Waktu selalu Berlalu

Hidup ini singkat dan pasti akan berlalu. Waktu Anda terbatas hanya dari lahir sampai mati. Apa yang Anda lakukan sesingkat itu? Lebih rumit lagi, banyak di antara kita telah melewatkan waktu, dari lahir sampai saat ini, secara sia-sia. Tiba waktunya, saat ini, untuk memanfaatkan waktu agar bernilai tinggi.

Semua waktu adalah penting. Masa depan adalah berkah; masa lalu adalah hikmah; masa kini adalah amanah. Semua adalah anugerah. Dalam buku “7 Pintu Anugerah,” saya membahas nilai penting dari waktu sebagai pintu 3. Waktu adalah bentangan masa depan, masa lalu, dan masa kini.

[1] Berkah masa depan. Sambutlah masa depan yang berlimpah berkah. Siapa pun Anda, selalu bisa meraih masa depan yang cemerlang. Meski masa lalu begitu pilu; meski masa kini tampak sangat sulit; masa depan cemerlang sedang membentang.

Apa masa depan cemerlang Anda?

Anda bebas memilih masa depan cemerlang apa saja; karena masa depan memang pilihan bebas. Tetapi, ada satu masa depan yang pasti: kita akan mati pada waktunya. Wajar bagi kita memilih mati dengan baik; memilih akhiran baik; memilih husnul khatimah.

Masa depan bisa bermakna 10 tahun ke depan. Kebaikan apa yang ingin Anda berikan dalam 10 tahun ke depan? Kebaikan apa yang ingin Anda berikan dalam 5 tahun ke depan? Dalam 1 tahun ke depan?

[2] Hikmah masa lalu. Masa lalu menjadi sangat penting bagi kita karena sebagai sumber hikmah; sebagai sumber kebijakan; sebagai sumber pelajaran; sebagai teladan.

Dari masa depan cemerlang yang Anda impikan itu, lalu, tataplah masa lalu Anda. Apa hikmah yang Anda peroleh?

Barangkali kita menyesal karena sudah dosa di masa lalu. Mari tobat; mari memperbaiki diri; mari komitmen untuk lebih baik lagi.

Barangkali di masa lalu kita pernah sukses. Mari bersyukur; mari tingkatkan kebaikan lebih tinggi. Barangkali di masa lalu hanya biasa-biasa semua. Mari ubah semua agar penuh makna.

[3] Amanah masa kini. Jalani masa kini Anda sebagai amanah terbaik. Selaraskan masa kini Anda dengan sinar cemerlang masa depan dan berlimpahnya hikmah masa lalu.

Masa kini bisa mengalir damai bagai gemercik air. Masa kini bisa saja terasa berat bagai jalan terjal menuju masa depan dan himpitan beban masa lalu. Tidak masalah; semua itu adalah bumbu-bumbu kehidupan yang menjadikan amanah masa kini menjadi lebih berarti. Tetaplah komitmen dengan masa depan; berbekal hikmah masa lalu; dan nikmati petualangan hari ini.

Kebaikan apa yang akan Anda berikan di sisa waktu hidup Anda yang singkat ini?

Bagaimana menurut Anda?

Tobat Jadi Manusia

“Sadarlah… tobatlah…!”
“Tidak bisa. Justru kamu yang harus tobat!”

Pertengkaran dua anak manusia itu makin seru saja. Mereka menyuruh temannya untuk bertobat. Tetapi, temannya tidak mau tobat; malah berbalik menyuruh dia untuk tobat.

“Tobatlah… jangan bernafsu mengejar kekuasaan melulu!”
“Tobatlah, jangan mengejar nafsu; jangan mengejar harta; jangan membangun dinasti; jangan marah-marah tak terkendali.”

Tobat itu baik; tobat itu positif; tobat itu sikap yang menjadikan kita sebagai manusia sejati. Dalam buku “30 Renungan Takwa,” saya menulis salah satu judul bab adalah “Tobat itu Positif.” Makna tobat atau taubat adalah kembali ke jalan Allah; kembali ke jalan yang benar; kembali ke jalan yang makin dekat kepada Allah. Jadi, mari kita tobat.

[1] Tobat maka jadi manusia. Dalam kisah kitab suci, Nabi Adam bertobat karena sadar sudah mendekat pohon terlarang. Allah menerima tobat Nabi Adam dan Bunda Hawa. Allah senang merima tobat hamba-hamba Nya. Nabi Adam adalah teladan umat manusia. Nabi Adam bertobat bahkan tanpa ditegur oleh siapa-siapa.

[2] Iblis tidak tobat. Mereka yang tidak tobat menjadi teman iblis. Tuhan menegur iblis. Tetapi, iblis tidak mau tobat; iblis malah membela diri; iblis mengaku bersikap benar; iblis mencari-cari alasan pembenaran.

Iblis tercipta dari api sedangkan Adam tercipta dari tanah. Iblis menjadi sombong merasa bahwa api lebih hebat dari tanah. Itu adalah argumen pembenaran yang tidak sah.

[3] Tobat adalah pemimpin. Adam sadar merasa dosa lalu tobat. Tuhan merima tobat dan menugaskan Adam menjadi pemimpin di bumi.

Syarat dasar untuk menjadi pemimpin adalah [a] sadar merasa dosa dan [b] tobat atas segala perilakunya. Mari kita refleksi ke diri kita, “Apakah kita pantas menjadi pemimpin?”

Tetapi, kita memang bertugas menjadi pemimpin di dunia ini. Pilihan kita adalah: mari lebih sadar; mari lebih banyak tobat; mari memperbaiki diri; mari memperbaiki situasi. Jadi, seharusnya, kita senang bila ada yang mengajak untuk tobat.

Bagaimana menurut Anda?

Peduli adalah Solusi Kunci

Apa pun masalah Anda maka rasa peduli adalah solusi kunci. Mengapa seseorang punya masalah ekonomi? Karena dia kurang peduli. Orang itu bisa menemukan solusi dengan cara meningkatkan rasa peduli. Dia peduli dengan situasi ekonomi; kemudian, dia menyusun strategi untuk menghadapi situasi; benar saja, orang itu berhasil mengatasi masalah ekonomi.

Dalam buku “7 Pintu Anugerah,” saya menempatkan pintu peduli sebagai pintu kedua. Rasa peduli adalah kunci solusi dan solusi kunci dalam aneka situasi.

[1] Tingkatkan rasa peduli setiap hari. Perhatikan cahaya matahari pagi; begitu indah; begitu hangat; cahaya pagi melambangkan masa depan yang cerah untuk Anda. Pedulilah dengan hal-hal kecil di sekitar Anda. Orang-orang di sekitar banyak membantu Anda, langsung atau tidak; sampaikan terima kasih kepada mereka; mulai dari dalam hati lanjutkan dengan kata kerja.

[2] Tingkatkan rasa peduli yang besar. Matahari yang berjarak ribuan kilo meter bisa menghangatkan hati Anda; begitu juga rasa peduli Anda bisa menghangatkan jiwa orang di sekitar; menghangatkan jiwa penduduk di satu kota; di satu negara; bahkan di seluruh semesta. Ingatkah Anda dengan pandemi covid? Virus covid yang teramat kecil; berasal dari pelosok Wuhan di ujung Cina; bisa menular ke Indonesia dan seluruh dunia. Demikian juga, rasa peduli Anda bisa menularkan kebaikan ke seluruh dunia.

[3] Peduli aktif dan pasif. Rasa peduli bersifat aktif dan pasif. Secara aktif, kita bisa meningkatkan rasa peduli. Secara pasif, kita merasa peduli dengan rasa sakit di kaki. Mungkin kita ingin melupakan rasa sakit di kaki tetapi rasa sakit itu tetap terasa. Bagaimana dengan rasa sakit hati?

Bagi yang pemilu presiden menang bisa merasa senang. Bagi yang kalah pilpres bisa sakit hati; hatinya patah. Rasa peduli justru menghantui. Karena itu kita perlu belajar peduli berupa sikap sabar, ikhlas, dan tawakal. Pintu solusi terbuka lebar.

Bagaimana menurut Anda?

Filsafat Teknologi

Bisakah AI Lebih Cerdas dari Einstein?

Jelas, kita hidup selalu bersama teknologi; internet, motor, listrik, komputer, kompor, dan lain-lain. Tetapi, apa sejatinya teknologi itu? Apa makna-teknologi? Apakah teknologi, misal AI, bisa lebih cerdas dari Einstein? Untuk menjawabnya, kita akan mengkaji filsafat teknologi.

Sebagai awalan, kita bisa mendefinisikan teknologi adalah: [1] penerapan dari sains; misal mobil listrik adalah penerapan dari sains fisika dan kimia; [2] teknologi adalah hasil karya manusia; misal meja, kursi, dan tikar adalah karya manusia atau bisa disebut sebagai artefak; [3] teknologi adalah media bagi manusia; jalan setapak di hutan adalah media bagi manusia untuk lebih mudah menyusuri hutan.

1. Teknologi Kontemporer
1.1 Optimisme AI
1.2 Waspada
1.3 Skeptis
2. Esensi Teknologi
3. Organ Memori
4. Filsafat Teknologi
4.1 Posfenomenologi
4.2 Teori Kritis
4.3 Otonomi Sosial
4.4 Analisis
5. Makna Teknologi
5.1 Teknologi sebagai Being
5.2 Fourfold
5.3 The Real
5.4 Ontologi Framework-8
5.5 Disiplin Baru
5.6 Mengapa Filsafat
6. Pengembangan Teknologi
6.1 Esensi ke Eksistensi
6.2 Eksistensi ke Esensi
6.3 Wirausaha Teknologi
6.4 Paradigma Etika
6.5 Etika Teknologi
7. Diskusi
7.1 Bom Atom
7.2 Digital
7.3 Bahasa
7.4 Tulisan
7.5 Uang

Teknologi berubah sangat cepat bahkan revolusioner. Ditambah dengan keuntungan finansial, teknologi makin spesial. Lebih dari itu, teknologi militer menuntut keunggulan kompetitif sangat tinggi. Bom atom, kita sudah tahu resiko super mengerikan. Penggunaan drone bersenjata, pesawat terbang tanpa awak tetapi dilengkapi dengan senjata mematikan, makin menakutkan.

AI (artificial intelligence atau akal imitasi) berkembang super cepat. AI melanda dunia. Jika Anda tidak mengembangkan AI maka Anda ditinggal oleh dunia. Jika kurikulum pendidikan tidak mengajarkan AI maka menjadi pendidikan terbelakang. Benarkah demikian? Jika kekuatan militer tidak eksploitasi AI maka menjadi lemah. AI melonjak tinggi karena umat manusia berlomba-lomba melompat paling tinggi bersama AI. Apakah itu bijak?

Kita perlu membedakan karakter teknologi modern, misal AI, dengan teknologi kuno, misal sandal. Teknologi modern lebih dari sekedar alat; AI bisa membuat manusia ketagihan sampai hilang kendali. Dampak negatif dari AI bisa juga tak terkendali. Berbeda dengan sandal, sebagai contoh teknologi kuno, yang berperan sebagai alat bagi manusia. Tentu ada dampak negatif dari sandal; tetapi dampak negatif ini cenderung terkendali. Apa perbedaan utama teknologi modern dengan teknologi kuno?

1. Teknologi Kontemporer

Tiga karakter utama teknologi kontemporer adalah: digital, online, dan cerdas. Konsekuensinya, teknologi mengendalikan dunia nyaris seluruhnya.

Digital menyebabkan teknologi menjadi sangat mudah untuk diproduksi ulang. Siapa pun Anda, di kota atau di desa, mampu memproduksi ulang konten digital dengan murah dan mudah. Online menyebabkan teknologi tersambung ke seluruh dunia. Di mana pun Anda, selalu bisa akses teknologi digital secara online; di saat yang sama, Anda selalu bisa berbagi konten digital milik Anda. Dan cerdas, yaitu, teknologi mampu beradaptasi hampir dalam segala situasi. Bahkan, kecerdasan buatan atau AI sudah menjadi teman hidup sehari-hari. Kadang, AI terasa lebih cerdas dari manusia itu sendiri.

Situasi teknologi kontemporer yang seperti di atas menuntut kita untuk memahami filsafat teknologi dengan lebih baik lagi. Leluhur-leluhur kita, yang hidup di masa lalu, tidak pernah menghadapi problem teknologi digital serumit itu. Apakah kita akan berhasil menghadapi rumitnya teknologi?

1.3 Optimisme

Kurzweil (1948) optimis bahwa teknologi akan mengantar ke singularitas: sebuah titik tak terbayangkan di mana kecerdasan manusia berlipat jutaan kali karena menyatu dengan kecerdasan buatan (AI). Singularitas menimbulkan banyak resiko, termasuk resiko eksistensial, tetapi singularitas menyediakan seluruh solusi untuk menangani setiap resiko. Manusia akan mencapai sukses luar biasa ketika singularitas.

1.2 Waspada

Hinton (1947) adalah peraih Nobel Fisika 2024, berkat prestasinya mengembangkan AI, yang khawatir akan resiko AI, resiko teknologi. Hinton dijuluki sebagai Bapak AI dan ikut aktif mengembangkan AI di Google. Tetapi, pada tahun 2023, Hinton keluar dari Google agar bebas bersuara untuk mengkritik AI dan mengingatkan masyarakat akan resiko besar dari AI. Harari (1976) tampak setuju dengan kekhawatiran Hinton ini yang dituangkan dalam buku Nexus.

1.3 Skeptis

Beberapa pemikir memandang skeptis terhadap AI. Chomsky (1928) memberi kritik keras terhadap AI model LLM: AI tidak pernah bisa berpikir kreatif. Karena AI bekerja berdasar statistik maka AI hanya bisa plagiat atau plagiat tersembunyi. Lebih rumit lagi, manusia mampu berpikir kreatif dengan menguasai bahasa karena memiliki universal grammar (UG); semetara AI tidak memiliki UG. Acemoglu (1967), peraih Nobel Ekonomi 2024, juga skeptis terhadap AI karena AI adalah bodoh.

2. Esensi Teknologi

Apa hakikat teknologi? Apa esensi teknologi?

Heidegger (1889 – 1976) mengajukan pertanyaan tentang esensi teknologi. Heidegger menjawab esensi teknologi adalah gestell; yang sering diterjemahkan sebagai enframing atau pencitraan. Padahal gestell bermakna enframing dan poesis.

Sebagai enframing, teknologi mengungkung manusia untuk mengabdi kepada teknologi. Manusia memuja teknologi, membeli teknologi, merawat teknologi; bahkan rela korban uang atau korban apa saja demi mendapatkan teknologi paling keren. Lebih ngeri lagi, pejabat rela mengorbankan rakyat demi menikmati fasilitas berupa teknologi mewah. Enframing memang mengerikan. Kita perlu waspada terhadap teknologi.

Sebagai poesis, teknologi membuka posibilitas-posibilitas baru bagi umat manusia. Teknologi kedokteran mampu menyembuhkan orang yang sudah buta puluhan tahun. Betapa bahagianya, orang itu bisa menyaksikan indahnya dunia dengan mata yang sehat. Teknologi ponsel membantu ibu di desa Mangunsari, di Jatim, yang kangen dengan anaknya yang sedang kuliah di Bandung, di Jabar. Ibu bisa komunikasi dengan anak melalui video call untuk mencurahkan rindu.

Poesis begitu menggembirakan; enframing begitu mengerikan. Teknologi adalah gestell: enframing dan poesis. Lebih kuat mana antara enframing atau poesis?

Enframing adalah esensi dari teknologi modern; teknologi kuno berbeda. Teknologi mobil listrik, misalnya, memandang sebuah pulau di dekat Sulawesi sebagai sumber daya penghasil batere. Luas wilayah dihitung, kandungan bahan batere dihitung, kapasitas dihitung, dan semua hitungan bisa dikonversikan menjadi uang. Lebih dari itu, penduduk sekitar dihitung, tenaga ahli dari luar pulau dihitung, tenaga ahli dari luar negeri dan lainnya dihitung. Semua dihitung untuk kepentingan teknologi mobil listrik. Jadi, teknologi mobil listrik mengungkung semua eksistensi sekedar menjadi sumber daya bagi mobil listrik. Bahkan, manusia dihitung sebagai tenaga kerja atau tenaga ahli untuk menghasilkan mobil listrik.

Kita akan meluaskan analisis enframing dari teknologi mobil listrik di bagian lebih bawah.

3. Organ Memori

Derrida (1930 – 2004) memaknai teknologi sebagai organ dari manusia. Yang paling awal, dan utama, teknologi menjadi organ memori bagi manusia. Teknologi paling dasar adalah tulisan atau teks; yang dipandang rendah dibanding dengan logos atau bahasa lisan. Derrida melakukan operasi dekonstruksi terhadap teks, yaitu teknologi, dan membalik situasi: teknologi lebih utama dari bahasa lisan. Bahkan teknologi bisa lebih utama dari manusia. Harga pesawat pribadi super mewah bisa lebih mahal dari upah buruh harian. Apa dampaknya ketika teknologi lebih utama dari manusia?

Kita berasumsi bahwa, pada awalnya, orang berkomunikasi secara lisan atau logos. Kemudian, bila diperlukan, baru dibuat tulisan atau teks sebagai ekstensi organ memori. Dengan demikian, teks hanya suplemen bagi logos; tulisan hanya tambahan bagi lisan; teknologi, yang berupa tulisan, hanya alat bagi manusia. Apakah asumsi ini bisa dibenarkan? Bukankah manusia memandang alam semesta sebagai tanda-tanda teks sejak awal? Bukankah manusia memandang dunia sebagai alat, sebagai teks, sejak awal?

Bila benar bahwa teks tulisan lebih utama dari logos, yaitu berkebalikan dari asumsi awal di atas, maka dampaknya sangat besar; bila alat lebih penting dari manusia; bila teknologi lebih penting dari segalanya. Bukankah hal seperti itu yang sedang terjadi? Situasi lebih sulit karena struktur teknologi bisa diwariskan dari generasi ke generasi; dengan dukungan sistem norma mau pun sistem legal. Generasi yang mewarisi teknologi terlahir dengan organ yang kaya raya; sementara generasi yang terlahir miskin bagai cacat organ tubuhnya. Apakah struktur masyarakat seperti itu adil?

Kita perlu catat bahwa esensi teknologi berupa organ memori berdampak besar terhadap kemanusiaan. Berbeda halnya dengan teknologi kaca mata sebagai organ penglihatan. Ketika kita melihat buku dengan memakai kacamata maka kita merasa biasa-biasa saja. Tetapi, ketika kita akses memori catatan transaksi di bank yang bernilai jutaan dolar maka segala situasi bisa berubah seketika. Ketika terungkap memori dukumen-dokumen rahasia, atau foto-foto rahasia, dari para pejabat besar maka struktur sosial bisa berubah total. Kita akan membahas lebih dalam makna teknologi sebagai organ memori di bagian bawah.

Mari kita ringkas menjadi tiga tahap.

[a] Tahap awal; teks hanya tambahan bagi lisan; teknologi hanya sebagai alat bagi manusia; teknologi lebih rendah dari manusia. Era kuno, tampak, berada pada situasi tahap awal ini.

[b] Tahap tengah; teks seimbang dengan lisan; orang-orang bisa belajar melalui teks buku seimbang dengan belajar mendengarkan ceramah; teknologi seimbang dengan manusia. Era awal modern, tampak memenuhi kriteria ini; mesin cetak buku mulai berkembang.

[c] Tahap kini; teks lebih kuat dari lisan; teknologi lebih utama dari manusia; valuasi mesin pabrik bisa lebih mahal dari tenaga kerja seorang manusia; virtual reality bisa lebih menarik dari realitas aslinya; foto editan bisa lebih indah dari wajah aslinya.

Tiga relasi teknologi, di atas, bisa terjadi serentak dalam satu situasi. Relasi teknologi adalah kompleks. Sehingga, kita perlu mengkaji lebih teliti.

Stiegler (1952 – 2020), murid Derrida, mengembangkan konsep organ memori lebih luas lagi. Terdapat tiga lapis memori. Lapis pertama memori adalah memori yang tertanam pada otak manusia, tubuh manusia, sejak lahir. Memori ini tersimpan dalam sel-sel otak dan gen-gen setiap manusia. Lapis kedua adalah memori perolehan dari usaha manusia melalui belajar, berlatih, membaca, menulis, dan lain-lain. Masing-masing orang mengembangkan lapis kedua memori ini dengan cara yang unik. Lapis ketiga adalah memori eksternal berupa sistem teknologi.

Peran teknologi sebagai lapis ketiga memori adalah amat menentukan. Karena, ketika seorang individu meninggal, mereka bisa mewariskan teknologi kepada generasi berikut. Berbeda dengan lapis pertama memori, pada sel otak, dan lapis kedua memori, pada pengalaman belajar seseorang; lapis pertama dan lapis kedua memori ikut musnah ketika seorang individu meninggal. Problem muncul: bagaimana sistem warisan teknologi terbaik?

Problem teknologi makin besar lagi lantaran teknologi mempengaruhi pembentukan memori lain. Maksudnya, teknologi mempengaruhi pembentukan sel-sel otak pada bayi dan mempengaruhi kemampuan belajar setiap manusia; terutama melalui proses enframing. Sehingga, pada analisis akhir, problem teknologi adalah problem bagi seluruh umat manusia dan alam raya. Dengan demikian, kita perlu selalu mengajukan pertanyaan apa makna-teknologi? Kemudian merevisi setiap jawaban untuk mengajukan jawaban yang lebih baik lagi.

Sedikit perlu kita tambahkan bahwa Stiegler memandang teknologi sebagai farmakon atau obat; menyembuhkan sekaligus meracuni manusia. Farmakon ini sedikit berbeda dengan Derrida; atau kita bisa membedakan mereka. Bagi Derrida, teknologi itu kadang bisa baik meski lebih sering berdampak buruk. Sebagai farmakon, teknologi niscaya menyembuhkan sekaligus meracuni; meski kadar racunnya kadang terlalu besar. Makin besar kapasitas untuk menyembuhkan maka makin besar pula kapasitas untuk meracuni.

4. Filsafat Teknologi

Don Ihde (1934 – 2024) berkomitmen mengembangkan filsafat teknologi. Selama ini, teknologi hanya dibahas sekilas dalam filsafat. Padahal, umat manusia selalu hidup bersama teknologi. Ihde membahas filsafat teknologi dari perspektif teknologi itu sendiri yaitu posfenomenologi. Tahun 2024 ini, filsafat teknologi sudah jauh berkembang meski belum matang.

4.1 Posfenomenologi

Posfenomenologi mengkaji filsafat teknologi dengan pendekatan fenomenologi; menerima realitas teknologi agar hadir apa adanya dalam kesadaran manusia. Kemudian, kita analisis struktur kesadaran terhadap fenomena teknologi; terungkap struktur manusia-teknologi-dunia. Teknologi adalah media antara manusia dan dunia.

Pos adalah penggalan dari posmodern bagi posfenomenologi. Sehingga, posfenomenologi menyetujui asumsi-asumsi posmodern untuk mengkaji filsafat teknologi: dinamis; anti-esensialis; keragaman; dan anti-fondasionalis. Posfeno mengajukan beragam relasi teknologi.

[a] Technic embodied adalah teknologi merupakan perwujudan badan manusia. Misal kacamata adalah perwujudan mata manusia. Ketika seseorang melihat pohon di depan rumah dengan menggunakan kacamata maka kacamata bersifat transparan. Maksudnya, kacamata itu sendiri seperti tidak ada. Begitu juga, ketika Anda lari dengan memakai sepatu maka sepatu tersebut terasa seperti bagian dari kaki Anda.

[b] Heremeneutika. Teknologi adalah untuk interpretasi. Termometer menunjukkan suhu ruangan 21 derajat celcius. Kita menafsirkan bahwa suhu ruangan sejuk. Sementara, ketika merasa gerah panas, kita melihat termometer menunjuk angka 32; kita yakin cuaca memang sedang panas.

Map digital atau peta lebih menarik lagi. Kita berkendara memanfaatkan peta; lurus, belok kiri atau kanan. Teknologi peta adalah interpretasi terhadap dunia. Kita tahu bahwa peta bukan realitas dunia tetapi kita perlu peta untuk memahami dunia.

Teknologi hermeneutik, misal termometer atau peta, justru tidak boleh transparan. Karena kita perlu membaca peta tersebut; kita butuh peta tersebut ada di depan kita. Beda dengan kacamata; yang harus seakan-akan hilang dari mata kita; kaca mata harus transparan.

Pada tahap ini, posfeno membedakan prinsip desain: [1] ergonomis agar transparan dengan [2] personifikasi agar tepat interpretasi. Ihde menyarankan agar perusahaan-perusahaan teknologi menempatkan filsuf di R & D agar menghasilkan inovasi teknologi yang fenomenal.

[c] Alterity atau pengganti, misal mesin ATM. Daripada datang ke kantor bank untuk tarik tunai, teknologi mesin ATM bisa menggantikan kantor bank lengkap dengan telernya. Ditambah lagi, kita tidak perlu malu kepada mesin ATM ketika saldo rekening habis atau kosong. Bagaimana rasanya jika teler yang cantik berkata ke Anda, “Maaf saldo Anda tidak cukup!”

Teknologi sebagai pengganti, misal mesin ATM, perlu bersifat fleksibel, mudah, dan cerdas. Tentu saja, tidak perlu transparan. Bagaimana jika mesin ATM mengeluarkan uang transparan?

[d] Background atau latar. Misal mesin pendingin (AC) atau lampu ruangan. Sebagai latar, misal mesin pendingin, bisa saja transparan atau bahkan sembunyi dengan menghilangkan diri dari penampakan.

Tentu saja, relasi teknologi seperti di atas bisa saling tumpang tindih. Satu jenis teknologi bisa banyak peran dalam relasi manusia dan dunia. Lagi pula, kita masih bisa menambahkan beragam jenis relasi yang lain tanpa henti.

Sebagai anti-esensialis, posfeno mengembangkan konsep multistabilitas; teknologi memiliki beragam kegunaan sesuai konteks masing-masing. Teknologi tidak memiliki esensi yang pasti. Misal, mobil bisa jadi alat transportasi; bisa jadi tempat tinggal; bisa jadi toko; bisa jadi mesin perusak dan lain-lain. Posfeno perlu bersiap menghadapi surprise dari teknologi kapan saja.

Posfeno mencanangkan tiga program filsafat teknologi.

[a] Teknologi sebagai Media

Teknologi adalah media sebagai relasi antara manusia dan dunia. Manusia selalu membutuhkan teknologi; dan teknologi adalah karya dari manusia; membentuk satu kesatuan: manusia, teknologi, dan semesta.

Manusia perlu sadar bahwa setiap interaksi dengan dunia selalu melalui mediasi teknologi. Sehingga, kita perlu belajar bagaimana memanfaatkan teknologi dengan baik; waspada terhadap bias oleh teknologi, misal, berita hoax; dan waspada akan resiko kecanduan teknologi, misal, game dan media sosial. Di saat yang sama, ketika kita rekayasa untuk desain teknologi, perlu mempertimbangkan beragam dampak teknologi.

[b] Teknologi Budaya Hermeneutik

Teknologi hadir dalam konteks budaya dan histori tertentu. Hanya dengan budaya yang tepat, teknologi menjadi berarti. Misal teknologi media sosial hanya bermakna ketika masyarakat memiliki budaya untuk menggunakan media sosial: berbagi informasi; berbagi gambar; berbagi video; bahkan berbagi sesuatu yang kadang tidak pantas dibagi. Tanpa budaya masyarakat, media sosial tidak akan ada artinya. Andai seseorang memasang media soosial di tengah samudera, tanpa masyarakat, maka tidak ada gunanya; kemudian, akan musnah pula.

Awalnya, asumsi kita, budaya masyarakat menciptakan teknologi. Kemudian, teknologi menyatu dalam budaya. Akhirnya, teknologi yang menciptakan budaya. Proses ini terjadi secara timbal balik dua arah. Sehingga, saat ini, teknologi menciptakan budaya; dan budaya menciptakan teknologi.

Esensi teknologi menjadi terhubung oleh budaya. Teknologi menjadi multi-stabil; di satu budaya, media sosial sebagai media komunikasi; di budaya yang lain, media sosial bisa menjadi media bisnis. Masing-masing budaya membuat interpretasi sendiri, atau hermeneutika, terhadap teknologi. Karena karakter interpretasi adalah bebas maka esensi teknologi ikut bebas.

Masalah muncul ketika terdapat interpretasi dominan yang menyisihkan pihak lemah. Konsekuensinya, teknologi menjadi media dominasi oleh pihak kuat kepada pihak lemah. Lebih ngeri lagi resiko bahwa teknologi akan mendominasi manusia; pertimbangkan kasus kecanduan game dan kecerdasan buatan (AI). Teknologi tak seindah bayangan semula. Bagaimana pun, manusia tetap bebas membuat interpretasi terhadap teknologi.

[c] Membentuk Dunia Hidup (Lifeworld)

Pada akhirnya, teknologi membentuk lifeworld baru yang berbeda dengan sebelumnya; kehidupan bersama teknologi berbeda jauh dibanding tanpa teknologi; atau, kehidupan teknologi baru berbeda dengan teknologi lama. Pertanyaannya: berbeda menjadi lebih baik atau lebih buruk? Bagaimana pun, kehidupan manusia selalu bersama teknologi di dunia ini.

4.2 Teori Kritis

Sejak awal, teori-kritis bersikap kritis terhadap teknologi. Habermas (1929 – ) menunjukkan bahwa teknologi adalah instrumen bagi penguasa dan orang kaya untuk menguasai politik dan ekonomi. Sementara, rakyat jelata menjadi korban bagi kemajuan teknologi. Sebelumnya, Marcuse menunjukkan bahwa teknologi melumpuhkan nalar kritis rakyat sehingga manusia menjadi 1 dimensi; hanya mengejar ekonomi yang memang makin sulit untuk diraih.

Kita perlu mengkaji teknologi secara kritis: [1] teknologi sebagai aksi komunikasi bukan sekedar instrumen; [2] teknologi mendorong dialektika keragaman bukan keseragaman; [3] teknologi untuk kebaikan sosial dan natural.

Teknologi sebagai aksi komunikasi sudah terjadi secara alamiah; misal teknologi media sosial adalah media komunikasi. Tetapi manipulasi bisa terjadi. Media sosial berubah menjadi instrumen ekonomi yang menguntungkan pihak-pihak tertentu. Perusahaan media sosial adalah yang paling diuntungkan secara finansial; misal kenaikan harga saham. Sementara, pengguna atau masyarakat hanya sebagai konsumen belaka. Sedangkan beban operasional menjadi tanggung jawab pengguna: biaya listrik, biaya ponsel, biaya pulsa internet, dan lain-lain.

Tentu saja, melalui media sosial tetap bisa terjadi aksi komunikasi. Lagi, justru, sering terjadi miskomuniasi; tersebar berita hoax; fitnah; penipuan, dan lain-lain. Padahal, tanpa peran masyarakat, media sosial tidak bernilai apa pun; hanya berupa teknologi belaka. Kita perlu mengembalikan media sosial sebagai aksi komunikasi.

Media sosial adalah relasi antara pejabat dengan rakyat; ruang publik; kebebasan berpendapat dijamin. Dengan demikian, pejabat dan rakyat dapat komunikasi secara lancar. Bila ada program pemerintah yang salah arah, masyarakat dengan cepat memberi umpan balik; pemerintah merespon dengan cepat. Bukankah aksi komunikasi seperti itu sangat indah?

Andai perusahaan yang menjalankan media sosial memperoleh keuntungan finansial yang besar maka bagaimana sharing terbaik? Media sosial, lagi-lagi, bisa menjadi aksi komunikasi untuk membahas skema pembagian profit terbaik. Profit dari media sosial perlu berdampak positif kepada masyarakat dan lingkungan. Bagaimana pun media sosial hanya salah satu media aksi komunikasi; masih tersedia teknologi lain untuk aksi komunikasi.

Kritik berikutnya adalah teknologi menyebabkan hilangnya dialektika karena manusia menjadi seragam; menjadi 1 dimensi; hanya mengejar ekonomi. Seharusnya, teknologi mengantarkan manusia menjadi lebih beragam dalam ekonomi, politik, seni, sains, agama, dan lain-lain. Keragaman ini musnah, cepat atau lambat, berubah menjadi hanya kepentingan ekonomi.

Media sosial, awalnya, beragam. Media sosial untuk ekspresi karya seni, untuk berbagi informasi, untuk hiburan, untuk bisnis, untuk belajar matematika dan lain-lain. Pada tahap akhir, media sosial menjadi seragam: semua mengejar uang melalui media sosial. Meski bentuk mengejar uang itu sendiri bisa beragam misal melalui hiburan, berita, podcast, atau lainnya. Tetap saja mereka seragam: mengejar uang.

Apa resiko dari seragam?

Dialektika kemajuan menjadi hilang; nalar kritis terkikis habis. Manusia menjadi hamba ekonomi melalui teknologi. Manusia hanya kompetisi untuk mengejar ekonomi. Manusia menjadi bebal, hilang peduli, terhadap makna nilai-nilai manusiawi. Penindasan pihak kuat terhadap pihak lemah kerap terjadi.

Andai terjadi dialektika antara ekonomi dan politik maka akan terjadi pertumbuhan manusiawi penuh arti; apa lagi dialektika dengan seni, sains, dan agama. Ketika seseorang menggunakan media sosial, mereka berpikir: Pihak mana saja yang diuntungkan? Pihak mana saja yang dirugikan? Bagaimana pergeseran kekuatan politik? Apakah situasi politik menjadi lebih baik, lebih adil, lebih transparan? Kita perlu menjaga keragaman teknologi untuk menjamin kemajuan dialektika umat manusia.

Kritik terakhir, yang kita bahas di sini, adalah teknologi merusak alam dan budaya. Untuk memahami kritik ini, kita bisa mengajukan pertanyaan, “Siapa atau apa saja korban dari teknologi?”

Siapa atau apa saja korban dari media sosial?

Warga desa adalah korban dari media sosial. Harga nasi pecel 1 porsi di desa Botoran Tulungagung adalah 5 ribu rupiah; harga nasi pecel 1 porsi yang sama di kota Jakarta adalah 20 ribu rupiah. Sebaliknya, harga pulsa di desa Botoran adalah 22 ribu rupiah; harga pulsa yang sama di kota Jakarta adalah 20 ribu rupiah. Orang Jakarta hanya perlu 1 porsi nasi pecel untuk membeli pulsa; sedangkan orang desa perlu 4 porsi atau 5 porsi nasi pecel untuk membeli pulsa yang sama. Dengan kata lain, warga desa menanggung beban pulsa lebih berat 4 kali dari orang kota. Apakah itu adil?

Korban ekonomi dari media sosial bisa lebih sadis lagi. Dulu, warga desa berkreasi dengan menjahit sendiri pakaian mereka; produksi baju-baju sendiri secara mandiri. Setelah media sosial masuk, warga desa banjir dengan baju-baju produk dari kota atau impor. Produk baju dari kota menjadi lebih murah karena gratis ongkos kirim, diskon promosi, dan lain-lain. Industri lokal desa, produsen baju di desa, menjadi mati. Apakah itu adil?

Tentu, orang bisa argumen bahwa media sosial memberi banyak dampak positif bagi warga. Di sisi lain, kita juga bisa menambah daftar lebih banyak lagi korban dari media sosial: hoaks, fitnah, kecanduan, kekerasan, penipuan, dan lain-lain. Poin pentingnya adalah kita perlu berpikir kritis terhadap teknologi. Lalu bertanya, “Apa solusi yang lebih baik?”

4.3 Otonomi Sosial

Perkembangan teknologi kontemporer membuka posibilitas otonomi sosial. Anda bisa menjadi pedagang otonom dengan berdagang secara online; Anda bisa menjadi petani otonom dengan memasarkan hasil pertanian melalui media sosial; Anda bisa berkarya secara otonom dengan memanfaatkan media digital. Singkatnya, Anda bisa menjadi wirausaha dan Anda otonom.

Bandingkan dengan teknologi di era industri. Orang-orang harus bekerja di pabrik dari pagi sampai sore; kadang, karyawan justru lembur sampai pagi. Karyawan wajib mematuhi semua aturan pabrik. Karyawan tidak memiliki otonomi. Bila tidak bekerja di pabrik, seseorang sulit untuk mendapatkan uang; menggarap lahan pertanian, makin sulit. Otonomi nyaris lenyap di era industri; di era kini, era informasi, otonomi sosial kembali bersemi.

Apakah benar bahwa teknologi digital mendorong otonomi?

Tidak. Tidak terjadi otonomi; otonomi hanya menjadi posibilitas belaka. Kita perlu memperjuangkan tiga jenis otonomi dalam realitas: [1] imajinasi; [2] ekonomi; [3] politik.

Imajinasi bersifat bebas, freedom, dan tentu otonom. Setiap orang bebas imajinasi apa saja. Ketika Anda membaca buku, atau novel, maka imajinasi Anda bebas terbang tinggi. Hal berbeda terjadi ketika Anda nonton bioskop, atau movie, imajinasi Anda agak-agak dikendalikan oleh multimedia. Umumnya, orang merasa kecewa setelah membaca novel lalu menonton movie adaptasi; kurang seru imajinasinya.

Media sosial, awalnya, membebaskan imajinasi; kemudian, mengendalikan imajinasi dengan bantuan AI. Orang jadi malas imajinasi. Orang-orang pasif saja menerima umpan video otomatis dari media sosial. Imajinasi mereka, pengguna media sosial, sudah berada dalam kendali AI. Mereka tidak otonom lagi; bahkan, tidak otonom sekedar untuk imajinasi. Dulu, orang harus berimajinasi untuk mencari video yang diinginkan; saat ini, video-video sudah dijejalkan oleh AI; durasi singkat kurang dari 1 menit pula.

Secara pribadi dan sosial, kita perlu merebut kembali kendali otonomi imajinasi. Pikirkan, pertimbangkan, dan imajinasikan apa yang Anda lakukan kepada media sosial? Gunakan media sosial hanya sesuai kebutuhan Anda; hanya sesuai imajinasi Anda; hanya sesuai rencana Anda. Tolak umpan video, atau umpan berita, dari media sosial dan AI. Anda perlu merebut kembali otonomi imajinasi.

Kasus kecanduan atau adiksi internet adalah contoh kegagalan otonomi imajinasi; adiksi game; adiksi media sosial; adiksi judi online; adiksi pornografi; adiksi fleksing; adiksi virtual rality dan lain-lain.

Secara sosial, kita perlu edukasi masyarakat dan regulasi terhadap media sosial. Andai berhasil, edukasi adalah jalan terbaik; biarkan regulasi seminim mungkin. Tetapi, pada situasi tertentu, regulasi menjadi perlu; demi otonomi imajinasi.

Kedua, kita perlu memperjuangkan otonomi ekonomi. Gunakan teknologi agar Anda makin otonom secara ekonomi. Misal, gunakan media sosial untuk memasarkan produk-produk Anda; untuk memperoleh bahan-bahan baku dengan harga dan kualitas terbaik; untuk mengembangkan jaringan bisnis dan lain-lain. Hati-hati dengan program “khusus” dari media sosial yang menjadikan Anda tidak otonom; misal karena terlalu bergantung kepada platform tertentu. Anda perlu tetap terbuka dengan alternatif teknologi yang berbeda dengan media sosial; sehingga otonomi Anda tetap terjaga.

Secara personal, kita perlu mengajak lebih banyak orang, yaitu wirausaha, agar sama-sama menjaga otonomi ekonomi. Secara sosial, kita perlu mendorong regulasi yang adil bagi pengusaha besar, pengusaha menengah, pengusahan kecil atau mikro. Lagi, penetapan regulasi perlu seminim mungkin karena tujuannya adalah untuk menjaga otonomi ekonomi semua pihak. Regulasi yang ketat justru beresiko mengganggu otonomi; kita perlu regulasi hanya sekadarnya saja.

Ketiga, kita perlu memperjuangkan otonomi politik melalui teknologi. Barangkali otonomi politik adalah yang paling penting untuk diperjuangkan di era informasi saat ini. Mirip dengan otonomi imajinasi dan ekonomi, kita perlu berjuang secara personal mau pun sosial. Tetap sadar sepenuhnya bahwa diri kita selalu memiliki kebebasan politik sepenuhnya: bebas untuk terjun ke dunia politik praktis; atau terjun ke dunia politik bukan-praktis. Sementara, regulasi teknologi yang berhubungan dengan politik, barangkali, harus paling dinamis. Perlu diingat bahwa politik praktis lebih dari sekedar memenangkan kompetisi pemilihan umum; tetapi meliputi penerapan sumber daya politik untuk kebaikan seluruh warga dan alam semesta.

Freedom atau otonomi hanya bisa terjadi ketika seseorang dipaksa oleh ilham pembebasan. Anda menjadi manusia bebas ketika terpilih oleh cita futuristik. Anda hanya bisa menemukan solusi ketika peduli; yaitu peduli ada masalah pada setiap situasi. Anda menjadi bebas ketika Tuhan memastikan Anda sebagai manusia bebas.

4.4 Analisis Filsafat Teknologi

Filsafat teknologi sudah memiliki kerangka kerja yang lengkap: posfenomenologi; teori kritis; dan otonomi. Masing-masing pendekatan filsafat teknologi ini saling melengkapi; tentu saja bisa saling bertentangan dalam beberapa kajian teknologi.

Posfeno memberi kerangka kerja yang lengkap: teknologi sebagai media; budaya hermeneutik; dan lifeworld. Fenomenologi mengkaji teknologi secara konkret-partikular; bukan abstrak-universal. Posmodern memupuk keragaman teknologi yang dinamis. Posfeno memandang teknologi secara optimis; yang menjadi keunggulannya dan, sekaligus, kelemahannya.

Teori kritis melengkapi filsafat teknologi dari perspektif kritis. Teknologi perlu selalu dikritisi agar membawa kebaikan bagi semesta, mendorong dialektika dinamis, dan menjadi aksi komunikasi; kritis secara konkret-partikular maupun abstrak-universal.

Otonomi sosial memberi perspektif yang jelas kepada filsafat teknologi: apakah teknologi menguatkan otonomi atau dominasi? Teknologi perlu menjamin otonomi imajinasi, otonomi ekonomi, dan otonomi politik; secara personal mau pun sosial.

Kita masih perlu mengajukan pertanyaan filsafat teknologi, “Apa makna-teknologi?”

Apa esensi teknologi? Posfeno menjawab anti-esensialis terhadap teknologi, misal, berupa multi-stabil. Ketika multi-stabil itu, pada akhirnya, mencapai stabilitas tertentu, bukankah tercipta esensi teknologi yang stabil? Posfeno menjawab esensi teknologi, barangkali, adalah relasi. Kita masih perlu lebih jauh untuk mengkaji.

Heidegger menjawab bahwa esensi teknologi adalah gestell yaitu enframing dan poesis. Derrida menjawab esensi teknologi adalah organ manusia yang orisinal. Teknologi berbeda dengan organ biasa; organ biasa, misal kaki, akan musnah ketika orangnya sudah mati; tetapi teknologi bisa diwariskan kepada anak cucu atau masyarakat luas. Beberapa orang terlahir dengan warisan teknologi mewah; beberapa orang lain lahir tanpa warisan sama sekali; atau, bahkan terlahir, dalam situasi yang sulit. Ketika teknologi menjadi organ manusia yang bisa diwariskan, bisa diperjual-belikan, bagaimanakah tatanan sistem teknologi terbaik?

Masih banyak pertanyaan tentang makna-teknologi yang menjadi fokus kita selanjutnya.

5. Makna Teknologi

Apa makna-teknologi? Makna-teknologi adalah pertanyaan ontologi fundamental. Jawaban berupa definisi teknologi adalah sekedar jawaban awal. Kita perlu lebih dalam mengkaji makna-teknologi. Di atas, kita sudah mendefinisikan teknologi adalah: [a] penerapan dari sains; [b] artefak karya manusia; [c] media antara manusia dan dunia.

Untuk mengkaji makna teknologi secara ontologi eksistensial, kita akan memanfaatkan beragam perspektif. Heideger membahas dasein sebagai being-in-the-world; kemudian memaknai teknologi sebagai enframing; dan, di masa tua, mengembangkan konsep fourfold yang bisa kita pakai untuk mengkaji teknologi.

Simondon (1924 – 1989) mengembangkan konsep eksistensial teknologi sebagai individuasi. Awalnya, terdapat medan-pra-individu; terjadi proses individuasi; akhirnya, muncul individu. Dengan demikian, teknologi secara individual adalah akibat dari medan eksistensi; individu bukan sebab tetapi akibat. Bagaimana pun, proses individuasi tidak pernah lengkap. Sehingga, akan selalu terjadi proses individuasi terus-menerus tanpa henti. Teknologi akan terus berkembang makin kuat, makin konkret, tanpa henti.

Jacques Ellul (1912 – 1994) mengembangkan konsep teknologi sebagai masyarakat-teknik pada tahun 1954 dalam bahasa Prancis; di tahun yang sama, 1954, Heidegger membahas teknologi; bagaimana pun, mereka saling independen. Ellul menggunakan istilah teknik, tidak cukup istilah teknologi, yang bermakna seluruh rangkaian rasional yang bertujuan mencapai tujuan dengan cara paling efisien. Salah satu contoh teknik adalah sebuah kota Jakarta. Di dalam kota terdapat penduduk, bumi, bangunan, dan tentu saja mesin-mesin serta beragam teknologi lainnya. Teknik ini, termasuk teknologi, mendorong seluruh komponen untuk bertindak secara efisien. Segala sesuatu boleh dikalahkan demi meningkatkan efisiensi. Termasuk, nilai-nilai manusiawi bisa dikorbankan oleh teknik demi efisiensi.

Derrida (1930 – 2004) mengembangkan konsep teknologi sebagai organ manusia terutama organ memori dan pikiran. Stiegler melanjutkan Derrida dengan menyatakan bahwa setiap teknologi adalah farmakon atau obat yang bersifat ganda: menyembuhkan sekaligus meracuni. Catatan buku tulis menguatkan ingatan karena kita bisa membaca buku untuk mengingat suatu pikiran; di saat yang sama, buku tulis meracuni memori sehingga makin lemah; tidak handal lagi. Komputer, atau AI, menguatkan manusia dengan memberi informasi dengan cepat dan, di saat yang sama, melemahkan manusia menjadi keruh dalam berpikir.

Analisis eksistensial teknologi bertujuan untuk menyikapi teknologi secara bijak. Meski tampak sangat kritis terhadap teknologi, tetapi tidak bermaksud membuang teknologi; hanya bermaksud menempatkan teknologi secara tepat.

5.1 Teknologi sebagai Being

Makna-teknologi adalah being atau wujud atau eksistensi. Teknologi adalah wujud-di-dalam-dunia; sehingga, teknologi selalu berada dalam dunia; tidak bisa teknologi eksis sendiri tanpa berada dalam dunia. Komputer, misalnya, selalu berada dalam dunia; tidak bisa hanya ada komputer tanpa bumi, tanpa udara, tanpa apa pun.

Hanya manusia yang bisa menjadi wujud-otentik sebagai wujud-dalam-dunia. Karena itu, teknologi perlu menjalin relasi dengan manusia otentik sedemikian hingga teknologi berpartisipasi dalam wujud manusia otentik. Umumnya manusia berada dalam mode wujud biasa atau manusia banal. Akibatnya, teknologi sering menjadi teknologi banal belaka.

Manusia otentik adalah wujud-bersama-lian; manusia selalu hidup bersama orang lain atau lian. Teknologi bisa berpartisipasi menjadi relasi satu manusia otentik dengan manusia otentik lainnya; teknologi adalah relasi manusia dengan lian.

Mengapa manusia bisa menjadi otentik? Kita perlu berpikir terbuka bahwa beragam wujud konkret bisa saja menjadi wujud otentik. Maksud bahwa manusia bisa menjadi otentik adalah manusia memiliki tanggung jawab untuk menjadi otentik. [1] Pertama, karena manusia bisa memilih menciptakan kebaikan bersama padahal dia bisa memilih kerusakan. [2] Kedua, karena manusia adalah dasein yang peduli dengan mengajukan pertanyaan apa makna-wujud; sebagian manusia bisa juga tidak peduli. [3] Ketiga, dengan bantuan teknologi terkini, manusia bisa menghancurkan bumi ini atau memilih menjaga bumi lestari.

Teknologi Otentik

Apakah ada teknologi otentik? Tidak ada. Yang ada adalah teknologi yang berteman dengan manusia otentik; atau, teknologi yang menjadi relasi otentik bersama manusia otentik.

Apakah manusia bisa menjadi otentik tanpa teknologi? Tidak bisa. Tanpa teknologi, manusia tidak bisa menjadi otentik. Jadi, manusia selalu membutuhkan teknologi untuk menjadi otentik. Di sisi lain, teknologi “membutuhkan” manusia otentik untuk bergabung sebagai relasi otentik, being otentik, atau wujud otentik.

Sayangnya, teknologi modern, semisal komputer dan AI, bersifat reduktif algoritmis matematis. Sifat reduktif ini membuka resiko terjerumus berupa kehilangan sikap otentik. Pada awalnya, algoritma matematika bersifat otentik. Pada abad 8, Aljabar mengembangkan algoritma untuk memecahkan problem matematika secara sistematis. Kemudian, setelah berhasil memecahkan problem matematika, Aljabar memanfaatkannya untuk mengalami realitas alam semesta secara otentik. Berbeda halnya dengan algoritma matematika modern yang mencari solusi bagi suatu problem, kemudian, menerapkan solusi itu untuk mendominasi alam dengan optimasi efisiensi. Konsekuensinya, sains dan teknologi modern menjadi tidak otentik bersama tatanan sosialnya; yang mengejar efisiensi dan efektivitas demi profit. Padahal, manusia otentik terbebas dari dominasi efisiensi. Manusia otentik justru menebarkan kreativitas otentik melampaui enframing efisiensi.

Efisiensi Memori

Sebagai mahasiswa teknik, tahun 1990an, saya kagum dengan teori informasi yang berhasil menyimpan informasi secara efisien dalam suatu memori. Kita bisa menghitung efisiensi segala sesuatu terutama efisiensi sistem informasi dalam penggunaan memori penyimpanan. Apakah ada yang lebih mengagumkan dari efisiensi memori?

Derrida menyebut teknologi sebagai organ memori manusia. Realitas eksistensi konkret dari teknologi adalah menjadi organ memori. Bagaimana organ memori bisa terbentuk? Apakah melalui proses efisien? Derrida merujuk peran tulisan di era Sokrates dan Plato. Tulisan adalah realitas konkret memori itu sendiri. Barangkali, kita bisa merujuk ke proses individuasi dari Simondon untuk menggambarkan pembentukan teknologi sebagai memori.

Awalnya, eksistensi konkret berupa medan-pra-individu; kemudian terjadi proses individuasi dan hadir individu berupa teknologi spesifik. Perlu kita catat, teknologi spesifik adalah akibat dari proses individuasi; sedangkan medan-pra-individu adalah sebab.

Mari kita ambil contoh proses individuasi AI. Pada tahun 2020, hanya ada realitas medan-pra-individu; tidak ada AI generatif pada masa itu. Kemudian terjadi proses individuasi yaitu berupa riset besar-besar di bidang AI. Pada tahun 2022, muncul hasil individuasi berupa chatGPT. Bagaimana pun, individu tidak pernah sempurna dalam proses individuasi. Sehingga, proses individuasi selalu terjadi tanpa henti. ChatGPT akan mengalami proses individuasi tanpa henti atau akan musnah pada waktunya. Di sisi medan-pra-individu juga tetap terjadi individuasi sehingga akan muncul kompetitor-kompetitor bagi chatGPT; misal Gemini.

Medan-pra-individu adalah memori kolektif milik seluruh masyarakat. Mengapa ketika hadir teknologi individu, misal ChatGPT, menjadi milik pihak tertentu saja? Bukankah teknologi itu hasil dari memori kolektif seluruh masyarakat? Apakah dominasi teknologi oleh pihak tertentu bisa dibenarkan? Lalu, bagaimana cara kerja atau proses yang terjadi pada memori kolektif?

Medan-pra-individu dan individu berupa teknologi berproses melalui proses reduktif berupa hitungan algoritma; tujuan dari semua proses adalah untuk mencapai efisiensi. Bahkan, manusia akan dihitung oleh teknologi, misal oleh perusahaan AI, sebagai suatu angka agar menjadi efisien. Tetapi, manusia memang tidak efisien. Atau, untuk menjadi manusia, kita perlu tidak efisien. Kita perlu bercanda dengan keluarga dan tetangga; kita perlu berpetualang menjelajahi hobi; kita perlu terpesona membaca dan menulis puisi. Singkatnya, manusia memang tidak efisien.

Ketika teknologi makin dominan; menjadikan segala sesuatu agar efisien; maka, manusia akan melawan teknologi. Hanya sedikit manusia yang secara sadar melawan dominasi efisiensi teknologi. Sebagian besar manusia, era abad 21 ini, tampak justru mengejar efisiensi. Mereka kecanduan teknologi. Memori mereka adalah memori efisiensi. Kita membutuhkan para pemikir dan pujangga yang menghidupkan nilai-nilai otentik realitas eksistensi.

Masyarakat Teknik

Ellul (1912 – 1994) menunjukkan bahwa teknologi adalah bagian kecil dari masyarakat-teknik. Kita perlu lebih fokus ke masyarakat-teknik yaitu tatanan rasional yang memiliki suatu tujuan; di mana tujuan itu adalah untuk meraih tujuan yang lebih jauh lagi tanpa henti. Secara keseluruhan, masyarakat-teknik mengejar efisiensi tingkat tinggi.

Ellul mengenali beragam value, nilai-nilai, yang berkembang bersama teknologi atau masyarakat-teknik. (www.comment.org).

“Kenormalan. Kita tidak diminta untuk bertindak baik (seperti dalam moralitas lain) tetapi untuk bertindak normal, untuk menyesuaikan diri. Tidak menyesuaikan diri adalah sifat buruk saat ini. “Tujuan utama pengajaran dan pendidikan saat ini adalah untuk menghasilkan generasi muda yang menyesuaikan diri dengan masyarakat ini.”

Keberhasilan. “Pada akhirnya,” kata Ellul, “baik dan jahat adalah sinonim untuk keberhasilan dan kegagalan”. Moralitas didasarkan pada keberhasilan; juara yang sukses adalah contoh moral dari kebaikan; jika kejahatan itu buruk, itu karena “tidak membuahkan hasil”—artinya, tidak berhasil.

Pekerjaan. Dengan penilaian yang berlebihan terhadap pekerjaan muncullah pengendalian diri, kesetiaan, dan pengorbanan terhadap pekerjaan seseorang, serta kepercayaan terhadap pekerjaan seseorang. Kebajikan lama yang berkaitan dengan keluarga, persahabatan yang baik, humor, dan bermain secara bertahap ditekan kecuali jika dapat ditafsirkan ulang untuk melayani kebaikan teknik (jadi istirahat dan bermain itu baik jika, dan karena, mereka mempersiapkan Anda untuk pekerjaan yang lebih efektif dan sukses).

Pertumbuhan tanpa batas—dalam arti perluasan yang terus-menerus, tak terbatas, dan terukur. Dengan demikian, “Lebih” adalah istilah nilai positif dan persetujuan moral, seperti halnya “raksasa,” dan “terbesar.” “Dalam keyakinan bahwa teknologi mengarah pada kebaikan” tidak ada waktu atau tujuan untuk mengatakan “Tidak” atau untuk mengenali batasan apa pun atau untuk menghalangi kemajuan teknologi.

Kepalsuan dinilai lebih tinggi daripada yang alami; alam hanya memiliki nilai instrumental. Kita tidak ragu untuk menyerbu dan memanipulasi alam—entah itu program luar angkasa, penggundulan hutan dan pembangunan industri, peternakan hewan, “pengelolaan” sumber daya air, eksperimen genetik, atau apa pun. Kita kurang menghargai ketetapan alam dibandingkan dengan penilaian kita terhadap kepalsuan.

Kuantifikasi dan pengukuran. Meskipun Einstein berkomentar baik bahwa “segala sesuatu yang dapat dihitung tidak dihitung dan segala sesuatu yang dihitung tidak dapat dihitung,” masyarakat teknologi kita bersikeras untuk menetapkan angka dan mengukur kecerdasan (IQ), kesuksesan (kehadiran di gereja, tingkat gaji), ciri-ciri kepribadian (Meyers-Briggs, dan seterusnya).

Efektivitas dan efisiensi. Hal-hal yang dinilai tidak efektif atau tidak efisien digantikan atau dibenci—ingat Frederick Taylor dan manajemen ilmiah.

Kekuatan dan kecepatan. Kelemahan dan kelambatan hanya dihargai oleh orang-orang eksentrik.

Standardisasi dan replikasi. Teknologi menuntut orang untuk beradaptasi dengan mesin. Dorongan universal teknologi mengutamakan platform yang menghubungkan bagian-bagiannya. Hal-hal eksentrik hanya menarik di museum.”

Nilai-nilai teknologi di atas, dari kenormalan sampai replikasi, adalah potret realitas yang ada di masyarakat. Kita perlu mewaspadai nilai-nilai teknologi ini. Kemudian mengkajinya dan menggantinya dengan nilai-nilai etika yang lebih baik; yaitu nilai-nilai otentik. Jadi, pahami realitas eksistensial teknologi kemudian arahkan menuju nilai-nilai etika yang mulia atau akhlak mulia.

Analisis Eksistensial

Bukankah kita bermaksud melakukan analisis eksistensial terhadap teknologi? Tetapi, kita justru membahas esensi teknologi sebagai enframing, sebagai farmakos, dan sebagai masyarakat-teknik yang mengejar efisiensi. Meski kita menggunakan istilah esensi, maksud kita adalah esensi teknologi secara konkrit, yaitu esensi teknologi AI yang sedang Anda gunakan, misalnya. Esensi konkrit, sebagai lawan dari esensi abstrak, adalah pendekatan analisis eksistensial.

Kita menemukan teknologi sebagai enframing di mana pun kita berada. Teknologi mengungkung kita agar berpikir segala sesuatu sebagai sumber daya yang bisa dihitung untuk menghasilkan keluaran tertentu. Teknologi menantang kita. Teknologi semacam ini tidak otentik; mengajak manusia untuk bersikap tidak otentik pula.

Bagaimana pun, kita bisa merespon teknologi secara otentik; menjadikan teknologi sebagai teman hati bagai bait-bait puisi. Bila demikian, teknologi berhasil menjadi eksistensi-otentik, wujud-otentik, dengan menjalin relasi otentik kepada manusia otentik. Sayangnya, teknologi modern semisal AI, hampir selalu tidak otentik. Kita perlu waspada.

Teknologi adalah farmakos yang menyembuhkan manusia dan bisa meracuni manusia; lebih tepatnya, teknologi selalu keduanya yaitu selalu menyembuhkan dan meracuni. Hanya saja, racun teknologi lebih besar dampaknya dari penyembuhannya. Teknologi modern yang mengandalkan perhitungan algoritma adalah racun dunia yang sangat berbahaya. Lagi, kita perlu waspada. Kita perlu berpikir dengan hati yang terbuka. Umat manusia perlu berpegang pada nilai-nilai otentik etika mulia.

Teknologi hanyalah satu titik dari masyarakat-teknik yang lebih luas. Anda membaca tulisan ini pun merupakan bagian dari masyarakat-teknik yang mengejar efisiensi. Anda ingin mendapat hasil yang banyak dari membaca tulisan ini dengan usaha yang minim; Anda ingin efisien karena kita berada dalam masyarakat-teknik. Hasrat ingin selalu efisien adalah penyakit berbahaya dampak dari masyarakat-teknik. Sesekali waktu efisien dan di waktu yang lain tidak efisien; itulah manusia otentik. Anda bercanda dengan ibu adalah tidak efisien tetapi itulah yang menjadikan Anda sebagai manusia. Anda membaca kitab suci setiap hari adalah tidak efisien. Anda berkorban demi tetangga yang lemah adalah tidak efisien. Anda adalah manusia sebagai wujud otentik.

Kita perlu menolak masyarakat-teknik yang menebarkan mantra efisiensi ke seluruh dunia. Kita perlu mengajak masyarakat-teknik untuk kembali menjadi wujud otentik yang menjunjung nilai-nilai etika mulia atau akhlak mulia.

5.2 Fourfold

Makna-teknologi adalah sesuatu atau thing. Kita bisa menjelaskan segala sesuatu, termasuk menjelaskan teknologi, dengan perspektif fourfold; perspektif perempatan. Teknologi adalah titik temu, atau ruang temu, dari perempatan. Heidegger dewasa bergeser mengkaji fourfold dari semula mengkaji dasein di masa muda.

[1] Bumi

Teknologi selalu berada di bumi; lahir dari situasi bumi; hadir berdasar konteks bumi. Teknologi adalah hasil evolusi budaya dan alamiah; meski lompatan teknologi bisa saja tampak sebagai perubahan revolusi. Lahir dari konteks bumi seperti apakah media sosial bisa hadir?

[2] Langit

Teknologi membuka posibilitas langit; membuka posibilitas-posibilitas yang tak terbayangkan tanpa teknologi; setiap posibilitas baru mendorong terbukanya posibilitas lebih baru lagi. Posibilitas baru apakah yang dibuka oleh teknologi media sosial?

[3] Tuhan

Teknologi mengungkap nilai-nilai suci spiritual; nilai-nilai Tuhan. Di balik teknologi, dan bersama teknologi, nilai-nilai spiritual menjadi nyata. Nilai-nilai spiritual apakah yang diungkap oleh media sosial?

[4] Mati

Pada waktunya, teknologi akan mati; teknologi menjadi musnah. Suatu teknologi tidak akan abadi; teknologi lama musnah dan membuka posibilitas baru bagi teknologi lain. Bagaimana akhir dari media sosial? Teknologi baru apa yang kemudian akan lahir?

5.3 The Real

Laruelle (1937 – 2024) mengembangkan filsafat teknologi dengan mengacu kepada Yang Esa (The One) yang dikenal sebagai Sang Nyata (The Real). Sang Nyata melakukan kloning transendental, kemudian, aspek-aspek transendental inilah yang menjadi kondisi niscaya bagi teknologi. Atau, dengan kata lain, teknologi adalah manifestasi dari Yang Esa dan teknologi menjadi nyata pada akhirnya.

5.4 Ontologi Framework-8

Kita bisa menjelaskan makna-teknologi secara ontologi memanfaatkan framework-8.

Kita bisa membaca makna-teknologi melalui ontologi-8; terdiri dari 8 konsep ontologi; kita bisa menambah lebih banyak konseo atau menguranginya; minimal tersisa 2 konsep yang berlawanan.

[1] Dahir

Setiap teknologi hadir dalam konteks dahir tertentu; dalam konteks nyata; dalam konteks histori tertentu. Media sosial hadir dari konteks nyata perkembangan sains dan kesiapan budaya masyarakat komunikasi jarak jauh. Sains sendiri lahir dari perkembangan ilmu dan filsafat alam ratusan tahun yang lalu. Sementara, budaya komunikasi jarak jauh merupakan perkembangan dari telepon dan telekomunikasi secara umum. Kita bisa memperluas kajian konteks dahir ini dari sisi konteks ekonomi, politik, seni, budaya, dan lain-lain.

[2] Batin

Teknologi hadir dalam konteks batin, koteks tersembunyi, konteks rahasia, konteks tak terungkap, tertentu. Konteks batin ini perlu kita kaji mendalam karena sifatnya yang tersembunyi. Hanya dengan peduli yang tinggi, kita baru bisa menemukan konteks batin. Konteks batin apakah yang melingkupi hadirnya teknologi media sosial? Hasrat ekonomi seperti apa? Hasrat politik seperti apa? Hasrat petualangan?

[3] Awal

Teknologi memiliki awal dalam ruang dan waktu. Bagaimana sejarah awal teknologi tertentu?

[4] Akhir

Pada suatu saat, akhirnya, teknologi tertentu akan berakhir; diganti oleh teknologi yang lebih baru; atau dikalahkan oleh teknologi alternatif dalam kompetisi. Seperti apakah akhir dari suatu teknologi?

[5] Anugerah

Teknologi adalah anugerah; teknologi anugerah bagi manusia dan kemanusiaan; teknologi anugerah bagi perkembangan ekonomi; teknologi adalah anugerah bagi sistem politik. Apa saja anugerah yang diberikan oleh suatu teknologi?

[6] Terpilih

Hanya pihak-pihak tertentu, yang terpilih, yang menikmati anugerah dari suatu teknologi. Bagaimana cara menentukan mereka yang terpilih untuk menikmati anugerah teknologi? Apakah adil? Bagi umat manusia? Bagi alam semesta?

[7] Mati

Suatu teknologi menyebabkan pihak-pihak lain akan mati; teknologi itu sendiri juga akan mati. Pihak-pihak mana saja yang akan mati akibat suatu teknologi? Bagaimana cara terbaik bagi suatu teknologi untuk berhenti?

[8] Hidup

Suatu teknologi membuka kehidupan baru; memberi kehidupan baru. Kehidupan baru seperti apakah itu?

5.5 Disiplin Baru

Apakah teknologi perlu berkembang sebagai disiplin baru yang mandiri? Makna teknologi yang begitu luas dan dalam, barangkali, sudah memadai untuk menjadi disiplin filsafat mau pun ilmu yang madiri. Sejauh ini, teknologi dipandang sebagai aplikasi dari sains; perluasan dari sains. Sehingga, filsafat teknologi juga merupakan perluasan, atau bagian dari, filsafat sains.

Prinsip dasar dari ontologi-8 adalah pembedaan, perbedaan, dan selaras. Kita perlu membedakan teknologi dengan sains. Teknologi sangat dominan dengan tujuan praktis; sementara sains lebih teoritis. Dengan demikian, disiplin teknologi berbeda signifikan dengan disiplin sains. Konsekuensinya, teknologi bisa berkembang mandiri dari sains; kemudian, selaras dengan sains dan saling melengkapi.

Teknologi digital, misal AI, berkembang secara mandiri. AI, misal LLM seperti chatGPT, memberi banyak informasi perkembangan teknologi secara praktis. Kemudian, sains dan filsafat bisa mengkaji AI yang sudah dikembangkan oleh teknologi itu. Media sosial, sebagai teknologi, berkembang mandiri sampai menjadi kajian sains alam mau pun sains humaniora. Kemandirian disiplin teknologi justru berkontribusi kepada kemajuan sains secara luas. Tentu saja, teknologi tetap perlu belajar dari sains, alam mau pun kemanusiaan.

Tantangannya: siapa yang akan mengkaji disiplin filsafat teknologi?

5.6 Mengapa Filsafat

Mengapa perlu menggunakan istilah filsafat teknologi? Bukankah bisa menggunakan istilah teori teknologi, meta teknologi, ilmu teknologi, konsep teknologi, atau lainnya? Karena filsafat adalah displin kajian yang paling jelas mampu artikulasi beragam problem secara eksplisit. Bukan berarti filsafat adalah yang terbaik; misal dibanding sains dan seni. Tetapi, sekedar, filsafat memiliki keunggulan yang kita butuhkan untuk kajian yang mendalam dan luas.

Dalam sains, misalnya, teori geosentris sudah digantikan oleh heliosentris. Teori geosentris yang mengatakan bumi sebagai pusat alam semesta; sehingga matahari, bulan, dan bintang mengitari bumi; sudah tidak diajarkan dalam sains lagi. Para siswa hanya mengkaji teori heliosentris yaitu matahari sebagai pusat tatasurya; bumi yang mengelilingi matahari. Sementara, dalam filsafat, kita tetap mengkaji geosentris mau pun heliosentris. Filsafat menyimpan arsip histori kajian dengan lengkap; setiap histori filsafat, dan histori secara umum, bisa dikaji ulang secara filosofis di masa depan. Dengan demikian, kita membutuhkan kajian filsafat teknologi; lebih dari sekedar meta-teori teknologi mau pun konsep teknologi.

Derrida mengkaji teknologi sampai ke masa Plato dan Sokrates; teknologi tulisan, waktu itu, hanya dipandang sebagai alat bantu bagi bahasa lisan; teknologi hanya alat bantu bagi manusia. Di masa kini, abad 20 dan abad 21, teknologi menjadi lebih dominan dari manusia itu sendiri; teknologi mesin pabrik menjadi lebih utama, misal, dari tenaga kerja buruh seorang manusia. Apakah situasi seperti itu bisa dibenarkan? Filsafat teknologi berhak mengkaji tema semacam ini secara luas dan mendalam.

Di Indonesia, teknologi kayu-bakar untuk masak sudah ditinggalkan oleh masyarakat; mereka berpindah memakai tabung gas elpiji. Dalam kehidupan sehari-hari, dan pendidikan di sekolah, masyarakat hanya mengenal tabung gas; perlahan, mereka mulai lupa dengan kayu bakar. Filsafat teknologi akan tetap mencatat teknologi kayu-bakar sebagai kejadian penting dalam histori. Selanjutnya, filsafat bisa mengkaji apakah penggunaan gas elpiji lebih baik dari kayu bakar? Baik bagi produsen gas? Bagaimana dampak pencemaran lingkungan dari tambang gas? Bagaimana dampak sosial kepada pengusaha kecil yang dulu bekerja sebagai pengumpul kayu bakar? Singkatnya, filsafat teknologi akan membuka wacana teknologi makin luas dan mendalam.

6. Pengembangan Teknologi

Tersedia metode kreatif dan inovatif untuk mengembangkan teknologi. Kita akan membahas dua pendekatan: [1] esensi ke eksistensi; fokus kepada esensi teknologi tertentu; kemudian, mengembangkan ekosistem lebih luas; terbuka terhadap multi-stabil; [2] eksistensi ke esensi; fokus kepada realitas konkrit teknologi.

Dalam buku “Logika Futuristik 2,” saya membahas tema rekayasa yang penting untuk pengembangkan teknologi. Berikut saya kutipkan:

“Teknologi dekat dengan konsep rekayasa. Modifikasi tingkat tinggi adalah rekayasa (engineering). Para insinyur me-rekayasa semesta berdasar sains, teknologi, dan harapan masa depan. Tetapi, masing-masing diri kita adalah insinyur dalam makna tertentu. Sehingga, kita juga bisa me-rekayasa alam raya.

(1) Rekayasa natural. Awalnya, jaman kuno, teknologi adalah rekayasa terhadap alam (natural) demi kebaikan bersama. Manusia menciptakan cangkul, merekayasa alam, agar mudah bertani. Manusia menciptakan kereta tenaga kuda untuk transportasi. Keuntungan rekayasa natural adalah lebih aman terhadap alam. Tidak ada pencemaran lingkungan, yang signifikan, akibat rekayasa alam. Tetapi, hasil rekayasa alam dipandang hanya “sedikit” bagi pihak tertentu. Sehingga, manusia terus berjuang untuk rekayasa lebih canggih.

(2) Rekayasa mekanikal. Awal jaman modern, barangkali, ditandai dengan berkembangnya rekayasa mekanikal. Lebih canggih dari rekayasa natural, rekayasa mekanikal menerapkan matematika untuk rekayasa. Hasil rekayasa menjadi bersifat pasti dan mudah untuk diperbesar. Manusia mengembangkan mesin uap untuk kereta api, mobil, kapal, dan lain-lain. Manusia menjadi lebih mudah untuk menguasai alam semesta dengan rekayasa mekanikal. Dampak buruknya adalah pencemaran lingkungan dan penindasan pihak kuat terhadap pihak lemah. Saat ini, kita perlu menemukan solusi atas ancaman krisis iklim.

(3) Rekayasa elektrikal. Kemajuan teknologi makin pesat dengan berkembangnya rekayasa elektrikal, sehingga, dihasilkan tenaga listrik di penjuru dunia dan komunikasi gelombang elektromagnetik. Handphone Anda dan internet bekerja dengan prinsip elektromagnetik. Anda bayangkan kejadian di Eropa bisa ditonton secara langsung dari Asia, nyaris, tanpa jeda waktu. Rekayasa elektrikal ini tampak lebih halus, dan mencakup, rekayasa mekanikal mau pun natural. Dampak kemajuan sangat besar, salah satunya, terciptalah orang-orang kaya baru dan perusahaan raksasa. Sayangnya, dampak negatif sama besar juga. Kesenjangan ekonomi dan penindasan ada di banyak tempat. Tugas kita adalah mengarahkan kembali rekayasa elektrikal untuk membuka posibilitas luas yang bebas dan membebaskan.

(4) Rekayasa nuklir. Kita sudah mengetahui dampak mengerikan bom nuklir. Rekayasa nuklir memang berbahaya. Dalam dirinya sendiri, rekayasa nuklir membuka banyak posibilitas luas, misal, menghasilkan listrik tenaga nuklir. Ada dua jenis rekayasa yaitu nuklir kuat dan nuklir lemah. Contoh di atas adalah rekayasa nuklir kuat. Sementara, rekayasa nuklir lemah, misalnya, untuk rekayasa genetika menghasilkan bibit unggul tanaman pangan. Saat ini, dunia sedang dalam ancaman perang nuklir yang bisa menghancurkan seluruh bumi. Karena itu, kita perlu mencari solusi untuk mencegah perang nuklir. Apakah bisa?

(5) Rekayasa gravitasi atau ruang-waktu. Rekayasa ini belum berhasil dilakukan tetapi baru sebagai ide yang menarik. Teori Relativitas menyatakan bahwa gravitasi yang sangat kuat, massa materi yang sangat besar, bisa membelokkan ruang-waktu. Gerhana matahari tahun 1919 menunjukkan bahwa cahaya yang melintas dekat matahari dibelokkan oleh matahari, sebagai, benda dengan massa sangat besar. Jika rekayasa ruang-waktu berhasil, maka, kita bisa membelokkan ruang dan waktu. Dengan demikian akan ada banyak posibilitas baru yang luas. Salah satu idenya adalah untuk menangani sampah nuklir yang berbahaya menjadi ramah lingkungan. Rekayasa ruang-waktu juga mengarah ke penerapan wormhole untuk menyelesaikan problem quantum entanglement. Dengan demikian, terbuka peluang adanya kecepatan seakan-akan melebihi kecepatan cahaya.

(6) Rekayasa sosial. Semua rekayasa melibatkan peran rekayasa sosial. Teknologi yang tidak diterima masyarakat, akhirnya, akan musnah. Sementara, teknologi yang diterima oleh masyarakat luas makin berkembang. Rekayasa sosial bisa saja terjadi secara wajar, tetapi, bisa benar-benar melibatkan rekayasa tingkat tinggi. Karena itu, kita perlu mencermati rekayasa sosial dengan teliti.

(7) Rekayasa digital atau rekayasa informasi atau rekayasa pengetahuan. Kita tahu, rekayasa pengetahuan sudah berlangsung lama sejak awal peradaban manusia. Hanya saja, di era digital, rekayasa pengetahuan menjadi makin dahsyat lagi. Karena, pengetahuan itu sendiri, atau informasi itu sendiri, yang memiliki nilai paling tinggi. Jika Anda tahu bahwa harga saham perusahaan XYZ akan melonjak dalam beberapa bulan ke depan, maka, informasi semacam itu sangat bernilai tinggi. Lebih parah lagi, jika seseorang bisa memperoleh informasi digital tentang rekening dan password dari nasabah bank, maka, informasi itu bernilai tinggi. Dengan rekening dan password, seseorang bisa memindahkan uang dari satu rekening ke rekening lain. Menariknya, yang berpindah bukan uangnya, tetapi, cukup informasi digital tentang uang yang berubah. Lagi, kita perlu waspada dengan perkembangan rekayasa digital ini.

Seluruh rekayasa di atas, dan rekayasa lain, selalu merupakan rekayasa futural. Yaitu, rekayasa masa depan dengan modifikasi apa yang ada di masa kini. Rekayasa masa depan, dengan arahan masa depan, agar terjadi repetisi masa depan, di masa kini.”

6.1 Esensi ke Eksistensi

Awalnya, kita mencoba mengenali esensi teknologi yang hendak kita kembangkan; misal mesin pencari, search engine, yang baik. Kemudian, kita mengembangkan teknologi konkret misal berupa mesin pencari google. Bagaimana pun, meski awalnya, esensi google adalah mesin pencari, seiring waktu, berkembang esensi-esensi lain (multi-stabil); google sebagai media iklan; sebagai media menghasilkan uang dan lain-lain.

Tahap selanjutnya, mengembangkan teknologi tersebut agar berperan lebih besar kepada eksistensi konkret realitas alam semesta.

6.2 Eksistensi ke Esensi

Kita bisa memulai dari eksistensi konkret alam semesta secara luas; misal, kita menyaksikan banyak orang-orang di belahan dunia ketinggalan info dan pengetahuan; kita membutuhkan teknologi untuk menyebarkan pengetahuan secara adil. Teknologi tersebut adalah berupa mesin pencari, misal google; sebagai esensi teknologi. Tahap selanjutnya, kita mengembangkan teknologi mesin pencari untuk mencapai tujuan menyebarkan pengetahuan secara adil.

Pendekatan eksistensi ini menuntut kita membuka wawasan seluas-luasnya sejak awal pengembangan teknologi. Bagaimana pun, tahap selanjutnya, kita perlu fokus kepada esensi teknologi tertentu sesuai situasi.

6.3 Wirausaha Teknologi

Wirausaha paling sukses adalah wirausaha teknologi. Perhatikan Apple, Amazon, Google, Facebook, Microsoft, Gojek, Tokopedia, dan perusahaan besar sukses lainnya; mereka adalah wirausaha teknologi. Bagaimana cara menjadi wirausaha teknologi?

6.4 Paradigma Etika

Terdapat beragam paradigma etika. Kita akan membahas hanya tiga paradigma: [a] utilitarianisme; [b] deontologi; [c] karakter. Jenis paradigma etika lain dapat kita klasifikasikan sebagai salah satu dari tiga di atas atau kombinasi di antara mereka dengan kadar tertentu.

Asas Manfaat Utilitarianisme

Utilitarianisme bisa kita sebut sebagai etika dengan asas manfaat. Sesuatu bernilai etika jika menambah manfaat atau mengurangi kerugian.

Teknologi pesawat bermanfaat karena memudahkan kita berpindah dari Jakarta ke Surabaya hanya membutuhkan waktu 1 jam saja. Bandingkan ketika belum ada teknologi; kita harus jalan kaki dari Jakarta ke Surabaya bisa membutuhkan waktu lebih dari 1 bulan. Atau, kita bisa mencermati perjalanan orang Indonesia untuk ibadah haji ke Arab. Dengan teknologi pesawat, orang bisa pergi haji ke Arab dan pulang balik ke Indonesia hanya dalam 5 atau 9 hari. Sementara, sebelum abad 20, belum tersedia teknologi pesawat terbang, perlu waktu sekitar 9 bulan untuk perjalanan haji.

Dari perspektif etika asas manfaat, teknologi pesawat terbang bernilai etis karena menambah manfaat.

Kamera (cctv) yang dipasang di toko berhasil mencegah pencurian. Orang yang awalnya berniat akan mencuri menjadi takut karena ada rekaman kamera tersembunyi di sebuah toko swalayan. Orang yang berniat merusak taman bunga berubah pikiran karena sadar ada rekaman kamera cctv di sekitar taman. Kamera cctv berhasil mencegah kejahatan, atau mengurangi kejahatan. Dengan demikian, kamera bernilai etis sesuai asas manfaat.

Apa makna-manfaat? Apa makna-kerugian? Adakah kriteria yang tegas?

Pertanyaan penting di atas perlu dibahas secara mendalam dari pandangan filosofis. Hasilnya adalah berupa keragaman perspektif. Teknologi pesawat terbang yang memberi manfaat itu, terbukti, merusak lingkungan dengan pencemaran udara dan penebangan hutan untuk membuat landasan bandara udara. Teknologi kamera yang mencegah kejahatan itu, terbukti, digunakan penjahat untuk memeras banyak pejabat.

Tampak jelas ada dua pendekatan etika asas manfaat: [a] meningkatkan manfaat positif; [b] mencegah kerugian; mencegah aspek negatif.

Secara personal, kita bebas mengutamakan manfaat positif atau pun lebih fokus mencegah kerugian. Tetapi secara sosial, secara lembaga, mengutamakan pencegahan kerugian adalah lebih tepat. Teknologi yang berhasil mecegah korupsi adalah lebih utama dari teknologi yang memudahkan penyaluran bantuan sosial. Karena, ketika korupsi dicegah, masyarakat mampu mengembangkan diri mereka menjadi lebih maju. Sehingga, bantuan sosial tidak terlalu mendesak. Sementara, meski penyaluran bantuan sosial dipermudah tetapi terjadi korupsi, maka korupsi itu bisa menghancurkan segalanya. Teknologi yang mencegah kerusakan lebih utama dari teknologi yang menambah kemudahan.

Deontologi

Etika deontologi bisa kita sebut sebagai asas kewajiban. Deontologi mencakup asas manfaat ditambah asas kewajiban. Jadi, semua tema etika yang dibahas oleh asas manfaat bisa dibahas juga oleh asas kewajiban. Tetapi, ada beberapa asas kewajiban yang tidak dibahas oleh asas manfaat.

“Menghormati ibu” adalah contoh tindakan etis sesuai asas kewajiban. Apakah tindakan “menghormati ibu” menambah manfaat bagi Anda? Bermanfaat atau tidak bermanfaat, Anda tetap wajib “menghormati ibu”; karena “menghormati ibu” adalah tindakan etis berdasar deontologi.

Menariknya, deontologi “menghormati ibu” adalah universal. Ketika Anda kaya maka Anda wajib “menghormati ibu.” Ketika Anda miskin maka sama saja wajib “menghormati ibu.” Bahkan, dalam kisah fiksi seperti novel, seorang manusia tetap wajib “menghormati ibu.”

Teknologi media sosial, misal, apakah menjadikan Anda “menghormati ibu?” Jika benar maka Anda wajib menggunakan teknologi media sosial sebagai cara “menghormati ibu.” Tetapi, jika media sosial menjadikan seseorang mengecewakan ibunya maka orang tersebut harus meninggalkan media sosial.

Teknologi apa saja yang memenuhi kriteria asas kewajiban? Teknologi apa saja yang melanggar kriteria asas kewajiban?

Karakter

Etika itu sendiri setara dengan karakter. Etika karakter sering disebut sebagai etika kebajikan atau virtue-ethics. Etika karakter meliputi asas kewajiban dan asas manfaat. Jadi, semua tema yang dibahas oleh etika kewajiban juga bisa dibahas oleh etika karakter. Sebaliknya, ada beberapa tema etika karakter yang tidak dibahas oleh etika kewajiban.

Contoh sikap etis adalah bertindak adil dan bijak. Apakah teknologi AI menjadikan masyarakat adil? Apakah orang yang tinggal di puncak gunung, tidak bisa akses listrik, mendapat manfaat AI secara adil? Apakah para pengusaha besar yang menguasai industri AI mendapat imbalan yang adil atau berlebihan?

Jika AI menjadikan diri kita dan masyarakat sebagai adil maka AI adalah etis sesuai etika karakter. Tetapi jika AI menyebabkan ketimpangan, menyebabkan situasi tidak adil, atau menyebabkan diri kita berlaku tidak adil maka AI adalah tidak etis; AI harus ditolak.

Bagaimana pun, etika karakter bersifat dinamis dan bebas. Sehingga, setiap orang selalu bisa membuat argumen bahwa dirinya sebagai orang yang adil; padahal dalam hati kecilnya, dia tahu bahwa dirinya sedang berbohong; dirinya sedang tidak adil. Untuk menjalani etika karakter, kita perlu jujur terhadap diri sendiri. Istilah etika karakter selaras dengan istilah etika mulia atau akhlak mulia.

Puncak dari paradigma etika adalah untuk mengantarkan umat manusia mencapai etika mulia atau akhlak mulia.

6.5 Etika Teknologi

Teknologi adalah etika dan etika adalah teknologi itu sendiri. Sehingga, rekayasa terhadap teknologi sama artinya dengan rekayasa terhadap etika. Sebaliknya, juga valid.

Solusi etika teknologi, kita ringkas menjadi: [a] manfaatkan teknologi untuk kebaikan bersama dan hindari dampak buruk teknologi (sesuai paradigma utilitarianisme); [b] manfaatkan teknologi untuk menjalankan amal kebaikan; kadang-kadang berkorban demi menjalankan kewajiban adalah suatu tindakan etika yang wajar (sesuai paradigma deontologi); [c] manfaatkan teknologi untuk menjadikan diri Anda dan orang banyak menjalankan akhlak mulia atau etika mulia; gunakan teknologi untuk mencegah pelanggaran akhlak mulia (sesuai paradigma karakter).

Ringkasan etika teknologi di atas tampak jelas. Bagaimana pun, tidak selalu mudah menjaga etika teknologi di atas; terutama tantangan teknologi modern. Sejak usia berapa seorang anak perlu diajarkan teknologi? Apakah AI dan koding perlu diajarkan pada anak usia dini? Jika tidak diajarkan sejak dini maka bagaimana bersaing dengan anak-anak di luar sana?

Kabarnya, menteri pendidikan atau pejabat pendidikan memunculkan ide bahwa koding dan AI akan diajarkan sejak dini di sekolah. Bagaimana kita menganalisis ide tersebut? Apakah Anda setuju? Jika kita menganalisis kompetisi, bahwa di luar negeri anak-anak diajarkan koding dan AI, maka kita tidak boleh kalah; kita harus mengajarkan AI sejak dini. Apakah etis menentukan kebijakan berdasar kompetisi?

Kalkulator

Mari kita bandingkan AI dengan kalkulator. Kita tahu bahwa kalkulator mampu menghitung cepat dan efisien. Apakah anak TK dan SD perlu diajarkan kalkulator? Apakah mereka perlu menggunakan kalkulator ketika belajar matematika? Anak TK dan SD dilarang menggunakan kalkulator. Siswa SMP dan SMA, secara umum, dilarang menggunakan kalkulator. Bahkan, mahasiswa, secara umum, dilarang menggunakan kalkulator. Terjadi pengecualian, yaitu diijinkan menggunakan kalkulator hanya ketika perhitungan bersifat teknis. Untuk mengembangkan pemahaman matematika, hampir semua, dilarang menggunakan kalkulator.

Kalkulator adalah teknologi yang berupa farmakos atau obat; farmakos kalkulator mengobati beban untuk menghitung; anak-anak menjadi mudah menghitung dengan kalkulator; di saat yang sama, kalkulator meracuni pikiran siswa sehingga lemah dalam berhitung. Kita sadar dampak beracun dari kalkulator.

Jika kalkulator dilarang untuk anak TK dan SD maka bagaimana dengan AI? Apa saja racun dari AI? Kita perlu mengembangkan narasi racun yang terkandung dalam AI.

Narasi Racun AI

Kita bisa mengembangkan tiga narasi utama dari AI: [a] AI bagai kopi hangat; [b] AI bagai rokok nikmat; [c] AI bagai ganja menggoda.

AI bagai kopi mengandung racun kafein sehingga berbahaya bagi siswa. Beberapa siswa justru suka dengan kopi; beberapa siswa cocok dengan AI. Bila demikian, AI bermanfaat bagi siswa dengan penggunaan kadar tertentu.

AI bagai rokok yang mengandung racun nikotin. Rokok berbahaya bagi siswa; sehingga AI dilarang bagi siswa. Meski rokok bermanfaat pada situasi tertentu, tetapi secara umum, racun rokok membahayakan paru dan jantung. Bahkan, rokok berbahaya bagi orang lain di sekitar perokok; AI berbahaya bagi masyarakat sekitar. Dengan demikian, narasi rokok melarang penggunaan AI di sekolah.

AI bagai ganja jelas mengandung racun bahaya yang membuat pengguna ketagihan tak terkendali. Meski ganja bermanfaat pada situasi terbatas yang ketat, secara umum ganja dilarang keras. Jadi AI dilarang keras untuk siswa mau pun masyarakat umum.

Apa narasi yang tepat bagi AI? Kopi, rokok, atau ganja? Saya menduga AI lebih dekat antara rokok dan ganja. Sehingga, lebih bijak, AI dilarang digunakan di sekolah. Beberapa teman mengusulkan narasi tambahan: AI bagai air bening dan AI bagai bom atom.

Jika AI bagai kopi maka tugas kita ringan saja; biarkan AI berkembang begitu saja tidak terlalu bahaya. Jika AI bagai rokok maka tugas kita lebih berat karena harus menetapkan aturan ketat. Dan jika AI bagai ganja maka tugas kita sangat berat karena harus membuat aturan sangat ketat; di saat yang sama, perlu meyakinkan bahwa AI berkembang pesat hanya di tangan-tangan orang yang tepat yaitu orang dengan etika mulia.

Tentu saja solusi paling mudah, tetapi paling buruk, adalah menetapkan AI sebagai netral mirip air bening. Biarkan saja AI berkembang atau redup sebagaimana adanya. Siswa yang baik akan memanfaatkan AI dengan baik. Sementara, siswa yang buruk akan menggunakan AI untuk keburukan dan keburukan itu adalah tanggung jawab pribadi siswa. Apakah solusi seperti ini bijak?

Problem etika mengenai AI, dan internet, menjadi sulit karena AI bisa berdampak kepada ketagihan oleh pengguna. Barangkali, bagi orang tertentu, AI bisa mengakibatkan kecanduan. Kita bisa belajar dari sejarah perang ganja, atau perang opium, antara Cina melawan Inggris. Cina sulit sekali menangani warganya yang kecanduan ganja. Sementara, Inggris mendapat keuntungan besar dengan menjual ganja kepada warga Cina.

Pada pertengahan abad 19, Cina secara resmi melarang Inggris menjual ganja ke Cina. Tetapi, Inggris menolak larangan ini dan bersikukuh untuk tetap menjual ganja ke warga Cina. Warga Cina yang kecanduan ganja, dan para bandar, justru mendukung perdagangan ganja. Sampai tahap akhir, tidak ada kesepakatan antara Cina dan Inggris; justru mereka sepakat untuk perang. Kelak, perang ini dikenal sebagai perang opium atau perang ganja yang terjadi sampai dua periode.

Dalam perang ganja ini, Cina diuntungkan sebagai tuan rumah sehingga lebih mudah untuk logistik. Di pihak Inggris, mereka lebih unggul persenjataan berupa meriam jarak jauh. Bisa kita duga bahwa Inggris akan menang pertempuran jarak jauh; dan benar adanya bahwa Inggris unggul dengan serangan meriam mereka. Kemudian, terjadi pertempuran jarak dekat, seharusnya Cina mampu mengimbangi Inggris. Kenyataannya, Cina tetap kalah dalam pertempuran jarak dekat. Salah satu analisisnya adalah karena warga Cina yang kecanduan ganja justru mendukung Inggris agar warga Cina tetap dapat menikmati ganja. Lebih-lebih, bandar ganja Cina juga mendukung Inggris agar mendapat keuntungan finansial. Singkat cerita, sesuai catatan sejarah, Cina yang bertujuan mulia memberantas kecanduan ganja warga justru kalah melawan Inggris sang pedagang ganja.

Beberapa cendekiawan Inggris dan Amerika, waktu itu, memprotes Inggris. Tidak pantas bagi Inggris, sebagai negara besar, berperang demi untuk menjual ganja. Perang ganja, atau perang opium, adalah perang paling memalukan bagi Inggris.

Bagaimana dengan AI andai menjadikan warga suatu negara kecanduan? Negara akan menghadapi kesulitan besar menangani kecanduan karena warga mereka justru ingin melanjutkan kecanduan itu. Ditambah lagi, terdapat bandar AI, berupa perusahaan besar dunia, yang memperoleh keuntungan finansial sangat besar dari kecanduan AI. Mereka bisa menyebarkan propaganda menentang program pemerintah yang ingin membersihkan fenomena kecanduan AI. Kita perlu berpikir cermat untuk menghadapi tantangan AI.

Mengapa Etika

Mengapa teknologi identik dengan etika? Karena teknologi eksis berawal dari etika dan berproses menuju akhir berupa akhlak mulia atau etika mulia.

7. Diskusi

Kita bisa diskusi lebih leluasa di bagian diskusi ini. Salah satu pemantik diskusi, “Teknologi apa yang paling berpengaruh sepanjang sejarah?”

7.1 Bom Atom

Bom atom atau nuklir terbukti menghancurkan kota Hirosima dan Nagasaki pada tahun 1945; ratusan ribu orang mati ketika itu; disusul jutaan orang luka-luka parah beberapa waktu kemudian; dalam jangka panjang, efek radioaktif dari bom atom ini merusak lingkungan. Jadi, bom atom adalah teknologi paling mematikan dan paling berpengaruh. Sayangnya, pengaruh bom atom bersifat negatif: membunuh, melukai, merusak dan lain-lain.

Kita harus mencegah bom atom; kita harus menolak bom atom; kita harus memusnahkan bom atom. Pihak-pihak tertentu beralasan bahwa bom atom diperlukan untuk pertahanan negara. Argumen ini menuai pro kontra. Bisakah tenaga atom dimanfaatkan secara positif untuk kebaikan bersama?

Beberapa manfaat positif di antaranya: pembangkit linstrik tenaga nuklir; radioaktif untuk keperluan medis; dan rekayasa genetika untuk bibit unggul pada tanaman.

7.2 Digital

Teknologi digital bisa berpengaruh lebih besar dari bom atom; khususnya, karena teknologi digital memberi banyak kontribusi positif; tentu juga berdampak negatif. [a] Digital sehingga mudah produksi ulang; [b] online sehingga terbentuk network setiap saat; [c] cerdas sehingga memunculkan “ide” lebih kreatif.

Benarkah teknologi digital lebih berpengaruh? Adakah teknologi yang lebih hebat dari teknologi digital? Komputer quantum bisa lebih hebat dari digital; tetapi, saat ini, baru tahap riset. Ada teknologi lain, yang sudah terbukti hebat, yaitu teknologi bahasa.

7.3 Bahasa

Kita bisa memaknai bahasa sebagai teknologi yaitu sebagai media bagi manusia untuk menjalin relasi dengan alam; dengan orang lain; bahkan, dengan dirinya sendiri; bukankah Anda sering berbicara dalam hati?

Pengaruh bahasa sangat besar. Manusia bisa menciptakan bom atom mau pun teknologi digital karena memanfaatkan bahasa. Lebih dari itu, bahasa bisa berbicara tentang masa lalu dan masa depan; tentu saja, bisa bicara masa kini. Bahasa bisa menciptakan keajaiban yaitu fiksi; baik fiksi yang kreatif untuk kebaikan mau pun fiksi yang membodohi umat manusia itu sendiri misal berupa hoaks. Bahasa berbicara tentang niscaya dan posibilitas.

Benarkah bahasa adalah teknologi paling berpengaruh?

7.4 Tulisan

Tulisan sering dianggap sebagai rendahan; tulisan lebih rendah dari bahasa lisan; tulisan adalah pembantu ketika lisan tidak bisa bicara langsung. Tetapi, bukankah catatan sejarah, tulisan sejarah, yang menjadikan kita lebih banyak belajar?

7.5 Uang

Orang sering lupa: uang adalah teknologi; uang adalah media bagi manusia untuk menjalin relasi dengan apa saja. Uang bisa membeli segalanya yang bisa dibeli. Uang adalah universal, berlaku di mana saja, bagi kehidupan kota.

Jadi, uang adalah teknologi paling berpengaruh?

Prestasi adalah Hak Kita

Setiap orang berhak dan wajib meraih prestasi. Siapa pun Anda, selalu, bisa meraih prestasi. Orang tua atau muda; besar atau kecil; kaya atau miskin; pejabat atau rakyat; semua bisa meraih prestasi. Bukan sebarang prestasi, tetapi, prestasi di jalan ilahi sehingga penuh arti.

Saya menulis buku “30 Renungan Takwa: Berprestasi Sepanjang Masa” sengaja untuk menjadi teman kita dalam meniti jalan prestasi. Tersedia 30 Renungan, sehingga, kita bisa membaca 1 renungan tiap hari.

[1] Makna-prestasi dan makna-takwa adalah saling menguatkan. Takwa adalah meraih prestasi di jalan ilahi dengan cara menjalankan perintah dan menjauhi larangan.

Keunggulan manusia adalah bisa memilih amal kebaikan padahal dia bisa memilih dosa. Andai manusia, misal diri kita, tidak mampu berbuat dosa maka semua perilaku kita adalah biasa-biasa saja. Kucing tidak bisa berbuat dosa; kucing hanya bisa berbuat baik-1 atau baik-2 atau baik-3; sehingga perilaku kucing adalah baik yang biasa-biasa saja meski kadang luar biasa.

Tetapi manusia berbeda. Manusia bisa berbuat dosa. Kemudian, Anda memilih berbuat amal kebaikan. Maka kebaikan Anda adalah amal yang bernilai tinggi. Kebaikan Anda adalah prestasi tertinggi sebagai anak manusia. Mari kita lebih banyak berbuat amal kebaikan.

[2] Puasa adalah prestasi manusia. Binatang, misal ulat, terbiasa puasa sehingga menjadi kepompong; kemudian berubah menjadi kupu-kupu yang indah terbang tinggi. Puasa seorang anak manusia lebih hebat lagi. Manusia berpuasa dengan membatasi konsumsi pribadi; makan minum dibatasi; termasuk konsumsi energi dibatasi.

Tetapi membatasi konsumsi bisa berakibat lesunya ekonomi. Ekonomi Keynesian mengukur pertumbuhan ekonomi berdasar pertumbuhan konsumsi masyarakat. Orang yang puasa memang mengurangi konsumsi pribadi; kemudian, menyalurkan sumber ekonomi kepada orang miskin; berbagi sedekah; menyantuni anak yatim. Konsekuensinya, konsumsi masyarakat tetap tinggi.

[3] Puasa politik adalah prestasi. Puasa politik teramat penting bagi kita, apa lagi, karena baru menyelenggarakan pemilu. US akan melaksanakan pemilu di 5 November 2024. Tentu akan banyak gonjang-ganjing dunia politik. Kita perlu puasa politik.

Bagaimana menurut Anda?

Anugerah Demi Anugerah

Semua adalah anugerah. Anda membaca tulisan ini adalah anugerah. Anda berpikir adalah anugerah. Anda merasa ragu adalah anugerah. Anda merasa gelisah adalah anugerah. Anda bernafas adalah anugerah.

Kita bersyukur atas anugerah demi anugerah; kemudian, anugerah makin bertambah. Saya menempatkan konsep “Semua Anugerah” sebagai pintu 1 dalam buku “7 Pintu Anugerah: Pembuka Realitas Masa Depan.”

[1] Ibu adalah anugerah. Ibu adalah anugerah besar bagi kita; ibu mencintai dan merawat kita sejak kecil; bahkan, ibu mencintai kita sejak dalam kandungan. Bakti kita kepada ibu adalah yang utama; utang kebaikan bagi kita kepada ibu tak pernah terlunasi; doa terbaik kita untuk ibu tercinta; untuk setiap ibu yang pernah ada; untuk setiap ibu yang akan ada.

[2] Rejeki adalah anugerah. Berlimpah rejeki, misal harta dan jabatan, menjadikan hidup terasa indah. Tetapi kehilangan rejeki, kekurangan dalam rejeki, menjadikan rejeki penuh arti. Sadar akan kekurangan diri, kelemahan diri, terbatasnya kemampuan diri, adalah anugerah itu sendiri.

[3] Situasi politik adalah anugerah. Bagi yang menang pemilu, politik adalah anugerah. Bagi yang kalah, sama juga, situasi adalah anugerah; anugerah untuk mawas diri; anugerah untuk atur strategi. Bagi yang menang harus tanggung jawab memikul amanah kekuasaan; anugerah juga. Bagi Anda yang tidak terjun langsung ke politik praktis, tetap saja, situasi politik adalah anugerah.

Prabowo – Gibran menang adalah anugerah; Anies – Ganjar kalah adalah anugerah. Andai dikoreksi menjadi sebaliknya, misal Anies atau Ganjar yang menang, tetap anugerah.

Mari bersyukur; sambut pagi yang berlimpah anugerah; telusuri bentangan siang berlimpah anugerah; rangkul malam yang berselimut anugerah.

Bagaimana menurut Anda?

Logical Foundations of Induction

By Baqir As Sadr

Preface to Online Version (2)

Introduction (3)

Part 1:
Induction and Epistemology

Chapter 1. Aristotelian Induction (6)

Chapter 2. Criticism of Aristotelian Induction (19)

Chapter 3. Induction And Empiricism (29)

Part 2:
Induction And Probability

Chapter 1. Calculus of Probability (52)

Chapter 2. The Interpretation of Probability (59)

Chapter 3. The Deductive Phase Of Induction (82)

Chapter 4. Modern Theories of Probability (96)

Chapter 5. Induction and Certainty (113)

Part 3:
Human Knowledge And Probability

Chapter 1. Classes of Statements (139)

Chapter 2. Is There A priori Knowledge? (177)

Conclusion

Preface to Online Version (2)

The basic thesis of this book is that the same logic of induction on which scientific methodology is based can be used to prove the existence of God. The implication of this work is far reaching, for it attempts to layout a unifying, common basis of research in religion, social sciences, and natural sciences. “Our Philosophy” and “The Revealer, The Messenger, and the Message”, the two other books by the same author, are very relevant in this regard and useful for a wider understanding of author’s thesis.

Introduction (3)

In this book, we try to present a reformulation of the theory of knowledge in a scientific, philosophical and objective manner based on the theory of probability so as to fill the gap in the intellectual march of man.

Part 1:
Induction and Epistemology

Chapter 1. Aristotelian Induction (6)

Meaning of Induction; Aristotle’s Perfect Induction (7); Criticism of Perfect Induction; Recapitulation; Aristotle’s imperfect Induction (10); The Problem of Induction; The Formal Logic and Problem (12); Misunderstanding of Formal Logic (13);

Aristotelian Epistemology and Induction (14) ; Formal Logic and Chance; Need of Definite Formulation (16); The Crucial Power of Difference (17)

Aristotle did not distinguish between observation and experiment, and considered induction as any inference based on enumerating particular instances, consequently, he classified induction into perfect and imperfect, if the conclusion refers to all the particulars in question, induction is perfect, if it includes reference to some particular instances only, induction is imperfect [1].

Aristotle has considered perfect induction in a way different from his consideration of imperfect induction. Induction cannot be divided, in our view, into perfect and imperfect because induction in fact proceeds from particular to universal, whereas perfect induction does not do so, but its premises are general like its conclusion. Thus, we regard perfect induction as deduction not induction; and it is imperfect induction that is induction proper. (6)

Chapter 2. Criticism of Aristotelian Induction (19)

Indefinite Knowledge (19); Genesis of indefinite Knowledge (19); Aristotelian principle and indefinite knowledge (20); First Objection (21)

There are in our ordinary state of affairs instances of knowledge of indefinite rejection: we may know that this sheet of paper is not black (and that is knowledge of definite rejection), but we may know only that the sheet cannot be black and white at the same time (and this is knowledge of indefinite rejection). The sort of knowledge which rejects something in an indefinite (or exact) way may be called indefinite knowledge, and the sort of knowledge which involves a definite rejection of something may be called definite knowledge in consequence, the Aristotelian rejection of relative chance is an instance of indefinite knowledge. (19)

Chapter 3. Induction And Empiricism (29)

Certainty Attitude (29); On the First and Third Questions (30); Discussion (31); On the second question (31); Answer to that question (32);

Probability Attitude (34); Discussions (36); Psychological Attitude (37); Examination of psychological attitude (40); (1) Belief; (2) Causality and Reason (42); (3) Causality and Experience (44); (4) Concept of Causality (45); (5) Belief in causality (46); Physiological Explanation of Induction (49);

Inductive inference faces, as has already been noted, three main problems;

(1) why should we suppose a cause of (b), excluding absolute chance for its occurrence?

(2) if there is a cause of (b), why should we suppose that (a) is its cause being concomitant with it, and not supposing that (b) is connected with (c) by relative chance?

(3) If we could make sure, by inductive process, that (a) is the cause of (b), on what ground can we generalize the conclusion that all a’s would be causes of b’s?

Formal logic solved the first and third questions by appealing to certain a priori principles on rationalistic lines, and solved the second problem by supposing another a priori principle denying the systematic repetition of relative chance. (29)

Our comments on certainty attitude concerning induction are as follows. First, the author differs from both rationalistic and empiricist answers to the second question, namely, whether induction needs causality as a necessary postulate. Both schools, though different, answer that question in the positive, while the author will say no, owing to what will be maintained in the sequel. Secondly, we agree with certainty attitude that causal principle is itself reached by induction, and thus hold that induction needs no a priori postulates. But the impasse of empiricism in our view, is that it holds that induction is grounded upon causality postulate while it holds at the same time that causal principle is itself an inductive generalization. (30)

Part 2:
Induction And Probability

Chapter 1. Calculus of Probability (52)

Axioms of the theory (52); Rules of the Calculus (54); Bernoulli’s law of large numbers (56);

We have already said that induction, in its first stage, is a sort of inference; and we shall show in this part that induction in this stage does not proceed from particular to universal and that inductive inference does not give certainty but the highest degree of probability. Thus induction in its first stage is related to the theory of probability, and it may then be well to begin with the latter. (52)

Chapter 2. The Interpretation of Probability (59)

(A) Fundamental Definition (59); The First problem (60); The Second Problem (61); (B) Probability in the Finite Frequency Theory (62); Real and Hypothetical Probabilities (63); Does this definition exhaust all probabilities? (64);

New Definition of Probability (66); A. The axioms of the new definition (68); Difficulties of our definition (70); The new definition and the calculus (70); The new definition and inverse probability (71); The definition and the Bags – example (71); Our definition and Bernoulli’s law (72); Completeness of our definition (73);

New axioms (74); Ground of Dominance Axiom (76); Categorical and Hypothetical indefinite knowledge (77); Conditional knowledge that is real (78); Recapitulation (80);

Now we come to our new definition of probability: Probability capable of determined value is always one of a class of probabilities represented in indefinite knowledge, its value is always equal to a number of items of indefinite knowledge. (67)

Chapter 3. The Deductive Phase Of Induction (82)

Causality (82); First Application (83); Rule of multiplication (85);

Induction has two phases: deductive and subjective, and we have still been concerned with the former. By deductive phase here is meant that inductive inference aims at generalizations, and in order that these be effected, induction finds help in the study of probability. But we get the highest degree of probability of our generalization in a deductive manner, that is, deduction from certain axioms and postulates. (82)

Chapter 4. Modern Theories of Probability (96)

Now, the pioneers of the theory of probability seem to have taken already the same course as we did, with the difference that they defended the deductive phase of induction even without presupposing anything concerning causality.

Laplace is one such pioneer. In what follows we shall discuss Laplace’s position and then compare it with ours. (96)

Chapter 5. Induction and Certainty (113)

This credibility is expressed by greater probability value arising from collecting a greater number of cases concerning the principle of causality. Now, the deductive conclusion in induction shows a degree of credibility of the statement, “A causes B”, and not of the principle of causality itself. Such credibility would approximate, but does not reach, certainty. (113)

Part 3:
Human Knowledge And Probability

Chapter 1. Classes of Statements (139)

Now, all inference depending on certain statements is called demonstration, but when inference depends on commonsensical and acceptable statements it is called dialectic; and when inference is arrived at from probable and authoritative statements it is called rhetorical, and when it uses false statements it is called fallacy. Thus demonstration is the only inference that is certain and always true. If we examine the principles of inference, referred to above, we shall find that most of them are not really principles but derivatives. (141)

Chapter 2. Is There A priori Knowledge? (177)

Empirical Statements (177); Formal Statements (178); Logical Positivism (180); Criticism (182); Empiricism and Meaning of Statements (183); Has knowledge Necessarily A Beginning? (186); Reichenbach’s Position (187); Russell’s Objection (187); Discussion (188);

Now, we must have before us a criterion by means of which we can compare and evaluate rationalism and empiricism. This criterion may be reached by pointing the minimal degree of belief in the truth of both formal and empirical statements. And any theory of knowledge disclaiming such criterion is doomed to failure, while it is approved when is consistent with such criterion. Now what is the minimal degree of credulity in formal and empirical statements? (177)

Therefore we have to reject empiricism owing to its failure to explain the necessity of formal statements, in favour of rationalism in this respect. Further, the empiristic dictum that sense experience is the sole source of human knowledge is not itself a logical truth, not is it itself derived from experience. It remains that this dictum is obtained a priori; if true, then empiricism admits a priori knowledge; and if it is empirical and a priori then it is probable. This implies that rationalism is probably true for empiricism [???]. (183)

CONCLUSION (190)

The object of our study in this book is two fold. [1] First, we are concerned to show the logical foundations of inductive inference which embraces all scientific inferences based on observation and experiment. In this context we have offered a new explanation of human knowledge based on inductive inference. [2] Secondly, we are interested to show certain conclusions connected with religious beliefs based on our study of induction. That is, the logical foundations of all scientific inferences based on observation and experiment are themselves the logical foundations on which a proof of the existence of God can be based. This proof is a version of the argument from design, and is inductive in its character.

Now, we have to choose the whole scientific knowledge or reject it, and then an inductive proof of the existence of God would be on the same footing as any scientific inference. Thus, we have found that science and religion are connected and consistent, having the same logical basis; and cannot be divorced. Such logical connection between the methods of science and the method of proving God’s existence may be regarded as the ground of understanding the divine direction, in the Koran, the Holy Book of Muslims, to observe the workings of the natural world.

The Koran is encouraging people to scientific knowledge on empirical grounds. And in this sense, the argument from design is preferred in Koran to other proofs of the existence of God, being akin to sense and concreteness and far from abstractions and sheer speculations.

Renungan Takwa

Buku “30 Renungan Takwa” ini sangat menarik: praktis, mudah, dan bisa dibaca secara harian. Anda wajib takwa dan memang selalu bisa takwa; yaitu, takwa adalah meraih prestasi dengan menjalani perintah dan menjauhi larangan. Prestasi Anda di tempat kerja adalah takwa. Anda menjadi pegawai terbaik adalah takwa; anda jadi pengusaha jujur adalah takwa; Anda menjadi politikus adil adalah takwa; Anda menjadi pemuda kreatif adalah takwa.

Prestasi takwa mengantar Anda menjalani hidup penuh makna dan menerima mati lebih bermakna; takwa menjadikan Anda lebih sukses dan bahagia; di dunia dan akhirat.

Anugerah untuk Kita

Saya rekomendasikan Anda untuk membaca buku “7 Pintu Anugerah.” Bahkan, saya merekomendasikan setiap orang, tua atau muda, untuk membaca buku “7 Pintu Anugerah.” Mengapa? Karena akan membuka pintu anugerah yang berlimpah berkah untuk kita semua.

Anugerah untuk Anda berupa sukses, bahagia, kaya, pintar, dan hidup bermakna. Berikut beberapa catatan saya, sebagai penulis buku, tentang manfaat buku “7 Pintu Anugerah.”

[1] Optimis penuh syukur. Sejak pintu 1, Anda akan diajak untuk lebih banyak syukur karena semua realitas adalah anugerah bagi kita. Pagi yang indah adalah anugerah; siang yang cerah adalah anugerah; dan malam yang lelap juga anugerah. Bahkan, sakit dan sulit adalah anugerah.

Sakit menjadikan kita lebih paham betapa bernilainya sehat; sakit mengajari kita beragam batas-batas kekuatan manusia; sakit memberi kesempatan orang lain untuk menolong kita; sakit menjadikan semua orang yang sehat, termasuk diri kita, menjadi penuh makna. Kesulitan menjadikan kita lebih kuat; kesulitan memberi makna kepada kemudahan; kesulitan menjadikan kita lebih dewasa dan bijaksana.

Tentu, sehat dan kemudahan adalah anugerah bagi kita yang luar biasa. Rasa syukur menjadikan anugerah lebih berlimpah berkah.

[2] Mudah dibaca dan paham. Buku “7 Pintu Anugerah” mudah untuk kita pahami. Setiap orang yang berusia 15 tahun ke atas akan mampu memahami buku ini. Memang ada bagian buku yang agak sulit. Secara umum, buku ini cukup mudah kita pahami dan bermanfaat secara praktis. Saya melengkapi ringkasan dan saran praktis pada setiap bab.

[3] Demokrasi. Pintu 5 membahas “Pakar Demokrasi” menjadi sangat penting bagi kita yang sedang pemilu: pilpres dan legislatif. Di US, tahun 2024 ini, juga sedang melaksanakan pilpres. Anda bisa menjadi pakar demokrasi dengan mempelajari pintu 5. Sehingga, kita bisa bersikap bijak dalam segala situasi. Demokrasi adalah batu ujian yang mengasah setiap diri. Selamat berpartisipasi: secara ramai-ramai atau beriringan sepi.

Bagaimana menurut Anda?

Menulis Buku Kehidupan

Lebih dari 30 tahun, saya menulis buku. Salah satu buku best seller karya saya adalah “Kecerdasan Quantum: Cara Praktis Melejitkan IQ, EQ, dan SQ yang Harmonis” terbit pada tahun 2001. Awal tahun 2024 ini, akan terbit dua judul karya saya: [a] 7 Pintu Anugerah: Pembuka Realitas Masa Depan; [b] 30 Renungan Takwa: Berprestasi Sepanjang Masa.

Tuhan sudah menuliskan buku kehidupan sejak jaman azali. Karena Tuhan yang menuliskannya maka buku kehidupan kita adalah buku yang terbaik. Tugas kita, selanjutnya, adalah menulis ulang buku kehidupan masing-masing orang; bersama alam sekitar dan alam sosial.

1. Anugerah Demokrasi
2. Teknologi Teman Hati
3. Prestasi Sejati
4. Buku Cetak 30 Renungan
5. Buku Cetak 7 Anugerah

6. Awal Belajar Hikmah
7. Salah Berkaca
8. Waktu Selalu Berlalu
9. Tobat Jadi Manusia
10. Peduli adalah Solusi Kunci

11. Prestasi adalah Hak Kita
12. Anugerah Demi Anugerah
13. Renungan Takwa
14. Anugerah untuk Kita
15. Buku Logika Futuristik

Mengapa kita perlu menulis buku kehidupan?

[1] Alasan ekonomi. Bila beruntung, buku Anda sukses di pasar dan Anda memperoleh keuntungan ekonomi finansial yang besar. Pada awal usia 30, sukses buku saya “Kecerdasan Quantum” menjadi modal untuk beli rumah di kawasan kota Bandung bagian utara dekat Lembang yang sejuk.

Semanis itukah kisah penulis buku? Manis itu makin nikmat karena ada pahitnya; bagai kopi pagi hidangan istri saya itu sangat nikmat karena ada campuran manis dan pahit; atau terasa nikmat karena saya sambil memandang istri saya.

Di buku baru “7 Pintu Anugerah”, saya menekankan bahwa nikmat itu hanya bisa terjadi kerena ada derita; jadi, penderitaan itu penting. Bahagia bisa terjadi karena ada sengsara; sukses bisa terjadi karena ada gagal; pahala bisa terjadi karena ada dosa; makna bisa terjadi karena ada hampa; mudah bisa terjadi karena ada sulit. “Sungguh bersama kesulitan itu ada kemudahan.”

Sebagai penulis, awalnya, saya tidak terlalu berpikir aspek ekonomis ini; bagaimana pun, setiap penulis perlu merespon tantangan ekonomi ini dengan bijak.

[2] Alasan Warisan. Saya sejak muda bercita-cita untuk meninggalkan warisan berupa suatu karya buku. Barangkali, motif warisan ini yang mendorong saya untuk menulis buku.

[3] Alasan Belajar. Pengalaman saya menunjukkan: belajar melalui proses menulis lebih efektif dari melalui proses membaca. Ketika saya menulis buku, maka, saya makin paham dengan isi tulisan saya. Meski, sebelumnya, saya sudah membaca tulisan yang sama dari buku orang lain.

Misal saya sulit memahami satu paragraf dari buku orang lain; kemudian, saya mengulang membacanya sampai 9 kali; tetap sulit untuk paham.

Alternatif yang lebih efektif adalah saya membaca paragraf itu 3 kali; belum juga paham; kemudian, menulis ulang paragraf tersebut dengan bahasa saya; lanjut membaca ulang paragraf tersebut. Hasilnya, pemahaman menjadi jauh lebih baik.

Menulis buku adalah proses bagi saya untuk terus belajar. Tentu saja, Anda bisa belajar melalui menulis mau pun membaca.

Bagaimana menurut Anda?

16. Asyik Membaca Logika Futuristik
17. Anugerah Urip
18. Pengantar Penulis: Cita-Cita
19. Anugerah Sejarah
20. Anugerah AI

21. Trilogi Futuristik Telah Terbit
22. Kerja Bukan Cari Uang
23. Terbit Lengkap Trilogi Futuristik
24. Pesona Buku Visi Futuristik
25. Kontribusi Buku Visi Futuristik

Tentang Penulis

Agus Nggermanto, dikenal sebagai Paman APIQ di media sosial, adalah pendidik dan penulis yang produktif. Awal tahun 2000-an, dia menulis buku Kecerdasan Quantum yang menjadi best seller di Indonesia. Kemudian, menulis puluhan buku matematika kreatif. Di youtube, dia sudah berbagi lebih dari 7000 video belajar matematika asyik dan kajian filosofis. Agus menyelesaikan pendidikan dasar dan menengah di Tulungagung, Jawa Timur, dan melanjutkan kuliah di ITB (Institut Teknologi Bandung). Dia mengajar beberapa mata kuliah yang berhubungan dengan kreativitas, inovasi, filsafat sains, teknologi, dan informasi di STEI (Sekolah Teknik Elektro dan Informatika ITB), SBM (Sekolah Bisnis dan Manajemen ITB), dan STT Telkom (sekarang Telkom University). Sejak pandemi, dia menulis buku trilogi Futuristik: [1] Logika Futuristik (terbit 2023); [2] Pintu Anugerah Futuristik (terbit 2024); [3] Visi Futuristik (dalam proses penerbitan tahun 2024).

Lampiran 2: Biografi Agus Nggermanto

Agus Nggermanto lahir di kota Tulungagung, Jawa Timur, Indonesia, di akhir abad 20; mengawali pendidikan formal di SDN Mangunsari 1. Menjelang naik kelas 3 SD, dia ikut orang tuanya merantau ke Kalimantan Barat. Di pedalaman Sintang, Kalimantan Barat, belum ada sekolah. Agus harus menunggu beberapa bulan agar tahun ajaran baru dimulai, dan, rencananya akan dibuka SD. Tahun ajaran baru tiba, Agus belum naik kelas 3 sehingga dia duduk di kelas 2 SD. Berjalan sekitar 10 bulan, Agus kembali ikut orang tua pulang ke Tulungagung; dalam posisi yang mirip yaitu menjelang naik kelas 3 SD.

Saat itu, tidak ada sekolah yang bisa menerima Agus sebagai siswa kelas 2 menjelang naik kelas 3. Dia harus menunggu tahun ajaran baru beberapa bulan lagi. Tahun ajaran baru tiba, dia tidak bisa naik kelas 3 karena memang masih kelas 2. Teman-teman sekelasnya dulu sudah duduk di kelas 4 SD; sementara, Agus harus duduk di kelas 2 SD; mundur 2 kelas dari seharusnya. Beberapa sekolah SD didatangi, tidak ada yang bisa menerima sebagai siswa kelas 3; apa lagi kelas 4; mereka hanya bisa menerima Agus sebagai siswa kelas 2. Salah seorang guru SDN Mangunsari teringat kemampuan dan bakat Agus ketika kelas 1 dulu. Guru itu merekomendasikan agar SDN Mangunsari menerima Agus di kelas 3. Akhirnya, Agus diterima di kelas 3 SD meski tidak pernah punya raport yang menyatakan naik ke kelas 3 SD.

Tentu saja, tidak ada kesulitan bagi Agus untuk mengikuti pelajaran kelas 3 SD bersama adik kelasnya. Agus menjadi siswa terbaik di kelasnya sebagaimana dia menjadi siswa terbaik di kelasnya dulu; yang sekarang menjadi kakak kelasnya.

Pagi menempuh pendidikan formal, siang dan, atau sore, menempuh pendidikan madrasah. Awalnya, ketika kanak-kanak, Agus mengikuti Madrasah Al Fatah Pondok Menara Mangunsari. Kemudian, melanjutkan ke Madrasah Mambaul Hikam Botoran. Malam hari atau subuh, Agus mengikuti program ngaji Al Quran di beberapa tempat. Pendidikan madrasah membekali Agus pengetahuan agama dan bahasa Arab. Secara resmi, Agus belajar bahasa Arab lebih awal dari bahasa Inggris. Madrasah ibtidaiah, setara SD, sudah mengajarkan bahasa Arab percakapan praktis. Sementara, bahasa Iggris baru dipelajari ketika SMP waktu itu. Untuk nahwu sharaf baru dipelajari ketika madrasah tsanawiyah yang setara SMP. Menariknya, di madrasah, diajarkan menulis huruf Arab baik untuk bahasa Arab, bahasa Jawa, atau pun bahasa Indonesia. Jadi, kita bisa menulis rahasia dengan huruf Arab tetapi sebenarnya bahasa Jawa. Sebagian besar orang tidak akan bisa membacanya karena tanpa harakat atau Arab gundul.

Agus melanjutkan pendidikan formal ke SMP 2 Tulungagung, SMA 2 Tulungagung, kemudian ke Teknik Elektro ITB. Kelak, Agus menetap di Bandung dengan keluarganya.

Awalnya, Agus berniat memilih jurusan Matematika di ITB. Tetapi, karena diajak kompetisi bersama teman-temannya untuk mengambil jurusan yang lebih kompetitif, akhirnya, Agus memilih Teknik Elektro. Bagaimana pun, minat Agus terhadap matematika masih terus berkembang. Termasuk minatnya terhadap filsafat.

Waktu kecil, Agus mengajukan pertanyaan, “Mengapa saya terlahir sebagai manusia? Mengapa tidak sebagai kambing?”

Jawabannya sangat mudah yaitu karena Allah menetapkan takdir seperti itu. Agus lanjut bertanya,

“Mengapa Allah menetapkan takdir? Mengapa sebagian orang akhirnya masuk surga dan sebagian masuk neraka?”    

Jawabannya sama mudahnya yaitu, “Karena takdir Tuhan. Karena Allah berkehendak itu.”

Agus sadar bahwa beberapa orang puas dengan jawaban itu. Bagi dirinya, masih memunculkan lebih banyak pertanyaan lagi. Pergolakan pikiran, atau pergolakan batin ini, mengantarkan Agus mempelajari pemikiran Al Ghazali. Mengagumkan. Ghazali merangkai argument yang runut, jelas, ditambah berbagai macam contoh dan perumpamaan. Barangkali, Ghazali adalah pemikir paling cerdas di dunia. Yang paling menarik dari Ghazali adalah, hampir selalu, solusi akhir adalah berupa jalan ruhani membersihkan hati. Apa pun problem yang kita hadapi. Bagaimana pun, rasa penasaran terhadap pertanyaan mendasar ini selalu mewarnai pemikiran Agus kecil, remaja, sampai dewasa.

Awal tahun 2000an, Agus menulis buku yang terbit dengan judul Quantum Quotient (QQ): Cara Praktis Melejitkan IQ, EQ, dan SQ yang harmonis. Buku QQ membuka pintu yang luas bagi Agus secara intelektual, spiritual, mau pun professional.

Agus menguatkan brand APIQ (Aritmetika Plus Intelegensi Quantum) sebagai lanjutan buku QQ. Kemudian, Agus menulis puluhan buku tentang matematika kreatif dengan perspektif APIQ. Di media social, Agus dikenal sebagai Paman APIQ dengan menulis lebih dari 1000 artikel pendidikan dan matematika serta memproduksi sekitar 10 000 video edukasi matematika dan filsafat di canel youtube.

Awal tahun 2020, pandemic melanda dunia dan Indonesia. Agus mengkristalkan beragam pemikiran dan pengalamannya dalam bentuk buku (digital dan cetak). Trilogi Futuristik terbit pada awal 2023 dengan judul Logika Futuristik. Buku Futuristik kedua berjudul 7 Pintu Anugerah Futuristik terbit tahun 2024. Dan buku Futuristik ketiga akan segera terbit.

Trilogi Futuristik menandai babak baru pemikiran Agus dari sisi keluasan dan kedalaman. Barangkali hal ini terkait dengan usia yang sekitar setengah abad berlalu. Bagaimana pun, Anda selalu bisa mengikuti perkembangan pemikiran Agus melalui web pamanapiq.com atau canel youtube.com/pamanAPIQ .   

Masa depan memancarkan kilau cahaya; yang menerangi masa lalu dan masa kini. Kemudian, menarik masa kini menuju masa depan cemerlang.