mati. Dengan mati, semua perjalanan hidup menjadi ada arti. Mati adalah yang memberi arti kepada setiap detik diri Anda. Mati adalah titik akhir yang menjadi referensi. Mati menjadikan diri kita utuh sempurna.

Tanpa kematian maka semua kehilangan makna. Anda bisa merevisi semua kerja Anda di masa depan, kapan saja, karena tidak akan mati. Semua tak ada guna. Atau, misal, setiap orang bisa mati kemudian bisa hidup lagi maka semua makna juga sirna. Seperti main game, setiap mati boleh mulai lagi. Hidup ini jadi sekedar game belaka. Justru karena Anda pasti akan mati maka hidup ini menjadi penuh arti. Dan, mati itu sendiri penuh arti. Hidup cukup satu kali, berarti, lalu mati.

Mati adalah niscaya dan kita perlu menerimanya dengan memberi makna. Kita bisa memaknai ajal dalam tiga tahap: pra-ajal, ketika-ajal, dan pasca-ajal.

Tahap (1): pra-ajal. Ajal adalah referensi bagi seluruh kehidupan. Seluruh kehidupan pra-ajal mengacu kepada ajal. Makna bisa beragam. Tetapi ajal adalah pasti bagi setiap orang. Sehingga, ajal adalah referensi paling pasti.

Orang yang tiba ajalnya, mati, sebagai pahlawan maka dia adalah pahlawan. Meski dalam hidupnya, dia pernah jadi pecundang, pernah jadi penjahat, pernah berbuat dosa, itu semua adalah pengantar bagi dirinya untuk menjadi pahlawan. Kita menyebut orang yang mati dengan baik sebagai husnul khatimah atau akhiran baik. Kita seharusnya mengejar cita-cita untuk meraih akhiran baik.

Kita perlu waspada terhadap ilusi masa lalu dan menggantinya dengan logika futuristik. Karena masa lalu, dia adalah orang baik maka saat ini dia adalah orang baik. Bisa hanya ilusi itu. Atau, karena di masa lalu, dia adalah orang jahat maka dia adalah orang jahat. Bisa ilusi juga ini. Sebaliknya dari masa lalu, kita perlu berpikir masa depan: logika futuristik. Karena dia sedang mengejar masa depan yang baik, misal husnul khatimah, maka dia adalah orang baik. Kesimpulan yang tepat tetapi belum tentu benar. Mengapa?

Jawabannya: karena kita tidak tahu masa depan yang dia kejar apakah benar-benar baik. Jadi, penilaian kita terhadap dia besifat fallible, bisa saja salah. Justru, karena fallible maka kita perlu lebih teliti. Kita berpikir dengan sikap terbuka terhadap masa depan. Dalam beberapa kasus, kita perlu musyawarah dan demokrasi untuk bisa menentukan masa depan orang atau masa depan masyarakat. Meski demikian, hasil musyawarah tetap fallible dan, diharapkan, bisa lebih baik.

Untuk kepentingan penilaian pribadi, logika futuristik lebih efektif. Anda bisa menetapkan bahwa tujuan Anda ketika ajal adalah akhiran baik. Karena itu, Anda saat ini menjadi orang baik. Karena ajal bisa datang 10 tahun lagi atau hari ini, maka kita perlu bersikap baik kapan pun. Target futuristik bisa kita buat secara bertahap: 7 tahun lagi saya akan menjadi pengusaha sukses; 4 tahun lagi saya lulus sarjana; 1 tahun lagi saya menyelesaikan proyek besar; 1 bulan lagi saya membuat ringkasan buku Logika Futuristik; 1 hari lagi saya memenuhi janji; dan saat ini saya sedang menuju masa depan itu.

Masa depan menarik diri kita untuk menuju masa depan. Masa lalu hanya menyiapkan diri kita agar kita bisa maju menuju masa depan. Jadi, masa depan adalah yang paling berarti setiap hari. Bersiaplah untuk meraih akhiran yang baik. Masa depan bisa saja tidak pasti. Tetapi, mati adalah pasti.

Ringkasnya, makna mati bagi kehidupan pra-ajal adalah sebagai kekuatan maha dahsyat yang menarik semua kehidupan individu untuk mendekatinya dan memeluknya. Sekaligus, mati adalah referensi bagi semua arti dalam hidup ini. Ingat selalu, kita pasti akan mati. Mati adalah sempurna.

Tahap (2): ketika-ajal. Ajal terjadi ketika mode imajinal begitu kuat sehingga mode material tidak lagi memadai. Umumnya, orang mati karena sudah tua. Badannya jadi lemah. Akhirnya, mati. Atau, orang muda bisa saja tiba-tiba mati: karena serangan jantung; karena kecelakaan; karena diserang lawan.

Orang menduga kematian disebabkan oleh tubuh yang gagal berfungsi, misal, gagal jantung. Karena jantung tidak bisa lagi mengalirkan darah ke seluruh tubuh maka orang tersebut menjadi mati. Bila demikian, kondisi hidup seseorang ditentukan oleh badannya. Kondisi diferensia, yaitu jiwa, ditentukan oleh genus, yaitu badan misal jantung. Asumsi seperti ini salah. Karena diferensia adalah realitas eksistensi konkret yaitu jiwa. Jadi, seharusnya dan memang, jiwa adalah yang menentukan seseorang sebagai hidup atau sudah mati.

Pandangan yang lebih benar adalah ajal terjadi ketika jiwa terus bergerak menyempurna sehingga realitas eksistensi jiwa makin tinggi dan intensifikasi substansialitasnya makin kuat. Konsekuensinya, jiwa menjadi mandiri dari badan material dan badan material tidak sanggup lagi mengikuti kemajuan jiwa. Mereka, jiwa dan badan, terpisah: terjadilah kematian. Dengan demikian, mati adalah pasti, niscaya, karena gerak substansial menyempurna adalah niscaya. Jiwa melanjutkan karir untuk gerak lebih sempurna. Badan berubah menjadi daging dan tulang, tanpa jiwa, kemudian melanjutkan siklus alamiah: dikubur, diurai oleh mikroba, dan seterusnya.

Bagaimana rasanya ketika jiwa berpisah dengan badan? Banyak sudut pandang untuk menjawab ini. Tentu saja, jawaban ini bersifat spesial. Mereka yang pernah mengalami tidak bisa bersaksi. Sedangkan, mereka yang bersaksi pasti belum berpengalaman. Bagaimana pun, kita bisa analisis rasional dan mengembangkan interpretasi.

Orang jahat akan merasakan kematian dengan rasa sakit dan derita. Sementara, orang baik akan merasakan kematian sebagai proses yang lembut. Kematian adalah proses bagi jiwa berpindah dari mode material ke mode imajinal; menuju mode eksistensi yang sepenuhnya terbebas dari mode material; atau memiliki badan yang berbeda dengan mode material.

Tahap (3): pasca-ajal. Karir jiwa kita di alam setelah kematian. Pembahasan tema ini makin spesial. Kita membutuhkan rujukan ke ajaran agama dan filsafat.

[1] Plato, Aristo, dan pemikir kuno tampak mudah saja membahas filsafat dan agama. Kisah dewa-dewa Yunani bisa saling berhubungan dengan konsep filsafat. Mereka baik-baik saja.

[2] Farabi (870 – 950) meyakini bahwa filsafat dan agama mengajarkan hakekat kebenaran yang sama. Hanya saja, pendekatan berbeda. Agama menggunakan bahasa perlambang. Sementara, filsafat menggunakan bahasa rasional. Tentu saja, sering terjadi titik temu bahasa perlambang dan rasional pada agama dan filsafat.

[3] Hegel (1770 – 1830) meyakini filsafat dan agama seiring sejalan. Hanya saja, proses dialektika terus berlanjut. Filsafat adalah proses dialektika paling matang.

[4] Sadra (1572 – 1640) meyakini agama dan filsafat adalah sama-sama kebenaran tertinggi. Para tokoh agama memiliki karunia kemampuan “membaca” perlambang dan menuangkan ke bentuk ajaran yang lebih jelas. Sementara, tokoh filsafat “membaca” perlambang dengan kemampuan rasional maksimal. Pada gilirannya, filsafat tetap membutuhkan bimbingan agama. Bagaimana pun, kita tetap perlu waspada karena ajaran agama sering dibelokkan pihak tertentu untuk kepentingan yang tidak layak.

[5] Charles Taylor (1931 – ) melihat bahwa sekularisasi telah memisahkan agama dari beragam sisi kehidupan manusia. Termasuk memisahkan agama dengan filsafat. Tetapi, pemisahan ini tidak selalu berhasil. Atau, sekularisasi tetap saja bisa bersanding dengan agama secara baik. Jadi, saat ini, kita tetap membutuhkan agama. Bahkan, kita makin membutuhkan agama.

Pasca-ajal, jiwa melanjutkan karir ke masa depan yang panjang. Bahkan, masa depan abadi. Pasca-ajal adalah mode imajinal dan mode intelektual yang lebih tinggi dari ruang dan waktu. Sehingga, ketika kita melibatkan ruang waktu maka hanya perlambang.

[a] Mode material. Sesaat setelah kematian, jiwa kita masih sama persis dengan ketika masih hidup di mode material. Jiwa memiliki memori yang kuat sebagai mode material. Jiwa memiliki badan, tangan, dan kaki yang sama seperti semula. Jiwa kita ingat akan anak, cucu, tetangga, sahabat, dan semua yang berhubungan dengannya.

[b] Pembersihan material. Seiring waktu, jiwa membersihkan diri dari ikatan-ikatan material. Mode imajinal makin menguat. Ilusi-ilusi material mulai tersingkap. Salah terlihat salah. Benar terlihat benar.

[c] Mode imajinal. Persepsi jiwa makin bening. Tak ada lagi penghalang material. Jiwa sepenuhnya dalam mode imajinal dengan badan imajinal yang bersesuaian. Jiwa kita memiliki badan yang sama dengan ketika di bumi. Hanya saja, badan imajinal lebih sempurna.

Ketika di bumi, dulu, Anda pernah memberi makan anak yatim yang miskin. Dalam mode imajinal, Anda melihat peristiwa itu dengan lebih bening. Anak yatim tersenyum bahagia memberi salam ke Anda. Anda makin bahagia. Peristiwa itu menjelma menjadi surga yang indah. Anda bisa makan, minum, dan menikmati apa saja yang Anda inginkan. Bahagia tiada tara.

Sebaliknya, pencuri yang korupsi uang sambil terbahak-terbahak melihat peristiwa korupsi itu lebih bening. Korupsi adalah api neraka. Pencuri itu tersiksa dalam kobaran api neraka yang dia buat sendiri ketika di bumi. Derita yang teramat pedih.

Kita berpikir dari bumi, di sini, masih ada problem dalam mode imajinal. Bagaimana jika suami berada di surga sedangkan istrinya ada di neraka?

Tentu saja, suami bisa hidup di surga penuh bahagia dikelilingi bidadari yang lebih cantik dari semua wanita di bumi. Suami itu sudah bisa melupakan istrinya yang di neraka. Lagi pula, istri masuk neraka karena bandel tetap berbuat dosa padahal sudah dinasehati oleh suami. Bagaimana pun, cinta suami kepada istri membuat suami rindu kepada istrinya. Puluhan bidadari bahkan ratusan bidadari tak sanggup menjadi ganti. Apa yang bisa dilakukan oleh sang suami?

Problem sebaliknya lebih rumit. Istri berada di surga sedangkan suami ada di neraka. Istri hidup bahagia tetapi suami dalam derita. Istri ditemani bidadara (bidadari pria) yang lebih tampan dari seluruh pria di dunia. Tetapi, istri tidak bisa jatuh cinta kepada bidadara. Cintanya hanya satu, untuk suami yang sedang di neraka. Andai bidadara itu dibuat sama persis dengan suaminya, tetap saja, istri itu hanya rindu kepada suami. Apa yang bisa dilakukan oleh sang istri?

Kita, yang di bumi ini, tidak mampu menemukan solusi. Bagaimana pun, mereka yang di mode imajinal menemukan solusinya sendiri.

[d] Mode intelektual. Sedikit orang melanjutkan perjalanan mendapat karunia menjadi penduduk mode intelektual. Bagi sebagian besar orang, hidup bahagia di surga mode imajinal adalah sudah lebih dari cukup. Memang benar, lebih dari cukup. Semua kebahagiaan dan kenikmatan ada di mode imajinal lebih nikmat dari seluruh kenikmatan dunia.

[e] Insan Kamil, atau Kamil adalah penduduk mode intelektual. Kamil adalah surga tertinggi paling dekat dengan Tuhan. Hanya manusia sempurna, Kamil saja, yang bisa sampai singgasana di sana. Kamil merangkul seluruh semesta untuk menghadap Tuhan. Dari satu sisi, Kamil adalah pemimpin bijak bagi semesta. Dari sisi lain, Kamil adalah manifestasi Nama Indah Tuhan.

Kamil sudah hadir di bumi ini. Kamil berada dalam mode intelektual yang melindungi mode imajinal dan mode material. Kamil adalah penjaga bumi dan alam raya ini. Dalam hidup dan mati, kamil terus-menerus berkontribusi. Kamil menebarkan legasi. Kita perlu untuk terus peduli tentang legasi. Di bagian selanjutnya, kita akan membahas lebih detil lagi.

[b] Cita Jangka Panjang

Kita perlu menetapkan cita jangka panjang; 5 tahun atau 10 tahun atau lebih jauh lagi. Kita bisa mengajukan pertanyaan apa cita Anda: (1) profesional; (2) personal-sosial; (3) mahakarya?

(1) Profesional

Apa cita profesional Anda dalam 10 atau 20 tahun ke depan?

Barangkali Anda ingin menduduki posisi strategis; atau, Anda ingin pensiun. Barangkali Anda ingin mengembangkan jaringan bisnis; mendominasi pasar; meraup untung besar. Barangkali Anda mencukupkan karir profesional sampai tahap tertentu; lalu memanfaatkan waktu luang untuk kesibukan lain; ada banyak pilihan untuk masa depan Anda.

Setelah memilih cita profesional, berikutnya, mantapkan tekad dan komitmen untuk meraihnya. Ijinkan pengalaman masa lalu dan situasi masa kini mendukung Anda untuk mencapai masa depan itu. Rintangan terjadi di sana-sini adalah biasa. Tetap tekad kuat mengejar cita. Justru rintangan-rintangan ini menjadi bumbu agar perjuangan lebih seru.

Perlu kita ingat bahwa cita-jangka-panjang, misal ingin jadi pejabat, bersifat posibel atau kemungkinan; bukan niscaya; beda dengan kematian yang pasti terjadi. Karena itu, di satu sisi, kita perlu komitmen; di sisi lain, kita perlu fleksibel. Cita-jangka-panjang masih bisa berubah. Teknologi, misalnya, bisa berubah ekstrem. Pak Andi bercita-cita menjadi pengusaha produsen telepon rumah waktu itu. Tetapi, teknologi telepon rumah nyaris tidak dipakai lagi saat ini. Pak Andi perlu fleksibel; barangkali mengubah cita-jangka-panjang, misal menjadi produsen hp atau gawai atau lainnya.

(2) Personal-Sosial

Cita personal sangat penting menjadi pelengkap bagi cita profesional sehingga menjadi imbang. Kebahagiaan Anda, makna hidup Anda, dan kedamaian Anda lebih ditentukan oleh kualitas hidup personal-sosial Anda. Sukses karir profesional hanya sekedar penunjang untuk hidup bermakna secara personal.

Tetapkan cita-jangka-panjang hidup personal Anda bersama keluarga; bersama orang tua; bersama pasangan suami istri; bersama anak-anak; dan bersama masyarakat sekitar Anda. Barangkali, Anda bercita, 10 tahun ke depan, ingin mendukung anak Anda lulus dari universitas idaman, kemudian, dia berhasil menjalani hidup dengan baik. Sukses anak Anda membuat Anda lebih bahagia, bahkan, dibanding sukses pribadi sendiri. Mantapkan komitmen Anda untuk cita-jangka-panjang ini.

Kehidupan personal memang sering lebih rumit dari kehidupan profesional. Jika Anda tidak cocok dengan karyawan maka Anda bisa memecat karyawan itu diganti dengan karyawan lain. Tetapi, Anda tidak bisa memecat anak Anda atau pasangan Anda meski terjadi beragam konflik. Setiap konflik, justru, harus menguatkan relasi Anda dengan anak atau pasangan dalam jangka panjang. Memang, sukses relasi personal-sosial ini akan menjadikan hidup kita penuh makna dan bahagia. Benar-benar layak untuk kita perjuangkan.

Bagaimana pun, cita-jangka-panjang personal bersifat posibel; bukan niscaya. Sehingga, kita butuh keduanya: komitmen kuat dan tetap fleksibel sesuai situasi nyata.

(3) Mahakarya

Setiap orang, termasuk diri kita, memiliki kesempatan untuk mempersembahkan mahakarya. Apa mahakarya Anda dalam 10 atau 30 tahun ke depan? Hidup satu kali; berarti; lalu mati.

Cita-jangka-panjang cukup menyulitkan kita karena kita harus peduli, berpikir, dan komitmen. Beda dengan cita-niscaya misal kematian yang pasti terjadi; tidak perlu berpikir apa pun, pada akhirnya, setiap orang akan mati. Cita-jangka-panjang adalah bentuk konkret dari cita-cita kita; bentuk konkret untuk menyambut kematian yang niscaya sehingga penuh makna; meraih akhir yang baik secara nyata.

[c] Cita Jangka Pendek

Apa cita 1 tahun ke depan atau pekan depan Anda?

Cita-jangka-pendek bersifat sangat dinamis menyesuaikan situasi. Kita bisa membuat beragam cita. Cita, goal, dan rencana 1 pekan ke depan, menurut saya, adalah paling penting. Buat rencana 1 pekan ke depan meliputi profesional, personal, dan mahakarya; bisa berupa catatan di kertas atau pun catatan digital. Komitmen, fleksibel, dan jeli melihat segala situasi. Barangkali, kita perlu revisi berkali-kali catatan rencana mingguan ini. Kita perlu menjamin bahwa rencana mingguan ini selaras dengan cita-jangka-panjang dan cita niscaya.

Dengan rencana mingguan, kita mampu merespon segala situasi dengan bijak. Kita tidak dipermainkan oleh situasi; kita tidak dipaksa oleh pihak luar; kita tidak diombang-ambingkan persoalan. Kita mempelajari situasi dengan teliti; mempertimbangkan cita masa depan; kemudian bersikap dengan tepat.

2.2 Hikmah Masa Lalu

Masa lalu adalah sumber hikmah. Masa lalu adalah guru. Masa lalu adalah bekal untuk maju.

[a] Penjara Masa Lalu

Masa lalu menjadi penjara bagi sebagian besar orang. Karena memang sudah berlalu maka tidak bisa diubah lagi. Padahal, kita bisa mengubah masa lalu dengan cara mengubah masa depan. Bila ada orang bersikukuh bahwa masa lalu tidak bisa diubah maka dia benar; karena dia menempatkan masa lalu sebagai masa depan; dia tidak mau mengubah masa depan; konsekuensinya, masa lalu memang tidak berubah.

Perjuangan pahit di masa lalu menjadi berbuah manis di masa depan. Kenangan masa lalu itu penuh haru. Penjara masa lalu berubah menjadi padepokan masa lalu; sasana masa lalu; pembelajaran masa lalu; ketika memperoleh cemerlang sinaran masa depan.

[b] Mengubah Masa Lalu

Cara mengubah masa lalu adalah dengan mengubah masa depan. Karena, kita membaca masa lalu berdasar acuan masa depan; bukan sebaliknya, bukan membaca masa depan berdasar masa lalu. Beratnya latihan pagi setiap hari; bangun sebelum subuh; bersiap-siap; kemudian disiplin berlatih. Beberapa puluh tahun kemudian, dia berhasil menjadi juara badminton nasional bahkan internasional. Dia mengubah masa lalu dengan meraih masa depan sebagai juara badminton.

Andai, bocah itu tidak jadi juara badminton; bocah itu malah luntang-lantung pengangguran tidak karuan; maka, masa lalunya yang berat itu menjadi sia-sia. Tetapi, bocah itu mengubah masa lalu dengan cara meraih juara badminton di masa depan. Dia mengubah masa lalu dengan cara meraih cita masa depan.

Bagaimana pun, juara badminton itu akan segera menjadi masa lalu. Apa cita masa depan bocah itu? Bila masa depan bocah itu, setelah juara badminton, justru berantakan maka dia merusak seluruh masa lalunya. Tetapi, jika masa depan bocah itu makin cemerlang maka dia mengubah masa lalu menjadi makin bermakna. Apa masa lalu yang ingin Anda ubah? Cita masa depan apa yang akan mengubah masa lalu Anda? Komitmen apa yang akan Anda kuatkan?

[c] Bekal Sejarah

Kita lahir dari sejarah; kita lahir dari ibu dan bapak kita. Sejarah adalah anugerah. Tentu saja, ada orang yang kecewa dengan sejarah dirinya; terlahir dari keluarga miskin; terlahir di wilayah terbelakang dan lain-lain yang serba tidak menguntungkan. Bukan sejarah yang jadi masalah; tetapi, bagaimana kita meraih masa depan berbekal sejarah adalah paling utama.

Seseorang bisa terlahir dari keluarga miskin. Bila, ketika dewasa, ia menjadi orang sukses maka dia sudah mengukir sejarah baru. Dia berhasil mengangkat derajat keluarga. Sejarah masa lalu menjadi kenangan yang indah.

Orang bisa saja menempatkan sejarah di posisi cita masa depan. Karena dia terlahir miskin maka tuanya akan jadi miskin. Dia yakin, di masa depan, akan tetap jadi orang miskin. Tentu saja, dia bisa benar. Padahal dia memiliki kesempatan untuk meraih masa depan cemerlang. Siapa pun kita, pasti, memiliki peluang untuk meraih masa depan cemerlang.

Jadi urutannya adalah tetapkan cita masa depan; kemudian, tatap sejarah; dan belajar dari sejarah. Anda menciptakan sejarah masa depan, yang indah, dengan berbekal sejarah masa lalu. Kita bisa meluaskan makna sejarah: sejarah orang lain; sejarah bangsa lain; sejarah peradaban lain.

[d] Gudang Budaya

Bekal sejarah yang selalu dekat dengan kita adalah bahasa. Kita hanya bisa berkembang dengan bantuan bahasa. Tanpa bahasa, apa yang bisa kita kembangkan? Bahasa adalah media komunikasi dan, di saat yang sama, adalah gudang budaya bagi seluruh umat manusia sepanjang sejarah.

[e] Masa Membentang

Waktu adalah bentangan masa depan, masa lalu, dan masa kini. Kita tidak cukup memandang waktu hanya sebagai sebuah titik waktu. Kita butuh memandang waktu sebagai bentangan waktu. Masa depan membentang ke masa lalu, kemudian, menarik masa lalu bergerak menuju masa depan dengan menyusuri masa kini.

2.3 Modifikasi Masa Kini

Tugas paling jelas adalah kita perlu modifikasi masa kini agar selaras dengan masa depan dan berbekal dari masa lalu. Kita butuh bekal untuk modifikasi masa kini yaitu butuh teknologi. Teknologi adalah teman sejati bagi umat manusia.

[a] Relasi

Teknologi adalah relasi, atau hubungan, antara manusia dan dunia. Kita selalu hidup bersama teknologi; dan teknologi hadir karena ada peran kreatif manusia. Lebih dari itu, teknologi menghubungkan situasi masa kini dengan posibilitas masa depan dan hikmah masa lalu. Dengan demikian, kita selalu bisa modifikasi teknologi yang ada agar selaras dengan cita masa depan, misal untuk meraih akhiran baik atau husnul khatimah.

Hati-hati, jangan terbalik melihat teknologi. Jangan sampai kita terjebak dengan teknologi dalam penjara masa kini. Justru, kita perlu modifikasi setiap teknologi agar mengantar kita meraih cita tertinggi nilai-nilai manusiawi. Jadi, kita selalu bisa memanfaatkan teknologi, baik yang sederhana mau pun canggih, untuk meraih cita masa depan. Mengapa selalu bisa? Karena, seperti kita sudah bahas di atas, masa depan yang menarik masa kini untuk menuju masa depan. Teknologi adalah relasi yang menghubungan masa depan dengan masa kini dan hikmah masa lalu.

[b] Interpretasi

Problem utama dari teknologi adalah interpretasi. Banyak orang mengira, melakukan interpretasi, teknologi sebagai alat atau sebagai suatu tujuan. Tetapi, teknologi lebih dari sekedar alat mau pun tujuan; teknologi adalah teman sejati bagi umat manusia.

Masalahnya, setiap interpretasi adalah valid dalam konteks masing-masing yang tepat. Ketika seseorang mengira teknologi adalah sebuah alat maka teknologi benar-benar menjadi alat. Hanya saja, terdapat resiko, pada waktunya, teknologi akan memperalat balik orang-orang itu. Demikian juga, ketika seseorang menilai teknologi sebagai tujuan maka teknologi akan menjebak orang itu dalam kurungan teknologi; teknologi sebagai tujuan berubah menjadi penjara bagi manusia. Kita perlu melangkah lebih jauh; menganggap teknologi sebagai teman sejati; teman untuk meraih cita masa depan sejati.

[c] Realitas Dunia

Teknologi membentuk realitas dunia yang baru; mengubah dunia lama menjadi dunia baru. Meski demikian, teknologi tidak bertanggung jawab atas perubahan realitas dunia itu. Tetapi, kita, sebagai manusia, justru harus bertanggung jawab atas semua perubahan realitas dunia ini. Apakah perubahan itu membawa kebaikan?

Manusia Beruntung

Hanya manusia yang memanfaatkan waktu dengan baik, mereka itu, adalah sebagai manusia beruntung. Sebagian besar manusia rugi; hanya sedikit orang yang beruntung; membentang bersama bentangan masa. Berikutnya, kita akan membahas kriteria orang-orang spesial yang beruntung itu.

[1] Yakin dan Komitmen

Orang beruntung adalah orang yang yakin dan komitmen penuh kepada akhir zaman absolut; yakin terhadap kiamat [a] besar, [b] kiamat sedang, dan [c] kiamat kecil. Kiamat besar, berupa hancurnya seluruh alam semesta, berimplikasi kepada kiamat sedang, yaitu hancurnya tata surya, dan kiamat kecil, yaitu kematian seorang manusia.

Setiap orang, termasuk kita, pasti mengalami kiamat kecil yaitu kematian diri kita; mati adalah cita-niscaya bagi setiap orang; mati adalah masa depan niscaya bagi kita. Orang yang beruntung yakin terhadap cita-niscaya ini dan komitmen tinggi untuk meraih akhir yang baik yaitu husnul khatimah. Cita-niscaya adalah gerbang cahaya untuk perjalanan panjang berikutnya.

[2] Kerja dan Mahakarya

Cita-niscaya yang ada di masa depan itu menyinari masa lalu sehingga terpancar hikmah. Kemudian, orang yang beruntung akan bekerja dan mempersembahkan mahakarya berdasar cita-niscaya masa depan dan hikmah masa lalu.

Kerja adalah menebarkan kebaikan kepada manusia dan semesta dengan cara modifikasi teknologi masa kini. Kerja yang diiringi peduli, dari dalam hati, akan membuahkan suatu karya unik seseorang. Komitmen yang kuat dari orang yang beruntung itu, akan mengantarkan hasil kerja, berproses, menjadi mahakarya. Apa mahakarya Anda?

[3] Terbuka Berbagi [a] Kebenaran dan [b] Sabar

Hidup ini sederhana dan, di saat yang sama, kompleks. Orang yang beruntung selalu berpikir-terbuka untuk berbagi “kebenaran.” Kita yakin bahwa diri kita memiliki suatu kebenaran; sehingga, kebenaran ini kita jaga penuh komitmen sampai masa depan. Di saat yang sama, kita yakin bahwa orang lain bisa saja memiliki kebenaran yang berbeda dengan keyakinan kita. Karena itu, kita bersikap terbuka untuk berbagi dan dialog. Bisa jadi akan tercipta kesepakatan antara kita dan mereka; bisa juga tidak sepakat; tidak masalah; karena kita tetap bisa saling respek.

Berikutnya, kita berbagi tentang “sabar” dengan cara yang “sabar.” Tidak ada paksaan dalam keyakinan mau pun pengetahuan. Sehingga, dengan sabar, kita sama-sama menjadi orang yang beruntung; dan menciptakan struktur masyarakat yang beruntung.

Bagaimana menurut Anda?