Putnam, Badiou, dan Armahedi: Simpul Filosofi

Apakah seluruh ilmu pengetahuan bisa disatukan? Atau, justru harus dibeda-bedakan agar tercipta spesialis? Atau, harus kedua-duanya sebagai spesialis dan generalis?

Pada tulisan ini, kita akan mencermati pengetauan secara filosofis. Sebuah cara yang mencoba mempertimbangkan seluruh sudut pandang – berpikir spekulatif.

Saya akan mengambil tiga tokoh pemikir yang menjadi tumpuan analisis kita: Putnam, Badiou, dan Armahedi. Kemudian, saya akan lebih fokus kepada pemikiran Putnam (1926 – 2016). Sementara, pemikiran Badiou (1937 – ) dan Armahedi (1943 – ) sebagai konteks serta pembanding.

1. Konteks
2. Math
3. Sains
4. Ontologi
5. Etika

Pertama, kita akan mengkaji konteks pemikiran saat ini. Pemikiran filosofis analitis berkembang mendominasi dunia yang berbahasa Inggris – sebagian sudah diterjemahkan ke bahasa Indonesia. Sementara, pemikiran filosofis yang lebih spekulatif berkembang sebagai filosofi kontinental yang, umumnya, bersumber dari negara berbahasa Jerman dan Prancis. Putnam mewakili tradisi filosofi analitis, Badiou mewakili tradisi filosofi kontinental, dan Armahedi mewakili filosofi timur serta Indonesia.

Kedua, kita akan membahas filosofi math. Bagi Putnam, kebenaran matematika adalah kebenaran paling kuat karena merupakan kebenaran-konseptual. Saya sering menyebut matematika sebagai kebenaran sistem aksiomatik. Bahkan, kebenaran matematika tetap terjamin kuat meski obyek matematika masih dipertanyakan apakah nyata, real, atau hanya fiksional. Selanjutnya, Putnam membuktikan bahwa obyek matematika adalah nyata dengan argumen tak-tergantikan (QPIA).

Ketiga, barangkali paling menarik, kita membahas sains lengkap dengan bayangannya yaitu pseudo-sains atau sains-palsu. Debat filosofis realisme/anti-realisme tetap mewarnai filosofi sains – barangkali sampai kapan pun. Putnam mendukung realisme sains dengan eksperimen pikiran “Brain in a Vat” yang dia kuatkan dengan eksternalisme bahasa “Twin Earth.” Meski sains bersifat obyektif, terdapat banyak teori untuk mendekati realitas yang sama validnya. Sains-palsu merupakan eksploitasi sains-buruk atau sains-eror dengan melanggar etika.

Keempat, membahas ontologi. Putnam mengusulkan perlunya “meluaskan” ontologi filosofi analitis sehingga berkontribusi secara sosial budaya yang lebih luas. Konsep internalism-realism menjamin pembahasan ontologi tetap fokus. Tidak melompat tinggi sebagai inflatory. Dan tidak reduksionis atau eliminatif sebagai deflatory. Saya menyebut pembahasan ontologi yang fokus ini sebagai noflatory. Di saat yang sama, Putnam menjaga pluralisme ontologi. Lebih rumit lagi, secara ontologis, ketika pikiran manusia mampu merekayasa alam semesta secara aktif. Kita, misalnya, menyaksikan perkembangan media sosial digital yang bertabur rekayasa.

Kelima, terakhir, kita membahas etika. Putnam menyatakan, “Etika tanpa ontologi.” Sebuah klaim yang sangat kuat. Saya memahami tanpa-ontologi adalah tanpa-ontologi eksternal. Sehingga, ontologi dari etika adalah kajian etika secara internal. Dan, nilai kebenaran etika sama kuatnya dengan kebenaran matematika karena sama-sama kebenaran-konseptual. Bagaimana pun, Putnam tetap konsisten dengan pluralisme termasuk dalam etika. Putnam menegaskan kembali karakter obyektif dari etika – meski dengan atau tanpa obyek.

1. Konteks

Apakah kita membutuhkan pemikir spesialis atau generalis? Sekilas, Putnam menyatakan bahwa pemikir spesialis tidak memadai untuk perkembangan sosial budaya umat manusia. Sehingga, kita membutuhkan pemikir generalis. Berapa proporsi generalis terhadap spesialis? Bagaimana dengan kedalaman pemikiran? Bagaimana dengan tantangan masa depan, misal, ledakan media sosial digital?

Kita akan mencoba membahasnya secara kontekstual di bagian ini.

Kita awali dengan mengkaji konteks pemikiran saat ini. Pemikiran filosofis analitis berkembang mendominasi dunia yang berbahasa Inggris – sebagian sudah diterjemahkan ke bahasa Indonesia. Sementara, pemikiran filosofis yang lebih spekulatif berkembang sebagai filosofi kontinental yang, umumnya, bersumber dari negara berbahasa Jerman dan Prancis. Putnam mewakili tradisi filosofi analitis, Badiou mewakili tradisi filosofi kontinental, dan Armahedi mewakili filosofi timur serta Indonesia.

Badiou

Badiou meluaskan matematika sebagai ontologi atau filosofi. Matematika adalah ontologi dan ontologi adalah matematika. Dulu, sebelum abad 19, matematika belum berkembang. Sehingga, pembahasan ontologi menggunakan bahasa sehari-hari. Tentu saja, bahasa sehari-hari tidak memadai untuk membahas ontologi. Saat ini, matematika sudah berkembang pesat. Khususnya teori himpunan Cantor memudahkan kita membahas infinity tanpa batas sampai ke Absolut. Dengan demikian, matematika adalah ontologi itu sendiri.

Matematika, atau filosofi, adalah kajian tentang truth, atau kebenaran, secara ontologis. Hanya filosofi yang mengkaji truth sebagai truth itu sendiri. Sedangkan, bidang-bidang lain mengkaji truth sebagai prosedur truth. Badiou meng-klaim ada empat prosedur truth: sains, seni, cinta, dan politik. Banyak pihak mengusulkan agar Badiou memasukkan agama sebagai salah satu prosedur truth. Sejauh ini, Badiou masih bersikukuh hanya ada empat prosedur truth di atas.

Masing-masing prosedur truth memiliki prosedur yang mandiri. Meski demikian, di antara prosedur truth yang berbeda bisa saja saling berbaur. Realitas justru sebagai perpaduan dari beragam prosedur truth, termasuk, perpaduan dengan filosofi.

Armahedi

Integralisme adalah formulasi filosofis yang memandang realitas sebagai satu kesatuan, membentuk hirarki, dan bersumber kepada Sang Absolut atau Tuhan. Dengan integralisme, Armahedi yakin bahwa umat manusia akan mampu menemukan solusi yang dibutuhkan untuk menghadapi hiruk-pikuk dunia akhir-akhir ini.

Dunia Barat memisahkan sains dengan agama berdampak kepada sains yang kehilangan nilai-nilai universal sehingga mengancam alam semesta dan manusia. Sementara, dunia Timur menempatkan sains tunduk terhadap kekuatan politis atau agama. Sehingga, sains terpuruk. Sains tidak mampu melejit dengan kekuatan penuh.

Integralisme terjadi pada aspek vertikal dan horisontal. Dari aspek vertikal, realitas terdiri dari alam materi, alam kehidupan, psikologis, kalbu, dan spiritual. Sementara, dari aspek horisontal, realitas terdiri dari partikel-partikel, membentuk manusia, meluas ke alam raya, dan menggapai Sang Absolut. Integralisme ini mendorong realitas untuk bergerak dinamis secara terus menerus.

Dengan integralisme, kita berharap mampu untuk terus tumbuh berkembang secara dinamis.

Analytic – Continental

Secara garis besar, madzhab filsafat terbagi menjadi dua: analytic dan continental. Analytic mendominasi kajian filsafat sekitar 70% dan continental 30% – berdasar bidang kajian riset doktoral filsafat. Sementara, dalam tradisi analytic mulai muncul spesialisasi baru yaitu filsafat sains, sekitar 10%.

Putnam menempatkan kajian filosofi dalam tradisi analytic dan filsafat sains. Bagaimana pun, filosofi Putnam tetap berinteraksi dengan continental. Mereka saling mempengaruhi. Dari perspektif analytic, Putnam berusaha meluaskan ontologi agar filosofi lebih berpengaruh besar terhadap sosial budaya. Sehingga, beberapa pemikir menempatkan Putnam sebagai post-analytic.

Putnam lahir 1926 ketika analytic mulai terbentuk dengan kokoh. Awal abad 20, Russell bersama Frege dan Moore memantapkan logika dasar filosofi analytic. Kemudian, 1920an, Wittgenstein menerbitkan Tractatus yang melengkapi analytic dengan kajian bahasa secara logis.

Lebih lanjut, 1930-an, berkembang aliran positivisme-logika yang dipelopori oleh Carnap – dan Lingkaran Wina. Positivisme hanya mengakui kebenaran empiris dan analisis aksiomatik. Positivisme menolak metafisika – dan lebih banyak fenomena lainnya. Russell dan Wittgenstein tampak tidak sepakat dengan positivisme.

Dari sisi continental berkembang pemikiran yang segar: fenomenologi dan eksistensialisme. Russell dan Moore sudah mengkritik habis idealisme dialektika dari Hegel. Tetapi, eksistensialisme, yang muncul pada 1927 dengan terbitnya Being and Time karya Heidegger, aman dari kritik Russell. Continental terus berkembang dan berpuncak, salah satunya, pada dekonstruksi Derrida sejak tahun 1970an.

Putnam muda mengawali karir filosofisnya dengan pengaruh besar positivisme. Putnam, dan kawan-kawan, membuktikan bahwa tidak ada solusi umum untuk persamaan matematika Diophantine. Dalam philosophy-of-mind, Putnam merumuskan fungsionalisme yang menyatakan bahwa pikiran manusia adalah suatu “fungsi” layaknya komputer – ada perangkat keras dan perangkat lunak. Kelak, Putnam menolak konsep fungsionalisme ini.

Eksperimen pikiran “Twin Earth” dan “Brain in a Vat” menguatkan komitmen realisme dan eksternalisme bahasa. Bersama Quine, Putnam merumuskan indispensable-argument menguatkan realisme matematika. Bertahap, Putnam mejaga jarak terhadap positivisme dan lebih terbuka terhadap metafisika.

Pada masa dewasa, akhir abad 20, Putnam lebih intensif membahas pragmatisme. Meski kritis terhadap pragmatis, Putnam lebih banyak menerima konsep-konsep penting pragmatisme. Kita perlu membedakan pragmatis dengan praktis. Pragmatisme meyakini bahwa pengetahuan berkembang dengan menyempurnakan nilai pragmatis yang bersifat praktis dan intelektual. Bukan sekedar praktis saja. Putnam makin mantap dengan konsep realisme-internalisme-pluralisme. Pada abad 21, Putnam lebih fokus membahas etika dan agama.

2. Math

Kita akan membahas filosofi math. Bagi Putnam, kebenaran matematika adalah kebenaran paling kuat karena merupakan kebenaran-konseptual. Saya sering menyebut matematika sebagai kebenaran sistem aksiomatik. Bahkan, kebenaran matematika tetap terjamin kuat meski obyek matematika masih dipertanyakan apakah nyata, real, atau hanya fiksional. Selanjutnya, Putnam membuktikan bahwa obyek matematika adalah nyata dengan argumen tak-tergantikan (IAQP).

2.1 Persamaan Diophantine

Solusi Abad ini

Teori Fermat

Apigoras Diophantine

Masalah Kuno

2.2 Benar-Konseptual

Analitik Sintetik

Sistem Aksiomatik

Sistem Empiris

2.3 Realisme Matematika

3. Sains

Kita membahas sains lengkap dengan bayangannya yaitu pseudo-sains atau sains-palsu. Debat filosofis realisme/anti-realisme tetap mewarnai filosofi sains – barangkali sampai kapan pun. Putnam mendukung realisme sains dengan eksperimen pikiran “Brain in a Vat” yang dia kuatkan dengan eksternalisme bahasa “Twin Earth.” Meski sains bersifat obyektif, terdapat banya teori untuk mendekati realitas yang sama validnya. Sains-palsu merupakan eksploitasi sains-buruk atau sains-eror dengan melanggar etika.

3.1 Twin Earth

Eksperimen pikiran Twin Earth menjadi menarik karena mudah bagi kita untuk membayangkannya. Bagi Putnam, Twin Earth berhasil membuktikan karakter eksternalisme bahasa. Yaitu, makna bahasa merujuk ke realitas luar dari bahasa itu sendiri. Realitas luar, yang menjadi rujukan bahasa, misal pohon dan air, adalah benar-benar nyata. Dengan demikian, Putnam komitmen terhadap realisme.

Argumen Twin Earth bisa kita ringkas sebagai berikut.

(a) Bayangkan ada bumi-kembar, yaitu, sama persis dengan bumi ini kecuali kandungan kimia dari airnya. Di bumi kita ini, air adalah H2O. Sedangkan, di bumi-kembar, air adalah XYZ. Tetapi, semua penampakan air adalah sama di bumi ini dan bumi-kembar.

(b) Budi berkata tentang air di bumi ini. Maksud Budi adalah H2O. Di bumi-kembar, Budi-kembar berkata tentang air. Kita tahu, maksud Budi-kembar adalah XYZ. Sehingga, kata air merujuk ke sesuatu yang berbeda. Kepada sesuatu yang eksternal dari bahasa. Bukan hanya makna-makna internal dalam bahasa.

(c) Kita bisa menyimpulkan bahwa makna dari bahasa adalah merujuk ke alam eksternal. Putnam menyebut karakter rujukan ke eksternal ini sebagai eksternalisme bahasa. Tentu saja, sebagian makna bahasa merujuk ke bahasa itu sendiri.

Argumen Twin Earth berdampak ganda. Pertama, membuktikan bahwa makna bahasa adalah eksternal. Kedua, membuktikan realisme yaitu eksistensi dunia luar berupa air, pohon, gedung, dan lain-lain adalah nyata.

Tetapi, mengapa repot-repot membuktikan rujukan alam eksternal? Bukankah ketika kita bicara air memang maksudnya air di alam eksternal yang sudah jelas? Bukankah, jika bicara air tetapi tidak ada air di alam eksternal justru itu adalah bohong? Bukankah politikus yang hanya janji-janji tanpa bukti adalah pembohong?

Benar. Dalam kehidupan sehari-hari, kita meyakini realisme-naif. Yaitu suatu keyakinan bahwa alam eksternal ada secara nyata dan jelas dengan sendirinya. Hanya saja, dalam kajian filosofis, realisme-naif mudah untuk diragukan. Sehingga, pemikir-pemikir serius perlu mengembangkan realisme filosofis yang kokoh. Atau, beberapa pemikir justru bisa memilih bersikap anti-realisme.

Pertanyaan kepada Putnam masih bisa berlanjut. Jika kata-air merujuk ke air-eksternal bagaimana kata-air bisa membangun relasi dengan alam air-eksternal tersebut?

Korespondensi

Tidak bisa. Bahasa tidak bisa membangun relasi, atau hubungan, dengan alam eksternal. Makna air adalah konsep-air yang sudah kita kenali secara bahasa. Sedangkan, konsep-air itu sendiri maknanya merujuk ke konsep-air yang lebih awal lagi. Demikian seterusnya, makna merujuk ke makna sebelumnya tanpa henti.

Asumsikan pada suatu titik kita bisa membangun relasi antara kata-air dan air-eksternal. Dengan cara apa relasi itu terbentuk? Relasi terbentuk, misalnya, oleh imajinasi kita. Kata terhubung ke imajinasi dan imajinasi terhubungan ke alam eksternal. Dengan demikian tercipta relasi sesuai teori korespondensi.

Dengan apa kata terhubung dengan imajinasi? Misal, terhubung oleh A. Lalu, dengan apa A terhubung dengan kata? Misal dengan B. Dan seterusnya tanpa henti. Kita gagal membangun teori korespondensi.

Putnam dengan cerdik menggunakan istilah merujuk ke alam eksternal – referensi bukan relasi. Makna kata merujuk ke alam eksternal bukan menciptakan relasi dengan alam eksternal. Dengan demikian, Putnam mengembangkan teori semantik eksternalisme bukan korespondensi.

Tampaknya, Putnam sudah menyadari konsep makna dari Wittgenstein bahwa “meaning as use.” Makna adalah “penggunaan.”

Meaning as Use

Kita memahami makna kata air karena menggunakan kata tersebut dalam konteks tertentu. Secara umum, Wittgenstein mengembangkan teori “language game.” Kata dan bahasa hanya bisa dipahami sesuai konteks dan penggunaan aturannya.

Putnam melangkah lebih jauh, melalui argumen Twin Earth menyatakan, penggunaan aturan itu adalah merujuk ke alam eksternal.

Tetapi, apakah alam eksternal itu ada? Lagi, secara naluriah kita meyakini bahwa alam eksternal memang ada, yaitu, realisme naif. Putnam mengembangkan eksperimen pikiran “Brain in a Vat” untuk menjawab skeptisme terhadap realitas.

3.2 Brain in a Vat

Descartes (1596 – 1650) mengawali karir filosofis dengan sikap skeptis. Setelah meragukan segala sesuatu, Descartes yakin bahwa dirinya sedang berpikir ragu. Keraguanku adalah nyata. Pikiranku adalah nyata. Aku berpikir maka aku ada. Cogito ergo sum.

Selanjutnya, Descartes berusaha membuktikan eksistensi alam eksternal. Dia yakin bahwa alam eksternal memang nyata. Tetapi, bisa saja, ada setan cerdas yang membohongi manusia. Alam eksternal hanya ilusi. Setiap kita akan membuktikan eksistensi alam eksternal maka bukti itu sendiri adalah ilusi. Semua yang kita pikirkan adalah ilusi.

“Brain in a Vat” (BIV) adalah bentuk radikal dari skeptisme Descartes. Proses BIV adalah sebagai berikut.

(a) Bayangkan diri kita memiliki pengalaman akan dunia eksternal yang berpusat di otak kita (brain).

(b) Otak ini kemudian kita pindahkan ke dalam wadah, sedemikian hingga, otak tetap berfungsi sebagai mana mestinya dan hidup dengan wajar.

(c) Otak dalam wadah atau BIV itu kita hubungkan dengan komputer super canggih. Komputer ini memberi pengalam kepada BIV bahwa dirinya adalah manusia lengkap. BIV makan, minum, dan berinteraksi sosial layaknya manusia lengkap. Tetapi, itu semua hanya ilusi yang diciptakan oleh simulasi komputer super canggih.

Pertanyaannya, “Apakah BIV tahu bahwa dirinya adalah BIV?”

Pernyataan “Kita adalah BIV” pasti bernilai salah. Karena akan memunculkan paradoks. Kita bukan BIV.

(A) Asumsikan “Kita adalah BIV” bernilai benar.
(B) Tetapi “Kita adalah BIV” adalah realitas, bukan simulasi.
(C) Jadi “Kita adalah BIV” adalah salah.

Di sini, kita menerapkan prinsip eksternalisme bahasa dari Putnam. “Kita” merujuk ke kita-eksternal. BIV merujuk ke BIV-eksternal. Karena merujuk ke alam eksternal, yaitu, realitas maka bukan simulasi. Jadi, “Kita adalah BIV” bernilai salah. “Kita hidup di dunia simulasi” adalah salah. Yang benar, kita hidup di dunia nyata, real. Kita perlu komitmen kepada prinsip realisme ini.

Bagaimana kata “kita” bisa merujuk ke realitas “kita” di alam eksternal? Kita akan menjawabnya di bagian ontologi, di bawah.

3.3 Quantum

Teori quantum, atau mekanika quantum, berkembang pesat di abad 20. Sampai saat ini, belum ada tanda-tanda, quantum akan berhenti berkembang. Justru, setiap perkembangan teori quantum menimbulkan pertanyaan lebih jauh lagi.

Putnam berada pada situasi quantum yang problematis. Kita bisa menduga bahwa Putnam akan memilih pendekatan realisme untuk solusi quantum. Kucing Schrodinger memberi gambaran jelas tentang krisis realisme quantum. Schrodinger, waktu itu, menulis surat kepada Einstein untuk menjelaskan anehnya teori quantum, atau tidak masuk akalnya teori quantum. Isi surat, yang kelak dikenal sebagai Kucing Schrodinger, justru menunjukkan keunggulan teori quantum.

Seekor kucing berada di ruang tertutup yang di sampingnya ada bahan radioaktif. Dalam 5 menit ke depan, radioaktif akan meluruh dengan peluang 50% sesuai teori quantum. Jika radioaktif meluruh maka akan mengaktifkan racun dalam ruangan dan mengakibatkan kucing mati.

Pertanyaannya: setelah 5 menit, apakah kucing hidup atau mati?

Berdasar fisika klasik, kucing itu sudah mati atau mungkin masih hidup. Karena probabilitas 50% maka peluangnya berimbang. Tetapi, kondisi kucing sudah pasti, misal sudah mati. Ketika kita membuka ruang, atau kotak, kita menjadi tahu bahwa kucing sudah mati.

Teori quantum menjawab berbeda. Kucing itu setengah hidup dan setengah mati selama tidak ada pengamat yang membuka kotak ruangan. Ketika ada pengamat membuka kotak, baru saat itu, kucing mati, misalnya.

Sehingga, berdasar quantum, realisme itu belum tercipta kecuali ada pengamat. Putnam tetap menegaskan komitmen realisme di teori quantum. Dia memilih interpretasi quantum berupa runtuh-spontan.

(a) Ketika radioaktif meluruh dengan peluang 50%, maka, perlu hadirnya “pengamat” untuk jadi meluruh atau tidak.

(b) Jika radioaktif itu berada dalam ruang isolasi tanpa “pengamat” sama sekali, maka, benar berimbang: runtuh dan tidak runtuh.

(c) Tetapi, di dalam ruang terdapat kucing, racun, dinding, dan lain-lain yang berperan sebagai “pengamat.” Sehingga, radioaktif meluruh secara spontan. Atau, alternatifnya tidak meluruh. Tanpa harus menunggu “pengamat” tambahan misal manusia.

(d) Karena di alam ini terdapat jutaan partikel yang bisa berperan sebagai “pengamat” maka proses runtuhnya quantum terjadi secara spontan.

(e) Akibatnya, nasib kucing Schrodinger selaras dengan teori probabilitas klasik.

Sampai saat ini, interpretasi terhadap teori quantum masih terus berkembang. Belum ada titik pasti. Dengan memilih interpretasi runtuh-spontan, Putnam berhasil mempertahankan komitmen realismenya, di saat yang sama, menerima validitas teori quantum.

3.4 Naturalisme Liberal

Putnam menggambarkan konsep pemikirannya sebagai, paling dekat, naturalisme liberal. Beberapa pengamat menilai Putnam sebagai pragmatis atau post-analitis. Dari beragam perspektif, pandangan ini sah-sah saja. Karena, Putnam sering mengacu ke konsep pragmatisme mau pun analitis.

Realisme meyakini bahwa obyek sains adalah real, nyata. Putnam menambahkan karakter nyata dan obyektif. Meski demikian, pengetahuan kita tentang obyek sains bisa tidak sempurna. Sehingga, terbuka peluang untuk mengkaji sains dari beragam perspektif. Liberal, dalam arti, kita memiliki kebebasan untuk mengkaji sains atau mengkaji obyek secara umum misal etika. Tidak ada aturan baku yang menjamin satu metode lebih baik dari metode yang lain. Beragam metode itu perlu untuk saling bersaing. Meski sains bersifat obyektif, di saat yang sama, juga dinamis.

Mana sains yang lebih benar? Apa kriteria dari buruknya sains? Apa yang menentukan sehingga ada pseudo-sains atau sains-palsu?

Klaim kebenaran sains bersifat internal atau internalisme. Tetapi, sains tetap memiliki karakter eksternalisme.

Klaim kebenaran bersifat internal, dalam arti, klaim tersebut diuji secara internal oleh sains itu sendiri. Misal kebenaran sains fisika ditentukan oleh sains fisika itu sendiri secara internal. Sains biologi tidak berhak menghakimi sains fisika. Meski bisa saja terjadi kolaborasi antara fisika dan biologi.

Karakter eksternalisme sains menguji efektivitas sains. Fisika bisa menghitung kekuatan bambu untuk menahan suatu beban. Tetapi, jika bambu itu berada di atas tanah dan masih bertumbuh maka fisika perlu mempertimbangkan sains biologi untuk menyelidiki pengaruh pertumbuhan bambu. Bagaimana pun, kajian sains fisika akan tetap dominan secara internal. Dampak sains terhadap semesta juga bersifat eksternal. Penemuan mesin uap bisa valid secara internal, tetapi, dampak eksternal semacam pencemaran lingkungan perlu menjadi kajian.

Pragmatisme

Sains yang baik adalah sains yang bertumbuh sesuai kebutuhan pragmatisme yaitu bertumbuh secara intelektual dan praktikal. Sains bertumbuh secara intelektual misal melalui kajian teoritis. Sedangkan, sains bertumbuh secara praktikal dengan lebih praktis menyelesaikan masalah alam semesta.

Putnam terbuka dengan ragam pengembangan sains. Metode induksi, falsifikasi, paradigmatik, dan lain-lain perlu diuji secara teliti dari sisi internal. Sains yang buruk adalah sains yang tidak memenuhi standar internalnya sendiri. Sains juga bisa menjadi buruk karena pertimbangan eksternal.

3.5 Pseudo-Sains

Pseudo-sains adalah sains buruk, atau sains salah, yang dieksploitasi dengan melanggar etika. Pseudo-sains adalah sains-palsu.

Sejatinya, tidak ada masalah dengan sains buruk. Karena sains-buruk bisa diperbaiki dengan beberapa metode improvement. Atau, jika benar-benar tidak bisa diperbaiki maka ditinggalkan. Begitu juga dengan sains-salah bisa dilakukan beberapa koreksi yang diperlukan.

Tetapi sains-palsu adalah berbeda karena melibatkan eksploitasi yang melanggar etika. Sebelum membahas sains-palsu, mari kita bahas beberapa resiko pengembangan sains.

Induksi adalah metode pengembangan sains yang tampak alamiah. Kita mengamati beberapa fenomena sains terbatas, untuk kemudian, menarik kesimpulan sains yang bersifat umum, universal. Resiko induksi adalah klaim kebenaran yang berlebihan. Karena, kebenaran sains induksi selalu bersifat probabilistik.

Sains sosial di suatu tempat menyimpulkan bahwa kapitalisme adalah sistem terbaik untuk mengembangkan ekonomi. Kemudian, orang-orang menerapkan kapitalisme secara global. Tentu saja gagal. Karena, kapitalisme bisa berhasil hanya pada situasi tertentu saja.

Falsifikasi adalah mengembangkan sains dengan menolak hipotesis yang salah. Verifikasi seribu kali tidak akan berhasil mengkonfirmasi kebenaran hipotesis. Tetapi, falsifikasi satu kali saja sudah cukup untuk menolak suatu hipotesis.

Keunggulan falsifikasi adalah kita bersikap lebih waspada. Untuk beberapa produk dengan kualitas tinggi bisa mempertimbangkan falsifikasi. Kelemahan falsifikasi adalah kadang terlalu ketat. Bisnis internet adalah bisnis dengan prospek bagus. Eksperimen menjelang akhir abad 20 justru menunjukkan buruknya bisnis internet. Maka hipotesis bahwa bisnis internet adalah prospek bisa ditolak. Tetapi, kita tahu memasuki abad 21, bisnis internet prospek lagi. Ditambah lagi, beberapa proposisi sains tidak bisa difalsifikasi empiris.

Paradigmatik adalah mengembangkan sains dengan sistem tertentu. Jaman kuno, para astronom mengembangkan sains dengan paradigma geosentris – bumi sebagai pusat dan matahari mengitari bumi. Berbagai macam teori dikembangkan berdasar geosentris. Tetapi, di jaman ini, astronom mengembangkan sains berdasar paradigma heliosentris – matahari sebagai pusat. Terjadi perubahan besar-besaran, revolusi, dari geosentris ke heliosentris yang berdampak besar kepada teori sains.

Awal era industri berkembang paradigma produser-sentris, di mana, pabrik-pabrik mem-produksi beragam barang untuk kemudian dipasarkan. Teori sains yang berkembang adalah bagaimana cara produksi paling efisien. Saat ini, berkembang paradigma pelanggan-sentris, di mana, produsen hanya memproduksi produk-produk yang dibutuhkan oleh pelanggan. Teori sains yang berkembang adalah bagaimana mengenali perilaku konsumen.

Keunggulan sains paradigmatik adalah memberikan keleluasaan kepada saintis untuk beragam kajian dalam paradigma yang jelas. Di saat yang sama, memberi peluang revolusi sains dengan mengubah sistem paradigma. Kelemahannya adalah sains menjadi relatif terhadap paradigma dan subyektif tergantung konteks para saintis. Padahal, sains tetap obyektif meski pluralis.

Sains-palsu

Berikut ini, kita akan fokus kepada empat kriteria untuk menilai bahwa suatu sains adalah palsu. Sebagai ilustrasi, kita akan mengambil kasus Theranos, yaitu, perusahaan yang memproduksi alat kesehatan. Dengan alat tersebut, seseorang bisa melakukan tes darah yang mudah dan cepat guna mengetahui kondisi kesehatan badannya. Theranos berdiri pada tahun 2003 dan menjadi perusahan bernilai 10 milyar dolar hanya dalam waktu 10 tahun – perhatikan, bukan 10 juta dolar tapi 10 milyar.

Non-sains. Pertama, predikat sains-palsu atau pseudo-sains hanya bisa dialamatkan kepada sains itu sendiri atau bidang yang mengaku saintifik. Non-sains tidak bisa menjadi sains-palsu. Seni tidak bisa dinilai sebagai sains-palsu. Karena, seni memiliki kriteria konsep internal yang berbeda dengan sains. Olahraga, hobi, agama, permainan, dan lain-lain adalah non-sains. Sehingga, mereka aman dari predikat sains-palsu. Tentu saja, kita bisa mengkaji seni atau olahraga secara saintifik. Dengan demikian, ada resiko terjebak ke sains-palsu.

Theranos meng-klaim menerapkan metode sains untuk tes darah. Karena itu, Theranos tepat menjadi kajian apakah termasuk sains-palsu.

Tidak obyektif. Sains-palsu bersifat tidak obyektif. Hanya orang-orang tertentu yang bisa menguji kebenarannya. Pihak luar tidak bisa, atau sulit sekali, untuk melakukan pengujian.

Theranos menyembunyikan hasil kajian perusahaannya sehingga tidak obyektif. Pihak luar tidak bisa mengkajinya atau sulit untuk mengkajinya. Pihak luar hanya bisa mempertanyakan validitas dari kajian Theranos. Kelak, Theranos gagal menunjukkan validitas dan obyektivitas kajian tes darahnya.

Buruk atau salah. Sains buruk atau sains salah adalah kajian sains yang tidak memenuhi standar kriteria internal mereka sendiri. Sehingga, hasil kajian tersebut hanya layak sebagai bahan kajian bukan untuk keperluan komersial.

Tes darah Theranos termasuk sains-buruk atau sains-salah. Dengan kualitas yang rendah, Theranos tidak layak mengkomersilkan produknya.

Eksploitasi melanggar etika menjadi penentu utama sebagai sains-palsu. Sains yang tidak obyektif dan sains buruk, sejatinya, tidak menjadi masalah. Sejauh, kita menempatkan sains buruk pada posisinya. Tetapi, mengeksploitasi sains-buruk memang menggiurkan dengan imbalan materi yang besar.

Theranos sadar bahwa kajian mereka adalah sains-buruk. Kemudian, Theranos justru mengeksploitasi untuk mengeruk keuntungan komersial. Teknologi Theranos murah dan praktis. Sehingga, masyarakat luas membeli produk Theranos – termasuk di pasar saham. Tetapi, karena memang berdasar sains-buruk maka produk Theranos adalah sains-palsu.

Karena etika menjadi paling penting, lalu, bagaimana cara kita menentukan bahwa sesuatu melanggar etika atau tidak? Kita membahasnya di bagian bawah. Yang jelas, klaim kebenaran etika sama kuat dengan klaim kebenaran matematika. Etika dan matematika adalah, sama-sama, kebenaran konseptual.

4. Ontologi

Putnam mengusulkan perlunya “meluaskan” ontologi filosofi analitis sehingga berkontribusi secara sosial budaya yang lebih luas. Konsep internalism-realism menjamin pembahasan ontologi tetap fokus. Tidak melompat tinggi sebagai inflatory. Dan tidak reduksionis atau eliminatif sebagai deflatory. Saya menyebut pembahasan ontologi yang fokus ini sebagai noflatory. Di saat yang sama, Putnam menjaga pluralisme ontologi. Lebih rumit lagi, secara ontologis, ketika pikiran manusia mampu merekayasa alam semesta secara aktif. Kita, misalnya, menyaksikan perkembangan media sosial digital yang bertabur rekayasa.

4.1 Inflatory – Deflatory

4.2 Noflatory

4.3 Pluralisme Pragmatisme

4.4 Rekayasa Ontologi

5. Etika

Putnam menyatakan, “Etika tanpa ontologi.” Sebuah klaim yang sangat kuat. Saya memahami tanpa-ontologi adalah tanpa-ontologi eksternal. Sehingga, ontologi dari etika adalah kajian etika secara internal. Dan, nilai kebenaran etika sama kuatnya dengan kebenaran matematika karena sama-sama kebenaran-konseptual. Bagaimana pun, Putnam tetap konsisten dengan pluralisme termasuk dalam etika. Putnam menegaskan kembali karakter obyektif dari etika – meski dengan atau tanpa obyek.

5.1 Obyektif tanpa Obyek

5.2 Runtuhnya Fakta dan Nilai

5.3 Kompetisi Noflatory

Penutup

Apakah kita butuh pemikir generalis? Benar. Kita butuh pemikir generalis. Kita membutuhkan pemikir generalis yang menyapa tema-tema penting filosofis. Bahkan, setiap orang perlu menjadi pemikir generalis. Setiap orang perlu berpikir untuk bersikap terhadap paham realisme, kemudian, bersikap pluralis. Tentu saja, orang bisa saja bersikap dogmatis secara internalism. Kita bisa saling memahami di antara keragaman pemahaman dan mengembangkan sikap saling hormat.

Berpikir generalis hanya terbatas kepada bidang-bidang penting dan membatasi diri dalam detilasi. Karena, masing-masing orang perlu menjadi spesialis di bidang masing-masing sehingga bisa saling memberi kontribusi nyata.

Putnam, berdasar kajian kita di atas, adalah contoh unik seorang spesialis yang berhasil menerobos menjadi generalis. Sejak awal, Putnam sudah sukses sebagai spesialis matematika dan logika. Dia melangkah lebih jauh dengan mengembangkan ontologi menggapai etika dan agama. Dengan demikian, spesialis memberi dampak besar terhadap sosial budaya.

Saat ini, kita yakin perlu menambah jumlah generalis di antara para spesialis. Berapa proporsi yang tepat, kita belum bisa memastikan. Kita masih memerlukan kajian yang lebih mendalam untuk itu.

Simpul Filosofi

Secara filosofi, kita menemukan simpul-simpul keselarasan antara analitic, continental, dan timur. Putnam meluaskan ontologi analitic sampai masuk ke etika. Sementara, Badiou menetapkan matematika sebagai ontologi bagi continental. Dan, Armahedi mengintegrasikan analytic, continental, dan tradisi kearifan timur.

Kita berharap simpul-simpul filosofi memberi kebaikan bagi seluruh semesta raya.

Meta Filosofi Indonesia

Meta Filosofi adalah cara memahami filsafat dari sudut pandang yang luas. Sehingga, dengan meta filosofi, kita bisa memahami struktur filsafat dengan lebih jelas. Bagai mata elang, yang terbang tinggi, bisa mengamati seluruh wilayah yang luas dengan jelas. Demikian juga, Einstein mengembangkan konsep relativitas. Einstein bagai terbang tinggi ke langit. Kemudian, mengamati bumi, bulan, matahari, galaksi dan seluruh semesta raya. Akhirnya, Einstein menemukan teori relativitas khusus dan umum. Semesta alam raya, yang begitu luas, seluruhnya, berada dalam kajian teori relativitas.

Saya menyebut cara pandang seperti Einstein, yang luas, adalah cara pandang elang-gravitasi. Sementara, cara pandang teori mekanika quantum adalah cara pandang semut-quantum. Di mana, semut-quantum justru mengamati fenomena partikel-partikel sangat kecil. Sejumlah elektron, misalnya, diisolasi dalam ruang penelitian tertutup. Dengan situasi yang terbatas seperti itu, semut-quantum mengamati perilaku elektron secara mendalam. Dan, kita menyaksikan perkembangkan hebat teori quantum.

Kita membutuhkan keduanya: elang-gravitasi dan semut-quantum. Nyatanya, sampai saat ini, elang-gravitasi tidak mampu mencermati fenomena quantum. Demikian juga, semut-quantum tidak mampu mencermati fenomena gravitasi.

Di bidang filosofi, kita memerlukan kajian meta filosofi yang mirip dengan elang gravitasi. Kemudian, bagi yang berminat bisa mendalami masing-masing filosofi dengan pendekatan semut-quantum. Pada kesempatan kali ini, kita akan membahas meta filosofi dari sudut pandang Indonesia.

1. Analytic
2. Continental
3. Timur
4. Indonesia
5. Living Philospher

Secara umum, filosofi terbagi menjadi dua: analytic dan continental. Saya menambahkan filosofi Timur dan Indonesia. Sebagai bonus, saya mengambil beberapa contoh living-philosopher yaitu filsuf yang masih hidup sampai saat ini. Untuk memahami itu semua, kita perlu terbang tinggi. Membuka mata dan hati. Berpikir terbuka terhadap semua yang ada.

1. Analytic

Tradisi filosofi analytic merupakan tradisi filsafat yang sangat kaya. Ide-ide segar berkembang dengan subur dalam tradisi analytic. Berkembang pada masa peralihan ke abad 20, dipelopori oleh Russell bersama muridnya, Wittgenstein, dan kolega Moore. Russell menolak metafisika Hegel dan merangkul logika Frege.

Wittgenstein-muda melengkapi dengan logika bahasa atomis yang mengukuhkan nilai kebenaran proposisi secara atomis – layaknya sistem periodik atom sains kimia. Selanjutnya, Wittgenstein-dewasa mengembangkan Investigation yang tidak berhasil memberi solusi kepada masalah filosofi. Tetapi, justru menjadikan satu masalah filosofi berbuah lebih banyak masalah lagi.

Ketegangan Wittgenstein-muda lawan Wittgenstein-dewasa, justru, menjadikan filsafat analytic lebih produktif.

Logical positivism, atau positivism, merupakan perkembangan kontroversial dari filosofi analytic. Positivism hanya menerima dua macam kebenaran yang masuk akal: verifikasi empiris dan aksiomatis. Dengan pembatasan itu, positivism menolak metafisika dan secara langsung, atau tidak, menolak seni, menolak rasa, menolak agama, dan lain-lain. Russell dan Wittgenstian menolak positivism. Meski demikian, positivism berkembang pesat sejak 1920an.

Popper (1902 – 1994) menolak positivism dengan pandangan kritis. Verifikasi empiris tidak mungkin bisa mengkonfirmasi kebenaran suatu teori. Verifikasi empiris hanya bisa menolak teori. Dengan kata lain, pengujian empiris adalah untuk falsifikasi bukan untuk konfirmasi terhadap suatu teori. Seribu kali konfirmasi empiris tidak menjadikan teori menjadi valid. Tetapi, satu kali penolakan empiris sudah cukup untuk menolak sebuah teori. Falsifikasi Popper dikenal sebagai realism rasional kritis.

Dari filosofi Bahasa berkembang ordinary-language-philosophy (OLP), yang mengkaji penggunaan Bahasa sehari-sehari secara filosofis. Dari sudut praktis, OLP memberi manfaat besar. OLP mengkaji Bahasa termasuk konteks penggunaan bahasa. Sehingga, kita bisa memahami makna Bahasa dengan tepat. Lebih jauh lagi, OLP mengkaji bagaimana Bahasa mempengaruhi perilaku personal dan social.

Dua trend di atas – positivism dan OLP – sudah cukup menggusur peran metafisika di tradisi filsafat analytic. Padahal pelopor analytic – Russell, Moore, dan Wittgenstein – bersikap terbuka terhadap metafisika dan kajian filsafat secara lebih luas.

Paruh kedua abad 20, terjadi kebangkitan kembali filsafat analytic yang lebih terbuka terhadap metafisika. Di antaranya metafisika saintifik, normative praktis, dan histori filosofi.

Quine (1908 – 2000) adalah ahli matematika dan filsuf yang mendukung untuk menghidupkan kembali metafisika. Sains dan matematika membutuhkan metafisika. Quine mengkritisi pembedaan pengetahuan analitis dan sintesis dari Kant. Menurut Quine, kita tidak bisa membedakan dengan tegas antara analitis dan sintesis pada pemikiran yang mendalam. Akibatnya, klaim kebenaran apriori perlu dipertimbangkan ulang. Ditambah lagi, dalam kajian sains modern, kita menemukan beragam fenomena yang tidak bisa dipastikan dengan tegas “underdetermined,” misal, mekanika quantum. Jadi, kita perlu bersikap terbuka terhadap keragaman perspektif. Bagaimana pun, Quine mengusulkan agar metafisika tetap sejalan dengan sains. Atau, bahkan sains sebagai fondasi dari penyelidikan metafisika. Pemikiran semacam ini mirip dengan pemikiran Russel.

Rawls (1921 – 2002) adalah filsuf social yang luar biasa dahsyat ide-idenya. Rawls berhasil menguatkan konsep keadilan yang semula normative menjadi praktis. Keadilan menjadi mudah dipahami, bahkan, mudah diukur. Dengan demikian, masyarakat atau Negara, bisa menerapkan teori keadilan untuk kemudian mengukur hasilnya. Rawls merumuskan keadilan berdasarkan prinsip persamaan dan perbedaan. Prinsip persamaan menyatakan bahwa setiap orang adalah sama dalam kebebasan, berkreasi, bekerja, berpendapat, berpolitik, dan lain-lain. Prinsip perbedaan menyatakan bahwa perbedaan hanya sah, ketika, perbedaan itu memberi keuntungan bagi pihak yang lemah.

Sementara, perkembangan histori filosofi makin menyemarakkan lebih banyak ide. Kuhn (1922 – 1996) adalah filsuf yang berhasil menggulirkan revolusi sains. Sains berubah secara revolusioner bukan gradual. Perubahan sains adalah melalui pergantian paradigm sains lama dengan paradigm baru. Misal, paradigm sains mekanika Newton diganti dengan mekanika quantum atau mekanika relativistic. Pada gilirannya, paradigm itu sendiri berubah karena histori. Sehingga, untuk bisa memahami sains, maka, kita perlu memahami histori. Akibatnya, klaim sains tidak bersifat mutlak obyektif. Klaim sains didasarkan pada histori.

Lakatos (1922 – 1974) melangkah lebih jauh dari Kuhn. Ketika, Kuhn menyatakan kita perlu histori untuk memahami sains, maka, apa yang diperlukan untuk memahami histori? Untuk memahami histori, menurut Lakatos, kita perlu sains. Sehingga, histori dan sains saling berdialektika. Feyerabend (1924 – 1994) mengkaji lebih jauh lagi. Ketika, asumsikan, sudah tersedia pengetahuan tentang sains dan histori, maka, bagaimana kita menentukan hubungan antara mereka? Tidak ada cara pasti untuk menetapkan hubungan antara sains dan histori. Bagaimana pun, menurut Feyerabend, kita membutuhkan keduanya: sains dan histori. Feyerabend mengusulkan bahwa kajian apa saja berhak untuk dikembangkan, freedom, dan bertujuan proliferasi pengetahuan – perkembangan pengetahuan.   

Survey statistic menjadi salah satu sumber inspirasi filosofi. Untuk melengkapi intuisi para pengkaji, kita bisa melaksanakan survey kepada kalangan umum dan khusus. Misal, bagaimana analisis kita tentang penggunaan AI untuk mengambil keputusan kebijakan public? Tentu, kita, dan para pengkaji, bisa melakukan analisis. Di saat yang sama, kita bisa melakukan survey public untuk kasus yang sama. Dengan demikian, kita memiliki perspektif yang lebih luas. Dengan berkembangnya media digital, maka, survey statistic menjadi makin mudah.

2. Continental

Filsafat Continental mengkaji filsafat secara luas, mendalam, dan sulit masuk akal. Continental membahas realitas tidak seperti apa adanya. Awalnya, Continental memang membahas realitas apa adanya. Lanjut, ada apanya. Dan, tanpa akhir, ada apa saja?

Husserl tampak menerima pembagian dunia oleh Kant: fenomena dan noumena. Kemudian, Husserl fokus kepada fenomenologi, yaitu, memahami segala sesuatu apa adanya sesuai yang hadir dalam kesadaran manusia. Heidegger melanjutkan dengan fenomenologi-eksistensial sehingga berkembang eksistensialisme oleh Sartre dan dekonstruksi oleh Derrida.

Orang yang akrab dengan analytic bisa kesulitan untuk memahami continental karena memang jauh berbeda. Sebaliknya, orang yang akrab dengan continental bisa sulit memahami analytic karena analytic cenderung lebih spesifik.

3. Timur

Filsafat Timur memiliki sejarah panjang dan kaya akan kreativitas. Pada kesempatan ini, saya hanya akan membahas beberapa pemikiran tokoh besar dari Timur Tengah. Suhrawardi berhasil merumuskan ulang logika menjadi satu bentuk silogisme paling sederhana. Kemudian, Suhrawardi mengembangkan ontologi-cahaya sebagai pengetahuan sejati, otentik.

Ibnu Arabi, sejaman dengan Suhrawardi tetapi tampaknya tidak saling terhubung, mengembangkan konsep kesatuan paling canggih dengan berpuncak ke insan-kamil, manusia sempurna. Manusia adalah ruh bagi alam semesta. Dan, alam semesta adalah badan bagi manusia. Insan-kamil adalah wujud sempurna yang merangkul segala yang ada.

Sadra merumuskan prioritas-wujud yang dinamis berupa gerak-substansial. Sadra berhasil membuat sintesa kreatif dari semua ajaran filosofis yang berkembang sampai saat itu. Pada abad 20, Iqbal mengkaji metafisika Persia dengan dukungan Universitas di Jerman. Dengan demikian, Iqbal berhasil memotrel filsafat Timur dan filsafat Barat secara serentak. Untuk kemudian, Iqbal mengembangkan filsafat proses yang penuh dinamika.

4. Indonesia

Indonesia kaya akan karya filsafat. Karena, saya tinggal di Indonesia, maka, mengkaji filsafat Indonesia menjadi spesial. Di sini, saya hanya akan mengambil sebagian saja yang paling penting. Sunan Kalijaga adalah tokoh penting yang mengajarkan filsafat hidup melalui budaya.

Armahedi mengembangkan filsafat Integralisme yang berusaha menyatukan unsur-unsur penting filsafat, sains, seni, agama, moral, dan lain-lain. Yasraf mengembangkan konsep “Dunia yang Dilipat” sebagai metafor realitas digital yang tumpang tindih tanpa batas-batas. Sementara, Bambang menilai problem utama postmodern adalah dalam bahasa yang menyimpan ketegangan makna denotasi dengan metafora.


5. Living Philospher

Filsafat terus berkembang sampai saat ini. Kita akan mengkaji beberapa pemikiran living-philosopher sebagai contoh filsafat kontemporer.

Kita akan mengkaji pemikiran living-philosopher dari analytic, continental, dan Indonesia.

Nussbaum (1947 – ) menekankan pentingnya sistem pendidikan untuk membentuk manusia sebagai warga semesta yang peduli terhadap sesama dan semesta. Filosofinya mengingatkan bahwa manusia bukan hanya sebagai faktor produksi. Manusia bukan hanya untuk mencari uang. Manusia bukan hanya makhluk ekonomi. Tetapi, manusia memiliki emosi yang lebih penting dari sekedar urusan ekonomi. Pendidikan dari tingkat awal sampai sarjana perlu mendidik generasi penerus untuk cerdas emosi.

Appiah (1954 – ) menekankan dengan kuat bahwa manusia adalah warga semesta. Kita wajib membantu tetangga sebagai mana membantu anggota keluarga. Lebih jauh, semua manusia adalah saudara kita. Bahkan, alam raya juga saudara kita. Persaudaraan kita dengan seluruh manusia dan alam raya melebihi batasan-batasan negara, ideologi, agama, politik, suku, dan apa pun. Appiah mengembangkan konsep kosmopolitan: kita adalah warga semesta.

Badiou (1937 – ) meyakini bahwa filosofi adalah kosong, yaitu, kebenaran sejati apa adanya. Karena itu, filosofi perlu diisi dengan prosedur kebenaran: sains, seni, cinta, dan politik. Badiou mengklaim bahwa matematika adalah ontologi dan ontologi adalah matematika. Karena itu, paling tepat, kita mempelajari filosofi melalui matematika. Bagaimana pun, filosofi saja tidak cukup. Kita perlu melangkah lebih jauh dengan sains sampai politik, semua, dengan bimbingan filosofi (matematika).

Vattimo (1936 – ) terkenal dengan konsep weak-thought dan hermeneutika postmodern. Weak-thought atau pikiran-lemah adalah kesadaran bahwa semua pemikiran adalah lemah. Termasuk pemikiran kita adalah lemah. Karena itu, kita perlu bersikap terbuka untuk saling menguatkan pemikiran. Bagaimana pun, pemikiran yang sudah diperkuat itu masih tetap lemah. Sehingga, harus tetap terbuka dengan penguatan ide-ide baru. Weak-thought adalah etika berpikir terbuka terhadap perkembangan hermeneutika.

Bambang Sugiharto (1956 – ) pencetus ide postmodern sebagai tensi antara kepastian definisi dan metafora. Setiap proposisi, setiap bahasa, bisa dimaknai sebagai definisi formal yang pasti dan, di saat yang sama, bisa dimaknai sebagai metafora yang kaya akan makna. Menjaga dan menghormati tensi antara definisi dan metafora adalah tugas kita di era postmodern ini.

Yasraf (1956 – ) terkenal dengan konsep dunia-yang-dilipat, yang, penuh sesak atas segalanya. Era digital sebagai satu bukti kuat eksistensi dunia-yang-dilipat. Seluruh dunia ada dalam lipatan handphone kita. Tugas umat manusia adalah menafsirkan gegap gempita, gelap suram dan cemerlangnya, dunia-yang-dilipat. Media digital adalah peluang untuk kemajuan umat manusia, di saat yang sama, adalah penjara gelap yang menyuburkan birahi serakah manusia.

Dimitri Mahayana (1967 – ) sudah mengantisipasi perlunya “Menjemput Masa Depan” sejak akhir abad 20. Masa depan era digital sudah hadir di depan kita. Umat manusia, siap atau tidak, harus siap menjemput masa depan itu. Pemikiran filosofisnya terbentang dari era pre-Socrates sampai kontemporer semisal filsafat sains. Perspektif filosofisnya meluas dari Timur sampai Barat.

Budi Sulistyo (1975 – ) mengelaborasi lebih jauh konsep falsifikasi ke bidang kriptografi quantum. Konsep pemikirannya memadukan quantum mechanic, philosophy of mind, near death experience, AI, dan kebijakan Timur mendorong munculnya ide-ide segar filosofis. Paradoks teori quantum menjadi salah satu kajian paling menarik untuk terus dielaborasi.

Armahedi Mahzar (1942 – ) mengantisipasi kemajuan peradaban masa depan, dengan maha karya, integralisme. Berangkat dari analisis filsafat sains, strukturalisme, sampai post-strukturalisme, Armahedi melihat proyek dekonstruksi sebagai tidak memadai. Solusi yang lebih tepat adalah rekonstruksi peradaban dengan kerangka integralisme yang menyatukan perkembangan horisontal dan vertikal. Konsep filosofi Ibnu Arabi, Ghazali, sampai Iqbal mewarnai integralisme.

Catatan Analisis Penutup

Analisis singkat tentang meta filosofi, di atas, menunjukkan bahwa kita perlu berpikir-terbuka. Filosofi terus berkembang meluas dan makin dalam. Tradisi analytic berkembang seiring dengan perkembangan sains. Sementara, tradisi continental terus berkembang dengan pemikiran besar spekulatif. Filosofi Timur terus berkembang seiring dengan etika. Dan, filosofi Indonesia berkembang ke seluruh wacana.

Lebih jauh lagi, filosofi terus berkembang sampai sekarang dengan eksistensi living-philosopher di berbagai tradisi. Sehingga, filosofi selalu punya masa depan. Kita memerlukan berpikir dengan kerangka logika-futuristik. Masa depan penuh tantangan dan harapan. Masa depan penuh misteri.

Tentu saja, seseorang bebas untuk menghindari berpikir-terbuka dengan cara berpikir tertutup. Dia yakin dengan kebenaran hakiki, yang dia miliki, mencakup seluruh kebenaran yang ada – di seluruh semesta, dari masa lalu sampai masa depan. Semua orang harus ikut dirinya agar memperoleh kebenaran. Tidak ada lagi misteri masa depan. Tidak ada lagi tanda tanya. Semua sudah pasti, sesuai dengan yang dia yakini.

Bagaimana pun, masa depan selalu datang menghampiri kita. Future membentangkan waktu sebagai bentangan future-past-present: masa depan, masa lalu, dan masa kini menjadi masa saja.

Berpikir-terbuka mengajak kita menerima misteri. Selalu ada tanda tanya. Selalu ada pesona. Selalu ada tawa. Selalu ada masa depan. Bagaimana masa depan Anda?

Akhir Sains, Agama, dan Filosofi

Akhirnya, segala sesuatu harus sampai pada akhir. Dari satu sisi, akhir adalah benar-benar akhir. Dari sisi lain, akhir adalah awal yang baru.

Akhir dari sains sudah tampak jelas. Akhir dari agama juga jelas. Akhir dari filosofi sama jelasnya. Akhir dari segalanya adalah ajakan untuk berpikir terbuka. Dengan demikian, setiap akhir adalah awal yang baru, pemikiran yang baru. Meski saya memilih kata “berpikir terbuka,” maksudnya, lebih luas dari sekedar berpikir biasa. Berpikir terbuka adalah menjadi diri yang terbuka, hati yang terbuka, dan menjadi realitas yang terbuka.

1. Akhir Sains
1.1 Histori
1.2 Debat
1.3 Konsep
1.4 Fisika
1.5 Matematika

2. Akhir Agama
2.1 Ritual Formal
2.2 Ruh Cinta
2.3 Pembebasan

3. Akhir Filosofi
3.1 Metafisika
3.2 Destruksi
3.3 Keterbukaan

1. Akhir Sains

Sains berkembang sejak awal perkembangan peradaban manusia. Tetapi, sains modern bisa kita lacak berawal dari teori Newton yang menerapkan matematika untuk kajian empiris, sekitar 5 abad yang lalu. Dengan pendekatan matematika ideal, sains berkembang pesat sampai melahirkan teknologi digital. Apakah itu kabar baik bagi peradaban? Tentu saja, banyak perdebatan.

Di masa kini, sains fisika mencapai titik kematangan sebagai interpretasi terhadap fenomena. Kita mengenal interpretasi teori quantum, interpretasi relativitas umum, interpretasi theory-of-everything. Dari bidang matematika, kita sudah berjalan dari sistem formal aksiomatik sampai realisme matematika. Di ujung akhir, muncul challenge dari matematika fiksional: apakah obyek matematika itu benar-benar ada? Obyek matematika, misal bilangan prima, adalah abstrakta yang bersifat fiksional. Tentu saja, banyak ahli yang tidak setuju. Dan, berkembanglah pluralisme dalam matematika.

1.1 Histori

Catatan sejarah menunjukkan bahwa sains sudah berkembang sejak ribuan tahun yang lalu. Kita mengenal Mesir Kuno, Cina Kuno, Yunani Kuno, dan sebagainya. Thales (sekitar abad 7 SM) adalah ilmuwan kuno yang teorinya bisa kita pelajari sampai sekarang, misal teori perbandingan segitiga. Thales memerintahkan murid-muridnya untuk belajar ke Mesir karena di Mesir sudah berkembang sains yang lebih maju.

Khawarizmi (780 – 850) mengembangkan teori aljabar yang metodis sebagai inovasi besar bidang matematika. Selanjutnya, matematika makin berkembang pesat hampir ke seluruh penjuru. Newton (1643 – 1727) adalah ilmuwan paling sukses menerapkan teori matematika ke sains empiris. Sains modern makin kokoh dengan pendekatan matematis. Pada gilirannya, sains mendorong lahirnya teknologi, termasuk, teknologi digital yang mewabah di dunia saat ini.

Sukses sains empiris fisika dalam menerapkan matematika memicu sains di bidang lain menerapkan metode yang sama. Keunggulan sains empiris matematis adalah, pertama, bersifat jelas. Karena proposisi dalam bentuk formula matematika maka setiap ilmuwan dapat memahami dengan jelas dan tegas. Kedua, bersifat kokoh. Karena kebenaran matematika bersifat aksiomatik yang kokoh maka sains mengikuti keunggulan aksiomatik yang sama. Ketiga, mudah direkayasa. Lagi, karena berupa formula matematika, ilmuwan mudah mereka-yasa formula. Ilmuwan tidak harus berhubungan dengan obyek empiris konkret. Cukup mengkaji formula matematika saja – dalam banyak kasus. Lebih-lebih dengan berkembangnya simulasi komputer, maka, rekayasa makin digdaya.

Nasib Manusia

Kehebatan sains modern begitu mempesona, sekaligus, sangat berbahaya. Bagaimana nasib manusia jika semua bisa direkayasa? Bagaimana masa depan alam raya?

Laplace (1749 – 1827) saintis Newtonian pernah mengatakan, “Jika kita mendapat informasi yang lengkap maka kita bisa memastikan nasib masa depan alam semesta.” Dengan berbekal analisis model matematika yang canggih, kita bisa memastikan kapan terjadi gerhana, kapan terjadi musim hujan, dan seberapa deras hujan itu sampai lengkap dengan dampaknya. Dengan demikian, nasib alam raya dapat dipastikan dengan pendekatan sains. Optimisme semacam itu, tampak, masuk akal. Benarkah?

Immanuel Kant (1720 – 1804) mengantisipasi salah arah perkembangan sains dan filsafat melaui trilogi kritik. Kant berhasil menunjukkan cakupan sains, filsafat, dan teologi dengan batas-batas yang jelas. Dengan kritik, Kant menunjukkan secara sistematis keungulan sains empiris dan, sekaligus, kelemahannya. Kelemahan utama sains empiris adalah tidak pernah berhasil melakukan klaim kebenaran universal. Klaim empiris selalu bersifat partikular, terbatas. Dengan demikian, optimisme Laplace sudah melampaui batas kemampuan sains.

Popper (1902 – 1994) meyakini bahwa kita tidak akan pernah mampu meramalkan sejarah masa depan. Mengapa? Perkembangan peradaban dipengaruhi oleh perkembangan pengetahuan manusia. Sementara, pengembangan pengetahuan manusia sering memunculkan inovasi tanpa henti. Berbagai macam inovasi sains tak terprediksi sebelumnya. Akibatnya, kita juga tidak akan pernah berhasil memprediksi masa depan umat manusia serta alam raya. Popper mengembangkan metode falsifikasi: konjektur dan refutasi. Teori sains adalah sebuah hipotesa atau konjektur, untuk kemudian, bisa ditolak (refutasi) oleh eksperimen. Selanjutnya, teori bisa dikoreksi atau diganti dengan yang lebih bagus. Teori tidak pernah berhasil diverifikasi oleh eksperimen. Hanya bisa difalsifikasi. Sains mengalami perkembangan dengan falsifikasi.

Poincare (1854 – 1912) berhasil menunjukkan bahwa teori sains, semisal teori Newton, adalah interpretasi dari fakta. Bukan fakta itu sendiri. Quine (1908 – 2000) melangkah lebih jauh dengan menyatakan bahwa kita tidak bisa membedakan dengan pasti antara fakta dengan konvensi. Karena itu, setiap teori sains terbuka terhadap revisi. Einstein (1879 – 1955) berhasil menyusun teori fisika yang berbeda dengan, dan merevisi, teori Newton. Dengan demikian, Einstein berhasil mengkonstruksi interpretasi sains yang lebih baik dari Newton. Bagaimana pun, dalam penerapan sains sampai saat ini, teori Newton lebih praktis dan sudah mencukupi. Jadi, lebih bagus mana interpretasi Newton atau Einstein?

Nasib masa depan manusia masih penuh tanda tanya.

Paradigma Sains

Thomas Kuhn (1922 – 1996) mengguncang dunia sains dengan megumumkan bahwa kebenaran sains tergantung kepada paradigma. Sehingga, klaim kebenaran sains bisa saja relatif terhadap paradigma dan konteks yang ada. Di satu sisi, penyataan tentang peran paradigma dalam sains bagai kritik tajam kepada sains. Di sisi lain, dengan mencermati paradigma, sains justru mampu melompat tinggi dalam inovasi.

Kuhn menyarankan agar kita mempelajari histori untuk bisa memahami sains dengan baik. Dari histori, kita bisa memetakan beragam paradigma yang berkembang di masyarakat serta konteks yang ada. Selanjutnya, kita bisa memastikan klaim sains di masyarakat yang bersangkutan. Dengan demikian, sains membutuhkan histori. Sains tidak bisa lepas dari histori.

Imre Lakatos (1922 – 1974) menyambut ide Kuhn bahwa sains memerlukan histori. Lakatos, yang akrab dengan dialektika Hegel, melihat dari arah sebaliknya. Bukan hanya sains yang membutuhkan histori. Tetapi, histori juga membutuhkan sains. Sehingga, sains dan histori secara terus-menerus berdialektika. Lakatos mengusulkan “program riset” sebagai solusi. Program riset yang progresif diterima, untuk kemudian, terus dikembangkan. Sementara, program riset yang merosot perlu ditinggalkan, untuk kemudian, diganti dengan yang lebih progresif.

Feyerabend (1924 – 1994) melanjutkan dialektika Lakatos. Ketika sains dan histori saling mempengaruhi, maka, bagaimana kita menetapkan klaim validitas sains? Apakah dari sains, kemudian, kita bisa memahami histori? Atau, sebaliknya, dari histori, kemudian kita bisa memahami sains? Dari beragam kriteria yang ada, Feyerabend menyimpulkan bahwa tidak ada prosedur universal untuk klaim kebenaran sains mau pun histori. Feyerabend mengusulkan solusi “freedom”. Semua pihak bebas untuk melakukan kajian, untuk kemudian, hasil kajian terbaik berhak terus berkembang. Pendekatan bebas seperti ini sering dikenal sebagai sains anarkis.

Pada masa tuanya, Kuhn mengembangkan penjelasan lebih detil tentang revolusi sains. Dari perspektif histori, perkembangan sains bersifat revolusi, yaitu, melompat dari satu paradigma ke paradigma lain. Sementara, dari perspektif saintis bersangkutan, perkembangan sains bersifat evolusi tahap demi tahap dalam kerangka paradigma tertentu. Karena perjalanan histori beragam sesuai keragaman konteks dan sikap manusia, maka, perkembangan evolusi sains juga beragam ke berbagai arah.

Barangkali, kita bisa bergerak ke perkembangan teori matematika yang lebih murni. Dengan harapan, kita akan berhasil menemukan kriteria universal untuk klaim kebenaran sains. Di bagian bawah, kita akan membahas secara khusus tentang filosofi matematika. Di bagian ini, cukuplah kiranya kita membahas singkat saja.

Frege (1848 – 1925), Hilbert (1862 – 1943), dan Russell (1872 – 1970) adalah beberapa nama besar yang mengembangkan filosofi matematika sampai level tertinggi di masanya. Matematika adalah sistem aksiomatik sederhana yang nilai kebenarannya bersifat universal; terbebas dari data empiris, terbebas dari histori, dan terbebas dari sains. Kemudian, sistem aksiomatik ini diterapkan ke sains secara luas. Sehingga, diharapkan, sains memiliki klaim kebenaran yang bersifat universal sebagai mana matematika.

Tidak perlu waktu lama, bahkan Russell sendiri, menemukan paradoks pada sistem formal aksiomatik itu. Meski, kemudian, Russell berhasil menemukan solusi untuk paradoks itu. Tetapi, paradoks terbesar dirumuskan oleh Godel (1906 – 1978), kelak, dikenal sebagai paradoks Godel. Sampai sekarang, paradoks Godel terbukti valid. Maksudnya, setiap sistem formal, pasti, memiliki paradoks yang menjadikannya tidak lengkap.

Para ilmuwan menyikapi paradoks Godel dengan beragam. Pada akhirnya, matematika sampai kepada sistem matematika yang plural. Tidak ada sistem matematika yang bisa mengklaim kebenaran tunggal secara universal. Beragam sistem matematika yang berbeda-beda, bisa, saling melengkapi.

Ontologi

Ontologi mengkaji being-qua-being atau apa sejatinya yang ada. Pertanyaan ontologis sudah menjadi kajian utama sejak awal sejarah. Misal, kita mengenal ada 4 unsur utama pembentuk alam raya: air, api, tanah, dan udara. Ditambah satu lagi unsur yang lebih lembut yaitu ether.

Demokritus (460 – 370 SM) adalah pemikir pertama yang mengenalkan konsep atom. Seluruh alam semesta terdiri dari partikel-patikel terkecil berupa atom. Russell memuji teori atom dari Demokritus ini sebagai teori paling ilmiah pada jamannya – dua ribu tahun yang lampau. Kelak, benar saja, teori atom ini berkembang secara ilmiah.

Di era modern, kita mengenal teori atom Dalton, Rutherford, Bohr, dan, tentu saja, teori mekanika quantum. Jadi, benarkah alam raya ini memang tersusun oleh atom-atom?

Di abad 21 ini, seharusnya, kita bisa menjawab dengan tegas. Memang benar, secara makrokospis, alam raya ini terdiri dari partikel-partikel kecil berupa atom. Kita memiliki sistem periodik unsur-unsur kimia yang diupdate setiap saat. Tetapi, secara mikrokospis, mekanika quantum meragukan pandangan realisme ilmiah semacam itu.

Di satu sisi, mekanika quantum berhasil mengkaji realitas partikel paling tersembunyi, partikel subatomik. Di sisi lain, mekanika quantum hanya berhasil sebagai interpretasi terhadap realitas. Mekanika quantum bukan realitas itu sendiri tetapi interpretasi terhadap realitas. Dan, salah satu interpretasi terkuat adalah pandangan yang menyatakan tidak ada realisme ilmiah pada tataran mikrokospis. Maksudnya, tidak ada realitas obyektif di dunia luar sana. Realitas obyektif itu baru tercipta ketika ada pengaruh dari pengamat subyektif.

Secara ontologis, kita bisa mengkaji realitas dari arah yang berbeda.

Parmenides (515 – 460 SM) meyakini hanya ada satu realitas tunggal yaitu being atau wujud. Selain being adalah tidak ada atau nothing. Karena nothing adalah tidak ada maka kita tidak bisa membahas nothing. Kita hanya bisa membahas being semata. Kelak, pandangan Parmenides ini memicu beragam kajian yang panjang.

Ibn Arabi (1165 – 1240) dan Sadra (1570 – 1640) mengembangkan teori being atau teori wujud secara sistematis dan dinamis. Realitas yang ada adalah wujud saja. Di satu sisi, wujud adalah tunggal. Di saat yang sama, wujud adalah beragam, berbeda-beda secara gradasi intensitas. Wujud, secara terus-menerus, bergerak dinamis menuju wujud yang lebih sempurna. Dengan demikian, kajian sains apa pun, selama berhubungan dengan realitas, maka akan selalu mengalami perubahan secara dinamis.

Heidegger (1889 – 1976), justru, mengajukan pertanyaan lebih mendasar, “Apa makna being?”

Ada pohon, ada elektron, ada sains, ada teknologi, dan ada Tuhan. Tetapi, apa makna-ada itu sendiri? Apa makna-being? Apa makna-wujud?

Kita meyakini makna-ada sudah jelas di mana saja, terbukti dengan sendirinya, dan tidak bisa didefinisikan. Tetapi, apakah keyakinan seperti itu menjadikan makna-ada lebih jelas? Heidegger mengajukan pertanyaan ontologis ini sejak tahun 1926 ketika menulis buku Being and Time. Dan, mendedikasikan seluruh sisa hidupnya, selama 50 tahun sampai 1976, untuk menjawab pertanyaan makna-ada. Jawaban Heidegger, makna-ada adalah bersifat temporal dan historal.

Karena sains adalah being, sains adalah ada, maka sains bersifat temporal. Maksudnya, sains akan selalu berubah seiring waktu. Sains akan senantiasa mengalami revisi setiap hari. Sains juga bersifat historal, yaitu, sains diciptakan oleh sejarah dan menciptakan sejarah. Dan, yang sangat penting, karakter fundamental dari being adalah care atau peduli. Sikap peduli adalah yang menjadikan being berkualitas tinggi – termasuk kualitas sains.

Derrida (1930 – 2004) menyambut baik kajian ontologis yang mempertanyakan makna-ada. Untuk mengungkapkan makna-ada lebih jelas, Derrida mengembangkan program dekonstruksi – yang merupakan saduran dari kata destruksi Heidegger.

Dekonstruksi adalah “operasi” mengungkapkan being yang tersembunyi agar menjadi lebih jelas. Awalnya adalah benih. Kemudian, tumbuh akar, batang, dan daun. Akhirnya, menjadi pohon yang rindang dan berbuah. Itu adalah contoh dekonstruksi pada benih. Sehingga menjadi jelas ada akar, batang, dan daun. Tetapi, benih dan pohon adalah realitas fisik yang bersifat terpisah-pisah.

Kita bisa mengambil contoh pengetahuan geometri. Awalnya geometri. Kemudian, ada bidang datar. Lalu, ada segitiga siku-siku. Berlaku teorema Pythagoras. Dan, formula teorema segitiga ganjil. Dalam contoh dekonstruksi geometri ini terjadi “pengungkapan” being menjadi lebih jelas. Being yang lebih matang, yang lebih akhir, adalah lebih konkret dan, di saat yang sama, meliputi being yang lebih general.

Pergerakan dekonstruksi adalah dari general menuju konkret atau dari genus menuju diferensia.

Teorema Pythagoras adalah lebih konkret dari geometri. Sehingga, Pythagoras meliputi geometri. Analisisnya bisa sebagai berikut. Pythagoras meliputi segitiga siku-siku. Maksudnya, Pythagoras berlaku pada segitiga siku-siku. Sehingga, Pythagoras meniscayakan “ada” segitiga siku-siku. Selanjutnya, segitiga siku-siku meniscayakan bangun datar dan geometri. Dengan demikian, Pythagoras meliputi seluruh genus yang lebih general – dari segitiga sampai geometri.

Selanjutnya, saya mengembangkan formula segitiga ganjil yang berlaku pada teorema Pythagoras. Dengan analisis yang sama, kita bisa menyatakan bahwa formula segitiga ganjil meliputi seluruh genus yang lebih general – Phytagoras, bangun datar, sampai geometri.

Dalam ranah sains, dan teknologi, operasi dekonstruksi adalah suatu keharusan. Maksudnya, sains niscaya bergerak dari genus yang general menuju diferensia yang konkret.

Dinamika

Kiranya, sampai di sini, cukup valid, kita menyatakan bahwa sains dan teknologi senantiasa berubah secara dinamis. Apakah perubahan ini ke arah yang lebih baik? Atau, tidak bisa dipastikan?

Arah dinamika sains bisa dipastikan ke arah yang lebih sempurna dan lebih konkret. Tetapi, tidak bisa dipastikan sebagai lebih baik. Kadang lebih baik, dan tidak jarang, lebih buruk. Ledakan bom nuklir, mesin pembunuh massal, penipuan bisnis digital, dan lain-lain adalah contoh perkembangan yang tidak baik. Sementara, secara umum, perkembangan sains dan teknologi bisa memperbaiki kehidupan umat manusia. Belajar dari sejarah menjadi pilihan utama.

1.2 Debat

Sampai saat ini, debat sains dan filsafat masih terus berlangsung. Khsusunya, dari sisi filsafat, perdebatan merupakan suatu keharusan. Di bagian ini, kita akan mengkaji beberapa perdebatan berhubungan dengan empirisme, eksplanasi, realisme, dan value.

Empirisme

Sains modern tampak identik dengan empirisme. Atau, empirisme menjadi paling utama di antara pandangan non-empirisme. Tentu saja, dengan mudah kita mengamati bahwa empirisme terlalu ketat membatasi wilayah. Sains dan filsafat lebih luas dari empirisme. Realitas lebih dari sekedar fakta empiris.

Eksplanasi

Realisme

Value

1.3 Konsep

Kausalitas

Idealisasi

Probabilitas

Pseudosains

Unifikasi

1.4 Fisika

Newton

Einstein

Quantum

1.5 Matematika

Teori Himpunan

Teori Kategori

Matematika Plural

2. Akhir Agama
2.1 Ritual Formal
2.2 Ruh Cinta
2.3 Pembebasan

3. Akhir Filosofi

Wong Jawani: 5 Kunci Menjadi Manusia Sejarah

Kita mengenal banyak orang-orang hebat mengukir sejarah. Hart menulis buku tentang 100 tokoh yang paling berpengaruh sepanjang sejarah, waktu itu, sampai abad 20.

Nabi Muhammad adalah tokoh paling berpengaruh di sepanjang sejarah. Nabi membimbing umat manusia menelusuri jalan cahaya terang benderang. Berikutnya, Isaac Newton menerangi sains dunia dengan pendekatan formula matematis. Dengan cara ini, kekuatan sains makin kokoh. Dan, Nabi Isa membimbing jutaan sampai milyaran umat manusia mendalami kehidupan spiritual. Masih banyak contoh-contoh manusia hebat lainnya.

Mereka manusia sejarah. Mereka mengukir sejarah. Sejatinya, Anda juga manusia sejarah. Anda bisa mengukir sejarah. Anda pasti mengukir sejarah. Kita, memang manusia bersejarah.

Pertanyaannya: apa sejarah yang akan Anda ukir?

Tulisan ini akan membahas manusia sejarah. Saya memilih istilah “wong jawani” atau “jawani” untuk menggambarkan manusia sejarah yang mampu memilih dengan bebas arah sejarah yang hendak dia tulis. Sementara, orang pada umumnya, akan tetap mengukir sejarah – baik dengan pilihan bebas atau tidak.

1. Luma dan Tata
2. Dinamika
3. Salah dan Koreksi
4. Waktu Sejarah
5. Sejarah Baru

Secara istilah, wong jawani berasal dari bahasa Jawa. Wong adalah manusia. Lebih tepatnya, wong adalah manusia ontologis yang berpadanan dengan “dasein” dari Heidegger. Sedangkan, jawani adalah peduli secara otentik atau peduli sejati. Sehingga gabungan wong jawani bermakna dasein otentik. Jika dasein adalah genus dan jawani adalah diferensia, maka, jawani adalah diferensia akhir atau diferensia real sesuai konsep Mulla Sadra. Akibatnya, term jawani sudah meliputi makna wong itu sendiri dengan basit.

1. Luma dan Tata

Kunci ke-1 adalah kita perlu mengalami sebagai “luma.” Yaitu, diri kita adalah anugerah yang luar biasa besar, berlimpah. Alam sekitar kita begitu luas tanpa batas. Orang-orang di sekitar kita adalah manusia-manusia pilihan untuk bersama-sama tumbuh kembang melampaui segala rintangan. Kita adalah luma yang terus-menerus mendobrak semua realitas.

Di saat yang sama, kita adalah “tata.” Kita menjadi realita karena ter-tata. Badan kita tertata dengan baik. Mata, telinga, paru-paru, jantung, dan seluruh organ tubuh kita tertata dengan baik. Alam semesta – matahari, bumi, bulan, dan seluruh galaksi – tertata dengan rapi berputar setiap hari. Semua menjadi nyata karena tertata.

Diri kita adalah luma dan tata. Dan, demikian juga alam raya.

Luma dan tata, kita singkat sebagai tataluma, selalu menjadi realita. Pilihan ada di tangan kita. Apakah menjadi tataluma sekedarnya saja? Yaitu tataluma rajawa, tidak otentik. Atau, Anda memilih tataluma jawani? Yaitu tataluma otentik.

2. Dinamika

Kunci ke-2 adalah dinamika. Segala sesuatu bergerak. Jiwa kita selalu berubah. Semuanya bergerak penuh dinamika. Tidak ada yang tidak bergerak di alam raya ini.

Bahkan, gerak dinamika ini bukan hanya gerak permukaan aksidental. Gerak dinamika ini adalah gerakan substansial – gerak hakiki. Karena itu, wong jawani selalu bergerak secara hakiki. Gerak jasmani dan ruhani.

Gerak hakiki adalah gerak perubahan menuju yang lebih sempurna. Sejatinya, semua gerak selalu menuju lebih sempurna. Tetapi, kadang ada gerak ke arah yang salah, atau pada ukuran yang salah. Pada kunci ke-2 ini, kita akan mengkaji gerak sejati. Kunci ke-1, luma dan tata, adalah landasan untuk menjadi jawani. Sedangkan kunci ke-2 adalah proses wong jawani untuk mengukir, dan diukir oleh, sejarah.

3. Salah dan Koreksi

Wong jawani mengakui dirinya bersalah – baik secara teori mau pun praktis. Karenanya, jawani melanjutkan dengan tindakan koreksi. Orang yang merasa tidak pernah bersalah, justru, dia tidak jawani. Akibatnya, dia tidak perlu melakukan koreksi diri. Kunci ke-3 untuk menjadi jawani adalah menyadari salah diri, untuk kemudian, melakukan koreksi.

4. Waktu Sejarah

Waktu adalah segalanya. Kunci ke-4 adalah waktu sejarah. Secara umum, waktu, kita pahami sebagai sesuatu yang temporal. Yaitu, ada masa lalu, masa kini, dan masa depan. Dengan demikian, ada perubahan di setiap saat. Pun, kita bisa mengukur suatu waktu yang dibutuhkan.

Selanjutnya, kita bisa mengukur waktu untuk terus-menerus ditambahkan. Misal, 1 jam ditambah menjadi 2 jam. Atau, 3 tahun ditambah menjadi 4 tahun. Dengan demikian kita memiliki durasi waktu. Uniknya, setiap durasi adalah berbeda.

Totalitas waktu temporal dan durasi membentuk waktu historal atau waktu sejarah. Wong jawani memanfaatkan dengan baik sifat waktu sejarah yang unik akumulatif ini. Jawani secara dinamis menyongsong masa-depan dengan mewarisi masa-lalu dan menggerakkan masa kini. Pada waktunya, jawani adalah sejarah itu sendiri.

5. Sejarah Baru

Setiap sejarah adalah sejarah baru. Meski, orang mengatakan bahwa sejarah selalu berulang, tetapi, jawani mengulang sejarah dengan gagah berani menjadi sejarah yang diperbarui. Kunci ke-5 adalah sejarah baru.

Berikut beberapa catatan penting.

Lompat ke 2 halaman terakhir.

RUU Sisdiknas 2022: Kritik Transenden

Kabar baik! RUU Sisdiknas meningkatkan kesejahteraan para guru. Menambah semangat baru untuk memajukan pendidikan nasional.

Tentu saja, kita ingin memajukan pendidikan nasional. Salah satu faktor penting adalah meningkatkan kesejahteraan guru dan semua insan pendidikan. Tetapi, perlu hati-hati karena proses pendidikan bukanlah tempat yang tepat untuk mencari keuntungan uang, kesejahteraan, atau kekuasaan. Sebaliknya, sistem pendidikan adalah wahana untuk pengabdian.

Saya akan menulis hanya satu kritik saja terhadap RUU Sisdiknas, pada kesempatan ini.

“Penilaian guru, siswa, dan sistem pendidikan perlu bersifat transenden.”

1. Nilai Siswa Transenden

Penilaian raport siswa atau nilai ujian kelulusan siswa perlu bersifat transenden. Maksudnya, transenden adalah penilaian ini mandiri dari siswa, guru, atau sekolah bersangkutan.

Di RUU Sisdiknas 2022, penilaian tidak bersifat transenden.

Dengan contoh, barangkali akan lebih mudah memahami. Sejak masa lalu, nilai siswa ditentukan oleh guru. Misal nilai matematika siswa ditentukan oleh guru matematika bersangkutan. Penilaian seperti ini tidak transenden.

Siswa bisa mempengaruhi guru untuk menaikkan nilai, misalnya, dengan memberi hadiah kepada guru. Orang tua siswa juga bisa memberi fasilitas khusus kepada guru sehingga guru cenderung bersikap lebih baik dalam menilai siswa bersangkutan. Atau, guru itu sendiri memang “senang” terhadap siswa sehingga obral nilai.

Dalam arah negatif bisa saja terjadi. Guru “marah” kepada siswa sehingga memberi nilai buruk kepada siswa bersangkutan.

Usulan solusi: menciptakan sistem transenden untuk penilaian siswa. Misal, penilaian siswa ditentukan oleh fakultas pendidikan matematika dari universitas terdekat. Sistem ini bersifat transenden dalam arti siswa, guru, orang tua, kepala sekolah, dan lain-lain tidak bisa mencampuri urusan penilaian.

Dengan sistem transenden seperti di atas, maka, siswa dan guru adalah satu tim untuk mencapai tujuan bersama: meraih kualitas pendidikan terbaik. Salah satunya adalah meraih nilai terbaik. Meski, kita tahu, makna pendidikan lebih luas dari sekedar nilai.

Dengan sistem transenden, guru tidak bisa mengancam siswa dengan ancaman nilai yang buruk bila tidak nurut ke guru. Sebaliknya, guru juga tidak bisa dikendalikan oleh siswa dan orang tua.

Kita semua adalah satu tim untuk menciptakan pendidikan dengan kualitas tertinggi. Guru, siswa, orang tua, dan masyarakat luas bersatu padu untuk maju.

Tentu saja, guru tetap berhak membuat nilai raport sebagai laporan. Nilai raport adalah catatan dari guru untuk menunjukkan kemajuan proses belajar siswa. Dengan raport, semua pihak bisa berkomunikasi. Bagian mana saja, kualitas pendidikan yang perlu ditingkatkan. Nilai raport bukan suatu prestasi, juga, bukan suatu hukuman bagi siswa.

2. Karir dan Tunjangan Guru Transenden

Kita perlu menciptakan sistem transenden untuk menilai guru yang berdampak kepada karir dan tunjangan kesejahteraan.

Dengan sistem transenden, guru hanya fokus untuk meningkatkan kualitas pengabdiannya kepada siswa dan masyarakat. Guru tidak perlu “tersenyum” ke sana ke mari agar karir cemerlang. Dengan kualitas pengabdian yang tinggi, guru terjamin makin sukses.

Tentu saja, siswa dan masyarakat luas bisa memberi masukan kepada guru melalui “kotak saran digital”. Lagi, saran semacam itu adalah media komunikasi untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Bukan ancaman dan bukan penilaian.

3. Penilaian Kualitas Sekolah Transenden

Sejatinya, saat ini, penilaian kualitas sekolah sudah bersifat transenden dari sekolah. Tetapi, tidak transenden terhadap universitas tertentu. Sehingga, kita perlu solusi sistem transenden lagi.

Dampaknya, saat ini, terbentuk citra sekolah favorit. Bukan sekedar citra, tetapi benar-benar nyata favorit. Sehingga, sekolah favorit ini menyalahi tujuan pemerataan kualitas pendidikan.

Ambil contoh, SMA 3 Bandung adalah favorit karena tiap tahun puluhan siswa atau ratusan siswa diterima masuk ITB tanpa tes. Sementara, SMA lain yang berjarak hanya sekitar 50 km dari SMA 3 adalah tidak favorit karena tidak ada siswa yang bisa diterima di ITB melalui jalur tanpa tes.

Penilaian kualitas sekolah ini sudah transenden terhadap SMA tapi tidak transenden terhadap ITB atau beberapa universitas. Dampak susulannya, bisa memperparah proses penerimaan mahasiswa baru melalui jalur mandiri – di samping terjadi ketimpangan sekolah favorit seperti di atas. Seperti kita tahu, ada rektor universitas di Sumatera yang ditangkap KPK akibat kasus korupsi.

Kita perlu membangun sistem penilaian yang transenden. Orang bisa menilai sistem transenden sebagai sistem penilaian yang bersifat obyektif, jujur, dan adil. Ditambah lagi, sistem penilaian transenden bersifat transparan bagi publik, karena pendidikan memang kepentingan publik, maka makin besar peluang kualitas pendidikan nasional melompat tinggi.

Semoga Presiden, Menteri, para pejabat, dan masyarakat luas bisa saling membantu untuk memajukan pendidikan nasional.

Bagaimana menurut Anda?

Worksheet Lembar Kerja APIQ (Level C)

Salam

Worksheet Lembar Kerja APIQ (Level Z)

Salam

Cahaya Cinta: dalam Lima Wacana

Cinta menemukan jalannya sendiri. Cinta menembus setiap batas. Cinta mengetuk hati-hati yang gelisah, monoton, mau pun yang berbunga-bunga. Cinta datang pada pandangan pertama. Datang lagi pada pandangan kedua atau, datang lagi, sampai mata tak bisa memandang.

Tak ada kata yang bisa mengungkapkan cinta. Tapi, cinta memang perlu kata-kata. Tak ada kisah yang bisa menuturkan cinta. Tapi, cinta memang perlu dikisahkan. Tak ada ilmu yang cukup untuk mengkaji cinta. Tapi, cinta memang perlu dikaji.

Cinta hanya bisa menjadi. Cinta menjadi hidup kita masa kini, masa lalu, dan masa depan. Meski, kita tidak akan mampu membahas cinta dalam bentuk kata-kata, kita akan mencobanya membahas cinta dalam lima wacana.

A. Wacana Eksistensi.

B. Wacana Pengetahuan

C. Wacana Kebenaran

D. Wacana Ontologi

E. Wacana Aksiologi

Apa lagi yang diperlukan? Kamu, ya kamu! Kamu adalah cinta. Kamu adalah cahaya cinta. Saatnya telah tiba, lebih bersinar bersama cinta. Saatnya, lebih dalam mendalami cahaya cinta dalam relung hati. Saatnya, untuk beraksi menebarkan cahaya cinta ke seluruh penjuru semesta.