History of Philosophy: Perspektif Dinamis

Akhir dari sejarah ada tiga. Pertama, Fukuyama (1952 – ) menyatakan akhir dari sejarah adalah demokrasi kapitalis. Pada tahun 1990an, tembok Berlin runtuh, dan Uni Soviet juga sudah runtuh. Maka, secara efektif, komunisme sudah hancur di bumi ini. Sehingga, hanya ada satu tatanan sejarah dunia: demokrasi-kapitalis. Tampaknya, Fukuyama sudah menganggap tiada tatanan monarki, teokrasi, dan lain-lain. Akhir dari sejarah adalah demokrasi-kapitalis.

The End of History | Wookieepedia | Fandom

Kedua, Vattimo (1936 – ) menyatakan sejarah sudah berakhir dengan hadirnya media digital. Masing-masing orang punya sudut pandangnya sendiri terhadap suatu kejadian. Begitu juga, masing-masing orang punya sudut pandangnya sendiri terhadap suatu sejarah. Jadinya, sejarah sudah berakhir. Dulu, sebelum era digital, penguasa bisa menulis satu jenis sejarah. Kemudian memaksakan satu sejarah itu diterima oleh masyarakat luas. Saat ini, meski ada satu jenis sejarah seperti itu, masing-masing orang bebas menciptakan sejarah dengan versi berbeda-beda.

Ketiga, setiap akhir sejarah adalah awal dari sejarah. Sehingga, sejarah memang berakhir, di saat yang sama, sejarah baru dimulai. Sebut saja Fukuyama benar. Semua sejarah selain demokrasi telah runtuh. Maka, demokrasi sebagai akhir sejarah, memulai babak baru sebagai penuntun sejarah tunggal. Nyatanya, demokrasi terpecah belah tidak tunggal lagi. Demokrasi kiri, tengah, kanan, dan variasi di antara mereka. Benar-benar sejarah demokrasi yang baru.

Anggap saja Vattimo juga benar. Era digital mengakhiri sejarah tunggal. Jalannya sejarah terpecah belah sesuai perspektif subyek di era digital. Benarkah, di era digital, sejarah selalu terpecah belah? Saat ini saja, korporasi raksasa mulai mengendalikan dunia digital. Arah sejarah tampak mulai diarahkan ke satu arah tertentu. Dengan berkembangnya artificial intelligence bisakah arah sejarah manusia ditentukan oleh AI tersebut? Bila demikian, terbentuk sejarah baru, lagi. Sejarah umat manusia yang didominasi oleh AI.

Sejarah dan Filsafat

Sejarah dan filsafat membentuk satu kesatuan yang saling mengikat.

KAJIFI: KAJIan FILSAFAT MEMATIKANMU

Aksiologi: Filsafat Mematikan Anda

Mengkaji filsafat menjadikan Anda mati. Mati dari kehidupan sehari-hari. Untuk berbalik menghidupkan hari demi hari. Anda hidup dengan pertanyaan. Sejak lahir, bayi, Anda selalu bertanya tentang apa saja. Anda terlahir sebagai filsuf. Dan, mati sebagai filsuf. Serta, menjalani hidup sebagai filsuf. Mati sebelum mati.

Being & Freedom: Content – Trik 7 Detik PamanAPiQ.com

Ontologi: Ada-ada Saja

Epistemologi: Anda Tahu bahwa Anda Tahu Apa

Berikut beberapa video tentang kajian filsafat.

Filsafat Cinta

Filsafat Matematika

Filsafat Kritik

Filsafat Dinamis

Filsafat Terbaru

Realitas Kebenaran Sejati Terbukti

Apa realitas kebenaran sejati? Tuhan adalah kebenaran sejati. Begitu, kira-kira, jawaban dari perspektif agama. Sementara, orang-orang yang materialis, orang yang memandang realitas adalah materi, maka realitas kebenaran sejati adalah partikel-partikel fundamental pembentuk materi alam raya. Benarkah begitu? Masih ada banyak alternatif jawaban.

Whizolosophy | The Illusion Of Time; Does Time Exist In Fundamental Reality?

Realitas sejati hanyalah ilusi. Di dunia ini tidak ada apa-apa. Yang tampak di luar seperti meja, pohon, mobil, dan lain-lain adalah ilusi dari pikiran kita. Realitas adalah ilusi pikiran manusia. Dan, manusia, kita sendiri, juga merupakan ilusi. Demikian, kira-kira, pandangan skeptis-idealis.

Realitas sejati di alam raya adalah simulasi komputer super canggih. Kita adalah karakter-karakter pelaku dalam game simulasi kehidupan. Karakter dalam game berjuang untuk memenangkan petualangan. Demikian juga, kita, merasa berjuang untuk meraih mimpi, cita-cita tertinggi. Kita tidak sadar bahwa, sebenarnya, kita hanya ada dalam simulasi game belaka. Begitu, kira-kira, pandangan skeptis-simulasi.

Dunia adalah cinta. Dunia hanya milik kita berdua. Begitu kata mereka yang sedang jatuh cinta. Realitas sejati adalah cinta. Cinta yang menerangi seluruh semesta. Cinta yang membahagiakan, menarik, dan mendorong setiap gerak dunia. Begitu, kira-kira, pandangan romantis.

Dalam tulisan ini, saya tidak akan membahas satu demi satu pandangan di atas. Saya, justru, akan fokus dengan satu solusi untuk menjawab pertanyaan realitas fundamental sejati. Realitas sejati adalah dinamis.

1. Karakter Dinamis
1.1 Pancajati
1.2 Hana Maga Bataga
2. Realitas Cinta
2.1 Konten Cinta
2.2 Bentuk Cinta Tridaya
3. Daya Manusia
3.1 Daya Imajinasi
3.2 Daya Faham
3.3 Daya Akal
3.4 Daya Rasa
4. Bukti Kebenaran
4.1 Bukti Imajinasi
4.1.1 Imajinasi Obyektif
4.1.2 Imajinasi Subyektif
4.1.3 Imajinasi Intuitif
4.2 Bukti Pemahaman Konsep
4.2.1 Bukti Aposteriori Empiris
4.2.2 Bukti Apriori Rasionalis
4.2.3 Bukti Enframing Engineering
4.3 Bukti Idea Akal
4.3.1 Bukti Contoh
4.3.2 Bukti Ilustrasi
4.3.3 Bukti Realisasi
4.4 Bukti Rasa
4.4.1 Bukti Konsensus
4.4.2 Bukti Eksperimen
4.4.3 Bukti Sublim
5. Bukti Diri
5.1 Bukti Obyektif Positivis
5.2 Bukti Subyektif Eksistensialis
5.3 Bukti Cukup Diri

1. Karakter Dinamis

Karakter realitas sejati adalah dinamis. Setiap kita membuat konsep tentang realitas kebenaran maka realitas itu sendiri sudah bergerak dengan dinamis. Umumnya, kita memandang gerak dinamis sebagai perpindahan suatu substansi dalam ruang dan waktu. Gerak semacam itu adalah gerak aksidental, gerak permukaan belaka. Sejatinya, kita bisa lebih dalam melacak gerak sampai kepada gerak substansial dan gerak eksistensial.

1.1 Pancajati

Kita bisa menggunakan rumusan “pancajati” untuk mempelajari realitas yang dinamis ini. 1) realitas kebenaran selalu dinamis, 2&3) kebenaran adalah hasil verifikasi berdasar cakrawala tertentu, 4&5) kebenaran cakrawala dipengaruhi oleh pengalaman dan interpretasi. Lebih lengkap tentang formula pancajati silakan merujuk ke tulisan saya terdahulu. (Kebenaran Sejati Ada Di Sini)

1.2 Hana Maga Bataga

Realitas fundamental kebenaran sejati adalah hana. Karakter kebenaran yang terus-menerus dinamis adalah: maga. Dan, gerak dinamis dari hana ini menghasilkan kebenaran akhir: bataga.

Karena hana adalah realitas paling fundamental maka kita tidak bisa mendefinisikan hana. Justru setiap definisi membutuhkan dukungan dari hana. Maka kita akan memaknai hana – menginterpretasikan hana. Agar hana menjadi lebih nyata, bagi kita, maka kita bisa memandang hana sebagai manusia sejati. Hana adalah manusia sejati yang senantiasa bergerak dinamis.

Kita tahu bahwa manusia sejati, sebagai hana, selalu bergerak maju. Manusia selalu punya cita-cita. Setelah, satu cita-cita berhasil diraih, maka hana menetapkan cita-cita baru. Bahkan, sebelum cita-cita diraih, hana bisa saja menciptakan cita-cita yang lebih banyak. Manusia sejati tidak pernah berhenti. Mengejar cita-cita yang makin tinggi.

Gerak manusia sejati itu adalah maga. Maga adalah gerak sejati, gerak eksistensial, gerak substansial. Maga menggerakkan, mengubah, manusia kanak-kanak menjadi manusia remaja lalu dewasa. Maga mengubah manusia cengeng menjadi manusia gagah perkasa. Maga mengantarkan anak kecil yang tidak mengerti apa-apa menjadi sarjana bijaksana. Maga bergerak dalam jangka waktu bertahun-tahun. Maga juga bergerak tiap detik, tiap saat. Maga menciptakan ruang untuk bergerak. Maga menciptakan waktu untuk bergerak.

Bataga adalah hasil akhir dari hana yang bergerak sebagai maga. Bataga menampung hana dan seluruh hasil gerak maga. Seorang sarjana bijaksana menampung seluruh memori perjalanan dia dari kanak-kanak, remaja, sampai dewasa saat ini. Bataga ini unik. Setiap orang memiliki bataga yang berbeda-beda. Karena masing-masing orang memiliki kisah hidup yang beragam maka totalitas kisah hidupnya itu berkumpul menjadi bataga yang beragam, unik bagi masing-masing individu.

Apa sejatinya bataga itu? Bataga adalah hana yang baru. Yaitu, hana yang sudah melakukan gerak maga maka menjadi bataga. Karena bataga, sejatinya adalah hana, maka bataga itu juga selalu dinamis tidak pernah berhenti. Bataga memiliki karakter yang sama dengan hana. Sehingga, ketika kita membahas hana, sejatinya, kita juga sedang membahas bataga.

2. Realitas Cinta

Hana adalah cinta. Realitas adalah cinta. Realitas dibentuk oleh string-string cinta yang memenuhi jagat raya. Hanya ada hana. Hanya ada cinta.

2.1 Konten Cinta

Terdiri dari apakah realitas fundamental hana itu?

Kita bisa menginterpretasikan pertanyaan ini seperti seorang ilmuwan hendak menjawab pertanyaan terdiri dari apakah benda-benda, materi, di dunia ini. Dalton menjawab setiap materi terdiri dari bagian terkecil berupa atom. Kelak, ilmuwan menemukan bahwa atom bukanlah partikel terkecil. Atom tersusun oleh proton, neutron, dan elektron yang lebih sederhana. Selanjutnya, fisika quantum menemukan bahwa proton itu juga tersusun oleh partikel elementer seperti quark, boson, lepton, dan lain-lain. Apakah partikel elementer ini akan terus bisa digali, dianalisis, menghasilkan partikel yang lebih elementer lagi?

Teori string, lanjutan dari fisika quantum, menetapkan titik henti. Semua partikel elementer tersusun oleh string – partikel yang paling elementer, mirip-titik. Quark dan kawan-kawan itu, pada analisis akhir, tersusun oleh string. Tersusun oleh apakah string itu? String adalah tersusun oleh string itu sendiri. String adalah titik henti. Dalam dirinya sendiri, string tidak punya kekuatan apa-apa. Tetapi ketika beberapa string berkumpul, berinteraksi, maka akan menghasilkan beragam partikel fundamental elementer.

Jadi, tersusun oleh apakah hana itu? Hana tersusun oleh string. Tentu saja, string yang berbeda dengan fisika elementer. String dari hana adalah string cinta.

Hana adalah cinta. Hana selalu jatuh cinta. Hana bergerak karena cinta menuju cinta. Hana memang cinta. Manusia sejati, hana, adalah cinta.

Ketika Anda jatuh cinta, Anda sedang jadi hana, manusia sejati. Memang, Anda adalah hana. Jatuh cinta kepada kekasih adalah manifestasi hana. Cinta kepada anak adalah hana. Cinta kepada tumbuhan adalah hana. Cinta kepada karya sastra adalah hana. Alam raya adalah hana.

Bagaimana dengan orang yang tidak pernah jatuh cinta? Mereka sedang tidak beruntung. Mereka sedang berhenti menjadi hana. Mereka sedang berhenti jadi diri sejati. Maka kita perlu terus untuk jatuh cinta, merawat cinta. Cinta kepada sesama dan cinta kepada seluruh yang ada.

Bagaimana dengan orang yang mengumbar cinta di mana-mana? Apakah mereka adalah hana yang lebih jaya? Cinta sejati adalah suci. Tetapi, manusia bisa membelokkan cinta menjadi nafsu semata. Mengumbar nafsu adalah membelokkan cinta menjadi derita. Kita perlu kembali meluruskan cinta. Meniti jalannya yang suci.

Kita bisa berimajinasi, membayangkan, bahwa hana terdiri dari titik-titik kecil. Di mana, titik-titik kecil itu adalah string cinta. String cinta dalam jumlah yang banyak membentuk kekuatan-kekuatan cinta pada diri manusia. Masing-masing orang, meski terdiri dari string cinta yang sama, berbeda dalam jumlah dan susunan string cinta. Sehingga, kekuatan cinta bisa berbeda-beda. Bagaimana pun, meski berbeda, tetap sama-sama cinta yang mempesona.

Apa saja bentuk kekuatan cinta?

2.2 Bentuk Cinta Tridaya

Ada dua bentuk cinta sejati dan satu bentuk yang tidak imbang. Total menjadi tiga bentuk maka kita sebut sebagai tridaya: tiga kekuatan cinta.

Kita, juga, bisa kembali ke konsep hana. Manusia sejati, hana, terdiri dari string-string cinta dalam jumlah yang sangat besar dan terus bertambah, terus bergerak, maga. String-string cinta ini membentuk 3 kekuatan utama: 1)adil, 2)baik/apik, dan 3)derita.

Sesuai namanya, bentuk cinta sejati hanya dua: adil dan baik/apik. Sedangkan derita adalah pembelokan dari cinta, pembelokan dari hana.

Hana, dengan cinta, bebas bergerak. Hanya ada dua pilihan bentuk gerak cinta. Pertama, adil adalah manifestasi cinta yang sesuai dengan ukuran. Anda memberikan cinta kepada anak pertama sesuai dengan haknya adalah adil. Anda memberikan cinta kepada anak kedua sesuai haknya adalah adil. Begitu juga, Anda membantu tetangga sesuai haknya maka itu adalah adil.

Kedua, apik adalah manifestasi cinta yang lebih dari ukurannya. Apik adalah lanjutan dari adil. Jika adil adalah memberi sesuai haknya maka apik adalah memberi lebih dari haknya. Memberikan pendidikan kepada anak pertama adalah manifestasi cinta sesuai haknya, itu adalah adil. Memberikan pendidikan dengan kualitas tinggi, penuh perhatian, kepada anak pertama adalah lebih tinggi dari hak, itu adalah apik. Manifestasi cinta dari hana.

Menyelesaikan tugas sebagai kepala negara selama lima tahun sesuai tugas dan kewajiban adalah adil, manifestasi cinta dari seorang kepala negara. Membangun negeri selama 5 tahun, kebijakan-kebijakan strategis yang menyejahterakan rakyat kecil, menetapkan undang-undang yang memajukan seluruh masyarakat adalah lebih tinggi dari hak rakyat. Kepala negara seperti itu sudah berbuat baik, sebagai manifestasi cinta.

Ketiga, derita adalah bukan bentuk pilihan cinta. Derita terjadi ketika cinta berbelok arah, atau berbelok ukuran. Manusia bisa salah mengambil langkah sehingga mengakibatkan derita bagi dirinya atau pun orang lain.

Sejatinya, bentuk dari hana, bentuk dari string-string cinta hanya ada dua: adil dan baik/apik. Mari kita terus merawat cinta, hidup bahagia, dengan manifestasi nyata adil dan baik/apik.

3. Daya Manusia

Hana, yang terdiri dari string-string cinta itu, bisa membentuk kekuatan dalam jumlah tak terbatas. Sebagai manusia sejati, kita memiliki daya intelektual utama: imajinasi, daya pemahaman, dan akal. Ki Hajar Dewantara menyebut dengan istilah daya cipta, daya rasa, dan daya karsa. Semua daya kekuatan itu adalah bentukan dari string-string cinta, secara langsung atau tidak.

3.1 Daya imajinasi, daya citra, adalah kemampuan manusia untuk menciptakan citra dalam pikirannya. Citra inilah yang kita lihat, dalam kasus penglihatan. Ketika kita melihat pohon di samping rumah maka cahaya-cahaya dari pohon mengenai mata kita. Kemudian, imajinasi menciptakan citra-pohon dalam pikiran kita, yang bisa kita lihat.

Imajinasi juga bisa menciptakan citra tanpa melihat obyek pohon. Imajinasi bisa saja menciptakan citra dengan mengacu memori atau daya kreativitasnya.

3.2 Daya pemahaman, faham, adalah kemampuan manusia memahami suatu konsep. Ketika, imajinasi menciptakan citra-pohon dalam pikiran, imajinasi tidak paham bahwa itu pohon. Imajinasi hanya menciptakan citra. Kemudian tugas daya-pemahaman untuk memahami bahwa citra itu adalah pohon. Daya-pemahaman pula yang memutuskan sesuatu sebagai benar atau salah berdasar konsep pemahaman.

Imajinasi menciptakan citra berdasarkan pengalaman data-data indera dan kombinasi-kombinasi darinya. Sementara, daya-pemahaman mampu menciptakan konsep-konsep melampaui pengalaman indera. Misal, imajinasi dapat menciptakan citra-citra gambar kreatif sejauh dalam ruang dimensi 3. Tetapi, daya pemahaman bisa menciptakan konsep gambar dalam ruang dimensi 5. Tak bisa dibayangkan oleh imajinasi, bisa dibuatkan konsep oleh daya-faham.

Dalam fisika quantum, misalnya, ada konsep multiverse yang menyatakan bahwa ada banyak alam paralel. Ada Indonesia di alam kita, di sini. Dan, ada Indonesia di alam paralel yang lain. Ada Anda di alam ini, dan ada Anda versi lain di alam paralel yang lain. Daya-faham bisa memahami konsep multiverse. Tapi, imajinasi kita tidak bisa membayangkannya. Jika ada alam paralel lain, kata imajinasi, pasti alam paralel itu ada di ruang sekitar sini juga, hanya saja, bisa jauh atau dekat.

Daya-faham mampu memahami konsep lebih luas dari imajinasi. Sementara, imajinasi bisa menggambarkan citra lebih jelas dari daya-faham. Imajinasi bekerja sama dengan daya-faham dalam diri manusia.

3.3 Daya-nalar, akal, adalah kemampuan kita menciptakan idea-idea baru. Akal mengolah citra dari imajinasi dan konsep dari daya-faham untuk kemudian menghasilkan gagasan-gagasan segar. Apa yang tak terbayangkan oleh imajinasi, dan apa yang tak terpikirkan oleh daya-faham, bisa menjadi ide segar bagi akal.

Akal bisa meng-akali setiap kesulitan untuk kemudian menemukan inovasi baru. Akal, juga, bisa meng-akali pihak lain sampai rugi, demi kepentingan pribadi. Akal memang banyak akal. Akal adalah daya aktif manusia yang bernilai tinggi. Manusia wajib menjaga akalnya demi kebaikan bersama.

Uniknya dari akal adalah kemampuannya bernalar secara asosiasi bebas. Akal mampu membaca suatu obyek sebagai simbol untuk kemudian menciptakan idea segar dari obyek, yang tidak nyambung dengan obyek itu sendiri. Misal, ketika saya melihat anak kecil senang bermain dengan kubus-kubus kecil maka akal saya memunculkan idea bagaimana menciptakan media permainan untuk belajar matematika. Dan, kemudian, akal bekerja sama dengan daya-faham menciptakan konsep, meminta bantuan imajinasi untuk membuat gambaran jelas maka terwujudlah game “dadu milenium.” Sebuah game matematika yang memudahkan anak-anak belajar matematika. Asyik…!

Ketika melihat kebun teh hijau membentang, akal memunculkan ide bahwa itu adalah simbol dari kebahagiaan manusia. Manusia bahagia dengan pemandangan yang begitu sejuk. Kebun teh dan bahagia, sejatinya tidak ada hubungan pasti. Akal kita menciptakan hubungan itu, menghubungkan sesuatu yang, tampaknya, tidak ada hubungan.

Ketiga daya di atas (imajinasi, daya-faham, dan akal) adalah daya aktif. Kombinasi dari string cinta memungkinkan terbentuknya daya-daya lain yang unik. Termasuk di antaranya daya pasif yaitu daya-data, daya-hasrat, dan daya-rasa.

Ketika kita melihat pohon di samping rumah maka mata mengirimkan sinyal-sinyal cahaya ke mata, dan sistem syaraf. Kemudian, secara reflek, daya-data akan memunculkan intuisi pohon masih samar-samar berdasar data yang diterimanya. Selanjutnya, daya-aktif mengambil alih tugas. Imajinasi menciptakan citra yang lebih jelas dari intuisi pohon dan daya-faham menerapkan konsep-konsep sampai bisa memutuskan bahwa citra dari obyek itu adalah pohon.

Di saat daya-data menerima sinyal dari pohon, daya-hasrat secara intuitif (reflek) memberi respon awal apakah berminat atau tidak terhadap pohon tersebut. Selanjutnya, daya-aktif mengolah sinyal minat itu. Dari imajinasi dan daya-faham, kita sudah tahu bahwa obyek tersebut adalah pohon. Akal, kemudian, mengembangkan idea: perlu direspon bagaimanakah pohon itu? Barangkali, respon akal adalah: biarkan saja pohon seperti itu, apa adanya.

Jika obyek pohon kita ganti dengan makanan-lezat, apa respon akal? Apakah makanan-lezat itu dibiarkan saja? Atau disantap lebih nikmat? Atau jika obyek itu adalah gadis cantik, maka apa respon akal? Untuk menjawabnya, kita perlu membahas daya-rasa.

3.4 Daya-rasa, merasakan berbagai macam realitas. Daya-rasa mempunyai karakter pasif dan aktif. Daya-rasa pasif bersifat refleks intuitif, secara langsung, meneruskan sinyal yang diterimanya kepada subyek, kepada kita. Sedangkan, daya-rasa aktif menjadi sangat penting bagi kita. Daya-rasa aktif bisa memberikan rasa yang lebih kuat kepada kita.

Obyek di depan kita, misalkan, makanan lezat. Daya-rasa pasif menerima sinyal makanan-lezat, secara langsung, meneruskan ke daya-aktif. Imajinasi dan daya-faham dengan cepat memastikan bahwa obyek itu adalah makanan-lezat. Dilihat dari tampilan dan aromanya, makanan itu tampaknya benar-benar lezat. Tugas akal, pada akhirnya, harus memutuskan sikap selanjutnya, apakah makanan perlu disantap?

Akal berulang kali berkomunikasi dengan imajinasi dan daya-faham untuk mengambil keputusan. Imajinasi memunculkan citra diri bahwa kita pada kondisi sedang lapar atau kenyang. Daya-faham memastikan sekarang adalah waktu makan yang tepat atau tidak. Dan seterusnya. Akhirnya, akal memutuskan: makan saja itu makanan lezat, misalnya.

Yang menarik, di sini, daya-rasa aktif sebenarnya tidak ada. Akal, bukan daya-rasa, yang memutuskan makan saja. Sementara, daya-rasa pasif memang ada secara mandiri. Daya-rasa pasif ini dibentuk oleh string-string cinta dalam jumlah tertentu. Sedangkan, daya-rasa aktif dibentuk oleh interaksi harmonis imajinasi, daya-faham, dan akal. Meski pun mereka (imajinasi, faham, dan akal) dibentuk oleh string-string cinta, daya-rasa aktif tidak demikian. Akibatnya, daya-rasa aktif memang besifat estetik, bukan logika linear. Interaksi harmonis berbagai macam daya-aktif menghasilkan rasa estetik.

4. Bukti Kebenaran

Sampai di sini, kita bisa menyusun bukti kebenaran dan bukti realitas. Masalah muncul ketika seseorang salah memberi bukti, atau salah menuntut bukti, karena tidak sesuai dengan daya manusia. Kita perlu menyesuaikan bukti dengan daya manusia. Imajinasi, misalnya, menuntut bukti obyektif atau subyektif. Bukti rasional tidak diperlukan di sini. Pernyataan matematika perlu bukti rasional berdasar sistem matematika yang disepakati. Imajinasi tidak diperlukan di sini – meski bisa membantu pemahaman.

4.1 Bukti Imajinasi

Daya-imajinasi menerima umpan dari intuisi-indera untuk kemudian diperkuat menghasilkan citra yang lebih jelas. Daya-imajinasi juga bisa memproduksi citra secara mandiri tanpa umpan dari indera, dengan memanfaatkan memori, akal, dan lainnya.

4.1.1 Imajinasi Obyektif

Ketika Anda melihat meja di depan Anda maka muncul citra meja dalam pikiran. Citra ini adalah hasil imajinasi Anda. Bagaimana cara membuktikan memang ada meja sesuai dengan citra imajinasi Anda? Kita bisa membuktikannya secara empiris-obyektif.

Kita bisa memperhatikan meja berulang kali, menyentuh, bahkan menimbangnya. Setelah hasil pengamatan ini konsisten beberapa kali maka kita berhasil memberikan bukti obyektif terhadap imajinasi kita. Alternatifnya bisa dengan mengundang orang lain untuk mengamati meja tersebut. Bila ada beberapa orang melihat meja yang sama, sambil diskusi sesama pengamat, maka kita berhasil membuktikan secara obyektif-empiris meja yang dimaksud. Sains dan teknologi mempunyai beragam metode untuk bukti obyektif-empiris semacam ini.

Tentu saja, ada kemungkinan kita salah menilai imajinasi. Kita melihat bola voli di depan kita. Setelah kita amati lebih dekat, ternyata, itu bukan bola voli tetapi bola sepak. Bisa juga, orang dengan mata rabun melihat kambing di depannya, ternyata, adalah anjing. Meski kesalahan menilai ini berhubungan dengan imajinasi, sebenarnya, bukan kesalahan imajinasi. Di bagian bawah, kita akan membahas bahwa kesalahan penilaian ini adalah kesalahan daya-faham atau salah paham.

4.1.2 Imajinasi Subyektif

Kita bisa membuat citra imajinasi tanpa berhubungan langsung dengan obyek luar. Ketika melamun, atau bermimpi, kita menciptakan citra tanpa berhubungan langsung dengan obyek luar. Bagaimana cara membuktikan imajinasi subyektif?

Bisa dengan beragam cara – dan umumnya tidak ada masalah dengan cara-cara ini.

“Bayangkan foto presiden Soekarno dengan mengenakan peci di kepalanya. Apa warna peci beliau?”
“Warna hitam.”

Tepat. Anda sudah menciptakan citra presiden Soekarno di imajinasi Anda. Dalam kasus imajinasi-subyektif ini, bisa saja seseorang berbohong. Dia mengatakan membayangkan presiden Soekarno, ternyata tidak. Kita juga bisa membuat citra dengan cara yang lebih kreatif, bebas. Bayangkan seorang pejabat mengenakan peci warna-warni pelangi. Tentu saja, saat ini tidak ada peci warna-warni pelangi tapi kita bisa membuat citranya.

4.1.3 Imajinasi-Intuitif

Imajinasi-intuitif terjadi seketika, refleks. Anda tidak sengaja menginjak duri. Terbentuk imajinasi-intuitif rasa sakit. Bisa juga, tiba-tiba Anda terkenang wajah orang yang Anda cintai, yang sudah meninggal beberapa tahun lalu. Muncul imajinasi-intuitif berupa rasa rindu teriring citra wajahnya.

Bukti imajinasi-intuitif, umumnya, tidak masalah. Karena, kita cenderung menerima pengakuan dari orang yang mengatakannya.

August Kekule (1829 – 1896) waktu itu sedang melakukan penelitian ilmiah struktur kimia. Sampai larut malam, sudah berhari-hari, Kekule tidak menemukan kemajuan. Semua rumusan kimia yang ada tidak berhasil menjelaskan hasil risetnya.

Dalam kondisi mengantuk, atau tertidur, Kekule melihat ada beberapa ular yang melata. Di antara ular-ular itu, ada yang menarik perhatian Kekule, ada ular yang menggigit ekornya sendiri. Dengan menggigit ekornya sendiri maka tubuhnya membentuk lingkaran.

Kekule terjaga, merasa aneh dengan ular yang menggigit ekornya sendiri. Muncul dalam imajinasinya, bagaimana jika struktur molekul membentuk lingkaran? Struktur molekul melingkar ini, pada masanya, menjadi inovasi ilmiah terbesar dalam bidang kimia.

Dari beragam imajinasi di atas, kita bisa membentuk imajinasi kompleks – obyektif, subyektif, dan intuitif. Anda bisa bereksperimen. Menjelang tidur putarlah lagu kesayangan Anda. Kemudian, ketika Anda tidur, bermimpi menonton konser musik yang memainkan lagu kesayangan Anda tersebut. Mimpi tersebut adalah imajinasi kompleks. Obyektif karena Anda mendengarkan lagu. Subyektif karena Anda menciptakan sendiri berbagai citra dalam mimpi. Dan, intuitif karena merespon lagu secara refleks.

4.2 Bukti Pemahaman Konsep

Bukti pemahaman-konsep atau konsep-pemahaman adalah bukti yang paling penting dalam dunia sains dan kehidupan sosial. Sementara, bukti imajinasi bisa kita pandang sebagai ilustrasi dan penguat bagi pemahaman konsep.

4.2.1 Bukti Konsep Aposteriori

Bukti aposteriori adalah bukti yang bisa diuji setelah pengamatan tertentu. “Paman APIQ tinggal di Bandung” adalah pernyataan yang bisa dibuktikan secara aposteriori. Caranya mudah: kunjungi Bandung dan temukan tempat tinggal paman APIQ. Jika berhasil maka pernyataan di atas bernilai benar “setelah” dilakukan verifikasi.

Pernyataan sains, sebagian besar, adalah pemahaman konsep aposteriori. Seperti kita lihat di atas, aposteriori bisa saja positif mengkonfirmasi, tetapi bisa juga, ternyata negatif, atau menolak. Setelah diverifikasi, misalnya ternyata, Paman APIQ tidak tinggal di Bandung sehingga pernyataan ditolak.

Sains dan teknologi modern berkembang pesat dengan mengembangkan pengetahuan aposteriori.

Tetapi, sejatinya, masih ada masalah filosofis di sini. “Paman APIQ tinggal di Bandung.” Orang masih bisa beda pendapat definisi “Paman APIQ.” Begitu juga pengertian “tinggal di Bandung.” Apakah maksudnya kota Bandung? Atau Bandung Barat? Sebagian Bandung atau seluruh Bandung?

Perbedaan pendapat di atas, secara filosofis, bisa saja tidak ada titik temu sehingga dissensus. Dalam kehidupan sehari-hari, kita bisa mencapai konsensus. Apakah kebenaran empiris aposteriori itu, pada analisis akhir, berlandaskan konsensus?

Mari kita cermati dengan contoh yang lebih nyata, “Tinggi meja ini 135 cm.”

Kita, dengan mudah, bisa mengukur tinggi meja itu beberapa kali dan terbukti benar bahwa tingginya 135 cm. Bukti kebenaran empiris berupa fakta yang nyata. Hasil pengukuran aposteriori bisa diterima.

4.2.1.1 Bukti Sains Vs Konsensus

Sains teknologi terbukti benar secara empiris, efisien, dan menguntungkan. Lagi-lagi, kebenaran sains tidak sekuat yang diklaim banyak orang. Kebenaran sains, pada analisis akhir, harus mempertimbangkan konsensus. Sehingga, sains yang selama ini kita anggap sebagai fakta ilmiah perlu kita tinjau kembali. Kita, perlu, berpikir-terbuka.

Tinggi meja 135 cm kita peroleh dari beberapa pengukuran: 135,1; 135,0; dan 134,9. Maka rata-rata tinggi meja = 135 cm.

Berapa tinggi meja sebenarnya, yang bukan rata-rata? Tidak ada hasil pengukuran akurat mutlak. Setiap pengukuran menyertakan suatu margin error – suatu ketidakpastian. Hasil pengukuran sains memberikan hasil estimasi yang bisa diterima oleh komunitas sains. Bukankah itu suatu konsensus di antara para ilmuwan? Dan, jika ada konsensus di komunitas ilmuwan, bukankah pasti sudah mempertimbangkan banyak hal? Sehingga, konsensus pasti bernilai ilmiah?

4.2.1.2 Falsifikasi vs Konsensus

Falsifikasi adalah “metode ilmiah” untuk menguji suatu pernyataan ilmiah dengan menemukan titik kesalahannya.

“Semua angsa berwarna putih.” Hasil dari pengamatan ratusan sampai ribuan angsa menunjukkan bahwa setiap angsa, memang, berwarna putih.

Falsifikasi akan menguji, “Apakah ada angsa yang tidak berwarna putih?” Jika setiap pengamatan menunjukkan bahwa setiap angsa berwarna putih maka pernyataan bisa diterima sebagai benar – sampai saat itu.

Kesimpulan bisa berubah bila ada hasil pengamatan lain.

Ilmuwan A mengamati ada angsa berwarna hitam. Maka pernyataan semua angsa berwarna putih “tidak lolos” di-falsifikasi. Pernyataan tersebut tidak valid sehingga perlu revisi.

Secara filosofis, falsifikasi, tetap perlu mempertimbangkan konsensus. Ketika ilmuwan A mengamati ada angsa berwarna hitam, maka, apakah itu suatu fakta? Kita bisa meminta 5 ilmuwan lain untuk menguji apakah angsa yang diamati A benar-benar hitam. Mereka, misalnya, sepakat warnanya hitam.

Apakah ada jaminan ilmuwan ke-6 akan sepakat bahwa angsa itu berwarna hitam? Tidak ada jaminan. Bisa jadi, ilmuwan ke-6 menyatakan bahwa angsa yang dimaksud adalah berwarna putih. Sehingga, hasil pengamatan ilmuwan A “tidak lolos” di-falsifikasi oleh ilmuwan ke-6.

Lagi-lagi, para ilmuwan perlu mempertimbangkan konsensus di antara komunitas mereka. Konsensus bukanlah suatu aib. Justru, konsensus adalah keunggulan umat manusia.

4.2.1.3 Bukti Konsensus

Meski beberapa orang tidak nyaman bahwa konsensus berperan penting dalam kebenaran sains empiris, sejatinya, konsensus justru menunjukkan kemajuan peradaban manusia. Masyarakat yang berhasil menyepakati konsensus, dan menghormatinya, menjadi masyarakat yang beradab.

Demikian juga, komunitas saintis yang berhasil menghormati konsensus mampu mendorong kemajuan sains teknologi dengan dinamis.

Apakah ada kebenaran ilmiah yang bersifat pasti dan universal? Konsep matematika dan teknologi akan mampu menjawab dengan afirmatif.

4.2.2 Bukti Konsep Apriori Rasionalis

Konsep apriori terbukti benar secara pasti dan universal. Pernyataan matematika, misal 12 + 1 = 13, adalah konsep apriori yang bernilai benar secara pasti dan universal.

Kita bisa mengambil contoh 12 jeruk ditambah 1 jeruk maka akan menghasilkan 13 jeruk. Contoh jeruk tersebut adalah sekedar contoh belaka. Bukan karena contoh maka matematika menjadi benar. Tetapi karena matematika terbukti benar maka contoh jeruk itu bisa menjadi ilustrasi. Displin matematika mengembangkan beragam cara yang canggih untuk membuktikan kebenaran beragam pernyataan matematika dengan pendekatan rasionalis.

Mengapa pernyataan matematika bisa benar secara universal, bahkan apriori? Tanpa pengujian empiris matematika selalu benar – apriori. Di setiap ruang dan waktu bernilai benar – universal.

Matematika bernilai benar secara apriori karena konsep matematika adalah ideal. Jika ada obyek tidak ideal maka obyeknya ditolak. Sementara, konsep matematika tetap diterima secara apriori.

12 + 1 tidak = 13 terjadi pada bilangan jam dinding. Pada jam dinding terjadi 12 + 1 = 1 karena tidak ada angka 13.

Dalam kasus jam dinding, obyek jam dindingnya yang ditolak. Sementara, 12 + 1 = 13 tetap benar karena yang dimaksud adalah bilangan asli seperti umumnya kita pahami. Dengan cara ini, memilih yang ideal, konsep matematika akan selalu benar.

Bukankah itu merupakan suatu konsensus? Sehingga, kebenaran matematika yang universal itu, pada analisis akhir, mengandalkan konsensus?

Meski, barangkali, kita bisa menganggap matematika mengandalkan konsensus, istilah yang lebih tepat adalah aksioma. Pernyataan 12 + 1 = 13 selalu benar dalam sistem aksiomatik bilangan asli. Dan, pernyataan 12 + 1 = 1 selalu benar dalam sistem aksiomatik bilangan jam dinding. Kita perlu memahami konsep sistem aksiomatik yang dimaksud, bukan, kita diharapkan sepakat dengan suatu konsensus.

Dengan demikian, kita secara sah dapat mengatakan bahwa konsep matematika bernilai benar secara apriori.

Dengan keunggulan matematika yang apriori itu maka, wajar, sains menggabungkan pendekatan empiris dan matematis. Sehingga, sains memiliki aspek apriori dan aposteriori.

4.2.3 Bukti Enframing Engineering

Bukti kebenaran makin berkembang dengan bukti enframing engineering. Jika matematika mengembangkan sistem aksiomatik maka teknologi, lebih maju, dengan sistem enframing.

Produsen memproduksi batere mobil listrik yang mampu menempuh jarak 500 km. Janji produsen itu akan terbukti benar dengan enframing. Semua batere, terbukti, benar-benar mampu menempuh jarak 500 km – bahkan bisa lebih. Jika ditemukan batere yang tidak mampu menempuh jarak 500 km maka batere tersebut dianggap cacat. Batere tersebut dicoret dari sistem. Begitulah cara kerja enframing, agar terbukti benar.

Bukti kebenaran enframing akan ditentukan oleh penjamin – produsen batere dalam contoh ini. Ketika produsen berhasil konsisten memproduksi batere dengan daya tempuh lebih dari 500 km maka pernyataan tersebut terbukti benar. Bila ada batere yang cacat, segera diganti dengan batere yang baru, maka kebenaran enframing makin kuat. Dalam dunia engineering, kebenaran enframing bisa menjadi yang paling penting.

Layanan yotube bisa diakses di Indonesia. Jika suatu saat, layanan youtube, tidak bisa diakses di Indonesia maka para ahli, dan teknisi, dari youtube akan memperbaikinya. Sedemikian hingga, youtube benar-benar bisa diakses di Indonesia. Era digital bertabur realitas dengan bukti kebenaran enframing.

Dalam politik sering kita mendengar: kami butuh bukti bukan janji. Politikus bisa memberi bukti dengan memenuhi janji-janjinya selama kampanye. Dengan demikian, politikus dan pejabat, termasuk yang perlu mahir dalam memberikan bukti enframing.

Tetapi, apakah bukti enframing bisa dipertanggungjawabkan? Bukankah enframing adalah sejenis rekayasa? Sejenis manajemen? Atau sejenis manipulasi?

Catatan: Bukti pemahaman konsep, apriori mau pun aposteriori, adalah sejenis bukti yang paling mudah untuk ditunjukkan. Bukti pemahaman konsep ini bisa kita sebut sebagai bukti obyektif. Meski, dalam analisis akhir, bukti pemahaman konsep melibatkan suatu jenis konsensus, hal tersebut, tetap bisa kita anggap sebagai bukti ilmiah. Bahkan, konsensus adalah tanda kemajuan peradaban manusia.

4.3 Bukti Idea Akal

Karakter dari akal adalah kreatif. Akal tertarik untuk berpikir spekulatif memperluas konsep-konsep, bahkan, menciptakan konsep-konsep baru. Akal, dengan kemampuannya yang kreatif, mengembangkan beragam idea-idea orisinal. Ide-ide ini, barangkali, tidak pernah ada. Imajinasi kadang tidak mampu menggambarkan ide dari akal. Begitu juga, daya-faham, kadang tidak mampu memahami ide dari akal. Akal membebaskan pemikiran.

Akal mampu berpikir secara simbolis, perlambang. Ide-ide simbolis ini bisa menembus batas-batas konsep. Sehingga, bukti dari suatu ide tidak bisa dibatasi dengan konsep. Di sini, kita akan menunjukkan bukti dari ide melalui: contoh, ilustrasi, dan realisasi.

4.3.1 Bukti Contoh

“Kebun teh nan hijau adalah sumber kedamaian.”

Pernyataan di atas adalah idea, di mana, akal membaca kebun teh sebagai sumber kedamaian. Bagaimana cara membuktikannya? Kita bisa membuktikannya dengan contoh. Mari kita jalan-jalan santai di kebun teh. Kemudian, rasakan kedamaian dalam diri kita.

“Setiap kebaikan berbalas kebaikan.”

“Kebaikan” adalah idea. “Berbalas” juga idea. Maka kita bisa memberi bukti dengan contoh misal ketika suatu hari saya berbuat baik menolong anak yatim, 3 hari kemudian, saya mendapat kebaikan berupa mendapat rejeki dalam jumlah sangat besar.

Kita bisa saja mendefinisikan “kebaikan” dengan beragam konsep. Dengan cara ini, kita mengubah “idea” menjadi “konsep”. Sehingga, kita bisa membuktikan konsep tersebut dengan cara obyektif. Meski begitu, definisi “kebaikan” akan terbuka dengan definisi yang berbeda. Sebagai akibatnya, terbuka pembuktian yang berbeda pula.

4.3.2 Bukti Ilustrasi

Kadang-kadang idea benar-benar abstrak. Sehingga, tidak mudah bagi kita untuk memberi contoh. Maka, kita bisa memberi bukti berupa ilustrasi.

Saya punya idea “menjadikan seluruh seluruh siswa SD Indonesia jago matematika.”

Seperti apa ilustrasinya? Ketika kelas 1 SD, siswa belajar matematika dengan metode APIQ misal dengan game kartu milenium. Kemudian, siswa belajar perkalian cepat metode Bintang APIQ. Dengan demikian, siswa kelas 3 SD berhasil menjadi jago matematika.

Tentu saja, “jago matematika” adalah sebuah ide. Kita bisa mengubah ide “jago matematika” menjadi suatu konsep dengan definisi yang lebih terukur. Dengan cara ini, kita bisa memberi bukti konsep “jago matematika” dengan obyektif. Bagaimana pun bukti terhadap konsep beda dengan bukti terhadap idea.

“Setiap orang punya kehendak bebas.”

Seperti apa ilustrasinya? Ketika Anda akan makan, maka, bebas bagi Anda hendak makan atau tidak. Begitu juga ketika Anda membaca tulisan ini, maka, bebas bagi Anda hendak lanjut membaca atau tidak. Anda, dan setiap orang, punya kehendak bebas. Setiap orang bebas berkehendak.

Tetapi, idea sebaliknya bisa juga terjadi.

“Kehendak bebas adalah ilusi.”

Seperti apa ilustrasinya? Ketika Anda akan makan, kemudian, Anda benar-benar makan. Anda mengira bahwa itu kehendak bebas – dengan memilih makan. Sejatinya, itu ilusi. Anda memilih makan karena Anda sedang lapar. Kehendak Anda ditentukan oleh rasa lapar – tidak bebas. Jadi, kehendak bebas adalah ilusi belaka.

Kesimpulannya, kehendak bebas memang nyata atau ilusi?

Untuk bisa menarik kesimpulan seperti itu, kita perlu mengubah idea “kehendak bebas” menjadi konsep “kehendak bebas.” Kemudian, konsep ini bisa kita ukur dan kita tentukan kesimpulan akhirnya. Bagaimana pun, kesimpulan tersebut adalah tentang konsep “kehendak bebas” – bukan idea “kehendak bebas.”

Sikap apa yang perlu kita lakukan ketika menghadapi idea yang saling kontradiksi? Kita perlu bersikap dengan berpikiran-terbuka. Ijinkan idea itu berkembang apa adanya. Ijinkan idea itu membuka diri di depan akal Anda. Kemudian, akal Anda akan memberikan idea-idea lanjutan. Bisakah kehendak bebas benar-benar nyata dari suatu sudut pandang? Sementara, dari sudut pandang lain, adalah ilusi?

4.3.3 Bukti Realisasi

Pertimbangkan idea, “Berdoa menjadikan hidup lebih damai.”

Apa buktinya? Kita bisa membuktikannya dengan realisasi. Mari kita coba untuk berdoa. Kemudian, coba kita rasakan, hidup memang lebih damai. Jika hidup masih terasa hambar, belum merasa damai, maka tambahkan lebih banyak doa sampai terasa hidup lebih damai.

Catatan: Bukti idea beda dengan bukti konsep. Kita perlu cermat di sini. Tertukar menyikapi idea dengan konsep akan menyebabkan kebingungan. Konsep bisa dibuktikan secara empiris dan matematis. Bagaimana pun bukti ini tetap mempertimbangkan konsensus dan definisi – sehingga tidak universal. Sementara, idea bisa dibuktikan dengan beragam cara, dengan sikap berpikiran-terbuka terhadap kebenaran yang ada. Pilih dan dukung idea yang mengantarkan ke kondisi adil dan apik.

Bisakah segala realitas dibuatkan konsepnya sehingga bisa dibuktikan secara obyektif? Bisakah semua realitas dibuatkan ideanya sehingga kita bebas berpikir-terbuka? Kita, manusia, memang memiliki daya-faham yang bertugas memahami konsep. Dan, kita juga punya akal yang mendorong munculnya idea-idea. Tentu saja, kita juga punya daya imajinasi yang menjadi dasar semua itu.

4.4 Bukti Rasa

Daya-rasa memegang peran sangat penting dalam diri manusia. Beda dengan daya-daya yang lain, daya-rasa setiap orang, pasti berkembang sampai tahap kematangan tertentu. Untuk memahami konsep, daya-faham perlu belajar kemampuan khusus. Untuk menghasilkan idea-idea kreatif, akal perlu belajar kemampuan khusus. Sementara, untuk merasakan sesuatu, daya-rasa mampu merasakannya secara langsung – tanpa harus belajar dulu.

Kita sering menyebut pusat daya-rasa adalah hati secara metaforis. Sehingga benar adanya ungkapan, “Lihatlah dengan mata hati!” Atau, “Dengarkan baik-baik, suara hatimu!”

Perlu hati-hati karena daya-rasa yang berpusat di hati, sejatinya, tidak ada. Daya-rasa ini merupakan interaksi harmonis dari semua daya-daya lain terutama imajinasi, daya-faham, dan akal. Sehingga, daya-rasa mudah berbalik arah dari satu rasa ke bentuk rasa yang berbeda. Dalam bidang-bidang tertentu, daya-rasa bisa dilatih misal daya rasa terhadap sastra.

4.4.1 Bukti Konsensus

Bukti kebenaran daya-rasa, yang paling mudah, adalah dengan konsensus. “Udara di bandung terasa sejuk.” Untuk membuktikan “terasa sejuk” kita bisa melakukan survey ke beberapa orang di Bandung. Menanyakan apakah mereka merasa sejuk di Bandung, terutama di Lembang?

Barangkali, akan tercapai konsensus bahwa di Bandung memang sejuk – dari hasil survey itu. Ada kemungkinan juga bahwa tidak terjadi konsensus. Tidak ada masalah bila terjadi dissensus. Kita bisa maklum terhadap perbedaan itu.

4.4.2 Bukti Eksperimen

Dalam banyak hal, kita bisa melakukan eksperimen untuk mengumpulkan bukti daya-rasa. “Kopi racikan saya ini rasanya nikmat.” Bagaimana membuktikannya? Kita bisa melakukan eksperimen.

Kita meminta beberapa orang untuk mencicipi kopi racikan saya. Lalu kita minta pendapat mereka, apakah nikmat? Lagi, hasil eksperimen ini bisa mencapai konsensus dari banyak responden atau tidak tercapainya konsensus. Kita bisa memaklumi kondisi itu.

4.4.3 Bukti Sublim

Bukti daya-rasa sublim, indah, dan cantik berlaku universal. Beda dengan konsensus, sublim meski melibatkan peran penting subyek, hasil penilaiannya bersifat obyektif.

“Pemandangan gunung ini begitu indah.” Penilaian daya-rasa ini berlaku universal. Siapa saja yang memandang gunung itu maka akan merasakan keindahannya.

“Wajah Miss Universe itu cantik sekali.” “Deburan ombak laut bebas terasa agung, sublim.” Setiap orang yang memandang wajah Miss Universe akan merasakan kecantikannya. Setiap orang yang memandang deburan ombak akan merasakan keagungannya.

Catatan: Apa artinya bukti daya-rasa bila terjadi banyak hasil penilaian berbeda-beda? Bukti ini sangat berarti. Daya-rasa, memang, punya kemampuan toleran terhadap perbedaan hasil penilaian.

Apakah bisa dibuat konsep rasa sehingga bisa diukur secara obyektif? Kita bisa membuat konsep rasa sejuk, misalnya, adalah suhu di bawah 20 derajat celcius. Ketika kita mengukur suhu di Bandung, hasilnya di bawah 20 derajat, maka Bandung adalah sejuk. Bagaimana pun, yang diukur di bawah 20 derajat itu adalah konsep rasa sejuk. Bukan rasa sejuk itu sendiri.

Sampai di sini, kita mengenal bukti yang beragam oleh daya yang berbeda pada manusia. Pertama, konsep pemahaman bisa dibuktikan secara empiris matematis. Kedua, idea dari akal bisa dibuktikan dengan kreativitasnya menembus batas. Dan, ketiga, rasa dari dalam hati bisa dibuktikan dengan langsung mengalami.

5. Bukti Diri

Dari semua bukti, barangkali, kita bisa mengatakan bahwa bukti diri adalah yang paling utama. Bukan karena bukti diri merupakan bukti yang paling kuat, tetapi, karena semua bukti membutuhkan bukti diri dalam satu atau lain cara.

5.1 Bukti Obyektif Positivis

Pandangan positivisme meyakini adanya kebenaran obyektif yang terbebas dari subyek. Seperti sudah kita bahas bahwa konsep pemahaman bisa dibuktikan obyektif secara empiris matematis. Meski demikian, bukti obyektif ini tetap memerlukan peran diri kita sebagai manusia.

Mari kita perhatikan salah satu hukum Newton (1643 – 1727), yang terbukti obyektif,

“Benda yang yang begerak dengan kecepatan tetap akan bergerak dengan kecepatan tetap bila tidak ada gaya yang mengenainya.”

Mengapa hukum Newton terbukti benar? Karena saya, atau siapa pun yang mempelajari hukum Newton, menyepakati definisi benda, gerak, kecepatan, dan lain-lain. Dari konsensus tersebut berimplikasi hukum Newton benar secara obyektif.

Jika ada orang yang tidak sepakat dengan definisi “kecepatan,” misalnya, maka hukum Newton tidak bisa dibuktikan secara obyektif empiris. Bagaimana kita tahu suatu benda gerak dengan kecepatan tetap? Jika ruang ini tidak selurus yang dikira, misal melengkung karena massa, kecepatan yang dikira tetap itu sejatinya sudah berubah (arah vektornya). Dengan demikian, barangkali, tidak pernah ada kecepatan tetap?

Menurut saya, sebaiknya, kita menyepakati definisi-definisi Newton. Sehingga, kita berhasil membuktikan kebenaran hukum Newton dengan obyektif. Jika ada yang tidak sepakat, misal karena menganggap ruang melengkung akibat massa, maka bisa mengajukan revisi atau hukum alam yang baru. Einstein (1879 – 1955) berhasil melakukan revisi hukum Newton dengan teori Relativitas Umum, dengan asumsi bahwa ruang melengkung akibat massa.

Kita meyakini konsep sains tentang hukum alam adalah obyektif. Di saat yang sama, kita mengakui ada peran diri kita, sebagai manusia, untuk menerima sains benar secara obyektif.

5.2 Bukti Subyektif Eksistensialis

Para eksistensialis mengakui peran penting subyek dalam seluruh realitas. Tampaknya, mudah bagi kita untuk meyakinkan bahwa bukti subyektif eksistensialis didasarkan pada peran diri kita sebagai manusia.

Kita, manusia, terlempar pada situasi tertentu di dalam dunia sebagai fakta yang harus kita hadapi. Di saat yang sama, kita bebas untuk memaknai situasi yang ada. Bahkan, kita bebas untuk mengubah setiap situasi. Untuk kemudian, kita berada dalam situasi yang baru lagi. Kita bebas untuk memaknai atau mengubahnya lagi. Dan seterusnya. Begitulah eksistensi kita – dan alam raya.

Bagaimana kita tahu bahwa eksistensi kita memang seperti itu? Eksistensialis menjawab situasi seperti itu sudah hadir begitu saja. Tugas kita, sebagai manusia, adalah memaknai semua eksistensi yang ada dan (atau) mengubahnya menjadi lebih bermakna.

Lalu, mengapa kita harus percaya dengan pandangan para eksistensialis itu? Lagi-lagi, karena diri kita mau menyepakatinya. Jika kita tidak sepakat maka kita bisa mendebat mereka, terus-menerus dengan berbagai macam argumen tanpa henti. Di sisi lain, jika kita sepakat, maka kita bisa memahami berbagai macam konsep dan ide-ide eksistensialis.

Sampai di sini, kita menyadari bahwa bukti subyektif pun memerlukan diri kita sebagai landasan bukti. Bukti obyektif juga sama, memerlukan bukti diri sebagai landasan. Jika diri kita begitu penting, kemudian pertanyaan kritikalnya, siapakah diri kita? Apa buktinya diri kita ada? Bagaimana kita tahu diri kita seperti itu?

5.3 Bukti Cukup Diri

Kali ini, kita sampai kepada pertanyaan paling sulit untuk menjawabnya: apa bukti bahwa diri kita memang ada?

Bukti Cogito. Descartes (1596 – 1650) pernah meragukan segala sesuatu. Sampai pada suatu titik, Descartes, tidak bisa ragu lagi.

“Saya bisa meragukan segalanya. Tetapi, saya tidak bisa meragukan diri saya sendiri. Saya berpikir maka saya ada.”

Argumen ini, akhirnya, dikenal sebagai dalil cogito, “Cogito ergo sum.” Setelah Descartes berhasil membuktikan bahwa dirinya memang ada maka, selanjutnya, Descartes membuktikan eksistensi alam raya (dan Tuhan). Argumen cogito ini, termasuk, yang menjadi landasan perkembangan sains modern di antaranya oleh Newton.

Bukti Cinta. Realitas paling fundamental adalah manifestasi cinta dari Maha Cinta. Diri kita, sejatinya, juga manifestasi dari cinta. Mereka yang tidak punya cinta tersisih dari realitas. Mereka yang jatuh cinta, benar-benar eksis.

“Aku jatuh cinta maka aku ada. Bahkan, hanya cinta yang ada.”

Selama diri kita jatuh cinta maka di situlah kita ada. Cinta kepada wanita, wewangian, dan doa. Wanita adalah simbol cantiknya semesta. Wewangian adalah simbol daya tarik cinta yang penuh dinamika. Dan, doa adalah cinta tanpa batas.

“Apakah Anda sedang jatuh cinta?”

Bukti Tanpa Bukti. Kita memang harus menghadapinya. Kita harus memberikan bukti ketika tidak ada bukti sama sekali. Kita harus membuktikan diri kita sendiri, ketika, setiap bukti membutuhkan eksistensi diri kita. Bagaimana pun, itu adalah tugas kita, sebagai manusia.

Berpikir-terbuka adalah solusi bagi kita. Berpikir-terbuka mengijinkan segala sesuatu membuka diri, menunjukkan diri apa adanya. Berpikir-terbuka membuka diri terhadap segala. Berpikir-terbuka, termasuk, terbuka terhadap diri sendiri, terbuka terhadap Diri tanpa batas.

Berpikir-terbuka meski menggunakan istilah berpikir, bermakna, membuka segalanya. Berpikir-terbuka bermakna membuka daya-imajinasi, membuka daya-faham, membuka daya-akal, membuka daya-rasa, membuka daya-karsa, dan membuka daya-karya.

Berpikir-terbuka siap menerima cinta, siap memberi cinta. Berpikir-terbuka siap berjumpa dengan cinta Sang Maha Cinta.

Bagaimana menurut Anda?

Bukti Nyata Tuhan ADA

Membuktikan bahwa Tuhan ada adalah tugas paling mudah dan, di saat yang sama, paling sulit. Paling mudah karena bukti Tuhan sudah ada secara apriori, secara fitri, dalam setiap diri manusia. Sehingga, sejatinya, setiap manusia punya keyakinan akan eksistensi Tuhan. Kita, sebagai orang tua misalnya, cukup mengatakan bahwa Tuhan adalah pencipta alam semesta maka anak kita akan meyakininya.

Tidak Ada Bukti bahwa Tuhan Ada atau Tidak – danioyo

Pembuktian ini menjadi tugas yang paling sulit juga. Lantaran, semua bukti bukanlah murni bukti rasional. Sehingga, ketika seseorang menolak bukti tersebut secara rasional maka penolakan tersebut mempunyai argumen tersendiri. Sedangkan, bukti argumen rasional tetap bisa membuktikan bahwa Tuhan memang ada, bagi orang yang bersedia membuka akal dan hatinya.

1. Bukti Tuhan Ada
2. Bukti 1.0: Argumen Rasional 
3. Bukti 1.0A: Argumen Kosmologi
4. Bukti 1.0B: Argumen Ontologi 
5. Bukti 1.0C: Argumen Fisikologi 
6. Antinomi Eksistensi Tuhan
7. Bukti 2.0: Argumen Moral
8. Bukti 1.5: Argumen Moral-Sempurna
9. Bukti 1.5A: Argumen Cantik Sempurna
10. Bukti 1.5B: Argumen Sublim
11. Bukti 1.5C: Argumen Teleologis
12. Bukti 3.0: Argumen Spesial
13. Cara Melihat Tuhan

Berikut ini saya kutipkan tulisan saya tentang bukti bahwa Tuhan itu ada. Bukti-bukti ini meliputi argumen rasional, argumen moral, sampai argumen spesial. Bila kita pelajari dengan cermat dan secara utuh maka bukti-bukti ini bernilai sangat kuat.

1. Bukti Tuhan Ada

Kita bisa membuktikan eksistensi Tuhan secara meyakinkan dengan argumen moral. Terbukti dengan pasti tanpa keraguan. Sementara, pembuktian eksistensi Tuhan dengan argumen rasional menghasilkan bukti dan penolakan yang sama kuat. Di bagian ini, kita akan membuktikan eksistensi Tuhan dengan argumen moral yang meyakinkan. Bagaimana pun, kita akan memulainya dengan argumen rasional.

2. Bukti 1.0: Argumen Rasional membuktikan eksistensi Tuhan, bahwa Tuhan ada, secara rasional. Umumnya, bagi manusia yang mau berpikir maka, akan berhasil membuktikan secara rasional ini. Berikut ini beberapa argumen yang bisa digunakan secara rasional.

3. Bukti 1.0A: Argumen Kosmologi menyatakan bahwa setiap benda ada yang menciptakannya. Misal, sepatu pasti ada yang menciptakannya yaitu tukang sepatu. Begitu juga meja, ada yang menciptakannya yaitu pengrajin meja. Apalagi alam semesta, bumi, bulan, dan matahari pasti ada yang menciptakannya. Penciptanya adalah yang Maha Agung yaitu Tuhan.

4. Bukti 1.0B: Argumen Ontologi menyatakan realitas paling sempurna adalah Tuhan yang Maha Sempurna. Banyak variasi argumen ontologi yang berkembang sepanjang sejarah.

Argumen kebaikan dari Descartes (1596 – 1650) menyatakan bahwa di dunia ini ada kebaikan. Di antara kebaikan itu ada yang lebih baik. Dari yang lebih baik itu, ada yang lebih baik lagi, dan seterusnya, kita sampai kepada yang paling baik yaitu Tuhan yang Maha Baik. Jadi, terbukti bahwa Tuhan ada sebagai yang Maha Baik.

Argumen wujud dari Sadra ( 1571 – 1636) menyatakan bahwa Tuhan adalah wujud paling sempurna.

1) Ada wujud.
2) Wujud adalah sempurna, tidak ada yang lebih dari wujud.
3) Realitas adalah kesempurnaan wujud.
4) Wujud adalah tunggal dan sederhana.
5) Realitas tunggal itu bergradasi dalam intensitas kesempurnaan.
6) Intensitas kesempurnaan wujud mencapai kesempurnaan tertinggi.
7) Tuhan adalah kesempurnaan wujud tertinggi, Ada Maha Sempurna.

Argumen wujud ini berhasil membuktikan Tuhan Ada, Sempurna, dan Tunggal. Sementara, keragaman di alam raya adalah keragaman intensitas kesempurnaan wujud.

Argumen kemungkinan dari Ibnu Sina (980 – 1037) menyatakan bahwa alam semesta ini adalah wujud-mungkin sedangkan Tuhan adalah wujud-pasti. Meja, misalnya, adalah wujud-mungkin. Maksudnya, meja mungkin saja ada tapi mungkin juga tidak ada. Agar meja, benar-benar, menjadi ada maka perlu penyebab menjadi ada. Yaitu tukang kayu yang menciptakan meja itu. Tanpa tukang kayu, meja selamanya hanya menjadi mungkin belaka.

Selanjutnya, tukang kayu itu sendiri adalah wujud-mungkin juga. Sehingga tukang kayu itu juga perlu penyebab agar dirinya menjadi ada. Dan seterusnya, setiap penyebab adalah wujud-mungkin yang memerlukan penyebab lain untuk ada. Seluruh barisan wujud-mungkin ini akan selamanya menjadi kemungkinan tanpa kepastian bila tidak ada yang memastikan. Tetapi, saat ini, kita benar-benar tahu bahwa ada meja, ada alam semesta. Maka di antara wujud-mungkin itu pasti ada wujud-pasti yang menyebabkan, memastikan, semua menjadi ada. Wujud-pasti itu adalah Tuhan yang Maha Pasti. Jadi, Tuhan pasti ada.

Argumen imkanu ashraf (IA) dari Suhrawardi (1154 – 1191). IA atau most-noble-contingency menyatakan bahwa jika sesuatu dengan kemungkinan rendah eksis maka sesuatu dengan kemungkinan lebih tinggi pasti sudah eksis.

Kita bisa menggunakan ilustrasi untuk menjelaskan maksud IA. Misal intensitas sinar matahari di permukaan bumi adalah 5 derajat pada siang itu. Maka, di angkasa, pasti eksis sinar matahari dengan intensitas lebih kuat dari 5 derajat misal 7 derajat. Dan di dekat permukaan matahari, eksis sinar matahari dengan intensitas lebih kuat dari 7 derajat misal 99 derajat.

Kesimpulan sebaliknya tidak pasti terpenuhi. Maksudnya, ketika di dekat permukaan matahari eksis sinar intensitas 99 derajat, maka, belum pasti di permukaan bumi eksis sinar intensitas 5 derajat. Karena bisa jadi sinar terhalang oleh bulan pada peristiwa gerhana matahari. IA menyatakan: jika posibilitas rendah (5 derajat) eksis maka posibilitas lebih tinggi (99 derajat) pasti sudah eksis.

1) Realitas alam raya adalah mungkin. Anggap posibilitas 50%.
2) Karena alam raya eksis maka realitas dengan posibilitas lebih tinggi juga pasti eksis. Misal posibilitas 60%.
3) Posibilitas yang lebih tinggi lagi juga eksis sampai mencapai yang tertinggi yaitu IA, imkanu ashraf, most-noble-contigency.
4) IA adalah niscaya sempurna yaitu Tuhan Maha Sempurna.
5) Terbukti Tuhan Maha Sempurna Ada.

5. Bukti 1.0C: Argumen Fisikologi menyatakan bahwa mesin-mesin fisik mengerjakan tugas-tugas tertentu sesuai tujuan rancangan desainernya. Jam dinding, misalnya, bergerak memutar jarum jamnya dengan tujuan untuk menunjukkan waktu. Maka jam dinding ini punya tujuan, dan menunjukkan adanya desainer. Hewan punya tujuan untuk mencari makan, manusia punya tujuan untuk bekerja, virus covid punya tujuan untuk reproduksi, itu semunya menunjukkan adanya desainer. Desainer, perancang, alam semesta adalah Tuhan yang Maha Cerdas.

Barangkali, di era digital ini, kita bisa mempertimbangkan media sosial. Media sosial menjalankan tugas-tugas tertentu, berbagi gambar, berbagai status, komunikasi pesan, dan lain-lain. Media sosial punya tujuan sesuai desainernya. Jadi, media sosial pasti ada desainernya. Demikian juga, alam raya pasti ada desainernya yaitu Tuhan yang Maha Hebat.

Kita masih bisa menambahkan lebih banyak argumen rasional yang membuktikan bahwa Tuhan memang ada. Sampai di sini, kita bisa menanyakan seberapa efektifkah bukti rasional itu? Sangat efektif.

Khususnya, argumen kosmologi sangat efektif membuktikan bahwa Tuhan memang ada, kepada seluruh lapisan masyarakat. Segala sesuatu ada penciptanya dan pencipta alam semesta adalah Tuhan. Sementara, argumen rasional lainnya menambah keyakinan bagi mereka yang berminat.

Saya mengestimasi hasil argumen rasional ini, mendorong 70 orang atau lebih, yakin bahwa Tuhan memang ada, dari 100 orang yang diamati. Awalnya, asumsikan 50 orang agak yakin bahwa Tuhan ada. Sementara, 50 orang lainnya agak ragu.

Argumen rasional berhasil menambah orang yang lebih yakin bahwa Tuhan memang ada. Estimasi saya,

Yakin = 70 orang
Ragu = 20 orang
Menolak = 10 orang

Kita bisa mengatakan efektifitas argumen rasional adalah 70 orang dari 100 orang.

6. Antinomi Eksistensi Tuhan

Mengapa argumen rasional tidak bisa mencapai 100 orang seluruhnya menjadi yakin eksistensi Tuhan? Immanuel Kant menjawab karena adanya antinomi, atau paradox. Tesis bahwa “Tuhan Ada” tidak bisa dibuktikan langsung secara rasional. Sementara, antitesis bahwa “Tuhan tidak ada” juga tidak bisa dibuktikan langsung secara rasional. Tesis dan antitesis tetap bertentangan tanpa solusi, itulah antinomi.

Antinomi bisa kita selesaikan dengan sintesa-dialektika, pada umumnya. Solusi bisa berupa sintesa aposteriori atau sintesa apriori.

Tesis: matahari terbit pukul 06.00
Antitesis: matahari tidak terbit pukul 06.00

Untuk menyelesaikan paradox di atas, kita bisa melakukan pengamatan pada pukul 06.00 apakah matahari terbit? Jika terbit maka tesis diterima. Jika tidak terbit maka antitesis yang diterima. Sintesa ini kita peroleh setelah ada pengamatan fisik – maka disebut sintesa aposteriori.

Tesis: 1 + 12 = 13
Antitesis: 1 + 12 tidak 13

Paradox di atas dapat kita selesaikan dengan sintesa apriori, tanpa pengamatan. Kita hanya perlu menganalisis tesis dan antitesis dengan lebih teliti. Tesis “1 + 12 = 13” adalah benar bila yang dimaksud adalah penjumlahan bilangan seperti biasa, bilangan real. Tetapi, antitesis “1 + 12 tidak 13” adalah benar jika yang dimaksud adalah operasi bilangan pada jam dinding yang angka paling besar hanya 12 saja.

Kembali kepada tesis “Tuhan Ada,” kita tidak bisa membuat sintesa aposteriori. Karena Tuhan lebih besar dari semua hasil pengamatan. Atau, semua hasil pengamatan pasti bukan Tuhan. Sementara, sintesa apriori juga gagal. Karena kita tidak bisa membatasi definisi Tuhan. Setiap pembatasan, hasilnya, pasti bukan Tuhan. Sehingga, hasil akhir tetap ada antinomi.

Meski ada antinomi, argumen-argumen rasional di atas, menurut estimasi saya, berhasil menguatkan tesis bahwa “Tuhan Ada” mencapai 70 orang dari 100 orang yang diamati – hipotetis. Selanjutnya, kita akan mengembangkan argumen moral untuk meningkatkan efektifitas lebih dari 70.

7. Bukti 2.0: Argumen Moral membuktikan bahwa secara moral Tuhan pasti ada. Argumen moral berbeda dengan argumen rasional yang lebih logis. Argumen moral akan kita uraikan dalam bentuk deskripsi. Penilaian, kita dasarkan pada penilaian estetika yang mengandalkan kekuatan rasa.

Secara moral, kita yakin bahwa manusia bertanggung jawab atas semua pilihan bebasnya. Orang yang menanam jagung berhak memanen jagung. Orang yang mencuri uang harus menanggung resiko dihukum. Orang yang beramal kebaikan berhak mendapat balasan kebaikan. Begitu juga, orang jahat bertanggung jawab atas resikonya.

Kenyataannya, dunia bisa seakan-akan terbalik. Koruptor, para pencuri uang rakyat, hidup mewah dengan pesta pora gemerlap dunia. Sementara, orang-orang baik yang rajin bekerja tetap hidup miskin tersisih di kampung kumuh. Mengapa bisa begitu?

Karena semua yang kita amati adalah dunia fenomena, dunia penampakan. Sementara, dunia noumena, dunia sejati tetap tersembunyi dari pandangan orang biasa. Koruptor yang hidup mewah gemerlap, di dunia penampakan, sejatinya mereka terpuruk sengsara di dunia noumena. Sementara, orang-orang baik yang hidup sederhana di kampung, sejatinya, sedang menjalani hidup bahagia sempurna di dunia noumena.

Hukum moral berjalan dengan pasti di dunia noumena, kebaikan dibalas dengan kebaikan, begitu pula sebaliknya. Sementara, di dunia fenomena, hukum moral tampak ada pembelokan di sana-sini. Pembelokan itu sekedar penampakan, tidak lebih. Sejatinya, semua berjalan dengan hukum moral yang sempurna. Tuhan yang Maha Baik menjamin berjalannya hukum moral dengan konsisten di dunia noumena. Sementara, pembelokan moral di dunia fenomena adalah batu ujian bagi orang-orang bermoral. Mereka yang bermoral justru makin kuat nilai moralnya dengan adanya ujian-ujian.

Hukum moral berjalan dengan tepat bukan karena usaha manusia yang bermoral. Manusia hanya bisa memilih untuk memilih jalan bermoral. Sementara, Tuhan yang Maha Kuasa yang menjamin hukum moral tegak berjalan. Kebaikan dibalas oleh kebaikan bukan karena perilaku manusia yang berbuat baik. Balasan kebaikan terjadi hanya karena Tuhan yang Maha Baik memberi kebaikan bahkan dengan yang lebih baik.

Semua perilaku orang-orang bermoral tidak akan mampu mengubah sesuatu menjadi lebih baik di dunia noumena. Tetapi, sesuatu menjadi lebih baik, di dunia noumena, karena Tuhan menghendaki menjadikannya lebih baik, untuk kemudian, melimpahkan kebaikan itu kepada orang-orang yang bermoral, orang-orang pilihan Tuhan.

Sampai di sini, secara moral, kita berhasil meyakinkan bahwa manusia mempunyai pilihan bebas sehingga bertanggung jawab sesuai hukum moral sejati. Dan, kita juga meyakini hadirnya Tuhan yang Maha Baik yang menjamin hukum moral berjalan dengan tepat.

Masih ada sedikit pertanyaan moral: bila koruptor, pencuri uang rakyat, bisa hidup mewah di dunia ini, bukankah itu pilihan yang menarik? Sementara, di dunia ini, orang-orang baik justru hidup sederhana dengan menjalani banyak ujian.

Jawaban pertanyaan moral itu mengantar kita kepada kehidupan di alam-setelah-dunia ini. Kehidupan seorang anak manusia tidak berakhir dengan kematiannya. Memang benar, dengan mati maka, berakhir kehidupan di dunia fenomena ini. Kematian justru mengantarkan kita ke alam-setelah-dunia, lebih terbuka ke alam noumena. Orang jahat, di alam-setelah-dunia, akan memperoleh balasan setimpal, misal koruptor pencuri uang rakyat. Begitu juga orang baik memperoleh balasan kebaikan yang berlimpah.

Namun perlu diingat bahwa di saat ini pun, para koruptor sedang menjalani kehidupan sengsara di dunia noumena meskipun tampak mewah di dunia penampakan. Sementara, orang-orang bermoral, saat ini, sedang menjalani hidup bahagia di dunia noumena apa pun yang terjadi di dunia penampakan.

Argumen moral, sampai di sini, mengantarkan kita kepada keyakinan yang mantap tentang tanggung jawab moral setiap anak manusia, Maha Baiknya Tuhan, dan kehidupan di alam-setelah-dunia.

Berapa efektivitas argumen moral? Sangat efektif. Saya kira banyak orang meyakini eksistensi Tuhan dengan sentuhan aspek moral. Bila digabungkan dengan argumen rasional, total dengan argumen moral, estimasi saya mendekati 90 orang dari 100.

Yakin: 90 orang
Ragu: 5 orang
Menolak: 5 orang

Selanjutnya, kita akan membahas argumen moral-sempurna untuk meningkatkan efektivitas di atas 90. Meski kita membahas argumen moral-sempurna pada urutan terakhir, sejatinya, argumen ini menyempurnakan dengan cara menghubungkan bukti 1.0: argumen rasional dengan bukti 2.0: argumen moral. Karena itu, saya menyebutnya sebagai bukti 1.5: argumen moral-sempurna.

8. Bukti 1.5: Argumen Moral-Sempurna membuktikan bahwa dengan seluruh kapasitas yang dimiliki manusia, yang bisa dikomunikasikan, meyakini bahwa Tuhan ada. Pembuktian ini, seperti argumen moral pada umumnya, mendasarkan penilaian pada rasa, penilaian estetik.

9. Bukti 1.5A: Argumen Cantik Sempurna menunjukkan bahwa penilaian cantik adalah sempurna dalam dirinya sendiri. Maksudnya, ketika kita menilai sesuatu sebagai cantik maka cantik itu sudah sempurna apa adanya. Alam pegunungan ini begitu cantik, begitu indah. Alam pegunungan itu indah dengan dirinya sendiri. Kita tidak perlu alasan tambahan untuk menilai alam sebagai cantik. Kita tidak perlu survey untuk menguatkan bahwa alam pegunungan itu cantik. Dan, klaim cantik berlaku universal. Siapa pun orangnya, yang melihat alam pegunungan ini maka, akan menilainya sebagai cantik.

Di sisi kita, sebagai subyek, menemukan banyak hal yang bersifat cantik: alam pegunungan, gadis, sawah menghijau, dan lain-lain. Di antara obyek cantik, yang sempurna dalam diri mereka itu, ada yang lebih cantik. Dari yang lebih cantik masih ada yang lebih cantik lagi. Seterusnya sampai yang paling cantik, yang paling sempurna. Dia adalah Tuhan yang Maha Sempurna, Sang Maha Cantik.

10. Bukti 1.5B: Argumen Sublim menyatakan bahwa manusia memiliki kemampuan menilai pengalaman sublim. Letusan gunung berapi, gempa bumi dahsyat, dan gelombang tsunami adalah beberapa contoh fenomena alam yang mengantar kepada pengalaman sublim. Gelombang tsunami itu begitu besar, lebih besar dari seluruh kemampuan kita untuk menyelamatkan diri. Badan kita bisa habis disapu gelombang tsunami. Tapi, di saat yang sama, kita sadar bahwa jiwa kita lebih besar dari gelombang tsunami itu. Pengalaman sublim terbentuk ketika kita merasa lemah, dari sisi badan dan bahkan imajinasi, tapi di sisi jiwa, kita merasa lebih besar. Jiwa kita lebih besar dari gelombang tsunami. Akal kita bisa memahami ada yang lebih besar dari gelombang tsunami. Bahkan ada yang maha besar yaitu Tuhan Maha Agung.

Perasaan sublim ada pada jiwa kita bukan berada pada obyeknya, bukan pada gelombang tsunaminya. Jiwa kita, jiwa manusia, lebih besar dari fenomena alam raya. Klaim sublim ini juga berlaku universal. Setiap orang yang berjiwa akan mampu mengalami peristiwa sublim, mereka menyadari ada jiwa yang lebih besar dari fenomena alam. Dari jiwa yang besar itu masih ada yang lebih besar lagi. Dia adalah Tuhan yang Maha Besar, Tuhan yang Maha Agung.

11. Bukti 1.5C: Argumen Teleologis menyatakan bahwa alam raya mempunyai tujuan akhir. Apa tujuan akhir dari alam semesta? Tujuannya, misalnya, adalah kemajuan ekonomi terbaik. Tetapi kita, sebagai manusia, bisa memikirkan bahwa masih ada yang lebih baik dari kemajuan ekonomi terbaik itu. Kemajuan ekonomi bisa berubah sewaktu-waktu. Sehingga, kemajuan ekonomi tidak bisa menjadi tujuan akhir dari alam semesta.

Apa pun kondisi terbaik dari alam semesta, sewaktu-waktu, masih bisa berubah menjadi lebih baik lagi. Maka kondisi alam semesta tidak bisa menjadi tujuan akhir. Dunia ini selalu berputar.

Tujuan akhir alam semesta adalah hadirnya manusia-manusia bermoral. Apa tujuan dari manusia bermoral? Tujuannya adalah menjadi manusia bermoral itu sendiri. Jadi, manusia bermoral adalah tujuan akhir dari alam semesta.

Mengapa manusia bermoral bisa menjadi tujuan akhir? Sedangkan alam semesta tidak bisa. Karena, manusia hanya bisa menjadi bermoral, akibat dari pilihan bebas manusia tersebut. Manusia bisa memilih jadi jahat tetapi mereka memilih menjadi manusia bermoral. Mereka, manusia bermoral, adalah tujuan akhir dan tujuan tertinggi dari alam semesta ini.

Kita bisa menerima bahwa manusia bermoral adalah tujuan akhir alam raya. Sementara, bila kita lihat alam nyata, banyak orang bermoral hidupnya justru tidak kaya raya. Sedangkan, mereka yang jahat, misal perampok uang rakyat, justru hidup mewah dengan pesta pora. Bagaimana bisa ada fenomena begitu?

Dunia fenomena adalah dunia penampakan belaka, bukan alam yang sebenarnya. Alam sejati adalah dunia noumena yang tersembunyi dari penampakan orang biasa. Di alam noumena, saat ini dan nanti, orang-orang bermoral hidup bahagia. Sedangkan penjahat hidup sengsara. Tuhan yang Maha Baik menjamin itu semua. Orang-orang bermoral mendapat anugerah berlimpah dari Tuhan yang Maha Sempurna.

Perlu dicatat bahwa orang-orang bermoral memperoleh kebaikan di dunia noumena bukan karena usaha mereka yang berbuat baik dan bermoral itu. Usaha mereka tidak akan mampu mengubah sesuatu di dunia noumena menjadi lebih baik. Mereka memperoleh kebaikan yang berlimpah karena Tuhan berkehendak melimpahkan kebaikan itu kepada orang-orang bermoral. Mereka mencapai “Kebaikan Tertinggi Sejati” bukan karena usaha mereka. Tetapi karena Tuhan menganugerahkan itu kepada mereka.

Tuhan Maha Baik. Tuhan Maha Kuasa. Tuhan Maha Sempurna.

Berapa efektivitas argumen moral-sempurna kali ini? Saya mengestimasi lebih dari 99. Tentu saja dengan menggabungkan argumen rasional bahwa segala sesuatu ada yang menciptakan maka Tuhan adalah pencipta alam semesta, ditambah dengan argumen moral bahwa Tuhan adalah yang menjamin orang bermoral berlimpah anugerah, dan argumen moral-sempurna bahwa Tuhan yang mengantarkan manusia bermoral meraih “Kebaikan Tertinggi Sejati.”

12. Bukti 3.0: Argumen Spesial menyatakan bahwa Tuhan hadir pada momen-momen spesial. Efektivitas argumen spesial bisa mencapai 100. Hanya saja, sesuai namanya, argumen spesial hanya berlaku spesial, partikular. Argumen spesial tidak meng-klaim berlaku universal. Masing-masing orang punya momen yang unik. Sementara, orang lain juga tidak berhak menolak argumen spesial. Argumen spesial valid secara partikular.

Covid-19 adalah bukti spesial hadirnya Tuhan. Seorang dokter muda, usia sekitar 30an, merawat banyak pasien. Ketika pandemi covid merebak, makin banyak pasien yang perlu perawatan. Covid bisa kita cegah dengan lebih sering cuci tangan. Dokter muda itu, awalnya, cuek saja masalah agama dan Tuhan. Dia sering melihat teman-temannya, di kantor, melakukan wudu dengan cuci tangan, wajah, dan kaki setiap pagi, siang, dan sore.

Bertahun-tahun, pemandangan teman-temannya berwudu dianggapnya biasa saja. Ketika pandemi, dokter muda melihatnya secara spesial. Orang sering wudu artinya adalah mereka sering cuci tangan. Sehingga, mereka terjaga dari pandemi covid. Dokter muda itu berpikir, “Ajaran wudu itu pasti ajaran dari Tuhan yang Maha Tahu.” Dokter muda itu menjadi yakin Tuhan telah hadir untuknya, kemudian dia memeluk agama Islam dan rajin beribadah sesuai ajaran agama. Bagi dokter muda itu, pandemi adalah momen special. Bukti spesial, argumen spesial bahwa Tuhan memang ada bahkan hadir untuknya.

Bagi orang lain, menyaksikan teman-teman berwudu adalah hal biasa-biasa saja. Bagi dokter muda itu, orang berwudu adalah momen spesial hadirnya Tuhan.

Mimpi adalah bukti spesial hadirnya Tuhan. Seorang suami yang menikahi istrinya lebih dari 20 tahun, sampai sekarang, belum punya anak. Suatu malam, suami itu bermimpi bertemu seorang kakek berbaju putih yang menyuruhnya memberi sedekah ke 7 anak yatim. Suami itu belum bertanya mengapa tetapi kakek menjelaskan bahwa dia akan mendapat anugerah seorang anak.

Terjaga dari mimpinya, suami itu dengan cepat mencari beberapa anak yatim. Kemudian dia memberi sedekah ke anak yatim sampai lengkap 7 orang. Barangkali karena gembiranya, dia menambah sedekah ke 7 anak yatim lainnya lagi. Beberapa hari kemudian, dia mengulangi sedekah ke 7 anak yatim lagi, berulang-ulang.

Dengan menemui sejumlah anak yatim, suami itu merasa bahagia. Dia bahkan merasa seperti sudah punya anak. Bahkan punya anak yang jumlahnya sangat banyak. Apakah dia masih membutuhkan hadirnya anak kandung? Bukankah semua anak adalah anak kita, yang perlu kita cintai?

Tiga bulan setelah kejadian itu, benar saja, istrinya positif hamil. Dan pada waktunya, melahirkan dengan selamat. Lengkap sudah kebahagian mereka. Bagi suami itu, mimpinya bertemu kakek berbaju putih adalah bukti hadirnya Tuhan. Suami itu makin yakin dengan hadirnya Tuhan dalam hidupnya.

Kucing hitam adalah bukti spesial hadirnya Tuhan. Saya sering melihat kucing hitam betina yang melintas di depan rumah saya. Kucing kampung hitam itu, liar tanpa pemilik, punya 3 anak yang masih diasuhnya. Wajar, sebagai induk, kucing hitam itu menyusui anak-anaknya penuh cinta. Mereka, kucing hitam dan anak-anaknya, tinggal 200 meter di sebelah selatan rumah saya. Sementara, ada tempat sampah besar di sebelah utara rumah saya berjarak sekitar 100 meter.

Ketika lapar, kucing hitam itu akan pergi ke tempat sampah mengais-ais sisa tulang atau makanan. Setelah cukup kenyang dari tulang sisa makanan, kucing hitam itu kembali melintas di depan rumah saya menuju sarangnya untuk menyusui anak-anaknya. Saya kagum melihat kucing hitam itu mengasuh anaknya penuh cinta.

Setelah beberapa hari, badan anak-anak kucing itu makin besar. Kebutuhan energi mereka, tampaknya, tidak cukup hanya dari susu induknya. Perlu tambahan sumber energi lainnya.

Kucing hitam, sang induk, seperti biasa melintas di depan rumah saya menuju tempat sampah. Dia tampak lapar. Di tempat sampah, dia menemukan tulang sisa makanan orang, yang cukup besar. Dia memakannya hanya sedikit bagian, meski dia lapar. Kemudian dia menggigit tulang besar itu, membawanya berjalan, melintasi depan rumah saya, dengan mulut yang tetap menggigit tulang sisa makanan. Sampai di sarang, induk kucing itu memberikan tulang ke anak-anaknya. Dengan gembira, anak-anak kucing itu memakan tulang yang dibawakan induknya. Kucing hitam memandangi anak-anaknya dengan penuh kasih sayang.

Saya makin kagum dengan perilaku kucing hitam itu. Dengan kasih sayang, dia menyusui anaknya. Dengan kasih sayang, dia memberi makanan anaknya. Bagi saya, kucing hitam itu adalah bukti Tuhan hadir di depan kita. Tuhan yang Maha Pengasih, Tuhan yang Maha Penyayang, selalu hadir bersama kita.

Orang suci melihat Tuhan dengan mata hati adalah bukti. Orang-orang suci selalu menjaga diri agar bisa berbuat baik dan menghindari kejahatan. Orang yang disiplin, terlatih, untuk konsisten menjaga hati agar bersih, dia melihat Tuhan dengan mata hatinya. Mata hati yang suci adalah bukti yang lebih jelas dari segala penjelas.

Orang ini menatap alam raya dengan hati, menebarkan kebaikan bagi seluruh alam raya. Mencegah kemunduran dari segala yang ada. Di mana dia berada, hanya ada cahaya cinta yang terpancar darinya. Dia berdialog dengan Tuhan dalam sepinya malam. Dia berdialog dengan Tuhan dalam hiruk-pikuk kesibukan. Tuhan adalah segalanya. Kemana saja, kapan saja, ada Tuhan.

13. Cara Melihat Tuhan

Seorang anak kampung mengeluh kepada gurunya,”Mohon maaf guru. Selama ini, guru sudah mengajari kami banyak hal untuk berbuat baik, bermoral, dan berakhlak. Kiranya, guru berkenan mengajari kami cara melihat Tuhan?”

Guru menjawab, “Anakku, apa kamu memiliki saringan?”
“Saya punya saringan, guru.”
“Tolong bawa saringan itu ke mari.”

Murid itu pulang lalu datang lagi dengan membawa saringan.

“Ini saringan saya, guru.”
“Tolong isi penuh saringan itu dengan air,” perintah gurunya.

Murid itu menuruti perintah guru untuk mengisi saringan dengan air. Tentu saja, air bocor dari saringan. Murid itu, lebih banyak, menumpahkan air ke saringan lagi. Hasilnya, saringan tetap tidak terisi penuh dengan air.

“Mohon maaf guru, saya tidak bisa mengisi penuh saringan ini dengan air.”
“Ikuti aku, anakku,” kata guru.

Guru mengambil saringan dari murid, lalu, berjalan menuju sungai. Murid mengikuti guru di belakangya. Tiba di tepi sungai, guru melemparkan saringan ke tengah sungai.

“Perhatikan, saringan itu sekarang terisi penuh dengan air.”

“Kamu tidak bisa melihat Tuhan dengan cara menjauhiNya. Kamu hanya bisa melihat Tuhan dengan cara berani menceburkan diri dalam Maha Baiknya Tuhan.”

Sang murid mencoba memahami maknanya.

Di bagian ini, saya akan membahas cara melihat Tuhan. Kabar baiknya, semua orang bisa melihat Tuhan. Tetapi, tidak semua orang akan berhasil. Karena ada harga yang harus dibayar: berani menceburkan diri dalam Maha Baiknya Tuhan.

(a) Belajar, Bekerja, dan Jatuh Cinta

Belajar adalah kegiatan paling penting bagi manusia untuk mampu mengenali Tuhan. Belajar matematika dan bahasa adalah utama. Lebih utama lagi, belajar untuk selalu berpikir terbuka. Membuka pikiran dan hati untuk menerima kebenaran.

Bekerja adalah memberi kebaikan. Awalnya, bekerja bisa saja tidak dibayar. Selanjutnya, bekerja memang perlu mempertimbangkan bayaran, yaitu, saling memberi dan menerima kebaikan. Lebih dari itu, bekerja adalah tanggung jawab diri kita untuk hidup mandiri dan membantu orang terdekat. Kesulitan dan tantangan kerja menguatkan kita untuk mengenali anugerah Tuhan.

Jatuh cinta menjadikan diri Anda penuh warna, penuh bahagia, dan penuh makna. Jatuh cinta kepada pasangan, suami atau istri, memudahkan Anda mengenal anugerah Tuhan. Jatuh cinta secara umum sama baiknya. Anda bisa mencintai anak, orang tua, saudara, tetangga, dan seluruh alam raya.

Komitmen Anda yang kuat untuk belajar, bekerja, dan jatuh cinta akan membuka mata dan hati Anda untuk melihat Tuhan.

(b) Karya

Awalnya, Anda cukup dengan kerja. Selanjutnya, kerja Anda perlu meningkat menjadi karya. Karya adalah kerja unik menabur kebaikan sesuai situasi paling tepat. Untuk menghasilkan karya, Anda perlu meningkatkan ilmu melalui belajar. Anda perlu sepenuh hati mencurahkan cinta dalam hasil karya. Anda mengenali Tuhan ada di sana dan di dalam dada.

(c) Maha Karya

Karya Anda bukan biasa-biasa saja. Karya Anda melejit menjadi sebuah maha karya. Ada banyak rintangan untuk mempersembahkan maha karya. Tuhan selalu ada di sisi Anda dalam proses mempersembahkan maha karya. Apa maha karya Anda?

(d) Maha Cinta

Cinta, awalnya, menggoda. Akhirnya, makin mempesona. Anda boleh jatuh cinta, bahkan, lanjutkan kepada Maha Cinta. Untuk lebih menghayati Maha Cinta, Anda bisa belajar dari maha karya terdahulu. Anda bisa membaca maha karya dari Ibnu Arabi, Rumi, Iqbal, Sunan Kalijaga, Khalil Gibran, Goethe, dan lain-lain. Tuhan adalah Maha Cinta Sejati.

(e) Serasi

Akhirnya, Anda tidak pernah berakhir menuju tujuan akhir sebagai manusia yang sempurna dalam serasi antara maha karya dan Maha Cinta. Anda sedang menghadapkan wajah kepada Tuhan semesta.

Critical Philosophy: Berpikir Kritis Produktif

Immanuel Kant (1720 – 1804) menulis trilogi kritik dengan sukses luar biasa. Saya ingin membuat catatan tentang trilogi kritik itu. Untungnya, Deleuze (1920 – 1995) sudah membuatkan catatan itu untuk kita.

Kant's Critical Philosophy: The Doctrine of the Faculties by Gilles Deleuze

Berpikir kritis tentu berbeda dengan berpikir praktis. Jika dengan berpikir praktis kita berharap mendapat hasil terbaik dari suatu “pemikiran” maka berpikir kritis, justru, kita fokus mencermati batas-batas dari suatu “pemikiran”. Kita menegaskan keterbatasan suatu sistem filsafat dan, di saat yang sama, memastikan cakupannya. Meski filsafat kritis, atau kritik filsafat, tampak seperti melemahkan kekuatan filsafat, sejatinya, kritik filsafat justru mendorong inovasi dan kreativitas.

Dengan sadar sepenuhnya tentang cakupan dan batas-batas dari suatu konsep maka kita dengan sengaja mengembangkan konsep baru yang lebih luas, tajam, dan tepat. Sehingga, Deleuze mendefinisikan filsafat sebagai penciptaan konsep-konsep baru – yang kreatif dan inovatif. Dengan berpikir kritis, kita makin produktif.

Prolog: Realitas Kebenaran Sejati

1 Kritik Akal Murni
1.1 Kebenaran Universal
1.2 Sintesa Dialektik
1.3 Sains, Teknologi, Bisnis, Moral, Agama

2 Kritik Akal Praktis
2.1 Kehendak Bebas
2.2 Manusia Moral
2.3 Tuhan

3 Kritik Daya Nilai
3.1 Cantik Sublim
3.2 Teleologi
3.3 Akhir Semesta

4 Kritik Ekonomi Digital
4.1 Manusia Satu Dimensi
4.2 Ekonomi Serakah
4.3 Manusia Digital

5 Kritik Agama Sekular
5.1 Agama Pencerah
5.2 Sekularisasi
5.3 Dinamika

Tidak Ada Metode

Kritik tidak memiliki metode. Karena, justru metode itu yang hendak kita kritisi. Lalu, bagaimana cara meng-kritisi? Tidak ada cara baku. Tidak ada metode baku apa pun. Bagaimana pun, kita bisa saja belajar dari banyak pengalaman orang terdahulu dalam melakukan kritik. Untuk kemudian kita pakai, dan tentu, kita kritisi juga. Berikut ini beberapa ide yang bisa kita pertimbangkan.

Dekonstruksi Derrida melihat segala sesuatu dari sisi berbeda. Kita bisa mencoba dekonstruksi untuk menerapkan kritik filsafat. Dekonstruksi mencoba mencermati oposisi biner kemudian memunculkan sisi berbeda. Misalnya, Kant memberi posisi begitu kuat kepada akal manusia (reason). Bagaimana jika tidak begitu? Bagaimana jika akal, ternyata, tidak mempunyai kekuatan? Bagaimana jika makhluk-tidak-berakal mendominasi dunia?

Hermeneutika Gadamer menguatkan pandangan Heidegger bahwa pengetahuan manusia selalu melibatkan aspek interpretasi yang terikat pada budaya dan sejarah masing-masing. Karena itu, akan selalu ada interpretasi baru, sesuai budaya, menghasilkan pengetahuan baru. Misalnya, Kant menguatkan pentingnya sintesa pengetahuan dari data-indera dengan konsep apriori pemahaman akal. Bisakah interpretasi sintesa seperti itu diterapkan pada mesin cerdas, semisal artificial intelligent? Jika AI mampu melakukan sintesa seperti itu, atau bahkan mampu ber-interpretasi, apa konsekuensinya?

Konsep Baru Deleuze mendorong kita untuk memunculkan konsep filosofis yang orisinal. Saya amati, Deleuze melahirkan ide baru dengan membalik atau modifikasi terhadap konsep-konsep yang sudah ada. Misalnya, Deleuze membalik keutamaan prinsip-identitas dari Aristoteles, sehingga, menjadi yang paling utama adalah prinsip-different. Deleuze menerima konsep monisme dari Spinoza kemudian memodifikasi dengan membuang substansinya. Deleuze meyakini adanya realitas aktual dan realitas virtual. Bagaimana jika kita modifikasi dengan adanya realitas super-aktual dan realitas super-virtual?

Sekali lagi, tidak ada metode kritik. Contoh-contoh di atas bukanlah metode, sekedar pembanding dan pemicu ide bagi kita untuk melakukan kritik. Karena itu, kita bebas berkreasi!

Kritik Digital

Tidak sulit untuk melakukan kritik kepada Kant (dan Deleuze) yaitu dengan kritik digital. Ketika Kant menulis trilogi kritik, dunia digital belum berkembang sehebat sekarang. Apakah filsafat Kant tetap berlaku di era digital? Apa saja yang perlu dimodifikasi? Apakah pengetahuan apriori yang bernilai universal tetap ada di era digital? Bisa kita duga bahwa akan ada sintesa baru dengan dunia digital.

Kritik Sejarah

Peluang kritik terbuka luas dengan meluaskan perspektif sejarah filsafat. Di jaman Kant, tidak mudah menemukan tulisan-tulisan asli dari sumber pertama. Misal, Kant meng-kritik keras pandangan idealisme Berkeley. Sementara, beberapa sarjana meragukan, apakah Kant pernah membaca tulisan Berkeley secara langsung? Saat itu, tidak tersedia buku Berkeley dalam bahasa Jerman. Kant sendiri tidak menunjukkan bahwa dirinya fasih dalam bahasa Inggris.

Kita bisa meng-kritik pandangan Kant terhadap Berkeley dengan cara menyandingkan sudut pandang Berkeley yang asli, atau sudut pandang para pendukung Berkeley pasca-Kant.

Lebih jauh, saya tidak menemukan tanda-tanda bahwa Kant merujuk ke pemikir-pemikir Timur. Sehingga, menyandingkan Kant dengan pemikir Timur akan menghasilkan ide-ide yang segar. Misal, Iqbal memandang bahwa Kant berhasil mengantarkan filsafat dari bumi menembus pintu langit. Kemudian, Kant mondar-mandir dari bumi ke pintu langit. Berbeda dengan pemikir Timur, misal Ghazali, yang berhasil menembus pintu langit untuk kemudian mengajak umat manusia tamasya di taman langit.

Saya kira akan menarik bila kita sandingkan secara dialektis Kant dengan Sadra. Kant respek terhadap antinomi, paradox. Sementara, Sadra mengusulkan konsep “tasykik” atau ambiguitas. Realitas itu bersifat ambigu. Di saat yang sama hanya ada satu realitas dan banyak realitas. Kant menyatakan bahwa pengetahuan manusia adalah penampakan dari dunia fenomena. Sedangkan, Sadra merumuskan konsep identitas antara yang-mengetahui dan yang-diketahui.

Menarik lagi, menyandingkan Kant dengan Ibn Arabi. Kant menyatakan pentingnya penilaian-estetik untuk kecantikan, sublim, dan teleologis. Sedangkan Ibn Arabi mengembangkan konsep manusia sempurna, insan kamil, yang kemampuan estetikanya berkembang sempurna. Misal, Kant membedakan antara cantik dan sublim. Sementara, bagi Ibn Arabi, kedua hal di atas, cantik dan sublim, adalah sama-sama cantik. Sedangkan sublim sejati, tetap, tersembunyi dari alam raya ini. Cantik adalah cantik-dari-sang-cantik. Dan sublim adalah sublim-dari-sang-cantik. Pertanyaan tentang sublim-dari-sang-sublim, akan selalu, menjadi misteri abadi.

Berbagai macam kritik filsafat ini akan kita bahas bertahap. Semoga berkah!

Bagian 2: Ontologi Cinta dan Cantik

Bagian 2 ini hanya terdiri dari 3 bab. Namun, tiap-tiap bab secara lebih mendalam membahas masing-masing tema dengan tajam. Bab “14. Batas-batas” merupakan batas sekaligus penghubung antara epistemologi cinta dengan ontologi cinta. Kita bertanya di manakah batas-batas dari kajian filsafat.

The Problems of Philosophy - Life Span Publishers & Distributors

Russell berargumen bahwa batas dari filsafat adalah sains. Maksudnya, ketika sains membahas suatu masalah secara ilmiah maka filsafat berhenti membahasnya. Kajian kita menunjukkan bahwa sains itu sendiri tanpa batas. Setiap kajian sains yang mendalam, misal teori quantum, membutuhkan filsafat. Dengan demikian, pada akhirnya, filsafat jadi tidak punya batas – dengan menyandarkan batas kepada sains.

14. Batas-Batas
15. Manfaat Filsafat Cinta
16. Materialisasi Cinta dan Kecantikan

Selanjutnya, kita mempertimbangkan ide destruksi metafisika dari Heidegger. Sekilas, destruksi ini tampak meruntuhkan bangunan filsafat. Nyatanya, keping-keping reruntuhan filsafat menjadi bertebaran di mana-mana. Masing-masing kepingan itu, sewaktu-waktu, bisa runtuh lagi dan lagi. Sehingga, filsafat makin tidak punya batas. Batas-batas dari filsafat adalah tidak ada batas.

Bab “15. Manfaat Filsafat Cinta” sesuai judulnya membahas manfaat filsafat. Salah satunya, manfaat filsafat, adalah akrab dengan ketidakpastian. Ketika banyak orang mencari kepastian yang makin sulit ditemukan, di sisi berbeda, para pengkaji filsafat justru mencari ketidakpastian. Ketidakpastian adalah yang membuat alam raya menjadi penuh warna. Ketidakpastian – dan ketidakterbatasan – adalah yang membuat hidup dan mati lebih bermakna.

Manfaat filsafat, berikutnya, adalah dengan tidak memberi jawaban. Filsafat menjadi lebih bermanfaat karena memberikan pertanyaan kepada kita – dan tanpa jawaban. Bukan pertanyaan yang biasa-biasa. Pertanyaan filsafat adalah pertanyaan besar – dan biasanya sulit dijawab. Umat manusia menjadi besar, jiwa dan spiritualnya, dengan merenungkan pertanyaan-pertanyaan besar itu.

Masih di bab yang sama, Manfaat Filsafat Cinta, kita mengkaji secara mendalam ontologi cinta. Kita bisa memandang bahwa semua kajian kita sebelum ini adalah pengantar untuk membahas ontologi cinta. Sehingga, ontologi cinta adalah inti dari buku ini.

Kita meminjam analisis rasional dari Immanuel Kant untuk membahas ontologi cinta. Kemudian, kita melangkah dengan konsep keyakinan dari Kierkegaard. Dan puncaknya, kita membahas cinta suci dari Ibnu Arabi.

Cinta adalah realitas paling fundamental. Akibatnya, kita tidak bisa menjawab pertanyaan apa itu cinta. Karena semua jawaban justru membutuhkan sinar cinta. Meski demikian, kita bisa mengungkapkan cinta, merasakan cinta, memaknai cinta, dan berpartisipasi menjadi sinar cinta.

Bab “16. Materialisasi Cinta dan Kecantikan” merupakan bab terakhir dari bagian 2 ini. Sesuai judulnya, bab ini membahas pembelokan cinta dari jalur sucinya. Akibatnya, cinta suci berbelok menjadi nafsu hitam yang kejam. Di saat yang sama, cinta mendominasi dunia dengan kekuatannya yang luar biasa: bit-power.

Bagaimana pun, kita optimis bisa kembali meluruskan cinta ke jalan suci. Saya mengusulkan solusinya secara sirkular yaitu pendekatan personal dan pendekatan sosial. Di mana, solusi personal membutuhkan solusi sosial, dan sebaliknya. Sehingga membentuk lingkaran masalah yang, diharapkan, berubah menjadi lingkaran solusi.

Di bab ini juga kita masuk ke ontologi kecantikan. Wajah cantik, yang sejatinya, adalah anugerah bisa berubah menjadi sumber masalah penggugah hasrat serakah. Tidak ada yang salah dengan menjadi cantik. Maka, di bagian ini, kita membahas secara mendalam ontologi cantik. Pembahasan ini mengantar kita kepada pembuktian eksistensi Tuhan yang Maha Cantik.

Cantik adalah manifestasi dari Sang Maha Cinta. Cantik adalah realitas paling nyata. Kita, umat manusia, perlu menjadi cantik. Baik cantik jasmani mau pun cantik ruhani, sampai, cantik dalam hidup dan mati.

Lanjut ke Dinamika Cinta
Kembali ke Philosophy of Love

Anthrocosmos Ethic & Politic Philosophy

Kita bisa membedakan filsafat menjadi dua: mengutamakan metafisika atau mengutamakan moral. Filsafat Barat, misal Yunani Kuno – Aristoteles, Plato, dan Socrates – tampak lebih mengutamakan metafisika. Sementara filsafat Timur lebih dominan mengutamakan moral semisal Gautama, Konghucu, Empu Gandring, dan para Nabi.

Filsafat Timur vs Filsafat Barat - YouTube

Moral dan metafisika, pada akhirnya, bertemu juga. Timur dan Barat sama-sama alam semesta. Mereka adalah kita juga. Mereka saling berjumpa. Di Barat, filsafat moral menjadi utama. Di Timur, filsafat metafisika menjadi dominan juga.

1. Paradigma Etika Kosmos
1.1 Etika Makrokosmos
1.2 Etika Mikrokosmos
1.3 Etika Antrokosmos

2. Ukuran Moral
2.1 Suara Hati
2.2 Kewajiban
2.3 Manfaat
2.4 Tertawa Mati
2.5 Profit

3. Prioritas Etika
3.1 Kebebasan
3.2 Kebenaran
3.3 Keadilan
3.4 Kemakmuran
3.5 Keagungan

1. Paradigma Etika Kosmos

Kali ini, saya akan mencatat filsafat moral dalam istilah anthrocosmos, macrocosmos, dan microcosmos. Di jaman sekarang yang tengah dihantam pandemi, kita benar-benar membutuhkan filsafat moral atau etik. Di berbagai negara terjadi korupsi dana bantuan untuk korban dampak covid. Sementara, distribusi vaksin di dunia sulit untuk dikatakan adil merata.

1.1 Etika Makrokosmos – Macrocosmos Ethics

Mudah bagi kita untuk melihat bahwa di luar sana ada roti, ada daging, ada anggur, ada uang, ada sapi, dan ada orang lain. Kebiasaan kita melihat ada sesuatu di luar sana adalah hasil bentukan etika makrokosmos. Kita meyakini ada obyek yang obyektif di luar sana.

1.2 Etika Mikrokosmos – Microcosmos Ethics

Etika mikrokosmos mengajarkan ke kita bahwa semua yang ada di luar sana, sejatinya, ada dalam diri kita sendiri. Pisang yang ada di kebun itu, sejatinya, pisang yang ada dalam diri kita. Orang miskin yang ada di pinggir jalan itu, sejatinya, adalah orang miskin yang ada dalam diri kita. Pencuri yang membobol bank itu, sejatinya, pencuri yang ada dalam diri kita. Semua yang terjadi di luar sana, sejatinya, terjadi dalam diri kita sendiri.

1.3 Etika Antrokosmos – Anthrocosmos Ethics

Etika antrokosmos merupakan perpaduan. Sepiring nasi yang ada di luar sana, benar-benar nyata, ada di luar sana. Di saat yang sama, sepiring nasi itu memang ada di dalam diri kita. Seorang pahlawan yang harum namanya itu, benar-benar, ada di luar sana. Di saat yang sama, pahlawan yang harum namanya itu memang ada dalam diri kita. Koruptor yang merusak negeri ini ada di luar sana. Di saat yang sama, koruptor yang merusak negeri ini memang ada dalam diri kita. Mereka ada dalam diri kita. Dan diri kita ada dalam diri mereka.

2. Ukuran Moral

Apa ukuran sesuatu disebut sebagai bermoral atau tidak? Siapa yang berhak menentukan? Bagaimana jika ada perbedaan penilaian?

Berikut ini ringkasan beragam sudut pandang tentang ukuran atau rujukan moral.

2.1 Suara Hati

Para pemikir besar sepanjang jaman tampak memberi porsi besar kepada suara hati untuk menentukan moral. Kita, umat manusia, sejatinya sudah mengetahui suatu tindakan itu bermoral atau tidak. Suara hati kecil kita, dengan jelas, memberi tahu kebenaran moral itu. Sebagian orang mendengarkan suara hati dan mematuhinya. Mereka adalah orang yang bermoral.

Sebagian orang yang lain, justru, menolak suara hati. Mereka menolak suara hati. Atau, mereka membelokkan suara hati dan lebih mengutamakan nafsunya. Mereka adalah orang-orang tidak bermoral.

Bagaimana cara mendengarkan suara hati? Berpikir-terbuka adalah salah satu cara kita untuk mendengarkan suara hati. Buka mata hati, buka telinga hati, dan buka hati diri sendiri. Kemudian, ikuti petunjuk suara hati. Melakukan tindakan moral sesuai suara hati akan membentuk karakter seseorang: menjadi orang baik hati, orang adil, orang bijak, orang dermawan, dan lain-lain.

Karakter orang-orang bermoral, selanjutnya, membisikkan suara hati dengan lebih jernih.

Dari mana sumber suara hati? Ada yang bersumber dari bumi. Ada pula yang bersumber dari langit. Sehingga, kita mengenal ada kearifan manusiawi dan ada pula wahyu ilahi.

2.2 Kewajiban

Ukuran moral adalah kewajiban. Suatu tindakan menjadi bermoral karena tindakan itu wajib untuk kita lakukan.

Orang bermoral wajib memenuhi janji. Orang bermoral wajib menghormati ibunya – dan seluruh umat manusia. Orang bermoral wajib menjaga perdamaian. Orang bermoral wajib berbuat adil.

Bagaiamana kita bisa mengetahui suatu kewajiban? Berpikir-terbuka adalah salah satu caranya. Mengetahui suatu kewajiban, tampak, menuntut pemikiran lebih panjang dari mendengarkan suara hati – yang sering terdengar jelas seketika.

Sesuatu menjadi wajib, sehingga bermoral, jika setiap orang akan menyetujui perilaku itu. Atau, tidak ada orang yang keberatan dengan perilaku itu. Semua orang akan setuju untuk bersikap adil. Sementara, semua orang, yang waras, akan menolak tindakan korupsi. Korupsi adalah tidak bermoral. Sedangkan adil adalah bermoral.

Tentu saja ada, bahkan banyak, tindakan yang ada di antara persetujuan dan penolakan banyak orang. Tugas kita, sebagai manusia, untuk memutuskannya.

2.3 Manfaat

Barangkali, asas manfaat adalah ukuran moral paling jelas. Tindakan yang bermanfaat adalah tindakan yang bermoral. Sementara, tindakan yang tidak bermanfaat, atau merugikan pihak tertentu, adalah tidak bermoral.

Manfaat itu jelas, bisa dilihat dengan mata kepala, bahkan bisa kita ukur. Dengan demikian, ukuran moral berupa manfaat adalah yang paling kuat. Benarkah begitu?

Pertanyaan masih bisa berlanjut. Manfaat untuk siapa? Manfaat sebesar-besarnya bagi seluruh masyarakat, bagi seluruh alam semesta. Manfaat bagi pejabat, bisa saja merugikan rakyat. Manfaat bagi bos, bisa saja merugikan bagi pekerja. Manfaat bagi industri, bisa saja merugikan lingkungan sampai krisis iklim. Atau sebaliknya: manfaat bagi rakyat tapi merugikan bagi pejabat.

Menentukan moral berdasar manfaat, ternyata, adalah tugas berat. Kita perlu memikirkan lebih dalam. Bahkan, perlu lebih cermat dibanding dengan ukuran kewajiban mau pun suara hati.

2.4 Tertawa Mati

Memang absurd. Bermoral adalah ketika kamu bisa tertawa sampai mati. Begitulah pandangan absurdisme.

Tidak ada nilai moral. Tidak ada pula tindakan tidak bermoral. Moral adalah nilai yang diciptakan oleh manusia. Manusia bebas melakukan apa saja. Tetapi, tentu saja, alam semesta akan memberikan konsekuensi bagi pelakunya.

Abusrdisme memang absurd, tetapi, tidak absurd-absurd banget. Mereka masih masuk akal. Bahkan bisa saja masuk ke hati. Meski pun mereka menganggap nilai moral adalah ciptaan manusia sendiri, tetapi, konsekuensi dari perilaku manusia adalah fakta yang harus dihadapi. Karena itu, menurut mereka, apa pun yang terjadi mari terus tertawa. Tertawa sampai mati.

2.5 Profit

Apa saja yang menghasilkan uang maka itu bermoral. Apa saja yang memberikan cuan, profit, maka layak dikejar.

Dalam teori, mengejar profit, tampak, seperti tidak bermoral. Kenyataannya, bukankah hampir setiap manusia mengejar uang? Mengejar profit? Mengejar cuan?

Sejatinya, mengejar profit bisa dibenarkan sejauh tidak melanggar aturan lainnya. Dan, hal ini banyak terjadi. Bahkan, sebagian besar orang sudah menyadari ini. Sehingga, manusia mengejar profit adalah manusiawi – bahkan bisa tetap bermoral.

Masalah menjadi muncul, ketika, profit menjadi satu-satunya ukuran moral. Akibatnya, manusia berubah menjadi manusia satu dimensi: manusia ekonomi. Dalam jangka pendek, seperti menguntungkan. Dalam jangka panjang, bisa sangat merugikan misal perusakan alam dan krisis iklim.

Menjadi sangat penting bahwa profit harus bersanding dengan ukuran moral lain, jika hendak dijadikan acuan. Dalam banyak hal, bahkan profit bisa menjadi indikator keseriusan suatu tindakan. Jika tidak profit maka perlu diwaspadai apakah ada yang salah. Jika profit masih tetap perlu dipertimbangkan aspek lainnya.

3. Prioritas Etika
3.1 Kebebasan
3.2 Kebenaran
3.3 Keadilan
3.4 Kemakmuran
3.5 Keagungan

(Bersambung)

Bagian 1: Epistemologi Cinta

Di bagian ini, kita akan menyelidiki apa itu cinta sejati. Epistemologi cinta adalah pendekatan filosofis untuk mengetahui, memahami, dan memaknai cinta. Untuk mengetahui cinta dengan lebih mudah, kita perlu, lebih awal mengetahui apa itu cantik. Tampaknya, cantik lebih jelas di depan mata. Maka di bagian ini, juga, kita akan membahas epistemologi cantik.

The Problems of Philosophy - Life Span Publishers & Distributors

Penyelidikan lebih lanjut, menunjukkan bahwa kita juga perlu mengetahui apa saja penyusun dari suatu obyek cantik, misal wajah yang cantik. Mata bening, pipi lembut, dan alis hitam adalah beberapa materi penyusun wajah cantik. Maka kita perlu menyelidiki pula espistemologi materi, sebagai penyusun obyek cantik, di alam semesta ini.

Pendekatan kita kepada epistemologi cinta, mengantarkan kita untuk meyelidiki epistemologi cantik. Pada gilirannya, mengantar kita ke epistemologi materi alam semesta.

Dengan pertimbangan bahwa materi tampak lebih jelas dari cinta yang lembut maka kita akan membahas espistemologi dengan fokus awal kepada epistemologi materi alam raya, disusul epistemologi cantik, dan terakhir epistemologi cinta. Dalam penyelidikan ini, kita mempertimbangkan perkembangan sains terkini (dan teknologi), filsafat masa lalu (dan masa kini), serta karya seni atau pun pendekatan spiritual.

Pembahasan epistemologi menjadi bagian terbesar dari tulisan ini – dibanding dengan ontologi cinta dan dinamika cinta. Hal ini bersesuaian dengan pandangan Bertrand Russell bahwa problem terbesar dari filsafat adalah epistemologi. Solusi yang memadai untuk epistemologi akan memudahkan kita membahas metafisika (ontologi) dan aksiologi.

Pendekatan kritik filsafat, misal trilogi kritik dari Immanuel Kant, juga memberi porsi besar kepada tema epistemologi. Meski merujuk ke kritik filsafat, saya sendiri lebih cenderung menggunakan pendekatan eklektik, di mana, saya menampilkan berbagai macam sudut pandang para filosof, untuk kemudian, menyusunnya menjadi argumen yang padu. Saya jarang meng-kritik pandangan para filosof secara langsung. Anda bisa memahaminya secara tidak langsung dengan alur tulisan secara utuh.

  1. Cantik Penampakan dan Cinta Sejati
  2. Eksistensi Cinta
  3. Cantik Alami
  4. Idealisme
  5. Pengetahuan Pengenalan dan Deskripsi (+Lampiran Hoax)
  6. Induksi: Cantik Keturunan
  7. Pengetahuan Prinsip Umum
  8. Pengetahuan A Priori
  9. Dunia Universal
  10. Pengetahuan Tentang Universal
  11. Pengetahuan dan Intuisi Cinta
  12. Kebenaran dan Kesesatan
  13. Pengetahuan, Kesesatan, dan Opini

Di bagian awal kita langsung mencoba untuk mengetahui apa itu cinta sejati. Tidak mudah untuk melakukan itu. Kita berhadapan dengan dua jenis cinta yaitu cinta sejati dan cinta penampakan. Bahkan untuk mengetahui cinta-penampakan saja, kita perlu penyelidikan yang mendalam tentang cantik-penampakan dan materi-penampakan.

Dengan “halangan” dunia-penampakan maka kita tidak berhasil mengakses cinta-sejati. Begitu juga cantik-sejati dan materi-sejati masih tersembunyi. Di sisi lain, kita berhasil membuktikan bahwa cinta itu ada, cinta sejati itu ada. Hanya saja, kita tidak bisa langsung mengetahuinya.

Semua pengetahuan kita tentang dunia adalah, sekedar, pengetahuan tentang dunia penampakan. Russell membagi dunia menjadi dunia penampakan dan dunia sejati, tampaknya, mengikuti Immanuel Kant yang membagi dunia menjadi dunia fenomena dan dunia noumena. Dunia fenomena hadir dalam pengetahuan kita sebagai penampakan. Sedangkan dunia noumena tatap tersembunyi dalam dirinya sendiri.

Di bab 4, kita membahas tema idealisme. Menurut Russell, idealisme adalah pandangan yang diremehkan oleh kebanyakan orang. Karena idealisme memandang bahwa alam di dunia luar adalah tidak nyata. Semua yang ada di dunia luar, sejatinya, hanya pikiran kita belaka. Sementara, bagi pengkaji filsafat, idealisme perlu dibahas dengan tuntas. Russell meng-kritik keras pandangan idealisme Berkeley. Bagaimana pun, Russell mengakui bahwa idealisme dogmatis tidak mudah dibantah.

Bab 5, 6, dan 7 membahas karakter dari pengetahuan manusia. Kita mempertimbangkan pengetahuan pengenalan langsung dan pengetahuan deskripsi. Di jaman digital ini, pegetahuan deskripsi berkembang begitu cepat. Sayangnya, pengetahuan deskripsi mudah disusupi oleh informasi hoax. Sehingga kita perlu membekali diri, dan masyarakat, untuk lebih bijak menyikapi hoax.

Dengan beragam keterbatasannya, perkembangan pengetahuan melalui induksi tetap menjadi metode paling utama. Kita perlu mempertimbangkan konsep falsifikasi dari Popper sehingga tetap waspada dengan ragam batas-batas ilmu pengetahuan. Pengembangan pengetahuan melalui induksi menjadi lebih kuat dengan pendekatan matematis sehingga konsisten dengan beragam prinsip umum: identitas, non-kontradiksi, kausalitas, dan lain-lain.

Bab 8, 9, dan 10 membahas pengetahuan apriori dan pengetahuan universal. Russell membela para filosof rasionalis yang meyakini validitas pengetahuan apriori. Bahkan, setiap pengetahuan empiris induktif, agar valid secara universal, perlu bersandar kepada pengetahuan apriori. Pengetahuan universal memberi priotitas lebih utama kepada pengetahuan tentang cinta dan cantik dibanding pengetahuan materi obyektif. Sehingga, pada bab-bab ini, kita mulai kembali mengutamakan epistemologi cinta.

Bagian akhir dari epistemologi cinta, kita membahas nilai kebenaran dari suatu pengetahuan pada bab 11, 12, dan 13. Tentu saja, pengetahuan bisa saja bernilai benar, dan pengetahuan lain bisa bernilai salah. Menariknya, pengetahuan atau intuisi cinta justru selalu bernilai benar. Sementara, bila dihubungkan dengan konteks yang lebih luas, implikasi dari cinta bisa saja bernilai salah.

Pembahasan secara epistemologis selesai sampai di sini. Tetapi masih tersisa banyak pertanyaan tentang cinta, cantik, dan materi alam raya. Kita akan membahasnya lebih mendalam ke tema ontologis: ontologi cinta dan cantik.

Lanjut ke Bagian 2: Ontologi Cinta dan Cantik
Kembali ke Philosophy of Love

Ekonomi Cinta

Setiap sisi kehidupan manusia adalah cinta. Setiap butir debu adalah debu cinta. Setiap hembusan nafas adalah nafas cinta. Ekonomi adalah ekonomi cinta.

Saya memberi uang kepada Rara yang cantik adalah ungkapan cinta. Saya mengasuh Rara sejak bayi adalah manifestasi cinta. Saya cinta Rara adalah ungkapan cinta. Rara telah menyemai cinta di hatiku bahkan ketika dia masih dalam kandungan istriku. Rara telah memberiku cinta dan aku membalasnya dengan cinta pula.

Semua transaksi adalah transaksi cinta.

Kita bisa menduga ekonomi cinta, bisa berbelok, menjadi ekonomi dusta. Menjadi ekonomi nafsu semata. Menjadi ekonomi serakah. Menjadi ekonomi mewah. Pada bagian ini, kita akan membahas ekonomi cinta yang dibelokkan menjadi ekonomi nafsu. Untuk kemudian, kita mencoba merumuskan beberapa solusi meluruskan kembali agar menjadi ekonomi cinta.

1. Ekonomi Libido Serakah
1.1 Barter
1.2 Uang Emas
1.3 Uang Digital
1.4 Harga Raga Jiwa
1.5 Politik Uang

2. Ekonomi Angka Semata
2.1 Pertumbuhan bukan Profit
2.2 Dominasi bukan Prestasi
2.3 Cinta Angka

3. Penjara vs Sasana
3.1 Cahaya Ekonomi
3.2 Ruang Temu Barzakh
3.2.1 Solusi Pribadi
3.2.2 Solusi Sistem
3.2.2.1 Kapitalis
3.2.2.2 Sosialis
3.2.2.3 Teonomis
3.3 Sarana Cinta
3.3.1 Pertumbuhan Ekosistem
3.3.2 Rasio Gini Palma
3.3.3 Rasio Power Paman

4. Ringkasan

5. Diskusi: Adil Makmur
5.1 Berlimpah Lapangan Kerja
5.2 Berlimpah Biaya Universitas
5.3 Berlimpah Wirausaha
5.4 Relasi Uang
5.4.1 Realitas Uang
5.4.2 Eksperimen Uang Pokok
5.4.3 Eksperimen Uang Mewah
5.5 Diferensiasi Harmonis

Di bagian awal, kita mengakui bahwa ekonomi adalah kebutuhan umat manusia yang tidak bisa ditolak. Ekonomi adalah sinar dari cahaya cinta umat manusia itu sendiri. Sayangnya, sistem ekonomi dibelokkan oleh libido serakah setelah umat manusia menemukan konsep uang. Pembelokan ini makin parah dengan berkembangnya uang digital. Seperti hal lainnya, uang digital sendiri, sejatinya adalah sinar cinta.

Implikasi lanjutannya, pembelokan ekonomi cinta makin parah ketika uang bisa digantikan oleh angka-angka belaka – misal uang digital, valuta asing, saham, dan lain-lain. Pertumbuhan ekonomi bisa saja hanya bermakna bagi kelompok kaya. Pertumbuhan ekonomi bukan pertumbuhan ekonomi real. Hanya pertumbuhan angka-angka bagi kelas kaya. Bagaimana pun, angka-angka tetap bermakna sebagai kemewahan dunia.

Di bagian akhir, dari pesimis bercampur optimis, kita akan mencoba merumuskan solusi ekonomi cinta. Ekonomi yang seharusnya menjadi sarana kemajuan umat manusia telah berubah menjadi penjara bagi umat manusia. Kita sudah memiliki beragam teori dan alat ukur untuk menciptakan sistem ekonomi yang adil makmur. Pertumbuhan ekonomi, tentu, menjadi ukuran paling utama. Di saat yang sama, kita perlu menjamin pemerataan dan menghapus kesenjangan yang ada. Rasio gini dan rasio power paman menjadi andalan utama. Dengan demikian, kita berhak optimis untuk mengarahkan ekonomi sebagai jalan cinta, mengubah penjara menjadi sasana cinta.

1. Ekonomi Libido Serakah

Di bagian awal, kita mengakui bahwa ekonomi adalah kebutuhan umat manusia yang tidak bisa ditolak. Ekonomi adalah sinar dari cahaya cinta umat manusia itu sendiri. Sayangnya, sistem ekonomi dibelokkan oleh libido serakah setelah umat manusia menemukan konsep uang. Pembelokan ini makin parah dengan berkembangnya uang digital. Seperti hal lainnya, uang digital sendiri, sejatinya adalah sinar cinta.

1.1 Barter

Sebelum ditemukan uang, umat manusia berdagang dalam sistem ekonomi barter. Suatu barang ditukar dengan barang lain sesuai kepentingan masing-masing. Jika Anda punya mangga berlebih, tetapi, Anda membutuhkan pisang maka Anda bisa menukar mangga Anda kepada orang yang punya pisang dan dia membutuhkan mangga dari Anda. Tidak mudah menemukan orang semacam itu kan? Maka, kita menciptakan pasar, di mana, banyak orang berkumpul saling bertukar barang. Di pasar, proses barter menjadi lebih mudah.

Dari sisi realitas, sistem barter ini memberi banyak keuntungan. Pertama, barter lebih menjamin pertukaran yang saling bermanfaat. Beda dengan pertukaran uang yang kadang tidak mengutamakan manfaat tetapi lebih mengutamakan profit. Kedua, barter mendorong pemerataan manfaat dan keadilan sosial. Masing-masing pihak mendorong hak miliknya untuk dimanfaatkan oleh pihak yang membutuhkan. Ketiga, barter mencegah nafsu serakah. Karena menumpuk hak milik tidak serta merta menambah manfaat. Justru, manfaat kita peroleh ketika kita memiliki sesuatu pada kadar yang tepat – tidak terlalu lebih, tidak terlalu kurang.

Kelemahan utama barter adalah tidak efisien, tidak mudah, dan memerlukan waktu dan energi yang lebih besar. Di sisi lain, barter juga tidak mencegah manusia dari kejahatan. Manusia, selalu, punya cara untuk berbuat jahat apa pun sistem ekonominya. Tentu saja, manusia juga selalu punya cara untuk berbuat baik dalam segala situasi. Karena kelemahan-kelemahan barter tersebut maka barter mulai ditinggalkan dan diganti dengan penggunaan uang.

1.2 Uang Emas

Koin emas atau uang emas barangkali menjadi solusi praktis dari kelemahan barter. Nilai emas diakui oleh masyarakat luas. Di saat yang sama, emas bersifat kuat dan stabil, tidak mudah berubah. Dan, yang lebih utama, koin emas bersifat praktis. Maksudnya 1 gram emas, saat ini, bernilai sekitar 1 juta rupiah. Sehingga, hanya dengan 1 keping emas, kita bisa makan malam sekeluarga di restoran mewah. Atau dengan 5 gram emas, kita bisa membeli seekor kambing besar.

Ahli ekonomi kuno sudah menyadari, dengan ditemukannya koin emas maka akan lebih mudah terjadi penumpukan kekayaan kepada hanya segelintir orang. Untuk menjadi kaya raya, seseorang tidak harus memiliki 100 ekor kambing atau 200 ekor sapi. Cukup hanya dengan 10 kg emas maka Anda sudah menjadi kaya. Dan 10 kg emas itu tidak jauh beda dengan 10 kg beras dalam hal ukuran volume dan lainnya. Sehingga, Anda bisa menjadi kaya raya hanya dengan menyimpan 100 kg emas di pojok kamar Anda. Tidak tampak mencolok dari penampilan luar rumah.

Benar saja, orang kaya makin mudah kaya dengan uang emas. Terutama para penguasa, raja, menjadi mudah menumpuk kekayaan dengan cara menguasai emas-emas yang ada di dunia. Para pejabat dan pegusaha besar menjadi kaya raya dengan cara yang sama, menguasai emas yang ada.

Diogenes (404 – 323 SM) adalah kritikus terhadap uang emas di masa-masa awal. Diogenes mengaku dirinya adalah pewaris Socrates yang sebenarnya – bukan Plato. Tetapi, kita lebih mengenal Plato sebagai murid utama dari Socrates karena Plato banyak menulis buku tentang Socrates dan filsafat. Sementara, Diogenes, tampaknya, tidak menulis buku sebanyak Plato. Bagaimana pun, Diogenes adalah pendiri filosofi sinisme: hidup sederhana, merdeka, terbebas dari ikatan dunia materi.

Suatu ketika, kaisar Aleksander Agung, murid dari Aristoteles, penasaran ingin menemui Diogenes yang pemikiran filosofinya begitu unik. Dengan dikawal pasukan khusus, Aleksander mendekati Diogenes pagi itu. Diogenes tetap cuek dengan kedatangan kaisar Aleksander. Diogenes tetap menikmati pagi dengan berjemur sinar matahari.

“Apakah Anda Diogenes?” tanya kaisar.
“Bisakah Anda bergeser sedikit,” jawab Diogenes, “karena tubuh Anda menghalangi cahaya matahari.”

“Seandainya di dunia ini, saya tidak terlahir sebagai Aleksander maka saya ingin menjadi Diogenes,” kaisar melanjutkan.
Diogenes menjawab, “Seandainya saya tidak terlahir sebagai Diogenes, maka, saya ingin terlahir sebagai Diogenes.”

Diogenes mengkritik uang emas karena yang terpenting dari uang bukan nilai emasnya tetapi nilai “trust” atau nilai kepercayaannya. Diogenes mengusulkan agar uang emas diganti dengan uang logam atau uang kertas yang sekarang kita kenal sebagai uang fiat. Nilai dari uang kertas, sebagai uang fiat, adalah sesuai dengan tulisannya. Meski pun nilai kertasnya sendiri barangkali hanya kecil. Karena nilai uang kertas ini dijamin oleh negara atau oleh masyarakat maka tetap terpercaya, trust.

Tentu saja, masyarakat di masa itu tidak bisa memahami maksud uang fiat yang diusulkan oleh Diogenes. Diogenes memang cerdik. Kritik terhadap uang emas bisa dibuktikan secara nyata. Setiap menemukan uang emas maka Diogenes menipiskan sedikit bagian pinggirnya sehingga menghasilkan serbuk emas. Orang tidak mengira bahwa uang emas itu sedikit berkurang beratnya (massanya). Hasil serbuk emas dari koin ini kemudian dikumpulkan menjadi jumlah yang cukup besar. Banyak orang meniru perilaku Diogenes. Orang-orang itu tidak perlu kerja keras menambang emas, cukup mengumpulkan serbuk emas dari koin-koin yang beredar. Mereka lebih cepat kaya dengan cara itu.

Uang emas terbukti tidak bisa dipertahankan!

Secara bertahap, masyarakat meninggalkan uang emas berpindah ke uang logam dan uang kertas seperti sekarang ini. Dan, di era media sosial ini, kita mulai menyaksikan hadirnya uang digital.

Apakah uang emas, kemudian berkembang menjadi uang kertas, adalah lebih baik bagi sistem ekonomi? Apakah uang kertas menjadikan masyarakat lebih adil makmur? Apakah manusia menjadi lebih terbuka untuk saling cinta?

Uang kertas terbukti lebih efisien dan praktis. Sehingga, roda ekonomi lebih mudah berkembang dengan kecepatan tinggi. Siapa pun Anda bisa menjadi kaya dengan menguasai uang kertas. Cukup hanya dengan memiliki uang kertas 1 koper maka Anda sudah menjadi kaya raya. Lebih praktis lagi, uang kertas bisa saja cukup disimpan dalam rekening bank. Anda bisa menjadi kaya raya hanya dengan memiliki rekening yang berisi catatan uang dalam jumlah besar.

SDG Report melaporkan, pada tahun 2021, ekonomi di seluruh dunia mengalami kemajuan. Memang, pada tahun 2020, ekonomi dunia sempat jatuh akibat pandemi. Tetapi, kemudian, ekonomi dunia bangkit lagi. Dalam laporan yang sama, SDG menyatakan meskipun ekonomi di dunia makin maju, di saat yang sama, kesenjangan ekonomi makin curam. Padahal, kesenjangan ekonomi berbahaya bagi umat manusia. Bukan hanya berbahaya bagi kelompok miskin, kesenjangan ekonomi, juga berbahaya bagi kelompok kaya. Sewaktu-waktu peradaban umat manusia bisa runtuh akibat kesenjangan ekonomi yang makin menganga ini. Kita butuh solusi.

Apakah kita perlu kembali ke sistem barter? Atau ke uang emas, dinar, dirham, dan sebagainya?

Analisis kita di atas, menunjukkan bahwa sistem barter dan uang emas, kedua-duanya, sama-sama tidak memadai untuk mengembangkan ekonomi umat manusia. Justru, uang kertas atau uang fiat yang berhasil mendorong perekonomian dunia. Hanya saja, kita perlu menjaga agar kesenjangan ekonomi tetap dalam kadar yang rendah. Kemudian, mencegah dampak negatif pertumbuhan ekonomi misal krisis iklim dan krisis kemanusiaan. Masalah utama bukan terletak pada uang fiat itu sendiri. Masalah justru ada pada manusia. Bagaimana manusia bisa menciptakan sistem ekonomi yang adil makmur? Uang fiat hanyalah salah satu instrumen dari sistem ekonomi. Kita akan menjawab pertanyaan ini di bagian bawah.

Bagaimana pun, tetap ada kritik tajam terhadap uang fiat. Kritik datang dari pendukung uang digital, khususnya, pendukung uang crypto (kripto) yang memanfaatkan teknologi blockchain. Argumen utama mereka adalah uang sebagai simbol kebebasan. Tidak sepantasnya pihak tertentu, misal pemerintah, memiliki wewenang tunggal dalam mencetak uang. Kita bisa berargumen bahwa kritik Diogenes terhadap uang emas bukan untuk memindahkan wewenang uang ke pemerintah. Tetapi, memastikan uang adalah “trust” kepercayaan antara umat manusia yang sama-sama memiliki kebebasan.

Kita bisa belajar dari sejarah; awalnya, uang logam dan uang kertas dijamin oleh emas; ketika Anda punya 100 dolar, misalnya, Anda bisa menukar dengan emas ke pemerintah sebagai jaminan. Tetapi, sejak 1971, US melepaskan jaminan emas tersebut. Jadi, dolar tidak ada jaminan emas lagi. Negara-negara lain, tampak, mengikuti US dengan meniadakan jaminan emas. Dengan demikian, uang adalah “sekedar” saling trust antar umat manusia. Justru ini menjadi fenomena yang sangat menarik.

1.3 Uang Digital

Uang digital atau uang elektronik sudah berkembang pesat puluhan tahun ini. Di sini, kita perlu membedakan uang digital yang sejatinya uang fiat dengan uang digital yang sejatinya uang kripto (crypto currency). Uang digital, yang saat ini beredar, nyaris seluruhnya adalah uang fiat. Sementara, uang kripto baru mulai berkembang semisal bitcoin, ethereum, dogecoin, dan lain-lain.

Uang fiat digital memiliki karakter mirip dengan uang fiat biasa dengan beberapa kelebihan. Pertama, cepat. Kita bisa transaksi dengan uang digital online di berbagai penjuru dunia. Kedua, terjaga. Khususnya uang digital yang “catatannya” disimpan dalam sistem misal kartu ATM. Ketika kartu ATM hilang maka kita bisa minta ganti kartu tanpa kehilangan nilai uangnya. Beda dengan uang kertas bila hilang atau terbakar, misalnya, maka nilai uang kertas tersebut ikut hilang dari Anda. Ketiga, histori. Semua transaksi uang digital, hakikatnya, tercatat dalam sistem. Sehingga, seorang koruptor tidak akan mengirimkan uang korupsi berupa uang digital karena catatan historinya mudah ditelusuri.

Dengan mempertimbangkan keunggulan uang fiat digital, kita bisa menilainya sebagai “penguat” uang fiat biasa. Kita menduga uang digital akan mendorong pertumbuhan ekonomi lebih besar, di saat yang sama, menyebabkan krisis kemanusiaan dan krisis iklim juga lebih besar. Sehingga, kita memerlukan solusi yang lebih baik untuk uang fiat digital. Uang kripto perlu menjadi pertimbangan.

Uang kripto, misal bitcoin, beda dengan uang fiat digital. Meski, mereka sama-sama digital. Uang kripto mengklaim diri sebagai freedom: bebas. Benarkah demikian?

Pertama, uang fiat dicetak dan diatur oleh pemerintah, misal Bank Indonesia. Sementara, uang kripto “dicetak” oleh masyarakat tanpa ada peran bank sentral. Rakyat benar-benar bebas “mencetak” uang kripto. Teknologi blockchain menjadi instrumen bagi masyarakat bebas untuk “mencetak” uang kripto. Tanpa instrumen teknologi yang memadai maka masyarakat tidak bisa mencetak uang kripto. Artinya, uang kripto tidak bisa dicetak pada abad lalu, abad 20, karena instrumen teknologi tidak memadai.

Kedua, nilai uang fiat dipengaruhi intervensi pemerintah. Sementara, nilai uang kripto, sepenuhnya, ditentukan oleh masyarakat. Masyarakat bebas untuk menentukan nilai uang kripto. Lagi-lagi teknologi blockchain menjadi platform yang mendukung ini. Ketiga, uang kripto bersifat anonim. Bila Anda ingin transaksi rahasia maka Anda bisa, benar-benar, sembunyi dalam uang kripto.

Dengan beragam keunggulan uang kripto, barangkali kita bisa optimis bahwa uang kripto akan berhasil menciptakan kehidupan umat manusia yang adil makmur dan dalam suasana freedom. Apakah uang kripto akan bisa seperti itu? Masih terlalu dini untuk memberi jawaban akhir.

Memang uang kripto memberi “kekuasaan” yang besar kepada masyarakat sehingga masyarakat bisa mengimbangi kekuasaan penguasa, misal pemerintah. Tentu saja, penguasa tidak dengan mudah melegalkan uang kripto. Karena uang kripto bisa menggoyang kekuasaan status quo. Di beberapa negara, uang kripto dianggap sebagai tidak legal. Wajar.

Dengan suksesnya bitcoin, sebagai salah satu contoh uang kripto, tentu memberi motivasi bagi banyak pihak untuk mengembangkan uang kripto secara mandiri. Saat ini, tahun 2022, setidaknya sudah ada 9900 jenis uang kripto di pasar bebas. Memang benar bahwa bitcoin saat ini, tampaknya, dimiliki oleh orang-orang kelas kaya (tentu kita tidak bisa tahu secara pasti karena anonim). Namun, di antara ribuan uang kripto yang ada, atau yang akan muncul, barangkali akan ada yang berhasil mewujudkan masyarakat adil makmur dalam suasana freedom.

Mari kita ringkas ulang pembahasan kita dari sistem barter, uang fiat, sampai uang kripto. Sistem barter sudah ketinggalan jaman maka tidak layak jadi pilihan saat ini. Sementara, uang kripto masih terlalu awal untuk bisa diandalkan meski kita berharap banyak uang kripto bisa jadi solusi. Pilihan yang tersisa, saat ini, adalah uang fiat, baik berupa uang kertas atau pun uang fiat digital.

Uang fiat terbukti berhasil mendorong pertumbuhan ekonomi tetapi dengan harga yang mahal pula: krisis iklim dan krisis kemanusiaan. Bagaimana pun, krisis ini bukan disebabkan oleh uang fiat itu sendiri, melainkan disebabkan oleh manusianya. Sementara, uang fiat berperan sekedar sebagai instrumen hasrat manusia. Sehingga, solusi bisa saja tetap memakai uang fiat atau tidak memakainya. Solusi ini menjadi makin sulit karena melibatkan hasrat manusia yang tidak bisa dipastikan. Sejatinya, hasrat adalah ungkapan cinta dari manusia. Sebagaimana biasa, manusia selalu bisa membelokkan cinta jadi dusta. Kita perlu waspada.

1.4 Harga Raga Jiwa

Hasrat manusia kepada uang teramat besar. Atau, uang yang menyebabkan hasrat manusia menjadi lepas kendali terus membesar. Manusia, yang sejatinya punya kebebasan, menjadi terikat oleh hasrat. Pada gilirannya, hasrat terikat oleh uang. Orang mengira bahwa dirinya bisa mengendalikan uang. Sebaliknya yang terjadi, manusia yang dikendalikan oleh uang. Tentu saja, kecuali orang-orang tertentu.

Wajar bila seseorang berdonor organ tubuhnya demi orang lain, misal donor ginjal. Menjadi sulit dipahami bila seseorang menjual organ tubuhnya demi mendapatkan uang. Lebih rumit lagi ketika terjadi pencurian organ tubuh beberapa puluh tahun yang lalu. Calon korban dibius, kemudian, ginjalnya diambil oleh pelaku. Selanjutnya, pelaku menjual organ curian itu ke pembeli termahal. Organ tubuh manusia bisa dibeli dengan uang. Tentu, ngeri sekali. Badan manusia bisa dinilai dengan uang.

Lengkap sudah manusia bisa dihitung berdasar uang. Organ tubuhnya bisa dihitung dengan uang. Sementara, jiwanya dan hasratnya dikendalikan oleh uang. Maka jiwa dan raga manusia, totalitas, bisa dibeli dengan uang. Tentu saja, tidak manusiawi. Itulah realitas hari demi hari.

1.5 Politik Uang

Politikus berpikir bahwa dia bisa memenangkan kompetisi politik dengan memainkan uang. Pada gilirannya, politikus itu sendiri yang dikendalikan oleh uang. Dan, masyarakat luas yang dikendalikan oleh politikus itu, sejatinya, dikendalikan oleh uang juga.

Politikus bisa saja berpikir idealis untuk membangun negara. Politikus berpikir bisa menetapkan undang-undang sedemikian hingga undang-undang itu mengantar rakyat adil makmur. Di saat yang sama, politikus sadar akan dampak dari undang-undang yang mereka tetapkan. Apa yang akan terjadi jika undang-undang membawa dampak positif kepada masyarakat tetapi tidak menyebabkan politikus terpilih kembali menduduki kursi jabatan? Ataukah, lebih menarik untuk menetapkan undang-undang yang konvensional tetapi berdampak dirinya, sang politikus, terpilih kembali menduduki jabatan politis?

Noam Chomsky (lahir 1928) mencermati bahwa siapa pun pemenang kontes politik, pada gilirannya, kekuasaan dikendalikan oleh perusahaan besar. Politikus tahu siapa yang membiayai kemenangan kampanye politik mereka. Dan, politikus juga tahu biaya yang dibutuhkan untuk tetap bertahan di kursi jabatan. Perusahaan-perusahaan raksasa adalah rekanan paling tepat untuk mereka, secara langsung atau tidak langsung. Perusahaan besar sudah teruji sebagai pihak yang paling mahir memainkan uang.

Meski secara resmi politik uang adalah terlarang, tetapi secara realita, politik uang bisa ada di mana saja. Kekuatan dahsyat uang telah berhasil menenggelamkan idealisme politik di berbagai wilayah.

Sampai di sini, pembahasan kita tentang uang, seakan-akan uang adalah sumber dari segala masalah kemanusiaan. Bagaimana pun, kita juga sudah menegaskan bahwa masalahnya bukan pada uangnya tetapi pada sisi manusianya. Uang adalah sekedar instrumen bagi sistem ekonomi. Uang adalah instrumen bagi manusia. Maka, kita akan mengusulkan solusi ekonomi yang melibatkan sisi kemanusiaan di bagian bawah. Dengan harapan, sistem ekonomi bisa kembali menjadi manifestasi cinta bagi seluruh umat manusia.

2. Ekonomi Angka Semata

Pembelokan ekonomi cinta makin parah ketika uang bisa digantikan oleh angka-angka belaka – misal uang digital, valuta asing, saham, dan lain-lain. Pertumbuhan ekonomi, bisa saja, hanya bermakna bagi kelompok kaya. Pertumbuhan ekonomi bukan pertumbuhan ekonomi real. Hanya pertumbuhan angka-angka bagi kelas kaya. Bagaimana pun, angka-angka itu tetap bermakna sebagai kemewahan dunia.

2.1 Pertumbuhan bukan Profit

Peter Drucker (1909 – 2005) menekankan pentingnya bagi perusahaan untuk tetap profit. Dengan cara ini, perusahaan menjadi sehat dan mampu berinteraksi dengan masyarakat secara wajar. Menjelang akhir abad 20 dan awal abad 21, rumusan Drucker mulai banyak yang menentang. Apa lagi dengan munculnya era digital, fokus terhadap profit mulai tertinggal.

Intuisi kita, sebagai orang awam, setuju dengan Drucker yang ahli ekonomi itu bahwa perusahaan perlu untuk tetap profit. Sementara, pemain bisnis memiliki cara pandang yang lebih cerdik. Profit bukan yang paling utama. Bisa saja perusahaan rugi bertahun-tahun dalam jumlah trilyunan rupiah. Di saat yang sama, perusahaan itu tetap “menguntungkan” sehingga tetap dipertahankan. Kita melihat banyak kasus akhir-akhir ini di perusahaan penerbangan, marketplace, transportasi, minimart, dan lain-lain yang tidak profit tetapi “menguntungkan.”

Salah satu ukuran lebih penting dari profit adalah pertumbuhan. Selama perusahaan membukukan pertumbuhan pendapatan, meski tidak profit, dipandang baik-baik saja. Dalam skala negara, pertumbuhan ekonomi menjadi ukuran paling utama. Jika tumbuh mendekati 5%, apalagi dua digit, maka negara tersebut dipandang sebagai negara yang sukses. Padahal, di negara yang sama, bisa saja terjadi ketimpangan ekonomi, tidak adil, perusakan lingkungan dan sebagainya.

Ukuran pertumbuhan bisa membuat kita terlena dari beragam resiko di atas. Sementara, fokus kepada profit nyata menjaga kita untuk tetap berinteraksi wajar dengan alam sekitar. Tentu saja, fokus hanya kepada profit tidak cukup. Kita tetap perlu mempertimbangkan aspek kemanusiaan.

2.2 Dominasi bukan Prestasi

Lanjutan dari pertumbuhan perusahaan adalah dominasi. Kita menyadari bahwa monopoli dilarang di berbagai tempat. Sementara, dominasi dibolehkan di mana-mana. Selanjutnya, setelah dominasi, perusahaan bisa “praktek monopoli” atas nama pasar bebas.

Barangkali, kita masih ingat kasus beberapa perusahaan besar mendominasi market. Kemudian, semua pesaing berguguran. Tinggal perusahaan besar yang dominan itu mengambil keuntungan. Di Indonesia, beberapa tahun lalu, kita mengenal istilah perusahaan sedang “bakar uang.” Perusahaan menebar program promo harga murah dan bonus besar. Orang-orang jadi berlangganan. Padahal perusahaan tersebut rugi sampai trilyunan – “bakar uang.” Sementara, perusahaan kecil yang akan bersaing pasti kalah. Jangankan rugi trilyunan rupiah, rugi 3 juta rupiah saja perusahaan kecil dan mikro sudah gulung tikar.

Setelah itu, perusahaan yang “bakar uang” menjadi dominan. Dia bebas melakukan beragam manuver untuk mengambil keuntungan. Bukan monopoli tetapi dominasi. Persaingan, nyaris sudah hilang.

Kita tahu bahwa kita perlu kompetisi yang sehat untuk menghasilkan prestasi terbaik bagi masing-masing perusahaan dan masyarakat luas. Persaingan yang sehat tidak menjamin suatu perusahaan pasti akan menang. Karena itu, investasi di dunia persaingan sehat sangat beresiko. Investasi akan lebih aman bila berada pada posisi dominan. Konsekuensi wajar, dominasi lebih utama dari prestasi.

Apakah sistem ekonomi mengutamakan dominasi adalah baik?

Barangkali berdampak baik bagi pihak dominan. Tetapi, bisa berdampak buruk ke masyarakat luas. Dampak susulan dominasi adalah terjadinya kesenjangan sosial. Sebagaimana SDG mengungkapkan bahwa kesenjangan sosial, kesenjangan ekonomi, berbahaya bagi umat manusia. Dominasi juga berdampak hilangnya kebebasan. Rakyat tidak lagi bebas membuka usaha. Karena, bisa dipastikan, rakyat biasa yang bersaing dengan pihak dominan akan kalah melalui satu dan lain cara. Atau, jika rakyat itu sangat kreatif dan kuat, dia terpaksa harus kolaborasi dengan pihak dominan. Untuk kemudian, usaha rakyat itu diakuisisi oleh pihak dominan.

Kita butuh kompetisi yang sehat. Kita butuh masyarakat yang sehat. Kita butuh ekonomi yang sehat, ekonomi yang menjadi manifestasi cinta bagi sesama.

2.3 Cinta Angka

Kita sampai ke bagian paling bahaya: cinta ditukar oleh angka.

Uang adalah angka. Kekayaan adalah angka. Pertumbuhan adalah angka. Dominasi adalah angka. Ekonomi adalah angka. Manusia adalah angka. Cinta adalah angka.

Dan, kita tahu angka adalah tak hingga. Selalu ada angka yang lebih besar dari angka yang pernah Anda bayangkan. Selalu ada uang yang lebih besar dari uang yang Anda bayangkan. Selalu ada hasrat yang lebih besar dari hasrat yang pernah Anda rasakan.

Libido keserakahan menjadi tanpa batas karena angka yang tertulis pada uang juga tanpa batas. Uang sendiri menjadi tak terbatas pada uang saja, karena, angka muncul dalam ragam variasi: valuta asing, saham, nilai properti, hak cipta, sampai crypto currency.

Ketika umat manusia fokus hanya kepada angka maka semua bisa hilang makna. Transaksi ekonomi yang semula saling memberi manfaat berganti menjadi hanya angka-angka belaka. Kerusakan lingkungan, yang menjadikan orang-orang miskin kelaparan, berubah menjadi data angka-angka belaka. Rakyat yang hidupnya terbelenggu dalam jurang kemiskinan pun hanya angka-angka belaka.

Apa pentingnya angka-angka? Angka adalah segalanya. Atau, segalanya adalah angka.

Deleuze (1920 – 1995) mengingatkan bahwa mesin pendorong manusia adalah hasrat-produksi. Di mana, dengan angka, hasrat-produksi ini makin tampak nyata. Hasrat yang semula kecil, hasrat ingin menikmati rumah kecil, tumbuh menjadi besar. Karena besar adalah angka maka pasti ada angka yang lebih besar, ada hasrat yang lebih besar dari yang besar itu. Dan, orang menyangka bisa memuaskan hasrat dengan konsumsi suatu produk atau jasa. Tidak bisa, nyatanya, manusia tidak bisa puas. Konsumsi, sejatinya, adalah memproduksi hasrat yang lebih besar lagi. Makin besar seseorang melakukan konsumsi maka makin besar hasrat yang dia produksi.

Ekonomi hasrat, ekonomi libido, ekonomi serakah tentu saja berbahaya bagi umat manusia. Kita akan merumuskan beberapa rekomendasi solusi di bagian bawah berikut ini.

3. Penjara vs Sasana

Di bagian akhir ini, kita akan mencoba merumuskan solusi ekonomi cinta. Ekonomi yang seharusnya menjadi sarana kemajuan umat manusia telah berubah menjadi penjara bagi umat manusia. Kita sudah memiliki beragam teori dan alat ukur untuk menciptakan sistem ekonomi yang adil makmur. Pertumbuhan ekonomi, tentu, menjadi ukuran paling utama. Di saat yang sama, kita perlu menjamin pemerataan dan menghapus kesenjangan yang ada. Rasio gini dan rasio power paman menjadi andalan utama. Dengan demikian, kita berhak optimis untuk mengarahkan ekonomi sebagai jalan cinta, mengubah penjara menjadi sasana cinta.

3.1 Cahaya Ekonomi

Hakikat dari ekonomi adalah cahaya, adalah cinta. Sehingga, sistem ekonomi adalah sistem yang mengantarkan manusia menuju jalan terang kemajuan peradaban. Bila ada sistem ekonomi serakah, ekonomi tanpa moral, maka itu adalah pembelokan dari sistem ekonomi cahaya. Kita tetap punya harapan untuk kembali merancang sistem ekonomi yang bercahaya.

Kita membutuhkan analisis kritis terhadap setiap sistem ekonomi. Kita perlu bersikap pesimis terhadap sistem ekonomi yang ada. Pandangan kritis ini membantu kita untuk mengenali dampak negatif sistem ekonomi, untuk kemudian, kita menyiapkan solusi yang memadai. Masing-masing individu, di antara kita, menyimpan cahaya. Kita bisa, bersama-sama, memancarkan cahaya dalam sistem ekonomi cahaya.

3.2 Ruang Temu Barzakh

Sistem ekonomi adalah barzakh yang merupakan ruang temu antara cahaya dan gelap. Kita memerlukan gelap itu untuk memahami cahaya. Kita menyadari pentingnya cahaya lampu ketika ruang gelap. Tetapi, kita bisa meremehkan cahaya lampu ketika berada di tengah lapang, di bawah terik matahari. Cahaya lampu menjadi berarti karena ada ruang yang gelap. Sistem ekonomi adalah ruang temu cahaya dan gelap seperti itu.

Dalam ruang temu cahaya dan gelap, seseorang bisa saja terjebak dalam sisi gelap. Mereka yang menjalani sistem ekonomi serakah adalah orang yang sedang terjebak dalam sisi gelap ekonomi. Mereka hanya berputar-putar dalam ruang gelap. Makin lama, makin terperangkap. Tetapi perangkap gelap ini bukan hanya berlaku terhadap individu. Perangkap gelap itu bisa terjadi secara sistemik, memang sistem ekonominya yang menjebak para individu. Ruang temu cahaya itu berubah menjadi penjara bagi cahaya. Cahaya-cahaya individu terjerat dalam jeruji gelap.

Dengan demikian, kita bisa mempertimbangkan solusi ekonomi cahaya dalam tiga bentuk. Pertama, solusi personal di mana masing-masing orang berperilaku dengan moral tinggi dalam menjalankan kegiatan ekonomi. Kedua, solusi sistem di mana kita merancang sistem ekonomi yang memastikan setiap anggota masyarakat mendapatkan hak dan kewajiban ekonomi secara adil makmur. Ketiga, kombinasi dari solusi personal dan sistem. Dalam kombinasi ini, bobot aspek personal dan aspek sistem bisa beragam. Sehingga, solusi kombinasi ini sangat beragam.

3.2.1 Solusi Pribadi

Solusi personal mengandalkan kesadaran individu-individu untuk menjunjung moral tinggi dalam kegiatan ekonomi. Jika masing-masing individu bermoral tinggi, maka, keseluruhan sistem ekonomi akan menjadi ekonomi cahaya yang adil makmur. Meski tampak mudah, solusi personal sulit untuk realisasi. Karena, masing-masing individu adalah agen yang bebas dalam transaksi ekonomi. Sehingga, mereka sewaktu-waktu bisa melanggar standar moral. Tidak ada yang bisa mencegah pelanggaran itu.

Hobbes (1588 – 1679) meyakini bahwa bila setiap individu berniat baik di masyarakat, sama-sama bebas berbuat baik, hasilnya adalah sistem ekonomi yang buruk. Karena, setiap orang akan mengejar “kebaikan” versi masing-masing yang, pada gilirannya, saling merugikan di antara mereka. Atau, bahkan merugikan dalam skala komunitas. Hobbes memandang manusia lebih kuat dari sisi gelapnya. Pandangan pesimis Hobbes ini mengingatkan kita untuk tidak merasa cukup hanya dengan solusi personal. Hobbes sendiri mengusulkan solusi yang, menurut pandangan banyak pengamat, terlalu besar memberi kekuatan kepada negara.

Locke (1632 – 1704) adalah murid dari Hobbes. Locke merevisi berbagai macam pandangan Hobbes. Memang akan terjadi konflik dalam masyarakat bila masing-masing manusia bebas berbuat sesuai keinginan baik mereka. Tetapi, dalam konflik ini, pihak-pihak tidak bermaksud untuk mengeruk keuntungan bagi dirinya sendiri. Mereka hanya menuntut keadilan. Meski demikian, tuntutan terhadap keadilan ini bersifat bias. Tanpa sengaja, masing-masing pihak melakukan tuntutan secara berlebihan. Masalah peliknya, dalam banyak kasus, tidak ada acuan jelas tentang praktek keadilan. Maka, kita perlu membangun masyarakat sipil yang berpegang pada hukum.

Nozick (1938 – 2002) melangkah lebih jauh dengan mempercayai kebebasan manusia. Freedom adalah hak paling dasar bagi setiap manusia. Tidak ada yang bisa melanggar kebebasan orang dengan dalih apa pun. Termasuk negara, tidak berhak membatasi kebebasan setiap warga. Barangkali sejalan dengan Sartre, “Manusia adalah kebebasan dan kebebasan adalah manusia.” Sehingga, Nozick mengusulkan bentuk negara sebagai negara-minimalis. Sementara, peran terbesar tetap kepada masing-masing individu.

Suhrawardi (1154 – 1191) menyadari bahwa manusia memiliki sisi cahaya dan sisi gelap. Meski, yang sejati adalah aspek cahaya, tetapi, sisi gelap sewaktu-waktu bisa menyergap. Karena itu, Suhrawardi menyarankan umat manusia untuk hidup sederhana. Kehidupan ekonomi hanya secukupnya saja. Memanfaatkan kekuatan ekonomi untuk saling membantu di antara sesama umat manusia. Dan, umat manusia perlu lebih fokus mengembangkan peradaban yang maju melalui pencerahan pengetahuan dan jiwa.

Epicurus (341 – 270 SM), sejak awal, mengingatkan bahwa tugas manusia adalah menikmati kehidupan ini. Agar bisa menikmati hidup maka setiap manusia perlu membatasi diri. Konsumsi hanya secukupnya saja, bahkan, produksi juga secukupnya. Termasuk profit atau pertumbuhan ekonomi hanya secukupnya saja. Sesuatu yang berlebihan justru akan membuat seseorang gagal menikmati kehidupan.

Kita bisa meringkas bahwa solusi personal, solusi pribadi, tidak akan mencukupi untuk mengembangkan sistem ekonomi cahaya. Tetapi, solusi personal adalah suatu keharusan bagi setiap individu. Tanpa solusi personal yang baik maka solusi apa pun akan gagal. Sementara, dengan solusi personal, minimal, masing-masing individu bisa mengembangkan sistem ekonomi cahaya dalam skala kecil.

Solusi personal terbaik, di antaranya, adalah: [1] etika ekonomi dengan membatasi konsumsi diri sekedarnya saja; tidak berlebih; sedikit kurang dari yang dibutuhkan; [2] memanfaatkan sumber ekonomi untuk membantu sesama dan mengembangkan semesta; sistem ekonomi adalah media untuk berbagi; dan [3] memaknai kegiatan ekonomi sebagai bermakna kegiatan ruhani; puasa ekonomi adalah kebahagiaan manusiawi sejati.

3.2.2 Solusi Sistem

Berikutnya, kita akan mencoba mengkaji beberapa solusi sistemik, sosial, atau kenegaraan. Barangkali, kita akan memilih sedikit saja, yaitu sistem ekonomi kapitalisme, komunisme, dan teonomis. Saat ini, kapitalisme dianggap sebagai sistem ekonomi paling berhasil, benarkah? Komunisme dianggap gagal di beberapa tempat, tetapi, kemampuan adaptasinya membuat banyak pihak tertarik membuat revisinya. Sedangkan, teonomis, yaitu sistem ekonomi berdasar aturan agama, dianggap pernah berhasil di masa lalu. Apakah bisa menjadi solusi terbaik di masa kini?

3.2.2.1 Kapitalis

Adam Smith (1723 – 1790) adalah pemikir ekonomi paling brilian di masanya. Pada umumnya, orang-orang menyebut Smith sebagai bapak ekonomi kapitalis. Smith meyakini pasar bebas dan persaingan bebas adalah jalan terbaik untuk membangun ekonomi negara. Kelak, konsep Smith ini menjadi fondasi ekonomi kapitalis. Sejak itu, memang benar, pertumbuhan ekonomi makin maju lengkap dengan dinamikanya. Produsen dari Eropa makin gencar meluaskan pasar sampai ke Asia dan Afrika. Ditambah dengan filosofi Hobbes bahwa sebagian besar manusia tidak mampu mengatur diri-sendiri, pertumbuhan ekonomi kapitalis seiring dengan perkembangan kolonialis.

Catatan sejarah menunjukkan bahwa Eropa berkembang pesat. Bermunculan orang kaya baru dari berbagai macam lapisan masyarakat. Inovasi di bidang industri makin subur. Bukan hanya bangsawan yang bisa hidup makmur. Siapa pun orangnya bisa bersaing untuk menjadi makmur. Tentu saja, tidak seindah itu bila kita membaca dari sudut yang berbeda. Dari kacamata rakyat Asia dan Afrika, ekonomi kapitalisme justru banyak merugikan. Kemiskinan ada di mana-mana. Pengerukan kekayaan alam sampai merusak bumi. Dan, ketimpangan ekonomi makin menjadi-jadi.

Dari dalam diri kapitalisme sendiri, muncul problem serius. Awal abad 20, kemampuan pabrik-pabrik industri makin tumbuh besar. Hasil produksi mereka lebih banyak dari yang dibutuhkan oleh masyarakat. Akibatnya, terjadi kelebihan produksi, kelebihan penawaran. Tidak ada pembelian atau permintaan yang memadai. Ekonomi kapitalis macet. Terjadi krisis dan resesi ekonomi di dunia. Kapitalisme terjebak dalam perangkapnya sendiri.

Keynes (1883 – 1946) adalah pahlawan ekonomi kapitalis dunia. Pertumbuhan ekonomi bukan ditentukan oleh kemampuan produksi. Tetapi oleh agregat permintaan. Atau, dengan kata lain, pertumbuhan ekonomi ditentukan oleh tingkat konsumsi. Semakin besar konsumsi masyarakat maka makin besar pertumbuhan ekonominya. Industri ekonomi kapitalis beradaptasi dengan mencermati pertumbuhan konsumsi, untuk kemudian, memproduksi barang atau jasa sesuai kebutuhan. Benar saja, krisis ekonomi teratasi waktu itu menjelang pertengahan abad 20. Perusahaan-perusahaan berusaha memahami kebutuhan konsumsi masyarakat. Bahkan, jika tidak ada kebutuhan dari masyarakat maka bisa diciptakan citra kebutuhan melalui iklan yang menggoda.

Industri iklan menjadi dominan. Bukan hanya inovasi produksi yang penting, inovasi iklan yang menciptakan rasa haus masyarakat terhadap konsumsi bahkan lebih penting. Ketika hasrat konsumsi itu sudah tinggi, maka, tugas industri untuk memproduksi barang adalah suatu tugas yang ringan. Benar saja, pertumbuhan ekonomi membubung tinggi kembali.

Yang mengagumkan dari ekonomi kapitalis adalah kemampuannya beradaptasi, misal, ketika menghadapi krisis ekonomi. Di awal abad 21 ini, ekonomi kapitalis menghadapi krisis besar lagi dengan terjadinya pandemi covid nyaris di seluruh dunia. Sistem ekonomi dunia lumpuh. Di tahun 2022, mulai tampak tanda-tanda kebangkitan kembali ekonomi kapitalis. Mengagumkan!

Tetapi, ekonomi kapitalis menghadapi masalah pelik yang tidak mampu mereka tangani. Pertama, kesenjangan sosial ekonomi. Yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin. Hampir di seluruh dunia terjadi kesenjangan ekonomi dan belum ada tanda-tanda untuk solusi. Kedua, dominasi pihak kuat ke pihak lain. Dalam pasar bebas, dan persaingan bebas, pihak kuat bisa mendominasi pihak lain dengan cara yang halus dan samar. Ketiga, krisis bumi dan semesta. Kapitalisme memang tidak mengutamakan tujuan menjaga bumi, barangkali sebalikya, menjaga bumi dianggap sebagai tanggung jawab pihak lain. Kapitalisme mengutamakan profit, pertumbuhan, dan kapital itu sendiri. Masih banyak krisis lain, yang tidak mampu diselesaikan oleh kapitalisme. Apakah kapitalisme akan mampu beradaptasi lagi?

3.2.2.2 Sosialis

Kedua adalah ekonomi komunisme, setelah kapitalisme sebagai yang pertama. Barangkali, kita menggunakan kata “sosialis” atau “sosialisme” lebih nyaman dalam diskusi kita. Ekonomi sosialis sejak awal sudah bersikap kritis terhadap kapitalisme. Dan, kritik-kritik dari sosialis ini terus bertumbuh subur sampai sekarang.

Marx (1818 – 1883), barangkali tepat, kita sebut sebagai filsuf terbesar sampai abad 20. Kritiknya terhadap kapitalisme tepat sasaran di berbagai tempat. Tapi, banyak meleset dalam meramal masa depan. Memang, siapa yang bisa meramal masa depan?

Pertama, kapitalisme akan menghancurkan dirinya sendiri. Kapitalisme akan menciptakan kelas pekerja lawan kelas kaya. Mereka berkontradiksi, lalu terjadi revolusi, dan terbentuklah masyarakat pasca-revolusi yaitu masyarakat adil makmur tanpa kelas. Kritik ini benar bahwa kapitalisme menciptakan kesenjangan antar kelas: kelas pekerja lawan kelas kaya. Tetapi tidak benar bahwa, kemudian dengan sendirinya, disusul terciptanya masyarakat adil makmur. Atau, tidak terbukti bahwa tercipta masyarakat adil makmur.

Kedua, kapitalisme menyebabkan keterasingan masyarakat. Para pekerja terasing dengan hasil kerjanya. Misal, pekerja pabrik yang merapikan tumpukan roda terasing dengan produk mobil jadi. Pekerja itu tidak mengenali konsumen yang membeli mobil dengan bahagia untuk jalan-jalan bersama keluarga. Padahal, pekerja itu akan makin bahagia bila melihat hasil kerjanya membuat orang bahagia sekeluarga. Pekerja itu terasing. Dia hanya bekerja merapikan tumpukan roda – tanpa makna.

Pekerja yang terasing dari makna kerja, bukan hanya pekerja pabrik. Nyaris semua pekerja, atau semua orang dalam sistem ekonomi kapitalis, terasing dari makna kerjanya. Direktur terasing dari hasil kerjanya karena direktur hanya melihat angka-angka pertumbuhan profit atau pertumbuhan nilai saham belaka. Direktur tidak harus peduli dengan produk perusahaan apakah akan memberi manfaat kepada masyarakat. Tetapi, meningkatkan angka profit atau angka valuasi perusahaan adalah wajib bagi direktur. Tentu saja, krisis keterasingan ini berbahaya karena sudah melanda ke mana-mana.

Ketiga, kapitalisme menyebabkan pemujaan kepada kapital. Sudah kita sebutkan di atas bahwa ekonomi serakah, ekonomi libido, menyebabkan orang-orang memuja uang dan kapital. Pemujaan yang berlebihan tanpa batas akhir. Semua orang hanya mengejar uang, atau kapital, yang memang menjadi pujaan mereka.

Masih banyak kritik-kritik lain dari sosialis ke kapitalis. Lalu, apa solusi dari sosialis? Sosialis mengusulkan sistem sosial yang adil tanpa kesenjangan antar kelas. Bagaimana caranya? Bisa revolusi atau reformasi. Mereka cenderung memilih cara revolusi. Ada yang berhasil untuk revolusi, sebagian gagal.

Fukuyama (lahir 1952) mengklaim bahwa sistem ekonomi sosial-komunis telah runtuh pada tahun 1990an ditandai dengan runtuhnya tembok Berlin. Yang tersisa, sejak itu, adalah sistem ekonomi kapitalisme-liberal. Meski, klaim Fukuyama ini benar di beberapa bagian tetapi salah di banyak bagian lainnya. Kita melihat ada Cina yang berhasil dengan sistem sosialis dalam beberapa aspek. Dan, kita melihat Brunei berhasil dengan sistem teonomis dalam aspek tertentu.

Catatan dari SDG Report menunjukkan bahwa Cina, negara sosialis terbesar, 20% penduduknya di bawah garis kemiskinan pada awal tahun 2000an. Saat ini, pada tahun 2020an, hanya 1% penduduk Cina yang miskin. Cina lebih bagus dari banyak negara lain. Misal, kemiskinan di Indonesia sekitar 10% penduduk (atau 20% tergantung standar garis kemiskinan). Sedang kemiskinan di Amerika sekitar 6% penduduk. Demikian juga dalam kesenjangan ekonomi, di Cina tidak terjadi kesenjangan yang tajam. Sementara, di negara kapitalis, benar-benar terjadi kesenjangan ekonomi yang tajam.

Bagaimana pun, Cina adalah negara sosialis tetapi berbeda dengan konsep negara sosialis di awal. Cina sudah beradaptasi dengan konsep kapitalis. Misal, di Cina saat ini, diijinkan perusahaan besar berkembang layaknya perusahaan kapitalis. Kita mengenal nama-nama besar seperti Alibaba, Huawei, dan lain-lain. Dari aspek sosial, Cina beradaptasi dengan mengijinkan rakyatnya menjalankan agama sesuai keyakinan. Padahal, awalnya, negara sosialis menolak agama. Bahkan, saat ini, Cina termasuk salah satu negara dengan penduduk beragama islam terbesar di dunia.

Sehingga, kita bisa menolak Fukuyama yang mengatakan komunisme sudah runtuh karena, misalnya, masih ada Cina. Begitu juga, kita bisa menolak Marx yang mengatakan kapitalisme menghancurkan diri sendiri karena, sampai sekarang, masih berdiri banyak negara kapitalis. Demikian juga, kita bisa menolak orang yang mengatakan teonomis sudah runtuh. Tidak benar bahwa sistem ekonomi berbasis agama sudah runtuh. Karena, ada beberapa negara teonomis yang tegak berdiri misal Brunei. Baik kapitalis, sosialis, mau pun teonomis, mereka semua memiliki kemampuan beradaptasi. Umat manusia, memang, mampu beradaptasi.

3.2.2.3 Teonomis

Ketiga, sistem ekonomi teonomis berbasis agama perlu kita bahas. Kapitalis adalah pertama, sosialis adalah kedua, dan teonomis adalah ketiga dalam urutan pembahasan kita kali ini. Sistem ekonomi teonomis, sepanjang sejarah, justru yang terbukti pernah paling sukses. Jaman kejayaan Islam, terbukti ekonomi maju. Jaman kejayaan Kristen, terbukti ekonomi maju. Dan, agama-agama lain juga memiliki sistem ekonomi yang bagus. Barangkali, sukses sistem ekonomi teonomis ini bila dijumlahkan rentang waktunya bisa melebihi 10 abad. Sementara, sukses sistem ekonomi kapitalis baru terbukti 2 atau 3 abad terakhir ini saja. Demikian juga, sukses sistem ekonomi sosialis barangkali masih kurang dari 1 abad. Sehingga, layak bagi kita untuk menimbang kembali teonomis sebagai solusi.

Keunggulan sistem teonomis adalah lengkap, komprehensif, dan tentu adaptif. Teonomis mengkaji konsep ekonomi dari masa lalu (ribuan tahun yang lalu), masa kini, dan masa depan, bahkan masa depan yang jauh yaitu masa setelah kematian – misal kehidupan di akhirat. Teonomis memandang kegiatan ekonomi sebagai suatu aktivitas yang saling terhubung dengan bidang-bidang lain. Ekonomi terhubung dengan nilai ibadah dan moral agama. Sehingga, kegiatan ekonomi memiliki nilai sakral. Kegiatan ekonomi terhubung dengan peningkatan pendidikan masyarakat, menjaga kesehatan masyarakat, dan menjaga kelestarian alam raya. Berbeda dengan kapitalisme yang memandang ekonomi hanya sebagai media maksimalisasi profit. Berbeda juga dengan sosialisme yang memandang ekonomi hanya sebagai sumber daya yang harus “disosialisasikan.” Teonomis, benar-benar, memiliki prespektif yang komprehensif.

Bila teonomis begitu hebat, maka, mengapa sistem ekonomi teonomis bisa runtuh?

Kita perlu mengkaji secara mendalam untuk menjawab pertanyaan itu. Saya berhipotesis ada tiga faktor: lemah, kooptasi, dan dogmatis.

Pertama, manusianya lemah atau tidak kompeten untuk menjalankan teonomis yang komprehensif. Akibatnya, teonomis tidak memberikan hasil sesuai harapan. Gagal di bidang ekonomi ini makin parah dengan lemahnya pendidikan. Dampak lebih jauh: makin merosotnya teonomis sampai runtuh ke jurang kehancuran.

Kedua, teonomis terkooptisi oleh kepentingan. Teonomis dibajak oleh para pejabatnya digunakan untuk menumpuk kekayaan para petinggi. Atau, teonomis digunakan untuk kepentingan politik pihak-pihak licik. Pada gilirannya, teonomis runtuh bersama sistem sosialnya yang lebih besar.

Ketiga, sikap dogmatis. Barangkali, sikap dogmatis adalah sumber bencana dari segala bencana teonomis. Keunggulan teonomis, salah satunya, adalah adaptif yaitu mampu mengikuti segala perubahan termasuk perubahan jaman, perubahan sains, perubahan teknologi, dan lain-lain. Karakter adaptif ini tertuang dalam bahasa simbolis. Dengan bahasa simbolis, umat manusia berhasil meraih inspirasi dari kitab suci setiap hari. Tetapi, sikap dogmatis bisa membalik semuanya.

Kaum dogmatis membalik teonomis, yang awalnya adaptif, menjadi jumud ketinggalan jaman. Kaum dogmatis mengambil inspirasi tunggal dari kitab suci, untuk kemudian, mereka jadikan dogma subversif. Di mana, hanya dogma versi mereka yang benar dan pihak lain salah semua. Karena teonomis tidak hanya membahas uang atau ekonomi, maka, pihak yang salah dituduh sebagai sesat bahkan tersesat dari agama. Konsekuensi lanjutannya, bisa dibayangkan, adalah menghapus keragaman, punahnya dinamika, dan akhirnya, runtuhnya teonomis itu sendiri.

Bagaimana pun, sikap dogmatis tidak hanya terjadi pada pendukung teonomis. Kaum sosialis mau pun kapitalis bisa juga terjebak dalam dogmatis. Mereka meyakini sistem mereka sebagai satu-satunya sistem yang benar, sementara, sistem yang berbeda adalah salah. Di mana pun, sikap dogmatis membahayakan sistem mereka sendiri.

Sehingga, salah satu cara untuk membangkitkan kembali teonomis adalah dengan memerangi sikap dogmatis dan menggantinya dengan sikap terbuka. Tentu saja, sikap dogmatis adalah hak masing-masing individu. Sehingga, kita perlu menghormati mereka yang bersikap dogmatis. Hanya saja, dalam kehidupan bermasyarakat, kita perlu saling terbuka dengan keragaman inspirasi. Melalui dialog yang sehat dalam masyarakat, diharapkan, teonomis bisa bangkit kembali untuk kebaikan bersama.

Taylor (lahir 1931) berpendapat bahwa sekularisasi memperkuat dan diperkuat oleh agama. Berbeda dengan kebanyakan orang yang mengira bahwa sekularisasi mengikis keyakinan umat beragama. Sekularisasi menyebabkan gelombang perubahan dari orang beragama menjadi ateis. Sebagian, memang benar begitu. Sebagian yang lain, terjadi sebaliknya. Ada gelombang besar dari orang ateis berubah menjadi beragama. Singkatnya, sekularisasi bukan memusuhi agama. Sekularisasi adalah sebuah pilihan sikap hidup yang bisa sejalan dengan agama. Sehingga, teonomis tetap valid untuk menjadi salah satu alternatif solusi.

Sampai di sini, mari kita buat ringkasan beberapa solusi. Solusi personal dan solusi sistem, mereka saling melengkapi. Kita tidak cukup hanya memilih salah satu saja antara personal dan sistem. Sedangkan dari ketiga solusi sistem yang kita bahas – kapitalis, sosialis, dan teonomis – memiliki keunggulan dan kelemahan. Kita perlu menghindari sikap dogmatis, untuk kemudian, menggantinya dengan sikap terbuka.

Bagaimana jika kita merangkul semua solusi yang ada? Sistem ekonomi Pancasila adalah sistem ekonomi yang merangkul semuanya: ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, demokrasi, dan keadilan. Dengan demikian, apakah ekonomi Pancasila menjadi yang terbaik? Saya membahas ekonomi Pancasila di tulisan yang lain. Benar bahwa Pancasila adalah anugerah yang luar biasa. Kita perlu untuk merawatnya. Sementara, dalam tataran praktis, misal ekonomi Pancasila, kita perlu waspada di berbagai sektor yang ada.

3.3 Sarana Cinta

Kita fokus pada solusi ekonomi cinta di bagian ini. Berbagai macam kritik ekonomi, personal dan sistemik, sudah kita bahas di bagian sebelumnya. Bahkan, kita juga sudah memberikan beragam alternatif solusi. Selanjutnya, kita akan memandang ekonomi sebagai sarana cinta. Sistem ekonomi adalah barzakh yang merupakan ruang temu antara cahaya dan gelap. Karena itu, sistem ekonomi adalah sarana bagi kita untuk jatuh cinta bersama cahaya.

Sebagai sarana, sistem ekonomi bisa berubah menjadi penjara atau sasana. Ketika ekonomi menjadi penjara cahaya, maka, cahaya cinta itu terjebak dalam sistem ekonomi. Cahaya hanya berputar-putar dalam penjara. Kadang lelah, kadang serakah, dan kadang kalah. Cahaya tidak kemana-mana hanya terperangkap dalam penjara. Meski ada lubang kecil untuk keluar dari penjara, cahaya itu sudah terjebak tak bisa melompat.

Kita perlu mengubahnya untuk menjadi sasana cahaya. Bahkan penjara itu, bisa kita ubah menjadi sasana berlatih bagi cahaya. Berlatih tiap hari, dengan disiplin, menjadikan otot-otot cinta lebih kuat. Sasana cahaya menjadi pijakan bagi kita untuk melompat jauh tinggi. Sangat tinggi, untuk menjangkau rangkulan Cahaya Segala Cahaya. Sistem ekonomi adalah sasana bagi kita untuk bercahaya. Kita membutuhkan sasana. Kita membutuhkan sarana untuk bertumbuh bersama.

Berikut ini adalah ide-ide bagi kita untuk berlatih di dalam sasana cahaya.

3.3.1 Pertumbuhan Ekosistem

Solusi paling utama adalah mengubah indikator “pertumbuhan ekonomi” menjadi pertumbuhan ekosistem. Dalam teori, SDG telah merumuskan tujuan-tujuan pertumbuhan ekosistem yang berkelanjutan dengan baik. Misal, tujuan “menghapus kemiskinan,” “menghapus kelaparan,” dan “aksi iklim.” Selengkapnya, ada 17 goal dari SDG yang benar-benar baik.

Tantangan selanjutnya, bagaimana agar pertumbuhan ekosistem ini bisa benar-benar dijalankan?

Perlu komitmen nasional agar bisa dijalankan. Karena SDG adalah skala internasional maka tidak memiliki daya kerja secara langsung. Hanya level negara, komitmen nasional, yang berpeluang besar untuk mengejar tujuan-tujuan besar itu. Lebih dari itu, masing-masing negara tetap perlu detilasi dari “goal” yang bersifat global itu menjadi standar yang kongkrit. Jadi, tantangan besar masih di depan kita.

Pertama, agar ekosistem bisa bertumbuh maka kita perlu mendefinisikan batasan konsumsi yang sehat berupa batas minimal dan maksimal. Kedua, membatasi ketimpangan sosial, misal, dengan rasio Gini dan rasio Palma. Ketiga, indikator ketimpangan sosial perlu kita buat lebih real-time sehingga kita cepat mendapatkan feedback untuk kemudian melakukan koreksi segera.

Kita akan mulai dari yang pertama: mendefinisikan batasan konsumsi yang sehat.

Definisi di sini hanya bersifat estimasi dan dinamis. Maksudnya, untuk wilayah yang berbeda, bisa saja menggunakan batasan definisi yang disesuaikan dengan lingkungan sekitarnya. Demikian juga bersifat dinamis yaitu definisi bisa berubah sesuai waktu dan perubahan.

Konsumsi Sehat = [b sampai dengan a] = [b – a]

Konsumsi dianggap sehat bila nilainya lebih dari batas bawah (b) dan kurang dari batas atas (a).

Jika seseorang, atau suatu keluarga, besaran konsumsinya kurang dari batas bawah (b) maka orang tersebut termasuk golongan tidak mampu. Karenanya, perlu tindakan khusus bagi mereka agar mampu menaikkan tingkat konsumsi. Barangkali tindakan ini bisa berupa membuka lapangan kerja, lapangan usaha, atau meningkatkan keterampilan.

Sementara, jika seseorang, atau suatu keluarga, besaran konsumsinya lebih besar dari batas atas (a) maka orang tersebut termasuk golongan boros. Mereka perlu melakukan tindakan khusus karena terlalu boros dalam konsumsi. Barangkali tindakan berupa wajib lapor ke pihak berwenang atau wajib berbagi amal dalam aneka cara.

Kita bisa mengambil contoh agar lebih jelas. Untuk kasus Indonesia secara umum, kita bisa mendefinisikan konsumsi sehat perkapita, per bulan:

Konsumsi Sehat = [Rp 2 juta – Rp 8 juta]

Orang yang konsumsinya kurang dari 2 juta per bulan adalah tidak sehat karena rendah-konsumsi. Begitu juga orang yang konsumsinya lebih dari 8 juta per bulan adalah tidak sehat karena tinggi-konsumsi.

Agar lebih mudah kita pahami, barangkali, kita menghitung konsumsi per keluarga yang terdiri dari 4 orang: suami, istri, dan 2 orang anak.

(R) Keluarga yang konsumsinya di bawah 8 juta per bulan adalah kurang sehat karena rendah-konsumsi.

(T) Keluarga yang konsumsinya di atas 32 juta per bulan adalah kurang sehat karena tinggi-konsumsi.

(S) Keluarga yang konsumsinya di antara 8 sampai 32 juta per bulan adalah sehat karena wajar-konsumsi.

Tugas kita adalah membantu keluarga (T) yang kelebihan konsumsi agar bisa disalurkan sebagian ke keluarga (R) yang rendah konsumsi. Meski demikian, kita tetap perlu menghormati bahwa T berhak untuk konsumsi lebih besar dari 32 juta per bulan. Dengan konsekuensi wajib berbadi kepada R.

Sebagai ilustrasi, misal, T melakukan konsumsi 40 juta, kelebihan 8 juta dari batas atas. Maka T berkewajiban berbagi dalam jumlah yang sama dengan kelebihan, yaitu 8 juta, kepada R. Dengan demikian, setiap kelebihan konsumsi akan berdampak perbaikan konsumsi pada kelompok rendah-konsumsi R. Atau, sejatinya, T tidak harus belanja lebih dari 32 juta per bulan karena angka 32 juta per bulan adalah sudah memadai untuk kehidupan yang sehat. Bila demikian, T bisa lebih banyak berbagi atas seluruh kelebihan daya konsumsinya kepada R.

Bukankah ide semacam itu hanya khayalan bagi kita, bagi Indonesia, misalnya?

Tidak. Bukan khayalan. Karena ilustrasi angka-angka di atas mendekati realitas ekonomi di Indonesia. Konsumsi perkapita Indonesia per bulan, rata-rata, di kisaran Rp 5 juta. Untuk keluarga terdiri 4 orang maka konsumsi 20 juta per bulan. Bila ada dua keluarga maka total adalah 2 x 20 juta = 40 juta perbulan.

Bandingkan dengan ilustrasi dua keluarga: keluarga R adalah 8 juta ditambah keluarga T adalah 32 juta. Total 40 juta rupiah yang mirip dengan realitas ekonomi Indonesia saat ini. Problem muncul, di Indonesia misalnya, karena tingkat konsumsi yang senjang. Banyak keluarga yang konsumsinya di bawah 8 juta, sementara sebagian keluarga kaya konsumsi di atas 32 juta. Tugas kita adalah mencari solusinya.

Konsep konsumsi sehat menjamin keluarga miskin mampu belanja dengan memadai, di saat yang sama, menjaga keluarga kaya belanja sewajarnya, tidak berlebihan, tidak serakah. Sebagaimana kita sudah memberikan beragam kritik terhadap ekonomi serakah.

Bagaimana cara keluarga kaya T berbagi kepada keluarga miskin R? Bukankah sudah ada pajak dan badan amal?

Tersedia beragam alternatif. Saya berpikir, konsep konsumsi sehat adalah seiring sejalan dengan pajak dan badan amal. Sehingga, reformasi dalam strategi pajak bisa terus berlanjut. Sementara, konsep konsumsi sehat berusaha untuk menjaga pertumbuhan-ekosistem dalam lingkungan ekonomi cinta.

Kelebihan daya konsumsi dari keluarga kaya T disalurkan oleh agen-agen mandiri. Semua dana, atau kelebihan daya konsumsi ini, disalurkan ke keluarga miskin R dalam jumlah 100%. Biaya operasional agen dibiayai oleh negara dari APBN. Benar, di sini ada penambahan beban APBN. Meski demikian, agen adalah agen mandiri yang tidak terikat oleh pemerintah atau kepentingan lain. Manajemen agen transparan, terbuka untuk publik.

Biaya operasional agen juga bukan dari hibah atau sejenisnya. Karena agen bukan badan amal. Agen mandiri dirancang untuk benar-benar mandiri. Barangkali, tidak akan ada prospek karir mentereng bagi orang-orang yang bekerja sebagai agen. Tetapi, pendapatan mereka terjamin layak, tidak kurang dan tidak berlebih dalam jangka waktu tertentu. Agen, bisa saja, adalah pemuda yang sedang mencari pengalaman kerja beberapa tahun. Bisa juga, agen adalah profesional yang benar-benar mengabdikan hidupnya untuk menjadi agen profesional.

Ekosistem Luas

Kita perlu mendefinisikan pertumbuhan-ekosistem lebih luas lagi dari konsep konsumsi sehat. Beberapa kandidat konsep antara lain: investasi sehat, properti sehat, pendidikan sehat, dan usaha sehat. Meski banyak konsep sehat yang bisa kita kembangkan, kita tetap perlu fokus dan menjaga cukup sederhana. Sehingga, seandainya, kita fokus hanya kepada konsep konsumsi-sehat adalah bagus. Bagaimana pun, konsep-konsep dari SDG merupakan sumber inspirasi terbaik.

Kita berasumsi bila konsep konsumsi sehat berjalan baik, maka, masing-masing individu memanfaatkan kebebasan dirinya untuk memilih konsumsi terbaik bagi mereka. Pertumbuhan ekosistem menyasar perbaikan ekonomi cahaya secara personal dan sistemik. Secara personal, masyarakat perlu bersyukur ketika konsumsi mereka dalam rentang konsep konsumsi sehat. Individu perlu waspada bila tingkat konsumsi terlalu rendah atau terlalu tinggi. Secara sistem – kapitalis, sosialis, dan teonomis – bisa memanfaatkan konsep konsumsi sehat untuk menjaga dinamika sistem ekonomi berkelanjutan.

3.3.2 Rasio Gini Palma

Rasio Gini menjadi ukuran keadilan ekonomi dunia paling terkenal. Rasio Gini sangat sederhana. Hanya berupa angka dari 0 sampai 1 saja – atau dinyatakan dalam bentuk persen. Misal rasio Gini Indonesia adalah G = 0,38 menandakan ada ketimpangan ekonomi. Di bagian ini, kita akan membahas rasio Gini, dan rasio Palma, guna menjaga sistem ekonomi agar menjadi sasana cahaya – sebuah sarana bagi umat manusia untuk tumbuh bersama cahaya cinta.

Lorenz (1876 – 1959) adalah ekonom dan ahli statistik yang berhasil membuat kurva penyebaran kekayaan dan pendapatan. Kelak, kurva ini dikenal sebagai kurva Lorenz. Dengan cerdik, Lorenz membuat kelompok ekonomi masyarakat dalam beberapa kelas. Kemudian, mengurutkannya dari yang paling miskin menuju ke yang lebih kaya. Data ini, selanjutnya, dibuatkan grafik kumulatif yang berupa kurva. Dari kurva ini tampak jelas penyimpangan dari garis lurus. Makin jauh menyimpang dari garis lurus maka makin besar ketimpangan ekonomi di masyarakat bersangkutan. Seberapa besar ketimpangan tersebut?

Gini (1884 – 1965) adalah ahli statistik dan sosiolog yang berhasil merumuskan indeks atau rasio ketimpangan ekonomi. Kelak, indeks tersebut dikenal sebagai indeks Gini atau rasio Gini yang begitu populer. Gini mengkaji kurva Lorenz, untuk, kemudian menghitung rasio ketimpangan dari setiap kurva. Gini membandingkan, rasio, wilayah yang menyimpang dari garis lurus terhadap total wilayah tanpa penyimpangan ideal. Hasilnya adalah rasio Gini G.

Makin besar rasio gini G maka makin besar ketimpangan ekonominya. Nilai G = 0 bermakna tidak ada ketimpangan atau semua orang memiliki kekayaan, penghasilan, dalam jumlah yang sama persis. Adil merata. Dalam realitas, tidak pernah ditemukan adil merata seperti itu. Nilai G = 1 atau 100%, bermakna terjadi ketimpangan maksimal. Yaitu, semua orang tidak punya kekayaan sama sekali kecuali hanya 1 orang raja yang memiliki seluruh kerajaannya. Dalam realitas, hal ini juga sulit terjadi.

Secara realistis, rasio G di antara 0 dan 1. Tujuan keadilan ekonomi adalah mencapai nilai G yang rendah, misal, SDG menetapkan rasio G = 0,275 = 27,5% sebagai batas ketimpangan. Ketika di Indonesia, rasio G = 0,38 maka bermakna terjadi ketimpangan ekonomi di Indonesia. Sementara di Uni Emirat Arab, G = 0,26 maka tidak terjadi ketimpangan. Di Emirat, bukannya tidak ada perbedaan antara yang miskin dan kaya. Tetapi, perbedaan yang ada tidak sampai menimbulkan ketimpangan. Karena perbedaannya hanya sedikit saja.

Tampak jelas, rasio Gini memberi kita informasi jelas tentang ketimpangan. Di Indonesia, pendapatan perkapita, rata-rata pendapatan penduduk, adalah sekitar 5 juta per bulan. Atau, untuk keluarga dengan anggota 4 orang, pendapatan adalah 20 juta per bulan. Cukup bagus, bahkan sangat bagus, sebagai rata-rata. Problem muncul ketika yang miskin makin miskin dan yang kaya makin kaya dengan ditunjukkannya oleh rasio Gini G = 0,38. Solusinya cukup jelas yaitu dengan pemerataan ekonomi: yang miskin didukung untuk lebih kuat dan yang kaya boleh membantu yang miskin meski tetap makin kaya.

Yang menarik dari rasio Gini adalah tidak adanya keharusan yang kaya dikurangi kekayaannya untuk memperbaiki G. Maksudnya, ketika yang kaya makin kaya dan diiringi yang miskin ikut makin kaya maka nilai G makin baik – ketimpangan makin teratasi.

Problem dari rasio Gini adalah tidak berlaku sebaliknya, tidak bisa membentuk kurva Lorenz lagi. Maksudnya, satu nilai G yang sama, bisa jadi, kurva Lorenz-nya berbeda-beda. Lalu, bagaimana kita bisa menyimpulkan ketimpangan dari nilai G?

Palma (lahir 1947) mengarahkan kajian lebih fokus pada ketimpangan. Kelas menengah, umumnya, tidak mengalami ketimpangan. Ketimpangan ekonomi terjadi antara kelas terkaya dengan kelas termiskin. Maka, kita bisa membandingkan 10% kelas terkaya dengan 40% kelas termiskin. Perbandingan ini, kita kenal sebagai rasio Palma P.

SDG menetapkan rasio Palma P = 0,9 sebagai batas – atau di bawah 1. Misal Indonesia, rasio P = 1,8 maka bermakna terjadi ketimpangan ekonomi di Indonesia. Sedangkan Austria, rasio P = 0,9 maka tidak terjadi ketimpangan di Austria. Sejatinya cukup jelas, problem ekonomi di Indonesia adalah ketimpangan ekonomi, sehingga, kita perlu fokus untuk mencapai solusinya

Keunggulan rasio Palma adalah intuitif, kita lebih mudah memahami. Ketika P = 1, bermakna bahwa konsumsi 10% kelas terkaya setara dengan konsumsi 40% kelas termiskin. Atau, konsumsi kelas kaya 4 kali lipat lebih besar dari konsumsi kelas miskin. Angka ini mirip dengan ilustrasi konsep konsumsi-sehat di atas. Konsumsi terendah perkapita per bulan adalah 2 juta rupiah. Sedangkan, konsumsi tertinggi adalah 8 juta per bulan.

Rasio Palma, mirip dengan rasio Gini, tidak bisa menghasilkan kurva Lorenz. Padahal, kita memerlukan kurva Lorenz. Palma bisa saja menganggap bahwa dia tidak perlu kurva Lorenz. Tetapi, bagaimana pun, Palma tetap memerlukan Lorenz. Kemudian menentukan kelas termiskin dan kelas terkaya.

Rasio power Paman berhasil memproduksi kurva Lorenz. Bahkan, berhasil menguji konsistensi Lorenz, Gini, dan Palma. Berikutnya, kita akan membahas rasio power Paman.

3.3.3 Rasio Power Paman

Ketimpangan ekonomi makin menjadi-jadi di berbagai belahan dunia. Kita memerlukan indikator yang bersifat real-time agar lebih mudah beradaptasi. Rasio power Paman N bermaksud menghasilkan indikator real-time yang dimaksud. Pada saat yang sama, proses perhitungan rasio N mudah dan ringan. Dan, rasio N dapat untuk menguji konsisteni kurva Lorenz, rasio Gini, dan rasio Palma.

Pertama, rasio N memanfaatkan kurva Lorenz. Kedua, mengestimasi fungsi kurva Lorenz dengan polinom. Saya menggunakan deret jumlah Riemann untuk tugas tahap kedua ini. Ketiga, menentukan nilai power polinom n = N. Keempat, memaknai rasio N. Kelima, menemukan konsistensi rasio N dengan Gini dan Palma.

Kita mulai dengan memaknai rasio N. Kita bisa membayangkan kurva Lorenz sebagai grafik polinom sederhana dengan pangkat N. Sehingga, ketika rasio paman N = 2, kita mengatakan nilai ketimpangan adalah N = 2 atau timpang kuadrat. Sedangkan, rasio N = 3, bisa kita katakan timpang pangkat 3 atau timpang kubik atau timpang kuadrat 3. Kasus khusus terjadi ketika N = 1 yang bermakna sebagai linear, atau garis lurus, atau tidak ada ketimpangan. Semua kelas memiliki kekayaan dalam jumlah yang sama, adil merata. Rasio N bisa bernilai pecahan positif dan, secara teori, nilai maksimumnya tidak ada, tak hingga.

Makin besar nilai rasio N maka makin besar ketimpangan masyarakat bersangkutan. Nilai ketimpangan ini mengikuti kurva Lorenz sebagai fungsi polinom pangkat N.

Misal di Indonesia, rasio N = 2,2 maka nilai ketimpangan ekonomi di masyarakat Indonesia lebih buruk dari ketimpangan kuadrat – lebih buruk dari rasio N = 2. Konsekuensinya, kita bisa menghitung tingkat-konsumsi 25% rakyat termiskin adalah di bawah 19% dari rata-rata konsumsi perkapita. Untuk tahun 2020an ini, sekitar 70 juta jiwa rakyat Indonesia daya konsumsi atau konsumsi perkapita adalah 19% x 5 juta = 950 ribu rupiah per bulan. Uang sejumlah 950 ribu itu digunakan untuk makan, sewa rumah, bayar listrik, beli sabun, dan lain-lain. Tentu saja, tidak layak. Kita perlu solusi yang tepat.

Dengan rasio N, kita bisa menghitung tingkat konsumsi kelas terkaya, kelas termiskin, atau kelas menengah sesuai fokus kajian. Untuk tingkat konsumsi 10% rakyat termiskin di Indonesia, sekitar 27 juta jiwa, adalah 6% x 5 juta = 300 ribu per orang per bulan.

Konsistensi dengan Lorenz

Secara langsung, kita dapat memproduksi kurva Lorenz:

f(x) = x^N.

Rasio Gini G:

G = (N – 1)/(N + 1)

Sebaliknya, N = (1 + G)/(1 – G)

Rasio Palma P,

P = (1 – 0.9^N)/0.4^N

Konsistensi dari beragam persamaan di atas langsung bisa kita uji dengan menggunakan nilai N. Dengan demikian, kita sudah memiliki indikator jelas secara statistik untuk mengarahkan sistem ekonomi menjadi sasana cahaya yang mengantarkan umat manusia menuju peradaban cerah.

Konsep konsumsi-sehat memberi arahan tingkat konsumsi yang tepat bagi warga masyarakat dengan menyediakan ukuran batas atas dan batas bawah. Konsep ini menjaga masyarakat dari jebakan ekonomi libido serakah baik secara personal atau pun sistemik. Sedangkan rasio N, secara lengkap memberikan data nilai ketimpangan masing-masing kelompok masyarakat. Dengan demikian, kita bisa menyusun strategi solusi yang lebih fokus untuk mengatasi masalah ekonomi.

4. Ringkasan

Akar masalah dari sistem ekonomi adalah libido serakah yang tak terkendali. Di bagian ini, kita sudah membahas berbagai macam masalah ekonomi tersebut dan mengusulkan beragam solusi agar kita mampu mengubah sistem ekonomi dari penjara cahaya menjadi sasana cahaya, sarana untuk umat manusia bersinar bersama-sama.

Di bagian awal, kita menyoroti bahwa uang adalah pemicu libido serakah menjadi tak terkendali. Berbeda dengan barang, misalnya, orang bersyukur dengan panen pisang sekarung karena bisa dibagi-bagi untuk tetangga. Sementara, bila seseorang mendapat uang sekarung maka dia makin serakah ingin uang dua karung dan seterusnya.

Solusi dengan mengajak kembali ke sistem barter tanpa uang atau kembali ke uang emas, terbukti, tidak memadai.

Masalah ekonomi libido serakah makin parah dengan hadirnya uang digital. Segala keserakahan dilipatgandakan dan dipermudah. Dan, masyarakat menjadi terbiasa bahwa yang utama dari uang adalah angka-angkanya. Akibatnya, sistem ekonomi direduksi menjadi uang, untuk kemudian, menjadi angka-angka belaka. Praktek dominasi, mirip monopoli, merebak di mana-mana.

Saya mengusulkan solusi personal dan sistemik untuk mengatasi problem ekonomi secara dinamis. Kita perlu sadar bahwa tidak ada solusi tunggal yang menyelesaikan semua masalah, satu kali, untuk selamanya. Tidak ada solusi dogmatis. Baik sistem kapitalis, sosialis, mau pun teonomis, mereka perlu belajar dari beragam kegagalan untuk kemudian diperbaiki.

Apa pun solusi ekonomi yang kita tawarkan, mensyaratkan solusi personal yang memadai. Maksudnya, masing-masing individu, dalam porsi cukup besar, harus mampu menjaga diri dari jebakan ekonomi libido serakah. Kemudian, solusi sistemik memperkuatnya. Konsep konsumsi-sehat memberikan range konsumsi (batas bawah dan batas atas) untuk personal dan sistemik. Sedangkan, rasio N memberikan ukuran yang jelas nilai ketimpangan ekonomi dalam masyarakat. Dengan demikian, menjadi jelas bentuk solusi yang diperlukan.

Meski pembahasan kita, di sini, tidak memadai untuk disebut sebagai solusi lengkap, setidaknya, kita optimis akan mampu mengatasi beragam masalah ekonomi libido serakah dengan teori yang kita kembangkan plus belajar dari pengalaman yang sudah-sudah. Kita juga tidak membahas konten ekonomi itu sendiri, apakah harus fokus bidang pertanian, atau harus mengutamakan ekonomi digital, atau bidang lainnya. Pembahasan bidang-bidang ekonomi seperti itu akan memerlukan kajian yang panjang lebar. Sekali lagi, pembahasan kita hanya fokus kepada “pertumbuhan ekosistem” melalui konsep konsumsi-sehat dan menangani ketimpangan ekonomi melalui indikator real-time rasio N. Semoga kita semua berhasil berpetualang dalam sistem ekonomi sasana cahaya.

5. Diskusi: Adil Makmur

Apa ukuran sistem ekonomi sebagai adil makmur? Kita akan membahas tiga ukuran utama: [1] lapangan kerja berlimpah; setiap orang yang berminat bekerja maka tersedia lapangan kerja; [2] tersedia kursi universitas berlimpah; setiap pemuda yang berminat kuliah maka tersedia pembiayaan dan daya tampung universitas; [3] setiap orang mendapat kesempatan untuk menjadi wirausaha. Bila ada orang tidak memenuhi tiga indikator di atas, yaitu, tidak mau bekerja; tidak mau kuliah; tidak mau wirausaha; maka mereka adalah beban masyarakat. Mereka membutuhkan pertolongan dari masyarakat. Bagaimana pun, masyarakat membutuhkan beban dalam kadar tertentu.

Saya mencatat ada tiga jenis beban yang dibutuhkan oleh manusia dan masyarakat: [a] beban dosa; [b] beban anak; [c] beban tua.

Beban dosa dibutuhkan karena memberi makna kepada setiap amal manusia. Amal menjadi bermakna tinggi karena kebalikan amal adalah dosa. Sementara hewan, misal kucing, tidak punya dosa. Konsekuensinya, kucing tidak punya amal yang bermakna. Kucing tidur adalah baik; kucing makan adalah baik; kucing bermain adalah baik. Semua perilaku kucing adalah baik-baik saja. Tetapi, manusia yang tidak bekerja adalah berdosa. Konsekuensinya, kerja manusia adalah amal yang penuh makna. Merusak lapangan kerja adalah dosa besar; kebalikannya adalah amal; membuka lapangan kerja adalah amal kebaikan yang amat besar.

Beban anak makin terasa berat di akhir-akhir ini. Beberapa orang memutuskan untuk tidak punya anak agar mengurangi beban. Tetapi, anak adalah beban; yang dengan beban anak, manusia menjadi lebih bahagia; melihat anak senyum adalah bahagia; melihat anak bermain adalah bahagia; melihat anak tidur adalah bahagia. Anak menjadi beban bagi manusia dewasa karena anak hidup di “surga”; lapar tinggal makan; haus tinggal minum; mengantuk tinggal tidur saja. Kita membutuhkan beban anak karena menciptakan “surga” bagi anak adalah kebahagiaan penuh makna tiada tara.

Beban tua adalah beban yang kita butuhkan untuk menyongsong masa depan. Bila beruntung, pada akhirnya, kita akan tua; mencapai usia 70 tahun atau lebih; dan kita menjadi beban bagi umat manusia. Kita tidak mampu lagi bekerja secara produktif; kita membutuhkan bantuan umat manusia. Sebaliknya juga benar; manusia muda, atau usia produktif, membutuhkan beban orang tua karena orang tua adalah orang yang dulu merawat kita ketika kita masih kecil. Lebih dari itu, kita butuh belajar hikmah dari orang yang sudah tua; orang yang tubuhnya lemah tetap pantang menyerah menyongsong masa depan; mereka telah banyak mencicipi manis pahitnya kehidupan bersama sang waktu. Kita akan mengalami masa depan yang sama sebagai manusia tua.

Kerja kita, saat ini, menjadi bermakna karena beban-beban yang ada. Sehingga, lapangan kerja perlu untuk kita buka seluas-luasnya.

5.1 Berlimpah Lapangan Kerja

Setiap orang yang berminat untuk bekerja maka mereka mendapat pekerjaan yang baik dengan penghasilan yang layak. Indikator ketersediaan lapangan kerja ini mudah kita cermati sebagai indikator ekonomi adil makmur. Di jaman kuno, setiap orang yang mau bekerja bisa bekerja misal dengan mencari buah-buahan di hutan; berburu burung atau sapi atau ikan di sungai; atau menanam padi. Sungguh ironi bila, di masa kini, tidak tersedia lapangan kerja kan?

Problem lapangan kerja, saat ini, adalah tidak tersedia uang yang layak. Maksudnya, tentu saja, setiap orang pasti bisa bekerja. Hanya saja, tidak ada jaminan orang tersebut akan mendapatkan penghasilan uang yang layak. Mengapa uang menjadi penentu kerja?

Di bagian bawah, saya mengusulkan solusi berupa eksperimen uang-pokok dan uang-mewah. Uang-pokok menjamin setiap orang memperoleh penghasilan yang memadai untuk kebutuhan pokok; sementara itu, orang tersebut bisa bekerja untuk mengembangkan kualitas hasil kerjanya. Uang-mewah membantu orang kaya untuk lebih peduli ke realitas sosial sekitar; dan mendorong orang kaya untuk lebih banyak donasi kepada fakir miskin.

5.2 Berlimpah Biaya Universitas

Setiap orang, khususnya pemuda, yang berminat kuliah di universitas maka tersedia kursi universitas lengkap dengan beasiswa. Keinginan seorang pemuda untuk kuliah adalah cita-cita mulia. Baik kuliah tingkat sarjana atau diploma. Anggaran beasiswa ini disediakan oleh negara. Ratusan tahun yang lalu, setiap pemuda yang ingin kuliah di pesantren, mereka bisa kuliah di pesantren tanpa dipungut biaya; tersedia beasiswa dari situasi sosial yang ada. Ironi juga kan bila, saat ini, banyak pemuda ingin kuliah tetapi kursi universitas terbatas?

Tentu, kita sadar bahwa banyak pemuda yang tidak minat kuliah. Mereka mungkin saja ingin langsung kerja atau kegiatan lainnya. Mereka memiliki freedom untuk menentukan jalan hidupnya. Hanya saja, bagi pemuda yang berminat kuliah maka negara harus menyediakan kursi universitas dan beasiswa. Indikator ekonomi adil makmur ini juga mudah untuk kita cermati.

Bagaimana cara menyediakan beasiswa bagi semua mahasiswa di universitas? Jerman telah melakukan itu. Kita bisa belajar dari Jerman. Atau, kita bisa mengembangkan sistem beasiswa sendiri yang disesuaikan dengan situasi Indonesia; misal di Indonesia terdapat ribuan pesantren dan padepokan yang bisa meluaskan akses pendidikan tinggi. Ditambah lagi, teknologi digital dan online makin memudahkan untuk akses pendidikan.

5.3 Berlimpah Wirausaha

Indikator adil makmur ketiga yang mudah kita cermati adalah tersedianya, secara berlimpah, peluang wirausaha. Setiap orang yang minat wirausaha maka mendapat peluang untuk wirausaha secara layak. Wirausaha adalah menambah manfaat, menambah nilai, bagi masyarakat dan alam. Sepantasnya, setiap warga masyarakat mendukung wirausaha. Hanya anggota masyarakat tertentu yang menolak wirausaha; mereka yang takut bersaing; mereka yang serakah ingin dominasi pribadi; mereka yang mengeruk keuntungan pribadi.

Di Indonesia, peluang wirausaha terbuka luas dengan baik. Setiap orang bebas untuk wirausaha. Tantangannya adalah sulit untuk menjadi wirausaha yang sukses. Dan, andai akhirnya berhasil menjadi wirausaha sukses maka dia dalam resiko terjebak ke dalam sistem kesenjangan ekonomi baru. Masyarakat adil makmur masih jauh untuk menjadi realitas. Apa solusi yang kita perlukan?

Pemahaman kita tentang realitas uang, kita bahas di bawah, akan membantu kita untuk meluaskan peluang wirausaha.

5.4 Relasi Uang

Apakah uang bisa menciptakan relasi yang adil makmur? Tampaknya sulit sekali. Kali ini, kita akan mendiskusikan relasi uang terhadap sistem ekonomi dan sistem sosial lebih luas. Kita berharap bisa menciptakan sistem adil makmur dengan instrumen relasi uang. Untuk itu, kita akan mengkaji 10 baris x 3 kolom = 30 tema tentang uang. Jumlah tema bisa kita kembangkan terus tanpa batas. Matriks 30 tema ini merupakan adaptasi dari tulisan Hardt (1963 – ) dan Negri (1933 – 2023).

1. Era Kuno:
Pertanian;
kolonial
2. Era Industri:
Sains
3. Era Digital:
Online
a. Waktu produksiAlamiah: musimanJam kerjaTiap saat
b. NilaiMutlakRelatifBiopower
c. EkstraksiPenaklukan;
Pengusiran
Eksploi;
Industri
Aproprias
bersama
d. PropertiTetapGerakRepro
e. TenagaPerajinPabrikSosial
f. RealisasiSinkronKreditProyeksi
g. PejuangPopularPekerjaViral
h. PolitisMutualisSerikatKoalisi
i. PencetakNegaraKorporasiFinans
j. GovernKoloniImperialBiopolitik
Peran Uang dan Relasi Sosial

Relasi uang dengan realitas bersifat dinamis. Uang mempengaruhi realitas sosial; dan realitas sosial mempengaruhi uang. Sehingga, analisis terhadap uang harus melibatkan analisis sosial.

5.4.1 Realitas Uang

Uang adalah instrumen perdagangan dan penyimpan nilai. Uang merupakan instrumen jual beli. Kita memerlukan definisi uang lebih dari definisi uang sebagai instrumen seperti itu; kita perlu memahami apa makna-uang; bukan hanya apa itu uang; tetapi mengapa dan apa saja yang dilakukan oleh uang; makna dari realitas uang.

(1a) Uang diproduksi secara alamiah. Seorang petani menanam padi pada musim tanam; beberapa bulan kemudian, petani panen padi pada musim panen; menghasilkan beberapa ton padi yang bisa dijual senilai, misal, 25 keping uang emas. Pada era kuno seperti ini, waktu untuk menghasilkan uang selaras dengan waktu alamiah.

(2a) Uang diproduksi sesuai jam kerja. Seorang buruh bekerja 8 jam sehari dengan upah standar. Di saat-saat tertentu, buruh kerja lembur; buruh menghasilkan uang lembur yang merupakan tambahan dari upah standarnya. Sebaliknya, juga bisa terjadi. Buruh sakit sehingga tidak bisa kerja; konsekuensinya, gaji buruh dipotong; berkurang dari biasanya. Di era industri, uang diproduksi berdasar jam kerja; jam kerja bisa saja siang atau malam; jam kerja bisa terbebas dari musim alamiah.

(3a) Uang diproduksi setiap saat; 24 jam sehari dan 7 hari tiap minggu; misal melalui internet. Ketika Anda tidur, bisa saja orang-orang menonton konten Anda sehingga Anda menghasilkan uang. Konten Anda bisa diakses di Indonesia mau pun dari seluruh dunia; kapan saja, di mana saja. Anda bisa menghasilkan uang kapan saja di mana saja di era digital ini.

Meski kita bisa membedakan waktu produksi uang, misal era kuno, industri, dan digital, bagaimana pun seluruh waktu produksi bisa eksis secara bersamaan. Khususnya era digital, tetap terbuka dengan eksistensi produksi uang sesuai waktu alamiah mau pun jam kerja industri. Dengan demikian, uang era digital memiliki kekuatan jauh lebih besar.

(1b) Nilai uang adalah mutlak, atau absolut, di era kuno. Petani yang memiliki 25 keping uang emas, benar-benar, bernilai 25 keping uang emas. Umumnya, emas dianggap sebagai bernilai paling stabil.

(2b) Nilai uang relatif terhadap jaminan di era industri. Uang kertas 100 ribu, misalnya, dijamin oleh pemerintah bernilai 100 ribu; bisa digunakan untuk jual beli atau bayar pajak. Awalnya, pemerintah menjamin uang ini dengan persediaan emas oleh pemerintah.

(3b) Nilai uang ditentukan oleh biopower di era digital. Saham Apple melonjak 2 kali lipat beberapa tahun ini. Anda memiliki nilai uang melonjak 2 kali lipat dengan memiliki saham Apple; tanpa nilai instrinsik emas; tanpa jaminan pemerintah. Saham Apple melonjak karena biopower; kekuatan manusia, yaitu biopower, menilai saham Apple lebih tinggi dari sebelumnya.

(1c) Uang di-ekstraks, diperoleh, atau dirampas, melalui penaklukan dan pengusiran. Di era kuno, pasukan penjajah merebut suatu wilayah dan mengusir penduduk asli. Kemudian, penjajah menguasai sumber alam, misal emas, untuk mengeruk keuntungan berupa uang.

(2c) Uang di-ekstraks melalui eksplorasi atau eksploitasi industri. Perusahaan mempekerjakan buruh dengan upah murah, kemudian, menjual hasil kerja buruh dengan harga mahal.

(3c) Uang di-ekstraks melalui appropirasi bersama. Orang-orang menilai saham Apple makin mahal, sehingga, harga saham Apple benar-benar melonjak. Orang-orang yang “menilai saham Apple” adalah masyarakat luas; sementara, yang menikmati hasilnya adalah pemilik saham Apple saja.

Sejenak, mari kita analisis peran uang dan relasi sosial dari tema (1a) sampai (3c).

Era kuno, peran uang lebih stabil; relasi sosial terhadap uang juga lebih stabil; orang harus menanam padi dan menunggu panen untuk menghasilkan uang; ketika uang emas sudah diperoleh, nilainya juga stabil. Era industri lebih dinamis; dan makin dinamis di era digital. Orang bisa menghasilkan uang kapan saja misal melalui konten digital online; relasi uang terhadap realitas sosial makin dinamis; ketika uang sudah diperoleh dalam bentuk saham, misalnya, bisa saja nilainya melonjak tinggi atau bahkan jatuh.

Uang lebih dari sekedar instrumen jual beli; uang adalah cerminan dari realitas sosial itu sendiri; atau, uang adalah realitas sosial dalam bentuk konkret. Uang kuno bisa lebih baik dari uang digital karena stabil; tetapi, uang digital bisa lebih baik karena lebih dinamis. Uang kuno bisa lebih jahat karena memicu perampasan dan penindasan; uang digital bisa lebih jahat karena perampasan uang digital begitu cepat, halus, dan tersembunyi.

Jadi, uang mana yang lebih adil makmur? Uang kuno, uang industri, atau uang digital? Sama saja, masing-masing uang bisa adil makmur; dan masing-masing uang bisa juga jahat. Hanya saja, dinamika uang digital yang cepat dan masif perlu kita waspadai. Di bagian bawah, kita akan membahas eksperimen [1] uang pokok dan [2] uang beragam untuk menciptakan sistem ekonomi adil makmur.

Sedikit ilustrasi tentang dahysatnya uang digital barangkali bisa membantu.

Gojek adalah perusahaan digital yang lahir di Indonesia. Pada awalnya, Gojek berhasil memberi penghasilan uang yang besar kepada para drivernya. Kabarnya, seorang driver bisa menghasilkan uang 10 juta sampai 30 juta rupiah per bulan. Wajar, kemudian, banyak orang bergabung sebagai driver Gojek. Bandingkan dengan upah minimum di suatu kabupaten hanya 2 juta rupiah per bulan dan di Jakarta hanya 4 juta rupiah waktu itu. Singkat cerita, Gojek makin sukses sebagai perusahaan rintisan berkat kerja keras para diriver dan, tentunya, peran para pengguna.

Saat ini, valuasi Gojek sudah puluhan trilyun rupiah; bahkan, ada yang menilai valuasi perusahaan Gojek lebih besar dari perusahaan Garuda yang mengelola puluhan atau ratusan pesawat terbang di Indonesia. Dikabarkan, kekayaan Nadiem, pendiri Gojek, sekitar 5 trilyun rupiah ketika merger dengan Tokopedia. Baru-baru ini, Tiktok bergabung ke Gojek sehingga valuasi Gojek makin melonjak. Pemilik saham Gojek, saat ini, terbuka secara internasional termasuk Google ikut memiliki Gojek.

Ketika valuasi Gojek melonjak tinggi puluhan atau ratusan trilyun rupiah, bagaimana penghasilan driver Gojek? Beberapa driver Gojek justru menurun penghasilan mereka. Kadang, untuk mendapatkan uang 5 juta rupiah per bulan, sebagai driver Gojek, sangat sulit. Ketika motor rusak, driver sepenuhnya membiayai kerusakan motor.

Ketika investor asing dari Amerika atau Eropa menikmati lonjakan valuasi Gojek, bagaimana nasib driver Gojek? Apakah uang digital, misal berupa saham, yang berlaku di Gojek adalah adil makmur? Tidak mudah untuk menjawabnya dengan tuntas. Kita masih perlu melanjutkan kajian relasi uang.

(1d) Properti uang kuno bersifat tetap; ketika seseorang memiliki uang emas maka uang emas itu tetap menjadi miliknya selama dia genggam. (2d) Properti uang industri lebih mudah bergerak. Anda lebih mudah menjual atau menyewa produk-produk industri. (3d) Properti uang digital mudah direproduksi atau diproduksi ulang. Konten video Anda bisa dinikmati orang di Eropa. Anda juga bisa menikmati konten dari luar negeri. Produk-produk digital mudah digandakan. Tetapi, siapa pemilik uang digital sebenarnya?

(1e) Tenaga kerja penghasil uang kuno adalah perajin atau seniman, misal, petani. Petani menanam padi sesuai gaya masing-masing. (2e) Tenaga kerja penghasil uang industri adalah pekerja dengan standar tertentu; standar pabrik; standar ilmiah; standar internasional dan lain-lain. (3e) Tenaga kerja penghasil uang digital adalah relasi sosial yaitu masyarakat. Interaksi sosial, termasuk interaksi politik dan ekonomi, menyebabkan harga saham dan harga valuta melonjak atau anjlok.

(1f) Sinkron; pembayaran dengan uang emas bersifat selaras; ketika Anda membeli makanan maka proses menyerahkan uang dan menerima makanan adalah hampir serentak. (2f) Kredit; realisasi pembayaran uang industri bisa mundur atau maju. (3f) Proyeksi; uang digital bernilai besar karena diproyeksikan akan melonjak di masa depan; sebaliknya, bila diproyeksikan akan anjlok maka nilai uang digital akan berkurang. Realisasi uang digital adalah proyeksi futuristik.

Realitas uang di bagian berikutnya terkait dengan tema politik.

(1g) Tokoh masyarakat atau pejuang yang populer mampu memperjuangkan uang kuno agar lebih adil makmur. (2g) Para pekerja mampu mendorong agar uang industri lebih adil makmur. (3g) Konten viral mampu mendorong perimbangan uang digital agar lebih adil makmur.

(1h) Uang kuno mendorong konsensus politik mutualistik secara terpaksa atau sukarela. (2h) Serikat pekerja dan partai politik memiliki posisi tawar untuk menetapkan konsensus yang adil terhadap distribusi uang industri. (3h) Koalisi sosial, termasuk media sosial, mendorong transformasi uang digital.

(1i) Bank sentral, bang milik negara, mencetak uang kuno. (2i) Bank sentral dikendalikan oleh korporasi, secara langsung atau tidak, mencetak uang industri. (3i) Masyarakat, sistem sosial, mencetak uang digital misal saham atau uang kripto.

(1j) Pemerintahan kolonial monarki mengendalikan uang kuno. (2j) Pemerintahan imperial oligarki mengendalikan uang industri. (3j) Biopolitik mengendalikan uang digital; kepentingan politik dan ekonomi masing-masing kelompok masyarakat, yang pada gilirannya, mengendalikan uang digital.

Dari 30 tema di atas, kita bisa memahami realitas uang lebih komprehensif. Kita masih bisa mengembangkan tema lebih banyak lagi tanpa batas. Tetapi, 30 tema relasi uang sudah memadai untuk kajian dasar.

Apakah uang itu netral?

Tidak netral. Karena uang selalu terkait dengan kepentingan sosial dan politik yang lebih besar. Pihak dominan mendominasi uang; baik uang kuno, industri, mau pun digital; sedangkan pihak lemah ditindas melalui relasi uang; sekeras apa pun pihak lemah bekerja maka, tetap saja, pihak dominan yang kaya.

Netral. Uang adalah netral. Dalam arti, uang bersifat netral bisa mendorong ekonomi adil makmur mau pun penindasan ekonomi. Meski uang bisa netral, tetapi manusia tidak bisa netral. Kita, sebagai umat manusia, selalu harus bertanggung jawab terhadap pilihan realitas uang. Kita punya tanggung jawab menciptakan ekonomi adil makmur melalui relasi uang.

Catatan sejarah menunjukkan, sejak 1971, pemerintah US tidak menjamin uang dengan emas. Maksudnya, jika Anda memiliki uang 100 dolar maka Anda tidak dijamin bisa menukarnya dengan emas. Uang 100 dolar itu hanya dijamin oleh orang lain, atau masyarakat, yang bersedia transaksi dengan Anda. Andai tidak ada orang yang bersedia transaksi dengan uang 100 dolar itu, maka uang 100 dolar itu hanya bernilai seperti uang mainan belaka. Pemerintah di berbagai negara lain mengikuti langkah US dengan melepaskan jaminan emas untuk uang mereka. Jadi, uang kuno dan uang industri mulai bergeser menjadi uang digital yang dinamis. Tidak ada lagi jaminan bagi semua uang dalam makna umumnya.

Dengan mencermati relasi uang, kita sadar bahwa uang bisa berubah secara tajam; lebih-lebih, uang digital sangat dinamis. Karena itu kita perlu beragam eksperimen tentang uang demi masyarakat adil makmur.

5.4.2 Eksperimen Uang Pokok

Universal Basic Income (UBI) sudah menjadi ide menarik untuk menjamin kehidupan yang layak bagi setiap warga. Dalam situasi apa pun, bekerja atau tidak, setiap warga bisa hidup layak, tidak berlebih, melalui jaminan UBI. Dampak positif susulan dari UBI adalah setiap warga bisa bekerja sesuai dengan bakat dan minat; bekerja bukan karena memenuhi kebutuhan dasar bertahan hidup; bekerja adalah untuk aktualisasi diri. Harapannnya, dengan motivasi kerja sebagai aktualisasi, maka akan memberi hasil yang lebih produktif bagi masyarakat.

Problem dari UBI adalah anggaran. Dari mana negara membiayai UBI? Bagaimana jika UBI tidak berhasil meningkatkan produktivitas masyarakat? Jika UBI berlangsung dalam jangka waktu yang lama bukankah menjadi beban yang sangat berat bagi negara?

Jawaban sederhana: negara bisa mencetak uang untuk membiayai UBI. Tentu saja, negara bisa mencetak uang suka-suka. Tetapi, resiko inflasi selalu menghantui. Umumnya, negara tidak akan berani.

Eksperimen uang-pokok adalah solusi.

Negara mencetak uang-pokok untuk membiayai UBI misal berupa koin khusus. Dengan demikian, uang-pokok berbeda dengan uang biasa; berbeda dengan rupiah mau pun dolar. Konsekuensinya, uang-pokok tidak menyebabkan inflasi bagi rupiah.

Untuk eksperimen uang-pokok, kita memilih satu kabupaten di Indonesia dengan penduduk 1 juta orang.

[1] Setiap penduduk mendapat uang-pokok berupa koin untuk 1 tahun penuh.

[2] Setiap penduduk menerima 3 koin untuk makan pagi, siang, dan malam; 3 koin x 365 hari = 1 095 koin.

[3] Asumsikan 1 koin setara 5 ribu rupiah; 1 095 koin x 5 ribu x 1 juta penduduk = 5 475 ribu juta rupiah; Atau bulatkan menjadi 5 T rupiah per tahun.

[4] Sebagian besar penduduk kelas menengah mendonasikan koin untuk fakir miskin; dengan cara tidak klaim koin. Terjadi penghematan dari 5 T menjadi 2 T rupiah.

[5] Anggaran 2 T rupiah masih terlalu besar bagi kabupaten tetapi cukup ringan bagi negara Indonesia. Lagi pula, negara hanya perlu mencetak koin yang murah; kemudian menjamin kurs 1 koin setara 5 ribu rupiah khusus untuk kabupaten tersebut.

Dengan lima langkah di atas, negara sudah berhasil mencetak koin uang-pokok dengan biaya murah; koin ini setara dengan 2 T rupiah. Langkah selanjutnya adalah menjalankan program uang-pokok agar memberikan hasil maksimal.

Petani terlindung dari berbagai tekanan. Sudah umum bagi kita bahwa harga cabe mahal sekali ketika para petani tidak panen cabe. Tiba waktunya, petani panen cabe maka harga cabe sangat murah; cabe bernilai nol rupiah. Petani terlindung dari kesulitan ini karena petani sudah memiliki koin uang-pokok. Kebutuhan dasar untuk hidup bagi petani dan keluarga sudah terjamin oleh uang-pokok. Ketika harga cabe mendekati nol rupiah, petani bisa berkreasi mengolah cabe menjadi bubuk cabe, sambal kering, dibagi buat tetangga, atau lainnya.

Secara bertahap dan pasti, harga cabe akan relatif stabil. Petani cabe makin sejahtera; hasil pertanian makin berlimpah; dan masyarakat luas makin berkembang. Demikian juga petani padi, petani sayur, peternak ikan, petambak garam, dan lain-lain bisa terlindung dari jatuh dan lonjakan harga komoditas.

Perajin makin kreatif menghasilkan karya seni. Perajin sepatu atau perajin ukir kursi sudah sering kita dengar hanya mendapat upah minim; perajin ukir terpaksa berhutang kepada majikan untuk kebutuhan hidup sehari-hari; karena hasil ukiran masih perlu menunggu beberapa pekan selesai; dan beberapa pekan kemudian baru laku dijual; dengan harga yang murah juga. Perajin ukir bisa mengatasi kesulitan ini dengan koin uang-pokok. Perajin bisa menemukan harga terbaik dari karya seni ukirannya; perajin tidak perlu buru-buru. Perajin bisa fokus menghasilkan karya seni kualitas tertinggi; perajin berkarya dengan penuh konsentrasi.

Guru ngaji lebih ikhlas dalam mengaji. Guru sekolah fokus mengajar pelajaran sekolah. Pedagang fokus memperdagangkan produk-produk kualitas tinggi. Warung Tegal mendapat omset yang stabil. Rumah Makan Padang makin cemerlang. Warung-warung tradisional makin tumbuh kembang.

Angka kemiskinin mendekati 0; mengikuti standar garis kemiskinan BPS; konsumsi sekitar 450 ribu rupiah per bulan; koin uang-pokok tepat di dekat garis kemiskinan. Dengan tambahan sedikit-banyak usaha, maka seluruh penduduk akan melampaui batas garis kemiskinan. Tentu, ini menjadi prestasi yang luar biasa.

Tetapi, kita perlu mencapai target konsumsi sehat antara 2 juta sampai 8 juta rupiah perkapita per bulan. Sehingga, kita masih perlu mendorong masyarakat untuk lebih produktif lagi.

5.4.3 Eksperimen Uang Mewah

Eksperimen uang-mewah mengkaji konsumsi yang melebihi batas tertinggi dari konsumsi sehat; misal di atas 10 juta rupiah perkapita per bulan.

Uang-mewah berbeda dengan uang-normal; berbeda dengan rupiah mau pun dolar; berbeda juga dengan uang-pokok. Uang-mewah bisa menjadi substitusi terhadap pajak; bisa juga sekedar sebagai komplemen bagi pajak. Tetapi, yang paling tegas, uang-mewah berbeda dengan uang-normal.

Tujuan uang-mewah adalah untuk mendekatkan orang kaya kepada orang miskin; untuk mendekatkan orang kaya kepada realitas di dekat mereka. Uang-mewah bukan bertujuan menambah beban bagi konsumsi barang mewah; meski, memang terjadi penambahan beban semacam itu.

Barangkali dengan ilustrasi akan memudahkan untuk memahami konsep uang-mewah. Saya sendiri merasa implementasi uang-mewah akan mengahadapi beragam kompleksitas.

Sebuah toko mobil mewah ABC hanya menjual mobil mewah. Konsekuensinya, semua transaksi pembelian mobil di toko ABC wajib menggunakan uang-mewah; tidak boleh menggunakan rupiah mau pun dolar; tersedia kurs yang jelas antara uang-mewah terhadap rupiah atau dolar.

Mobil M berharga 400 juta rupiah. Artis R berniat membeli mobil M. Artis R harus menyediakan uang-mewah sebanyak 800 juta rupiah; yaitu, 2 kali dari harga mobil M.

[1] Artis R menyerahkan 400 juta rupiah uang-mewah kepada toko ABC sebagai pembelian mobil.

[2] Artis R menyerahkan jumlah yang sama, yaitu 400 juta rupiah uang-mewah, kepada fakir miskin atau kepada lembaga yang ditunjuk. Sangat direkomendasikan agar artis R menyerahkan langsung kepada fakir miskin; karena tujuan uang-mewah adalah untuk mendekatkan orang kaya kepada orang miskin; makin besar konsumsi barang mewah maka makin besar pula donasi kepada fakir miskin.

[3] Fakir miskin, misal 400 orang, masing-masing menerima 1 juta rupiah; kemudian, fakir miskin menukarkan uang-mewah ke bank menjadi uang-normal dengan nominal yang sama. Fakir miskin bisa membelanjakan uang-normal ini dengan cara yang wajar.

[4] Toko ABC menerima pembayaran 400 juta rupiah uang-mewah; kemudian, toko ABC menukar uang-mewah ke Bank; hasil penukaran adalah: [4a] toko ABC menerima 200 juta rupiah uang-normal dan [4b] pihak Bank menyalurkan 200 juta rupiah uang-normal lainnya kepada fakir miskin.

[5] Nominal uang-mewah bernilai 100% bila dimiliki oleh fakir miskin; tetapi, secara efektif, hanya bernilai 50% bila dimiliki oleh orang kaya.

Bentuk fisik uang-mewah bisa berupa uang kertas atau uang digital. Beberapa skenario pelanggaran aturan penggunaan uang-mewah bisa terjadi di berbagai tempat; pelanggaran bisa masuk kategori pidana. Kita perlu mengembangkan beragam skenario solusinya.

5.5 Diferensiasi Harmonis

Adil makmur dipenuhi oleh keragaman, diferensiasi, yang harmonis. Sehingga, ekonomi adil makmur perlu membedakan diri dengan sistem politik mau pun sistem agama. Komponen-komponen ekonomi itu sendiri juga saling terdiferensiasi: uang, bahan baku, sdm, inovasi, teknologi, dan lain-lain. Ekonomi adil makmur bertabur keragaman harmonis; internal dan eksternal.

Ekonomi tidak bisa mandiri; tidak bisa terlepas dari politik dan agama, misalnya. Realitas ekonomi, politik, dan agama selalu saling pengaruh. Membahas ekonomi saja, secara terbatas, hanya untuk memudahkan. Pada gilirannya, teori ekonomi perlu diuji dalam realitas; termasuk relasi dinamisnya terhadap politik dan agama. Uang, yang awalnya hanya bagian dari realitas ekonomi, berpengaruh besar terhadap politik dan agama.

Realitas uang menjadi masalah besar karena tidak ada diferensiasi pada uang. Orang memandang uang sebagai universal konkret. Universal karena uang bisa berlaku di mana saja dan kapan saja. Dolar bisa laku di Indonesia dengan menukar ke rupiah; dolar bisa laku di Arab dengan menukar ke riyal. Konkret karena uang bisa membeli segala sesuatu secara konkret; uang bisa membeli makanan, pakaian, mobil, rumah, dan apa saja. Tetapi, pandangan seperti itu adalah salah. Karena uang bukan universal konkret. Uang hanya dianggap sebagai universal dan dianggap sebagai konkret.

Apakah uang bisa membeli cinta? Apakah uang bisa membeli kebahagiaan? Apakah uang bisa membeli waktu?

Uang tidak bisa membeli cinta barangkali, karena, uangnya kurang banyak. Jika jumlah uang Anda lebih banyak maka akan mudah membeli cinta. Candaan seperti ini salah meski tampak seperti benar.

Uang tidak bisa membeli cinta karena uang tidak universal; ada banyak hal yang tidak bisa dibeli oleh uang; cinta dan bahagia termasuk yang tidak bisa dibeli oleh uang; berapa pun jumlah uangnya. Bahkan oksigen saja tidak bisa dibeli bila memang tabung oksigen sudah habis; misal ketika pandemi covid mencapai puncaknya.

Uang jelas tidak konkret; anda tidak bisa makan uang; anda tidak bisa menghirup uang. Beda dengan air yang konkret; kita bisa minum air yang menyegarkan karena air konkret.

Bagaimana pun, uang adalah hampir universal dan hampir konkret; atau uang bersifat universal dalam perspektif tertentu dan bersifat konkret pada perspektif yang lain. Kita sudah membahas realitas relasi uang dengan 30 tema di bagian atas. Uang ini, meski kompleks, kita sebut sebagai uang-normal.

Sampai di sini, kita bisa membuat diferensiasi uang menjadi 3 macam.

[1] Uang-normal. Berupa uang emas, uang fiat, dan uang digital yang sudah kita bahas di atas.

[2] Uang-pokok. Uang yang menjamin kebutuhan pokok bagi setiap orang. Uang-pokok bisa berbentuk koin.

[3] Uang-mewah. Uang yang digunakan untuk transaksi produk dan jasa mewah. Setiap transaksi produk mewah berkonsekuensi untuk donasi kepada fakir miskin. Bentuk uang-mewah bisa berupa kertas atau digital.

Dinamika harmonis dari keragaman jenis uang ini mengarahkan kita untuk menciptakan sistem ekonomi yang adil makmur. Bagaimana menurut Anda?

Lanjut ke Politisasi Cinta
Kembali ke Philosophy of Love

The Death of God other than God: Nietzsche Philosophy

Anakku bertanya tentang Nietzsche. Lalu aku jawab, “Dia adalah pemikir jenius yang sulit dipahami tapi mudah disalahpahami.” Saya setuju dengan Iqbal (1877 – 1938) yang menempatkan Nietzsche sebagai pemikir tingkat tinggi. Iqbal mengetahui itu dari pembimbingnya yaitu Rumi.

“This is the German genius whose place is between these two worlds…his words are fearless, his thoughts sublime,
the Westerners are struck asunder by the sword of his speech.”

Kita akan membahas lima ide penting dari Nietzsche (1844 – 1900). Pertama, “the death of god other than God.” Tentu saja, ide kematian-tuhan mengguncang dunia. Umat beragama merespon dengan menolak ide itu. Kita akan mengkaji lebih dalam dari sekedar potongan kalimat kematian-tuhan. Umat beragama juga ada yang menggunakan term mirip itu seribu tahun sebelumnya. “There is no god but God.”

Kedua, konsep nihilisme dan penciptaan nilai. Nietzsche sering dikenal sebagai tokoh nihilisme. Memang, dia sendiri memprediksi dalam dua abad ke depan adalah jaman yang dipenuhi oleh nihilisme. Lalu apa jika memang nihilisme? Pertanyaan ini yang perlu kita bahas. Setelah hampanya segala nilai maka selanjutnya manusia bertanggung jawab untuk menciptakan nilai secara kreatif.

Ketiga, overman. Manusia sempurna adalah overman atau sering disebut juga sebagai superman. Dia adalah manusia sempurna yang punya kekuatan mengatasi segala kesulitan. Dia adalah manusia yang tidak pernah menyerah. Dia adalah manusia yang berani berbeda dari sekawanan orang biasa.

Keempat, will-to-power. Kehendak untuk berkuasa, will-to-power adalah realitas fundamental dari alam semesta. Dari butiran debu, virus, tumbuhan, binatang, manusia, rembulan, matahari, sampai seluruh galaksi memiliki will-to-power untuk menampilkan diri secara gagah berani.

Kelima, pengulangan-abadi-yang -sama. Nietzsche sendiri menekankan bahwa konsep pengulangan-abadi adalah ide paling sentral dari filsafatnya. Sementara, kita sulit memahami dengan pasti apa maksud dari pengulangan-abadi. Beberapa sarjana membacanya sebagai konsep kosmologi bahwa alam semesta akan terus-menerus berulang dengan cara yang sama. Saya sendiri membacanya, konsep pengulangan-abadi, sebagai proses kreatif yang berlangsung terus-menerus secara abadi.

Ragam Interpretasi

Seperti kita sebut di awal, Nietzsche mudah disalahpahami dan sulit dipahami. Maka interpretasi kita, di sini, bisa jadi bertentangan dengan interpretasi orang lain. Wajar saja itu terjadi. Karya Nietzsche tampak seperti gabungan antara tulisan filosofis dengan puisi. Sehingga banyak pesan yang tersurat dan tersirat.

Vattimo (1936 – ) adalah pemikir Itali yang mengapresiasi Nietzsce. Menurutnya, Nietzsche telah membuka jalan kebebasan manusia dan menyiapkan landasan masyarakat demokratis. Deleuze (1920 – 1995) adalah pemikir Prancis yang menilai karya Nietzsche sebagai sangat kreatif dan menghormati beragam macam perbedaan. Heidegger (1989 – 1976) adalah pemikir Jerman yang menyatakan bahwa Nietzsche berhasil memotret dengan tepat kondisi mutakhir dari masyarakat modern lengkap dengan beragam masalah yang dihadapi. Russell (1872 – 1970) adalah pemikir Inggris yang mengkritik keras Nietzsche. Menurutnya, Nietzsche mengijinkan perilaku kekerasan. Dan banyak tokoh agama yang mengutuk Nietzsche lantaran dinilai sebagai menyebarkan ajaran atheisme.

Tulisan ini akan membaca Nietzsche dari sudut pandang filsafat dinamis. Maka kita akan menemukan sisi-sisi dinamis dari pemikiran Nietzsche. Karena dinamis maka tidak ada titik akhir dari suatu ide. Selamanya, ide bisa terus berkembang secara dinamis.

A. The Death of God other than God

Tentu saja, ide kematian-tuhan adalah ide yang provokatif dan sensitif. Barangkali, Nietzsche sengaja melontarkan ide kematian-tuhan untuk membangunkan umat manusia dari tidur panjangnya. Umat beragama kaget. “Ajaran macam apa yang menyatakan kematian-tuhan?” Mereka, umat beragama, menolak konsep kematian-tuhan.

Di pihak lain, pada masa akhir abad 19 sampai sekarang, orang-orang atheis merasa mendapat dukungan segar. Mereka penuh semangat mendukung ide kematian-tuhan. Bila kita menakar keberhasilan konsep kematian-tuhan dari banyaknya respon, maka kita bisa sepakat, Nietzsche sudah berhasil mendapat respon dari dua kubu – dan masih banyak kubu lainnya.

”Well! Take heart! ye higher men! Now only travaileth the mountain of the human future. God hath died: now do we desire – the Superman to live.” (Study.com)

Lebih dari sekedar respon, ide kematian-tuhan memang menyimpan konsep kreatif yang bisa kita gali terus-menerus. Untuk memahaminya, saya berharap, kita memotong frasenya sedikit lebih panjang. Menjadi seperti berikut ini,

the-death-of-god-other-than-God = kematian-tuhan-selain-Tuhan

Dengan frasa yang lebih panjang di atas, kita bisa memahami bahwa hanya tuhan-tuhan tertentu yang mati. Untuk selanjutnya, hadir Tuhan-sejati. Tugas kita menjadi lebih menantang: Tuhan-sejati itu seperti apa? Nietzsche sendiri mengambil tokoh Zaratusta untuk menjelaskan itu. Zaratusta harus turun gunung untuk mejelaskan kepada masyarakat yang sibuk bisnis di pasar. Hasilnya, orang-orang yang sibuk di pasar itu, memang tetap, tidak paham kata-kata Zarastuta – yang penuh dengan kebenaran itu. Nasib yang sama menimpa Nietzsche sendiri – orang-orang tidak memahaminya.

Kepada umat beragama, seakan-akan, Nietzsche menyerukan, “Dogma-dogma ketuhanan kalian sudah mati. Ayo, menghidupkan ketuhanan yang sejati.”

Agama, pada awalnya, bersifat kreatif dinamis. Agama membersihkan dogma-dogma yang menjerat masyarakat. Dogma itu sudah menjadi berhala. Dogma itu sudah menjadi tuhan-tuhan bagi mereka. Dan tentu saja, ada pihak-pihak yang mengambil keuntungan dari dogma-dogma itu. Di saat yang sama, dengan dogma itu, penguasa meng-eksploitasi orang-orang miskin yang lemah. Agama, sejatinya, datang untuk menghancurkan dogma-dogma itu.

Agama berhasil membawa manusia menuju pencerahan. Tidak lama dari itu, ada pihak-pihak tertentu yang mengubah agama menjadi dogma baru. Dogma yang sama seperti dulu yang pernah ada. Dan dogma dari agama itu menjadi tuhan mereka. Dogma yang menjadi tuhan itulah yang harus mati. Umat manusia perlu kembali kepada Tuhan-sejati.

Orang-orang atheist, sama saja, mereka terjebak dalam dogmanya. Atheisme, yang awalnya, mengaku sebagai pembebasan, nyatanya, menjadi dogma juga. Tanpa bukti kuat, mereka menolak Tuhan. Tanpa nalar yang konsisten, orang atheis menolak berbagai macam hal yang tidak sanggup mereka pahami. Dogma atheisme telah menjadi tuhan bagi mereka. Tuhan semacam itu sudah mati. Sudah tiba waktunya, umat manusia kembali kepada Tuhan-sejati.

Orang-orang agnostik juga terjebak dalam dogma ketidaktahuannya. Orang agnostik menganggap eksistensi Tuhan tidak bisa dibuktikan. Di saat yang sama, orang agnostik, meyakini bahwa pernyataan yang menolak eksistensi Tuhan juga tidak bisa dibuktikan. Orang agnostik berimbang antara tidak bisa membuktikan adanya Tuhan dan tidak ada bukti menolak eksistensi Tuhan. Dogma agnostik seperti itu juga menjad dogma yang dipertuhankan. Tuhan dogma agnostik sudah mati. Saatnya kembali ke Tuhan-sejati.

B. Nihilisme dan Penciptaan Nilai

“What I relate is the history of the next two centuries. I describe what is coming, what can no longer come differently: the advent of nihilism. . . . ” (IEP)

Nietzsche memprediksi, dalam 2 abad ke depan, yaitu abad 20 dan 21, nihilisme akan mendominasi dunia. Prediksi ini menunjukkan banyak tanda-tanda kebenarannya, terutama, di Barat. Tetapi apa yang dimaksud dengan nihilisme?

“affirmation of life, even in its strangest and sternest problems, the will to life rejoicing in its own inexhaustibility through the sacrifice of its highest types—that is what I called Dionysian….beyond [Aristotelian] pity and terror, to realize in oneself the eternal joy of becoming—that joy which also encompasses joy in destruction (“What I Owe the Ancients” 5).” (IEP)

Pertama, nihilisme adalah runtuhnya nilai tertinggi. Dalam filsafat, nilai tertinggi adalah klaim kebenaran metafisika yang dijamin kebenarannya. Misalnya alam ideal Plato dianggap paling bernilai tinggi. Atau kesempurnaan intelektual Aristoteles dianggap sebagai paling bernilai. Semua runtuh di hadapan nihilisme. Semua nihil. Semua setara. Semua horisontal. Seseorang, justru, harus menikmati proses menjadi diri sendiri terbebas dari ikatan metafisika.

Bagi umat beragama, nihilisme ini seakan konsekuensi dari kematian-tuhan. Sejatinya, nihilisme adalah kematian dogma-dogma agama yang dipertuhankan itu. Umat beragama, seharusnya, bisa menikmati proses menjalankan agama sebagai manusia-sejati. Terbebas dari dogma-dogma yang mengaku sebagai tuhan.

Bagi manusia modern, manusia ekonomi, nihilisme mengatakan bahwa profit itu hampa. Keuntungan ekonomi, yang dulu dikejar sebagai paling bernilai, itu tidak berguna. Itu semua sia-sia. Manusia ekonomi, seharusnya, menikmati proses dalam menjalankan roda ekonominya.

Kedua, nihilisme adalah runtuhnya tujuan. Nihilisme menghapus tujuan. Orang bisa saja menghalalkan cara demi mencapai tujuan. Saat ini, dengan nihilisme, tujuan sudah sirna. Karena tidak ada tujuan maka tugas manusia adalah menciptakan tujuannya sendiri. Tugas manusia adalah menciptakan nilainya sendiri.

Dengan runtuhnya tujuan dan runtuhnya nilai tertinggi maka manusia benar-benar menjadi bebas. Manusia bebas terbang, menikmati hidupnya, menciptakan tujuannya sendiri, dan menciptakan nilai-nilainya sendiri. Untuk menikmati kebebasan ini, manusia rela mengorbankan segala yang perlu dikorbankan. Manusia tidak pernah berhenti menciptakan tujuannya sendiri, dan menciptakan nilai tertingginya sendiri. Semua proses penciptaan ini berlangsung dengan penuh bahagia.

Ketiga, nihilisme adalah tidak adanya jawaban untuk pertanyaan “mengapa.” Orang bisa saja mengaku sudah menemukan jawaban terhadap pertanyaan “mengapa.” Itu hanya klaim belaka. Nihilisme meruntuhkan jawaban yang bersifat pasti seperti itu. Tidak pernah ada jawaban sekuat itu. Manusia, justru, yang harus menjawab pertanyaan “mengapa.” Pada gilirannya, setiap jawaban akan berhadapan dengan pertanyaan “mengapa” yang lebih baru. Proses ini berlangsung terus-menerus tanpa henti. Manusia, lagi-lagi, menikmati penuh bahagia semua proses ini.

Dengan makna konsep nihilisme seperti di atas maka tidak ada sikap pesimis dalam manusia. Nihilisme, justru, mengajak manusia untuk bersikap aktif dan menikmati seluruh proses menghancurkan dogma-dogma yang ada, kemudian, menciptakan nilai-nilai baru yang paling tinggi.

Siapa orang yang sanggup melakukan itu? Bukan orang biasa-biasa saja. Bukan sekedar gerombolan. Dia memang orang yang luar biasa. Dia adalah overman.

C. Overman

Konsep ketiga paling penting, yang kita bahas, adalah overman atau superman atau superhuman yaitu manusia teladan. Overman adalah manusia yang tidak pernah kehabisan energi terus berkreasi. Mampu mengatasi segala rintangan. Rela mengorbankan apa saja. Dan, menikmati penuh bahagia semua proses yang ada.

“1. the higher species is lacking, i.e., those whose inexhaustible fertility and power keep up the faith in man….[and] 2. the lower species (‘herd,’ ‘mass,’ ‘society,’) unlearns modesty and blows up its needs into cosmic and metaphysical values.” (IEP)

Overman adalah spesies langka. Hanya segelintir orang yang berhasil menjadi overman. Sebagian besar orang menyerah, untuk kemudian, menjadi manusia biasa-biasa saja. Mereka tenggelam dalam hembusan debu kosmik. Mereka lahir, kemudian tertiup angin, akhirnya menuju kuburannya sendiri. Overman berbeda dari itu semua. Overman berani menantang semua rintangan. Overman menguasai dunia.

Siapakah contoh nyata overman? Tampaknya, Nietzsche hanya samar-samar memberi contoh. Kita bisa memahaminya. Karena overman tidak bisa dicontoh. Justru, overman adalah dia yang menciptakan contoh. Overman adalah contoh original yang kreatif. Tidak ada dua orang overman yang identik. Setiap overman adalah unik. Seseorang tidak bisa menjadi overman dengan cara meniru overman.

Dalam samar-samar contoh nyata, kita bisa mendekati beberapa tokoh sebagai kandidat overman. Pertama, Zaratusta, adalah pemikir orisinal yang berani tampil beda. Zaratusta sudah hidup nyaman di pertapaan lengkap dengan petualangan intelektual – dan spiritual. Zaratusta meninggalkan kenyamanannya, turun ke pasar, mengajak masyarakat untuk melepaskan diri dari jeratan hidup yang biasa-biasa saja. Orang-orang perlu menjadi manusia kuat, overman. Resiko sudah jelas. Orang-orang biasa itu tidak paham kata-kata dari Zaratusta. Akhirnya, setelah sekian lama, ada juga yang paham.

Kedua, Napoleon adalah jenderal perang yang cerdik dan kuat. Napoleon tampak cocok sebagai contoh overman. Napoleon berhasil menaklukkan hampir seluruh daratan Eropa. Napoleon memimpin pasukan perang melewati medan perang yang sangat berbahaya. Napoleon, dengan pasukannya, gagah perkasa mengalahkan semua halangan.

Ketiga, Mr Nietzsche adalah pemikir orisinal yang berbeda dengan semua pemikir lainnya. Semua pemikiran, masa itu, terjerat oleh metafisika Plato-Aristoteles. Mr Nietzsche adalah overman yang mengatasi jeratan metafisika. Dia meruntuhkan pemikiran rasional gaya Apollo. Untuk kemudian membangkitkan gaya berpikir kreatif ala Dionysian. Mr Nietzsche membebaskan pemikiran manusia untuk terbang tinggi mencapai overman.

Bila kita mempertimbangkan tiga contoh overman di atas – Zaratusta, Napoleon, dan Mr Nietzsche – maka kita bisa menambahkan lebih banyak contoh lagi. Barangkali orang-orang jenius di bidang masing-masing bisa kita masukkan sebagai overman. Di antaranya jenius sains, seni, olahraga, bisnis, politik, spiritual, dan lain-lain. Overman, meskipun sulit dicapai, bukanlah sosok ideal yang fantastis. Overman adalah manusia nyata yang hidup di dunia nyata ini. Yang menjadi istimewa pada overman, tidak dimiliki orang biasa, adalah overman mengembangkan will-to-power terus-menerus.

D. Will-to-Power

Will-to-power adalah realitas fundamental semesta. Orang mengira will-to-power adalah kehendak yang ada pada manusia saja. Sejatinya, will-to-power ada pada semua alam raya dari elektron, atom, molekul, debu, angin, pasir, air, virus, tumbuhan, binatang, manusia, rembulan, matahari, dan seluruh galaksi. Mereka semua adalah will-to-power yang saling bertabrakan untuk menjadi pemenang.

“What is good?—All that heightens the feeling of power, the will to power, power itself in man. What is bad?—All that proceeds from weakness.  What is happiness?—The feeling that power increases—that a resistance is overcome.” (IEP)

Pertama, memang benar, bahwa will-to-power ada dalam diri manusia. Will-to-power adalah yang menentukan sesuatu menjadi baik atau buruk. Sesuatu yang baik adalah yang meningkatkan perasaan berkuasa, will-to-power. Sementara, sesuatu yang buruk adalah sesuatu yang melemah. Sedangkan bahagia adalah perasaan berkembangnya will-to-power.

Kedua, will-to-power adalah seluruh realitas alam semesta. Maka alam semesta, juga, ingin mengembangkan kekuatannya. Misal, virus covid mempunyai will-to-power untuk berkembang ke seluruh dunia. Debu-debu kosmik, juga, ingin memenuhi alam raya dengan kekuatannya. Will-to-power ingin eksis di alam raya dan alam raya itu sendiri adalah will-to-power.

Ketiga, mengembangkan will-to-power adalah mengembangkan alam semesta, itulah, kebaikan. Meruntuhkan will-to-power adalah meruntuhkan alam semesta, itulah, keburukan. Apakah manusia ingin bahagia? Maka kembangkanlah will-to-power, kembangkanlah alam semesta. Perasaan berkembangnya will-to-power, berkembangnya alam semesta, itulah kebahagiaan.

Manusia paling bahagia adalah overman. Dia menaklukkan semua halangan. Dia mengembangkan will-to-power terus menerus tanpa henti. Dia mengembangkan alam semesta tiada henti. Overman berbahagia tanpa henti.

Apa yang terjadi jika seseorang tidak mau jadi overman? Dia hanya menjadi manusia biasa-biasa saja. Dia tidak mengembangkan will-to-power. Dia tidak mengembangkan alam semesta. Maka orang biasa-biasa saja seperti itu terjebak dalam pengulangan-abadi-yang-sama. Manusia hanya bisa selamat dari jebakan itu dengan menjadi overman yang melampaui pengulangan-abadi.

E. Pengulangan-Abadi-yang-Sama

Nietzsche sendiri menekankan konsep pengulangan-abadi adalah konsep paling penting dalam filsafatnya. Sekilas, konsep pengulangan-abadi adalah tema kosmologi. Sementara, konsep will-to-power adalah konsep psikologi. Tampaknya, pembacaan lebih lanjut menunjukkan tidak adanya pembatasan sempit seperti itu. Pengulangan-abadi bukan hanya kosmologi. Begitu juga, will-to-power bukan hanya psikologi.

“… and everything unutterably small or great in your life will have to return to you, all in the same succession and sequence—even this spider and this moonlight between the trees, and even this moment and I myself. The eternal hourglass of existence is turned upside down again and again, and you with it, speck of dust!” (IEP)

Pertama, secara kosmologi, pengulangan-abadi adalah sejenis reinkarnasi dari alam semesta beserta isinya. Barangkali kita bisa meminjam teori kosmologi dari sains fisika. Alam semesta berawal dari big-bang beberapa milyard tahun yang lalu. Kemudian alam mengembang. Tercipta tata surya, salah satunya ada planet bumi. Muncul kehidupan di bumi sampai lahir umat manusia. Beberapa milyard tahun ke depan, alam semesta berhenti mengembang. Justru, berbalik arah, alam semesta mengecil. Makin lama, alam semesta makin kecil, lebih kecil dari kelereng. Tentu saja, seluruh gedung-gedung sudah runtuh dalam himpitan alam seukuran kelereng. Umat manusia juga ikut hancur. Hancur lebur semua menjadi satu titik saja, lalu, hilang dalam kehampaan.

Setelah kehampaan alam semesta, terjadi big-bang lagi sebagai pengulangan-abadi. Alam semesta mengembang, muncul manusia yang sama persis dengan manusia-manusia masa lalu. Lalu alam menyempit lagi sampai jadi satu titik. Hancur, lenyap dalam kehampaan. Dan, terus berulang secara abadi seperti itu.

Kedua, pengulangan-abadi adalah terjadi di sini, saat ini, termasuk secara psikologis. Orang-orang gerombolan yang biasa-biasa saja berulang secara abadi, dengan sama persis, tetap menjadi orang-orang biasa. Orang yang malas dan lemah berulang secara abadi, dengan sama persis, tetap jadi orang malas dan lemah.

Sementara, overman, orang yang kuat, terlepas dari jebakan pengulangan-abadi. Ketika overman akan diulang dengan cara yang sama, overman itu sudah berubah, overman sudah lebih berkembang will-to-power-nya. Lagi, ketika akan diulang dengan cara yang sama, overman sudah berubah juga. Will-to-power sudah jauh berkembang.

Sehingga tidak ada pengulangan-abadi-yang-sama terhadap overman. Yang terjadi adalah pengulangan-perbedaan terhadap overman. Ketika diulang, overman sudah jauh berkembang. Bukan eternal-recurrence-of-the-same terhadap overman. Melainkan, eternal-recurrence-of-the-difference dari overman.

Ketiga, pilihan ada di tangan Anda sebagai manusia. Seseorang bisa menyerah kalah menjadi orang biasa-biasa saja. Untuk kemudian, dia terjebak dalam pengulangan-abadi-yang-sama. Tetap menjadi orang yang kalah. Atau Anda bisa memilih menjadi overman. Menjadi orang yang pantang menyerah. Rela menghadapi berbagai kesulitan. Mampu mengatasi segala rintangan. Anda lolos dari jebakan. Anda masuk ke pengulangan-perbedaan yang abadi. Will-to-power Anda selalu berbeda, selalu berkembang.

Demokrasi Nihilisme

Bagaimana overman menghadapi demokrasi?

Tampaknya, Nietzsche tidak banyak membahas filsafat politik. Dia lebih fokus ke filsafat fundamental metafisika atau ontologi. Hasil sampingannya berupa filsafat kemanusiaan sebagai individu, overman. Sehingga, untuk membahas demokrasi overman, kita perlu mengembangkan beragam alternatif pemikiran.

Pertama, demokrasi otoriter. Mudah bagi kita untuk menyimpulkan bahwa overman akan mendorong demokrasi otoriter. Atau, bahkan tidak ada demokrasi. Otoritas politik hanya ada di tangan satu orang yaitu overman, satu manusia kuat.

Apa masalahnya dengan demokrasi otoriter?

Tidak ada masalah dengan demokrasi otoriter, sejauh pemegang kekuasaan adalah overman, manusia sempurna. Overman memimpin masyarakat menuju masyarakat adil dan makmur. Tidak ada korupsi, tidak ada kejahatan, tidak ada penindasan. Masalah justru muncul ketika penguasa politik, yang otoriter itu, ternyata, bukan overman. Dia memanfaatkan kekuasaan untuk kepentingan pribadi dan kroni-kroninya. Demokrasi otoriter, dalam hal ini, benar-benar bermasalah.

Kedua, demokrasi aristokrasi. Apa masalah dari aristokrasi? Tidak ada masalah dengan aristokrasi sejauh para aristokratnya, bangsawan, adalah overman. Para aristokrat, yang overman itu, memanfaatkan seluruh kekuatan politik untuk kebaikan bersama. Masalah muncul, mirip sebelumnya, bila para aristokrat itu, ternyata, bukan overman. Mereka hanya bangsawan yang memanfaatkan gelar bangsawan untuk kepentingan pribadi dan kaumnya belaka. Demokrasi aristokrasi, dalam kasus ini, benar-benar bermasalah.

Ketiga, demokrasi overman. Barangkali cita-cita politik ideal masa kini adalah demokrasi overman. Demokrasi, di mana rakyat adalah pemegang kekuasaan politik, di saat yang sama, rakyat adalah para overman. Atau, sebagian besar dari rakyat adalah overman, manusia sempurna. Dengan demikian rakyat overman itu saling bersaing dan bekerja sama dalam kehidupan politik yang adil dan makmur.

Masalah tetap bisa muncul. Ketika rakyat bukan overman. Maka suara rakyat bisa dibeli oleh partai politik. Untuk kemudian, partai politik dan penguasa politik mengeksploitasi sumber daya dan rakyat untuk kepentingan segelintir orang. Sehingga, tugas terpenting bagi kemanusiaan adalah mendorong rakyat untuk menjadi overman, manusia sempurna.

Dengan kemajuan teknologi digital yang makin melejit, terbuka peluang besar bagi kita untuk menciptakan demokrasi sejati. Demokrasi oleh rakyat overman, dari rakyat overman, dan untuk rakyat overman. Selalu ada dinamika dalam diri overman. Selalu ada dinamika dalam demokrasi.

Nihilisme membuka jalan untuk overman, untuk kemudian, membangun demokrasi overman.