Jokowi Vs Hoax Omnibus Law

Presiden Jokowi menyatakan demo menentang omnibus law terkait adanya hoax.

Siapa yang menciptakan hoax? Siapa yang termakan hoax? Siapa yang memakan hoax?

Presiden Jokowi saat memberikan pengarahan kepada gubernur mengenai pengendalian pandemi virus Corona dan pemulihan ekonomi.

Siapa pun kita sedang diserang hoax, terjebak dalam simulacra, meminjam istilah Budrillard sang tokoh posmodern. Kebiasaan orang yang copas dari copas dari copas… … … dari copas sulit membedakan mana yang asli dan mana yang hoax.

Dikutip dari Detik,

“Saya melihat adanya unjuk rasa, penolakan Undang-undang Cipta Kerja yang pada dasarnya dilatarbelakangi oleh disinformasi mengenai substansi dari undang-undang ini dan hoax di media sosial,” ucapnya – Presiden Jokowi – dalam konferensi pers secara elektronik dari Istana Bogor, Jumat (9/10/2020).

Bagi pendukung UU Ciptaker, ungkapan presiden adalah benar dan sesuai realitas. Selanjutnya simulacra menyiapkan seluruh media sosial agar menggemakan ide-ide yang mirip. Bahwa orang berdemo menentang UU Ciptaker hanya karena hoax. Facebook, youtebu, WA, dan lain-lain menguatkan berita yang sama.

Sebaliknya bagi para pendemo yang menentang UU Ciptaker bisa saja menganggap bahwa kutipan di atas adalah hoax itu sendiri, disinformasi itu sendiri. Misalnya seorang mahasiswa yang sudah mempelajari UU Ciptaker maka melakukan demo karena paham benar bahwa UU Ciptaker itu harus ditentang. Mahasiswa berdemo bukan karena hoax. Mahasiswa demo bukan karena disinformasi.

Menuduh mahasiswa terkena hoax bisa saja itu lah yang hoax sebenarnya. Dan simulacra bekerja menguatkan pesan bahwa yang kena hoax adalah pemerintah dan DPR. Youtube, facebook, IG, dan lain-lain menguatkan pandangan seperti itu.

Mana yang asli dan mana yang hoax? Sekali lagi simulacra tidak berkepentingan dengan itu. Simulacra hanya memperkuat yang ingin Anda pikirkan. Tidak masalah hoax atau asli. Baudrillard tampak benar membaca situasi posmo seperti itu.

Solusi Kasus Omnibus Law

Tidak ada jalan mudah untuk menemukan solusi kasus omnibus law. Sebagai masyarakat yang beradab tentu kita perlu merumuskan berbagai solusi terbaik yang mungkin.

Ruang Dialog

Dialog adalah jalan terbaik. Berbagai pihak terbuka menyampaikan ide dan menerima masukan. Lalu kita memilih yang terbaik.

Tetapi bukankah pemerintah dan dewan sudah melakukan sosialisasi sebelum mensahkan UU Ciptaker? Benar! Tetapi sosialisasi tersebut tampak kurang efektif. Di mana masih banyak aspirasi rakyat, terutama yang menentang UU, tidak terakomodasi. Sehingga kita perlu ruang dialog yang lebih terbuka. Untuk membangun masyarakat terbuka yang demokratis, meminjam istilah Karl Popper.

Dialog ini perlu konkrit detil. Tidak cukup hanya global saja. Saya kira menko PMK sudah memulai membuka pernyataan konkrit.

“Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Muhadjir Effendy mengklaim Omnibus Law UU Cipta Kerja (Ciptaker) memiliki manfaat besar. Salah satunya membuka lapangan kerja untuk 4,5 juta orang per tahun.” (Sumber Detik).

Ungkapan bahwa 4,5 juta lapangan kerja baru per tahun adalah konkrit. Bila dampaknya sebagus ini bukankah kita perlu mendukung? Bagaimana pemerintah bisa menjamin tercapai? Bagaimana tenaga kerja 4,5 juta itu WNI bukan tenaga kerja asing?

Dialog bisa berlangsung dengan lebih konstruktif, membangun.

Dari perwakilan buruh juga sudah memberi pernyataan keberatan yang konkrit, misalnya, pesangon yang semula 32 kali gaji dikurangi menjadi 25 kali gaji.

Bagaimana pemerintah dapat merespon bahwa 25 kali gaji adalah lebih baik? Mudah saja. Dengan matematika sederhana bisa kita selesaikan.

25 x gaji baru > 32 x gaji lama

gaji baru > 1,28 x gaji lama

Selesai.

Artinya bila gaji baru, setelah berlaku UU Ciptaker, adalah 28% lebih tinggi dari semula maka yang diterima buruh adalah lebih besar total pesangonnya. Ditambah lagi gaji baru yang diterima bulanan juga lebih besar.

Bagaimana pemerintah bisa berkomitmen memenuhi itu? Bagaimana buruh bisa berkomitmen memberikan kinerja terbaik? Bagaimana pengusaha dapat mencetak laba tertinggi? Bagaimana investor dapat mencetak profit?

Dialog dapat terus berlanjut demi membangun negeri ini. Pendekatan dialog yang detil seperti di atas dianut oleh para filosof analytic di antaranya, yang baru menerima hadiah Nobel 3 hari kemarin yaitu, Penrose. Ada nama-nama besar dalam jalur filsafat analytic ini misal David Hume, Bertrand Russell, Descartes, Sadra, Ibnu Sina, sampai Aristoteles.

Bagaimana menurut Anda?

Diterbitkan oleh Paman APiQ

Lahir di Tulungagung. Hobi: baca filsafat, berlatih silat, nonton srimulat. Karena Srimulat jarang pentas, diganti dengan baca. Karena berlatih silat berbahaya, diganti badminton. Karena baca filsafat tidak ada masalah, ya lanjut saja. Menyelesaikan pendidikan tinggi di ITB (Institut Teknologi Bandung). Kini bersama keluarga tinggal di Bandung.

Tinggalkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: