Kesenjangan Ekonomi RI – Ngeri GINI

Pandemi jelas saja kondisi ekonomi makin ngeri.

Tapi seberapa ngeri?

Ngeri GINI. Rasio GINI memberi kita banyak informasi. Dengan mengolah index Gini kita memperoleh banyak informasi ekonomi negeri ini.

10% orang terkaya di Indonesia menguasai aset 600 juta kali dari 10% orang termiskin di Indonesia.

Bukan 600 juta lebih banyak. Tapi 600 juta kali, lebih banyak, lebih kaya dari orang termiskin di Indonesia.

Seharusnya kita memperoleh data resmi dari BPS tentang kurva Lorenz. Baik kurva Lorenz pengeluaran penduduk Indonesia mau pun kurva kekayaan. Karena tidak ada kurva Lorenz resmi maka kita bisa melakukan analisis dari rasio GINI atau index Gini = G = 0,381 untuk pengeluaran di Indonesia. Sedangkan untuk kekayaan G = 0,83.

Untuk lebih mudahnya G = 0,83 kita bulatkan menjadi G = 0,8 saja. (Pembulatan ke bawah menunjukkan bahwa kita menganggap Indonesia lebih baik.)

1. Seperti kita tahu G = 0 menunjukkan bahwa kekayayan di Indonesia terbagi merata ke seluruh warga Indonesia. Benar-benar merata. Kekayaan penduduk sama persis. Jelas hal ini tidak terjadi di Indonesia. Pun tidak terjadi di belahan dunia mana saja.

2. Sedangkan G = 1 = 100% menunjukkan bahwa tidak merata sama sekali. Maksudnya hanya ada 1 orang mahakaya di Indonesia yang menguasai seluruh aset kekayaan 100%. Sedangkan orang lain – selain yang mahakaya itu – tidak memiliki kekayaan sama sekali. Jelas kondisi Indonesia tidak seperti ini. Kondisi negara lain di dunia juga tidak seperti ini.

3. Indonesia G = 0,8 menunjukkan kekayaan tidak merata. Orang terkaya di Indonesia memang superkaya. Sementara orang termiskin barangkali miskin sekali. Kita akan menganalisisnya di sini.

G = 0,8 kita bagi 2 menjadi H = 0,4

0.5 – 1/P = 0,4

1/P = 0,1 = 1/10

P = 10 = n + 1

maka

n = 9

(catatan: saya menemukan cara lebih mudah menghitung n berikut ini,

n = (1+0,8)/(1-0,8) = 1,8/0,2 = 9 )

Kita bisa mendekati kurva Lorenz Indonesia dengan fungsi x pangkat n = x pangkat 9.

Bisa kita hitung balik bahwa integral dari x pangkat 9 akan menghasil G = 0,8. Selanjutkan kita bisa dengan mudah membandingkan kelas-kelas kekayaan dengan pangkat n = 9 ini.

A. 10% orang terkaya Indonesia terhadap 10% orang termiskin.

Asumsikan 10% orang termiskin hanya memiliki kekayaan 1 juta rupiah tiap orangnya. Mungkin mereka tidak punya rumah dengan kekayaan 1 juta itu. Orang termiskin itu hanya punya baju di badan, beberapa baju di lemari, lemari itu sendiri, beberapa piring dan sendok, tikar, kursi meja, tempat tidur, dan beberapa aset sederhana: sandal, sepatu, tas dan lain-lain.

10% penduduk Indonesia setara 27 juta jiwa termiskin hanya punya aset 1 juta rupiah seperti di atas.

Berapa kekayaan 10% orang terkaya di Indonesia? Luar biasa!

1 juta x[ (10 pangkat 9) – (9 pangkat 9)]

= 1 juta x 600 juta

= 600 trilyun rupiah

adalah kekayan orang terkaya di Indonesia.

Ada 10% yang setara dengan 27 juta jiwa kaya raya di Indonesia. Terasa sangat timpang dengan kondisi ini? Kita barangkali perlu cek dengan data di lapangan.

B. 20% orang terkaya

Dengan asumsi yang sama, 20% orang termiskin di Indonesia hanya memiliki aset 1 juta rupiah. Ada 54 juta jiwa termiskin ini.

Maka 20% orang terkaya di Indonesia memiliki harta kekayaan,

= 1juta x [(5 pangkat 9) – (4 pangkat 9)]

= 1,5 trilyun rupiah (pembulatan)

Ada orang kaya Indonesia punya aset 1,5 trilyun rupiah sebanyak 54 juta orang.

C. 1% orang terkaya Indonesia

1% penduduk setara dengan 2,7 juta orang – masih banyak juga. Orang termiskin memiliki kekayaan 1 juta rupiah. Orang terkaya memiliki kekayaan,

= 1 juta x [(100 pangkat 9) – (99 pangkat 9)]

= 86 x 10 pangkat 21 rupiah

Tampaknya terlalu besar?

Maka kita harus memperkecil aset orang termiskin di Indonsia dari 1 juta menjadi lebih miskin lagi.

Bagaimana menurut Anda?

Grafik G = 0,8 untuk rasio Gini kekayaan Indonesia setara dengan f(x) = x^9

Grafik di bawah ini G = 0,38 untuk rasio Gini pendapatan Indonesia

Diterbitkan oleh Paman APiQ

Lahir di Tulungagung. Hobi: baca filsafat, berlatih silat, nonton srimulat. Karena Srimulat jarang pentas, diganti dengan baca. Karena berlatih silat berbahaya, diganti badminton. Karena baca filsafat tidak ada masalah, ya lanjut saja. Menyelesaikan pendidikan tinggi di ITB (Institut Teknologi Bandung). Kini bersama keluarga tinggal di Bandung.

Tinggalkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: