Memperbaiki Rasio Gini: Entaskan Kemiskinan

Mudah saja. Entaskan kemiskinan maka selesai semua masalah. Tepatnya hampir semua masalah terselesaikan. Sebagian besar masalah tuntas dengan mengentaskan kemiskinan. Sesederhana itu. Prakteknya tidak sederhana.

Rasio Gini Indonesia di kisaran 0,38. Banyak orang menilai G = 0,38 ini cukup bagus. Menurut saya beda.

G = 0,38 maka n = (1 + 0,38)/(1 – 0,38) = 2,2

{1,1,1,3,3,5,7}

Dengan derajat ketimpangan = n = 2,2 di atas 2 adalah cukup buruk. Pangkat 2 adalah kuadrat. Maka distribusi kekayaan (pendapatan) di Indonesia lebih timpang dari fungsi kuadrat.

1. Nilai ketimpangan = n = 2

Rasio Gini Indonesia, misal membaik, G = 0,33 maka nilai ketimpangan n = 2.

25% penduduk termiskin Indonesia mendapat 6% bagian dari seluruh produksi/konsumsi Indonesia. Sesuai fungsi pangkat 2 maka 4^2 = 16 adalah produksi seluruh Indonesia. Dan orang termiskin mengambil 1 bagian dari 16 maka setara 6%.

Kondisi ini sudah lebih baik dari tahun 2019 yang dilaporkan pada tahun 2020.

Perbandingan 25% orang terkaya dengan 25% orang termiskin adalah = 16 – 9 = 7.

Artinya orang kaya menikmati konsumsi 7 kali lebih banyak dari orang miskin.

2. Kondisi makin buruk n = 2,75
Bila orang miskin makin bertambah maka kondisi Indonesia bisa makin buruk.

25% orang termiskin mendapat bagian 2% saja.

Hal ini bisa terjadi bila anak-anak muda yang tumbuh usia produktif jatuh menjadi orang miskin. Nilai ketimpangan naik ke n = 2,75 setara dengan G = 0,467.

Bukannya mengentaskan kemiskinan, kondisi ini, malah melestarikan kemiskinan.

3. Nilai ketimpangan membaik turun ke n = 1,5

Bertumbuhnya kelas menengah dan kelas atas berdampak baik. Sama-sama bisa menurunkan nilai ketimpangan dari n = 2 menjadi n = 1,5. Setara dengan G = 0,2.

25% penduduk termiskin mendapat bagian 12,5%. Peningkatan yang signifikan membaik.

Kondisi membaik ini dicapai dengan berhasilnya anak-anak usia produktif masuk ke kelas menengah. Kondisi yang sama baik juga terjadi bila anak-anak usia produktif berhasil menjadi kelas kaya.

Tampak seperti menentang logika umum: meningkatnya populasi kelas kaya tidak meningkatkan nilai ketimpangan. Justru kelas kaya berhasil menurunkan nilai ketimpangan dari n = 2 menjadi n = 1,5.

Simulasi kita di atas dengan asumsi penambahan populasi baik kelas miskin, menengah, dan kaya. Analisis yang sama juga bisa dilakukan dengan pergeseran kelas dari kelas miskin menjadi kelas menengah atau kaya.

Penutup

Mengentaskan kemiskinan terbukti berhasil menuntaskan beragam masalah. Berhasil mencegah meningkatnya nilai ketimpangan. Sekaligus berhasil menurunkankan nilai ketimpangan ekonomi.

Maka perlu dirumuskan strategi paling efektif untuk mengentaskan kemiskinan.

Bagaimana menurut Anda?

Diterbitkan oleh Paman APiQ

Lahir di Tulungagung. Hobi: baca filsafat, berlatih silat, nonton srimulat. Karena Srimulat jarang pentas, diganti dengan baca. Karena berlatih silat berbahaya, diganti badminton. Karena baca filsafat tidak ada masalah, ya lanjut saja. Menyelesaikan pendidikan tinggi di ITB (Institut Teknologi Bandung). Kini bersama keluarga tinggal di Bandung.

Tinggalkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: