Logika Seberapa Logis

Tentu saja, logika adalah yang paling logis. Logika adalah yang paling masuk akal. Tetapi, mengapa sering terjadi sebaliknya? Pernyataan logika justru tidak masuk akal. Pernyataan logika, kadang-kadang, terasa tidak logis. Padahal, logika adalah ilmu berpikir.

Logika manusia, umumnya, dipengaruhi oleh lingkungan. Kita mudah menerima sesuatu yang menjadi kebiasaan. Sementara sesuatu yang di luar kebiasaan, sering kita pandang sebagai tidak logis – tidak masuk logika. Padahal, bisa saja, sesuatu yang luar biasa tetap logis. Di sinilah, kita perlu mengkaji logika.

“Saya menempuh perjalanan dari Jakarta ke Surabaya dalam waktu 1 jam.” Pernyataan seperti itu masuk akal, logis. Karena saya melakukan perjalanan dengan naik pesawat.

Bayangkan, pernyataan di atas, dikatakan kepada penduduk yang hidup pada tahun 1525. Tentu saja menjadi tidak logis, tidak masuk akal. Tahun 1525, belum ada pesawat terbang. Bahkan, belum ada mobil. Untuk menempuh Jakarta ke Surabaya barangkali diperlukan waktu 10 hari atau lebih.

Tampak jelas perbedaan antara sesuatu yang “di luar kebiasaan” dengan sesuatu yang “tidak logis.”

1. Silogisme Aristoteles
1.1 Silogisme Partikular Universal
1.2 Analisis Apriori – Deduksi
1.3 Analisis Posteriori – Induksi
1.4 Silogisme Implikasi
2. Logika Boolean dan Fuzzy
2.1 Simbol Matematis
2.2 Definisi Tabel Kebenaran
2.3 Logika Digital
2.4 Silogisme Modus Ponen
2.5 Logika Implikasi
2.6 Logika Fuzzy
2.7 Abduksi
3. Logika Relasi Frege
3.1 Tiga Prinsip Logika
3.2 Prinsip Kausalitas
3.3 Peano Aritmetika
3.4 Kehebatan Relasi
3.5 Skrip-Konsep
3.6 Sistem Formal
3.7 Paradox Russell
3.8 Paradox Godel
3.9 Paraconsistent
4. Logika Dialektika Hegel
4.1 Tesis – Antitesis – Sintesis
4.2 Being – Esensi – Idea
4.3 Dialektika Siklis
4.4 Fokus Silogisme
4.5 Interpretasi Spirit
4.6 Ringkasan
5. Logika Visi Iluminasi Suhrawardi
5.1 Deduksi Tidak Memadai
5.2 Induksi Tidak Mencukupi
5.3 Visi-Iluminasi
5.4 Kritik Suhrawardi
5.5 Ringkasan 
6. Logika Destruksi Heidegger
6.1 Logika Plato – Aristo
6.2 Logika Cogito Descartes
6.3 Logika Sintesa Kant
6.4 Destruksi Metafisika
6.5 Question of Being
7. Logika Kategori Eilenberg-Lane
7.1 Obyek dan Relasi
7.2 Ragam Struktur Kategori
8. Logika Penuh – Seleksi Produksi
8.1 Rumpun Seleksi
8.2 Rumpun Produksi
8.3 Rumpun Siklis

Kita bisa menelusuri sejarah logika sampai ke Aristoteles. Silogisme, dari Aristoteles, adalah cara paling masuk akal untuk berpikir benar dalam menarik kesimpulan. Logika Aristoteles ini, kemudian, berkembang pesat menjadi logika Boolean (dan fuzzy) yang menjadi landasan teknologi digital saat ini. Kehebatan logika Boolean adalah kemampuannya untuk rekayasa. Efek sampingnya, adalah tumbuh subur hoax digital.

Frege menyusun logika relasional, menjelang abad 20, yang jauh lebih dahsyat dari logika Aristoteles. Russell menyambut hangat ide Frege dan mengembangkan lebih jauh menembus batas. Semua pengetahuan manusia, pada analisis akhir, bisa direduksi menjadi “logika”. Gerakan besar ini menghasilkan “logika positivisme” dan filsafat analytic. Pro kontra tumbuh subur terhadap positivisme.

Hegel, pada abad 19, mengembangkan logika dialektika yang berbeda dengan Aristoteles mau pun Frege di era berikutnya. Logika dialektika bukanlah metode berpikir yang benar (saja). Tetapi, logika dialektika adalah sistem metafisika lengkap. Logika adalah prinsip realitas seluruh alam semesta, termasuk prinsip pikiran dan prinsip alam dunia luar. Ditambah lagi dengan menerapkan prinsip kontradiksi maka logika dialektika Hegel makin sulit dipahami banyak orang.

Suhrawardi, pada abad 12, merombak total logika Aristoteles menjadi logika visi-iluminasi. Hanya dengan visi-iluminasi, logika memiliki landasan yang kuat. Tanpa visi-iluminasi, semua bangunan logika bagaikan bangunan rumah yang megah tanpa fondasi. Tertiup angin, runtuh berkeping-keping. Iqbal, pada abad 20, menyejajarkan kehebatan logika visi-iluminasi Suhrawardi setara dengan logika dialektika Hegel. Bisa kita duga, bagi banyak orang, tidak mudah untuk memahami logika visi-iluminasi.

Heidegger (1889 – 1976) melakukan destruksi logika sehingga logika runtuh menjadi horisontal, sedemikian hingga, kebenaran yang tersembunyi menjadi terungkap. Dari reruntuhan destruksi logika itu, kita membangun kembali sistem logika. Apakah bisa? Logika futuristik menjadi salah satu solusi yang prospek.

Eilenberg (1913 – 1998) dan Lane (1909 – 2005) menyusun logika kategori dengan mengambil “inspirasi” teori fungsi di matematika. Meski pun logika kategori ini adalah logika tingkat tinggi, menyelidiki struktur abstrak dan sistem dari struktur, kita bisa membahas prinsip-prinsipnya dengan sederhana. Logika kategori lebih ketat dari logika relasional (mau pun proposional) karena hanya mengijinkan relasi khusus yaitu relasi fungsi (functor, morphism, mapping) dengan komposisi asosiasi. Di saat yang sama, logika kategori mencakup logika relasi dan seluruh logika yang ada. Banyak inovasi menarik berkat logika kategori. Saat ini, logika kategori menjadi trend sebagai kajian tingkat tinggi paling diminati.

Di awal abad 21 ini, kita bisa mengembangkan logika-penuh dua arah: seleksi dan produksi. Logika-penuh merupakan pengembangan dari logika kategori. Logika-penuh hanya mengijinkan functor (morphism, mapping) surjective (full). Sementara, functor yang lain (injective dan bijective) perlu ditransformasikan menjadi functor surjective. (Functor identitas tetap dipertahankan).

Logika-penuh arah seleksi menyelidiki struktur abstrak seleksi, misal, bagaimana piala dunia babak awal diikuti seluruh negara, babak tengah tinggal 50%, dan babak final menghasilkan 1 juara unik. Sementara, logika-penuh arah produksi menyelidiki struktur abstrak produksi, misal, bagaimana produksi satu konten digital diakses 2 orang di hari pertama, 20 orang di hari kedua, dan 300 ribu orang di hari ketiga. Dengan demikian, logika penuh memberi tahu kita struktur apa yang menjamin memenangkan kompetisi – misal pemilu presiden – dan struktur apa yang menjamin suatu konten menjadi viral di media sosial.

1. Silogisme Aristoteles

Aristoteles (384 – 322 SM) adalah pemikir pertama, yang secara eksplisit, membahas logika. Tentu saja, pemikir sebelum era Aristoteles di berbagai tempat, juga mengembangkan sistem logika. Bagaimana pun, Aristoteles berhasil menyusun fondasi logika dengan kokoh.

Saya akan mengusulkan bentuk silogisme sederhana dan tunggal, sedemikian hingga, setiap orang mudah untuk menerapkannya. Silogisme tersebut adalah silogisme implikasi.

1.1 Silogisme Patikular Universal

Silogisme Aristoteles, secara prinsip, adalah memasukkan partikular ke universal.

ASetiap kuda berkaki 4.
BPoni adalah kuda.
CPoni berkaki 4. (Benar dan sah)

“Poni” adalah partikular dimasukkan ke dalam universal “kuda.” Sehingga, kesimpulan menjadi sah bahwa Poni memiliki karakter sebagai kuda: Poni berkaki 4.

1.2 Analisis Apriori Deduksi

Contoh silogisme di atas adalah anilisis apriori yang terjamin nilai kebenarannya. Apriori dalam arti kita tidak perlu melakukan pengamatan tambahan untuk menjamin kebenaran kesimpulan (C). Dengan asumsi premis (A) dan (B) bernilai benar maka (C) pasti benar.

1.3 Analisis Posteriori Induksi

Analisis posteriori, tampak, lebih merepotkan karena kita harus melakukan pengamatan. Hasil pengamatan ini bisa saja afirmasi atau, bisa juga, menolak.

Misal “(B) Poni adalah kuda” apakah benar?

Kita perlu memahami apa yang dimaksud “Poni”. Barangkali “Poni” adalah nama dari seekor binatang. Kemudian, kita mengamati lagi apakah binatang yang dimaksud adalah kuda. Di sini, kita menghadapi tugas besar semantik dan interpretasi.

Pembedaan antara posteriori dengan apriori ini penting. Karena, sering terjadi salah pikir, falasi, suatu kasus posteriori dianggap sebagai apriori.

(K) Setiap orang Indonesia adalah ramah.

Peryataan (K) bersifat posteriori, di mana, kita perlu pengamatan untuk verifikasi kebenarannya. Barangkali, kita bisa mengambil contoh 100 orang diamati dan ternyata ramah. Kemudian, dengan generalisasi induksi, kita menyimpulkan (K) benar. Bagaimana pun, kebenaran induksi bersifat probabilistik.

Menjadi rumit ketika pernyataan (K) dianggap sebagai apriori. Yaitu, setiap ada orang Indonesia, kita mengira mereka selalu ramah. Tentu saja, bisa salah. Masih mending, pernyataan (K) berkonotasi positif. Konotasi negatif lebih riskan. Contoh,

(N) Selain madzhab kulo adalah sesat.

Bila (N) dianggap apriori maka bisa menimbulkan kekacauan dalam masyarakat. Perbedaan cara pandang madzhab akan menimbulkan saling curiga. Padahal, perbedaan cara pandang adalah wajar dalam setiap masyarakat. Seharusnya, (N) adalah posteriori yang perlu diuji dengan pengamatan dan, bahkan, hasilnya (N) bisa ditolak

1.4 Silogisme Implikasi

Perkembangan logika Boolean, yang awalnya Aristotelian, memudahkan kita untuk mempelajari logika. Maka, saya menyusun bentuk logika paling sederhana dan kita bisa menerapkan dengan cara seluas-luasnya.

(S) MAKA (H)

Contoh:

Jika persegi MAKA punya 4 sisi.

P adalah persegi. Kesimpulan: P punya 4 sisi. (Sah)
Q tidak punya 4 sisi. Kesimpulan: Q bukan persegi. (Sah)

K punya 4 sisi. Kesimpulan K adalah persegi. (Tidak Sah. Karena bisa saja K adalah belah ketupat yang bukan persegi).

L bukan persegi. Kesimpulan: L tidak punya 4 sisi. (Tidak Sah. Karena bisa saja L adalah layang-layang yang bukan persegi).

Semua pernyataan logika bisa kita ubah ke bentuk implikasi. Sehingga, silogisme implikasi, nyaris, bisa digunakan untuk semua pernyataan logika. Ditambah, bentuk logika implikasi ini bersifat intuitif bagi manusia.

Mari kita coba analisis klaim (K),

(K) Jika dia presiden MAKA negara adil makmur.

PremisKesimpulan SAH
Syarat (S) BENARHasil (H) BENAR
Hasil (H) SALAHSyarat (S) SALAH

(A) Dia jadi presiden. Kesimpulan: negara adil makmur (Sah). Bukti bahwa dia jadi presiden bisa kita lihat dari hasil pemilu, misalnya. Bukti bahwa negara adil makmur bisa kita lihat dengan beragam indikator ekonomi, politik, dan budaya.

Problem terjadi ketika, ternyata, negara tidak adil makmur padahal dia jadi presiden. Karena proses menarik kesimpulan, silogisme, sudah sah maka kesalahan terletak pada klaim (K). Klaim dari premis (K) memang perlu diuji dengan beragam cara.

(B) Negara tidak adil makmur. Kesimpulan: (akibat dari) dia tidak jadi presiden (Sah). Apakah, dengan demikian, dia harus jadi presiden? Tidak juga!

PremisKesimpulan TIDAK SAH
Hasil (H) BENARSyarat (S) BENAR
Syarat (S) SALAHHasil (H) SALAH

(C) Negara adil makmur. Kesimpulan: dia jadi presiden (Tidak Sah). Karena “dia jadi presiden” bisa mengakibatkan “negara adil makmur.” Demikian juga “dia tidak jadi presiden” bisa mengakibatkan “negara adil makmur.” Misal, presiden yang lain justru lebih sukses menciptakan negara adil makmur.

Falasi tipe ini: (H) BENAR maka kesimpulan (S) BENAR atau SALAH sering menipu banyak orang. Dari hasil (H) yang BENAR, kita tidak bisa menyimpulkan apa pun tentang syarat (S). Maksudnya, (S) bisa BENAR atau, bisa saja, SALAH.

Jadi, tidak ada keharusan “dia jadi presiden” agar negara adil makmur. Tetapi ada kewajiban: jika “dia jadi presiden” maka wajib menjamin negara adil makmur.

(D) Dia tidak jadi presiden. Kesimpulan: negara tidak adil makmur (Tidak Sah). Karena, meski “dia tidak jadi presiden” tetap ada peluang “negara adil makmur” dengan presiden yang lain. Sehingga, tidak perlu khawatir seandainya dia tidak jadi presiden.

2. Logika Boolean dan Fuzzy

Logika Aristoteles klasik, kemudian, berkembang pesat menjadi logika Boolean (dan fuzzy) yang menjadi landasan teknologi digital saat ini. Kehebatan logika Boolean adalah kemampuannya untuk rekayasa. Efek sampingnya, adalah tumbuh subur hoax digital.

2.1 Simbol Matematis

Boole (1815 – 1864) mengembangkan logika yang fokus kepada nilai kebenaran. Benar bernilai 1 dan salah bernilai 0. Hasil akhir dari seluruh logika adalah menetapkan apakah suatu sistem benilai 1 atau bernilai 0.

Pada gilirannya, proposisi atau sistem itu sendiri bisa dinyatakan dengan simbol biner 1 atau 0 itu sendiri. Sehingga, segala sesuatu hanya terdiri dari biner belaka. Reduksi menjadi representasi biner memiliki banyak keunggulan.

Pertama, simbol-simbol biner membuang problem semantik dan interpretasi. Sehingga, simbol-simbol biner dianggap jelas dengan sendirinya. Tata bahasa dan tata logika, semua, dalam bentuk biner juga.

Kedua, manipulasi logika yang canggih. Dengan simbol biner, kita bisa melambangkan suatu masalah kompleks dengan satu simbol saja. Kemudian, mengolahnya sesuai kebutuhan. Hasil akhirnya jelas, 1 atau 0 saja.

Ketiga, logika Boolean ini mudah diimplementasikan dalam bentuk teknologi digital. Misal 1 adalah ada arus listrik dan 0 adalah tidak ada arus, maka, sistem logika bisa berwujud sebagai mesin komputer, smartphone, dan sebagainya.

2.2 Definisi Tabel Kebenaran

Kita bisa melangkah lebih jauh dengan mendefinisikan operasi logika menggunakan simbol. Lagi, kita menyisihkan problem semantik dan interpretasi di sini.

Logika implikasi, P maka Q, bisa kita definisikan sebagai “Hanya bernilai SALAH ketika P BENAR dan Q SALAH.”

Tabel kebenaran menjadikan semuanya jelas.

PQP ==> Q
111
100
011
001

Kita bisa membuat definisi operasi logika dalam jumlah yang sangat banyak. Meski demikian, pada akhirnya, kita akan mengerucut ke definisi-definisi yang intuitif misal tentang implikasi, konjungsi, disjungsi, negasi, biimplikasi, dan lain-lain.

2.3 Logika Digital

Sistem logika digital terus berkembang menjadi makin kompleks. Karnaugh-map adalah salah satu metode untuk menyusun sistem logika digital dalam bentuk paling optimal. Sejatinya, tersedia banyak pilihan sistem logika digital yang mewakili satu tujuan tertentu. K-map memastikan sistem digital yang dipilih adalah paling efisien.

2.4 Silogisme Modus Ponen

Silogisme modus ponen berkembang lebih leluasa. Dalam logika Aristotelian, silogisme terbatas memasukkan partikular ke universal. Dalam logika Boolean, kita bisa mengembangkan silogisme terhadap proposisi-proposisi yang saling tidak ada hubungan.

(A) Jika hujan maka minum kopi.
(B) Jika minum kopi maka bahagia.

Kesimpulan:

(C) Jika hujan maka bahagia.

Tidak ada hubungan partikular-universal antara hujan dan bahagia. Tetapi, kita bisa mengembangkan silogisme. Dalam rekayasa digital, kita punya peluang kreasi yang sangat besar.

(A) Tombol kanan maka listrik nyala.
(B) Listrik nyala maka pintu terbuka.

Kesimpulan:

(C) Tombol kanan maka pintu terbuka.

2.5 Logika Implikasi

Seperti sudah kita bahas di atas, logika implikasi menjadi paling fundamental dari seluruh sistem logika. Semua operasi logika bisa kita ubah ke bentuk implikasi. Kemudian, kita bisa menarik kesimpulan yang sah berdasar implikasi.

Bagaimana pun, kita perlu hati-hati untuk menarik kesimpulan dari implikasi. Ketika konsekuensi terpenuhi maka kita tidak sah, tidak valid, untuk menyimpulkan bahwa antesenden juga terpenuhi.

T: Teori
E: Pengamatan empiris sesuai

Kita bisa mengasumsikan, mengharapkan, jika T maka E.

Seribu kali pengamatan yang membuktikan E sebagai benar, sama sekali, tidak berhasil membuktikan bahwa teori T juga benar. Sebaliknya yang terjadi. Hanya satu kali E terbukti gagal, maka, teori T terbukti gagal. Sehingga, peran implikasi adalah sebagai falsifikasi terhadap teori. Bukan verifikasi. Bagaimana pun, masih terus terjadi perdebatan untuk menyikapi falsifikasi ini. Kita perlu waspada secara logika.

2.6 Logika Fuzzy

Dalam realitas, pembedaan benar dengan salah, 1 dan 0, tidak selalu mudah. Misal, suhu 25 derajat celcius apakah termasuk panas? Barangkali, suhu udara di atas 35 derajat bisa disepakati sebagai panas. Sedangkan, suhu di bawah 20 derajat bisa disepakati sebagai tidak panas – misal dingin. Suhu di antara mereka bagaimana?

Logika Fuzzy memberi solusi dengan pendekatan probabilistik. Nilai kebenaran tidak harus biner 0 dan 1. Tetapi, ada gradasi di antaranya. Berbagai macam model gradasi bisa kita kembangkan.

Suhu (derajat celcius)Nilai Kebenaran
di bawah 15Dingin 100%
15 sampai 20Dingin 80%, panas 20%
20 sampai 30Dingin 20% panas 80%
di atas 30Panas 100%

Dengan logika fuzzy, kita lebih terbuka dengan keragaman. Hal ini menjadikan kita lebih bebas mengembangkan kreativitas dan lebih lentur. Bagaimana pun hasil akhir dari fuzzy masih tetap bisa dikonversi menjadi biner.

2.7 Abduksi

Logika abduksi makin menarik di era yang dipenuhi keragaman seperti sekarang ini. Abduksi terbuka dengan menerima beragam argumen, kemudian, mengolahnya untuk menghasilkan kesimpulan yang terbaik.

Bentuk abduksi yang paling terbuka adalah menerima segala argumen: silogisme Aristotelian, logika Boolean, silogisme implikasi, logika fuzzy, dan lain-lain. Masing-masing argumen dianalisis, dibandingkan, dimodifikasi, bahkan dikombinasikan. Hasil akhir adalah kesimpulan abduksi terbuka.

Seringkali terjadi, dalam realitas, kita dihadapkan pada beragam pilihan logika dengan bobot yang sama, atau seimbang. Sehingga, metode apa pun yang kita pakai untuk menilai akan memberi hasil yang tidak eksak. Karena itu, abduksi-terbuka memberi solusi agar kita memilih solusi terbaik dengan tetap membuka masing-masing argumen yang berbeda itu. Agar bila kemudian hari, ada orang yang hendak melakukan analisis ulang, bisa melakukan analisis dengan argumen yang lengkap dan diharapkan mendapatkan hasil yang lebih baik.

3. Logika Relasi Frege

Frege menyusun logika relasional, menjelang abad 20, yang jauh lebih dahsyat dari logika Aristoteles. Russell menyambut hangat ide Frege dan mengembangkan lebih jauh menembus batas. Semua pengetahuan manusia, pada analisis akhir, bisa direduksi menjadi “logika”. Gerakan besar ini menghasilkan “logika positivisme” dan filsafat analytic. Pro kontra tumbuh subur terhadap positivisme.

3.1 Tiga Prinsip Logika

Frege, dan Russell, menguatkan tiga prinsip logika: identitas, non-kontradiksi, dan hukum-antara.

Prinsip identitas menyatakan bahwa segala sesuatu sama dengan dirinya sendiri. Atau, K = K.

Prinsip non-kontradiksi menyatakan bahwa segala sesuatu berlawanan, secara logis, dengan negasinya. Dinyatakan, K AND (-K) pasti bernilai SALAH. Tidak mungkin kontradiksi. Tidak mungkin K dan (-K) sama-sama bernilai benar.

Hukum-Antara menyatakan salah satu dari K OR (-K) pasti bernilai BENAR. Tidak mungkin ada alternatif ketiga antara afirmasi dengan negasinya.

Tiga prinsip logika di atas sudah terdokumentasi dengan baik sejak era Aristoteles. Tampaknya, semua pemikir setuju dengan tiga prinsip di atas. Baru, satu abad sebelum era Frege, Hegel memberi challenge serius terhadap prinsip di atas. Wajar, Frege dan Russell perlu menegaskan kembali tiga prinsip logika di atas.

Satu prinsip lagi yang diperlukan, yaitu, prinsip kausalitas: hukum sebab akibat.

3.2 Prinsip Kausalitas

Segala sesuatu perlu sebab. Prinsip kausalitas menyatakan agar terjadi sesuatu diperlukan sebab-sebab yang mencukupi. Sebaliknya juga berlaku, segala sebab menghasilkan akibat.

Tentu saja, prinsip kausalitas sudah berkembang sejak jaman kuno. Namun, sampai masa Frege, tidak ada formula yang memuaskan untuk prinsip kausalitas. Aristoteles menyatakan setiap gerakan membutuhkan penggerak. Penggerak itu sendiri membutuhkan penggerak prior, dan seterusnya sampai, membutuhkan penggerak pertama yang tidak butuh penggerak.

Ibnu Sina, dan Leibniz, mengembangkan ide yang mirip. Segala yang ada di alam raya ini bersifat kontingen, mungkin ada dan mungkin tidak ada. Untuk bisa menjadi ada, kontingen ini, membutuhkan sebab. Pada gilirannya, sebab itu sendiri membutuhkan sebab yang lebih prior, sampai akhirnya, ada sebab yang wajib eksis karena dirinya sendiri.

Frege mengembangkan formula kausalitas yang lebih jelas dan koheren. Frege mengarahkan kajian ke aritmetika (matematika). Mengapa “2 + 1” menghasilkan “3”? Karena, ada suatu proses yang menghasilkan angka “3” yaitu operasi penjumlahan “2 + 1”. Frege perlu formula yang tegas untuk prinsip kausalitas aritmetika ini. Saat itu, sudah berkembang Aritmetika Peano.

Alur pemikiran kita untuk membangun logika-relasi adalah sebagai berikut.

(1) Segala pengetahuan kita – sains, matematika, metafisika, dan sebagainya – bisa direduksi menjadi sistem logika.

(2) Sistem logika, pada gilirannya, bisa direduksi menjadi aritmetika.

(3) Aritmetika, yang merupakan sistem aksiomatik formal, mampu menjelaskan segala sesuatu – termasuk kausalitas – dengan konsisten dan independent dari intuisi manusia atau pengamat.

Sistem logika-relasi ini, jika berhasil, mampu menjelaskan segala fenomena dan realitas secara obyektif.

Berikutnya, kita akan membahas sistem aritmetika terpenting: Aritmetika Peano.

3.3 Peano Aritmetika

Peano (1858 – 1932) menyusun sistem aksioma aritmetika yang menjadi landasan dasar sistem aritmetika. Perluasan Aritmetika Peano ini membuka prospek untuk sistem logika baru yang lebih kokoh. Frege meng-elaborasi lebih jauh Aritmetika Peano menjadi sistem formal aksiomatik yang berlaku secara luas.

Secara sederhana, Peano menetapkan aksioma dalam jumlah yang sangat sedikit. Pertama, aksioma yang mengatakan ada sesuatu yaitu sebut saja angka “1”. Kita mudah memahami aksioma ini. Jelas di alam raya ini ada sesuatu: ada saya, ada batu, ada pikiran, dan lain-lain.

Kedua, aksioma yang menyatakan ada urutan. Setelah “1” ada “2” atau sebelum “2” ada “1”. Angka “0” adalah angka yang tidak punya pendahulu. Dalam Aritmetika Peano, kita tidak membahas bilangan negatif atau pecahan. Jika diperlukan membahas itu, negatif atau pecahan, kita bisa melakukan generalisasi atau analogi.

Hanya dengan dua aksioma-besar di atas Peano berhasil menyusun sistem aritmetika yang konsisten dan koheren. Versi asli Peano ada 9 aksioma. Saya menyederhanakan menjadi dua aksioma-besar agar lebih mudah untuk pembahasan.

3.4 Kehebatan Relasi

Agar lebih mudah memahami kehebatan logika-relasi, yang didasarkan pada aritmetika, kita akan membandingkan dengan logika jenis lain.

(1) Logika-universal Aristotelian hanya menganalisis suatu partikular masuk sebagai anggota dari universal. Misal, setiap persegi punya 4 sisi. Bangun A adalah persegi. Kesimpulan, A punya 4 sisi.

Sementara, logika-relasi mampu menjelaskan proses bagaimana bangun A berhasil memiliki 4 sisi.

(2) Logika-rekayasa dengan silogisme kreatif mampu mendesain kausalitas buatan. Jika tombol kanan maka listrik nyala. Jika listrik nyala maka pintu terbuka. Kesimpulannya, jika tombol kanan maka pintu terbuka.

Logika-rekayasa jelas sangat berguna untuk mengembangkan teknologi dan beragam kemajuan umat manusia. Tapi, logika-rekayasa tidak mampu menjelaskan hukum kausalitas. Karena kausalitas yang ada adalah hasil rekayasa belaka. Di sisi lain, logika-relasi mampu menjelaskan kausalitas tersebut secara obyektif.

(3) Interpretasi bahasa. Ketika logika-relasi berhasil menjelaskan seluruh fenomena secara obyektif, kemudian, muncul problem interpretasi bahasa. Peran subyek-pengamat sangat besar dalam interpretasi dan memaknai bahasa, sehingga, bersifat subyektif. Karena itu, kita perlu mengembangkan bahasa yang bersifat obyektif yaitu skrip-konsep.

3.5 Skrip-Konsep

Kita menggunakan bahasa sehari-hari yang memiliki makna denotasi dan konotasi. Makna konotasi, kental, bersifat subyektif. Makna denotasi dimaksudkan sebagai makna yang terkandung langsung dari bahasa tersebut. Kita berharap, makna denotasi bersifat obyektif. Bagaimana pun, makna obyektif tetap dipengaruhi oleh konteks pemakaian bahasa tersebut. Sehingga, tidak lagi terjamin obyektif dengan satu makna tertentu.

Sementara, pernyataan dalam matematika bisa bersifat obyektif.

3 + 2 = 5 atau x + y = 7.

Seandainya, ada pihak yang salah paham terhadap pernyataan matematika, maka, kita bisa melakukan klarifikasi dan dihasilkan makna obyektif tunggal.

Frege mengembangkan skrip-konsep untuk menjadi bahasa obyektif dengan makna tunggal. Tentu saja, kita akan lebih mudah mengembangkan skrip-konsep mulai dari matematika itu sendiri.

“n adalah himpunan bilangan ganjil antara 3 dan 7.”

Apakah 3 masuk dalam n atau tidak? Kata “antara” bisa bermakna batas 3 masuk sebagai solusi. Tapi, bisa juga 3 tidak masuk solusi. Lebih jelas dengan ungkapan matematika,

{ 3 < n < 7; n ganjil }

Dengan notasi lebih dari (<), jelas, bahwa 3 tidak termasuk solusi.

Skrip-konsep melangkah lebih jauh dengan membuat “skrip” atau simbol untuk berbagai macam kata.

“e” adalah “exist”

“A” adalah “All”

==> adalah “maka”

Dan, masih banyak lainnya.

Dengan makin banyaknya skrip, para ahli matematika berhasil menuliskan ide secara obyektif dan jelas. Lebih menarik lagi, skrip-konsep ini lebih singkat dan lebih jelas dari bahasa biasa. Dengan demikian, terbukti skrip-konsep berhasil menciptakan bahasa obyektif yang berbeda dengan bahasa sehari-hari.

Frege berharap, suatu saat di masa depan, akan tercipta skrip-konsep yang lengkap. Sehingga, kita bisa menulis dan membaca secara obyektif murni. Baik untuk kepentingan ilmiah atau pun lainnya. Akankah harapan Frege menjadi nyata? Kita perlu melihat sejarah dan situasi saat ini – setelah 120 tahun Frege mengharapkan itu.

3.6 Sistem Formal

Sistem yang didasarkan pada beberapa aksioma disebut sebagai sistem formal atau sistem aksiomatik. Sistem Aritmetika Peano adalah contoh sistem formal. Analisis Frege membuktikan bahwa Aritmetika Peano memberikan semua yang dibutuhkan sebagai pengetahuan obyektif. Semua prinsip umum logika bekerja dengan baik, hukum kausalitas berjalan dengan baik, dan yang sangat penting, dapat dikomunikasikan secara obyektif.

Langkah berikutnya, dengan memanfaatkan skrip-konsep, meluaskan sistem formal ke sistem yang lebih besar dari aritmetika. Secara umum, perluasan ke geometri dan aljabar bisa berjalan lancar. Untuk perluasan ke sistem lain, misal ke sistem sains atau bahasa, hanya perlu waktu saja.

Dengan demikian, semua sistem bisa kita pandang sebagai sistem formal yang obyektif. Sejatinya, bagi kita yang hidup satu abad setelah Frege, lebih mudah memahami eksistensi sistem formal. Teknologi digital bisa kita pandang sebagai sistem formal obyektif yang setiap hari menemani kita. Jadi, sistem formal benar-benar hadir dalam hidup kita.

Benarkah Frege berhasil dengan semua impiannya?

Bahkan, masih di tahun 1900an, buku karya Frege masih dalam proses penerbitan, Russell memberikan kritik yang sangat tajam. Kelak, kritik ini dikenal sebagai Paradox Russell yang sulit ditangani.

3.7 Paradox Russell

Frege menerima surat dari Russell yang berisi kritik tajam. Frege mengaku kritik Russell adalah valid. Dan, Frege tahu bahwa Russell ada di sisi yang sama dengannya. Kritik tersebut murni untuk kebaikan sistem formal itu sendiri. Beberapa belas tahun kemudian, Wittgenstein muda yang berbakat datang ke Frege untuk belajar logika. Frege menolak Wittgenstein dan menyarankannya untuk belajar ke Russell. Tampaknya, Frege sadar masa depan sains ada pada Russell.

Paradox Russell sudah sangat terkenal. Sistem formal yang berlaku prinsip identitas,

H = H

mengarah kepada kontradiksi diri atau paradox.

Misalkan, H = himpunan yang beranggotakan semua himpunan selain dirinya sendiri.

Apakah H beranggotakan H?

(1) Jika H anggota H maka H harus bukan anggota H.

(2) Jika H bukan anggota H maka H harus anggota H.

Paradox Russell ini valid. Tetapi, karena buku Frege sudah dalam proses percetakan, maka, tidak ada waktu untuk merevisinya. Lebih serius dari itu, 10 tahun berlalu, tetap belum ada solusi memuaskan. Tidak ditemukan cara untuk merevisinya.

Baru pada tahun 1910an, Russell bersama mentornya – Whitehead, menuliskan solusi resmi dalam maha karya “Principia Mathematica.” Solusi Russell fokus terhadap pernyataan predikatif.

Hanya pernyataan predikatif yang diijinkan dalam sistem formal. Sedangkan pernyataan impredikatif dilarang, yaitu, pernyataan yang membicarakan dirinya sendiri. Berikut ini adalah contoh pernyataan impredikatif.

(P): Pernyataan ini salah.

Karena (P) berbicara tentang (P) maka impredikatif dan dinyatakan sebagai tidak valid. Pernyataan sejenis ini, yang merujuk diri sendiri, adalah sumber paradox. Dengan menyingkirkan pernyataan impredikatif, sistem formal selamat dari paradox.

Solusi Russell seperti di atas, tampaknya, tidak terlalu lama bertahan. Pada tahun 1930an, muncul paradox baru yang lebih serius: paradox Godel.

3.8 Paradox Godel

Godel (1906 – 1978) masih sangat muda ketika merumuskan teorema Godel pada tahun 1930an. Teorema Godel, yang juga dikenal sebagai paradox Godel, mengatakan, “Setiap sistem formal tidak lengkap atau tidak konsisten.”

Singkatnya, meski sistem formal sudah mengikuti saran Russell untuk mencegah pernyataan impredikatif, tetap saja, sistem formal tidak konsisten. Yang menarik lagi, Godel berhasil mengubah sistem formal menjadi terdiri dari angka-angka besar yang merupakan hasil kali bilangan prima berpangkat. Segala sesuatu hanya terdiri dari angka-angka. Dan, angka-angka ini membuktikan bahwa sistem formal adalah tidak konsisten.

Beberapa tahun ke depan, paradox Godel ini sudah bertahan dalam satu abad. Dalam rentang satu abad ini, banyak kajian yang menguatkan validitas paradox Godel.

Dengan demikian, impian untuk mengembangkan sistem formal yang konsisten dan obyektif menemui jalan buntu karena sistem formal selalu tidak konsisten atau tidak lengkap. Untuk menjadi agar tetap konsisten, sistem formal perlu campur tangan subyektivitas. Demikian juga, untuk menjaga agar lengkap perlu subyek. Sementara, subyek itu sendiri tidak konsisten dan tidak lengkap pula.

Meski paradox Godel tidak bisa diatasi, kita bisa memberi solusi pada sistem formal itu sendiri. Salah satu solusi terpenting, muncul menjelang abad 21, berupa sistem paraconsistent.

3.9 Paraconsistent

Routley, atau Richard Sylvan, (1935 – 1996) adalah pemikir asal Australia yang menghabiskan masa dewasanya di Bali, Indonesia. Routley mengembangkan logika paraconsistent, yaitu, logika yang merangkul inkonsistensi – menerima karakter tidak konsisten. Dengan demikian, sistem formal tetap valid meski tidak konsisten karena ada paradox Godel.

Inkonsistensi, tidak konsisten, atau kontradiksi sudah menghantui para pemikir sejak ribuan tahun yang lalu. Mereka menghindari kontradiksi. Karena ECQ: Ex Contradictione Quodlibet. Dari kontradiksi bisa apa saja. Jika kontradiksi dibolehkan, maka, pikiran apa saja bisa terjadi.

(A): Jokowi adalah presiden terbaik.
(B): Jokowi bukan presiden terbaik.

(A) dan (B) saling kontradiksi. Jika kontradiksi dibolehkan maka orang bebas menyatakan (A) yang benar atau orang lain menyatakan bahwa (B) yang benar. Segalanya menjadi tidak ada makna jika boleh kontradiksi. Dan, paradox Godel menyatakan bahwa setiap sistem formal selalu mengandung kontradiksi.

Solusi dari paraconsistent adalah mengijinkan kontradiksi dengan syarat tidak “meledak.” Maksudnya, kontradiksi hanya terbatas pada kasus-kasus tertentu saja. Kasus-kasus umum tetap terjaga dari kontradiksi, tetap aman dan konsisten. Sedikit ilustrasi akan memudahkan pemahaman.

“Kelas yang terdiri dari 20 siswa menentukan pilihan sikap berdasar suara terbanyak – demokrasi. Ketika suara berimbang maka ketua kelas yang menentukan pilihan.”

Paraconsistent menunjukkan bahwa dalam banyak kasus akan konsisten bahwa suara terbanyak adalah pemenang. Tetapi, ketika suara imbang 10 vs 10 maka perlu tindakan inkonsisten, tidak konsisten, yaitu ketua kelas menentukan sikap. Karakter inkonsisten seperti ini bisa diterima karena jarang terjadi dan tidak “meledak.”

Bisa terjadi skenario yang lebih tidak konsisten lagi. Pada tahap pemilihan suara, misal, ketua kelas mendukung A. Karena posisi imbang 10 vs 10, kemudian, ketua kelas memutuskan untuk mendukung B. Manusia memang tidak konsisten. Bagaimana pun, sikap tidak konsisten dari ketua kelas perlu mendapat kritik yang memadai. Ketua kelas juga perlu bersikap terbuka terhadap kritik untuk mengembangkan sistem yang lebih baik.

Kasus nyata terjadi di PBB: Perserikatan Bangsa-Bangsa. Dalam banyak kasus, sikap PBB ditentukan secara demokratis. Tetapi, dalam beberapa kasus penting ada anggota yang punya hak veto. Tentu saja, hak veto tidak konsisten. Hak veto hanya dimiliki oleh anggota khusus saja. Sehingga, konsep hak veto ini perlu dikritisi secara tajam. Misal dari 5 negara yang punya hak veto, 2 negara di antaranya perlu dimatikan sementara vetonya dalam satu tahun. Tahun berikutnya, berganti 2 negara lain yang dimatikan sementara vetonya, bergiliran. Sehingga, dalam satu waktu hanya ada 3 negara hak veto yang aktif. Dengan cara ini, PBB bisa mencegah penyalahgunaan hak veto untuk kepentingan sepihak negara tertentu.

Jadi, sampai di sini, apa kontribusi dari logika relasi?

Pertama, logika relasi gagal untuk menghadirkan logika dan pengetahuan yang murni obyektif. Sistem logika, atau sistem filsafat, yang lain sama saja. Mereka juga gagal menghadirkan pengetahuan yang murni obyektif. Bagaimana pun, logika-relasi berhasil mendorong penyelidikan yang kuat bobot obyektivitasnya, misal matematika, sains, filsafat analitik, dan lain-lain.

Kedua, logika-relasi berhasil mendorong sistem formal ke batas maksimal. Logika-relasi berhasil menunjukkan beragam paradox logika, di antaranya, paradox Russell dan paradox Godel. Paradox bukan karena logika berpikir yang salah. Tetapi, paradox ini memang karakter dari sistem formal itu sendiri. Tampaknya, sistem bukan formal berpotensi lebih banyak paradox lagi.

Ketiga, logika-relasi mendorong pengembangan sitem yang responsif terhadap paradox. Salah satunya, sistem paraconsistent adalah sistem formal yang menerima kontradiksi atau paradox dengan syarat tidak “meledak.” Dengan demikian, setiap sistem perlu terbuka dengan paradox dan bersikap kritis terhadap solusi terbaiknya.

4. Logika Dialektika Hegel

Hegel, pada abad 19, mengembangkan logika dialektika yang berbeda dengan Aristoteles mau pun Frege di era berikutnya. Logika dialektika bukanlah metode berpikir yang benar (saja). Tetapi, logika dialektika adalah sistem metafisika lengkap. Logika adalah prinsip realitas seluruh alam semesta, termasuk prinsip pikiran dan prinsip alam dunia luar. Ditambah lagi dengan menerapkan prinsip kontradiksi maka logika dialektika Hegel makin sulit dipahami banyak orang.

4.1 Tesis – Antitesis – Sintesis

Barangkali, Hegel paling terkenal dengan trilogi tesis-antitesis-sintesis. Trilogi ini cukup bagus menggambarkan logika dialektika Hegel. Meski demikian, logika Hegel jauh lebih luas dan lebih mendalam dari trilogi yang umumnya dipahami. (Sebelumnya, Kant dan Fichte sudah mengembangkan konsep trilogi ini lebih awal dari Hegel.)

Tesis: Ibu kota negara perlu segera dipindahkan.
Antitesis: Ibu kota negara TIDAK perlu segera dipindahkan.

Sintesis: Ibu kota negera perlu dipindahkan pada waktu yang tepat, misal, mulai tahun 2025.

Setiap tesis akan menghasilkan kontradiksi, perlawanan, yaitu antitesis. Kemudian, mereka berdialektika menghasilkan sintesis yang merangkul tesis dan antitesis secara bersama dalam tingkat yang lebih tinggi. Suasana dialektika yang sehat mampu mendorong masyarakat untuk maju dengan adil makmur.

Kapan dialektika akan berhenti? Tidak pernah berhenti. Karena, dialektika akan berhenti ketika diraih “kebenaran mutlak”. Sementara, kita tidak akan berhasil mencapai kebenaran mutlak dalam realitas bermasyarakat.

Tesis: Tahun 2025 adalah saat yang tepat untuk mulai pindah ibukota.
Antitesis: Tahun 2025 adalah saat yang TIDAK tepat untuk mulai pindah ibukota.

Apa sintesis terbaiknya? Tugas manusia untuk memikirkannya.

4.2 Being – Esensi – Idea

Berikutnya, kita akan membahas logika dialektika Hegel lebih mendalam. Pertama, logika obyektif yang melibatkan alam raya kecuali subyek atau kehidupan. Kedua, logika subyektif yang melibatkan subyek manusia dan seluruh alam raya. Manusia berpikir tentang seluruh alam raya sebagai obyek, termasuk pikirannya sendiri juga sebagai obyek.

Logika Obyektif

Being adalah seluruh realitas alam raya. Being-in-itself. Realitas yang nyata dalam dirinya sendiri. Bumi, matahari, batu, meja, dan lain-lain adalah being, realitas alam nyata.

Esensi adalah yang paling esensial dari realitas. Esensi batu adalah hakikat batu itu sendiri. Batu menegaskan dirinya adalah batu – melalui hukum alam misalnya. Batu berbeda dengan gunung, pasir atau lainnya. Tetapi esensi batu, sejatinya, tidak ada. Karena yang ada adalah realitas batu – being.

Esensi batu, melalui hukum alam, “menilai” being sebagai tidak-esensial. Hanya esensi batu yang esensial. Being-batu hanya ilusi semata. Dalam momen ini, status being diturunkan sekedar sebagai abstraksi yang ditempelkan kepada esensi. Terjadi kontradiksi being lawan esensi di alam raya. Proses dialektika.

Becoming, proses menjadi batu yang baru melalui dialektika. Esensi kembali menghadapi being realitas yang nyata. Kontradiksi disatukan oleh realitas yang lebih tinggi, sintesis, becoming batu yang baru. Batu yang baru itu, sejatinya, adalah being realitas yang nyata juga. Sehingga, proses dialektika terus berlanjut.

Logika obyektif dialektika ini tidak bertentangan dengan sains apa pun. Lebih tepatnya, dialektika membahas proses pada tataran berbeda dari sains empiris. Logika obyektif dialektika menjelaskan proses gerak realitas secara idealis. Sementara, sains menjelaskan gerak realitas pada tataran empiris.

Hegel hidup 100 tahun setelah masa Newton. Maka, kita bisa mengasumsikan bahwa Hegel sudah membaca mekanika Newton. Sehingga, wajar, jika Hegel tidak bertentangan dengan Newton.

Contoh, ketika batu didorong dengan gaya F maka batu akan bergerak dengan percepatan a sesuai mekanika Newton. Di mana dialektika nya?

Interpretasi proses dialektika: batu mendapat dorongan gaya F maka batu melawan dengan hukum kelembaman. Gaya F melawan balik, lagi, dengan “menyatakan” bahwa F akan menggerakkan batu. Begitu selanjutnya, kelembaman akan terus melawan F. Sampai akhirnya, becoming, apakah F lebih besar dari kelembaman gaya gesek statis. Jika F lebih besar maka batu berhasil bergerak dengan percepatan a.

Seandainya, hukum mekanika Newton direvisi maka, tetap saja, dialektika berlaku. Karena, dialektika bekerja pada tataran being-realitas di balik sains empiris. Dialektika mempersilakan sains empiris untuk terus berkembang.

Logika Subyektif

Logika subyektif lebih kompleks dari logika obyektif. Karena, logika subyektif melibatkan kehidupan, misal manusia sebagai subyek, dan alam raya obyektif sebagai obyek. Bagi manusia, bahkan dirinya sendiri juga termasuk sebagai obyek dari logikanya.

Silogisme, umumnya, dipandang sebagai logika obyektif. Tetapi, bagi Hegel, silogisme justru masuk logika subyektif rasional.

Tiga momen logika subyektif: subyektivitas, obyektivitas, idea.

Di dalam subyektivitas: ide (notion), judgement (penilaian), dan silogisme.

Pertama, subyek bebas menyatakan ide: saya adalah saya. Atau, saya adalah manusia. Tahap ini adalah kebebasan murni. Subyek bebas menentukan dirinya sebagai apa atau sebagai siapa. Hanya ada subyek.

Harimau bebas menyatakan diri bahwa saya adalah harimau – tentu dengan cara sesuai hukum alam. Pohon bebas menyatakan saya pohon begini atau begitu. Virus bebas menyatakan diri sebagai virus. Khusus bagi manusia, mereka benar-benar bebas menyatakan diri sebagai apa saja sesuai idenya sendiri.

Kedua, subyek melakukan judgement (penilaian). “Aku ‘merasa nyaman’ di air, ” menurut ikan. “Aku ‘senang’ dengan cahaya matahari,” menurut pohon. “Aku suka berpetualang,” kata manusia.

Dalam proses menilai, subyek mulai berkontradiksi dengan dunia luar. Aku berhadapan dengan bukan aku. Kebebasan berhadapan dengan keniscayaan. Sebagai manusia, kita bisa melakukan penilaian dalam derajat yang beragam. Kaki tertusuk duri maka terasa sakit. Penilaian intuitif sederhana langsung. Kita juga bisa menilai keindahan suatu lagu. Hati tersentuh dengan nada-nada yang merdu. Penilaian estetik tingkat tinggi.

Ketiga, subyek berpikir silogisme yang rasional. Kita, sebagai subyek, berpikir secara silogisme eksplisit atau implisit. Memilih satu tindakan akan menyebabkan hasil tertentu. Memilih tindakan berbeda bisa menyebabkan hasil yang berbeda.

Berbagai macam pemikiran rasional silogisme kita kembangkan dalam diri kita. Tentu saja, hanya manusia yang mampu merumuskan silogisme secara formal eksplisit. Sementara, binatang berpikir dengan cara yang lebih sederhana.

Bahkan kita, manusia, mampu berpikir dengan obyek silogisme berupa pikiran kita sendiri. Kita bisa berpikir tentang masa depan diri kita atau kenangan masa lalu kita. Kita bisa berandai-andai tentang suatu kehidupan.

Tiga proses di atas – ide, penilaian, silogisme – membentuk subyektivitas dalam logika subyektif. Selanjutnya, subyektivitas ini akan berhadapan dengan obyektivitas untuk proses dialektika.

Di dalam obyektivitas: mekanisme, kimiawi, teleologi.

Obyektivitas berdialektika dengan subyektivitas maka terbentuklah idea yang lebih tinggi.

Mekanisme adalah hukum obyektif yang mengatur being realitas alam raya. Hukum gravitasi, elektromagnetik, termodinamika, dan lain-lain. Hukum ini bekerja dari luar mengenai obyek-obyek yang ada di alam raya. Sains mengkaji hukum-hukum mekanisme yang mengatur alam raya ini.

Kimiawi adalah hukum yang mengatur proses-proses semacam reaksi kimia, misal reaksi hidrogen dan oksigen menghasilkan air. Hukum kimiawi adalah hukum yang tampak tersembunyi, di masa itu. Barangkali, fisika quantum dan medan gravitasi juga bisa kita masukkan ke hukum ini. Mekanisme cenderung bekerja dari “luar” obyek. Sementara, kimiawi cenderung bekerja dari “lebih dalam”. Sains bisa mengkaji hukum kimiawi.

Teleologi adalah obyek yang memiliki tujuan akhir, misal, berupa makhluk hidup. Dari makhluk hidup sel satu, tumbuhan, binatang, sampai manusia itu sendiri. Kehidupan mempunyai hukum dari dalam diri: “purposiveness” atau tujuan. Benda-benda tak hidup pun, dari prespektif tertentu, memiliki tujuan, misal, menambah entropi sesuai hukum termodinamika. Sains bisa mengkaji teleologi dengan konsekuensi lebih banyak melibatkan interpretasi dibanding dengan mekanisme.

Khusus bagi manusia, mampu merumuskan tujuannya dengan formal eksplisit. Dan, manusia sebagai obyek merangkap sebagai subyek sekaligus.

Kita perhatikan, secara ruang, mekanisme bekerja dari luar, kimiawi bekerja dari tengah, dan teleologi bekerja dari dalam obyek. Sedangkan, secara waktu, determinasi (kekuatan) makin membesar pada obyek, berurutan dari mekanisme, kimiawi, sampai teleologi.

Subyek berhadapan dengan obyek. Subyektivitas berdialektika dengan obyektivitas. Kontradiksi mendorong gerakan lebih maju menghasilkan sintesis – becoming. Hasil sintesis ini adalah idea (notion/konsep) yang merangkul harmonis subyektivitas dan obyektivitas.

Di dalam idea: kehidupan, kognisi, ide.

Kehidupan menampakkan diri dalam badan fisik yang terorganisir. Badan ini berhubungan dengan badan lain – mengkonsumsi makanan dan menghasilkan makanan untuk yang lain. Pada akhirnya, kehidupan bereproduksi menghasilkan kehidupan baru – generasi penerus.

Kognisi adalah kemampuan untuk “memahami” informasi dan mengolahnya. Subyek yang berdialektika dengan obyek “menyadari” beragam informasi yang lalu lalang. Untuk kemudian, berdasar kognisi ini menentukan respon yang tepat.

Ide adalah freedom, kebebasan sejati. Dengan ditopang oleh kehidupan yang dinamis dan kognisi terhadap informasi, ide menentukan sikap dengan kebebasannya. Bagi manusia, kebebasan ide ini dapat diungkapkan secara eksplisit formal atau pun implisit. Ide bergerak maju dengan menyatukan subyektivitas dan obyektivitas.

Ide itu sendiri adalah realitas nyata. Ide adalah being. Karena itu, proses dialektika berlangsung lagi, terus-menerus tanpa henti.

4.3 Dialektika Siklis

Kita bisa membayangkan dialektika ringkas dengan membayangkan putaran jarum jam dinding yang hanya terdiri dari 3 angka.

(1) Being
(2) Esensi
(3) Becoming

Tetapi (3) Becoming itu sendiri adalah derajat baru dari (1) Being. Sehingga, setelah jam (3) akan kembali ke jam (1). Begitu seterusnya siklus dialektika.

Logika obyektif:
(1) Being: realitas alam nyata berdialektika dengan;
(2) Esensi: karakter esensial yang mendorong;
(3) Becoming: terbentuk realitas derajat baru being maka kembali (1).

Logika subyektif:
(1) Being: realitas subyek yang punya ide, judgement, dan silogisme berdialektika dengan;
(2) Esensi: karakter obyek yang bekerja secara mekanis, kimiawi, dan teleologis mendorong;
(3) Becoming: terbentuk kehidupan kognitif merangkul subyek dan obyek dalam ide yang sejatinya adalah derajat baru dari being; kembali (1).

4.4 Fokus Silogisme

Mari kita lebih fokus tentang silogisme dalam sistem logika dialektika Hegel. Pertama, silogisme adalah logika subyektif. Kedua, silogisme hanya bagian kecil dari sistem logika – dan bisa jadi bukan yang utama. Ketiga, silogisme merupakan bagian dari siklus dialektika sehingga kesimpulan akhir ikut menjalani proses siklus.

Dengan tiga karakter di atas, silogisme dialektika berbeda jauh dengan silogisme logika klasik.

Silogisme subyektif. Silogisme bukan realitas dari obyek. Silogisme adalah realitas dari subyek. Meskipun, pada akhirnya, subyek dan obyek bersatu dalam idea. Subyek adalah obyek dan obyek adalah subyek. Identitas subyek dan obyek.

Mengapa silogisme valid? Karena, subyek memutuskan secara rasional bahwa silogisme itu valid. Seandainya, subyek memanfaatkan kebebasan idea untuk meragukan silogisme maka silogisme akan gagal mencapai kesimpulan akhir.

Mengapa kesimpulan valid? Karena premis valid. Mengapa premis valid? Karena berdasar judgement. Mengapa judgement valid? Dan seterusnya, idea bisa menanyakan “mengapa” tanpa henti. Akibatnya, silogisme gagal mencapai kesimpulan akhir yang valid.

Dalam logika subyektif, subyek berpikir rasional dan mengambil kesimpulan berdasar silogisme serta mencukupkan diri sampai premis tertentu saja. Kesimpulan akhir berhasil dicapai oleh subyek.

Silogisme bukan utama. Silogisme hanya merupakan bagian kecil dari sistem logika dialektika. Sementara bagi logika klasik, silogisme adalah bagian paling utama. Bahkan, dalam formula logika Boolean, kita bisa menganggap bahwa tugas logika adalah hanya silogisme. Yaitu silogisme untuk memastikan suatu proposisi bernilai BENAR atau SALAH.

Dalam logika dialektika, silogisme adalah 1 dari 3 dalam subyek. Dan, subyek sendiri adalah 1 dari 3 dalam logika subyektif. Sementara, dalam logika obyektif tidak diperlukan silogisme. Sehingga, porsi silogisme kurang dari 10% dari sistem logika.

Logika klasik menempatkan diri, tampak, lebih prior dari dari sistem – realitas. Sementara, logika Hegel menempatkan diri sebagai “cermin logis” dari suatu sistem – realitas. Sehingga, logika klasik bisa mendefinisikan suatu sistem logika tanpa obyek sistem realitas. Sementara, logika Hegel hanya bisa mendefinisikan sistem logika dengan “melihat” obyek sistem realitas. Ditambah lagi, logika Hegel bergerak dinamis siklis. Jika kita bermaksud mendesain sistem logika lebih awal dari sistem realitas, maka, itu adalah hipotesis atau rencana atau model.

Silogisme siklis. Karena dialektika bersifat siklis dan silogisme merupakan bagian dari dialektika maka silogisme juga bersifat siklis. Dalam logika klasik, silogisme bersifat linear. Bila sudah dicapai kesimpulan akhir maka kesimpulan tersebut sudah selesai.

Dialektika mengantar being-subyek ke derajat yang lebih tinggi. Maka silogisme, dalam dialektika Hegel, akan berproses lagi dalam derajat yang lebih tinggi mengikuti siklus realitas.

4.5 Interpretasi: Spirit – Pengetahuan – Materialisme

Apa yang dimaksud ‘being” oleh Hegel? Apa itu idea absolut? Apa itu spirit?

Bisa kita duga, interpretasi terhadap Hegel adalah beragam, berbeda-beda, dan bahkan, saling kontradiksi. Sehingga, interpretasi itu sendiri juga mengalami dialektika siklis, terus-menerus, tanpa henti. Di sini, kita akan membahas hanya tiga interpretasi saja: materialisme, pengetahuan, dan spirit.

Materialisme

Karl Marx (1818 – 1883) adalah tokoh utama Marxisme. Marx mengadopsi logika dialektika Hegel dengan memberi interpretasi tegas materialis. Maka terbentuklah dialektika materialis. Semua masalah, pada analisis akhir, adalah masalah materi terutama materi yang berkaitan dengan kebutuhan ekonomi.

Marx meramalkan bahwa masyarakat industri akan melahirkan kontradiksi diri untuk kemudian berdialektika. Masyarakat kapitalis melahirkan kaum elit kapitalis kaya raya, yang berkontradiksi dengan kaum buruh – yang miskin papa. Mereka berkontradiksi, berdialektika, untuk kemudian, melahirkan masyarakat baru yang adil dan bebas.

Kapitalis, terus-menerus, menghasilkan ketimpangan. Kapitalis menciptakan dominasi pihak kuat terhadap pihak lemah. Kapitalis banyak mengeksploitasi kecurangan. Kritik-kritik tajam terhadap kapitalisme terus subur sampai saat ini, khususnya, dari pendukung Marxisme atau variannya.

Tetapi apakah adil menafsirkan “idea” dari Hegel sebagai “materi”? Seperti kita tahu, Hegel sering menggunakan kata spirit dan Tuhan.

Lenin (1870 – 1924) memberi cara mudah membaca Hegel dengan pendekatan materialis. Jika Hegel menulis “spirit” maka maksudnya adalah “manusia” atau sesuatu yang berhubungan dengan manusia secara alamiah. Jika suatu paragraf memuat kata “Tuhan” maka lewati paragraf tersebut.

Memang cukup mengherankan bahwa Hegel ditafsirkan secara materialis. Nyatanya, manusia menemukan cara untuk melakukan itu. Manusia memang pandai menafsirkan segala sesuatu. Tentu saja, banyak pro-kontra di sana sini.

Zizek (1949 – ) meng-klaim bahwa Hegel lebih materialis dari Marx. Saya sulit memahami itu. Saya lebih mudah memahami bahwa Zizek lebih materialis dari Hegel atau, bahkan, dari Marx. Sementara, Hegel lebih kaya akan nuansa makna.

Spirit

Interpretasi paling jelas kepada Hegel adalah spiritualis. Ketika Hegel menyatakan spirit maka maksudnya memang spirit – ruh. Ketika Hegel menulis tentang Tuhan, memang maksud Hegel adalah Tuhan semesta alam.

Charles Taylor (1929 – ) menyatakan bahwa spirit yang mewarnai filsafat Hegel adalah kelanjutan spirit masa lalu dan berlanjut ke spirit di masa depan. Taylor menyadari bahwa pemikir kontemporer cenderung berpikir sekular dengan menyisihkan spirit di sudut gelap wacana. Tetapi, pandangan materialis seperti itu memang tidak memadai. Spirit muncul, lagi dan lagi, dalam kehidupan manusia. Kita, memang, harus menerima bahwa diri kita adalah spirit yang terus berproses untuk meraih spirit ideal. Begitulah idealisme Hegel.

Heidegger (1889 – 1976) meyakini bahwa yang dimaksud Hegel dengan spirit atau idea memang spirit metafisika – bukan sekedar sisi materialis dunia. Bahkan, spirit Hegel adalah spirit transenden.

Pengetahuan

Interpretasi paling moderat adalah pengetahuan. Ketika Hegel menyebut idea atau being maka yang dimaksud adalah pengetahuan.

Dengan interpretasi pengetahuan ini, maka kita memandang Hegel sebagai modifikasi dialektika Plato-Sokrates dan kelanjutan dari Kritik Pertama Kant mau pun Kritik Ketiga Kant.

Dialektika Socrates, sederhananya, menyatakan bahwa setiap pengetahuan kita adalah tesis. Maka akan mendorong hadirnya antitesis, untuk kemudian, berdialektika melahirkan sintesis. Gadamer (1900 – 2002) memandang penting proses dialektika seperti ini dalam hermeneutika.

Pippin (1948 – ) memahami Hegel sebagai kelanjutan dari Kritik Pertama Kant tentang akal murni. Kant berhasil menyatukan rasionalisme (Descartes, Spinoza, Leibniz) dengan empirisme (Hobbes, Locke, Hume). Pada bagian akhir, Kant mengakui berhadapan dengan beragam paradox (antinomi) yang tidak bisa diselesaikan. Dialektika Hegel mengatasi antinomi dari Kant ini. Pegetahuan yang terus berproses dialektika dinamis akan makin sempurna sampai akhirnya mencapai “Absolute Spirit”.

Karen Ng (di tahun 2020) memahami Hegel sebagai kelanjutan dari Kritik Ketiga Kant tentang “judgement”. “Form of life” yang memiliki “inner purposiveness” adalah fondasi dari semua pengetahuan manusia. Kant memahami “inner purposiveness” (tujuan terdalam) sebagai pengatur makhluk hidup (regulative). Sementara, Hegel menempatkan tujuan terdalam sebagai konstitutif – penyusun dari seluruh pengetahuan manusia.

Ringkasan Logika Hegel

Mari kita ringkas logika dialektika Hegel yang berbeda dengan logika klasik (logika standar).

Pertama, logika Hegel adalah dinamis sesuai realitas. Sementara, logika klasik berlaku apriori secara universal – metafisika.

Kedua, logika Hegel merupakan “cermin” atau interpretasi dari sistem realitas. Sedangkan, logika klasik adalah acuan bagi realitas. Realitas, seharusnya mengikuti logika klasik. Sebaliknya, sistem logika Hegel seharusnya mengikuti realitas.

Ketiga, logika Hegel adalah logika subyektif dalam arti memberi peran utama bagi subyek – di samping logika obyektif. Sementara, logika klasik adalah logika obyektif tanpa harus memperhatikan subyek. Dalam logika Hegel, subyek mempunyai tugas untuk memahami realitas dan memahami logika obyektif.

Berikutnya, kita akan membahas logika visi-iluminasi dari Suhrawardi yang ada beberapa kemiripan dengan logika Hegel.

5. Logika Visi Iluminasi Suhrawardi

Suhrawardi (1154 – 1191) mencermati bahwa proses berpikir logis secara deduksi dan induksi berkembang luas di mana-mana. Suhrawardi menemukan kelemahan silogisme deduksi terletak pada fondasinya. Bagaimana kita bisa berpikir logis jika fondasi logika rapuh?

Suhrawardi tidak hanya mengkritik fondasi logika klasik. Di saat yang sama, Suhrawardi memberi solusi dengan logika visi-iluminasi. Solusi ini tidak mudah. Karena setiap proposisi akan melibatkan abstraksi terhadap realitas, esensi dan eksistensi. Akibatnya, skeptisme Pyrrho (360 – 270 SM) tetap bisa diterapkan di sini. Bahasa “simbolis” akan menjadi solusi.

Di era kontemporer ini, kita menghadapi tantangan demokrasi. Apakah visi-iluminasi bisa sejalan dengan demokrasi? Tentu bisa. Bahkan, visi-iluminasi menjadikan demokrasi lebih sehat. Kesulitannya adalah, visi-iluminasi, menuntut kita untuk menjunjung tinggi etika dan memahami bahasa simbolis. Ketika masyarakat luas berhasil menjunjung etika dan memahami bahasa simbolis, maka, demokrasi adil makmur menjadi realita.

5.1 Deduksi Tidak Memadai

Paling mendasar adalah analisis terhadap fondasi silogisme deduksi.

A: “Setiap persegi memiliki 4 sisi sama panjang.”
B: “Bangun P adalah persegi.”
Kesimpulan,
C: “Bangun P memiliki 4 sisi sama panjang.”

Kesimpulan C, di atas, adalah valid berdasar silogisme deduksi. Bagaimana kita bisa tahu premis A adalah benar? Tentu, kita tidak bisa mengamati semua persegi yang ada lalu mengukur bahwa 4 sisinya sama panjang. Yang bisa kita lakukan adalah merumuskan esensi dari persegi. Dan, sifat dari esensi persegi adalah memiliki 4 sisi sama panjang.

Sehingga, premis A hanya berlaku terhadap esensi persegi ideal. Sementara, terhadap realitas persegi di alam raya, kita tidak bisa menyimpulkan apa pun.

Bagaimana validitas premis B: “Bangun P adalah persegi”? Barangkali, kita bisa langsung mengamati bangun P, kemudian, menyimpulkan bahwa bangun P adalah persegi. Bagaimana pun, setiap pengamatan (dan pengukuran) melibatkan suatu derajat ketidak-pastian. Sehingga, premis B tidak dijamin pasti benar.

Kita bisa menjamin B benar jika yang kita maksud adalah esensi ideal bangun P. Sehingga, premis B (dan premis A) hanya dijamin bernilai benar jika yang dimaksud adalah esensi ideal saja. Akibatnya, keseluruhan bangunan silogisme deduksi hanya berlaku terhadap esensi ideal saja. Sementara, kita menghadapi tantangan dunia nyata yang dipenuhi realitas “tidak ideal”. Logika visi-iluminasi akan menjawab tantangan ini.

5.2 Induksi Tidak Mencukupi

Sejak awal, misal Aristoteles, sudah menyadari bahwa logika induksi tidak mencukupi. Kesimpulan dari logika induksi bersifat kontingen, kemungkinan, atau tidak pasti. Suhrawardi menyadari hal yang sama.

“Hari Senin, makan jeruk terasa nikmat.”
“Hari Selasa, makan jeruk terasa nikmat.”
Kesimpulan:
“Hari apa pun, makan jeruk terasa nikmat.”

Kesimpulan di atas sah berdasar logika induksi. Dan, kita sadar bahwa kesimpulan di atas bersifat kontingen. Bila sesekali, makan jeruk terasa TIDAK nikmat, maka kita bisa maklum.

Masalah muncul, ketika, orang-orang menganggap kesimpulan induksi bernilai benar secara universal. Atau, ada tantangan baru, bisakah kita mengetahui kebenaran realitas praktis secara niscaya, benar secara pasti? Secara umum, jawaban dari tantangan baru itu adalah negatif, kita tidak bisa. Adakah peluang untuk mendapatkan jawaban posifif? Pertanyaan ini sulit dijawab.

5.3 Visi-Iluminasi

Logika visi-iluminasi menjalankan proyek besar: mengembangkan fondasi logika yang kokoh. Kita perlu cara berpikir baru yang beda dengan logika klasik. Karena, cara berpikir lama, sudah terbukti, menunjukkan fondasi logika sebagai tidak kokoh.

5.3.1 Cahaya Realitas

Realitas paling jelas adalah realitas cahaya. Segala realitas lain, selain cahaya, perlu cahaya agar menjadi jelas, menjadi bisa dipahami. Sementara, realitas cahaya sudah jelas dalam dirinya sendiri. Realitas cahaya tidak memerlukan realitas lain untuk menjelaskan cahaya.

Realitas cahaya tunggal yaitu cahaya itu sendiri. Tetapi, cahaya bisa tampil beragam. Cahaya bisa berbentuk lingkaran, persegi, dan bentuk kompleks lainnya. Ketika cahaya berbentuk lingkaran, maka, ukuran lingkaran bisa beragam besar dan kecilnya. Begitu juga, kekuatan intensitas cahaya lingkaran bisa beragam kuat dan lemahnya. Keragaman cahaya masih bisa kita buat lebih kompleks lagi dengan mengembangkan dimensi-dimensi lebih banyak.

Tentu saja, cahaya realitas bukan sekedar cahaya fisik seperti cahaya matahari. Cahaya realitas adalah bahasa simbol yang memudahkan kita untuk membahas logika visi iluminasi.

Dari mana cahaya realitas itu hadir? Ketika kita mengamati realitas yang beragam, maka, logis bagi kita menyusun prioritas realitas. Sebagian realitas ada sebagai sebab bagi yang lain – lebih prior. Sementara, sebagian realitas yang lain adalah akibat – lebih posterior. Dengan struktur logika prioritas maka kita akan sampai kepada cahaya paling utama. Sumber cahaya dari seluruh cahaya. Cahaya di atas cahaya. Cahaya-dari-Cahaya.

5.3.2 Abstraksi Esensi Eksistensi

Kita tidak bisa menghindar dari berpikir abstrak. Ketika kita berpikir tentang alam raya, maka, kita membuat abstraksi dari alam raya itu. Abstraksi dari dunia luar ini adalah esensi.

Ketika kita melihat meja berbentuk persegi, maka, bentuk persegi itu adalah esensi dari meja. Esensi tidak sama dengan realitas meja. Sedangkan, ketika kita berpikir bahwa meja itu “ada” di depan kita, maka, status “ada” ini adalah eksistensi abstraksi meja. Eksistensi tidak sama dengan realitas meja. Esensi meja bermacam-macam: bentuk persegi, terbuat dari kayu, bobot 5 kg, tinggi 70 cm, dan lain-lain. Sementara, eksistensi dari meja hanya satu: ada meja.

Realitas meja, oleh Suhrawardi dilambangkan sebagai cahaya-realitas-meja. Sadra (1465 – 1540) menyebut realitas meja dengan wujud-realitas-meja. Rumitnya, istilah “wujud” ini bisa bermakna ganda: wujud-realitas atau wujud-abstrak. Ketika wujud kita terjemahkan menjadi eksistensi, maka, tetap bisa bermakna ganda: eksistensi-realitas atau eksistensi-abstrak. Kita perlu cermat membedakan keduanya.

Heidegger (1889 – 1976) mengantisipasi kesulitan di atas dengan mengenalkan istilah “dasein” atau “being-there” untuk maksud cahaya realitas. Dasein berbeda dengan “sein” atau “being”. Karena sein masih bisa bermakna ganda: realitas atau abstraksi.

Dengan berbekal dasein, Heidegger meruntuhkan bangunan filsafat Barat yang dibangun sejak Plato – proyek destruksi metafisika. Heidegger menuduh filsafat hanya mengaku membahas “Being” tapi ternyata yang dibahas adalah “being”. Selalu ada “ontological difference” antara Being dan being.

Derrida, murid dari Heidegger, memperhalus proyek destruksi metafisika menjadi dekonstruksi metafisika. Derrida berhasil me-dekonstruksi metafisika. Tetapi, tidak ada yang berhasil menjembatani dasein (Being) dengan sein (being): “ontological difference.” Termasuk Derrida juga. Suhrawardi, sudah mencoba, membangun jembatan itu 8 abad lebih awal. Akankah Suhrawardi berhasil?

Dalam tulisan ini, kita akan lebih sering menggunakan istilah cahaya untuk melambangkan realitas.

5.3.3 Etika Sang Pencari

Kabar baiknya, semua orang bisa mengenali kebenaran esensi. Kabar berbeda, tidak semua orang mampu mengenali kebenaran realitas.

Untuk mengenali kebenaran esensi, seseorang hanya perlu belajar berpikir dengan logika yang benar. Sementara, untuk mengenali kebenaran realitas (cahaya) tidak cukup hanya menggunakan pikiran semata. Perlu usaha lebih besar, lebih dari sekedar berpikir semata, untuk kita agar bisa mengenali realitas kebenaran.

M : “Persegi yang panjang sisinya = 3 satuan maka luasnya = 3 x 3 = 9 satuan.”

Setiap orang yang belajar logika (matematika) akan mampu berhasil mengenali kebenaran pernyataan esensial M di atas. Orang yang belum mampu memahami, barangkali bisa belajar beberapa kali, kemudian, dia berhasil memahami kebenaran M.

V: “Investasi binary option adalah merugikan.”

Tidak mudah mengenali kebenaran V di atas. Apakah kita akan menilai V secara esensial? Esensi dari sudut mana? Ataukah kita akan menilainya secara realitas di alam raya? Siapa yang menilainya?

Secara esensi, V bernilai benar bahwa binary option adalah merugikan bagi mereka yang kalah. Sementara, bagi yang menang, binary option adalah menguntungkan, V bernilai salah. Secara total bagaimana? Zero sum game. Secara total adalah zero = nol. Jika ada yang menang 10 juta, maka, pasti ada yang kalah 10 juta juga. Tetapi, karena untuk menjalankan binary option perlu biaya operasional, biaya karyawan, dan lain-lain maka secara total jadi merugikan.

Secara realitas, kita perlu mengkaji lebih jauh lagi. Karena binary option ada di alam raya, maka, kita perlu mengkajinya dengan mempertimbangkan realitas alam raya. Lalu kita, sebagai pengkaji, apakah ada sikap awal pro-kontra terhadap binary option?

Etika sang pengkaji kebenaran, sang pencari kebenaran, menjadi penting ketika hendak mengkaji realitas. Kita perlu hati-hati dengan resiko bias dalam penilaian.

Jika seseorang mendapat keuntungan besar dari sistem binary option maka dia akan cenderung menyimpulkan bahwa binary option adalah menguntungkan. Meski zero sum game, bahkan ada biaya operasional, tetapi dampak binary option menjadikan perusahaan-perusahaan lebih cepat berkembang. Perusahaan pemula, start up, terpacu untuk melaju sukses. Penciptaan lapangan kerja makin luas. Pada gilirannya, binary option memajukan kesejahteraan manusia secara luas.

Ditambah lagi, gairah para pemain ketika memainkan binary option. Bikin hidup lebih hidup! Ketika menang, mereka gembira penuh gairah semangat. Ketika kalah, mereka mencari peluang menang pada kesempatan berikutnya. Tetap ada harapan besar untuk menang. Selalu ada harapan, gairah, dan semangat dalam alam raya ini.

Jika, di sisi lain, seseorang mengalami kerugian dari binary option maka dia akan menyimpulkan bahwa binary option adalah merugikan. Jelas, binary option merugikan pihak yang kalah. Ada yang rugi sampai 10 milyard rupiah. Bahkan, kabarnya, ada yang rugi sampai menembus 1 trilyun rupiah.

Kerugian besar seperti itu mengakibatkan beberapa orang mati mendadak akibat serangan jantung. Bahkan, ketika menang besar pun, bisa mati akibat serangan jantung mendadak. Ditambah lagi, ada beberapa kasus penipuan di sekitar binary option. Jadi, binary option benar-benar merugikan.

Adakah pengamat yang netral terhadap realitas? Yang benar adalah benar. Dan, yang salah adalah salah. Pengamat tanpa bias.

Pertama, pengamat esensial. Pengamat yang fokus kepada sisi esensi maka bisa menyatakan kebenaran obyektif tidak terpengaruh oleh subyek pengamat. Seperti kita bahas di atas, pengamatan ini hanya menyentuh esensi. Kita memerlukan pengamatan realitas.

Kedua, pengamat hukum positif. Di Indonesia, misalnya, kasus binary option tidak ada payung hukum. Maka binary option adalah ilegal, merugikan. Apalagi ada kasus penipuan. Sementara, di US misalnya, ada payung hukum untuk binary option. Sehingga binary option adalah legal, dan menguntungkan.

Dengan pertimbangan di atas, kebenaran hukum positif adalah kebenaran esensial – bukan kebenaran realitas.

Ketiga, pengamat beretika luhur. Pengamat yang menjunjung tinggi etika, mereka, berpotensi mampu mengenali kebenaran realitas. Pengamat yang bersih dari bias. Meski banyak kesulitan, mereka mampu menjalani proses logika visi-iluminasi.

5.3.3.1 Etika hidup sederhana

Hidup sederhana menjadi syarat dasar. Hanya orang yang mampu hidup sederhana, mereka, yang akan mampu mengenali kebenaran realitas. Meski pun, tidak semua orang yang sederhana akan mampu mengenali realitas.

Sederhana dalam hidup sehari-hari. Makan dan minum sekedarnya saja. Bahkan, makan hanya sedikit saja. Porsi makan di bawah kewajaran umum. Mereka rajin puasa. Puasa sejati untuk jiwa raga.

Sederhana dalam akumulasi kekayaan. Orang sederhana terbebas dari godaan kekayaan. Sehingga, dia bisa menilai realitas dengan adil dan benar. Sementara, orang yang mengumpulkan kekayaan beresiko bias dalam menilai realitas: ingin menambah kekayaan atau menghindari kerugiaan kekayaan.

Sederhana dalam jabatan politik. Kepentingan politik tentu bisa mengganggu kejujuran suatu penilaian realitas. Orang yang sederhana tidak tergoda dengan jabatan politik. Dia terlepas dari kepentingan politik sehingga mampu menilai realitas dengan tegas dan jelas.

Orang yang hidup sederhana bukannya tidak mampu bersaing politik, bukannya tidak mampu mengumpulkan kekayaan, bukannya tidak mampu berfoya-foya. Mereka mampu melakukan itu semua. Hanya saja, dengan penuh kesadaran, mereka memilih jalan hidup sederhana. Dengan hidup sederhana, mereka mampu menilai realitas tanpa bias, menilai realitas dengan jelas.

5.3.3.2 Etika logika profesional

Etika profesional menuntut kita mampu menguasai disiplin logika secara lengkap. Bukan karena logika klasik ada kelemahan, lalu, orang-orang boleh tidak menguasai logika klasik. Kita perlu menguasai logika klasik secara profesional karena logika klasik adalah pengantar untuk logika yang lebih tinggi. Pada gilirannya, kita tetap memanfaatkan logika klasik untuk berbagai keperluan.

5.3.3.3 Etika berpikir terbuka simbolis

Berpikir simbolis menjadi penting pada analisis akhir. Berpikir simbolis mengarah ke dua kutub. Pertama, kutub pasti, di mana, simbol-simbol menjadi bernilai pasti. Dalam matematika, kita menggunakan simbol angka yang bernilai pasti. Boole memanfaatkan simbol-simbol biner digital. Dan, Frege mengembangkan simbol “skrip konsep” yang diterapkan secara luas.

Versi kutub pasti ini, memandang simbol adalah yang paling utama. Kita menerapkan logika terhadap simbol-simbol. Tidak ada perbedaan pandangan terhadap logika simbol. Perbedaan muncul ketika kita membuat interpretasi terhadap simbol. Bagaimana pun, perbedaan itu sekedar interpretasi. Sementara, simbol sendiri tidak ada perbedaan.

Kedua, kutub kreatif, di mana, simbol mampu menghasilkan pemikiran-pemikiran kreatif. Ada dua peran utama dari simbol pada kutub kreatif ini: simbol dari suatu realitas dan simbol pemicu realitas.

Cahaya realitas tidak bisa dirumuskan dan dibatasi dengan kata-kata. Realitas kebenaran lebih kuat dari semua kata-kata. Maka, cahaya realitas diungkapkan dalam bentuk simbol kata-kata. Sekali lagi, kata-kata berbeda dengan realitas. Kata-kata adalah simbol dari realitas.

Kata-kata simbolis ini penting untuk komunikasi kreatif.

Ketika kita menerima kata-kata simbolis maka simbol-simbol itu akan memicu realitas. Diri kita, jiwa kita, menciptakan realitas pengetahuan secara kreatif berdasar kata-kata simbolis.

Dengan kata lain, “kutub pasti” memandang simbol sebagai esensi. Sedangkan, “kutub kreatif” memandang simbol sebagai esensi untuk kemudian menghadirkan realitas. Dengan demikian, kita perlu berpikir terbuka simbolis.

5.3.4 Proses Visi-Iluminasi

Visi ada pada kemampuan subyek. Pertama, kita, manusia memiliki kemampuan untuk melihat. Kemampuan ini kita sebut sebagai visi. Tanpa kemampuan visi ini maka tidak akan terjadi penciptaan pengetahuan baru. Hanya dengan kemampuan visi, subyek akan mampu melihat obyek.

Iluminasi ada pada obyek. Kedua, obyek mampu memancarkan cahaya. Sehingga, cahaya obyek ini bisa dilihat oleh subyek. Obyek memancarkan cahaya bisa dari diri obyek itu sendiri atau dari sumber cahaya lain – misal dengan memantulkan cahaya atau dengan meneruskan cahaya.

Penciptaan pengetahuan terjadi langsung nir-waktu, nir-ruang. Ketiga, subyek yang ber-visi melihat obyek yang ber-iluminasi. Terciptalah pengetahuan baru oleh subyek tentang obyek. Tetapi, baik subyek mau pun obyek, keduanya, adalah cahaya. Penyatuan kedua cahaya ini membentuk cahaya baru yang lebih kuat. Cahaya subyek bersatu dengan cahaya obyek menjadi realitas cahaya baru. Subyek identik dengan obyek. Subyek mengetahui obyek dengan mengetahui dirinya sendiri.

Pengetahuan yang tercipta adalah pengetahuan langsung, knowledge by presence, ilmu huduri, cahaya-realitas. Atau, singkatnya kita sebut sebagai huduri.

Huduri bersifat sederhana, tunggal, dan pasti. Sehingga, huduri selalu bernilai benar. Tidak ada penyataan proposisional antara subyek dan predikat. Atau, tidak ada relasi antara subyek dan obyek. Akibatnya, huduri tidak mungkin salah. Hanya ada kemungkinan, huduri ada atau tiada. Ketika subyek berhasil menciptakan ilmu huduri maka tercipta huduri yang bernilai benar. Tetapi, jika subyek tidak berhasil menciptakan ilmu huduri maka tidak ada ilmu huduri sama sekali pada subyek bersangkutan di momen itu.

5.3.4.1 Pengetahuan Materi

Mari kita coba menerapkan logika visi-iluminasi untuk pengetahuan di dunia materi.

Pertama, subyek adalah kita, manusia, yang memiliki visi – kemampuan melihat dengan mata sehat. Kedua, obyek adalah meja yang ada di depan kita yang beriluminasi – memancarkan cahaya. Ketiga, penciptaan pengetahuan langsung (P): kita melihat meja.

Persyaratan untuk bisa tercipta pengetahuan P adalah subyek harus sehat. Obyek harus memancarkan cahaya untuk dilihat oleh subyek. Jika ada penghalang antara subyek dan obyek maka pengetahuan P tidak akan terbentuk. Barangkali, subyek justru melihat penghalang tersebut sehingga justru tercipta pengetahuan tentang penghalang.

Pengetahuan di dunia materi ini, meski bisa menggambarkan pengetahuan visi-iluminasi, tetapi, tidak terjadi kesatuan subyek dan obyek. Sehingga, pengetahuan materi bisa salah. Pengetahuan materi bersifat kontingen. Mungkin saja ada penghalang. Selanjutnya, di antara subyek dan penghalang itu, bisa ada penghalang baru dan begitu seterusnya tanpa henti. Karakter dari penghalang bisa saja transparan, hanya membelokkan cahaya, pembiasan cahaya.

Bagaimana pun, status pengetahuan materi tetap sah, sejauh kita meyakininya secara kontingen. Dengan demikian, pengetahuan ini menjadi wacana yang terus-menerus bisa direvisi untuk lebih sempurna.

Persayaratan lebih fundamental untuk tercipta pengetahuan (P: kita melihat meja) adalah adanya realitas sejati subyek dan obyek. Subyek sejati bukanlah mata yang sehat dan terhubung dengan sistem syaraf yang sehat. Subyek sejati adalah cahaya-jiwa-manusia yang mampu melihat karena terhubung dengan Cahaya-dari-Cahaya.

Begitu juga obyek sejati, bukanlah meja yang tersusun oleh kayu lengkap dengan struktur atomnya. Obyek sejati adalah cahaya-realitas-meja yang mampu memancarkan cahaya bersumber dari Cahaya-dari-Cahaya.

5.3.4.2 Pengetahuan Cahaya

Pada analisis akhir, setiap pengetahuan adalah pengetahuan tentang realitas-cahaya. Pada tahap ini, pengetahuan-cahaya selalu bernilai benar.

Subyek adalah realitas jiwa manusia yang merupakan cahaya bersumber dari Cahaya-dari-Cahaya. Subyek realitas jiwa ini memiliki kemampuan visi. Sedangkan, obyek adalah realitas cahaya-yang-lebih tinggi yang ber-iluminasi, bersumber dari Cahaya-dari-Cahaya. Subyek dan obyek bersatu menjadi satu kesatuan membentuk cahaya baru yang lebih kuat. Cahaya baru ini, hakikatnya, adalah subyek dengan derajat yang lebih tinggi. Maka selanjutnya akan terjadi proses visi-iluminasi tanpa henti.

Barangkali, kita bisa membayangkan proses siklis seperti jam yang terdiri dari 3 angka. Setelah angka 3 maka kembali ke angka 1. Dengan demikian, proses logika visi-iluminasi Suhrawardi terus bergulir.

(1) Visi – kemampuan melihat oleh subyek
(2) Iluminasi – kemampuan bersinar pada obyek
(3) Huduri – penciptaan pengetahuan dengan kesatuan subyek dan obyek; tetapi, huduri adalah subyek dengan derajat baru sehingga kembali ke visi (1) – iluminasi (2) dan seterusnya.

5.3.4.3 Benar Vs Salah

Berulang-ulang, kita sebutkan bahwa pengetahuan huduri bernilai selalu benar. Pertanyaan muncul: dari mana bisa muncul kesalahan atau, setidaknya, kontingensi?

“Salah mutlak” memang tidak ada. Karena yang mutlak ada hanya realitas-cahaya yang selalu benar. “Salah relatif” bisa saja terjadi karena tercipta struktur yang tidak adil atau struktur yang tidak apik akibat ulah subyek manusia.

Struktur Adil

Realitas-cahaya dalam dirinya sendiri selalu adil maka selalu benar. Realitas cahaya-jiwa-manusia juga selalu adil dalam dirinya sendiri. Tetapi, karena jiwa manusia memiliki kemampuan aktif dan mampu membentuk beragam struktur, maka, ada peluang muncul struktur yang tidak adil. Akibatnya, muncul peluang hadirnya kesalahan relatif.

Manusia selama berkomitmen di jalan yang adil maka dia tetap terjaga di jalan yang benar. Sementara, bagi mereka yang mengumbar nafsu serakah terjerumus dalam struktur tidak adil yang diciptakannya sendiri. Orang lain bisa menolong temannya yang terjerumus. Tetapi, peran utama tetap ada pada diri masing-masing untuk kembali ke struktur yang adil.

Struktur Apik

Struktur apik adalah struktur yang lebih baik dari struktur adil. Sikap dermawan dengan membantu orang yang lemah adalah contoh menciptakan realitas struktur apik. Seseorang yang mengorbankan harta miliknya demi kebaikan orang lain adalah sikap yang apik. Bagaimana pun, struktur apik mensyaratkan struktur yang adil.

Karakter dari cahaya jiwa manusia adalah bersinar menebarkan kebaikan. Sehingga wajar, bila banyak orang ingin berbuat baik. Memang itu karakter cahaya jiwa manusia. Apalagi, Cahaya-dari-Cahaya adalah sumber dari segala pancaran kebaikan.

Struktur Tidak Adil

Sumber beragam masalah dan kesalahan adalah struktur yang tidak adil. Tugas kita, sebagai manusia yang berjiwa cahaya, adalah mengenali struktur yang tidak adil, untuk kemudian, membenahinya menjadi adil. Karena realitas alam raya adalah kompleks maka tugas ini adalah tugas yang sama kompleksnya.

5.3.5 Tantangan Demokrasi

Kita mudah melihat bahwa logika visi-iluminasi, bisa dicurigai, bertentangan dengan demokrasi. Karena logika visi-iluminasi menghasilkan pengetahuan huduri yang bersifat selalu benar, maka, memunculkan sikap apriori, otoriter, dan bahkan fasis. Tentu, kecurigaan seperti itu tidak tepat, serta salah sasaran.

5.4 Kritik Suhrawardi

Kita akan mencermati kritik Suhrawardi terhadap logika filsafat klasik (Aristoteles) dengan tokoh besarnya Ibnu Sina. Kita juga perlu mempertimbangkan kritik Ghazali terhadap tema filsafat yang sama. Kemudian, di bagian ini, kita mengkaji kritik-kritik oleh generasi pasca-Suhrawardi terhadap logika visi-iluminasi itu sendiri. Dan yang paling menarik, masih di bagian ini, kita memperluas kritik filsafat (post)modern, abad 20 dan 21, terhadap logika visi-iluminasi.

5.4.1 Kritik Metafisika Ghazali

Al Ghazali (1058 – 1111) telah melancarkan kritik keras terhadap filsafat (dan logika) klasik, kira-kira satu abad lebih awal dari Suhrawardi. Serangan Ghazali ini mengarah kepada Ibnu Sina (tokoh Peripatetik Muslim) sampai ke Aristoteles.

Kritik Ghazali, singkatnya, dengan menggunakan logika klasik yang sama seperti para filosof, kita bisa meruntuhkan semua bangunan metafisika sistem filsafat. Semua teori filsafat, terbukti, tidak konsisten. Karena itu, kita perlu menolak semua teori filsafat – termasuk logika klasik. Meski Ibnu Rusyd (1126 – 1198) menyerang balik Ghazali dan membela logika klasik Ibnu Sina, tampaknya, serangan Ghazali tetap berdampak lebih signifikan.

Setelah bangunan filsafat klasik runtuh, tentu saja, Ghazali memberi jalan keluar. Sayangnya, solusi Ghazali ini bukan solusi filosofis. Ghazali menunjukkan jalan kebenaran yang lebih valid adalah jalan sufi – mistisisme Islam. Sementara, filsafat dibiarkan begitu saja tersisa puing-puing belaka.

Dalam kaca mata modern, kritik Ghazali ini mirip dengan proyek “destruksi metafisika” oleh Heidegger (1889 – 1976). Setelah Heidegger berhasil meruntuhkan metafisika, dia tidak berhasil membangun sistem baru yang sebanding. Meski pun, Heidegger mengembangkan ontologi-dasein, tampaknya, hal ini tidak setara dengan sistem metafisika.

Derrida (1930 – 2004), murid Heidegger, mengganti proyek destruksi menjadi “dekonstruksi-metafisika”. Menurut Derrida, proyek destruksi terlalu sulit karena ada tanggung jawab untuk membangun sistem yang baru setelah runtuhnya metafisika. Sementara, proyek dekonstruksi lebih ringan. Kita hanya perlu menemukan lubang-lubang dan cacat-cacat dari suatu sistem pemikiran, untuk kemudian, dikritik sampai hancur. Sedangkan konstruksi utama tetap dibiarkan seperti sedia kala.

Kritik keras Suhrawardi terhadap logika klasik (Aristetoles – Peripatetik), menurut saya, lebih mirip dengan proyek dekonstruksi dari pada destruksi.

5.4.2 Logika Peripatetik

Syihabuddin Suhrawardi (1154 – 1191) memberikan kritik tajam kepada logika Peripatetik. Dalam maha karyanya, Filsafat Iluminasi, Suhrawardi membagi dua bagian utama. Bagian pertama, membahas logika. Suhrawardi menunjukkan kelemahan fundamental dari logika klasik dari sisi “definisi-esensial” dan silogisme.

Definisi-esensial tidak pernah berhasil meraih pengetahuan baru. Sedangkan, semua bentuk silogisme bisa diubah menjadi bentuk silogisme niscaya, pasti. Tetapi, hasil dari silogisme tidak pernah bersifat niscaya. Dengan demikian, logika klasik runtuh di bagian fundamentalnya. Suhrawardi mengusulkan solusinya di bagian kedua.

Bagian kedua, Suhrawardi menjelaskan dengan detil ontologi-cahaya. Melalui logika visi-iluminasi, kita berhasil meraih pengetahuan baru yang bersifat niscaya benar. Untuk kemudian, kita bisa menyusun silogisme secara valid.

Benarkah, dengan logika visi-iluminasi, Suhrawardi berhasil menyusun ulang sistem logika yang solid?

5.4.3 Mir Damad dan Sadra

Generasi pasca-Suhrawardi memberikan beragam komentar dan kritik terhadap karya Suhrawardi. Secara umum, dari Shahrazuri (1288) sampai Mir Damad (1561 – 1631), kritik bersifat konstruktif. Shahrazuri memberikan berbagai macam penjelasan lebih detil tentang “definisi” versi logika visi-iluminasi. Mir Damad memberikan penjelasan bagaimana antara yang “tunggal” bisa meliputi yang “jamak” penuh keragaman.

Mulla Sadra (1571 – 1635) muda sepakat dengan gurunya, Mir Damad, sepenuhnya sejalan dengan Suhrawardi. Pada masa dewasa, Sadra berbeda pandangan secara filosofis dengan Suhrawardi. Bagi Sadra, eksistensi lebih utama dari esensi. Sementara bagi Suhrawardi, esensi lebih utama dari eksistensi. Meski demikian, dalam sistem logika, Sadra selaras dengan logika Suhrawardi.

Sadra menambahkan konsep ambiguitas-eksistensi atau tasykik-wujud. Sebagai realitas fundamental, wujud adalah tunggal dan, sekaligus, beragam. Identitas wujud adalah keragaman dan keragaman wujud adalah identik.

Inovasi lanjutan dari Sadra adalah gerak-substansial, harakah jauhariah. Di mana gerak, atau proses perubahan, terjadi pada sisi substansi bukan hanya pada aspek aksidental belaka. Bahkan gerak-aksidental, pada analisis akhir, adalah dampak dari gerak-substansial. Dengan konsep yang canggih dari Sadra ini, maka, logika visi-iluminasi makin kokoh penuh dinamika.

Sangat disayangkan, sistem filsafat yang canggih dari Suhrawardi dan Sadra ini hanya sedikit dikaji di Barat. Sehingga, kita belum bisa melihat dengan tegas bagaimana respon cendekiawan Barat. Di bagian berikut ini, saya akan mencoba menerapkan kritik pemikir Barat kepada sistem filsafat dan logika Suhrawardi, tentu, secara tidak langsung.

5.4.4 Kritik Karl Popper

Karl Popper (1902 – 1994) adalah filosof sains paling disegani di masanya – atau sepanjang masa. Popper menolak pendekatan “verifikasi” untuk sains dan menggantinya dengan “falsifikasi”. Ribuan atau jutaan verifikasi tidak pernah bisa menjamin validitas suatu teori sains. Sebaliknya, satu bukti negatif atau penyangkalan, sudah berhasil menggugurkan suatu teori sains – itulah falsifikasi.

Popper meluaskan kajian filosofisnya dari sains alam ke sains sosial dengan karyanya “Open Society”. Di sinilah kritik filosofis dari Popper berdampak sangat luas. Secara terang-terangan, Popper menyerang tiga tokoh besar dunia: Plato, Hegel, dan Marx. Sebuah serangan yang benar-benar membalikkan konsep filosofis mereka. Kritik terhadap Plato dan Hegel relevan dengan pembahasan kita yaitu kritik kepada Suhrawardi.

Yang mengherankan dari Popper adalah, meski analisis filosofisnya begitu tajam, tetapi hanya sedikit orang yang menyetujui atau melanjutkan pemikiran Popper. George Soros (lahir 1930), investor kelas dunia, adalah salah satu dari sedikit orang yang mendukung Popper. Soros mendirikan Open Society Foundation untuk menyebarkan pemikiran-pemikiran Popper, khususnya, untuk mengembangkan masyarakat tebuka yang adil dan makmur.

5.4.5 Idealisme Plato

Ziai (1943 – 2011) menyebut Suhrawardi berhasil membangkitkan idealisme Plato melebihi filsafat Aristoteles. Suhrawardi sendiri menyebut bahwa filsafat iluminasi sejalan dengan filsafat Plato. Dengan demikian, kritik Popper kepada idealisme Plato bisa kita sejajarkan sebagai kritik kepada filsafat Suhrawardi.

Popper mengkritik keras tatanan sosial ideal yang dikembangkan Plato. Menurut Popper, pandangan Plato melestarikan kesenjangan sosial. Hanya orang-orang dari latar belakang keturunan yang baik yang berhak menduduki suatu jabatan. Plato tidak demokratis. Pemimpin ideal adalah philosopher-king (raja-filosof) yang serba tahu akan segala sesuatu.

Karena raja-filosof adalah yang paling berkuasa, dan di saat yang sama, orang yang paling paham segala hal maka dia memimpin secara otoriter. Lagi-lagi, Plato tidak demokratis. Plato adalah musuh dari masyarakat terbuka.

Apakah Suhrawardi juga musuh dari masyarakat terbuka, open society?

Pertama, Suhrawardi menyatakan bahwa setiap orang memiliki kemampuan untuk visi, melihat kebenaran sejati. Meski, masing-masing orang kemampuan visi bisa saja berbeda-beda dipengaruhi oleh beragam kondisi.

Kedua, Suhrawardi memang membahas politik kekuasaan secara singkat di mukadimah Filsafat Iluminasi. Alam raya ini, menurut Suhrawardi, tidak pernah hampa dari ahli hikmah, filosof bijak. Dan, ahli hikmah berkuasa terhadap alam raya. Baik berkuasa secara politik atau non-politik. Dengan demikian, Suhrawardi tidak mensyaratkan ahli hikmah untuk menjadi raja atau penguasa.

Tetapi, catatan sejarah sungguh memilukan. Suhrawardi syahid melalui eksekusi di usia muda, sekitar 36 tahun, atas perintah sultan Saladin Al Ayubi. Penyebab perintah eksekusi ini masih menjadi misteri sampai saat ini. Saladin yang begitu besar kekuasaannya di dunia, termasuk penakluk perang salib, tidak sepantasnya menyibukkan diri terhadap seorang pemuda cerdas yang tinggal di kota kecil Allepo. Dugaan sementara mengarah bahwa Saladin tidak suka dengan philosopher-king dan Saladin menyangka bahwa Suhrawardi akan mempengaruhi Malik Zahir, gubernur Allepo, putra Saladin, untuk menjadi philosopher-king. Seperti kita sebut di atas, Suhrawardi tidak mengajarkan menjadi philosopher-king. Suhrawardi mengajak kita untuk menjadi ahli hikmah.

Kembali kepada Popper, apakah Suhrawardi adalah musuh dari open-society? Tidak. Suhrawardi bukan musuh. Suhrawardi justru membuka peluang bagi seluruh warga untuk menyempurnakan diri melalui visi-iluminasi.

Tetapi, apakah Plato memang musuh dari open-society? Tidak. Para pendukung Plato menolak tuduhan Popper. Philosopher-king tidak ada keharusan menjadi otoriter atau diktator. Justru, philosopher-king mensyaratkan sikap bijak bagi setiap raja.

5.4.6 Historisisme Hegel

Serangan tajam berikutnya, dari Popper, mengarah kepada Hegel. Bahkan, serangan ini bisa jadi serangan terbesar terhadap Hegel. Popper menuliskan sekitar 70 halaman khusus untuk mengkritisi Hegel. Sementara, kritik Popper kepada Marx tampak tidak terlalu keras.

Iqbal (1877 – 1938) menyatakan bahwa filsafat Hegel selaras dengan filsafat Suhrawardi. Maka, kritik kepada Hegel ini akan kita gunakan untuk kritik kepada Suhrawardi.

Menurut Popper, konsep dialektika Hegel mengarah kepada keniscayaan mutlak terhadap sejarah. Peradaban manusia akan berkembang secara pasti mengikuti pola tertentu. Pandangan seperti ini adalah historisisme. Popper menolak historisisme seperti itu. Historisisme adalah mustahil, menurut Popper.

Perkembangan sejarah manusia ditentukan, dipengaruhi, oleh perkembangan pengetahuan. Sementara, perkembangan pengetahuan sering terjadi lompatan-lompatan inovasi yang tidak linear. Kita tidak bisa memprediksi arah perkembangan pengetahuan – dan teknologi. Akibatnya, kita juga tidak bisa memprediksi arahnya sejarah. Jadi, historisisme adalah mustahil.

Bukan hanya historisisme itu mustahil, tetapi, dampak keyakinan terhadap historisisme adalah terbentuknya kekuatan totalitar, bahkan fasis. Perang Dunia I dan Dunia II merupakan efek mengerikan dari historisisme.

“Apakah logika visi-iluminasi Suhrawardi juga meyakini historisisme?”

Tidak. Logika visi-iluminasi tidak mengajarkan historisisme. Jadi, Suhrawardi aman dari kritik Popper dalam kasus ini. Suhrawardi menyadari ada kecenderungan umat manusia terjatuh dalam perangkap nafsu serakah. Suhrawardi mengajak umat manusia untuk “membersihkan” jiwa dengan visi iluminasi agar peradaban manusia terus berkembang. Bagaimana pun, usaha ini tidak terjamin untuk selalu berhasil. Sehingga, tidak ada aspek historisisme dalam ajaran Suhrawardi.

“Tetapi, apakah benar Hegel meyakini historisisme?”

Tidak juga. Popper, tampaknya, menafsirkan beberapa tulisan Hegel sebagai historisisme. Dan analisis lebih mendalam menunjukkan bahwa Hegel tidak meyakini historisisme. Lagi, kritik Popper salah sasaran dalam kasus ini. Bagaimana pun, kritik Popper terhadap historisisme dan totalitarianisme tetap sah secara substansi. Sehingga, kita perlu tetap waspada terhadap beragam resiko yang mungkin terjadi.

5.4.7 Ontologi Heidegger

Berikutnya, kita akan mempertimbangkan kritik Heidegger berupa destruksi metafisika. Heidegger meng-kritik filsafat Barat sejak Plato sampai Nietzsche terjebak dalam metafisika. Mereka, para filosof, mengaku membahas “being” tetapi malah melupakan “being.” Heidegger berniat menghancurkan metafisika dan menggantinya dengan ontologi, “Apa makna dari being?”

“Apakah logika visi-iluminasi juga melupakan ‘being’ seperti kritik Heidegger?”

Tidak. Visi-iluminasi tidak melupakan “being.” Visi-iluminasi justru mengajak kita untuk menemukan “being” yang otentik. Setiap saat, kita berhadapan dengan “being.” Tetapi, tidak ada kepastian bahwa kita dalam mode otentik. Visi-iluminasi menyediakan cara bagi kita untuk menjadi otentik.

5.4.8 Different Deleuze

Deleuze (1920 – 1995) memberi kritik keras kepada prioritas konsep-identitas. Deleuze membalik, dengan menyatakan, bahwa different adalah yang paling prioritas. Sementara, identitas terbentuk karena ada different.

Apakah visi-iluminasi tahan terhadap kritik diffferent dari Deleuze?

Positif. Visi-iluminasi aman dari kritik different. Di satu sisi, visi-iluminasi mengakui bahwa masing-masing manusia adalah unik dan berbeda. Di sisi lain, ungkapan teori visi-iluminasi dalam bentuk bahasa simbolis. Sehingga, membuka keragaman interpretasi makna.

5.4.9 Kritik Transendetal Searle

Searle (1932 – ) memberi kritik keras kepada banyak pemikir sebagai transendental. Termasuk, Heidegger adalah transendental. Heidegger menolak Searle. Heidegger menyatakan bahwa filsafatnya tidak transendental. Justru, proyek Heidegger adalah untuk meruntuhkan metafika transendental.

Bagaimana pun, Heidegger mengakui ada aspek transendental di alam raya ini. Dunia adalah transenden terhadap dasein (manusia ontologis). Demikian juga, dasein transenden terhadap dunia. Meski, dasein selalu berada dalam dunia, tetapi, dasein tidak bisa direduksi menjadi dunia mau pun sebaliknya.

Searle menawarkan solusi. Jika menolak untuk menjadi transenden maka Heidegger sebaiknya memilih filsafat yang berbasis empirisme atau sains.

Apakah visi-iluminasi aman dari kritik sebagai transenden dari Searle?

Sulit. Visi-iluminasi, tampaknya, sulit terhindar dari kritik transenden versi Searle ini. Visi-iluminasi mengakui realitas sains empiris. Tetapi, realitas otentik tidak terbatas hanya sains empiris. Visi-iluminasi sepakat dengan Heidegger, menolak dikategorikan sebagai transendental. Di saat yang sama, melangkah lebih jauh dari sekedar sains empiris.

5.5 Ringkasan Visi-Iluminasi

Setelah membahas panjang lebar tentang logika visi-iluminasi, mari kita ringkaskan poin-poin pentingnya terhadap logika.

Dinamika logika berlangsung setiap saat. Logika hanya bisa bernilai pasti-statis bila membatasi diri dalam aspek esensial. Sementara, dalam realita – fisik atau spiritual – logika senantiasa bergerak maju.

A. Pengetahuan Alam Raya

Alam raya adalah barza yang merupakan pertemuan dari cahaya dan void-gelap. Karena cahaya realitas selalu dinamis maka alam raya juga dinamis. Pengetahuan sains menjadi sah karena obyek sains adalah cahaya-realitas yang memancar (iluminasi). Kemudian, subyek pengamat mengkaji dengan kemampuan visi sehingga tercipta sains visi-iluminasi.

A.1 Sains alam dan sosial selalu dinamis

Visi-iluminasi menjamin bahwa realitas alam raya selalu dinamis. Sehingga, sains alam dan sosial juga perlu untuk bersifat dinamis. Sains perlu untuk selalu melakukan revisi agar menjadi sains yang lebih progresif. Khususnya sains sosial menjadi sangat dinamis karena manusia sebagai subyek, sekaligus, menjadi obyek. Dan, manusia adalah cahaya-realitas yang intensitasnya sangat kuat.

A.2 Matematika eksak esensial

Bagaimana pun, kita bisa membuat sains statis eksak dengan asumsi fokus terhadap pengetahuan esensi ideal semisal matematika. Konsep matematika menjadi statis karena kita “memaksa” konsep tidak berubah seiring ruang dan waktu. Sehingga, matematika sah secara ideal.

A.3 Kombinasi lanjutan sampai dunia digital

Yang menarik adalah pengetahuan matematika yang ideal bisa berkembang menjadi teknologi digital yang bersifat real. Dengan demikian, dunia digital memiliki sifat ideal dan dinamika. Dibanding alam real, dunia digital lebih ideal sesuai konsep esensial. Pada gilirannya, rekayasa digital justru yang mengarahkan perkembangan ilmu pengetahuan umat manusia.

B. Pengetahuan Realitas Sejati

Pengetahuan umat manusia perlu bergerak menuju pengetahuan realitas sejati. Realitas alam adalah barza yang merupakan pertemuan cahaya dan void. Bila tidak hati-hati, cahaya bisa terjebak dalam void. Pengetahuan manusia bisa otentik, dan, bisa juga tidak otentik. Tetapi, dengan disiplin, cahaya diri umat manusia memanfaatkan barza sebagai sarana untuk bergerak lebih sempurna.

B.1 Huduri

Secara prinsip, semua pengetahuan manusia adalah pengetahuan huduri yaitu bersatunya visi dan iluminasi menjadi realitas-cahaya dengan intensitas lebih kuat. Untuk itu, kita perlu mengkaji pengetahun sehari-hari lebih mendalam sehingga tercipta pengetahuan dengan kualitas sains. Selanjutnya, pengetahuan-pengetahuan tersebut perlu berkembang menjadi pengetahuan otentik dengan etika tinggi.

B.2 Dinamika Menyempurna

Pengetahuan huduri adalah realitas-cahaya. Sebagaimana gelombang cahaya yang bersifat dinamis, pengetahuan huduri juga dinamis. Pengetahuan saat ini ditarik oleh cahaya pengetahuan yang lebih kuat agar terangkat. Di saat yang sama, pengetahuan memiliki karakter untuk melompat lebih sempurna.

B.3 Demokrasi Huduri

Kabar baiknya, setiap manusia memiliki potensi untuk meraih ilmu huduri. Setiap manusia mampu meraih pengetahuan sains sampai pengetahuan otentik. Di saat yang sama, setiap manusia memiliki bakat yang beragam. Sehingga, huduri juga beragam. Dengan demikian tercipta demokrasi huduri. Demokrasi membutuhkan huduri untuk menjamin proses dan hasil demokrasi berkualitas tinggi.

Demokrasi adalah respek antara semua pihak. Saintis mengembangkan sains perlu dihormati oleh banyak pihak. Saintis sendiri juga perlu menghormati pihak lain. Seniman mengembangkan seni. Filsuf mengembangkan filosofi. Agamawan mengembangkan agama. Praktisi mengembangkan praktek. Dan, masih banyak pihak lain. Semua pihak memiliki kedudukan sama-sama terhormat. Semua pihak berhak meraih ilmu huduri.

Pengalaman dan teori menunjukkan bahwa manusia memiliki bakat unik yang berbeda-beda. Seorang seniman bisa saja mencipta puisi, menyanyikan lagu, atau melukis dengan artistik. Sementara, saintis bisa jadi tidak memiliki bakat seni yang tinggi. Sehingga, saintis meski mempelajari teori seni tetap saja tidak mampu mencipta puisi. Saintis tidak mampu menyanyikan lagu dengan merdu. Demokrasi adalah menghormati beragam bakat yang berbeda dan bekerja sama untuk kebaikan umat dan semesta. Demokrasi otentik adalah demokrasi huduri.

6. Logika Destruksi Heidegger

Heidegger (1889 – 1976) adalah filsuf terbesar abad 20 menurut banyak perspektif. Pemikiran Heidegger terkenal kontroversial dan kriptik, sulit sekali dipahami. Heidegger sendiri sering menggunakan istilah yang “mengerikan” misal destruksi ontologi dan destruksi metafisika. Dalam kesempatan ini, kita akan mengkaji destruksi logika.

Destruksi memang bermakna dan bermaksud merobohkan struktur, sedemikian hingga, terungkap kebenaran-kebenaran yang tersembunyi atau yang disembunyikan oleh struktur tersebut. Destruksi adalah goyangan dahsyat yang meruntuhkan seluruh struktur sampai rata, horisontal, setara dalam posisi dan menjadi terbuka.

Destruksi bukan penolakan. Destruksi tidak menolak filsafat yang sudah ada, destruksi tidak menolak sains, destruksi tidak menolak agama, destruksi tidak menolak seni, bahkan, destruksi tidak menolak kehidupan praktis hari demi hari. Tidak ada penolakan dalam destruksi. Destruksi juga bukan kritik. Destruksi juga bukan koreksi. Sekali lagi, destruksi hanya sebuah goyangan besar yang meruntuhkan struktur untuk mengungkap kebenaran.

Destruksi logika adalah goyangan dahsyat terhadap struktur logika, sedemikian hingga, terungkap kebenaran-kebenaran yang tersembunyi. Untuk bisa destruksi, maka, kita perlu mengkaji histori dari logika.

6.1 Logika Plato – Aristo

Plato adalah filsuf terbesar sepanjang sejarah. Menurut Whitehead, sejarah filsafat Barat hanyalah catatan kaki dari filsafat Plato. Bahkan, Aristo menulis karya besar filosofis sebagai respon terhadap filsafat Plato. Aristo sendiri adalah murid terbaik dari Plato.

Heidegger, berulang kali, menyebut Aristo sebagai penemu logika. Meski, sejarah logika sudah diawali oleh Plato dengan merumuskan idea atau dunia bentuk, dunia universalia.

Logika Plato adalah logika cahaya. Pengetahuan kita tentang alam eksternal adalah sekedar bayangan dari realitas sejati yang ideal di alam idea. Ketika, misalnya, Anda sedang memandang cantiknya wanita di depan Anda, maka, itu hanya bayangan. Cantik sejati adalah cahaya idea yang ada di alam ideal. Begitu juga, ketika, kita melihat meja persegi maka persegi itu adalah bayangan dari cahaya persegi ideal di alam idea.

Logika-cahaya Plato ini memberi posisi tinggi kepada kemampuan pikiran manusia memproduksi, atau mengakses, cahaya idea di alam ideal. Wajar, Plato memberi posisi terhormat kepada matematika. Karena, matematika adalah pengetahuan cahaya ideal berupa geometri dan aritmetika, waktu itu.

Aristo melanjutkan logika-cahaya dari Plato menjadi lebih spesifik sebagai logika-bahasa. Dengan logika-bahasa dari Aristoteles inilah, kita berpikir logis. Logika Aristo ini nyaris sama dengan logika yang kita pelajari di abad 21 ini. Tentu, ada kemajuan di beberapa bagian. Karena itu, memang pantas, Aristo adalah penemu logika.

Apa hebatnya logika-bahasa?

Dengan logika-cahaya kita hanya bisa berpikir apakah meja persegi yang kita lihat di alam eksternal sama persis dengan meja persegi di alam ideal. Kesimpulannya, pasti tidak sama, tidak ideal. Paling, hanya bisa mendekati ideal.

Sementara, dengan logika-bahasa banyak aturan logika yang bisa kita kembangkan, misal, silogisme. Setiap persegi memiliki 4 sisi. Karena meja adalah persegi, kesimpulannya, meja tersebut memiliki 4 sisi.

Fokus Heidegger bukan kepada silogisme. Kontribusi utama logika-bahasa Aristo adalah pada term “adalah.”

Persegi “adalah” bangun dengan 4 sisi.

Apa makna “adalah”? Logika Plato fokus kepada esensi persegi. Sementara, logika Aristo bergeser lebih fokus ke eksistensi “adalah”. Fokus kepada makna-eksistensi, makna-adalah, makna-being ini yang, pada gilirannya, menjadi proyek destruksi logika. Kita akan bahas lebih detil di bagian bawah.

6.2 Logika Cogito Descartes

Descartes (1596 – 1650) adalah filsuf terbesar dari Prancis di era pencerahan, bahkan, sampai sekarang. Descartes terkenal dengan konsep cogito, “Aku berpikir maka aku ada.”

Konsep cogito adalah pernyataan sederhana. Bukan pernyataan kompleks berupa implikasi, meski, bentuknya memang implikasi. Dalam pernyataan “Aku berpikir” tentu sudah implisit “Aku ada.” Descartes memang melanjutkan kajian Aristo dengan fokus kepada eksistensi “Aku ada”. Tetapi, cogito bergerak lebih radikal dengan menggeser prioritas “ada” ke prioritas “aku”. Subyek “aku” adalah yang paling prioritas.

Logika-cahaya Plato yang fokus kepada esensi dan logika-bahasa Aristo yang fokus ke eksistensi bisa kita pandang sebagai logika obyektif. Sementara, logika cogito dari Descartes adalah logika subyektif karena memberi peran penting kepada subyek “aku.”

“Aku adalah aku.” Prinsip logika paling utama adalah prinsip identitas dan non-kontradiksi. Descartes membagi substansi menjadi dua kategori: substansi jiwa dan substansi materi. Kedua substansi tersebut saling bebas. Masing-masing taat terhadap prinsip identitas dan non-kontradiksi. Descartes, sebenarnya, menyebut ada substansi ketiga yaitu subtansi-mutlak adalah Tuhan.

Lalu, bagaimana antara jiwa dan materi bisa terhubung?

Pertanyaan hubungan jiwa dengan materi masih tetap menjadi tanda tanya besar sampai sekarang. Meski, Descartes meyakini tidak ada hubungan antara jiwa dan materi, pikiran kita tetap ingin tahu adanya relasi antara jiwa dan materi. Immanuel Kant memberi jawaban melalui sintesa.

6.3 Logika Sintesa Kant

Immanuel Kant (1720 – 1804) adalah filsuf terbesar Jerman dan sangat kreatif. Kant terkenal dengan maha karya trilogi Kritik. Sekaligus, Kritik Kant ini menandai fase baru filsafat Barat: filsafat pra-Kant dan pasca-Kant.

Kant menyadari bahwa subyek “Aku” perlu berinteraksi dengan dunia luar untuk mengembangkan pengetahuan yang sahih. Tentu saja subyek “Aku” bisa mengembangkan pengetahuan ideal semacam matematika tanpa harus berinteraksi dengan dunia luar secara langsung. Kebenaran matematika ditentukan dengan prinsip koherensi, identitas, non-kontradiksi, dan lain-lain. Pengetahuan matematika ini adalah pengetahuan analitik yang independent terhadap pengamatan empiris.

Sementara, pengetahuan sains perlu verifikasi dengan dunia luar – korespondensi. Karena itu, sains bergantung kepada realitas alam eksternal. Apakah mungkin kita memiliki pengetahuan sains secara pasti?

Pengetahuan matematika 2 + 1 = 3 selalu bernilai benar sebagai operasi bilangan bulat, kapan pun, dan di mana pun. Sementara, pengetahuan sains “tinggi pohon 3 meter” tidak bisa dijamin sebagai benar. Pertama, bisa saja tinggi pohon tidak 3 meter pada pengukuran yang lebih teliti. Kedua, lebih problematis, bagaimana kita bisa tahu bahwa, di alam ekternal, ada “tinggi pohon 3 meter”?

Pengetahuan empiris hanya bisa terbentuk melalui sintesa. Pengamatan empiris saja tidak bisa menghasilkan pengetahuan dengan kebenaran yang pasti. Data-data empiris tentang pohon itu diterima subyek melalui indera. Kemudian subyek, atau akal, menerapkan pengetahuan apriori, skema, terhadap data-data empiris. Sintesa ini menghasilkan pengetahuan sains empiris yang sah, misal, “tinggi pohon 3 meter.”

Bagaimana pun, Kant menyadari derajat pengetahuan sintesa empiris ini tidak sekuat pengetahuan ideal matematika. Kant membedakan dunia menjadi dua: noumena dan fenomena. Obyek alam eksternal sejati, thing-in-itself, tidak pernah bisa diketahui oleh manusia karena berada di dunia noumena. Sementara, pengetahuan kita tentang alam eksternal selalu terbatas hanya pada pengetahuan penampakan dunia fenomena.

Dengan demikian, Kant mendorong subyektivitas cogito Descartes ke titik terjauhnya: dunia noumena, thing-in-itself, yang tidak pernah bisa dijangkau pengetahuan manusia. Bagaimana pun, Kant berkontribusi besar dengan mengusulkan sitesa. Kant menggunakan argumen transendental untuk memastikan proses sitensa ini terjadi pada imajinasi transendental manusia.

6.4 Destruksi Metafisika

Dengan mencermati histori filsafat, termasuk histori logika di atas, kita bisa melakukan destruksi. Sekali lagi, destruksi bukan bermakna menolak. Tetapi, destruksi adalah meruntuhkan struktur logika, sedemikian hingga, kebenaran tersembunyi bisa terungkap. Destruksi cukup hanya dilakukan pada fondasi logika. Sementara, cabang-cabang detil dari logika bisa kita runut ke fondasinya, yaitu, destruksi metafisika.

Sejarah logika seharusnya mengkaji makna-being, makna-eksistensi, secara tuntas. Kajian makna-being adalah fondasi bagi kajian logika. Sayangnya, sejarah logika justru melupakan makna-being.

Plato, dengan logika-cahaya, sudah bagus membahas esensi. Aristo, dengan logika-bahasa, sudah bagus membahas eksistensi. Tetapi mereka lupa tidak membahas dengan tuntas apa makna-esensi, apa makna-eksistensi, apa makna-being. Sehingga, logika-bahasa dan logika-cahaya perlu destruksi sampai runtuh agar kita bisa mengungkap alternatif logika yang lebih sahih, lebih benar.

Logika cogito Descartes juga perlu destruksi. Mengapa subyek “Aku” memiliki keistimewaan sebagai penentu kebenaran logika? Logika-sintesa dari Kant juga perlu destruksi. Mengapa akal memiliki pengetahuan apriori, berupa skema, sehingga terjadi sintesa?

Kita bisa saja mengembangkan destruksi lebih detil. Kiranya cukup, sekedar menunjukkan beberapa contoh destruksi fondasi logika seperti di atas. Lalu, alternatif logika yang lebih bagus seperti apa? Setelah destruksi, logika runtuh menjadi horisontal. Sehingga, terbuka bagi kita untuk rekonstruksi sistem logika yang baru.

Alternatif logika yang lebih bagus adalah dekonstruksi – menurut Derrida (1930 – 2004). Tugas destruksi terlalu berat, maka, Derrida mengubahnya menjadi dekonstruksi. Dekonstruksi cukup menunjukkan adanya “lubang” di setiap sistem logika sehingga bisa di-destruksi. Tetapi, dekonstruksi tidak perlu meruntuhkan total bangunan logika yang lama. Biarkan logika lama itu rekonstruksi sistem logika baru yang lebih kokoh berdasar sistem logika lama dan pengalaman destruksi.

Mengikuti pendekatan dekonstruksi maka sistem logika Aristo, Descartes, Kant, dan lain-lain bisa dibangun ulang, rekonstuksi, dengan struktur yang mirip. Hanya saja, sistem yang baru ini lebih terbuka dengan beragam koreksi. Sehingga, sistem logika menjadi lebih dinamis.

Heidegger, tampaknya, menyadari memang tugas destruksi terlalu berat. Heidegger tidak menolak dekonstruksi Derrida. Barangkali, dekonstruksi memang alternatif terbaik. Bagaimana pun, Heidegger masih penasaran untuk bisa mengembangkan sistem logika dengan fondasi yang baru. Untuk itu, kita perlu membahas question-of-being.

6.5 Question of Being

Sejak penulisan “Being and Time”, tahun 1926, hingga 50 tahun kemudian, ketika Heidegger meninggal 1976, question-of-being tetap menjadi tema utama. Filsafat melupakan tugas paling penting, yaitu, keharusan membahas question-of-being.

Apa makna-being? Apa makna-ada? Apa makna-jadi-manusia?

Makna-being berbeda dengan being. Makna-being bukan a being, bukan beings, bukan entitas, dan bukan pula subyek “aku”. Kita tahu ada beragam being: meja, pohon, bumi, dan lain-lain. Tetapi, itu semua bukan makna-being.

Makna-being adalah dasein, being-there, yaitu being yang mempertanyakan beingnya sendiri.

Dasein

Kita perlu menyadari ada kesulitan logika di sini. Ketika, kita melihat ada meja di depan kita, bagaimana memastikannya? Untuk memastikannya, kita perlu meyakini ada subyek “aku” yang melihat meja. Tetapi, subyek “aku” sudah di-destruksi.

Alternatifnya adalah kita menerima bahwa meja itu ada secara obyektif tanpa perlu subyek. Meja itu ada apa adanya, just given. Bila tanpa subyek “aku” bagaimana bisa tahu ada meja seperti itu?

Memang benar, kita perlu menerima bahwa being memang sudah ada begitu adanya. Being adalah anugerah. Dari mana kita akan mengkaji being itu? Kita akan mulai dengan mengkaji being yang istemewa, yaitu, dasein. Dasein menjadi istemewa karena mempertanyakan being itu sendiri. Dan, kita, sebagai manusia, bisa bertanya tentang being manusia itu sendiri dan being lainnya. Kita adalah dasein.

Care sebagai being-in-the-world

Karakter fundamental dari dasein adalah care, peduli, sebagai being-in-the-world. Dasein tahu bahwa selalu berada dalam dunia. Tidak mungkin, dasein ada seorang diri, tanpa bumi, tanpa pohon, tanpa orang lain. Dengan peduli, dasein memahami dunia, dipengaruhi dan mempengaruhi dunia.

Bagaimana kita bisa membuktikan eksistensi dunia luar? Sudah terbukti. Dasein sudah terbukti selalu ada dalam dunia. Jadi, dunia sudah pasti ada. Pertanyaan “bagaimana membuktikan eksistensi dunia luar” datang terlambat karena sudah terjawab sebelum pertanyaan itu diajukan. Sehingga, pertanyaan yang lebih tepat adalah question-of-being, “Apa makna-being?”

Temporality

Peduli adalah temporalitas – horison waktu. Ketika dasein peduli, maka, dasein adalah temporalitas itu sendiri. Makna-being adalah temporalitas. Makna-being selalu bergerak, selalu berubah. Di dunia ini, temporalitas dasein terbatas dari lahir sampai mati. Dasein mencapai kesempurnaan eksistensi seutuhnya dengan mengalami mati.

Apakah ada kehidupan setelah mati? Dengan pendekatan temporalitas dasein di dunia, kita belum bisa memastikan apakah kehidupan setelah mati itu eksis atau tidak. Kita memerlukan pendekatan lanjutan untuk bisa menjawabnya. Tetapi, dengan bergerak menuju mati, maka, dasein menemukan makna-being secara otentik.

Logika Futuristik

Mari kita kembali fokus ke problem logika. Bagaimana solusi destruksi terhadap problem logika? Lebih tepatnya, bagaimana solusi destruksi terhadap problem fondasi logika?

Solusi logika destruksi adalah dengan konstruksi logika-futuristik, logika masa depan. Meski istilah yang lebih tepat adalah logika ekstatik, tetapi, istilah logika-futuristik memberi makna yang lebih kuat.

Setelah destruksi, semua being adalah setara, horisontal, secara logika. Dalam kesetaraan itu, dasein adalah being yang unik, yaitu, peduli sebagai being-in-the-world. Dari peduli, tersingkap dasein adalah temporalitas. Sehingga, logika harus menempatkan temporalitas sebagai fondasinya.

Tentu saja, logika Plato, Aristo, Descartes, dan Kant pasti mempertimbangkan temporalitas. Hanya saja, mereka membahas temporalitas hanya selayang pandang. Padahal, kita perlu membahas temporalitas sebagai fondasi logika sampai tuntas, andai bisa tuntas.

Logika pada umumnya menempatkan masa lalu (past) dan masa kini (present) sebagai fondasi. Sedangkan, masa depan (future) sebagai konsekuensi.

(M): 2 + 1 = 3

Pernyataan (M): 2 + 1 = 3 bernilai benar berdasar logika matematika masa lalu dan masa kini. Konsekuensinya, (M) akan tetap bernilai benar di masa depan (future). Atau, bahkan (M) bernilai benar secara abadi. Benarkah?

Ketika kita mengkaji matematika hanya bagian tertentu, tampaknya, matematika selalu benar mutlak. Tetapi, ketika kita mengkaji matematika sampai fondasi, terbukti, matematika itu paradoks. Teorema Godel berhasil membuktikan paradoks matematika, khususnya, sistem formal. Konsekuensinya, logika sains akan banyak paradoks juga.

Meta Teori dan Meta Perspektif

Fondasi logika yang berupa metafisika akan berhadapan dengan paradoks dan kontradiksi. Setiap teori, atau logika, perlu dasar yang berupa teori lagi, yaitu, meta-teori. Tetapi, meta-teori ini memerlukan dasar lagi, berupa teori, tanpa henti. Paradoks. Meta-teori ini berdasar temporalitas masa lalu.

Paradoks bisa diatasi dengan menambah perspektif yang lebih lengkap, yaitu, meta-perspektif. Pada gilirannya, penambahan meta-perspektif ini perlu perspektif baru lagi, tanpa henti. Paradoks ini muncul akibat dari fondasi temporalitas masa kini.

Solusi logika destruktif adalah logika futuristik.

Solusi Futuristik

Kebenaran logika didasarkan pada logika futuristik. Yaitu, kita menerima meta-teori dan meta-perspektif, untuk kemudian, menganalisis berdasar logika masa depan. Dengan logika futuristik, paradoks menjadi terselesaikan, paradoks menjadi tidak signifikan. Karena masa depan adalah posibilitas, freedom, dan komitmen.

Logika menjadi benar ketika membuka posibilitas baru yang lebih baik bagi manusia dan alam raya. Logika menjadi benar ketika bebas dan membebaskan. Dan, logika menjadi benar ketika mendorong dan menuntut komitmen.

Tetapi, bukankah posibilitas itu begitu luas? Benar. Tugas manusia cerdas untuk berpikir cerdas.

7. Logika Kategori Eilenberg-Lane

Eilenberg (1913 – 1998) dan Lane (1909 – 2005) menyusun logika kategori dengan mengambil “inspirasi” teori fungsi di matematika. Meski pun logika kategori ini adalah logika tingkat tinggi, menyelidiki struktur abstrak dan sistem dari struktur, kita bisa membahas prinsip-prinsipnya dengan sederhana. Logika kategori lebih ketat dari logika relasional (mau pun proposional) karena hanya mengijinkan relasi khusus yaitu relasi fungsi (functor, morphism, mapping) dengan komposisi asosiasi. Di saat yang sama, logika kategori mencakup logika relasi dan seluruh logika yang ada. Banyak inovasi menarik berkat logika kategori. Saat ini, logika kategori menjadi trend sebagai kajian tingkat tinggi paling diminati. (Dalam tulisan ini, saya sering menggunakan istilah functor karena lebih mirip dengan fungsi. Functor bisa saling menggantikan dengan morphisme atau mapping)

7.1 Obyek dan Relasi

Apakah karir Anda akan jadi menteri, presiden, atau pengusaha? Teori categori menunjukkan struktur yang tepat untuk mendukung karir Anda. Mari kita coba dengan contoh.

Tempat Lahir = {Kudus, Lamongan, Magelang}
Universitas = {UA, UB, UC}
Karir = {Menteri, Presiden, Dewan, Bisnis}

Kita memiliki obyek-obyek dari kelas Tempat Lahir, Universitas, dan Karir. Kita bisa menambahkan kelas dan obyek lebih banyak lagi bila diperlukan. Dari obyek-obyek ini, kita bisa membuat relasi functor yang memenuhi sifat identitas, komposisi, dan asosiasi.

Kudus ==> UA ==> Dewan
Lamongan ==> UA ==> Dewan
Magelang ==> UC ==> Presiden

Obyek-obyek dan functor (dilambangkan panah) membentuk categori. Dari struktur categori di atas, sebagai contoh, kita bisa membaca: orang yang lahir di Kudus maka akan berkarir sebagai Dewan. Lebih dari itu, orang tersebut pasti kuliah di UA (Universitas Airlangga).

Demikian juga, orang yang lahir di Lamongan akan berkarir sebagai Dewan. Sedangkan, orang lahir di Magelang akan berkarir sebagai Presiden. Tentunya, dia kuliah di UC.

Struktur categori ini membangun logika kategori yang begitu kuat. Dengan struktur kategori, kita bisa membaca beragam cabang matematika yang obyeknya berbeda-beda membentuk struktur yang sama. Sehingga, cabang-cabang matematika itu membentuk logika kategori yang sama.

7.2 Ragam Struktur Kategori

Dari beragam struktur kategori yang berbeda, kita bisa melihat kemiripan-kemiripan dan batas-batasnya. Dengan demikian, kita bisa membuat “peta” lengkap dari matematika yang mencerminkan sistem logika masing-masing.

Dalam contoh praktis, kita bisa memisalkan struktur politik di Indonesia ekivalen dengan struktur politik Malaysia. Sehingga, logika politik yang terjadi di Indonesia ekivalen dengan Malaysia. Meskipun obyek politiknya berbeda, orang-orang dan partainya berbeda, tetapi logika politik mereka sama saja, ekivalen. Dengan demikian, orang Indonesia bisa belajar dari orang Malaysia dan sebaliknya. Jika, misalnya, Brunei memiliki struktur politik yang beda maka kita tidak bisa membandingkan dengan Indonesia secara langsung.

Semua struktur kategori yang kita bahas di atas bisa dinyatakan dengan notasi matematika yang eksak. Sehingga, kita bisa menyusun logika kategori dengan pasti. Kita perhatikan, logika proposisi dan logika relasi tidak bisa melakukan ini. Sebaliknya, kita bisa “membaca” logika proposisi dan logika relasi dengan kaca mata logika kategori.

Saat ini, teori kategori menjadi bidang kajian yang sangat aktif. Sehingga, kita berharap akan ada inovasi-inovasi keren dari logika kategori.

8. Logika Penuh – Seleksi Produksi

Di awal abad 21 ini, kita bisa mengembangkan logika-penuh dua arah: seleksi dan produksi. Logika-penuh merupakan pengembangan dari logika kategori. Logika-penuh hanya mengijinkan functor (morphism, mapping) surjective (full). Sementara, functor yang lain (injective dan bijective) perlu ditransformasikan menjadi functor surjective. (Functor identitas tetap dipertahankan).

Logika-penuh arah seleksi menyelidiki struktur abstrak seleksi, misal, bagaimana piala dunia babak awal diikuti seluruh negara, babak tengah tinggal 50%, dan babak final menghasilkan 1 juara unik. Sementara, logika-penuh arah produksi menyelidiki struktur abstrak produksi, misal, bagaimana produksi satu konten digital diakses 2 orang di hari pertama, 20 orang di hari kedua, dan 300 ribu orang di hari ketiga. Dengan demikian, logika penuh memberi tahu kita struktur apa yang menjamin memenangkan kompetisi – misal pemilu presiden – dan struktur apa yang menjamin suatu konten menjadi viral di media sosial.

Kita bisa menyusun logika-penuh menjadi tiga rumpun: rumpun-seleksi, rumpun-produksi, rumpun-siklis.

8.1 Rumpun-Seleksi

Juara Kota = {Adi, Budi, Citra, Dita}
Juara Provinsi = {Adi, Dita}
Juara Nasional = {Dita}

Contoh di atas adalah rumpun-seleksi. Di mana functor yang berlaku adalah functor penuh, sehingga, obyek tingkat selanjutnya lebih sedikit dari yang semula. Struktur politik, pemerintahan mau pun lembaga swasta, dapat kita baca sebagai rumpun-seleksi.

Logika dari struktur rumpun-seleksi ini berlaku satu arah. Dari juara kota, kita bisa memastikan siapa juara nasional. Tetapi, tidak bisa sebaliknya. Dari juara nasional, misal Dita, kita tidak bisa memastikan siapa saja juara kota.

8.2 Rumpun-Produksi

Rumpun-produksi berlawanan dengan rumpun-seleksi. Di sini, kita menghadapi tantangan berat untuk menyusun “functor” jenis berbeda. Karena, intuisi kita sudah terbiasa dengan intuisi relasi fungsi, maka, rumpun-produksi seperti menentang intuisi itu.

Di setiap saat waktu, kita berada di suatu tempat. Bisa saja di waktu yang berbeda, kita tetap berada di tempat yang sama.

Intuisi sebaliknya, lebih sulit dipahami. Di setiap tempat, kita ada waktu. Di tempat yang berbeda, diri kita TIDAK bisa di waktu yang sama. Rumpun-produksi memerlukan intuisi yang sulit ini untuk membangun struktur logika matematika.

Untung saja, saat ini, media digital sudah berkembang pesat. Kita bisa mengarahkan intuisi kita ke media sosial. Banyak viewer, akumulatif, pada suatu konten digital bisa kita tulis sesusai logika-penuh.

Hari Pertama = {Adi}
Hari Kedua = {Adi, Budi, Cita}
Hari Ketiga = {Adi, Budi, Cita, Dita, Era}

Struktur rumpun-produksi di atas menunjukkan ada 5 viewer pada hari ketiga. Dari strukturnya, kita bisa menentukan bahwa Adi adalah influencer. Karena itu, kita bisa mem-prediksi pada hari ketujuh akan ada 7000 viewer.

Banyaknya viewer tidak ditentukan oleh obyeknya, misal Adi. Tetapi, ditentukan oleh struktur rumpun-produksi itu sendiri. Seandainya, Adi diganti oleh Bowo maka hasilnya akan sama saja. Meski, obyek-obyeknya bisa berbeda.

8.3 Rumpun-Siklis

Perpaduan rumpun-seleksi dengan rumpun-produksi menghasilkan rumpun siklis. Tantangan besar bagi matematikawan untuk mengidentifikasi struktur rumpun-siklis, untuk kemudian, mendesain rumpun siklis yang baru.

Untungnya, realitas alam raya justru menunjukkan adanya rumpun-siklis secara kosmologis.

Penrose (Lahir 1931) mengusulkan teori conformal cyclic cosmology (CCC). Di mana, big bang yang diikuti oleh kosmos yang mengembang adalah sekedar rumpun-produksi sejak 13,8 milyard tahun yang lalu. Kosmos akan mengembang sampai ukuran maksimal, untuk kemudian, berhenti lalu mengkerut ukuran mengecil. Di sini, dimulai proses rumpun-seleksi. Kosmos terus mengecil sampai remuk menjadi ukuran setitik dengan jari-jari 0. Kosmos musnah, untuk kemudian, terjadi big bang lagi dan begitu seterusnya.

Struktur apa yang menyebabkan CCC? Struktur apa yang menyebabkan rumpun-siklis? Atau, bagaimana struktur dari rumpun-siklis?

Mari kita coba dengan ilustrasi yang lebih dekat. Kita akan memproduksi “pengetahuan”.

Hari pertama = {pengetahuan}
Hari kedua = {sains, sosial}
Hari ketiga = {math, fisika, biologi, ekonomi, sejarah}

Struktur rumpun-produksi di atas bisa kita balik menjadi rumpun-seleksi dengan proses “membaca” dan “klasifikasi.”

Klasifikasi pertama = {math, fisika, biologi, ekonomi, sejarah}
Klasifikasi kedua = {sains, sosial}
Klasifikasi ketiga = {pengetahuan}

Lengkap sudah, contoh rumpun siklis di atas. Pertanyaan besar di hadapan kita: bagaimana struktur rumpun siklis?

Barangkali, kajian di masa depan akan berhasil menjawabnya. Di sini, kita menekankan kembali prinsip-prinsip logika-penuh.

1. Diberikan “obyek” dengan “functor surjective.” Atau, kita bisa mengkonstruksi mereka: obyek dan functor.

2. Functor (morphism, mapping) memenuhi: komposisi, asosiasi, dan identitas dipertahankan.

3. Kajian struktur logika-penuh secara teoritis dan praktis.

Penutup

Kita bisa meringkas logika sepanjang sejarah sebagai obyektif dan subyektif. Logika obyektif ada kecenderungan subversif dengan menganggap logika subyektif tidak terlalu signifikan. Sementara, logika subyektif cenderung bersifat problematis yaitu keduanya, obyektif dan subyektif, sama-sama memiliki problem yang perlu diatasi.

Logika obyektif terbukukan dengan baik sejak Aristoteles, Aljabar, Ibnu Sina, Averous, Descarters, Newton, Boole. Logika proposional adalah yang paling utama. Tugas logika adalah “memasukkan” suatu partikular ke dalam “universal” dengan tepat. Logika Boolean memberikan kekuatan tambahan berupa logika kreatif yang mengijinkan implikasi meski tidak ada relevansi.

Frege, didukung Russell, mempekaya logika obyektif dengan logika relasional. Logika dengan jelas berdiri di atas fondasi yang kokoh yaitu sistem formal. Tetapi, Godel berhasil membuktikan bahwa setiap sistem formal, termasuk logika, pasti tidak konsisten. Berbagai macam upaya mengatasi inkosistensi telah dikembangkan.

Paruh akhir abad 20, Eilenberg dan Lane mengembangkan logika kategori yang merupakan versi umum dari “fungsi” matematika. Logika kategori menunjukkan bahwa logika bersandar pada fondasi struktur. Sementara, obyek dan relasi, adalah penyusun dari struktur.

Awal abad 21, kita mengembangkan logika-penuh yang merupakan lanjutan dari logika kategori. Dengan logika penuh, kita merumuskan logika-seleksi dan logika-produksi.

Logika subyektif, dari arah berbeda, terus berkembang makin produktif. Suhrawardi adalah pemikir pertama yang merumuskan logika visi-iluminasi. Subyek, yang mempunyai visi, berhadapan dengan obyek, yang beriluminasi. Subyek dan obyek menyatu menjadi satu kesatuan.

Hegel mengembangkan logika dialektika yang berbeda. Logika adalah sistem metafisika. Being, sebagai tesis, berkontradiksi dengan esensi, sebagai antitesis. Kemudian, terjadi proses dialektika menyatunya kontradiksi dalam idea, sintesis. Bersatunya kontradiksi ini memang tetap problematis.

Logika destruksi dari Heidegger barangkali lebih dekat ke subyektif. Meski pun, tampaknya, Heidegger keberatan bila dimasukkan ke subyektif. Masuk obyektif juga bakal keberatan. Karakter destruksi, yang terus-menerus membuka posibilitas baru, bisa menjadi harapan untuk perbaikan dunia di masa depan.

Di era kontemporer ini, logika obyektif banyak berkembang seiring dengan filsafat analytic. Sementara, logika subyektif berkembang seiring dengan filsafat continental yang tetap problematis. Filsafat Timur yang kuat dengan filsafat moral tetap mengembangkan logika obyektif mau pun subyektif. Sehingga, bagaimana pun, problematis juga.

Barangkali filosofi sakina bisa menjadi solusi. Saya menuliskan filosofi sakina pada tulisan saya yang satunya.

Filosofi Sakina

Masalah terbesar umat manusia, saat ini, adalah manusia menjadi manusia satu dimensi.

Di era kontemporer ini, manusia hanya punya satu dimensi yaitu dimensi ekonomi. Bahkan lebih fokus hanya ke profit. Lebih jauh lagi fokus bergeser hanya ke pertumbuhan kekayaan – bagi segelintir orang. Dampak negatif dari manusia satu dimensi, bisa kita rasakan langsung: kesenjangan ekonomi, kebobrokan politik, perusakan lingkungan, krisis iklim, pandemi, sampai ancaman perang nuklir dan senjata pembunuh massal.

Secara pribadi, manusia satu dimensi hanya bisa menipu diri sendiri. Mereka berpikir dengan makin banyak kekayaan maka makin bahagia. Nyatanya, makin kaya justru makin hampa. Makin banyak fasilitas, hati makin panas. Makin banyak uang, jalan hidup makin bimbang.

Solusinya jelas: berubahlah. Jangan mau jadi manusia satu dimensi. Jadilah manusia dua dimensi. Untuk kemudian, terus bertumbuh menjadi lebih banyak dimensi penuh harmoni. Raihlah bahagia sejati. Hidupkan jiwa. Cahaya jiwa adalah cahaya sakina.

1. End of History
2. Dialektika Kontradiksi
3. Dialektika Keragaman
4. Dialektika Sakina
5. Cahaya Masyarakat Sakina
6. Kejahatan Selalu Ada
7. Semesta Sakina

Sokrates (470 – 399 SM) mengingatkan bahwa manusia punya banyak dimensi. Di antara dimensi-dimensi itu saling berdialog untuk tumbuh menjadi lebih baik. Proses dialog ini, kita kenal sebagai dialektika, berlangsung dengan saling tanya dan jawab secara terbuka.

Fukuyama (1952 – ) menyatakan bahwa kompetisi dunia kapitalis lawan dunia komunis sudah berakhir pada tahun 1990an ditandai dengan runtuhnya Uni Soviet. Dunia menjadi tunggal, satu dimensi, yaitu dunia kapitalis. Sejarah telah mencapai ujung akhir.

Hegel (1770 – 1831) merumuskan dialektika kontradiksi yang memenuhi alam raya. Seharusnya, sejarah tidak akan pernah mencapai ujung akhir. Karena sepanjang sejarah, selalu ada kontradiksi dalam masyarakat sehingga masyarakat terus bergerak mengatasinya.

Marx (1818 – 1883) mengembangkan dialektika kontradiksi materialis. Kaum elit borjuis berkontradiksi dengan kaum bawah proletar, berdialektika, untuk kemudian, membentuk masyarakat yang adil. Kritik Marx kepada kapitalisme menunjukkan beragam cacat kapitalisme. Tetapi, masyarakat adil itu belum juga tiba. Seandainya, masyarakat adil memang terbentuk maka akan tetap ada kontradiksi.

Deleuze (1920 – 1995) merumuskan metafisika “different”: realitas dipenuhi oleh beragam perbedaan. Kita melihat perbedaan-perbedaan nyata di dunia aktual. Lebih dari itu, perbedaan juga terjadi pada dunia virtual. Kapitalisme tidak memerlukan perbedaan yang beragam itu. Kapitalisme memandang semua sama: sumber daya yang bisa dieksploitasi. Problem besar muncul ketika keragaman diberangus. Kita memerlukan solusi yang mengakui keragaman perbedaan.

Dialektika sakina adalah solusi yang mengakui keragaman. Keragaman adalah energi pendorong perubahan. Dialektika sakina membentuk keseimbangan dinamis dari berbagai unsur yang berbeda. Tidak ada formula tunggal untuk keseimbangan dinamis. Banyak struktur berbeda, di saat yang sama, struktur-struktur itu mencapai keseimbangan dinamis. Namun, banyak juga struktur lain yang tidak dinamis juga tidak seimbang.

Dalam proses dialektika sakina, secara personal, muncul rasa bahagia dalam diri setiap orang yang terlibat. Secara sosial politik, dialektika sakina mendorong terciptanya struktur politik dinamis yang menjamin masyarakat adil makmur. Pada bagian akhir tulisan, kita akan mengkaji lebih dalam tema ini dengan harapan terciptanya cahaya masyarakat sakina.

1. End of History

Fukuyama (1952 – ) menyatakan bahwa kompetisi dunia kapitalis lawan dunia komunis sudah berakhir pada tahun 1990an ditandai dengan runtuhnya Uni Soviet. Dunia menjadi tunggal, satu dimensi, yaitu dunia kapitalis. Sejarah telah mencapai ujung akhir.

Dunia ketiga, pada abad 20, tidak diperhitungkan eksistensinya. Hanya ada dunia kesatu, negara kapitalis, melawan dunia kedua, yaitu negara komunis. Proses dialektika kapitalis versus komunis sudah berakhir menjelang abad 21. “End of History” dimenangkan oleh dunia kapitalis.

Vattimo (1936 – ) membaca “End of History” dengan pendekatan berbeda: pendekatan hermeneutika. Hadirnya media digital menyebabkan sejarah berakhir. Kita tidak punya lagi sejarah, dalam arti, tidak ada sejarah tunggal. Setiap negara, atau kelompok, bisa menciptakan narasi sejarah masing-masing. Termasuk sejarah dunia, masing-masing orang punya narasi yang berbeda.

Sayangnya, dunia digital, benar-benar, mengakhiri sejarah. Perusahaan-perusahaan besar mendiktekan narasi besar dengan menguasai media digital. Umat manusia tidak sadar, mereka dalam genggaman korporasi raksasa dunia. Hanya ada sejarah tunggal: sejarah korporasi besar.

Bagaimana pun, dalam diri manusia selalu ada yang tersisa: satu titik sumber cahaya. Meski pun sejarah berakhir, meskipun sejarah mengungkung manusia, titik cahaya itu tetap bersinar. Bahkan, sinarnya senantiasa mencari cara untuk keluar, memenuhi jagat raya. Tidak akan pernah ada akhir, selama ada manusia di sana.

Akhir dari sejarah, sejatinya, adalah awal dari sejarah yang berbeda. Siapa yang akan menulis sejarah baru? Siapa yang menciptakan sejarah baru? Siapa pelaku sejarah baru?

2. Dialektika Kontradiksi

Hegel (1770 – 1831) merumuskan dialektika kontradiksi yang memenuhi alam raya. Seharusnya, sejarah tidak akan pernah mencapai ujung akhir. Karena sepanjang sejarah, selalu ada kontradiksi dalam masyarakat sehingga masyarakat terus bergerak mengatasinya.

Hegel sendiri menyatakan bahwa dialektika akan berakhir manakala tercapai “Spirit Absolute”: di mana tidak ada kontradiksi lagi. Membaca “Spirit Absolute” ini, tentu saja, menimbulkan problem tersendiri. Wajar jika “Spirit Absolute” berkontradiksi dengan spirit-tidak-absolute maka terjadi proses dialektika, lagi. Dengan demikian, dialektika tidak pernah berakhir.

Secara definisi, “Spirit Absolute” adalah hilangnya segala kontradiksi. Justru definisi seperti itu yang mengundang kontradiksi. Bagaimana pun, konsep “Spirit Absolute” mempunyai daya pikatnya tersendiri. Kita jadi memiliki cita-cita jelas untuk meraih cita-cita absolute. Karl Marx mengembangkan konsep masyarakat komunis lebih lanjut.

Marx (1818 – 1883) mengembangkan dialektika kontradiksi materialis. Kaum elit borjuis berkontradiksi dengan kaum bawah proletar, berdialektika, untuk kemudian, membentuk masyarakat yang adil. Kritik Marx kepada kapitalisme menunjukkan beragam cacat kapitalisme. Tetapi, masyarakat adil itu, yang diprediksi Marx, belum juga tiba. Seandainya, masyarakat adil memang terbentuk maka akan tetap ada kontradiksi.

Marx percaya bahwa masyarakat adil itu akan terbentuk dan menjadi akhir dari dialektika materialisme. Sampai akhir abad 20, prediksi Marx tidak terbukti. Bahkan di awal abad 21 ini, tanda-tanda jalannya sejarah menyimpang dari prediksi Marx makin jelas. Kita lebih yakin bahwa masyarakat tidak akan berhenti, masyarakat terus berdialektika.

Bertrand Russell (1872 – 1970), sekitar peralihan ke abad 20, menolak konsep dialektika kontradiksi dari Hegel. Menurut Russell, sains tidak berkembang melalui kontradiksi-kontradiksi yang menyatu dalam dialektika. Sains justru berkembang melalui kajian detil terhadap obyek-obyek dengan batasan yang jelas, tanpa kontradiksi. Setiap penemuan sains akan menjadi pijakan untuk pengembangan sains berikutnya. Kelak, pendekatan Russell ini, sekaligus menolak Hegel, membentuk satu mazhab filsafat yang kokoh: filsafat analitik.

Karl Popper (1902 – 1994), pada pertengahan abad 20, menyerang keras dialektika Hegel, dan Marx, sebagai historisisme. Bagi Popper, historisisme adalah mustahil. Tidak mungkin, kita bisa meramalkan jalannya sejarah ke depan. Karena, kemajuan sejarah umat manusia dipengaruhi oleh perkembangan pengetahuan, dan teknologi. Sementara, perkembangan pengetahuan selalu menampilkan lompatan-lompatan tak terduga dalam bentuk penemuan-penemuan baru. Akibatnya, kita tidak pernah bisa memastikan arah sejarah manusia di masa depan.

Sebaliknya, historisisme justru menyakini jalannya sejarah, ke masa depan, sudah dipastikan melalui jalur tertentu.

Tugas manusia, menurut hitorisisme, sekedar mengikuti jalannya sejarah itu. Bila ada orang yang menyimpang dari jalannya sejarah maka mereka perlu diluruskan agar sesuai jalannya sejarah. Akibat dari historisisme ini adalah totaliterianisme. Dan, kita menyaksikan bencana kemanusia terbesar sepanjang sejarah: perang dunia I dan II. Popper dengan tegas menolak totaliterianisme dan historisisme. Popper mengusulkan terbentuknya “open society”, masyarakat terbuka.

Terbukti, konsep dialektika Hegel nyaris musnah pada akhir abad 19 dan sepanjang abad 20. Serangan Russell dan Popper, tampaknya, berpengaruh besar terhadap meredupnya Hegel. Di saat hampir bersamaan dengan Popper menulis kritik kepada Hegel, Russell menulis buku “Sejarah Filsafat Barat.” Di dalam bukunya, Russell menyerang terang-terangan kepada Hegel.

Kebangkitan

Kajian lebih mendalam menunjukkan bahwa serangan Russell dan Popper terhadap Hegel adalah salah sasaran. Mereka tidak mengkritik dialektika Hegel. Mereka, Russell dan Popper, hanya mengkritik interpretasi terhadap konsep Hegel. Bahkan, mereka salah paham terhadap Hegel.

Akhir abad 20, kita menyaksikan kebangkitan kembali dialektika Hegel. Bahkan awal abad 21 ini, ada yang menilai sebagai masa kegemilangan dialektika Hegel. Pada tahun 1980an, Pippin (lahir 1948 – ) menulis buku tentang dialektika Hegel dari sudut pandang anti-metafisika. Dengan cara ini, kita bisa membaca Hegel dengan intonasi wajar tanpa kecurigaan. Kita membaca Hegel secara rasional dan empiris sehingga sejalan dengan filsafat analitik – dan filsafat lain secara lebih luas.

Zizek (lahir 1949 – ), terang-terangan, menghidupkan kembali ajaran dialektika Hegel. Sikap ini menarik. Karena gerakan Marxisme, sampai saat ini, adalah kisah kegagalan perjuangan. Dengan kembali kepada Hegel setelah dari Marx, maka, terbuka posibilitas lebih besar. Secara intelektual, dialektika Hegel tampak lebih kokoh dari Marx. Tetapi, secara politis, pendekatan Marx barangkali mempunyai dampak lebih besar dan lebih revolusioner.

“Apa makna Spirit Absolute di saat ini?”

Bagaimana pun, kesan totaliter tetap kuat dalam kata “Spirit Absolute”. Pippin membaca spirit sebagai bukan sesuatu yang bersifat spiritual tetapi suatu pendekatan epistemologis. Spirit kita perlukan secara epistemologis untuk pijakan ontologi. Spirit adalah “dasar pengetahuan” yang dengannya, kita bisa mengembangkan pengetahuan lanjutan secara dialektis. Tanpa “dasar pengetahuan,” tanpa spirit, kita tidak bisa mengembangkan pengetahuan apa pun.

Dasar-pengetahuan ini terbatas, sehingga berkontradiksi dengan esensi alam raya. Karenanya terjadi dialektika merangkul dasar-pengetahuan dan esensi alam raya sehingga terbentuk pengetahuan baru. Selanjutnya, pengetahuan-baru ini berkontradiksi dengan esensi alam raya dan berdialektika lagi menghasilkan pengetahuan yang lebih baru lagi. Demikian seterusnya, proses dialektika tiada henti.

Tentu saja, kita bisa memikirkan pertumbuhan pengetahuan melalui dialektika bisa bersifat meluas dan mendalam. Meluas dalam arti cakupan pengetahuan makin luas dengan batas-batas yang melebar, misal teori relativitas dan sosiologi. Sedangkan, mendalam dalam arti tidak meluaskan batas tetapi makin mendalami suatu kajian tertentu, misal mekanika quantum dan psikologi.

Spirit Absolute bermakna pengetahuan yang tidak pernah berhenti, terus-menerus bergerak, secara absolute. Karena realitas alam raya selalu dinamis, termasuk manusia, maka kontradiksi selalu terjadi. Dengan demikian, dialektika secara absolute tidak akan pernah berhenti. Dialektika akan selalu terjadi.

Dalam analisis kita, dialektika Hegel ini memberi dorongan untuk mengembangkan dialektika Sakina yang lebih komprehensif. Dialektika Sakina mengakui keragaman alam raya, dan keragaman manusia, sehingga terjadi kontradiksi, meminjam istilah Hegel. Proses dialektika bertujuan untuk mencapai mode Sakina yang lebih tinggi ditandai dengan hadirnya karakter keseimbangan dinamis dan dinamika seimbang. Dari satu mode Sakina,senantiasa, bergerak maju ke mode Sakina yang baru, sering ditandai dengan hilangnya keseimbangan sementara.

Dialektika Hegel, minimal, mengingatkan kita ada dua sisi realitas yang saling berkontradiksi. Realitas tidak bisa direduksi menjadi realitas tunggal, misal, menjadi realitas ekonomi belaka. Demikian juga, realitas manusia tidak bisa dipandang sebagai realitas tunggal untuk memenuhi kebutuhan ekonomi saja. Realitas selalu jamak, beragam. Bagaimana pun, dalam keragaman realitas, kita tetap terhubung dalam kesatuan alam raya. Sehingga terjadi dinamika untuk meraih yang lebih baik bagi sesama. Dialektika Sakina.

3. Dialektika Keragaman

Deleuze (1920 – 1995) merumuskan metafisika “different”: realitas dipenuhi oleh beragam perbedaan. Kita melihat perbedaan-perbedaan nyata di dunia aktual. Lebih dari itu, perbedaan juga terjadi pada dunia virtual. Kapitalisme tidak memerlukan perbedaan yang beragam itu. Kapitalisme memandang semua sama: sumber daya yang bisa dieksploitasi. Problem besar muncul ketika keragaman diberangus. Kita memerlukan solusi yang mengakui keragaman perbedaan.

Heidegger (1889 – 1976) merumuskan ontological “different”: selalu ada perbedaan ontologis antara interpretasi dengan realitas dalam setiap klaim kebenaran. Apa pun klaim kebenaran yang kita buat maka tidak akan pernah sama persis dengan realitas ontologis. Selalu ada perbedaan di antara keduanya, interpretasi dan realitas, yang tak pernah bisa dihilangkan. Sebagus apa pun interpretasi yang kita buat maka itu adalah sekedar estimasi dari realitas. Masalah lebih serius muncul karena setiap pengetahuan manusia selalu melibatkan interpretasi, dan pengalaman, dalam satu dan lain cara.

Masih di akhir abad 20, Derrida dan Lyotard secara terpisah, juga merumuskan konsep “different” yang berbeda lagi. Sehingga, kita memiliki banyak konsep “different” yang berbeda-beda. Bagi kita di Indonesia, sudah terbiasa dengan istilah “bhineka” atau keragaman atau “different” itu sendiri. Realitas alam raya memang dipenuhi oleh aneka ragam perbedaan.

Deleuze menyatakan bahwa “different” lebih prior dari “identitas”. Cara pandang Deleuze ini berkebalikan dengan prinsip logika yang selama ini kita pegang sejak era Aristoteles. Prinsip identitas adalah yang paling utama, menurut Aristoteles. Kuda adalah kuda dan sapi adalah sapi. Karena ada identitas kuda adalah kuda maka, kemudian, kita bisa membedakan antara kuda dan sapi.

Konsep “different” menyatakan sebaliknya. Kuda berbeda dengan sapi. Kuda berbeda dengan kambing. Kuda berbeda dengan segala yang bukan kuda. Totalitas dari seluruh yang berbeda dengan kuda maka, kemudian, kita mengenali identitas kuda. Awalnya adalah “different”, kemudian, totalitas dari “different” membentuk suatu identitas.

Implikasi dari konsep “different” ini sangat besar. Membalik karakter mandiri identitas menjadi tergantung, atau dipengaruhi, oleh entitas selain dirinya.

Secara teoritis, dan filosofis, konsep “different” mempersulit kita dalam melakukan klaim kebenaran. Karena klaim kebenaran kita harus mempertimbangkan seluruh aspek yang berbeda dari “kebenaran kita” itu. Sementara, kita tidak akan pernah berhasil meraih totalitas dari seluruh keragaman perbedaan. Akibatnya, klaim kebenaran kita tidak pernah sempurna.

Untuk memperbaiki klaim “kebenaran kita” yang tidak sempurna ini maka kita perlu melakukan iterasi mempertimbangkan totalitas keragaman perbedaan. Iterasi tanpa henti ini bisa kita sebut sebagai dialektika keragaman atau dialektika “different”. Meski pun, barangkali, Deleuze tidak akan suka dengan istilah dialektika.

Secara ekonomi, kita tidak bisa lagi melakukan klaim bahwa bisnis kita menguntungkan berdasar analisis data internal kita. Untuk bisa melakukan klaim “kebenaran ekonomi kita” perlu mempertimbangkan totalitas perbedaan dari beragam pihak. Secara politik, demikian juga, kita tidak bisa lagi melakukan klaim kebenaran berdasar analisis internal. Dan, karena klaim ini tidak pernah sempurna maka kita perlu terbuka dengan proses dialektika keragaman bersama banyak pihak lain.

Dialektika keragaman ini lebih fleksibel dibanding dialektika kontradiksi. Karena, keragaman mencakup kontradiksi dan lebih banyak lagi jenis perbedaan lainnya. Selanjutnya, kita perlu membahas dialektika Sakina sebagai kelanjutan dari dialektika keragaman.

Realitas memang beragam. Realitas, sekali lagi, tidak bisa direduksi menjadi hanya satu dimensi, misal dimensi ekonomi belaka. Demikian juga, realitas kemanusiaan juga beragam sehingga tidak mungkin bisa direduksi menjadi hanya satu dimensi.

4. Dialektika Sakina

Sakina adalah rasa bahagia yang hadir dalam proses, dan sebagai hasil, mengatasi keragaman perbedaan. Hasil dari mengatasi keragaman adalah keragaman baru yang lebih matang. Sakina tidak menolak keragaman. Sakina mengatasi keragaman, untuk kemudian, berada dalam keragaman baru.

Dialektika sakina adalah solusi yang mengakui keragaman. Keragaman adalah energi pendorong perubahan. Dialektika sakina membentuk keseimbangan dinamis dari berbagai unsur yang berbeda. Tidak ada formula tunggal untuk keseimbangan dinamis. Banyak struktur berbeda, di saat yang sama, struktur-struktur itu mencapai keseimbangan dinamis. Namun, banyak juga struktur lain yang tidak dinamis juga tidak seimbang.

5. Cahaya Masyarakat Sakina

Dalam proses dialektika sakina, secara personal, muncul rasa bahagia dalam diri setiap orang yang terlibat. Secara sosial politik, dialektika sakina mendorong terciptanya struktur politik dinamis yang menjamin masyarakat adil makmur. Pada bagian akhir tulisan, kita akan mengkaji lebih dalam tema ini dengan harapan terciptanya cahaya masyarakat sakina.

6. Kejahatan Selalu Ada

Benarkah akan selalu ada kejahatan? Pernahkah, di masa-masa tertentu, bersih sama sekali dari kejahatan? Kita menduga akan selalu ada kejahatan selama ada anak manusia.

Kita perlu membedakan tiga istilah: jahat, salah, dan sulit. Kejahatan adalah paling parah.

Kesulitan adalah rintangan tertentu yang menghalangi tercapainya tujuan. Budi ingin masuk SMA setelah lulus SMP. Kesulitannya adalah banyak siswa SMP bersaing untuk masuk SMA pilihan yang sama. Kompetisi, atau persaingan, adalah kesulitan yang wajar. Kesulitan perlu diatasi.

Kesalahan adalah tidak tepat secara konsep, tempat, waktu, ukuran, aturan, atau lainnya. Aturan zonasi berubah menjadi radiusi berdasar jarak adalah contoh kesalahan konsep. Budi tidak bisa masuk SMA pilihan karena jarak rumahnya 1 km dari SMA pilihan; berdasar zonasi, terlalu jauh 1 km itu. Meski Budi rajin belajar tetap gagal. Zonasi adalah contoh kesalahan konsep; lebih salah lagi karena, akhirnya, Budi harus sekolah ke SMA swasta yang jaraknya lebih dari 5 km dan biaya mahal. Kesalahan perlu dikoreksi.

Kejahatan adalah secara sengaja merugikan pihak-pihak tertentu atau menguntungkan pihak sendiri atau sepihak. Aturan zonasi menguntungkan orang-orang yang rumahnya dekat SMA favorit; menguntungkan orang-orang yang mampu membayar KK (kartu keluarga) sehingga jarak dekat sekolah. Zonasi merugikan orang-orang yang tinggal di gunung, di kampung yang jauh dari sekolah favorit. Atau, merugikan orang yang jarak rumah meski dekat tapi disisihkan; misal rumah Budi jarak 1 km disisihkan karena ada KK yang jumlahnya banyak sekali dengan radius hanya 300an meter. Kejahatan perlu dicegah, dikoreksi, dan diatasi.

Bagaimana pun, kejahatan memicu terjadinya dialektika dengan kebaikan. Jadi, apakah kejahatan punya peran penting?

7. Semesta Sakina

Alam semesta ini terus berkembang dengan filosofi sakina.

Bagaimana menurut Anda?

Penilaian Apriori

Presiden Jokowi adalah presiden terbaik. Karena itu, semua program presiden adalah program terbaik. Pemindahan IKN (ibu kota negara) adalah program terbaik. Para ahli sudah mengkaji secara ilmiah, terbukti pemindahan IKN adalah program terbaik. Pembangunan kereta api cepat, pembangunan jalan tol, pembangunan bendungan, dan lain-lain, semuanya, adalah program terbaik.

Bagaimana jika masa jabatan 3 periode? Tentu saja itu yang terbaik. Jika jadi 3 periode maka itu adalah yang terbaik. Dan, jika tidak jadi 3 periode maka tetap yang terbaik.

Cara penilaian seperti itu adalah penilaian apriori.

Penilaian apriori juga bisa ke arah sebaliknya. Dia adalah presiden terburuk. Karena itu, program apa pun yang dilakukannya pasti buruk. Program IKN, kereta cepat, pembangunan tol, dan lain-lain semuanya adalah buruk. Banyak tersedia data, terutama berita, membuktikan itu.

Pro dan kontra, sama-sama, bersifat apriori. Bukankah apriori itu buruk? Apriori banyak bermanfaat dan banyak mudharat juga. Kita akan membahasnya di bawah ini.

1. Analisis Apriori Posteriori
2. Data Empiris
3. Konsep Ideal
4. Apriori vs Posteriori
5. Solusi Sakina

Aristoteles (386 – 322 SM) adalah pemikir awal yang memperhatikan pentingnya analisis apriori dan posteriori. Penilaian apriori menjamin logika silogisme menjadi benar. Sementara, jika tidak ada apriori maka logika silogisme tidak dijamin bernilai benar. Dengan kata lain, tanpa apriori, semua logika manusia adalah ragu-ragu.

1. Analisis Apriori Posteriori

Suhrawardi (1154 – 1191) meragukan validitas konsep apriori dari Aristoteles dan murid-muridnya. Konsep apriori yang dikembangkan sampai jaman itu tidak berhasil mengungkapkan pengetahuan sejati. Suhrawardi memberi solusi dengan epistemologi “ilmu hudhuri” atau “knowledge by presence.”

Immanuel Kant (1720 – 1804) berhasil menempatkan penilaian apriori dan posteriori dengan baik. Apriori berlaku dengan tepat untuk konsep-konsep ideal semisal matematika. Sedangkan, posteriori berlaku untuk kasus-kasus empiris semisal sains, kehidupan sosial, dan bisnis sehari-hari.

Apriori adalah penilaian yang sudah ditetapkan kebenarannya secara universal lebih awal dari pengamatan. Misal, “persegi adalah bangun datar yang memiliki empat sisi.” Lingkaran pasti bukan persegi karena tidak punya empat sisi. Segitiga pasti bukan persegi karena tidak memiliki empat sisi. Kita tidak harus mengamati lingkaran dan segitiga tersebut.

Posteriori adalah penilaian yang hanya bisa ditetapkan kebenarannya setelah ada pengamatan. “Milen, kemarin, ikut sholat Jumat,” adalah posteriori. Kita perlu melakukan pengamatan kepada Milen apakah dia ikut sholat Jumat. Setelah itu, kita baru bisa mengambil kesimpulan. (Bandingkan dengan lingkaran. Tanpa pengamatan, kita sudah tahu lingkaran pasti bukan persegi.)

Tantangan tetap ada di depan kita: semua analisis posteriori, pada langkah akhir, harus didasarkan pada analisis apriori. Di sinilah, tugas kita untuk menjaga dinamika antara apriori dan posteriori. Sehingga, terbentuk alunan serasi dalam hidup ini.

Tantangan kedua, lebih serius, adalah masalah praktis. Kapan kita harus menerapkan analisis apriori dan kapan kita harus menerapkan analisis posteriori. Seperti contoh di atas tentang presiden terbaik, atau sebaliknya, tidak tepat dengan menggunakan analisis apriori. Menentukan presiden terbaik seharusnya dengan menggunakan analisis posteriori. Demikian juga, penilaian program kerja presiden didasarkan pada analisis posteriori.

2. Data Empiris

Kehidupan sehari-hari, pengalaman empiris, menuntut kita untuk menerapkan analisis posteriori. Bagaimana pun, analisis posteriori terhadap data empiris selalu bersifat kontingen, hanya kemungkinan bukan kepastian.

P: “Pawang berhasil mengusir hujan.”

Pernyataan P di atas bisa benar. Meski benar, misalnya, tetap saja kontingen – tidak mutlak. Hasil pengamatan menunjukkan memang benar bahwa pawang berhasil mengusir hujan. Tetapi, pengamatan itu bisa saja salah mengamati. Di mana-mana, era media sosial, bisa terjadi setingan belaka.

S: “Soekarno adalah proklamator RI.”

Pernyataan S jelas benar tetapi kontingen. Catatan sejarah, cerita rakyat, dan bukti-bukti di museum mendukung bahwa S memang benar. Apakah S jadi benar 100%? Tetap kontingen, tidak bisa 100%. Tidak ada masalah dengan kontingen ini. Dalam hidup, kita sering menghadapi kontingensi ini.

Apakah air yang Anda minum 100% sehat? Tidak juga. Tetapi kita berani minum air itu dengan keyakinan yang memadai. Dan hidup kita sehat. Jika ada orang yang menunggu 100% air sehat maka dia tidak akan pernah menemukan itu. Bisa jadi, dia tidak akan pernah minum air sampai membahayakan kesehatannya.

Bahkan hukum sains, misal hukum kekekalan massa, juga bersifat kontingen. Massa, atau materi, tidak bisa diciptakan atau dimusnahkan. Materi hanya bisa berubah bentuk. Es padat berubah jadi air cair, dan bisa berubah lagi jadi uap gas. Reaksi kimia bisa mengubah air menjadi hidrogen dan oksigen. Bagaimana pun, massa tetap sama. Materi hanya berubah bentuk.

Hukum sains kekekalan massa itu menjadi salah, ketika ditemukan, bahwa massa bisa hilang, musnah, berubah menjadi energi. Sehingga, perlu revisi menjadi hukum kekekalan massa-energi. Apakah, dengan demikian, hukum kekekalan massa-energi menjadi benar 100%? Tidak juga. Hukum sains tetap kontingen. Hanya saja, sampai saat ini, hukum sains tersebut masih benar.

Sekali lagi, tidak ada masalah dengan kontingensi. Alam raya empiris ini memang kontingen. Kita perlu bersikap bijak terhadap kontigensi. Kita perlu sikap terbuka, barangkali, pengetahuan kita salah. Barangkali pengetahuan orang lain lebih benar. Barangkali sudut pandang yang berbeda adalah lebih baik. Dan, tentu saja, barangkali pengetahuan kita memang lebih benar.

Hidup menjadi lebih bahagia dengan sikap berpikir terbuka.

3. Konsep Ideal

Kita memiliki konsep ideal dalam matematika dan moral yang benar secara universal – apriori. “Korupsi adalah kriminal,” merupakan penilaian apriori yang benar secara universal. Akibatnya, setiap tindakan korupsi perlu dihukum, atau dicegah.

Persoalan menjadi beda bila, “Mr Fulan melakukan korupsi.” Kali ini, penilaian terhadap Mr Fulan adalah partikular sehingga posteriori. Sehingga kita perlu mengamati bukti apakah Mr Fulan benar-benar melakukan korupsi. Jika terbukti, maka Mr Fulan layak dihukum. Jika tidak terbukti maka Mr Fulan bebas.

Tugas menghakimi adalah tugas kita sebagai manusia. Mau tidak mau, kita harus menghakimi banyak hal. Apakah Anda akan melanjutkan membaca tulisan ini? Anda adalah hakimnya dan harus menghakimi. Apakah Anda akan minum saat ini? Tugas Anda untuk menghakimi. Contoh “membaca” atau “minum” merupakan tugas hakim yang sederhana. Tugas yang lebih kompleks menuntut kita menghakimi sesuatu yang “partikular” masuk dalam kelompok “universal”.

“KC: Pengembangan kereta api cepat bermanfaat bagi rakyat.”

Apakah pernyataan KC di atas adalah benar? Kita dihadapkan pada penilaian partikular “P: Pengembangan kereta api cepat,” dan penilaian universal “M: Manfaat bagi rakyat.”

Setiap program pembangunan pemerintah harus masuk “M: bermanfaat bagi rakyat.” Penilaian apriori ini benar dan dapat diterima oleh semua rakyat dan semua politikus – bisa dicek ketika janji kampanye.

Tetapi, “P: Pengembangan kereta api cepat” adalah partikular. Ketika P dimasukkan ke M maka penilaian akhir kita adalah partikular atau posteriori. Pengujian empiris perlu dilakukan untuk “menghakimi.” Hasilnya, bisa saja benar (B) pengembangan kereta api cepat bermanfaat bagi rakyat. Bagaimana pun B ini tetap partikular. Sewaktu-waktu bisa berubah menjadi salah. Sehingga perlu konsistensi untuk menjaga selama perencanaan, pelaksanaan, dan pasca-pelaksanaan.

Bisa juga hasilnya salah (S), ternyata, pengembangan kereta api cepat TIDAK bermanfaat bagi rakyat. Tentu saja S ini, juga, bersifat partikular. Sehingga bisa dilakukan beragam langkah perbaikan agar bisa jadi bermanfaat bagi rakyat atau memperkecil kerugian rakyat.

4. Apriori vs Posteriori

Sampai di sini, kita bisa menyimpulkan dengan menjawab pertanyaan: mana yang kita pilih penilaian apriori atau posteriori?

4.1 Pilih Posteriori

Secara umum, kita perlu memilih analisis posteriori dengan kesimpulan akhir bersifat kontingen – bisa berubah. Kita tidak bisa sombong. Kita tidak bisa memaksa orang lain. Kita tidak bisa sewenang-wenang. Karena, penilaian kita adalah kontingen, bisa saja salah meski sudah hati-hati.

Sebaliknya, justru kita harus melakukan pengujian data – empiris mau pun rasional. Untuk konsisten, memperbaiki ilmu kita. Kita juga bersifat terbuka dengan beragam pandangan yang berbeda. Barangkali, kita perlu mencari titik temu untuk mencapai konsensus-konsensus.

Tapi, bukankah hidup dengan cara seperti itu menjadi goyah? Tidak stabil? Mudah tertiup angin?

4.2 Pilih Apriori

Pilihlah apriori secara universal. Perlu hati-hati terhadap kasus partikular.

K: “Komitmen mengantar orang jadi sukses.”

Penilaian apriori terhadap K adalah valid. Orang-orang perlu komitmen tinggi agar menjadi sukses. Dengan demikian, menjadi penuh semangat untuk berjuang.

4.3 Pilih Sintesa


5. Solusi Sakina

Filosofi Bahasa

Hanya manusia, satu-satunya makhluk di seluruh bumi, yang berkomunikasi melalui bahasa. Khususnya, bahasa tingkat tinggi. Dengan bahasa, manusia bisa bekerja sama menciptakan gedung pencakar langit, candi megah nan tinggi, sampai pesawat penjelajah angkasa luar.

Masih dengan bahasa, manusia bisa menciptakan puisi, novel, dan karya ilmiah. Dengan bahasa pula, kita mengungkapkan rasa cinta satu sama lain. Tetapi, tetap dengan bahasa, manusia bisa saling menyakiti. Manusia bisa menindas satu sama lain dengan menggunakan bahasa. Penipuan kelas kakap, termasuk korupsi, memanfaatkan bahasa juga.

Sejak jaman kuno, era Aristoteles-Plato-Sokrates dan sebelumnya, orang berpikir bahwa manusia yang menciptakan bahasa. Kita menyebut batu sebagai batu, pohon sebagai pohon, dan lain-lain sehingga terciptalah bahasa Indonesia. Sementara, orang Cina, Arab, Inggris, mereka menciptakan bahasa mereka sendiri.

Sekarang, justru terbalik. Bukan manusia menciptakan bahasa. Tetapi, bahasa menciptakan manusia. Memasuki abad 20, pemikiran “strukturalisme” menunjukkan bahwa bahasa mengikat manusia, menyusun manusia, dan menciptakan manusia.

1. Bahasa Sehari-hari
2. Bahasa Komputer
3. Bahasa Kreatif
4. Strukturalisme
5. Dekonstruksi Hermeneutika

Kita akan memulai diskusi dengan membahas “bahasa sehari-hari” atau “ordinary language philosophy” (OLP). Memang ada, bahasa, yang bukan bahasa sehari-hari? Tentu saja ada! Bahasa filosofis, misalnya, hanya bisa dipahami oleh para filosof. Bahkan, filosof pun, kadang kesulitan memahami bahasa filosofis dari madzhab yang berbeda. Filosof Timur bisa saja kesulitan memahami bahasa filosof Barat, dan sebaliknya. Sering terjadi, filosof analytic kesulitan memahami bahasa filosof continental – padahal sama-sama filosof Barat.

Wittgenstein (1889 – 1951) menengarai bahwa problem filsafat muncul karena kesalahan memahami bahasa belaka. Filosof sering memakai bahasa sehari-hari dalam konteks yang tidak sesuai. Akibatnya, sering terjadi salah paham terhadap filosofi. Solusinya sederhana, menurut Wittgenstein, kembalilah ke bahasa sehari-hari (OLP).

Bahasa komputer berbeda dengan bahasa sehari-hari. Bahasa komputer lebih tegas dan bermakna tunggal. Sehingga, bahasa komputer tidak memerlukan keragaman interpretasi konotasi makna. Dengan demikian, tidak ada salah paham dalam bahasa komputer. Tidak semanis itu bahasa komputer!? Nyatanya, bahasa komputer beragam juga. Bahasa C, misalnya, beda dengan Java. Kadang, ada bagian tertentu yang sama sekali tidak bisa dikomunikasikan.

OLP terbukti tidak memadai, dengan makin pentingya bahasa komputer. Ditambah lagi, kita tetap mengenal bahasa sastra yang berbeda dengan OLP. Seperti kita tahu, sastra mempunyai kekuatan yang sangat kreatif dalam bahasa. Kita akan lihat, OLP juga memiliki daya kreatif lebih besar dari yang umumnya dikira.

Awal abad 20 mulai muncul trend strukturalisme dalam bahasa dan matematika. Bahasa adalah problem dan kekuatan struktur. Kita hanya bisa memahami bahasa dalam konteks struktur – demikian juga matematika. Lebih dari itu, struktur bahasa menentukan struktur pikiran umat manusia. Sehingga, perilaku manusia dan peradaban ditentukan oleh struktur bahasa.

Tahun 1960an adalah puncak strukturalisme bahasa sekaligus titik keruntuhannya. Apa yang dibayangkan sebagai struktur, nyatanya, bersifat cair dan dinamis. Setiap struktur memiliki titik kelemahan. Derrida (1930 – 2004) berhasil mengembangkan konsep dekonstruksi yang mengungkap beragam “lubang” struktur. Dan, Gadamer (1900 – 2002) berhasil mengembangkan hermeneutik yang menunjukkan bahwa bahasa sangat dinamis. Jadi, ayo kita nikmati dinamika bahasa…!

1. Bahasa Sehari-hari

Kita merasa biasa-biasa saja menggunakan bahasa sehari-hari (OLP). Nyatanya, ketika kita mengkaji bahasa sehari-hari, banyak hal-hal di luar dugaan. Bagaimana seorang anak manusia bisa memahami bahasa? Berbagai macam teori dikembangkan, tak satu pun yang berhasil menjawab dengan memuaskan. Singkatnya, mustahil seorang anak bisa memahami bahasa, tapi, nyatanya setiap anak berhasil memahami bahasa.

Noam Chomsky (lahir 1928), barangkali, paling berhasil memberikan jawaban meyakinkan. Seorang anak mampu menguasai bahasa karena ada kemampuan bawaan (innate) pada manusia. Hanya manusia yang memiliki kemampuan bawaan seperti itu. Kita tidak bisa mengajari singa bahasa manusia karena singa tidak memiliki kemampuan bawaan. Kita juga tidak bisa mengajari komputer bahasa manusia karena kamputer tidak memiliki kemampuan bawaan. Bahkan, ketika komputer dilengkapi dengan “operating system” tetap saja komputer tidak bisa berbahasa manusia.

Tentu saja, kita masih boleh bertanya, “Bagaimana dan mengapa manusia bisa memiliki kemampuan bawaan dalam berbahasa?”

Chomsky menjawabnya bahwa kemampuan bawaan itu merupakan hasil perkembangan evolusi spesies manusia. Sayangnya, bukti-bukti empiris kajian evolusi tidak mendukung, belum mendukung, klaim ini. Sementara, kajian rasional masih membutuhkan penjelasan lebih mendalam. Evolusi seperti apa saja, secara rasional, yang dapat membentuk kemampuan bawaan tersebut.

Di sisi lain, ada yang menolak konsep kemampuan bawaan itu. Mereka mengatakan bahwa kemampuan berbahasa diperoleh dari hasil interaksi sosial, nurture. Memang lebih mudah bagi kita meyakini bahwa kemampuan bahasa adalah hasil kombinasi kemampuan bawaan dan interaksi sosial – nature plus nurture. Pertanyaannya, “Sejauh apa batas masing-masing nature dan nurture itu?”

Sementara, Chomsky dan teman-teman terus mengkaji batas-batas kemampuan bawaan sampai hari ini, di lain pihak, sejak pertengahan abad 20, OLP makin terus berkembang. OLP, ordinary language philosophy, secara prinsip mendasarkan kajiannya pada buku “Philosophy Investigation” karya Wittgenstein dewasa. Dan, secara implisit, menganut positivis-logis. Berikut ini, kita akan membahas beberapa konsep penting dari Wittgenstein dewasa.

1.1 Language Game

Bahasa hanya bisa dipahami dalam konteks yang tepat. Tanpa konteks, kita tidak bisa memahami bahasa. Wittgenstein menyebutnya sebagai language-game.

Kata “air” bisa bermakna memberi tahu informasi bahwa ada air. Bisa juga bermakna permintaan tolong untuk diambilkan air. Boleh jadi merupakan peringatan harus hati-hati dengan air. Komplotan penjahat bisa saja menggunakan air sebagai kode untuk melakukan serangan. Kata “air” hanya bisa dipahami sesuai konteks language-game.

Apakah dengan language-game menjadikan bahasa bersifat relatif? Relatif terhadap konteks, benar adanya. Tetapi, bukan relatif sebarang relatif. Justru, language-game memberi tahu kita cara memahami suatu bahasa dengan tepat. Bukan untuk mengaburkan bahasa.

Di era digital ini, kita sering mendengar hoax – berita bohong. Hoax, biasanya, mengandung informasi yang benar, mengandung bahasa dan kalimat yang benar. Tetapi, mereka menerapkan pada konteks yang berbeda, pada language-game yang berbeda. Hasilnya, memberikan makna yang berbeda dan terciptalah hoax berdasar informasi yang benar. Perubahan language-game ini, kita kenal sebagai “framing”.

Untuk melindungi diri dari hoax, salah satunya, dengan cara mewaspadai “framing.” Ujilah berbagai macam language-game yang mungkin.

1.2 Meaning as Use

Dari berbagai macam language-game yang beragam itu, bagaimana kita bisa mengambil satu makna tertentu?

Tidak bisa. Kita tidak bisa mengambil satu makna tertentu. Kita tidak bisa menyimpulkan suatu makna tertentu dari bahasa. Karena makna dari bahasa adalah tidak ada makna. Bahasa tidak punya makna. Kita hanya menggunakan bahasa. Wittgenstein menyebut penggunaan bahasa ini sebagai “meaning as use.”

Problem filosofis yang serius muncul pada tahap ini: gabungan language-game dan “meaning as use.” Cara pandang ini, menempatkan Wittgenstein sebagai anti-realis. Padahal, selama ini, Wittgenstein muda berpandangan realis sejalan dengan tradisi filsafat analytic.

Para realis menilai bahwa bahasa merujuk realitas tertentu. Kata “air” misalnya merujuk realitas air di alam nyata. Meski pun makna air beragam, tetapi, mereka tetap sama-sama masuk dalam kategori air. Demikian juga kata “pedih” merujuk kepada realitas tertentu yang diberi nama pedih. Meski jenis “pedih” adalah beragam, mereka semua tetap masuk dalam kategori pedih.

“Meaning as use” menolak pandangan realis seperti di atas. Bahasa hanya “bermakna” sesuai penggunaannya saja. Tidak ada realitas yang dirujuk oleh bahasa.

Bagaimana pun, kita masih bisa membaca Wittgenstein sebagai realis dengan menganggapnya sebagai dobel anti-realis.

“Meaning as use” adalah anti-realis pada tahap pertama. Tetapi, tahap kedua, karena “use” adalah realitas konkrit penggunaan bahasa maka “meaning as use” adalah realis. Jadi dobel anti-realis adalah anti-anti-realis yang sama artinya dengan realis.

1.3 Form of Life

Bagaimana kata “air” bisa merujuk ke realitas air?

Bagi bahasa sehari-hari (OLP), hal seperti itu sudah terjadi begitu saja secara alamiah. Lagi-lagi, kasus ini tidak semudah penampakannya. Bagi Wittgenstein, kita menggunakan kata “air” untuk merujuk air. Bukan karena ada suatu “rujukan” lalu kita memahami kata “air”. Tetapi, karena kita “menggunakan” kata “air” seperti itu maka kita memahaminya. Wittgenstein menyebut penggunaan kata dasar seperti itu sebagai “form of life.”

“Form of life” yang menolak rujukan terhadap realitas mengantarkan kita pada posisi anti-realis. Tahap selanjutnya, “form of life” mengakui realitas “penggunaan” bahasa maka kembali realis.

Apa sulitnya, bagi Wittgenstein untuk mengakui “realitas rujukan” yang sejalan dengan teori korespondensi? Apa lagi, Wittgenstein muda sudah mengakui “realitas rujukan” dalam bukunya Tractatus? Mengapa Wittgenstein dewasa harus merevisi Wittgenstein muda?

Teori korespondensi tidak bisa dipertahankan secara filosofis, demikian juga, “realitas rujukan”.

Pertama, bagaimana kita bisa menghubungkan kata “air” dengan realitas fisik “air”. Tidak mungkin. Kita tidak bisa membuat suatu hubungan nyata antara kata dengan realitas fisik. Kita hanya bisa membayangkan ada hubungan antara kata dan realitas fisik, tetapi, sejatinya tidak ada hubungan.

Kedua, kita bisa menghubungkan kata “air” dengan realitas fisik “air” menggunakan alam-imajinasi. Kata “air” berhubungan dengan imajinasi “air” dan, kemudian, imajinasi “air” berhubungan dengan realitas fisik “air”. Dengan demikian tercipta hubungan kata dengan realitas melalui jembatan imajinasi.

Pandangan seperti itu, ada penghubung tertentu antara kata dan realitas, bisa kita telusuri sepanjang sejarah filsafat. Plato mengembangkan teori form. Al Ghazali mengembangkan al-mitsal. Bahkan, Wittgenstein muda mengembangkan picture-theory.

Jika kata terhubung dengan imajinasi maka dengan cara apakah mereka terhubung? Misal mereka terhubung melalui A. Pertanyaan selanjutnya, dengan cara apakah A terhubung dengan kata? Misal terhubung melaui B. Maka pertanyaan bisa terus kita lanjutkan tanpa henti. Kesimpulannya, kita tidak bisa membangun hubungan antara kata dan realitas. Kita memahami kata karena penggunaannya – form of life.

Ketiga, ada realitas yang lebih fundamental dari realitas “kata” mau pun realitas “fisik”. Realitas fundamental ini yang menghubungkan kata dan realitas fisik. Ibnu Arabi menyebut realitas fundamental sebagai wujud, Sadra menyebutnya eksistensi, dan Heidegger menyebutnya being.

Russell, mentor dari Wittgenstein, berharap menemukan realitas fundamental seperti itu yang dia sebut sebagai “monisme neutral”. Sayangnya, Russell tidak mengkaji pemikiran Heidegger dengan serius. Seandainya dikaji, Russell bisa menemukan “monisme neutral” itu dari Heidegger. Sebaliknya, Heidegger juga tidak tampak serius mengkaji Russell. Padahal, mereka hidup sejaman sekitar 80 tahun.

Kata adalah mode-of-being (mode dari wujud). Begitu juga, realitas fisik adalah mode-of-being. Being bermanifestasi (disclosedness, tersingkap, opening, membuka diri) dalam mode kata. Demikian juga, realitas fisik adalah manifestasi dari being. Sehingga, kata dan realitas fisik adalah sama-sama mode-of-being. Mereka adalah satu kesatuan dalam rangkulan being.

Dengan cara pandang tersebut, kata dan realitas fisik terhubung melalui being. Tetapi, dalam kasus ini, kita sudah bergeser dari teori korespondensi ke teori “disclosedness of being” (ketersingkapan wujud). Sebuah pergeseran teori yang radikal.

Apakah maksud “form of life” dari Wittgenstein adalah ketersingkapan wujud?

Bisa jadi, jawabannya positif. Kita perlu mempertimbangkan bahwa Wittgenstein lahir di tahun yang sama dengan Heidegger, yaitu 1889. Mereka sama-sama menekuni filsafat. Dan, keduanya sama-sama mahir bahasa Jerman. Bahkan mereka menulis karya filosofisnya, sama-sama, dalam bahasa Jerman. Pada tahun 1930an, Wittgenstein mengaku bisa memahami konsep “nothingness” dari Heidegger yang dikritisi oleh Carnap. Wittgenstein bisa membaca debat itu langsung dalam edisi bahasa Jerman. Sementara, orang lain misal Russell, harus menunggu edisi terjemahan ke bahasa Inggris. Sehingga, kita bisa menduga maksud dari “form of life” adalah “disclosedness of being” atau ketersingkapan wujud.

1.4 Following The Rule

“Apakah seseorang bisa mengikuti suatu aturan?”
“Tidak bisa!” jawab Wittgenstein.

Atau, bahkan selalu bisa mengikuti aturan. Karena aturan baru selalu bisa dibuat-buat.

Saul Kripke (lahir 1940) menulis buku khusus untuk membahas “mengikuti aturan” dan “bahasa privat”. Kripke memberi contoh tentang aturan matematika. Padahal, Wittgenstein sedang membahas aturan bahasa. Di sini, saya akan memberi contoh matematika, mirip Kripke meski beda.

“Berapakah nilai A dari barisan: 1, 2, 3, 4, A, … ?”

A = 5. Sudah jelas benar. Ya, itu jawaban yang benar mengikuti aturan yang dipikirkan orang pada umumnya. Tetapi jawaban yang lain juga benar karena bisa jadi aturan berbeda.

A = 6, adalah jawaban benar sesuai aturan berikut ini:
(1, 2, 3, 4), (6, 7, 8. 9), (11, 12, 13, 14).

A = 50, adalah benar sesuai aturan:
(1, 2, 3, 4), (50, 60, 70, 80).

Jawaban yang benar menurut suatu aturan bisa saja salah menurut aturan yang lain. Sebaliknya bisa juga terjadi. Bahkan, terhadap sesuatu yang belum ada aturan, kita bisa membuat suatu aturan tertentu. Untuk kemudian, berdasar aturan itu, kita menghakimi suatu kasus sebagai benar atau salah. Apakah aturan yang kita buat itu memang benar? Atau, aturan orang lain barangkali yang lebih benar? Atau bahkan, aturan yang benar tidak kita ketahui?

Jean-Luc Nancy (1940 – 2021) menyatakan bahwa tugas filosofi adalah menentukan penilaian di mana tidak ada aturan, tidak ada ukuran, tidak ada pembanding, dan tidak tersedia suatu kepastian. Mudah saja mengukur tinggi badan ketika sudah tersedia mistar pengukur. Mudah saja mengukur berat badan ketika sudah ada timbangan. Tugas kita, sebagai manusia, adalah menentukan ukuran ketika tidak tersedia ukuran.

“Apa itu aturan?”
“Siapa yang menetapkan aturan?”
“Mengapa dia berhak menetapkan aturan?”
“Atas dasar apa, dia mendapat hak itu?”
“Apakah kita harus mengikuti aturan itu?”

Lagi, problem mengikuti aturan dari Wittgenstein ini mengantar kita kepada problem filsafat yang lebih serius. Apakah dengan problem ini menjadikan Wittgenstein relativis dan anti-realis? Saya kira, Wittgenstein tetap realis dengan jalan dobel anti-realis, seperti sudah kita bahas di atas.

Saya justru tertarik debat Wittgenstein versus Godel. Saya kira problem “mengikuti aturan” ini adalah titik temu antara mereka. Wittgenstein meremehkan “teorema incompleteness Godel” karena paradoks semacam itu sudah dibahas oleh Russell pada tahun 1900an dan sudah tersedia solusinya melalui buku “Principia” karya Whitehead dan Russell. Masalah paradoks muncul akibat ada pernyataan yang merujuk ke diri sendiri, pernyataan impredikatif. Sehingga, Godel terlambat 30 tahun.

Wajar saja, Godel marah dengan pernyataan Wittgenstein. Godel menjawab dengan tidak kurang pedas. Wittgenstein ini bisa saja pura-pura tidak paham teorema Godel atau memang tidak mampu lagi memahami teorema Godel. Godel menegaskan, “Tidak ada pernyataan impredikatif sama sekali dalam teorema Godel.”

Secara prinsip, Wittgenstein setuju dengan teorema Godel. Menganggap teorema Godel sebagai akibat dari pernyataan impredikatif memang tidak tepat, seperti sudah dibantah oleh Godel. Tetapi, kita bisa mengatakan bahwa paradoks Godel adalah setara dengan paradoks “mengikuti aturan” Wittgenstein. Atau sebaliknya, paradoks “mengikuti aturan” Wittgenstein setara dengan paradoks Godel. Karena paradoks Godel lebih awal publikasi, yaitu tahun 1930an. Sementara, paradoks Wittgenstein terbit pada tahun 1950an setelah Wittgenstein wafat.

Paradoks Godel, sederhananya, menyatakan, “Setiap sistem formal, misal sistem matematika, pasti tidak lengkap atau tidak konsisten.”

Dalam sistem formal akan selalu ada pernyataan G yang terbukti sah, di saat yang sama, negasi pernyataan G, misal (-G), juga terbukti sah. Dengan demikian, sistem formal tersebut tidak lengkap karena tidak bisa memutuskan apakah G yang benar-benar terbukti sah atau (-G) yang terbukti sah. Karena dua pernyataan di atas, G dan (-G), saling kontradiksi maka salah satunya harus bernilai salah.

Kita umumnya, sebagai manusia, mengetahui bahwa G yang bernilai benar terbukti sah. Karena itu, kita bisa menambahkan aksioma baru pada sistem formal tersebut,

aksioma baru: G bernilai benar.

Dengan demikian paradoks Godel selesai. G bernilai benar dan (-G) bernilai salah. Tetapi, nyatanya tidak begitu, akan ada paradoks baru. Secara mekanis, akibat ada tambahan aksioma baru, kita bisa menemukan pernyataan H yang terbukti sah dan negasi pernyataan H, misal (-H), yang juga terbukti sah.

Dan, begitu seterusnya. Setiap paradoks bisa diselesaikan dengan menambah aksioma baru. Pada gilirannya, aksioma baru ini memunculkan paradoks baru lainnya. Jadi, teorema Godel memang paradoks.

Di sisi lain, paradoks Wittgenstein terjadi pada sistem bahasa. Seperti kita tahu, sistem bahasa lebih dinamis dan fleksibel dari sistem formal matematika. Karena itu, penambahan “rule” atau aturan atau aksioma pada sistem bahasa lebih mudah terjadi dalam interaksi sosial.

Paradoks Wittgenstein bisa kita nyatakan, “Sistem bahasa tidak lengkap atau tidak konsisten.”

Dalam sistem bahasa akan ada suatu kata yang bermakna K dan, di saat yang sama, bermakna negasi K, misal (-K). Sistem bahasa itu tidak bisa memutuskan apakah K yang terbukti sah atau (-K) yang terbukti sah. Jadi, sistem bahasa memang tidak lengkap atau tidak konsisten.

Tentu saja, kita bisa menambahkan “rule baru” yang menyatakan bahwa K adalah yang sah. Paradoks selesai untuk sementara. Pada gilirannya, akibat “rule baru” akan muncul kata baru yang bermakna L dan, di saat yang sama, bermakna negasi L, misal (-L). Begitu seterusnya, akan selalu muncul paradoks dalam bahasa.

Dengan demikian, mereka selaras. Sama-sama paradoks.

Barangkali, lebih menarik lagi, bila kita membahas paradoks “mengikuti aturan” dikaitkan dengan kebebasan (freedom). Baik freedom pada manusia atau freedom secara umum. Demikian juga, kita bisa mengaitkan paradoks “mengikuti aturan” dengan paradoks interpretasi hermeneutik, yang akan kita bahas di bagian bawah.

Rekomendasi akhir dari Wittgenstein sendiri juga paradoks. Dia menyarankan kita untuk kembali ke bahasa sehari-hari (OLP), ke bahasa biasa. Sementara, dia mengajukan konsep-konsep bahasa yang tidak biasa. Saya melihatnya, hal ini menunjukkan sikap realis Wittgenstein melalui jalur dobel anti-realis. Anti-anti-realis sama artinya dengan realis dalam tingkat yang lebih tinggi.

1.5 Bahasa Private

Konsep bahasa private, barangkali, konsep paling sulit dipahami, khususnya pada tahap awal.

“Apakah bisa, seseorang menciptakan bahasa private, bahasa yang hanya dipahami oleh diri sendiri?”
“Tidak bisa,” jawab Wittgenstein tegas.

Jika seseorang bertekad membuat bahasa private maka hasilnya tidak akan pernah menjadi bahasa. Setiap bahasa bersifat publik. Yang tidak publik, tidak akan menjadi bahasa. Seorang agen rahasia tidak akan pernah berhasil membuat bahasa rahasia dalam bentuk bahasa private. Diperlukan, minimal, dua orang agen rahasia untuk membuat bahasa rahasia, akibatnya, tidak lagi jadi bahasa private meski tetap rahasia.

“Apa sulitnya menciptakan bahasa private?”

Kita, atau seseorang, bisa membuat catatan rahasia tiap hari. Catatan ini, sengaja kita susun, terdiri dari kata-kata dan istilah-istilah yang kita ciptakan sendiri. Sehingga, hanya diri kita sendiri yang bisa memahami catatan rahasia tersebut. Setelah catatan itu terkumpul menjadi satu buah buku, bukankah itu adalah bahasa private? Tetapi, kita tidak akan berhasil membuat catatan seperti itu.

Kita coba dengan eksperimen pikiran: tikus dalam kotak.

Bayangkan ada 5 orang, masing-masing membawa kotak tertutup. Di antara mereka tidak ada yang bisa melihat isi kotak orang lain. Mereka hanya bisa melihat isi kotaknya sendiri. Masing-masing dari 5 orang itu menyebut bahwa isi kotak tersebut adalah tikus.

Apa maksud dari tikus itu?

Mungkin saja maksud tikus adalah benar-benar tikus, bisa saja kelinci, atau bahkan bisa kosong, kotak itu tidak ada isi apa pun. Selama, mereka hanya bicara pada diri sendiri maka “tikus” tidak bermakna apa pun atau bisa bermakna apa saja. Bila mereka saling komunikasi, secara publik, maka “tikus” menjadi bermakna. Ada konfirmasi, penolakan, dan koreksi dalam komunikasi.

Bukankah kita bisa konsisten mengatakan “tikus” bahwa yang dimaksud adalah kelinci? Setiap saya melihat kelinci dalam kotak maka saya mencatat dalam buku harian sebagai “tikus”. Dengan demikian, saya punya bahasa private berupa kata “tikus” dengan maksud adalah kelinci. Tidak bisa terjadi. Bahasa private semacam itu tidak akan tercipta.

Saya bisa mengenali bahwa “tikus” yang saya lihat hari ini sama persis dengan ingatan saya tentang “tikus” yang kemarin. Pengenalan saya hari ini bisa benar. Tetapi ingatan saya tentang hari kemarin bisa salah atau, hampir, pasti salah. Hanya komunikasi publik, penggunaan bersama, yang bisa melakukan koreksi terhadap kesalahan bahasa ini.

Saya sering menciptakan istilah-istilah baru dalam matematika: jurus bintang, kutabali, onde milenium, kurva gendut, segitiga ganjil, trik 7 detik, dan lain-lain. Istilah-istilah baru itu sering saya kumunikasikan melalui kelas belajar, training, workshop, youtube, dan sebagainya. Benar saja, istilah-istilah itu menjadi terkenal secara umum. Mereka menjadi bahasa publik, yang bermanfaat, bukan lagi bahasa private.

Yang menarik, ternyata, saya punya buku catatan yang berisi istilah-istilah tertentu dan belum sempat saya komunikasikan kepada banyak orang. Dan, saya sendiri lupa akan arti istilah-istilah yang saya ciptakan beberapa tahun lalu. Saya lupa akan maksud “bahasa private” yang saya buat sendiri. Beruntung, beberapa istilah itu saya tulis lengkap dengan penjelasannya. Sehingga saya bisa segera komunikasikan ke banyak orang, dan, menjadi bahasa publik yang bermakna. Saya gagal membuat “bahasa private” tetapi kita bisa berpartisipasi dalam bahasa publik.

“Apakah manusia yang menciptakan bahasa atau bahasa yang menciptakan manusia?”

1.6 Bahasa Praktis

Kajian di bidang bahasa telah menghasilkan banyak inovasi yang bermanfaat. Di bagian ini, kita akan membahas beberapa manfaat praktis dari bahasa. Berikut di antaranya:

a. Memudahkan komunikasi dan penyampaian informasi kepada orang lain.

b. Membantu membangun kerja sama dalam keluarga, sekolah, pekerjaan, dan masyarakat.

c. Menjadi sarana belajar serta mewariskan ilmu pengetahuan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

d. Membantu manusia berpikir, memahami masalah, dan mengambil keputusan.

e. Menjaga hubungan sosial melalui percakapan, penghargaan, permintaan maaf, dan berbagai bentuk interaksi sehari-hari.

f. Menjadi alat untuk mempengaruhi, meyakinkan, dan menggerakkan orang lain dalam berbagai bidang kehidupan.

g. Menjadi media untuk mengekspresikan identitas, budaya, kreativitas, dan pengalaman hidup manusia.

2. Bahasa Komputer

Secara prinsip, bahasa komputer terdiri dari angka 0 dan 1; disebut biner atau digital. Jadi semua informasi yang ada pada komputer selalu bisa direduksi tersusun sebagai urutan angka 0 dan 1 saja. Sistem biner ini memberi kesan bahwa bahasa komputer bersifat eksak; bersifat pasti tanpa ambigu.

Bahasa komputer berbeda dengan bahasa sehari-hari. Bahasa komputer lebih tegas dan bermakna tunggal. Sehingga, bahasa komputer tidak memerlukan keragaman interpretasi konotasi makna. Dengan demikian, tidak ada salah paham dalam bahasa komputer. Tidak semanis itu bahasa komputer!? Nyatanya, bahasa komputer beragam juga. Bahasa C, misalnya, beda dengan Java. Kadang, ada bagian tertentu yang sama sekali tidak bisa dikomunikasikan.

Perbedaan itu tidak hanya tampak pada bentuk penulisan perintah, tetapi juga pada cara setiap bahasa memahami dunia komputasi. Bahasa C memberi kebebasan besar kepada pemrogram untuk mengelola memori dan berinteraksi langsung dengan perangkat keras. Sebaliknya, Java menyediakan lapisan abstraksi yang membuat banyak proses berjalan lebih aman dan teratur. Akibatnya, sebuah program yang ditulis dengan pendekatan tertentu dalam C belum tentu dapat diterjemahkan begitu saja ke dalam Java tanpa perubahan mendasar. Di balik ketegasan sintaksisnya, setiap bahasa ternyata memiliki cara berpikir yang khas.

Keragaman bahasa komputer juga melahirkan kebutuhan akan penerjemah. Compiler, interpreter, dan berbagai alat konversi dikembangkan agar pesan dari satu lingkungan pemrograman dapat dipahami oleh lingkungan lain. Namun, proses penerjemahan ini tidak selalu sempurna. Ada konsep, fungsi, atau mekanisme yang hanya dimiliki oleh bahasa tertentu sehingga maknanya berkurang ketika dipindahkan ke bahasa lain. Situasi ini mengingatkan bahwa komunikasi, bahkan di antara mesin, tetap menghadapi batas-batas tertentu.

Pada titik inilah bahasa komputer menunjukkan kemiripannya dengan bahasa manusia. Keduanya sama-sama dibangun oleh komunitas yang memiliki kebutuhan, sejarah, dan tujuan yang berbeda. Setiap bahasa berkembang dengan kosakata, aturan, serta tradisinya sendiri. Karena itu, meskipun komputer sering dianggap sebagai simbol kepastian dan ketepatan, dunia bahasa komputer sesungguhnya juga dipenuhi keragaman. Yang berbeda bukan lagi makna yang samar, melainkan cara-cara yang beragam untuk menyatakan maksud yang sama.

Sejak tahun 2022, model bahasa besar (LLM) menjadi andalan utama AI (artificial intelligence – akal imitasi). Tahun 2026, AI tampak begitu mahir berbicara dalam bahasa manusia; baik bahasa Inggris, Indonesia, Arab atau lainnya.

Kemahiran tersebut lahir dari kemampuan LLM mempelajari pola-pola bahasa yang terkandung dalam miliaran kata dan kalimat. Melalui proses pelatihan yang melibatkan buku, artikel, percakapan, dan berbagai bentuk teks lainnya, model ini membangun representasi statistik tentang hubungan antarkata, struktur kalimat, hingga konteks makna.

Ketika seseorang mengajukan pertanyaan, AI tidak benar-benar “memahami” bahasa seperti manusia memahaminya, melainkan memperkirakan rangkaian kata yang paling sesuai berdasarkan pola yang pernah dipelajarinya. Hasilnya sering kali begitu meyakinkan sehingga batas antara percakapan dengan manusia dan percakapan dengan mesin menjadi semakin kabur.

Namun, kefasihan berbahasa tidak selalu sejalan dengan pemahaman yang mendalam. Di balik kalimat-kalimat yang tampak logis dan natural, LLM sesungguhnya bekerja dengan mengolah simbol-simbol bahasa, bukan pengalaman hidup yang nyata. Ia dapat menjelaskan rasa sedih tanpa pernah bersedih, menggambarkan lautan tanpa pernah melihat ombak, atau mendiskusikan sejarah tanpa menjadi bagian dari peristiwa tersebut.

Karena itu, kemajuan AI dalam berbahasa sekaligus menghadirkan pertanyaan baru: apakah kemampuan berbicara yang menyerupai manusia merupakan tanda kecerdasan sejati, atau hanya cerminan yang semakin sempurna dari bahasa yang diciptakan manusia itu sendiri?

Bahasa komputer yang semula dianggap eksak; bersifat pasti karena tersusun oleh angka 0 dan 1 saja; kini menunjukkan tanda-tanda kreatif. AI, dalam komputer, bisa menulis puisi yang indah dan cerita pendek yang kreatif.

3. Bahasa Kreatif

OLP terbukti tidak memadai, dengan makin pentingnya bahasa komputer. Ditambah lagi, kita tetap mengenal bahasa sastra yang berbeda dengan OLP (ordinary language philosophy). Seperti kita tahu, sastra mempunyai kekuatan yang sangat kreatif dalam bahasa. Kita akan lihat, OLP juga memiliki daya kreatif lebih besar dari yang umumnya dikira.

Bahasa sastra memperlihatkan bahwa kata-kata tidak hanya berfungsi untuk menyampaikan informasi, tetapi juga untuk menciptakan dunia. Melalui metafora, ironi, simbol, dan berbagai bentuk permainan bahasa, sastra mampu menghadirkan pengalaman yang sebelumnya tidak ada dalam kesadaran pembacanya. Sebuah puisi dapat membuat benda-benda biasa tampak asing dan menakjubkan, sementara sebuah novel dapat membangun kehidupan, tempat, dan peristiwa yang hanya ada dalam imajinasi. Kreativitas bahasa sastra menunjukkan bahwa bahasa bukan sekadar alat untuk menggambarkan kenyataan, melainkan juga sarana untuk membentuk cara manusia memahami dan mengalami kenyataan itu sendiri.

Namun, daya kreatif semacam itu tidak sepenuhnya absen dari OLP. Dalam percakapan sehari-hari, manusia terus-menerus menciptakan ungkapan baru, memperluas makna lama, dan menyesuaikan bahasa dengan situasi yang belum pernah dihadapi sebelumnya.

Istilah-istilah yang kini terasa biasa sering kali lahir dari improvisasi spontan dalam kehidupan sosial. Bahkan ketika digunakan untuk tujuan praktis, OLP memiliki kelenturan yang memungkinkannya menyerap perubahan budaya, teknologi, dan pengalaman baru. Dengan demikian, kreativitas bahasa bukanlah hak istimewa sastra semata; ia juga bekerja secara diam-diam dalam bahasa sehari-hari, membentuk dan memperbarui dunia makna yang dihuni para penuturnya.

4. Strukturalisme

Makna suatu kata ditentukan oleh struktur bahasa bukan oleh kata itu sendiri. Misal kata “hanya” dalam ungkapan “hanya kamu” bisa bermakna ejekan atau pujian; tergantung struktur konteks yang lebih luas.

Pandangan strukturalis berangkat dari gagasan bahwa makna tidak berdiri sendiri pada suatu kata, simbol, atau tanda tertentu. Makna muncul karena hubungan antarunsur dalam suatu sistem.

Sebuah kata dipahami bukan karena memiliki arti yang melekat secara alami, melainkan karena posisinya di antara kata-kata lain dalam jaringan bahasa. Demikian pula dalam matematika, angka dan simbol memperoleh fungsi serta maknanya melalui relasi yang membentuk suatu struktur formal. Dari sudut pandang ini, bahasa dan matematika tidak lagi dipandang sebagai kumpulan unsur yang terpisah, melainkan sebagai sistem hubungan yang saling menopang dan menentukan.

Konsekuensi pemikiran tersebut sangat luas. Jika manusia memahami dunia melalui struktur bahasa yang dimilikinya, maka perubahan dalam struktur bahasa dapat memengaruhi cara manusia mengategorikan pengalaman, membangun pengetahuan, dan mengorganisasi kehidupan sosial. Berbagai konsep tentang waktu, ruang, identitas, hukum, atau kekuasaan tidak hadir begitu saja, tetapi dibentuk dan diwariskan melalui sistem tanda yang hidup dalam suatu masyarakat.

Karena itu, sejarah peradaban dapat pula dipahami sebagai sejarah perubahan struktur-struktur simbolik yang digunakan manusia untuk menafsirkan dunia. Ketika struktur itu berubah, cara berpikir, bentuk institusi, dan pola hubungan sosial pun ikut mengalami transformasi.

5. Dekonstruksi Hermeneutika

Dekonstruksi mengoyak makna bahasa tanpa henti. Hermeneutika memahami makna bahasa tanpa henti. Mereka bergulir tanpa henti.

Tahun 1960-an menjadi masa yang menarik dalam sejarah pemikiran bahasa. Pada saat strukturalisme mencapai pengaruh yang sangat besar dalam ilmu-ilmu humaniora, sejumlah pemikir mulai menunjukkan keterbatasan pendekatan tersebut. Struktur yang sebelumnya dipandang sebagai sistem yang stabil dan mampu menjelaskan makna ternyata tidak pernah sepenuhnya tertutup.

Di dalam setiap sistem terdapat ambiguitas, ketegangan, dan kemungkinan penafsiran yang tidak dapat sepenuhnya dikendalikan oleh aturan-aturan formal. Dengan demikian, bahasa tidak lagi dipahami sebagai bangunan yang kokoh dan selesai, melainkan sebagai jaringan relasi yang selalu bergerak dan berubah.

Melalui dekonstruksi, Derrida mengajak pembacanya untuk memperhatikan hal-hal yang sering diabaikan oleh suatu struktur. Setiap konsep biasanya dibangun melalui pasangan-pasangan oposisi seperti hadir–tidak hadir, rasional–irasional, pusat–pinggiran, atau ucapan–tulisan. Namun, ketika ditelusuri lebih jauh, batas antara kedua kutub tersebut ternyata tidak pernah benar-benar tegas. Unsur yang dianggap berada di pinggiran justru sering menjadi syarat bagi keberadaan unsur yang ditempatkan di pusat. Dengan cara ini, dekonstruksi menunjukkan bahwa makna selalu mengandung ketidakstabilan yang membuatnya terbuka bagi pembacaan baru.

Sementara itu, hermeneutik Gadamer menyoroti kenyataan bahwa pemahaman selalu terjadi dalam sejarah. Seseorang tidak pernah membaca teks dari posisi yang netral atau kosong. Setiap pembaca membawa pengalaman, tradisi, harapan, dan prasangkanya sendiri ketika berhadapan dengan suatu teks.

Karena itu, makna tidak sekadar ditemukan di dalam kata-kata yang tertulis, melainkan lahir melalui dialog antara teks dan pembacanya. Sebuah karya yang sama dapat menghasilkan pemahaman yang berbeda ketika dibaca pada zaman, budaya, atau situasi yang berbeda.

Pandangan ini mengubah cara kita melihat bahasa. Bahasa bukan lagi wadah pasif yang menyimpan makna secara tetap, melainkan ruang perjumpaan yang terus-menerus menghasilkan makna baru. Kata-kata yang digunakan hari ini mungkin akan dipahami secara berbeda pada masa mendatang. Istilah-istilah yang dahulu dianggap biasa dapat memperoleh konotasi baru, sementara ungkapan yang pernah dominan dapat kehilangan pengaruhnya. Perubahan sosial, perkembangan teknologi, dan pergeseran budaya terus membentuk ulang medan makna yang dihuni bahasa.

Karena itu, menikmati bahasa berarti juga menikmati keterbukaannya.

Bahasa hidup karena tidak pernah sepenuhnya selesai. Ia selalu memberi ruang bagi penafsiran, percakapan, perdebatan, dan penciptaan makna baru. Setiap percakapan mengandung kemungkinan untuk memperluas pemahaman, sementara setiap teks menyimpan peluang untuk dibaca kembali dari sudut pandang yang berbeda.

Dalam dinamika semacam inilah bahasa menunjukkan kekuatannya yang paling khas: bukan sebagai sistem yang membatasi manusia, melainkan sebagai medium yang memungkinkan manusia terus menemukan cara-cara baru untuk memahami diri, orang lain, dan dunia yang mereka huni bersama.

Kita perlu membuat catatan untuk mewaspadai ekstremitas. Jelas kita mengakui bahwa bahasa adalah alat komunikasi. Meski diskusi kita menunjukkan bahwa bahasa lebih dari sekadar alat komunikasi; misal bahasa adalah media yang merawat budaya. Jelas juga bahwa manusia menciptakan beberapa kata; misal kata digital diciptakan dalam beberapa dekade terakhir ini; dulu, jaman kuno, tidak ada kata digital. Meski diskusi kita menunjukkan bahwa kita, sebagai manusia, lebih banyak “dibentuk” oleh bahasa ketimbang menciptakan bahasa. Singkatnya, bahasa memang kompleks; tidak hanya satu ujung ekstrem saja; melainkan kombinasi dari beragam unsur. Dari itu muncul ketegangan dalam bahasa yang mendorong untuk selalu dinamis.

Bagaimana menurut Anda?

Lanjut ke: Hakikat Manusia di Rumah Bahasa

Idealisme vs Genealogi

Wayang kulit perlu dimusnahkan. Mengapa? Karena budaya wayang bukanlah ajaran agama. Setiap yang bukan ajaran agama maka perlu dibuang. Orang yang berpikir dengan cara seperti itu adalah idealisme. Dia berpikir berdasar ideal-ideal yang diyakininya benar.

Wayang kulit adalah budaya bangsa yang perlu terus dirawat bahkan dikembangkan. Mengapa? Karena agama mengajarkan indahnya perbedaan, pentingnya kreativitas, dan lembutnya hati. Orang yang berpikir seperti itu, juga, berpikir idealis berdasar ideal-ideal yang diyakininya. Dalam tulisan ini, kita akan memandang idealisme sebagai cara berpikir ideal, global, dan universal. Sehingga, idealisme mirip dengan ideologi.

Filosofi dan Makna Wayang Kulit di Jawa - Portal Kudus

Sebaliknya, genealogi justru berpikir dari partikular-partikular yang unik. Mengapa wayang kulit perlu dimusnahkan? Karena ada orang yang bertanya tentang haram atau tidaknya wayang. Lalu, narasumber terdorong untuk memberi penilaian antara haram atau tidak. Melihat situasi yang ada, bagi narasumber, lebih menguntungkan menjawab bahwa wayang adalah haram. Sehingga, wayang perlu dimusnahkan.

Kita bisa mempertimbangkan genealogi yang berbeda. Narasumber melihat ada anak muda yang sangat pandai membuat cerita. Dengan media wayang, cerita anak muda itu makin menarik. Dan, dari cerita-cerita yang menarik itu menjadikan banyak generasi muda terinspirasi untuk berbuat kebajikan. Narasumber menyimpulkan, dari manfaat wayang itu, bahwa wayang sangat penting dan tidak haram. Karena itu wayang harus terus dikembangkan.

1. Idealisme dan Atom Kuno
2. Ideologi Kapitalis Komunis
3. Genealogi Problematis

Dari contoh wayang di atas, kita melihat bahwa seseorang bisa menerapkan cara pikir idealisme atau genealogi terhadap obyek yang sama. Bahkan, ketika kita sama-sama menerapkan idealisme, hasil penilaian bisa berbeda. Demikian juga, ketika kita sama-sama menerapkan genealogi, juga, hasilnya bisa berbeda-beda.

Muncul pertanyaan: kapan kita harus idealis dan kapan kita harus genealogis?

Secara umum, lebih banyak pemikir yang dominan idealis. Dan, hanya sedikit yang genealogis. Karena itu, wajar bagi kita, untuk menambah lebih banyak porsi genealogis dalam beragam kesempatan.

Di bagian awal tulisan ini, kita akan mencermati kecenderungan berpikir idealis ideologis sejak jaman kuno. Di masa itu juga, telah muncul cara berpikir “atom” yang bisa kita pandang sebagai cikal bakal dari genealogi. Kemudian, kita akan sedikit banyak mengkaji ideologi kapitalis versus komunis. Kita menemukan beragam kesulitan dalam ideologi mereka.

Pada bagian akhir, kita membahas lebih dalam tentang genealogi. Bermula dari genealogi Nietzsche yang subversif, lanjut genealogi Foucault yang problematis, sampai genealogi Sakina yang dinamis. Dengan sudut pandang genealogi ini, kita berharap berhasil menemukan kebenaran yang benar-benar dinamis.

1. Idealisme dan Atom Kuno
2. Ideologi Kapitalis Komunis
3. Genealogi Problematis

3.1 Genealogi Subversif

Nietzsche (1844 – 1900) adalah tokoh besar yang mengangkat genealogi menjadi tema penting dalam filsafat. Bagi Nietzsche sendiri, genealogi lebih dekat ke karakter subversif dari pada problematis. Maksudnya, satu metodologi genealogi bernilai benar, sementara, genealogi yang lain bernilai salah secara mutlak. Pendekatan seperti ini, tampaknya, selaras dengan gaya Nietzsche yang begitu kuat dalam tulisan-tulisannya.

Dalam mengkaji asal-usul, genealogi kejahatan atau evil, Nietzsche menyatakan bahwa awalnya hanya ada “baik” dan “buruk.” Tidak ada sesuatu yang bernilai “jahat.” Penilaian moral sesuatu sebagai “baik” atau “buruk” adalah wajar-wajar saja. Tetapi, orang-orang lemah tidak puas dengan kewajaran ini. Maka mereka, orang-orang lemah, menciptakan label “jahat” terhadap perilaku orang-orang kuat. Dengan demikian, orang-orang lemah bangga dengan membela diri bahwa dirinya adalah orang “baik”. Sedangkan, pihak lain adalah orang-orang “jahat”. Penilaian “jahat” seperti itu adalah penilaian hampa makna.

“Baik” adalah ketika Anda berhasil menambah kekuatan “will to power.” Ketika Anda berhasil menaklukkan segala rintangan. Ketika Anda mampu menanggung semua derita untuk kemudian bangkit meraih cita-cita. Ketika Anda berhasil mencapai puncak, kemudian, Anda menciptakan puncak baru yang lebih tinggi. “Baik” adalah ketika “will to power” mengantarkan Anda menjadi “super human.”

Fokus utama kita, di sini, adalah genealogi. Pertama, genealogi menjadi penting. Tidak cukup hanya mengandalkan ideologi. Kedua, genealogi mampu mengungkapkan kebenaran. Tidak seperti ideologi, yang justru, “membelokkan” kebenaran. Ketiga, genealogi bersifat subversif, di mana, nilai kebenaran suatu genealogi menggusur nilai kebenaran pandangan lain.

Foucault (1926 – 1984) mengembangkan pandangan Nietzshce. Dia merevisi karakter subversif dari genealogi menjadi problematis. Nilai kebenaran dari beragam genealogi adalah problematis. Maksudnya, di antara keragaman itu, kita menghadapi problem bagaimana menentukan yang paling benar. Pada analisis akhir, tidak ada cara pasti untuk menjamin bahwa satu genealogi adalah yang paling benar, sementara, menganggap genealogi yang lain sebagai salah. Genealogi memang problematis.

3.2 Genealogi Problematis

Genealogi memang problematis. Sementara, ideologi lebih kuat dengan keyakinannya. Di situlah, letak kelemahan ideologi. Mereka terlalu yakin dengan ideologinya. Sehingga, mereka menutup diri dari alternatif-alternatif yang lebih kreatif. Sementara genealogi, yang problematis, perlu menguji beragam alternatif sehingga menemukan pemikiran terbaik. Genealogi selalu dinamis. Sedangkan, ideologi adalah harga mati.


3.3 Genealogi Sakina
3.3.1 Keseimbangan Dinamis
3.3.2 Dinamika Seimbang

Kosmopolitan

Keluarga menyatukan manusia, di saat yang sama, memecah belah. Jelas, kita adalah anak dari ibu dan bapak kita. Kita adalah anggota keluarga, berbeda dengan keluarga lain. Cara hidup masing-masing keluarga banyak perbedaan. Keluarga menyatukan semua anggota itu. Di saat yang sama, keluarga membedakan diri dengan keluarga lain.

Kepentingan keluarga A bisa saja bertentangan dengan kepentingan keluarga B. Mereka bisa saja bermusuhan. Maka dibentuklah rukun warga untuk menyatukan semua. Lebih besar lagi, dibentuklah pemerintah daerah sampai satu negara. Dengan konstitusi, satu negara bersatu padu.

Bagaimana hubungan satu negara dengan negara lain? Bisa terjadi peperangan di antara mereka. Bisa terjadi invasi atau dominasi. Kita perlu cara pandang yang lebih luas: kosmopolitanisme.

1. Keluarga versus Komunitas
2. Antar Negara
3. Kosmopolitanisme

Cicero (106 – 43 SM) menyadari dilema itu. Di satu sisi, kita butuh kekuatan untuk meyakinkan bahwa setiap warga harus saling menghormati. Di sisi lain, kekuatan itu sendiri menjadi sarana menindas pihak lain. Kita butuh negara untuk menjamin tatanan sosial yang tertib. Tidak jarang, negara sendiri adalah yang paling besar melanggar tatanan sosial itu.

Kontradiksi sosial selalu terjadi. Tugas kita sebagai manusia tidak pernah berhenti. Kita adalah anggota alam raya: kosmopolitan. Kita perlu berperan serta dalam perjalanan alam raya.

1. Keluarga versus Komunitas

Plato (428 – 348 SM) pernah mengusulkan agar lembaga keluarga dihapus saja diganti dengan komunitas. Karena, keluarga menjadi sumber ketimpangan sosial. Bertrand Russell, di abad 20, kembali mendukung usulan Plato ini. Meski usulan tersebut menarik, tampaknya, tidak mendapat respon memadai dari masyarakat luas. Sehingga, ikatan keluarga tetap kokoh sampai saat ini, di seluruh dunia.

Anak yang terlahir dari keluarga kaya akan tetap menjadi kaya karena mendapat warisan, pendidikan mahal, dan berbagai fasilitas spesial. Sementara, anak yang terlahir dari keluarga miskin akan tetap menjadi miskin. Ketika kejadian ini berlangsung berabad-abad maka terbentuklah kesenjangan sosial. Suatu ketimpangan yang membahayakan seluruh umat manusia.

John Rawls (1921 – 2002) mengusulkan prinsip keadilan untuk mengatasi beragam ketimpangan. Prinsip kesetaraan bahwa setiap orang setara dalam kebebasan-kebebasan dasar. Dan, prinsip perbedaan bahwa perbedaan hanya sah bila memberi keuntungan terbesar kepada pihak lemah. Saya menambahkan dengan prinsip dinamis bahwa setiap pihak perlu untuk terus bergerak maju. Kemajuan kelas kaya perlu berkontribusi memajukan pihak lemah.

2. Antar Negara

Cicero menghadapi dilema secara langsung. Di satu sisi, Roma adalah negara terbaik saat itu. Roma menjunjung tinggi nilai-nilai kebajikan. Roma menyebarkan nilai-nilai kebajikan ini ke seluruh dunia. Di sisi lain, Roma memiliki kekuatan besar untuk menaklukkan negara lain, untuk kemudian, mendominasinya. Roma menyebarkan nilai-nilai kebajikan dengan cara melanggar nilai-nilai kebajikan itu sendiri.

Dilema semacam itu, apakah ada solusinya? Di jaman sekarang, apakah kita mengalami dilema yang sama? Benar. Kita tetap mengalami dilema yang sama. Menyebarkan nilai-nilai kebajikan dengan cara melanggarnya.

3. Kosmopolitanisme

Kosmopolitanisme memandang bahwa setiap manusia adalah warga dari dunia (kosmos) yang sama. Sehingga, setiap manusia memiliki kedudukan yang setara. Bahkan binatang, tumbuhan, dan bebatuan juga merupakan anggota kosmos yang sama. Sehingga, semua mendapat kedudukan yang setara – meski berbeda.

Filsafat Manusia: Siapa Saya?

Jawabannya harusnya mudah. Karena masing-masing diri kita adalah manusia. Siapa manusia? Jawabannya, manusia adalah saya. Pertanyaan bisa berlanjut, “Siapa saya?”

Bahan Antropologi – Who Am I – Persekutuan Oikumene

Ada berbagai macam cara untuk menjawabnya. Bisa dari sisi sains, agama, moral, dan lain-lain.

1. Makhluk Pilihan Tuhan
2. Teori Evolusi
3. Manusia Sosial
4. Manusia Robot
5. Manusia Filosofis
5.1 Binatang Berakal (Aristoteles)
5.2 Eksistensi Peduli Eksistensi (Heidegger)
5.3 Jiwa Bercahaya (Suhrawardi)
5.4 Citra Paripurna (Ibnu Arabi)
5.5 Moral Bebas (Kant)
5.6 Spirit Dialektika (Hegel)
5.7 Kebaikan Liar (Schelling)
5.8 Pilihan Bebas (Sartre)
5.9 Dumadi Selaras Diri
6. Manusia Sejati
7. Model Manusia

Manusia adalah makhluk Tuhan paling istimewa. Jawaban dari sisi religius ini bisa kita terima – meski ada beragam pemahaman. Sementara, dari sisi lain, sains tampak mengajukan teori evolusi. Manusia adalah hasil evolusi alam raya sejak jutaan tahun yang lalu. Proses evolusi ini terjadi secara spontan, acak, dan berkelanjutan. Dua jawaban di atas, manusia adalah makhluk Tuhan versus manusia adalah hasil evolusi, tampak saling bertentangan. Dalam tulisan ini, kita akan membahasnya dengan melengkapi beberapa alternatif lainnya.

Di bagian awal kita membahas pemahaman konsep manusia dari sudut pandang agama, sudut pandang sains, dan sudut pandang sosial. Yang lebih menarik adalah robot, saat ini, mulai mirip manusia atau manusia mulai mirip robot. Sehingga, kita perlu membahas manusia robot.

Di bagian akhir, kita membahas konsep manusia dari sisi filosofis. Bagian ini adalah bagian terpanjang dari diskusi kita. Kita perlu membahas konsep manusia dengan cukup mendalam, ditambah panjang dan lebar. Saya menyimpulkan bahwa manusia adalah realitas paling dinamis. Sehingga, kita hanya bisa membuat konsep manusia dengan karakter yang sama dinamisnya. Beberapa konsep manusia yang perlu kita pertimbangkan: binatang berakal (Aristoteles), jiwa bercahaya (Suhrawardi), citra paripurna Tuhan (Ibnu Arabi), kebebasan absolut (Kant), spirit dialektika (Hegel), kebaikan liar (Schelling), eksistensi peduli eksistensi (Heidegger), pilihan bebas (Sartre). Manusia adalah dinamika merdeka. Ayo, maju bersama!

1. Makhluk Pilihan Tuhan

Agama mengajarkan bahwa Tuhan adalah yang menciptakan segala alam semesta, termasuk menciptakan manusia. Tuhan menciptakan manusia untuk menjadi pemimpin di alam raya ini. Bahkan, Tuhan menciptakan seluruh alam raya untuk keperluan manusia menjalankan tugasnya menjadi pemimpin mengelola alam raya.

Di saat yang sama, manusia adalah abdi Tuhan. Sehingga, dalam mengelola alam raya, manusia sekaligus menjalankan tugas pengabdian kepada Tuhan semesta alam. Tampaknya, tugas manusia hanya sederhana: menguasai alam raya dan, di saat yang sama, itu adalah bentuk pengabdian kepada Tuhan. Benarkah tugas seperti itu adalah mudah?

Tidak mudah! Nyatanya, di alam ini, manusia justru sering melakukan peperangan. Perhatikan perang di berbagai negara Afrika, pendudukan Israel di Palestina, resiko ketegangan Rusia dengan Ukraina, dan lain-lain.

Di belahan bumi yang damai pun, banyak orang kaya mendominasi orang miskin. Banyak orang yang berkuasa mengeksploitasi orang lemah. Dan, kejahatan mau pun kekerasan sosial ada di mana-mana.

Jadi, benarkah manusia adalah makhluk pilihan Tuhan?

2. Teori Evolusi

Darwin (1809 – 1882) menggemparkan dunia dengan memunculkan teori evolusi ilmiah. Meski sudah banyak peneliti sebelumnya yang mengajukan teori evolusi, tetapi, hanya Darwin yang mampu melengkapi teori evolusi dengan pengamatan ilmiah dan logika sains. Sehingga, dampak teori evolusi Darwin begitu besar.

Interpretasi terhadap teori evolusi, tentu saja, beragam. Ditambah lagi, tidak semua bagian dari teori evolusi didukung oleh data ilmiah. Sehingga, sebagian dari teori evolusi bersifat spekulatif. Wajar saja, karena manusia memang sering berpikir seperti itu.

Evolusi dimulai sejak sekitar 14 milyard tahun yang lampau ketika terjadi big bang – ledakan besar. Sebelum big bang, tidak ada apa pun di alam raya ini. Bahkan, belum ada ruang dan waktu. Sebelum big bang, hanya ada kehampaan quantum. Saat big bang, mulailah terbentuk alam semesta. Dan, di saat itu pula, terbentuk konstanta, ketetapan, fisika semisal konstanta gravitasi, konstanta gaya listrik, konstanta kecepatan cahaya, dan lain-lain. Dengan konstanta-konstanta yang tepat itu, kemudian, alam raya evolusi sehingga terbentuk galaksi bima sakti, sistem tata surya, dan termasuk bumi.

Di bumi, kemudian, muncul makhluk hidup dari sel satu (sederhana). Terus evolusi terbentuk makhluk hidup ber-sel banyak. Lanjutan evolusi menghasilkan beragam tumbuhan dan beragam binatang. Puncak dari evolusi itu, pada akhirnya, menghadirkan manusia purba. Lanjut evolusi, kemudian, menghasilkan manusia modern, kontemporer, yang ada saat ini.

Menariknya, konstanta yang muncul ketika big bang itu benar-benar tepat sehingga evolusi terjadi dengan cantik. Misal, konstanta gravitasi menjadi lebih besar maka gaya tarik antara benda-benda langit terlalu besar. Akibatnya, setelah big bang, alam tidak sempat mengembang sudah terikat kembali dan hancur – gagal evolusi. Begitu juga, misal, ketetapan gravitasi itu sedikit lebih kecil maka gaya tarik benda-benda langit terlalu longgar. Akibatnya, setelah big bang, alam raya terlalu cepat mengembang dan hancur juga – gagal evolusi.

Lalu, siapa yang menetapkan konstanta-konstanta itu begitu tepat dan cantik? Tidak ada. Semua terjadi secara spontan dan random.

Jika manusia adalah puncak dari evolusi maka apa tujuan manusia hadir di alam raya ini? Tujuan manusia adalah menetapkan tujuan itu sendiri. Manusia memiliki kebebasan untuk menetapkan standar moral, mengembangkan peradaban, sains, dan sebagainya.

Bagaimana pun, teori evolusi masih menyisakan banyak pertanyaan besar. Bagaimana dari benda mati bisa muncul mahkluk hidup? Bagaimana manusia bisa memiliki akal dan kesadaran? Dan, mengapa hampa quantum bisa menghasilkan big bang? Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan besar tersebut kita perlu kajian filosofis.

Lebih spesifik tentang evolusi manusia, mengapa muncul ide-ide kreatif dari manusia? Mengapa Aljabar merumuskan solusi persamaan aljabar? Mengapa Einstein memunculkan teori relativitas? Mengapa teori mekanika quantum tidak menemukan solusi unik? Mengapa matematika tidak pernah berhenti berkembang sebagai ilmu pasti? Dan, mengapa dari setiap solusi, manusia memunculkan pertanyaan baru lagi?

Ringkasnya, teori evolusi tidak berhasil menjawab banyak pertanyaan. Tetapi, teori evolusi itu sendiri juga ber-evolusi. Sehingga, terjadi revisi di berbagai sisi. Akibatnya, teori evolusi terus berkembang dan mampu menjawab lebih banyak pertanyaan dengan meyakinkan. Apakah, dengan demikian, teori evolusi sudah sempurna? Tidak! Karena teori evolusi memang ber-evolusi.

3. Manusia Sosial

Kita mudah menyadari bahwa manusia adalah dumadi sosial, makhluk sosial. Manusia hanya bisa menjalani hidup secara sosial. Kita hidup bersama manusia yang lain. Lebih dari itu, kita hadir karena ada orang lain. Kita hadir karena ada ibu dan bapak kita. Kita punya hutang budi, hutang eksistensi, kepada ibu kita. Kita berbulan-bulan hidup dalam rahim ibu. Begitu lahir, kita hidup dalam pelukan kasih sayang ibu. Hutang eksistensi kita kepada ibu tidak pernah bisa kita lunasi. Meski demikian, kita tetap perlu membayar hutang eksistensi itu dengan amal kebaikan dan doa tulus.

Lebih jauh, manusia hadir selalu dalam situasi, being-in-the-world. Kita tidak bisa lepas dari situasi dunia. Jika kita bisa lepas dari dunia ini, maka, kita akan hadir ke dunia yang lain lagi. Kita hanya bisa lepas dari dunia, untuk kemudian, berada dalam dunia yang lain.

Kita menyatu dengan dunia alam raya. Atau, dunia alam raya menyatu dengan diri kita. Manusia adalah alam raya. Dan, alam raya adalah manusia. Karena itu, kita perlu berbuat baik kepada alam raya, di mana pun, kapan pun. Semua perilaku baik kepada alam raya, sejatinya, adalah perilaku baik kepada diri kita sendiri.

4. Manusia Robot

Robat makin cerdas mirip manusia – lengkap dengan teknologi artificial intelligence AI. Sementara, manusia makin mirip dengan robot – lengkap dengan kungkungan nafsu ekonomi dan penjara media digital. Titik temu mereka adalah manusia robot: manusia mirip robot dan robot mirip manusia. Meski tampak ironi yang ngeri, barangkali situasi seperti ini bisa saja terjadi.

Manusia merdeka akan menolak bila harus bergerak, harus berubah, menjadi mirip robot. Tetapi manusia pada umumnya, bukankah mereka mulai mirip robot? Mereka dikendalikan oleh media digital. Mereka dikendalikan oleh kebutuhan ekonomi. Mereka dikendalikan oleh keserakahan politik. Mereka dikendalikan oleh mesin-mesin raksasa dunia maya. Mereka lupa suara hati. Mereka lupa diri.

Jadi, benarkah akan tercipta manusia robot? Hibrid antara manusia dan robot. Titik temu antara manusia yang mirip robot dengan robot yang mirip manusia. Sehingga, akan tercipta peradaban oleh manusia robot.

5. Manusia Filosofis

Definisi manusia secara filosofis mencoba membuka pandangan kita secara luas dan mendalam.

Manusia adalah binatang berakal. Definisi ini jelas dan berguna. Akal manusia itu sendiri punya banyak makna. Aristoteles (384 – 322 SM) adalah pemikir pertama yang memberi definisi esensialis manusia sebagai binatang berakal. Kemudian, kita menemukan banyak definisi berbeda tentang manusia.

Manusia adalah eksistensi yang peduli dengan eksistensi dirinya, Heidegger (1889 – 1976). Manusia adalah kebebasan menentukan jati dirinya, Sartre (1905 – 1980). Manusia adalah jiwa yang bersinar dan disinari, Suhrawardi (1154 – 1191). Manusia adalah mode wujud yang berpotensi meraih sempurna sejati, Sadra (1572 – 1640). Manusia adalah citra paripurna Tuhan, Ibnu Arabi (1165 – 1240). Dan masih banyak definisi lainnya: manusia adalah binatang yang tertawa, binatang politik, binatang interpretasi, evolusi kontemporer, dan lain-lain.

Manusia adalah dumadi yang menyelaraskan diri. Sebagai dumadi, makhluk ciptaan, kita adalah anggota alam semesta. Uniknya, kita senantiasa berusaha selaras dengan seluruh yang ada. Berbeda dengan dumadi yang lain. Pada umumnya, selain manusia, menjalani proses dengan merespon alam sekitar misal tumbuhan dan binatang. Sedangkan, manusia tidak sekedar merespon. Manusia menciptakan selarasnya diri dengan seluruh dumadi – dan selaras diri dengan Tuhan alam raya ini.

5.1 Binatang Berakal

Binatang sebagai genus. Secara umum, kita memiliki badan, daging, tulang, dan darah mirip dengan binatang. Akal sebagai diferensia-pembeda. Secara khusus, manusia berbeda dengan setiap binatang karena manusia memiliki akal. Akal adalah pembeda esensial antara manusia dengan binatang. Dengan demikian, spesies manusia adalah spesies binatang berakal. Definisi manusia adalah sebagai binatang yang berakal.

Definisi ini menyelesaikan banyak masalah. Pertama, kita mengasumsikan bahwa definisi “binatang” sudah jelas. Kita sudah paham binatang semisal kucing, harimau, kera dan lain-lain. Kedua, kita mengasumsikan bahwa definisi “akal” sudah jelas. Akal adalah kemampuan manusia berpikir. Khususnya berpikir tingkat tinggi semisal berpikir bahasa dan berpikir matematika. Ketiga, sebagai hasilnya, definisi manusia sebagai binatang berakal bisa kita pahami dengan mudah.

Wittgenstein (1889 – 1951) memudahkan kita memahami definisi dengan “language game”. Kita hanya bisa memahami suatu bahasa dalam konteks pemakaiannya atau aturan “game”. Bahasa selalu saling terkait satu dengan lainnya. Sehingga, konsep manusia sebagai “binatang berakal” bisa kita pahami dengan jelas dalam penggunaan “language game.” Kita sudah terbiasa dengan kata “binatang” dan kata “akal”. Dengan demikian, kita bisa memahami konsep manusia sebagai “binatang berakal” dalam konteks “language game.”

Secara ilmiah, definisi dari yang sederhana menjadi kompleks, dari genus menuju spesies dengan menambahkan diferensia, tampak masuk akal. Awalnya, kita bisa meneliti tumbuhan. Kemudian, binatang adalah semacam tumbuhan yang memiliki kemampuan tambahan, misal, leluasa bergerak. Akhirnya, manusia adalah sejenis binatang yang memiliki kemampuan tambahan berakal.

Jadi, sampai di sini, sudah tuntaskah bahwa manusia adalah binatang berakal?

Tentu saja, tidak tuntas. Bahkan, barangkali, tidak akan pernah tuntas. Manusia selalu menyimpan suatu misteri.

Akal

Apa yang dimaksud dengan “akal” itu sendiri?

Mengikuti “language game” dari Wittgenstein, kita bisa mengatakan bahwa makna “akal” sudah jelas sebagai mana kata “akal” itu digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Kita hanya perlu sedikit menegaskan, barangkali, dengan contoh-contoh. Kita, agar lebih jelas, bisa juga menyandingkan konsep “binatang berakal” dengan “binatang rasional” atau “binatang berpikir”.

Dengan akal, manusia mampu berpikir matematika tingkat tinggi. Meski, beberapa binatang mampu berhitung, tetapi, kemampuannya masih pada tingkat dasar. Misal, induk ayam yang memiliki 3 anak akan gelisah mencari anak-anaknya ketika 3 anak ayam itu tidak ada di dekatnya. Sementara, jika masih ada 2 anak ayam di dekatnya maka induk ayam itu tidak merasa gelisah. Dia merasa bahwa anak-anaknya baik-baik saja.

Induk ayam bisa membedakan antara 0 atau 3 anak ayam – mampu berhitung dasar. Dia bisa membedakan antara ADA anak ayam dengan TIDAK ADA anak ayam. Tetapi, induk ayam tidak bisa membedakan antara 2 dengan 3. Dia tidak mampu berhitung tingkat tinggi. Ayam memang bukan manusia. Sementara, manusia mampu berhitung lebih tinggi lagi. Misal 3 + 2 = 5, lanjut 5 x 4 = 20.

Dalam tataran praktis, manusia mampu berhitung jangka panjang. Misal, investasi setiap bulan menghasilkan profit 5 juta rupiah maka dikalikan 3 bulan akan menghasilkan 15 juta rupiah. Dan, kita masih bisa mengembangkan konsep matematika yang lebih canggih lagi.

Berpikir dalam bidang bahasa merupakan contoh, lagi, kemampuan akal manusia. Tentu saja, beberapa jenis binatang berkomunikasi dengan bahasa tingkat dasar. Misal, sekelompok anjing hutan berburu sambil berkomunikasi mengatur strategi untuk mengintai korban. Bagaimana pun, kemampuan berbahasa manusia jauh lebih tinggi dari itu. Dengan bahasa, kita bisa menceritakan dongeng sebelum tidur kepada anak-anak. Kita bisa membuat cerita pendek bahkan sampai novel berseri-seri dengan menggunakan bahasa. Dan, tentu saja kita bisa membuat puisi yang lembut menyentuh hati. Tidak ada binatang yang memiliki kemampuan bahasa secanggih manusia. Bahasa tingkat tinggi merupakan kemampuan khusus bagi manusia.

Moral

Immanuel Kant (1724 – 1804) membedakan akal dengan pemahaman (understanding). Pembedaan ini bernilai sangat penting. Apa saja yang kita bahas di atas, yang melibatkan kecerdasan matematika dan bahasa misalnya, masih termasuk dalam kategori “pemahaman”. Kita memahami suatu pernyataan matematika bernilai benar atau salah. Kita memahami suatu pernyataan bahasa menarik atau tidak. Itu semua tugas “pemahaman” (understanding).

Sementara, tugas akal adalah memutuskan suatu sikap, misal sikap kreatif atau sikap moral. Ketika “pemahaman” memahami formula aljabar, misalnya, akal berpikir: Apakah ada cara yang lebih mudah dari aljabar ini? Apakah aljabar ini berguna untuk kehidupan nyata? Apakah aljabar perlu saya pelajari lebih mendalam?

Akal makin penting perannya dalam menentukan sikap moral. Dengan “pemahaman” kita tahu bahwa “mencuri” atau “korupsi” adalah tindakan jahat. Akal bertanya: Apakah kita perlu korupsi dengan keuntungan harta yang tinggi? Ataukah kita perlu menghindari korupsi meski ada peluang begitu menggoda? Akal bertanya. Dan, akal pula yang memutuskan jawabannya: korupsi atau tidak.

Akal memiliki kebebasan sepenuhnya untuk memilih sikap bermoral atau tidak bermoral. Meskipun dalam prakteknya, manusia perlu beragam fasilitas pendukung untuk menjalankan sikap dari akal. Tetapi, keputusan oleh akal itu sendiri bersifat bebas.

Kant melangkah lebih jauh dengan mengatakan bahwa tujuan alam raya adalah untuk menghadirkan manusia-manusia bermoral. Mereka memilih untuk bertindak bermoral meskipun, sejatinya, mereka bisa memilih untuk berbuat jahat. Mengapa mereka memilih tindakan bermoral? Karena dirinya, memang, orang bermoral.

Hal ini berbeda dengan reproduksi, misalnya. Mengapa manusia punya nafsu hasrat? Karena agar manusia bisa reproduksi berkembang biak. Mengapa manusia perlu reproduksi? Karena untuk melestarikan spesies manusia. Mengapa perlu melestarikan spesies manusia? Dan seterusnya, pertanyaan bisa tanpa akhir.

Sementara, pertanyaan tentang moral akan berhenti kepada diri manusia bermoral. Manusia menjadi bermoral karena tindakannya yang bermoral. Tindakan bermoral ini disebabkan oleh manusia yang bermoral – memilih bermoral. Jadi, manusia bermoral adalah proses dan tujuan dalam dirinya sendiri.

Dengan konsep moral seperti itu, “Siapakah manusia?”

Manusia adalah dumadi bermoral.

Dumadi adalah kejadian, ciptaan, sesuatu, mahkluk, eksistensi, atau being. Manusia adalah “dumadi bermoral” bermakna manusia adalah sesuatu yang esensinya mampu memilih sikap moral, meski pun, mereka bisa juga memilih sikap jahat. Dengan konsep “dumadi bermoral”, tampaknya, banyak manusia yang tidak masuk dalam klasifikasi ini. Karena, seperti kita tahu, beberapa manusia gagal memilih sikap moral.

Binatang

Keberatan utama dari konsep “binatang berakal” adalah kesan kata “binatang” seakan-akan makhluk tak bermoral. Singa terkenal buas, ular terkenal licik, dan anjing sebagai penjilat. Manusia sering mengumpat, menjelekkan pihak lain, dengan menyebut nama binatang. Nama binatang begitu rendah dalam banyak aspek kehidupan manusia.

Padahal, sebagai mana kita maklum, binatang tidak ada yang jahat. Binatang, justru, tidak pernah melakukan dosa. Perhatikan, misalnya, seekor ular yang memangsa tikus hidup-hidup di sawah. Tidak ada perilaku jahat dalam kejadian itu. Ular tidak menjadi jahat karena membunuh tikus. Begitu juga tikus tidak menjadi jahat karena memicu ular untuk membunuh dirinya. Ular tidak pernah memangsa tikus jika dirinya tidak lapar. Meski ada tikus di depannya, ular tidak akan memangsanya bila dirinya sedang kenyang. Ular juga tidak pernah menimbun banyak tikus, sedemikian hingga, agar ular bisa makan tikus dalam jumlah berlebihan. Dan, jelas sekali, ular tidak pernah berternak tikus dengan tujuan untuk kebutuhan konsumsi atau keuntungan lainnya.

Ular, dan binatang lainya, tidak jahat. Bahkan binatang, sampai kapan pun, tidak akan pernah menjadi jahat. Hanya manusia yang bisa menjadi manusia jahat. Meski pun, manusia bisa juga menjadi manusia bermoral.

Seharusnya, kata “binatang” berkonotasi netral. Tidak jahat, pun, tidak harus bermoral. Dalam beberapa kesempatan, nama binatang berkonotasi positif. Jago gitar, Sang Rajawali, Maung Bandung, Kepala Naga, dan lain-lain.

Kita menemukan beberapa perilaku manusia jahat, lalu, melabeli mereka bagai binatang. Pegawai korup licik bagai ular. Pedagang serakah buas bagai srigala. Penipu bingung bagai cacing kepanasan. Lagi-lagi, perilaku jahat pada manusia, lalu, menggambarkan kejahatan yang sama kepada binatang. Tentu saja, penilaian seperti ini tidak fair. Meski demikian, karena sudah menjadi ungkapan dalam kehidupan sehari-hari, maka, sudah menjadi “language game” yang ada.

Bisa jadi, orang-orang tertentu, dengan sengaja, mengambil konsep “binatang berakal” menjadi inspirasi untuk suatu kejahatan mereka.

Keberatan kedua terhadap konsep “binatang berakal” adalah keberatan filosofis. Kita tidak bisa membentuk substansi “manusia” dengan cara menambahkan substansi “berakal” kepada substansi “binatang”. Substansi “manusia” adalah substansi tunggal yang unik, merupakan satu kesatuan. Kita hanya bisa menganalisis secara konseptual bahwa dalam konsep manusia terkandung konsep “binatang” dan konsep “berakal”. Hanya analisis, bukan realitas sejatinya.

Spesies manusia adalah realitas konkret yang lebih nyata dari genus binatang.

Pengalaman kita di dunia mekanika memang tampak beda. Mobil atau sepeda, misalnya, kita desain dengan cara merangkai unsur-unsurnya. Untuk merancang sepeda maka kita “menggabungkan” roda depan, roda belakang, sadel, rantai, dan lain-lain. Masing-masing unsur ini sudah eksis secara nyata mendahului sepeda. Pengalaman kita di dunia mekanika ini tidak bisa kita terapkan untuk manusia. Kita, tidak bisa membentuk manusia dengan cara menyusun kaki, tangan, badan, dan lain-lainnya. Tetapi, sekali lagi, kita punya intuisi bahwa kita bisa menyusun robot manusia dengan cara merangkai komponen-komponennya.

Keberatan filosofis ini memerlukan solusi yang tidak bersifat mekanis. Solusi itu harus berupa suatu konsep manusia yang utuh dengan sedikit tambahan deskripsi.

Beberapa konsep alternatif akan kita bahas di bagian bawah. Barangkali, kita bisa mempertimbangkan konsep,

“Manusia adalah dumadi berakal.”

Lebih spesifik lagi konsep,

“Manusia adalah dumadi bermoral.”

5.2 Eksistensi Peduli Eksistensi

“Siapakah manusia?”

Manusia adalah eksistensi yang peduli dengan eksistensi dirinya. Manusia peduli dengan masa depan eksistensinya, masa lalu, dan masa kini. Manusia bertanya-tanya, “Bagamana keadaanku, eksistensiku, esok hari?” “Apa yang akan terjadi di masa depan?” “Saya pasti akan mati, tetapi, apa yang akan terjadi saat itu dan setelahnya?”

Heidegger (1989 – 1976) mengusulkan konsep bahwa manusia adalah eksistensi yang peduli dengan eksistensi dirinya. Manusia adalah eksistensi yang senantiasa mempertanyakan eksistensi. Manusia adalah eksistensi yang menyelidiki “makna dari eksistensi.” Heidegger menggunakan istilah “dasein” (being-there) untuk maksud manusia sejati. Manusia, benar-benar nyata, ada di sana dan di sini. Dasein.

Kita bisa membandingkan dasein ini dengan “binatang berakal” dan cogito (dari Descartes).

Kita sampai ke konsep “binatang berakal” melalui analisis evolusi, taksonomi, dan mekanis. Sementara, kita sampai kepada dasein dari analisis filosofis terhadap realitas nyata seutuhnya – being as a whole. Atau lebih tepatnya, kita sampai kepada konsep dasein melalui kajian fenomenologi filosofis.

Fenomenologi adalah mengijinkan realitas eksistensi untuk hadir apa adanya. Alam semesta ini hadir apa adanya di sekitar kita. Bahkan, dunia ini sudah eksis, ada secara konkret, sebelum kita lahir. Lalu, mengapa dunia ini eksis? Mengapa saya eksis? Kita bisa menggali histori masa lalu untuk menjawabnya; kita bisa meneliti fosil dan prasasti; tetapi semua jawaban bersifat belum pasti. Mengapa? Karena semua realitas masa lalu selalu bergerak menuju masa depan. Jadi, mengapa Anda membaca tulisan ini? Karena Anda sedang bergerak menuju masa depan. Manusia adalah dasein yang peduli dengan eksistensi masa depan: masa depan diri dan dunia sekitar.

Mengapa menggunakan istilah dasein bukan manusia saja? Karena kita perlu mengkaji eksistensi apa adanya. Dari beragam eksistensi, kita harus memilih salah satu eksistensi sebagai awal kajian: memilih eksistensi yang mana? Kita memilih “eksistensi yang bertanya tentang eksistensi” yaitu dasein. Beberapa orang, manusia, memiliki sikap peduli dengan bertanya tentang apa makna-eksistensinya. Jadi, sebagian manusia adalah dasein itu sendiri; atau secara umum, semua orang memiliki posibilitas untuk menjadi dasein otentik. Manusia sejati adalah dasein otentik; manusia yang peduli eksistensi.

5.2.1 Sebagai Being-in-The-World

Paling dasar, manusia adalah eksistensi dalam dunia; being-in-the-world. Anak muda hidup dalam dunianya sendiri. Orang tua hidup dalam dunianya sendiri. Emak-emak hidup dalam dunianya sendiri. Bumi dan isinya adalah dunia milik kita bersama sebagai manusia. Di saat yang sama, masing-masing dari kita memiliki dunianya sendiri yang berbeda-beda.

Manusia selalu hidup dalam dunia; tidak bisa hidup tanpa dunia; tidak bisa hidup sendiri tanpa bumi, tanpa udara, tanpa ibu tercinta. Andai Anda bisa hidup di luar dunia ini maka Anda akan hidup di dunia yang lain. Dunia adalah segala eksistensi, segala yang ada, yang bermakna bagi Anda. Dunia bisnis, dunia seni, dunia olahraga, dunia pribadi, dunia hiburan, dan dunia-dunia lainnya.

Manusia sebagai dasein berbeda dengan cogito dari Descartes. Sebagai cogito, manusia terasing oleh dunia. Manusia ingin membuktikan apakah dunia itu benar-benar ada atau hanya ilusi belaka. Sayangnya, cogito selalu gagal untuk mendapatkan bukti. Selalu ada peluang bahwa dunia luar adalah sekadar ilusi. Sementara sebagai dasein, manusia memang sudah berada dalam dunia; manusia akrab dengan seluruh dunia. Manusia tidak perlu membuktikan eksistensi dunia luar; manusia tinggal memaknai seluruh eksistensi.

Anda tidak perlu membukti bahwa apakah Anda punya ibu; apakah ibu Anda pernah ada? Kita sudah yakin bahwa kita punya ibu; kita lahir dari ibu tercinta yang mencurahkan cahaya cinta kepada kita sebagai anaknya. Tugas kita bukan untuk membuktikan apakah ibu pernah ada; tetapi, tugas kita adalah untuk berbakti kepada ibu; termasuk berbakti kepada ibu pertiwi.

5.2.2 Anugerah Meraih Sumber

Siapakah manusia? Siapa dasein? Siapa saya?

Manusia adalah anugerah. Anda adalah anugerah buat keluarga, buat tetangga, dan buat masyarakat luas. Anda juga anugerah bagi seluruh dunia. Sebaliknya juga benar: keluarga, tetangga, dan masyarakat adalah anugerah buat Anda. Bila ada orang yang tidak menjadi anugerah bagi sekitarnya maka orang tersebut sedang salah arah. Karena, sejatinya, orang tersebut adalah anugerah.

Dari mana anugerah itu? Kita adalah anugerah berupa manusia yang berasal dari sumber anugerah. Tugas terdalam kita adalah untuk meraih sumber anugerah itu. Untuk meraihnya, kita perlu membuka seluruh posibilitas yang tersedia.

5.2.3 Posibilitas demi Posibilitas

Manusia adalah posibilitas yang terbuka luas. Kita adalah suatu posibilitas yang berubah menjadi posibilitas lain yang lebih luas. Posibilitas demi posibilitas setiap saat memperluas posibilitas.

Posibilitas, peluang, atau kemungkinan adalah hakikat manusia terdalam. Bahkan kematian yang sering kita sebut sebagai niscaya, kita pada waktunya pasti mati, sejatinya adalah posibilitas untuk membuka realitas baru. Ketika kita masih hidup, kita terbatas hanya bisa akses posibilitas di sekitar dunia ini. Ketika kita mati maka tersingkap posibilitas lebih luas. Apa yang kita siapkan untuk menyambut kematian yang akan membuka posibilitas lebih luas?

5.3 Jiwa Bercahaya (Suhrawardi)

Pembeda utama manusia terhadap yang lain adalah jiwanya. Jiwa manusia adalah cahaya yang bersinar. Jiwa bersumber dari Cahaya Maha Cahaya. Kemudian, jiwa menjadi sumber cahaya untuk menyinari banyak hal dengan menerima limpahan Cahaya Maha Cahaya.

Cahaya Solusi Petitio Principii

Manusia adalah jiwa bercahaya. Atau, manusia adalah cahaya. Sedangkan, cahaya adalah realitas yang paling jelas. Semua realitas membutuhkan cahaya agar menjadi jelas. Sementara, cahaya hanya membutuhkan dirinya sendiri untuk menjadi jelas.

Solusi dari Suhrawardi berupa jiwa cahaya ini menyelesaikan problem paling sulit: petitio principii atau beg question atau kembali ke pertanyaan. Kita bisa menjawab, misal, manusia adalah M maka muncul pertanyaan tentang M. Untuk menjawab M itu kita akan kembali mengandalkan pikiran manusia; kembali kepada pertanyaan awal tentang makna manusia. Jadi, kita akan selalu terjebak ke petitio principii. Solusi bahwa manusia adalah cahaya merupakan solusi cerdik. Memang, wajar, kita akan bertanya apa itu cahaya? Selanjutnya, kita perlu mengkaji ontologi cahaya. Kita menyelesaikan petitio principii tetapi menghadapi problem untuk mengkaji ontologi cahaya.

Imkanu Ashraf (IA)

Manusia, sebagai cahaya, adalah posibilitas luas.

Jiwa Meluas Futuristik

5.4 Citra Paripurna (Ibnu Arabi)

Manusia adalah citra paripurna, citra sempurna. Manusia adalah citra sempurna dari Tuhan Yang Maha Sempurna. Di saat yang sama, manusia adalah citra dari alam raya.

5.5 Moral Bebas (Kant)

Manusia adalah pilihan bebas penuh moral. Hakikat manusia adalah kemampuannya untuk bebas memilih tindakan bermoral dibanding tindakan jahat. Kucing bebas memilih lari atau melompat. Tetapi, lari atau melompatnya seekor kucing, sama-sama tidak jahat. Berbeda dengan manusia. Manusia bisa mencuri, maka dia jahat. Manusia bisa bersedekah, maka dia bermoral. Manusia bebas untuk memilih sebagai bermoral.

Mengapa manusia bisa bebas? Bisa freedom? Mengapa akal manusia bisa bebas dengan spontan? Manusia bebas karena manusia adalah bebas itu sendiri; manusia adalah kebebasan. Manusia bukanlah suatu subyek tertentu; kemudian, subyek manusia itu memiliki predikat “bebas”; bukan demikian. Tetapi manusia adalah “bebas” itu sendiri; kemudian, “bebas’ itu bermanifestasi secara konkret sesuai situasi.

Bagaimana proses manusia bisa menjadi bebas? Manusia menjadi bebas karena dipastikan sebagai bebas oleh Tuhan. Manusia menjadi bebas dengan menerima kewajiban sebagai bebas; kewajiban dari Tuhan yaitu amanah sebagai dumadi bebas. Dengan memenuhi kewajiban-kewajiban, manusia menjadi bebas. Manusia wajib bebas.

Bukankah dengan banyaknya kewajiban, manusia menjadi terikat oleh kewajiban; manusia menjadi tidak bebas? Justru makin bebas akibat memenuhi kewajiban itu. Kewajiban adalah pembebasan.

Melanggar kewajiban yang, justru, menjadikan manusia tidak bebas. Awalnya, manusia bebas hidup sehat. Kemudian, dia minum alkohol; melanggar kewajiban hidup sehat. Bertahap, manusia itu ketagihan alkohol sampai kecanduan alkohol. Dia kehilangan kebebasan; dia kehilangan jati dirinya sebagai manusia.

Kewajiban Anda menghormati ibu, membela orang miskin, dan merawat suara hati adalah beberapa contoh kewajiban yang menjadikan diri Anda sebagai manusia; Anda sebagai kebebasan sejati. Lalu, apa makna dari kewajiban?

5.6 Spirit Dialektika (Hegel)

Manusia adalah spirit yang terus bergerak maju menuju spirit absolut. Awalnya, spirit tidak tahu apa-apa. Spirit hanya tahu dirinya sendiri. Ketika menatap alam luar, spirit sadar ada yang beda dengan dirinya. Spirit menghadapi kontradiksi, perbedaan tajam dunia luar dengan dirinya. Kemudian, spirit merangkul pengetahuan dunia luar dan kembali menjadi “becoming” spirit baru yang lebih dewasa. Proses ini disebut sebagai dialektika.

Spirit tidak pernah berhenti, selalu, dialektika untuk menuju sempurna. Dialektika ini bergerak menuju spirit absolut. Jadi, manusia adalah gerak spirit menuju absolut.

5.7 Kebaikan Liar (Schelling)

Manusia adalah kebaikan. Tetapi, bukan kebaikan biasa. Manusia adalah kebaikan tanpa batas, tanpa henti, dan liar. Kebaikan yang meledak-ledak secara terus-menerus.

Kebaikan manusia, disamping meledak-ledak, memiliki kemampuan moderasi. Yaitu kemampuan mengendalikan diri. Ketika, kebaikan itu dimoderasi dengan baik, sesuai ukuran yang tepat, maka manusia menjadi kebaikan yang nyata. Jika kebaikan itu lepas kendali maka menjadi berbahaya. Manusia yang aslinya kebaikan bisa berubah menjadi manusia jahat. Misal nafsu makan yang berlebihan menjadi penyakit. Lebih jauh dari itu, nafsu bisa mendorong manusia mencuri sampai korupsi.

Dalam dirinya sendiri, manusia adalah kebaikan tanpa batas. Dan, manusia memiliki kemampuan mengendalikan diri, sehingga, manusia menjadi kebaikan yang nyata dan tertata.

5.8 Pilihan Bebas (Sartre)

Manusia tidak memiliki kehendak bebas (free will). Manusia adalah kebebasan itu sendiri (freedom). Manusia bebas untuk menjadi apa saja. Manusia bebas untuk menolak apa saja. Free will adalah bagian kecil dari freedom.

5.9 Dumadi Selaras Diri

Manusia adalah dumadi yang mampu menyelaraskan diri. Manusia selalu bergerak menyongsong masa depan. Di saat yang sama, manusia menyelaraskan bekal masa lalu dan modifikasi masa kini agar menjadi masa depan cemerlang yang serasi.

Masa depan banyak pilihan. Tidak kurang hambatan. Tidak sedikit kesulitan. Manusia memilih cita-cita masa depan yang menjadi idaman. Menyelaraskan perjalanan cita agar mampu mengatasi hambatan. Akhirnya, tercapai cita-cita sebagai dumadi yang menyelaraskan diri.

6. Manusia Sejati

Jadi, siapa manusia sejati? Siapa Anda? Siapa saya? Manusia sejati adalah dumadi yang menyelaraskan diri.

Definisi esensial, menyatakan bahwa manusia adalah binatang berakal, merupakan definisi paling dasar. Sementara, definisi manusia sempurna merupakan definisi yang terbuka.

Diferensia Akhir

Akal, atau jiwa rasional, adalah diferensia akhir. Dalam diferensia akhir, tersimpan seluruh karakter dari diferensia yang lebih awal. Sehingga, ketika kita menyebut akal, atau jiwa rasional, sudah terkandung di dalamnya kemampuan badan yang hidup dan bebas bergerak.

Manusia adalah akal atau jiwa rasional.

Jadi, kita bisa menyebut manusia adalah akal saja. Atau, manusia adalah rasional saja. Tentu saja, akal memiliki banyak makna.

Pertanyaan lanjutan: apakah akal bisa berubah menjadi diferensia lebih akhir?

Bisa. Akal bisa berubah menjadi manusia sempurna. Apa itu manusia sempurna? Jika, definisi umumnya, manusia adalah binatang berakal, maka, akal tidak bisa berubah menjadi manusia sempurna. Karena akal sudah menjadi diferensia akhir. Tetapi, kita menggunakan definisi manusia sempurna, sehingga, menjadi lebih terbuka.

Akal Sempurna

Manusia adalah akal yang sempurna. Seperti apakah itu?

Akal adalah model umum dari manusia atau genus. Maksudnya, setiap manusia pasti berakal, pasti rasional. Kemudian, model akal ini akan bergerak menuju diferensia akhir. Karena ada masa depan, maka, akal berubah menuju masa depan.

Diferensia Akhir = {Jujur, Penipu, Petani, Pemimpin, …}

Jujur adalah diferensia akhir dari akal. Ketika seorang manusia jujur maka dipastikan dia memiliki akal, memiliki badan, dan lain-lain. Jadi, jujur meliputi seluruh diferensia yang lebih awal.

Tetapi tidak bisa sebaliknya. Ketika kita tahu manusia adalah akal, maka, kita tidak bisa menyimpulkan bahwa dia jujur. Demikian juga dengan penipu, petani, dan pemimpin. Kita bisa memastikan bahwa setiap penipu pasti berakal. Tidak sebaliknya.

Menariknya, semua diferensia akhir dari manusia adalah tersusun oleh unsur-unsur manusiawi. Tersusun oleh akal, badan, dan situasi sekitar. Jujur, misalnya, tersusun oleh akal yang konsisten membela kebenaran, badan yang sesuai konteks, dan menyesuaikan situasi sekitar yang terjadi.

Sebaliknya, sulit terjadi. Maksudnya, dari akal, badan, dan situasi yang ada, kita sulit memastikan akankah manusia menjadi jujur.

Manusia Dinamis

Definisi manusia menjadi dinamis. Karena, diferensia akhir manusia dinamis. Berbeda dengan definisi binatang yang statis, misalnya.

Binatang adalah tumbuhan yang bebas bergerak.

Kucing adalah binatang. Kucing memiliki karakter seperti tumbuhan yang tumbuh, berkembang biak, butuh makanan, dan lain-lain. Ditambah, kucing bebas bergerak, berbeda dengan tumbuhan. Dari lahir sampai mati, kucing tetaplah kucing. Kucing tetap sebagai tumbuhan yang bebas bergerak. Diferensia akhir dari kucing adalah, tetap, kucing sebagai binatang. Definisi kucing adalah statis.

Definisi manusia adalah dinamis, bahkan, sangat dinamis. Ketika lahir, semua manusia sama, yaitu, berakal atau rasional. Ketika mati, masing-masing manusia berbeda dalam diferensia akhir. Sebagian jadi jujur, sebagian yang lain penipu. Sebagian jadi pahlawan, sebagian yang lain jadi penjahat.

Sempurna = {abdi + wakil}

Mari kita coba cermati definisi manusia sempurna dari Ibnu Arabi (dan Al Jilli). Dari manusia rasional berubah menjadi manusia sempurna, yaitu, abdi Tuhan dan wakil Tuhan.

Abdi adalah manusia menjalani seluruh hidup, dan matinya, sesuai petunjuk Tuhan. Manusia berserah diri kepada Tuhan. Manusia menerima petunjuk melalui wahyu, kitab suci, riwayat, alam semesta, dan diri manusia itu sendiri. Menjadi abdi, seperti ini, baru setengah jalan untuk menuju sempurna.

Menjadi wakil adalah pelengkap sempurnanya manusia. Wakil adalah mengelola seluruh alam raya menuju kebaikan. Merangkul seluruh alam, kemudian, mengajak ke puncak kebaikan dengan jalan kebaikan. Sebagai wakil, manusia melindungi manusia lain, saling menolong dan membantu. Manusia menjaga kelestarian alam. Manusia adalah anugerah bagi alam dan alam adalah anugerah bagi manusia. Sebagai wakil, manusia, merespon situasi dunia dengan cara yang unik. Sehingga, manusia sempurna selalu memiliki kekhasan yang unik.

Evolusi Darwin

Pendukung Darwin mendefinisikan manusia sebagai homo sapiens. Yaitu, sejenis primata atau kera dengan keunikan bisa berbahasa. Homo sapiens adalah hasil evolusi dari primata. Definisi Darwin ini, tampaknya, banyak diterima oleh para ilmuwan.

Sesuai kajian kita di atas, definisi manusia sebagai homo sapiens, adalah definisi model umum belaka. Ketika lahir, barangkali benar. Homo sapiens adalah genus manusia atau diferensia awal manusia. Seiring perjalanan hidup, manusia membentuk definisi dirinya sendiri sebagai diferensia akhir. Misal seseorang, ketika dewasa, menjadi penulis. Diferensia akhir sebagai penulis, pasti, mencakup homo sapiens.

Kita bisa mencermati definisi Aristo bahwa manusia adalah jiwa rasional. Tampaknya, Aristo bermaksud, definisi itu sebagai diferensia awal. Sementara, diferensia akhir tetap dinamis. Aristo sendiri terbukti berhasil mencapai diferensia akhir sebagai filsuf terbesar dalam sejarah. Sadra (dan Sabzivari) adalah pemikir besar yang berhasil mengangkat tema diferensia akhir menjadi definisi paling penting.

7. Model Manusia

Mari kita ringkas diskusi tentang definisi manusia dengan model M. Definisi awal, sebagai diferensia,

“Manusia = M = Akal = Rasional”

Model M

M sebagai diferensia mencakup seluruh diferensia lebih awal, di antaranya, meliputi badan, tumbuh, mineral, dan lain-lain.

M adalah model dasar dari manusia. Setiap manusia harus memenuhi M, berakal. Jika tidak berakal maka gagal sebagai M, gagal sebagai manusia.

Tetapi, model M ini berubah secara dinamis. Sehingga, model M bisa, berubah, menjadi berbeda-beda bagai bumi dan langit, bagai binatang dan malaikat, bagai air dan api. Jadi, M terbuka terhadap perubahan. Seiring waktu, M berubah menjadi lebih sempurna yaitu M(S).

Model M(S)

“Manusia = Akal Sempurna = M(S) = Sempurna = S”

M(S) adalah diferensia akhir. Tentu, M(S) meliputi M, meliputi akal. Atau, M(S) adalah ekstensi dari M itu sendiri.

Karakter S (sempurna) tidak bisa dibaca dari M. Artinya, S tidak bisa diprediksi dari M. Kareda ada faktor “forcing” (Cohen) atau “freedom”. Tetapi, S itu tersusun oleh M. Atau, struktur S terdiri dari unsur-unsur M. Jadi, S tersusun oleh unsur akal, badan, dan situasi serta freedom. Sebagai diferensia akhir, kita bisa menyebut sebagai M(S) = manusia sempurna, atau cukup S = sempurna.

M(S) memiliki karakter universal atau hampir absolut. M(S) bisa muncul di berbagai tempat berbeda dan di berbagai waktu berbeda. M(S) tidak bisa dibatasi oleh “hukum” M. Karena, M tidak bisa mem-prediksi M(S). Meskipun, seiring waktu, M akan bisa memahami M(S). Tetapi, M(S) bisa memprediksi M karena M ada dalam diri M(S).

M(S), di saat yang sama, bersifat unik, partikular, sesuai situasi yang ada dan “freedom” individu. Sehingga, di dunia ini, terdapat ribuan atau jutaan M(S). Dengan perspektif tertentu, setiap individu manusia adalah M(S). Tetapi, perspektif umum, menerapkan M(S) hanya kepada manusia sempurna dalam makna positif.

M(S) adalah tujuan akhir dari manusia, yaitu, menjadi manusia sempurna. Apa yang Anda siapkan untuk menjadi manusia sempurna?

M(S) adalah manusia sempurna, adalah dumadi yang menyelaraskan diri, adalah dumadi serasi, adalah serasi.

M(S) = manusia sempurna = selaras diri = serasi

M(S) = Serasi

Kita fokus kepada serasi. Konsep manusia sempurna bisa kita ringkas menjadi hanya serasi. Apa makna serasi?

(1) Serasi terhadap situasi. Manusia menjaga diri agar serasi dengan situasi alam sekitar. Sebaliknya bisa terjadi. Manusia mengubah alam sekitar agar serasi dengan manusia. Perubahan terhadap diri, dan alam sekitar, bisa saja ekstrem. Manusia akan berusaha membawa, kembali, ke situasi serasi. Dalam situasi serasi seperti ini, M(S) adalah unik. M(S) di Asia berbeda dengan M(S) di Eropa, misalnya. Karena mereka menghadapi situasi yang berbeda. Alam sekitar, di sini, bisa berupa natural dan kultural.

(2) Serasi terhadap diri. Menariknya, diri manusia selalu menyimpan misteri. Sehingga, manusia sempurna perlu menjadi serasi dengan diri sendiri yang banyak misteri. Diri manusia memang tersusun oleh unsur-unsur manusiawi: badan, akal, situasi, dan lain-lain. Tetapi selalu ada “forcing” atau “freedom” yang melampaui unsur-unsur manusiawi yang sudah ada itu. Dengan demikian, manusia bisa selaras dengan dirinya sendiri dengan mencoba selaras terhadap “forcing” atau “freedom” dirinya sendiri.

(3) Serasi kepada Tuhan Maha Absolut. Manusia sempurna berjalan menuju absolut dengan menjadi hampir-absolut. Manusia meraih serasi dengan menjadi hampir-absolut, meski, tidak pernah absolut. Manusia perlu bimbingan melalui wahyu, kitab suci, riwayat, guru, sahabat, dan lain-lain. Dari dalam dirinya sendiri, manusia perlu berpikir terbuka, bersikap terbuka, membuka diri, dan membuka hati, agar mencapai serasi absolut. Tepatnya, serasi hampir-absolut. Manusia bisa berhasil meraih sempurna, hampir-absolut, bukan karena dirinya mampu. Tetapi, karena pertolongan dari sumber absolut.

Selamat menapaki jalan menjadi manusia sempurna…!

Ontologi Moral

Mengapa dunia Barat lebih maju dari dunia Timur?

Karena Barat menguasai sains dan teknologi. Sehingga, Barat menguasai bidang ekonomi, militer, dan politik. Dengan demikian, Barat mendominasi segala bidang. Benarkah seperti itu?

Pantai Timur Versus Pantai Barat, Yang Mana Lebih Indah?

Barangkali, bila kita melihat situasi akhir-akhir ini, memang benar Barat lebih maju dari Timur – secara umum. Bila kita membaca sejarah lebih panjang sampai ribuan tahun yang silam maka kita menemukan bahwa Timur pernah jauh lebih maju dari Barat. Pertimbangkan sejarah besar bangsa-bangsa Timur: Mesir, Persia, Cina, Arab, Baghdad, India, dan lain-lain. Di Indonesia sendiri, kita punya sejarah besar Sriwijaya, Majapahit, Demak, dan lain-lain.

Dalam rentang sejarah yang panjang, Timur dan Barat saling silih berganti memimpin peradaban. Hal seperti itu tampak wajar. Pada tulisan ini, kita akan membahas perbedaan prioritas filsafat Timur dan Barat – dengan asumsi filsafat berkorelasi dengan peradaban. Meski ada titik temu, bahkan sinergi, antara filosofi Timur dan Barat, kali ini kita sengaja akan mencari perbedaannya. Di sini, kita tidak bermaksud mengkaji sejarah. Kita hanya fokus membahas sedikit tema tentang ontologi dan moral.

1. Ontologi Barat

2. Moral Timur

3. Manusia Skepo
3.1 Moral Barat
3.1.1 Stoic
3.1.2 Epicurus
3.1.3 Plotinus

3.2 Ontologi Timur
3.2.1 Ibnu Sina
3.2.2 Suhrawardi
3.2.3 Sadra

3.3 Skepo
3.3.1 Penasaran
3.3.2 Membuka Judgment
3.3.3 Positif Partisipasi

Secara filosofi, Barat lebih mengedepankan ontologi (metafisika). Sedangkan, Timur lebih mengedepankan moral (etika). Sebagai manusia, kita membutuhkan keduanya. Sehingga, tantangannya adalah bagaimana mengambil porsi yang tepat, antara metafisika dan etika. Untuk kemudian, menciptakan alunan harmonis keduanya.

Saya mengusulkan sikap skepo untuk mengakomodasi ontologi dan moral dengan baik.

1. Ontologi Barat

Pertanyaan ontologi (metafisika) begitu kuat di Barat sejak masa-masa pra-Sokrates. Misal, Thales (624 – 548 SM), yang ahli matematika begitu bersemangat menjawab pertanyaan: tersusun oleh apakah alam semesta ini? Secara ringkas, para pemikir kuno menemukan jawaban bahwa alam raya ini tersusun oleh unsur-unsur dasar: api, air, tanah, dan udara. Tampak, unsur-unsur dasar tersebut bersifat materi. Sementara, para pemikir kuno tidak bermaksud membatasi hanya dunia materi. Sehingga, unsur-unsur dasar di atas juga bisa bersifat unsur spiritual.

Russell (1872 – 1970) memuji Demokritus (460 – 370 SM) karena menjawab bahwa penyusun alam raya adalah atom. Bagi Russell, jawaban atom ini adalah jawaban paling ilmiah di jamannya, dan bahkan, tetap relevan sampai saat ini.

Plato (428 – 348 SM) membahas dengan tuntas tema ontologi. Alam raya tercipta dari Idea yang ada di alam ideal dan bayang-bayang dari alam ideal itu membentuk alam nyata kita, yang tidak ideal ini. Kemudian, Aristoteles melengkapi dengan beragam teori termasuk teori bentuk dan materi.

Descartes (1596 – 1650) berhasil memisahkan dengan tegas substansi materi dengan substansi jiwa. Substansi materi, dunia materi, merupakan dunia independent yang dapat kita kaji dengan sains. Isaac Newton (1642 – 1726) berhasil dengan cemerlang menerapkan matematika di dunia sains. Konsekuensinya, kekuatan ilmu pengetahuan menjadi bersifat eksak – bukan sekedar coba-coba. Selanjutnya, perkembangan sains dengan teknologi makin erat. Ditambah dengan kepentingan ekonomi dan politik maka dunia Barat menyebarkan kolonialisme ke penjuru dunia.

Kemajuan sains dan teknologi di Barat begitu luar biasa. Lengkap dengan beragam dampak negatif yang sulit ditangani.

2. Moral Timur

Nabi Ibrahim atau Abraham (2000 SM) adalah tokoh moral agama terbesar di dunia. Ajaran Ibrahim yang berkomitmen tinggi kepada kebenaran sejati, kemudian, berkembang menjadi dasar-dasar moral dan agama Yahudi, Kristen, dan Islam.

Buddha (abad 6 SM) mengajarkan cara hidup bermoral tinggi untuk kebahagiaan seluruh umat manusia. Konghucu (551 SM) mengajarkan umat manusia, baik rakyat atau bangsawan, untuk konsisten dalam amal kebajikan.

Sunan Kalijaga (1450 – 1513) adalah tokoh moral paling terkenal dari Walisongo. Kalijaga dikagumi masyarakat luas lantaran begitu fleksibel mengajarkan prinsip moral ke seluruh kalangan. Bahkan, Kalijaga berkreasi dalam ragam bentuk seni, misal cerita wayang, untuk menanamkan prinsip-prinsip moral: membela kebenaran, sabar, dan pantang menyerah.

“Sangkan paraning dumadi” adalah ajaran moral yang mengajak kita untuk merenungi dari mana kita berasal dan ke arah mana kita menuju akhir. Kita berasal dari Tuhan dan kita pasti akan kembali menuju Tuhan pula. Maka dalam hidup ini, kita perlu konsisten hidup dengan moral tinggi sesuai ajaran Tuhan.

Kita perhatikan, fokus moral ini berbeda dengan ontologi. Ketika ontologi bertanya tersusun dari apakah alam raya ini, moral langsung bertanya dari mana dan ke arah mana alam raya ini. Ontologi sibuk merumuskan unsur-unsur dasar api atau atom. Moral sibuk memperbaiki perilaku manusia agar sejalan dengan moral tuntunan Tuhan.

“Mamayu hayuning bawana” adalah ajaran moral agar kita ikut serta menciptakan kebaikan alam raya. Kita perlu berpartisipasi menjaga kelestarian lingkungan, membantu orang-orang yang perlu pertolongan, dan berbagi kebaikan.

Lagi, kita perhatikan, ketika ontologi sains menyelidiki hukum gravitasi, moral justru mengajak umat manusia untuk saling berbagi. Mengalahkan nafsu diri yang ingin menikmati fasilitas dunia berlebihan. Membaginya, sumber daya dan fasilitas yang ada, untuk kebaikan umat manusia.

“Urip iku urup” ajaran moral yang mengajak kita hidup penuh semangat. Apakah Anda seorang petani? Maka jadilah petani yang semangat. Apakah Anda seorang pedagang, karyawan, atau seniman? Maka hiduplah dengan semangat dalam segala situasi. Urip iku urup adalah hidup itu menyala.

Ontologi teknologi menyelidiki cara meng-eksplorasi alam raya, sementara moral, mengajak kita hidup penuh semangat dengan segala yang alam raya ada.

Tentu, perbandingan berlawanan antara ontologi dan moral, di atas, kita buat agar tajam perbedaannya. Kita masih bisa membuatnya lebih ekstrem lagi perlawanan keduanya. Atau sebaliknya, kita bisa mencari alunan harmonis antara ontologi dan moral.

3. Manusia Skepo

Sebagai manusia, kita membutuhkan keduanya: ontologi dan moral. Sejatinya, para pemikir Timur dan Barat, juga membahas kedua-duanya. Tugas kita adalah menciptakan alunan serasi antara ontologi dan moral. Sebuah tugas yang tidak pernah ada titik hentinya. Mengajak manusia untuk bahagia dari suatu alunan ke alunan berikutnya. Sikap manusia skepo kita perlukan di sini. Skepo adalah skeptis positif.

3.1 Moral Barat

Agar alunan alam raya ini terasa lebih serasi, kita akan membahas moral Barat dan ontologi Timur. Sehingga, kita mendapat gambaran lebih kuat bahwa alunan indah ontologi moral ini memang ada di mana-mana. Meski moral di Barat sudah berkembang sejak awal-awal peradaban, tetapi, dominasi moral tampak sangat jelas sekitar abad ke-3 SM. Lahirlah tiga madzhab moral filosofis: Stoic, Epicurus, dan Plotinus.

3.1.1 Stoic

Zeno (334 – 262 SM) adalah pendiri Stoic (Filosofi Teras) yang terus berkembang sampai saat ini. Silicon Valley, Hollywood, dan Eropa, dikabarkan saat ini, tengah jatuh cinta lagi dengan filosofi Stoic. Bahkan di Indonesia, saat ini, juga berkembang filosofi Teras.

Stoic mengajarkan bahwa tujuan utama filosofi adalah mengajak manusia hidup bahagia sempurna melalui penyempurnaan empat karakter kebajikan utama: bijak, apik, adil, dan berani. Cara mengembangkan empat kebajikan ini adalah dengan fokus kepada hal-hal yang bisa kita kendalikan, untuk kemudian, berkembang makin meluas.

Sementara, kajian filsafat lainnya, semisal ontologi dan epistemologi, diarahkan untuk membantu manusia mengembangkan empat karakter kebijakan utama di atas.

3.1.2 Epicurus

Epicurus (341 – 270 SM) mengembangkan aliran filsafat yang berpengaruh besar, di jaman, bersamaan munculnya Stoic. Mereka, Epicu dan Stoic, bersaing mengajak umat manusia hidup bahagia melalui jalan filosofi moral.

Secara konsep, filosofi Epicu ini sangat kuat. Tetapi, bagi masyarakat awam, butuh perjuangan lebih besar untuk bisa memahami filosofi Epicu. Jefferson, presiden US, mengaku menggunakan filosofi Epicu untuk mendorong kemajuan US. Karl Marx mengkaji filosofi Epicu dalam disertasi doktoralnya, yang kelak, menjadi rujukan utama sosialisme. Deleuze (1920 – 1995) mengkaji teori atom Epicu untuk menjelaskan beragam sumber perbedaan.

Filosofi Epicu dengan tegas menyatakan bahwa tujuan filsafat adalah mengantar manusia bahagia sempurna dengan cara menikmati alam raya secara lahir dan batin. Tentu saja, kita setuju diajak menikmati alam raya secara lahir dan batin. Tetapi, Epicu mengajarkan caranya dengan tepat. Dan, banyak orang berpikir ulang dengan cara Epicu itu.

Pertama, untuk bisa menikmati alam raya, kita perlu membatasi diri – bukan mengumbar nafsu. Anda bisa menikmati makanan dengan cara membatasi jumlah makan. Anda hanya bisa menikmati olahraga dengan cara membatasi kadar olahraga. Anda hanya bisa menikmati musik dengan cara membatasi bermusik. Kedua, untuk menikmati alam raya, kita menjalani hidup berdasar persahabatan. Sahabat adalah orang yang merasa bahagia karena membantu sahabatnya. Hidup ini bukan transaksi dagang, bukan pula transaksi politik. Hidup ini adalah persahabatan. Ketiga, untuk menikmati alam raya, kita perlu mengembangkan pengetahuan seluas-luasnya. Pengetahuan fisik dan pengetahuan ruhani. Kita mendalami ilmu agar mampu membatasi diri tidak mengumbar birahi. Kita mendalami ilmu agar politik penuh arti tidak hanya mengumbar janji. Kita mendalami ilmu sejati adalah bahagia sejati.

3.1.3 Plotinus

Plotinus (204 – 270) adalah pendiri neo-platonisme. Di akhir hayat, Plotinus menegaskan bahwa tugas kita sebagai filosof adalah “membawa cahaya ke dalam diri manusia” atau “membawa diri manusia ke dalam cahaya.” Dan, Plotinus berhasil menjalankan tugas itu dengan baik. Dibimbing oleh gurunya: Ammonius. Dibukukan oleh muridnya: Porphyry.

Pengaruh Plotinus, secara ontologi dan moral, terhadap generasi berikutnya sangat besar baik di Barat mau pun Timur. Tetapi, karena Plotinus berulangkali menyebut ajarannya sebagai Platonisme, maka orang-orang menganggap semua yang diajarkan Plotinus bersumber dari Plato. Meski benar, Plotinus sangat kuat merujuk ke Plato – dan Aristoteles, di saat yang sama, banyak ajaran orisinil dari Plotinus.

Pertama, Plotinus menolak ontologi yang menyatakan hanya ada realitas fisik belaka. Plotinus menegaskan adanya realitas spirit ideal yang lebih tinggi. Kita berasal dari Yang Maha Baik dan kebahagiaan hakiki adalah kita kembali kepada Yang Maha Baik. Kedua, untuk mencapai kebaikan hakiki maka kita perlu menjalani hidup dengan baik secara moral dan profesional. Bertahap, setiap saat, menapaki tangga yang lebih tinggi. Ketiga, jiwa manusia adalah cahaya. Maka hadirkan cahaya dalam jiwa. Atau, hadirkan jiwa dalam cahaya. Hakikat manusia adalah jiwa memancarkan cahaya bahagia.

3.2 Ontologi Timur

Berikutnya, kita akan membahas beberapa tokoh penting dari Timur yang mengembangkan ontologi dengan cemerlang. Dengan demikian, meski di Timur dominan moral, tetap saja kajian ontologi terus berkembang. Ontologi dan moral mengalun serasi dengan seimbang.

3.2.1 Ibnu Sina

Ibnu Sina (980 – 1037) adalah pemikir besar yang terkenal di Timur dan Barat – dikenal sebagai Avicenna. Ibnu Sina mendalami ontologi Plato, Aristoteles, dan Plotinus yang dilengkapi sudut pandang Al Kindi dan Al Farabi. Ketika Ibnu Sina mengalami kesulitan memahami maksud Aristoteles maka dia membaca tulisan Al Farabi. Dengan memahami Al Farabi, Ibnu Sina berhasil memahami Aristoteles.

Pertama, Ibnu Sina berhasil membuktikan eksistensi jiwa manusia yang mandiri dari badan manusia – secara ontologis. Ibnu Sina mengenalkan eksperimen pikiran “manusia terbang”. Ketika Anda di dalam ruangan, pejamkan mata Anda. Lalu bayangkan bahwa diri Anda terbang melayang-layang. Kita berhasil melakukan eksperimen pikiran itu. Jiwa kita, diri kita, tidak terikat pada badan untuk eksis. Kelak, Descartes (1596 – 1650) mengembangkan lebih jauh konsep ini dengan dualisme subtansi: jiwa dan materi.

Kedua, Ibnu Sina membedakan keniscayaan sebagai wajibul-wujud-bidzati dan wajibul-wujud-bighoirihi. Segala sesuatu perlu sebab untuk bisa eksis di alam raya ini. “Sebab” itu sendiri perlu “sebab lain” dan demikian seterusnya. Mereka, yang perlu sebab lain, adalah wajibul-wujud-bighoirihi. Analisis lebih lanjut menunjukkan adanya keharusan sebab yang mandiri yaitu wajibul-wujud-bidzati. Kelak, Leibniz (1646 – 1716) mengembangkan lebih jauh konsep ini menjadi konsep “keniscayaan” dan “kontingensi”.

Ketiga, konsep wajibul-wujud melangkah maju berhasil membuktikan eksistensi Tuhan sebagai Tuhan Yang Maha Ada, Maha Mengetahui, dan Maha Bijaksana. Saat ini, metode pembuktian dengan cara Ibnu Sina kita kenal sebagai bukti ontologis eksistensi Tuhan.

3.2.2 Suhrawardi

Suhrawardi (1154 – 1191) fokus kepada kajian ontologis paling fundamental: logika. Semua pengetahuan manusia, yang valid, didasarkan pada sistem logika yang harus valid juga. Sayangnya, sistem logika sejak Aristoteles sampai Ibnu Sina, justru, rapuh di bagian fondasi.

Apa itu manusia? Bagaimana manusia bisa mengetahui sesuatu? Seberapa meyakinkan kebenaran suatu pengetahuan?

(A): Setiap manusia bisa mati. (B): Suhrawardi adalah manusia. Maka kesimpulan yang sah adalah (C): Suhrawardi bisa mati.

Proses berpikir dari (A) dan (B) untuk menghasilkan kesimpulan (C) adalah silogisme logika yang wajar. Masalahnya, justru, bagaimana kita bisa mengetahui premis, pernyataan (A), bernilai benar? Karena, ketika, pernyataan (A) tidak meyakinkan maka semua kesimpulan logika juga tidak meyakinkan.

Suhrawardi memberi solusi dengan pendekatan logika visi-iluminasi. Pertama, realitas paling nyata adalah “cahaya” sehingga segala sesuatu perlu cahaya untuk bisa dijelaskan. Sementara, cahaya sendiri tidak memerlukan yang lain sebagai penjelas baginya. Tentu, yang dimaksud cahaya di sini bukan cahaya fisik tetapi cahaya ontologis.

Kedua, realitas cahaya berbeda-beda dalam kadar intensitas dan bentuknya. Sehingga, kita bisa menyaksikan keragaman di alam raya. Mereka, manusia dan alam raya, sama-sama cahaya, di saat yang sama, mereka berbeda-beda sesuai kadar intensitas.

Ketiga, untuk bisa mendapatkan pengetahuan (sejati), manusia perlu memiliki kemampuan melihat (visi). Kemudian menghadapkan visi ke obyek yang bercahaya, iluminasi. Di antara subyek (visi) dan obyek (iluminasi) tidak ada penghalang. Sehingga, visi dan iluminasi saling hadir membentuk satu kesatuan utuh pengetahuan sejati, knowledge by presence atau ilmu hudhuri. Pengetahuan visi-iluminasi ini bersifat pasti dan non-proposional.

Langkah selanjutnya, kita bisa mengungkapkan pengetahuan visi-iluminasi melalui simbol-simbol (perlambang) atau pernyataan proposisional (subyek – predikat). Dengan demikian, logika berhasil memperoleh fondasi pengetahuan yang kokoh.

3.2.3 Sadra

Mulla Sadra (1571 – 1635) mengembangkan sistem metafisika (ontologi) dengan canggih.

Pertama, realitas ontologis paling nyata adalah wujud. Yang ada hanya wujud. Realitas wujud adalah tunggal dan beragam. Keragaman wujud adalah identik. Dan, identitas wujud adalah beragam.

Kedua, wujud bergradasi berdasar intensitas, derajat, dan modulasi. Dengan demikian tercipta struktur wujud yang kompleks ambigu. Wujud murni adalah tunggal dan sempurna. Wujud memancar, beremanasi, kepada esensi sehingga kita memahami alam raya sebagai keragaman esensi. Tetapi, esensi hanyalah bayangan dari wujud. Realitas sejati adalah wujud yang bergradasi.

Ketiga, limpahan wujud menyebabkan gerak substansial – dan gerak aksidental. Gerak terjadi satu arah dari wujud lemah menuju wujud lebih kuat. Gerak arah melemah adalah mustahil karena wujud tidak mungkin menjadi tidak wujud. Manusia bergerak menyempurna, misal, dari sedikit ilmu menjadi banyak ilmu. Dengan kata lain, wujud ilmu manusia bergerak dari wujud lemah menjadi wujud lebih kuat. Ruang adalah efek ekstensi dari wujud. Sedangkan, waktu adalah efek dari gerak wujud – gerak substansial atau gerak aksidental.

Dengan tiga prinsip ontologi di atas, kita bisa mengembangkan sistem ontologi – dan metafisika – yang canggih, kompleks, dan dinamis.

3.3 Skepo

Mempertimbangkan luas dan dalamnya kajian ontologi moral di atas, maka, sikap apa yang terbaik bagi kita? Skepo adalah sikap yang baik. Skeptis dan positif. Skepo memiliki tiga karakter utama: penasaran, membuka judgment, dan partisipasi positif.

3.3.1 Penasaran

Sikap penasaran mengajak kita ingin tahu lebih jauh. Ketika kita mengenal ontologi Barat, maka penasaran, bagaimana lebih detilnya? Ketika ada moral Timur, kita penasaran, apa saja keunggulannya? Apa pun tema ontologi moral yang kita hadapi, sikap skepo mengajak kita untuk mempelajari lebih dalam dengan penuh antusias.

3.3.2 Membuka Judgment

Kita pasti melakukan penilaian atau judgment. Skepo mengajak kita membuka judgment. Maksudnya, setiap penilaian kita terbuka terhadap revisi untuk menghasilkan penilaian yang lebih baik. Kita perlu berpikir terbuka dengan membuka pikiran dan hati. Perkembangan sains, teknologi, seni, filosofi, dan lain-lain memberi peluang bagi kita untuk revisi setiap penilaian di setiap saat. Bahkan, kita makin gembira ketika berhasil merevisi penilaian lama dengan menghasilkan penilaian baru yang lebih baik.

3.3.3 Positif Partisipasi

Aktif berpartisipasi secara positif. Skepo mengajak kita untuk bersikap kreatif. Skepo mengajak kita antusias menerima beragam ilmu pengetahuan baik ontologi mau pun moral. Lebih dari itu, sikap skepo mendorong kita menemukan ide untuk berpartisipasi memperbaiki segala situasi. Kita perlu berpartisipasi aktif menyempurnakan ontologi dan moral.

Sebagai manusia, kita selalu berlimpah ide. Dengan bekal skepo, kita terus-menerus mengembangkan ide ontologi dan moral tiada henti.

Adil Permata Tiada Tara

Adil adalah cita-cita paling utama seluruh umat manusia. Bahkan, adil adalah cita-cita untuk seluruh alam semesta. Adil mendorong terwujudnya masyarakat sejahtera. Adil menjaga alam semesta harmoni berkelanjutan. Adil adalah permata tiada tara.

Menariknya lagi, kita semua paham apa itu adil. Meski pun, kita kadang sulit untuk mengungkapkan adil dengan kata-kata. Sementara, kita bisa merasakan bahwa sesuatu itu adil atau tidak – misal adanya kejanggalan.

Dalam kehidupan sosial, adil adalah kriteria paling utama. Menjadi landasan segala kriteria lainnya. Ketika kriteria adil dihapus maka segala kriteria positif di masyarakat menjadi kehilangan arti. Misal kehidupan masyarakat makmur tetapi tidak adil. Maka makmur menjadi tidak berarti karena di masyarakat terjadi ketidak-adilan: penindasan, pembungkaman, perkosaan, dan lain-lain. Pertumbuhan ekonomi yang tinggi juga tidak berarti bila tanpa keadilan. Ketimpangan yang kaya dan miskin makin menganga. Kecemburuan sosial mengancam kehidupan sosial.

Sehingga, kita harus membahas tema adil dengan adil.

1. Konsep Umum Adil
2. Adil sebagai Fairnes
3. Adil sebagai Dinamika
4. Cakupan Adil
5. Tanggung Jawab Etika
6. Diskusi Teori Keadilan
6.1 Justifikasi
6.2 Hasil vs Kesempatan
6.3 Dimensi
6.4 Totalitas
6.5 Distribusi
6.6 Personal vs Institusi
7. Ringkasan

Secara umum, adil adalah memberikan sesuatu sesuai haknya, sesuai ukurannya. Apa itu hak? Apa itu ukuran?

Adil adalah “fairness”, suatu kewajaran. Apa itu fairnes? Untungnya, Rawls sudah mengusulkan ukuran-ukuran fairness.

Adil adalah dinamis. Apa itu dinamis? Untungnya, kita bisa menghitung dinamika sosial dengan beragam cara.

1. Konsep Umum Adil

Sejak jaman Socrates, Plato, dan Aristoteles (abad 4 SM) adil merupakan konsep paling penting bagi manusia sebagai pribadi, masyarakat, alam raya, dan makhluk Tuhan. Demikian juga, filosofi Timur menempatkan adil pada posisi sangat tinggi misal Farabi, Ibnu Sina, Ghazali, Ibnu Arabi, dan Sadra. Di tanah air, kita mengenal konsep Ratu Adil yang menegakkan keadilan untuk seluruh warga semesta.

Adil adalah memberikan sesuatu sesuai haknya, sesuai ukurannya, demikian konsep umum adil. Plato menekankan penting harmoni ideal sebagai ukuran adil. Sementara, Aristoteles memperkuat konsep adil distributif. Segala sumber daya alam perlu disalurkan ke masyarakat secara adil merata.

Tentu saja, adil retributif menjadi dasar. Seorang pencuri wajib mengembalikan barang yang dia curi. Seorang koruptor wajib mengembalikan seluruh kekayaan korupsinya. Seorang pengusaha, dan penguasa, perlu memperbaiki kerusakan lingkungan.

Pemikir Timur, meluaskan konsep adil kepada Tuhan. Setiap manusia perlu mengabdi kepada Tuhan dengan memakmurkan bumi dan memajukan peradaban.

Secara pribadi, kita perlu adil kepada badan kita. Badan perlu istirahat dari beban kerja tiap hari. Olahraga rutin barangkali bisa memenuhi hak badan Anda. Otak perlu asupan vitamin berupa ilmu-ilmu yang luas. Hati meminta gizi hati berkualitas tinggi.

Anak Anda, istri Anda dan keluarga besar Anda, juga perlu mendapat perhatian secara adil.

Meski pun, tugas berbuat adil, tampak, begitu banyak jika kita lakukan semua justru hasilnya lebih baik bagi diri kita. Komitmen kita kepada adil menjamin kebaikan hidup bersama. Pertanyaannya, justru, bagaimana jika ada orang yang melanggar keadilan? Tentu, pelanggaran itu berdampak negatif bagi banyak orang.

Jika pelanggaran itu bersifat kriminal, misal pencurian, maka pengadilan pidana bisa menjadi solusi. Tetapi, jika pelanggaran itu berupa pelanggaran strategis, atau policy, maka apa solusinya?

Apakah pemindahan ibu kota negara (IKN) adalah adil di saat ini?
Apakah proyek kereta api cepat adalah adil bagi rakyat?
Apakah jutaan orang hidup miskin adalah adil?

Untuk menjawab pertanyaan sejenis itu kita perlu membahas konsep adil sebagai “fairness”.

2. Adil sebagai Fairnes

John Rawls (1921 – 2002) berhasil dengan gemilang merumuskan konsep adil yang nyata dalam kancah sosial politik. Sehingga, konsep adil tidak hanya pada tataran normatif. Adil sebagai “fairness” bisa dinyatakan dalam undang-undang atau konstitusi dan bisa diverifikasi secara obyektif.

Rawls menyusun dua prinsip paling mendasar – landasan adil sebagai fairness. Pertama adalah prinsip kesetaraan yang menyatakan bahwa setiap orang memiliki kebebasan yang sama, yang setara.

“Each person is to have an equal right to the most extensive total system of equal basic liberties compatible with a similar system of liberty for all”.

Kedua, prinsip tentang perbedaan. Tampak, Rawls mengakui realitas alam semesta ini dipenuhi dengan beragam perbedaan – meskipun prinsip pertama merupakan prinsip kesamaan. Untuk itu, Rawls menyusun dua prinsip perbedaan, prinsip 2a dan prinsip 2b.

 “Social and economic inequalities are to be arranged so that they are both:

(a) to the greatest benefit of the least advantaged, consistent with the just savings principle, and
(b) attached to offices and positions open to all under conditions of fair equality of opportunity.”

Termasuk kebebasan yang setara, prinsip 1 tentang kesamaan, adalah negara menjamin kebebasan setiap warga untuk bebas berpikir, bebas menentukan pilihan politik, bebas berpendapat, bebas berserikat, bebas memilih pekerjaan, dan kebebasan lain yang ditetapkan oleh negara.

Di sini, tampak jelas, prinsip dari Rawls bisa kita terapkan secara langsung dalam kehidupan bermasyarakat. Sehingga filsafat moral dan filsafat politik tidak hanya berhenti sebagai normatif. Filsafat politik bisa menjadi pegangan nyata dalam kehidupan politik.

Bercermin ke situasi Indonesia saat ini, barangkali, kita bisa menilai bahwa warga negara Indonesia sudah memiliki kebebasan dalam berpolitik, berserikat, memilih pekerjaan, dan lain-lain. Tentu itu adalah kabar baik. Khusus untuk kebebasan berpendapat, tampaknya, menjadi masalah besar bagi Indonesia dan dunia.

Kebebasan berpendapat menjadi masalah dunia dengan sering terjadinya “penghapusan” akun media sosial yang menyatakan pendapat berbeda dengan kekuatan politik tertentu. Misal akun medsos yang mengkritik presiden atau perdana menteri lalu dihapus oleh medsos. Atau akun medsos yang menyuarakan penderitaan orang-orang tertindas semisal Palestina, Kulit Hitam, Suku Asli, dan lain-lain juga terancam untuk diblokir.

Di Indonesia, ancaman pencemaran nama baik bisa lebih besar lagi. Bukan hanya akun medsos yang dihapus, tetapi sampai kepada kurungan pidana bertahun-tahun. Ancaman bagi kebebasan umat manusia. Ancaman bagi keadilan – adil makmur.

3. Adil sebagai Dinamika

Masyarakat perlu terus untuk bergerak maju. Negara perlu menjaga dinamika. Saya menambahkan prinsip dinamika, adil sebagai dinamika, prinsip ke 3 dari keadilan.

(3a) Masyarakat kelompok bawah perlu dijamin untuk terus dinamis menjadi lebih baik. Ukuran dinamika pertumbuhan, bagi kelompok bawah, dipastikan mencapai target tertentu.

(3b) Ukuran dinamika, minimal, mencakup dua parameter yang saling bertentangan.

(3c) Pertumbuhan kelas atas perlu berkontribusi kepada pertumbuhan kelas bawah.

Kita ambil contoh kasus di Indonesia. Berdasar SDG Report 2021, ada sekitar 50 juta orang Indonesia di bawah garis kemiskinan (Rp 450 ribu per bulan setara $ 3,2 US – PPP). Berdasar prinsip dinamika 3a, kelompok 50 juta orang paling miskin ini perlu kita jamin bertumbuh dinamis. Ukuran pertumbuhan bisa banyak hal. Misal dari pendapatan atau pengeluaran mereka meningkat jadi 600 ribu rupiah per bulan pada tahun berikutnya. Bisa juga, jumlah penduduk miskin yang berkurang menjadi di bawah 40 juta orang.

Dalam waktu lima tahun ke depan, diharapkan, 50 juta orang miskin di atas, berpenghasilan lebih dari 2 juta rupiah per bulan per kapita (setara 8 juta rupiah per bulan per keluarga tediri 4 orang). Atau, dalam 5 tahun ke depan, dari 50 juta orang miskin itu, tidak ada lagi yang berada di bawah garis kemiskinan.

Prinsip 3b memastikan ukuran dinamika lebih dari dua dimensi – yang bertentangan. Misal ukuran kerja yang layak. Orang miskin di atas, meski penghasilan menjadi 8 juta rupiah per bulan, menjadi tidak berarti bila mereka wajib bekerja 20 jam sehari. Jam kerja sebanyak itu tidak layak, tidak manusiawi. Sehingga ukuran kerja yang layak, dalam hal ini batasan jam kerja, menjadi kontrol terhadap pertumbuhan ekonomi. Dengan cara ini, kita berharap pertumbuhan ini bersifat harmonis.

Tentu saja, banyak alternatif parameter bisa kita kembangkan. Di antaranya kesehatan lingkungan, persepsi kebahagiaan, keanekaragaman hayati, konservasi lingkungan, dan sebagainya. Dari beragam parameteri ini, prinsip 3b, menyarankan agar kita fokus kepada dua parameter – bertentangan – yang paling penting.

Kelompok kelas atas, kelas kaya, mendapat dukungan untuk dinamis dengan prinsip 3c. Secara umum, kelas kaya mampu bertumbuh lebih dinamis dari kelas lainnya. Dan pertumbuhan kelas kaya ini, diharapkan, mendorong pertumbuhan ekonomi sosial secara umum. Dinamika pertumbuhan kelas kaya, harus, dipastikan berdampak positif terhadap dinamika kelas miskin.

Tahun 2021 ini, kita melihat pertumbuhan kekayaan orang kaya Indonesia yang luar biasa. Misal, Mas Nadiem, sebagai founder Gojek, kekayaannya bertumbuh 400 kali lipat dari semula menjadi lebih dari 4 trilyun rupiah. Demikian juga dengan William, founder Tokopedia. Yang terbaru, Zaki, founder Bukalapak, melejit kekayaannya dengan suksesnya IPO Bukalapak. Semua pertumbuhan orang-orang kaya itu sah dan baik, sejauh berdampak positif kepada orang-orang kelas bawah. Driver gojek penghasilan naik. Penjual di Tokopedia makin laris. Dan pelapak di Bukalapak makin untung.

Dinamika pertumbuhan adil makmur seperti itulah yang kita harapkan. Apakah itu yang terjadi di Indonesia?

IKN: Ibu Kota Negara

Kembali ke contoh pertanyaan awal: apakah pemindahan ibu kota negara (IKN) adalah adil?

Jawaban dari berbagai macam kajian adalah adil. Karena DKI memang sudah terlalu penuh sesak maka pemindahan IKN adalah adil. Apakah adil jika dilakukan saat ini, antara 2022 – 2024, ketika pandemi?

Pertanyaan, memang, bergeser kepada jadwal. Pandemi menyebabkan kemunduran di berbagai bidang: ekonomi, kesehatan, industri, pendidikan, dan lain-lain. Sehingga, ada yang mengusulkan, sebaiknya, Indonesia lebih fokus kepada pemulihan kondisi Indonesia saat dan setelah pandemi ini. Apakah IKN urgen?

Kita bisa menyusun beragam pertanyaan untuk dikaji lebih lanjut:

  1. Apakah IKN menjamin kesetaraan setiap warga? Apakah setiap warga bebas menyampaikan pendapat tentang IKN dan dipertimbangkan?
  2. Apakah IKN memberi keuntungan terbesar bagi masyarakat lapisan bawah? Atau hanya menguntungkan lapisan atas?
  3. Apakah IKN menghormati ragam perbedaan?
  4. Apakah IKN mendorong pertumbuhan lapisan bawah lebih dinamis?
  5. Apakah IKN memberikan pertumbuhan berimbang, mengurangi ketimpangan sosial?

Bagaimana pun sulitnya, bersikap adil, memang itu tugas manusia sejati. Kita perlu komitmen kuat untuk bersikap adil secara sosial mau pun personal. Adil adalah permata tiada tara.

4. Cakupan Adil

4.1 Universal

Adil bersifat universal; semua orang perlu adil; bahkan, terhadap semua dunia, kita perlu adil.

(a) Semua orang bisa berbuat adil dan, dan di saat yang sama, mereka bisa melanggar keadilan. Adil adalah universal. Selain manusia, misal kucing, tidak bisa berbuat adil pun kucing tidak bisa melanggar keadilan; kucing memang sudah begitu adanya.

(b) Tuntutan untuk berlaku adil adalah mencakup adil terhadap diri sendiri, terhadap orang lain, dan terhadap seluruhnya; baik dalam jarak dekat atau jauh; baik dalam rentang masa depan atau masa lalu; baik terpengaruh langsung atau pun tak langsung.

(c) Adil adalah prinsip universal yang sangat penting tetapi bukan satu-satunya. Ada prinsip penting lainnya misal: berbuat baik, memberi maaf, simpati-empati, memahami perspektif orang lain, pengorbanan, dan lain-lain.

Sore itu, halaman sekolah mulai lengang setelah pengumuman pemenang lomba karya ilmiah. Arga berdiri memandangi papan pengumuman dengan perasaan campur aduk. Di sampingnya, Nara menggenggam map berisi rancangan penelitian yang selama berminggu-minggu mereka kerjakan bersama. Namun, nama yang terpampang sebagai pemenang hanya milik Dimas, teman satu kelompok mereka yang diam-diam mengirimkan hasil kerja itu atas namanya sendiri. Mata Nara memerah menahan amarah. “Aku akan melaporkannya dan memastikan dia dikeluarkan dari lomba. Dia pantas menerima akibatnya,” katanya dengan suara bergetar.

Arga memahami kemarahan itu karena ia pun merasa dikhianati. Ia mengingat malam-malam ketika mereka bertiga begadang menyusun data dan memperbaiki laporan, sementara Dimas berjanji akan mengirimkan berkas terakhir. “Kita memang harus memperjuangkan hak kita,” ujar Arga pelan. “Tapi jangan sampai kemarahan membuat kita bertindak di luar batas.” Nara menatapnya dengan kesal. “Apa setelah semua yang dia lakukan, kamu masih ingin bersikap baik?” Arga menggeleng. “Bersikap adil bukan berarti membiarkan kesalahan. Justru karena adil, kita harus menyelesaikannya dengan cara yang benar.”

Keesokan harinya mereka menemui guru pembimbing sambil membawa draf asli, catatan revisi, dan riwayat percakapan yang membuktikan bahwa karya itu disusun bersama. Guru kemudian memanggil Dimas untuk memberikan penjelasan. Dengan wajah tertunduk, Dimas mengakui bahwa ia takut kalah dan tergoda mengambil seluruh penghargaan untuk dirinya sendiri. Ruangan itu dipenuhi keheningan. Arga melihat penyesalan di wajah temannya, sementara Nara masih berusaha menahan kecewa. Saat itulah Arga menyadari bahwa keadilan bukan hanya tentang dirinya atau Nara, tetapi juga tentang menjaga kejujuran sekolah, menghormati usaha setiap peserta, dan melindungi kesempatan bagi siapa pun yang bekerja dengan jujur, sekarang maupun di masa depan.

Setelah mempertimbangkan semua bukti, pihak sekolah membatalkan kemenangan Dimas dan menetapkan bahwa karya tersebut adalah hasil kerja bersama yang diijinkan sesuai aturan lomba. Dimas juga diwajibkan menyampaikan permintaan maaf secara terbuka dan mengikuti pembinaan tentang integritas akademik. Seusai pertemuan, Nara berkata lirih, “Ternyata aku masih merasa kasihan melihatnya.” Arga mengangguk. “Keadilan memang harus ditegakkan, tetapi hidup tidak berhenti di sana. Kalau dia sungguh menyesal, dia juga berhak mendapat kesempatan untuk berubah.” Nara mulai memahami bahwa keadilan tidak menghapus kebaikan, pengampunan, dan empati, melainkan berjalan berdampingan dengan semuanya.

Dalam perjalanan pulang, matahari mulai tenggelam di balik pepohonan sekolah. Nara tersenyum tipis setelah hari yang melelahkan. “Sekarang aku mengerti,” katanya. “Berlaku adil bukan berarti membalas rasa sakit, tetapi memastikan setiap orang menerima apa yang semestinya tanpa kehilangan kemanusiaannya.” Arga mengangguk pelan. Mereka sadar bahwa setiap manusia dapat memilih untuk berbuat adil atau melanggar keadilan. Karena itulah, keadilan bukan sekadar aturan yang menjaga hubungan antarmanusia, tetapi juga kompas yang menuntun setiap keputusan. Ketika keadilan berjalan bersama kebaikan, empati, dan pengampunan, bukan hanya satu orang yang diselamatkan, melainkan seluruh lingkungan tempat manusia hidup bersama.

Kisah di atas melukiskan prinsip penting adil yang universal dan tetap terbuka terhadap kebaikan lainnya: adil memang paling penting dalam kehidupan bersama tetapi bukan satu-satunya. Kita perlu mempertimbangkan realitas konkret untuk bersikap adil.

4.2 Konkret

Adil bersifat konkret sesuai situasi masing-masing orang.

(a) Adil adalah memberi hak-hak secara konkret kepada warga lemah misal untuk tetangga saya bernama Lanang (bukan nama sebenarnya). Ia bekerja keras tiap hari; pagi jam 6 ia pergi ke pasar untuk belanja bahan; pulang sekitar jam 8; kemudian masak bakso sampai sekitar pukul 14; lanjut berjualan bakso dengan gerobak dorong sampai larut malam pukul 23 atau bahkan dini hari. Ritme itu berulang 7 hari dalam tiap pekan dengan penghasilan Lanang yang tidak layak. Rumah, ia tidak mampu beli; hanya menyewa kamar sederhana dengan dapur.

Para tetangga membantu Lanang untuk meringankan beban; dan agar memperoleh hak-haknya. Ada kemajuan tetapi masih jauh dari yang diharapkan. Anak semata wayang dari Lanang berhasil lulus SMA; mendapat pekerjaan yang lumayan untuk meringankan beban Lanang dan keluarga.

Keadilan konkret bagi Lanang berbeda dengan keadilan bagi Jeff Bezos; bos Amazon yang super kaya itu. Lanang membutuhkan keadilan yaitu menerima haknya berupa penghasilan yang layak agar ia bisa hidup layak bersama keluarganya. Bagi Bezos, keadilan adalah ia berhak memperoleh kekayaan super besar kemudian ia wajib medistribusikannya secara adil kepada seluruh karyawan dan masyarakat sekitar.

(b) Keadilan konkret bagi orang super kaya adalah berbeda. Seperti banyak dibicarakan bahwa terjadi debat panas antara Bezos lawan Mamdani (wali kota New York).

“Amazon bernilai sekitar 2 triliun dolar AS. Namun, perusahaan itu bahkan tidak mau membayar jutaan dolar denda yang terus menumpuk akibat truk-truknya yang secara ilegal mencemari udara kita dan memaksa warga New York menghirup asap buangannya,” kata Mamdani dalam sebuah pernyataan.

“Kami akan menagih setiap dolar yang menjadi kewajiban mereka kepada masyarakat kota ini.” (novaramedia.com).

Orang kaya melanggar keadilan ketika tidak membayar pajak, menghindari pajak, atau mengatur ulang undang-undang pajak demi keuntungan dirinya.

(c) Keadilan pemimpin politik berbeda lagi. Trump bisa saja klaim dirinya adil ketika memutuskan untuk menyerang manca negara. Tetapi serangan itu tidak adil bagi korban yang kena dampak serangan. Pemimpin negara, semisal Trump, memang adil dan hak untuk menggunakan sumber daya negara untuk kebaikan warga dan alam sekitar. Bagaimana pun hak itu menuntut tanggung jawab besar secara adil.

4.3 Relasi

Adil bersifat relasional; struktural; jika ada yang dominan maka ada yang didominasi; jika adil di suatu lokasi maka berdampak adil ke lokasi sekitar.

(a) Ketika negara adi daya mendominasi maka ada negara yang menjadi korban dominasi; terjadi pelanggaran terhadap keadilan. Apa pun argumen dari negara adi daya, tetap saja, dominasi tidak adil.

(b) Ketika pejabat atau pengusaha memperoleh keuntungan super besar maka ada warga lemah yang menderita kekurangan sumber daya kehidupan; ini sejenis pelanggaran keadilan relasional. Contoh pelanggaran terhadap adil relasional bisa diperluas: ayah yang mendominasi anggota keluarga; suku kuat yang mendominasi suku lain; lelaki yang mendominasi wanita; garis keturunan yang mendominasi; ketua yang mendominasi anggota; dan lain-lain.

(c) Banyak yang bercanda meski serius: andai Bill Gates mendonasikan seluruh kekayaannya untuk amal; kemudian ia membangun bisnis lagi dari nol maka Bill Gates akan menjadi kaya lagi dalam 5 atau 7 tahun. Mengapa? Karena Bill Gates berada dalam relasi dan struktur yang mendukung ia untuk menjadi kaya.

Pemikiran arah sebaliknya juga sering dibicarakan: andai orang-orang miskin itu diberi gratis kekayaan berlimpah, misal uang 700 juta rupiah per orang, maka dalam waktu kurang dari 5 tahun mereka akan miskin kembali. Karena miskin bukan sekadar urusan pribadi melainkan urusan relasi dan struktur ekonomi.

Tantangan kita lebih dari sekadar distribusi kekayaan-politik yang adil melainkan membangun struktur ekonomi-politik yang adil juga.

5. Tanggung Jawab Etika

Adil adalah etika way of life. Kita perlu hidup secara adil; hidup sehari-hari mau pun kehidupan profesional.

Adil adalah teori, pengetahuan, dan wawasan. Karena itu kita perlu mengembangkan teori keadilan dengan canggih. Adil adalah karakter kebajikan. Karena itu kita perlu membangun karakter diri yang adil setiap waktu. Adil adalah cita-cita sosial politik tertinggi. Karena itu kita perlu menerapkan keadilan dalam teori mau pun praktek sosial politik.

Tanggung jawab etika keadilan bukan sekadar kewajiban eksternal yang datang dari luar diri kita — dari hukum, dari negara, atau dari tekanan sosial. Tanggung jawab itu tumbuh dari dalam, dari kesadaran bahwa setiap tindakan kita, sekecil apapun, adalah bagian dari struktur relasional yang lebih besar. Ketika kita membeli produk tanpa peduli siapa yang memproduksinya dan dalam kondisi apa, kita turut membangun atau meruntuhkan struktur keadilan itu. Ketika kita diam saat ketidakadilan terjadi di depan mata, diam itu bukan netral — diam adalah pilihan yang memperkuat struktur yang ada. Etika keadilan menuntut kita untuk sadar bahwa tidak ada posisi yang benar-benar netral dalam struktur ekonomi-politik yang timpang.

Karena itu, membangun karakter yang adil bukan proyek sekali jadi melainkan latihan seumur hidup. Seperti otot yang hanya kuat bila dilatih setiap hari, karakter adil hanya tumbuh bila diuji dalam keputusan-keputusan kecil sehari-hari: apakah kita jujur dalam pelaporan, apakah kita menghargai kontribusi orang lain yang sering tak terlihat, apakah kita berani mengatakan tidak pada keuntungan yang diperoleh dengan cara yang merugikan pihak lain. Teori keadilan yang paling canggih pun akan menjadi hampa bila tidak dihidupi dalam karakter nyata. Sebaliknya, karakter yang adil tanpa wawasan teori akan mudah termanipulasi oleh narasi yang menyebut ketidakadilan sebagai kewajaran — sebagai hukum alam, sebagai takdir, atau sebagai buah kerja keras semata.

Maka tantangan kita yang sesungguhnya adalah menyatukan ketiga lapisan itu: teori yang tajam, karakter yang teguh, dan transformasi struktur yang nyata. Teori tanpa karakter melahirkan sinisme — orang yang tahu segalanya tentang keadilan tetapi tidak bergerak. Karakter tanpa teori melahirkan idealisme yang mudah dipatahkan oleh kompleksitas realitas. Dan keduanya, teori maupun karakter, akan sia-sia bila tidak diarahkan pada perubahan struktur yang memungkinkan keadilan bukan sekadar pengecualian bagi yang beruntung, melainkan kondisi kehidupan bagi semua. Di sinilah kopanarko menemukan makna etisnya yang paling dalam: ia bukan hanya strategi kepemimpinan, melainkan komitmen bersama untuk membangun struktur di mana setiap orang — bukan hanya yang kuat, bukan hanya yang terhubung — dapat hidup secara adil dan bermartabat.

Sebuah Warung di Tepi Jalan

Mira membuka warung makan kecil di sudut gang sejak lima tahun lalu. Setiap pagi ia bangun pukul empat, memasak sendiri, melayani sendiri, dan menutup warung lewat tengah malam. Ia rajin, jujur, dan tidak pernah mengurangi takaran. Tetapi penghasilannya hampir tidak pernah cukup. Ketika ditanya mengapa, ia hanya menjawab: “Mungkin saya kurang berusaha keras.” Ia tidak tahu bahwa tiga minimarket waralaba baru telah membuka cabang di sekitar gangnya dalam dua tahun terakhir — masing-masing dimodali miliaran rupiah, memiliki sistem distribusi nasional, dan mampu menjual lebih murah karena membeli dalam jumlah besar. Mira bukan kalah karena malas. Ia kalah karena struktur.

Pak Hendra, pemilik salah satu waralaba itu, juga rajin dan juga jujur. Ia bangun pagi, bekerja keras, dan memang layak atas keberhasilannya. Tetapi ia tidak pernah bertanya dari mana modalnya berasal — warisan tanah kakeknya yang dulu diperoleh di zaman ketika harga tanah ditentukan oleh relasi dengan aparat, bukan oleh mekanisme pasar yang adil. Ia tidak jahat. Ia hanya tidak pernah melihat bahwa kesuksesannya berdiri di atas fondasi yang tidak pernah ia bangun sendiri. Ketika ada yang menyebut soal ketimpangan, ia mengangguk sopan lalu berkata: “Semua orang punya kesempatan yang sama kok, asal mau berusaha.”

Suatu hari, seorang mahasiswa bernama Danu datang ke warung Mira untuk mengerjakan skripsi tentang ekonomi informal. Ia mewawancarai Mira selama dua jam, mencatat semua kesulitannya, lalu menulis laporan yang sangat baik — penuh teori, penuh data, penuh kutipan dari ekonom ternama. Laporan itu mendapat nilai A. Tetapi Danu tidak pernah kembali ke warung itu. Ia tidak pernah bertanya pada dirinya sendiri: apa yang bisa ia lakukan, bukan sebagai peneliti, melainkan sebagai manusia yang kini tahu? Teorinya tajam, tetapi karakternya belum selesai dibentuk.

Beberapa bulan kemudian, seorang ibu bernama Sari — tetangga Mira yang juga berjualan kecil-kecilan — mengajak beberapa pedagang gang itu untuk berkumpul setiap Jumat malam. Tidak ada agenda besar. Mereka hanya berbagi informasi: siapa pemasok yang jujur, bagaimana menegosiasikan harga bersama, bagaimana mendaftarkan usaha agar bisa mengakses kredit murah. Pelan-pelan, mereka tidak lagi bersaing satu sama lain — mereka mulai saling menopang. Warung Mira mulai punya pelanggan tetap yang datang bukan hanya karena harga, tetapi karena merasa menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar dari sekadar transaksi.

Setahun kemudian, gang itu sedikit berbeda. Belum adil sempurna — minimarket waralaba masih ada, struktur ekonomi belum berubah, dan Mira masih bangun pukul empat. Tetapi ada sesuatu yang telah bergeser: para pedagang kecil itu tidak lagi menyebut kemiskinan mereka sebagai takdir pribadi. Mereka mulai melihat bahwa keadilan bukan hadiah yang datang dari atas, melainkan sesuatu yang harus dibangun bersama — dari karakter masing-masing, dari pengetahuan yang dibagikan, dan dari keberanian untuk mengubah, sedikit demi sedikit, struktur yang selama ini dianggap tidak bisa disentuh.

Adil adalah tugas besar bagi seorang manusia dan ia pula yang menjadikan seorang manusia sebagai manusia besar.

6. Diskusi Teori Keadilan

Amartya Sen (1933 – ) mengembangkan teori keadilan berdasar kemampuan atau kapabilitas. Kita akan mendiskusikan teori keadilan dengan mengambil contoh teori keadilan kapabilitas. SEP memberikan pembahasan yang sistematis.

“The capability approach is a theoretical framework that entails two normative claims: first, the claim that the freedom to achieve well-being is of primary moral importance and, second, that well-being should be understood in terms of people’s capabilities and functionings. Capabilities are the doings and beings that people can achieve if they so choose — their opportunity to do or be such things as being well-nourished, getting married, being educated, and travelling; functionings are capabilities that have been realized. “

“Pendekatan kapabilitas merupakan kerangka teoritis yang mencakup dua klaim normatif: pertama, klaim bahwa [1] kebebasan untuk mencapai kesejahteraan merupakan kepentingan moral utama dan, kedua, bahwa [2] kesejahteraan harus dipahami dalam konteks kemampuan dan fungsi manusia. [a] Kemampuan adalah tindakan dan keberadaan yang dapat dicapai manusia jika mereka memilihnya — kesempatan mereka untuk melakukan atau menjadi hal-hal seperti mendapatkan gizi yang baik, menikah, mengenyam pendidikan, dan bepergian; [b] fungsi adalah kemampuan yang telah terwujud.”

6.1 Justifikasi

“First, a theory of justice needs to explain on what basis it justifies its principles or claims of justice.”

Teori perlu menjelaskan atas dasar apa prinsip dan klaim keadilan. Keadilan agama paling jelas untuk justifikasi yaitu adil didasarkan kepada kitab suci atau ajaran agama tersebut. Bagaimana pun, ajaran agama berupa “bahasa” sehingga perlu interpretasi. Sehingga muncul pertanyaan, “Interpretasi mana yang adil?”

Teori keadilan konstitusional bisa menjawab klaim adil berdasar teks konstitusi. Tentu saja, klaim ini menghadapi dua pertanyaan berat: [a] apakah konstitusi tersebut adil? [b] interpretasi mana yang adil?

Pertanyaan justifikasi adalah pertanyaan filosofis sehingga kita bisa terus mengkajinya tanpa henti.

6.2 Hasil vs Kesempatan

“Second, as indicated above, in developing a capability theory of justice we must decide whether we want it to be an outcome or an opportunity theory, that is, whether we think that we should assess injustices in terms of functionings, or rather in terms of capabilities, or a mixture.”

Teori keadilan perlu memutuskan apa yang perlu diperhitungkan: [a] hasil yang adil; atau [b] kesempatan yang adil; atau [c] kombinasi hasil dan kesempatan.

Liberal, atau libertarian, cenderung menguatkan kesempatan yang adil. Sosialis cenderung menguatkan hasil yang adil. Pancasila kombinasi sila 2 dan sila 5. Mana yang terbaik? Teori kapabilitas tampaknya mengutamakan untuk memberi kesempatan setiap warga agar mengembangkan kapabilitas sesuai freedom. Pada tahap akhir, teori kapabilitas mementingkan beragam fungsi (ke-berfungsi-an) hasil dari penerapan kapabilitas. Jadi, teori kapabilitas merupakan kombinasi; dengan porsi lebih besar terhadap kapabilitas dibanding fungsi.

6.3 Dimensi

“Third, a capability theory of justice will need, just as all other theories that are derived from the general and underspecified capability approach, to address the issue of selecting, quantifying and aggregating of dimensions.”

Teori keadilan perlu menetapkan dimensi apa saja yang perlu diukur. Umumnya, faktor ekonomi menjadi ukuran utama semisal pendapatan per kapita, misal liberal. Sosialis akan mengusulkan ukuran kesenjangan. Kapabilitas mengusulkan HDI (human development index). Bagaimana pun akan tersedia beragam dimensi dan beragam cara mengukur. Bagaimana cara menggabungkan semua dimensi?

(a) Statistik paling sering digunakan untuk mengukur, misalnya, GDP atau pendapatan perkapita. Sangat mudah bohong dengan statistik; tetapi juga lebih mudah membongkar kebohongan dengan statistik. Pendapatan perkapita Indonesia di kisaran 7 juta rupiah per orang per bulan; atau setara per keluarga 28 juta rupiah per bulan; angka yang sangat bagus. Itu adalah angka rata-rata (mean).

Jika kita kita ganti rata-rata dengan nilai kebanyakan (modus) maka diperoleh 1 sampai 5 juta rupiah perkapita; atau setara 4 juta rupiah per bulan per keluarga. Itu angka yang buruk: ada sekitar 135 juta penduduk Indonesia yang pendapatannya di bawah 4 juta rupiah untuk bertahan hidup tiap bulan sekeluarga 4 orang. Andai mereka harus membayar sewa rumah 1 juta; membayar listrik, internet, dan gas total 1 juta; maka bagaimana mereka membayar biaya makan, pendidikan, kesehatan, transportasi, dan lain-lain untuk satu bulan penuh? [Angka-angka di atas bisa dikoreksi berdasar data faktual yang disepakati].

Bahkan untuk ukuran statistik yang sama, nilai pemusatan, kita perlu sudut pandang yang adil: mean (rata-rata), median (nilai tengah), atau modus (nilai kebanyakan).

(b) Statistik penyebaran; secara alamiah penyeimbang statistik pemusatan. Dalam ekonomi-politik sering digunakan rasio Gini, rasio Palma, dan kurva Lorent. Saya mengembangkan rasio Paman (rasio N) yang lebih mudah dihitung, direvisi real-time, dan mampu merepresentasikan rasio Gini, Palma, mau pun Lorent.

Rasio N = 2,3 untuk Indonesia menunjukkan ketimpangan besar lebih dari ketimpangan kuadrat (N = 2). Dengan kata lain, terjadi pelanggaran keadilan. N = 1 adalah tidak ada ketimpangan; homogen; semua sama; hanya ada secara teorits. N = 2 terjadi ketimpangan kuadrat; N = 3 terjadi ketimpangan kubik; sangat timpang, lebih timpang dari ketimpangan kuadrat. Teori keadilan menyarankan Indonesia menurunkan N = 2,3 menjadi N = 1,5 atau lebih kecil lagi.

(c) Kombinasi beragam teori. Dari beragam teori keadilan kita bisa menyusun nilai agregat atau kombinasi dari semuanya. Akan terjadi perdebatan penting bagaimana memilih dimensi, pembobotan, dan perhitungan. Proses ini melibatkan banyak aspek interpretasi sehingga dengan pendekatan formal analitik saja tidak akan memadai.

Diharapkan, pada akhirnya, akan diperoleh nilai agregat tunggal untuk teori keadilan. Tetapi nilai tunggal tidak pernah cukup maka tetap perlu dilengkapi dengan nilai penyebaran. Dan lebih bagus lagi, hasil akhir perlu menampilkan “peta teori keadilan” yang bermakna. Sehingga tidak ada dominasi nilai agregat terhadap teori keadilan minor apa pun. Pengukuran teori keadilan itu sendiri harus adil.

Sebagaimana kita semua memahami: keadilan tidak bisa direduksi menjadi data; keadilan melampaui semua ukuran. Kita sudah membahas di atas, keadilan bersifat universal, konkret, dan struktural.

6.4 Totalitas

“Fourth, a capability theory of justice may need to address other ‘metrics of justice’.”

Bagaimana pun tidak akan pernah ada teori keadilan yang 100% sempurna. Awalnya, teori kapabilitas adalah kritik terhadap Rawls. Jadi, asumsi awal, teori kapabilitas melampaui teori Rawls. Tidak bisa setegas itu. Teori Rawls lebih unggul dalam keadilan politik, misalnya. Konsekuensinya, suatu teori keadilan perlu mempertimbangkan totalitas dengan beragam teori alternatif. Lebih-lebih bila kita mengkaji secara filosofis maka histori dari teori menjadi sangat penting. Jangan sekali-kali melupakan sejarah.

6.5 Distribusi

“Fifth, a capability theory of justice needs to take a position on the ‘distributive rule’ (Anderson 2010: 81) that it will endorse: will it argue for plain equality, or for sufficiency, or for prioritarianism, or for some other (mixed) distributive rule?”

Teori keadilan perlu menetapkan bagaimana bentuk konkret distribusi? Apakah semua perlu dibagi sama rata? Atau ada batas minimal yang harus dimiliki, dan batas maksimal? Atau ada pihak-pihak tertentu mendapat prioritas?

6.6 Personal vs Institusi

“Sixth, a capability theory of justice needs to specify where the line between individual and collective responsibility is drawn, or how it will be decided, and by whom, where this line will be drawn.”

Apa tanggung jawab lembaga? Apa tanggung jawab individu? Bagaimana menentukan batas-batas?

7. Ringkasan

Tema keadilan tampak sangat luas. Sehingga sulit, bagi kita, untuk meringkas tema keadilan. Barangkali, kita bisa menekankan bahwa adil perlu ditegakkan secara formal institusional. Dari sisi personal, masing-masing dari kita perlu menjalani hidup hari demi hari dengan sikap adil. Di antara gerak keadilan personal-institusional inilah gerakan panarko-kopanarko menjadi sangat penting; yang saya bahas di tulisan lain.

Sebagai teori, keadilan selalu bisa dikritik. Sebagai politik, keadilan selalu bisa diperdebatkan. Sebagai realitas, keadilan adalah panggilan manusiawi.

Bagaimana menurut Anda?

Cinta Pertama

Cinta pertama begitu mempesona. Cinta pertama memberi bahagia kepada kita semua. Cinta adalah yang paling utama dan pertama. Kita datang dari cinta dan pulang kembali kepada cinta. Menelusuri jalan cinta.

Jalan Cinta Masa Depan - Foto gratis di Pixabay

Setiap menghela nafas adalah nafas cinta. Setiap mata memandang adalah pandangan cinta. Setiap hati berbisik adalah bisikan cinta.

Ketika cinta begitu mempesona, mengapa banyak orang melupakannya?

1. Pertama dan Utama
2. Filosofi Cinta Mendua
3. Tanpa Cinta untuk Apa

Cinta tidak pernah sirna. Cinta tak pernah musnah. Cinta tak akan retak. Tapi, cinta bisa meredup, bisa melemah, dan bisa salah arah. Pada tulisan ini, kita akan membahas cinta secara filosofi, dengan harapan, bisa lebih mencerahkan cinta di setiap detik hidup kita.

1. Pertama dan Utama

Pertama, kita hadir di dunia karena cinta kedua orang tua kita. Ayah cinta kepada ibu. Ibu cinta kepada ayah. Hadirlah buah cinta mereka yaitu diri kita. Ayah-ibu penuh cinta menyambut hadirnya si kecil kita. Kita, sejak lahir itu, juga cinta kepada ayah-ibu. Segalanya, hanya ada cinta.

2. Filosofi Cinta Mendua

Cinta tidak bisa dibagi dua. Cinta hanya bisa berlipat menjadi dua. Dengan adanya dua cinta ini maka kita menemukan tak terhingga banyaknya cinta. Perhatikan ketika ada dua lambang bilangan 0 dan 1, misalnya, maka kita bisa menyusun banyak bilangan hanya dengan angka 0 dan 1 itu. Teknologi digital adalah teknologi yang hanya menggunakan angka 0 dan 1.

Demikian juga dengan filosofi cinta, berlipat menjadi dua: falsafah dan hikmah. Falsafah memberi cinta sayap rasional penuh ketelitian. Sedangkan, hikmah memberi cinta sayap spiritual penuh keluasan. Kombinasi falsafah dan hikmah melahirkan lebih banyak filosofi cinta tak terbatas.

3. Tanpa Cinta untuk Apa

Hanya cinta yang memberi makna. Bahkan, di surga, juga berlimpah cinta. Atau, cinta mencipta dunia menjadi surga. Tanpa ada cinta, untuk apa semua yang ada?

Pada bagian akhir tulisan ini, saya akan merumuskan filsafat dari yang abstrak sampai yang kongkrit dengan meminjam konsep 3P: Perempuan, Parfum, Pengeran.

Ibnu Arabi (1165 – 1240) mengakhiri karya filsafat terbaiknya, The Bezel of Wisdom, dengan konsep metafisika cinta yang jelas. Berfilsafat adalah jatuh cinta. Hidup yang penuh cinta adalah hidup dalam hikmah filsafat. Filsafat adalah jatuh cinta kepada perempuan, parfum, dan Pengeran.

3.1 Perempuan

Ingatkah ketika Anda jatuh cinta? Hidup terasa berbunga-bunga. Hanya ada bahagia. Hanya ada cinta.

Filsafat adalah jatuh cinta kepada perempuan Anda. Filsafat adalah mencintai istri Anda sepenuh hati. Bukan hanya jatuh cinta pada pandangan pertama waktu itu, tetapi, jatuh cinta dalam abadi. Filsafat adalah hidup, dari cinta menuju cinta, bersama cinta.

Istri Anda adalah perempuan. Ibu Anda adalah perempuan. Barangkali, anak Anda juga perempuan. Filsafat mengajak Anda mencintai mereka. Di saat yang sama, mereka mencintai Anda. Cantiknya perempuan adalah simbol cantiknya semesta. Mencintai perempuan adalah mencintai semesta. Memberikan yang terbaik untuk semesta. Dan, menerima yang terbaik dari semesta.

Apa pun mazhab filsafat yang Anda pegang, harus mengajak Anda mencintai, dan dicintai, perempuan. Jika tidak, barangkali, Anda perlu melakukan kritik tajam terhadap filsafat Anda atau silakan berganti madzhab filsafat.

Perempuan bisa bermakna pasangan. Jika Anda seorang istri, maka filsafat mengajak Anda untuk jatuh cinta kepada suami abadi. Filsafat adalah cinta suci yang abadi. Filsafat ada di sini.

3.2 Parfum

Harum semerbak mewangi. Tak terlihat. Tak tersentuh. Tak terduga. Parfum menebarkan aroma wangi ke alam sekitar.

Filsafat, barangkali, tak terlihat, tak tersentuh, dan tak terpikirkan. Tetapi, aroma harum filsafat harus semerbak memenuhi semesta. Jika Anda mengkaji filsafat tapi tidak menebarkan aroma wangi maka Anda perlu kritik filsafat yang tajam. Atau, Anda bisa mempertimbangkan pindah madzhab filsafat. Karena, filsafat sejati senantiasa menebarkan aroma wangi.

Filsafat mengarahkan sains untuk terus tumbuh berkembang. Filsafat mengarahkan teknologi menyuburkan bumi. Filsafat mengarahkan ekonomi lebih manusiawi. Filsafat bersahabat dengan agama. Filsafat berteman dengan logika. Filsafat menebarkan aroma cinta bagi seluruh semesta.

Parfum adalah benda padat atau cair yang kasat mata. Aroma wanginya menyeruak tanpa terlihat mata. Filsafat mengkaji segala sesuatu yang ada di depan mata. Di saat yang sama, filsafat terbang tinggi melebihi penglihatan dua bola mata.

3.3 Pengeran

Dalam bahasa Jawa, Pengeran bermakna sebagai Tuhan. Filsafat mengajak kita jatuh cinta kepada perempuan, parfum, dan yang sangat pentig, kepada Pengeran, Tuhan.

Pengeran, adalah Sang Maha Cinta, yang bermanifestasi di seluruh penjuru semesta. Perempuan adalah manifestasi cinta. Parfum adalah manifestasi cinta. Pengeran adalah Maha Cinta.

Bagaimana dengan orang ateis yang tidak percaya Tuhan? Misal, Richard Dawkins tidak percaya Tuhan. Dia lebih percaya kepada probabilitas. Maka, tugas dia untuk merumuskan probabilitas agar layak, dia, jatuh cinta padanya.

Jika filsafat tidak mengantar Anda jatuh cinta kepada Pengeran maka Anda boleh melakukan kritik tajam terhadap filsafat. Atau, seperti sebelumnya, Anda bisa pindah ke filsafat madzhab cinta.

Filsafat mengantar kita jatuh cinta kepada Pengeran. Sejatinya, Pengeran senantiasa mencintai kita. Pengeran mencintai alam raya. Kita, selamanya, ada dalam naungan cinta Sang Maha Cinta.