Bukti Nyata Tuhan ADA

Membuktikan bahwa Tuhan ada adalah tugas paling mudah, di saat yang sama, paling sulit. Paling mudah karena bukti Tuhan sudah ada secara apriori, secara fitri, dalam setiap diri manusia. Sehingga, sejatinya, setiap manusia punya keyakinan akan eksistensi Tuhan. Kita, sebagai orang tua misalnya, cukup mengatakan bahwa Tuhan adalah pencipta alam semesta maka anak kita akan meyakininya.

Tidak Ada Bukti bahwa Tuhan Ada atau Tidak – danioyo

Pembuktian ini menjadi tugas yang paling sulit juga. Lantaran, semua bukti bukanlah murni bukti rasional. Sehingga, ketika seseorang menolak bukti tersebut secara rasional maka penolakan tersebut mempunyai argumen tersendiri. Sedangkan, bukti argumen rasional tetap bisa membuktikan bahwa Tuhan memang ada, bagi orang yang bersedia membuka akal dan hatinya.

Berikut ini saya kutipkan tulisan saya tentang bukti bahwa Tuhan itu ada. Bukti-bukti ini meliputi argumen rasional, argumen moral, sampai argumen spesial. Bila kita pelajari dengan cermat dan secara utuh maka bukti-bukti ini bernilai sangat kuat.

Bukti Tuhan Ada

Kita bisa membuktikan eksistensi Tuhan secara meyakinkan dengan argumen moral. Terbukti dengan pasti tanpa keraguan. Sementara, pembuktian eksistensi Tuhan dengan argumen rasional menghasilkan bukti dan penolakan yang sama kuat. Di bagian ini, kita akan membuktikan eksistensi Tuhan dengan argumen moral yang meyakinkan. Bagaimana pun, kita akan memulainya dengan argumen rasional.

Bukti 1.0: Argumen Rasional membuktikan eksistensi Tuhan, bahwa Tuhan ada, secara rasional. Umumnya, bagi manusia yang mau berpikir maka, akan berhasil membuktikan secara rasional ini. Berikut ini beberapa argumen yang bisa digunakan secara rasional.

Bukti 1.0A: Argumen Kosmologi menyatakan bahwa setiap benda ada yang menciptakannya. Misal, sepatu pasti ada yang menciptakannya yaitu tukang sepatu. Begitu juga meja, ada yang menciptakannya yaitu pengrajin meja. Apalagi alam semesta, bumi, bulan, dan matahari pasti ada yang menciptakannya. Penciptanya adalah yang Maha Agung yaitu Tuhan.

Bukti 1.0B: Argumen Ontologi menyatakan realitas paling sempurna adalah Tuhan yang Maha Sempurna. Banyak variasi argumen ontologi yang berkembang sepanjang sejarah.

Argumen kebaikan dari Descartes (1596 – 1650) menyatakan bahwa di dunia ini ada kebaikan. Di antara kebaikan itu ada yang lebih baik. Dari yang lebih baik itu, ada yang lebih baik lagi, dan seterusnya, kita sampai kepada yang paling baik yaitu Tuhan yang Maha Baik. Jadi, terbukti bahwa Tuhan ada sebagai yang Maha Baik.

Argumen wujud dari Sadra ( 1571 – 1636) menyatakan bahwa Tuhan adalah wujud paling sempurna.

1 Ada wujud.
2 Wujud adalah sempurna, tidak ada yang lebih dari wujud.
3 Realitas adalah kesempurnaan wujud.
4 Wujud adalah tunggal dan sederhana.
5 Realitas tunggal itu bergradasi dalam intensitas kesempurnaan.
6 Intensitas kesempurnaan wujud mencapai kesempurnaan tertinggi.
7 Tuhan adalah kesempurnaan wujud tertinggi, Ada Maha Sempurna.

Argumen wujud ini berhasil membuktikan Tuhan Ada, Sempurna, dan Tunggal. Sementara, keragaman di alam raya adalah keragaman intensitas kesempurnaan wujud.

Argumen kemungkinan dari Ibnu Sina (980 – 1037) menyatakan bahwa alam semesta ini adalah wujud-mungkin sedangkan Tuhan adalah wujud-pasti. Meja, misalnya, adalah wujud-mungkin. Maksudnya, meja mungkin saja ada tapi mungkin juga tidak ada. Agar meja, benar-benar, menjadi ada maka perlu penyebab menjadi ada. Yaitu tukang kayu yang menciptakan meja itu. Tanpa tukang kayu, meja selamanya hanya menjadi mungkin belaka.

Selanjutnya, tukang kayu itu sendiri adalah wujud-mungkin juga. Sehingga tukang kayu itu juga perlu penyebab agar dirinya menjadi ada. Dan seterusnya, setiap penyebab adalah wujud-mungkin yang memerlukan penyebab lain untuk ada. Seluruh barisan wujud-mungkin ini akan selamanya menjadi kemungkinan tanpa kepastian bila tidak ada yang memastikan. Tetapi, saat ini, kita benar-benar tahu bahwa ada meja, ada alam semesta. Maka di antara wujud-mungkin itu pasti ada wujud-pasti yang menyebabkan, memastikan, semua menjadi ada. Wujud-pasti itu adalah Tuhan yang Maha Pasti. Jadi, Tuhan pasti ada.

Bukti 1.0C: Argumen Fisikologi menyatakan bahwa mesin-mesin fisik mengerjakan tugas-tugas tertentu sesuai tujuan rancangan desainernya. Jam dinding, misalnya, bergerak memutar jarum jamnya dengan tujuan untuk menunjukkan waktu. Maka jam dinding ini punya tujuan, dan menunjukkan adanya desainer. Hewan punya tujuan untuk mencari makan, manusia punya tujuan untuk bekerja, virus covid punya tujuan untuk reproduksi, itu semunya menunjukkan adanya desainer. Desainer, perancang, alam semesta adalah Tuhan yang Maha Cerdas.

Barangkali, di era digital ini, kita bisa mempertimbangkan media sosial. Media sosial menjalankan tugas-tugas tertentu, berbagi gambar, berbagai status, komunikasi pesan, dan lain-lain. Media sosial punya tujuan sesuai desainernya. Jadi, media sosial pasti ada desainernya. Demikian juga, alam raya pasti ada desainernya yaitu Tuhan yang Maha Hebat.

Kita masih bisa menambahkan lebih banyak argumen rasional yang membuktikan bahwa Tuhan memang ada. Sampai di sini, kita bisa menanyakan seberapa efektifkah bukti rasional itu? Sangat efektif.

Khususnya, argumen kosmologi sangat efektif membuktikan bahwa Tuhan memang ada, kepada seluruh lapisan masyarakat. Segala sesuatu ada penciptanya dan pencipta alam semesta adalah Tuhan. Sementara, argumen rasional lainnya menambah keyakinan bagi mereka yang berminat.

Saya mengestimasi hasil argumen rasional ini, mendorong 70 orang atau lebih, yakin bahwa Tuhan memang ada, dari 100 orang yang diamati. Awalnya, asumsikan 50 orang agak yakin bahwa Tuhan ada. Sementara, 50 orang lainnya agak ragu.

Argumen rasional berhasil menambah orang yang lebih yakin bahwa Tuhan memang ada. Estimasi saya,

Yakin = 70 orang
Ragu = 20 orang
Menolak = 10 orang

Kita bisa mengatakan efektifitas argumen rasional adalah 70 orang dari 100 orang.

Antinomi Eksistensi Tuhan

Mengapa argumen rasional tidak bisa mencapai 100 orang seluruhnya menjadi yakin eksistensi Tuhan? Immanuel Kant menjawab karena adanya antinomi, atau paradox. Tesis bahwa “Tuhan Ada” tidak bisa dibuktikan langsung secara rasional. Sementara, antitesis bahwa “Tuhan tidak ada” juga tidak bisa dibuktikan langsung secara rasional. Tesis dan antitesis tetap bertentangan tanpa solusi, itulah antinomi.

Antinomi bisa kita selesaikan dengan sintesa-dialektika, pada umumnya. Solusi bisa berupa sintesa aposteriori atau sintesa apriori.

Tesis: matahari terbit pukul 06.00
Antitesis: matahari tidak terbit pukul 06.00

Untuk menyelesaikan paradox di atas, kita bisa melakukan pengamatan pada pukul 06.00 apakah matahari terbit? Jika terbit maka tesis diterima. Jika tidak terbit maka antitesis yang diterima. Sintesa ini kita peroleh setelah ada pengamatan fisik – maka disebut sintesa aposteriori.

Tesis: 1 + 12 = 13
Antitesis: 1 + 12 tidak 13

Paradox di atas dapat kita selesaikan dengan sintesa apriori, tanpa pengamatan. Kita hanya perlu menganalisis tesis dan antitesis dengan lebih teliti. Tesis “1 + 12 = 13” adalah benar bila yang dimaksud adalah penjumlahan bilangan seperti biasa, bilangan real. Tetapi, antitesis “1 + 12 tidak 13” adalah benar jika yang dimaksud adalah operasi bilangan pada jam dinding yang angka paling besar hanya 12 saja.

Kembali kepada tesis “Tuhan Ada,” kita tidak bisa membuat sintesa aposteriori. Karena Tuhan lebih besar dari semua hasil pengamatan. Atau, semua hasil pengamatan pasti bukan Tuhan. Sementara, sintesa apriori juga gagal. Karena kita tidak bisa membatasi definisi Tuhan. Setiap pembatasan, hasilnya, pasti bukan Tuhan. Sehingga, hasil akhir tetap ada antinomi.

Meski ada antinomi, argumen-argumen rasional di atas, menurut estimasi saya, berhasil menguatkan tesis bahwa “Tuhan Ada” mencapai 70 orang dari 100 orang yang diamati – hipotetis. Selanjutnya, kita akan mengembangkan argumen moral untuk meningkatkan efektifitas lebih dari 70.

Bukti 2.0: Argumen Moral membuktikan bahwa secara moral Tuhan pasti ada. Argumen moral berbeda dengan argumen rasional yang lebih logis. Argumen moral akan kita uraikan dalam bentuk deskripsi. Penilaian, kita dasarkan pada penilaian estetika yang mengandalkan kekuatan rasa.

Secara moral, kita yakin bahwa manusia bertanggung jawab atas semua pilihan bebasnya. Orang yang menanam jagung berhak memanen jagung. Orang yang mencuri uang harus menanggung resiko dihukum. Orang yang beramal kebaikan berhak mendapat balasan kebaikan. Begitu juga, orang jahat bertanggung jawab atas resikonya.

Kenyataannya, dunia bisa seakan-akan terbalik. Koruptor, para pencuri uang rakyat, hidup mewah dengan pesta pora gemerlap dunia. Sementara, orang-orang baik yang rajin bekerja tetap hidup miskin tersisih di kampung kumuh. Mengapa bisa begitu?

Karena semua yang kita amati adalah dunia fenomena, dunia penampakan. Sementara, dunia noumena, dunia sejati tetap tersembunyi dari pandangan orang biasa. Koruptor yang hidup mewah gemerlap, di dunia penampakan, sejatinya mereka terpuruk sengsara di dunia noumena. Sementara, orang-orang baik yang hidup sederhana di kampung, sejatinya, sedang menjalani hidup bahagia sempurna di dunia noumena.

Hukum moral berjalan dengan pasti di dunia noumena, kebaikan dibalas dengan kebaikan, begitu pula sebaliknya. Sementara, di dunia fenomena, hukum moral tampak ada pembelokan di sana-sini. Pembelokan itu sekedar penampakan, tidak lebih. Sejatinya, semua berjalan dengan hukum moral yang sempurna. Tuhan yang Maha Baik menjamin berjalannya hukum moral dengan konsisten di dunia noumena. Sementara, pembelokan moral di dunia fenomena adalah batu ujian bagi orang-orang bermoral. Mereka yang bermoral justru makin kuat nilai moralnya dengan adanya ujian-ujian.

Hukum moral berjalan dengan tepat bukan karena usaha manusia yang bermoral. Manusia hanya bisa memilih untuk memilih jalan bermoral. Sementara, Tuhan yang Maha Kuasa yang menjamin hukum moral tegak berjalan. Kebaikan dibalas oleh kebaikan bukan karena perilaku manusia yang berbuat baik. Balasan kebaikan terjadi hanya karena Tuhan yang Maha Baik memberi kebaikan bahkan dengan yang lebih baik.

Semua perilaku orang-orang bermoral tidak akan mampu mengubah sesuatu menjadi lebih baik di dunia noumena. Tetapi, sesuatu menjadi lebih baik, di dunia noumena, karena Tuhan menghendaki menjadikannya lebih baik, untuk kemudian, melimpahkan kebaikan itu kepada orang-orang yang bermoral, orang-orang pilihan Tuhan.

Sampai di sini, secara moral, kita berhasil meyakinkan bahwa manusia mempunyai pilihan bebas sehingga bertanggung jawab sesuai hukum moral sejati. Dan, kita juga meyakini hadirnya Tuhan yang Maha Baik yang menjamin hukum moral berjalan dengan tepat.

Masih ada sedikit pertanyaan moral: bila koruptor, pencuri uang rakyat, bisa hidup mewah di dunia ini, bukankah itu pilihan yang menarik? Sementara, di dunia ini, orang-orang baik justru hidup sederhana dengan menjalani banyak ujian.

Jawaban pertanyaan moral itu mengantar kita kepada kehidupan di alam-setelah-dunia ini. Kehidupan seorang anak manusia tidak berakhir dengan kematiannya. Memang benar, dengan mati maka, berakhir kehidupan di dunia fenomena ini. Kematian justru mengantarkan kita ke alam-setelah-dunia, lebih terbuka ke alam noumena. Orang jahat, di alam-setelah-dunia, akan memperoleh balasan setimpal, misal koruptor pencuri uang rakyat. Begitu juga orang baik memperoleh balasan kebaikan yang berlimpah.

Namun perlu diingat bahwa di saat ini pun, para koruptor sedang menjalani kehidupan sengsara di dunia noumena meskipun tampak mewah di dunia penampakan. Sementara, orang-orang bermoral, saat ini, sedang menjalani hidup bahagia di dunia noumena apa pun yang terjadi di dunia penampakan.

Argumen moral, sampai di sini, mengantarkan kita kepada keyakinan yang mantap tentang tanggung jawab moral setiap anak manusia, Maha Baiknya Tuhan, dan kehidupan di alam-setelah-dunia.

Berapa efektivitas argumen moral? Sangat efektif. Saya kira banyak orang meyakini eksistensi Tuhan dengan sentuhan aspek moral. Bila digabungkan dengan argumen rasional, total dengan argumen moral, estimasi saya mendekati 90 orang dari 100.

Yakin: 90 orang
Ragu: 5 orang
Menolak: 5 orang

Selanjutnya, kita akan membahas argumen moral-sempurna untuk meningkatkan efektivitas di atas 90. Meski kita membahas argumen moral-sempurna pada urutan terakhir, sejatinya, argumen ini menyempurnakan dengan cara menghubungkan bukti 1.0: argumen rasional dengan bukti 2.0: argumen moral. Karena itu, saya menyebutnya sebagai bukti 1.5: argumen moral-sempurna.

Bukti 1.5: Argumen Moral-Sempurna membuktikan bahwa dengan seluruh kapasitas yang dimiliki manusia, yang bisa dikomunikasikan, meyakini bahwa Tuhan ada. Pembuktian ini, seperti argumen moral pada umumnya, mendasarkan penilaian pada rasa, penilaian estetik.

Bukti 1.5A: Argumen Cantik Sempurna menunjukkan bahwa penilaian cantik adalah sempurna dalam dirinya sendiri. Maksudnya, ketika kita menilai sesuatu sebagai cantik maka cantik itu sudah sempurna apa adanya. Alam pegunungan ini begitu cantik, begitu indah. Alam pegunungan itu indah dengan dirinya sendiri. Kita tidak perlu alasan tambahan untuk menilai alam sebagai cantik. Kita tidak perlu survey untuk menguatkan bahwa alam pegunungan itu cantik. Dan, klaim cantik berlaku universal. Siapa pun orangnya, yang melihat alam pegunungan ini maka, akan menilainya sebagai cantik.

Di sisi kita, sebagai subyek, menemukan banyak hal yang bersifat cantik: alam pegunungan, gadis, sawah menghijau, dan lain-lain. Di antara obyek cantik, yang sempurna dalam diri mereka itu, ada yang lebih cantik. Dari yang lebih cantik masih ada yang lebih cantik lagi. Seterusnya sampai yang paling cantik, yang paling sempurna. Dia adalah Tuhan yang Maha Sempurna, Sang Maha Cantik.

Bukti 1.5B: Argumen Sublim menyatakan bahwa manusia memiliki kemampuan menilai pengalaman sublim. Letusan gunung berapi, gempa bumi dahsyat, dan gelombang tsunami adalah beberapa contoh fenomena alam yang mengantar kepada pengalaman sublim. Gelombang tsunami itu begitu besar, lebih besar dari seluruh kemampuan kita untuk menyelamatkan diri. Badan kita bisa habis disapu gelombang tsunami. Tapi, di saat yang sama, kita sadar bahwa jiwa kita lebih besar dari gelombang tsunami itu. Pengalaman sublim terbentuk ketika kita merasa lemah, dari sisi badan dan bahkan imajinasi, tapi di sisi jiwa, kita merasa lebih besar. Jiwa kita lebih besar dari gelombang tsunami. Akal kita bisa memahami ada yang lebih besar dari gelombang tsunami. Bahkan ada yang maha besar yaitu Tuhan Maha Agung.

Perasaan sublim ada pada jiwa kita bukan berada pada obyeknya, bukan pada gelombang tsunaminya. Jiwa kita, jiwa manusia, lebih besar dari fenomena alam raya. Klaim sublim ini juga berlaku universal. Setiap orang yang berjiwa akan mampu mengalami peristiwa sublim, mereka menyadari ada jiwa yang lebih besar dari fenomena alam. Dari jiwa yang besar itu masih ada yang lebih besar lagi. Dia adalah Tuhan yang Maha Besar, Tuhan yang Maha Agung.

Bukti 1.5C: Argumen Teleologis menyatakan bahwa alam raya mempunyai tujuan akhir. Apa tujuan akhir dari alam semesta? Tujuannya, misalnya, adalah kemajuan ekonomi terbaik. Tetapi kita, sebagai manusia, bisa memikirkan bahwa masih ada yang lebih baik dari kemajuan ekonomi terbaik itu. Kemajuan ekonomi bisa berubah sewaktu-waktu. Sehingga, kemajuan ekonomi tidak bisa menjadi tujuan akhir dari alam semesta.

Apa pun kondisi terbaik dari alam semesta, sewaktu-waktu, masih bisa berubah menjadi lebih baik lagi. Maka kondisi alam semesta tidak bisa menjadi tujuan akhir. Dunia ini selalu berputar.

Tujuan akhir alam semesta adalah hadirnya manusia-manusia bermoral. Apa tujuan dari manusia bermoral? Tujuannya adalah menjadi manusia bermoral itu sendiri. Jadi, manusia bermoral adalah tujuan akhir dari alam semesta.

Mengapa manusia bermoral bisa menjadi tujuan akhir? Sedangkan alam semesta tidak bisa. Karena, manusia hanya bisa menjadi bermoral, akibat dari pilihan bebas manusia tersebut. Manusia bisa memilih jadi jahat tetapi mereka memilih menjadi manusia bermoral. Mereka, manusia bermoral, adalah tujuan akhir dan tujuan tertinggi dari alam semesta ini.

Kita bisa menerima bahwa manusia bermoral adalah tujuan akhir alam raya. Sementara, bila kita lihat alam nyata, banyak orang bermoral hidupnya justru tidak kaya raya. Sedangkan, mereka yang jahat, misal perampok uang rakyat, justru hidup mewah dengan pesta pora. Bagaimana bisa ada fenomena begitu?

Dunia fenomena adalah dunia penampakan belaka, bukan alam yang sebenarnya. Alam sejati adalah dunia noumena yang tersembunyi dari penampakan orang biasa. Di alam noumena, saat ini dan nanti, orang-orang bermoral hidup bahagia. Sedangkan penjahat hidup sengsara. Tuhan yang Maha Baik menjamin itu semua. Orang-orang bermoral mendapat anugerah berlimpah dari Tuhan yang Maha Sempurna.

Perlu dicatat bahwa orang-orang bermoral memperoleh kebaikan di dunia noumena bukan karena usaha mereka yang berbuat baik dan bermoral itu. Usaha mereka tidak akan mampu mengubah sesuatu di dunia noumena menjadi lebih baik. Mereka memperoleh kebaikan yang berlimpah karena Tuhan berkehendak melimpahkan kebaikan itu kepada orang-orang bermoral. Mereka mencapai “Kebaikan Tertinggi Sejati” bukan karena usaha mereka. Tetapi karena Tuhan menganugerahkan itu kepada mereka.

Tuhan Maha Baik. Tuhan Maha Kuasa. Tuhan Maha Sempurna.

Berapa efektivitas argumen moral-sempurna kali ini? Saya mengestimasi lebih dari 99. Tentu saja dengan menggabungkan argumen rasional bahwa segala sesuatu ada yang menciptakan maka Tuhan adalah pencipta alam semesta, ditambah dengan argumen moral bahwa Tuhan adalah yang menjamin orang bermoral berlimpah anugerah, dan argumen moral-sempurna bahwa Tuhan yang mengantarkan manusia bermoral meraih “Kebaikan Tertinggi Sejati.”

Bukti 3.0: Argumen Spesial menyatakan bahwa Tuhan hadir pada momen-momen spesial. Efektivitas argumen spesial bisa mencapai 100. Hanya saja, sesuai namanya, argumen spesial hanya berlaku spesial, partikular. Argumen spesial tidak meng-klaim berlaku universal. Masing-masing orang punya momen yang unik. Sementara, orang lain juga tidak berhak menolak argumen spesial. Argumen spesial valid secara partikular.

Covid-19 adalah bukti spesial hadirnya Tuhan. Seorang dokter muda, usia sekitar 30an, merawat banyak pasien. Ketika pandemi covid merebak, makin banyak pasien yang perlu perawatan. Covid bisa kita cegah dengan lebih sering cuci tangan. Dokter muda itu, awalnya, cuek saja masalah agama dan Tuhan. Dia sering melihat teman-temannya, di kantor, melakukan wudu dengan cuci tangan, wajah, dan kaki setiap pagi, siang, dan sore.

Bertahun-tahun, pemandangan teman-temannya berwudu dianggapnya biasa saja. Ketika pandemi, dokter muda melihatnya secara spesial. Orang sering wudu artinya adalah mereka sering cuci tangan. Sehingga, mereka terjaga dari pandemi covid. Dokter muda itu berpikir, “Ajaran wudu itu pasti ajaran dari Tuhan yang Maha Tahu.” Dokter muda itu menjadi yakin Tuhan telah hadir untuknya, kemudian dia memeluk agama Islam dan rajin beribadah sesuai ajaran agama. Bagi dokter muda itu, pandemi adalah momen special. Bukti spesial, argumen spesial bahwa Tuhan memang ada bahkan hadir untuknya.

Bagi orang lain, menyaksikan teman-teman berwudu adalah hal biasa-biasa saja. Bagi dokter muda itu, orang berwudu adalah momen spesial hadirnya Tuhan.

Mimpi adalah bukti spesial hadirnya Tuhan. Seorang suami yang menikahi istrinya lebih dari 20 tahun, sampai sekarang, belum punya anak. Suatu malam, suami itu bermimpi bertemu seorang kakek berbaju putih yang menyuruhnya memberi sedekah ke 7 anak yatim. Suami itu belum bertanya mengapa tetapi kakek menjelaskan bahwa dia akan mendapat anugerah seorang anak.

Terjaga dari mimpinya, suami itu dengan cepat mencari beberapa anak yatim. Kemudian dia memberi sedekah ke anak yatim sampai lengkap 7 orang. Barangkali karena gembiranya, dia menambah sedekah ke 7 anak yatim lainnya lagi. Beberapa hari kemudian, dia mengulangi sedekah ke 7 anak yatim lagi, berulang-ulang.

Dengan menemui sejumlah anak yatim, suami itu merasa bahagia. Dia bahkan merasa seperti sudah punya anak. Bahkan punya anak yang jumlahnya sangat banyak. Apakah dia masih membutuhkan hadirnya anak kandung? Bukankah semua anak adalah anak kita, yang perlu kita cintai?

Tiga bulan setelah kejadian itu, benar saja, istrinya positif hamil. Dan pada waktunya, melahirkan dengan selamat. Lengkap sudah kebahagian mereka. Bagi suami itu, mimpinya bertemu kakek berbaju putih adalah bukti hadirnya Tuhan. Suami itu makin yakin dengan hadirnya Tuhan dalam hidupnya.

Kucing hitam adalah bukti spesial hadirnya Tuhan. Saya sering melihat kucing hitam betina yang melintas di depan rumah saya. Kucing kampung hitam itu, liar tanpa pemilik, punya 3 anak yang masih diasuhnya. Wajar, sebagai induk, kucing hitam itu menyusui anak-anaknya penuh cinta. Mereka, kucing hitam dan anak-anaknya, tinggal 200 meter di sebelah selatan rumah saya. Sementara, ada tempat sampah besar di sebelah utara rumah saya berjarak sekitar 100 meter.

Ketika lapar, kucing hitam itu akan pergi ke tempat sampah mengais-ais sisa tulang atau makanan. Setelah cukup kenyang dari tulang sisa makanan, kucing hitam itu kembali melintas di depan rumah saya menuju sarangnya untuk menyusui anak-anaknya. Saya kagum melihat kucing hitam itu mengasuh anaknya penuh cinta.

Setelah beberapa hari, badan anak-anak kucing itu makin besar. Kebutuhan energi mereka, tampaknya, tidak cukup hanya dari susu induknya. Perlu tambahan sumber energi lainnya.

Kucing hitam, sang induk, seperti biasa melintas di depan rumah saya menuju tempat sampah. Dia tampak lapar. Di tempat sampah, dia menemukan tulang sisa makanan orang, yang cukup besar. Dia memakannya hanya sedikit bagian, meski dia lapar. Kemudian dia menggigit tulang besar itu, membawanya berjalan, melintasi depan rumah saya, dengan mulut yang tetap menggigit tulang sisa makanan. Sampai di sarang, induk kucing itu memberikan tulang ke anak-anaknya. Dengan gembira, anak-anak kucing itu memakan tulang yang dibawakan induknya. Kucing hitam memandangi anak-anaknya dengan penuh kasih sayang.

Saya makin kagum dengan perilaku kucing hitam itu. Dengan kasih sayang, dia menyusui anaknya. Dengan kasih sayang, dia memberi makanan anaknya. Bagi saya, kucing hitam itu adalah bukti Tuhan hadir di depan kita. Tuhan yang Maha Pengasih, Tuhan yang Maha Penyayang, selalu hadir bersama kita.

Orang suci melihat Tuhan dengan mata hati adalah bukti.

Diterbitkan oleh Paman APiQ

Lahir di Tulungagung. Hobi: baca filsafat, berlatih silat, nonton srimulat. Karena Srimulat jarang pentas, diganti dengan baca. Karena berlatih silat berbahaya, diganti badminton. Karena baca filsafat tidak ada masalah, ya lanjut saja. Menyelesaikan pendidikan tinggi di ITB (Institut Teknologi Bandung). Kini bersama keluarga tinggal di Bandung.

Ikuti Percakapan

2 Komentar

Tinggalkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: