Solusi Pendidikan P3: Philosophy, Politik, dan Profesionalisme

Sepakat bahwa pendidikan sangat penting untuk kemajuan umat manusia. Sementara, problem dunia pendidikan begitu banyak. Saya mengusulkan solusi P3: philosophy, politik, dan profesionalisme.

1. Profesionalisme
2. Politik
3. Philosophy

Solusi P3, kali ini, fokus kepada konten dan proses pendidikan. Sementara, solusi anggaran pendidikan, solusi instrumentasi, dan lain-lain akan dibahas di tulisan yang berbeda.

Profesionalisme adalah pendidikan mencetak manusia-manusia unggul yang profesional. Politik adalah pendidikan mengajarkan para siswa pemahaman politik: semua bidang profesional bersifat politis; apa pun profesi Anda maka saling berpengaruh dengan profesi orang lain di seluruh dunia. Philosophy atau filosofi adalah pendidikan membuka wawasan yang luas dan mendalam secara filosofis.

1. Profesionalisme

Profesionalisme adalah standar minimal bagi semua solusi, termasuk, pendidikan. Pendidikan yang profesional mampu bersaing dan adaptasi dalam setiap kesulitan. Argumen negatif lebih kuat lagi: jika pihak T adalah tidak profesional maka solusi apa pun terhadap T akan berujung gagal. 

Solusi paling dasar adalah jadikan diri kita, dan lembaga kita, sebagai profesional. Kemudian, melangkah ke solusi yang lebih luas.

2. Politik

Politik lebih dari sekedar politik praktis; lebih dari sekedar aktif di partai politik mau pun jabatan politik. Apa pun sikap Anda; apa pun pendidikan Anda adalah politis. Dalam arti, secara politis, karir Anda selalu berpengaruh dan dipengaruhi pihak lain.

Pertanyaannya: apakah Anda memberi pengaruh positif kepada pihak lain?

Sebaliknya juga penting untuk dicermati: apa pengaruh pihak lain kepada kita? Jika pengaruh mereka kepada kita adalah positif maka baik-baik saja. Tetapi, bagaimana jika pengaruh mereka adalah negatif? Tentu, jangan mau jadi korban mereka; lindungi diri Anda, dan lembaga pendidikan Anda, dari kerusakan mereka. Perkuat posisi Anda secara politik.

3. Philosophy

Jangan tertipu oleh penampilan; jangan tertipu oleh data statistik; apa lagi, jangan tertipu imbalan ekonomis. Kita perlu mengkaji sampai tataran filosofis.

Diskusi

Bagaimana menurut Anda?

Barang Termahal Sedunia

Semua orang bisa membeli barang termahal ini. Orang miskin bisa membeli barang ini; apalagi, orang kaya pasti bisa membeli barang ini. Di mana kita bisa membeli barang termahal sedunia ini?

Barang termahal ini, sebenarnya, bukan berupa barang. Tetapi, kita sebut sebagai barang hanya untuk memudahkan saja.

Seorang teman datang ke saya mau pinjam uang 100 ribu rupiah. Saya masuk ke kamar, sebentar, untuk ambil uang di dompet. Kemudian, saya ke depan untuk memberikan uang 100 ribu ke teman itu.

“Tidak jadi pinjam,” kata dia.

Framework Ontologi 8

Saya menyusun framework ontologi 8 untuk menjawab pertanyaan ontologi fundamental, “Apa makna-ada?”

1. Ontologi Wolu
2. Makna Komputer Kuantum
3. Makna Sains

Apa makna-manusia? Apa makna-sains? Apa makna-komputer-kuantum?

Ada kursi. Ada meja. Ada bumi. Ada Tuhan. Tetapi, apa makna-ada? Makna-ada adalah paling utama. Makna-ada tidak bisa dibatasi oleh definisi; karena makna-ada adalah [1] universal atau absolut. Makna-ada tidak bisa dijelaskan mau pun dibuktikan; karena semua bukti butuh ada sebagai dasar penjelas atau makna-ada memang [2] terbukti sendiri dan [3] paling jelas. Karena itu kita perlu mengkaji apa makna-ada.

1. Ontologi Wolu

Framework ontologi 8 ini kita singkat menjadi “wolu”; wolu bermakna delapan. Wolu mengenalkan 8 konsep ontologi yang berbeda; perlu pembedaan; kemudian berjalin harmonis dinamis. Meski wolu terdiri dari 8 konsep, Anda bisa menambah atau mengurangi jumlah konsep ini sesuai situasi dan kondisi; minimal harus ada 2 konsep yang berlawanan; reduksi menjadi hanya 1 konsep memicu resiko bias.

2. Makna Komputer Kuantum

Salah satu contoh penerapan wolu adalah untuk menjawab pertanyaan, “Apa makna-komputer-kuantum?”

[1] Dahir

Konteks budaya; alam; sains; rekayasa; dll. Komputer kuantum hadir dalam konteks histori tertentu yang bersifat konkret.

[2] Batin

Asumsi; aksioma; postulat; hasrat; ekonomi; politik; dll. Komputer kuantum hadir dalam konteks batin tertentu; konteks yang tersembunyi; hasrat ekonomi; hasrat politik; dan, tentu saja, hasrat ilmu pengetahuan.

[3] Awal

Komputer kuantum (KK) hasil evolusi sejak awal semesta; big bang; Mesir; Cina; Yunani; Arab; Timur; Barat; modern; posmo. Tidak benar bila KK adalah hasil sains dan rekayasa masa kini saja. KK adalah hasil evolusi sepanjang sejarah sejak awal mula.

[4] Akhir

KK pasti berakhir, seperti apa?

KK bisa saja berakhir tanpa realisasi seperti situasi saat ini; KK masih dalam tataran riset dan akses terbatas; berbagai macam klaim prospek komputer kuantum masih bersifat posibilitas teoritis. Tentu, banyak pihak tidak ingin berakhir seperti ini. Atau, bisa juga, pada akhirnya, KK berhasil realisasi dan meraih sukses besar sebagai inovasi teknologi. Seperti apa situasi akhir itu? Meski sukses, pada waktunya, KK akan berakhir juga.

[5] Anugerah

KK adalah anugerah bagi manusia dan semesta; optimalkan untuk kebaikan bersama.

[6] Terpilih

KK hanya bermanfaat bagi orang tertentu; siapakah yang akan terpilih?

[7] Mati

KK akan “mati” dan menyebabkan banyak pihak menjadi mati. Kematian macam apa?

[8] Hidup

KK akan hidup dalam lain bentuk; membuka hidup generasi baru yang bagaimana?

Poin 1 sampai 5 akan mengarahkan kita kepada pemahaman yang komprehensif dinamis. Sementara, poin 6, 7, dan 8 akan terus-menerus mengajukan tantangan terhadap setiap jawaban.

3. Makna Sains

Apa makna-sains? Kita butuh lebih dari sekedar definisi sains.

Awal Menjadi Akhir

Sains menyamakan paran, yaitu sebab-akhir, dengan sebab-awal. Atau, sains menempatkan sebab-awal sebagai paran. Konsekuensinya, sains lebih perhatian kepada asal mula kosmologi, asal mula penyusun unsur materi paling dasar, asal mula evolusi manusia, dan asal mula lainnya. Tentu saja, bisa seperti itu; menempatkan sebab-awal sebagai paran. Karena, Tuhan memang Maha Awal dan Maha Akhir.

Galilean First Thing, atau titik ideal matematika, adalah contoh sebab-awal yang menempati paran. Ditambah lagi, asumsi bahwa masa lalu sudah berlalu secara obyektif. Sehingga, Galilean First Thing dianggap sebagai realitas obyektif di masa lalu tanpa perubahan lagi. Saintis menganggap problem sains adalah problem epistemologi; sementara problem ontologi dianggap sudah tuntas.

Titik ideal Galilean First Thing menghadapi problem serius: epistemologi, ontologi, dan aksiologi.

Mari kita analisis makna-sains dengan kerangka wolu berikut ini.

Bumi: [1] Dahir dan [2] Batin

Titik ideal selalu berada di bumi; berada dalam konteks histori. Melucuti titik ideal, Nama Tuhan versi Galilean First Thing, dari konteks histori memunculkan problem tak bisa diatasi; seperti kita bahas di atas. Solusi yang kita perlukan adalah menempatkan titik ideal kembali di bumi: Nama Tuhan Maha Dahir dan Maha Batin.

Dahir atau nyata: titik ideal selalu berada dalam konteks histori yang bersifat konkret. Atau, titik ideal selalu berada dalam medan; medan gravitasi, elektromagnetik, atau lainnya. Konsekuensinya, titik ideal tidak bisa diam dan tidak bisa gerak dengan kecepatan konstan. Andai, kita bisa menempatkan satu titik ideal yang diam di laboratorium di bumi; apakah titik ideal itu benar-benar diam? Tidak diam. Bahkan, titik ideal itu gerak dengan percepatan tertentu. Karena bumi selalu gerak rotasi terhadap sumbu dan revolusi terhadap matahari. Titik ideal itu bergerak mengikuti gerak bumi dan laboratorium. Bila ada titik ideal yang diam maka itu adalah kondisi khusus ketika resultan total medan bernilai nol.

Batin: titik ideal selalu berada dalam konteks histori yang bersifat batin, spiritual, asumsi, aksioma, postulat, dan lain-lain. Titik ideal memiliki asumsi ada titik ideal dalam diri mereka sendiri. Andai memang ada titik ideal ini sesuai asumsi maka asumsi itu berada dalam jaringan asumsi-asumsi lain. Di antaranya asumsi: obyektif, terhitung, dan terkendali.

Asumsi obyektif mengira bahwa titik ideal itu akan tetap ideal siapa pun orang yang mengamatinya dan apa pun situasi kondisi yang memenuhinya. Asumsi terhitung mengira bahwa titik ideal itu bisa dihitung jumlah, posisi, atau momentum dengan tepat. Asumsi terkendali mengira bahwa titik ideal itu bisa dikendalikan dan rekayasa sesuai aturan tertentu. Semua asumsi di atas adalah sekedar asumsi; bisa terpenuhi; bisa juga diganti dengan asumsi lainnya.

Elektron, misalnya, bisa melanggar beragam asumsi di atas. Spin elektron sulit ditentukan, di awal, secara obyektif sebagai up atau down. Posisi elektron tidak bisa diketahui secara pasti; sesuai ketidakpastian Heisenberg. Quantum state dari elektron tidak selalu bisa dimanipulasi.

Kita perlu menyadari aspek batin, atau transendental, dari asumsi-asumsi ini. Makin jelas asumsi-asumsi batin ini tertuang dalam formula bahasa maka makin besar peluang bagi kita untuk mengkajinya.

Menariknya, kita tidak pernah tuntas mengkaji aspek dahir dan batin dari suatu sains. Konteks histori dahir, meski tampak jelas, kita tidak bisa mengkajinya secara tuntas. Selalu ada bagian dari konteks histori yang terlewat dari kajian kita. Apalagi konteks histori batin, makin banyak yang tersembunyi. Makin jauh kita mengkaji konteks histori batin makin jelas batin adalah tersembunyi.

Langit: [3] Awal dan [4] Akhir

Titik ideal, Galilean First Thing, eksis dari jaman dulu, jaman sekarang, dan jaman yang akan datang. Tetapi, apakah titik ideal ini stabil? Ambil contoh elektron sebagai titik ideal; apakah elektron adalah sudah menjadi elektron dari awal dan tetap menjadi elektron sampai masa depan?

Awalnya, bisa saja, hanya hampa tanpa elektron. Kemudian, terjadi riak yang mengakibatkan lompatan quantum dari ruang hampa. Hasil lompatan quantum itu menghasilkan elektron dan anti-elektron (kelak dikenal sebagai positron). Selanjutnya, elektron akan terus menjelajahi dunia sebagai elektron. Sampai suatu saat, elektron bersatu kembali dengan anti-elektron menjadi kembali hampa.

Awal dan akhir adalah Nama-Nama Tuhan yang penting untuk menjadi pertimbangan sains. Awal dan akhir membuka posibilitas, freedom, dan komitmen yang luas. Realitas elektron, dan realitas pada umumnya, terbentang dari awal sampai akhir.

Jika awal dari elektron adalah hampa maka apa makna-hampa? Dari mana asal mula hampa? Apa dasar dari hampa?

Pertanyaan tentang awal mula dari elektron ini akan membuka beragam posibilitas. Hampa tersusun oleh string-string, berupa benang-kusut, dalam jumlah tak hingga. Dari mana asal mula string itu? Kita akan bisa mengajukan pertanyaan ini tanpa henti. Kita tidak akan menemukan awal yang paling awal itu. Karena awal absolut adalah Nama Tuhan yang Maha Awal.

Apa akhir dari elektron dan realitas pada umumnya? Lagi, pertanyaan tentang akhir elektron akan membuka posibilitas baru. Bagaimana pun, kita tidak akan mencapai akhir yang paling akhir. Karena, akhir yang paling akhir adalah Nama Tuhan yang Maha Akhir.

Realitas adalah bentangan posibilitas dari Maha Awal sampai Maha Akhir.

Sikap saintis, personal dan komunal, menetapkan titik awal dari elektron, misal string. Tetapi, karena string adalah ketetapan saintis maka saintis perlu bertanggung jawab. Demikian juga, saintis perlu bertanggung jawab terhadap titik akhir elektron. Secara umum, saintis bertanggung jawab terhadap setiap ketetapan yang mereka pilih. Ketika saintis menetapkan suatu obyek sebagai elektron maka saintis bertanggung jawab atas ketetapan itu.

Tuhan: [5] Anugerah dan [6] Terpilih

Mengapa elektron eksis? Mengapa manusia eksis? Mengapa Anda membaca tulisan ini?

Tentu, kita bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas. Dan kita sadar, setiap jawaban akan memicu pertanyaan lanjutan, “Mengapa begitu?”

Pertanyaan mengapa akan mengantar kita kepada jawaban: karena anugerah dari Maha Pemberi Anugerah. Seluruh realitas menjadi eksis karena anugerah. Maha Anugerah adalah Nama Tuhan paling mendasar bagi eksistensi seluruh realitas semesta.

Ke arah mana gerak anugerah realitas alam semesta ini? Menuju kepada Maha Penyayang untuk menjadi yang Terpilih. Histori alam raya adalah dari anugerah menuju terpilih.

Histori elektron, misalnya, bermula dari anugerah sehingga elektron itu eksis di dunia ini. Kemudian elektron mengelilingi inti atom, berperilaku sebagai partikel atau gelombang, menjadi obyek kajian sains, dan akhirnya musnah, terpilih, menjadi penduduk realitas hampa setelah bertemu positron.

Kita tahu, histori elektron di atas terlalu reduktif karena terlepas dari konteks histori bumi. Kita bisa menambahkan, dalam perjalanannya, elektron menjadi penghantar energi listrik yang menerangi ruang belajar. Cahaya dari elektron itu menjadikan seorang siswa berhasil meraih cita-cita mulia. Barangkali, di kesempatan lain, elektron menjadi bagian dari senjata mematikan. Dan, masih banyak posibilitas elektron sepanjang perjalanan historinya.

Histori manusia, barangkali, lebih mudah kita pahami. Mengapa Anda bisa eksis di dunia realitas ini?

Jawaban mudah: karena ayah dan ibu bercinta lalu melahirkan anak berupa Anda. Tetapi, banyak ayah ibu yang bercinta dan tidak melahirkan anak. Bukan karena bercinta maka manusia menjadi eksis. Manusia menjadi eksis karena anugerah. Bahkan, cinta ayah kepada ibu dan cinta ibu kepada ayah adalah anugerah itu sendiri.

Awal histori manusia adalah dari anugerah. Diri kita adalah anugerah. Kemudian, kita menjalani histori di bumi. Kita bercita-cita untuk berhasil menjadi manusia pilihan; manusia dengan etika baik; manusia dengan pengetahuan yang baik pula. Cita-cita adalah tanggung jawab setiap anak manusia, personal dan komunal.

Sains perlu selalu mempertimbangkan makna-anugerah dan makna-terpilih.

Mortal: [7] Mematikan dan [8] Menghidupkan

Pemahaman kita terhadap suatu obyek hanya “lengkap” ketika obyek itu menjadi “mati.” Setelah mati, obyek menjadi sempurna sebagai dirinya. Mati adalah anugerah yang sempurna.

Histori elektron menjadi sempurna ketika elektron “mati” misal menjadi lenyap saat bersatu dengan anti-elektron.

Histori manusia lebih dinamis dan kompleks; meskipun manusia menjadi sempurna ketika manusia bersangkutan mati. Sementara, histori umat manusia masih terus bergulir ketika seorang aggotanya mati. Di sisi lain, seorang manusia yang mati bukannya historinya berakhir; tetapi histori yang sempurna justru baru dimulai. Baik histori di dunia ini mau pun di dunia yang berbeda. Jadi, mati adalah awal dari “kehidupan” baru yang lebih sempurna.

Kembali kepada elektron, bagaimana sains seharusnya memahami elektron? Sains perlu memahami elektron sampai elektron itu “mati.” Kita perlu mempertimbangkan histori elektron tersebut sampai elektron musnah; histori elektron tersebut berakhir ketika musnah. Tetapi, histori saintis tetap berlanjut ketika elektron musnah. Akhir histori sains, misal histori elektron, adalah awal histori saintis yang baru. Demikian seterusnya, histori terus bergulir.

Bagaimana menurut Anda?

Komputer Kuantum Futuristik: Kajian Ontologi Fundamental

Komputer kuantum menebarkan harapan yang cerah bagi masa depan umat manusia. Komputer kuantum merupakan komputer yang memanfaatkan keunggulan teori fisika kuantum (quantum mechanic / QM). Sementara, QM sendiri sudah berhasil menunjukkan keunggulan istimewa dalam perkembangan sains teknologi mutakhir.

1. Prospek Komputer Kuantum
1.1 Lebih dari Kecepatan
1.2 Realitas Kuantum
1.3 Kolaborasi AI
1.4 ITB sampai IBM
1.5 Masa Depan Semesta

2. Ontologi Fundamental
2.1 Definisi
2.2 Aristoteles: 4 Sebab
2.3 Heidegger:
a) being-in-the-world;
b) being-with-others;
c) fourfold
2.4 Makna Perempatan Ganda
2.5 Lima Paradigma

3. Epistemologi Kuantum vs Gravitasi
3.1 Ketidakpastian Heisenberg
3.2 Kucing Schrodinger
3.3 Paradoks Feynman

4. Aksiologi Disrupsi Futuristik
4.1 Etika Ekonomi: puasa demi masyarakat
4.2 Etika Politik: memberdayakan pihak lemah
4.3 Etika Berpikir Terbuka: diferensiasi harmonis

5. Masa Depan Komputer Kuantum

Kita akan mengkaji komputer kuantum dari perspektif ontologi fundamental dengan mengajukan pertanyaan, “Apa makna-komputer-kuantum?” Kita bisa membuat beragam definisi, tetapi, pertanyaan tentang makna komputer kuantum menuntun kita untuk mengkaji ontologi fundamental.

1. Prospek Komputer Kuantum

Komputer kuantum membuka prospek masa depan cerah bagi umat manusia dan semesta. Kecepatan proses data sudah pasti; efisiensi energi; solusi beragam paradoks yang jadi misteri; dan masih banyak lagi.

1.1 Lebih dari Kecepatan

Pada tahun 1982, Feynman mengusulkan untuk merancang komputer kuantum; komputer yang memanfaatkan keunggulan teori kuantum (QM); bahkan, mampu membuat simulasi kuantum.

… Richard Feynman imagined when he first proposed these computers in 1982: simulating the behavior of stuff at the quantum level.”

Komputer kuantum, tentu saja, lebih cepat dari komputer digital biasa dalam proses data dan menjalankan beragam program. Kecepatan ini bisa berlipat 1000 kali; atau 1 000 000 kali; atau lebih cepat lagi. Komputer digital, yang umumnya kita pakai saat ini, memanfaatkan arus listrik atau tegangan listrik untuk bit digital; yang membutuhkan jutaan elektron. Sementara, komputer kuantum memanfaatkan qubit; pada prinsipnya, 1 qubit hanya membutuhkan 1 elektron belaka; tetapi, kita akan membutuhkan pendekatan statistik. Yang pasti, komputer kuantum akan berhasil meningkatkan efisiensi dan, konsekuensinya, super cepat. Diharapkan, mampu simulasi realitas kuantum. Bisakah?

1.2 Realitas Kuantum

Kajian kuantum (QM) menghasilkan sains empiris yang disepakati; tetapi, interpretasi terhadap quantum adalah beragam. Beberapa interpretasi quantum ini saling berbeda tajam, di antaranya: [1] Copenhagen; [2] Runtuh Spontan; [3] Pilot Wave; [4] Relational QM; [5] Bayesianism; [6] Manyworlds; dan lain-lain.

Andai komputer kuantum (KK) berhasil simulasi realitas fenomena quantum maka interpretasi mana yang akan dipakai? Atau, justru KK yang akan menjadi penentu mana interpretasi paling benar? Atau, setidaknya, KK akan berhasil menolak beberapa interpretasi yang tidak tepat?

1.3 Kolaborasi AI

Artificial intelligence (AI) sedang berkembang pesat saat ini. Wajar, kita berpikir bahwa kolaborasi KK dan AI akan menghasilkan terobosan baru yang luar biasa.

[1] Speedup; [2] Optimization; optimasi problem, penetapan parameter, dan alokasi sumber daya; [3] Quantum Machine Learning; untuk pengenalan pola, klasifikasi, dan probabilitas; [4] Enhanced; data analisis dalam ukuran besar; [5] Simulasi; [6] Security; beragam fenomena quantum menjamin keamanan lebih tinggi; [7] Quantum Neural Network; jaringan syaraf manusia bekerja berdasar fenomena quantum; qubit lebih representatif; [8] Inovasi.

1.4 ITB sampai IBM

Dalam tataran empiris, komputer kuantum berkembang makin meluas. ITB melakukan riset empiris KK. Sementara, IBM dan perusahaan besar dunia, didukung pemerintah, invest besar-besaran mengembangkan KK.

Beberapa startup bidang komputer kuantum berhasil inovasi besar-besaran. QuEra mengklaim, pada tahun 2026, akan meluncurkan komputer kuantum dengan qubit lebih dari 10 000 serta kemampuan koreksi kualitas tinggi yaitu 100 qubit.

1.5 Masa Depan Semesta

[1] KK akan mengubah masa depan dunia ataukah [2] masa depan akan mengubah komputer kuantum (KK)? Selalu terjadi interaksi antara KK dan masa depan. Saya yakin alternatif [2] berperan lebih besar.

Terdapat perbedaan tajam antara optimisme dari para pendukung dan kritik terhadap komputer kuantum. Bagi kritikus, komputer kuantum mirip seperti fiksi ilmiah, setidaknya, sampai saat ini. Sementara, bagi para pendukung, komputer kuantum adalah realitas riset sains dan rekayasa yang menjanjikan prospek besar untuk masa depan.

Mempertimbangkan kemajuan komputer kuantum sejauh ini dan kemampuan adaptasi masyarakat ilmiah, kita bisa optimis bahwa komputer kuantum akan menjadi realitas di masa depan. Meski pun, bisa saja, realitas komputer kuantum tersebut berbeda dengan yang kita harapkan di awal; komputer kuantum akan mengalami beragam revisi dan adaptasi seiring waktu; termasuk, posibilitas menjadi komputer hibrid bersama komputer digital klasik.

2. Ontologi Fundamental

Ontologi fundamental bertanya, “Apa makna-komputer-kuantum?”

Pertanyaan ontologi fundamental menuntut jawaban berupa makna dalam arti paling luas. Jawaban berupa definisi-komputer-kuantum tidak memadai untuk menjawab ontologi fundamental. Bagaimana pun, kita bisa memanfaatkan definisi untuk awal kajian tentang makna komputer kuantum.

2.1 Definisi

Definisi [1] Komputer kuantum (KK) adalah komputer yang memanfaatkan keunggulan teori kuantum atau quantum mechanic (QM). Genus: komputer; dan diferensia: kuantum.

Definisi [2] KK adalah teori kuantum (QM) yang diterapkan berupa komputer. Genus: kuantum; dan diferensia: komputer.

Kedua definisi KK, di atas, menuntut kita agar sudah paham makna komputer dan makna kuantum. Sementara, untuk memahami komputer, misalnya, kita perlu memahami makna mesin, makna menghitung, dan makna proses logis. Dan seterusnya, kita membutuh memahami makna yang lebih dasar tanpa akhir. Jadi, definisi esensial, seperti di atas, akan menghadapi resiko petitio-principii.

Kita perlu menerima KK sebagai realitas eksistensi apa adanya. Lalu, mengajukan pertanyaan apa makna-komputer-kuantum?

2.2 Aristoteles: 4 Sebab

Aristo (384 – 322 SM) merumuskan 4 sebab, atau 4 faktor / aspek, untuk memahami makna-realitas. Kita bisa memanfaatkannya untuk memahami makna-komputer-kuantum.

Pemikir masa kini cenderung memahami makna-komputer-kuantum sebagai urutan A, B, C, D. Bahkan, poin D kadang dilupakan; atau, minimal, disisihkan dari kajian untuk sementara atau selamanya.

Sebaliknya, kita akan lebih tepat memahami makna-komputer-kuantum sebagai urutan D, C, B, A atau urutan 1, 2, 3, 4. Jadi, apa makna-komputer-kuantum?

2.3 Heidegger dan Derrida

Heidegger (1889 – 1976) adalah pemikir pertama yang dengan serius mengajukan pertanyaan ontologi fundamental, “Apa makna-ada?”

Ada pohon; ada kursi; ada bumi; ada matahari; ada Tuhan. Tetapi, apa makna-ada?

Karena makna-ada bersifat universal, terbukti sendirinya, dan paling jelas, maka kita tidak bisa mendefinisikan makna-ada. Justru, setiap definisi perlu makna-ada itu sendiri. Situasi seperti ini tidak menjadikan kita bisa lebih paham tentang makna-ada. Kita perlu lebih mendalam mengkaji makna-ada. Konsekuensinya, secara analogis, kita perlu lebih mendalam mengkaji makna-komputer-kuantum.

Derrida (1930 – 2004) melanjutkan bahwa setiap makna adalah differance; sehingga selalu terjadi dekonstruksi makna; termasuk dekonstruksi makna-komputer-kuantum.

(a) Being-in-the-world

Makna-komputer-kuantum adalah being-in-the-world; KK adalah realitas yang ada dalam dunia; KK hanya bisa eksis selalu dalam dunia. Jadi, KK memiliki relasi eksistensial dengan dunia; tidak bisa dipisahkan.

Tetapi, sejauh ini, hanya realitas manusia otentik yang mampu bersikap peduli. Sehingga, KK hanya akan bermakna otentik ketika berhasil menjalin relasi otentik dengan manusia; KK berhasil memicu sikap peduli otentik dari manusia.

(b) Being-with-others

KK adalah relasi antara satu manusia dengan manusia lain; sehingga saling memahami.

Paradoks-paradoks dalam quantum mengundang umat manusia untuk lebih banyak dialog; melalui tatap muka, tulisan, mau pun media digital. KK memfasilitasi relasi antar umat manusia menuju masa depan.

KK adalah teman sejati bagi manusia; tidak bisa dipisahkan; co-originary. Teknologi adalah teks yang mengalami dekonstruksi; teknik adalah organ tubuh manusia; dan menyatu dengan manusia.

(c) Fourfold

KK adalah produk budaya dan alam, terutama kajian sains dan rekayasa quantum, untuk lebih berkembang.

KK membuka posibilitas baru untuk memahami, dan memanfaatkan,  fenomena quantum.

KK membuka kembali nilai-nilai spiritual, dan ketuhanan, dalam teknologi; masih banyak paradox dan misteri tanpa henti.

KK, pada akhirnya, akan musnah; dilupakan atau diganti oleh teknologi yang lebih baru. Akhir seperti apa yang akan menjadikan KK sempurna?

2.4 Makna Perempatan Ganda

Perempatan ganda menjadi per-8-an.

Perbedaan dan pembedaan mengalun harmonis dalam semesta tanpa henti.

Per-8-an, atau wolu, memberi makna-komputer-kuantum secara luas dan dinamis. Kita bisa mengembangkan makna-komputer-kuantum lebih dalam lagi dengan kerangka wolu ini.

2.5 Lima Paradigma

Terdapat 5 paradigma yang bisa membantu kita untuk memahami makna-komputer-kuantum.

Positivisme yang merupakan filsafat berdasar sains merupakan salah satu paradigma penting. Lebih dari itu kita bisa menambahkan 4 paradigma berbeda: kritikal; interpretatif; postmo; dan pragmatisme.

3. Epistemologi Kuantum vs Gravitasi

Kajian makna-komputer-kuantum dengan kerangka wolu sudah melibatkan aspek epistemologi dan aksiologi. Di sini, kita akan menekankan beberapa aspek epistemologi, terutama, yang berkaitan dengan wacana kebebasan.

Einstein dan Bohr sepakat dalam wacana [1] kepastian; tetapi mereka berbeda dalam wacana [2] kebebasan. Perkembangan kuantum lebih memihak kepada Bohr. Sementara, Einstein konsisten mengembangkan teori gravitasi lebih mendalam: relativitas khusus, relativitas umum, dan Einstein Equation.

Secara filosofis, kita boleh mengajukan pertanyaan, “Bagaimana posibilitas komputer-gravitasi?” Apakah benar kita bisa merancang komputer yang beragam? [1] Komputer-klasik yaitu komputer analog dan komputer digital yang eksis selama ini; [2] komputer-kuantum yang sedang menjadi pembahasan kita; [3] komputer-gravitasi yang mengeksplorasi teori gravitasi. Masing-masing jenis komputer mengembangkan epistemologi yang unik.

3.1 Ketidakpastian Heisenberg

Selalu ada ketidakpastian; Pengukuran posisi dan momentum partikel selalu mengandung ketidakpastian yang lebih besar dari o.

3.2 Kucing Schrodinger

Kucing Schrodinger adalah kucing quantum. Kucing yang berada dalam kotak dengan kondisi setengah hidup dan setengah mati. Bagi wacana kepastian, kucing Schrodinger pasti sudah mati atau pasti masih hidup. Bagi wacana kebebasan quantum, kucing itu tidak-pasti hidup atau mati. Superposisi hidup dan mati.

3.3 Paradoks Feynman

Orang yang mengaku paham quantum maka dia tidak paham.

Tetapi, bila seseorang mengaku tidak paham kuantum maka, barangkali, dia memang benar.

Secara singkat, epistemologi KK adalah probabilistik yang terbuka terhadap revisi dan ketidakpastian.

4. Aksiologi Disrupsi Futuristik

Hampir bisa dipastikan, komputer kuantum akan berdampak disrupsi; lebih dari sekedar inovasi atau kreasi.

“Running those simulations on a quantum computer could help scientists discover new drugs and fuels and batteries, or help unravel some of the universe’s thorniest mysteries. Their math could supercharge AI and crack the hardest problems—including the prime factoring one that protects all of our digital secrets.” 

Dampak disrupsi makin besar karena negara-negara besar di dunia ikut berperan besar.

“Those and other promises have fueled a gold rush of quantum companies, which raised $2.35 billion last year, according to McKinsey, just slightly above the previous year’s total. Alongside billions in government funding—led by the U.S. and China—Google, Amazon, and Microsoft are also investing in research.” 

4.1 Etika Ekonomi: puasa demi masyarakat

Puasa ekonomi: membatasi konsumsi pribadi; mengarahkan manfaat ekonomi dari komputer kuantum untuk menolong ekonomi lemah; meningkatkan konsumsi pihak ekonomi lemah.

4.2 Etika Politik: memberdayakan pihak lemah

Puasa politik: mengendalikan “daya disrupsi” komputer kuantum; agar memberdayakan pihak-pihak yang lemah dalam politik.

4.3 Etika Berpikir Terbuka

Selalu ada dilema dalam kajian KK. Jika Anda tidak menemukan dilema maka kajilah makna-komputer-kuantum lebih dalam lagi. Dari dilema, rangkailah nada-nada alam raya.

5. Masa Depan Komputer Kuantum

Apakah prospek-prospek komputer kuantum akan menjadi realitas, menjadi nyata, di masa depan? Ataukah hanya fiksi belaka?

Saya mengembangkan ukuran OCL yang terdiri dari 5 kriteria utama. Kriteria Over Confidence Level (OCL) = {obyektif, rasional, Progresif, Komparasi, Etika}.

1)Mekanika Kuantum; {5, 4, 4, 4, 4}; OCL = 1,26 = 126%. Kelebihan keyakinan 26%.

2)Komputer Kuantum – Hype; {4, 4, 3, 4, 3}; OCL = 1,42 = 142%. Kelebihan keyakinan 42%.

3)Komputer Kuantum – Adaptasi; {5, 4, 3, 4, 4}; OCL = 1,37 = 137%. Kelebihan keyakinan 37%.

Perspektif dari masa depan menyinari komputer kuantum masa kini; untuk menuju masa depan. Apa masa depan pilihan Anda?

Tugas Negara Tidak Tuntas

Dua tugas negara yang paling utama justru tidak tuntas. Presiden Jokowi tidak berhasil tuntas. Tetapi, SBY juga tidak tuntas. Lebih umum lagi, semua presiden, termasuk Soekarno dan Soeharto, sama-sama tidak tuntas. Bahkan, Biden mau pun Trump, sama saja, tidak tuntas.

Tugas negara paling utama ada dua: [1] menetapkan aturan dan [2] menerapkan aturan.

Dua tugas di atas adalah tugas manusiawi. Setiap orang, termasuk diri kita, wajib menjalankan dua tugas itu. Di saat yang sama, kita sama juga; kita juga tidak tuntas mengerjakan dua tugas itu. Bagaimana solusinya?

1. Menetapkan Aturan
2. Menerapkan Aturan
3. Menghormati Aturan

Wittgenstein (1889 – 1952) mengajukan pertanyaan, “Apakah manusia bisa mengikuti aturan?” Wittgenstein menjawab dengan tidak tuntas. Pemikir generasi berikutnya mencoba menjawab pertanyaan Wittgenstein; menghasilkan puluhan buku dan makalah ilmiah; sama saja, jawaban mereka tidak tuntas. Jadi, lagi, apa solusinya?

Kita akan memberi solusi bertahap di bawah ini.

1. Menetapkan Aturan

Tugas utama negara adalah menetapkan aturan. Realitasnya, negara tidak pernah tuntas menyelesaikan tugas untuk menetapkan aturan. Misal, Indonesia sudah menetapkan UUD 1945 sebagai konstitusi negara. Apakah tuntas? Tidak. Karena kita masih membuka diri dengan posibilitas amandemen UUD.

MK menetapkan suatu aturan. Apakah tuntas? Putusan MK bersifat final; tidak ada lagi banding. Tetapi, tetap saja, tidak tuntas. Mengapa MK menetapkan aturan itu? Karena ABC. Mengapa ABC? Karena XYZ. Mengapa XYZ. Tidak pernah tuntas!

Tahun 2023, sebagai contoh, MK menetapkan bahwa kepala daerah yang usia di bawah 40 tahun boleh jadi capres atau cawapres. Ketetapan oleh MK ini berbeda dengan rezim aturan sebelumnya; yaitu syarat capres dan cawapres adalah usia 40 tahun atau lebih.

Apakah MK berhak menetapkan aturan seperti itu? Berhak, menurut pandangan beberapa anggota MK dan pendukungnya. MK tidak berhak menetapkan itu; menurut kritikus dan beberapa tokoh. Apakah tuntas? Jelas tidak tuntas.

Jadi, negara tidak tuntas dalam menjalankan tugas untuk menetapkan aturan.

2. Menerapkan Aturan

Apakah aparatur negara, misal ASN, sudah menerapkan aturan undang-undang? Sudah. Apakah tuntas? Tidak tuntas.

Beberapa orang pejabat dan ASN ditangkap karena kasus korupsi; mencuri uang rakyat. Mereka tidak tuntas menerapkan aturan yang sudah menjadi tugasnya.

Andai para pejabat menerapkan aturan dengan disiplin; tanpa korupsi; tanpa mencuri; tanpa nepotisme; apakah pejabat tersebut sudah secara tuntas menerapkan aturan? Tidak tuntas.

Ambil contoh seorang pejabat yaitu walikota yang usia masih di bawah 40 tahun; dia menerapkan aturan MK dengan mendaftar sebagai cawapres; sesuai aturan MK; apakah walikota tersebut menerapkan aturan secara tuntas? Tidak tuntas. Mengapa walikota tersebut tidak fokus menjalankan tugas sebagai walikota? Mengapa justru sibuk jadi cawapres? Akan selalu ada pro kontra sebagai bukti tidak tuntas dalam menjalankan tugas.

Menetapkan aturan bersifat universal abstrak; misal, MK menetapkan aturan kepala daerah usia kurang 40 tahun bisa capres capwapres. Sementara, menerapkan aturan bersifat partikular konkret; misal walikota muda tertentu daftar cawapres. Keduanya, sama-sama, tidak tuntas. Perlu waspada bahwa kita sendiri juga tidak tuntas. Kita bisa memilih menetapkan aturan tertentu bagi hidup kita; bisa berdasar konstitusi atau ayat suci. Kemudian, kita menjalankan aturan-aturan tersebut dengan konsisten. Apakah tuntas? Tidak tuntas.

3. Menghormati Aturan

“Apakah manusia bisa mengikuti aturan?”

Jawaban yang tepat adalah manusia bisa menghormati aturan; sebagai bukti menghormati orang lain; menghormati Tuhan; dan menghormati semesta raya.

[1] Manusia bisa mengikuti aturan.

Mari kita buat contoh simulasi. Budi naik motor menemui lampu lalulintas seperti biasanya. Apakah Budi bisa mengikuti aturan?

Bisa. Ketika lampu nyala merah maka Budi berhenti di jalan itu. Ketika lampu nyala hijau maka Budi mulai jalan mengendarai motornya. Budi berhasil; Budi bisa mengikuti aturan.

Keberatan: Budi tidak bisa mengikuti aturan; Budi hanya mengikuti pikirannya sendiri. Ketika lampu merah kemudian Budi berhenti; Budi bukan mengikuti aturan; Budi hanya mengikuti pikirannya. Budi berpikir ingin berhenti maka Budi berhenti. Andai Budi ingin jalan maka Budi akan jalan.

Jadi, klaim seseorang sebagai sudah mengikuti aturan bisa dibantah; dia hanya mengikuti pikiran sendiri.

[2] Manusia tidak bisa mengikuti aturan.

Budi berhenti ketika lampu merah hanya karena mengikuti pikirannya; Budi tidak bisa mengikuti aturan.

Keberatan: Budi jelas-jelas mengikuti aturan karena berhenti ketika lampu warna merah. Jadi, manusia bisa mengikuti aturan.

Bagaimana pun, debat ini bisa terus berlanjut tanpa henti. Manusia bisa mengikuti aturan dan, di saat yang sama, tidak bisa mengikuti aturan. Yang lebih pasti adalah manusia selalu bisa menghormati aturan. Sebaliknya juga bisa terjadi; manusia bisa tidak hormat kepada aturan. Manusia wajib tanggung jawab atas pilihannya.

[3] Manusia perlu menghormati aturan.

Hanya tinggal satu pilihan kita: manusia perlu menghormati aturan; menghormati sepenuh hati; dengan pikiran terbuka dan jiwa yang terbuka.

Apakah Prabowo-Gibran, yang memperoleh suara 58%, adalah menjadi presiden dan wakil sudah sesuai aturan?

Betul. Sudah sesuai dan mengikuti aturan. Pemilu sudah dijalankan sesuai aturan; berakhir secara valid sesuai keputusan MK. Demikian pandangan para pendukung.

Tidak. Tidak sesuai aturan, menurut para penentang. Pemilu terjadi pelanggaran. Ketua MK melanggar etika; ketua KPU melanggar etika; dan masih banyak pelanggaran di tempat lain.

Kita paham bahwa perdebatan seperti itu bisa terus berlanjut tanpa henti. Tetapi, kita perlu bersikap untuk menghormati aturan. Kita menghormati aturan karena kita menghormati banyak orang yang terlibat dalam aturan itu. Kita menghormati aturan alam, misal hukum gravitasi, karena kita selalu bersama alam raya. Kita menghormati aturan agama karena Tuhan menganugerahkan aturan untuk kebaikan semua.

Jika kita wajib menghormati aturan maka: [1] Apakah para pejabat juga menghormati aturan? [2] Apakah para politikus juga menghormati aturan? [3] Apakah para orang kaya menghormati aturan?

Kita menghormati aturan dan mari mengajak lebih banyak orang untuk menghormati aturan.

Bagaimana menurut Anda?

Pemimpin Revolusi

Membangun Dunia dengan Jiwa Wirausaha

Dunia penuh cahaya. Dunia penuh makna dari satu bahagia ke lain bahagia. Bahkan, duka mengantar manusia menjadi lebih bermakna. Suka dan duka adalah sama-sama penuh makna. Kemudian, dari berlimpahnya makna, bahagia memenuhi dunia.

Syarat agar dunia penuh cahaya bahagia adalah sebagian besar manusia harus berjiwa wirausaha. Kita membutuhkan pemimpin revolusi untuk membangun jiwa wirausaha di setiap penjuru dunia. Pemimpin revolusi itu adalah Anda; benar, Anda adalah pemimpin revolusi yang berjiwa wirausaha. Bagaimana bisa?

Prolog

Bagian 1: Dunia Pemimpin

Siklus Pemimpin

Bagian 2: Dunia Realitas

Realitas Ekonomi Cinta

Realitas Politik Cinta

Realitas Agama Cinta

Bagian 3: Dunia Wirausaha

Wirausaha Jiwa

Wirausaha Fenomena

Wirausaha Noumena

Epilog

Pemenang Debat Capres Cawapres 2024

Siapa pemenang debat capres 2024? Siapa pemenang debat cawapres 2024?

Pemenang debat capres adalah Anies. Karena Anies berhasil menunjukkan jawaban yang pintar, cerdas, dan cepat. Mengapa begitu? Karena saya pendukung Anies.

Pemenang debat capres 2024 adalah Prabowo. Karena Prabowo berhasil menunjukkan sikap patriot rela berkorban untuk Indonesia, adil, dan terbuka. Mengapa begitu? Karena saya pendukung Prabowo.

Pemenang debat capres 2024 ini adalah Ganjar. Karena Ganjar berhasil menunjukkan sebagai pemimpin demokratis, merakyat, dan membela wong cilik. Mengapa begitu? Karena saya pendukung Ganjar.

1. Perbedaan
2. Pembedaan
3. Serasi
4. Lebih Baik
5. Pilih Kasih
6. Diskusi
6.1 Komparasi
6.2 Satu Dimensi
6.3 Preferensi
6.4 Etika
7. Penutup

Adakah cara menentukan pemenang debat capres dan cawapres yang obyektif? Ada. Kita akan membahasnya di tulisan ini. Tentu saja, tidak mudah menentukan pemenang debat capres mau pun cawapres. Karena, setiap penilaian obyektif akan melibatkan sisi subyektif dengan satu dan lain cara.

Rakyat sebagai penonton dan pemilih berhak menentukan pemenang debat. KPU wajib, atau seharusnya, menunjukkan capres cawapres yang menang debat. Timses masing-masing paslon juga seharusnya menunjukkan kemenangan masing-masing capres dengan tegas. Bagaimana pun, kita hanya bisa estimasi pemenang debat; tidak sampai hasil final sejelas sepak bola dengan adu pinalti, misalnya.

1. Perbedaan

Problem pertama dari debat capres adalah gagal menunjukkan perbedaan capres. Semua capres tampak sama saja. Misal menang Anies, maka bisa saja Prabowo dan Ganjar jadi menteri. Begitu juga bila menang Prabowo atau Ganjar, lainnya bisa jadi menteri. Jadi apa perbedaan mereka? Tidak jelas.

KPU, paslon, dan timses perlu memastikan bahwa capres mereka pasti beda dengan capres cawapres lainnya. Bagaimana caranya?

Ide saya: persilakan capres memilih hanya 1 sila dari 5 sila Pancasila yang paling utama bagi capres tersebut. Bisa ditulis di kertas tertutup, kemudian dibacakan oleh moderator. Apakah semua capres akan memilih 1 sila yang sama? Tampaknya, akan ada pilihan yang berbeda.

Selanjutnya, silakan capres mengurutkan 4 sila dari Pancasila, yang belum dipilihnya, dari yang paling utama. Tentu, akan menghasilkan urutan yang berbeda. Beri waktu 1 atau 2 menit bagi masing-masing capres, untuk menjelaskan, mengapa mereka membuat urutan prioritas sila-sila Pancasila seperti itu.

Pada tahap ini, kita sudah bisa melihat perbedaan dari masing-masing capres. Meski, kita belum bisa menentukan siapa pemenang di antara mereka. Tetapi, rakyat sudah bisa mulai membedakan karakter dan sikap para capres atau cawapres 2024 berdasar urutan sila-sila Pancasila.

2. Pembedaan

Beri tugas masing-masing capres untuk membedakan program kerjanya dengan program kerja capres lainnya. Capres perlu menegaskan: [1] program atau visi yang akan dia lakukan dan pasti capres lain tidak akan melakukannya; [2] program kerja yang akan dilakukan capres lain tetapi pasti tidak saya lakukan (sebagai capres bila terpilih).

Pada tahap ini, capres tidak boleh mengatakan setuju dengan capres lain. Karena program yang sama-sama setuju tidak perlu diperdebatkan; biarkan jadi catatan saja. Justru, masing-masing capres harus klaim bahwa program pilihannya lebih bagus dari capres lain; atau program capres lain lebih buruk dari program pilihannya.

Tentu saja, debat menjadi seru; memang itu yang rakyat tunggu. Meski seru, semua calon presiden perlu menunjukkan sikap sopan. Sikap emosional justru akan merugikan diri mereka sendiri.

Problem Teknis

Banyak problem teknis di debat capres kemarin. Salah satunya adalah masalah “waktu” dan minimnya peran moderator mau pun panelis.

Usulan Timer

Timer 2 menit dan 1 menit sebaiknya digabung menjadi 3 menit; kendali timer ada pada capres dan cawapres; mirip timer pada permainan catur.

Bila capres ingin bicara maka dia tekan timer; mikrofon aktif; timer aktif menghitung waktu mundur.

Bila capres ingin diam maka dia tekan mematikan timer; mikrofon mati; timer berhenti.

Dengan demikian, capres benar-benar memiliki waktu bicara 3 menit; dan bisa berdebat saling menyahut; bisa saling kritis; bisa saling menimpali. Debat menjadi lebih hidup.

Usulan Pilihan Ganda

Di bagian akhir setiap sesi, moderator atau panelis perlu untuk memberi pertanyaan konkrit kepada masing-masing paslon dengan pilihan ganda: [a] setuju; [b] tidak setuju; [c] ragu-ragu. Capres diberi waktu 30 detik untuk menjelaskan alasan pilihannya.

Sampai tahap ini, rakyat akan berhasil membedakan masing-masing capres. Rakyat berhasil menentukan siapa pemenang debat capres cawapres 2024. Tentu saja, penilaian ini bersifat obyektif yang berpadu dengan penilaian subyektif.

3. Serasi

Capres deklarasi dengan tegas, “Siapa pun yang akan terpilih menjadi presiden maka kita akan mendukung pemerintahan yang sah tersebut.” Semua capres-cawapres komitmen manjaga harmoni dan serasinya seluruh negeri. Pilpres memang bertujuan untuk “membedakan” di antara semua capres dan cawapres. Tetapi, setelah terpilih presiden resmi maka semua kembali serasi membangun negeri. Sebagian duduk di jabatan kursi. Sebagian yang lain bisa menjadi oposisi.

4. Lebih Baik

Di antara semua paslon capres-cawapres 2024 mana yang lebih baik? Mana yang paling baik?

Lederman menulis makalah yang membahas epistemologi: [1] better-ness; kelebihan; menentukan suatu pilihan mana yang lebih baik dari pilihan lain; [2] preferensi; pilihan mana yang akhirnya disukai atau dipilih oleh seseorang. Makalah Lederman ini menjadi makalah epistemologi terbaik di tahun 2023.

Pertama, kita bisa mengurutkan paslon cawapres untuk menentukan better-ness; mana yang lebih baik. Ada 6 macam urutan dari yang terbaik: 123; 132; atau 213; 231 atau 312; 321.

Berbagai macam kriteria bisa kita kembangkan untuk membandingkan better-ness paslon: pengalaman, rekam jejak, komitmen, sikap, dan lain-lain. Untuk penentuan ini, kita bisa diskusi atau berdebat sampai pagi; bisa juga melakukan suatu studi.

Kesimpulan akhir dari better-ness adalah selalu tidak lengkap; selalu ada lubang kelemahan rasional; selalu ada celah logika. Jadi, tidak pernah ada kesimpulan akhir yang bersifat pasti. Setiap kesimpulan, selalu, bisa diperdebatkan lagi.

Apa pun kesimpulan Anda, tentang kelebihan capres, selalu tidak pernah lengkap.

Tetapi, meski tidak lengkap, bukankah kita bisa memilih berdasar selera masing-masing? Kita perlu membahas preferensi atau pilih kasih.

5. Pilih Kasih

Kedua, benar bahwa setiap orang bisa menentukan pilihan berdasar selera atau pilih kasih atau preferensi. Saya memilih paslon capres-cawapres 2024 karena saya suka dia dan wakilnya. Sudah, begitu saja.

Preferensi ini bisa saja bias, tidak adil, dan tidak bertanggung jawab. Tetapi, bukankah realitas memang seperti itu?

Di sinilah peran penting KPU, Bawaslu, dan segenap warga untuk menjaga pemilu berjalan dengan jujur adil. Perlu pencegahan dan tindakan tegas terhadap kecurangan, money politic, bagi-bagi sembako, dan lain-lain.

Asumsikan tidak ada kecurangan; asumsikan proses pilpres berlangsung jujur adil; apakah preferensi bisa dibenarkan? apakah pilih kasih bisa dipertanggung-jawabkan?

Tidak bisa. Pilih kasih tidak bisa dijustifikasi rasional. Preferensi selalu tidak lengkap. Pilih kasih selalu tidak logis.

[1] Preferensi hanya bisa bersifat rasional bila didasarkan pada data better-ness yang lengkap. Tetapi, data better-ness dari masing-masing capres tidak pernah lengkap. Jadi, preferensi tidak pernah lengkap.

[2] Asumsikan data better-ness dari masing-masing calon sudah lengkap; tetap ada kesulitan logis bagaimana kita membuat relasi dari better-ness ke preferensi; jadi preferensi tetap tidak lengkap.

Hanya ada satu solusi tersisa: tanggung jawab moral. Apa pun pilihan Anda dalam pilpres, Anda tetap wajib tanggung jawab. Lebih-lebih, presiden yang terpilih, dia paling besar memikul tanggung jawab masa depan Indonesia.

Bagaimana menurut Anda?

6. Diskusi

Di bagian ini, kita akan diskusi lebih jauh tentang pilpres berkenaan better-ness (komparasi; kelebihan) dan pilih kasih (preferensi). Saya menambahkan pentingnya etika di bagian akhir diskusi.

6.1 Komparasi

Mengapa seseorang memilih capres K bukan capres M? Karena capres K lebih baik dari capres M. Mengapa capres K lebih baik dari M?

Kita akan menjawab dengan membandingkan empat model komparasi: [1] harapan; [2] tekanan; [3] imbang; [4] mandiri.

[1] Harapan. Seseorang akan memilih sesuatu bila sesuatu itu memberi harapan lebih baik.

Capres K memberi harapan pertumbuhan ekonomi Indonesia tumbuh 9%; capres M memberi harapan pertumbuhan ekonomi 7%. Karena itu, saya memilih capres K.

[2] Tekanan. Seseorang tidak memilih sesuatu bila sesuatu itu mengakibatkan tekanan atau mengakibatkan kerugian.

Saya tidak memilih capres M karena capres M tidak memperhatikan bidang pendidikan. Capres M hanya fokus ekonomi; tetapi bidang pendidikan telantar; pendidikan makin terpuruk.

Apakah seseorang akan hadir untuk memberikan suara pada hari pemungutan suara pilpres nanti? Mereka akan memberikan suara bila pilpres memberi “harapan.” Mereka tidak akan memberikan suara bila pilpres hanya berisi “tekanan.” Orang-orang yang mengatakan, “Di antara para capres, kita memilih yang keburukan mereka paling kecil,” seharusnya mereka tidak memberikan suara saat pemilu nanti. Karena pemilu hanya merupakan “tekanan.”

Kita mengenal golput atau golongan putih yaitu orang-orang yang tidak memberikan suara pada pemilu. Tentu, hak pribadi seseorang untuk memilih golput. Bisa jadi, golput berkontribusi positif bagi demokrasi. Bagaimana pun, KPU dan partai politik perlu meningkatkan partisipasi masyarakat.

[3] Imbang. Seseorang tidak perlu memilih sesuatu bila pilihan itu berimbang antara harapan dan tekanan.

Saya tidak perlu memilih capres K karena capres K memberi harapan pertumbuhan ekonomi tetapi bisa juga capres K mengakibatkan korupsi melalui birokrasi. Saya bahkan bisa saja golput karena pilpres berimbang antara harapan dan tekanan.

[4] Mandiri. Seseorang memilih K dari pada M dengan resiko yang sama yaitu kehilangan hak pilih jika seseorang itu tidak menentukan pilihan.

Pilihan K bisa saja sulit dibandingkan dengan pilihan M. Tetapi, seseorang harus menentukan pilihan dengan resiko yang sama bila tidak memilih. Jadi, K mandiri terhadap M tetapi resiko K sama persis dengan resiko M bila tidak terjadi pemilihan tersebut.

Mari kita terapkan 4 model komparasi di atas untuk menentukan pilihan capres cawapres 2024. Untuk memudahkan diskusi, saya memberikan angka ke masing-masing capres sebagai simulasi.

Anies = [1, 6];

Jasmani = 1 bermakna pembangunan ekonomi, jembatan, dan gedung adalah biasa-biasa saja; ruhani = 6 bermakna penegakan keadilan, pengembangan pendidikan, dan aspek spiritual sangat bagus.

Prabowo = [6, 1];

Jasmani = 6 bermakna pembangunan ekonomi, jembatan, dan gedung sangat baik; ruhani = 1 bermakna penegakan keadilan, pengembangan pendidikan, dan aspek spiritual biasa-biasa saja.

Ganjar = [4, 3];

Jasmani = 4 bermakna pembangunan ekonomi, jembatan, dan gedung baik; ruhani = 3 bermakna penegakan keadilan, pengembangan pendidikan, dan aspek spiritual cukup baik.

Secara komparasi di atas, siapa capres yang paling baik? Anies terbaik dari aspek pengembangan ruhani; Prabowo terbaik dari aspek pengembangan jasmani; Ganjar terbaik dalam aspek keseimbangan jasmani dan ruhani. Tetapi, bila jasmani dan ruhani digabungkan maka semua capres sama-sama mendapat nilai 7.

Menariknya, semua capres mendapat nilai total positif yaitu 7; sehingga, harapan rakyat ikut positif; rakyat akan berbondong-bondong menuju bilik suara untuk memberikan suaranya. Model komparasi yang sesuai adalah model-harapan; sementara, model-tekanan tidak sesuai di contoh simulasi kita kali ini. KPU berhasil meloloskan capres dengan kualitas tinggi. Partai politik berhasil dengan baik dalam kaderisasi. Indonesia akan segera menjadi negara adil makmur. Benarkah itu semua?

Bisa saja, ada orang yang berpikir kritis. Mereka memberi nilai negatif kepada semua pasangan capres cawapres. Mereka mengatakan bahwa memilih capres adalah memilih capres yang paling kecil bahayanya. Bila demikian, model-tekanan adalah yang paling sesuai; model-harapan tidak lagi sesuai. Seharusnya, rakyat tidak perlu datang memberikan suara ketika pemilu nanti; rakyat lebih banyak yang golput. Benarkah seperti itu?

Model-imbang barangkali memang lebih imbang dalam menilai situasi pilpres 2024. Masing-masing capres memiliki nilai positif dan negatif. Jadi, memang imbang. Lalu, mengapa harus ada pilpres? Mending status quo saja. Atau sengaja golput?

Model-mandiri barangkali bisa bersikap optimis. Masing-masing capres bisa saja bernilai positif atau negatif secara mandiri. Karena mandiri maka masing-masing rakyat bebas untuk memberikan suara ketika pilpres 2024; bebas juga tidak memberi suara atau golput.

Golput perlu kita perhatikan karena memiliki peran penting dalam demokrasi. Golput, besar atau kecil, menunjukkan bahwa presiden terpilih atau pejabat terpilih hanyalah dipilih oleh sebagian kecil rakyat. Sehingga, presiden dan pejabat tetap perlu mendengarkan suara rakyat banyak dengan hati terbuka; menciptakan ruang publik yang baik; banyak melakukan konsultasi publik yang bermakna. Di sisi lain, KPU dan partai politik perlu meningkatkan dukungan dan partisipasi publik untuk meningkatkan legitimasi politik.

Kembali ke pertanyaan utama: siapa capres terbaik antara Anies, Prabowo, dan Ganjar?

Karena masing-masing capres mendapat poin 7 maka kita perlu kriteria lanjutan (dari jasmani dan ruhani). Secara matematis, resultan vektor sudah sering dipakai, misal dikuadratkan.

Anies = 1^2 + 6^2 = 37

Prabowo = 6^2 + 1^2 = 37

Ganjar = 4^2 + 3^2 = 25

Anies (37) dan Prabowo (37) lolos ke putaran dua; Ganjar (25) tereleminasi. Apakah valid menetapkan resultan vektor dengan 1 dimensi seperti itu? Orang-orang bisa mengajukan keberatan.

Alternatif kriteria lanjutan adalah keseimbangan dengan cara mengalikan.

Anies = 1 x 6 = 6.

Prabowo = 6 x 1 = 6.

Ganjar = 4 x 3 = 12.

Ganjar unggul menjadi yang terbaik. Anies dan Prabowo pada urutan berikutnya.

6.2 Satu Dimensi

Kriteria akhir sudah bagus berupa 1 dimensi saja; sebuah angka bilangan saja. Dengan demikian menjadi jelas; siapa capres yang menang dan siapa yang kalah. Tetapi, kriteria 1 dimensi mengakibatkan manusia teralihkan dari pemahaman mendalam; menjadi hanya fokus menang vs kalah. Padahal kemampuan memahami suatu masalah dengan mendalam adalah nilai penting bagi setiap manusia. Kriteria 1 dimensi beresiko salah arah.

Contoh pernyataan yang salah karena satu dimensi adalah S = Tidak penting etika; tidak penting teori; tidak penting spekulasi; tidak penting pemahaman. Jika rakyat suka, biarkan rakyat memilih capresnya. Suara terbanyak dari rakyat adalah penentu seorang capres sebagai pemenangnya.

Pernyataan S menjadi salah karena satu dimensi; menentukan segalanya hanya dari perolehan suara rakyat. Pilpres lebih dari sekedar suara; pilpres lebih dari sekedar menang kalah; pilpres lebih dari sekedar kompetisi. Pilpres adalah proses bagi rakyat untuk memahami nasib dirinya; rakyat untuk memahami pemimpin politik selama ini; rakyat untuk memahami calon pemimpin masa depan; pemimpin untuk memahami dirinya sendiri; pemimpin untuk memahami rakyatnya; dan calon pemimpin untuk memahami rakyat dan negara.

Contoh lagi, pernyataan yang salah karena satu dimensi adalah U = uang adalah segalanya; tidak penting teori; tidak penting susah atau mudah; tidak penting etika atau politik; tidak penting pertanian atau industri; tidak penting kerja atau dagang; yang penting adalah menghasilkan uang besar.

Pernyataan U menjadi salah karena menganggap uang adalah satu-satunya dimensi penentu bagi segalanya. Yang benar, manusia membutuhkan banyak hal yang bernilai lebih dari sekedar uang. Manusia butuh berkarya; manusia butuh olah raga; manusia butuh sastra; manusia butuh makna. Manusia memang bukan satu dimensi; manusia adalah banyak dimensi.

Kita menghadapi kontradiksi dari satu dimensi. Di satu sisi, kita butuh 1 dimensi agar bisa menentukan mana pilihan terbaik. Di sisi lain, kita selalu salah arah dalam menentukan pilihan berdasar 1 dimensi itu; karena penetapan kriteria 1 dimensi tidak bisa dijustifikasi secara rasional logis. Kontradiksi selalu terjadi.

C = Capres yang memperoleh suara lebih dari 50% adalah pemenang pilpres.

Pernyataan C di atas tidak bisa dijustifikasi secara logis; selalu ada lubang logika; selalu ada kelemahan rasional. Tetapi, bukankah Indonesia meyakini dan menerapkan C? Capres yang meraih suara lebih dari 50% adalah menang?

Pernyataan C menjadi benar karena Indonesia sepakat tentang C. Setelah syarat dan ketentuan dipenuhi, capres dengan suara lebih dari 50% adalah pemenang sebagai presiden terpilih.

Beda dengan US. Trump hanya memperoleh 62 juta suara; sementara Hillary memperoleh 65 juta suara. Tetapi, Trump adalah pemenang terpilih menjadi presiden Amerika pada tahun 2016. Jadi, US tidak menetapkan suara terbanyak sebagai penentu kemenangan pilpres. US menetapkan electoral vote sebagai penentu.

Indonesia beda dengan US. Lalu mana yang lebih baik dari Indonesia dengan US? Tidak bisa dipastikan secara logis. Maksudnya, Indonesia bisa saja lebih baik atau setara atau lebih buruk dari US dalam menentukan kemenangan pilpres.

Kriteria satu dimensi selalu menghadapi kontradiksi. Saya tambahkan contoh lagi: lebih besar mana jam 3 atau jam 9?

Umumnya, jam 9 adalah lebih besar; pukul 9 lebih besar dari pukul 3; yaitu, awalnya pukul 3, kemudian waktu berjalan, akhirnya pukul 9.

Kita mudah memahami, dengan melihat jam dinding, bahwa jam 3 lebih besar dari jam 9; awalnya jam 9 malam, kemudian waktu berjalan, akhirnya jam 3 dini hari. Ada kontradiksi. Angka-angka pada jam dinding tidak bersifat linear; tetapi jam adalah berputar; jam adalah melingkar. Jadi, suara terbanyak sebagai penentu kemenangan bukanlah suatu kebenaran; tetapi hanya prosedural.

6.3 Preferensi

Pokoknya, saya memilih presiden yang saya suka. Sudah, itu saja. Mengapa Anda suka kepada capres yang itu bukan capres yang lain? Preferensi atau pilih kasih bisa terjadi sejak lama; bisa juga terjadi sesaat begitu saja; bisa juga karena rekayasa.

Anak kecil yang sering mendengar kisah kepahlawanan proklamator Soekarno bisa dengan mudah suka kepada capres yang meneruskan karakter Soekarno. Anak kecil yang sering mendengar, dan merasakan, manfaat pembangunan era Soeharto bisa dengan mudah mendukung capres yang meneruskan karakter Soeharto. Preferensi terbentuk sejak kecil dan makin kuat sampai dewasa.

Bagi-bagi uang kepada rakyat kecil bisa menjadikan rakyat kecil memilih capres tersebut. Membuka lapangan kerja bagi pemuda bisa menjadikan masyarakat memilih capres itu. Memperbaiki jalan berlubang dengan aspal yang mulus bisa menjadikan rakyat mendukung capres bersangkutan. Tentu saja, ancaman keselamatan kepada anggota keluarga pasti memaksa kepala keluarga menurut memilih capres tertentu.

Apakah preferensi terhadap capres bisa dijustifikasi secara logis? Dijustifikasi secara rasional? Tidak bisa. Preferensi kepada capres tertentu tidak bisa dijustifikasi secara rasional.

Sudah kita bahas, di atas, preferensi tidak bisa dijustifikasi rasional karena beberapa hal. [1] Preferensi rasional membutuhkan adanya komparasi antar capres yang tuntas. Sementara, komparasi antar capres tidak pernah tuntas. [2] Andai terdapat komparasi capres yang tuntas maka kita perlu membangun relasi yang memadai antara pikiran dengan komparasi. Relasi yang memadai ini tidak pernah tercapai. [3] Konsekuensi dari gagalnya justifikasi rasional maka manusia perlu bergeser kepada justifikasi moral dalam preferensi capres. Meski justifikasi rasional tidak sempurna, kita tetap memerlukan analisis rasional; bahkan analisis rasional adalah analisis paling penting.

Debat capres adalah tanggung jawab moral; agar masyarakat memahami capres dan capres memahami rakyat. Demikian juga, kampanye secara umum adalah tanggung jawab moral; bukan hanya rasional; bukan pula hanya untuk meraih kemenangan suara.

Saya mengembangkan 5 kriteria yang memudahkan bagi Anda untuk menentukan preferensi yaitu EKPRO = etika, komparasi, progresif, rasional, dan obyektif.

[1] Obyektif. Apakah teori ini, atau janji oleh capres, bersifat obyektif? Apakah bisa diuji oleh orang-orang yang berbeda? Apakah bisa diulangi di beberapa ruang dan waktu yang berbeda?

[2] Rasionalitas. Apakah teori ini, atau janji capres, masuk akal sehat? Apakah dengan kajian yang mendalam, makin kokoh? Apakah teori dan janji ini bisa dibuatkan struktur logika untuk memudahkan pemahaman?

[3] Progresif. Apakah teori, atau realisasi janji, makin berkembang? Apakah sebagian dari janji disingkirkan karena salah? Apakah ditambahkan bagian janji baru yang lebih bagus?

[4] Komparasi. Apakah teori dari capres ini lebih baik dibanding teori dari pesaing? Apakah efektif dan efisien? Apakah lebih murah dan bermanfaat?

[5] Etika. Apakah pendukung capres ini menjunjung tinggi nilai-nilai etika? Apakah mereka jujur terpercaya? Apakah mereka adil?

Penetapan kriteria di atas berupa interpretasi. Sehingga, peran manusia sangat penting. Anda bisa mengembangkan kriteria yang berbeda dari contoh saya di atas.

6.4 Etika

Anda memilih capres yang mana pun maka Anda wajib tanggung jawab terhadap pilihan Anda itu. Lebih-lebih, capres yang terpilih menjadi presiden adalah yang paling besar bertanggung jawab untuk mewujudkan Indonesia adil makmur. Andai Anda golput pada pemilu maka, tetap saja, Anda bertanggung jawab atas golput itu.

Etika seperti apa yang menjamin preferensi kita kepada capres bisa dipertanggung-jawabkan?

Ketika menghadapi realitas yang sama, masing-masing orang bisa menghasilkan respon penilaian-cantik dan cinta yang berbeda; menghasilkan preferensi berbeda-beda terhadap capres cawapres.

Melihat kebun teh yang indah, seseorang bisa berpikir untuk menguasainya. Ketika melihat tambang emas berlimpah, seseorang bisa berpikir untuk eksploitasi. Ketika melihat gadis cantik, seseorang bisa berpikir untuk memperdayanya.

Tetapi, orang lain bisa merespon dengan lebih baik. Melihat kebun teh yang indah, dia berpikir untuk menjaga alam semesta. Melihat tambang emas, dia berpikir untuk mensejahterakan masyarakat sekitar. Melihat gadis cantik, dia berpikir mendukungnya dengan memfasilitasi edukasi terbaik.

Mengapa bisa jauh berbeda? Mengapa preferensi saling kontradiksi?

Ontologi cahaya menunjukkan pentingnya etika untuk mengembangkan pengetahuan dan intuisi preferensi. Kita hanya bisa meraih cahaya yang lebih tinggi, cahaya yang lebih kuat, melalui perilaku etis yang layak. Pertama, etika ekonomi. Kita perlu melatih diri hidup sederhana. Mengejar kebutuhan ekonomi hanya sekedarnya saja. Lebih banyak memanfaatkan sumber ekonomi untuk membantu kehidupan sesama dan alam raya.

Kedua, etika politik. Kita hanya perlu memanfaatkan kekuatan politik sekedarnya saja. Tidak perlu sombong, tidak perlu merasa paling mampu menguasai alam raya. Kita memanfaatkan kekuatan politik untuk membangun kekuatan rakyat. Sehingga, setiap orang mampu berkembang meraih bakat-bakat terbaik mereka. Pada gilirannya, kita bersama masyarakat membangun alam raya dengan segala kekuatan, dan kelemahan, yang ada.

Ketiga, etika berpikir terbuka. Kita perlu membuka pikiran, membuka hati, dan membuka diri. Cahaya yang tinggi hanya datang kepada mereka yang membuka hati. Bagaimana cahaya akan masuk jika pintu hati kau tutup rapat-rapat? Mari bersikap terbuka terhadap diri sendiri, terhadap masyarakat sekitar, terhadap alam raya, dan paling penting, terbuka kepada Cahaya Tertinggi.

Kita sadar, sebagai rakyat, kita perlu mengembangkan tiga etika di atas: etika-ekonomi; etika-politik; dan etika-berpikir-terbuka. Tetapi, bukankah paslon capres cawapres adalah yang paling perlu mengembangkan etika tersebut? Pertanyaan ini valid dan membutuhkan jawaban yang solid.

7. Ringkasan

[1] Debat capres cawapres adalah media untuk pembedaan antara capres. Jadi, debat capres dan kampanye adalah sengaja untuk membandingkan satu capres dengan capres lainnya. Bukan untuk menemukan kesepakatan. Program yang disepakati oleh para capres biarkan jadi catatan masing-masing. Program yang menjadi perbedaan, itulah yang perlu diperdebatkan.

[2] Rakyat perlu membuat komparasi untuk menentukan capres terbaik. Capres sendiri boleh meng-klaim dirinya sebagai capres terbaik dengan beragam argumen. KPU dan panitia debat perlu untuk menunjukkan komparasi ini secara eksplisit. Saya mengusulkan beberapa strategi agar komparasi menjadi eksplisit: timer dikendalikan oleh capres; urutkan sila Pancasila; program unik capres.

[3] Dari analisis komparasi, rakyat bisa menetapkan pilihan berdasar preferensi terhadap satu capres. Tetapi, komparasi mau pun preferensi tidak pernah lengkap. Sehingga, preferensi selalu tidak bisa dijustifikasi secara logis. Preferensi hanya bisa dijusitifikasi secara moral. Konsekuensinya, setiap orang bertanggung jawab secara etika.

Semoga Indonesia makin adil makmur. Bagaimana menurut Anda?

Renungan Tanpa Kerja

Lebih baik bekerja tanpa merenung atau merenung tanpa kerja?

Jawaban mudah adalah lebih baik dua-dunya: merenung dan bekerja. Meski mudah, jawaban seperti itu, sulit untuk dilaksanakan. Buku yang ada di tangan Anda ini mengusulkan jawaban unik “30 Renungan Takwa.” Makna takwa adalah meraih prestasi di jalan ilahi dengan cara menjalankan perintah dan menjauhi larangan. Dengan demikian, renungan dan kerja adalah sama-sama bagian dari takwa. Kita perlu renungan dan kerja untuk bisa meraih prestasi takwa. Renungan harian ini menjadikan kerja Anda lebih bermakna, sukses, dan bahagia. Anda bisa membaca renungan ini tiap hari.

Tentang Penulis

Agus Nggermanto, dikenal sebagai Paman APIQ di media sosial, adalah pendidik dan penulis yang produktif. Awal tahun 2000-an, dia menulis buku Kecerdasan Quantum yang menjadi best seller di Indonesia. Kemudian, menulis puluhan buku matematika kreatif. Di youtube, dia sudah berbagi lebih dari 7000 video belajar matematika asyik dan kajian filosofis. Agus menyelesaikan pendidikan dasar dan menengah di Tulungagung, Jawa Timur, dan melanjutkan kuliah di ITB (Institut Teknologi Bandung). Dia mengajar beberapa mata kuliah yang berhubungan dengan kreativitas, inovasi, filsafat sains, teknologi, dan informasi di STEI (Sekolah Teknik Elektro dan Informatika ITB), SBM (Sekolah Bisnis dan Manajemen ITB), dan STT Telkom (sekarang Telkom University). Sejak pandemi, dia menulis buku trilogi: Logika Futuristik.

Realitas masa depan adalah realitas paling penting. Makna realitas yang Anda hadapi saat ini ditentukan oleh realitas masa depan Anda. Demikian juga makna realitas masa lalu; ditentukan oleh realitas masa depan. Sehingga buku “Membuka Realitas Masa Depan” ini menjadi sangat penting. Buku ini merupakan buku kedua dari trilogi buku realitas futuristik. Buku pertama, berjudul Logika Futuristik, sudah terbit. Sedangkan buku ketiga masih dalam proses penulisan. Buku kedua ini adalah yang paling praktis. Sehingga, Anda lebih mudah memanfaatkannya. Lebih-lebih, dalam buku ini, tersedia “7 Pintu Anugerah” yang memperjelas langkah-langkah praktis yang Anda perlukan.