Critical Philosophy: Berpikir Kritis Produktif

Immanuel Kant (1720 – 1804) menulis trilogi kritik dengan sukses luar biasa. Saya ingin membuat catatan tentang trilogi kritik itu. Untungnya, Deleuze (1920 – 1995) sudah membuatkan catatan itu untuk kita.

Kant's Critical Philosophy: The Doctrine of the Faculties by Gilles Deleuze

Berpikir kritis tentu berbeda dengan berpikir praktis. Jika dengan berpikir praktis kita berharap mendapat hasil terbaik dari suatu “pemikiran” maka berpikir kritis, justru, kita fokus mencermati batas-batas dari suatu “pemikiran”. Kita menegaskan keterbatasan suatu sistem filsafat dan, di saat yang sama, memastikan cakupannya. Meski filsafat kritis, atau kritik filsafat, tampak seperti melemahkan kekuatan filsafat, sejatinya, kritik filsafat justru mendorong inovasi dan kreativitas.

Dengan sadar sepenuhnya tentang cakupan dan batas-batas dari suatu konsep maka kita dengan sengaja mengembangkan konsep baru yang lebih luas, tajam, dan tepat. Sehingga, Deleuze mendefinisikan filsafat sebagai penciptaan konsep-konsep baru – yang kreatif dan inovatif. Dengan berpikir kritis, kita makin produktif.

Prolog: Realitas Kebenaran Sejati

1 Kritik Akal Murni
1.1 Kebenaran Universal
1.2 Sintesa Dialektik
1.3 Sains, Teknologi, Bisnis, Moral, Agama

2 Kritik Akal Praktis
2.1 Kehendak Bebas
2.2 Manusia Moral
2.3 Tuhan

3 Kritik Daya Nilai
3.1 Cantik Sublim
3.2 Teleologi
3.3 Akhir Semesta

4 Kritik Ekonomi Digital
4.1 Manusia Satu Dimensi
4.2 Ekonomi Serakah
4.3 Manusia Digital

5 Kritik Agama Sekular
5.1 Agama Pencerah
5.2 Sekularisasi
5.3 Dinamika

Tidak Ada Metode

Kritik tidak memiliki metode. Karena, justru metode itu yang hendak kita kritisi. Lalu, bagaimana cara meng-kritisi? Tidak ada cara baku. Tidak ada metode baku apa pun. Bagaimana pun, kita bisa saja belajar dari banyak pengalaman orang terdahulu dalam melakukan kritik. Untuk kemudian kita pakai, dan tentu, kita kritisi juga. Berikut ini beberapa ide yang bisa kita pertimbangkan.

Dekonstruksi Derrida melihat segala sesuatu dari sisi berbeda. Kita bisa mencoba dekonstruksi untuk menerapkan kritik filsafat. Dekonstruksi mencoba mencermati oposisi biner kemudian memunculkan sisi berbeda. Misalnya, Kant memberi posisi begitu kuat kepada akal manusia (reason). Bagaimana jika tidak begitu? Bagaimana jika akal, ternyata, tidak mempunyai kekuatan? Bagaimana jika makhluk-tidak-berakal mendominasi dunia?

Hermeneutika Gadamer menguatkan pandangan Heidegger bahwa pengetahuan manusia selalu melibatkan aspek interpretasi yang terikat pada budaya dan sejarah masing-masing. Karena itu, akan selalu ada interpretasi baru, sesuai budaya, menghasilkan pengetahuan baru. Misalnya, Kant menguatkan pentingnya sintesa pengetahuan dari data-indera dengan konsep apriori pemahaman akal. Bisakah interpretasi sintesa seperti itu diterapkan pada mesin cerdas, semisal artificial intelligent? Jika AI mampu melakukan sintesa seperti itu, atau bahkan mampu ber-interpretasi, apa konsekuensinya?

Konsep Baru Deleuze mendorong kita untuk memunculkan konsep filosofis yang orisinal. Saya amati, Deleuze melahirkan ide baru dengan membalik atau modifikasi terhadap konsep-konsep yang sudah ada. Misalnya, Deleuze membalik keutamaan prinsip-identitas dari Aristoteles, sehingga, menjadi yang paling utama adalah prinsip-different. Deleuze menerima konsep monisme dari Spinoza kemudian memodifikasi dengan membuang substansinya. Deleuze meyakini adanya realitas aktual dan realitas virtual. Bagaimana jika kita modifikasi dengan adanya realitas super-aktual dan realitas super-virtual?

Sekali lagi, tidak ada metode kritik. Contoh-contoh di atas bukanlah metode, sekedar pembanding dan pemicu ide bagi kita untuk melakukan kritik. Karena itu, kita bebas berkreasi!

Kritik Digital

Tidak sulit untuk melakukan kritik kepada Kant (dan Deleuze) yaitu dengan kritik digital. Ketika Kant menulis trilogi kritik, dunia digital belum berkembang sehebat sekarang. Apakah filsafat Kant tetap berlaku di era digital? Apa saja yang perlu dimodifikasi? Apakah pengetahuan apriori yang bernilai universal tetap ada di era digital? Bisa kita duga bahwa akan ada sintesa baru dengan dunia digital.

Kritik Sejarah

Peluang kritik terbuka luas dengan meluaskan perspektif sejarah filsafat. Di jaman Kant, tidak mudah menemukan tulisan-tulisan asli dari sumber pertama. Misal, Kant meng-kritik keras pandangan idealisme Berkeley. Sementara, beberapa sarjana meragukan, apakah Kant pernah membaca tulisan Berkeley secara langsung? Saat itu, tidak tersedia buku Berkeley dalam bahasa Jerman. Kant sendiri tidak menunjukkan bahwa dirinya fasih dalam bahasa Inggris.

Kita bisa meng-kritik pandangan Kant terhadap Berkeley dengan cara menyandingkan sudut pandang Berkeley yang asli, atau sudut pandang para pendukung Berkeley pasca-Kant.

Lebih jauh, saya tidak menemukan tanda-tanda bahwa Kant merujuk ke pemikir-pemikir Timur. Sehingga, menyandingkan Kant dengan pemikir Timur akan menghasilkan ide-ide yang segar. Misal, Iqbal memandang bahwa Kant berhasil mengantarkan filsafat dari bumi menembus pintu langit. Kemudian, Kant mondar-mandir dari bumi ke pintu langit. Berbeda dengan pemikir Timur, misal Ghazali, yang berhasil menembus pintu langit untuk kemudian mengajak umat manusia tamasya di taman langit.

Saya kira akan menarik bila kita sandingkan secara dialektis Kant dengan Sadra. Kant respek terhadap antinomi, paradox. Sementara, Sadra mengusulkan konsep “tasykik” atau ambiguitas. Realitas itu bersifat ambigu. Di saat yang sama hanya ada satu realitas dan banyak realitas. Kant menyatakan bahwa pengetahuan manusia adalah penampakan dari dunia fenomena. Sedangkan, Sadra merumuskan konsep identitas antara yang-mengetahui dan yang-diketahui.

Menarik lagi, menyandingkan Kant dengan Ibn Arabi. Kant menyatakan pentingnya penilaian-estetik untuk kecantikan, sublim, dan teleologis. Sedangkan Ibn Arabi mengembangkan konsep manusia sempurna, insan kamil, yang kemampuan estetikanya berkembang sempurna. Misal, Kant membedakan antara cantik dan sublim. Sementara, bagi Ibn Arabi, kedua hal di atas, cantik dan sublim, adalah sama-sama cantik. Sedangkan sublim sejati, tetap, tersembunyi dari alam raya ini. Cantik adalah cantik-dari-sang-cantik. Dan sublim adalah sublim-dari-sang-cantik. Pertanyaan tentang sublim-dari-sang-sublim, akan selalu, menjadi misteri abadi.

Berbagai macam kritik filsafat ini akan kita bahas bertahap. Semoga berkah!

Diterbitkan oleh Paman APiQ

Lahir di Tulungagung. Hobi: baca filsafat, berlatih silat, nonton srimulat. Karena Srimulat jarang pentas, diganti dengan baca. Karena berlatih silat berbahaya, diganti badminton. Karena baca filsafat tidak ada masalah, ya lanjut saja. Menyelesaikan pendidikan tinggi di ITB (Institut Teknologi Bandung). Kini bersama keluarga tinggal di Bandung.

Tinggalkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: