Akhir Negeri Korupsi

Akhir bahagia atau akhir sengsara menjadi tanda tanya bagi pelaku korupsi. Yang pasti, mereka akan mati. Pelaku korupsi, pada akhirnya akan mati. Banyak orang menduga, setelah mati, pelaku korupsi akan hidup sengsara. Nyatanya kita tidak bisa melihat langsung. Kita hanya bisa melihat nasib mereka menjelang mati atau ketika ke makam. Banyak cerita seram.

Akhir Tahun, Banyak Kasus Korupsi di Lutim Mandek

Mengapa orang lebih tertarik korupsi daripada membangun negeri?

Menteri, misalnya, bukankah dia punya kesempatan besar untuk membangun negeri. Pendapatan gaji, tunjangan, dan lain-lain dari APBN dalam jumlah berlimpah. Mengapa menteri lebih memilih korupsi? Manusia memang penuh misteri.

Gerak Manusia

Karakter dasar manusia adalah selalu bergerak, selalu bertumbuh. Dan korupsi memberi peluang bertumbuh yang mudah, cepat, dan terasa nikmat. Maka wajar saja bila pejabat memilih korupsi. Pengusaha juga bisa korupsi, sogokan, merusak negeri. Cara pintas yang tak pantas. Apalagi mereka kelas atas.

Akhir negeri yang dijarah pelaku korupsi tentu ngeri.

Seharusnya karakter dasar manusia maga, gerak sejati, adalah untuk menuntun manusia mencapai kebaikan. Maga adalah gerak sejati dari satu situasi menjadi situasi lain yang lebih baik. Maga terus mendorong manusia untuk maju. Tentu saja ada banyak halangan untuk gerak maju. Manusia harus berpikir, menyusun strategi terbaik, lalu menjalankan dengan konsisten. Maga terus mendorong dan menarik manusia untuk mencapai kesempurnaan. Hana, eksistensi manusia, bertujuan menyempurnakan diri.

Negeri yang banyak korupsi tetap saja bisa maju. Sebelum pandemi, tingkat kesejahteraan umat manusia di dunia konsisten meningkat. Di saat yang sama, kesenjangan makin menganga di seluruh dunia. Yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin. Ketika terjadi pandemi covid-19, pertumbuhan ekonomi dunia memang tersendat, melambat. Di sisi lain, kesenjangan ekonomi tetap meningkat. Ditambah kasus korupsi yang terus merebak, ancaman kemanusiaan di depan mata. Umat dunia, makin kaya, makin tidak merata.

Hana, manusia sejati, punya kekuatan untuk mencapai akhir yang baik. Meski banyak tantangan, semisal korupsi dan ketidakadilan. Bataga adalah tujuan akhir yang hendak diraih oleh hana, manusia sejati, melalui perjalanan maga.

Akhir adalah Awal

Perjalanan manusia pasti mengantar sampai akhir, bataga. Yang setelah tiba di bagian akhir kita sadar, itu bukan akhir yang sebenarnya. Bataga adalah akhir yang sekaligus menjadi awal. Bataga adalah awal yang baru. Bataga adalah hana dalam versi baru yang lebih sempurna.

Hana, eksistensi manusia, senantiasa bergerak maju, maga. Tibalah sampai ke tujuan akhir, bataga. Yang tidak lain, bataga adalah hana itu sendiri. Maka berlanjut gerak maju lagi, maga. Demikian seterusnya hana.

Bataga, meski sebagai akhir, bisa saja tidak sempurna. Kecurangan, kejahatan, dan korupsi akan mengantarkan manusia ke bataga yang tidak sempurna, tidak seimbang. Manusia yang tidak mampu mengendalikan diri, tidak mampu menjaga keseimbangan, terperosok ke bataga yang menderita. Dalam tataran fisik pun mudah kita lihat. Orang yang tidak mampu mengendalikan nafsu makan, terlalu banyak makan, tidak mau olahraga, maka riskan terserang penyakit gula, darah tinggi, jantung dan sebagainya. Hanya penderitaan pada akhirnya.

Sementara, gerak manusia yang seimbang dan adil akan mengantar sampai ke tujuan bataga yang sempurna. Akhir yang sempurna menjadi awal yang baik untuk melanjutkan perjalanan berikutnya.

Keterangan foto tidak tersedia.

Jelas, kita perlu meraih bataga yang sempurna, akhir yang baik. Maka kita perlu fokus untuk menjaga keadilan dan keseimbangan. Baik pada skala individu, sosial, dan alam semesta. Salah satu cara paling prospek adalah dengan menguatkan pihak-pihak yang lemah. Secara sistematis, kita perlu menjalankan program penguatan orang-orang kecil. Sehingga orang-orang kecil dapat berperan serta dalam gerak kemajuan, semua orang bisa jaya. Dengan kondisi ini, pelaku korupsi akan makin sulit mencari korban. Makin sulit melancarkan aksi. Semoga negeri ini, dunia ini, makin adil makmur sentosa.

Bagaimana menurut Anda?

Diterbitkan oleh Paman APiQ

Lahir di Tulungagung. Hobi: baca filsafat, berlatih silat, nonton srimulat. Karena Srimulat jarang pentas, diganti dengan baca. Karena berlatih silat berbahaya, diganti badminton. Karena baca filsafat tidak ada masalah, ya lanjut saja. Menyelesaikan pendidikan tinggi di ITB (Institut Teknologi Bandung). Kini bersama keluarga tinggal di Bandung.

Ikuti Percakapan

1 Komentar

Tinggalkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: