Banyak penghalang yang menghadang warga untuk menuju adil makmur. Tulisan ini akan mengenali beragam penghalang (barrier) kemudian untuk menerobosnya; agar adil makmur.
Ternyata kita harus ke jalan
Robohkan setan yang berdiri mengangkang
Wo o ya o ya o ya bongkar

Jokowi adalah anak orang miskin yang hidup di pinggiran sungai; ia berhasil menerobos penghalang sehingga kuliah di UGM, menjadi pengusaha sukses, dan akhirnya menjadi presiden dua periode. Di tataran global, Obama adalah anak minoritas kulit hitam yang berhasil menorobos Gedung Putih menjadi presiden US dua periode. Mengapa Obama dan Jokowi bisa hebat menerobos penghalang yang berdiri mengangkang? Mengaoa orang lain tidak bisa seperti mereka?
1. Prinsip Keadilan
2. Terobos ke Adil Makmur
3. Diskusi
Kita akan membahasnya bertahap. Pertama kita akan membahas prinsip keadilan. Kemudian membahas posibilitas untuk menerobos penghalang adil makmur itu. Terakhir diskusi lebih lanjut.
1. Prinsip Keadilan
Andai masyarakat adil makmur sudah terwujud maka setiap orang akan mampu menerobos penghalang; sebagian langsung berhasil menerobos; sebagian lain harus mengulang beberapa kali; dan sebagian lain lagi meninggalkan penghalang itu memilih jalur lain untuk meraih suksesnya.
Tetapi adil makmur itu tidak sedang terjadi. Sehingga banyak penghalang yang tidak bisa ditembus meski dengan usaha berulang-ulang. Penghalang itu terlalu kuat berdiri mengangkang.
Prinsip keadilan adalah prinsip yang merobohkan beragam penghalang dan mencegah tembok penghalang agar tidak didirikan lagi. Di tulisan yang lain, saya sudah membahas ada 3 prinsip keadilan.
Pertama prinsip kesetaraan. Semua orang adalah setara atau sama dalam kebebasan dasar. Semua orang adalah sama-sama bebas untuk menjalani hidup, bebas untuk berpikir, bebas untuk berpendapat, bebas untuk kerja bermartabat, dan sama-sama berhak untuk dihormati sebagai manusia bermartabat.
Kedua adalah prinsip perbedaan. Kita menghadapi realitas yang banyak perbedaan. Perbedaan dipandang adil jika memberi manfaat terbaik kepada pihak paling lemah. Dua prinsip di atas dirumuskan oleh John Rawls pada tahun 1970an.
Prinsip ketiga adalah dinamika keadilan; yaitu adil harus dinamis. Saya merumuskan menjadi tiga macam.
(3a) Masyarakat kelompok bawah perlu dijamin untuk terus dinamis menjadi lebih baik. Ukuran dinamika pertumbuhan, bagi kelompok bawah, dipastikan mencapai target tertentu.
(3b) Ukuran dinamika, minimal, mencakup dua parameter yang saling bertentangan.
(3c) Pertumbuhan kelas atas perlu berkontribusi kepada pertumbuhan kelas bawah.
Tiga prinsip di atas menjamin negara menjadi adil makmur. Masalahnya, justru banyak negara yang melanggar prinsip-prinsip keadilan itu. Akibatnya, berdiri kokoh tembok-tembok penghalang. Tugas warga adalah untuk menerobos penghalang itu kemudian mewujudkan adil makmur untuk seluruh umat manusia.
2. Terobos ke Adil Makmur
Penghalang paling kuat adalah cacatnya sistem politik ekonomi yang dituangkan dalam aturan hukum positif. Yang kaya makin kaya; yang miskin makin miskin; yang kuat makin ke atas; yang lemah makin tertindas.
Ada dua macam penghalang: ketimpangan sosial politik (rasio N) dan penghalang besar (barrier B).
Rasio N bisa kita hitung dari kurva Lorent. Bila Anda sudah akrab dengan rasio Gini G maka bisa langsung konversi,
N = (1 + G)/(1 – G)
Sedangkan penghalang B ada tiga macam yang perlu diukur dari realitas di lapangan.
Bt = barrier tembok; yaitu penghalang nyata yang menghadang seseorang untuk menyeberang menjadi lebih baik, lebih sukses, atau lebih makmur. Bt ini bisa tertulis bisa juga tak tertulis misal hanya kulit putih yang boleh jadi pimpinan; hanya keturunan bangsawan yang boleh jadi pejabat; hanya keturunan tertentu yang boleh jadi pembimbing spiritual dan lain-lain.
Bc = barrier celah; yaitu sulitnya menemukan celah untuk bisa melompat menjadi lebih baik, lebih sukses, atau lebih makmur. Misalnya, sebenarnya ada celah untuk diterima menjadi PNS (pegawai negeri sipil) tetapi hanya mereka yang berani membayar mahar mahal yang diutamakan untuk lolos. Sebenarnya, ada celah untuk kuliah di universitas melalui tes UTBK tetapi celah ini makin sempit karena ditekan oleh jalur undangan, jalur mandiri, atau jalur khusus lainnya.
Bj = barrier jembatan; yaitu tersedia jembatan untuk menyeberang ke sisi yang lebih baik, lebih sukses, atau lebih makmur; tetapi jembatan itu rusak, terputus, ambruk, dan hanya tersisa sedikit saja.
Formula Terobos T
Saya merumuskan T = Terobos = posibilitas seseorang untuk berhasil menerobos menuju lebih baik, lebih sukses, atau lebih makmur. Semakin besar T maka mencerminkan situasi makin adil makmur; makin besar posibilitas untuk memperbaiki situasi. Semakin kecil T maka mencerminkan situasi tidak adil makmur; makin kecil orang bisa memperbaiki diri.
T = 1 / (N + B)
B = Bt + Bc + Bj
Situasi ideal terbaik adalah N = 1 dan B = 1 + 1 + 1 = 3.
Situasi terburuk, atau sangat buruk, adalah N = 3 dan B = 3 + 3 + 3 = 9.
Memaknai Terobos T
Menghitung dan mengukur T adalah satu tugas; memaknai T itu sendiri adalah tugas besar yang membutuhkan wawasan mendalam.
Andaikan Indonesia sudah adil makmur maka:
N = 1; yaitu kekayaan ekonomi, penghasilan, dan kekuatan politik setiap warga adalah sama; dan merata. Setiap orang bisa bekerja dengan baik, sekolah dengan baik, berpolitik dengan baik.
B = 1 + 1 + 1 = 3; yaitu sistem hukum positif dijalankan dengan adil transparan; hukum adat juga berjalan dengan baik; setiap orang memiliki celah besar, peluang besar, untuk mengembangkan seluruh cita-citanya; tersedia kesempatan, modal, dan dukungan untuk setiap yang berminat mengembangkan diri.
T = 1/(1 + 3) = 1/4
Angka T = 1/4 bermakna bagi seorang individu yang berminat maka akan berhasil mencapai cita dalam 4 kali usaha percobaan; atau lebih cepat dari itu.
Ayu, Bara, Caca, dan Dudu tahun itu ikut tes UTBK untuk masuk universitas idaman. Ayu lulus diterima di universitas idaman; 3 teman lainnya belum lulus harus mencoba tahun depan. Bara rajin belajar untuk UTBK tahun depan. Caca memiliki bakat wirausaha yang makin berkembang sejak lulus SMA; kemudian Caca fokus wirausaha dan berniat kuliah barangkali 10 tahun setelah wirausaha. Dudu hobi melukis. Karya lukisnya mendapat penghargaan sampai ia diundang untuk kuliah jurusan seni di luar negeri.
Tahun berlalu, tinggal Bara yang ikut tes UTBK lagi dan kali ini lulus diterima di universitas idaman. Dari 4 orang hasilnya 2 orang lulus UTBK; sedang 2 orang lainnya memilih jalur lain. Gambaran negara adil makmur, yaitu T = 1/4, adalah setiap warga akan berhasil meraih cita mereka bila berkomitmen. Untuk itu perlu perjuangan dan proses. Sebagian di antaranya mengganti cita dengan cita lain yang sama baiknya.
Andaikan ada negara Wadoh yang tidak adil makmur maka:
N = 3; terjadi ketimpangan ekonomi dan sosial politik.
B = 3 + 3 + 3 = 9; terdapat hukum rasis; hanya golongan tertentu yang boleh mendaftar di universitas ternama; nyaris tidak ada celah bagi masyarakat bawah untuk kuliah mau pun kerja layak; bahkan Andai masyarakat bawah dipercaya untuk kuliah pun maka mereka tidak akan mampu lulus dari universitas yang juga rasis itu.
T = 1/(3 + 9) = 1/12
Angka T = 1/12 adalah mengerikan meski tampak biasa seperti tidak terlalu beda dengan 1/4. Anak miskin di negara Wadoh itu perlu ikut tes UTBK 12 kali agar bisa lulus ke universitas berkualitas. Tetapi aturan UTBK hanya mengijinkan peserta maksimal ikut tes 3 kali; jadi anak miskin pasti gagal UTBK. Lebih dari itu, andai diijinkan 12 kali, anak miskin itu harus menunggu waktu hampir 12 tahun hanya untuk bisa memulai kuliah semester awal; ia sudah terlalu tua.
Situasi untuk melamar PNS (pegawai negeri sipil) sama sulitnya; untuk jadi pegawai swasta atau usaha juga tidak beda. Seperti itulah situasi negara Wadoh yang tidak adil pun tidak makmur dengan T = 1/12. Tentu saja warga Wadoh bisa berjuang agar negaranya menjadi adil makmur dengan menaikkan posibilitas terobos T dari 1/12 (sekitar 8%) menjadi T = 1/4 (sekitar 25%).
Bagaimana dengan situasi Indonesia masa kini? Apakah bisa menerobos adil makmur? Apakah bisa mencapai Indonesia Emas?
N = 2,3 untuk Indonesia 2026 bila mengacu data BPS. Bila mengacu data dari sumber yang lain bisa lebih buruk.
B = x + y + z; saat ini kita belum menemukan data B bagi Indonesia.
Sekilas Bt (barrier tembok) Indonesia tidak terlalu buruk meski juga tidak terlalu baik; estimasi x = 2. Sedangkan Bc (barrier celah) terbuka cukup lebar khususnya bagi mereka yang pada posisi tepat; estimasi y = 2,5. Dan Bj (barrier jembatan) sempat membaik ketika bisnis digital menguat sebelum Covid-19; tetapi tampaknya mulai agak sulit kali ini; estimasi z = 2,5. Total B = 2 + 2,5 + 2,5 = 7.
Indonesia saat ini, estimasi:
T = 1/(2,3 + 7) = 1/9,3
Untuk memperbaiki situasinya, warga Indonesia saat ini perlu berusaha sebanyak 9 atau 10 kali; sebuah angka yang cukup menakutkan. Tentu saja angka itu hanya estimasi yang perlu direvisi ketika ada data lebih tepat. Lagi pula, angka T tidak merata; beda orang beda situasi. Misal Gibran 1 kali calon walikota Solo maka ia langsung terpilih jadi walikota. Bagaimana bisa seperti itu? Kita akan membahas di bagian bawah.
Poin utama kita adalah angka posibilitas T = 1/4 adalah indikator adil makmur; T = 1/12 adalah tidak adil makmur. Dalam setiap situasi warga punya posibilitas untuk memperbaiki situasi. Serta kita memiliki gambaran jelas penghalang mana yang perlu ditembus: tembok, celah, atau jembatan.
3. Diskusi
Sebagai teori, keadilan selalu bisa dikritik. Sebagai politik, keadilan selalu bisa diperdebatkan. Sebagai realitas, keadilan adalah panggilan nurani manusiawi.
3.1 Jokowi
Jokowi adalah tokoh unik: dari situasi sulit ia berhasil menjadi presiden Indonesia 2 periode 2014 – 2024.
3.2 Obama
Obama menggemparkan dunia berhasil menjadi presiden US pertama yang berasal dari minoritas keturunan kulit hitam.
3.3 Prabowo Gibran
Prabowo dan Gibran tentu menjadi fenomena menarik untuk mengkaji posibilitas menerobos adil makmur di Indonesia.
Bagaimana menurut Anda?
