Waktu (Tidak) Bisa Mundur

Waktu bisa mundur. Hanya ada di kisah-kisah fiksi ilmiah – atau tidak ilmiah. Sejatinya, apakah waktu benar-benar bisa bergerak mundur? Kita akan jawab tuntas dalam tulisan ringkas ini.

Sebelumnya, saya sudah pernah menulis tentang konsep waktu dilihat dari sudut pandang filosofis Kant sebagai intuisi murni. Dari Sadra, waktu sebagai dampak gerak wujud. Dari Newton, waktu sebagai gerak linear ke depan. Dari Heidegger, waktu sebagai horison dari being. Dari Einstein, waktu adalah relatif terhadap kecepatan gerak pengamat.

NASA Memburu Alien Pakai Mesin Waktu di Luar Angkasa

Saya perlu menambahkan konsep waktu dari Bergson adalah durasi. Di mana, waktu adalah tunggal tetapi di saat yang sama beragam secara kualitatif. Durasi ini terbebas dari hukum fisika. Maka durasi bebas sehingga manusia mempunyai kebebasan – free will.

Waktu Bisa Mundur

Pertanyaan apakah waktu bisa mundur perlu kita bahas. Dari sudut pandang ilmiah, Newton, seharusnya waktu bisa mundur tetapi tidak bisa. Kita bisa menggambarkan waktu seperti garis lurus bergerak maju misal hari Senin, Selasa, dan Rabu. Jika hari ini misal hari Selasa maka harusnya kita bisa bergerak mundur ke hari kemarin yaitu Senin. Gerak mundur ini tidak pernah bisa dilakukan secara ilmiah. Jadi, secara ilmiah, waktu tidak bisa bergerak mundur.

Bagaimana pun, sains terus berkembang. Einstein berhasil merumuskan relativitas khusus yang menunjukkan bahwa waktu adalah relatif. Disusul dengan relativitas umum yang menyatakan bahwa massa bisa membelokkan ruang dan waktu. Yang semula gerak waktu dikira lurus ke depan, ternyata bisa dibelokkan. Jika pembelokan waktu ini cukup kuat maka memungkinkan waktu hampir gerak mundur. Dengan menambahkan “lubang cacing” sebagai lorong waktu maka waktu benar-benar bisa gerak mundur. Tetapi gerak mundur itu masih spekulasi atau bahkan hanya fiksi ilmiah. Jadi, waktu tetap tidak bisa mundur secara ilmiah.

Penelitan yang lebih menjanjikan adalah waktu quantum dari Richard Feynmann. Benar-benar terbukti waktu bisa mundur dalam skala quantum. Kita perlu memahami waktu quantum yang bisa mundur ini apakah benar-benar seperti kita harapkan. Penelitian sub-atomik yang menunjukkan gerak mundur waktu adalah analisis sebab-akibat. Kita coba misalkan agar lebih mudah. Sebuah partikel “hana” mengubah partikel “caraka” dari kondisi A menjadi kondisi B. Pengamatan menunjukkan bahwa caraka pada kondisi B saat ini, berubah dari kondisi A yang selama ini terjadi. Dan diketahui kemudian, hana mengubah caraka dari kondisi A menjadi B pada 100 mikrodetik berikutnya, terlambat dari hasilnya. Maka terjadi waktu mundur quantum.

Mari kita cermati lagi gerak mundur waktu quantum ini. Seharusnya, bila gerak maju, hana mengubah caraka dari A ke B, kemudian caraka berubah dari A menjadi B. Pengamatan quantum menunjukkan waktu mundur yaitu, caraka berubah dari A ke B, kemudian 100 mikro detik berikutnya, hana yang mengubah caraka dari A ke B. “Sebab” nya terjadi 100 mikrodetik terlambat dari “akibat”nya. Itulah gerak waktu mundur secara quantum.

Bisa kita lihat, bahwa gerak waktu mundur quantum ini bukan gerak mundur yang kita harapkan. Jadi secara ilmiah kita tidak bisa menunjukkan waktu bergerak mundur. Dan seandainya bisa, seperti klaim waktu quantum, itu pun terbatas hanya bisa mundur dalam waktu 100 mikrodetik atau kurang.

Waktu sejati Doto

Tiba saatnya kita mengkaji waktu sejati: doto. Dan apakah doto ini memungkinkan waktu bisa menjadi mundur. Doto adalah istilah yang saya pilih untuk mewakili waktu sejati. Doto digambarkan sebagai waktu linear oleh fisika Newton. Doto digambarkan sebagai waktu relatif terhadap pengamat oleh Einstein. Dan doto digambarkan sebagai waktu quantum oleh Feynmann dan kawan-kawan.

Secara filosofis, doto digambarkan sebagai intuisi murni oleh Kant. Doto digambarkan sebagai eksistensi derivatif dari gerak wujud (atau substansi) oleh Sadra. Dan doto digambarkan sebagai horison being oleh Heidegger. Serta doto digambarkan sebagai durasi oleh Bergson.

Manusia, kita, hanya bisa memahami hana – eksistensi sejati – hanya melalui penampakan caraka. Caraka adalah seperti lukisan atau gambar foto. Caraka diam, statis, segala sesuatu yang nyata. Kita, manusia, perlu doto – waktu sejati – untuk memahami dinamika. Dengan caraka dan doto ini kita bisa memahami hana, lengkap dengan keterbatasan dan kelebihan manusia.

Doto bersifat kumulatif, mengumpulkan. Sebagaimana doto adalah mewakili karakter hana yang kumulatif, bergerak satu arah menuju level hana yang lebih kuat. Untuk memahami karakter doto kita perlu memahami karakter dari hana itu sendiri.

Hana, eksistensi, senantiasa bergerak satu arah menuju yang lebih sempurna, lebih eksis. Gerak mundur tidak terjadi pada hana. Karena gerak mundur bermakna mengurangi hana, yaitu mengubah hana menjadi bukan hana, meski misal bisa sebagian. Tetapi bukan hana adalah bukan eksistensi, yaitu ketiadaan. Jadi gerak mundur hana adalah tidak ada. Dengan kata lain, hana tidak pernah bergerak mundur. Hana hanya bergerak maju menuju hana yang yang lebih kuat, intens.

Sedikit ilustrasi gerak maju dari hana barangkali bisa membantu. Dan ilustrasi ini berlaku juga untuk doto – waktu sejati.

Kita hendak mengumpulkan air hujan, curah hujan, dengan menyediakan ember ukuran 5 liter. Awalnya ember terisi sedikit air, lalu 1 liter, kemudian 2 liter, dan seterusnya. Volume air dalam ember hanya bisa bertambah karena curah hujan. Air dalam ember tidak bisa berkurang karena curah air hujan. Selama ada air tercurah maka volume air di ember akan terus begerak, bertambah, akumulatif. Demikian pula karakter dari doto: waktu sejati.

Waktu Sejati Akumulatif

Dengan karakter doto, waktu sejati, yang akumulatif maka tidak mungkin waktu bergerak mundur.

Apakah tidak ada waktu untuk bertobat, menebus kesalahan masa lalu? Karena doto selalu bergerak maju.

Selalu ada waktu untuk bertobat. Semua orang harus bertobat. Menutup kesalahan masa lalu dengan kebaikan masa kini. Dan konsisten menuju masa depan yang lebih baik.

Dosa atau kesalahan, sejatinya, adalah hana pada kondisi caraka yang tidak seimbang, tidak adil, tidak indah. Misal korupsi adalah tidak adil maka dosa dan salah. Seorang menteri seharusnya menyalurkan bansos dan dia menerima gaji sebagai menteri. Ketika menteri korupsi, dia mengambil dana bansos (sebagian atau seluruhnya) dan menerima gaji. Maka hana – eksistensi sejati – dari menteri ini bergerak maju dua langkah, mengambil bansos dan menerima gaji. Meski hana menteri makin maju tetapi tidak seimbang, dia berdosa, dia bersalah, dia tidak adil.

Menteri yang korupsi masih bisa tobat. Dengan cara memberikan semua hasil korupsi kepada yang berhak, mungkin perlu ditambah denda dan lain-lain. Tindakan ini membuat hana sang menteri bergerak maju lagi. Tindakan pemberian oleh menteri ini tentu saja tidak berimbang, karena menteri tidak menerima apa pun, tidak adil bila dilihat dari satu kejadian. Tetapi bila dilihat dari rangkaian tindakan korupsi maka tindakan tobat ini diharapkan sebagai pengimbangnya. Sehingga, diharapkan, tobat ini bisa kembali mengarahkan hana sang menteri menjadi adil kembali.

Untuk konsep adil kita bahas di bagian tulisan yang berbeda.

Jadi, dengan karakter doto yang akumulatif ini maka tidak ada gerak mundur pada waktu. Tetapi kita tetap bisa memperbaiki kesalahan masa lalu dengan melakukan tobat dengan sebenar-benarnya tobat.

Bagaimana menurut Anda?

Diterbitkan oleh Paman APiQ

Lahir di Tulungagung. Hobi: baca filsafat, berlatih silat, nonton srimulat. Karena Srimulat jarang pentas, diganti dengan baca. Karena berlatih silat berbahaya, diganti badminton. Karena baca filsafat tidak ada masalah, ya lanjut saja. Menyelesaikan pendidikan tinggi di ITB (Institut Teknologi Bandung). Kini bersama keluarga tinggal di Bandung.

Ikuti Percakapan

1 Komentar

Tinggalkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: