Prestasi adalah Hak Kita

Setiap orang berhak dan wajib meraih prestasi. Siapa pun Anda, selalu, bisa meraih prestasi. Orang tua atau muda; besar atau kecil; kaya atau miskin; pejabat atau rakyat; semua bisa meraih prestasi. Bukan sebarang prestasi, tetapi, prestasi di jalan ilahi sehingga penuh arti.

Saya menulis buku “30 Renungan Takwa: Berprestasi Sepanjang Masa” sengaja untuk menjadi teman kita dalam meniti jalan prestasi. Tersedia 30 Renungan, sehingga, kita bisa membaca 1 renungan tiap hari.

[1] Makna-prestasi dan makna-takwa adalah saling menguatkan. Takwa adalah meraih prestasi di jalan ilahi dengan cara menjalankan perintah dan menjauhi larangan.

Keunggulan manusia adalah bisa memilih amal kebaikan padahal dia bisa memilih dosa. Andai manusia, misal diri kita, tidak mampu berbuat dosa maka semua perilaku kita adalah biasa-biasa saja. Kucing tidak bisa berbuat dosa; kucing hanya bisa berbuat baik-1 atau baik-2 atau baik-3; sehingga perilaku kucing adalah baik yang biasa-biasa saja meski kadang luar biasa.

Tetapi manusia berbeda. Manusia bisa berbuat dosa. Kemudian, Anda memilih berbuat amal kebaikan. Maka kebaikan Anda adalah amal yang bernilai tinggi. Kebaikan Anda adalah prestasi tertinggi sebagai anak manusia. Mari kita lebih banyak berbuat amal kebaikan.

[2] Puasa adalah prestasi manusia. Binatang, misal ulat, terbiasa puasa sehingga menjadi kepompong; kemudian berubah menjadi kupu-kupu yang indah terbang tinggi. Puasa seorang anak manusia lebih hebat lagi. Manusia berpuasa dengan membatasi konsumsi pribadi; makan minum dibatasi; termasuk konsumsi energi dibatasi.

Tetapi membatasi konsumsi bisa berakibat lesunya ekonomi. Ekonomi Keynesian mengukur pertumbuhan ekonomi berdasar pertumbuhan konsumsi masyarakat. Orang yang puasa memang mengurangi konsumsi pribadi; kemudian, menyalurkan sumber ekonomi kepada orang miskin; berbagi sedekah; menyantuni anak yatim. Konsekuensinya, konsumsi masyarakat tetap tinggi.

[3] Puasa politik adalah prestasi. Puasa politik teramat penting bagi kita, apa lagi, karena baru menyelenggarakan pemilu. US akan melaksanakan pemilu di 5 November 2024. Tentu akan banyak gonjang-ganjing dunia politik. Kita perlu puasa politik.

Bagaimana menurut Anda?

Anugerah Demi Anugerah

Semua adalah anugerah. Anda membaca tulisan ini adalah anugerah. Anda berpikir adalah anugerah. Anda merasa ragu adalah anugerah. Anda merasa gelisah adalah anugerah. Anda bernafas adalah anugerah.

Kita bersyukur atas anugerah demi anugerah; kemudian, anugerah makin bertambah. Saya menempatkan konsep “Semua Anugerah” sebagai pintu 1 dalam buku “7 Pintu Anugerah: Pembuka Realitas Masa Depan.”

[1] Ibu adalah anugerah. Ibu adalah anugerah besar bagi kita; ibu mencintai dan merawat kita sejak kecil; bahkan, ibu mencintai kita sejak dalam kandungan. Bakti kita kepada ibu adalah yang utama; utang kebaikan bagi kita kepada ibu tak pernah terlunasi; doa terbaik kita untuk ibu tercinta; untuk setiap ibu yang pernah ada; untuk setiap ibu yang akan ada.

[2] Rejeki adalah anugerah. Berlimpah rejeki, misal harta dan jabatan, menjadikan hidup terasa indah. Tetapi kehilangan rejeki, kekurangan dalam rejeki, menjadikan rejeki penuh arti. Sadar akan kekurangan diri, kelemahan diri, terbatasnya kemampuan diri, adalah anugerah itu sendiri.

[3] Situasi politik adalah anugerah. Bagi yang menang pemilu, politik adalah anugerah. Bagi yang kalah, sama juga, situasi adalah anugerah; anugerah untuk mawas diri; anugerah untuk atur strategi. Bagi yang menang harus tanggung jawab memikul amanah kekuasaan; anugerah juga. Bagi Anda yang tidak terjun langsung ke politik praktis, tetap saja, situasi politik adalah anugerah.

Prabowo – Gibran menang adalah anugerah; Anies – Ganjar kalah adalah anugerah. Andai dikoreksi menjadi sebaliknya, misal Anies atau Ganjar yang menang, tetap anugerah.

Mari bersyukur; sambut pagi yang berlimpah anugerah; telusuri bentangan siang berlimpah anugerah; rangkul malam yang berselimut anugerah.

Bagaimana menurut Anda?

Logical Foundations of Induction

By Baqir As Sadr

Preface to Online Version (2)

Introduction (3)

Part 1:
Induction and Epistemology

Chapter 1. Aristotelian Induction (6)

Chapter 2. Criticism of Aristotelian Induction (19)

Chapter 3. Induction And Empiricism (29)

Part 2:
Induction And Probability

Chapter 1. Calculus of Probability (52)

Chapter 2. The Interpretation of Probability (59)

Chapter 3. The Deductive Phase Of Induction (82)

Chapter 4. Modern Theories of Probability (96)

Chapter 5. Induction and Certainty (113)

Part 3:
Human Knowledge And Probability

Chapter 1. Classes of Statements (139)

Chapter 2. Is There A priori Knowledge? (177)

Conclusion

Preface to Online Version (2)

The basic thesis of this book is that the same logic of induction on which scientific methodology is based can be used to prove the existence of God. The implication of this work is far reaching, for it attempts to layout a unifying, common basis of research in religion, social sciences, and natural sciences. “Our Philosophy” and “The Revealer, The Messenger, and the Message”, the two other books by the same author, are very relevant in this regard and useful for a wider understanding of author’s thesis.

Introduction (3)

In this book, we try to present a reformulation of the theory of knowledge in a scientific, philosophical and objective manner based on the theory of probability so as to fill the gap in the intellectual march of man.

Part 1:
Induction and Epistemology

Chapter 1. Aristotelian Induction (6)

Meaning of Induction; Aristotle’s Perfect Induction (7); Criticism of Perfect Induction; Recapitulation; Aristotle’s imperfect Induction (10); The Problem of Induction; The Formal Logic and Problem (12); Misunderstanding of Formal Logic (13);

Aristotelian Epistemology and Induction (14) ; Formal Logic and Chance; Need of Definite Formulation (16); The Crucial Power of Difference (17)

Aristotle did not distinguish between observation and experiment, and considered induction as any inference based on enumerating particular instances, consequently, he classified induction into perfect and imperfect, if the conclusion refers to all the particulars in question, induction is perfect, if it includes reference to some particular instances only, induction is imperfect [1].

Aristotle has considered perfect induction in a way different from his consideration of imperfect induction. Induction cannot be divided, in our view, into perfect and imperfect because induction in fact proceeds from particular to universal, whereas perfect induction does not do so, but its premises are general like its conclusion. Thus, we regard perfect induction as deduction not induction; and it is imperfect induction that is induction proper. (6)

Chapter 2. Criticism of Aristotelian Induction (19)

Indefinite Knowledge (19); Genesis of indefinite Knowledge (19); Aristotelian principle and indefinite knowledge (20); First Objection (21)

There are in our ordinary state of affairs instances of knowledge of indefinite rejection: we may know that this sheet of paper is not black (and that is knowledge of definite rejection), but we may know only that the sheet cannot be black and white at the same time (and this is knowledge of indefinite rejection). The sort of knowledge which rejects something in an indefinite (or exact) way may be called indefinite knowledge, and the sort of knowledge which involves a definite rejection of something may be called definite knowledge in consequence, the Aristotelian rejection of relative chance is an instance of indefinite knowledge. (19)

Chapter 3. Induction And Empiricism (29)

Certainty Attitude (29); On the First and Third Questions (30); Discussion (31); On the second question (31); Answer to that question (32);

Probability Attitude (34); Discussions (36); Psychological Attitude (37); Examination of psychological attitude (40); (1) Belief; (2) Causality and Reason (42); (3) Causality and Experience (44); (4) Concept of Causality (45); (5) Belief in causality (46); Physiological Explanation of Induction (49);

Inductive inference faces, as has already been noted, three main problems;

(1) why should we suppose a cause of (b), excluding absolute chance for its occurrence?

(2) if there is a cause of (b), why should we suppose that (a) is its cause being concomitant with it, and not supposing that (b) is connected with (c) by relative chance?

(3) If we could make sure, by inductive process, that (a) is the cause of (b), on what ground can we generalize the conclusion that all a’s would be causes of b’s?

Formal logic solved the first and third questions by appealing to certain a priori principles on rationalistic lines, and solved the second problem by supposing another a priori principle denying the systematic repetition of relative chance. (29)

Our comments on certainty attitude concerning induction are as follows. First, the author differs from both rationalistic and empiricist answers to the second question, namely, whether induction needs causality as a necessary postulate. Both schools, though different, answer that question in the positive, while the author will say no, owing to what will be maintained in the sequel. Secondly, we agree with certainty attitude that causal principle is itself reached by induction, and thus hold that induction needs no a priori postulates. But the impasse of empiricism in our view, is that it holds that induction is grounded upon causality postulate while it holds at the same time that causal principle is itself an inductive generalization. (30)

Part 2:
Induction And Probability

Chapter 1. Calculus of Probability (52)

Axioms of the theory (52); Rules of the Calculus (54); Bernoulli’s law of large numbers (56);

We have already said that induction, in its first stage, is a sort of inference; and we shall show in this part that induction in this stage does not proceed from particular to universal and that inductive inference does not give certainty but the highest degree of probability. Thus induction in its first stage is related to the theory of probability, and it may then be well to begin with the latter. (52)

Chapter 2. The Interpretation of Probability (59)

(A) Fundamental Definition (59); The First problem (60); The Second Problem (61); (B) Probability in the Finite Frequency Theory (62); Real and Hypothetical Probabilities (63); Does this definition exhaust all probabilities? (64);

New Definition of Probability (66); A. The axioms of the new definition (68); Difficulties of our definition (70); The new definition and the calculus (70); The new definition and inverse probability (71); The definition and the Bags – example (71); Our definition and Bernoulli’s law (72); Completeness of our definition (73);

New axioms (74); Ground of Dominance Axiom (76); Categorical and Hypothetical indefinite knowledge (77); Conditional knowledge that is real (78); Recapitulation (80);

Now we come to our new definition of probability: Probability capable of determined value is always one of a class of probabilities represented in indefinite knowledge, its value is always equal to a number of items of indefinite knowledge. (67)

Chapter 3. The Deductive Phase Of Induction (82)

Causality (82); First Application (83); Rule of multiplication (85);

Induction has two phases: deductive and subjective, and we have still been concerned with the former. By deductive phase here is meant that inductive inference aims at generalizations, and in order that these be effected, induction finds help in the study of probability. But we get the highest degree of probability of our generalization in a deductive manner, that is, deduction from certain axioms and postulates. (82)

Chapter 4. Modern Theories of Probability (96)

Now, the pioneers of the theory of probability seem to have taken already the same course as we did, with the difference that they defended the deductive phase of induction even without presupposing anything concerning causality.

Laplace is one such pioneer. In what follows we shall discuss Laplace’s position and then compare it with ours. (96)

Chapter 5. Induction and Certainty (113)

This credibility is expressed by greater probability value arising from collecting a greater number of cases concerning the principle of causality. Now, the deductive conclusion in induction shows a degree of credibility of the statement, “A causes B”, and not of the principle of causality itself. Such credibility would approximate, but does not reach, certainty. (113)

Part 3:
Human Knowledge And Probability

Chapter 1. Classes of Statements (139)

Now, all inference depending on certain statements is called demonstration, but when inference depends on commonsensical and acceptable statements it is called dialectic; and when inference is arrived at from probable and authoritative statements it is called rhetorical, and when it uses false statements it is called fallacy. Thus demonstration is the only inference that is certain and always true. If we examine the principles of inference, referred to above, we shall find that most of them are not really principles but derivatives. (141)

Chapter 2. Is There A priori Knowledge? (177)

Empirical Statements (177); Formal Statements (178); Logical Positivism (180); Criticism (182); Empiricism and Meaning of Statements (183); Has knowledge Necessarily A Beginning? (186); Reichenbach’s Position (187); Russell’s Objection (187); Discussion (188);

Now, we must have before us a criterion by means of which we can compare and evaluate rationalism and empiricism. This criterion may be reached by pointing the minimal degree of belief in the truth of both formal and empirical statements. And any theory of knowledge disclaiming such criterion is doomed to failure, while it is approved when is consistent with such criterion. Now what is the minimal degree of credulity in formal and empirical statements? (177)

Therefore we have to reject empiricism owing to its failure to explain the necessity of formal statements, in favour of rationalism in this respect. Further, the empiristic dictum that sense experience is the sole source of human knowledge is not itself a logical truth, not is it itself derived from experience. It remains that this dictum is obtained a priori; if true, then empiricism admits a priori knowledge; and if it is empirical and a priori then it is probable. This implies that rationalism is probably true for empiricism [???]. (183)

CONCLUSION (190)

The object of our study in this book is two fold. [1] First, we are concerned to show the logical foundations of inductive inference which embraces all scientific inferences based on observation and experiment. In this context we have offered a new explanation of human knowledge based on inductive inference. [2] Secondly, we are interested to show certain conclusions connected with religious beliefs based on our study of induction. That is, the logical foundations of all scientific inferences based on observation and experiment are themselves the logical foundations on which a proof of the existence of God can be based. This proof is a version of the argument from design, and is inductive in its character.

Now, we have to choose the whole scientific knowledge or reject it, and then an inductive proof of the existence of God would be on the same footing as any scientific inference. Thus, we have found that science and religion are connected and consistent, having the same logical basis; and cannot be divorced. Such logical connection between the methods of science and the method of proving God’s existence may be regarded as the ground of understanding the divine direction, in the Koran, the Holy Book of Muslims, to observe the workings of the natural world.

The Koran is encouraging people to scientific knowledge on empirical grounds. And in this sense, the argument from design is preferred in Koran to other proofs of the existence of God, being akin to sense and concreteness and far from abstractions and sheer speculations.

Renungan Takwa

Buku “30 Renungan Takwa” ini sangat menarik: praktis, mudah, dan bisa dibaca secara harian. Anda wajib takwa dan memang selalu bisa takwa; yaitu, takwa adalah meraih prestasi dengan menjalani perintah dan menjauhi larangan. Prestasi Anda di tempat kerja adalah takwa. Anda menjadi pegawai terbaik adalah takwa; anda jadi pengusaha jujur adalah takwa; Anda menjadi politikus adil adalah takwa; Anda menjadi pemuda kreatif adalah takwa.

Prestasi takwa mengantar Anda menjalani hidup penuh makna dan menerima mati lebih bermakna; takwa menjadikan Anda lebih sukses dan bahagia; di dunia dan akhirat.

Anugerah untuk Kita

Saya rekomendasikan Anda untuk membaca buku “7 Pintu Anugerah.” Bahkan, saya merekomendasikan setiap orang, tua atau muda, untuk membaca buku “7 Pintu Anugerah.” Mengapa? Karena akan membuka pintu anugerah yang berlimpah berkah untuk kita semua.

Anugerah untuk Anda berupa sukses, bahagia, kaya, pintar, dan hidup bermakna. Berikut beberapa catatan saya, sebagai penulis buku, tentang manfaat buku “7 Pintu Anugerah.”

[1] Optimis penuh syukur. Sejak pintu 1, Anda akan diajak untuk lebih banyak syukur karena semua realitas adalah anugerah bagi kita. Pagi yang indah adalah anugerah; siang yang cerah adalah anugerah; dan malam yang lelap juga anugerah. Bahkan, sakit dan sulit adalah anugerah.

Sakit menjadikan kita lebih paham betapa bernilainya sehat; sakit mengajari kita beragam batas-batas kekuatan manusia; sakit memberi kesempatan orang lain untuk menolong kita; sakit menjadikan semua orang yang sehat, termasuk diri kita, menjadi penuh makna. Kesulitan menjadikan kita lebih kuat; kesulitan memberi makna kepada kemudahan; kesulitan menjadikan kita lebih dewasa dan bijaksana.

Tentu, sehat dan kemudahan adalah anugerah bagi kita yang luar biasa. Rasa syukur menjadikan anugerah lebih berlimpah berkah.

[2] Mudah dibaca dan paham. Buku “7 Pintu Anugerah” mudah untuk kita pahami. Setiap orang yang berusia 15 tahun ke atas akan mampu memahami buku ini. Memang ada bagian buku yang agak sulit. Secara umum, buku ini cukup mudah kita pahami dan bermanfaat secara praktis. Saya melengkapi ringkasan dan saran praktis pada setiap bab.

[3] Demokrasi. Pintu 5 membahas “Pakar Demokrasi” menjadi sangat penting bagi kita yang sedang pemilu: pilpres dan legislatif. Di US, tahun 2024 ini, juga sedang melaksanakan pilpres. Anda bisa menjadi pakar demokrasi dengan mempelajari pintu 5. Sehingga, kita bisa bersikap bijak dalam segala situasi. Demokrasi adalah batu ujian yang mengasah setiap diri. Selamat berpartisipasi: secara ramai-ramai atau beriringan sepi.

Bagaimana menurut Anda?

Menulis Buku Kehidupan

Lebih dari 30 tahun, saya menulis buku. Salah satu buku best seller karya saya adalah “Kecerdasan Quantum: Cara Praktis Melejitkan IQ, EQ, dan SQ yang Harmonis” terbit pada tahun 2001. Awal tahun 2024 ini, akan terbit dua judul karya saya: [a] 7 Pintu Anugerah: Pembuka Realitas Masa Depan; [b] 30 Renungan Takwa: Berprestasi Sepanjang Masa.

Tuhan sudah menuliskan buku kehidupan sejak jaman azali. Karena Tuhan yang menuliskannya maka buku kehidupan kita adalah buku yang terbaik. Tugas kita, selanjutnya, adalah menulis ulang buku kehidupan masing-masing orang; bersama alam sekitar dan alam sosial.

1. Anugerah Demokrasi
2. Teknologi Teman Hati
3. Prestasi Sejati
4. Buku Cetak 30 Renungan
5. Buku Cetak 7 Anugerah

6. Awal Belajar Hikmah
7. Salah Berkaca
8. Waktu Selalu Berlalu
9. Tobat Jadi Manusia
10. Peduli adalah Solusi Kunci

11. Prestasi adalah Hak Kita
12. Anugerah Demi Anugerah
13. Renungan Takwa
14. Anugerah untuk Kita
15. Buku Logika Futuristik

Mengapa kita perlu menulis buku kehidupan?

[1] Alasan ekonomi. Bila beruntung, buku Anda sukses di pasar dan Anda memperoleh keuntungan ekonomi finansial yang besar. Pada awal usia 30, sukses buku saya “Kecerdasan Quantum” menjadi modal untuk beli rumah di kawasan kota Bandung bagian utara dekat Lembang yang sejuk.

Semanis itukah kisah penulis buku? Manis itu makin nikmat karena ada pahitnya; bagai kopi pagi hidangan istri saya itu sangat nikmat karena ada campuran manis dan pahit; atau terasa nikmat karena saya sambil memandang istri saya.

Di buku baru “7 Pintu Anugerah”, saya menekankan bahwa nikmat itu hanya bisa terjadi kerena ada derita; jadi, penderitaan itu penting. Bahagia bisa terjadi karena ada sengsara; sukses bisa terjadi karena ada gagal; pahala bisa terjadi karena ada dosa; makna bisa terjadi karena ada hampa; mudah bisa terjadi karena ada sulit. “Sungguh bersama kesulitan itu ada kemudahan.”

Sebagai penulis, awalnya, saya tidak terlalu berpikir aspek ekonomis ini; bagaimana pun, setiap penulis perlu merespon tantangan ekonomi ini dengan bijak.

[2] Alasan Warisan. Saya sejak muda bercita-cita untuk meninggalkan warisan berupa suatu karya buku. Barangkali, motif warisan ini yang mendorong saya untuk menulis buku.

[3] Alasan Belajar. Pengalaman saya menunjukkan: belajar melalui proses menulis lebih efektif dari melalui proses membaca. Ketika saya menulis buku, maka, saya makin paham dengan isi tulisan saya. Meski, sebelumnya, saya sudah membaca tulisan yang sama dari buku orang lain.

Misal saya sulit memahami satu paragraf dari buku orang lain; kemudian, saya mengulang membacanya sampai 9 kali; tetap sulit untuk paham.

Alternatif yang lebih efektif adalah saya membaca paragraf itu 3 kali; belum juga paham; kemudian, menulis ulang paragraf tersebut dengan bahasa saya; lanjut membaca ulang paragraf tersebut. Hasilnya, pemahaman menjadi jauh lebih baik.

Menulis buku adalah proses bagi saya untuk terus belajar. Tentu saja, Anda bisa belajar melalui menulis mau pun membaca.

Bagaimana menurut Anda?

16. Asyik Membaca Logika Futuristik
17. Anugerah Urip
18. Pengantar Penulis: Cita-Cita
19. Anugerah Sejarah
20. Anugerah AI

21. Trilogi Futuristik Telah Terbit
22. Kerja Bukan Cari Uang
23. Terbit Lengkap Trilogi Futuristik
24. Pesona Buku Visi Futuristik
25. Kontribusi Buku Visi Futuristik

Tentang Penulis

Agus Nggermanto, dikenal sebagai Paman APIQ di media sosial, adalah pendidik dan penulis yang produktif. Awal tahun 2000-an, dia menulis buku Kecerdasan Quantum yang menjadi best seller di Indonesia. Kemudian, menulis puluhan buku matematika kreatif. Di youtube, dia sudah berbagi lebih dari 7000 video belajar matematika asyik dan kajian filosofis. Agus menyelesaikan pendidikan dasar dan menengah di Tulungagung, Jawa Timur, dan melanjutkan kuliah di ITB (Institut Teknologi Bandung). Dia mengajar beberapa mata kuliah yang berhubungan dengan kreativitas, inovasi, filsafat sains, teknologi, dan informasi di STEI (Sekolah Teknik Elektro dan Informatika ITB), SBM (Sekolah Bisnis dan Manajemen ITB), dan STT Telkom (sekarang Telkom University). Sejak pandemi, dia menulis buku trilogi Futuristik: [1] Logika Futuristik (terbit 2023); [2] Pintu Anugerah Futuristik (terbit 2024); [3] Visi Futuristik (dalam proses penerbitan tahun 2024).

Lampiran 2: Biografi Agus Nggermanto

Agus Nggermanto lahir di kota Tulungagung, Jawa Timur, Indonesia, di akhir abad 20; mengawali pendidikan formal di SDN Mangunsari 1. Menjelang naik kelas 3 SD, dia ikut orang tuanya merantau ke Kalimantan Barat. Di pedalaman Sintang, Kalimantan Barat, belum ada sekolah. Agus harus menunggu beberapa bulan agar tahun ajaran baru dimulai, dan, rencananya akan dibuka SD. Tahun ajaran baru tiba, Agus belum naik kelas 3 sehingga dia duduk di kelas 2 SD. Berjalan sekitar 10 bulan, Agus kembali ikut orang tua pulang ke Tulungagung; dalam posisi yang mirip yaitu menjelang naik kelas 3 SD.

Saat itu, tidak ada sekolah yang bisa menerima Agus sebagai siswa kelas 2 menjelang naik kelas 3. Dia harus menunggu tahun ajaran baru beberapa bulan lagi. Tahun ajaran baru tiba, dia tidak bisa naik kelas 3 karena memang masih kelas 2. Teman-teman sekelasnya dulu sudah duduk di kelas 4 SD; sementara, Agus harus duduk di kelas 2 SD; mundur 2 kelas dari seharusnya. Beberapa sekolah SD didatangi, tidak ada yang bisa menerima sebagai siswa kelas 3; apa lagi kelas 4; mereka hanya bisa menerima Agus sebagai siswa kelas 2. Salah seorang guru SDN Mangunsari teringat kemampuan dan bakat Agus ketika kelas 1 dulu. Guru itu merekomendasikan agar SDN Mangunsari menerima Agus di kelas 3. Akhirnya, Agus diterima di kelas 3 SD meski tidak pernah punya raport yang menyatakan naik ke kelas 3 SD.

Tentu saja, tidak ada kesulitan bagi Agus untuk mengikuti pelajaran kelas 3 SD bersama adik kelasnya. Agus menjadi siswa terbaik di kelasnya sebagaimana dia menjadi siswa terbaik di kelasnya dulu; yang sekarang menjadi kakak kelasnya.

Pagi menempuh pendidikan formal, siang dan, atau sore, menempuh pendidikan madrasah. Awalnya, ketika kanak-kanak, Agus mengikuti Madrasah Al Fatah Pondok Menara Mangunsari. Kemudian, melanjutkan ke Madrasah Mambaul Hikam Botoran. Malam hari atau subuh, Agus mengikuti program ngaji Al Quran di beberapa tempat. Pendidikan madrasah membekali Agus pengetahuan agama dan bahasa Arab. Secara resmi, Agus belajar bahasa Arab lebih awal dari bahasa Inggris. Madrasah ibtidaiah, setara SD, sudah mengajarkan bahasa Arab percakapan praktis. Sementara, bahasa Iggris baru dipelajari ketika SMP waktu itu. Untuk nahwu sharaf baru dipelajari ketika madrasah tsanawiyah yang setara SMP. Menariknya, di madrasah, diajarkan menulis huruf Arab baik untuk bahasa Arab, bahasa Jawa, atau pun bahasa Indonesia. Jadi, kita bisa menulis rahasia dengan huruf Arab tetapi sebenarnya bahasa Jawa. Sebagian besar orang tidak akan bisa membacanya karena tanpa harakat atau Arab gundul.

Agus melanjutkan pendidikan formal ke SMP 2 Tulungagung, SMA 2 Tulungagung, kemudian ke Teknik Elektro ITB. Kelak, Agus menetap di Bandung dengan keluarganya.

Awalnya, Agus berniat memilih jurusan Matematika di ITB. Tetapi, karena diajak kompetisi bersama teman-temannya untuk mengambil jurusan yang lebih kompetitif, akhirnya, Agus memilih Teknik Elektro. Bagaimana pun, minat Agus terhadap matematika masih terus berkembang. Termasuk minatnya terhadap filsafat.

Waktu kecil, Agus mengajukan pertanyaan, “Mengapa saya terlahir sebagai manusia? Mengapa tidak sebagai kambing?”

Jawabannya sangat mudah yaitu karena Allah menetapkan takdir seperti itu. Agus lanjut bertanya,

“Mengapa Allah menetapkan takdir? Mengapa sebagian orang akhirnya masuk surga dan sebagian masuk neraka?”    

Jawabannya sama mudahnya yaitu, “Karena takdir Tuhan. Karena Allah berkehendak itu.”

Agus sadar bahwa beberapa orang puas dengan jawaban itu. Bagi dirinya, masih memunculkan lebih banyak pertanyaan lagi. Pergolakan pikiran, atau pergolakan batin ini, mengantarkan Agus mempelajari pemikiran Al Ghazali. Mengagumkan. Ghazali merangkai argument yang runut, jelas, ditambah berbagai macam contoh dan perumpamaan. Barangkali, Ghazali adalah pemikir paling cerdas di dunia. Yang paling menarik dari Ghazali adalah, hampir selalu, solusi akhir adalah berupa jalan ruhani membersihkan hati. Apa pun problem yang kita hadapi. Bagaimana pun, rasa penasaran terhadap pertanyaan mendasar ini selalu mewarnai pemikiran Agus kecil, remaja, sampai dewasa.

Awal tahun 2000an, Agus menulis buku yang terbit dengan judul Quantum Quotient (QQ): Cara Praktis Melejitkan IQ, EQ, dan SQ yang harmonis. Buku QQ membuka pintu yang luas bagi Agus secara intelektual, spiritual, mau pun professional.

Agus menguatkan brand APIQ (Aritmetika Plus Intelegensi Quantum) sebagai lanjutan buku QQ. Kemudian, Agus menulis puluhan buku tentang matematika kreatif dengan perspektif APIQ. Di media social, Agus dikenal sebagai Paman APIQ dengan menulis lebih dari 1000 artikel pendidikan dan matematika serta memproduksi sekitar 10 000 video edukasi matematika dan filsafat di canel youtube.

Awal tahun 2020, pandemic melanda dunia dan Indonesia. Agus mengkristalkan beragam pemikiran dan pengalamannya dalam bentuk buku (digital dan cetak). Trilogi Futuristik terbit pada awal 2023 dengan judul Logika Futuristik. Buku Futuristik kedua berjudul 7 Pintu Anugerah Futuristik terbit tahun 2024. Dan buku Futuristik ketiga akan segera terbit.

Trilogi Futuristik menandai babak baru pemikiran Agus dari sisi keluasan dan kedalaman. Barangkali hal ini terkait dengan usia yang sekitar setengah abad berlalu. Bagaimana pun, Anda selalu bisa mengikuti perkembangan pemikiran Agus melalui web pamanapiq.com atau canel youtube.com/pamanAPIQ .   

Masa depan memancarkan kilau cahaya; yang menerangi masa lalu dan masa kini. Kemudian, menarik masa kini menuju masa depan cemerlang.

Solusi Pendidikan P3: Philosophy, Politik, dan Profesionalisme

Sepakat bahwa pendidikan sangat penting untuk kemajuan umat manusia. Sementara, problem dunia pendidikan begitu banyak. Saya mengusulkan solusi P3: philosophy, politik, dan profesionalisme.

1. Profesionalisme
2. Politik
3. Philosophy

Solusi P3, kali ini, fokus kepada konten dan proses pendidikan. Sementara, solusi anggaran pendidikan, solusi instrumentasi, dan lain-lain akan dibahas di tulisan yang berbeda.

Profesionalisme adalah pendidikan mencetak manusia-manusia unggul yang profesional. Politik adalah pendidikan mengajarkan para siswa pemahaman politik: semua bidang profesional bersifat politis; apa pun profesi Anda maka saling berpengaruh dengan profesi orang lain di seluruh dunia. Philosophy atau filosofi adalah pendidikan membuka wawasan yang luas dan mendalam secara filosofis.

1. Profesionalisme

Profesionalisme adalah standar minimal bagi semua solusi, termasuk, pendidikan. Pendidikan yang profesional mampu bersaing dan adaptasi dalam setiap kesulitan. Argumen negatif lebih kuat lagi: jika pihak T adalah tidak profesional maka solusi apa pun terhadap T akan berujung gagal. 

Solusi paling dasar adalah jadikan diri kita, dan lembaga kita, sebagai profesional. Kemudian, melangkah ke solusi yang lebih luas.

2. Politik

Politik lebih dari sekedar politik praktis; lebih dari sekedar aktif di partai politik mau pun jabatan politik. Apa pun sikap Anda; apa pun pendidikan Anda adalah politis. Dalam arti, secara politis, karir Anda selalu berpengaruh dan dipengaruhi pihak lain.

Pertanyaannya: apakah Anda memberi pengaruh positif kepada pihak lain?

Sebaliknya juga penting untuk dicermati: apa pengaruh pihak lain kepada kita? Jika pengaruh mereka kepada kita adalah positif maka baik-baik saja. Tetapi, bagaimana jika pengaruh mereka adalah negatif? Tentu, jangan mau jadi korban mereka; lindungi diri Anda, dan lembaga pendidikan Anda, dari kerusakan mereka. Perkuat posisi Anda secara politik.

3. Philosophy

Jangan tertipu oleh penampilan; jangan tertipu oleh data statistik; apa lagi, jangan tertipu imbalan ekonomis. Kita perlu mengkaji sampai tataran filosofis.

Diskusi

Bagaimana menurut Anda?

Barang Termahal Sedunia

Semua orang bisa membeli barang termahal ini. Orang miskin bisa membeli barang ini; apalagi, orang kaya pasti bisa membeli barang ini. Di mana kita bisa membeli barang termahal sedunia ini?

Barang termahal ini, sebenarnya, bukan berupa barang. Tetapi, kita sebut sebagai barang hanya untuk memudahkan saja.

Seorang teman datang ke saya mau pinjam uang 100 ribu rupiah. Saya masuk ke kamar, sebentar, untuk ambil uang di dompet. Kemudian, saya ke depan untuk memberikan uang 100 ribu ke teman itu.

“Tidak jadi pinjam,” kata dia.

Framework Ontologi 8

Saya menyusun framework ontologi 8 untuk menjawab pertanyaan ontologi fundamental, “Apa makna-ada?”

1. Ontologi Wolu
2. Makna Komputer Kuantum
3. Makna Sains

Apa makna-manusia? Apa makna-sains? Apa makna-komputer-kuantum?

Ada kursi. Ada meja. Ada bumi. Ada Tuhan. Tetapi, apa makna-ada? Makna-ada adalah paling utama. Makna-ada tidak bisa dibatasi oleh definisi; karena makna-ada adalah [1] universal atau absolut. Makna-ada tidak bisa dijelaskan mau pun dibuktikan; karena semua bukti butuh ada sebagai dasar penjelas atau makna-ada memang [2] terbukti sendiri dan [3] paling jelas. Karena itu kita perlu mengkaji apa makna-ada.

1. Ontologi Wolu

Framework ontologi 8 ini kita singkat menjadi “wolu”; wolu bermakna delapan. Wolu mengenalkan 8 konsep ontologi yang berbeda; perlu pembedaan; kemudian berjalin harmonis dinamis. Meski wolu terdiri dari 8 konsep, Anda bisa menambah atau mengurangi jumlah konsep ini sesuai situasi dan kondisi; minimal harus ada 2 konsep yang berlawanan; reduksi menjadi hanya 1 konsep memicu resiko bias.

2. Makna Komputer Kuantum

Salah satu contoh penerapan wolu adalah untuk menjawab pertanyaan, “Apa makna-komputer-kuantum?”

[1] Dahir

Konteks budaya; alam; sains; rekayasa; dll. Komputer kuantum hadir dalam konteks histori tertentu yang bersifat konkret.

[2] Batin

Asumsi; aksioma; postulat; hasrat; ekonomi; politik; dll. Komputer kuantum hadir dalam konteks batin tertentu; konteks yang tersembunyi; hasrat ekonomi; hasrat politik; dan, tentu saja, hasrat ilmu pengetahuan.

[3] Awal

Komputer kuantum (KK) hasil evolusi sejak awal semesta; big bang; Mesir; Cina; Yunani; Arab; Timur; Barat; modern; posmo. Tidak benar bila KK adalah hasil sains dan rekayasa masa kini saja. KK adalah hasil evolusi sepanjang sejarah sejak awal mula.

[4] Akhir

KK pasti berakhir, seperti apa?

KK bisa saja berakhir tanpa realisasi seperti situasi saat ini; KK masih dalam tataran riset dan akses terbatas; berbagai macam klaim prospek komputer kuantum masih bersifat posibilitas teoritis. Tentu, banyak pihak tidak ingin berakhir seperti ini. Atau, bisa juga, pada akhirnya, KK berhasil realisasi dan meraih sukses besar sebagai inovasi teknologi. Seperti apa situasi akhir itu? Meski sukses, pada waktunya, KK akan berakhir juga.

[5] Anugerah

KK adalah anugerah bagi manusia dan semesta; optimalkan untuk kebaikan bersama.

[6] Terpilih

KK hanya bermanfaat bagi orang tertentu; siapakah yang akan terpilih?

[7] Mati

KK akan “mati” dan menyebabkan banyak pihak menjadi mati. Kematian macam apa?

[8] Hidup

KK akan hidup dalam lain bentuk; membuka hidup generasi baru yang bagaimana?

Poin 1 sampai 5 akan mengarahkan kita kepada pemahaman yang komprehensif dinamis. Sementara, poin 6, 7, dan 8 akan terus-menerus mengajukan tantangan terhadap setiap jawaban.

3. Makna Sains

Apa makna-sains? Kita butuh lebih dari sekedar definisi sains.

Awal Menjadi Akhir

Sains menyamakan paran, yaitu sebab-akhir, dengan sebab-awal. Atau, sains menempatkan sebab-awal sebagai paran. Konsekuensinya, sains lebih perhatian kepada asal mula kosmologi, asal mula penyusun unsur materi paling dasar, asal mula evolusi manusia, dan asal mula lainnya. Tentu saja, bisa seperti itu; menempatkan sebab-awal sebagai paran. Karena, Tuhan memang Maha Awal dan Maha Akhir.

Galilean First Thing, atau titik ideal matematika, adalah contoh sebab-awal yang menempati paran. Ditambah lagi, asumsi bahwa masa lalu sudah berlalu secara obyektif. Sehingga, Galilean First Thing dianggap sebagai realitas obyektif di masa lalu tanpa perubahan lagi. Saintis menganggap problem sains adalah problem epistemologi; sementara problem ontologi dianggap sudah tuntas.

Titik ideal Galilean First Thing menghadapi problem serius: epistemologi, ontologi, dan aksiologi.

Mari kita analisis makna-sains dengan kerangka wolu berikut ini.

Bumi: [1] Dahir dan [2] Batin

Titik ideal selalu berada di bumi; berada dalam konteks histori. Melucuti titik ideal, Nama Tuhan versi Galilean First Thing, dari konteks histori memunculkan problem tak bisa diatasi; seperti kita bahas di atas. Solusi yang kita perlukan adalah menempatkan titik ideal kembali di bumi: Nama Tuhan Maha Dahir dan Maha Batin.

Dahir atau nyata: titik ideal selalu berada dalam konteks histori yang bersifat konkret. Atau, titik ideal selalu berada dalam medan; medan gravitasi, elektromagnetik, atau lainnya. Konsekuensinya, titik ideal tidak bisa diam dan tidak bisa gerak dengan kecepatan konstan. Andai, kita bisa menempatkan satu titik ideal yang diam di laboratorium di bumi; apakah titik ideal itu benar-benar diam? Tidak diam. Bahkan, titik ideal itu gerak dengan percepatan tertentu. Karena bumi selalu gerak rotasi terhadap sumbu dan revolusi terhadap matahari. Titik ideal itu bergerak mengikuti gerak bumi dan laboratorium. Bila ada titik ideal yang diam maka itu adalah kondisi khusus ketika resultan total medan bernilai nol.

Batin: titik ideal selalu berada dalam konteks histori yang bersifat batin, spiritual, asumsi, aksioma, postulat, dan lain-lain. Titik ideal memiliki asumsi ada titik ideal dalam diri mereka sendiri. Andai memang ada titik ideal ini sesuai asumsi maka asumsi itu berada dalam jaringan asumsi-asumsi lain. Di antaranya asumsi: obyektif, terhitung, dan terkendali.

Asumsi obyektif mengira bahwa titik ideal itu akan tetap ideal siapa pun orang yang mengamatinya dan apa pun situasi kondisi yang memenuhinya. Asumsi terhitung mengira bahwa titik ideal itu bisa dihitung jumlah, posisi, atau momentum dengan tepat. Asumsi terkendali mengira bahwa titik ideal itu bisa dikendalikan dan rekayasa sesuai aturan tertentu. Semua asumsi di atas adalah sekedar asumsi; bisa terpenuhi; bisa juga diganti dengan asumsi lainnya.

Elektron, misalnya, bisa melanggar beragam asumsi di atas. Spin elektron sulit ditentukan, di awal, secara obyektif sebagai up atau down. Posisi elektron tidak bisa diketahui secara pasti; sesuai ketidakpastian Heisenberg. Quantum state dari elektron tidak selalu bisa dimanipulasi.

Kita perlu menyadari aspek batin, atau transendental, dari asumsi-asumsi ini. Makin jelas asumsi-asumsi batin ini tertuang dalam formula bahasa maka makin besar peluang bagi kita untuk mengkajinya.

Menariknya, kita tidak pernah tuntas mengkaji aspek dahir dan batin dari suatu sains. Konteks histori dahir, meski tampak jelas, kita tidak bisa mengkajinya secara tuntas. Selalu ada bagian dari konteks histori yang terlewat dari kajian kita. Apalagi konteks histori batin, makin banyak yang tersembunyi. Makin jauh kita mengkaji konteks histori batin makin jelas batin adalah tersembunyi.

Langit: [3] Awal dan [4] Akhir

Titik ideal, Galilean First Thing, eksis dari jaman dulu, jaman sekarang, dan jaman yang akan datang. Tetapi, apakah titik ideal ini stabil? Ambil contoh elektron sebagai titik ideal; apakah elektron adalah sudah menjadi elektron dari awal dan tetap menjadi elektron sampai masa depan?

Awalnya, bisa saja, hanya hampa tanpa elektron. Kemudian, terjadi riak yang mengakibatkan lompatan quantum dari ruang hampa. Hasil lompatan quantum itu menghasilkan elektron dan anti-elektron (kelak dikenal sebagai positron). Selanjutnya, elektron akan terus menjelajahi dunia sebagai elektron. Sampai suatu saat, elektron bersatu kembali dengan anti-elektron menjadi kembali hampa.

Awal dan akhir adalah Nama-Nama Tuhan yang penting untuk menjadi pertimbangan sains. Awal dan akhir membuka posibilitas, freedom, dan komitmen yang luas. Realitas elektron, dan realitas pada umumnya, terbentang dari awal sampai akhir.

Jika awal dari elektron adalah hampa maka apa makna-hampa? Dari mana asal mula hampa? Apa dasar dari hampa?

Pertanyaan tentang awal mula dari elektron ini akan membuka beragam posibilitas. Hampa tersusun oleh string-string, berupa benang-kusut, dalam jumlah tak hingga. Dari mana asal mula string itu? Kita akan bisa mengajukan pertanyaan ini tanpa henti. Kita tidak akan menemukan awal yang paling awal itu. Karena awal absolut adalah Nama Tuhan yang Maha Awal.

Apa akhir dari elektron dan realitas pada umumnya? Lagi, pertanyaan tentang akhir elektron akan membuka posibilitas baru. Bagaimana pun, kita tidak akan mencapai akhir yang paling akhir. Karena, akhir yang paling akhir adalah Nama Tuhan yang Maha Akhir.

Realitas adalah bentangan posibilitas dari Maha Awal sampai Maha Akhir.

Sikap saintis, personal dan komunal, menetapkan titik awal dari elektron, misal string. Tetapi, karena string adalah ketetapan saintis maka saintis perlu bertanggung jawab. Demikian juga, saintis perlu bertanggung jawab terhadap titik akhir elektron. Secara umum, saintis bertanggung jawab terhadap setiap ketetapan yang mereka pilih. Ketika saintis menetapkan suatu obyek sebagai elektron maka saintis bertanggung jawab atas ketetapan itu.

Tuhan: [5] Anugerah dan [6] Terpilih

Mengapa elektron eksis? Mengapa manusia eksis? Mengapa Anda membaca tulisan ini?

Tentu, kita bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas. Dan kita sadar, setiap jawaban akan memicu pertanyaan lanjutan, “Mengapa begitu?”

Pertanyaan mengapa akan mengantar kita kepada jawaban: karena anugerah dari Maha Pemberi Anugerah. Seluruh realitas menjadi eksis karena anugerah. Maha Anugerah adalah Nama Tuhan paling mendasar bagi eksistensi seluruh realitas semesta.

Ke arah mana gerak anugerah realitas alam semesta ini? Menuju kepada Maha Penyayang untuk menjadi yang Terpilih. Histori alam raya adalah dari anugerah menuju terpilih.

Histori elektron, misalnya, bermula dari anugerah sehingga elektron itu eksis di dunia ini. Kemudian elektron mengelilingi inti atom, berperilaku sebagai partikel atau gelombang, menjadi obyek kajian sains, dan akhirnya musnah, terpilih, menjadi penduduk realitas hampa setelah bertemu positron.

Kita tahu, histori elektron di atas terlalu reduktif karena terlepas dari konteks histori bumi. Kita bisa menambahkan, dalam perjalanannya, elektron menjadi penghantar energi listrik yang menerangi ruang belajar. Cahaya dari elektron itu menjadikan seorang siswa berhasil meraih cita-cita mulia. Barangkali, di kesempatan lain, elektron menjadi bagian dari senjata mematikan. Dan, masih banyak posibilitas elektron sepanjang perjalanan historinya.

Histori manusia, barangkali, lebih mudah kita pahami. Mengapa Anda bisa eksis di dunia realitas ini?

Jawaban mudah: karena ayah dan ibu bercinta lalu melahirkan anak berupa Anda. Tetapi, banyak ayah ibu yang bercinta dan tidak melahirkan anak. Bukan karena bercinta maka manusia menjadi eksis. Manusia menjadi eksis karena anugerah. Bahkan, cinta ayah kepada ibu dan cinta ibu kepada ayah adalah anugerah itu sendiri.

Awal histori manusia adalah dari anugerah. Diri kita adalah anugerah. Kemudian, kita menjalani histori di bumi. Kita bercita-cita untuk berhasil menjadi manusia pilihan; manusia dengan etika baik; manusia dengan pengetahuan yang baik pula. Cita-cita adalah tanggung jawab setiap anak manusia, personal dan komunal.

Sains perlu selalu mempertimbangkan makna-anugerah dan makna-terpilih.

Mortal: [7] Mematikan dan [8] Menghidupkan

Pemahaman kita terhadap suatu obyek hanya “lengkap” ketika obyek itu menjadi “mati.” Setelah mati, obyek menjadi sempurna sebagai dirinya. Mati adalah anugerah yang sempurna.

Histori elektron menjadi sempurna ketika elektron “mati” misal menjadi lenyap saat bersatu dengan anti-elektron.

Histori manusia lebih dinamis dan kompleks; meskipun manusia menjadi sempurna ketika manusia bersangkutan mati. Sementara, histori umat manusia masih terus bergulir ketika seorang aggotanya mati. Di sisi lain, seorang manusia yang mati bukannya historinya berakhir; tetapi histori yang sempurna justru baru dimulai. Baik histori di dunia ini mau pun di dunia yang berbeda. Jadi, mati adalah awal dari “kehidupan” baru yang lebih sempurna.

Kembali kepada elektron, bagaimana sains seharusnya memahami elektron? Sains perlu memahami elektron sampai elektron itu “mati.” Kita perlu mempertimbangkan histori elektron tersebut sampai elektron musnah; histori elektron tersebut berakhir ketika musnah. Tetapi, histori saintis tetap berlanjut ketika elektron musnah. Akhir histori sains, misal histori elektron, adalah awal histori saintis yang baru. Demikian seterusnya, histori terus bergulir.

Bagaimana menurut Anda?