Teori Agama: Dari 7 Menjadi 10 Macam

Daniel Pals menulis 7 Teori Agama pada tahun 1996. Buku Pals ini mendapat sambutan meriah dari beragam kalangan. Tahun 2006, Pals merevisi menjadi 8 teori; tahun 2015 menjadi 9 teori; dan tahun 2019, menjadi 10 teori. Apakah jumlah teori ini akan terus bertambah? Tentu, terbuka peluang untuk terus bertambah.

Kita akan membahas prinsip-prinsip penting dari teori agama menurut Pals.

1, Teori dan Definisi
2. Jenis Teori
3. Cakupan Teori
4. Bukti Acuan
5. Keyakinan Pribadi
6. Ringkasan
7. Diskusi

“Berdasarkan prinsip (dari teori) tersebut, berikut adalah serangkaian lima pertanyaan terakhir yang dapat diajukan kepada semua ahli teori, yang memungkinkan kita untuk memilah persetujuan dari perbedaan seiring berjalannya waktu: (1) Bagaimana teori tersebut mendefinisikan subjek? Dari konsep agama apa teori tersebut bermula? (2) Jenis teori apakah teori tersebut? Karena penjelasan dapat beragam, jenis penjelasan apakah yang ditawarkan oleh ahli teori, dan mengapa? (3) Seberapa luas jangkauannya? Seberapa banyak perilaku keagamaan manusia yang diklaim dapat dijelaskan oleh teori tersebut? Semuanya? Atau hanya sebagian? Dan dalam hal tersebut, apakah teori tersebut benar-benar melakukan apa yang diklaimnya? (4) Bukti apa yang menjadi acuannya? Apakah teori tersebut mencoba menyelidiki secara mendalam beberapa fakta, ide, dan adat istiadat, atau apakah teori tersebut menyebar luas hingga mencakup banyak hal? Apakah jangkauan bukti cukup luas untuk mendukung jangkauan teori tersebut? (5) Apa hubungan antara keyakinan pribadi (atau ketidakpercayaan) seorang ahli teori dan penjelasan yang diajukan? Ketika kita mengajukan pertanyaan-pertanyaan ini pada teori-teori klasik, hubungan jawaban-jawaban tersebut pada teori kontemporer akan segera menjadi jelas.”

1, Teori dan Definisi

“Sering dikatakan bahwa agama begitu individual, begitu sulit dipahami dan beragam, sehingga tidak dapat didefinisikan; agama dapat berarti apa saja bagi siapa saja. Itu bukanlah pandangan para ahli teori yang dibahas di sini. Meskipun mereka sangat tidak setuju dalam menjelaskan agama, perbedaan pendapat mereka tidak sebanyak yang mungkin kita duga dalam hal mendefinisikannya. Jika kita mencermati—dan dalam beberapa kasus membaca yang tersirat—tampak jelas bahwa mereka semua mendekati pandangan bahwa agama terdiri dari kepercayaan dan perilaku yang terkait dengan alam supernatural makhluk ilahi atau spiritual. Ini adalah poin yang layak untuk ditunjukkan.”

Terdapat keragaman definisi agama dari para ahli. Bagaimana pun para ahli tetap membuat definisi tentang agama. Kita layak bertanya apa-itu-agama? Apa makna-agama?

Tylor, Frazer, (1) dan Eliade (7) mendefinisikan agama sebagai “percaya kepada realitas spiritual” di antaranya percaya Tuhan, malaikat, mukjizat, dan lain-lain. Durkheim (3) mendefinisikan agama sebagai “percaya kepada yang suci”; pada gilirannya yang suci atau sakral itu adalah masyarakat. Ibadah ritual yang dilakukan oleh masyarakat adalah sakral; nilai-nilai suci yang dihormati masyarakat adalah sakral.

Freud (2) dan Marx (4) mendefinisikan agama sebagai kepercayaan kepada Tuhan; khususnya Tuhan Maha Esa dari agama Ibrahimiah Islam, Kristen, dan Yahudi. Meskipun Freud, Marx, dan Durkheim sadar bahwa definisi itu hanya permukaan. “Underneath the appearances lies humanity’s obsessional neurosis or the pain of injustice that requires the opium of belief.” Di balik permukaan, menurut mereka, ada obsesi neurosis atau kepedihan penindasan yang membutuhkan candu keyakinan.

“Weber (5), James (6), Evans-Pritchard (8), dan Geertz (9) juga dapat dilihat mengikuti konvensi, meskipun masing-masing memiliki masalah tertentu dengan istilah “supranatural”. Evans-Pritchard lebih menyukai istilah “mistik” karena tidak seperti budaya Barat modern, masyarakat suku yang ditelusurinya tidak memiliki konsep yang jelas tentang pertentangan antara dunia alami dan dunia supranatural.”

Bagi Geertz, yang paling utama dari agama adalah etos dan motivasi dari penganutnya secara nyata. “Dan minat utamanya, harus diakui, adalah pada etos, “suasana hati dan motivasi” orang-orang beragama, bukan pada makhluk-makhluk gaib yang mereka takuti atau cintai. Namun, ketika kita beralih ke catatan aktual yang ia berikan dalam etnografinya tentang Jawa, Bali, dan Maroko, jelas bahwa ciri utama agama sebagaimana dipraktikkan terletak pada respons emosional dan sosial yang dibuat orang terhadap pandangan dunia mereka: yaitu, terhadap makhluk-makhluk gaib yang mereka percayai, entah itu Tuhan, malaikat, dan Setan dalam Islam atau roh, dewa, dan setan dalam kultus tradisional Jawa dan Bali.”

Pals menganggap definisi agama dari 9 teori, atau 10 teori versi terbaru, adalah sama. Perbedaan hanya pada istilah belaka. “Jadi, meskipun para ahli teori yang telah kita bahas mungkin tidak sependapat tentang sejumlah hal, definisi agama secara umum bukanlah salah satunya (yang mereka tidak sepakat). Meskipun beberapa orang mengatakannya secara kurang langsung daripada yang lain, semua orang berpendapat bahwa agama berpusat, setidaknya pada awalnya, pada kepercayaan dan praktik yang terkait dengan makhluk spiritual atau supranatural.”

Pals tampak terlalu optimis mampu mendefiniskan agama secara tuntas. Bahkan, Pals mengira bila teori agama didekati dengan metode sains ilmiah, seperti sains fisika, maka akan menghasilkan teori agama yang “tuntas.” Optimisme Pals ini perlu untuk dikritisi atau bahkan ditolak. Teori agama tidak akan tuntas; definisi agama juga tidak pernah tuntas. Sains fisika sendiri juga tidak tuntas; terutama setelah hadir ketidak-pastian kuantum oleh Heisenberg.

Sedikit catatan untuk Pals bahwa yang dimaksud 10 teori agama adalah teori agama yang dikaji oleh 10 pemikir: Tylor-Frazer, Freud, Durkheim, Mark, Weber, James, Eliade, Pritchard, Geertz, Daly (10). Sesuai daftar isi adalah sebagai berikut.

2. Jenis Teori

Pals langsung sadar bahwa 10 teori agama berbeda tajam dalam penjelasan teori mereka. “Pencarian asal-usul agama dalam pengertian pertama kata tersebut dilakukan terutama oleh Max Miiller, Tylor dan Frazer, Freud, dan bahkan (sampai tingkat tertentu) Durkheim. Hal ini biasanya dikaitkan dengan doktrin evolusi sosial manusia dan berpendapat bahwa agama adalah hasil dari proses panjang yang dimulai dengan peristiwa yang tertanam jauh di masa lalu manusia, seperti “pembunuhan ayah pertama” menurut Freud.”

Bagaimana posibilitas menyusun teori agama yang tuntas? Jenis teori agama yang fokus kepada asal-usul agama membutuhkan kajian histori yang mendalam dan interpretasi yang kaya. Teori agama yang fokus ke masa kini akan membutuhkan kajian dinamika tanpa henti. Dan teori agama yang fokus ke masa depan akan membuka posibilitas luas tak terbatas. Pada ada analisis akhir, kita membutuhkan teori agama yang terbuka akan makna agama yang sangat kaya.

3. Cakupan Teori

Seluruh 10 ahli teori mengklaim bahwa mereka mengkaji agama secara tuntas; mencakup seluruh realitas agama; meski mereka ragu-ragu.

“Tylor dan Frazer pun tidak sendirian. Dari perspektif mereka yang berbeda, tiga reduksionis utama—Freud, Durkheim, dan Marx—menunjukkan ambisi umum yang sama. Ketika mereka menjelaskan agama, mereka bermaksud menjelaskan semua agama. Mereka memilih satu sistem agama sebagai semacam kasus paradigma, contoh tertinggi dari suatu upaya yang muncul dalam banyak bentuk lain yang “lebih kecil” atau lebih baru.”

Tetapi Pritchard dan Geertz tidak setuju dengan mereka. “Berbeda dengan para ahli lainnya, Evans—Pritchard dan Geertz menilai ada kesalahpahaman serius terhadap teori apapun yang bercita-cita untuk mengklaim secara universal “semua” agama.” Geertz sadar bahwa agama kaya akan muatan lokal yang konkret.

4. Bukti Acuan

Bagaimana bisa membuktikan secara tuntas?

“Penjelasan adalah satu hal; cara kita mencoba membuktikannya adalah hal lain. Jika kita melihat kesembilan (atau 10) teori tersebut berdasarkan pendekatan mereka terhadap bukti, perbedaan tertentu yang jelas tidak sulit untuk diperhatikan. Karena mereka percaya bahwa teori agama yang benar-benar global memerlukan serangkaian bukti yang sama globalnya, Tylor, Frazer, Weber, dan Eliade semuanya berangkat dengan tekad yang kuat untuk mengumpulkan informasi seluas mungkin. Kekuatan pendekatan ini terletak pada upaya jujurnya untuk membuat kesesuaian yang lengkap antara teori dan bukti.”

Tidak akan pernah ada bukti yang lengkap. Bahkan bukti dalam bidang matematika yang eksak saja adalah antara tidak lengkap atau tidak konsisten; sesuai teorema ketidak-lengkapan Godel. Apalagi bukti tentang teori agama yang konkrit, tentu, akan banyak yang tidak lengkap.

5. Keyakinan Pribadi

Pals mengakui terjadi bias subyektif dari para ahli teori agama.

“Tak satu pun dari para ahli teori yang kita temui dalam buku ini yang dapat dianggap sebagai sarjana yang benar-benar tidak memihak, yang menulis tentang subjek yang tidak menarik bagi dirinya atau zamannya; masing-masing adalah manusia yang, selain teorinya, dapat dianggap memiliki keyakinan pribadi tentang agama juga. Hubungan antara keyakinan pribadi tersebut dan penjelasan yang diajukan dalam beberapa hal jelas, seperti halnya dengan Marx, tetapi dalam hal lain itu adalah masalah yang lebih halus dan rumit, yang tidak dapat kita jelajahi secara lengkap di sini.”

6. Ringkasan

Secara ringkas, Pals berhasil menyusun teori agama yang universal; dalam arti bisa diterapkan untuk agama secara umum; lengkap dengan kelebihan dan kelemahan setiap teori. Argumen Pals tampak ambigu. Di satu, sisi Pals yakin teori agama akan tuntas pada waktunya. Di sisi lain, Pals melihat kesulitan besar untuk menyusun teori agama yang tuntas.

Sikap ambigu dari Pals makin jelas di bagian akhir bukunya. Kajian agama yang detil, yang dekat dengan praktek agama konkret, menunjukkan bahwa agama kaya akan makna. Tidak ada konsep universal yang sanggup mengungkap makna agama yang kaya ini. Kajian teori agama perlu kembali lebih dalam mengkaji aspek kemanusiaan, bersifat humanis, tidak cukup hanya sains sosial.

Bila benar dugaan Pals di atas, yaitu perlu mendalami aspek kemanusiaan, maka Pals seperti bunuh diri intelektual; yaitu Pals akan gagal menyusun teori agama yang tuntas. Dengan cerdik, Pals melirik pendekatan sains ilmiah berupa teori evolusi Darwin. Sains biologi akan berhasil mengungkap teori agama secara tuntas berupa keyakinan-biologis yang tertanam di otak manusia. Benarkah klaim yang demikian itu?

Pals menutup bukunya dengan optimisme yang indah, “At present, any such theory is a quite distant prospect, to be sure, but if more progress were to be made along the lines now in place, then at the very least, this book would likely need a new and different final chapter.”

Memang sains biologi masih jauh untuk bisa membahas agama. Tapi, menurut Pals, bila perkembangan makin pesat, biologi akan menuntaskan teori agama dan menjadi bab baru yang terakhir bagi buku Pals. Apakah Anda setuju dengan Pals? Saya mengagumi kemampuan retorika Pals yang hebat itu. Meski saya ragu dengan klaim yang dia buat itu.

7. Diskusi

Bagaimana menurut Anda?

Tentang perkembangan teori agama terbaru, Pals mengatakan, “Kita dapat membedakan sejumlah pola utama, atau agenda dominan: (1) humanistik, (2) psikologis, (3) sosiologis, (4) politik-ekonomi, dan (5) antropologis.”

Tampaknya, Pals ingin mengunggulkan (3) sosiologis dan (5) antropologis. Hanya saja, kajian Pals justru mengarah pada keunggulan (1) humanistik. Kemudian, Pals berandai-andai bahwa di masa depan yang paling unggul untuk mengkaji teori agama adalah (6) sains biologi; melebihi pendekatan humanistik. Sulit dipercaya kan?

Barangkali Pals perlu meluaskan kajian teori agama ke pendekatan (7) filosofis. Pals bisa mengkaji Charles Taylor, Kierkegaard, Ibnu Arabi, atau Ghazali. Bisa juga mendalami ungkapan Heidegger, “Hanya Tuhan Maha Esa yang bisa selamatkan kita.” Lebih menarik lagi, Pals bisa mengkaji teori agama secara (8) agamis yaitu dengan mengkaji para tokoh agama; bukan sekadar masyarakat awam yang beragama. Kita bisa mengkaji misal Paus, Rahbar, Romo, Wali, Biksu, dan lain-lain. Kajian semacam ini, filosofis dan agamis, akan menghasilkan teori agama yang lebih kaya makna.

Bagaimana menurut Anda?

Posisi ALQURAN di Depan AI

Mengapa harus menghafal Alquran 30 juz? Sudah ada AI yang mampu hafal seluruhnya. Plus, AI (akal imitasi – artificial intelligence) mampu melengkapi dengan puluhan kitab tafsir. Plus lagi, AI bisa diajak diskusi tentang Quran dan segala fenomena yang ada.

Membaca Quran, kita akan bertabur inspirasi. Membaca tulisan AI, kita akan risiko terjebak halusinasi. Quran adalah kitab suci yang jauh lebih tinggi dari AI. Tetapi bagaimana manusia bisa tepat untuk menyikapi?

1. Petunjuk Manusia
2. Petunjuk Takwa
3. Pembenar Kitab Suci
4. Diskusi

Manusia sulit untuk menempatkan Quran pada posisi yang tepat. Karena Quran menuntut tanggung jawab manusia; baik terhadap manusia lain, terhadap alam raya, mau pun terhadap Tuhan Yang Esa. Sementara, kebanyakan orang mencari-cari pembenaran atas nafsu mereka. Alquran menolak pembenaran nafsu serakah manusia.

1. Petunjuk Manusia

Posisi utama Alquran adalah petunjuk bagi manusia (hudan linas).

Quran memberi petunjuk bagi seluruh manusia untuk memilih jalan kebaikan dan mencegah keburukan. Setiap membaca Quran kita akan memperoleh petunjuk jelas dari inspirasi Quran.

2. Petunjuk Takwa

Posisi istimewa AlQuran adalah petunjuk bagi orang bertakwa (hudan lil mutaqin).

Semua orang yang bertakwa, berbuat kebaikan, akan mendapat petunjuk jelas dari Quran. Mengapa ada orang yang membaca Alquran 30 juz tetap tidak mendapat petunjuk? Karena orang itu mungkin saja tidak takwa. Bagi orang yang tidak takwa; tidak terjamin mendapat petunjuk; meski ada peluang. Sementara, bagi orang bertakwa niscaya mendapat petunjuk dari Quran.

3. Pembenar Kitab Suci

Posisi historis AlQuran adalah sebagai pembenar terhadap kitab suci terdahulu (mushadiqan lima baina yadaihi).

Secara tegas Quran adalah “pembenar” bagi Injil, Taurat, Zabur, dan kitab suci terdahulu. Tetapi, Quran “bukan pembenar” bagi teori-teori yang berkembang. Quran hanya menjadi petunjuk bagi teori ilmiah, teori sosial, teori teknologi, atau teori apa pun lainnya.

4. Diskusi

Jadi bagaimana posisi Alquran di depan AI?

Posisi Alquran adalah jelas: (a) sebagai petunjuk manusia; dan (b) pembenar kitab suci. Karena AI bukan kitab suci maka Alquran akan menolak untuk dijadikan pembenaran AI; dan, posisi yang tepat, Alquran sebagai petunjuk manusia untuk (1) membenarkan AI atau (2) menolak AI. Posisi Alquran ini sudah jelas; yang masih tidak jelas adalah sikap manusia itu sendiri.

A. Tanggung Jawab Petunjuk

Problem yang langsung muncul adalah tanggung jawab dari petunjuk. Orang tidak nyaman dengan petunjuk; orang lebih nyaman dengan jaminan pembenaran.

Tetangga saya di Gegerkalong memilih poligami, menikahi istri kedua, dengan dalil pembenaran Alquran menurut dia. Poligami adalah kebenaran perintah Alquran. Manusia tinggal menjalankan saja. Dia merasa aman di dunia mau pun akhirat.

Jika poligami versi AlQuran adalah sekedar petunjuk maka tetangga saya harus bertanggung jawab atas pilihan poligaminya itu. Apakah poligami itu adil? Jumlah lelaki di Bandung sekitar 51% sedangkan jumlah wanita sekitar 49%. Jika dia punya istri dua maka bagaimana lelaki lain tidak dapat pasangan hidup? Andai lelaki Bandung mencari istri di luar kota maka komposisinya mirip sekitar 51% lelaki dan 49% wanita di Indonesia mau pun dunia.

B. Dogmatisme Pembenaran

Pokoknya, poligami adalah perintah kitab suci. Kalau berani jalani; kalau tidak berani maka berjuanglah untuk berani.

Dogmatisme adalah bahaya. “Pokoknya” adalah contoh kata yang menggambarkan dogmatisme. Kita harus mencegah dogmatisme dan menggantinya dengan pemikiran yang bertanggung jawab.

“Itu semua sudah hasil sistem komputer,” contoh dogmatisme lagi.

“Saya sekadar menjalankan tugas,” dogmatisme di banyak tempat.

“Dengarkan saya, saya adalah pimpinan,”dogmatisme terlanjur jadi pejabat.

“Yang penting cring duit mengalir,” dogmatisme materialis sempit.

C. Dogma Beda Dogmatisme

Dogma itu baik-baik saja. Tetapi, dogmatisme adalah buruk. Dogma adalah ajaran yang membutuhkan proses panjang untuk kita bisa memahaminya. Ajaran puasa adalah dogma yang baik. Untuk bisa memahami puasa, kita perlu praktek puasa, bersabar, berpikir, dan berbuat kebajikan. Tidak cukup hanya dengan teori puasa. Ketika tahun lalu Anda sudah berpuasa, sudah paham akan puasa, tahun ini pun Anda wajib puasa lagi.

Ajaran menyantuni fakir miskin adalah dogma yang baik. Anda perlu praktek menolong fakir miskin, empati kepada fakir miskin, bahkan hidup bersama faikir miskin untuk bisa memahami ajaran “menyantuni fakir miskin.” Tidak cukup hanya teori.

Apakah AI bisa berpuasa? Apakah AI bisa praktek menyantuni fakir miskin? Apakah AI hanya meningkatkan kinerja – performansi?

Bagaimana menurut Anda?

Akal Imitasi (AI): Telaah Pustaka Artificial Intelligence

Kajian tentang AI berkembang pesat akhir-akhir ini. Beberapa berupa buku, jurnal, artikel, diskusi-diskusi, dan lain-lain. Menariknya, AI sendiri bisa “mengkaji” AI (akal imitasi / artificial intelligence / kecerdasan buatan). Anda bisa memerintahkan AI: “Buatlah buku dan artikel dengan tema manfaat AI untuk dunia pendidikan.” Kurang dari 1 menit, Anda akan memperoleh jawaban dari AI.

Berikut saya mencoba membuat catatan tentang buku-buku yang membahas AI; terutama yang berbahasa Indonesia atau English.

1. Panduan Penggunaan Gen AI (Kementrian)
2. Buku Pegangan AI untuk Guru (Onno Purbo)
3. Memahami AI, Sebuah Panduan Etis (Agus Sudibyo)
4. Filsafat Kecerdasan Buatan (Martin Sanjaya dkk)
5. Mengoptimalkan Pembelajaran (Djoko Sutrisno dkk)
6. Teori dan Penerapan AI di Berbagai Bidang (Sehan dkk)
7. Buku Ajar Kecerdasan Buatan (Singgih)
8. Artificial Intelligence (Joseph Santoso)
9. 19 Narasi Besar AI (Mahayana & Nggermanto)
10. Co-Intelligence (Ethan Mollick)
11. Diskusi

Kita akan mencoba diskusi dari beberapa perspektif: optimis, kritis, dan alternatif kreatif.

1. Panduan Penggunaan Gen AI

“Buku panduan ini disusun untuk membantu dosen, mahasiswa, dan seluruh civitas akademika untuk memahami dan menerapkan etika penggunaan Generative AI dalam pembelajaran perguruan tinggi. Kami berharap buku panduan ini dapat menjadi pedoman dalam memastikan proses pembelajaran di perguruan tinggi memperhatikan berbagai aspek etis, seperti integritas, keamanan dan privasi data, transparansi, serta inklusivitas.”

Buku panduan ini bagus, ringkas, dan resmi. Buku ini membatasi kajian hanya sebagai panduan yang bersifat positif saja yang cenderung optimis. Ketika membahas risiko AI, buku ini akan memandu langkah-langkah solusinya. Apakah selalu ada solusi bagi risiko yang diakibatkan oleh AI?

2. Buku Pegangan AI untuk Guru

Oleh Prof Onno Purbo sangat menarik dan luar biasa. Kaliber Prof Onno di dunia AI dan internet sangat mengagumkan. Ketika saya kuliah di ITB, Prof Onno adalah dosen wali saya yang sangat terbuka dalam pemikiran.

“Buku ini hadir sebagai panduan praktis dan reflektif bagi guru dari semua jenjang—TK hingga SMK—untuk memahami, mengeksplorasi, dan mengintegrasikan AI dalam aktivitas sehari-hari: dari merancang materi ajar dan evaluasi pembelajaran, hingga mengelola administrasi dan menganalisis perkembangan siswa.

Kami ingin menegaskan sejak awal:
AI bukanlah pengganti profesionalisme guru.
AI adalah katalisator efisiensi, inovasi, dan inklusi.

Seperti halnya alat bantu lainnya, AI hanya akan berdampak positif jika berada di tangan guru yang berpikir kritis dan bertindak etis. Maka dari itu, guru masa depan bukanlah yang tergantikan oleh AI, tetapi yang tahu cara menggunakannya secara bijak dan bertanggung jawab.”

Pesan Prof Onno di atas sangat tegas dan menjadi tantangan bagi kita semua. Bagaimana cara menjadi guru yang tak tergantikan oleh AI?

3. Memahami AI, Sebuah Panduan Etis

“Agus Sudibyo menyatakan euforia terhadap AI seharusnya dibarengi dengan sikap waspada terhadap dampak, anomali, kontradiksi serta residu yang ditimbulkannya. Melalui buku ini ia berharap menjadi kontribusi positif terhadap gerakan literasi AI di Indonesia dan memberikan masukan berharga untuk para pengambil kebijakan. Teknologi AI generative memang telah mengguncang dunia, seperti mukjizat yang turun dari langit, mahasiswa, dosen, penulis, peneliti, wartawan hingga konten kreator sangat dimudahkan dalam pekerjaannya. Ketika Chat GPT telah menjadi populer di masyarakat, sejumlah kalangan mulai mencemaskan dampak negatifnya.”

Buku ini memberi masukan yang penting agar AI sesuai dengan nilai-nilai etika. Apakah AI itu sendiri bernilai etika?

4. Filsafat Kecerdasan Buatan

“Buku ini mengkaji hubungan antara filsafat dan kecerdasan buatan (AI) dari berbagai perspektif. Di bagian pertama, buku ini mencoba mengeksplorasi isu-isu ontologis, seperti apakah AI dapat memiliki “kognisi paramanusia” atau kecerdasan setara manusia, serta tantangan terhadap pemahaman filosofis tentang qualia serta implikasinya terhadap filsafat akal budi dan meta-etika. Tidak hanya itu, pada konteks filsafat hermeneutika teologis muncul pertanyaan apakah AI dapat memahami dan menafsirkan makna secara mendalam seperti manusia.”

Buku yang ditulis oleh pemikir-pemikir muda asal Indonesia ini unik dan menarik. Penulis memberi kritik tajam di beberapa tempat terhadap AI. Apakah dominasi oleh AI bisa dibenarkan?

5. Mengoptimalkan Pembelajaran

“Buku ini hadir untuk menjawab kebutuhan para pendidik, orang tua,
pengambil kebijakan, peneliti, dan pemangku kepentingan pendidikan
lainnya yang ingin memahami beragam penerapan AI dalam dunia
pendidikan. Melalui 14 bab yang mencakup berbagai subtopik, buku ini
membahas secara mendalam mengenai teknologi, implementasi,
peluang, dan tantangan dari adopsi AI dalam pembelajaran dan
pengelolaan institusi pendidikan.”

Djoko Sutrisno dkk, para penulis, memberi kontribusi penting untuk memanfaatkan AI secara optimal. Apakah AI bisa mencapai optimal?

6. AI: Teori dan Penerapan AI di Berbagai Bidang

Ditulis oleh lebih dari 10 penulis, buku ini membahas AI dari berbagai bidang. Pembahasan yang ringkas memudahkan pembaca untuk memahami AI. Apakah AI bisa dipahami?

“Buku “Artificial Intelligence : Teori dan Penerapan AI di Berbagai Bidang” memberikan pemahaman mendalam tentang kecerdasan buatan (AI) dan aplikasinya dalam berbagai sektor. Dimulai dengan pengantar dan sejarah AI, buku ini mengulas konsep dasar, jenis sistem AI, teknik pengolahan data, pembelajaran mesin, jaringan saraf tiruan, algoritma genetika, serta pengolahan bahasa alami dan citra. Bagian khusus membahas etika dan tanggung jawab dalam penggunaan AI, memastikan teknologi ini digunakan secara bijak. Buku ini juga mengeksplorasi penerapan AI dalam bisnis, kesehatan, pendidikan, dan instansi pemerintah. Dengan wawasan tentang masa depan AI dan tren teknologi yang berkembang, buku ini menjadi referensi penting bagi pembaca yang ingin memahami dan memanfaatkan AI untuk meningkatkan efisiensi dan inovasi dalam berbagai bidang.”

7. Buku Ajar Artificial Intelligence

“Dalam penulisan buku ini, saya berusaha untuk menyajikan
materi yang mudah dipahami, dengan menyertakan berbagai
contoh aplikasi AI yang relevan dalam konteks pendidikan.
Diharapkan buku ini dapat menjadi pegangan yang bermanfaat
tidak hanya bagi dosen pengampu mata kuliah Artificial
Intelligence, tetapi juga bagi mahasiswa dan para praktisi
pendidikan yang tertarik untuk mengeksplorasi potensi AI dalam
meningkatkan kualitas pendidikan.”

Singgih, penulis, memberi kontribusi penting dengan menulis buku ajar. Teman-teman dosen dan mahasiswa bisa memanfaatkan buku ajar ini untuk bahan kuliah barangkali setara 2 sks. Bagaimana kontribusi AI terhadap pembelajaran di ruang kelas?

8. Kecerdasan Buatan (AI)

Joseph T Santoso menulis, “AI adalah kecerdasan yang ditambahkan kepada suatu sistem yang bisa diatur dalam konteks ilmiah atau bisa disebut Arficial Intellegence atau hanya disingkat AI, didefinisikan sebagai kecerdasan entitas ilmiah. Dalam buku Arficial Intelligence dimulai dengan membantu para pembaca memahami AI, terutama apa yang dibutuhkan AI untuk bekerja dan mengapa AI gagal di masa lalu. Pembaca juga menemukan perbaikan untuk beberapa masalah dan mempertimbangkan ke mana para ilmuwan menggunakan AI untuk mencari jawaban. Jadi salah satu alasan untuk membaca Arficial Intelligence adalah untuk mengetahui bagaimana teknologi ini saling berhubungan.”

Buku karya Santoso ini membantu kita memahami AI, sampai tingkat teknis tertentu, mengapa AI kadang gagal dan kadang sukses. Apakah benefit sukses AI layak dikejar ketika risiko gagal cukup besar?

9. 19 Narasi Besar AI

“Buku 19 Narasi Besar Akal Imitasi ini berusaha menjawab perkembangan narasi tentang masa depan Artificial Intelligence (AI). Buku yang ada di tangan Anda ini ingin mengupas berbagai narasi masa depan AI. Di antaranya yang paling hangat, barangkali, adalah narasi singularitas AI, ASI (Artificial Super Intelligence), dan mesin spiritual.

Harapannya adalah meluaskan wawasan para pembaca tentang narasi-narasi AI juga kekritisannya, serta mengajukan beberapa narasi alternatif agar AI lebih ramah dan manusiawi. Wacana dalam buku ini diharapkan dapat memberikan pengantar perjalanan intelektual saintis dan insinyur dalam memahami masalah-masalah mendasar yang di luar jangkauan sains itu sendiri yang terkait dengan perkembangan AI.”

Mahayana dan Nggermanto, penulis buku, mengakui peran besar AI dalam mendorong dinamika umat manusia. Selanjutnya, Mahayana mengungkap beragam narasi besar dari AI. Teknologi AI lebih dari sekadar teknologi. AI adalah narasi yang membuka masa depan umat manusia. Bagaimana narasi masa depan umat manusia?

10. Co-Intelligence

Terdapat banyak literatur dalam bahasa Inggris yang membahas AI; salah satunya adalah Co-Intelligence.

“Dalam Co-Intelligence, Mollick mendorong kita untuk terlibat dengan AI sebagai rekan kerja, rekan pengajar, dan pelatih. Ia menilai dampak mendalamnya pada bisnis dan pendidikan, menggunakan lusinan contoh AI yang sedang beraksi. Co-Intelligence menunjukkan apa artinya berpikir dan bekerja sama dengan mesin pintar, dan mengapa penting bagi kita untuk menguasai keterampilan itu.

Mollick menantang kita untuk memanfaatkan kekuatan AI yang luar biasa tanpa kehilangan identitas kita, untuk belajar darinya tanpa disesatkan, dan memanfaatkan bakatnya untuk menciptakan masa depan manusia yang lebih baik. Co-Intelligence yang luas, sangat menggugah pikiran, optimis, dan jernih, mengungkapkan janji dan kekuatan era baru ini.”

Masih banyak buku lain yang menarik tetapi kita sudah membahasnya di tulisan yang lain. Di antaranya: Nexus (Harari); Singularity (Kurzweil); Deep Utopia (Bostrom); Brain Abstracted (Chirimuutha); Progress and Power (Acemomglu); Neganthropy (Stiegler); Machine Sovergnity (Hui) dan lain-lain.

11. Diskusi

Bagaimana menurut Anda?

Untuk memudahkan diskusi, kita bisa mengelompokkan kajian AI sebagai: praktis; optimis; kritis; kreatif; dan alternatif. Satu buku AI bisa saja masuk ke seluruh kelompok kajian di atas dengan bobot yang beragam. Jadi pengelompokan ini bukan untuk memisahkan tetapi untuk memetakan demi kemudahan kajian.

A. Praktis

Aspek praktis membahas AI untuk kehidupan praktis sehari-hari. Prof Onno menunjukkan cara guru memanfaatkan AI untuk menyusun bahan ajar yang menarik. Kementrian, Panduan Gen AI, menunjukkan berbagai macam cara memanfaatkan AI untuk riset ilmiah. Termasuk panduan praktis adalah, di saat-saat tertentu, kita tidak menggunakan AI sama sekali. Narasi AI, Mahayana, menunjukkan lebih baik menulis kata sambutan manual untuk mengungkapkan rasa cinta kepada anak kandung; jangan menggunakan AI untuk rasa cinta yang mendalam ini. Buku ajar AI juga bersifat praktis untuk dosen dan mahasiswa.

B. Optimis

Optimis meyakini bahwa AI mampu memberi kontribusi positif untuk saat ini dan masa depan. Kementrian, Panduan Gen AI, menunjukkan bahwa AI mendorong efisiensi dalam kampus. Prof Onno menunjukkan bahwa AI menguatkan peran guru bukan pengganti bagi guru. Optimis masa depan melangkah lebih jauh. Mollick, Co-Intelligence, yakin bahwa AI akan menjadi teman kerja sejati bagi umat manusia di masa depan.

C. Kritis

Analisis kritis menunjukkan keunggulan AI dan, sekaligus, batasan-batasan AI. Mahayana, dalam Narasi AI, membahas analisis kritis ini dalam 7 bab tersendiri. Filsafat Kecerdasan Buatan, Sanjaya dkk, memberi kritik tajam kepada AI dan kepada sikap manusia kepada AI itu sendiri. Meski kritik ini kadang terasa pedas tetapi tujuan kritik adalah menempatkan AI dan peradaban manusia ke arah masa depan yang lebih baik.

D. Kreatif

Seluruh buku AI yang kita bahas menunjukkan aspek kreativitas dengan cara masing-masing yang unik.

E. Alternatif

Pemikiran alternatif terhadap AI berkembang subur dalam buku Narasi AI (Mahayana & Nggermanto) dan Filsafat Kecerdasan Buatan (Sanjaya dkk). Kita perlu mengkaji dengan cermat untuk memahami beragam alternatif yang diajukan karena alternatif-alternatif itu kadang sulit diterima oleh pikiran pada umumnya.

Skala 0 sampai 100

Tabel berikut meringkas pemetaan dari seluruh buku yang kita kaji.

PraktisOptimisKritisKreatifAlternatif
1) Panduan Gen AI8080406030
2) Buku Pegangan 8080606050
3) Memahami AI7080504030
4) Filsafat KB
4040807080
5) Mengoptimalkan
6060305030
6) Teori & Penerapan

5060405040
7) Buku Ajar6070405030
8) Artificial Intelligence6060405030
9) Narasi AI5060909090
10) Co-Intelligence6080405030

Bagaimana menurut Anda?

AI untuk Pendidikan: Mitos atau Fakta?

AI (akal imitasi / artificial intelligence) tampak sangat menggoda bagi dunia pendidikan. Siswa bisa bertanya soal apa saja kepada AI maka AI akan menjawab dengan cepat dan meyakinkan. Guru, dan tenaga pendidikan, dapat menyusun materi ajar memakai AI secara cepat dan menawan. Bahkan, profesor bisa menganalisis hasil kerja dan riset mahasiswa dengan memakai AI: cepat dan meyakinkan.

AI memajukan pendidikan: mitos atau fakta?

AI mempercepat proses pendidikan tampak nyata. Apakah AI meningkatkan kualitas pendidikan? Terjadi pro dan kontra.

AI adalah sekadar alat; AI sekadar teknologi. Gunakan AI untuk kebaikan sebagai alat saja; semua akan berjalan baik-baik saja. Benarkah demikian? Tidak benar. Karena AI bukan sekadar alat. Memandang AI sebagai sekadar alat adalah cara pandang paling dasar; cara pandang yang benar tetapi tidak tepat. Kita butuh memandang AI lebih dari sekadar alat belaka.

1. Masa Depan Pendidikan
2. Berpikir Optimis
3. Berpikir Kritis
4. Berpikir Kreatif
5. Solusi AI

Ketika Pak Tani menanam jagung di kebun samping rumah maka benar Pak Tani memperlakukan “kebun” sebagai “alat”. Kebun menghasilkan jagung, jagung menghasilkan oksigen, oksigen menyehatkan lingkungan, Pak Tani merawat kebun; Pak Tani menggunakan “kebun” sebagai “alat” saja. Berbeda dengan AI. Ketika siswa memakai AI maka siswa menyelesaikan tugas dengan cepat; tetapi siswa tidak paham apa makna tugas belajar tersebut. Seperti siswa SD yang menghitung 7 x 3 pakai kalkulator; siswa SD tidak paham apa makna perkalian 7 x 3 itu; meski kalkulator menjawab dengan cepat hasilnya 21. Kalkulator adalah pembodohan bagi siswa SD. AI bisa menjadi pembodohan bagi seluruh masyarakat.

Secara singkat: AI bukan sekadar alat. Dan masih banyak mitos tentang AI yang perlu kita kaji.

1. Masa Depan Pendidikan

AI adalah buah perkembangan teknologi paling canggih di awal abad 21 ini. Apakah AI (artificial intelligence / akal imitasi / kecerdasan buatan) akan memberi kontribusi positif bagi kemajuan pendidikan umat manusia, pendidikan nasional, dan pendidikan local?

Beberapa tokoh yakin bahwa AI akan berdampak positif bagi dunia pendidikan; mempercepat penyebaran pengetahuan; dan memperluas pengetahuan umat manusia. Beberapa tokoh yang lain justru khawatir bahwa AI akan memperburuk dunia pendidikan; menjadikan manusia lemah berpikir; tidak mampu memaknai fenomena; dan tidak siap untuk bersikap bijak.

Tulisan ini akan membahas beragam mitos dan fakta tentang AI di dunia pendidikan.

Di bagian awal, kita akan berkenalan dengan pengertian AI, contoh-contoh AI dalam kehidupan sehari-hari, panduan etika penggunaan AI, dan prospek serta resiko dunia pendidikan bersama AI.

Di bagian tengah kita akan membahas panduan praktis bagi dunia pendidikan untuk interaksi bersama AI. Kita akan mengungkap beragam mitos dan fakta AI. Kita memperdalam panduan praktis dunia pendidikan bersama AI: berpikir optimis; berpikir kritis; dan berpikir kreatif.

Di bagian akhir, kita akan meringkas dan menegaskan kembali beragam panduan praktis terpenting bagi dunia pendidikan untuk interaksi bersama AI.

Definisi dari AI beragam. Contoh dari AI adalah chatGPT, gemini, grok, deepseek, sahabatAI, dan lain-lain. Wikipedia mendefinisikan AI:

“Artificial intelligence is the capability of computational systems to perform tasks typically associated with human intelligence, such as learning, reasoning, problem-solving, perception, and decision-making.”

AI adalah kemampuan sistem komputer untuk mengerjakan tugas-tugas yang biasanya melibatkan kecerdasan manusia; misal mampu belajar, mampu tanya-jawab, mampu analisis tulisan dan lain-lain.

2. Berpikir Optimis

Apakah AI lebih cerdas dari Einstein?

Mitos: AI lebih cerdas dari Einstein karena AI menampung semua ilmu yang dimiliki Einstein. Kemudian, AI menambah dengan ilmu-ilmu baru dan beragam bahasa yang ada di dunia. AI tidak pernah lupa; Einstein bisa lupa. AI makin kuat sempurna; Einstein makin tua.

Fakta: AI tidak lebih cerdas dari Einstein karena AI tidak bisa memahami bahasa dan ilmu; AI hanya seolah-olah memahami. Einstein lebih cerdas karena menemukan rumus sains baru; AI tidak bisa menemukan.

Saran: Gunakan AI sebatas menambah informasi tertentu dan perlu diuji validitasnya.

Apakah AI memudahkan siswa belajar?

Mitos: AI memudahkan siswa belajar apa saja. Fakta: AI hanya mempercepat siswa menyelesaikan suatu “tugas” belajar. AI tidak mengajak anak untuk belajar; AI hanya mempercepat siswa menghilangkan beban kewajiban belajar. Saran: gunakan AI secara hati-hati dan terbatas; kadang tolak AI sepenuhnya.

Apakah AI memudahkan guru mengajar?

Apakah AI menjadikan administrasi lebih rapi?

Apakah AI menguatkan kemampuan membaca?

Apakah AI menguatkan kemampuan menulis?

Apakah AI bisa menjadi guru?

Apakah AI bisa menjadi siswa?

Apakah AI bisa menjadi anggota belajar kelompok?

Apakah AI bisa menangis?

3. Berpikir Kritis

Apakah AI mampu berpikir kritis?

Mitos: AI bisa berpikir kritis. Berikan arahan AI agar berpikir kritis terhadap suatu masalah maka AI akan menjawab dengan jawaban berupa berpikir kritis.

Fakta: AI tidak bisa berpikir kritis. AI hanya membalas arahan yang diberikan oleh manusia. AI mengaku seolah-olah berpikir kritis padahal hanya mengemas ulang kata “berpikir kritis”.

Saran: Gunakan beberapa balasan AI untuk bekal berpikir kritis; atau analisis balasan AI secara kritis.

Apakah AI membantu siswa berpikir kritis?

Apakah AI membantu guru berpikir kritis?

Apakah AI berdampak positif bagi pendidikan?

Apakah AI berdampak negatif bagi pendidikan?

Apa dampak positif dan negatif AI terhadap kemanusiaan?

Apa dampak positif dan negatif AI terhadap alam?

Apakah AI bisa memahami emosi?

Apakah AI bisa memahami situasi?

Apakah AI bisa menjadi teman komunikasi?

Apakah AI bisa menjadi teman menjalani kehidupan?

Apakah AI bisa menjadi rekanan meniti karir?

Apakah AI menumbuhkan kehidupan sekolah/kampus?

Apakah AI melumpuhkan kegiatan sekolah/kampus?

Apakah AI menumbuhkan idealism pendidikan?

Apakah AI menyuburkan pragmatism pendidikan?

Apakah AI berdampak komersialisasi pendidikan?

Apakah AI bisa dipercaya?

Apakah AI bisa peduli?

Apakah AI sering halusinasi?

Apakah AI menumbuhkan kerja sama di sekolah/kampus?

Apakah AI menumbuhkan kerja sama antar sekolah/kampus?

Apakah AI memicu kesenjangan?

Apakah AI memicu salah paham?

Apakah AI merespon situasi?

Apakah AI melakukan manipulasi?

4. Berpikir Kreatif

Apakah AI bisa kreatif?

Mitos: AI bisa kreatif. AI bisa menghasilkan tulisan secara kreatif; menghasilkan gambar secara kreatif; menghasilkan music secara kreatif.

Fakta: AI tidak bisa kreatif. AI hanya membalas arahan seolah-olah kreatif. Balasan AI adalah kombinasi dari data-data yang sudah ada; jadi, tidak kreatif.

Saran: Gunakan hasil AI sebagai pemicu kreativitas manusia.

Apakah AI hanya reaktif?

Apakah AI memang cerdas?

Apakah AI membantu siswa memahami realitas?

Apakah AI menyembunyikan realitas?

Apakah AI akan mendominasi pendidikan?

Apakah AI menjadikan pendidikan lebih efisien?

Apakah AI mengutamakan efisiensi pendidikan?

Apakah AI mencermati resiko efisiensi?

Apakah AI bisa menciptakan makna?

Apakah AI bisa memaknai proses pendidikan?

Apakah AI bisa memaknai keaslian?

Apakah AI memiliki memori baru?

Apakah AI menguatkan memori siswa?

Apakah AI menguatkan memori kolektif?

Apakah AI menjadi “struktur organic” sekolah?

Apakah AI menjadi “struktur organic” masyarakat?

Apakah AI menumbuhkan keragaman?

Apakah AI bisa empati?

Apakah AI bisa mengajarkan manusia untuk empati?

Apakah AI menyuburkan kearifan local?

Apakah AI menumbuhkan keragaman AI?

Apakah AI bisa apresiasi seni?

Apakah AI bisa berpuisi?

Apakah AI mengembangkan bakat seni siswa?

Apakah AI mengembangkan bakat seni masyarakat?

Apakah AI mengkaji nilai-nilai ruhani?

Mitos: AI mengkaji nilai-nilai ruhani. Perintahkan AI untuk mengkaji nilai-nilai ruhani maka AI akan menjawab berupa kajian nilai-nilai ruhani.

Fakta: AI tidak mengkaji nilai-nilai ruhani. AI hanya membalas arahan untuk mengkaji nilai-nilai ruhani berdasar data; seolah-olah mengkaji nilai-nilai ruhani.

Saran: Gunakan hasil AI sebagai bahan awal kajian ruhani.

Apakah AI bisa peduli?

Apakah AI mengerti penderitaan manusia?

Apakah AI membantu manusia peduli sesama?

Apakah AI membela pihak lemah?

Apakah AI mengutamakan pihak kuat?

Apakah AI membantu siswa peduli sosial?

Apakah AI memiliki kewajiban moral?

Apakah AI memahami kewajiban moral?

5. Solusi AI

Secara singkat, gunakan AI untuk dunia pendidikan secara terbatas dan penuh hati-hati. Kadang-kadang tolak AI sepenuhnya dalam dunia pendidikan; agar lebih leluasa mengembangkan pendidikan yang manusiawi dan alami. Di lain waktu, kita perlu menggunakan AI untuk memicu keragaman ide dan kreativitas.

Bagaimana menurut Anda?

AI Bisa Jadi Guru Besar?

Tantangan dan Solusi Pendidikan bersama AI

AI menantang dunia pendidikan dengan serius. AI (akal imitasi / artificial intelligence) mampu menjawab semua pertanyaan dengan cepat dan meyakinkan.

“Mengapa kita harus belajar sejarah?” tanya siswa SD kepada ibunya. Ibu belum menjawab, siswa itu melanjutkan, “Semua tentang sejarah bisa kita tanyakan ke AI dan AI akan menjawab dengan cepat. Kita tidak perlu repot-repot belajar sejarah.”

Dalam kadar yang lebih sederhana, kita pernah mengalami dilema pendidikan yang sama tentang teknologi kalkulator.

Adi yang kelas 2 SD protes ke ayahnya, “Mengapa Adi harus belajar berhitung perkalian 7 x 3? Padahal pakai kalkulator, kita langsung tahu jawabannya.” Adi mengajukan keberatan yang tepat sasaran. Dunia pendidikan, umumnya, sepakat bahwa siswa perlu belajar berhitung perkalian 7 x 3 dengan pikiran mereka sendiri. Kalkulator dilarang untuk digunakan bagi siswa SD. Bagaimana dengan AI? Apakah AI perlu dilarang bagi siswa SD? Bagi siswa SMP-SMA dan mahasiswa? Bagi guru dan dosen? Bagi masyarakat luas? Jika AI harus digunakan untuk dunia pendidikan maka bagaimana batasan-batasan terbaiknya?

AI mengajukan tantangan lebih serius lagi karena AI sering halusinasi atau ngawur. Kalkulator yang selalu menjawab dengan benar perkalian 7 x 3 saja dilarang bagi siswa SD. Bagaimana kita bisa percaya kepada AI yang sering halusinasi?

1. Pendidikan dalam Sejarah Manusia
2. Teknologi adalah Kunci
3. Tantangan dan Solusi AI
4. Diskusi

Untuk menemukan solusi bagi tantangan AI, kita perlu meluaskan pandangan sepanjang sejarah umat manusia bahkan sepanjang sejarah semesta. Teknologi adalah kunci. Manusia hidup selalu bersama teknologi. Jadi, kita perlu merespon AI dengan tepat dan bijak. Karena AI adalah kulminasi teknologi.

Hanya manusia, hanya kita, yang hidup di bumi ini dengan mengembangkan narasi: fiksi mau pun nyata. AI menawarkan narasi-narasi yang memantik imajinasi. Apa narasi terbaik bagi AI?

Prolog

1. Pendidikan dalam Sejarah Manusia

1.1 Mesir Kuno
1.2 Persi Kuno
1.3 Cina Kuno
1.4 India Kuno
1.5 Yunani Kuno

1.6 Romawi
1.7 Arab
1.8 Nusantara
1.9 Mongol
1.10 Eropa

1.11 Revolusi Copernicus sampai Descartes
1.12 Renaisans sampai Modern
1.13 Empirisme Inggris
1.14 Idealisme Jerman
1.15 Romantisme Jerman

1.16 Fenomenologi
1.17 Filsafat Analitik
1.18 Filsafat Sains
1.19 Filsafat Kontinental
1.20 Eksistensialisme sampai Posmodern

2. Teknologi adalah Kunci

2.1 Teknologi Alami dan Optik
2.2 Teknologi Kimia dan Mekanika
2.3 Teknologi Listrik dan Magnet
2.4 Teknologi Nuklir dan Radioaktif
2.5 Teknologi Kuantum dan Gravitasi

2.6 Teknologi Informasi dan Sibernetika
2.7 Komputer dan Teknologi Cerdas
2.8 Akal Imitasi / Artificial Intelligence
2.9 Apa Makna Teknologi?

3. Tantangan dan Solusi AI

A. Narasi-Narasi AI
3.1 Narasi Optimis
3.2 Narasi Kritis
3.3 Narasi Alternatif

B. Prospek AI
3.4 AI Jadi Guru Besar?
3.5 AI Serba Tahu
3.6 AI Serba Cepat
3.7 AI Makin Sempurna
3.8 AI Berpadu dengan Manusia

B. Tantangan AI
3.9 Risiko AI
3.10 AI Tidak Memahami
3.11 Tak Terkendali

C. Solusi AI
3.12 Adopsi: Terima AI Sepenuhnya
3.13 Adaptasi: Terima AI dengan Penyesuaian
3.14 Reject: Tolak AI Sepenuhnya
3.15 Saring: Tolak AI kecuali Darurat
3.16 Dinamis: Fleksibel sesuai Konteks

Epilog

4. Diskusi

Bagaimana menurut Anda?

Bangunan Vs Bangunlah: Negara Adil Makmur

Solusi bagi negara Indonesia agar manjadi negara adil makmur adalah sederhana: bangunan vs bangunlah.

Kita perlu membedakan dengan tegas antara bangunan dengan bangunlah. Negara yang ingin adil makmur harus fokus kepada “bangunlah”. Sejak perjuangan kemerdekaan, sekitar 100 tahun yang lalu, para pendiri bangsa sudah fokus tepat kepada “bangunlah”.

Bangunlah jiwanya
Bangunlah badannya
Untuk Indonesia Raya

Seiring perjalanan sejarah, Indonesia bergeser dari “bangunlah” menjadi fokus kepada “bangunan”. Hasilnya adalah puluhan juta rakyat jelata sengsara dalam kemiskinan. Laporan resmi BPS (Badan Pusat Statistik Indonesia) ada sekitar 27 juta jiwa orang Indonesia di bawah garis kemiskinan. OECD melaporkan lebih dari 50 juta jiwa rakyat Indonesia berada dalam kondisi miskin ekstrem. Baru-baru ini, ada laporan yang menyatakan hampir 200 juta jiwa rakyat Indonesia adalah miskin. Di sisi lain, segelintir orang Indonesia adalah kaya raya yang bisa hura-hura. Aturan resmi membolehkan pejabat menyewa kamar semalam dengan harga 9 juta rupiah. Pengusaha kaya bisa saja sewa kamar di atas 9 juta semalam.

1. MBG: Makan Bergizi Gratis
2. Pendidikan Gratis
3. Diskusi
3.1 Berpikir
3.2 Bahasa
3.3 Eksistensi

Di depan kuliah mahasiswa S3 (doktoral) ITB, saya menyatakan bahwa saya mendukung program makan siang gratis untuk siswa sejak era kampanye 2024. Lebih dari itu, saya mendukung makan gratis 3 kali sehari: makan siang, makan pagi, dan makan sore. Dan bukan hanya siswa yang makan gratis tetapi makan gratis bagi seluruh rakyat Indonesia. Siapa pun presiden terpilih, makan gratis untuk rakyat adalah baik.

“Bagaimana dengan anggarannya, Pak?” seorang mahasiswa bertanya.
“Tidak ada APBN yang mampu membiayai anggaran makan gratis,” saya mengawali jawaban. Lalu saya melanjutkan, “Kecuali dengan sistem keuangan yang inovatif dan kreatif.”

1. MBG: Makan Bergizi Gratis

Berpikir kreatif dan inovatif adalah tugas semua orang. Tugas kita semua. Saya beruntung, dan berterima kasih kepada ITB, mendapat tugas menyusun kurikulum dan silabus kuliah “Kreativitas dan Inovasi” untuk SBM ITB pada awal tahun 2000-an. Dalam kuliah ini, saya berdiskusi dengan mahasiswa-mahasiswi yang sangat kreatif dan dari dosen-dosen tamu yang luar biasa. Teman-teman dosen di ITB memberi inspirasi yang luas sekali.

Saya terpikir agar kuliah “Kreativitas dan Inovasi” dapat dinikmati oleh seluruh mahasiswa. SBM dengan baik membuka kuliah “Kreativitas dan Inovasi” bagi seluruh mahasiswa ITB segala jurusan sebagai mata kuliah pilihan. Salut untuk SBM ITB.

Saya menilai MBG (makan bergizi gratis) adalah program yang kreatif untuk membangun badan generasi muda: bangunlah badannya untuk Indonesia Raya. Kita perlu mendukung MBG. Tetapi, saya siap kecewa. Jika MBG dijalankan dari bawah, dari kebutuhan nyata siswa dan kebutuhan rakyat, maka MBG akan sukses. Sebaliknya, jika MBG dijalankan dari atas, dari pusat, maka akan menghadapi problem yang luar biasa.

Kita tahu, dari berita, MBG dijalankan dari pusat. Kita tahu dari berita MBG meracuni ratusan siswa di Bogor. Kita tahu dari berita MBG meruntuhkan kantin sekolah dan warung sebelah.

Jadi solusinya bagaimana? Solusinya: jalankan MBG dari bawah; bangunlah pengawasan yang memadai; kembangkan anggaran dari uang-pokok berupa koin-pokok bukan rupiah; sehingga tidak mengganggu APBN mau pun valuta asing.

Setelah MBG sukses membangun badan (dan jiwa) para siswa Indonesia, lanjutkan makan gratis bagi seluruh rakyat Indonesia. Jika semua makanan gratis maka buat apa bekerja? Bekerja memang bukan untuk cari makan; bukan karena terpaksa untuk bertahan hidup; bukan terpaksa oleh keadaan. Rakyat dan pejabat tetap bekerja karena kerja adalah untuk menghasilkan karya sampai maha karya. Kerja adalah ungkapan amal kebaikan Anda kepada sesama dan kepada alam raya. Kerja adalah tugas kita sebagai manusia.

2. Pendidikan Gratis

Problem muncul karena kita salah fokus kepada “bangunan” bukan “bangunlah”. Bangunan setara dengan building; bangunlah setara dengan bildung. Meski kita butuh building tetapi kita lebih membutuhkan bildung.

“The word “building” traces back to Old English byldan, meaning “to construct a house,” and the related Middle English byldynge.

The word “Bildung” originates from the Old High German word “bildunga,” which referred to the act of creating or shaping objects, particularly pottery. It’s related to the German words for “image” (Bild) and “to form, shape, construct” (bilden). When applied to humans, it signifies a process of self-cultivation and development of character, often used in the context of education and philosophy.”

Bildung adalah “bangunlah” karakter jiwa raga dari putra-putri bangsa.

Untuk mengembangkan bildung: kita, yaitu negara, perlu menyelenggarakan pendidikan gratis bagi seluruh warga dari tingkat SD sampai sarjana/diploma bagi yang berminat. Pendidikan gratis dibiayai oleh rakyat melalui APBN.

“APBN dapat uang dari mana untuk pendidikan gratis itu?” tanya seorang anggota wag.
“APBN Indonesia sekarang sudah mampu untuk pendidikan gratis sampai sarjana,” jawab saya, “dengan syarat pendidikan berkualitas tanpa foya-foya.”

Jika pendidikan ingin foya-foya; jika guru, dosen, dan rektor ingin hura-hura; jika orang tua ingin gedung sekolah yang mewah maka APBN tidak pernah cukup. Berapa pun porsi pendidikan dari APBN tidak pernah cukup bila fokusnya bangunan (building). Kita perlu geser fokus menjadi bildung: bangunlah jiwanya, bangunlah badannya, untuk Indonesia Raya.

3. Diskusi

Untuk membangun Indonesia menjadi adil makmur sudah terbuka jalan yang jelas: fokus pada bildung bukan building; fokus kepada “bangunlah” bukan “bangunan.” Ketika bildung berkembang maka building akan mengikuti secara wajar.

Bagaimana menurut Anda?

Saya terpikir 3 ide untuk “bangunlah” bildung: berpikir; bahasa; dan eksis.

3.1 Berpikir

Bildung membutuhkan generasi muda, dan generasi tua, untuk mahir berpikir. Sayangnya kemampuan berpikir kita sudah digerus oleh teknologi. Anak-anak tidak mampu berpikir hitungan karena sudah tersedia kalkulator di setiap hp. Remaja tidak mampu berpikir karena kena bombardir media: reel, tiktok, wa, dan lain-lain. Orang dewasa tidak mampu berpikir karena kena racun hoaks atau fitnah; tanpa hoaks segalanya jadi hambar belaka.

Kemampuan berpikir apa yang perlu kita kembangkan? Kemampuan berpikir terbuka; berpikir futuristik; berpikir penuh peduli.

Berpikir matematika dan bahasa dasar adalah modal utama. Cukup yang dasar saja; tidak membebani; malah membantu siswa berpetualang dengan matematika dan bahasa. Tujuan bildung tahap ini adalah membekali siswa dan rakyat mampu berpikir matematis dan bahasa yang logis. Kemudian, rakyat mampu melihat masa depan berdasar matematika dan bahasa. Atau lebih tepatnya, dari masa depan melihat masa kini untuk ditarik menuju cita masa depan itu: berpikir futuristik.

3.2 Bahasa

Bahasa perlu pendidikan lanjutan. Bahasa adalah ungkapan kebenaran-realitas. Bahasa memengaruhi jiwa, emosi, dan bahkan ruhani setiap orang. Bahasa adalah anugerah dari Tuhan untuk manusia sehingga manusia bahagia tinggal di rumah-realitas yang berupa bahasa.

Dalam pengertian bahasa sebagai ungkapan kebenaran-realitas, posisi bahasa lebih lembut dari setiap disiplin; bahasa lebih lembut dari sains, teknologi, ekonomi, seni, dan lain-lain. Tetapi kelembutan bahasa bisa dipaksa oleh pihak tertentu menjadi “keras”: hanya ada satu makna bahasa paling benar; yaitu makna yang saya katakan saja; makna yang lain salah. Dominasi bahasa “keras” seperti ini perlu dihindari dengan bildung mengenalkan bahasa yang lembut itu.

Kita sering menemui bahasa lembut dalam bentuk puisi. Baik puisi karya sastrawan mau pun kitab suci.

Bildung membekali warga mahir membaca puisi dan menulis puisi. Bahkan, warga membaca setiap tulisan sebagai bait-bait puisi yang lembut; tulisan WA, berita, mau pun media sosial. Fenomena realitas nyata semisal terbitnya matahari pagi pun, kita baca sebagai puisi.

3.3 Eksistensi.

Setiap warga perlu dibekali dengan kemampuan untuk menjaga eksistensi diri dan masyarakat sekitar sebagai bildung.

Eksistensi paling dasar adalah menjalani hidup ini menuju kesempurnaan sampai wafat. Keperluan hidup cukup yang sedang-sedang saja; atau sedikit agak kurang; ikhlas untuk memberikan fasilitas kepada orang lain; terutama kepada mereka yang sedang dalam kesulitan. Foya-foya dalam hidup adalah sia-sia belaka. Setiap warga perlu waspada.

Eksistensi yang lebih tinggi adalah eksis untuk meraih anugerah tertinggi; berbagi anugerah untuk sesama; dan menjaga alam raya sebagai limpahan anugerah.

Bagaimana menurut Anda?

Berkurban untuk Cinta

Nabi Ibrahim adalah teladan cinta: cinta kepada manusia, cinta kepada keluarga, cinta kepada alam raya, dan tentu cinta kepada Tuhan Yang Esa.

Kita mengenang kisah Nabi Ibrahim satu kali dalam setahun; atau lebih sering lagi. Di musim haji di kota suci, umat manusia napak tilas meneladani perjalanan tokoh suci Sang Nabi. Di seluruh belahan dunia, orang-orang beribadah puasa, sholat, dan berkurban memberikan yang terbaik kepada rakyat jelata dan sesama.

 *Kisah Ibrahim*
A. Ujian Meningkat
B. Utamakan Tuhan
C. Tidak Mungkin
D. Interpretasi
E. Tanpa Interpretasi
F. Interpretasi Demokrasi

Berikut saya kutipkan tulisan saya yang sudah saya tulis dalam tema Agama Cinta.

 *Kisah Ibrahim*

Kita mengenal Nabi Ibrahim sebagai bapaknya para nabi. Karena, kedua putranya, Ismail dan Isaac, sama-sama menjadi nabi. Ibrahim juga sebagai bapak para agama karena semua agama – Islam, Kristen, dan Yahudi – bertemu kepada ajaran Ibrahim. Ditambah lagi, kisah Ibrahim diwarnai paradoks tragedi kemanusiaan.

Ibrahim adalah pejuang kemanusiaan. Ibrahim menghabiskan seluruh umurnya untuk membela kemanusiaan. Tentu saja, Ibrahim pejuang agama. Dia mengajak umat manusia untuk taat mengabdi kepada Tuhan.

Dengan seluruh kebaikan Ibrahim itu, Tuhan tidak memanjakannya. Justru, Tuhan memberi ujian berat kepada Ibrahim. Kelak, ujian berat ini justru mengungkap sosok hebat Ibrahim sepanjang sejarah. Pertama, Ibrahim ingin memiliki anak. Tetapi, Tuhan tidak mengaruniai anak kepada Ibrahim dan istrinya. Bahkan, sampai usia mereka lebih dari 80 tahun, mereka tetap tidak memiliki keturunan.

Kedua, pada usia Ibrahim yang sangat tua, Tuhan baru menganugerahkan seorang putra kepada Ibrahim. Apakah mudah bagi seorang bapak usia di atas 80 tahun mengasuh bayi? Putra Ibrahim tumbuh sebagai anak yang sehat, lucu, dan cerdas. Putra sebagai harapan untuk melanjutkan perjuangan masa depan. Putra adalah yang paling berharga dan paling dicinta oleh Ibrahim.

Ketiga, Tuhan meminta Ibrahim untuk mengorbankan yang paling dicintainya. Di dalam mimpi, Ibrahim melihat dirinya mengorbankan Putranya. Apakah, di dunia nyata, Ibrahim akan mengorbankan Putranya? Atau Ibrahim menolak perintah Tuhan, dengan cara, tidak mengorbankan Putra tercinta?

Kisah selanjutnya, Ibrahim memilih untuk mengorbankan Putra tercintanya. Ibrahim, kemudian, bersama Putranya, berjalan ke tempat yang jauh dari orang untuk melakukan pengorbanan. Ibrahim siap menghunuskan pedang ke leher Putranya. Saat itu, Tuhan mencegah Ibrahim. Ibrahim diperintahkan untuk menjaga Putranya. Tuhan menyuruh Ibrahim untuk berkorban berupa domba sebagai gantinya.

Apa pelajaran yang bisa kita peroleh?

A. Ujian Meningkat

Untuk bertumbuh, kita perlu ujian. Dan, ketika makin tinggi pertumbuhan maka makin tinggi pula ujiannya. Ibrahim muda diuji dengan hidup bersama masyarakat yang sulit. Ibrahim lulus. Ujian ditambah. Ibrahim tidak punya anak sampai tua. Ditambah lagi, harus mengorbankan putranya ketika putranya remaja.

Demikian juga dalam hidup kita. Ujian akan terus bertambah seiring dengan kehidupan kita yang makin maju. Sehingga, jika kita mendapatkan ujian yang berat, maka, itu tandanya hidup kita sedang meningkat. Karena itu, kita perlu bersiap dengan segala ujian. Serta, makin mendekatkan diri dengan Tuhan.

B. Utamakan Tuhan

Mengutamakan perintah Tuhan atau menjaga nyawa anak Anda?

Dalam kisahnya, Ibrahim mengutamakan perintah Tuhan. Yaitu, Ibrahim ikhlas mengorbankan putranya. Meski demikian, pada akhirnya, Tuhan tidak mengijinkan perngorbanan Putra Ibrahim. Tuhan menyuruh untuk berkorban domba. Jadi, ketika kita mengutamakan perintah Tuhan maka Tuhan akan menjaga kita sebagai umat manusia.

Kerena Tuhan Maha Benar maka setiap perintah Tuhan pasti juga benar. Sehingga, umat manusia perlu terus berusaha memahami ajaran Tuhan melalui kitab suci. Ketika terjadi dilema, “Bagaimana cara kita memilih keputusan?”

C. Tidak Mungkin

Tidak mungkin. Kita tidak mungkin mengambil kesimpulan dengan pasti benar. Segala pilihan kita, mungkin saja salah. Bahkan salah besar.

Salah satu interpretasi mengatakan bahwa kisah Ibrahim adalah situasi yang tidak mungkin untuk mengambil keputusan secara pasti benar.

Pertama, Ibrahim tidak mungkin membunuh putranya. Maksudnya, sebagai pejuang kemanusiaan, Ibrahim tidak sah membunuh putranya dengan alasan apa pun. Pihak lain, bisa saja, tidak setuju dengan Ibrahim. Istri Ibrahim dan masyarakat luas bisa menolak keputusan Ibrahim.

Kedua, Ibrahim tidak mungkin menolak perintah Tuhan. Sebagai kesatria ruhani, Ibrahim selalu mengikuti perintah Tuhan.

Dua pilihan di atas, sama-sama tidak mungkin dipilih. Bagaimana cara kita untuk memilihnya? Untuk memilihnya, kita benar-benar perlu mengkaji situasi detil di tempat dan waktu yang tepat. Tidak ada hukum yang berlaku universal dalam situasi dilema seperti itu. Perlu kajian mendalam dengan memanfaatkan seluruh sumber daya, termasuk suara hati dan suara mereka yang jauh di sana, kemudian seseorang mengambil keputusan. Bagaimana pun, keputusan tersebut tetap mengandung resiko besar. Kita, sebagai manusia, sering dalam dilema.

D. Interpretasi

Dalam dilema, kita melibatkan suatu interpretasi dalam satu dan lain bentuk.

Salah satu interpretasi menyatakan bahwa Ibrahim memiliki beragam pilihan dalam interpretasi terhadap mimpinya. Mimpi itu sendiri tidak secara langsung memerintahkan Ibrahim untuk mengorbankan putranya. Sedangkan interpretasi dari mimpi, pertama, merupakan perintah untuk mengorbankan putranya. Atau, interpretasi kedua, mimpi itu merupakan perintah untuk mengorbankan sesuatu paling berharga demi Tuhan.

Bagaimana jika Anda pada posisi Ibrahim? Apakah Anda akan memilih interpretasi pertama atau kedua? Sama-sama beratnya.

Ibrahim memilih interpretasi pertama, dan kemudian, Tuhan menyelamatkan Sang Putra. Jika Anda yang melakukannya, apakah Tuhan akan menyelamatkan putra Anda? Atau, ketika Tuhan memerintahkan Anda untuk membatalkan pengorbanan itu, apakah Anda mendengar perintah Tuhan?

Barangkali, sebagai manusia jaman ini, kita lebih aman memilih interpretasi kedua, yaitu, mengorbankan yang paling berharga demi Tuhan. Interpretasi jenis kedua ini saja sudah sangat berat.

Sekali lagi, kita memiliki sumber inspirasi yang tiada batas dengan mendalami ajaran-ajaran agama sebagai pencerahan.

E. Tanpa Interpretasi

Bisakah kita menjalankan perintah agama tanpa interpretasi? Bisakah kita menjalankan perintah sesuai perintah itu saja, murni, tanpa interpretasi sama sekali? Bukankah kita harus menghindari interpretasi pribadi yang bisa salah?

Tidak bisa. Anda tidak bisa menghindar dari interpretasi. Sebagai manusia, kita pasti terlibat interpretasi dalam satu dan lain cara. Klaim bahwa saya tanpa interpretasi adalah bermakna: hanya interpretasi saya saja yang sah, sementara interpretasi pihak lain salah. Tentu saja, resiko sombong bisa menjebak seseorang.

Mari kita cermati kisah Nabi Ibrahim lagi. Dalam mimpi, Ibrahim melihat dirinya mengorbankan Sang Putra kepada Tuhan. Pertimbangkan dua alternatif respon.

A. Tanpa-interpretasi: Ibrahim perlu mengorbankan Sang Putra.

B. Dengan-interpretasi: Ibrahim perlu mengorbankan yang paling berharga.

Orang bisa klaim bahwa pilihan A (tanpa-interpretasi) adalah lebih benar dari pilihan B (dengan-interpretasi). Atau, lebih tegas A benar dan B salah. Bagaimana pun, A itu sendiri sudah merupakan interpretasi; yaitu, megambil interpretasi sesuai yang terlihat dalam mimpi. Dengan demikian, pilihan A dan B adalah seimbang karena sama-sama melibatkan interpretasi pada analisis akhir.

Lebih menarik lagi, bukankah setiap mimpi selalu membutuhkan interpretasi? Bukankah mimpi adalah perlambang? Bukankah mimpi adalah petunjuk yang selalu perlu interpretasi?

Karena Anda melakukan interpretasi maka Anda wajib tanggung jawab terhadap interpretasi Anda. Realitasnya, Anda selalu melakukan interpretasi. Sehingga, Anda selalu memikul tanggung jawab. Bagaimana cara Anda mempelajari agama? Dengan cara membaca kitab suci. Membaca adalah sebentuk interpretasi; mendengarkan adalah sebentuk interpretasi; bahasa adalah sebentuk interpretasi. Konsekuensinya, manusia memang punya tanggung jawab.

F. Interpretasi Demokrasi

Tentu saja, kita bisa menduga bahwa Nabi Ibrahim sadar sedang menghadapi dilema: mengorbankan Sang Putra atau, alternatifnya, “meng-interpretasi” perintah Tuhan.

Kita analisis, sejatinya, akan lebih ringan bila membuat “interpretasi” bahwa Ibrahim perlu mengorbankan sesuatu yang paling berharga; misal domba, sapi, unta, atau lainnya. Tidak akan terjadi dilema pada situasi seperti ini; Sang Putra akan sejutu; ibunya pun akan setuju. Dilema selesai.

Tetapi, Ibrahim memilih interpretasi yang lebih sulit: Ibrahim perlu mengorbankan Sang Putra. Kemudian, Ibrahim mengambil langkah demokrasi yaitu mendengarkan suara pihak-pihak lain. Ibrahim bertanya kepada Sang Putra: bagaimana pendapat Sang Putra? Sang Putra setuju dengan ayahanda Ibrahim yang akan mengorbankan Sang Putra. Bagaimana pendapat sang ibu? Ibu setuju juga.

Bagaimana pendapat Tuhan? Ibrahim menunggu pendapat Tuhan. Sampai saat itu, Tuhan tidak mengirim pesan kepada Ibrahim. Bahkan, Tuhan mengirim pesan berupa mimpi dengan isi yang sama berulang beberapa malam. Ibrahim, dengan berat hati, berniat mengorbankan Sang Putra. Ketika pisau tajam siap menghunus leher Sang Putra, Tuhan tidak setuju; Tuhan melarang Ibrahim; Tuhan memerintahkan agar Ibrahim menggantinya dengan domba.

Tuhan menggunakan hak veto, hak untuk membatalkan, terhadap interpretasi Ibrahim.

Apakah Sang Putra juga bisa menggunakan hak veto? Apakah Sang Ibu juga bisa menggunakan hak veto? Ataukah, masyarakat luas juga bisa menggunakan hak veto? Dalam situasi kritis yang potensial merugikan pihak korban, kita bisa menggunakan hak veto. Demokrasi tidak hanya berurusan dengan suara mayoritas; demokrasi juga perlu peduli dengan hak veto pihak-pihak lemah; peduli dengan suara yang sayup tak terdengar.

Hikmah tambahan dari pilihan Nabi Ibrahim adalah Tuhan melarang manusia mengorbankan manusia lain. Manusia perlu untuk saling menjaga, saling melindungi, dan saling peduli. Sebelum era Nabi Ibrahim, banyak kepala suku yang mengorbankan seorang pemuda demi dewa mereka. Setelah era Nabi Ibrahim, pengorbanan anak manusia adalah dilarang; secara simbolik mau pun literal. Justru kita perlu menebar cinta kepada seluruh umat manusia.

Bagaimana pun, Anda masih bisa mengembangkan inspirasi dari kisah Nabi Ibrahim tanpa henti. Berikutnya, kita akan belajar hikmah dari kisah Nabi Yusuf.

Diskusi

Bagaimana menurut Anda?

Banyak yang bisa kita diskusikan lebih lanjut. Misal ada yang bilang bahwa Nabi Ibrahim tidak perlu bingung. Banyak orang menjual anak gadisnya untuk mendapat uang; banyak orang mengeksploitasi anaknya; banyak orang membunuh anaknya. Bagi orang-orang seperti itu, tidak ada masalah untuk mengorbankan seorang anak kan?

Benar juga situasi seperti itu. Dilema muncul karena kita peduli terhadap kebaikan, keadilan, dan kebenaran. Kita yang peduli dengan anak maka akan dilema jika harus menyakiti anak. Kita yang peduli keadilan maka akan dilema bila disodorkan tumpukan uang korupsi di tempat yang sunyi. Sementara, bagi koruptor banal, uang korupsi ambil saja; tidak ada dilema.

Jadi problemnya adalah karena ada rasa peduli?

Bebas Milih, Bebas Mikir, dan Bebas Rasa: Freedom oleh Kant

Selalu ada buku yang mempesona. Buku baru dari Kohl membahas tema freedom versi Kant dari perspektif yang segar.

Umumnya, manusia sadar bahwa kita bebas memilih. Anda bebas milih berbuat baik atau lainnya. Kohl lebih luas menyatakan, “Kita bebas mikir. Atau, kita bisa berpikir hanya karena kita bebas untuk mikir itu.” Dan terakhir, kita bebas untuk menikmati hidup dan setelah kehidupan kita.

1. Kehendak Bebas dan Tanggung Jawab Moral
2. Kebebasan Mikir dan Kajian Sains
3. Kebebasan Estetika untuk Cinta
4. Ringkasan
5. Diskusi

Saya menemukan ide sangat penting dari Kohl ada di awal bab X yang merangkum seluruh argumen; kemudian melanjutkan ke bab terakhir yaitu bab X. Kita akan membahas dengan mengutip ide paling penting itu.

1. Kehendak Bebas dan Tanggung Jawab Moral

For Kant the belief in free will is the metaphysical belief that we possess a supersensible causal power that is not determined by foreign causes. His transcendental idealism is a necessary but insufficient condition for justifying this belief: by restricting the scope of the deterministic causality of nature to sensible phenomena, Kant’s idealism makes ontological space for the existence of a supersensible free causality without showing that this space is (or really could be) filled. This raises the central question of how Kant seeks to justify the belief in free will.

“Bagi Kant, kepercayaan pada kehendak bebas adalah kepercayaan metafisik bahwa kita memiliki kekuatan kausal supraindrawi yang tidak ditentukan oleh sebab-sebab asing. Idealisme transendentalnya adalah syarat yang diperlukan tetapi tidak cukup untuk membenarkan kepercayaan ini: dengan membatasi ruang lingkup kausalitas deterministik alam pada fenomena indrawi, idealisme Kant membuat ruang ontologis bagi keberadaan kausalitas bebas supraindrawi tanpa menunjukkan bahwa ruang ini terisi (atau benar-benar dapat terisi). Hal ini menimbulkan pertanyaan utama tentang bagaimana Kant berusaha membenarkan kepercayaan pada kehendak bebas.”

Kehendak bebas (free will) itu valid meski tidak bisa dipahami. Hanya saja kita bisa memahami bahwa free will itu tidak bisa dipahami.

A highly distinctive feature of Kant’s view is that he does not try to construct a metaphysical theory for the metaphysical belief in free will: he does not give a theoretical account of how the causality of freedom operates, how it produces physical effects in the phenomenal world, or why free agents act and cause specific effects at particular places and times. Since the belief in freedom is theoretically incomprehensible to us, it is consigned to the normative standpoint from which we consider how we ought to act. This belief does not figure in the empirical standpoint which is focused on observing, explaining, and predicting the
behavior of phenomenal objects (including ourselves). From the normative practical standpoint, we can form a determinate representation of our supersensible (noumenal) causality because our pure self-consciousness as autonomous moral agents provides a positive and objective, though only practical (thus theoretically fruitless) content or meaning for the idea of an atemporal causality.

“Ciri khas pandangan Kant adalah bahwa ia tidak mencoba membangun teori metafisik untuk kepercayaan metafisik pada kehendak bebas: ia tidak memberikan penjelasan teoretis tentang bagaimana kausalitas kebebasan beroperasi, bagaimana ia menghasilkan efek fisik di dunia fenomenal, atau mengapa agen bebas bertindak dan menyebabkan efek tertentu di tempat dan waktu tertentu. Karena kepercayaan pada kebebasan secara teoritis tidak dapat dipahami oleh kita, maka ia dimasukkan ke dalam sudut pandang normatif yang darinya kita mempertimbangkan bagaimana kita seharusnya bertindak. Kepercayaan ini tidak termasuk dalam sudut pandang empiris yang difokuskan pada pengamatan, penjelasan, dan prediksi perilaku objek fenomenal (termasuk diri kita sendiri). Dari sudut pandang normatif-praktis, kita dapat membentuk representasi pasti dari kausalitas supersensible (noumenal) kita karena kesadaran diri kita yang murni sebagai agen moral yang otonom memberikan konten atau makna yang positif dan objektif, meskipun hanya praktis (dengan demikian secara teoritis tidak membuahkan hasil) untuk gagasan kausalitas atemporal.”

Secara moral, kita sadar bahwa kita tanggung jawab atas pilihan bebas kita. Pencuri dan koruptor wajib masuk penjara. Orang baik maka bahagia hidup dan matinya. Bagaimana pilihan bebas itu bisa terhubung dengan alam yang deterministik? Kant tidak menjelaskan hubungan ini karena memang tidak akan bisa dijelaskan oleh nalar manusia. Untuk apa membahas sesuatu yang tidak bisa dijelaskan? Agar kita bisa menjelaskan bahwa hubungan tersebut memang tidak bisa dijelaskan. Sains alam akan gagal menjelaskan kehendak bebas.

2. Kebebasan Mikir dan Kajian Sains

Because Kant’s doctrine seeks to vindicate the belief in a theoretically
inscrutable type of causality, it must provide reasons for rejecting naturalistic, compatibilist conceptions of free will which avoid the cost of theoretical incomprehensibility. Kant gives two arguments to support his stance that if (as a naturalistic worldview contends) there were merely the causality of nature this would eliminate the only kind of free will worth having. First, the naturalistic claim that all our acts of practical judgment are empirically conditioned is incompatible with the unconditional objective necessity of our moral judgments.

Second, the naturalistic claim that we are causally necessitated to make a particular choice on any given occasion is incompatible with the presumption that we are governed by rational, categorical moral oughts: a presumption which presupposes both the power to act from duty and the privative option to act contrary to duty.

“Karena doktrin Kant berusaha membenarkan kepercayaan pada jenis kausalitas yang secara teoritis tidak dapat dipahami, doktrin tersebut harus memberikan alasan untuk menolak konsepsi naturalistik; dan (menolak) kompatibilis tentang kehendak bebas yang menghindari biaya ketidakpahaman teoritis. Kant memberikan dua argumen untuk mendukung pendiriannya bahwa jika (seperti yang dikemukakan oleh pandangan dunia naturalistik) hanya ada kausalitas alam, maka ini akan menghilangkan satu-satunya jenis kehendak bebas yang layak dimiliki.

Pertama, klaim naturalistik bahwa semua tindakan penilaian praktis kita dikondisikan secara empiris tidak sesuai dengan keharusan objektif tanpa syarat dari penilaian moral kita.

Kedua, klaim naturalistik bahwa kita secara kausal diharuskan untuk membuat pilihan tertentu pada setiap kesempatan tidak sesuai dengan anggapan bahwa kita diatur oleh keharusan moral yang rasional dan kategoris: anggapan yang mengandaikan baik kekuatan untuk (a) bertindak berdasarkan kewajiban maupun pilihan privatif untuk (b) bertindak bertentangan dengan kewajiban.”

Sains Gagal Menjelaskan Kebebasan

Kant menolak klaim dari sains alam, atau naturalistik. Karena kebebasan tidak akan pernah bisa dijelaskan oleh sains. Peran sains adalah sekedar membantu untuk menjelaskan bahwa kebebasan tidak bisa dijelaskan oleh sains.

Freedom of will is not the only kind of freedom that plays a central role in Kant’s doctrine. In Kant’s considered view we possess a freedom of thought which yields a distinctive species of transcendental freedom even though it lacks the “true causality” to produce external objects as opposed to mere representations of existent objects. Our theoretical intellect is a source of autonomous cognitive laws and goals whose objective rational necessity is incompatible with the assumption that our theoretical representations are conditioned by foreign (natural or super-natural) causes. We must presuppose the objective rational necessity of our pure theoretical concepts (such as “causality”) and cognitive laws (such as the general causal principle) in our theoretical judgments, especially in judgments that seek to provide objective naturalistic explanations for sensible phenomena. Our empirical judgments about nature result from a sensibly affected but absolutely spontaneous (yet also non-voluntaristic) capacity for autonomous cognitive self-determination. Since our transcendental freedom of thought is a necessary condition for our actual objective cognition and knowledge of nature, we can know that our noumenal selves possess transcendental freedom of thought. This does not show, however, that our noumenal selves also possess the transcendental causality of a free will.

“Kebebasan berkehendak bukanlah satu-satunya jenis kebebasan yang memainkan peran utama dalam doktrin Kant. Dalam pandangan Kant, kita memiliki kebebasan berpikir yang menghasilkan jenis kebebasan transendental yang khas meskipun kebebasan tersebut tidak memiliki “kausalitas sejati” untuk menghasilkan objek eksternal yang bertentangan dengan sekadar representasi objek yang ada.

Intelek teoritis kita adalah sumber hukum dan tujuan kognitif otonom yang kebutuhan rasional objektifnya tidak sesuai dengan asumsi bahwa representasi teoritis kita dikondisikan oleh sebab-sebab asing (alami atau supranatural). Kita harus mengandaikan kebutuhan rasional objektif dari konsep-konsep teoritis murni kita (seperti “kausalitas”) dan hukum-hukum kognitif (seperti prinsip kausal umum) dalam penilaian teoritis kita, terutama dalam penilaian yang berusaha memberikan penjelasan naturalistik objektif untuk fenomena yang masuk akal.

Penilaian empiris kita tentang alam dihasilkan dari kapasitas yang dipengaruhi secara masuk akal, tetapi benar-benar spontan (namun juga non-voluntaristik), untuk penentuan nasib sendiri kognitif yang otonom. Karena kebebasan berpikir transendental kita merupakan syarat mutlak bagi kognisi objektif dan pengetahuan kita tentang alam, kita dapat mengetahui bahwa diri noumenal kita memiliki kebebasan berpikir transendental. Namun, hal ini tidak menunjukkan bahwa diri noumenal kita juga memiliki kausalitas transendental dari kehendak bebas.”

Kehendak Bebas Geser ke Mikir Bebas

Kehendak bebas didasarkan oleh kebebasan berpikir. Meski kehendak bebas tampak lebih “nyata” dari mikir bebas; tapi mikir bebas bisa lebih utama. Lagi pula, kita hanya bisa berpikir bila mikir itu bebas. Kebalikannya tidak bisa terjadi; karena bila mekanistik deterministik maka konsekuensinya adalah kita tidak bisa berpikir. Jadi dari berpikir bebas, sebagai dasar, kemudian menuju kehendak bebas.

Kant attempts to legitimize the belief in free will through a complex twopronged approach. In Kant’s view our ordinary (pre-philosophical) moral self-consciousness yields knowledge that we possess freedom of will: common agents possess certain knowledge of their moral duties and they (at least implicitly) recognize that they could not possess such normative-practical knowledge unless they had free will. This account of how our common moral self-consciousness justifies our belief in noumenal free will invites the objection that normative practical premises cannot sufficiently justify a determinate yet theoretically inscrutable metaphysical belief in a supersensible causality that produces sensible effects. This objection is fueled by a naturalistic view which insists that we must subject every item of our conscious awareness, including our representation of the moral law, to the physiological explanations of theoretical reason. Rather than allowing our pure moral self-consciousness to justify our belief in noumenal free will, naturalists seek to debunk the alleged purity and rational necessity of our moral self-awareness by viewing our moral representations as empirically conditioned figments of the brain. Kant defends the integrity of our moral consciousness and thereby the epistemic basis of the belief in free will against this naturalistic challenge by invoking our freedom of thought. Naturalistic cognizers cannot presume that every aspect of our conscious awareness must be explicable via natural causes because the objective validity of their naturalistic explanations requires an empirically unconditioned, hence naturalistically inexplicable theoretical consciousness of a priori necessary cognitive laws. Since naturalistic cognizers must presuppose their freedom of thought, they cannot coherently debunk the belief in free will. This argument does not yield a theoretical proof of free will. Rather, it serves as a defense of the epistemically prior purely moral proof.

“Kant mencoba melegitimasi kepercayaan pada kehendak bebas melalui pendekatan bercabang dua yang kompleks. Dalam pandangan Kant, (a) kesadaran diri moral kita yang biasa (pra-filosofis) menghasilkan pengetahuan bahwa kita memiliki kebebasan berkehendak: pelaku umum memiliki pengetahuan tertentu tentang tugas moral mereka dan mereka (setidaknya secara implisit) mengakui bahwa mereka tidak dapat memiliki pengetahuan normatif-praktis tersebut kecuali mereka memiliki kehendak bebas. Uraian tentang bagaimana kesadaran diri moral kita yang umum membenarkan kepercayaan kita pada kehendak bebas noumenal ini mengundang keberatan bahwa premis normatif-praktis tidak dapat secara memadai membenarkan kepercayaan metafisik yang pasti namun secara teoritis tidak dapat dipahami pada kausalitas supersensible yang menghasilkan efek yang masuk akal. Keberatan ini didorong oleh pandangan naturalistik yang menegaskan bahwa kita harus menundukkan setiap item kesadaran sadar kita, termasuk representasi kita tentang hukum moral, pada penjelasan fisiologis dari alasan teoritis.

Alih-alih membiarkan kesadaran moral murni kita membenarkan kepercayaan kita pada kehendak bebas noumenal, naturalis berusaha untuk menyanggah dugaan kemurnian dan kebutuhan rasional kesadaran moral kita dengan melihat representasi moral kita sebagai rekaan otak yang dikondisikan secara empiris.

Kant membela integritas kesadaran moral kita dan dengan demikian basis epistemik kepercayaan pada kehendak bebas terhadap tantangan naturalistik ini dengan (b) menyerukan kebebasan berpikir kita. Pengenal naturalistik tidak dapat berasumsi bahwa setiap aspek kesadaran kita harus dapat dijelaskan melalui sebab-sebab alami karena validitas objektif dari penjelasan naturalistik mereka memerlukan kesadaran teoretis yang tidak dikondisikan secara empiris, karenanya tidak dapat dijelaskan secara naturalistik dari hukum-hukum kognitif yang diperlukan secara apriori. Karena pengenal naturalistik harus mengandaikan kebebasan berpikir mereka, mereka tidak dapat secara koheren menyanggah kepercayaan pada kehendak bebas. Argumen ini tidak menghasilkan bukti teoritis kehendak bebas. Sebaliknya, ini berfungsi sebagai pembelaan terhadap bukti moral murni yang secara epistemik lebih dulu.”

Sains alam mengandalkan asumsi ada hukum universal yang tidak empiris; misal kausalitas. Karena kausalitas tidak empiris maka sains tidak bisa menjelaskan, atau membuktikan, kausalitas; justru sains membutuhkan kausalitas. Dan masih banyak teori-teori yang tidak bisa dijelaskan secara empiris; termasuk kehendak bebas tidak bisa dijelaskan oleh sains empiris. Kita membutuhkan rute lain untuk menjelaskan kehendak bebas: apakah akan bisa dijelaskan?

3. Kebebasan Estetika untuk Cinta

This concludes my reconstruction of Kant’s doctrine as an account of our moral freedom of will and our epistemic freedom of thought. There is, however, one further important angle to Kant’s views on freedom that a systematic interpretation cannot ignore. I have focused on the two distinctive species of transcendental freedom which play a central role, respectively, in Kant’s moral philosophy and epistemology. In both cases, the relevant kind of free agency is a form of autonomous self-determination where the subject acts (chooses or thinks) under
self-given rational laws. But Kant also brings up the idea of freedom in his aesthetics: he invokes the freedom of our imagination as enabling both our aesthetic production of beauty (in art) and our aesthetic experience of beauty (in art and nature). Can we fruitfully integrate Kant’s appeal to freedom of imagination with his views on freedom of will and freedom of thought? Or must we regard his appeal to aesthetic freedom of imagination as an aberration from his standard conception of freedom, a result which would disrupt the unity of his doctrine? The latter diagnosis may seem unavoidable in light of Kant’s insistence that freedom of imagination is a lawless freedom, namely, a freedom from the rational laws legislated by our higher intellectual faculties.

“Ini menyimpulkan rekonstruksi saya atas doktrin Kant sebagai penjelasan tentang kebebasan moral kehendak dan kebebasan epistemik berpikir kita. Namun, ada satu sudut pandang penting lebih lanjut tentang pandangan Kant tentang kebebasan yang tidak dapat diabaikan oleh interpretasi sistematis. Saya telah berfokus pada dua spesies kebebasan transendental yang berbeda yang masing-masing memainkan peran sentral dalam filsafat moral dan epistemologi Kant. Dalam kedua kasus tersebut, jenis kebebasan yang relevan adalah bentuk penentuan nasib sendiri yang otonom di mana subjek bertindak (memilih atau berpikir) di bawah hukum rasional yang diberikan sendiri.

Namun, Kant juga mengemukakan gagasan tentang kebebasan dalam estetikanya: ia menyerukan kebebasan imajinasi kita sebagai sesuatu yang memungkinkan produksi estetika keindahan (dalam seni) dan pengalaman estetika keindahan (dalam seni dan alam). Dapatkah kita secara berhasil mengintegrasikan seruan Kant tentang kebebasan imajinasi dengan pandangannya tentang kebebasan kehendak dan kebebasan berpikir? Atau haruskah kita menganggap seruannya terhadap kebebasan estetika imajinasi sebagai penyimpangan dari konsepsi standarnya tentang kebebasan, suatu hasil yang akan mengganggu kesatuan doktrinnya? Diagnosis terakhir mungkin tampak tak terelakkan mengingat desakan Kant bahwa kebebasan imajinasi adalah kebebasan tanpa hukum, yaitu, kebebasan dari hukum-hukum rasional yang ditetapkan oleh kemampuan intelektual kita yang lebih tinggi.”

Kebebasan ketiga adalah kebebasan estetika: kebebasan jatuh cinta; kebebasan menikmati keindahan; kebebasan rindu kepada yang merdu. Kebebasan penilaian estetika yang mengandalkan kebebasan imajinasi ini melampaui aturan rasional. Bisakah disatukan dengan kebebasan rasional?

In the concluding part and chapter of this book, I argue that despite this central difficulty we can find a place for aesthetic freedom of imagination in Kant’s systematic doctrine. If we take a certain (admittedly controversial) approach towards Kant’s aesthetics and if we allow ourselves some leeway in applying Kant’s strict definition of transcendental freedom as autonomy, then we can view freedom of imagination as a further (third) distinctive species of transcendental freedom whose lack of determination by intellectual laws uniquely captures the distinctive character of our aesthetic (as opposed to moral or epistemic) self-activity.

“Pada bagian dan bab penutup buku ini, saya berpendapat bahwa terlepas dari kesulitan utama ini, kita dapat menemukan tempat bagi kebebasan estetika imajinasi dalam doktrin sistematis Kant. Jika kita mengambil (a) pendekatan tertentu (yang diakui kontroversial) terhadap estetika Kant dan jika (b) kita memberi diri kita kelonggaran dalam menerapkan definisi ketat Kant tentang kebebasan transendental sebagai otonomi, maka kita dapat memandang kebebasan imajinasi sebagai spesies kebebasan transendental (ketiga) yang lebih jauh yang khas, (c) yang kurangnya penentuan oleh hukum intelektual secara unik menangkap karakter khas aktivitas diri estetika kita (sebagai lawan dari moral atau epistemik).”

Kita bisa menyimpulkan bahwa kebebasan estetika adalah selaras, dan memperdalam, dengan kebebasan moral dan intelektual. Bebas merasa.

But instead of demoting the powers of imagination as being merely analogous to genuine moral or epistemic freedom, we should rather say that the imagination genuinely exemplifies Kant’s conception of transcendental freedom in a highly distinctive manner that accords with the peculiar character of aesthetic as opposed to moral or epistemic activity. Consider here the merits of my key proposal (call it (P)) that the free imagination is loosely governed by indeterminate rational norms. On the one hand, (P) defuses the worry that the free imagination stands under no rules whatsoever and must thus be viewed as an arbitrary liberty of indifference whose products lack universal-intersubjective validity. This worry is clearly the central motive for Kant’s positive definition of freedom as a rulegoverned power. On the other hand, (P) also prevents an objectivist, rationalistic over-intellectualization of imaginative freedom: it avoids the implausible assimilation of free aesthetic production and experience to other (moral, epistemic) types of free agency which have a squarely cognitivist-intellectual character that requires rigid, determinate governance by objective rational laws. Since (P) accounts for both the universal validity and the irreducible subjectivity of our aesthetic representations, it yields a philosophical analysis of taste which (unlike purely subjectivizing or overly intellectualizing aesthetics) remains true to its authentic character.

“Namun, alih-alih merendahkan daya imajinasi sebagai sesuatu yang sekadar analog dengan kebebasan moral atau epistemik sejati, kita lebih baik mengatakan bahwa imajinasi benar-benar menggambarkan konsepsi Kant tentang kebebasan transendental dengan cara yang sangat khas yang sesuai dengan karakter khusus estetika yang bertentangan dengan aktivitas moral atau epistemik.

Pertimbangkan di sini manfaat dari usulan utama saya (sebut saja (P)) bahwa imajinasi bebas diatur secara longgar oleh norma-norma rasional yang tidak pasti. Di satu sisi, (P) meredakan kekhawatiran bahwa imajinasi bebas tidak berada di bawah aturan apa pun dan dengan demikian harus dipandang sebagai kebebasan sewenang-wenang yang tidak acuh yang produknya tidak memiliki validitas universal-intersubjektif. Kekhawatiran ini jelas merupakan motif utama definisi positif Kant tentang kebebasan sebagai kekuatan yang diatur oleh aturan.

Di sisi lain, (P) juga mencegah intelektualisasi berlebihan yang bersifat objektivis dan rasionalistik terhadap kebebasan imajinatif: ia menghindari asimilasi yang tidak masuk akal dari produksi dan pengalaman estetika bebas dengan jenis-jenis agensi bebas (moral, epistemik) lain yang memiliki karakter intelektual-kognitif yang mengharuskan tata kelola yang kaku dan pasti oleh hukum-hukum rasional yang objektif. Karena (P) memperhitungkan validitas universal dan subjektivitas yang tidak dapat direduksi dari representasi estetika kita, ia menghasilkan analisis filosofis tentang selera yang (tidak seperti estetika yang murni subjektif atau terlalu intelektual) tetap setia pada karakter autentiknya.”

Kebebasan rasa selaras dengan aturan rasional yang longgar dan tidak didominasi oleh aturan apa pun.

Admittedly, there is no way of getting around the fact that the imagination lacks autonomy in the precise sense that goes into Kant’s positive definiens. This is because the free imagination does not give its governing rules to itself but takes them from our higher intellectual faculties. For some, this might be enough to show that we cannot speak of genuine freedom here. However, we might also say that the free imagination has its own peculiar, sui generis form of autonomy, “the autonomy of taste” (KU, 5:282). Imaginative activity (in aesthetic production and experience) can be understood as a special form of autonomy for two reasons.

“Harus diakui, tidak ada cara untuk menghindari fakta bahwa imajinasi
tidak memiliki otonomi dalam pengertian yang tepat yang terkandung dalam definiens positif Kant. Ini karena imajinasi bebas tidak memberikan aturan yang mengaturnya kepada dirinya sendiri tetapi mengambilnya dari kemampuan intelektual kita yang lebih tinggi. Bagi sebagian orang, ini mungkin cukup untuk menunjukkan bahwa kita tidak dapat berbicara tentang kebebasan sejati di sini. Namun, kita juga dapat mengatakan bahwa imajinasi bebas memiliki bentuk otonominya sendiri yang unik dan sui generis, “otonomi rasa” (KU, 5:282). Aktivitas imajinatif (dalam produksi dan pengalaman estetika) dapat dipahami sebagai bentuk otonomi khusus karena dua alasan.”

First, the aesthetic imagination positively relates itself to, i.e., invites guidance and direction from norms of understanding and reason that are autonomous in the strict or primary sense. Although these rules do not arise from the imagination itself, they are still not “foreign” to the imagination since they originate in the free unified human mind (Gemüt) that includes the imagination as an integral part. Against this, one might insist that the rules governing the aesthetic imagination are detached from, hence foreign to, its own mode of operation. This is because, one might hold, the aesthetic value created by free imaginative activity is independent from the rules that direct such activity: the greatest expressions of moral or epistemic value result from our strict conformity to the autonomous laws governing our free will or understanding, whereas original beauty arises only when our free imagination does not fully conform to the rules that govern it.

However, if the imagination creates or appreciates something beautiful, then its activity does comply with the norms governing such creation or appreciation. To be sure, this sense of compliance is not the same as in moral or epistemic cases, but that is just because the corresponding type of rule-governedness is different: if the aesthetic imagination operates successfully, it satisfies the norms which direct it in the one and only, indeterminate sense that loose (as opposed to strict lawlike) norm-governedness requires (or enables). For instance (cf. Section X.3), the imagination successfully complies with reason’s vague directive to obtain a maximum of representational content if it fittingly combines and magnifies given sensible manifolds in a non-mundane, aesthetically pleasing manner. Moreover, the aesthetic value arising from free imaginative activity is essentially tied to the rules that govern such activity: since all beauty involves a “sensualizing of moral ideas” (KU, 5:356), and since (as we saw) moral ideas play a key role in guiding aesthetic creation and appreciation, the moral value contained in these ideas is integrally connected (though not identical) to the aesthetic value of beauty. Hence, the intellectual norms governing the free imagination are not foreign to the distinctive value it seeks to create via its aesthetic mode of operation.

“Pertama, imajinasi estetika berhubungan positif dengan, yaitu, mengundang bimbingan dan arahan dari norma-norma pemahaman dan nalar yang otonom dalam pengertian yang ketat atau utama. Meskipun aturan-aturan ini tidak muncul dari imajinasi itu sendiri, aturan-aturan tersebut tetap tidak “asing” bagi imajinasi karena aturan-aturan tersebut berasal dari pikiran manusia yang bebas dan terpadu (Gemüt) yang mencakup imajinasi sebagai bagian integral. Bertentangan dengan hal ini, seseorang mungkin bersikeras bahwa aturan-aturan yang mengatur imajinasi estetika terpisah dari, karenanya asing bagi, cara kerjanya sendiri. Hal ini karena, seseorang mungkin berpendapat, nilai estetika yang diciptakan oleh aktivitas imajinatif bebas tidak bergantung pada aturan-aturan yang mengarahkan aktivitas tersebut: ekspresi terbesar dari nilai moral atau epistemik dihasilkan dari kesesuaian kita yang ketat dengan hukum-hukum otonom yang mengatur kehendak atau pemahaman bebas kita, sedangkan keindahan asli hanya muncul ketika imajinasi bebas kita tidak sepenuhnya sesuai dengan aturan-aturan yang mengaturnya.

Namun, jika imajinasi menciptakan atau menghargai sesuatu yang indah, maka aktivitasnya mematuhi norma-norma yang mengatur penciptaan atau penghargaan tersebut. Yang pasti, rasa kepatuhan ini tidak sama dengan kasus moral atau epistemik, tetapi itu hanya karena jenis aturan yang diaturnya berbeda: jika imajinasi estetika beroperasi dengan sukses, ia memenuhi norma-norma yang mengarahkannya dalam satu-satunya pengertian yang tidak pasti yang diperlukan (atau dimungkinkan) oleh aturan yang longgar (berlawanan dengan aturan yang ketat seperti hukum). Misalnya (lih. Bagian X.3), imajinasi berhasil mematuhi arahan akal budi yang samar untuk memperoleh konten representasional yang maksimal jika ia menggabungkan dan memperbesar manifold yang masuk akal dengan cara yang tidak biasa dan menyenangkan secara estetika. Lebih jauh, nilai estetika yang muncul dari aktivitas imajinasi bebas pada dasarnya terikat pada aturan-aturan yang mengatur aktivitas tersebut: karena semua keindahan melibatkan “sensualisasi gagasan moral” (KU, 5:356), dan karena (seperti yang kita lihat) gagasan moral memainkan peran kunci dalam membimbing penciptaan dan apresiasi estetika, nilai moral yang terkandung dalam gagasan-gagasan ini terhubung secara integral (meskipun tidak identik) dengan nilai estetika keindahan. Oleh karena itu, norma-norma intelektual yang mengatur imajinasi bebas tidak asing dengan nilai khas yang ingin diciptakannya melalui cara operasi estetikanya.”

The second reason why the free imagination can be considered autonomous is that it allows rational directives to guide its activity while at the same time refusing to be dominated by them. Free imaginative activity develops the input it receives from intellectual rules in a way that is geared towards its non-moral, non-epistemic, specifically aesthetic telos. It thereby exemplifies the notion of self-determination that is central to Kant’s notion of autonomy. The free imagination determines itself by taking a cue from objective intellectual norms but then interpreting that cue in its own characteristic, subjectively playful manner. The special way in which the aesthetic imagination takes up discursive intellectual content is reflected in the special character of its products: unlike other (moral, epistemic) species of spontaneous activity, the imagination spontaneously determines itself to a symbolic sensible (rather than purely intellectual-conceptual) (re)presentation of the supersensible. This special kind of self-determination allows the imagination to make supersensible rational content amenable to the emotive, sensible side of human nature: to our faculty of feeling.

“Alasan kedua mengapa imajinasi bebas dapat dianggap otonom adalah karena ia membiarkan arahan rasional memandu aktivitasnya, sementara pada saat yang sama menolak untuk didominasi oleh arahan tersebut. Aktivitas imajinatif bebas mengembangkan masukan yang diterimanya dari aturan intelektual dengan cara yang diarahkan pada tujuan estetika yang non-moral, non-epistemik, dan spesifik. Dengan demikian, ia mencontohkan gagasan tentang penentuan nasib sendiri yang menjadi inti dari gagasan Kant tentang otonomi. Imajinasi bebas menentukan dirinya sendiri dengan mengambil isyarat dari norma intelektual objektif, tetapi kemudian menafsirkan isyarat itu dengan caranya sendiri yang khas dan subjektif. Cara khusus imajinasi estetika mengambil konten intelektual diskursif tercermin dalam karakter khusus produknya: tidak seperti spesies aktivitas spontan (moral, epistemik) lainnya, imajinasi secara spontan menentukan dirinya sendiri untuk (re)presentasi simbolis yang masuk akal (daripada murni intelektual-konseptual) dari yang supersensible. Jenis penentuan nasib sendiri yang khusus ini memungkinkan imajinasi untuk membuat konten rasional yang melampaui nalar dapat diterima oleh sisi emosional dan nalar dari sifat manusia: oleh kemampuan kita untuk merasakan.”

If this account (or something akin to it) is on the right track, we can conclude that freedom of imagination qualifies as a genuine species of transcendental freedom: the imagination exemplifies the only type of spontaneous self-determination that fits the aesthetic dimension of human life. My overall interpretation in this book thus establishes the (generic) idea of transcendental freedom as the cardinal point of all three major areas that constitute Kant’s systematic philosophy. Accordingly, Kant can view such freedom as the proper anchor of all meaningful human activity, in moral, epistemic, and aesthetic contexts.

“Jika penjelasan ini (atau sesuatu yang mirip dengannya) berada di jalur yang benar, kita dapat menyimpulkan bahwa kebebasan imajinasi memenuhi syarat sebagai spesies kebebasan transendental yang sejati: imajinasi mencontohkan satu-satunya jenis penentuan nasib sendiri secara spontan yang sesuai dengan dimensi estetika kehidupan manusia. Penafsiran saya secara keseluruhan dalam buku ini dengan demikian menetapkan gagasan (umum) tentang kebebasan transendental sebagai titik kardinal dari ketiga bidang utama yang membentuk filsafat sistematis Kant. Dengan demikian, Kant dapat memandang kebebasan tersebut sebagai jangkar yang tepat dari semua aktivitas manusia yang bermakna, dalam konteks moral, epistemik, dan estetika.”

4. Ringkasan

Mari kitra ringkas pandangan Kohl terhadap Kant.

Kohl meluaskan konteks freedom menjadi tiga: (a) moral; (b) epistemik; (c) estetika. Pandangan umum hanya menerima konteks tunggal bagi freedom: moral.

Makna freedom dalam konteks moral dan epistemik adalah setara: freedom adalah otonomi akal budi untuk (a) menetapkan aturan dan (b) menjalankan aturan. Karena akal yang membuat aturan sendiri kemudian menjalankan aturan itu maka akal adalah bebas.

Ketika akal melanggar aturan maka akal kehilangan kebebasan karena terikat kewajiban untuk menebus pelanggaran tersebut. Jika seseorang ingkar janji maka dia kehilangan kebebasan karena terikat kewajiban untuk menebus kesalahan ingkar janji itu. Tetapi bila seseorang memenuhi janji maka dia tetap bebas apakah berikutnya (a) tetap memenuhi janji atau (b) mengingkari.

Makna freedom dalam konteks estetika adalah unik karena menerapkan kebebasan imajinasi rasa. (a) Imajinasi tidak menetapkan aturan; tetapi imajinasi meminjam aturan intelektual dari moral dan epistemik secara longgar. (b) Imajinasi menjalankan aturan intelektual tetapi tidak sepenuhnya didominasi aturan intelektual tersebut. (c) Imajinasi adalah kebebasan rasa; kebebasan cinta; kebebasan rindu yang unik; karena berbeda dengan kebebasan moral mau pun kebebasan epistemik.

Kontribusi utama dari Kohl, menurut saya, adalah kebebasan epistemik. Akal menetapkan aturan secara bebas; misal aturan kausalitas. Kemudian, akal menerapkan kausalitas itu dengan bebas pada kasus-kasus partikular; misal sinar matahari itu menyebabkan suhu batu bertambah panas. Atau alternatifnya, akal menetapkan aturan korelasi. Kemudian menerapkan bahwa sinar matahari itu sekadar korelasi dengan suhu batu yang bertambah panas.

Kebebasan epistemik di atas menguatkan kebebasan moral. Karena pengetahuan kita adalah bebas maka pilihan sikap moral kita juga bebas. Pada gilirannya, kebebasan moral akan menguatkan kebebasan epistemik. Sikap moral yang baik akan menjamin kemampuan memahami dengan baik.

Bagaimana peran kebebasan rasa estetika?

5. Diskusi

Peran kebebasan rasa estetika adalah paling utama. Kebebasan rasa adalah lembut mempesona.

Kebebasan imajinasi membutuhkan aturan moral. Kita belajar moral dari ibu, keluarga, dan masyarakat luas. Sehingga, kebebasan imajinasi membutuhkan peran penting dari masyarakat luas. Kebebasan imajinasi membutuhkan aturan epistemik (aturan rasional). Aturan epistemik ini membutuhkan sintesa, dalam kadar tertentu, dengan alam raya. Sehingga, kebebasan imajinasi membutuhkan alam raya. Lengkap sudah, untuk meraih bebas imajinasi, bebas estetika, bebas rasa maka kita membutuhkan masyarakat luas dan alam raya.

Bagaimana pun, kebebasan estetika itu tidak didominasi oleh masyarakat mau pun oleh alam raya. Kebebasan estetika selaras dengan masyarakat dan alam raya kemudian menghadirkan keindahan cinta. Mengapa bisa selaras? Selaras adalah anugerah dari sumber anugerah. Kita pantas bersyukur atas semua anugerah.

Bagaimana menurut Anda?

Epilog 3

Setelah Epilog 2, berikut adalah Epilog 3.

1. Sejarah Obyektif: Tidak Lagi Penting
2. Kulminasi Ganda sampai Profetik
3. Tiga Pemikir Paling Sulit
4. Severino: Kebenaran Abadi bukan Ilusi
5. Kulminasi Teknologi AI: Hegel ke Pippin
6. Solusi dan Problem Budaya Futuristik
7. Filsafat Probabilitas AI Kuantum
8. Mengapa Matematika Tidak Penting
9. Era Prabowo: Indonesia (Tidak) Baik-Baik Saja
10. Jalan Hidup dan Mati Filosofis: Diogenes, Ghazali, West

11. Pilih Mati Ketimbang Khianati
12. Jebakan Pendidikan di Indonesia
13. Aturan Puasa: Tanpa Aturan
14. Boethius: Filsafat Menghadapi Mati
15. Efisiensi atau Berpikir
16. Filsafat Teknologi: Update Heidegger 2025
17. Kuliah Filsafat Teknologi di Indonesia
18. Filsafat Teknologi sebagai Way of Life
19. Filsafat Teknologi Kecerdasan Buatan
20. Gila Trump Menular

21. Bangunan Vs Bangunlah: Negara Adil Makmur
22. Pemotongan Anggaran: Tanpa Sarapan
23. Filsafat Teknologi: Kritik Akal Imitasi
24. Kesejukan yang Membakar Hutan
25. Pilih Qabil atau Habil
26. Pelajaran Koding untuk Siswa Berbahaya
27. Narasi AI bersama Agama
28. Teori Agama: Dari 7 Menjadi 10
29. Posisi AlQuran di depan AI
30. Akal Imitasi (AI): Telaah Pustaka

31. AI untuk Pendidikan: Mitos atau Fakta
32. AI Bisa Jadi Guru Besar
33. Mudah Membaca Buku Sulit dengan AI
34. Apakah AI Punya Lubang Hidung
35. AI sebagai Tuhan Baru
36. Berbahaya: Pelajaran Koding untuk Siswa
37. Demokrasi Indonesia 2025: Kopanarko
38. Hakimi Penjarah Rumah Sahroni
39. Aksi Demo 2025: Solusi Prabowo
40. Apa yang Disebut Berpikir?

41. Indonesia Merdeka 800 Tahun
42. Hakikat Manusia di Rumah Bahasa
43. Moralitas Agama: Kitab Suci atau Akal?
44. AI (LLM) Tidak Paham Bahasa
45. Rumah Paling Nyaman Bernama AI
46. Kopanarko: Solusi Indonesia Kocar-Kacir
47.
48.
49.
50.

Mengapa Alhazen Lebih Hebat dari Newton?

Bahkan lebih hebat dari Einstein?

Karena Alhazen lahir sebelum era Descartes. Sedangkan Newton lahir setelah Descartes.

Bahkan ketika Einstein membahas cahaya yang mirip dengan Alhazen maka teman-teman Einstein sudah terpengaruh oleh dualisme Descartes. Sehingga rumus Einstein e = mc^2 menjadi senjata bom atom yang berbahaya.

Memang apa masalahnya dengan Descartes? Tidak masalah dengan Descartes tetapi murid-murid Descartes memang bermasalah. Dualisme Descartes berhasil mendamaikan konflik sains dan agama di sekitar abad 17. Di abad 19, 20, dan 21, dualisme Descartes menjadi masalah besar.

Bagaimana menurut Anda?

1. Sains Cahaya vs Mekanika
2. Dualisme Cartesian (Descartes)
3. Kecepatan Cahaya Einstein
4. Positivisme Lingkaran Wina
5. Diskusi

Alhazen (970 – 1040) mengembangkan sains secara teoritis dan empiris. Jika Anda mengenal trigonometri yang canggih maka itulah keahlian Alhazen. Lebih dari itu, Alhazen menguji teori sains, misal tentang cahaya dan optik, melalui eksperimen. Alhazen adalah ilmuwan pertama yang mengenalkan metode ilmiah melalui perangkat eksperimen yang sistematis. Sebelum Alhazen, ilmuwan cenderung memanfaatkan uji koherensi logika sesuai ajaran Aristo; tanpa mengembangkan eksperimen empiris yang sistematis.

Alhazen pernah bekerja di perpustakaan Syam. Dia menerjemahkan ke bahasa Arab dari buku-buku bahasa Yunani atau Latin meliputi karya Plato, Aristo, Euclid, Galen, dan lain-lain. Lebih dari itu, Alhazen juga menulis buku karya orisinal yang jumlahnya puluhan sampai ratusan.

Gubernur Syam sangat puas dengan hasil kerja Alhazen dan memberi gaji bulanan sangat besar yaitu 100 dinar (barangkali sekitar 200 juta rupiah di jaman kita sekarang). Alhazen menolak gaji besar dan ia hanya mengambil 4 dinar saja; Alhazen merasa cukup dengan gaji yang sedikit saja.

“Mengapa begitu Alhazen?” gubernur heran.
Alhazen menjawab, “Biarlah segini saja sudah cukup buat saya. Bila Tuan terlalu banyak memberi gaji ke saya maka saya akan menjadi penjaga harta Tuan. Bila Tuan terlalu sedikit memberi gaji ke saya maka saya akan menanggung derita akibat ulah Tuan.”

1. Sains Cahaya vs Mekanika

Alhazen fokus mengkaji sains cahaya dan optik berbeda dengan Newton yang fokus utama adalah mekanika dan kalkulus; tentu Newton juga membahas cahaya dan optik melanjutkan Alhazen.

Riset cahaya dan optik adalah untuk memahami realitas. Tetapi, mekanika dan kalkulus adalah untuk mendominasi realitas; atau untuk rekayasa realitas. Sangat berbeda kan?

Ketika umat manusia fokus riset cahaya dan optik maka masyarakat makin memahami alam semesta dengan lebih baik. Sehingga manusia lebih bersyukur atas karunia cahaya dan manusia mengambil lebih banyak hikmah. Ilmuwan bisa menciptakan kacamata untuk membantu penglihatan bagi orang-orang yang membutuhkan. Ilmuwan bisa menciptakan teleskop untuk mengagumi keindahan semesta. Ilmuwan bisa menciptakan lensa/cermin pembakar untuk menghasilkan energi panas sekedar untuk penghangat ruangan atau untuk memasak.

Kajian optik di atas berbeda dengan kajian mekanika pasca Newton (1643 – 1727).

Dengan kajian mekanika maka manusia bisa mengendalikan alam bukan sekedar memahami alam. Dengan mekanika, manusia bisa membangun bendungan, jembatan, kereta api, mobil, tenaga listrik, senjata perang, dan lain-lain. Kajian mekanika memberi keuntungan kekuatan bagi pihak yang menguasainya; keuntungan finansial; dan keuntungan politik. Pandangan ini selaras dengan tujuan murid-murid Descartes.

2. Dualisme Cartesian (Descartes)

Descartes (1596 – 1650) membedakan materi dan jiwa: dualisme Descartes. Sains berfokus kepada kajian materi. Sedangkan agama mengkaji jiwa. Sehingga tidak perlu ada konflik antara sains dan agama; mereka memiliki wilayah kajian yang berbeda.

Konsekuensi lanjutan adalah sains bebas melakukan apa saja. Terjadilah dominasi terhadap alam mau pun dominasi terhadap bangsa lain; melalui kolonialisme atau kapitalisme misalnya. Umat manusia mengalami kemunduran peradaban di berbagai penjuru dunia. Tentu saja, ada pihak-pihak tertentu yang justru mengambil keuntungan besar dari kolonialisme dan kapitalisme. Kabarnya, awal abad 21 ini, Elon Musk rencana akan menciptakan koloni di planet Mars dengan proyek-proyek SpaceX.

3. Kecepatan Cahaya Einstein

Einstein mirip Alhazen: mengkaji sains cahaya. Einstein membuat postulat bahwa kecepatan maksimal adalah kecepatan cahaya dalam ruang hampa. Teori Einstein menghasilkan formula e = mc^2 yang menjadi dasar senjata bom atom. Setelah bom atom meledak di Nagasaki Hiroshima, Einstein menyesal seumur hidup. Tetapi Einstein tidak terlibat dalam peledakan bom atom kan?

Manusia memang sulit dipercaya meski bisa dipercaya.

Einstein bersama Russell mendorong gerakan anti-senjata nuklir; mendorong pemusnahan senjata nuklir sejak selesai perang dunia dua. Bagaimana pun, proyek pengembangan nuklir masih terjadi di berbagai penjuru dunia meski dengan alasan untuk kepentingan damai.

4. Positivisme Lingkaran Wina

Pada awal abad 20, Barat terjebak dalam positivisme Lingkaran Wina. Mengapa Alhazen tidak terjebak positivisme? Mengapa Alhazen bisa antisipasi deduksi-hipotesis mau pun falsifikasi Popper?

Alhazen berbeda dengan ilmuwan pasca Newton. Alhazen mengembangkan sains, filsafat, dan agama adalah untuk mengungkap kebenaran hikmah kebijaksanaan. Ilmuwan pasca Newton, apalagi ilmuwan adab 20, mengembangkan sains adalah untuk memperoleh keuntungan; finansial mau pun politis. Ketika sains terbukti pernah memberi keuntungan itu maka Lingkaran Wina menetapkan bahwa sains adalah kebenaran itu sendiri. Yang berbeda dengan sains adalah bukan kebenaran atau tidak bermakna.

Jika sains berbeda pendapat dengan ajaran tradisi maka mana yang lebih benar? Sains lebih benar menurut Lingkaran Wina.

Positivisme Lingkaran Wina bergerak lebih jauh: (a) kebenaran harus bisa diverifikasi oleh sains; (b) atau kebenaran harus bisa dianalisis logis berdasar definisi sains. Yang lebih heboh lagi adalah sisi penolakan oleh Positivisme. Bila suatau gagasan tidak memenuhi dua kriteria positivisme di atas maka tidak masuk akal; tidak bermakna; atau omong kosong.

Metafisika tidak memenuhi kriteria positivisme maka dianggap sebagai omong kosong. Tradisi, budaya, seni, agama, hikmah, tata-krama, dan lain-lain juga tidak memenuhi kriteria positivisme maka dianggap sebagai omong kosong.

Tentu saja, banyak pihak yang menolak positivisme Lingkaran Wina. Einstein menolak diajak gabung Lingkaran Wina. Husserl menolak Lingkaran Wina. Heidegger menyebut sains positivisme sebagai tidak otentik. Pada pertengahan abad 20, falsifikasi Popper meruntuhkan positivisme Lingkaran Wina. Disusul oleh revolusi pergeseran paradigma Kuhn maka positivisme Lingkaran Wina tersisa hanya puing-puing belaka.

Anehnya, ketika positivisme sains sudah runtuh, masih banyak ilmuwan yang mengira bahwa sains adalah kebenaran itu sendiri semacam Lingkaran Wina. Bagaimana bisa begitu? Mereka kurang belajar dari sejarah.

5. Diskusi

Bagaimana menurut Anda?

Descartes adalah penentu. Alhazen lebih hebat dari Newton karena Alhazen terbebas dari dualisme Descartes; sedangkan Newton terpengaruh dualisme Descartes. Bila demikian maka kita tidak bisa membandingkan Alhazen dengan Newton kan?

Tepat. Kita perlu memahami Alhazen-Newton dalam dinamika sejarah, sains, dan manusia. Jadi kita tidak bisa membandingkan mereka sebagaimana membandingkan angka-angka. Perbandingan mereka hanya untuk membantu kita agar mudah memahami mereka. Kemudian, kita mengambil pelajaran hikmah dari sejarah.

(a) Sejarah. Alhazen, Newton, dan Einstein hanya bisa kita pahami sesuai sejarah mereka. Bila dilepaskan dari sejarah, tokoh-tokoh itu menjadi kehilangan makna. Kita perlu mencermati hikmah dari sejarah mereka.

(b) Sains. Sejarah mendorong munculnya sains tertentu dan menyembunyikan jenis sains lain. Selanjutnya, sains itu sendiri ikut kontribusi kepada arah sejarah. Jadi terdapat hubungan timbal balik sejarah dan sains.

(c) Manusia. Faktor unik dari semua adalah manusia: Anda dan saya. Sejarah dan sains menjadi seru karena ada manusia yang terlibat. Tanpa manusia, sejarah dan sains akan tampak begitu-begitu saja. Burung akan membangun sarang yang seperti itu. Semut-semut akan merangkai benteng seperti itu. Burung-burung mendendangkan lagu yang seperti itu.

Manusia memang berbeda. Manusia akan mencipta lagu yang merdu: gembira atau sendu. Manusia mencipta rumah berbahan beton mau pun kayu. Manusia menciptakan kisah fiksi penuh atraksi. Manusia berpolitik dengan trik-trik licik. Sebagian manusia menjadi sempurna dengan akhlak mulia. Anda termasuk yang mana?