Siapa Manusia?

Jawabannya harusnya mudah. Karena masing-masing diri kita adalah manusia. Siapa manusia? Jawabannya, manusia adalah saya. Pertanyaan bisa berlanjut, “Siapa saya?”

Bahan Antropologi – Who Am I – Persekutuan Oikumene

Ada berbagai macam cara untuk menjawabnya. Bisa dari sisi sains, agama, moral, dan lain-lain.

1. Makhluk Pilihan Tuhan
2. Teori Evolusi
3. Manusia Sosial
4. Manusia Robot
5. Manusia Filosofis
5.1 Binatang Berakal (Aristoteles)
5.2 Eksistensi Peduli Eksistensi (Heidegger)
5.3 Jiwa Bercahaya (Suhrawardi)
5.4 Citra Paripurna (Ibnu Arabi)
5.5 Moral Bebas (Kant)
5.6 Spirit Dialektika (Hegel)
5.7 Kebaikan Liar (Schelling)
5.8 Pilihan Bebas (Sartre)
5.9 Dumadi Selaras Diri

Manusia adalah makhluk Tuhan paling istimewa. Jawaban dari sisi religius ini bisa kita terima – meski ada beragam pemahaman. Sementara, dari sisi lain, sains tampak mengajukan teori evolusi. Manusia adalah hasil evolusi alam raya sejak jutaan tahun yang lalu. Proses evolusi ini terjadi secara spontan, acak, dan berkelanjutan. Dua jawaban di atas, manusia adalah makhluk Tuhan versus manusia adalah hasil evolusi, tampak saling bertentangan. Dalam tulisan ini, kita akan membahasnya dengan melengkapi beberapa alternatif lainnya.

Di bagian awal kita membahas pemahaman konsep manusia dari sudut pandang agama, sudut pandang sains, dan sudut pandang sosial. Yang lebih menarik adalah robot, saat ini, mulai mirip manusia atau manusia mulai mirip robot. Sehingga, kita perlu membahas manusia robot.

Di bagian akhir, kita membahas konsep manusia dari sisi filosofis. Bagian ini adalah bagian terpanjang dari diskusi kita. Kita perlu membahas konsep manusia dengan cukup mendalam, ditambah panjang dan lebar. Saya menyimpulkan bahwa manusia adalah realitas paling dinamis. Sehingga, kita hanya bisa membuat konsep manusia dengan karakter yang sama dinamisnya. Beberapa konsep manusia yang perlu kita pertimbangkan: binatang berakal (Aristoteles), jiwa bercahaya (Suhrawardi), citra paripurna Tuhan (Ibnu Arabi), kebebasan absolut (Kant), spirit dialektika (Hegel), kebaikan liar (Schelling), eksistensi peduli eksistensi (Heidegger), pilihan bebas (Sartre). Manusia adalah dinamika merdeka. Ayo, maju bersama!

1. Makhluk Pilihan Tuhan

Agama mengajarkan bahwa Tuhan adalah yang menciptakan segala alam semesta, termasuk menciptakan manusia. Tuhan menciptakan manusia untuk menjadi pemimpin di alam raya ini. Bahkan, Tuhan menciptakan seluruh alam raya untuk keperluan manusia menjalankan tugasnya menjadi pemimpin mengelola alam raya.

Di saat yang sama, manusia adalah abdi Tuhan. Sehingga, dalam mengelola alam raya, manusia sekaligus menjalankan tugas pengabdian kepada Tuhan semesta alam. Tampaknya, tugas manusia hanya sederhana: menguasai alam raya dan, di saat yang sama, itu adalah bentuk pengabdian kepada Tuhan. Benarkah tugas seperti itu adalah mudah?

Tidak mudah! Nyatanya, di alam ini, manusia justru sering melakukan peperangan. Perhatikan perang di berbagai negara Afrika, pendudukan Israel di Palestina, resiko ketegangan Rusia dengan Ukraina, dan lain-lain.

Di belahan bumi yang damai pun, banyak orang kaya mendominasi orang miskin. Banyak orang yang berkuasa mengeksploitasi orang lemah. Dan, kejahatan mau pun kekerasan sosial ada di mana-mana.

Jadi, benarkah manusia adalah makhluk pilihan Tuhan?

2. Teori Evolusi

Darwin (1809 – 1882) menggemparkan dunia dengan memunculkan teori evolusi ilmiah. Meski sudah banyak peneliti sebelumnya yang mengajukan teori evolusi, tetapi, hanya Darwin yang mampu melengkapi teori evolusi dengan pengamatan ilmiah dan logika sains. Sehingga, dampak teori evolusi Darwin begitu besar.

Interpretasi terhadap teori evolusi, tentu saja, beragam. Ditambah lagi, tidak semua bagian dari teori evolusi didukung oleh data ilmiah. Sehingga, sebagian dari teori evolusi bersifat spekulatif. Wajar saja, karena manusia memang sering berpikir seperti itu.

Evolusi dimulai sejak sekitar 14 milyard tahun yang lampau ketika terjadi big bang – ledakan besar. Sebelum big bang, tidak ada apa pun di alam raya ini. Bahkan, belum ada ruang dan waktu. Sebelum big bang, hanya ada kehampaan quantum. Saat big bang, mulailah terbentuk alam semesta. Dan, di saat itu pula, terbentuk konstanta, ketetapan, fisika semisal konstanta gravitasi, konstanta gaya listrik, konstanta kecepatan cahaya, dan lain-lain. Dengan konstanta-konstanta yang tepat itu, kemudian, alam raya evolusi sehingga terbentuk galaksi bima sakti, sistem tata surya, dan termasuk bumi.

Di bumi, kemudian, muncul makhluk hidup dari sel satu (sederhana). Terus evolusi terbentuk makhluk hidup ber-sel banyak. Lanjutan evolusi menghasilkan beragam tumbuhan dan beragam binatang. Puncak dari evolusi itu, pada akhirnya, menghadirkan manusia purba. Lanjut evolusi, kemudian, menghasilkan manusia modern, kontemporer, yang ada saat ini.

Menariknya, konstanta yang muncul ketika big bang itu benar-benar tepat sehingga evolusi terjadi dengan cantik. Misal, konstanta gravitasi menjadi lebih besar maka gaya tarik antara benda-benda langit terlalu besar. Akibatnya, setelah big bang, alam tidak sempat mengembang sudah terikat kembali dan hancur – gagal evolusi. Begitu juga, misal, ketetapan gravitasi itu sedikit lebih kecil maka gaya tarik benda-benda langit terlalu longgar. Akibatnya, setelah big bang, alam raya terlalu cepat mengembang dan hancur juga – gagal evolusi.

Lalu, siapa yang menetapkan konstanta-konstanta itu begitu tepat dan cantik? Tidak ada. Semua terjadi secara spontan dan random.

Jika manusia adalah puncak dari evolusi maka apa tujuan manusia hadir di alam raya ini? Tujuan manusia adalah menetapkan tujuan itu sendiri. Manusia memiliki kebebasan untuk menetapkan standar moral, mengembangkan peradaban, sains, dan sebagainya.

Bagaimana pun, teori evolusi masih menyisakan banyak pertanyaan besar. Bagaimana dari benda mati bisa muncul mahkluk hidup? Bagaimana manusia bisa memiliki akal dan kesadaran? Dan, mengapa hampa quantum bisa menghasilkan big bang? Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan besar tersebut kita perlu kajian filosofis.

Lebih spesifik tentang evolusi manusia, mengapa muncul ide-ide kreatif dari manusia? Mengapa Aljabar merumuskan solusi persamaan aljabar? Mengapa Einstein memunculkan teori relativitas? Mengapa teori mekanika quantum tidak menemukan solusi unik? Mengapa matematika tidak pernah berhenti berkembang sebagai ilmu pasti? Dan, mengapa dari setiap solusi, manusia memunculkan pertanyaan baru lagi?

Ringkasnya, teori evolusi tidak berhasil menjawab banyak pertanyaan. Tetapi, teori evolusi itu sendiri juga ber-evolusi. Sehingga, terjadi revisi di berbagai sisi. Akibatnya, teori evolusi terus berkembang dan mampu menjawab lebih banyak pertanyaan dengan meyakinkan. Apakah, dengan demikian, teori evolusi sudah sempurna? Tidak! Karena teori evolusi memang ber-evolusi.

3. Manusia Sosial

Kita mudah menyadari bahwa manusia adalah dumadi sosial, makhluk sosial. Manusia hanya bisa menjalani hidup secara sosial. Kita hidup bersama manusia yang lain. Lebih dari itu, kita hadir karena ada orang lain. Kita hadir karena ada ibu dan bapak kita. Kita punya hutang budi, hutang eksistensi, kepada ibu kita. Kita berbulan-bulan hidup dalam rahim ibu. Begitu lahir, kita hidup dalam pelukan kasih sayang ibu. Hutang eksistensi kita kepada ibu tidak pernah bisa kita lunasi. Meski demikian, kita tetap perlu membayar hutang eksistensi itu dengan amal kebaikan dan doa tulus.

Lebih jauh, manusia hadir selalu dalam situasi, being-in-the-world. Kita tidak bisa lepas dari situasi dunia. Jika kita bisa lepas dari dunia ini, maka, kita akan hadir ke dunia yang lain lagi. Kita hanya bisa lepas dari dunia, untuk kemudian, berada dalam dunia yang lain.

Kita menyatu dengan dunia alam raya. Atau, dunia alam raya menyatu dengan diri kita. Manusia adalah alam raya. Dan, alam raya adalah manusia. Karena itu, kita perlu berbuat baik kepada alam raya, di mana pun, kapan pun. Semua perilaku baik kepada alam raya, sejatinya, adalah perilaku baik kepada diri kita sendiri.

4. Manusia Robot

Robat makin cerdas mirip manusia – lengkap dengan teknologi artificial intelligence AI. Sementara, manusia makin mirip dengan robot – lengkap dengan kungkungan nafsu ekonomi dan penjara media digital. Titik temu mereka adalah manusia robot: manusia mirip robot dan robot mirip manusia. Meski tampak ironi yang ngeri, barangkali situasi seperti ini bisa saja terjadi.

Manusia merdeka akan menolak bila bergerak, berubah, menjadi mirip robot. Tetapi manusia pada umumnya, bukankah mereka mulai mirip robot? Mereka dikendalikan oleh media digital. Mereka dikendalikan oleh kebutuhan ekonomi. Mereka dikendalikan oleh keserakahan politik. Mereka dikendalikan oleh mesin-mesin raksasa dunia maya. Mereka lupa suara hati. Mereka lupa diri.

Jadi, benarkah akan tercipta manusia robot? Hibrid antara manusia dan robot. Titik temu antara manusia yang mirip robot dengan robot yang mirip manusia. Sehingga, akan tercipta peradaban oleh manusia robot.

5. Manusia Filosofis

Definisi manusia secara filosofis mencoba membuka pandangan kita secara luas dan mendalam.

Manusia adalah binatang berakal. Definisi ini jelas dan berguna. Akal manusia itu sendiri punya banyak makna. Aristoteles (384 – 322 SM) adalah pemikir pertama yang memberi definisi esensialis manusia sebagai binatang berakal. Kemudian, kita menemukan banyak definisi berbeda tentang manusia.

Manusia adalah eksistensi yang peduli dengan eksistensi dirinya, Heidegger (1889 – 1976). Manusia adalah kebebasan menentukan jati dirinya, Sartre (1905 – 1980). Manusia adalah jiwa yang bersinar dan disinari, Suhrawardi (1154 – 1191). Manusia adalah mode wujud yang berpotensi meraih sempurna sejati, Sadra (1572 – 1640). Manusia adalah citra paripurna Tuhan, Ibnu Arabi (1165 – 1240). Dan masih banyak definisi lainnya: manusia adalah binatang yang tertawa, binatang politik, binatang interpretasi, evolusi kontemporer, dan lain-lain.

Manusia adalah dumadi yang menyelaraskan diri. Sebagai dumadi, makhluk ciptaan, kita adalah anggota alam semesta. Uniknya, kita senantiasa berusaha selaras dengan seluruh yang ada. Berbeda dengan dumadi yang lain. Pada umumnya, selain manusia, menjalani proses dengan merespon alam sekitar misal tumbuhan dan binatang. Sedangkan, manusia tidak sekedar merespon. Manusia menciptakan selarasnya diri dengan seluruh dumadi – dan Tuhan alam raya ini.

5.1 Binatang Berakal

Binatang sebagai genus. Secara umum, kita memiliki badan, daging, tulang, dan darah mirip dengan binatang. Akal sebagai diferensia-pembeda. Secara khusus, manusia berbeda dengan setiap binatang karena manusia memiliki akal. Akal adalah pembeda esensial antara manusia dengan binatang. Dengan demikian, spesies manusia adalah spesies binatang berakal. Definisi manusia adalah sebagai binatang yang berakal.

Definisi ini menyelesaikan banyak masalah. Pertama, kita mengasumsikan bahwa definisi “binatang” sudah jelas. Kita sudah paham binatang semisal kucing, harimau, kera dan lain-lain. Kedua, kita mengasumsikan bahwa definisi “akal” sudah jelas. Akal adalah kemampuan manusia berpikir. Khususnya berpikir tingkat tinggi semisal berpikir bahasa dan berpikir matematika. Ketiga, sebagai hasilnya, definisi manusia sebagai binatang berakal bisa kita pahami dengan mudah.

Wittgenstein (1889 – 1951) memudahkan kita memahami definisi dengan “language game”. Kita hanya bisa memahami suatu bahasa dalam konteks pemakaiannya atau aturan “game”. Bahasa selalu saling terkait satu dengan lainnya. Sehingga, konsep manusia sebagai “binatang berakal” bisa kita pahami dengan jelas dalam penggunaan “language game.” Kita sudah terbiasa dengan kata “binatang” dan kata “akal”. Dengan demikian, kita bisa memahami konsep manusia sebagai “binatang berakal” dalam konteks “language game.”

Secara ilmiah, definisi dari yang sederhana menjadi kompleks, dari genus menuju spesies dengan menambahkan diferensia, tampak masuk akal. Awalnya, kita bisa meneliti tumbuhan. Kemudian, binatang adalah semacam tumbuhan yang memiliki kemampuan tambahan, misal, leluasa bergerak. Akhirnya, manusia adalah sejenis binatang yang memiliki kemampuan tambahan berakal.

Jadi, sampai di sini, sudah tuntaskah bahwa manusia adalah binatang berakal?

Tentu saja, tidak tuntas. Bahkan, barangkali, tidak akan pernah tuntas. Manusia selalu menyimpan suatu misteri.

Akal

Apa yang dimaksud dengan “akal” itu sendiri?

Mengikuti “language game” dari Wittgenstein, kita bisa mengatakan bahwa makna “akal” sudah jelas sebagai mana kata “akal” itu digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Kita hanya perlu sedikit menegaskan, barangkali, dengan contoh-contoh. Kita, agar lebih jelas, bisa juga menyandingkan konsep “binatang berakal” dengan “binatang rasional” atau “binatang berpikir”.

Dengan akal, manusia mampu berpikir matematika tingkat tinggi. Meski, beberapa binatang mampu berhitung, tetapi, kemampuannya masih pada tingkat dasar. Misal, induk ayam yang memiliki 3 anak akan gelisah mencari anak-anaknya ketika 3 anak ayam itu tidak ada di dekatnya. Sementara, jika masih ada 2 anak ayam di dekatnya maka induk ayam itu tidak merasa gelisah. Dia merasa bahwa anak-anaknya baik-baik saja.

Induk ayam bisa membedakan antara 0 atau 3 anak ayam – mampu berhitung dasar. Dia bisa membedakan antara ADA anak ayam dengan TIDAK ADA ada anak ayam. Tetapi, induk ayam tidak bisa membedakan antara 2 dengan 3. Dia tidak mampu berhitung tingkat tinggi. Ayam memang bukan manusia. Sementara, manusia mampu berhitung lebih tinggi lagi. Misal 3 + 2 = 5, lanjut 5 x 4 = 20.

Dalam tataran praktis, manusia mampu berhitung jangka panjang. Misal, investasi setiap bulan menghasilkan profit 5 juta rupiah maka dikalikan 3 bulan akan menghasilkan 15 juta rupiah. Dan, kita masih bisa mengembangkan konsep matematika yang lebih canggih lagi.

Berpikir dalam bidang bahasa merupakan contoh, lagi, kemampuan akal manusia. Tentu saja, beberapa jenis binatang berkomunikasi dengan bahasa tingkat dasar. Misal, sekelompok anjing hutan berburu sambil berkomunikasi mengatur strategi untuk mengintai korban. Bagaimana pun, kemampuan berbahasa manusia jauh lebih tinggi dari itu. Dengan bahasa, kita bisa menceritakan dongeng sebelum tidur kepada anak-anak. Kita bisa membuat cerita pendek bahkan sampai novel berseri-seri dengan menggunakan bahasa. Dan, tentu saja kita bisa membuat puisi yang lembut menyentuh hati. Tidak ada binatang yang memiliki kemampuan bahasa secanggih manusia. Bahasa tingkat tinggi merupakan kemampuan khusus bagi manusia.

Moral

Immanuel Kant (1720 – 1804) membedakan akal dengan pemahaman (understanding). Pembedaan ini bernilai sangat penting. Apa saja yang kita bahas di atas, yang melibatkan kecerdasan matematika dan bahasa misalnya, masih termasuk dalam kategori “pemahaman”. Kita memahami suatu pernyataan matematika bernilai benar atau salah. Kita memahami suatu pernyataan bahasa menarik atau tidak. Itu semua tugas “pemahaman” (understanding).

Sementara, tugas akal adalah memutuskan suatu sikap, misal sikap kreatif atau sikap moral. Ketika “pemahaman” memahami formula aljabar, misalnya, akal berpikir: Apakah ada cara yang lebih mudah dari aljabar ini? Apakah aljabar ini berguna untuk kehidupan nyata? Apakah aljabar perlu saya pelajari lebih mendalam?

Akal makin penting perannya dalam menentukan sikap moral. Dengan “pemahaman” kita tahu bahwa “mencuri” atau “korupsi” adalah tindakan jahat. Akal bertanya: Apakah kita perlu korupsi dengan keuntungan harta yang tinggi? Ataukah kita perlu menghindari korupsi meski ada peluang begitu menggoda? Akal bertanya. Dan, akal pula yang memutuskan jawabannya: korupsi atau tidak.

Akal memiliki kebebasan sepenuhnya untuk memilih sikap bermoral atau tidak bermoral. Meskipun dalam prakteknya, manusia perlu beragam fasilitas pendukung untuk menjalankan sikap dari akal. Tetapi, keputusan oleh akal itu sendiri bersifat bebas.

Kant melangkah lebih jauh dengan mengatakan bahwa tujuan alam raya adalah untuk menghadirkan manusia-manusia bermoral. Mereka memilih untuk bertindak bermoral meskipun, sejatinya, mereka bisa memilih untuk berbuat jahat. Mengapa mereka memilih tindakan bermoral? Karena dirinya, memang, orang bermoral.

Hal ini berbeda dengan reproduksi, misalnya. Mengapa manusia punya nafsu hasrat? Karena agar manusia bisa reproduksi berkembang biak. Mengapa manusia perlu reproduksi? Karena untuk melestarikan spesies manusia. Mengapa perlu melestarikan spesies manusia? Dan seterusnya, pertanyaan bisa tanpa akhir.

Sementara, pertanyaan tentang moral akan berhenti kepada diri manusia bermoral. Manusia menjadi bermoral karena tindakannya yang bermoral. Tindakan bermoral ini disebabkan oleh manusia yang bermoral – memilih bermoral. Jadi, manusia bermoral adalah proses dan tujuan dalam dirinya sendiri.

Dengan konsep moral seperti itu, “Siapakah manusia?”

Manusia adalah dumadi bermoral.

Dumadi adalah kejadian, ciptaan, sesuatu, mahkluk, eksistensi, atau being. Manusia adalah “dumadi bermoral” bermakna manusia adalah sesuatu yang esensinya mampu memilih sikap moral, meski pun, mereka bisa juga memilih sikap jahat. Dengan konsep “dumadi bermoral”, tampaknya, banyak manusia yang tidak masuk dalam klasifikasi ini. Karena, seperti kita tahu, beberapa manusia gagal memilih sikap moral.

Binatang

Keberatan utama dari konsep “binatang berakal” adalah kesan kata “binatang” seakan-akan makhluk tak bermoral. Singa terkenal buas, ular terkenal licik, dan anjing sebagai penjilat. Manusia sering mengumpat, menjelekkan pihak lain, dengan menyebut nama binatang. Nama binatang begitu rendah dalam banyak aspek kehidupan manusia.

Padahal, sebagai mana kita maklum, binatang tidak ada yang jahat. Binatang, justru, tidak pernah melakukan dosa. Perhatikan, misalnya, seekor ular yang memangsa tikus hidup-hidup di sawah. Tidak ada perilaku jahat dalam kejadian itu. Ular tidak menjadi jahat karena membunuh tikus. Begitu juga tikus tidak menjadi jahat karena memicu ular untuk membunuh dirinya. Ular tidak pernah memangsa tikus jika dirinya tidak lapar. Meski ada tikus di depannya, ular tidak akan memangsanya bila dirinya sedang kenyang. Ular juga tidak pernah menimbun banyak tikus, sedemikian hingga, agar ular bisa makan tikus dalam jumlah berlebihan. Dan, jelas sekali, ular tidak pernah berternak tikus dengan tujuan untuk kebutuhan konsumsi atau keuntungan lainnya.

Ular, dan binatang lainya, tidak jahat. Bahkan binatang, sampai kapan pun, tidak akan pernah menjadi jahat. Hanya manusia yang bisa menjadi manusia jahat. Meski pun, manusia bisa juga menjadi manusia bermoral.

Seharusnya, kata “binatang” berkonotasi netral. Tidak jahat, pun, tidak harus bermoral. Dalam beberapa kesempatan, nama binatang berkonotasi positif. Jago gitar, Sang Rajawali, Maung Bandung, Kepala Naga, dan lain-lain.

Kita menemukan beberapa perilaku manusia jahat, lalu, melabeli mereka bagai binatang. Pegawai korup licik bagai ular. Pedagang serakah buas bagai srigala. Penipu bingung bagai cacing kepanasan. Lagi-lagi, perilaku jahat pada manusia, lalu, menggambarkan kejahatan yang sama kepada binatang. Tentu saja, penilaian seperti ini tidak fair. Meski demikian, karena sudah menjadi ungkapan dalam kehidupan sehari-hari, maka, sudah menjadi “language game” yang ada.

Bisa jadi, orang-orang tertentu, dengan sengaja, mengambil konsep “binatang berakal” menjadi inspirasi untuk suatu kejahatan mereka.

Keberatan kedua terhadap konsep “binatang berakal” adalah keberatan filosofis. Kita tidak bisa membentuk substansi “manusia” dengan cara menambahkan substansi “berakal” kepada substansi “binatang”. Substansi “manusia” adalah substansi tunggal yang unik, merupakan satu kesatuan. Kita hanya bisa menganalisis secara konseptual bahwa dalam konsep manusia terkandung konsep “binatang” dan konsep “berakal”. Hanya analisis, bukan realitas sejatinya.

Spesies manusia adalah realitas konkret yang lebih nyata dari genus binatang.

Pengalaman kita di dunia mekanika memang tampak beda. Mobil atau sepeda, misalnya, kita desain dengan cara merangkai unsur-unsurnya. Untuk merancang sepeda maka kita “menggabungkan” roda depan, roda belakang, sadel, rantai, dan lain-lain. Masing-masing unsur ini sudah eksis secara nyata mendahului sepeda. Pengalaman kita di dunia mekanika ini tidak bisa kita terapkan untuk manusia. Kita, tidak bisa membentuk manusia dengan cara menyusun kaki, tangan, badan, dan lain-lainnya. Tetapi, sekali lagi, kita punya intuisi bahwa kita bisa menyusun robot manusia dengan cara merangkai komponen-komponennya.

Keberatan filosofis ini memerlukan solusi yang tidak bersifat mekanis. Solusi itu harus berupa suatu konsep manusia yang utuh dengan sedikit tambahan deskripsi.

Beberapa konsep alternatif akan kita bahas di bagian bawah. Barangkali, kita bisa mempertimbangkan konsep,

“Manusia adalah dumadi berakal.”

Lebih spesifik lagi konsep,

“Manusia adalah dumadi bermoral.”

5.2 Eksistensi Peduli Eksistensi

“Siapakah manusia?”

Manusia adalah eksistensi yang peduli dengan eksistensi dirinya. Manusia peduli dengan masa depan eksistensinya, masa lalu, dan masa kini. Manusia bertanya-tanya, “Bagamana keadaanku, eksistensiku, esok hari?” “Apa yang akan terjadi di masa depan?” “Saya pasti akan mati, tetapi, apa yang akan terjadi saat itu dan setelahnya?”

Heidegger (1989 – 1976) mengusulkan konsep bahwa manusia adalah eksistensi yang peduli dengan eksistensi dirinya. Manusia adalah eksistensi yang senantiasa mempertanyakan eksistensi. Manusia adalah eksistensi yang menyelidiki “makna dari eksistensi.” Heidegger menggunakan istilah “dasein” (being-there) untuk maksud manusia sejati. Manusia, benar-benar nyata, ada di sana dan di sini. Dasein.

Kita bisa membandingkan dasein ini dengan “binatang berakal” dan cogito (dari Descartes).

Kita sampai ke konsep “binatang berakal” melalui analisis evolusi, taksonomi, dan mekanis. Sementara, kita sampai kepada dasein dari analisis filosofis terhadap realitas nyata seutuhnya – being as a whole.

Diterbitkan oleh Paman APiQ

Lahir di Tulungagung. Hobi: baca filsafat, berlatih silat, nonton srimulat. Karena Srimulat jarang pentas, diganti dengan baca. Karena berlatih silat berbahaya, diganti badminton. Karena baca filsafat tidak ada masalah, ya lanjut saja. Menyelesaikan pendidikan tinggi di ITB (Institut Teknologi Bandung). Kini bersama keluarga tinggal di Bandung.

Ikuti Percakapan

1 Komentar

Tinggalkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: