Pintu 6: Urip Iku Urup

Konsep sederhana dan praktis,”Urip Iku Urup.” Hidup itu menyala. Satu konsep penting ini bisa mengantarkan setiap orang meraih sukses dengan berpikir terbuka.

Urip. Hidup. Yang paling utama bagi kita adalah hidup dan menjaga hidup. Kita bertanggung jawab menjaga hidup diri sendiri dan orang-orang terdekat. Kemudian, menjaga hidup setiap orang bahkan ikut berpartisipasi menjaga kelestarian lingkungan hidup. Kita bisa memandang bahwa alam semesta ini juga hidup, sehingga, kita ikut menjaga alam semesta dan alam semesta menjaga kita. Takdir kita untuk hidup dan saling menghidupi.

Iku. Itu. Yaitu. Konkret. Hidup itu konkret. Kita hidup perlu makan, pakaian, dan tempat tinggal. Sederhana saja. Berfoya-foya justru tidak konkret. Berfoya-foya hanya akan menipu diri sendiri. Hidup konkret bisa kita jalani dengan cara hidup sederhana. Kemudian, membantu orang lain untuk bisa hidup konkret, yang layak, meski sederhana.

Urup. Menyala. Hidup itu menyala. Memberi cahaya kepada orang lain. Memberi penerangan kepada alam sekitar. Berbagi kepada sesama. Hidup menyala juga bermakna hidup yang penuh semangat, penuh gairah, dan penuh cahaya kebaikan.

1. Anugerah Urip
2. Anugerah Konkret
3. Dinamika Urup

Kita akan membahas tiga kata kunci “Urip iku Urup” secara bertahap. Kata kunci ini berhasil merangkum hampir seluruh ide berpikir-terbuka. Sehingga, pintu “Urip iku Urup” bisa menjadi pintu terdepan di antara pintu-pintu berpikir-terbuka lainnya.

1. Anugerah Urip

1.1 Anugerah adalah Hidup

Kita bisa memandang seluruh alam raya adalah hidup. Ujung kuku Anda adalah hidup karena bagian dari diri Anda. Ketika ujung kuku itu Anda potong, lalu, terlempar di tanah, “Apakah ujung kuku itu masih hidup?” Benar. Ujung kuku itu tetap hidup karena bagian dari alam raya yang hidup. Makna hidup, di sini, menjadi lebih luas dari biasanya.

Ketika Anda mati, apakah tidak hidup? Ketika seseorang mati, apakah dia tidak hidup lagi? Dia hidup. Lebih tepatnya, dia berpindah dunia dengan tetap hidup. Dia hidup di alam kubur. Masih ada alam-alam lain di tahap selanjutnya: alam barza dan alam akhirat. Semua anugerah adalah hidup. Anugerah kematian, bagi kita, adalah bermakna kita berpindah alam kehidupan.

Tentu, orang bisa tidak yakin akan ada kehidupan setelah mati. Sementara, orang lain bisa juga yakin ada hidup setelah mati, kehidupan yang baru. Apa pun pilihan keyakinan seseorang, tetap saja, hidup kita ini penuh makna.

1.2 Hidup Dinamis

Karakter utama dari hidup adalah dinamis, berubah, atau bergerak.

Dari bayi, kita tumbuh menjadi anak-anak, kemudian remaja dan dewasa. Begitulah anugerah hidup, selalu bertumbuh, selalu dinamis. Bertumbuh dan berkembang senantiasa beriring rasa senang. Rasa cinta sepasang kekasih, yang berbunga-bunga sepenuh hati, adalah untuk menciptakan kehidupan baru. Sebuah rumah tangga ntuk menghadirkan generasi masa depan yang cemerlang.

Dinamika roda kehidupan, kadang di atas, kadang di bawah adalah wajar. Kedua-duanya, di atas atau di bawah, adalah sama-sama anugerah. Kesulitan hidup adalah anugerah agar kita menjadi lebih kuat menjalani hidup. Bersama kesulitan selalu ada kemudahan. Kesulitan hidup juga penting untuk memberi makna hidup kita. Dengan adanya kesulitan, maka, hidup menjadi penuh warna. Tanpa kesulitan, hidup menjadi hampa. Sementara itu, kemudahan hidup – berupa sehat, harta, tahta, dan lain-lain – adalah bumbu yang menjadikan hidup terasa lebih sedap. Setiap manusia membutuhkan keduanya: kesulitan dan kemudahan.

Bagaimana pun, manusia perlu berusaha menciptakan kemudahan. Karena, kemudahan kadang datang dan, tiba-tiba, pergi begitu saja. Sedangkan, kesulitan hampir pasti bisa datang sendiri kapan saja. Jadi, kita harus memudahkan hidup, terutama, memberi kemudahan kepada orang lain. Meringankan beban orang adalah tugas yang mulia. Apa lagi, memberi kehidupan kepada mereka, menyambung hidup mereka adalah tugas kita bersama.

1.3 Memberi Hidup

Sambil kita menjalani hidup, kita berbagi kehidupan kepada yang lain. Menjaga lingkungan hidup, agar tumbuh-tumbuhan dan aneka ragam binatang hidup lestari. Memberi gizi terbaik kepada anak-anak, gizi jasmani dan gizi ruhani, adalah memberi masa depan cemerlang generasi penerus.

Hijaunya daun menghembuskan udara segar mengandung oksigen yang menyehatkan tubuh kita. Pohon-pohon itu begitu baik kepada manusia. Pohon, dan alam raya, memberi kehidupan kepada umat manusia. Mungkinkah manusia bisa hidup tanpa pepohonan? Tanpa oksigen? Pada gilirannya, kita perlu menjaga kehidupan pohon-pohon itu. Kita perlu menjaga alam agar lestari. Janganlah melempar gas-gas beracun ke pohon dan hutan-hutan di seluruh bumi. Kita menjaga, dan dijaga oleh, alam raya ini. Kita menghidupkan, dan hidup bersama, alam raya ini.

Generasi muda membutuhkan lebih banyak lagi dalam hidup ini: edukasi kualitas tinggi. Berikan putra-putra pendidikan lahir dan batin. Pastikan generasi muda terus berkembang. Di saat yang sama, kita belajar dari mereka. Kita memberi pelajaran, dan menerima pelajaran, dari generasi muda. Anugerah hidup adalah saling memberi dan menerima dengan tulus ikhlas.

2. Anugerah Konkret

Hidup itu nyata, konkret, apa adanya. Hidup bukan teori ideal. Hidup bukan persamaan matematika. Hidup bukan syair pujangga. Hidup adalah realitas. Menjalani hidup secara nyata dengan menerima dan memberi kehidupan.

2.1 Hari ini

Cara hidup bahagia mudah saja, yaitu, nikmati hidup hari ini dengan semua yang ada. Hiduplah penuh syukur atas anugerah hari ini dan mengalirlah bagai air. Untuk hidup lebih bermakna, hari ini, belajarlah mengambil hikmah dari masa lalu. Untuk hidup lebih semangat, hari ini, arahkan hidup Anda menuju masa depan cemerlang.

2.2 Di sini

Pernahkah Anda pikirkan bahwa semua yang Anda perlukan untuk hidup sudah ada di sini? Semua sudah ada di dekat Anda, di sini. Anda perlu bernafas, udara bersih ada di sekitar Anda. Anda perlu berpijak, bumi sudah ada di bawah kaki Anda. Anda perlu tempat gerak, sudah tersedia ruang di sekitar Anda. Jadi, semua hal paling penting, yang kita butuhkan, ada di sini. Tugas kita adalah menjalani hidup ini dengan baik.

2.3 Akhirnya Baik

Hidup bahagia dengan bersyukur atas anugerah hari ini dan di sini. Hari ini terus bergulir menuju masa depan dan meninggalkan masa lalu. Masa depan adalah samar-samar penuh harapan. Masa lalu adalah guru berlimpah ilmu. Masa kini adalah yang paling nyata di depan mata.

Hari ini menjadi penuh makna, ketika, kita komitmen untuk meraih masa depan yang lebih baik, meraih akhir yang baik. “Sungguh, akhir itu lebih baik bagimu dari yang awal.” Kabar baiknya lagi, kita bebas untuk memilih masa depan. Maka pilihlah masa depan terbaik, akhir yang baik.

Berikut beberapa saran menjalani hidup masa kini yang konkret penuh syukur dengan harapan masa depan cemerlang dan berbekal ilmu masa lalu.

(1) Terima dengan ikhlas dan syukur semua yang ada di hari ini. Semua yang ada di hari ini adalah anugerah. Hidup adalah anugerah. Saudara, tetangga, teman, dan bahkan orang tak dikenal adalah anugerah.

(2) Berpikirlah positif hari ini. Karena, hari ini memang hari yang baik. Cobalah mengamati alam sekitar. Perhatikan lebih dekat. Alam sekitar begitu baik terhadap diri kita. Terimalah kebaikan alam sekitar dan balaslah dengan senyuman.

(3) Kadang-kadang, hari ini, terasa begitu berat. Tanggung jawab dan beban hidup terus menumpuk. Mungkin, Anda terlilit utang. Atau, mungkin Anda sedang sakit. Atau, Anda menjadi korban penipuan. Beban-beban hidup semacam itu memang nyata, dan sama nyatanya dengan anugerah hari ini. Rasakan dengan ikhlas beban hidup Anda dan rasakan juga syukur Anda di dalam dada.

(4) Lihatlah masa depan! Ada banyak pilihan masa depan. Pilihlah masa depan paling cemerlang untuk Anda. Rasakan bahagianya di hari ini. Arahkan hidup Anda hari ini menuju masa depan cemerlang itu.

(5) Masa depan bisa jadi suram. Kita perlu mencegah masa depan suram. Persiapkan beberapa hal, di hari ini, untuk menghindari suramnya masa depan.

(6) Fokuskan tekad untuk meraih masa depan cemerlang sambil menikmati segala yang ada sebagai karunia hari ini.

(7) Ambil hikmah dan pelajaran dari masa lalu untuk membantu Anda menuju masa depan cemerlang. Dan, tentu saja, sambil menjalani hari ini penuh syukur menuju akhir yang baik.

3. Dinamika Urup

Semangat atau putus asa adalah sama saja. Yaitu, sama saja Anda menjalani hidup ini. Dengan memilih hidup penuh semangat, Anda menjadi hidup lebih hidup. Hidup menjadi dinamis. Hidup adalah urup. Hidup adalah menyala.

3.1 Dinamika Cahaya

Cahaya selalu bergerak. Cahaya selalu urup, dinamis, memberi penerangan. Gerak cahaya bukan gerak biasa. Gerak cahaya adalah gerak tercepat dengan kecepatan cahaya di ruang hampa. Tidak ada benda apa pun yang bisa melebihi kecepatan cahaya. Cahaya secepat kilat. Cahaya memang tercepat.

Hidup kita adalah urup bagai cahaya. Jiwa kita selalu menyala bahkan lebih cerah dari cahaya. Jiwa manusia adalah cahaya sejati yang lebih berkilau dari cahaya dunia. Anda adalah cahaya yang menyala-nyala. Tempat mana yang hendak Anda sinari dengan cahaya jiwa Anda? Siapa saja yang akan Anda sinari dengan cemerlang cahaya jiwa Anda? Sepanjang masa, jiwa Anda selalu bersinar terang.

Mengapa pagi hari Anda bangun dari tidur? Karena cahaya jiwa Anda ingin menyinari dunia. Karena Anda ingin menebarkan kebaikan ke seluruh penjuru. Karena baktimu selalu ditunggu.

3.2 Gelap Tetap Menyala

Ketika gelap telah tiba. Ketika semua sudah tertutup pekat. Cahaya tetap menyala. Bahkan, dalam kepekatan gelap, cahaya tetap menyala. Gunung boleh runtuh. Bumi boleh terbelah. Jiwa Anda tetap bersinar. Tak ada yang bisa memadamkan cahaya jiwa Anda. Justru, jiwa Anda mengajak semua untuk kembali bersinar terang.

3.3 Entropi Masa Depan

Seberapa kuat cahaya jiwa Anda? Sangat kuat. Kekuatan sinar jiwa Anda adalah tak hingga. Kekuatan jiwa Anda tak terbatas. Jiwa Anda makin kuat dengan mendekat kepada Sang Maha Mutlak. Cahaya jiwa Anda adalah tak hingga besarnya hampir-absolut. Bukan karena jiwa Anda memang absolut. Tetapi, karena cahaya jiwa Anda bersumber dari Cahaya Maha Cahaya.

Moderasi Nuklir

Bom nuklir meledak menghancurkan satu kota. Sungguh mengerikan. Cahaya jiwa selalu menyala. Sejatinya, cahaya jiwa justru meledak bagai bom nuklir. Cahaya jiwa yang tidak meledak dikarenakan adanya moderasi.

Pembangkit listrik tenaga nuklir sewaktu-waktu bisa meledak, karena, memang sama seperti bom nuklir. Hanya saja, pada pembangkit nuklir disediakan proses moderasi. Sehingga, ledakan nuklir diatur, diperlambat, agar menghasilkan energi sesuai kebutuhan dan aman bagi alam semesta.

Cahaya Absolut menimpa gunung, maka, gunung hancur lebur. Cahaya Absolut menimpa samudera, maka, samudera mengering seketika. Cahaya Absolut menimpa galaksi, maka, galaksi tidak eksis lagi. Cahaya Absolut singgah kepada jiwa manusia. Jiwa manusia, jiwa Anda, adalah moderasi cahaya. Wajar saja, jiwa Anda terus menyala-nyala, bahkan, bisa meledak-ledak. Jiwa Anda memoderasi cahaya agar cahaya itu menimpa alam raya sesuai kadar yang tepat. Tetapi, apakah manusia sanggup melakukan moderasi?

Tidak pasti!

Sebagian orang berhasil moderasi sehingga nyala cahaya jiwa terus bersinar, di saat yang sama, memberi terang alam sekitar. Beberapa orang lain gagal moderasi sehingga nyala cahaya jiwa meledak-ledak tanpa aturan. Akibatnya, ledakan itu bisa merusak alam sekitar. Kadang melukai orang atau diri sendiri. Beberapa orang lain terlalu keras menutupi cahaya jiwa, sehingga, cahaya jiwa nyaris tidak bersinar. Mereka tertindas. Mereka tersisih. Mereka perlu memperbesar kembali sinar cahaya jiwanya.

Jiwa Bersinar

Urip iku urup. Hidup itu menyala. Berikut ini beberapa saran agar cahaya jiwa terus bersinar terang.

(1) Jaga nyala sinar jiwa Anda dengan prinsip-prinsip kebenaran, kebaikan, dan keadilan. Bacalah buku berkualitas secara rutin. Bacalah kitab suci yang mencerahkan tiap hari.

(2) Praktekkan berbagi sinar cahaya ke alam sekitar dengan cara berbagi kebaikan kepada mereka. Dengan berbagi kebaikan, Anda memberi manfaat ke alam sekitar. Pada gilirannya, proses berbagi kebaikan itu akan menjadikan jiwa Anda lebih bersinar.

(3) Dekatkan jiwa Anda kepada sumber cahaya absolut yaitu Cahaya Maha Cahaya. Makin dekat, makin bersinar.

Mengapa jiwa manusia bisa terus-menerus bersinar? Karena jiwa manusia memperoleh anugerah dari Cahaya Maha Cahaya. Bagaimana proses anugerah tersebut?

Ada banyak cara untuk menjawabnya. Kita akan mencoba mengaitkan dengan konsep entropi alam raya yang terus berkembang. Sains membuktikan bahwa entropi alam raya terus bertambah, tidak pernah berkurang, dan tidak pernah tetap.

Entropi, awalnya, didefinisikan sebagai ukuran keacakan, ukuran ketidak-teraturan. Makin tidak teratur maka makin besar entropi. Alam semesta, saat ini, bergerak mengembang. Alam makin tidak teratur. Jadi, entropi alam makin bertambah. Dengan kata lain, alam memang hidup, alam memang menyala.

Pertengahan abad 20, entropi didefinisikan sebagai ukuran informasi. Entropi makin berkembang, sederhananya, ukuran informasi juga makin berkembang. Benar saja, ukuran informasi alam raya pasti terus berkembang. Misal hari ke 1, kita punya informasi 1. Maka hari ke 2, kita punya informasi 2, yang lebih besar dari informasi 1. Karena, informasi 2 adalah totalitas informasi 1 ditambah dengan informasi baru. Informasi alam semesta terus “menyala” karena entropi terus bertambah.

Yang menarik adalah, andai, alam tidak mengembang tapi mengkerut, maka, entropi tetap bertambah. Jika tahun 2000 ukuran alam adalah A, kemudian, tahun 3000 ukuran alam mengecil menjadi setengah A, maka entropi tetap bertambah. Karena, di tahun 3000, alam memiliki informasi lebih banyak dari tahun 2000, yaitu, meliputi informasi tahun 2000 ditambah beberapa informasi baru.

Lebih menarik lagi, Andai kita bisa bergerak mundur dalam waktu, maka, entropi tetap bertambah tidak berkurang. Misal hari ini adalah Kamis. Lalu, kita bisa gerak mundur ke hari kemarin yaitu Rabu. Maka entropi hari Rabu itu tetap lebih besar dari Kamis. Karena, informasi haru Rabu meliputi hari Kamis ditambah informasi baru ketika gerak mundur ke Rabu. Bahkan, beberapa ilmuwan mengusulkan bahwa entropi sama dengan waktu. Karena, waktu tidak bisa mundur, demikian juga, entropi tidak bisa berkurang. Entropi masa depan terus berkembang.

Entropi terus bertambah. Entropi terus menyala. Hidup itu menyala. Urip iku urup.

Kita juga bisa memahami bahwa Cahaya Maha Cahaya terus-menerus memancarkan cahaya ke alam semesta. Akibatnya, alam menjadi terus menyala dengan bertabur cahaya. Dan, jiwa manusia juga terus menyala. Urip iku urup.

Bagaimana jika manusia sudah meninggal? Manusia sudah tidak hidup dunia ini ketika meninggal. Apakah jiwa manusia masih menyala? Kita akan membahas ini di bagian berikutnya.

Catatan

Pintu 6 (Urip Iku Urup) merupakan ringkasan praktis dari seluruh pintu. Sehingga, jika Anda menjalankan Pintu 6 dengan baik, maka, Anda seperti sudah menjalan 5 pintu sebelumnya juga. Tentu saja, masing-masing pintu memiliki detilasi yang lebih konkret.

Pintu 6 mengajak kita menjalani hidup dengan konkret, bijak, dan penuh semangat sehingga menebarkan lebih banyak kebaikan. Tetapi, realitas tidak terbatas hanya semasa hidup kita. Sejarah sudah berlangsung ribuan tahun sebelum kita lahir. Dan, barangkali, sejarah masih berlangsung sampai ribuan tahun ke depan. Lagi pula, bagaimana karir diri kita setelah hidup di dunia selesai? Pintu 7 akan membahas lebih detil: Warisan Sejarah Cinta.

Pintu 7: Warisan Sejarah Cinta

Kita pasti akan pergi. Kita pasti akan mati. Apa warisan yang ingin Anda tinggalkan? Warisan cinta adalah yang utama.

1. Sejarah Diri
2. Membaca Sejarah
3. Menciptakan Sejarah
4. Mempersiapkan Warisan
4.1 Warisan Positif
4.2 Warisan Tidak Negatif
5. Warisan Cinta
5.1 Ukuran Harta
5.2 Warisan Ilmu
5.3 Semesta Cinta

Kita berharap bisa memberi warisan terbaik, legasi terbaik, untuk generasi masa depan. Dan, berdoa semoga kita menempuh masa depan yang terang-benderang.

1. Sejarah Diri

Setiap diri adalah unik. Setiap diri punya misi. Setiap diri ada misteri. Setiap diri ada dalam situasi. Kita berada dalam sejarah. Di saat yang sama, kita ikut serta menciptakan sejarah. Sejarah apa yang ingin Anda tuliskan?

Sangkan Paraning Dumadi

Kita lahir dari ibu tercinta. Ibu lahir dari nenek, dan seterusnya, nenek lahir dari nenek moyang. Jadi, dari mana asal muasal diri kita? Dan, mau ke mana kita berjalan maju? Kita berasal dari sejarah, kemudian meniti sejarah, dan, akhirnya, ikut serta menciptakan sejarah. Leluhur kita menyebutnya sebagai sadar akan “sangkan paraning dumadi.”

Anda dan saya adalah sama, yaitu, sama-sama hasil dari perjalanan sejarah panjang sejak masa nenek moyang. Tetapi, Anda dan saya pasti berbeda. Setiap orang berbeda. Bahkan, perbedaan ini sangat spesifik. Saya punya misi khusus dalam menjalani sejarah diri ini. Anda juga punya misi khusus dalam menjalani sejarah diri Anda yang berbeda dengan semua. Misi sejarah pribadi ini tidak bisa saling dipertukarkan. Anda tidak bisa menjadi saya dan, sebaliknya, saya tidak bisa menjadi Anda.

Bandingkan ketika Anda membeli beras 5 kg. Kita biasa saja saling menukar beras 5 kg yang kantong A atau kantong B, misalnya. Lebih jelas lagi, kita biasa saja akan mendapat uang 50 ribu rupiah dengan nomor seri berapa pun. Semua uang 50 ribu, kita anggap sebagai sama saja, identik. Setiap uang 50 ribu memiliki misi yang identik. Semua beras memiliki misi yang identik. Dan, semua uang memiliki misi identik. Tetapi, dalam setiap sejarah, masing-masing manusia memiliki misi yang unik. Apa misi unik Anda?

Bagaimana pun, sejarah diri kita terus berlanjut meski kita sudah mati. Baik sejarah diri di alam yang baru, mau pun, sejarah diri kita di dunia ini. Sejarah-sejarah itu berjalan seiring sejalan.

Pada bagian ini, kita akan membahas bagamana kita menjalani sejarah, berpartisipasi dalam sejarah, dan termasuk bagaimana membaca sejarah. Dengan karakter warisan, dan proses, sejarah yang unik.

2. Membaca Sejarah

Data dan fakta sejarah tersedia berlimpah. Sebagiannya sudah musnah. Dengan membaca sejarah, kita memperoleh hikmah. Di saat yang sama, untuk membaca sejarah, kita memerlukan kacamata hikmah. Bagaimana cara Anda membaca sejarah?

Sejarah tampak seperti urutan fakta-fakta. Atau, urutan kejadian demi kejadian. Sejarah lebih dari itu. Sejarah juga merupakan urutan interpretasi demi interpretasi. Bahkan, tumpukan akumulasi interpretasi hari demi hari. Yang paling penting, bagaimana kita bisa memberi hikmah dan menerima hikmah dari setiap sejarah.

Sejarah Masa Lalu

Belajar dari sejarah masa lalu, kita bisa mengambil banyak hikmah. Bagaimana pun, banyak versi sejarah masa lalu yang kadang berbeda, bahkan, saling bertentangan. Dari situasi seperti itu, justru, kita bisa mengambil pelajaran hikmah paling penting. Apa saja hikmah untuk kita?

(S): Soekarno adalah presiden terbaik.

Apakah pernyataan (S), di atas, bernilai benar? Benar. Banyak catatan sejarah menunjukkan bahwa Soekarno adalah presiden terbaik. Soekarno adalah pejuang kemerdekaan dan proklamator.

Tetapi, bisa jadi, ada yang menolak (S). Bagi mereka, Soekarno adalah presiden yang baik dan wajar seperti biasanya presiden. Mereka menunjukkan beberapa catatan sejarah masa lalu dan menafsirkan sebagai presiden sewajarnya.

Kedua argumen, di atas, barangkali sama kuat. Kita perlu fokus kepada hikmah apa yang bisa kita pelajari dari situasi seperti itu. Kemudian, kita akan mempertimbangkan solusi berupa sejarah masa depan, yang kita bahas di bawah.

Sejarah Masa Kini

Dengan mempertimbangkan masa kini, apakah (S) bernilai benar? Apakah Soekarno adalah presiden terbaik. Benar. Karena itu, generasi sekarang bisa menjadikan Soekarno sebagai teladan untuk semangat berjuang demi memajukan bangsa dan negara tercinta.

Tidak benar. Pihak lain bisa menilai (S) sebagai tidak benar. Karena, yang benar adalah presiden sewajarnya presiden. Dengan demikian, generasi sekarang bisa semangat belajar untuk mengukir sejarah yang lebih bagus dari generasi masa lalu.

Sejarah Masa Depan

Benar bahwa Soekarno adalah presiden terbaik, bila, tujuannya untuk memotivasi generasi masa depan. Karena ada teladan terbaik, maka, generasi masa depan meneladani beragam kebaikan Soekarno. Tetapi, klaim (S) sebagai benar menjadi buruk, bila tujuannya keliru. Mereka bertujuan, misalnya, untuk mengklaim diri mereka sebagai pewaris pejuang masa lalu, kemudian, menuntut beragam fasilitas khusus.

Penilaian (S) sebagai salah menjadi bagus bila tujuannya agar generasi masa depan mengukir prestasi yang lebih tinggi. Para pejuang masa lalu telah berjuang dengan baik. Saat ini, giliran generasi sekarang, untuk berjuang lebih barik dari pejuang masa lalu demi masa depan negara. Klaim (S) sebagai salah menjadi buruk bila tujuannya untuk meremehkan. Kemudian, mereka sombong diri di beberapa kesempatan.

Tujuan membaca sejarah adalah untuk meraih masa depan yang lebih baik.

3. Menciptakan Sejarah

Sejak kita sadar diri maka kita mulai menciptakan sejarah. Atau, lebih awal, sejak kita lahir dari kandungan ibu, kita mulai menciptakan sejarah. Atau, bahkan lebih awal lagi, nenek moyang kita eksis demi menciptakan sejarah agar kita hadir di dunia ini?

Secara aktif, kita mulai menciptakan sejarah ketika kita mulai sadar diri. Kita sadar bahwa kita bisa memilih suatu tindakan yang bernilai baik, netral, atau jahat – sehingga sadar sebagai perbuatan dosa. Seharusnya, kita memilih tindakan baik dari pada yang netral atau jahat. Realitasnya, kadang orang malah memilih berbuat jahat. Justru, kejadian tidak pasti antara baik dan jahat, yang menjadikan sejarah umat manusia lebih dinamis. Bandingkan, misalnya, ada robot yang selalu patuh terhadap perintah program. Hasilnya, sejarah robot menjadi monoton, bisa ditebak, dan tidak dinamis.

Beberapa orang sadar diri, atau kadang disebut tercerahkan, ketika remaja. Anak remaja itu mulai menyiapkan karir melalui studi atau karir bisnis misalnya. Catatan sejarah dirinya mulai tertulis jelas sejak itu.

Sementara, beberapa orang yang lain, mulai tercerahkan ketika hidup mandiri dari orang tua. Misal karena berumah tangga atau karena merantau. Sejak itu, sejarah dirinya mulai tertulis dengan tegas. Orang juga bisa tercerahkan ketika menjelang masa pensiun. Mereka berpikir apa yang akan dikerjakan ketika pensiun? Saat itu, mereka terbuka untuk menulis sejarah diri lagi. Dan tentu saja, orang akan tercerahkan ketika dia sadar diri bahwa sewaktu-waktu bisa mati. Ketika dia peduli bahwa dirinya akan mati, cepat atau lambat, maka dia akan memilih beragam kegiatan yang bermakna. Lebih jauh, orang itu bisa berpikir tentang nasib dirinya setelah mati dan warisan apa yang akan dia berikan untuk alam raya ini.

4. Mempersiapkan Warisan

Dua tipe warisan, atau legasi, yang akan kita berikan. Pertama, warisan positif adalah legasi yang memberi kebaikan kepada generasi masa depan. Kedua, warisan tidak-negatif adalah warisan yang tidak menyebabkan keburukan bagi generasi masa depan. Tentu saja, ada warisan negatif dan warisan netral, yang perlu kita hindari. Kita perlu fokus menyiapkan warisan positif dan warisan tidak-negatif.

4.1 Warisan Positif

Saat ini, di era digital, kita lebih mudah untuk menyiapkan warisan positif. Buatlah konten digital yang positif. Generasi masa depan bisa mempelajari konten Anda, kemudian, memperoleh manfaat darinya. Konten digital bisa berupa nasehat pendek di media sosial, atau video inspirasi, atau analisis panjang tentang beragam situasi.

(a) Digital. Gunakan hp Anda untuk membuat konten digital positif. Baik berupa video atau catatan digital. Cukup dengan hp yang ada, Anda bisa membuat konten digital yang abadi dengan cara upload ke media sosial. Yang paling penting, di sini, adalah kontennya yang positif. Bukan efek-efek animasi yang keren. Memang, Anda boleh saja meminta bantuan fotografer dan desainer profesional.

(b) Catatan. Kita bisa membuat catatan positif berupa catatan digital mau pun fisikal. Anda bisa membuat catatan berupa buku harian atau buku yang sengaja untuk diterbitkan. Buku cetak berpeluang untuk dibaca orang secara luas sepanjang masa.

(c) Wahana. Bila beruntung, Anda bisa sengaja mewariskan wahana positif untuk generasi masa depan: sekolah, wahana olah raga, tempat ibadah, dan lain-lain. Sekolah, jelas-jelas, berdampak positif untuk ikut serta mencerdaskan kehidupan bangsa.

4.2 Warisan Tidak Negatif

Mudah saja bagi kita untuk menyiapkan warisan yang tidak negatif: puasa. Kita bisa puasa dengan membatasi diri dalam konsumsi pribadi. Konsumsi makanan, secukupnya saja. Konsumsi listrik sedikit saja. Konsumsi bbm hanya seperlunya saja.

(a) Konsumsi. Makan, minum, dan tempat tinggal sederhana saja. Hanya seperlunya saja atau sedikit lebih kecil dari keperluannya. Sisakan bahan konsumsi itu untuk generasi masa depan. Pastikan, Anda tidak merusak sumber energi masa depan.

(b) Regulasi. Pastikan Anda tidak mendukung regulasi yang merugikan generasi masa depan. Jika Anda menjabat posisi tinggi, maka, pastikan menolak regulasi yang berdampak negatif terhadap perusakan alam di masa depan. Lebih serius lagi, tolaklah regulasi yang merusak pendidikan generasi masa depan.

(c) Alami. Hiduplah secara alamiah. Hiduplah akrab dengan alam di alam alamiah – bukan alam artifisial. Termasuk, cobalah, hidup lebih akrab dengan rakyat secara alamiah di alam mereka. Kenali lebih dekat mereka secara alamiah. Jangan merusak alam mereka. Jaga kelestarian alam mereka. Bantu mereka untuk bertumbuh kembang.

5. Warisan Cinta

Cinta adalah segalanya. Cinta adalah sejarah. Kita hadir dalam sejarah karena sejarah cinta ibu dan bapak. Kemudian, kita melanjutkan sejarah masa depan kepada anak cucu juga karena ungkapan cinta kepada pasangan dan semesta. Sehingga, warisan cinta adalah yang paling utama.

5.1 Ukuran Harta

Apakah meninggalkan warisan harta yang tidak habis sampai tujuh turunan adalah baik? Tidak baik. Tidak wajar. Tidak layak. Dan, akhirnya, memang tidak baik.

Warisan harta yang besar bagi anak cucu bisa resiko ganda. Pertama, resiko terjadi rebutan warisan sehingga terjadi “peperangan” keluarga. Banyak kasus menunjukkan saling serang karena warisan harta. Kedua, resiko tidak adil kepada orang lain. Bukankah harta Anda adalah milik alam raya? Setelah Anda meninggal, mengapa tidak dikembalikan kepada alam raya demi kebaikan bersama? Bukahkah lebih baik jika warisan Anda digunakan untuk menolong fakir miskin?

Kita perlu memikirkan ukuran yang tepat terhadap warisan harta untuk anak cucu. Tidak terlalu besar. Tidak juga terlalu kecil. Sementara itu, warisan ilmu adalah selalu baik.

5.2 Warisan Ilmu

Warisan ilmu adalah kebaikan untuk generasi masa depan dan kebaikan untuk karir kita di alam masa depan setelah hidup di dunia berakhir. Semua ilmu adalah baik. Sehingga, makin banyak warisan ilmu, maka, menjadi lebih baik. Tantangan bagi kita adalah bagaimanca bisa mewariskan ilmu dengan cara yang tepat.

Ilmu hitam tidak termasuk ilmu. Ilmu korupsi tidak termasuk ilmu. Ilmu menipu juga bukan ilmu. Mereka hanya menggunakan kata ilmu secara tidak tepat. Tetapi, yang benar, semua ilmu adalah kebaikan. Sehingga, warisan ilmu adalah selalu baik.

(a) Budi pekerti atau akhlak. Warisan ilmu akhlak adalah kebaikan tertinggi. Pastikan, putra-putri kita memiliki akhlak yang mulia. Tentu saja, putra-putri kita, dan generasi masa depan, memiliki hak untuk menentukan sikap. Tetapi, warisan ilmu akhlak yang mulia, dari kita, sangat berguna. Lebih-lebih, teladan akhlak, sangat mengena dalam jiwa.

(b) Ilmu kerja. Anak-anak kita perlu mandiri. Sehingga, kita perlu mewariskan kepada mereka ilmu kerja secara praktis. Anak-anak kita, dan generasi masa depan, mampu bekerja menghasilkan manfaat positif bagi masyarakat luas. Warisan ilmu kerja adalah luar biasa.

(c) Ilmu karya. Melangkah lebih jauh, kita perlu mewariskan semangat menghasilkan karya kepada anak-anak kita. Mereka perlu melompat lebih dari sekedar bekerja mencari uang. Mereka bekerja dengan sentuhan nurani sehingga menghasilkan karya. Bahkan, kita perlu mendorong anak-anak kita, dan generasi mendatang, untuk membuahkan maha karya mereka yang unik.

(d) Ilmu sejarah. Kita perlu mewariskan ilmu sejarah kepada anak-anak kita. Baik, ilmu sejarah masa lalu mau pun ilmu sejarah masa depan.

(e) Ilmu cinta. Kita perlu mengajarkan kepada anak-anak untuk hidup penuh cinta. Hidup untuk meberi cinta dan menerima cinta. Ilmu itu sendiri adalah cahaya cinta.

Dan masih banyak ilmu-ilmu lain yang bisa kita wariskan untuk generasi masa depan. Apa saja rencana Anda?

5.3 Semesta Cinta

Warisan paling indah adalah semesta cinta.

Semua realitas, sejatinya, adalah cinta dan ungkapan cinta. Diri kita adalah ungkapan cinta. Anak-anak kita, dan generasi masa depan, adalah cinta. Sehingga, warisan sejati adalah warisan cinta.

Apa pun yang Anda persembahkan penuh cinta, maka, menjadi warisan terbaik bagi generasi masa depan.

Catatan

Lengkap sudah pembahasan kita sampai Pintu 7 “Warisan Sejarah Cinta.” Seperti kita bahas, Pintu 7 bukanlah benar-benar akhir, justru, sebagai pintu mengarungi alam baru: alam kubur dan legasi Anda. Kita perlu tegaskan kembali, bahwa sejatinya, ada ribuan pintu atau jutaan pintu tak terbatas untuk menggapai realitas hidup dan mati penuh makna. Kita memilih 7 pintu saja agar lebih mudah dan praktis.

Selanjutnya, agar lebih praktis kita bisa fokus ke Pintu 6 dan Pintu 7. Pintu 6 “Urip Iku Urup” meringkas seluruh yang kita butuhkan selama hidup dunia ini. Sedangkan, Pintu 7 membahas semua yang kita butuhkan untuk perjalanan panjang setelah kita selesai di dunia ini.

Tentu saja, Pintu 1 sampai Pintu 5 menjadi penting untuk detilasi setiap langkah, secara, masing-masing.

Pintu 4: Modifikasi Teknologi Media

Teknologi lebih dari sekedar alat bagi manusia. Teknologi adalah anugerah bagi manusia untuk meraih masa depan lebih bahagia. Tetapi, memang benar, teknologi bisa menjadi penjara bagi seluruh umat manusia.

Kita perlu berpikir terbuka untuk modifikasi teknologi agar membantu umat manusia – untuk berpikir terbuka.

1. Alat sampai Tujuan
2. Teknologi Indera
3. Teknologi Pikiran
4. Teknologi Diri
5. Badan sebagai Teknologi
6. Teknologi Mencipta Teknologi
7. Membuka Masa Depan

Sekilas, teknologi tampak seperti alat bagi manusia untuk mencapai tujuan. Pengamatan lebih jauh, justru menunjukkan, teknologi yang memperalat manusia. Teknologi mesin pabrik makin megah. Teknologi transportasi mobil, kapal, dan pesawat makin besar. Teknologi komputer dengan internetnya makin mendunia. Manusia menjadi hanya bagian kecil dari pertumbuhan teknologi itu. Manusia bekerja untuk teknologi. Bukan lagi, teknologi bekerja untuk manusia. Manusia diperalat oleh teknologi. Benarkah seperti itu?

1. Alat sampai Tujuan

Dokter dan ahli medis menciptakan suntik agar memudahkan dokter memasukkan obat ke tubuh pasien. Suntik adalah alat bagi dokter untuk mencapai tujuan yaitu memasukkan obat ke pasien. Tahap berikutnya, terjadi pembalikan. Suntik yang ada pada dokter mengendalikan pikiran dokter, sedemikian hingga, dokter berpikir siapa saja orang yang akan dijadikan sasaran suntik.

Perhatikan kasus vaksin covid-19. Awalnya, vaksin adalah alat bagi manusia untuk menyehatkan badan manusia terhadap ancaman covid. Pada tahun 2022 – 2023, pandemi mulai mereda tetapi persediaan vaksin masih ada. Teknologi yang berupa vaksin itu mengendalikan pikiran manusia. Bagaimana agar vaksin-vaksin itu masuk ke tubuh manusia?

Pertama, mengganti istilah vaksin menjadi booster. Karena orang-orang sudah vaksin dua kali, tampak, tidak wajar jika harus vaksin tiga kali. Sehingga, lebih natural, bila booster satu kali atau dua kali. Padahal, sama saja dengan vaksin empat kali. Kedua, memberikan vaksin gratis ke masyarakat dan lain-lain. Vaksin bukan lagi alat bagi manusia. Tetapi, vaksin memperalat manusia melalui manusia lain. Perlu kita cermati bahwa gratis bermakna ada biaya tersembunyi dalam satu dan lain bentuk.

“Jika Anda punya palu, maka, segala sesuatu tampak seperti paku,” adalah ungkapan yang bisa kita mengerti.

Awalnya, kita punya palu, paku, gergaji, mistar, dan lain-lain adalah sebagai alat untuk mencapai tujuan membuat meja, misalnya. Tahap selanjutnya, alat-alat pertukangan itu membentuk pikiran kita sebagai seorang tukang. Kita menolak pekerjaan selain tukang. Kita membatasi diri mencari pekerjaan sebagai tukang. Padahal, kita adalah manusia seutuhnya. Kita bisa menjadi tukang, pedagang, pengusaha, penyair, penyanyi, atau lainnya. Tetapi, alat-alat pertukangan sudah mengendalikan pikiran manusia.

Bagaimana produsen teknologi perang? Bagaimana produsen senapan otomatis? Bagaimana produsen panser? Bagaimana produsen senjata nuklir?

Awalnya, mereka berpikir memproduksi teknologi perang adalah untuk menjaga keamanan. Setelah senjata-senjata canggih itu ada di tangan mereka, maka, senjata canggih itu mengendalikan pikiran mereka. Senjata-senjata itu mendorong orang untuk berpikir potensi perang. Semoga orang-orang yang pegang senjata tetap komitmen untuk menjaga perdamaian.

Sampai di sini, kita perlu waspada. Pada tahap awal, teknologi adalah alat bagi manusia untuk mencapai tujuan. Pada tahap akhir, bisa berbalik. Ada resiko bahwa teknologi memperalat pikiran manusia.

Bagaimana pun, teknologi adalah anugerah bagi kita, anugerah bagi manusia. Teknologi membantu kita untuk menyongsong masa depan yang indah. Dengan berpikir-terbuka, umat manusia bisa tumbuh harmonis bersama teknologi. Teknologi memudahkan manusia membuka posibilitas lebih luas. Teknologi membantu manusia mencapai freedom: bebas dan membebaskan. Tentu saja, teknologi menuntut manusia untuk tetap komitmen di jalan kebaikan. Komitmen untuk menjaga interaksi dengan teknologi yang manusiawi.

2. Teknologi Indera

Mata kita adalah teknologi. Mata adalah teknologi bagi jiwa untuk melihat dunia luar. Ketika masa tua tiba, mata jadi kabur, maka, jiwa perlu teknologi tambahan berupa kaca mata agar bisa melihat dunia luar dengan jelas. Baik mata, mau pun kaca mata, adalah teknologi bagi jiwa untuk melihat obyek di alam eksternal.

Sehingga, mata dan kaca mata adalah anugerah bagi manusia untuk bisa berinteraksi dengan alam luar. Karena itu, kita perlu bersyukur atas anugerah dan komitmen untuk memanfaatkannya guna membuka posibilitas luas bagi masa depan.

Dengan cara yang sama, kaki adalah teknologi untuk gerak, hidung adalah teknologi untuk aroma, gigi adalah teknologi untuk mengunyah dan lain-lain. Bahkan, hasrat adalah teknologi bagi jiwa untuk reproduksi meneruskan kelangsungan spesies manusia. Begitu besar anugerah teknologi bagi kita. Rasa syukur akan memperbesar nilai setiap anugerah.

Jika mata adalah anugerah sebagai teknologi, kaki adalah anugerah sebagai teknologi, dan seluruh indera adalah anugerah sebagai teknologi, maka, siapakah diri kita ini? Siapakah manusia? Apa sejatinya jiwa? Siapa yang merasakan, menerima, anugerah itu? Atau, justru, siapa yang memberi semua anugerah itu? Pertanyaan-pertanyaan ini penting. Kita perlu menjawabnya dengan seksama dan penuh perenungan. Meski pun, kita tahu, setiap jawaban yang kita temukan akan mengantarkan kepada pertanyaan baru lagi. Tetapi, memang begitulah manusia. Pertanyaan adalah anugerah. Jawaban adalah anugerah. Bertanya lebih lanjut, juga anugerah.

Mari kembali membahas teknologi indera. Kaca mata adalah teknologi yang membantu teknologi mata. Pisau adalah teknologi yang membantu teknologi tangan. Manusia bisa memotong sayur memakai tangan. Lama-lama, memotong sayur dengan tangan dapat mengakibatkan tangan menjadi sakit. Pisau adalah teknologi yang membantu kerja tangan. Memotong sayur menjadi mudah dengan teknologi pisau.

Mobil adalah teknologi untuk memudahkan manusia memindahkan barang. Awalnya, manusia bisa memindahkan barang dengan mengangkatnya, kemudian, membawanya ke tempat tujuan yang jauh. Tugas seperti itu berat. Mobil adalah teknologi untuk memindahkan suatu beban dengan mudah.

Telepon, internet, dan media sosial adalah teknologi untuk membantu manusia komunikasi. Awalnya, manusia bisa komunikasi ketika bertemu langsung, tatap muka. Ketika terpisah oleh jarak yang jauh, orang-orang perlu berteriak agar suara bisa terdengar. Ketika terpisah di dua kota, maka, tidak ada teriakan yang bisa didengar untuk komunikasi. Media sosial adalah teknologi yang memudahkan manusia untuk bisa terus berkomunikasi meski terpisah jarak ratusan kilo meter.

Kita masih bisa terus menambahkan contoh bahwa indera adalah teknologi dan teknologi adalah alat bantu bagi indera.

Lalu, untuk apa semua teknologi itu? Untak apa semua kemampuan indera itu?

Berpikir-terbuka dengan logika-futuristik membantu kita untuk menjawab pertanyaan penting ini. Teknologi indera adalah anugerah bagi kita untuk membuka masa depan dengan posibilitas luas yang bebas dan membebaskan.

Realitas bisa saja terbalik dari logika. Teknologi justru digunakan pihak tertentu untuk menindas pihak lain. Bukan membuka posibilitas, tetapi, menindas posibilitas jadi terbatas bagi pihak lain. Secara personal, teknologi indera menjebak banyak orang. Indera mata seharusnya untuk memandang masa depan yang cemerlang. Yang terjadi, mata digunakan untuk melihat banyak hal yang tidak benar. Menjadikan mereka terpikat oleh jebakan iklan, konsumsi buruk tiada henti. Akhirnya, kesehatan menurun dan dirundung utang menggunung.

Hasrat makan sama saja. Nikmatnya makanan membuat mereka berlebih-lebihan. Akibatnya, perut buncit, darah tinggi, kencing manis, dan serangan jantung. Padahal hasrat makanan adalah agar kita makan sehat dan berkarya dengan semangat. Serta, empati kepada orang-orang yang sulit mendapat makanan, kemudian, berbagi makanan sehat kepada mereka.

Nafsu birahi bisa lebih parah lagi. Nafsu kepada lawan jenis sampai melampaui batas. Sebaliknya, nafsu sesama jenis sampai melampaui batas-batas nalar. Birahi ekonomi sulit berhenti. Birahi politik, apa lagi. Padahal nafsu adalah agar kita bisa saling mengasihi. Kita bisa meneruskan eksistensi spesies manusiawi bersama suara hati.

Sekali lagi, kita perlu komitmen untuk memandang teknologi indera sebagai anugerah untuk freedom yang bebas dan membebaskan. Tugas kita adalah untuk modifikasi teknologi demi kebaikan bersama.

3. Teknologi Pikiran

Pikiran kita juga sebuah teknologi. Kita berpikir dengan pikiran, hati, dan otak. Sehingga, pikiran adalah teknologi bagi manusia. Karena teknologi adalah anugerah, maka, pikiran juga anugerah. Sebaliknya juga sama valid. Karena pikiran adalah anugerah, maka, teknologi adalah anugerah.

Teknologi pikiran paling primitif, barangkali, adalah kalkulator sebagai mesin hitung. Lebih kuno lagi adalah teknologi sempoa. Seperti biasa, teknologi pikiran mengungkung manusia pada waktunya. Sempoa menjadikan orang malas berpikir hitungan dasar. Kalkulator lebih parah lagi. Menjadikan orang malas berhitung dan memberi ide untuk melakukan beragam kecurangan dalam ujian dan lainnya.

Teknologi pikiran paling canggih, saat ini, adalah teknologi digital dengan media sosial lengkap dengan artificial intelligence (AI) serta dukungan kapital besar.

Tentu, media sosial bermanfaat besar dengan membuka posibilitas luas. Orang-orang bisa komunikasi di seluruh dunia secara online nyaris tanpa jeda waktu. Orang-orang bisa berdagang di seluruh penjuru dunia dengan harga terbaik. Berita terbaru tersedia dari mana saja di mana saja.

Saya, pengalaman personal, bisa membaca beragam artikel ilmiah dan filosofis dari seluruh dunia. Saya bisa membaca ensiklopedia online lengkap dengan multimedia. Lebih dari itu, buku-buku tebal berkualitas sepanjang sejarah bisa kita akses online.

Dari arah sebaliknya, saya berbagi tulisan melalui internet yang bisa dibaca oleh siapa saja di mana saja. Melalui video di youtube, saya berbagi lebih dari 7000 video matematika kreatif secara gratis. Saya berbagi pikiran melalui beragam teknologi pikiran.

Bukankah teknologi pikiran adalah kabar baik? Tentu. Dan, seperti biasa, ada resiko kebalikannya.

Teknologi pikiran, seperti contoh di atas, berhasil membuka posibilitas luas dan memberi freedom ke banyak orang. Di saat yang sama, ada pihak-pihak tertentu yang memanipulasi teknologi untuk kepentingan ekonomis menguntungkan segelintir orang kaya – atau super kaya. Teknologi digital, saat ini, banyak menunjukkan bahwa media sosial mendorong yang kaya makin kaya dan yang miskin makin miskin. Ketika kepentingan ekonomis ini berpadu dengan kepentingan politis, maka, lengkap sudah menjadikan media sosial sebagai penjara pikiran. Hoax bertebaran di jagat maya, sampai-sampai, sulit membedakan dengan kebenaran. Tetapi, ujungnya jelas: media sosial menguatkan kepenting ekonomi dan kepentingan politik pihak tertentu.

Tugas bagi kita jelas: berpikir-terbuka dengan logika-futuristik, sedemikian hingga, membuka posibilitas luas teknologi yang bebas dan membebaskan. Tentu, perlu komitmen kuat untuk menjalankan tugas berpikir-terbuka. Kemudian, kita modifikasi teknologi untuk kebaikan bersama.

Karena pikiran adalah teknologi, maka, bisakah pikiran menjadi penjara bagi manusia itu sendiri? Tentu bisa. Pikiran memang bertugas membuka posibilitas luas yang bebas. Tetapi, pikiran bisa menjadi penjara yang menindas manusia. Pikiran yang menyatakan bahwa diri kita memiliki pikiran terbaik sehingga setiap orang harus menurut kepada kita adalah penjara sangat bahaya. Pikiran bahwa aliran pemikiran kita paling benar sedangkan pihak lain sebagai salah adalah pikiran jahat yang menjadi penjara banyak orang. Pikiran adalah penjara yang lembut namun membawa maut. Kita perlu waspada untuk membebaskan diri dari penjara pikiran sebagai teknologi. Pikiran kita perlu terbuka terhadap ragam posibilitas kebaikan, dengan menerapkan logika-futuristik misalnya.

Buku adalah teknologi pikiran paling baik, buku cetak. Buku memberi informasi, pengetahuan, dan pikiran-pikiran segar. Di saat yang sama, buku memberi waktu bagi kita untuk berpikir bebas. Buku membebaskan kita untuk membacanya secara urut mau pun acak. Buku membebaskan kita membaca secara utuh atau sebagian saja. Buku adalah sumber pikiran yang bebas dan membebaskan. Tentu saja, buku bisa diinterpretasikan dan digunakan secara salah. Bagaimana pun, secara umum, buku bisa diinterpretasikan dan digunakan secara baik dan benar. Dengan demikian, membaca buku merupakan salah satu cara terbaik untuk berpikir-terbuka.

4. Teknologi Diri

Dikabarkan, orang terkaya di dunia, misal namanya Bejo, ingin hidup abadi. Bejo ingin tidak mati. Dengan tersedianya teknologi, Bejo berharap bisa hidup selamanya. Teknologi kedokteran dan medis memungkinkan manusia merawat badannya secara sehat lebih lama. Terbuka posibilitas bagi manusia berumur lebih panjang dengan badan tetap kuat. Teknologi informasi memungkinkan kita menyimpan pikiran ke dalam jaringan komputer. Dengan kata lain, pikiran manusia menjadi abadi secara digital. Kemampuan berpikir tetap segar meski usia sudah tua. Tidak pikun, tidak lambat, dan tidak bingung.

Bejo ingin hidup abadi. Bisakah terjadi? Secara teoritis, sampai saat ini, mungkin saja manusia bisa hidup abadi. Sementara, secara empiris praktis, menunjukkan bahwa setiap manusia pasti akan mati. Kemajuan teknologi medis tidak bisa menolak kematian, hanya bisa menunda kematian, andai bisa. Bejo, barangkali, bisa hidup sampai usia 200 tahun dengan badan sehat. Apakah badan Bejo akan tetap sehat setelah berumur 500 tahun? Kemungkinan besar, badan Bejo akan rusak dan mati.

Alternatifnya adalah menggunakan teknologi informasi. Semua pengetahuan Bejo disimpan di jaringan komputer secara digital. Termasuk memori, perasaan, dan seluruh pengalaman Bejo, atau seluruh diri Bejo, disimpan di jaringan komputer. Sehingga, ketika usia 300 tahun, badan Bejo mulai melemah, seluruh diri Bejo pindah ke jaringan komputer. Badan Bejo memang jadi rusak. Kemudian, diri Bejo yang ada di jaringan komputer itu, dibuatkan badan misal avatar. Dengan demikian, Bejo hidup lagi dengan badan avatar dan diri berupa jiwa Bejo seutuhnya. Badan avatar itu sendiri dibuat sama persis dengan badan Bejo yang sehat. Avatar itu benar-benar adalah Bejo. Keunggulannya, badan avatar terbuat dari bahan sintetis sehingga bisa dirawat secara abadi tanpa ada penuaan dengan disediakannya beragam suku cadang.

Lebih menarik lagi, kita bisa membuat duplikat avatar Bejo lebih dari satu buah. Sehingga, kita bisa menciptakan lebih banyak Bejo dari avatar yang sama. Misal, kita memproduksi dua avatar dari Bejo yaitu P dan R. Pada awalnya, avatar P identik dengan avatar R dan mereka identik dengan Bejo itu sendiri. Seiring dengan waktu, P dan R menjadi berbeda dan unik sesuai pengalaman hidup masing-masing. Kita, sebagai pihak luar, memandang P dan R sebagai kembar identik dengan Bejo. Dalam dirinya sendiri, P dan R adalah pribadi yang berbeda seperti saudara kembar.

Bisa jadi, Bejo keberatan bila avatar dirinya diproduksi dalam jumlah banyak. Bejo ingin spesial, yaitu, hanya ada satu avatar unik. Teori quantum dan teknologi quantum memungkinkan untuk menciptakan avatar yang unik semacam itu. Dalam teori quantum terdapat teorema yang menyatakan tidak ada duplikasi. Dengan demikian, avatar Bejo benar-benar unik sebagai diri Bejo. Bila skenario ini benar bisa terjadi, maka, kita berhasil menciptakan teknologi diri. Tapi, apakah benar-benar bisa?

(a) Analisis esensial. Secara esensial, avatar Bejo bisa diproduksi. Artinya, Bejo bisa hidup abadi sebagai avatar dirinya. Teknologi diri berhasil memproduksi diri manusia. Manusia, secara analisis esensial, adalah badan manusia yang dipadukan dengan informasi yang tersimpan dalam otak manusia. Ketika badan manusia bisa digantikan oleh badan avatar, dan informasi otak manusia bisa diubah menjadi bentuk digital, kemudian, mereka digabungkankan, maka tercipta manusia yang abadi.

(b) Analisis eksistensial. Tidak mungkin manusia abadi di dunia ini. Secara eksistensial, manusia adalah unik tidak bisa digantikan oleh apa pun. Ketika manusia mati, maka, avatar tidak bisa menggantikannya. Avatar Bejo bukanlah Bejo. Mereka adalah dua eksistensi konkret yang berbeda. Avatar, barangkali, mengalami seluruh memori Bejo. Maksudnya, avatar ingat kenangan dirinya waktu kecil hidup bersama ibunya, sekolah dasar, dan sampai dewasa sebagai Bejo. Dan, barangkali, avatar bisa memahami bahwa dirinya adalah produksi dari teknologi. Tetapi, dengan kondisi seperti itu, avatar sadar bahwa dirinya adalah avatar dan bukan Bejo.

Dari perspektif Bejo lebih rumit lagi. Ketika avatar bisa merasakan memori sebagai Bejo, maka, apakah Bejo merasakan dirinya hidup sebagai avatar? Tidak. Bejo tidak merasakan eksistensi avatar adalah eksistensi Bejo. Jadi, secara eksistensial, kita gagal memproduksi teknologi diri. Kita gagal menjadikan manusia hidup abadi di dunia ini, meski, dibantu oleh teknologi. Siapa pun Anda harus bersiap-siap menghadapi mati, pasti.

(c) Makna-eksistensial. Logika-futuristik mengacu masa depan sebagai dasar utama makna. Karena itu, titik akhir di masa depan adalah penting. Sebagai individu, titik akhir di masa depan adalah kematian kita. Mati adalah akhir dari hidup kita. Dengan mati, maka seluruh hidup kita menjadi bermakna. Seluruh hidup kita adalah proses untuk mencapai kematian dengan baik.

Asumsikan kita bisa hidup abadi. Atau, seperti main game, kita bisa mati, lalu, mulai hidup lagi dengan game baru lagi dan begitu seterusnya. Dengan asumsi ini, maka semua makna jadi kehilangan makna. Karena tidak ada titik akhir di masa depan, maka, semua makna bisa direvisi, semua makna bisa dianulir oleh kehidupan baru Anda yang bangkit, di dunia ini, setelah Anda mati. Jadi, teknologi diri yang menjadikan manusia abadi di dunia ini adalah mustahil. Jika manusia ingin abadi, maka, dia perlu hidup lagi di dunia lain yang tidak berhubungan langsung dengan dunia ini.

Singkat kata, teknologi untuk menciptakan manusia hidup abadi adalah mustahil. Meski pun, analisis esensial memberikan secercah harapan bahwa kita bisa membuat teknologi diri sehingga abadi. Ada beberapa asumsi esensial. Pertama, esensi pikiran manusia bisa diubah menjadi bentuk digital. Demikian juga esensi jiwa manusia. Kedua, esensi badan manusia bisa digantikan oleh badan avatar. Kedua esensi di atas hanya dari perspektif esensial. Sedangkan, bila kita mencermati realitas, misal secara eksistensial, jiwa dan badan manusia adalah unik tak tegantikan. Ketika sebagian badan manusia diganti oleh badan lain, maka, ada proses tertentu untuk penyesuaian. Bagian berikutnya akan membahas tentang badan manusia.

5. Badan sebagai Teknologi

Badan adalah teknologi yang selalu melekat dekat dengan diri kita. Badan adalah titik temu, atau ruang temu, antara diri kita dengan alam eksternal. Sementara, diri kita hanya bisa eksis di dalam dunia. Maksudnya, kita tidak bisa eksis di ruang hampa. Kita tidak bisa eksis hanya seorang diri sendiri tanpa ada alam apa pun. Dengan demikian, badan adalah teknologi unik yang menghubungkan diri kita dengan alam eksternal secara niscaya.

Diri kita eksis di dalam badan kita, tetapi, tidak terbatas oleh badan itu sendiri. Diri kita imanen, menempel, di badan tetapi transenden, melampaui, dari badan itu sendiri. Badan bukanlah diri. Dan, diri kita bukanlah badan. Demikian juga, badan bukanlah alam eksternal dan alam eksternal bukanlah badan. Meski demikian, karena badan adalah titik temu, maka badan bisa meluas sampai ke diri kita mau pun sampai ke alam eksternal. Atau, diri kita bisa menyentuh dunia eksternal melalui badan dan dunia eksternal bisa menyentuh diri kita melalui badan juga.

Penting bagi setiap orang merawat badan dengan baik. Secara umum, badan perlu dijaga agar tetap sehat, pada gilirannya, badan sehat mendukung jiwa menjadi sehat. Badan menjadi sehat berkat memperoleh asupan yang tepat dari alam, pada gilirannya, badan sehat ikut menjaga kelestarian alam. Jiwa, badan, dan alam saling terhubung dengan erat.

Dalam perkembangannya, badan sebagai teknologi penghubung itu bisa terasa menghilang. Kita mengambil minuman di depan kita dengan tangan kanan, misalnya. Kita hanya merasa mengambil minuman tersebut. Kita tidak merasa, kita tidak sadar, menggerakkan tangan kanan. Karena tangan kanan itu sudah menyatu dengan jiwa kita. Seakan-akan tangan kanan itu adalah diri kita sendiri. Tangan kanan, sebagai teknologi penghubung, seakan-akan telah hilang.

Apakah Anda pernah membaca buku dengan memakai kaca mata? Apakah Anda merasa memakai kaca mata? Apakah Anda melihat kaca mata? Anda asyik saja membaca buku. Teknologi kaca mata, yang menghubungkan jiwa dengan buku, seakan-akan hilang begitu saja. Kaca mata sudah menyatu dengan jiwa kita.

Awalnya, badan terasa menghilang karena sudah menyatu dengan jiwa. Kemudian kaca mata, sepatu, baju, celana, dan topi terasa menghilang karena sudah menyatu dengan jiwa. Lebih lanjut alam se-desa, se-provinsi, se-bumi dan se-dunia terasa menghilang karena sudah menyatu dengan jiwa. Sehingga, merawat badan juga bermakna merawat kaca mata, serta, bermakna merawat bumi. Ketika tangan sakit, maka, diri kita terasa sakit karena tangan adalah bagian dari jiwa kita. Demikian juga, ketika bumi sakit, maka, diri kita juga terasa sakit karena bumi adalah bagian dari jiwa kita.

Seluruh dunia adalah badan bagi manusia. Dan, manusia adalah jiwa bagi dunia.

Bagaimana pun, batas antara jiwa dengan alam eksternal senantiasa dinamis. Badan kita selalu dinamis. Badan ambigu: badan bukan bagian dari jiwa, di saat yang sama, badan adalah bagian dari jiwa. Alam semesta juga sama. Alam terasa bukan bagian dari jiwa, dan di saat yang sama, terasa bagian dari jiwa. Karakter ambigu yang dinamis ini bukan suatu cacat, tetapi, memang begitulah realitas yang kita hadapi.

Kembali ke tema teknologi, maka, kita menemukan teknologi senantiasa ambigu dinamis. Sama juga, karakter ambigu dinamis bukanlah cacat bagi teknologi. Tetapi, memang demikianlah, ambigu dinamis, karakter sejati dari teknologi. Karena itu, kita perlu berpikir terbuka terhadap teknologi. Kita perlu fokus menatap posibilitas luas dari teknologi yang bebas dan membebaskan.

Sampai di sini, kita bisa mengajukan ulang pertanyaan awal. Apakah teknologi merupakan suatu alat atau tujuan? Alat dan tujuan bagi siapa? Bagi manusia? Siapa itu manusia? Apa itu tujuan?

Jawaban singkat dari semua pertanyaan itu adalah: ambigu dinamis. Kita akan melanjutkan kajian di bawah ini.

6. Teknologi Mencipta Teknologi

Khawatir bercampur harapan, “Bagaimana jika teknologi mampu memproduksi teknologi lagi?”

Kita bisa berharap, atau berkhayal, andai teknologi bisa mencipta teknologi. Kita, misal, punya sepasang mobil: mobil jantan dan mobil betina. Dari pasangan mobil ini lahir beberapa anak mobil. Kemudian, mereka beranak-pinak menghasilkan puluhan mobil. Bukankah itu harapan yang indah?

Lebih menarik lagi, bila kita menempatkan mobil itu di hutan seperti sepasang kijang. Kijang hidup di hutan secara mandiri – tanpa bantuan manusia. Kemudian, kijang berkembang biak menjadi banyak. Demikian juga, sepasang mobil di hutan berkembang biak menjadi banyak. Tiba saatnya panen, kita mengambil puluhan mobil itu, untuk kemudian, menjualnya dengan memperoleh keuntungan besar. Bukankah itu harapan yang menarik?

Mobil memproduksi mobil tidak pernah terjadi. Sehingga, cerita kita di atas hanya khayalan belaka. Bagaimana dengan teknologi lain? Misal, artificial intelligence (AI)?

Program AI, saat ini, mampu menulis program coding. Memang program yang dihasilkan oleh AI masih sederhana. Tetapi, kita bisa berkhayal juga bahwa, suatu saat, AI akan mampu membuat program yang canggih. Saat itu, AI mampu memproduksi AI. Teknologi berhasil memproduksi teknologi.

Mari kita lanjutkan skenario bahwa AI mampu memproduksi AI. Saat ini, industri produksi mobil menerapkan AI untuk menentukan jenis mobil, kuantitas modil, dan kualitas mobil. Sehingga, pada gilirannya, AI bisa memproduksi mobil. Demikian juga, produksi iklan digital memanfaatkan AI untuk analisis iklan yang paling laris. Iklan digital ini menentukan perilaku konsumen, manusia, secara luas. Sehingga, AI berhasil mengendalikan perilaku konsumen, produsen, dan masyarakat secara umum. Dalam politik, para politikus menggunakan AI untuk mengambil keputusan yang berpengaruh ke masyarakat luas. Kita bisa melihat bahwa pengaruh AI menembus beragam sisi kehidupan. Pengaruh ini makin meluas dan membesar. Singkatnya, seluruh sisi kehidupan manusia memanfaatkan AI. Dengan kata lain, AI mengendalikan kehidupan manusia.

Bagaimana jika AI melakukan kejahatan kepada manusia? Karena AI adalah produk dari AI, atau produk dari jaringan AI, maka manusia tidak bisa mengendalikan AI. Akibatnya, AI bisa berbuat jahat dan menindas manusia. Harapan terhadap teknologi berubah menjadi kekhawatiran terhadap teknologi.

Pertanyaan bisa kita ganti, “Memang, apa masalahnya jika AI berbuat jahat dan menindas manusia?”

Bukankah, selama ini, manusia sudah berbuat jahat dan menindas manusia lain?

Pertanyaan terakhir, di atas, mengingatkan kita bahwa kejahatan dan penindasan itu sudah terjadi selama ini. Baik kejahatan itu memakai teknologi sederhana mau pun teknologi canggih. Dengan demikian, ketika AI melakukan kejahatan dengan menindas manusia, maka, umat manusia sudah terbiasa mengalami hal seperti itu. Sehingga, hal itu bukan masalah besar bagi kemanusiaan. Tugas manusia memang harus menangani masalah-masalah seperti itu, menghadapi kejahatan dan penindasan.

Jadi, siapa pun pelaku kejahatan itu, manusia tetap bertanggung jawab untuk menghadapinya. Pelaku kejahatan bisa saja AI, manusia, jin, kerusakan alam, atau lainnya. Semua sama saja. Manusia tetap bertanggung jawab atas kejadian yang ada.

Apakah akan berhasil “teknologi bisa memproduksi teknologi” atau “AI bisa memperoduksi AI,” itu, bukan masalah utama bagi manusia. Masalah utama manusia adalah apakah mereka mampu berpikir-terbuka sehingga membuka posibilitas luas yang bebas dan membebaskan, serta, penuh komitmen. Tema ini akan kita bahas lebih detil di bagian bawah. Tetapi, apakah benar, pada saatnya nanti, AI akan mampu meproduksi AI?

Saya memperkirakan, pada suatu saat nanti, AI akan berhasil memproduksi AI. Artinya, teknologi mampu memproduksi teknologi. Akankah AI bisa inisiatif untuk berbuat jahat? Saya ragu itu. Jika AI memang mampu inisiatif berbuat jahat maka AI bertanggung jawab atas kejahatannya itu, sebagai mana, manusia bertanggung jawab atas kejahatannya. Saya menduga, AI bisa berbuat jahat karena ada campur tangan manusia secara langsung atau tidak.

7. Membuka Masa Depan

Teknologi adalah anugerah untuk membuka masa depan. Banyak sisi positif dan negatif dari teknologi. Bagaimana pun, teknologi tetap merupakan anugerah bagi manusia. Begitu juga, seluruh alam raya adalah anugerah bagi umat manusia. Di bagian akhir ini, kita akan membahas rekomendasi praktis terhadap teknologi, makna teknologi, dan rekayasa lanjutan. Dan, kita menjawab pertanyaan siapakah manusia itu?

a) Rekomendasi Praktis

(1) Gunakan teknologi secara praktis untuk membuka posibilitas baru secara luas. Gunakan teknologi untuk memasarkan produk-produk Anda atau gagasan-gagasan Anda. Gunakan teknologi untuk berbagi, untuk saling membantu di antara banyak pihak. Perhatikan bahwa teknologi bukan sekedar alat. Hati-hati karena teknologi bisa meperalat Anda sampai Anda rugi besar. Pastikan bahwa Anda memanfaatkan teknologi untuk membuka lebih banyak peluang baru yang cemerlang.

(2) Gunakan teknologi agar Anda makin bebas dan membebaskan lebih banyak orang. Dengan teknologi, Anda makin cepat, efisien, dan efektif untuk mencapai target. Sehingga, Anda lebih bebas memanfaatkan waktu yang tersedia. Atau, dengan teknologi, Anda menjadi lebih mudah menyelesaikan sutau pekerjaan sehingga Anda lebih bebas dalam menikmati pekerjaan tersebut. Hati-hati, jangan sampai Anda kecanduan teknologi sehingga Anda bergantung kepada teknologi. Pun, jangan mejadikan orang lain jadi tergantung kepada teknologi sampai tidak bebas. Pastikan untuk memanfaatkan teknologi guna membuat Anda lebih bebas dan membebaskan.

(3) Gunakan teknologi untuk mengembangkan komitmen Anda terhadap kebaikan. Dengan teknologi, kita mampu mempelajari suatu tugas dari beragam perspektif. Pilih tugas paling baik, kemudian, beri komitmen terkuat pada tugas itu. Jangan terjadi sebaliknya, karena teknologi menampilkan banyak pilihan, lalu, seseorang berubah-ubah pilihan tanpa komitmen. Teknologi, justru, perlu untuk menguatkan komitmen kepada kebaikan.

(4) Gunakan teknologi secara bijak, seimbang, dan tepat guna. Untuk menyelesaikan suatu tugas memerlukan 20 liter bahan bakar jika menggunakan mobil standar. Tetapi, memerlukan 40 liter bahan bakar jika menggunakan mobil mewah. Tentu saja, banyak alasan untuk memilih mobil mewah. Sementara, mobil standar lebih ramah lingkungan dan hemat. Gunakan teknologi secara bijak dan gunakan teknologi untuk membantu Anda mengambil keputusan secara bijak.

(5) Gunakan teknologi secara dinamis. Siap berubah dan fleksibel. Jangan terjebak oleh satu jenis teknologi. Bersiaplah untuk menatap masa depan yang dinamis. Teknologi itu sendiri terus berubah, maka, kita juga perlu untuk terus berubah dinamis dengan komitmen di jalan kebaikan.

Lima rekomendasi praktis, di atas, adalah yang paling dasar. Anda bisa mengembangkan lebih banyak tips memanfaatkan teknologi sesuai situasi yang ada. Manfaatkan teknologi untuk membuka posibilitas luas yang bebas dan membebaskan.

b) Makna Teknologi

Tiba waktunya, bagi kita, mengajukan pertanyaan dan merumuskan jawaban, “Apa sejatinya teknologi itu?”

Jawaban berupa definisi teknologi banyak tersedia online dan offline. Wikipedia mendefinisikan teknologi adalah penerapan ilmu pengetahuan untuk mencapai suatu tujuan praktis dengan cara yang dapat diulang.

Technology is the application of knowledge for achieving practical goals in a reproducible way.” (Wiki).

Kita akan melangkah lebih jauh dengan memahami apa makna teknologi secara esensial, eksistensial, dan futuristik.

(1) Makna Esensial Teknologi

Secara esensial, teknologi adalah enframing, teknologi adalah kemasan. Teknologi adalah mengemas suatu esensi untuk menghasilkan esensi tertentu. Media sosial adalah teknologi yang mengemas esensi sosial, misal gaya foto selfi, menjadi esensi tertentu, misal menjadi bit-bit digital. Tetapi, kemasan berupa bit-bit digital ini belum selesai. Media sosial akan mengemas lebih lanjut, misal menerapkan AI, agar bit-bit digital itu menjadi suatu gosip viral (esensi sosial lagi), sedemikian hingga memberi keuntungan finansial bagi pihak-pihak tertentu.

Bagaimana pun, proses kemasan dari teknologi tidak akan pernah berhenti karena teknologi memiliki aspek futural, aspek masa depan. Keuntungan finansial bagi pihak tertentu itu akan dikemas ulang, misal, menjadi keuntungan politis, dan seterusnya.

Dengan memahami bahwa esensi teknologi adalah enframing, atau kemasan, maka kita perlu lebih waspada. Pihak mana saja yang diuntungkan dari enframing? Pihak mana saja yang dirugikan? Tugas kita untuk mengambil keputusan dengan bijak. Memanfaatkan teknologi untuk kebaikan umat dan semesta.

(2) Makna Eksistensial Teknologi

Secara eksistensial, teknologi adalah anugerah untuk membuka posibilitas masa depan yang luas dan bebas serta membebaskan. Teknologi adalah niscaya. Teknologi adalah pasti. Badan kita adalah teknologi yang menghubung jiwa dengan alam eksternal. Kita hidup, eksis, selalu bersama teknologi. Eksistensi kita tidak bisa terpisah dari teknologi. Sehingga, pilihan kita adalah untuk memilih teknologi mana yang paling baik bagi manusia dan alam.

(3) Makna Futuristik Teknologi

Teknologi adalah masa depan – futuristik. Teknologi adalah modifikasi masa kini untuk meraih masa depan dengan arahan masa depan. Masa depan adalah kreativitas untuk membuka beragam posibilitas. Teknologi adalah freedom untuk memilih masa depan, kemudian, membawanya ke masa kini agar bisa dimodifikasi. Masa kini adalah repetisi dari masa depan yang dipilih dengan penuh komitmen. Teknologi adalah merajut masa depan cemerlang.

c) Rekayasa Lanjutan

Teknologi dekat dengan konsep rekayasa. Modifikasi tingkat tinggi adalah rekayasa (engineering). Para insinyur me-rekayasa semesta berdasar sains, teknologi, dan harapan masa depan. Tetapi, masing-masing diri kita adalah insinyur dalam makna tertentu. Sehingga, kita juga bisa me-rekayasa alam raya.

(1) Rekayasa natural. Awalnya, jaman kuno, teknologi adalah rekayasa terhadap alam (natural) demi kebaikan bersama. Manusia menciptakan cangkul, merekayasa alam, agar mudah bertani. Manusia menciptakan kereta tenaga kuda untuk transportasi. Keuntungan rekayasa natural adalah lebih aman terhadap alam. Tidak ada pencemaran lingkungan, yang signifikan, akibat rekayasa alam. Tetapi, hasil rekayasa alam dipandang hanya “sedikit” bagi pihak tertentu. Sehingga, manusia terus berjuang untuk rekayasa lebih canggih.

(2) Rekayasa mekanikal. Awal jaman modern, barangkali, ditandai dengan berkembangnya rekayasa mekanikal. Lebih canggih dari rekayasa natural, rekayasa mekanikal menerapkan matematika untuk rekayasa. Hasil rekayasa menjadi bersifat pasti dan mudah untuk diperbesar. Manusia mengembangkan mesin uap untuk kereta api, mobil, kapal, dan lain-lain. Manusia menjadi lebih mudah untuk menguasai alam semesta dengan rekayasa mekanikal. Dampak buruknya adalah pencemaran lingkungan dan penindasan pihak kuat terhadap pihak lemah. Saat ini, kita perlu menemukan solusi atas ancaman krisis iklim.

(3) Rekayasa elektrikal. Kemajuan teknologi makin pesat dengan berkembangnya rekayasa elektrikal, sehingga, dihasilkan tenaga listrik di penjuru dunia dan komunikasi gelombang elektromagnetik. Handphone Anda dan internet bekerja dengan prinsip elektromagnetik. Anda bayangkan kejadian di Eropa bisa ditonton secara langsung dari Asia, nyaris, tanpa jeda waktu. Rekayasa elektrikal ini tampak lebih halus, dan mencakup, rekayasa mekanikal mau pun natural. Dampak kemajuan sangat besar, salah satunya, terciptalah orang-orang kaya baru dan perusahaan raksasa. Sayangnya, dampak negatif sama besar juga. Kesenjangan ekonomi dan penindasan ada di banyak tempat. Tugas kita adalah mengarahkan kembali rekayasa elektrikal untuk membuka posibilitas luas yang bebas dan membebaskan.

(4) Rekayasa nuklir. Kita sudah mengetahui dampak mengerikan bom nuklir. Rekayasa nuklir memang berbahaya. Dalam dirinya sendiri, rekayasa nuklir membuka banyak posibilitas luas, misal, menghasilkan listrik tenaga nuklir. Ada dua jenis rekayasa yaitu nuklir kuat dan nuklir lemah. Contoh di atas adalah rekayasa nuklir kuat. Sementara, rekayasa nuklir lemah, misalnya, untuk rekayasa genetika menghasilkan bibit unggul tanaman pangan. Saat ini, dunia sedang dalam ancaman perang nuklir yang bisa menghancurkan seluruh bumi. Karena itu, kita perlu mencari solusi untuk mencegah perang nuklir. Apakah bisa?

(5) Rekayasa gravitasi atau ruang-waktu. Rekayasa ini belum berhasil dilakukan tetapi baru sebagai ide yang menarik. Teori Relativitas menyatakan bahwa gravitasi yang sangat kuat, massa materi yang sangat besar, bisa membelokkan ruang-waktu. Gerhana matahari tahun 1919 menunjukkan bahwa cahaya yang melintas dekat matahari dibelokkan oleh matahari, sebagai, benda dengan massa sangat besar. Jika rekayasa ruang-waktu berhasil, maka, kita bisa membelokkan ruang dan waktu. Dengan demikian akan ada banyak posibilitas baru yang luas. Salah satu idenya adalah untuk menangani sampah nuklir yang berbahaya menjadi ramah lingkungan. Rekayasa ruang-waktu juga mengarah ke penerapan wormhole untuk menyelesaikan problem quantum entanglement. Dengan demikian, terbuka peluang adanya kecepatan seakan-akan melebihi kecepatan cahaya.

(6) Rekayasa sosial. Semua rekayasa melibatkan peran rekayasa sosial. Teknologi yang tidak diterima masyarakat, akhirnya, akan musnah. Sementara, teknologi yang diterima oleh masyarakat luas makin berkembang. Rekayasa sosial bisa saja terjadi secara wajar, tetapi, bisa benar-benar melibatkan rekayasa tingkat tinggi. Karena itu, kita perlu mencermati rekayasa sosial dengan teliti.

(7) Rekayasa digital atau rekayasa informasi atau rekayasa pengetahuan. Kita tahu, rekayasa pengetahuan sudah berlangsung lama sejak awal peradaban manusia. Hanya saja, di era digital, rekayasa pengetahuan menjadi makin dahsyat lagi. Karena, pengetahuan itu sendiri, atau informasi itu sendiri, yang memiliki nilai paling tinggi. Jika Anda tahu bahwa harga saham perusahaan XYZ akan melonjak dalam beberapa bulan ke depan, maka, informasi semacam itu sangat bernilai tinggi. Lebih parah lagi, jika seseorang bisa memperoleh informasi digital tentang rekening dan password dari nasabah bank, maka, informasi itu bernilai tinggi. Dengan rekening dan password, seseorang bisa memindahkan uang dari satu rekening ke rekening lain. Menariknya, yang berpindah bukan uangnya, tetapi, cukup informasi digital tentang uang yang berubah. Lagi, kita perlu waspada dengan perkembangan rekayasa digital ini.

Seluruh rekayasa di atas, dan rekayasa lain, selalu merupakan rekayasa futural. Yaitu, rekayasa masa depan dengan modifikasi apa yang ada di masa kini. Rekayasa masa depan, dengan arahan masa depan, agar terjadi repetisi masa depan, di masa kini.

Siapa Manusia

Siapa diri kita? Siapa manusia itu? Siapa orang yang membuka masa depan dengan menerima anugerah teknologi itu?

Seharusnya, kita mudah menjawab pertanyaan itu. Karena, kita adalah manusia itu sendiri. Kita adalah jawaban dari pertanyaan itu sendiri. Nyatanya tidak semudah itu. Pertanyaan di atas menuntut kita refleksi diri.

Saya memilih satu jawaban yang ringkas, yaitu, manusia adalah dumadi yang menyelaraskan diri. Manusia adalah dumadi yang serasi. Atau, dengan satu kata, manusia adalah serasi.

Mari kita membahas manusia dengan model M adalah model dari manusia. Definisi awal, sebagai diferensia,

“Manusia = M = Akal = Rasional”

Model M

M sebagai diferensia mencakup seluruh diferensia lebih awal, di antaranya, meliputi badan, tumbuh, mineral, dan lain-lain.

M adalah model dasar dari manusia. Setiap manusia harus memenuhi M, berakal. Jika tidak berakal maka gagal sebagai M, gagal sebagai manusia.

Tetapi, model M ini berubah secara dinamis. Sehingga, model M bisa, berubah, menjadi berbeda-beda bagai bumi dan langit, bagai binatang dan malaikat, bagai air dan api. Jadi, M terbuka terhadap perubahan. Seiring waktu, M berubah menjadi lebih sempurna yaitu M(S).

Model M(S)

“Manusia = Akal Sempurna = M(S) = Sempurna = S”

M(S) adalah diferensia akhir. Tentu, M(S) meliputi M, meliputi akal. Atau, M(S) adalah ekstensi dari M itu sendiri.

Karakter S (sempurna) tidak bisa dibaca dari M. Artinya, S tidak bisa diprediksi dari M. Kareda ada faktor “forcing” (Cohen) atau “freedom”. Tetapi, S itu tersusun oleh M. Atau, struktur S terdiri dari unsur-unsur M. Jadi, S tersusun oleh unsur akal, badan, dan situasi serta freedom. Sebagai diferensia akhir, kita bisa menyebut sebagai M(S) = manusia sempurna, atau cukup S = sempurna.

M(S) memiliki karakter universal atau hampir absolut. M(S) bisa muncul di berbagai tempat berbeda dan di berbagai waktu berbeda. M(S) tidak bisa dibatasi oleh “hukum” M. Karena, M tidak bisa mem-prediksi M(S). Meskipun, seiring waktu, M akan bisa memahami M(S). Tetapi, M(S) bisa memprediksi M karena M ada dalam diri M(S).

M(S), di saat yang sama, bersifat unik, partikular, sesuai situasi yang ada dan “freedom” individu. Sehingga, di dunia ini, terdapat ribuan atau jutaan M(S). Dengan perspektif tertentu, setiap individu manusia adalah M(S). Tetapi, perspektif umum, menerapkan M(S) hanya kepada manusia sempurna dalam makna positif.

M(S) adalah tujuan akhir dari manusia, yaitu, menjadi manusia sempurna. Apa yang Anda siapkan untuk menjadi manusia sempurna?

M(S) adalah manusia sempurna, adalah dumadi yang menyelaraskan diri, adalah dumadi serasi, adalah serasi.

M(S) = manusia sempurna = selaras diri = serasi

M(S) = Serasi

Kita fokus kepada serasi. Konsep manusia sempurna bisa kita ringkas menjadi hanya serasi. Apa makna serasi?

(1) Serasi terhadap situasi. Manusia menjaga diri agar serasi dengan situasi alam sekitar. Sebaliknya bisa terjadi. Manusia mengubah alam sekitar agar serasi dengan manusia. Perubahan terhadap diri, dan alam sekitar, bisa saja ekstrem. Manusia akan berusaha membawa, kembali, ke situasi serasi. Dalam situasi serasi seperti ini, M(S) adalah unik. M(S) di Asia berbeda dengan M(S) di Eropa, misalnya. Karena mereka menghadapi situasi yang berbeda. Alam sekitar, di sini, bisa berupa natural dan kultural. Tentu saja, teknologi termasuk sebagai alam kultural.

(2) Serasi terhadap diri. Menariknya, diri manusia selalu menyimpan misteri. Sehingga, manusia sempurna perlu menjadi serasi dengan diri sendiri yang banyak misteri. Diri manusia memang tersusun oleh unsur-unsur manusiawi: badan, akal, situasi, dan lain-lain. Tetapi selalu ada “forcing” atau “freedom” yang melampaui unsur-unsur manusiawi yang sudah ada itu. Dengan demikian, manusia bisa selaras dengan dirinya sendiri dengan mencoba selaras terhadap “forcing” atau “freedom” dirinya sendiri.

(3) Serasi kepada Tuhan Maha Absolut. Manusia sempurna berjalan menuju absolut dengan menjadi hampir-absolut. Manusia meraih serasi dengan menjadi hampir-absolut, meski, tidak pernah absolut. Manusia perlu bimbingan melalui wahyu, kitab suci, riwayat, guru, sahabat, dan lain-lain. Dari dalam dirinya sendiri, manusia perlu berpikir terbuka, bersikap terbuka, membuka diri, dan membuka hati, agar mencapai serasi absolut. Tepatnya, serasi hampir-absolut. Manusia bisa berhasil meraih sempurna, hampir-absolut, bukan karena dirinya mampu. Tetapi, karena pertolongan dari sumber absolut.

Selamat menapaki jalan menjadi manusia sempurna…!

Catatan

Saya mencatat tiga poin penting sebagai penutup bagian teknologi ini. Pertama, teknologi adalah realitas eksistensial yang perlu kita terima sebagai anugerah. Kemudian, kita merespon teknologi untuk menghasilkan anugerah lagi lebih berlimpah.

Kedua, teknologi adalah buah dari perkembangan pengetahuan dan sains. Karena itu, kita perlu terus mengembangkan teknologi, termasuk, dengan mengkritisinya.

Ketiga, tugas kita adalah modifikasi teknologi untuk membuka posibilitas luas yang bebas dan membebaskan. Untuk itu, umat manusia perlu komitmen yang kuat.

Dengan mengkaji Pintu 1 sampai Pintu 4, kita siap menjalani hidup sukses penuh makna. Tetapi, masih ada tantangan di depan. Ada orang lain, seperti diri kita, yang ingin sukses namun sering beda pikiran dengan kita. Bagaimana cara menghadapi perbedaan pikiran, perbedaan pendapat, sampai perbedaan keyakinan? Kita akan membahasnya di Pintu 5 “Pakar Demokrasi.”

Pintu 2: Peka Menjadi Fakta

Rasa peduli kita menentukan mana fakta obyektif dan mana fakta subyektif. Ketika kita peka terhadap semua anugerah yang ada, maka, semua anugerah itu menjadi fakta bagi kita.

Anda membaca tulisan ini, barangkali, melalui internet. Atau, Anda sering akses internet untuk membaca atau menonton video melalui handphone atau laptop. Ketika Anda mematikan handphone, apakah, saat itu, tetap ada sinyal internet? Sinyal internet tetap ada karena ada wifi atau ada paket data. Tetapi apakah Anda bisa membaca atau menonton video jika handphone dimatikan?

Anda peka terhadap gambar dan tulisan di handphone. Sehingga, Anda bisa membaca tulisan di handphone. Tulisan di handphone itu nyata, benar-benar, ada. Tetapi, tulisan yang sama, sebenarnya ada juga di sinyal wifi Anda. Ketika handphone dimatikan, Anda tidak bisa membaca tulisan dari sinyal wifi. Anda tidak peka terhadap sinyal wifi. Sinyal wifi menjadi “tidak ada” karena kita tidak peka.

Peka menentukan sesuatu menjadi nyata atau sirna. Manusia perlu mengembangkan pendidikan setinggi-tingginya agar makin peka. Dengan peka yang tinggi, kita lebih mampu memahami lebih banyak realita dan kita bisa menciptakan realita baru melalui sains dan teknologi, misalnya.

1. Mata Semut Quantum
2. Mata Elang Gravitasi
3. Mata Manusia Dewasa
4. Anugerah di Dunia
5. Mengembangkan Makna dan Masa

Apakah Anda pernah main olah raga yang seru? Misal sepak bola atau badminton? Kadang, ketika asyik main badminton, kaki lecet hanya terasa sedikit panas. Selesai main badminton, lecet itu terasa panas sekali. Ketika asyik badminton, perhatian kita sepenuhnya dalam permainan itu. Hanya badminton yang nyata. Kaki lecet tidak nyata. Tetapi, selesai badminton, kita menjadi peka terhadap lecet di kaki. Lecet itu menjadi nyata. Bukankah itu karena perasaan subyektif? Atau, bisakah kita menunjukkan sesuatu yang benar-benar obyektif? Kita perlu mengkajinya.

Peka adalah realita dan realita adalah peka. Peduli adalah realita hati dan realita hati adalah peduli.

1. Mata Semut Quantum

Sains fisika mengaku sebagai kajian obyektif. Sebagian besar orang, barangkali termasuk diri kita, juga berharap sains bisa benar-benar obyektif. Sains mengkaji obyek-obyek di alam semisal batu, kayu, gerak benda jatuh, benda-benda langit, molekul, atom, dan lain-lain. Termasuk mengkaji asal mula alam semesta, big bang, pergerakan alam semesta, sampai prediksi alam semesta akan hancur pada waktunya.

Dilengkapi dengan matematika, sains fisika makin canggih. Produk-produk teknologi canggih, hampir semua, memanfaatkan teori fisika. Komputer Anda dan internet memanfaatkan hukum fisika. Pada waktunya, saintis penasaran, “Apa sejatinya penyusun seluruh alam raya?”

Penyusun seluruh alam raya adalah atom-atom. Misal, air bening yang Anda minum itu tersusun oleh atom hidrogen dan atom oksigen. Atom hidrogen itu eksis secara nyata bagi para saintis. Karena, para saintis peka terhadap teori atom. Sementara, kita tidak peduli dengan atom-atom hidrogen itu. Kita hanya peka terhadap air. Kita hanya peduli air itu dingin atau hangat untuk diminum. Apa yang kita peduli maka menjadi nyata, menjadi fakta.

Saintis bertanya lebih jauh, “Atom-atom itu tersusun oleh apa?” Kajian ini mengantar kepada teori quantum atau quantum mechanic (QM). Di mana, teori quantum ini mendorong perkembangan teknologi komputer dan internet makin canggih. Saat ini, sedang dikembangkan komputer quantum yang ribuan kali lebih hebat dari komputer jaman sekarang.

Kepekaan teori quantum terhadap obyek-obyek super kecil, sub-atomik, saya sebut sebagai mata-semut-quantum. Teori quantum peka terhadap sub-atomik maka realitas sub-atomik menjadi fakta yang nyata.

1.1 Beda dengan Mata Biasa

Istilah lompatan quantum, barangkali, sangat terkenal. Kita ambil contoh lompatan elektron dari kulit utama 3 menuju kulit utama 4 dengan menyerap energi cahaya. Elektron ini melompat dari 3 ke 4 tanpa transisi. Maksudnya, mula-mula di kulit utama 3, kemudian, tiba-tiba sudah berada di kulit utama 4. Tidak ada proses bertahap misal melalu 3,1 lanjut 3,2 sampai 3,9 misalnya. Elektron itu melompat begitu saja, nyaris, tanpa proses.

Mata semut quantum peka bisa melihat lompatan elektron. Tetapi, mata biasa tidak akan mampu melihatnya.

Dalam kehidupan nyata, kita sering mengalami lompatan-lompatan pemikiran. Dari berpikir kebaikan 1 melompat berpikir kebaikan 2. Kadang-kadang orang bisa bertobat. Dari perbuatan jahat tertentu “melompat” ke perbuatan baik tiada tara. Ketika kita peka terhadap lompatan itu maka lompatan itu menjadi nyata.

Lompatan kebaikan apakah yang akan Anda lakukan?

1.2 Peka terhadap Paradoks

Sains klasik cenderung yakin dengan kepastian. Sementara, mata semut quantum justru yakin dengan ketidak-pastian. Realitas quantum adalah pasti tidak pasti. Paradoks. Quantum sudah terbiasa menerima paradoks.

Paradoks paling terkenal, barangkali, adalah kucing Schrodinger. Kucing dalam kotak yang berdampingan dengan pemicu beracun dengan probabilitas 50% aktif. Apakah kucing dalam kotak itu hidup atau mati? Logika sains klasik menjawab kucing itu pasti, salah satu, antara hidup atau mati. Kita perlu membuka kotak untuk memastikannya. Logika quantum menjawab dengan berbeda, yaitu, kucing itu 50% hidup dan 50% mati. Kucing itu perpaduan, superposisi, hidup dan sekaligus mati. Selama, kotak tidak dibuka, maka, kucing itu berada imbang antara hidup dan mati. Mata semut quantum memang paradoks.

Masih banyak paradoks-paradoks lain di dunia quantum. Misal ketidakpastian Heisenberg, dualisme partikel gelombang, quantum entanglement, dan lain-lain. Dengan meminjam kacamata quantum, kita bisa melihat beragam paradoks. Kemudian, kita berpikir-terbuka menentukan respon terbaik terhadap paradoks tersebut. Orang yang tidak peka, dan tidak peduli, bisa saja bersikukuh hanya dengan satu sudut pandang. Tetapi, kita bisa meluaskan wawasan sehingga lebih peka, dan peduli, terhadap beragam sudut pandang.

1.3 Dunia Relasi

Kita terbiasa melihat mobil adalah tetap mobil, baik ketika kita buka mata atau tutup mata. Mobil itu eksis secara obyektif. Dalam dunia quantum bisa beda: relasi itu penting. Elektron ketika dilihat oleh mata, maka, elektron berperilaku sebagai partikel. Tetapi, bila tidak ada mata yang melihat, maka, elektron berperilaku sebagai gelombang. Realitas elektron ditentukan oleh relasi terhadap mata kita.

Dari perspektif quantum relasional, realitas adalah relasi di atas relasi. Perspektif relasional ini tergolong baru karena menggabungkan teori quantum dengan teori relativitas, yang kita bahas di bagian bawah. Elektron adalah gelombang dengan relasi “dicuekin” – dalam arti tidak diamati oleh pengamat. Jika orang kedua tetap tidak mengamati elektron maka elektron berlanjut sebagai gelombang. Demikianlah, realitas elektron ditentukan oleh relasi-relasi. Tetapi, bila pengamat ketiga mengamati elektron tersebut maka elektron berubah perilaku menjadi partikel. Tercipta relasi realitas baru.

Dalam kehidupan nyata, barangkali, orang tidak mengira bahwa kepekaan dirinya menciptakan realitas dunia nyata. Sinar matahari pagi menjadi begitu indah karena mata kita memandangnya. Cahaya rembulan begitu syahdu karena mata kita tertuju. Hembusan angin begitu segar karena badan kita yang merasakan elusannya. Tentu saja, matahari pagi tetap bersinar ketika tidak ada mata yang memandang. Tetapi, sinar itu menjadi sinar yang murung bermuram durja. Hanya ketika ada relasi dengan mata kita, matahari memancarkan sinar penuh makna.

2. Mata Elang Gravitasi

Mata elang berbeda dengan mata semut. Mata elang mampu melihat obyek yang luas dari jarak sangat jauh. Elang terbang tinggi di atas bukit. Bisa puluhan meter atau ratusan meter di atas bukit. Dari ketinggian itu, mata elang, yang tajam, menatap seluruh wilayah yang luas untuk menemukan sasaran. Mata elang mampu melakukan semua tugas itu dengan baik.

Mata semut sangat teliti kepada hal-hal kecil dan dekat. Mata elang sangat tajam kepada hal-hal yang luas dari jarak jauh. Mata mereka, semut dan elang, berbeda. Kita membutuhkan kedua mata tersebut: mata-semut-quantum dan mata-elang-gravitasi.

2.1 Teori Gravitasi

Mata gravitasi mengamati matahari, bulan, bumi, dan planet-planet lain. Meski matahari berjarak ribuan kilometer dari bumi, gravitasi matahari kita rasakan di bumi. Begitu juga, bulan sangat jauh dari bumi. Cobalah jalan-jalan di pantai ketika bulan purnama, maka, Anda akan melihat pengaruh gravitasi bulan. Bulan purnama menarik air laut, sampai, air laut menjadi pasang. Begitu bulan bersembunyi, maka air laut surut kembali.

Realitas gravitasi begitu jauh tetapi tetap berarti.

Mengapa gravitasi bulan mampu mempengaruhi air laut menjadi pasang naik, padahal, jaraknya sangat jauh? Karena ukuran bulan sangat besar. Karena massa bulan sangat besar. Ukuran bulan lebih besar dari badan kita. Lebih 7 juta kali lipat dari badan kita. Karena ukuran besar itu, maka, gravitasi bulan mampu menarik air laut menjadi pasang meski jauh.

Kita bisa menempatkan bola di atas laut. Bola itu tidak akan bisa menarik air laut menjadi pasang naik. Karena ukuran bola terlalu kecil. Akibatnya, gravitasi dari bola tidak dirasakan oleh air laut. Tetapi, sejatinya, gravitasi dari bola itu tetap ada. Hanya tidak signifikan. Kita bisa mengamati lebih detil mengapa hanya bulan purnama yang bisa menarik air laut pasang naik sampai tinggi? Mengapa bulat sabit tidak bisa menarik pasang yang tinggi? Karena, gravitasi bulan purnama bersinergi dengan gravitasi matahari. Akibatnya, secara total, menghasilkan efek pasang naik lebih tinggi.

Segalanya penuh arti. Bulan, matahari, dan bola semuanya memberi arti. Semua memberi gaya gravitasi. Besar atau kecil tetap berguna. Jauh atau dekat tetap bermakna. Demikianlah, teori gravitasi. Segala sesuatu saling menciptakan relasi.

Dalam kehidupan nyata, kita perlu lebih waspada. Karena semua yang ada di sekitar kita selalu bermakna. Besar atau kecil. Jauh atau dekat. Semua memang nyata.

Matahari yang ukurannya besar, sampai, mampu membelokkan ruang di sekitarnya. Cahaya bintang yang melintas dekat matahari akan sedikit berkelok lantaran gravitasi matahari. Dalam teori relativitas, massa yang besar semisal matahari, mampu membelokkan ruang. Akibatnya, cahaya yang seharusnya bergerak lurus di dekat matahari, menjadi bergerak berbelok sesuai lengkungan ruang. Seperti tidak masuk akal.

Dalam kehidupan sehari-hari, konsentrasi yang kuat pada suatu tujuan baik akan mampu menggerakkan realitas sekitarnya untuk ikut menyesuaikan.

2.2 Gravitasi Quantum

Awalnya, teori gravitasi terpisah dari teori quantum. Mata elang terpisah dari mata semut. Selanjutnya, para ilmuwan berniat menyatukan mereka menjadi gravitasi quantum. Kita membutuhkan keduanya. Tidak mudah untuk menyatukan quantum dan gravitasi. Quantum terbiasa mengkaji partikel mikro semisal elektron. Sedangkan, gravitasi terbiasa mengkaji fenomena makro semisal matahari.

Formula-formula quantum menjadi berbeda dengan formula gravitasi dan tidak berhubungan. Rumus-rumus elektron, misalnya, tidak berguna untuk menentukan gaya gravitasi matahari ke bumi. Sebaliknya, juga tidak berguna. Rumus gravitasi tidak berguna terhadap gerak dan perilaku elektron. Ditambah lagi, asumsi mereka terhadap realitas saling bertentangan. Quantum menganggap realitas adalah diskrit misal ada 1 elektron, 2 elektron, 3 elektron dan seterusnya. Tidak pernah ada setengah elektron. Sementara, gravitasi memandang realitas sebagai kontinyu sambung menyambung. Gravitasi matahari menjangkau bumi secara kontinyu sambung-menyambung tanpa putus.

2.3 Lingkaran Malaikat

Umumnya, terjadi lingkaran setan. Kita berniat mengubahnya menjadi lingkaran malaikat melalui lingkaran manusia. Lingkaran setan terbentuk ketika kita melihat suatu obyek membutuhkan ketelitian. Kita membutuhkan mata semut quantum. Tetapi, mata quantum ini tidak lengkap karena obyek tersebut dipengaruhi alam secara luas, dipengaruhi gravitasi. Kita bisa berpindah ke mata elang gravitasi untuk melihat situasi global. Pada gilirannya mata elang gravitasi juga tidak lengkap karena membutuhkan pandangan detil mata quantum. Kita terjebak dalam lingkaran setan.

Kita bisa mengubah lingkaran setan menjadi lingkaran malaikat dengan menciptakan makna hikmah dalam setiap pandangan. Apa makna gravitasi quantum? Apa interpretasinya? Apa hikmahnya?

Fakta sains quantum disepakati oleh para ilmuwan. Tetapi, terdapat banyak interpretasi yang berbeda tentang quantum. Demikian juga, ilmuwan sepakat tentang fenomena gravitasi. Sementara, makna gravitasi tetap menjadi tanya jawab besar.

(1) Gravitasi adalah gaya tarik menarik antara dua benda bermassa. Makna gravitasi sebagai gaya, tampak, jelas bagi fisika klasik Newton. Tetapi, kita masih bisa mengajukan pertanyaan apa yang dimaksud dengan “gaya” dan “massa” itu sendiri.

(2) Gravitasi adalah efek dari partikel elementer graviton. Fisika modern menyadari sulitnya memaknai gravitasi, kemudian, mengenalkan konsep graviton. Sampai sekarang, para ilmuwan belum bisa mendeteksi eksistensi graviton. Dari analisis, graviton lebih lembut dari Higgs Boson.

(3) Gravitasi adalah gelombang, yaitu, gelombang gravitasi. Sekitar tahun 2015, ilmuwan berhasil mendeteksi gelombang gravitasi. Gravitasi memiliki karakter gelombang. Tetapi, kita masih perlu interpretasi lebih lanjut apa makna gravitasi yang memunculkan karakter gelombang itu.

(4) Gravitasi adalah medan. Yaitu medan, di mana, efek gravitasi bisa dideteksi. Wajar, kita bertanya apa makna medan?

(5) Medan adalah realitas paling fundamental dari mana ruang dan waktu bisa eksis. Makna medan adalah medan ontologis.

Kiranya, uraian di atas cukup menunjukkan keragaman makna gravitasi. Kita bisa menambahkan lebih banyak lagi makna, dan interpretasi, dari quantum. Poin utama kita adalah, terbukti, bahwa kaca mata sains memperkaya sudut pandang manusia dengan kepekaan kualitas tinggi. Realitas yang tidak tampak oleh mata biasa, pada gilirannya, bisa dikaji dari sudut pandang sains. Ilmuwan mengklaim bahwa obyek sains adalah realitas obyektif. Dengan kata lain, quantum dan gravitasi adalah realitas obyektif bagi ilmuwan dan manusia umumnya.

Lebih dari itu, quantum dan gravitasi mengajak kita membuat interpretasi terhadap fakta-fakta sains. Interpretasi itu sendiri bisa bernilai lebih besar, atau sama besar, dengan fakta sains. Interpretasi akan menunjukkan arah perkembangan sains ke depan. Interpretasi sains membuka pintu bagi makna sains yang lebih luas dan lebih mendalam.

Makna sains adalah lingkaran malaikat. Ketika kita mengkaji makna dan hikmah sains, maka, kita mengubah lingkaran setan dari sains menjadi lingkaran malaikat. Apa hikmah yang Anda kembangkan dari sains?

3. Mata Manusia Dewasa

Mata manusia dewasa berbeda dengan mata anak kecil. Mata manusia dewasa berbekal pengalaman luas: bahasa, ilmu, dan nafsu. Sementara, mata anak kecil adalah mata yang tulus. Anak kecil melihat obyek apa adanya. Manusia dewasa melihat obyek sebagai ada apanya.

3.1 Mata Ilmu

Cahaya ilmu menyinari seluruh alam semesta. Mata manusia perlu cahaya untuk bisa melihat realita. Tidak cukup hanya menggunakan mata yang tulus. Kita perlu melihat realitas dengan mata yang berbekal cahaya ilmu.

(a) Bekal ilmu. Ketika kita melihat alam raya, kita perlu bekal ilmu. Misal, kita melihat pohon di kebun. Ilmu fisika menunjukkan bahwa pohon itu bisa tegak di atas tanah karena ada akar yang menopangnya. Ilmu ekonomi menunjukkan bahwa pohon itu akan menghasilkan buah yang bisa diperdagangkan. Ilmu etika menunjukkan bahwa pohon itu menjaga keseimbangan alam sehingga kita perlu merawatnya dengan baik.

Tanpa ilmu, seseorang hanya bisa melihat pohon sebagai batang dan daun belaka. Dengan ilmu yang luas, kita bisa memandang pohon jauh lebih luas lagi.

(b) Menerapkan ilmu. Melangkah lebih jauh, kita menerapkan ilmu di dunia nyata. Dengan ilmu fisika, kita tahu bahwa batang pohon yang panjang itu bisa kita potong menjadi 5 bagian. Kemudian, masing-masing potongan kita tanam lagi. Sehingga, mereka tumbuh menjadi 5 pohon yang baru. Ilmu fisika yang dilengkapi dengan ilmu biologi berguna untuk pertanian.

Kita bisa menerapkan ilmu ekonomi. Pohon itu bisa kita jual kepada orang yang membutuhkan. Kemudian, hasil penjualan itu kita manfaatkan untuk merawat perkebunan yang ada dan kebutuhan hidup masyarakat sekitar.

Ilmu etika memberi tantangan kepada kita. Apa perilaku terbaik kepada pohon itu? Barangkali membiarkan pohon hidup apa adanya adalah yang terbaik. Pohon itu tumbuh dan melindungi tanah di sekitarnya. Atau, barangkali, menjual pohon kepada orang yang tepat adalah lebih baik. Mereka, orang yang tepat, dapat mengolah pohon untuk manfaat yang lebih besar. Atau, barangkali, kita justru harus merawat pohon itu di tempatnya. Karena, tempat itu membutuhkan lebih banyak penghijauan. Kita bisa menerapkan ilmu etika pada situasi ini.

(c) Menambah ilmu. Keunggulan utama ilmu adalah selalu berkembang. Ilmu selalu bertambah. Orang yang tidak menambah ilmu adalah orang yang ketinggalan jaman. Mereka terancam tergilas roda peradaban. Kita perlu, selalu, menambah ilmu. Dengan bekal ilmu dan menerapkan ilmu, kita berpikir terbuka untuk menerima ilmu-ilmu baru.

3.2 Mata Bahasa

Bahasa merupakan keunggulan umat manusia. Lebih dari dugaan biasanya, bahasa membentuk cara kita melihat realita. Bukan hanya kita menggunakan bahasa untuk bicara. Tetapi, kita dibentuk oleh bahasa dalam berbicara, mau pun, dalam bersikap. Kita perlu memanfaatkan mata bahasa dengan bijak.

(a) Nama-nama. Apa arti sebuah nama? Nama adalah segalanya. Dengan nama, kita memahami seagala yang ada. Saya punya anak pertama bernama Syifa dan, adiknya ketiga, Shadra. Bagi orang yang baru kenal, mereka, menganggap Syifa dan Shadra adalah anak kembar yang sama persis. Mereka tidak bisa membedakan kedua anak saya. Kemudian, saya mengenalkan anak saya lengkap dengan ciri masing-masing. Dengan fokus kepada nama, Syifa dan Shadra, orang-orang yang baru kenal itu, akhirnya, bisa membedakan kedua anak saya.

Nama adalah kekuatan bahasa. Dengan nama, kita memahami realita. Dengan nama, kita berkreasi menghadirkan beragam karya cipta.

Apakah Anda bisa membedakan sains fisika dengan sains kimia? Jika kita fokus kepada sains, maka, keduanya adalah sama-sama sains. Tetapi, jika kita fokus kepada fisika, misal tentang perpindahan elektron yang menghasilkan tenaga listrik, maka, kita mengenal karakter sains fisika. Demikian juga, jika kita fokus kepada kimia, misal pengaruh elektron terhadap reaksi beberapa unsur, maka, kita mengenal karakter kimia. Meski mereka sama-sama sains yang mengkaji elektron, karena fisika berbeda nama dengan kimia, maka kita bisa membedakannya.

(b) Struktur bahasa. Lebih lanjut, bahasa menciptakan struktur yang unik. “Kera makan pisang” adalah contoh struktur bahasa dengan logika yang jelas. Struktur sebaliknya sulit diterima logika, “pisang makan kera.” Bahasa menciptakan struktur pikiran dan, sebaliknya, pikiran menciptakan struktur bahasa. Ada hubungan timbal balik antara struktur bahasa dan struktur pikiran.

Dengan demikian, kita perlu waspada dengan struktur bahasa kita. Manusia memandang alam raya berdasar struktur bahasa yang mereka miliki. Dengan kata lain, struktur bahasa mencipta realita. Ketika kita melihat kera dan pisang, maka, struktur bahasa menjamin bahwa “kera bisa makan pisang” tetapi, sebaliknya, tidak bisa terjadi “pisang bisa makan kera.”

Situasi lebih rumit bisa terjadi. “Negara kawan” tidak mungkin jahat terhadap negara kita. “Negara kawan” selalu berbuat baik kepada kita. Sebaliknya, bisa kita pahami. “Negara lawan” tidak mungkin berbuat baik kepada negara kita. “Negara lawan” selalu berbuat jahat. Tentu saja, kita sadar bahwa sulit melabeli suatu negara tertentu sebagai kawan atau lawan. Atau, kadang, setiap negara senantiasa bergerak dinamis sebagai kawan atau lawan sesuai beragam kepentingan.

(c) Makna realita. Bahasa membantu kita memahami makna realitas yang jauh. Baik jauh secara ruang mau pun waktu.

Hanya dengan bahasa kita bisa memahami bahwa “Indonesia merdeka pada tahun 1945.” Peristiwa proklamasi kemerdekaan Indonesia sudah berlangsung lebih dari 70 tahun yang lalu, jauh secara waktu. Tanpa bahasa, kita sulit memahami masa lalu. Demikian juga tentang cita-cita masa depan. “Tahun 2045 Indonesia akan berhasil meraih Indonesia emas yang adil makmur.”

Lebih dari itu, bahasa membantu manusia memahami beragam konsep yang hanya bisa dipahami melalui bantuan bahasa. Misal “konsep” itu sendiri hanya bisa dipahami melalui bahasa. Tidak ada benda fisik yang bernama “konsep”. Dan, tidak ada kegiatan tertentu yang disebut sebagai “konsep”. Konsep adalah realitas bahasa itu sendiri.

Dengan bahasa, kita bisa mengembangkan konsep abstrak yang kaya akan makna. Di antaranya, kita mengenal quantum, relativitas, real, imajiner, logaritma, kredit, debet, adil, makmur, dan lain-lain. Salah satu konsep paling penting adalah konsep dan makna cinta. Kita akan segera membahas tema cinta di bawah ini.

3.3 Mata Cinta

Ketika lapar, mata melihat setiap makanan begitu nikmat. Ketika kenyang, mata melihat hidangan makanan dengan biasa-biasa saja. Mata nafsu melihat segala sesuatu dengan birahi. Mata cinta melihat segala sesuatu dengan cahaya nurani.

Rasa cinta berdekatan dengan rasa rindu, kangen, resah, dan gelisah. Pada bagian ini, kita akan membahas cinta terutama yang berhubungan dengan resah dan gelisah.

Resah

Rasa resah muncul seperti ada sesuatu yang tidak beres. Resah menunjukkan sesuatu yang tidak beres. Memang, pasti ada sesuatu yang tidak beres. Baik, sesuatu itu ada di luar sana. Atau, sesuatu itu ada dalam diri kita. Resah menunjukkan itu, yang tidak beres itu.

Solusinya, temukan sesuatu yang tidak beres itu. Berikan perhatian kepada sesuatu itu. Lalu, bantu dia untuk membereskan dengan baik. Atau, jika Anda tidak bisa membantunya, barangkali, cukup dengan rasa empati dan doa terbaik untuknya.

Sumber resah itu, bisa jadi, ada dalam hati kita sendiri. Bukan sesuatu yang di luar sana. Mengapa hati resah? Barangkali ada janji yang belum dipenuhi. Baiklah, Anda bisa mencoba beberapa solusi untuk memenuhi janji. Atau, penyebab resah itu, barangkali ada sesuatu yang salah dalam diri kita. Cobalah mawas diri. Temukan cara, yang tepat, untuk koreksi diri.

Resah bukan masalah. Resah menunjukkan ada masalah. Resah membuka mata hati untuk peduli.

Gelisah

Rasa gelisah adalah puncak dari seluruh rasa. Gelisah lebih utama dari resah, takut, bosan, cemas, dan lain-lainnya.

Masalah tertentu bisa memicu munculnya rasa gelisah. Tetapi, gelisah lebih tinggi dari masalah. Gelisah menjadikan semuanya tak berarti. Harta menjadi tiada arti. Teman tidak ada arti. Seluruh isi dunia menjadi kurang berarti. Gelisah membubung tinggi.

Apa yang dicari oleh rasa gelisah? Ada di mana rasa gelisah? Apa itu rasa gelisah? Gelisah lebih besar dari pertanyaan “apa”. Gelisah lebih luas dari pertanyaan “di mana”. Gelisah lebih tersembunyi dari semua yang dicari. Gelisah adalah rindunya hati kepada Sang Maha Tinggi. Gelisah adalah alunan nada-nada cinta dari Sang Maha Cinta.

Peka Universal

Peka adalah universal. Peka adalah semesta alam raya. Peka adalah fakta. Peka maka menjadi fakta.

Peka adalah peduli masa depan dirinya bersama alam raya.

Manusia adalah peka itu sendiri. Tanpa rasa peka, sejatinya, manusia itu tidak ada. Terutama, tidak ada makna. Dengan peka, kita menjadi ada. Peka terhadap apa?

(a) Peduli terhadap masa depan. Kita menjadi ada karena kita peduli terhadap masa depan. Anda bekerja untuk masa depan yang lebih baik. Anda olah raga agar besok tetap sehat. Anda makan sarapan agar bisa bertahan hidup sampai siang. Anda membaca tulisan ini agar bertambah wawasan setelahnya. Hanya mereka yang peduli dengan masa depan, mereka menjadi ada.

(b) Dirinya. Peduli terhadap masa depan dirinya. Ketika kita peduli berada di masa depan, maka, diri kita ini sudah ada di masa lalu. Jadi, yang berharap punya masa depan itu adalah diri kita yang sudah ada di masa lalu ini. Maksudnya, kita perlu mempelajari sejarah diri kita di masa lalu untuk bisa menuju masa depan. Kita bebas memilih masa depan, tetapi, kita selalu berbekal sejarah masa lalu. Bagaimana pun, hikmah sejarah masa lalu diri kita itu, kita melihatnya dengan perspektif masa depan. Sehingga, masa depan punya peran yang sangat kuat untuk menggali hikmah masa lalu. Akibatnya, setiap orang selalu bisa memperoleh hikmah dengan membuka pikiran dan hatinya.

(c) Bersama alam raya. Peduli bahwa kita selalu bersama alam raya saat ini. Kita selalu bersama alam raya. Di masa depan, masa lalu, dan masa kini. Karena itu, ketika kita peduli dengan masa depan diri, maka, kita juga harus peduli dengan masa depan alam raya. Diri kita menjadi benar-benar nyata karena bersama, dan berada dalam, alam raya. Maksud alam raya meliputi alam natural dan kultural.

Pembahasan kita di atas mengambil contoh manusia yang peka terhadap masa depan. Apakah benda di alam raya, misal batu, juga peka terhadap masa depan? Tentu saja peka. Mereka peka terhadap masa depan hanya saja berbeda kadar dengan manusia. Batu peka terhadap masa depannya, yaitu, menuju entropi yang lebih besar (sesuai hukum sains termodinamika). Untuk bisa menambah entropi, batu perlu modal entropi dari masa lalunya. Bagaimana pun, entropi batu adalah totalitas bersama benda-benda di sekitarnya.

Jadi, realitas alam raya dan realitas diri kita terhubung dengan tingkat peka dan peduli.

Rasa gelisah adalah tingkat kepekaan paling tinggi. Ketika gelisah, kita sadar berada di alam raya, di saat yang sama, kita melayang tinggi lebih dari alam raya. Gelisah adalah sapaan lembut dari Sang Maha Tinggi. Gelisah adalah kepekaan cinta kepada Sang Maha Cinta.

Gelisah membuka mata kita untuk menjadi mata cinta. Kita menyongsong masa depan bersama alam raya yang bertabur cahaya cinta. Kita melihat masa lalu, semua sejarah, dengan pandangan cahaya cinta. Kita menyapa semua yang ada dengan kelembutan cinta.

4. Anugerah di Dunia

Mata yang paling penting bagi manusia adalah mata yang mampu melihat semua realitas di dunia sebagai anugerah yang nyata. Mata yang peka bahwa setiap debu adalah anugerah, setiap hembusan nafas adalah anugerah, bahkan setiap kegelapan adalah anugerah juga. Mata yang sama melihat setiap orang adalah anugerah. Orang tua adalah anugerah, saudara adalah anugerah, tetangga adalah anugerah, teman adalah anugerah, bahkan lawan juga anugerah.

Tetapi, makna dunia itu sendiri bisa lebih luas dari aslinya. Dunia kerja adalah anugerah, dunia bisnis adalah anugerah, dunia politik adalah anugerah. Semua dunia adalah anugerah. Bahkan, dunia setelah kematian adalah anugerah. Atau, dunia kubur adalah anugerah. Sampai, akhirat adalah anugerah. Sementara, Tuhan adalah sumber anugerah dari segala anugerah.

4.1 Anugerah Dunia Semesta

Anugerah paling nyata bagi manusia adalah alam semesta ini. Sebaliknya juga benar. Manusia adalah anugerah bagi dunia semesta. Selanjutnya, manusia mengembangkan dunia budaya: bahasa, sains, seni, olah raga, politik, dan lain-lain. Dunia teknologi merupakan anugerah yang unik, yaitu, gabungan antara alam dan budaya.

Kita sudah membahas di Pintu 1 “Anugerah Semua” bahwa semua semesta yang ada adalah anugerah. Kita hanya perlu meningkatkan kepekaan mata kita untuk melihat segala yang ada adalah anugerah yang nyata. Sementara, anugerah teknologi yang begitu dahsyat, kita bahas secara mendalam di Pintu 4 “Modifikasi Teknologi.”

4.2 Anugerah Dunia Diri

Di dunia luar ada anugerah, di dalam diri manusia ada anugerah juga. Dunia diri adalah lautan tak bertepi. Kita bisa menyelami rahasia diri tanpa pernah henti. Siapakah diri ini?

Dunia diri adalah yang paling dekat dengan diri kita, yaitu, diri kita sendiri. Tetapi, mengenali diri sendiri memunculkan banyak misteri. “Orang yang mengenal dirinya, maka, sungguh dia mengenal Tuhannya.”

Diri kita adalah kebaikan yang berlimpah. Kebaikan ini mengalun dengan harmonis menjadi karya-karya indah di dunia nyata. Baik berupa karya seni, sains, ekonomi, hukum, politik, dan lain-lain. Berlimpahnya kebaikan itu terus berlimpah. Kadang, orang tidak sanggup menjaga ukuran berlimpah sampai menjadi berlebihan. Akibatnya, kebaikan berubah menjadi bencana. Makan terlalu banyak justru menjadi penyakit. Bekerja terlalu banyak merusak badan sendiri. Olah raga terlalu banyak justru cidera. Hanya kebaikan berlimpah yang harmonis, yang akan bisa, menjadi kebaikan nyata.

Bagaimana anugerah diri dalam dirinya sendiri? Contoh kita di atas adalah anugerah diri yang terungkap ke dunia luar misal berupa sains. Anugerah diri juga melimpah ke dalam diri sendiri ditandai munculnya rasa gelisah sejati. Gelisah lebih tinggi dari seluruh dunia dan isinya. Gelisah adalah diri kita sedang mendekati Sang Maha Cinta. Berlimpah rahasia di sana. Kita akan membutuhkan lebih banyak kata-kata perlambang untuknya.

Di sini, kita akan meringkas salah satu poin pentingya: Maha Cinta berjalan seiring dengan maha karya.

Untuk menyelami diri menuju Maha Cinta, di saat yang sama, kita perlu mempersembahkan yang terbaik kepada alam raya, yaitu, maha karya. Dengan kata lain, kita hanya bisa mengenali Maha Cinta, ketika, kita mengembangkan maha karya yang nyata. Sebaliknya juga berlaku. Kita hanya bisa mengembangkan maha karya yang nyata, ketika, di saat yang sama, kita dekat dengan Maha Cinta. Anugerah-anugerah ini begitu besar. Bersiaplah dengan membuka pikiran, membuka hati, dan membuka diri.

4.3 Anugerah Masa

Mumpung masih ada waktu, mari kita manfaatkan dengan baik. Anugerah masa memberi kita kesempatan untuk hidup bermakna. Tetapi, orang-orang bisa terlena dengan membuang-buang waktu. Bahkan, ada yang ingin membunuh waktu. Padahal, waktu adalah anugerah untuk terus maju.

Anugerah Masa Depan

Waktu adalah segalanya. Waktu adalah uang. Waktu adalah pedang bermata dua.

Berbagai macam ungkapan menegaskan betapa pentingnya nilai waktu. Jika waktu adalah uang, maka, kita bisa menukar waktu dengan uang. Kita bisa membeli waktu, tidak mungkin bisa itu. Terlalu murah bila waktu setara dengan uang. Waktu jauh lebih bernilai dari uang.

Waktu adalah pedang bermata dua. Ungkapan ini tepat menggambarkan kekuatan waktu. Di satu sisi, waktu membantu kita mengatasi segala hambatan dengan memberi beragam kesempatan. Di sisi lain, waktu bisa begitu saja berlalu, orang-orang melukai diri sendiri dengan lengah terhadap waktu.

Waktu adalah segalanya. Gambaran tepat betapa besar peran waktu. Tidak ada yang setara dengan waktu. Karena waktu adalah segalanya. Anugerah waktu adalah segalanya. Terutama, anugerah masa depan.

Anugerah masa depan memberi kita beragam posibilitas, peluang, yang terbuka luas. Tentu, kita bisa meraih masa depan cemerlang yang menjadi cita-cita. Lebih dari itu, masa depan bisa memperbaiki masa lalu yang kelam menjadi penuh hikmah. Ketika Anda menjadikan pengalaman kelam masa lalu menjadi pelajaran untuk membentuk masa depan terbaik, maka, Anda telah mengubah kelamnya masa lalu menjadi secercah hikmah.

Masa depan memberi kebebasan yang membebaskan. Tentu saja, masa depan menuntut kita untuk komitmen kepada kebaikan. Kita membahas lebih lengkap tentang anugerah waktu di Pintu 3 “Logika Masa”.

Anugerah Pasif

Sebagian besar anugerah adalah anugerah pasif. Kita tidak perlu berusaha untuk lahir, kita hanya pasif, kita dilahirkan oleh ibu tercinta. Kita tidak berusaha menciptakan mata, kita pasif saja, kita mempunyai mata. Secara pasif, kita menerima anugerah pikiran, hati, dan kehidupan.

Dari arah berbeda, kita perlu waspada. Kita pasif saja, tiba-tiba, semut menggigit sampai terasa sakit. Lebih beresiko, bila tiba-tiba, ular berbisa menggigit. Dalam realitas sosial, seseorang bisa cuek terhadap urusan politik. Resiko politik tetap mengenainya. Dia wajib membayar pajak yang makin mahal. Dia tidak bisa menikmati kekayaan alam yang dikuasai oleh segelintir kekuatan politik. Dia tidak bisa menduduki jabatan kepala daerah dan lain-lain. Seseorang bisa tutup mata, tetapi dampak resiko tetap dia rasa.

5. Mengembangkan Makna dan Masa

Kepekaan yang tinggi membuka diri kita siap menerima makna dan memberi makna. Kita perlu bergerak dari peka terhadap semua dunia menuju peka terhadap masa – masa depan, masa lalu, dan masa kini. Hanya manusia yang memiliki kemampuan unik menciptakan makna dan peka terhadap makna. Tumbuhan dan binatang, misal, peka terhadap sinar matahari. Tetapi mereka, tumbuhan dan binatang, tidak peka terhadap makna sinar matahari. Sementara, kita peka terhadap makna sinar matahari, misal, sinar matahari adalah lambang pencerahan dan kehangatan. Bagaimana pun, manusia bisa menciptakan makna yang berkebalikan. Sinar matahari bermakna sebagai siksaan yang membakar kulit manusia.

Presiden Soekarno adalah presiden terbaik sepanjang sejarah Indonesia. Benarkah? Atau, presiden yang biasa-biasa saja? Atau, bahkan, presiden yang memiliki kepentingan tersembunyi?

Kita, sebagai orang Indonesia, peka terhadap makna presiden Soekarno.

Pertama, Soekarno adalah presiden terbaik. Karena, Soekarno adalah proklamator dan presiden pertama RI. Soekarno berhasil mempersatukan Indonesia untuk meraih kemerdekaan. Lebih-lebih, kita kagum dengan peristiwa Sumpah Pemuda dan Konferensi Asia Afrika.

Kedua, dia adalah presiden yang biasa-biasa saja. Memang biasa, seperti itulah presiden, wajar. Sebagai pemuda yang hidup di era kolonial, wajar, dia berjuang menuntut kemerdekaan. Saatnya merdeka, banyak pejuang-pejuang kemerdekaan yang mendorong dia untuk proklamasi. Jadi, semua itu adalah respon yang wajar, biasa-biasa saja, bagi seorang presiden. Setelah merdeka, terjadi ketegangan dengan Eropa dan USA. Kemudian, presiden menggalang komitmen untuk Asia dan Afrika adalah wajar. Semuanya wajar dan biasa-biasa untuk ukuran seorang presiden Indonesia.

Jadi, Soekarno adalah yang terbaik atau wajar saja?

Terbukti bahwa kita bisa menciptakan makna secara kreatif dan bebas. Bagi yang setuju sebagai presiden terbaik, maka, bisa menciptakan makna presiden terbaik. Bahkan, mereka bisa menambahkan lebih banyak lagi bukti-bukti sejarah untuk menguatkan sebagai presiden terbaik. Tetapi, bagi orang yang menilainya sebagai wajar saja, mereka, bisa menciptakan makna wajar saja itu. Dan, juga, mereka bisa menambahkan lebih banyak lagi bukti-bukti sejarah.

Kita bisa menambahkan penyelidikan, “Apa tujuan menetapkan sebagai terbaik atau sebagai wajar saja?”

Kita bertanya tentang tujuan masa depan atas suatu makna – terbaik atau wajar. Tujuan masa depan ini, memiliki peran menentukan makna, lebih besar dari data-data masa lalu. Kita akan memperhatikan tujuan politis dan inspirasi.

Bagi yang menyatakan bahwa Soekarno adalah presiden terbaik berharap agar penduduk Indonesia kagum. Kemudian, penduduk Indonesia mengidentifikasi partai politik tertentu adalah penerus presiden Soekarno. Akibatnya, ketika pemilu, penduduk Indonesia memilih partai politik tersebut. Hasilnya, mereka memperoleh suara terbanyak dan memenangkan kursi kepala daerah atau kepala negara. Yang seperti itu adalah tujuan politis.

Sementara, tujuan inspirasi berharap generasi sekarang memperoleh inspirasi dari perjuangan Soekarno. Para generasi muda bisa belajar dari pengalaman Soekarno, kemudian, meneladaninya untuk berjuang membela Indonesia meraih adil makmur.

Bagi yang menilai wajar saja, maka, memiliki tujuan politis yang berbeda. Kita memiliki alternatif sistem politik dan tokoh politik yang lebih baik dari yang wajar seperti itu. Kita perlu pembaharuan dan reformasi total. Kemudian, harapannya, penduduk Indonesia mengidentifikasi partai politik yang mendukung pembaharuan dan reformasi total. Akibatnya, mereka menang pemilu untuk dewan, kepala daerah, dan kepala negara.

Tujuan inspirasi menyatakan bahwa sukses Soekarno adalah sukses yang wajar sebagai pejuang kemerdekaan. Semua orang mempunyai peluang yang sama untuk meraih sukses seperti Soekarno. Generasi muda sekarang bisa sama baik dengan Soerkarno. Lebih dari itu, generasi sekarang bisa lebih baik dari generasi pendahulu.

Analisis tujuan masa depan, di atas, membantu kita untuk lebih mudah memahami argumen mengapa terbaik dan mengapa wajar. Karena masa depan adalah peluang, posibilitas, maka masa depan terbuka terhadap beragam kreativitas makna. Dengan berpikir masa depan, kita menjadi lebih mudah berpikir-terbuka.

Jadi, kesimpulannya, terbaik atau wajar saja? Anda bisa menjawab ini dengan melakukan analisis lebih mendalam.

Hidup Anda Terbaik

Apakah hidup Anda adalah hidup versi terbaik atau biasa-biasa saja?

Anda bebas memilih makna – terbaik atau biasa-biasa saja. Dan, Anda selalu punya argumen yang kuat atas pilihan makna itu. Anda memaknai hidup Anda sebagai biasa-biasa saja adalah benar. Anda memaknai hidup Anda sebagai hidup versi terbaik, juga, sama benar.

Pengembangan makna ini berkaitan erat dengan aspek masa atau waktu. Kita membahas, secara khusus, aspek waktu di bagian selanjutnya.

Catatan

Melalui pintu 2 ini, kita menyadari bahwa peka menjadi fakta. Rasa peka dan peduli kita menentukan mana yang fakta dan mana yang bukan. Sedangkan, melalui pintu 1, kita menyadari semua adalah anugerah. Pintu 2 menguatkan pintu 1. Kepekaan diri kita menguatkan seluruh anugerah.

Bagaimana pun, kita sadar bahwa semua akan berlalu. Anugerah akan berlalu. Bencana pun akan berlalu. Semua berlalu bersama waktu. Pintu 3 akan membahas tentang waktu. Sesuai harapan, waktu adalah realitas anugerah itu sendiri. Apakah Anda siap menerima anugerah waktu?

Pintu 3: Logika Masa

Masa depan, future, adalah yang paling utama. Future memberi makna terhadap masa kini dan masa lalu. Karena future adalah bebas, maka, Anda bebas untuk memilih hidup Anda bahagia. Pilihan hidup Anda untuk masa depan, future, akan memberi makna kepada masa lalu, past. Kemudian, arahan future dan bekal past, mendorong Anda untuk memodifikasi masa kini menuju masa depan. Bahagia adalah hak kita. Sukses adalah hak kita. Masa depan bahagia adalah anugerah untuk kita semua.

Yang menarik, dalam bahasa Indonesia dan bahasa Jawa, saya tidak menemukan pembagian masa menjadi past (masa-lalu), present (masa-kini), dan future (masa-depan). Bahasa kita, juga, tidak mengenal tenses (pembedaan waktu). Barangkali, leluhur kita memandang masa sebagai satu kesatuan. Saya menyebutnya sebagai bentangan waktu: future-past-present. Sehingga, ketika saya menyebut future (masa-depan), maka, bisa berarti kesatuan bentangan waktu. Konteks penggunaan kata akan menjadikannya lebih jelas.

Kita penting, bahkan sangat penting, untuk membahas logika masa. Karena berdampak ganda: teoritis dan praktis. Secara teoritis, filosofis, logika masa adalah yang membentuk semua logika berpikir manusia. Secara praktis, logika masa menentukan konsep dan penerapan manajemen waktu.

1. Masa Membentuk Logika
2. Manajemen Waktu Kerja
3. Kuadran Waktu
4. Pronam Waktu
5. Waktu adalah Segala

Dalam logika umum, logika klasik, seakan-akan logika terpisah oleh waktu. Sehingga, nilai kebenaran logika tampak tidak lekang oleh waktu. Misal, pernyataan matematika (M): 12 + 1 = 13, dianggap, selalu benar kapan pun dan di mana pun. Pembahasan logika masa, kali ini, akan menunjukkan peran kuat dari waktu, aspek temporal, termasuk dalam pernyataan matematika (M).

Manajemen kerja atau manajemen waktu? Umumnya, orang mengira bahwa waktu mengalir dengan konsisten. Sehingga, tidak perlu manajemen waktu. Mereka mengira yang lebih tepat adalah manajemen kerja. Tujuannya, agar semua perkerjaan bisa dikerjakan dengan baik. Sayangnya, sering terjadi, bukan seseorang mengerjakan perkerjaan, tetapi, seseorang dikerjai oleh pekerjaan. Manusia menjadi hanya bagian kecil dari suatu pekerjaan besar. Manusia menjadi sekedar sebuah komponen. Bagaimana solusinya?

Kuadran waktu. Barangkali Anda sudah mengenal 4 kuadran waktu. Kriteria kepentingan (penting dan tidak penting) dipasangkan dengan kriteria urgensi (mendesak dan tidak mendesak) sehingga terbentuk kuadran. Umumnya, bagian kuadran tidak penting menjadi benar-benar tidak penting. Sehingga, mana lebih utama, antara penting-dan-mendesak dengan penting-dan-tidak-mendesak? Kuadran kedua adalah paling utama. Bagaimana bisa begitu?

Pronam waktu. Kita bisa membagi wilayah kerja menjadi 6 pronam. Tiga karakter future (posibilitas, freedom, dan komitmen) dipasangkan dengan derajat kepekaan (peka atau tidak peka) maka menghasilkan 6 macam pronam. Sejatinya, kita bisa menghasilkan wilayah kerja lebih banyak lagi karena derajat kepekaan bisa dibagi lebih banyak lagi. Bila kuadran bermakna per-empat-an, maka, pronam bermakna per-enam-an.

Waktu adalah segalanya. Jangan pernah mencela waktu karena waktu adalah Tuhan. Ungkapan orang bijak di atas sering ditambahkan menjadi “waktu adalah ciptaan Tuhan.” Bagaimana pun, kita menjadi sadar bahwa waktu adalah tema yang harus kita bahas dengan tuntas – andai bisa tuntas. Konsep waktu sebagai ukuran gerak matahari, atau gerak eksistensial, perlu kita bahas. Alternatifnya, kita bisa memahami waktu sebagai yang “menggerakkan” matahari. Waktu memberi waktu kepada matahari untuk bergerak. Sehingga, matahari memiliki waktu untuk eksis. Matahari bersedia menerima pemberian waktu, sehingga, waktu terdeteksi melalui gerak matahari. Waktu menjadi eksis. Jadi apa itu waktu sejati?

Waktu memberi kita, manusia, kesempatan dan waktu. Sehingga, kita punya waktu untuk eksis di alam ini. Jika kita tidak punya waktu, maka, kita tidak bisa eksis, kita tidak ada. Kita menerima anugerah waktu. Akibatnya, waktu menjadi ada melalui eksistensi manusia. Waktu dan manusia saling memberi dan saling menerima. Waktu dan manusia, sama-sama, anugerah.

1. Masa Membentuk Logika

Dalam logika umum, logika klasik, seakan-akan logika terpisah oleh waktu. Sehingga, nilai kebenaran logika tampak tidak lekang oleh waktu. Misal, pernyataan matematika (M): 12 + 1 = 13, dianggap, selalu benar kapan pun dan di mana pun. Pembahasan logika masa, kali ini, akan menunjukkan peran kuat dari waktu, aspek temporal, termasuk dalam pernyataan matematika (M).

1.1 Pengetahuan Ideal

Kita menganggap ada pengetahuan ideal yang tak lekang oleh waktu. Kita juga sering mengatakan bahwa cinta suci adalah abadi tak berubah oleh waktu. Demikian juga, janjiku padamu tak lekang oleh waktu.

Tetapi, realitas selalu berubah oleh waktu. Realitas selalu bersifat termporal. Masa depan bisa berbeda dengan masa lalu.

Maksud cinta suci abadi tak berubah oleh waktu adalah justru cinta itu selalu berubah oleh waktu. Karena, sepasang kekasih berkomitmen untuk merawat cinta antara mereka, ketika ada cinta yang melemah, mereka menguatkan kembali komitmen cinta itu. Seiring waktu, cinta suci makin menguat. Cinta suci abadi bukan karena tidak berubah oleh waktu. Tetapi, karena cinta suci itu, terus-menerus, diperbarui oleh komitmen bersama seiring waktu.

Demikian juga, sains dan pengetahuan selalu berubah bersama waktu. Sains yang tidak berubah, maka, akan ketinggalan jaman. Lebih-lebih, teknologi yang tidak berubah, segera usang. Bagaimana dengan manusia yang tidak mau berubah?

1.2 Realitas Dinamis

Realitas selalu dinamis, berubah menuju tujuan akhir. Sains menyebutnya sebagai hukum entropi. Yaitu, entropi alam semesta selalu bertambah. Maksudnya, alam semesta terus bergerak, berkembang. Alam raya tidak pernah diam, dibuktikan oleh entropi yang terus bertambah.

Mengapa realitas selalu dinamis? Karena masa depan begitu dominan. Masa depan, future, terus-menerus menarik masa lalu untuk menuju masa depan dengan menyusuri masa kini. Ketika kita sampai ke masa depan, saat itu juga, masa depan sudah maju ke depan lagi. Kemudian, masa depan menarik kita lagi untuk menuju masa depan. Demikian seterusnya, mengakibatkan realitas selalu dinamis.

1.3 Daya Tarik Masa Depan

Masa depan itu begitu mempesona, indah, dan menarik. Mengapa? Ingatkah Anda ketika jatuh cinta kepada pasangan terasa begitu indah? Mengapa? Karena pasangan, kekasih, adalah masa depan Anda. Anda hidup bersama kekasih sampai masa depan.

Pernahkah Anda memperhatikan orang yang baru dikaruniai anak? Atau, Anda punya anak? Mengapa anugerah lahirnya seorang anak begitu membahagiakan? Karena, anak adalah masa depan. Masa depan memang mempesona.

2. Manajemen Waktu Kerja

Manajemen kerja atau manajemen waktu? Umumnya, orang mengira bahwa waktu mengalir dengan konsisten. Sehingga, tidak perlu manajemen waktu. Mereka mengira yang lebih tepat adalah manajemen kerja. Tujuannya, agar semua perkerjaan bisa dikerjakan dengan baik. Sayangnya, sering terjadi, bukan seseorang mengerjakan perkerjaan, tetapi, seseorang dikerjai oleh pekerjaan. Manusia menjadi hanya bagian kecil dari suatu pekerjaan besar. Manusia menjadi sekedar sebuah komponen. Bagaimana solusinya?

Solusinya adalah waktu dan kerja sama-sama anugerah. Waktu memberi waktu kepada kita untuk bekerja. Dan, kerja menerima waktu, sehigga waktu menjadi terlihat ada melalui proses kerja. Jika kerja tidak mau menerima waktu maka waktu tidak bisa muncul dalam realitas. Demikian juga, bila kita tidak diberi waktu, maka, kita tidak bisa kerja. Waktu dan kerja adalah saling memberi dan menerima.

Solusi praktisnya adalah menerima waktu dan kerja secara terbuka. Kita tidak bisa menganggap waktu sebagai paling utama, sehingga, kerja harus menyesuaikan waktu. Tidak bisa pula sebaliknya. Kita tidak bisa mengutamakan kerja, sehingga, waktu dikorbankan demi kerja. Kita perlu berpikir terbuka terhadap keduanya: kerja dan waktu.

3. Kuadran Waktu

Kuadran waktu. Barangkali Anda sudah mengenal 4 kuadran waktu. Kriteria kepentingan (penting dan tidak penting) dipasangkan dengan kriteria urgensi (mendesak dan tidak mendesak) sehingga terbentuk kuadran. Umumnya, bagian kuadran tidak penting menjadi benar-benar tidak penting. Sehingga, mana lebih utama, antara penting-dan-mendesak dengan penting-dan-tidak-mendesak? Kuadran kedua adalah paling utama. Bagaimana bisa begitu?

(1) Penting dan Mendesak

Jenis pekerjaan ini harus Anda lakukan karena penting dan sudah mendesak. Dengan menyelesaikan pekerjaan kuadran (1), penting dan mendesak, maka Anda meraih prestasi. Tetapi, mereka yang tidak menyelesaikan kuadran (1) kena pinalti. Contohnya: memenuhi janji, menyelesaikan pesanan tiba waktunya, minum obat ketika sakit, dan lain-lain.

(2) Penting dan tidak Mendesak

Kuadran (2) ini, justru, paling utama. Kita perlu menggeser sebagian besar pekerjaan menuju kuadran (2), penting dan tidak mendesak. Karena penting, maka kuadran (2) memberi banyak manfaat kepada Anda. Karena tidak mendesak, maka Anda dapat melakukannya dengan kreatif, leluasa, dan bebas dari tekanan. Contoh kuadran (2): membaca buku, olah raga, menyelesaikan pekerjaan lebih awal, dan lain-lain.

(3) Tidak Penting dan Mendesak

Lucu. Awalnya, terasa lucu. Bagaimana ada pekerjaan tidak penting tetapi mendesak? Banyak sekali. Justru, tipuannya di sini. Karena mendesak, banyak orang mengiranya sebagai penting. Padahal tidak penting. Mengangkat telepon berdering, yang ternyata, tukang tipu menyasar Anda dijadikan korban. Membicarakan gosip hangat sebelum ketinggalan jaman. Memperbaiki pekerjaan penting yang, ternyata, salah dikerjakannya karena lalai. Dan, masih banyak lagi lainnya.

(4) Tidak penting dan tidak Mendesak

Wajar kuadran (4) perlu ditinggalkan. Meski kita berusaha meninggalkan kuadran (4), tidak penting dan tidak mendesak, sesekali, kita melakukannya adalah wajar. Barangkali karena tidak sengaja atau sekedar iseng saja. Tentu saja, kuadran (4) perlu hanya mendapat porsi sangat kecil dalam hidup Anda.

Logika futuristik mengajak kita lebih banyak di kuadran (2), penting dan tidak mendesak. Tetapi, kuadran (1), penting dan mendesak, harus Anda lakukan. Jika Anda banyak di kuadran (1), artinya, Anda sedang dikerjai oleh pekerjaan bukan mengerjakan pekerjaan. Kuadran (1) tidak bisa ditolak. Anda bisa mengurangi kuadran (1) dengan cara mengurangi kuadran (3) tidak penting dan mendesak.

Setelah Anda punya waktu luang, karena mengurangi kuadran (3), kemudian gunakan untuk mengerjakan kuadran (2), penting dan tidak mendesak. Karena Anda menyelesaikan beberapa pekerjaan penting sebelum mendesak, ketika masih kuadran (2), maka pekerjaan mendesak menjadi berkurang, kuadran (1) berkurang. Hidup Anda menjadi lebih bahagia, lebih bermakna.

Tantangannya adalah kuadran (3), tidak penting dan mendesak. Banyak orang keras kepala menganggap sebuah pekerjaan sebagai penting dan mendesak, kuadran (1), padahal sejatinya kuadran (3), tidak penting. Misal gosip atau nyinyir dirasa penting dan mendesak saat itu. Karena, jika sudah berlalu, gosip menjadi basi. Tetapi, gosip adalah tidak penting. Anda perlu jujur, ikhlas, dan cermat untuk mengakui bahwa gosip adalah kuadran (3). Kemudian, meninggalkan gosip menggantinya dengan pekerjaan penting lain, kuadran (2), dan selamat berbahagia menapaki hidup bermakna.

4. Pronam Waktu

Pronam waktu. Kita bisa membagi wilayah kerja menjadi 6 pronam. Tiga karakter future (posibilitas, freedom, dan komitmen) dipasangkan dengan derajat kepekaan (peka atau tidak peka) maka menghasilkan 6 macam pronam. Sejatinya, kita bisa menghasilkan wilayah kerja lebih banyak lagi karena derajat kepekaan bisa dibagi lebih banyak lagi. Bila kuadran bermakna per-empat-an, maka, pronam bermakna per-enam-an.

Untuk memudahkan, derajat kepekaan rendah kita sebut sebagai lalai dan derajat kepekaan tinggi adalah peduli.

(1) Lalai dan Posibel

Pronam (1) adalah pekerjaan yang kita tidak peduli dan, akibatnya, tidak membuka peluang baru. Misalnya, pekerjaan menjual narkoba di sudut Eropa. Atau, membersihkan rumah gubernur yang jauh. Atau, mengurusi urusan rumah tangga orang yang tidak kenal. Pronam (1) perlu kita tinggalkan.

(2) Peduli dan Posibel

Pronam (2) mulai menjadi masalah. Kita peduli terhadap pekerjaan ini, tetapi, hampir tidak posibel. Tidak ada peluang bagi kita untuk melakukannya. Atau, sulit sekali bagi kita, untuk melakukannya. Misal, mengubah sistem politik negara menjadi adil makmur. Barangkali, kita peduli untuk menciptakan sistem politik yang adil makmur. Tetapi, hanya ada peluang kecil atau hampir tidak ada peluang, untuk menciptakan politik adil makmur dengan cepat.

(3) Lalai dan Freedom

Ada kebebasan, freedom, tetapi kita lalai. Kita bebas untuk memilih pekerjaan sebagai pedagang, penjaga toko, atau pegawai negeri. Tetapi, kita lalai karena sudah lama nyaman sebagai petani. Karena kita sudah hidup nyaman sebagai petani, maka, kita lupa bahwa kita punya lebih banyak kebebasan.

Sering terjadi justru pada pihak pegawai, misal PNS. Karena sudah nyaman sebagai PNS, mereka lupa bahwa mereka bisa saja menjadi seniman, artis, atau bahkan pahlawan penegak kebenaran. Dari pronam (3), lalai dan freedom, kita perlu membangkitkan kesadaran akan kebebasan diri kita. Kita lebih besar, lebih bebas, dari kurungan-kurungan prasangka.

(4) Peduli dan Freedom

Kita perlu lebih banyak pada pronam (4), peduli dan freedom. Kita peduli dengan alam sekitar, peduli dengan orang lain, dan peduli dengan diri sendiri. Di saat yang sama, kita sadar bahwa kita bebas dan bisa membebaskan pihak lain.

Pegawai, misal PNS, yang ada di pronam (4) adalah idaman masyarakat. PNS itu peduli dengan tugas dia. PNS menyelesaikan pekerjaan dengan baik. Dia, sebenarnya, bebas saja untuk memudahkan urusan masyarakat atau mempersulitnya. Tetapi, dia memilih memudahkan urusan masyarakat agar masyarakat terbebas dari kesulitan. Sehingga, masyarakat bebas melanjutkan pekerjaan yang lainnya, tidak harus menunggu proses lama di PNS.

Penting bagi para pemimpin dan pejabat untuk berada di pronam (4), peduli dan freedom. Pemimpin peduli dengan nasib rakyat. Kemudian, pemimpin membuat kebijakan agar masyarakat terbebas dari kesulitan ekonomi. Mereka adalah pemimpin idaman.

(5) Lalai dan Komitmen

Pronam (5), lalai dan komitmen, sudah melampau pronam (4), peduli dan freedom. Sayangnya, dia lalai padahal butuh peduli untuk komitmen.

Pemimpin sudah menetapkan kebijakan untuk membebaskan masyarakat dari kesulitan ekonomi, misal, dengan menetapkan subsidi BBM. Tetapi, pejabat lalai untuk kontrol terhadap kebijakannya. BBM bukannya dinikmati rakyat kecil, malahan, pemiliki mobil mewah berlebih-lebihan menikmati BBM subsidi.

(6) Peduli dan Komitmen

Semua orang perlu berada di pronam (6), peduli dan komitmen. Lebih-lebih, para pemimpin wajib berada di pronam (6). Pemimpin wajib peduli kepada masyarakat luas. Kemudian, menetapkan kebijakan yang menciptakan sistem masyarakat terbebas dari kesulitan ekonomi, edukasi, politik, dan lain-lain. Kemudian, pejabat peduli penuh komitmen mengontrol pelaksanaan kebijakan agar berjalan sesuai harapan.

Secara pribadi, setiap orang perlu peduli dan komitmen terhadap cita-cita tertinggi. Kita perlu, terus-menerus, menghidupkan cita-cita tertinggi dalam hati. Kemudian, komitmen untuk meraih cita-cita, perlahan namun pasti.

Salah satu cita-cita tertinggi bagi setiap manusia adalah mempersembahkan maha karya nyata untuk semesta, di saat yang sama, makin dekat dengan Maha Cinta. Semua orang memiliki posibilitas luas untuk mencapai cita-cita tertinggi itu.

Strategi Pronam

Strategi utama pronam adalah dengan menguatkan kepekaan: dari lalai menjadi peduli. Dari pronam ganjil (1, 3, dan 5), kita perlu menuju pronam genap (2, 4, dan 6). Memang, orang yang tidak peduli, maka, mereka merasa tidak punya masalah. Mereka bisa tutup mata terhadap setiap masalah. Mereka bisa bebal. Tetapi, kepekaan bisa bersifat pasif, yaitu, datang tanpa diundang. Orang bisa tidak peduli dengan masalah kesehatan. Tiba-tiba penyakit menyerang, dia sendiri yang terkapar.

Lebih-lebih bagi pemimpin. Bisa saja, seorang pemimpin tidak peduli dengan urusan tertentu. Misalnya, proses seleksi mahasiswa baru yang tidak adil. Pemimpin tidak peduli dengan mengatakan bahwa urusan itu sudah delegasi ke bawahan. Tetapi, dampaknya, kedhaliman, tidak adil, ada di mana-mana. Meski pemimpin tidak peduli, dia tetap berdosa.

Buka mata hati agar peduli. Buka mata pikiran agar luas wawasan. Buka hakikat diri agar menampung segala semesta.

Studi Kasus

Kita akan mengambil contoh, studi kasus, ilustrasi menerapkan strategi pronam.

(a) Prestasi pribadi. Anak itu terlahir di desa, provinsi Jawa Tengah, dari keluarga miskin. Sebut saja, nama anak itu adalah Anom. Di masa kanak-kanak, Anom seperti anak lainnya: lalai bahwa dirinya punya posibilitas. Anom berada dalam pronam (1): lalai dan posible. Banyak, teman-teman Anom tetap di pronam (1). Sampai dewasa, teman-teman Anom tetap menjadi orang miskin.

Anom bertumbuh remaja mulai peduli bahwa dirinya punya potensi. Anom bergerak ke pronam (2): peduli dan posible. Anom mulai resah dan gelisah. Dia berpikir bagaimana bisa memperbaiki situasi dirinya. Sulit sekali. Anom berada di pronam (3): lalai dan freedom. Anom, secara bertahap, menambah informasi melalui televisi, koran, radio, dan teman-teman sekolah terutama kakak kelas.

Anom sadar bahwa dirinya bisa melanjutkan sekolah ke universitas terbaik, UGM, Universitas Gadjah Mada. Anom mulai bergerak ke pronam (4): peduli dan freedom. Beberapa tetangga Anom, dan kakak kelas Anom, berhasil lulus ke UGM. Anom yakin bahwa dirinya juga bisa lulus ke UGM.

Cita-cita masa depan untuk kuliah di UGM adalah sekedar angan-angan bagi Anom. Meski bebas berangan-angan, cita-cita itu tetap hanya angan-angan. Tidak ada uang yang tersedia untuk biaya kuliah. Tidak ada jalur istimewa untuk masuk UGM. Kompetisi seleksi UGM sangat ketat. Anom berada pada pronam (5): lalai dan komitmen.

Dengan beragam kesulitan, Anom menguatkan tekad dengan komitmen untuk lulus ke UGM. Anom belajar dengan tekun. Dia mengumpulkan beragam informasi agar bisa diterima di UGM dan mengembangkan strategi dengan komitmen tinggi. Anom berada di pronam (6): peduli dan komitmen. Akhirnya, singkat cerita, Anom berhasil lulus masuk Fakultas Kehutanan UGM. Sebuah prestasi pribadi yang luar biasa.

Kita bisa membuat analisis terhadap ilustrasi di atas. Pergeseran dari “lalai” menjadi “peduli” adalah sangat penting. Pergeseran dari pronam ganjil (1, 3, dan 5) ke pronam genap (2, 4, dan 6) adalah utama. Anom bisa saja lalai dan tetap di pronam (1). Situasi pronam (1) adalah situasi yang nyaman. Justru, ketika Anom peduli ke pronam (2), maka, Anom merasa resah dan gelisah. Demikian pula kita. Jika kita yakin tidak ada peluang sama sekali maka semua berhenti. Nyaman saja. Tetapi, jika kita peduli ada peluang tertentu maka kita menjadi resah terhadap situasi. Orang kadang bisa mengatakan, “Saya resah karena tidak ada peluang sama sekali.” Tidak bisa seperti itu. Karena, resah memastikan bahwa ada posibilitas lain, peluang untuk berubah, yang mungkin ditindas oleh situasi.

Rasa peduli mendorong Anda menjadi resah dan gelisah. Justru, hal itu yang menjadikan segalanya penuh arti.

Tugas terberat adalah bergeser dari pronam (5) ke pronam (6): kita membutuhkan komitmen yang tinggi.

Dalam contoh di atas, terjadi situasi kompetisi. Daya tampung Fakultas Kehutanan UGM terbatas, misal 100 orang. Sementara, jumlah pendaftar berlimpah misal 700 orang. Sehingga, komitmen sekuat apa pun, akan ada 600 orang yang tidak diterima di Fakultas Kehutanan UGM. Meski gagal masuk UGM, perjuangan penuh komitmen tetap menghasilkan hikmah yang bernilai tinggi. Anom termasuk siswa beruntung yang lulus diterima di UGM.

(b) Kontribusi sosial. Mari kita lanjut ilustrasi dengan cerita Anom lulus dari UGM, kemudian, bekerja sebagai PNS, pegawai negeri sipil.

Anom hidup nyaman sebagai PNS dengan menjalankan tugas dan memperoleh gaji tetap tiap bulan serta bonus. Anom di pronam (1): lalai dan posible. Rasa nyaman berganti dengan resah dan gelisah ketika Anom mulai peduli bahwa dia punya peluang untuk mengubah cara kerja PNS agar memberi kebaikan kepada rakyat. Anom bergerak ke pronam (2): peduli dan posible.

Aturan kerja dan tradisi kerja sebagai PNS meyakinkan bahwa Anom tidak bisa mengubah cara kerja PNS dengan mudah. Anom terhenti di pronam (3): lalai dan freedom. Anom hidup nyaman beberapa saat. Suara hati Anom berbisik, “Kamu manusia bebas.” Resah dan gelisah mengusik Anom lagi. Dia tahu bahwa dirinya bebas memperjuangkan cara kerja baru bagi PNS atau mengundurkan diri dari PNS. Anom memilih mengundurkan diri dari PNS. Anom berada pada pronam (4): peduli dan freedom. Kali ini, Anom benar-benar pada situasi bebas.

Anom tidak punya rencana jelas apa yang akan dilakukan setelah tidak jadi PNS. Dia memang bebas tetapi tidak punya cita-cita yang pasti. Anom di pronam (5): lalai dan komitmen. Anom memanfaatkan masa-masa bebas untuk menyusun strategi. Anom memutuskan untuk membuka usaha mebel. Anom ada di pronam (6): peduli dan komitmen. Usaha mebel berhasil membuka lapangan kerja baru. Anom dengan komitmen tinggi menjaga kualitas produksi mebel sehingga Anom bisa memberi kebaikan kepada masyarakat luas – melalui produk mebel dan serapan lapangan kerja.

Singkat cerita, Anom sukses sebagai pengusaha mebel sampai akhirnya dicalonkan sebagai calon walikota.

Sekali lagi, Anom bisa hidup nyaman sebagai PNS tanpa peduli apa pun. Dia tinggal menjalani hidup. Rasa peduli justru memicu rasa resah dan gelisah. Demikian juga dengan kita. Kita bisa hidup nyaman tanpa peduli apa pun. Tetapi, suara hati akan selalu meniupkan resah hati dan gelisah hati bagi Anda yang peduli. Kehidupan bergulir lagi menjadi penuh arti.

(c) Ekonomi adil makmur. Siapa orang yang bisa menciptakan sistem ekonomi adil makmur? Tidak ada. Anda tidak bisa. Saya tidak bisa. Pengusaha tidak bisa. Dan, para pejabat juga tidak bisa. Dengan demikian, kita berada di pronam (1): lalai dan posible.

Benarkah setiap orang tidak bisa? Bagaimana jika masyarakat saling kerja sama untuk mewujudkan sistem ekonomi adil makmur? Situasi ini mengajak kita peduli. Situasi seperti ini menggeser kita ke pronam (2): peduli dan posible.

Meski, barangkali, ada peluang bagi kita menciptakan ekonomi adil makmur, tetapi peluang itu kecil sekali. Kita terikat oleh sistem ekonomi dan politik yang mempertahankan status quo. Kita berada di pronam (3): lalai dan freedom. Semua aturan sudah dibuat untuk menjaga agar kita tetap berada dalam sistem ekonomi yang ada. Bagaimana jika kita mengubah aturan yang ada agar tercipta ekonomi adil makmur? Bagaimana jika kita membuat prototipe dan model ekonomi adil makmur? Bagaimana jika kita mengembangkan ekonomi adil makmur dengan meningkatkan pendidikan yang berkualitas? Pertanyaan-pertanyaan ini mengantar kita ke pronam (4): peduli dan freedom.

Terlalu sulit untuk mengubah undang-undang. Terlalu sulit untuk membuat model. Terlalu sulit untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Kita berada di pronam (5): lalai dan komitmen. Tidak ada komitmen yang memadai untuk menciptakan sistem ekonomi adil makmur.

Memang sangat sulit untuk menciptakan ekonomi adil makmur. Tetapi bukankah selalu ada cara untuk mencapainya? Barangkali, kita bisa mulai dari karya-karya nyata kecil yang berguna bagi masyarakat. Petani menggarap pertanian dengan baik. Pedagang berdagang dengan jujur. Pengusaha membuka usaha yang adil. Pejabat menjalankan jabatan dengan amanah.

Dari arah berbeda, politikus berdiskusi terbuka dengan akademisi dan para pakar untuk menciptakan undang-undang ekonomi adil makmur. Diskusi-diskusi ini terbuka bagi masyarakat luas, sehingga, masyarakat bisa berpartisipasi. Kemudian, undang-undang ini disahkan secara politik dan legal. Sementara itu, pemerintah menjamin bahwa undang-undang dijalankan oleh semua pihak secara konsekuen. Hasilnya, tercipta sistem ekonomi adil makmur. Kita berhasil ke pronam (6): peduli dan komitmen.

Benarkah kita berhasil?

Tidak. Tidak ada jaminan komitmen. Apa yang kita bahas di atas, mencapai pronam (6), menuntut komitmen besar dari masyarakat luas. Sebagian besar masyarakat bisa saja tidak memberi komitmen. Mereka justru ingin mempertahankan status quo yang menguntungkan segelintir orang tertentu. Kita hanya bisa memastikan diri kita sendiri, secara personal, untuk berada di pronam (6). Dan, karena kita peduli, maka, selalu ada rasa resah dan gelisah dalam hati demi negeri ini.

Dari studi kasus di atas, kita melihat bahwa kita berhasil mencapai pronam (6) dalam berbagai sisi kehidupan. Bagaimana pun ada sisi kehidupan, misal sistem ekonomi adil makmur, yang tidak bisa dipaksa untuk mencapai pronam (6). Umumnya, kepentingan sosial memang lebih sulit karena kita harus saling hormat terhadap sikap masing-masing orang yang beragam. Meski demikian, kita tetap bisa menjalani pronam (6) secara personal untuk menghadapi tantangan sosial. Kita tetap bisa mendengar bisikan suara hati. Kita tetap semangat menyongsong masa depan alam raya ini.

5. Waktu adalah Segala

Waktu adalah segalanya. Jangan pernah mencela waktu karena waktu adalah Tuhan. Ungkapan orang bijak di atas sering ditambahkan menjadi “waktu adalah ciptaan Tuhan.” Bagaimana pun, kita menjadi sadar bahwa waktu adalah tema yang harus kita bahas dengan tuntas – andai bisa tuntas. Konsep waktu sebagai ukuran gerak matahari, atau gerak eksistensial, perlu kita bahas. Alternatifnya, kita bisa memahami waktu sebagai yang “menggerakkan” matahari. Waktu memberi waktu kepada matahari untuk bergerak. Sehingga, matahari memiliki waktu untuk eksis. Matahari bersedia menerima pemberian waktu, sehingga, waktu terdeteksi melalui gerak matahari. Waktu menjadi eksis. Jadi apa itu waktu sejati?

Waktu memberi kita, manusia, kesempatan dan waktu. Sehingga, kita punya waktu untuk eksis di alam ini. Jika kita tidak punya waktu, maka, kita tidak bisa eksis, kita tidak ada. Kita menerima anugerah waktu. Akibatnya, waktu menjadi ada melalui eksistensi manusia. Waktu dan manusia saling memberi dan saling menerima. Waktu dan manusia, sama-sama, anugerah.

Ada banyak teori tentang waktu. Kita akan membahas beberapa teori waktu dan menghubungkan dengan logika masa.

5.1 Ukuran Gerak

Waktu adalah ukuran gerak. Paling umum, waktu adalah ukuran gerak dari jarum jam dan gerak matahari. Kita bisa memperluas, waktu adalah ukuran gerak alam semesta, gerak kosmologi. Lebih presisi, waktu adalah ukuran gerak partikel-partikel quantum. Bisa juga, waktu adalah ukuran gerak substansial jiwa. Sehingga, waktu bersifat subyektif dan obyektif.

Sebagai ukuran gerak, aksidental mau pun substansial, waktu adalah derivatif. Waktu adalah hasil dari gerak. Sehingga, logika masa yang tepat adalah mengutamakan gerakan kerja di atas waktu. Dengan kata lain, jika kita mengatur kerja dengan baik, maka, akan tersedia waktu yang dibutuhkan. Orang-orang sering menyebut bahwa setiap orang memiliki waktu yang sama, yaitu, 24 jam sehari. Beberapa orang memanfaatkan waktu dengan baik sehingga sukses. Beberapa orang lain menyia-nyiakan waktu sehingga terpuruk. Memanfaatkan waktu adalah dengan mengutamakan pekerjaan-pekerjaan paling utama dalam rentang waktu yang tersedia.

5.2 Gerak Entropi

Teori lebih baru menyatakan bahwa waktu adalah ukuran gerak, penambahan, entropi. Hukum sains menyatakan bahwa entropi alam semesta selalu bertambah secara terus-menerus. Keunggulan waktu sebagai entropi adalah waktu selalu bergerak ke masa depan, karena, entropi selalu bertambah. Berbeda dengan gerak matahari atau jarum jam.

Kita bisa membayangkan gerak jarum jam ke arah mundur. Akibatnya, kita bisa membayangkan waktu bisa bergerak mundur ke masa lalu. Bandingkan dengan entropi yang selalu bertambah. Ketika jarum jam bergerak mundur, maka, nilai entropi tetap bertambah. Akibatnya, waktu entropi selalu bergerak ke masa depan. Dengan demikian, logika masa yang tepat adalah logika masa depan. Kita perlu untuk mengantisipasi masa depan.

Waktu, sebagai entropi, adalah totalitas bentangan-waktu: future-past-present. Entropi selalu menuju masa depan dengan menambah entropi diri. Sehingga, entropi selalu merangkul entropi masa lalu untuk ditambah dengan yang baru. Proses penambahan entropi melibatkan modifikasi masa kini.

Logika masa depan perlu menempatkan masa depan sebagai paling utama. Masa depan adalah posibilitas, freedom, dan komitmen. Kita perlu membuka posibilitas, peluang, baru yang bebas dan membebaskan seluruh umat dan alam raya. Untuk mencapai cita-cita itu, tentu saja, kita membutuhkan komitmen yang kuat. Cita-cita masa depan adalah mempersembahkan maha karya nyata Anda kepada semesta dan makin dekat dengan Maha Cinta. Masa depan merangkul masa lalu dengan membimbingnya menyusuri masa kini untuk menuju masa depan.

5.3 Waktu Sejati

Waktu sejati adalah sumber gerak itu sendiri. Waktu adalah yang menggerakkan matahari. Waktu adalah yang mendorong entropi alam raya terus bertambah. Waktu adalah yang menggerakkan substansi jiwa. Waktu adalah segalanya.

Waktu yang akan mengungkap segalanya.

Waktu yang akan membuka bahwa maha karya nyata Anda untuk semesta begitu mempesona. Karya Anda bermanfaat bagi masyarakat luas. Karya Anda membuka lapangan kerja. Karya Anda mencerdaskan generasi muda – dan generasi tua. Karya nyata Anda memberi inspirasi bagi seluruh semesta.

Waktu yang akan menghapus jarak antara diri Anda dengan Maha Cinta. Perlahan atau sekejap, waktu memusnahkan jarak dalam diri. Hanya ada cahaya diri dalam naungan cahaya cinta. Ada banyak kata. Ada banyak pesona rahasia. Ada limpahan cahaya cinta.

Waktu akan selalu menjadi temanmu.

Waktu membentang membentuk bentangan masa depan, masa lalu, dan masa kini: future-past-present.

Tataplah masa depan yang cemerlang. Biarkan cahaya masa depan menerangi seluruh masa lalu menjadi hikmah-hikmah bagimu. Tapaki masa kini yang penuh arti.

Catatan

Pintu 3 “Logika Masa” mengantar kita ke pembahasan praktis mengenai manajemen waktu dan manajemen kerja. Pada bagian akhir, kita berhadapan dengan tema teoritis waktu sejati dan entropi. Anda yang berminat mendalami tema teoritis, silakan merujuk ke tulisan-tulisan saya yang banyak membahas tema waktu. Sementara, untuk kepentingan praktis dan kepentingan umum, pembahasan Pintu 3 sudah cukup memadai.

Perubahan waktu terasa makin cepat, akhir-akhir ini, karena begitu cepatnya teknologi berubah. Setiap saat, ditemukan ratusan inovasi baru di belahan dunia dengan bantuan teknologi. Pintu 4 akan fokus membahas “Modifikasi Teknologi Media.” Sedikit catatan tambahan, Pintu 4 kadang-kadang membahas teknologi agak teknis. Sehingga, Anda bisa melewatkan beberapa bagian dari Pintu 4 dan lanjut ke Pintu 5.

Pintu 1: Anugerah Semua

Paling penting dari semua pikiran adalah berpikir terbuka bahwa semua adalah anugerah. Anda sedang membaca tulisan ini adalah anugerah. Anda sedang berpikir untuk memperbaiki kehidupan adalah anugerah. Bahkan, bencana dan kesulitan adalah anugerah bagi kita untuk lebih kuat berpikir terbuka. Kehidupan sehari-hari adalah anugerah. Mengejar impian adalah anugerah. Waktu senggang tanpa kegiatan adalah anugerah.

Anugerah semua dan semua memang anugerah.

Tetapi, bukankah itu cara berpikir yang terlalu optimis? Benar, berpikir optimis itu sendiri adalah anugerah. Ketika Anda berpikir pesimis, sama saja, itu juga anugerah. Memang, meski semua yang ada adalah anugerah, tidak boleh menjadikan kita bermalas-malasan. Karena kita sudah mendapat banyak anugerah, maka, kita bertanggung jawab untuk mendaya-gunakan semua yang ada. Anugerah menuntut kita untuk berpikir terbuka.

1. Hidup Adalah Anugerah
2. Anugerah Ibu
3. Anugerah Kerja
4. Anugerah Ilmu
5. Anugerah Sulit
6. Anugerah Terbesar
7. Anugerah Sempurna

Pertama, hidup adalah anugerah. Seluruh kehidupan adalah anugerah. Begitu manusia memandang hidup sebagai anugerah, maka, hidupnya makin berlimpah anugerah. Tetapi, manusia bebas untuk meyakini hidup sebagai anugerah atau bencana. Keyakinan ini, akan menjadi masa depan orang tersebut. Akibatnya, orang yang meyakini hidup sebagai bencana, maka, hidupnya bisa benar-benar jadi bencana. Karena kita bisa memilih meyakini anugerah, maka, lebih baik kita meyakini hidup sebagai anugerah dan benar-benar menjadi anugerah.

Kedua, ibu adalah anugerah bagi setiap orang. Kita menjadi hidup karena ada ibu dan bapak. Ibu mencurahkan cinta, seluruh cinta, kepada kita. Cinta ibu adalah anugerah yang menghidupi kita – dalam makna harfiah dan simbolis. Cinta dari ibu terlalu besar bagi kita. Tidak pernah bisa, kita membalas cinta ibu. Ibu telah mengandung kita selama 9 bulan dengan susah payah. Kemudian, ibu merawat kita ketika masih kecil dan nakal itu. Ibu bukan hanya mengandung dan merawat kita saja. Tetapi, ibu melakukan itu semua dengan penuh cinta. Ibu adalah anugerah utama buat kita, buat seluruh manusia. Tiba waktunya, bagi kita, untuk membalas cinta ibu.

Ketiga, kerja adalah anugerah. Setiap orang harus kerja. Setiap orang berhak kerja. Dan, setiap orang, memang bisa bekerja. Karena, kerja adalah anugerah. Maksud kerja, di sini, adalah kerja sejati. Bukan kerja sekedar mencari uang. Kerja adalah kita menebarkan kebaikan, kita berbagi anugerah. Pada gilirannya, anugerah justru berlimpah bagi kita karena kita berbagi anugerah itu. Memang, dengan bekerja, kita bisa mendapatkan uang. Dengan berkarya, kita bisa memperoleh jabatan. Tetapi poin utamanya adalah berbagi kebaikan kepada sesama. Uang dan jabatan adalah konsekuensi. Meski demikian, kita tetap perlu memikirkan mereka, uang dan jabatan itu, agar menjadi anugerah bagi seluruh semesta. Fokus utama kita adalah bekerja untuk berbagi anugerah. Karena itu, setiap orang selalu bisa bekerja, kapan saja di mana saja.

Keempat, ilmu adalah anugerah. Mencari ilmu adalah anugerah. Berbagi ilmu adalah anugerah. Dan, tentu, ilmu itu sendiri memang anugerah. Ilmu adalah anugerah yang sangat mulia, luhur. Ilmu menjadi mulia karena memuliakan ilmu dan memuliakan semua sumber ilmu.

Kelima, anugerah kesulitan. Sekilas, kesulitan bagai bencana. Tetapi, kesulitan adalah anugerah yang menjadikan kita lebih kuat. Kesulitan memicu kita untuk berpikir menemukan solusi. Kesulitan adalah anugerah yang menunjukkan arah tepat agar kita memusatkan segala perhatian, dan sumber daya, pada situasi itu. Pada akhirnya, di setiap kesulitan sesungguhnya ada kemudahan. Dari anugerah kesulitan menuju anugerah kemudahan. Bagaimana pun, kesulitan itu sendiri tetap anugerah.

Keenam, anugerah terbesar. Semua orang berhak mendapat anugerah terbesar, anugerah paling agung ini. Tetapi, tidak semua orang berhasil meraih anugerah terbesar ini. Anugerah terbesar adalah, berhubungan dengan, hampa. Benar, hampa adalah anugerah terbesar. Ketika Anda merasa hidup ini hampa, tak berdaya, tak punya makna, tidak bisa berbuat apa-apa, itu adalah anugerah terbesar. Ketika kita sadar bahwa kita bukan apa-apa itu adalah anugerah terbesar. Karena itu, kita membutuhkan Dia yang Maha Segalanya.

Ketujuh, anugerah sempurna. Kabar baiknya, semua orang akan menerima anugerah paling sempurna ini: mati. Pada saatnya, kita semua akan mati. Kematian adalah anugerah paling sempurna. Apa yang Anda siapkan untuk menerima anugerah paling sempurna yaitu datangnya kematian?

Kita akan fokus membahas tujuh anugerah di atas. Meski pun, sejatinya, ada lebih banyak lagi anugerah. Karena, semua adalah anugerah. Saya berharap kita bisa mengkaji tujuh anugerah di atas sampai tataran praktis. Untuk kemudian, anugerah bisa berkembang lebih luas dan lebih mendalam.

1. Hidup Adalah Anugerah

Hidup adalah anugerah. Seluruh kehidupan adalah anugerah. Begitu manusia memandang hidup sebagai anugerah, maka, hidupnya makin berlimpah anugerah. Tetapi, manusia bebas untuk meyakini hidup sebagai anugerah atau bencana. Keyakinan ini, akan menjadi masa depan orang tersebut. Akibatnya, orang yang meyakini hidup sebagai bencana, maka, hidupnya bisa benar-benar jadi bencana. Karena kita bisa memilih meyakini anugerah, maka, lebih baik kita meyakini hidup sebagai anugerah dan benar-benar menjadi anugerah.

Hidup adalah anugerah yang bernilai sangat besar. Meski, nilai hidup sangat besar, tetapi, kita memperoleh hidup ini secara gratis. Kita tidak perlu membeli hidup. Kita tidak perlu membayar hidup. Kita perlu senantiasa bersyukur atas anugerah hidup ini.

Memang benar kita memperoleh hidup secara gratis. Tetapi, orang di sekitar kita sudah banyak berkorban demi kita hidup. Ibu mengandung kita selama 9 bulan. Bapak memenuhi seluruh kebutuhan hidup kita sejak dalam kandungan ibu. Alam raya menyediakan seluruh yang kita butuhkan untuk hidup: makanan, minuman, udara, tempat tinggal, dan kehidupan sosial. Sekarang, giliran kita untuk membalas pengorbanan mereka dengan bakti terbaik.

1.1 Terbuka Menerima Hidup

Anugerah hidup menjadikan kita bahagia. Mengapa? Mengapa hidup adalah kebahagiaan? Mengapa derita adalah hanya ilusi semata?

Hidup menjadi anugerah penuh bahagia ketika kita bersikap terbuka. Waktu masih kecil, kanak-kanak, kita sangat bahagia dengan kue buatan ibu. Kita sangat bahagia dengan gendongan ayah yang mengguncang-guncang badan. Kita bahagia dengan saudara-saudara yang mengajak main bersama. Mengapa? Karena, kita selalu berpikir terbuka kepada mereka.

Saat ini, detik ini, pun Anda menjadi bahagia dengan berpikir terbuka. Anda bahagia karena membaca tulisan ini. Anda bahagia karena muncul percik-percik semangat dalam diri. Anda bahagia karena Anda terbuka menerima anugerah hidup ini.

Sebaliknya juga bisa. Pilihan ada di tangan Anda. Mungkin, Anda bisa jengkel saat ini karena masalah tertentu. Kejengkelan bisa makin meluas ke masalah-masalah lain. Hidup, saat ini, memang menjengkelkan. Tetapi, Anda tetap punya pilihan membalik kejengkelan itu menjadi anugerah. Sebuah anugerah yang menunjukkan sedang ada masalah untuk bisa dihadapi. Kita bersyukur karena rasa jengkel itu menunjukkan masalah, yang semula, tersembunyi. Langkah berikutnya, kita mencoba beberapa solusi.

Rasa jengkel bisa saja berubah menjadi amarah atau frustasi. Penderitaan-penderitaan seperti itu hanya ilusi. Kita perlu mengubah frustasi menjadi inspirasi dengan cara berpikir terbuka menerima anugerah hidup ini.

Semua adalah anugerah. Menerima hidup adalah anugerah.

Secara profesional, posisi Anda saat ini adalah anugerah. Barangkali Anda seorang karyawan, guru, direktur, pengusaha, seniman, ustad, petani, pedagang, atau lainnya adalah anugerah. Secara personal, semua hidup Anda adalah anugerah. Anda terlahir dari ibu dan ayah Anda adalah anugerah. Pasangan Anda, istri atau suami, adalah anugerah. Anak-anak Anda adalah anugerah. Tetangga-tetangga Anda dan teman-teman Anda adalah anugerah.

1.2 Menjalani Hidup

Anugerah berikutnya adalah menjalani hidup. Setelah kita berpikir terbuka dengan menerima hidup sebagai anugerah, selanjutnya adalah, menjalani hidup sebagai anugerah. Hidup itu sendiri adalah menjalani proses. Hidup adalah masa depan yang dinamis. Masa depan, future, terus-menerus memercikkan harapan agar masa kini bergerak maju menuju masa depan cemerlang. Ketika kita sampai ke masa depan itu, di saat yang sama, masa depan sudah bergerak maju lagi. Sehingga, hidup kita, terus-menerus, bergerak maju menuju masa depan cemerlang sebagai anugerah.

Tentu saja, seseorang bisa memandang masa depan sebagai masa depan yang suram. Akibatnya, dia menjalani hidup penuh derita. Tetapi, masa depan adalah posibilitas, peluang luas, untuk meraih cita-cita. Lagi pula, kita, sebagai manusia, bebas memilih masa depan yang cemerlang. Kemudian, kita penuh komitmen untuk meraih masa depan cemerlang itu. Menjalani hidup adalah anugerah yang disinari cahaya cemerlang masa depan.

Masa depan cemerlang, dalam menjalani hidup, terbuka dalam semua bidang: personal, profesional, sosial, bahkan internasional. Jelas, Anda bisa memilih masa depan pribadi Anda yang cemerlang, kemudian, Anda menjalaninya dengan penuh komitmen. Secara profesional, masa depan Anda juga cemerlang. Apa saja masa depan karir Anda? Masa depan selalu membuka kesempatan-kesempatan baru bagi Anda untuk lebih maju secara profesional. Tentu saja, ada rintangan di sana-sini sebagai bumbu agar perjuangan Anda meraih masa depan menjadi lebih bermakna.

Secara internasional, kita bisa memikirkan tatanan masa depan dunia yang lebih adil makmur. Misal, saya pikir, kita perlu menggulirkan ide bahwa hak veto yang dimiliki 5 negara di PBB perlu direvisi. Dalam beberapa kasus, veto digunakan untuk menghentikan suatu usulan bagus karena diduga bertentangan dengan kepentingan pemilik veto. PBB mengusulkan beberapa solusi untuk Palestina, misalnya. Tetapi, solusi ini berulang kali kena veto. Usulan revisi adalah hak veto yang aktif dibatasi hanya 3 negara secara bergilir. Tahun ini, yang aktif negara A, B, dan C. Sementara, negara D dan E tidak aktif. Tahun berikutnya, yang aktif misal B, C, dan D, dan seterusnya. Sehingga, PBB bisa mengusulkan resolusi terbebas dari kepentingan pemilik veto tertentu. Bagaimana pun, usulan revisi hak veto ini sendiri bisa kena veto. Memang begitulah anugerah kehidupan. Selalu ada dinamika di mana-mana.

Secara singkat, kita selalu bisa menjalani hidup sebagai anugerah. Apalagi, proses menjalani hidup selalu berada dalam sinaran cemerlang masa depan, maka, kita bisa benar-benar bahagia menjalani anugerah hidup. Bagaimana pun, semua itu bergantung kepada komitmen kita. Di mana, komitmen itu sendiri juga anugerah.

Hidup mengalir bagai air adalah cara hidup paling membahagiakan. Benarkah demikian? Benar bahwa air selalu mengalir menuju tempat yang rendah. Bila ada halangan, air bisa berhenti sejenak. Kemudian, mengalir melalui lubang-lubang kecil yang ada. Atau, air cukup diam, menunggu teman-temannya datang, agar tinggi air cukup untuk melewati penghalang itu. Akhirnya, air tiba sampai tujuan, dengan selamat, dengan cara mengalir.

Mengapa mengalir bagai air bisa berhasil? Karena, air selalu komitmen untuk meraih masa depan, yaitu, mencapai tujuan akhir. Anda juga bisa mengalir untuk meraih tujuan akhir. Memang, pada akhirnya, kita sampai ke hari akhir. “Sungguh, akhir itu lebih baik bagimu dari pada awal.”

1.3 Memberi Hidup ke Semua

Tiba waktunya, bagi kita, untuk memberi kehidupan. Kita berbagi makanan kepada fakir miskin. Kita berbagi ilmu kepada yang memerlukan. Kita berbagi obat kepada yang sakit. Berbagi kehidupan kepada sesama adalah anugerah. Anugerah bagi yang menerima dan anugerah bagi yang memberi. Orang bijak mengatakan, “Tangan di atas lebih baik dari tangan di bawah.”

Tangan di atas atau dermawan adalah dasar dari semua anugerah. Kita menerima kedermawanan alam raya, orang tua, dan tentu kedermawanan Tuhan yang Maha Dermawan. Kita sendiri perlu bersikap dermawan. Meski, memberi uang kepada orang lain seperti mengurangi saldo uang kita, sejatinya, justru, hal itu membuka ruang bebas untuk datangnya uang lebih banyak lagi kepada kita. Jadi, sikap dermawan bukan berpotensi mengurangi uang milik kita, tetapi, justru membuka potensi penambahan uang itu sendiri. Apalagi, uang tersebut dipakai dengan baik, maka, uang adalah anugerah bagi kita.

Tangan di atas lebih baik, tetapi, sebaliknya tidak boleh terjadi. Tidak benar bahwa tangan di bawah lebih buruk. Tidak benar bahwa penerima sumbangan adalah lebih buruk. Mereka bisa saja sama baik. Tidak ada hak bagi kita menilai siapa pun sebagai lebih buruk. Justru, kita perlu berterima kasih kepada mereka yang bersedia merima bantuan kita. Mereka memberi kesempatan kepada kita untuk menjadi tangan di atas. Sehingga, sesekali, kita perlu bersedia menjadi tangan di bawah. Agar saudara-saudara kita bisa berperan sebagai tangan di atas dengan satu dan lain cara.

Bagaimana saya bisa memberi uang karena saya tidak punya uang sama sekali? Tangan di atas tidak hanya terbatas dalam bentuk uang. Anda bisa dermawan melalui tenaga Anda, melalui doa Anda, atau melalui senyum Anda. Siapa pun Anda, selalu bisa memberi, memberi yang terbaik dari diri Anda untuk semua. Anda bisa memberi kehidupan kepada semua.

Kita menerima anugerah kehidupan, lalu, menjalani hidup, pada gilirannya, kita perlu memberi kehidupan.

Menolong anak yatim adalah memberi kehidupan kepadanya. Menolong anak yatim peradaban, yang terpojok dalam sejarah, adalah memberi kehidupan kepada kemanusiaan. Kita adalah anak yatim peradaban yang bertanggung jawab untuk menolong anak yatim lainnya. Kita adalah anak yatim yang perlu saling tolong-menolong. Anak yatim menolong anak yatim.

Bagaimana dengan kehidupan tumbuhan dan hewan? Atau, bagaimana dengan nasib alam raya di masa depan?

Kita perlu makan untuk hidup. Yang kita makan adalah tumbuhan dan hewan – ayam, sapi, ikan, telor, dan lain-lain. Bukannya kita memberi kehidupan, tetapi, kita merenggut kehidupan pihak lain demi hidup diri kita. Bukankah itu egois?

“Berlebih-lebihan telah membuatmu terlena.”

Kata kuncinya adalah jangan berlebihan. Tetap jaga keseimbangan. Keseimbangan alam, lingkungan, masyarakat, dan keseimbangan diri sendiri. Tumbuhan itu, misal padi, rela mati untuk memberi kita makan. Demikian juga hewan, misal ayam, rela menjadi makanan manusia. Pertama, kita perlu membatasi diri dalam konsumsi agar alam seimbang. Dan, kedua, manfaatkan anugerah makanan itu untuk kebaikan. Gunakan energi, yang dihasilkan dari makanan, untuk kegiatan positif: bekerja, berkarya, menolong sesama, dan melestarikan alam. Alam raya adalah anugerah untuk kita. Pastikan juga, kita adalah anugerah bagi alam raya.

2. Anugerah Ibu

Ibu adalah anugerah utama untuk kita. Setiap manusia lahir dari rahim ibu yang penuh cinta. Kita adalah buah cinta dari ibu dan ayah kita. Anugerah demi anugerah senantiasa tercurah.

2.1 Anugerah Cinta

Ibu menganugerahkan cinta kepada kita. Realitas pertama yang kita alami, pelajaran pertama yang kita terima, adalah cinta dari ibu. Hidup kita memang penuh cinta dari ibu dan rasa cinta kepada ibu. Sungguh aneh, jika ada orang hidup tanpa cinta. Apa bisa? Setiap hembusan nafas manusia adalah nafas cinta dari Sang Maha Cinta.

Kita sadar bahwa ibu juga dilahirkan oleh ibunya, yaitu, nenek kita. Demikian seterusnya, sampai ke nenek moyang kita. Cinta ibu itu tersambung ke nenek sampai nenek moyang. Jadi, realitas hidup kita adalah sambung-menyambung cinta dari generasi ke generasi. Anugerah cinta memang sudah ada dari dulu kala.

Kita punya hutang besar kepada ibu. Hutang cinta yang tak pernah lunas kita balas. Hutang eksistensi yang menjadikan kita hadir di sini. Tugas kita adalah berbakti kepada ibu, meski, tak pernah tuntas. Sadar bahwa kita punya hutang cinta kepada ibu adalah anugerah. Bakti kita juga anugerah. Sebagaimana ibu adalah anugerah.

Tetapi, kita juga punya hutang eksistensi dari ibu pertiwi. Badan kita, dan jiwa kita, mendapat asupan gizi dari ibu pertiwi. Sama, kita juga wajib berbakti kepada ibu pertiwi. “Hembusan nafas Sang Maha Kasih meliputi segala sesuatu.”

2.2 Hidup Bersama Oran Lain

Ibu adalah ibuku, tetapi, ibu adalah bukan aku. Ibu adalah orang lain, yang memiliki jiwa, sebagaimana aku memiliki jiwa. Ibu adalah orang lain paling dekat dengan kita. Kita hanya bisa hidup bersama orang lain. Tanpa orang lain, kita tidak bisa hidup. Kita tidak bisa hidup tanpa ada ibu, yaitu orang lain. Jadi, orang lain adalah anugerah buat kita. Dan, pastikan bahwa kita juga jadi anugerah bagi orang lain.

Ibu bekerja sama dengan orang lain, yaitu, ayah. Mereka, ibu dan ayah, mencurahkan cinta berlimpah kepada kita. Kita sadar bahwa makin banyak orang lain yang menjadi anugerah bagi kita. Ibu memiliki keluarga besar – kakek, nenek, dan saudara-saudara. Demikian juga, ayah memiliki keluarga besar. Kita benar-benar dikepung oleh anugerah banyak orang.

Makin lebar kita membuka mata, maka, makin jelas bahwa ada orang lain yang bukan saudara, yaitu, tetangga dan teman-teman ibu, bahkan, orang-orang yang tidak kenal namanya. Singkat cerita, kita sadar bahwa kita adalah makhluk sosial yang hidup bersama orang lain untuk saling menjadi anugerah.

Sampai di sini, kita boleh bertanya, “Bisakah manusia hidup tanpa orang lain?” Jawabannya: tidak bisa. Karena, kita selalu membutuhkan orang lain.

Tetapi, bukankah Tarzan bisa hidup dengan diasuh oleh gorila? Baik, anggap manusia bisa hidup seperti Tarzan karena banyak keberuntungan tak disengaja. Bagaimana pun, Tarzan menghadapi banyak kesulitan. Salah satunya adalah Tarzan tidak menguasai bahasa. Jelas, tanpa bahasa, Tarzan sulit komunikasi dengan pihak lain. Lebih dari itu, bahasa adalah yang membentuk konsep berpikir pada manusia. Jadi, bahasa adalah anugerah sangat penting bagi manusia.

Kata “sejarah” menjadi penuh makna karena dalam konteks bahasa yang tepat. Tarzan akan sulit sekali memahami kata “sejarah” jika hanya kata itu yang dia tahu. Kita memahami kata “sejarah” karena terhubung dengan sejarah ibu, sejarah ayah, sejarah keluarga, sejarah negara, sampai sejarah dunia. Begitu juga kata-kata lain misal rindu, anugerah, cepat, lambat, sakit, dan nikmat hanya bisa kita pahami karena terhubung dengan sistem bahasa dan konteks yang tepat.

Kita selalu membutuhkan orang lain sebagai anugerah. Dan penting bagi kita, pastikan, bahwa, kita adalah anugerah bagi orang lain.

2.3 Struktur Sosial

Ibu mencintai kita dan kita berbakti kepada ibu. Ada struktur antara kita, sebagai anak, dengan ibu sebagai orang tua. Sejak kecil, kita sudah menyadari ada struktur sosial dan relasi kuasa secara langsung. Lagi, struktur sosial itu adalah anugerah bagi kita. Tetapi, perlu hati-hati, karena struktur sosial bisa berubah menjadi musibah.

Secara garis besar, kita bisa memaknai bahwa ibu adalah pelindung kita, ayah adalah penopang kita, dan orang lain adalah teman-teman kita. Makna-makna tersebut, tentu saja, dinamis bisa berubah sesuai konteks dan kebutuhan.

Sang pelindung. Ibu, secara naluriah, selalu melindungi anaknya. Ibu selalu melindungi kita. Ibu merawat kita sejak bayi dan tetap menjaga kita, bahkan, sampai ketika kita sudah dewasa. Setiap anak merasa nyaman dalam dekapan ibu. Seorang anak, bisa saja, takut kepada orang asing. Kepada ibu, setiap anak selalu rindu.

Ibu pertiwi sama seperti ibu kita. Ibu pertiwi senantiasa memberi apa yang kita butuhkan. Ibu pertiwi merangkul kita dengan kasih sayang.

Ibu kota bisa berbeda. Sejatinya, ibu kota adalah pusat peradaban umat manusia. Tempat orang-orang untuk saling memberi dan menerima anugerah. Tetapi, kadang-kadang, ibu kota menjadi sumber bencana. Pejabat kota, dan pejabat negara, justru mencuri uang rakyat melalui korupsi. Struktur sosial menguntungkan pihak-pihak kaya dengan menindas wong cilik. Seluruh pejabat kota perlu kembali belajar mencintai sebagai mana ibu pertiwi dan ibu sejati. Pejabat kota perlu kembali menjadi pelindung bagi seluruh warga negeri.

Kita, dengan penuh cinta, berbakti kepada ibu. Demikian juga, kita perlu berbakti kepada kota dan negara. Kita memberi kontribusi terbaik untuk sesama.

Sang penopang. Ayah menopang kehidupan kita dengan kekuatan ekonomi dan kekuatan fisik. Tentu, ayah juga menopang keluarga dengan penuh cinta. Ayah bekerja dari pagi sampai sore. Kadang sampai malam, bahkan, lembur sampai pagi demi menyokong kehidupan keluarga. Memang demikianlah kepala keluarga yang baik.

Kepala kota, kepala negara, yang baik adalah ayah dari seluruh rakyat. Kepala negara bekerja, utamanya berpikir, untuk menyokong seluruh kehidupan warga. Kita, sebagai warga negara, perlu mendukung kepala negara demi kebaikan bersama. Kepala keluarga, ayah kita, adalah anugerah yang menopang keluarga. Demikian pula, seharusnya, kepala negara.

Orang lain adalah teman. Orang lain adalah asing bagi kita. Ibu dan ayah sudah pasti membela diri kita sebagai anak mereka. Sementara, orang lain kadang memusuhi kita. Tetapi, sebagian besar orang asing. di sekitar, adalah teman kita, baik kita mengenal nama mereka atau tidak. Kita sering membantu orang asing yang tersesat di wilayah kita. Sebaliknya, kita sering ditolong orang asing di tempat yang kita tidak tahu arah.

Kepada ibu dan ayah, kita berbakti. Demikianlah, struktur sosial yang terjadi dengan rapi. Kepada orang lain, kita saling menghormati. Kepada orang banyak, kita demokrasi dengan saling menghargai. Mereka adalah teman-teman kita. Kadang kala salah paham, kemudian, berusaha untuk saling memahami. Kita hidup dalam struktur sosial dan kita menghidupkan struktur sosial untuk sama-sama mengembangkan suara hati. Struktur sosial adalah anugerah bagi setiap diri. Struktur sosial perlu untuk terus diperbaiki.

3. Anugerah Kerja

Kerja adalah anugerah. Setiap orang harus kerja. Setiap orang berhak kerja. Dan, setiap orang, memang bisa bekerja. Karena, kerja adalah anugerah. Maksud kerja, di sini, adalah kerja sejati. Bukan kerja sekedar mencari uang. Kerja adalah kita menebarkan kebaikan, kita berbagi anugerah. Pada gilirannya, anugerah justru berlimpah bagi kita karena kita berbagi anugerah itu. Memang, dengan bekerja, kita bisa mendapatkan uang. Dengan berkarya, kita bisa memperoleh jabatan. Tetapi poin utamanya adalah berbagi kebaikan kepada sesama. Uang dan jabatan adalah konsekuensi. Meski demikian, kita tetap perlu memikirkan mereka, uang dan jabatan itu, agar menjadi anugerah bagi seluruh semesta. Fokus utama kita adalah bekerja untuk berbagi anugerah. Karena itu, setiap orang selalu bisa bekerja, kapan saja di mana saja.

3.1 Kerja adalah Kebaikan

Semua orang pasti bisa kerja. Karena, kerja adalah memberi kebaikan, berbagi kebaikan. Setiap kebaikan yang Anda lakukan adalah kerja. Kerja adalah anugerah. Dan, setiap orang wajib kerja, yaitu, wajib berbuat baik sesuai kemampuan masing-masing.

Pengangguran bisa kerja, misal, dengan membersihkan duri-duri dari jalan. Sehingga, orang-orang bisa melintas dengan aman. Setiap orang bisa kerja menjaga lingkungan tetap bersih, menanam tumbuhan, dan merawat taman di sekitar. Tetapi, pejabat bisa sebaliknya. Pejabat tampak kerja tetapi sedang mencuri uang rakyat melalui korupsi. Pejabat seperti itu, sejatinya, tidak sedang bekerja melainkan sedang mencuri. Tentu saja, ada pejabat yang benar-benar bekerja untuk rakyat.

Kita perlu membedakan kerja sebagai anugerah dengan kerja sebagai topeng untuk menipu banyak orang.

Pertama, kerja adalah anugerah. Kerja sejati adalah anugerah. Anda kerja sebagai petani, sopir, buka toko, mengajar matematika, mengajar ngaji, asisten rumah tangga, tukang bangunan, tukang kebun, dan lain-lain adalah anugerah. Bersyukurlah dengan seluruh kerja Anda. Dengan kerja, Anda telah berbagi kebaikan dan Anda menerima kebaikan.

Kedua, kerja sebagai pencuri. Pencuri bekerja dengan cara mencuri. Perampok bekerja dengan merampok. Penipu bekerja dengan menipu. Tetapi, itu semua bukan kerja, dan bukan kebaikan. Mereka hanya mengaku-ngaku kerja, padahal, penjahat yang nyata. Demikian juga, pejabat yang mencuri uang rakyat melalui korupsi adalah penipu penuh dosa. Kita perlu menghindari dan mencegah dosa.

Ketiga, kerja sia-sia atau bullshit (BS). Maksud sia-sia adalah tidak peduli terhadap hasil mau pun prosesnya. Yang penting bagi mereka adalah sia-sia itu sendiri, yaitu, bullshit (BS). Misal seorang pegawai, negeri atau swasta, berangkat pagi pulang petang. Pegawai itu tidak peduli apakah kerjanya membawa kebaikan, atau keburukan, bagi masyarakat. Pegawai itu hanya peduli bahwa dia mendapat gaji. Pekerjaan pegawai seperti itu adalah BS yang sia-sia. Tentu saja, banyak pegawai yang bekerja dengan baik dan memberi kebaikan.

Bagaimana pun, memang, sulit untuk menentukan BS. Karena BS memang abu-abu. Kita perlu menggunakan pemikiran yang teliti dan mendengarkan suara hati.

Pialang saham dan pemain valas bisa masuk BS yang sia-sia. Orang bisa bekerja di perusahaan valas, valuta asing, dengan gaji besar. Tetapi, permainan valas itu sendiri apakah bermanfaat bagi masyarakat dan alam semesta? Perusahaan money-changer, penukaran uang asing, memang diperlukan dan bermanfaat bagi masyarakat. Sementara, permainan valas justru sering merugikan banyak pihak.

Apakah jabatan gubernur bisa sia-sia sebagai BS? Seorang politikus senior mengusulkan agar jabatan gubernur dihapus di Indonesia. Karena gubernur tidak efektif. Atau, dengan kata lain, gubernur adalah BS yang sia-sia. Jika benar bahwa gubernur adalah BS, maka, berapa besar kerugian negara selama ini?

Sering terjadi pemekaran wilayah satu kabupaten menjadi dua buah kabupaten. Pemekaran ini beresiko menjadi BS yang sia-sia. Awalnya, hanya ada satu bupati lengkap dengan wakil, kepala dinas, dan dewan. Mereka sudah memadai untuk mengelola satu kabupaten, bahkan, kadang tidak ada pekerjaan. Tetapi, dengan pemekaran menjadi ada dua bupati lengkap dengan dua wakil dan dua sistem dewan. Apakah pemekaran benar-benar diperlukan? Ataukah, pemekaran hanya BS yang sia-sia?

Mari kita kembali fokus bahwa kerja adalah anugerah. Meski demikian, kerja bisa berbelok menjadi tipuan penuh dosa atau BS yang sia-sia. Dengan berpikir mendalam dan mendengarkan suara hati, maka, kita selalu bisa bekerja sebagai anugerah. Kerja adalah memberi kebaikan kepada sesama dan alam raya. Konsekuensinya, kita juga menerima kebaikan dari beragam penjuru semesta.

3.2 Ukuran Upah

Kerja untuk penghidupan adalah anugerah. Sedangkan, kerja untuk upah adalah jebakan parah.

Jika Anda bekerja untuk mencari nafkah guna memenuhi kehidupan, maka, itu sudah benar. Jika Anda bekerja untuk menafkahi keluarga, maka, itu sudah benar. Jika Anda bekerja untuk menciptakan lapangan kerja, maka, itu sudah benar juga. Tetapi, bekerja untuk mendapatkan upah adalah jebakan parah. Karena, kita tidak butuh upah. Kita butuh nafkah. Upah adalah sekedar media agar nafkah tersebar sebagai anugerah.

Parahnya, upah menggeser fokus manusia dari mencari manfaat menjadi mencari uang. Mereka adalah dua hal yang berbeda. Kerja mencari manfaat adalah dengan cara kita memberi kebaikan dan, kemudian, menerima kebaikan lain. Kerja mencari upah adalah seseorang melakukan sesuatu dan, kemudian, dia menerima upah. Sesuatu yang dikerjakan itu, bisa jadi, bukan kebaikan. Ukuran upah yang diterimanya, bisa jadi, tidak adil. Upah bisa terlalu kecil dan bisa terlalu besar.

Ukuran upah yang terlalu kecil adalah tidak adil bagi yang bekerja. Pekerja menjadi tidak sanggup menafkahi hidupnya secara layak. Upah yang terlalu besar adalah tidak adil bagi banyak pihak lain. Upah terlalu besar, bisa jadi, memang legal. Semua ukuran sudah disepakati dalam kontrak. Tetapi, upah seorang bos, atau pejabat, yang terlalu besar mengakibatkan ribuan upah pekerja kecil makin mengecil. Tentu, tidak adil.

Berapa ukuran upah, atau penghasilan total, yang tepat?

Saya membahas ukuran upah ini di buku saya yang lain. Intinya, ada rentang ukuran upah yang tepat, yaitu, rentang ukuran upah yang sehat. Untuk seorang kepala keluarga yang bekerja untuk menghidupi 1 orang istri dan 2 orang anak, estimasi upah yang sehat adalah antara 8 juta sampai dengan 32 juta rupiah per bulan. Tentu saja, angka ini baru estimasi yang perlu disesuaikan lokasi dan situasi. Artinya, jika upah Anda di bawah 8 juta, maka, Anda perlu mencari cara untuk menaikkan upah Anda. Jika upah Anda di atas 32 juta, maka, Anda perlu hati-hati. Karena, bisa jadi, Anda telah berlebihan mengambil hak wong cilik meski sah secara legal. Berbahagialah jika upah Anda ada dalam rentang upah yang sehat.

Bagaimana pun, kita perlu ingat bahwa hakikat kerja bukanlah upah. Hakikat kerja adalah memberi kebaikan dan, pada gilirannya, menerima kebaikan. Sehingga, manfaat dari kerja lebih besar dari nilai upah itu sendiri, bahkan, manfaat kerja adalah tak terbatas. Penting bagi setiap orang untuk kerja cerdas dan kerja ikhlas.

3.3 Pekerja sampai Pemikir

Berpikir adalah salah satu bentuk kerja. Sehingga, berpikir adalah anugerah.

Bentuk kerja bermacam-macam. Kerja langsung adalah kerja yang manfaatnya berdampak langsung kepada kebaikan ekonomi. Pedagang beras adalah kerja langsung yang memberi kebaikan kepada petani dan pembeli beras. Kerja tidak langsung adalah kerja yang manfaatnya berdampak secara tidak langsung kepada kebaikan ekonomi. Menulis puisi adalah contoh kerja tidak langsung. Guru ngaji sampai guru bidang ekonomi juga merupakan contoh kerja tidak langsung. Kedua jenis kerja di atas, langsung atau tidak langsung, adalah sama-sama kebaikan. Kita membutuhkan kedua jenis kerja di atas.

Berpikir adalah jenis kerja yang penting meski berupa kerja tidak langsung. Dengan berpikir, manusia bisa saling memberi kebaikan. Kebaikan makin menebarkan lebih banyak kebaikan ketika dipikirkan baik-baik. Setiap jenis kerja, semua tingkatan kerja, membutuhkan pekerja untuk berpikir. Berpikir adalah jenis kerja yang paling penting. Apa yang sedang Anda pikirkan?

Maha Karya

Di bagian akhir kerja, ada anugerah ini, anugerah berupa pertanyaan. Dengan bertanya dan mencoba menjawabnya, maka, Anda bergerak menuju anugerah kerja yang lebih bermakna.

(a) Apa kerjamu?
(b) Apa karyamu?
(c) Apa maha karyamu?

Tidak ada jawaban tuntas untuk tiga pertanyaan di atas. Anda bisa, terus-menerus, memperbaiki jawaban Anda. Proses bertanya dan menjawab secara berulang-ulang, justru, lebih bagus. Berikut beberapa ide untuk membantu menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas.

Kerjaan kita adalah berbagi kebaikan. Tetapi, Anda perlu menjawab lebih detil. Kerja saya, misal, adalah menjaga kebersihan kantor. Kerja saya adalah menjual produk. Kerja saya adalah manage karyawan. Kerja saya adalah memutuskan arah kemajuan organisasi. Dan lain sebagainya.

Karya Anda adalah kontribusi unik Anda yang berupa kebaikan. Kerja bisa saja dibayar oleh uang. Uang adalah ukuran standar, akibatnya, kerja Anda bisa menjadi standar, biasa-biasa saja. Tetapi, karya selalu unik. Jadi, apa sisi unik dari kerja Anda yang menjadi sebuah karya?

Maha karya adalah karya besar Anda. Bisa jadi, Anda fokus mengejar satu maha karya sepanjang hidup. Bisa juga, Anda mengejar beberapa maha karya. Pastikan, dalam hidup ini, Anda sedang mengejar maha karya. Apa maha karya Anda itu?

4. Anugerah Ilmu

Pengetahuan dan ilmu adalah anugerah paling dinamis. Ilmu terus tumbuh dari beragam disiplin dan perspektif. Ilmu adalah anugerah. Mencari ilmu adalah anugerah. Berbagi ilmu adalah anugerah. Dan, tentu, ilmu itu sendiri memang anugerah. Ilmu adalah anugerah yang sangat mulia, luhur. Ilmu menjadi mulia karena memuliakan ilmu dan memuliakan semua sumber ilmu.

Samudera ilmu begitu luas tak bertepi. Langit ilmu begitu tinggi tanpa atap. Kedalaman ilmu begitu dalam menembus nurani. Pada kesempatan ini, kita hanya akan membahas tiga jenis ilmu: ilmu pasti, ilmu kreatif, dan ilmu hikmah.

4.1 Ilmu Pasti

Matematika adalah contoh ilmu pasti yang paling pasti. Ketika matematika menyatakan (M): 2 + 1 = 3 adalah benar dalam operasi bilangan bulat, maka, pernyataan M selalu benar secara pasti. Apakah di sini atau di luar negeri, selalu benar “2 + 1 = 3”. Apakah hari ini, kemarin, atau bulan depan, tetap benar bahwa “2 + 1 = 3”. Matematika menjadi hebat karena sifatnya yang pasti, bahkan, sangat pasti.

Anak-anak perlu belajar matematika. Orang dewasa perlu belajar matematika. Bahkan, orang lanjut usia juga perlu terus belajar matematika. Dengan belajar matematika, kita menjaga pikiran dan imajinasi tetap aktif. Saya mengenal beberapa orang lanjut usia, sekitar 70an tahun atau lebih, menjalani hidup dengan sehat berkat terus belajar matematika. Bahkan, beberapa orang lanjut usia itu berpartisipasi dalam seminar matematika APIQ yang saya selenggarakan. Mudahnya lagi, kita bisa belajar matematika kapan saja di mana saja.

Matematika adalah anugerah.

Kita bisa menerapkan ilmu pasti matematika secara luas. Panen padi 2 karung ditambah 1 karung, maka, menghasilkan 3 karung. Jika tidak 3 karung, kita perlu memeriksa ulang. Barangkali ada yang tertinggal, bocor, atau bahkan hilang. Dalam skala nasional, bulan pertama menghasilkan 2 juta devisa ditambah bulan berikutnya 1 juta devisa, maka, total 3 juta devisa. Tetapi, mengapa devisa total bisa kurang dari 3 juta devisa? Kita bisa melakukan kajian untuk menemukan solusi.

Dalam level canggih, ilmu pasti dan matematika berkembang bersama sains modern kontemporer dan teknologi. Internet, motor, dan komputer merupakan hasil nyata dari penerapan ilmu pasti matematika. Dan, masih banyak lagi, yang bisa kita raih berbekal ilmu pasti.

4.2 Ilmu Kreatif

Bahasa, seni, dan pengetahuan praktis adalah beberapa contoh ilmu kreatif yang bermanfaat bagi seluruh umat. Ilmu kreatif saling melengkapi dengan ilmu pasti. Bahasa, misalnya, mampu melahirkan imajinasi-imajinasi kreatif tak terbatas. Barangkali, Anda pernah membaca novel imajinatif atau membaca puisi yang begitu menyentuh hati? Sungguh kreatif, karya-karya sastra seperti itu.

Bahasa adalah anugerah kreatif yang menjadikan manusia makin kreatif.

“Maju.”

Apa makna dari “maju”?

Maju adalah melangkahkan kaki ke depan. Maju adalah berpindah dari tempat sekarang menuju ke depan. Maju adalah berani terus menyerang. Maju adalah kondisi ekonomi yang lebih tinggi dari rata-rata. Maju adalah pertumbuhan tingkat pendidikan. Maju adalah berpikir kreatif. Dan, masih banyak lagi makna dari maju.

Hanya dari satu kata “maju,” kita bisa menciptakan makna, yang jumlahnya, lebih dari seribu. Berapa banyak makna dari sebait syair? Berapa banyak makna dari satu buku? Berapa banyak makna dari puluhan ayat kitab suci? Ada berjuta makna. Hanya saja, kita perlu untuk berpikir-terbuka.

Uniknya, meski ada berjuta makna, kita bisa memahami makna tertentu pada situasi yang tepat. Sehingga, bahasa bisa menjadi ilmu pasti dengan hanya satu makna saja. Kita bisa membuat definisi formal dalam bahasa. Misal, definisi “maju” adalah pendapatan perkapita per tahun lebih dari 60 juta rupiah. Jadi, bahasa adalah ilmu pasti. Benar, bahasa adalah ilmu pasti dan, sekaligus, ilmu kreatif. Bahasa adalah anugerah luar biasa.

Tetapi, kita juga perlu ingat bahwa matematika bisa menjadi ilmu kreatif. Satu rumus matematika bisa diterapkan untuk membangun jalan, membangun jembatan, bahkan untuk menciptakan roket luar angkasa. Jadi, matematika adalah ilmu pasti dan, sekaligus, ilmu kreatif. Kita, sebagai manusia, perlu untuk bersikap terbuka dengan berpikir-terbuka.

4.3 Ilmu Hikmah

Hikmah adalah ilmu pada tingkat paling tinggi. Barang siapa memperoleh hikmah, wisdom, filosofi, atau makna maka benar-benar itu adalah anugerah sangat besar.

Apa bedanya seorang manusia melihat pisang dengan seekor kera melihat pisang?

Bagi kera, pisang adalah pisang saja. Bagi manusia, pisang bukan sekedar pisang seperti penampakannya saja.

Kera akan merespon pisang dengan memakan pisang bila kera sedang lapar dan berhasrat untuk makan. Tetapi, kera akan cuek saja terhadap pisang bila kera sedang tidak lapar atau sedang tidak hasrat. Respon kera terhadap pisang tidak akan jauh dari realitas di atas.

Respon manusia ketika melihat pisang sangat beragam. Dia bisa mengambil pisang kemudian memakannya. Atau, jika tidak berminat, maka, manusia bisa cuek saja terhadap pisang. Tetapi, manusia bisa mengambil pisang itu, kemudian, membagikannya kepada fakir miskin. Bisa juga, manusia mengambil pisang itu, kemudian, menjualnya untuk meraih laba berlimpah. Manusia, yang lain, bisa mendekati pisang tersebut, untuk kemudian, membuat penelitian ilmiah. Dan, tentu saja, manusia bisa mengamati pisang, kemudian, mengambil hikmah untuk saling berbagi sesama warga semesta.

Manusia bebas mengambil hikmah dari setiap yang ada. Hikmah memang anugerah. Dengan cakrawala ilmu yang luas, manusia siap memahami setiap hikmah, siap menciptakan hikmah, dan siap menjadi hikmah.

5. Anugerah Sulit

Kesulitan tampak menyulitkan. Sekilas, kesulitan bagai bencana. Tetapi, kesulitan adalah anugerah yang menjadikan kita lebih kuat. Kesulitan memicu kita untuk berpikir menemukan solusi. Kesulitan adalah anugerah yang menunjukkan arah tepat agar kita memusatkan segala perhatian, dan sumber daya, pada situasi itu. Pada akhirnya, di setiap kesulitan sesungguhnya ada kemudahan. Dari anugerah kesulitan menuju anugerah kemudahan. Bagaimana pun, kesulitan itu sendiri tetap anugerah.

5.1 Kemudahan

Kesulitan itu paradoks. Karena, bersama kesulitan pasti ada kemudahan. Maksudnya, ketika kita fokus menyelesaikan masalah sulit, maka, kemudian, semua masalah bisa selesai dengan mudah. Jadi, kesulitan adalah anugerah yang menunjukkan kepada kita arah paling tepat untuk menyelesaikan masalah.

Seorang pemuda pandai membuat baju dengan cara menjahit. Kualitas baju bagus. Dan, pemuda itu senang dalam proses menjahitnya. Masalahnya, meski baju itu bagus, tidak ada orang yang mau membelinya. Pemuda itu sulit menjual baju karyanya. Memasarkan baju adalah tugas paling sulit.

Seorang menyarankan agar dia mencoba menjual baju itu secara online melalui media sosial. Pemuda itu, justru, bertambah sulit. Karena dia tidak punya akun media sosial. Dia perlu belajar menguasai media sosial, perlu akses internet, dan perlu menampilkan baju karyanya agar menarik. Dengan kesabaran, akhirnya pemuda itu memasarkan bajunya melalui media sosial. Sama saja, tidak ada penjualan melalui media sosial.

Hari-hari berlalu makin sulit. Baru, setelah 7 hari, mulai ada pesanan baju melalui media sosial. Komentar-komentar di media sosial banyak yang memuji kualitas baju. Pesanan baju makin bertambah banyak. Pemuda itu menjadi sukses memproduksi dan menjual baju. Kesulitan menjual baju, awalnya, memang kesulitan. Tetapi, bersama kesulitan selalu ada kemudahan. Kesulitan itu memudahkan Anda menemukan cara untuk meraih sukses. Kesulitan adalah anugerah, khususnya, bagi orang-orang yang sabar.

5.2 Inovasi Disrupsi

Solusi dari suatu kesulitan bisa biasa-biasa saja, tetapi, bisa juga luar biasa. Solusi luar biasa ini sering kita kenal dengan nama inovasi. Dalam era digital, inovasi bisa berdampak disrupsi. Disrupsi adalah perubahan besar yang menguntungkan Anda karena ada bentuk baru, benar-benar baru, dalam suatu bisnis atau usaha.

Pada akhir abad 20, internet mulai berkembang. Pengguna kesulitan untuk menemukan informasi yang relevan di internet. Memang banyak informasi di internet. Tetapi, informasi itu campur aduk tidak karuan. Mesin pencari, search engine, saat itu, tidak mampu menangani masalah. Ada dua orang pemuda yang melihat kesulitan itu sebagai peluang. Mereka menciptakan mesin pencari yang mampu menghadirkan informasi dengan cepat dan relevan. Mesin pencari itu bernama google.

Kita sudah tahu, selanjutnya, kisah sukses google. Google melihat kesulitan sebagai peluang untuk inovasi. Mereka berhasil memberi solusi yang relevan. Lebih dari itu, google mengakibatkan disrupsi, goncangan besar. Mesin pencari lain, yang sudah ada sebelumnya, menjadi runtuh. Dan, masih banyak efek lain, bisnis-bisnis di internet banyak berguguran. Inovasi yang disruptif ini memberi keuntungan besar bagi pihak tertentu dan bisa merugikan pihak lain. Bagaimana pun, inovasi tetap sah dan bernilai bagus dalam banyak hal.

Kesulitan merupakan anugerah yang membuka peluang untuk mengembangkan inovasi-inovasi sampai skala disrupsi. Di era digital Indonesia, barangkali, Anda bisa membaca inovasi lahirnya Bukalapak, Gojek, Tokopedia, dan lain-lain.

5.3 Memberi Makna

Nilai penting dari suatu kesulitan adalah memberi makna. Segala sesuatu yang bisa diraih dengan mudah menjadi kurang bermakna. Sementara, sesuatu yang diraih dengan susah payah menjadi sangat bermakna. Sehingga, kesulitan itu, meski tetap sulit, memberi makna penting terhadap suatu proses dan hasil.

Saya kira nilai terbesar dari kesulitan adalah “memberi makna.” Nilai ini berdampak ganda: menambah makna atau mengurangi makna. Karena itu, kita perlu waspada.

Di media, sering ada orang mendapat keuntungan 300 juta atau 700 juta rupiah tiap bulan dengan cara mudah. Apa makna uang sebanyak itu bagi mereka? Tidak ada makna. Mereka hanya makin haus untuk mengejar uang lebih banyak lagi. Hidup mereka hampa. Mereka kadang lari ke minuman keras, narkoba, dan perilaku menyimpang. Mereka punya anak remaja. Karena uang berlimpah dengan mudah, anak-anak remaja ini juga kehilangan makna. Mereka sering bikin ulah. Balapan mobil liar sampai penganiayaan. Kadang berakhir dengan tindakan kriminal masuk penjara.

Kemudahan, berupa uang berlimpah, bisa kehilangan makna. Dan, menjadi jebakan parah.

Sebaliknya, kesulitan justru “menambah makna”. Seorang pedagang kecil, hari itu, mendapat laba 100 ribu rupiah. Dia penuh syukur atas laba yang hanya 100 ribu. Hari berikutnya, dia mendapat laba 200 ribu, makin tambah syukur lagi. Uang 200 ribu itu penuh arti. Sampai di rumah, pedagang kecil itu mendapat kabar dari anaknya bahwa anaknya dapat beasiswa kuliah. Tiap bulan, anaknya, mendapat beasiswa uang 1 juta rupiah dan biaya kuliah ditanggung beasiswa. Betapa besar kebahagiaan keluarga pedagang kecil itu. Ukuran uangnya memang kecil. Ukuran makna, bahagia, dan berkahnya sunguh besar luar biasa.

Kemudahan menjadi bermakna jika kita sudah menghadapi kesulitan. Kemudahan menjadi hilang makna bila dipisah dari kesulitan. Sejatinya, kesulitan dan kemudahan adalah berjalin kelindan. Itulah realita indah penuh makna.

Kepada diri sendiri, kita harus siap terhadap kesulitan dan kemudahan. Kepada orang lain, kita tidak perlu mempersulit mereka. Kita perlu memudahkan mereka. Kita berusaha memudahkan segala urusan mereka.

6. Anugerah Terbesar

Semua orang berhak mendapat anugerah terbesar, anugerah paling agung ini. Tetapi, tidak semua orang berhasil meraih anugerah terbesar ini. Anugerah terbesar adalah, berhubungan dengan, hampa. Benar, hampa adalah anugerah terbesar. Ketika Anda merasa hidup ini hampa, tak berdaya, tak punya makna, tidak bisa berbuat apa-apa, itu adalah anugerah terbesar. Ketika kita sadar bahwa kita bukan apa-apa itu adalah anugerah terbesar. Karena itu, kita membutuhkan Dia yang Maha Segalanya.

6.1 Tidak Punya Uang

Pernahkah Anda gelisah karena tidak punya uang sama sekali? Makanan tidak punya. Barang untuk dijual juga tidak punya. Apa pun yang bisa untuk menghasilkan uang, Anda tidak punya. Anda merasa takut, resah, dan gelisah karena tidak bisa melakukan apa-apa. Anda tidak tahu nasib Anda beberapa jam ke depan. Tanpa makanan dan tanpa uang sedikit pun.

Gelisah. Rasakan gelisah. Terimalah rasa gelisah. Memang gelisah.

Gelisah seperti itu hanya permulaan. Gelisah karena tidak ada uang, hanyalah awalan. Anda makin gelisah dipicu oleh banyak hal. Atau, dipicu oleh tidak ada apa-apa. Gelisah bisa terjadi sewaktu-waktu. Meski pun, gelisah sejati jarang terjadi.

Beryukurlah jika Anda gelisah karena itu anugerah. Robot tidak bisa gelisah. Komputer tidak bisa gelisah. Binatang tidak bisa gelisah. Tumbuhan tidak bisa gelisah. Orang sibuk juga tidak bisa, atau sulit sekali, untuk gelisah. Hanya manusia pilihan yang bisa gelisah. Gelisah sejati hanya bisa dimiliki oleh manusia sejati.

Jika Anda merasa gelisah karena tidak ada uang, maka, itu mengantarkan Anda untuk meraih hidup penuh makna. Orang kaya tidak bisa gelisah seperti itu. Pejabat tinggi tidak bisa gelisah seperti itu. Hanya Anda, yang pernah tidak punya uang, yang merasakan gelisah seperti itu. Orang yang punya uang banyak tidak bisa membeli gelisah seperti itu.

Tetapi, apa solusi dari gelisah? Apa langkah selanjutnya dari gelisah? Kita akan membahas di bagian bawah. Paling penting, terima rasa gelisah itu. Dan, bersyukur karena mengalami gelisah.

6.2 Mengapa Aku Ada

Bentuk anugerah terbesar ini kadang berupa kegelisahan eksistensial, “Mengapa aku ada?”

Mengapa aku ada di dunia ini? Mengapa aku terlahir? Untuk apa aku menjalani hidup ini? Apa tujuan hidupku? Apa makna semua yang ada?

Ketika Anda merasa gelisah tentang apa makna hidup Anda, maka, itu adalah gelisah yang bagus. Justru, setiap orang perlu untuk terus-menerus membangkitkan rasa gelisah jenis ini. Gelisah yang ini bisa kita sebut sebagai gelisah yang produktif, atau gelisah yang positif. Meski, semua gelisah, sejatinya selalu positif.

Makna hidup kita adalah untuk menciptakan makna hidup itu sendiri. Anda bebas menciptakan makna hidup Anda. Bebas menentukan tujuan hidup Anda. Apa pun makna hidup Anda, pada gilirannya, Anda akan bertanya lagi, “Apa makna hidup selanjutnya?” Ringkasnya, makna hidup manusia adalah untuk menciptakan makna hidup itu sendiri, kemudian, bertanya lagi tentang makna hidup yang lebih baru tanpa henti.

6.3 Bosan dan Gelisah

Sampai di sini, kita perlu membedakan makna gelisah dan bosan. Meski pun, kadang-kadang bermakna sama, di saat lain bisa bertentangan. Gelisah adalah rasa atau emosi tak menentu akibat sesuatu yang tidak jelas. Gelisah adalah gelisah terhadap tidak tentu, terhadap tidak jelas, terhadap ketiadaan. Beda dengan takut kepada ular, misalnya. Dengan menjauhkan dari ular maka rasa takut menjadi hilang. Tetapi, gelisah tidak bisa dihilangkan dengan mengusir sesuatu. Karena, tidak ada obyek gelisah. Tidak ada yang bisa diusir.

Bosan adalah kebalikan dari gelisah. Bosan adalah rasa penuh terdahap segala sesuatu. Segala sesuatu adalah sama, yaitu, sama-sama membosankan sepenuhnya. Sebaliknya, gelisah adalah rasa kosong, atau rasa hampa.

Suara Hati

Rasa gelisah memiliki tujuan yang jelas: mengetuk suara hati. Rasa gelisah menghidupkan hati kecil Anda, menghembuskan nafas segar ke nurani Anda. Gelisah adalah tanda tanya besar. Gelisah lebih utama dari seluruh dunia ini. Ketika gelisah, kita memang sedang ada di dunia ini. Tetapi, gelisah memanggil suara hati untuk terbang lebih tinggi. Lebih dari semuanya ini.

Gelisah hanya terjadi kepada orang dewasa. Anak-anak tidak merasa gelisah. Tentu, anak-anak bisa merasa takut, tetapi tidak gelisah. Orang dewasa merasa gelisah, barangkali, dipicu oleh rasa tanggung jawab pada awalnya. Berikutnya, gelisah lebih tinggi dari tanggung jawab itu sendiri. Barangkali Anda pernah terjaga dari tidur di tengah malam. Tiba-tiba muncul gelisah begitu saja. Gelisah bisa muncul dipicu apa saja. Tetapi, gelisah juga bisa muncul tanpa dipicu apa saja.

Solusi Gelisah

Kali ini, kita akan fokus kepada solusi terhadap gelisah. Atau, lebih tepatnya, langkah apa saja yang perlu kita lakukan ketika gelisah datang.

(a) Terima rasa gelisah itu. Resapi rasa gelisah itu. Ijinkan rasa gelisah itu masuk ke dalam diri Anda.

(b) Bersyukurlah karena gelisah. Gelisah adalah anugerah terbesar bagi setiap manusia. Robot dan benda-benda lain tidak ada yang pernah gelisah. Hanya manusia dewasa yang bisa gelisah.

(c) Temukan pemicu gelisah. Misal, pemicu gelisah adalah masalah finansial, keterbatasan uang. Selanjutnya, setelah merasakan gelisah, coba susun beberapa solusi finansial. Di satu sisi, solusi pasti ada. Di sisi lain, solusi itu pasti tidak memadai. Memang demikian. Kita tinggal menjalani alternatif solusi itu dengan setiap langkah penuh arti. Orang lain, bisa saja, gelisah karena dipicu ada penindasan politik di masyarakat, ada pembodohan pendidikan, ada penyelewengan agama dan lain-lain.

(d) Doa adalah solusi umum terhadap gelisah. Gelisah adalah sapaan spiritual yang melebihi segala sesuatu yang ada di dunia ini. Atau, dunia dan isinya tak sebanding dengan gelisah spiritual. Sehingga, doa dan ibadah adalah sebagian solusi yang tepat untuk kita.

(e) Maha karya adalah solusi paling menantang terhadap gelisah. Mengapa Anda gelisah? Karena Tuhan sedang menyapa. Mengapa Anda gelisah? Karena ada masalah tak bisa disampaikan dengan kata-kata. Persembahkan maha karya terbaik Anda kepada semesta. Dan, di saat yang sama, diri Anda terbang tinggi melampaui segalanya. Anda terbang besama maha karya dan rasa gelisah di dada.

7. Anugerah Sempurna

Anugerah sempurna. Kabar baiknya, semua orang akan menerima anugerah paling sempurna ini: mati. Pada saatnya, kita semua akan mati. Kematian adalah anugerah paling sempurna. Apa yang Anda siapkan untuk menerima anugerah paling sempurna yaitu datangnya kematian?

7.1 Akhir Cerita

Mati adalah tamat. Akhir cerita Anda di dunia ini. Semua orang, akhirnya, akan mati. Bagaimana pun, mati adalah anugerah, bahkan, anugerah yang sempurna. Dengan mati, seluruh perjalanan hidup Anda berakhir sempurna. Akhir sempurna seperti apa yang Anda harapkan?

Akhir yang baik. Husnul khatimah. Akhiran baik adalah cita-cita mulia bagi kita semua. Kabar baiknya, semua orang bisa memperoleh akhiran baik. Orang miskin bisa akhiran baik. Orang kaya, orang tak berpendidikan, seniman, artis, pejabat, orang terlunta-lunta, dan siapa saja bisa akhiran baik. Akhiran baik ditentukan oleh sikap diri sejati Anda. Lingkungan hanya menyiapkan situasi agar Anda memperoleh akhiran baik. Karena itu, Anda selalu punya pilihan untuk akhiran baik.

Tentu saja, orang bisa berakhir buruk. Kita perlu menghindari akhiran buruk dan menuju ke akhiran baik. Akhir cerita diri kita, kematian kita, adalah akhiran baik. Kita perlu komitmen kuat untuk meraih akhiran baik.

Akhiran baik, yaitu kematian kita, adalah dasar semua makna. Anda bisa terlahir dari keluarga miskin. Ternyata, itulah yang mengantar Anda mencapai akhiran baik. Mungkin ketika sekolah dasar, Anda tidak berprestasi. Ternyata, itulah yang mengantar Anda mencapai akhiran baik. Mungkin, Anda tidak lulus kuliah, itu juga, yang mengantar Anda berakhiran baik. Anda bisa jadi korban PHK, korban penipuan, atau sukses dalam karir, atau bergelimang harta, atau berlimpah jabatan, semua itu mengantar Anda meraih akhiran baik. Semoga kita semua meraih akhir yang baik.

7.2 Awal Semesta

Mati adalah awal karir kita di semesta yang baru, yaitu, alam kubur dan alam-alam berikutnya. Di dunia, juga dimulai semesta baru. Yaitu, legasi Anda mulai bekerja tanpa campur tangan Anda lagi.

Semesta yang baru bagi Anda, setelah mati, biarlah menjadi pembahasan di buku yang lebih tepat. Di sini, kita akan membahas tentang legasi.

Legasi Anda mulai bekerja dengan maksimal setelah Anda meninggal. Sistem pertanian gotong royong yang Anda kembangkan bersama masyarakat, di kampung, makin bertumbuh dan ditiru tetangga desa. Ceramah-ceramah Anda di teras masjid, dibukukan oleh para pemuda, kemudian menjadi pencerah intelektualitas masa depan. Catatan-catatan pendek Anda di media sosial, kini menjadi inspirasi di seluruh negeri. Teka-teki problem matematika yang Anda tulis di buku, tetap, menjadi teka-teki ratusan tahun kemudian.

Legasi demi legasi tumbuh bersemi. Legasi jenis apa yang hendak Anda wariskan ke generasi masa depan? Legasi adalah anugerah. Diri Anda adalah anugerah.

7.3 Hak Pribadi

Setiap orang berhak mati. Anda berhak untuk mati. Bagaimana cara Anda menerima hak untuk mati?

Barangkali ada beberapa hak Anda yang tidak berhasil Anda raih. Anda berhak jadi juara catur tetapi gagal. Anda berhak menjadi kepala desa tetapi gagal. Anda berhak mempersunting kekasih idaman tetapi gagal. Anda berhak mati tetapi tidak akan pernah gagal. Pada akhirnya, kita akan berhasil memenuhi hak untuk mati. Setiap orang akan berhasil memenuhi hak pribadi untuk mati.

Dengan cara bagaimana Anda akan mati?

Akhiran baik adalah cita-cita pribadi terbaik. Bagaimana cara meraihnya? Anda pasti bisa. Ada banyak cara. Salah satu caranya adalah tetapkan maha karya terbaik Anda untuk semesta. Kemudian, kejar maha karya itu. Tentu, maha karya itu akan selalu tumbuh membesar lagi. Sehingga, tiada henti, Anda terus mengejar maha karya. Anda kehabisan waktu di dunia ini, ketika Anda dalam proses mempersembahkan maha karya.

Maha karya bisa saja sesuatu yang unik, kecil, dan dekat namun penuh arti. Kebaikan istimewa, yang Anda berikan kepada orang di sekitar, bisa menjadi maha karya. Kebaikan istimewa kepada anak adalah maha karya. Kebaikan istimewa kepada pasangan adalah maha karya. Kebaikan istimewa kepada orang tua adalah maha karya. Setiap kebaikan yang istimewa bisa menjadi maha karya.

Sejatinya, sambil mempersembahkan maha karya, Anda menyimpan rasa gelisah. Anda rindu kepada yang lebih tinggi dari semua yang ada di dunia ini. Saat itu, Anda sudah berada di depan pintu untuk mencurahkan rindu.

Mengapa Semua Bisa Jadi Anugerah?

Ketika kita membahas anugerah, terasa bergerak dari anugerah positif, misal ilmu, ke anugerah negatif, misal gelisah. Positif atau negatif, memang, anugerah semua. Istilah positif atau negatif hanyalah untuk memudahkan pembahasan. Sejatinya, semua adalah anugerah.

Memang benar, ketika kita memandang semua yang ada adalah anugerah, maka, hidup kita makin bahagia dengan limpahan anugerah. Barangkali, Anda bertanya, “Bukankah itu sekedar cara pandang saja yang bersifat subyektif?” Realitas, dalam hidup ini, ada bencana yang pasti bukan anugerah. Hanya saja, secara subyektif, kita bisa memandang bencana dari perspektif positif sebagai anugerah. Dengan demikian, anugerah hanya bersifat subyektif dan tidak obyektif? Bukan, anugerah bukan sekedar subyektif. Semua yang ada adalah anugerah secara obyektif dan subyektif. Anugerah itu lebih tinggi dari kategori obyektif dan subyektif. Mari kita kaji lebih mendalam.

Semua realitas yang ada kita sebut sebagai eksistensi. Ada meja maksudnya meja adalah eksistensi. Ada pohon, ada bumi, ada manusia, dan lain-lain mereka adalah eksistensi. Agar eksistensi ini benar-benar ada maka mereka perlu anugerah waktu. Tanpa waktu, eksistensi tidak akan punya waktu untuk eksis. Karena waktu menganugerahkan waktu kepada eksistensi, maka, eksistensi punya waktu untuk eksis.

Pada gilirannya, eksistensi menerima anugerah waktu sehingga eksis. Penerimaan anugerah itu sendiri merupakan anugerah. Jika eksistensi tidak mau menerima anugerah waktu, maka, waktu menjadi tidak eksis. Waktu menjadi tidak ada. Karena eksistensi menerima anugerah waktu sebagai anugerah, maka mereka, eksistensi dan waktu, saling memberi dan menerima anugerah. Mereka menjadi eksis secara nyata. Kesimpulannya, seluruh realitas adalah anugerah itu sendiri.

Ketika seseorang menilai suatu bencana sebagai bukan anugerah, maka, orang tersebut menilai secara subyektif belaka. Secara obyektif, bencana itu sendiri tetap anugerah. Secara subyektif, memang, masing-masing orang perlu berlatih bagaimana agar bisa melihat anugerah sebagai anugerah yang nyata. Semua adalah anugerah.

Anugerah makin terbuka luas karena anugerah waktu sejati, paling utama, adalah anugerah masa depan. Setiap orang punya masa depan yang cemerlang. Masa depan adalah anugerah yang besar. Mari kita rajut masa depan cemerlang dengan mensyukuri anugerah masa kini dan berbekal masa lalu.

Pembahasan lebih lanjut tentang anugerah waktu sejati, kita bahas di bagian tersendiri. Bagi kita, jelas, “Cinta itu anugerah maka berbahagialah!” Cinta adalah kehidupan. Kehidupan adalah cinta. Tetapi, kematian itu sendiri adalah sebentuk cinta. Kematian yang berlimpah anugerah. Hidup dan mati, sama-sama, anugerah.

Catatan

Pintu 1 “Anugerah Semua” dan semua adalah anugerah merupakan pembuka dari seluruh 7 pintu yang akan kita bahas. Dengan menyadari bahwa anugerah berlimpah di mana-mana, dan di setiap waktu, maka kita siap melangkah kepada tantangan-tantangan berikutnya. Pintu 2 akan membahas pentingnya kepekaan dan rasa peduli. Semua fakta yang ada tergantung, ada relasi, dengan tingkat peduli kita. Makin peka dan peduli, maka, fakta akan menjadi makin nyata ada dan terasa. Lebih lengkap, silakan lanjut ke Pintu 2 “Peka Menjadi Fakta”.

Agama atau Tuhan: Dilema Manusia Futuristik

Ketika Anda harus memilih satu saja, apa pilihan Anda, “Mengutamakan agama atau Tuhan?”

Sulit untuk menentukannya. Problematis. Bahkan dilematis. Setiap pilihan akan paradoks.

Tetapi, orang bisa berdalih untuk memilih keduanya: agama dan sekaligus Tuhan. Ketika kita memilih Tuhan, maka, sekaligus kita mengikuti ajaran agama. Sebaliknya juga berlaku. Ketika kita mengutamakan agama, maka, kita sekaligus mengutamakan Tuhan. Klaim seperti ini sah-sah saja.

Kali ini, kita memang sedang dalam dilema yaitu harus memilih satu saja: agama atau Tuhan? Apa pilihan Anda?

1. Mengenal Agama
2. Mengenal Tuhan
3. Memilihan Pilihan

Falasi Logika

Logika yang keliru. Orang mengira argumennya benar, tetapi, keliru. Orang awam sering keliru. Bahkan, seorang pakar juga mudah keliru. Kekeliruan logika, kesalahan logika, sering disebut sebagai falasi logika – logical fallacy.

Falasi logika sangat bahaya, apalagi, di era digital. Penipuan di media sosial sampai rugi jutaan rupiah. Berita hoax menyebar luas bikin resah. Bahkan, karena falasi logika, sampai ada orang tega mengorbankan jiwa orang lain dan jiwa dirinya sendiri. Kita perlu waspada terhadap falasi logika.

Hanya ada dua jenis falasi: formal dan informal. Masing-masing jenis bisa berkembang menjadi banyak. Falasi formal adalah kesalahan karena bentuk, struktur, untuk mengambil kesimpulan salah atau tidak valid. Sementara, falasi informal, atau sering disebut falasi materi, adalah karena bahan-bahannya berupa premis bernilai salah.

Saya mengusulkan hanya ada satu bentuk logika, yaitu implikasi, untuk memudahkan mengatasi falasi formal. Sementara, falasi informal akan tetap menjadi kajian yang kaya akan perkembangan. Dengan bentuk implikasi, kita mudah mengenali setiap falasi.

1. Logika Valid: Implikasi
2. Ragam Falasi
3. Solusi Falasi
4. Logika Futuristik
5. Berpikir Terbuka

Bagian awal, kita akan membahas implikasi. Lanjut, beragam bentuk falasi. Bagian terpenting adalah solusi terhadap falasi. Sebagai pengembangan, saya mengusulkan logika-futuristik dan berpikir-terbuka.

1. Logika Valid: Implikasi

Implikasi adalah bentuk logika “Jika P maka R.” Implikasi mudah kita pahami, mudah kita cari contoh, dan mudah untuk mendeteksi falasi.

“Jika (P) kuda maka (R) berkaki 4.”

Kita melihat (P) kuda. Kesimpulan (R) berkaki 4. Benar dan sah.

Kita melihat (-R) yaitu tidak berkaki 4. Kesimpulan (-P) yaitu pasti bukan kuda.

Hanya ada dua bentuk kesimpulan yang benar dan sah seperti di atas. Kesimpulan yang tidak mengikuti bentuk di atas maka tidak sah dan konsekuensinya ditolak.

2. Ragam Falasi

Meski, aslinya hanya ada dua falasi, formal dan informal, tetapi variasinya sangat banyak. Di antaranya, 15 falasi kita bahas di sini.

(1) Ad Hominem adalah kesalahan karena menyerang orangnya bukan argumennya.

Orang gila itu bilang, “3 + 2 = 5.”

Ad hominem menolak pernyataan, di atas, karena yang berbicara adalah orang gila. Padahal, kita perlu menguji materinya, yaitu, apakah benar “3 + 2 = 5.” Dalam banyak kasus falasi, pihak yang berbicara bisa saja anak kecil, lawan politik, pemeluk agama yang berbeda, atau orang yang beda aliran.

Dalam bentuk implikasi, falasi dari ad hominem adalah,

“Jika pihak lain bicara maka salah.”

Tentu saja, tidak ada hubungan kuat antara “pihak lain” dan “salah”. Sehingga falasi ad hominem harus ditolak.

(2) Strawmen Argument adalah variasi dari ad hominem, yaitu, menyalahkan pembawa pesan. Di era digital, pembawa pesan bisa saja media sosial. “Jika media XYZ yang menyiarkan maka salah.” Kita perlu menolak falasi ini.

(3) Appeal to Ignorance adalah falasi karena berdalih tidak tahu. “Karena saya tidak tahu maka saya tidak boleh disalahkan.” Orang yang tidak tahu tetap bisa salah, meski, bisa juga benar.

(4) False Dillema adalah falasi karena ekstrem. “Jika dia tidak jadi presiden maka negara hancur.”

(5) Slippery Slope Fallacy adalah kesalahan karena terlalu maju dalam kesimpulan. “Jika 3 bulan profit terus maka akan selalu profit.” Falasi ini bahaya karena penipuan investasi sering terjadi. Kita perlu menolaknya.

(6) Circular Argument adalah falasi karena argumen melingkar. “Jika junjunganku maka benar.” Mengapa? Karena, junjunganku selalu benar. Atau, seluruh kebenaran adalah milik junjunganku. Falasi ini kadang disebut sebagai petitio principii atau beg question.

(7) Hasty Generalization adalah falasi karena ceroboh generalisasi. Saya menemui 5 mahasiswa ITB, yang, semuanya cerdas. “Jika mahasiswa ITB maka cerdas.”

(8) Red Herring Fallacy adalah falasi karena pengalihan isu. “Jika kita bahas secara relijius maka problem politik selesai.”

(9) Appeal to Hypocrisy adalah falasi karena curiga ke sumber. “Jika dia bicara dengan ragu maka dia salah.” Sebaliknya juga falasi yang bahaya. “Jika dia bicara ayat suci berapi-api maka dia pasti benar.” Falasi ini perlu ditolak.

(10) Causal Fallacy adalah kesalahan menempatkan kausalitas, hubungan sebab akibat. “Karena setelah dia dilantik rakyat jadi makmur, maka, dia pemimpin sukses.” Hanya urutan waktu tidak menjamin kausalitas. Falasi perlu ditolak.

(11) Fallacy of Sunk Cost adalah kesalahan karena terlanjur basah. “Karena saya sudah banyak biaya kampanye dukung dia, maka, terus dukung dia meski korupsi.”

(12) Appeal to Authority adalah kesalahan karena terpengaruh otoritas. “Karena dia orang suci maka pasti benar.”

(13) Equivocation adalah kesalahan karena ambigu, karena rancu. “Karena boleh ambil profit maka saya ambil seluruh keuntungan.”

(14) Appeal to Pity adalah kesalahan karena belas kasihan. “Karena sudah 2 hari tidak tidur, maka, dia tidak bisa disalahkan.”

(15) Bandwagon Fallacy adalah kesalahan karena banyak dukungan. “Karena banyak anak muda menyukainya, maka, dia pasti benar.”

Seluruh falasi di atas perlu ditolak. Saya sengaja menggunakan bentuk implikasi dengan kata “maka.” Dengan berpikir dalam bentuk implikasi, maka, menjadi jelas bagian mana yang falasi, yang menyebabkan keliru.

Kita perlu ingat bahwa falasi perlu ditolak. Tetapi, falasi tidak membuktikan bahwa pernyataan salah. Falasi hanya menunjukkan salah logika, salah berpikir, sesat berpikir. Kesimpulan dari pernyataan bisa saja benar dengan melengkapi data yang tepat. Secara umum, falasi ditolak dan dianggap salah. Atau, minimal tidak bisa dianggap sebagai benar.

Berikut, saya ingin menambahkan beberapa falasi lagi agar lebih variasi.

(16) Fallacy of Dramatic Instance adalah falasi karena hasil yang dramatis. “Karena ketika dia dilantik sambutan sangat meriah, maka, dia pemimpin yang benar.”

(17) Fallacy of Retrospective Determinism adalah falasi akibat determinisme mundur. “Dia terpilih jadi bupati, maka, itu sudah takdirnya.”

(18) Post Hoc Ergo Propter Hoc adalah falasi karena justifikasi dari fakta itu sendiri. “Dia terpilih menjabat periode dua, maka, terbukti dia sukses periode pertama.”

(19) Fallacy of Misplaced Concreteness falasi akibat salah menempatkan kenyataan. “Karena tidak menjaga budaya Timur, maka, ekonomi mundur.”

(20) Fallacy of Composition falasi karena salah memperhitungkan susunan atau jumlah. “Karena jadi driver hidup makmur, maka, semua orang perlu jadi driver.”

Kita masih bisa menambahkan lebih banyak lagi falasi. Yang jelas, dengan menyusun proposisi dalam bentuk implikasi, maka, menjadi mudah bagi kita mengenali falasi. Langkah berikutnya, kita perlu menyusun solusi.

Saya ingin menambahkan, satu lagi, falasi terakhir.

(21) Fallacy of Fallacy adalah falasi karena menganggap falasi sebagai salah. “Karena falasi, maka, kesimpulan bernilai salah.” Kita sudah bahas, di atas, bahwa falasi mungkin bernilai salah dan, di saat yang sama, mungkin bernilai benar. Tetapi, falasi memang harus ditolak karena tidak sah, bukan karena salah. Perlu kajian lebih lanjut terhadap falasi.

3. Solusi Falasi

Langkah awal menemukan solusi terhadap falasi adalah susun ulang proposisi dalam bentuk implikasi. Kemudian, kaji implikasi tersebut secara teliti dari sisi formal dan material. Terakhir, pertimbangkan beragam solusi alternatif.

Untuk memudahkan pembahasan, kita membagi menjadi 3 kasus: fiksi, fisika, dan realitas.

3.1 Fiksi

Fiksi memudahkan analisis karena batasannya jelas, misal, novel atau cerpen. Dalam fiksi, kita tidak harus menguji realitas. Fiksi bernilai benar atau salah, cukup, dinilai dalam fiksi itu sendiri.

“Jika (P) dia Superman maka (R) dia pembela kebenaran.”

Berdasar fiksi, implikasi di atas adalah benar. Maka, kita mengenali kesimpulan yang sah – berbeda dengan falasi.

(P) Dia Superman
Kesimpulan sah (R) Dia pembela kebenaran.

(-R) Dia bukan pembela kebenaran.
Kesimpulan sah (-P) Dia bukan Superman.

Hati-hati dengan falasi berikut.

(-P) Dia bukan Superman.
Kesimpulan tidak sah (-R) Dia bukan pembela kebenaran. Karena, bisa saja Batman adalah pembela kebenaran. Tetapi, Joker mungkin bukan pembela kebenaran.

(R) Dia pembela kebenaran.
Kesimpulan tidak sah (P) Dia Superman. Karena mungkin saja Batman.

Pengetahuan matematika, dalam perspektif tertentu, bisa dianggap sebagai fiksi. Sehingga, nilai kebenaran matematika bersifat pasti. Coding atau program komputer bisa juga dipandang sebagai fiksi. Yang menarik adalah media sosial. Dalam dirinya sendiri, media sosial bisa menjadi fiksi. Tetapi, karena media sosial terkait dengan realitas, maka, kita perlu pertimbangan lebih luas.

3.2 Fisika

Sains fisika mengkaji esensi materi dalam ruang dan waktu. Dengan asumsi fisika seperti itu, kita bisa membuat pernyataan implikasi dengan tegas.

“Jika (P) panjang kayu awal 6 meter dipotong dua sama panjang, maka, (R) masing-masing 3 meter.”

Kesimpulah sah ada dua:
(P) maka kesimpulan sah (R)
(-R) maka kesimpulan sah (-P).

Falasi atau kesimpulan tidak sah juga ada dua macam:
(R) maka kesimpulan tidak sah adalah (P)
(-P) maka kesimpulan tidak saha adalah (-R).

Tantangan lebih menarik adalah ketika kita menghadapi realitas. Bukan hanya fisika, dan, bukan hanya fiksi.

3.3 Realitas

Mengkaji realitas menjadi menarik karena kita mempertimbangkan karakter temporal dari realitas. Di mana, realitas bisa berubah seiring waktu. Akibatnya, setiap klaim kebenaran realitas perlu mempertimbangkan, dengan serius, aspek temporalitas.

Di sisi lain, realitas menuntut kita untuk membuat relasi yang sah antara proposisi dengan realitas itu sendiri. Maksudnya, ketika ada proposisi “Panjang kayu adalah 3 meter”, kita perlu menguji apakah ada realitas tepat seperti itu.

Kita tahu bahwa kita lebih banyak hidup di dunia realitas ketimbang dunia fiksi mau pun dunia fisika. Karena itu, problem falasi akan lebih banyak kita hadapi di dunia realitas.

3.3.1 Validitas Implikasi

Tugas pertama kita adalah untuk menyusun implikasi yang valid. Seperti kita lihat di atas, contoh-contoh falasi adalah gagal dalam membentuk implikasi.

“Jika (P) kuda maka (R) berkaki 4.”

Dalam dunia fiksi dan fisika, implikasi di atas valid dan benar. Tetapi, dalam dunia realitas, masih banyak pertanyaan yang harus dijawab.

Bagaimana kita mengetahui bahwa semua kuda berkaki 4? Bagaimana jika ada kuda aneh berkaki 3 atau berkaki 5? Apakah kuda di masa depan tetap berkaki 4? Bagaimana jika ada mutasi gen? Bagaimana kita bisa menghitung 4 kaki, padahal, kaki kiri beda dengan kaki kanan dan kaki depan beda dengan kaki belakang?

Kita sulit menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas secara positif. Tetapi, kita bisa membuat batasan agar pernyataan implikasi di atas menjadi valid. Kita bisa membatasi, misal, pernyataan di atas berlaku untuk wilayah Kebon Binatang Bandung selama bulan Januari 2023. Pengertian masing-masing kata adalah sewajarnya, misal, kaki kanan dianggap sama dengan kaki kiri dalam hitungan. Dengan batasan di atas, implikasi menjadi valid dan kita bisa menarik kesimpulan dengan valid juga.

Pembatasan adalah hal wajar dalam kajian ilmiah. Kita terbiasa membatasi kajian dalam laboratorium, misalnya. Untuk kajian sosial, kita juga bisa membatasi pada ruang waktu tertentu. Dengan teknologi, kita juga bisa membuat simulasi terbatas. Problem muncul, ketika, sains mengklaim bahwa kesimpulan kajian sains sebagai berlaku universal. Bagaimana kajian yang terbatas bisa menghasilkan kesimpulan universal?

Kita bisa terjebak dalam falasi ketika melakukan generalisasi. Ada banyak cara untuk menghindari falasi, misal, dengan induksi, statistik, falsifikasi, enframing, dan lain-lain.

3.3.2 Validitas Formal

Menarik kesimpulan melalui silogisme implikasi adalah valid. Ketika, pernyataan implikasi valid dari sisi material, maka selanjutnya valid, menarik kesimpulan secara formal.

(P) Kuda
Kesimpulan sah,
(R) Berkaki 4.

Kita tahu, kesimpulan (R) valid untuk wilayah Kebon Binatang Bandung pada bulan Januari 2023. Bagaimana untuk ruang dan waktu yang berbeda? Apa gunanya kesimpulan yang hanya berlaku terbatas? Bukankah kita perlu kesimpulan yang berlaku universal? Logika-futuristik menyelesaikan masalah ini dengan baik.

“Jika (A) dia presiden maka (B) adil makmur.”

(A) Dia presiden
Kesimpulan sah,
(B) Adil makmur.

Untuk menguji validitas (A) cukup mudah. Dia menang pilpres dan sudah dilantik. Beres. Tetapi, validitas (B) tidak mudah dibuktikan. Bagi pendukung presiden, tampak jelas bahwa (B) adil makmur adalah benar adanya. Sementara, bagi oposisi melihat (B) sebagai tidak valid. Kita akan menyelesaikan paradoks ini dengan logika-futuristik.

Mari sedikit kita ringkas pembahasan sampai sejauh ini. Falasi adalah logika berpikir yang keliru. Untuk mencermati falasi, kita bisa menyusun proposisi dalam bentuk implikasi. Bagaimana pun, dalam realitas, klaim terhadap kebenaran masih tetap bisa paradoks. Kita perlu berpikir-terbuka.

4. Logika Futuristik

Sesuai namanya, logika-futuristik adalah logika yang memberi bobot penting terhadap aspek futural – masa depan. Logika-klasik lebih menekankan aspek past dan present.

Kita cermati lagi klaim,

(B) Adil makmur.

Bagi penguasa, (B) terbukti dengan jelas. Sebaliknya, bagi oposisi, (B) tidak terbukti. Justru kondisi tidak sedang adil makmur.

Semua data statistik, dari masa lalu (past) sampai yang terbaru (present), menunjukkan bahwa negara memang adil makmur. Demikian, interpretasi penguasa. Oposisi menginterpretasikan data statistik yang sama sebagai negara tidak adil makmur. Paradoks. Logika-futuristik akan memberi solusi.

Bagaimana konsekuensi masa depan – future? Apa ukuran statistik masa depan yang membedakan adil makmur dengan tidak adil makmur? Masa depan adalah posibilitas luas, freedom, dan komitmen.

Misal, pada akhirnya, bisa disepakati indeks adil makmur saat ini adalah IAM = 75. Bagi penguasa, IAM = 75 bermakna adil makmur, sebaliknya, bagi oposisi tidak adil makmur. Logika-futuristik menawarkan IAM = 75 adalah sebagai batas pembeda. Bila tahun depan IAM di atas 75 maka terbukti adil makmur. Tetapi bila IAM tetap 75 atau turun maka terbukti tidak adil makmur. Paradoks selesai oleh logika-futuristik.

Tetapi, mengapa lama sekali? Harus menunggu 1 tahun ke depan. Kita perlu keputusan saat ini.

Kajian waktu matematis bisa diatur. Misal target adil makmur adalah IAM = 75,12 dalam 12 bulan ke depan. Maka 1 bulan ke depan target IAM = 75,01. Dan target pekan depan IAM = 75,0025. Penguasa dan oposisi bisa bersepakat dengan logika-futuristik demi menciptakan adil makmur seluruh negeri. Kedua belah pihak terbebas dari falasi logika. Tetapi, kedua pihak terikat komitmen untuk membangun negeri meningkatkan IAM. Penguasa berjuang melalui beragam program pembangunan. Sementara, oposisi berjuang dengan kritik-kritik tajam tepat sasaran.

Logika-futuristik melangkah lebih jauh dengan menekankan bahwa waktu adalah bentangan future-past-present. Artinya, kita tidak bisa tinggal diam di masa kini – present. Karena, future selalu datang. Apa yang kita maksud present, otomatis, berubah menjadi past. Justru, kita perlu selalu mengantisipasi future. Karena future adalah posibilitas yang luas maka kita perlu berpikir-terbuka.

5. Berpikir Terbuka

Logika-futuristik memang mengajak kita untuk berpikir-terbuka. Kita, bersama-sama, merajut masa depan yang cemerlang bagi umat manusia. Masa depan yang indah dan damai berkelanjutan. Masa depan untuk diri kita, untuk anak cucu kita, untuk seluruh semesta.

Seseorang bisa berpikir bahwa masa depan adalah masa depan di dunia ini. Bagaimana pun, di masa depan, seseorang akan mati. Apa yang kita berikan untuk semesta ini sejak kita lahir sampai mati? Bagi umat beragama, apa persiapan kita untuk menghadapi masa abadi?

Siapa pun Anda pasti sedang menyongsong masa depan. Mari bersiap dengan berpikir-terbuka menatap masa depan, berbekal masa lalu, dan menyusuri hidup di masa kini.

Logika Era Digital

Logika sebagai ilmu berpikir benar menjadi sangat penting di era digital. Hoax, sampai penipuan, terjadi di mana-mana. Logika akan membantu kita menyelesaikan beragam kesulitan itu. Dengan logika, Anda bisa berselancar di dunia maya, di dunia ekonomi, dan dunia politik lebih waspada. Di saat yang sama, logika era digital membuat Anda lebih bahagia.

Saya menulis tema logika dari beragam sudut pandang.

Prolog
Bagian 1: Logika dalam Perspektif Histori

1. Logika Seberapa Logis

Bagian 2: Problem dan Solusi Logika

2. Logika Futuristik
3. Problem Filsafat Sains
4. Matematika Itu Paradoks
5. Filsafat Sains Einstein
6. Quantum Entanglement
7. Wacana Quantum
8. Berpikir Terbuka: Meta Filosofi

Bagian 3: Sesat Pikir

9. Falasi Logika

Epilog

Sejak masa awal lahirnya, logika mencerahkan peradaban umat manusia. Aristoteles berhasil merumuskan logika-bahasa (proposisional), perkembangan dari logika-cahaya Plato, yang mampu membedakan kebenaran dengan kesesatan. Pengetahuan manusia berkembang pesat dengan landasan logika yang kokoh.

Hanya berselang beberapa tahun dari Aristo, logika menghadapi paradoks teramat berat: paradoks Pyrrho. Paradoks berpuncak pada abad 20, yaitu, paradoks Godel. Paradoks-paradoks ini menjadi tantangan bagi logika dan tidak terpecahkan. Saya mengusulkan logika-futuristik sebagai solusi yang tuntas dan terbuka terhadap dinamika.

Dalam pembahasannya, logika-futuristik menyelesaikan paradoks dalam kelompok meta-teori dan meta-perspektif dengan solusi yang membuka posibilitas luas, freedom yang bebas dan membebaskan, serta menuntut dan mendorong komitmen. Kita mengambil kasus, untuk diselesaikan, paradoks demokrasi (kasus sosial), paradoks Godel (kasus eksak matematis), dan paradoks quantum (kasus sains teoritis empiris).

Logika-futuristik mengusulkan kajian logika formal fokus kepada implikasi. Di satu sisi, implikasi memudahkan kita membuat kesimpulan. Di sisi lain, implikasi memudahkan kita mengenali falasi logika yang perlu dihindari.

Dalam perspektif sejarah, kita mengkaji logika obyektif dan logika subyektif. Logika obyektif terbentang sejak Aristo, Boole, Frege, sampai logika kategori di abad 21 ini. Sementara, logika subyektif, kita mengambil contoh logika-visi-iluminasi (Suhrawardi), logika-dialektika (Hegel), dan logika-destruksi (Heidegger). Bagaimana pun, logika-subyektif tetap membahas logika-obyektif dengan kritis. Pada gilirannya, logika-futuristik mengambil alih logika-obyektif dan logika-subyektif sampai titik terjauhnya.

Reduksi logika menjadi hanya logika-formal tampak tidak memadai menurut kajian kita. Logika tetap perlu mengkaji logika-informal atau logika-material. Konsekuensinya, kita perlu membahas konsep kebenaran secara filosofis. Kebenaran korespondensi dan koherensi perlu dilengkapi dengan kebenaran futuristik yang dinamis.

Logika-futuristik masih terlalu muda. Sehingga, banyak bidang yang luput dari kajian. Juga, tentu saja, ada kekurangan dan kelemahan di beberapa tempat. Karena itu, saya mengajak ke semua pihak untuk bersama-sama mengembangkan logika-futuristik. Saya yakin, logika-futuristik akan memberi kontribusi besar bagi kemanusiaan dan alam raya.

Catatan

Logika, sebagai ilmu berpikir benar, bermakna luas. Berpikir bukan hanya terbatas logika matematika dan bahasa. Berpikir lebih dari itu. Anda mengendarai sepeda adalah contoh berpikir praktis. Karena itu, logika juga berguna untuk berpikir praktis.

Hati Anda merasa tersentuh sahdu oleh alunan irama merdu. Dalam contoh ini, Anda sedang berpikir dengan hati Anda. Logika bermanfaat besar ketika Anda berpikir dengan hati. Melihat seorang bocah kelaparan di pinggir jalan, tersentuh ruhani Anda, lalu, Anda berikan nasi bungkus yang sedianya untuk makan malam anak di rumah. Kemudian, Anda harus pontang-panting cari uang agar bisa beli nasi bungkus untuk anak Anda yang menunggu di rumah. Ruhani Anda tersentuh meski Anda hanya punya uang pas-pasan. Logika berguna mendampingi Anda berpikir dengan ruhani.

Atau, contoh lebih nyata. Anda memilih capres X atau capres Y. Kata pendukung X, capres X adalah yang terbaik, sedangkan capres Y adalah penjahat. Sebaliknya, kata pendukung Y, capres Y adalah yang terbaik, sedangkan capres X adalah penjahat. Logika berguna bagi Anda ketika berpikir politis. Singkatnya, logika berguna bagi Anda untuk berpikir. Dan, Anda sebagai manusia memang dituntut untuk berpikir.

Saya yakin, atau berharap, logika-futuristik akan membantu Anda menjadi sukses, bahagia, dan bermakna. Apa pun profesi Anda, atau situasi Anda, gunakan logika-futuristik untuk menaiki tangga sukses. Lebih dari itu, logika-futuristik sangat lincah. Sehingga, logika-futuristik menjamin Anda untuk hidup bahagia. Barangkali paling penting, logika-futuristik mengarahkan Anda menjalani hidup penuh makna.

Sayangnya, saya tidak bisa yakin bahwa konsep logika-futuristik ini bisa dipahami dengan mudah. Hanya saja, dengan beberapa butir ketekunan tambahan, saya yakin Anda akan mampu memahami logika-futuristik dengan bertahap. Untuk kemudian, Anda meraih manfaat terbesar.

Logika-futuristik terdiri dari tiga bagian.

Bagian 1: Logika dalam Perspektif Histori membahas logika dalam kerangka sejarah. Kita akan berkenalan dengan konsep dasar logika yang dikembangkan Aristoteles hampir 2500 tahun yang lalu. Lanjut, kita menelusuri perkembangan logika sampai awal abad 21 ini, misal, dengan berkembangnya logika kategori.

Masih dalam perspektif sejarah, kita membedakan logika obyektif dengan logika subyektif. Umumnya, logika adalah logika obyektif. Sehingga, terasa formal dan kaku. Tetapi, berbeda dengan logika obyektif, logika subyektif bersifat lebih kreatif sehingga menjadikan hidup lebih bahagia dan lebih bermakna.

Bagian 2: Problem dan Solusi Logika membahas beragam isu fundamental dari logika. Kita akan membahas logika-futuristik di bagian 2 ini. Di bagian awal, kita menunjukkan problem-problem logika berupa paradoks yang tidak bisa diselesaikan oleh logika klasik. Kita berhasil menyelesaikan paradoks dengan pendekatan logika-futuristik.

Bagian 2 ini, barangkali, bagian terpanjang dari logika-futuristik. Pembahasan selanjutnya, kita mencermati problem filsafat sains, matematika, sampai problem sosial. Masing-masing bidang memiliki problem fundamental yang sulit diselesaikan. Dengan memanfaatkan logika-futuristik, kita berhasil menangani problem-problem tersebut.

Pembahasan sains mendapat porsi cukup besar. Filsafat sains versi Einstein kita bahas dengan mendalam. Kita mengenal Einstein sebagai saintis sekaligus filsuf terbesar abad lalu. Kemudian perdebatan teori quantum juga kita bahas panjang lebar, termasuk, problem dan solusinya.

Ketika, saya mengatakan bahwa logika-futuristik berhasil menyelesaikan problem sains, maka, tidak berarti semua selesai. Karena, penyelesaian logika-futuristik senantiasa membuka posibilitas luas, freedom yang bebas dan membebaskan, serta menuntut dan mendorong komitmen.

Bagian 3: Sesat Pikir membahas tentang falasi logika. Barangkali bagian terakhir ini paling mudah dibaca dan paling mudah dipahami. Saya mendaftar 21 tipe falasi logika yang sering terjadi. Dengan fokus kepada bentuk implikasi, kita mudah mengenali terjadinya falasi. Kemudian, kita bisa berusaha mencari solusi.

Buku logika-futuristik bisa kita baca secara urut dari awal sampai akhir. Tetapi saya menyarankan cara membaca yang lebih mudah, barangkali, dengan mulai prolog, lalu epilog, kemudian bagian 3. Dengan cara ini, Anda mendapat gambaran besar dari problem logika dan, di saat yang sama, Anda sudah mendapatkan solusi logika-futuristik secara umum.

Untuk mendapat wawasan yang lebih luas, Anda bisa membaca bagian satu yang membahas logika perspektif histori. Dan, lanjutkan, pembahasan lebih mendalam di bagian dua. Setelah itu, Anda bebas membaca bagian mana saja yang menarik bagi Anda.

Saya menyadari sepenuhnya bahwa konsep logika-futuristik masih sangat muda. Sehingga, terdapat banyak kelemahan di berbagai tempat. Karena itu, saya mengajak semua kalangan untuk ikut serta mengembangkan logika-futuristik baik melalui kritik mau pun konstruktif.

Saya perlu menekankan kembali bahwa makna logika, dan berpikir, adalah luas. Meliputi berpikir teoritis, praktis, politis, spiritualis, dan sebagainya. Karena itu, kita perlu mengembangkan logika juga secara luas. Semoga logika-futuristik ini memberi manfaat yang besar bagi kita semua dan bagi masa depan seluruh alam semesta.

Sinopsis

Saya yakin, penuh harap, logika-futuristik akan membantu Anda menjadi sukses, bahagia, dan bermakna. Apa pun profesi Anda, atau situasi Anda, gunakan logika-futuristik untuk menaiki tangga sukses. Lebih dari itu, logika-futuristik sangat lincah. Sehingga, logika-futuristik menjamin Anda untuk hidup bahagia. Barangkali paling penting, logika-futuristik mengarahkan Anda menjalani hidup penuh makna.

Sejak masa awal lahirnya, logika mencerahkan peradaban umat manusia. Aristoteles berhasil merumuskan logika-bahasa (proposisional), perkembangan dari logika-cahaya Plato, yang mampu membedakan kebenaran dengan kesesatan. Pengetahuan manusia berkembang pesat dengan landasan logika yang kokoh.

Hanya berselang beberapa tahun dari Aristo, logika menghadapi paradoks teramat berat: paradoks Pyrrho. Paradoks berpuncak pada abad 20, yaitu, paradoks Godel. Paradoks-paradoks ini menjadi tantangan bagi logika dan tidak terpecahkan. Saya mengusulkan logika-futuristik sebagai solusi yang tuntas dan terbuka terhadap dinamika.

Dalam perspektif sejarah, kita mengkaji logika obyektif dan logika subyektif. Logika obyektif terbentang sejak Aristo, Boole, Frege, sampai logika kategori di abad 21 ini. Sementara, logika subyektif, kita mengambil contoh logika-visi-iluminasi (Suhrawardi), logika-dialektika (Hegel), dan logika-destruksi (Heidegger). Bagaimana pun, logika-subyektif tetap membahas logika-obyektif dengan kritis. Pada gilirannya, logika-futuristik mengambil alih logika-obyektif dan logika-subyektif sampai titik terjauhnya.

Logika-futuristik masih terlalu muda. Karena itu, saya mengajak ke semua pihak untuk bersama-sama mengembangkan logika-futuristik. Saya yakin, logika-futuristik akan memberi kontribusi besar bagi kemanusiaan dan alam raya.

1. Logika Seberapa Logis

Membahas logika dari perspektif sejarah logika. Aristoteles adalah bapak logika yang berhasil meletakkan fondasi logika, termasuk, silogisme. Saya menggeser kekuatan silogisme menjadi implikasi Boolean (digital) yang kreatif. Logika Frege adalah inovasi logika relasional, kausalitas aritmetika, di awal abad 20. Dari akhir abad 20 sampai awal abad 21 ini, berkembang logika kategori yang sangat kokoh. Saya mengusulkan logika penuh sebagai perkembangan mutakhir.

Dari arah yang berbeda, Hegel mengembangkan logika dialektika sebagai sistem metafisika. Dari sudut pandang dialektika, logika itu sendiri berkembang dinamis sebagaimana dinamika metafisika. Sementara, Suhrawardi mengembangkan logika visi iluminasi yang mendasarkan kebenaran logika kepada bersatunya cahaya subyek dengan cahaya obyek. Suhrawardi, dengan sangat mengagumkan, berhasil menyederhanakan seluruh sistem silogisme manjadi satu bentuk saja.

Bagian 2: Problem dan Solusi Logika

2. Logika Futuristik
3. Problem Filsafat Sains
4. Matematika Itu Paradoks
5. Filsafat Sains Einstein
6. Quantum Entanglement
7. Wacana Quantum

Bagian 3: Sesat Pikir

8. Falasi Logika

Epilog

Index

Aristoteles, Plato, Ibnu Sina, Leibniz, Newton, Suhrawardi, Ghazali, Aljabar, Boole, Hegel, Heidegger, Sadra, Popper, Searle, Marx, Kuhn, Lakatos, Feyerabend, Quine, Russell, Einstein, Bohr, Rovelli, Dimitri, Mahayana, Budi, Sulistyo, Armahedi, Mahzar, Bambang, Yasraf, Piliang, Derrida, Deleuze, Mir Damad, Iqbal, Sunan, Kalijaga, Badiou, Vattimo, Appiah, Nussbaum, Ibnu Arabi, Rawls, Husserl, Sartre, Berkeley, Descartes,

Yunani, kuno, Islam, Timur, Barat, Indonesia, Analytic, continental, modern, posmodern, kontemporer, hermeneutik, interpretasi,

Logika, filsafat, filosofi, matematika, sains, seni, agama, kebenaran, tuhan, tokoh, politik, ekonomi, demokrasi, ontologi, fenomenologi, fisika, teknologi, AI, artificial, intelligence, teori, konsep, ide, spirit, materi, gravitasi, quantum, relativitas, elektromagnet, gelombang, rumus, formula, falasi, berpikir, terbuka, dinamis,

Pembuka Realita: Pintu Cinta Sepanjang Masa

Anugerah Semesta Bersama Cinta
Hidup Bahagia Bersama Cinta
Logika Cinta di Seluruh Semesta
7 Pintu Akal: Membuka Cinta Sepanjang Masa

Wajar, Anda ingin hidup bahagia. Wajar, Anda ingin sukses di dunia, di berbagai belahan dunia. Wajar, Anda berhasil meraih itu semua. Tetapi, bagaimana caranya?

Berikut ini adalah tips ringan untuk membantu Anda meraihnya. Atau, tips ringan ini sebenarnya adalah pemikiran yang mendalam dan meluas menembus seluruh semesta. Yang jelas, tips ringan ini membantu Anda untuk sukses bahagia di mana saja dan kapan saja.

Pintu Kaca 0: Tembus Memandang

1. Anugerah Semua
2. Peka Menjadi Fakta
3. Logika Masa
4. Modifikasi Teknologi Media
5. Pakar Demokrasi
6. Urip Iku Urup
7. Warisan Sejarah Cinta

Ide utama untuk hidup bahagia adalah hidup dengan berpikir terbuka. Ingatkah Anda ketika jatuh cinta? Hidup begitu bahagia bersama kekasih Anda. Setiap gerak-gerik kekasih menambah bahagia. Kekasih tersenyum, Anda bahagia. Kekasih cemberut, membuat Anda bahagia. Mengapa? Karena Anda berpikir terbuka bersama cinta kepada kekasih Anda.

Barangkali Anda bisa mengingat-ingat masa kecil bahagia bersama ibu Anda? Sebagai bocah, kita berpikir terbuka mencintai dan menerima cinta dari ibu. Ketika ibu ke pasar, kita menunggu-nunggu kapan ibu datang. Ibu datang, kita sangat bahagia. Ditambah, ibu membawa kue kesukaan kita. Makin bahagia. Itulah diri kita yang bahagia.

Hidup memang bahagia bersama cinta. Tetapi, realitas tak seindah yang dibayangkan pikiran. Karena, realitas lebih indah dari sekedar bayangan pikiran. Kita hidup sebagai seorang anak manusia, di saat yang sama, kita adalah warga negara, warga dunia, bahkan warga semesta. Kita berhadapan dengan urusan ekonomi bahkan sampai urusan politik negara atau dunia. Semua itu adalah masalah bagi kita. Sekaligus, medan bagi kita meraih bahagia menjadi manusia dengan cara berpikir terbuka.

1. Anugerah Semua [Kaca 1: Anugerah]

Paling penting dari semua pikiran adalah berpikir terbuka bahwa semua adalah anugerah. Anda sedang membaca tulisan ini adalah anugerah. Anda sedang berpikir untuk memperbaiki kehidupan adalah anugerah. Bahkan, bencana dan kesulitan adalah anugerah bagi kita untuk lebih kuat berpikir terbuka. Kehidupan sehari-hari adalah anugerah. Mengejar impian adalah anugerah. Waktu senggang tanpa kegiatan adalah anugerah.

Anugerah semua dan semua memang anugerah.

Tetapi, bukankah itu cara berpikir yang terlalu optimis? Benar, berpikir optimis itu sendiri adalah anugerah. Ketika Anda berpikir pesimis, sama saja, itu juga anugerah. Memang, meski semua yang ada adalah anugerah, tidak boleh menjadikan kita bermalas-malasan. Karena kita sudah mendapat banyak anugerah, maka, kita bertanggung jawab untuk mendaya-gunakan semua yang ada. Anugerah menuntut kita untuk berpikir terbuka.

2. Peka Menjadi Fakta [Kaca 2: Peduli]

Rasa peduli kita menentukan mana fakta obyektif dan mana fakta subyektif. Ketika kita peka terhadap semua anugerah yang ada, maka, semua anugerah itu menjadi fakta bagi kita.

3. Logika Masa [Kaca 3: Waktu]

Masa depan, future, adalah yang paling utama. Future memberi makna terhadap masa kini dan masa lalu. Karena future adalah bebas, maka, Anda bebas untuk memilih hidup Anda bahagia. Pilihan hidup Anda untuk masa depan, future, akan memberi makna kepada masa lalu, past. Kemudian, arahan future dan bekal past, mendorong Anda untuk memodifikasi masa kini menuju masa depan. Bahagia adalah hak kita. Sukses adalah hak kita. Masa depan bahagia adalah anugerah untuk kita semua.

4. Modifikasi Teknologi Media [Kaca 4: Teknologi]

Teknologi lebih dari sekedar alat bagi manusia. Teknologi adalah anugerah bagi manusia untuk meraih masa depan lebih bahagia. Tetapi, memang benar, teknologi bisa menjadi penjara bagi seluruh umat manusia.

Kita perlu berpikir terbuka untuk modifikasi teknologi agar membantu umat manusia untuk berpikir terbuka.

5. Pakar Demokrasi [Kaca 5: Demokrasi]

Pada tahap tertentu, kita akan berhadapan dengan banyak orang yang berbeda-beda kepentingan. Mereka bisa saja mengaku membela kebenaran, membela keadilan, dan berjuang mewujudan kebaikan bersama. Tetapi mengapa bisa berbeda-beda? Bahkan, mengapa bisa saling berlawanan?

Demokrasi menjadi salah satu alternatif terbaik. Memberi kebebasan kepada setiap orang mengungkapkan pendapat. Mendengarkan semua pendapat yang ada. Kemudian, mengambil keputusan secara demokratis.

Di sisi lain, kita mengetahui bahwa setiap manusia adalah unik. Masing-masing orang memiliki kelebihan yang tidak dimiliki orang lain. Sehingga, ada orang yang pakar di bidang tertentu, misal, pakar kedokteran, teknologi, pendidikan, agama, seni, dan lain-lain. Suara seorang pakar, tentu, berbeda bobot dengan yang bukan pakar. Akibatnya, kita perlu menempatkan suara pakar dengan tepat dalam suasana demokratis.

6. Urip Iku Urup [Kaca 6: Urup]

Konsep sederhana dan praktis,”Urip Iku Urup.” Hidup itu menyala. Satu konsep penting ini bisa mengantarkan setiap orang meraih sukses dengan berpikir terbuka.

Urip. Hidup. Yang paling utama bagi kita adalah hidup dan menjaga hidup. Kita bertanggung jawab menjaga hidup diri sendiri dan orang-orang terdekat. Kemudian, menjaga hidup setiap orang bahkan ikut berpartisipasi menjaga kelestarian lingkungan hidup. Kita bisa memandang bahwa alam semesta ini juga hidup, sehingga, kita ikut menjaga alam semesta dan alam semesta menjaga kita. Takdir kita untuk hidup dan saling menghidupi.

Iku. Itu. Yaitu. Konkret. Hidup itu konkret. Kita hidup perlu makan, pakaian, dan tempat tinggal. Sederhana saja. Berfoya-foya justru tidak konkret. Berfoya-foya hanya akan menipu diri sendiri. Hidup konkret bisa kita jalani dengan cara hidup sederhana. Kemudian, membantu orang lain untuk bisa hidup konkret, yang layak, meski sederhana.

Urup. Menyala. Hidup itu menyala. Memberi cahaya kepada orang lain. Memberi penerangan kepada alam sekitar. Berbagi kepada sesama. Hidup menyala juga bermakna hidup yang penuh semangat, penuh gairah, dan penuh cahaya kebaikan.

7. Warisan Sejarah Cinta [Kaca 7: Sejarah]

Kita pasti akan pergi. Kita pasti akan mati. Apa warisan yang ingin Anda tinggalkan? Warisan cinta adalah yang utama.

Catatan: Berpikir Terbuka dengan Membuka Pintu

Saya terpikirkan untuk menggunakan istilah “pintu” sebagai cara untuk berpikir terbuka. Saya menyusun tujuh “pintu” untuk membuka pikiran. Meski pun, sejatinya, ada lebih banyak pintu untuk membuka pikiran agar berpikir terbuka. Saya kira istilah “pintu” selaras dengan tujuan membuka pikiran.

Menariknya, istilah “pintu” adalah terjemahan harfiah dari “bab”. Sehingga, bab 1 bisa kita sebut sebagai pintu 1. Umumnya, kita memahami “bab” sebagai “chapter” yang bermakna bagian utama dari suatu buku. Pada kesempatan ini, saya mengembalikan makna “bab” ke terjemahan harfiahnya yaitu “pintu.”

Selamat membuka pikiran. Selamat membuka realita dengan berpikir terbuka melalui pintu-pintu yang tersedia. Membuka pikiran dan membuka realita.

Di antara masing-masing pintu, saya menyelipkan kaca. Karena tembus pandang, semoga kaca-kaca ini memudahkan kita untuk membuka realita.

Epilog

Diri kita adalah anugerah yang berupa manusia. Anugerah yang berada dalam rangkulan Maha Awal dan Maha Akhir; dalam rangkulan Maha Dahir dan Maha Batin; anugerah yang selalu rindu menuju lebih sempurna; anugerah yang, pada akhirnya, mati untuk menjalani hidup penuh arti.

Sejak lahir, kita hidup dalam lingkungan keluarga; dalam rangkulan kasih-sayang ibu; dalam lindungan interaksi alam sekitar. Realitas jelas bagi kita, manusia selalu hidup bersama di dalam dunia ini. Sahabat adalah anugerah; dunia adalah anugerah. Tuhan adalah sumber anugerah.

Tidak bisa egois; tidak bisa hidup seorang diri; tidak bisa eksklusif. Anda bisa eksis hanya karena anugerah melalui ibu dan ayah; karena anugerah melalui dunia sekitar; karena anugerah melalui kehidupan sosial. Tiba saatnya, bagi kita, untuk berbagi anugerah kepada sesama. Makin banyak anugerah yang Anda sebarkan maka makin banyak pula anugerah yang Anda terima.

Buku kecil yang Anda baca ini, Pembuka Realitas Futuristik, adalah seri kedua dari trilogi Futuristik. Buku pertama, berjudul Logika Futuristik, telah terbit. Buku ketiga, berjudul Principia Realita, masih dalam proses penulisan dan penerbitan. Buku kedua ini lebih ringan dengan fokus kepada tema-tema praktis.

Pintu 1 meyakinkan bahwa seluruh realitas adalah anugerah. Pintu 2 meyakinkan peran penting sikap peduli; semua menjadi penuh arti hanya karena ada peduli. Pintu 3 membahas logika masa sampai tataran praktis; peduli terhadap posibilitas; tanggung jawab terhadap freedom; dan komitmen penuh terhadap masa depan dengan selaras di masa kini. Pintu 4 membekali kita hidup damai bersama teknologi.

Sampai 4 pintu, seperti di atas, kita sudah berhasil membuka realitas futuristik dengan baik. Tetapi, kehidupan sosial memberi tantangan futuristik yang lebih besar. Pintu 5 mengajak kita menjadi pakar demokrasi; mengembangkan kehidupan bersama dengan saling memahami. Pintu 6 meringkas seluruh pembahasan dengan ajaran lama “Urip iku urup.” Pintu 7 benar-benar mengajak kita membuka realitas futuristik sampai titik terjauh: warisan dan perjalanan kita setelah mati.

Saya berharap buku kecil ini menjadi kontribusi berarti bagi Anda dan bagi seluruh alam raya.

Kata Pengantar

Di mana-mana berlimpah anugerah. Tetapi, mengapa banyak orang hidup susah?

Buku kecil yang ada di tangan Anda ini memberi solusi terhadap pertanyaan penting itu. Terdapat tujuh pintu dalam diri setiap manusia. Ketika Anda membuka pintu-pintu itu maka anugerah mengalir deras ke dalam diri Anda. Selamat membaca!

Puji syukur kepada Allah atas limpahan rahmat yang terus-menerus sehingga buku ini bisa terbit. Terima kasih kepada seluruh keluarga besar paman APIQ, baik di dunia nyata mau pun maya, yang memberi dukungan begitu besar. Interaksi nyata sesama anggota keluarga semesta adalah pengalaman sangat berharga. Interaksi melalui dunia maya menambah jangkauan lebih luas bagai tanpa batas.

Terima kasih spesial kepada penerbit Nuansa di antaranya Pak Nurul dan Mas Taufan. Atas support dan editing oleh Pak Nurul, buku ini bisa terbit dalam bentuk yang terbaik.

Buku ini adalah buku kedua dari trilogi Realitas Futuristik. Selamat menikmati.

Bandung, November 2023

Agus Nggermanto / Paman APIQ