Untuk mendapatkan buku cetak silakan kontak penerbit ITB Press.

Prolog: Filsafat Sains sebagai Way of Life
Pada tanggal 29 Mei 1919, dunia menyaksikan gerhana matahari total yang mengubah wajah sains modern. Bukan karena fenomena astronomis itu sendiri—gerhana telah terjadi ribuan kali sepanjang sejarah—melainkan karena momen tersebut menjadi arena pengujian kritis terhadap teori relativitas umum Einstein. Prediksi bahwa cahaya bintang akan melengkung saat melewati medan gravitasi matahari terbukti benar.
Namun, kebenaran itu bukanlah kebenaran final yang permanen. Ia adalah korroborasi temporer—konfirmasi yang membuka diri pada kemungkinan disangkal oleh pengamatan masa depan. Inilah yang oleh Karl Popper disebut sebagai karakter deflasi sains: rendah hati dan terbuka.
Cerita gerhana 1919 mengungkap sesuatu yang lebih mendalam daripada sekadar validasi teori fisika. Ia menunjukkan bahwa sains, pada hakikatnya, merupakan jalan hidup (way of life) yang dibangun di atas fondasi filosofis yang tidak dapat diabaikan.
Setiap prediksi ilmiah mengandaikan pilihan tentang apa yang disebut kebenaran, bagaimana kebenaran itu ditetapkan, dan kapan kita boleh memercayainya. Teori Einstein bukan sekadar konstruksi matematis; ia merupakan proposal metafisik tentang struktur ruang-waktu yang berani diuji oleh realitas empiris. Pengujian itu sendiri—
yakni keputusan untuk menerima atau menolak teori berdasarkan data pengamatan— merupakan tindakan epistemologis yang penuh dengan asumsi filosofis.
Namun, di tengah kejayaan sains membentuk dunia modern, muncul ilusi berbahaya: bahwa sains merupakan kumpulan fakta objektif yang berdiri di luar sejarah, nilai, dan pergulatan manusia; bahwa sains dan filsafat merupakan dua dunia yang terpisah—yang satu konkret dan berguna, yang lain abstrak dan steril. Dikotomi ini tidak hanya keliru secara intelektual, tetapi juga berbahaya secara praktis, terutama di era kecerdasan buatan (AI) yang menantang batas-batas pemahaman kita tentang pikiran, kesadaran, dan realitas itu sendiri.
Membongkar Dikotomi Palsu
Buku ini lahir dari keyakinan sederhana namun radikal: filsafat dan sains bukan dua kubu yang berseberangan, melainkan sebuah kontinum. Di satu ujung spektrum terdapat spekulasi metafisik murni yang belum—atau mungkin tidak akan pernah—dapat diuji secara empiris. Di ujung yang lain terdapat fakta observasional yang direplikasi ribuan kali dengan presisi tinggi.
Namun, di antara kedua kutub itu terbentang zona bergradasi yang
luas: wilayah di mana hipotesis dirumuskan, model dibangun, paradigma dipertanyakan, dan teori diuji dengan risiko terbukti salah.
Hal yang membedakan ramalan bintang dari astronomi bukanlah bahwa yang satu “tidak ilmiah” sementara yang lain “murni ilmiah”. Perbedaan keduanya terletak pada karakter dapat difalsifikasi—kesediaan untuk dikritik, diuji, dan, jika perlu, ditinggalkan ketika realitas menuntutnya. Falsifikasi, dalam pengertian Popper, adalah garis demarkasi.
Namun, garis itu bukan tembok kokoh yang memisahkan dua dunia
berbeda; ia adalah gradasi intensitas pengujian kritis. Beberapa klaim lebih mudah diuji daripada yang lain. Beberapa teori lebih berani mengambil risiko dibandingkan yang lain. Di sinilah filsafat bertemu sains: pada keputusan tentang risiko apa yang akan kita ambil dan bukti apa yang akan kita terima.
Tiga Tesis Utama
Buku ini dibangun di atas tiga tesis yang saling terkait.
Pertama, sains bersifat deflasi—rendah hati dan terbuka. Sains tidak pernah mencapai kebenaran final. Ia selalu dalam proses, selalu terbuka untuk revisi, selalu mengakui bahwa apa yang kita ketahui hari ini mungkin disangkal oleh penemuan besok. Karakter deflasi ini bukanlah kelemahan; ia justru merupakan kekuatan terbesar sains. Keterbukaan untuk dikritik adalah yang membedakan sains dari dogma.
Kedua, sains membutuhkan dukungan nonsains: etika untuk menentukan tujuan penelitian, seni untuk membayangkan kemungkinan baru, teknologi untuk mewujudkan eksperimen, filsafat untuk merefleksikan asumsi, dan bahkan agama untuk memberikan makna eksistensial pada pencarian kebenaran. Sains tidak berdiri sendiri di ruang hampa. Ia adalah bagian dari ekosistem intelektual yang lebih luas dan kesuksesannya bergantung pada dialog konstruktif dengan domain pengetahuan lain.
Ketiga, sains perlu menjalin hubungan yang tepat dengan nonsains. Relasi antara sains dan agama, sains dan politik, sains dan etika bukanlah konflik hitam-putih yang harus dimenangkan oleh satu pihak. Ia adalah dialektika yang memerlukan kebijaksanaan, kerendahan hati, dan refleksi mendalam. Di sinilah filsafat sains menjadi krusial: ia adalah ruang di mana kita dapat memetakan gradasi, mengklarifikasi asumsi, dan memahami bahwa kebenaran—scientific truth maupun philosophical truth—adalah pencapaian kolektif yang rapuh dan memerlukan penjagaan terus-menerus.
Tiga tesis di atas menegaskan keutuhan sains dengan filsafat dan keutuhan sains dengan realitas. Sains dan filsafat bukanlah dikotomi dua kubu yang berlawanan, melainkan perbedaan intensitas gradasi dalam zona spektrum yang sama.
Peta Perjalanan
Buku ini terbagi dalam tiga bagian yang mencerminkan tiga dimensi pemahaman kita tentang sains.
Bagian Pertama menelusuri fondasi filsafat sains sejak peralihan dari filsafat alam klasik menuju filsafat sains modern. Perdebatan antara Popper, Kuhn, Lakatos, dan Feyerabend menunjukkan bahwa sains bukan sekadar akumulasi fakta linear, melainkan proses historis yang penuh konflik metodologis dan epistemologis. Pergeseran paradigma, kritik terhadap objektivitas absolut, serta perhatian pada pemodelan dan praktik ilmiah mengungkap bahwa rasionalitas sains bersifat dinamis, terbuka, dan tidak pernah final. Fondasi ini menjadi pijakan untuk membaca sains secara kritis, tetapi tetap konstruktif.
Bagian Kedua membawa pembaca ke wilayah di mana sains dan filsafat saling menembus batas. Fisika kosmologi bertanya tentang asal-usul dan struktur realitas— pertanyaan yang tidak dapat dijawab oleh eksperimen semata. Matematika, melalui teorema ketidaklengkapan Gödel, menunjukkan bahwa bahkan sistem formal paling ketat pun memiliki batas yang memerlukan pilihan filosofis. Filsafat pikiran bergulat dengan kesadaran—fenomena yang paling intim tetapi paling sulit dijelaskan dalam kerangka fisikalisme. Neurosains menemukan korelasi neural, tetapi tidak dapat menjelaskan mengapa pengalaman subjektif itu ada. Di semua domain ini, tokoh-tokoh seperti Penrose, Chalmers, Gödel, dan Wittgenstein menunjukkan bahwa pada titik terdalamnya, sains selalu bersinggungan dengan pertanyaan filosofis yang tidak dapat diselesaikan oleh data semata.
Bagian Ketiga menempatkan sains dan teknologi dalam konteks aksi: teknologi yang membentuk cara hidup, sains yang memengaruhi kesehatan dan psikologi, serta dampaknya terhadap struktur sosial, ekonomi, pendidikan, dan spiritualitas. Di sini, sains tidak dibahas sebagai abstraksi akademis, melainkan sebagai kekuatan historis yang berinteraksi dengan kekuasaan, nilai, ideologi, dan makna eksistensial.
Di era AI, ketika algoritma menentukan siapa mendapat pekerjaan, siapa dianggap layak kredit, dan bahkan bagaimana kita memahami pikiran manusia, refleksi filosofis tentang asumsi, bias, dan nilai yang tertanam dalam sains menjadi survival skill intelektual.
Di Era AI: Urgensi Filsafat Sains
Ketika mesin dapat mengenali wajah lebih akurat daripada manusia, menerjemahkan bahasa dalam hitungan detik, dan bahkan menulis esai filosofis yang koheren, kita dihadapkan pada pertanyaan fundamental: Apakah AI benar-benar “memahami” atau ia hanya meniru pola tanpa kesadaran? Pertanyaan ini tidak dapat dijawab oleh sains data
semata. Ia memerlukan distinsi filosofis antara intelligence dan consciousness, antara komputasi dan pemahaman, antara korelasi dan kausalitas.
Di sinilah gradasi filsafat-sains menjadi sangat nyata. AI researchers yang hanya fokus pada “what works” tanpa bertanya “what does it mean” akan membangun sistem yang powerful namun blind—kuat secara komputasional namun buta secara etis dan eksistensial. Sebaliknya, filsuf yang hanya berargumen abstrak tanpa engage dengan praktik konkret AI akan kehilangan relevansi di dunia yang bergerak cepat.
Kita memerlukan sains yang sadar akan fondasi filosofisnya dan filsafat yang berani diuji oleh realitas empiris. Kita memerlukan kemampuan untuk navigate zona abu-abu antara spekulasi dan konfirmasi, antara dugaan dan kebenaran, antara mimpi dan data.
Undangan
Buku ini merupakan undangan untuk melihat sains bukan hanya sebagai alat untuk menguasai dunia, melainkan sebagai jalan untuk memahami makna keberadaan manusia di dalamnya. Buku ini menjadi peta reflektif bagi akademisi, mahasiswa, dan pembelajar umum yang ingin memahami bahwa setiap klaim ilmiah mengandung pilihan filosofis, dan setiap refleksi filosofis—jika ingin relevan—harus terbuka pada kemungkinan diuji oleh dunia.
Pada akhirnya, yang kita pelajari dari gerhana 1919 bukanlah bahwa Einstein “benar” secara absolut. Hal yang kita pelajari adalah bahwa kebenaran merupakan pencapaian yang rapuh, kolektif, dan terbuka—hasil dari keberanian mengajukan hipotesis berani, kesediaan untuk diuji, dan kerendahan hati untuk mengakui bahwa kita mungkin salah.
Mari kita mulai perjalanan ini dengan meninggalkan ilusi bahwa filsafat dan sains adalah musuh. Mereka merupakan partners dalam pencarian yang sama: memahami realitas dengan segala kompleksitas, keindahan, dan misterinya.
Pemanfaatan Buku
Buku ini bermanfaat bagi pembaca umum maupun sebagai bahan kuliah di kampus. Pembaca umum bebas untuk mulai membaca dari bab berapa pun meski membaca secara urut akan lebih menguatkan struktur pemahaman. Sementara itu, untuk kepentingan kuliah, kami rekomendasikan agar disesuaikan dengan strata perkuliahan.
Program sarjana (S1) atau diploma disarankan untuk fokus ke Bagian I saja; sementara Bagian II dan III sebagai pengayaan untuk mahasiswa. Bagian I yang membahas filsafat sains secara komprehensif tepat sebagai bahan kuliah tingkat awal maupun tingkat akhir program sarjana. Bagi mahasiswa yang berminat studi lanjut dapat merujuk kepada referensi yang disebut dalam teks buku ini maupun pada tautan yang ada di catatan kaki.
Program magister (S2) disarankan fokus kepada Bagian I dan Bagian II; sementara itu Bagian III sebagai pengayaan untuk mahasiswa. Bagian II membahas, secara garis besar, tema-tema khusus yang menantang filsafat dan sains. Mahasiswa dapat memilih salah satu tema dari Bagian II ini untuk dikaji lebih mendalam, baik berupa diskusi kelompok ataupun sebagai suatu karya ilmiah. Bagi mahasiswa dari bidang sains teknologi dapat memilih mendalami bab tentang fisika atau matematika; bagi mahasiswa kedokteran dapat mendalami filsafat pikiran dan neurosains; bagi mahasiswa bidang sosial dapat mendalami filsafat bahasa; dan bagi mahasiswa bidang lain dapat menyesuaikan.
Program doktoral (S3) disarankan membahas ketiga bagian buku dan memilih salah satu bab dari Bagian III untuk dikaji lebih mendalam. Bagian III ini akan memberi tantangan bagi mahasiswa untuk menerapkan filsafat sains secara konkret sesuai situasi sekaligus mempertimbangkan teori universal yang menjadi pilihan paradigma dan asumsi mereka.
Kami berharap buku ini akan memantik kajian lebih lanjut dan membuka wawasan filsafat sains yang lebih luas dan mendalam di era ketika kecerdasan buatan (AI) menunjukkan beragam tanda tanya besar kepada umat manusia.
