Logika Seberapa Logis

Tentu saja, logika adalah yang paling logis. Logika adalah yang paling masuk akal. Tetapi, mengapa sering terjadi sebaliknya? Pernyataan logika justru tidak masuk akal. Pernyataan logika, kadang-kadang, terasa tidak logis.

Logika manusia, umumnya, dipengaruhi oleh lingkungan. Kita mudah menerima sesuatu yang menjadi kebiasaan. Sementara sesuatu yang di luar kebiasaan, sering kita pandang sebagai tidak logis – tidak masuk logika. Padahal, bisa saja, sesuatu yang luar biasa tetap logis. Di sinilah, kita perlu mengkaji logika.

“Saya menempuh perjalanan dari Jakarta ke Surabaya dalam waktu 1 jam.” Pernyataan seperti itu masuk akal, logis. Karena saya melakukan perjalanan dengan naik pesawat.

Bayangkan, pernyataan di atas, dikatakan kepada penduduk yang hidup pada tahun 1525. Tentu saja menjadi tidak logis, tidak masuk akal. Tahun 1525, belum ada pesawat terbang. Bahkan, belum ada mobil. Untuk menempuh Jakarta ke Surabaya barangkali diperlukan waktu 10 hari atau lebih.

Tampak jelas perbedaan antara sesuatu yang “di luar kebiasaan” dengan sesuatu yang “tidak logis.”

1. Silogisme Aristoteles
1.1 Silogisme Partikular Universal
1.2 Analisis Apriori – Deduksi
1.3 Analisis Posteriori – Induksi
1.4 Silogisme Implikasi
2. Logika Boolean dan Fuzzy
2.1 Simbol Matematis
2.2 Definisi Tabel Kebenaran
2.3 Logika Digital
2.4 Silogisme Modus Ponen
2.5 Logika Implikasi
2.6 Logika Fuzzy
2.7 Abduksi
3. Logika Relasi Frege
3.1 Tiga Prinsip Logika
3.2 Prinsip Kausalitas
3.3 Peano Aritmetika
3.4 Kehebatan Relasi
3.5 Skrip-Konsep
3.6 Sistem Formal
3.7 Paradox Russell
3.8 Paradox Godel
3.9 Paraconsistent
4. Logika Dialektika Hegel
4.1 Tesis – Antitesis – Sintesis
4.2 Being – Esensi – Idea
4.3 Dialektika Siklis
4.4 Fokus Silogisme
4.5 Interpretasi Spirit
4.6 Ringkasan
5. Logika Visi Iluminasi Suhrawardi
5.1 Deduksi Tidak Memadai
5.2 Induksi Tidak Mencukupi
5.3 Visi-Iluminasi
5.4 Kritik Suhrawardi
5.5 Ringkasan 
6. Logika Kategori Eilenberg-Lane
6.1 Obyek dan Relasi
6.2 Ragam Struktur Kategori
7. Logika Penuh – Seleksi Produksi
7.1 Rumpun Seleksi
7.2 Rumpun Produksi
7.3 Rumpun Siklis

Kita bisa menelusuri sejarah logika sampai ke Aristoteles. Silogisme, dari Aristoteles, adalah cara paling masuk akal untuk berpikir benar dalam menarik kesimpulan. Logika Aristoteles ini, kemudian, berkembang pesat menjadi logika Boolean (dan fuzzy) yang menjadi landasan teknologi digital saat ini. Kehebatan logika Boolean adalah kemampuannya untuk rekayasa. Efek sampingnya, adalah tumbuh subur hoax digital.

Frege menyusun logika relasional, menjelang abad 20, yang jauh lebih dahsyat dari logika Aristoteles. Russell menyambut hangat ide Frege dan mengembangkan lebih jauh menembus batas. Semua pengetahuan manusia, pada analisis akhir, bisa direduksi menjadi “logika”. Gerakan besar ini menghasilkan “logika positivisme” dan filsafat analytic. Pro kontra tumbuh subur terhadap positivisme.

Hegel, pada abad 19, mengembangkan logika dialektika yang berbeda dengan Aristoteles mau pun Frege di era berikutnya. Logika dialektika bukanlah metode berpikir yang benar (saja). Tetapi, logika dialektika adalah sistem metafisika lengkap. Logika adalah prinsip realitas seluruh alam semesta, termasuk prinsip pikiran dan prinsip alam dunia luar. Ditambah lagi dengan menerapkan prinsip kontradiksi maka logika dialektika Hegel makin sulit dipahami banyak orang.

Suhrawardi, pada abad 12, merombak total logika Aristoteles menjadi logika visi-iluminasi. Hanya dengan visi-iluminasi, logika memiliki landasan yang kuat. Tanpa visi-iluminasi, semua bangunan logika bagaikan bangunan rumah yang megah tanpa fondasi. Tertiup angin, runtuh berkeping-keping. Iqbal, pada abad 20, menyejajarkan kehebatan logika visi-iluminasi Suhrawardi setara dengan logika dialektika Hegel. Bisa kita duga, bagi banyak orang, tidak mudah untuk memahami logika visi-iluminasi.

Eilenberg (1913 – 1998) dan Lane (1909 – 2005) menyusun logika kategori dengan mengambil “inspirasi” teori fungsi di matematika. Meski pun logika kategori ini adalah logika tingkat tinggi, menyelidiki struktur abstrak dan sistem dari struktur, kita bisa membahas prinsip-prinsipnya dengan sederhana. Logika kategori lebih ketat dari logika relasional (mau pun proposional) karena hanya mengijinkan relasi khusus yaitu relasi fungsi (functor, morphism, mapping) dengan komposisi asosiasi. Di saat yang sama, logika kategori mencakup logika relasi dan seluruh logika yang ada. Banyak inovasi menarik berkat logika kategori. Saat ini, logika kategori menjadi trend sebagai kajian tingkat tinggi paling diminati.

Di awal abad 21 ini, kita bisa mengembangkan logika-penuh dua arah: seleksi dan produksi. Logika-penuh merupakan pengembangan dari logika kategori. Logika-penuh hanya mengijinkan functor (morphism, mapping) surjective (full). Sementara, functor yang lain (injective dan bijective) perlu ditransformasikan menjadi functor surjective. (Functor identitas tetap dipertahankan).

Logika-penuh arah seleksi menyelidiki struktur abstrak seleksi, misal, bagaimana piala dunia babak awal diikuti seluruh negara, babak tengah tinggal 50%, dan babak final menghasilkan 1 juara unik. Sementara, logika-penuh arah produksi menyelidiki struktur abstrak produksi, misal, bagaimana produksi satu konten digital diakses 2 orang di hari pertama, 20 orang di hari kedua, dan 300 ribu orang di hari ketiga. Dengan demikian, logika penuh memberi tahu kita struktur apa yang menjamin memenangkan kompetisi – misal pemilu presiden – dan struktur apa yang menjamin suatu konten menjadi viral di media sosial.

1. Silogisme Aristoteles

Aristoteles (384 – 322 SM) adalah pemikir pertama, yang secara eksplisit, membahas logika. Tentu saja, pemikir sebelum era Aristoteles di berbagai tempat, juga mengembangkan sistem logika. Bagaimana pun, Aristoteles berhasil menyusun fondasi logika dengan kokoh.

Saya akan mengusulkan bentuk silogisme sederhana dan tunggal, sedemikian hingga, setiap orang mudah untuk menerapkannya. Silogisme tersebut adalah silogisme implikasi.

1.1 Silogisme Patikular Universal

Silogisme Aristoteles, secara prinsip, adalah memasukkan partikular ke universal.

ASetiap kuda berkaki 4.
BPoni adalah kuda.
CPoni berkaki 4. (Benar dan sah)

“Poni” adalah partikular dimasukkan ke dalam universal “kuda.” Sehingga, kesimpulan menjadi sah bahwa Poni memiliki karakter sebagai kuda: Poni berkaki 4.

1.2 Analisis Apriori Deduksi

Contoh silogisme di atas adalah anilisis apriori yang terjamin nilai kebenarannya. Apriori dalam arti kita tidak perlu melakukan pengamatan tambahan untuk menjamin kebenaran kesimpulan (C). Dengan asumsi premis (A) dan (B) bernilai benar maka (C) pasti benar.

1.3 Analisis Posteriori Induksi

Analisis posteriori, tampak, lebih merepotkan karena kita harus melakukan pengamatan. Hasil pengamatan ini bisa saja afirmasi atau, bisa juga, menolak.

Misal “(B) Poni adalah kuda” apakah benar?

Kita perlu memahami apa yang dimaksud “Poni”. Barangkali “Poni” adalah nama dari seekor binatang. Kemudian, kita mengamati lagi apakah binatang yang dimaksud adalah kuda. Di sini, kita menghadapi tugas besar semantik dan interpretasi.

Pembedaan antara posteriori dengan apriori ini penting. Karena, sering terjadi salah pikir, falasi, suatu kasus posteriori dianggap sebagai apriori.

(K) Setiap orang Indonesia adalah ramah.

Peryataan (K) bersifat posteriori, di mana, kita perlu pengamatan untuk verifikasi kebenarannya. Barangkali, kita bisa mengambil contoh 100 orang diamati dan ternyata ramah. Kemudian, dengan generalisasi induksi, kita menyimpulkan (K) benar. Bagaimana pun, kebenaran induksi bersifat probabilistik.

Menjadi rumit ketika pernyataan (K) dianggap sebagai apriori. Yaitu, setiap ada orang Indonesia, kita mengira mereka selalu ramah. Tentu saja, bisa salah. Masih mending, pernyataan (K) berkonotasi positif. Konotasi negatif lebih riskan. Contoh,

(N) Selain madzhab kulo adalah sesat.

Bila (N) dianggap apriori maka bisa menimbulkan kekacauan dalam masyarakat. Perbedaan cara pandang madzhab akan menimbulkan saling curiga. Padahal, perbedaan cara pandang adalah wajar dalam setiap masyarakat. Seharusnya, (N) adalah posteriori yang perlu diuji dengan pengamatan dan, bahkan, hasilnya (N) bisa ditolak

1.4 Silogisme Implikasi

Perkembangan logika Boolean, yang awalnya Aristotelian, memudahkan kita untuk mempelajari logika. Maka, saya menyusun bentuk logika paling sederhana dan kita bisa menerapkan dengan cara seluas-luasnya.

(S) MAKA (H)

Contoh:

Jika persegi MAKA punya 4 sisi.

P adalah persegi. Kesimpulan: P punya 4 sisi. (Sah)
Q tidak punya 4 sisi. Kesimpulan: Q bukan persegi. (Sah)

K punya 4 sisi. Kesimpulan K adalah persegi. (Tidak Sah. Karena bisa saja K adalah belah ketupat yang bukan persegi).

L bukan persegi. Kesimpulan: L tidak punya 4 sisi. (Tidak Sah. Karena bisa saja L adalah layang-layang yang bukan persegi).

Semua pernyataan logika bisa kita ubah ke bentuk implikasi. Sehingga, silogisme implikasi, nyaris, bisa digunakan untuk semua pernyataan logika. Ditambah, bentuk logika implikasi ini bersifat intuitif bagi manusia.

Mari kita coba analisis klaim (K),

(K) Jika dia presiden MAKA negara adil makmur.

PremisKesimpulan SAH
Syarat (S) BENARHasil (H) BENAR
Hasil (H) SALAHSyarat (S) SALAH

(A) Dia jadi presiden. Kesimpulan: negara adil makmur (Sah). Bukti bahwa dia jadi presiden bisa kita lihat dari hasil pemilu, misalnya. Bukti bahwa negara adil makmur bisa kita lihat dengan beragam indikator ekonomi, politik, dan budaya.

Problem terjadi ketika, ternyata, negara tidak adil makmur padahal dia jadi presiden. Karena proses menarik kesimpulan, silogisme, sudah sah maka kesalahan terletak pada klaim (K). Klaim dari premis (K) memang perlu diuji dengan beragam cara.

(B) Negara tidak adil makmur. Kesimpulan: (akibat dari) dia tidak jadi presiden (Sah). Apakah, dengan demikian, dia harus jadi presiden? Tidak juga!

PremisKesimpulan TIDAK SAH
Hasil (H) BENARSyarat (S) BENAR
Syarat (S) SALAHHasil (H) SALAH

(C) Negara adil makmur. Kesimpulan: dia jadi presiden (Tidak Sah). Karena “dia jadi presiden” bisa mengakibatkan “negara adil makmur.” Demikian juga “dia tidak jadi presiden” bisa mengakibatkan “negara adil makmur.” Misal, presiden yang lain justru lebih sukses menciptakan negara adil makmur.

Falasi tipe ini: (H) BENAR maka kesimpulan (S) BENAR atau SALAH sering menipu banyak orang. Dari hasil (H) yang BENAR, kita tidak bisa menyimpulkan apa pun tentang syarat (S). Maksudnya, (S) bisa BENAR atau, bisa saja, SALAH.

Jadi, tidak ada keharusan “dia jadi presiden” agar negara adil makmur. Tetapi ada kewajiban: jika “dia jadi presiden” maka wajib menjamin negara adil makmur.

(D) Dia tidak jadi presiden. Kesimpulan: negara tidak adil makmur (Tidak Sah). Karena, meski “dia tidak jadi presiden” tetap ada peluang “negara adil makmur” dengan presiden yang lain. Sehingga, tidak perlu khawatir seandainya dia tidak jadi presiden.

2. Logika Boolean dan Fuzzy

Logika Aristoteles klasik, kemudian, berkembang pesat menjadi logika Boolean (dan fuzzy) yang menjadi landasan teknologi digital saat ini. Kehebatan logika Boolean adalah kemampuannya untuk rekayasa. Efek sampingnya, adalah tumbuh subur hoax digital.

2.1 Simbol Matematis

Boole (1815 – 1864) mengembangkan logika yang fokus kepada nilai kebenaran. Benar bernilai 1 dan salah bernilai 0. Hasil akhir dari seluruh logika adalah menetapkan apakah suatu sistem benilai 1 atau bernilai 0.

Pada gilirannya, proposisi atau sistem itu sendiri bisa dinyatakan dengan simbol biner 1 atau 0 itu sendiri. Sehingga, segala sesuatu hanya terdiri dari biner belaka. Reduksi menjadi representasi biner memiliki banyak keunggulan.

Pertama, simbol-simbol biner membuang problem semantik dan interpretasi. Sehingga, simbol-simbol biner dianggap jelas dengan sendirinya. Tata bahasa dan tata logika, semua, dalam bentuk biner juga.

Kedua, manipulasi logika yang canggih. Dengan simbol biner, kita bisa melambangkan suatu masalah kompleks dengan satu simbol saja. Kemudian, mengolahnya sesuai kebutuhan. Hasil akhirnya jelas, 1 atau 0 saja.

Ketiga, logika Boolean ini mudah diimplementasikan dalam bentuk teknologi digital. Misal 1 adalah ada arus listrik dan 0 adalah tidak ada arus, maka, sistem logika bisa berwujud sebagai mesin komputer, smartphone, dan sebagainya.

2.2 Definisi Tabel Kebenaran

Kita bisa melangkah lebih jauh dengan mendefinisikan operasi logika menggunakan simbol. Lagi, kita menyisihkan problem semantik dan interpretasi di sini.

Logika implikasi, P maka Q, bisa kita definisikan sebagai “Hanya bernilai SALAH ketika P BENAR dan Q SALAH.”

Tabel kebenaran menjadikan semuanya jelas.

PQP ==> Q
111
100
011
001

Kita bisa membuat definisi operasi logika dalam jumlah yang sangat banyak. Meski demikian, pada akhirnya, kita akan mengerucut ke definisi-definisi yang intuitif misal tentang implikasi, konjungsi, disjungsi, negasi, biimplikasi, dan lain-lain.

2.3 Logika Digital

Sistem logika digital terus berkembang menjadi makin kompleks. Karnaugh-map adalah salah satu metode untuk menyusun sistem logika digital dalam bentuk paling optimal. Sejatinya, tersedia banyak pilihan sistem logika digital yang mewakili satu tujuan tertentu. K-map memastikan sistem digital yang dipilih adalah paling efisien.

2.4 Silogisme Modus Ponen

Silogisme modus ponen berkembang lebih leluasa. Dalam logika Aristotelian, silogisme terbatas memasukkan partikular ke universal. Dalam logika Boolean, kita bisa mengembangkan silogisme terhadap proposisi-proposisi yang saling tidak ada hubungan.

(A) Jika hujan maka minum kopi.
(B) Jika minum kopi maka bahagia.

Kesimpulan:

(C) Jika hujan maka bahagia.

Tidak ada hubungan partikular-universal antara hujan dan bahagia. Tetapi, kita bisa mengembangkan silogisme. Dalam rekayasa digital, kita punya peluang kreasi yang sangat besar.

(A) Tombol kanan maka listrik nyala.
(B) Listrik nyala maka pintu terbuka.

Kesimpulan:

(C) Tombol kanan maka pintu terbuka.

2.5 Logika Implikasi

Seperti sudah kita bahas di atas, logika implikasi menjadi paling fundamental dari seluruh sistem logika. Semua operasi logika bisa kita ubah ke bentuk implikasi. Kemudian, kita bisa menarik kesimpulan yang sah berdasar implikasi.

2.6 Logika Fuzzy

Dalam realitas, pembedaan benar dengan salah, 1 dan 0, tidak selalu mudah. Misal, suhu 25 derajat celcius apakah termasuk panas? Barangkali, suhu udara di atas 35 derajat bisa disepakati sebagai panas. Sedangkan, suhu di bawah 20 derajat bisa disepakati sebagai tidak panas – misal dingin. Suhu di antara mereka bagaimana?

Logika Fuzzy memberi solusi dengan pendekatan probabilistik. Nilai kebenaran tidak harus biner 0 dan 1. Tetapi, ada gradasi di antaranya. Berbagai macam model gradasi bisa kita kembangkan.

Suhu (derajat celcius)Nilai Kebenaran
di bawah 15Dingin 100%
15 sampai 20Dingin 80%, panas 20%
20 sampai 30Dingin 20% panas 80%
di atas 30Panas 100%

Dengan logika fuzzy, kita lebih terbuka dengan keragaman. Hal ini menjadikan kita lebih bebas mengembangkan kreativitas dan lebih lentur. Bagaimana pun hasil akhir dari fuzzy masih tetap bisa dikonversi menjadi biner.

2.7 Abduksi

Logika abduksi makin menarik di era yang dipenuhi keragaman seperti sekarang ini. Abduksi terbuka dengan menerima beragam argumen, kemudian, mengolahnya untuk menghasilkan kesimpulan yang terbaik.

Bentuk abduksi yang paling terbuka adalah menerima segala argumen: silogisme Aristotelian, logika Boolean, silogisme implikasi, logika fuzzy, dan lain-lain. Masing-masing argumen dianalisis, dibandingkan, dimodifikasi, bahkan dikombinasikan. Hasil akhir adalah kesimpulan abduksi terbuka.

Seringkali terjadi, dalam realitas, kita dihadapkan pada beragam pilihan logika dengan bobot yang sama, atau seimbang. Sehingga, metode apa pun yang kita pakai untuk menilai akan memberi hasil yang tidak eksak. Karena itu, abduksi-terbuka memberi solusi agar kita memilih solusi terbaik dengan tetap membuka masing-masing argumen yang berbeda itu. Agar bila kemudian hari, ada orang yang hendak melakukan analisis ulang, bisa melakukan analisis dengan argumen yang lengkap dan diharapkan mendapatkan hasil yang lebih baik.

3. Logika Relasi Frege

Frege menyusun logika relasional, menjelang abad 20, yang jauh lebih dahsyat dari logika Aristoteles. Russell menyambut hangat ide Frege dan mengembangkan lebih jauh menembus batas. Semua pengetahuan manusia, pada analisis akhir, bisa direduksi menjadi “logika”. Gerakan besar ini menghasilkan “logika positivisme” dan filsafat analytic. Pro kontra tumbuh subur terhadap positivisme.

3.1 Tiga Prinsip Logika

Frege, dan Russell, menguatkan tiga prinsip logika: identitas, non-kontradiksi, dan hukum-antara.

Prinsip identitas menyatakan bahwa segala sesuatu sama dengan dirinya sendiri. Atau, K = K.

Prinsip non-kontradiksi menyatakan bahwa segala sesuatu berlawanan, secara logis, dengan negasinya. Dinyatakan, K AND (-K) pasti bernilai SALAH. Tidak mungkin kontradiksi. Tidak mungkin K dan (-K) sama-sama bernilai benar.

Hukum-Antara menyatakan salah satu dari K OR (-K) pasti bernilai BENAR. Tidak mungkin ada alternatif ketiga antara afirmasi dengan negasinya.

Tiga prinsip logika di atas sudah terdokumentasi dengan baik sejak era Aristoteles. Tampaknya, semua pemikir setuju dengan tiga prinsip di atas. Baru, satu abad sebelum era Frege, Hegel memberi challenge serius terhadap prinsip di atas. Wajar, Frege dan Russell perlu menegaskan kembali tiga prinsip logika di atas.

Satu prinsip lagi yang diperlukan, yaitu, prinsip kausalitas: hukum sebab akibat.

3.2 Prinsip Kausalitas

Segala sesuatu perlu sebab. Prinsip kausalitas menyatakan agar terjadi sesuatu diperlukan sebab-sebab yang mencukupi. Sebaliknya juga berlaku, segala sebab menghasilkan akibat.

Tentu saja, prinsip kausalitas sudah berkembang sejak jaman kuno. Namun, sampai masa Frege, tidak ada formula yang memuaskan untuk prinsip kausalitas. Aristoteles menyatakan setiap gerakan membutuhkan penggerak. Penggerak itu sendiri membutuhkan penggerak prior, dan seterusnya sampai, membutuhkan penggerak pertama yang tidak butuh penggerak.

Ibnu Sina, dan Leibniz, mengembangkan ide yang mirip. Segala yang ada di alam raya ini bersifat kontingen, mungkin ada dan mungkin tidak ada. Untuk bisa menjadi ada, kontingen ini, membutuhkan sebab. Pada gilirannya, sebab itu sendiri membutuhkan sebab yang lebih prior, sampai akhirnya, ada sebab yang wajib eksis karena dirinya sendiri.

Frege mengembangkan formula kausalitas yang lebih jelas dan koheren. Frege mengarahkan kajian ke aritmetika (matematika). Mengapa “2 + 1” menghasilkan “3”? Karena, ada suatu proses yang menghasilkan angka “3” yaitu operasi penjumlahan “2 + 1”. Frege perlu formula yang tegas untuk prinsip kausalitas aritmetika ini. Saat itu, sudah berkembang Aritmetika Peano.

Alur pemikiran kita untuk membangun logika-relasi adalah sebagai berikut.

(1) Segala pengetahuan kita – sains, matematika, metafisika, dan sebagainya – bisa direduksi menjadi sistem logika.

(2) Sistem logika, pada gilirannya, bisa direduksi menjadi aritmetika.

(3) Aritmetika, yang merupakan sistem aksiomatik formal, mampu menjelaskan segala sesuatu – termasuk kausalitas – dengan konsisten dan independent dari intuisi manusia atau pengamat.

Sistem logika-relasi ini, jika berhasil, mampu menjelaskan segala fenomena dan realitas secara obyektif.

Berikutnya, kita akan membahas sistem aritmetika terpenting: Aritmetika Peano.

3.3 Peano Aritmetika

Peano (1858 – 1932) menyusun sistem aksioma aritmetika yang menjadi landasan dasar sistem aritmetika. Perluasan Aritmetika Peano ini membuka prospek untuk sistem logika baru yang lebih kokoh. Frege meng-elaborasi lebih jauh Aritmetika Peano menjadi sistem formal aksiomatik yang berlaku secara luas.

Secara sederhana, Peano menetapkan aksioma dalam jumlah yang sangat sedikit. Pertama, aksioma yang mengatakan ada sesuatu yaitu sebut saja angka “1”. Kita mudah memahami aksioma ini. Jelas di alam raya ini ada sesuatu: ada saya, ada batu, ada pikiran, dan lain-lain.

Kedua, aksioma yang menyatakan ada urutan. Setelah “1” ada “2” atau sebelum “2” ada “1”. Angka “0” adalah angka yang tidak punya pendahulu. Dalam Aritmetika Peano, kita tidak membahas bilangan negatif atau pecahan. Jika diperlukan membahas itu, negatif atau pecahan, kita bisa melakukan generalisasi atau analogi.

Hanya dengan dua aksioma-besar di atas Peano berhasil menyusun sistem aritmetika yang konsisten dan koheren. Versi asli Peano ada 9 aksioma. Saya menyederhanakan menjadi dua aksioma-besar agar lebih mudah untuk pembahasan.

3.4 Kehebatan Relasi

Agar lebih mudah memahami kehebatan logika-relasi, yang didasarkan pada aritmetika, kita akan membandingkan dengan logika jenis lain.

(1) Logika-universal Aristotelian hanya menganalisis suatu partikular masuk sebagai anggota dari universal. Misal, setiap persegi punya 4 sisi. Bangun A adalah persegi. Kesimpulan, A punya 4 sisi.

Sementara, logika-relasi mampu menjelaskan proses bagaimana bangun A berhasil memiliki 4 sisi.

(2) Logika-rekayasa dengan silogisme kreatif mampu mendesain kausalitas buatan. Jika tombol kanan maka listrik nyala. Jika listrik nyala maka pintu terbuka. Kesimpulannya, jika tombol kanan maka pintu terbuka.

Logika-rekayasa jelas sangat berguna untuk mengembangkan teknologi dan beragam kemajuan umat manusia. Tapi, logika-rekayasa tidak mampu menjelaskan hukum kausalitas. Karena kausalitas yang ada adalah hasil rekayasa belaka. Di sisi lain, logika-relasi mampu menjelaskan kausalitas tersebut secara obyektif.

(3) Interpretasi bahasa. Ketika logika-relasi berhasil menjelaskan seluruh fenomena secara obyektif, kemudian, muncul problem interpretasi bahasa. Peran subyek-pengamat sangat besar dalam interpretasi dan memaknai bahasa, sehingga, bersifat subyektif. Karena itu, kita perlu mengembangkan bahasa yang bersifat obyektif yaitu skrip-konsep.

3.5 Skrip-Konsep

Kita menggunakan bahasa sehari-hari yang memiliki makna denotasi dan konotasi. Makna konotasi, kental, bersifat subyektif. Makna denotasi dimaksudkan sebagai makna yang terkandung langsung dari bahasa tersebut. Kita berharap, makna denotasi bersifat obyektif. Bagaimana pun, makna obyektif tetap dipengaruhi oleh konteks pemakaian bahasa tersebut. Sehingga, tidak lagi terjamin obyektif dengan satu makna tertentu.

Sementara, pernyataan dalam matematika bisa bersifat obyektif.

3 + 2 = 5 atau x + y = 7.

Seandainya, ada pihak yang salah paham terhadap pernyataan matematika, maka, kita bisa melakukan klarifikasi dan dihasilkan makna obyektif tunggal.

Frege mengembangkan skrip-konsep untuk menjadi bahasa obyektif dengan makna tunggal. Tentu saja, kita akan lebih mudah mengembangkan skrip-konsep mulai dari matematika itu sendiri.

“n adalah himpunan bilangan ganjil antara 3 dan 7.”

Apakah 3 masuk dalam n atau tidak? Kata “antara” bisa bermakna batas 3 masuk sebagai solusi. Tapi, bisa juga 3 tidak masuk solusi. Lebih jelas dengan ungkapan matematika,

{ 3 < n < 7; n ganjil }

Dengan notasi lebih dari (<), jelas, bahwa 3 tidak termasuk solusi.

Skrip-konsep melangkah lebih jauh dengan membuat “skrip” atau simbol untuk berbagai macam kata.

“e” adalah “exist”

“A” adalah “All”

==> adalah “maka”

Dan, masih banyak lainnya.

Dengan makin banyaknya skrip, para ahli matematika berhasil menuliskan ide secara obyektif dan jelas. Lebih menarik lagi, skrip-konsep ini lebih singkat dan lebih jelas dari bahasa biasa. Dengan demikian, terbukti skrip-konsep berhasil menciptakan bahasa obyektif yang berbeda dengan bahasa sehari-hari.

Frege berharap, suatu saat di masa depan, akan tercipta skrip-konsep yang lengkap. Sehingga, kita bisa menulis dan membaca secara obyektif murni. Baik untuk kepentingan ilmiah atau pun lainnya. Akankah harapan Frege menjadi nyata? Kita perlu melihat sejarah dan situasi saat ini – setelah 120 tahun Frege mengharapkan itu.

3.6 Sistem Formal

Sistem yang didasarkan pada beberapa aksioma disebut sebagai sistem formal atau sistem aksiomatik. Sistem Aritmetika Peano adalah contoh sistem formal. Analisis Frege membuktikan bahwa Aritmetika Peano memberikan semua yang dibutuhkan sebagai pengetahuan obyektif. Semua prinsip umum logika bekerja dengan baik, hukum kausalitas berjalan dengan baik, dan yang sangat penting, dapat dikomunikasikan secara obyektif.

Langkah berikutnya, dengan memanfaatkan skrip-konsep, meluaskan sistem formal ke sistem yang lebih besar dari aritmetika. Secara umum, perluasan ke geometri dan aljabar bisa berjalan lancar. Untuk perluasan ke sistem lain, misal ke sistem sains atau bahasa, hanya perlu waktu saja.

Dengan demikian, semua sistem bisa kita pandang sebagai sistem formal yang obyektif. Sejatinya, bagi kita yang hidup satu abad setelah Frege, lebih mudah memahami eksistensi sistem formal. Teknologi digital bisa kita pandang sebagai sistem formal obyektif yang setiap hari menemani kita. Jadi, sistem formal benar-benar hadir dalam hidup kita.

Benarkah Frege berhasil dengan semua impiannya?

Bahkan, masih di tahun 1900an, buku karya Frege masih dalam proses penerbitan, Russell memberikan kritik yang sangat tajam. Kelak, kritik ini dikenal sebagai Paradox Russell yang sulit ditangani.

3.7 Paradox Russell

Frege menerima surat dari Russell yang berisi kritik tajam. Frege mengaku kritik Russell adalah valid. Dan, Frege tahu bahwa Russell ada di sisi yang sama dengannya. Kritik tersebut murni untuk kebaikan sistem formal itu sendiri. Beberapa belas tahun kemudian, Wittgenstein muda yang berbakat datang ke Frege untuk belajar logika. Frege menolak Wittgenstein dan menyarankannya untuk belajar ke Russell. Tampaknya, Frege sadar masa depan sains ada pada Russell.

Paradox Russell sudah sangat terkenal. Sistem formal yang berlaku prinsip identitas,

H = H

mengarah kepada kontradiksi diri atau paradox.

Misalkan, H = himpunan yang beranggotakan semua himpunan selain dirinya sendiri.

Apakah H beranggotakan H?

(1) Jika H anggota H maka H harus bukan anggota H.

(2) Jika H bukan anggota H maka H harus anggota H.

Paradox Russell ini valid. Tetapi, karena buku Frege sudah dalam proses percetakan, maka, tidak ada waktu untuk merevisinya. Lebih serius dari itu, 10 tahun berlalu, tetap belum ada solusi memuaskan. Tidak ditemukan cara untuk merevisinya.

Baru pada tahun 1910an, Russell bersama mentornya – Whitehead, menuliskan solusi resmi dalam maha karya “Principia Mathematica.” Solusi Russell fokus terhadap pernyataan predikatif.

Hanya pernyataan predikatif yang diijinkan dalam sistem formal. Sedangkan pernyataan impredikatif dilarang, yaitu, pernyataan yang membicarakan dirinya sendiri. Berikut ini adalah contoh pernyataan impredikatif.

(P): Pernyataan ini salah.

Karena (P) berbicara tentang (P) maka impredikatif dan dinyatakan sebagai tidak valid. Pernyataan sejenis ini, yang merujuk diri sendiri, adalah sumber paradox. Dengan menyingkirkan pernyataan impredikatif, sistem formal selamat dari paradox.

Solusi Russell seperti di atas, tampaknya, tidak terlalu lama bertahan. Pada tahun 1930an, muncul paradox baru yang lebih serius: paradox Godel.

3.8 Paradox Godel

Godel (1906 – 1978) masih sangat muda ketika merumuskan teorema Godel pada tahun 1930an. Teorema Godel, yang juga dikenal sebagai paradox Godel, mengatakan, “Setiap sistem formal tidak lengkap atau tidak konsisten.”

Singkatnya, meski sistem formal sudah mengikuti saran Russell untuk mencegah pernyataan impredikatif, tetap saja, sistem formal tidak konsisten. Yang menarik lagi, Godel berhasil mengubah sistem formal menjadi terdiri dari angka-angka besar yang merupakan hasil kali bilangan prima berpangkat. Segala sesuatu hanya terdiri dari angka-angka. Dan, angka-angka ini membuktikan bahwa sistem formal adalah tidak konsisten.

Beberapa tahun ke depan, paradox Godel ini sudah bertahan dalam satu abad. Dalam rentang satu abad ini, banyak kajian yang menguatkan validitas paradox Godel.

Dengan demikian, impian untuk mengembangkan sistem formal yang konsisten dan obyektif menemui jalan buntu karena sistem formal selalu tidak konsisten atau tidak lengkap. Untuk menjadi agar tetap konsisten, sistem formal perlu campur tangan subyektivitas. Demikian juga, untuk menjaga agar lengkap perlu subyek. Sementara, subyek itu sendiri tidak konsisten dan tidak lengkap pula.

Meski paradox Godel tidak bisa diatasi, kita bisa memberi solusi pada sistem formal itu sendiri. Salah satu solusi terpenting, muncul menjelang abad 21, berupa sistem paraconsistent.

3.9 Paraconsistent

Routley, atau Richard Sylvan, (1935 – 1996) adalah pemikir asal Australia yang menghabiskan masa dewasanya di Bali, Indonesia. Routley mengembangkan logika paraconsistent, yaitu, logika yang merangkul inkonsistensi – menerima karakter tidak konsisten. Dengan demikian, sistem formal tetap valid meski tidak konsisten karena ada paradox Godel.

Inkonsistensi, tidak konsisten, atau kontradiksi sudah menghantui para pemikir sejak ribuan tahun yang lalu. Mereka menghindari kontradiksi. Karena ECQ: Ex Contradictione Quodlibet. Dari kontradiksi bisa apa saja. Jika kontradiksi dibolehkan, maka, pikiran apa saja bisa terjadi.

(A): Jokowi adalah presiden terbaik.
(B): Jokowi bukan presiden terbaik.

(A) dan (B) saling kontradiksi. Jika kontradiksi dibolehkan maka orang bebas menyatakan (A) yang benar atau orang lain menyatakan bahwa (B) yang benar. Segalanya menjadi tidak ada makna jika boleh kontradiksi. Dan, paradox Godel menyatakan bahwa setiap sistem formal selalu mengandung kontradiksi.

Solusi dari paraconsistent adalah mengijinkan kontradiksi dengan syarat tidak “meledak.” Maksudnya, kontradiksi hanya terbatas pada kasus-kasus tertentu saja. Kasus-kasus umum tetap terjaga dari kontradiksi, tetap aman dan konsisten. Sedikit ilustrasi akan memudahkan pemahaman.

“Kelas yang terdiri dari 20 siswa menentukan pilihan sikap berdasar suara terbanyak – demokrasi. Ketika suara berimbang maka ketua kelas yang menentukan pilihan.”

Paraconsistent menunjukkan bahwa dalam banyak kasus akan konsisten bahwa suara terbanyak adalah pemenang. Tetapi, ketika suara imbang 10 vs 10 maka perlu tindakan inkonsisten, tidak konsisten, yaitu ketua kelas menentukan sikap. Karakter inkonsisten seperti ini bisa diterima karena jarang terjadi dan tidak “meledak.”

Bisa terjadi skenario yang lebih tidak konsisten lagi. Pada tahap pemilihan suara, misal, ketua kelas mendukung A. Karena posisi imbang 10 vs 10, kemudian, ketua kelas memutuskan untuk mendukung B. Manusia memang tidak konsisten. Bagaimana pun, sikap tidak konsisten dari ketua kelas perlu mendapat kritik yang memadai. Ketua kelas juga perlu bersikap terbuka terhadap kritik untuk mengembangkan sistem yang lebih baik.

Kasus nyata terjadi di PBB: Perserikatan Bangsa-Bangsa. Dalam banyak kasus, sikap PBB ditentukan secara demokratis. Tetapi, dalam beberapa kasus penting ada anggota yang punya hak veto. Tentu saja, hak veto tidak konsisten. Hak veto hanya dimiliki oleh anggota khusus saja. Sehingga, konsep hak veto ini perlu dikritisi secara tajam. Misal dari 5 negara yang punya hak veto, 2 negara di antaranya perlu dimatikan sementara vetonya dalam satu tahun. Tahun berikutnya, berganti 2 negara lain yang dimatikan sementara vetonya, bergiliran. Sehingga, dalam satu waktu hanya ada 3 negara hak veto yang aktif. Dengan cara ini, PBB bisa mencegah penyalahgunaan hak veto untuk kepentingan sepihak negara tertentu.

Jadi, sampai di sini, apa kontribusi dari logika relasi?

Pertama, logika relasi gagal untuk menghadirkan logika dan pengetahuan yang murni obyektif. Sistem logika, atau sistem filsafat, yang lain sama saja. Mereka juga gagal menghadirkan pengetahuan yang murni obyektif. Bagaimana pun, logika-relasi berhasil mendorong penyelidikan yang kuat bobot obyektivitasnya, misal matematika, sains, filsafat analitik, dan lain-lain.

Kedua, logika-relasi berhasil mendorong sistem formal ke batas maksimal. Logika-relasi berhasil menunjukkan beragam paradox logika, di antaranya, paradox Russell dan paradox Godel. Paradox bukan karena logika berpikir yang salah. Tetapi, paradox ini memang karakter dari sistem formal itu sendiri. Tampaknya, sistem bukan formal berpotensi lebih banyak paradox lagi.

Ketiga, logika-relasi mendorong pengembangan sitem yang responsif terhadap paradox. Salah satunya, sistem paraconsistent adalah sistem formal yang menerima kontradiksi atau paradox dengan syarat tidak “meledak.” Dengan demikian, setiap sistem perlu terbuka dengan paradox dan bersikap kritis terhadap solusi terbaiknya.

4. Logika Dialektika Hegel

Hegel, pada abad 19, mengembangkan logika dialektika yang berbeda dengan Aristoteles mau pun Frege di era berikutnya. Logika dialektika bukanlah metode berpikir yang benar (saja). Tetapi, logika dialektika adalah sistem metafisika lengkap. Logika adalah prinsip realitas seluruh alam semesta, termasuk prinsip pikiran dan prinsip alam dunia luar. Ditambah lagi dengan menerapkan prinsip kontradiksi maka logika dialektika Hegel makin sulit dipahami banyak orang.

4.1 Tesis – Antitesis – Sintesis

Barangkali, Hegel paling terkenal dengan trilogi tesis-antitesis-sintesis. Trilogi ini cukup bagus menggambarkan logika dialektika Hegel. Meski demikian, logika Hegel jauh lebih luas dan lebih mendalam dari trilogi yang umumnya dipahami. (Sebelumnya, Kant dan Fichte sudah mengembangkan konsep trilogi ini lebih awal dari Hegel.)

Tesis: Ibu kota negara perlu segera dipindahkan.
Antitesis: Ibu kota negara TIDAK perlu segera dipindahkan.

Sintesis: Ibu kota negera perlu dipindahkan pada waktu yang tepat, misal, mulai tahun 2025.

Setiap tesis akan menghasilkan kontradiksi, perlawanan, yaitu antitesis. Kemudian, mereka berdialektika menghasilkan sintesis yang merangkul tesis dan antitesis secara bersama dalam tingkat yang lebih tinggi. Suasana dialektika yang sehat mampu mendorong masyarakat untuk maju dengan adil makmur.

Kapan dialektika akan berhenti? Tidak pernah berhenti. Karena, dialektika akan berhenti ketika diraih “kebenaran mutlak”. Sementara, kita tidak akan berhasil mencapai kebenaran mutlak dalam realitas bermasyarakat.

Tesis: Tahun 2025 adalah saat yang tepat untuk mulai pindah ibukota.
Antitesis: Tahun 2025 adalah saat yang TIDAK tepat untuk mulai pindah ibukota.

Apa sintesis terbaiknya? Tugas manusia untuk memikirkannya.

4.2 Being – Esensi – Idea

Berikutnya, kita akan membahas logika dialektika Hegel lebih mendalam. Pertama, logika obyektif yang melibatkan alam raya kecuali subyek atau kehidupan. Kedua, logika subyektif yang melibatkan subyek manusia dan seluruh alam raya. Manusia berpikir tentang seluruh alam raya sebagai obyek, termasuk pikirannya sendiri juga sebagai obyek.

Logika Obyektif

Being adalah seluruh realitas alam raya. Being-in-itself. Realitas yang nyata dalam dirinya sendiri. Bumi, matahari, batu, meja, dan lain-lain adalah being, realitas alam nyata.

Esensi adalah yang paling esensial dari realitas. Esensi batu adalah hakikat batu itu sendiri. Batu menegaskan dirinya adalah batu – melalui hukum alam misalnya. Batu berbeda dengan gunung, pasir atau lainnya. Tetapi esensi batu, sejatinya, tidak ada. Karena yang ada adalah realitas batu – being.

Esensi batu, melalui hukum alam, “menilai” being sebagai tidak-esensial. Hanya esensi batu yang esensial. Being-batu hanya ilusi semata. Dalam momen ini, status being diturunkan sekedar sebagai abstraksi yang ditempelkan kepada esensi. Terjadi kontradiksi being lawan esensi di alam raya. Proses dialektika.

Becoming, proses menjadi batu yang baru melalui dialektika. Esensi kembali menghadapi being realitas yang nyata. Kontradiksi disatukan oleh realitas yang lebih tinggi, sintesis, becoming batu yang baru. Batu yang baru itu, sejatinya, adalah being realitas yang nyata juga. Sehingga, proses dialektika terus berlanjut.

Logika obyektif dialektika ini tidak bertentangan dengan sains apa pun. Lebih tepatnya, dialektika membahas proses pada tataran berbeda dari sains empiris. Logika obyektif dialektika menjelaskan proses gerak realitas secara idealis. Sementara, sains menjelaskan gerak realitas pada tataran empiris.

Hegel hidup 100 tahun setelah masa Newton. Maka, kita bisa mengasumsikan bahwa Hegel sudah membaca mekanika Newton. Sehingga, wajar, jika Hegel tidak bertentangan dengan Newton.

Contoh, ketika batu didorong dengan gaya F maka batu akan bergerak dengan percepatan a sesuai mekanika Newton. Di mana dialektika nya?

Interpretasi proses dialektika: batu mendapat dorongan gaya F maka batu melawan dengan hukum kelembaman. Gaya F melawan balik, lagi, dengan “menyatakan” bahwa F akan menggerakkan batu. Begitu selanjutnya, kelembaman akan terus melawan F. Sampai akhirnya, becoming, apakah F lebih besar dari kelembaman gaya gesek statis. Jika F lebih besar maka batu berhasil bergerak dengan percepatan a.

Seandainya, hukum mekanika Newton direvisi maka, tetap saja, dialektika berlaku. Karena, dialektika bekerja pada tataran being-realitas di balik sains empiris. Dialektika mempersilakan sains empiris untuk terus berkembang.

Logika Subyektif

Logika subyektif lebih kompleks dari logika obyektif. Karena, logika subyektif melibatkan kehidupan, misal manusia sebagai subyek, dan alam raya obyektif sebagai obyek. Bagi manusia, bahkan dirinya sendiri juga termasuk sebagai obyek dari logikanya.

Silogisme, umumnya, dipandang sebagai logika obyektif. Tetapi, bagi Hegel, silogisme justru masuk logika subyektif rasional.

Tiga momen logika subyektif: subyektivitas, obyektivitas, idea.

Di dalam subyektivitas: ide (notion), judgement (penilaian), dan silogisme.

Pertama, subyek bebas menyatakan ide: saya adalah saya. Atau, saya adalah manusia. Tahap ini adalah kebebasan murni. Subyek bebas menentukan dirinya sebagai apa atau sebagai siapa. Hanya ada subyek.

Harimau bebas menyatakan diri bahwa saya adalah harimau – tentu dengan cara sesuai hukum alam. Pohon bebas menyatakan saya pohon begini atau begitu. Virus bebas menyatakan diri sebagai virus. Khusus bagi manusia, mereka benar-benar bebas menyatakan diri sebagai apa saja sesuai idenya sendiri.

Kedua, subyek melakukan judgement (penilaian). “Aku ‘merasa nyaman’ di air, ” menurut ikan. “Aku ‘senang’ dengan cahaya matahari,” menurut pohon. “Aku suka berpetualang,” kata manusia.

Dalam proses menilai, subyek mulai berkontradiksi dengan dunia luar. Aku berhadapan dengan bukan aku. Kebebasan berhadapan dengan keniscayaan. Sebagai manusia, kita bisa melakukan penilaian dalam derajat yang beragam. Kaki tertusuk duri maka terasa sakit. Penilaian intuitif sederhana langsung. Kita juga bisa menilai keindahan suatu lagu. Hati tersentuh dengan nada-nada yang merdu. Penilaian estetik tingkat tinggi.

Ketiga, subyek berpikir silogisme yang rasional. Kita, sebagai subyek, berpikir secara silogisme eksplisit atau implisit. Memilih satu tindakan akan menyebabkan hasil tertentu. Memilih tindakan berbeda bisa menyebabkan hasil yang berbeda.

Berbagai macam pemikiran rasional silogisme kita kembangkan dalam diri kita. Tentu saja, hanya manusia yang mampu merumuskan silogisme secara formal eksplisit. Sementara, binatang berpikir dengan cara yang lebih sederhana.

Bahkan kita, manusia, mampu berpikir dengan obyek silogisme berupa pikiran kita sendiri. Kita bisa berpikir tentang masa depan diri kita atau kenangan masa lalu kita. Kita bisa berandai-andai tentang suatu kehidupan.

Tiga proses di atas – ide, penilaian, silogisme – membentuk subyektivitas dalam logika subyektif. Selanjutnya, subyektivitas ini akan berhadapan dengan obyektivitas untuk proses dialektika.

Di dalam obyektivitas: mekanisme, kimiawi, teleologi.

Obyektivitas berdialektika dengan subyektivitas maka terbentuklah idea yang lebih tinggi.

Mekanisme adalah hukum obyektif yang mengatur being realitas alam raya. Hukum gravitasi, elektromagnetik, termodinamika, dan lain-lain. Hukum ini bekerja dari luar mengenai obyek-obyek yang ada di alam raya. Sains mengkaji hukum-hukum mekanisme yang mengatur alam raya ini.

Kimiawi adalah hukum yang mengatur proses-proses semacam reaksi kimia, misal reaksi hidrogen dan oksigen menghasilkan air. Hukum kimiawi adalah hukum yang tampak tersembunyi, di masa itu. Barangkali, fisika quantum dan medan gravitasi juga bisa kita masukkan ke hukum ini. Mekanisme cenderung bekerja dari “luar” obyek. Sementara, kimiawi cenderung bekerja dari “lebih dalam”. Sains bisa mengkaji hukum kimiawi.

Teleologi adalah obyek yang memiliki tujuan akhir, misal, berupa makhluk hidup. Dari makhluk hidup sel satu, tumbuhan, binatang, sampai manusia itu sendiri. Kehidupan mempunyai hukum dari dalam diri: “purposiveness” atau tujuan. Benda-benda tak hidup pun, dari prespektif tertentu, memiliki tujuan, misal, menambah entropi sesuai hukum termodinamika. Sains bisa mengkaji teleologi dengan konsekuensi lebih banyak melibatkan interpretasi dibanding dengan mekanisme.

Khusus bagi manusia, mampu merumuskan tujuannya dengan formal eksplisit. Dan, manusia sebagai obyek merangkap sebagai subyek sekaligus.

Kita perhatikan, secara ruang, mekanisme bekerja dari luar, kimiawi bekerja dari tengah, dan teleologi bekerja dari dalam obyek. Sedangkan, secara waktu, determinasi (kekuatan) makin membesar pada obyek, berurutan dari mekanisme, kimiawi, sampai teleologi.

Subyek berhadapan dengan obyek. Subyektivitas berdialektika dengan obyektivitas. Kontradiksi mendorong gerakan lebih maju menghasilkan sintesis – becoming. Hasil sintesis ini adalah idea (notion/konsep) yang merangkul harmonis subyektivitas dan obyektivitas.

Di dalam idea: kehidupan, kognisi, ide.

Kehidupan menampakkan diri dalam badan fisik yang terorganisir. Badan ini berhubungan dengan badan lain – mengkonsumsi makanan dan menghasilkan makanan untuk yang lain. Pada akhirnya, kehidupan bereproduksi menghasilkan kehidupan baru – generasi penerus.

Kognisi adalah kemampuan untuk “memahami” informasi dan mengolahnya. Subyek yang berdialektika dengan obyek “menyadari” beragam informasi yang lalu lalang. Untuk kemudian, berdasar kognisi ini menentukan respon yang tepat.

Ide adalah freedom, kebebasan sejati. Dengan ditopang oleh kehidupan yang dinamis dan kognisi terhadap informasi, ide menentukan sikap dengan kebebasannya. Bagi manusia, kebebasan ide ini dapat diungkapkan secara eksplisit formal atau pun implisit. Ide bergerak maju dengan menyatukan subyektivitas dan obyektivitas.

Ide itu sendiri adalah realitas nyata. Ide adalah being. Karena itu, proses dialektika berlangsung lagi, terus-menerus tanpa henti.

4.3 Dialektika Siklis

Kita bisa membayangkan dialektika ringkas dengan membayangkan putaran jarum jam dinding yang hanya terdiri dari 3 angka.

(1) Being
(2) Esensi
(3) Becoming

Tetapi (3) Becoming itu sendiri adalah derajat baru dari (1) Being. Sehingga, setelah jam (3) akan kembali ke jam (1). Begitu seterusnya siklus dialektika.

Logika obyektif:
(1) Being: realitas alam nyata berdialektika dengan;
(2) Esensi: karakter esensial yang mendorong;
(3) Becoming: terbentuk realitas derajat baru being maka kembali (1).

Logika subyektif:
(1) Being: realitas subyek yang punya ide, judgement, dan silogisme berdialektika dengan;
(2) Esensi: karakter obyek yang bekerja secara mekanis, kimiawi, dan teleologis mendorong;
(3) Becoming: terbentuk kehidupan kognitif merangkul subyek dan obyek dalam ide yang sejatinya adalah derajat baru dari being; kembali (1).

4.4 Fokus Silogisme

Mari kita lebih fokus tentang silogisme dalam sistem logika dialektika Hegel. Pertama, silogisme adalah logika subyektif. Kedua, silogisme hanya bagian kecil dari sistem logika – dan bisa jadi bukan yang utama. Ketiga, silogisme merupakan bagian dari siklus dialektika sehingga kesimpulan akhir ikut menjalani proses siklus.

Dengan tiga karakter di atas, silogisme dialektika berbeda jauh dengan silogisme logika klasik.

Silogisme subyektif. Silogisme bukan realitas dari obyek. Silogisme adalah realitas dari subyek. Meskipun, pada akhirnya, subyek dan obyek bersatu dalam idea. Subyek adalah obyek dan obyek adalah subyek. Identitas subyek dan obyek.

Mengapa silogisme valid? Karena, subyek memutuskan secara rasional bahwa silogisme itu valid. Seandainya, subyek memanfaatkan kebebasan idea untuk meragukan silogisme maka silogisme akan gagal mencapai kesimpulan akhir.

Mengapa kesimpulan valid? Karena premis valid. Mengapa premis valid? Karena berdasar judgement. Mengapa judgement valid? Dan seterusnya, idea bisa menanyakan “mengapa” tanpa henti. Akibatnya, silogisme gagal mencapai kesimpulan akhir yang valid.

Dalam logika subyektif, subyek berpikir rasional dan mengambil kesimpulan berdasar silogisme serta mencukupkan diri sampai premis tertentu saja. Kesimpulan akhir berhasil dicapai oleh subyek.

Silogisme bukan utama. Silogisme hanya merupakan bagian kecil dari sistem logika dialektika. Sementara bagi logika klasik, silogisme adalah bagian paling utama. Bahkan, dalam formula logika Boolean, kita bisa menganggap bahwa tugas logika adalah hanya silogisme. Yaitu silogisme untuk memastikan suatu proposisi bernilai BENAR atau SALAH.

Dalam logika dialektika, silogisme adalah 1 dari 3 dalam subyek. Dan, subyek sendiri adalah 1 dari 3 dalam logika subyektif. Sementara, dalam logika obyektif tidak diperlukan silogisme. Sehingga, porsi silogisme kurang dari 10% dari sistem logika.

Logika klasik menempatkan diri, tampak, lebih prior dari dari sistem – realitas. Sementara, logika Hegel menempatkan diri sebagai “cermin logis” dari suatu sistem – realitas. Sehingga, logika klasik bisa mendefinisikan suatu sistem logika tanpa obyek sistem realitas. Sementara, logika Hegel hanya bisa mendefinisikan sistem logika dengan “melihat” obyek sistem realitas. Ditambah lagi, logika Hegel bergerak dinamis siklis. Jika kita bermaksud mendesain sistem logika lebih awal dari sistem realitas, maka, itu adalah hipotesis atau rencana atau model.

Silogisme siklis. Karena dialektika bersifat siklis dan silogisme merupakan bagian dari dialektika maka silogisme juga bersifat siklis. Dalam logika klasik, silogisme bersifat linear. Bila sudah dicapai kesimpulan akhir maka kesimpulan tersebut sudah selesai.

Dialektika mengantar being-subyek ke derajat yang lebih tinggi. Maka silogisme, dalam dialektika Hegel, akan berproses lagi dalam derajat yang lebih tinggi mengikuti siklus realitas.

4.5 Interpretasi: Spirit – Pengetahuan – Materialisme

Apa yang dimaksud ‘being” oleh Hegel? Apa itu idea absolut? Apa itu spirit?

Bisa kita duga, interpretasi terhadap Hegel adalah beragam, berbeda-beda, dan bahkan, saling kontradiksi. Sehingga, interpretasi itu sendiri juga mengalami dialektika siklis, terus-menerus, tanpa henti. Di sini, kita akan membahas hanya tiga interpretasi saja: materialisme, pengetahuan, dan spirit.

Materialisme

Karl Marx (1818 – 1883) adalah tokoh utama Marxisme. Marx mengadopsi logika dialektika Hegel dengan memberi interpretasi tegas materialis. Maka terbentuklah dialektika materialis. Semua masalah, pada analisis akhir, adalah masalah materi terutama materi yang berkaitan dengan kebutuhan ekonomi.

Marx meramalkan bahwa masyarakat industri akan melahirkan kontradiksi diri untuk kemudian berdialektika. Masyarakat kapitalis melahirkan kaum elit kapitalis kaya raya, yang berkontradiksi dengan kaum buruh – yang miskin papa. Mereka berkontradiksi, berdialektika, untuk kemudian, melahirkan masyarakat baru yang adil dan bebas.

Kapitalis, terus-menerus, menghasilkan ketimpangan. Kapitalis menciptakan dominasi pihak kuat terhadap pihak lemah. Kapitalis banyak mengeksploitasi kecurangan. Kritik-kritik tajam terhadap kapitalisme terus subur sampai saat ini, khususnya, dari pendukung Marxisme atau variannya.

Tetapi apakah adil menafsirkan “idea” dari Hegel sebagai “materi”? Seperti kita tahu, Hegel sering menggunakan kata spirit dan Tuhan.

Lenin (1870 – 1924) memberi cara mudah membaca Hegel dengan pendekatan materialis. Jika Hegel menulis “spirit” maka maksudnya adalah “manusia” atau sesuatu yang berhubungan dengan manusia secara alamiah. Jika suatu paragraf memuat kata “Tuhan” maka lewati paragraf tersebut.

Memang cukup mengherankan bahwa Hegel ditafsirkan secara materialis. Nyatanya, manusia menemukan cara untuk melakukan itu. Manusia memang pandai menafsirkan segala sesuatu. Tentu saja, banyak pro-kontra di sana sini.

Zizek (1949 – ) meng-klaim bahwa Hegel lebih materialis dari Marx. Saya sulit memahami itu. Saya lebih mudah memahami bahwa Zizek lebih materialis dari Hegel atau, bahkan, dari Marx. Sementara, Hegel lebih kaya akan nuansa makna.

Spirit

Interpretasi paling jelas kepada Hegel adalah spiritualis. Ketika Hegel menyatakan spirit maka maksudnya memang spirit – ruh. Ketika Hegel menulis tentang Tuhan, memang maksud Hegel adalah Tuhan semesta alam.

Charles Taylor (1929 – ) menyatakan bahwa spirit yang mewarnai filsafat Hegel adalah kelanjutan spirit masa lalu dan berlanjut ke spirit di masa depan. Taylor menyadari bahwa pemikir kontemporer cenderung berpikir sekular dengan menyisihkan spirit di sudut gelap wacana. Tetapi, pandangan materialis seperti itu memang tidak memadai. Spirit muncul, lagi dan lagi, dalam kehidupan manusia. Kita, memang, harus menerima bahwa diri kita adalah spirit yang terus berproses untuk meraih spirit ideal. Begitulah idealisme Hegel.

Heidegger (1889 – 1976) meyakini bahwa yang dimaksud Hegel dengan spirit atau idea memang spirit metafisika – bukan sekedar sisi materialis dunia. Bahkan, spirit Hegel adalah spirit transenden.

Pengetahuan

Interpretasi paling moderat adalah pengetahuan. Ketika Hegel menyebut idea atau being maka yang dimaksud adalah pengetahuan.

Dengan interpretasi pengetahuan ini, maka kita memandang Hegel sebagai modifikasi dialektika Plato-Sokrates dan kelanjutan dari Kritik Pertama Kant mau pun Kritik Ketiga Kant.

Dialektika Socrates, sederhananya, menyatakan bahwa setiap pengetahuan kita adalah tesis. Maka akan mendorong hadirnya antitesis, untuk kemudian, berdialektika melahirkan sintesis. Gadamer (1900 – 2002) memandang penting proses dialektika seperti ini dalam hermeneutika.

Pippin (1948 – ) memahami Hegel sebagai kelanjutan dari Kritik Pertama Kant tentang akal murni. Kant berhasil menyatukan rasionalisme (Descartes, Spinoza, Leibniz) dengan empirisme (Hobbes, Locke, Hume). Pada bagian akhir, Kant mengakui berhadapan dengan beragam paradox (antinomi) yang tidak bisa diselesaikan. Dialektika Hegel mengatasi antinomi dari Kant ini. Pegetahuan yang terus berproses dialektika dinamis akan makin sempurna sampai akhirnya mencapai “Absolute Spirit”.

Karen Ng (di tahun 2020) memahami Hegel sebagai kelanjutan dari Kritik Ketiga Kant tentang “judgement”. “Form of life” yang memiliki “inner purposiveness” adalah fondasi dari semua pengetahuan manusia. Kant memahami “inner purposiveness” (tujuan terdalam) sebagai pengatur makhluk hidup (regulative). Sementara, Hegel menempatkan tujuan terdalam sebagai konstitutif – penyusun dari seluruh pengetahuan manusia.

Ringkasan Logika Hegel

Mari kita ringkas logika dialektika Hegel yang berbeda dengan logika klasik (logika standar).

Pertama, logika Hegel adalah dinamis sesuai realitas. Sementara, logika klasik berlaku apriori secara universal – metafisika.

Kedua, logika Hegel merupakan “cermin” atau interpretasi dari sistem realitas. Sedangkan, logika klasik adalah acuan bagi realitas. Realitas, seharusnya mengikuti logika klasik. Sebaliknya, sistem logika Hegel seharusnya mengikuti realitas.

Ketiga, logika Hegel adalah logika subyektif dalam arti memberi peran utama bagi subyek – di samping logika obyektif. Sementara, logika klasik adalah logika obyektif tanpa harus memperhatikan subyek. Dalam logika Hegel, subyek mempunyai tugas untuk memahami realitas dan memahami logika obyektif.

Berikutnya, kita akan membahas logika visi-iluminasi dari Suhrawardi yang ada beberapa kemiripan dengan logika Hegel.

5. Logika Visi Iluminasi Suhrawardi

Suhrawardi (1154 – 1191) mencermati bahwa proses berpikir logis secara deduksi dan induksi berkembang luas di mana-mana. Suhrawardi menemukan kelemahan silogisme deduksi terletak pada fondasinya. Bagaimana kita bisa berpikir logis jika fondasi logika rapuh?

Suhrawardi tidak hanya mengkritik fondasi logika klasik. Di saat yang sama, Suhrawardi memberi solusi dengan logika visi-iluminasi. Solusi ini tidak mudah. Karena setiap proposisi akan melibatkan abstraksi terhadap realitas, esensi dan eksistensi. Akibatnya, skeptisme Pyrrho (360 – 270 SM) tetap bisa diterapkan di sini. Bahasa “simbolis” akan menjadi solusi.

Di era kontemporer ini, kita menghadapi tantangan demokrasi. Apakah visi-iluminasi bisa sejalan dengan demokrasi? Tentu bisa. Bahkan, visi-iluminasi menjadikan demokrasi lebih sehat. Kesulitannya adalah, visi-iluminasi, menuntut kita untuk menjunjung tinggi etika dan memahami bahasa simbolis. Ketika masyarakat luas berhasil menjunjung etika dan memahami bahasa simbolis, maka, demokrasi adil makmur menjadi realita.

5.1 Deduksi Tidak Memadai

Paling mendasar adalah analisis terhadap fondasi silogisme deduksi.

A: “Setiap persegi memiliki 4 sisi sama panjang.”
B: “Bangun P adalah persegi.”
Kesimpulan,
C: “Bangun P memiliki 4 sisi sama panjang.”

Kesimpulan C, di atas, adalah valid berdasar silogisme deduksi. Bagaimana kita bisa tahu premis A adalah benar? Tentu, kita tidak bisa mengamati semua persegi yang ada lalu mengukur bahwa 4 sisinya sama panjang. Yang bisa kita lakukan adalah merumuskan esensi dari persegi. Dan, sifat dari esensi persegi adalah memiliki 4 sisi sama panjang.

Sehingga, premis A hanya berlaku terhadap esensi persegi ideal. Sementara, terhadap realitas persegi di alam raya, kita tidak bisa menyimpulkan apa pun.

Bagaimana validitas premis B: “Bangun P adalah persegi”? Barangkali, kita bisa langsung mengamati bangun P, kemudian, menyimpulkan bahwa bangun P adalah persegi. Bagaimana pun, setiap pengamatan (dan pengukuran) melibatkan suatu derajat ketidak-pastian. Sehingga, premis B tidak dijamin pasti benar.

Kita bisa menjamin B benar jika yang kita maksud adalah esensi ideal bangun P. Sehingga, premis B (dan premis A) hanya dijamin bernilai benar jika yang dimaksud adalah esensi ideal saja. Akibatnya, keseluruhan bangunan silogisme deduksi hanya berlaku terhadap esensi ideal saja. Sementara, kita menghadapi tantangan dunia nyata yang dipenuhi realitas “tidak ideal”. Logika visi-iluminasi akan menjawab tantangan ini.

5.2 Induksi Tidak Mencukupi

Sejak awal, misal Aristoteles, sudah menyadari bahwa logika induksi tidak mencukupi. Kesimpulan dari logika induksi bersifat kontingen, kemungkinan, atau tidak pasti. Suhrawardi menyadari hal yang sama.

“Hari Senin, makan jeruk terasa nikmat.”
“Hari Selasa, makan jeruk terasa nikmat.”
Kesimpulan:
“Hari apa pun, makan jeruk terasa nikmat.”

Kesimpulan di atas sah berdasar logika induksi. Dan, kita sadar bahwa kesimpulan di atas bersifat kontingen. Bila sesekali, makan jeruk terasa TIDAK nikmat, maka kita bisa maklum.

Masalah muncul, ketika, orang-orang menganggap kesimpulan induksi bernilai benar secara universal. Atau, ada tantangan baru, bisakah kita mengetahui kebenaran realitas praktis secara niscaya, benar secara pasti? Secara umum, jawaban dari tantangan baru itu adalah negatif, kita tidak bisa. Adakah peluang untuk mendapatkan jawaban posifif? Pertanyaan ini sulit dijawab.

5.3 Visi-Iluminasi

Logika visi-iluminasi menjalankan proyek besar: mengembangkan fondasi logika yang kokoh. Kita perlu cara berpikir baru yang beda dengan logika klasik. Karena, cara berpikir lama, sudah terbukti, menunjukkan fondasi logika sebagai tidak kokoh.

5.3.1 Cahaya Realitas

Realitas paling jelas adalah realitas cahaya. Segala realitas lain, selain cahaya, perlu cahaya agar menjadi jelas, menjadi bisa dipahami. Sementara, realitas cahaya sudah jelas dalam dirinya sendiri. Realitas cahaya tidak memerlukan realitas lain untuk menjelaskan cahaya.

Realitas cahaya tunggal yaitu cahaya itu sendiri. Tetapi, cahaya bisa tampil beragam. Cahaya bisa berbentuk lingkaran, persegi, dan bentuk kompleks lainnya. Ketika cahaya berbentuk lingkaran, maka, ukuran lingkaran bisa beragam besar dan kecilnya. Begitu juga, kekuatan intensitas cahaya lingkaran bisa beragam kuat dan lemahnya. Keragaman cahaya masih bisa kita buat lebih kompleks lagi dengan mengembangkan dimensi-dimensi lebih banyak.

Tentu saja, cahaya realitas bukan sekedar cahaya fisik seperti cahaya matahari. Cahaya realitas adalah bahasa simbol yang memudahkan kita untuk membahas logika visi iluminasi.

Dari mana cahaya realitas itu hadir? Ketika kita mengamati realitas yang beragam, maka, logis bagi kita menyusun prioritas realitas. Sebagian realitas ada sebagai sebab bagi yang lain – lebih prior. Sementara, sebagian realitas yang lain adalah akibat – lebih posterior. Dengan struktur logika prioritas maka kita akan sampai kepada cahaya paling utama. Sumber cahaya dari seluruh cahaya. Cahaya di atas cahaya. Cahaya-dari-Cahaya.

5.3.2 Abstraksi Esensi Eksistensi

Kita tidak bisa menghindar dari berpikir abstrak. Ketika kita berpikir tentang alam raya, maka, kita membuat abstraksi dari alam raya itu. Abstraksi dari dunia luar ini adalah esensi.

Ketika kita melihat meja berbentuk persegi, maka, bentuk persegi itu adalah esensi dari meja. Esensi tidak sama dengan realitas meja. Sedangkan, ketika kita berpikir bahwa meja itu “ada” di depan kita, maka, status “ada” ini adalah eksistensi abstraksi meja. Eksistensi tidak sama dengan realitas meja. Esensi meja bermacam-macam: bentuk persegi, terbuat dari kayu, bobot 5 kg, tinggi 70 cm, dan lain-lain. Sementara, eksistensi dari meja hanya satu: ada meja.

Realitas meja, oleh Suhrawardi dilambangkan sebagai cahaya-realitas-meja. Sadra (1465 – 1540) menyebut realitas meja dengan wujud-realitas-meja. Rumitnya, istilah “wujud” ini bisa bermakna ganda: wujud-realitas atau wujud-abstrak. Ketika wujud kita terjemahkan menjadi eksistensi, maka, tetap bisa bermakna ganda: eksistensi-realitas atau eksistensi-abstrak. Kita perlu cermat membedakan keduanya.

Heidegger (1889 – 1976) mengantisipasi kesulitan di atas dengan mengenalkan istilah “dasein” atau “being-there” untuk maksud cahaya realitas. Dasein berbeda dengan “sein” atau “being”. Karena sein masih bisa bermakna ganda: realitas atau abstraksi.

Dengan berbekal dasein, Heidegger meruntuhkan bangunan filsafat Barat yang dibangun sejak Plato – proyek destruksi metafisika. Heidegger menuduh filsafat hanya mengaku membahas “Being” tapi ternyata yang dibahas adalah “being”. Selalu ada “ontological difference” antara Being dan being.

Derrida, murid dari Heidegger, memperhalus proyek destruksi metafisika menjadi dekonstruksi metafisika. Derrida berhasil me-dekonstruksi metafisika. Tetapi, tidak ada yang berhasil menjembatani dasein (Being) dengan sein (being): “ontological difference.” Termasuk Derrida juga. Suhrawardi, sudah mencoba, membangun jembatan itu 8 abad lebih awal. Akankah Suhrawardi berhasil?

Dalam tulisan ini, kita akan lebih sering menggunakan istilah cahaya untuk melambangkan realitas.

5.3.3 Etika Sang Pencari

Kabar baiknya, semua orang bisa mengenali kebenaran esensi. Kabar berbeda, tidak semua orang mampu mengenali kebenaran realitas.

Untuk mengenali kebenaran esensi, seseorang hanya perlu belajar berpikir dengan logika yang benar. Sementara, untuk mengenali kebenaran realitas (cahaya) tidak cukup hanya menggunakan pikiran semata. Perlu usaha lebih besar, lebih dari sekedar berpikir semata, untuk kita agar bisa mengenali realitas kebenaran.

M : “Persegi yang panjang sisinya = 3 satuan maka luasnya = 3 x 3 = 9 satuan.”

Setiap orang yang belajar logika (matematika) akan mampu berhasil mengenali kebenaran pernyataan esensial M di atas. Orang yang belum mampu memahami, barangkali bisa belajar beberapa kali, kemudian, dia berhasil memahami kebenaran M.

V: “Investasi binary option adalah merugikan.”

Tidak mudah mengenali kebenaran V di atas. Apakah kita akan menilai V secara esensial? Esensi dari sudut mana? Ataukah kita akan menilainya secara realitas di alam raya? Siapa yang menilainya?

Secara esensi, V bernilai benar bahwa binary option adalah merugikan bagi mereka yang kalah. Sementara, bagi yang menang, binary option adalah menguntungkan, V bernilai salah. Secara total bagaimana? Zero sum game. Secara total adalah zero = nol. Jika ada yang menang 10 juta, maka, pasti ada yang kalah 10 juta juga. Tetapi, karena untuk menjalankan binary option perlu biaya operasional, biaya karyawan, dan lain-lain maka secara total jadi merugikan.

Secara realitas, kita perlu mengkaji lebih jauh lagi. Karena binary option ada di alam raya, maka, kita perlu mengkajinya dengan mempertimbangkan realitas alam raya. Lalu kita, sebagai pengkaji, apakah ada sikap awal pro-kontra terhadap binary option?

Etika sang pengkaji kebenaran, sang pencari kebenaran, menjadi penting ketika hendak mengkaji realitas. Kita perlu hati-hati dengan resiko bias dalam penilaian.

Jika seseorang mendapat keuntungan besar dari sistem binary option maka dia akan cenderung menyimpulkan bahwa binary option adalah menguntungkan. Meski zero sum game, bahkan ada biaya operasional, tetapi dampak binary option menjadikan perusahaan-perusahaan lebih cepat berkembang. Perusahaan pemula, start up, terpacu untuk melaju sukses. Penciptaan lapangan kerja makin luas. Pada gilirannya, binary option memajukan kesejahteraan manusia secara luas.

Ditambah lagi, gairah para pemain ketika memainkan binary option. Bikin hidup lebih hidup! Ketika menang, mereka gembira penuh gairah semangat. Ketika kalah, mereka mencari peluang menang pada kesempatan berikutnya. Tetap ada harapan besar untuk menang. Selalu ada harapan, gairah, dan semangat dalam alam raya ini.

Jika, di sisi lain, seseorang mengalami kerugian dari binary option maka dia akan menyimpulkan bahwa binary option adalah merugikan. Jelas, binary option merugikan pihak yang kalah. Ada yang rugi sampai 10 milyard rupiah. Bahkan, kabarnya, ada yang rugi sampai menembus 1 trilyun rupiah.

Kerugian besar seperti itu mengakibatkan beberapa orang mati mendadak akibat serangan jantung. Bahkan, ketika menang besar pun, bisa mati akibat serangan jantung mendadak. Ditambah lagi, ada beberapa kasus penipuan di sekitar binary option. Jadi, binary option benar-benar merugikan.

Adakah pengamat yang netral terhadap realitas? Yang benar adalah benar. Dan, yang salah adalah salah. Pengamat tanpa bias.

Pertama, pengamat esensial. Pengamat yang fokus kepada sisi esensi maka bisa menyatakan kebenaran obyektif tidak terpengaruh oleh subyek pengamat. Seperti kita bahas di atas, pengamatan ini hanya menyentuh esensi. Kita memerlukan pengamatan realitas.

Kedua, pengamat hukum positif. Di Indonesia, misalnya, kasus binary option tidak ada payung hukum. Maka binary option adalah ilegal, merugikan. Apalagi ada kasus penipuan. Sementara, di US misalnya, ada payung hukum untuk binary option. Sehingga binary option adalah legal, dan menguntungkan.

Dengan pertimbangan di atas, kebenaran hukum positif adalah kebenaran esensial – bukan kebenaran realitas.

Ketiga, pengamat beretika luhur. Pengamat yang menjunjung tinggi etika, mereka, berpotensi mampu mengenali kebenaran realitas. Pengamat yang bersih dari bias. Meski banyak kesulitan, mereka mampu menjalani proses logika visi-iluminasi.

5.3.3.1 Etika hidup sederhana

Hidup sederhana menjadi syarat dasar. Hanya orang yang mampu hidup sederhana, mereka, yang akan mampu mengenali kebenaran realitas. Meski pun, tidak semua orang yang sederhana akan mampu mengenali realitas.

Sederhana dalam hidup sehari-hari. Makan dan minum sekedarnya saja. Bahkan, makan hanya sedikit saja. Porsi makan di bawah kewajaran umum. Mereka rajin puasa. Puasa sejati untuk jiwa raga.

Sederhana dalam akumulasi kekayaan. Orang sederhana terbebas dari godaan kekayaan. Sehingga, dia bisa menilai realitas dengan adil dan benar. Sementara, orang yang mengumpulkan kekayaan beresiko bias dalam menilai realitas: ingin menambah kekayaan atau menghindari kerugiaan kekayaan.

Sederhana dalam jabatan politik. Kepentingan politik tentu bisa mengganggu kejujuran suatu penilaian realitas. Orang yang sederhana tidak tergoda dengan jabatan politik. Dia terlepas dari kepentingan politik sehingga mampu menilai realitas dengan tegas dan jelas.

Orang yang hidup sederhana bukannya tidak mampu bersaing politik, bukannya tidak mampu mengumpulkan kekayaan, bukannya tidak mampu berfoya-foya. Mereka mampu melakukan itu semua. Hanya saja, dengan penuh kesadaran, mereka memilih jalan hidup sederhana. Dengan hidup sederhana, mereka mampu menilai realitas tanpa bias, menilai realitas dengan jelas.

5.3.3.2 Etika logika profesional

Etika profesional menuntut kita mampu menguasai disiplin logika secara lengkap. Bukan karena logika klasik ada kelemahan, lalu, orang-orang boleh tidak menguasai logika klasik. Kita perlu menguasai logika klasik secara profesional karena logika klasik adalah pengantar untuk logika yang lebih tinggi. Pada gilirannya, kita tetap memanfaatkan logika klasik untuk berbagai keperluan.

5.3.3.3 Etika berpikir terbuka simbolis

Berpikir simbolis menjadi penting pada analisis akhir. Berpikir simbolis mengarah ke dua kutub. Pertama, kutub pasti, di mana, simbol-simbol menjadi bernilai pasti. Dalam matematika, kita menggunakan simbol angka yang bernilai pasti. Boole memanfaatkan simbol-simbol biner digital. Dan, Frege mengembangkan simbol “skrip konsep” yang diterapkan secara luas.

Versi kutub pasti ini, memandang simbol adalah yang paling utama. Kita menerapkan logika terhadap simbol-simbol. Tidak ada perbedaan pandangan terhadap logika simbol. Perbedaan muncul ketika kita membuat interpretasi terhadap simbol. Bagaimana pun, perbedaan itu sekedar interpretasi. Sementara, simbol sendiri tidak ada perbedaan.

Kedua, kutub kreatif, di mana, simbol mampu menghasilkan pemikiran-pemikiran kreatif. Ada dua peran utama dari simbol pada kutub kreatif ini: simbol dari suatu realitas dan simbol pemicu realitas.

Cahaya realitas tidak bisa dirumuskan dan dibatasi dengan kata-kata. Realitas kebenaran lebih kuat dari semua kata-kata. Maka, cahaya realitas diungkapkan dalam bentuk simbol kata-kata. Sekali lagi, kata-kata berbeda dengan realitas. Kata-kata adalah simbol dari realitas.

Kata-kata simbolis ini penting untuk komunikasi kreatif.

Ketika kita menerima kata-kata simbolis maka simbol-simbol itu akan memicu realitas. Diri kita, jiwa kita, menciptakan realitas pengetahuan secara kreatif berdasar kata-kata simbolis.

Dengan kata lain, “kutub pasti” memandang simbol sebagai esensi. Sedangkan, “kutub kreatif” memandang simbol sebagai esensi untuk kemudian menghadirkan realitas. Dengan demikian, kita perlu berpikir terbuka simbolis.

5.3.4 Proses Visi-Iluminasi

Visi ada pada kemampuan subyek. Pertama, kita, manusia memiliki kemampuan untuk melihat. Kemampuan ini kita sebut sebagai visi. Tanpa kemampuan visi ini maka tidak akan terjadi penciptaan pengetahuan baru. Hanya dengan kemampuan visi, subyek akan mampu melihat obyek.

Iluminasi ada pada obyek. Kedua, obyek mampu memancarkan cahaya. Sehingga, cahaya obyek ini bisa dilihat oleh subyek. Obyek memancarkan cahaya bisa dari diri obyek itu sendiri atau dari sumber cahaya lain – misal dengan memantulkan cahaya atau dengan meneruskan cahaya.

Penciptaan pengetahuan terjadi langsung nir-waktu, nir-ruang. Ketiga, subyek yang ber-visi melihat obyek yang ber-iluminasi. Terciptalah pengetahuan baru oleh subyek tentang obyek. Tetapi, baik subyek mau pun obyek, keduanya, adalah cahaya. Penyatuan kedua cahaya ini membentuk cahaya baru yang lebih kuat. Cahaya subyek bersatu dengan cahaya obyek menjadi realitas cahaya baru. Subyek identik dengan obyek. Subyek mengetahui obyek dengan mengetahui dirinya sendiri.

Pengetahuan yang tercipta adalah pengetahuan langsung, knowledge by presence, ilmu huduri, cahaya-realitas. Atau, singkatnya kita sebut sebagai huduri.

Huduri bersifat sederhana, tunggal, dan pasti. Sehingga, huduri selalu bernilai benar. Tidak ada penyataan proposisional antara subyek dan predikat. Atau, tidak ada relasi antara subyek dan obyek. Akibatnya, huduri tidak mungkin salah. Hanya ada kemungkinan, huduri ada atau tiada. Ketika subyek berhasil menciptakan ilmu huduri maka tercipta huduri yang bernilai benar. Tetapi, jika subyek tidak berhasil menciptakan ilmu huduri maka tidak ada ilmu huduri sama sekali pada subyek bersangkutan di momen itu.

5.3.4.1 Pengetahuan Materi

Mari kita coba menerapkan logika visi-iluminasi untuk pengetahuan di dunia materi.

Pertama, subyek adalah kita, manusia, yang memiliki visi – kemampuan melihat dengan mata sehat. Kedua, obyek adalah meja yang ada di depan kita yang beriluminasi – memancarkan cahaya. Ketiga, penciptaan pengetahuan langsung (P): kita melihat meja.

Persyaratan untuk bisa tercipta pengetahuan P adalah subyek harus sehat. Obyek harus memancarkan cahaya untuk dilihat oleh subyek. Jika ada penghalang antara subyek dan obyek maka pengetahuan P tidak akan terbentuk. Barangkali, subyek justru melihat penghalang tersebut sehingga justru tercipta pengetahuan tentang penghalang.

Pengetahuan di dunia materi ini, meski bisa menggambarkan pengetahuan visi-iluminasi, tetapi, tidak terjadi kesatuan subyek dan obyek. Sehingga, pengetahuan materi bisa salah. Pengetahuan materi bersifat kontingen. Mungkin saja ada penghalang. Selanjutnya, di antara subyek dan penghalang itu, bisa ada penghalang baru dan begitu seterusnya tanpa henti. Karakter dari penghalang bisa saja transparan, hanya membelokkan cahaya, pembiasan cahaya.

Bagaimana pun, status pengetahuan materi tetap sah, sejauh kita meyakininya secara kontingen. Dengan demikian, pengetahuan ini menjadi wacana yang terus-menerus bisa direvisi untuk lebih sempurna.

Persayaratan lebih fundamental untuk tercipta pengetahuan (P: kita melihat meja) adalah adanya realitas sejati subyek dan obyek. Subyek sejati bukanlah mata yang sehat dan terhubung dengan sistem syaraf yang sehat. Subyek sejati adalah cahaya-jiwa-manusia yang mampu melihat karena terhubung dengan Cahaya-dari-Cahaya.

Begitu juga obyek sejati, bukanlah meja yang tersusun oleh kayu lengkap dengan struktur atomnya. Obyek sejati adalah cahaya-realitas-meja yang mampu memancarkan cahaya bersumber dari Cahaya-dari-Cahaya.

5.3.4.2 Pengetahuan Cahaya

Pada analisis akhir, setiap pengetahuan adalah pengetahuan tentang realitas-cahaya. Pada tahap ini, pengetahuan-cahaya selalu bernilai benar.

Subyek adalah realitas jiwa manusia yang merupakan cahaya bersumber dari Cahaya-dari-Cahaya. Subyek realitas jiwa ini memiliki kemampuan visi. Sedangkan, obyek adalah realitas cahaya-yang-lebih tinggi yang ber-iluminasi, bersumber dari Cahaya-dari-Cahaya. Subyek dan obyek bersatu menjadi satu kesatuan membentuk cahaya baru yang lebih kuat. Cahaya baru ini, hakikatnya, adalah subyek dengan derajat yang lebih tinggi. Maka selanjutnya akan terjadi proses visi-iluminasi tanpa henti.

Barangkali, kita bisa membayangkan proses siklis seperti jam yang terdiri dari 3 angka. Setelah angka 3 maka kembali ke angka 1. Dengan demikian, proses logika visi-iluminasi Suhrawardi terus bergulir.

(1) Visi – kemampuan melihat oleh subyek
(2) Iluminasi – kemampuan bersinar pada obyek
(3) Huduri – penciptaan pengetahuan dengan kesatuan subyek dan obyek; tetapi, huduri adalah subyek dengan derajat baru sehingga kembali ke visi (1) – iluminasi (2) dan seterusnya.

5.3.4.3 Benar Vs Salah

Berulang-ulang, kita sebutkan bahwa pengetahuan huduri bernilai selalu benar. Pertanyaan muncul: dari mana bisa muncul kesalahan atau, setidaknya, kontingensi?

“Salah mutlak” memang tidak ada. Karena yang mutlak ada hanya realitas-cahaya yang selalu benar. “Salah relatif” bisa saja terjadi karena tercipta struktur yang tidak adil atau struktur yang tidak apik akibat ulah subyek manusia.

Struktur Adil

Realitas-cahaya dalam dirinya sendiri selalu adil maka selalu benar. Realitas cahaya-jiwa-manusia juga selalu adil dalam dirinya sendiri. Tetapi, karena jiwa manusia memiliki kemampuan aktif dan mampu membentuk beragam struktur, maka, ada peluang muncul struktur yang tidak adil. Akibatnya, muncul peluang hadirnya kesalahan relatif.

Manusia selama berkomitmen di jalan yang adil maka dia tetap terjaga di jalan yang benar. Sementara, bagi mereka yang mengumbar nafsu serakah terjerumus dalam struktur tidak adil yang diciptakannya sendiri. Orang lain bisa menolong temannya yang terjerumus. Tetapi, peran utama tetap ada pada diri masing-masing untuk kembali ke struktur yang adil.

Struktur Apik

Struktur apik adalah struktur yang lebih baik dari struktur adil. Sikap dermawan dengan membantu orang yang lemah adalah contoh menciptakan realitas struktur apik. Seseorang yang mengorbankan harta miliknya demi kebaikan orang lain adalah sikap yang apik. Bagaimana pun, struktur apik mensyaratkan struktur yang adil.

Karakter dari cahaya jiwa manusia adalah bersinar menebarkan kebaikan. Sehingga wajar, bila banyak orang ingin berbuat baik. Memang itu karakter cahaya jiwa manusia. Apalagi, Cahaya-dari-Cahaya adalah sumber dari segala pancaran kebaikan.

Struktur Tidak Adil

Sumber beragam masalah dan kesalahan adalah struktur yang tidak adil. Tugas kita, sebagai manusia yang berjiwa cahaya, adalah mengenali struktur yang tidak adil, untuk kemudian, membenahinya menjadi adil. Karena realitas alam raya adalah kompleks maka tugas ini adalah tugas yang sama kompleksnya.

5.3.5 Tantangan Demokrasi

Kita mudah melihat bahwa logika visi-iluminasi, bisa dicurigai, bertentangan dengan demokrasi. Karena logika visi-iluminasi menghasilkan pengetahuan huduri yang bersifat selalu benar, maka, memunculkan sikap apriori, otoriter, dan bahkan fasis. Tentu, kecurigaan seperti itu tidak tepat, serta salah sasaran.

5.4 Kritik Suhrawardi

Kita akan mencermati kritik Suhrawardi terhadap logika filsafat klasik (Aristoteles) dengan tokoh besarnya Ibnu Sina. Kita juga perlu mempertimbangkan kritik Ghazali terhadap tema filsafat yang sama. Kemudian, di bagian ini, kita mengkaji kritik-kritik oleh generasi pasca-Suhrawardi terhadap logika visi-iluminasi itu sendiri. Dan yang paling menarik, masih di bagian ini, kita memperluas kritik filsafat (post)modern, abad 20 dan 21, terhadap logika visi-iluminasi.

5.4.1 Kritik Metafisika Ghazali

Al Ghazali (1058 – 1111) telah melancarkan kritik keras terhadap filsafat (dan logika) klasik, kira-kira satu abad lebih awal dari Suhrawardi. Serangan Ghazali ini mengarah kepada Ibnu Sina (tokoh Peripatetik Muslim) sampai ke Aristoteles.

Kritik Ghazali, singkatnya, dengan menggunakan logika klasik yang sama seperti para filosof, kita bisa meruntuhkan semua bangunan metafisika sistem filsafat. Semua teori filsafat, terbukti, tidak konsisten. Karena itu, kita perlu menolak semua teori filsafat – termasuk logika klasik. Meski Ibnu Rusyd (1126 – 1198) menyerang balik Ghazali dan membela logika klasik Ibnu Sina, tampaknya, serangan Ghazali tetap berdampak lebih signifikan.

Setelah bangunan filsafat klasik runtuh, tentu saja, Ghazali memberi jalan keluar. Sayangnya, solusi Ghazali ini bukan solusi filosofis. Ghazali menunjukkan jalan kebenaran yang lebih valid adalah jalan sufi – mistisisme Islam. Sementara, filsafat dibiarkan begitu saja tersisa puing-puing belaka.

Dalam kaca mata modern, kritik Ghazali ini mirip dengan proyek “destruksi metafisika” oleh Heidegger (1889 – 1976). Setelah Heidegger berhasil meruntuhkan metafisika, dia tidak berhasil membangun sistem baru yang sebanding. Meski pun, Heidegger mengembangkan ontologi-dasein, tampaknya, hal ini tidak setara dengan sistem metafisika.

Derrida (1930 – 2004), murid Heidegger, mengganti proyek destruksi menjadi “dekonstruksi-metafisika”. Menurut Derrida, proyek destruksi terlalu sulit karena ada tanggung jawab untuk membangun sistem yang baru setelah runtuhnya metafisika. Sementara, proyek dekonstruksi lebih ringan. Kita hanya perlu menemukan lubang-lubang dan cacat-cacat dari suatu sistem pemikiran, untuk kemudian, dikritik sampai hancur. Sedangkan konstruksi utama tetap dibiarkan seperti sedia kala.

Kritik keras Suhrawardi terhadap logika klasik (Aristetoles – Peripatetik), menurut saya, lebih mirip dengan proyek dekonstruksi dari pada destruksi.

5.4.2 Logika Peripatetik

Syihabuddin Suhrawardi (1154 – 1191) memberikan kritik tajam kepada logika Peripatetik. Dalam maha karyanya, Filsafat Iluminasi, Suhrawardi membagi dua bagian utama. Bagian pertama, membahas logika. Suhrawardi menunjukkan kelemahan fundamental dari logika klasik dari sisi “definisi-esensial” dan silogisme.

Definisi-esensial tidak pernah berhasil meraih pengetahuan baru. Sedangkan, semua bentuk silogisme bisa diubah menjadi bentuk silogisme niscaya, pasti. Tetapi, hasil dari silogisme tidak pernah bersifat niscaya. Dengan demikian, logika klasik runtuh di bagian fundamentalnya. Suhrawardi mengusulkan solusinya di bagian kedua.

Bagian kedua, Suhrawardi menjelaskan dengan detil ontologi-cahaya. Melalui logika visi-iluminasi, kita berhasil meraih pengetahuan baru yang bersifat niscaya benar. Untuk kemudian, kita bisa menyusun silogisme secara valid.

Benarkah, dengan logika visi-iluminasi, Suhrawardi berhasil menyusun ulang sistem logika yang solid?

5.4.3 Mir Damad dan Sadra

Generasi pasca-Suhrawardi memberikan beragam komentar dan kritik terhadap karya Suhrawardi. Secara umum, dari Shahrazuri (1288) sampai Mir Damad (1561 – 1631), kritik bersifat konstruktif. Shahrazuri memberikan berbagai macam penjelasan lebih detil tentang “definisi” versi logika visi-iluminasi. Mir Damad memberikan penjelasan bagaimana antara yang “tunggal” bisa meliputi yang “jamak” penuh keragaman.

Mulla Sadra (1571 – 1635) muda sepakat dengan gurunya, Mir Damad, sepenuhnya sejalan dengan Suhrawardi. Pada masa dewasa, Sadra berbeda pandangan secara filosofis dengan Suhrawardi. Bagi Sadra, eksistensi lebih utama dari esensi. Sementara bagi Suhrawardi, esensi lebih utama dari eksistensi. Meski demikian, dalam sistem logika, Sadra selaras dengan logika Suhrawardi.

Sadra menambahkan konsep ambiguitas-eksistensi atau tasykik-wujud. Sebagai realitas fundamental, wujud adalah tunggal dan, sekaligus, beragam. Identitas wujud adalah keragaman dan keragaman wujud adalah identik.

Inovasi lanjutan dari Sadra adalah gerak-substansial, harakah jauhariah. Di mana gerak, atau proses perubahan, terjadi pada sisi substansi bukan hanya pada aspek aksidental belaka. Bahkan gerak-aksidental, pada analisis akhir, adalah dampak dari gerak-substansial. Dengan konsep yang canggih dari Sadra ini, maka, logika visi-iluminasi makin kokoh penuh dinamika.

Sangat disayangkan, sistem filsafat yang canggih dari Suhrawardi dan Sadra ini hanya sedikit dikaji di Barat. Sehingga, kita belum bisa melihat dengan tegas bagaimana respon cendekiawan Barat. Di bagian berikut ini, saya akan mencoba menerapkan kritik pemikir Barat kepada sistem filsafat dan logika Suhrawardi, tentu, secara tidak langsung.

5.4.4 Kritik Karl Popper

Karl Popper (1902 – 1994) adalah filosof sains paling disegani di masanya – atau sepanjang masa. Popper menolak pendekatan “verifikasi” untuk sains dan menggantinya dengan “falsifikasi”. Ribuan atau jutaan verifikasi tidak pernah bisa menjamin validitas suatu teori sains. Sebaliknya, satu bukti negatif atau penyangkalan, sudah berhasil menggugurkan suatu teori sains – itulah falsifikasi.

Popper meluaskan kajian filosofisnya dari sains alam ke sains sosial dengan karyanya “Open Society”. Di sinilah kritik filosofis dari Popper berdampak sangat luas. Secara terang-terangan, Popper menyerang tiga tokoh besar dunia: Plato, Hegel, dan Marx. Sebuah serangan yang benar-benar membalikkan konsep filosofis mereka. Kritik terhadap Plato dan Hegel relevan dengan pembahasan kita yaitu kritik kepada Suhrawardi.

Yang mengherankan dari Popper adalah, meski analisis filosofisnya begitu tajam, tetapi hanya sedikit orang yang menyetujui atau melanjutkan pemikiran Popper. George Soros (lahir 1930), investor kelas dunia, adalah salah satu dari sedikit orang yang mendukung Popper. Soros mendirikan Open Society Foundation untuk menyebarkan pemikiran-pemikiran Popper, khususnya, untuk mengembangkan masyarakat tebuka yang adil dan makmur.

5.4.5 Idealisme Plato

Ziai (1943 – 2011) menyebut Suhrawardi berhasil membangkitkan idealisme Plato melebihi filsafat Aristoteles. Suhrawardi sendiri menyebut bahwa filsafat iluminasi sejalan dengan filsafat Plato. Dengan demikian, kritik Popper kepada idealisme Plato bisa kita sejajarkan sebagai kritik kepada filsafat Suhrawardi.

Popper mengkritik keras tatanan sosial ideal yang dikembangkan Plato. Menurut Popper, pandangan Plato melestarikan kesenjangan sosial. Hanya orang-orang dari latar belakang keturunan yang baik yang berhak menduduki suatu jabatan. Plato tidak demokratis. Pemimpin ideal adalah philosopher-king (raja-filosof) yang serba tahu akan segala sesuatu.

Karena raja-filosof adalah yang paling berkuasa, dan di saat yang sama, orang yang paling paham segala hal maka dia memimpin secara otoriter. Lagi-lagi, Plato tidak demokratis. Plato adalah musuh dari masyarakat terbuka.

Apakah Suhrawardi juga musuh dari masyarakat terbuka, open society?

Pertama, Suhrawardi menyatakan bahwa setiap orang memiliki kemampuan untuk visi, melihat kebenaran sejati. Meski, masing-masing orang kemampuan visi bisa saja berbeda-beda dipengaruhi oleh beragam kondisi.

Kedua, Suhrawardi memang membahas politik kekuasaan secara singkat di mukadimah Filsafat Iluminasi. Alam raya ini, menurut Suhrawardi, tidak pernah hampa dari ahli hikmah, filosof bijak. Dan, ahli hikmah berkuasa terhadap alam raya. Baik berkuasa secara politik atau non-politik. Dengan demikian, Suhrawardi tidak mensyaratkan ahli hikmah untuk menjadi raja atau penguasa.

Tetapi, catatan sejarah sungguh memilukan. Suhrawardi syahid melalui eksekusi di usia muda, sekitar 36 tahun, atas perintah sultan Saladin Al Ayubi. Penyebab perintah eksekusi ini masih menjadi misteri sampai saat ini. Saladin yang begitu besar kekuasaannya di dunia, termasuk penakluk perang salib, tidak sepantasnya menyibukkan diri terhadap seorang pemuda cerdas yang tinggal di kota kecil Allepo. Dugaan sementara mengarah bahwa Saladin tidak suka dengan philosopher-king dan Saladin menyangka bahwa Suhrawardi akan mempengaruhi Malik Zahir, gubernur Allepo, putra Saladin, untuk menjadi philosopher-king. Seperti kita sebut di atas, Suhrawardi tidak mengajarkan menjadi philosopher-king. Suhrawardi mengajak kita untuk menjadi ahli hikmah.

Kembali kepada Popper, apakah Suhrawardi adalah musuh dari open-society? Tidak. Suhrawardi bukan musuh. Suhrawardi justru membuka peluang bagi seluruh warga untuk menyempurnakan diri melalui visi-iluminasi.

Tetapi, apakah Plato memang musuh dari open-society? Tidak. Para pendukung Plato menolak tuduhan Popper. Philosopher-king tidak ada keharusan menjadi otoriter atau diktator. Justru, philosopher-king mensyaratkan sikap bijak bagi setiap raja.

5.4.6 Historisisme Hegel

Serangan tajam berikutnya, dari Popper, mengarah kepada Hegel. Bahkan, serangan ini bisa jadi serangan terbesar terhadap Hegel. Popper menuliskan sekitar 70 halaman khusus untuk mengkritisi Hegel. Sementara, kritik Popper kepada Marx tampak tidak terlalu keras.

Iqbal (1877 – 1938) menyatakan bahwa filsafat Hegel selaras dengan filsafat Suhrawardi. Maka, kritik kepada Hegel ini akan kita gunakan untuk kritik kepada Suhrawardi.

Menurut Popper, konsep dialektika Hegel mengarah kepada keniscayaan mutlak terhadap sejarah. Peradaban manusia akan berkembang secara pasti mengikuti pola tertentu. Pandangan seperti ini adalah historisisme. Popper menolak historisisme seperti itu. Historisisme adalah mustahil, menurut Popper.

Perkembangan sejarah manusia ditentukan, dipengaruhi, oleh perkembangan pengetahuan. Sementara, perkembangan pengetahuan sering terjadi lompatan-lompatan inovasi yang tidak linear. Kita tidak bisa memprediksi arah perkembangan pengetahuan – dan teknologi. Akibatnya, kita juga tidak bisa memprediksi arahnya sejarah. Jadi, historisisme adalah mustahil.

Bukan hanya historisisme itu mustahil, tetapi, dampak keyakinan terhadap historisisme adalah terbentuknya kekuatan totalitar, bahkan fasis. Perang Dunia I dan Dunia II merupakan efek mengerikan dari historisisme.

“Apakah logika visi-iluminasi Suhrawardi juga meyakini historisisme?”

Tidak. Logika visi-iluminasi tidak mengajarkan historisisme. Jadi, Suhrawardi aman dari kritik Popper dalam kasus ini. Suhrawardi menyadari ada kecenderungan umat manusia terjatuh dalam perangkap nafsu serakah. Suhrawardi mengajak umat manusia untuk “membersihkan” jiwa dengan visi iluminasi agar peradaban manusia terus berkembang. Bagaimana pun, usaha ini tidak terjamin untuk selalu berhasil. Sehingga, tidak ada aspek historisisme dalam ajaran Suhrawardi.

“Tetapi, apakah benar Hegel meyakini historisisme?”

Tidak juga. Popper, tampaknya, menafsirkan beberapa tulisan Hegel sebagai historisisme. Dan analisis lebih mendalam menunjukkan bahwa Hegel tidak meyakini historisisme. Lagi, kritik Popper salah sasaran dalam kasus ini. Bagaimana pun, kritik Popper terhadap historisisme dan totalitarianisme tetap sah secara substansi. Sehingga, kita perlu tetap waspada terhadap beragam resiko yang mungkin terjadi.

5.4.7 Ontologi Heidegger

Berikutnya, kita akan mempertimbangkan kritik Heidegger berupa destruksi metafisika. Heidegger meng-kritik filsafat Barat sejak Plato sampai Nietzsche terjebak dalam metafisika. Mereka, para filosof, mengaku membahas “being” tetapi malah melupakan “being.” Heidegger berniat menghancurkan metafisika dan menggantinya dengan ontologi, “Apa makna dari being?”

“Apakah logika visi-iluminasi juga melupakan ‘being’ seperti kritik Heidegger?”

Tidak. Visi-iluminasi tidak melupakan “being.” Visi-iluminasi justru mengajak kita untuk menemukan “being” yang otentik. Setiap saat, kita berhadapan dengan “being.” Tetapi, tidak ada kepastian bahwa kita dalam mode otentik. Visi-iluminasi menyediakan cara bagi kita untuk menjadi otentik.

5.4.8 Different Deleuze

Deleuze (1920 – 1995) memberi kritik keras kepada prioritas konsep-identitas. Deleuze membalik, dengan menyatakan, bahwa different adalah yang paling prioritas. Sementara, identitas terbentuk karena ada different.

Apakah visi-iluminasi tahan terhadap kritik diffferent dari Deleuze?

Positif. Visi-iluminasi aman dari kritik different. Di satu sisi, visi-iluminasi mengakui bahwa masing-masing manusia adalah unik dan berbeda. Di sisi lain, ungkapan teori visi-iluminasi dalam bentuk bahasa simbolis. Sehingga, membuka keragaman interpretasi makna.

5.4.9 Kritik Transendetal Searle

Searle (1932 – ) memberi kritik keras kepada banyak pemikir sebagai transendental. Termasuk, Heidegger adalah transendental. Heidegger menolak Searle. Heidegger menyatakan bahwa filsafatnya tidak transendental. Justru, proyek Heidegger adalah untuk meruntuhkan metafika transendental.

Bagaimana pun, Heidegger mengakui ada aspek transendental di alam raya ini. Dunia adalah transenden terhadap dasein (manusia ontologis). Demikian juga, dasein transenden terhadap dunia. Meski, dasein selalu berada dalam dunia, tetapi, dasein tidak bisa direduksi menjadi dunia mau pun sebaliknya.

Searle menawarkan solusi. Jika menolak untuk menjadi transenden maka Heidegger sebaiknya memilih filsafat yang berbasis empirisme atau sains.

Apakah visi-iluminasi aman dari kritik sebagai transenden dari Searle?

Sulit. Visi-iluminasi, tampaknya, sulit terhindar dari kritik transenden versi Searle ini. Visi-iluminasi mengakui realitas sains empiris. Tetapi, realitas otentik tidak terbatas hanya sains empiris. Visi-iluminasi sepakat dengan Heidegger, menolak dikategorikan sebagai transendental. Di saat yang sama, melangkah lebih jauh dari sekedar sains empiris.

5.5 Ringkasan Visi-Iluminasi

Setelah membahas panjang lebar tentang logika visi-iluminasi, mari kita ringkaskan poin-poin pentingnya terhadap logika.

Dinamika logika berlangsung setiap saat. Logika hanya bisa bernilai pasti-statis bila membatasi diri dalam aspek esensial. Sementara, dalam realita – fisik atau spiritual – logika senantiasa bergerak maju.

A. Pengetahuan Alam Raya

Alam raya adalah barza yang merupakan pertemuan dari cahaya dan void-gelap. Karena cahaya realitas selalu dinamis maka alam raya juga dinamis. Pengetahuan sains menjadi sah karena obyek sains adalah cahaya-realitas yang memancar (iluminasi). Kemudian, subyek pengamat mengkaji dengan kemampuan visi sehingga tercipta sains visi-iluminasi.

A.1 Sains alam dan sosial selalu dinamis

Visi-iluminasi menjamin bahwa realitas alam raya selalu dinamis. Sehingga, sains alam dan sosial juga perlu untuk bersifat dinamis. Sains perlu untuk selalu melakukan revisi agar menjadi sains yang lebih progresif. Khususnya sains sosial menjadi sangat dinamis karena manusia sebagai subyek, sekaligus, menjadi obyek. Dan, manusia adalah cahaya-realitas yang intensitasnya sangat kuat.

A.2 Matematika eksak esensial

Bagaimana pun, kita bisa membuat sains statis eksak dengan asumsi fokus terhadap pengetahuan esensi ideal semisal matematika. Konsep matematika menjadi statis karena kita “memaksa” konsep tidak berubah seiring ruang dan waktu. Sehingga, matematika sah secara ideal.

A.3 Kombinasi lanjutan sampai dunia digital

Yang menarik adalah pengetahuan matematika yang ideal bisa berkembang menjadi teknologi digital yang bersifat real. Dengan demikian, dunia digital memiliki sifat ideal dan dinamika. Dibanding alam real, dunia digital lebih ideal sesuai konsep esensial. Pada gilirannya, rekayasa digital justru yang mengarahkan perkembangan ilmu pengetahuan umat manusia.

B. Pengetahuan Realitas Sejati

Pengetahuan umat manusia perlu bergerak menuju pengetahuan realitas sejati. Realitas alam adalah barza yang merupakan pertemuan cahaya dan void. Bila tidak hati-hati, cahaya bisa terjebak dalam void. Pengetahuan manusia bisa otentik, dan, bisa juga tidak otentik. Tetapi, dengan disiplin, cahaya diri umat manusia memanfaatkan barza sebagai sarana untuk bergerak lebih sempurna.

B.1 Huduri

Secara prinsip, semua pengetahuan manusia adalah pengetahuan huduri yaitu bersatunya visi dan iluminasi menjadi realitas-cahaya dengan intensitas lebih kuat. Untuk itu, kita perlu mengkaji pengetahun sehari-hari lebih mendalam sehingga tercipta pengetahuan dengan kualitas sains. Selanjutnya, pengetahuan-pengetahuan tersebut perlu berkembang menjadi pengetahuan otentik dengan etika tinggi.

B.2 Dinamika Menyempurna

Pengetahuan huduri adalah realitas-cahaya. Sebagaimana gelombang cahaya yang bersifat dinamis, pengetahuan huduri juga dinamis. Pengetahuan saat ini ditarik oleh cahaya pengetahuan yang lebih kuat agar terangkat. Di saat yang sama, pengetahuan memiliki karakter untuk melompat lebih sempurna.

B.3 Demokrasi Huduri

Kabar baiknya, setiap manusia memiliki potensi untuk meraih ilmu huduri. Setiap manusia mampu meraih pengetahuan sains sampai pengetahuan otentik. Di saat yang sama, setiap manusia memiliki bakat yang beragam. Sehingga, huduri juga beragam. Dengan demikian tercipta demokrasi huduri. Demokrasi membutuhkan huduri untuk menjamin proses dan hasil demokrasi berkualitas tinggi.

6. Logika Kategori Eilenberg-Lane

Eilenberg (1913 – 1998) dan Lane (1909 – 2005) menyusun logika kategori dengan mengambil “inspirasi” teori fungsi di matematika. Meski pun logika kategori ini adalah logika tingkat tinggi, menyelidiki struktur abstrak dan sistem dari struktur, kita bisa membahas prinsip-prinsipnya dengan sederhana. Logika kategori lebih ketat dari logika relasional (mau pun proposional) karena hanya mengijinkan relasi khusus yaitu relasi fungsi (functor, morphism, mapping) dengan komposisi asosiasi. Di saat yang sama, logika kategori mencakup logika relasi dan seluruh logika yang ada. Banyak inovasi menarik berkat logika kategori. Saat ini, logika kategori menjadi trend sebagai kajian tingkat tinggi paling diminati. (Dalam tulisan ini, saya sering menggunakan istilah functor karena lebih mirip dengan fungsi. Functor bisa saling menggantikan dengan morphisme atau mapping)

6.1 Obyek dan Relasi

Apakah karir Anda akan jadi menteri, presiden, atau pengusaha? Teori categori menunjukkan struktur yang tepat untuk mendukung karir Anda. Mari kita coba dengan contoh.

Tempat Lahir = {Kudus, Lamongan, Magelang}
Universitas = {UA, UB, UC}
Karir = {Menteri, Presiden, Dewan, Bisnis}

Kita memiliki obyek-obyek dari kelas Tempat Lahir, Universitas, dan Karir. Kita bisa menambahkan kelas dan obyek lebih banyak lagi bila diperlukan. Dari obyek-obyek ini, kita bisa membuat relasi functor yang memenuhi sifat identitas, komposisi, dan asosiasi.

Kudus ==> UA ==> Dewan
Lamongan ==> UA ==> Dewan
Magelang ==> UC ==> Presiden

Obyek-obyek dan functor (dilambangkan panah) membentuk categori. Dari struktur categori di atas, sebagai contoh, kita bisa membaca: orang yang lahir di Kudus maka akan berkarir sebagai Dewan. Lebih dari itu, orang tersebut pasti kuliah di UA (Universitas Airlangga).

Demikian juga, orang yang lahir di Lamongan akan berkarir sebagai Dewan. Sedangkan, orang lahir di Magelang akan berkarir sebagai Presiden. Tentunya, dia kuliah di UC.

Struktur categori ini membangun logika kategori yang begitu kuat. Dengan struktur kategori, kita bisa membaca beragam cabang matematika yang obyeknya berbeda-beda membentuk struktur yang sama. Sehingga, cabang-cabang matematika itu membentuk logika kategori yang sama.

6.2 Ragam Struktur Kategori

Dari beragam struktur kategori yang berbeda, kita bisa melihat kemiripan-kemiripan dan batas-batasnya. Dengan demikian, kita bisa membuat “peta” lengkap dari matematika yang mencerminkan sistem logika masing-masing.

Dalam contoh praktis, kita bisa memisalkan struktur politik di Indonesia ekivalen dengan struktur politik Malaysia. Sehingga, logika politik yang terjadi di Indonesia ekivalen dengan Malaysia. Meskipun obyek politiknya berbeda, orang-orang dan partainya berbeda, tetapi logika politik mereka sama saja, ekivalen. Dengan demikian, orang Indonesia bisa belajar dari orang Malaysia dan sebaliknya. Jika, misalnya, Brunei memiliki struktur politik yang beda maka kita tidak bisa membandingkan dengan Indonesia secara langsung.

Semua struktur kategori yang kita bahas di atas bisa dinyatakan dengan notasi matematika yang eksak. Sehingga, kita bisa menyusun logika kategori dengan pasti. Kita perhatikan, logika proposisi dan logika relasi tidak bisa melakukan ini. Sebaliknya, kita bisa “membaca” logika proposisi dan logika relasi dengan kaca mata logika kategori.

Saat ini, teori kategori menjadi bidang kajian yang sangat aktif. Sehingga, kita berharap akan ada inovasi-inovasi keren dari logika kategori.

7. Logika Penuh – Seleksi Produksi

Di awal abad 21 ini, kita bisa mengembangkan logika-penuh dua arah: seleksi dan produksi. Logika-penuh merupakan pengembangan dari logika kategori. Logika-penuh hanya mengijinkan functor (morphism, mapping) surjective (full). Sementara, functor yang lain (injective dan bijective) perlu ditransformasikan menjadi functor surjective. (Functor identitas tetap dipertahankan).

Logika-penuh arah seleksi menyelidiki struktur abstrak seleksi, misal, bagaimana piala dunia babak awal diikuti seluruh negara, babak tengah tinggal 50%, dan babak final menghasilkan 1 juara unik. Sementara, logika-penuh arah produksi menyelidiki struktur abstrak produksi, misal, bagaimana produksi satu konten digital diakses 2 orang di hari pertama, 20 orang di hari kedua, dan 300 ribu orang di hari ketiga. Dengan demikian, logika penuh memberi tahu kita struktur apa yang menjamin memenangkan kompetisi – misal pemilu presiden – dan struktur apa yang menjamin suatu konten menjadi viral di media sosial.

Kita bisa menyusun logika-penuh menjadi tiga rumpun: rumpun-seleksi, rumpun-produksi, rumpun-siklis.

7.1 Rumpun-Seleksi

Juara Kota = {Adi, Budi, Citra, Dita}
Juara Provinsi = {Adi, Dita}
Juara Nasional = {Dita}

Contoh di atas adalah rumpun-seleksi. Di mana functor yang berlaku adalah functor penuh, sehingga, obyek tingkat selanjutnya lebih sedikit dari yang semula. Struktur politik, pemerintahan mau pun lembaga swasta, dapat kita baca sebagai rumpun-seleksi.

Logika dari struktur rumpun-seleksi ini berlaku satu arah. Dari juara kota, kita bisa memastikan siapa juara nasional. Tetapi, tidak bisa sebaliknya. Dari juara nasional, misal Dita, kita tidak bisa memastikan siapa saja juara kota.

7.2 Rumpun-Produksi

Rumpun-produksi berlawanan dengan rumpun-seleksi. Di sini, kita menghadapi tantangan berat untuk menyusun “functor” jenis berbeda. Karena, intuisi kita sudah terbiasa dengan intuisi relasi fungsi, maka, rumpun-produksi seperti menentang intuisi itu.

Di setiap saat waktu, kita berada di suatu tempat. Bisa saja di waktu yang berbeda, kita tetap berada di tempat yang sama.

Intuisi sebaliknya, lebih sulit dipahami. Di setiap tempat, kita ada waktu. Di tempat yang berbeda, diri kita TIDAK bisa di waktu yang sama. Rumpun-produksi memerlukan intuisi yang sulit ini untuk membangun struktur logika matematika.

Untung saja, saat ini, media digital sudah berkembang pesat. Kita bisa mengarahkan intuisi kita ke media sosial. Banyak viewer, akumulatif, pada suatu konten digital bisa kita tulis sesusai logika-penuh.

Hari Pertama = {Adi}
Hari Kedua = {Adi, Budi, Cita}
Hari Ketiga = {Adi, Budi, Cita, Dita, Era}

Struktur rumpun-produksi di atas menunjukkan ada 5 viewer pada hari ketiga. Dari strukturnya, kita bisa menentukan bahwa Adi adalah influencer. Karena itu, kita bisa mem-prediksi pada hari ketujuh akan ada 7000 viewer.

Banyaknya viewer tidak ditentukan oleh obyeknya, misal Adi. Tetapi, ditentukan oleh struktur rumpun-produksi itu sendiri. Seandainya, Adi diganti oleh Bowo maka hasilnya akan sama saja. Meski, obyek-obyeknya bisa berbeda.

7.3 Rumpun-Siklis

Perpaduan rumpun-seleksi dengan rumpun-produksi menghasilkan rumpun siklis. Tantangan besar bagi matematikawan untuk mengidentifikasi struktur rumpun-siklis, untuk kemudian, mendesain rumpun siklis yang baru.

Untungnya, realitas alam raya justru menunjukkan adanya rumpun-siklis secara kosmologis.

Penrose (Lahir 1931) mengusulkan teori conformal cyclic cosmology (CCC). Di mana, big bang yang diikuti oleh kosmos yang mengembang adalah sekedar rumpun-produksi sejak 13,8 milyard tahun yang lalu. Kosmos akan mengembang sampai ukuran maksimal, untuk kemudian, berhenti lalu mengkerut ukuran mengecil. Di sini, dimulai proses rumpun-seleksi. Kosmos terus mengecil sampai remuk menjadi ukuran setitik dengan jari-jari 0. Kosmos musnah, untuk kemudian, terjadi big bang lagi dan begitu seterusnya.

Struktur apa yang menyebabkan CCC? Struktur apa yang menyebabkan rumpun-siklis? Atau, bagaimana struktur dari rumpun-siklis?

Mari kita coba dengan ilustrasi yang lebih dekat. Kita akan memproduksi “pengetahuan”.

Hari pertama = {pengetahuan}
Hari kedua = {sains, sosial}
Hari ketiga = {math, fisika, biologi, ekonomi, sejarah}

Struktur rumpun-produksi di atas bisa kita balik menjadi rumpun-seleksi dengan proses “membaca” dan “klasifikasi.”

Klasifikasi pertama = {math, fisika, biologi, ekonomi, sejarah}
Klasifikasi kedua = {sains, sosial}
Klasifikasi ketiga = {pengetahuan}

Lengkap sudah, contoh rumpun siklis di atas. Pertanyaan besar di hadapan kita: bagaimana struktur rumpun siklis?

Barangkali, kajian di masa depan akan berhasil menjawabnya. Di sini, kita menekankan kembali prinsip-prinsip logika-penuh.

1. Diberikan “obyek” dengan “functor surjective.” Atau, kita bisa mengkonstruksi mereka: obyek dan functor.

2. Functor (morphism, mapping) memenuhi: komposisi, asosiasi, dan identitas dipertahankan.

3. Kajian struktur logika-penuh secara teoritis dan praktis.

Penutup

Kita bisa meringkas logika sepanjang sejarah sebagai obyektif dan subyektif. Logika obyektif ada kecenderungan subversif dengan menganggap logika subyektif tidak terlalu signifikan. Sementara, logika subyektif cenderung bersifat problematis yaitu keduanya, obyektif dan subyektif, sama-sama memiliki problem yang perlu diatasi.

Logika obyektif terbukukan dengan baik sejak Aristoteles, Aljabar, Ibnu Sina, Averous, Descarters, Newton, Boole. Logika proposional adalah yang paling utama. Tugas logika adalah “memasukkan” suatu partikular ke dalam “universal” dengan tepat. Logika Boolean memberikan kekuatan tambahan berupa logika kreatif yang mengijinkan implikasi meski tidak ada relevansi.

Frege, didukung Russell, mempekaya logika obyektif dengan logika relasional. Logika dengan jelas berdiri di atas fondasi yang kokoh yaitu sistem formal. Tetapi, Godel berhasil membuktikan bahwa setiap sistem formal, termasuk logika, pasti tidak konsisten. Berbagai macam upaya mengatasi inkosistensi telah dikembangkan.

Paruh akhir abad 20, Eilenberg dan Lane mengembangkan logika kategori yang merupakan versi umum dari “fungsi” matematika. Logika kategori menunjukkan bahwa logika bersandar pada fondasi struktur. Sementara, obyek dan relasi, adalah penyusun dari struktur.

Awal abad 21, kita mengembangkan logika-penuh yang merupakan lanjutan dari logika kategori. Dengan logika penuh, kita merumuskan logika-seleksi dan logika-produksi.

Logika subyektif, dari arah berbeda, terus berkembang makin produktif. Suhrawardi adalah pemikir pertama yang merumuskan logika visi-iluminasi. Subyek, yang mempunyai visi, berhadapan dengan obyek, yang beriluminasi. Subyek dan obyek menyatu menjadi satu kesatuan.

Hegel mengembangkan logika dialektika yang berbeda. Logika adalah sistem metafisika. Being, sebagai tesis, berkontradiksi dengan esensi, sebagai antitesis. Kemudian, terjadi proses dialektika menyatunya kontradiksi dalam idea, sintesis. Bersatunya kontradiksi ini memang tetap problematis.

Di era kontemporer ini, logika obyektif banyak berkembang seiring dengan filsafat analytic. Sementara, logika subyektif berkembang seiring dengan filsafat continental yang tetap problematis. Filsafat Timur yang kuat dengan filsafat moral tetap mengembangkan logika obyektif mau pun subyektif. Sehingga, bagaimana pun, problematis juga.

Barangkali filosofi sakina bisa menjadi solusi. Saya menuliskan filosofi sakina pada tulisan saya yang satunya.

Diterbitkan oleh Paman APiQ

Lahir di Tulungagung. Hobi: baca filsafat, berlatih silat, nonton srimulat. Karena Srimulat jarang pentas, diganti dengan baca. Karena berlatih silat berbahaya, diganti badminton. Karena baca filsafat tidak ada masalah, ya lanjut saja. Menyelesaikan pendidikan tinggi di ITB (Institut Teknologi Bandung). Kini bersama keluarga tinggal di Bandung.

Ikuti Percakapan

3 Komentar

Tinggalkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: