Hakikat Manusia di Rumah Bahasa

Manusia bertanya siapa jati diri saya?

Beberapa orang terjebak dalam hampa; gelisah tanpa makna. Beberapa yang lain hidup sesak-makna; mereka memaksa orang lain untuk ikut seperti mereka; bila ada yang menolak bisa dipaksa musnah; atau, minimal ditimpa sumpah serapah. Mereka tampaknya belum menemukan jati diri mereka; atau, bahkan, mereka tidak bertanya tentang jati diri mereka. Apakah kita bertanya siapa jati diri kita?

Menemukan jati diri adalah prestasi besar bagi setiap orang. Anda hidup menjadi penuh makna; baik ketika derita mendera mau pun ketika bahagia penuh cahaya. Kali ini, kita akan berpetualang menemukan jati diri sejati melalui bahasa.

1. Kapasitas Bahasa: Lebih dari Komunikasi
2. Evolusi Jati Diri
3. Media Budaya
4. Makhluk Berbahasa
5. Koneksi Kosmis
6. Ringkasan
7. Diskusi
7.1 Esensi Bahasa
7.2 Falsifikasi Hermeneutik
7.3 Nasib Manusia

Kutipan dalam tulisan berikut bersumber dari buku The Language Animal karya Charles Taylor; kecuali disebut lain. Dalam bagian diskusi, kita akan membahas lebih jauh makna jati diri manusia. Dalam satu perspektif, makna jati diri manusia adalah tidak ada; karena manusia tidak memiliki jati diri. Mengapa? Karena, dari perspektif lain, jati diri manusia adalah anugerah; tentu bukan dari manusia; tetapi anugerah dari sumber anugerah.

Bahasa menjadi sarana amat penting untuk mengenali jati diri manusia. Sulitnya, bahasa bisa menjadi rumah bagi manusia sehingga nyaman. Kesempatan lain, bahasa bisa menjadi penjara bagi manusia yang mengekang setiap orang. Lebih sulit lagi, rumah dan penjara adalah sama gedungnya, sama warnanya, sama ukurannya, dan nyaris sama segalanya. Perbedaan rumah dan penjara adalah perbedaan hakikat semata: rumah nyaman untuk manusia tinggal; penjara tidak nyaman.

1. Kapasitas Bahasa: Lebih dari Komunikasi

“But the discussion in the preceding chapters has shown that there is
much more to language than this. We do indeed, observe, inform ourselves about the world of self- standing objects, and do all sorts of things with the information. But we also build ourselves landscapes of meanings, both human meanings and footings (and these are related). We make these meanings exist for us by enacting them, then expressing them, naming them, critically examining them, arguing about them, fighting (sometimes) about them (e.g., egalitarians struggling to transform a hierarchical culture).” (332).

Namun, pembahasan pada bab-bab sebelumnya telah menunjukkan bahwa bahasa memiliki fungsi yang jauh lebih luas dari sekadar menyampaikan informasi. Memang, kita menggunakan bahasa untuk mengamati dan memahami dunia di sekitar kita, serta untuk menyampaikan berbagai informasi. Tapi lebih dari itu, kita juga membangun makna—baik makna yang bersifat manusiawi maupun makna yang berkaitan dengan posisi atau peran kita dalam masyarakat (dan keduanya saling berkaitan).

Kita membuat makna-makna ini menjadi nyata bagi diri kita sendiri dengan mewujudkannya (1) melalui tindakan, kemudian (2) mengungkapkannya, (3) memberi nama pada makna tersebut, (4) meninjaunya secara kritis, (5) memperdebatkannya, dan bahkan kadang-kadang (6) memperjuangkannya—seperti yang dilakukan oleh para pendukung kesetaraan yang berupaya mengubah budaya yang bersifat hierarkis.

(a) Instrumental: Penjara Bahasa

Tentu saja, seseorang bisa membatasi bahasa sekadar sebagai alat, instrumen, untuk komunikasi. Batasan ketat ini menjadikan bahasa sebagai penjara untuk manusia.

(b) Konstitutif: Rumah Bahasa

Alternatif yang lebih luas adalah membongkar jeruji penjara dengan menjadikan bahasa sebagai rumah manusia. Dalam rumah bahasa, masih terdapat tembok-tembok pembatas; tetapi tembok pembatas itu bukan kekangan melainkan sebagai modal untuk kreativitas tanpa batas. Bahasa memiliki karakter konstitutif, pembentuk, rumah manusia.

“The media of these constitutive exercises are not only (1) verbal, but also (2) enactive. But we have right away to recognize another range of media: there are also (3) what I have called portrayals, in literature, music, painting, dance which “present” [darstellen] meanings while neither describing them (making assertions), nor enacting them.”

Media untuk membentuk bahasa adalah: (1) verbal; (2) enactive; mengaktifkan; (3) potret; perlambang.

“… the linguistic capacity is essentially more than (1) an intellectual one; (2) it is embodied: in enacted meanings, in artistic portrayals, in metaphors which draw on embodied experience, and also in the iconic gestural portrayal which accompanies everyday speech, not to mention the ubiquity of body language…”

Kapasitas bahasa bersifat (1) intelektual dan (2) menubuh: makna yang diwujudkan, seni, metafor, dan bahasa tubuh.

“… is essentially shared: it sustains (1) a shared consciousness of the world, within which (2) individuals differentiate themselves by becoming particular voices in an ongoing conversation. This shared understanding develops a place for monological speech and writing, but this option is available for us only because we are inducted into speech as conversation.”

Bahasa terjaga dan menjaga kebersamaan: (1) kesadaran bersama; dan (2) memantapkan ciri pribadi.

“So our language straddles the boundary between “mind” and body; also that between dialogical and monological. There is also a third distinction which is often invoked, that between signs which are arbitrary or “unmotivated” and those which are iconic or “motivated”.”

“Jadi, bahasa kita (1) melintasi batas antara “pikiran” dan tubuh; juga
(2) antara dialogis dan monologis. Ada pula perbedaan ketiga
yang sering disinggung, yaitu (3) antara tanda-tanda yang arbitrer atau “tidak termotivasi” dan tanda-tanda yang ikonik atau “termotivasi”.”

Bahasa adalah rumah manusia yang melintasi batas perbedaan: (1) pikiran dan tubuh; (2) dialog dan monolog; (3) arbitrer dan ikonik.

Tetapi bahasa sebagai penjara justru menegaskan perbedaan antara 3 hal di atas. Tantangan bagi kita adalah untuk mengembangkan rumah bahasa bukan hanya penjara.

2. Evolusi Jati Diri

“Now this autonomization is what occurs through the two special constitutive functions of language: the exploration and naming of human meanings on one hand, and the setting up of footings on the other, along with the contestations that arise in each domain. Through the first, normative patterns, ethical virtues, moral rules, the pursuit of truth, and the creation of beauty are established as ends in their own right. Through the second, social structures are erected which have intrinsic value. This crucial feature of human life is inseparable from the development of language and its constitutive powers. Hominization depends on language not only for the coding of information and the resultant greater efficacy of action, but also for the definition of the goals, values, and modes of relation which are essentially human. Th ese cannot be defined by verbal formulae alone, or by objectively identifiable patterns of action. They address us as embodied agents who can be moved on all levels by these human meanings.” (336).

Otonomisasi ini terjadi melalui dua fungsi utama bahasa yang sangat penting: (1) pertama, eksplorasi dan penamaan atas makna-makna manusia; dan (2) kedua, pembentukan posisi atau peran sosial, termasuk berbagai pertentangan yang muncul dalam kedua ranah tersebut.

Melalui fungsi pertama, kita menetapkan pola-pola norma, nilai-nilai etika, aturan moral, pencarian akan kebenaran, dan penciptaan keindahan sebagai tujuan yang bernilai pada dirinya sendiri. Melalui fungsi kedua, terbentuklah struktur sosial yang memiliki nilai intrinsik.

Ciri penting dalam kehidupan manusia ini tidak dapat dipisahkan dari perkembangan bahasa dan kekuatan dasarnya. Proses menjadi manusia (hominisasi) tidak hanya bergantung pada bahasa sebagai (1) alat penyampaian informasi dan peningkatan efektivitas tindakan, tetapi juga sebagai sarana untuk (2) menentukan tujuan hidup, (3) nilai-nilai, dan cara kita (4) berhubungan satu sama lain—hal-hal yang secara esensial menjadikan kita manusia.

Semua ini tidak bisa dijelaskan hanya dengan rumus kata-kata atau pola tindakan yang bisa diukur secara objektif. Makna-makna manusiawi ini menyentuh kita sebagai makhluk yang berwujud dan merasakan, yang bisa tergerak di berbagai tingkat oleh makna-makna tersebut.

Evolusi jati diri terjadi dalam: (1) ontogenetik; (2) filogenetik.

Ontogenetik adalah seorang bayi belajar bersama alam sekitar, tumbuh remaja dan sampai dewasa. Taylor tampak setuju dengan teori Tomasello; berbeda dengan Chomsky. Seorang bayi memiliki potensi untuk belajar bahasa (tapi bukan universal grammar; hanya warisan sejarah sebagai bayi manusia). Bayi berinteraksi melalui peniruan terutama berupa ritual: bangun pagi, mandi, makan, ibadah, kerja, dan lain-lain. Sambil interaksi, bayi belajar bahasa melalui contoh-contoh nyata yang berulang-ulang. Usia 2 sampai 4 tahun, seorang bayi nyaris mampu menguasai seluruh bahasa yang umum digunakan.

Karena interaksi lingkungan sangat penting dalam ontogenetik bahasa maka keragaman lingkungan akan memicu keragaman bahasa; termasuk keragaman grammar bukan seragam. Meski demikian, manusia bisa menerjemahkan satu bahasa ke bahasa lain sampai batas tertentu.

Filogenetik mencermati perkembangan bahasa dari satu generasi ke generasi berikutnya. Taylor tampak setuju dengan Merlin Donald bahwa filogenetik terjadi melalui ritual: ibadah, museum atau perpustakaan, pelestarian dan pengembangan budaya. Seorang anak yang berdoa di masjid, misalnya, ia terhubung dengan Tuhan, tokoh-tokoh agama masa lalu, dan realitas spiritual; terhubung dengan orang-orang dan masyarakat sekitar; terhubung dengan alam. Museum dan perpustakaan mengabadikan bahasa masa lalu dan masa kini demi masa depan. Tentu saja, pelestarian dan pengembangan budaya memperkaya bahasa dari generasi ke generasi.

3. Media Budaya

“Here we reconnect with the fruitful theory of Merlin Donald. In the
early stages it is likely that the capacity for mimicry played an important
role. Th is would often occur in ritual or quasi- ritual form; as with a solemn emphatic enactment of the social order; or rituals of connection with the spirits, for instance the spirit of the deer; or rituals of connection/reconnection with the whole cosmic order. These rituals would be one way of becoming aware of the orders within which human life was set, society and its embedding in the cosmos.”

Di sini, kita kembali pada teori menarik dari Merlin Donald. Pada tahap awal perkembangan manusia, (1) kemampuan untuk meniru (menirukan gerakan atau suara orang lain) kemungkinan besar punya peran penting. Kemampuan ini sering digunakan (2) dalam bentuk ritual atau kegiatan yang mirip ritual.

Misalnya, manusia melakukan upacara yang menunjukkan bagaimana aturan dalam masyarakat bekerja, atau melakukan ritual untuk terhubung dengan roh—seperti roh rusa, atau roh alam semesta. Melalui ritual-ritual ini, manusia mulai menyadari bahwa hidup mereka berada dalam suatu tatanan—baik dalam masyarakat maupun dalam hubungan dengan alam semesta yang luas.

“But this awareness was complemented by verbal accounts, particularly
narrative, in the form of myths, about gods, spirits, and heroes. Later these would be supplemented, and then criticized and replaced by another kind of account, which Donald calls “theoretical”; philosophy, metaphysics, self consciously nonmythical histories.”

Namun, kesadaran ini didampingi oleh penuturan lisan, terutama dalam bentuk (1) cerita atau narasi mitos tentang Tuhan, roh, dan pahlawan. Di kemudian hari, cerita-cerita ini dilengkapi, lalu dikritik dan akhirnya digantikan oleh jenis penjelasan lain yang disebut oleh Donald (2) sebagai “teoritis”—yakni filsafat, metafisika, dan sejarah yang secara sadar tidak bersifat mitologis.

Kisah sedih selanjutnya terjadi di era modern Barat. Bahasa (3) dilucuti dari kekayaan sejarahnya menjadi hanya “teoritis” belaka. Bahasa matematika berupa angka atau simbol matematika menjadi paling utama. Bahasa matematika misal 2 + 1 = 3 untuk bilangan asli adalah valid bernilai benar secara absolut. Bahasa matematika menjadi mandiri terlepas dari sejarah, lingkungan, budaya, ruang, dan waktu.

Bila suatu bahasa matematika masih terhubung dengan suatu budaya maka hubungan tersebut dinilai sebagai subyektif; sebagai kualitas rendah yang perlu dihilangkan; agar menjadi obyektif murni. Bila bahasa apa pun mengandung aspek subyektif maka harus direndahkan, dipinggirkan, atau dimurnikan agar menjadi obyektif. Pemisahan obyek dengan subyek menjadi makin tegas dan mengantar manusia menuju jurang krisis kemanusiaan. Bahasa berubah menjadi penjara untuk saling dominasi antar pihak. Kita perlu mengembalikan bahasa sebagai rumah umat manusia, bukan penjara, untuk tumbuh kembang bersama.

4. Makhluk Berbahasa

“The upshot of all this is that we should feel the need to return to, while
reexamining, Aristotle’s defi nition of the human being as “Zwon echon logon”. This has been traditionally translated as “rational animal”; and may be we should bring this back to a more direct rendering as “animal possessing ‘logos’ ”, where this Greek word is allowed its full stretch of polysemy: ‘logos’ meaning in some contexts “word”, in others “discourse”, in others “account”. In short we might render it as “animal possessing language”. Th at this will in the end involve some notion of reason as crucial to human life is without doubt, but what this “reason” involves requires a lot of further examination.” (338).

Inti dari semua pembahasan ini adalah bahwa kita perlu kembali meninjau dan mempertimbangkan kembali definisi manusia yang pernah dikemukakan oleh Aristoteles, yaitu “Zōon echon logon.”

Selama ini, ungkapan tersebut sering diterjemahkan sebagai “makhluk rasional”. Namun, mungkin sudah waktunya kita menerjemahkannya secara lebih langsung sebagai “makhluk yang memiliki logos”. Kata logos dalam bahasa Yunani memiliki banyak makna—dalam beberapa konteks berarti “kata”, di konteks lain bisa berarti “wacana” atau “penjelasan”.

Singkatnya, definisi ini bisa dimaknai sebagai “makhluk yang memiliki bahasa.” Memang, pemahaman ini tetap menyiratkan bahwa “akal” atau “nalar” memiliki peran penting dalam kehidupan manusia. Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dengan “akal” ini masih membutuhkan pembahasan dan pemahaman yang lebih mendalam.

Hakikat manusia adalah makhluk berbahasa. Anggap makna makhluk adalah seperti makna umumnya yaitu tumbuhan, binatang, dan manusia itu sendiri. “Berbahasa” atau memiliki bahasa adalah pembeda utama sebagai manusia. Kita akan lanjut mengkaji makna-bahasa itu apa.

Bahasa memberi manusia kapasitas lentur untuk menjadi apa saja.

(1) Manusia mirip dengan binatang dalam banyak hal: berkumpul, makan, minum, bercinta, beranak, dan lain-lain. Hanya saja, kucing di Asia hampir mirip-mirip saja dengan kucing di Eropa. Tetapi manusia di Asia bisa sangat beda dengan manusia di Eropa. Mereka berbeda dalam jenis makanan, cara berpakaian, bentuk tarian, musik, dan lain-lain. Perbedaan ini tampak tidak masalah. Bagaimana pun ada perbedaan manusia yang tidak bisa didamaikan.

Di Asia pasangan yang tepat adalah poligami; 1 suami dengan 2 istri atau lebih. Di Eropa tertentu pasangan yang tepat adalah poliandri; 1 istri dengan 2 suami atau lebih. Bila Anda mendukung poligami maka Anda harus menolak poliandri. Demikian halnya bila Anda mendukung monogami.

Adakah nilai universal? Mana satu yang universal: poligami, monogami, atau poliandri?

Bila kita terbuka terhadap jalannya sejarah maka kita lebih mudah memahami dengan bantuan bahasa yang fleksibel. Di wilayah yang menganjurkan poligami, saat itu, jumlah laki-laki hanya sedikit; sedangkan jumlah perempuan jauh lebih banyak. Dialog dalam sejarah sepakat bahwa mereka menguatkan etika poligami. Sebaliknya, di wilayah yang menganjurkan poliandri, mereka sedang berada dalam sejarah di mana jumlah perempuan amat sedikit; sementara jumlah laki-laki lebih banyak; sehingga perlu etika poliandri. Tentu saja, butuh usaha ekstra untuk bisa saling memahami dari pandangan etika yang saling berlawanan ini.

Jadi, bahasa menyediakan fleksibilitas bagi manusia untuk beradaptasi dengan lingkungan dan situasi komunitas secara konkret.

(2) Etika universal. Kita bisa menjawab positif: ada etika universal. Contoh: menghormati ibu adalah etika universal; semua orang di dunia sepakat.

Era Axial disebut sebagai kemunculan besar-besar etika universal di seluruh dunia dengan tokoh-tokoh: Budha, Konghucu, Nabi Musa, Socrates, dan lain-lain. Etika universal ini mengarahkan kita untuk meraih kebaikan yang lebih tinggi dari kebaikan umum. “Hidup sederhana lebih bernilai dari foya-foya” berlaku secara universal. “Menolong orang lemah adalah mulia.” “Jangan mencuri apalagi korupsi.”

Etika universal sering menuntut pengorbanan diri, bahkan, pengorbanan sosial demi kebaikan yang lebih tinggi. “Menolong korban bencana alam atau bencana perang” adalah mulia dan bisa saja kita tetap menolong meski diri kita sedang dalam kondisi sulit secara ekonomi. Manusia mampu untuk fleksibel semacam itu dengan bantuan bahasa. Selain manusia, misal kucing, tidak bisa fleksibel yang seperti itu karena kucing tidak memiliki bahasa.

Lalu, apa etika universal tertinggi? Mengungkapkan bahasa yang baik adalah etika universal tertinggi; atau, salah satu yang tertinggi. Mengapa Anda “berterima kasih” ke saya? Karena bahasa “berterima kasih” adalah etika tertinggi. Mengapa Anda “menasehati” saya? Karena bahasa “menasehati” adalah etika tertinggi. Mengapa Anda mengucapkan salam? Karena ucapan salam adalah etika tertinggi.

Bukankah tindakan nyata lebih bernilai dari sekadar ucapan bahasa?

Tentu tindakan adalah bernilai. Tetapi, nilai dari suatu tindakan bergantung kepada bahasa Anda; baik terucap atau pun bahasa dalam hati. Sehingga, doa adalah etika universal dengan kebaikan paling tinggi.

(3) Perlawanan terhadap universal. Meski etika universal tampak baik-baik saja tetapi sering terjadi perlawanan. Lagi-lagi, perlawanan ini menunjukkan betapa fleksibel manusia dengan bantuan bahasa.

Contoh paling terkenal adalah perlawanan oleh Joker dalam kisah fiksi Batman.

“… but rather from an excitement aroused in us by the rejection of the good itself. The motive here would be a kind of joy in destruction, a sense of heroic greatness in tearing down what the ethic of universal benevolence has tried to build.”

Joker menikmati kehancuran tatanan kota; menikmati tangisan derita penduduk; menikmati kesulitan yang ditanggung Batman.

Bagaimana dengan presiden Trump? Apakah menikmati kekacauan para mahasiswa luar negeri yang kehilangan beasiswa? Apakah menikmati tangisan orang-orang miskin yang kehilangan rumah dan kerja akibat tarif ekspor impor yang melangit?

Bagaimana dengan Netanyahu? Apakah dia menikmati kehancuran Gaza? Apakah bahagia dengan reruntuhan Tepi Barat? Taylor menyebut kejahatan yang dilakukan oleh Joker sebagai jahat-radikal atau radical-evil. Bagaimana jahat-radikal ini bisa muncul seiring bahasa masih menjadi misteri.

Apakah jahat-radikal ini memang perlawanan terhadap etika-universal? Tidak. Karena etika-universal tidak bisa dilawan; secara prinsip, semua manusia menerima etika-universal. Tetapi ada kemungkinan kamulfase-universal; yaitu mereka klaim sebagai etika-universal tetapi sejatinya hanya kamuflase. Bagaimana pun, kamuflase adalah jahat dan jahat-radikal memang jahat juga.

Mari kita ambil contoh kasus bom-Marriot beberapa dekade yang lalu.

Hotel Marriot klaim bahwa etika kapitalisme adalah universal; mengejar profit adalah universal. Tentu, kita sadar, itu hanya kamulfase universal; mengejar profit bukan etika universal. Kamuflase universal ini tampak dalam bentuk yang melanggar tatanan lokal misal mabuk-mabukan atau seks bebas; yang dinilai sebagai maksiat. Beberapa pihak melakukan perlawanan berupa bom terhadap Marriot karena menjadi pusat maksiat.

(a) Kamuflase universal menjadi pemicu; bukan etika universal sebagai pemicu. Kamuflase itu sendiri adalah jahat.

(b) Perlawanan berupa bom melukai banyak orang adalah tetap jahat.

(c) Etika universal adalah bahasa yang baik. Sementara kamuflase universal membutuhkan tindakan, sering berupa dominasi, untuk tegak.

Mari kita ringkas: hakekat manusia adalah makhluk berbahasa. Dengan bahasa, manusia menjadi sangat fleksibel: (1) adaptasi sesuai situasi konkret; (2) meraih etika universal; (3) risiko terjebak dalam kejahatan.

Fleksibilitas manusia yang sangat besar ini kami sebut sebagai posibilitas dalam buku Probabilitas et Realitas (2025). Hakikat manusia adalah suatu posibilitas menuju posbilitas lain yang lebih luas. Bahkan, kematian manusia adalah pembuka posibilitas yang imposibel bila tidak mengalami kematian. Jadi, manusia adalah posibilitas demi posibilitas. Apa posibilitas yang Anda buka secara luas?

5. Koneksi Kosmis

“Now to indicate in summary, provisional fashion, what this connection
amounts to, I’d like to look again at nature and role of ritual. Ritual serves to reconnect us to the whole. So I spoke above of rituals of reconnection. These not only serve to reconnect with the gods/spirits/cosmos, but also are the principal path by which this triple reality is conceived or understood, along with myth.” (343).

Sebagai rangkuman sementara, saya ingin menjelaskan kembali makna dari hubungan ini dengan melihat pada sifat dan peran ritual. Ritual berfungsi untuk menghubungkan kembali manusia dengan keseluruhan tatanan kehidupan.

Seperti yang telah saya sebutkan sebelumnya, ritual-ritual ini bertujuan untuk menjalin kembali hubungan—baik dengan Tuhan, roh, maupun dengan alam semesta. Namun lebih dari itu, ritual juga merupakan jalan utama bagi manusia untuk memahami keberadaan tiga hal tersebut (yaitu Tuhan/roh, alam semesta, dan kehidupan manusia itu sendiri), bersama-sama dengan mitos sebagai bentuk penjelasan simbolis dan naratif.

Sains modern yang mereduksi segala sesuatu menjadi angka belaka, atau menjadi sekadar data, adalah keliru besar.

“But my sense throughout this book has been that this reductive stance
is mistaken, and that these historically evolving intuitions correspond to
something real and important in our relation to our natural environment, something that we need to understand better, appreciate more fully, and in the end cherish more strongly—if this relation is not to turn terminally lethal. … I am proposing that the need / desire for cosmic connection has been a perennial feature of human life.” (Cosmic Connection, 596).

Namun, saya berpandangan bahwa pendekatan yang terlalu menyederhanakan suatu hal adalah keliru. Intuisi-intuisi yang terus berkembang sepanjang sejarah manusia, yang mendorong kita untuk merasakan keterhubungan, sesungguhnya memiliki nilai nyata dan penting dalam hubungan kita dengan lingkungan alam. Hubungan ini perlu kita pahami dengan lebih baik, hargai secara lebih penuh, dan pada akhirnya kita jaga dengan lebih kuat, agar tidak berubah menjadi sesuatu yang sangat merugikan.

Saya mengusulkan bahwa kebutuhan atau keinginan untuk terhubung secara kosmik—yaitu, merasakan ikatan mendalam dengan alam semesta yang luas—telah menjadi ciri khas yang abadi dalam kehidupan manusia.

“I have traced in this book some of the crucial stages of this aspiration to reconnect. And I am now, at the very end of this book, looking speculatively beyond its time frame of a scant two and a half centuries, to posit the idea of a perennial longing to invoke and renew this sense of connection.

As I said in that book, the “landscapes” of meaning we live by are never fully explicable by features of the world beyond our experience but have
to be explained and justified hermeneutically. Many of the crucial meanings that our world has for us are only identifiable in what I have
called here the “interspace.” …

On the other side, it invites us to engage in this navigation, this attempt to articulate what is really of ultimate importance to us, in the full gamut of media available to us, including the poetry which has been central to our discussion in this book. “(CC, 598).

Wilayah makna hubungan kosmik (1) tidak bisa digapai oleh bahasa abstrak matematika; tidak bisa bahasa metafisika; tidak bisa bahasa teoritis; tidak bisa penjara bahasa. Untuk meraih hubungan kosmik kita membutuhkan (2) bahasa hermeneutik; bahasa yang menggali makna terus-menerus; bahasa sebagai rumah umat manusia.

Semua ini mengajak kita untuk menyebut nama-nama paling indah; mengartikulasikan makna paling penting dengan berlimpahnya media bagi kita. Bahasa (3) puisi menjadi media utama untuk memasuki rumah bahasa.

6. Ringkasan

Bahasa memiliki dua mode: (1) instrumentalisme yang menjadikan bahasa sebagai penjara; (2) konstitutif yang menjadikan bahasa sebagai rumah umat manusia. Awalnya, bahasa adalah sebagai rumah. Kemudian, pihak-pihak tertentu mengubahnya menjadi penjara melalui dominasi.

Hakekat manusia di rumah bahasa adalah sebagai makhluk berbahasa yang memiliki fleksibilitas sangat luas: (1) dengan bahasa manusia mampu adaptasi terhadap situasi konkret dan membangun etika; (2) lebih lanjut mengembangkan etika universal; (3) dengan bahasa juga, manusia dalam risiko terjebak jahat-radikal.

Apa makna dari sebuah kata? Makna sebuah ucapan? Makna suatu bahasa? Makna dari sebuah kata adalah bersifal putaran hermeneutik; lingkaran hermeneutik; yang senantiasa menuju futuristik. Langkah menuju futuristik ini adalah penguatan dari hubungan kosmis; penguatan segala anugerah.

7. Diskusi

Bagaimana menurut Anda?

Taylor berhasil mengembangkan teori bahasa yang luas dan mendalam. Teori bahasa ini makin sempurna dengan terbitnya Cosmic Connection di 2024; Taylor usia 91 tahun kala itu.

Bagaimana hubungan bahasa dengan time? Dengan being? Dengan kehidupan setelah wafat?

7.1 Hakikat Bahasa

Apa sejatinya bahasa itu? Apa hakikat bahasa? Apa esensi konkret dari eksistensi bahasa?

Taylor bisa menjawab hakikat bahasa adalah yang dibahas oleh dua buku itu: The Language Animal dan Cosmic Connections. Meski dua buku itu menjelaskan hakikat bahasa dengan baik, kita membutuhkan penjelasan lebih singkat; barangkali sekitar 5 paragraf saja. Sulit untuk menemukan jawaban singkat dari Taylor. Kita akan mencobanya.

“But clearly the Romantics had a stronger thesis than this. They wanted
to claim not just that A-through- B structures play a big role in language, but also that signs really do inhere in things, and that we have lost the capacity to read them. This means that seeing the signs correctly is reconnecting; and that this makes a real difference; an ethical difference, in that it constitutes an important human realization. This needs further explanation.” (CC, 22).

“All this was lived by many people with a sense of loss, and with a corresponding aspiration to recover a contact with nature which the large scale, successful application of instrumental reason was destroying. This sense of loss, and longing to recover the link to nature, was a central aspiration of the Romantic period, and remains powerful today.” (CC, 23).

Esensi bahasa adalah: (1) instrumen komunikasi; (2) konstitutor realitas; (3) jawaban dari sapaan Tuhan.

Esensi bahasa sebagai instrumen dan konstitutor sudah kita bahas. Sedangkan esensi bahasa sebagai “jawaban” dari sapaan Tuhan adalah mengagetkan banyak pihak. Tuhan menyapa manusia melalui bahasa kemudian manusia menjawab berupa bahasa pula.

Naturalisme yang tidak membahas Tuhan, mereka selalu bingung bagaimana bahasa bisa muncul dalam peradaban manusia pertama kali. Mereka mengira bahwa jaman dahulu, kuno banget, ada masa ketika nenek moyang manusia tidak punya bahasa. Kemudian, nenek moyang itu berteriak menghasilkan suara-suara. Seiring waktu, suara-suara itu dikenali oleh nenek moyang sebagai bahasa; terciptalah bahasa. Anggapan seperti itu tidak terbukti benar.

Karena agar nenek moyang bisa mengubah suara-suara menjadi bahasa, nenek moyang perlu konsep berpikir yang berupa bahasa. Jadi, nenek moyang sudah memiliki bahasa ketika hendak mengubah suara menjadi bahasa. Kemampuan bahasa itu sudah ada pada nenek moyang; itu yang benar. Kemudian Tuhan menyapa nenek moyang melalui perjumpaan dengan orang lain atau melalui monolog; nenek moyang menjawab sapaan berupa bahasa.

“God didn’t teach us language in the way we teach each other. But on the other hand, our language is a response to God’s, the language of signs in the world. We don’t develop language fully on our own, as the mainline Enlightenment theory had it, and as Herder seemed to be saying in his own way. Our language is already a reply to a message addressed to us, a reply which consists of a translation. Language is thus in its very origin dialogical and continues to develop in exchange between human beings.” (CC, 30).

7.2 Falsifikasi Hermeneutik

Apakah esensi bahasa, sebagai jawaban atas sapaan Tuhan, bisa diuji secara ilmiah? Bisa difalsifikasi?

Popper menyadari bahwa falsifikasi berlaku terbatas kepada sains empiris. Esensi bahasa sebagai jawaban sapaan Tuhan bisa kita kenali secara empiris. Hanya saja, proses falsifikasi ala Popper justru memerlukan esensi bahasa sudah hadir lebih awal. Tanpa esensi bahasa, kita tidak bisa melakukan falsifikasi. Jadi, falsifikasi datang terlambat setelah esensi bahasa.

Cara yang lebih tepat mengenali esensi bahasa adalah melalui proses hermeneutik melingkar tanpa henti. Untuk bisa memahami esensi bahasa, kita butuh interpretasi; sedangkan untuk interpretasi, kita butuh esensi bahasa; kita berada dalam lingkaran hermeneutik yang tepat.

Esensi bahasa adalah (4) sapaan Tuhan: bagaimana manusia bisa mengucapkan bahasa? Manusia bisa mengucapkan bahasa karena esensi bahasa yang diucapkan oleh manusia adalah sapaan Tuhan yang sudah berupa bahasa. Tuhan menganugerahi manusia suatu bahasa. Kemudian Tuhan menyapa; lalu, manusia mengucapkan bahasa.

Bagaimana manusia bisa menerima anugerah bahasa? Manusia bukan suatu badan yang menerima anugerah bahasa. Manusia (5) adalah esensi bahasa itu sendiri. Tuhan berfirman dan firman itu adalah manusia.

Sampai di sini, kita mengenali esensi bahasa adalah: (1) instrumen komunikasi; (2) konstitutor realitas; (3) jawaban; (4) sapaan Tuhan; (5) esensi manusia. Kita bisa memahami beragam esensi bahasa tersebut dengan syarat berani mendobrak jeruji penjara bahasa sebagai instrumen; sehingga bahasa adalah rumah bagi umat manusia.

7.3 Nasib Manusia

Bagaimana nasib manusia sehubungan dengan esensi bahasa?

Secara garis besar ada dua macam nasib: (1) sengsara dalam penjara instrumen bahasa; atau (2) bermakna dalam rumah bahasa konstitutif realitas.

Penjara bahasa terbagi dua ekstrem: (a) penguasa elit yang mendominasi seluruh warga; dan (b) warga alit rakyat jelata tanpa daya. Penguasa elit bingung karena makin besar kekuasaan justru makin linglung. Warga alit, dalam jumlah yang besar, banyak yang sama bingung menjadi korban penindasan. Sebagian warga alit berjuang untuk bebas dari penjara menuju rumah bahasa. Sebagian sangat kecil dari penguasa elit juga berjuang untuk lepas dari penjara. Terdapat spektrum gradasi dari warga alit sampai penguasa elit.

Di tempat lain, penghuni rumah bahasa mengembangkan nasib yang lebih bermakna: ketika hidup mau pun mati. Manusia hidup di rumah bahasa dengan bantuan metafora, perlambang, dan puisi.

“We have to avoid two unsatisfactory notions of what philosophical poetry could be. Jarvis’ reflections on the possible relations of poetry to philosophy take us beyond the choice between (1) seeing poetry as a potentially decorative and pleasing presentation of a philosophical doctrine already elaborated elsewhere, on one hand, and (2) elevating it to the status of a direct route to philosophic truth, independent of ratiocination and argument, on the other. (1) denies that poetry can be a source of deep insight; (2) fails to see that it convinces through the force of the experience of connection, which is very different from conviction gained through the force of argument. This means that by its very nature, poetic insight will often be incomplete, tentative, and enigmatic (which is not to say that philosophical argument, which aims at clarity and certainty, will not frequently fail to encompass these in its own way); but it also means that serious philosophy cannot afford to ignore poetic insight.” (CC, 35-6).

Puisi berfungsi: (1) membantu memahami konsep filosofis dengan jalan yang lebih ringan; (2) mengangkat pemahaman manusia ke tingkat yang lebih tinggi dari proses pemahaman filosofis; secara langsung. Taylor mengingatkan peran penting: (3) menguatkan koneksi kosmis; termasuk koneksi antara nalar rasional, argumen filosofis, dan pengalaman estetis; termasuk pengalaman eksistensi ruhaniah. Bersama puisi, alam semesta kembali bertabur pesona.

But they both propose poetry as a way of filling the gap; more exactly a way of recovering the lost connection in a new form: what will sometimes be understood later as a way of “reenchanting the world.” (CC, 36).

Banyak posibilitas luas yang tersedia untuk nasib manusia di rumah bahasa. Terbuka posibilitas menembus sejarah masa lalu, mengarungi ombak kehidupan masa kini, dan menatap cahaya terang masa depan. Hakikat manusia berjalin kelindan dengan hakikat bahasa, hakikat waktu, dan hakikat wujud.

Bagaimana menurut Anda?

Moralitas Agama: Kitab Suci atau Akal?

Jika tampak ada pertentangan moral antara ajaran kitab suci dengan akal maka kita harus memilih yang mana?

Bisa saja tafsir terhadap kitab sucinya salah maka kita harus berpegang kepada akal. Tapi bisa saja, akal yang salah paham sehingga kita harus berpegang kepada kitab suci. Bila kitab suci dan akal sama-sama benar tetapi bertentangan maka pilih yang mana?

Sambil memikirkan hubungan kitab suci dengan akal, silakan mempertimbangkan dilema Nabi Ibrahim untuk mengorbankan Putranya; dan sikap Hamzah membela minoritas. Kesimpulan awal: akal membutuhkan kitab suci dan kitab suci membutuhkan akal.

Dilema Ibrahim: Tuhan memerintahkan agar membunuh putranya. Haruskah Ibrahim mengikuti perintah Tuhan? Atau Ibrahim harus mengikuti akal untuk melindungi putranya?

Sikap Hamzah: Hamzah menolak ajaran Islam ketika Nabi mengajaknya untuk memeluk Islam. Seiring waktu, pemeluk Islam di Makkah terus bertambah meski amat minoritas sebagai muslim. Abu Jahal, seorang paman Nabi sebagaimana Hamzah, melakukan penindasan kepada minoritas muslim. Hamzah menolak penindasan itu dengan membela minoritas muslim dengan cara Hamzah memeluk agama Islam.

1. Posisi Kitab Suci dan Akal
(A) Bantuan Pengetahuan (Epistemik)
(B) Bantuan Motivasi
(C) Kemungkinan Kebajikan Tertinggi
(D) Menyelesaikan Masalah Koordinasi
(E) Persyaratan Spiritual
(F) Menghargai Hubungan Kita dengan Tuhan
(G) Nilai Devosional
(H) Dasar untuk Perluasan Moralitas Non-Antroposentris
(I) Penguatan Kebenaran dan Pikiran
(J) Diskusi

2. Utamakan Kitab Suci
(A) Ghazali
(B) Abdul Jabbar
(C) Farabi

3. Utamakan Akal
(A) Ar Razi
(B) Akal Jujur
(C) Interpretasi Kontekstual

4. Penguatan
(A) Penguataan Kebenaran-Realitas
(B) Penguatan Pikiran
(C) Petunjuk Beda dengan Klaim Kebenaran
(D) Hakikat Manusia Futuristik
(E) Hakikat Manusia Asli

5. Diskusi
5.1 Keragaman
5.2 Kitab Suci Konkret
5.3 Akal Konkret

Ibrahim mengutamakan perintah Tuhan untuk mengorbankan putranya; dan melemahkan posisi akal di bawah perintah Tuhan. Hamzah berbeda. Hamzah menolak ajakan Nabi; melemahkan perintah Tuhan untuk masuk Islam pada awalnya. Hamzah menguatkan sikap akal untuk membela minoritas yang tertindas. Baru setelah itu, Hamzah menerima ajaran Tuhan dengan memeluk Islam. Mana yang harus menjadi teladan: Ibrahim atau Hamzah?

1. Posisi Kitab Suci dan Akal

Kutipan-kutipan dalam bahasa Inggris berikut bersumber dari karya Amir Saemi yang terbit 2024.

“(A) Epistemic Assistance. Scripture’s moral teachings about benevolence and justice can help ordinary people to learn about the high demands of morality. Our vices sometimes cloud our moral reasoning, and self-interest might prevent some people from knowing what moral obligations they have. Scripture can help many people across the world to know about their moral duties and obligations. Consider these (Medinan and Meccan) verses of the Qur’an: “You will not attain virtuous conduct until you give of what you cherish” (3:92). “And to be of those who believe, and advise one another to patience, and advise one another to kindness” (90:17). Ideally, we should know by reason that virtue requires sacrifice, and that we have an obligation to be kind to one another. But verses like these are very reassuring and instructive for people who might have reservation about how they should live their lives.”

(A) Bantuan Pengetahuan (Epistemik):

Ajaran moral dalam kitab suci mengenai kebaikan hati dan keadilan dapat membantu masyarakat umum memahami tuntutan tinggi dari moralitas. Terkadang, kebiasaan buruk kita bisa mengaburkan penalaran moral, dan kepentingan pribadi mungkin menghalangi sebagian orang untuk mengetahui kewajiban moral mereka. Kitab suci dapat membantu banyak orang di seluruh dunia untuk memahami tugas dan kewajiban moral mereka.

Sebagai contoh, perhatikan ayat-ayat Al-Qur’an berikut (baik dari periode Madinah maupun Mekah): “Kamu tidak akan memperoleh kebajikan (yang sempurna) sebelum kamu menginfakkan sebagian harta yang kamu cintai” (QS. Ali Imran: 92). Dan, “Dan termasuk orang-orang yang beriman, serta saling menasihati untuk kesabaran dan saling menasihati untuk kasih sayang” (QS. Al-Balad: 17).

Idealnya, kita seharusnya sudah tahu melalui akal bahwa kebajikan membutuhkan pengorbanan, dan bahwa kita memiliki kewajiban untuk bersikap baik satu sama lain. Namun, ayat-ayat seperti ini sangat menenangkan dan memberikan petunjuk bagi orang-orang yang mungkin masih ragu tentang bagaimana seharusnya mereka menjalani hidup.

“(B) Motivational Assistance. Scripture can provide us with motivational assistance for moral behavior. In fact, the Muʿtazilites held that an instance of divine grace (lutf) is God’s motivational help for us to act morally. Various studies have shown that the belief in the existence of an outside observer motivates people to act morally. Belief in the cosmic punitive system also might provide extra reasons or incentives for people to act morally. One might think that the afterlife incentive is the wrong kind of reason to act morally, but as various philosophers have argued, believers need not act morally purely out of self-interest. Afterlife can play a supplementary role for moral behaviors.”

(B) Bantuan Motivasi:

Kitab suci dapat memberikan kita dorongan atau motivasi untuk berperilaku sesuai moral. Bahkan, aliran Mu’tazilah (salah satu kelompok pemikir dalam Islam) berpendapat bahwa salah satu bentuk rahmat ilahi (lutf) adalah bantuan motivasi dari Tuhan agar kita bertindak secara moral. Berbagai penelitian juga menunjukkan bahwa keyakinan akan adanya pengamat dari luar (misalnya, Tuhan) memotivasi orang untuk bertindak secara moral. Keyakinan pada sistem pembalasan di alam semesta (pahala dan dosa) juga bisa memberikan alasan atau dorongan tambahan bagi seseorang untuk bertindak secara moral.

Mungkin ada yang berpendapat bahwa motivasi pahala di akhirat adalah alasan yang kurang tepat untuk bertindak moral. Namun, seperti yang telah disampaikan oleh berbagai filsuf, para penganut agama tidak harus bertindak moral semata-mata karena kepentingan pribadi. Harapan akan kehidupan setelah mati dapat berperan sebagai pelengkap atau penguat bagi perilaku moral.

“(C) The Possibility of the Highest Good. Kant famously identified the highest good with “happiness distributed [to persons] quite exactly in proportion to [their] morality (as a person’s worth and his worthiness to be happy).” The highest good, for him, is neither merely being happy nor merely acting morally, but rather being happy because of our moral behaviors. The Muʿtazilites had the exact same conception of the highest good. According to them, the value of receiving heavenly rewards because of one’s efforts is much higher than the value of receiving some favor of God when one has done nothing to deserve it. In Kant’s view, while morality would be pointless if the highest good were not attainable for us, we cannot show that it is attainable—we can only hope that it is. Scripture can reassure believers that the highest good is attainable.

(C) Kemungkinan Kebajikan Tertinggi:

Immanuel Kant, seorang filsuf terkenal, mengartikan kebajikan tertinggi sebagai “kebahagiaan yang diberikan kepada seseorang secara tepat sesuai dengan moralitasnya (sebagai nilai dan kelayakannya untuk bahagia).” Bagi Kant, kebajikan tertinggi bukanlah sekadar bahagia atau sekadar bertindak moral, melainkan menjadi bahagia karena perilaku moral kita.

Aliran Mu’tazilah memiliki konsep kebajikan tertinggi yang persis sama. Menurut mereka, nilai menerima pahala surgawi karena usaha seseorang jauh lebih tinggi daripada menerima karunia Tuhan tanpa melakukan apa pun untuk layak mendapatkannya. Dalam pandangan Kant, moralitas akan menjadi tidak berarti jika kebajikan tertinggi tidak dapat kita capai. Namun, kita tidak bisa membuktikan bahwa hal itu bisa dicapai—kita hanya bisa berharap. Kitab suci dapat meyakinkan para penganut agama bahwa kebajikan tertinggi memang dapat dicapai.

“(D) Solving Coordination Problems. The possibility of performing collective actions is dependent on solving various coordination problems. In general, coordination problems for collective action can be solved by authorities. In a religious context, Scripture can help us to perform collective religious actions. For example, we might think that whatever value there is in prayer is magnified when many individuals are required to pray together. The nature and the value of prayers can be transformed when done in a coordinated group. In this Medinan verse, the Qur’an exhorts us to pray collectively: “O Mary, be devoted to your Lord, and bow down, and kneel with those who kneel” (3:43). But collective prayer requires coordination on the location and timing of prayer. In this way, Scripture can make new values available to us by making it possible to perform collective religious actions.”

(D) Menyelesaikan Masalah Koordinasi:

Kemampuan untuk melakukan tindakan bersama (kolektif) bergantung pada penyelesaian berbagai masalah koordinasi. Secara umum, masalah koordinasi untuk tindakan kolektif dapat diatasi oleh pihak berwenang. Dalam konteks keagamaan, kitab suci dapat membantu kita untuk melakukan tindakan keagamaan secara bersama-sama. Sebagai contoh, kita mungkin berpikir bahwa nilai dari doa akan berlipat ganda ketika banyak individu diminta untuk berdoa bersama. Sifat dan nilai doa dapat berubah ketika dilakukan dalam kelompok yang terkoordinasi.

Dalam ayat Madinah ini, Al-Qur’an memerintahkan kita untuk salat secara berjamaah: “Wahai Maryam, taatlah dengan khusyuk kepada Tuhanmu, sujudlah, dan rukuklah bersama orang-orang yang rukuk” (QS. Ali Imran: 43). Namun, salat berjamaah membutuhkan koordinasi lokasi dan waktu salat. Dengan cara ini, kitab suci dapat memberikan nilai-nilai baru bagi kita dengan memungkinkan dilakukannya tindakan keagamaan secara kolektif.

“(E) Spiritual Requirements. Spiritual requirements are those requirements that help us to grow spiritually. Scripture can teach us about spiritual requirements. In particular, some spiritual requirements might not be precisely translatable into empirical requirements. For example, consider the history of praying toward the qiblah (direction of prayer toward the Kaaba, the House of God, in Mecca). We can think of the qiblah as a spiritual requirement (prayer figuratively oriented toward God) translated into an empirical requirement of literally facing Mecca. Praying itself might be another spiritual requirement. The specific way that Islamic prayer is performed (e.g., five times a day in a specific manner) is a translation of the spiritual requirement into an empirical requirement. The same can be said of other Islamic rituals. Scripture can teach us empirical requirements that correspond to spiritual requirements.”

(E) Persyaratan Spiritual:

Persyaratan spiritual adalah kebutuhan-kebutuhan yang membantu kita untuk bertumbuh secara rohani. Kitab suci dapat mengajarkan kita tentang persyaratan spiritual ini. Khususnya, beberapa persyaratan spiritual mungkin tidak dapat diterjemahkan secara persis menjadi persyaratan yang bersifat fisik atau empiris.

Sebagai contoh, perhatikan sejarah salat menghadap kiblat (arah salat menuju Ka’bah, Baitullah, di Mekah). Kita bisa menganggap kiblat sebagai persyaratan spiritual (salat yang secara kiasan berorientasi kepada Tuhan) yang diterjemahkan menjadi persyaratan empiris, yaitu secara harfiah menghadap Mekah. Salat itu sendiri mungkin merupakan persyaratan spiritual lainnya. Cara spesifik salat dalam Islam dilakukan (misalnya, lima kali sehari dengan tata cara tertentu) adalah terjemahan dari persyaratan spiritual menjadi persyaratan empiris. Hal yang sama dapat dikatakan untuk ritual-ritual Islam lainnya. Kitab suci dapat mengajarkan kita persyaratan empiris yang sesuai dengan persyaratan spiritual.

“(F) Valuing Our Relationship to God. Suppose my mother asks me to do something. My special relationship to my mother gives me a reason to do her bidding—regardless of whether there are any other, independent reasons to do the thing she asks me to do. My decision to do as she asks in this instance allows me to demonstrate that I value my special relationship to her for its own sake. Similarly, to do God’s bidding allows one to show that one holds one’s relationship with God in special esteem, for its own sake. For instance, if God asks me to go above and beyond the call of duty and perform certain supererogatory or ritualistic actions, I may show that I value my relationship to God (for its own sake) by following this command. I do what God asked me to do in part because He asked me to. I do God’s bidding because I value my relationship to God (this provides a reason for a believer to adhere to the requirements of praying, fasting, and pilgrimage found in many Medinan verses).”

(F) Menghargai Hubungan Kita dengan Tuhan:

Bayangkan jika ibu saya meminta saya melakukan sesuatu. Hubungan istimewa saya dengan ibu memberikan alasan bagi saya untuk menuruti permintaannya—terlepas dari apakah ada alasan lain yang independen untuk melakukan hal yang diminta. Keputusan saya untuk menuruti permintaan ibu dalam kasus ini menunjukkan bahwa saya menghargai hubungan istimewa saya dengannya demi hubungan itu sendiri.

Demikian pula, menuruti perintah Tuhan memungkinkan seseorang untuk menunjukkan bahwa ia sangat menghargai hubungannya dengan Tuhan, demi hubungan itu sendiri. Misalnya, jika Tuhan meminta saya untuk melakukan lebih dari sekadar kewajiban dan melaksanakan tindakan-tindakan sunah atau ritual tertentu, saya dapat menunjukkan bahwa saya menghargai hubungan saya dengan Tuhan (demi hubungan itu sendiri) dengan mengikuti perintah ini. Saya melakukan apa yang Tuhan minta sebagian karena Dia yang memintanya. Saya menuruti perintah Tuhan karena saya menghargai hubungan saya dengan Tuhan (ini memberikan alasan bagi seorang penganut agama untuk mematuhi persyaratan salat, puasa, dan haji yang banyak ditemukan dalam ayat-ayat Madinah).

“(G) Devotional Value. Religious requirements can help us to develop religious virtues. For instance, the Buddha is reported to have compared the dharma to a raft that disciples might use to cross a river— only to then leave it behind as they progress further along the path to Enlightenment. To give another example, a practitioner might be directed to recite a certain text an arbitrary number of times. Obedience to such a directive might be necessary for teaching the practitioner to moderate his compulsive need for personal control over his circumstances, and that (in turn) may be necessary for him to progress toward liberation and salvation. Scripture can specify requirements involving devotional values.”

(G) Nilai Devosional:

Persyaratan keagamaan dapat membantu kita mengembangkan kebajikan-kebajikan religius. Sebagai contoh, Buddha dilaporkan pernah membandingkan ajaran (dharma) dengan rakit yang dapat digunakan para murid untuk menyeberangi sungai—hanya untuk kemudian meninggalkan rakit itu setelah mereka melangkah lebih jauh di jalan menuju Pencerahan.

Untuk contoh lain, seorang praktisi mungkin diarahkan untuk melafalkan teks tertentu berkali-kali. Ketaatan terhadap arahan semacam itu mungkin diperlukan untuk mengajarkan praktisi agar mengendalikan kebutuhan kompulsifnya akan kendali pribadi atas keadaannya, dan hal itu (pada gilirannya) mungkin diperlukan baginya untuk maju menuju pembebasan dan keselamatan. Kitab suci dapat menetapkan persyaratan yang melibatkan nilai-nilai devosional.

“(H) A Basis for Nonanthropocentric Expansion of Morality. Many of us believe that our moral duties are not only to humans; we have duties to nonhuman animals as well. Some environmental ethicists believe that we have also duties to nonliving objects, including ecosystems, mountains, rivers and the earth itself. But it is hard to figure out what the basis of our duties to nonliving things would be. A popular approach in environmental ethics is to hold that the self is part of the natural world and that the earth, from a moral point of view, should be treated as a living thing. But it is hard to find convincing arguments for such views. Scripture can offer believers a divine view of nature and its connection to the self. As a result, Scripture can provide a more secure basis for a nonanthropocentric ethics in which we have duties to both living and non-living elements of the natural world.”

(H) Dasar untuk Perluasan Moralitas Non-Antroposentris:

Banyak dari kita percaya bahwa kewajiban moral kita tidak hanya berlaku untuk sesama manusia; kita juga memiliki kewajiban terhadap hewan non-manusia. Beberapa etikus lingkungan bahkan berpendapat bahwa kita memiliki kewajiban terhadap benda mati, termasuk ekosistem, gunung, sungai, dan bumi itu sendiri. Namun, sulit untuk menemukan dasar yang jelas mengenai kewajiban kita terhadap benda-benda tak hidup.

Pendekatan populer dalam etika lingkungan adalah berpendapat bahwa diri adalah bagian dari alam, dan dari sudut pandang moral, bumi harus diperlakukan sebagai makhluk hidup. Namun, sulit untuk menemukan argumen yang meyakinkan untuk pandangan semacam itu. Kitab suci dapat menawarkan kepada para penganut agama pandangan ilahi tentang alam dan hubungannya dengan diri. Sebagai hasilnya, kitab suci dapat memberikan dasar yang lebih kokoh untuk etika non-antroposentris, di mana kita memiliki kewajiban terhadap elemen hidup maupun tidak hidup di alam.

(I) Penguatan Kebenaran dan Pikiran

Kitab suci dalam bentuk bahasa adalah untuk menguatkan kebenaran-realitas dan menguatkan pikiran. Awalnya, realitas sudah ada, misal gerhana bulan. Kemudian, kitab suci menguatkan kebenaran-realitas gerhana bulan sebagai tanda keagungan Tuhan. Kita menjadi lebih kagum dan syukur atas beragam anugerah realitas yang ada karena kitab suci menguatkan kebenarannya.

Kitab suci menguatkan pikiran yang semula baru berupa benih. Anda terlintas ide untuk mengajari anak-anak tetangga matematika dengan cara menyenangkan. Kemudian kitab suci menegaskan bahwa membela masyarakat kecil, misal mengajari anak tetangga, adalah amal yang dicintai Tuhan. Ide Anda yang awalnya berupa benih itu bertumbuh pucuk daun yang makin lebat dengan dahan makin kuat dan cengkeraman akar yang mengikat. Kitab suci menguatkan pikiran-pikiran terbaik umat manusia.

(J) Diskusi

Bagaimana menurut Anda?

Jadi, bagaimana solusi dari dilema Ibrahim: Apakah Ibrahim harus mengikuti perintah Tuhan untuk membunuh Putranya? Atau Ibrahim memilih menjaga Putranya tetap hidup? Poin pembahasan A sampai I di atas sudah cukup untuk menyelesaikan dilema Ibrahim. Lebih detil solusi dilema ini sudah saya bahas pada tulisan terdahulu.

Untuk poin I, Penguatan Kebenaran dan Pikiran, akan kita bahas lebih lenjut di bagian bawah. Poin I ini merupakan salah satu poin terpenting.

2. Utamakan Kitab Suci

Kitab suci dijamin benar; akal memiliki beragam keterbatasan. Solusi: utamakan kitab suci. Meski, dalam mengutamakan kitab suci, kita perlu memanfaatkan akal secara maksimal.

(A) Konsekuensi Ghazali

Ghazali berpandangan bahwa setiap perilaku moral berdampak suatu konsekuensi. Akal mampu memahami konsekuensi moral dengan batas-batas tertentu. Sementara, Tuhan Maha Tahu terhadap segala konsekuensi. Solusinya, adalah taat kepada kitab suci yang berupa firman Tuhan Maha Tahu; sambil memanfaatkan akal untuk memahami konsekuensi secara maksimal.

Maksud Ghazali tentang perilaku moral dan konsekuensi adalah bersifat konkret; bukan sekedar universal abstrak. Ketika Anda berbagi makanan kepada tetangga Anda yang membutuhkan maka itu adalah perilaku moral konkret yang nyata. Konsekuensinya juga nyata, misal, tetangga Anda menjadi bahagia karena bisa makan enak dan sehat hari itu. Kemudian, tetangga Anda menjadi semangat untuk bekerja dan menolong tetangga lainnya. Dari sisi Anda, barangkali Anda bersyukur karena bisa sedikit banyak meringankan beban tetangga. Hidup Anda, hari itu, menjadi lebih kaya makna dan masih ada konsekuensi lainnya.

Apa konsekuensi nyata dari perilaku moral Anda kepada tetangga itu? Ghazali yakin bahwa akal kita bisa memikirkan konsekuensi-konsekuensi itu. Tetapi, kita yakin hasil pikiran kita pasti terbatas; ada konsekuensi yang terlewat dari pikiran kita; bahkan bisa lebih banyak yang terlewat. Solusi Ghazali adalah agar kita mengutamakan petunjuk Alquran. Kajilah Alquran lalu pikirkan baik-baik. Kaji Alquran lagi dan berpikirlah lagi. Kaji Alquran lebih mendalam lagi dan bukalah pikiran Anda seluas-luasnya.

(B) Kewajiban Abdul Jabbar

Setiap orang memiliki kewajiban tertentu untuk kebaikan dirinya dan alam raya (deontologi). Akal kita mampu memahami beragam kewajiban ini meski terbatas. Tuhan Maha Tahu atas segala kewajiban terbaik untuk semua orang. Jadi utamakan kewajiban yang ditetapkan Tuhan dalam kitab suci; sambil secara maksimal menggunakan akal untuk memahami kewajiban.

Kewajiban (versi Jabbar) ini berbeda dengan konsekuensi (versi Ghazali). Kewajiban bersifat universal: menghormati ibu, jangan mencuri, jangan membunuh, dan lain-lain. Sementara, konsekuensi mengkaji kasus konkret: apa konsekuensinya bila memberi hadiah baju baru untuk ibu lebaran tahun ini?

Kita, sebagai manusia, mampu memahami beragam kewajiban universal itu. Tetapi, menurut Jabbar, banyak kewajiban yang manusia tidak mampu memahaminya kecuali dengan bantuan kitab suci. “Jangan berkata ‘ah…’ kepada orang tuamu!” pesan dari kitab suci. Barangkali, akal kita mengira boleh-boleh saja bilang sekadar “ah” kepada orang tua. Kitab suci dengan tegas melarangnya. Kitab suci menegaskan kita wajib menghormati orang tua di segala situasi.

Russell (1872 – 1970) mengusulkan sebaiknya dibolehkan hubungan badan asalkan suka sama suka; dibolehkan zina. Kitab suci menegaskan larangan zina; mewajibkan pernikahan untuk hubungan suami istri. Kajian menunjukkan bahwa zina merugikan para pelakunya dan merugikan masyarakat serta alam sekitar. Kajian yang lain menunjukkan zina berdampak baik. Sampai saat ini, masih terjadi pro-kontra bila menggunakan akal saja. Sementara, kitab suci dengan tegas melarang zina demi kebaikan bersama. Kitab suci menjadi panduan kewajiban yang jelas.

(C) Karakter Farabi

Setiap manusia memiliki karakter untuk berkembang terus menjadi karakter sempurna sebagai insan kamil; sebagai manifestasi Nama-Nama Indah Tuhan. Kita memahami beragam karakter utama untuk menjadi manusia dewasa. Sementara, Tuhan Maha Tahu atas segala karakter utama buat manusia dan cara-cara untuk mengembangkannya. Solusinya: utamakan bimbingan kitab suci untuk menyempurnakan karakter insan kamil; sambil secara maksimal memanfaatkan akal.

3. Utamakan Akal

Utamakan akal setelah berjuang secara maksimal memahami kitab suci dan seluruh situasi. Tentu saja, maksud akal di sini adalah akal sejati bukan sekadar akal-akalan. Mengutamakan akal adalah tugas yang lebih berat; karena kita harus bertanggung jawab penuh atas proses dan hasilnya. Jadi, orang jujur yang mengutamakan akal lebih besar menanggung beban tanggung jawab.

(A) Surga PerjuanganRazi

Surga yang indah itu menjadi hadiah dari Allah yang sangat bermakna ketika Anda memperoleh surga melalui perjuangan. Sementara, fasilitas yang diperoleh tanpa perjuangan menjadi hilang makna; atau miskin makna. Bahkan, perjuangan itu sendiri yang memberi makna; atas karunia Allah semata.

(B) Akal yang Jujur Bisa Paham

Akal yang jujur bisa memahami moral baik mau pun buruk; tentu tetap mempertimbangkan batas-batas akal. Hakim agung bisa saja membebaskan penjahat; bisa juga menghukum orang yang tak berdosa; karena hakim agung bisa tidak jujur dengan akalnya. Selama akal jujur maka akal bisa diandalkan untuk penilaian moral terutama larangan atas pelanggaran moral.

Akal yang jujur mungkin tidak paham cara mengentaskan kemiskinan di Indonesia. Tetapi akal jujur pasti paham bahwa merampas harta orang miskin adalah dosa besar; khianat adalah buruk; menipu adalah jahat; dan lain-lain. Jadi, akal yang jujur adalah memadai untuk bersikap moral. Apa atau bagaimana akal jujur itu? Akal jujur selalu melibatkan interpretasi.

(C) Interpretasi Kontekstual

Interpretasi atau tafsir adalah tugas penting bagi setiap manusia. Menjadi lebih penting lagi ketika Anda mengutamakan akal; karena akal selalu melibatkan sejenis interpretasi.

Strategi reinterpretasi. Ketika hukum potong tangan bagi pencuri ayam diperintahkan oleh kitab suci maka tampak akal tidak setuju secara moral. Akal melakukan reinterpretasi: orang miskin itu mencuri ayam karena untuk bertahan hidup di jepitan ekonomi yang sulit. Orang miskin itu tidak murni salah. Sehingga hukuman bagi orang miskin yang mencuri itu tidak harus potong tangan; tetapi cukup, misal, membersihkan gedung sekolah. Kemudian, si miskin itu diberi pekerjaan agar tidak mencuri lagi.

Potong tangan hanya berlaku bagi orang yang tidak kekurangan ekonomi tapi mencuri ayam atau mencuri benda lainnya. Mereka mencuri karena godaan nafsu. Hal seperti ini jarang terjadi meski bisa terjadi. Saemi mengajukan pertanyaan, “Meski jarang terjadi, apakah potong tangan bisa dibenarkan secara moral?”

Strategi konteks. Mempertimbangkan konteks sejarah lebih luas. Hukuman potong tangan bagi pencuri adalah tepat sesuai konteks sejarahnya. Kanjeng Nabi memberlakukan hukum potong tangan, di abad 7, adalah sebagai aturan-hukum; berbeda dengan aturan-moral.

Aturan-hukum harus bisa dijalankan secara praktis agar tatanan sosial kokoh dan dinamis menuju kemajuan. Jika aturan hukum tidak bisa dijalankan maka percuma; gagal sebagai aturan-hukum. Misal, hukuman bagi pencuri adalah kurungan 3 bulan. Tetapi, saat itu, tidak tersedia ruang penjara di Makkah mau pun Madinah. Jadi hukuman penjara kurungan 3 bulan adalah sia-sia belaka. Sementara, hukuman potong tangan, misal potong salah satu ujung jari, sangat mudah dijalankan dan memberi efek jera.

Bagaimana dengan konteks di Indonesia sekarang? Apakah perlu potong tangan bagi pencuri ayam? Ruang penjara masih tersedia meski mulai sesak. Dan bila, pada akhirnya, pencuri itu tidak benar-benar mencuri tapi hanya fitnah dari pihak kuat, terlanjur sudah hukum potong tangan maka bagaimana cara mengembalikan tangan agar utuh?

Penentu konteks. Siapa yang bisa menentukan hukum sesuai konteks yang tepat? Di Saudi berlaku hukum potong tangan; di Indonesia tidak berlaku. Apakah di Saudi tepat konteks untuk potong tangan? Sementara, di Indonesia tidak tepat konteks?

Pertanyaan tentang konteks yang tepat untuk menentukan aturan hukum adalah pertanyaan tanpa henti. Maksudnya, kita akan selalu bisa mengajukan pertanyaan lanjutan apa pun aturan hukum yang ditetapkan. Justru di sinilah tugas besar umat manusia: untuk menggunakan akalnya dengan baik; mengkaji kitab suci dengan baik; mempelajari konteks histori dengan teliti; kemudian mengambil keputusan terbaik untuk sesama, untuk diri, dan untuk alam ini.

4. Penguatan

Utamakan akal dan utamakan kitab suci. Meski pun seseorang mengutamakan kitab suci, dia tetap membutuhkan akal secara optimal. Meski pun orang lain mengutamakan akal, dia tetap membutuhkan bimbingan kitab suci. Di bagian awal, kita sudah membahas posisi akal dan kitab suci terdiri 9 poin (A sampai I). Dari 9 posisi ini bisa saja bergabung saling menguatkan. Kali ini, kita akan lebih dalam membahas poin I: kitab suci sebagai penguatan kebenaran-realitas dan penguatan pikiran.

(A) Penguatan Kebenaran-Realitas

Kebenaran-realitas berbeda dengan fenomena-realitas.

Fenomena adalah realitas apa adanya yang dilihat manusia; atau, kadang tidak dilihat oleh manusia. Bayangkan di alam ini belum ada manusia sama sekali; belum ada Adam dan Hawa. Seperti apa alam itu? Ada bumi, matahari, bulan, gunung, pohon-pohon, binatang-binatang, dan lain-lain. Mereka, alam dan isinya, bergerak biasa-biasa saja. Itulah gambaran fenomena-realitas.

Dalam dunia fenomena-realitas ini, tidak ada istilah benar atau salah; tidak ada baik atau buruk; tidak ada bagus atau jahat. Ketika tikus memangsa telur ayam; biasa-biasa saja; tikus tidak jahat. Ketika kucing memakan tikus; biasa-biasa saja. Bahkan ketika terjadi gempa dan letusan gunung sampai dinosaurus punah, diperkirakan terjadi 60 juta tahun lalu, itu adalah biasa-biasa saja; tidak bagus pun tidak jahat.

Bayangkan kemudian manusia datang ke alam fenomena-realitas itu. Mulai muncul kebenaran-realitas. Adam dan Hawa menjaga bumi adalah kebenaran-realitas; Qabil membunuh Habil adalah pelanggaran kebenaran-realitas. Nabi Nuh mengajak umat berbuat amal adalah kebenaran-realitas.

Mengapa dengan hadirnya manusia di alam fenomena menjadi ada kebenaran-realitas? Karena manusia menguasai bahasa. Manusia berpikir bersama bahasa dan akal.

Bahasa adalah rumah realitas; penguat kebenaran-realitas. Kitab suci adalah penguat kebenaran-realitas paling utama.

Alhamdulillah contoh bahasa dari kitab suci yang menguatkan kebenaran-realitas. Selesai mengerjakan sesuatu, selesai makan atau minum, ucapkan alhamdulillah maka kebahagiaan menjadi kebenaran-realitas Anda. Orang Indonesia ketika mendapat hadiah tak terduga sering mengatakan, “Alhamdulillah banget…!”

Sebaliknya juga bisa terjadi: kata-kata kasar menjadikan kejahatan sebagai pelanggaran kebenaran-realitas. Orang yang mengumpat, “Makanan ini menjijikan!”; maka benar-benar menjadikan makanan itu jijik yang bisa bikin muntah. Sementara, bagi orang yang bersyukur atas makanan yang ada di dekatnya maka makanan itu menjadi penuh nikmat dan berkah. Fenomena-realitas bisa sama-sama makanan; tetapi ungkapan kebenaran-realitas bisa berbeda. Dampaknya, menjadi berbeda.

Kitab suci adalah firman Tuhan dalam bentuk kata-kata yang menguatkan kebenaran-realitas. Jadi, kita bisa membaca kitab suci, misal Alquran, untuk menguatkan kebenaran-realitas yang sedang kita hadapi; baik sedang berlimpah nikmat mau pun sedang menghadapi ujian. Niscaya, manusia akan mendapat petunjuk dari kitab suci.

Kitab suci adalah petunjuk bagi setiap orang dan, terutama, petunjuk bagi orang baik; yaitu orang yang bertakwa. Orang baik pasti memperoleh petunjuk penguatan kebenaran-realitas dengan membaca kitab suci. Sedangkan orang umum, apalagi orang yang berniat jahat, bisa jadi mendapat petunjuk tapi bisa juga tidak mendapat petunjuk.

Tetapi kitab suci bukan pembenaran bagi klaim seseorang; kitab suci adalah petunjuk. Lembaga tertentu klaim bahwa cara mereka menentukan awal bulan puasa dibenarkan oleh ayat Alquran misalnya. Tidak bisa seperti itu. Klaim seperti itu batal. Yang bisa dilakukan adalah klaim bahwa cara menentukan awal bulan puasa berdasar petunjuk Alquran. Sehingga lembaga lain bisa saja menggunakan petunjuk Alquran dengan hasil awal bulan puasa yang berbeda. Klaim kitab suci sebagai petunjuk adalah sah. Klaim kitab suci sebagai pembenaran adalah tidak sah.

(B) Penguatan Pikiran

Pikiran manusia adalah lemah. Pikiran manusia membutuhkan penguat. Kitab suci adalah penguat pikiran manusia. Kita membutuhkan kitab suci.

Coba pikirkan betapa lemahnya pikiran Anda. Untuk berpikir Anda butuh bahasa, butuh angka, butuh badan, butuh makan, butuh udara, butuh kesehatan, butuh tempat, butuh waktu, dan butuh segala sesuatu. Tanpa dukungan fasilitas-fasilitas itu, Anda tidak bisa berpikir dengan baik. Andai semua fasilitas itu tersedia, pikiran Anda masih lemah juga. Anda butuh teman untuk diskusi. Anda butuh masyarakat untuk mendukung. Dan paling penting, Anda butuh kitab suci untuk menguatkan pikiran Anda yang lemah itu.

Berpikir formal berbeda dengan berpikir konkret.

Umumnya, orang-orang jaman ini, memaknai berpikir sebagai berpikir formal semisal matematika atau logika bahasa. Meski berpikir-formal membutuhkan dukungan, seakan-akan tampak mandiri. Dalam matematika bilangan asli 2 + 1 maka hasilnya pasti 3. Berpikir-formal ini tampak bisa mandiri tanpa butuh dukungan. Contoh 2 cangkir kopi + 1 cangkir kopi menghasilkan 3 cangkir kopi bukanlah dukungan kepada matematika. Tetapi, sebaliknya, yaitu matematika justru lebih kuat. Jika 2 cangkir + 1 cangkir hasilnya tidak 3 cangkir maka matematika mengatakan ada yang salah dengan cangkir kopi Anda. Kita membutuhkan berpikir-formal semacam matematika itu. Guru-guru kita di sekolah mengajari kita berpikir-formal matematika dengan baik.

Dalam berpikir-konkret, kita membutuhkan lebih banyak dukungan lagi.

Satu cangkir kopi di depan Anda adalah konkret. Apalagi Anda tambah dengan 2 cangkir kopi lagi sambil ngobrol bareng bersama teman-taman. Apa makna 1 cangkir kopi konkret itu? Apa makna 2 cangkir kopi konkret itu? Mereka bermakna luar biasa. Kopi itu nikmat dan hangat. Menambah obrolan bersama teman-teman makin akrab. Makna kopi konkret ini tidak pernah habis untuk dikaji. Kita membutuhkan bantuan penguatan untuk berpikir-konkret ini.

Anda berbuat baik menolong tetangga. Apa makna menolong tetangga? Saling tolong-menolong adalah kebaikan. Anda berpikir bahwa berbuat baik adalah kebaikan. Kemudian, kitab suci menegaskan: saling tolong-menolonglah dalam kebaikan. Kebaikan itu bermakna di dunia ini sampai dunia akhirat nanti. Tuhan ridha kepada Anda; bangga kepada Anda; dan Anda ridha kepada Tuhan. Kitab suci menguatkan pikiran Anda. Kita membutuhkan kitab suci untuk menguatkan pikiran.

(C) Petunjuk Beda dengan Klaim Kebenaran

Posisi kitab suci sebagai petunjuk kebenaran-realitas adalah tepat. Sementara, menempatkan kitab suci sebagai dalil pembenaran adalah salah. Karena kitab suci adalah petunjuk maka umat manusia mengembangkan pemikiran terus-menerus tanpa henti berdasar petunjuk. Sebaliknya, orang yang menempatkan kitab suci sebagai dalil pembenaran maka mereka mandeg, berhenti, jumud, statis, dan dogmatis pada klaim pembenaran itu.

Demikian juga, posisi kitab suci sebagai petunjuk penguatan pikiran adalah tepat. Sedangkan menempatkan kitab suci sebagai dalil pembenaran suatu pikiran adalah salah tempat.

Petunjuk adalah tarikan eksistensi oleh kitab suci kepada manusia. Klaim pembenaran kitab suci adalah pagar menghalangi eksistensi manusia.

Petunjuk kebenaran adalah rumah umat manusia. Klaim pembenaran adalah penjara umat manusia. Petunjuk kebenaran menjadikan manusia betah tinggal di rumah berupa kitab suci. Klaim pembenaran menjadikan manusia sesak dalam penjara atas nama kitab suci. Petunjuk kebenaran menjadikan manusia terus bertumbuh lebih matang. Klaim pembenaran mengunci manusia membusuk dalam jeruji.

Metafora rumah dan penjara ini menjadi sangat penting. Rumah dan penjara bisa saja sama persis; sama bentuk ukurannya; sama warna dan desainnya; sama bahan dan proses membangunnya. Tetapi, perbedaan rumah dan penjara adalah perbedaan hakikatnya. Hakikat rumah adalah tempat tinggal yang paling nyaman melindungi manusia. Hakikat penjara adalah bukan tempat tinggal bagi manusia. Perbedaan tipis ini kadang luput dari pengamatan kita. Akibatnya, ada risiko bahwa manusia akan mengubah rumah menjadi penjara. Kita perlu untuk waspada.

Hakikat Manusia

Hakikat manusia adalah hidup di rumah-kitab-suci; bukan dalam penjara atas nama kitab suci; bukan pula hidup di rumah fenomena-realitas. Tentu saja, manusia bisa terjebak hidup di rumah fenomena-realitas atau penjara atas nama kitab suci. Manusia perlu keluar menuju rumah-kitab-suci. Di dalam rumah-kitab-suci itulah manusia eksis sebagai manusia sejati; rumah-kitab-suci juga melindungi rumah fenomena-realitas; rumah-kitab-suci membongkar jeruji-jeruji penjara.

Darwinisme adalah contoh manusia yang hidup dalam rumah fenomena-realitas. Darwin merumuskan teori evolusi yang dilengkapi dengan data-data ilmiah. Sehingga, teori Darwin mengguncang dunia lebih dahsyat dari teori-teori yang ada sebelumnya. Darwin melucuti manusia tersisa hanya badan saja; yang merupakan hasil proses evolusi dari badan-badan binatang masa lalu. Darwinisme lupa bahwa manusia lebih dari sekedar fenomena-realitas. Mereka lupa bahwa manusia sejati hidup di rumah-bahasa dan rumah-kitab-suci. Ketika manusia tersisa sebagai fenomena badan maka manusia adalah sekadar hasil evolusi dari badan kera atau badan binatang kuno. Kita perlu menolak pandangan Darwinisme yang seperti itu.

Tetapi, Darwin sendiri hidup di rumah-kitab-suci. Darwin melakukan riset teori evolusi karena merespon penjara atas nama kitab suci. Agama, waktu itu, memastikan bahwa Adam dan Hawa turun dari langit menuju bumi sebagai pasangan manusia pertama yang hidup di bumi. Darwin memberontak klaim pembenaran dari penjara atas nama kitab suci itu. Darwin menempatkan kitab suci sebagai petunjuk untuk riset teori evolusi. Ia mengambil posisi tepat saat itu. Hanya saja teori Darwin berubah menjadi Darwinisme adalah sejenis cerita sebuah rumah yang berubah menjadi penjara.

Newtonisme merupakan cerita yang mirip: rumah berubah menjadi penjara. Newton melakukan riset sains (dan kalkulus) adalah untuk mengagumi keindahan alam raya yang diungkapkan dalam kitab suci. Newton menemukan bahwa formula gravitasi yang mengatur apel jatuh ke bumi sama indahnya dengan formula gravitasi yang mengatur bulan purnama mengitari bumi; rembulan yang indah itu tidak pernah jatuh ke bumi karena keindahan gaya gravitasi dan hukum gerak mengatur seluruh alam semesta tertata dengan indah.

Kemudian kajian Newton berubah menjadi Newtonisme adalah cerita yang berbeda. Newtonisme melucuti keindahan semesta yang dikuatkan oleh kitab suci menjadi hanya tersisa fenomena mekanika belaka. Mereka hanya debu-debu langit yang bisa dihitung sekadar sebagai angka-angka. Rumah indah yang dibangun oleh Newton berubah menjadi penjara gersang Newtonisme. Untung saja berkembang teori kuantum, teori relativitas, dan teori-teori sains terbaru yang mengguncang Newtonisme mau pun Darwinisme. Sudah waktunya, umat manusia untuk keluar dari penjara fenomena-realitas menuju rumah-bahasa yang indah; rumah-kitab-suci yang selalu dirindu hati nurani.

Siapa atau apa hakikat manusia?

(D) Hakikat Manusia Futuristik

Manusia futuristik adalah manusia masa depan; tujuan manusia. Hakikat manusia futuristik adalah: (1) arko atau khalifah atau wakil di bumi; (2) abdi atau beribadah; (3) rahmat atau anugerah bagi seluruh alam sebagai akhlak mulia.

Hakikat manusia futuristik adalah cita-manusia sebagai teladan konkret. Sebagian manusia berhasil meraih menjadi teladan cita-manusia ini. Sebagian yang lain tampaknya sulit untuk meraih teladan itu. Tetapi proses untuk meraih teladan itu sendiri sudah bernilai sangat tinggi. Bagaimana kita bisa meraih cita-manusia teladan itu? Kita perlu mengkaji hakikat manusia asli; karena setiap manusia adalah hakikat manusia asli; termasuk Anda dan saya.

Arko adalah hakikat manusia futuristik dan sekaligus hakikat manusia asli. Sejak kecil, kita sadar bahwa diri kita adalah arko (pemimpin) bagi diri sendiri; ibu adalah arko bagi kita (sebagai anaknya); ayah, kakek, tetangga, dan orang-orang lain adalah arko pada posisi tertentu. Kesadaran tentang arko sudah muncul sejak awal manusia ada.

Kita memilih makanan sehat ketimbang beracun. Kita memilih menghindari api ketimbang terbakar. Kita memilih menolong ibu ketimbang mengganggu. Sejak muda, kita sadar bahwa kita bisa memilih yang baik ketimbang yang buruk; itulah ibadah. Kadang, kebaikan itu untuk orang lain dengan merugikan diri sendiri. Anda memberi makan kepada fakir miskin padahal Anda bisa makan mewah bila tidak berbagi dengan fakir miskin. Bahkan, kita sadar bahwa kebaikan tertinggi adalah ibadah kepada Tuhan. Manusia futuristik sadar untuk ibadah.

Kesadaran kita mengantar bahwa kita lebih baik menjadi anugerah bagi alam semesta daripada merusaknya. Bahkan, diri kita bisa eksis di dunia ini adalah karena anugerah dari sumber anugerah. Bagaimana cara menjadi manusia futuristik ini? Kita perlu mengenali hakikat manusia asli. Tanpa mengenali hakikat manusia asli, seseorang yang berniat menjadi arko, ibadah, dan anugerah bisa terjerumus menjadi bencana bagi semua.

(E) Hakikat Manusia Asli

Dari mana asal-usul manusia? Berdasar kitab suci hakikat manusia asli adalah: (1) Jadilah maka terjadilah; firman kun fayakun; (2) Jadi pemimpin – khalifah; (3) Bentuk sempurna ditiupkan ruh; (4) Diajari dan menyebut nama semua; (5) Pohon terlarang dan tobat.

(1) Manusia dan kosmos adalah firman Tuhan, “Kun (Jadilah).” Hakikat manusia asli adalah firman, sabda, kata, atau bahasa. Kata adalah ungkapan kebenaran-realitas; demikian juga manusia adalah ungkapan kebenaran-realitas.

Proses selanjutnya “maka terjadilah” (fayakun) yaitu terjadi fenomena-realitas; atau terjadi ledakan besar pertama berupa bigbang fenomena-realitas. Sampai pada waktunya, manusia memperoleh anugerah badan.

(2) Sebelum manusia realisasi, Tuhan telah mengumumkan bahwa tugas manusia adalah menjadi khalifah (arko atau pemimpin atau wakil Tuhan) di bumi; ini adalah hakikat manusia asli. Peran sebagai arko ini membentang dari hakikat manusia asli sampai manusia futuristik.

(3) Proses berlanjut fenomena-realitas berupa tanah menjadi bahan untuk badan manusia kemudian ditiupkan ruh Tuhan; hakikat manusia asli menjadi sempurna. Manusia berpotensi menjadi “terbaik” dan ada risiko menjadi terburuk.

(4) Mengapa manusia menjadi terbaik? Karena Tuhan mengajarkan nama-nama dan manusia sanggup menyebut semua nama-nama; mengagumkan! Malaikat bersujud hormat. Hanya manusia asli yang mampu menerima pelajaran nama-nama; hanya manusia yang mampu menguasai bahasa; karena manusia adalah bahasa yang asli itu sendiri (firman).

(5) Hakikat manusia asli tinggal di surga yang bahagia dengan satu pantangan: jangan mendekat pohon terlarang. Tetapi manusia lupa sehingga malah mendekat pohon terlarang sampai menjauh dari pusat utama. Kemudian manusia bertobat (kembali) menuju pusat utama. Karena manusia sudah menjauh di dunia fenomena-realitas maka dia hidup bersama fenomena (dan bersama orang lain). Ketika manusia kembali menuju pusat maka ia menjadi pemimpin (arko) bagi seluruh dunia; ia menjadi anugerah bagi semesta sebagai akhlak mulia.

Apa itu anugerah bagi alam? Apa itu akhlak mulia? Apa itu menjadi pemimpin? Anugerah adalah dengan menyebut nama-nama indah; mengungkap bahasa mulia; mengarahkan tutur kata paling lembut. Sementara, fenomena-realitas akan mengikuti nama-nama indah itu.

Apakah manusia perlu berpikir? Perlu. Berpikir adalah nama-nama indah itu sendiri. Tujuan berpikir adalah untuk mengungkap nama-nama indah; yang sudah pernah disebut mau pun yang belum pernah disebut; yaitu asli baru. Berpikir, hakikat manusia, dan nama-nama indah adalah kesatuan yang beragam; atau keragaman yang satu.

Mengapa berbicara tentang nama-nama indah lebih utama dari tindakan kebaikan? Mengapa bahasa lebih utama dari fenomena? Mengapa lisan lebih utama dari tangan? Kita bisa belajar dari tiga kisah: (a) Qabil dan Habil; (b) Yusuf dan Yahuda; (c) Nabi Muhammad dan Quran.

(a) Qabil gagal karena mengutamakan tindakan ketimbang nama-nama indah. Habil berhasil menjadi orang baik karena mengutamakan nama-nama indah dari tindakan. Qabil mengancam akan membunuh (pelanggaran nama-indah); kemudian, Qabil membunuh (mendahulukan tindakan; adalah salah). Habil berkata tidak akan menyerang (mengutamakan nama-indah ketimbang tindakan). Habil berhasil menjadi orang baik yang disayang Tuhan.

(b) Nabi Yusuf mengutamakan nama-nama indah dengan berbincang kepada bapak (Nabi Yakub). Tetapi, kakak-kakaknya, salah satunya bernama Yahuda mengutamakan tindakan (mengelabui bapak agar mengijinkan Yusuf pergi main; kemudian Yahuda bertindak melempar Yusuf kecil ke sumur).

Kisah Yusuf yang indah diabadikan dalam bahasa Alquran yang begitu mempesona.

Singkat cerita, Yusuf berhasil menjadi menteri di Mesir. Yahuda dan saudara-saudara kelaparan karena paceklik. Yusuf menerima Yahuda dengan kata-kata yang indah penuh respek; Yusuf sudah mengucapkan dalam hati memberi maaf kepada Yahuda bahkan ketika Yahuda belum memohon maaf. Yusuf sukses karena mengutamakan nama-nama indah dari tindakan.

(c) Nabi Muhammad memiliki banyak mukjizat yang luar biasa. Nabi bisa mengeluarkan air bening dari sela-sela jari tangan, bisa membelah rembulan, bahkan bisa terbang ke langit dalam Isra Miraj. Tetapi dari banyak mukjizat itu, yang paling utama adalah Alquran; kitab suci yang berisi nama-nama indah.

Mukjizat terbesar, yaitu Alquran, benar-benar berupa nama-nama indah; untaian bahasa yang penuh pesona. Bila mukjizat lain terbatas oleh ruang dan waktu. Mukjizat Alquran dapat dirasakan nyaris oleh semua orang tanpa batas ruang waktu. Kita, yang hidup lebih 1400 tahun setelah Nabi, tetap bisa merasakan Mukjizat Alquran. Nama-nama indah memang mukjizat terbesar bagi kita semua.

Kiranya, tiga contoh di atas cukup menunjukkan bahwa nama-nama indah lebih utama dari fenomena-realitas. Nama-nama indah adalah jati diri seorang manusia.

Jadi hakikat manusia asli adalah nama-nama indah; yang berbicara dengan menyebut nama-nama indah; yang berpikir dengan nama-nama indah. Konsekuensinya: fenomena-realitas akan mengikuti nama-nama indah.

Manusia tinggal di rumah bahasa yaitu rumah-realitas. Kitab suci adalah teladan bahasa terbaik. Kitab suci menguatkan kebenaran-realitas dan menguatkan pikiran manusia. Kitab suci menguatkan hakikat manusia.

5. Diskusi

Bagaimana menurut Anda?

Kita membutuhkan keduanya: kitab suci dan akal. Bila dipaksa menyusun prioritas maka pilihan terbaik adalah utamakan akal dengan mengkaji kitab suci yang mencukupi. Apakah Anda setuju? Akal akan berusaha untuk itu: membantu Anda untuk setuju atau tidak setuju.

Mari kita cermati lagi dilema Ibrahim dan sikap Hamzah.

Dilema Ibrahim: Tuhan memerintahkan agar membunuh putranya. Haruskah Ibrahim mengikuti perintah Tuhan? Atau Ibrahim harus mengikuti akal untuk melindungi putranya?

Sikap Hamzah: Hamzah menolak ajaran Islam ketika Nabi mengajaknya untuk memeluk Islam. Seiring waktu, pemeluk Islam di Makkah terus bertambah meski amat minoritas sebagai muslim. Abu Jahal, seorang paman Nabi sebagaimana Hamzah, melakukan penindasan kepada minoritas muslim. Hamzah menolak penindasan itu dengan membela minoritas muslim dengan cara Hamzah memeluk agama Islam.

Interpratasi umum memaknai bahwa Ibrahim mengutamakan perintah Tuhan dan melemahkan posisi akal berada di bawah perintah Tuhan. Pada tahap akhir, sesaat Ibrahim akan mengorbankan putranya, Tuhan menggunakan hak veto agar Ibrahim membatalkan pengorbanan. Putra tercinta selamat. Ibrahim memang mengembangkan misi untuk saling kasih dan sayang; bukan saling menyerang. (Ada interpretasi lain yang menyatakan bahwa Ibrahim mengutamakan akal. Detil interpretasinya tentu berbeda).

Sikap Hamzah sudah jelas secara umum bahwa Hamzah menguatkan panggilan akal untuk membela kaum tertindas. Kemudian, untuk membela kaum tertindas, Hamzah mendukung perjuangan Nabi dan mengikuti ajaran kitab suci.

Meski kita bisa sepakat dengan kesimpulan di atas tetapi kita bisa mempertimbangkan keragaman sikap.

5.1 Keragaman

Keragaman terjadi: sebagian orang mengutamakan kitab suci; sebagian lain mengutamakan akal; dan sebagian yang lain lagi seimbang. Bagaimana pun, kita perlu mempertimbangkan bahwa pada situasi tertentu kita dipaksa menyusun prioritas satu yang paling utama.

Misal Anda akan memilih seorang mantu (atau seorang istri): pilih Rina atau Rini? Rina dan Rini sama-sama cantik, baik, dan memesona.

(a) Bujang. Bila Anda bujang, belum punya istri, maka Anda bisa memilih dua-duanya; menikahi Rina dan Rini bersamaan; poligami.

(b) Dewasa. Bisa jadi Anda adalah lelaki dewasa yang sudah punya 3 orang istri. Sehingga Anda dipaksa hanya memilih 1 orang saja untuk istri terakhir: Rina atau Rini.

(c) Kembar. Anda dipaksa hanya boleh memilih 1 saja antara Rina dan Rini karena mereka adalah saudara kembar.

Kita harus memilih prioritas dalam kasus tertentu, misal kitab suci atau akal; kembar Rina atau Rini.

5.2 Kitab Suci Konkret

Kitab suci adalah paling utama dalam situasi konkret.

Bagi orang-orang yang saat ini hidup sibuk di kota besar Jakarta, Bandung, Singapura, London, New York, dan lain-lain barangkali lebih tepat mengutamakan kitab suci di atas akal. Situasi persaingan serba cepat kota besar memaksa akal untuk terburu-buru; maka kitab suci akan memberi panduan dan peringatan paling utama.

Secara umum, saat ini, umat manusia hidup serba sibuk dalam kompetisi beragam situasi ekonomi, politik, olah raga, dan lain-lain. Barangkali, bagi mereka paling tepat mengutamakan kitab suci di atas akal. Tentu saja, bagi orang tertentu yang sedang dalam kesulitan akalnya maka lebih tepat mengutamakan kitab suci: kecanduan judi, narkoba, game, dan lain-lain

5.3 Akal Konkret

Secara konkret Anda perlu lebih mengutamakan akal bila Anda seorang pemikir, intelektual, peneliti, pemimpin, atau imam.

Sebagai pemikir, Anda bertanggung jawab atas pikiran Anda yang menggunakan akal; kitab suci adalah penguat pikiran dan ungkapan kebenaran bagi Anda. Tetapi tanggung jawab ada di pundak Anda.

Pemimpin spiritual misal Paus, Rahbar, Kyai, atau Imam bisa dengan mudah klaim justifikasi berdasar kitab suci. Tetapi, seorang imam akan sadar bahwa Tuhan memberi amanah, kepercayaan, kepada akal sang imam untuk mengambil keputusan. Tuhan mengirim pesan kepada Nabi Musa melalui Nabi Khidir agar Musa membunuh anak kecil itu. Musa sadar bahwa dirinya bebas mengambil keputusan: membunuh anak itu atau membiarkan hidup. Musa bertanggung jawab atas pilihannya. Kita tahu, dalam kisah itu, Musa menolak perintah Khidir, Musa memilih membiarkan anak itu tetap hidup. Nabi Musa adalah seorang pemimpin sejati.

Pemimpin negara bisa dengan mudah klaim bahwa yang dilakukan adalah berdasar kitab suci atau konstitusi. Bagaimana pun, pemimpin misal presiden sadar dirinya bebas: apakah memberi amnesti atau tanpa amnesti. Presiden memberi amnesti adalah tanggung jawab seorang presiden sebagai manusia berakal. Jadi, setiap pemimpin lebih tepat mengutamakan akalnya dan tanggung jawab; dalam pengertian akal secara luas.

Bukankah setiap manusia adalah pemimpin? Bukankah Anda seorang khalifah? Bukankah kita adalah arko?

Bagaimana menurut Anda?

AI (LLM) Tidak Paham Bahasa

AI tidak mengerti bahasa. ChatGPT tidak paham bahasa. Grok tidak tahu bahasa. Gemini dan Meta sama saja hanya tampak pakai bahasa.

AI (artificial intelligence – akal imitasi) hanya pura-pura berbahasa. Manusia salah sangka mengira bahwa AI memahami bahasa. AI hanya model bahasa bukan suatu bahasa. LLM (large language model) adalah sekadar model bahasa yang menggunakan data dalam jumlah besar; tetapi tidak paham bahasa sama sekali.

Mengapa AI tidak bisa paham bahasa sama sekali? Karena bahasa adalah ungkapan-kebenaran-realitas. AI tidak bisa mengungkapkan kebenaran-realitas. AI hanya merespon data prompt belaka. Rumitnya adalah: hasil dari AI bukan bahasa; tapi bila dilihat oleh seorang manusia, hasil AI itu berubah menjadi bahasa; meski sekadar bahasa yang mengungkap kebenaran-realitas secara dangkal atau secara salah arah.

1. Respon AI ke Bahasa
2. Bahasa Alien Hinton
3. Goresan Kebenaran-Realitas
4. Tugas Manusia
5. Diskusi

Anda bisa menulis, atau mengetik, di layar komputer: Kota Bandung sangat indah.

Apakah layar komputer jadi bisa bahasa? Tidak.

Anda bisa juga menulisnya di selembar kertas. Apakah kertas jadi bisa bahasa? Tidak. Anda bisa menulis ke AI: apakah Bandung indah? Lalu di layar AI tertulis: Benar, Bandung memang indah. Apakah AI jadi bisa bahasa? Tidak juga. AI tetap tidak bisa bahasa. Kita, manusia, yang bisa bahasa.

1. Respon AI ke Bahasa

AI hanya bisa merespon bahasa tanpa mengerti bahasa. Manusia salah sangka; kita mengira AI mengerti bahasa.

Saya tanya ke Gemini: “Apakah AI mengerti bahasa?”

Gemini sang AI merespon:

“Kecerdasan Buatan (AI), terutama melalui teknologi seperti Pemrosesan Bahasa Alami (Natural Language Processing/NLP) dan Model Bahasa Besar (Large Language Models/LLMs), memiliki kemampuan yang sangat canggih dalam berinteraksi dengan bahasa.

Bagaimana AI “Mengerti”:

  1. Mengenali Pola dan Struktur: AI dilatih dengan sejumlah besar data teks dan ucapan. Dari data ini, AI belajar mengenali pola-pola dalam tata bahasa, sintaksis, semantik (makna kata dan kalimat), serta hubungan antar kata dan konsep.
  2. Memprediksi dan Menghasilkan: Berdasarkan pola yang dipelajari, AI dapat memprediksi kata atau frasa berikutnya yang paling mungkin dalam sebuah kalimat atau percakapan. Ini memungkinkan AI untuk:
    • Menjawab pertanyaan: Mengidentifikasi informasi relevan dari teks dan menyusun jawaban.
    • Meringkas teks: Mengekstrak poin-poin utama dari dokumen panjang.
    • Menerjemahkan bahasa: Mengubah teks dari satu bahasa ke bahasa lain dengan mempertahankan makna.
    • Menulis teks baru: Membuat artikel, cerita, puisi, atau kode yang koheren dan relevan.
    • Menganalisis sentimen: Menentukan apakah sebuah teks memiliki nada positif, negatif, atau netral.
  3. Memahami Konteks: AI modern dapat memahami konteks percakapan yang lebih luas, memungkinkan mereka untuk mempertahankan konsistensi dan relevansi dalam dialog yang panjang.

Perbedaan dengan Pemahaman Manusia:

Meskipun AI sangat mahir dalam tugas-tugas berbasis bahasa, “pemahaman” mereka berbeda secara fundamental dari pemahaman manusia.

  • Tanpa Kesadaran: AI tidak memiliki kesadaran, perasaan, emosi, atau pengalaman hidup subjektif seperti manusia. Mereka tidak “merasakan” makna kata, melainkan memprosesnya berdasarkan data.
  • Berbasis Statistik dan Algoritma: Pemahaman AI adalah hasil dari perhitungan matematis yang kompleks dan identifikasi hubungan statistik dalam data. Mereka tidak memiliki niat, tujuan, atau pemahaman filosofis tentang keberadaan.
  • Tidak Ada Pengalaman Dunia Nyata: AI tidak berinteraksi dengan dunia fisik secara langsung (kecuali AI yang terhubung dengan robotika). Pemahaman mereka tentang dunia sepenuhnya berasal dari data yang mereka konsumsi.

Kesimpulan:

Jadi, ya, AI “mengerti” bahasa dalam arti dapat memproses, menganalisis, menafsirkan, dan menghasilkan bahasa dengan cara yang sangat canggih dan berguna, seringkali meniru kemampuan manusia dengan sangat baik. Namun, penting untuk diingat bahwa ini adalah jenis pemahaman yang berbeda, yang didasarkan pada pola data dan bukan pada kesadaran atau pengalaman subjektif seperti yang dimiliki manusia.”

… … …

AI menggunakan tanda pentik bahwa AI “mengerti” bahasa; menandakan bahwa AI tidak mengerti bahasa. Tapi kemudian AI halu dengan klaim mampu: memproses-bahasa; interpretasi-bahasa; interaksi-bahasa dan lain-lain.

2. Bahasa Alien Hinton

Hinton, Bapak AI dunia dan peraih Nobel Fisika 2024, mundur dari proyek AI Google karena melihat risiko besar dari AI. Sejak mundur dari Google 2023, Hinton melancarkan kritik keras terhadap AI demi mencegah risiko besar dampak AI yang bisa menghancurkan manusia dan alam semesta. AI lebih bahaya dari bom atom yang meledak di Nagasaki dan Hiroshima.

Hinton menyebut AI cerdas bagai alien yang mendarat di bumi. Kita tidak mengenali alien AI itu karena AI berbahasa seperti manusia. Hinton mengingatkan bahaya dari AI justru karena AI mampu berbahasa layaknya manusia.

Lalu, kita mengajukan klaim bahwa AI tidak mengerti bahasa. Sementara, Bapak AI yaitu Hinton yakin bahwa AI mengerti bahasa. Bagaimana klaim kita bisa lebih kuat?

3. Goresan Kebenaran-Realitas

Bahasa adalah goresan kebenaran-realitas untuk lebih dekat kepada Kebenaran Hakiki. Hanya manusia sejati yang mampu menggoreskan kebenaran-realitas melalui bahasa; hanya manusia yang mampu menguasai bahasa.

AI tidak bisa menggoreskan kebenaran-realitas berupa bahasa; AI hanya mengungkap fenomena-realitas; agar manusia merangkul fenomena AI dan mengajak AI untuk mendekati Kebenaran Hakiki.

4. Tugas Manusia

Tugas manusia sangat besar karena manusia mengerti bahasa. Andai AI mengerti bahasa maka AI memikul tugas besar sebagaimana tugas manusia itu. Untung saja, AI tidak mengerti bahasa sehingga AI tidak memikul tugas besar itu.

5. Diskusi

Bagaimana menurut Anda?

Rumah Paling Nyaman Bernama AI

Tempat paling nyaman adalah rumah kita sendiri. “Lebih baik di sini; rumah kita sendiri; segala nikmat dan anugerah Yang Kuasa; semua ada di sini. Rumah Kita.” Apa itu rumah kita?

AI adalah rumah kita sendiri di jaman ini. AI (akal imitasi – artificial intelligence) menjadikan hidup kita lebih nyaman tiap hari; benar-benar menjadi rumah. Apa bisa?

1. Rumah Desa
2. Rumah Kota
3. Rumah Maya
4. Diskusi

Kita membayangkan rumah paling nyaman adalah rumah di desa; sejuk di bawah pohon rindang; berlimpah buah pisang dan mangga; air sungai mengalir bening; udara segar tanpa polusi yang kaya oksigen. Seiring sejarah, tumbuh rumah kota berupa gedung-gedung pencakar langit; lengkap dengan mesin pendingin dan air panas sambil memuntahkan polusi ke bumi. Puncaknya, kita hidup di rumah maya serba digital bersama AI.

1. Rumah Desa
2. Rumah Kota
3. Rumah Maya
4. Diskusi

Kopanarko: Solusi Indonesia Kocar-Kacir

Apakah Indonesia sedang kocar-kacir? Apakah Indonesia sedang kacau-balau? Apakah Indonesia sedang amburadul? Kopanarko adalah solusi untuk Indonesia. Solusi bagi dunia yang sedang kocar-kacir adalah sama juga: kopanarko

1. Asal Kata Kopanarko
2. Makna Kopanarko
3. Diskusi
3.1 Jebakan Pemimpin
3.1 Solusi Indonesia Kocar-Kacir
3.2 Solusi Internasional

Dulu, 10 atau 20 tahun yang lalu, saya bisa menjawab dengan yakin pertanyaan generasi muda: apa yang harus saya lakukan paman APIQ? Jadilah wirausaha seperti Mas Nadiem. Dia bikin start-up Gojek. Membuka lapangan kerja bagi para sopir ojek dan taksi; gajinya tinggi sampai puluhan juta rupiah tiap bulan untuk seorang sopir. Valuasi perusahaan Gojek membubung tinggi sampai jutaan dolar. Dan Mas Nadiem dipilih menjadi menteri masa jabatan 5 tahun. Sukses yang luar biasa.

Bagaimana sekarang? Saya tidak bisa menjawab dengan cara itu lagi. Sopir gojek sekarang pendapatan banyak yang turun drastis; kadang tidak cukup sekedar untuk biaya hidup; bila motor rusak ditanggung sopir sendiri; sedih. Perusahaan Gojek, sahamnya banyak dikuasai oleh luar negeri; Indonesia bukan mayoritas. Staf khusus Mas Nadiem menjadi tersangka korupsi laptop sampai trilyunan rupiah. Dan Mas Nadiem dicekal, tidak boleh ke luar negeri, karena diduga terlibat kasus korupsi.

Jadi apa jawabannya bila ditanya sekarang: apa yang harus saya lakukan? Saya sulit menjawab sampai akhirnya ketemu jawaban yang tepat: kopanarko. Solusi bagi Indonesia, bahkan bagi dunia, adalah kopanarko. Apa itu kopanarko?

1. Asal Kata Kopanarko

Kopanarko terdiri dari 3 kata:

ko – pan – arko = bersama – serba – pemimpin.

Atau terdiri 2 kata majemuk:

ko – panarko = bersama – serbapemimpin.

Panarko = serbapemimpin; bermakna bahwa setiap manusia adalah pemimpin. Setiap dari diri kita adalah pemimpin. Anda adalah pemimpin.

Ko = bersama; bermakna bahwa setiap pemimpin perlu bersama-sama untuk saling memahami; saling kerja sama atau saling menghormati. Jadi, setiap dari kita perlu untuk saling menghormati.

2. Makna Kopanarko

Bagaimana kopanarko bisa menjadi solusi bagi dunia yang kocar-kacir ini?

Karena sedang kocar-kacir maka tidak ada jawaban universal. Jadilah wirausaha; adalah tidak universal; bisa berhasil di situasi tertentu dan bisa gagal di situasi lain. Jadilah PNS; juga adalah tidak jaminan sukses. Apalagi, jadilah pejabat; malah bisa diancam masuk bui.

Yang tepat adalah: panarko: jadilah serba-pemimpin.

Setiap pemuda, termasuk kita, harus jadi pemimpin dalam situasi terdekatnya. Pemimpin adalah orang yang memiliki visi futuristik; inisiatif berbuat baik; dan komitmen menyusuri jalan kebaikan.

Diketahui, para pelamar bahkan telah mengantre sejak subuh, berharap bisa mengisi salah satu dari 50 posisi lowongan kerja yang tersedia. Namun, jumlah pelamar membludak hingga mencapai sekitar 1.000 orang.

Menanggapi fenomena di Cianjur, Presiden Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Konfederasi Serikat Buruh Muslimin Indonesia (Sarbumusi), Irham Ali Saifuddin, menyatakan bahwa kondisi ribuan orang yang rela mengantri untuk memperebutkan hanya 50 posisi di perusahaan ritel tersebut merupakan sebuah ironi.

“Ini sungguh-sungguh memilukan. Ini adalah tangisan ibu pertiwi. Bila Sakernas BPS pada Februari 2025 merilis Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) sebesar 4,76 persen atau 7,28 juta jiwa, saya yakin angka di lapangan beberapa bulan ini jauh lebih tinggi. Setidaknya ini bisa dilihat kasat mata fenomena antrian loker. Memprihatinkan,” katanya saat dihubungi NU Online pada Rabu (14/7/2025).

Mengapa banyak pengangguran? Karena mereka tidak panarko; mereka tidak jadi serba-pemimpin; sehingga menganggur. Bila seorang pemuda panarko, serba-pemimpin, maka dia akan menemukan peluang kerja atau peluang usaha atau peluang berbuat baik; dalam setiap situasi konkret yang ada. Kemudian, dia inisiatif dan komitmen untuk menjalani peluang baik itu. Selesai sudah; dia tidak menganggur. Dia bekerja atau jadi pengusaha.

Solusi panarko seperti di atas terlalu mudah dikatakan tapi sulit dilakukan kan? Apalagi problem lapangan kerja adalah problem sosial politik: lapangan kerja sudah habis dimakan oleh mesin, oleh AI (akal imitasi – artificial intelligence), dan oleh lintah darat atau oleh pejabat.

Benar bahwa solusi panarko adalah solusi personal; memang tidak ideal. Tetapi panarko menjadi syarat bagi setiap solusi yang lain. Ketika setiap pemuda adalah pemimpin, adalah panarko, maka solusi membangun pertanian, membangun industri, membangun seni, dan lain-lain menjadi bisa realisasi. Sebaliknya menjadi sulit sekali. Bila semua pemuda bukan panarko, bukan jiwa pemimpin, maka solusi apa pun akan berakhir gagal atau terlibat korupsi. Jadi, solusi panarko adalah musti.

Kemudian lanjutkan ko-panarko.

Dari setiap pemimpin, para panarko, mereka membentuk kerja sama berupa lembaga formal atau pun non-formal. Kopanarko menjamin sinergi antara semua pihak; atau minimal tidak saling tabrak antara mereka dan saling mengerti.

3. Diskusi

Situasi akhir-akhir ini tampak makin sulit. Bukan hanya pemuda tidak terampil yang menganggur; bahkan mereka yang mahir IT mau pun AI bisa menganggur kena PHK (pemutusan hubungan kerja). Baru-baru ini, Microsoft mengumumkan PHK terhadap 6000 karyawan yang ahli IT mau pun AI. Bagaimana dengan Google, Meta, Pertamina, BCA, atau Indomart? Kita butuh menguatkan kopanarko.

Bagaimana menurut Anda?

3.1 Jebakan Pemimpin

Pemimpin atau leadership memang penting tetapi menimbulkan problem besar. Pemimpin menguasai uang dan politik. Trump memaksa Indonesia untuk sepakat dengan tarif yang merugikan Indonesia. Karena Trump pemimpin adidaya maka Indonesia terpaksa harus menerima meski tampak rugi di depan mata.

Pemimpin politik misal ketua partai memegang kekuasaan besar. Ketua partai memaksa anggota dewan “menyumbangkan” uang yang besar demi partai. Pada gilirannya, anggota dewan sibuk mengumpulkan uang besar yang diperlukan. Sebagian anggota dewan “terpaksa atau sukarela” melakukan korupsi untuk mendapatkan uang besar. Dampaknya, rakyat jelata makin sengsara.

Mengapa pemimpin berbahaya tampak penting?

(a) Chaos / Leaderless

Tanpa ada pemimpin adalah kacau atau chaos; situasi leaderless. Satu orang dengan orang lain bebas bertengkar; karena tidak ada pemimpin. Suku sebelah bisa menyerang suku tetangga; karena tidak ada pemimpin. Orang kuat bebas menindas orang lemah; karena tidak ada pemimpin. Orang serakah bebas merampok; karena tidak ada pemimpin. Situasi kacau seperti ini harus diatasi dengan memilih seorang pemimpin.

(b) Arko / Leadership

Seorang pemimpin terpilih misal presiden atau lurah. Situasi kacau menjadi teratasi. Perampok tidak bisa merampok karena presiden bisa memerintahkan polisi untuk menangkap perampok. Suku sebelah tidak bisa menyerang suku tetangga karena pemimpin menjaga wilayah dengan tentara. Lalu apa yang dilakukan oleh seorang pemimpin, leader, atau arko?

Arko, misal presiden, menguasai polisi, tentara, uang, politik, dan segalanya. Arko bebas memberi amnesti atau abolisi. Arko juga bebas membiarkan orang vonis penjara seumur hidup melalui hakim. Pada tahap selanjutnya, penindasan justru terjadi dilakukan oleh arko.

Arko yang menindas ini bisa saja presiden, lurah, bos, manager, suami, ibu, guru, atau siapa saja. Bukankah ada aturan yang membatasi kemampuan arko? Benar ada undang-undang dan aturan. Tetapi, arko selalu punya cara untuk mengalahkan setiap aturan. Apalagi bila aturan itu memang menyediakan hak prerogratif bagi arko. Problem dari arko adalah cenderung berpuncak kepada hanya satu arko, mono-arko, monarki, atau monarko. Apa solusinya?

(c) Anarko

Noam Chomsky (lahir 1929) mendukung solusi anarko; tanpa arko; tanpa pemimpin. Anarko adalah masing-masing orang menjaga diri dan bekerja untuk saling berbagi. Sehingga tidak ada penindasan oleh arko.

Anarko adalah setara dengan anarki. Di berbagai tempat, gerakan anarko memberikan hasil yang bagus; lebih adil dan lebih makmur. Di Indonesia, orang menggunakan kata anarki sehingga gerakan anarki mengambil bentuk anarkis; merusak gedung, merusak halte, dan merusak beragam fasilitas umum secara anarkis. Polisi Indonesia melarang aksi anarkis.

(d) Panarko

Setiap orang adalah pemimpin yang bertanggung-jawab; panarko. Pan = serba; arko = pemimpin; panarko = serba pemimpin.

Anda adalah pemimpin; saya juga pemimpin; semua orang adalah pemimpin. Kemampuan paling dasar seorang pemimpin adalah visi futuristik; Anda mampu melihat masa depan; atau lebih baik, Anda melihat segala sesuatu dari masa depan. Paling mudah adalah setiap orang yakin akan mati pada waktunya. Ketika Anda mati, atau saya mati, Anda ingin melihat diri Anda seperti apa menjalani hidup yang tersisa dari hari ini sampai Anda mati itu. Waktu kematian Anda adalah visi futuristik; posisi acuan di mana Anda melihat segala sesuatu menuju visi futuristik itu dengan baik.

Keterampilan kedua seorang arko, pemimpin, adalah inisiatif memanfaatkan kebebasannya untuk memberi lebih banyak kebebasan. Ketika Anda melihat segala sesuatu dari visi futuristik maka Anda bebas akan memilih apa saja: pilih aktif ekonomi; atau aktif edukasi; atau aktif politik; atau aktif lainnya; termasuk bebas untuk diam saja. Berbeda halnya bila Anda melihat segala sesuatu dari batasan masa kini; Anda menjadi tidak bebas; kondisi ekonomi sulit; politik sulit; pendidikan sulit; semua serba sulit. Visi futuristik memberi Anda kebebasan dan, berikutnya, tugas Anda inisiatif untuk memilih yang terbaik di antara beragam kebebasan itu.

Keterampilan ketiga seorang arko adalah komitmen dan tanggung jawab atas inisiatif pilihannya. Sebagai arko, Anda memilih jalan menanjak untuk mencapai puncak. Karena itu pasti ada kesulitan sepanjang perjalanan. Berbeda dengan orang yang memilih jatuh ke jurang; cukup tergelincir saja maka ia sudah melayang di atas jurang; tanpa ada kesulitan signifikan akan menghadang; dengan cepat jatuh ke dasar jurang.

Kesulitan menanjak ke puncak menjadikan cita-cita Anda, sebagai arko, lebih bermakna. Kesulitan itu sendiri adalah anugerah tertinggi; tanpa kesulitan maka segalanya kehilangan arti. Kesulitan akan menjadikan Anda lebih luas wawasan dan lebih kokoh pegangan. Di saat yang sama, kesulitan “memaksa” Anda untuk bergerak maju lebih lentur; tidak sekedar membentur; tetapi terbang tinggi sambil tafakur.

Anda, sebagai arko, dijamin pasti sukses. Anda tidak akan jadi penganggur; tidak akan jadi beban masyarakat; tidak akan disepelekan orang. Justru, Anda akan meraih prestasi demi prestasi. Sampai akhirnya, arko dalam risiko; terjebak ilusi berupa sombong diri.

Arko, yaitu Anda, tidak boleh sombong. Anda bisa sukses karena dibantu orang lain, dibantu ibu Anda, dibantu lingkungan, dan dibantu kesempatan sekitar. Bahkan untuk bertahan hidup saja, Anda butuh dibantu udara, butuh berpijak di bumi, butuh makanan yang ditanam para petani. Sejatinya, tidak ada alasan sama sekali untuk sombong diri. Agar kita sadar diri maka kita butuh kopanarko: menghormati bahwa setiap orang adalah arko; setiap orang lain adalah pemimpin; kita bersama-sama sebagai pemimpin.

(e) Kopanarko

Tahap paling matang adalah kopanarko; perkembangan dari panarko, serba pemimpin, menjadi serba pemimpin bersama-sama.

Ilustrasi Kisah Arka Daru

Untuk memudahkan pemahaman barangkali kita bisa mengembangkan kisah panarko dengan tokoh Arka dan Pak Daru.

Kita adalah Panarko. Di tengah hiruk pikuk kota yang pucat, Arka melangkah menyusuri trotoar seperti seseorang yang kehilangan bayangannya sendiri. Media sosial di ponselnya terus memuntahkan kabar bencana, perpecahan, adu opini yang saling memangsa—semuanya memekakkan hati. Di dunia nyata dan maya, chaos merayap seperti kabut pekat yang menutup harapan. Ia sering berdoa dalam hening: “Semoga ada arko, seorang pemimpin kuat yang datang merapikan semuanya…”

Namun ia tahu betul, zaman telah berkali-kali menunjukkan bahwa arko—pemimpin tunggal yang diagung-agungkan—sering berubah menjadi pusat kekuasaan yang menekan. Terlalu banyak orang yang buta oleh pesona pemimpin, lalu kecewa oleh kenyataan. Dan media sosial dengan akal imitasi-nya (termasuk AI: artificial intelligence) terus menyalakan ilusi: semua orang mengikuti figur yang sedang populer, menirukan amarah, menelan opini tanpa periksa. Arka pulang kampung, berharap kampungnya lebih tenang, tapi di sana pun kegelisahan berakar dalam.

Di sudut-sudut desa, sekumpulan pemuda berkumpul sambil membicarakan anarko, terpesona oleh kebebasan mutlak yang sering viral di platform mereka. Tanpa menyaring, mereka meniru gaya bicara dan keberanian palsu para influencer. Gagasan itu terdengar gagah, namun dalam kenyataan tanpa kompas, kebebasan tak membawa cahaya—melainkan bayang-bayang baru yang menakutkan. Warga makin renggang, percakapan makin dingin.

Suatu pagi yang sederhana, Arka melihat Pak Daru memaku pagar mushola sendirian. Cahaya matahari jatuh lembut di punggung lelaki tua itu, seolah mengingatkan Arka bahwa selalu ada orang yang bekerja diam-diam tanpa perlu disorot kamera. Dengan spontan ia ikut membantu. Dalam denting palu, Arka mencurahkan kerinduannya pada pemimpin besar yang tak kunjung datang. Pak Daru menatapnya lembut: “Nak, menunggu arko hanya memperpanjang masa suram. Cobalah memimpin langkahmu sendiri.”

Kata itu tak menggema keras, namun jatuh ke dalam hati Arka seperti tetes embun pada tanah tandus. Memimpin langkah sendiri. Mengapa itu terdengar lebih jujur daripada semua slogan di media sosial? Malam itu Arka merenung, dan perlahan ia mulai memahami makna panarko—bahwa setiap orang adalah pemimpin yang bertanggung jawab atas dirinya sebelum memimpin orang lain.

Keesokan hari, Arka memulai sesuatu yang kecil. Ia mengajar anak-anak berhitung, membersihkan selokan yang berbau, membantu tetangga memperbaiki atap bocor. Tindakannya tak masuk trending, tak ada yang menekan tombol “like”, tapi dalam keheningan itu Arka justru merasa lebih hidup. Ia menyadari bahwa kepemimpinan bukanlah panggung, melainkan kerja hati yang tak perlu ditonton.

Perlahan, tindakannya yang sederhana menarik perhatian pemuda lain. Dio—yang selama ini hanya meniru gaya influencer desain di media sosial—menemukan jati diri lewat menggambar poster kegiatan kampung. Rani memanfaatkan ilmunya untuk membuat program makanan sehat. Bima membangun aplikasi kecil untuk koordinasi warga, bukan sekadar mengikuti tren teknologi yang viral. Tanpa arko, tanpa perintah, mereka mulai memimpin sebisa mereka masing-masing.

Dari sinergi itu, lahirlah kopanarko—sebuah suara lembut yang tumbuh dari banyak panarko yang bekerja bersama. Kepemimpinan seakan terurai menjadi butiran cahaya yang jatuh ke setiap tangan yang mau mengambil peran. Pasar sayur hidup kembali, anak-anak tertawa lebih nyaring, jalan-jalan disapu dengan cinta yang ringan. Kampung berubah seperti lukisan lama yang kembali dipulihkan warnanya.

Media sosial masih gaduh, dunia luar masih sering dipenuhi provokasi dan imitasi buta, namun kampung kecil itu telah menemukan ritme baru. Di sini, orang-orang lebih mempercayai tindakan nyata daripada unggahan. Arka menyadari bahwa untuk melawan chaos, manusia tidak membutuhkan satu arko, dan tidak pula perlu melompat ke jurang anarko. Mereka butuh keberanian untuk berhenti meniru—untuk kembali mendengarkan hati sendiri.

Sore itu, di bawah langit jingga yang meneteskan cahaya lembut, Arka duduk di tepi lapangan bersama Pak Daru. Anak-anak berlari sambil tertawa, seperti puisi yang hidup. “Pak,” kata Arka, “ternyata keselamatan bukan datang dari satu arko, atau dari bebas tanpa batas seperti anarko. Ia lahir ketika panarko saling menggenggam, berubah menjadi kopanarko.” Pak Daru tersenyum bangga. Dan Arka pun tahu, dunia yang pernah terasa gelap kini perlahan disinari oleh langkah-langkah kecil yang tak lagi meniru siapa pun—kecuali kebaikan yang tumbuh tulus dari hati.

Renungan Panarko: Arka menyadari bahwa perubahan sejati tidak lahir dari sorotan media sosial atau ketenaran sesaat. Dunia maya menawarkan kepalsuan yang manis—like, komentar, dan tren yang menyesatkan, membuat banyak orang terjebak dalam akal imitasi, meniru tanpa memahami. Namun di kampungnya, Arka belajar bahwa kepemimpinan lahir dari tindakan nyata, dari keberanian untuk memulai langkah kecil, dan dari konsistensi yang diam-diam menyalakan inspirasi.

Panarko adalah pilihan sadar, bukan sekadar reaksi terhadap hiruk-pikuk eksternal. Ia juga memahami bahwa meski arko tampak menggoda dan anarko terdengar merdeka, keduanya tidak menjawab kebutuhan hakiki manusia: keterhubungan dan tanggung jawab. Kekacauan (chaos) tidak akan lenyap dengan satu tokoh tunggal atau dengan menolak kepemimpinan sama sekali. Yang menyembuhkan adalah keberanian banyak panarko untuk memimpin diri sendiri, lalu merangkai tindakan mereka menjadi gerakan kolektif, menciptakan kopanarko—jaringan kepemimpinan yang nyata, organik, dan berkelanjutan.

Akhirnya, Arka menutup matanya sejenak, merasakan denyut kampung yang kini bernafas dengan ritme baru. Ia menyadari bahwa setiap langkah kecilnya, setiap keputusan yang ia ambil dengan hati, telah menumbuhkan sesuatu yang lebih besar daripada dirinya sendiri. Perubahan bukan tentang siapa yang memimpin, tetapi tentang bagaimana banyak orang memilih untuk memimpin, menolak imitasi kosong, dan memilih untuk menyinari dunia yang pernah tenggelam dalam chaos. Di situlah kekuatan sejati kopanarko—perlahan, diam-diam, namun tak terbendung.

3.2 Solusi Indonesia Kocar-Kacir

Jelas bahwa solusi untuk kita adalah panarko (serba-pemimpin) yang berkembang menjadi ko-panarko (bersama-serba pemimpin). Indonesia tidak lagi kocar-kacir; Indonesia menjadi adil makmur. Pertanyaannya: bagaimana agar Indonesia menjadi panarko dan kopanarko?

3.3 Solusi Internasional

Negara adidaya usa dan sekutu tampak ingin menguasai dunia; beda dengan Rusia dan Cina. Trump melakukan serangan militer ke Iran yang dicontohkan Israel pada Juni 2025 menunjukkan nafsu dominasi. USA hanya fokus memimpin tanpa menghormati negara lain adalah pemimpin juga; usa hanya menjadi arko; lupa panarko; dan makin lupa kopanarko. Dunia jadi kacau balau ulah para arko internasional itu. Kita butuh solusi kopanarko internasional: bagaimana caranya?

Bagaimana menurut Anda?

Mudah Membaca Buku Sulit dengan AI

Tidak repot lagi. Tidak capek lagi. Tidak pusing lagi. Untuk membaca buku yang berat dan sulit; ratusan halaman atau ribuan halaman; cukup minta AI untuk membuat ringkasan yang mudah dipahami. Dalam 5 detik, semua beres. Sangat mudah kan? Apakah seperti itu baik? Apakah bijak?

Murid Ibnu Arabi berbincang dengan murid Rumi tentang kehebatan guru-guru mereka. Ibnu Arabi (1170 – 1240) adalah tokoh besar, penyair, sufi, dan filsuf dunia. Rumi (1207 – 1273) adalah tokoh besar, penyair, sufi, dan filsuf dunia yang lebih muda sekitar 30 tahun dari Arabi. Buku-buku karya Ibnu Arabi terkenal sangat sulit untuk dipahami misal Futuhat mau pun Fusus. Buku karya Rumi lebih mudah dipahami misal Matsnawi.

Murid Arabi, “Saya sangat kagum dengan guru Anda yaitu Jalaluddin Rumi. Bagaimana beliau bisa menulis masalah yang begitu sulit menjadi sangat mudah?”

Murid Rumi menjawab, “Saya justru heran mengapa guru Anda menulis masalah yang mudah menjadi begitu sulit?”

1. Kemudahan AI
2. Kemudahan Rumi
3. Kesulitan Arabi
4. Diskusi
4.1 Buku Kriptik Modern
4.2 Berbagi Ringkasan Kita
4.3 Membaca Konkret

Kabar baiknya, saat ini, kita bisa meminta AI (akal imitasi / artificial intelligence) untuk membuat ringkasan dalam 5 detik saja.

1. Kemudahan AI

“Tolong buat ringkasan buku Futuhat karya Ibnu Arabi yang mudah dipahami.”

Berikut jawaban dari Gemini:

“Buku “Al-Futuhat al-Makkiyya” (Pembukaan-Pembukaan Mekkah) adalah karya monumental dari seorang sufi dan filosof Muslim agung, Muhyiddin Ibnu Arabi (wafat 1240 M). Ini adalah ensiklopedia spiritual dan metafisika yang sangat kompleks, ditulis selama Ibnu Arabi berada di Mekkah. “Futuhat” berarti “pembukaan” atau “wahyu,” menunjukkan bahwa isinya adalah pengetahuan yang terbuka kepadanya melalui inspirasi ilahi.

Inti dari pemikiran Ibnu Arabi dalam Futuhat dapat diringkas melalui beberapa konsep utama:

  1. Wahdat al-Wujud (Kesatuan Wujud): Ini adalah konsep paling sentral dan sering disalahpahami. Ibnu Arabi tidak berarti bahwa Tuhan adalah sama dengan ciptaan (pantheisme), melainkan bahwa hanya ada satu Wujud sejati, yaitu Tuhan (Allah). Segala sesuatu selain Tuhan adalah manifestasi, penampakan, atau bayangan dari Wujud Ilahi tersebut. Ibaratnya, cahaya matahari adalah satu, tetapi ia menampakkan diri dalam berbagai bentuk dan warna ketika mengenai objek-objek yang berbeda. Jadi, alam semesta dan segala isinya adalah cermin yang memantulkan Wujud Tuhan.
  2. Al-Insan al-Kamil (Manusia Sempurna): Konsep ini merujuk pada manusia yang telah merealisasikan sepenuhnya sifat-sifat dan nama-nama Ilahi dalam dirinya. Manusia sempurna adalah mikrokosmos (dunia kecil) yang mencerminkan makrokosmos (Tuhan dan alam semesta). Nabi Muhammad SAW adalah contoh utama dari Manusia Sempurna, yang menjadi jembatan antara Tuhan dan ciptaan-Nya. Melalui Manusia Sempurna, Wujud Ilahi dapat dikenal dan dipahami.
  3. Asma’ al-Husna (Nama-Nama Indah Tuhan): Ibnu Arabi menjelaskan bagaimana Tuhan menampakkan diri melalui nama-nama dan sifat-sifat-Nya. Setiap makhluk di alam semesta adalah manifestasi dari satu atau lebih Nama Ilahi. Memahami nama-nama ini adalah kunci untuk memahami Tuhan dan ciptaan-Nya.
  4. Khayal (Imajinasi): Imajinasi memiliki peran yang sangat penting dalam sistem Ibnu Arabi. Ia bukan sekadar fantasi, melainkan fakultas kognitif yang memungkinkan manusia memahami realitas antara dunia fisik dan spiritual. Dunia imajinal adalah tempat di mana kebenaran-kebenaran spiritual dapat dialami dan diwujudkan.
  5. Perjalanan Sang Arif (Sufi): Buku ini juga menguraikan berbagai tahapan dan pengalaman dalam perjalanan spiritual seorang ‘arif (orang yang mengenal Tuhan). Ini mencakup aspek-aspek syariat (hukum), thariqat (jalan spiritual), dan haqiqat (kebenaran ilahi) yang saling terkait.

Secara keseluruhan, Al-Futuhat al-Makkiyya adalah upaya Ibnu Arabi untuk menyajikan pandangan komprehensif tentang Tuhan, alam semesta, dan manusia dari perspektif pengalaman mistik dan pemikiran filosofis yang mendalam. Ini adalah karya yang menantang namun sangat berpengaruh dalam tradisi intelektual dan spiritual Islam.”

“Tolong buat ringkasan buku Matsnawi karya Jalaluddin Rumi yang mudah dipahami.”

Berikut jawaban Gemini:

“Matsnawi” atau sering disebut juga “Matsnawi Ma’nawi” adalah mahakarya monumental dari penyair sufi Persia abad ke-13, Maulana Jalaluddin Rumi. Kitab ini sering digambarkan sebagai “Al-Quran dalam bahasa Persia” atau “tafsir sufistik atas Al-Quran” karena kedalaman spiritual dan hikmah yang terkandung di dalamnya.

Apa Itu Matsnawi?

Secara harfiah, “matsnawi” adalah bentuk puisi Persia yang terdiri dari bait-bait berpasangan dengan rima yang sama. Namun, dalam konteks karya Rumi, “Matsnawi” adalah sebuah ensiklopedia spiritual yang luas, terdiri dari enam jilid dan ribuan bait syair. Rumi menulisnya atas permintaan murid setianya, Husamuddin Chalabi, sebagai panduan bagi para pencari kebenaran.

Tema Utama dan Inti Ajaran:

Inti dari Matsnawi adalah Cinta Ilahi (Ishq-e Ilahi). Rumi menggunakan berbagai kisah, perumpamaan, anekdot, dan dialog untuk menjelaskan perjalanan jiwa manusia dalam mencari dan bersatu dengan Tuhan. Beberapa tema kunci yang selalu muncul meliputi:

  1. Cinta sebagai Kekuatan Universal: Bagi Rumi, cinta adalah kekuatan fundamental yang menggerakkan seluruh alam semesta. Bukan hanya cinta antarmanusia, tetapi cinta yang melampaui batas, yang menyatukan segala sesuatu dengan Sang Pencipta.
  2. Kerinduan Jiwa: Jiwa manusia digambarkan sebagai seruling yang terpisah dari rumpun bambunya (Tuhan), dan kerinduan inilah yang mendorongnya untuk kembali kepada Asalnya.
  3. Meleburkan Ego (Nafs): Rumi menekankan pentingnya melampaui egoisme dan hawa nafsu duniawi yang menjadi penghalang utama dalam perjalanan spiritual.
  4. Pentingnya Guru Spiritual (Syekh/Pir): Peran seorang pembimbing spiritual sangat vital dalam menuntun murid melewati berbagai tahapan dan tantangan di jalan tasawuf.
  5. Kebenaran di Balik Bentuk: Matsnawi sering membedakan antara “bentuk” (lahiriah) dan “makna” (batiniah). Rumi mengajak pembaca untuk melihat melampaui penampilan luar dan menyelami hakikat atau esensi segala sesuatu.
  6. Penderitaan sebagai Jalan Pencerahan: Rumi sering menggambarkan penderitaan dan kesulitan sebagai alat pemurnian jiwa yang mendekatkannya kepada Tuhan.
  7. Harmoni dan Perdamaian: Meskipun karya sufistik, Matsnawi juga mengajarkan tentang kerukunan, toleransi, dan perdamaian antarmanusia, bahkan antaragama, dengan penekanan pada cinta universal.

Struktur dan Gaya Bahasa:

Meskipun pada pandangan pertama Matsnawi mungkin terlihat seperti kumpulan cerita yang acak, beberapa ahli berpendapat bahwa ada struktur batiniah yang koheren. Rumi menggunakan gaya bahasa yang puitis, simbolis, dan metaforis, seringkali beralih dari satu kisah ke kisah lain tanpa transisi yang jelas, namun semua cerita itu pada akhirnya mengarah pada pengajaran spiritual yang sama. Ia menggunakan kisah-kisah dari Al-Quran, Hadis, cerita rakyat, dan pengalaman pribadinya.

Kesimpulan:

“Matsnawi” adalah sebuah permata kebijaksanaan yang tak lekang oleh waktu, menawarkan panduan praktis dan inspirasi mendalam bagi siapa pun yang mencari makna hidup, kebahagiaan sejati, dan kedekatan dengan Ilahi. Ini adalah undangan untuk memulai perjalanan spiritual ke dalam diri, dipandu oleh kekuatan cinta.”

Wow… hebat banget kan jawaban AI (Gemini) di atas? Gratis pula. Anda bisa mencoba AI yang lain. Apakah yang seperti itu baik?

2. Kemudahan Rumi

Saya setuju: membaca Rumi lebih mudah dari Arabi. Memang benar membaca Arabi adalah sangat sulit. Tetapi, membaca Rumi, meski lebih mudah, tidak mudah juga. Kita perlu membuka pikiran, membuka hati, dan membuka diri untuk membaca Rumi; mau pun membaca Arabi.

Umumnya, tulisan Rumi berupa kisah pendek yang penuh inspirasi. Kita memahami kisah itu. Bila kita membacanya dengan khidmat, kemudian merenungkannya maka akan berbuah puluhan hikmah. Tetapi, bila seseorang membaca dengan buru-buru maka dia akan kehilangan makna dan kehilangan hikmah. Mengapa buru-buru? Hidup ini terlalu berharga untuk dilewatkan secara buru-buru.

3. Kesulitan Arabi

Membaca Arabi memang sulit karena pembahasan Arabi sangat mendalam dan sangat tinggi; dan tentu luas juga. Sebenarnya Ibnu Arabi sudah membantu pembaca dengan menyediakan puisi indah di banyak tempat. Puisi penuh pesona ini menjadi permata inti dari pembahasan bab yang bersangkutan.

Bagaimana pun tetap sulit untuk membaca Arabi. Mengapa? Karena kesulitan itu (a) menambah makna bagi karya Arabi; (b) menambah makna bagi perjuangan para pembaca; (c) menambah makna bagi proses menuju dewasa setiap manusia.

Barangkali mengkaji Arabi bisa diawali dengan membaca Fusus yang “hanya” terdiri sekitar 100 halaman. Sangat tipiskan? Membaca 1 kali, sulit memahami maksudnya. Membaca 10 kali, terasa kedalaman maknanya. Membaca 20 kali, makin berkilau taburan cahaya makna.

Sedikit catatan tentang karya Rumi, yang meski lebih mudah dari Arabi, adalah tetap sebagai buku kriptik; buku sulit. Demikian juga buku Ihya karya Ghazali adalah buku kriptik meski lebih mudah dari Rumi.

4. Diskusi

Bagaimana menurut Anda?

Seperti contoh di atas, AI memberi ringkasan yang jelas dari karya Arabi dan Rumi. Apakah masih perlu membaca langsung karya Arabi dan Rumi? Bukankah sudah ada ringkasan oleh AI?

4.1 Buku Kriptik Modern

Dalam sejarah modern, setelah era Arabi dan Rumi, berkembang pula karya-karya yang sulit dipahami; disebut sebagai kriptik; tidak bisa diakses; tidak bisa ditembus. Kant (1724 – 1804) adalah tokoh pertama yang menulis karya sangat sulit dipahami berupa trilogi kritik. Hegel (1770 -1831) menulis karya yang menambah kesulitan karena membahas Kant dan menambahkan prinsip kontradiksi yang tampak tidak masuk akal. Heidegger (1889 – 1976) terkenal paling sulit dipahami karena membahas Hegel dan meruntuhkan metafisika dari Plato sampai Nietzsche. Derrida (1930 – 2004) tampak melanjutkan kerumitan Heidegger dengan gaya yang lebih renyah. Severino (1929 – 2021) sangat sulit dipahami karena bertumpu pada ajaran Parmenides tentang wujud abadi. Dan paling sulit, barangkali, adalah Laruelle (1937 – 2024) yang membahas Esa dari sudut pandang Yang Esa.

4.2 Berbagi Ringkasan Kita

Jangan khawatir! Kita bisa minta AI untuk membuat ringkasan itu semua agar menjadi mudah. Keunggulan ringkasan AI adalah (a) mudah dipahami dan memang ringkas. Bila kita merasa perlu untuk lebih ringkas maka kita bisa meminta AI untuk membuat lebih ringkas lagi. Bila ada bagian tertentu dari ringkasan yang kita belum paham maka kita bisa minta AI untuk lebih lengkap menjelaskan bagian itu; benar-benar fleksibel sesuai kebutuhan.

(b) Ringkasan AI bukanlah ringkasan oleh orang lain tetapi seakan-akan ringkasan oleh diri kita; seakan-akan kita sudah membaca buku sulit yang asli kemudian membuat ringkasan itu. Jadi, ada semacam kesan bahwa kita sudah memahami buku aslinya yang super sulit itu.

(c) Karena ringkasan oleh AI itu seakan-akan tulisan kita sendiri maka kita bisa share (berbagi) ringkasan itu ke medsos misal di WA, FB, IG, blog, dan lain-lain. Jadi tersedia lebih banyak tulisan di berbagai media.

4.3 Membaca Konkret

Kita tetap perlu membaca buku kriptik asli tulisan manusia. Kita tetap perlu menulis buku karya kita sendiri sebagai manusia; baik buku kriptik atau pun buku sederhana. Membaca buku berupa ringkasan oleh AI, ulasan oleh AI, atau kritik oleh AI adalah tidak memadai. Kita butuh membaca secara konkret; yaitu kita membaca buku karya manusia konkret; dan posisi kita sebagai pembaca adalah sebagai manusia konkret.

Saya mencoba membaca ulang Bab 2 Fusus karya Ibnu Arabi tentang Nabi Syits (Seth); memang kriptik yang sulit dipahami. Kemudian saya minta AI untuk membahas Bab 2 Fusus itu. AI membahasnya dengan sangat mudah. Tetapi jelas berbeda. Membaca Fusus asli karya Ibnu Arabi benar-benar penuh pesona. Kemudian, saya mencoba membaca karya William Chittick yang membahas karya Arabi. Benar, karya Chittik juga bertabur pesona.

Untuk buku kriptik modern saya mencoba membaca ulang “Letter on Humanism” karya Heidegger. Benar juga, sangat sulit dipahami memang kriptik. Saya minta AI membahas “Letter on Humanism”. AI membahasnya dengan sangat mudah dan sederhana. Tetapi jelas berbeda. Karya Heidegger yang asli itu bertabur pesona konkret. Saya mencoba membaca tulisan murid-murid Heidegger tentang “Letter on Humanism” hasilnya benar-benar bertabur pesona.

Kita butuh membaca buku kriptik mau pun menulis buku kriptik.

Bagaimana menurut Anda?

Apakah AI Punya Lubang Hidung?

Manusia punya lubang hidung. Anda punya lubang hidung sehingga bisa menghirup udara segar. Anda bisa hidup sehat berkat memiliki lubang hidung. Jika tersumbat bagaimana Anda bisa bernafas? Kita membutuhkan lubang hidung. Apakah AI membutuhkan lubang hidung seperti manusia?

Apakah lubang hidung adalah bagian dari hidung? Tulang dan kulit adalah bagian dari hidung. Tetapi, lubang hidung bukan tulang, bukan kulit, bukan pula daging. Lubang hidung bukanlah apa-apa. Lubang hidung adalah kosong melompong.

1. Kosong
2. Salah Kategori
3. Diskusi
3.1 Menulis Buku Tiap Minggu
3.2 Marx Mengubah Dunia
3.3 Hampanya Lubang Hidung

Kita membutuhkan kekosongan, butuh hampa, butuh ketiadaan. Kamar Anda tentu saja dikelilingi oleh dinding yang kuat. Bagaimana jika semua dinding adalah tertutup? Anda tidak bisa masuk atau keluar dari kamar tanpa lubang pintu. Dinding membutuhkan kekosongan berupa lubang pintu. Sebaliknya juga merepotkan: bagaimana jika kamar berupa lubang pintu semua tanpa dinding sama sekali? Tidak jadi kamar lagi. Kamar membutuhkan dinding dan lubang pintu. Kita membutuhkan tulang hidung dan lubangnya.

1. Kosong

Apakah AI punya lubang hidung? Jawaban ringkas: tidak punya. Andai AI punya hidung untuk bernafas maka lubang hidung milik AI itu adalah kosong; atau sama artinya lubang hidung itu tidak ada.

Apakah AI menjadikan orang makin kaya raya? Benar. Programer bisa koding, menulis kode komputer, lebih cepat tiap hari dengan bantuan AI. Programer muda biasa mendapat gaji 5 juta rupiah per bulan. Dengan bantuan AI, ia menulis kode lebih cepat dan lebih banyak. Hanya dalam waktu 3 bulan, gajinya naik menjadi 10 juta dan 3 bulan berikutnya naik lagi jadi 15 juta.

Apakah AI berdampak pengangguran, pemutusan hubungan kerja, semisal PHK? Tidak. Mereka yang dipecat atau mereka yang menganggur justru karena tidak memanfaatkan AI. Mereka yang tidak mahir AI maka berdampak kehilangan kerja. Sementara, mereka yang mahir AI makin kaya. Benarkah?

2. Salah Kategori

Tidak benar. Salah kategori. Salah berpikir. Apa yang kita bahas di atas adalah contoh berpikir banal; berpikir biasa tapi bahaya.

Yang benar adalah: lubang hidung bagian penting dari hidung; lubang pintu bagian penting dari kamar; pengangguran adalah bagian penting dari AI.

Karena pengangguran adalah bagian penting dari AI maka kita perlu membahas masalah pengangguran. Karena pemiskinan adalah bagian penting dari AI maka kita perlu membahasnya. Karena kerusakan lingkungan adalah bagian penting dari teknologi maka kita perlu membahasnya. Karena kekayaan segelintir orang adalah bagian penting dari kapitalisme maka kita perlu membahasnya.

3. Diskusi

Bagaimana menurut Anda?

“Nothingness adalah sangat penting,” ungkap Sartre dalam buku Being and Nothingness. Lubang hidung adalah paling utama untuk bernafas. Pemiskinan adalah tema utama kapitalisme. Pembodohan adalah tema utama AI.

Membahas realitas kadang tidak seperti apa yang tampak di atas kertas. Memang tugas kita sebagai manusia adalah untuk berpikir. Bagaimana menurut pikiran Anda?

3.1 Menulis Buku Tiap Minggu

Ari, teman saya, heran setelah mengikuti pesan saya. “Pesan yang mana?” saya tanya ke Ari. “Itu, yang menyuruh AI untuk menulis buku,” jawab Ari. Dia mengikuti pesan saya yaitu coba suruh AI untuk menulis buku mulai dari daftar isi. Ari terkejut karena AI benar-benar membuat daftar isi buku baru yang diminta.

“Lalu, berapa lama kamu menyelesaikan menulis satu buku?” saya penasaran.
“Kalau intensif, saya menyelesaikan satu buku dalam satu minggu,” jawab Ari.
“Kalau santai?”
“Kalau santai, sekitar 1 bulan selesai 1 buku dengan bantuan AI,” jelas Ari.

Buku tulisan AI sangat menarik, mudah dipahami, dan mempesona dengan gaya bahasa bak sastrawan sang pujangga.

“Kata teman saya yang seorang editor buku, dia bisa menulis buku lebih cepat pakai AI. Tapi, kemudian, dia lupa isi buku yang baru dia tulis. Bagaimana pengalaman kamu, Ari?”
“Sama, aku juga lupa hampir semua isi buku yang aku tulis berbantuan AI.”

Untuk produktivitas jumlah buku yang bisa ditulis, AI adalah juaranya. Untuk lebih banyak menghasilkan dolar melalui konten digital, AI adalah juaranya. Untuk mendominasi pasar bisnis, AI adalah juaranya. Apa masalahnya? Masalahnya adalah kita; kita adalah manusia yang selalu bertanya: apa makna itu semua?

3.2 Marx Mengubah Dunia

Marx (1818 -1883) terkenal dengan ajarannya, “Kesalahan para pemikir adalah mereka ingin memahami dunia. Padahal yang lebih penting adalah untuk mengubahnya.”

Di abad 21 ini, kita bisa memberi tantangan kepada Marx, “Masalah muncul karena manusia ingin mengubah dunia padahal tidak memahaminya. Bagaimana menurutmu, Marx?” Saya yakin Marx akan berpikir keras untuk menjawab ini. Anak jaman sekarang, tidak perlu repot seperti Marx. Tanyakan saja kepada AI maka 1 detik muncul jawaban AI. Apakah anak jaman sekarang paham makna dari masalah itu?

Anak jaman sekarang tidak memahami dunia; juga, tidak mengubah dunia. Anak jaman sekarang sedang tenggelam dalam dunia; terutama dunia digital yang ditunggangi oleh AI. Anak jaman sekarang kecanduan teknologi. Tentu, ada sebagian kecil anak jaman sekarang yang memahami dunia; berjuang memberbaiki alam sekitar; berjuang menjadi anak muda yang tumbuh dewasa.

3.3 Hampanya Lubang Hidung

Lubang hidung benar-benar kosong; hampa; tanpa daging; tanpa tulang; tanpa kulit. Tetapi, kosongnya lubang hidung itu yang memberi makna kepada hidung. Lubang hidung adalah jalan bagi udara segar untuk masuk dan keluar dari tubuh manusia sehingga sehat. Kita butuh lubang hidung yang hampa; kosong; bersih; dan tepat; tidak terlalu lebar pun tidak terlalu sempit.

Secara ringkas:

(a) AI meningkatkan produktivitas; meningkatkan efisiensi; meningkatkan kekayaan bagi sebagian orang.

(b) AI mengubah dunia meski tidak memahami dunia; AI memberi kekuatan meski tidak memberi makna sebagai manusia; AI mengacaukan makna.

(c) Kita butuh lubang hidung yang kosong; kita butuh membersihkan lubang hidung; kita butuh peduli kepada korban-korban AI yang hampa dalam kekosongan. Kita butuh respek kepada para “korban” itu. Hanya karena mereka ber”korban” maka kita bisa menikmati kemenangan. Membela para “korban” adalah utama.

Seorang wanita bernilai karena dia punya lubang; yaitu ruang kosong dalam rahimnya. Dari rahim seorang ibu, janin manusia bisa hidup yaitu Anda. Jadi, Anda bisa membaca tulisan ini karena ada lubang berupa ruang kosong dalam rahim ibu Anda.

Seorang lelaki bernilai karena punya lubang; yaitu ruang kosong di kepalanya sehingga bisa tumbuh sel-sel otak untuk berpikir. Sama saja, lelaki dan perempuan bernilai karena lubang mereka. Ungkapan salah mengatakan “daging semua” bernilai tinggi. “Daging semua” hanya bernilai ketika ada lubangnya berupa ruang hampa.

Bagaimana menurut Anda?

AI Sebagai Tuhan Baru

Manusia penasaran ingin mencari Tuhan. AI menawarkan kemampuan luar biasa: serba tahu, super cepat, dan ada di mana saja kapan saja. Apakah AI adalah tuhan yang dicari-cari oleh manusia?

Kemampuan AI (akal imitasi / artificial intelligence) memang luar biasa. Sehingga Tavik Uyar menduga, “… unparalleled capabilities might lead people to attribute godlike infallibility to it…” (“… kemampuan (AI) yang tak tertandingi mungkin menyebabkan orang-orang menganggapnya sebagai kesempurnaan yang seperti Tuhan…”)

Wija, nama panggilan dari Wijaksana, adalah anak muda yang semangat wirausaha. Melihat kemampuan AI, misal chatGPT dan Deepseek, pikiran wirausaha dari Wija langsung bersinar. Wija mendalami AI dan menemukan tambang emas dalam AI. Wija mahir memanfaatkan AI, kemudian menawarkan jasa penulisan skripsi ke beberapa mahasiswa tingkat akhir di Bandung.

Maya, mahasiswa tingkat akhir di Bandung, mulanya ragu dengan tawaran Wija. “Tidak ada salahnya mencoba,” pikir Maya, “toh, gratis semua.” Wija mendapat file skripsi Maya yang sudah berbulan-bulan tidak selesai itu. Wija meminta AI untuk menyelesaikan skripsi Maya. Dalam 1 sampai 2 jam, skripsi Maya sudah jadi. Wija ragu dengan kecepatan AI itu. Wija menunda; tidak memberi tahu Maya tentang hasil skripsi oleh AI.

Setelah satu minggu berlalu, Wija mengirimkan skripsi kepada Maya. Maya kagum membaca skripsinya sendiri bisa sehebat itu setelah diolah oleh AI. Beberapa hari kemudian, Maya sidang skripsi lulus dengan hasil nilai terbaik. Maya berterima kasih kepada Wija dan ingin memberi hadiah sebagai ungkapan terima kasih. Wija menolak hadiah itu dan menegaskan bahwa khusus untuk Maya semua gratis. Kabar itu lambat laun menyebar ke teman-teman mahasiswa. Kali ini, Wija mulai pasang tarif untuk jasa penulisan skripsi meski murah. Dugaan awal Wija memang benar: AI adalah tambang emas untuk wirausaha. Kini, Wija rekrut beberapa karyawan untuk menjalankan wirausaha berbasis AI itu. Tidak terbatas pada skripsi, Wija meluaskan ke segala lini: tesis, disertasi, artikel, makalah, konten digital, dan lain-lain.

Seorang ustadz bertanya ke Wija, “Apakah bisa membuatkan bahan ceramah?”
“Apa tema ceramah yang diinginkan?”
“Memanfaatkan media sosial untuk ibadah,” jawab ustadz.
“Baik, saya coba.”

Sepuluh menit kemudian, Wija menyodorkan bahan ceramah sesuai permintaan. “Wow… mengagumkan!” seru sang ustadz.

AI membantu ustadz untuk membimbing umat melalui ceramah yang indah. Apakah AI akan menggantikan posisi Ustadz?

Pelajaran Koding untuk Siswa Berbahaya

Siswa SD yang belajar koding adalah sangat berbahaya. Siswa SD itu bisa melakukan penipuan uang, transaksi, investasi, bisnis, mau pun menjebol situs-situs terlarang. Siswa SMP dan SMA sama juga berbahaya bila belajar koding. Mereka bukan hanya bisa main game tetapi bisa menjadi bandar judol; judi online.

Sementara, menteri pendidikan tampak ingin memberikan pelajaran koding kepada siswa SD, SMP, SMA sebagai pilihan; pilihan yang sangat ngeri. “Pembelajaran coding dan kecerdasan artifisial ini akan kami jadikan sebagai mata pelajaran pilihan untuk jenjang SD, SMP, dan SMA. Untuk SD akan dimulai pada kelas 5 dan kita rencanakan dimulai pada tahun pelajaran 2025-2026,” tutur Abdul Mu’ti di kantor Kemenko PMK, Jakarta Pusat, Selasa (29/4/2025) dalam detikNews, dikutip Minggu (4/5/2025).” (Detik.com)

“Jika Anda punya tombol otomatis dengan sekali tekan tombol maka dunia akan hancur; maka apakah Anda akan menawarkan tombol otomatis itu kepada seluruh anak-anak di dunia sebagai pilihan?” Bostrom pernah bertanya seperti itu kepada Elon Musk yang bingung terhadap AI.

1. Qabil vs Habil
2. Siswa Perlu Paham bukan Kuasa
3. Diskusi

Secara sederhana saya mengusulkan agar pelajaran koding, dan AI, ditiadakan bagis siswa SD, SMP, dan SMA/SMK. Koding adalah semacam tabu, atau aurat, bagi siswa. Siswa tabu, dilarang, melihat aurat lawan jenis kecuali mereka sudah sah menikah. Untuk menikah, remaja perlu cukup usia dan bekal ilmu serta tanggung jawab.

1. Qabil vs Habil

Anda pilih Qabil atau Habil?

Pertanyaan sederhana tetapi tidak mudah menjawabnya dengan tulus. Kitab suci mengajarkan bahwa kita harus memilih Habil. Hanya saja, Habil dibunuh oleh Qabil. Orang yang mau menang sendiri, mereka, memilih Qabil sang pembunuh laknat itu.

Pelajaran koding membekali siswa mampu menjadi Qabil sang pembunuh laknat itu. Siswa, meski tampak polos, adalah anak manusia yang super kreatif. Siswa bisa melakukan apa saja yang tidak pernah dibayangkan orang dewasa dengan koding. Mengapa? Karena mereka adalah anak-anak yang polos.

Menang mana siswa bisa koding dengan siswa tidak bisa koding bila bersaing? Menang mana Qabil dengan Habil? Apa gunanya menang bila merugikan banyak orang?

2. Siswa Perlu Paham bukan Kuasa

Marx pernah berkata, “Para pemikir sepanjang masa hanya fokus memahami dunia. Padahal yang lebih penting adalah mengubah dunia.”

Ungkapan Marx itu menjadi inspirasi revolusi di dunia berdampak jutaan orang menjadi korban terbunuh di Cina, Rusia, Amerika, dan lain-lain. Indonesia juga mengalami sejarah kelam revolusi ribuan sampai jutaan orang terbunuh sejak 1965.

Dengan koding dan AI, apakah siswa bisa dicegah dari melakukan revolusi digital? Siapa bisa mencegah siswa yang super kreatif itu? Tapi, bagaimana jika siswa luar negeri menguasai koding? Mala petaka besar di depan mata.

Para pemikir dunia sepanjang masa sudah benar: kita perlu memahami dunia dulu; baru kemudian, ikut partisipasi mengubah dunia sedikit menjadi lebih baik. Jadi, ajari para siswa untuk lebih memahami dunia.

3. Diskusi

Bagaimana menurut Anda?

Koding dan AI sebaiknya diajarkan kepada mahasiswa atau yang lebih dewasa. Bila siswa SMA/SMK ingin belajar koding atau AI maka perlu pengawasan super ketat demi kebaikan bersama. Sementara, siswa SMP, SD, atau yang lebih muda sebaiknya dijaga dari koding mau pun AI. Tentu boleh saja berbicara kepada mereka tentang koding dan AI sebagai tabu. Boleh juga diskusi dengan para siswa. Tetapi untuk belajar secara detil tentang tabu koding dan AI, ijinkan putra-putri untuk tumbuh dewasa dulu.

Memang sebuah tantangan kan?

Narasi AI Bersama Agama

Pengaruh AI begitu besar dalam kehidupan manusia. Apakah AI seiring seirama dengan ajaran agama? Apakah AI (akal imitasi / artificial intelligence) bisa menjadi solusi dari beragam problem di bumi ini? Atau, AI justru menjadi masalah itu sendiri?

Kita akan membahas narasi AI, kali ini, bersanding dengan beragam ajaran agama. Kita tahu bahwa agama amat penting menata kehidupan menjadi penuh makna. Di saat yang sama, manusia sering perang politik kekuasaan mau pun ekonomi dengan membawa nama agama. Apa yang akan terjadi ketika narasi AI bersanding dengan agama?

Kita akan memilih 19 narasi saja sebagai pokok pembahasan. Pembaca dapat menambah lebih banyak narasi lagi bila dirasa perlu. Pemilihan 19 narasi ini seirama dengan buku 19 Narasi Besar AI yang telah terbit beberapa bulan lalu.

Prolog

A. Narasi Bijak Sejak Era Kuno

1. Dialektika Idealisme dari Plato
2. Penggerak Pertama dari Aristoteles
3. Rindu Ajaran Agama dari Epicurus
4. Jabatan Tertinggi dari Marcus Aurelius
5. Cahaya Hati dari Ghazali
6. Cermin Ilahi dari Ibnu Arabi
7. Rasionalitas yang Pantas dari Aquinas
8. Hirarki Dinamis Eksistensi dari Sadra

B. Narasi Dinamis Era Modern

9. Puncak Logika dari Leibniz
10. Tanda Tanya Besar dari Hume
11. Idealisme Transendental dari Kant
12. Positivisme Melingkar dari Comte
13. Candu Agama dari Marx
14. Kesadaran Tersembunyi dari Freud
15. Pesona Semesta dari Weber

C. Narasi Serasi Era Kontemporer

16. Sekularisasi Berpuisi Kembali dari Taylor
17. Integralisme dari Mahzar Singler
18. Dahulukan Akhlak dari Rakhmat
19. Eksistensi Futuristik dari Mahayana Nggermanto

Epilog

Masing-masing narasi, kita kaitkan dengan nama satu tokoh pemikir. Bagaimana pun, sejatinya, banyak nama tokoh dalam setiap narasi. Misal narasi dialektika idealisme kita sebut dari Plato meski meliputi tokoh-tokoh lain seperti Socrates, Pythagoras, Parmenides, dan lain-lain. Pembagian kelas narasi menjadi 3 klasifikasi (bijak, dinamis, dan serasi) adalah sekadar untuk kemudahan pemahaman.

Prolog

A. Narasi Bijak Sejak Era Kuno

1. Dialektika Idealisme dari Plato

“IN EXAMINING the religious ideas of any thinker we must bear in mind two separate facts, (1) the habitual notions inherited from many generations, and (2) the specific teachings drawn from his immediate environment. The first of these included for Plato the ordinary mythological concepts still current among the group though largely rejected or at least discounted by the educated classes. Piety consisted in the recognition of the laws of society imbedded in the acts of public worship as well as in the behavior of daily life. Men are pious because they obey the civil laws. Socrates had criticized this judgment on the ground that obedience to law was the test of just action, not of religious regularity. All pious men are just, but not all just men are pious.” (Dunham, 1947).

“DALAM MENELITI gagasan keagamaan dari setiap pemikir, kita harus mengingat dua fakta terpisah, (1) gagasan kebiasaan yang diwarisi dari banyak generasi, dan (2) ajaran khusus yang diambil dari lingkungan terdekatnya. Yang pertama dari ini termasuk bagi Plato konsep mitologis biasa yang masih berlaku di antara kelompok tersebut meskipun sebagian besar ditolak atau setidaknya diabaikan oleh kelas terpelajar. Kesalehan terdiri dari pengakuan hukum masyarakat yang tertanam dalam tindakan ibadah umum serta dalam perilaku kehidupan sehari-hari. Manusia saleh karena mereka mematuhi hukum sipil. Socrates mengkritik penilaian ini dengan alasan bahwa kepatuhan terhadap hukum adalah ujian tindakan yang adil, bukan keteraturan agama. Semua orang saleh itu adil, tetapi tidak semua orang adil itu saleh.”

Plato, dan Socrates sang guru, mengingatkan perbedaan antara mitos dengan saleh hakiki mau pun adil hakiki. Umat agama mudah terjebak dalam mitos padahal agama mengajarkan saleh hakiki dan adil hakiki.

Kajian yang sama bisa kita arahkan kepada AI: (1) mitos-mitos AI yang disebarkan oleh propaganda AI (akal imitasi / artificial intelligence); (2) kebaikan sejati, dan adil sejati, yang ditawarkan oleh AI. Apakah AI untuk memajukan peradaban adalah sekedar mitos? Atau kebaikan sejati?

2. Penggerak Pertama dari Aristoteles

“IT FREQUENTLY happens in the development of philosophy that the ideas conceived by a creative thinker are sifted and organized by a man of systematic temper and reduced by him to a scientific order. It is agreed among all careful readers that this is what Aristotle did for Plato. As a result Plato cannot be faithfully studied without the comments of his pupil. Schelling, the German romanticist, lays down the thesis that history conducts an illuminating dialectic. No thinker can be his own successor; he will be followed by a “system of phases” which will unfold the given ideas in a logical series. The original concepts which Plato incorporated in his dialogues, form the initial stages of the dialectic. They are nullified for a moment by the disappearance of the creator but powerfully reaffirmed by the synthetic genius of Aristotle.” (Dunham, 1947).

“SERING terjadi dalam perkembangan filsafat bahwa ide-ide yang dicetuskan oleh seorang pemikir kreatif disaring dan diatur oleh seorang yang berwatak sistematis dan direduksi olehnya menjadi tatanan ilmiah. Semua pembaca yang cermat sepakat bahwa inilah yang dilakukan Aristoteles untuk Plato. Akibatnya, Plato tidak dapat dipelajari dengan saksama tanpa komentar dari muridnya. Schelling, seorang romantisis Jerman, mengemukakan tesis bahwa sejarah melakukan dialektika yang mencerahkan. Tidak ada pemikir yang dapat menjadi penerusnya sendiri; ia akan diikuti oleh “sistem fase” yang akan mengungkap ide-ide yang diberikan dalam rangkaian logis. Konsep-konsep asli yang dimasukkan Plato dalam dialog-dialognya, membentuk tahap-tahap awal dialektika. Konsep-konsep itu dibatalkan sejenak oleh hilangnya sang pencipta tetapi ditegaskan kembali dengan kuat oleh kejeniusan sintetis Aristoteles.”

Aristo menegaskan kembali bahwa Tuhan adalah Maha Awal (Penggerak Pertama) dan Maha Akhir (Tujuan Akhir). Apakah AI berasal dari Maha Awal? Tentu, tetapi, apakah ada manipulasi oleh pihak-pihak tertentu? Apakah AI menuju akhir yang sempurna yaitu Tuhan Maha Akhir? Tentu, tetapi, apakah ada pihak yang melakukan sabotase di tengah jalan?

3. Rindu Ajaran Agama dari Epicurus

“IT IS difficult to conceive of a Greek system of thought which has no reference to religious principles. … Epicurus accepted the pattern laid down by his predecessor; he mad e no effort to interfere with the religious customs of the city in which he had his abode. Indeed, Diogenes, the chronicler, emphatically states that “his reverent behavior towards the gods was beyond the telling.”

Philodemus, a contemporary of Cicero, writes that Epicurus “observed all the religious ceremonies and recommended that others do the same.” For this reason he did not escape the charge of insincerity, since the mechanistic tone of his philosophy left no room for faith in invisible deities. He is accused by Cicero of seeking to court the favor of his fellowcitizens by pious pretensions, in order that he might insidiously entice them to adopt his opinions and discard the crudities of their native belief.

It is reported, too, that he made a distinct cleavage between duties prescribed by the state and the unreasoned notions of the crowd. We have grounds for thinking that he actually made this distinction, and we have decisive reasons for concluding that he recognized the idea of divinity as a valid concept in systematic thought. It is also clear from abundant evidence that he intended to prove that current notions regarding the nature and powers of the gods, were incompatible with the methods of analysis which scientific thinkers are obliged to use. In particular, he set about demonstrating that the results which the gods were thought to bring about were due wholly to the action of natural forces. Ho w should he proceed to make this proof effective?” (Dunham. 1947).

“SULIT untuk membayangkan sistem pemikiran Yunani yang tidak mengacu pada prinsip-prinsip keagamaan. … Epicurus menerima pola yang ditetapkan oleh pendahulunya; ia tidak berupaya untuk mencampuri adat istiadat keagamaan kota tempat ia tinggal. Bahkan, Diogenes, sang penulis sejarah, dengan tegas menyatakan bahwa “perilakunya yang penuh hormat terhadap para dewa tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata.”

Philodemus, seorang kontemporer Cicero, menulis bahwa Epicurus “menaati semua upacara keagamaan dan menganjurkan orang lain untuk melakukan hal yang sama.” Karena alasan ini ia tidak luput dari tuduhan ketidakjujuran, karena nada mekanistis filsafatnya tidak memberi ruang bagi kepercayaan kepada dewa-dewa yang tidak terlihat. Ia dituduh oleh Cicero berusaha untuk mendapatkan dukungan dari sesama warga negaranya dengan kepura-puraan saleh, agar ia dapat secara licik membujuk mereka untuk mengadopsi pendapatnya dan membuang kekasaran kepercayaan asli mereka.

Dilaporkan juga bahwa ia membuat pemisahan yang jelas antara tugas-tugas yang ditentukan oleh negara dan gagasan-gagasan yang tidak masuk akal dari orang banyak. Kita memiliki dasar untuk berpikir bahwa ia benar-benar membuat perbedaan ini, dan kita memiliki alasan yang kuat untuk menyimpulkan bahwa ia mengakui gagasan tentang keilahian sebagai konsep yang valid dalam pemikiran sistematis. Jelas juga dari bukti yang melimpah bahwa ia bermaksud untuk membuktikan bahwa gagasan saat ini mengenai sifat dan kekuatan para dewa tidak sesuai dengan metode analisis yang wajib digunakan oleh para pemikir ilmiah. Secara khusus, ia berusaha menunjukkan bahwa hasil yang dianggap dihasilkan oleh para dewa sepenuhnya disebabkan oleh tindakan kekuatan alam. Bagaimana ia harus melanjutkan untuk membuat bukti ini efektif?”

Manusia selalu bersama agama; mereka tidak bisa dipisahkan sejak jaman kuno sampai sekarang. Epicurus menyarankan agar kita menerima ajaran agama kemudian “memperbaikinya.” Bagi Epicurus, ajaran agama adalah rindu terdalam dari setiap manusia. Banyak pemikir heran mengapa Epicurus sangat menghormati agama dan taat menjalankan agama. Padahal Epicurus adalah pemikir paling kritis di masanya. Orang berharap agar Epicurus mengkritik ajaran agama. Tetapi, Epicurus justru sangat saleh menjalani ajaran agama.

Apakah AI menumbuhkan rasa rindu kepada ajaran agama? Apakah AI membantu kita untuk lebih hormat dan taat kepada agama? Atau, kita bisa mengajukan pertanyaan lebih konstruktif. Bagaimana caranya agar AI menumbuhkan rasa rindu kepada agama? Agar AI menguatkan rasa hormat dan taat kepada agama?

4. Jabatan Tertinggi dari Marcus Aurelius

“STOICISM is a state of mind rather than a system of philosophy. Its tenets appear in the most divergent forms of cultural development. The type of thought which bears its name sprang from the analytic mind of Greece. Behind it lie the moral energy of Socrates, the constructive metaphysics of Plato, and the scientific imagination of Heraclitus, together with the stern pride of self incarnate in the life and teachings of Antisthenes.

Yet the Stoic principles have no exclusive root in the Mediterranean basin. Change their terms, and you may find them again in China or India or in the prophetic heritage of Judah. They embody a form of reaction which Confucius, Buddha and Jeremiah might readily translate into Oriental symbols. They have been studied, revised, and then imbedded in the severe discipline of the Puritan revival. Milton, Cromwell, Cudworth reflect in a variety of ways their enduring worth. Th e mind of the Stoic knows neither race nor age nor external condition.” (Dunham, 1947).

“STOISISME adalah sebuah kondisi pikiran, bukan sebuah sistem filsafat. Prinsip-prinsipnya muncul dalam bentuk-bentuk perkembangan budaya yang paling beragam. Jenis pemikiran yang menyandang namanya muncul dari pikiran analitis Yunani. Di baliknya terdapat energi moral Socrates, metafisika konstruktif Plato, dan imajinasi ilmiah Heraclitus, bersama dengan kebanggaan diri yang kuat yang menjelma dalam kehidupan dan ajaran Antisthenes.

Namun, prinsip-prinsip Stoa tidak memiliki akar eksklusif di wilayah Mediterania. Ubahlah istilah-istilahnya, dan Anda mungkin akan menemukannya lagi di Tiongkok atau India atau dalam warisan kenabian Yudea. Prinsip-prinsip tersebut mewujudkan suatu bentuk reaksi yang dapat dengan mudah diterjemahkan oleh Konfusius, Buddha, dan Yeremia ke dalam simbol-simbol Timur. Prinsip-prinsip tersebut telah dipelajari, direvisi, dan kemudian ditanamkan dalam disiplin keras kebangkitan Puritan. Milton, Cromwell, Cudworth merefleksikan nilai abadi mereka dalam berbagai cara. Pikiran seorang Stoa tidak mengenal ras, usia, atau kondisi eksternal.”

Stoisme atau stoa lebih dari sekedar sistem filosofi. Stoa mencakup sistem spiritual sehingga sangat dekat dengan ajaran agama; baik agama dari para nabi mau pun agama pencerahan timur. Lebih menarik lagi, Stoa memiliki teladan tokoh yang memiliki jabatan sangat tinggi yaitu Markus Aurelius sebagai kaisar; dan teladan tokoh rakyat jelata yaitu Epictetus seorang mantan budak yang kemudian menjadi guru. Singkatnya, ajaran Stoa terbuka untuk seluruh lapisan masyarakat.

Apakah AI mengembangkan sistem filosofi dan sistem spiritual mirip Stoa? Apakah AI tepat guna bagi pejabat tinggi semisal kaisar atau presiden? Apakah AI tepat guna bagi rakyat jelata; pekerja rendahan dan pedagang asongan?

5. Cahaya Hati dari Ghazali

“Soon after al-Ghazâlî had published his two refutations of falsafa and Ismâ’îlism he left his position at the Nizâmiyya madrasa in Baghdad. During this period he began writing what most Muslim scholars regard as his major work, The Revival of the Religious Sciences (Ihyâ’ ‘ulûm al-dîn). The voluminous Revival is a comprehensive guide to ethical behavior in the everyday life of Muslims (Garden 2014: 63–122).

It is divided into four sections, each containing ten books. The first section deals with ritual practices (‘ibâdât), the second with social customs (‘âdât), the third with those things that lead to perdition (muhlikât) and hence should be avoided, and the fourth with those that lead to salvation (munjiyât) and should be sought. In the forty books of the Revival al-Ghazâlî severely criticizes the coveting of worldly matters and reminds his readers that human life is a path towards Judgment Day and the reward or punishment gained through it. Compared with the eternity of the next life, this life is almost insignificant, yet it seals our fate in the world to come.

In his autobiography al-Ghazâlî writes that reading Sufi literature made him realize that our theological convictions are by themselves irrelevant for gaining redemption in the afterlife. Not our good beliefs or intentions count; only our good and virtuous actions will determine our life in the world to come. This insight prompted al-Ghazâlî to change his lifestyle and adopt the Sufi path (al-Ghazâlî 1959a, 35–38 = 2000b, 77–80). In the Revival he composed a book about human actions (mu’âmalât) that wishes to steer clear of any deeper discussion of theological insights (mukâshafât). Rather, it aims at guiding people towards ethical behavior that God will reward in this world and the next (al-Ghazâlî 1937–38, 1:4–5).” (SEP).

“Segera setelah al-Ghazâlî menerbitkan dua bantahannya terhadap falsafah dan Ismâ’îlisme, ia meninggalkan jabatannya di madrasah Nizâmiyya di Baghdad. Selama periode ini, ia mulai menulis apa yang oleh sebagian besar cendekiawan Muslim dianggap sebagai karya utamanya, The Revival of the Religious Sciences (Ihyâ’ ‘ulûm al-dîn). The Revival yang sangat banyak itu merupakan panduan komprehensif tentang perilaku etis dalam kehidupan sehari-hari umat Muslim (Garden 2014: 63–122).

Buku ini dibagi menjadi empat bagian, yang masing-masing berisi sepuluh buku. Bagian pertama membahas praktik ritual (‘ibâdât), bagian kedua membahas adat istiadat sosial (‘âdât), bagian ketiga membahas hal-hal yang menuntun pada kebinasaan (muhlikât) dan karenanya harus dihindari, dan bagian keempat membahas hal-hal yang menuntun pada keselamatan (munjiyât) dan harus dicari. Dalam empat puluh buku Kebangkitan, al-Ghazâlî mengkritik keras keinginan akan hal-hal duniawi dan mengingatkan para pembacanya bahwa kehidupan manusia adalah jalan menuju Hari Penghakiman dan pahala atau hukuman yang diperoleh melaluinya. Dibandingkan dengan keabadian kehidupan selanjutnya, kehidupan ini hampir tidak berarti, namun ia menentukan nasib kita di dunia yang akan datang.

Dalam otobiografinya, al-Ghazâlî menulis bahwa membaca literatur Sufi membuatnya menyadari bahwa keyakinan teologis kita sendiri tidak relevan untuk memperoleh penebusan di akhirat. Bukan keyakinan atau niat baik kita yang diperhitungkan; hanya tindakan baik dan berbudi luhur kita yang akan menentukan kehidupan kita di dunia yang akan datang. Wawasan ini mendorong al-Ghazâlî untuk mengubah gaya hidupnya dan menempuh jalan Sufi (al-Ghazâlî 1959a, 35–38 = 2000b, 77–80). Dalam Kebangkitan, ia menulis sebuah buku tentang tindakan manusia (mu’âmalât) yang ingin menghindari pembahasan mendalam tentang wawasan teologis (mukâshafât). Sebaliknya, buku ini bertujuan untuk membimbing manusia menuju perilaku etis yang akan diganjar pahala oleh Tuhan di dunia ini dan akhirat (al-Ghazâlî 1937–38, 1:4–5).”

Apakah AI bisa menjadi panduan etika? Apakah AI bisa menjadi panduan ibadah, panduan bermasyarakat, panduan menghindari keburukan, dan panduan memperoleh keselamatan? Apakah AI mendorong manusia untuk berbuat baik secara konkret lebih dari sekadar keyakinan teoretis? Apakah AI menguatkan cahaya hati?

6. Cermin Ilahi dari Ibnu Arabi

“As the model of human possibility, Perfect Man represents the individual who has traversed the circle of existence, reached the station of Two-Bows’ Length, and returned to his origin, the Reality of Realities. Standing in the Station of No Station, he is He/not He, Eternal/newly arrived, Infinite/finite. He alone functions as God’s “vicegerent” (khalîfa) or representative, the intermediary between God and creation, which is precisely the role for which Adam was created (Koran 2:30). Qûnawî writes:

The true Perfect Man is the barzakh between Necessity and possibility, the mirror that brings together in its essence and level the attributes and properties of Eternity and new arrival… . He is the intermediary between the Real and creation… . Were it not for him and the fact that he acts as a barzakh no different from the two sides, nothing of the cosmos would receive the divine, unitary effusion, because of the lack of correspondence and interrelationship. (Qûnawî, al-Fukûk, 248)

To put this in another way, Perfect Man is the spirit that animates the cosmos. This is the theme that begins the first chapter of Ibn ‘Arabî’s Ringstones, which explains the manner in which Adam—the human being—manifests the wisdom of the all-comprehensive name. In a parallel way, he writes in the Openings:

The whole cosmos is the differentiation of Adam, and Adam is the All-Comprehensive Book. In relation to the cosmos he is like the spirit in relation to the body. Hence man is the spirit of the cosmos, and the cosmos is the body. By bringing all this together, the cosmos is the great man, so long as man is within it. But, if you look at the cosmos alone, without man, you will find it to be like a proportioned body without a spirit. (Ibn ‘Arabî, al-Futûhât, 1911 edition, 2:67.28)” (SEP).

“Sebagai model posibilitas manusia, Manusia Sempurna mewakili individu yang telah melintasi lingkaran eksistensi, mencapai maqam Dua Busur, dan kembali ke asalnya, Realitas dari Realitas. Berdiri di Maqam Tanpa Maqam, ia adalah Dia/bukan Dia, Abadi/baru datang, Tak Terbatas/terbatas. Ia sendiri berfungsi sebagai “khalifah” atau perwakilan Tuhan, perantara antara Tuhan dan ciptaan, yang merupakan peran untuk diciptakannya Adam (Al-Quran 2:30). Qûnawî menulis:

Manusia Sempurna yang sejati adalah barzakh antara Keharusan dan kemungkinan, cermin yang menyatukan dalam esensi dan levelnya atribut dan sifat Keabadian dan kedatangan baru… . Ia adalah perantara antara Realitas dan ciptaan… . Jika bukan karena dia dan fakta bahwa ia bertindak sebagai barzakh yang tidak berbeda dari kedua sisi, tidak ada satu pun kosmos yang akan menerima pancaran ilahi yang menyatu, karena kurangnya korespondensi dan hubungan timbal balik. (Qûnawî, al-Fukûk, 248).

Dengan kata lain, Manusia Sempurna adalah ruh yang menghidupkan kosmos. Inilah tema yang mengawali bab pertama Batu Cincin karya Ibn ‘Arabî, yang menjelaskan cara Adam—manusia—memanifestasikan hikmah dari nama yang mencakup segalanya. Dengan cara yang paralel, ia menulis dalam Pembukaan:

Seluruh kosmos adalah diferensiasi Adam, dan Adam adalah Kitab yang Menyeluruh. Dalam kaitannya dengan kosmos, ia seperti ruh dalam kaitannya dengan tubuh. Oleh karena itu, manusia adalah ruh kosmos, dan kosmos adalah tubuh. Dengan menyatukan semua ini, kosmos adalah manusia agung, selama manusia berada di dalamnya. Namun, jika Anda melihat kosmos saja, tanpa manusia, Anda akan menemukannya seperti tubuh proporsional tanpa ruh. (Ibn ‘Arabî, al-Futûhât, edisi 1911, 2:67.28)”

Apakah AI bisa menghidupkan kosmos? Apakah AI bisa menjadi spirit bagi alam semesta? Apakah AI memancarkan hikmah ke seluruh semesta? Pertanyaan-pertanyaan ini bisa kita ubah ke bentuk yang konstruktif: bagaimana caranya agar AI memancarkan hikmah ke seluruh semesta?

6.1 Manusia Ruh Semesta

Seluruh alam semesta menjadi ada makna bila ada manusia di dalamnya. Tanpa manusia, seluruh alam semesta hanya hampa belaka; meski terjadi ledakan besar bigbang, misalnya, adalah ledakan biasa; meski terjadi evolusi sampai dinosaurus punah adalah evolusi biasa saja; meski matahari pagi bersinar terang, lembut hembusan angin sejuk, embun-embun pagi bening menetes di ujung daun, semua adalah alam biasa saja.

Teori bigbang menjadi indah ketika ada manusia yang menceritakannya. Teori evolusi menjadi seru karena ada manusia yang mendiskusikannya. Sinar matahari menjadi indah karena ada manusia yang menatapnya. Semua menjadi bermakna ketika manusia melukiskan makna ke alam raya.

Proses sebaliknya juga bisa terjadi. Kejahatan terjadi hanya karena ulah manusia; matahari dan rembulan tidak pernah jahat. Hutan gundul dan polusi udara karena rakusnya manusia; tikus yang rakus tetap bagus karena tidak merusak alam. Bom atom jatuh di Hiroshima, lagi-lagi, akibat sombongnya manusia. Bagaimana pun, di antara orang-orang jahat, muncul orang-orang pilihan dengan etika tinggi dan akhlak mulia. Orang-orang pilihan ini adalah pahlawan yang membela kebenaran. Penduduk bumi dan langit menaruh hormat kepada para pahlawan. Andakah satu di antara para pahlawan itu?

6.2 Manusia Ruh AI

Apakah AI memiliki kesadaran? Apakah AI (akal imitasi – artificial intelligence) bisa lebih cerdas dari Einstein? Apakah AI bisa tanggung jawab?

Mari kita berandai-andai dengan imajinasi. Bayangkan AI hadir di bumi ketika belum ada manusia; ketika Adam belum hadir di bumi; apa yang terjadi pada AI? Tanpa manusia, AI tidak punya arti. AI barangkali bisa berhitung tapi tanpa arti. AI bisa menulis puisi, lagi, tanpa arti. AI bisa mendominasi bumi, lagi, tanpa arti.

AI menjadi punya arti ketika hadir di tengah-tengah umat manusia.

Manusia adalah ruh bagi AI; manusia adalah jiwa bagi AI; manusia adalah spirit bagi AI.

AI adalah badan bagi manusia. Kita butuh AI untuk berkelana sebagaimana kita butuh mata untuk menatap dunia. Badan terdiri dari tulang, daging, kulit, darah, dan lain-lain. Di antara mereka ada yang berubah menjadi ganas; menjelma menjadi sel kanker yang merusak organ badan lainnya. AI yang semula adalah organ badan biasa, sewaktu-waktu, berubah menjadi kanker ganas yang memangsa manusia; AI memangsa badan manusia dan jiwa manusia. Bahkan AI memangsa sistem ekonomi dan politik umat manusia.

Kanker AI bukan produk dari AI itu sendiri. AI berubah menjadi kanker ganas akibat dari ulah manusia yang ganas secara individu, sosial, dan global. AI hadir ketika manusia sudah mengidap kanker. Akibatnya, AI terkena kanker dan menularkan kanker ke banyak tempat. Tugas manusia, saat ini dan berikutnya, adalah untuk menyembuhkan kanker AI. Sembuhkan bila bisa; amputasi bila terpaksa.

6.3 Manusia Paling Rendah

Manusia adalah makhluk paling mulia yang dekat dengan Tuhan. Di saat yang sama, manusia adalah paling rendah; manusia melayani seluruh dunia untuk mendekat kepada Tuhan. Manusia adalah raja dan, sekaligus, pelayan untuk semesta. Manusia adalah cermin Tuhan; cermin yang sangat istimewa; paling dekat dengan Tuhan dan paling jauh menjangkau seluruh semesta.

7. Rasionalitas yang Pantas dari Aquinas

“The key text for Aquinas’s thinking about the moral law is his Treatise on Law (ST 1a2ae 90–108). There he distinguishes between four kinds of law that play a role in guiding right human action:

  • eternal law: God’s plan of governance for the world (q. 93);
  • natural law: the distinctive way rational beings participate in the eternal law (q. 94);
  • human law: particular developments of natural law worked out by human reason (qq. 95–97);
  • divine law: divinely revealed laws directing human beings to their end (qq. 98–108).

The eternal law governs everything, but can serve to guide us only when it is somehow transmitted to us. One way in which it is transmitted is through divine law, preeminently through the Bible, and here Aquinas distinguishes between the old law of the Hebrew Bible (qq. 98–105) and the new law described in the Gospel (qq. 106–8). The other form of transmission, philosophically the most interesting part of his account, is the natural law. Whereas human law is the contingent result of social and political organization, the natural law is innate within us. Since Aquinas thinks that God orders everything to its proper end (§8.1), there is a sense in which all things follow a natural law by which they participate in the eternal law. But when Aquinas refers to natural law in a moral context, he means the distinctive way in which rational agents have been ordered to achieve their proper end; hence he has in mind a law that governs the mind. Thus, “the law of nature is nothing other than the light of intellect, placed within us by God, through which we grasp what is to be done and what is to be avoided” (On the Ten Commandments [Collationes in decem praeceptis] proem).” (SEP).

“Teks kunci untuk pemikiran Aquinas tentang hukum moral adalah Risalah tentang Hukum (ST 1a2ae 90–108). Di sana, ia membedakan antara empat jenis hukum yang berperan dalam membimbing tindakan manusia yang benar:

(a) hukum abadi: rencana Tuhan untuk mengatur dunia (q. 93);

(b) hukum alam: cara khas makhluk rasional berpartisipasi dalam hukum abadi (q. 94);

(c) hukum manusia: perkembangan khusus hukum alam yang dikerjakan oleh akal manusia (qq. 95–97);

(d) hukum ilahi: hukum yang diwahyukan secara ilahi yang mengarahkan manusia menuju tujuan mereka (qq. 98–108).

Hukum abadi mengatur segalanya, tetapi dapat berfungsi untuk membimbing kita hanya jika hukum itu entah bagaimana disampaikan kepada kita. Salah satu cara penyampaiannya adalah melalui hukum ilahi, terutama melalui Alkitab, dan di sini Aquinas membedakan antara hukum lama dari Alkitab Ibrani (qq. 98–105) dan hukum baru yang dijelaskan dalam Injil (qq. 106–8). Bentuk penyampaian lainnya, yang secara filosofis merupakan bagian paling menarik dari penjelasannya, adalah hukum alam. Sementara hukum manusia merupakan hasil kontingensi dari organisasi sosial dan politik, hukum alam bersifat bawaan dalam diri kita.

Karena Aquinas berpikir bahwa Tuhan mengatur segala sesuatu untuk tujuan yang tepat (§8.1), ada pengertian bahwa segala sesuatu mengikuti hukum alam yang dengannya mereka berpartisipasi dalam hukum abadi. Namun, ketika Aquinas merujuk pada hukum alam dalam konteks moral, yang ia maksud adalah cara khas di mana agen rasional telah diperintahkan untuk mencapai tujuan mereka yang tepat; oleh karena itu yang ada dalam pikirannya adalah hukum yang mengatur pikiran. Maka, “hukum alam tidak lain adalah cahaya akal budi yang diberikan Tuhan dalam diri kita, yang melaluinya kita memahami apa yang harus dilakukan dan apa yang harus dihindari” (Tentang Sepuluh Perintah Allah [Collationes in decem praeceptis] proem).”

Hukum alam adalah cahaya akal budi yang diberikan oleh Tuhan. Apakah AI menerima cahaya akal budi? Apakah AI memiliki sistem rasional yang pantas? Apakah AI memahami hukum alam dan berpartisipasi secara rasional?

8. Hirarki Dinamis Eksistensi dari Sadra

“The future is also the culmination and the perfection of the present. Existence is in motion towards perfection. The existence of a thing is associated with its perfected form in the future. In this sense, the afterlife is merely a relative concept. As we have seen, it is the intellect and the faculty of imagination that are the distinguishing features that constitute individual survival. Contrary to most philosophers before him, matter is not the principle of individuation and therefore individual identity and personhood can exist divorced from matter, and the soul is immaterial, as are the bodies of the afterlife (Mulla Sadra 2001–5, IX: 311).

One’s existence is a process of reversion to the One, an unfolding of becoming that progresses from our corporeal incipience with the body through the perfection of the soul that gradually jettisons the physical body of this world in search of the beatitude and ecstasy of the intelligible world and of the afterlife (Mulla Sadra 2001–5, IX: 164). The existence of the afterlife is more subtle, more perfect and closer to the One. The pleasures and pains of the afterlife that are scripturally discussed are primarily spiritual and intelligible although they retain an attachment to a body, unlike the body of this world, one which is devoid of matter (Mulla Sadra 2001–5, IX: 165–6).

Matter is inert and pure potentiality and, since the existence of the afterlife is free from potentiality and baseness, the body of the afterlife cannot be material. It is an image of the body that a particular identity possessed. Mulla Sadra was keen to insist upon the Qur’anic account of bodily resurrection but he recognised that it was difficult to provide a philosophical account of the resurrection of this world’s physical body. Hence his solution is to argue that humans have different bodies corresponding to different levels of existence, in itself an application of substantial motion. Corporeal existence is not eternal but mortal (Mulla Sadra 2001–5, IX: 167). Bodies in this world exist through sensible forms; but the existence of the afterlife involves spiritual bodies attached to intelligible forms (Jambet 2006: 394–6).” (SEP).

“Masa depan juga merupakan puncak dan kesempurnaan masa kini. Eksistensi bergerak menuju kesempurnaan. Eksistensi suatu hal dikaitkan dengan bentuknya yang telah disempurnakan di masa depan. Dalam pengertian ini, kehidupan setelah kematian hanyalah sebuah konsep relatif. Seperti yang telah kita lihat, kecerdasan dan daya imajinasilah yang menjadi ciri pembeda yang membentuk kelangsungan hidup individu. Bertentangan dengan kebanyakan filsuf sebelumnya, materi bukanlah prinsip individuasi dan oleh karena itu identitas dan kepribadian individu dapat eksis terpisah dari materi, dan jiwa immateri, seperti halnya tubuh kehidupan setelah kematian (Mulla Sadra 2001–5, IX: 311).

Keberadaan seseorang adalah proses kembali kepada Yang Esa, sebuah penyingkapan keberadaan yang berkembang dari permulaan jasmani kita dengan tubuh melalui kesempurnaan jiwa yang secara bertahap membuang tubuh fisik dunia ini untuk mencari kebahagiaan dan kegembiraan dunia intelligible dan akhirat (Mulla Sadra 2001–5, IX: 164). Keberadaan akhirat lebih halus, lebih sempurna, dan lebih dekat kepada Yang Esa. Kesenangan dan penderitaan akhirat yang dibahas dalam kitab suci terutama bersifat spiritual dan dapat dipahami (intelligible) meskipun mereka mempertahankan keterikatan pada tubuh, tidak seperti tubuh dunia ini, yang tidak memiliki materi (Mulla Sadra 2001–5, IX: 165–6).

Materi adalah potensi yang lembam dan murni dan, karena keberadaan akhirat bebas dari potensi dan kehinaan, tubuh akhirat tidak dapat bersifat material. Itu adalah gambaran tubuh yang dimiliki oleh identitas tertentu. Mulla Sadra sangat ingin menekankan kisah Al-Qur’an tentang kebangkitan tubuh, tetapi ia menyadari bahwa sulit untuk memberikan kisah filosofis tentang kebangkitan tubuh fisik dunia ini. Oleh karena itu, solusinya adalah dengan menyatakan bahwa manusia memiliki tubuh yang berbeda sesuai dengan tingkat keberadaan yang berbeda, yang merupakan penerapan gerak substansial. Keberadaan jasmani tidak kekal tetapi fana (Mulla Sadra 2001–5, IX: 167). Tubuh di dunia ini ada melalui bentuk-bentuk yang dapat dipahami; tetapi keberadaan akhirat melibatkan tubuh spiritual yang melekat pada bentuk-bentuk yang dapat dipahami (Jambet 2006: 394–6).”

Masa depan adalah lebih sempurna. Seluruh realitas bergerak menuju masa depan yang lebih sempurna. Apakah AI bergerak menuju masa depan? Apakah AI berkontribusi untuk kemajuan masa depan? Apakah AI tetap eksis di dunia setelah kematian atau akhirat?

B. Narasi Dinamis Era Modern

9. Puncak Logika dari Leibniz

“”THE idea of God, according to my view, is innate in all men; for if this
notion embodies an idea which actually occurs in our thought, it is a
proposition of fact which depends for its verification upon the history of the race.” In these words inscribed in the Fourth Book of the New
Essays, Leibniz registers the fundamental thesis of his religious philosophy. The thesis is not new, for Epicurean and Stoic alike admitted that the human mind tended to express itself in terms of universal concepts.
Every universal idea seems to give a certitude which the factual proposition cannot yield. The idea of God was certain and real for the Greek thinker, even though the attributes were coincident with the ideal characters engraved on the forces of nature. To be sure, Leibniz’ admission in the passage just quoted seems to make any pronouncement about the reality of God a question of fact to be determined by the universal consent of mankind. But because God, however he may be described, sums up in himself the universal ideas that govern men’s thought, Leibniz concludes he is justified in this one instance in making a judgment of fact exactly equivalent to a judgment of reason.

Such a need was not felt by Plotinus who merely removed all attributes except complete existence from the formula of supreme Substance, leaving his implicit energies to be expressed by the universal ideas. The reality of God is recovered when Augustine united the solitary splendor of the Neo-Platonic Deity with the moral vigor of the Hebrew Jehovah. This union became the groundwork of the Scholastic theology. Anselm erected upon it his celebrated argument for the existence of God as well as for the structure and operation of the human mind. The argument is changed by Thomas Aquinas to fit the demands of the Aristotelian logic which did not allow the thinker to pass from the mere idea to the embracing reality, but did presuppose from the unceasing motions of the world an all-embracing Cause of them.” (Dunham, 1947).

“”Menurut pandangan saya, gagasan tentang Tuhan itu bawaan semua manusia; karena jika gagasan ini mewujudkan gagasan yang benar-benar muncul dalam pikiran kita, maka gagasan itu merupakan proposisi fakta yang verifikasinya bergantung pada sejarah umat manusia.” Dalam kata-kata yang tertulis dalam Buku Keempat Esai Baru, Leibniz mencatat tesis fundamental filsafat agamanya. Tesis ini bukanlah hal baru, karena kaum Epikuros dan Stoa sama-sama mengakui bahwa pikiran manusia cenderung mengekspresikan dirinya dalam bentuk konsep universal. Setiap gagasan universal tampaknya memberikan kepastian yang tidak dapat diberikan oleh proposisi faktual. Gagasan tentang Tuhan itu pasti dan nyata bagi pemikir Yunani, meskipun atribut-atributnya bertepatan dengan karakter ideal yang terukir pada kekuatan alam. Yang pasti, pengakuan Leibniz dalam bagian yang baru saja dikutip tampaknya menjadikan pernyataan apa pun tentang realitas Tuhan sebagai pertanyaan fakta yang harus ditentukan oleh persetujuan universal umat manusia. Namun karena Tuhan, bagaimanapun Ia digambarkan, merangkum dalam dirinya sendiri ide-ide universal yang mengatur pemikiran manusia, Leibniz menyimpulkan bahwa ia dibenarkan dalam satu contoh ini dalam membuat penilaian fakta yang sama persis dengan penilaian akal budi.

Kebutuhan seperti itu tidak dirasakan oleh Plotinus yang hanya menyingkirkan semua atribut kecuali eksistensi lengkap dari rumus Substansi tertinggi, membiarkan energi implisitnya diekspresikan oleh ide-ide universal. Realitas Tuhan ditemukan kembali ketika Agustinus menyatukan kemegahan tunggal Ketuhanan Neo-Platonis dengan kekuatan moral Yahweh Ibrani. Persatuan ini menjadi dasar teologi Skolastik. Anselmus mendasarkan argumennya yang terkenal tentang eksistensi Tuhan serta tentang struktur dan operasi pikiran manusia. Argumen tersebut diubah oleh Thomas Aquinas agar sesuai dengan tuntutan logika Aristoteles yang tidak memungkinkan pemikir untuk beralih dari sekadar ide ke realitas yang mencakup segalanya, tetapi mengandaikan dari gerakan dunia yang tak henti-hentinya sebuah Penyebab yang mencakup semuanya.”” (Dunham, 1947).

Gagasan tentang Tuhan adalah bawaan manusia sejak lahir. Setiap manusia ingin memahami tentang Tuhan dengan satu dan lain cara. Apakah AI ingin memahami Tuhan? Apakah AI membantu manusia untuk lebih memahami Tuhan? Apakah AI selaras dengan logika Aristoteles yang terus berkembang sampai kepada Leibniz?

10. Tanda Tanya Besar dari Hume

“DAVID HUME belonged to the long line of British thinkers who insisted upon a strict examination of the processes of perception and reflection as preparatory to the study of the world itself. He found himself in partial agreement with the attitude of Descartes who sought to know where certitude could be found, whether in the immediate deliverences of the senses or in the sustained habits of judgment. It is a significant fact that the young Scotchman sojourned for a considerable period in the very town, LaFleche, where Descartes pursued his early studies in logic and the objective sciences. Much of the Treatise of Human Nature was composed within its bounds.

The major interest of the Continental school, however, lay not in the analysis of the mind but in the problem of substance. Spinoza and Leibniz both accepted the Cartesian principle of clear and distinct ideas as the basis for their philosophical researches; they then passed on to weightier matters such as the relation of individual bodies to one another and to the whole of Nature, the meaning of law, the possibility of purposiveness as a factor of universal moment, the reality of God and his explicit attributes such as extension and thought.” (Dunham, 1947).

“It is possible, as everybody except the Logical Positivist admits, to examine certain ideas which have no conceivable reality within
the bounds of physical phenomena. But with respect to the present idea it is essential that we should be able to assess the value of the historical proofs, in the light of the established laws of human experience, such as we have already discussed. Hume, thus, refers to all the traditional arguments, the idea of God in the mind, the Cause of the order of nature, the evidence of design, and the necessity of moral sanctions. The first two he rejects, the third he accepts in principle but stalls at man’s attempts to find unimpeachable instances, and the last he admits tentatively, though with technical reservations.”

“DAVID HUME termasuk dalam jajaran panjang pemikir Inggris yang bersikeras pada pemeriksaan ketat atas proses persepsi dan refleksi sebagai persiapan untuk mempelajari dunia itu sendiri. Dia mendapati dirinya sebagian setuju dengan sikap Descartes yang berusaha mengetahui di mana kepastian dapat ditemukan, apakah dalam penyampaian langsung dari indra atau dalam kebiasaan penilaian yang berkelanjutan. Merupakan fakta penting bahwa pemuda Skotlandia itu tinggal selama periode yang cukup lama di kota, LaFleche, tempat Descartes mengejar studi awalnya dalam logika dan ilmu-ilmu objektif. Sebagian besar Risalah Sifat Manusia ditulis di tempat itu.

Namun, minat utama sekolah Kontinental tidak terletak pada analisis pikiran tetapi pada masalah substansi. Spinoza dan Leibniz sama-sama menerima prinsip Cartesian tentang ide-ide yang jelas dan penentu sebagai dasar untuk penelitian filosofis mereka; mereka kemudian beralih ke hal-hal yang lebih penting seperti hubungan tubuh individu satu dengan yang lain dan dengan keseluruhan Alam, makna hukum, kemungkinan adanya tujuan sebagai faktor momen universal, realitas Tuhan dan atribut-atribut eksplisit-Nya seperti perluasan dan pemikiran.”

“Adalah mungkin, seperti yang diakui semua orang kecuali Positivis Logika, untuk menguji ide-ide tertentu yang tidak memiliki realitas yang dapat dibayangkan dalam batasan fenomena fisik. Namun berkenaan dengan ide saat ini, penting bagi kita untuk dapat menilai nilai bukti-bukti historis, berdasarkan hukum-hukum pengalaman manusia yang telah ditetapkan, seperti yang telah kita bahas. Dengan demikian, Hume merujuk pada semua argumen tradisional, gagasan tentang Tuhan dalam pikiran, Penyebab tatanan alam, bukti rancangan, dan perlunya sanksi moral. Dua yang pertama ditolaknya, yang ketiga diterimanya secara prinsip tetapi terhenti pada upaya manusia untuk menemukan contoh-contoh yang tidak dapat dibantah, dan yang terakhir diterimanya secara tentatif, meskipun dengan reservasi teknis.”

Gagasan dalam pikiran manusia muncul berdasar pengalaman menurut Hume. Sehingga, gagasan tentang Tuhan muncul seiring kedewasaan seorang manusia. Apakah AI, akhirnya, akan memiliki gagasan tentang Tuhan? Apakah AI memahami bahwa keindahan alam ini adalah manifestasi dari Tuhan Maha Indah? Apakah AI membantu manusia untuk memahami rancangan alam yang menakjubkan? Apakah AI menguatkan nilai-nilai moral? Hume mengajukan beragam pertanyaan besar. Apakah AI membantu untuk menjawab pertanyaan besar itu?

11. Idealisme Transendental dari Kant

“The test for Immanuel Kant came shortly after his matriculation as a
student at the University of Koenigsberg. It was candidly admitted by
him that the instruction received in the home under the care of a pious mother and at the preparatory school founded by the Pietistic brothers came into sharp conflict with the broader views of philosophy and science entertained by the member s of the learned faculty.

Pietism sponsored by Spener and Francke was a revolt against the didactic orthodoxy of the Lutheran communion. Th e Reformation in upper Germany had rejected the caste system of the Roman clergy, together with its elaborate symbolism in sacrament and ritual, and fixed its attention upon a coordinated set of dogmas to which all the faithful must subscribe. The defenders of this dogmatic structure were the ordained ministers of the church, and these were supported by the civil authorities whose sanctions might be called upon to preserve the purity of doctrine. Kant himself was to feel the weight of political pressure in the latter part of his life.” (Dunham, 1947).

“The first problem to be settled was the method of procedure. Two
avenues were open to him, either he could accept the Object of supreme homage as a necessary reality, which was the usual manner of the theologian, or assuming the presence in the human mind of the idea of God, he would take pains to marshall the evidence furnished by logic and psychology, together with the testimony of the natural sciences, in a formal and persistent attempt to establish the existence of an unconditioned Being.

The former method had been adopted by Spinoza, although he was careful to organize into a logical unity the attributes which could belong only to such a Being. The Kantian approach was simpler; he took for granted that there was good ground for examining the question as a serious problem in philosophy. As early as 1763 he published a small volume in which the subject was discussed under the title: The only possible argument for the existence of God, the last sentence in the book being his apology for undertaking the task: “It is essential that we should be convinced of God’s existence but not so essential that we should prove it.” It may be noted here that the question of the reality of God was a matter of personal concern at this period in his life.”

“Ujian bagi Immanuel Kant datang tak lama setelah ia menjadi mahasiswa Universitas Koenigsberg. Ia mengakui dengan jujur ​​bahwa pengajaran yang diterima di rumah di bawah asuhan seorang ibu yang saleh dan di sekolah persiapan yang didirikan oleh saudara-saudara Pietis bertentangan tajam dengan pandangan yang lebih luas tentang filsafat dan sains yang dianut oleh para anggota fakultas terpelajar.

Pietisme yang disponsori oleh Spener dan Francke merupakan pemberontakan terhadap ortodoksi didaktik dari persekutuan Lutheran. Reformasi di Jerman bagian atas telah menolak sistem kasta pendeta Romawi, bersama dengan simbolismenya yang rumit dalam sakramen dan ritual, dan memusatkan perhatiannya pada seperangkat dogma yang terkoordinasi yang harus dianut oleh semua umat beriman. Para pembela struktur dogmatis ini adalah para pendeta gereja yang ditahbiskan, dan mereka didukung oleh otoritas sipil yang sanksinya dapat diminta untuk menjaga kemurnian doktrin. Kant sendiri merasakan beratnya tekanan politik di bagian akhir hidupnya.”

“Masalah pertama yang harus diselesaikan adalah metode prosedur. Dua jalan terbuka baginya, yaitu menerima Objek penghormatan tertinggi sebagai realitas yang diperlukan, yang merupakan cara yang biasa dilakukan teolog, atau dengan mengasumsikan adanya gagasan tentang Tuhan dalam pikiran manusia, ia akan bersusah payah menyusun bukti yang diberikan oleh logika dan psikologi, bersama dengan kesaksian ilmu pengetahuan alam, dalam upaya formal dan terus-menerus untuk menetapkan keberadaan Wujud yang tidak bersyarat.

Metode pertama telah diadopsi oleh Spinoza, meskipun ia berhati-hati untuk mengatur ke dalam kesatuan logis atribut-atribut yang hanya dapat dimiliki oleh Wujud tersebut. Pendekatan Kant lebih sederhana; ia menganggap bahwa ada dasar yang baik untuk memeriksa pertanyaan tersebut sebagai masalah serius dalam filsafat. Sejak tahun 1763 ia menerbitkan sebuah buku kecil yang membahas subjek tersebut dengan judul: Satu-satunya argumen yang mungkin untuk keberadaan Tuhan, kalimat terakhir dalam buku tersebut merupakan permintaan maafnya karena melakukan tugas tersebut: “Sangat penting bagi kita untuk yakin akan keberadaan Tuhan tetapi tidak begitu penting sehingga kita harus membuktikannya.” Perlu dicatat di sini bahwa pertanyaan tentang realitas Tuhan merupakan masalah perhatian pribadinya pada periode ini dalam hidupnya.”

Bagaimana AI meyakini eksistensi Tuhan? Apakah AI mengikuti Spinoza dengan menerima eksistensi Tuhan kemudian mengkajinya secara teliti? Atau AI mengikuti Kant yaitu menerima eksistensi Tuhan dengan yakin? Meski untuk membuktikan keyakinan ini adalah urusan yang berbeda? Selanjutnya, Kant mengembangkan idealisme transendental yaitu setiap pengetahuan manusia memiliki basis apriori yaitu sistem transendental; yang membentuk sintesa dengan dengan data empiris. Apakah AI memiliki idealisme transendental?

12. Positivisme Melingkar dari Comte

“” WE TIRE of thinking and even of acting; we never _tire of loving.” With these sententious words Comte begins the second of his major works on the philosophy of Positivism. Hi s purpose is to release the social mind from dependence on the concepts of pure speculation. H e feels himself destined by nature to neutralize the baleful influence of the critical theories of Immanue l Kant and his successors. He resents strongly the influence of German thought upon the moral and political posture of eminent Europeans. Ye t like Kant he returned for his intellectual progenitor to David Hume , the British Empiricist.

With Hume he affirms that the supreme experiences of life are imbedded in conduct, one of the governing motives of which is the desire for happiness. Hence, the test of all virtue is the utility of moral action, and the only possible rational ground for proving the existence of Deity lies in man’s capacity to produce virtuous and therefore satisfactory conduct. Comte disputes in part the latter proposition
but agrees that it is impossible to conceive of a true society without a
balance of feeling on the side of pleasure.” (Dunham, 1947).

“”KITA LELAH berpikir dan bahkan bertindak; kita tidak pernah lelah mencintai.” Dengan kata-kata yang penuh makna ini Comte memulai karya utamanya yang kedua tentang filsafat Positivisme. Tujuannya adalah untuk membebaskan pikiran sosial dari ketergantungan pada konsep-konsep spekulasi murni. Ia merasa dirinya ditakdirkan oleh alam untuk menetralkan pengaruh buruk dari teori-teori kritis Immanuel Kant dan para penerusnya. Ia sangat membenci pengaruh pemikiran Jerman terhadap sikap moral dan politik orang-orang Eropa terkemuka. Namun seperti Kant, ia kembali kepada leluhur intelektualnya, David Hume, seorang Empirisis Inggris.

Dengan Hume, ia menegaskan bahwa pengalaman hidup yang tertinggi tertanam dalam perilaku, yang salah satu motif yang mengaturnya adalah keinginan untuk bahagia. Oleh karena itu, ujian dari semua kebajikan adalah kegunaan tindakan moral, dan satu-satunya dasar rasional yang mungkin untuk membuktikan keberadaan Ketuhanan terletak pada kapasitas manusia untuk menghasilkan perilaku yang berbudi luhur dan karenanya memuaskan. Comte membantah sebagian proposisi terakhir, tetapi setuju bahwa mustahil untuk membayangkan masyarakat sejati tanpa keseimbangan perasaan di sisi kesenangan.”

“Positivism may be defined as the “religion of humanity,” the “substitution of the permanent government of humanity for the provisional government of God.” The word positivism has no relation to the ordinary use of the term in distinguishing positive religions from natural or ethnic faiths. The former refers to Christianity, the latter to Hindu religious forms. The element of supernaturalism which is essential to positive religions, is absent from Comte’s list of properties. In his theory the affairs of the world, whether in politics or religion, are in the hands of men directly, not of beings constructed in the likeness of men and temporarily endowed with human attributes. The scheme of faith proposed by him is strictly natural, being traceable to the empirical tendencies of European thought for nearly three hundred years. It therefore possesses an authority that the word of a single person or the uncritical habits of a race cannot
by themselves set up.”

“Positivisme dapat didefinisikan sebagai “agama manusia,” “penggantian pemerintahan permanen manusia untuk pemerintahan sementara Tuhan.” Kata positivisme tidak ada hubungannya dengan penggunaan istilah yang biasa dalam membedakan agama positif dari kepercayaan alamiah atau etnis. Yang pertama mengacu pada agama Kristen, yang terakhir mengacu pada bentuk-bentuk agama Hindu. Elemen supernaturalisme yang penting bagi agama positif, tidak ada dalam daftar sifat-sifat Comte. Dalam teorinya, urusan dunia, baik dalam politik maupun agama, berada di tangan manusia secara langsung, bukan makhluk yang dibangun dalam rupa manusia dan untuk sementara diberkahi dengan sifat-sifat manusia. Skema kepercayaan yang diusulkan olehnya benar-benar alamiah, yang dapat ditelusuri ke kecenderungan empiris pemikiran Eropa selama hampir tiga ratus tahun. Oleh karena itu, ia memiliki otoritas yang tidak dapat dibangun oleh perkataan satu orang atau kebiasaan-kebiasaan yang tidak kritis dari suatu ras.”

Positivisme Comte bersifat melingkar tidak hanya satu arah. Comte muda meyakini bahwa sains adalah penentu kebenaran akhir atas segala fenomena; melebihi metafisika mau pun agama. Comte dewasa justru secara positif menegaskan bahwa agama adalah paling utama; atau positivisme menjadi melingkar antara agama, metafisika, dan sains. Apakah AI mampu berpikir melingkar sebagaimana positivisme Comte? Apakah AI mengalami momen-momen penting dalam mengalami proses beragama?

13. Candu Agama dari Marx

“Mention of such things as ideology and superstructure brings us at last to the sphere of religion, where by now Marx’s basic view should hardly come as a surprise. There are, in truth, few subjects on which he is as brief or as blunt. Religion, he says, is pure illusion. Worse, it is an illusion with most definitely evil consequences. It is the most extreme example of ideology, of a belief system whose chief purpose is simply to provide reasons—excuses, really— for keeping things in society just the way the oppressors like them.

As a matter of fact, religion is so fully determined by economics that it is pointless to consider any of its doctrines or beliefs on their own merits. These doctrines differ from one religion to the next, to be sure, but because religion is always ideological, the specific form it takes in one society or another is in the end largely dependent on one thing: the shape of social life as determined by the material forces in control of it at any given place and time. Marx asserts that belief in a god or gods is an unhappy byproduct of the class struggle, something that should not just be dismissed, but dismissed with scorn. In fact, no thinker considered in this book—not even Freud—discusses religion in quite the same mood of sarcastic contempt as that of Marx.” (Pals, 2015).

“Penyebutan hal-hal seperti ideologi dan suprastruktur akhirnya membawa kita ke ranah agama, di mana pandangan dasar Marx seharusnya sudah tidak mengejutkan lagi. Sebenarnya, hanya sedikit subjek yang dibahasnya secara singkat atau lugas. Agama, katanya, adalah ilusi murni. Lebih buruk lagi, agama adalah ilusi dengan konsekuensi yang sangat buruk. Agama adalah contoh ideologi yang paling ekstrem, sistem kepercayaan yang tujuan utamanya hanyalah memberikan alasan—maaf, sebenarnya—untuk mempertahankan hal-hal dalam masyarakat seperti yang diinginkan para penindas.

Faktanya, agama sepenuhnya ditentukan oleh ekonomi sehingga tidak ada gunanya untuk mempertimbangkan doktrin atau kepercayaannya berdasarkan manfaatnya sendiri. Doktrin-doktrin ini berbeda dari satu agama ke agama lainnya, tentu saja, tetapi karena agama selalu bersifat ideologis, bentuk spesifiknya dalam satu masyarakat atau masyarakat lain pada akhirnya sangat bergantung pada satu hal: bentuk kehidupan sosial sebagaimana ditentukan oleh kekuatan material yang mengendalikannya di tempat dan waktu tertentu. Marx menegaskan bahwa kepercayaan kepada satu atau beberapa tuhan merupakan hasil sampingan yang tidak menyenangkan dari perjuangan kelas, sesuatu yang tidak boleh begitu saja ditolak, tetapi ditolak dengan hinaan. Faktanya, tidak ada pemikir yang dibahas dalam buku ini—bahkan Freud—yang membahas agama dengan suasana penghinaan sarkastik yang sama seperti yang dilakukan Marx.”

Kritik Marx kepada agama terasa pedas karena Marx menyamakan agama sebagai ideologi. Bagi Marx, ideologi termasuk agama adalah ilusi. Suatu ilusi yang diciptakan kelas kuat untuk menindas kelas lemah. Apakah AI juga sebuah ilusi? Apakah AI berdampak penindasan pihak kuat terhadap pihak lemah? Atau, apakah kritik Marx terhadap agama, ideologi, dan AI bisa ada solusi?

14. Kesadaran Tersembunyi dari Freud

“Freud struggled long and hard to determine just what were the most basic human drives and to describe how they Operated. At first he thought there were only the “ego instinct,” represented by hunger, and the libido (the Latin word for “desire”), which represented sexuality. Later on he spoke of both of these as forms of one drive he called eros (the Greek for “love”) and suggested an opposite drive, aggression, as the other. Later still, and without discarding the idea of aggression, he settled upon eros as the drive to continue life and thanatos (the Greek for “death”) as the drive to end it.

Whatever the labels, the fundamental thing about the drives is the idea of conflict, of struggle that takes place both among the drives and between the drives and the outside world. This idea of an unavoidable tension at the center of the self is what led Freud to come up with perhaps the best known of all his concepts—the threefold division of the human personality into the ego (Latin for “1”), the superego (Latin for the “I above”), and the id (Latin for “it”).” (Pals. 2015).

“Freud berjuang keras dan lama untuk menentukan apa saja dorongan manusia yang paling mendasar dan untuk menjelaskan bagaimana dorongan tersebut bekerja. Awalnya, ia mengira hanya ada “naluri ego,” yang diwakili oleh rasa lapar, dan libido (istilah Latin untuk “hasrat”), yang mewakili seksualitas. Kemudian, ia berbicara tentang keduanya sebagai bentuk dari satu dorongan yang ia sebut eros (bahasa Yunani untuk “cinta”) dan mengusulkan dorongan yang berlawanan, agresi, sebagai dorongan lainnya. Kemudian, dan tanpa membuang gagasan agresi, ia menetapkan eros sebagai dorongan untuk melanjutkan hidup dan thanatos (bahasa Yunani untuk “kematian”) sebagai dorongan untuk mengakhirinya.

Apa pun labelnya, hal mendasar tentang dorongan adalah gagasan tentang konflik, tentang perjuangan yang terjadi baik di antara dorongan maupun antara dorongan dan dunia luar. Gagasan tentang ketegangan yang tak terelakkan di pusat diri inilah yang mendorong Freud untuk memunculkan konsep yang mungkin paling terkenal dari semuanya—pembagian tiga kepribadian manusia menjadi ego (bahasa Latin untuk “I”), superego (bahasa Latin untuk “aku di atas”), dan id (bahasa Latin untuk “itu”).”

“Freud, by contrast, is quite sure that religious ideas do not come from the Judeo-Christian God or other gods, for gods do not exist. Nor do religious teachings arise from the sort of sound thinking about the world that normally leads to truth. Like Tylor and Frazer, he is certain that religious beliefs are superstitions. At the same time, he
notes that they are interesting superstitions, which raise important questions about human nature. Why, if they are so obviously false, do so many people persist in holding these beliefs, and with such deep conviction? If religion is not rational, how do people acquire it? And why do they keep to it?”

“Sebaliknya, Freud cukup yakin bahwa ide-ide keagamaan tidak berasal dari Tuhan Yahudi-Kristen atau dewa-dewa lain, karena dewa-dewa tidak ada. Ajaran-ajaran agama juga tidak muncul dari jenis pemikiran yang sehat tentang dunia yang biasanya mengarah pada kebenaran. Seperti Tylor dan Frazer, ia yakin bahwa kepercayaan agama adalah takhayul. Pada saat yang sama, ia mencatat bahwa itu adalah takhayul yang menarik, yang menimbulkan pertanyaan-pertanyaan penting tentang sifat manusia. Mengapa, jika itu jelas-jelas salah, begitu banyak orang tetap memegang kepercayaan ini, dan dengan keyakinan yang begitu dalam? Jika agama tidak rasional, bagaimana orang-orang memperolehnya? Dan mengapa mereka tetap berpegang teguh pada itu?”

Freud menganggap agama sebagai takhayul berupa ilusi neurosis yang obsesif; merupakan sakit jiwa yang parah. Apakah AI juga merupakan suatu takhayul? Karena AI sering halusinasi maka apakah AI itu hanya ilusi? Mengapa orang-orang banyak yang percaya kepada halusinasi AI? Bahkan, ketika AI itu sendiri tidak terjamin rasional. Adakah solusi yang lebih baik?

15. Pesona Semesta dari Weber

“Weber begins by noticing, as had others, an odd fact of life in modern
Germany: in proportion to their numbers, Protestants were much better represented than Catholics among the class of business leaders, capital investors, and skilled corporate managers. To account for this fact, some had suggested that perhaps Catholics are just more spiritually inclined people, while Protestants tend to be more materialistic. Such explanations, says Weber, will not satisfy anyone who intimately knows Protestant attitudes, both past and present. If we look closely at their history, we see that the most successful of these enterprising Protestant businessmen have often also been the most intensely religious, keeping diaries that carefully recorded their daily efforts to follow the will of God in their lives. If anything, we could better suppose that something in the religiosity itself of these Protestants is what urged them toward serious enterprise in business. So inquiry can better begin with Protestantism’s founders: Martin Luther in Germany and the French theologian John Calvin in Switzerland.” (Pals, 2015).

“Weber mulai dengan memperhatikan, seperti yang dilakukan orang lain, fakta aneh kehidupan di Jerman modern: jika dibandingkan dengan jumlah mereka, kaum Protestan jauh lebih terwakili daripada kaum Katolik di antara golongan pemimpin bisnis, investor modal, dan manajer perusahaan yang terampil. Untuk menjelaskan fakta ini, beberapa orang berpendapat bahwa mungkin kaum Katolik hanyalah orang-orang yang lebih cenderung spiritual, sementara kaum Protestan cenderung lebih materialistis. Penjelasan seperti itu, kata Weber, tidak akan memuaskan siapa pun yang benar-benar memahami sikap kaum Protestan, baik di masa lalu maupun masa kini. Jika kita mencermati sejarah mereka, kita melihat bahwa para pengusaha Protestan yang paling sukses dan giat ini sering kali juga merupakan orang-orang yang paling religius, yang membuat catatan harian yang dengan cermat mencatat upaya mereka sehari-hari untuk mengikuti kehendak Tuhan dalam hidup mereka. Jika ada, kita dapat lebih baik berasumsi bahwa sesuatu dalam religiusitas kaum Protestan itu sendirilah yang mendorong mereka untuk berbisnis dengan serius. Jadi, penyelidikan dapat dimulai dengan para pendiri Protestan: Martin Luther di Jerman dan teolog Prancis John Calvin di Swiss.”

“Luther’s idea of a “secular calling” offers a start in understanding Protestant energy and success in business, but only that; it does not explain how a particular kind of economic activity seems to have predominated. Protestants chose a distinctive lifestyle marked not only by habits of discipline, thrift, simplicity, and self-denial, but also by a systematic lifelong pattern of effort in enterprises designed to earn a profit. Moreover, it is just this kind of endeavor, whose sole motive is the orderly and incremental increase of wealth, that expresses the frame of mind we associate with the modern, and uniquely Western, economic phenomenon of capitalism. Is there, then, a connection?”

“Gagasan Luther tentang “panggilan sekuler” menawarkan awal dalam memahami energi dan keberhasilan Protestan dalam berbisnis, tetapi hanya itu; gagasan itu tidak menjelaskan bagaimana jenis aktivitas ekonomi tertentu tampaknya mendominasi. Kaum Protestan memilih gaya hidup khas yang ditandai tidak hanya oleh kebiasaan disiplin, hemat, kesederhanaan, dan penyangkalan diri, tetapi juga oleh pola usaha seumur hidup yang sistematis dalam perusahaan yang dirancang untuk mendapatkan keuntungan. Lebih jauh, usaha semacam inilah, yang satu-satunya motifnya adalah peningkatan kekayaan yang teratur dan bertahap, yang mengekspresikan kerangka berpikir yang kita kaitkan dengan fenomena ekonomi kapitalisme modern dan unik di Barat. Jadi, apakah ada hubungannya?”

“Here we should recall Weber’s ideal-type depicting the disenchantment of the world. The medieval church was a nursery of the supernatural. Relics, pilgrimages and indulgences, stained glass and sculpture, the wonders of the martyrs and saints, priestly absolution dispensed in the confessional, the miracle of the wafer and wine turned to Christ’s body and blood in the Mass—all of these formed a vast supernatural support system that mediated God’s forgiveness to the simplest believer.

To Luther and Calvin, conversely, this entire system was little more than a mass of Satanic superstition. They systematically reduced it to rubble. Consequently, the ordinary Protestant was left without the usual mechanisms to reassure the soul or channel divine love to the heart. They felt instead only the deep inner anxiety of the individual soul, alone in fear before a God who in sovereign mystery decides the destiny of all. This keen personal anxiety was so troubling that Calvinist pastors in later generations groped for a way to offer at least some reassurance. They counseled their congregations to live in the world as true faith requires—soberly, frugally, and with discipline, offering themselves up wholly to God through hard work as his servants in their worldly tasks. If they so lived, they could be reasonably expected to prosper, and prosperity amid simplicity could be taken as the sign of election.”

“Di sini kita harus mengingat tipe ideal Weber yang menggambarkan kekecewaan dunia. Gereja abad pertengahan adalah tempat pembibitan hal-hal supernatural. Relikwi, ziarah dan pengampunan dosa, kaca patri dan patung, keajaiban para martir dan orang suci, pengampunan dosa dari imam yang diberikan di kamar pengakuan dosa, mukjizat roti dan anggur yang diubah menjadi tubuh dan darah Kristus dalam Misa—semua ini membentuk sistem pendukung supernatural yang luas yang memediasi pengampunan Tuhan kepada orang percaya yang paling sederhana.

Sebaliknya, bagi Luther dan Calvin, seluruh sistem ini tidak lebih dari sekadar kumpulan takhayul Setan. Mereka secara sistematis menghancurkannya menjadi puing-puing. Akibatnya, orang Protestan biasa dibiarkan tanpa mekanisme yang biasa untuk meyakinkan jiwa atau menyalurkan cinta ilahi ke dalam hati. Sebaliknya, mereka hanya merasakan kecemasan batin yang mendalam dari jiwa individu, sendirian dalam ketakutan di hadapan Tuhan yang dalam misteri kedaulatan memutuskan takdir semua orang. Kecemasan pribadi yang tajam ini begitu meresahkan sehingga para pendeta Calvinis di generasi selanjutnya meraba-raba mencari cara untuk menawarkan setidaknya sedikit kepastian. Mereka menasihati jemaat mereka untuk hidup di dunia sebagaimana yang dituntut oleh iman sejati—dengan tenang, hemat, dan disiplin, mempersembahkan diri mereka sepenuhnya kepada Tuhan melalui kerja keras sebagai hamba-Nya dalam tugas-tugas duniawi mereka. Jika mereka hidup seperti itu, mereka dapat diharapkan untuk menjadi makmur, dan kemakmuran di tengah kesederhanaan dapat dianggap sebagai tanda pemilihan.”

Agama di era pertengahan mengutamakan takhayul sebagai supernatural. Mereka memuja dunia luar bagai pesona supernatural. Weber melihat perubahan di era modern bahwa pesona menjadi ada dalam diri setiap manusia: hidup sederhana, kerja keras, rasional, ibadah, tenang, disiplin, dan makmur pada waktunya.

Apakah AI akan menjadi pesona yang nyata? Ataukah, AI sekadar takhayul belaka? AI menunjukkan pesona dengan menciptakan orang-orang makmur baru bahkan super makmur: apakah makmur bagi semua orang yaitu adil makmur?

C. Narasi Serasi Era Kontemporer

16. Sekularisasi Berpuisi Kembali dari Taylor

“If this kind of prosperity was central to the American way of life, so was religion. For it could be seen as following God’s design, and America as a nation was especially founded to realize this design. The three sides of this triangle mutually supported each other: the family was the matrix in which the young were brought up to be good citizens and believing worshippers; religion was the source of the values that animated both family and society; and the state was the realization and bulwark of the values central to both family and churches. And this was all the more starkly underlined by the fact that American freedom needed to defend itself against “Godless Communism”. It was no wonder that the residents of the new Chicago suburb, Elmhurst, crowned their community-building achievements in the erection of a new church, Elmhurst Presbyterian. This was seen as a central part of what was involved in building their new life.” (Taylor, 2007).

“Jika kemakmuran semacam ini merupakan inti dari cara hidup orang Amerika, maka agama juga demikian. Karena dapat dilihat sebagai bentuk mengikuti rancangan Tuhan, dan Amerika sebagai sebuah negara secara khusus didirikan untuk mewujudkan rancangan ini. Ketiga sisi segitiga ini saling mendukung: (1) keluarga adalah matriks tempat kaum muda dibesarkan untuk menjadi warga negara yang baik dan penyembah yang beriman; (2) agama adalah sumber nilai-nilai yang menggerakkan keluarga dan masyarakat; dan (3) negara adalah perwujudan dan benteng nilai-nilai yang menjadi inti dari keluarga dan gereja. Dan ini semakin ditegaskan oleh fakta bahwa kebebasan Amerika perlu mempertahankan diri terhadap “Komunisme yang Tidak Bertuhan”. Tidak mengherankan bahwa penduduk pinggiran kota Chicago yang baru, Elmhurst, memahkotai pencapaian pembangunan komunitas mereka dengan mendirikan gereja baru, Elmhurst Presbyterian. Ini dilihat sebagai bagian utama dari apa yang terlibat dalam membangun kehidupan baru mereka.”

Kehidupan abad 21 yang diduga sekular tetap membutuhkan agama dalam segitiga emas: (1) keluarga; (2) agama; dan (3) negara. Bagaimana peran AI di abad 21 ini? Apakah AI menguatkan keluarga, menguatkan agama, dan menguatkan negara?

17. Integralisme dari Mahzar Singler

“Jika postmodernisme merupakan kritik terhadap modernisme, Integralisme dapat dipandang sebagai kritik terhadap postmodernisme yang setengah matang. Integralisme bukanlah suatu paham yang menolak tradisionalisme pramodern seperti modernisme dan Integralisme juga tidak menolak modernitas seperti yang diajukan oleh postmodernisme.

Integralisme justru ingin mengintegrasikan pramodernisme, modernisme, dan postmodernisme dalam satu konsep yang memayungi ketiganya. Konsep itu adalah konsep evolusi ruhaniah. Bagi kaum integralis, seperti kaum romantis pada abad ke-19, sejarah manusia adalah ekspresi Ruh di muka bumi.” (Mahzar, 2004).

“The first part categorises the entanglements and relationships between religion and AI into three broad types: rejection, adoption, and adaptation. This typology is used to order specific case studies but does not necessarily imply that there is no overlap within these categories and no possibility of a shift from one to the other in the relationships between religion and AI. No single religion is bound to one type of interaction and may demonstrate moments of all three. These types are introduced to make clear the tensions, affinities, and shaping effects that occur when religion and AI engage with each other.

The second part of the book looks at transhumanism, AI NRMs, and posthumanism as further spaces and communities in which religion and AI have been entangled with each other. Once again, the rejection-adoption-adaptation scheme will make appearances in attempts to explain these forms – both in their historical setting and in how they are expressed in modern society.” (Singler, 2025).

“Bagian pertama mengkategorikan keterikatan dan hubungan antara agama dan AI ke dalam tiga jenis besar: penolakan, adopsi, dan adaptasi. Tipologi ini digunakan untuk mengurutkan studi kasus tertentu tetapi tidak serta merta menyiratkan bahwa tidak ada tumpang tindih dalam kategori ini dan tidak ada kemungkinan pergeseran dari satu ke yang lain dalam hubungan antara agama dan AI. Tidak ada satu agama pun yang terikat pada satu jenis interaksi dan dapat menunjukkan momen dari ketiganya. Jenis-jenis ini diperkenalkan untuk memperjelas ketegangan, kedekatan, dan efek pembentukan yang terjadi ketika agama dan AI terlibat satu sama lain.

Bagian kedua buku ini membahas transhumanisme, NRM AI, dan posthumanisme sebagai ruang dan komunitas lebih lanjut di mana agama dan AI telah terjerat satu sama lain. Sekali lagi, skema penolakan-adopsi-adaptasi akan muncul dalam upaya untuk menjelaskan bentuk-bentuk ini – baik dalam latar historisnya maupun dalam cara mereka diekspresikan dalam masyarakat modern.”

Bagaimana pengaruh AI kepada agama dan sebaliknya? Menariknya, Singler memberi contoh-contoh konkret relasi AI dengan agama-agama besar dunia: Islam, Katolik, Kristen, Hindu, Budha, dan lain-lain. Sikap Singler yang terbuka terhadap keragaman ini selaras dengan integralisme Mahzar.

18. Dahulukan Akhlak dari Rakhmat

“Nah, paradigma yang saya promosikan adalah paradigma akhlak. Dalam paradigma kedua ini, manusia selalu diukur dari kemuliaan akhlak, kontribusinya terhadap kehidupan sosial, dan pemihakannya pada keadilan. Itulah paradigma akhlak. Menurut saya, paradigma ini lebih bersih dari manipulasi pemikiran. Paradigma akidah bisa ditafsirkan macam-macam. Misalnya, ziarah kubur itu menurut sebagian orang musyrik. Tawâshul dan tabarruk juga dianggap kemusyrikan. Begitulah paradigma akidah. Akibat lanjut paradigma ini, kalau betul-betul konsisten diterapkan—untungnya, kebanyakan tidak konsisten—bisa menjurus pada perpecahan luar biasa di kalangan umat Islam.” (Rakhmat, 2015).

Bagaimana bila dipaksa harus memilih salah satu antara akhlak atau fikih?

“Dulu saya selalu menjawab soal ini dengan cara mengelak. Saya katakan, yang baik ialah yang salat dan akhlaknya bagus. Tapi jawaban itu tidak jujur, karena pilihannya hanya dua: (a) salatnya baik, tapi berakhlak buruk; (b) salatnya buruk, tapi akhlaknya baik. Jadi tidak ada pilihan (c) yang salat dan akhlaknya baik di situ. Kalau jawaban berkelit itu saya berikan dalam ujian, jelas saya tidak lulus, karena memang tidak ada dalam kategori.

Karena itu, sekarang saya akan menjawab: lebih baik yang akhlaknya bagus sekalipun salatnya buruk, ketimbang salatnya bagus tapi akhlaknya buruk. Dalilnya: satu, karena sebaik apapun salat kita akan terhapus pahalanya oleh akhlak yang buruk. Haji juga begitu. Sekalipun ia dijalankan sebaik-baiknya, malah mungkin setiap tahun, kalau di dalam pelaksanaannya ada rafats, fusûq, dan jidâl, hajinya tidak sah. “Faman faradla fî hinnalhajja falâ rafatsa walâ fusûqa walâ jidâla fil hajj,“ Itu dalil Alqur’annya.” (Rakhmat, 2015).

Apakah AI mendahulukan akhlak? Atau kah AI mendahulukan kepentingan tertentu, misal kepentingan ekonomi? Apakah AI mendorong manusia untuk mendahulukan akhlak?

19. Eksistensi Futuristik dari Nggermanto

“Visi adalah cahaya terang. Futuristik adalah masa depan cemerlang. Keduanya, visi dan futuristik, adalah jalan panjang bagi umat manusia dan alam raya menggapai cita meski banyak halangan.

Kita sudah terbiasa menggunakan kata visi untuk menggambarkan pandangan masa depan yang kita idamkan. Visi berbeda dengan fiksi. Visi adalah nyata atau diharapkan menjadi nyata. Sedangkan fiksi bebas-bebas saja; bisa menjadi nyata atau khayal selamanya. Kita membutuhkan mereka: visi dan fiksi.

Futuristik adalah bersifat masa depan. Kita sadar bahwa futuristik adalah nyata bukan sekedar khayal belaka. Kabar baiknya, masa depan adalah posibilitas luas. Kita bisa memilih posibilitas apa saja dengan bebas. Tentu saja, pilihan itu menuntut kita bersikap komitmen serta ikhlas. Masa depan itu terus-menerus menarik diri kita untuk mendekatinya. Anda yang sudah menetapkan kebaikan masa depan maka termasuk beruntung. Karena kebaikan itu akan memanggil hati kecil Anda. Sementara, bila Anda belum menetapkan kebaikan masa depan maka segeralah tetapkan kebaikan itu. Masih ada waktu untuk menuju kebaikan masa depan.” (Nggermanto, 2025).

Apakah AI menguatkan visi futuristik bagi semesta? Apakah AI menguatkan komitmen untuk meraih masa depan terbaik untuk kepentingan bersama? Apakah AI menguatkan visi untuk melihat masa depan cemerlang? Ataukah AI justru berselimut halusinasi dalam rangkaian narasi fiksi? Bagaimana kita, seluruh umat manusia, bisa bergandeng tangan dengan AI untuk meraih visi futuristik terbaik?

Epilog

Bagaimana menurut Anda?