Bisakah AI Lebih Cerdas dari Einstein?
Jelas, kita hidup selalu bersama teknologi; internet, motor, listrik, komputer, kompor, dan lain-lain. Tetapi, apa sejatinya teknologi itu? Apa makna-teknologi? Apakah teknologi, misal AI, bisa lebih cerdas dari Einstein? Untuk menjawabnya, kita akan mengkaji filsafat teknologi.
Sebagai awalan, kita bisa mendefinisikan teknologi adalah: [1] penerapan dari sains; misal mobil listrik adalah penerapan dari sains fisika dan kimia; [2] teknologi adalah hasil karya manusia; misal meja, kursi, dan tikar adalah karya manusia atau bisa disebut sebagai artefak; [3] teknologi adalah media bagi manusia; jalan setapak di hutan adalah media bagi manusia untuk lebih mudah menyusuri hutan.
1. Teknologi Kontemporer
1.1 Optimisme AI
1.2 Waspada
1.3 Skeptis
2. Esensi Teknologi
3. Organ Memori
4. Filsafat Teknologi
4.1 Posfenomenologi
4.2 Teori Kritis
4.3 Otonomi Sosial
4.4 Analisis
5. Makna Teknologi
5.1 Teknologi sebagai Being
5.2 Fourfold
5.3 The Real
5.4 Ontologi Framework-8
5.5 Disiplin Baru
5.6 Mengapa Filsafat
6. Pengembangan Teknologi
6.1 Esensi ke Eksistensi
6.2 Eksistensi ke Esensi
6.3 Wirausaha Teknologi
6.4 Paradigma Etika
6.5 Etika Teknologi
7. Diskusi
7.1 Bom Atom
7.2 Digital
7.3 Bahasa
7.4 Tulisan
7.5 Uang
Teknologi berubah sangat cepat bahkan revolusioner. Ditambah dengan keuntungan finansial, teknologi makin spesial. Lebih dari itu, teknologi militer menuntut keunggulan kompetitif sangat tinggi. Bom atom, kita sudah tahu resiko super mengerikan. Penggunaan drone bersenjata, pesawat terbang tanpa awak tetapi dilengkapi dengan senjata mematikan, makin menakutkan.
AI (artificial intelligence atau akal imitasi) berkembang super cepat. AI melanda dunia. Jika Anda tidak mengembangkan AI maka Anda ditinggal oleh dunia. Jika kurikulum pendidikan tidak mengajarkan AI maka menjadi pendidikan terbelakang. Benarkah demikian? Jika kekuatan militer tidak eksploitasi AI maka menjadi lemah. AI melonjak tinggi karena umat manusia berlomba-lomba melompat paling tinggi bersama AI. Apakah itu bijak?
Kita perlu membedakan karakter teknologi modern, misal AI, dengan teknologi kuno, misal sandal. Teknologi modern lebih dari sekedar alat; AI bisa membuat manusia ketagihan sampai hilang kendali. Dampak negatif dari AI bisa juga tak terkendali. Berbeda dengan sandal, sebagai contoh teknologi kuno, yang berperan sebagai alat bagi manusia. Tentu ada dampak negatif dari sandal; tetapi dampak negatif ini cenderung terkendali. Apa perbedaan utama teknologi modern dengan teknologi kuno?
1. Teknologi Kontemporer
Tiga karakter utama teknologi kontemporer adalah: digital, online, dan cerdas. Konsekuensinya, teknologi mengendalikan dunia nyaris seluruhnya.
Digital menyebabkan teknologi menjadi sangat mudah untuk diproduksi ulang. Siapa pun Anda, di kota atau di desa, mampu memproduksi ulang konten digital dengan murah dan mudah. Online menyebabkan teknologi tersambung ke seluruh dunia. Di mana pun Anda, selalu bisa akses teknologi digital secara online; di saat yang sama, Anda selalu bisa berbagi konten digital milik Anda. Dan cerdas, yaitu, teknologi mampu beradaptasi hampir dalam segala situasi. Bahkan, kecerdasan buatan atau AI sudah menjadi teman hidup sehari-hari. Kadang, AI terasa lebih cerdas dari manusia itu sendiri.
Situasi teknologi kontemporer yang seperti di atas menuntut kita untuk memahami filsafat teknologi dengan lebih baik lagi. Leluhur-leluhur kita, yang hidup di masa lalu, tidak pernah menghadapi problem teknologi digital serumit itu. Apakah kita akan berhasil menghadapi rumitnya teknologi?
1.3 Optimisme
Kurzweil (1948) optimis bahwa teknologi akan mengantar ke singularitas: sebuah titik tak terbayangkan di mana kecerdasan manusia berlipat jutaan kali karena menyatu dengan kecerdasan buatan (AI). Singularitas menimbulkan banyak resiko, termasuk resiko eksistensial, tetapi singularitas menyediakan seluruh solusi untuk menangani setiap resiko. Manusia akan mencapai sukses luar biasa ketika singularitas.
1.2 Waspada
Hinton (1947) adalah peraih Nobel Fisika 2024, berkat prestasinya mengembangkan AI, yang khawatir akan resiko AI, resiko teknologi. Hinton dijuluki sebagai Bapak AI dan ikut aktif mengembangkan AI di Google. Tetapi, pada tahun 2023, Hinton keluar dari Google agar bebas bersuara untuk mengkritik AI dan mengingatkan masyarakat akan resiko besar dari AI. Harari (1976) tampak setuju dengan kekhawatiran Hinton ini yang dituangkan dalam buku Nexus.
1.3 Skeptis
Beberapa pemikir memandang skeptis terhadap AI. Chomsky (1928) memberi kritik keras terhadap AI model LLM: AI tidak pernah bisa berpikir kreatif. Karena AI bekerja berdasar statistik maka AI hanya bisa plagiat atau plagiat tersembunyi. Lebih rumit lagi, manusia mampu berpikir kreatif dengan menguasai bahasa karena memiliki universal grammar (UG); semetara AI tidak memiliki UG. Acemoglu (1967), peraih Nobel Ekonomi 2024, juga skeptis terhadap AI karena AI adalah bodoh.
2. Esensi Teknologi
Apa hakikat teknologi? Apa esensi teknologi?
Heidegger (1889 – 1976) mengajukan pertanyaan tentang esensi teknologi. Heidegger menjawab esensi teknologi adalah gestell; yang sering diterjemahkan sebagai enframing atau pencitraan. Padahal gestell bermakna enframing dan poesis.
Sebagai enframing, teknologi mengungkung manusia untuk mengabdi kepada teknologi. Manusia memuja teknologi, membeli teknologi, merawat teknologi; bahkan rela korban uang atau korban apa saja demi mendapatkan teknologi paling keren. Lebih ngeri lagi, pejabat rela mengorbankan rakyat demi menikmati fasilitas berupa teknologi mewah. Enframing memang mengerikan. Kita perlu waspada terhadap teknologi.
Sebagai poesis, teknologi membuka posibilitas-posibilitas baru bagi umat manusia. Teknologi kedokteran mampu menyembuhkan orang yang sudah buta puluhan tahun. Betapa bahagianya, orang itu bisa menyaksikan indahnya dunia dengan mata yang sehat. Teknologi ponsel membantu ibu di desa Mangunsari, di Jatim, yang kangen dengan anaknya yang sedang kuliah di Bandung, di Jabar. Ibu bisa komunikasi dengan anak melalui video call untuk mencurahkan rindu.
Poesis begitu menggembirakan; enframing begitu mengerikan. Teknologi adalah gestell: enframing dan poesis. Lebih kuat mana antara enframing atau poesis?
Enframing adalah esensi dari teknologi modern; teknologi kuno berbeda. Teknologi mobil listrik, misalnya, memandang sebuah pulau di dekat Sulawesi sebagai sumber daya penghasil batere. Luas wilayah dihitung, kandungan bahan batere dihitung, kapasitas dihitung, dan semua hitungan bisa dikonversikan menjadi uang. Lebih dari itu, penduduk sekitar dihitung, tenaga ahli dari luar pulau dihitung, tenaga ahli dari luar negeri dan lainnya dihitung. Semua dihitung untuk kepentingan teknologi mobil listrik. Jadi, teknologi mobil listrik mengungkung semua eksistensi sekedar menjadi sumber daya bagi mobil listrik. Bahkan, manusia dihitung sebagai tenaga kerja atau tenaga ahli untuk menghasilkan mobil listrik.
Kita akan meluaskan analisis enframing dari teknologi mobil listrik di bagian lebih bawah.
3. Organ Memori
Derrida (1930 – 2004) memaknai teknologi sebagai organ dari manusia. Yang paling awal, dan utama, teknologi menjadi organ memori bagi manusia. Teknologi paling dasar adalah tulisan atau teks; yang dipandang rendah dibanding dengan logos atau bahasa lisan. Derrida melakukan operasi dekonstruksi terhadap teks, yaitu teknologi, dan membalik situasi: teknologi lebih utama dari bahasa lisan. Bahkan teknologi bisa lebih utama dari manusia. Harga pesawat pribadi super mewah bisa lebih mahal dari upah buruh harian. Apa dampaknya ketika teknologi lebih utama dari manusia?
Kita berasumsi bahwa, pada awalnya, orang berkomunikasi secara lisan atau logos. Kemudian, bila diperlukan, baru dibuat tulisan atau teks sebagai ekstensi organ memori. Dengan demikian, teks hanya suplemen bagi logos; tulisan hanya tambahan bagi lisan; teknologi, yang berupa tulisan, hanya alat bagi manusia. Apakah asumsi ini bisa dibenarkan? Bukankah manusia memandang alam semesta sebagai tanda-tanda teks sejak awal? Bukankah manusia memandang dunia sebagai alat, sebagai teks, sejak awal?
Bila benar bahwa teks tulisan lebih utama dari logos, yaitu berkebalikan dari asumsi awal di atas, maka dampaknya sangat besar; bila alat lebih penting dari manusia; bila teknologi lebih penting dari segalanya. Bukankah hal seperti itu yang sedang terjadi? Situasi lebih sulit karena struktur teknologi bisa diwariskan dari generasi ke generasi; dengan dukungan sistem norma mau pun sistem legal. Generasi yang mewarisi teknologi terlahir dengan organ yang kaya raya; sementara generasi yang terlahir miskin bagai cacat organ tubuhnya. Apakah struktur masyarakat seperti itu adil?
Kita perlu catat bahwa esensi teknologi berupa organ memori berdampak besar terhadap kemanusiaan. Berbeda halnya dengan teknologi kaca mata sebagai organ penglihatan. Ketika kita melihat buku dengan memakai kacamata maka kita merasa biasa-biasa saja. Tetapi, ketika kita akses memori catatan transaksi di bank yang bernilai jutaan dolar maka segala situasi bisa berubah seketika. Ketika terungkap memori dukumen-dokumen rahasia, atau foto-foto rahasia, dari para pejabat besar maka struktur sosial bisa berubah total. Kita akan membahas lebih dalam makna teknologi sebagai organ memori di bagian bawah.
Mari kita ringkas menjadi tiga tahap.
[a] Tahap awal; teks hanya tambahan bagi lisan; teknologi hanya sebagai alat bagi manusia; teknologi lebih rendah dari manusia. Era kuno, tampak, berada pada situasi tahap awal ini.
[b] Tahap tengah; teks seimbang dengan lisan; orang-orang bisa belajar melalui teks buku seimbang dengan belajar mendengarkan ceramah; teknologi seimbang dengan manusia. Era awal modern, tampak memenuhi kriteria ini; mesin cetak buku mulai berkembang.
[c] Tahap kini; teks lebih kuat dari lisan; teknologi lebih utama dari manusia; valuasi mesin pabrik bisa lebih mahal dari tenaga kerja seorang manusia; virtual reality bisa lebih menarik dari realitas aslinya; foto editan bisa lebih indah dari wajah aslinya.
Tiga relasi teknologi, di atas, bisa terjadi serentak dalam satu situasi. Relasi teknologi adalah kompleks. Sehingga, kita perlu mengkaji lebih teliti.
Stiegler (1952 – 2020), murid Derrida, mengembangkan konsep organ memori lebih luas lagi. Terdapat tiga lapis memori. Lapis pertama memori adalah memori yang tertanam pada otak manusia, tubuh manusia, sejak lahir. Memori ini tersimpan dalam sel-sel otak dan gen-gen setiap manusia. Lapis kedua adalah memori perolehan dari usaha manusia melalui belajar, berlatih, membaca, menulis, dan lain-lain. Masing-masing orang mengembangkan lapis kedua memori ini dengan cara yang unik. Lapis ketiga adalah memori eksternal berupa sistem teknologi.
Peran teknologi sebagai lapis ketiga memori adalah amat menentukan. Karena, ketika seorang individu meninggal, mereka bisa mewariskan teknologi kepada generasi berikut. Berbeda dengan lapis pertama memori, pada sel otak, dan lapis kedua memori, pada pengalaman belajar seseorang; lapis pertama dan lapis kedua memori ikut musnah ketika seorang individu meninggal. Problem muncul: bagaimana sistem warisan teknologi terbaik?
Problem teknologi makin besar lagi lantaran teknologi mempengaruhi pembentukan memori lain. Maksudnya, teknologi mempengaruhi pembentukan sel-sel otak pada bayi dan mempengaruhi kemampuan belajar setiap manusia; terutama melalui proses enframing. Sehingga, pada analisis akhir, problem teknologi adalah problem bagi seluruh umat manusia dan alam raya. Dengan demikian, kita perlu selalu mengajukan pertanyaan apa makna-teknologi? Kemudian merevisi setiap jawaban untuk mengajukan jawaban yang lebih baik lagi.
Sedikit perlu kita tambahkan bahwa Stiegler memandang teknologi sebagai farmakon atau obat; menyembuhkan sekaligus meracuni manusia. Farmakon ini sedikit berbeda dengan Derrida; atau kita bisa membedakan mereka. Bagi Derrida, teknologi itu kadang bisa baik meski lebih sering berdampak buruk. Sebagai farmakon, teknologi niscaya menyembuhkan sekaligus meracuni; meski kadar racunnya kadang terlalu besar. Makin besar kapasitas untuk menyembuhkan maka makin besar pula kapasitas untuk meracuni.
4. Filsafat Teknologi
Don Ihde (1934 – 2024) berkomitmen mengembangkan filsafat teknologi. Selama ini, teknologi hanya dibahas sekilas dalam filsafat. Padahal, umat manusia selalu hidup bersama teknologi. Ihde membahas filsafat teknologi dari perspektif teknologi itu sendiri yaitu posfenomenologi. Tahun 2024 ini, filsafat teknologi sudah jauh berkembang meski belum matang.
4.1 Posfenomenologi
Posfenomenologi mengkaji filsafat teknologi dengan pendekatan fenomenologi; menerima realitas teknologi agar hadir apa adanya dalam kesadaran manusia. Kemudian, kita analisis struktur kesadaran terhadap fenomena teknologi; terungkap struktur manusia-teknologi-dunia. Teknologi adalah media antara manusia dan dunia.
Pos adalah penggalan dari posmodern bagi posfenomenologi. Sehingga, posfenomenologi menyetujui asumsi-asumsi posmodern untuk mengkaji filsafat teknologi: dinamis; anti-esensialis; keragaman; dan anti-fondasionalis. Posfeno mengajukan beragam relasi teknologi.
[a] Technic embodied adalah teknologi merupakan perwujudan badan manusia. Misal kacamata adalah perwujudan mata manusia. Ketika seseorang melihat pohon di depan rumah dengan menggunakan kacamata maka kacamata bersifat transparan. Maksudnya, kacamata itu sendiri seperti tidak ada. Begitu juga, ketika Anda lari dengan memakai sepatu maka sepatu tersebut terasa seperti bagian dari kaki Anda.
[b] Heremeneutika. Teknologi adalah untuk interpretasi. Termometer menunjukkan suhu ruangan 21 derajat celcius. Kita menafsirkan bahwa suhu ruangan sejuk. Sementara, ketika merasa gerah panas, kita melihat termometer menunjuk angka 32; kita yakin cuaca memang sedang panas.
Map digital atau peta lebih menarik lagi. Kita berkendara memanfaatkan peta; lurus, belok kiri atau kanan. Teknologi peta adalah interpretasi terhadap dunia. Kita tahu bahwa peta bukan realitas dunia tetapi kita perlu peta untuk memahami dunia.
Teknologi hermeneutik, misal termometer atau peta, justru tidak boleh transparan. Karena kita perlu membaca peta tersebut; kita butuh peta tersebut ada di depan kita. Beda dengan kacamata; yang harus seakan-akan hilang dari mata kita; kaca mata harus transparan.
Pada tahap ini, posfeno membedakan prinsip desain: [1] ergonomis agar transparan dengan [2] personifikasi agar tepat interpretasi. Ihde menyarankan agar perusahaan-perusahaan teknologi menempatkan filsuf di R & D agar menghasilkan inovasi teknologi yang fenomenal.
[c] Alterity atau pengganti, misal mesin ATM. Daripada datang ke kantor bank untuk tarik tunai, teknologi mesin ATM bisa menggantikan kantor bank lengkap dengan telernya. Ditambah lagi, kita tidak perlu malu kepada mesin ATM ketika saldo rekening habis atau kosong. Bagaimana rasanya jika teler yang cantik berkata ke Anda, “Maaf saldo Anda tidak cukup!”
Teknologi sebagai pengganti, misal mesin ATM, perlu bersifat fleksibel, mudah, dan cerdas. Tentu saja, tidak perlu transparan. Bagaimana jika mesin ATM mengeluarkan uang transparan?
[d] Background atau latar. Misal mesin pendingin (AC) atau lampu ruangan. Sebagai latar, misal mesin pendingin, bisa saja transparan atau bahkan sembunyi dengan menghilangkan diri dari penampakan.
Tentu saja, relasi teknologi seperti di atas bisa saling tumpang tindih. Satu jenis teknologi bisa banyak peran dalam relasi manusia dan dunia. Lagi pula, kita masih bisa menambahkan beragam jenis relasi yang lain tanpa henti.
Sebagai anti-esensialis, posfeno mengembangkan konsep multistabilitas; teknologi memiliki beragam kegunaan sesuai konteks masing-masing. Teknologi tidak memiliki esensi yang pasti. Misal, mobil bisa jadi alat transportasi; bisa jadi tempat tinggal; bisa jadi toko; bisa jadi mesin perusak dan lain-lain. Posfeno perlu bersiap menghadapi surprise dari teknologi kapan saja.
Posfeno mencanangkan tiga program filsafat teknologi.
[a] Teknologi sebagai Media
Teknologi adalah media sebagai relasi antara manusia dan dunia. Manusia selalu membutuhkan teknologi; dan teknologi adalah karya dari manusia; membentuk satu kesatuan: manusia, teknologi, dan semesta.
Manusia perlu sadar bahwa setiap interaksi dengan dunia selalu melalui mediasi teknologi. Sehingga, kita perlu belajar bagaimana memanfaatkan teknologi dengan baik; waspada terhadap bias oleh teknologi, misal, berita hoax; dan waspada akan resiko kecanduan teknologi, misal, game dan media sosial. Di saat yang sama, ketika kita rekayasa untuk desain teknologi, perlu mempertimbangkan beragam dampak teknologi.
[b] Teknologi Budaya Hermeneutik
Teknologi hadir dalam konteks budaya dan histori tertentu. Hanya dengan budaya yang tepat, teknologi menjadi berarti. Misal teknologi media sosial hanya bermakna ketika masyarakat memiliki budaya untuk menggunakan media sosial: berbagi informasi; berbagi gambar; berbagi video; bahkan berbagi sesuatu yang kadang tidak pantas dibagi. Tanpa budaya masyarakat, media sosial tidak akan ada artinya. Andai seseorang memasang media soosial di tengah samudera, tanpa masyarakat, maka tidak ada gunanya; kemudian, akan musnah pula.
Awalnya, asumsi kita, budaya masyarakat menciptakan teknologi. Kemudian, teknologi menyatu dalam budaya. Akhirnya, teknologi yang menciptakan budaya. Proses ini terjadi secara timbal balik dua arah. Sehingga, saat ini, teknologi menciptakan budaya; dan budaya menciptakan teknologi.
Esensi teknologi menjadi terhubung oleh budaya. Teknologi menjadi multi-stabil; di satu budaya, media sosial sebagai media komunikasi; di budaya yang lain, media sosial bisa menjadi media bisnis. Masing-masing budaya membuat interpretasi sendiri, atau hermeneutika, terhadap teknologi. Karena karakter interpretasi adalah bebas maka esensi teknologi ikut bebas.
Masalah muncul ketika terdapat interpretasi dominan yang menyisihkan pihak lemah. Konsekuensinya, teknologi menjadi media dominasi oleh pihak kuat kepada pihak lemah. Lebih ngeri lagi resiko bahwa teknologi akan mendominasi manusia; pertimbangkan kasus kecanduan game dan kecerdasan buatan (AI). Teknologi tak seindah bayangan semula. Bagaimana pun, manusia tetap bebas membuat interpretasi terhadap teknologi.
[c] Membentuk Dunia Hidup (Lifeworld)
Pada akhirnya, teknologi membentuk lifeworld baru yang berbeda dengan sebelumnya; kehidupan bersama teknologi berbeda jauh dibanding tanpa teknologi; atau, kehidupan teknologi baru berbeda dengan teknologi lama. Pertanyaannya: berbeda menjadi lebih baik atau lebih buruk? Bagaimana pun, kehidupan manusia selalu bersama teknologi di dunia ini.
4.2 Teori Kritis
Sejak awal, teori-kritis bersikap kritis terhadap teknologi. Habermas (1929 – ) menunjukkan bahwa teknologi adalah instrumen bagi penguasa dan orang kaya untuk menguasai politik dan ekonomi. Sementara, rakyat jelata menjadi korban bagi kemajuan teknologi. Sebelumnya, Marcuse menunjukkan bahwa teknologi melumpuhkan nalar kritis rakyat sehingga manusia menjadi 1 dimensi; hanya mengejar ekonomi yang memang makin sulit untuk diraih.
Kita perlu mengkaji teknologi secara kritis: [1] teknologi sebagai aksi komunikasi bukan sekedar instrumen; [2] teknologi mendorong dialektika keragaman bukan keseragaman; [3] teknologi untuk kebaikan sosial dan natural.
Teknologi sebagai aksi komunikasi sudah terjadi secara alamiah; misal teknologi media sosial adalah media komunikasi. Tetapi manipulasi bisa terjadi. Media sosial berubah menjadi instrumen ekonomi yang menguntungkan pihak-pihak tertentu. Perusahaan media sosial adalah yang paling diuntungkan secara finansial; misal kenaikan harga saham. Sementara, pengguna atau masyarakat hanya sebagai konsumen belaka. Sedangkan beban operasional menjadi tanggung jawab pengguna: biaya listrik, biaya ponsel, biaya pulsa internet, dan lain-lain.
Tentu saja, melalui media sosial tetap bisa terjadi aksi komunikasi. Lagi, justru, sering terjadi miskomuniasi; tersebar berita hoax; fitnah; penipuan, dan lain-lain. Padahal, tanpa peran masyarakat, media sosial tidak bernilai apa pun; hanya berupa teknologi belaka. Kita perlu mengembalikan media sosial sebagai aksi komunikasi.
Media sosial adalah relasi antara pejabat dengan rakyat; ruang publik; kebebasan berpendapat dijamin. Dengan demikian, pejabat dan rakyat dapat komunikasi secara lancar. Bila ada program pemerintah yang salah arah, masyarakat dengan cepat memberi umpan balik; pemerintah merespon dengan cepat. Bukankah aksi komunikasi seperti itu sangat indah?
Andai perusahaan yang menjalankan media sosial memperoleh keuntungan finansial yang besar maka bagaimana sharing terbaik? Media sosial, lagi-lagi, bisa menjadi aksi komunikasi untuk membahas skema pembagian profit terbaik. Profit dari media sosial perlu berdampak positif kepada masyarakat dan lingkungan. Bagaimana pun media sosial hanya salah satu media aksi komunikasi; masih tersedia teknologi lain untuk aksi komunikasi.
Kritik berikutnya adalah teknologi menyebabkan hilangnya dialektika karena manusia menjadi seragam; menjadi 1 dimensi; hanya mengejar ekonomi. Seharusnya, teknologi mengantarkan manusia menjadi lebih beragam dalam ekonomi, politik, seni, sains, agama, dan lain-lain. Keragaman ini musnah, cepat atau lambat, berubah menjadi hanya kepentingan ekonomi.
Media sosial, awalnya, beragam. Media sosial untuk ekspresi karya seni, untuk berbagi informasi, untuk hiburan, untuk bisnis, untuk belajar matematika dan lain-lain. Pada tahap akhir, media sosial menjadi seragam: semua mengejar uang melalui media sosial. Meski bentuk mengejar uang itu sendiri bisa beragam misal melalui hiburan, berita, podcast, atau lainnya. Tetap saja mereka seragam: mengejar uang.
Apa resiko dari seragam?
Dialektika kemajuan menjadi hilang; nalar kritis terkikis habis. Manusia menjadi hamba ekonomi melalui teknologi. Manusia hanya kompetisi untuk mengejar ekonomi. Manusia menjadi bebal, hilang peduli, terhadap makna nilai-nilai manusiawi. Penindasan pihak kuat terhadap pihak lemah kerap terjadi.
Andai terjadi dialektika antara ekonomi dan politik maka akan terjadi pertumbuhan manusiawi penuh arti; apa lagi dialektika dengan seni, sains, dan agama. Ketika seseorang menggunakan media sosial, mereka berpikir: Pihak mana saja yang diuntungkan? Pihak mana saja yang dirugikan? Bagaimana pergeseran kekuatan politik? Apakah situasi politik menjadi lebih baik, lebih adil, lebih transparan? Kita perlu menjaga keragaman teknologi untuk menjamin kemajuan dialektika umat manusia.
Kritik terakhir, yang kita bahas di sini, adalah teknologi merusak alam dan budaya. Untuk memahami kritik ini, kita bisa mengajukan pertanyaan, “Siapa atau apa saja korban dari teknologi?”
Siapa atau apa saja korban dari media sosial?
Warga desa adalah korban dari media sosial. Harga nasi pecel 1 porsi di desa Botoran Tulungagung adalah 5 ribu rupiah; harga nasi pecel 1 porsi yang sama di kota Jakarta adalah 20 ribu rupiah. Sebaliknya, harga pulsa di desa Botoran adalah 22 ribu rupiah; harga pulsa yang sama di kota Jakarta adalah 20 ribu rupiah. Orang Jakarta hanya perlu 1 porsi nasi pecel untuk membeli pulsa; sedangkan orang desa perlu 4 porsi atau 5 porsi nasi pecel untuk membeli pulsa yang sama. Dengan kata lain, warga desa menanggung beban pulsa lebih berat 4 kali dari orang kota. Apakah itu adil?
Korban ekonomi dari media sosial bisa lebih sadis lagi. Dulu, warga desa berkreasi dengan menjahit sendiri pakaian mereka; produksi baju-baju sendiri secara mandiri. Setelah media sosial masuk, warga desa banjir dengan baju-baju produk dari kota atau impor. Produk baju dari kota menjadi lebih murah karena gratis ongkos kirim, diskon promosi, dan lain-lain. Industri lokal desa, produsen baju di desa, menjadi mati. Apakah itu adil?
Tentu, orang bisa argumen bahwa media sosial memberi banyak dampak positif bagi warga. Di sisi lain, kita juga bisa menambah daftar lebih banyak lagi korban dari media sosial: hoaks, fitnah, kecanduan, kekerasan, penipuan, dan lain-lain. Poin pentingnya adalah kita perlu berpikir kritis terhadap teknologi. Lalu bertanya, “Apa solusi yang lebih baik?”
4.3 Otonomi Sosial
Perkembangan teknologi kontemporer membuka posibilitas otonomi sosial. Anda bisa menjadi pedagang otonom dengan berdagang secara online; Anda bisa menjadi petani otonom dengan memasarkan hasil pertanian melalui media sosial; Anda bisa berkarya secara otonom dengan memanfaatkan media digital. Singkatnya, Anda bisa menjadi wirausaha dan Anda otonom.
Bandingkan dengan teknologi di era industri. Orang-orang harus bekerja di pabrik dari pagi sampai sore; kadang, karyawan justru lembur sampai pagi. Karyawan wajib mematuhi semua aturan pabrik. Karyawan tidak memiliki otonomi. Bila tidak bekerja di pabrik, seseorang sulit untuk mendapatkan uang; menggarap lahan pertanian, makin sulit. Otonomi nyaris lenyap di era industri; di era kini, era informasi, otonomi sosial kembali bersemi.
Apakah benar bahwa teknologi digital mendorong otonomi?
Tidak. Tidak terjadi otonomi; otonomi hanya menjadi posibilitas belaka. Kita perlu memperjuangkan tiga jenis otonomi dalam realitas: [1] imajinasi; [2] ekonomi; [3] politik.
Imajinasi bersifat bebas, freedom, dan tentu otonom. Setiap orang bebas imajinasi apa saja. Ketika Anda membaca buku, atau novel, maka imajinasi Anda bebas terbang tinggi. Hal berbeda terjadi ketika Anda nonton bioskop, atau movie, imajinasi Anda agak-agak dikendalikan oleh multimedia. Umumnya, orang merasa kecewa setelah membaca novel lalu menonton movie adaptasi; kurang seru imajinasinya.
Media sosial, awalnya, membebaskan imajinasi; kemudian, mengendalikan imajinasi dengan bantuan AI. Orang jadi malas imajinasi. Orang-orang pasif saja menerima umpan video otomatis dari media sosial. Imajinasi mereka, pengguna media sosial, sudah berada dalam kendali AI. Mereka tidak otonom lagi; bahkan, tidak otonom sekedar untuk imajinasi. Dulu, orang harus berimajinasi untuk mencari video yang diinginkan; saat ini, video-video sudah dijejalkan oleh AI; durasi singkat kurang dari 1 menit pula.
Secara pribadi dan sosial, kita perlu merebut kembali kendali otonomi imajinasi. Pikirkan, pertimbangkan, dan imajinasikan apa yang Anda lakukan kepada media sosial? Gunakan media sosial hanya sesuai kebutuhan Anda; hanya sesuai imajinasi Anda; hanya sesuai rencana Anda. Tolak umpan video, atau umpan berita, dari media sosial dan AI. Anda perlu merebut kembali otonomi imajinasi.
Kasus kecanduan atau adiksi internet adalah contoh kegagalan otonomi imajinasi; adiksi game; adiksi media sosial; adiksi judi online; adiksi pornografi; adiksi fleksing; adiksi virtual rality dan lain-lain.
Secara sosial, kita perlu edukasi masyarakat dan regulasi terhadap media sosial. Andai berhasil, edukasi adalah jalan terbaik; biarkan regulasi seminim mungkin. Tetapi, pada situasi tertentu, regulasi menjadi perlu; demi otonomi imajinasi.
Kedua, kita perlu memperjuangkan otonomi ekonomi. Gunakan teknologi agar Anda makin otonom secara ekonomi. Misal, gunakan media sosial untuk memasarkan produk-produk Anda; untuk memperoleh bahan-bahan baku dengan harga dan kualitas terbaik; untuk mengembangkan jaringan bisnis dan lain-lain. Hati-hati dengan program “khusus” dari media sosial yang menjadikan Anda tidak otonom; misal karena terlalu bergantung kepada platform tertentu. Anda perlu tetap terbuka dengan alternatif teknologi yang berbeda dengan media sosial; sehingga otonomi Anda tetap terjaga.
Secara personal, kita perlu mengajak lebih banyak orang, yaitu wirausaha, agar sama-sama menjaga otonomi ekonomi. Secara sosial, kita perlu mendorong regulasi yang adil bagi pengusaha besar, pengusaha menengah, pengusahan kecil atau mikro. Lagi, penetapan regulasi perlu seminim mungkin karena tujuannya adalah untuk menjaga otonomi ekonomi semua pihak. Regulasi yang ketat justru beresiko mengganggu otonomi; kita perlu regulasi hanya sekadarnya saja.
Ketiga, kita perlu memperjuangkan otonomi politik melalui teknologi. Barangkali otonomi politik adalah yang paling penting untuk diperjuangkan di era informasi saat ini. Mirip dengan otonomi imajinasi dan ekonomi, kita perlu berjuang secara personal mau pun sosial. Tetap sadar sepenuhnya bahwa diri kita selalu memiliki kebebasan politik sepenuhnya: bebas untuk terjun ke dunia politik praktis; atau terjun ke dunia politik bukan-praktis. Sementara, regulasi teknologi yang berhubungan dengan politik, barangkali, harus paling dinamis. Perlu diingat bahwa politik praktis lebih dari sekedar memenangkan kompetisi pemilihan umum; tetapi meliputi penerapan sumber daya politik untuk kebaikan seluruh warga dan alam semesta.
Freedom atau otonomi hanya bisa terjadi ketika seseorang dipaksa oleh ilham pembebasan. Anda menjadi manusia bebas ketika terpilih oleh cita futuristik. Anda hanya bisa menemukan solusi ketika peduli; yaitu peduli ada masalah pada setiap situasi. Anda menjadi bebas ketika Tuhan memastikan Anda sebagai manusia bebas.
4.4 Analisis Filsafat Teknologi
Filsafat teknologi sudah memiliki kerangka kerja yang lengkap: posfenomenologi; teori kritis; dan otonomi. Masing-masing pendekatan filsafat teknologi ini saling melengkapi; tentu saja bisa saling bertentangan dalam beberapa kajian teknologi.
Posfeno memberi kerangka kerja yang lengkap: teknologi sebagai media; budaya hermeneutik; dan lifeworld. Fenomenologi mengkaji teknologi secara konkret-partikular; bukan abstrak-universal. Posmodern memupuk keragaman teknologi yang dinamis. Posfeno memandang teknologi secara optimis; yang menjadi keunggulannya dan, sekaligus, kelemahannya.
Teori kritis melengkapi filsafat teknologi dari perspektif kritis. Teknologi perlu selalu dikritisi agar membawa kebaikan bagi semesta, mendorong dialektika dinamis, dan menjadi aksi komunikasi; kritis secara konkret-partikular maupun abstrak-universal.
Otonomi sosial memberi perspektif yang jelas kepada filsafat teknologi: apakah teknologi menguatkan otonomi atau dominasi? Teknologi perlu menjamin otonomi imajinasi, otonomi ekonomi, dan otonomi politik; secara personal mau pun sosial.
Kita masih perlu mengajukan pertanyaan filsafat teknologi, “Apa makna-teknologi?”
Apa esensi teknologi? Posfeno menjawab anti-esensialis terhadap teknologi, misal, berupa multi-stabil. Ketika multi-stabil itu, pada akhirnya, mencapai stabilitas tertentu, bukankah tercipta esensi teknologi yang stabil? Posfeno menjawab esensi teknologi, barangkali, adalah relasi. Kita masih perlu lebih jauh untuk mengkaji.
Heidegger menjawab bahwa esensi teknologi adalah gestell yaitu enframing dan poesis. Derrida menjawab esensi teknologi adalah organ manusia yang orisinal. Teknologi berbeda dengan organ biasa; organ biasa, misal kaki, akan musnah ketika orangnya sudah mati; tetapi teknologi bisa diwariskan kepada anak cucu atau masyarakat luas. Beberapa orang terlahir dengan warisan teknologi mewah; beberapa orang lain lahir tanpa warisan sama sekali; atau, bahkan terlahir, dalam situasi yang sulit. Ketika teknologi menjadi organ manusia yang bisa diwariskan, bisa diperjual-belikan, bagaimanakah tatanan sistem teknologi terbaik?
Masih banyak pertanyaan tentang makna-teknologi yang menjadi fokus kita selanjutnya.
5. Makna Teknologi
Apa makna-teknologi? Makna-teknologi adalah pertanyaan ontologi fundamental. Jawaban berupa definisi teknologi adalah sekedar jawaban awal. Kita perlu lebih dalam mengkaji makna-teknologi. Di atas, kita sudah mendefinisikan teknologi adalah: [a] penerapan dari sains; [b] artefak karya manusia; [c] media antara manusia dan dunia.
Untuk mengkaji makna teknologi secara ontologi eksistensial, kita akan memanfaatkan beragam perspektif. Heideger membahas dasein sebagai being-in-the-world; kemudian memaknai teknologi sebagai enframing; dan, di masa tua, mengembangkan konsep fourfold yang bisa kita pakai untuk mengkaji teknologi.
Simondon (1924 – 1989) mengembangkan konsep eksistensial teknologi sebagai individuasi. Awalnya, terdapat medan-pra-individu; terjadi proses individuasi; akhirnya, muncul individu. Dengan demikian, teknologi secara individual adalah akibat dari medan eksistensi; individu bukan sebab tetapi akibat. Bagaimana pun, proses individuasi tidak pernah lengkap. Sehingga, akan selalu terjadi proses individuasi terus-menerus tanpa henti. Teknologi akan terus berkembang makin kuat, makin konkret, tanpa henti.
Jacques Ellul (1912 – 1994) mengembangkan konsep teknologi sebagai masyarakat-teknik pada tahun 1954 dalam bahasa Prancis; di tahun yang sama, 1954, Heidegger membahas teknologi; bagaimana pun, mereka saling independen. Ellul menggunakan istilah teknik, tidak cukup istilah teknologi, yang bermakna seluruh rangkaian rasional yang bertujuan mencapai tujuan dengan cara paling efisien. Salah satu contoh teknik adalah sebuah kota Jakarta. Di dalam kota terdapat penduduk, bumi, bangunan, dan tentu saja mesin-mesin serta beragam teknologi lainnya. Teknik ini, termasuk teknologi, mendorong seluruh komponen untuk bertindak secara efisien. Segala sesuatu boleh dikalahkan demi meningkatkan efisiensi. Termasuk, nilai-nilai manusiawi bisa dikorbankan oleh teknik demi efisiensi.
Derrida (1930 – 2004) mengembangkan konsep teknologi sebagai organ manusia terutama organ memori dan pikiran. Stiegler melanjutkan Derrida dengan menyatakan bahwa setiap teknologi adalah farmakon atau obat yang bersifat ganda: menyembuhkan sekaligus meracuni. Catatan buku tulis menguatkan ingatan karena kita bisa membaca buku untuk mengingat suatu pikiran; di saat yang sama, buku tulis meracuni memori sehingga makin lemah; tidak handal lagi. Komputer, atau AI, menguatkan manusia dengan memberi informasi dengan cepat dan, di saat yang sama, melemahkan manusia menjadi keruh dalam berpikir.
Analisis eksistensial teknologi bertujuan untuk menyikapi teknologi secara bijak. Meski tampak sangat kritis terhadap teknologi, tetapi tidak bermaksud membuang teknologi; hanya bermaksud menempatkan teknologi secara tepat.
5.1 Teknologi sebagai Being
Makna-teknologi adalah being atau wujud atau eksistensi. Teknologi adalah wujud-di-dalam-dunia; sehingga, teknologi selalu berada dalam dunia; tidak bisa teknologi eksis sendiri tanpa berada dalam dunia. Komputer, misalnya, selalu berada dalam dunia; tidak bisa hanya ada komputer tanpa bumi, tanpa udara, tanpa apa pun.
Hanya manusia yang bisa menjadi wujud-otentik sebagai wujud-dalam-dunia. Karena itu, teknologi perlu menjalin relasi dengan manusia otentik sedemikian hingga teknologi berpartisipasi dalam wujud manusia otentik. Umumnya manusia berada dalam mode wujud biasa atau manusia banal. Akibatnya, teknologi sering menjadi teknologi banal belaka.
Manusia otentik adalah wujud-bersama-lian; manusia selalu hidup bersama orang lain atau lian. Teknologi bisa berpartisipasi menjadi relasi satu manusia otentik dengan manusia otentik lainnya; teknologi adalah relasi manusia dengan lian.
Mengapa manusia bisa menjadi otentik? Kita perlu berpikir terbuka bahwa beragam wujud konkret bisa saja menjadi wujud otentik. Maksud bahwa manusia bisa menjadi otentik adalah manusia memiliki tanggung jawab untuk menjadi otentik. [1] Pertama, karena manusia bisa memilih menciptakan kebaikan bersama padahal dia bisa memilih kerusakan. [2] Kedua, karena manusia adalah dasein yang peduli dengan mengajukan pertanyaan apa makna-wujud; sebagian manusia bisa juga tidak peduli. [3] Ketiga, dengan bantuan teknologi terkini, manusia bisa menghancurkan bumi ini atau memilih menjaga bumi lestari.
Teknologi Otentik
Apakah ada teknologi otentik? Tidak ada. Yang ada adalah teknologi yang berteman dengan manusia otentik; atau, teknologi yang menjadi relasi otentik bersama manusia otentik.
Apakah manusia bisa menjadi otentik tanpa teknologi? Tidak bisa. Tanpa teknologi, manusia tidak bisa menjadi otentik. Jadi, manusia selalu membutuhkan teknologi untuk menjadi otentik. Di sisi lain, teknologi “membutuhkan” manusia otentik untuk bergabung sebagai relasi otentik, being otentik, atau wujud otentik.
Sayangnya, teknologi modern, semisal komputer dan AI, bersifat reduktif algoritmis matematis. Sifat reduktif ini membuka resiko terjerumus berupa kehilangan sikap otentik. Pada awalnya, algoritma matematika bersifat otentik. Pada abad 8, Aljabar mengembangkan algoritma untuk memecahkan problem matematika secara sistematis. Kemudian, setelah berhasil memecahkan problem matematika, Aljabar memanfaatkannya untuk mengalami realitas alam semesta secara otentik. Berbeda halnya dengan algoritma matematika modern yang mencari solusi bagi suatu problem, kemudian, menerapkan solusi itu untuk mendominasi alam dengan optimasi efisiensi. Konsekuensinya, sains dan teknologi modern menjadi tidak otentik bersama tatanan sosialnya; yang mengejar efisiensi dan efektivitas demi profit. Padahal, manusia otentik terbebas dari dominasi efisiensi. Manusia otentik justru menebarkan kreativitas otentik melampaui enframing efisiensi.
Efisiensi Memori
Sebagai mahasiswa teknik, tahun 1990an, saya kagum dengan teori informasi yang berhasil menyimpan informasi secara efisien dalam suatu memori. Kita bisa menghitung efisiensi segala sesuatu terutama efisiensi sistem informasi dalam penggunaan memori penyimpanan. Apakah ada yang lebih mengagumkan dari efisiensi memori?
Derrida menyebut teknologi sebagai organ memori manusia. Realitas eksistensi konkret dari teknologi adalah menjadi organ memori. Bagaimana organ memori bisa terbentuk? Apakah melalui proses efisien? Derrida merujuk peran tulisan di era Sokrates dan Plato. Tulisan adalah realitas konkret memori itu sendiri. Barangkali, kita bisa merujuk ke proses individuasi dari Simondon untuk menggambarkan pembentukan teknologi sebagai memori.
Awalnya, eksistensi konkret berupa medan-pra-individu; kemudian terjadi proses individuasi dan hadir individu berupa teknologi spesifik. Perlu kita catat, teknologi spesifik adalah akibat dari proses individuasi; sedangkan medan-pra-individu adalah sebab.
Mari kita ambil contoh proses individuasi AI. Pada tahun 2020, hanya ada realitas medan-pra-individu; tidak ada AI generatif pada masa itu. Kemudian terjadi proses individuasi yaitu berupa riset besar-besar di bidang AI. Pada tahun 2022, muncul hasil individuasi berupa chatGPT. Bagaimana pun, individu tidak pernah sempurna dalam proses individuasi. Sehingga, proses individuasi selalu terjadi tanpa henti. ChatGPT akan mengalami proses individuasi tanpa henti atau akan musnah pada waktunya. Di sisi medan-pra-individu juga tetap terjadi individuasi sehingga akan muncul kompetitor-kompetitor bagi chatGPT; misal Gemini.
Medan-pra-individu adalah memori kolektif milik seluruh masyarakat. Mengapa ketika hadir teknologi individu, misal ChatGPT, menjadi milik pihak tertentu saja? Bukankah teknologi itu hasil dari memori kolektif seluruh masyarakat? Apakah dominasi teknologi oleh pihak tertentu bisa dibenarkan? Lalu, bagaimana cara kerja atau proses yang terjadi pada memori kolektif?
Medan-pra-individu dan individu berupa teknologi berproses melalui proses reduktif berupa hitungan algoritma; tujuan dari semua proses adalah untuk mencapai efisiensi. Bahkan, manusia akan dihitung oleh teknologi, misal oleh perusahaan AI, sebagai suatu angka agar menjadi efisien. Tetapi, manusia memang tidak efisien. Atau, untuk menjadi manusia, kita perlu tidak efisien. Kita perlu bercanda dengan keluarga dan tetangga; kita perlu berpetualang menjelajahi hobi; kita perlu terpesona membaca dan menulis puisi. Singkatnya, manusia memang tidak efisien.
Ketika teknologi makin dominan; menjadikan segala sesuatu agar efisien; maka, manusia akan melawan teknologi. Hanya sedikit manusia yang secara sadar melawan dominasi efisiensi teknologi. Sebagian besar manusia, era abad 21 ini, tampak justru mengejar efisiensi. Mereka kecanduan teknologi. Memori mereka adalah memori efisiensi. Kita membutuhkan para pemikir dan pujangga yang menghidupkan nilai-nilai otentik realitas eksistensi.
Masyarakat Teknik
Ellul (1912 – 1994) menunjukkan bahwa teknologi adalah bagian kecil dari masyarakat-teknik. Kita perlu lebih fokus ke masyarakat-teknik yaitu tatanan rasional yang memiliki suatu tujuan; di mana tujuan itu adalah untuk meraih tujuan yang lebih jauh lagi tanpa henti. Secara keseluruhan, masyarakat-teknik mengejar efisiensi tingkat tinggi.
Ellul mengenali beragam value, nilai-nilai, yang berkembang bersama teknologi atau masyarakat-teknik. (www.comment.org).
“Kenormalan. Kita tidak diminta untuk bertindak baik (seperti dalam moralitas lain) tetapi untuk bertindak normal, untuk menyesuaikan diri. Tidak menyesuaikan diri adalah sifat buruk saat ini. “Tujuan utama pengajaran dan pendidikan saat ini adalah untuk menghasilkan generasi muda yang menyesuaikan diri dengan masyarakat ini.”
Keberhasilan. “Pada akhirnya,” kata Ellul, “baik dan jahat adalah sinonim untuk keberhasilan dan kegagalan”. Moralitas didasarkan pada keberhasilan; juara yang sukses adalah contoh moral dari kebaikan; jika kejahatan itu buruk, itu karena “tidak membuahkan hasil”—artinya, tidak berhasil.
Pekerjaan. Dengan penilaian yang berlebihan terhadap pekerjaan muncullah pengendalian diri, kesetiaan, dan pengorbanan terhadap pekerjaan seseorang, serta kepercayaan terhadap pekerjaan seseorang. Kebajikan lama yang berkaitan dengan keluarga, persahabatan yang baik, humor, dan bermain secara bertahap ditekan kecuali jika dapat ditafsirkan ulang untuk melayani kebaikan teknik (jadi istirahat dan bermain itu baik jika, dan karena, mereka mempersiapkan Anda untuk pekerjaan yang lebih efektif dan sukses).
Pertumbuhan tanpa batas—dalam arti perluasan yang terus-menerus, tak terbatas, dan terukur. Dengan demikian, “Lebih” adalah istilah nilai positif dan persetujuan moral, seperti halnya “raksasa,” dan “terbesar.” “Dalam keyakinan bahwa teknologi mengarah pada kebaikan” tidak ada waktu atau tujuan untuk mengatakan “Tidak” atau untuk mengenali batasan apa pun atau untuk menghalangi kemajuan teknologi.
Kepalsuan dinilai lebih tinggi daripada yang alami; alam hanya memiliki nilai instrumental. Kita tidak ragu untuk menyerbu dan memanipulasi alam—entah itu program luar angkasa, penggundulan hutan dan pembangunan industri, peternakan hewan, “pengelolaan” sumber daya air, eksperimen genetik, atau apa pun. Kita kurang menghargai ketetapan alam dibandingkan dengan penilaian kita terhadap kepalsuan.
Kuantifikasi dan pengukuran. Meskipun Einstein berkomentar baik bahwa “segala sesuatu yang dapat dihitung tidak dihitung dan segala sesuatu yang dihitung tidak dapat dihitung,” masyarakat teknologi kita bersikeras untuk menetapkan angka dan mengukur kecerdasan (IQ), kesuksesan (kehadiran di gereja, tingkat gaji), ciri-ciri kepribadian (Meyers-Briggs, dan seterusnya).
Efektivitas dan efisiensi. Hal-hal yang dinilai tidak efektif atau tidak efisien digantikan atau dibenci—ingat Frederick Taylor dan manajemen ilmiah.
Kekuatan dan kecepatan. Kelemahan dan kelambatan hanya dihargai oleh orang-orang eksentrik.
Standardisasi dan replikasi. Teknologi menuntut orang untuk beradaptasi dengan mesin. Dorongan universal teknologi mengutamakan platform yang menghubungkan bagian-bagiannya. Hal-hal eksentrik hanya menarik di museum.”
Nilai-nilai teknologi di atas, dari kenormalan sampai replikasi, adalah potret realitas yang ada di masyarakat. Kita perlu mewaspadai nilai-nilai teknologi ini. Kemudian mengkajinya dan menggantinya dengan nilai-nilai etika yang lebih baik; yaitu nilai-nilai otentik. Jadi, pahami realitas eksistensial teknologi kemudian arahkan menuju nilai-nilai etika yang mulia atau akhlak mulia.
Analisis Eksistensial
Bukankah kita bermaksud melakukan analisis eksistensial terhadap teknologi? Tetapi, kita justru membahas esensi teknologi sebagai enframing, sebagai farmakos, dan sebagai masyarakat-teknik yang mengejar efisiensi. Meski kita menggunakan istilah esensi, maksud kita adalah esensi teknologi secara konkrit, yaitu esensi teknologi AI yang sedang Anda gunakan, misalnya. Esensi konkrit, sebagai lawan dari esensi abstrak, adalah pendekatan analisis eksistensial.
Kita menemukan teknologi sebagai enframing di mana pun kita berada. Teknologi mengungkung kita agar berpikir segala sesuatu sebagai sumber daya yang bisa dihitung untuk menghasilkan keluaran tertentu. Teknologi menantang kita. Teknologi semacam ini tidak otentik; mengajak manusia untuk bersikap tidak otentik pula.
Bagaimana pun, kita bisa merespon teknologi secara otentik; menjadikan teknologi sebagai teman hati bagai bait-bait puisi. Bila demikian, teknologi berhasil menjadi eksistensi-otentik, wujud-otentik, dengan menjalin relasi otentik kepada manusia otentik. Sayangnya, teknologi modern semisal AI, hampir selalu tidak otentik. Kita perlu waspada.
Teknologi adalah farmakos yang menyembuhkan manusia dan bisa meracuni manusia; lebih tepatnya, teknologi selalu keduanya yaitu selalu menyembuhkan dan meracuni. Hanya saja, racun teknologi lebih besar dampaknya dari penyembuhannya. Teknologi modern yang mengandalkan perhitungan algoritma adalah racun dunia yang sangat berbahaya. Lagi, kita perlu waspada. Kita perlu berpikir dengan hati yang terbuka. Umat manusia perlu berpegang pada nilai-nilai otentik etika mulia.
Teknologi hanyalah satu titik dari masyarakat-teknik yang lebih luas. Anda membaca tulisan ini pun merupakan bagian dari masyarakat-teknik yang mengejar efisiensi. Anda ingin mendapat hasil yang banyak dari membaca tulisan ini dengan usaha yang minim; Anda ingin efisien karena kita berada dalam masyarakat-teknik. Hasrat ingin selalu efisien adalah penyakit berbahaya dampak dari masyarakat-teknik. Sesekali waktu efisien dan di waktu yang lain tidak efisien; itulah manusia otentik. Anda bercanda dengan ibu adalah tidak efisien tetapi itulah yang menjadikan Anda sebagai manusia. Anda membaca kitab suci setiap hari adalah tidak efisien. Anda berkorban demi tetangga yang lemah adalah tidak efisien. Anda adalah manusia sebagai wujud otentik.
Kita perlu menolak masyarakat-teknik yang menebarkan mantra efisiensi ke seluruh dunia. Kita perlu mengajak masyarakat-teknik untuk kembali menjadi wujud otentik yang menjunjung nilai-nilai etika mulia atau akhlak mulia.
5.2 Fourfold
Makna-teknologi adalah sesuatu atau thing. Kita bisa menjelaskan segala sesuatu, termasuk menjelaskan teknologi, dengan perspektif fourfold; perspektif perempatan. Teknologi adalah titik temu, atau ruang temu, dari perempatan. Heidegger dewasa bergeser mengkaji fourfold dari semula mengkaji dasein di masa muda.
[1] Bumi
Teknologi selalu berada di bumi; lahir dari situasi bumi; hadir berdasar konteks bumi. Teknologi adalah hasil evolusi budaya dan alamiah; meski lompatan teknologi bisa saja tampak sebagai perubahan revolusi. Lahir dari konteks bumi seperti apakah media sosial bisa hadir?
[2] Langit
Teknologi membuka posibilitas langit; membuka posibilitas-posibilitas yang tak terbayangkan tanpa teknologi; setiap posibilitas baru mendorong terbukanya posibilitas lebih baru lagi. Posibilitas baru apakah yang dibuka oleh teknologi media sosial?
[3] Tuhan
Teknologi mengungkap nilai-nilai suci spiritual; nilai-nilai Tuhan. Di balik teknologi, dan bersama teknologi, nilai-nilai spiritual menjadi nyata. Nilai-nilai spiritual apakah yang diungkap oleh media sosial?
[4] Mati
Pada waktunya, teknologi akan mati; teknologi menjadi musnah. Suatu teknologi tidak akan abadi; teknologi lama musnah dan membuka posibilitas baru bagi teknologi lain. Bagaimana akhir dari media sosial? Teknologi baru apa yang kemudian akan lahir?
5.3 The Real
Laruelle (1937 – 2024) mengembangkan filsafat teknologi dengan mengacu kepada Yang Esa (The One) yang dikenal sebagai Sang Nyata (The Real). Sang Nyata melakukan kloning transendental, kemudian, aspek-aspek transendental inilah yang menjadi kondisi niscaya bagi teknologi. Atau, dengan kata lain, teknologi adalah manifestasi dari Yang Esa dan teknologi menjadi nyata pada akhirnya.
5.4 Ontologi Framework-8
Kita bisa menjelaskan makna-teknologi secara ontologi memanfaatkan framework-8.
Kita bisa membaca makna-teknologi melalui ontologi-8; terdiri dari 8 konsep ontologi; kita bisa menambah lebih banyak konseo atau menguranginya; minimal tersisa 2 konsep yang berlawanan.
[1] Dahir
Setiap teknologi hadir dalam konteks dahir tertentu; dalam konteks nyata; dalam konteks histori tertentu. Media sosial hadir dari konteks nyata perkembangan sains dan kesiapan budaya masyarakat komunikasi jarak jauh. Sains sendiri lahir dari perkembangan ilmu dan filsafat alam ratusan tahun yang lalu. Sementara, budaya komunikasi jarak jauh merupakan perkembangan dari telepon dan telekomunikasi secara umum. Kita bisa memperluas kajian konteks dahir ini dari sisi konteks ekonomi, politik, seni, budaya, dan lain-lain.
[2] Batin
Teknologi hadir dalam konteks batin, koteks tersembunyi, konteks rahasia, konteks tak terungkap, tertentu. Konteks batin ini perlu kita kaji mendalam karena sifatnya yang tersembunyi. Hanya dengan peduli yang tinggi, kita baru bisa menemukan konteks batin. Konteks batin apakah yang melingkupi hadirnya teknologi media sosial? Hasrat ekonomi seperti apa? Hasrat politik seperti apa? Hasrat petualangan?
[3] Awal
Teknologi memiliki awal dalam ruang dan waktu. Bagaimana sejarah awal teknologi tertentu?
[4] Akhir
Pada suatu saat, akhirnya, teknologi tertentu akan berakhir; diganti oleh teknologi yang lebih baru; atau dikalahkan oleh teknologi alternatif dalam kompetisi. Seperti apakah akhir dari suatu teknologi?
[5] Anugerah
Teknologi adalah anugerah; teknologi anugerah bagi manusia dan kemanusiaan; teknologi anugerah bagi perkembangan ekonomi; teknologi adalah anugerah bagi sistem politik. Apa saja anugerah yang diberikan oleh suatu teknologi?
[6] Terpilih
Hanya pihak-pihak tertentu, yang terpilih, yang menikmati anugerah dari suatu teknologi. Bagaimana cara menentukan mereka yang terpilih untuk menikmati anugerah teknologi? Apakah adil? Bagi umat manusia? Bagi alam semesta?
[7] Mati
Suatu teknologi menyebabkan pihak-pihak lain akan mati; teknologi itu sendiri juga akan mati. Pihak-pihak mana saja yang akan mati akibat suatu teknologi? Bagaimana cara terbaik bagi suatu teknologi untuk berhenti?
[8] Hidup
Suatu teknologi membuka kehidupan baru; memberi kehidupan baru. Kehidupan baru seperti apakah itu?
5.5 Disiplin Baru
Apakah teknologi perlu berkembang sebagai disiplin baru yang mandiri? Makna teknologi yang begitu luas dan dalam, barangkali, sudah memadai untuk menjadi disiplin filsafat mau pun ilmu yang madiri. Sejauh ini, teknologi dipandang sebagai aplikasi dari sains; perluasan dari sains. Sehingga, filsafat teknologi juga merupakan perluasan, atau bagian dari, filsafat sains.
Prinsip dasar dari ontologi-8 adalah pembedaan, perbedaan, dan selaras. Kita perlu membedakan teknologi dengan sains. Teknologi sangat dominan dengan tujuan praktis; sementara sains lebih teoritis. Dengan demikian, disiplin teknologi berbeda signifikan dengan disiplin sains. Konsekuensinya, teknologi bisa berkembang mandiri dari sains; kemudian, selaras dengan sains dan saling melengkapi.
Teknologi digital, misal AI, berkembang secara mandiri. AI, misal LLM seperti chatGPT, memberi banyak informasi perkembangan teknologi secara praktis. Kemudian, sains dan filsafat bisa mengkaji AI yang sudah dikembangkan oleh teknologi itu. Media sosial, sebagai teknologi, berkembang mandiri sampai menjadi kajian sains alam mau pun sains humaniora. Kemandirian disiplin teknologi justru berkontribusi kepada kemajuan sains secara luas. Tentu saja, teknologi tetap perlu belajar dari sains, alam mau pun kemanusiaan.
Tantangannya: siapa yang akan mengkaji disiplin filsafat teknologi?
5.6 Mengapa Filsafat
Mengapa perlu menggunakan istilah filsafat teknologi? Bukankah bisa menggunakan istilah teori teknologi, meta teknologi, ilmu teknologi, konsep teknologi, atau lainnya? Karena filsafat adalah displin kajian yang paling jelas mampu artikulasi beragam problem secara eksplisit. Bukan berarti filsafat adalah yang terbaik; misal dibanding sains dan seni. Tetapi, sekedar, filsafat memiliki keunggulan yang kita butuhkan untuk kajian yang mendalam dan luas.
Dalam sains, misalnya, teori geosentris sudah digantikan oleh heliosentris. Teori geosentris yang mengatakan bumi sebagai pusat alam semesta; sehingga matahari, bulan, dan bintang mengitari bumi; sudah tidak diajarkan dalam sains lagi. Para siswa hanya mengkaji teori heliosentris yaitu matahari sebagai pusat tatasurya; bumi yang mengelilingi matahari. Sementara, dalam filsafat, kita tetap mengkaji geosentris mau pun heliosentris. Filsafat menyimpan arsip histori kajian dengan lengkap; setiap histori filsafat, dan histori secara umum, bisa dikaji ulang secara filosofis di masa depan. Dengan demikian, kita membutuhkan kajian filsafat teknologi; lebih dari sekedar meta-teori teknologi mau pun konsep teknologi.
Derrida mengkaji teknologi sampai ke masa Plato dan Sokrates; teknologi tulisan, waktu itu, hanya dipandang sebagai alat bantu bagi bahasa lisan; teknologi hanya alat bantu bagi manusia. Di masa kini, abad 20 dan abad 21, teknologi menjadi lebih dominan dari manusia itu sendiri; teknologi mesin pabrik menjadi lebih utama, misal, dari tenaga kerja buruh seorang manusia. Apakah situasi seperti itu bisa dibenarkan? Filsafat teknologi berhak mengkaji tema semacam ini secara luas dan mendalam.
Di Indonesia, teknologi kayu-bakar untuk masak sudah ditinggalkan oleh masyarakat; mereka berpindah memakai tabung gas elpiji. Dalam kehidupan sehari-hari, dan pendidikan di sekolah, masyarakat hanya mengenal tabung gas; perlahan, mereka mulai lupa dengan kayu bakar. Filsafat teknologi akan tetap mencatat teknologi kayu-bakar sebagai kejadian penting dalam histori. Selanjutnya, filsafat bisa mengkaji apakah penggunaan gas elpiji lebih baik dari kayu bakar? Baik bagi produsen gas? Bagaimana dampak pencemaran lingkungan dari tambang gas? Bagaimana dampak sosial kepada pengusaha kecil yang dulu bekerja sebagai pengumpul kayu bakar? Singkatnya, filsafat teknologi akan membuka wacana teknologi makin luas dan mendalam.
6. Pengembangan Teknologi
Tersedia metode kreatif dan inovatif untuk mengembangkan teknologi. Kita akan membahas dua pendekatan: [1] esensi ke eksistensi; fokus kepada esensi teknologi tertentu; kemudian, mengembangkan ekosistem lebih luas; terbuka terhadap multi-stabil; [2] eksistensi ke esensi; fokus kepada realitas konkrit teknologi.
Dalam buku “Logika Futuristik 2,” saya membahas tema rekayasa yang penting untuk pengembangkan teknologi. Berikut saya kutipkan:
“Teknologi dekat dengan konsep rekayasa. Modifikasi tingkat tinggi adalah rekayasa (engineering). Para insinyur me-rekayasa semesta berdasar sains, teknologi, dan harapan masa depan. Tetapi, masing-masing diri kita adalah insinyur dalam makna tertentu. Sehingga, kita juga bisa me-rekayasa alam raya.
(1) Rekayasa natural. Awalnya, jaman kuno, teknologi adalah rekayasa terhadap alam (natural) demi kebaikan bersama. Manusia menciptakan cangkul, merekayasa alam, agar mudah bertani. Manusia menciptakan kereta tenaga kuda untuk transportasi. Keuntungan rekayasa natural adalah lebih aman terhadap alam. Tidak ada pencemaran lingkungan, yang signifikan, akibat rekayasa alam. Tetapi, hasil rekayasa alam dipandang hanya “sedikit” bagi pihak tertentu. Sehingga, manusia terus berjuang untuk rekayasa lebih canggih.
(2) Rekayasa mekanikal. Awal jaman modern, barangkali, ditandai dengan berkembangnya rekayasa mekanikal. Lebih canggih dari rekayasa natural, rekayasa mekanikal menerapkan matematika untuk rekayasa. Hasil rekayasa menjadi bersifat pasti dan mudah untuk diperbesar. Manusia mengembangkan mesin uap untuk kereta api, mobil, kapal, dan lain-lain. Manusia menjadi lebih mudah untuk menguasai alam semesta dengan rekayasa mekanikal. Dampak buruknya adalah pencemaran lingkungan dan penindasan pihak kuat terhadap pihak lemah. Saat ini, kita perlu menemukan solusi atas ancaman krisis iklim.
(3) Rekayasa elektrikal. Kemajuan teknologi makin pesat dengan berkembangnya rekayasa elektrikal, sehingga, dihasilkan tenaga listrik di penjuru dunia dan komunikasi gelombang elektromagnetik. Handphone Anda dan internet bekerja dengan prinsip elektromagnetik. Anda bayangkan kejadian di Eropa bisa ditonton secara langsung dari Asia, nyaris, tanpa jeda waktu. Rekayasa elektrikal ini tampak lebih halus, dan mencakup, rekayasa mekanikal mau pun natural. Dampak kemajuan sangat besar, salah satunya, terciptalah orang-orang kaya baru dan perusahaan raksasa. Sayangnya, dampak negatif sama besar juga. Kesenjangan ekonomi dan penindasan ada di banyak tempat. Tugas kita adalah mengarahkan kembali rekayasa elektrikal untuk membuka posibilitas luas yang bebas dan membebaskan.
(4) Rekayasa nuklir. Kita sudah mengetahui dampak mengerikan bom nuklir. Rekayasa nuklir memang berbahaya. Dalam dirinya sendiri, rekayasa nuklir membuka banyak posibilitas luas, misal, menghasilkan listrik tenaga nuklir. Ada dua jenis rekayasa yaitu nuklir kuat dan nuklir lemah. Contoh di atas adalah rekayasa nuklir kuat. Sementara, rekayasa nuklir lemah, misalnya, untuk rekayasa genetika menghasilkan bibit unggul tanaman pangan. Saat ini, dunia sedang dalam ancaman perang nuklir yang bisa menghancurkan seluruh bumi. Karena itu, kita perlu mencari solusi untuk mencegah perang nuklir. Apakah bisa?
(5) Rekayasa gravitasi atau ruang-waktu. Rekayasa ini belum berhasil dilakukan tetapi baru sebagai ide yang menarik. Teori Relativitas menyatakan bahwa gravitasi yang sangat kuat, massa materi yang sangat besar, bisa membelokkan ruang-waktu. Gerhana matahari tahun 1919 menunjukkan bahwa cahaya yang melintas dekat matahari dibelokkan oleh matahari, sebagai, benda dengan massa sangat besar. Jika rekayasa ruang-waktu berhasil, maka, kita bisa membelokkan ruang dan waktu. Dengan demikian akan ada banyak posibilitas baru yang luas. Salah satu idenya adalah untuk menangani sampah nuklir yang berbahaya menjadi ramah lingkungan. Rekayasa ruang-waktu juga mengarah ke penerapan wormhole untuk menyelesaikan problem quantum entanglement. Dengan demikian, terbuka peluang adanya kecepatan seakan-akan melebihi kecepatan cahaya.
(6) Rekayasa sosial. Semua rekayasa melibatkan peran rekayasa sosial. Teknologi yang tidak diterima masyarakat, akhirnya, akan musnah. Sementara, teknologi yang diterima oleh masyarakat luas makin berkembang. Rekayasa sosial bisa saja terjadi secara wajar, tetapi, bisa benar-benar melibatkan rekayasa tingkat tinggi. Karena itu, kita perlu mencermati rekayasa sosial dengan teliti.
(7) Rekayasa digital atau rekayasa informasi atau rekayasa pengetahuan. Kita tahu, rekayasa pengetahuan sudah berlangsung lama sejak awal peradaban manusia. Hanya saja, di era digital, rekayasa pengetahuan menjadi makin dahsyat lagi. Karena, pengetahuan itu sendiri, atau informasi itu sendiri, yang memiliki nilai paling tinggi. Jika Anda tahu bahwa harga saham perusahaan XYZ akan melonjak dalam beberapa bulan ke depan, maka, informasi semacam itu sangat bernilai tinggi. Lebih parah lagi, jika seseorang bisa memperoleh informasi digital tentang rekening dan password dari nasabah bank, maka, informasi itu bernilai tinggi. Dengan rekening dan password, seseorang bisa memindahkan uang dari satu rekening ke rekening lain. Menariknya, yang berpindah bukan uangnya, tetapi, cukup informasi digital tentang uang yang berubah. Lagi, kita perlu waspada dengan perkembangan rekayasa digital ini.
Seluruh rekayasa di atas, dan rekayasa lain, selalu merupakan rekayasa futural. Yaitu, rekayasa masa depan dengan modifikasi apa yang ada di masa kini. Rekayasa masa depan, dengan arahan masa depan, agar terjadi repetisi masa depan, di masa kini.”
6.1 Esensi ke Eksistensi
Awalnya, kita mencoba mengenali esensi teknologi yang hendak kita kembangkan; misal mesin pencari, search engine, yang baik. Kemudian, kita mengembangkan teknologi konkret misal berupa mesin pencari google. Bagaimana pun, meski awalnya, esensi google adalah mesin pencari, seiring waktu, berkembang esensi-esensi lain (multi-stabil); google sebagai media iklan; sebagai media menghasilkan uang dan lain-lain.
Tahap selanjutnya, mengembangkan teknologi tersebut agar berperan lebih besar kepada eksistensi konkret realitas alam semesta.
6.2 Eksistensi ke Esensi
Kita bisa memulai dari eksistensi konkret alam semesta secara luas; misal, kita menyaksikan banyak orang-orang di belahan dunia ketinggalan info dan pengetahuan; kita membutuhkan teknologi untuk menyebarkan pengetahuan secara adil. Teknologi tersebut adalah berupa mesin pencari, misal google; sebagai esensi teknologi. Tahap selanjutnya, kita mengembangkan teknologi mesin pencari untuk mencapai tujuan menyebarkan pengetahuan secara adil.
Pendekatan eksistensi ini menuntut kita membuka wawasan seluas-luasnya sejak awal pengembangan teknologi. Bagaimana pun, tahap selanjutnya, kita perlu fokus kepada esensi teknologi tertentu sesuai situasi.
6.3 Wirausaha Teknologi
Wirausaha paling sukses adalah wirausaha teknologi. Perhatikan Apple, Amazon, Google, Facebook, Microsoft, Gojek, Tokopedia, dan perusahaan besar sukses lainnya; mereka adalah wirausaha teknologi. Bagaimana cara menjadi wirausaha teknologi?
6.4 Paradigma Etika
Terdapat beragam paradigma etika. Kita akan membahas hanya tiga paradigma: [a] utilitarianisme; [b] deontologi; [c] karakter. Jenis paradigma etika lain dapat kita klasifikasikan sebagai salah satu dari tiga di atas atau kombinasi di antara mereka dengan kadar tertentu.
Asas Manfaat Utilitarianisme
Utilitarianisme bisa kita sebut sebagai etika dengan asas manfaat. Sesuatu bernilai etika jika menambah manfaat atau mengurangi kerugian.
Teknologi pesawat bermanfaat karena memudahkan kita berpindah dari Jakarta ke Surabaya hanya membutuhkan waktu 1 jam saja. Bandingkan ketika belum ada teknologi; kita harus jalan kaki dari Jakarta ke Surabaya bisa membutuhkan waktu lebih dari 1 bulan. Atau, kita bisa mencermati perjalanan orang Indonesia untuk ibadah haji ke Arab. Dengan teknologi pesawat, orang bisa pergi haji ke Arab dan pulang balik ke Indonesia hanya dalam 5 atau 9 hari. Sementara, sebelum abad 20, belum tersedia teknologi pesawat terbang, perlu waktu sekitar 9 bulan untuk perjalanan haji.
Dari perspektif etika asas manfaat, teknologi pesawat terbang bernilai etis karena menambah manfaat.
Kamera (cctv) yang dipasang di toko berhasil mencegah pencurian. Orang yang awalnya berniat akan mencuri menjadi takut karena ada rekaman kamera tersembunyi di sebuah toko swalayan. Orang yang berniat merusak taman bunga berubah pikiran karena sadar ada rekaman kamera cctv di sekitar taman. Kamera cctv berhasil mencegah kejahatan, atau mengurangi kejahatan. Dengan demikian, kamera bernilai etis sesuai asas manfaat.
Apa makna-manfaat? Apa makna-kerugian? Adakah kriteria yang tegas?
Pertanyaan penting di atas perlu dibahas secara mendalam dari pandangan filosofis. Hasilnya adalah berupa keragaman perspektif. Teknologi pesawat terbang yang memberi manfaat itu, terbukti, merusak lingkungan dengan pencemaran udara dan penebangan hutan untuk membuat landasan bandara udara. Teknologi kamera yang mencegah kejahatan itu, terbukti, digunakan penjahat untuk memeras banyak pejabat.
Tampak jelas ada dua pendekatan etika asas manfaat: [a] meningkatkan manfaat positif; [b] mencegah kerugian; mencegah aspek negatif.
Secara personal, kita bebas mengutamakan manfaat positif atau pun lebih fokus mencegah kerugian. Tetapi secara sosial, secara lembaga, mengutamakan pencegahan kerugian adalah lebih tepat. Teknologi yang berhasil mecegah korupsi adalah lebih utama dari teknologi yang memudahkan penyaluran bantuan sosial. Karena, ketika korupsi dicegah, masyarakat mampu mengembangkan diri mereka menjadi lebih maju. Sehingga, bantuan sosial tidak terlalu mendesak. Sementara, meski penyaluran bantuan sosial dipermudah tetapi terjadi korupsi, maka korupsi itu bisa menghancurkan segalanya. Teknologi yang mencegah kerusakan lebih utama dari teknologi yang menambah kemudahan.
Deontologi
Etika deontologi bisa kita sebut sebagai asas kewajiban. Deontologi mencakup asas manfaat ditambah asas kewajiban. Jadi, semua tema etika yang dibahas oleh asas manfaat bisa dibahas juga oleh asas kewajiban. Tetapi, ada beberapa asas kewajiban yang tidak dibahas oleh asas manfaat.
“Menghormati ibu” adalah contoh tindakan etis sesuai asas kewajiban. Apakah tindakan “menghormati ibu” menambah manfaat bagi Anda? Bermanfaat atau tidak bermanfaat, Anda tetap wajib “menghormati ibu”; karena “menghormati ibu” adalah tindakan etis berdasar deontologi.
Menariknya, deontologi “menghormati ibu” adalah universal. Ketika Anda kaya maka Anda wajib “menghormati ibu.” Ketika Anda miskin maka sama saja wajib “menghormati ibu.” Bahkan, dalam kisah fiksi seperti novel, seorang manusia tetap wajib “menghormati ibu.”
Teknologi media sosial, misal, apakah menjadikan Anda “menghormati ibu?” Jika benar maka Anda wajib menggunakan teknologi media sosial sebagai cara “menghormati ibu.” Tetapi, jika media sosial menjadikan seseorang mengecewakan ibunya maka orang tersebut harus meninggalkan media sosial.
Teknologi apa saja yang memenuhi kriteria asas kewajiban? Teknologi apa saja yang melanggar kriteria asas kewajiban?
Karakter
Etika itu sendiri setara dengan karakter. Etika karakter sering disebut sebagai etika kebajikan atau virtue-ethics. Etika karakter meliputi asas kewajiban dan asas manfaat. Jadi, semua tema yang dibahas oleh etika kewajiban juga bisa dibahas oleh etika karakter. Sebaliknya, ada beberapa tema etika karakter yang tidak dibahas oleh etika kewajiban.
Contoh sikap etis adalah bertindak adil dan bijak. Apakah teknologi AI menjadikan masyarakat adil? Apakah orang yang tinggal di puncak gunung, tidak bisa akses listrik, mendapat manfaat AI secara adil? Apakah para pengusaha besar yang menguasai industri AI mendapat imbalan yang adil atau berlebihan?
Jika AI menjadikan diri kita dan masyarakat sebagai adil maka AI adalah etis sesuai etika karakter. Tetapi jika AI menyebabkan ketimpangan, menyebabkan situasi tidak adil, atau menyebabkan diri kita berlaku tidak adil maka AI adalah tidak etis; AI harus ditolak.
Bagaimana pun, etika karakter bersifat dinamis dan bebas. Sehingga, setiap orang selalu bisa membuat argumen bahwa dirinya sebagai orang yang adil; padahal dalam hati kecilnya, dia tahu bahwa dirinya sedang berbohong; dirinya sedang tidak adil. Untuk menjalani etika karakter, kita perlu jujur terhadap diri sendiri. Istilah etika karakter selaras dengan istilah etika mulia atau akhlak mulia.
Puncak dari paradigma etika adalah untuk mengantarkan umat manusia mencapai etika mulia atau akhlak mulia.
6.5 Etika Teknologi
Teknologi adalah etika dan etika adalah teknologi itu sendiri. Sehingga, rekayasa terhadap teknologi sama artinya dengan rekayasa terhadap etika. Sebaliknya, juga valid.
Solusi etika teknologi, kita ringkas menjadi: [a] manfaatkan teknologi untuk kebaikan bersama dan hindari dampak buruk teknologi (sesuai paradigma utilitarianisme); [b] manfaatkan teknologi untuk menjalankan amal kebaikan; kadang-kadang berkorban demi menjalankan kewajiban adalah suatu tindakan etika yang wajar (sesuai paradigma deontologi); [c] manfaatkan teknologi untuk menjadikan diri Anda dan orang banyak menjalankan akhlak mulia atau etika mulia; gunakan teknologi untuk mencegah pelanggaran akhlak mulia (sesuai paradigma karakter).
Ringkasan etika teknologi di atas tampak jelas. Bagaimana pun, tidak selalu mudah menjaga etika teknologi di atas; terutama tantangan teknologi modern. Sejak usia berapa seorang anak perlu diajarkan teknologi? Apakah AI dan koding perlu diajarkan pada anak usia dini? Jika tidak diajarkan sejak dini maka bagaimana bersaing dengan anak-anak di luar sana?
Kabarnya, menteri pendidikan atau pejabat pendidikan memunculkan ide bahwa koding dan AI akan diajarkan sejak dini di sekolah. Bagaimana kita menganalisis ide tersebut? Apakah Anda setuju? Jika kita menganalisis kompetisi, bahwa di luar negeri anak-anak diajarkan koding dan AI, maka kita tidak boleh kalah; kita harus mengajarkan AI sejak dini. Apakah etis menentukan kebijakan berdasar kompetisi?
Kalkulator
Mari kita bandingkan AI dengan kalkulator. Kita tahu bahwa kalkulator mampu menghitung cepat dan efisien. Apakah anak TK dan SD perlu diajarkan kalkulator? Apakah mereka perlu menggunakan kalkulator ketika belajar matematika? Anak TK dan SD dilarang menggunakan kalkulator. Siswa SMP dan SMA, secara umum, dilarang menggunakan kalkulator. Bahkan, mahasiswa, secara umum, dilarang menggunakan kalkulator. Terjadi pengecualian, yaitu diijinkan menggunakan kalkulator hanya ketika perhitungan bersifat teknis. Untuk mengembangkan pemahaman matematika, hampir semua, dilarang menggunakan kalkulator.
Kalkulator adalah teknologi yang berupa farmakos atau obat; farmakos kalkulator mengobati beban untuk menghitung; anak-anak menjadi mudah menghitung dengan kalkulator; di saat yang sama, kalkulator meracuni pikiran siswa sehingga lemah dalam berhitung. Kita sadar dampak beracun dari kalkulator.
Jika kalkulator dilarang untuk anak TK dan SD maka bagaimana dengan AI? Apa saja racun dari AI? Kita perlu mengembangkan narasi racun yang terkandung dalam AI.
Narasi Racun AI
Kita bisa mengembangkan tiga narasi utama dari AI: [a] AI bagai kopi hangat; [b] AI bagai rokok nikmat; [c] AI bagai ganja menggoda.
AI bagai kopi mengandung racun kafein sehingga berbahaya bagi siswa. Beberapa siswa justru suka dengan kopi; beberapa siswa cocok dengan AI. Bila demikian, AI bermanfaat bagi siswa dengan penggunaan kadar tertentu.
AI bagai rokok yang mengandung racun nikotin. Rokok berbahaya bagi siswa; sehingga AI dilarang bagi siswa. Meski rokok bermanfaat pada situasi tertentu, tetapi secara umum, racun rokok membahayakan paru dan jantung. Bahkan, rokok berbahaya bagi orang lain di sekitar perokok; AI berbahaya bagi masyarakat sekitar. Dengan demikian, narasi rokok melarang penggunaan AI di sekolah.
AI bagai ganja jelas mengandung racun bahaya yang membuat pengguna ketagihan tak terkendali. Meski ganja bermanfaat pada situasi terbatas yang ketat, secara umum ganja dilarang keras. Jadi AI dilarang keras untuk siswa mau pun masyarakat umum.
Apa narasi yang tepat bagi AI? Kopi, rokok, atau ganja? Saya menduga AI lebih dekat antara rokok dan ganja. Sehingga, lebih bijak, AI dilarang digunakan di sekolah. Beberapa teman mengusulkan narasi tambahan: AI bagai air bening dan AI bagai bom atom.
Jika AI bagai kopi maka tugas kita ringan saja; biarkan AI berkembang begitu saja tidak terlalu bahaya. Jika AI bagai rokok maka tugas kita lebih berat karena harus menetapkan aturan ketat. Dan jika AI bagai ganja maka tugas kita sangat berat karena harus membuat aturan sangat ketat; di saat yang sama, perlu meyakinkan bahwa AI berkembang pesat hanya di tangan-tangan orang yang tepat yaitu orang dengan etika mulia.
Tentu saja solusi paling mudah, tetapi paling buruk, adalah menetapkan AI sebagai netral mirip air bening. Biarkan saja AI berkembang atau redup sebagaimana adanya. Siswa yang baik akan memanfaatkan AI dengan baik. Sementara, siswa yang buruk akan menggunakan AI untuk keburukan dan keburukan itu adalah tanggung jawab pribadi siswa. Apakah solusi seperti ini bijak?
Problem etika mengenai AI, dan internet, menjadi sulit karena AI bisa berdampak kepada ketagihan oleh pengguna. Barangkali, bagi orang tertentu, AI bisa mengakibatkan kecanduan. Kita bisa belajar dari sejarah perang ganja, atau perang opium, antara Cina melawan Inggris. Cina sulit sekali menangani warganya yang kecanduan ganja. Sementara, Inggris mendapat keuntungan besar dengan menjual ganja kepada warga Cina.
Pada pertengahan abad 19, Cina secara resmi melarang Inggris menjual ganja ke Cina. Tetapi, Inggris menolak larangan ini dan bersikukuh untuk tetap menjual ganja ke warga Cina. Warga Cina yang kecanduan ganja, dan para bandar, justru mendukung perdagangan ganja. Sampai tahap akhir, tidak ada kesepakatan antara Cina dan Inggris; justru mereka sepakat untuk perang. Kelak, perang ini dikenal sebagai perang opium atau perang ganja yang terjadi sampai dua periode.
Dalam perang ganja ini, Cina diuntungkan sebagai tuan rumah sehingga lebih mudah untuk logistik. Di pihak Inggris, mereka lebih unggul persenjataan berupa meriam jarak jauh. Bisa kita duga bahwa Inggris akan menang pertempuran jarak jauh; dan benar adanya bahwa Inggris unggul dengan serangan meriam mereka. Kemudian, terjadi pertempuran jarak dekat, seharusnya Cina mampu mengimbangi Inggris. Kenyataannya, Cina tetap kalah dalam pertempuran jarak dekat. Salah satu analisisnya adalah karena warga Cina yang kecanduan ganja justru mendukung Inggris agar warga Cina tetap dapat menikmati ganja. Lebih-lebih, bandar ganja Cina juga mendukung Inggris agar mendapat keuntungan finansial. Singkat cerita, sesuai catatan sejarah, Cina yang bertujuan mulia memberantas kecanduan ganja warga justru kalah melawan Inggris sang pedagang ganja.
Beberapa cendekiawan Inggris dan Amerika, waktu itu, memprotes Inggris. Tidak pantas bagi Inggris, sebagai negara besar, berperang demi untuk menjual ganja. Perang ganja, atau perang opium, adalah perang paling memalukan bagi Inggris.
Bagaimana dengan AI andai menjadikan warga suatu negara kecanduan? Negara akan menghadapi kesulitan besar menangani kecanduan karena warga mereka justru ingin melanjutkan kecanduan itu. Ditambah lagi, terdapat bandar AI, berupa perusahaan besar dunia, yang memperoleh keuntungan finansial sangat besar dari kecanduan AI. Mereka bisa menyebarkan propaganda menentang program pemerintah yang ingin membersihkan fenomena kecanduan AI. Kita perlu berpikir cermat untuk menghadapi tantangan AI.
Mengapa Etika
Mengapa teknologi identik dengan etika? Karena teknologi eksis berawal dari etika dan berproses menuju akhir berupa akhlak mulia atau etika mulia.
7. Diskusi
Kita bisa diskusi lebih leluasa di bagian diskusi ini. Salah satu pemantik diskusi, “Teknologi apa yang paling berpengaruh sepanjang sejarah?”
7.1 Bom Atom
Bom atom atau nuklir terbukti menghancurkan kota Hirosima dan Nagasaki pada tahun 1945; ratusan ribu orang mati ketika itu; disusul jutaan orang luka-luka parah beberapa waktu kemudian; dalam jangka panjang, efek radioaktif dari bom atom ini merusak lingkungan. Jadi, bom atom adalah teknologi paling mematikan dan paling berpengaruh. Sayangnya, pengaruh bom atom bersifat negatif: membunuh, melukai, merusak dan lain-lain.
Kita harus mencegah bom atom; kita harus menolak bom atom; kita harus memusnahkan bom atom. Pihak-pihak tertentu beralasan bahwa bom atom diperlukan untuk pertahanan negara. Argumen ini menuai pro kontra. Bisakah tenaga atom dimanfaatkan secara positif untuk kebaikan bersama?
Beberapa manfaat positif di antaranya: pembangkit linstrik tenaga nuklir; radioaktif untuk keperluan medis; dan rekayasa genetika untuk bibit unggul pada tanaman.
7.2 Digital
Teknologi digital bisa berpengaruh lebih besar dari bom atom; khususnya, karena teknologi digital memberi banyak kontribusi positif; tentu juga berdampak negatif. [a] Digital sehingga mudah produksi ulang; [b] online sehingga terbentuk network setiap saat; [c] cerdas sehingga memunculkan “ide” lebih kreatif.
Benarkah teknologi digital lebih berpengaruh? Adakah teknologi yang lebih hebat dari teknologi digital? Komputer quantum bisa lebih hebat dari digital; tetapi, saat ini, baru tahap riset. Ada teknologi lain, yang sudah terbukti hebat, yaitu teknologi bahasa.
7.3 Bahasa
Kita bisa memaknai bahasa sebagai teknologi yaitu sebagai media bagi manusia untuk menjalin relasi dengan alam; dengan orang lain; bahkan, dengan dirinya sendiri; bukankah Anda sering berbicara dalam hati?
Pengaruh bahasa sangat besar. Manusia bisa menciptakan bom atom mau pun teknologi digital karena memanfaatkan bahasa. Lebih dari itu, bahasa bisa berbicara tentang masa lalu dan masa depan; tentu saja, bisa bicara masa kini. Bahasa bisa menciptakan keajaiban yaitu fiksi; baik fiksi yang kreatif untuk kebaikan mau pun fiksi yang membodohi umat manusia itu sendiri misal berupa hoaks. Bahasa berbicara tentang niscaya dan posibilitas.
Benarkah bahasa adalah teknologi paling berpengaruh?
7.4 Tulisan
Tulisan sering dianggap sebagai rendahan; tulisan lebih rendah dari bahasa lisan; tulisan adalah pembantu ketika lisan tidak bisa bicara langsung. Tetapi, bukankah catatan sejarah, tulisan sejarah, yang menjadikan kita lebih banyak belajar?
7.5 Uang
Orang sering lupa: uang adalah teknologi; uang adalah media bagi manusia untuk menjalin relasi dengan apa saja. Uang bisa membeli segalanya yang bisa dibeli. Uang adalah universal, berlaku di mana saja, bagi kehidupan kota.
Jadi, uang adalah teknologi paling berpengaruh?