Demokrasi Penuh Empati

Prolog
Bagian 1: Empati di Ruang Publik
Bagian 2: Empati di Ruang Digital
Bagian 3: Kulminasi Empati
Epilog

… … …

Prolog

Bagian 1: Empati di Ruang Publik

1. Ruang Publik (Inspirasi Habermas)
2. Aksi Komunikasi (Inspirasi Habermas)
3. Kecerdasan Emosi (Inspirasi Goleman)
4. Peradaban Empati (Inspirasi Rifkin)
5. Komunikasi Tanpa Kekerasan (Inspirasi Rosenberg)

Bagian 2: Empati di Ruang Digital

6. Hapus Akun Media Sosial Anda (Inspirasi Lanier)
7. Kepompong Digital (Inspirasi Harari)
8. Dialog Antar Kelompok (Inspirasi Rogers)

Bagian 3: Kulminasi Empati

9. Kota Peradaban (Inspirasi Aurelius – Farabi – Ibnu Khaldun – Taylor)
10. Dari Polarisasi Menuju Empati (Inspirasi Almagro)
11. Neurosains Berempati (Inspirasi Noe)
12. Kulminasi Empati Ideal (Inspirasi Hegel – Heidegger – Pippin)

Epilog

Aksi Protes Hak Veto PBB

Hak veto PBB hanya dimiliki oleh 5 negara adidaya dunia. Tentu saja, hak veto ini melanggar asas dasar demokrasi yaitu kesetaraan atau equality atau egalitar. Pada awalnya, barangkali veto berguna untuk memudahkan membatalkan suatu problem rumit. Pada akhirnya, terutama saat ini, veto menjadi problem yang rumit.

Aljazeera melaporkan pada 10 September 2025: “In just three days, Israel has carried out strikes in Palestine, Lebanon, Syria, Tunisia, Qatar and Yemen.

“Hanya dalam waktu tiga hari, Israel telah melakukan serangan di wilayah Palestina, Lebanon, Suriah, Tunisia, Qatar, dan Yaman.”

Israel melanggar aturan internasional dengan menyerang negara lain. PBB, atau lembaga internasional lain, tidak bisa menegur Israel. Karena setiap teguran akan kena veto oleh Amerika; usa selalu membela Israel selama ini. Jadi, veto adalah masalah rumit itu sendiri. Solusinya adalah hilangkan hak veto atau rombak total sistem hak veto.

1. Aksi Protes Hak Veto
2. Tanpa Veto
3. Veto Bergilir
4. Diskusi

PBB tidak bisa membatalkan veto atau mengubah veto; karena usaha seperti itu akan kena veto duluan. Solusinya adalah melalui aksi protes.

1. Aksi Protes Hak Veto

Aksi demo protes adalah sah dalam dunia demokrasi. Sehingga aksi protes adalah sah terhadap hak veto PBB.

Tahun 1998, Soeharto adalah presiden sah secara demokratis. Semua proses demokrasi mendukung Soeharto; tidak ada cara demokrasi untuk melengserkan Soeharto. Aksi massa, demonstrasi 98, berhasil melengserkan Soeharto dari kursi presiden dengan cara yang elegan.

Demikian halnya, tidak ada prosedur untuk mengubah hak veto di PBB; karena semua usaha mengubah veto bisa kena veto duluan. Tetapi aksi protes, demonstrasi damai anggota PBB, bisa menekan agar aturan hak veto diubah demi kebaikan seluruh dunia.

2. Tanpa Veto

Perubahan ekstrem dari aturan veto adalah membuang hak veto sepenuhnya. Tanpa veto, PBB menghadapi risiko diplomasi deadlock; terkunci tanpa henti.

Kita perlu memikirkan sistem veto yang lebih baik misal veto bergilir.

3. Veto Bergilir

Veto bergilir adalah membatasi hak veto aktif hanya dimiliki oleh 2 negara tertentu dalam rentang 1 tahun tertentu, misalnya. Karena ada 5 negara pemiliki veto maka kombinasi 2 negara akan terbentuk 10 pasangan negara. Penentuan pasangan negara yang aktif hak vetonya bisa melalui kocok-arisan atau lotere lempar dadu.

  1. Amerika-Inggris
  2. Amerika-Prancis
  3. Amerika-Rusia
  4. Amerika-Cina
  5. Cina-Inggris
  6. Cina-Prancis
  7. Cina-Rusia
  8. Rusia-Prancis
  9. Rusia-Inggris
  10. Inggris-Prancis

Misal untuk memberi teguran keras kepada Israel bisa dilakukan ketika veto aktif dimiliki oleh Cina-Rusia; atau ketika Amerika tidak aktif. Teguran keras PBB ini akan membuat Israel untuk hidup damai bersama negara tetangga.

4. Diskusi

Bagaimana menurut Anda?

Bisa saja pemilik veto aktif ditambah dengan 1 negara anggota PBB yang lain; selain 5 negara adidaya sebagai mana biasanya. Dengan demikian, total ada 3 negara pemiliki veto aktif dalam satu tahun tertentu dan bergilir kepada negara lain untuk tahun berikutnya.

Pemilik veto aktif perlu dibatasi hanya sedikit negara, misal 3 negara, agar jarang terjadi veto.

Solusi Tunjangan DPR Indonesia: Lottocracy

Tunjangan DPR yang 50 juta rupiah per bulan, dana aspirasi, dana reses, dan uang-uang lainnya telah memicu aksi demo Agustus 2025. Ketika rakyat sulit untuk sekadar bertahan hidup, sulit kerja dan sulit dapat uang, DPR justru berlimpah dana tambahan. Kesenjangan sosial ini tampak makin tajam menambah luka para warga. Tetapi problem keuntungan DPR terjadi baik di Indonesia mau pun di negara lain juga misal usa. Apa solusi terbaik untuk DPR? Salah satu solusi terbaik adalah: lottocracy.

Di halaman depan web lottocracy menampilkan:

Demokrasi sedang menghadapi masalah serius.
Sistem yang ada saat ini tidak berjalan dengan baik. Ketimpangan semakin meningkat, banyak orang hidup dalam kesulitan, sementara segelintir elit menguasai lembaga-lembaga politik kita. Bumi—satu-satunya tempat tinggal kita—semakin memanas dari tahun ke tahun. Masyarakat pun semakin terpecah, dan kita kesulitan bekerja sama untuk mengatasi berbagai tantangan yang ada.

Apakah mungkin justru sistem pemilu itu sendiri yang menjadi masalah?

Buku Lottocracy mengajukan argumen bahwa demokrasi perwakilan berbasis pemilu—meskipun merupakan bentuk pemerintahan terbaik yang pernah dicoba—mengalami hambatan besar di dunia modern.

Namun, ini bukanlah pesan keputusasaan. Sebaliknya, Lottocracy menawarkan visi yang jelas dan terperinci tentang bentuk baru demokrasi: sebuah sistem yang menggunakan undian (lotre), bukan pemilu, untuk memilih wakil-wakil politik kita.”

1. Masalah Demokrasi Indonesia
2. Arisan Politik
3. Solusi Panarko
4. Diskusi

Indonesia menghadapi masalah besar demokrasi; baik masalah pemilu presiden, pemilu legislatif DPR, kesenjangan ekonomi, judi online dan kecanduan AI (artificial intelligence / akal imitasi) yang mahir produksi hoaks. Solusi lottocracy adalah mirip arisan politik yang memerlukan dukungan pendidikan sampai pembentukan panarko-kopanarko.

1. Masalah Demokrasi Indonesia

Sejak awal, demokrasi memang bermasalah. Begitu demokrasi datang ke Indonesia, masalahnya makin membesar. Awal demokrasi dalam sejarah terjadi di Yunani Kuno yang memakan korban Sokrates: orang paling bijak di dunia. Sokrates dihukum mati akibat suara terbanyak oleh demokrasi. Padahal, Sokrates tidak salah. Sokrates hanya menjadi korban fitnah.

Bagaimana dengan demokrasi Indonesia?

Anggota dewan, anggota DPR, penuh sesak oleh artis-artis yang mahir fleksing yaitu pamer kekayaan. Tentu saja, fleksing menjadikan anggota DPR tidak peka terhadap penderitaan rakyat yang parah. Itu adalah masalah besar.

2. Arisan Politik

Mengapa artis-artis yang suka fleksing itu memenuhi gedung DPR di Senayan? Karena tersedia jalur istimewa bagi artis untuk jadi anggota dewan. Dikenal luas sebagai artis merupakan salah satu jalur istimewa itu sendiri.

Sementara keluarga istana, keluarga pejabat, keluarga pengusaha, dan keluarga politikus memiliki jalur istimewa tersendiri. Dampaknya, mereka wajar investasi besar di jalur istimewa ini dan berharap akan panen bila nanti terpilih jadi anggota DPR. Apa solusinya? Jalur istimewa perlu dihapus. Lottocracy menawarkan solusi: arisan politik.

Anggota dewan, anggota DPR, dipilih berdasar arisan; dikocok nama seluruh warga Indonesia yang sudah dewasa; nama warga yang keluar dari kocok arisan ini terpilih sebagai anggora DPR. Arisan politik ini berhasil menghapus jalur istimewa untuk menjadi anggota DPR.

Siapa pun Anda, setiap warga Indonesia, berpeluang untuk menjadi anggota dewan DPR. Sekitar ada 200 juta jiwa orang dewasa yang layak menjadi calon anggota dewan DPR. Jika dipilih 400 orang maka akan terpilih 2 orang DPR dari setiap 1 juta penduduk. Kecil sekali peluangnya; dengan metode arisan politik ini. Sehingga jalur istimewa akan hilang.

3. Solusi Panarko

Karena setiap warga berpeluang menjadi anggota DPR maka ratusan juta orang Indonesia perlu memiliki kemampuan yang memadai sebagai seorang leader, seorang pemimpin, seorang arko. Pembentukan panarko, serba-pemimpin, menjadi penting.

4. Diskusi

Bagaimana menurut Anda?

Ruang Demokrasi Digital: Habermas, Lanier, dan Harari

Demokrasi 2025 di Indonesia sedang bersuara. Dari hati terdalam, suara rakyat bergema. Jejaring digital merawat ruang publik tumbuh berdemokrasi; dari pojok negeri sampai ujung bumi.

Habermas (lahir 1929) meyakini bahwa ruang publik adalah paling penting bagi demokrasi. Bukan sekedar memilih presiden atau wakil rakyat, demokrasi adalah aksi komunikatif (atau komunikasi aktif) di ruang publik bagi seluruh warga. Ruang publik meluas dari ruang alamiah sampai ruang digital. Ketika ruang publik tersumbat maka ledakan akan mencuat setiap saat. Aksi damai 2025 di Indonesia berkembang menjadi aksi di seluruh dunia yang menghangat. Terutama setelah gugur putra pertiwi Affan Kurniawan, seorang driver ojek online, pada 28 Agustus 2025 silam. Akankah aksi 2025 ini mengantar Indonesia adil makmur? Ataukah akan ditumpangi provokator menjadi kerusuhan? Ataukah akan biasa-biasa saja sebagai bunga demokrasi?

Jaron Lanier (lahir 1960) menyerukan untuk menghapus akun media sosial Anda sekarang juga; baik untuk sementara atau selamanya. Media sosial yang diharapkan menjadi ruang publik demokrasi justru membungkam demokrasi itu sendiri. Media sosial membanjiri pikiran kita dengan potongan-potongan informasi menggunung. Tumpukan informasi itu menghapus seluruh makna komunikasi; menghapus ruang publik demokrasi; bahkan menghapus jati diri kita sebagai manusia. Gunungan informasi tidak menghasilkan makna apa-apa. Hapus akun media sosial Anda. Setelah menghapus akun media sosial, Anda boleh berkomunikasi lagi; baik di ruang hati mau pun ruang digital yang merdeka.

Harari (lahir 1976) mencermati jejaring digital yang semula mengembangkan sarang laba-laba saling terhubung seluruh penjuru dunia telah berubah; menjadi kepompong-kepompong digital yang saling membungkus diri. Kepompong digital saling terbelah; saling tidak mengenal; saling tidak mengerti. Meski saling tidak mengenal, anggota kepompong digital yakin: kepompong lain adalah jahat; atau minimal mereka tersesat. Tidak ada lagi ruang publik untuk komunikasi dalam demokrasi seperti ini. Bisakah kita menerobos itu semua untuk membangun demokratis sejati? Politik dengan moral tinggi? Pribadi-pribadi penuh arti?

1. Ruang Publik Demokrasi (Inspirasi Habermas)
2. Reruntuhan Ruang Digital (Inspirasi Lanier)
3. Amarah Kepompong Digital (Inspirasi Harari)

Pada kesempatan ini, kita akan membahas demokrasi dengan meminjam kerangka pikir tiga tokoh di atas: Habermas, Lanier, dan Harari. Tentu saja, kita juga akan menganalisis pemikiran tokoh-tokoh lain. Serta, kita berkaca mencermati situasi Indonesia, dan dunia, akhir-akhir ini. Kita berharap menemukan percik-percik cahaya Indonesia Emas 2045 dan terang masa depan umat manusia.

1. Ruang Publik Demokrasi (Inspirasi Habermas)

Habermas mengkaji pentingnya ruang publik bagi demokrasi secara historis. SEP meringkasnya dengan menarik:

“Pendekatan Habermas dalam karya awalnya ini dapat digambarkan sebagai rekonstruksi historis untuk kepentingan kritik internal. Ia membangun kembali sebuah “tipe ideal” dari ruang publik borjuis, dengan tujuan untuk mengkritik ruang publik yang benar-benar ada dalam demokrasi modern.

Transformasi struktural yang menandai awal dari runtuhnya ruang publik borjuis ditandai dengan perubahan dalam batas antara ranah publik dan privat. Dalam konteks “demokrasi massa negara kesejahteraan” pada pertengahan abad ke-20, negara dan masyarakat menjadi semakin saling terkait, seiring dengan diterapkannya kebijakan ekonomi yang intervensif dan perluasan program kesejahteraan oleh pemerintah. Pada saat yang sama, aktor-aktor non-negara seperti kelompok kepentingan, korporasi, dan partai politik memainkan peran yang semakin besar dalam proses pemerintahan. Habermas menyebut proses ini sebagai “refeodalisasi”.

Habermas melihat bahwa ruang publik modern, dalam banyak hal, menjadi korban dari keberhasilannya sendiri. Ketika ruang publik ini meluas jauh melampaui basis awalnya—yaitu laki-laki berpendidikan dan memiliki properti—ketimpangan material tidak lagi bisa diabaikan, melainkan justru menjadi bahan perdebatan publik. Namun, perdebatan ini tidak lagi berbentuk analisis rasional dan kritis terhadap tindakan negara oleh masyarakat umum, melainkan berubah menjadi negosiasi antar kelompok kepentingan yang melewati nalar publik. Alih-alih mendekati tipe ideal yang diharapkan, yang muncul justru adalah ruang publik semu yang miskin, kehilangan kemampuan diskursus rasional-kritisnya, dan mudah dimanipulasi oleh negara, korporasi, serta kelompok kepentingan melalui teknik-teknik “hubungan masyarakat” (public relations). Peran ruang publik ini kini, seperti pada era feodal, hanyalah untuk memberikan legitimasi terhadap keputusan-keputusan yang sudah dibuat sebelumnya.”

Awalnya, ruang publik adalah modal utama untuk menegakkan demokrasi adil makmur. Akhirnya, di masa kini, ruang publik sudah didominasi oleh pemerintah dan korporasi. Akibatnya, ruang publik menjadi media bagi pihak dominan untuk menancapkan dominasi mereka. Kita perlu berjuang untuk mengembalikan ruang publik sebagai ruang aksi komunikasi lagi dari hati ke hati.

1.1 Ruang Publik Politik

Politik demokrasi adalah dari rakyat, oleh rakyat, untuk rakyat. Sehingga, tema politik adalah paling penting untuk aksi komunikasi di ruang publik. Aksi 2025, misalnya, menuntut transparansi politik khususnya DPR. Semua rapat DPR perlu transparan di ruang publik. Sehingga, seluruh warga yang minat bisa berpartisipasi aktif. Bila transparansi ini bisa terjadi maka akan menjadi kemajuan besar kehidupan politik Indonesia.

Teknologi digital memudahkan transparansi: DPR bisa menyiarkan setiap rapat mereka secara live; dan terbuka terhadap partisipasi warga. Proses cek dan penyeimbangan terjadi.

1.2 Pusat Ruang Publik

Habermas tampak mendukung terjadinya konsensus dari masyarakat luas. Sementara Lyotard (1920 – 1995) lebih mengutamakan dissensus sebagaimana para posmodernis. Konsensus nasional, kesepakatan nasional, tampak memudahkan program pembangunan. Bagaimana cara mencapai konsensus?

Konsensus dicapai melalui aksi komunikasi di ruang publik secara rasional kritis. Pada tahap akhir, bisakah dicapai konsensus global? Seluruh dunia sepakat?

1.3 Keragaman Ruang Publik

Ruang publik itu beragam: nasional, provinsi, kota, dan daerah. Lebih kuat lagi, ruang publik bergerak dari komunikasi konkret masing-masing lokal (individu, rumah tangga, dan desa) menuju komunikasi nasional. Demikian juga tersedia ruang publik formal, informal, mau pun nonformal. Tentu saja, di tahun 2025 ini, ruang digital adalah utama.

1.9 Konsensus untuk Koordinasi

Lyotard bersikeras menolak konsensus; dan tetap mengutamakan dissensus, keragaman sikap dan pikiran. Pada dasarnya, setiap orang adalah berbeda secara unik. Jika harus seragam melalui konsensus maka risiko besar terjadi manipulasi; secara kasar atau pun lembut.

Konsensus diperlukan sekadar untuk koordinasi. Kita di Indonesia berkendara di jalur kiri adalah konsensus. Dengan mengutamakan jalur kiri maka berkendara menjadi lancar dan nyaman. Bila ada orang berkendara di jalur kanan maka risiko kecelakaan lalu lintas; atau menimbulkan kekacauan.

Ketika Anda berkendara di jalur kiri maka Anda bebas melaju dengan kecepatan sedang atau agak lambat; cara berkendara adalah dissensus. Bagi mereka yang buru-buru barangkali tarik gas agar cepat sampai tujuan. Bagi mereka yang santai barangkali berkendara kecepatan sedang sambil menikmati perjalanan.

2. Reruntuhan Ruang Digital (Inspirasi Lanier)

Hapuslah akun media sosial Anda sekarang juga. Pada argumen 9, Lanier menjelaskan:

“Cara bagaimana seorang kandidat “seniman bencana” (disaster artist) dapat diuntungkan oleh Facebook sebenarnya sudah cukup dikenal, meskipun detail pastinya tetap tidak transparan. Ketika seorang kandidat—atau pelanggan lain—membeli akses ke perhatian pengguna melalui Facebook, jumlah akses yang diperoleh tidak hanya ditentukan oleh seberapa besar dana yang dikeluarkan, tetapi juga oleh seberapa besar algoritma Facebook menilai bahwa pelanggan tersebut turut mempromosikan dan meningkatkan penggunaan platform Facebook itu sendiri.

Orang-orang yang terlibat dalam strategi media sosial kampanye Trump mengklaim bahwa Trump memperoleh akses ratusan kali lebih besar untuk jumlah pengeluaran yang sama dibandingkan kampanye Clinton. Namun, pihak Facebook membantah hal ini tanpa memberikan informasi yang cukup untuk membuat situasinya menjadi jelas. Jika benar ada semacam pengganda (multiplier), kemungkinan hal ini juga berlaku untuk para aktor Rusia dan pihak lain yang mendukung Trump dan membeli akses di Facebook, tidak hanya untuk kampanye Trump secara langsung. Algoritma Facebook sendiri bersifat netral—mereka tidak bisa dan tidak peduli dengan siapa yang membeli.

Satu fakta menarik yang terungkap setahun setelah pemilu adalah bahwa Facebook sebenarnya menawarkan tim internal kepada kedua kampanye—Trump dan Clinton—untuk membantu memaksimalkan penggunaan platform mereka. Namun, hanya kampanye Trump yang menerima tawaran tersebut. Mungkin, jika Clinton menerima kehadiran karyawan Facebook di kantor kampanyenya, hasil pemilu bisa saja berbeda. Karena hasilnya sangat tipis, hal kecil apa pun yang bisa menggeser suara sedikit saja ke arah Clinton, bisa saja mengubah hasil akhir.

Facebook dan perusahaan-perusahaan teknologi besar lainnya (sering disebut sebagai BUMMER—“Behaviors of Users Modified, and Made into an Empire for Rent”) semakin menyerupai bentuk ransomware bagi perhatian manusia. Mereka menguasai begitu banyak waktu dan perhatian dari begitu banyak orang setiap harinya, sehingga kini menjadi penjaga gerbang terhadap pikiran manusia.

Situasi ini mengingatkan pada praktik indulgensi di Abad Pertengahan, ketika Gereja Katolik saat itu kadang meminta uang agar jiwa seseorang bisa masuk surga. Praktik indulgensi inilah yang menjadi salah satu pemicu utama munculnya Reformasi Protestan. Kini, seolah-olah Facebook berkata: “Bayar kami, atau kamu tidak akan terlihat.” Mereka mulai berperan seperti mafia eksistensial—mengatur siapa yang dapat “ada” dalam ruang publik digital.”

Ruang digital tampak seperti ruang bebas ekspresi untuk komunikasi. Tetapi, ruang digital sudah terbukti meruntuhkan ruang demokrasi. Politik yang sehat menjadi tidak bisa lagi di media sosial. Karena siapa yang mampu membayar maka mereka akan lebih bersinar. Apakah menghapus akun media sosial Anda merupakan satu-satunya solusi?

3. Amarah Kepompong Digital (Inspirasi Harari)

Harari bertanya apakah demokrasi bisa bertahan di era digital? Ketika kepompong digital saling terkucil di masing-masing ujung dunia maka tampak sulit untuk membangun saling pengertian antar umat manusia. Dengan gaya bahasa indah dibumbui skeptisme dan optimisme, Harari mengungkapkan:

“Menjelang akhir abad ke-20, menjadi jelas bahwa imperialisme, totalitarianisme, dan militerisme bukanlah cara ideal untuk membangun masyarakat industri. Meskipun memiliki banyak kelemahan, demokrasi liberal menawarkan jalan yang lebih baik. Kelebihan utama dari demokrasi liberal adalah adanya mekanisme koreksi diri yang kuat, yang dapat membatasi fanatisme dan menjaga kemampuan masyarakat untuk mengenali kesalahan serta mencoba jalur kebijakan yang berbeda.

Karena kita tidak dapat memprediksi bagaimana jaringan komputer baru akan berkembang, harapan terbaik kita untuk menghindari bencana di abad ini adalah dengan mempertahankan mekanisme koreksi diri dalam sistem demokrasi. Mekanisme ini memungkinkan kita mengenali dan memperbaiki kesalahan seiring waktu.

Namun, pertanyaannya adalah: apakah demokrasi liberal itu sendiri dapat bertahan di abad ke-21? Pertanyaan ini bukan hanya soal kondisi demokrasi di negara-negara tertentu yang mungkin terancam oleh perkembangan lokal, melainkan tentang apakah demokrasi masih cocok dengan struktur jaringan informasi abad ke-21. Dalam bab 5 telah dijelaskan bahwa demokrasi bergantung pada teknologi informasi, dan sepanjang sebagian besar sejarah manusia, demokrasi dalam skala besar tidak mungkin diwujudkan. Apakah teknologi informasi yang muncul di abad ke-21 akan kembali membuat demokrasi menjadi tidak mungkin dijalankan?

Salah satu ancaman yang potensial adalah bahwa jaringan komputer yang semakin canggih bisa menghancurkan privasi kita, serta menghukum atau memberi imbalan tidak hanya atas apa yang kita lakukan dan katakan, tetapi juga atas apa yang kita pikirkan dan rasakan. Apakah demokrasi bisa bertahan dalam kondisi seperti itu?

Jika pemerintah—atau korporasi—lebih mengetahui diri kita daripada kita sendiri, dan mampu mengatur secara rinci segala tindakan dan pikiran kita, maka kekuasaan totalitarian atas masyarakat akan terbentuk. Pemilu mungkin masih tetap diadakan secara rutin, tetapi hanya menjadi ritual simbolis tanpa kekuatan nyata untuk mengontrol pemerintah. Pemerintah dapat menggunakan kekuatan pengawasan yang luas dan pengetahuan mendalam tentang setiap warga untuk memanipulasi opini publik dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya.”

Demokrasi adil makmur menjadi solusi yang kita harapkan. Di saat yang sama, dengan berkembangnya teknologi digital, demokrasi menjadi mudah untuk dimanipulasi.

4. Diskusi

Bagaimana menurut Anda?

Catatan:

1. Ruang Publik Demokrasi (Inspirasi Habermas)
1.1 Ruang Publik Politik
1.2 Ruang Publik Terpusat
1.3 Keragaman Ruang Publik
1.4 Sains Tidak Cukup: Perlu Refleksi dan Wacana
1.5 Rekayasa Tidak Cukup: Perlu Empati Emansipasi
1.6 Institusi Pertumbuhan
1.7 Krisis Legitimasi
1.8

1.9 Konsensus untuk Koordinasi
2. Reruntuhan Ruang Digital (Inspirasi Lanier)

3. Amarah Kepompong Digital (Inspirasi Harari)

Kisah Semesta

Bintang-bintang saling mengejar
Langit membentangkan sayap
Kisah indah sedang menunggu

Pembawa berita itu
Turun ke bumi
Menjadi anugerah
Sunyi kini berpuisi

Langit dan bumi di sana
Puisi hati merangkul semua
Kisah dunia dan akhirat
Ringan berat sama nikmat

Wahai pujaan hati
Terima kasih telah menyapa kami
Yang tercenung
Di sudut pertiwi

Pembawa berita itu
Turun ke bumi
Menjadi anugerah
Sunyi kini berpuisi

Engkau teladan cahaya
Bagi kami menyusuri bumi
Merindu langit biru bertemu

Hakimi Penjarah Rumah Sahroni

Massa menjarah rumah Sahroni, Eko, Uya, dan Sri. Apakah para penjarah ini melanggar hukum pidana? Apakah mereka bertindak kriminal? Apakah mereka perlu dihukum penjara?

Kita butuh hakim yang bijak untuk menghakimi mereka: sebagian massa yang menjarah rumah Sahroni. Tidak cukup hanya KUHP atau undang-undang belaka. Bila cukup dengan undang-undang maka masukkan undang-undang ke AI kemudian AI akan memutuskan apakah pelaku itu bersalah. Tidak bisa seperti itu. Kita membutuhkan manusia yang bijak untuk menghakimi kasus ini.

1. Mengikuti Aturan Wittgenstein
2. Berpikir Aturan Heidegger
3. Kejahatan Banal Arendt
4. Diskusi

Hakim Frank Caprio adalah hakim bijak yang manusiawi telah meninggal dunia sepekan sebelum terjadi demo besar 2025 di Jakarta dan Indonesia. Hakim Caprio menampilkan suasana sidang yang haru dan, bahkan, lucu. Kita terhibur dan tertawa oleh bijaknya seorang hakim Caprio.

Salah satu kasus adalah seorang kakek mengemudi mobil melanggar lampu merah lalu lintas. Lampu menyala merah tetapi kakek itu terus menerobos. Kakek kena tilang dan menghadapi pengadilan oleh hakim Caprio.

“Jelaskan siapa diri Anda dan kejadiannya,” perintah hakim Caprio.
“Saya seorang laki-laki usia 96 tahun yang tidak mengendarai mobil kecuali terpaksa. Saya berkendara selalu dengan pelan-pelan.”
“Mengapa Anda menerobos lampu merah?” tanya Caprio.
“Saya buru-buru mengantar anak saya untuk perawatan cek darah ke rumah sakit. Anak saya mengidap kanker sejak kecil.”
“Berapa usia anak Anda?”
“Usia 63 tahun.”
“Anda merawat anak sampai sekarang?”
“Benar.”
“Kita membutuhkan banyak orang yang tetap menjaga anak-anaknya sampai kapan pun. Anda dibebaskan dari segala tuntutan,” hakim Caprio memutuskan.

Secara aturan tertulis, kakek melanggar aturan lampu merah. Secara bijak, hakim Caprio membebaskan kakek dari segala tuntutan; dengan mempertimbangkan konteks dan situasi apa yang terjadi. Bagaimana dengan para pelaku satroni rumah Sahroni?

1. Mengikuti Aturan Wittgenstein

Wittgenstein (1889 – 1953) adalah pemikir jenius abad 20. Bahkan bisa lebih jenius dari Einstein. Wittgenstein mengajukan pertanyaan paradoks, “Apakah manusia bisa mengikuti aturan?” Sampai sekarang tetap paradoks.

(a) Manusia bisa mengikuti aturan; tetapi manusia sejatinya hanya mengikuti pikiran dan hati mereka sendiri; bukan mengikuti aturan.

(b) Manusia tidak bisa mengikuti aturan; tetapi manusia selalu bisa menyatakan bahwa dia telah mengikuti aturan tertentu; aturan yang telah ada atau pun aturan yang baru dibuat.

2. Berpikir Aturan Heidegger

Heidegger (1889 – 1976) adalah pemikir terbesar abad 20. Heidegger menyatakan bahwa tugas manusia bukan untuk mengikuti atau melanggar aturan. Tugas manusia adalah untuk menghormati aturan karena setiap aturan sejatinya adalah aturan dari Tuhan. Apa maksud menghormati aturan?

Menghormati aturan adalah berpikir untuk memahami aturan kemudian memutuskan untuk: (a) mengikuti aturan; (b) tidak mengikuti aturan; atau (c) membuat aturan baru. Tindakan menghormati aturan adalah tindakan besar yang menuntut manusia berpikir secara mendalam.

3. Kejahatan Banal Arendt

Hannah Arendt (1906 – 1975) adalah filsuf politik terhebat abad 20. Arendt mengejutkan dunia dengan melaporkan kejahatan banal yang dilakukan oleh Eichmann seorang pegawai Nazi. Eichmann telah menyebabkan ratusan atau ribuan Yahudi dihukum mati dalam kamp konsentrasi Nazi. Arendt bertugas meliput sidang tuntutan terhadap Eichmann di pengadilan Israel. Sebagai seorang Yahudi, Arendt diharapkan akan mengungkap kejahatan terbesar di dunia yang telah dilakukan oleh Eichmann.

Arendt melaporkan bahwa Eichmann telah melakukan kejahatan besar yaitu kejahatan banal; kejahatan yang tampak biasa-biasa saja tetapi dampaknya luar biasa. Kejahatan banal Eichmann adalah kamuflase “Saya sekadar menjalankan aturan.”

Eichmann, waktu itu sekitar perang dunia 2, mendapat tugas untuk mendaftar nama-nama orang Yahudi. Kemudian, Eichmann menyerahkan daftar nama itu ke tentara Nazi. Hari demi hari, Eichmann bekerja sesuai aturan yaitu menjalankan tugas. Laporan Arendt menunjukkan itulah kejahatan banal: sekadar menjalankan aturan; sekadar menjalankan tugas.

4. Diskusi

Bagaimana menurut Anda?

Hakim adalah seorang yang bijak; yang berlimpah hikmah. Hakim tidak sekadar menjalankan aturan; hakim tidak sekadar menjalankan tugas. Hakim berpikir mendalam: apakah vonis hukuman atau membebaskan; atau mengajukan aturan baru. Hakim memang menghadapi paradoks.

Mempertimbangkan pandangan Arendt, Heidegger, Wittgenstein, Caprio, dan lainnya maka apakah para pelaku satroni Sahroni perlu dihukum? Atau perlu dibebaskan?

Anda tentu pernah dengar cerita tentang Abu Nawas yang cerdik itu. Bagaimana jika Abu Nawas menjadi hakim? Ayah dari Abu Nawas adalah seorang hakim yang bijak. Ketika sang ayah makin tua, masyarakat mendorong Abu Nawas agar jadi hakim menggantikan ayahnya. Di satu sisi, Abu Nawas lebih cerdik. Di sisi lain, Abu Nawas mewarisi sikap bijak dari ayah.

Beberapa tahun kemudian, ayah yang hakim bijak itu meninggal dunia. Abu Nawas berbakti dengan melaksanakan pemakaman ayahnya dengan khidmat. Abu Nawas mencium ayahnya untuk terakhir kali. Tercium aroma wangi dari telinga kanan ayah. Tetapi, tercium bau busuk dari telinga kiri ayah. Selesai upacara pemakaman, dukungan masyarakat makin kuat agar Abu Nawas menjadi hakim tertinggi menggantikan almarhum ayahnya.

Abu Nawas tidak bisa menolak dukungan warga. Tapi, Abu Nawas merasa keberatan untuk jadi hakim. Abu Nawas menemukan solusi: ia menjadi gila. Warga tidak bisa komunikasi dengan Abu Nawas yang gila itu: ia selalu ngelantur kemana-mana dalam bicara. Abu Nawas tidak pantas lagi untuk menjadi hakim. Warga kemudian sepakat memilih orang lain sebagai hakim di sana.

Setelah terpilih hakim itu, Abu Nawas sembuh dari gilanya. Warga bertanya, “Mengapa Abu Nawas pura-pura gila?”

“Ayahku yang amat bijak itu saja sebelah telinganya berbau busuk karena menjadi hakim. Bagaimana bila saya jadi hakim? Bukan hanya telinga yang busuk. Mata, hidung, dan mulutku bisa menjadi busuk karena menjadi hakim,” terang Abu Nawas.

Tugas menjadi hakim adalah sangat berat. Berpikirlah yang panjang dan mendalam sebelum menghakimi apa pun itu.

Demokrasi Indonesia 2025: Kopanarko

Apa kabar Indonesia 2025? Apa kabar Indonesia Emas 2045? Apa kabar Anda seorang warga Indonesia?

Indonesia 2025 menyaksikan, diiringi linangan air mata dan hati berkeping-keping, gugurnya seorang pahlawan demokrasi: Affan Kurniawan, driver ojek online, yang dilindas kendaaraan taktis milik aparat kepolisian. Semoga Affan damai di sisi Yang Maha Pengasih.

Pahlawan demokrasi memantik kita untuk berpikir reflektif: apa makna demokrasi; bagaimana mewujudkan adil makmur mulai dari lapisan akar rumput wong cilik; bagaimana meniti jalan Indonesia Emas 2045? Jawaban singkat dari seluruh pertanyaan ini adalah: kopanarko. Apa itu kopanarko?

1. Demokrasi Gagal
2. Asas Demokrasi
3. Kopanarko
4. Diskusi

Demokrasi menyebar hampir ke seluruh dunia; lebih dari setengah belahan dunia klaim bahwa mereka adalah demokrasi. Tetapi demokrasi mereka adalah cacat; termasuk demokrasi di Indonesia adalah cacat. EIU mengawali laporan demokrasi 2025, “Demokrasi sedang menghadapi tekanan. Saat pemerintahan otoriter semakin kuat, negara-negara demokrasi kesulitan menjaga kepercayaan rakyat, sehingga masa depan mereka jadi terancam.” Bagaimana dengan demokrasi Indonesia?

1. Demokrasi Gagal

Indonesia masuk sebagai demokrasi cacat dengan skor 6,44 pada 2025 ini (dari maksimal 10,00).

“Demokrasi yang cacat adalah negara-negara di mana pemilu berlangsung secara adil dan bebas, serta kebebasan sipil dasar tetap dihormati. Namun, negara-negara ini masih memiliki sejumlah masalah, seperti keterbatasan kebebasan media dan sedikit tekanan terhadap oposisi politik atau para pengkritik pemerintah.

Selain itu, negara-negara ini juga bisa memiliki kelemahan serius dalam aspek demokrasi lainnya, seperti budaya politik yang belum berkembang, partisipasi masyarakat dalam politik yang masih rendah, serta masalah dalam pelaksanaan pemerintahan.” (Wikipedia).

Beberapa negara maju di Eropa dan Amerika berhasil mencapai status demokrasi penuh tetapi masih saja demokrasi mereka gagal.

“Demokrasi penuh adalah negara-negara di mana kebebasan sipil dan hak-hak politik dasar tidak hanya dihormati, tetapi juga diperkuat oleh budaya politik yang mendukung berkembangnya prinsip-prinsip demokrasi.

Negara-negara ini memiliki sistem pemerintahan yang sah dan seimbang, lembaga peradilan yang independen dan keputusannya dijalankan, pemerintahan yang berfungsi dengan baik, serta media yang beragam dan bebas.

Negara-negara ini hanya memiliki sedikit masalah dalam menjalankan prinsip-prinsip demokrasi.” (Wikipedia).

Demokrasi penuh mendorong media yang bebas dan beragam. Apa yang diungkap oleh media ini? Media mengungkap kegagalan demokrasi di negara-negara maju itu sendiri. Kegagalan demokrasi bukan sekedar aib tetapi petunjuk untuk memperbaiki kehidupan yang adil makmur.

Berbeda halnya dengan demokrasi cacat misal Indonesia. Media mengalami pembungkaman sehingga media memberitakan Indonesia tampak baik-baik saja; sedang dalam kondisi Indonesia bangkit menuju Indonesia Emas 2045. Andai media di Indonesia adalah bebas maka apakah seperti itu?

2. Asas Demokrasi

Demokrasi menjadi penting karena asas atau prinsipnya bukan karena hasilnya.

Negara yang tidak demokratis bisa saja lebih makmur dari negara demokrasi. Singapura lebih cacat dari Indonesia demokrasinya tetapi Singapura lebih makmur dan lebih maju. Demokrasi lebih bernilai karena asasnya: bebas, setara, persaudaraan, dan lain-lain. Jadi, Indonesia lebih bebas dari Singapura? Benar. Itu salah satu kabar baik.

3. Kopanarko

Kita butuh negara yang demokrasi dan, hasilnya, adalah negara adil makmur. Kopanarko adalah solusinya.

Kopanarko membutuhkan proses panjang: (a) kacau; (b) arko; (c) anarko; (d) panarko; (e) kopanarko.

Awalnya (a) kacau. Negara tidak memiliki seorang pemimpin yang disepakati. Pertikaian sering terjadi antara satu daerah dengan tetangganya. Barangkali Irak dan Afganistan mengalami situasi kacau ini beberapa waktu yang lalu.

Kemudian muncul (b) arko yaitu seorang pemimpin, misal Trump. Kekacauan Amerika ditangani oleh kekuatan Trump. Sukarela atau terpaksa warga Amerika mematuhi arko yaitu Trump. Demikian juga di Rusia oleh Putin, China oleh Xi Jinping, Indonesia oleh Prabowo.

Risiko dari seorang arko adalah menjadi otoriter misal Putin sehingga demokrasi menjadi runtuh. Trump juga otoriter tetapi masih kamuflase dengan mengenakan jubah demokrasi.

Pemimpin otoriter mendorong perlawawan (c) anarko. Kekuatan Trump dilawan oleh anarko yang bebas. Universitas Harvard melawan perintah Trump. Di kampus Harvard, tumbuh mekar kebebasan para anarko. Terjadi penembakan gas air mata di kampus Unisba pada 1-2 September 2025. Penembakan itu adalah sebentuk serangan oleh arko kepada wilayah anarko. Untung saja, menristek-dikti Brian menyatakan bahwa kampus Unisba adalah ruang bebas untuk ekspresi; kampus adalah wilayah anarko. Pak Menteri akan komunikasi dan menyampaikan keberatan kepada polisi. (Unisba: Universitas Islam Bandung).

Wilayah kebebasan anarko perlu diperluas sampai luar kampus. Tetapi perluasan anarko memunculkan risiko situasi (a) kacau. Untuk itu, perluasan kebebasan anarko perlu mengarah kepada (d) panarko: bebas penuh tanggung jawab dan rasa hormat.

Situasi (d) panarko adalah situasi di mana setiap orang adalah arko; setiap orang adalah pemimpin yang bertanggung jawab.

Bagaimana agar panarko: setiap orang menjadi pemimpin bertanggung jawab? Jawaban mudah adalah melalui pendidikan berkualitas merata ke seluruh warga. Kita hanya menggeser masalah besar di sini: masalah demokrasi menjadi masalah edukasi; dengan kata lain, mewujudkan pendidikan berkualitas yang merata adalah sama sulitnya dengan menegakkan demokrasi yang adil makmur. Solusi atas lingkaran edukasi dan demokrasi akan kita bahas di bawah.

Perkembangan wajar dari panarko adalah menjadi (e) ko-panarko: bersama-sama menjadi serba-pemimpin. Situasi ko-panarko adalah situasi konkret yang menjadi idaman bersama; menjadi cita-cita ideal setiap warga.

4. Diskusi

Bagaimana menurut Anda?

Tugas besar adalah: bagaimana kita mewujudkan panarko, serba-pemimpin, melalui edukasi? Karena jalan demokrasi sudah terbukti gagal; jalan ekonomi politik juga sama gagal. Jalan yang tersedia adalah terjal, gelap, dan berliku yaitu pendidikan atau edukasi.

Jalan edukasi ini makin sulit lantaran edukasi sudah berada dalam penjara kepentingan politik tertentu; lebih ngeri lagi, jalur edukasi sudah berada dalam penjara ekonomi masing-masing individu. Setiap sekolah atau universitas, atau bahkan pendidikan agama, “terpenjara” untuk mengumpulkan dana. Mereka tidak murni edukasi sebagai utama. Tetapi, yang lebih parah, adalah setiap siswa yang menempuh pendidikan adalah demi cita-cita ekonomi. Mereka sekolah agar kelak enak kerja untuk kemudahan menikmati keuntungan ekonomi.

Apa yang salah dengan mengutamakan kepentingan ekonomi?

Salah besar. Tujuan pendidikan bukan untuk kepentingan ekonomi. Tujuan edukasi adalah untuk panarko: mengantarkan setiap anak menjadi pemimpin. Setelah setiap anak menjadi panarko maka mereka akan menempatkan kepentingan ekonomi pada tempat yang tepat. Barangkali, kepentingan ekonomi berada pada urutan bawah setelah: membela rakyat kecil; mendukung adil makmur; mengembangkan budaya ilmu; menumbuhkan nilai-nilai ruhani; dan lain-lain.

(a) Panarko = Parresia

(b) Lebih dari Lembaga Politik

(c) Bildung bukan Building

Aksi Demo 2025: Solusi Prabowo

Saya mengusulkan tiga solusi utama untuk Presiden Prabowo: (1) Percepatan pemilu menjadi 26/06/2026; (2) Empati mendengarkan aspirasi seluruh warga; (3) Menyalurkan BLT bagi seluruh warga yang memerlukan.

Aksi demonstrasi (demo) 2025 berlangsung damai pada awalnya. Sewaktu-waktu, demo mudah berubah menjadi ricuh tak terkendali. Kerusuhan, perusakan, dan ricuh adalah hal lumrah terjadi pada demo meski kita komitmen untuk demo aksi damai.

Seorang pahlawan demokrasi telah gugur 28 Agustus 2025:

Affan Kurniawan (18 Juli 2004 – 28 Agustus 2025) adalah seorang pengemudi ojek daring asal Indonesia. Ia meninggal dunia setelah ditabrak dan dilindas oleh kendaraan taktis Rimueng[2] milik Satuan Brigade Mobil (Brimob) Kepolisian Daerah Metro Jaya pada saat unjuk rasa di sekitar Gedung DPR/MPR RIJakarta Pusat pada 28 Agustus 2025.[3][4] Peristiwa ini memicu unjuk rasa yang lebih besar di berbagai tempat di Indonesia, sekaligus mendapat perhatian khusus dari pemerintah dan masyarakat.” (Wikipedia) Kita berdoa semoga Affan mendapat tempat terbaik di sisi Yang Maha Pengasih dan Penyayang.

Kita berada di simpang jalan 2025 untuk menuju Indonesia Emas 2045. Berikut beberapa usulan untuk meraih Indonesia Emas 2045.

1. Percepatan Pemilu Menjadi 26/06/2026

Indonesia membutuhkan pemilu yang jujur adil. Pemilu 2024 sudah berhasil mulus sesuai konstitusi. Tetapi banyak pihak yang meragukan apakah konstitusi 2024 adalah taat asas demokrasi dan kemanusiaan? MK yang dipimpin oleh saudara ipar dari presiden Jokowi dan saudara (paman) dari bakal calon wakil presiden Gibran menjadi sorotan utama. Percepatan pemilu menjadi tahun 2026 adalah solusi usaha damai untuk kebaikan Indonesia Emas 2045. Presiden bisa menerbitkan perppuu untuk itu; peraturan pemerintah pengganti undang-undang.

2. Empati Mendengarkan Aspirasi Seluruh Warga

Empati. Mendengarkan dengan sepenuh hati. Presiden Parabowo sudah memerintahkan agar DPR (dan seluruh aparat) untuk mendengarkan aspirasi seluruh warga dengan empati; kemudian menindaklanjuti. Pernyataan yang sangat bagus ini.

Aksi demo, di antaranya, telah mengajukan 18 + 7 tuntutan: dari transparansi DPR, penghapusan tunjangan, pembatasan masa jabatan DPR, pembersihan Polri, sampai perampasan aset pencuri yaitu para koruptor. Tuntutan-tuntutan ini dan tuntutan lain perlu terus dikaji, dan dialog mendalam, secara damai dan lapang dada.

Dengan hati terbuka dan dialog penuh empati, kita mencegah kerusuhan. Seluruh dialog dan aksi berlangsung damai.

3. BLT (Bantuan Langsung Tunai) untuk Semua

BLT dikucurkan untuk semua warga yang memerlukan. Warga yang membutuhkan bantuan perlu diamankan kebutuhan dasar mereka; khususnya kebutuhan makan sehari-hari. BLT kisaran 30 ribu rupiah per hari, perorang, barangkali mencukupi sekadar untuk kebutuhan makan; setara dengan 1 juta rupiah per bulan.

Asumsi ada 50 juta jiwa yang membutuhkan BLT dikali 1 juta rupiah maka total menjadi 50 trilyun rupiah per bulan. Anggaran MBG bisa dialihkan untuk BLT dan holding Danantara tampaknya tidak keberatan membantu pembiayaan BLT untuk sementara waktu.

Saya mengusulkan pendanaan BLT tidak menggunakan rupiah tetapi menggunakan koin uang pokok; atau kartu digital uang pokok; sudah saya bahas di tulisan saya yang lain. Uang pokok ini berbeda dengan rupiah; sehingga tidak mengganggu nilai tukar dolar terhadap rupiah. Sekaligus, uang pokok menggerakkan roda ekonomi real di lapisan bawah; lapisan akar rumput.

Tiga usulan di atas masih berupa garis besar yang perlu dikaji lebih mendalam dan luas.

Bagaimana menurut Anda?

Apa yang Disebut Berpikir?

What is Called Thinking?

Manusia adalah makhluk yang berpikir. Tapi “Apa yang Disebut Berpikir?” Kita bertanya tentang kita. Kita pula yang akan menjawabnya. Apa makna kata berpikir? Apa makna berpikir sepanjang sejarah filsafat, hikmah, dan sains teknologi? Apa yang dibutuhkan agar bisa berpikir? Apa atau siapa yang memanggil kita untuk berpikir?

1. Pemanggil
1.1 Permainan oleh Bahasa
1.2 Memberi Nama
1.3 Rumusan Pertanyaan
1.4 Vitamin Pikiran
2. Makna Kata Berpikir
2.1 Bukan Alat atau Ekspresi
2.2 Bukan Botol Tapi Sumber Air
3. Sejarah
4. Kebutuhan untuk Berpikir
5. Diskusi
5.1 Jawaban Berpikir
5.2 Apakah AI Bisa Berpikir?
5.3 Apakah AI akan Melampaui Manusia?

Kutipan-kutipan berikut bersumber pada “What is Called Thinking?” karya Heidegger; kecuali disebut lain.

1. Pemanggil

Memanggil adalah bermakna mengajak untuk datang; untuk hadir. Siapa yang memanggil untuk berpikir? Siapa yang dipanggil untuk berpikir? Siapa yang memanggil dengan merdu?

“To call means: to call into arrival and presence; to address commendingly.

Accordingly, when we hear our question “What is called thinking?” in the sense that it asks, What is it that appeals to us to think?, we then are asking: What is it that enjoins our nature to think, and thus lets our nature reach thought, arrive in thinking, there to keep it safe?”

Dalam konteks ini, ‘memanggil’ berarti mengajak sesuatu untuk hadir atau menampakkan diri, dan juga bisa berarti memanggil atau menyapa dengan penuh penghargaan.

Dengan pemahaman ini, ketika kita mengajukan pertanyaan “Apa yang disebut berpikir?”, yang sebenarnya kita tanyakan adalah: Apa yang menarik atau mendorong kita untuk berpikir? Lebih jauh lagi, kita bertanya: Apa yang memerintahkan fitrah atau kodrat kita untuk berpikir, sehingga memungkinkan fitrah tersebut mencapai pemahaman, hadir dalam proses berpikir, dan menjaganya tetap aman di sana?

1.1 Permainan oleh Bahasa

Wittgenstein terkenal dengan konsep language-game (permainan bahasa). Sementara, Heidegger mengenalkan konsep game-of-language (permainan oleh bahasa). Keduanya mirip tetapi ada beda tipis atau malah tajam.

Dalam situasi ini kita berada dalam permainan oleh bahasa; bukan kita sedang bermain kata; bukan bermain bahasa; bukan language-game. Sehingga, kita perlu mencermati bahasa; mencermati game-of-language.

“Is it playing with words when we attempt to give heed to this game of language and to hear what language really says when it speaks? If we succeed in hearing that, then it may happen – provided we proceed carefully – that we get more truly to the matter that is expressed in any telling and asking.

We give heed to the real signification of the word “to call,” and accordingly ask our question, “What does thinking call for?” in this way: what is it that directs us into thinking, that calls on us to think? But after all, the word “to call” means also, and commonly, to give a name to something. The current meaning of the word cannot simply be pushed aside in favor of the rare one, even though the rare signification may still be the real one.” (119).

Tugas kita adalah mengenali, memperhatikan, dan mendengarkan permainan oleh bahasa. Ketika kita memahami permainan oleh bahasa ini maka kita lebih memahami kebenaran. Apakah permainan oleh bahasa itu bersifat eksak seperti matematika? Atau bersifat bebas seperti mengarang novel? Ataukah ada aturan dan kebebasan seperti menulis sajak puisi?

1.2 Memberi Nama

Kita dipanggil secara merdu untuk berpikir; yaitu berpikir untuk memberi nama kepada segala sesuatu; berupa nama-nama indah; menamainya segalanya. Masing-masing diri kita punya nama; hadiah terindah dari orang tua dan keluarga; dan nama kita itu menjadi kata paling penuh makna ketika kita mendengar panggilan namanya.

Menamai adalah menyebut, memanggil, untuk datang hadir.

“To name something-that is to call it by name. More fundamentally, to name is to call and clothe something with a word. What is so called, is then at the call of the word. ‘What is called appears as what is present, and in its presence it is brought into the keeping, it is commanded, called into the calling word. So called by name, called into a presence, it in turn calls. It is named, has the name. By naming, we call on what is present to arrive. Arrive where? That remains to be thought about. In any case, all naming and all being named is the familiar “to call” only because naming itself consists by nature in the real calling, in the call to come, in a commending and a command.” (120).

Memberi nama adalah memanggil dengan nama; memberi baju berupa kata. Semua yang dipanggil dipersilakan hadir dengan baju terindah.

Siapa yang memanggil dan siapa yang dipanggil? Kita masih perlu melanjutkan perjalanan.

1.3 Rumusan Pertanyaan

Kita bisa merumuskan pertanyaan menjadi 4:

“(1)What is designated by the word thinking?”

(2) What does the prevailing theory of thought, namely
logic, understand by thinking?

(3) What are the prerequisites we need to perform thinking rightly?

(4) What is it that commands us to think?

We assert : the fourth question must be asked first. Once the nature of thinking is in question, the fourth is the decisive question. But this is not to say that the first three questions stand apart, outside the fourth. Rather, they point to the fourth. The first three questions subordinate themselves to the fourth which itself determines the structure within which the four ways of asking belong together.” (122).

Pertanyaan: (1) apa makna kata berpikir? (2) bagaimana sepanjang sejarah memaknai berpikir? (3) apa saja yang diperlukan agar bisa berpikir? (4) apa atau siapa yang memanggil kita agar berpikir?

Pertanyaan ke (4) adalah paling utama karena ketiga pertanyaan lain mengacu ke pertanyaan ke (4) itu. Siapa yang memanggil kita untuk berpikir?

Memanggil bukan berasal dari nama; tetapi sebalikya. Yang benar: memberi nama adalah melakukan panggilan.

“To call is not originally to name, but the other way around : naming is
a kind of calling, in the original sense of demanding and commending. It is not that the call has its being in the name; rather every name is a kind of call. Every call implies an approach, and thus, of course, the possibility of giving a name. We might call a guest welcome. This does not mean that we attach to him the name “Welcome,” but that we call him to come in and complete his arrival as a welcome friend. In that way, the welcome-call of the invitation to come in is nonetheless also an act of naming, a calling which makes the newcomer what we call a guest whom we are glad to see.” (123).

“Selamat datang” adalah panggilan bersahabat untuk menyambut tamu atau kawan. “Selamat datang” adalah penamaan terhadap panggilan hangat itu. Karena suatu “panggilan” maka membuka posibilitas untuk suatu “penamaan.”

1.4 Vitamin Pikiran

Sumber panggilan untuk berpikir itu apakah ingin untuk dipikirkan? Mengapa memanggil bila tidak ingin dipikirkan? Mengapa ingin dipikirkan?

“But from what other source could the calling into thought come than from something that in itself needs thought, because the source of the calling wants to be thought about by its very nature, and not just now and then? That which calls on us to think and appeals to us to think, claims thought for itself and as its own, because in and by itself it gives food for thought-not just occasionally but now and always.

What so gives food for thought is what we call most thought-provoking.” (125).

Pemanggil itu ingin merangkul pikiran dan, lebih dari itu, memberi vitamin pikiran; sehingga kita memiliki posibilitas untuk berpikir; untuk menyambut panggilan berpikir. Hanya dengan anugerah vitamin itu, makanan sehat itu, manusia akan mampu berpikir.

“Whether we are in any given case capable of thinking, that is, whether we accomplish it in the fitting manner, depends on whether we are inclined to think, whether, that is, we will let ourselves become involved with the nature of thinking. It could be that we incline too slightly and too rarely to let ourselves become so involved. And that is so not because we are all too indolent, or occupied with other matters and disinclined to think, but because the involvement with thought is in itself a rare thing, reserved for few people.” (126).

Agar kita mampu berpikir maka kita perlu untuk condong berpikir; ikhlas melibatkan diri dalam berpikir. Tetapi jarang terjadi seorang manusia ikhlas melibatkan diri dalam berpikir. Heidegger klaim bahwa apa yang baru kita bahas di atas sudah menjawab dengan tegas: apa atau siapa yang memanggil kita untuk berpikir?

“What we have said must for the moment be sufficient explanation of the fourth way in which we ask the question “What is called thinking?” in the decisive way.” (127).

“Penjelasan yang telah kami sampaikan sejauh ini sudah cukup untuk sementara waktu, sebagai uraian mengenai cara keempat yang paling menentukan dalam mengajukan pertanyaan ‘Apa yang disebut dengan berpikir?'”

2. Makna Kata Berpikir

Kecewa. Barangkali banyak orang akan kecewa karena kita tidak bisa mendefinisikan kata “berpikir” secara tegas. Bahkan, untuk membuat deskripsi tegas pun cukup sulit. Untuk menjelaskan makna kata “berpikir” kita perlu “berpikir” itu sendiri.

2.1 Bukan Alat atau Ekspresi

“True, all of us should be greatly embarrassed if we had to say, straight out and unequivocally, what it is that the verb “to think” designates. But, luckily, we do not have to say, we only are supposed to let ourselves become involved in the question. And if we do, we are already asking: what is it to which the word “thinking” gives a name? Having started with the decisive fourth question, we find ourselves involved in the first question as well.” (127).

Bahasa bukan sekadar (1) ekspresi atau pun (2) alat; bukan pula gabungan antara ekspresi dan alat. Pikiran dan puisi adalah asli sebagai puncak ucapan; di mana bahasa berbicara melalui mulut manusia. Bahasa untuk berbicara adalah berbeda dengan memanfaatkan bahasa.

“Language is neither merely the field of expression, nor merely the means of expression, nor merely the two jointly. Thought and poesy never just use language to express themselves with its help; rather, thought and poesy are in themselves the originary, the essential, and therefore also the final speech that language speaks through the mouth of man.

To speak language is totally different from employing language. Common speech merely employs language. This relation to language is just what constitutes its commonness. But because thought and, in a different way poesy, do not employ terms but speak words, therefore we are compelled, as soon as we set out upon a way of thought, to give specific attention to what the word says.” (128)

2.2 Bukan Botol Tapi Sumber Air

Anggapan bahwa bunyi-kata merupakan gelombang suara adalah abstraksi. Kita mendengar bahasa kemudian mendengar suara. Urutan yang benar adalah: (1) mendengar bahasa; kemudian (2) mendengar suara. Bukan kebalikan dari itu. Meski sains modern sering berasumsi: mendengar suara dulu kemudian memahami bahasa.

“The supposedly purely sensual aspect of the word-sound, conceived as mere resonance, is an abstraction. The mere – vibration is always picked out only by an intermediate step – by that almost unnatural disregard. Even when we hear speech in a language totally unknown to us, we never hear mere sounds as a noise present only to our senses-we hear unintelligible words. But between the unintelligible word, and the mere sound grasped in acoustic abstraction, lies an abyss of difference in essence.” (130).

Bagaimana hubungan getaran-suara dengan kata-bermakna? Heidegger menjawab bahwa kata dan suara terpisah jarak secara hakikatnya; secara esensial. Hanya ada lompatan dari kata ke suara; yaitu lompatan esensi. Dengan kata lain, kita tidak akan menemukan hubungan kata dan suara di dunia fenomena realitas. Kita hanya bisa menemukannya dalam lompatan esensial itu sendiri.

“Words are not terms, and thus are not like buckets and kegs from which we scoop a content that is there. Words are wellsprings that are found and dug up in the telling, wellsprings that must he found and dug up again and again, that easily cave in, but that at times also well up when least expected. If we do not go to the spring again and again, the buckets and kegs stay empty, or their content stays stale.” (130).

Kata bukan istilah; word bukan term.

Kata bukanlah sebuah botol yang berisi air. Anggapan kata sebagai botol maka makna adalah airnya; adalah salah. Yang tepat: kata adalah mirip sumber air. Kita perlu menggali sumber kemudian mengucur air. Makin dalam kita menggali maka makin berlimpah air bening mengucur. Makin dalam kita memahami kata dan bahasa maka makin berlimpah makna.

Jadi, apa makna kata berpikir? Makna kata berpikir adalah kita melibatkan diri secara ikhlas dalam berpikir; kita melibatkan diri secara ikhlas dalam suatu panggilan terdalam. Makin dalam menggali maka makin berlimpah air bening mengucur.

3. Sejarah

Secara umum, sepanjang sejarah, berpikir mengambil dua makna: (1) kalkulatif; atau (2) meditatif.

“Yet we have placed thinking close to poesy, and at a distance from science. Closeness, however, is something essentially different from the vacuous leveling of differences. The essential closeness of poesy and thinking is so far from excluding their difference that, on the contrary, it establishes that difference in an abysmal manner. This is something we modems have trouble understanding.” (134).

“Namun, kita telah menempatkan aktivitas berpikir dekat dengan puisi, dan jauh dari ilmu pengetahuan. Kedekatan di sini bukan berarti menyamakan atau menghilangkan perbedaan. Justru, kedekatan yang sejati antara puisi dan berpikir tidak meniadakan perbedaan di antara keduanya, melainkan justru menegaskan perbedaan itu secara sangat mendalam. Hal semacam ini sering kali sulit dipahami oleh kita, manusia modern.”

Berpikir-meditatif lebih dekat dengan puisi sebagai berpikir sejati. Sedangkan berpikir-kalkulatif adalah berpikir model sains teknologi; sebagai bukan berpikirnya seorang pemikir.

Pemikir era Sokrates dan sebelumnya berpikir secara meditatif; berpikir sejati. Di Yunani ada Parmenides dan Heraclitus. Di Mesir dan Palestina ada Nabi Musa. Di India ada Budha. Di Cina ada Konghucu. Di Persia ada Zoroaster.

Plato mewarisi Sokrates kemudian punya murid Aristoteles. Plato dan Aristo mengajarkan berpikir meditatif. Tetapi Platonisme dan Aristotelianisme cenderung berpikir kalkulatif; bukan pemikir sejati. Dampaknya, Plato dan Aristo dianggap mengajarkan berpikir kalkulatif.

Kita, di jaman ini, lebih banyak menemui pemikiran kalkulatif seiring kemajuan teknologi dan sains. Kita perlu belajar dengan komitmen lebih kuat untuk mendalami berpikir meditatif.

4. Kebutuhan untuk Berpikir

Apa yang kita butuhkan agar bisa berpikir dengan benar? Berpikir sejati? Berpikir meditatif?

“Insofar as we are capable of asking the question in the fourth, decisive sense, we also respond to the third way of asking “What is called thinking?”

The third way is intent on arriving at what is needed, and thus required of us, if we are ever to accomplish thinking in an essentially fitting manner. No one knows what is called “thinking” in the sense of the third question until he is capable of legein and noein.” (231).

“Selama kita mampu mengajukan pertanyaan ‘apa yang disebut berpikir?’ dalam arti yang keempat—yaitu cara yang paling menentukan—maka secara tidak langsung kita juga menjawab pertanyaan versi ketiga.

Versi ketiga dari pertanyaan ini berusaha mencari tahu apa saja yang diperlukan dan dituntut dari kita, agar kita bisa benar-benar melakukan aktivitas berpikir secara tepat dan sesuai dengan hakikatnya. Namun, tidak seorang pun benar-benar memahami apa itu ‘berpikir’ dalam arti pertanyaan ketiga ini, sebelum ia mampu melakukan legein (mengungkapkan-mengumpulkan makna) dan noein (memahami makna secara mendalam dengan pikiran).”

Yang kita butuhkan agar mampu berpikir: (1) legein; (2) noein. Legein adalah kemampuan mengumpulkan dan mengungkapkan seluruh makna yang mungkin; tidak hanya memilih satu makna; tidak hanya mengutamakan makna tertentu; tetapi mengumpulkan seluruh makna yang posibel.

Noein adalah kemampuan menyelami makna secara mendalam; menggali mata air makna lebih dalam; dan makin dalam makin berlimpah kucuran makna air bening. Kucuran air bening ini tanpa henti dari sumber segala sumber. Bagaimana agar seseorang memiliki legein dan noein? Seseorang tidak bisa memilikinya kecuali memperoleh anugerah itu sendiri.

5. Diskusi

Bagaimana menurut Anda?
Apakah AI bisa berpikir? (Akal Imitasi / Artificial Intelligence).
Apakah AI melampaui manusia dalam berpikir?

5.1 Jawaban Berpikir

Jadi apa yang disebut berpikir? Berpikir adalah seluruhnya yang dibahas dalam buku atau sepanjang kuliah. Jawaban ini tampaknya tidak mudah meski kita perlu mencobanya.

Cara yang mudah adalah membuat definisi lalu analisis terhadap definisi. Misal berpikir adalah menggunakan otak. Kemudian kita bisa menjelaskan: (1) menggunakan otak; (2) otak; dan (3) menggunakan. Heidegger tidak mau melakukan cara ini karena cara ini adalah berpikir kalkulatif; sedangkan berpikir sejati adalah berpikir meditatif.

Bagaimana pun, kita akan mencoba membuat ringkasan. Apa yang disebut berpikir? Berpikir adalah (0) berpikir meditatif; yaitu berpikir sebagaimana pemikir; bukan berpikir kalkulatif; bukan berpikir sains teknologi.

Berpikir adalah (4) panggilan dari sang pemberi vitamin pikiran; sang pemberi makanan sehat pikiran. Siapa sang pemberi vitamin ini? Kita bisa menjawab dia adalah Tuhan. Tetapi tuhan metafisika telah mati; terutama setelah proklamasi Nietzsche. Jadi, maksud Tuhan adalah Tuhan Sejati Yang Maha Hidup.

Berpikir adalah (1) makna kata berpikir mirip dengan sumber air; bukan mirip botol berisi air. Makin dalam kita menggali sumber maka makin berlimpah curahan air. Makin dalam kita berpikir maka makin berlimpah berpikir sejati. Kita (i) mendengar kata-kata dari bahasa yang berbicara; kemudian, kita (ii) bisa abstraksi menerima sinyal gelombang suara. Urutan berpikir tidak bisa dibalik (ii) kemudian (i); yang benar (i) lalu (ii). Jadi, berpikir adalah ikhlas mendengarkan.

Berpikir adalah (2) respon sepanjang sejarah yang bergerak antara berpikir meditatif dan kalkulatif. Karena era teknologi sains didominasi oleh kalkulatif maka kita butuh tekad lebih kuat untuk bisa berpikir meditatif; berpikir sebagaimana pemikir.

Berpikir adalah (3) membutuhkan anugerah kemampuan legein dan noein. Legein adalah kemampuan untuk mengumpulkan, menyatukan, dan mengungkap semua makna yang posibel. Noein adalah kemampuan untuk mendalami dengan renungan yang mendalam.

Selanjutnya, berpikir adalah (4), (1), (2), (3), (4),… tanpa henti.

Apakah Anda terpanggil untuk terus berpikir?

5.2 Apakah AI Bisa Berpikir?

AI tidak bisa berpikir meditatif sebagaimana pemikir. Andai AI mampu berpikir maka AI terbatas pada berpikir kalkulatif. Kemampuan AI mengolah data bisa lebih cepat dari manusia. Bagaimana pun berpikir kalkulatif yang dilakukan oleh AI bukanlah berpikir meditatif; meski tampak menghasilkan kalimat-kalimat seperti meditatif.

Apakah AI benar-benar mampu berpikir kalkulatif sebagai mana manusia? Tidak juga. Manusia berpikir kalkulatif dengan merespon situasi konkret; baik situasi eksternal mau pun situasi internal. Sementara, AI hanya merespon prompt sesuai algoritma tertentu.

Andai suatu saat nanti AI mampu berpikir kalkulatif secara benar; tidak halu lagi; maka AI tetap tidak mampu berpikir kalkulatif sebagai mana manusia; apa lagi berpikir meditatif.

5.3 Apakah AI Akan Melampaui Manusia?

Tidak. AI tidak bisa melampaui manusia dalam berpikir. AI hanya bisa melampaui manusia dalam memroses data: menghasilkan jawaban dari suatu pertanyaan; menghasilkan artikel; menghasilkan buku; dan lain-lain.

Manusia sudah terbiasa dilampaui oleh teknologi dalam banyak kasus. Teknologi gedung lebih kuat dari manusia dalam melindungi sengatan matahari atau guyuran hujan. Teknologi mobil lebih cepat berlari dari langkah kaki manusia. Teknologi pesawat terbang lebih tinggi dari lompatan anak manusia.

Jadi bila, suatu saat nanti, AI mampu lebih cepat menghasilkan disertasi dari riset mahasiswa doktoral maka hal itu adalah fenomena biasa-biasa saja. Bagaimana pun disertasi asli oleh mahasiswa tetap memiliki nilai yang sangat tinggi.

Bagaimana menurut Anda?

Indonesia Merdeka 800 Tahun

Dirgahayu Indonesia Merdeka ke 80: Sekali Merdeka Tetap Merdeka.

Apakah Indonesia benar-benar sudah merdeka? Tentu. Indonesia sudah proklamasi sejak 80 tahun yang lalu. Tetapi Indonesia merdeka sudah lebih 800 tahun yang lalu.

Bagaimana bisa lebih 800 tahun?

Merdeka adalah urusan pikiran, budaya dan sejarah; bukan sekadar urusan negara; apa lagi urusan pemerintahan. Karena itu, Indonesia sudah merdeka 800 tahun yang lalu atau ribuan tahun yang lalu. Dengan analisis yang sama, saat ini, bisa saja Indonesia sedang terjajah; secara ekonomi, teknologi, mau pun politik (dalam dan luar negeri).

Kemerdekaan harus diperjuangkan sampai kapan pun. Semua warga wajib memperjuangkan kemerdekaan. Negara dan pemerintah wajib mewujudkan dan menjaga kemerdekaan setiap warga.

Bagaimana menurut Anda?