Kalang kabut karena minggu lalu wilayah Surabaya jadi zona hitam. Ada yang berkilah itu bukan hitam tapi merah tua. Sama saja itu menunjukkan bahwa terlalu banyak kasus positif corona covid 19 di Surabaya. Tapi minggu ini semoga kabar baik datang dari Surabaya dan Jatim.
Saya menghitung puncak nilai R Jatim terjadi minggu lalu. Sekitar 1,18. Sempat bertahan. Lalu turun. Kemarin mencapai R = 1,04. Semoga hari ini turun lagi menjadi di bawah 1.
Seperti kita tahu nilai R di atas 1 menunjukkan bahwa virus masih terus mewabah. Sedangkan R di bawah 1 menunjukkan perkembangan virus mulai mereda. Bagaimana pun kita tetap perlu disiplin sesuai protokol kesehatan.
Awal Juni, DKI Jakarta telah berhasil menurunkan R = 0,99. Sampai hari ini pun konsisten turun mejadi R = 0,95.
Bersama-sama kita kompak menghadapi corono.
Bagaimana menurut Anda?
Disclaimer: Analisis dalam tulisan ini dimaksudkan hanya untuk kajian ilmiah. Tidak dimaksudkan untuk keperluan lain. Perlu kajian lebih mendalam untuk penggunaan lain.
Interest: Penulis tidak memiliki kepentingan ke pihak tertentu.
Sebuah rekayasa bisa mencapai herd immunity hanya dengan ambang batas 5%.
Masyarakat mulai jenuh dengan pandemi corona. Tapi mengatasi pandemi covid 19 tidak mudah. Beberapa negara berhasil dengan baik lalu muncul gelombang kedua. Bisa saja lebih mengerikan.
Herd immunity menjadi harapan. Mudahnya, herd immunity (HI) adalah kelompok masyarakat yang imun. Kebal terhadap virus. Masyarakat jadi aman terhadap virus. Bagaimana bisa?
HI bisa kita capai bila jumlah orang yang imun terhadap virus melebihi ambang batas minimal. Untuk corona, ambang batas sekitar 60% atau lebih. Angka 60% ini ngeri. Karena 60% dari sekitar 250 juta jiwa penduduk Indonesia adalah 150 juta orang terserang virus. Tidak ada fasilitas kesehatan yang mampu menampung pasien sebanyak itu. Bahkan meskipun setengah di antara mereka tidak perlu dirawat karena OTG – orang tanpa gejala.
Masih ada harapan! HI ini lebih mudah kita capai dengan rekayasa dan matematika. Angka ambang 60% bisa kita geser menjadi hanya 5%. Penurunan yang drastis.
Untuk mencapai HI dengan ambang hanya 5% kita coba memahami hitungan angka reproduksi R.
Angka R menunjukkan berapa banyak orang berikutnya yang akan ditulari oleh 1 orang yang sudah terinfeksi virus. Misal angka R = 2 menunjukkan bawah 1 orang yang terserang virus akan menulari kepada 2 orang lain. Mudah kita lihat bila R lebih dari 1 maka virus akan terus berkembang.
Tetapi bila R lebih kecil dari 1 maka virus akan mereda. Wabah selesai. Misal R = 1/2 dan ada 4 orang sudah terinfeksi. Maka berikutnya akan menulari 2 orang. Dan selanjutnya hanya menulari 1 orang. Sementara 1 orang terakhir tidak bisa lagi menulari.
4 + 2 + 1 … … …
HI adalah sebuah cara untuk membuat nilai R di bawah 1 sehingga pandemi berakhir. Caranya dengan memperbanyak orang imun (orang kebal = K). Sehingga orang yang akan terserang virus jadi berkurang (orang akan terserang = T).
R = a x T
Nilai R tergantung dengan banyaknya orang yang akan terserang T dan suatu nilai a yang barangkali tergantung sifat virus, interaksi manusia, cuaca dan lain-lain. Misalnya R awal = Ro = 4 untuk kasus virus corona yang akan menyerang 100 orang T.
Ro = 4 = a x T = a x 100
Agar terjadi HI maka R harus turun ke bawah ambang batas 1. Caranya adalah menurunkan T yang awal 100 orang menjadi 25 orang. Misal R menjadi Re = 1
Re = 1 = a x T = a x 25
Mudah kita pahami bahwa a x 25 = 1 karena asalnya a x 100 = 4. Bagaimana caranya mengubah T dari 100 menjadi 25 itu?
Caranya meningkatkan orang yang kebal = K = 75.
Awalnya semua orang 100 adalah T,
100 = T + K 100 = 100 + 0
Kemudian 75 orang jadi kebal, K = 75,
Seluruh orang =
100 = 25 + 75 100 = T + K
Orang kebal K = 75 ini berhasil kebal karena imunisasi atau karena terpapar virus lalu imun. Sayangnya untuk corona belum ditemukan vaksin maka terpaksa K = 75 ini karena terpapar virus covid. Angka 75% ini terlalu besar. Penuh resiko.
Kali ini kita perlu rekayasa untuk menurunkan angka 75% menjadi 10% atau 5% atau lebih kecil lagi.
Simulasi kasus di Indonesia misal banyak orang yang akan terserang 200 juta. R nasional saat ini adalah 1,05 = Rn.
Rn = 1,05 = a x 200
Untuk mencapai HI maka kita perlu menurunkan R menjadi 1 = Re,
Re = 1 = a x M
maka
M = 200/1,05 = 190 (pembulatan)
Karena T turun, dari 200 juta menjadi 190 jt, sebesar 10 juta maka banyak orang yang imun atau kebal,
K = 200 – 190 = 10
Secara persentase,
10/200 = 5%
Jadi untuk mencapai HI hanya butuh 5% orang yang imun. Angka ini jauh di bawah 75% atau 60%.
Perhitungan di atas bisa kita terapkan dengan baik. Tapi penerapan nyata ke kasus Indonesia masih perlu kajian lebih mendalam.
Menghitung angka reproduksi corona covid 19 menjadi seru. Saat ini orang-orang sedang menyoroti nilai Rt atau Re berbagai wilayah. Misal Jatim nilai R di atas 1,1 dengan ibu kota Surabaya menjadi zona hitam.
Untuk mengakhiri pandemi dengan meyakinkan kita perlu angka Ro. Bila vaksin ditemukan maka berapa orang yang perlu vaksinasi? Jawabannya, total 1 – 1/Ro dari populasi. Bagi yang menerapkan herd immunity perlu angka 1 – 1/Ro populasi harus imun.
Metode sederhana estimasi Rt sudah saya tuliskan di postingan sebelumnya. Hanya dengan kalkulator atau excel kita sudah bisa menghitung Rt. Lengkap dengan confidence interval dan batas bawah serta batas atas dari R. (Cek Angka Reproduksi)
Kali ini saya akan berbagi cara menghitung estimasi Ro. Masih menggunakan kalkulator atau excel sederhana saja. Ro adalah angka reproduksi R yang terjadi di awal-awal ketika masyarakat nyaris belum memiliki imunitas terhadap virus dan belum ada upaya menghambat penyebaran virus. Maka nilai Ro dapat kita pandang sebagai nilai maksimum dari R.
Untuk DKI Jakarta nilai Ro mendekati 4. Sedikit di bawah 4. Awal Juni nilai R di DKI sudah menembus ke bawah 1. Semoga konsisten di bawah 1 dan wabah selesai.
1) Gunakan data total kasus aktif. Data kasus aktif sudah mempertimbangkan banyak orang terinfeksi (infected), orang yang sembuh atau meninggal (removed), serta perubahan di antara mereka yang melibatkan populasi (suspected).
2) Gunakan rasio selang 5 hari yang merupakan mean dari periode inkubasi covid 19 sesuai laporan WHO. Lalu hitung geometric mean 3 hari terakhir untuk mempertimbangkan histori dan menjaga perubahan angka ekstrem. Data sebelum hari pertama kasus aktif dilaporkan diset sama dengan total kasus aktif hari pertama.
3) Ro dipilih dari nilai maksimum R. Bila terdapat beberapa maksimum lokal maka pertimbangkan maksimum global, median dari beberapa maksimum lokal, atau maksimum lokal terakhir.
4) Confidence interval 95% dapat kita peroleh dari Ro terpilih sebagai median dari data Rn. R(high) adalah Rn yang lebih besar dari Ro dan R(low) adalah Rn yang nilainya tepat di bawah Ro. Jadi kita memilih 3 nilai Rn yaitu R(low), Ro, dan R(high).
5) Nila Rn kita peroleh dari rasio total kasus aktif hari tertentu terhadap total kasus aktif n hari sebelumnya. Dalam contoh berikut saya menggunakan Rs. Anda juga bisa menggunakan data R.
Mari kita praktekkan dengan estimasi Ro Jawa Tengah.
Kolom paling kanan adalah data total kasus aktif Jateng.
Hitung Rs dan R,
Rs = total aktif hari ini / total aktif 5 hari sebelumnya
R = (Rs*Rs(kemarin)*Rs(lusa))^(1/3)
Pilih nilai R maksimum sebagai Ro. Dalam contoh kita Ro = 3,5079 terjadi ketika total kasus aktif 56 orang di sekitar hari ke 10 setelah ada laporan pertama.
Confidence interval 95% kita hitung dengan formula median. R(high) adalah:
Dengan n = 3 maka akar n kita dekati dengan akar dari derajat kebebasan n – 1.
1 + 3/2 + 1,37 = 3,87 = 3 (dibulatkan ke bawah).
Dalam contoh kita data ketiga, paling besar dari Rn, adalah
R(high) = 4,667
Sedangkan R(low) kita estimasi,
3/2 – 1,37 = 0,13 = 1 (dibulatkan ke atas).
Dalam contoh kita data kesatu, Rn yang tepat lebih kecil dari Ro, adalah
Reproduction number atau angka reproduksi menjadi terkenal di bulan Mei – Juni 2020. Angka yang kita simbolkan dengan R menentukan kapan pembatasan akibat corona covid 19 dapat dicabut. Selanjutnya masyarakat bisa mulai hidup dengan new normal – tatanan hidup baru yang diharapkan lebih serasi dengan alam.
R kurang dari 1 maka pandemi corona dianggap mulai melandai. Tapi R lebih dari 1 bermakna pandemi masih terus berkembang. Hal ini bisa berbahaya.
Akhir Mei dan awal Juni ini beberapa wilayah di Indonesia nilai R makin mendekati 1 bahkan ada yang menembus ke bawah 1. Kabar baik untuk kita. Semoga konsisten di bawah 1.
Saya mengembangkan cara menghitung R yang sederhana. Melengkapi beragam metode yang sudah dikembangkan para ahli baik dengan pendekatan kalkulus atau statistik atau lainnya.
1) Menghitung R dengan memanfaatkan rasio dan rata-rata geometri. Maka metode ini saya sebut sebagai GMR: geometric mean of ratio.
2) Gunakan data total kasus aktif. Di mana data kasus aktif sudah mewakili data terinfeksi, data removed (sembuh atau meninggal), dan perubahan di antara mereka yang melibatkan suspected.
3) Jumlah data yang kecil maka nilai R belum stabil dapat kita gunakan untuk menentukan R0. Ketika data cukup besar, misal di atas 100, maka nilai R bisa stabil. Nilai R ini kita sebut sebagai Rt atau Re.
Kita praktekkan dengan mengambil contoh kasus data covid 19 untuk Indonesia secara nasional 3 Juni 2020.
Perhatikan tabel berikut:
Kasus aktif 3 Juni = 18 129 gunakan untuk menghitung R sementara Rs, dengan membaginya dengan kasus aktif 29 Mei = 17 204.
Rs = 18 129/17 204 = 1,053
Pemilihan data 29 Mei sebagai pembagi adalah yang berjarak 5 hari dengan 3 Juni. Angka ini kita pilih karena sumber dari WHO menyatakan bahwa mean periode inkubasi adalah 5 hari. Meski kisarannya antara 2 – 14 hari. Sedangkan kemungkinan outlier 0 – 27 hari.
Untuk menjaga Rs lebih stabil maka kita akan membuat rata-rata geometri dengan Rs(kemarin) dan Rs(lusa) maka kita peroleh R.
R = (Rs*Rs(kemarin)*Rs(lusa))^(1/3) = (1,053*1,068*1,082)^(1/3) = 1,068 (Selesai)
Bisa kita lihat R nasional kita makin bagus dari Mei ke Juni. Makin kecil menuju 1 dan semoga menembus ke bawah 1.
Confidence Interval dan R(high) dan R(low)
Ketika R mendekati 1 maka kita perlu estimasi lebih akurat dan presisi lengkap dengan CI (confidence interval) serta nilai R(high) dan R(low).
Wabah dapat kita katakan melandai bila R konsisten di bawah 1 selama 14 hari dan R(high) juga di bawah 1 pada hari ke 14.
Kita dapat saja menggunakan kurva normal untuk estimasi. Karena kurva belum pasti normal maka akan lebih mudah bila kita memakai median untuk estimasi.
Agar data lebih banyak maka kita dapat mempertimbangkan kemungkinan outlier 0 – 27 hari. Kita memperoleh R1 – R28 yang lebih bagus untuk mengolah median dan CI.
Sebagai contoh saya akan praktekkan di sini dengan mengambil data R1 – R9 untuk edisi 3 Juni 2020. Dan untuk kemudahan saya menggunakan Rs. Hasil yang lebih bagus tentu gunakan R.
Kebetulan nilai R1 – R9 sudah urut monoton naik (perhatikan hanya 2 digit di belakang koma tanpa pembulatan). R1 = kasus aktif hari ini / kasus aktif kemarin. R2 = kasus aktif hari ini / kasus aktif 2 hari lalu dan seterusnya.
Maka median adalah R5 = 1,05 = R.
Untuk mendapatkan CI 95% kita gunakan rumus yang sama dengan mean.
Batas bawah = R(low) adalah data urutan ke,
Dengan mengambil n = 9 maka 9/2 – 1,94.(3)/2 = 1,56 = 2 (dibulatkan). Sehingga R(low) = R2 = 1,02 .
Sedangkan batas atas = R(high) adalah data urutan ke,
Kabar baik bahwa wabah corona covid 19 di pulau Jawa mulai memudar. Atau kita menyebut grafik mulai melandai. Hampir semua provinsi nilai R menuju di bawah 1 atau mendekati 1 kecuali Jatim.
Nilai R di bawah 1 bermakna 1 orang yang terinfeksi menularkan ke sedikit orang atau kurang dari 1 orang. Atau bisa kita misalkan R = 0.8 bermakna bila saat ini ada 10 orang terinfeksi maka berikutnya hanya ada 8 orang tertular. Berikutnya lagi makin sedikit dan akhirnya tidak ada.
Sebaliknya bila R = 2, misalnya, maka wabah masih terus bertambah. Misal saat ini ada 10 orang terinfeksi maka akan menulari 20 orang. Berikutnya lagi 40 orang. Dan seterusnya wabah makin meluas.
Karena di pulau jawa R di bawah 1 maka wabah mulai pudar – kecuali Jatim. Apakah saat ini adalah saat yang tepat untuk new normal?
1) Perlu konsisten 14 hari. Perilaku virus corona yang masa inkubasi sampai 14 hari memberi petunjuk bahwa nilai R di bawah 1 harus konsisten selama 14 hari pula.
Sementara di pulau Jawa baru terjadi beberapa hari di bawah 1. Bila kita tinjau dari pandangan ini maka belum tepat mulai new normal. Kita perlu bersabar menunggu beberapa hari ke depan semoga konsisten di bawah 1.
2) Fasilitas kesehatan dan tenaga kesehatan tersedia. Pemberlakuan new normal berpotensi menaikkan angka R. Konsekuensinya akan lebih banyak orang yang terinfeksi. Maka kita perlu memastikan bahwa faskes dan nakes mampu menangani lonjakan ini bila terjadi.
Para ilmuwan cenderung menyarankan menunda pemberlakuan new normal karena angka R yang belum aman terhadap lonjakan kasus baru. Tetapi pertimbangan ekonomi menuntut kita untuk segera produktif dengan cara new normal.
Pengalaman negara lain, misal Korea Selatan, dapat menjadi pelajaran bagi kita. Korsel sudah mulai new normal, terjadi lonjakan kasus baru, lalu kembali pembatasan.
3) Roda ekonomi perlu berputar. Benar bahwa ekonomi harus perputar. Maka kita perlu mencari cara untuk dapat melakukannya. New normal adalah solusi agar ekonomi produktif di saat yang sama aman dari covid.
Sayangnya tujuan new normal hanya tercapai dalam hal menggerakkan roda ekonomi. Tapi aman dari covid tidak tercapai – atau tidak terjamin. Langkah selanjutnya adalah kita perlu mengembangkan cara-cara untuk menjamin aman dari covid ini.
Jadi apakah saat ini adalah saat yang tepat memulai new normal di Indonesia, minimal pulau Jawa?
Ya, saat ini adalah saat yang tepat. Dengan syarat ini adalah keputusan resmi pemerintah. Di mana pemerintah sudah mempertimbangkan segala sesuatunya. Sudah mempertimbangkan segala resiko. Menyiapkan mitigasi resiko yang handal.
Pemerintah juga mendengar, menganalisis dari berbagai macam sudut pandang. Telah mengumpulkan kajian para ahli dari beragam disiplin ilmu.
Kita harus kompak mengikuti arahan pemerintah. Bergerak atas kemauan sendiri hanya akan mengacaukan sistem. Kita perlu satu langkah dari seluruh elemen untuk saling mendukung kemajuan bangsa.
Bila kita telah patuh kepada pemerintah lalu new normal gagal bagaimana? Itu memang resiko. Maka pemerintah perlu melakukan evaluasi. Memperbaiki apa yang sudah terjadi. Menyusun strategi yang lebih bagus lagi. Dan kita kompak lagi untuk bersama melangkah maju.
Beberapa orang merasa tidak nyaman makan gaji buta. Libur, tidak bekerja, tetap menerima gaji buta. Beberapa orang rela gaji dipotong karena tidak ngantor. Tapi bisa saja orang merasa gajinya kurang banyak meski dia tidak bekerja. Mereka ingin gaji butanya lebih banyak lagi.
Mas Nadiem tentu saja tidak berminat dengan gaji buta. Sukses beliau di gojek sudah lebih dari cukup untuk aspek ekonomi. Maka Mas Nadiem bekerja sebagai menteri adalah sebagai jalan mengabdi untuk memperbaiki negeri.
Selama pandemi sekolah libur. Apa saja yang dikerjakan oleh Mas Menteri Nadiem? Muncul wacana libur sekolah bahkan sampai tahun 2021. Bukankah gaji dan tunjangan menteri tetap mengalir meski libur? Gaji PNS saja bisa terus mengalir selama pandemi apalagi pejabat tinggi?
Tugas menteri pendidikan jauh lebih besar dari sekedar urusan sekolah. Maka pekerjaan Mas Menteri saat ini banyak dan penting semua.
1) Merombak kurikulum. Tugas besar ini sudah kita ketahui sejak awal pengangkatan Mas Menteri oleh Presiden Jokowi. Ganti menteri maka ganti kurikulum banyak orang bilang begitu. Saya mengusulkan kurikulum yang baru nanti fokus, sederhana, memberikan ruang luas untuk kreatif. Bahkan ada baiknya tersedia beberapa pilihan kurikulum standar, tidak hanya monoton saja. Bukankah kita bhinneka tunggal ika?
2) Memberantas korupsi di kementerian. Kita sudah membaca banyak data bahwa kementerian merupakan birokrasi yang besar. Pun banyak kasus korupsi. Mas Menteri punya kesempatan melakukan efisiensi ekstrem di masa pandemi. Selanjutnya data ini bisa digunakan untuk deteksi dini potensi korupsi di kementerian pendidikan.
Dengan korupsi, kita tahu, tidak akan pernah ada perbaikan di dunia pendidikan. Ketika korupsi disapu bersih di kementerian pendidikan maka kita punya harapan besar majunya pendidikan Indonesia.
3) Pemerataan kualitas pendidikan. Kita paham benar butuh pendidikan yang berkualitas. Tapi juga perlu merata ke seluruh penjuru negara Indonesia.
Pandemi telah membuka mata kita, mata hati kita. Mas Menteri mengungkapkan kekagetannya, “Ada sekolah tanpa akses internet, bahkan tanpa listrik.”
Meningkatkan kualitas pendidikan yang langsung dirasakan seluruh siswa di nusantara. Tenaga pendidik sebagai ujung tombak pendidikan pun wajib meningkat kualitasnya – mental dan fisikal. Agar dapat merata ke seluruh nusantara maka perlu kurikulum yang fokus dan sederhana itu.
Dan masih banyak lagi tugas Mas Menteri di masa pandemi ini.
Tidak ada kepastian kapan pandemi covid akan berakhir. Maka sekolah libur. Buka lagi nanti setelah tahun baru. Sekalian tahun ajaran baru. Wacana semacam itu wajar saja terjadi.
Sekolah kehilangan satu semester penuh. Plus beberapa bulan sejak Maret 2020 tempo hari.
Bagaimana langkah Mas Menteri? Tentu ada inovasi-inovasi untuk memperbaiki pendidikan negeri ini. Mas Menteri Nadiem menyatakan telah siap dengan beragam skenario. Tapi semua keputusan ada di gugus tugas selama pandemi.
Saya menilai pendidikan tidak boleh berhenti hanya karena pandemi. Bahkan sekolah pun tidak boleh berhenti. Bila berhenti 1 bulan atau 2 bulan wajar saja proses penyesuaian. Setelah itu pendidikan harus bangkit. Tenggelamkan pandemi. Berlanjut hidup serasi dengan seluruh alam ini. Berikan pendidikan yang hakiki.
Kita dapat menyusun solusi pendidikan masa pandemi dengan membagi jadi 3 kelompok.
Kelompok makmur digital adalah kelompok yang dengan mudah tersambung dengan internet. Tentu saja pasokan energi – termasuk listrik – juga baik. Makmur digital bisa melaksanakan pendidikan secara digital dan online.
Bagi kelompok makmur digital pendidikan bisa terus berlangsung. Prinsipnya, semua program yang bisa dengan online maka dilaksanakan pendidikan secara online. Hanya ada sedikit bagian pendidikan yang memerlukan tatap muka langsung. Dengan cara ini diharapkan pendidikan aman dari covid corona.
Kita perlu menjamin pendidikan online dengan kualitas yang memadai. Baik para pendidik dan siswa perlu disiapkan dengan baik. Saya sendiri bertahun-tahun keliling Indonesia untuk mengenalkan pendidikan online yang berkualitas. Jauh sebelum masa pandemi covid. Kesimpulan sementara: banyak yang masih harus kita perbaiki.
Tentu saja belajar online dengan cara memberi tugas ke siswa melalui medsos adalah tidak memadai disebut sebagai pendidikan online yang berkualitas.
Biaya untuk online perlu kita pikirkan solusinya. Tidak semua siswa memiliki hp atau pulsa untuk belajar online. Kita bisa mengembangkan banyak alternatif solusinya.
Beberapa bagian dari pendidikan yang mengharuskan tatap muka maka dilaksanakan pembelajaran tatap muka dengan standar protokol covid penuh hati-hati. Misal guru bisa saja satu kali dalam satu pekan mengunjungi kelompok siswa yang terdiri dari sekitar 5 atau 6 siswa. Memberikan pembelajaran dalam waktu singkat sekitar 1 jam saja.
Kelompok kedua, dominan fisikal maka perlu kita susun program pendidikan yang tepat. Kelompok fisikal ini, barangkali yang pernah mengejutkan Mas Menteri Nadiem, tidak ada jaringan listrik apalagi jaringan internet.
Tentu belajar online tidak bisa dijalankan bagi kelompok fisikal ini.
Tetapi solusi justru sederhana: belajar seperti biasa saja.
Apakah tidak beresiko? Tentu saja. Kita bisa meminimalisasi resiko ini.
Pertama, lakukan rapid test atau pool test untuk wilayah terbatas tersebut. Pastikan warga aman dari covid. Kedua, orang luar tidak boleh bebas keluar masuk wilayah ini. Ketiga, ada aturan karantina mandiri untuk warga yang sempat keluar masuk.
Maka program pendidikan dapat dilaksanakan di wilayah ini dengan cara biasa yang baik plus protokol covid di mana setiap orang pakai masker, jaga jarak, rajin cuci tangan, dan lain-lain. Jam belajar barangkali diperpendek menyesuaikan situasi.
Kelompok ketiga, tengah-tengah antara digital dan fisikal. Maka solusinya juga menemukan jalan tengah antara kedua solusi di atas.
Meski sekolah barangkali akan libur sampai awal tahun 2021 tetapi pendidikan harus tetap berjalan sejak sekarang.
Indonesia sudah hampir 3 bulan menghadapi wabah corona. Sudah banyak orang yang ingin kembali normal. Ingin jalan-jalan di mall, makan di restoran, dan bebas beribadah bersama-sama di rumah ibadah.
Tapi corona belum berakhir. Di Indonesia belum berakhir. Bahkan di negara Tiongkok yang lebih awal menangani corona juga belum 100% kembali normal. Gedung bioskop yang sempat buka harus ditutup lagi.
Saya mencatat 3 hal penting untuk mengakhiri corona sang covid 19.
Sikap waspada pemimpin yang kemudian menggerakkan seluruh rakyat untuk ikut waspada. Pemimpin yang waspada melihat betapa besar resiko akibat corona. Maka dia meyusun strategi paling efektif untuk mengamankan negara dan seluruh rakyat.
Untuk melihat berapa besar resiko corona ini saya sudah membuat video perhitungan sejak awal, bulan Maret, bahwa di Indonesia bisa saja ratusan atau jutaan orang terinfeksi. Fasilitas kesehatan tidak akan mampu menangani. Tenaga medis tidak akan sanggup melayani.
Sikap optimis pemimpin tidak banyak membantu di sini. Kita bisa belajar dari Amerika dan Brasil yang presidennya bersifat optimis terhadap corona. Mereka menanggung derita terbesar di dunia. Bagaimana dengan pemimpin di Indonesia? Anda bisa mengkajinya sendiri secara langsung.
2. Terlihat jelas ukuran selesai. Para ahli telah mengembangkan ukuran yang jelas kapan suatu wabah pandemi itu selesai. Angka reproduksi yang biasa disimbolkan dengan R atau Rt atau Re. Bila R di bawah angka 1 konsisten selama 14 hari maka pandemi corona bisa dinyatakan sudah selesai.
Secara nasional nilai R kita masih di kisaran 1,1 sampai dengan 1,2. Masih di atas 1. Sesuai rumusan maka pandemi di negeri kita memang belum melandai. Belum selesai. Bisa saja di provinsi tertentu nilai R sudah di bawah 1 maka provinsi tersebut dapat mengambil langkah lebih maju.
Di video-video saya terbaru, bulan Mei, mulai membahas R atau Re ini. Mencoba mencermati kapan waktu yang paling tepat mengakhiri virus corona ini.
3. Ikuti arahan yang berwenang. Dalam kondisi pandemi kita butuh pemimpin dan kepemimpinan. Ikuti arahan pemerintah. Tanpa kompak, banyak yang melanggar arahan maka bisa dipastikan sulit sekali menangani wabah ini. Bahkan ketika kita kompak bersatu mengikuti pemimpin itu pun masih perlu konsistensi untuk berhasil.
Misalnya pemerintah akan berusaha untuk membangkitkan produktivitas di saat yang sama aman terhadap covid. Beberapa wilayah jadi percontohan tatanan baru “new normal.” Kita perlu mendukung usaha pemerintah ini dengan disiplin tinggi.
Apakah new normal akan berhasil?
Belum tentu! Tapi dengan disiplin kita mengikuti komando pemimpin maka bersama-sama kita bisa mengevaluasi bila gagal. Pun bila berhasil akan menjadi contoh bagi wilayah-wilayah lain.
Tidak tanggung-tanggung corona covid 19 telah menjangkiti hampir 5 juta orang di seluruh belahan dunia. Dan menewaskan lebih dari 300 ribu orang. Pun belum ada tanda-tanda corona akan berakhir dalam waktu dekat ini.
Corona tidak bertambah tapi berlipat ganda. Salah memahami ini berdampak merugikan kehidupan bermasyarakat. Jika bertambah maka corona tumbuh secara linear yang mudah dipahami akal biasa.
Karena, naturalnya, corona berlipat ganda maka corona bertumbuh secara eksponensial. Sehingga dalam hitungan bulan sudah menjangkiti hampir 5 juta orang di seluruh dunia. Angka sebesar ini tidak bisa dicapai oleh penambahan. Hanya bisa oleh pelipatgandaan.
Negara yang menganggap kasus corona bertambah atau berkurang maka berada dalam resiko menyepelekan. Negara tersebut pontang-panting dihantam corona. Mereka tidak siap.
Dalam video saya bulan Maret dan April 2020 saya menunjukkan betapa besar efek eksponensial corona. Video ini bertujuan membangun kesadaran dan kewaspadaan dari semua pihak. Di video yang sama saya menyelipkan jalur hijau untuk menjaga optimisme.
Corona berakhir dengan “reproduksi”. Para ahli telah mendefinisikan “angka reproduksi” atau R untuk menentukan indikasi akhir dari pandemi corona. Jika R konsisten di bawah 1 maka pandemi mulai melandai dan segera berakhir.
Tetapi perlu diketahui bahwa ada banyak cara menghitung R. Menghasilkan angka R yang bisa beragam juga. Misal R awal untuk corona berkisar antara 2 sampai dengan 6. Seiring berjalan waktu nilai R akan turun mendekati 1. Lalu di bawah 1 dan pandemi kemudian berakhir.
Saya sendiri mengembangkan suatu cara menghitung R dengan ratio active case dan geometric mean. Hasil perhitungan R dapat kita lihat di video saya berikut. Secara umum di Indonesia, R sudah menuju 1 tetapi masih di atas 1. Maka pandemi belum berakhir dalam waktu dekat. Dengan disiplin kita bisa menuju di bawah 1.
Melonggarkan PSBB dan membuka pusat belanja semacam mall tidak tepat ketika R di atas 1. Demikian juga industri parawisata perhotelan belum waktunya untuk bangkit lagi.
Disiplin jaga jarak, pakai masker, rajin cuci tangan menjadi penting untuk memastikan agar R mengecil di bawah 1. Agar manusia dapat kembali beraktivitas secara normal.
Jika R tidak pernah benar-benar di bawah 1 maka wabah ini tidak berakhir. Konsekuensinya manusia akan hidup berdampingan bersama corona. Sebagaimana ini terjadi dengan virus HIV aids misalnya. Maka gaya hidup normal baru diperlukan. Tatanan baru.
Corona mengajak manusia untuk berpikir ulang arti kehidupan. Apa yang benar-benar paling penting bagi manusia?
Beberapa tahun lalu saya menerima kiriman uang dari google beberapa ribu dolar. Ada apa ini? Tapi lumayan juga kan? Hahaha…
Saya coba cek sana-sini. Mulai mengerti. Tampaknya ini ada hubungannya dengan kutu. Barangkali ini adalah solusi untuk masalah kutu. Kutu bisa ada di mana saja. Solusi google menurut saya menarik juga.
“Kutu (bahasa Inggris: bug) adalah suatu cacat desain pada perangkat keras atau perangkat lunak yang mengakibatkan terjadinya galat pada peralatan atau program sehingga tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Kutu umumnya ditemukan pada perangkat lunak, bukan perangkat keras.”
Sering saya ceritakan bahwa youtube berpotensi besar meningkatkan kualitas pendidikan di dunia. Musim corona covid 19 manfaat video edukasi youtube makin terasa besarnya.
Tahun 2008, saya merintis canel edukasi di youtube.com/edujiwa dan tahun 2011, youtube menawari saya kerja sama iklan. Saya terima maka mulai tayang iklan di beberapa video saya. Masalahnya tidak muncul dolar dalam report (earning estimated).
Pada akhir 2012, teman-teman youtuber sudah cair dolarnya. Saya tetap 0 dolar dalam earning estimated. Saya coba kontak sana-sini. Terhubung dengan seorang officer youtube dari USA. Sebut saja namanya Joy.
Joy menunjukkan masalah di saya adalah karena belum terhubung antara youtube dan akun adsense – padahal saya sudah pernah menghubungkan antara keduanya. Joy menunjukkan prosedur mengaitkan itu. Saya lakukan. Dan dicek Joy sudah benar adanya. Kejadian itu sekitar Februari 2013.
Beberapa hari kemudian saya hubungi Joy lagi. Masalah saya belum selesai. Estimated earning masih 0 dolar. Joy ngecek lalu bilang adsense saya tidak terhubung dengan youtube maka tetap 0. Dia minta saya untuk menghubungkan lagi. Saya lakukan dan beres.
Beberapa hari kemudian masalah tetap ada. Saya kontak Joy lagi. Dan Joy bilang sedang ada masalah di engineering serta sedang diperbaiki. Masalah semacam ini disebut sebagai “kutu” atau “bug” dalam perangkat lunak. Secara logika masalah ini harusnya terselesaikan. Nyatanya tetap ada masalah.
Putus nyambung akun youtube saya itu berlangsung beberapa bulan. Seorang peserta yang ikut forum saya itu, orang Perancis kalau tidak salah, memuji kesabaran saya yang lebih dari 3 bulan tetap bertahan.
Bukan hitungan bulan tapi sampai tahunan.
Bagi saya, Joy menangani masalah dengan baik. Mengakui ada masalah dan sedang memperbaikinya. Bahwa itu belum berhasil, kadang begitulah perilaku kutu.
Baru sekitar Februari 2015 solusi datang. Berupa kiriman dolar dari youtube. Diikuti earning estimated muncul nilainya, tidak lagi 0.
Saya kagum dengan solusi yang ditempuh oleh youtube. Tapi saya tidak tahu apa yang akan terjadi seandainya data dolarnya saya tidak pernah ditemukan. Bagaimana cara estimasinya?