Kisah Semesta

Bintang-bintang saling mengejar
Langit membentangkan sayap
Kisah indah sedang menunggu

Pembawa berita itu
Turun ke bumi
Menjadi anugerah
Sunyi kini berpuisi

Langit dan bumi di sana
Puisi hati merangkul semua
Kisah dunia dan akhirat
Ringan berat sama nikmat

Wahai pujaan hati
Terima kasih telah menyapa kami
Yang tercenung
Di sudut pertiwi

Pembawa berita itu
Turun ke bumi
Menjadi anugerah
Sunyi kini berpuisi

Engkau teladan cahaya
Bagi kami menyusuri bumi
Merindu langit biru bertemu

Hakimi Penjarah Rumah Sahroni

Massa menjarah rumah Sahroni, Eko, Uya, dan Sri. Apakah para penjarah ini melanggar hukum pidana? Apakah mereka bertindak kriminal? Apakah mereka perlu dihukum penjara?

Kita butuh hakim yang bijak untuk menghakimi mereka: sebagian massa yang menjarah rumah Sahroni. Tidak cukup hanya KUHP atau undang-undang belaka. Bila cukup dengan undang-undang maka masukkan undang-undang ke AI kemudian AI akan memutuskan apakah pelaku itu bersalah. Tidak bisa seperti itu. Kita membutuhkan manusia yang bijak untuk menghakimi kasus ini.

1. Mengikuti Aturan Wittgenstein
2. Berpikir Aturan Heidegger
3. Kejahatan Banal Arendt
4. Diskusi

Hakim Frank Caprio adalah hakim bijak yang manusiawi telah meninggal dunia sepekan sebelum terjadi demo besar 2025 di Jakarta dan Indonesia. Hakim Caprio menampilkan suasana sidang yang haru dan, bahkan, lucu. Kita terhibur dan tertawa oleh bijaknya seorang hakim Caprio.

Salah satu kasus adalah seorang kakek mengemudi mobil melanggar lampu merah lalu lintas. Lampu menyala merah tetapi kakek itu terus menerobos. Kakek kena tilang dan menghadapi pengadilan oleh hakim Caprio.

“Jelaskan siapa diri Anda dan kejadiannya,” perintah hakim Caprio.
“Saya seorang laki-laki usia 96 tahun yang tidak mengendarai mobil kecuali terpaksa. Saya berkendara selalu dengan pelan-pelan.”
“Mengapa Anda menerobos lampu merah?” tanya Caprio.
“Saya buru-buru mengantar anak saya untuk perawatan cek darah ke rumah sakit. Anak saya mengidap kanker sejak kecil.”
“Berapa usia anak Anda?”
“Usia 63 tahun.”
“Anda merawat anak sampai sekarang?”
“Benar.”
“Kita membutuhkan banyak orang yang tetap menjaga anak-anaknya sampai kapan pun. Anda dibebaskan dari segala tuntutan,” hakim Caprio memutuskan.

Secara aturan tertulis, kakek melanggar aturan lampu merah. Secara bijak, hakim Caprio membebaskan kakek dari segala tuntutan; dengan mempertimbangkan konteks dan situasi apa yang terjadi. Bagaimana dengan para pelaku satroni rumah Sahroni?

1. Mengikuti Aturan Wittgenstein

Wittgenstein (1889 – 1953) adalah pemikir jenius abad 20. Bahkan bisa lebih jenius dari Einstein. Wittgenstein mengajukan pertanyaan paradoks, “Apakah manusia bisa mengikuti aturan?” Sampai sekarang tetap paradoks.

(a) Manusia bisa mengikuti aturan; tetapi manusia sejatinya hanya mengikuti pikiran dan hati mereka sendiri; bukan mengikuti aturan.

(b) Manusia tidak bisa mengikuti aturan; tetapi manusia selalu bisa menyatakan bahwa dia telah mengikuti aturan tertentu; aturan yang telah ada atau pun aturan yang baru dibuat.

2. Berpikir Aturan Heidegger

Heidegger (1889 – 1976) adalah pemikir terbesar abad 20. Heidegger menyatakan bahwa tugas manusia bukan untuk mengikuti atau melanggar aturan. Tugas manusia adalah untuk menghormati aturan karena setiap aturan sejatinya adalah aturan dari Tuhan. Apa maksud menghormati aturan?

Menghormati aturan adalah berpikir untuk memahami aturan kemudian memutuskan untuk: (a) mengikuti aturan; (b) tidak mengikuti aturan; atau (c) membuat aturan baru. Tindakan menghormati aturan adalah tindakan besar yang menuntut manusia berpikir secara mendalam.

3. Kejahatan Banal Arendt

Hannah Arendt (1906 – 1975) adalah filsuf politik terhebat abad 20. Arendt mengejutkan dunia dengan melaporkan kejahatan banal yang dilakukan oleh Eichmann seorang pegawai Nazi. Eichmann telah menyebabkan ratusan atau ribuan Yahudi dihukum mati dalam kamp konsentrasi Nazi. Arendt bertugas meliput sidang tuntutan terhadap Eichmann di pengadilan Israel. Sebagai seorang Yahudi, Arendt diharapkan akan mengungkap kejahatan terbesar di dunia yang telah dilakukan oleh Eichmann.

Arendt melaporkan bahwa Eichmann telah melakukan kejahatan besar yaitu kejahatan banal; kejahatan yang tampak biasa-biasa saja tetapi dampaknya luar biasa. Kejahatan banal Eichmann adalah kamuflase “Saya sekadar menjalankan aturan.”

Eichmann, waktu itu sekitar perang dunia 2, mendapat tugas untuk mendaftar nama-nama orang Yahudi. Kemudian, Eichmann menyerahkan daftar nama itu ke tentara Nazi. Hari demi hari, Eichmann bekerja sesuai aturan yaitu menjalankan tugas. Laporan Arendt menunjukkan itulah kejahatan banal: sekadar menjalankan aturan; sekadar menjalankan tugas.

4. Diskusi

Bagaimana menurut Anda?

Hakim adalah seorang yang bijak; yang berlimpah hikmah. Hakim tidak sekadar menjalankan aturan; hakim tidak sekadar menjalankan tugas. Hakim berpikir mendalam: apakah vonis hukuman atau membebaskan; atau mengajukan aturan baru. Hakim memang menghadapi paradoks.

Mempertimbangkan pandangan Arendt, Heidegger, Wittgenstein, Caprio, dan lainnya maka apakah para pelaku satroni Sahroni perlu dihukum? Atau perlu dibebaskan?

Anda tentu pernah dengar cerita tentang Abu Nawas yang cerdik itu. Bagaimana jika Abu Nawas menjadi hakim? Ayah dari Abu Nawas adalah seorang hakim yang bijak. Ketika sang ayah makin tua, masyarakat mendorong Abu Nawas agar jadi hakim menggantikan ayahnya. Di satu sisi, Abu Nawas lebih cerdik. Di sisi lain, Abu Nawas mewarisi sikap bijak dari ayah.

Beberapa tahun kemudian, ayah yang hakim bijak itu meninggal dunia. Abu Nawas berbakti dengan melaksanakan pemakaman ayahnya dengan khidmat. Abu Nawas mencium ayahnya untuk terakhir kali. Tercium aroma wangi dari telinga kanan ayah. Tetapi, tercium bau busuk dari telinga kiri ayah. Selesai upacara pemakaman, dukungan masyarakat makin kuat agar Abu Nawas menjadi hakim tertinggi menggantikan almarhum ayahnya.

Abu Nawas tidak bisa menolak dukungan warga. Tapi, Abu Nawas merasa keberatan untuk jadi hakim. Abu Nawas menemukan solusi: ia menjadi gila. Warga tidak bisa komunikasi dengan Abu Nawas yang gila itu: ia selalu ngelantur kemana-mana dalam bicara. Abu Nawas tidak pantas lagi untuk menjadi hakim. Warga kemudian sepakat memilih orang lain sebagai hakim di sana.

Setelah terpilih hakim itu, Abu Nawas sembuh dari gilanya. Warga bertanya, “Mengapa Abu Nawas pura-pura gila?”

“Ayahku yang amat bijak itu saja sebelah telinganya berbau busuk karena menjadi hakim. Bagaimana bila saya jadi hakim? Bukan hanya telinga yang busuk. Mata, hidung, dan mulutku bisa menjadi busuk karena menjadi hakim,” terang Abu Nawas.

Tugas menjadi hakim adalah sangat berat. Berpikirlah yang panjang dan mendalam sebelum menghakimi apa pun itu.

Demokrasi Indonesia 2025: Kopanarko

Apa kabar Indonesia 2025? Apa kabar Indonesia Emas 2045? Apa kabar Anda seorang warga Indonesia?

Indonesia 2025 menyaksikan, diiringi linangan air mata dan hati berkeping-keping, gugurnya seorang pahlawan demokrasi: Affan Kurniawan, driver ojek online, yang dilindas kendaaraan taktis milik aparat kepolisian. Semoga Affan damai di sisi Yang Maha Pengasih.

Pahlawan demokrasi memantik kita untuk berpikir reflektif: apa makna demokrasi; bagaimana mewujudkan adil makmur mulai dari lapisan akar rumput wong cilik; bagaimana meniti jalan Indonesia Emas 2045? Jawaban singkat dari seluruh pertanyaan ini adalah: kopanarko. Apa itu kopanarko?

1. Demokrasi Gagal
2. Asas Demokrasi
3. Kopanarko
4. Diskusi

Demokrasi menyebar hampir ke seluruh dunia; lebih dari setengah belahan dunia klaim bahwa mereka adalah demokrasi. Tetapi demokrasi mereka adalah cacat; termasuk demokrasi di Indonesia adalah cacat. EIU mengawali laporan demokrasi 2025, “Demokrasi sedang menghadapi tekanan. Saat pemerintahan otoriter semakin kuat, negara-negara demokrasi kesulitan menjaga kepercayaan rakyat, sehingga masa depan mereka jadi terancam.” Bagaimana dengan demokrasi Indonesia?

1. Demokrasi Gagal

Indonesia masuk sebagai demokrasi cacat dengan skor 6,44 pada 2025 ini (dari maksimal 10,00).

“Demokrasi yang cacat adalah negara-negara di mana pemilu berlangsung secara adil dan bebas, serta kebebasan sipil dasar tetap dihormati. Namun, negara-negara ini masih memiliki sejumlah masalah, seperti keterbatasan kebebasan media dan sedikit tekanan terhadap oposisi politik atau para pengkritik pemerintah.

Selain itu, negara-negara ini juga bisa memiliki kelemahan serius dalam aspek demokrasi lainnya, seperti budaya politik yang belum berkembang, partisipasi masyarakat dalam politik yang masih rendah, serta masalah dalam pelaksanaan pemerintahan.” (Wikipedia).

Beberapa negara maju di Eropa dan Amerika berhasil mencapai status demokrasi penuh tetapi masih saja demokrasi mereka gagal.

“Demokrasi penuh adalah negara-negara di mana kebebasan sipil dan hak-hak politik dasar tidak hanya dihormati, tetapi juga diperkuat oleh budaya politik yang mendukung berkembangnya prinsip-prinsip demokrasi.

Negara-negara ini memiliki sistem pemerintahan yang sah dan seimbang, lembaga peradilan yang independen dan keputusannya dijalankan, pemerintahan yang berfungsi dengan baik, serta media yang beragam dan bebas.

Negara-negara ini hanya memiliki sedikit masalah dalam menjalankan prinsip-prinsip demokrasi.” (Wikipedia).

Demokrasi penuh mendorong media yang bebas dan beragam. Apa yang diungkap oleh media ini? Media mengungkap kegagalan demokrasi di negara-negara maju itu sendiri. Kegagalan demokrasi bukan sekedar aib tetapi petunjuk untuk memperbaiki kehidupan yang adil makmur.

Berbeda halnya dengan demokrasi cacat misal Indonesia. Media mengalami pembungkaman sehingga media memberitakan Indonesia tampak baik-baik saja; sedang dalam kondisi Indonesia bangkit menuju Indonesia Emas 2045. Andai media di Indonesia adalah bebas maka apakah seperti itu?

2. Asas Demokrasi

Demokrasi menjadi penting karena asas atau prinsipnya bukan karena hasilnya.

Negara yang tidak demokratis bisa saja lebih makmur dari negara demokrasi. Singapura lebih cacat dari Indonesia demokrasinya tetapi Singapura lebih makmur dan lebih maju. Demokrasi lebih bernilai karena asasnya: bebas, setara, persaudaraan, dan lain-lain. Jadi, Indonesia lebih bebas dari Singapura? Benar. Itu salah satu kabar baik.

3. Kopanarko

Kita butuh negara yang demokrasi dan, hasilnya, adalah negara adil makmur. Kopanarko adalah solusinya.

Kopanarko membutuhkan proses panjang: (a) kacau; (b) arko; (c) anarko; (d) panarko; (e) kopanarko.

Awalnya (a) kacau. Negara tidak memiliki seorang pemimpin yang disepakati. Pertikaian sering terjadi antara satu daerah dengan tetangganya. Barangkali Irak dan Afganistan mengalami situasi kacau ini beberapa waktu yang lalu.

Kemudian muncul (b) arko yaitu seorang pemimpin, misal Trump. Kekacauan Amerika ditangani oleh kekuatan Trump. Sukarela atau terpaksa warga Amerika mematuhi arko yaitu Trump. Demikian juga di Rusia oleh Putin, China oleh Xi Jinping, Indonesia oleh Prabowo.

Risiko dari seorang arko adalah menjadi otoriter misal Putin sehingga demokrasi menjadi runtuh. Trump juga otoriter tetapi masih kamuflase dengan mengenakan jubah demokrasi.

Pemimpin otoriter mendorong perlawawan (c) anarko. Kekuatan Trump dilawan oleh anarko yang bebas. Universitas Harvard melawan perintah Trump. Di kampus Harvard, tumbuh mekar kebebasan para anarko. Terjadi penembakan gas air mata di kampus Unisba pada 1-2 September 2025. Penembakan itu adalah sebentuk serangan oleh arko kepada wilayah anarko. Untung saja, menristek-dikti Brian menyatakan bahwa kampus Unisba adalah ruang bebas untuk ekspresi; kampus adalah wilayah anarko. Pak Menteri akan komunikasi dan menyampaikan keberatan kepada polisi. (Unisba: Universitas Islam Bandung).

Wilayah kebebasan anarko perlu diperluas sampai luar kampus. Tetapi perluasan anarko memunculkan risiko situasi (a) kacau. Untuk itu, perluasan kebebasan anarko perlu mengarah kepada (d) panarko: bebas penuh tanggung jawab dan rasa hormat.

Situasi (d) panarko adalah situasi di mana setiap orang adalah arko; setiap orang adalah pemimpin yang bertanggung jawab.

Bagaimana agar panarko: setiap orang menjadi pemimpin bertanggung jawab? Jawaban mudah adalah melalui pendidikan berkualitas merata ke seluruh warga. Kita hanya menggeser masalah besar di sini: masalah demokrasi menjadi masalah edukasi; dengan kata lain, mewujudkan pendidikan berkualitas yang merata adalah sama sulitnya dengan menegakkan demokrasi yang adil makmur. Solusi atas lingkaran edukasi dan demokrasi akan kita bahas di bawah.

Perkembangan wajar dari panarko adalah menjadi (e) ko-panarko: bersama-sama menjadi serba-pemimpin. Situasi ko-panarko adalah situasi konkret yang menjadi idaman bersama; menjadi cita-cita ideal setiap warga.

4. Diskusi

Bagaimana menurut Anda?

Tugas besar adalah: bagaimana kita mewujudkan panarko, serba-pemimpin, melalui edukasi? Karena jalan demokrasi sudah terbukti gagal; jalan ekonomi politik juga sama gagal. Jalan yang tersedia adalah terjal, gelap, dan berliku yaitu pendidikan atau edukasi.

Jalan edukasi ini makin sulit lantaran edukasi sudah berada dalam penjara kepentingan politik tertentu; lebih ngeri lagi, jalur edukasi sudah berada dalam penjara ekonomi masing-masing individu. Setiap sekolah atau universitas, atau bahkan pendidikan agama, “terpenjara” untuk mengumpulkan dana. Mereka tidak murni edukasi sebagai utama. Tetapi, yang lebih parah, adalah setiap siswa yang menempuh pendidikan adalah demi cita-cita ekonomi. Mereka sekolah agar kelak enak kerja untuk kemudahan menikmati keuntungan ekonomi.

Apa yang salah dengan mengutamakan kepentingan ekonomi?

Salah besar. Tujuan pendidikan bukan untuk kepentingan ekonomi. Tujuan edukasi adalah untuk panarko: mengantarkan setiap anak menjadi pemimpin. Setelah setiap anak menjadi panarko maka mereka akan menempatkan kepentingan ekonomi pada tempat yang tepat. Barangkali, kepentingan ekonomi berada pada urutan bawah setelah: membela rakyat kecil; mendukung adil makmur; mengembangkan budaya ilmu; menumbuhkan nilai-nilai ruhani; dan lain-lain.

(a) Panarko = Parresia

(b) Lebih dari Lembaga Politik

(c) Bildung bukan Building

Aksi Demo 2025: Solusi Prabowo

Saya mengusulkan tiga solusi utama untuk Presiden Prabowo: (1) Percepatan pemilu menjadi 26/06/2026; (2) Empati mendengarkan aspirasi seluruh warga; (3) Menyalurkan BLT bagi seluruh warga yang memerlukan.

Aksi demonstrasi (demo) 2025 berlangsung damai pada awalnya. Sewaktu-waktu, demo mudah berubah menjadi ricuh tak terkendali. Kerusuhan, perusakan, dan ricuh adalah hal lumrah terjadi pada demo meski kita komitmen untuk demo aksi damai.

Seorang pahlawan demokrasi telah gugur 28 Agustus 2025:

Affan Kurniawan (18 Juli 2004 – 28 Agustus 2025) adalah seorang pengemudi ojek daring asal Indonesia. Ia meninggal dunia setelah ditabrak dan dilindas oleh kendaraan taktis Rimueng[2] milik Satuan Brigade Mobil (Brimob) Kepolisian Daerah Metro Jaya pada saat unjuk rasa di sekitar Gedung DPR/MPR RIJakarta Pusat pada 28 Agustus 2025.[3][4] Peristiwa ini memicu unjuk rasa yang lebih besar di berbagai tempat di Indonesia, sekaligus mendapat perhatian khusus dari pemerintah dan masyarakat.” (Wikipedia) Kita berdoa semoga Affan mendapat tempat terbaik di sisi Yang Maha Pengasih dan Penyayang.

Kita berada di simpang jalan 2025 untuk menuju Indonesia Emas 2045. Berikut beberapa usulan untuk meraih Indonesia Emas 2045.

1. Percepatan Pemilu Menjadi 26/06/2026

Indonesia membutuhkan pemilu yang jujur adil. Pemilu 2024 sudah berhasil mulus sesuai konstitusi. Tetapi banyak pihak yang meragukan apakah konstitusi 2024 adalah taat asas demokrasi dan kemanusiaan? MK yang dipimpin oleh saudara ipar dari presiden Jokowi dan saudara (paman) dari bakal calon wakil presiden Gibran menjadi sorotan utama. Percepatan pemilu menjadi tahun 2026 adalah solusi usaha damai untuk kebaikan Indonesia Emas 2045. Presiden bisa menerbitkan perppuu untuk itu; peraturan pemerintah pengganti undang-undang.

2. Empati Mendengarkan Aspirasi Seluruh Warga

Empati. Mendengarkan dengan sepenuh hati. Presiden Parabowo sudah memerintahkan agar DPR (dan seluruh aparat) untuk mendengarkan aspirasi seluruh warga dengan empati; kemudian menindaklanjuti. Pernyataan yang sangat bagus ini.

Aksi demo, di antaranya, telah mengajukan 18 + 7 tuntutan: dari transparansi DPR, penghapusan tunjangan, pembatasan masa jabatan DPR, pembersihan Polri, sampai perampasan aset pencuri yaitu para koruptor. Tuntutan-tuntutan ini dan tuntutan lain perlu terus dikaji, dan dialog mendalam, secara damai dan lapang dada.

Dengan hati terbuka dan dialog penuh empati, kita mencegah kerusuhan. Seluruh dialog dan aksi berlangsung damai.

3. BLT (Bantuan Langsung Tunai) untuk Semua

BLT dikucurkan untuk semua warga yang memerlukan. Warga yang membutuhkan bantuan perlu diamankan kebutuhan dasar mereka; khususnya kebutuhan makan sehari-hari. BLT kisaran 30 ribu rupiah per hari, perorang, barangkali mencukupi sekadar untuk kebutuhan makan; setara dengan 1 juta rupiah per bulan.

Asumsi ada 50 juta jiwa yang membutuhkan BLT dikali 1 juta rupiah maka total menjadi 50 trilyun rupiah per bulan. Anggaran MBG bisa dialihkan untuk BLT dan holding Danantara tampaknya tidak keberatan membantu pembiayaan BLT untuk sementara waktu.

Saya mengusulkan pendanaan BLT tidak menggunakan rupiah tetapi menggunakan koin uang pokok; atau kartu digital uang pokok; sudah saya bahas di tulisan saya yang lain. Uang pokok ini berbeda dengan rupiah; sehingga tidak mengganggu nilai tukar dolar terhadap rupiah. Sekaligus, uang pokok menggerakkan roda ekonomi real di lapisan bawah; lapisan akar rumput.

Tiga usulan di atas masih berupa garis besar yang perlu dikaji lebih mendalam dan luas.

Bagaimana menurut Anda?

Apa yang Disebut Berpikir?

What is Called Thinking?

Manusia adalah makhluk yang berpikir. Tapi “Apa yang Disebut Berpikir?” Kita bertanya tentang kita. Kita pula yang akan menjawabnya. Apa makna kata berpikir? Apa makna berpikir sepanjang sejarah filsafat, hikmah, dan sains teknologi? Apa yang dibutuhkan agar bisa berpikir? Apa atau siapa yang memanggil kita untuk berpikir?

1. Pemanggil
1.1 Permainan oleh Bahasa
1.2 Memberi Nama
1.3 Rumusan Pertanyaan
1.4 Vitamin Pikiran
2. Makna Kata Berpikir
2.1 Bukan Alat atau Ekspresi
2.2 Bukan Botol Tapi Sumber Air
3. Sejarah
4. Kebutuhan untuk Berpikir
5. Diskusi
5.1 Jawaban Berpikir
5.2 Apakah AI Bisa Berpikir?
5.3 Apakah AI akan Melampaui Manusia?

Kutipan-kutipan berikut bersumber pada “What is Called Thinking?” karya Heidegger; kecuali disebut lain.

1. Pemanggil

Memanggil adalah bermakna mengajak untuk datang; untuk hadir. Siapa yang memanggil untuk berpikir? Siapa yang dipanggil untuk berpikir? Siapa yang memanggil dengan merdu?

“To call means: to call into arrival and presence; to address commendingly.

Accordingly, when we hear our question “What is called thinking?” in the sense that it asks, What is it that appeals to us to think?, we then are asking: What is it that enjoins our nature to think, and thus lets our nature reach thought, arrive in thinking, there to keep it safe?”

Dalam konteks ini, ‘memanggil’ berarti mengajak sesuatu untuk hadir atau menampakkan diri, dan juga bisa berarti memanggil atau menyapa dengan penuh penghargaan.

Dengan pemahaman ini, ketika kita mengajukan pertanyaan “Apa yang disebut berpikir?”, yang sebenarnya kita tanyakan adalah: Apa yang menarik atau mendorong kita untuk berpikir? Lebih jauh lagi, kita bertanya: Apa yang memerintahkan fitrah atau kodrat kita untuk berpikir, sehingga memungkinkan fitrah tersebut mencapai pemahaman, hadir dalam proses berpikir, dan menjaganya tetap aman di sana?

1.1 Permainan oleh Bahasa

Wittgenstein terkenal dengan konsep language-game (permainan bahasa). Sementara, Heidegger mengenalkan konsep game-of-language (permainan oleh bahasa). Keduanya mirip tetapi ada beda tipis atau malah tajam.

Dalam situasi ini kita berada dalam permainan oleh bahasa; bukan kita sedang bermain kata; bukan bermain bahasa; bukan language-game. Sehingga, kita perlu mencermati bahasa; mencermati game-of-language.

“Is it playing with words when we attempt to give heed to this game of language and to hear what language really says when it speaks? If we succeed in hearing that, then it may happen – provided we proceed carefully – that we get more truly to the matter that is expressed in any telling and asking.

We give heed to the real signification of the word “to call,” and accordingly ask our question, “What does thinking call for?” in this way: what is it that directs us into thinking, that calls on us to think? But after all, the word “to call” means also, and commonly, to give a name to something. The current meaning of the word cannot simply be pushed aside in favor of the rare one, even though the rare signification may still be the real one.” (119).

Tugas kita adalah mengenali, memperhatikan, dan mendengarkan permainan oleh bahasa. Ketika kita memahami permainan oleh bahasa ini maka kita lebih memahami kebenaran. Apakah permainan oleh bahasa itu bersifat eksak seperti matematika? Atau bersifat bebas seperti mengarang novel? Ataukah ada aturan dan kebebasan seperti menulis sajak puisi?

1.2 Memberi Nama

Kita dipanggil secara merdu untuk berpikir; yaitu berpikir untuk memberi nama kepada segala sesuatu; berupa nama-nama indah; menamainya segalanya. Masing-masing diri kita punya nama; hadiah terindah dari orang tua dan keluarga; dan nama kita itu menjadi kata paling penuh makna ketika kita mendengar panggilan namanya.

Menamai adalah menyebut, memanggil, untuk datang hadir.

“To name something-that is to call it by name. More fundamentally, to name is to call and clothe something with a word. What is so called, is then at the call of the word. ‘What is called appears as what is present, and in its presence it is brought into the keeping, it is commanded, called into the calling word. So called by name, called into a presence, it in turn calls. It is named, has the name. By naming, we call on what is present to arrive. Arrive where? That remains to be thought about. In any case, all naming and all being named is the familiar “to call” only because naming itself consists by nature in the real calling, in the call to come, in a commending and a command.” (120).

Memberi nama adalah memanggil dengan nama; memberi baju berupa kata. Semua yang dipanggil dipersilakan hadir dengan baju terindah.

Siapa yang memanggil dan siapa yang dipanggil? Kita masih perlu melanjutkan perjalanan.

1.3 Rumusan Pertanyaan

Kita bisa merumuskan pertanyaan menjadi 4:

“(1)What is designated by the word thinking?”

(2) What does the prevailing theory of thought, namely
logic, understand by thinking?

(3) What are the prerequisites we need to perform thinking rightly?

(4) What is it that commands us to think?

We assert : the fourth question must be asked first. Once the nature of thinking is in question, the fourth is the decisive question. But this is not to say that the first three questions stand apart, outside the fourth. Rather, they point to the fourth. The first three questions subordinate themselves to the fourth which itself determines the structure within which the four ways of asking belong together.” (122).

Pertanyaan: (1) apa makna kata berpikir? (2) bagaimana sepanjang sejarah memaknai berpikir? (3) apa saja yang diperlukan agar bisa berpikir? (4) apa atau siapa yang memanggil kita agar berpikir?

Pertanyaan ke (4) adalah paling utama karena ketiga pertanyaan lain mengacu ke pertanyaan ke (4) itu. Siapa yang memanggil kita untuk berpikir?

Memanggil bukan berasal dari nama; tetapi sebalikya. Yang benar: memberi nama adalah melakukan panggilan.

“To call is not originally to name, but the other way around : naming is
a kind of calling, in the original sense of demanding and commending. It is not that the call has its being in the name; rather every name is a kind of call. Every call implies an approach, and thus, of course, the possibility of giving a name. We might call a guest welcome. This does not mean that we attach to him the name “Welcome,” but that we call him to come in and complete his arrival as a welcome friend. In that way, the welcome-call of the invitation to come in is nonetheless also an act of naming, a calling which makes the newcomer what we call a guest whom we are glad to see.” (123).

“Selamat datang” adalah panggilan bersahabat untuk menyambut tamu atau kawan. “Selamat datang” adalah penamaan terhadap panggilan hangat itu. Karena suatu “panggilan” maka membuka posibilitas untuk suatu “penamaan.”

1.4 Vitamin Pikiran

Sumber panggilan untuk berpikir itu apakah ingin untuk dipikirkan? Mengapa memanggil bila tidak ingin dipikirkan? Mengapa ingin dipikirkan?

“But from what other source could the calling into thought come than from something that in itself needs thought, because the source of the calling wants to be thought about by its very nature, and not just now and then? That which calls on us to think and appeals to us to think, claims thought for itself and as its own, because in and by itself it gives food for thought-not just occasionally but now and always.

What so gives food for thought is what we call most thought-provoking.” (125).

Pemanggil itu ingin merangkul pikiran dan, lebih dari itu, memberi vitamin pikiran; sehingga kita memiliki posibilitas untuk berpikir; untuk menyambut panggilan berpikir. Hanya dengan anugerah vitamin itu, makanan sehat itu, manusia akan mampu berpikir.

“Whether we are in any given case capable of thinking, that is, whether we accomplish it in the fitting manner, depends on whether we are inclined to think, whether, that is, we will let ourselves become involved with the nature of thinking. It could be that we incline too slightly and too rarely to let ourselves become so involved. And that is so not because we are all too indolent, or occupied with other matters and disinclined to think, but because the involvement with thought is in itself a rare thing, reserved for few people.” (126).

Agar kita mampu berpikir maka kita perlu untuk condong berpikir; ikhlas melibatkan diri dalam berpikir. Tetapi jarang terjadi seorang manusia ikhlas melibatkan diri dalam berpikir. Heidegger klaim bahwa apa yang baru kita bahas di atas sudah menjawab dengan tegas: apa atau siapa yang memanggil kita untuk berpikir?

“What we have said must for the moment be sufficient explanation of the fourth way in which we ask the question “What is called thinking?” in the decisive way.” (127).

“Penjelasan yang telah kami sampaikan sejauh ini sudah cukup untuk sementara waktu, sebagai uraian mengenai cara keempat yang paling menentukan dalam mengajukan pertanyaan ‘Apa yang disebut dengan berpikir?'”

2. Makna Kata Berpikir

Kecewa. Barangkali banyak orang akan kecewa karena kita tidak bisa mendefinisikan kata “berpikir” secara tegas. Bahkan, untuk membuat deskripsi tegas pun cukup sulit. Untuk menjelaskan makna kata “berpikir” kita perlu “berpikir” itu sendiri.

2.1 Bukan Alat atau Ekspresi

“True, all of us should be greatly embarrassed if we had to say, straight out and unequivocally, what it is that the verb “to think” designates. But, luckily, we do not have to say, we only are supposed to let ourselves become involved in the question. And if we do, we are already asking: what is it to which the word “thinking” gives a name? Having started with the decisive fourth question, we find ourselves involved in the first question as well.” (127).

Bahasa bukan sekadar (1) ekspresi atau pun (2) alat; bukan pula gabungan antara ekspresi dan alat. Pikiran dan puisi adalah asli sebagai puncak ucapan; di mana bahasa berbicara melalui mulut manusia. Bahasa untuk berbicara adalah berbeda dengan memanfaatkan bahasa.

“Language is neither merely the field of expression, nor merely the means of expression, nor merely the two jointly. Thought and poesy never just use language to express themselves with its help; rather, thought and poesy are in themselves the originary, the essential, and therefore also the final speech that language speaks through the mouth of man.

To speak language is totally different from employing language. Common speech merely employs language. This relation to language is just what constitutes its commonness. But because thought and, in a different way poesy, do not employ terms but speak words, therefore we are compelled, as soon as we set out upon a way of thought, to give specific attention to what the word says.” (128)

2.2 Bukan Botol Tapi Sumber Air

Anggapan bahwa bunyi-kata merupakan gelombang suara adalah abstraksi. Kita mendengar bahasa kemudian mendengar suara. Urutan yang benar adalah: (1) mendengar bahasa; kemudian (2) mendengar suara. Bukan kebalikan dari itu. Meski sains modern sering berasumsi: mendengar suara dulu kemudian memahami bahasa.

“The supposedly purely sensual aspect of the word-sound, conceived as mere resonance, is an abstraction. The mere – vibration is always picked out only by an intermediate step – by that almost unnatural disregard. Even when we hear speech in a language totally unknown to us, we never hear mere sounds as a noise present only to our senses-we hear unintelligible words. But between the unintelligible word, and the mere sound grasped in acoustic abstraction, lies an abyss of difference in essence.” (130).

Bagaimana hubungan getaran-suara dengan kata-bermakna? Heidegger menjawab bahwa kata dan suara terpisah jarak secara hakikatnya; secara esensial. Hanya ada lompatan dari kata ke suara; yaitu lompatan esensi. Dengan kata lain, kita tidak akan menemukan hubungan kata dan suara di dunia fenomena realitas. Kita hanya bisa menemukannya dalam lompatan esensial itu sendiri.

“Words are not terms, and thus are not like buckets and kegs from which we scoop a content that is there. Words are wellsprings that are found and dug up in the telling, wellsprings that must he found and dug up again and again, that easily cave in, but that at times also well up when least expected. If we do not go to the spring again and again, the buckets and kegs stay empty, or their content stays stale.” (130).

Kata bukan istilah; word bukan term.

Kata bukanlah sebuah botol yang berisi air. Anggapan kata sebagai botol maka makna adalah airnya; adalah salah. Yang tepat: kata adalah mirip sumber air. Kita perlu menggali sumber kemudian mengucur air. Makin dalam kita menggali maka makin berlimpah air bening mengucur. Makin dalam kita memahami kata dan bahasa maka makin berlimpah makna.

Jadi, apa makna kata berpikir? Makna kata berpikir adalah kita melibatkan diri secara ikhlas dalam berpikir; kita melibatkan diri secara ikhlas dalam suatu panggilan terdalam. Makin dalam menggali maka makin berlimpah air bening mengucur.

3. Sejarah

Secara umum, sepanjang sejarah, berpikir mengambil dua makna: (1) kalkulatif; atau (2) meditatif.

“Yet we have placed thinking close to poesy, and at a distance from science. Closeness, however, is something essentially different from the vacuous leveling of differences. The essential closeness of poesy and thinking is so far from excluding their difference that, on the contrary, it establishes that difference in an abysmal manner. This is something we modems have trouble understanding.” (134).

“Namun, kita telah menempatkan aktivitas berpikir dekat dengan puisi, dan jauh dari ilmu pengetahuan. Kedekatan di sini bukan berarti menyamakan atau menghilangkan perbedaan. Justru, kedekatan yang sejati antara puisi dan berpikir tidak meniadakan perbedaan di antara keduanya, melainkan justru menegaskan perbedaan itu secara sangat mendalam. Hal semacam ini sering kali sulit dipahami oleh kita, manusia modern.”

Berpikir-meditatif lebih dekat dengan puisi sebagai berpikir sejati. Sedangkan berpikir-kalkulatif adalah berpikir model sains teknologi; sebagai bukan berpikirnya seorang pemikir.

Pemikir era Sokrates dan sebelumnya berpikir secara meditatif; berpikir sejati. Di Yunani ada Parmenides dan Heraclitus. Di Mesir dan Palestina ada Nabi Musa. Di India ada Budha. Di Cina ada Konghucu. Di Persia ada Zoroaster.

Plato mewarisi Sokrates kemudian punya murid Aristoteles. Plato dan Aristo mengajarkan berpikir meditatif. Tetapi Platonisme dan Aristotelianisme cenderung berpikir kalkulatif; bukan pemikir sejati. Dampaknya, Plato dan Aristo dianggap mengajarkan berpikir kalkulatif.

Kita, di jaman ini, lebih banyak menemui pemikiran kalkulatif seiring kemajuan teknologi dan sains. Kita perlu belajar dengan komitmen lebih kuat untuk mendalami berpikir meditatif.

4. Kebutuhan untuk Berpikir

Apa yang kita butuhkan agar bisa berpikir dengan benar? Berpikir sejati? Berpikir meditatif?

“Insofar as we are capable of asking the question in the fourth, decisive sense, we also respond to the third way of asking “What is called thinking?”

The third way is intent on arriving at what is needed, and thus required of us, if we are ever to accomplish thinking in an essentially fitting manner. No one knows what is called “thinking” in the sense of the third question until he is capable of legein and noein.” (231).

“Selama kita mampu mengajukan pertanyaan ‘apa yang disebut berpikir?’ dalam arti yang keempat—yaitu cara yang paling menentukan—maka secara tidak langsung kita juga menjawab pertanyaan versi ketiga.

Versi ketiga dari pertanyaan ini berusaha mencari tahu apa saja yang diperlukan dan dituntut dari kita, agar kita bisa benar-benar melakukan aktivitas berpikir secara tepat dan sesuai dengan hakikatnya. Namun, tidak seorang pun benar-benar memahami apa itu ‘berpikir’ dalam arti pertanyaan ketiga ini, sebelum ia mampu melakukan legein (mengungkapkan-mengumpulkan makna) dan noein (memahami makna secara mendalam dengan pikiran).”

Yang kita butuhkan agar mampu berpikir: (1) legein; (2) noein. Legein adalah kemampuan mengumpulkan dan mengungkapkan seluruh makna yang mungkin; tidak hanya memilih satu makna; tidak hanya mengutamakan makna tertentu; tetapi mengumpulkan seluruh makna yang posibel.

Noein adalah kemampuan menyelami makna secara mendalam; menggali mata air makna lebih dalam; dan makin dalam makin berlimpah kucuran makna air bening. Kucuran air bening ini tanpa henti dari sumber segala sumber. Bagaimana agar seseorang memiliki legein dan noein? Seseorang tidak bisa memilikinya kecuali memperoleh anugerah itu sendiri.

5. Diskusi

Bagaimana menurut Anda?
Apakah AI bisa berpikir? (Akal Imitasi / Artificial Intelligence).
Apakah AI melampaui manusia dalam berpikir?

5.1 Jawaban Berpikir

Jadi apa yang disebut berpikir? Berpikir adalah seluruhnya yang dibahas dalam buku atau sepanjang kuliah. Jawaban ini tampaknya tidak mudah meski kita perlu mencobanya.

Cara yang mudah adalah membuat definisi lalu analisis terhadap definisi. Misal berpikir adalah menggunakan otak. Kemudian kita bisa menjelaskan: (1) menggunakan otak; (2) otak; dan (3) menggunakan. Heidegger tidak mau melakukan cara ini karena cara ini adalah berpikir kalkulatif; sedangkan berpikir sejati adalah berpikir meditatif.

Bagaimana pun, kita akan mencoba membuat ringkasan. Apa yang disebut berpikir? Berpikir adalah (0) berpikir meditatif; yaitu berpikir sebagaimana pemikir; bukan berpikir kalkulatif; bukan berpikir sains teknologi.

Berpikir adalah (4) panggilan dari sang pemberi vitamin pikiran; sang pemberi makanan sehat pikiran. Siapa sang pemberi vitamin ini? Kita bisa menjawab dia adalah Tuhan. Tetapi tuhan metafisika telah mati; terutama setelah proklamasi Nietzsche. Jadi, maksud Tuhan adalah Tuhan Sejati Yang Maha Hidup.

Berpikir adalah (1) makna kata berpikir mirip dengan sumber air; bukan mirip botol berisi air. Makin dalam kita menggali sumber maka makin berlimpah curahan air. Makin dalam kita berpikir maka makin berlimpah berpikir sejati. Kita (i) mendengar kata-kata dari bahasa yang berbicara; kemudian, kita (ii) bisa abstraksi menerima sinyal gelombang suara. Urutan berpikir tidak bisa dibalik (ii) kemudian (i); yang benar (i) lalu (ii). Jadi, berpikir adalah ikhlas mendengarkan.

Berpikir adalah (2) respon sepanjang sejarah yang bergerak antara berpikir meditatif dan kalkulatif. Karena era teknologi sains didominasi oleh kalkulatif maka kita butuh tekad lebih kuat untuk bisa berpikir meditatif; berpikir sebagaimana pemikir.

Berpikir adalah (3) membutuhkan anugerah kemampuan legein dan noein. Legein adalah kemampuan untuk mengumpulkan, menyatukan, dan mengungkap semua makna yang posibel. Noein adalah kemampuan untuk mendalami dengan renungan yang mendalam.

Selanjutnya, berpikir adalah (4), (1), (2), (3), (4),… tanpa henti.

Apakah Anda terpanggil untuk terus berpikir?

5.2 Apakah AI Bisa Berpikir?

AI tidak bisa berpikir meditatif sebagaimana pemikir. Andai AI mampu berpikir maka AI terbatas pada berpikir kalkulatif. Kemampuan AI mengolah data bisa lebih cepat dari manusia. Bagaimana pun berpikir kalkulatif yang dilakukan oleh AI bukanlah berpikir meditatif; meski tampak menghasilkan kalimat-kalimat seperti meditatif.

Apakah AI benar-benar mampu berpikir kalkulatif sebagai mana manusia? Tidak juga. Manusia berpikir kalkulatif dengan merespon situasi konkret; baik situasi eksternal mau pun situasi internal. Sementara, AI hanya merespon prompt sesuai algoritma tertentu.

Andai suatu saat nanti AI mampu berpikir kalkulatif secara benar; tidak halu lagi; maka AI tetap tidak mampu berpikir kalkulatif sebagai mana manusia; apa lagi berpikir meditatif.

5.3 Apakah AI Akan Melampaui Manusia?

Tidak. AI tidak bisa melampaui manusia dalam berpikir. AI hanya bisa melampaui manusia dalam memroses data: menghasilkan jawaban dari suatu pertanyaan; menghasilkan artikel; menghasilkan buku; dan lain-lain.

Manusia sudah terbiasa dilampaui oleh teknologi dalam banyak kasus. Teknologi gedung lebih kuat dari manusia dalam melindungi sengatan matahari atau guyuran hujan. Teknologi mobil lebih cepat berlari dari langkah kaki manusia. Teknologi pesawat terbang lebih tinggi dari lompatan anak manusia.

Jadi bila, suatu saat nanti, AI mampu lebih cepat menghasilkan disertasi dari riset mahasiswa doktoral maka hal itu adalah fenomena biasa-biasa saja. Bagaimana pun disertasi asli oleh mahasiswa tetap memiliki nilai yang sangat tinggi.

Bagaimana menurut Anda?

Indonesia Merdeka 800 Tahun

Dirgahayu Indonesia Merdeka ke 80: Sekali Merdeka Tetap Merdeka.

Apakah Indonesia benar-benar sudah merdeka? Tentu. Indonesia sudah proklamasi sejak 80 tahun yang lalu. Tetapi Indonesia merdeka sudah lebih 800 tahun yang lalu.

Bagaimana bisa lebih 800 tahun?

Merdeka adalah urusan pikiran, budaya dan sejarah; bukan sekadar urusan negara; apa lagi urusan pemerintahan. Karena itu, Indonesia sudah merdeka 800 tahun yang lalu atau ribuan tahun yang lalu. Dengan analisis yang sama, saat ini, bisa saja Indonesia sedang terjajah; secara ekonomi, teknologi, mau pun politik (dalam dan luar negeri).

Kemerdekaan harus diperjuangkan sampai kapan pun. Semua warga wajib memperjuangkan kemerdekaan. Negara dan pemerintah wajib mewujudkan dan menjaga kemerdekaan setiap warga.

Bagaimana menurut Anda?

Hakikat Manusia di Rumah Bahasa

Manusia bertanya siapa jati diri saya?

Beberapa orang terjebak dalam hampa; gelisah tanpa makna. Beberapa yang lain hidup sesak-makna; mereka memaksa orang lain untuk ikut seperti mereka; bila ada yang menolak bisa dipaksa musnah; atau, minimal ditimpa sumpah serapah. Mereka tampaknya belum menemukan jati diri mereka; atau, bahkan, mereka tidak bertanya tentang jati diri mereka. Apakah kita bertanya siapa jati diri kita?

Menemukan jati diri adalah prestasi besar bagi setiap orang. Anda hidup menjadi penuh makna; baik ketika derita mendera mau pun ketika bahagia penuh cahaya. Kali ini, kita akan berpetualang menemukan jati diri sejati melalui bahasa.

1. Kapasitas Bahasa: Lebih dari Komunikasi
2. Evolusi Jati Diri
3. Media Budaya
4. Makhluk Berbahasa
5. Koneksi Kosmis
6. Ringkasan
7. Diskusi
7.1 Esensi Bahasa
7.2 Falsifikasi Hermeneutik
7.3 Nasib Manusia

Kutipan dalam tulisan berikut bersumber dari buku The Language Animal karya Charles Taylor; kecuali disebut lain. Dalam bagian diskusi, kita akan membahas lebih jauh makna jati diri manusia. Dalam satu perspektif, makna jati diri manusia adalah tidak ada; karena manusia tidak memiliki jati diri. Mengapa? Karena, dari perspektif lain, jati diri manusia adalah anugerah; tentu bukan dari manusia; tetapi anugerah dari sumber anugerah.

Bahasa menjadi sarana amat penting untuk mengenali jati diri manusia. Sulitnya, bahasa bisa menjadi rumah bagi manusia sehingga nyaman. Kesempatan lain, bahasa bisa menjadi penjara bagi manusia yang mengekang setiap orang. Lebih sulit lagi, rumah dan penjara adalah sama gedungnya, sama warnanya, sama ukurannya, dan nyaris sama segalanya. Perbedaan rumah dan penjara adalah perbedaan hakikat semata: rumah nyaman untuk manusia tinggal; penjara tidak nyaman.

1. Kapasitas Bahasa: Lebih dari Komunikasi

“But the discussion in the preceding chapters has shown that there is
much more to language than this. We do indeed, observe, inform ourselves about the world of self- standing objects, and do all sorts of things with the information. But we also build ourselves landscapes of meanings, both human meanings and footings (and these are related). We make these meanings exist for us by enacting them, then expressing them, naming them, critically examining them, arguing about them, fighting (sometimes) about them (e.g., egalitarians struggling to transform a hierarchical culture).” (332).

Namun, pembahasan pada bab-bab sebelumnya telah menunjukkan bahwa bahasa memiliki fungsi yang jauh lebih luas dari sekadar menyampaikan informasi. Memang, kita menggunakan bahasa untuk mengamati dan memahami dunia di sekitar kita, serta untuk menyampaikan berbagai informasi. Tapi lebih dari itu, kita juga membangun makna—baik makna yang bersifat manusiawi maupun makna yang berkaitan dengan posisi atau peran kita dalam masyarakat (dan keduanya saling berkaitan).

Kita membuat makna-makna ini menjadi nyata bagi diri kita sendiri dengan mewujudkannya (1) melalui tindakan, kemudian (2) mengungkapkannya, (3) memberi nama pada makna tersebut, (4) meninjaunya secara kritis, (5) memperdebatkannya, dan bahkan kadang-kadang (6) memperjuangkannya—seperti yang dilakukan oleh para pendukung kesetaraan yang berupaya mengubah budaya yang bersifat hierarkis.

(a) Instrumental: Penjara Bahasa

Tentu saja, seseorang bisa membatasi bahasa sekadar sebagai alat, instrumen, untuk komunikasi. Batasan ketat ini menjadikan bahasa sebagai penjara untuk manusia.

(b) Konstitutif: Rumah Bahasa

Alternatif yang lebih luas adalah membongkar jeruji penjara dengan menjadikan bahasa sebagai rumah manusia. Dalam rumah bahasa, masih terdapat tembok-tembok pembatas; tetapi tembok pembatas itu bukan kekangan melainkan sebagai modal untuk kreativitas tanpa batas. Bahasa memiliki karakter konstitutif, pembentuk, rumah manusia.

“The media of these constitutive exercises are not only (1) verbal, but also (2) enactive. But we have right away to recognize another range of media: there are also (3) what I have called portrayals, in literature, music, painting, dance which “present” [darstellen] meanings while neither describing them (making assertions), nor enacting them.”

Media untuk membentuk bahasa adalah: (1) verbal; (2) enactive; mengaktifkan; (3) potret; perlambang.

“… the linguistic capacity is essentially more than (1) an intellectual one; (2) it is embodied: in enacted meanings, in artistic portrayals, in metaphors which draw on embodied experience, and also in the iconic gestural portrayal which accompanies everyday speech, not to mention the ubiquity of body language…”

Kapasitas bahasa bersifat (1) intelektual dan (2) menubuh: makna yang diwujudkan, seni, metafor, dan bahasa tubuh.

“… is essentially shared: it sustains (1) a shared consciousness of the world, within which (2) individuals differentiate themselves by becoming particular voices in an ongoing conversation. This shared understanding develops a place for monological speech and writing, but this option is available for us only because we are inducted into speech as conversation.”

Bahasa terjaga dan menjaga kebersamaan: (1) kesadaran bersama; dan (2) memantapkan ciri pribadi.

“So our language straddles the boundary between “mind” and body; also that between dialogical and monological. There is also a third distinction which is often invoked, that between signs which are arbitrary or “unmotivated” and those which are iconic or “motivated”.”

“Jadi, bahasa kita (1) melintasi batas antara “pikiran” dan tubuh; juga
(2) antara dialogis dan monologis. Ada pula perbedaan ketiga
yang sering disinggung, yaitu (3) antara tanda-tanda yang arbitrer atau “tidak termotivasi” dan tanda-tanda yang ikonik atau “termotivasi”.”

Bahasa adalah rumah manusia yang melintasi batas perbedaan: (1) pikiran dan tubuh; (2) dialog dan monolog; (3) arbitrer dan ikonik.

Tetapi bahasa sebagai penjara justru menegaskan perbedaan antara 3 hal di atas. Tantangan bagi kita adalah untuk mengembangkan rumah bahasa bukan hanya penjara.

2. Evolusi Jati Diri

“Now this autonomization is what occurs through the two special constitutive functions of language: the exploration and naming of human meanings on one hand, and the setting up of footings on the other, along with the contestations that arise in each domain. Through the first, normative patterns, ethical virtues, moral rules, the pursuit of truth, and the creation of beauty are established as ends in their own right. Through the second, social structures are erected which have intrinsic value. This crucial feature of human life is inseparable from the development of language and its constitutive powers. Hominization depends on language not only for the coding of information and the resultant greater efficacy of action, but also for the definition of the goals, values, and modes of relation which are essentially human. Th ese cannot be defined by verbal formulae alone, or by objectively identifiable patterns of action. They address us as embodied agents who can be moved on all levels by these human meanings.” (336).

Otonomisasi ini terjadi melalui dua fungsi utama bahasa yang sangat penting: (1) pertama, eksplorasi dan penamaan atas makna-makna manusia; dan (2) kedua, pembentukan posisi atau peran sosial, termasuk berbagai pertentangan yang muncul dalam kedua ranah tersebut.

Melalui fungsi pertama, kita menetapkan pola-pola norma, nilai-nilai etika, aturan moral, pencarian akan kebenaran, dan penciptaan keindahan sebagai tujuan yang bernilai pada dirinya sendiri. Melalui fungsi kedua, terbentuklah struktur sosial yang memiliki nilai intrinsik.

Ciri penting dalam kehidupan manusia ini tidak dapat dipisahkan dari perkembangan bahasa dan kekuatan dasarnya. Proses menjadi manusia (hominisasi) tidak hanya bergantung pada bahasa sebagai (1) alat penyampaian informasi dan peningkatan efektivitas tindakan, tetapi juga sebagai sarana untuk (2) menentukan tujuan hidup, (3) nilai-nilai, dan cara kita (4) berhubungan satu sama lain—hal-hal yang secara esensial menjadikan kita manusia.

Semua ini tidak bisa dijelaskan hanya dengan rumus kata-kata atau pola tindakan yang bisa diukur secara objektif. Makna-makna manusiawi ini menyentuh kita sebagai makhluk yang berwujud dan merasakan, yang bisa tergerak di berbagai tingkat oleh makna-makna tersebut.

Evolusi jati diri terjadi dalam: (1) ontogenetik; (2) filogenetik.

Ontogenetik adalah seorang bayi belajar bersama alam sekitar, tumbuh remaja dan sampai dewasa. Taylor tampak setuju dengan teori Tomasello; berbeda dengan Chomsky. Seorang bayi memiliki potensi untuk belajar bahasa (tapi bukan universal grammar; hanya warisan sejarah sebagai bayi manusia). Bayi berinteraksi melalui peniruan terutama berupa ritual: bangun pagi, mandi, makan, ibadah, kerja, dan lain-lain. Sambil interaksi, bayi belajar bahasa melalui contoh-contoh nyata yang berulang-ulang. Usia 2 sampai 4 tahun, seorang bayi nyaris mampu menguasai seluruh bahasa yang umum digunakan.

Karena interaksi lingkungan sangat penting dalam ontogenetik bahasa maka keragaman lingkungan akan memicu keragaman bahasa; termasuk keragaman grammar bukan seragam. Meski demikian, manusia bisa menerjemahkan satu bahasa ke bahasa lain sampai batas tertentu.

Filogenetik mencermati perkembangan bahasa dari satu generasi ke generasi berikutnya. Taylor tampak setuju dengan Merlin Donald bahwa filogenetik terjadi melalui ritual: ibadah, museum atau perpustakaan, pelestarian dan pengembangan budaya. Seorang anak yang berdoa di masjid, misalnya, ia terhubung dengan Tuhan, tokoh-tokoh agama masa lalu, dan realitas spiritual; terhubung dengan orang-orang dan masyarakat sekitar; terhubung dengan alam. Museum dan perpustakaan mengabadikan bahasa masa lalu dan masa kini demi masa depan. Tentu saja, pelestarian dan pengembangan budaya memperkaya bahasa dari generasi ke generasi.

3. Media Budaya

“Here we reconnect with the fruitful theory of Merlin Donald. In the
early stages it is likely that the capacity for mimicry played an important
role. Th is would often occur in ritual or quasi- ritual form; as with a solemn emphatic enactment of the social order; or rituals of connection with the spirits, for instance the spirit of the deer; or rituals of connection/reconnection with the whole cosmic order. These rituals would be one way of becoming aware of the orders within which human life was set, society and its embedding in the cosmos.”

Di sini, kita kembali pada teori menarik dari Merlin Donald. Pada tahap awal perkembangan manusia, (1) kemampuan untuk meniru (menirukan gerakan atau suara orang lain) kemungkinan besar punya peran penting. Kemampuan ini sering digunakan (2) dalam bentuk ritual atau kegiatan yang mirip ritual.

Misalnya, manusia melakukan upacara yang menunjukkan bagaimana aturan dalam masyarakat bekerja, atau melakukan ritual untuk terhubung dengan roh—seperti roh rusa, atau roh alam semesta. Melalui ritual-ritual ini, manusia mulai menyadari bahwa hidup mereka berada dalam suatu tatanan—baik dalam masyarakat maupun dalam hubungan dengan alam semesta yang luas.

“But this awareness was complemented by verbal accounts, particularly
narrative, in the form of myths, about gods, spirits, and heroes. Later these would be supplemented, and then criticized and replaced by another kind of account, which Donald calls “theoretical”; philosophy, metaphysics, self consciously nonmythical histories.”

Namun, kesadaran ini didampingi oleh penuturan lisan, terutama dalam bentuk (1) cerita atau narasi mitos tentang Tuhan, roh, dan pahlawan. Di kemudian hari, cerita-cerita ini dilengkapi, lalu dikritik dan akhirnya digantikan oleh jenis penjelasan lain yang disebut oleh Donald (2) sebagai “teoritis”—yakni filsafat, metafisika, dan sejarah yang secara sadar tidak bersifat mitologis.

Kisah sedih selanjutnya terjadi di era modern Barat. Bahasa (3) dilucuti dari kekayaan sejarahnya menjadi hanya “teoritis” belaka. Bahasa matematika berupa angka atau simbol matematika menjadi paling utama. Bahasa matematika misal 2 + 1 = 3 untuk bilangan asli adalah valid bernilai benar secara absolut. Bahasa matematika menjadi mandiri terlepas dari sejarah, lingkungan, budaya, ruang, dan waktu.

Bila suatu bahasa matematika masih terhubung dengan suatu budaya maka hubungan tersebut dinilai sebagai subyektif; sebagai kualitas rendah yang perlu dihilangkan; agar menjadi obyektif murni. Bila bahasa apa pun mengandung aspek subyektif maka harus direndahkan, dipinggirkan, atau dimurnikan agar menjadi obyektif. Pemisahan obyek dengan subyek menjadi makin tegas dan mengantar manusia menuju jurang krisis kemanusiaan. Bahasa berubah menjadi penjara untuk saling dominasi antar pihak. Kita perlu mengembalikan bahasa sebagai rumah umat manusia, bukan penjara, untuk tumbuh kembang bersama.

4. Makhluk Berbahasa

“The upshot of all this is that we should feel the need to return to, while
reexamining, Aristotle’s defi nition of the human being as “Zwon echon logon”. This has been traditionally translated as “rational animal”; and may be we should bring this back to a more direct rendering as “animal possessing ‘logos’ ”, where this Greek word is allowed its full stretch of polysemy: ‘logos’ meaning in some contexts “word”, in others “discourse”, in others “account”. In short we might render it as “animal possessing language”. Th at this will in the end involve some notion of reason as crucial to human life is without doubt, but what this “reason” involves requires a lot of further examination.” (338).

Inti dari semua pembahasan ini adalah bahwa kita perlu kembali meninjau dan mempertimbangkan kembali definisi manusia yang pernah dikemukakan oleh Aristoteles, yaitu “Zōon echon logon.”

Selama ini, ungkapan tersebut sering diterjemahkan sebagai “makhluk rasional”. Namun, mungkin sudah waktunya kita menerjemahkannya secara lebih langsung sebagai “makhluk yang memiliki logos”. Kata logos dalam bahasa Yunani memiliki banyak makna—dalam beberapa konteks berarti “kata”, di konteks lain bisa berarti “wacana” atau “penjelasan”.

Singkatnya, definisi ini bisa dimaknai sebagai “makhluk yang memiliki bahasa.” Memang, pemahaman ini tetap menyiratkan bahwa “akal” atau “nalar” memiliki peran penting dalam kehidupan manusia. Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dengan “akal” ini masih membutuhkan pembahasan dan pemahaman yang lebih mendalam.

Hakikat manusia adalah makhluk berbahasa. Anggap makna makhluk adalah seperti makna umumnya yaitu tumbuhan, binatang, dan manusia itu sendiri. “Berbahasa” atau memiliki bahasa adalah pembeda utama sebagai manusia. Kita akan lanjut mengkaji makna-bahasa itu apa.

Bahasa memberi manusia kapasitas lentur untuk menjadi apa saja.

(1) Manusia mirip dengan binatang dalam banyak hal: berkumpul, makan, minum, bercinta, beranak, dan lain-lain. Hanya saja, kucing di Asia hampir mirip-mirip saja dengan kucing di Eropa. Tetapi manusia di Asia bisa sangat beda dengan manusia di Eropa. Mereka berbeda dalam jenis makanan, cara berpakaian, bentuk tarian, musik, dan lain-lain. Perbedaan ini tampak tidak masalah. Bagaimana pun ada perbedaan manusia yang tidak bisa didamaikan.

Di Asia pasangan yang tepat adalah poligami; 1 suami dengan 2 istri atau lebih. Di Eropa tertentu pasangan yang tepat adalah poliandri; 1 istri dengan 2 suami atau lebih. Bila Anda mendukung poligami maka Anda harus menolak poliandri. Demikian halnya bila Anda mendukung monogami.

Adakah nilai universal? Mana satu yang universal: poligami, monogami, atau poliandri?

Bila kita terbuka terhadap jalannya sejarah maka kita lebih mudah memahami dengan bantuan bahasa yang fleksibel. Di wilayah yang menganjurkan poligami, saat itu, jumlah laki-laki hanya sedikit; sedangkan jumlah perempuan jauh lebih banyak. Dialog dalam sejarah sepakat bahwa mereka menguatkan etika poligami. Sebaliknya, di wilayah yang menganjurkan poliandri, mereka sedang berada dalam sejarah di mana jumlah perempuan amat sedikit; sementara jumlah laki-laki lebih banyak; sehingga perlu etika poliandri. Tentu saja, butuh usaha ekstra untuk bisa saling memahami dari pandangan etika yang saling berlawanan ini.

Jadi, bahasa menyediakan fleksibilitas bagi manusia untuk beradaptasi dengan lingkungan dan situasi komunitas secara konkret.

(2) Etika universal. Kita bisa menjawab positif: ada etika universal. Contoh: menghormati ibu adalah etika universal; semua orang di dunia sepakat.

Era Axial disebut sebagai kemunculan besar-besar etika universal di seluruh dunia dengan tokoh-tokoh: Budha, Konghucu, Nabi Musa, Socrates, dan lain-lain. Etika universal ini mengarahkan kita untuk meraih kebaikan yang lebih tinggi dari kebaikan umum. “Hidup sederhana lebih bernilai dari foya-foya” berlaku secara universal. “Menolong orang lemah adalah mulia.” “Jangan mencuri apalagi korupsi.”

Etika universal sering menuntut pengorbanan diri, bahkan, pengorbanan sosial demi kebaikan yang lebih tinggi. “Menolong korban bencana alam atau bencana perang” adalah mulia dan bisa saja kita tetap menolong meski diri kita sedang dalam kondisi sulit secara ekonomi. Manusia mampu untuk fleksibel semacam itu dengan bantuan bahasa. Selain manusia, misal kucing, tidak bisa fleksibel yang seperti itu karena kucing tidak memiliki bahasa.

Lalu, apa etika universal tertinggi? Mengungkapkan bahasa yang baik adalah etika universal tertinggi; atau, salah satu yang tertinggi. Mengapa Anda “berterima kasih” ke saya? Karena bahasa “berterima kasih” adalah etika tertinggi. Mengapa Anda “menasehati” saya? Karena bahasa “menasehati” adalah etika tertinggi. Mengapa Anda mengucapkan salam? Karena ucapan salam adalah etika tertinggi.

Bukankah tindakan nyata lebih bernilai dari sekadar ucapan bahasa?

Tentu tindakan adalah bernilai. Tetapi, nilai dari suatu tindakan bergantung kepada bahasa Anda; baik terucap atau pun bahasa dalam hati. Sehingga, doa adalah etika universal dengan kebaikan paling tinggi.

(3) Perlawanan terhadap universal. Meski etika universal tampak baik-baik saja tetapi sering terjadi perlawanan. Lagi-lagi, perlawanan ini menunjukkan betapa fleksibel manusia dengan bantuan bahasa.

Contoh paling terkenal adalah perlawanan oleh Joker dalam kisah fiksi Batman.

“… but rather from an excitement aroused in us by the rejection of the good itself. The motive here would be a kind of joy in destruction, a sense of heroic greatness in tearing down what the ethic of universal benevolence has tried to build.”

Joker menikmati kehancuran tatanan kota; menikmati tangisan derita penduduk; menikmati kesulitan yang ditanggung Batman.

Bagaimana dengan presiden Trump? Apakah menikmati kekacauan para mahasiswa luar negeri yang kehilangan beasiswa? Apakah menikmati tangisan orang-orang miskin yang kehilangan rumah dan kerja akibat tarif ekspor impor yang melangit?

Bagaimana dengan Netanyahu? Apakah dia menikmati kehancuran Gaza? Apakah bahagia dengan reruntuhan Tepi Barat? Taylor menyebut kejahatan yang dilakukan oleh Joker sebagai jahat-radikal atau radical-evil. Bagaimana jahat-radikal ini bisa muncul seiring bahasa masih menjadi misteri.

Apakah jahat-radikal ini memang perlawanan terhadap etika-universal? Tidak. Karena etika-universal tidak bisa dilawan; secara prinsip, semua manusia menerima etika-universal. Tetapi ada kemungkinan kamulfase-universal; yaitu mereka klaim sebagai etika-universal tetapi sejatinya hanya kamuflase. Bagaimana pun, kamuflase adalah jahat dan jahat-radikal memang jahat juga.

Mari kita ambil contoh kasus bom-Marriot beberapa dekade yang lalu.

Hotel Marriot klaim bahwa etika kapitalisme adalah universal; mengejar profit adalah universal. Tentu, kita sadar, itu hanya kamulfase universal; mengejar profit bukan etika universal. Kamuflase universal ini tampak dalam bentuk yang melanggar tatanan lokal misal mabuk-mabukan atau seks bebas; yang dinilai sebagai maksiat. Beberapa pihak melakukan perlawanan berupa bom terhadap Marriot karena menjadi pusat maksiat.

(a) Kamuflase universal menjadi pemicu; bukan etika universal sebagai pemicu. Kamuflase itu sendiri adalah jahat.

(b) Perlawanan berupa bom melukai banyak orang adalah tetap jahat.

(c) Etika universal adalah bahasa yang baik. Sementara kamuflase universal membutuhkan tindakan, sering berupa dominasi, untuk tegak.

Mari kita ringkas: hakekat manusia adalah makhluk berbahasa. Dengan bahasa, manusia menjadi sangat fleksibel: (1) adaptasi sesuai situasi konkret; (2) meraih etika universal; (3) risiko terjebak dalam kejahatan.

Fleksibilitas manusia yang sangat besar ini kami sebut sebagai posibilitas dalam buku Probabilitas et Realitas (2025). Hakikat manusia adalah suatu posibilitas menuju posbilitas lain yang lebih luas. Bahkan, kematian manusia adalah pembuka posibilitas yang imposibel bila tidak mengalami kematian. Jadi, manusia adalah posibilitas demi posibilitas. Apa posibilitas yang Anda buka secara luas?

5. Koneksi Kosmis

“Now to indicate in summary, provisional fashion, what this connection
amounts to, I’d like to look again at nature and role of ritual. Ritual serves to reconnect us to the whole. So I spoke above of rituals of reconnection. These not only serve to reconnect with the gods/spirits/cosmos, but also are the principal path by which this triple reality is conceived or understood, along with myth.” (343).

Sebagai rangkuman sementara, saya ingin menjelaskan kembali makna dari hubungan ini dengan melihat pada sifat dan peran ritual. Ritual berfungsi untuk menghubungkan kembali manusia dengan keseluruhan tatanan kehidupan.

Seperti yang telah saya sebutkan sebelumnya, ritual-ritual ini bertujuan untuk menjalin kembali hubungan—baik dengan Tuhan, roh, maupun dengan alam semesta. Namun lebih dari itu, ritual juga merupakan jalan utama bagi manusia untuk memahami keberadaan tiga hal tersebut (yaitu Tuhan/roh, alam semesta, dan kehidupan manusia itu sendiri), bersama-sama dengan mitos sebagai bentuk penjelasan simbolis dan naratif.

Sains modern yang mereduksi segala sesuatu menjadi angka belaka, atau menjadi sekadar data, adalah keliru besar.

“But my sense throughout this book has been that this reductive stance
is mistaken, and that these historically evolving intuitions correspond to
something real and important in our relation to our natural environment, something that we need to understand better, appreciate more fully, and in the end cherish more strongly—if this relation is not to turn terminally lethal. … I am proposing that the need / desire for cosmic connection has been a perennial feature of human life.” (Cosmic Connection, 596).

Namun, saya berpandangan bahwa pendekatan yang terlalu menyederhanakan suatu hal adalah keliru. Intuisi-intuisi yang terus berkembang sepanjang sejarah manusia, yang mendorong kita untuk merasakan keterhubungan, sesungguhnya memiliki nilai nyata dan penting dalam hubungan kita dengan lingkungan alam. Hubungan ini perlu kita pahami dengan lebih baik, hargai secara lebih penuh, dan pada akhirnya kita jaga dengan lebih kuat, agar tidak berubah menjadi sesuatu yang sangat merugikan.

Saya mengusulkan bahwa kebutuhan atau keinginan untuk terhubung secara kosmik—yaitu, merasakan ikatan mendalam dengan alam semesta yang luas—telah menjadi ciri khas yang abadi dalam kehidupan manusia.

“I have traced in this book some of the crucial stages of this aspiration to reconnect. And I am now, at the very end of this book, looking speculatively beyond its time frame of a scant two and a half centuries, to posit the idea of a perennial longing to invoke and renew this sense of connection.

As I said in that book, the “landscapes” of meaning we live by are never fully explicable by features of the world beyond our experience but have
to be explained and justified hermeneutically. Many of the crucial meanings that our world has for us are only identifiable in what I have
called here the “interspace.” …

On the other side, it invites us to engage in this navigation, this attempt to articulate what is really of ultimate importance to us, in the full gamut of media available to us, including the poetry which has been central to our discussion in this book. “(CC, 598).

Wilayah makna hubungan kosmik (1) tidak bisa digapai oleh bahasa abstrak matematika; tidak bisa bahasa metafisika; tidak bisa bahasa teoritis; tidak bisa penjara bahasa. Untuk meraih hubungan kosmik kita membutuhkan (2) bahasa hermeneutik; bahasa yang menggali makna terus-menerus; bahasa sebagai rumah umat manusia.

Semua ini mengajak kita untuk menyebut nama-nama paling indah; mengartikulasikan makna paling penting dengan berlimpahnya media bagi kita. Bahasa (3) puisi menjadi media utama untuk memasuki rumah bahasa.

6. Ringkasan

Bahasa memiliki dua mode: (1) instrumentalisme yang menjadikan bahasa sebagai penjara; (2) konstitutif yang menjadikan bahasa sebagai rumah umat manusia. Awalnya, bahasa adalah sebagai rumah. Kemudian, pihak-pihak tertentu mengubahnya menjadi penjara melalui dominasi.

Hakekat manusia di rumah bahasa adalah sebagai makhluk berbahasa yang memiliki fleksibilitas sangat luas: (1) dengan bahasa manusia mampu adaptasi terhadap situasi konkret dan membangun etika; (2) lebih lanjut mengembangkan etika universal; (3) dengan bahasa juga, manusia dalam risiko terjebak jahat-radikal.

Apa makna dari sebuah kata? Makna sebuah ucapan? Makna suatu bahasa? Makna dari sebuah kata adalah bersifal putaran hermeneutik; lingkaran hermeneutik; yang senantiasa menuju futuristik. Langkah menuju futuristik ini adalah penguatan dari hubungan kosmis; penguatan segala anugerah.

7. Diskusi

Bagaimana menurut Anda?

Taylor berhasil mengembangkan teori bahasa yang luas dan mendalam. Teori bahasa ini makin sempurna dengan terbitnya Cosmic Connection di 2024; Taylor usia 91 tahun kala itu.

Bagaimana hubungan bahasa dengan time? Dengan being? Dengan kehidupan setelah wafat?

7.1 Hakikat Bahasa

Apa sejatinya bahasa itu? Apa hakikat bahasa? Apa esensi konkret dari eksistensi bahasa?

Taylor bisa menjawab hakikat bahasa adalah yang dibahas oleh dua buku itu: The Language Animal dan Cosmic Connections. Meski dua buku itu menjelaskan hakikat bahasa dengan baik, kita membutuhkan penjelasan lebih singkat; barangkali sekitar 5 paragraf saja. Sulit untuk menemukan jawaban singkat dari Taylor. Kita akan mencobanya.

“But clearly the Romantics had a stronger thesis than this. They wanted
to claim not just that A-through- B structures play a big role in language, but also that signs really do inhere in things, and that we have lost the capacity to read them. This means that seeing the signs correctly is reconnecting; and that this makes a real difference; an ethical difference, in that it constitutes an important human realization. This needs further explanation.” (CC, 22).

“All this was lived by many people with a sense of loss, and with a corresponding aspiration to recover a contact with nature which the large scale, successful application of instrumental reason was destroying. This sense of loss, and longing to recover the link to nature, was a central aspiration of the Romantic period, and remains powerful today.” (CC, 23).

Esensi bahasa adalah: (1) instrumen komunikasi; (2) konstitutor realitas; (3) jawaban dari sapaan Tuhan.

Esensi bahasa sebagai instrumen dan konstitutor sudah kita bahas. Sedangkan esensi bahasa sebagai “jawaban” dari sapaan Tuhan adalah mengagetkan banyak pihak. Tuhan menyapa manusia melalui bahasa kemudian manusia menjawab berupa bahasa pula.

Naturalisme yang tidak membahas Tuhan, mereka selalu bingung bagaimana bahasa bisa muncul dalam peradaban manusia pertama kali. Mereka mengira bahwa jaman dahulu, kuno banget, ada masa ketika nenek moyang manusia tidak punya bahasa. Kemudian, nenek moyang itu berteriak menghasilkan suara-suara. Seiring waktu, suara-suara itu dikenali oleh nenek moyang sebagai bahasa; terciptalah bahasa. Anggapan seperti itu tidak terbukti benar.

Karena agar nenek moyang bisa mengubah suara-suara menjadi bahasa, nenek moyang perlu konsep berpikir yang berupa bahasa. Jadi, nenek moyang sudah memiliki bahasa ketika hendak mengubah suara menjadi bahasa. Kemampuan bahasa itu sudah ada pada nenek moyang; itu yang benar. Kemudian Tuhan menyapa nenek moyang melalui perjumpaan dengan orang lain atau melalui monolog; nenek moyang menjawab sapaan berupa bahasa.

“God didn’t teach us language in the way we teach each other. But on the other hand, our language is a response to God’s, the language of signs in the world. We don’t develop language fully on our own, as the mainline Enlightenment theory had it, and as Herder seemed to be saying in his own way. Our language is already a reply to a message addressed to us, a reply which consists of a translation. Language is thus in its very origin dialogical and continues to develop in exchange between human beings.” (CC, 30).

7.2 Falsifikasi Hermeneutik

Apakah esensi bahasa, sebagai jawaban atas sapaan Tuhan, bisa diuji secara ilmiah? Bisa difalsifikasi?

Popper menyadari bahwa falsifikasi berlaku terbatas kepada sains empiris. Esensi bahasa sebagai jawaban sapaan Tuhan bisa kita kenali secara empiris. Hanya saja, proses falsifikasi ala Popper justru memerlukan esensi bahasa sudah hadir lebih awal. Tanpa esensi bahasa, kita tidak bisa melakukan falsifikasi. Jadi, falsifikasi datang terlambat setelah esensi bahasa.

Cara yang lebih tepat mengenali esensi bahasa adalah melalui proses hermeneutik melingkar tanpa henti. Untuk bisa memahami esensi bahasa, kita butuh interpretasi; sedangkan untuk interpretasi, kita butuh esensi bahasa; kita berada dalam lingkaran hermeneutik yang tepat.

Esensi bahasa adalah (4) sapaan Tuhan: bagaimana manusia bisa mengucapkan bahasa? Manusia bisa mengucapkan bahasa karena esensi bahasa yang diucapkan oleh manusia adalah sapaan Tuhan yang sudah berupa bahasa. Tuhan menganugerahi manusia suatu bahasa. Kemudian Tuhan menyapa; lalu, manusia mengucapkan bahasa.

Bagaimana manusia bisa menerima anugerah bahasa? Manusia bukan suatu badan yang menerima anugerah bahasa. Manusia (5) adalah esensi bahasa itu sendiri. Tuhan berfirman dan firman itu adalah manusia.

Sampai di sini, kita mengenali esensi bahasa adalah: (1) instrumen komunikasi; (2) konstitutor realitas; (3) jawaban; (4) sapaan Tuhan; (5) esensi manusia. Kita bisa memahami beragam esensi bahasa tersebut dengan syarat berani mendobrak jeruji penjara bahasa sebagai instrumen; sehingga bahasa adalah rumah bagi umat manusia.

7.3 Nasib Manusia

Bagaimana nasib manusia sehubungan dengan esensi bahasa?

Secara garis besar ada dua macam nasib: (1) sengsara dalam penjara instrumen bahasa; atau (2) bermakna dalam rumah bahasa konstitutif realitas.

Penjara bahasa terbagi dua ekstrem: (a) penguasa elit yang mendominasi seluruh warga; dan (b) warga alit rakyat jelata tanpa daya. Penguasa elit bingung karena makin besar kekuasaan justru makin linglung. Warga alit, dalam jumlah yang besar, banyak yang sama bingung menjadi korban penindasan. Sebagian warga alit berjuang untuk bebas dari penjara menuju rumah bahasa. Sebagian sangat kecil dari penguasa elit juga berjuang untuk lepas dari penjara. Terdapat spektrum gradasi dari warga alit sampai penguasa elit.

Di tempat lain, penghuni rumah bahasa mengembangkan nasib yang lebih bermakna: ketika hidup mau pun mati. Manusia hidup di rumah bahasa dengan bantuan metafora, perlambang, dan puisi.

“We have to avoid two unsatisfactory notions of what philosophical poetry could be. Jarvis’ reflections on the possible relations of poetry to philosophy take us beyond the choice between (1) seeing poetry as a potentially decorative and pleasing presentation of a philosophical doctrine already elaborated elsewhere, on one hand, and (2) elevating it to the status of a direct route to philosophic truth, independent of ratiocination and argument, on the other. (1) denies that poetry can be a source of deep insight; (2) fails to see that it convinces through the force of the experience of connection, which is very different from conviction gained through the force of argument. This means that by its very nature, poetic insight will often be incomplete, tentative, and enigmatic (which is not to say that philosophical argument, which aims at clarity and certainty, will not frequently fail to encompass these in its own way); but it also means that serious philosophy cannot afford to ignore poetic insight.” (CC, 35-6).

Puisi berfungsi: (1) membantu memahami konsep filosofis dengan jalan yang lebih ringan; (2) mengangkat pemahaman manusia ke tingkat yang lebih tinggi dari proses pemahaman filosofis; secara langsung. Taylor mengingatkan peran penting: (3) menguatkan koneksi kosmis; termasuk koneksi antara nalar rasional, argumen filosofis, dan pengalaman estetis; termasuk pengalaman eksistensi ruhaniah. Bersama puisi, alam semesta kembali bertabur pesona.

But they both propose poetry as a way of filling the gap; more exactly a way of recovering the lost connection in a new form: what will sometimes be understood later as a way of “reenchanting the world.” (CC, 36).

Banyak posibilitas luas yang tersedia untuk nasib manusia di rumah bahasa. Terbuka posibilitas menembus sejarah masa lalu, mengarungi ombak kehidupan masa kini, dan menatap cahaya terang masa depan. Hakikat manusia berjalin kelindan dengan hakikat bahasa, hakikat waktu, dan hakikat wujud.

Bagaimana menurut Anda?

Moralitas Agama: Kitab Suci atau Akal?

Jika tampak ada pertentangan moral antara ajaran kitab suci dengan akal maka kita harus memilih yang mana?

Bisa saja tafsir terhadap kitab sucinya salah maka kita harus berpegang kepada akal. Tapi bisa saja, akal yang salah paham sehingga kita harus berpegang kepada kitab suci. Bila kitab suci dan akal sama-sama benar tetapi bertentangan maka pilih yang mana?

Sambil memikirkan hubungan kitab suci dengan akal, silakan mempertimbangkan dilema Nabi Ibrahim untuk mengorbankan Putranya; dan sikap Hamzah membela minoritas. Kesimpulan awal: akal membutuhkan kitab suci dan kitab suci membutuhkan akal.

Dilema Ibrahim: Tuhan memerintahkan agar membunuh putranya. Haruskah Ibrahim mengikuti perintah Tuhan? Atau Ibrahim harus mengikuti akal untuk melindungi putranya?

Sikap Hamzah: Hamzah menolak ajaran Islam ketika Nabi mengajaknya untuk memeluk Islam. Seiring waktu, pemeluk Islam di Makkah terus bertambah meski amat minoritas sebagai muslim. Abu Jahal, seorang paman Nabi sebagaimana Hamzah, melakukan penindasan kepada minoritas muslim. Hamzah menolak penindasan itu dengan membela minoritas muslim dengan cara Hamzah memeluk agama Islam.

1. Posisi Kitab Suci dan Akal
(A) Bantuan Pengetahuan (Epistemik)
(B) Bantuan Motivasi
(C) Kemungkinan Kebajikan Tertinggi
(D) Menyelesaikan Masalah Koordinasi
(E) Persyaratan Spiritual
(F) Menghargai Hubungan Kita dengan Tuhan
(G) Nilai Devosional
(H) Dasar untuk Perluasan Moralitas Non-Antroposentris
(I) Penguatan Kebenaran dan Pikiran
(J) Diskusi

2. Utamakan Kitab Suci
(A) Ghazali
(B) Abdul Jabbar
(C) Farabi

3. Utamakan Akal
(A) Ar Razi
(B) Akal Jujur
(C) Interpretasi Kontekstual

4. Penguatan
(A) Penguataan Kebenaran-Realitas
(B) Penguatan Pikiran
(C) Petunjuk Beda dengan Klaim Kebenaran
(D) Hakikat Manusia Futuristik
(E) Hakikat Manusia Asli

5. Diskusi
5.1 Keragaman
5.2 Kitab Suci Konkret
5.3 Akal Konkret

Ibrahim mengutamakan perintah Tuhan untuk mengorbankan putranya; dan melemahkan posisi akal di bawah perintah Tuhan. Hamzah berbeda. Hamzah menolak ajakan Nabi; melemahkan perintah Tuhan untuk masuk Islam pada awalnya. Hamzah menguatkan sikap akal untuk membela minoritas yang tertindas. Baru setelah itu, Hamzah menerima ajaran Tuhan dengan memeluk Islam. Mana yang harus menjadi teladan: Ibrahim atau Hamzah?

1. Posisi Kitab Suci dan Akal

Kutipan-kutipan dalam bahasa Inggris berikut bersumber dari karya Amir Saemi yang terbit 2024.

“(A) Epistemic Assistance. Scripture’s moral teachings about benevolence and justice can help ordinary people to learn about the high demands of morality. Our vices sometimes cloud our moral reasoning, and self-interest might prevent some people from knowing what moral obligations they have. Scripture can help many people across the world to know about their moral duties and obligations. Consider these (Medinan and Meccan) verses of the Qur’an: “You will not attain virtuous conduct until you give of what you cherish” (3:92). “And to be of those who believe, and advise one another to patience, and advise one another to kindness” (90:17). Ideally, we should know by reason that virtue requires sacrifice, and that we have an obligation to be kind to one another. But verses like these are very reassuring and instructive for people who might have reservation about how they should live their lives.”

(A) Bantuan Pengetahuan (Epistemik):

Ajaran moral dalam kitab suci mengenai kebaikan hati dan keadilan dapat membantu masyarakat umum memahami tuntutan tinggi dari moralitas. Terkadang, kebiasaan buruk kita bisa mengaburkan penalaran moral, dan kepentingan pribadi mungkin menghalangi sebagian orang untuk mengetahui kewajiban moral mereka. Kitab suci dapat membantu banyak orang di seluruh dunia untuk memahami tugas dan kewajiban moral mereka.

Sebagai contoh, perhatikan ayat-ayat Al-Qur’an berikut (baik dari periode Madinah maupun Mekah): “Kamu tidak akan memperoleh kebajikan (yang sempurna) sebelum kamu menginfakkan sebagian harta yang kamu cintai” (QS. Ali Imran: 92). Dan, “Dan termasuk orang-orang yang beriman, serta saling menasihati untuk kesabaran dan saling menasihati untuk kasih sayang” (QS. Al-Balad: 17).

Idealnya, kita seharusnya sudah tahu melalui akal bahwa kebajikan membutuhkan pengorbanan, dan bahwa kita memiliki kewajiban untuk bersikap baik satu sama lain. Namun, ayat-ayat seperti ini sangat menenangkan dan memberikan petunjuk bagi orang-orang yang mungkin masih ragu tentang bagaimana seharusnya mereka menjalani hidup.

“(B) Motivational Assistance. Scripture can provide us with motivational assistance for moral behavior. In fact, the Muʿtazilites held that an instance of divine grace (lutf) is God’s motivational help for us to act morally. Various studies have shown that the belief in the existence of an outside observer motivates people to act morally. Belief in the cosmic punitive system also might provide extra reasons or incentives for people to act morally. One might think that the afterlife incentive is the wrong kind of reason to act morally, but as various philosophers have argued, believers need not act morally purely out of self-interest. Afterlife can play a supplementary role for moral behaviors.”

(B) Bantuan Motivasi:

Kitab suci dapat memberikan kita dorongan atau motivasi untuk berperilaku sesuai moral. Bahkan, aliran Mu’tazilah (salah satu kelompok pemikir dalam Islam) berpendapat bahwa salah satu bentuk rahmat ilahi (lutf) adalah bantuan motivasi dari Tuhan agar kita bertindak secara moral. Berbagai penelitian juga menunjukkan bahwa keyakinan akan adanya pengamat dari luar (misalnya, Tuhan) memotivasi orang untuk bertindak secara moral. Keyakinan pada sistem pembalasan di alam semesta (pahala dan dosa) juga bisa memberikan alasan atau dorongan tambahan bagi seseorang untuk bertindak secara moral.

Mungkin ada yang berpendapat bahwa motivasi pahala di akhirat adalah alasan yang kurang tepat untuk bertindak moral. Namun, seperti yang telah disampaikan oleh berbagai filsuf, para penganut agama tidak harus bertindak moral semata-mata karena kepentingan pribadi. Harapan akan kehidupan setelah mati dapat berperan sebagai pelengkap atau penguat bagi perilaku moral.

“(C) The Possibility of the Highest Good. Kant famously identified the highest good with “happiness distributed [to persons] quite exactly in proportion to [their] morality (as a person’s worth and his worthiness to be happy).” The highest good, for him, is neither merely being happy nor merely acting morally, but rather being happy because of our moral behaviors. The Muʿtazilites had the exact same conception of the highest good. According to them, the value of receiving heavenly rewards because of one’s efforts is much higher than the value of receiving some favor of God when one has done nothing to deserve it. In Kant’s view, while morality would be pointless if the highest good were not attainable for us, we cannot show that it is attainable—we can only hope that it is. Scripture can reassure believers that the highest good is attainable.

(C) Kemungkinan Kebajikan Tertinggi:

Immanuel Kant, seorang filsuf terkenal, mengartikan kebajikan tertinggi sebagai “kebahagiaan yang diberikan kepada seseorang secara tepat sesuai dengan moralitasnya (sebagai nilai dan kelayakannya untuk bahagia).” Bagi Kant, kebajikan tertinggi bukanlah sekadar bahagia atau sekadar bertindak moral, melainkan menjadi bahagia karena perilaku moral kita.

Aliran Mu’tazilah memiliki konsep kebajikan tertinggi yang persis sama. Menurut mereka, nilai menerima pahala surgawi karena usaha seseorang jauh lebih tinggi daripada menerima karunia Tuhan tanpa melakukan apa pun untuk layak mendapatkannya. Dalam pandangan Kant, moralitas akan menjadi tidak berarti jika kebajikan tertinggi tidak dapat kita capai. Namun, kita tidak bisa membuktikan bahwa hal itu bisa dicapai—kita hanya bisa berharap. Kitab suci dapat meyakinkan para penganut agama bahwa kebajikan tertinggi memang dapat dicapai.

“(D) Solving Coordination Problems. The possibility of performing collective actions is dependent on solving various coordination problems. In general, coordination problems for collective action can be solved by authorities. In a religious context, Scripture can help us to perform collective religious actions. For example, we might think that whatever value there is in prayer is magnified when many individuals are required to pray together. The nature and the value of prayers can be transformed when done in a coordinated group. In this Medinan verse, the Qur’an exhorts us to pray collectively: “O Mary, be devoted to your Lord, and bow down, and kneel with those who kneel” (3:43). But collective prayer requires coordination on the location and timing of prayer. In this way, Scripture can make new values available to us by making it possible to perform collective religious actions.”

(D) Menyelesaikan Masalah Koordinasi:

Kemampuan untuk melakukan tindakan bersama (kolektif) bergantung pada penyelesaian berbagai masalah koordinasi. Secara umum, masalah koordinasi untuk tindakan kolektif dapat diatasi oleh pihak berwenang. Dalam konteks keagamaan, kitab suci dapat membantu kita untuk melakukan tindakan keagamaan secara bersama-sama. Sebagai contoh, kita mungkin berpikir bahwa nilai dari doa akan berlipat ganda ketika banyak individu diminta untuk berdoa bersama. Sifat dan nilai doa dapat berubah ketika dilakukan dalam kelompok yang terkoordinasi.

Dalam ayat Madinah ini, Al-Qur’an memerintahkan kita untuk salat secara berjamaah: “Wahai Maryam, taatlah dengan khusyuk kepada Tuhanmu, sujudlah, dan rukuklah bersama orang-orang yang rukuk” (QS. Ali Imran: 43). Namun, salat berjamaah membutuhkan koordinasi lokasi dan waktu salat. Dengan cara ini, kitab suci dapat memberikan nilai-nilai baru bagi kita dengan memungkinkan dilakukannya tindakan keagamaan secara kolektif.

“(E) Spiritual Requirements. Spiritual requirements are those requirements that help us to grow spiritually. Scripture can teach us about spiritual requirements. In particular, some spiritual requirements might not be precisely translatable into empirical requirements. For example, consider the history of praying toward the qiblah (direction of prayer toward the Kaaba, the House of God, in Mecca). We can think of the qiblah as a spiritual requirement (prayer figuratively oriented toward God) translated into an empirical requirement of literally facing Mecca. Praying itself might be another spiritual requirement. The specific way that Islamic prayer is performed (e.g., five times a day in a specific manner) is a translation of the spiritual requirement into an empirical requirement. The same can be said of other Islamic rituals. Scripture can teach us empirical requirements that correspond to spiritual requirements.”

(E) Persyaratan Spiritual:

Persyaratan spiritual adalah kebutuhan-kebutuhan yang membantu kita untuk bertumbuh secara rohani. Kitab suci dapat mengajarkan kita tentang persyaratan spiritual ini. Khususnya, beberapa persyaratan spiritual mungkin tidak dapat diterjemahkan secara persis menjadi persyaratan yang bersifat fisik atau empiris.

Sebagai contoh, perhatikan sejarah salat menghadap kiblat (arah salat menuju Ka’bah, Baitullah, di Mekah). Kita bisa menganggap kiblat sebagai persyaratan spiritual (salat yang secara kiasan berorientasi kepada Tuhan) yang diterjemahkan menjadi persyaratan empiris, yaitu secara harfiah menghadap Mekah. Salat itu sendiri mungkin merupakan persyaratan spiritual lainnya. Cara spesifik salat dalam Islam dilakukan (misalnya, lima kali sehari dengan tata cara tertentu) adalah terjemahan dari persyaratan spiritual menjadi persyaratan empiris. Hal yang sama dapat dikatakan untuk ritual-ritual Islam lainnya. Kitab suci dapat mengajarkan kita persyaratan empiris yang sesuai dengan persyaratan spiritual.

“(F) Valuing Our Relationship to God. Suppose my mother asks me to do something. My special relationship to my mother gives me a reason to do her bidding—regardless of whether there are any other, independent reasons to do the thing she asks me to do. My decision to do as she asks in this instance allows me to demonstrate that I value my special relationship to her for its own sake. Similarly, to do God’s bidding allows one to show that one holds one’s relationship with God in special esteem, for its own sake. For instance, if God asks me to go above and beyond the call of duty and perform certain supererogatory or ritualistic actions, I may show that I value my relationship to God (for its own sake) by following this command. I do what God asked me to do in part because He asked me to. I do God’s bidding because I value my relationship to God (this provides a reason for a believer to adhere to the requirements of praying, fasting, and pilgrimage found in many Medinan verses).”

(F) Menghargai Hubungan Kita dengan Tuhan:

Bayangkan jika ibu saya meminta saya melakukan sesuatu. Hubungan istimewa saya dengan ibu memberikan alasan bagi saya untuk menuruti permintaannya—terlepas dari apakah ada alasan lain yang independen untuk melakukan hal yang diminta. Keputusan saya untuk menuruti permintaan ibu dalam kasus ini menunjukkan bahwa saya menghargai hubungan istimewa saya dengannya demi hubungan itu sendiri.

Demikian pula, menuruti perintah Tuhan memungkinkan seseorang untuk menunjukkan bahwa ia sangat menghargai hubungannya dengan Tuhan, demi hubungan itu sendiri. Misalnya, jika Tuhan meminta saya untuk melakukan lebih dari sekadar kewajiban dan melaksanakan tindakan-tindakan sunah atau ritual tertentu, saya dapat menunjukkan bahwa saya menghargai hubungan saya dengan Tuhan (demi hubungan itu sendiri) dengan mengikuti perintah ini. Saya melakukan apa yang Tuhan minta sebagian karena Dia yang memintanya. Saya menuruti perintah Tuhan karena saya menghargai hubungan saya dengan Tuhan (ini memberikan alasan bagi seorang penganut agama untuk mematuhi persyaratan salat, puasa, dan haji yang banyak ditemukan dalam ayat-ayat Madinah).

“(G) Devotional Value. Religious requirements can help us to develop religious virtues. For instance, the Buddha is reported to have compared the dharma to a raft that disciples might use to cross a river— only to then leave it behind as they progress further along the path to Enlightenment. To give another example, a practitioner might be directed to recite a certain text an arbitrary number of times. Obedience to such a directive might be necessary for teaching the practitioner to moderate his compulsive need for personal control over his circumstances, and that (in turn) may be necessary for him to progress toward liberation and salvation. Scripture can specify requirements involving devotional values.”

(G) Nilai Devosional:

Persyaratan keagamaan dapat membantu kita mengembangkan kebajikan-kebajikan religius. Sebagai contoh, Buddha dilaporkan pernah membandingkan ajaran (dharma) dengan rakit yang dapat digunakan para murid untuk menyeberangi sungai—hanya untuk kemudian meninggalkan rakit itu setelah mereka melangkah lebih jauh di jalan menuju Pencerahan.

Untuk contoh lain, seorang praktisi mungkin diarahkan untuk melafalkan teks tertentu berkali-kali. Ketaatan terhadap arahan semacam itu mungkin diperlukan untuk mengajarkan praktisi agar mengendalikan kebutuhan kompulsifnya akan kendali pribadi atas keadaannya, dan hal itu (pada gilirannya) mungkin diperlukan baginya untuk maju menuju pembebasan dan keselamatan. Kitab suci dapat menetapkan persyaratan yang melibatkan nilai-nilai devosional.

“(H) A Basis for Nonanthropocentric Expansion of Morality. Many of us believe that our moral duties are not only to humans; we have duties to nonhuman animals as well. Some environmental ethicists believe that we have also duties to nonliving objects, including ecosystems, mountains, rivers and the earth itself. But it is hard to figure out what the basis of our duties to nonliving things would be. A popular approach in environmental ethics is to hold that the self is part of the natural world and that the earth, from a moral point of view, should be treated as a living thing. But it is hard to find convincing arguments for such views. Scripture can offer believers a divine view of nature and its connection to the self. As a result, Scripture can provide a more secure basis for a nonanthropocentric ethics in which we have duties to both living and non-living elements of the natural world.”

(H) Dasar untuk Perluasan Moralitas Non-Antroposentris:

Banyak dari kita percaya bahwa kewajiban moral kita tidak hanya berlaku untuk sesama manusia; kita juga memiliki kewajiban terhadap hewan non-manusia. Beberapa etikus lingkungan bahkan berpendapat bahwa kita memiliki kewajiban terhadap benda mati, termasuk ekosistem, gunung, sungai, dan bumi itu sendiri. Namun, sulit untuk menemukan dasar yang jelas mengenai kewajiban kita terhadap benda-benda tak hidup.

Pendekatan populer dalam etika lingkungan adalah berpendapat bahwa diri adalah bagian dari alam, dan dari sudut pandang moral, bumi harus diperlakukan sebagai makhluk hidup. Namun, sulit untuk menemukan argumen yang meyakinkan untuk pandangan semacam itu. Kitab suci dapat menawarkan kepada para penganut agama pandangan ilahi tentang alam dan hubungannya dengan diri. Sebagai hasilnya, kitab suci dapat memberikan dasar yang lebih kokoh untuk etika non-antroposentris, di mana kita memiliki kewajiban terhadap elemen hidup maupun tidak hidup di alam.

(I) Penguatan Kebenaran dan Pikiran

Kitab suci dalam bentuk bahasa adalah untuk menguatkan kebenaran-realitas dan menguatkan pikiran. Awalnya, realitas sudah ada, misal gerhana bulan. Kemudian, kitab suci menguatkan kebenaran-realitas gerhana bulan sebagai tanda keagungan Tuhan. Kita menjadi lebih kagum dan syukur atas beragam anugerah realitas yang ada karena kitab suci menguatkan kebenarannya.

Kitab suci menguatkan pikiran yang semula baru berupa benih. Anda terlintas ide untuk mengajari anak-anak tetangga matematika dengan cara menyenangkan. Kemudian kitab suci menegaskan bahwa membela masyarakat kecil, misal mengajari anak tetangga, adalah amal yang dicintai Tuhan. Ide Anda yang awalnya berupa benih itu bertumbuh pucuk daun yang makin lebat dengan dahan makin kuat dan cengkeraman akar yang mengikat. Kitab suci menguatkan pikiran-pikiran terbaik umat manusia.

(J) Diskusi

Bagaimana menurut Anda?

Jadi, bagaimana solusi dari dilema Ibrahim: Apakah Ibrahim harus mengikuti perintah Tuhan untuk membunuh Putranya? Atau Ibrahim memilih menjaga Putranya tetap hidup? Poin pembahasan A sampai I di atas sudah cukup untuk menyelesaikan dilema Ibrahim. Lebih detil solusi dilema ini sudah saya bahas pada tulisan terdahulu.

Untuk poin I, Penguatan Kebenaran dan Pikiran, akan kita bahas lebih lenjut di bagian bawah. Poin I ini merupakan salah satu poin terpenting.

2. Utamakan Kitab Suci

Kitab suci dijamin benar; akal memiliki beragam keterbatasan. Solusi: utamakan kitab suci. Meski, dalam mengutamakan kitab suci, kita perlu memanfaatkan akal secara maksimal.

(A) Konsekuensi Ghazali

Ghazali berpandangan bahwa setiap perilaku moral berdampak suatu konsekuensi. Akal mampu memahami konsekuensi moral dengan batas-batas tertentu. Sementara, Tuhan Maha Tahu terhadap segala konsekuensi. Solusinya, adalah taat kepada kitab suci yang berupa firman Tuhan Maha Tahu; sambil memanfaatkan akal untuk memahami konsekuensi secara maksimal.

Maksud Ghazali tentang perilaku moral dan konsekuensi adalah bersifat konkret; bukan sekedar universal abstrak. Ketika Anda berbagi makanan kepada tetangga Anda yang membutuhkan maka itu adalah perilaku moral konkret yang nyata. Konsekuensinya juga nyata, misal, tetangga Anda menjadi bahagia karena bisa makan enak dan sehat hari itu. Kemudian, tetangga Anda menjadi semangat untuk bekerja dan menolong tetangga lainnya. Dari sisi Anda, barangkali Anda bersyukur karena bisa sedikit banyak meringankan beban tetangga. Hidup Anda, hari itu, menjadi lebih kaya makna dan masih ada konsekuensi lainnya.

Apa konsekuensi nyata dari perilaku moral Anda kepada tetangga itu? Ghazali yakin bahwa akal kita bisa memikirkan konsekuensi-konsekuensi itu. Tetapi, kita yakin hasil pikiran kita pasti terbatas; ada konsekuensi yang terlewat dari pikiran kita; bahkan bisa lebih banyak yang terlewat. Solusi Ghazali adalah agar kita mengutamakan petunjuk Alquran. Kajilah Alquran lalu pikirkan baik-baik. Kaji Alquran lagi dan berpikirlah lagi. Kaji Alquran lebih mendalam lagi dan bukalah pikiran Anda seluas-luasnya.

(B) Kewajiban Abdul Jabbar

Setiap orang memiliki kewajiban tertentu untuk kebaikan dirinya dan alam raya (deontologi). Akal kita mampu memahami beragam kewajiban ini meski terbatas. Tuhan Maha Tahu atas segala kewajiban terbaik untuk semua orang. Jadi utamakan kewajiban yang ditetapkan Tuhan dalam kitab suci; sambil secara maksimal menggunakan akal untuk memahami kewajiban.

Kewajiban (versi Jabbar) ini berbeda dengan konsekuensi (versi Ghazali). Kewajiban bersifat universal: menghormati ibu, jangan mencuri, jangan membunuh, dan lain-lain. Sementara, konsekuensi mengkaji kasus konkret: apa konsekuensinya bila memberi hadiah baju baru untuk ibu lebaran tahun ini?

Kita, sebagai manusia, mampu memahami beragam kewajiban universal itu. Tetapi, menurut Jabbar, banyak kewajiban yang manusia tidak mampu memahaminya kecuali dengan bantuan kitab suci. “Jangan berkata ‘ah…’ kepada orang tuamu!” pesan dari kitab suci. Barangkali, akal kita mengira boleh-boleh saja bilang sekadar “ah” kepada orang tua. Kitab suci dengan tegas melarangnya. Kitab suci menegaskan kita wajib menghormati orang tua di segala situasi.

Russell (1872 – 1970) mengusulkan sebaiknya dibolehkan hubungan badan asalkan suka sama suka; dibolehkan zina. Kitab suci menegaskan larangan zina; mewajibkan pernikahan untuk hubungan suami istri. Kajian menunjukkan bahwa zina merugikan para pelakunya dan merugikan masyarakat serta alam sekitar. Kajian yang lain menunjukkan zina berdampak baik. Sampai saat ini, masih terjadi pro-kontra bila menggunakan akal saja. Sementara, kitab suci dengan tegas melarang zina demi kebaikan bersama. Kitab suci menjadi panduan kewajiban yang jelas.

(C) Karakter Farabi

Setiap manusia memiliki karakter untuk berkembang terus menjadi karakter sempurna sebagai insan kamil; sebagai manifestasi Nama-Nama Indah Tuhan. Kita memahami beragam karakter utama untuk menjadi manusia dewasa. Sementara, Tuhan Maha Tahu atas segala karakter utama buat manusia dan cara-cara untuk mengembangkannya. Solusinya: utamakan bimbingan kitab suci untuk menyempurnakan karakter insan kamil; sambil secara maksimal memanfaatkan akal.

3. Utamakan Akal

Utamakan akal setelah berjuang secara maksimal memahami kitab suci dan seluruh situasi. Tentu saja, maksud akal di sini adalah akal sejati bukan sekadar akal-akalan. Mengutamakan akal adalah tugas yang lebih berat; karena kita harus bertanggung jawab penuh atas proses dan hasilnya. Jadi, orang jujur yang mengutamakan akal lebih besar menanggung beban tanggung jawab.

(A) Surga PerjuanganRazi

Surga yang indah itu menjadi hadiah dari Allah yang sangat bermakna ketika Anda memperoleh surga melalui perjuangan. Sementara, fasilitas yang diperoleh tanpa perjuangan menjadi hilang makna; atau miskin makna. Bahkan, perjuangan itu sendiri yang memberi makna; atas karunia Allah semata.

(B) Akal yang Jujur Bisa Paham

Akal yang jujur bisa memahami moral baik mau pun buruk; tentu tetap mempertimbangkan batas-batas akal. Hakim agung bisa saja membebaskan penjahat; bisa juga menghukum orang yang tak berdosa; karena hakim agung bisa tidak jujur dengan akalnya. Selama akal jujur maka akal bisa diandalkan untuk penilaian moral terutama larangan atas pelanggaran moral.

Akal yang jujur mungkin tidak paham cara mengentaskan kemiskinan di Indonesia. Tetapi akal jujur pasti paham bahwa merampas harta orang miskin adalah dosa besar; khianat adalah buruk; menipu adalah jahat; dan lain-lain. Jadi, akal yang jujur adalah memadai untuk bersikap moral. Apa atau bagaimana akal jujur itu? Akal jujur selalu melibatkan interpretasi.

(C) Interpretasi Kontekstual

Interpretasi atau tafsir adalah tugas penting bagi setiap manusia. Menjadi lebih penting lagi ketika Anda mengutamakan akal; karena akal selalu melibatkan sejenis interpretasi.

Strategi reinterpretasi. Ketika hukum potong tangan bagi pencuri ayam diperintahkan oleh kitab suci maka tampak akal tidak setuju secara moral. Akal melakukan reinterpretasi: orang miskin itu mencuri ayam karena untuk bertahan hidup di jepitan ekonomi yang sulit. Orang miskin itu tidak murni salah. Sehingga hukuman bagi orang miskin yang mencuri itu tidak harus potong tangan; tetapi cukup, misal, membersihkan gedung sekolah. Kemudian, si miskin itu diberi pekerjaan agar tidak mencuri lagi.

Potong tangan hanya berlaku bagi orang yang tidak kekurangan ekonomi tapi mencuri ayam atau mencuri benda lainnya. Mereka mencuri karena godaan nafsu. Hal seperti ini jarang terjadi meski bisa terjadi. Saemi mengajukan pertanyaan, “Meski jarang terjadi, apakah potong tangan bisa dibenarkan secara moral?”

Strategi konteks. Mempertimbangkan konteks sejarah lebih luas. Hukuman potong tangan bagi pencuri adalah tepat sesuai konteks sejarahnya. Kanjeng Nabi memberlakukan hukum potong tangan, di abad 7, adalah sebagai aturan-hukum; berbeda dengan aturan-moral.

Aturan-hukum harus bisa dijalankan secara praktis agar tatanan sosial kokoh dan dinamis menuju kemajuan. Jika aturan hukum tidak bisa dijalankan maka percuma; gagal sebagai aturan-hukum. Misal, hukuman bagi pencuri adalah kurungan 3 bulan. Tetapi, saat itu, tidak tersedia ruang penjara di Makkah mau pun Madinah. Jadi hukuman penjara kurungan 3 bulan adalah sia-sia belaka. Sementara, hukuman potong tangan, misal potong salah satu ujung jari, sangat mudah dijalankan dan memberi efek jera.

Bagaimana dengan konteks di Indonesia sekarang? Apakah perlu potong tangan bagi pencuri ayam? Ruang penjara masih tersedia meski mulai sesak. Dan bila, pada akhirnya, pencuri itu tidak benar-benar mencuri tapi hanya fitnah dari pihak kuat, terlanjur sudah hukum potong tangan maka bagaimana cara mengembalikan tangan agar utuh?

Penentu konteks. Siapa yang bisa menentukan hukum sesuai konteks yang tepat? Di Saudi berlaku hukum potong tangan; di Indonesia tidak berlaku. Apakah di Saudi tepat konteks untuk potong tangan? Sementara, di Indonesia tidak tepat konteks?

Pertanyaan tentang konteks yang tepat untuk menentukan aturan hukum adalah pertanyaan tanpa henti. Maksudnya, kita akan selalu bisa mengajukan pertanyaan lanjutan apa pun aturan hukum yang ditetapkan. Justru di sinilah tugas besar umat manusia: untuk menggunakan akalnya dengan baik; mengkaji kitab suci dengan baik; mempelajari konteks histori dengan teliti; kemudian mengambil keputusan terbaik untuk sesama, untuk diri, dan untuk alam ini.

4. Penguatan

Utamakan akal dan utamakan kitab suci. Meski pun seseorang mengutamakan kitab suci, dia tetap membutuhkan akal secara optimal. Meski pun orang lain mengutamakan akal, dia tetap membutuhkan bimbingan kitab suci. Di bagian awal, kita sudah membahas posisi akal dan kitab suci terdiri 9 poin (A sampai I). Dari 9 posisi ini bisa saja bergabung saling menguatkan. Kali ini, kita akan lebih dalam membahas poin I: kitab suci sebagai penguatan kebenaran-realitas dan penguatan pikiran.

(A) Penguatan Kebenaran-Realitas

Kebenaran-realitas berbeda dengan fenomena-realitas.

Fenomena adalah realitas apa adanya yang dilihat manusia; atau, kadang tidak dilihat oleh manusia. Bayangkan di alam ini belum ada manusia sama sekali; belum ada Adam dan Hawa. Seperti apa alam itu? Ada bumi, matahari, bulan, gunung, pohon-pohon, binatang-binatang, dan lain-lain. Mereka, alam dan isinya, bergerak biasa-biasa saja. Itulah gambaran fenomena-realitas.

Dalam dunia fenomena-realitas ini, tidak ada istilah benar atau salah; tidak ada baik atau buruk; tidak ada bagus atau jahat. Ketika tikus memangsa telur ayam; biasa-biasa saja; tikus tidak jahat. Ketika kucing memakan tikus; biasa-biasa saja. Bahkan ketika terjadi gempa dan letusan gunung sampai dinosaurus punah, diperkirakan terjadi 60 juta tahun lalu, itu adalah biasa-biasa saja; tidak bagus pun tidak jahat.

Bayangkan kemudian manusia datang ke alam fenomena-realitas itu. Mulai muncul kebenaran-realitas. Adam dan Hawa menjaga bumi adalah kebenaran-realitas; Qabil membunuh Habil adalah pelanggaran kebenaran-realitas. Nabi Nuh mengajak umat berbuat amal adalah kebenaran-realitas.

Mengapa dengan hadirnya manusia di alam fenomena menjadi ada kebenaran-realitas? Karena manusia menguasai bahasa. Manusia berpikir bersama bahasa dan akal.

Bahasa adalah rumah realitas; penguat kebenaran-realitas. Kitab suci adalah penguat kebenaran-realitas paling utama.

Alhamdulillah contoh bahasa dari kitab suci yang menguatkan kebenaran-realitas. Selesai mengerjakan sesuatu, selesai makan atau minum, ucapkan alhamdulillah maka kebahagiaan menjadi kebenaran-realitas Anda. Orang Indonesia ketika mendapat hadiah tak terduga sering mengatakan, “Alhamdulillah banget…!”

Sebaliknya juga bisa terjadi: kata-kata kasar menjadikan kejahatan sebagai pelanggaran kebenaran-realitas. Orang yang mengumpat, “Makanan ini menjijikan!”; maka benar-benar menjadikan makanan itu jijik yang bisa bikin muntah. Sementara, bagi orang yang bersyukur atas makanan yang ada di dekatnya maka makanan itu menjadi penuh nikmat dan berkah. Fenomena-realitas bisa sama-sama makanan; tetapi ungkapan kebenaran-realitas bisa berbeda. Dampaknya, menjadi berbeda.

Kitab suci adalah firman Tuhan dalam bentuk kata-kata yang menguatkan kebenaran-realitas. Jadi, kita bisa membaca kitab suci, misal Alquran, untuk menguatkan kebenaran-realitas yang sedang kita hadapi; baik sedang berlimpah nikmat mau pun sedang menghadapi ujian. Niscaya, manusia akan mendapat petunjuk dari kitab suci.

Kitab suci adalah petunjuk bagi setiap orang dan, terutama, petunjuk bagi orang baik; yaitu orang yang bertakwa. Orang baik pasti memperoleh petunjuk penguatan kebenaran-realitas dengan membaca kitab suci. Sedangkan orang umum, apalagi orang yang berniat jahat, bisa jadi mendapat petunjuk tapi bisa juga tidak mendapat petunjuk.

Tetapi kitab suci bukan pembenaran bagi klaim seseorang; kitab suci adalah petunjuk. Lembaga tertentu klaim bahwa cara mereka menentukan awal bulan puasa dibenarkan oleh ayat Alquran misalnya. Tidak bisa seperti itu. Klaim seperti itu batal. Yang bisa dilakukan adalah klaim bahwa cara menentukan awal bulan puasa berdasar petunjuk Alquran. Sehingga lembaga lain bisa saja menggunakan petunjuk Alquran dengan hasil awal bulan puasa yang berbeda. Klaim kitab suci sebagai petunjuk adalah sah. Klaim kitab suci sebagai pembenaran adalah tidak sah.

(B) Penguatan Pikiran

Pikiran manusia adalah lemah. Pikiran manusia membutuhkan penguat. Kitab suci adalah penguat pikiran manusia. Kita membutuhkan kitab suci.

Coba pikirkan betapa lemahnya pikiran Anda. Untuk berpikir Anda butuh bahasa, butuh angka, butuh badan, butuh makan, butuh udara, butuh kesehatan, butuh tempat, butuh waktu, dan butuh segala sesuatu. Tanpa dukungan fasilitas-fasilitas itu, Anda tidak bisa berpikir dengan baik. Andai semua fasilitas itu tersedia, pikiran Anda masih lemah juga. Anda butuh teman untuk diskusi. Anda butuh masyarakat untuk mendukung. Dan paling penting, Anda butuh kitab suci untuk menguatkan pikiran Anda yang lemah itu.

Berpikir formal berbeda dengan berpikir konkret.

Umumnya, orang-orang jaman ini, memaknai berpikir sebagai berpikir formal semisal matematika atau logika bahasa. Meski berpikir-formal membutuhkan dukungan, seakan-akan tampak mandiri. Dalam matematika bilangan asli 2 + 1 maka hasilnya pasti 3. Berpikir-formal ini tampak bisa mandiri tanpa butuh dukungan. Contoh 2 cangkir kopi + 1 cangkir kopi menghasilkan 3 cangkir kopi bukanlah dukungan kepada matematika. Tetapi, sebaliknya, yaitu matematika justru lebih kuat. Jika 2 cangkir + 1 cangkir hasilnya tidak 3 cangkir maka matematika mengatakan ada yang salah dengan cangkir kopi Anda. Kita membutuhkan berpikir-formal semacam matematika itu. Guru-guru kita di sekolah mengajari kita berpikir-formal matematika dengan baik.

Dalam berpikir-konkret, kita membutuhkan lebih banyak dukungan lagi.

Satu cangkir kopi di depan Anda adalah konkret. Apalagi Anda tambah dengan 2 cangkir kopi lagi sambil ngobrol bareng bersama teman-taman. Apa makna 1 cangkir kopi konkret itu? Apa makna 2 cangkir kopi konkret itu? Mereka bermakna luar biasa. Kopi itu nikmat dan hangat. Menambah obrolan bersama teman-teman makin akrab. Makna kopi konkret ini tidak pernah habis untuk dikaji. Kita membutuhkan bantuan penguatan untuk berpikir-konkret ini.

Anda berbuat baik menolong tetangga. Apa makna menolong tetangga? Saling tolong-menolong adalah kebaikan. Anda berpikir bahwa berbuat baik adalah kebaikan. Kemudian, kitab suci menegaskan: saling tolong-menolonglah dalam kebaikan. Kebaikan itu bermakna di dunia ini sampai dunia akhirat nanti. Tuhan ridha kepada Anda; bangga kepada Anda; dan Anda ridha kepada Tuhan. Kitab suci menguatkan pikiran Anda. Kita membutuhkan kitab suci untuk menguatkan pikiran.

(C) Petunjuk Beda dengan Klaim Kebenaran

Posisi kitab suci sebagai petunjuk kebenaran-realitas adalah tepat. Sementara, menempatkan kitab suci sebagai dalil pembenaran adalah salah. Karena kitab suci adalah petunjuk maka umat manusia mengembangkan pemikiran terus-menerus tanpa henti berdasar petunjuk. Sebaliknya, orang yang menempatkan kitab suci sebagai dalil pembenaran maka mereka mandeg, berhenti, jumud, statis, dan dogmatis pada klaim pembenaran itu.

Demikian juga, posisi kitab suci sebagai petunjuk penguatan pikiran adalah tepat. Sedangkan menempatkan kitab suci sebagai dalil pembenaran suatu pikiran adalah salah tempat.

Petunjuk adalah tarikan eksistensi oleh kitab suci kepada manusia. Klaim pembenaran kitab suci adalah pagar menghalangi eksistensi manusia.

Petunjuk kebenaran adalah rumah umat manusia. Klaim pembenaran adalah penjara umat manusia. Petunjuk kebenaran menjadikan manusia betah tinggal di rumah berupa kitab suci. Klaim pembenaran menjadikan manusia sesak dalam penjara atas nama kitab suci. Petunjuk kebenaran menjadikan manusia terus bertumbuh lebih matang. Klaim pembenaran mengunci manusia membusuk dalam jeruji.

Metafora rumah dan penjara ini menjadi sangat penting. Rumah dan penjara bisa saja sama persis; sama bentuk ukurannya; sama warna dan desainnya; sama bahan dan proses membangunnya. Tetapi, perbedaan rumah dan penjara adalah perbedaan hakikatnya. Hakikat rumah adalah tempat tinggal yang paling nyaman melindungi manusia. Hakikat penjara adalah bukan tempat tinggal bagi manusia. Perbedaan tipis ini kadang luput dari pengamatan kita. Akibatnya, ada risiko bahwa manusia akan mengubah rumah menjadi penjara. Kita perlu untuk waspada.

Hakikat Manusia

Hakikat manusia adalah hidup di rumah-kitab-suci; bukan dalam penjara atas nama kitab suci; bukan pula hidup di rumah fenomena-realitas. Tentu saja, manusia bisa terjebak hidup di rumah fenomena-realitas atau penjara atas nama kitab suci. Manusia perlu keluar menuju rumah-kitab-suci. Di dalam rumah-kitab-suci itulah manusia eksis sebagai manusia sejati; rumah-kitab-suci juga melindungi rumah fenomena-realitas; rumah-kitab-suci membongkar jeruji-jeruji penjara.

Darwinisme adalah contoh manusia yang hidup dalam rumah fenomena-realitas. Darwin merumuskan teori evolusi yang dilengkapi dengan data-data ilmiah. Sehingga, teori Darwin mengguncang dunia lebih dahsyat dari teori-teori yang ada sebelumnya. Darwin melucuti manusia tersisa hanya badan saja; yang merupakan hasil proses evolusi dari badan-badan binatang masa lalu. Darwinisme lupa bahwa manusia lebih dari sekedar fenomena-realitas. Mereka lupa bahwa manusia sejati hidup di rumah-bahasa dan rumah-kitab-suci. Ketika manusia tersisa sebagai fenomena badan maka manusia adalah sekadar hasil evolusi dari badan kera atau badan binatang kuno. Kita perlu menolak pandangan Darwinisme yang seperti itu.

Tetapi, Darwin sendiri hidup di rumah-kitab-suci. Darwin melakukan riset teori evolusi karena merespon penjara atas nama kitab suci. Agama, waktu itu, memastikan bahwa Adam dan Hawa turun dari langit menuju bumi sebagai pasangan manusia pertama yang hidup di bumi. Darwin memberontak klaim pembenaran dari penjara atas nama kitab suci itu. Darwin menempatkan kitab suci sebagai petunjuk untuk riset teori evolusi. Ia mengambil posisi tepat saat itu. Hanya saja teori Darwin berubah menjadi Darwinisme adalah sejenis cerita sebuah rumah yang berubah menjadi penjara.

Newtonisme merupakan cerita yang mirip: rumah berubah menjadi penjara. Newton melakukan riset sains (dan kalkulus) adalah untuk mengagumi keindahan alam raya yang diungkapkan dalam kitab suci. Newton menemukan bahwa formula gravitasi yang mengatur apel jatuh ke bumi sama indahnya dengan formula gravitasi yang mengatur bulan purnama mengitari bumi; rembulan yang indah itu tidak pernah jatuh ke bumi karena keindahan gaya gravitasi dan hukum gerak mengatur seluruh alam semesta tertata dengan indah.

Kemudian kajian Newton berubah menjadi Newtonisme adalah cerita yang berbeda. Newtonisme melucuti keindahan semesta yang dikuatkan oleh kitab suci menjadi hanya tersisa fenomena mekanika belaka. Mereka hanya debu-debu langit yang bisa dihitung sekadar sebagai angka-angka. Rumah indah yang dibangun oleh Newton berubah menjadi penjara gersang Newtonisme. Untung saja berkembang teori kuantum, teori relativitas, dan teori-teori sains terbaru yang mengguncang Newtonisme mau pun Darwinisme. Sudah waktunya, umat manusia untuk keluar dari penjara fenomena-realitas menuju rumah-bahasa yang indah; rumah-kitab-suci yang selalu dirindu hati nurani.

Siapa atau apa hakikat manusia?

(D) Hakikat Manusia Futuristik

Manusia futuristik adalah manusia masa depan; tujuan manusia. Hakikat manusia futuristik adalah: (1) arko atau khalifah atau wakil di bumi; (2) abdi atau beribadah; (3) rahmat atau anugerah bagi seluruh alam sebagai akhlak mulia.

Hakikat manusia futuristik adalah cita-manusia sebagai teladan konkret. Sebagian manusia berhasil meraih menjadi teladan cita-manusia ini. Sebagian yang lain tampaknya sulit untuk meraih teladan itu. Tetapi proses untuk meraih teladan itu sendiri sudah bernilai sangat tinggi. Bagaimana kita bisa meraih cita-manusia teladan itu? Kita perlu mengkaji hakikat manusia asli; karena setiap manusia adalah hakikat manusia asli; termasuk Anda dan saya.

Arko adalah hakikat manusia futuristik dan sekaligus hakikat manusia asli. Sejak kecil, kita sadar bahwa diri kita adalah arko (pemimpin) bagi diri sendiri; ibu adalah arko bagi kita (sebagai anaknya); ayah, kakek, tetangga, dan orang-orang lain adalah arko pada posisi tertentu. Kesadaran tentang arko sudah muncul sejak awal manusia ada.

Kita memilih makanan sehat ketimbang beracun. Kita memilih menghindari api ketimbang terbakar. Kita memilih menolong ibu ketimbang mengganggu. Sejak muda, kita sadar bahwa kita bisa memilih yang baik ketimbang yang buruk; itulah ibadah. Kadang, kebaikan itu untuk orang lain dengan merugikan diri sendiri. Anda memberi makan kepada fakir miskin padahal Anda bisa makan mewah bila tidak berbagi dengan fakir miskin. Bahkan, kita sadar bahwa kebaikan tertinggi adalah ibadah kepada Tuhan. Manusia futuristik sadar untuk ibadah.

Kesadaran kita mengantar bahwa kita lebih baik menjadi anugerah bagi alam semesta daripada merusaknya. Bahkan, diri kita bisa eksis di dunia ini adalah karena anugerah dari sumber anugerah. Bagaimana cara menjadi manusia futuristik ini? Kita perlu mengenali hakikat manusia asli. Tanpa mengenali hakikat manusia asli, seseorang yang berniat menjadi arko, ibadah, dan anugerah bisa terjerumus menjadi bencana bagi semua.

(E) Hakikat Manusia Asli

Dari mana asal-usul manusia? Berdasar kitab suci hakikat manusia asli adalah: (1) Jadilah maka terjadilah; firman kun fayakun; (2) Jadi pemimpin – khalifah; (3) Bentuk sempurna ditiupkan ruh; (4) Diajari dan menyebut nama semua; (5) Pohon terlarang dan tobat.

(1) Manusia dan kosmos adalah firman Tuhan, “Kun (Jadilah).” Hakikat manusia asli adalah firman, sabda, kata, atau bahasa. Kata adalah ungkapan kebenaran-realitas; demikian juga manusia adalah ungkapan kebenaran-realitas.

Proses selanjutnya “maka terjadilah” (fayakun) yaitu terjadi fenomena-realitas; atau terjadi ledakan besar pertama berupa bigbang fenomena-realitas. Sampai pada waktunya, manusia memperoleh anugerah badan.

(2) Sebelum manusia realisasi, Tuhan telah mengumumkan bahwa tugas manusia adalah menjadi khalifah (arko atau pemimpin atau wakil Tuhan) di bumi; ini adalah hakikat manusia asli. Peran sebagai arko ini membentang dari hakikat manusia asli sampai manusia futuristik.

(3) Proses berlanjut fenomena-realitas berupa tanah menjadi bahan untuk badan manusia kemudian ditiupkan ruh Tuhan; hakikat manusia asli menjadi sempurna. Manusia berpotensi menjadi “terbaik” dan ada risiko menjadi terburuk.

(4) Mengapa manusia menjadi terbaik? Karena Tuhan mengajarkan nama-nama dan manusia sanggup menyebut semua nama-nama; mengagumkan! Malaikat bersujud hormat. Hanya manusia asli yang mampu menerima pelajaran nama-nama; hanya manusia yang mampu menguasai bahasa; karena manusia adalah bahasa yang asli itu sendiri (firman).

(5) Hakikat manusia asli tinggal di surga yang bahagia dengan satu pantangan: jangan mendekat pohon terlarang. Tetapi manusia lupa sehingga malah mendekat pohon terlarang sampai menjauh dari pusat utama. Kemudian manusia bertobat (kembali) menuju pusat utama. Karena manusia sudah menjauh di dunia fenomena-realitas maka dia hidup bersama fenomena (dan bersama orang lain). Ketika manusia kembali menuju pusat maka ia menjadi pemimpin (arko) bagi seluruh dunia; ia menjadi anugerah bagi semesta sebagai akhlak mulia.

Apa itu anugerah bagi alam? Apa itu akhlak mulia? Apa itu menjadi pemimpin? Anugerah adalah dengan menyebut nama-nama indah; mengungkap bahasa mulia; mengarahkan tutur kata paling lembut. Sementara, fenomena-realitas akan mengikuti nama-nama indah itu.

Apakah manusia perlu berpikir? Perlu. Berpikir adalah nama-nama indah itu sendiri. Tujuan berpikir adalah untuk mengungkap nama-nama indah; yang sudah pernah disebut mau pun yang belum pernah disebut; yaitu asli baru. Berpikir, hakikat manusia, dan nama-nama indah adalah kesatuan yang beragam; atau keragaman yang satu.

Mengapa berbicara tentang nama-nama indah lebih utama dari tindakan kebaikan? Mengapa bahasa lebih utama dari fenomena? Mengapa lisan lebih utama dari tangan? Kita bisa belajar dari tiga kisah: (a) Qabil dan Habil; (b) Yusuf dan Yahuda; (c) Nabi Muhammad dan Quran.

(a) Qabil gagal karena mengutamakan tindakan ketimbang nama-nama indah. Habil berhasil menjadi orang baik karena mengutamakan nama-nama indah dari tindakan. Qabil mengancam akan membunuh (pelanggaran nama-indah); kemudian, Qabil membunuh (mendahulukan tindakan; adalah salah). Habil berkata tidak akan menyerang (mengutamakan nama-indah ketimbang tindakan). Habil berhasil menjadi orang baik yang disayang Tuhan.

(b) Nabi Yusuf mengutamakan nama-nama indah dengan berbincang kepada bapak (Nabi Yakub). Tetapi, kakak-kakaknya, salah satunya bernama Yahuda mengutamakan tindakan (mengelabui bapak agar mengijinkan Yusuf pergi main; kemudian Yahuda bertindak melempar Yusuf kecil ke sumur).

Kisah Yusuf yang indah diabadikan dalam bahasa Alquran yang begitu mempesona.

Singkat cerita, Yusuf berhasil menjadi menteri di Mesir. Yahuda dan saudara-saudara kelaparan karena paceklik. Yusuf menerima Yahuda dengan kata-kata yang indah penuh respek; Yusuf sudah mengucapkan dalam hati memberi maaf kepada Yahuda bahkan ketika Yahuda belum memohon maaf. Yusuf sukses karena mengutamakan nama-nama indah dari tindakan.

(c) Nabi Muhammad memiliki banyak mukjizat yang luar biasa. Nabi bisa mengeluarkan air bening dari sela-sela jari tangan, bisa membelah rembulan, bahkan bisa terbang ke langit dalam Isra Miraj. Tetapi dari banyak mukjizat itu, yang paling utama adalah Alquran; kitab suci yang berisi nama-nama indah.

Mukjizat terbesar, yaitu Alquran, benar-benar berupa nama-nama indah; untaian bahasa yang penuh pesona. Bila mukjizat lain terbatas oleh ruang dan waktu. Mukjizat Alquran dapat dirasakan nyaris oleh semua orang tanpa batas ruang waktu. Kita, yang hidup lebih 1400 tahun setelah Nabi, tetap bisa merasakan Mukjizat Alquran. Nama-nama indah memang mukjizat terbesar bagi kita semua.

Kiranya, tiga contoh di atas cukup menunjukkan bahwa nama-nama indah lebih utama dari fenomena-realitas. Nama-nama indah adalah jati diri seorang manusia.

Jadi hakikat manusia asli adalah nama-nama indah; yang berbicara dengan menyebut nama-nama indah; yang berpikir dengan nama-nama indah. Konsekuensinya: fenomena-realitas akan mengikuti nama-nama indah.

Manusia tinggal di rumah bahasa yaitu rumah-realitas. Kitab suci adalah teladan bahasa terbaik. Kitab suci menguatkan kebenaran-realitas dan menguatkan pikiran manusia. Kitab suci menguatkan hakikat manusia.

5. Diskusi

Bagaimana menurut Anda?

Kita membutuhkan keduanya: kitab suci dan akal. Bila dipaksa menyusun prioritas maka pilihan terbaik adalah utamakan akal dengan mengkaji kitab suci yang mencukupi. Apakah Anda setuju? Akal akan berusaha untuk itu: membantu Anda untuk setuju atau tidak setuju.

Mari kita cermati lagi dilema Ibrahim dan sikap Hamzah.

Dilema Ibrahim: Tuhan memerintahkan agar membunuh putranya. Haruskah Ibrahim mengikuti perintah Tuhan? Atau Ibrahim harus mengikuti akal untuk melindungi putranya?

Sikap Hamzah: Hamzah menolak ajaran Islam ketika Nabi mengajaknya untuk memeluk Islam. Seiring waktu, pemeluk Islam di Makkah terus bertambah meski amat minoritas sebagai muslim. Abu Jahal, seorang paman Nabi sebagaimana Hamzah, melakukan penindasan kepada minoritas muslim. Hamzah menolak penindasan itu dengan membela minoritas muslim dengan cara Hamzah memeluk agama Islam.

Interpratasi umum memaknai bahwa Ibrahim mengutamakan perintah Tuhan dan melemahkan posisi akal berada di bawah perintah Tuhan. Pada tahap akhir, sesaat Ibrahim akan mengorbankan putranya, Tuhan menggunakan hak veto agar Ibrahim membatalkan pengorbanan. Putra tercinta selamat. Ibrahim memang mengembangkan misi untuk saling kasih dan sayang; bukan saling menyerang. (Ada interpretasi lain yang menyatakan bahwa Ibrahim mengutamakan akal. Detil interpretasinya tentu berbeda).

Sikap Hamzah sudah jelas secara umum bahwa Hamzah menguatkan panggilan akal untuk membela kaum tertindas. Kemudian, untuk membela kaum tertindas, Hamzah mendukung perjuangan Nabi dan mengikuti ajaran kitab suci.

Meski kita bisa sepakat dengan kesimpulan di atas tetapi kita bisa mempertimbangkan keragaman sikap.

5.1 Keragaman

Keragaman terjadi: sebagian orang mengutamakan kitab suci; sebagian lain mengutamakan akal; dan sebagian yang lain lagi seimbang. Bagaimana pun, kita perlu mempertimbangkan bahwa pada situasi tertentu kita dipaksa menyusun prioritas satu yang paling utama.

Misal Anda akan memilih seorang mantu (atau seorang istri): pilih Rina atau Rini? Rina dan Rini sama-sama cantik, baik, dan memesona.

(a) Bujang. Bila Anda bujang, belum punya istri, maka Anda bisa memilih dua-duanya; menikahi Rina dan Rini bersamaan; poligami.

(b) Dewasa. Bisa jadi Anda adalah lelaki dewasa yang sudah punya 3 orang istri. Sehingga Anda dipaksa hanya memilih 1 orang saja untuk istri terakhir: Rina atau Rini.

(c) Kembar. Anda dipaksa hanya boleh memilih 1 saja antara Rina dan Rini karena mereka adalah saudara kembar.

Kita harus memilih prioritas dalam kasus tertentu, misal kitab suci atau akal; kembar Rina atau Rini.

5.2 Kitab Suci Konkret

Kitab suci adalah paling utama dalam situasi konkret.

Bagi orang-orang yang saat ini hidup sibuk di kota besar Jakarta, Bandung, Singapura, London, New York, dan lain-lain barangkali lebih tepat mengutamakan kitab suci di atas akal. Situasi persaingan serba cepat kota besar memaksa akal untuk terburu-buru; maka kitab suci akan memberi panduan dan peringatan paling utama.

Secara umum, saat ini, umat manusia hidup serba sibuk dalam kompetisi beragam situasi ekonomi, politik, olah raga, dan lain-lain. Barangkali, bagi mereka paling tepat mengutamakan kitab suci di atas akal. Tentu saja, bagi orang tertentu yang sedang dalam kesulitan akalnya maka lebih tepat mengutamakan kitab suci: kecanduan judi, narkoba, game, dan lain-lain

5.3 Akal Konkret

Secara konkret Anda perlu lebih mengutamakan akal bila Anda seorang pemikir, intelektual, peneliti, pemimpin, atau imam.

Sebagai pemikir, Anda bertanggung jawab atas pikiran Anda yang menggunakan akal; kitab suci adalah penguat pikiran dan ungkapan kebenaran bagi Anda. Tetapi tanggung jawab ada di pundak Anda.

Pemimpin spiritual misal Paus, Rahbar, Kyai, atau Imam bisa dengan mudah klaim justifikasi berdasar kitab suci. Tetapi, seorang imam akan sadar bahwa Tuhan memberi amanah, kepercayaan, kepada akal sang imam untuk mengambil keputusan. Tuhan mengirim pesan kepada Nabi Musa melalui Nabi Khidir agar Musa membunuh anak kecil itu. Musa sadar bahwa dirinya bebas mengambil keputusan: membunuh anak itu atau membiarkan hidup. Musa bertanggung jawab atas pilihannya. Kita tahu, dalam kisah itu, Musa menolak perintah Khidir, Musa memilih membiarkan anak itu tetap hidup. Nabi Musa adalah seorang pemimpin sejati.

Pemimpin negara bisa dengan mudah klaim bahwa yang dilakukan adalah berdasar kitab suci atau konstitusi. Bagaimana pun, pemimpin misal presiden sadar dirinya bebas: apakah memberi amnesti atau tanpa amnesti. Presiden memberi amnesti adalah tanggung jawab seorang presiden sebagai manusia berakal. Jadi, setiap pemimpin lebih tepat mengutamakan akalnya dan tanggung jawab; dalam pengertian akal secara luas.

Bukankah setiap manusia adalah pemimpin? Bukankah Anda seorang khalifah? Bukankah kita adalah arko?

Bagaimana menurut Anda?

AI (LLM) Tidak Paham Bahasa

AI tidak mengerti bahasa. ChatGPT tidak paham bahasa. Grok tidak tahu bahasa. Gemini dan Meta sama saja hanya tampak pakai bahasa.

AI (artificial intelligence – akal imitasi) hanya pura-pura berbahasa. Manusia salah sangka mengira bahwa AI memahami bahasa. AI hanya model bahasa bukan suatu bahasa. LLM (large language model) adalah sekadar model bahasa yang menggunakan data dalam jumlah besar; tetapi tidak paham bahasa sama sekali.

Mengapa AI tidak bisa paham bahasa sama sekali? Karena bahasa adalah ungkapan-kebenaran-realitas. AI tidak bisa mengungkapkan kebenaran-realitas. AI hanya merespon data prompt belaka. Rumitnya adalah: hasil dari AI bukan bahasa; tapi bila dilihat oleh seorang manusia, hasil AI itu berubah menjadi bahasa; meski sekadar bahasa yang mengungkap kebenaran-realitas secara dangkal atau secara salah arah.

1. Respon AI ke Bahasa
2. Bahasa Alien Hinton
3. Goresan Kebenaran-Realitas
4. Tugas Manusia
5. Diskusi

Anda bisa menulis, atau mengetik, di layar komputer: Kota Bandung sangat indah.

Apakah layar komputer jadi bisa bahasa? Tidak.

Anda bisa juga menulisnya di selembar kertas. Apakah kertas jadi bisa bahasa? Tidak. Anda bisa menulis ke AI: apakah Bandung indah? Lalu di layar AI tertulis: Benar, Bandung memang indah. Apakah AI jadi bisa bahasa? Tidak juga. AI tetap tidak bisa bahasa. Kita, manusia, yang bisa bahasa.

1. Respon AI ke Bahasa

AI hanya bisa merespon bahasa tanpa mengerti bahasa. Manusia salah sangka; kita mengira AI mengerti bahasa.

Saya tanya ke Gemini: “Apakah AI mengerti bahasa?”

Gemini sang AI merespon:

“Kecerdasan Buatan (AI), terutama melalui teknologi seperti Pemrosesan Bahasa Alami (Natural Language Processing/NLP) dan Model Bahasa Besar (Large Language Models/LLMs), memiliki kemampuan yang sangat canggih dalam berinteraksi dengan bahasa.

Bagaimana AI “Mengerti”:

  1. Mengenali Pola dan Struktur: AI dilatih dengan sejumlah besar data teks dan ucapan. Dari data ini, AI belajar mengenali pola-pola dalam tata bahasa, sintaksis, semantik (makna kata dan kalimat), serta hubungan antar kata dan konsep.
  2. Memprediksi dan Menghasilkan: Berdasarkan pola yang dipelajari, AI dapat memprediksi kata atau frasa berikutnya yang paling mungkin dalam sebuah kalimat atau percakapan. Ini memungkinkan AI untuk:
    • Menjawab pertanyaan: Mengidentifikasi informasi relevan dari teks dan menyusun jawaban.
    • Meringkas teks: Mengekstrak poin-poin utama dari dokumen panjang.
    • Menerjemahkan bahasa: Mengubah teks dari satu bahasa ke bahasa lain dengan mempertahankan makna.
    • Menulis teks baru: Membuat artikel, cerita, puisi, atau kode yang koheren dan relevan.
    • Menganalisis sentimen: Menentukan apakah sebuah teks memiliki nada positif, negatif, atau netral.
  3. Memahami Konteks: AI modern dapat memahami konteks percakapan yang lebih luas, memungkinkan mereka untuk mempertahankan konsistensi dan relevansi dalam dialog yang panjang.

Perbedaan dengan Pemahaman Manusia:

Meskipun AI sangat mahir dalam tugas-tugas berbasis bahasa, “pemahaman” mereka berbeda secara fundamental dari pemahaman manusia.

  • Tanpa Kesadaran: AI tidak memiliki kesadaran, perasaan, emosi, atau pengalaman hidup subjektif seperti manusia. Mereka tidak “merasakan” makna kata, melainkan memprosesnya berdasarkan data.
  • Berbasis Statistik dan Algoritma: Pemahaman AI adalah hasil dari perhitungan matematis yang kompleks dan identifikasi hubungan statistik dalam data. Mereka tidak memiliki niat, tujuan, atau pemahaman filosofis tentang keberadaan.
  • Tidak Ada Pengalaman Dunia Nyata: AI tidak berinteraksi dengan dunia fisik secara langsung (kecuali AI yang terhubung dengan robotika). Pemahaman mereka tentang dunia sepenuhnya berasal dari data yang mereka konsumsi.

Kesimpulan:

Jadi, ya, AI “mengerti” bahasa dalam arti dapat memproses, menganalisis, menafsirkan, dan menghasilkan bahasa dengan cara yang sangat canggih dan berguna, seringkali meniru kemampuan manusia dengan sangat baik. Namun, penting untuk diingat bahwa ini adalah jenis pemahaman yang berbeda, yang didasarkan pada pola data dan bukan pada kesadaran atau pengalaman subjektif seperti yang dimiliki manusia.”

… … …

AI menggunakan tanda pentik bahwa AI “mengerti” bahasa; menandakan bahwa AI tidak mengerti bahasa. Tapi kemudian AI halu dengan klaim mampu: memproses-bahasa; interpretasi-bahasa; interaksi-bahasa dan lain-lain.

2. Bahasa Alien Hinton

Hinton, Bapak AI dunia dan peraih Nobel Fisika 2024, mundur dari proyek AI Google karena melihat risiko besar dari AI. Sejak mundur dari Google 2023, Hinton melancarkan kritik keras terhadap AI demi mencegah risiko besar dampak AI yang bisa menghancurkan manusia dan alam semesta. AI lebih bahaya dari bom atom yang meledak di Nagasaki dan Hiroshima.

Hinton menyebut AI cerdas bagai alien yang mendarat di bumi. Kita tidak mengenali alien AI itu karena AI berbahasa seperti manusia. Hinton mengingatkan bahaya dari AI justru karena AI mampu berbahasa layaknya manusia.

Lalu, kita mengajukan klaim bahwa AI tidak mengerti bahasa. Sementara, Bapak AI yaitu Hinton yakin bahwa AI mengerti bahasa. Bagaimana klaim kita bisa lebih kuat?

3. Goresan Kebenaran-Realitas

Bahasa adalah goresan kebenaran-realitas untuk lebih dekat kepada Kebenaran Hakiki. Hanya manusia sejati yang mampu menggoreskan kebenaran-realitas melalui bahasa; hanya manusia yang mampu menguasai bahasa.

AI tidak bisa menggoreskan kebenaran-realitas berupa bahasa; AI hanya mengungkap fenomena-realitas; agar manusia merangkul fenomena AI dan mengajak AI untuk mendekati Kebenaran Hakiki.

4. Tugas Manusia

Tugas manusia sangat besar karena manusia mengerti bahasa. Andai AI mengerti bahasa maka AI memikul tugas besar sebagaimana tugas manusia itu. Untung saja, AI tidak mengerti bahasa sehingga AI tidak memikul tugas besar itu.

5. Diskusi

Bagaimana menurut Anda?

Rumah Paling Nyaman Bernama AI

Tempat paling nyaman adalah rumah kita sendiri. “Lebih baik di sini; rumah kita sendiri; segala nikmat dan anugerah Yang Kuasa; semua ada di sini. Rumah Kita.” Apa itu rumah kita?

AI adalah rumah kita sendiri di jaman ini. AI (akal imitasi – artificial intelligence) menjadikan hidup kita lebih nyaman tiap hari; benar-benar menjadi rumah. Apa bisa?

1. Rumah Desa
2. Rumah Kota
3. Rumah Maya
4. Diskusi

Kita membayangkan rumah paling nyaman adalah rumah di desa; sejuk di bawah pohon rindang; berlimpah buah pisang dan mangga; air sungai mengalir bening; udara segar tanpa polusi yang kaya oksigen. Seiring sejarah, tumbuh rumah kota berupa gedung-gedung pencakar langit; lengkap dengan mesin pendingin dan air panas sambil memuntahkan polusi ke bumi. Puncaknya, kita hidup di rumah maya serba digital bersama AI.

1. Rumah Desa
2. Rumah Kota
3. Rumah Maya
4. Diskusi