Kaca 7: Sejarah

Berawal dari sejarah
Meniti sejarah
Berakhir dalam sejarah

Manusia terlempar
Terbuang
Terhempas
Tertindas
Dalam sejarah

Manusia terpilih
Terberkati
Tertarik
Terarah
Dalam sejarah

Apa sejarahmu
Apa masa depanmu
Apa masa depan semestamu

Kamu hanya setitik debu
Di hamparan laut biru
Di putaran bumi ke matahari
Di tatasurya pojok galaksi

Titik debu jatuh cinta
Menggoreskan pena
Merangkai kode semesta
Mempersembahkan maha karya
Menghadap Maha Cinta

Apa pedulimu
Terhadap sejarah masa lalu
Apa pedulimu
Terhadap sejarah masa depan

Ada yang perlu bicara
Semesta dengan jiwa
Bergandeng tangan berirama
Maha karya menatap Maha Cinta

Titik debu jatuh cinta
Menggoreskan pena
Merangkai kode semesta
Mempersembahkan maha karya
Menghadap Maha Cinta

Ringkasan

(1) Kita berasal dari produk sejarah masa lalu. Badan kita tersusun oleh materi-materi masa lalu. Bahasa dan pikiran-pikiran kita bermodal dari bahan-bahan masa lalu. Mengapa kita ada di sini? Dari masa lalu, menuju masa depan, menyusuri masa kini. Diri kita memang berasal dari sejarah masa lalu. Tetapi, tujuan sejarah masa depan lebih menentukan siapa diri kita sebenarnya. Apa sejarah masa depan Anda?

(2) Cara membaca sejarah, umumnya, adalah dengan mengumpulkan data-data sejarah masa lalu kemudian membuat interpretasi berdasar data tersebut. Wajar akan terjadi keragaman hasil membaca sejarah. Alternatif membaca sejarah adalah dengan memantapkan cita-cita masa depan. Kemudian, kita membuat interpretasi data-data sejarah agar lebih mendekatkan kepada tercapainya cita-cita masa depan. Tentu saja, cita-cita masa depan bersifat dinamis dan progresif.

(3) Semua orang berpartisipasi dalam menciptakan sejarah – termasuk Anda. Memang, catatan sejarah didominasi oleh pihak yang menang, sehingga tidak seimbang. Tetapi, sejarah sejati lebih banyak yang berpartisipasi. Pihak kalah membuka peluang bagi pihak yang menang. Penonton memberi semangat. Dan, situasi kondisi memberi dukungan terciptanya sejarah sejati. Sejarah seperti apa yang hendak Anda ciptakan? Anda memiliki kesempatan untuk mencetak sejarah sejati.

(4) Pada waktunya, Anda akan meninggal, setiap orang akan meninggal. Warisan apa yang hendak Anda tinggalkan? Ada dua jenis warisan utama yang perlu kita siapkan. Pertama, warisan positif, yaitu, warisan yang bermanfaat bagi alam semesta. Kedua, warisan tidak negatif, yaitu, warisan yang tidak merugikan semesta.

(5) Warisan adalah tanda cinta kita kepada generasi semesta. Warisan harta cukup sekedarnya saja. Karena, generasi masa depan memiliki kemampuan untuk menanganinya. Warisan ilmu adalah yang paling bermutu. Ilmu etika pastikan menjadi utama. Ilmu untuk bekerja dan berkarya sama utamanya. Seluruh warisan adalah tanda cinta yang mengalun berirama.

Saran Praktis

(1) Diri kita berasal dari sejarah masa lalu. Maka pelajari sejarah sepenuh hati. Lebih dari itu, kita di saat ini, sedang bergerak menuju masa depan. Sehingga, tetapkan sejarah masa depan Anda. Apa masa depan yang ingin Anda raih? Apa prestasi personal yang akan Anda berikan? Apa prestasi sosial yang akan Anda berikan? Apa prestasi hakiki yang abadi?

(2) Pelajari data-data sejarah yang ada. Pertimbangkan interpretasi orang lain terhadap data-data sejarah. Cobalah untuk membuat interpretasi yang berbeda. Pasti bisa. Lanjutkan dengan mengkaji cita-cita masa depan Anda. Lalu, interpretasikan beragam data-data sejarah itu agar membantu Anda lebih dekat mencapai cita-cita mulia Anda.

(3) Anda bisa menciptakan sejarah. Benar, Anda bisa mencetak sejarah. Meski orang bilang sejarah ditulis oleh pemenang, memang, Anda adalah pemenang. Tersedia banyak bidang, sehingga cukup, bagi tiap orang untuk menjadi pemenang. Pilih beberapa bidang yang Anda minati dan berpotensi Anda menjadi pemenang. Lalu, ukir sejarah Anda, raih prestasi Anda, dan wujudkan cita-cita mulia Anda.

(4) Pada waktunya, kita akan meninggal. Persiapkan bekal Anda untuk perjalanan panjang. Siapkan warisan ilmu dan teladan untuk menjaga semesta agar tidak rusak. Siapkan warisan agar generasi masa depan mengembangkan masa depan lebih cemerlang.

(5) Siapkan warisan harta sekedarnya saja karena generasi masa depan akan mampu menanganinya. Wariskan ilmu Anda melalui berbagai media: ucapan, tulisan, video, dan tentu teladan cinta serta kasih sayang. Ijinkan warisan Anda mengalun berirama bersama masa depan.

Kaca 6: Urup

Urip iku urup
Hidup itu menyala

Hidup adalah menghidupi
Hidup adalah dihidupi
Hidup adalah perjuangan
Untuk saling menghidupkan

Hidup adalah nyata
Hidup adalah realita

Nikmati hidup ini
Nikmati anugerah ini
Nikmati duka ini
Nikmati cinta ini
Kita nikmati yang ada

Urip iku urup
Hidup itu menyala

Menebarkan nyala cahaya
Ke seluruh penjuru semesta
Menyinari sudut-sudut hati
Memberi arti kepada sunyi

Walau hanya sekejap
Hidup di dunia fana
Tuliskan sebuah nama
Bumi langit boleh bangga

Walau banyak tergoda
Walau ternoda dosa
Segera bersihkan semua
Selama waktu ada

Urip iku urup
Hidup itu menyala

Menebarkan nyala cahaya
Ke seluruh penjuru semesta
Menyinari sudut-sudut hati
Memberi arti kepada sunyi

Ringkasan

(1) Hidup ini adalah anugerah utama untuk seluruh semesta. Hidup selalu berubah. Kadang naik, kadang turun. Terasa berat ketika harus naik. Terlena sedikit bisa meluncur turun. Naik dan turun adalah tanda kita memang sedang hidup. Terima hidup ini. Jaga hidup ini. Manfaatkan hidup ini.

(2) Hidup selalu nyata. Setiap masalah pasti ada solusi. Setiap solusi memicu masalah lagi. Begitulah realitas hidup ini. Tak akan pernah berhenti antara masalah dan solusi.

(3) Hidup adalah menyala. Menebarkan karya mempesona lalu sirna. Semangat membara untuk memberi dan mencipta makna. Selalu menyulut kobaran-kobaran cinta seluruh alam raya.

Saran Praktis

(1) Terima hidup Anda dengan damai. Bersyukurlah atas hidup Anda. Jalani hidup Anda dengan memberi arti setiap hari. Temukan masalah. Jika tidak ada masalah maka Anda justru harus waspada karena, sejatinya, selalu ada masalah. Lalu, temukan solusi. Hidup ini selalu menyediakan masalah dan solusi. Nikmati masalah. Nikmati solusi. Nikmati hidup ini.

(2) Benar, hidup ini nyata seperti yang ada di depan mata. Terima dengan baik semua fakta yang ada. Tetapi, makna hidup juga nyata. Maka terima makna hidup Anda di mana pun berada. Lebih dari itu, Anda bebas untuk mencipta makna. Pilihlah makna dan ciptakan makna yang paling berharga untuk Anda dan alam raya.

(3) Setiap orang punya pilihan: memilih hidup yang makin redup atau memilih hidup menyala menebarkan makna. Pilihlah hidup yang menyala. Selalu tebarkan manfaat dan makna ke penjuru dunia. Asahlah hati mengenali sudut-sudut sunyi. Hidup di dunia ini hanya sementara. Pastikan Anda bangga pernah ada.

Hisab Rukyat Haraki: Wujudul Hilal Vs Imkan Rukyat

Umat Islam Indonesia selalu penuh dinamika. Setiap menghadapi awal Ramadhan, Idul Fitri, dan Idul Adha, terjadi perdebatan seru metode hisab dan rukyat. Dari perspektif positif, perdebatan hisab rukyat, membangkitkan umat untuk terus berpikir terbuka tanpa henti. Dalam perspektif negatif, perbedaan hisab rukyat membingungkan umat. Bahkan, ada yang sampai ditangkap oleh aparat. Sungguh, kita perlu berpikir cermat dan tepat.

Saya mengusulkan solusi kajian hisab dan rukyat berupa kajian haraki. Solusi haraki adalah program riset yang progresif, dinamis, dan terbuka.

Apa pun solusi pilihan kita, sikap toleransi saling hormat adalah dasar dari segalanya. Berikut tiga solusi utama yang saya usulkan. (a) Hisab rukyat haraki. (b) Konsensus dinamis. Untuk di Indonesia, penentuan Ramadhan dan Idul Adha bebas boleh berbeda hari. Sementara, penentuan Idul Fitri ditetapkan secara konsensus dinamis bergilir. Misal, di tahun-tahun tertentu sepakat mengikuti wujudul hilal atau KHGT, sementara di tahun-tahun lainnya, sepakat mengikuti imkanur rukyat. (c) Kalender global untuk keperluan sipil mengandalkan konsensus metode hisab dan acuan lokasi-waktu atau konjungsi.

Update 2026, Muhammadiyah menetapkan penggunaan KHGT (kalender hijriyah global tunggal); dampaknya, adalah (d) dissensus menjadi dasar dan konsensus adalah bonus; perbedaan hari Lebaran adalah alamiah sedangkan Lebaran serentak adalah bonus kebetulan belaka. Rekomendasi kepada sidang isbat adalah agar menetapkan keragaman secara lebih awal.

1. Dalil Agama
(a) 12 Bulan
(b) 30 Hari atau 29 Hari
(c) Siang dan Malam
2. Sains dan Teknologi
(a) Sains Newton
(b) Sains Quantum
(c) Relativitas Gravitasi
3. Fallibilism
(a) Berpikir Induksi
(b) Berpikir Deduksi
(c) Berpikir Variasi
4. Riset Progresif
(a) Verifikasi Falsifikasi Tidak Memadai
(b) Riset Degeneratif
(c) Karakter Progresif
5. Solusi Haraki
(1) Kriteria Eksplisit
(2) Verifikasi Falsifikasi
(3) Dinamika Interpretasi
(4) Progresi
(5) Realitas Hakiki
6. Kalender Global
(1) Kalender Global Sipil
(2) Kalender Global Ibadah
(3) KHGT: Kalender Hijriah Global Tunggal
7. Prioritas Nilai
(1) Dissensus
(2) Konsensus
(3) Dinamis
(4) Pilihan Prioritas
(5) Catatan Akhir: Tiga Rekomendasi

Tahun 2023, atau 1444 H, berdasar hisab wujudul hilal, MU menetapkan lebaran Idul Fitri jatuh pada 21 April. Sedangkan NU, dan kemenag, menetapkan 22 April sebagai Idul Fitri. Dengan demikian, MU berpuasa 29 hari dan NU puasa 30 hari. MU dan NU mengawali puasa Ramadhan dengan serentak tetapi hari raya Idul Fitri berbeda.

Tahun 2022 berbeda kasus. NU menerapkan kriteria MABIMS yang baru yaitu 3 derajat (elongasi 6,4). Akibatnya, NU mengawali puasa lebih lambat dari MU. Karena idul fitri 2022 adalah serentak maka NU puasa 29 hari dan MU puasa 30 hari.

Perbedaan hisab dan rukyat menunjukkan ada masalah di depan mata kita. Beberapa orang menganggap hal itu bukan masalah. Boleh-boleh saja. Bagi yang menganggap ada masalah, maka, terbuka peluang untuk mengembangkan kajian yang lebih progresif. Bagaimana pun, akan selalu terbuka bahwa hasil akhir berupa perbedaan awal puasa dan perbedaan penetapan hari lebaran Idul Fitri. Sehingga, sikap saling toleransi, saling respek menjadi penting bagi seluruh umat manusia.

1. Dalil Agama

Hisab adalah metode berdasar perhitungan. Hisab didasarkan pada dalil kitab suci Al Quran yang menyatakan bahwa alam semesta ini berjalan dengan beragam keteraturan. Dengan mengkaji hukum alam, kita bisa mengembangkan metode hisab yang akurat dan presisi untuk menentukan awal bulan. Kita mengumpulkan seluruh data empiris, terutama data astronomis, kemudian mengolahnya dengan perhitungan, metode hisab, akhirnya mampu memastikan posisi hilal di masa depan. Bahkan, kita bisa menghitung posisi hilal sampai puluhan tahun ke masa depan. Hebat.

Rukyat adalah metode berdasar pengamatan. Rukyat didasarkan pada riwayat, hadis Nabi, “Berpuasalah kamu karena melihatnya (hilal).” Tentu saja, rukyat juga didasarkan pada kitab suci Al Quran, yaitu, rukyat mempertimbangkan beragam hukum alam. Jadi, rukyat adalah kombinasi antara hisab dan rukyat.

Dengan demikian, apakah rukyat lebih lengkap dari hisab? Karena rukyat adalah kombinasi hisab dan rukyat, yaitu, kombinasi ajaran AL Quran dan Hadis?

Hisab sama lengkapnya: kombinasi hisab dan rukyat. Misal, hisab wujudul hilal, dari teman-teman MU, adalah riset berdasar data empiris rukyat puluhan tahun atau bahkan ratusan tahun. Kemudian, menghasilkan posisi hilal hakiki (wujudul hilal) dengan presisi tinggi. Jadi, hisab wujudul hilal juga merupakan kombinasi dari hisab dan rukyat. Lebih dari itu, kita bisa memaknai rukyat adalah “melihat hilal melalui sains” maka hisab adalah identik dengan rukyat.

Orang sering salah paham dengan mengira hisab imkanur rukyat adalah metode rukyat. Mereka mengira teman-teman NU mengandalkan rukyat sebagai utama. Tetapi, hisab imkanur rukyat adalah metode hisab dengan mempertimbangkan imkanur rukyat (kemungkinan terlihatnya hilal, visibilitas hilal).

Sehingga, perdebatan wujudul hilal dengan imkanur rukyat di Indonesia bukanlah perdebatan antara hisab lawan rukyat. Tetapi, perdebatan sesama metode hisab yang berbeda dalam makna interpretasi.

Negara yang saat ini menerapkan metode rukyat adalah Arab Saudi.

Tahun 2024, MU menetapkan KHGT (kalender hijriah global tunggal) berdasar hisab secara prinsip; hujan, awan, dan mendung tidak berpengaruh. Awal bulan baru dimulai ketika tinggi hilal 5 derajat ( 8 elongasi) dengan lokasi di mana pun; persyaratan konjungsi terjadi sebelum fajar di Selandia Baru.

Penentuan Waktu

Berikut ini beberapa metode untuk menentukan waktu: tahun, bulan, dan hari.

(a) 12 Bulan

Satu tahun Islam adalah 12 bulan. Al Quran menetapkan tidak ada tahun kabisat, yaitu, tidak ada tahun dengan bulan ke 13. Dengan demikian, tahun Islam adalah murni tahun qamariyah atau tahun lunar atau tahun rembulan.

Keunggulan tahun qamariyah adalah masing-masing lokasi akan mengalami pergeseran musim untuk bulan tertentu. Misal, Ramadhan 2023 di Indonesia bertepatan bulan Maret dan April. Masa itu adalah peralihan dari musim hujan menjelang kemarau. Tahun depan, tahun 2024, Ramadhan di Indonesia akan berada di musim hujan sepenuhnya sampai sekitar 15 tahun. Setelah itu, Indonesia akan berpuasa Ramadhan di musim kemarau, sekitar bulan September.

Bandingkan tahun syamsiah misal Natal 25 Desember akan selalu berada di musim hujan bagi Indonesia dan musim salju bagi Eropa dan US. Begitu juga gabungan qamariyah-syamsiah misal tahun baru Imlek akan selalu berada di musim hujan (Januari Februari), tahun baru Waisak akan jatuh sekitar Mei Juni. Jika tahun baru terlalu awal maka ditambah dengan bulan ke 13 sebagai kabisat.

(b) 30 hari atau 29 hari

Satu bulan Islam adalah 30 hari kecuali sudah terlihat hilal di hari 29 maka cukup 29 hari; atau, terdapat determinan tertentu sehingga 29 hari. Penentuan 30 (Ho) atau 29 (Ha) hari ini yang menjadi pembahasan kita dengan mempertimbangkan hisab dan rukyat.

Karena ada aturan rukyat maka penentuan 30 hari ini menjadi selalu dinamis, di mana pun, dan kapan pun. Beda dengan penentuan 12 bulan, waktu sholat, dan gerhana yang tidak perlu rukyat. Tanpa rukyat, semua bisa ditentukan dengan perhitungan. Tetapi, karena penentuan 30 hari perlu rukyat, maka perlu pengamatan empiris yang dinamis.

(c) Malam dan siang

Secara umum, satu hari adalah satu malam ditambah satu siang. Atau, satu siang ditambah dengan satu malam.

Satu hari bisa dihitung dari Selasa maghrib sampai Rabu maghrib misalnya. Alternatifnya, satu hari bisa dihitung dari Selasa subuh sampai Rabu subuh. Perhitungan hari, dan waktu untuk sholat, berdasar posisi matahari tanpa harus rukyat. Sehingga, cukup dilakukan dengan analisis perhitungan terhadap data-data yang tersedia.

2. Sains dan Teknologi

Kita sadar bahwa saat ini adalah era sains dan teknologi. Kita berharap sains dan teknologi akan menjadi solusi. Benar bahwa sains dan teknologi menjadikan hisab dan rukyat lebih akurat, dan tentu, lebih presisi. Tetapi, sains dan teknologi tidak bisa menjadi solusi bagi keragaman makna interpretasi. Sementara, kajian hisab rukyat dipenuhi beragam makna interpretasi. Dari perspektif tertentu, sains itu sendiri adalah interpretasi terhadap fenomena alam.

Mari kita ambil 3 contoh interpretasi sains dengan paradigma berbeda.

[a] Sains Newton

Sains Newton dianggap bersifat eksak matematis. Asumsikan kita memiliki data yang cukup tentang benda langit, posisi dan momentum, maka kita bisa menentukan tinggi hilal dengan pasti. Contoh senja itu tinggi hilal 0,01 derajat di Papua dan 3,03 derajat di Aceh secara presisi.

Tetapi contoh 0,01 derajat adalah tidak tepat; sesuai Newton. Karena sains Newton melibatkan limit kalkulus. Sehingga 0,01 derajat pasti memerlukan faktor koreksi; yaitu menjadi kurang lebih 0,01 derajat. Jika kurang lebih maka apakah hilal sudah wujud?

Demikian juga ketika tinggi hilal kurang lebih 3,03 derajat apakah bisa diamati atau rukyat bisa berhasil?

[2] Sains Quantum

Heisenberg mengenalkan konsep ketidak-pastian. Setiap pengukuran sains niscaya melibatkan ketidak-pastian antara posisi dan momentum. Bukan karena instrumen yang tidak sempurna; tetapi karena realitas obyek sains memang bersifat tidak pasti.

Jadi, berdasar quantum, setiap pengukuran pasti ada simpangan atau error. Konsekuensinya, tinggi hilal juga perlu mempertimbangkan simpangan atau margin error; demikian juga perhitungan posisi bulan dan benda langit selalu mempertimbangkan simpangan dan error.

[c] Relativitas Gravitasi

Teori relativitas, yang dikembangkan oleh Einstein, menyatakan bahwa gravitasi mampu membelokkan cahaya. Gerak cahaya yang seharusnya lurus bisa berbelok disebabkan oleh gravitasi yang kuat.

Pengamatan hilal memanfaatkan cahaya matahari dan bulan. Bila di antara benda-benda itu, dan ruang di antara mereka, terdapat perubahan gravitasi maka tinggi hilal bisa lebih tinggi atau lebih rendah dari harapan; bisa meleset berbeda dengan hasil perhitungan.

Secara umum: sains bersifat terbuka terhadap ketidak-pastian dan koreksi terus-menerus. Sebaiknya, kita juga bersikap terbuka; siap koreksi diri terus-menerus.

3. Fallibilism

Orang bisa saja mengira kebenaran sains berupa kebenaran mutlak. Bagaimana pun, sain tidak pernah berhasil menjadi kebenaran mutlak. Kebenaran sains adalah kebenaran relatif, kebenaran kontingen, kebenaran sementara. Kebenaran sains yang bersifat sementara itu, justru, menjadi keunggulan sains. Karena, sains menjadi mampu untuk terus-menerus memperbaiki diri tanpa henti.

Konsep fallibilism berlaku kepada sains. Yaitu, sains bisa saja salah. Akibatnya, sains bisa untuk mengoreksi diri dan meninggalkan sikap dogmatis. Hisab rukyat sangat dekat dengan sains. Karena itu, hisab rukyat juga bisa selalu mengoreksi diri.

Sains, hisab, dan rukyat adalah sistem kompleks; lebih dari sekedar verifikasi empiris sederhana. Karena itu, kita perlu mengembangkan beragam prosedur berpikir.

[a] Berpikir Induksi

Berpikir induksi adalah dari data-data yang terbatas (sample), kemudian, kita mengambil kesimpulan yang lebih luas (populasi). Statistik sering memanfaatkan pemikiran induksi. Misal survey produk: dari 100 orang yang ditawari produk baru 30% berniat membeli. Kesimpulan induksi: dari 1000 orang yang ditawari, kita berharap, 300 orang di antaranya berniat membeli. Kesimpulan ini valid. Tentu saja, statistik mengembangkan metodologi yang jauh lebih canggih dari contoh di atas.

Bagaimana pun, kita sadar bahwa kesimpulan dari induksi adalah fallible atau bisa salah. Jadi kesimpulan dari sains juga fallible. Demikian juga, analisis hisab dan rukyat yang kita lakukan adalah fallible; karena melibatkan proses induksi dalam beberapa bagiannya. Konsekuensinya, kita perlu terbuka untuk koreksi diri terus-menerus.

[b] Berpikir Deduksi

Berpikir deduksi adalah dari pernyataan umum, kemudian, mengambil kesimpulan khusus.

Semua persegi memiliki 4 sisi. Meja ini adalah persegi. Kesimpulan deduksi: meja ini memiliki 4 sisi. Kesimpulan ini valid.

A: Semua obyek yang terhalang awan tebal tidak teramati oleh mata.
B: Hilal terhalang oleh awan tebal.

Kesimpulan,
C: Hilal tidak teramati oleh mata.

Kesimpulan deduksi memang dijamin benar oleh premis atau aksioma; seperti contoh kesimpulan C di atas. Problem muncul karena kita tidak bisa memastikan kebenaran premis itu sendiri. Kita tidak bisa memastikan apakah selalu “Hilal terhalang oleh awan tebal.” Demikian juga, kita tidak bisa menjamin “Semua obyek yang terhalang awan tebal tidak bisa teramati oleh mata.” Barangkali ada obyek tertentu yang mampu menembus awan tebal sehingga bisa teramati oleh mata.

Dengan demikian, berpikir deduksi adalah fallible atau bisa salah.

[c] Berpikir Variasi

Dari induksi dan deduksi, kita bisa mengembangkan beragam variasi prosedur berpikir: abduksi; pragmatis; konsensus dan lain-lain. Bagaimana pun, hasil akhir dari pemikiran ini tetap fallible atau bisa salah. Dengan disiplin dan cermat, kita berharap mampu berpikir lebih akurat.

4. Riset Progresif

Riset progresif menjadi alternatif yang baik bagi kita. Hisab dan rukyat, sama-sama, bisa bersifat progresif. Di satu sisi, hisab rukyat bisa saja salah. Di sisi lain, kita bisa mengoreksi setiap kesalahan. Hasilnya, hisab rukyat bergerak progresif dinamis.

[a] Verifikasi Falsifikasi Tidak Memadai

Verifikasi empiris adalah fallible. Pengembangan falsifikasi sudah mencukupi untuk membuktikan bahwa verifikasi empiris tidak memadai. Di sisi lain, falsifikasi hanya mampu me-falsifikasi teori berdasar pengamatan empiris yang hasilnya berupa negasi dari harapan. Jadi, falsifikasi juga fallible.

Singkatnya: teori adalah fallible; pengamatan empiris adalah fallible; kosekuensinya, falsifikasi adalah fallible. Ditambah lagi, setiap pengamatan empiris membutuhkan teori pendukung; menjadi kompleks fallible.

Jadi, kita harus memilih teori yang mana? Pilihan rasional adalah memilih riset progresif dari pada riset degeneratif.

[b] Riset Degeneratif

Riset degeneratif perlu ditinggalkan tetapi bukan berarti salah; hanya berarti tidak berkembang dalam ruang waktu tertentu. Di masa depan, barangkali, riset degeneratif bisa berkembang kembali menjadi progresif. Di sisi lain, riset yang semula progresif bisa jatuh menjadi degeneratif pada situasi tertentu. Jadi, kita perlu berpikir terbuka.

[c] Karakter Progresif

Saya merumuskan lima karakter riset progresif disingkat dengan EKPRO; kita bahas dengan urutan terbalik.

Obyektif. Kaya akan muatan empiris yang obyektif; bisa di-verifikasi oleh banyak pihak. Fenomena-fenomena yang sudah ada bisa dijelaskan oleh riset progresif dengan baik. Lebih dari itu, riset progresif mampu memprediksi fenomena empiris masa depan dengan berani; yaitu prediksi yang tidak bisa diprediksi oleh riset pesaing; dan bisa diuji empiris dengan instrumen yang memadai. Kesimpulan dari pengujian ini, tentu saja, bisa afirmasi atau negasi.

Rasional. Riset progresif memiliki struktur logika yang rasional; yaitu makin mendalam kajian maka makin jelas struktur logika yang bisa dipahami. Lebih lanjut, riset progresif mampu mengembangkan teori-teori baru yang tidak mampu dikembangkan oleh teori pesaing.

Pertumbuhan. Riset progresif terus bertumbuh atau progresif itu sendiri. Tumbuh makin luas cakupan, makin dalam kajian, mau pun makin besar manfaat praktisnya; misal makin banyak lapisan masyarakat yang mengadopsi untuk kebutuhan praktis.

Komparasi. Riset progresif lebih efisien dan efektif dibanding pesaing. Riset pesaing ini bisa saja riset sejenis mau pun riset substitusi sebagai alternatif.

Etika. Riset progresif dikembangkan dan dijaga dengan standar etika yang tinggi. Jika suatu riset melanggar etika maka riset tersebut gagal sebagai progresif; atau, jika penerapan hasil riset melanggar etika maka gagal sebagai progresif. Pengembang dan pendukung riset progresif wajib berperilaku sesuai etika mulia.

5. Solusi Haraki

Solusi haraki adalah solusi yang menetapkan kriteria eksplisit, bagi hisab dan rukyat, sedemikian hingga, kriteria ini bersifat haraki yaitu progresif dan dinamis.

(1) Kriteria eksplisit

Tantangan pertama adalah kita perlu mengungkapkan asumsi dan kriteria secara eksplisit. Karena, dengan eksplisit, kita bisa melakukan koreksi yang diperlukan. Sementara, jika kriteria bersifat implisit maka kita akan sulit untuk melakukan koreksi. Bahkan, sekedar untuk mengenali asumsi implisit saja, kita sudah menghadapi kesulitan.

Kriteria imkanur rukyat versi Mabims, saat ini, adalah 3 derajat dengan elongasi 6.4 derajat.

(a) Tinggi hilal di atas 3 maka hilal mudah dilihat dengan pandangan mata. Sehingga, esok hari adalah bulan baru atau Idul Fitri.

(b) Tinggi hilal di bawah 0, atau di bawah ufuk, maka hilal tidak mungkin bisa dilihat. Sempurnakan 30 hari untuk puasa bulan itu.

(c) Tinggi hilal antara 0 dan 3 derajat maka memunculkan problem. Umumnya, orang Indonesia, menganggap hilal “tidak-mungkin” bisa dilihat. Sehingga, puasa disempurnakan menjadi 30 hari. Jika ada orang melaporkan bahwa dia melihat hilal dengan tinggi, misal, 2 derajat maka kesaksian mereka ditolak. Karena, dengan tinggi 2 derajat, hilal “tidak-mungkin” bisa dilihat.

Saya mencermati ada problem bahasa di sini: “tidak-mungkin”. Bahasa yang lebih tepat, menurut saya, adalah “mungkin-tidak” terlihat. Dengan tinggi 2 derajat, hilal “mungkin-tidak” terlihat. Tetapi, tetap ada kemungkinan kecil untuk bisa dilihat ketika situasi cerah, elongasi memadai, dan dukungan alam sekitar yang sesuai. Untuk memastikannya, kita perlu rukyat dengan pengamatan empiris.

Kriteria wujudul hilal adalah 0 derajat sebagai batas. Jika tinggi hilal di atas 0, di atas ufuk, maka besok adalah Idul Fitri atau bulan baru. Puasa cukup 29 hari saja. Tetapi, jika tinggi hilal di bawah 0, di bawah ufuk ketika matahari terbenam, maka sempurnakan puasa menjadi 30 hari.

Secara umum, wujudul hilal tidak menyebut 0 derajat sebagai kriteria yang eksplisit. Batas 0 derajat adalah realita. Lebih dari 0 bermakna hilal sudah wujud secara hakiki. Apakah hilal bisa dilihat melalui rukyat atau tidak bisa dilihat adalah masalah lain. Rukyat tidak berpengaruh saat itu. Sehingga, wujudul hilal bisa menentukan Idul Fitri jauh-jauh hari tanpa rukyat sama sekali.

Analisis Kriteria. Imkanur rukyat menetapkan kriteria visibilitas hilal adalah 3 derajat dengan eksplisit. Sementara, wujudul hilal menetapkan 0 derajat, secara implisit, sebagai wujud hilal hakiki. Mudah kita pahami bahwa akan terjadi perbedaan Idul Fitri ketika tinggi hilal antara 0 dan 3. Bagi imkanur rukyat sempurnakan puasa 30 hari. Bagi wujudul hilal pasti sudah Idul Fitri lebih awal, puasa cukup 29 hari.

Tetapi ada tantangan tambahan: kapan 29 Ramadhan?

Jika 1 Ramadhan serentak maka 29 Ramadhan juga serentak. Tetapi, pada tahun 2022, Ramadhan tidak serentak. Ketika imkanur rukyat hendak melakukan pengamatan pada 29 Ramadhan, maka saat itu, sudah hari 30 Ramadhan bagi wujudul hilal. Tidak mungkin ada hari 31 Ramadhan. Besok sudah pasti 1 Syawal Idul Fitri. Jadi, kita perlu memastikan tanggal 29 agar serentak.

Solusi haraki mengusulkan kriteria haraki yang eksplisit, dinamis dan progresif.

Kriteria imkanur rukyat yang 3 derajat sudah bagus bersifat eksplisit. Selanjutnya, kita perlu mendukungnya untuk dinamis dan progresif. Haraki mengusulkan kriteria yang lebih berani misal 1 derajat yang dinamis. Jika 1 derajat berhasil diamati hilal maka kriteria progresif menjadi 0,9 derajat misalnya. Tetapi, jika 1 derajat hilal tidak teramati maka kriteria naik menjadi 1,1 derajat misalnya. Hasil rukyat ini tidak secara langsung mempengaruhi penetapan Idul Fitri. Karena, Idul Fitri sudah ditetapkan 21 hari lebih awal berdasar kriteria progresif yang sudah disepakati. Hasil rukyat berpengaruh terhadap kriteria dinamis di masa depan. [Kriteria dinamis ini perlu dikaji lebih detil.]

Sementara, kriteria wujudul hilal dengan batas 0 derajat perlu dibuat lebih eksplisit, dinamis, dan progresif. Apa yang dimaksud dengan 0? Bagaimana dengan tinggi hilal positif 0,0001? Bagaimana dengan negatif 0,0001? Bukankah ada interval toleransi? Apakah puasa 29 atau 30 hari ketika hilal positif 0,0001? Bagaimana dengan lokasi acuan apakah Papua, Jogja, Aceh, atau lainnya?

Singkatnya, kriteria 0 derajat sulit dipertahankan sebagai implisit. Wujudul hilal perlu secara eksplisit menyatakan kriteria hilal hakiki misal 0,5 derajat. Haraki mengusulkan kriteria di 1 derajat yang dinamis dan progresif seperti di atas.

(2) Verifikasi dan Falsifikasi

Kita sepakat bahwa 1 bulan sempurna adalah 30 hari dan, kadang-kadang, 29 hari dengan syarat hilal sudah terlihat.

Ho [hipotesis orisinal] = bulan ini 30 hari

Ha [hipotesis alternatif] = bulan ini 29 hari

Asumsi umum adalah Ho bulan sempurna 30 hari. Andai ada kesulitan, misal karena ada mendung atau ketiadaan data yang diperlukan, maka bulan tersebut adalah 30 hari.

Ha, bulan ini 29 hari, hanya bisa terjadi jika berhasil dilakukan verifikasi dengan bukti yang meyakinkan. Atau, Ha terjadi jika berhasil falsifikasi Ho, yaitu membatalkan Ho. Rukyat, dengan pengamatan empiris, berperan penting untuk verifikasi Ha atau falsifikasi Ho. Tugas untuk verifikasi Ha cukup sulit secara saintifik. Tetapi, falsifikasi Ho relatif lebih mudah. Seribu kali pengamatan hilal yang verifikasi Ha tetap tidak bisa membuktikan validitas Ha. Sementara, satu kali falsifikasi Ho, pembatalan Ho, maka berkonsekuensi untuk menerima Ha.

Rukyat empiris lebih berperan untuk falsifikasi Ho ketimbang verifikasi Ha. Konsekuensinya sama yaitu bulan ini 29 hari.

Melihat dengan angka. Pendukung wujudul hilal bisa berargumen bahwa rukyat hilal bisa bermakna “melihat dengan angka.” Kemajuan sains yang canggih mampu menghitung terjadinya gerhana dengan presisi sampai menit, atau bahkan milidetik, berbulan-bulan sebelum kejadian. Sehingga, tidak ada keharusan rukyat berupa melihat dengan mata. Rukyat bisa dilakukan, dan mencukupi, dengan melihat melalui hitungan angka saja seiring kemajuan sains.

Tentu saja, orang bebas memaknai interpretasi rukyat sebagai “melihat dengan angka.” Kita perlu saling menghormati keragaman interpretasi. Hanya saja, kita tidak mampu melakukan verifikasi dan falsifikasi empiris dengan interpretasi seperti itu. Sementara, sains dan teknologi memberi bobot penting terhadap rukyat pengamatan empiris.

(3) Dinamika Interpretasi

Interpretasi bersifat dinamis. Bahkan, interpretasi adalah freedom bagi setiap manusia. Sehingga, setiap manusia bebas untuk membuat interpretasi pribadi. Ketika MU menetapkan puasa 29 hari, maka, setiap warga MU bebas membuat interpretasi setuju 29 hari atau, malah, memilih 30 hari. Demikian juga, warga NU bisa berbeda interpretasi dengan keputusan resmi NU.

Karena interpretasi bersifat dinamis, bahkan bebas, mengapa kita tidak memilih interpretasi yang paling baik bagi sesama? Justru, karena interpretasi adalah bebas, maka setiap orang bebas memilih interpretasi paling baik atau paling benar atau paling praktis. Akibatnya, interpretasi akan bersifat beragam. Bila interpretasi seragam, tidak beragam, itu adalah suatu kebetulan yang jarang terjadi.

Interpretasi rukyat adalah melihat dengan mata, melihat dengan bantuan alat optik, atau bisa juga melihat dengan angka. Solusi haraki mendukung interpretasi yang memungkinkan verfikasi atau falsifikasi empiris. Yaitu, rukyat adalah melihat dengan mata atau bantuan alat optik.

Pendukung wujudul hilal bisa berargumen bahwa hilal hakiki bisa diverifikasi atau falsifikasi empiris melalui data-data sebelumnya atau data-data sesudahnya. Jika metode verifikasi ini kita terima sebagai empiris maka verifikasi empiris tersebut bersifat tidak langsung.

Kita bisa membuat ilustrasi verifikasi empiris tidak langsung. Selasa pagi adalah 29 Ramadhan yang cerah. Di ufuk timur, ketika matahari jelang terbit, teramati hilal pada ketinggian 2 derajat bersesuaian dengan hasil hisab. [Atau, pertimbangkan pukul 11 siang terjadi gerhana matahari menandakan sudah terjadi konjungsi bulan baru.] Senja Selasa hari itu, mendung gelap sehingga hilal tidak bisa diamati. Padahal tinggi hilal adalah 2 derajat sesuai hisab.

Wujudul hilal memutuskan bahwa Idul Fitri adalah Rabu karena tinggi hilal 2 derajat di atas ufuk. Sedangkan, imkanur rukyat memutuskan Idul Fitri adalah Kamis karena hilal tidak teramati.

Rabu pagi, hilal tidak bisa diamati karena matahari terbit duluan terang-benderang. Rabu senja teramati, dengan jelas, tinggi hilal adalah 9 derajat ketika matahari terbenam. Dari data empiris ini, kita bisa hitung mundur bahwa benar, senja Selasa kemarin, tinggi hilal adalah 2 derajat. Jadi, kita bisa melakukan verifikasi empiris hisab wujudul hilal secara tidak langsung.

Kita juga bisa mengembangkan verifikasi tidak langsung dengan mengamati bulan purnama ketika terbit, ketika di atas kepala, atau ketika terbenam. Gerhana matahari dan gerhana bulan juga bisa menjadi sumber verifikasi empiris secara tidak langsung.

Dari beragam metode verfikasi dan falsifikasi empiris yang ada, rukyat hilal adalah metode paling bagus. Rukyat hilal bisa dilakukan secara langsung ketika matahari terbenam di hari 29 dan semua obyek yang diperlukan tersedia serentak. Pengamat bersiap di bumi, matahari mulai terbenam di ufuk, dan hilal berpotensi untuk diamati. Rukyat menghasilkan data yang akurat.

(4) Progresi

Solusi haraki mengutamakan karakter hisab rukyat yang progresif – makin maju. Kita mencermati progresif, dari sisi kriteria, yang makin akurat dan makin presisi.

Akurat lebih utama dari presisi. Pandangan umum mudah terkecoh oleh data yang presisi. Misal ungkapan presisi yang menyatakan gerhana akan terjadi pada hari Senin, 10 tahun mendatang, pukul 10, lebih 11 menit, lebih 12 detik, lebih 0,012 milidetik dianggap sebagai prestasi luar biasa. Jika ternyata gerhana bergeser lebih awal menjadi pukul 9 lebih 7 detik, maka, ungkapan gerhana terjadi pukul 8.45 adalah lebih akurat meski tidak presisi.

Dengan demikian, hasil hisab yang presisi tetap perlu kita waspadai aspek akurasinya.

Kriteria awal haraki misal 1 derajat. Data empiris terbaru, misal, menunjukkan hilal termati minimal 1,8 derajat. Haraki perlu begerak mendekat misal menjadi 1,4 derajat.

Bagaimana pun, kita berharap rukyat empiris mestinya bergerak progresif makin presisi dengan mendekati 0. Misal, hilal pernah teramati di 0,94 maka kriteria haraki bisa makin progresif menjadi 0,935 derajat. Makin dekat dengan 0 maka makin progresif. Di sisi lain, makin mudah bagi wujudul hilal dan imkanur rukyat untuk mencapai konsensus.

(5) Realitas Hakiki

Apa realitas hilal hakiki? Apa rembulan hakiki? Apa sejatinya obyek ontologi dari hilal?

Pertanyaan mendasar di atas tidak mudah diselesaikan hanya dengan satu solusi. Umumnya, ada dua solusi ontologis yaitu analisis esensial dan analisis eksistensial. Berikutnya, kita menghadapi problem epistemologis hisab rukyat. Terakhir, kita perlu mengakui, secara eksplisit, terdapat problem aksiologi: prioritas nilai.

Analisis esensial berasumsi ada obyek sejati berupa hilal yang obyektif. Hilal ini menunggu untuk ditemukan oleh manusia baik melalui hisab atau pun rukyat empiris. Bagaimana kita bisa tahu bahwa ada hilal obyektif seperti itu? Kita mengetahui hilal obyektif melalui hisab rukyat. Tetapi, hisab rukyat itu sendiri didasarkan pada hilal obyektif. Kita menghadapi logika-melingkar di sini (circular logic). Dalam analisis ontologis, kita sering menemui logika-melingkar, wajar saja. Meski, dalam penerapan logika, kita dilarang menerapkan logika-melingkar.

Asumsikan benar ada hilal obyektif, maka, apakah hilal tersebut statis atau dinamis?

Obyektif dan Tetap. Asumsi umum menyatakan bahwa obyek hilal adalah obyektif, statis, dan tetap. Ketika tinggi hilal 2 derajat, saat itu dan di tempat itu, maka siapa pun yang melakukan pengamatan akan menghasilkan data yang sama. Dengan demikian, diharapkan akan diperoleh kebenaran tunggal yang obyektif.

Obyektif dan Dinamis. Ketika hilal teramati, atau terhitung, dengan tinggi 2 derajat, di saat yang sama, hilal bergerak dinamis. Sehingga, kita tidak bisa mengamati obyek hilal yang identik sama karena hilal selalu berubah baik dari perspektif pengamat mau pun dari sisi obyek hilal itu sendiri. Ditambah, pengamatan sains menunjukkan bahwa hilal, rembulan, mengalami rotasi dan revolusi. Pengamat di bumi juga mengalami rotasi dan revolusi. Matahari juga bergerak di sekitar galaksi.

Obyek dinamis lebih tepat untuk menggambarkan hilal. Sementara, hilal statis adalah sekedar aproksimasi dari realitas hilal dinamis.

Analisis eksistensial mengkaji obyek hilal lebih dinamis lagi. Obyek hilal itu menjadi eksis seperti hasil pengamatan karena ada relasi dengan kita sebagai subyek pengamat. Eksistensi hilal dengan tinggi 2 derajat berelasi dengan eksistensi pengamat yang memiliki paradigma, sudut pandang, dan harapan tertentu.

Sains fisika modern memberi banyak contoh tentang analisis eksistensial. Kucing Schrodinger berada dalam situasi hidup dan mati, di saat bersamaan, superposisi, ketika tidak ada pengamat. Beberapa jam kemudian, seorang pengamat melihat kucing Schrodinger. Maka kucing tersebut menjadi hidup, misalnya. Andai tidak ada pengamat selama 5 hari maka, selama 5 hari itu, kucing tetap superposisi hidup dan mati. Realitas kucing hidup ada relasi dengan pengamat.

Elektron memiliki sifat dualisme: partikel dan gelombang. Tetapi, tidak mungkin suatu obyek, misal elektron, memiliki dua karakter partikel dan gelombang bersamaan. Hanya bisa salah satu saja antara partikel atau gelombang. Eksperimen celah ganda menunjukkan bahwa elektron berperilaku sebagai gelombang ketika tidak ada pengamat. Jika ada pengamat maka elektron berperilaku sebagai partikel. Jadi, obyek elektron punya relasi dengan pengamat.

Teori relativitas, dari Einstein, lebih tegas menyatakan bahwa masing-masing pengamat dengan kerangka acuan yang berbeda akan mengamati obyek yang sama dan hasil pengamatan berbeda. Karena pengamatan hilal melibatkan gerak rotasi bulan dan bumi maka relasi subyek (di bumi) dan obyek (penampakan bulan) menjadi lebih rumit. Sehingga, hasil pengamatan hilal dipastikan akan beragam.

Kiranya, beberapa contoh sains fisika modern di atas sudah memadai bagi kita untuk terbuka terhadap keragaman pengamatan dan perhitungan hilal.

Obyek Matematika Abstrak.

Obyek matematika, misal angka 3, adalah abstrak yang terbebas dari ruang dan waktu. Maksudnya, angka 3 akan tetap menjadi angka 3 di mana pun dan kapan pun. Sehingga, operasi bilangan bulat 2 + 1 = 3 adalah bernilai benar di mana pun dan kapan pun. Obyek abstrak matematika semacam itu bisa kita sebut sebagai esensi ideal.

T = Tinggi hilal adalah 2 derajat.

Apakah pernyataan T bisa selalu benar? Karena tinggi 2 derajat adalah hasil perhitungan, hisab, matematis maka selalu benar? Apakah “2” derajat adalah sama dengan “2” pada bilangan bulat, sehingga, selalu benar? Tidak. Tidak bisa selalu benar. Justru, selalu ada kemungkinan salah.

P = Persegi, yang sisi-sisinya 2 x 2, luasnya 4 satuan.

Pernyataan P di atas selalu benar. Karena obyek “persegi” adalah persegi abstrak matematika. Demikian juga, ukuran sisi 2×2 dan luasnya 4 adalah obyek abstrak matematika. Jadi, luas persegi abstrak 4 satuan adalah selalu benar.

Q = Persegi itu luasnya 4 meter persegi karena sudah diukur sisinya 2 meter x 2 meter.

Peryataan Q tidak selalu benar. Pernyataan Q bisa salah. Bahkan, Q yang menyatakan luas persegi sebagai 4 selalu mengandung kesalahan. Karena, Q berbicara tentang “persegi itu” yang bersifat konkret di dunia nyata. Ketika kita mengukur sisi, bisa jadi 2 meter lebih sedikit atau kurang sedikit. Akibatnya, luas persegi adalah 4 kurang sedikit atau lebih sedikit. Luas persegi konkret adalah sebuah aproksimasi, sebuah estimasi, sebuah pendekatan.

Apakah kita bisa mencetak persegi yang luasnya tepat 4 satuan tidak kurang dan tidak lebih? Tidak bisa. Karena, berdasar “ketidakpastian Heisenberg” selalu ada aspek ketidakpastian.

Apakah tinggi hilal yang 2 derajat adalah sebuah estimasi? Tepat. Sebuah estimasi. Sehingga, kita perlu terbuka dengan adanya toleransi. Ada kurang lebih.

Probabilistik Statistik

Ketika kita menyebut tinggi hilal adalah 2 derajat maka bermakna probabilistik dan statistik. Bukan tepat 2 derajat dengan presisi tinggi dan akurat. Tetapi, sebuah estimasi.

S = Tinggi hilal adalah 2 derajat
K = keyakinan level 90%
I = interval toleransi +/- 0,1

Pernyataan S adalah sepaket dengan K dan I. Klaim 2 derajat diikuti dengan keyakinan 90%. Ada peluang 10%, klaim kita meleset. Itu pun, klaim kita membentang dengan interval toleransi 2 +/- 0,1 yaitu antara 1,9 dan 2,1. Kita masih boleh ngaku benar ketika pengamatan menunjukkan 1,95 misalnya.

Idealnya, kita berharap level keyakinan 100% dengan interval toleransi 0. Tetapi, harapan tersebut tidak bisa dicapai karena justru berkebalikan. Ketika berharap keyakinan mendekat 100% maka interval toleransi justru melebar. Begitu juga ketika membuat interval toleransi mendekat 0 mengakibatkan level keyakinan turun.

R = Tinggi hilal 2 derajat
K = keyakinan level 95%
I = interval toleransi +/- 1,5

Dalam contoh R, level keyakinan naik menjadi 95%. Dampaknya, interval toleransi harus melebar 2 +/- 1,5 yaitu antara 0,5 sampai 3,5 derajat. Pelebaran interval bisa berdampak melemahkan signifikansi informasi. Tinggi 0,5 derajat hampir pasti hilal tidak terlihat. Sementara 3,5 derajat hampir pasti hilal bisa terlihat. Jadi, pasti tidak terlihat dan pasti terlihat.

Alternatif mempersempit interval toleransi bisa menurunkan level keyakinan.

V = Tinggi hilal 2 derajat
K = keyakinan level 60%
I = interval toleransi +/- 0,01

Klaim V lebih presisi dengan interval toleransi +/- 0,01 yaitu antara 1,99 dan 2,01. Tetapi, keyakinan hanya level 60%. Akibatnya, ada peluang 40% meleset. Level keyakinan yang rendah seperti itu, sulit untuk dipercaya, sulit untuk diterima.

Dengan probabilistik statistik, pernyataan tinggi hilal adalah kompleks. Meliputi estimasi tinggi, level keyakinan, dan interval toleransi. Tinggi hilal tidak lagi dinyatakan hanya sederhana sebagai eksak tinggi hilal semata.

Rukyat Hilal Empiris

Karena tinggi hilal adalah kompleks maka rukyat hilal empiris menjadi penentu paling penting. Mari kita mempertimbangkan kompleksitas tinggi hilal dengan beberapa ilustrasi contoh hisab imkanur rukyat dan hisab wujudul hilal.

Hisab imkanur rukyat menyatakan tinggi hilal adalah 2,8 derajat. Apakah besok Ho masih tanggal 30? Atau, hilal akan bisa dilihat sehingga falsifikasi Ho dan menerima Ha besok sudah bulan baru?

Jika 2,8 dianggap sebagai eksak sederhana maka hilal tidak-mungkin bisa diamati. Akibatnya, Ho diterima yaitu bulan ini adalah 30 hari. Sehingga, tidak perlu rukyat empiris. Dan, tidak perlu sidang isbat. Segalanya menjadi lebih hemat.

Tetapi, hilal 2,8 derajat adalah kompleks lengkap dengan K dan I. Bisa saja, hilal mencapai tinggi maksimum 3,1 derajat sehingga teramati dalam rukyat empiris. Dengan demikian, Ho difalsifikasi, ditolak. Konsekuensinya, kita menerima Ha bulan ini adalah 29 hari. Besok, sudah Idul Fitri.

A = Tinggi hilal 2,8 derajat
K = keyakinan level 90%
I = interval toleransi +/- 0,3 yaitu 2,5 sampai 3,1

Rukyat empiris menjadi penentu paling penting ketika kita memandang tinggi hilal sebagai kompleks K dan I. Sehingga, sidang isbat menjadi perlu.

Situasi sebaliknya, juga bisa terjadi.

B = Tinggi hilal 3,2 derajat
K = keyakinan level 90%
I = interval toleransi +/- 0,3 yaitu 2,9 sampai 3,5

Jika 3,2 derajat sebagai eksak sederhana maka dipastikan hilal bisa dilihat. Ho difalsifikasi, ditolak, secara analisis. Ha diterima bahwa bulan ini 29 hari. Tidak perlu rukyat lagi.

Tetapi jika tinggi hilal 3,2 adalah kompleks maka bisa saja tinggi minimum yaitu 2,9 derajat. Sehingga, hilal tidak teramati. Ho diterima bahwa bulan ini 30 hari. Rukyat empiris menjadi penting sebagai penentu akhir.

Wujudul hilal bisa menghadapi problem yang sama. Wujudul hilal yang menganggap tinggi hilal 0,5 derajat sebagai eksak sederhana maka pasti sudah bulan baru. Tetapi, jika wujudul hilal sebagai kompleks maka akan lebih menantang.

C = Tinggi hilal 0,5 derajat
K = keyakinan level 90%
I = interval toleransi +/- 0,6 yaitu -0,1 sampai 1,1

Ada kemungkinan hilal masih negatif sehingga Ho diterima bahwa bulan ini 30 hari. Tugas awal bagi pendukung wujudul hilal adalah mengungkapkan kriteria ini secara eksplisit. Tidak cukup hanya di atas 0 saja. Dengan eksplisit akan membuka gerak progresif.

Mari kita ringkas ulang diskusi kita di bagian realitas hakiki hilal ini. Dugaan awal, kita mengira bisa mengetahui hilal hakiki apa adanya dengan penuh keyakinan. Tetapi, secara ontologis, hilal hakiki itu bisa saja bersifat dinamis dan memiliki relasi kompleks dengan beragam obyek dan subyek pengamat. Akibatnya, klaim pengetahuan kita terhadap realitas hilal hakiki adalah sebuah estimasi belaka. Baik pengetahuan empiris atau pun teoritis adalah estimasi terhadap hilal hakiki. Kita perlu rendah hati untuk berpikir terbuka bahwa pengetahuan kita tentang hilal adalah tidak eksak. Pendekatan probabilistik statistik merupakan pilihan baik. Pengamatan rukyat empiris menjadi faktor penentu paling penting.

6. Kalender Global

Kalender Masehi, akhirnya, disepakati secara global. Umat di seluruh dunia bisa sepakat untuk menetapkan kapan tahun baru 2030 M, misalnya. Sehingga, wajar saja, kita berharap untuk bisa menyusun kalender Hijriyah yang berlaku secara global. Apakah bisa?

Bisa. Tentu saja, kita bisa menyusun kalender Hijriyah yang berlaku global untuk kepentingan sipil, muamalah, dan kesepakatan. Tetapi, kalender untuk kepentingan ibadah, misal menentukan lebaran Idul Fitri, bisa bersifat lebih dinamis.

(1) Kalender Global Sipil

Susah-susah mudah. Kalender global untuk kepentingan sipil, kesibukan sehari-hari, mudah untuk dibuat. Kita hanya perlu menyepakati metode perhitungan dan lokasi acuan. Kemudian, kalender global bisa dibuat. Barangkali perlu dibuat revisi periodik 5 atau 10 tahunan.

Bagaimana pun tetap susah untuk mewujudkan kalender global ini. Meski hanya butuh kesepakatan tetapi kesepakatan semacam itu belum tentu bisa dicapai. Solusinya, bisa beberapa negara sepakat untuk membuat kalender Hijriah global. Kemudian, menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Ketika kalender global ini dirasa praktis maka akan mengundang lebih banyak orang, dan negara, untuk mengikuti.

Salah satu manfaat praktis kalender global ini adalah berdampak langsung terhadap fenomena pasang surut air laut. Nelayan, pelayaran, penambangan di laut, penduduk dekat pantai, dan masyarakat luas akan merasakan manfaat.

(2) Kalender Global Ibadah

Kalender global untuk kepentingan ibadah bisa dibuat tetapi barangkali tidak harus dibuat. Khususnya ibadah puasa Ramadhan, Idul Fitri, dan Idul Adha bersifat dinamis sesuai data empiris rukyat hilal yang bersifat lokal atau regional.

(3) Kalender Hijriah Global Terpadu (KHGT)

Peristiwa menarik terjadi tahun 2024; tepatnya 1 Muharam 1446 H, Muhammadiyah secara resmi mengadopsi KHGT. Tiga kriteria KHGT berikut.

[a] berlaku global; bagi seluruh bumi di hari yang sama.

[b] kriteria tinggi 5 derajat (8 elongasi) di mana pun.

[c] konjungsi terjadi sebelum fajar di Selandia Baru.

KHGT bisa berlaku global karena menerapkan metode hisab murni secara prinsip; meski mengadopsi kriteria imkan rukyat 5 derajat, tetapi ditentukan secara estimasi hisab; hujan dan mendung tidak ada pengaruh. Syarat konjungsi sebelum fajar di Selandia Baru berhasil menghindari beberapa potensi paradoks.

Akankah KHGT berhasil menjadi satu standar global? Kita perlu melihatnya seiring waktu; meski tampaknya sulit sekali. Dibandingkan dengan kriteria Neo MABIMS, KHGT makin melebarkan perbedaan antara MU dan NU.

Mari kita buat ilustrasi: hari Senin adalah 29 Ramadan; apakah Selasa 30 Ramadan? Simulasinya berikut ini.

[a] konjungsi terjadi pukul 04.00 Selandia Baru; sebelum fajar; Senin dini hari.

[b] dari hisab, tinggi hilal di USA 5 derajat lebih sedikit; Senin senja.

[c] kesimpulan: Selasa adalah 1 Syawal karena bukan 30 Ramadan. Awal hari Selasa dimulai 00.00 plus waktu Selandia Baru.

Bagi Neo MABIMS, Selasa adalah 30 Ramadan; Rabu baru 1 Syawal. Jika di USA tinggi hilal 5 derajat maka di Indonesia masih di bawah ufuk; maka besok adalah 30 Ramadan. Bahkan bagi wujudul hilal juga 30 Ramadan. Jadi, ada potensi lebih sering terjadi perbedaan hari raya Idul Fitri di Indonesia karena KHGT dan Neo MABIMS.

Jadi situasi lebih rumit, ketika Senin senja tinggi hilal 5 derajat di US dan konjungsi sebelum fajar Selandia Baru maka [a] KHGT: Selasa itu adalah 1 Syawal; [b] MABIMS: Rabu adalah 1 Syawal.

Skenario KHGT lebih menantang adalah terjadi konjungsi pukul 04.03 (anggap 3 menit setelah fajar) di Selandia Baru tetapi tinggi hilal di USA adalah 5.06 derajat. Berdasar syarat tinggi hilal maka Selasa adalah 1 Syawal; berdasar konjungsi maka Selasa adalah 30 Ramadan. KHGT memilih syarat konjungsi lebih utama yaitu Selasa adalah 30 Ramadan. Konsekuensinya, di Indonesia, Idul Fitri serentak hari Rabu.

Bagaimana prospek untuk serentak antara KHGT dengan imkan rukyat? Sulit sekali. Bahkan, ketika sepakat durasi Ramadan 29 hari, atau sepakat 30 hari, maka mereka bisa tidak serentak untuk awal dan akhir Ramadan. KHGT akan cenderung lebih awal; dan imkan rukyat akan cenderung lebih akhir.

7. Prioritas Nilai

Apa yang paling prioritas bagi Anda? Apa yang paling utama? Apa yang paling penting?

Jawaban terhadap prioritas nilai di atas bisa beragam. Konsekuensinya, umat manusia akan menghasilkan keragaman dalam banyak hal. Tentu saja, keragaman adalah hal yang wajar. Bagaimana kita seharusnya bersikap terhadap keragaman?

(1) Dissensus

Sikap paling dasar adalah menerima dissensus, yaitu, menghormati perbedaan dengan penuh toleransi. Kita mudah menerima dissensus awal puasa Ramadhan yang berbeda. Pihak yang sudah berpuasa bisa dengan hikmat menjalani ibadah puasa. Sementara, pihak yang tidak puasa menghormati dengan cara makan dan minum di tempat yang tersembunyi.

Apakah penetapan Idul Fitri bisa dissensus? Idul Fitri dengan hari yang berbeda? Tentu saja bisa. Tetapi, Idul Fitri berbeda dengan puasa. Sehingga, kita berpikir bahwa Idul Fitri yang serentak akan menjadi lebih baik.

(2) Konsensus

Kesepakatan melalui konsensus bisa menjadi solusi dalam banyak hal. Lampu lalu lintas warna merah disepakati, konsensus, untuk berhenti. Semua orang sepakat. Bila ada yang melanggar dengan menerobos lampu merah maka ada resiko kecelakaan lalu lintas atau didenda berdasar peraturan.

Sehari setelah tanggal 28 Februari 2024 adalah tanggal 29 Februari. Semua pihak setuju. Bila ada yang menganggap hari itu sudah sebagai tanggal 1 Maret 2024 maka dia pusing sendiri. Dia terkucil dari konsensus umat manusia pada umumnya.

Demikian juga, para jamaah haji sepakat dengan keputusan Arab Saudi untuk wukuf di Arafah pada tanggal 9 Dzulhijah. Orang yang tidak sepakat dengan Saudi akan kesulitan melaksanakan wukuf di hari yang berbeda. Akhirnya, semua orang yang ibadah haji sepakat, tercapai konsensus, 9 Dzulhijah sesuai keputusan Saudi. Semua serentak.

Jadi, konsensus berhasil menyelesaikan beragam perbedaan. Benarkah demikian?

Tidak selalu benar. Misal penetapan 9 Dzulhijah di Arab memang bisa disepakati untuk kepentingan wukuf di Arafah. Tetapi, orang Islam di Indonesia bisa berbeda dengan Arab Saudi. Orang Indonesia bisa memilih antara (a) mendahului Arab lebih awal 4 jam atau (b) mengikuti Arab dengan lebih lambat 20 jam. Bahkan, ketika orang Indonesia ingin serentak dengan Arab, tetap, ada kesulitan. Jika di Arab adalah Arafah hari Kamis, maka, serentak dengan Arab apakah bermakna 4 jam lebih awal di hari yang sama Kamis atau 20 jam lebih lambat di hari Jumat? Arab Saudi tidak punya hak untuk menentukan Kamis atau Jumat bagi Indonesia.

Untuk kasus Idul Fitri di Indonesia, andai bisa konsensus maka, bisa serentak. Misal konsensus semua menerapkan hisab wujudul hilal maka akan serentak. Demikian juga jika semua konsensus hisab imkanur rukyat maka akan serentak. Seperti kita tahu, di Indonesia, tidak tercapai konsensus.

Apakah konsensus bisa dipaksakan oleh kekuatan tertentu? Untuk kasus manajemen lalu lintas, konsensus bisa dipaksakan. Tetapi, untuk kasus keyakinan religius, tidak bagus bila memaksakan konsensus. Sehingga, kita perlu berpikir terbuka untuk saling menghormati penuh toleransi.

(3) Dinamis

Dinamika antara dissensus dan konsensus akan terus terjadi dalam banyak situasi. Barangkali, kita bisa mengajukan solusi yang dinamis. Pada situasi yang menuntut konsensus, maka, kita bersama-sama mencapai konsensus. Misal penetapan lebaran Idul Fitri. Sementara pada situasi yang terbuka untuk dissensus, maka, dibebaskan untuk dissensus. Misal penetapan awal puasa Ramadhan.

Skenario untuk Indonesia, kita bisa menyusun rencana konsensus 10 tahun ke depan. Dengan kemajuan hisab rukyat, kita bisa memastikan kapan akan terjadi perbedaan penetapan Ramadhan dan Idul Fitri. Awal Ramadhan, 10 tahun ke depan, dibebaskan apakah akan serentak atau ada perbedaan. Sementara, penetapan Idul Fitri akan menuntut konsensus. Dari 10 tahun, misal, ada 4 tahun perbedaan Idul Fitri. Kita bisa menyepakati dari 2 tahun akan serentak mengikuti wujudul hilal dan 2 tahun lainnya mengikuti serentak imkanur rukyat. Dengan demikian, Idul Fitri akan serentak dalam 10 tahun ke depan.

Keberatan bisa muncul: ibadah Idul Fitri, kok, berdasarkan kesepakatan manusia? Ibadah, ya, harus didasarkan kepada aturan agama yang benar. Bukan konsensus antar umat manusia. Kita perlu mempertimbangkan baik-baik keberatan ini.

Saya membuat aproksimasi model prioritas nilai menjadi 3 seperti di atas: A, B, dan C.

Prioritas A

Kemenag, NU, Persis, dan beberapa ormas lain lebih mendekati Priorotas A dengan menerapkan hisab imkanur rukyat.

Pertama adalah benar. Hisab imkanur rukyat adalah metode hisab yang mempertimbangkan kriteria imkan rukyat, visibilitas hilal, dengan teliti. Sehingga, hisab imkanur rukyat terjamin bernilai benar dari beragam perspektif.

Kedua adalah bijak. Khususnya, kemenag, telah berusaha mengambil langkah bijak dengan mempertimbangkan beragam sudut pandang seluas-luasnya. Seluruh ormas misal NU, MU, MUI, Persis, DPR, diplomat, dan lain-lain diundang untuk berpartisipasi dalam hisab imkanur rukyat. Bahkan, MABIMS melibatkan menteri-menteri agama Brunei, Indonesia, Malaysia, dan Singapura.

Ketiga adalah manfaat. Hisab imkanur rukyat dapat dilakukan secara praktis menggunakan program komputer, misalnya. Sehingga, penentuan awal Ramadhan atau Idul Fitri bisa dipastikan jauh-jauh hari, misal, beberapa bulan di depan. Tetapi, karena mempertimbangkan hasil rukyat hari 29 maka ketetapan sidang isbat hanya bisa dipastikan malam hari tanggal 29 itu. Sementara wilayah Indonesia terbentang luas dari Sabang sampai Merauke.

Prioritas B

MU lebih mendekati prioritas B dengan memilih hisab wujudul hilal.

Pertama adalah benar. Hisab wujudul hilal bernilai benar karena didasarkan pada metode hisab, analisis perhitungan, yang valid secara sains dan matematika. Sehingga, ketika menetapkan tinggi hilal misal 2 derajat, maka, sudah didasarkan pada analisis yang matang.

Kedua adalah manfaat. Hisab wujudul hilal bisa dilakukan dengan bantuan program komputer. Mudah, praktis, dan bermanfaat. Lebih dari itu, wujudul hilal mampu menentukan Idul Fitri beberapa bulan lebih awal. Karena wujudul hilal tidak memerlukan pengamatan empiris di tanggal 29, maka, penetapan Idul Fitri sudah dilakukan jauh-jauh hari dengan pasti.

Ketiga adalah bijak. Hisab wujudul hilal dengan bijak mengkaji dari beragam sudut pandang. MU yang memiliki perwakilan di seluruh Indonesia, bahkan di luar negeri, membahas dengan baik metode hisab wujudul hilal.

Prioritas C

Solusi hisab rukyat haraki lebih mendekati prioritas C. Kriteria haraki dinamis dan progresif.

Pertama adalah bijak. Haraki menerima pandangan dari seluruh pendekatan yang ada. Haraki menerima hisab imkanur rukyat dan hisab wujudul hilal. Kemudian, kita mengolah bersama seluruh masukan yang ada dan menetapkan kriteria awal haraki, misal, 1 derajat. Bagaimana pun, kriteria haraki ini bisa terus diperbarui sesuai perkembangan hisab dan rukyat.

Kedua adalah manfaat. Haraki mudah dikerjakan dengan bantuan komputer. Kemudian haraki menetapkan Idul Fitri 21 hari lebih awal dengan pasti. Rukyat dilaksanakan pada tanggal 29 sebagai penentu kriteria haraki berikutnya secara progresif. Hasil rukyat ini tidak secara langsung mengubah ketetapan Idul Fitri yang sudah diumumkan 21 hari lebih awal. Seluruh tim akan membahas hasil rukyat untuk menjamin dinamika haraki.

Ketiga adalah benar. Metode haraki dijamin bernilai benar karena mempertimbangkan hisab imkanur rukyat, hisab wujudul hilal, rukyat empiris, dan beragam pendekatan lainnya. Lebih dari itu, kebenaran haraki sejalan dengan sikap bijak dan nilai manfaat.

(4) Pilihan Prioritas

Saya mengusulkan untuk memilih prioritas C sesuai hisab rukyat haraki. Dengan pertimbangan bahwa haraki tetap mengakomodasi hisab imkanur rukyat, hisab wujudul hilal, dan pendekatan lain.

Beberapa orang bisa saja mengajukan keberatan bahwa haraki justru menambah masalah, yaitu, menambah lebih banyak pilihan dari yang semula hanya imkanur rukyat dan wujudul hilal saja. Keberatan ini bisa kita atasi dengan pemahaman bahwa penentuan Idul Fitri hanya ada dua pilihan: Ho yaitu bulan ini 30 hari atau Ha yaitu bulan ini 29 hari. Jadi, kita tetap hanya punya dua pilihan saja antara Ho atau Ha. Haraki tidak menambah masalah.

Haraki bertujuan menyelesaikan masalah yaitu memberi cara untuk mencapai kesepakatan memilih Ho atau Ha oleh banyak pihak. Berikut beberapa langkah rekomendasi menerapkan haraki.

(1) Semua pihak bermusyawarah menetapkan kriteria awal haraki misal 1 derajat. Termasuk menyepakati metode hisab yang dipakai, sebaran lokasi pengukuran, dan pijakan bersama tanggal 29.

(2) Musyawarah menetapkan Idul Fitri berdasar kriteria awal haraki, misal 1 derajat, 21 hari lebih awal dari hari lebaran.

(3) Melaksanakan rukyat empiris, pada senja tanggal 29, di berbagai macam titik dan membuka partisipasi bagi masyarakat luas. Hasil rukyat dilaporkan ke panitia khusus dan dipublikasi. Hasil rukyat tidak mengubah ketetapan Idul Fitri tetapi berpengaruh pada kriteria haraki beriktunya.

(4) Musyawarah mengkaji hasil rukyat dan bersiap-siap menetapkan kriteria haraki yang baru. Tetapi, kita masih memiliki data rukyat tambahan sebanyak 11 bulan yaitu rukyat akhir Syawal sampai rukyat akhir Syaban tahun depan. Kita memiliki kesempatan untuk update berdasar situasi nyata di lapangan.

(5) Kembali musyawarah untuk menetapkan Idul Fitri di tahun itu dengan kriteria haraki yang baru. Proses hisab rukyat haraki ini akan berulang secara dinamis dan progresif.

Saya berharap usulan hisab rukyat haraki akan memberi kontribusi positif terhadap dinamika hisab rukyat di Indonesia dan internasional. Bagaimana pun, kita perlu menjunjung tinggi sikap toleran karena boleh jadi ada perbedaan di berbagai aspek pendekatan. Dengan keterbukan, dinamis, dan progresif, kita yakin akan berhasil bergerak menjadi lebih baik.

(5) Catatan Akhir: Tiga Rekomendasi

Mempertimbangkan pembahasan di atas, saya mengusulkan tiga rekomendasi berikut.

(1) Hisab rukyat haraki. Imkanur rukyat dan wujudul hilal, bersama-sama, berpartisipasi dalam hisab rukyat haraki yang terbuka, dinamis, dan progresif seperti kita bahas di atas.

(2) Konsensus dinamis. Untuk awal puasa Ramadhan dan Idul Adha dibebaskan konsensus atau dissensus. Sementara, untuk Idul Fitri diharapkan serentak melalui konsensus dinamis. Misal dalam 10 tahun ke depan ada potensi 6 Idul Fitri serentak dan 4 berbeda. Untuk yang berbeda dibuat konsensus 2 kali serentak mengikuti wujudul hilal dan 2 kali lainnya serentak mengikuti imkanur rukyat.

(3) Kalender hijriah global bisa dibuat berdasar konsensus untuk kepentingan sipil – dan muamalah. Konsensus meliputi metode hisab serta waktu dan lokasi acuan. Sementara, kalender global ibadah tidak ada keharusan untuk seragam. Kalender ibadah bisa dinamis secara lokal atau regional. Tentu saja, jika ada konsensus untuk wilayah yang lebih luas, maka hal itu bagus adanya.

Update Rekomendasi

Tahun 1447 H / 2026, Muhammadiyah (MU) resmi menerapkan KHGT (kalender hijriyah global tunggal). Akibatnya, rekomendasi di atas perlu update di beberapa bagian.

(a) Bhineka Tunggal Ika; berbeda-beda tetapi satu jua. KHGT berbeda dengan IR (imkanur rukyat); sehingga hasil perhitungan KHGT untuk awal lebaran akan berbeda dengan hasil hitungan IR; lebaran tidak serentak. Bila serentak, itu hanya kebetulan belaka.

(b) Sidang Isbat oleh kemenag perlu mempertimbangkan keragaman perbedaan itu. Sehingga, direkomendasikan, keputusan sidang isbat adalah mengakui keragaman dan menjamin setiap warga aman menjalani ibadah sesuai keyakinan.

Misal sidang isbat menetapkan: Lebaran Idul Fitri 1447 H / 2026 bertepatan dengan:

(i) 20 Maret untuk warga Muhammadiyah
(ii) 21 Maret untuk warga NU, Persis, MUI, dll.

Barangkali bila ada yang hendak merayakan 19 Maret, serentak dengan Nyepi, maka dilindungi juga.

(c) Kita perlu menyadari bahwa problem penentuan awal Syawal ini adalah problem kebijakan. Sehingga, penyelesaian berupa kebijakan politik, sosial, budaya.

Problem kebijakan ini berbeda dengan problem, misal, matematika 12 + 1 = B. Kita tahu jawaban yang benar B = 13. Jika ada orang yang tidak paham jawaban 13 maka kita bisa membantunya agar paham B = 13. Dalam kasus normal, semua orang waras akhirnya paham B = 13.

Problem KHGT vs IR berbeda dengan itu. Kita tidak bisa berharap bahwa seiring waktu semua orang akan menerima KHGT; karena seseorang boleh saja menolak KHGT. Begitu juga kita tidak bisa berharap bahwa seiring waktu setiap orang akan menerima IR (imkanur rukyat); karena seseorang boleh saja menolak IR.

Jadi solusinya adalah kebijakan. Seluruh pihak musyawarah untuk menentukan sikap bersama. Direkomendasikan, sikap terbaik adalah bhineka tunggal ika.

Sejarah Kalender 2500 Tahun

Bangsa Babilon (Irak) telah menyelesaikan problem kalender ini sekitar 2500 tahun yang lalu; yaitu pada abad 5 SM setelah merekam hasil observasi sepanjang 300 tahun dari abad 8 SM. Ribuan tahun sebelum itu, para ilmuwan sudah mempelajari kalender. Hanya saja pada abad 5 SM itu ditemukan siklus Meton:

19 tahun (matahari) = 235 bulan (sinodis)

Seharusnya, 19 tahun x 12 bulan = 228 sinodis. Tetapi perlu tambahan 7 bulan lagi sebagai tanda tahun kabisat; misal menjadi bulan ke 13. Perhitungan ilmuwan Babilon ini hanya beda 0,1 detik untuk 1 bulan sinodis; hasil yang sangat mengagumkan.

Implikasi dari siklus Meton adalah setelah 235 bulan maka posisi bulan, matahari, dan bumi akan nyaris sama persis lagi. Sehingga, kita bisa menghitung tinggi hilal, waktu konjungsi (ijtimak), waktu gerhana, dan lainnya secara akurat serta presisi. Perlu dicatat bahwa tidak ditemukan siklus murni karena gerak benda langit bukan lingkaran sempurna melainkan elips. Sehingga, selalu perlu koreksi.

Babilon menghadapi 3 pilihan untuk menentukan tanggal 1 sebagai awal bulan setelah mereka menghitung secara akurat dan presisi.

Hasil perhitungan: “Ijtimak (konjungsi) akhir Ramadhan 1447 H terjadi pada tanggal 19 Maret 2026 (dini hari UTC).”

H0: Tanggal 1 adalah hari ketika terjadi konjungsi; misal 19 Maret adalah hari raya Nyepi karena terjadi konjungsi.

H1: Tanggal 1 adalah 1 hari kemudian setelah konjungsi; misal 20 Maret adalah 1 Syawal bagi KHGT karena konjungsi terjadi kemarin.

H2: Tanggal 1 adalah 2 hari kemudian setelah konjungsi; misal 21 Maret adalah 1 Syawal bagi IR; karena 19 Maret hilal tidak terlihat maka 20 Maret masih 30 Ramadhan.

Apa pilihan ilmuwan Babilon?

Jawaban ilmuwan Babilon adalah tergantung kebijakan. Karena perhitungan akurat (sejak 2500 tahun lalu) itu memang menghasil H0, H1, dan H2 secara valid. Mereka musyawarah untuk memilih satu dari tiga alternatif yang tersedia. Catatan sejarah menunjukkan sebagian besar era Babilon menetapkan kebijakan H2 karena agar hilal benar-benar terlihat secara jelas.

Apakah Babilon bisa menetapkan hanya satu saja yang benar dari H0, H1, dan H2? Sementara 2 lainnya sebagai salah? Tidak. Mereka tidak menganggap yang lain salah. Ketiga-tiganya sama sah hanya berbeda pilihan.

Bila kita bawa kepada tahun 2026 ini, ketiganya sama-sama sah yaitu hari raya Nyepi (19 Maret), Lebaran KHGT (20 Maret), dan Lebaran IR (21 Maret).

Di saat-saat tertentu, dampak dari dunia yang makin terhubung, H1 maju bisa serentak dengan H0; dan H2 maju bisa serentak dengan H1.

Perdebatan yang kita hadapi di 2026 ini sebenarnya sudah tuntas sejak 2500 tahun yang lalu oleh warga Babilon. Tetapi urusan kebijakan memang akan selalu ada dinamika.

Bagaimana menurut Anda?

Kaca 5: Demokrasi

Aku benar
Aku adalah kebenaran
Aku paling benar
Aku adalah hakekat kebenaran

Apa yang akan terjadi
Jika setiap orang mengaku
Aku paling benar
Ditambah lagi
Pihak lain salah

Benturan demi benturan

Kita perlu bicara
Saling memahami
Komunikasi dalam demokrasi
Menghormati setiap pribadi

Bebas ekspresi
Bebas mengejar mimpi
Bebas membentuk diri
Bebas sebagai diri pribadi

Aku bisa salah
Kamu bisa salah
Mereka bisa salah
Karena bisa salah
Aku butuh berbenah
Aku butuh tanda arah
Aku butuh teman di suatu wilayah

Benturan demi benturan

Kita perlu bicara
Saling memahami
Komunikasi dalam demokrasi
Menghormati setiap pribadi

Masa lalu bisa buntu
Masa kini bisa terbebani
Masa depan selalu terbentang

Sinar masa depan
Membuka pintu masa lalu
Sinar masa depan
Mengurai beban masa kini

Ringkasan

(1) Setiap manusia berhak untuk bebas. Anda adalah manusia bebas. Karena manusia berada dalam situasi unik, ditambah memiliki kebebasan, maka, muncul keragaman. Kita perlu sikap demokratis menghargai keragaman dan mengembangkan kebebasan.

(2) Adil menjadi paling utama dalam masyarakat demokratis. Adil kepada yang kalah. Dan, tentu, adil kepada pihak yang menang. Adil adalah memberikan hak sesuai hak semua pihak. Mudah diucapkan. Tidak selalu mudah dipraktekkan. Demokrasi perlu terus-menerus berjuang menciptakan keadilan.

(3) Setiap orang adalah pakar demokrasi. Politikus dan pejabat perlu menjadi pakar demokrasi. Dalam kehidupan sehari-hari pun, kita perlu menjadi pakar demokrasi. Kesibukan di kantor, di komunitas hobi, di keluarga, dan lain-lain perlu demokrasi. Bahkan, kita perlu bersikap adil kepada binatang, tumbuhan, dan alam raya.

(4) Politik adalah wilayah kritis paling membutuhkan sikap demokratis. Suara terbanyak tidak menjamin demokrasi. Tetapi, demokrasi menjamin hak suara terbanyak. Karena, demokrasi menjamin setiap suara baik minoritas mau pun mayoritas. Politikus perlu sikap terbuka terhadap suara dari luar. Lebih dari itu, politikus perlu kritis terhadap diri sendiri. Politik menampilkan wajah asli anak manusia – baik dan buruknya.

(5) Demokrasi mengajak kita untuk menyongsong masa depan. Demokrasi merangkul keragaman dalam alunan nada-nada dinamika.

Saran Praktis

(1) Setiap hari kembangkan kebebasan diri Anda. Berbuat baik adalah cara memperluas kebebasan diri Anda. Sebaliknya, perbuatan buruk meruntuhkan kebebasan Anda. Karena perbuatan buruk, orang menjadi sakit, menjadi hidup sulit, menciptakan hutang-hutang melilit. Hindari keburukan dan perbanyak kebaikan. Anda siap menjadi manusia bebas. Amal kebaikan apa saja yang akan Anda lakukan hari ini?

(2) Selalu berlakulah adil. Ketika Anda berbuat sesuatu hari ini, tanyakan pada diri sendiri, apakah adil buat orang lain? Apakah adil bagi orang-orang yang tidak melihat perbuatan saya? Apakah adil kepada orang-orang yang mungkin kena dampaknya? Pastikan perbuatan Anda adil bagi semua pihak. Kadang tidak mudah menentukan perbuatan Anda sebagai adil atau tidak. Karena itu, dengarkan suara hati Anda. Dengarkan suara hati orang lain. Dengarkan ide-ide yang berbisik dari beragam media.

(3) Kembangkan sikap demokratis di banyak bidang. Dengarkan orang lain, lalu berusahalah untuk memahami. Kemudian, sampaikan ide Anda kepada orang lain. Berusahalah agar mereka memahami Anda. Setelah saling memahami ambil keputusan secara demokratis. Bisa saja tercapai sepakat antara Anda dengan orang lain. Bisa juga tidak tercapai sepakat, tetapi, tetap saling menghormati dalam suasana demokratis. Setiap orang adalah pakar demokrasi. Pastikan diri Anda juga sebagai pakar demokrasi.

(4) Jangan masuk ke dunia politik. Jika terpaksa Anda harus terjun ke dunia politik, maka, manfaatkan demokrasi dengan baik. Waspadalah untuk tetap konsisten di jalan keadilan, kebaikan, dan kebenaran. Jangan pernah korupsi. Jangan pula jadi korban korupsi. Kemudian, carilah cara agar Anda bisa keluar dari dunia politik dengan baik.

(5) Berpikirlah terbuka untuk hidup bersama semesta menuju masa depan cemerlang. Hiduplah demokratis dengan banyak orang. Hiduplah demokratis dengan para binatang, tumbuhan, dan semesta raya. Jalani hidup sebagai pakar demokrasi.



Kaca 4: Teknologi

Teknologi digital menjadi nyata
Kenyataan menjadi digital
Manusia menjadi daring
Daring adalah hidup manusia

Teknologi alat bagi manusia
Manusia alat bagi teknologi
Manusia adalah sumber daya
Untuk kemajuan teknologi

Kenyataan beda dengan keharusan

Teknologi mencetak manusia
Teknologi memproduksi manusia
Teknologi mengatur manusia
Teknologi menindas manusia

Kenyataan beda dengan keharusan

Manusia tunduk kepada teknologi
Manusia memuja tekonologi
Manusia hamba teknologi
Manusia adalah teknologi

Kenyataan beda dengan keharusan

Hanya saja
Teknologi tidak pernah berduka
Hanya saja
Teknologi tidak pernah merana
Hanya saja
Teknologi tidak pernah gelisah

Apa yang membuatmu berduka
Membuatmu merana
Membuatmu gelisah
Membuatmu jadi manusia

Kenyataan berbeda dengan keharusan

Manusia perlu berduka
Perlu merana
Perlu gelisah
Perlu jadi manusia

Ringkasan

(1) Awalnya, teknologi adalah sekedar alat bagi manusia untuk mencapai suatu tujuan. Berikutnya, teknologi menjadi tujuan utama bagi manusia. Mereka yang menguasai teknologi menjadi menguasai seluruh sumber daya. Resiko besar mengancam: manusia menjadi sumber daya bagi teknologi.

(2) Teknologi paling dasar adalah penguatan bagi tubuh manusia. Misal, pisau menguatkan tangan manusia memotong dahan. Kemudian berkembang. Teknologi menguatkan indera manusia. Kamera menguatkan mata manusia mampu melihat benda yang berjarak ribuan kilometer melalui siaran streaming, misalnya.

(3) Berkembang lagi, teknologi menguatkan pikiran manusia. Kalkulator bisa berhitung dengan cepat. AI, misal ChatGPT, mampu memberi jawaban pertanyaan yang rumit dengan seketika.

(4) Bisakah teknologi memiliki jiwa? Sepasang suami istri saling mencintai. Mereka adalah belahan jiwa satu sama lain. Saat ini, seorang laki-laki bisa saja menikahi boneka. Seorang perempuan juga bisa menikahi boneka. Bisakah boneka-boneka itu memiliki jiwa? Bisakah teknologi menjadi diri yang mandiri?

(5) Badan kita adalah teknologi. Mata adalah teknologi untuk melihat. Kaki adalah teknologi untuk berlari. Hati adalah teknologi untuk merasa. Otak adalah teknologi untuk berpikir. Siapa yang menggunakan teknologi badan itu? Siapa diri kita? Kita bisa memandang sebaliknya: teknologi adalah badan kita. Komputer adalah badan kita. Mobil adalah badan kita. Bumi adalah badan kita.

(6) Manusia bisa melahirkan manusia. Bisakah teknologi melahirkan teknologi? Bukankah itu yang telah terjadi? Untuk memproduksi mobil kita perlu teknologi. Untuk memproduksi komputer kita perlu teknologi. Kelak, barangkali, untuk memproduksi teknologi hanya perlu teknologi tanpa perlu adanya “kita”. Teknologi makin cerdas.

(7) Teknologi sulit dipahami pada jamannya, pada awalnya. Karena teknologi menyongsong masa depan. Teknologi membuka masa depan. Masa depan seperti apa yang ingin Anda bentangkan?

Saran Praktis

(1) Waspadai bahwa teknologi bisa menjadi alat dan tujuan. Ketika teknologi menjadi alat, maka, pastikan bahwa tujuannya adalah kebaikan bersama. Demikian juga, ketika teknologi adalah tujuan Anda, maka, pastikan ada tujuan yang lebih tinggi yaitu meraih kebaikan bersama. Sebaliknya, kita perlu hati-hati. Jangan sampai kita diperalat oleh teknologi.

(2) Gunakan teknologi untuk memperkuat kemampuan Anda. Gunakan teknologi agar Anda mampu membaca buku-buku bermutu dari seluruh penjuru. Gunakan teknologi video agar Anda mampu mempelajari apa yang terjadi di seluruh belahan bumi. Gunakan AI, artificial inetelligence, sebagai teman diskusi. Gunakan kalkulator secara bijak. Teknologi menguatkan indera manusia. Teknologi menguatkan jiwa manusia.

(3) Teknologi bisa berpikir. Kalkulator bisa menghitung. Komputer bisa menyelesaikan program. AI bisa menganalisis fiksi. Beri tugas yang sesuai kepada teknologi. Jangan bersaing dengan teknologi. Pertimbangkan hasil hitungan kalkulator, hasil program komputer, dan hasil analisis AI. Kemudian, gunakan pikiran terbuka dan suara hati untuk mengambil keputusan terbaik Anda.

(4) Apakah Anda membutuhkan boneka cerdas sebagai teman hidup Anda? Boneka cerdas, barangkali, bisa memenuhi kebutuhan hasrat Anda. Tetapi, boneka cerdas tetap boneka. Sikapi mereka tetap sebagai teknologi. Meski mereka berpenampilan mirip seorang diri yang mandiri. Boneka tidak bisa berbuat dosa. Hanya manusia yang bisa berdosa. Jaga diri Anda tetap di jalur kebaikan untuk semesta.

(5) Kita perlu merawat kesehatan badan kita. Badan adalah teknologi bagi manusia untuk melihat, untuk mendengar, dan untuk berjalan. Dengan cara yang sama, kita perlu merawat teknologi. Alam semesta adalah teknologi bagi manusia. Sehingga, kita perlu merawat alam semesta. Pada gilirannya, alam semesta akan merawat diri kita.

(6) Sapi mampu melahirkan sapi. Pada waktunya, teknologi mampu melahirkan teknologi. Apa masalahnya? Masalah muncul ketika jumlah sapi berlebihan di suatu lokasi. Demikian juga, masalah muncul ketika jumlah teknologi berlebihan dalam suatu situasi. Tugas kita adalah menjaga pertumbuhan yang sehat bagi sapi, teknologi, dan umat manusia itu sendiri.

(7) Teknologi membantu kita melihat masa depan. Teknologi membantu kita menyongsong masa depan. Kita hidup selalu berdampingan dengan teknologi. Manusia tidak bisa hidup tanpa teknologi. Sehingga, kita perlu menyongsong masa depan cemerlang bersama teknologi. Tidak berlebihan dan tidak kekurangan. Alam semesta adalah teknologi.

Kaca 3: Waktu

Sungguh masa depan itu
Lebih baik bagimu
Dari yang berlalu

Waktu akan menjadi saksi
Waktu akan menjadi bukti
Masa membentang
Mendatang, terdahulu, terkini

Tak perlu memusuhi waktu
Jadikan waktu berpihak padamu
Beri masa depan kesempatan
Menyinari masa lalu sampai menghadapmu

Masa depan adalah peluang
Masa depan adalah kebebasan
Masa depan adalah kesungguhan
Masa depan menyapu segala keadaan

Masa lalu adalah hikmah
Masa kini adalah amanah
Masa depan adalah rahmah
Bentangan masa adalah anugerah

Tak perlu memusuhi waktu
Jadikan waktu berpihak padamu
Beri masa depan kesempatan
Menyinari masa lalu sampai menghadapmu

Dan sungguh masa depan itu
Lebih baik bagimu
Dari yang berlalu

Ringkasan

(1) Kita, sebagai manusia, berpikir dengan logika masa. Maksudnya, kita selalu mempertimbangkan waktu. Dengan adanya waktu, kita bisa memikirkan perubahan. Tanpa ada waktu, semua menjadi mandeg tanpa perubahan. Yang paling utama dari logika masa adalah masa depan. Masa depan memberi makna, hikmah, kepada masa lalu Anda. Masa depan memberi arti kepada masa kini yang sedang Anda jalani. Bagaimana pun, totalitas masa adalah bentangan waktu: masa depan, masa lalu, dan masa kini.

(2) Waktu kita terbatas 24 jam sehari atau terbentang dari lahir sampai mati. Sementara, kepentingan kita, dan beban kerja, tampak seperti tak terbatas. Karena itu, kita perlu manajemen waktu dan manajemen kerja yang tepat agar memperoleh hasil optimal. Dua konsep manajemen waktu kerja adalah kuadran waktu dan pronam waktu.

(3) Kita bisa membagi waktu kerja menjadi 4 kuadran. Kuadran 1 adalah penting dan mendesak, maka, Anda harus mengerjakannya. Kuadran 2 adalah penting tetapi tidak mendesak. Sebagian besar pekerjaan kita harus ada di kuadran 2 ini. Kuadran 3 adalah tidak penting tetapi mendesak. Kita perlu mengurangi kegiatan kuadran 3 dan menggantinya dengan kuadran 2, agar, meringankan kuadran 1. Kuadran 4 adalah tidak penting dan tidak mendesak. Kurangi kuadran 4 sampai taraf minimal.

(4) Manajemen waktu bisa dengan membagi 6 pronam. Kita perlu bergeser dari pronam ganjil (1, 3, 5) yang bersikap lalai menuju pronam genap (2, 4, 6) dengan bersikap peduli. Kemudian, kerja dan waktu kita fokus untuk membuka peluang-peluang baru, yang bebas dan membebaskan, serta mengembangkan komitmen tinggi.

(5) Akhirnya, waktu adalah segalanya. Waktu yang akan menjadi saksi bagaimana Anda mempersembahkan maha karya terbaik Anda kepada semesta. Waktu yang akan menjadi saksi bagaimana Anda menjalani segalanya bersama Sang Maha Cinta. Selamat menapaki waktu bersama maha karya Anda dan Maha Cinta.

Saran Praktis

(1) Selalu pikirkan waktu dalam hidupmu. Sadari waktu itu terbatas dari lahir sampai matimu. Pertimbangkan masa depan. Apa cita-cita masa depan Anda? Apa prestasi yang ingin Anda raih ketika mati? Bagaimana nasib Anda setelah mati? Dari perspektif masa depan itu lalu ambil pelajaran masa lalu, dan, modifikasi masa kini Anda. Yakini, Anda memiliki masa depan.

(2) Catat waktu Anda, analisis penggunaan waktu Anda. Apa saja kegiatan Anda dalam 24 jam? Dalam 1 pekan? Dalam 1 bulan? Kegiatan apa yang tidak bernilai? Pikirkan cara mengurangi, atau menghilangkan, kegiatan yang tidak berguna.

(3) Perhatikan catatan Anda yang ada di kuadran 3: kegiatan tidak penting tetapi mendesak. Kurangi kuadran 3 Anda. Gunakan waktu Anda yang ada untuk mengerjakan kuadran 2: penting dan tidak mendesak. Nikmati hidup Anda yang lebih banyak di kuadran 2.

(4) Tingkatkan peduli Anda. Perbanyak kegiatan Anda di pronam genap (2, 4, 6) yang selalu peduli. Tingkatkan peduli terhadap peluang baru. Apa saja yang bisa meningkatkan kebebasan Anda, kebebasan umat manusia dan alam raya? Tingkatkan selalu komitmen Anda terhadap masa depan, hikmah masa lalu, dan aktif di masa kini.

(5) Pastikan masa depan berpihak kepada Anda. Pilih selalu masa depan terbaik untuk Anda, untuk orang-orang di sekitar Anda, dan untuk alam semesta.

Pintu Kaca 0: Tembus Memandang

Membuka diri kepada dunia
Dunia membuka diri kepada manusia
Membuka diri kepada masa
Masa membuka diri mengalir

Teknologi adalah pasti
Menemani setiap hari
Demokrasi menghampiri
Umat manusia menari serasi

Menatap masa depan cemerlang
Masa lalu tetap mengikuti
Untuk menapaki masa kini
Bertabur cahaya masa nanti

Bukalah mata hati
Selalu ada solusi
Memang rindu menderu
Mengajak untuk berpacu

Ajal pasti datang
Menjajakan realita membentang
Akankah jadi pemenang
Mari terbang tembus memandang

Menatap masa depan cemerlang
Masa lalu tetap mengikuti
Untuk menapaki masa kini
Bertabur cahaya masa nanti

Kaca 2: Peduli

Mata sehat
Semua jelas terlihat
Mata rabun
Semua berkabut embun

Hati terbuka
Semua karunia nyata
Hati membeku
Semua pilu

Cahaya dan gelap
Berjalin kelindan
Menatap cahaya mandi berjuta warna
Menatap gelap memang gulita
Dari gelap menuju cahaya
Dari cahaya meniti cahaya

Bukannya tidak ada cahaya
Tetapi mata membelakanginya
Bukannya gelap berbahaya
Tetapi mata yang menatapnya
Cahaya membimbing mata
Gelap mendorongnya

Cahaya adalah anugerah
Bagi yang mengenalnya
Gelap adalah karunia
Bagi yang berangkat darinya

Ringkasan

(1) Semut peduli dengan sebutir gula pasir. Bagi semut, sebutir gula adalah realitas. Bagi manusia, sebutir gula tidak ada makna. Teori quantum, saya sebut mata-semut-quantum, mengkaji fenomena atom, dan partikel elementer. Sehingga, atom dan elektron adalah nyata bagi mata-semut-quantum. Bagi manusia, umumnya, elektron tidak bermakna apa-apa. Kepekaan kita menentukan realitas yang ada. Peka maka menjadi fakta.

(2) Mata elang memandang luas seluruh pegunungan dengan jelas. Kita, mata manusia, hanya bisa menatap beberapa pohon terdekat di hutan pegunungan. Mata-elang-gravitasi, atau teori gravitasi, melihat pengaruh gravitasi bulan menyebabkan air laut menjadi pasang naik. Manusia mengira, umumnya, tidak ada hubungan antara rembulan dengan pasang naiknya air laut. Gaya gravitasi adalah realitas nyata bagi mata-elang-gravitasi. Peka menjadi fakta.

(3) Mata anak kecil memandang buah pisang apa adanya. Mata orang dewasa memandang buah pisang dengan berjuta makna. Mata orang dewasa memandang buah pisang, lalu, terbesit ada apanya. Pisang adalah makanan yang enak. Pisang adalah makanan sehat. Pisang adalah hasil dari proses alami pohon pisang. Pisang adalah peluang bisnis keripik pisang. Dan, masih banyak makna tentang pisang bagi orang dewasa. Makna adalah realita. Bahkan makna, bagi manusia, bisa lebih penting dari obyek pisang itu sendiri. Manusia dewasa memiliki kebebasan untuk mengembangkan makna seluas-luasnya.

(4) Makna paling penting dari alam semesta adalah anugerah. Seluruh alam raya adalah anugerah bagi manusia. Dan, manusia adalah anugerah bagi alam raya. Termasuk, diri Anda adalah anugerah. Kita, manusia, perlu untuk selalu bersyukur atas semua anugerah. Makin besar kita bersyukur maka makin bertambah besar pula anugerah buat kita. Bahkan, rasa syukur itu sendiri adalah anugerah.

(5) Manusia adalah kebebasan untuk mengembangkan makna. Kita bebas menganggap semua yang ada adalah derita. Kita juga bebas memaknai semua yang ada adalah anugerah berlimpah. Karena itu, kita perlu mengembangkan kemampuan untuk menciptakan makna. Memaknai segala yang ada sebagai derita adalah makna subyektif. Sedangkan memaknai segala yang ada sebagai anugerah adalah makna subyektif yang berjalin kelindan dengan makna obyektif. Realitas adalah relasi atas berbagai yang ada. Termasuk, realitas adalah, relasi antara subyektivitas dan obyektivitas. Selanjutnya, kita perlu mengembangkan makna akan masa – makna dari waktu.

Saran Praktis

(1) Berusahalah melatih kepekaan diri Anda setiap hari. Peka terhadap emosi, ruhani, dan jasmani. Bayangkan diri Anda menjadi manusia sekecil semut. Lalu, temukan beragam hal-hal kecil, di sekitar Anda, yang penuh arti dari pandangan mata Anda yang sekecil semut. Rasakan manisnya sebutir gula, rasakan hangatnya percik sinar matahari, rasakan hembusan angin menerpa dedaunan.

(2) Latihlah kepekaan diri Anda secara luas. Pandanglah alam raya seluas-luasnya. Rasakan hangatnya cahaya matahari, padahal, matahari berjarak jauh ribuan kilometer dari Anda. Rasakan bahwa putaran bintang-bintang di langit berpengaruh ke diri Anda. Dan, rasakan pula, bahwa pikiran Anda mempengaruhi jalannya alam raya.

(3) Anda adalah manusia dewasa yang bebas menciptakan makna apa saja. Berlatihlah untuk membuat makna positif dari segala yang ada, meski, tampaknya seperti realita negatif. Sesekali menciptakan makna negatif, boleh-boleh saja. Makna lebih penting dari realitas itu sendiri. Pikirkan makna positif dari derita, makna positif dari sakit, dan makna positif dari kesulitan. Tentu saja, Anda perlu juga menciptakan makna positif dari anugerah kebahagiaan.

(4) Pastikan bahwa Anda bisa memaknai semua yang ada sebagai anugerah. Pastikan Anda selalu bersyukur. Karena Anda memang bebas untuk bersyukur. Lengkapi dengan sikap sabar.

(5) Menciptakan makna adalah kebebasan paling dasar dari seluruh manusia, termasuk Anda. Maknai seluruh yang ada sebagai anugerah. Maknai masa depan sebagai kesempatan. Maknai masa lalu sebagai hikmah. Dan jalani masa kini penuh arti.

Kaca 1: Anugerah

Membuka mata
Alam terang benderang
Menghirup nafas
Udara segar
Mendengar suara hati
Berbisik lirih
Menatap saudara
Tertawa lebar

Semua adalah anugerah
Anugerah adalah semua

Tangisan hati melembutkan nurani
Kesulitan menguatkan hidup ini
Penderitaan memperlezat perjuangan
Ketimpangan memaparkan kesempatan
Kematian membuka masa depan

Anak manusia selalu gelisah
Gelisah adalah anak manusia
Robot cerdas tak pernah gelisah
Yang tidak pernah gelisah adalah robot cerdas
Gelisah adalah anugerah atas anugerah

Semua adalah anugerah
Anugerah adalah semua

Ringkasan

(1) Hidup adalah anugerah. Kita tanpa usaha apa pun, tanpa melakukan usaha signifikan, tiba-tiba, menerima anugerah hidup ini. Kita perlu bersyukur atas anugerah hidup lengkap dengan seluruh anugerah alam raya. Setiap hembusan nafas adalah anugerah. Setiap saat adalah anugerah.

(2) Ibu adalah anugerah cinta terbesar bagi kita semua. Setiap orang terlahir dari seorang ibu yang penuh cinta. Kita bisa belajar dari ibu untuk menerima cinta dan memberi cinta. Sebarkan cinta ke seluruh alam raya. Biarkan cinta berbuah cinta. Anugerah berbuah anugerah. Memberi dan menerima cinta.

(3) Setiap orang pasti bisa bekerja. Anda pasti bisa bekerja. Tidak ada pengangguran. Bekerja adalah memberi kebaikan. Awalnya, bisa jadi tidak dibayar. Cepat atau lambat, kerja dengan cara memberi kebaikan, pasti menghasilkan. Kerja adalah anugerah bagi kita semua.

(4) Ilmu, dan sains, selalu berkembang. Kita selalu bisa berkembang dengan mengembangkan ilmu. Buka pikiran Anda, dan diri Anda, untuk menerima ilmu yang lebih luas. Ilmu meningkatkan kualitas dan kuantitas tak terbatas. Anugerah ilmu bisa datang dari mana saja dan kapan saja.

(5) Kesulitan pasti datang. Kesulitan menunjukkan bahwa Anda sedang dalam proses menanjak. Hadapi setiap kesulitan dengan kuat. Karena kesulitan dan kemudahan selalu datang beriringan, khususnya, bagi Anda yang bertekad kuat. Kesulitan adalah anugerah terpenting yang memberi makna bagi setiap perjuangan.

(6) Gelisah bisa muncul sewaktu-waktu. Rasakan gelisah itu. Gelisah adalah anugerah terbesar khusus bagi manusia. Hanya manusia yang mampu gelisah. Tumbuhan, binatang, dan robot cerdas tidak pernah gelisah. Gelisah mengajak Anda bergerak maju lebih tinggi dari semua yang ada. Rasakan gelisah, hadapi gelisah, dan terbanglah lebih tinggi.

(7) Setiap orang akan mengalami mati. Mati adalah misteri. Di saat yang sama, mati adalah anugerah sempurna bagi setiap manusia. Mati mengantar kita menuju masa depan terbentang. Bagi alam raya, legasi kita mulai bekerja sempurna.

Saran Praktis

(1) Cobalah untuk memikirkan, salah satu, apa anugerah terbaik yang pernah Anda rasakan? Rasakan kembali kenangan tentang anugerah itu.

Pikirkan lagi anugerah terindah. Bisa yang sama dengan anugerah di atas atau yang beda. Amati lebih mendalam. Anugerah itu, sejatinya, menembus dalam diri Anda. Kebahagiaan itu menembus dalam diri Anda. Anugerah itu bukan hanya fisik. Karena itu, rasakan bahwa anugerah itu tetap abadi dalam diri Anda.

(2) Kenanglah masa-masa indah bersama ibu Anda, atau orang terdekat Anda. Cinta ibu begitu nyata masuk ke dalam diri kita. Rasakan terus, cinta ibu selalu ada dalam diri kita. Kemudian, pikirkan bagaimana cara diri Anda agar bisa menyebarkan cinta ke alam semesta. Ungkapkan cinta Anda kepada orang di sekitar melalui senyuman dan amal kebaikan. Ungkapkan cinta ke alam raya dengan menjaga kelestarian alam. Cobalah hal kecil untuk menjadikan lingkungan Anda menjadi lebih indah. Anda boleh menlanjutkan kebaikan kecil itu sampai menjadi kebaikan besar.

(3) Bekerjalah dengan baik. Berikan kualitas kerja terbaik Anda sesuai pekerjaan Anda. Pastikan bahwa pekerjaan Anda memberi manfaat kepada sesama. Jika, misal, pekerjaan Anda tidak memberi manfaat kepada sesama, maka, pikirkan untuk menjadikannya bermanfaat atau pilihlah jenis pekerjaan lain. Andai Anda pengangguran, maka, mulailah bekerja dengan memberi kebaikan kepada lingkungan sekitar meski tidak dibayar. Bertahap, kebaikan Anda itu akan menjadi pekerjaan yang prospek bagi Anda dan orang sekitar, semoga tercapai.

(4) Anda selalu bisa menambah ilmu pengetahuan dengan cara membuka pikiran. Bukalah diri Anda seluas-luasnya. Apa pun yang terjadi, ambil hikmahnya. Catat pelajaran yang terpenting dari kejadian yang dekat Anda atau yang jauh dari Anda. Kemudian, coba susun prioritas atau peta dari pelajaran yang Anda peroleh itu. Hubungkan dengan prospek masa depan dan pengalaman masa lalu. Dengan berlimpah ilmu, pastikan Anda semakin maju.

(5) Bersiaplah, kesulitan pasti datang. Jangan hanya berharap mudahnya saja. Buat strategi dan perencanaan yang matang. Termasuk, strategi untuk menghadapi beragam kesulitan yang mungkin terjadi. Hadapi kesulitan dengan baik. Berpikirlah terbuka untuk menyelesaikan kesulitan demi kebaikan bersama. Rasa takut atau kesal akibat adanya kesulitan adalah wajar. Jaga komitmen Anda untuk menyelesaikan kesulitan itu dengan baik. Kemudian, buat analisis terhadap kesulitan itu. Bagaimana caranya mencegah kesulitan yang sama agar tidak muncul lagi dan bagaimana caranya meningkatkan kualitas diri Anda setelah menghadapi kesulitan itu.

(6) Kenali rasa gelisah Anda. Bila Anda merasa tidak pernah gelisah, maka, rasakan lebih mendalam lagi pasti ada rasa gelisah. Jangan menghindari rasa gelisah itu. Misal, jangan menyibukkan diri dengan keramaian untuk melupakan gelisah. Jangan minum anggur. Jangan mendekati narkoba. Tetapi, hadapi rasa gelisah Anda. Temukan penyebab gelisah itu. Jika Anda menemukan penyebabnya adalah suatu masalah, maka, susun strategi menangani masalah itu. Jika sebab gelisah itu tidak Anda temukan, maka, sebab gelisah itu adalah ketukan ruhani yang mampir ke hati. Cobalah mengkaji refleksi diri secara mendalam. Atau, Anda juga bisa mengkaji kitab suci. Gelisah adalah anugerah untuk hati nurani.

(7) Bersiaplah, pada waktunya, kita pasti mati. Kita bisa mati di masa depan. Tetapi, bisa saja, seseorang mati secara mendadak. Pastikan Anda berada di jalan kebaikan ketika mati. Karena mati bisa sewaktu-waktu, maka, jaga diri Anda tetap berada di jalan kebaikan. Siapkan bekal Anda untuk perjalanan diri setelah kematian. Juga, siapkan bekal kebaikan untuk generasi masa depan setelah kepergian Anda. Kematian adalah anugerah untuk membuka masa depan.