Palestina Israel: Konflik (Tidak) Berakhir

Kita berduka. Umat manusia menderita. Palestina terluka. Israel juga terluka.

Kapan konflik Palestina Israel akan berakhir? Seperti apa bentuk akhir itu? Bisa jadi konflik ini tidak akan pernah berakhir. Konflik hanya bisa berakhir bila umat manusia berkomitmen untuk mengakhirinya. Komitmen umat manusia ini tidak mudah dipastikan. Namun demikian, tetap ada cara-cara bermartabat untuk mengakhiri konflik atau minimal meredam konflik. Kita perlu meraihnya.

Begini peta palestina dari jaman ke jaman

Matinya Sejarah

Kita mengenal teori “matinya sejarah.” Yang intinya adalah sejarah itu tidak tunggal. Sejarah, bisa kita baca dari ragam sudut pandang. Yang bahkan di antara sudut pandang yang berbeda itu, benar-benar, menghasilkan kesimpulan yang bertolak belakang.

Sanggupkah kita menghargai keragaman sejarah? Perbedaan sejarah? Kontradiksi dalam sejarah?

Misalnya, dari sudut pandang sejarah Palestina, Jalur Gaza dan Tepi Barat – bahkan Tel Aviv dan seluruh wilayah Israel – adalah tanah air milik warga Palestina. Hanya saja, sejak 1948, Israel menjajah wilayah itu dengan paksa tanpa sah. Perhatikan sejarah sebelum 1948 atau bahkan sebelum abad 20 maka tidak ada negara Israel sama sekali di sana. Hanya ada Palestina yang sudah turun-temurun hidup damai di negeri Palestina ratusan tahun bahkan ribuan tahun yang lalu.

Sementara, dari sudut pandang sejarah Israel tentu beda. Israel yakin bahwa mereka secara legal, dan de facto, mendirikan negara Israel pada tahun 1948. Kemudian disusul perang pada tahun yang sama, menguatkan eksistensi negara Israel. Lebih-lebih perang pada tahun 1967 makin meluaskan wilayah dan eksistensi negara Israel. Banyak negara di dunia mengakui negara Israel secara sah.

Dua sudut pandang sejarah menghasilkan konflik yang nyata. Masing-masing meng-klaim kebenaran. Wajar saja, mereka klaim sesuai sejarah masing-masing.

Mengintip Masa Lalu Songsong Masa Depan

Kita perlu mempelajari sejarah dunia, termasuk sejarah Palestina dan Israel. Di saat yang sama, mengkaji sejarah, sambil menyiapkan diri menyongsong masa depan demi kebaikan bersama, seluruh umat manusia. Klaim sejarah masa lalu adalah, sekedar, modal untuk menata kehidupan bersama di masa depan sejak masa kini.

Solusi Kemanusiaan dan Agama

Banyak mata menyaksikan pelanggaran kemanusiaan pada konflik Palestina Israel di Mei 2021. Ratusan jiwa warga Palestina, yang tidak berdosa, melayang. Begitu juga puluhan jiwa warga Israel juga menjadi korban.

Dalam banyak kasus, warga Palestina adalah sebagai korban. Sementara Israel adalah penguasa.

Konflik ini melanggar nilai universal kemanusiaan dan bercampur dengan konflik agama. Tokoh agama dari masing-masing kubu perlu merumuskan solusi yang elegan bagi semua. Sementara konflik kemanusiaan menuntut seluruh warga dunia untuk ikut menemukan solusi terbaik sesuai kapasitas masing-masing.

PBB tampak berniat untuk memberikan teguran keras kepada pihak-pihak yang berkonflik. Karena Amerika mempunyai hak veto, rencana teguran keras ini batal oleh veto Amerika. Tampaknya Amerika lebih mengandalkan diplomasi bilateral. Sulit bagi banyak orang memahami sikap Amerika ini. Bukankah teguran dari PBB sejalan dengan diplomasi bilateral?

Berikut ini beberapa solusi yang berkembang untuk menyelesaikan konflik Palestina Israel.

Dua-Negara atau Two-States

Biden, presiden USA, meyakini bahwa dua-negara adalah solusi terbaik untuk Palestina dan Israel. Dan tampaknya, saat ini, solusi dua-negara adalah yang sedang terjadi. Solusi dua-negara mengakui adanya dua negara yang sama-sama berdaulat: Palestina dan Israel.

Biden berjanji akan membantu membangun kembali Gaza karena kerusakan serangan udara oleh Israel. Dengan syarat Palestina mengakui secara resmi eksistensi Israel. Di sisi lain, orang bisa saja bertanya apakah USA dan Israel juga mengakui kedaulatan Palestina? Atau hanya sekedar membangun Gaza?

Meski solusi dua-negara tampak bagus, banyak orang meragukan akan berhasil. Israel adalah negara dengan kekuatan militer yang besar, lobi politik dunia yang luas, serta dukungan dana yang kuat. Sementara, Palestina adalah negara yang masih dalam “perjuangan.” Sehingga mengakui dua-negara terkesan hanya ungkapan semata. Yang terjadi bisa hanya ada satu negara kuat, yaitu Israel, yang berperilaku tidak adil terhadap negara kedua, yang masih lemah, yaitu Palestina.

Agar solusi dua-negara ini bisa berjalan dengan baik maka perlu diciptakan dua-negara yang sama-sama berdaulat. Untuk Israel sudah jelas berdaulat. Selanjutnya, masyarakat internasional, melalui PBB, perlu dengan segera mendorong agar Palestina benar-benar menjadi negara berdaulat dengan wilayah yang pasti. Dua-negara berdaulat ini diharapkan kemudian bisa menciptakan perdamaian bersama.

Tampaknya tidak mudahkan? Lebih rumit lagi bila masing-masing pihak meng-klaim dirinya paling benar.

Satu-Negara atau One-State

Solusi satu-negara tampak ideal meski tidak mudah juga. Solusi satu-negara kembali menjadi pertimbangan karena banyak yang melihat solusi dua-negara menemui jalan buntu, sejauh ini.

Solusi satu-negara adalah melebur Palestina dan Israel menjadi satu negara, misal negara serikat bernama UPI – United of Palestine Israel. UPI sebagai pusat, federal, memiliki beberapa negara bagian, state, misal Tel Aviv, Yerussalem, Gaza, Tepi Barat, dan lain-lain. Semua warga Palestina dan Israel adalah setara, tidak ada pembedaan. Mereka adalah sama-sama warga negara UPI yang adil dan makmur. Dengan demikian, tercapailah perdamaian untuk Palestina dan Israel.

Tidak semudah itu. Banyak persoalan yang muncul. Salah satu keberatan adalah dari sayap kanan Israel. Tujuan utama mendirikan negara Israel adalah agar warga Yahudi memiliki negara sendiri yang aman dari ancaman luar. Bila terbentuk UPI maka terjadi pencampuran Yahudi dan Palestina (Arab-Islam). Meski saat ini populasi Israel sekitar 10 juta jiwa sedangkan populasi Palestina sekitar 5 juta jiwa, tapi pertumbuhan penduduk Palestina lebih cepat. Sehingga dalam beberapa tahun ke depan, penduduk UPI akan didominasi oleh keturunan Palestina. Dan warga Yahudi kembali menjadi minoritas. Hal semacam itu tidak boleh terjadi, menurut sayap kanan Israel.

Barangkali solusi dari keberatan itu bisa dengan menciptakan 1 negara bagian, state, yang khusus untuk warga Yahudi saja – yang bisa jadi penduduknya. Selain Yahudi hanya bisa sebagai tamu. Atau bisa juga lebih kecil dari state. Misal menetapkan satu kawasan adalah kota suci khusus bagi warga Yahudi.

Meski solusi satu-negara kembali hangat, tampaknya dukungan ke arah solusi ini masih relatif kecil. Seiring dengan berjalannya waktu, mayoritas penduduk Palestina dan Israel adalah bayi-bayi yang terlahir di sana, lahir setelah tahun 1948, bukan imigran, maka solusi satu-negara akan menjadi makin mudah diwujudkan.

Tiga-Negara atau 3-States

Solusi tiga-negara barangkali mudah diterima oleh Israel tapi sulit diterima bagi Palestina. Bagaimana pun, kita perlu mempertimbangkan solusi ini.

Solusi tiga-negara mengakui negara Israel saat ini, dan menggabungkan Gaza ke Mesir, serta menggabungkan Tepi Barat ke Jordan.

Bagi warga Gaza, bergabung ke Mesir barangkali bagus. Mereka sama-sama muslim. Begitu juga warga Tepi Barat bergabung ke Jordan juga sama-sama muslim. Secara geografis juga menguntungkan. Bagi Israel, menjalin diplomasi dengan Mesir dan Jordan tentunya lebih memudahkan untuk menciptakan perdamaian.

Tentu saja tidak semudah itu. Solusi tiga-negara berdampak menghilangnya negara Palestina dari dunia ini. Tentu tidak mudah bagi pejuang Palestina untuk menerima kepunahan ini. Mereka telah berjuang puluhan tahun demi Palestina.

Sejauh ini, solusi tiga-negara juga tidak banyak mendapat dukungan.

Solusi Perdamaian

Bagaimana pun tugas kita sebagai manusia adalah untuk menciptakan perdamaian yang dilandasi keadilan. Maka menciptakan perdamaian di Palestina dan Israel adalah tugas kemanusiaan. Memang tidak mudah. Butuh perjuangan dan keikhlasan dari berbagai pihak.

Bagaimana menurut Anda?

Takwa Awal dan Akhir

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal. (yaitu) Orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), “Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia; Mahasuci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka.” (QS 3 : 190-191)

Takwa menjadikan kita cerdas, banyak akal, selalu kreatif. Semua yang ada di alam semesta penuh makna, penuh nilai guna. Orang bertakwa selalu menemukan jalan keluar dari setiap masalah. Selesai dari satu masalah bersegera ke masalah berikutnya. Dan setiap masalah, lengkap dengan jalan keluarnya itu, menambah kebahagian orang bertakwa. Masalah dan jalan keluar adalah anugerah dari Allah.

Bernas.id | Cara Menemukan Jalan Keluar, Saat Anda Sedang Diterpa Masalah

1. Pencerahan Kitab Suci
2. Meraih Prestasi
3. Kebahagiaan Iman
4. Masa Lalu dan Masa Depan
5. Cinta Abadi

Sebaliknya, orang yang tidak bertakwa memandang masalah sebagai beban. Mereka hanya ingin nikmatnya dunia, berfoya-foya, dan pesta-pora. Hanya derita yang menghadang mereka. Penyakit fisik dan hati senantiasa mengintai. Jangan salah memanjat pohon. Masih ada waktu untuk bertobat. Mari menjadi orang yang bertakwa. Mulai dari awal lagi, saat ini, sampai akhir hayat kita.

1. Pencerahan Kitab Suci

Keuntungan terbesar orang bertakwa adalah selalu mendapat pencerahan dari kitab suci – dan dari kitab alam raya. “Ini adalah kitab yang tiada keraguan di dalamnya. Petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa.” “Dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi.”

Betapa indah hidupnya orang bertakwa. Melihat realitas alam semesta, hati mereka tersentuh oleh kebesaran Sang Pencipta. Muncul banyak masalah dari kehidupan ini, bencana alam dan – lebih-lebih – bencana kemanusiaan. Mereka memandang bahwa masalah-masalah itu adalah sapaan dari Tuhan Yang Maha Kasih.

Tuhan menyapa orang yang bertakwa melalui beragam masalah. Masalah ekonomi, pendidikan, kesehatan, politik, sampai hubungan luar negeri. Mereka menggunakan seluruh kekuatan kecerdasan, rasa, karsa, dan cipta untuk menemukan solusi. Mereka berhasil menemukan titik terang solusi. Ternyata solusi itu tidak mudah dijalani. Mereka membaca kitab suci. Lebih banyak lagi solusi. Mereka memohon pertolongan kepada Allah. Semangat merencanakan solusi, menjalani solusi, dengan bimbingan ilahi.

“Dan barang siapa bertakwa kepada Allah maka Allah karuniakan kepadanya jalan keluar. Dan Allah melimpahkan rejeki dari arah yang tidak disangka. Dan barang siapa bertawakkal kepada Allah maka Allah mencukupkan segala sesuatunya.”

Polan adalah pemuda cerdas; bahkan sangat cerdas. Dia menguasai matematika, sains, dan teknologi dengan baik dengan belajar di universitas terbaik di negara yang penduduknya hampir 300 juta jiwa. Kemudian menjadi dosen yang sukses. Apa masalahnya? Masalah dari Polan adalah terlalu cerdas. Mana mungkin?

Ketika Polan menafsirkan ayat suci maka dia berhasil membuat tafsir yang sangat meyakinkan dan saintifik. Sementara, para ulama dan para kyai tidak bisa melakukan tafsir saintifik. Konsekuensinya, Polan memandang tafsir saintifik miliknya lebih bagus dari tafsir para ulama; itu hanya awalnya. Seiring waktu, Polan yakin bahwa tafsir para ulama adalah salah dan tafsir Polan yang saintifik itulah satu-satunya tafsir yang benar.

Polan aktif diskusi dalam beberapa forum termasuk forum diskusi online. Polan menang debat di berbagai forum. Dia makin yakin bahwa tafsir saintifik miliknya adalah satu-satunya kebenaran. Bagaimana hasil akhirnya? Tidak ada orang yang percaya kepada tafsir Polan kecuali diri Polan seorang diri. Terpaksa, Polan mencoba bergabung dengan orang yang tafsirnya mirip Polan; meski Polan yakin orang yang mirip itu sejatinya sesat juga. Dengan beragam kesulitan itu, Polan makin yakin bahwa dirinya sedang mendapat ujian untuk menegakkan kebenaran. Dia ingin tidak menyerah meski tampaknya makin lelah; mungkin akan menyerah.

Kesalahan Polan adalah terlalu mengandalkan karsa dan cipta; yaitu kemampuan dia menciptakan tafsir saintifik. Polan lemah dalam mengembangkan rasa. Padahal dengan rasa yang peka, Polan akan mampu menyelaraskan dirinya dengan alam sekitar, dengan budaya sekitar, dan dengan suasana sekitar; termasuk bisa selaras dengan kitab suci.

Sukses bukanlah pencapaian prestasi tetapi prestasi keselarasan diri. Kitab suci adalah sumber pencerahan inspirasi; bukan logika untuk mendominasi. Orang takwa mereguk hikmah inspirasi dari setiap kata-kata suci.

2. Meraih Prestasi

Karakter penting orang bertakwa adalah: beriman kepada yang ghaib, mendirikan sholat, berinfak dan zakat, beriman kepada kitab suci terdahulu, beriman kepada hari akhir. Dan mereka adalah orang-orang yang beruntung, orang-orang yang berprestasi di jalan ilahi.

Makna takwa, yang paling penting, adalah meraih prestasi, memberi kontribusi, di jalan ilahi. Dengan cara menjalani perintah dan menjauhi larangan. Makna takwa ini mencakup makna-makna takwa secara umum: taat kepada Allah, takut kepada Allah, ikhlas, tobat, menjaga diri, berbuat baik, dan sebagainya.

Tidak ada orang takwa yang gagal. Orang takwa pasti berhasil. Bahkan berhasil sejak awal. Ketika seseorang mulai berbuat takwa maka pada saat itu dia sukses, di dunia dan akhirat. Ditambah dengan sikap istiqomah maka prestasi takwa makin tampak nyata.

3. Kebahagiaan Iman

Orang yang bertakwa dengan sebenar-benarnya takwa maka mereka menjadi muslim sejati dan mukmin sejati. Dan orang mukmin, yang beriman sejati, sungguh memperoleh kebahagiaan yang tiada tara.

Karakter orang beriman sejati, di antaranya, adalah: khusuk dalam sholatnya; menjauhi hal sia-sia; berzakat; menjaga kehormatan; memenuhi amanah dan janji; menjaga sholat. Mereka adalah penghuni surga firdaus di akhirat – dan di dunia ini. Mereka adalah orang-orang paling bahagia.

4. Masa Lalu dan Masa Depan

Perintah puasa bertujuan untuk menjadikan kita sebagai orang-orang bertakwa sejati – dan beriman sejati. Perintah puasa sudah berlangsung sejak jaman orang-orang sebelum kita, sebelum jaman Nabi. Puasa adalah ibadah penting yang berdimensi lintas waktu. Dalam berpuasa, kita belajar dari sejarah masa lalu dan menyiapkan alam semesta untuk generasi masa depan.

Bertakwa dari awal sampai akhir.

5. Cinta Abadi

Cinta tampak nyata di depan mata. Cinta menjadikan kita bahagia. Berbunga-bunga dalam dada. Segalanya penuh pesona. Cinta adalah buah takwa. Cinta adalah benih takwa. Cinta adalah takwa.

Bagaimana menurut Anda?

Takwa Manusia Bebas

“Wahai golongan jin dan manusia! Jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka tembuslah. Kamu tidak akan mampu menembusnya kecuali dengan kekuatan.” (QS 55 : 33)

Gantungkan cita-cita setinggi langit. Kalau pun kamu meleset meraihnya, kamu setidaknya berhasil meraih rembulan. Kamu memang luar biasa.

Tiras Medan: Manusia Bebas

Manusia beriman yang bertakwa mempunyai cita-cita tinggi. Cita-cita yang sulit untuk diraih. Tapi kita bisa meraihnya karena pertolongan Allah semata. Karena Allah Maha Kuasa atas segalanya.

Di sisi manusia, kita sudah menerima tanggung jawab sebagai wakil Tuhan di bumi ini. Maka, kita perlu mengembangkan segala kekuatan untuk menembus langit dan bumi. Melalui pengembangan sains, teknologi, imajinasi, dan tentu, ruhani.

1. Kekuatan Kehendak
2. Demokrasi
2.1 Politik
2.2 Ekonomi
2.3 Meritokrasi
2.4 Bahasa
2.5 Digital
3. Jaminan Institusi
4. Mengejar Mimpi
5. Hubungan Luar Negeri

Manusia adalah kebebasan itu sendiri. Wujud alam semesta adalah kebebasan umat manusia. Meski aturan alam tampak membatasi, tetapi, aturan alam mengundang manusia untuk menerapkan kebebasannya. Alam semesta akan mengikuti kebebasan manusia. Alam semesta adalah medan kebebasan manusia.

1. Kekuatan Kehendak

Yang paling fundamental adalah kehendak bebas dalam diri manusia. Dunia, di luar sana, bisa saja gemuruh luruh hancur lebur. Di dalam diri manusia, tetap utuh ada kehendak bebas. Kita bebas untuk memilih optimis atau pesimis. Kita bebas untuk memilih menjadi manusia beriman atau lainnya. Kita bebas untuk mengeluh atau semangat terus bergelora.

Dalam kehidupan nyata, kita bebas untuk berkarya atau malas-malasan saja. Pandemi covid bisa saja menjadi bencana. Kita, tetap bebas, memilih untuk meraih prestasi atau gantung kaki selama pandemi. Ekonomi bisa saja depresi. Kita, juga tetap bebas, maju mengejar mimpi atau memilih berdiam diri.

Pengalaman saya pribadi menghadapi pandemi adalah pahit manis asam gurih. Saya nyaris tidak bisa bekerja; tentu pendapatan nyaris nol rupiah. Pekerjaan saya adalah guru, dosen, dan instruktur. Sekolah tutup, kampus tutup, saya tidak bisa mengajar. Pelatihan dan seminar dilarang maka saya tidak bisa menghasilkan uang selama berbulan-bulan berlanjut bertahun-tahun. Banyak orang frustasi akibat pandemi. Bagaimana dengan saya pribadi?

Saya bebas untuk menyerah. Saya memilih untuk berjuang. Salah satunya, saya fokus untuk menulis buku sejak pandemi mulai. Buku pertama era pandemi berjudul “Filsafat Cinta” sekitar terdiri 500 halaman tidak ada penerbit yang bersedia menerbitkan. Buku lainnya berjudul “30 Renungan Takwa” terbit akhir 2023 atau awal 2024.

Yang paling menggembirakan saya adalah, di masa pandemi, saya menyelesaikan buku trilogi Futuristik. Futuristik 1 berjudul Logika Futuristik terbit 2023. Futuristik 2 berjudul Pintu Anugerah terbit 2024. Futuristik 3 berjudul Visi Futuristik terbit 2025. Kemudian beriring terbit buku-buku tentang teknologi yang saya tulis bersama teman-teman dosen ITB: Apakah Silikon Bisa Menangis? dan 19 Narasi Besar Akal Imitasi yang diterbitkan oleh ITB Press. Pandemi adalah ujian buat saya dan masyarakat; di saat yang sama, pandemi adalah kesempatan. Kita bebas untuk memilih respon.

Allah telah meniupkan ruh suci dari Sang Maha Bebas ke diri setiap manusia. Diri kita memang bebas sebebas-bebasnya sesuai ruh suci dariNya. Manusia punya modal tak terbatas – ruhnya. Manusia punya modal terbatas – alam raya tertata. Perpaduan antara tak terbatas dan yang terbatas maka terbentuklah manusia bebas.

Kita bebas untuk menjadi manusia takwa.

Jika manusia hendak menembus langit. Bisa! Tentu saja dengan segala kekuatan yang dimilikinya ruh, semangat, ilmu, sains, dan teknologi. Alam siap membantu mewujudkan setiap impian anak manusia.

2. Demokrasi

Kebebasan adalah hakikat setiap manusia. Tetapi kebebasan ini bisa runtuh begitu saja. Ketika anak manusia terkurung dalam lingkungan bertahun-tahun, mereka mengiranya dirinya memang terkurung, Mereka mengira dirinya tidak bebas. Mereka mengira kehilangan kebebasan. Dan kebebasan itu menjadi sirna. Demokrasi, banyak orang mengharapkannya menjadi solusi.

Apakah Anda pecinta binatang? Pecinta kucing? Pecinta anjing? Apakah Anda membebaskan kucing itu atau malah mengurungnya dalam kandang?

Menjelang musim lebaran banyak orang kebingungan ketika mau mudik. Karena mereka akan meninggalkan kucing piaraan dalam waktu sepekan atau lebih. “Siapa yang akan memberi makan kucing saya di rumah?” tanya Bu Fulanah ketika mau mudik kepada saya. “Bahaya juga kalau ditinggal sendiri dalam kurungan,” saya malah khawatir.

Akhirnya, Bu Fulanah mencari tempat penitipan kucing di kota Bandung. Ia menemukan petshop yang menerima titipan kucing lengkap dengan kurungannya. Biaya penitipan beberapa ratus ribu rupiah atau hampir 1 juta waktu itu.

Apakah mengurung kucing adalah ungkapan cinta kepada binatang? Apakah mengurung anak manusia adalah ungkapan cinta? Apakah mengurung manusia dengan undang-undang adalah sebentuk takwa? Apakah mengurung masyarakat dengan aturan politik adalah suatu kebaikan? Bukan. Semua itu bukan kebaikan. Kebaikan adalah ketika Anda memberi kebebasan kepada manusia, kepada karyawan Anda, kepada anak Anda. Kemudian anak Anda dapat memilih jalan takwa secara bebas.

2.1 Politik

Demokrasi adalah cita-cita bersama untuk mewujudkan setiap manusia memiliki kebebasan sejati. Kenyataannya, politik justru bisa membelokkan demokrasi. Suara rakyat hanya dihitung ketika pungutan suara. Setelah itu, hanya pihak-pihak tertentu yang menjadi penentu.

Media sosial digital membuka peluang setiap orang untuk bebas bersuara. Setiap orang bebas berpendapat. Bahkan, dengan berkembangnya blockchain, kebebasan umat manusia makin terbuka lebar. Peran “pusat” tidak dibutuhkan lagi. Horisontal dan demokratis, harapannya.

Bagaimana pun, meski banyak rintangan, kita tetap bisa membangun demokrasi yang sehat. Setiap warga bebas berpendapat. Setiap orang punya posisi terhormat. Kita bersatu sebagai umat.

2.2 Ekonomi

Anak-anak yang terlahir dari keluarga miskin yakin bahwa mereka akan menjadi miskin. Turun-temurun terbukti mereka konsisten hidup miskin. Sebaliknya, anak-anak terlahir kaya yakin bahwa mereka akan hidup kaya. Bahkan kaya sampai tujuh turunan. Terbukti bertahun-tahun mereka memang kaya.

Di mana ada kebebasan manusia? Di mana ada kebebasan ekonomi? Di mana manusia bebas berpartisipasi?

Kesenjangan ekonomi dan sosial terjadi di belahan dunia, termasuk di Indonesia. Dengan ketimpangan indeks Gini di atas 38% atau nilai ketimpangan di atas n = 2 maka Indonesia terjadi ketimpangan lebih besar dari ketimpangan kuadrat. Dari sisi personal, kita perlu membangkitkan semangat anak-anak muda (dan angkatan kerja) bahwa mereka punya potensi untuk terus maju. Dari sisi institusional, pemerintah dan pengusaha perlu menciptakan sistem yang adil secara ekonomi. Bukan adil secara argumentatif belaka tetapi adil substantif.

Kita bisa membangun sistem ekonomi yang membebaskan umat. Sistem ekonomi yang memberi kesempatan setiap generasi untuk berpartisipasi. Sistem ekonomi yang melahirkan manusia-manusia bebas – dari latar ekonomi apa pun mereka dilahirkan.

2.3 Meritokrasi

Sejak awal, meritokrasi adalah buruk. Meritokrasi adalah satire. Tetapi, meritokrasi menjadi norma. Menjadi sistem merit-okrasi yang dipuji-puji. Bukankah ngeri sekali?

Meritokrasi disangka memberi kebebasan kepada manusia. Nyatanya, meritokrasi menjebak kebebasan manusia dengan mengukuhkan kesenjangan, ketimpangan, dan ketidak-adilan.

Meritokrasi adalah sistem yang menetapkan “pemenang” berdasar “prestasi” mereka. Bukankah itu baik?

Meritokrasi buruk tetapi tidak bisa ditolak. Meritokrasi hanya bisa dilampaui. Meritokrasi harus dilampaui. Menolak meritokrasi bisa jatuh ke jurang kolusi kemudian terjebak dalam korupsi. Meritokrasi hanya lintasan sementara untuk segera menuju sistem yang adil. Yaitu sistem yang memberikan kebebasan kepada seluruh umat manusia untuk bertakwa.

Meritokrasi akan mengantar kampus-kampus terbaik diisi oleh anak-anak cerdas dari kalangan orang-orang kaya. Mereka, anak-anak itu, memang cerdas, mau rajin belajar, dan ditunjang dana kuat dari orang tuanya. Sementara, anak-anak miskin tidak bisa diterima di kampus terbaik. Mereka, anak-anak miskin, memang kurang dana pendidikan, kurang semangat belajar, mungkin juga kurang asupan gizinya. Meritokrasi hanya melanggengkan ketimpangan. Kita membutuhkan bangunan demokrasi yang adil. Demokrasi yang membangunkan semangat juang seluruh generasi negeri – kaya atau pun miskin.

Kita butuh yang lebih baik dari sekedar meritokrasi. Kita bisa melampaui meritokrasi.

2.4 Bahasa

Bahasa adalah penjara terbesar umat manusia. Bahasa mengungkung kebebasan umat manusia. Bahasa adalah rumah pikiran. Bahasa juga rumah rasa bagi umat manusia. Sebagaimana rumah, bahasa melindungi umat manusia. Pada gilirannya, bahasa menjerat umat manusia sendiri.

Bahasa adalah bentuk budaya tinggi umat manusia. Dengan bahasa, kita bisa berkomunikasi. Kita bisa mengembangkan ilmu pengetahuan dan budaya secara luas. Masih dengan bahasa, kita bisa saling meng-eksploitasi, saling menindas. Dengan bahasa, penindasan makin meluas tanpa batas, tanpa was-was.

“Apa yang bisa kami lakukan? Kami hanya rakyat jelata.”
“Beginilah nasib orang miskin.”
“Saya orang yang tidak berpendidikan.”

Dan masih banyak lagi penjara bahasa yang menjerat leher umat manusia. Kita perlu membangun bahasa yang lebih kuat. Bahasa yang membangkitkan semangat. Bahasa yang membuka kebebasan umat manusia untuk bertakwa. Tugas membangun bahasa bukanlah tugas seorang individu. Ini adalah tugas seluruh umat. Ini adalah tugas kita bersama.

“Saya adalah orang yang bercita-cita setinggi langit.”
“Saya selalu bisa melampaui kesulitan.”
“Saya adalah manusia pilihan Tuhan.”

Jadikan bahasa sebagai medan kebebasan umat manusia. Jangan mau dikurung bahasa. Gunakan bahasa untuk kita menjadi manusia paripurna.

2.5 Digital

Kita hidup di era digital. Kita menyatu dengan dunia digital. Manusia tidak bisa lagi dipisahkan begitu saja dengan media digital. Media digital, dan media sosial, awalnya, menjadi media kebebasan umat manusia. Pada gilirannya, media digital kembali mengurung manusia. Manusia kembali tenggelam dalam budaya yang mereka ciptakan sendiri.

Manusia perlu membebaskan diri dari cengkeraman media digital. Pertama, dengan sengaja, kita membebaskan diri dari pengaruh dunia digital. Ketika membaca berita, misalnya, kita tidak begitu saja terbawa arus. Kita perlu menguji kebenaran berita itu dengan ragam data yang berbeda. Dan yang terpenting, kita perlu mengujinya dengan suara hati kita. Tentunya, dengan catatan, kita menjaga beningnya suara hati dalam diri.

Kedua, kita, terutama pemerintah dan perusahaan, menetapkan sistem tertentu sedemikian hingga media sosial tidak hanya mengeruk keuntungan ekonomis belaka. Media sosial memiliki misi untuk membebaskan umat manusia dari keterpurukan. Apa bisa? Bukankah perusahaan bertujuan untuk maksimalisasi profit? Bukankah pejabat bertujuan untuk melanggengkan jabatan? Bisa. Memang tidak mudah.

Ketiga, media digital, tak terduga berkembang ke arah desentralisasi dengan blockchain. Perusahaan besar, dan para pakar, mengira perkembangan teknologi akan menuju web 3.0 yang merupakan perkembangan lebih hebat dari web sebelumnya. Secara prinsip, web 3.0 tetaplah web seperti yang ada sekarang – ada penguasa raksasa. Blockchain berbeda – karena tidak ada penguasa pusat.

Blockchain, benar-benar, terdesentralisasi. Misal bitcoin (cryptocurrency) dan NFT tidak memerlukan peran suatu “pusat.” Dengan demikian, rakyat punya kebebasan dengan blockchain. Tetapi, bukankah bitcoin dan NFT, saat ini, hanya dikuasai oleh elit orang super kaya? Benar. Situasi saat ini memang begitu. Hanya saja, dengan karakter alamiahnya yang ter-desentralisasi maka tetap terbuka peluang kebebasan bagi masyarakat.

Tentu saja tidak mudah mengembangkan blockchain. Cina, misalnya, melarang pengembangan cryptocurrency. Di Indonesia, juga ada fatwa haram tentangnya. Belum lagi, penambangan crypto sering menyedot energi dalam jumlah tinggi. Bahaya terhadap krisis iklim.

Bagaimana pun, meski kebebasan adalah hak setiap anak manusia, nyatanya, memperoleh kebebasan bukanlah hal yang mudah. Kita perlu memperjuangkan kemerdekaan. Kita adalah manusia merdeka untuk bertakwa.

3. Jaminan Institusi

Untuk bisa bebas, manusia perlu jaminan kebebasan. Konstitusi adalah jaminan paling fundamental bagi umat manusia.

Kabar baiknya, seluruh negara di dunia mengaku menjamin kebebasan warganya secara konstitusional. Hanya saja, masing-masing negara berbeda dalam kadar kebebasan yang dijamin. Indonesia, misalnya, adalah negara bebas. Setiap warga bebas berpendapat. Hanya saja, kadang, berbenturan dengan pasal pencemaran nama baik atau penodaan agama.

Di beberapa bagian belahan dunia, masih ada, kebebasan yang belum dijamin oleh institusi. Baru-baru ini, di Myanmar, beberapa pendemo yang protes terhadap penguasa militer berakhir dengan meregang nyawa. Di USA, masih terjadi rasisme Wallstreet, kata Cornel West. Di Palestina, kebebasan politik dan ekonomi dirampas dengan dalih pendudukan Israel. Tampak masih besar, tugas manusia untuk membebaskan umat manusia di mana-mana.

Mari kita coba cermati kasus kebebasan berpendapat di Indonesia yang dijamin oleh konstitusi dan institusi. Ketika berbenturan dengan pencemaran nama baik, kebebasan pendapatan bisa saja kalah. Misal ada seorang pasien yang mengeluhkan layanan suatu rumah sakit melalui media sosial. Keluhan pasien dilindungi oleh konstitusi kebebasan berpendapat. Tetapi, berbenturan dengan pasal pencemaran nama baik bagi rumah sakit bersangkutan. Pengadilan memutuskan vonis salah kepada pasien yang mengeluh itu.

Di tempat lain, seorang pegawai perempuan komplain merasa tidak nyaman digoda atasannya, diajak, untuk selingkuh. Dia merekam percakapan godaan yang tidak nyaman itu. Tentu saja, pegawai perempuan itu dilindungi undang-undang untuk menyampaikan pendapat tidak nyaman dan sebagainya. Di sisi lain, atasannya menggunakan pasal pencemaran nama baik. Hasil akhir pengadilan menyatakan vonis bahwa pegawai perempuan tersebut salah dan dihukum.

Menko Polhukam tampak tidak setuju dengan vonis itu lalu mengusahakan grasi kepada presiden. Pada akhirnya, presiden memberikan grasi setelah pegawai perempuan itu menjalani hukuman beberapa minggu.

Kita menyaksikan bahwa kebebasan pendapat bisa saja kalah dengan pasal pencemaran nama baik. Berbagai pihak telah berusaha untuk memperbaiki, atau menghapus, pasal pencemaran nama baik. Sementara ini, pasal pencemaran nama baik masih tetap berdiri tegak di negeri ini.

Kita membutuhkan kebebasan agar manusia-manusia bebas bertakwa.

4. Mengejar Mimpi

Setiap orang punya mimpi. Saya punya mimpi. Anda punya mimpi. Ketika kanak-kanak, mimpi itu begitu indah. Lambat laun, mimpi-mimpi itu mulai pudar. Hanya sebagian yang masih bersinar.

Mari kembali menyemai mimpi. Mari kembali merawat mimpi. Mari kembali mengejar mimpi.

Apa mimpi Anda paling besar? Apakah mimpi itu bisa menembus langit? Apakah bisa mimpi lebih tinggi lagi?

Apa mimpi saya terbesar? Saya bermimpi ikut mencerdaskan kehidupan generasi di Indonesia dan dunia melalui pendidikan matematika yang kreatif. Untuk mengejar mimpi itu saya mengembangkan metode belajar matematika yang kreatif dengan nama matematika APIQ. Saya mengundang Anda semua untuk ikut aktif berpartisipasi.

Saya bermimpi membantu para guru untuk bisa mengajar matematika dengan cara asyik dan kreatif. Saya meluncurkan beragam program pelatihan guru matematika baik secara tatap muka mau pun secara online.

Saya bermimpi membantu umat manusia untuk senantiasa berpikir-terbuka. Membuka diri seluas-luasnya agar bumi dan langit bisa singgah di salah satu sudutnya. Untuk mengejar mimpi itu, saya mengembangkan beragam tulisan dengan tema idesofi lengkap dengan video live streaming di youtube.

Kita adalah manusia bebas; bebas untuk bertakwa.

5. Hubungan Luar Negeri

Kebebasan umat manusia juga dipengaruhi oleh pihak luar negeri. Sehingga, kita perlu menaruh perhatian penting terhadap hubungan luar negeri. Kebebasan di dalam negeri, bisa saja, merenggut kebebasan warga di negara tetangga.

SDG Report 2021 menyatakan bahwa negara maju, sebagian besar Eropa dan Amerika Utara, menyebabkan beban berat bagi negara miskin dan negara berkembang. Meski warga negara maju merasa menikmati kebebasan, tetapi dampaknya, merenggut kebebasan warga di negara lain. Warga negara miskin terpaksa harus kerja keras dengan beban berlebih, dengan jangka waktu lebih lama, tetapi penghasilan ekonomi hanya kecil. Sebaliknya, warga negara maju bebas memilih pekerjaan yang lebih ringan dengan penghasilan lebih besar.

Di satu sisi, negara maju harus membatasi diri agar tidak merugikan negara lain dengan satu dan lain cara. Di sisi lain, masing-masing negara perlu menjaga hubungan luar negeri sedemikian hingga menjamin kebebasan setiap warga untuk terus bergerak maju.

Indonesia, misalnya, adalah negara penghasil gula terbesar di dunia pada pertengahan-akhir abad-20. Karena hubungan luar negeri yang tidak tepat, dan faktor lainnya, di abad-21 ini, Indonesia tidak lagi menjadi negara produsen gula terbesar. Bahkan, Indonesia menjadi pengimpor gula terbesar di antara negara-negara di dunia. Tentu saja, impor gula memberikan keuntungan besar dan mudah bagi pihak-pihak tertentu. Di sisi lain, merampas kebebasan petani tebu Indonesia untuk menanam tebu. Petani bisa saja menanam tebu. Tetapi panennya tidak akan terserap. Merugikan diri sendiri. Mereka, petani tebu, tidak lagi menikmati kebebasan.

Dan masih banyak bidang-bidang lain, kerja-sama luar negeri yang penting, untuk kita cermati. Indonesia adalah negara dengan garis pantai terpanjang di dunia. Bagaimana mungkin Indonesia terpaksa impor garam? Petani garam kehilangan kebebasan untuk memproduksi garam lantaran hasil garam hanya dinilai rendah harganya. Seperti biasa, impor garam juga memberi keuntungan bagi pihak-pihak tertentu.

Masing-masing negara adalah negara bebas berdaulat. Setiap negara perlu menjaga hubungan luar negeri sedemikian hingga menjamin kebebasan setiap warga dunia.

Kita adalah manusia bebas; bebas untuk bertakwa.

Bagaimana menurut Anda?

Takwa Virtual dan Aktual

“Daging (hewan kurban) dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kamu. Demikianlah Dia menundukkannya untukmu agar kamu mengagungkan Allah atas petunjuk yang Dia berikan kepadamu. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.”

Kita hidup di jaman digital. Kita akrab dengan dunia virtual. Bahkan bisnis virtual, saat ini, bisa lebih menguntungkan dari bisnis riil. Dalam hal takwa, kita juga perlu mempertimbangkan pentingnya takwa virtual, sebagai pasangan dari takwa aktual.

Ketika berbagi makanan untuk fakir miskin, misalnya, maka makanan tersebut adalah bentuk takwa aktual. Bentuk takwa yang benar-benar nyata. Makanan ini, bersifat aktual, penuh manfaat bagi fakir miskin. Tetapi bukan makanan ini yang bernilai tinggi. Yang bernilai tinggi adalah ketakwaan kita dalam proses berbagi itu. Dengan kata lain, takwa virtualnya (noumenal) adalah yang paling bernilai tinggi. Baik berupa niat, tulus, ikhlas, atau pun hanya mengharap ridha Allah semata.

1. Pasangan Tak Hingga
2. Dampak Sosial
3. Pemerintah Legal
4. Takwa Virtual
5. Virtual – Aktual – Noumenal
6. Takwa Real

Pada tulisan ini, kita akan mendiskusikan pasangan-pasangan takwa: personal-sosial, pemerintahan-legal, dan virtual-aktual.

1. Pasangan Tak Hingga

Analisis berpasangan membantu kita melihat realitas dengan lebih mudah – dibanding hanya satu sudut pandang saja. Kita perlu mempertimbangkan pro dan kontranya. “Segala sesuatu diciptakan dalam bentuk berpasang-pasangan.” Saya kira, Derrida adalah tokoh paling semangat untuk menganalisis pasangan “the others” untuk menemukan keadilan.

Di sini, kita memasangkan takwa virtual dengan takwa aktual dengan maksud yang sama, agar lebih mudah memahami. Meskipun, kenyataannya, takwa itu tunggal. Misalnya, kita berbagi zakat adalah aktivitas takwa yang tunggal. Kita dapat menganalisis bahwa zakat itu, misal berupa uang, adalah aspek takwa aktual. Sementara niat tulus sang pemberi zakat adalah aspek takwa virtual.

Dengan adanya pasangan virtual dan aktual maka kita bisa menghasilkan sudut pandang dalam jumlah tak terbatas.

Beberapa bulan lalu saya bertemu dengan sopir taksi online (taksi virtual). Sambil ngobrol-ngobrol dia cerita bahwa penghasilan dia dari sopir taksi virtual sekitar 20 juta rupiah tiap bulan. “Wow, menakjubkan!” aku berpikir dalam hati. Kemudian, aku baru sadar bahwa dia memperoleh sebesar 20 juta rupiah adalah wajar. Karena dia ramah, mengemudikan mobil dengan lembut, dan menjalankan semua tugas secara profesional. Ketika kami hampir tiba tujuan, dia sudah mendapat order penumpang lagi yang lokasinya dekat lokasi tujuan kami. Jadi sopir itu selalu mendapat order penumpang sambung-menyambung dengan lokasi saling berdekatan. Itulah keunggulan taksi virtual yang membuka peluang untuk takwa virtual.

Benarkah taksi online adalah sebentuk takwa virtual? Bagaimana dengan nasib sopir taksi konvensional yang sepi? Bagaimana dengan nasib sopir angkot (angkutan kota) yang kosong dari penumpang?

Kita perlu menjawab pertanyaan-pertanyaan ini dengan kajian yang seksama.

2. Dampak Sosial

Kita bisa melihat dampak tindakan takwa secara personal dan sosial. Membaca buku, mengkaji kitab suci, berdzikir, dan lain-lain berdampak positif secara personal. Menjadikan pikiran lebih cerdas, damai di hati, secara pribadi. Sementara takwa berupa berbagi makanan, menciptakan lapangan kerja, dan berkreasi berdampak positif secara sosial. Orang lain merasakan manfaat nyata dari tindakan takwa kita.

Kedua jenis takwa ini, personal dan sosial, sama-sama kita perlukan. Takwa personal, misal mengkaji kitab suci, menguatkan kita untuk bisa bertakwa secara sosial. Kita jadi punya ide untuk menciptakan lapangan kerja setelah membaca kitab suci yang menekankan nilai penting dalam tolong-menolong. Sementara, pengalaman nyata kita menciptakan lapangan kerja, memberikan kita pengalaman penuh makna. Ketika kita membaca kitab suci menjadi lebih tersentuh karena banyak pengalaman nyata di lapangan. Takwa sosial menguatkan takwa personal, dan sebaliknya.

Problem muncul bila hanya satu jenis takwa saja yang dominan. Hanya rajin membaca kitab suci tapi tidak pernah beraksi. Atau hanya rajin menciptakan lapangan kerja tanpa pernah mengkaji kitab suci. Sekali lagi, kita memerlukan kedua-duanya.

3. Pemerintah Legal

Bentuk takwa sosial yang penting, di antaranya, adalah bidang pemerintahan dan hukum legal. Kita perlu, bersama-sama, menciptakan pemerintahan yang adil, transparan, dan membela rakyat. Dari sisi hukum, kita perlu menciptakan sistem hukum yang adil untuk semua warga dan pelaku hukum yang berkomitmen tinggi menegakkan keadilan.

Dengan demikian, pejabat pemerintah dan segenap aparatur negara yang menjalankan tugas dengan baik, maka, mereka adalah orang-orang yang bertakwa – mendapat pahala berlimpah di sisi Tuhan. Kita perlu mendukung program-program pemerintah guna memajukan kehidupan bersama.

Sementara pejabat yang korupsi adalah musuh negeri – di dunia ini dan akhirat nanti. Hukuman yang berat pantas bagi pelaku korupsi. Mereka sudah makan anggaran APBN tetapi malah merugikan rakyat dengan perilaku korupsi yang merusak.

Sistem hukum, di satu sisi, sangat penting untuk bersifat adil. Sementara pelaku hukum, yudikatif, perlu komitmen tinggi untuk membela keadilan. Bagaimana pun idealnya aturan hukum, pada tataran implementasi, tetap bergantung sikap para pelaku hukumnya. Membaca hukum adalah tugas kritikal yang rawan akan penyelewengan. Maka pelaku hukum yang adil sudah bertindak takwa dan mendapat pahala di sisi Tuhan yang berlimpah. Sementara, mafia hukum adalah musuh negeri – di dunia ini dan akhirat nanti. Perlu ditumpas dari muka bumi.

4. Takwa Virtual

Kita, saat ini, menjadi lebih mudah untuk bertindak takwa. Dengan kemajuan media digital, kita bisa berbuat takwa kapan saja, di mana saja, dalam bentuk takwa digital – takwa virtual.

Membuat konten digital yang bermanfaat melalui handphone, misal konten edukasi, adalah termasuk tindakan takwa virtual. Jika setiap orang, tiap hari membuat satu saja konten positif bermanfaat, maka kita akan mempunyai lebih dari 100 juta konten positif tiap hari. Pemilik hanphone di Indonesia lebih dari 100 juta jiwa. Luar biasa…!

5. Virtual – Aktual – Noumenal

Deleuze membagi dunia menjadi virtual dan aktual. Keduanya sama-sama real. Beda dengan konsep potensial, yang tidak real. Sementara, virtual adalah dunia real yang belum aktual.

Dunia virtual adalah alam real dengan intensitas lebih rendah. Sedangkan, dunia aktual adalah dunia real dengan intensitas yang lebih kuat. Ketika kita akan membuat meja, misalnya, maka kita akan menciptakan gambaran meja dalam pikiran kita. Gambaran meja dalam pikiran adalah meja virtual yang bersifat real meski belum aktual.

Dunia virtual lebih besar dari dunia pikiran manusia. Pohon yang tingginya, saat ini, 1 cm akan tumbuh menjadi 2 cm esok hari. Pohon 1 cm adalah dalam dunia aktual real. Sementara ini, pohon 2 cm, hanya ada di dunia virtual meski real. Memang, esok hari pohon 2 cm menjadi aktual.

Dunia aktual bisa kita amati secara empiris. Sementara, dunia virtual perlu kajian lebih dalam untuk bisa memahaminya. Dunia virtual dipenuhi oleh beragam perbedaan-perbedaan intensitas. Mereka yang mencapai ambang intensitas tertentu akan menembus hadir ke dunia aktual.

Di era digital, saat ini, dunia virtual makin nyata bersifat real. Kita bisa komunikasi melalui media sosial di dunia maya, alam virtual. Kita bisa membuat konten takwa di media sosial. Bahkan, kita bisa menghasilkan uang melalui dunia virtual. Bisa jadi, dunia virtual berdampak lebih besar dari dunia aktual.

Immanuel Kant, 200 tahun sebelum Deleuze, merumuskan dunia fenomenal dan dunia noumenal. Fenomenal adalah dunia aktual yang bisa kita kenali secara empiris. Sementara, noumenal adalah dunia sejati yang tersembunyi di balik dunia empiris. Semua pengetahuan kita tentang alam semesta adalah pengetahuan fenomena, pengetahuan penampakan belaka. Sedangkan, hakikat alam semesta tetap tersembunyi dari indera kita.

Pengetahuan kita hanya berupa estimasi terhadap pengetahuan sejati. Meski demikian, kita bisa makin dekat dengan pengetahuan sejati dengan memanfaatkan seluruh kekuatan yang kita miliki: panca indera, imajinasi, pemahaman, akal, rasa, karsa, dan karya. Karena pengetahuan sejati, pengetahuan noumena, melampaui definisi bahasa maka kita bisa mengungkapkannya melalui simbol-simbol atau perlambang.

Dengan demikian, kita bisa memandang realitas alam semesta dengan tiga struktur alam: virtual – aktual – noumenal. Semua realitas tersebut sama-sama real, sama-sama nyata.

6. Takwa Real

Kita beruntung, di jaman ini, ada kesempatan bertindak takwa di tiga realitas alam. Di alam virtual, kita bisa bertakwa dengan menciptakan konten-konten positif melalui berbagai media sosial. Di alam aktual, kita bisa bertakwa dengan berbuat baik kepada sesama. Sedangkan di alam noumenal, kita bisa bertakwa dengan mengikhlaskan niat dari setiap tindakan kita.

Makin terbentang alam raya – virtual, aktual, noumenal – maka makin besar seruan bagi kita untuk bertakwa. Mari bertakwa dengan sebenar-benarnya takwa, di seluruh cakrawala alam raya.

Bagaimana menurut Anda?

Takwa Ekonomi Manusia

“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung.” (QS 3 : 130)

Bertakwa di bidang ekonomi menjamin kita beruntung. Beruntung secara pribadi dan sosial. Masyarakat yang bertakwa saling menolong untuk mengembangkan ekonomi dan kebaikan. Dan tidak bekerja sama dalam keburukan. Mereka saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran. Keberuntungan orang yang bertakwa adalah berlimpah rejeki dari jalan yang tak disangka, selalu mendapat jalan keluar dengan cara yang kreatif. Pertumbuhan yang matang jasmani dan ruhani.

Wakaf untuk Kebangkitan Ekonomi Rakyat | Tarbawia

1. Ragam Bidang Takwa
2. Takwa Virtual sampai Aktual
3. Kerja Menciptakan Lapangan Kerja
4. Takwa Pendidikan
5. Takwa Kesehatan
6. Prinsip Takwa Ekonomi
6.1 Manusia Bekerja
6.2 Pilihan Kewajiban
6.3 Semua Sama
6.4 Perbedaan
6.5 Manusia Kosmos

Memang, ekonomi orang yang bertakwa lebih kreatif dengan adanya beberapa batasan. Berbeda dengan ekonomi liberal, misalnya, mereka boleh usaha dalam bidang apa saja asalkan legal. Ekonomi liberal bisa saja usaha di bidang judi, minuman keras, riba, atau lainnya. Sementara, ekonomi takwa tidak akan melakukan bisnis haram seperti itu. Bahkan makanan haram pun tidak boleh dikembangkan, misal jualan babi panggang, bipang. Meskipun, dalam situasi darurat, masih dibolehkan, misal untuk keperluan vaksin atau obat.

Batasan ekonomi takwa, yang tidak liberal, seperti menyulitkan pada tahap awal. Sejatinya, batasan itu justru menguntungkan dalam jangka panjang. Misalnya larangan bisnis judi. Awalnya seperti menyusahkan. Dalam jangka panjang judi merusak masyarakat. Bagi yang menang judi, mereka, berpesta-pora, melampaui batas, dan akhirnya kalah taruhan juga. Bagi yang kalah, hampir 100% penjudi adalah kalah, maka mereka bangkrut. Mereka frustasi. Mengambil jalan pintas penuh ilusi. Masyarakat menjadi lebih sehat tanpa bisnis judi. Batasan ekonomi takwa, benar-benar, untuk kebaikan bersama.

Pembatasan ekonomi takwa adalah anugerah kebaikan bagi kita semua. Membatasi diri dalam kegiatan ekonomi adalah ungkapan syukur manusia. Kegiatan ekonomi perlu terbatas, tetapi, rasa syukur dalam bidang ekonomi adalah tanpa batas. Rasa syukur adalah berlimpah. Demikian halnya dengan puasa. Puasa adalah pembatasan konsumsi pribadi. Awalnya, pembatasan oleh puasa tampak membebani. Akhirnya, puasa memberi kesehatan kepada manusia. Sehat jasmani, ruhani, dan sehat ekonomi. Kita bersyukur atas anugerah puasa. Kita bersyukur mampu berpuasa. Berpuasa adalah ungkapan syukur kita atas semua anugerah yang ada.

1. Ragam Bidang Takwa

Luasnya cakupan takwa tanpa batas. Sehingga setiap orang tidak pernah menganggur. Selalu ada pekerjaan untuk memperbaiki diri dan lingkungan. “Maka ketika selesai dengan satu pekerjaan bersegeralah ke pekerjaan berikutnya.”

Takwa merupakan tanggung jawab setiap pribadi untuk meraih prestasi dan memberi kontribusi. Sedangkan medan kerja takwa bisa bersifat pribadi dan sosial. Membaca buku adalah tanggung jawab pribadi sedangkan menaati aturan lalulintas merupakan contoh tanggung jawab sosial. Karena itu, diperlukan suatu aturan hukum dan lembaga agar proses takwa dapat berjalan dengan efektif dan efisien.

2. Takwa Virtual sampai Aktual

Kita bisa mengelompokkan takwa dalam kelompok virtual dan aktual. Di era digital ini, kita sudah akrab dengan istilah virtual. Benar saja kita bisa bertakwa di dunia virtual. Bahkan ide-ide kita, inovasi-inovasi yang masih berada dalam pikiran kita, untuk membangun negeri bisa kita masukkan sebagai takwa virtual. Sedangkan takwa aktual seperti bisa kita lihat sehari-hari, misalnya, membantu fakir miskin, berzakat, dan berjamaah.

3. Kerja Menciptakan Lapangan Kerja

Bekerja, barangkali, adalah tindakan takwa paling penting. Setiap orang harus bekerja. Setiap orang harus berpartisipasi positif untuk kemajuan alam semesta ini. Dan bekerja adalah bentuk partisipasi setiap warga.

Bisa kita bayangkan betapa besar nilai takwa bagi orang-orang yang menciptakan lapangan kerja. Maka para pengusaha yang takwa, benar-benar, meraih nilai keutamaan yang berlimpah.

4. Takwa Pendidikan

Untuk bisa bertakwa, kita memerlukan ilmu. Maka program pendidikan yang berkualitas dan bisa dijangkau oleh seluruh rakyat menjadi suatu keharusan. Inovasi pendidikan, pendidikan digital, tersedianya beasiswa secara luas, perlu terus dikembangkan.

Pendidikan dasar paling penting adalah matematika dan bahasa. Keduanya, matematika dan bahasa, bagaikan dua sayap yang mengantarkan putra-putri kita terbang tinggi. Sebaliknya, lemah dalam dua bidang ini, menjadikan generasi muda kalah bersaing. Gagal melamar kerja, mau pun, gagal berkarya. Tanpa sayap, mereka tidak bisa terbang.

Secara nasional, kita perlu merancang program pendidikan yang mendorong, dan menjamin setiap anak, menguasai matematika dan bahasa dengan kompetensi tinggi. Sehingga, generasi muda kita bisa ber-inovasi di bidang sains-teknologi serta cakap berkomunikasi dalam beragam bahasa. Saya mencoba merancang program belajar matematika yang mudah dan menyenangkan dengan metode APIQ, bisa diakses kapan saja, oleh siapa saja, melalui canel youtube.com/pamanapiq. Saya yakin, dengan komitmen tinggi menteri pendidikan dan presiden, maka pendidikan Indonesia akan segera melejit.

Kemampuan terpenting kedua, setelah matematika dan bahasa, adalah kecerdasan emosi. Kita perlu membekali anak-anak kita, melalui pendidikan, kemampuan mengelola emosi secara personal dan interpersonal. Anak-anak kita perlu mahir mengenali kapan mereka bosan, bagaimana cara mengubah bosan menjadi santai, bagaimana meningkatkan motivasi untuk meraih prestasi konsisten dan beragam jenis emosi pribadi lainnya. Sedangkan secara interpersonal, anak-anak perlu mahir bagaimana cara kerja sama dalam tim, cara negoisasi, dan cara sehat berkompetisi. Kecakapan emosi ini tidak perlu diteorikan secara rumit. Kecakapan emosi diajarkan melalui teladan dan sedikit arahan. Saya membahas tema kecerdasan emosi ini dalam buku saya Quantum Quotient: Kecerdasan Quantum.

Ketiga, kecakapan terpenting untuk anak kita, adalah kecerdasan spiritual. Anak kita mampu memaknai seluruh perjalanan hidup – dan matinya. Anak-anak kita berkomitmen untuk dinamis bergerak maju di jalur takwa. Lagi-lagi, kecerdasan spiritual, juga, tidak perlu diteorikan secara rumit. Kita hanya perlu mendidik anak-anak kita melalui teladan dan sedikit arahan.

5. Takwa Kesehatan

Kesehatan adalah dasar bagi setiap manusia agar bisa bertakwa dengan optimal. Maka menjaga kesehatan menjadi jalan takwa yang penuh makna. Riset dan inovasi di dunia kedokteran, teknologi medis, farmasi, dan lain-lain benar-benar bernilai penting.

6. Prinsip Takwa Ekonomi

Kita perlu merumuskan beberapa prinsip takwa ekonomi. Karena prinsip ekonomi yang umum, memperoleh keuntungan sebesar-besarnya dengan biaya sekecil-kecilnya, tidak berlaku lagi. Atau, setidaknya, prinsip seperti itu tidak bisa lagi menjadi yang utama. Kita perlu prinsip alternatif untuk takwa ekonomi. Berikut ini adalah beberapa prinsip terpenting.

6.1 Manusia Bekerja

Prinsip pertama adalah setiap manusia wajib bekerja. Ikan tercipta untuk berenang. Apa artinya ikan jika tidak boleh berenang? Burung tercipta untuk terbang. Apa artinya jadi burung bila tidak boleh terbang? Manusia tercipta untuk bekerja. Apa artinya manusia tanpa kerja?

Tentu saja, manusia bekerja secara manusiawi. Manusia menghasilkan nilai ekonomi melalui kerja yang sah, legal, dan bermartabat. Menghasilkan uang tanpa kerja perlu diselidiki. Memenangkan uang 100 M dari undian lotere atau judi, bukan dari kerja bermartabat, perlu diwaspadai. Meski uang besar dapat membeli banyak hal, 100 M itu, justru bisa merusak kemanusiaan. Ketagihan judi, tidak mau kerja keras, angan-angan kosong bisa meruntuhkan tatanan ekonomi.

Perlu tetap waspa jika uang 100 M itu Anda peroleh dari warisan, apalagi, dari korupsi. Lobi sana-sini demi korupsi, mencuri uang negara, bagaimana pun, bukanlah kerja yang bermartabat. Hal seperti itu akan merusak ekonomi serta kemanusiaan.

Setiap orang butuh kerja, produktif dan bermartabat, untuk menjadikan hidupnya bermakna – dan matinya. Bekerja bukan hanya untuk menghasilkan uang. Tetapi, bekerja adalah untuk menghasilkan manusia yang bertakwa.

6.2 Pilihan Kewajiban

Prinsip kedua, kita adalah manusia merdeka. Kita bebas memilih. Meski kita punya kewajiban bekerja, di saat yang sama, kita punya kebebasan untuk memilih jenis kerja produktif bermartabat. Beberapa orang bisa memilih menjadi pegawai negeri atau swasta, menjadi tentara, wirausaha, atlit, seniman, atau lainnya.

Setiap orang wajib memilih jenis kewajiban untuk berpartisipasi dalam tatanan ekonomi. Tentu saja, partisipasi ekonomi bisa bersifat langsung atau tidak langsung. Bisnis kuliner, misalnya, adalah kegiatan yang berpartisipasi ekonomi secara langsung. Sementara, menulis puisi adalah kegiatan yang berpartisipasi ekonomi secara tidak langsung. Pendidikan, umumnya, berpartisipasi ekonomi secara tidak langsung. Bagaimana pun keduanya, langsung dan tidak langsung, sama-sama merupakan kewajiban yang wajib dijalankan oleh anggota masyarakat.

6.3 Semua Sama

Prinsip ketiga, semua orang adalah sama. Setiap warga punya kedudukan yang sama untuk berpartisipasi, berkontribusi, secara ekonomi. Konstitusi menjamin hak setiap warga untuk meraih prestasi.

Orang miskin atau orang kaya, sama-sama, memiliki kedudukan yang terhormat dari sisi ekonomi. Mereka, orang miskin atau kaya, berhak untuk bekerja memajukan kehidupan ekonomi masyarakat. Konstitusi mengatur tatacara agar setiap anggota masyarakat bisa bekerja. Sementara, setiap anggota masyarakat wajib meningkatkan kemampuan dirinya sedemikian hingga mampu berkontribusi secara ekonomi dalam segala situasi.

6.4 Perbedaan

Prinsip keempat, mengakui perbedaan. Setiap orang memiliki minat dan bakat yang unik. Sehingga, wajar saja bila terjadi perbedaan di mana-mana. Perbedaan perlu diakui dan diterima sejauh itu memenuhi dua kriteria.

Pertama, perbedaan, bisa diterima jika, merupakan konsekuensi wajar dari penerapan kebebasan memilih. Seorang yang memilih bisnis kuliner tentu saja akan berbeda dengan orang lain yang bekerja di pertanian.

Kedua, perbedaan bisa diterima jika memberi dampak yang lebih baik kepada pihak yang lemah. Saat ini terjadi perbedaan. Kemudian, perbedaan ini akan berubah ke bentuk perbedaan baru. Maka perbedaan baru ini bisa diterima, jika, memberikan dampak yang lebih baik kepada pihak yang lemah.

Sebagai ilustrasi, terjadi inovasi pada perusahaan. Hasil inovasi ini berdampak naiknya kekayaan Bos bertambah 8 Trilyun rupiah. Pada saat yang sama, hasil inovasi ini, berdampak menurunnya penghasilan karyawan 1 juta rupiah, masing-masing, dari 1 juta karyawan yang ada. Perubahan perbedaan seperti itu tidak bisa diterima – meski sah secara legal.

Alternatifnya, barangkali, biarkan kekayaan Bos meningkat 6 T. Di saat yang sama, pendapatan karyawan juga meningkat 1 juta rupiah, masing-masing, dari seluruh 1 juta karyawan. Dalam kasus terakhir ini, perbedaan bisa diterima. Meski peningkatan kekayaan Bos jauh lebih tinggi, 6 Trilyun, tetapi pendapatan karyawan juga meningkat walau hanya 1 juta.

6.5 Manusia Kosmos

Prinsip kelima, adalah manusia kosmos atau anthrocosmos. Manusia, kita, adalah warga dari kosmos, alam raya. Di saat yang sama, kosmos alam raya adalah diri kita sendiri.

“Barang siapa berbuat baik maka untuk dirinya sendiri.”

Makrokosmos adalah pandangan yang menyatakan dunia luar, misal kegiatan ekonomi di restoran, adalah realitas di luar diri kita. Sehingga, kegiatan ekonomi yang baik pada restoran itu berdampak baik pada dunia luar. Tidak secara langsung berdampak pada alam dalam diri saya.

Mikrokosmos, justru, menyatakan dalam diri kita ada alam raya yang lengkap seperti alam raya di luar itu. Sehingga, kita perlu berbuat baik ke dalam diri kita sendiri. Kita perlu mengenal diri kita sendiri lebih mendalam.

Anthrocosmos, atau manusia kosmos, mengakui kedua realitas di atas. Di dunia luar memang ada kegiatan ekonomi di restoran, di saat yang sama, kegiatan ekonomi di restoran itu sejatinya adalah ada dalam diri kita sendiri. Sehingga semua kegiatan ekonomi yang baik, sejatinya, adalah kebaikan kepada diri kita sendiri. Sebaliknya, perilaku buruk terhadap dunia luar, sejatinya, memperburuk diri sendiri.

Sebagai manusia kosmos, kita terus berjuang memberikan yang terbaik kepada sistem ekonomi masyarakat. Sekali waktu, kita berbuat salah adalah wajar. Kemudian, kita memperbaiki kesalahan dan menebus setiap kesalahan. Semua kebaikan ekonomi itu ada dalam diri kita.

Dengan lima prinsip ekonomi takwa di atas, maka prinsip mencari keuntungan sebesar-besarnya bukanlah yang paling utama. Barangkali, prinsip “mencari keuntungan terbesar” hanya bisa menjadi prinsip keenam atau lebih bawah lagi. Kita perlu mengembangkan takwa di bidang ekonomi. Dan, mengembangkan ekonomi sebagai manifestasi dari takwa.

Dan masih banyak medan takwa yang bisa kita ulas pada tulisan-tulisan selanjutnya.

Bagaimana menurut Anda?

Candu Agama Dogmatis

“Dan aku mengikuti agama nenek moyangku: Ibrahim, Ishak dan Yakub. Tidak pantas bagi kami (para nabi) mempersekutukan sesuatu apa pun dengan Allah. Itu adalah dari karunia Allah kepada kami dan kepada manusia (semuanya); tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur.” (QS 12 : 38)

Wajar saja, kita mengikuti agama orang tua kita. Dan itu realitas yang sering kita jumpai. Ayah dan ibu adalah orang yang mencintai dan meyayangi kita. Maka secara naluriah, kita juga menyayangi ayah dan ibu kita. Salah satu bentuknya berupa mengikuti ajaran dan agama ayah ibu kita. Nabi Yusuf adalah contoh sempurna, bagi manusia, yang mengikuti ajaran nenek moyang dengan baik. Dan Nabi Yusuf mengambil sikap penuh tanggung jawab menjaga ajaran agama yang lurus.

Misteri Struktur Kuno Miniatur Alam Semesta

Meski demikian, ada hal-hal yang tidak pantas kita lakukan. Misalnya, melanggar ajaran agama. Itu merupakan pelanggaran individu. Maka orang tersebut harus bertanggung jawab terhadap sikap yang dia pilih. Dia tidak sah bila berdalih, “Kami mengikuti ajaran bapak-bapak kami.”

1. Rujukan Masa Lalu
2. Paling Benar
3. Jaminan Masa Depan
4. Solusi
5. Dinamika Agama

Dalih-dalih itu, secara bertahap, berubah menjadi candu. Dalih yang menimbulkan kecanduan. Marx, tampaknya, menyerang cara berpikir agama seperti itu. Agama adalah candu, kata Marx. Barangkali, Nietzsche, yang paling keras menyerang agama, “Tuhan telah mati.” Apakah serangan-serangan semacam itu tepat sasaran?

1. Rujukan Masa Lalu

Saya mendefinisikan cara berpikir yang hanya mengikuti masa lalu, tanpa mengambil tanggung jawab, adalah cara berpikir dogmatis. Pemikiran semacam ini bisa terjadi di bidang ekonomi, politik, budaya, dan termasuk agama. Sehingga pengertian ini bergantung kepada perilaku pemikiran orang per orang bukan harus merupakan ajaran suatu madzab tertentu.

Marx mengkritik agama sebagai candu dengan alasan pemeluk agama, waktu itu, tidak bertanggung jawab terhadap api revolusi. Mereka hanya mengikuti ajaran nenek moyang. Seharusnya, menurut Marx, mereka sadar dan bangkit untuk berjuang. Yang terjadi, mereka justru sudah nikmat dengan candu-candu itu.

Kita, di Indonesia, perlu membangkitkan semangat agama yang dinamis.

Baru-baru ini, Gus Miftah menjadi sorotan lantaran mendapat tuduhan sebagai kafir. Saya lihat, Gus Miftah berhasil menunjukkan sikap dinamis dalam beragama. Dia menunjukkan bahwa banyak tokoh agama di masa lalu, dan masa sekarang, yang juga berkunjung ke gereja. Dan Gus Miftah mengambil tanggung jawab atas tindakannya bahwa itu untuk membangun kesatuan hidup berbangsa.

Sementara, pihak yang mengkritisi juga bisa mengambil sikap yang dinamis. Mereka menunjukkan bahwa para tokoh agama terdahulu melarang kita, muslim, untuk masuk gereja. Maka mereka menyimpulkan bahwa tindakan Gus Miftah adalah salah.

Dua pandangan beragama di atas, Gus Miftah dan pengkritik, sama-sama dinamis. Maka bisa terjadi dialog yang juga dinamis. Hasil dialog itu bisa saja sepakat untuk tetap berbeda atau bisa juga ada titik temu. Tidak ada masalah dengan hasil akhir. Yang penting justru proses dialog yang berlangsung dengan damai dan saling respek.

Yang bisa menjadi masalah adalah klaim berdasar masa lalu, itu adalah candu.

Misal pihak pengkritik bisa menyatakan, “Nabi melarang muslim masuk gereja. Bukan saya yang melarang. Tapi Nabi yang melarang. Jelas-jelas itu larangan Nabi. Saya, dan kita semua, harus mematuhi Nabi.”

Klaim bahwa Nabi melarang muslim masuk gereja bisa jadi benar adanya – dalam konteks yang tepat. Tetapi klaim bahwa Nabi menyatakan Gus Miftah bersalah tentu sulit dibuktikan. Di sini, kita perlu mengambil sikap dinamis sehingga secara sosial kita bisa tumbuh hidup bersama. Bermasyarakat dengan saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran.

2. Paling Benar

Lanjutan dari cara berpikir dogmatis adalah sikap merasa paling benar. Sebuah konsekuensi yang wajar karena mereka mendasarkan pikiran kepada kebenaran masa lalu, puluhan bahkan ribuan tahun yang lalu. Ajaran nenek moyang yang dianggap sudah benar 100% – tanpa harus mengkaji konteks.

Sikap merasa paling benar, sejatinya, sah-sah saja. Bahkan itu sikap yang diperlukan. Yang menjadi masalah adalah efeknya: menganggap yang lain salah. Karena ajaran saya yang paling benar maka ajaran orang lain adalah salah. Sikap ini bahaya dalam bermasyarakat. Lebih bahaya lagi ketika membalik logika berpikirnya. Karena orang lain salah maka saya adalah benar. Akibatnya, anggota masyarakat terpancing untuk mencari-cari kesalahan pihak lain agar diri mereka merasa benar. Kita perlu mencegah perilaku semacam itu.

3. Jaminan Masa Depan

Kekuatan berpikir dogmatis berikutnya adalah adanya jaminan masa depan yang indah. Jika masa depan indah itu tidak terjadi di alam dunia ini maka akan terjadi di alam akhirat nanti.

Kita memang harus mencari masa depan yang lebih baik. Kita investasi di bidang ekonomi, pendidikan, dan kesehatan untuk mempersiapkan masa depan yang cerah. Kita perlu semacam jaminan agar berhasil meraih masa depan yang lebih baik. Karena “Dan sungguh akhirat itu lebih baik bagimu dari dunia.”

Masalah baru timbul, ketika jaminan masa depan ini menyebabkan kita melupakan tanggung jawab masa kini. Biarlah orang kafir menguasai ekonomi tapi mereka nanti akan masuk neraka, sedangkan kita akan masuk surga. Biarlah orang kafir menguasai teknologi, politik, budaya, dan semuanya. Mereka akan masuk neraka. Hanya kita yang masuk surga. Pandangan semacam ini benar-benar jadi masalah yang nyata.

Kehidupan ekonomi, politik, budaya, dan lainnya adalah tanggung jawab kita. Inilah tugas kita, berpartisipasi memperbaiki situasi untuk menjadikannya lebih baik. Memang sulit tetapi, bersama-sama, kita bisa.

4. Solusi

Di bagian ini, kita melihat ada masalah dengan cara berpikir dogmatis. Sebelumnya, kita juga mengenal resiko cara berpikir sekular. Selanjutnya, kita perlu merumuskan solusinya yaitu: takwaisasi.

Kita perlu memaknai ulang takwa sebagai proses meraih prestasi, memberi kontribusi, di jalan ilahi; dengan cara menjalankan perintah dan menjauhi larangan.

Meraih prestasi adalah tanggung jawab kita. Baik sebagai seorang pribadi ataupun secara bersama-sama secara sosial. Dalam prosesnya, kita perlu mengembangkan sikap saling membantu dalam kebaikan, saling mencegah dalam keburukan, dan saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran.

5. Dinamika Agama

Apa yang harus kita lakukan?

Kita perlu mengubah candu agama menjadi dinamika. Agama kembali menjadi spirit perjuangan umat manusia. Agama menerangi masa lalu, masa kini, dan masa depan. Agama adalah pencerah umat manusia.

Bagaimana caranya?

Salah satu yang paling penting adalah menolak candu agama kemudian menggantinya dengan tanggung jawab dinamis.

A. Bunga bank adalah haram karena dilarang oleh agama. Bagaimana kamu tahu itu haram? Karena kitab suci menyatakan bahwa bunga bank adalah haram. Cara pandang sepert ini adalah candu. Maka kita perlu mengganti dengan cara pandang dinamis.

B. Bunga bank adalah haram karena termasuk riba. Dan riba dilarang oleh kitab suci. Bagaimana kamu tahu bahwa bunga bank termasuk riba sesuai maksud kitab suci? Saya mengkaji beragam sifat bunga bank dan itu memenuhi sebagai sifat-sifat riba. Saya menyimpulkan bahwa bunga bank termasuk riba sehingga haram. Cara pandang seperti ini adalah dinamis. Berani mengambil tanggung jawab masa kini. Kita bisa mendiskusikannya lebih detil, dengan saling hormat, apakah bunga bank benar-benar termasuk riba.

C. Bunga bank adalah halal karena tidak termasuk riba. Bagaimana kamu tahu? Saya mengkaji sifat-sifat bunga bank, dan, itu berbeda dengan riba. Maka, kesimpulan saya, bunga bank tidak haram. Cara pandang seperti ini juga dinamis, bukan candu. Kita bisa, dengan saling hormat, mengkajinya lebih jauh. Kesimpulan akhir bisa saja dissensus atau berbeda pendapat, meski diharapkan ada konsensus.

D. Investasi di perumahan Madina Alami adalah keuntungan dunia dan akhirat. Bagaimana kamu tahu? Karena, kata ustadz saya, perumahan Madina Alami adalah perumahan syariah. Apakah kamu tidak khawatir terjadi penipuan investasi? Tidak mungkin. Perumahan Madina Alami tidak akan melakukan penipuan. Cara pandang seperti ini adalah candu. Bisa berbahaya bagi diri sendiri dan orang lain. Kita perlu menghindarinya. Kita perlu mengubahnya.

E. Investasi di perumahan Madina Alami adalah keuntungan dunia dan akhirat. Bagaimana kamu tahu? Saya sudah mengkajinya dan melakukan survey. Prosepknya bagus serta lengkap perijinannya termasuk ijin dari OJK. Apakah kamu tidak khawatir terjadi penipuan investasi? Bisa jadi. Tetapi dengan proses bisnis yang layak seperti itu, termasuk semua perijinan, saya kira, peluang penipuan kecil sekali. Jadi saya menyimpulkan investasi perumahan Madina Alami adalah menguntungkan dunia dan akhirat. Cara pandang seperti ini adalah dinamis, perlu kita kembangkan terus.

Agama candu menolak tanggung jawab. Melemparkan tanggung jawab kepada masa lalu, atau masa depan, atau kepada pihak lain yang dianggap otoritatif. Padahal, itu semua bisa saja tipuan semata. Kita perlu meninggalkan candu.

Agama yang dinamis, berani, mengambil tanggung jawab. Kita mempelajari pengalaman masa lalu, prospek masa depan, dan situasi masa kini. Mempertimbangkan pendapat dari sumber-sumber yang otoritatif. Untuk kemudian, kita mengambil sikap penuh tanggung jawab demi kebaikan pribadi, keluarga, dan masyarakat luas.

Bagaimana menurut Anda?

Petaka Sekularisasi

“Tetapi boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS 2 : 216)

Hal unik dalam diri kita adalah kemampuan menciptakan makna. Manusia mampu berimajinasi. Kita mampu menjadikan kejadian biasa, terasa, lebih bermakna. Lebih membahagiakan. Kedipan mata seorang kekasih terasa lebih membahagiakan dari bumi seisinya.

1. Manusia Hermeneutik
2. Melampaui Batas
3. Taruhan Peradaban
4. Gelap Masa Depan dan Masa Lalu
5. Evolusi
6. Masa Depan Cemerlang

Interpretasi bisa berjalan dua arah: positif atau negatif. Pandemi boleh jadi membuat orang makin menderita, kehilangan pekerjaan, sampai kehilangan anggota keluarganya. Di saat yang sama, pandemi bisa menjadi medan inovasi. Berlomba-lomba melahirkan inovasi bidang kesehatan, bisnis, dan edukasi.

Bilangan posotf (+) dan negatif (-) | Samudra Kehidupan

Sekularisasi, tentu saja, bermakna positif dan negatif. Makna positif sekularisasi adalah keberhasilannya mendorong peradaban Barat makin maju. Makna negatif sekularisasi, di antaranya, menjadikan manusia lepas kendali. Pada tulisan ini, saya akan mencoba membahas beberapa sisi negatif dari sekularisasi. Sementara bagi yang tertarik diskusi sisi positif sekularisasi silakan merujuk ke tulisan-tulisan saya lainnya.

1. Manusia Hermeneutik

Filsafat kontemporer, awal abad 21 ini, sebagian besar membahas hermeneutik. Filsafat tentang seni menafsirkan. Segala pengetahuan manusia berkaitan, bahkan berdasarkan, interpretasi. Pengetahuan subyektif, misal Anda suka rasa pedas, tentu merupakan interpretasi. Bahkan pengetahuan obyektif, misal 12 + 1 = 13, juga berdasarkan suatu interpretasi. Dengan demikian, filsafat mengajak kita untuk lebih terbuka dengan beragam interpretasi dan saling menghormati.

Barangkali ada yang bertanya, bagaimana pengetahuan obyektif, misal 12 + 1 = 13, adalah interpretasi. Pernyataan 12 + 1 = 13 bernilai benar bila kita interpretasikan linear seperti bilangan asli pada umumnya. Tetapi bila kita menginterpretasikan sistem bilangan pada jam dinding maka tidak ada angka 13. Sehingga, pada interpretasi jam dinding, yang benar adalah 12 + 1 = 1. Dalam disiplin matematika, aljabar abstrak, kita mengenal teori seperti di atas adalah sebagai sistem aksiomatik.

Vattimo menyarankan kita lebih terbuka dengan pandangan banyak pihak. Kita hanya bisa menafsirkan sesuatu secara lemah belaka, “weak thought.” Penafsiran kita pun erat kaitannya dengan pengalaman kita sebagai individu. Maka orang lain juga menafsirkan berdasarkan pengalaman mereka. Sehingga nilai kebenaran terkait dengan cakrawala pikiran masing-masing subyek. Meski demikian, kita tetap harus bertanggung jawab terhadap semua penafsiran kita. Bertanggung jawab adalah hak setiap manusia – dan kewajiban pula.

Kitab suci, sejak ribuan tahun yang lalu, mengingatkan kita agar lebih hati-hati. Boleh jadi apa yang kita sangka buruk, sejatinya, adalah baik. Dan mungkin saja yang kita sangka baik, sejatinya, adalah buruk. Hanya Tuhan Yang Maha Tahu. Manusia sekedar mengintrepretasikan belaka. Bisa benar, bisa salah. Sekularisasi adalah sebentuk penafsiran manusia.

2. Melampaui Batas

Kelemahan sekularisasi adalah tidak ada batas yang jelas. Batas-batas hanya hasil pikiran, tepatnya hasil interpretasi, mereka belaka. Padahal melampaui batas adalah sumber petaka kemanusiaan: petaka sekularisasi.

Berapa batas konsumsi makan seseorang tiap hari? Paham sekular tidak bisa menetapkan batas yang pasti. Sebagai akibatnya banyak orang sekular bisa kelebihan berat badan. Kesehatan memburuk. Penyakit darah tinggi, jantung, kanker, dan lain-lain bisa mengancam. Di belahan dunia lain, banyak orang kelaparan. Tidak cukup tersedia makanan untuk sehari-hari.

Hubungan cinta antar anak manusia, paham sekular juga tidak bisa menentukan batas dengan jelas. Asal mereka suka sama suka, silakan saja. Pandangan semacam itu tampak sulit dibantah. Sampai, akhirnya, ada lonjakan penyakit kelamin berbahaya. Apalagi HIV AIDS pernah melanda. Semua itu sekedar teguran bagi umat manusia.

Waktu kerja pun tanpa batas. Ketika seseorang terpesona dalam berkarya maka ia bisa bekerja tanpa henti 24 jam, 48 jam, dan seterusnya. Baru sadar ketika kesehatan menegurnya. Sudah terlambat untuk memperbaikinya.

“Berlebih-lebihan membuat kalian jadi lalai. Sampai kalian masuk ke liang kubur.”

3. Taruhan Peradaban

Paham sekular juga tidak bisa memastikan masa depan peradaban manusia. Jangankan masa depan dalam jangka panjang, manusia juga tidak mampu memastikan apa yang akan terjadi 1 hari besok.

Taruhan dan judi adalah hal yang biasa dalam pandangan sekular.

Pertumbuhan ekonomi sekular di berbagai tempat, salah satunya, ditopang oleh bisnis judi semisal kasino. Sejauh bisnis tersebut adalah legal maka sah-sah saja dijalankan. Padahal, judi bisa memorak-porandakan generasi masa depan. Dalam jangka pendek, bisnis judi bagai katalisator pertumbuhan ekonomi. Dalam jangka panjang, tidak ada kepastian. Lebih banyak keraguan.

Bagi kebanyakan masyarakat, judi berbahaya, misal togel. Masyarakat hanya berangan-angan menang judi, yang tidak pernah terjadi, secara statistik kecil sekali kemungkinannya. Malas kerja, apalagi berkarya. Mereka frustasi. Kembali tenggelam dalam jurang judi.

Bagi bandar, yang mengambil keuntungan dari judi, adalah prospek bisnis. Bandar sadar betul, judi adalah “zero sum game”. Kemenangan segelintir orang dalam judi menyebabkan kerugian lebih banyak pada pihak lain. Totalnya adalah nol, tidak ada penambahan nilai. Bila kita memperhitungkan biaya operasional judi maka totalnya justru negatif.

Dunia sekular berjalan dalam taruhan besar – yang sudah terbukti lebih banyak kalah.

“Dengan minuman keras dan judi itu, setan hanyalah bermaksud menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu, dan menghalang-halangi kamu dari mengingat Allah dan melaksanakan shalat, maka tidakkah kamu mau berhenti?” (QS 5 : 91)

4. Gelap Masa Depan dan Masa Lalu

Kita, manusia, tidak tahu masa lalu dan masa depan. Kita tidak tahu apa yang terjadi sejuta tahun yang lalu. Pun kita tidak tahu apa yang terjadi sejuta tahun ke depan. Bahkan pengetahuan kita tentang obyek di depan kita adalah sekedar interpretasi, dari sudut pandang hermeneutik.

Istri cantik yang ada di depan mata kita “hanyalah” interpretasi. Pertama, cantik itu persepsi subyektif. Bagi kita cantik. Bagi orang lain bisa beda. Bagi anak-anak saya, misalnya, istri saya itu bukan cantik tapi super cantik, karena ibu mereka.

Kedua, apa yang saya lihat dari istri saya adalah interpretasi dari kombinasi jutaan cahaya yang menimpa mata saya, lalu dikirim ke sistem syaraf. Dari itu semua, saya mempersepsi ada istri saya di depan saya. Meski, secara obyektif, ada istri saya di depan mata, tetapi pengetahuan saya terdiri dari beragam interpretasi.

Bila kita meluaskan prespektif mengarah pada kejadian sejuta tahun yang lalu maka gelap. Gelap gulita. Kita memang bisa menyusun pengetahuan spekulatif tentang masa lalu itu. Jelas, pengetahuan itu akan tersusun interpretasi di atas interpretasi, tanpa batas yang pasti. Padahal sejuta tahun lalu “pasti” ada sesuatu secara obyektif, konsekuensi logika.

Pengetahuan kita tentang masa depan lebih tidak pasti lagi, karena berupa prediksi. Suatu prediksi yang didasarkan atas interpretasi, makin tidak pasti. Sehingga pengetahuan kita tentang kejadian sejuta tahun di masa depan adalah gelap. Pengetahuan yang merupakan campuran interpretasi dan prediksi, pasti tidak pasti.

Orang-orang sekular benar-benar berada dalam kegelapan masa lalu dan masa depan.

5. Evolusi

Perubahan adalah karakter sejati alam semesta. Juga karakter manusia. Kita perlu terus evolusi. Sekularisasi juga perlu evolusi.

Maka saya mengusulkan program takwa sebagai alternatif membangun peradaban manusia.

Program takwa atau takwaisasi adalah memaknai takwa sebagai proses meraih prestasi, memberi kontribusi, di jalan ilahi; dengan cara menjalankan perintah dan menjauhi larangan. Lebih lengkap konsep takwaisasi silakan merujuk ke tulisan-tulisan dan video-video saya.

6. Masa Depan Cemerlang

Program takwaisasi adalah program masa depan cemerlang, masa lalu benderang, dan masa kini gemilang. Bagaimana takwaisasi bisa sehebat itu?

Bisa. Karena manusia memang hebat punya akal yang mampu menangkap simbol-simbol menghasilkan idea-idea yang melebihi semua konsep atau pun imajinasi.

Manusia membaca kitab suci – tertulis atau pun alami. Kitab suci adalah simbol-simbol yang memancarkan cahaya menerangi masa depan, masa lalu, dan masa kini. Dengan sinergi harmonis akal, imajinasi, dan pemahaman, manusia menebarkan getaran rasa cinta ke seluruh semesta.

Bagaimana menurut Anda?

Gelombang Sekularisasi

“Ingatlah, kamu adalah orang-orang yang diajak untuk menginfakkan (hartamu) di jalan Allah. Lalu di antara kamu ada orang yang kikir, dan barangsiapa kikir maka sesungguhnya dia kikir terhadap dirinya sendiri. Dan Allah-lah Yang Mahakaya dan kamulah yang membutuhkan (karunia-Nya). Dan jika kamu berpaling (dari jalan yang benar) Dia akan menggantikan (kamu) dengan kaum yang lain, dan mereka tidak akan (durhaka) seperti kamu (ini).” (QS 47 : 38)

Tegas sekali: tugas kita adalah berinfak, menolong orang-orang yang kesulitan. Dan, nyatanya, tidak sedikit orang yang kikir. Termasuk yang manakah diri kita?

Menjelang idul fitri kita pasti berbagi kekayaan dengan membayar zakat fitrah. Ditambah lagi dengan berbagi zakat harta dan infak sedekah lainnya. Bahkan, kadang, kita membaca berita ada orang kaya yang berbagi sedekah dengan mengumpulkan ribuan orang miskin datang ke rumah orang kaya itu. Saya sendiri mengusulkan agar orang kaya itu yang datang ke rumah orang miskin untuk membagikan sedekahnya. Atau orang kaya itu bisa membentuk panitia atau membayar orang untuk membagikan sedekahnya. Bukan mengumpulkan calon penerima sedekah.

1. Amal Sekular
2. Lonjakan Sekularisasi
3. Masyarakat Takwa
4. Gelombang Takwa

Mendatangi rumah orang miskin banyak manfaatnya. Kita jadi tahu potret realitas kehidupan orang miskin sebenarnya. Kita bisa lebih mudah memahami kesulitan orang miskin. Dan, di masa pandemi ini, kita mencegah terjadinya kerumunan.

1. Amal Sekular

Untuk menjadi dermawan tidak ada syarat orang tersebut beragama atau sekular atau atheis. Setiap orang bisa jadi dermawan. Setiap orang bisa berinfak untuk menolong orang miskin. “Maka berlomba-lombalah dalam kebaikan.”

Biden, presiden USA, negara sekular terbesar di dunia, menetapkan tambahan pajak bagi orang kaya. Orang USA yang berpenghasilan di atas 1 juta dollar kena pajak tambahan, dampak pandemi. Trilyunan dolar yang terkumpul dari pajak ini digunakan untuk membantu orang “miskin” di USA. Barangkali trilyunan dolar ini termasuk “infak” terbesar di dunia.

Sebaik-baiknya amal Biden, dia kan hidup sekular di negara sekular. Maka amalnya tidak akan diterima, beberapa orang bisa berpandangan begitu. Meski pemimpin dari negara sekular, Biden sendiri adalah orang yang beragama. Maka dia yakin, beriman, terhadap kehidupan yang transenden nan suci. Dengan demikian kita tidak bisa menghakimi Biden dengan sudut pandang yang salah. Sebaliknya, kita bisa melihat seberapa baik kebijakan Biden bagi rakyat “miskin” yang tengah kena dampak pandemi. Apalagi, bila dilihat dari kacamata sekular, pembelaan Biden kepada orang “miskin” adalah baik.

Dalam catatan sejarah, kita punya banyak contoh-contoh pemimpin yang luar biasa. Misalnya, Umar bin Abdul Azis adalah raja yang adil. Dia, Umar, malam itu sedang menganalisis laporan keuangan kerajaan. Tiba-tiba pintu ruang kerjanya diketuk dari luar oleh anaknya. Umar mematikan lampu lalu membuka pintu.

“Mengapa ayah mematikan lampunya?” tanya anaknya.
“Kamu akan berbicara dengan ayah tentang urusan apa?” jawab Umar.
“Apa hubungannya dengan lampu?”
“Lampu ini dibiayai oleh uang negara. Jika kamu berbicara urusan keluarga kita maka tidak berhak menggunakan fasilitas negara.”

Umar, tercatat dalam sejarah, sebagai raja atau khalifah terbaik. Umar berhasil membawa kemakmuran bagi seluruh rakyat. Umar membela hak-hak orang-orang miskin. Umar berhasil menyatukan umat yang sebelumnya banyak silang pendapat. Umar menjabat sebagai raja bukan karena warisan dari ayahnya. Umar dipilih oleh mayoritas wakil rakyat waktu itu. Dan Umar berpesan agar jabatan raja berikutnya jangan diwariskan ke anaknya. Benar saja, raja berikutnya bukanlah anak Umar. Padahal, waktu itu, sistem monarki turun-temurun banyak terjadi.

Di era kontemporer, kita punya contoh M Yunus dengan program Grameen Bank. Yunus berhasil meraih Nobel perdamaian atas prestasinya mengentaskan kemiskinan di Bangladesh. Terbukti membela orang-orang miskin, bahkan yang paling miskin.

Amal kebaikan, apalagi yang berdampak sosial, menjadi medan kompetisi bagi kemanusiaan. Siapa pun berhak beramal demi kemanusiaan yang adil beradab. Orang beragama boleh beramal. Orang ateis juga boleh. Tentu saja, orang sekular juga boleh beramal.

2. Lonjakan Sekularisasi

Membaca sejarah sekularisasi tentu banyak versi. Comte meyakini bahwa masyarakat sekular yang mendasarkan keyakinan kepada sains adalah bentuk masyarakat paling matang. Sehingga masyarakat akan bergerak menuju masyarakat sekular di seluruh belahan dunia.

Sementara Marx, tokoh sosialis yang dekat dengan ateis, menyatakan bahwa masyarakat akan menuju ke masyarakat kapitalis. Kemudian, kapitalis ini, secara alami, membangkitkan kesadaran proletar untuk menuntut revolusi. Pada akhirnya, masyarakat akan matang sebagai masyarakat komunis.

Tampaknya, gelombang sekularisasi ini tak bisa dibendung lagi. Masyarakat akan bergerak menjadi masyarakat sekular di seluruh dunia. Benarkah demikian?

Taylor mencatat fenomena yang berbeda dalam bukunya “A Secular Age” yang terbit pada tahun 2007 lalu. Meski terjadi penambahan sekularisasi di berbagai wilayah, di saat yang sama, terjadi re-konversi besar-besaran di tempat berbeda. Banyak orang, atau masyarakat, yang kembali menjadi pemeluk agama yang taat. Yang dulu tidak beragama menjadi beragama. Yang dulu tidak rajin ibadah menjadi taat ibadah. Dari pandangan Taylor ini, kita justru bisa optimis bahwa masyarakat kontemporer, bisa jadi, makin religius.

Membaca sejarah masa lalu saja kita bisa banyak versi yang berbeda. Maka, wajar saja, bila memprediksi masa depan akan memberikan hasil lebih beragam. Apalagi kita hendak memprediksi sesuatu yang erat kaitannya dengan perilaku manusia, makin sulit diprediksi. Sejauh ini, kita tidak bisa mengkonfirmasi kebenaran determinisme sejarah. Ada banyak kemungkinan berkembangnya arah sejarah.

3. Masyarakat Takwa

Saya mengusulkan revisi makna konsep takwa. Yang pada gilirannya, dengan makna baru takwa ini, kita berjuang membentuk masyarakat takwa.

Takwa bermakna sebagai proses meraih prestasi dan memberi kontribusi di jalan ilahi; dengan cara menjalankan perintah Tuhan dan menjauhi laranganNya.

Pengendalian diri, melalui puasa misalnya, adalah salah satu cara untuk menjadi takwa. Buah takwa paling sederhana adalah berbagi untuk sesama. Dimulai dengan takwa pribadi berlanjut menjadi takwa secara sosial bersama-sama.

4. Gelombang Takwa

Sejarah umat manusia bergelombang, kadang naik, kadang turun. Sekularisasi, yang dianggap banyak orang, sedang naik, nyatanya banyak penurunan di berbagai tempat. Masyarakat takwa, juga, bergelombang. Kadang naik, kadang turun. Saatnya, kita kembali mendorong menjadi masyarakat takwa.

Bagaimana menurutu Anda?

Prospek Sekularisasi

“Pernahkah kamu perhatikan benih yang kamu tanam? Kamukah yang menumbuhkannya ataukah Kami yang menumbuhkan? Sekiranya Kami kehendaki, niscaya Kami hancurkan sampai lumat; maka kamu akan heran tercengang, (sambil berkata), “Sungguh, kami benar-benar menderita kerugian, bahkan kami tidak mendapat hasil apa pun.” Pernahkah kamu memperhatikan air yang kamu minum?” (QS 56 : 63 – 68)

Manusia mudah terkecoh, mudah tertipu, oleh ilusi yang diciptakan sendiri. Ketika kita menanam benih, lalu tumbuh. Kita terbiasa berpikir bahwa diri kita yang menanam yang membuat benih itu tumbuh. Benarkah kita yang membuat tumbuh? Bukan. Benih itu sendiri yang punya kekuatan untuk tumbuh. Tuhan yang telah menciptakan benih itu lengkap dengan hukum alamnya.

Siapa Menanam Kejujuran Ia akan Menuai Kepercayaan - Semua Halaman -  Intisari

1. Sukses Sekularisasi
2. Definisi Sekularisasi
3. Sekularisasi Vs Agama
4. Program Takwa

Ketika sepasang kekasih menikah, bisakah mereka membuat anak? Tidak. Meski pun banyak orang yang mengatakan bisa membuat anak. Yang mereka lakukan hanya itu-itu saja. Tuhan yang menciptakan sel telur, menciptakan sel sperma, dan mempertemukan mereka. Lalu Tuhan pula yang menciptakan janin sampai menjadi bayi dan dewasa.

Manusia, benar-benar mudah, menipu diri sendiri.

Sepatutnyalah kita lebih banyak memuji keagungan Tuhan.

1. Sukses Sekularisasi

Negara-negara Barat berhasil meraih kemajuan besar dengan program sekularisasi, memisahkan urusan agama dengan urusan negara. Sebelum ada program sekularisasi, di Barat, sering terjadi pertikaian atas nama agama. Karena masing-masing pihak mengaku punya pembenaran berdasar agamanya maka pertikaian ini sering memakan korban. Penderitaan besar menimpa masyarakat Barat dalam rentang ratusan tahun.

Benarkah sekularisasi menyebabkan negara-negara menjadi lebih maju?

Beberapa negara Islam mencoba menerapkan program sekularisasi. Tampaknya, mereka tidak berhasil maju. Kita bisa mencoba mengkaji kasus negara Mesir dan Turki. Masa lalu Mesir dan Turki lebih gemilang dibanding dengan masa sekularisasi.

Dengan demikian tidak ada jaminan bahwa sekularisasi akan berbuah sukses. Khusus di negara dengan penduduk mayoritas muslim, beragama Islam, sekularisasi mengalami banyak kesulitan. Barangkali karena Islam tidak mengenal pemisahan kehidupan dunia dan akhirat, fisikal dan spiritual. Islam memandang kehidupan dunia demikian penting sebagai medan beramal yang bernilai spiritual dan ukhrawi.

2. Definisi Sekularisasi

Para ahli berbeda pendapat tentang definisi sekularisasi. Charles Taylor mencoba mendefinisikan sekularisasi dengan beberapa pendekatan. Pertama, sekularisasi adalah pemisahan agama dari urusan negara. Semua kepentingan umum, terbebas dari simbol-simbol dan klaim agama apapun. Urusan negara, urusan umum, adalah urusan manusia dengan manusia.

Kedua, sekularisasi adalah pembatasan ritual-ritual agama. Apalagi di tempat umum, dilarang pelaksanaan ritual agama apapun. Tentu saja simbol-simbol agama juga disembunyikan dari ruang publik.

Ketiga, sekularisasi adalah alternatif keyakinan dari beragam keyakinan. Sekularisasi adalah pilihan hidup di antara beragam pilihan hidup lainnya. Orang sekular meyakini kehidupan ini bersifat imanen, hanya ada alam ini saja. Sementara orang yang tidak sekular, orang beragama, meyakini kehidupan imanen dan transenden. Ada alam lain, yang bersifat transenden, bukan hanya alam materi kasat mata ini.

Dengan ragam pemahaman sekularisasi seperti di atas, memang, ada konsekuensi wajar bahwa manusia bertanggung jawab penuh atas hidupnya. Sehingga masyarakat berpikir cerdas untuk menemukan solusi terbaik memajukan kehidupan sosial. Masyarakat menyelesaikan berbagai macam masalah dengan prosedur demokrasi. Tidak ada orang yang berhak mengklaim paling benar. Semua ide diuji oleh akal sehat dan hukum positif. Konsekuensi sekularisasi ini, secara logis, mendorong kemajuan kemanusiaan.

3. Sekular vs Agama

Paham sekular dalam bentuk paling kuat barangkali berupa ateis, tidak mengakui adanya Tuhan. Tetapi, secara umum, sekularisasi tidak bertentangan dengan agama. Contoh nyata bisa kita lihat di berbagai tempat. Di mana, di negara-negara sekular, terdapat banyak penduduk yang beragama. Di USA banyak orang beragama. Bahkan di Prancis, yang begitu kuat sekularisasinya, berlimpah orang beragama. Dan di negara komunis, yang sering bersifat ateis, misal di Rusia dan Cina, pemeluk agama makin berkembang terus.

Tentu saja banyak perbedaan antara pemeluk agama dan penganut sekularisme. Bahkan sering terjadi benturan wacana.

Kaum sekular dengan mudah menuduh kaum beragama sebagai kekanak-kanakan. Tidak berani mengahadapi realitas dunia. Bersembunyi di balik nama Tuhan. Sedangkan kaum sekular adalah manusia dewasa matang yang berani menghadapi dunia atas nama dirinya sendiri.

Sebaliknya, kaum beragama bisa menuduh kaum sekular adalah kaum yang tersesat. Mereka, kaum sekular, tidak memahami kebenaran sejati. Mereka terperosok di pojok dunia. Rugi di dunia, juga rugi di akhirat.

Di era digital, yang makin mudah berkomunikasi, tiba saatnya untuk menjalin dialog yang lebih produktif bagi kedua pihak. Bagaimana pun, apapun posisi kita, kita sama-sama hidup di bumi yang sama. Yang perlu kita jaga bersama-sama.

4. Program Takwa

Solusi terbaik, menurut saya, adalah program takwa. Dalam makna, yang sering saya tuliskan. Takwa adalah proses memberi kontribusi, meraih prestasi, di jalur ilahi dengan cara melaksanakan perintah Tuhan dan menjauhi larangan Tuhan.

Indonesia bukan negara sekular, pun bukan negara agama. Indonesia adalah negara Pancasila, negara yang berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Program sekularisasi Indonesia, bila hendak dijalankan, akan terlalu mahal ongkos sosialnya. Cak Nur pernah mengkaji pengalaman ini pada tahun 1970an. Sedangkan program negara agama, bila hendak dijalankan, juga akan menuntut ongkos sosial yang tidak kalah mahal. Berbagai komponen masyarakat akan terus berjuang untuk mengembalikan Indonesia menjadi negara Pancasila.

Program takwa menjadi pilihan terbaik dan bersesuaian dengan Ketuhanan Yang Maha Esa.

Bagaimana menurut Anda?

Struktur Takwa

“Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu dan dengarlah serta taatlah; dan infakkanlah harta yang baik untuk dirimu. Dan barang-siapa dijaga dirinya dari kekikiran, mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS 64 : 16)

Derajat takwa adalah derajat yang sangat mulia. Orang yang bertakwa adalah orang yang mendapat petunjuk setiap membaca AlQuran. Orang islam sejati bertujuan mencapai husnul khatimah, akhir yang baik, dengan cara melaksanakan takwa dengan sebenar-benarnya takwa. Orang beriman mendapat perintah wajib melaksanakan puasa dengan tujuan akhir agar menjadi orang-orang yang bertakwa.

5 Tingkatan Struktur dan Ruang Lingkup dalam Alam Semesta

Kata takwa, atau taqwa, kaya akan makna. Maka sudah benar kita menyerap langsung istilah takwa tersebut sehingga tetap menyimpan kekayaan akan makna sejatinya itu. Makin kita mengkaji makna takwa maka makin takjublah kita dengan keluasan dan kedalamannya.

1. Pasangan Tawakkal
2. Tataran Takwa
3. Karya Nyata
4. Tantangan Sekular

Dalam tulisan ini, saya akan membahas lagi makna takwa dengan cara menyandingkan dengan makna tawakkal. Pendekatan ini tetap selaras dengan makna takwa secara umum: taat kepada Allah, takut kepada Allah, menjaga diri, tobat, ikhlas, menjalankan perintah Allah, menjauhi larangan Allah, dan lain-lain.

1. Pasangan Tawakkal

Takwa bermakna manusia menerima amanah dari Allah untuk menjadi wakil, khalifah, di bumi guna mengelola alam semesta sesuai perintah dan menjauhi laranganNya. Dalam makna ini, takwa berkonsekuensi agar manusia mengukir prestasi nyata di alam semesta. Sementara tawakkal bermakna berserah diri, mewakilkan, mempercayakan sepenuhnya urusan segala sesuatu kepada Allah semata. Proses tawakkal berupa pengabdian tulus ikhlas hanya untuk mendapat ridha Allah. Apapun keputusan Allah adalah yang terbaik bagi seluruh alam semesta.

Sepanjang sejarah, para pemikir besar berusaha merumuskan hubungan manusia, alam, dan Tuhan. Dengan mempertimbangkan makna takwa maka kita dapat menjelaskan hubungan segitiga ini.

Tuhan, berhubungan dengan alam, sebagai rabb – pencipta, pengelola, dan pemelihara. Sementara itu, Tuhan berhubungan dengan manusia, dengan menunjuk manusia sebagai wakilNya guna mengelola alam semesta. Manusia menerima penunjukkan ini dengan jalan takwa dalam mengelola alam semesta. Nyatanya, manusia itu lemah dan bodoh. Maka manusia perlu mendapat bimbingan dan pertolongan Allah untuk menjalankan semua tugas di bumi. Manusia mengaku di hadapan Tuhan, dirinya banyalah seorang abdi. Manusia mempercayakan kembali segala urusan hanya milik Allah semata. Manusia berserah diri, tawakkal.

Dalam struktur ini, kita melihat konsep takwa dan tawakkal berbeda tataran. Meski dua hal itu bertemu dalam diri manusia menjadi satu. Sehingga manusia adalah satu kesatuan utuh: dalam diri manusia ada takwa sekaligus ada tawakkal. Setiap kata takwa mengandung makna tawakkal dan setiap kata tawakkal mengandung makna takwa. Meski demikian, manusia juga harus mampu membedakan tataran takwa dan tawakkal itu.

2. Tataran Takwa

Takwa berada dalam tataran hubungan manusia dengan alam semesta, termasuk dengan manusia lainnya. Sementara, tawakkal berada dalam tataran hubungan manusia, seorang diri, di hadapan Tuhan. Meski demikian, manusia perlu bimbingan guru, dan Nabi, untuk menghadap Tuhan.

Di mana manusia bisa menemui Tuhan? Mudah saja. Manusia bisa menemui Tuhan dengan cara memberi makan kepada orang miskin, memberi ilmu kepada orang yang tidak mengerti, memberi obat kepada orang yang sakit. Ini adalah jalan menemui Tuhan melalui jalur takwa. Manusia berperan sebagai wakil Tuhan mengabulkan doa orang yang lapar, orang yang kurang ilmu, dan orang yang sedang sakit.

Dengan demikian, untuk menjalankan tugas bertakwa, manusia membutuhkan sains dan teknologi – termasuk manajemen dan bisinis dalam arti luas. Kita perlu mengkaji bagaimana cara mengentaskan kemiskinan, meningkatkan kualitas pendidikan, dan menjaga kesehatan seluruh masyarakat. Bagaimana jika tugas sebesar itu kita serahkan kembali kepada Allah? Bukankah Allah Maha Kuasa? Tentu bisa saja begitu. Tetapi dengan cara itu kita sudah gagal menjalani proses takwa, sebagai wakil Tuhan, dan mengambil jalan pintas menempuh proses tawakkal.

Di sinilah, sering terjadi rancu berpikirnya manusia. Yang seharusnya bertakwa malah bertawakkal. Mari tetap semangat menjalani proses takwa. Tuhan menjamin memberi jalan keluar bagi orang-orang yang bertakwa. Bahkan menjanjikan rejeki dari arah yang tidak disangka-sangka.

Untuk mengatasi kemiskinan kita perlu mengembangkan sains ekonomi termasuk teknologi bisnis yang inovatif. Kita menyaksikan perkembangan teknologi digital sudah membuka banyak lapangan kerja. Kita perlu mengarahkan kekuatan digital ini untuk mengentaskan kemiskinan dan mengatasi ketimpangan ekonomi.

Tentu saja kita perlu menciptakan struktur ekonomi yang adil bagi seluruh rakyat. Perlindungan anti monopoli, sistem pajak progresif dinamis, dan perlindungan konsumen. Tampak jelas untuk menjalankan itu semua kita perlu pemerintahan yang kuat, efektif, dan adil. Makin jelas pentingnya sistem demokrasi agar masyarakat dapat berpartisipasi dengan baik.

Untuk meningkatkan kualitas pendidikan maka kita perlu mengembangkan ilmu pendidikan dalam arti luas. Teknologi digital bisa kita optimalkan untuk menyebarkan konten edukasi secara cepat dan luas. Untuk menjaga kesehatan masyarakat kita perlu mengembangkan ilmu kedokteran dalam arti luas. Benar-benar banyak tugas manusia sebagai wakil Tuhan untuk memakmurkan alam semesta. Tentu saja. Kita tidak sendiri. Kita hidup bermasyarakat. Maka kita perlu membangun sistem sosial sedemikian hingga masing-masing dari kita mampu melaksanakan takwa, peran sebagai wakil Tuhan, dengan sebaik-baiknya.

Setelah kita melakukan proses takwa dengan sungguh-sungguh maka pantaslah kita bertawakkal. Atau ketika kita menjalani proses takwa dengan sungguh-sungguh, bersamaan itu, di dalam hati terdalam, kita bertawakkal kepada Allah.

3. Karya Nyata

Takwa adalah karya nyata. Bukan sekedar klaim bahwa saya sudah menjalankan perintah Tuhan dan menjauhi laranganNya. Hasil takwa bisa kita verifikasi dengan beragam cara. Misal ketika kita bertakwa dalam bentuk memperbaiki ekonomi umat maka kita bisa mengukur bagaimana kenaikan pendapatan orang-orang miskin. Kita bisa memanfaatkan beragam metode statistik untuk mengukurnya. Bila berhasil maka bisa kita lanjutkan. Bila, ternyata, gagal maka kita perlu melakukan koreksi untuk perbaikan ke depan. Gagal atau berhasil tetap merupakan suatu proses menjalankan program takwa.

Diskusi rasional antara banyak pihak bisa dilakukan. Baik pihak-pihak tersebut beragama sama atau beda agama. Bahkan mungkin saja diskusi, dalam memperbaiki ekonomi, dengan orang sekular. Ambil yang baik, tinggalkan yang buruk. Kita berlomba-lomba dalam kebaikan.

4. Tantangan Sekular

Masyarakat sekular berkembang akhir-akhir ini. Mereka meng-klaim bahwa kemajuan peradaban manusia adalah hasil dari sekularisasi. Beberapa orang sekular, memang, tetap beragama. Sementara, ada bentuk sekular ekstrem sampai ke bentuk atheis yang tidak mengakui Tuhan.

Dalam analisis kita, sekular bisa kita pandang sebagai program menjalankan takwa tanpa bertanggung jawab kepada Tuhan. Sehingga makna takwa menjadi tidak tepat lagi bagi aktivitas orang-orang sekular dalam mengelola alam. Barangkali istilah yang lebih cocok adalah eksplorasi alam, atau yang lebih keras, eksploitasi alam.

Dalam eskplorasi alam, orang sekular tidak mengklaim sedang menjalankan tugas ketuhanan. Maka paling banter mereka bisa mengklaim sedang menjalankan tugas kemanusiaan – demi kemakmuran bersama. Sehingga tanggung jawab mereka adalah tanggung jawab kemanusiaan.

Tantangan sekularisasi ini akan kita bahas di bagian selanjutnya.

Bagaimana menurut Anda?