Korban Digital: Indosat Vs Telkom

Beberapa hari ini kita mendengar berita mengejutkan. Indosat merumahkan lebih dari 500 karyawan dengan PHK. Sementara Telkom kena kritik pedas dari menteri BUMN: mending tidak ada Telkom.

Padahal Telkom dan Indosat adalah raksasa industri digital di Indonesia. Disrupsi bisnis digital kini telah mulai memakan induknya sendiri. Meski baru permulaan hal ini perlu terus diwaspadai. Goncangan bisa lebih besar dari perkiraan.

Dari sisi dunia pendidikan kita perlu strategi khusus menyiapkan generasi muda agar siap menghadapi dunia penuh goncangan.

  1. Fokus pada kompetensi paling penting dan meninggalkan tugas-tugas pendidikan yang tidak penting.
  2. Kompetensi paling dasar dalam pendidikan adalah: matematika, bahasa, dan sains. Perlu menemukan cara efektif dan efisien untuk fokus ini. Agar dalam waktu terbatas dan sumber daya yang ada para siswa mahir komptensi ini. Sehingga peserta didik masih punya banyak waktu luang untuk mengembangkan bakat-bakat dan karakter warga negara.
  3. Mengembangkan bakat siswa yang beragam. Bakat siswa tidak untuk diujikan. Tidak untuk diteorikan abstrak. Bakat perlu terus dipupuk dan dibina. Seni, olahraga, keterampilan, usaha, dan masih banyak bakat terbuka luas untuk berkembang.
  4. Karakter generasi muda sebagai warga negara yang mandiri, kreatif, tanggung jawab, kooperatif, toleran perlu bimbingan dengan teladan yang baik. Karakter ini juga tidak perlu diteorikan abstrak. Tapi perlu didigitalkan secara nyata melalui game digital atau video.
  5. Korupsi dan birokrasi di lingkungan pendidikan tentu perlu terus dibersihkan.

Bagaimana menurut Anda?

Tugas Paling Berat Presiden vs Rakyat

Apa tugas paling berat seorang presiden?

Apa tugas seorang rakyat?

Mana lebih berat?

Membangun infrastruktur adalah tugas berat. Membangun industri 4.0 adalah berat. Apalagi membangun SDM makin berat.

Presiden Jokowi adalah seorang pekerja keras. Beberapa kali diberitakan beliau adalah yang paling bekerja keras di kabinet. Beliau sibuk bekerja.

Bagaimana dengan presiden Trump? Obama? Bush? Apakah mereka juga pekerja keras?

Tugas paling berat seorang presiden adalah mengambil keputusan. Keputusan yang tepat berdampak positif bagi seluruh rakyat. Meski ada pro kontra. Keputusan yang salah akan menguntungkan pihak tertentu. Dan merugikan banyak pihak lainnya.

Bekerja keras adalah tugas para generasi muda. Anak muda perlu bekerja keras, cerdas, dan tuntas. Meski demikian anak muda juga tetap perlu terus berlatih mengambil keputusan yang tepat.

Tugas paling berat seorang rakyat jelata: mengambil keputusan juga. Keputusan demi keputusan yang akan membangun diri dan masyarakat sekitar.

Sejak kecil, anak-anak saya latih untuk ambil keputusan. Misal si kecil minta kue. Maka saya akan tawarkan dia memilih kua A atau kue B. Si kecil mikir sejenak lalu milih kue A. Kesempatan berikutnya saya tawarkan kue A atau B. Si kecil memilih dua-duanya.

Si kecil tampaknya sudah mahir mengambil keputusan. Tentu berdasar analisisnya yang barangkali masih sederhana.

Keputusan penting apa yang Anda ambil hari ini?

Hanya Satu Tugas Mendikbud Mas Nadiem

Kompleks.

Rumit.

Sulit.

Itulah bayangan kita terhadap situasi sistem pendidikan nasional Indonesia. Mutu rendah, semangat lemah, dan birokrasi mencengkeram.

Tapi hanya satu tugas terpenting Mas Menteri Nadiem Makarim. Dengan satu tugas ini maka masalah pendidikan Indonesia akan terurai satu demi satu.

“Mempromosikan bahwa setiap siswa Indonesia bisa sekolah gratis sepenuhnya!”

Gratis dari SD, SMP, SMA, S1, S2, S3.

Tugas Mas Menteri pun hanya mempromosikan. Karena program beasiswa di Indonesia sudah berlimpah saat ini. Mas Menteri boleh saja menambah.

“Mengapa anak kamu tidak kuliah di ITB?”
“Kuliah di ITB? Memangnya mau membuat miskin orang tuanya? Sudah kuliahnya sulit. Mahal pula.”
Obrolan emak-emak yang tidak berani daftar ke ITB.

“Mengapa kamu tidak sekolah SMA, Nak?”
“Tidak ada biaya, Bu. Orang tua saya miskin,” jawab seorang bocah yang tidak melanjutkan sekolah menengah alasan biaya.

  1. Saya mempromosikan bahwa banyak beasiswa tersedia di Indonesia. Anak-anak saya berusaha mendapat beasiswa. Beberapa orang akhirnya juga memperoleh beasiswa.
  2. Beasiswa tersedia untuk anak tidak mampu secara ekonomi.
  3. Beasiswa tersedia untuk anak cerdas.
  4. Banyak program beasiswa yang dananya belum terserap.
  5. Banyak orang tua dan siswa tidak tahu bahwa ada beasiswa.

Kemampuan saya promo beasiswa terbatas. Bayangkan bila Mas Menteri yang mempromosikan beasiswa ke seluruh Indonesia. Seluruh siswa di Indonesia terjamin beasiswa menyelesaikan sekolah sampai tingkat setinggi-tingginya.

Anak-anak orang miskin tidak takut sekolah. Anak miskin semangat belajar. Anak miskin berhasil jadi sarjana. Anak miskin tidak lagi miskin. Anak-anak itu menjadi generasi cerdas. Generasi emas Indonesia penuh harapan.

Bagaimana menurut Anda?

KPK Tak Kuat Berantas Korupsi

Kita berharap banyak bahwa KPK akan mampu memberantas korupsi. Tapi KPK tidak kuat memberantas korupsi. Setidaknya dapat kita lihat sepuluh tahun terakhir ini.

Lalu apa yang bisa memberantas korupsi?

KPK tetap kita perlukan. Tapi tidak cukup. KPK tampak lebih kuat menangkap, menghukum pelaku. Sementara kita butuh mencegah korupsi. KPK punya fungsi pencegahan. Masih perlu dukungan lebih besar lagi.

Dukungan apa yang bisa mencegah korupsi?

Pendidikan yang mecerdaskan.

Pendidikan dapat mencegah korupsi. Perlu waktu panjang untuk mendidik generasi muda menjauh dari korupsi. Tidak ada jalan pintas untuk pendidikan. Tidak ada jalan pintas untuk mencegah korupsi.

  1. Pendidikan menyadarkan generasi muda bahwa korupsi harus ditinggalkan. Korupsi tidak baik untuk negara, masyarakat, mau pun diri sendiri.
  2. Generasi muda mendorong generasi tua agar tidak korupsi. Pun generasi muda menularkan semangat anti korupsi ke generasi berikutnya.
  3. Generasi muda bisa fokus dengan kontribusi positif. Khususnya di industri 4.0, industri digital, generasi muda kita telah mengukir prestasi dunia.
  4. Generasi muda terlahir di jaman digital. Tumbuh di lingkungan digital. Mereka harus mampu berkarya dan sekaligus mencegah resiko negatif dari industri digital.
  5. Pendidikan untuk generasi tua agar ikhlas memberi tongkat estafet ke generasi muda. Generasi tua lebih fokus memberikan “warisan” positif untuk masa depan.

Apakah sistem pendidikan kita akan mampu mencerdaskan generasi muda? Mampu mencegah korupsi? Mampu memajukan negeri?

Jawabannya: harus mampu. Kita punya potensi. Kita berlimpah anugerah ilahi.

Bagaimana menurut Anda?

Hasil Youtube Cukup untuk Hidup

Pertanyaan sederhana dari wartawan. “Apakah penghasilan monetized dari youtube cukup untuk hidup?”

Tentu saja saya harus menjawab secara diplomatis.

Bila pertanyaan di atas ditanyakan ke Atta atau Ricis barangkali jawabannnya positif. Bahkan berlebih.

Sebagai youtuber edukator saya memilih jalur berbeda dengan youtuber entertainer.

Penghasilan monetized youtube lumayan besar. Banyak membantu. Berguna untuk banyak hal. Tapi tujuan utama saya bukan untuk menghasilkan uang dari youtube.

Tujuan utama saya adalah menyebarkan ilmu melalui youtube. Memanfaatkan media digital untuk ikut serta mencerdaskan kehidupan bangsa. Semoga berguna.

Seperti pernah saya ceritakan. Saya mulai berbagi ilmu matematika di youtube sejak tahun 2008. Waktu itu tidak ada monetized sama sekali. Tidak ada uang di youtube.

Monet youtube kabarnya baru mulai 2010 di Amerika sana. Di Indonesia monet sekitar 2012. Saya sudah berbagi puluhan video selama 4 tahun baru ada peluang monet.

Bagaimana pun youtube banyak membantu edukasi. Anak-anak di seluruh Indonesia bisa belajar matematika apiq kapan saja di mana saja. Dari Aceh sampai Papua anak-anak belajar matematika apiq. Bahkan orang tua dan guru di seluruh Indonesia bisa belajar melalui youtube apiq.

Bagaimana menurut Anda?

Youtube Vs Youtuber

Siapa yang akan menang?

Mengapa mereka bertarung? Bukankah youtube dan youtuber seharusnya berteman? Tentu saja mereka bermitra. Mereka adalah partner.

Karena youtube tidak punya kompetitor saat ini. Nyaris menguasai seluruh market. Barangkali monopoli? De facto seperti monopoli. Tapi tidak juga. Setiap orang bisa saja membuat layanan kompetitor youtube. Sejauh ini tidak ada yang berhasil. Youtube menjadi pemain tunggal di platform berbagi video.

Tahun 2017 – 2018 sempat muncul kompetitor besar. Raksasa media sosial, facebook, mengakuisisi start up video sharing tidak kurang dari 10 trilyun rupiah. Pesaing youtube kini datang. Sama-sama raksasa digital.

Uji coba di Amerika dimulai beberapa bulan. Bila sukses maka facebook akan membuka layanan video sharing di seluruh dunia. Youtube perlu waspada dengan goncangan ini.

Hasil uji coba di Amerika memberi kesimpulan: gagal bersaing di video sharing. Proyek ditutup. Dunia tidak jadi punya alternatif untuk youtube.

Hanya youtuber yang bisa memberi tantangan nyata ke youtube. Sayangnya pertarungan ini harus berakhir sama-sama menang. Bila salah satu kalah akan mengakibatkan kalah dua-duanya.

Bila youtube kalah lalu tidak memberikan layanan video sharing maka youtuber tidak bisa apa-apa lagi. Sebaliknya bila youtuber kalah lalu mogok berkreasi maka youtube tidak memiliki konten apa pun.

Saya sendiri sebagai youtuber edukasi berusaha untuk terus memberi masukan agar youtube menjadi lebih baik lagi.

Tidak mudah menjadi youtuber edukasi. Pada awalnya youtube memang tidak untuk edukasi. Pada perkembangannya youtube menjadi sarana bagus untuk edukasi.

Tapi nasib youtuber edukasi bisa merana.

Membuat video edukasi tidak mudah. Perlu riset materi. Harus bertanggung jawab terhadap konten. Setelah capek produksi lalu upload. Tidak ada yang nonton. Sepi saja.

Youtube perlu membela youtuber edukasi.

Selama ini youtube mengutamakan kebutuhan user. Dengan cepat youtube memberikan apa yang dibutuhkan oleh user. Sayangnya youtuber Indonesia belum banyak yang tahu bahwa di youtube ada konten edukasi. Maka user Indonesia mencari entertain di youtube. Youtube memberikan hiburan yang dibutuhkan user. Dan begitu seterusnya.

Untungnya youtube punya satu senjata ampuh: browse feature. Sebuah fitur yang memungkinkan youtube mem-promosikan suatu video dengan gratis keseluruh pengguna youtube.

Salah satu fitur ini adalah: youtube trending.

Video yang masuk trending makin banyak ditonton orang karena orang-orang sering mengunjungi trending.

Kabar buruknya: trending ini tampaknya juga didasarkan pada perilaku user. Maka yang menang dalam trending adalah hampir semua video hiburan bukan edukasi.

Di sinilah youtube seharusnya dapat membela youtuber edukator. Misalnya urutan trending 1 – 3 mengikuti algoritma user. Urutan trending 4 – 6 khusus video bidang edukasi. Urutan 7 dan seterusnya mengikuti perilaku user.

Dengan demikian user jadi tahu bahwa ada video edukasi di youtube. Saya beharap dengan cara ini youtuber pendidikan makin maju yang pada gilirannya makin membawa youtube maju juga.

Kompetisi youtube vs youtuber memang harus berakhir sama-sama menang di kedua pihak.

Bagaimana menurut Anda?

Kurikulum Baru Nadiem: Sedikit Menggigit

Sejak awal jadi menteri, Mas Nadiem, dapat tugas untuk merombak kurikulum dari presiden. Ganti kurikulum? Semoga menjadi lebih baik.

  1. Multi kurikulum. Penduduk Indonesia lebih dari 250 juta jiwa. Bandingkan Singapura sekitar 5 juta. Indonesia 50 kali lebih besar. Wajar jika kita punya kurikulum lebih dari satu. Misal kurikulum P didesain sangat cocok untuk kota. Kurikulum R cocok untuk daerah pedalaman. Kurikulum Q cocok untuk kota kecil.
  2. Kurikulum yang langsing. Tentu kita sudah tahu beratnya menanggung beban gemuknya kurikulum. Langsing tentu lebih menggoda. Kerikulum dengan konten lebih sedikit tapi lebih menggigit.
  3. Kurikulum progresif. Yang memberi kesempatan untuk lebih maju.

Kurikulum langsing perlu fokus. Membersihkan dari konten materi-materi penting. Singkirkan pelajaran yang penting. Sisakan hanya pelajaran paling penting saja. Sedikit tapi menggigit.

Setiap pelajaran dalam kurikulum gemuk adalah penting. Dengan tegas buang itu pelajaran penting.

Mas Nadiem berulang kali menyatakan akan fokus pada literasi dan numerasi. Fokus ini memungkinkan kurikulum jadi langsing. Tapi apakah para pakar di Indonesia akan setuju selangsing itu?

Mas Nadiem barangkali bisa membagi konten kurikulum menjadi tiga berikut ini.

A) Kurikulum utama: mendidik siswa menjadi manusia seutuhnya. Beriman, bertakwa, pancasilais. Termasuk kurikulum utama: agama, pancasila, budi pekerti, seni, olahraga, keterampilan, wirausaha, dan lain-lain.

Kurikulum utama diajarkan ke siswa tapi tidak diujikan. Tanpa ujian. Asesmen bisa. Survey boleh. Pemetaan bagus.

Apakah seorang ustad setelah ceramah mengadakan ujian kepada jamaahnya?

B) Kurikulum inti: mendidik manusia kompeten. Literasi dan numerasi. Fokus saja. Termasuk di inti: bahasa, matematika dan sain – sosial. Materi ini diajarkan dan diujikan secara ketat. Standar internasional semacam PISA, TIMSS, dan lain-lain menjadi pertimbangan utama.

Hasil ujian kurikulum inti dapat berupa angka eksak. Bisa nilai berupa huruf – indek prestasi – semacam perguruan tinggi.

C) Kurikulum inovatif: satuan pendidikan bisa berkreasi. Misal sekolah tertentu bisa mengembangkan mata ajar wirausaha dengan porsi lebih besar. Sekolah yang lain memilih coding sebagai konten inovatifnya. Sekolah yang berbeda lagi lebih menekuni bidang sepak bola. Kurikulum inovatif diajarkan. Tidak diujikan. Survey bisa saja.

Bagaimana menurut Anda?

Youtuber Vs Sutradara

Mengubah cara pandang maka hasilnya luar biasa. Lompatan besar. Kemajuan tak terbayangkan.

Youtuber pemula sering salah pandang. Paradigma keliru. Keyakinan yang menghambat diri sendiri.

Mereka mengira dirinya adalah sutradara. Padahal youtuber. Beda banget antara sutradara dengan youtuber.

  1. Sutradara membuat video secara profesional. Youtuber membuat video tentang profesinya. Sutradara kualitas maksimal videonya. Youtuber videonya cukup optimal saja. Seorang tukang masak bikin youtube tentang makanan. Seorang guru bikin video youtube tentang pelajaran. Saya misalnya membuat video tentang belajar matematika. Profesi saya adalah guru bukan sutradara.
  2. Sutradara membuat video 1 atau 2 judul tiap tahun. Youtuber membuat video 1 atau 2 judul tiap minggu. Bahkan saya membuat video hampir tiap hari 3 – 5 judul.
  3. Sutradara membutuhkan tim besar: artis, kamerawan, editor dan lain-lain. Youtuber bisa dengan tim kecil atau bahkan seorang diri.
  4. Sutradara perlu menambahkan efek-efek khusus dalam videonya. Youtuber bisa menambahkan efek dengan edit video. Bisa juga tanpa efek tanpa edit sama sekali. Justru alami.
  5. Sutradara punya bakat seni. Youtuber bisa punya bakat seni atau tidak. Bisa juga bakat yang lainnya.

Jika Anda sutradara maka bertindaklah sebagai sutradara terbaik. Jika Anda youtuber maka bertindaklah sebagai youtuber. Jangan meniru sutradara.

Youtuber yang bisa menggeser cara pandang dari sutradara ke youtuber maka menjadi mudah memproduksi video. Ide terus bermunculan. Tugas selanjutnya adalah: bagaimana agar berhasil?

Karir Kedua Sukses: Youtuber

Bapak manajemen, Peter Drucker, menekankan pentingnya karir kedua. Saya setuju. Karir kedua bahkan lebih kuat dari karir pertama.

Era digital memudahkan Anda untuk memiliki karir kedua. Menjadi pebisnis online, pedagang online, narasumber online, youtuber, selebgram dan lain-lain.

  1. Sebagian besar waktu Anda tetap fokus pada karir pertama Anda. Misal Anda sebagai karyawan perusahaan maka tetap bekerja di kantor 5 hari dalam seminggu.
  2. Di sebagian waktu di luar jam kerja, atau jam istirahat, maka bisa dimanfaatkan untuk mengembangkan karir kedua.
  3. Karir kedua tidak bertentangan degan karir pertama. Untung-untung kalau karir kedua justru mendukung karir pertama.

Saya, misalnya, karir pertama memilih jadi guru. Karir kedua memilih sebagai penulis.

Alhamdulilah karir kedua berhasil maju. Saat ini saya sudah menulis sekitar 10 buku dan menjadi best seller di jamannya. Bahkan royalti dari buku membantu untuk membeli rumah pertama.

Tapi tampaknya karir kedua sebagai penulis berevolusi lebih cepat dari dugaan. Anak milenial bergeser membaca buku elektronik. Buku cetak mulai tidak laku. Maka saya ikut jadi penulis ebook.

Beberapa ebook berhasil saya pasarkan. Bahkan saya lengkapi dengan menulis animasi power point. Yang di luar dugaan lagi: saya jadi penulis video.

Penulis video. Produser video. Sutradara video. Dirangkap semua oleh seorang youtuber. Ya, akhirnya saya berkarir sebagai youtuber. Apakah sebagai youtuber bisa membantu beli rumah lagi?

Kisah sebagai youtuber sudah saya tuliskan di beberapa tulisan saya yang dahulu.

Karir pertama sebagai guru tetap saya jalani: guru digital. Muridnya milenial. Alamnya imajinal.

Bagaimana menurut Anda?

Matematika Memudahkan Angsuran

Jaman milenial. Angsuran dengan bunga 0%. Kok bisa ya? Namanya juga milenial.

Harga sebuah hp adalah 2 160 000 akan diangsur 12 kali maka berapa besar 1 kali angsuran?

Matematika memudahkan dalam menghitung angsuran. Pedagang sedang membuka hp. Memilih kalkulator. Tekan tombol ini itu. Bahkan dengan ragu.

Tapi kita sudah tahu.

12 x 18 = 216

Maka angsurannya adalah 180 000. (Selesai).

Bagaimana cara menghitung cepatnya? Silakan ikuti video paman apiq secara lengkap di bawah ini.

12 x 18 =

1 x 2 = 2
2 x 8 = 16

Maka 216.

Bagaimana menurut Anda?