Kampanye MBDK Lagi

Lonjakan pandemi covid kembali mengancam Indonesia. Beberapa hari terakhir peningkatan kasus positif baru sangat tinggi. Mendekati 10 ribu kasus baru dalam sehari.

Saya mengusulkan lagi “Kampanye MBDK” untuk meredakan pandemi. MBDK adalah Makan Bersama Dilarang Keras.

Melanggar MBDK adalah melanggar semua protokol kesehatan. Dampaknya, resiko penyebaran corona menjadi menggila. Mari kampanyekan MBDK, prokes, dan meningkatkan imunitas.

Kita perlu mempertimbangkan resiko yang bisa terjadi seperti di India misalnya. Satu hari, waktu itu, penambahan kasus baru bisa melebihi 400 ribu orang. Tentu rumah sakit tidak cukup. Dokter tidak memadai. Layanan kesehatan gagal jalan. Korban meninggal ribuan nyawa melayang. Kita tidak ingin pandemi yang ngeri terjadi.

Perhatikan juga negara tetangga kita, Malaysia. Saat ini, mereka terpaksa lock down total. Pandemi mengamuk tak terkendali. Malaysia benar-benar bersebelahan dengan kita, Indonesia.

Ayo lindungi diri, lindungi keluarga, dan lindungi negara dari pandemi. Ayo kampanyekan MBDK: Makan Bersama Dilarang Keras.

Solusi Pandemi

Solusi pandemi ada 3 fokus – seperti pernah saya tulis setahun yang lalu. Solusi ini tampak mudah saja tapi, nyatanya, tidak semudah yang dikira.

A. Manajemen Perilaku

Solusi manajemen perilaku adalah solusi terbaik. Semua orang bisa melakukan manajemen perilaku bagi dirinya sendiri dan membantu orang terdekatnya. Pemerintah sudah meng-kampanyekan 3M: memakai masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan pakai sabun. Atau lebih lengkap kita perlu taat sesuai prosedur kesehatan – prokes.

Kampanye MBDK adalah kampanye prokes sesuai anjuran pemerintah dan para pakar. Melanggar MBDK berdampak melanggar prokes dengan resiko tertular corona sangat besar.

Orang yang makan bersama, tentu, melanggar prokes maka harus dilarang keras.

Pertama, tidak memakai masker. Orang yang makan bersama melepas maskernya ketika makan.

Kedua, tidak menjaga jarak. Orang yang makan bersama ingin akrab dengan berdekat-dekatan.

Ketiga, tidak mencuci tangan secara berulang. Sebelum makan, mereka bisa cuci tangan. Tapi ketika makan bersama, droplet bertebaran ke mana-mana. Mereka tidak cuci tangan. Berulang-ulang suapan, mereka tidak cuci tangan.

Patuhi MBDK: Makan Bersama Dilarang Keras.

B Inovasi Percepatan Kesembuhan

Para ahli kesehatan – dan terapis – bisa mengembangkan inovasi untuk mempercepat kesembuhan para pasien yang terinfeksi covid. Berbagai jenis obat, terapi, dan vaksin terus dikembangkan.

Vaksin mempunyai peran ganda. Di satu sisi menguatkan perilaku masyarakat untuk tidak mudah tertular covid. Di sisi lain, diharapkan, bisa menyembuhkan orang yang sakit. Setidaknya, meringankan gejala bagi mereka yang terinfeksi.

C Kepemimpinan Efektif

Pandemi bukan sekedar urusan pribadi. Pandemi adalah tanggung jawab sosial. Maka kita perlu pemimpin yang efektif. Di saat yang sama, kita perlu rakyat yang bersikap patuh kepada pemimpin. Kita perlu kepemimpinan yang efektif.

Pandemi tidak bisa diselesaikan oleh seorang diri. Bahkan superman tidak akan mampu menyelesaikan pandemi. Meski pun dibantu batman, ironman, sampai spiderman tidak akan bisa menyelesaikan pandemi. Kita perlu bergerak selangkah seirama dalam kepemimpinan yang efektif untuk membasmi pandemi.

Dan solusi sederhana bagi kita: mari kampanyekan MBDK lagi!

Bagaimana menurut Anda?

Solusi Kemiskinan dengan Cepat Kaya

Kemiskinan adalah masalah utama di dunia ini. Di Indonesia kemiskinan makin memburuk. Di seluruh belahan dunia juga, kemiskinan, tampak memburuk. Barangkali keterpurukan rakyat miskin ini merupakan dampak dari pandemi covid yang berkepanjangan.

Di sisi lain, banyak orang-orang kaya yang melonjak menjadi super kaya. Apakah bisa, cara melipatgandakan kekayaan orang-orang kaya itu, diterapkan untuk mengentaskan kemiskinan dunia?

“Hanya” dengan merger, bergabung, Gojek dan Tokopedia kekayaan Nadiem berlipat sampai 321 kali lebih besar menjadi 4 Trilyun rupiah lebih. Sedangkan kekayaan William berlipat 500 kali lipat lebih besar menjadi mendekati 5 Trilyun rupiah. Sepertinya, tidak sulit meningkatkan kekayaan orang kaya menjadi super kaya seperti kisah di atas. Pertanyaan masih di depan kita, apakah ada cara yang mirip untuk mengentaskan kemiskinan sedikit membaik menjadi kelompok orang menengah?

Kemiskinan Dunia

Sebelum pandemi, kita optimis akan mampu mengatasi kemiskinan. Data global, dunia, menunjukkan jumlah orang miskin makin mengecil.

Mungkin gambar teks yang menyatakan 'The estimated number of poor spiked globally due to the pandemic Historical data and projections of the number of people living in poverty from 2015 to 2021, in millions. Historical Pre-pandemic projection 741 740 Pandemic projection More severe projection 700 752 660 689 731 620 645 580 2015 '16 '17 '18 588 '19 '20 Source: World Bank 2021 Note: Extreme poverty is measured as the number of people living on less than $1.90 per day. 2017 is the last year with official global poverty estimates. NICK MOURTOUPALAS/THE WASHINGTON POST'

Tahun 2015 jumlah orang miskin 741 juta jiwa, turun menjadi 689 juta jiwa, dan akan turun terus tinggal 645 juta jiwa, proyeksi 2019. Kabar baik ini terhempas dengan pandemi covid-19. Proyeksi optimis bahwa 2021 turun menjadi 588 juta jiwa tidak bisa menjadi nyata. Justru, estimasi 2021 kemiskinan melonjak menjadi 731 juta jiwa. Bahkan bisa melonjak menjadi 751 juta jiwa, yang lebih buruk dari tahun 2015 itu.

Kemiskinan di Indonesia

Kondisi kemiskinan di Indonesia tampaknya tidak jauh beda dengan kondisi global. Sebelum pandemi kita optimis akan berhasil menangani kemiskinan. Ketika pandemi datang, harapan melayang.

Mungkin gambar satu orang atau lebih dan teks yang menyatakan 'PROFIL KEMISKINAN DI INDONESIA SEPTEMBER 2020 Berita Resmi Statistik No. 16/02/Th. XXIV, 15 Februari 2021 Jumlah (Juta Orang) dan Persentase Penduduk Miskin 28,17 28,60 28,28 28,59 27,73 28,51 28,01 27,76 27,77 11,36% 11,46% 26,58 25,95 25,67 11,25% 10.96% 11.22% 25,14 27.55 26,42 24,79 11,13% 10.86% 10.70% 10.64% 10.12% 9.82% 9,66% 0.19% 9,78% 9.41% 9.22% Maret 2013 Sept 2013 Maret 2014 Sept Maret 2014 2015 Sept 2015 Maret 2016 Sept 2016 Maret 2017 Sept 2017 Maret 2018 Sept 2018 Maret 2019 Sept 2019 Maret 2020 Sept 2020'

Pada tahun 2020 ada lebih dari 27 juta jiwa penduduk Indonesia di bawah garis kemiskinan. Garis kemiskinan Indonesia di kisaran 550 ribu rupiah. Atau ada lebih dari 27 juta orang di Indonesia yang penghasilannya kurang dari 550 ribu rupiah per bulan. Setara dengan penghasilan kurang dari 20 ribu rupiah per hari. Berapa biaya kamar kost di kota kecil, kota kabupaten? Di kisaran 550 ribu juga per bulan. Penghasilan mereka hanya cukup untuk sewa kost 1 kamar.

Analisis internasional memberikan hasil yang berbeda. Dengan batas kemiskinan 1,9 dolar maka hanya ada 2,42% penduduk Indonesia yang miskin. Tetapi batas ini terlalu ekstrem miskinnya. Kita bisa mempertimbangkan batas kemiskinan di 3,20 dolar per hari. Maka ada hampir 20% penduduk Indonesia yang miskin. Lebih dari 50 juta jiwa di Indonesia adalah miskin.

Mari kita cermati makna 3,2 dolar per hari.

Asumsikan 1 dolar setara 14 000 rupiah. Daya beli dolar di Indonesia (PPP) sekitar 3 kali lipat dari US.

Maka 3,2 dolar bermakna bagi orang Indonesia sebagai:

3,2 x 14 000 x (1/3) = 14 933 rupiah = 15 000 rupiah

Makna 15 000 rupiah ini tidak jauh beda dengan analisis dalam negeri yang sekitar 18 000 rupiah. Namun hasil akhir jumlah orang miskin beda dengan signifikan. Analisis dalam negeri menunjukkan ada 10% orang miskin (setara 27 juta jiwa). Sedangkan analisis internasional menunjukkan hampir 20% penduduk miskin (setara sekitar 50 juta jiwa). Barangkali perlu kajian lebih mendalam untuk mengungkap perbedaan di atas. Bisa saja ada asumsi yang beda.

Solusi Kemiskinan

Mari fokus kepada solusi kemiskinan. Cara cepat kaya yang berhasil mengantar Nadiem dan William melonjak kekayaannya sampai 500 kali lipat seperti di atas, tampaknya, sulit sebagai solusi mengentaskan kemiskinan. Karena kekayaan orang super kaya itu bisa melonjak lantaran disumbang oleh orang-orang miskin – dan menengah. Jutaan orang pengguna Gojek dan Tokopedia adalah yang menyumbang valuasi saham jadi melonjak.

Chomsky, pemikir US usia 92 tahun, menyebut fenomena semacam itu sebagai “transfer” kekayaan dari orang miskin ke orang kaya – secara legal formal tentunya. Kadang Chomsky menyebutnya sebagai “perampokan” kepada orang miskin oleh orang kaya. Barangkali istilah “transfer” lebih lembut.

Maka kita perlu merumuskan beragam cara mengentaskan kemiskinan. Berikut ini beberapa ide dari saya.

  1. Kualitas pendidikan yang merata. Apalagi Mas Nadiem saat ini sebagai mendikbudristek. Maka Nadiem punya kesempatan besar untuk mengentaskan kemiskinan dengan memperbaiki kualitas dan kuantitas pendidikan. Saya sendiri lebih fokus kepada inovasi pendidikan matematika.
  2. Pemerataan kekayaan dan pekerjaan. Ketimpangan ekonomi di Indonesia makin menjadi-jadi dengan rasio Gini = 0,385 – yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin. Saya sendiri mengembangkan cara menghitung nilai ketimpangan n = 2,25 yang menggambarkan ketimpangan penghasilan orang Indonesia mengikuti kurva pangkat n = 2,25. Lebih buruk dari ketimpangan kuadrat. Sementara ketimpangan kekayaan sampai n = 10. Program pemerataan bisa dengan sistem pajak yang fokus substansi, koherensi, dan transparansi. Termasuk inovasi program amal.
  3. Revolusi digital. Kita baru memasuki era digital maka perlu memanfaatkan revolusi digital untuk mengentaskan kemiskinan – bukan menambah kemiskinan. Peluang besar terbuka luas di hadapan kita. Secara personal, kita, dan generasi muda, perlu belajar banyak untuk mencontoh sukses pengalaman Mas Nadiem, William Tanujaya, Ahmad Zaky, dan para enterpreneur digital lainnya. Secara sistem, kita perlu menjamin bahwa revolusi digital meningkatkan keadilan bagi seluruh rakyat. Majulah Indonesia.

    Bagaimana menurut Anda?

Kampanye MBDK

Kita memerlukan kampanye MBDK untuk mengatasi pandemi covid. Semoga kita segera mampu mengendalikan pandemi. Covid-19 mereda di negeri ini dan seluruh dunia. Harapan yang tidak mudah menjadi kenyataan.

MBDK : Makan Bersama Dilarang Keras

Kita sudah tahu dengan pasti solusi pandemi adalah pembatasan mikro dengan menerapkan 3M: Memakai masker, Menjaga jarak, Mencuci tangan pakai sabun. Vaksin memberi kekuatan tambahan untuk menghadapi pandemi.

Gagal MBDK

Kegagalan MBDK menyebabkan lonjakan kasus covid di berbagai tempat, diduga kuat. Kantor-kantor di DKI yang sudah menerapkan prokes tetap menjadi kluster penularan covid. Tenaga medis yang lebih ketat dalam prokes tetap tertular corona. Guru-guru ke sekolah tanpa ada siswa tetap sakit corona. Pejabat yang sudah divaksin pun bisa terinfeksi covid.

Melanggar MBDK berarti melanggar semua 3M dengan bahaya tingkat tinggi. Makan bersama harus dilarang keras!

3M - Masyarakat Umum | Covid19.go.id
  1. Makan bersama pasti melepas masker. Melanggar aturan pertama yang seharusnya pakai masker.
  2. Makan bersama tidak menjaga jarak. Umumnya, makin dekat makin akrab. Apalagi sambil bincang-bincang dan tertawa gembira. Melanggar aturan menjaga jarak.
  3. Makan bersama tidak mencuci tangan berulang kali. Barangkali sebelum makan, bisa saja, mencuci tangan pakai sabun. Ketika makan sambil ngobrol maka droplet ada di mana-mana. Mereka tidak mencuci tangan lagi, berulang-ulang. Melanggar aturan mencuci tangan.

Kampanye MBDK: Makan Bersama Dilarang Keras kita mulai dari lingkungan terdekat kita. Meluas ke berbagai lokasi. Dan tentu saja peran pemimpin sangat kita nantikan dalam kampanye MBDK. Kita butuh pemimpin yang benar untuk menghadapi pandemi. Kita perlu mematuhi pemimpin yang benar.

Tentu saja makan bersama diijinkan untuk sesama anggota keluarga di rumah.

Bagaimana menurut Anda?

Indonesia Berkelanjutan: Bisa?

Tentu bisa. Bagaimana kita bisa yakin bahwa Indonesia bisa berkelanjutan? Pasti. Karena keberkelanjutannya Indonesia ada di tangan kita. Rakyat yang berkomitmen untuk merawat persatuan, kemajuan, dan keadilan menjamin Indonesia akan terus berkelanjutan sampai masa depan. Semoga.

Lima Kriteria Untuk Barang/Kemasan Berkelanjutan – Rahyang Nusantara

Orang-orang bisa saja ragu dengan masa depan Indonesia. Pandemi covid telah meruntuhkan pertumbuhan ekonomi negeri ini. Pun juga mengancam kesehatan dan nyawa banyak jiwa. Jumlah orang miskin melonjak. Ketimpangan makin nyata. Ditambah lagi kasus korupsi negeri ini makin ngeri. Sementara KPK, lembaga anti korupsi, sibuk dengan kasus TWK yang kontroversial itu.

Belum lagi dunia pendidikan. Sekolah kita sudah libur lebih dari satu tahun. Betapa besar kerugian kita?

Bagaimana pun kita tetap bisa optimis. Kita akan berhasil melewati pandemi dengan baik. Kita akan mengatasi beragam kesulitan dalam negeri dengan seluruh kemampuan yang kita punya.

Solusi ada di Tangan Kita

Memang benar solusi ada di tangan kita, ada di tangan manusia. Terasa begitu mudah bila solusi ada di tangan kita. Nyatanya tidak semudah itu. Karena ada banyak tangan di Indonesia. Ada jutaan kepala di Indonesia. Ada tumpang tindih kepentingan dari banyak pihak.

Kita memerlukan suatu gambaran besar solusi yang utuh dan representatif. Kemudian masing-masing dari kita fokus kepada masing-masing peran untuk memberi kontribusi. Berikut ini, kita akan mendiskusi 6 transformasi yang bisa kita pertimbangkan untuk membangun Indonesia yang berkelanjutan.

Kesetaraan Pendidikan dan Gender

Transformasi pendidikan menjadi yang berkualitas dan bisa diakses oleh seluruh penduduk, merata, di seluruh penjuru. Menjamin kesetaraan semua umat manusia baik yang berbeda jender, suku, agama, ekonomi, atau apa pun.

Untuk meningkatkan kualitas pendidikan saya mengembangkan metode belajar matematika yang asyik dan terbukti berhasil meningkatkan kualitas pendidikan matematika. Baik untuk siswa mau pun guru dapat memanfaatkan metode matematika apiq yang kreatif ini. Barangkali Mas Nadiem berminat menerapkan metode dan sistem pendidikan APIQ secara nasional, silakan saja, saya siap mendukung.

Sedangkan untuk menjangkau pendidikan berkualitas sampai pelosok saya menyiapkan tool dan sistem yang bisa diterapkan sampai pelosok negeri. Tentu perlu proses, waktu dan energi, untuk menerapkannya. Dan tetap terbuka dengan ide-ide improvement.

Makin banyak orang yang berjuang memajukan pendidikan dan kesetaraan di negeri ini maka makin besar peluang kita untuk membangun Indonesia berkelanjutan.

Kesehatan dan Demografi

Kita beruntung mendapat bonus demografi sampai beberapa puluh tahun ke depan. Jumlah usia produktif jauh lebih besar dari usia tidak produktif. Dua kali lebih besar atau lebih. Sehingga, ketika usia produktif ini benar-benar memproduksi jasa dan barang yang bernilai maka Indonesia segera maju dengan pesat.

Sayangnya, bonus demografi ini belum sempat kita optimalkan, kita sudah berhadapan dengan pandemi. Sehingga pengangguran melonjak. Orang-orang yang bekerja kehilangan pekerjaan. Anak-anak muda yang mencari pekerjaan makin sulit mendapatkan kerja. Pengangguran, dan kemiskinan, yang melonjak membahayakan bagi keberlanjutan Indonesia.

Maka kita perlu strategi khusus untuk benar-benar memanfaatkan bonus demografi ini. Saya sendiri berusaha menciptakan lapangan kerja dengan menciptakan instruktur profesional dalam bidang matematika kreatif. Dan saya membimbing banyak orang untuk menjadi youtuber edukasi, youtuber dengan konten positif. Dan tentu saja, kita perlu strategi yang lebih besar dengan hasil yang lebih besar. Bonus demografi semoga benar-benar menjadi bonus kemanusiaan.

Kesehatan benar-benar penting. Lebih-lebih di masa pandemi ini. Kita mengalami defisit anggaran menembus angaka 1000 trilyun di masa pandemi ini. Bukankah itu ngeri? Kita benar-benar perlu solusi. Seandainya pandemi covid-19 bisa diatasi, apakah kita sudah bersiap-siap potensi munculnya covid-21 atau covid-25?

Energi Tanpa Karbon dan Industri

Polusi udara oleh pabrik dan kendaraan bermotor mengancam alam Indonesia. Ditambah lagi kebakaran hutan. Membalik fungsi hutan sebagai paru-paru bumi menjadi perusak sistem pernafasan bumi. Bukan alam yang salah. Tetapi perilaku manusia yang menyebabkan kerusakan alam. Karbon dioksida yang ramah lingkungan, karena terlalu banyak, malah merusak lingkungan.

Mobil listrik saat ini sedang keren. Ditambah mobil listrik tidak mengeluarkan karbon dioksida. Maka banyak yang menganggap mobil listrik ramah lingkungan, benarkah? Tidak juga. Mobil listrik hanya memindahkan karbon dioksida. Yang semula menyembur dari knalpot, pada mobil bahan bakar biasa, menjadi menyembur di pembangkit listrik. Digunakan untuk mengisi batere mobil listrik.

Alternatifnya, kita perlu mengembangkan sumber energi yang ramah lingkungan misal energi matahari dan angin. Barangkali membajak sawah bisa memanfaatkan tenaga sapi seperti masa kakek-kakek kita? Saat ini banyak petani memanfaatkan mesin diesel yang tentu menambah karbon dioksida. Namun lebih banyak lagi karbon dioksida dari industri dan kendaraan di pusat kota. Kita memerlukan solusi komprehensif mengembangkan sumber energi yang terbebas dari karbon.

Makanan, Air, dan Laut Berkelanjutan

60% produk makanan (dan minuman) kemasan yang beredar di Indonesia adalah tidak sehat. Demikian berita tentang pabrik makanan yang berkelas internasional.

Indonesia memiliki tanah yang subur super luas. Maka kita punya potensi besar untuk kembali memproduksi makanan dan minuman sehat dari bumi ini. Kita punya IPB, Institut Pertanian Bogor, sebuah universitas yang fokus mengembangkan pertanian. Tiba saatnya, sekarang ini, penduduk Indonesia untuk meninggalkan makanan kemasan yang tidak sehat dan kembali ke makanan sehat asli negeri ini.

Belum lagi bila kita ingat sampah plastik dari kemasan makanan dan minuman begitu mengerikan. Beberapa tahun lalu, Bu Menteri Susi pernah menunjukkan bergunung-gunung sampah sedotan plastik di pantai dekat Jakarta. Sudah tidak sehat, makanan kemasan itu, juga merusak lingkungan. Ekosistem air dan tanah, juga laut, menjadi tercemar.

Beda dengan makanan sehat asli hasil bumi. Makanan hasil bumi menjadikan tubuh sehat. Dan sampahnya adalah sampah organik yang menjadi pupuk bagi bumi. Di saat yang sama, pohon, yang menghasilkan makanan sehat, juga menjaga air dalam tanah tetap seimbang.

Kita butuh program besar-besaran, strategi dan perencanaan matang, untuk kembali hidup sehat dengan produksi dan konsumi makanan sehat. Serta menjaga bumi, air, dan laut kita. Kita perlu menjaga Indonesia yang berkelanjutan.

Kota, Komunitas, dan Politik

Setiap wilayah tampak ber-evolusi menuju kota. Desa, lambat laun, berubah menjadi kota. Penduduk desa berbondong-bondong urbanisasi pindah ke kota. Dinamika kota merupakan dinamika yang wajar. Bahkan bisa jadi dinamika itu menunjukkan tanda kemajuan peradaban.

Masalah muncul ketika keseimbangan kota tidak lagi terjaga.

Kehidupan perlu berkembang lebih beradab dengan menjadi kota. Di saat yag sama perlu mempertahankan kehidupan yang arif nan bijak warisan leluhur kita dari desa. Hidup bersama membentuk komunitas saling memberi dan menerima. Konsekuensinya, pentingnya berkembang sistem politik yang bermartabat.

Sistem politik, yang awalnya adalah sarana bagi manusia hidup bersama selangkah seirama, dibelokkan demi kepentingan politik segelintir oknum. Politik menjadi alat untuk menindas manusia, untuk menumpuk kekayaan, dan untuk beragam keburukan besar. Kita perlu membangun kembali sistem politik yang sehat demi Indonesia yang berkelanjutan.

Revolusi Digital

Bertransformasi dengan memanfaatkan revolusi digital adalah kepastian di jaman milenial. Pandemi menyadarkan kita dengan terang-benderang. Sekolah tutup. Bisnis bangkrut. Dunia digital justru melejit sukses dengan adanya pandemi covid-19. Muncul milyuner-milyuner baru dari dunia digital.

Kita tahu bahwa revolusi digital membawa kebaikan dan keburukan. Maka kita perlu menjaga agar revolusi digital membawa manfaat besar bagi kemanusiaan berkelanjutan. Sementara, resiko revolusi digital bisa kita cegah atau, setidaknya, bisa kita minimalkan. Strategi dan perencanaan yang matang kita butuhkan sepenuhnya.

Tujuan Berkelanjutan

Para pemimpin di belahan dunia, tentu saja, telah menyadari pentingnya peradaban kemanusiaan yang berkelanjutan. Mereka telah meyusun 17 goal yang dikenal dengan SDG: Sustainable Development Goals. Kita terbantu mendapat panduan arah yang jelas dengan SDG ini. Bahkan SDG sudah melengkapi dengan beragam indikator. Sehingga kita bisa mengukur pencapaian SDG negara kita. Lalu membandingkan kemajuan tahun demi tahun. Dan kita juga bisa belajar dari keberhasilan negara-negara lain.

SDG paling utama, ke-1, adalah menghapus kemiskinan atau no poverty. Sampai SDG ke-17 adalah kemitraan, partnership, untuk mencapai beragam goal.

Indonesia berada pada urutan ke 101 dari 166 negara di dunia. Dari 17 SDG tidak satu pun berwarna hijau. Artinya tidak ada satu pun SDG yang berhasil dicapai oleh Indonesia. Perlu perjuangan lebih serius.

3 Kuning : masih ada tantangan (pendidikan, produksi konsumsi, iklim)
7 Jingga : masih ada tantangan penting (kemiskinan, jender, ekonomi, kota komunitas, bawah air, keadilan)
7 Merah : masih ada tantangan besar (kelaparan, kesehatan, air sanitasi, industri inovasi, ketimpangan, bumi, partnership)

Potret Indonesia seperti di atas tentu menjadi tantangan tersendiri bagi seluruh warga Indonesia. Lebih-lebih, masalah ini menjadi tugas berat bagi para pemimpin Indonesia yang peduli dengan kehidupan berbangsa dan bernegara.

Bagaimana menurut Anda?

Palestina Israel: Solusi Sementara Permanen

Sungguh memilukan. Palestina menjalani ibadah Ramadhan dalam situasi mencekam. Bahkan sampai lebaran telah ratusan atau ribuan jiwa, warga Palestina, menjadi korban perang 2021. Di sisi Israel, juga sama memilukannya. Saat warga Israel merayakan hari kepahlawanan nasional, mereka dihujani roket bom. Puluhan jiwa meninggal dan sampai ratusan luka-luka. Kabar baiknya, saat ini sudah berhenti. Gencatan senjata terjadi dengan peran Mesir sebagai penengah. Kita perlu solusi. Untuk dengan pasti, mengakhiri.

MAP_PALESTINE_WEST_BANK

Saya mencoba menuliskan beberapa ide solusi jangka pendek dan solusi jangka panjang di bagian bawah ini. Tidak ada solusi mudah. Pun tidak ada solusi yang bersifat pasti. Karena konflik ini melibatkan perilaku manusia secara luas maka perlu komitmen yang kuat dari semua pihak. Termasuk masyarakat internasional juga perlu mendukung perdamaian secara aktif.

Beberapa konsep berpikir yang perlu kita kembangkan, untuk solusi konflik Palestina Israel, adalah “matinya sejarah,” penolakan metanarasi tunggal, dan dinamika manusia.

Solusi Jangka Pendek

Menjaga perdamaian kawasan adalah solusi jangka pendek. Sambil menemukan akar masalah sebenarnya untuk kemudian diselesaikan dengan baik. Beberapa ahli mengidentifikasi beberapa akar masalahnya adalah: pendudukan, pengusiran, dan ketimpangan.

Baik Palestina mau pun Israel sama-sama menjadi bagian dari masalah ini. Sehingga mereka perlu sama-sama terbuka untuk mendengar suara-suara dari jagat raya.

Menjaga perdamaian adalah mutlak diperlukan. Kemanusiaan bisa berkembang dalam masyarakat yang damai. Tidak ada arti pembangunan bila perang meletus sewaktu-waktu. Berpikir sebaliknya juga perlu dipertimbangkan, “tidak ada perdamaian tanpa keadilan.” Masalah muncul, keadilan seperti apa yang dimaksud? Keadilan versi siapa? Keadilan berdasar aturan apa?

Maka solusi jangka pendek, kita perlukan: menjaga perdamaian. Sambil mencari solusi yang adil, dari beragam sudut pandang, kita konsisten menjaga perdamaian. Bila perlu, melibatkan pasukan perdamaian dari PBB.

Bagi pemimpin politik masing-masing kubu, barangkali perdamaian tidak jadi masalah. Karena ketika pecah perang, korbannya adalah rakyat atau serdadu garis depan. Sehingga perang atau damai tidak secara langsung berdampak ke pemimpin politik – Palestina mau pun Israel. Sebaliknya, perdamaian benar-benar dibutuhkan bagi rakyat pada umumnya.

Pendudukan, dengan dibangunnya pemukiman Yahudi, bisa dilihat jelas dari beragam sudut pandang. Dari sudut pandang Israel, pembangunan pemukiman Yahudi adalah sah dan adil. Daerah pemukiman tersebut adalah wilayah sah dari negara Israel. Sementara, dari sudut pandang Palestina, pembangunan tersebut tidak sah karena di atas wilayah milik warga Palestina yang sudah berlangsung ratusan tahun.

Pengusiran warga Palestina dari rumahnya adalah menjadi dampak dari beberapa pendudukan. Misalnya, yang terbaru, adalah rencana eksekusi perumahan di Syaikh Jarrah, Jerussalem. Mahkamah Agung Israel sudah memutuskan bahwa Syaikh Jarrah adalah milik Israel sehingga warga Palestina yang tinggal di Syaikh Jarrah harus pergi. Tentu saja rencana eksekusi ini ditentang keras oleh warga Palestina. Warga Palestina telah tinggal di Syaikh Jarrah ratusan tahun secara sah, bahkan sebelum ada negara Israel itu sendiri.

Ketimpangan hak juga menjadi dampak – dan sebab konflik. Warga Palestina yang hendak beribadah di kawasan AlAqsa perlu lolos penggeledahan oleh polisi Israel. Sementara, warga Israel yang hendak beribadah di kawasan AlAqsa tidak perlu digeledah oleh polisi Palestina. Hak politik juga timpang. Untuk melaksanakan pemilu, warga Palestina perlu mendapat ijin dari penguasa Israel. Sementara, warga Israel, untuk menyelenggarakan pemilu tidak perlu ijin dari penguasa Palestina. Sekali lagi, kondisi timpang seperti ini tetap ada pembenaran dari beragam sudut pandang. Kita perlu respek, bagaimana pun, terhadap argumen-argumen tersebut.

Saya mengajukan solusi untuk akar masalah di atas adalah konsep berpikir “matinya sejarah,” menolak metanarasi tunggal, dan dinamika manusia.

Matinya sejarah menyatakan tidak adanya sejarah tunggal yang paling benar. Sejarah selalu bisa dibaca ulang dengan sudut pandang yang beragam. Bahkan sejarah selalu berubah lantaran diri kita, dan masyarakat, selalu berubah ketika membaca sejarah – seiring perubahan waktu. Sehingga kita perlu mengembangkan sikap saling hormat kepada pihak lain yang, barangkali, mempunyai sejarah berbeda dengan sejarah kita.

Konsep matinya sejarah bisa kita terapkan untuk Palestina Israel. Semua klaim sejarah yang menyatakan bahwa Israel adalah orang pendosa bisa diragukan. Klaim seperti itu bisa kita pandang dari sudut pandang yang berbeda. Sehingga kita bisa, dan harus, lebih respek kepada Israel. Demikian juga klaim sejarah terhadap Palestina, yang menyatakan bahwa Palestina adalah orang yang tidak punya hak secara de jure dan de facto, bisa kita ragukan. Dari sudut pandang yang lain, Palestina benar-benar punya hak. Maka kita perlu, dan harus, lebih respek ke Palestina. Denga respek kepada kedua belah pihak maka kita kuatkan perdamaian – sambil menuju keadilan.

Metanarasi tunggal perlu kita singkirkan. Kita perlu membuka lebih banyak narasi yang bisa kita sebut sebagai mikrologi-mikrologi dalam kasus Palestina Israel.

Sekularisasi Agama

Agama begitu kuat mempengaruhi hidup manusia. Di jaman kontemporer, sekularisasi menciptakan gelombang baru gairah kehidupan manusia. Kedua-duanya, sekularisasi dan agama, sama-sama membentuk arah hidup manusia.

Bagaimana agama dan kepercayaan membentuk gerakan peduli lingkungan hidup  di Indonesia

Agama hadir menjadi penerang jalan hidup manusia di dunia ini – dan dunia yang akan datang. Sementara sekularisasi hadir untuk mencerahkan hidup manusia. Membebaskan manusia dari belenggu dogma yang dipandang tidak perlu. Sekularisasi bisa berbenturan dengan agama. Bisa juga mereka, agama dan sekularisasi, berjalan seiring seirama.

Saya akan membahas tema sekularisasi agama, dalam tulisan ini, dari beragam perspektif. Kita perlu mengakui peran positif agama dan sekularisasi. Kemudian, kita juga tidak bisa menutup mata terhadap resiko penyelewengan dari masing-masing ajarannya – baik agama mau pun sekularisasi. Dan terakhir kita perlu menatap masa depan, yang tidak menentu, dengan berbekal kajian sekularisasi agama.

  1. Peran Agama
  2. Peran Sekularisasi
  3. Peradaban Digital
  4. Solusi Sekularisasi Agama
  5. Konsep dan Praktek Takwaisasi

Peran Agama

Survey terbaru menunjukkan bahwa 84% penduduk dunia adalah beragama. Kita bisa mengatakan bahwa dari 6 orang yang kita temui, 5 orang di antaranya adalah beragama. Sehingga peran agama terhadap kehidupan ini benar-benar besar dan nyata.

Lebih dari sekedar kuantitas, pengaruh agama kepada manusia bersifat sangat intens. Agama menjadi dasar paling pokok bagi manusia. Agama juga memberi arah tujuan masa depan terjauh yang akan dicapai oleh umat manusia. Beda dengan ekonomi, misalnya, hanya mempengaruhi manusia dalam sebagian kehidupan sehari-hari. Politik juga hanya mempengaruhi kehidupan manusia yang berhubungan dengan kekuasaan. Sementara, agama mempengaruhi segala bidang dari masa lalu, masa kini, dan masa depan.

Ketika kita hendak membangun peradaban maka sepantasnya kita mengkaji dengan teliti pengaruh agama kepada kemanusiaan. Telah banyak ahli yang menkaji agama dari masa lalu. Meski demikian kita tetap perlu mengkaji ulang agama. Lantaran perilaku manusia begitu dinamis sehingga konsep agama pun juga dinamis. Atau timbal balik antara manusia dan agama membentuk sistem dinamis.

Catatan sejarah menunjukkan peran agama mendorong kemajuan peradaban. Yunani Kuno menjadi maju atas peran agama – yang berupa mitologi dewa dan pemikiran filosofis. Selanjutnya kekaisaran Roma begitu kuat dengan mendeklarasikan agama Kristen sebagai agama resmi. Sejak abad 7 M, agama Islam mendorong peradaban Arab menjadi pemimpin dunia. Selanjutnya di era pencerahan, agama Kristen kembali mendorong peradaban Barat memimpin dunia.

Di belahan dunia lainnya, agama juga mendorong kemajuan peradaban. Persia, Mesir, India, Cina, Jepang, dan lainnya menjadi lebih maju dengan ajaran agama yang berkembang di wilayah masing-masing.

Secara pribadi, manusia menemukan hidup lebih bermakna dengan menjalani ajaran agama. Manusia lebih tabah dalam kesulitan, dan lebih bahagia dalam keberlimpahan. Manusia lebih peduli dengan kehidupan sesama, saling membantu, dan saling berbagi. Refleksi diri, menyelami kehidupan pribadi, tiada pernah ada henti. Semua bersumber dari ajaran agama.

Peran Sekularisasi

Sekularisasi sukses mengantarkan peradaban Barat menuju dominasi dunia. Meski konsep sekularisasi bisa kita temukan sejak ribuan tahun yang lalu tetapi bentuk matang sekularisasi hanya bisa kita temukan di era kontemporer ini. Inti dari sekularisasi adalah memisahkan urusan publik – sosial dan kenegaraan – dengan otoritas agama.

Semua urusan publik adalah urusan manusia untuk mengelolanya dengan baik dan manusia bertanggung jawab terhadap konsekuensinya. Dengan cara pandang sekularisasi ini maka manusia menjadi lebih semangat mengembangkan ekonomi, sains, teknologi, dan bidang lainnya. Benar saja, sekularisasi ini mendorong dunia Barat lebih maju dan mencegah peperangan atas nama agama. Sedangkan di dunia Timur, sekularisasi tampaknya tidak sesukses seperti di Barat.

Kita bisa memandang sekularisasi merupakan solusi dari problem agama. Awalnya, agama adalah pedoman hidup bagi manusia untuk mencapai bahagia, seiring waktu, berubah menjadi sistem aturan yang kaku, yang dimanfaatkan oleh penguasa untuk kepentingan mereka sendiri. Sekularisasi bermaksud mendobrak praktek-praktek keagamaan yang mengekang kemanusiaan. Manusia bertanggung jawab atas hidupnya sendiri.

Sukses sekularisasi bisa saja bertentangan dengan ajaran agama. Dalam kasus seperti ini paham sekular lebih dekat ke paham agnostik, atau bahkan atheist. Dalam kasus yang berbeda, sekularisasi bisa saja sejalan dengan beragam ajaran agama. Di negara-negara sekular, para pemeluk agama tetap bisa menjalankan ajaran agama dengan bebas dan aman.

Bagaimana pun, manusia bisa tersesat sewaktu-waktu. Bahkan manusia memang mudah tergelincir. Sekularisasi yang awalnya untuk memajukan peradaban kemanusiaan bisa berubah menjadi penjara bagi manusia itu sendiri. Orang yang tidak kenal agama bisa cemas berlebihan ketika menghadapi masalah. Terjerumus dalam kesedihan tanpa seorang pun bisa jadi penolong baginya. Frustasi menutup jalan hidupnya. Bahkan ketika sukses, orang yang tidak kenal agama, bisa juga melampaui batas. Hidup foya-foya tetap hampa. Semua kehilangan makna. Manusia terperangkap dalam lubang yang mereka ciptakan sendiri.

Peradaban Digital

Umat manusia baru saja masuk ke peradaban digital. Banyak prospek baru terbuka. Kemajuan demokrasi dan ekonomi menjadi lebih mudah dengan bantuan media digital.

Benar saja, teknologi digital berhasil melahirkan jutawan-jutawan baru kelas dunia. Di saat yang sama, ketimpangan peradaban digital makin tampak menganga. Negara-negara kaya menikmati kemajuan digital, makin jauh di depan. Sementara, negara miskin makin tertinggal jauh di belakang.

Peradaban digital adalah solusi peradaban yang sekaligus problem peradaban itu sendiri. Dan, tentu saja, agama dan sekularisasi menghadapi beragam problem baru di era digital. Kita akan membahas tema peradaban digital secara khusus.

Solusi Sekularisasi Agama

Agama adalah solusi. Sekularisasi adalah solusi. Tetapi keduanya bisa menjadi problem itu sendiri. Di bagian ini, kita akan mencoba merumuskan beragam solusi sekularisasi agama dengan mempertimbangkan konteks peradaban digital yang mulai mendominasi.

Konsep dan Praktek Takwaisasi

Bagian ini akan fokus ke solusi takwaisasi. Kita akan mencoba membuat formula konsep lebih detil dan beberapa sketsa praktek takwaisasi. Sebagaimana kita pahami, konsep dan praktek ini pun berupa mikrologi. Di mana konsep ini bisa berlaku di satu ruang dan waktu, bersifat mikro, dan perlu ada modifikasi untuk ruang dan waktu yang lain.

Daftar Isi

  1. Peran Agama
    1.1 Agama di Jaman Kuno
    1.2 Agama dan Negara
    1.3 Agama di Jaman Modern
    1.4 Agama di Jaman Digital
  2. Peran Sekularisasi
    2.1 Etika Protestan Max Weber
    2.2 Jiwa Bebas Katolik Taylor
    2.3 Peran Sains dan Teknologi
    2.4 Sekularisasi dan Etika Islam
    2.5 Sekularisasi di Era Digital
  3. Peradaban Digital
    3.1 Esensi Teknologi sebagai Enframing
    3.2 Kekuatan Enframing Digital
    3.3 Agama dalam Enframing Digital
    3.4 Sekularisasi dalam Enframing Digital
    3.5 Manusia dalam Enframing Digital
  4. Solusi Sekularisasi Agama
    4.1 Solusi Agama
    4.2 Solusi Sekularisasi
    4.3 Solusi Takwaisasi
  5. Konsep dan Praktek Takwaisasi
    5.1 Asumsi-Asumsi Solusi
    5.2 Dinamika Realitas
    5.3 Rekomendasi

Palestina Israel: Konflik (Tidak) Berakhir

Kita berduka. Umat manusia menderita. Palestina terluka. Israel juga terluka.

Kapan konflik Palestina Israel akan berakhir? Seperti apa bentuk akhir itu? Bisa jadi konflik ini tidak akan pernah berakhir. Konflik hanya bisa berakhir bila umat manusia berkomitmen untuk mengakhirinya. Komitmen umat manusia ini tidak mudah dipastikan. Namun demikian, tetap ada cara-cara bermartabat untuk mengakhiri konflik atau minimal meredam konflik. Kita perlu meraihnya.

Begini peta palestina dari jaman ke jaman

Matinya Sejarah

Kita mengenal teori “matinya sejarah.” Yang intinya adalah sejarah itu tidak tunggal. Sejarah, bisa kita baca dari ragam sudut pandang. Yang bahkan di antara sudut pandang yang berbeda itu, benar-benar, menghasilkan kesimpulan yang bertolak belakang.

Sanggupkah kita menghargai keragaman sejarah? Perbedaan sejarah? Kontradiksi dalam sejarah?

Misalnya, dari sudut pandang sejarah Palestina, Jalur Gaza dan Tepi Barat – bahkan Tel Aviv dan seluruh wilayah Israel – adalah tanah air milik warga Palestina. Hanya saja, sejak 1948, Israel menjajah wilayah itu dengan paksa tanpa sah. Perhatikan sejarah sebelum 1948 atau bahkan sebelum abad 20 maka tidak ada negara Israel sama sekali di sana. Hanya ada Palestina yang sudah turun-temurun hidup damai di negeri Palestina ratusan tahun bahkan ribuan tahun yang lalu.

Sementara, dari sudut pandang sejarah Israel tentu beda. Israel yakin bahwa mereka secara legal, dan de facto, mendirikan negara Israel pada tahun 1948. Kemudian disusul perang pada tahun yang sama, menguatkan eksistensi negara Israel. Lebih-lebih perang pada tahun 1967 makin meluaskan wilayah dan eksistensi negara Israel. Banyak negara di dunia mengakui negara Israel secara sah.

Dua sudut pandang sejarah menghasilkan konflik yang nyata. Masing-masing meng-klaim kebenaran. Wajar saja, mereka klaim sesuai sejarah masing-masing.

Mengintip Masa Lalu Songsong Masa Depan

Kita perlu mempelajari sejarah dunia, termasuk sejarah Palestina dan Israel. Di saat yang sama, mengkaji sejarah, sambil menyiapkan diri menyongsong masa depan demi kebaikan bersama, seluruh umat manusia. Klaim sejarah masa lalu adalah, sekedar, modal untuk menata kehidupan bersama di masa depan sejak masa kini.

Solusi Kemanusiaan dan Agama

Banyak mata menyaksikan pelanggaran kemanusiaan pada konflik Palestina Israel di Mei 2021. Ratusan jiwa warga Palestina, yang tidak berdosa, melayang. Begitu juga puluhan jiwa warga Israel juga menjadi korban.

Dalam banyak kasus, warga Palestina adalah sebagai korban. Sementara Israel adalah penguasa.

Konflik ini melanggar nilai universal kemanusiaan dan bercampur dengan konflik agama. Tokoh agama dari masing-masing kubu perlu merumuskan solusi yang elegan bagi semua. Sementara konflik kemanusiaan menuntut seluruh warga dunia untuk ikut menemukan solusi terbaik sesuai kapasitas masing-masing.

PBB tampak berniat untuk memberikan teguran keras kepada pihak-pihak yang berkonflik. Karena Amerika mempunyai hak veto, rencana teguran keras ini batal oleh veto Amerika. Tampaknya Amerika lebih mengandalkan diplomasi bilateral. Sulit bagi banyak orang memahami sikap Amerika ini. Bukankah teguran dari PBB sejalan dengan diplomasi bilateral?

Berikut ini beberapa solusi yang berkembang untuk menyelesaikan konflik Palestina Israel.

Dua-Negara atau Two-States

Biden, presiden USA, meyakini bahwa dua-negara adalah solusi terbaik untuk Palestina dan Israel. Dan tampaknya, saat ini, solusi dua-negara adalah yang sedang terjadi. Solusi dua-negara mengakui adanya dua negara yang sama-sama berdaulat: Palestina dan Israel.

Biden berjanji akan membantu membangun kembali Gaza karena kerusakan serangan udara oleh Israel. Dengan syarat Palestina mengakui secara resmi eksistensi Israel. Di sisi lain, orang bisa saja bertanya apakah USA dan Israel juga mengakui kedaulatan Palestina? Atau hanya sekedar membangun Gaza?

Meski solusi dua-negara tampak bagus, banyak orang meragukan akan berhasil. Israel adalah negara dengan kekuatan militer yang besar, lobi politik dunia yang luas, serta dukungan dana yang kuat. Sementara, Palestina adalah negara yang masih dalam “perjuangan.” Sehingga mengakui dua-negara terkesan hanya ungkapan semata. Yang terjadi bisa hanya ada satu negara kuat, yaitu Israel, yang berperilaku tidak adil terhadap negara kedua, yang masih lemah, yaitu Palestina.

Agar solusi dua-negara ini bisa berjalan dengan baik maka perlu diciptakan dua-negara yang sama-sama berdaulat. Untuk Israel sudah jelas berdaulat. Selanjutnya, masyarakat internasional, melalui PBB, perlu dengan segera mendorong agar Palestina benar-benar menjadi negara berdaulat dengan wilayah yang pasti. Dua-negara berdaulat ini diharapkan kemudian bisa menciptakan perdamaian bersama.

Tampaknya tidak mudahkan? Lebih rumit lagi bila masing-masing pihak meng-klaim dirinya paling benar.

Satu-Negara atau One-State

Solusi satu-negara tampak ideal meski tidak mudah juga. Solusi satu-negara kembali menjadi pertimbangan karena banyak yang melihat solusi dua-negara menemui jalan buntu, sejauh ini.

Solusi satu-negara adalah melebur Palestina dan Israel menjadi satu negara, misal negara serikat bernama UPI – United of Palestine Israel. UPI sebagai pusat, federal, memiliki beberapa negara bagian, state, misal Tel Aviv, Yerussalem, Gaza, Tepi Barat, dan lain-lain. Semua warga Palestina dan Israel adalah setara, tidak ada pembedaan. Mereka adalah sama-sama warga negara UPI yang adil dan makmur. Dengan demikian, tercapailah perdamaian untuk Palestina dan Israel.

Tidak semudah itu. Banyak persoalan yang muncul. Salah satu keberatan adalah dari sayap kanan Israel. Tujuan utama mendirikan negara Israel adalah agar warga Yahudi memiliki negara sendiri yang aman dari ancaman luar. Bila terbentuk UPI maka terjadi pencampuran Yahudi dan Palestina (Arab-Islam). Meski saat ini populasi Israel sekitar 10 juta jiwa sedangkan populasi Palestina sekitar 5 juta jiwa, tapi pertumbuhan penduduk Palestina lebih cepat. Sehingga dalam beberapa tahun ke depan, penduduk UPI akan didominasi oleh keturunan Palestina. Dan warga Yahudi kembali menjadi minoritas. Hal semacam itu tidak boleh terjadi, menurut sayap kanan Israel.

Barangkali solusi dari keberatan itu bisa dengan menciptakan 1 negara bagian, state, yang khusus untuk warga Yahudi saja – yang bisa jadi penduduknya. Selain Yahudi hanya bisa sebagai tamu. Atau bisa juga lebih kecil dari state. Misal menetapkan satu kawasan adalah kota suci khusus bagi warga Yahudi.

Meski solusi satu-negara kembali hangat, tampaknya dukungan ke arah solusi ini masih relatif kecil. Seiring dengan berjalannya waktu, mayoritas penduduk Palestina dan Israel adalah bayi-bayi yang terlahir di sana, lahir setelah tahun 1948, bukan imigran, maka solusi satu-negara akan menjadi makin mudah diwujudkan.

Tiga-Negara atau 3-States

Solusi tiga-negara barangkali mudah diterima oleh Israel tapi sulit diterima bagi Palestina. Bagaimana pun, kita perlu mempertimbangkan solusi ini.

Solusi tiga-negara mengakui negara Israel saat ini, dan menggabungkan Gaza ke Mesir, serta menggabungkan Tepi Barat ke Jordan.

Bagi warga Gaza, bergabung ke Mesir barangkali bagus. Mereka sama-sama muslim. Begitu juga warga Tepi Barat bergabung ke Jordan juga sama-sama muslim. Secara geografis juga menguntungkan. Bagi Israel, menjalin diplomasi dengan Mesir dan Jordan tentunya lebih memudahkan untuk menciptakan perdamaian.

Tentu saja tidak semudah itu. Solusi tiga-negara berdampak menghilangnya negara Palestina dari dunia ini. Tentu tidak mudah bagi pejuang Palestina untuk menerima kepunahan ini. Mereka telah berjuang puluhan tahun demi Palestina.

Sejauh ini, solusi tiga-negara juga tidak banyak mendapat dukungan.

Solusi Perdamaian

Bagaimana pun tugas kita sebagai manusia adalah untuk menciptakan perdamaian yang dilandasi keadilan. Maka menciptakan perdamaian di Palestina dan Israel adalah tugas kemanusiaan. Memang tidak mudah. Butuh perjuangan dan keikhlasan dari berbagai pihak.

Bagaimana menurut Anda?

Takwa Awal dan Akhir

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal. (yaitu) Orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), “Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia; Mahasuci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka.” (QS 3 : 190-191)

Takwa menjadikan kita cerdas, banyak akal, selalu kreatif. Semua yang ada di alam semesta penuh makna, penuh nilai guna. Orang bertakwa selalu menemukan jalan keluar dari setiap masalah. Selesai dari satu masalah bersegera ke masalah berikutnya. Dan setiap masalah, lengkap dengan jalan keluarnya itu, menambah kebahagian orang bertakwa. Masalah dan jalan keluar adalah anugerah dari Allah.

Bernas.id | Cara Menemukan Jalan Keluar, Saat Anda Sedang Diterpa Masalah

1. Pencerahan Kitab Suci
2. Meraih Prestasi
3. Kebahagiaan Iman
4. Masa Lalu dan Masa Depan
5. Cinta Abadi

Sebaliknya, orang yang tidak bertakwa memandang masalah sebagai beban. Mereka hanya ingin nikmatnya dunia, berfoya-foya, dan pesta-pora. Hanya derita yang menghadang mereka. Penyakit fisik dan hati senantiasa mengintai. Jangan salah memanjat pohon. Masih ada waktu untuk bertobat. Mari menjadi orang yang bertakwa. Mulai dari awal lagi, saat ini, sampai akhir hayat kita.

1. Pencerahan Kitab Suci

Keuntungan terbesar orang bertakwa adalah selalu mendapat pencerahan dari kitab suci – dan dari kitab alam raya. “Ini adalah kitab yang tiada keraguan di dalamnya. Petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa.” “Dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi.”

Betapa indah hidupnya orang bertakwa. Melihat realitas alam semesta, hati mereka tersentuh oleh kebesaran Sang Pencipta. Muncul banyak masalah dari kehidupan ini, bencana alam dan – lebih-lebih – bencana kemanusiaan. Mereka memandang bahwa masalah-masalah itu adalah sapaan dari Tuhan Yang Maha Kasih.

Tuhan menyapa orang yang bertakwa melalui beragam masalah. Masalah ekonomi, pendidikan, kesehatan, politik, sampai hubungan luar negeri. Mereka menggunakan seluruh kekuatan kecerdasan, rasa, karsa, dan cipta untuk menemukan solusi. Mereka berhasil menemukan titik terang solusi. Ternyata solusi itu tidak mudah dijalani. Mereka membaca kitab suci. Lebih banyak lagi solusi. Mereka memohon pertolongan kepada Allah. Semangat merencanakan solusi, menjalani solusi, dengan bimbingan ilahi.

“Dan barang siapa bertakwa kepada Allah maka Allah karuniakan kepadanya jalan keluar. Dan Allah melimpahkan rejeki dari arah yang tidak disangka. Dan barang siapa bertawakkal kepada Allah maka Allah mencukupkan segala sesuatunya.”

Polan adalah pemuda cerdas; bahkan sangat cerdas. Dia menguasai matematika, sains, dan teknologi dengan baik dengan belajar di universitas terbaik di negara yang penduduknya hampir 300 juta jiwa. Kemudian menjadi dosen yang sukses. Apa masalahnya? Masalah dari Polan adalah terlalu cerdas. Mana mungkin?

Ketika Polan menafsirkan ayat suci maka dia berhasil membuat tafsir yang sangat meyakinkan dan saintifik. Sementara, para ulama dan para kyai tidak bisa melakukan tafsir saintifik. Konsekuensinya, Polan memandang tafsir saintifik miliknya lebih bagus dari tafsir para ulama; itu hanya awalnya. Seiring waktu, Polan yakin bahwa tafsir para ulama adalah salah dan tafsir Polan yang saintifik itulah satu-satunya tafsir yang benar.

Polan aktif diskusi dalam beberapa forum termasuk forum diskusi online. Polan menang debat di berbagai forum. Dia makin yakin bahwa tafsir saintifik miliknya adalah satu-satunya kebenaran. Bagaimana hasil akhirnya? Tidak ada orang yang percaya kepada tafsir Polan kecuali diri Polan seorang diri. Terpaksa, Polan mencoba bergabung dengan orang yang tafsirnya mirip Polan; meski Polan yakin orang yang mirip itu sejatinya sesat juga. Dengan beragam kesulitan itu, Polan makin yakin bahwa dirinya sedang mendapat ujian untuk menegakkan kebenaran. Dia ingin tidak menyerah meski tampaknya makin lelah; mungkin akan menyerah.

Kesalahan Polan adalah terlalu mengandalkan karsa dan cipta; yaitu kemampuan dia menciptakan tafsir saintifik. Polan lemah dalam mengembangkan rasa. Padahal dengan rasa yang peka, Polan akan mampu menyelaraskan dirinya dengan alam sekitar, dengan budaya sekitar, dan dengan suasana sekitar; termasuk bisa selaras dengan kitab suci.

Sukses bukanlah pencapaian prestasi tetapi prestasi keselarasan diri. Kitab suci adalah sumber pencerahan inspirasi; bukan logika untuk mendominasi. Orang takwa mereguk hikmah inspirasi dari setiap kata-kata suci.

2. Meraih Prestasi

Karakter penting orang bertakwa adalah: beriman kepada yang ghaib, mendirikan sholat, berinfak dan zakat, beriman kepada kitab suci terdahulu, beriman kepada hari akhir. Dan mereka adalah orang-orang yang beruntung, orang-orang yang berprestasi di jalan ilahi.

Makna takwa, yang paling penting, adalah meraih prestasi, memberi kontribusi, di jalan ilahi. Dengan cara menjalani perintah dan menjauhi larangan. Makna takwa ini mencakup makna-makna takwa secara umum: taat kepada Allah, takut kepada Allah, ikhlas, tobat, menjaga diri, berbuat baik, dan sebagainya.

Tidak ada orang takwa yang gagal. Orang takwa pasti berhasil. Bahkan berhasil sejak awal. Ketika seseorang mulai berbuat takwa maka pada saat itu dia sukses, di dunia dan akhirat. Ditambah dengan sikap istiqomah maka prestasi takwa makin tampak nyata.

3. Kebahagiaan Iman

Orang yang bertakwa dengan sebenar-benarnya takwa maka mereka menjadi muslim sejati dan mukmin sejati. Dan orang mukmin, yang beriman sejati, sungguh memperoleh kebahagiaan yang tiada tara.

Karakter orang beriman sejati, di antaranya, adalah: khusuk dalam sholatnya; menjauhi hal sia-sia; berzakat; menjaga kehormatan; memenuhi amanah dan janji; menjaga sholat. Mereka adalah penghuni surga firdaus di akhirat – dan di dunia ini. Mereka adalah orang-orang paling bahagia.

4. Masa Lalu dan Masa Depan

Perintah puasa bertujuan untuk menjadikan kita sebagai orang-orang bertakwa sejati – dan beriman sejati. Perintah puasa sudah berlangsung sejak jaman orang-orang sebelum kita, sebelum jaman Nabi. Puasa adalah ibadah penting yang berdimensi lintas waktu. Dalam berpuasa, kita belajar dari sejarah masa lalu dan menyiapkan alam semesta untuk generasi masa depan.

Bertakwa dari awal sampai akhir.

5. Cinta Abadi

Cinta tampak nyata di depan mata. Cinta menjadikan kita bahagia. Berbunga-bunga dalam dada. Segalanya penuh pesona. Cinta adalah buah takwa. Cinta adalah benih takwa. Cinta adalah takwa.

Bagaimana menurut Anda?

Takwa Manusia Bebas

“Wahai golongan jin dan manusia! Jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka tembuslah. Kamu tidak akan mampu menembusnya kecuali dengan kekuatan.” (QS 55 : 33)

Gantungkan cita-cita setinggi langit. Kalau pun kamu meleset meraihnya, kamu setidaknya berhasil meraih rembulan. Kamu memang luar biasa.

Tiras Medan: Manusia Bebas

Manusia beriman yang bertakwa mempunyai cita-cita tinggi. Cita-cita yang sulit untuk diraih. Tapi kita bisa meraihnya karena pertolongan Allah semata. Karena Allah Maha Kuasa atas segalanya.

Di sisi manusia, kita sudah menerima tanggung jawab sebagai wakil Tuhan di bumi ini. Maka, kita perlu mengembangkan segala kekuatan untuk menembus langit dan bumi. Melalui pengembangan sains, teknologi, imajinasi, dan tentu, ruhani.

1. Kekuatan Kehendak
2. Demokrasi
2.1 Politik
2.2 Ekonomi
2.3 Meritokrasi
2.4 Bahasa
2.5 Digital
3. Jaminan Institusi
4. Mengejar Mimpi
5. Hubungan Luar Negeri

Manusia adalah kebebasan itu sendiri. Wujud alam semesta adalah kebebasan umat manusia. Meski aturan alam tampak membatasi, tetapi, aturan alam mengundang manusia untuk menerapkan kebebasannya. Alam semesta akan mengikuti kebebasan manusia. Alam semesta adalah medan kebebasan manusia.

1. Kekuatan Kehendak

Yang paling fundamental adalah kehendak bebas dalam diri manusia. Dunia, di luar sana, bisa saja gemuruh luruh hancur lebur. Di dalam diri manusia, tetap utuh ada kehendak bebas. Kita bebas untuk memilih optimis atau pesimis. Kita bebas untuk memilih menjadi manusia beriman atau lainnya. Kita bebas untuk mengeluh atau semangat terus bergelora.

Dalam kehidupan nyata, kita bebas untuk berkarya atau malas-malasan saja. Pandemi covid bisa saja menjadi bencana. Kita, tetap bebas, memilih untuk meraih prestasi atau gantung kaki selama pandemi. Ekonomi bisa saja depresi. Kita, juga tetap bebas, maju mengejar mimpi atau memilih berdiam diri.

Pengalaman saya pribadi menghadapi pandemi adalah pahit manis asam gurih. Saya nyaris tidak bisa bekerja; tentu pendapatan nyaris nol rupiah. Pekerjaan saya adalah guru, dosen, dan instruktur. Sekolah tutup, kampus tutup, saya tidak bisa mengajar. Pelatihan dan seminar dilarang maka saya tidak bisa menghasilkan uang selama berbulan-bulan berlanjut bertahun-tahun. Banyak orang frustasi akibat pandemi. Bagaimana dengan saya pribadi?

Saya bebas untuk menyerah. Saya memilih untuk berjuang. Salah satunya, saya fokus untuk menulis buku sejak pandemi mulai. Buku pertama era pandemi berjudul “Filsafat Cinta” sekitar terdiri 500 halaman tidak ada penerbit yang bersedia menerbitkan. Buku lainnya berjudul “30 Renungan Takwa” terbit akhir 2023 atau awal 2024.

Yang paling menggembirakan saya adalah, di masa pandemi, saya menyelesaikan buku trilogi Futuristik. Futuristik 1 berjudul Logika Futuristik terbit 2023. Futuristik 2 berjudul Pintu Anugerah terbit 2024. Futuristik 3 berjudul Visi Futuristik terbit 2025. Kemudian beriring terbit buku-buku tentang teknologi yang saya tulis bersama teman-teman dosen ITB: Apakah Silikon Bisa Menangis? dan 19 Narasi Besar Akal Imitasi yang diterbitkan oleh ITB Press. Pandemi adalah ujian buat saya dan masyarakat; di saat yang sama, pandemi adalah kesempatan. Kita bebas untuk memilih respon.

Allah telah meniupkan ruh suci dari Sang Maha Bebas ke diri setiap manusia. Diri kita memang bebas sebebas-bebasnya sesuai ruh suci dariNya. Manusia punya modal tak terbatas – ruhnya. Manusia punya modal terbatas – alam raya tertata. Perpaduan antara tak terbatas dan yang terbatas maka terbentuklah manusia bebas.

Kita bebas untuk menjadi manusia takwa.

Jika manusia hendak menembus langit. Bisa! Tentu saja dengan segala kekuatan yang dimilikinya ruh, semangat, ilmu, sains, dan teknologi. Alam siap membantu mewujudkan setiap impian anak manusia.

2. Demokrasi

Kebebasan adalah hakikat setiap manusia. Tetapi kebebasan ini bisa runtuh begitu saja. Ketika anak manusia terkurung dalam lingkungan bertahun-tahun, mereka mengiranya dirinya memang terkurung, Mereka mengira dirinya tidak bebas. Mereka mengira kehilangan kebebasan. Dan kebebasan itu menjadi sirna. Demokrasi, banyak orang mengharapkannya menjadi solusi.

Apakah Anda pecinta binatang? Pecinta kucing? Pecinta anjing? Apakah Anda membebaskan kucing itu atau malah mengurungnya dalam kandang?

Menjelang musim lebaran banyak orang kebingungan ketika mau mudik. Karena mereka akan meninggalkan kucing piaraan dalam waktu sepekan atau lebih. “Siapa yang akan memberi makan kucing saya di rumah?” tanya Bu Fulanah ketika mau mudik kepada saya. “Bahaya juga kalau ditinggal sendiri dalam kurungan,” saya malah khawatir.

Akhirnya, Bu Fulanah mencari tempat penitipan kucing di kota Bandung. Ia menemukan petshop yang menerima titipan kucing lengkap dengan kurungannya. Biaya penitipan beberapa ratus ribu rupiah atau hampir 1 juta waktu itu.

Apakah mengurung kucing adalah ungkapan cinta kepada binatang? Apakah mengurung anak manusia adalah ungkapan cinta? Apakah mengurung manusia dengan undang-undang adalah sebentuk takwa? Apakah mengurung masyarakat dengan aturan politik adalah suatu kebaikan? Bukan. Semua itu bukan kebaikan. Kebaikan adalah ketika Anda memberi kebebasan kepada manusia, kepada karyawan Anda, kepada anak Anda. Kemudian anak Anda dapat memilih jalan takwa secara bebas.

2.1 Politik

Demokrasi adalah cita-cita bersama untuk mewujudkan setiap manusia memiliki kebebasan sejati. Kenyataannya, politik justru bisa membelokkan demokrasi. Suara rakyat hanya dihitung ketika pungutan suara. Setelah itu, hanya pihak-pihak tertentu yang menjadi penentu.

Media sosial digital membuka peluang setiap orang untuk bebas bersuara. Setiap orang bebas berpendapat. Bahkan, dengan berkembangnya blockchain, kebebasan umat manusia makin terbuka lebar. Peran “pusat” tidak dibutuhkan lagi. Horisontal dan demokratis, harapannya.

Bagaimana pun, meski banyak rintangan, kita tetap bisa membangun demokrasi yang sehat. Setiap warga bebas berpendapat. Setiap orang punya posisi terhormat. Kita bersatu sebagai umat.

2.2 Ekonomi

Anak-anak yang terlahir dari keluarga miskin yakin bahwa mereka akan menjadi miskin. Turun-temurun terbukti mereka konsisten hidup miskin. Sebaliknya, anak-anak terlahir kaya yakin bahwa mereka akan hidup kaya. Bahkan kaya sampai tujuh turunan. Terbukti bertahun-tahun mereka memang kaya.

Di mana ada kebebasan manusia? Di mana ada kebebasan ekonomi? Di mana manusia bebas berpartisipasi?

Kesenjangan ekonomi dan sosial terjadi di belahan dunia, termasuk di Indonesia. Dengan ketimpangan indeks Gini di atas 38% atau nilai ketimpangan di atas n = 2 maka Indonesia terjadi ketimpangan lebih besar dari ketimpangan kuadrat. Dari sisi personal, kita perlu membangkitkan semangat anak-anak muda (dan angkatan kerja) bahwa mereka punya potensi untuk terus maju. Dari sisi institusional, pemerintah dan pengusaha perlu menciptakan sistem yang adil secara ekonomi. Bukan adil secara argumentatif belaka tetapi adil substantif.

Kita bisa membangun sistem ekonomi yang membebaskan umat. Sistem ekonomi yang memberi kesempatan setiap generasi untuk berpartisipasi. Sistem ekonomi yang melahirkan manusia-manusia bebas – dari latar ekonomi apa pun mereka dilahirkan.

2.3 Meritokrasi

Sejak awal, meritokrasi adalah buruk. Meritokrasi adalah satire. Tetapi, meritokrasi menjadi norma. Menjadi sistem merit-okrasi yang dipuji-puji. Bukankah ngeri sekali?

Meritokrasi disangka memberi kebebasan kepada manusia. Nyatanya, meritokrasi menjebak kebebasan manusia dengan mengukuhkan kesenjangan, ketimpangan, dan ketidak-adilan.

Meritokrasi adalah sistem yang menetapkan “pemenang” berdasar “prestasi” mereka. Bukankah itu baik?

Meritokrasi buruk tetapi tidak bisa ditolak. Meritokrasi hanya bisa dilampaui. Meritokrasi harus dilampaui. Menolak meritokrasi bisa jatuh ke jurang kolusi kemudian terjebak dalam korupsi. Meritokrasi hanya lintasan sementara untuk segera menuju sistem yang adil. Yaitu sistem yang memberikan kebebasan kepada seluruh umat manusia untuk bertakwa.

Meritokrasi akan mengantar kampus-kampus terbaik diisi oleh anak-anak cerdas dari kalangan orang-orang kaya. Mereka, anak-anak itu, memang cerdas, mau rajin belajar, dan ditunjang dana kuat dari orang tuanya. Sementara, anak-anak miskin tidak bisa diterima di kampus terbaik. Mereka, anak-anak miskin, memang kurang dana pendidikan, kurang semangat belajar, mungkin juga kurang asupan gizinya. Meritokrasi hanya melanggengkan ketimpangan. Kita membutuhkan bangunan demokrasi yang adil. Demokrasi yang membangunkan semangat juang seluruh generasi negeri – kaya atau pun miskin.

Kita butuh yang lebih baik dari sekedar meritokrasi. Kita bisa melampaui meritokrasi.

2.4 Bahasa

Bahasa adalah penjara terbesar umat manusia. Bahasa mengungkung kebebasan umat manusia. Bahasa adalah rumah pikiran. Bahasa juga rumah rasa bagi umat manusia. Sebagaimana rumah, bahasa melindungi umat manusia. Pada gilirannya, bahasa menjerat umat manusia sendiri.

Bahasa adalah bentuk budaya tinggi umat manusia. Dengan bahasa, kita bisa berkomunikasi. Kita bisa mengembangkan ilmu pengetahuan dan budaya secara luas. Masih dengan bahasa, kita bisa saling meng-eksploitasi, saling menindas. Dengan bahasa, penindasan makin meluas tanpa batas, tanpa was-was.

“Apa yang bisa kami lakukan? Kami hanya rakyat jelata.”
“Beginilah nasib orang miskin.”
“Saya orang yang tidak berpendidikan.”

Dan masih banyak lagi penjara bahasa yang menjerat leher umat manusia. Kita perlu membangun bahasa yang lebih kuat. Bahasa yang membangkitkan semangat. Bahasa yang membuka kebebasan umat manusia untuk bertakwa. Tugas membangun bahasa bukanlah tugas seorang individu. Ini adalah tugas seluruh umat. Ini adalah tugas kita bersama.

“Saya adalah orang yang bercita-cita setinggi langit.”
“Saya selalu bisa melampaui kesulitan.”
“Saya adalah manusia pilihan Tuhan.”

Jadikan bahasa sebagai medan kebebasan umat manusia. Jangan mau dikurung bahasa. Gunakan bahasa untuk kita menjadi manusia paripurna.

2.5 Digital

Kita hidup di era digital. Kita menyatu dengan dunia digital. Manusia tidak bisa lagi dipisahkan begitu saja dengan media digital. Media digital, dan media sosial, awalnya, menjadi media kebebasan umat manusia. Pada gilirannya, media digital kembali mengurung manusia. Manusia kembali tenggelam dalam budaya yang mereka ciptakan sendiri.

Manusia perlu membebaskan diri dari cengkeraman media digital. Pertama, dengan sengaja, kita membebaskan diri dari pengaruh dunia digital. Ketika membaca berita, misalnya, kita tidak begitu saja terbawa arus. Kita perlu menguji kebenaran berita itu dengan ragam data yang berbeda. Dan yang terpenting, kita perlu mengujinya dengan suara hati kita. Tentunya, dengan catatan, kita menjaga beningnya suara hati dalam diri.

Kedua, kita, terutama pemerintah dan perusahaan, menetapkan sistem tertentu sedemikian hingga media sosial tidak hanya mengeruk keuntungan ekonomis belaka. Media sosial memiliki misi untuk membebaskan umat manusia dari keterpurukan. Apa bisa? Bukankah perusahaan bertujuan untuk maksimalisasi profit? Bukankah pejabat bertujuan untuk melanggengkan jabatan? Bisa. Memang tidak mudah.

Ketiga, media digital, tak terduga berkembang ke arah desentralisasi dengan blockchain. Perusahaan besar, dan para pakar, mengira perkembangan teknologi akan menuju web 3.0 yang merupakan perkembangan lebih hebat dari web sebelumnya. Secara prinsip, web 3.0 tetaplah web seperti yang ada sekarang – ada penguasa raksasa. Blockchain berbeda – karena tidak ada penguasa pusat.

Blockchain, benar-benar, terdesentralisasi. Misal bitcoin (cryptocurrency) dan NFT tidak memerlukan peran suatu “pusat.” Dengan demikian, rakyat punya kebebasan dengan blockchain. Tetapi, bukankah bitcoin dan NFT, saat ini, hanya dikuasai oleh elit orang super kaya? Benar. Situasi saat ini memang begitu. Hanya saja, dengan karakter alamiahnya yang ter-desentralisasi maka tetap terbuka peluang kebebasan bagi masyarakat.

Tentu saja tidak mudah mengembangkan blockchain. Cina, misalnya, melarang pengembangan cryptocurrency. Di Indonesia, juga ada fatwa haram tentangnya. Belum lagi, penambangan crypto sering menyedot energi dalam jumlah tinggi. Bahaya terhadap krisis iklim.

Bagaimana pun, meski kebebasan adalah hak setiap anak manusia, nyatanya, memperoleh kebebasan bukanlah hal yang mudah. Kita perlu memperjuangkan kemerdekaan. Kita adalah manusia merdeka untuk bertakwa.

3. Jaminan Institusi

Untuk bisa bebas, manusia perlu jaminan kebebasan. Konstitusi adalah jaminan paling fundamental bagi umat manusia.

Kabar baiknya, seluruh negara di dunia mengaku menjamin kebebasan warganya secara konstitusional. Hanya saja, masing-masing negara berbeda dalam kadar kebebasan yang dijamin. Indonesia, misalnya, adalah negara bebas. Setiap warga bebas berpendapat. Hanya saja, kadang, berbenturan dengan pasal pencemaran nama baik atau penodaan agama.

Di beberapa bagian belahan dunia, masih ada, kebebasan yang belum dijamin oleh institusi. Baru-baru ini, di Myanmar, beberapa pendemo yang protes terhadap penguasa militer berakhir dengan meregang nyawa. Di USA, masih terjadi rasisme Wallstreet, kata Cornel West. Di Palestina, kebebasan politik dan ekonomi dirampas dengan dalih pendudukan Israel. Tampak masih besar, tugas manusia untuk membebaskan umat manusia di mana-mana.

Mari kita coba cermati kasus kebebasan berpendapat di Indonesia yang dijamin oleh konstitusi dan institusi. Ketika berbenturan dengan pencemaran nama baik, kebebasan pendapatan bisa saja kalah. Misal ada seorang pasien yang mengeluhkan layanan suatu rumah sakit melalui media sosial. Keluhan pasien dilindungi oleh konstitusi kebebasan berpendapat. Tetapi, berbenturan dengan pasal pencemaran nama baik bagi rumah sakit bersangkutan. Pengadilan memutuskan vonis salah kepada pasien yang mengeluh itu.

Di tempat lain, seorang pegawai perempuan komplain merasa tidak nyaman digoda atasannya, diajak, untuk selingkuh. Dia merekam percakapan godaan yang tidak nyaman itu. Tentu saja, pegawai perempuan itu dilindungi undang-undang untuk menyampaikan pendapat tidak nyaman dan sebagainya. Di sisi lain, atasannya menggunakan pasal pencemaran nama baik. Hasil akhir pengadilan menyatakan vonis bahwa pegawai perempuan tersebut salah dan dihukum.

Menko Polhukam tampak tidak setuju dengan vonis itu lalu mengusahakan grasi kepada presiden. Pada akhirnya, presiden memberikan grasi setelah pegawai perempuan itu menjalani hukuman beberapa minggu.

Kita menyaksikan bahwa kebebasan pendapat bisa saja kalah dengan pasal pencemaran nama baik. Berbagai pihak telah berusaha untuk memperbaiki, atau menghapus, pasal pencemaran nama baik. Sementara ini, pasal pencemaran nama baik masih tetap berdiri tegak di negeri ini.

Kita membutuhkan kebebasan agar manusia-manusia bebas bertakwa.

4. Mengejar Mimpi

Setiap orang punya mimpi. Saya punya mimpi. Anda punya mimpi. Ketika kanak-kanak, mimpi itu begitu indah. Lambat laun, mimpi-mimpi itu mulai pudar. Hanya sebagian yang masih bersinar.

Mari kembali menyemai mimpi. Mari kembali merawat mimpi. Mari kembali mengejar mimpi.

Apa mimpi Anda paling besar? Apakah mimpi itu bisa menembus langit? Apakah bisa mimpi lebih tinggi lagi?

Apa mimpi saya terbesar? Saya bermimpi ikut mencerdaskan kehidupan generasi di Indonesia dan dunia melalui pendidikan matematika yang kreatif. Untuk mengejar mimpi itu saya mengembangkan metode belajar matematika yang kreatif dengan nama matematika APIQ. Saya mengundang Anda semua untuk ikut aktif berpartisipasi.

Saya bermimpi membantu para guru untuk bisa mengajar matematika dengan cara asyik dan kreatif. Saya meluncurkan beragam program pelatihan guru matematika baik secara tatap muka mau pun secara online.

Saya bermimpi membantu umat manusia untuk senantiasa berpikir-terbuka. Membuka diri seluas-luasnya agar bumi dan langit bisa singgah di salah satu sudutnya. Untuk mengejar mimpi itu, saya mengembangkan beragam tulisan dengan tema idesofi lengkap dengan video live streaming di youtube.

Kita adalah manusia bebas; bebas untuk bertakwa.

5. Hubungan Luar Negeri

Kebebasan umat manusia juga dipengaruhi oleh pihak luar negeri. Sehingga, kita perlu menaruh perhatian penting terhadap hubungan luar negeri. Kebebasan di dalam negeri, bisa saja, merenggut kebebasan warga di negara tetangga.

SDG Report 2021 menyatakan bahwa negara maju, sebagian besar Eropa dan Amerika Utara, menyebabkan beban berat bagi negara miskin dan negara berkembang. Meski warga negara maju merasa menikmati kebebasan, tetapi dampaknya, merenggut kebebasan warga di negara lain. Warga negara miskin terpaksa harus kerja keras dengan beban berlebih, dengan jangka waktu lebih lama, tetapi penghasilan ekonomi hanya kecil. Sebaliknya, warga negara maju bebas memilih pekerjaan yang lebih ringan dengan penghasilan lebih besar.

Di satu sisi, negara maju harus membatasi diri agar tidak merugikan negara lain dengan satu dan lain cara. Di sisi lain, masing-masing negara perlu menjaga hubungan luar negeri sedemikian hingga menjamin kebebasan setiap warga untuk terus bergerak maju.

Indonesia, misalnya, adalah negara penghasil gula terbesar di dunia pada pertengahan-akhir abad-20. Karena hubungan luar negeri yang tidak tepat, dan faktor lainnya, di abad-21 ini, Indonesia tidak lagi menjadi negara produsen gula terbesar. Bahkan, Indonesia menjadi pengimpor gula terbesar di antara negara-negara di dunia. Tentu saja, impor gula memberikan keuntungan besar dan mudah bagi pihak-pihak tertentu. Di sisi lain, merampas kebebasan petani tebu Indonesia untuk menanam tebu. Petani bisa saja menanam tebu. Tetapi panennya tidak akan terserap. Merugikan diri sendiri. Mereka, petani tebu, tidak lagi menikmati kebebasan.

Dan masih banyak bidang-bidang lain, kerja-sama luar negeri yang penting, untuk kita cermati. Indonesia adalah negara dengan garis pantai terpanjang di dunia. Bagaimana mungkin Indonesia terpaksa impor garam? Petani garam kehilangan kebebasan untuk memproduksi garam lantaran hasil garam hanya dinilai rendah harganya. Seperti biasa, impor garam juga memberi keuntungan bagi pihak-pihak tertentu.

Masing-masing negara adalah negara bebas berdaulat. Setiap negara perlu menjaga hubungan luar negeri sedemikian hingga menjamin kebebasan setiap warga dunia.

Kita adalah manusia bebas; bebas untuk bertakwa.

Bagaimana menurut Anda?

Takwa Virtual dan Aktual

“Daging (hewan kurban) dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kamu. Demikianlah Dia menundukkannya untukmu agar kamu mengagungkan Allah atas petunjuk yang Dia berikan kepadamu. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.”

Kita hidup di jaman digital. Kita akrab dengan dunia virtual. Bahkan bisnis virtual, saat ini, bisa lebih menguntungkan dari bisnis riil. Dalam hal takwa, kita juga perlu mempertimbangkan pentingnya takwa virtual, sebagai pasangan dari takwa aktual.

Ketika berbagi makanan untuk fakir miskin, misalnya, maka makanan tersebut adalah bentuk takwa aktual. Bentuk takwa yang benar-benar nyata. Makanan ini, bersifat aktual, penuh manfaat bagi fakir miskin. Tetapi bukan makanan ini yang bernilai tinggi. Yang bernilai tinggi adalah ketakwaan kita dalam proses berbagi itu. Dengan kata lain, takwa virtualnya (noumenal) adalah yang paling bernilai tinggi. Baik berupa niat, tulus, ikhlas, atau pun hanya mengharap ridha Allah semata.

1. Pasangan Tak Hingga
2. Dampak Sosial
3. Pemerintah Legal
4. Takwa Virtual
5. Virtual – Aktual – Noumenal
6. Takwa Real

Pada tulisan ini, kita akan mendiskusikan pasangan-pasangan takwa: personal-sosial, pemerintahan-legal, dan virtual-aktual.

1. Pasangan Tak Hingga

Analisis berpasangan membantu kita melihat realitas dengan lebih mudah – dibanding hanya satu sudut pandang saja. Kita perlu mempertimbangkan pro dan kontranya. “Segala sesuatu diciptakan dalam bentuk berpasang-pasangan.” Saya kira, Derrida adalah tokoh paling semangat untuk menganalisis pasangan “the others” untuk menemukan keadilan.

Di sini, kita memasangkan takwa virtual dengan takwa aktual dengan maksud yang sama, agar lebih mudah memahami. Meskipun, kenyataannya, takwa itu tunggal. Misalnya, kita berbagi zakat adalah aktivitas takwa yang tunggal. Kita dapat menganalisis bahwa zakat itu, misal berupa uang, adalah aspek takwa aktual. Sementara niat tulus sang pemberi zakat adalah aspek takwa virtual.

Dengan adanya pasangan virtual dan aktual maka kita bisa menghasilkan sudut pandang dalam jumlah tak terbatas.

Beberapa bulan lalu saya bertemu dengan sopir taksi online (taksi virtual). Sambil ngobrol-ngobrol dia cerita bahwa penghasilan dia dari sopir taksi virtual sekitar 20 juta rupiah tiap bulan. “Wow, menakjubkan!” aku berpikir dalam hati. Kemudian, aku baru sadar bahwa dia memperoleh sebesar 20 juta rupiah adalah wajar. Karena dia ramah, mengemudikan mobil dengan lembut, dan menjalankan semua tugas secara profesional. Ketika kami hampir tiba tujuan, dia sudah mendapat order penumpang lagi yang lokasinya dekat lokasi tujuan kami. Jadi sopir itu selalu mendapat order penumpang sambung-menyambung dengan lokasi saling berdekatan. Itulah keunggulan taksi virtual yang membuka peluang untuk takwa virtual.

Benarkah taksi online adalah sebentuk takwa virtual? Bagaimana dengan nasib sopir taksi konvensional yang sepi? Bagaimana dengan nasib sopir angkot (angkutan kota) yang kosong dari penumpang?

Kita perlu menjawab pertanyaan-pertanyaan ini dengan kajian yang seksama.

2. Dampak Sosial

Kita bisa melihat dampak tindakan takwa secara personal dan sosial. Membaca buku, mengkaji kitab suci, berdzikir, dan lain-lain berdampak positif secara personal. Menjadikan pikiran lebih cerdas, damai di hati, secara pribadi. Sementara takwa berupa berbagi makanan, menciptakan lapangan kerja, dan berkreasi berdampak positif secara sosial. Orang lain merasakan manfaat nyata dari tindakan takwa kita.

Kedua jenis takwa ini, personal dan sosial, sama-sama kita perlukan. Takwa personal, misal mengkaji kitab suci, menguatkan kita untuk bisa bertakwa secara sosial. Kita jadi punya ide untuk menciptakan lapangan kerja setelah membaca kitab suci yang menekankan nilai penting dalam tolong-menolong. Sementara, pengalaman nyata kita menciptakan lapangan kerja, memberikan kita pengalaman penuh makna. Ketika kita membaca kitab suci menjadi lebih tersentuh karena banyak pengalaman nyata di lapangan. Takwa sosial menguatkan takwa personal, dan sebaliknya.

Problem muncul bila hanya satu jenis takwa saja yang dominan. Hanya rajin membaca kitab suci tapi tidak pernah beraksi. Atau hanya rajin menciptakan lapangan kerja tanpa pernah mengkaji kitab suci. Sekali lagi, kita memerlukan kedua-duanya.

3. Pemerintah Legal

Bentuk takwa sosial yang penting, di antaranya, adalah bidang pemerintahan dan hukum legal. Kita perlu, bersama-sama, menciptakan pemerintahan yang adil, transparan, dan membela rakyat. Dari sisi hukum, kita perlu menciptakan sistem hukum yang adil untuk semua warga dan pelaku hukum yang berkomitmen tinggi menegakkan keadilan.

Dengan demikian, pejabat pemerintah dan segenap aparatur negara yang menjalankan tugas dengan baik, maka, mereka adalah orang-orang yang bertakwa – mendapat pahala berlimpah di sisi Tuhan. Kita perlu mendukung program-program pemerintah guna memajukan kehidupan bersama.

Sementara pejabat yang korupsi adalah musuh negeri – di dunia ini dan akhirat nanti. Hukuman yang berat pantas bagi pelaku korupsi. Mereka sudah makan anggaran APBN tetapi malah merugikan rakyat dengan perilaku korupsi yang merusak.

Sistem hukum, di satu sisi, sangat penting untuk bersifat adil. Sementara pelaku hukum, yudikatif, perlu komitmen tinggi untuk membela keadilan. Bagaimana pun idealnya aturan hukum, pada tataran implementasi, tetap bergantung sikap para pelaku hukumnya. Membaca hukum adalah tugas kritikal yang rawan akan penyelewengan. Maka pelaku hukum yang adil sudah bertindak takwa dan mendapat pahala di sisi Tuhan yang berlimpah. Sementara, mafia hukum adalah musuh negeri – di dunia ini dan akhirat nanti. Perlu ditumpas dari muka bumi.

4. Takwa Virtual

Kita, saat ini, menjadi lebih mudah untuk bertindak takwa. Dengan kemajuan media digital, kita bisa berbuat takwa kapan saja, di mana saja, dalam bentuk takwa digital – takwa virtual.

Membuat konten digital yang bermanfaat melalui handphone, misal konten edukasi, adalah termasuk tindakan takwa virtual. Jika setiap orang, tiap hari membuat satu saja konten positif bermanfaat, maka kita akan mempunyai lebih dari 100 juta konten positif tiap hari. Pemilik hanphone di Indonesia lebih dari 100 juta jiwa. Luar biasa…!

5. Virtual – Aktual – Noumenal

Deleuze membagi dunia menjadi virtual dan aktual. Keduanya sama-sama real. Beda dengan konsep potensial, yang tidak real. Sementara, virtual adalah dunia real yang belum aktual.

Dunia virtual adalah alam real dengan intensitas lebih rendah. Sedangkan, dunia aktual adalah dunia real dengan intensitas yang lebih kuat. Ketika kita akan membuat meja, misalnya, maka kita akan menciptakan gambaran meja dalam pikiran kita. Gambaran meja dalam pikiran adalah meja virtual yang bersifat real meski belum aktual.

Dunia virtual lebih besar dari dunia pikiran manusia. Pohon yang tingginya, saat ini, 1 cm akan tumbuh menjadi 2 cm esok hari. Pohon 1 cm adalah dalam dunia aktual real. Sementara ini, pohon 2 cm, hanya ada di dunia virtual meski real. Memang, esok hari pohon 2 cm menjadi aktual.

Dunia aktual bisa kita amati secara empiris. Sementara, dunia virtual perlu kajian lebih dalam untuk bisa memahaminya. Dunia virtual dipenuhi oleh beragam perbedaan-perbedaan intensitas. Mereka yang mencapai ambang intensitas tertentu akan menembus hadir ke dunia aktual.

Di era digital, saat ini, dunia virtual makin nyata bersifat real. Kita bisa komunikasi melalui media sosial di dunia maya, alam virtual. Kita bisa membuat konten takwa di media sosial. Bahkan, kita bisa menghasilkan uang melalui dunia virtual. Bisa jadi, dunia virtual berdampak lebih besar dari dunia aktual.

Immanuel Kant, 200 tahun sebelum Deleuze, merumuskan dunia fenomenal dan dunia noumenal. Fenomenal adalah dunia aktual yang bisa kita kenali secara empiris. Sementara, noumenal adalah dunia sejati yang tersembunyi di balik dunia empiris. Semua pengetahuan kita tentang alam semesta adalah pengetahuan fenomena, pengetahuan penampakan belaka. Sedangkan, hakikat alam semesta tetap tersembunyi dari indera kita.

Pengetahuan kita hanya berupa estimasi terhadap pengetahuan sejati. Meski demikian, kita bisa makin dekat dengan pengetahuan sejati dengan memanfaatkan seluruh kekuatan yang kita miliki: panca indera, imajinasi, pemahaman, akal, rasa, karsa, dan karya. Karena pengetahuan sejati, pengetahuan noumena, melampaui definisi bahasa maka kita bisa mengungkapkannya melalui simbol-simbol atau perlambang.

Dengan demikian, kita bisa memandang realitas alam semesta dengan tiga struktur alam: virtual – aktual – noumenal. Semua realitas tersebut sama-sama real, sama-sama nyata.

6. Takwa Real

Kita beruntung, di jaman ini, ada kesempatan bertindak takwa di tiga realitas alam. Di alam virtual, kita bisa bertakwa dengan menciptakan konten-konten positif melalui berbagai media sosial. Di alam aktual, kita bisa bertakwa dengan berbuat baik kepada sesama. Sedangkan di alam noumenal, kita bisa bertakwa dengan mengikhlaskan niat dari setiap tindakan kita.

Makin terbentang alam raya – virtual, aktual, noumenal – maka makin besar seruan bagi kita untuk bertakwa. Mari bertakwa dengan sebenar-benarnya takwa, di seluruh cakrawala alam raya.

Bagaimana menurut Anda?