Belajar Matematika 1 Menit Tapi 2 Juta Kali

Kecil tapi berulang jutaan maka total menjadi sangat besar. Saya mengembangkan teknik berhitung cepat yang menghemat waktu 1 menit. Tapi digunakan oleh jutaan siswa. Maka menghemat jutaan menit. Tiap hari, tiap bulan, tiap tahun.

Generasi milenial lebih dahsyat lagi.

Saya membuat video matematika yang panjangnya hanya 1 menit atau kurang. Saya upload di tiktok. Dalam 4 hari ditonton siswa sebanyak 2 juta kali.

Wow… saya sudah mengajar 2 juta menit hanya dalam waktu 4 hari luar biasa! Pengikut saya pun mencapai lebih dari 30 ribu siswa – dalam 4 hari juga dan terus bertambah.

Apa yang bisa dipelajari oleh siswa dalam 1 menit itu? Banyak. Banyak sekali ilmu dalam 1 menit itu. Tapi pertanyaan yang lebih tepat bukan itu.

“Apa yang bisa saya ajarkan secara efektif dalam waktu hanya 1 menit?”

Itu adalah pertanyaan paling penting. Bila kita mampu menjawab dengan baik maka jutaan siswa siap menyerap ilmu dari kita setiap saat.

Jawaban pertanyaan itu pun tidak bisa diraba-raba. Kita perlu praktek. Uji coba. Hasil yang buruk diperbaiki. Hasil yang bagus dilanjutkan dan ditingkatkan.

Jaman makin melaju. Waktunya kita menyebar ilmu ke seluruh penjuru. Penjuru kampung. Termasuk penjuru kampung digital.

Bagaimana menurut Anda?

Computational Thinking Nadiem Vs Procedural Knowledge

Mas Menteri Nadiem mencanangkan computational thinking (dan compassion) masuk kurikulum. Ide bagus. Tapi apa bisa?

Pertanyaan ini mirip, “Bagaimana cara memasukkan jerapah ke dalam kulkas?”
“Buka kulkas lalu masukkan jerapahnya,” jawaban singkat.
“Bagaimana cara memasukkan gajah ke dalam kulkas?” pertanyaan berikutnya.
“Buka kulkas lalu masukkan gajahnya,” adalah jawaban yang salah.

Jawaban yang benar adalah, “Buka kulkas keluarkan jerapahnya lalu masukkan gajahnya.”

Kurikulum kita saat ini bagaikan kulkas yang berisi jerapah. Bahkan banyak jerapah. Maka sebelum memasukkan computational thinking pastikan Anda sudah mengeluarkan semua jerapahnya.

Menurut saya, Mas Nadiem sudah berniat mengeluarkan semua jerapah itu dengan fokus kepada numerasi dan literasi. Bila benar ini terjadi maka saya setuju. Berharap banyak pendidikan Indonesia segera maju.

Apa itu berpikir komputasi?

Berpikir komputasi (Computational Thinking) adalah sebuah metoda pemecahan masalah dengan mengaplikasikan/melibatkan teknik yang digunakan oleh software engineer dalam menulis program.

Tapi harapan saya akan ada jerapah dikeluarkan dari kulkas buru-buru pupus.

“Ketua Bebras Indonesia, Inggriani Liem, menyebutkan bahwa Computational Thinking merupakan aktivitas ekstra kulikuler yang mengedukasi anak untuk memiliki kemampuan problem solving dalam era digital.”

Menempatkan berpikri komputasi sebagai ekstra bermakna memasukkan gajah ke dalam kulkas yang sudah penuh sesak oleh jerapah.

Kita bisa membanding komputasi dengan ide procedural knowlegde yang diusung OECD sebagai salah satu pengetahuan wajib 2030.

“Procedural knowledge is the
understanding of how a task is performed,
and how to work and learn through
structured processes. It is particularly
useful for solving complex problems.”

Menurut saya konsep procedural knowledge lebih tepat dan komprehensif. Sementara komputasi lebih menarik dan fokus. Saya mendukung keduanya dengan satu syarat: keluarkan dulu jerapahnya dari kulkas.

Bagaimana menurut Anda?

Kurikulum Nadiem Vs Epistemic Knowledge

Seperti apa bentuk kurikulum baru Mendikbud Mas Nadiem? Akankah lebih bagus buat negeri ini? Akankah ada porsi untuk “epistemic knowledge?”

Saya berharap epistemik dapat porsi besar.

Epistemik adalah siswa menguasai ilmu secara mendalam, mahir, dan tuntas, layakya seorang praktisi.

Epistemik menuntut sebuah kurikulum yang fokus dan mendalam. Epistemik tidak akan bisa berjalan dengan konten yang meluas, banyak materi, dan gemuk.

Seorang siswa yang menguasai epistemik “bahasa Indonesia,” misalnya, mampu menulis kalimat aktif dengan tepat. Dapat memberikan contoh kalimat aktif dengan mudah. Layaknya seorang guru bahasa Indonesia yang dengan reflek mencontohkan beragam kalimat aktif.

Seorang siswa yang menguasai epistemik “perkalian,” misalnya, dapat menghitung perkalian cepat dengan mudah. Siswa menghitung bahkan seakan hafal – padahal paham secara mendalam. Siswa paham cara berhitung cepat perkalian mana yang bisa diselesaikan hanya dengan pikiran. Dan tahu jenis berhitung mana yang sebaiknya diselesaikan dengan bantuan kalkulator atau mesin.

Keluhan kurikulum selama ini adalah tidak cukup waktu untuk mengajar materi sesuai kurikulum. Sehingga beberapa materi bahkan tidak sempat diajarkan di kelas. Atau diajarkan dengan ngebut saja.

Tentu pengajaran yang ngebut tidak cocok untuk epistemik. Epistemik perlu waktu. Siswa perlu belajar secara mendalam. Siswa perlu mengalami prosesnya. Siswa perlu memikirkan ilmunya.

Mas Menteri Nadiem yang fokus kepada literasi dan numerasi tampaknya punya peluang bagus untuk memasukkan epistemik ke dalam kurikulum. Jangan sampai kurikulum kita mengulang kurikulum Amerika jaman baheula, “Kurikulum seluas samudera tapi kedalaman satu mili.”

Sebagai catatan, berikut, saya kutipkan beberapa pengertian “epistemic knowledge.”

Awalnya digunakan sebagai penguasaan sains yang mendalam. “Epistemic knowledge refers to the nature of that knowledge, an understanding of the nature and origin of knowledge in science, and reflects students’ capacity to think and engage in reasoned discourse as scientists do.”

Lalu berkembang lebih umum sebagai penguasaan ilmu dan praktik layaknya seorang praktisi.

“Epistemic knowledge involves knowing
how to think and act like a practitioner.
It shows the relevance and purpose in
students’ learning and helps deepen their
understanding.”

Bagaimana menurut Anda?

4 + 1 Ilmu Wajib 2030

Ada 4 ilmu wajib dikuasai oleh generasi muda untuk menghadapi tantangan tahun 2030, merujuk ke project OECD. Saya menambahkan 1 lagi ilmu wajib bahkan lebih dari wajib.

Apaka sistem pendidikan kita siap untuk mengajarkan 4 ilmu wajib ini?

Tanpa 4 ilmu maka generasi muda akan mengalami banyak kesulitan di tahun 2030. Sementara dengan menguasai 4 ilmu plus beberapa aspek lagi akan membuka masa depan cemerlang untuk seluruh dunia.

Saya berharap sistem pendidikan kita sudah siap. Bagaimana pun secara pribadi atau lembaga kita bisa berpartisipasi menyiapkan generasi masa depan.

  1. Disiplin keilmuan
    Disiplin matematika, disiplin bahasa, disiplin sain, dan disiplin sosial adalah contoh disiplin ilmu dasar yang paling penting. Meski teknologi makin canggih dengan dengan AI – kecerdasan buatan – tetapi disiplin dasar tetap penting bagi siswa.

    Tentu saja kita dengan mudah dapat menghitung 6 x 12 pakai kalkulator atau internet. Tetapi proses dan pemahaman dari berhitung dasar tetap harus dikuasai dengan baik. Tidak ada jalan pintas untuk menyerahkan tugas ini hanya kepada mesin.

    Mas Menteri Nadiem, tampaknya, sudah tepat menaruh fokus di bidang disiplin ilmu dasar ini.
  2. Interdisiplin keilmuan
    Saling berhubungan antara beberapa disiplin ilmu. Kita paham benar masalah ini. Bahkan kita pernah mencoba kurikulum tematik integratif. Ide penting dan sangat menarik.

    Perlu kajian lebih mendalam dari pengalaman kurikulum. Apa yang baik dilanjutkan. Apa yang bisa diperbaiki mari kita tingkatkan.

    Dalam kehidupan nyata tidak ada ilmu yang berdiri mandiri. Berbagai ilmu saling terkait. Maka siswa perlu kita bekali dengan pemikiran terbuka mendalami beragam ilmu.

    Saya kira Mas Menteri Nadiem akan setuju dengan ide interdisiplin. Tapi saya belum melihat ide nyata untuk ini.
  3. Epistemik
    Ilmu yang membekali seseorang menyelesaikan sutau tugas layaknya seorang praktisi.

    Menurut saya ini tugas berat. Tapi bisa kita kejar. Kita perlu membekali siswa dengan penguasaan mahir di bidang tertentu. Caranya adalah membuat kurikulum yang lansing tapi mendalam.

    Mas Menteri saya kira setuju ini juga. Tetapi apakah pejabat-pejabat di sekitar Mas Menteri akan setuju dengan kurikulum yang langsing?
  4. Ilmu prosedural
    Tugas-tugas besar hanya dapat diselesaikan dengan prosedur-prosedur baku. Generasi mudah perlu paham ini sejak awal.
  5. Ilmu makna
    Bagaimana cara memaknai hidup? Anak-anak perlu memahami sejak awal bahwa hidupnya penuh arti.

Bagaimana menurut Anda?

Ritual Kreatif Lanjut Inovatif

Ritual malam Jumat itu bisa berlanjut ke mana saja. Meski awalnya saya mengutip beberapa bagian ayat tapi akhirnya bisa diskusi liberal. Si Kecil memberi kesimpulan,” Syarat agar bisa menulis novel adalah harus banyak baca novel.”

“Mengapa?” tanya saya.
“Mana bisa menempatkan tanda baca titik, koma, tanda petik, dan lain-lain jika tidak banyak baca?”

Si Kecil yang sekarang kelas 5 itu sedang ikut lomba menulis cerpen merdeka belajar.

Saya, kali ini, ingin melanjutkan beberapa hasil inovasi kreatif APIQ yang sudah berjalan sekitar 20 tahun di bidang matematika kreatif.

11. KPK FPB dengan metode tegak lurus.
Cara yang mudah dan intuituf untuk memahami dan meyelesaikan masalah KPK dan FPB. Bisa digunakan untuk tingkat mahir mau pun dasar. Sebagai bonusnya siswa mampu faktorisasi prima.

https://www.youtube.com/watch?v=LdcPpgKMsEc&t=79s

12. KPK FPB dengan metode coret.
Coret adalah tingkat mahir dari metode tegak lurus. Perlu pemahaman lebih tinggi tetapi memudahkan seluruh proses pengerjaan.

13. KPK FPB Semu
Sebuah problem yang jadi rumit karena lupa tujuan. KPK semu menjadi mudah bila siswa paham tujuan awal. Hal ini terjadi karena salah satu bilangan ada faktor atau kelipatan dari bilangan lainnya.

14. KPK FPB 3 Angka Metode Asosiasi
Bila siswa berhadapan dengan KPK FPB 3 bilangan atau lebih maka kita bisa menyelesaikan dengan asosiasi.

15. Triple Pythagoras Ganjil
Segitiga pythagoras yang sederhana saja hanya tinggal tambah 1 saja untuk mendapatkan sisi miring.

16. Triple Pythagoras Genap
Segitiga genap cukup tambahkan 2 untuk mendapatkan sisi miring.

17. Generator Umum Triple Pythagoras
Bagi penggemar matematika maka generator umum menjadi sangat menarik. Kita bisa mengembangkan ganjil genap untuk angka berapa pun.

18. Pola Perkalian 111
Pola perkalian yang sangat cantik. Menjadi dasar dari semua perkalian.

19. Pola perkalian 101
Perkalian yang hanya mengulang angka-angka yang dikalikan. Misal 53 x 101 = 5353 sedangkan 234 x 1001 = 234 234.

20. Pola Perkalian 999
Sebuah pola perkalian yang cantik. Tampak sangat sulit tetapi menjadi mudah sekali.

Bagaimana menurut Anda?

Catatan: Inovasi kreatif 1 sd 10 sudah saya tuliskan di Ritual Kreatif Invovatif.



KPK Lama Vs KPK Baru

Jutaan anak negeri selamat berkat KPK baru. KPK lama memang berjasa. Tetapi kita memerlukan konsep baru untuk menguatkan KPK – yaitu KPK baru.

Dari data, kita punya sekitar 45 juta siswa dari SD, SMP, dan SMA. Dan anggap saja ada sekitar 5 juta siswa yang sedang belajar KPK. Dengan metode KPK baru masing-masing siswa dapat belajar lebih mudah, lebih paham, dan lebih cepat. Siswa menghemat waktu 1 menit saja. Dikali 5 juta siswa maka menghemat 5 juta menit.

Penghematan setara dengan 83 000 jam.

Bayangkan penghematan ini bisa terjadi tiap hari. Banyak hal bermanfaat bisa kita kembangkan dengan hemat 5 juta menit.

Berikut ini konsep dasar dari KPK baru.

  1. KPK baru menggunakan metode tegak lurus dari paman APIQ.
  2. Tegak lurus langsung menemukan nilai FPB yaitu tegak. Dan KPK adalah tegak kali lurus.
  3. Tegak lurus mudah dipahami.
  4. Bisa untuk rumus cepat atau pun bertahap.
  5. Tegak lurus bisa untuk faktorisasi prima.

Bagaimana menurut Anda?

Mimpi Pun Harus Bayar

Anda tidak percaya?

Saya juga tidak percaya. Tidak percaya bahwa mimpi gratis. Di sini, mimpi harus bayar. Mimpi gratis itu jika mimpinya murah atau memang tidak berbayar.

Saya punya mimpi. Harus bayar 18 dolar per tahun. Bahkan saya harus bayar dua kali jadi 36 dolar per tahun. Itu yang bayar pakai uang. Lebih besar lagi bayar pakai waktu dan tenaga.

Apa mimpi saya yang harus bayar pakai dolar?

Saya bermimpi Indonesia memiliki pendidikan yang terbuka – merata dan berkualitas. Mimpinya sih juga untuk dunia.

Untuk mengejar mimpi itu maka saya melakukan beberapa usaha.

  1. Mengajak masyarakat luas untuk meningkatkan kualitas pendidikan Indonesia. Saya sendiri fokus pada pendidikan matematika kreatif dengan metode APIQ. Saya telah menulis ratusan postingan melalui web apiQQuantum.com . Alhamdulilah banyak respon positif dari berbagai kalangan di penjuru Indonesia. Untuk web apiqQuantum.com ini saya harus membayar 18 dolar tiap tahunnya.
  2. Beberapa orang lebih mengenal saya sebagai paman apiq. Maka saya buatkan web khusus pamanapiq.com . Di web baru ini saya menuliskan ide-ide dan berbagi pengalaman untuk memajukan pendidikan Indonesia secara lebih luas. Baik bidang matematika mau pun bidang selain matematika. Biaya juga sama 18 dolar per tahun.
  3. Pada tahun 2008 saya yakin peningkatan pendidikan melalui multimedia adalah cara paling efektif. Maka saya membuat canel youtube.com/edujiwa. Gratis untuk membuat canel. Hanya butuh biaya dan tenaga untuk membuat video konten matematika dan pendidikan. Waktu itu tidak ada iklan di youtube. Maka tidak ada uang dari youtube. Baru tahun 2014 atau 2015 ada pembayaran dari youtube.

Mimpi tidak gratis harus bayar. Mimpi besar harus bayar. Bayarnya juga besar. Hasilnya juga besar. Di dunia ini atau alam nanti.

Bagaimana menurut Anda?

Ritual Kreatif Inovatif

Setiap Kamis sore jelang malam Jumat, saya berusaha untuk kumpul bareng dengan seluruh anggota keluarga. Sholat berjamaah. Baca Quran. Doa bersama. Lalu ngobrol santai. Peserta dari anak SD, SMP, SMA, mahasiswa, dan orang tua – saya dan istri.

“Ritual kumpul begini sangat penting.”
“Kenapa?” tanya anak saya.
“Di jaman milenial seperti sekarang, masing-masing orang punya kesibukan. Tidak mudah untuk berkumpul bersama. Apalagi rutin tiap pekan. Plus ritual berdoa menjadi penuh makna. Memberi arah hidup – dan mati kita. Memberi pegangan yang kuat.”

Lalu saya biasanya membuka diskusi dengan mengutip ayat Quran. Anak-anak sering penasaran bila membahas surga dan neraka, kehidupan jin dan malaikat, serta awal mula penciptaan alam semesta.

Tapi anak-anak sudah hafal kesimpulannya, dari yang SD maupun mahasiswa, yaitu: beriman, beramal soleh untuk semua umat, terbuka saling menasehati, dan bertanggung jawab sepenuhnya.

Diskusi bisa meloncat sewaktu-waktu membahas industri 4.0 dan perkembangan teknologi masa depan. Bagaimana jika robot hebatnya melebihi manusia?

Kemarin diskusi mengarah ke inovasi kreatif apa saja yang sudah kami hasilkan secara orisinal di bidang konten matematika. Anak-anak sejak kecil belajar matematika dengan metode APIQ. Dua di antaranya sekarang sudah jadi mahasiswa. Maka mereka bisa mengenali konten matematika yang asli dari APIQ dan yang meneruskan dari penemuan-penemuan ilmuwan masa lalu.

Berikut ini daftar inovasi kreatif kami yang orisinal. Tentu saja orang lain di tempat dan waktu yang berbeda bisa saja menemukan secara orisinal konten yang sama. Bukankah kalkulus ditemukan oleh dua orang berbeda, di waktu berbeda, di lokasi berbeda? Newton di Inggris dan Leibniz di Jerman.

  1. Perkalian bintang
    Metode perkalian cepat untuk dua angka dengan dua angka. Bisa dikembangkan untuk perkalian sebarang angka. Langsung dituliskan hasil perkalian tanpa proses antara.
  2. Kuadrat cepat
    Metode menghitung kuadrat langsung jawaban. Berlaku umum untuk semua angka.
  3. Satria Putri Luhan
    Metode menghitung pangkat 3 dengan kisah satri versus putri.
  4. Menghitung akar kuadrat
    Metode menghitung akar kuadrat berlaku umum untuk hasil bilangan rasional.
  5. Menghitung akar kubik
    Metode sangat mudah menghitung akar kubik untuk hasil rasional.
  6. Luas lingkaran sebagai segitiga
    Menghitung luas lingkaran semudah luas segitiga tanpa harus melibatkan bilangan irasional pi dalam banyak hal. Khususnya menghitung luas piza.
  7. Menghitung luas bidang kurva sebagai segitiga
    Kita bisa menghitung luas dengan integral. Tetapi variasi luas segitiga menjadi sangat mudah.
  8. Bintang aljabar
    Metode operasi aljabar menjadi sangat mudah dengan peraga visual. Perkalian pembagian aljabar menjadi sederhana.
  9. Perbandingan terbalik
    Pendekatan bintang terbalik memudahkan berbagai macam masalah perbandingan berbalik nilai. Pendekatan beban kerja yang rusak untuk ditangani pekerja tambahan menjadi lebih mudah.
  10. Perbandingan senilai kantong ajaib
    Kantong ajaib selalu asyik. Persamaan parametrik tingkat tinggi menjadi mudah dengan kantong aljabar.

Masih banyak inovasi kreatif lain yang akan saya tambahkan di daftar. Sambil mengingat-ingat dan melihat berbagai macam catatan di blog dan canel paman apiq. Di antaranya triple pythagoras dan “kucing hitam dalam mobil desi centil mondar-mandir.”

Bagaimana menurut Anda?

Syukur Digital

Cara paling mudah untuk bahagia: selalu bersyukur. Murah. Bisa kapan saja. Di mana saja.

Syukur digital. Saya alami awal kuliah menjelang lulus. Awal 90an saya kuliah di EL ITB. Ada komputer. Tapi masih mahal. Hanya orang-orang khusus yang punya. Handphone belum ada sama sekali. Internet hanya untuk penelitian.

Tugas menulis banyak sekali dan mendadak. Tugas pendahuluan praktikum biasa diberikan hari Sabtu sore. Harus dikumpulkan Senin pagi. Diketik rapi – manual. Bahkan bila dikerjakan dengan rajin selama dua hari tugas itu tidak selesai. Lembur tidak tidur sepanjang akhir pekan adalah hal yang wajar.

Semua tugas diselesaikan tanpa sentuhan digital.

Bila ada salah ketik maka tidak bisa dihapus. Harus diketik ulang. Sama sekali tidak ada copy paste – salin tempel. Murni manual.

Akhir masa kuliah, jelang reformasi, semua berbeda. Tugas akhir – skripsi – diijinkan menggunakan komputer. Empuknya keyboard komputer begitu nikmat. Menulis skripsi diiringi alunan musik.

Salah ketik tinggal hapus lalu koreksi. Mau copy paste tinggal pilih saja. Menambah gambar dan foto begitu mudah. Syukur digital.

Hari ini, syukur digital makin besar. Saya bisa menulis kapan saja. Melalui komputer atau hp. Tersimpan ke internet. Bisa diakses dari mana saja. Bisa berbagi ke siapa saja.

Bahkan saya bisa bikin video kapan saja di mana saja melalui canel youtube.com/pamanapiq. Terus berbagi terus bersyukur.

Bayangkan apa yang akan terjadi? Bila kemudahan digital ini kita manfaatkan untuk kepentingan positif. Untuk saling membantu. Saling berbagi ilmu. Saling mendukung. Sebagai ungkapan syukur kita.

Bagaimana menurut Anda?

Membangun Negeri Kuatkan Wong Cilik

Saya apresiasi pemerintahan Jokowi. Juga pemerintahan SBY. Bahkan Megawati, Gusdur, dan Habibie.

Akses pendidikan bagi rakyat kecil kian terbuka. Sekolah SD, SMP, dan SMA / sederajat gratis untuk semua kalangan. Bulan Februari 2020 akan dibuka pendaftaran kuliah gratis untuk 400 ribu calon mahasiswa baru. Dengan program KIP Kuliah sebagai lanjutan program bidik misi.

Beasiswa program pasca sarjana dan penelitian berlimpah melalui LPDP. Mereka yang tidak masuk golongan rakyat kecil tersedia beasiswa unggulan – syaratnya harus unggul atau berprestasi.

Program beasiswa untuk rakyat kecil adalah tepat. Seperti laporan OECD, saat ini sedang terjadi ketimpangan besar antara si kaya dengan si miskin. Bahkan ketimpangan terbesar untuk 30 tahun terakhir. Ketimpangan tidak hanya merugikan wong cilik saja. Tapi merugikan seluruh lapisan masyarakat sosial. Beasiswa untuk wong cilik kita harapkan dapat mengurangi ketimpangan di Indonesia.

Hanya satu masalahnya: banyak orang tidak tahu.

Banyak wong cilik tidak tahu bahwa sekolah itu gratis. Bukan salahnya wong cilik. Misalnya di SD memang tidak ada kewajiban bayar SPP. Tapi iuran pentas seni, beli LKS, olah raga, les tambahan dan lain-lain masih memberatkan rakyat kecil. Rakyat kecil masih punya alasan, “Sekolah itu mahal. Apalagi kuliah. Kami tidak punya biaya.”

Maka saya sering menuliskan hanya ada satu tugas utama mendikbud: promo bahwa sekolah itu gratis – dari SD, SMP, SMA, S1, S2, S3.

Promosi. Betul hanya promosi. Karena program sekolah gratis itu sudah ada saat ini.

Saat semua orang kecil tahu bahwa sekolah itu gratis maka pungutan liar dapat kita cegah lebih mudah. Pungli dalam bentuk apa pun bisa kita lawan, “Mas Menteri sudah menyatakan sekolah gratis 100%.” Yang masih nekad narik pungli bisa kita laporkan melalui media online.

Rakyat kecil bisa sekolah setinggi langit.

Generasi muda Indonesia makin cemerlang.

Ayo kita bangun negeri ini!

Bagaimana menurut Anda?