Epilog: Takwa Membentang

Yang paling penting dari takwa adalah akhirnya. Yang paling penting adalah buahnya. Yang paling penting adalah hasilnya. Jadi, apa buah dari takwa Anda?

Akhir terbaik dari takwa adalah husnul khatimah. Kita, jelas, sedang menapaki waktu menuju mati. Kita perlu mempersiapkan segalanya untuk meraih husnul khatimah. Apa yang Anda siapkan untuk husnul khatimah?

“Demi waktu… sungguh akhir itu lebih baik bagimu dari pada awal.”

Budi adalah seorang guru sekolah dasar biasa. Ketika melihat perkembangan media sosial, Budi terpikir untuk membuat konten edukasi dan disebar melalui media sosial. Awalnya, Budi membuat konten edukasi benar-benar tulus untuk berbagi ilmu pengetahuan. Konten edukasi dari Budi ini mulai disukai banyak orang setelah tersebar lebih dari 5 tahun. Tetap saja, Budi konsisten membuat konten edukasi meski tidak menghasilkan uang yang berarti meski sudah bertahun-tahun.

Di sisi lain, Budi memiliki anak-anak yang mulai remaja. Kebutuhan biaya pendidikan dan tempat tinggal makin membesar. Tetangga menawarkan rumah agar dibeli oleh Budi; boleh diangsur tidak harus tunai. Budi memang membutuhkan rumah itu yang ukurannya sekitar 100 meter persegi; tidak terlalu besar tetapi cukup untuk Budi dan keluarga. Budi memaksakan diri untuk membeli rumah itu dengan simpanan uang yang ada sekedar untuk tanda jadi. Tetangga setuju dan mempersilakan Budi untuk menempati rumah itu. Masih ada tanggungan sekitar 100 juta bagi Budi untuk melunasi rumah itu.

Mengapa tetangga percaya pada Budi untuk membeli rumah itu hanya dengan uang muka, tanda jadi, yang tak seberapa? “Karena Budi adalah orang yang bisa dipercaya,” jawab tetangga mudah saja.

Waktu berbulan-bulan berlalu. Budi ingin melunasi pembelian rumah yang sudah dia tempati bersama keluarga. Ia berusaha ke sana kemari. Uang 100 juta terlalu besar bagi Budi untuk mendapatkannya. Ia sekedar guru honorer yang biasa-biasa saja. Tetangga tidak menagih Budi tetapi Budi ingin menepati janji segera melunasi. Bagaimana caranya? Budi belum menemukan solusi.

Di luar negeri sedang terjadi perubahan ekonomi besar-besaran. Budi tenang-tenang saja. Youtube mengganti pimpinan dengan pimpinan baru yang peduli dengan program pendidikan. Pimpinan baru ini menghubungi Budi menawarkan kerja sama. Budi diminta untuk membuat konten edukasi dalam jumlah tertentu untuk diunggah (upload) di youtube. Tentu, Budi setuju saja. Selama ini, Budi sudah mengunggah konten edukasi seperti itu bahkan tanpa dibayar.

Kerja sama berjalan lancar. Budi membuat konten edukasi sesuai kesepakatan kemudian menerima suntikan dana segar beberapa ribu dolar. Budi menukar dolar menjadi rupiah dan lebih dari yang dibutuhkan untuk melunasi pembelian rumah tetangga.

Awalnya, Budi dengan tulus berbagi konten edukasi sebagai sebuah bentuk takwa. Akhirnya, Budi memperoleh bonus bisa melunasi pembelian rumah dengan jalan yang sama: berbagi konten edukasi.

Sudah banyak bukti bahwa akhir adalah lebih baik dari pada awal. Baik bukti empiris sehari-hari, bukti ilmiah, sampai bukti dalil-dalil ayat suci saling menguatkan. Tetapi, manusia mudah terjebak dengan salah pikir. Tidak benar bahwa awal lebih buruk dari akhir. Tidak benar juga bahwa proses lebih buruk dari akhir. Yang lebih benar, kebaikan takwa terbentang dari akhir, awal, dan prosesnya.

Takwa membentang dari tujuan akhir (husnul khatimah) menyinari masa lalu (hikmah awal) untuk mensyukuri anugerah masa kini (istiqomah di jalan takwa).

Jika satu bulan terdiri 30 hari, maka, Anda bisa membaca 30 renungan takwa tepat satu hari dengan satu renungan. Jika ada hari ke 31, maka, Anda bisa membaca epilog dan prolog. Kemudian, proses takwa terus berlangsung. Setiap hari, setiap bulan, dan setiap tahun. Semoga berlimpah berkah untuk kita semua.

“Dan perhatikan oleh dirimu apa yang telah engkau lakukan untuk hari esok.”

Prolog: Takwa Semesta

Takwa adalah wajib. Setiap orang wajib takwa. Termasuk, Anda wajib takwa. Saya juga wajib takwa. Orang takwa mendapat kebaikan dan memberi kebaikan. Sebaliknya, orang tidak takwa adalah dosa. Mereka perlu untuk menjadi takwa.

1. Takwa Personal
2. Takwa Prestasi
3. Takwa Semesta

Lebih jauh, kita butuh takwa. Bukan hanya wajib, kita perlu takwa sebagai mana kita perlu udara, makan, dan minum untuk hidup ini. Setiap manusia yang hadir di dunia ini butuh takwa. Dengan takwa, kita memberi kebaikan kepada orang lain dan alam semesta. Pada gilirannya, orang lain berbuat baik kepada kita. Terjadilah proses saling memberi dan menerima kebaikan. Kita membutuhkan takwa itu. Kita membutuhkan untuk saling memberi dan menerima kebaikan.

1. Takwa Personal

Awalnya, takwa bersifat personal. Takwa adalah tugas setiap orang sebagai individu. Kita wajib sholat dan puasa, misalnya, sebagai bentuk takwa. Dengan disiplin sholat, kita menjadi terbiasa untuk berbuat baik secara konsisten dan tepat waktu. Pada gilirannya, akhirnya, takwa berdampak secara sosial. Sikap konsisten berbuat baik dan tepat waktu itu terbawa ketika kita kerja. Sehingga, dalam dunia kerja, orang yang takwa berhasil mengukir prestasi penuh makna.

Takwa personal baru setengah jalan. Kita perlu menyempurnakan 100% dengan takwa sosial, salah satunya, berupa prestasi kerja. Pandangan yang lebih tepat, barangkali, bukan saling melengkapi antara takwa personal dengan takwa sosial, tetapi, saling menyempurnakan. Takwa personal, misal sholat, adalah takwa 100% dalam dirinya sendiri. Kemudian, menguatkan takwa sosial, misal meraih prestasi di dunia kerja. Takwa sosial itu sendiri juga sudah sempurna 100%. Tetapi, karena orang tersebut sudah biasa sholat, maka, takwa sosialnya menjadi lebih bermakna. Pada gilirannya, prestasi di dunia kerja ini akan menguatkan kualitas sholat berikutnya. Dan seterusnya, takwa personal dan sosial saling menyempurnakan.

Realitasnya, sering terjadi sebaliknya. Maksudnya, takwa personal saling bertentangan dengan takwa sosial. Misal, sholat justru menghalangi seseorang untuk meraih prestasi kerja dalam industri minuman keras. Atau, pandangan takwa yang memerintahkan kita menjauhi riba menyebabkan orang tertentu sulit berprestasi dengan bekerja di bank konvensional. Benar, kita memnghadapi problem-problem semacam itu. Secara bertahap, kita membahas dalam tulisan demi tulisan. Secara singkat, kesimpulannya, takwa mengajak kita bersikap bijak dan, sekaligus, mengukir prestasi.

2. Takwa Prestasi

Pengertian umum takwa adalah menjalani perintah dan menjauhi larangan Allah. Masih ada makna takwa yang makin memperjelas makna. Takwa sering bermakna sebagai taat, patuh, takut, tunduk, tulus, baik, dan lain-lain. Saya sengaja menambahkan makna takwa sebagai prestasi di jalan ilahi.

Takwa adalah meraih prestasi di jalan ilahi dengan cara menjalankan perintah dan menjauhi larangan. Makna takwa ini tetap sejalan dengan makna takwa secara umum.

Makna prestasi perlu kita tambahkan karena takwa memang mengajak kita untuk berprestasi personal dan sosial. Dengan demikian, tidak ada pertentangan antara dunia takwa dengan dunia kerja. Dunia takwa dan dunia kerja adalah seiring sejalan.

3. Takwa Semesta

Takwa personal dan takwa sosial mengajak kita melangkah lebih jauh ke takwa semesta universal. Kita perlu berbuat baik kepada diri sendiri, kepada orang lain, dan kepada seluruh alam raya. Kepada tumbuhan, kita perlu berbuat baik. Kepada anjing pun, kita perlu berbuat baik. Dan, kepada batu, air, serta udara, kita perlu berbuat baik.

Apakah Anda merasakan krisis iklim? Saat ini, ketika musim panas, panasnya terasa membakar jiwa raga. Memang benar, panas itu mengakibatkan kebakaran hutan ribuan hektar. Sebaliknya, ketika musim dingin, dinginnya begitu mencekam.

Banyak orang tidak berbuat baik terhadap alam. Banyak orang, justru, merusak alam. Akibatnya, terjadi kerusakan alam dan krisis iklim termasuk cuaca ekstrem. Kita perlu berbuat baik kepada seluruh alam semesta, yaitu, takwa semesta.

Saya menulis “30 Renungan Takwa Sepanjang Masa” agar bisa menjadi teman diskusi untuk meningkatkan takwa personal, sosial, dan universal. Sengaja tersedia 30 renungan agar bisa menjadi bahan bacaan setiap hari satu artikel renungan. Genap satu bulan, bisa kembali kepada renungan awal.

Ketika menulis, saya berada dalam konteks bulan Ramadhan. Tetapi, kita bisa memanfaatkan renungan-renungan ini untuk konteks bulan lain baik komariah (hijriyah) mau pun syamsiah (masehi). Semoga renungan-renungan ini memberi manfaat besar bagi kita semua.

Sapiens Masa Depan

Sapiens, kita sebagai manusia, adalah makhluk yang lemah. Tetapi, sapiens menguasai seluruh dunia. Tangan kita kalah kuat dengan cakar singa. Gigi kita kalah kuar dengan taring harimau. Badan kita kalah kuat dengan badan gajah. Mata kita kalah tajam dengan mata elang. Meski demikian, mengapa manusia bisa menguasai dunia?

Awal sejarah, hanya ada sedikit manusia. Kemudian, berkembang pesat ke seluruh penjuru. Ketika ada gangguan, misal pandemi covid, manusia menemukan cara untuk tetap selamat. Mengapa manusia bisa berperilaku seperti itu, sehingga, mendominasi dunia?

Perang nuklir, kini, mengancam umat manusia. Perang Rusia-Ukraina masih membara. Perang nuklir hanya bisa dilakukan antara sapiens lawan sapiens, manusia lawan manusia. Jika terjadi, perang nuklir bisa mengakhiri eksistensi umat manusia. Manusia habis, mati semua. Bumi tidak lagi bisa dihuni manusia. Manusia musnah. Di bumi, hanya bisa hidup beberapa jenis tumbuhan dan hewan semacam kecoa atau tikus. Sang penakluk dunia itu, sapiens, akhirnya berakhir juga.

Tidak semudah itu, kawan. Sapiens tidak mudah dimusnahkan. Saat ini, terjadi lobi-lobi politik, dan bermacam-macam usaha, agar perang nuklir tidak terjadi. Atau, jika terjadi, perang nuklir bisa diisolasi sehingga dampaknya terbatas. Jadi, sapiens selamat. Sapiens tetap menguasai dunia.

Bagaimana sapiens bisa tetap menguasai dunia seperti itu?

1. Bukan karena Otak Manusia
2. Komitmen Masa Depan
3. Masa Depan Semesta

Pengantar Penulis: Cita-Cita

Sejak muda, saya bercita-cita untuk menulis buku tentang logika. Megapa? Karena logika adalah ilmu berpikir benar. Saya berharap, ketika orang-orang berpikir dengan benar, maka, akan berdampak bisa menjalani hidup dengan benar juga. Secara keseluruhan, hasilnya, masyarakat lebih berkembang menjadi masyarakat adil makmur. Secara personal, masing-masing orang berhasil meraih cita-cita dan hidup bahagia.

Tetapi, hampir 30 tahun waktu berlalu, saya tidak berhasil menulis buku tentang logika. Akibatnya, masyarakat menjadi tidak adil makmur? Benarkah begitu?

Syukurlah, pada tahun 2023 ini, saya berhasil menulis buku logika, yaitu, logika-futuristik. Saya berharap, buku logika ini, memberi kontribusi kepada masyarakat untuk mencapai adil makmur. Secara pribadi, bagi Anda dan bagi saya, buku logika-futuristik membantu setiap orang untuk meraih cita-cita dan hidup bermakna. Selamat membaca!

[Update: Futuristik 1 terbit 2023; Futuristik 2 terbit 2024; dan Futuristik 3 terbit 2025]

Saya menjual Buku Logika Futuristik seharga Rp90.000. Ayo beli di Shopee! https://shp.ee/9h7r5ez

Orisinalitas

Saya menghadapi beragam rintangan selama 30 tahun. Yang paling besar adalah rintangan orisinalitas, keaslian. Saya hanya bisa menulis sebuah buku, jika, buku tersebut asli dengan orisinalitas yang tinggi. Sementara, tema logika sudah dibahas luas sepanjang sejarah. Saya tidak menemukan sisi orisinalitas dari sebuah buku untuk dituliskan lagi.

Aristoteles menulis buku logika dengan lengkap lebih dari 2000 tahun yang lalu. Kemudian, logika makin sempurna dengan pengembangan-pengembangan oleh Stoic, Ibnu Sina, Leibniz, Boole, Frege, Russell, sampai Lane. Dari sisi fundamental, logika berkembang melalui kajian tokoh-tokoh Suhrawardi, Hegel, dan Heidegger.

Suhrawardi mengawali kritik logika Aristoteles paling canggih dalam sejarah sekitar 1000 tahun yang lalu. Suhrawardi mengkritik bahwa logika yang ada tidak akan mampu menghasilkan pengetahuan dengan metode definisi esensial berupa genus dan diferensia. Bagi mereka yang sudah memahami genus dan diferensia, mereka tidak perlu logika karena sudah paham. Sementara, bagi mereka yang tidak paham genus dan diferensia, maka, mereka tetap saja tidak paham. Jadi, logika gagal memenuhi tugasnya.

Suhrawardi mengusulkan solusi berupa logika visi-iluminasi, yang, saya bahas dalam buku logika futuristik ini. Sebelum memberi solusi, dengan cerdik, Suhrawardi berhasil mereduksi beragam bentuk silogisme menjadi hanya satu bentuk silogisme valid. Ini adalah prestasi seorang ahli logika yang luas biasa.

Hegel melakukan kritik logika secara frontal sekitar 200 tahun yang lalu. Logika bukan bagian dari filsafat, bukan pula alat berpikir bagi filsafat. Logika adalah filsafat itu sendiri. Logika adalah sistem metafisika yang lengkap. Tetapi, Hegel membalik beragam prinsip logika, sehingga, orang awam sulit sekali memahami logika Hegel.

Pertama, Hegel menjunjung tinggi prinsip kontradiksi. Sementara, logika klasik menolak kontradiksi. Logika klasik justru menjunjung prinsip non-kontradiksi. Saya mengamati ada perpedaan perspektif di sini. Hegel memastikan bahwa setiap esensi akan berkontradiksi dengan eksistensi sehingga terbentuk becoming. Sedangkan, logika klasik memandang esensi tidak mungkin berkontradiksi dengan esensi dirinya.

Kedua, Hegel memandang logika bersifat dinamis mengikuti dinamika realitas. Sementara, logika klasik sudah dipastikan benar secara apriori. Sehingga, realitas yang harus mengikuti kaidah logika klasik secara apriori agar bernilai benar. Saran Hegel, amati realitas dengan cermat, kemudian, susun logika dengan baik.

Boole, hampir bersamaan dengan masa Hegel, mengkritik logika karena setiap proposisi mengandung makna ganda yang ambigu. Boole menyusun logika simbolik yang hanya menggunakan simbol 0 dan 1, maka, terciptalah logika digital biner atau logika Boolean. Logika Boolean berhasil menghilangkan makna ganda sehingga logika bersifat eksak, pasti. Lebih dari itu, logika Boolean juga menyediakan prosedur untuk menciptakan proposisi logika paling efisien, misal, dengan Karnaugh Map.

Kritik terbesar terhadap logika terjadi sekitar 100 tahun yang lalu. Pertama, kritik fundamental logika dari Heidegger. Logika mengklaim sebagai ilmu berpikir benar. Atau, logika mengklaim bahwa logika adalah benar. Atas dasar apa logika menjadi benar? Logika menjadi benar berdasar logika? Bukankah itu sombong? Mengklaim kebenaran diri atas dasar diri sendiri? Heidegger mengusulkan fondasi logika adalah metafisika. Tetapi, apa fondasi dari metafisika? Fondasi metafisika adalah ontologi (fundamental). Apa fondasi dari ontologi? Pertanyaan bisa berlanjut tanpa henti. Heidegger berhasil menjawab pertanyaan ini dengan baik. Hanya saja, jawaban Heidegger memang lebih dekat ke kajian ontologi ketimbang kajian logika.

Kedua, kritik Godel yang berpuncak pada paradoks Godel. Setiap sistem logika, sistem formal, pasti antara tidak konsisten atau tidak lengkap. Karakter tidak konsisten ini inheren, bawaan asli, dari setiap sistem logika. Godel membuktikan paradoks ini tanpa interpretasi bahasa sama sekali. Godel hanya menggunakan “angka-angka” saja. Paradoks Godel terbukti valid, hampir 100 tahun sampai sekarang. Memang karakter tidak konsisten bisa diselesaikan dengan menambahkan teorema, tetapi, akan menghasilkan paradoks baru yang berbeda.

Dengan beragam perkembangan logika seperti di atas, mendorong saya untuk menemukan solusi yang orisinal. Sebuah solusi yang tidak mudah. Alhamdulilah. Logika-futuristik adalah solusi yang kita butuhkan.

Implikasi

Saya kira strategi Suhrawardi dengan menyederhanakan silogisme menjadi hanya satu bentuk adalah sangat bagus. Kemudian, melakukan kritik dan rekomendasi solusi.

Dengan strategi yang sama, saya mengusulkan setiap proposisi logika bisa diubah ke bentuk implikasi. Sehingga, kita mudah menguji kebenaran, validitas, setiap proposisi implikasi tersebut. Secara intuitif, kita bisa melakukan transformasi setiap proposisi menjadi implikasi. Secara formal, kita bisa melakukan dengan bantuan logika Boolean yang dikembangkan, misal, sistem digital.

Selanjutnya, kontribusi utama dari logika-futuristik adalah menempatkan aspek future menjadi paling utama. Tentu saja, dengan tetap mempertimbangkan aspek present dan past.

Karena aspek masa depan, future, begitu dominan maka logika-futuristik dapat diterapkan secara luas. Logika-futuristik bisa untuk menyelesaikan problem matematika, sains, dan sampai problem sosial demokrasi. Logika-futuristik memberi solusi dengan tuntas, sekaligus, berupa solusi dinamis. Kita tentu akan mencapai solusi masa depan, solusi future. Ketika, kita sampai ke masa depan, saat itu juga, masa depan sudah bergerak ke lebih depan lagi. Jadi, kita harus ikut bergerak ke depan lagi secara dinamis tanpa henti. Solusi dinamis ini, kita kaji lebih dalam di buku logika-futuristik yang ada di hadapan Anda.

Saya berterima kasih sebesar-besarnya kepada semua pihak yang membantu terbitnya buku logika-futuristik. Puji syukur ke hadirat Allah, kami panjatkan atas seluruh anugerah berlimpah sehingga terbit buku logika-futuristik. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita Kanjeng Nabi Muhammad berserta keluarga dan seluruh sahabat pilihan.

Terima kasih kepada seluruh tim penerbit Nuansa yang dengan semangat dan teliti editing sampai penerbitan. Kepada Pak Nurul, terima kasih yang terus memberi arahan ke detil-detil buku logika-futuristik. Kepada Pak Hasyim, terima kasih atas support dan kepercayaan, serta respon yang cepat.

Terima kasih kepada seluruh keluarga besar APIQ yang mendorong dinamika secara online dan offline. Diskusi di kelas kecil APIQ mau pun seminar-seminar APIQ memperkaya wawasan. Diskusi online melalui yotube paman APIQ memunculkan banyak inspirasi baru. Sementara web pamanAPIQ.com menjadi rangkuman beragam diskusi. Dan, diskusi di grup-grup media digital menghangatkan setiap perdebatan.

Terima kasih spesial kepada Pak Dimitri yang memberi banyak pencerahan filosofis (Timur dan Barat). Pak Dimitri meluaskan dan memperdalam wawasan saya dengan mengirimkan puluhan, bahkan ratusan, buku-buku berkualitas tanpa batas. Diskusi di kuliah filsafat sains STEI ITB menjadi puncak diskusi dari beragam perspektif yang saling melengkapi.

Terima kasih istimewa kepada Mas Budi Sulistyo yang membangkitkan kembali, jauh lebih tinggi, tema Quantum Quotient (buku best seller pertama saya dari penerbit Nuansa). Mas Budi memberi update terbaru tema quantum mechanic secara sains dan filosofis. Paradoks-paradoks quantum menjadi pembahasan yang sangat asyik.

Sekali lagi, terima kasih kepada semua pihak yang banyak membantu terbitnya buku logika-futuristik, yang tidak bisa saya sebutkan satu per satu. Semoga buku ini memberi manfaat yang besar bagi kita semua dan generasi masa depan.

Bandung, Januari 2023

Agus Nggermanto (Paman APIQ)

Takwa Futuristik

“Demi waktu… dan sungguh akhir itu lebih baik bagimu dari pada awal.”

Jelas, tegas, dan tuntas bahwa akhir itu lebih baik bagimu dari pada awal. Final yang baik itu lebih baik bagimu. Penutupan yang sempurna itu lebih baik bagimu.

Tetapi sebaliknya tidak benar. Tidak benar bahwa awal lebih buruk dari akhir. Tidak benar juga bahwa proses di tengah sebagai lebih buruk. Yang benar adalah akhir itu lebih baik bagimu dari pada awal.

Karena akhir lebih baik maka terbuka lebih banyak peluang posibilitas luas, freedom yang bebas dan membebaskan, serta komitmen untuk istiqomah di jalan lurus.

1. Akhir Lebih Baik
2. Husnul Khotimah
3. Rahmatan Lil Alamin
4. Jalan Takwa
5. Takwa Digital
6. Rekayasa Takwa
7. Nafas Arrahman

Akhirnya, segala sesuatu akan berakhir. Akhir yang baik adalah tujuan dari segala tujuan. Akhir yang baik memberi nilai kepada masa lalu. Akhir yang baik menuntun perjalanan masa kini menuju puncak tujuan.

1. Akhir Lebih Baik

“Dan perhatikan oleh dirimu apa yang telah engkau lakukan untuk hari esok.”

2. Husnul Khotimah

2.1 Mati Seorang Diri

2.2 Matinya Alam

2.3 Matinya Peradaban

3. Rahmatan Lil Alamin

“Dan tidak Aku utus Kamu kecuali menjadi rahmat untuk alam semesta.”

4. Jalan Takwa

Berprestasi di jalan ilahi dengan menjalankan perintah dan menjauhi larangan.
5. Takwa Digital
6. Rekayasa Takwa
7. Nafas Arrahman

Pintu 5: Pakar Demokrasi

Pada tahap tertentu, kita akan berhadapan dengan banyak orang yang berbeda-beda kepentingan. Mereka bisa saja mengaku membela kebenaran, membela keadilan, dan berjuang mewujudan kebaikan bersama. Tetapi mengapa bisa berbeda-beda? Bahkan, mengapa bisa saling berlawanan?

Demokrasi menjadi salah satu alternatif terbaik. Memberi kebebasan kepada setiap orang mengungkapkan pendapat. Mendengarkan semua pendapat yang ada. Kemudian, mengambil keputusan secara demokratis.

1. Kebebasan
2. Keadilan
3. Sistem Pakar
4. Politik
5. Semesta Masa Depan

Di sisi lain, kita mengetahui bahwa setiap manusia adalah unik. Masing-masing orang memiliki kelebihan yang tidak dimiliki orang lain. Sehingga, ada orang yang pakar di bidang tertentu, misal, pakar kedokteran, teknologi, pendidikan, agama, seni, dan lain-lain. Suara seorang pakar, tentu, berbeda bobot dengan yang bukan pakar. Akibatnya, kita perlu menempatkan suara pakar dengan tepat dalam suasana demokratis.

1. Kebebasan

Kebebasan adalah karakter unik yang hanya dimiliki manusia. Dengan kebebasan itu, manusia wajib bertanggung jawab atas semua pilihannya. Manusia memiliki tanggung jawab moral. Terdapat sistem hukum, natural atau kultural, untuk menjaga kebebasan umat manusia. Kita akan mulai pembahasan dengan diskusi makna kebebasan.

1.1 Bebas Menerima Batas

Manusia itu bebas. Manusia adalah bebas. Bahkan, manusia adalah kebebasan itu sendiri. Manusia terlahir bebas dan mati secara bebas. Tetapi, apa makna bebas?

Bebas adalah bebas terbang ke langit. Bebas menembus bumi. Bebas makan apa saja. Bebas minum apa saja. Bebas wisata ke mana saja. Bebas melakukan apa saja. Bebas mutlak. Tidak bisa bebas seperti itu. Bebas mutlak adalah absurd. Bebas sebebas-bebasnya, seperti khayalan, adalah mustahil.

Kita perlu memahami makna bebas sejati.

Bebas adalah kita bisa menentukan pilihan dalam batas. Beberapa orang bisa keberatan bila ada batas. Bagaimana pun, memang, selalu ada batas. Misal Anda ingin bebas terbang tinggi tanpa batas. Apakah bisa? Tidak bisa. Anda bisa terbang bila saat ini terbatas misal berada di bumi. Jika tidak ada bumi, tidak ada alam raya, Anda tidak bisa terbang. Bebas memang membutuhkan batas.

Saya ingin bebas memilih kerja apa saja, sebebas-bebasnya, tanpa batas. Apakah bisa? Tidak bisa. Misal, Anda bebas memilih 1000 jenis pekerjaan yang tersedia. Tetap saja, pekerjaan itu akan membatasi Anda. Atau, Anda terbatas kepada hanya 1000 pekerjaan yang tersedia.

Saya ingin bebas berimajinasi sebebas-bebasnya. Apakah bisa? Tidak bisa. Karena imajinasi Anda terbatas oleh beberapa pengalaman Anda. Meski imajinasi bisa saja kreatif, tetapi, beberapa unsur penyusun dari imajinasi tetap terbatas oleh pengalaman atau terbatas oleh kemampuan imajinasi itu sendiri.

Demokrasi adalah bebas. Demokrasi menghormati kebebasan. Bagaimana pun, kebebasan demokrasi selalu bebas menerima batas. Dengan kesadaran ini, seluruh anggota masyarakat bisa saling mengajukan pendapat, saling berbagi informasi, dan saling memahami.

Lalu, apa batas-batas dari demokrasi? Salah satu tugas penting dari demokrasi adalah menentukan batas-batas itu. Meski ada batas, batas-batas itu mengantar kita untuk meraih kebaikan yang tak terbatas. Secara umum, semakin sedikit jumlah batas maka semakin bebas kehidupan demokrasi.

1.2 Bebas Berpikir

Setiap orang bebas berpikir apa saja. Kemudian, dia bebas mengungkapkan pemikiran dia yang bebas itu. Kebebasan berpikir adalah keunggulan utama seorang manusia. Manusia bisa berpikir mengarungi masa lalu, menjelajahi sejarah ribuan atau atau jutaan tahun yang lalu. Di saat yang sama, manusia bebas berpikir puluhan tahun ke depan atau ribuan tahun ke depan.

Kebebasan berpikir perlu terus kita pupuk agar makin tumbuh subur.

Setiap orang bebas berpikir, kemudian, bebas berbagi pemikiran demi kebaikan bersama. Pikiran satu orang disempurnakan oleh pikiran orang lain. Pikiran bebas saling berkompetisi untuk menghasilkan pemikiran terbaik. Orang-orang bebas untuk saling komunikasi berbagi informasi. Perkembangan teknologi, terutama media sosial, memudahkan setiap orang untuk saling berbagi.

Mengkritik penguasa, tentu saja, dibolehkan. Saling mengkritik di antara warga juga baik dalam suasana demokrasi. Kritik-kritik menjadi sumber perbaikan di sana-sini. Yang dilarang adalah menyebarkan fitnah dan berita bohong. Karena, fitnah memang tidak berguna. Fitnah merugikan kita semua bahkan bisa meruntuhkan demokrasi.

Untuk di Indonesia, semua pihak perlu hati-hati. Meski kebebasan berpikir dan berpendapat adalah dijamin konstitusi, di saat yang sama, ada aturan tentang pencemaran nama baik dan penodaan agama. Beberapa pemikiran bebas bisa saja melanggar pencemaran nama baik atau penodaan agama. Sehingga, ada resiko masuk tindakan kriminal. Kita perlu berpikir ulang tentang aturan-aturan tersebut. Secara umum, di Indonesia, kebebasan berpikir dan berpendapat terjamin dengan baik.

1.3 Bebas atau Baik atau Benar

Seberapa pentingkah kebebasan itu? Lebih penting mana dengan kebaikan atau kebenaran?

Idealnya, kita merangkul semua: bebas, baik, dan benar. Dalam situasi tertentu, ketiga penilaian di atas bisa saja saling bertentangan. Kita dipaksa untuk membuat urutan prioritas. Secara teoritis, benar pasti membebaskan, membebaskan itu pasti baik, dan kebaikan pasti benar. Karena, masing-masing pihak melakukan penilaian berdasar perspektif terbatas, maka, terjadi perselisihan di antara warga masyarakat. Berikut adalah urutan prioritas yang bisa menjadi pertimbangan.

Benar atau kebenaran adalah konsep paling penting. Hanya saja, klaim kebenaran ini bisa sangat beragam. Apa penentu kebenaran? Aturan sosial, kesepakatan, hukum agama, sains, moral, dan masih banyak lagi. Keragaman perspektif penentu kebenaran ini, memaksa kita untuk menempatkan kebaikan dan kebebasan sebagai kandidat lebih prior.

Kebaikan bersama. Kita tentu sepakat untuk mengutamakan kebaikan bersama. Lebih menarik lagi, umumnya, warga masyarakat bisa mencapai kesepakatan demi kebaikan bersama. Awalnya, misal, ada kebaikan A bersaing dengan kebaikan B. Setelah diskusi demokratis, akan tercapai kesepakatan antara A atau B atau alternatif kebaikan lainnya. Dengan demikian, kita bisa menempatkan kebaikan sebagai paling prioritas.

Tetapi, problem bisa muncul, ketika kebaikan A dan kebaikan B, ternyata menjadi keburukan bagi pihak lain, misal pihak C. Kita perlu hati-hati di sini. Kebaikan perlu menjamin kebaikan bersama secara luas. Kebaikan itu termasuk kebaikan kepada pihak lain, bahkan, kebaikan bagi generasi masa depan. Menariknya lagi, ketika perspektif kebaikan diperluas, dan kriteria kebaikan beragam, umumnya warga akan sepakat untuk mencapai kebaikan bersama.

Bagaimana jika klaim kebaikan itu disertai ancaman? Sehingga, ada pihak lemah yang terpaksa menerima kesepakatan yang diklaim baik, padahal buruk bagi pihak lemah. Diskusi tentang kebaikan perlu menjamin bahwa semua pihak bebas. Semua pihak memiliki kebebasan untuk menentukan sikap. Dengan demikian, kebebasan menjadi paling prioritas?

Kebebasan berpendapat menjamin setiap orang bisa memberi usul yang terbaik. Kebebasan membuka posibilitas, yang awalnya, tampak tidak jelas. Kebebasan mendorong tercapainya kebaikan dan kebenaran.

Resiko dari kebebasan adalah orang menjadi bebas untuk berbuat tidak benar dan tidak baik. Tentu saja, dalam masyarakat demokratis, resiko seperti itu bisa dicegah dalam banyak kasus. Ketika orang bebas akan berbuat tidak benar, maka, warga yang lain bisa mengingatkannya. Begitu juga, ketika orang akan berbuat tidak baik, maka, warga yang lain bisa mengingatkannya.

Lebih menarik lagi adalah kebebasan mudah untuk diklaim oleh setiap warga. Maksudnya, ketika seseorang merasa tidak bebas, maka, dengan mudah dia menuntut kebebasan dalam masyarakat demokratis.

Sampai di sini, rekomendasi prioritas kita adalah kebebasan, kebaikan, dan kebenaran. Lebih-lebih, secara pribadi. Pastikan diri Anda bebas. Kemudian, gunakan kebebasan Anda untuk kebaikan bersama. Dan, pastikan Anda berada di jalan yang benar.

Secara sosial politik, prioritas bisa dibalik. Menegakkan kebenaran dan keadilan adalah tugas utama bagi kita besama. Kita akan membahas tema keadilan di bagian selanjutnya.

2. Keadilan

Dalam kehidupan sosial, keadilan adalah paling utama. Adil lebih utama dari baik, bebas, atau benar. Secara pribadi, orang bisa saja mengutamakan kebaikan atau kebebasan atau kebenaran. Secara sosial, dan politik, keadilan menjadi dasar dari semuanya.

2.1 Hak Rakyat dan Semesta

Anda berhak mendapat keadilan. Orang kaya berhak mendapat keadilan. Orang miskin, sama juga, berhak memperoleh keadilan. Lebih luas, alam semesta berhak memperoleh keadilan.

“Adil adalah memberi hak sesuai hak.”

Mudah kita rumuskan adil itu. Tetapi, tidak mudah untuk sampai tataran praktis. Apa itu hak? Apa ukuran hak? Bagaimana cara menghitungnya?

Pertama, kita perlu memastikan semua pihak, khususnya setiap manusia, memiliki hak yang setara. Orang miskin dan orang kaya, sama-sama, berhak mendapat kebebasan. Pejabat dan orang awam, sama-sama, berhak dihargai sebagai manusia. Profesor dan wong cilik, sama-sama, berhak mengajukan pendapat.

Kedua, setiap manusia berhak untuk berbeda dengan manusia lainnya karena setiap manusia memang unik. Untuk menjaga tetap adil, perbedaan hanya diperbolehkan bila memberi manfaat lebih besar kepada pihak lemah. Sementara, pihak kuat sudah cukup kuat dengan situasi sekarang dan penambahan manfaat secukupnya saja.

Ketiga, sistem sosial perlu menjamin bahwa pihak lemah mampu bergerak dinamis untuk mencapai tingkat menengah atau yang lebih tinggi dalam rentang waktu tertentu. Jika target dinamika ini tidak tercapai, maka, perlu intervensi sosial untuk meperbaiki situasi.

Dengan tiga pandangan di atas, kita, sebagai anggota masyarakat, sadar bahwa setiap orang memiliki hak yang sama untuk meraih cita-cita. Di saat yang sama, masing-masing warga perlu memperhatikan warga lain, terutama, pihak lemah. Kita perlu memastikan kemajuan pihak lemah, yang pada gilirannya, akan mendorong pertumbuhan pihak kuat juga.

2.2 Pihak Lemah

Kita perlu memberi perhatian lebih kepada pihak lemah untuk menjamin mereka mendapat keadilan secara memadai. Karena fokus ke pihak kuat bisa menjadi kamuflase yang berbahaya. Mengapa dia sah jadi presiden? Karena menang pemilu. Mengapa dia layak jadi menteri? Karena ditunjuk oleh presiden. Mengapa dia menjabat anggota dewan? Karena menang suara pemilu. Mengapa dia jadi kaya? Karena sukses bisnis. Mengapa rakyat miskin menjadi miskin? Mengapa dia jadi orang tersisih? Mengapa dia tidak diterima di universitas idaman? Mengapa dia tidak diterima di sekolah terbaik?

Dia bekerja jadi sopir puluhan tahun tetap miskin. Kerja 12 jam sehari, sampai 20 jam sehari, tetap miskin. Sudah kerja keras mengapa tetap miskin? Karena ada orang kaya yang tidak bekerja, justru, makin bertambah kaya. Apa hubungan antara mereka? Mengapa yang miskin makin miskin dan yang kaya makin kaya?

Miskin Meski Kerja

Kita perlu menjawab pertanyaan mengapa sopir yang kerja 20 jam sehari tetap miskin. Tetapi, mengapa pejabat polisi yang tidur dengan perempuan bukan istri tiap hari tetap berlimpah materi.

Pertama, kita perlu apresiasi sang sopir. Dia sudah bekerja keras. Dia memberi penghidupan keluarga secara halal. Dia tetap kerja meski tetap miskin. Sopir yang seperti itu adalah penggerak roda ekonomi. Dan, masih banyak wong cilik lainnya yang menggerakkan roda ekonomi sejati.

Kedua, kita perlu mengutuk pejabat polisi pelanggan prostitusi. Kabarnya, saat ini, pejabat itu sedang ditahan untuk sidang kasus korupsi dan terutama kasus bisnis narkoba. Semoga dia mendapat balasan yang adil. Pejabat-pejabat lain juga perlu tobat, misal, pejabat pajak yang mencuri uang rakyat. Orang-orang kaya, pengusaha sampai artis ibu kota, sama saja seperti kita, perlu tobat semua.

Ketiga, kita perlu mencermati struktur tidak adil yang menyebabkan sopir tetap miskin. Kemudian, mencari cara mengubah struktur tersebut agar menjadi adil. Sopir itu tetap miskin karena, secara struktural, nafkah dia disedot oleh pihak kuat. Nafkah sopir disedot untuk prostitusi pejabat polisi, menambah kaya penguasa-pengusaha, dan membayar artis ibu kota. Untuk mengungkap struktur yang tidak adil itu kita perlu transparansi. Serta fokus bagaimana agar struktur memberi manfaat kepada pihak lemah. Tidak cukup hanya dengan kamuflase pembenaran mengapa pihak kuat boleh menyedot kekayaan sebesar-besarnya. Struktur yang tidak adil perlu dibenahi.

Belajar Meski Tidak Kuliah

Setiap tahun, lebih 500 ribu lulusan SMA tidak sanggup melanjutkan kuliah ke universitas idaman. Mengapa?

Kita bisa menjawab dengan argumen kamuflase yaitu karena 200 ribu lulusan SMA lainnya lebih berprestasi. Sehingga, siswa yang prestasinya lebih baik, maka, lebih berhak menduduki kursi kuliah di universitas. Tentu saja, argumen kamuflase tidak sah. Kita perlu fokus ke pihak lemah, yaitu, mereka yang tidak bisa kuliah meski sudah belajar giat setengah hidup.

Pertama, karena daya tampung universitas tidak memadai. Misal daya tampung universitas adalah 200 ribu kursi. Sementara, calon mahasiswa baru ada 700 ribu orang, maka, yang 500 ribu orang pasti ditolak. Mengapa tidak mencukupi? Karena anggaran untuk membangun universitas disedot, secara struktural, untuk kepentingan lain. Kita bisa memperbaiki situasi dengan memperbaiki struktur sosial sehingga daya tampung universitas memadai.

Kedua, mengapa 500 ribu orang calon mahasiswa yang itu, bukan yang lain, yang ditolak untuk kuliah? Karena sistem seleksi tidak ada tranparansi. Misal, kita ambil contoh jalur undangan prestasi. SMA 3 Bandung selalu mendapat porsi tinggi, siswanya, diterima di universitas bergengsi. Sementara, untuk bisa menjadi siswa SMA 3 harus memakai zonasi, tepatnya radiusi, berdasarkan KK yang asli atau pun yang dibeli. Di sisi lain, ribuan anak di pedesaan Jawa Barat atau pinggiran kota Bandung, tidak punya peluang diterima di SMA 3. Akhirnya, tidak bisa kuliah di perguruan tinggi. Kita perlu merombak sistem seleksi dengan mengutamakan transparansi.

Ketiga, bukan hanya perguruan tinggi tetapi kampus alam raya ini. Kuliah tidak hanya bisa di universitas. Anak-anak kita bisa kuliah di kampus-kampus alternatif misal padepokan, pesantren, universitas online, universitas terbuka dan lain-lain. Banyak orang ragu dengan standar kualitas lulusan mereka. Kita bisa membuat standarisasi sebagai jaminan kualitas, misal, mirip tes TOEFL. Hasil tes ini memberi nilai standar para sarjana. Hasil tes tidak perlu menyatakan calon sarjana sebagai lulus atau tidak lulus. Hasil tes hanya menampilkan nilai standar kesarjanaan. Selanjutnya, masyarakat yang akan memanfaatkan hasil penilaian itu sesuai kebutuhan mereka. Dengan cara ini, 700 ribu calon mahasiswa bisa meraih gelar sarjana.

Karya Meski Tua

Orang-orang yang berusia tua memang orang yang lemah, khususnya, secara fisik. Kita perlu membela orang-orang yang lanjut usia. Kita, bila beruntung, akan menjadi tua juga. Sehingga, kita harus serius memberi perhatian kepada orang tua.

Di usia tua, setiap orang tidak bisa lagi mengandalkan kekuatan fisik. Fokos kerja perlu bergeser kepada karya. Selanjutnya, menuju maha karya. Orang tua, terbukti sudah lebih lama menjalani hidup. Orang muda tidak bisa membeli waktu yang sudah dialami orang lanjut usia. Pengalaman menjalani hidup ini perlu menjadi hikmah bagi seluruh masyarakat luas. Kita akan membahas tema ini di tempat tersendiri.

Poin penting kita, sampai di sini, adalah perlu fokus kepada pihak lemah. Kemudian, mencari cara agar pihak lemah menjadi dinamis bergerak menuju lebih baik. Tidak cukup hanya fokus kepada argumen bahwa pihak kuat berhak atas klaim kemenangan mereka. Pihak kuat sering diuntungkan oleh struktur yang tidak adil. Pihak lemah sering dirugikan. Kita perlu berjuang menciptakan struktur yang adil. Atau, setidaknya, kita menolak struktur yang tidak adil.

2.3 Transparansi

Syarat dasar untuk bisa mewujudkan keadilan adalah transparansi, keterbukaan, dan kejelasan. Dengan transparansi, semua pihak, baik pihak yang kuat mau pun pihak lemah, bisa melihat data dengan baik. Kemudian, mereka bisa mengusulkan, atau menuntut, keadilan. Tentu, akan terjadi banyak pro dan kontra. Berikutnya, perlu terjadi dialog yang demokratis.

Mengapa terjadi korupsi? Karena tidak ada transparansi. Mengapa pejabat tidak dipercaya oleh rakyat? Karena tidak transparan. Mengapa harga-harga menjadi mahal? Karena tengkulak tidak transparan.

Akhir-akhir ini, kita mendengar dugaan korupsi melibatkan pejabat pajak. Bahkan, dugaan korupsi melibatkan lebih banyak penjabat di kemenkeu. Menko sempat menyoroti adanya transaksi 300 T rupiah yang mencurigakan. Pejabat pajak melakukan korupsi karena yakin, di negeri ini, tidak ada transparansi. Pejabat menerima uang pajak, kemudian, masuk kantong sendiri. Karena tidak ada transparansi, mereka bisa melakukan korupsi. Pada akhirnya, korupsi merugikan seluruh negeri. Para pelaku perlu dihukum dengan hukuman berat sekali.

Rakyat tidak percaya kepada pejabat yang tidak transparan. Pejabat mengaku membela wong cilik tetapi gaya hidup mereka, dan keluarga mereka, mewah super kaya raya. Berapa biaya hidup seorang pejabat yang mewah begitu? Dari mana para pejabat memperoleh uang untuk hidup mewah? Mengapa pejabat kampanye untuk hidup sederhana, tetapi, mereka bermegah-megahan? Tanpa transparansi, pejabat tidak layak dipercaya oleh rakyat.

Rakyat menderita karena harga-harga barang kebutuhan sehari-hari mahal, membubung tinggi. Ambil contoh harga daging ayam per kilogram. Rakyat harus membeli dengan harga lebih dari 40 ribu rupiah. Sementara, peternak ayam menjual ke tengkulak hanya 10 ribu sampai 20 ribu rupiah. Bagaimana harga yang murah dari peternak bisa menjadi mahal ke pembeli? Karena ada pihak di tengah, yaitu, tengkulak yang tidak transparan. Mereka, tengkulak, memainkan harga suka-suka. Tengkulak menekan harga serendah-rendahnya terhadap peternak. Sementara, tengkulak menjual harga setinggi-tingginya ke rakyat.

Transparansi adalah solusi paling mendasar. Dengan transparansi, pejabat pajak tidak bisa korupsi. Karena, setiap perilaku korupsi tercatat dan mudah diamati banyak pihak. Di sisi lain, pejabat yang transparan menggunakan dana dan jabatan secara bijak, dia mendapat hormat dari seluruh rakyat. Tengkulak bisa menetapkan harga yang tepat dengan transparan. Menguntungkan bagi peternak, menguntungkan bagi rakyat, dan, akhirnya, menguntungkan juga bagi tengkulak.

Semudah itu kah, transparansi menjadi solusi? Tentu saja, masih banyak tantangan. Batas-batas transparansi akan tetap memunculkan ambiguitas. Aspek keamanan perlu mendapat jaminan. Sehingga, masyarakat perlu mendiskusikan sistem transparansi secara dinamis dan demokratis. Perkembangan teknologi digital, semisal AI, menjadi sebuah harapan.

3. Sistem Pakar

Pada awal perkembangannya, AI berupa sistem pakar, SP, expert system. Saat ini, tahun 2023, kita jarang mendengar SP. Saya kembali membahas SP karena masing-masing dari manusia berpotensi untuk menjadi pakar. Karena itu, masyarakat berpotensi menjadi sistem pakar dalam pengertian yang baru.

3.1 Respek

Masing-masing orang di antara kita memiliki bakat yang beragam dan berbeda-beda. Sehingga, wajar bagi kita, untuk saling respek. Beberapa orang mengembangkan keahlian sampai tingkat tinggi, sering disebut, sebagai pakar. Tentu saja, kita menghargai pakar di bidangnya lebih tinggi dari orang awam yang bukan pakar untuk bidang tersebut.

Kita sudah membahas di bagian sebelumnya bahwa pakar bisa tersebar ke berbagai bidang. Secara ringkas, setiap manusia berhak untuk menjadi pakar di bidang pilihannya. Pakar bisa saja ditentukan oleh tingkat pendidikan, oleh pengalaman, oleh keahlian, oleh karya nyata, dan lain sebagainya. Dengan demikian, kita perlu respek kepada setiap orang karena setiap orang adalah pakar. Atau, setiap orang berpotensi menjadi pakar.

Di sisi lain, pakar tampak menjadi paradoks bagi demokrasi. Karena demokrasi memandang setiap orang adalah sama, yaitu, satu orang satu suara. Sementara itu, sistem pakar memandang setiap orang adalah sebagai pakar yang unik. Kita akan mencoba mencari titik temu paradoks pakar demokrasi ini.

3.2 Paradoks Interpretasi

Para pakar umumnya sepakat dalam banyak hal. Tetapi, dalam hal-hal tertentu yang fundamental, para pakar bisa berbeda interpretasi. Akibatnya, orang awam di bidang tersebut, juga ikut beragam interpretasi. Kadang, di antara beragam interpretasi bisa saling melengkapi. Pada situasi lain, perbedaan interpretasi berujung paradoks atau kontradiksi.

Paradoks interpretasi pasti terjadi karena, pada dasarnya, interpretasi adalah bebas. Masing-masing orang bebas memaknai segala sesuatu. Bahkan, masing-masing orang bebas memilih obyek tertentu saja, dan bukan obyek lain, yang akan dimaknai. Akibatnya, terdapat beragam makna. Terdapat beragam interpretasi.

Keragaman interpretasi menuntut kita bersikap bijak, misalnya, saling respek. Memaksa agar semua pihak membuat interpretasi yang seragam adalah tugas mustahil. Karena manusia bukan robot. Manusia bukan AI. Dan, manusia bukan ChatGPT. Manusia bukan produk standar.

Penyebab paradoks interpretasi adalah sebagai berikut. Saya sudah sering membahas di beberapa tempat. Di sini, kita bahas ringkas saja.

Pertama, meta-teori. Ada dua jenis paradok meta-teori: fondasi dan konsekuensi. Setiap teori membutuhkan fondasi. Di mana, fondasi itu butuh fondasi lagi tanpa henti. Atau, kita bisa berhenti kepada suatu fondasi tanpa fondasi. Fondasi akhir ini, tanpa perlu fondasi lagi, bisa saja berupa aksioma, dewa, Tuhan, keyakinan, tradisi, kitab suci, atau lainnya. Paradoks terjadi karena masing-masing orang bisa berbeda dalam memilih fondasi akhir.

Paradoks konsekuensi terjadi ketika suatu teori akan menghasilkan konsekuensi. Selanjutnya, konsekuensi itu akan menghasilkan koksekuensi lagi. Sampai pada akhirnya, ada konsekuensi paradoks yaitu G dan (-G). Tidak ada aturan bagaimana kita bisa menentukan yang benar apakah G atau negasi G, yaitu, (-G).

Kedua, paradoks meta-perspektif. Terdapat dua paradoks meta-perspektif: beda perspektif dan ganti perspektif. Beda perspektif pasti terjadi karena tidak ada subyek yang sama persis dalam posisi dan waktu. Sehingga, setiap perspektif pasti tidak lengkap. Dan, setiap orang selalu menerapkan perspektif. Tidak ada pandangan tanpa perspektif. Dua perspektif berbeda bisa saja digabungkan saling melengkapi. Tetapi, penggabungan itu sendiri membutuhkan perspektif baru. Jadi, selalu ada paradoks beda perspektif.

Sementara, paradoks ganti perspektif terjadi karena pihak tertentu mengganti total perspektif atau obyek kajian. Mengapa kita mengkaji dari perspektif politik? Gunakan perspektif agama maka beres. Atau, gunakan perspektif ilmiah dan lain-lain. Ganti perspektif bisa terjadi dengan cara mengganti obyeknya. Kita tidak perlu mengkaji masalah edukasi, misalnya. Kita hanya perlu mengkaji masalah ekonomi. Akhirnya, selalu ada paradoks interpretasi.

Ketiga, secara spontan, beberapa orang bisa memunculkan interpretasi yang saling bertentangan sehingga paradoks. Maksudnya, tanpa mempertimbangkan meta-teori dan meta-perspektif, seseorang bisa memunculkan paradoks begitu saja. Tentu saja, seorang pakar akan terbuka terhadap keragaman teori dan perspektif. Sehingga, paradoks yang terjadi di antara para pakar adalah paradoks yang sudah dikaji dengan baik.

Dengan mempertimbangkan tiga faktor penyebab paradoks di atas, maka, kita perlu menerima paradoks dengan bijak. Kabar baiknya, kita bisa mengurai seluruh teori dan perspektif yang menyebabkan paradoks. Dengan pemahaman yang luas ini, kita berharap akan menemukan solusi terbaik diwarnai sikap saling respek.

Perkembangan AI, artificial intelligence, yang makin canggih memudahkan kita mengurai setiap teori dan perspektif. Lebih dari itu, AI mampu berpikir dengan lebih cepat. Sehingga, kita bisa membuat simulasi bila diperlukan. Kita akan membahas demokrasi dengan memanfaat bantuan AI di bagian berikutnya. Bagaimana pun AI adalah teknologi. AI bukan pengganti manusia. AI membantu manusia.

3.3 Sistem AI

AI, artificial intelligence, makin berkembang lebih cerdas. AI mulai mampu “berpikir” layaknya manusia. Dengan banyak berlatih dan penyempurnaan, AI mampu meraih kualitas seorang pakar. Sebut saja, AI seperti itu sebagai sistem-pakar (SP).

SP ini belajar dari semua data yang ada di internet, data digital rahasia, dan dari para pakar (manusia). Seperti seorang pakar, SP juga mengusai kepakaran secara spesifik. Ada SP bidang seni, SP bidang bisnis, SP bidang hukum, SP bidang politik, dan lain-lain. Menariknya, di antara para SP itu sendiri bisa terjadi paradoks interpretasi. Karena itu, para SP bisa membentuk asosiasi, kita sebut sebagai asosiasi pakar, yang melakukan dialog antara SP.

Asosiasi pakar ini menjadi harapan untuk menjadi hakim terakhir terhadap beragam paradoks.

(a) Mengurai teori dan perspektif. Dalam demokrasi, berbeda pendapat adalah wajar. Situasi tertentu mengantar kita pada paradoks. Tentu saja, voting dengan suara terbanyak bisa menjadi solusi. Sebelum voting, kadang kita perlu memahami dulu apakah paradoks bisa diselesaikan dengan konsensus. Jika dengan pemahaman yang lebih mendalam, akhirnya, tercapai konsensus maka hal tersebut baik bagi demokrasi. Jika dengan pemahaman yang mendalam tetap ada paradoks, maka, voting adalah solusi yang wajar.

Kita bisa menugaskan AI untuk menguraikan seluruh teori dan perspektif yang mendasari suatu paradoks. AI menampilkan beragam data yang tersedia. Kita bisa challenge AI untuk membuat simulasi. Kita meminta AI untuk mengurai beragam asumsi yang mungkin masih tersembunyi. Setelah itu, kita bisa melanjutkan untuk mencapai konsensus atau voting.

(b) Jaminan moral manusia. Kita perlu tetap ingat bahwa tanggung jawab akhir ada pada manusia. AI hanya membantu kita dengan data dan analisisnya. Barangkali, lengkap dengan rekomendasi akhir. Kemudian, kita, sebagai manusia, yang mengambil keputusan dan bertanggung jawab secara moral.

Alternatifnya, kita bisa memberi sejumlah opsi kepada AI, di mana, masing-masing opsi sudah dipastikan bernilai moral yang baik oleh manusia. AI membanding-bandingkan sejumlah opsi tersebut dari beragam teori dan perspektif, kemudian, memberikan penilaian dan rekomendasi akhir.

(c) Hakim ringan dan terakhir. Kita bisa memberi tugas kepada AI sebagai hakim ringan dan hakim terakhir, hakim terberat. Sebagai hakim ringan, kita sudah sering menerapkan misal untuk VAR. Untuk menentukan apakah bola sudah keluar lapangan atau belum, kita bisa memanfaatkan AI sebagai VAR. Tugas ini ringan, karena hasil akhir apa pun adalah “sekedar” permainan olah raga. Dan, tugas ini harus dilakukan. Baik dengan AI atau tanpa AI, hakim harus memutuskannya. Hakim ringan ini barangkali bisa diperluas untuk bidang-bidang lain, misal, menentukan apakah sebuah kendaraan melanggar aturan lalu lintas atau tidak.

Hakim terakhir adalah tugas AI yang sangat berat. Umat manusia sudah diskusi panjang lebar. Dan, akhirnya, masih tersedia dua pilihan penting antara P atau Q. Harus dipilih salah satunya saja. Mengapa tidak voting saja? Tentu, voting bisa dilakukan dengan mudah. Suara terbanyak adalah pemenangnya. Perlu kita catat di sini, pilihan P dan Q adalah sama-sama baik secara moral meski berbeda dalam beberapa aspek.

Tetapi, dalam kasus ini, masyarakat sadar bahwa hasil voting bisa bias terhadap kepentingan tertentu. Asumsikan, pendukung P tahu bahwa bila voting maka akan menang P. Demikian juga, pendukung Q tahu bahwa mereka mungkin akan kalah dalam voting. Lebih dari itu, pendukung P khawatir bahwa, barangkali, dirinya mendukung P karena ada bias kepentingan. Bisa jadi, sejatinya, Q lebih baik untuk kebaikan bersama.

AI mendapat tugas berat menjadi hakim terakhir untuk memilih P dan Q. Semua data yang diperlukan sudah disediakan dan dianalisis lanjut oleh AI. Jika AI memutuskan P sebagai pemenang maka hal tesebut sesuai dugaan awal dan memperkuat dugaan awal. Tetapi, jika AI memutuskan Q sebagai pemenang maka hal tersebut diterima dan dimanfaatkan sebagai umpan balik bagi masyarakat untuk refleksi beberapa bias kepentingan yang tidak disadari. Karena P mau pun Q sudah dipertanggungjawabkan secara moral, maka, apa pun keputusan AI bisa diterima dengan lapang dada.

Tampaknya, sampai pembahasan kita di sini, tidak ada masalah berat bagi demokrasi. Dengan bantuan AI, semua masalah demokrasi bisa diatasi. Benarkah begitu? Tidak benar. Masalah demokrasi, dan politik, tetap rumit sampai kapan pun. Pembahasan kita di atas tampak mudah karena diasumsikan setiap orang berniat baik. Pada dasarnya, setiap orang memang memiliki karakter baik. Dengan demikian, setiap orang bisa menjadi pakar demokrasi dibantu dengan AI. Hanya saja, pada situasi tertentu, kadang, orang berbuat salah baik sengaja atau tidak. Bahkan, kadang, orang memang berniat jahat dengan menunggangi demokrasi mau pun politik. Jadi, pembahasan kita masih cukup panjang untuk dilanjutkan ke tema politik.

4. Politik

Politik adalah cara merebut kekuasaan. Cara tersebut bisa melalui cara demokratis, kudeta, kekerasan, tipuan, atau lainnya. Kita bisa menambahkan bahwa politik adalah cara memanfaatkan kekuasaan untuk kebaikan bersama. Meski, kita bisa menambahkan terus aspek positif dari politik, tetap saja, kesan negatif dari politik terlanjur melekat dengan kuat. Bagian ini akan membahas politik terutama dari aspek positif dan disandingkan dengan demokrasi.

4.1 Komunikasi Interpersonal

Secara politis, keahlian komunikasi interpresonal adalah paling utama. Yaitu kemampuan kita berkomunikasi ke orang lain secara personal. Dengan kemampuan komunikasi, kita bisa meminta orang lain untuk mendukung sikap politik kita.

Berikut ini beberapa tips komunikasi interpersonal yang bisa Anda manfaatkan untuk sukses politik. Asumsikan Anda dan teman Anda memiliki niat baik untuk memberi kebaikan politik. Sementara, jika salah satu Anda atau teman Anda memiliki niat jahat, maka, perlu tips komunikasi yang lain. Secara umum, tips berikut ini bermanfaat besar untuk Anda.

(a) Kuasai bahasa. Sudah jelas kemampuan berbahasa adalah penting. Lebih-lebih dalam dunia politik, peran bahasa menjadi sangat penting. Kita perlu memahami bahasa lokal, bahasa Indonesia dan bahasa daerah tertentu, ditambah bahasa internasional. Saat ini, bahasa Inggris dipandang sebagai bahasa internasional. Karena Indonesia mayoritas penduduk beragama Islam, maka, bahasa Arab menjadi nilai tambah khusus. Untuk wilayah Asia, bahasa Mandarin dan Jepang patut dipertimbangkan.

Kita diuntungkan, saat ini, tersedia penerjemah online yang mudah sederhana. Bagaimana pun, menguasai bahasa secara langsung akan meraih lebih banyak untung. Barangkali, politikus tertentu justru mengembangkan bahasa isyarat.

(b) Denotasi dan konotasi. Memahami bahasa secara formal sesuai makna denotasi adalah cukup mudah. Bila ada salah paham, maka, kita bisa klarifikasi untuk koreksi. Tetapi, makna bahasa justru sering dipahami sebagai konotasi. Bukan hanya yang tersurat, lebih penting yang tersirat.

“Apa yang Anda inginkan?”

Pertanyaan di atas bila ditanyakan secara datar, denotasi, adalah pertanyaan wajar. Bila diiringi nada tegas, maka, berubah menjadi semacam ancaman. Bila dengan nada lembut, maka, menjadi sebuah tawaran manis. Jadi, kita perlu memperhatikan makna konotasi dengan teliti. Baik ketika kita berbicara, maupun, ketika mendengarkan.

(c) Konteks. Sejatinya, semua bahasa hanya bisa dipahami sesuai konteks. Sesuai aturan main atau language game. Contoh di atas “Apa yang Anda inginkan?” akan menjadi jelas bila ada konteks. Dalam percakapan langsung, tatap muka, konteks lebih mudah dipahami. Sementara, dalam percakapan tertulis, misal chatting, konteks bisa menjadi kabur sewaktu-waktu.

Kita perlu memastikan bahwa kita memahami konteks yang tepat, baik, ketika berbicara atau mendengarkan. Lebih serius lagi, bila potongan suatu pernyataan ditempatkan pada konteks berbeda, bisa memberi makna berkebalikan. Kasus pencemaran nama baik, dan penistaan agama, sering terjadi dalam situasi seperti ini. Kita perlu hati-hati.

(d) Latar. Melangkah lebih jauh, latar atau background menentukan makna dari suatu bahasa. Latar yang tepat akan menyampaikan pesan Anda dengan cepat. Latar yang tidak tepat, tampaknya, sulit sekali untuk dikompensasi.

Kesepakatan politik sering terjadi di lapangan tenis yang santai. Kemudian, dibuat formalitas di kantor. Lapangan tenis menjadi latar yang tepat untuk menyampaikan usulan kerja sama yang menjanjikan keuntungan besar. Kadang kesepakatan dibuat dengan latar hiburan malam, yang, memperjelas makna kesepakatan bersangkutan.

Jika Anda seorang laki-laki yang ingin melamar pujaan hati, maka, bisa Anda coba dengan latar yang tepat. Ajak pujaan hati ke tanah suci. Lalu, sampaikan lamaran suci itu di tanah suci. Lamaran Anda menjadi mudah dipahami dengan latar tanah suci.

(e) Interpretasi. Pada akhirnya, semua bahasa ditentukan oleh interpretasi. Semua pembahasan kita, di atas, adalah bertujuan untuk mengantarkan interpretasi agar sesuai. Tetapi, kita tahu, selalu bisa terjadi paradoks interpretasi. Orang selalu bisa untuk salah paham. Termasuk, diri kita selalu bisa salah paham terhadap orang lain. Interpretasi adalah bebas.

Solusi yang bisa kita lakukan adalah dengan mencermati feedback. Lakukan klarifikasi, bila memungkinkan, untuk menjamin interpretasi sudah sesuai. Klarifikasi ini bisa dua arah, yaitu, ketika berbicara atau mendengarkan. Ketika bicara, Anda bisa menanyakan, “Apakah Anda sudah memahami maksud saya?” Ketika Anda mendengarkan, Anda bisa bertanya, “Apakah maksudnya begini?”

(f) Pahami mereka. Masalah prioritas ini penting. Secara umum, berusahalah untuk memahami mereka lebih dulu. Hal ini akan memudahkan Anda dalam komunikasi. Sekaligus tugas ini, berusaha memahami mereka, adalah tugas paling berat.

Untuk bisa memahami mereka, kita perlu mendengarkan mereka dengan baik, mendengarkan dengan konsentrasi, simpati, dan empati. Proses mendengarkan ini menuntut kesabaran kita. Karena, kadang, kita merasa sudah punya solusi tanpa harus mendengarkan mereka. Yang diperlukan hanya mereka harus mendengarkan Anda. Bila hal ini terjadi, maka, telah terjadi gagal komunikasi.

Jadi, kita memang harus sabar untuk memahami mereka. Kita memahami tujuan mereka, kekhawatiran mereka, dan harapan mereka. Dengan pemahaman yang baik, sudah diklarifikasi, kita melanjutkan komunikasi untuk membuat mereka agar paham maksud kita.

(g) Pahamkan mereka. Memastikan mereka memahami kita adalah tugas yang lebih ringan bila tahap awal sudah dikerjakan dengan baik, yaitu, berusaha memahami mereka. Ketika mereka tahu bahwa Anda sudah memahami mereka, maka, mereka akan terbuka terhadap ide-ide Anda. Akhirnya, mereka memahami Anda. Pada situasi saling memahami ini, kita bisa melangkah untuk membuat keputusan demi kebaikan bersama.

Urutan di atas sulit untuk dibalik. Menuntut orang lain, mereka, untuk memahami Anda dulu adalah sulit. Karena, mereka bisa mengajukan tuntutan yang sama. Mereka menuntut Anda untuk memahami mereka lebih dulu. Bisa terjadi jalan buntu dalam komunikasi seperti itu. Tentu, situasi bisa saja, mereka mempersilakan Anda untuk menyampaikan ide lebih awal agar mereka bisa memahami Anda. Kemudian, Anda mempersilakan mereka menyampaikan ide-idenya agar Anda memahami mereka. Situasi terakhir ini baik-baik saja.

(h) Konsensus. Langkah terakhir adalah membuat komitmen bersama, misal, berupa konsensus. Kesepakatan ini perlu menjamin kebaikan bersama. Mereka memperoleh kebaikan dan kita juga memperoleh kebaikan.

(i) Minta pengorbanan. Dalam situasi tertentu, kebaikan bersama atau keuntungan bersama tidak bisa diraih. Satu pihak tertentu, Anda atau mereka, kadang harus berkorban demi kebaikan yang lain. Pengorbanan ini, dalam batas-batas tertentu, dengan saling pengertian, adalah baik-baik saja. Pada satu kesempatan, Anda berkorban untuk mereka. Pada kesempatan lain, mereka berkorban untuk Anda. Kerja sama saling menolong bisa diterima oleh banyak pihak.

(j) Dissensus. Terbuka peluang untuk tidak ada kesepakatan. Atau, sepakat untuk tidak sepakat. Pada situasi saling independent, mungkin saja, terjadi dissensus. Gubernur Jabar, misal, tidak sepakat dengan gubernur Jatim. Terjadi dissensus. Mereka saling respek ke pihak lain. Karena Jabar dan Jatim saling independent, maka, mereka bisa dissensus.

(k) Giliran. Kadang tidak mungkin terjadi dissensus dan, di saat yang sama, tidak ada konsensus. Siapa yang harus jadi dirut perusahaan ini? Harus ada satu orang sebagai dirut. Barangkali, solusi giliran bisa menjadi pilihan. Bisa saja, 2 tahun pertama Pak Adi jadi dirut dan 2 tahun berikutnya giliran Pak Budi yang menjadi dirut. Dengan sikap saling memahami, beberapa solusi alternatif bisa kita kembangkan.

Dengan 11 tips, di atas, Anda selalu bisa mempengaruhi orang lain. Beberapa orang akan mudah Anda pengaruhi untuk mengikuti arahan Anda. Beberapa orang, yang lain, akan lebih susah dipengaruhi. Tetapi, jika kedua pihak, Anda dan mereka, sama-sama tulus, maka, selalu ada jalan keluar dengan tips di atas. Bila salah satu pihak ada yang curang, misal sengaja berniat menipu, maka akan terjadi kejanggalan di beberapa proses. Menjadi tulus memang tidak selalu mudah. Di sisi lain, menjadi curang, sama saja, tidak mudah. Hanya saja, beragam rintangan yang Anda hadapi ketika memperjuangkan cita-cita yang tulus, justru, menambah makna semua perjalanan.

4.2 Komunikasi Massa Digital

Era digital membuka kesempatan komunikasi massa yang cepat dan efisien. Sehingga, pihak-pihak yang menguasai media digital berpotensi besar memenangkan kompetisi politik.

(a) Komunikasi viral. Saya pernah membuat konten video durasi 2 menit yang viral. Hanya dalam waktu semalam, video sudah ditonton hampir 1 juta views. Sistem digital mampu menjadikan konten viral dengan super cepat. Teknologi masa lalu akan membutuhkan waktu berminggu-minggu untuk bisa 1 juta tayangan. Lebih dari itu, kita membutuhkan biaya mahal untuk melakukannya. Sementara, saya tidak perlu modal uang sepeser pun untuk membuat viral. Bahkan, saya mendapat dolar karena video viral ada muatan iklan.

Komunikasi viral adalah kesempatan untuk menyampaikan pesan Anda dengan cepat. Sayangnya, konten viral, umumnya, adalah konten ringan, guyon, receh, atau bahkan negatif. Contoh konten video viral saya, di atas, memang positif yaitu tentang sains dan probabilitas. Tetapi, saya sendiri sulit untuk mengulangi konten viral tersebut. Meski sulit untuk viral, kita tetap bisa melakukannya.

Kita perlu melakukan riset yang efektif untuk menciptakan komunikasi viral dengan konten positif. Hanya melarang pihak lain membuat konten negatif adalah kurang tepat. Kita perlu menyediakan alternatif berupa konten positif yang membuka wawasan masyarakat, menginspirasi berbuat kebaikan, dan mendorong untuk meraih cita-cita luhur.

(b) Framing terhadap framing. Teknologi adalah framing. Media digital adalah framing. Pencitraan. Media digital membingkai suatu informasi agar muncul citra tertentu sesuai harapan. Memang demikianlah adanya.

Masalah bukan ada pada framing itu sendiri. Masalah justru pada tujuan framing dan realitas framing. Tujuan framing adalah menciptakan informasi agar bernilai kebaikan dengan proses yang bernilai kebaikan juga. Sehingga, kebaikan menjadi realitas yang ada. Kebaikan menjadi berlimpah dalam ukuran yang tepat.

Jadi, tugas kita adalah membuat framing, atau pencitraan, demi kebaikan dengan proses yang berupa kebaikan itu sendiri. Untuk itu, kita perlu mengembangkan strategi, taktik, sumber daya, dan teknologi yang tepat.

(c) Kompensasi informasi terbuka. Problem muncul akibat dari ulah manusia sendiri bukan dari teknologi. Manusia cenderung lebih suka konten negatif dari konten positif. Konsekuensinya, konten viral akan lebih mudah bagi konten negatif dari konten positif.

Saya terpikirkan agar masyarakat membuat aturan kompensasi keterbukaan informasi bagi konten viral. Setiap kreator wajib membuat konten tandingan yang merupakan konten kontra terhadap konten viral karyanya. Konten menjadi viral karena konten tersebut mengeksploitasi satu perspektif tertentu yang sempit. Umumnya, memang begitu. Sebaliknya, konten dengan perspektif luas sulit menjadi viral. Setelah viral, misal dalam 1 sampai 3 hari kemudian, kreator bertanggung jawab membuat konten tandingan dengan perspektif yang kontra.

Sejatinya, kode etik jurnalistik sudah mengatur agar liputan berimbang dari perspektif pro dan kontra. Tetapi, konten kreator bukanlah seorang jurnalis. Bahkan, mungkin saja, kreator itu tidak sengaja konten menjadi viral. Karena itu, kreator bisa membuat kompensasi. Dengan demikian, masyarakat bisa menikmati konten viral, untuk kemudian, melengkapi dengan perspektif yang lebih luas dari kreator yang sama. Saya kira ide konten kompensasi ini bisa dikembangkan dengan kajian lebih lanjut.

4.3 Struktur Kekuasaan

Pada akhirnya, semua kekuatan politik bermuara kepada struktur kekuasaan formal dan non-formal. Struktur kekuasaan dan relasi kuasa menjadi sangat menentukan apakah keadilan akan tegak atau terseok-seok.

Melihat begitu pentingnya struktur kekuasaan, maka, apakah setiap orang harus terjun ke dunia politik? Apakah semua orang yang baik harus berpolitik praktis? Atau, harus ada beberapa orang yang terbebas, menjaga jarak, dari politik?

(a) Politik perlu orang baik. Beberapa tahun lalu, saya membaca di media nasional, ajakan dari seorang tokoh politik agar orang-orang baik terjun masuk ke politik Indonesia. Politik kita, saat ini, banyak diwarnai korupsi sana-sini. Orang-orang baik perlu masuk politik agar kebaikan mewarnai politik. Sebaliknya, jika orang-orang baik tidak mau masuk politik, maka, politik akan tetap diisi beberapa orang jahat.

Apakah benar, orang-orang baik bisa mewarnai politik? Awalnya, saya setuju. Akhirnya, saya ragu-ragu. Tampaknya, masuk akal bahwa orang baik akan memberi warna kebaikan ke dunia politik. Beberapa tahun kemudian, terbukti, tidak ada perbaikan signifikan di dunia politik. Dugaan beredar, justru, orang-orang baik yang masuk politik ikut terjerat korupsi.

(b) Politik merusak orang baik. Sering terjadi. Orang-orang yang awalnya baik, justru, mengalami kesulitan di dunia politik. Manusia adalah makhluk yang memiliki kebebasan. Politik menyediakan sarana, bagi manusia, untuk mengungkapkan kebebasan itu. Maksudnya, politik bisa membuat aturan sesuatu, yang awalnya samar-samar menjadi jelas, dengan bebas. Misalnya, gunung emas yang ada di dasar laut tidak jelas milik siapa pada awalnya. Selanjutnya, politik bisa menetapkan bahwa gunung emas itu miliki negara, atau milik rakyat, atau miliki perusahaan tertentu. Semua bebas, terutama, berkenaan hal-hal yang samar-samar. Bahkan, sesuatu yang sudah jelas pun bisa diubah oleh politik. Di negara tertentu, masa jabatan presiden dibatasi dua periode. Dengan kekuatan politik, pembatasan masa jabatan presiden bisa dihapuskan. Sehingga, presiden bisa menjabat seumur hidupnya.

Karena menjadi rahasia umum bahwa banyak kejahatan di dunia politik, maka, orang-orang baik yang masuk politik beresiko terseret menjadi jahat. Lebih sulit lagi, perubahan dari orang baik menjadi orang jahat itu terjadi secara lembut. Sehingga, orang bersangkutan tidak sadar bahwa dirinya sudah menjadi jahat. Sementara, orang-orang disekitarnya, terus-menerus menyampaikan puja-puji setinggi langit selama dia duduk di kursi jabatan. Dia makin terlena dalam kejahatan dirinya. Semoga segera sadar dan tobat.

Saran terbaik: jangan berpolitik! Lalu, bagaimana nasib dunia politik?

(c) Jangan berpolitik. Sederhana. Jangan masuk politik praktis. Jika Anda bisa tidak berpolitik, maka, sebaiknya tetap tidak berpolitik. Jika Anda terlanjur masuk dunia politik, maka, Anda bertanggung jawab menjadikan dunia politik agar lebih baik. Tugas yang sangat berat. Tetapi, pahalanya juga sangat besar, baik di dunia mau pun akhirat.

Jika orang baik tidak masuk politik, bukankah politik menjadi dipenuhi oleh orang jahat? Bukankah itu berbahaya bagi kehidupan bersama?

(d) Politik ketua kelas. Ilustrasi terbaik untuk dunia politik adalah pemilihan ketua kelas. Ketua kelas, di SMA-SMP-SD, tidak mendapat gaji. Ketua kelas juga tidak mendapat fasilitas jabatan apa pun. Mereka bersedia menjadi ketua kelas dengan ikhlas. Beberapa, ikhlas karena terpaksa.

Jabatan politik, dan urusan politik secara umum, seharusnya adalah mirip ketua kelas. Semua orang menolak dipilih jadi ketua kelas. Semua orang menolak dipilih sebagai pejabat politik. Tetapi, harus ada ketua kelas. Terpaksa, di antara orang-orang baik, harus ada yang ikhlas menjadi pejabat politik. Orang baik tersebut adalah manusia yang sudah selesai dengan dirinya. Manusia selesai, manusia sempurna, adalah M(S).

(e) Manusia yang sudah selesai. M(S) adalah manusia yang selesai dengan kepentingannya sendiri. Dia tidak ingin kaya, tidak ingin kuasa, tidak ingin pujian, dan tidak ingin beragam fasilitas kenikmatan. M(S) hanya ingin menebarkan kebaikan melalui dunia politik.

Jika Anda seorang M(S), maka, barangkali ada baiknya Anda terjun ke politik. Jika Anda bukan M(S), sebaiknya, menjaga jarak dengan politik praktis. Bahkan, ketika Anda adalah M(S), akan lebih baik Anda menghindar dari dunia politik praktis. Masih ada M(S) lain. Ijinkan mereka terjun ke politik praktis.

Mari berandai-andai: jika seluruh politikus adalah orang suci, maka, apakah tidak ada lagi kejahatan politik? Jika seluruh politikus adalah M(S), manusia sempurna yang selesai dengan dirinya, maka apakah tidak ada lagi kejahatan politik? Tidak ada lagi masalah politik?

Benar, kejahatan politik bisa musnah. Tetapi, masalah politik masih tetap ada. Dosa politik masih ada. Dan, kesalahan politik masih ada di sana-sini.

Kesalahan politik tetap ada karena politikus yang bersih tetap bisa berbuat salah, sengaja atau tidak. Akibatnya, dosa politik tetap bisa menumpuk dan mengakibatkan masalah politik yang sulit. Tetapi, tidak ada kejahatan politik. Ketika, kesalahan politik mulai tampak jelas, maka, para politikus bersih itu sadar dan kemudian melakukan koreksi. Realitasnya, yang sering terjadi, ada beberapa politikus yang tidak bersih. Mereka mencari keuntungan pribadi melalui dunia politik. Secara totalitas, sebagai akibatnya, masalah politik akan tetap rumit sampai kapan pun.

Secara ringkas, urusan politik dan struktur kekuasaan sangat penting dalam realitas alam raya. Tetapi, sebaiknya, Anda jangan terlibat dengan politik praktis. Jika terpaksa terlibat dengan politik praktis, maka, pastikan diri Anda tetap sebagai M(S), yaitu, manusia yang selesai dengan dirinya.

Dilema Politik

Umat manusia akan selalu menghadapi dilema politik. Misal, Anda adalah manusia selesai M(S) yang sudah selesai dengan diri Anda sendiri dan ikhlas berkorban untuk rakyat. Di sisi lain, L adalah orang licik yang dicalonkan sebagai calon bupati. Jika L terpilih jadi bupati, maka, kelicikan L akan merugikan seluruh kabupaten. Apakah M(S) harus bersedia bersaing dalam pemilihan bupati melawan L yang licik?

Tidak bersedia. M(S) harus tidak bersedia dicalonkan sebagai calon bupati. Bukan berarti M(S) tega bahwa kabupaten akan dipimpin L yang licik. Tetapi, karena kita tidak punya argumen kuat untuk menuduh bahwa L licik. Jika L memang licik atau kriminal, seharusnya, L diadili untuk dipenjara. Atau, setidaknya panitia pemilihan calon bupati menolak L sebagai calon bupati jika memang dia licik. Jadi, sejauh itu, sejauh L bisa jadi calon bupati, kita tidak bisa membuktikan bahwa L adalah licik.

Asumsikan L memang terbukti licik di masa lalu. Apakah kita bisa memastikan bahwa L akan tetap licik bila kelak terpilih sebagai bupati? Tidak bisa. Tidak ada orang yang bisa memastikan masa depan L dengan cara adil. L tetap punya peluang untuk menjadi bupati yang baik dan berhasil mengantarkan seluruh kabupaten mencapai adil makmur di masa depan.

Jadi, politik akan selalu menghadapi dilema. Demokrasi selalu menghadapi dilema. Politik selalu mengetuk pintu hati umat manusia.

Dilema hanya bisa dihapus ketika semua orang bebal, cuek, dan tidak peduli terhadap keadilan. Khususnya, ketika para politikus dan pejabat sudah bebal, maka, tidak ada lagi dilema politik. Mereka bisa menggunakan proses demokrasi untuk menghasilkan suara terbanyak agar bisa melakukan apa saja yang mereka inginkan. Suara demokrasi bisa dimanipulasi dengan satu dan lain cara. Tidak ada dilema. Bukan karena memang tidak ada. Tetapi, karena mereka sudah bebal, mereka merasa tidak ada dilema. Apakah demokrasi seperti itu yang sedang melanda dunia?

Kembali ke tema struktur kekuasaan, saat ini, struktur kekuasaan demokratis dipandang sebagai struktur terbaik. Ditambah, bila pejabat-pejabat kekuasaan demokratis adalah orang-orang yang baik, maka, menjadi lebih baik lagi. Bagaimana pun, seperti kita bahas di atas, struktur kekuasaan bisa mengubah orang baik menjadi jahat. Sehingga, kita perlu untuk terus waspada kepada setiap struktur kekuasaan.

Jadi, bagaimana struktur kekuasaan terbaik? Tidak ada jawaban pasti untuk ini. Struktur perlu bersifat dinamis sesuai situasi. Salah satu struktur yang menarik untuk menjadi kajian adalah anarkis atau anarko atau minoritas atau minorisme. Mari kita gunakan istilah baru yaitu minori.

Minori adalah struktur kekuasaan yang bernilai minor, atau bernilai kecil. Setiap pejabat menyadari dirinya sebagai minor. Sehingga, pejabat tidak memiliki cukup kekuatan untuk korupsi. Lagi pula, pada awalnya, pejabat adalah manusia yang sudah selesai dengan dirinya. Ukuran negara minori juga kecil. Konsekuensinya, tidak tersedia sumber daya signifikan untuk dikorupsi. Luas negara minori berkisar antara satu kelurahan sampai satu kabupaten. Meski kecil, negara minori menjalin kerja sama dengan negara-negara sekitar sehingga terjalin kekuatan lebih besar. Bagaimana pun, kerja sama ini bersifat longgar: bilateral atau multilateral.

Struktur kekuasaan pada minori adalah ramping, kecil, horison, transparan, fleksibel, agile, dan efisien. Hanya dibutuhkan sedikit biaya untuk menjaga struktur kekuasaan. Karena fokus utama negara minori bukan mempertahankan struktur kekuasaan tetapi untuk memberikan kebaikan bersama.

5. Semesta Masa Depan

Menghadapi kompleksitas demokrasi serta politik, kita perlu bersikap cerdik dan bijak. Kita perlu berpikir dengan orientasi masa depan demi kebaikan bersama.

Dalam demokrasi, dan politik, kita perlu mempertimbangkan kajian unik berdasar situasi. Di saat yang sama, kita perlu menjunjung nilai-nilai universal kemanusiaan dan ketuhanan misal adil, bebas, baik, kesetaraan, kesejahteraan, edukasi, dan lain-lain. Lebih dari itu, semua pihak tidak akan bisa melakukan klaim demokrasi secara absolut. Klaim demokrasi hanya bisa sampai hampir-absolut. Sehingga, demokrasi perlu untuk terus berkembang memperbaiki diri tanpa henti.

Demokrasi yang adil menjadi harapan kita untuk membangun masa depan semesta yang cemerlang.

Catatan

Pintu 5 “Pakar Demokrasi” menjadikan pembahasan kita lengkap. Dari kajian personal, sosial, bahkan politik serta seluruh alam raya. Jadi, kita bisa mencukupkan pembahasan sampai Pintu 5 saja. Tetapi, masih ada yang tertinggal. Pada akhirnya, kita semua akan mati. Apa yang terjadi setelah kematian?

Kita akan membahasnya di Pintu 7 “Warisan Sejarah Cinta”. Sebelum itu, kita akan membahas tema penting dan amat padat di Pintu 6 “Urip Iku Urup.”

Pintu 6: Urip Iku Urup

Konsep sederhana dan praktis,”Urip Iku Urup.” Hidup itu menyala. Satu konsep penting ini bisa mengantarkan setiap orang meraih sukses dengan berpikir terbuka.

Urip. Hidup. Yang paling utama bagi kita adalah hidup dan menjaga hidup. Kita bertanggung jawab menjaga hidup diri sendiri dan orang-orang terdekat. Kemudian, menjaga hidup setiap orang bahkan ikut berpartisipasi menjaga kelestarian lingkungan hidup. Kita bisa memandang bahwa alam semesta ini juga hidup, sehingga, kita ikut menjaga alam semesta dan alam semesta menjaga kita. Takdir kita untuk hidup dan saling menghidupi.

Iku. Itu. Yaitu. Konkret. Hidup itu konkret. Kita hidup perlu makan, pakaian, dan tempat tinggal. Sederhana saja. Berfoya-foya justru tidak konkret. Berfoya-foya hanya akan menipu diri sendiri. Hidup konkret bisa kita jalani dengan cara hidup sederhana. Kemudian, membantu orang lain untuk bisa hidup konkret, yang layak, meski sederhana.

Urup. Menyala. Hidup itu menyala. Memberi cahaya kepada orang lain. Memberi penerangan kepada alam sekitar. Berbagi kepada sesama. Hidup menyala juga bermakna hidup yang penuh semangat, penuh gairah, dan penuh cahaya kebaikan.

1. Anugerah Urip
2. Anugerah Konkret
3. Dinamika Urup

Kita akan membahas tiga kata kunci “Urip iku Urup” secara bertahap. Kata kunci ini berhasil merangkum hampir seluruh ide berpikir-terbuka. Sehingga, pintu “Urip iku Urup” bisa menjadi pintu terdepan di antara pintu-pintu berpikir-terbuka lainnya.

1. Anugerah Urip

1.1 Anugerah adalah Hidup

Kita bisa memandang seluruh alam raya adalah hidup. Ujung kuku Anda adalah hidup karena bagian dari diri Anda. Ketika ujung kuku itu Anda potong, lalu, terlempar di tanah, “Apakah ujung kuku itu masih hidup?” Benar. Ujung kuku itu tetap hidup karena bagian dari alam raya yang hidup. Makna hidup, di sini, menjadi lebih luas dari biasanya.

Ketika Anda mati, apakah tidak hidup? Ketika seseorang mati, apakah dia tidak hidup lagi? Dia hidup. Lebih tepatnya, dia berpindah dunia dengan tetap hidup. Dia hidup di alam kubur. Masih ada alam-alam lain di tahap selanjutnya: alam barza dan alam akhirat. Semua anugerah adalah hidup. Anugerah kematian, bagi kita, adalah bermakna kita berpindah alam kehidupan.

Tentu, orang bisa tidak yakin akan ada kehidupan setelah mati. Sementara, orang lain bisa juga yakin ada hidup setelah mati, kehidupan yang baru. Apa pun pilihan keyakinan seseorang, tetap saja, hidup kita ini penuh makna.

1.2 Hidup Dinamis

Karakter utama dari hidup adalah dinamis, berubah, atau bergerak.

Dari bayi, kita tumbuh menjadi anak-anak, kemudian remaja dan dewasa. Begitulah anugerah hidup, selalu bertumbuh, selalu dinamis. Bertumbuh dan berkembang senantiasa beriring rasa senang. Rasa cinta sepasang kekasih, yang berbunga-bunga sepenuh hati, adalah untuk menciptakan kehidupan baru. Sebuah rumah tangga ntuk menghadirkan generasi masa depan yang cemerlang.

Dinamika roda kehidupan, kadang di atas, kadang di bawah adalah wajar. Kedua-duanya, di atas atau di bawah, adalah sama-sama anugerah. Kesulitan hidup adalah anugerah agar kita menjadi lebih kuat menjalani hidup. Bersama kesulitan selalu ada kemudahan. Kesulitan hidup juga penting untuk memberi makna hidup kita. Dengan adanya kesulitan, maka, hidup menjadi penuh warna. Tanpa kesulitan, hidup menjadi hampa. Sementara itu, kemudahan hidup – berupa sehat, harta, tahta, dan lain-lain – adalah bumbu yang menjadikan hidup terasa lebih sedap. Setiap manusia membutuhkan keduanya: kesulitan dan kemudahan.

Bagaimana pun, manusia perlu berusaha menciptakan kemudahan. Karena, kemudahan kadang datang dan, tiba-tiba, pergi begitu saja. Sedangkan, kesulitan hampir pasti bisa datang sendiri kapan saja. Jadi, kita harus memudahkan hidup, terutama, memberi kemudahan kepada orang lain. Meringankan beban orang adalah tugas yang mulia. Apa lagi, memberi kehidupan kepada mereka, menyambung hidup mereka adalah tugas kita bersama.

1.3 Memberi Hidup

Sambil kita menjalani hidup, kita berbagi kehidupan kepada yang lain. Menjaga lingkungan hidup, agar tumbuh-tumbuhan dan aneka ragam binatang hidup lestari. Memberi gizi terbaik kepada anak-anak, gizi jasmani dan gizi ruhani, adalah memberi masa depan cemerlang generasi penerus.

Hijaunya daun menghembuskan udara segar mengandung oksigen yang menyehatkan tubuh kita. Pohon-pohon itu begitu baik kepada manusia. Pohon, dan alam raya, memberi kehidupan kepada umat manusia. Mungkinkah manusia bisa hidup tanpa pepohonan? Tanpa oksigen? Pada gilirannya, kita perlu menjaga kehidupan pohon-pohon itu. Kita perlu menjaga alam agar lestari. Janganlah melempar gas-gas beracun ke pohon dan hutan-hutan di seluruh bumi. Kita menjaga, dan dijaga oleh, alam raya ini. Kita menghidupkan, dan hidup bersama, alam raya ini.

Generasi muda membutuhkan lebih banyak lagi dalam hidup ini: edukasi kualitas tinggi. Berikan putra-putra pendidikan lahir dan batin. Pastikan generasi muda terus berkembang. Di saat yang sama, kita belajar dari mereka. Kita memberi pelajaran, dan menerima pelajaran, dari generasi muda. Anugerah hidup adalah saling memberi dan menerima dengan tulus ikhlas.

2. Anugerah Konkret

Hidup itu nyata, konkret, apa adanya. Hidup bukan teori ideal. Hidup bukan persamaan matematika. Hidup bukan syair pujangga. Hidup adalah realitas. Menjalani hidup secara nyata dengan menerima dan memberi kehidupan.

2.1 Hari ini

Cara hidup bahagia mudah saja, yaitu, nikmati hidup hari ini dengan semua yang ada. Hiduplah penuh syukur atas anugerah hari ini dan mengalirlah bagai air. Untuk hidup lebih bermakna, hari ini, belajarlah mengambil hikmah dari masa lalu. Untuk hidup lebih semangat, hari ini, arahkan hidup Anda menuju masa depan cemerlang.

2.2 Di sini

Pernahkah Anda pikirkan bahwa semua yang Anda perlukan untuk hidup sudah ada di sini? Semua sudah ada di dekat Anda, di sini. Anda perlu bernafas, udara bersih ada di sekitar Anda. Anda perlu berpijak, bumi sudah ada di bawah kaki Anda. Anda perlu tempat gerak, sudah tersedia ruang di sekitar Anda. Jadi, semua hal paling penting, yang kita butuhkan, ada di sini. Tugas kita adalah menjalani hidup ini dengan baik.

2.3 Akhirnya Baik

Hidup bahagia dengan bersyukur atas anugerah hari ini dan di sini. Hari ini terus bergulir menuju masa depan dan meninggalkan masa lalu. Masa depan adalah samar-samar penuh harapan. Masa lalu adalah guru berlimpah ilmu. Masa kini adalah yang paling nyata di depan mata.

Hari ini menjadi penuh makna, ketika, kita komitmen untuk meraih masa depan yang lebih baik, meraih akhir yang baik. “Sungguh, akhir itu lebih baik bagimu dari yang awal.” Kabar baiknya lagi, kita bebas untuk memilih masa depan. Maka pilihlah masa depan terbaik, akhir yang baik.

Berikut beberapa saran menjalani hidup masa kini yang konkret penuh syukur dengan harapan masa depan cemerlang dan berbekal ilmu masa lalu.

(1) Terima dengan ikhlas dan syukur semua yang ada di hari ini. Semua yang ada di hari ini adalah anugerah. Hidup adalah anugerah. Saudara, tetangga, teman, dan bahkan orang tak dikenal adalah anugerah.

(2) Berpikirlah positif hari ini. Karena, hari ini memang hari yang baik. Cobalah mengamati alam sekitar. Perhatikan lebih dekat. Alam sekitar begitu baik terhadap diri kita. Terimalah kebaikan alam sekitar dan balaslah dengan senyuman.

(3) Kadang-kadang, hari ini, terasa begitu berat. Tanggung jawab dan beban hidup terus menumpuk. Mungkin, Anda terlilit utang. Atau, mungkin Anda sedang sakit. Atau, Anda menjadi korban penipuan. Beban-beban hidup semacam itu memang nyata, dan sama nyatanya dengan anugerah hari ini. Rasakan dengan ikhlas beban hidup Anda dan rasakan juga syukur Anda di dalam dada.

(4) Lihatlah masa depan! Ada banyak pilihan masa depan. Pilihlah masa depan paling cemerlang untuk Anda. Rasakan bahagianya di hari ini. Arahkan hidup Anda hari ini menuju masa depan cemerlang itu.

(5) Masa depan bisa jadi suram. Kita perlu mencegah masa depan suram. Persiapkan beberapa hal, di hari ini, untuk menghindari suramnya masa depan.

(6) Fokuskan tekad untuk meraih masa depan cemerlang sambil menikmati segala yang ada sebagai karunia hari ini.

(7) Ambil hikmah dan pelajaran dari masa lalu untuk membantu Anda menuju masa depan cemerlang. Dan, tentu saja, sambil menjalani hari ini penuh syukur menuju akhir yang baik.

3. Dinamika Urup

Semangat atau putus asa adalah sama saja. Yaitu, sama saja Anda menjalani hidup ini. Dengan memilih hidup penuh semangat, Anda menjadi hidup lebih hidup. Hidup menjadi dinamis. Hidup adalah urup. Hidup adalah menyala.

3.1 Dinamika Cahaya

Cahaya selalu bergerak. Cahaya selalu urup, dinamis, memberi penerangan. Gerak cahaya bukan gerak biasa. Gerak cahaya adalah gerak tercepat dengan kecepatan cahaya di ruang hampa. Tidak ada benda apa pun yang bisa melebihi kecepatan cahaya. Cahaya secepat kilat. Cahaya memang tercepat.

Hidup kita adalah urup bagai cahaya. Jiwa kita selalu menyala bahkan lebih cerah dari cahaya. Jiwa manusia adalah cahaya sejati yang lebih berkilau dari cahaya dunia. Anda adalah cahaya yang menyala-nyala. Tempat mana yang hendak Anda sinari dengan cahaya jiwa Anda? Siapa saja yang akan Anda sinari dengan cemerlang cahaya jiwa Anda? Sepanjang masa, jiwa Anda selalu bersinar terang.

Mengapa pagi hari Anda bangun dari tidur? Karena cahaya jiwa Anda ingin menyinari dunia. Karena Anda ingin menebarkan kebaikan ke seluruh penjuru. Karena baktimu selalu ditunggu.

3.2 Gelap Tetap Menyala

Ketika gelap telah tiba. Ketika semua sudah tertutup pekat. Cahaya tetap menyala. Bahkan, dalam kepekatan gelap, cahaya tetap menyala. Gunung boleh runtuh. Bumi boleh terbelah. Jiwa Anda tetap bersinar. Tak ada yang bisa memadamkan cahaya jiwa Anda. Justru, jiwa Anda mengajak semua untuk kembali bersinar terang.

3.3 Entropi Masa Depan

Seberapa kuat cahaya jiwa Anda? Sangat kuat. Kekuatan sinar jiwa Anda adalah tak hingga. Kekuatan jiwa Anda tak terbatas. Jiwa Anda makin kuat dengan mendekat kepada Sang Maha Mutlak. Cahaya jiwa Anda adalah tak hingga besarnya hampir-absolut. Bukan karena jiwa Anda memang absolut. Tetapi, karena cahaya jiwa Anda bersumber dari Cahaya Maha Cahaya.

Moderasi Nuklir

Bom nuklir meledak menghancurkan satu kota. Sungguh mengerikan. Cahaya jiwa selalu menyala. Sejatinya, cahaya jiwa justru meledak bagai bom nuklir. Cahaya jiwa yang tidak meledak dikarenakan adanya moderasi.

Pembangkit listrik tenaga nuklir sewaktu-waktu bisa meledak, karena, memang sama seperti bom nuklir. Hanya saja, pada pembangkit nuklir disediakan proses moderasi. Sehingga, ledakan nuklir diatur, diperlambat, agar menghasilkan energi sesuai kebutuhan dan aman bagi alam semesta.

Cahaya Absolut menimpa gunung, maka, gunung hancur lebur. Cahaya Absolut menimpa samudera, maka, samudera mengering seketika. Cahaya Absolut menimpa galaksi, maka, galaksi tidak eksis lagi. Cahaya Absolut singgah kepada jiwa manusia. Jiwa manusia, jiwa Anda, adalah moderasi cahaya. Wajar saja, jiwa Anda terus menyala-nyala, bahkan, bisa meledak-ledak. Jiwa Anda memoderasi cahaya agar cahaya itu menimpa alam raya sesuai kadar yang tepat. Tetapi, apakah manusia sanggup melakukan moderasi?

Tidak pasti!

Sebagian orang berhasil moderasi sehingga nyala cahaya jiwa terus bersinar, di saat yang sama, memberi terang alam sekitar. Beberapa orang lain gagal moderasi sehingga nyala cahaya jiwa meledak-ledak tanpa aturan. Akibatnya, ledakan itu bisa merusak alam sekitar. Kadang melukai orang atau diri sendiri. Beberapa orang lain terlalu keras menutupi cahaya jiwa, sehingga, cahaya jiwa nyaris tidak bersinar. Mereka tertindas. Mereka tersisih. Mereka perlu memperbesar kembali sinar cahaya jiwanya.

Jiwa Bersinar

Urip iku urup. Hidup itu menyala. Berikut ini beberapa saran agar cahaya jiwa terus bersinar terang.

(1) Jaga nyala sinar jiwa Anda dengan prinsip-prinsip kebenaran, kebaikan, dan keadilan. Bacalah buku berkualitas secara rutin. Bacalah kitab suci yang mencerahkan tiap hari.

(2) Praktekkan berbagi sinar cahaya ke alam sekitar dengan cara berbagi kebaikan kepada mereka. Dengan berbagi kebaikan, Anda memberi manfaat ke alam sekitar. Pada gilirannya, proses berbagi kebaikan itu akan menjadikan jiwa Anda lebih bersinar.

(3) Dekatkan jiwa Anda kepada sumber cahaya absolut yaitu Cahaya Maha Cahaya. Makin dekat, makin bersinar.

Mengapa jiwa manusia bisa terus-menerus bersinar? Karena jiwa manusia memperoleh anugerah dari Cahaya Maha Cahaya. Bagaimana proses anugerah tersebut?

Ada banyak cara untuk menjawabnya. Kita akan mencoba mengaitkan dengan konsep entropi alam raya yang terus berkembang. Sains membuktikan bahwa entropi alam raya terus bertambah, tidak pernah berkurang, dan tidak pernah tetap.

Entropi, awalnya, didefinisikan sebagai ukuran keacakan, ukuran ketidak-teraturan. Makin tidak teratur maka makin besar entropi. Alam semesta, saat ini, bergerak mengembang. Alam makin tidak teratur. Jadi, entropi alam makin bertambah. Dengan kata lain, alam memang hidup, alam memang menyala.

Pertengahan abad 20, entropi didefinisikan sebagai ukuran informasi. Entropi makin berkembang, sederhananya, ukuran informasi juga makin berkembang. Benar saja, ukuran informasi alam raya pasti terus berkembang. Misal hari ke 1, kita punya informasi 1. Maka hari ke 2, kita punya informasi 2, yang lebih besar dari informasi 1. Karena, informasi 2 adalah totalitas informasi 1 ditambah dengan informasi baru. Informasi alam semesta terus “menyala” karena entropi terus bertambah.

Yang menarik adalah, andai, alam tidak mengembang tapi mengkerut, maka, entropi tetap bertambah. Jika tahun 2000 ukuran alam adalah A, kemudian, tahun 3000 ukuran alam mengecil menjadi setengah A, maka entropi tetap bertambah. Karena, di tahun 3000, alam memiliki informasi lebih banyak dari tahun 2000, yaitu, meliputi informasi tahun 2000 ditambah beberapa informasi baru.

Lebih menarik lagi, Andai kita bisa bergerak mundur dalam waktu, maka, entropi tetap bertambah tidak berkurang. Misal hari ini adalah Kamis. Lalu, kita bisa gerak mundur ke hari kemarin yaitu Rabu. Maka entropi hari Rabu itu tetap lebih besar dari Kamis. Karena, informasi haru Rabu meliputi hari Kamis ditambah informasi baru ketika gerak mundur ke Rabu. Bahkan, beberapa ilmuwan mengusulkan bahwa entropi sama dengan waktu. Karena, waktu tidak bisa mundur, demikian juga, entropi tidak bisa berkurang. Entropi masa depan terus berkembang.

Entropi terus bertambah. Entropi terus menyala. Hidup itu menyala. Urip iku urup.

Kita juga bisa memahami bahwa Cahaya Maha Cahaya terus-menerus memancarkan cahaya ke alam semesta. Akibatnya, alam menjadi terus menyala dengan bertabur cahaya. Dan, jiwa manusia juga terus menyala. Urip iku urup.

Bagaimana jika manusia sudah meninggal? Manusia sudah tidak hidup dunia ini ketika meninggal. Apakah jiwa manusia masih menyala? Kita akan membahas ini di bagian berikutnya.

Catatan

Pintu 6 (Urip Iku Urup) merupakan ringkasan praktis dari seluruh pintu. Sehingga, jika Anda menjalankan Pintu 6 dengan baik, maka, Anda seperti sudah menjalan 5 pintu sebelumnya juga. Tentu saja, masing-masing pintu memiliki detilasi yang lebih konkret.

Pintu 6 mengajak kita menjalani hidup dengan konkret, bijak, dan penuh semangat sehingga menebarkan lebih banyak kebaikan. Tetapi, realitas tidak terbatas hanya semasa hidup kita. Sejarah sudah berlangsung ribuan tahun sebelum kita lahir. Dan, barangkali, sejarah masih berlangsung sampai ribuan tahun ke depan. Lagi pula, bagaimana karir diri kita setelah hidup di dunia selesai? Pintu 7 akan membahas lebih detil: Warisan Sejarah Cinta.

Pintu 7: Warisan Sejarah Cinta

Kita pasti akan pergi. Kita pasti akan mati. Apa warisan yang ingin Anda tinggalkan? Warisan cinta adalah yang utama.

1. Sejarah Diri
2. Membaca Sejarah
3. Menciptakan Sejarah
4. Mempersiapkan Warisan
4.1 Warisan Positif
4.2 Warisan Tidak Negatif
5. Warisan Cinta
5.1 Ukuran Harta
5.2 Warisan Ilmu
5.3 Semesta Cinta

Kita berharap bisa memberi warisan terbaik, legasi terbaik, untuk generasi masa depan. Dan, berdoa semoga kita menempuh masa depan yang terang-benderang.

1. Sejarah Diri

Setiap diri adalah unik. Setiap diri punya misi. Setiap diri ada misteri. Setiap diri ada dalam situasi. Kita berada dalam sejarah. Di saat yang sama, kita ikut serta menciptakan sejarah. Sejarah apa yang ingin Anda tuliskan?

Sangkan Paraning Dumadi

Kita lahir dari ibu tercinta. Ibu lahir dari nenek, dan seterusnya, nenek lahir dari nenek moyang. Jadi, dari mana asal muasal diri kita? Dan, mau ke mana kita berjalan maju? Kita berasal dari sejarah, kemudian meniti sejarah, dan, akhirnya, ikut serta menciptakan sejarah. Leluhur kita menyebutnya sebagai sadar akan “sangkan paraning dumadi.”

Anda dan saya adalah sama, yaitu, sama-sama hasil dari perjalanan sejarah panjang sejak masa nenek moyang. Tetapi, Anda dan saya pasti berbeda. Setiap orang berbeda. Bahkan, perbedaan ini sangat spesifik. Saya punya misi khusus dalam menjalani sejarah diri ini. Anda juga punya misi khusus dalam menjalani sejarah diri Anda yang berbeda dengan semua. Misi sejarah pribadi ini tidak bisa saling dipertukarkan. Anda tidak bisa menjadi saya dan, sebaliknya, saya tidak bisa menjadi Anda.

Bandingkan ketika Anda membeli beras 5 kg. Kita biasa saja saling menukar beras 5 kg yang kantong A atau kantong B, misalnya. Lebih jelas lagi, kita biasa saja akan mendapat uang 50 ribu rupiah dengan nomor seri berapa pun. Semua uang 50 ribu, kita anggap sebagai sama saja, identik. Setiap uang 50 ribu memiliki misi yang identik. Semua beras memiliki misi yang identik. Dan, semua uang memiliki misi identik. Tetapi, dalam setiap sejarah, masing-masing manusia memiliki misi yang unik. Apa misi unik Anda?

Bagaimana pun, sejarah diri kita terus berlanjut meski kita sudah mati. Baik sejarah diri di alam yang baru, mau pun, sejarah diri kita di dunia ini. Sejarah-sejarah itu berjalan seiring sejalan.

Pada bagian ini, kita akan membahas bagamana kita menjalani sejarah, berpartisipasi dalam sejarah, dan termasuk bagaimana membaca sejarah. Dengan karakter warisan, dan proses, sejarah yang unik.

2. Membaca Sejarah

Data dan fakta sejarah tersedia berlimpah. Sebagiannya sudah musnah. Dengan membaca sejarah, kita memperoleh hikmah. Di saat yang sama, untuk membaca sejarah, kita memerlukan kacamata hikmah. Bagaimana cara Anda membaca sejarah?

Sejarah tampak seperti urutan fakta-fakta. Atau, urutan kejadian demi kejadian. Sejarah lebih dari itu. Sejarah juga merupakan urutan interpretasi demi interpretasi. Bahkan, tumpukan akumulasi interpretasi hari demi hari. Yang paling penting, bagaimana kita bisa memberi hikmah dan menerima hikmah dari setiap sejarah.

Sejarah Masa Lalu

Belajar dari sejarah masa lalu, kita bisa mengambil banyak hikmah. Bagaimana pun, banyak versi sejarah masa lalu yang kadang berbeda, bahkan, saling bertentangan. Dari situasi seperti itu, justru, kita bisa mengambil pelajaran hikmah paling penting. Apa saja hikmah untuk kita?

(S): Soekarno adalah presiden terbaik.

Apakah pernyataan (S), di atas, bernilai benar? Benar. Banyak catatan sejarah menunjukkan bahwa Soekarno adalah presiden terbaik. Soekarno adalah pejuang kemerdekaan dan proklamator.

Tetapi, bisa jadi, ada yang menolak (S). Bagi mereka, Soekarno adalah presiden yang baik dan wajar seperti biasanya presiden. Mereka menunjukkan beberapa catatan sejarah masa lalu dan menafsirkan sebagai presiden sewajarnya.

Kedua argumen, di atas, barangkali sama kuat. Kita perlu fokus kepada hikmah apa yang bisa kita pelajari dari situasi seperti itu. Kemudian, kita akan mempertimbangkan solusi berupa sejarah masa depan, yang kita bahas di bawah.

Sejarah Masa Kini

Dengan mempertimbangkan masa kini, apakah (S) bernilai benar? Apakah Soekarno adalah presiden terbaik. Benar. Karena itu, generasi sekarang bisa menjadikan Soekarno sebagai teladan untuk semangat berjuang demi memajukan bangsa dan negara tercinta.

Tidak benar. Pihak lain bisa menilai (S) sebagai tidak benar. Karena, yang benar adalah presiden sewajarnya presiden. Dengan demikian, generasi sekarang bisa semangat belajar untuk mengukir sejarah yang lebih bagus dari generasi masa lalu.

Sejarah Masa Depan

Benar bahwa Soekarno adalah presiden terbaik, bila, tujuannya untuk memotivasi generasi masa depan. Karena ada teladan terbaik, maka, generasi masa depan meneladani beragam kebaikan Soekarno. Tetapi, klaim (S) sebagai benar menjadi buruk, bila tujuannya keliru. Mereka bertujuan, misalnya, untuk mengklaim diri mereka sebagai pewaris pejuang masa lalu, kemudian, menuntut beragam fasilitas khusus.

Penilaian (S) sebagai salah menjadi bagus bila tujuannya agar generasi masa depan mengukir prestasi yang lebih tinggi. Para pejuang masa lalu telah berjuang dengan baik. Saat ini, giliran generasi sekarang, untuk berjuang lebih barik dari pejuang masa lalu demi masa depan negara. Klaim (S) sebagai salah menjadi buruk bila tujuannya untuk meremehkan. Kemudian, mereka sombong diri di beberapa kesempatan.

Tujuan membaca sejarah adalah untuk meraih masa depan yang lebih baik.

3. Menciptakan Sejarah

Sejak kita sadar diri maka kita mulai menciptakan sejarah. Atau, lebih awal, sejak kita lahir dari kandungan ibu, kita mulai menciptakan sejarah. Atau, bahkan lebih awal lagi, nenek moyang kita eksis demi menciptakan sejarah agar kita hadir di dunia ini?

Secara aktif, kita mulai menciptakan sejarah ketika kita mulai sadar diri. Kita sadar bahwa kita bisa memilih suatu tindakan yang bernilai baik, netral, atau jahat – sehingga sadar sebagai perbuatan dosa. Seharusnya, kita memilih tindakan baik dari pada yang netral atau jahat. Realitasnya, kadang orang malah memilih berbuat jahat. Justru, kejadian tidak pasti antara baik dan jahat, yang menjadikan sejarah umat manusia lebih dinamis. Bandingkan, misalnya, ada robot yang selalu patuh terhadap perintah program. Hasilnya, sejarah robot menjadi monoton, bisa ditebak, dan tidak dinamis.

Beberapa orang sadar diri, atau kadang disebut tercerahkan, ketika remaja. Anak remaja itu mulai menyiapkan karir melalui studi atau karir bisnis misalnya. Catatan sejarah dirinya mulai tertulis jelas sejak itu.

Sementara, beberapa orang yang lain, mulai tercerahkan ketika hidup mandiri dari orang tua. Misal karena berumah tangga atau karena merantau. Sejak itu, sejarah dirinya mulai tertulis dengan tegas. Orang juga bisa tercerahkan ketika menjelang masa pensiun. Mereka berpikir apa yang akan dikerjakan ketika pensiun? Saat itu, mereka terbuka untuk menulis sejarah diri lagi. Dan tentu saja, orang akan tercerahkan ketika dia sadar diri bahwa sewaktu-waktu bisa mati. Ketika dia peduli bahwa dirinya akan mati, cepat atau lambat, maka dia akan memilih beragam kegiatan yang bermakna. Lebih jauh, orang itu bisa berpikir tentang nasib dirinya setelah mati dan warisan apa yang akan dia berikan untuk alam raya ini.

4. Mempersiapkan Warisan

Dua tipe warisan, atau legasi, yang akan kita berikan. Pertama, warisan positif adalah legasi yang memberi kebaikan kepada generasi masa depan. Kedua, warisan tidak-negatif adalah warisan yang tidak menyebabkan keburukan bagi generasi masa depan. Tentu saja, ada warisan negatif dan warisan netral, yang perlu kita hindari. Kita perlu fokus menyiapkan warisan positif dan warisan tidak-negatif.

4.1 Warisan Positif

Saat ini, di era digital, kita lebih mudah untuk menyiapkan warisan positif. Buatlah konten digital yang positif. Generasi masa depan bisa mempelajari konten Anda, kemudian, memperoleh manfaat darinya. Konten digital bisa berupa nasehat pendek di media sosial, atau video inspirasi, atau analisis panjang tentang beragam situasi.

(a) Digital. Gunakan hp Anda untuk membuat konten digital positif. Baik berupa video atau catatan digital. Cukup dengan hp yang ada, Anda bisa membuat konten digital yang abadi dengan cara upload ke media sosial. Yang paling penting, di sini, adalah kontennya yang positif. Bukan efek-efek animasi yang keren. Memang, Anda boleh saja meminta bantuan fotografer dan desainer profesional.

(b) Catatan. Kita bisa membuat catatan positif berupa catatan digital mau pun fisikal. Anda bisa membuat catatan berupa buku harian atau buku yang sengaja untuk diterbitkan. Buku cetak berpeluang untuk dibaca orang secara luas sepanjang masa.

(c) Wahana. Bila beruntung, Anda bisa sengaja mewariskan wahana positif untuk generasi masa depan: sekolah, wahana olah raga, tempat ibadah, dan lain-lain. Sekolah, jelas-jelas, berdampak positif untuk ikut serta mencerdaskan kehidupan bangsa.

4.2 Warisan Tidak Negatif

Mudah saja bagi kita untuk menyiapkan warisan yang tidak negatif: puasa. Kita bisa puasa dengan membatasi diri dalam konsumsi pribadi. Konsumsi makanan, secukupnya saja. Konsumsi listrik sedikit saja. Konsumsi bbm hanya seperlunya saja.

(a) Konsumsi. Makan, minum, dan tempat tinggal sederhana saja. Hanya seperlunya saja atau sedikit lebih kecil dari keperluannya. Sisakan bahan konsumsi itu untuk generasi masa depan. Pastikan, Anda tidak merusak sumber energi masa depan.

(b) Regulasi. Pastikan Anda tidak mendukung regulasi yang merugikan generasi masa depan. Jika Anda menjabat posisi tinggi, maka, pastikan menolak regulasi yang berdampak negatif terhadap perusakan alam di masa depan. Lebih serius lagi, tolaklah regulasi yang merusak pendidikan generasi masa depan.

(c) Alami. Hiduplah secara alamiah. Hiduplah akrab dengan alam di alam alamiah – bukan alam artifisial. Termasuk, cobalah, hidup lebih akrab dengan rakyat secara alamiah di alam mereka. Kenali lebih dekat mereka secara alamiah. Jangan merusak alam mereka. Jaga kelestarian alam mereka. Bantu mereka untuk bertumbuh kembang.

5. Warisan Cinta

Cinta adalah segalanya. Cinta adalah sejarah. Kita hadir dalam sejarah karena sejarah cinta ibu dan bapak. Kemudian, kita melanjutkan sejarah masa depan kepada anak cucu juga karena ungkapan cinta kepada pasangan dan semesta. Sehingga, warisan cinta adalah yang paling utama.

5.1 Ukuran Harta

Apakah meninggalkan warisan harta yang tidak habis sampai tujuh turunan adalah baik? Tidak baik. Tidak wajar. Tidak layak. Dan, akhirnya, memang tidak baik.

Warisan harta yang besar bagi anak cucu bisa resiko ganda. Pertama, resiko terjadi rebutan warisan sehingga terjadi “peperangan” keluarga. Banyak kasus menunjukkan saling serang karena warisan harta. Kedua, resiko tidak adil kepada orang lain. Bukankah harta Anda adalah milik alam raya? Setelah Anda meninggal, mengapa tidak dikembalikan kepada alam raya demi kebaikan bersama? Bukahkah lebih baik jika warisan Anda digunakan untuk menolong fakir miskin?

Kita perlu memikirkan ukuran yang tepat terhadap warisan harta untuk anak cucu. Tidak terlalu besar. Tidak juga terlalu kecil. Sementara itu, warisan ilmu adalah selalu baik.

5.2 Warisan Ilmu

Warisan ilmu adalah kebaikan untuk generasi masa depan dan kebaikan untuk karir kita di alam masa depan setelah hidup di dunia berakhir. Semua ilmu adalah baik. Sehingga, makin banyak warisan ilmu, maka, menjadi lebih baik. Tantangan bagi kita adalah bagaimanca bisa mewariskan ilmu dengan cara yang tepat.

Ilmu hitam tidak termasuk ilmu. Ilmu korupsi tidak termasuk ilmu. Ilmu menipu juga bukan ilmu. Mereka hanya menggunakan kata ilmu secara tidak tepat. Tetapi, yang benar, semua ilmu adalah kebaikan. Sehingga, warisan ilmu adalah selalu baik.

(a) Budi pekerti atau akhlak. Warisan ilmu akhlak adalah kebaikan tertinggi. Pastikan, putra-putri kita memiliki akhlak yang mulia. Tentu saja, putra-putri kita, dan generasi masa depan, memiliki hak untuk menentukan sikap. Tetapi, warisan ilmu akhlak yang mulia, dari kita, sangat berguna. Lebih-lebih, teladan akhlak, sangat mengena dalam jiwa.

(b) Ilmu kerja. Anak-anak kita perlu mandiri. Sehingga, kita perlu mewariskan kepada mereka ilmu kerja secara praktis. Anak-anak kita, dan generasi masa depan, mampu bekerja menghasilkan manfaat positif bagi masyarakat luas. Warisan ilmu kerja adalah luar biasa.

(c) Ilmu karya. Melangkah lebih jauh, kita perlu mewariskan semangat menghasilkan karya kepada anak-anak kita. Mereka perlu melompat lebih dari sekedar bekerja mencari uang. Mereka bekerja dengan sentuhan nurani sehingga menghasilkan karya. Bahkan, kita perlu mendorong anak-anak kita, dan generasi mendatang, untuk membuahkan maha karya mereka yang unik.

(d) Ilmu sejarah. Kita perlu mewariskan ilmu sejarah kepada anak-anak kita. Baik, ilmu sejarah masa lalu mau pun ilmu sejarah masa depan.

(e) Ilmu cinta. Kita perlu mengajarkan kepada anak-anak untuk hidup penuh cinta. Hidup untuk meberi cinta dan menerima cinta. Ilmu itu sendiri adalah cahaya cinta.

Dan masih banyak ilmu-ilmu lain yang bisa kita wariskan untuk generasi masa depan. Apa saja rencana Anda?

5.3 Semesta Cinta

Warisan paling indah adalah semesta cinta.

Semua realitas, sejatinya, adalah cinta dan ungkapan cinta. Diri kita adalah ungkapan cinta. Anak-anak kita, dan generasi masa depan, adalah cinta. Sehingga, warisan sejati adalah warisan cinta.

Apa pun yang Anda persembahkan penuh cinta, maka, menjadi warisan terbaik bagi generasi masa depan.

Catatan

Lengkap sudah pembahasan kita sampai Pintu 7 “Warisan Sejarah Cinta.” Seperti kita bahas, Pintu 7 bukanlah benar-benar akhir, justru, sebagai pintu mengarungi alam baru: alam kubur dan legasi Anda. Kita perlu tegaskan kembali, bahwa sejatinya, ada ribuan pintu atau jutaan pintu tak terbatas untuk menggapai realitas hidup dan mati penuh makna. Kita memilih 7 pintu saja agar lebih mudah dan praktis.

Selanjutnya, agar lebih praktis kita bisa fokus ke Pintu 6 dan Pintu 7. Pintu 6 “Urip Iku Urup” meringkas seluruh yang kita butuhkan selama hidup dunia ini. Sedangkan, Pintu 7 membahas semua yang kita butuhkan untuk perjalanan panjang setelah kita selesai di dunia ini.

Tentu saja, Pintu 1 sampai Pintu 5 menjadi penting untuk detilasi setiap langkah, secara, masing-masing.

Pintu 4: Modifikasi Teknologi Media

Teknologi lebih dari sekedar alat bagi manusia. Teknologi adalah anugerah bagi manusia untuk meraih masa depan lebih bahagia. Tetapi, memang benar, teknologi bisa menjadi penjara bagi seluruh umat manusia.

Kita perlu berpikir terbuka untuk modifikasi teknologi agar membantu umat manusia – untuk berpikir terbuka.

1. Alat sampai Tujuan
2. Teknologi Indera
3. Teknologi Pikiran
4. Teknologi Diri
5. Badan sebagai Teknologi
6. Teknologi Mencipta Teknologi
7. Membuka Masa Depan

Sekilas, teknologi tampak seperti alat bagi manusia untuk mencapai tujuan. Pengamatan lebih jauh, justru menunjukkan, teknologi yang memperalat manusia. Teknologi mesin pabrik makin megah. Teknologi transportasi mobil, kapal, dan pesawat makin besar. Teknologi komputer dengan internetnya makin mendunia. Manusia menjadi hanya bagian kecil dari pertumbuhan teknologi itu. Manusia bekerja untuk teknologi. Bukan lagi, teknologi bekerja untuk manusia. Manusia diperalat oleh teknologi. Benarkah seperti itu?

1. Alat sampai Tujuan

Dokter dan ahli medis menciptakan suntik agar memudahkan dokter memasukkan obat ke tubuh pasien. Suntik adalah alat bagi dokter untuk mencapai tujuan yaitu memasukkan obat ke pasien. Tahap berikutnya, terjadi pembalikan. Suntik yang ada pada dokter mengendalikan pikiran dokter, sedemikian hingga, dokter berpikir siapa saja orang yang akan dijadikan sasaran suntik.

Perhatikan kasus vaksin covid-19. Awalnya, vaksin adalah alat bagi manusia untuk menyehatkan badan manusia terhadap ancaman covid. Pada tahun 2022 – 2023, pandemi mulai mereda tetapi persediaan vaksin masih ada. Teknologi yang berupa vaksin itu mengendalikan pikiran manusia. Bagaimana agar vaksin-vaksin itu masuk ke tubuh manusia?

Pertama, mengganti istilah vaksin menjadi booster. Karena orang-orang sudah vaksin dua kali, tampak, tidak wajar jika harus vaksin tiga kali. Sehingga, lebih natural, bila booster satu kali atau dua kali. Padahal, sama saja dengan vaksin empat kali. Kedua, memberikan vaksin gratis ke masyarakat dan lain-lain. Vaksin bukan lagi alat bagi manusia. Tetapi, vaksin memperalat manusia melalui manusia lain. Perlu kita cermati bahwa gratis bermakna ada biaya tersembunyi dalam satu dan lain bentuk.

“Jika Anda punya palu, maka, segala sesuatu tampak seperti paku,” adalah ungkapan yang bisa kita mengerti.

Awalnya, kita punya palu, paku, gergaji, mistar, dan lain-lain adalah sebagai alat untuk mencapai tujuan membuat meja, misalnya. Tahap selanjutnya, alat-alat pertukangan itu membentuk pikiran kita sebagai seorang tukang. Kita menolak pekerjaan selain tukang. Kita membatasi diri mencari pekerjaan sebagai tukang. Padahal, kita adalah manusia seutuhnya. Kita bisa menjadi tukang, pedagang, pengusaha, penyair, penyanyi, atau lainnya. Tetapi, alat-alat pertukangan sudah mengendalikan pikiran manusia.

Bagaimana produsen teknologi perang? Bagaimana produsen senapan otomatis? Bagaimana produsen panser? Bagaimana produsen senjata nuklir?

Awalnya, mereka berpikir memproduksi teknologi perang adalah untuk menjaga keamanan. Setelah senjata-senjata canggih itu ada di tangan mereka, maka, senjata canggih itu mengendalikan pikiran mereka. Senjata-senjata itu mendorong orang untuk berpikir potensi perang. Semoga orang-orang yang pegang senjata tetap komitmen untuk menjaga perdamaian.

Sampai di sini, kita perlu waspada. Pada tahap awal, teknologi adalah alat bagi manusia untuk mencapai tujuan. Pada tahap akhir, bisa berbalik. Ada resiko bahwa teknologi memperalat pikiran manusia.

Bagaimana pun, teknologi adalah anugerah bagi kita, anugerah bagi manusia. Teknologi membantu kita untuk menyongsong masa depan yang indah. Dengan berpikir-terbuka, umat manusia bisa tumbuh harmonis bersama teknologi. Teknologi memudahkan manusia membuka posibilitas lebih luas. Teknologi membantu manusia mencapai freedom: bebas dan membebaskan. Tentu saja, teknologi menuntut manusia untuk tetap komitmen di jalan kebaikan. Komitmen untuk menjaga interaksi dengan teknologi yang manusiawi.

2. Teknologi Indera

Mata kita adalah teknologi. Mata adalah teknologi bagi jiwa untuk melihat dunia luar. Ketika masa tua tiba, mata jadi kabur, maka, jiwa perlu teknologi tambahan berupa kaca mata agar bisa melihat dunia luar dengan jelas. Baik mata, mau pun kaca mata, adalah teknologi bagi jiwa untuk melihat obyek di alam eksternal.

Sehingga, mata dan kaca mata adalah anugerah bagi manusia untuk bisa berinteraksi dengan alam luar. Karena itu, kita perlu bersyukur atas anugerah dan komitmen untuk memanfaatkannya guna membuka posibilitas luas bagi masa depan.

Dengan cara yang sama, kaki adalah teknologi untuk gerak, hidung adalah teknologi untuk aroma, gigi adalah teknologi untuk mengunyah dan lain-lain. Bahkan, hasrat adalah teknologi bagi jiwa untuk reproduksi meneruskan kelangsungan spesies manusia. Begitu besar anugerah teknologi bagi kita. Rasa syukur akan memperbesar nilai setiap anugerah.

Jika mata adalah anugerah sebagai teknologi, kaki adalah anugerah sebagai teknologi, dan seluruh indera adalah anugerah sebagai teknologi, maka, siapakah diri kita ini? Siapakah manusia? Apa sejatinya jiwa? Siapa yang merasakan, menerima, anugerah itu? Atau, justru, siapa yang memberi semua anugerah itu? Pertanyaan-pertanyaan ini penting. Kita perlu menjawabnya dengan seksama dan penuh perenungan. Meski pun, kita tahu, setiap jawaban yang kita temukan akan mengantarkan kepada pertanyaan baru lagi. Tetapi, memang begitulah manusia. Pertanyaan adalah anugerah. Jawaban adalah anugerah. Bertanya lebih lanjut, juga anugerah.

Mari kembali membahas teknologi indera. Kaca mata adalah teknologi yang membantu teknologi mata. Pisau adalah teknologi yang membantu teknologi tangan. Manusia bisa memotong sayur memakai tangan. Lama-lama, memotong sayur dengan tangan dapat mengakibatkan tangan menjadi sakit. Pisau adalah teknologi yang membantu kerja tangan. Memotong sayur menjadi mudah dengan teknologi pisau.

Mobil adalah teknologi untuk memudahkan manusia memindahkan barang. Awalnya, manusia bisa memindahkan barang dengan mengangkatnya, kemudian, membawanya ke tempat tujuan yang jauh. Tugas seperti itu berat. Mobil adalah teknologi untuk memindahkan suatu beban dengan mudah.

Telepon, internet, dan media sosial adalah teknologi untuk membantu manusia komunikasi. Awalnya, manusia bisa komunikasi ketika bertemu langsung, tatap muka. Ketika terpisah oleh jarak yang jauh, orang-orang perlu berteriak agar suara bisa terdengar. Ketika terpisah di dua kota, maka, tidak ada teriakan yang bisa didengar untuk komunikasi. Media sosial adalah teknologi yang memudahkan manusia untuk bisa terus berkomunikasi meski terpisah jarak ratusan kilo meter.

Kita masih bisa terus menambahkan contoh bahwa indera adalah teknologi dan teknologi adalah alat bantu bagi indera.

Lalu, untuk apa semua teknologi itu? Untak apa semua kemampuan indera itu?

Berpikir-terbuka dengan logika-futuristik membantu kita untuk menjawab pertanyaan penting ini. Teknologi indera adalah anugerah bagi kita untuk membuka masa depan dengan posibilitas luas yang bebas dan membebaskan.

Realitas bisa saja terbalik dari logika. Teknologi justru digunakan pihak tertentu untuk menindas pihak lain. Bukan membuka posibilitas, tetapi, menindas posibilitas jadi terbatas bagi pihak lain. Secara personal, teknologi indera menjebak banyak orang. Indera mata seharusnya untuk memandang masa depan yang cemerlang. Yang terjadi, mata digunakan untuk melihat banyak hal yang tidak benar. Menjadikan mereka terpikat oleh jebakan iklan, konsumsi buruk tiada henti. Akhirnya, kesehatan menurun dan dirundung utang menggunung.

Hasrat makan sama saja. Nikmatnya makanan membuat mereka berlebih-lebihan. Akibatnya, perut buncit, darah tinggi, kencing manis, dan serangan jantung. Padahal hasrat makanan adalah agar kita makan sehat dan berkarya dengan semangat. Serta, empati kepada orang-orang yang sulit mendapat makanan, kemudian, berbagi makanan sehat kepada mereka.

Nafsu birahi bisa lebih parah lagi. Nafsu kepada lawan jenis sampai melampaui batas. Sebaliknya, nafsu sesama jenis sampai melampaui batas-batas nalar. Birahi ekonomi sulit berhenti. Birahi politik, apa lagi. Padahal nafsu adalah agar kita bisa saling mengasihi. Kita bisa meneruskan eksistensi spesies manusiawi bersama suara hati.

Sekali lagi, kita perlu komitmen untuk memandang teknologi indera sebagai anugerah untuk freedom yang bebas dan membebaskan. Tugas kita adalah untuk modifikasi teknologi demi kebaikan bersama.

3. Teknologi Pikiran

Pikiran kita juga sebuah teknologi. Kita berpikir dengan pikiran, hati, dan otak. Sehingga, pikiran adalah teknologi bagi manusia. Karena teknologi adalah anugerah, maka, pikiran juga anugerah. Sebaliknya juga sama valid. Karena pikiran adalah anugerah, maka, teknologi adalah anugerah.

Teknologi pikiran paling primitif, barangkali, adalah kalkulator sebagai mesin hitung. Lebih kuno lagi adalah teknologi sempoa. Seperti biasa, teknologi pikiran mengungkung manusia pada waktunya. Sempoa menjadikan orang malas berpikir hitungan dasar. Kalkulator lebih parah lagi. Menjadikan orang malas berhitung dan memberi ide untuk melakukan beragam kecurangan dalam ujian dan lainnya.

Teknologi pikiran paling canggih, saat ini, adalah teknologi digital dengan media sosial lengkap dengan artificial intelligence (AI) serta dukungan kapital besar.

Tentu, media sosial bermanfaat besar dengan membuka posibilitas luas. Orang-orang bisa komunikasi di seluruh dunia secara online nyaris tanpa jeda waktu. Orang-orang bisa berdagang di seluruh penjuru dunia dengan harga terbaik. Berita terbaru tersedia dari mana saja di mana saja.

Saya, pengalaman personal, bisa membaca beragam artikel ilmiah dan filosofis dari seluruh dunia. Saya bisa membaca ensiklopedia online lengkap dengan multimedia. Lebih dari itu, buku-buku tebal berkualitas sepanjang sejarah bisa kita akses online.

Dari arah sebaliknya, saya berbagi tulisan melalui internet yang bisa dibaca oleh siapa saja di mana saja. Melalui video di youtube, saya berbagi lebih dari 7000 video matematika kreatif secara gratis. Saya berbagi pikiran melalui beragam teknologi pikiran.

Bukankah teknologi pikiran adalah kabar baik? Tentu. Dan, seperti biasa, ada resiko kebalikannya.

Teknologi pikiran, seperti contoh di atas, berhasil membuka posibilitas luas dan memberi freedom ke banyak orang. Di saat yang sama, ada pihak-pihak tertentu yang memanipulasi teknologi untuk kepentingan ekonomis menguntungkan segelintir orang kaya – atau super kaya. Teknologi digital, saat ini, banyak menunjukkan bahwa media sosial mendorong yang kaya makin kaya dan yang miskin makin miskin. Ketika kepentingan ekonomis ini berpadu dengan kepentingan politis, maka, lengkap sudah menjadikan media sosial sebagai penjara pikiran. Hoax bertebaran di jagat maya, sampai-sampai, sulit membedakan dengan kebenaran. Tetapi, ujungnya jelas: media sosial menguatkan kepenting ekonomi dan kepentingan politik pihak tertentu.

Tugas bagi kita jelas: berpikir-terbuka dengan logika-futuristik, sedemikian hingga, membuka posibilitas luas teknologi yang bebas dan membebaskan. Tentu, perlu komitmen kuat untuk menjalankan tugas berpikir-terbuka. Kemudian, kita modifikasi teknologi untuk kebaikan bersama.

Karena pikiran adalah teknologi, maka, bisakah pikiran menjadi penjara bagi manusia itu sendiri? Tentu bisa. Pikiran memang bertugas membuka posibilitas luas yang bebas. Tetapi, pikiran bisa menjadi penjara yang menindas manusia. Pikiran yang menyatakan bahwa diri kita memiliki pikiran terbaik sehingga setiap orang harus menurut kepada kita adalah penjara sangat bahaya. Pikiran bahwa aliran pemikiran kita paling benar sedangkan pihak lain sebagai salah adalah pikiran jahat yang menjadi penjara banyak orang. Pikiran adalah penjara yang lembut namun membawa maut. Kita perlu waspada untuk membebaskan diri dari penjara pikiran sebagai teknologi. Pikiran kita perlu terbuka terhadap ragam posibilitas kebaikan, dengan menerapkan logika-futuristik misalnya.

Buku adalah teknologi pikiran paling baik, buku cetak. Buku memberi informasi, pengetahuan, dan pikiran-pikiran segar. Di saat yang sama, buku memberi waktu bagi kita untuk berpikir bebas. Buku membebaskan kita untuk membacanya secara urut mau pun acak. Buku membebaskan kita membaca secara utuh atau sebagian saja. Buku adalah sumber pikiran yang bebas dan membebaskan. Tentu saja, buku bisa diinterpretasikan dan digunakan secara salah. Bagaimana pun, secara umum, buku bisa diinterpretasikan dan digunakan secara baik dan benar. Dengan demikian, membaca buku merupakan salah satu cara terbaik untuk berpikir-terbuka.

4. Teknologi Diri

Dikabarkan, orang terkaya di dunia, misal namanya Bejo, ingin hidup abadi. Bejo ingin tidak mati. Dengan tersedianya teknologi, Bejo berharap bisa hidup selamanya. Teknologi kedokteran dan medis memungkinkan manusia merawat badannya secara sehat lebih lama. Terbuka posibilitas bagi manusia berumur lebih panjang dengan badan tetap kuat. Teknologi informasi memungkinkan kita menyimpan pikiran ke dalam jaringan komputer. Dengan kata lain, pikiran manusia menjadi abadi secara digital. Kemampuan berpikir tetap segar meski usia sudah tua. Tidak pikun, tidak lambat, dan tidak bingung.

Bejo ingin hidup abadi. Bisakah terjadi? Secara teoritis, sampai saat ini, mungkin saja manusia bisa hidup abadi. Sementara, secara empiris praktis, menunjukkan bahwa setiap manusia pasti akan mati. Kemajuan teknologi medis tidak bisa menolak kematian, hanya bisa menunda kematian, andai bisa. Bejo, barangkali, bisa hidup sampai usia 200 tahun dengan badan sehat. Apakah badan Bejo akan tetap sehat setelah berumur 500 tahun? Kemungkinan besar, badan Bejo akan rusak dan mati.

Alternatifnya adalah menggunakan teknologi informasi. Semua pengetahuan Bejo disimpan di jaringan komputer secara digital. Termasuk memori, perasaan, dan seluruh pengalaman Bejo, atau seluruh diri Bejo, disimpan di jaringan komputer. Sehingga, ketika usia 300 tahun, badan Bejo mulai melemah, seluruh diri Bejo pindah ke jaringan komputer. Badan Bejo memang jadi rusak. Kemudian, diri Bejo yang ada di jaringan komputer itu, dibuatkan badan misal avatar. Dengan demikian, Bejo hidup lagi dengan badan avatar dan diri berupa jiwa Bejo seutuhnya. Badan avatar itu sendiri dibuat sama persis dengan badan Bejo yang sehat. Avatar itu benar-benar adalah Bejo. Keunggulannya, badan avatar terbuat dari bahan sintetis sehingga bisa dirawat secara abadi tanpa ada penuaan dengan disediakannya beragam suku cadang.

Lebih menarik lagi, kita bisa membuat duplikat avatar Bejo lebih dari satu buah. Sehingga, kita bisa menciptakan lebih banyak Bejo dari avatar yang sama. Misal, kita memproduksi dua avatar dari Bejo yaitu P dan R. Pada awalnya, avatar P identik dengan avatar R dan mereka identik dengan Bejo itu sendiri. Seiring dengan waktu, P dan R menjadi berbeda dan unik sesuai pengalaman hidup masing-masing. Kita, sebagai pihak luar, memandang P dan R sebagai kembar identik dengan Bejo. Dalam dirinya sendiri, P dan R adalah pribadi yang berbeda seperti saudara kembar.

Bisa jadi, Bejo keberatan bila avatar dirinya diproduksi dalam jumlah banyak. Bejo ingin spesial, yaitu, hanya ada satu avatar unik. Teori quantum dan teknologi quantum memungkinkan untuk menciptakan avatar yang unik semacam itu. Dalam teori quantum terdapat teorema yang menyatakan tidak ada duplikasi. Dengan demikian, avatar Bejo benar-benar unik sebagai diri Bejo. Bila skenario ini benar bisa terjadi, maka, kita berhasil menciptakan teknologi diri. Tapi, apakah benar-benar bisa?

(a) Analisis esensial. Secara esensial, avatar Bejo bisa diproduksi. Artinya, Bejo bisa hidup abadi sebagai avatar dirinya. Teknologi diri berhasil memproduksi diri manusia. Manusia, secara analisis esensial, adalah badan manusia yang dipadukan dengan informasi yang tersimpan dalam otak manusia. Ketika badan manusia bisa digantikan oleh badan avatar, dan informasi otak manusia bisa diubah menjadi bentuk digital, kemudian, mereka digabungkankan, maka tercipta manusia yang abadi.

(b) Analisis eksistensial. Tidak mungkin manusia abadi di dunia ini. Secara eksistensial, manusia adalah unik tidak bisa digantikan oleh apa pun. Ketika manusia mati, maka, avatar tidak bisa menggantikannya. Avatar Bejo bukanlah Bejo. Mereka adalah dua eksistensi konkret yang berbeda. Avatar, barangkali, mengalami seluruh memori Bejo. Maksudnya, avatar ingat kenangan dirinya waktu kecil hidup bersama ibunya, sekolah dasar, dan sampai dewasa sebagai Bejo. Dan, barangkali, avatar bisa memahami bahwa dirinya adalah produksi dari teknologi. Tetapi, dengan kondisi seperti itu, avatar sadar bahwa dirinya adalah avatar dan bukan Bejo.

Dari perspektif Bejo lebih rumit lagi. Ketika avatar bisa merasakan memori sebagai Bejo, maka, apakah Bejo merasakan dirinya hidup sebagai avatar? Tidak. Bejo tidak merasakan eksistensi avatar adalah eksistensi Bejo. Jadi, secara eksistensial, kita gagal memproduksi teknologi diri. Kita gagal menjadikan manusia hidup abadi di dunia ini, meski, dibantu oleh teknologi. Siapa pun Anda harus bersiap-siap menghadapi mati, pasti.

(c) Makna-eksistensial. Logika-futuristik mengacu masa depan sebagai dasar utama makna. Karena itu, titik akhir di masa depan adalah penting. Sebagai individu, titik akhir di masa depan adalah kematian kita. Mati adalah akhir dari hidup kita. Dengan mati, maka seluruh hidup kita menjadi bermakna. Seluruh hidup kita adalah proses untuk mencapai kematian dengan baik.

Asumsikan kita bisa hidup abadi. Atau, seperti main game, kita bisa mati, lalu, mulai hidup lagi dengan game baru lagi dan begitu seterusnya. Dengan asumsi ini, maka semua makna jadi kehilangan makna. Karena tidak ada titik akhir di masa depan, maka, semua makna bisa direvisi, semua makna bisa dianulir oleh kehidupan baru Anda yang bangkit, di dunia ini, setelah Anda mati. Jadi, teknologi diri yang menjadikan manusia abadi di dunia ini adalah mustahil. Jika manusia ingin abadi, maka, dia perlu hidup lagi di dunia lain yang tidak berhubungan langsung dengan dunia ini.

Singkat kata, teknologi untuk menciptakan manusia hidup abadi adalah mustahil. Meski pun, analisis esensial memberikan secercah harapan bahwa kita bisa membuat teknologi diri sehingga abadi. Ada beberapa asumsi esensial. Pertama, esensi pikiran manusia bisa diubah menjadi bentuk digital. Demikian juga esensi jiwa manusia. Kedua, esensi badan manusia bisa digantikan oleh badan avatar. Kedua esensi di atas hanya dari perspektif esensial. Sedangkan, bila kita mencermati realitas, misal secara eksistensial, jiwa dan badan manusia adalah unik tak tegantikan. Ketika sebagian badan manusia diganti oleh badan lain, maka, ada proses tertentu untuk penyesuaian. Bagian berikutnya akan membahas tentang badan manusia.

5. Badan sebagai Teknologi

Badan adalah teknologi yang selalu melekat dekat dengan diri kita. Badan adalah titik temu, atau ruang temu, antara diri kita dengan alam eksternal. Sementara, diri kita hanya bisa eksis di dalam dunia. Maksudnya, kita tidak bisa eksis di ruang hampa. Kita tidak bisa eksis hanya seorang diri sendiri tanpa ada alam apa pun. Dengan demikian, badan adalah teknologi unik yang menghubungkan diri kita dengan alam eksternal secara niscaya.

Diri kita eksis di dalam badan kita, tetapi, tidak terbatas oleh badan itu sendiri. Diri kita imanen, menempel, di badan tetapi transenden, melampaui, dari badan itu sendiri. Badan bukanlah diri. Dan, diri kita bukanlah badan. Demikian juga, badan bukanlah alam eksternal dan alam eksternal bukanlah badan. Meski demikian, karena badan adalah titik temu, maka badan bisa meluas sampai ke diri kita mau pun sampai ke alam eksternal. Atau, diri kita bisa menyentuh dunia eksternal melalui badan dan dunia eksternal bisa menyentuh diri kita melalui badan juga.

Penting bagi setiap orang merawat badan dengan baik. Secara umum, badan perlu dijaga agar tetap sehat, pada gilirannya, badan sehat mendukung jiwa menjadi sehat. Badan menjadi sehat berkat memperoleh asupan yang tepat dari alam, pada gilirannya, badan sehat ikut menjaga kelestarian alam. Jiwa, badan, dan alam saling terhubung dengan erat.

Dalam perkembangannya, badan sebagai teknologi penghubung itu bisa terasa menghilang. Kita mengambil minuman di depan kita dengan tangan kanan, misalnya. Kita hanya merasa mengambil minuman tersebut. Kita tidak merasa, kita tidak sadar, menggerakkan tangan kanan. Karena tangan kanan itu sudah menyatu dengan jiwa kita. Seakan-akan tangan kanan itu adalah diri kita sendiri. Tangan kanan, sebagai teknologi penghubung, seakan-akan telah hilang.

Apakah Anda pernah membaca buku dengan memakai kaca mata? Apakah Anda merasa memakai kaca mata? Apakah Anda melihat kaca mata? Anda asyik saja membaca buku. Teknologi kaca mata, yang menghubungkan jiwa dengan buku, seakan-akan hilang begitu saja. Kaca mata sudah menyatu dengan jiwa kita.

Awalnya, badan terasa menghilang karena sudah menyatu dengan jiwa. Kemudian kaca mata, sepatu, baju, celana, dan topi terasa menghilang karena sudah menyatu dengan jiwa. Lebih lanjut alam se-desa, se-provinsi, se-bumi dan se-dunia terasa menghilang karena sudah menyatu dengan jiwa. Sehingga, merawat badan juga bermakna merawat kaca mata, serta, bermakna merawat bumi. Ketika tangan sakit, maka, diri kita terasa sakit karena tangan adalah bagian dari jiwa kita. Demikian juga, ketika bumi sakit, maka, diri kita juga terasa sakit karena bumi adalah bagian dari jiwa kita.

Seluruh dunia adalah badan bagi manusia. Dan, manusia adalah jiwa bagi dunia.

Bagaimana pun, batas antara jiwa dengan alam eksternal senantiasa dinamis. Badan kita selalu dinamis. Badan ambigu: badan bukan bagian dari jiwa, di saat yang sama, badan adalah bagian dari jiwa. Alam semesta juga sama. Alam terasa bukan bagian dari jiwa, dan di saat yang sama, terasa bagian dari jiwa. Karakter ambigu yang dinamis ini bukan suatu cacat, tetapi, memang begitulah realitas yang kita hadapi.

Kembali ke tema teknologi, maka, kita menemukan teknologi senantiasa ambigu dinamis. Sama juga, karakter ambigu dinamis bukanlah cacat bagi teknologi. Tetapi, memang demikianlah, ambigu dinamis, karakter sejati dari teknologi. Karena itu, kita perlu berpikir terbuka terhadap teknologi. Kita perlu fokus menatap posibilitas luas dari teknologi yang bebas dan membebaskan.

Sampai di sini, kita bisa mengajukan ulang pertanyaan awal. Apakah teknologi merupakan suatu alat atau tujuan? Alat dan tujuan bagi siapa? Bagi manusia? Siapa itu manusia? Apa itu tujuan?

Jawaban singkat dari semua pertanyaan itu adalah: ambigu dinamis. Kita akan melanjutkan kajian di bawah ini.

6. Teknologi Mencipta Teknologi

Khawatir bercampur harapan, “Bagaimana jika teknologi mampu memproduksi teknologi lagi?”

Kita bisa berharap, atau berkhayal, andai teknologi bisa mencipta teknologi. Kita, misal, punya sepasang mobil: mobil jantan dan mobil betina. Dari pasangan mobil ini lahir beberapa anak mobil. Kemudian, mereka beranak-pinak menghasilkan puluhan mobil. Bukankah itu harapan yang indah?

Lebih menarik lagi, bila kita menempatkan mobil itu di hutan seperti sepasang kijang. Kijang hidup di hutan secara mandiri – tanpa bantuan manusia. Kemudian, kijang berkembang biak menjadi banyak. Demikian juga, sepasang mobil di hutan berkembang biak menjadi banyak. Tiba saatnya panen, kita mengambil puluhan mobil itu, untuk kemudian, menjualnya dengan memperoleh keuntungan besar. Bukankah itu harapan yang menarik?

Mobil memproduksi mobil tidak pernah terjadi. Sehingga, cerita kita di atas hanya khayalan belaka. Bagaimana dengan teknologi lain? Misal, artificial intelligence (AI)?

Program AI, saat ini, mampu menulis program coding. Memang program yang dihasilkan oleh AI masih sederhana. Tetapi, kita bisa berkhayal juga bahwa, suatu saat, AI akan mampu membuat program yang canggih. Saat itu, AI mampu memproduksi AI. Teknologi berhasil memproduksi teknologi.

Mari kita lanjutkan skenario bahwa AI mampu memproduksi AI. Saat ini, industri produksi mobil menerapkan AI untuk menentukan jenis mobil, kuantitas modil, dan kualitas mobil. Sehingga, pada gilirannya, AI bisa memproduksi mobil. Demikian juga, produksi iklan digital memanfaatkan AI untuk analisis iklan yang paling laris. Iklan digital ini menentukan perilaku konsumen, manusia, secara luas. Sehingga, AI berhasil mengendalikan perilaku konsumen, produsen, dan masyarakat secara umum. Dalam politik, para politikus menggunakan AI untuk mengambil keputusan yang berpengaruh ke masyarakat luas. Kita bisa melihat bahwa pengaruh AI menembus beragam sisi kehidupan. Pengaruh ini makin meluas dan membesar. Singkatnya, seluruh sisi kehidupan manusia memanfaatkan AI. Dengan kata lain, AI mengendalikan kehidupan manusia.

Bagaimana jika AI melakukan kejahatan kepada manusia? Karena AI adalah produk dari AI, atau produk dari jaringan AI, maka manusia tidak bisa mengendalikan AI. Akibatnya, AI bisa berbuat jahat dan menindas manusia. Harapan terhadap teknologi berubah menjadi kekhawatiran terhadap teknologi.

Pertanyaan bisa kita ganti, “Memang, apa masalahnya jika AI berbuat jahat dan menindas manusia?”

Bukankah, selama ini, manusia sudah berbuat jahat dan menindas manusia lain?

Pertanyaan terakhir, di atas, mengingatkan kita bahwa kejahatan dan penindasan itu sudah terjadi selama ini. Baik kejahatan itu memakai teknologi sederhana mau pun teknologi canggih. Dengan demikian, ketika AI melakukan kejahatan dengan menindas manusia, maka, umat manusia sudah terbiasa mengalami hal seperti itu. Sehingga, hal itu bukan masalah besar bagi kemanusiaan. Tugas manusia memang harus menangani masalah-masalah seperti itu, menghadapi kejahatan dan penindasan.

Jadi, siapa pun pelaku kejahatan itu, manusia tetap bertanggung jawab untuk menghadapinya. Pelaku kejahatan bisa saja AI, manusia, jin, kerusakan alam, atau lainnya. Semua sama saja. Manusia tetap bertanggung jawab atas kejadian yang ada.

Apakah akan berhasil “teknologi bisa memproduksi teknologi” atau “AI bisa memperoduksi AI,” itu, bukan masalah utama bagi manusia. Masalah utama manusia adalah apakah mereka mampu berpikir-terbuka sehingga membuka posibilitas luas yang bebas dan membebaskan, serta, penuh komitmen. Tema ini akan kita bahas lebih detil di bagian bawah. Tetapi, apakah benar, pada saatnya nanti, AI akan mampu meproduksi AI?

Saya memperkirakan, pada suatu saat nanti, AI akan berhasil memproduksi AI. Artinya, teknologi mampu memproduksi teknologi. Akankah AI bisa inisiatif untuk berbuat jahat? Saya ragu itu. Jika AI memang mampu inisiatif berbuat jahat maka AI bertanggung jawab atas kejahatannya itu, sebagai mana, manusia bertanggung jawab atas kejahatannya. Saya menduga, AI bisa berbuat jahat karena ada campur tangan manusia secara langsung atau tidak.

7. Membuka Masa Depan

Teknologi adalah anugerah untuk membuka masa depan. Banyak sisi positif dan negatif dari teknologi. Bagaimana pun, teknologi tetap merupakan anugerah bagi manusia. Begitu juga, seluruh alam raya adalah anugerah bagi umat manusia. Di bagian akhir ini, kita akan membahas rekomendasi praktis terhadap teknologi, makna teknologi, dan rekayasa lanjutan. Dan, kita menjawab pertanyaan siapakah manusia itu?

a) Rekomendasi Praktis

(1) Gunakan teknologi secara praktis untuk membuka posibilitas baru secara luas. Gunakan teknologi untuk memasarkan produk-produk Anda atau gagasan-gagasan Anda. Gunakan teknologi untuk berbagi, untuk saling membantu di antara banyak pihak. Perhatikan bahwa teknologi bukan sekedar alat. Hati-hati karena teknologi bisa meperalat Anda sampai Anda rugi besar. Pastikan bahwa Anda memanfaatkan teknologi untuk membuka lebih banyak peluang baru yang cemerlang.

(2) Gunakan teknologi agar Anda makin bebas dan membebaskan lebih banyak orang. Dengan teknologi, Anda makin cepat, efisien, dan efektif untuk mencapai target. Sehingga, Anda lebih bebas memanfaatkan waktu yang tersedia. Atau, dengan teknologi, Anda menjadi lebih mudah menyelesaikan sutau pekerjaan sehingga Anda lebih bebas dalam menikmati pekerjaan tersebut. Hati-hati, jangan sampai Anda kecanduan teknologi sehingga Anda bergantung kepada teknologi. Pun, jangan mejadikan orang lain jadi tergantung kepada teknologi sampai tidak bebas. Pastikan untuk memanfaatkan teknologi guna membuat Anda lebih bebas dan membebaskan.

(3) Gunakan teknologi untuk mengembangkan komitmen Anda terhadap kebaikan. Dengan teknologi, kita mampu mempelajari suatu tugas dari beragam perspektif. Pilih tugas paling baik, kemudian, beri komitmen terkuat pada tugas itu. Jangan terjadi sebaliknya, karena teknologi menampilkan banyak pilihan, lalu, seseorang berubah-ubah pilihan tanpa komitmen. Teknologi, justru, perlu untuk menguatkan komitmen kepada kebaikan.

(4) Gunakan teknologi secara bijak, seimbang, dan tepat guna. Untuk menyelesaikan suatu tugas memerlukan 20 liter bahan bakar jika menggunakan mobil standar. Tetapi, memerlukan 40 liter bahan bakar jika menggunakan mobil mewah. Tentu saja, banyak alasan untuk memilih mobil mewah. Sementara, mobil standar lebih ramah lingkungan dan hemat. Gunakan teknologi secara bijak dan gunakan teknologi untuk membantu Anda mengambil keputusan secara bijak.

(5) Gunakan teknologi secara dinamis. Siap berubah dan fleksibel. Jangan terjebak oleh satu jenis teknologi. Bersiaplah untuk menatap masa depan yang dinamis. Teknologi itu sendiri terus berubah, maka, kita juga perlu untuk terus berubah dinamis dengan komitmen di jalan kebaikan.

Lima rekomendasi praktis, di atas, adalah yang paling dasar. Anda bisa mengembangkan lebih banyak tips memanfaatkan teknologi sesuai situasi yang ada. Manfaatkan teknologi untuk membuka posibilitas luas yang bebas dan membebaskan.

b) Makna Teknologi

Tiba waktunya, bagi kita, mengajukan pertanyaan dan merumuskan jawaban, “Apa sejatinya teknologi itu?”

Jawaban berupa definisi teknologi banyak tersedia online dan offline. Wikipedia mendefinisikan teknologi adalah penerapan ilmu pengetahuan untuk mencapai suatu tujuan praktis dengan cara yang dapat diulang.

Technology is the application of knowledge for achieving practical goals in a reproducible way.” (Wiki).

Kita akan melangkah lebih jauh dengan memahami apa makna teknologi secara esensial, eksistensial, dan futuristik.

(1) Makna Esensial Teknologi

Secara esensial, teknologi adalah enframing, teknologi adalah kemasan. Teknologi adalah mengemas suatu esensi untuk menghasilkan esensi tertentu. Media sosial adalah teknologi yang mengemas esensi sosial, misal gaya foto selfi, menjadi esensi tertentu, misal menjadi bit-bit digital. Tetapi, kemasan berupa bit-bit digital ini belum selesai. Media sosial akan mengemas lebih lanjut, misal menerapkan AI, agar bit-bit digital itu menjadi suatu gosip viral (esensi sosial lagi), sedemikian hingga memberi keuntungan finansial bagi pihak-pihak tertentu.

Bagaimana pun, proses kemasan dari teknologi tidak akan pernah berhenti karena teknologi memiliki aspek futural, aspek masa depan. Keuntungan finansial bagi pihak tertentu itu akan dikemas ulang, misal, menjadi keuntungan politis, dan seterusnya.

Dengan memahami bahwa esensi teknologi adalah enframing, atau kemasan, maka kita perlu lebih waspada. Pihak mana saja yang diuntungkan dari enframing? Pihak mana saja yang dirugikan? Tugas kita untuk mengambil keputusan dengan bijak. Memanfaatkan teknologi untuk kebaikan umat dan semesta.

(2) Makna Eksistensial Teknologi

Secara eksistensial, teknologi adalah anugerah untuk membuka posibilitas masa depan yang luas dan bebas serta membebaskan. Teknologi adalah niscaya. Teknologi adalah pasti. Badan kita adalah teknologi yang menghubung jiwa dengan alam eksternal. Kita hidup, eksis, selalu bersama teknologi. Eksistensi kita tidak bisa terpisah dari teknologi. Sehingga, pilihan kita adalah untuk memilih teknologi mana yang paling baik bagi manusia dan alam.

(3) Makna Futuristik Teknologi

Teknologi adalah masa depan – futuristik. Teknologi adalah modifikasi masa kini untuk meraih masa depan dengan arahan masa depan. Masa depan adalah kreativitas untuk membuka beragam posibilitas. Teknologi adalah freedom untuk memilih masa depan, kemudian, membawanya ke masa kini agar bisa dimodifikasi. Masa kini adalah repetisi dari masa depan yang dipilih dengan penuh komitmen. Teknologi adalah merajut masa depan cemerlang.

c) Rekayasa Lanjutan

Teknologi dekat dengan konsep rekayasa. Modifikasi tingkat tinggi adalah rekayasa (engineering). Para insinyur me-rekayasa semesta berdasar sains, teknologi, dan harapan masa depan. Tetapi, masing-masing diri kita adalah insinyur dalam makna tertentu. Sehingga, kita juga bisa me-rekayasa alam raya.

(1) Rekayasa natural. Awalnya, jaman kuno, teknologi adalah rekayasa terhadap alam (natural) demi kebaikan bersama. Manusia menciptakan cangkul, merekayasa alam, agar mudah bertani. Manusia menciptakan kereta tenaga kuda untuk transportasi. Keuntungan rekayasa natural adalah lebih aman terhadap alam. Tidak ada pencemaran lingkungan, yang signifikan, akibat rekayasa alam. Tetapi, hasil rekayasa alam dipandang hanya “sedikit” bagi pihak tertentu. Sehingga, manusia terus berjuang untuk rekayasa lebih canggih.

(2) Rekayasa mekanikal. Awal jaman modern, barangkali, ditandai dengan berkembangnya rekayasa mekanikal. Lebih canggih dari rekayasa natural, rekayasa mekanikal menerapkan matematika untuk rekayasa. Hasil rekayasa menjadi bersifat pasti dan mudah untuk diperbesar. Manusia mengembangkan mesin uap untuk kereta api, mobil, kapal, dan lain-lain. Manusia menjadi lebih mudah untuk menguasai alam semesta dengan rekayasa mekanikal. Dampak buruknya adalah pencemaran lingkungan dan penindasan pihak kuat terhadap pihak lemah. Saat ini, kita perlu menemukan solusi atas ancaman krisis iklim.

(3) Rekayasa elektrikal. Kemajuan teknologi makin pesat dengan berkembangnya rekayasa elektrikal, sehingga, dihasilkan tenaga listrik di penjuru dunia dan komunikasi gelombang elektromagnetik. Handphone Anda dan internet bekerja dengan prinsip elektromagnetik. Anda bayangkan kejadian di Eropa bisa ditonton secara langsung dari Asia, nyaris, tanpa jeda waktu. Rekayasa elektrikal ini tampak lebih halus, dan mencakup, rekayasa mekanikal mau pun natural. Dampak kemajuan sangat besar, salah satunya, terciptalah orang-orang kaya baru dan perusahaan raksasa. Sayangnya, dampak negatif sama besar juga. Kesenjangan ekonomi dan penindasan ada di banyak tempat. Tugas kita adalah mengarahkan kembali rekayasa elektrikal untuk membuka posibilitas luas yang bebas dan membebaskan.

(4) Rekayasa nuklir. Kita sudah mengetahui dampak mengerikan bom nuklir. Rekayasa nuklir memang berbahaya. Dalam dirinya sendiri, rekayasa nuklir membuka banyak posibilitas luas, misal, menghasilkan listrik tenaga nuklir. Ada dua jenis rekayasa yaitu nuklir kuat dan nuklir lemah. Contoh di atas adalah rekayasa nuklir kuat. Sementara, rekayasa nuklir lemah, misalnya, untuk rekayasa genetika menghasilkan bibit unggul tanaman pangan. Saat ini, dunia sedang dalam ancaman perang nuklir yang bisa menghancurkan seluruh bumi. Karena itu, kita perlu mencari solusi untuk mencegah perang nuklir. Apakah bisa?

(5) Rekayasa gravitasi atau ruang-waktu. Rekayasa ini belum berhasil dilakukan tetapi baru sebagai ide yang menarik. Teori Relativitas menyatakan bahwa gravitasi yang sangat kuat, massa materi yang sangat besar, bisa membelokkan ruang-waktu. Gerhana matahari tahun 1919 menunjukkan bahwa cahaya yang melintas dekat matahari dibelokkan oleh matahari, sebagai, benda dengan massa sangat besar. Jika rekayasa ruang-waktu berhasil, maka, kita bisa membelokkan ruang dan waktu. Dengan demikian akan ada banyak posibilitas baru yang luas. Salah satu idenya adalah untuk menangani sampah nuklir yang berbahaya menjadi ramah lingkungan. Rekayasa ruang-waktu juga mengarah ke penerapan wormhole untuk menyelesaikan problem quantum entanglement. Dengan demikian, terbuka peluang adanya kecepatan seakan-akan melebihi kecepatan cahaya.

(6) Rekayasa sosial. Semua rekayasa melibatkan peran rekayasa sosial. Teknologi yang tidak diterima masyarakat, akhirnya, akan musnah. Sementara, teknologi yang diterima oleh masyarakat luas makin berkembang. Rekayasa sosial bisa saja terjadi secara wajar, tetapi, bisa benar-benar melibatkan rekayasa tingkat tinggi. Karena itu, kita perlu mencermati rekayasa sosial dengan teliti.

(7) Rekayasa digital atau rekayasa informasi atau rekayasa pengetahuan. Kita tahu, rekayasa pengetahuan sudah berlangsung lama sejak awal peradaban manusia. Hanya saja, di era digital, rekayasa pengetahuan menjadi makin dahsyat lagi. Karena, pengetahuan itu sendiri, atau informasi itu sendiri, yang memiliki nilai paling tinggi. Jika Anda tahu bahwa harga saham perusahaan XYZ akan melonjak dalam beberapa bulan ke depan, maka, informasi semacam itu sangat bernilai tinggi. Lebih parah lagi, jika seseorang bisa memperoleh informasi digital tentang rekening dan password dari nasabah bank, maka, informasi itu bernilai tinggi. Dengan rekening dan password, seseorang bisa memindahkan uang dari satu rekening ke rekening lain. Menariknya, yang berpindah bukan uangnya, tetapi, cukup informasi digital tentang uang yang berubah. Lagi, kita perlu waspada dengan perkembangan rekayasa digital ini.

Seluruh rekayasa di atas, dan rekayasa lain, selalu merupakan rekayasa futural. Yaitu, rekayasa masa depan dengan modifikasi apa yang ada di masa kini. Rekayasa masa depan, dengan arahan masa depan, agar terjadi repetisi masa depan, di masa kini.

Siapa Manusia

Siapa diri kita? Siapa manusia itu? Siapa orang yang membuka masa depan dengan menerima anugerah teknologi itu?

Seharusnya, kita mudah menjawab pertanyaan itu. Karena, kita adalah manusia itu sendiri. Kita adalah jawaban dari pertanyaan itu sendiri. Nyatanya tidak semudah itu. Pertanyaan di atas menuntut kita refleksi diri.

Saya memilih satu jawaban yang ringkas, yaitu, manusia adalah dumadi yang menyelaraskan diri. Manusia adalah dumadi yang serasi. Atau, dengan satu kata, manusia adalah serasi.

Mari kita membahas manusia dengan model M adalah model dari manusia. Definisi awal, sebagai diferensia,

“Manusia = M = Akal = Rasional”

Model M

M sebagai diferensia mencakup seluruh diferensia lebih awal, di antaranya, meliputi badan, tumbuh, mineral, dan lain-lain.

M adalah model dasar dari manusia. Setiap manusia harus memenuhi M, berakal. Jika tidak berakal maka gagal sebagai M, gagal sebagai manusia.

Tetapi, model M ini berubah secara dinamis. Sehingga, model M bisa, berubah, menjadi berbeda-beda bagai bumi dan langit, bagai binatang dan malaikat, bagai air dan api. Jadi, M terbuka terhadap perubahan. Seiring waktu, M berubah menjadi lebih sempurna yaitu M(S).

Model M(S)

“Manusia = Akal Sempurna = M(S) = Sempurna = S”

M(S) adalah diferensia akhir. Tentu, M(S) meliputi M, meliputi akal. Atau, M(S) adalah ekstensi dari M itu sendiri.

Karakter S (sempurna) tidak bisa dibaca dari M. Artinya, S tidak bisa diprediksi dari M. Kareda ada faktor “forcing” (Cohen) atau “freedom”. Tetapi, S itu tersusun oleh M. Atau, struktur S terdiri dari unsur-unsur M. Jadi, S tersusun oleh unsur akal, badan, dan situasi serta freedom. Sebagai diferensia akhir, kita bisa menyebut sebagai M(S) = manusia sempurna, atau cukup S = sempurna.

M(S) memiliki karakter universal atau hampir absolut. M(S) bisa muncul di berbagai tempat berbeda dan di berbagai waktu berbeda. M(S) tidak bisa dibatasi oleh “hukum” M. Karena, M tidak bisa mem-prediksi M(S). Meskipun, seiring waktu, M akan bisa memahami M(S). Tetapi, M(S) bisa memprediksi M karena M ada dalam diri M(S).

M(S), di saat yang sama, bersifat unik, partikular, sesuai situasi yang ada dan “freedom” individu. Sehingga, di dunia ini, terdapat ribuan atau jutaan M(S). Dengan perspektif tertentu, setiap individu manusia adalah M(S). Tetapi, perspektif umum, menerapkan M(S) hanya kepada manusia sempurna dalam makna positif.

M(S) adalah tujuan akhir dari manusia, yaitu, menjadi manusia sempurna. Apa yang Anda siapkan untuk menjadi manusia sempurna?

M(S) adalah manusia sempurna, adalah dumadi yang menyelaraskan diri, adalah dumadi serasi, adalah serasi.

M(S) = manusia sempurna = selaras diri = serasi

M(S) = Serasi

Kita fokus kepada serasi. Konsep manusia sempurna bisa kita ringkas menjadi hanya serasi. Apa makna serasi?

(1) Serasi terhadap situasi. Manusia menjaga diri agar serasi dengan situasi alam sekitar. Sebaliknya bisa terjadi. Manusia mengubah alam sekitar agar serasi dengan manusia. Perubahan terhadap diri, dan alam sekitar, bisa saja ekstrem. Manusia akan berusaha membawa, kembali, ke situasi serasi. Dalam situasi serasi seperti ini, M(S) adalah unik. M(S) di Asia berbeda dengan M(S) di Eropa, misalnya. Karena mereka menghadapi situasi yang berbeda. Alam sekitar, di sini, bisa berupa natural dan kultural. Tentu saja, teknologi termasuk sebagai alam kultural.

(2) Serasi terhadap diri. Menariknya, diri manusia selalu menyimpan misteri. Sehingga, manusia sempurna perlu menjadi serasi dengan diri sendiri yang banyak misteri. Diri manusia memang tersusun oleh unsur-unsur manusiawi: badan, akal, situasi, dan lain-lain. Tetapi selalu ada “forcing” atau “freedom” yang melampaui unsur-unsur manusiawi yang sudah ada itu. Dengan demikian, manusia bisa selaras dengan dirinya sendiri dengan mencoba selaras terhadap “forcing” atau “freedom” dirinya sendiri.

(3) Serasi kepada Tuhan Maha Absolut. Manusia sempurna berjalan menuju absolut dengan menjadi hampir-absolut. Manusia meraih serasi dengan menjadi hampir-absolut, meski, tidak pernah absolut. Manusia perlu bimbingan melalui wahyu, kitab suci, riwayat, guru, sahabat, dan lain-lain. Dari dalam dirinya sendiri, manusia perlu berpikir terbuka, bersikap terbuka, membuka diri, dan membuka hati, agar mencapai serasi absolut. Tepatnya, serasi hampir-absolut. Manusia bisa berhasil meraih sempurna, hampir-absolut, bukan karena dirinya mampu. Tetapi, karena pertolongan dari sumber absolut.

Selamat menapaki jalan menjadi manusia sempurna…!

Catatan

Saya mencatat tiga poin penting sebagai penutup bagian teknologi ini. Pertama, teknologi adalah realitas eksistensial yang perlu kita terima sebagai anugerah. Kemudian, kita merespon teknologi untuk menghasilkan anugerah lagi lebih berlimpah.

Kedua, teknologi adalah buah dari perkembangan pengetahuan dan sains. Karena itu, kita perlu terus mengembangkan teknologi, termasuk, dengan mengkritisinya.

Ketiga, tugas kita adalah modifikasi teknologi untuk membuka posibilitas luas yang bebas dan membebaskan. Untuk itu, umat manusia perlu komitmen yang kuat.

Dengan mengkaji Pintu 1 sampai Pintu 4, kita siap menjalani hidup sukses penuh makna. Tetapi, masih ada tantangan di depan. Ada orang lain, seperti diri kita, yang ingin sukses namun sering beda pikiran dengan kita. Bagaimana cara menghadapi perbedaan pikiran, perbedaan pendapat, sampai perbedaan keyakinan? Kita akan membahasnya di Pintu 5 “Pakar Demokrasi.”

Pintu 2: Peka Menjadi Fakta

Rasa peduli kita menentukan mana fakta obyektif dan mana fakta subyektif. Ketika kita peka terhadap semua anugerah yang ada, maka, semua anugerah itu menjadi fakta bagi kita.

Anda membaca tulisan ini, barangkali, melalui internet. Atau, Anda sering akses internet untuk membaca atau menonton video melalui handphone atau laptop. Ketika Anda mematikan handphone, apakah, saat itu, tetap ada sinyal internet? Sinyal internet tetap ada karena ada wifi atau ada paket data. Tetapi apakah Anda bisa membaca atau menonton video jika handphone dimatikan?

Anda peka terhadap gambar dan tulisan di handphone. Sehingga, Anda bisa membaca tulisan di handphone. Tulisan di handphone itu nyata, benar-benar, ada. Tetapi, tulisan yang sama, sebenarnya ada juga di sinyal wifi Anda. Ketika handphone dimatikan, Anda tidak bisa membaca tulisan dari sinyal wifi. Anda tidak peka terhadap sinyal wifi. Sinyal wifi menjadi “tidak ada” karena kita tidak peka.

Peka menentukan sesuatu menjadi nyata atau sirna. Manusia perlu mengembangkan pendidikan setinggi-tingginya agar makin peka. Dengan peka yang tinggi, kita lebih mampu memahami lebih banyak realita dan kita bisa menciptakan realita baru melalui sains dan teknologi, misalnya.

1. Mata Semut Quantum
2. Mata Elang Gravitasi
3. Mata Manusia Dewasa
4. Anugerah di Dunia
5. Mengembangkan Makna dan Masa

Apakah Anda pernah main olah raga yang seru? Misal sepak bola atau badminton? Kadang, ketika asyik main badminton, kaki lecet hanya terasa sedikit panas. Selesai main badminton, lecet itu terasa panas sekali. Ketika asyik badminton, perhatian kita sepenuhnya dalam permainan itu. Hanya badminton yang nyata. Kaki lecet tidak nyata. Tetapi, selesai badminton, kita menjadi peka terhadap lecet di kaki. Lecet itu menjadi nyata. Bukankah itu karena perasaan subyektif? Atau, bisakah kita menunjukkan sesuatu yang benar-benar obyektif? Kita perlu mengkajinya.

Peka adalah realita dan realita adalah peka. Peduli adalah realita hati dan realita hati adalah peduli.

1. Mata Semut Quantum

Sains fisika mengaku sebagai kajian obyektif. Sebagian besar orang, barangkali termasuk diri kita, juga berharap sains bisa benar-benar obyektif. Sains mengkaji obyek-obyek di alam semisal batu, kayu, gerak benda jatuh, benda-benda langit, molekul, atom, dan lain-lain. Termasuk mengkaji asal mula alam semesta, big bang, pergerakan alam semesta, sampai prediksi alam semesta akan hancur pada waktunya.

Dilengkapi dengan matematika, sains fisika makin canggih. Produk-produk teknologi canggih, hampir semua, memanfaatkan teori fisika. Komputer Anda dan internet memanfaatkan hukum fisika. Pada waktunya, saintis penasaran, “Apa sejatinya penyusun seluruh alam raya?”

Penyusun seluruh alam raya adalah atom-atom. Misal, air bening yang Anda minum itu tersusun oleh atom hidrogen dan atom oksigen. Atom hidrogen itu eksis secara nyata bagi para saintis. Karena, para saintis peka terhadap teori atom. Sementara, kita tidak peduli dengan atom-atom hidrogen itu. Kita hanya peka terhadap air. Kita hanya peduli air itu dingin atau hangat untuk diminum. Apa yang kita peduli maka menjadi nyata, menjadi fakta.

Saintis bertanya lebih jauh, “Atom-atom itu tersusun oleh apa?” Kajian ini mengantar kepada teori quantum atau quantum mechanic (QM). Di mana, teori quantum ini mendorong perkembangan teknologi komputer dan internet makin canggih. Saat ini, sedang dikembangkan komputer quantum yang ribuan kali lebih hebat dari komputer jaman sekarang.

Kepekaan teori quantum terhadap obyek-obyek super kecil, sub-atomik, saya sebut sebagai mata-semut-quantum. Teori quantum peka terhadap sub-atomik maka realitas sub-atomik menjadi fakta yang nyata.

1.1 Beda dengan Mata Biasa

Istilah lompatan quantum, barangkali, sangat terkenal. Kita ambil contoh lompatan elektron dari kulit utama 3 menuju kulit utama 4 dengan menyerap energi cahaya. Elektron ini melompat dari 3 ke 4 tanpa transisi. Maksudnya, mula-mula di kulit utama 3, kemudian, tiba-tiba sudah berada di kulit utama 4. Tidak ada proses bertahap misal melalu 3,1 lanjut 3,2 sampai 3,9 misalnya. Elektron itu melompat begitu saja, nyaris, tanpa proses.

Mata semut quantum peka bisa melihat lompatan elektron. Tetapi, mata biasa tidak akan mampu melihatnya.

Dalam kehidupan nyata, kita sering mengalami lompatan-lompatan pemikiran. Dari berpikir kebaikan 1 melompat berpikir kebaikan 2. Kadang-kadang orang bisa bertobat. Dari perbuatan jahat tertentu “melompat” ke perbuatan baik tiada tara. Ketika kita peka terhadap lompatan itu maka lompatan itu menjadi nyata.

Lompatan kebaikan apakah yang akan Anda lakukan?

1.2 Peka terhadap Paradoks

Sains klasik cenderung yakin dengan kepastian. Sementara, mata semut quantum justru yakin dengan ketidak-pastian. Realitas quantum adalah pasti tidak pasti. Paradoks. Quantum sudah terbiasa menerima paradoks.

Paradoks paling terkenal, barangkali, adalah kucing Schrodinger. Kucing dalam kotak yang berdampingan dengan pemicu beracun dengan probabilitas 50% aktif. Apakah kucing dalam kotak itu hidup atau mati? Logika sains klasik menjawab kucing itu pasti, salah satu, antara hidup atau mati. Kita perlu membuka kotak untuk memastikannya. Logika quantum menjawab dengan berbeda, yaitu, kucing itu 50% hidup dan 50% mati. Kucing itu perpaduan, superposisi, hidup dan sekaligus mati. Selama, kotak tidak dibuka, maka, kucing itu berada imbang antara hidup dan mati. Mata semut quantum memang paradoks.

Masih banyak paradoks-paradoks lain di dunia quantum. Misal ketidakpastian Heisenberg, dualisme partikel gelombang, quantum entanglement, dan lain-lain. Dengan meminjam kacamata quantum, kita bisa melihat beragam paradoks. Kemudian, kita berpikir-terbuka menentukan respon terbaik terhadap paradoks tersebut. Orang yang tidak peka, dan tidak peduli, bisa saja bersikukuh hanya dengan satu sudut pandang. Tetapi, kita bisa meluaskan wawasan sehingga lebih peka, dan peduli, terhadap beragam sudut pandang.

1.3 Dunia Relasi

Kita terbiasa melihat mobil adalah tetap mobil, baik ketika kita buka mata atau tutup mata. Mobil itu eksis secara obyektif. Dalam dunia quantum bisa beda: relasi itu penting. Elektron ketika dilihat oleh mata, maka, elektron berperilaku sebagai partikel. Tetapi, bila tidak ada mata yang melihat, maka, elektron berperilaku sebagai gelombang. Realitas elektron ditentukan oleh relasi terhadap mata kita.

Dari perspektif quantum relasional, realitas adalah relasi di atas relasi. Perspektif relasional ini tergolong baru karena menggabungkan teori quantum dengan teori relativitas, yang kita bahas di bagian bawah. Elektron adalah gelombang dengan relasi “dicuekin” – dalam arti tidak diamati oleh pengamat. Jika orang kedua tetap tidak mengamati elektron maka elektron berlanjut sebagai gelombang. Demikianlah, realitas elektron ditentukan oleh relasi-relasi. Tetapi, bila pengamat ketiga mengamati elektron tersebut maka elektron berubah perilaku menjadi partikel. Tercipta relasi realitas baru.

Dalam kehidupan nyata, barangkali, orang tidak mengira bahwa kepekaan dirinya menciptakan realitas dunia nyata. Sinar matahari pagi menjadi begitu indah karena mata kita memandangnya. Cahaya rembulan begitu syahdu karena mata kita tertuju. Hembusan angin begitu segar karena badan kita yang merasakan elusannya. Tentu saja, matahari pagi tetap bersinar ketika tidak ada mata yang memandang. Tetapi, sinar itu menjadi sinar yang murung bermuram durja. Hanya ketika ada relasi dengan mata kita, matahari memancarkan sinar penuh makna.

2. Mata Elang Gravitasi

Mata elang berbeda dengan mata semut. Mata elang mampu melihat obyek yang luas dari jarak sangat jauh. Elang terbang tinggi di atas bukit. Bisa puluhan meter atau ratusan meter di atas bukit. Dari ketinggian itu, mata elang, yang tajam, menatap seluruh wilayah yang luas untuk menemukan sasaran. Mata elang mampu melakukan semua tugas itu dengan baik.

Mata semut sangat teliti kepada hal-hal kecil dan dekat. Mata elang sangat tajam kepada hal-hal yang luas dari jarak jauh. Mata mereka, semut dan elang, berbeda. Kita membutuhkan kedua mata tersebut: mata-semut-quantum dan mata-elang-gravitasi.

2.1 Teori Gravitasi

Mata gravitasi mengamati matahari, bulan, bumi, dan planet-planet lain. Meski matahari berjarak ribuan kilometer dari bumi, gravitasi matahari kita rasakan di bumi. Begitu juga, bulan sangat jauh dari bumi. Cobalah jalan-jalan di pantai ketika bulan purnama, maka, Anda akan melihat pengaruh gravitasi bulan. Bulan purnama menarik air laut, sampai, air laut menjadi pasang. Begitu bulan bersembunyi, maka air laut surut kembali.

Realitas gravitasi begitu jauh tetapi tetap berarti.

Mengapa gravitasi bulan mampu mempengaruhi air laut menjadi pasang naik, padahal, jaraknya sangat jauh? Karena ukuran bulan sangat besar. Karena massa bulan sangat besar. Ukuran bulan lebih besar dari badan kita. Lebih 7 juta kali lipat dari badan kita. Karena ukuran besar itu, maka, gravitasi bulan mampu menarik air laut menjadi pasang meski jauh.

Kita bisa menempatkan bola di atas laut. Bola itu tidak akan bisa menarik air laut menjadi pasang naik. Karena ukuran bola terlalu kecil. Akibatnya, gravitasi dari bola tidak dirasakan oleh air laut. Tetapi, sejatinya, gravitasi dari bola itu tetap ada. Hanya tidak signifikan. Kita bisa mengamati lebih detil mengapa hanya bulan purnama yang bisa menarik air laut pasang naik sampai tinggi? Mengapa bulat sabit tidak bisa menarik pasang yang tinggi? Karena, gravitasi bulan purnama bersinergi dengan gravitasi matahari. Akibatnya, secara total, menghasilkan efek pasang naik lebih tinggi.

Segalanya penuh arti. Bulan, matahari, dan bola semuanya memberi arti. Semua memberi gaya gravitasi. Besar atau kecil tetap berguna. Jauh atau dekat tetap bermakna. Demikianlah, teori gravitasi. Segala sesuatu saling menciptakan relasi.

Dalam kehidupan nyata, kita perlu lebih waspada. Karena semua yang ada di sekitar kita selalu bermakna. Besar atau kecil. Jauh atau dekat. Semua memang nyata.

Matahari yang ukurannya besar, sampai, mampu membelokkan ruang di sekitarnya. Cahaya bintang yang melintas dekat matahari akan sedikit berkelok lantaran gravitasi matahari. Dalam teori relativitas, massa yang besar semisal matahari, mampu membelokkan ruang. Akibatnya, cahaya yang seharusnya bergerak lurus di dekat matahari, menjadi bergerak berbelok sesuai lengkungan ruang. Seperti tidak masuk akal.

Dalam kehidupan sehari-hari, konsentrasi yang kuat pada suatu tujuan baik akan mampu menggerakkan realitas sekitarnya untuk ikut menyesuaikan.

2.2 Gravitasi Quantum

Awalnya, teori gravitasi terpisah dari teori quantum. Mata elang terpisah dari mata semut. Selanjutnya, para ilmuwan berniat menyatukan mereka menjadi gravitasi quantum. Kita membutuhkan keduanya. Tidak mudah untuk menyatukan quantum dan gravitasi. Quantum terbiasa mengkaji partikel mikro semisal elektron. Sedangkan, gravitasi terbiasa mengkaji fenomena makro semisal matahari.

Formula-formula quantum menjadi berbeda dengan formula gravitasi dan tidak berhubungan. Rumus-rumus elektron, misalnya, tidak berguna untuk menentukan gaya gravitasi matahari ke bumi. Sebaliknya, juga tidak berguna. Rumus gravitasi tidak berguna terhadap gerak dan perilaku elektron. Ditambah lagi, asumsi mereka terhadap realitas saling bertentangan. Quantum menganggap realitas adalah diskrit misal ada 1 elektron, 2 elektron, 3 elektron dan seterusnya. Tidak pernah ada setengah elektron. Sementara, gravitasi memandang realitas sebagai kontinyu sambung menyambung. Gravitasi matahari menjangkau bumi secara kontinyu sambung-menyambung tanpa putus.

2.3 Lingkaran Malaikat

Umumnya, terjadi lingkaran setan. Kita berniat mengubahnya menjadi lingkaran malaikat melalui lingkaran manusia. Lingkaran setan terbentuk ketika kita melihat suatu obyek membutuhkan ketelitian. Kita membutuhkan mata semut quantum. Tetapi, mata quantum ini tidak lengkap karena obyek tersebut dipengaruhi alam secara luas, dipengaruhi gravitasi. Kita bisa berpindah ke mata elang gravitasi untuk melihat situasi global. Pada gilirannya mata elang gravitasi juga tidak lengkap karena membutuhkan pandangan detil mata quantum. Kita terjebak dalam lingkaran setan.

Kita bisa mengubah lingkaran setan menjadi lingkaran malaikat dengan menciptakan makna hikmah dalam setiap pandangan. Apa makna gravitasi quantum? Apa interpretasinya? Apa hikmahnya?

Fakta sains quantum disepakati oleh para ilmuwan. Tetapi, terdapat banyak interpretasi yang berbeda tentang quantum. Demikian juga, ilmuwan sepakat tentang fenomena gravitasi. Sementara, makna gravitasi tetap menjadi tanya jawab besar.

(1) Gravitasi adalah gaya tarik menarik antara dua benda bermassa. Makna gravitasi sebagai gaya, tampak, jelas bagi fisika klasik Newton. Tetapi, kita masih bisa mengajukan pertanyaan apa yang dimaksud dengan “gaya” dan “massa” itu sendiri.

(2) Gravitasi adalah efek dari partikel elementer graviton. Fisika modern menyadari sulitnya memaknai gravitasi, kemudian, mengenalkan konsep graviton. Sampai sekarang, para ilmuwan belum bisa mendeteksi eksistensi graviton. Dari analisis, graviton lebih lembut dari Higgs Boson.

(3) Gravitasi adalah gelombang, yaitu, gelombang gravitasi. Sekitar tahun 2015, ilmuwan berhasil mendeteksi gelombang gravitasi. Gravitasi memiliki karakter gelombang. Tetapi, kita masih perlu interpretasi lebih lanjut apa makna gravitasi yang memunculkan karakter gelombang itu.

(4) Gravitasi adalah medan. Yaitu medan, di mana, efek gravitasi bisa dideteksi. Wajar, kita bertanya apa makna medan?

(5) Medan adalah realitas paling fundamental dari mana ruang dan waktu bisa eksis. Makna medan adalah medan ontologis.

Kiranya, uraian di atas cukup menunjukkan keragaman makna gravitasi. Kita bisa menambahkan lebih banyak lagi makna, dan interpretasi, dari quantum. Poin utama kita adalah, terbukti, bahwa kaca mata sains memperkaya sudut pandang manusia dengan kepekaan kualitas tinggi. Realitas yang tidak tampak oleh mata biasa, pada gilirannya, bisa dikaji dari sudut pandang sains. Ilmuwan mengklaim bahwa obyek sains adalah realitas obyektif. Dengan kata lain, quantum dan gravitasi adalah realitas obyektif bagi ilmuwan dan manusia umumnya.

Lebih dari itu, quantum dan gravitasi mengajak kita membuat interpretasi terhadap fakta-fakta sains. Interpretasi itu sendiri bisa bernilai lebih besar, atau sama besar, dengan fakta sains. Interpretasi akan menunjukkan arah perkembangan sains ke depan. Interpretasi sains membuka pintu bagi makna sains yang lebih luas dan lebih mendalam.

Makna sains adalah lingkaran malaikat. Ketika kita mengkaji makna dan hikmah sains, maka, kita mengubah lingkaran setan dari sains menjadi lingkaran malaikat. Apa hikmah yang Anda kembangkan dari sains?

3. Mata Manusia Dewasa

Mata manusia dewasa berbeda dengan mata anak kecil. Mata manusia dewasa berbekal pengalaman luas: bahasa, ilmu, dan nafsu. Sementara, mata anak kecil adalah mata yang tulus. Anak kecil melihat obyek apa adanya. Manusia dewasa melihat obyek sebagai ada apanya.

3.1 Mata Ilmu

Cahaya ilmu menyinari seluruh alam semesta. Mata manusia perlu cahaya untuk bisa melihat realita. Tidak cukup hanya menggunakan mata yang tulus. Kita perlu melihat realitas dengan mata yang berbekal cahaya ilmu.

(a) Bekal ilmu. Ketika kita melihat alam raya, kita perlu bekal ilmu. Misal, kita melihat pohon di kebun. Ilmu fisika menunjukkan bahwa pohon itu bisa tegak di atas tanah karena ada akar yang menopangnya. Ilmu ekonomi menunjukkan bahwa pohon itu akan menghasilkan buah yang bisa diperdagangkan. Ilmu etika menunjukkan bahwa pohon itu menjaga keseimbangan alam sehingga kita perlu merawatnya dengan baik.

Tanpa ilmu, seseorang hanya bisa melihat pohon sebagai batang dan daun belaka. Dengan ilmu yang luas, kita bisa memandang pohon jauh lebih luas lagi.

(b) Menerapkan ilmu. Melangkah lebih jauh, kita menerapkan ilmu di dunia nyata. Dengan ilmu fisika, kita tahu bahwa batang pohon yang panjang itu bisa kita potong menjadi 5 bagian. Kemudian, masing-masing potongan kita tanam lagi. Sehingga, mereka tumbuh menjadi 5 pohon yang baru. Ilmu fisika yang dilengkapi dengan ilmu biologi berguna untuk pertanian.

Kita bisa menerapkan ilmu ekonomi. Pohon itu bisa kita jual kepada orang yang membutuhkan. Kemudian, hasil penjualan itu kita manfaatkan untuk merawat perkebunan yang ada dan kebutuhan hidup masyarakat sekitar.

Ilmu etika memberi tantangan kepada kita. Apa perilaku terbaik kepada pohon itu? Barangkali membiarkan pohon hidup apa adanya adalah yang terbaik. Pohon itu tumbuh dan melindungi tanah di sekitarnya. Atau, barangkali, menjual pohon kepada orang yang tepat adalah lebih baik. Mereka, orang yang tepat, dapat mengolah pohon untuk manfaat yang lebih besar. Atau, barangkali, kita justru harus merawat pohon itu di tempatnya. Karena, tempat itu membutuhkan lebih banyak penghijauan. Kita bisa menerapkan ilmu etika pada situasi ini.

(c) Menambah ilmu. Keunggulan utama ilmu adalah selalu berkembang. Ilmu selalu bertambah. Orang yang tidak menambah ilmu adalah orang yang ketinggalan jaman. Mereka terancam tergilas roda peradaban. Kita perlu, selalu, menambah ilmu. Dengan bekal ilmu dan menerapkan ilmu, kita berpikir terbuka untuk menerima ilmu-ilmu baru.

3.2 Mata Bahasa

Bahasa merupakan keunggulan umat manusia. Lebih dari dugaan biasanya, bahasa membentuk cara kita melihat realita. Bukan hanya kita menggunakan bahasa untuk bicara. Tetapi, kita dibentuk oleh bahasa dalam berbicara, mau pun, dalam bersikap. Kita perlu memanfaatkan mata bahasa dengan bijak.

(a) Nama-nama. Apa arti sebuah nama? Nama adalah segalanya. Dengan nama, kita memahami seagala yang ada. Saya punya anak pertama bernama Syifa dan, adiknya ketiga, Shadra. Bagi orang yang baru kenal, mereka, menganggap Syifa dan Shadra adalah anak kembar yang sama persis. Mereka tidak bisa membedakan kedua anak saya. Kemudian, saya mengenalkan anak saya lengkap dengan ciri masing-masing. Dengan fokus kepada nama, Syifa dan Shadra, orang-orang yang baru kenal itu, akhirnya, bisa membedakan kedua anak saya.

Nama adalah kekuatan bahasa. Dengan nama, kita memahami realita. Dengan nama, kita berkreasi menghadirkan beragam karya cipta.

Apakah Anda bisa membedakan sains fisika dengan sains kimia? Jika kita fokus kepada sains, maka, keduanya adalah sama-sama sains. Tetapi, jika kita fokus kepada fisika, misal tentang perpindahan elektron yang menghasilkan tenaga listrik, maka, kita mengenal karakter sains fisika. Demikian juga, jika kita fokus kepada kimia, misal pengaruh elektron terhadap reaksi beberapa unsur, maka, kita mengenal karakter kimia. Meski mereka sama-sama sains yang mengkaji elektron, karena fisika berbeda nama dengan kimia, maka kita bisa membedakannya.

(b) Struktur bahasa. Lebih lanjut, bahasa menciptakan struktur yang unik. “Kera makan pisang” adalah contoh struktur bahasa dengan logika yang jelas. Struktur sebaliknya sulit diterima logika, “pisang makan kera.” Bahasa menciptakan struktur pikiran dan, sebaliknya, pikiran menciptakan struktur bahasa. Ada hubungan timbal balik antara struktur bahasa dan struktur pikiran.

Dengan demikian, kita perlu waspada dengan struktur bahasa kita. Manusia memandang alam raya berdasar struktur bahasa yang mereka miliki. Dengan kata lain, struktur bahasa mencipta realita. Ketika kita melihat kera dan pisang, maka, struktur bahasa menjamin bahwa “kera bisa makan pisang” tetapi, sebaliknya, tidak bisa terjadi “pisang bisa makan kera.”

Situasi lebih rumit bisa terjadi. “Negara kawan” tidak mungkin jahat terhadap negara kita. “Negara kawan” selalu berbuat baik kepada kita. Sebaliknya, bisa kita pahami. “Negara lawan” tidak mungkin berbuat baik kepada negara kita. “Negara lawan” selalu berbuat jahat. Tentu saja, kita sadar bahwa sulit melabeli suatu negara tertentu sebagai kawan atau lawan. Atau, kadang, setiap negara senantiasa bergerak dinamis sebagai kawan atau lawan sesuai beragam kepentingan.

(c) Makna realita. Bahasa membantu kita memahami makna realitas yang jauh. Baik jauh secara ruang mau pun waktu.

Hanya dengan bahasa kita bisa memahami bahwa “Indonesia merdeka pada tahun 1945.” Peristiwa proklamasi kemerdekaan Indonesia sudah berlangsung lebih dari 70 tahun yang lalu, jauh secara waktu. Tanpa bahasa, kita sulit memahami masa lalu. Demikian juga tentang cita-cita masa depan. “Tahun 2045 Indonesia akan berhasil meraih Indonesia emas yang adil makmur.”

Lebih dari itu, bahasa membantu manusia memahami beragam konsep yang hanya bisa dipahami melalui bantuan bahasa. Misal “konsep” itu sendiri hanya bisa dipahami melalui bahasa. Tidak ada benda fisik yang bernama “konsep”. Dan, tidak ada kegiatan tertentu yang disebut sebagai “konsep”. Konsep adalah realitas bahasa itu sendiri.

Dengan bahasa, kita bisa mengembangkan konsep abstrak yang kaya akan makna. Di antaranya, kita mengenal quantum, relativitas, real, imajiner, logaritma, kredit, debet, adil, makmur, dan lain-lain. Salah satu konsep paling penting adalah konsep dan makna cinta. Kita akan segera membahas tema cinta di bawah ini.

3.3 Mata Cinta

Ketika lapar, mata melihat setiap makanan begitu nikmat. Ketika kenyang, mata melihat hidangan makanan dengan biasa-biasa saja. Mata nafsu melihat segala sesuatu dengan birahi. Mata cinta melihat segala sesuatu dengan cahaya nurani.

Rasa cinta berdekatan dengan rasa rindu, kangen, resah, dan gelisah. Pada bagian ini, kita akan membahas cinta terutama yang berhubungan dengan resah dan gelisah.

Resah

Rasa resah muncul seperti ada sesuatu yang tidak beres. Resah menunjukkan sesuatu yang tidak beres. Memang, pasti ada sesuatu yang tidak beres. Baik, sesuatu itu ada di luar sana. Atau, sesuatu itu ada dalam diri kita. Resah menunjukkan itu, yang tidak beres itu.

Solusinya, temukan sesuatu yang tidak beres itu. Berikan perhatian kepada sesuatu itu. Lalu, bantu dia untuk membereskan dengan baik. Atau, jika Anda tidak bisa membantunya, barangkali, cukup dengan rasa empati dan doa terbaik untuknya.

Sumber resah itu, bisa jadi, ada dalam hati kita sendiri. Bukan sesuatu yang di luar sana. Mengapa hati resah? Barangkali ada janji yang belum dipenuhi. Baiklah, Anda bisa mencoba beberapa solusi untuk memenuhi janji. Atau, penyebab resah itu, barangkali ada sesuatu yang salah dalam diri kita. Cobalah mawas diri. Temukan cara, yang tepat, untuk koreksi diri.

Resah bukan masalah. Resah menunjukkan ada masalah. Resah membuka mata hati untuk peduli.

Gelisah

Rasa gelisah adalah puncak dari seluruh rasa. Gelisah lebih utama dari resah, takut, bosan, cemas, dan lain-lainnya.

Masalah tertentu bisa memicu munculnya rasa gelisah. Tetapi, gelisah lebih tinggi dari masalah. Gelisah menjadikan semuanya tak berarti. Harta menjadi tiada arti. Teman tidak ada arti. Seluruh isi dunia menjadi kurang berarti. Gelisah membubung tinggi.

Apa yang dicari oleh rasa gelisah? Ada di mana rasa gelisah? Apa itu rasa gelisah? Gelisah lebih besar dari pertanyaan “apa”. Gelisah lebih luas dari pertanyaan “di mana”. Gelisah lebih tersembunyi dari semua yang dicari. Gelisah adalah rindunya hati kepada Sang Maha Tinggi. Gelisah adalah alunan nada-nada cinta dari Sang Maha Cinta.

Peka Universal

Peka adalah universal. Peka adalah semesta alam raya. Peka adalah fakta. Peka maka menjadi fakta.

Peka adalah peduli masa depan dirinya bersama alam raya.

Manusia adalah peka itu sendiri. Tanpa rasa peka, sejatinya, manusia itu tidak ada. Terutama, tidak ada makna. Dengan peka, kita menjadi ada. Peka terhadap apa?

(a) Peduli terhadap masa depan. Kita menjadi ada karena kita peduli terhadap masa depan. Anda bekerja untuk masa depan yang lebih baik. Anda olah raga agar besok tetap sehat. Anda makan sarapan agar bisa bertahan hidup sampai siang. Anda membaca tulisan ini agar bertambah wawasan setelahnya. Hanya mereka yang peduli dengan masa depan, mereka menjadi ada.

(b) Dirinya. Peduli terhadap masa depan dirinya. Ketika kita peduli berada di masa depan, maka, diri kita ini sudah ada di masa lalu. Jadi, yang berharap punya masa depan itu adalah diri kita yang sudah ada di masa lalu ini. Maksudnya, kita perlu mempelajari sejarah diri kita di masa lalu untuk bisa menuju masa depan. Kita bebas memilih masa depan, tetapi, kita selalu berbekal sejarah masa lalu. Bagaimana pun, hikmah sejarah masa lalu diri kita itu, kita melihatnya dengan perspektif masa depan. Sehingga, masa depan punya peran yang sangat kuat untuk menggali hikmah masa lalu. Akibatnya, setiap orang selalu bisa memperoleh hikmah dengan membuka pikiran dan hatinya.

(c) Bersama alam raya. Peduli bahwa kita selalu bersama alam raya saat ini. Kita selalu bersama alam raya. Di masa depan, masa lalu, dan masa kini. Karena itu, ketika kita peduli dengan masa depan diri, maka, kita juga harus peduli dengan masa depan alam raya. Diri kita menjadi benar-benar nyata karena bersama, dan berada dalam, alam raya. Maksud alam raya meliputi alam natural dan kultural.

Pembahasan kita di atas mengambil contoh manusia yang peka terhadap masa depan. Apakah benda di alam raya, misal batu, juga peka terhadap masa depan? Tentu saja peka. Mereka peka terhadap masa depan hanya saja berbeda kadar dengan manusia. Batu peka terhadap masa depannya, yaitu, menuju entropi yang lebih besar (sesuai hukum sains termodinamika). Untuk bisa menambah entropi, batu perlu modal entropi dari masa lalunya. Bagaimana pun, entropi batu adalah totalitas bersama benda-benda di sekitarnya.

Jadi, realitas alam raya dan realitas diri kita terhubung dengan tingkat peka dan peduli.

Rasa gelisah adalah tingkat kepekaan paling tinggi. Ketika gelisah, kita sadar berada di alam raya, di saat yang sama, kita melayang tinggi lebih dari alam raya. Gelisah adalah sapaan lembut dari Sang Maha Tinggi. Gelisah adalah kepekaan cinta kepada Sang Maha Cinta.

Gelisah membuka mata kita untuk menjadi mata cinta. Kita menyongsong masa depan bersama alam raya yang bertabur cahaya cinta. Kita melihat masa lalu, semua sejarah, dengan pandangan cahaya cinta. Kita menyapa semua yang ada dengan kelembutan cinta.

4. Anugerah di Dunia

Mata yang paling penting bagi manusia adalah mata yang mampu melihat semua realitas di dunia sebagai anugerah yang nyata. Mata yang peka bahwa setiap debu adalah anugerah, setiap hembusan nafas adalah anugerah, bahkan setiap kegelapan adalah anugerah juga. Mata yang sama melihat setiap orang adalah anugerah. Orang tua adalah anugerah, saudara adalah anugerah, tetangga adalah anugerah, teman adalah anugerah, bahkan lawan juga anugerah.

Tetapi, makna dunia itu sendiri bisa lebih luas dari aslinya. Dunia kerja adalah anugerah, dunia bisnis adalah anugerah, dunia politik adalah anugerah. Semua dunia adalah anugerah. Bahkan, dunia setelah kematian adalah anugerah. Atau, dunia kubur adalah anugerah. Sampai, akhirat adalah anugerah. Sementara, Tuhan adalah sumber anugerah dari segala anugerah.

4.1 Anugerah Dunia Semesta

Anugerah paling nyata bagi manusia adalah alam semesta ini. Sebaliknya juga benar. Manusia adalah anugerah bagi dunia semesta. Selanjutnya, manusia mengembangkan dunia budaya: bahasa, sains, seni, olah raga, politik, dan lain-lain. Dunia teknologi merupakan anugerah yang unik, yaitu, gabungan antara alam dan budaya.

Kita sudah membahas di Pintu 1 “Anugerah Semua” bahwa semua semesta yang ada adalah anugerah. Kita hanya perlu meningkatkan kepekaan mata kita untuk melihat segala yang ada adalah anugerah yang nyata. Sementara, anugerah teknologi yang begitu dahsyat, kita bahas secara mendalam di Pintu 4 “Modifikasi Teknologi.”

4.2 Anugerah Dunia Diri

Di dunia luar ada anugerah, di dalam diri manusia ada anugerah juga. Dunia diri adalah lautan tak bertepi. Kita bisa menyelami rahasia diri tanpa pernah henti. Siapakah diri ini?

Dunia diri adalah yang paling dekat dengan diri kita, yaitu, diri kita sendiri. Tetapi, mengenali diri sendiri memunculkan banyak misteri. “Orang yang mengenal dirinya, maka, sungguh dia mengenal Tuhannya.”

Diri kita adalah kebaikan yang berlimpah. Kebaikan ini mengalun dengan harmonis menjadi karya-karya indah di dunia nyata. Baik berupa karya seni, sains, ekonomi, hukum, politik, dan lain-lain. Berlimpahnya kebaikan itu terus berlimpah. Kadang, orang tidak sanggup menjaga ukuran berlimpah sampai menjadi berlebihan. Akibatnya, kebaikan berubah menjadi bencana. Makan terlalu banyak justru menjadi penyakit. Bekerja terlalu banyak merusak badan sendiri. Olah raga terlalu banyak justru cidera. Hanya kebaikan berlimpah yang harmonis, yang akan bisa, menjadi kebaikan nyata.

Bagaimana anugerah diri dalam dirinya sendiri? Contoh kita di atas adalah anugerah diri yang terungkap ke dunia luar misal berupa sains. Anugerah diri juga melimpah ke dalam diri sendiri ditandai munculnya rasa gelisah sejati. Gelisah lebih tinggi dari seluruh dunia dan isinya. Gelisah adalah diri kita sedang mendekati Sang Maha Cinta. Berlimpah rahasia di sana. Kita akan membutuhkan lebih banyak kata-kata perlambang untuknya.

Di sini, kita akan meringkas salah satu poin pentingya: Maha Cinta berjalan seiring dengan maha karya.

Untuk menyelami diri menuju Maha Cinta, di saat yang sama, kita perlu mempersembahkan yang terbaik kepada alam raya, yaitu, maha karya. Dengan kata lain, kita hanya bisa mengenali Maha Cinta, ketika, kita mengembangkan maha karya yang nyata. Sebaliknya juga berlaku. Kita hanya bisa mengembangkan maha karya yang nyata, ketika, di saat yang sama, kita dekat dengan Maha Cinta. Anugerah-anugerah ini begitu besar. Bersiaplah dengan membuka pikiran, membuka hati, dan membuka diri.

4.3 Anugerah Masa

Mumpung masih ada waktu, mari kita manfaatkan dengan baik. Anugerah masa memberi kita kesempatan untuk hidup bermakna. Tetapi, orang-orang bisa terlena dengan membuang-buang waktu. Bahkan, ada yang ingin membunuh waktu. Padahal, waktu adalah anugerah untuk terus maju.

Anugerah Masa Depan

Waktu adalah segalanya. Waktu adalah uang. Waktu adalah pedang bermata dua.

Berbagai macam ungkapan menegaskan betapa pentingnya nilai waktu. Jika waktu adalah uang, maka, kita bisa menukar waktu dengan uang. Kita bisa membeli waktu, tidak mungkin bisa itu. Terlalu murah bila waktu setara dengan uang. Waktu jauh lebih bernilai dari uang.

Waktu adalah pedang bermata dua. Ungkapan ini tepat menggambarkan kekuatan waktu. Di satu sisi, waktu membantu kita mengatasi segala hambatan dengan memberi beragam kesempatan. Di sisi lain, waktu bisa begitu saja berlalu, orang-orang melukai diri sendiri dengan lengah terhadap waktu.

Waktu adalah segalanya. Gambaran tepat betapa besar peran waktu. Tidak ada yang setara dengan waktu. Karena waktu adalah segalanya. Anugerah waktu adalah segalanya. Terutama, anugerah masa depan.

Anugerah masa depan memberi kita beragam posibilitas, peluang, yang terbuka luas. Tentu, kita bisa meraih masa depan cemerlang yang menjadi cita-cita. Lebih dari itu, masa depan bisa memperbaiki masa lalu yang kelam menjadi penuh hikmah. Ketika Anda menjadikan pengalaman kelam masa lalu menjadi pelajaran untuk membentuk masa depan terbaik, maka, Anda telah mengubah kelamnya masa lalu menjadi secercah hikmah.

Masa depan memberi kebebasan yang membebaskan. Tentu saja, masa depan menuntut kita untuk komitmen kepada kebaikan. Kita membahas lebih lengkap tentang anugerah waktu di Pintu 3 “Logika Masa”.

Anugerah Pasif

Sebagian besar anugerah adalah anugerah pasif. Kita tidak perlu berusaha untuk lahir, kita hanya pasif, kita dilahirkan oleh ibu tercinta. Kita tidak berusaha menciptakan mata, kita pasif saja, kita mempunyai mata. Secara pasif, kita menerima anugerah pikiran, hati, dan kehidupan.

Dari arah berbeda, kita perlu waspada. Kita pasif saja, tiba-tiba, semut menggigit sampai terasa sakit. Lebih beresiko, bila tiba-tiba, ular berbisa menggigit. Dalam realitas sosial, seseorang bisa cuek terhadap urusan politik. Resiko politik tetap mengenainya. Dia wajib membayar pajak yang makin mahal. Dia tidak bisa menikmati kekayaan alam yang dikuasai oleh segelintir kekuatan politik. Dia tidak bisa menduduki jabatan kepala daerah dan lain-lain. Seseorang bisa tutup mata, tetapi dampak resiko tetap dia rasa.

5. Mengembangkan Makna dan Masa

Kepekaan yang tinggi membuka diri kita siap menerima makna dan memberi makna. Kita perlu bergerak dari peka terhadap semua dunia menuju peka terhadap masa – masa depan, masa lalu, dan masa kini. Hanya manusia yang memiliki kemampuan unik menciptakan makna dan peka terhadap makna. Tumbuhan dan binatang, misal, peka terhadap sinar matahari. Tetapi mereka, tumbuhan dan binatang, tidak peka terhadap makna sinar matahari. Sementara, kita peka terhadap makna sinar matahari, misal, sinar matahari adalah lambang pencerahan dan kehangatan. Bagaimana pun, manusia bisa menciptakan makna yang berkebalikan. Sinar matahari bermakna sebagai siksaan yang membakar kulit manusia.

Presiden Soekarno adalah presiden terbaik sepanjang sejarah Indonesia. Benarkah? Atau, presiden yang biasa-biasa saja? Atau, bahkan, presiden yang memiliki kepentingan tersembunyi?

Kita, sebagai orang Indonesia, peka terhadap makna presiden Soekarno.

Pertama, Soekarno adalah presiden terbaik. Karena, Soekarno adalah proklamator dan presiden pertama RI. Soekarno berhasil mempersatukan Indonesia untuk meraih kemerdekaan. Lebih-lebih, kita kagum dengan peristiwa Sumpah Pemuda dan Konferensi Asia Afrika.

Kedua, dia adalah presiden yang biasa-biasa saja. Memang biasa, seperti itulah presiden, wajar. Sebagai pemuda yang hidup di era kolonial, wajar, dia berjuang menuntut kemerdekaan. Saatnya merdeka, banyak pejuang-pejuang kemerdekaan yang mendorong dia untuk proklamasi. Jadi, semua itu adalah respon yang wajar, biasa-biasa saja, bagi seorang presiden. Setelah merdeka, terjadi ketegangan dengan Eropa dan USA. Kemudian, presiden menggalang komitmen untuk Asia dan Afrika adalah wajar. Semuanya wajar dan biasa-biasa untuk ukuran seorang presiden Indonesia.

Jadi, Soekarno adalah yang terbaik atau wajar saja?

Terbukti bahwa kita bisa menciptakan makna secara kreatif dan bebas. Bagi yang setuju sebagai presiden terbaik, maka, bisa menciptakan makna presiden terbaik. Bahkan, mereka bisa menambahkan lebih banyak lagi bukti-bukti sejarah untuk menguatkan sebagai presiden terbaik. Tetapi, bagi orang yang menilainya sebagai wajar saja, mereka, bisa menciptakan makna wajar saja itu. Dan, juga, mereka bisa menambahkan lebih banyak lagi bukti-bukti sejarah.

Kita bisa menambahkan penyelidikan, “Apa tujuan menetapkan sebagai terbaik atau sebagai wajar saja?”

Kita bertanya tentang tujuan masa depan atas suatu makna – terbaik atau wajar. Tujuan masa depan ini, memiliki peran menentukan makna, lebih besar dari data-data masa lalu. Kita akan memperhatikan tujuan politis dan inspirasi.

Bagi yang menyatakan bahwa Soekarno adalah presiden terbaik berharap agar penduduk Indonesia kagum. Kemudian, penduduk Indonesia mengidentifikasi partai politik tertentu adalah penerus presiden Soekarno. Akibatnya, ketika pemilu, penduduk Indonesia memilih partai politik tersebut. Hasilnya, mereka memperoleh suara terbanyak dan memenangkan kursi kepala daerah atau kepala negara. Yang seperti itu adalah tujuan politis.

Sementara, tujuan inspirasi berharap generasi sekarang memperoleh inspirasi dari perjuangan Soekarno. Para generasi muda bisa belajar dari pengalaman Soekarno, kemudian, meneladaninya untuk berjuang membela Indonesia meraih adil makmur.

Bagi yang menilai wajar saja, maka, memiliki tujuan politis yang berbeda. Kita memiliki alternatif sistem politik dan tokoh politik yang lebih baik dari yang wajar seperti itu. Kita perlu pembaharuan dan reformasi total. Kemudian, harapannya, penduduk Indonesia mengidentifikasi partai politik yang mendukung pembaharuan dan reformasi total. Akibatnya, mereka menang pemilu untuk dewan, kepala daerah, dan kepala negara.

Tujuan inspirasi menyatakan bahwa sukses Soekarno adalah sukses yang wajar sebagai pejuang kemerdekaan. Semua orang mempunyai peluang yang sama untuk meraih sukses seperti Soekarno. Generasi muda sekarang bisa sama baik dengan Soerkarno. Lebih dari itu, generasi sekarang bisa lebih baik dari generasi pendahulu.

Analisis tujuan masa depan, di atas, membantu kita untuk lebih mudah memahami argumen mengapa terbaik dan mengapa wajar. Karena masa depan adalah peluang, posibilitas, maka masa depan terbuka terhadap beragam kreativitas makna. Dengan berpikir masa depan, kita menjadi lebih mudah berpikir-terbuka.

Jadi, kesimpulannya, terbaik atau wajar saja? Anda bisa menjawab ini dengan melakukan analisis lebih mendalam.

Hidup Anda Terbaik

Apakah hidup Anda adalah hidup versi terbaik atau biasa-biasa saja?

Anda bebas memilih makna – terbaik atau biasa-biasa saja. Dan, Anda selalu punya argumen yang kuat atas pilihan makna itu. Anda memaknai hidup Anda sebagai biasa-biasa saja adalah benar. Anda memaknai hidup Anda sebagai hidup versi terbaik, juga, sama benar.

Pengembangan makna ini berkaitan erat dengan aspek masa atau waktu. Kita membahas, secara khusus, aspek waktu di bagian selanjutnya.

Catatan

Melalui pintu 2 ini, kita menyadari bahwa peka menjadi fakta. Rasa peka dan peduli kita menentukan mana yang fakta dan mana yang bukan. Sedangkan, melalui pintu 1, kita menyadari semua adalah anugerah. Pintu 2 menguatkan pintu 1. Kepekaan diri kita menguatkan seluruh anugerah.

Bagaimana pun, kita sadar bahwa semua akan berlalu. Anugerah akan berlalu. Bencana pun akan berlalu. Semua berlalu bersama waktu. Pintu 3 akan membahas tentang waktu. Sesuai harapan, waktu adalah realitas anugerah itu sendiri. Apakah Anda siap menerima anugerah waktu?