Hikmah Eksistensial MBG

MBG (Makan Bergizi Gratis) adalah program pemerintah Indonesia yang luar biasa dahsyat. Ia memberi makan gratis bagi seluruh jutaan siswa di Indonesia, kepada ibu hamil, ibu menyusui, anak balita, dan lainnya. Ia juga menjadikan pelaksana kaya raya; pemilik dapur SPPG dikabarkan mendapat untung 6 juta rupiah per hari atau sekitar 200 juta rupiah tiap bulan. Ia membuka lapangan kerja jutaan tenaga kerja baru. Tapi mengapa bermasalah? Mengapa masalahnya begitu mendalam? Mengapa sangat ngeri?

Sejak awal, saya kritis dan skeptis terhadap ide MBG ini. Tetapi karena MBG menjadi program capres terpilih Prabowo, waktu itu, maka saya mengusulkan beberapa solusi di beragam tulisan saya. Pertama bersifat inklusif yaitu terbuka bagi seluruh rakyat Indonesia; siapa pun orangnya, sebagai warga Indonesia, makan siangnya adalah MBG; termasuk presiden Prabowo, wapres Gibran, para menteri dan pejabat. Setiap warga yang berminat partisipasi aktif sebagai pelaksana MBG, misal ibu kantin sekolah, maka diterima.

Kedua adalah pelaksanaan bertahap sambil direvisi; jangan langsung menjadi program skala nasional. Buat dulu program percontohan misal di 5 kabupaten yang masing-masing penduduk 1 juta orang. Dari 5 kabupaten ini dilakukan beragam revisi berdasar data konkret dan teori yang kuat. Ketika hasil revisi MBG ini sudah cukup baik kemudian diperluas ke beberapa ratus kabupaten.

Ketiga didanai oleh uang-pokok bukan rupiah; sehingga anggaran MBG yang sekitar 1 trilyun rupiah tiap hari itu tidak mengganggu APBN; tidak mengganggu nilai tukar rupiah terhadap dolar. Sayangnya, tiga solusi di atas justru tidak ditemukan dalam situasi nyata MBG.

Beberapa orang berargumen mengatakan MBG sudah bagus secara konsep hanya bermasalah dalam pelaksanaan. Andai pelaksanaan MBG bagus, kualitas tinggi, tanpa korupsi maka itu menjadi sedikit penghibur hati. Tetapi MBG memang menghadapi problem serius secara praktik pelaksanaan mau pun teori. Kita juga perlu membahasnya secara teoritis mendalam.

Pembahasan teoritis ini mengantar kita kepada diskusi buku baru yang bagus The Rich and The Poor karya Philip Kitcher.

Diterbitkan oleh Paman APiQ

Lahir di Tulungagung. Hobi: baca filsafat, berlatih silat, nonton srimulat. Karena Srimulat jarang pentas, diganti dengan baca. Karena berlatih silat berbahaya, diganti badminton. Karena baca filsafat tidak ada masalah, ya lanjut saja. Menyelesaikan pendidikan tinggi di ITB (Institut Teknologi Bandung). Kini bersama keluarga tinggal di Bandung.

Tinggalkan komentar