Jiwa Raga Bahagia – Simple Philosphy

“Jangan lagi berduka
Alam semesta ada dalam jiwa
Yang tumbuh cinta”

Descartes, filosof besar pelopor renaisans, mendapat ilham, “cogito ergo sum” yang begitu terkenal. “Aku berpikir maka aku ada.” Descartes mencari kebenaran yang paling utama. Dia meragukan semua. Dia meragukan ajaran semua filosof yang ada. Dia meragukan agama. Dan semua.

Dari kondisi nol itu muncul satu yang pasti, “Aku berpikir maka aku ada.”

Kita bisa meragukan semua persepsi indera. Tapi kita yakin ada jiwa kita. Kita yakin ada persepsi kita. Kita yakin ada kesadaran kita.

Dari keyakinan jiwa yang sadar, jiwa yang berpikir maka Descartes mengembangkan sistem filsafatnya yang begitu besar. Seperti kita tahu sejarah mencatat masa gemilang Barat setelahnya. Ditinjau dari filsafat, ilmu, ekonomi, dan lain-lain Barat memimpini dunia.

René Descartes - Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Descartes

Dualisme Jiwa Raga

Descartes menempatkan jiwa manusia pada posisi yang tinggi, suci, dan terhubung kepada Tuhan yang tak terbatas dan bukan materi. Di sisi lain, manusia juga mempunyai raga. Badan manusia yang terbatas oleh ruang dan waktu.

Pandangan yang mengakui ada dua hakikat realitas jiwa dan raga ini selanjutnya dikenal sebagai dualisme. Bagaimana jiwa yang non materi berhubungan dengan raga manusia yang materi ini?

Descartes sulit menjawabnya dengan positif. Bahkan bisa dinyatakan antara jiwa dan raga memiliki dunianya masing-masing.

Dunia materi yang terpisah dengan dunia jiwa ini mendorong ilmuwan lebih berani eksperimen. Isaac Newton tidak lama kemudian berhasil merumuskan teori fisika. Diikuti oleh banyak peneliti lain, ilmu fisika makin pesat. Sementara ilmu jiwa tertinggal di belakang.

Immanuel Kant memberikan rumusan menarik. Benih-benih dialektika ilmu. Bahwa pengetahuan yang diserap oleh indera kemudian akan bertemu dengan ilmu “bawaan” yang sudah ada pada jiwa manusia. Pertemuan dua hal itu melahirkan sintesa ilmu baru. Berkembanglah pengetahuan manusia.

Meski demikian, trend ilmu fisika, yang dilengkapi dengan rekayasa, maju jauh ke depan meninggalkan ilmu jiwa di belakang.

Tiba di era posmodern jiwa makin tersisih. Bahkan terdepak sirna dari pembahasan filsafat. Jiwa sudah tidak ada.

Jiwa Sirna Pun Raga

Yang ada hanya citra. Pencitraan di jaman kontemporer bahkan lebih utama. Jiwa dan raga boleh sirna tetapi citra adalah segala. Dunia digital yang terhubung melalui internet sudah begitu perkasa.

Citra-citra yang merupakan tanda hanya bisa dibaca melalui perbedaan-perbedaan dan hubungan-hubungan. Tidak ada makna. Setiap pembaca pesan, di medsos misalnya, bebas mengartikan pesan itu. Bisa makna pesannya mirip yang diharapkan oleh penulis pesan. Bisa berlawanan sama sekali.

Tiba di masa matinya penulis dan lahirnya sang pembaca. Jacques Derrida, salah satu filosof posmodern, memelopori destruksi – penghancuran segala. Makna hancur berkeping-keping. Tidak ada lagi makna. Semua bebas mengarang makna.

Manusia kini terjebak dalam dunia digital. Terhimpit dalam simulasi virtual. Kata Baudrillard, filosof posmodern, era simulacra mulai berkuasa – simulasi dari simulasi. Manusia tidak bisa membedakan mana yang asli dan mana yang citra. Apalagi citra dari citra. Berlanjut terus citra dari citra dari citra dari citra. Copas dari copas dari copas… dari copas.

Bagaimana hubungan jiwa dan raga? Posmodern tidak merasa perlu menjawabnya. Bahkan keberadaan jiwa raga pun sudah tak dirasa.

Monisme Jiwa Raga

Sementara kita tinggalkan sejenak kaum posmodernis yang terjebak dalam simulacra: copas dari copas dari copas…. dari copas. Kita akan berkenalan dengan ide monisme yang meyakini hakikat segala sesuatu adalah tunggal.

Secara umum ada dua monisme. Monisme material meyakini hakekat realitas adalah materi fisik. Badan kita adalah hakekat sejati. Sedangkan jiwa adalah sekedar “bayang-bayang” dari badan. Filosof modern, setelah era Descartes, cenderung meyakini prioritas materi fisikal ini. Karl Marx melangkah lebih jauh dengan mengutamakan kepentingan ekonomi materialis. August Comte dengan sistematis berhasil menyusun landasan filosofis materialis, empiris, positivis.

Di sisi lain ada monisme spiritual. Hakekat segala sesuatu adalah spirit. Sedangkan materi fisikal hanyalah semacam kendaraan bagi jiwa untuk berpetualang lebih jauh. Guru filsafat kuno, Plato, sudah mengembangkan sistem filsafat yang kokoh untuk mendukung keutamaan jiwa spiritual ini. Berkembang terus menjadi neo-platonis. Dan tampak bersesuaian dengan ajaran-ajaran agama besar di dunia. Manusia adalah makhluk spiritual yang sedang berkelana di dunia material.

Banyak pemikir besar yang mendukung keutamaan jiwa spiritual ini sekaligus mengembangkan konsep-konsep yang lebih canggih.

Bagaimana jiwa berhubungan dengan raga?

Bagi monisme material jawabannya sederhana saja. Yang nyata adalah badan. Jiwa hanya pancaran sifat dari badan itu sendiri. Jiwa tidak nyata. Hubungan antara mereka adalah tidak setara. Hubungannya aksidental belaka. Selanjutnya mereka bisa fokus membahas materialisme saja.

Bagi monisme spiritual, hubungan jiwa raga, adalah bagaikan hubungan sopir dengan mobil. Yang mengendalikan gerak mobil adalah sopir – sang jiwa. Mobil hanya mengikuti kehendak sopir. Bila sopir ingin maju maka majulah mobil. Bila sopir ingin belok maka mobil ikut belok.

Bila sopir ingin meninggalkan mobil maka mobil kosong tanpa sopir. Mobil tidak bisa lagi berbuat apa-apa tanpa sopir. Sopir adalah yang utama. Jiwa adalah yang utama. Raga adalah kendaraan belaka.

Monisme Wujud

Di samping dua monisme di atas, fisikal dan spiritual, terdapat monisme ketiga yaitu monisme wujud. Realitas segala sesuatu adalah wujud itu sendiri. Badan adalah manifestasi wujud. Jiwa juga manifestasi wujud. Mereka, jiwa dan raga, adalah penampakan wujud.

Monisme wujud dikembangkan dengan kokoh oleh Ibnu Arabi. Lebih menggelora dengan sajak-sajak cinta filosofis, gaya metafora posmodern, oleh Maulana Rumi. Dan mencapai puncak sintesa oleh filosof besar Mulla Shadra.

Bagaimana hubungan jiwa raga menurut monisme wujud?

Mereka disatukan oleh wujud itu sendiri. Awalnya hakikat manusia adalah raga itu sendiri, sebagai manifestasi wujud. Kemudian manusia menyempurna dengan memiliki jiwa spiritual, yang juga manifestasi wujud.

Kedua mode manifestasi wujud, jiwa dan raga, tetap nyata dalam kehidupan manusia. Meski demikian, hal ini tidak berarti ada dua wujud. Hanya ada satu wujud dengan dua mode.

Mode jiwa lebih sempurna dari raga. Jiwa lebih intens dari raga. Shadra, meminjam term Suharawardi (Syaih Al Isyraq), mengilustrasikan wujud sebagai cahaya. Jiwa adalah cahaya dengan intensitas lebih kuat, lebih sempurna. Sedangkan raga bagaikan cahaya dengan intensitas lemah. Mereka tetap satu cahaya dengan mode intensitas berbeda.

Equa Penghubung Jiwa Raga

Kita masih tetap berhak mengajukan pertanyaan, “Bagaimana sebenarnya hubungan jiwa dan raga?”

Sejauh ini kita bisa merangkum jawaban sesuai masing-masing prespektif. Bagi dualisme, tidak terlukiskan hubungan badan yang material dengan jiwa yang non material (Descartes).

Bagi monisme material, jiwa hanya bayang-bayang dari materi, terhubung secara aksidental saja (August Comte).

Bagi monisme spiritual, jiwa bagai sopir dan badan adalah kendaraan. Sopir dapat hidup mandiri tanpa kendaraan, terhubung secara aksidental (Plato – neo platonis – dan pemikir kontemporer).

Bagi monisme wujud, jiwa dan badan terhubung sebagai level mode wujud. Jiwa adalah cahaya dengan intensitas lebih sempurna “menyerap” raga yang merupakan cahaya dengan intensitas lemah (Shadra).

Butuh waktu ratusan tahun umat manusia untuk mengungkap lebih jelas hubungan jiwa dan raga ini.

JiwaEquaRaga

Mempertimbangkan monisme wujud dan fisika quantum saya menyusun model hubungan Jiwa – Equa – Raga.

Equa adalah mode wujud yang ambigu, tasykik dalam term Mulla Shadra. Dilihat dari sisi jiwa, maka equa adalah bersifat non materi. Sedangkan dilihat dari sisi raga, maka equa adalah karakter materi.

Fisika kuantum menyebut equa ini adalah fungsi gelombang dari setiap partikel kuantum. Yang saya maksud di sini adalah hakikat fungsi gelombang, bukan formula fungsi gelombang itu sendiri. Hakikat fungsi gelombang adalah karakteristik materi tetapi bukan materi. Dia adalah equa.

Jiwa, sebagai non materi, memiliki fakultas untuk mempersepsi alam materi melalui equa ini, yang juga bersifat non materi. (Saya berencana akan menulis lebih detil tentang equa ini).

Bahagia Jiwa Raga

Untuk mencapai bahagia jiwa raga tampaknya bergantung prespektif masing-masing. Kita perlu menata fisik, sehat, serasi, nyaman agar menghasilkan jiwa bahagia.

Kita perlu menata sikap mental, rohani yang terhubung dengan Tuhan agar jiwa bahagia sejati. Kita perlu menata jiwa dan raga.

Jiwa perlu terus bergerak dari cahaya intensitas lemah menuju cahaya benderang dengan intensitas kuat – sumber cahaya. Itulah bahagia sejati.

Bagaimana pun, semua sepakat, “Cinta adalah bahagia. Bahagia adalah cinta. Tebarkan cinta. Buka mata hati untuk cinta.”

Bagaimana menurut Anda?

Diterbitkan oleh Paman APiQ

Lahir di Tulungagung. Hobi: baca filsafat, berlatih silat, nonton srimulat. Karena Srimulat jarang pentas, diganti dengan baca. Karena berlatih silat berbahaya, diganti badminton. Karena baca filsafat tidak ada masalah, ya lanjut saja. Menyelesaikan pendidikan tinggi di ITB (Institut Teknologi Bandung). Kini bersama keluarga tinggal di Bandung.

Tinggalkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: