Akhir Sains, Agama, dan Filosofi

Akhirnya, segala sesuatu harus sampai pada akhir. Dari satu sisi, akhir adalah benar-benar akhir. Dari sisi lain, akhir adalah awal yang baru.

Akhir dari sains sudah tampak jelas. Akhir dari agama juga jelas. Akhir dari filosofi sama jelasnya. Akhir dari segalanya adalah ajakan untuk berpikir terbuka. Dengan demikian, setiap akhir adalah awal yang baru, pemikiran yang baru. Meski saya memilih kata “berpikir terbuka,” maksudnya, lebih luas dari sekedar berpikir biasa. Berpikir terbuka adalah menjadi diri yang terbuka, hati yang terbuka, dan menjadi realitas yang terbuka.

1. Akhir Sains
1.1 Histori
1.2 Debat
1.3 Konsep
1.4 Fisika
1.5 Matematika

2. Akhir Agama
2.1 Ritual Formal
2.2 Ruh Cinta
2.3 Pembebasan

3. Akhir Filosofi
3.1 Metafisika
3.2 Destruksi
3.3 Keterbukaan

1. Akhir Sains

Sains berkembang sejak awal perkembangan peradaban manusia. Tetapi, sains modern bisa kita lacak berawal dari teori Newton yang menerapkan matematika untuk kajian empiris, sekitar 5 abad yang lalu. Dengan pendekatan matematika ideal, sains berkembang pesat sampai melahirkan teknologi digital. Apakah itu kabar baik bagi peradaban? Tentu saja, banyak perdebatan.

Di masa kini, sains fisika mencapai titik kematangan sebagai interpretasi terhadap fenomena. Kita mengenal interpretasi teori quantum, interpretasi relativitas umum, interpretasi theory-of-everything. Dari bidang matematika, kita sudah berjalan dari sistem formal aksiomatik sampai realisme matematika. Di ujung akhir, muncul challenge dari matematika fiksional: apakah obyek matematika itu benar-benar ada? Obyek matematika, misal bilangan prima, adalah abstrakta yang bersifat fiksional. Tentu saja, banyak ahli yang tidak setuju. Dan, berkembanglah pluralisme dalam matematika.

1.1 Histori

Catatan sejarah menunjukkan bahwa sains sudah berkembang sejak ribuan tahun yang lalu. Kita mengenal Mesir Kuno, Cina Kuno, Yunani Kuno, dan sebagainya. Thales (sekitar abad 7 SM) adalah ilmuwan kuno yang teorinya bisa kita pelajari sampai sekarang, misal teori perbandingan segitiga. Thales memerintahkan murid-muridnya untuk belajar ke Mesir karena di Mesir sudah berkembang sains yang lebih maju.

Khawarizmi (780 – 850) mengembangkan teori aljabar yang metodis sebagai inovasi besar bidang matematika. Selanjutnya, matematika makin berkembang pesat hampir ke seluruh penjuru. Newton (1643 – 1727) adalah ilmuwan paling sukses menerapkan teori matematika ke sains empiris. Sains modern makin kokoh dengan pendekatan matematis. Pada gilirannya, sains mendorong lahirnya teknologi, termasuk, teknologi digital yang mewabah di dunia saat ini.

Sukses sains empiris fisika dalam menerapkan matematika memicu sains di bidang lain menerapkan metode yang sama. Keunggulan sains empiris matematis adalah, pertama, bersifat jelas. Karena proposisi dalam bentuk formula matematika maka setiap ilmuwan dapat memahami dengan jelas dan tegas. Kedua, bersifat kokoh. Karena kebenaran matematika bersifat aksiomatik yang kokoh maka sains mengikuti keunggulan aksiomatik yang sama. Ketiga, mudah direkayasa. Lagi, karena berupa formula matematika, ilmuwan mudah mereka-yasa formula. Ilmuwan tidak harus berhubungan dengan obyek empiris konkret. Cukup mengkaji formula matematika saja – dalam banyak kasus. Lebih-lebih dengan berkembangnya simulasi komputer, maka, rekayasa makin digdaya.

Nasib Manusia

Kehebatan sains modern begitu mempesona, sekaligus, sangat berbahaya. Bagaimana nasib manusia jika semua bisa direkayasa? Bagaimana masa depan alam raya?

Laplace (1749 – 1827) saintis Newtonian pernah mengatakan, “Jika kita mendapat informasi yang lengkap maka kita bisa memastikan nasib masa depan alam semesta.” Dengan berbekal analisis model matematika yang canggih, kita bisa memastikan kapan terjadi gerhana, kapan terjadi musim hujan, dan seberapa deras hujan itu sampai lengkap dengan dampaknya. Dengan demikian, nasib alam raya dapat dipastikan dengan pendekatan sains. Optimisme semacam itu, tampak, masuk akal. Benarkah?

Immanuel Kant (1720 – 1804) mengantisipasi salah arah perkembangan sains dan filsafat melaui trilogi kritik. Kant berhasil menunjukkan cakupan sains, filsafat, dan teologi dengan batas-batas yang jelas. Dengan kritik, Kant menunjukkan secara sistematis keungulan sains empiris dan, sekaligus, kelemahannya. Kelemahan utama sains empiris adalah tidak pernah berhasil melakukan klaim kebenaran universal. Klaim empiris selalu bersifat partikular, terbatas. Dengan demikian, optimisme Laplace sudah melampaui batas kemampuan sains.

Popper (1902 – 1994) meyakini bahwa kita tidak akan pernah mampu meramalkan sejarah masa depan. Mengapa? Perkembangan peradaban dipengaruhi oleh perkembangan pengetahuan manusia. Sementara, pengembangan pengetahuan manusia sering memunculkan inovasi tanpa henti. Berbagai macam inovasi sains tak terprediksi sebelumnya. Akibatnya, kita juga tidak akan pernah berhasil memprediksi masa depan umat manusia serta alam raya. Popper mengembangkan metode falsifikasi: konjektur dan refutasi. Teori sains adalah sebuah hipotesa atau konjektur, untuk kemudian, bisa ditolak (refutasi) oleh eksperimen. Selanjutnya, teori bisa dikoreksi atau diganti dengan yang lebih bagus. Teori tidak pernah berhasil diverifikasi oleh eksperimen. Hanya bisa difalsifikasi. Sains mengalami perkembangan dengan falsifikasi.

Poincare (1854 – 1912) berhasil menunjukkan bahwa teori sains, semisal teori Newton, adalah interpretasi dari fakta. Bukan fakta itu sendiri. Quine (1908 – 2000) melangkah lebih jauh dengan menyatakan bahwa kita tidak bisa membedakan dengan pasti antara fakta dengan konvensi. Karena itu, setiap teori sains terbuka terhadap revisi. Einstein (1879 – 1955) berhasil menyusun teori fisika yang berbeda dengan, dan merevisi, teori Newton. Dengan demikian, Einstein berhasil mengkonstruksi interpretasi sains yang lebih baik dari Newton. Bagaimana pun, dalam penerapan sains sampai saat ini, teori Newton lebih praktis dan sudah mencukupi. Jadi, lebih bagus mana interpretasi Newton atau Einstein?

Nasib masa depan manusia masih penuh tanda tanya.

Paradigma Sains

Thomas Kuhn (1922 – 1996) mengguncang dunia sains dengan megumumkan bahwa kebenaran sains tergantung kepada paradigma. Sehingga, klaim kebenaran sains bisa saja relatif terhadap paradigma dan konteks yang ada. Di satu sisi, penyataan tentang peran paradigma dalam sains bagai kritik tajam kepada sains. Di sisi lain, dengan mencermati paradigma, sains justru mampu melompat tinggi dalam inovasi.

Kuhn menyarankan agar kita mempelajari histori untuk bisa memahami sains dengan baik. Dari histori, kita bisa memetakan beragam paradigma yang berkembang di masyarakat serta konteks yang ada. Selanjutnya, kita bisa memastikan klaim sains di masyarakat yang bersangkutan. Dengan demikian, sains membutuhkan histori. Sains tidak bisa lepas dari histori.

Imre Lakatos (1922 – 1974) menyambut ide Kuhn bahwa sains memerlukan histori. Lakatos, yang akrab dengan dialektika Hegel, melihat dari arah sebaliknya. Bukan hanya sains yang membutuhkan histori. Tetapi, histori juga membutuhkan sains. Sehingga, sains dan histori secara terus-menerus berdialektika. Lakatos mengusulkan “program riset” sebagai solusi. Program riset yang progresif diterima, untuk kemudian, terus dikembangkan. Sementara, program riset yang merosot perlu ditinggalkan, untuk kemudian, diganti dengan yang lebih progresif.

Feyerabend (1924 – 1994) melanjutkan dialektika Lakatos. Ketika sains dan histori saling mempengaruhi, maka, bagaimana kita menetapkan klaim validitas sains? Apakah dari sains, kemudian, kita bisa memahami histori? Atau, sebaliknya, dari histori, kemudian kita bisa memahami sains? Dari beragam kriteria yang ada, Feyerabend menyimpulkan bahwa tidak ada prosedur universal untuk klaim kebenaran sains mau pun histori. Feyerabend mengusulkan solusi “freedom”. Semua pihak bebas untuk melakukan kajian, untuk kemudian, hasil kajian terbaik berhak terus berkembang. Pendekatan bebas seperti ini sering dikenal sebagai sains anarkis.

Pada masa tuanya, Kuhn mengembangkan penjelasan lebih detil tentang revolusi sains. Dari perspektif histori, perkembangan sains bersifat revolusi, yaitu, melompat dari satu paradigma ke paradigma lain. Sementara, dari perspektif saintis bersangkutan, perkembangan sains bersifat evolusi tahap demi tahap dalam kerangka paradigma tertentu. Karena perjalanan histori beragam sesuai keragaman konteks dan sikap manusia, maka, perkembangan evolusi sains juga beragam ke berbagai arah.

Barangkali, kita bisa bergerak ke perkembangan teori matematika yang lebih murni. Dengan harapan, kita akan berhasil menemukan kriteria universal untuk klaim kebenaran sains. Di bagian bawah, kita akan membahas secara khusus tentang filosofi matematika. Di bagian ini, cukuplah kiranya kita membahas singkat saja.

Frege (1848 – 1925), Hilbert (1862 – 1943), dan Russell (1872 – 1970) adalah beberapa nama besar yang mengembangkan filosofi matematika sampai level tertinggi di masanya. Matematika adalah sistem aksiomatik sederhana yang nilai kebenarannya bersifat universal; terbebas dari data empiris, terbebas dari histori, dan terbebas dari sains. Kemudian, sistem aksiomatik ini diterapkan ke sains secara luas. Sehingga, diharapkan, sains memiliki klaim kebenaran yang bersifat universal sebagai mana matematika.

Tidak perlu waktu lama, bahkan Russell sendiri, menemukan paradoks pada sistem formal aksiomatik itu. Meski, kemudian, Russell berhasil menemukan solusi untuk paradoks itu. Tetapi, paradoks terbesar dirumuskan oleh Godel (1906 – 1978), kelak, dikenal sebagai paradoks Godel. Sampai sekarang, paradoks Godel terbukti valid. Maksudnya, setiap sistem formal, pasti, memiliki paradoks yang menjadikannya tidak lengkap.

Para ilmuwan menyikapi paradoks Godel dengan beragam. Pada akhirnya, matematika sampai kepada sistem matematika yang plural. Tidak ada sistem matematika yang bisa mengklaim kebenaran tunggal secara universal. Beragam sistem matematika yang berbeda-beda, bisa, saling melengkapi.

Ontologi

Ontologi mengkaji being-qua-being atau apa sejatinya yang ada. Pertanyaan ontologis sudah menjadi kajian utama sejak awal sejarah. Misal, kita mengenal ada 4 unsur utama pembentuk alam raya: air, api, tanah, dan udara. Ditambah satu lagi unsur yang lebih lembut yaitu ether.

Demokritus (460 – 370 SM) adalah pemikir pertama yang mengenalkan konsep atom. Seluruh alam semesta terdiri dari partikel-patikel terkecil berupa atom. Russell memuji teori atom dari Demokritus ini sebagai teori paling ilmiah pada jamannya – dua ribu tahun yang lampau. Kelak, benar saja, teori atom ini berkembang secara ilmiah.

Di era modern, kita mengenal teori atom Dalton, Rutherford, Bohr, dan, tentu saja, teori mekanika quantum. Jadi, benarkah alam raya ini memang tersusun oleh atom-atom?

Di abad 21 ini, seharusnya, kita bisa menjawab dengan tegas. Memang benar, secara makrokospis, alam raya ini terdiri dari partikel-partikel kecil berupa atom. Kita memiliki sistem periodik unsur-unsur kimia yang diupdate setiap saat. Tetapi, secara mikrokospis, mekanika quantum meragukan pandangan realisme ilmiah semacam itu.

Di satu sisi, mekanika quantum berhasil mengkaji realitas partikel paling tersembunyi, partikel subatomik. Di sisi lain, mekanika quantum hanya berhasil sebagai interpretasi terhadap realitas. Mekanika quantum bukan realitas itu sendiri tetapi interpretasi terhadap realitas. Dan, salah satu interpretasi terkuat adalah pandangan yang menyatakan tidak ada realisme ilmiah pada tataran mikrokospis. Maksudnya, tidak ada realitas obyektif di dunia luar sana. Realitas obyektif itu baru tercipta ketika ada pengaruh dari pengamat subyektif.

Secara ontologis, kita bisa mengkaji realitas dari arah yang berbeda.

Parmenides (515 – 460 SM) meyakini hanya ada satu realitas tunggal yaitu being atau wujud. Selain being adalah tidak ada atau nothing. Karena nothing adalah tidak ada maka kita tidak bisa membahas nothing. Kita hanya bisa membahas being semata. Kelak, pandangan Parmenides ini memicu beragam kajian yang panjang.

Ibn Arabi (1165 – 1240) dan Sadra (1570 – 1640) mengembangkan teori being atau teori wujud secara sistematis dan dinamis. Realitas yang ada adalah wujud saja. Di satu sisi, wujud adalah tunggal. Di saat yang sama, wujud adalah beragam, berbeda-beda secara gradasi intensitas. Wujud, secara terus-menerus, bergerak dinamis menuju wujud yang lebih sempurna. Dengan demikian, kajian sains apa pun, selama berhubungan dengan realitas, maka akan selalu mengalami perubahan secara dinamis.

Heidegger (1889 – 1976), justru, mengajukan pertanyaan lebih mendasar, “Apa makna being?”

Ada pohon, ada elektron, ada sains, ada teknologi, dan ada Tuhan. Tetapi, apa makna-ada itu sendiri? Apa makna-being? Apa makna-wujud?

Kita meyakini makna-ada sudah jelas di mana saja, terbukti dengan sendirinya, dan tidak bisa didefinisikan. Tetapi, apakah keyakinan seperti itu menjadikan makna-ada lebih jelas? Heidegger mengajukan pertanyaan ontologis ini sejak tahun 1926 ketika menulis buku Being and Time. Dan, mendedikasikan seluruh sisa hidupnya, selama 50 tahun sampai 1976, untuk menjawab pertanyaan makna-ada. Jawaban Heidegger, makna-ada adalah bersifat temporal dan historal.

Karena sains adalah being, sains adalah ada, maka sains bersifat temporal. Maksudnya, sains akan selalu berubah seiring waktu. Sains akan senantiasa mengalami revisi setiap hari. Sains juga bersifat historal, yaitu, sains diciptakan oleh sejarah dan menciptakan sejarah. Dan, yang sangat penting, karakter fundamental dari being adalah care atau peduli. Sikap peduli adalah yang menjadikan being berkualitas tinggi – termasuk kualitas sains.

Derrida (1930 – 2004) menyambut baik kajian ontologis yang mempertanyakan makna-ada. Untuk mengungkapkan makna-ada lebih jelas, Derrida mengembangkan program dekonstruksi – yang merupakan saduran dari kata destruksi Heidegger.

Dekonstruksi adalah “operasi” mengungkapkan being yang tersembunyi agar menjadi lebih jelas. Awalnya adalah benih. Kemudian, tumbuh akar, batang, dan daun. Akhirnya, menjadi pohon yang rindang dan berbuah. Itu adalah contoh dekonstruksi pada benih. Sehingga menjadi jelas ada akar, batang, dan daun. Tetapi, benih dan pohon adalah realitas fisik yang bersifat terpisah-pisah.

Kita bisa mengambil contoh pengetahuan geometri. Awalnya geometri. Kemudian, ada bidang datar. Lalu, ada segitiga siku-siku. Berlaku teorema Pythagoras. Dan, formula teorema segitiga ganjil. Dalam contoh dekonstruksi geometri ini terjadi “pengungkapan” being menjadi lebih jelas. Being yang lebih matang, yang lebih akhir, adalah lebih konkret dan, di saat yang sama, meliputi being yang lebih general.

Pergerakan dekonstruksi adalah dari general menuju konkret atau dari genus menuju diferensia.

Teorema Pythagoras adalah lebih konkret dari geometri. Sehingga, Pythagoras meliputi geometri. Analisisnya bisa sebagai berikut. Pythagoras meliputi segitiga siku-siku. Maksudnya, Pythagoras berlaku pada segitiga siku-siku. Sehingga, Pythagoras meniscayakan “ada” segitiga siku-siku. Selanjutnya, segitiga siku-siku meniscayakan bangun datar dan geometri. Dengan demikian, Pythagoras meliputi seluruh genus yang lebih general – dari segitiga sampai geometri.

Selanjutnya, saya mengembangkan formula segitiga ganjil yang berlaku pada teorema Pythagoras. Dengan analisis yang sama, kita bisa menyatakan bahwa formula segitiga ganjil meliputi seluruh genus yang lebih general – Phytagoras, bangun datar, sampai geometri.

Dalam ranah sains, dan teknologi, operasi dekonstruksi adalah suatu keharusan. Maksudnya, sains niscaya bergerak dari genus yang general menuju diferensia yang konkret.

Dinamika

Kiranya, sampai di sini, cukup valid, kita menyatakan bahwa sains dan teknologi senantiasa berubah secara dinamis. Apakah perubahan ini ke arah yang lebih baik? Atau, tidak bisa dipastikan?

Arah dinamika sains bisa dipastikan ke arah yang lebih sempurna dan lebih konkret. Tetapi, tidak bisa dipastikan sebagai lebih baik. Kadang lebih baik, dan tidak jarang, lebih buruk. Ledakan bom nuklir, mesin pembunuh massal, penipuan bisnis digital, dan lain-lain adalah contoh perkembangan yang tidak baik. Sementara, secara umum, perkembangan sains dan teknologi bisa memperbaiki kehidupan umat manusia. Belajar dari sejarah menjadi pilihan utama.

1.2 Debat

Sampai saat ini, debat sains dan filsafat masih terus berlangsung. Khsusunya, dari sisi filsafat, perdebatan merupakan suatu keharusan. Di bagian ini, kita akan mengkaji beberapa perdebatan berhubungan dengan empirisme, eksplanasi, realisme, dan value.

Empirisme

Sains modern tampak identik dengan empirisme. Atau, empirisme menjadi paling utama di antara pandangan non-empirisme. Tentu saja, dengan mudah kita mengamati bahwa empirisme terlalu ketat membatasi wilayah. Sains dan filsafat lebih luas dari empirisme. Realitas lebih dari sekedar fakta empiris.

Eksplanasi

Realisme

Value

1.3 Konsep

Kausalitas

Idealisasi

Probabilitas

Pseudosains

Unifikasi

1.4 Fisika

Newton

Einstein

Quantum

1.5 Matematika

Teori Himpunan

Teori Kategori

Matematika Plural

2. Akhir Agama
2.1 Ritual Formal
2.2 Ruh Cinta
2.3 Pembebasan

3. Akhir Filosofi

Wong Jawani: 5 Kunci Menjadi Manusia Sejarah

Kita mengenal banyak orang-orang hebat mengukir sejarah. Hart menulis buku tentang 100 tokoh yang paling berpengaruh sepanjang sejarah, waktu itu, sampai abad 20.

Nabi Muhammad adalah tokoh paling berpengaruh di sepanjang sejarah. Nabi membimbing umat manusia menelusuri jalan cahaya terang benderang. Berikutnya, Isaac Newton menerangi sains dunia dengan pendekatan formula matematis. Dengan cara ini, kekuatan sains makin kokoh. Dan, Nabi Isa membimbing jutaan sampai milyaran umat manusia mendalami kehidupan spiritual. Masih banyak contoh-contoh manusia hebat lainnya.

Mereka manusia sejarah. Mereka mengukir sejarah. Sejatinya, Anda juga manusia sejarah. Anda bisa mengukir sejarah. Anda pasti mengukir sejarah. Kita, memang manusia bersejarah.

Pertanyaannya: apa sejarah yang akan Anda ukir?

Tulisan ini akan membahas manusia sejarah. Saya memilih istilah “wong jawani” atau “jawani” untuk menggambarkan manusia sejarah yang mampu memilih dengan bebas arah sejarah yang hendak dia tulis. Sementara, orang pada umumnya, akan tetap mengukir sejarah – baik dengan pilihan bebas atau tidak.

1. Luma dan Tata
2. Dinamika
3. Salah dan Koreksi
4. Waktu Sejarah
5. Sejarah Baru
6. Diskusi
6.1 Penjara Tata
6.2 Ledakan Luma
6.3 Sejarah Tataluma
7. Ringkasan

Secara istilah, wong jawani berasal dari bahasa Jawa. Wong adalah manusia. Lebih tepatnya, wong adalah manusia ontologis yang berpadanan dengan “dasein” dari Heidegger. Sedangkan, jawani adalah peduli secara otentik atau peduli sejati. Sehingga gabungan wong jawani bermakna dasein otentik. Jika dasein adalah genus dan jawani adalah diferensia, maka, jawani adalah diferensia akhir atau diferensia real sesuai konsep Mulla Sadra. Akibatnya, term jawani sudah meliputi makna wong itu sendiri dengan basit.

1. Luma dan Tata

Kunci ke-1 adalah kita perlu mengalami sebagai “luma.” Yaitu, diri kita adalah anugerah yang luar biasa besar, berlimpah. Alam sekitar kita begitu luas tanpa batas. Orang-orang di sekitar kita adalah manusia-manusia pilihan untuk bersama-sama tumbuh kembang melampaui segala rintangan. Kita adalah luma yang terus-menerus mendobrak semua realitas.

Di saat yang sama, kita adalah “tata.” Kita menjadi realita karena ter-tata. Badan kita tertata dengan baik. Mata, telinga, paru-paru, jantung, dan seluruh organ tubuh kita tertata dengan baik. Alam semesta – matahari, bumi, bulan, dan seluruh galaksi – tertata dengan rapi berputar setiap hari. Semua menjadi nyata karena tertata.

Diri kita adalah luma dan tata. Dan, demikian juga alam raya.

Luma dan tata, kita singkat sebagai tataluma, selalu menjadi realitas. Pilihan ada di tangan kita. Apakah menjadi tataluma sekedarnya saja? Yaitu tataluma rajawa, tidak otentik. Atau, Anda memilih tataluma jawani? Yaitu tataluma otentik.

2. Dinamika

Kunci ke-2 adalah dinamika. Segala sesuatu bergerak. Jiwa kita selalu berubah. Semuanya bergerak penuh dinamika. Tidak ada yang tidak bergerak di alam raya ini.

Bahkan, gerak dinamika ini bukan hanya gerak permukaan aksidental. Gerak dinamika ini adalah gerakan substansial – gerak hakiki. Karena itu, wong jawani selalu bergerak secara hakiki. Gerak jasmani dan ruhani.

Gerak hakiki adalah gerak perubahan menuju yang lebih sempurna. Sejatinya, semua gerak selalu menuju lebih sempurna. Tetapi, kadang ada gerak ke arah yang salah, atau pada ukuran yang salah. Pada kunci ke-2 ini, kita akan mengkaji gerak sejati. Kunci ke-1, luma dan tata, adalah landasan untuk menjadi jawani. Sedangkan kunci ke-2 adalah proses wong jawani untuk mengukir, dan diukir oleh, sejarah.

3. Salah dan Koreksi

Wong jawani mengakui dirinya bersalah – baik secara teori mau pun praktis. Karenanya, jawani melanjutkan dengan tindakan koreksi. Orang yang merasa tidak pernah bersalah, justru, dia tidak jawani. Akibatnya, dia tidak perlu melakukan koreksi diri. Kunci ke-3 untuk menjadi jawani adalah menyadari salah diri, untuk kemudian, melakukan koreksi.

4. Waktu Sejarah

Waktu adalah segalanya. Kunci ke-4 adalah waktu sejarah. Secara umum, waktu, kita pahami sebagai sesuatu yang temporal. Yaitu, ada masa lalu, masa kini, dan masa depan. Dengan demikian, ada perubahan di setiap saat. Pun, kita bisa mengukur suatu waktu yang dibutuhkan.

Selanjutnya, kita bisa mengukur waktu untuk terus-menerus ditambahkan. Misal, 1 jam ditambah menjadi 2 jam. Atau, 3 tahun ditambah menjadi 4 tahun. Dengan demikian kita memiliki durasi waktu. Uniknya, setiap durasi adalah berbeda.

Totalitas waktu temporal dan durasi membentuk waktu historal atau waktu sejarah. Wong jawani memanfaatkan dengan baik sifat waktu sejarah yang unik akumulatif ini. Jawani secara dinamis menyongsong masa-depan dengan mewarisi masa-lalu dan menggerakkan masa kini. Pada waktunya, jawani adalah sejarah itu sendiri.

5. Sejarah Baru

Setiap sejarah adalah sejarah baru. Meski, orang mengatakan bahwa sejarah selalu berulang, tetapi, jawani mengulang sejarah dengan gagah berani menjadi sejarah yang diperbarui. Kunci ke-5 adalah sejarah baru.

6. Diskusi

Tataluma adalah realitas eksistensi secara nyata.

Ketika tataluma merupakan satu kesatuan utuh maka itulah hana; ittihad; zuhanden. Tataluma bisa dianalisis sebagai gabungan tata dan luma maka itulah caraka; representasi; perwakilan; duta; ittisal; vorhanden.

“Saya suka itu,” adalah bahasa tataluma dalam bahasa sehari-hari; ada tatabahasa yang cukup longgar; di saat yang sama kita bisa memahami maksud bahasa sehari-hari itu.

“2 + 1 pasti hasilnya 3,” adalah bahasa matematika formal merupakan bahasa tata yang kuat; makna bahasa tata jelas dan rapi; bahkan dimaksudkan hanya ada 1 makna saja.

“Ku ingin hidup 1000 tahun lagi,” adalah bahasa puisi Chairil Anwar yang merupakan bahasa luma. Puisi menghentak pikiran. Bahasa luma menerobos aturan meski bersama aturan.

Kita membutuhkan beragam bahasa itu: tataluma, tata, dan luma.

6.1 Penjara Tata

Tata itu bagus. Matematika itu bagus. Bangunan itu bagus. Tetapi penjara buruk.

Matematika sebagai sains adalah bagus membantu kemajuan intelektual umat manusia. Tetapi ketika matematika menjadi satu-satunya yang paling benar maka tata berubah menjadi penjara. Kita butuh matematika sesuai porsinya untuk memahami tata, menjaga struktur bangunan, mengarahkan sasaran; kemudian menuju tataluma.

6.2 Ledakan Luma

Puisi luma membakar hati, menyulut jiwa, dan mendobrak gairah.

Puisi itu bagus. Karya seni bagus. Petualangan juga bagus.

Dengan seni makna hidup menjadi warna-warni. Tetapi ledakan gairah seni bisa saja merusak segala yang ada. Ledakan-ledakan tak terduga merusak tatanan yang ada. Kita butuh gairah seni untuk melompat tinggi menggapai dan merangkul tataluma.

6.3 Sejarah Tataluma

Tiba waktunya bersama tataluma, kita mengukir sejarah.

Bertindak dan Koreksi

Kita bertindak mengukir sejarah berbekal pengetahuan formal (matematika, sains, hukum, dll) dan kajian realitas konkret. Tindakan ini mendorong kita untuk lebih maju. Meski kita berniat baik dalam bertindak tetapi kita selalu melakukan kesalahan; apa lagi bila seseorang kadang memang berniat jahat. Karena itu menyadari kesalahan dan koreksi diri adalah sangat penting.

Cakrawala Waktu

Umumnya orang memandang waktu mengalir dari masa depan, masa kini, kemudian menjadi masa lalu; atau dari masa lalu, masa kini, dan menuju masa depan. Tetapi, waktu sejarah adalah kesatuan utuh dari masa depan, masa lalu, dan masa kini; di depan masa depan masih ada masa depan lagi; di belakang masa lalu masih ada masa lalu lagi.

Tindakan kita perlu mempertimbangkan cakrawala waktu secara utuh itu. Bersatu dengan sejarah baru mau pun masa lalu.

Putaran Sejarah

Sudah lengkap kita membahas putaran sejarah bersama 5 kuncinya: (1) realitas tataluma; (2) dinamika tindakan nyata; (3) koreksi diri terhadap kesalahan; (4) cakrawala waktu sejarah; (5) sejarah baru.

Sejarah baru terus melaju bersama tataluma. Bisa saja orang terjebak dalam sejarah baru lalu membeku. Mereka tidak kembali kepada tataluma. Mereka terjebak dalam penjara tata belaka. Ironi bisa saja terjadi. Hari ini para pemuda mendorong revolusi; terjadi pergantian politik menggusur tirani. Para pemuda berkuasa lalu tua. Anak-anak mereka tumbuh dewasa; menggantikan kekuasaan orang tua. Mempertahankan status quo sebagai penjara tata yang terpisah dari luma.

Sejarah yang Membeku

Di suatu senja pada tahun revolusi, kerumunan pemuda memenuhi alun-alun kota, wajah mereka basah oleh keringat dan air mata sekaligus. Mereka meneriakkan nama-nama kebebasan yang selama ini hanya berani dibisikkan di lorong-lorong sunyi. Tirani yang telah bertahun-tahun mencengkeram tanah itu akhirnya runtuh, dan untuk sesaat langit di atas kota terasa lebih luas, lebih terang, seolah tataluma—keteraturan dan keberlimpahan—bersatu dalam satu tarikan napas panjang umat manusia yang baru saja menang.

Bertahun-tahun berlalu. Pemuda-pemuda itu kini duduk di kursi-kursi yang dulu mereka gulingkan, mengenakan jas yang dulu mereka cemooh, menandatangani dekret-dekret yang bentuknya nyaris serupa dengan yang dulu mereka bakar di jalanan. Tangan mereka masih ingat rasa batu jalanan yang dilempar, tapi kini tangan itu memegang pena, menggariskan aturan demi aturan, membangun tembok tata yang kokoh—dengan alasan menjaga apa yang telah mereka menangkan.

Anak-anak mereka tumbuh di rumah-rumah besar yang dijaga pagar tinggi, mendengar kisah revolusi hanya sebagai dongeng pengantar tidur, bukan sebagai luka yang pernah mereka rasakan sendiri di kulit. Bagi anak-anak ini, kekuasaan bukan lagi sesuatu yang direbut dengan darah, melainkan warisan yang tinggal diterima, seperti rumah atau nama keluarga. Perlahan, tanpa disadari, kursi-kursi kekuasaan berpindah tangan dari orang tua ke anak, dan status quo yang dulu mereka lawan kini menjelma menjadi milik mereka sendiri.

Di sebuah kedai kopi tua di sudut kota, seorang lelaki tua—salah satu dari pemuda revolusi dulu—duduk sendirian, memandangi anak muda hari ini yang kembali berkumpul di alun-alun yang sama, meneriakkan kata-kata yang dulu pernah ia teriakkan. Ada sesuatu yang mengganjal di dadanya, sebentuk pengenalan yang menyakitkan: bahwa tata yang dulu ia bangun untuk melindungi luma, kini telah menjadi penjara yang memisahkan generasi baru dari anugerah yang sama yang dulu ia rasakan. Ia ingin turun, berbicara, mengoreksi—tapi tubuhnya sudah terlalu lama duduk di kursi yang nyaman.

Malam itu, di langit kota yang sama, bulan bersinar seperti dulu, tak berubah, tak memihak siapa pun. Sejarah baru sedang ditulis lagi oleh tangan-tangan muda yang belum tahu bahwa mereka pun, kelak, bisa terjebak dalam tata yang mereka bangun sendiri. Dan entah generasi ini akan kembali kepada tataluma yang hidup, ataukah membeku lagi dalam penjara yang lain—hanya waktu sejarah, yang tak pernah benar-benar berhenti mengalir, yang akan menjawabnya.

Dari Indonesia masa kini, kita mengenal nama-nama besar di antaranya: Soekarno, Soeharto, Habibie, Gusdur, SBY, Jokowi, dan lain-lain.

Soekarno adalah tokoh revolusioner. Bersama rakyat Indonesia, ia menggulingkan tirani kolonial. Ia menerobos penjara tata penjajah menuju tataluma Indonesia merdeka. Semangat revolusi Soekarno menggelora sampai lupa untuk menata Indonesia; berpisah dengan wakil presiden Hatta; terus berlari membebaskan dunia.

Kita bangga kepada Soekarno. Kemudian Anda mengenal sejarah berikutnya. Indonesia pernah punya presiden Megawati Soekarno Putri; dan ketua DPR cucu Soekarno: Puan Maharani. Apakah sejarah Indonesia sedang membeku? Riak-riak sejarah luma tetap ada: Guruh Soekarno Putra berkarya melalui seni dunia.

Kisah Jokowi lebih seru lagi. Ia anak orang miskin yang rumahnya digusur di pinggir kali dalam kisah film layar lebar. Meski kisah sedih datang bertubi-tubi, Jokowi kecil memiliki semangat baja; berjiwa metal; ia berjuang untuk meraih prestasi di sekolah. Luar biasa! Anak orang biasa bisa sekolah di kampus ternama: Universitas Gajah Mada. Pengalaman hidup di UGM membuka cakrawala sejarah lebih luas untuk Jokowi muda.

Singkat cerita, ia sukses jadi pengusaha, walikota, gubernur, dan kemudian menjadi presiden RI dua periode. Pantas saja Jokowi menjadi idola bagi banyak warga Indonesia. Dari warga biasa, ia menjadi presiden negara yang luar biasa. Menariknya, kisah Jokowi saling melengkapi dengan kisah Soekarno. Sejak muda, Soekarno dikenal sebagai pejuang politik sampai akhir hayatnya. Sebaliknya, Jokowi muda adalah pejuang sebagai warga biasa; bukan politikus. Selesai dari UGM, ia menjadi PNS yang kemudian berpindah jadi pengusaha berbonus takdir menjadi presiden Indonesia.

Era Jokowi 1 (2014 – 2019) tampak bagai kilatan cahaya sejarah bagi peradaban Indonesia. Reformasi yang meletus 1998 menampakkan buahnya di masa itu. Tentu banyak juga yang tidak setuju. Apa lagi akhir jabatan menjelang 2024, sejarah Indonesia tampak kembali mulai membeku. Putusan MK mengijinkan Gibran mencalonkan diri jadi cawapres mendampingi Prabowo. Sejarah mencatat anak Jokowi terpilih menjadi wakil presiden bersama presiden Prabowo yang menantu presiden Soeharto.

Sejarah menuturkan kisah revolusi. Kemudian membeku lagi. Generasi muda masa kini sedang berjuang menghidupkan api revolusi. Apakah ada itu setitik api? Ada! Bahkan banyak titik api revolusi itu. Tataluma tidak pernah kalah dalam penjara tata. Luma akan terus meniupkan api perubahan.

Anak Kolong

Apakah anak presiden tidak boleh jadi presiden? Bukankah anak raja yang akan menjadi raja? Haruskah anak kolong jembatan pinggir sungai yang menjadi presiden?

Anak kolong jembatan menjadi presiden itu lebih baik ketika ia adalah wong jawani. Yang terpenting adalah: apakah anak itu jawani atau, sebaliknya, malah rajawa (tidak jawani).

Untuk menjadi manusia sejarah yang berputar dalam sejarah baru maka kita perlu bersiap menjadi jawani. Pemimpin negeri harus memastikan diri sebagai wong jawani; dasein otentik. Anak kolong mengalami luka, duka, dan gelisah jiwa. Ia menatap realitas tanpa daya. Ia membuka diri dengan peduli. Ia bersiap menjadi jawani. Ia belajar, berjuang, dan kemudian menjadi pemimpin.

Tetapi sebagian besar anak kolong justru terpenjara oleh penindasan tata penguasa. Ia merasa miskin. Orang tuanya miskin. Masa depannya miskin. Dan anak turunnya juga akan miskin. Bukan hanya miskin materi yang mencengkeramnya melainkan miskin cita-cita. Jokowi kecil adalah satu dari sedikit anak kolong jembatan yang berhasil lolos dari penindasan kemiskinan material dan miskin cita. Itu dimulai dari cita besar untuk belajar sampai universitas (UGM), menjadi pegawai, lalu pengusaha; dan bonusnya menjadi presiden RI.

Analisis Presiden Indonesia

Mari kita analisis kisah presiden Indonesia ini untuk memetik beragam hikmah.

7. Ringkasan

Putaran sejarah baru berkembang melalui lima kunci sejarah: (1) realitas tataluma; luma selalu memberi anugerah dan tata menata anugerah menjadi lebih indah; manusia adalah tataluma bertumbuh menjadi wong jawani; (2) bertindak dan (3) koreksi diri; tindakan nyata mengubah arah sejarah bahkan mendorong sejarah berputar; setiap tindakan mengandung benih kesalahan maka perlu sikap terbuka untuk selalu koreksi diri; (4) cakrawala waktu sejarah membentang dari masa depan sampai masa lalu; (5) sejarah baru selalu maju; di depan masa depan masih ada masa depan; di belakang masa lalu masih ada masa lalu; membentang sejarah baru.

AI (Claude) Meringkas

Lima kunci ini bukan lima langkah terpisah, melainkan satu gerak utuh melingkar: (kunci ke-1) tataluma yang bertumbuh bersama wong jawani.

Luma memberi, tata menata — tetapi keduanya baru menjadi sejarah ketika ada yang berani bertindak (kunci ke-2) dan cukup jujur untuk mengoreksi diri (kunci ke-3). Tanpa tindakan, tataluma tinggal potensi. Tanpa koreksi, tindakan berubah jadi arogansi — dan arogansi selalu berakhir sebagai penjara tata baru.

Kisah Soekarno dan Jokowi menunjukkan dua jalan menuju jawani yang sama sahnya: satu lewat ledakan luma yang menerobos tirani, satu lewat tata yang sabar mendaki dari kemiskinan. Keduanya sejarah. Keduanya sah. Tetapi keduanya juga membawa peringatan yang sama: sejarah yang telah dimenangkan bisa membeku menjadi status quo, ketika anak-cucu mewarisi kursi tanpa mewarisi keterbukaan jiwa yang membuat pendahulunya jawani.

Maka pertanyaan yang sebenarnya bukan “siapa layak memimpin” — anak presiden atau anak kolong jembatan — melainkan: apakah ia jawani, atau rajawa?

Wong jawani tidak ditentukan oleh dari mana ia berasal, tetapi oleh apakah ia terus bergerak dalam (kunci ke-4) cakrawala waktu sejarah yang utuh — mewarisi masa lalu, bertindak di masa kini, dan berani dikoreksi demi (kunci ke-5) masa depan yang di depannya masih ada masa depan lagi. Selama itu terjadi, tataluma tidak pernah benar-benar membeku. Ia hanya sedang menunggu titik api berikutnya.

Urip iku urup.

Bagaimana menurut Anda?

Berikut beberapa catatan penting.

Lompat ke 2 halaman terakhir.

RUU Sisdiknas 2022: Kritik Transenden

Kabar baik! RUU Sisdiknas meningkatkan kesejahteraan para guru. Menambah semangat baru untuk memajukan pendidikan nasional.

Tentu saja, kita ingin memajukan pendidikan nasional. Salah satu faktor penting adalah meningkatkan kesejahteraan guru dan semua insan pendidikan. Tetapi, perlu hati-hati karena proses pendidikan bukanlah tempat yang tepat untuk mencari keuntungan uang, kesejahteraan, atau kekuasaan. Sebaliknya, sistem pendidikan adalah wahana untuk pengabdian.

Saya akan menulis hanya satu kritik saja terhadap RUU Sisdiknas, pada kesempatan ini.

“Penilaian guru, siswa, dan sistem pendidikan perlu bersifat transenden.”

1. Nilai Siswa Transenden

Penilaian raport siswa atau nilai ujian kelulusan siswa perlu bersifat transenden. Maksudnya, transenden adalah penilaian ini mandiri dari siswa, guru, atau sekolah bersangkutan.

Di RUU Sisdiknas 2022, penilaian tidak bersifat transenden.

Dengan contoh, barangkali akan lebih mudah memahami. Sejak masa lalu, nilai siswa ditentukan oleh guru. Misal nilai matematika siswa ditentukan oleh guru matematika bersangkutan. Penilaian seperti ini tidak transenden.

Siswa bisa mempengaruhi guru untuk menaikkan nilai, misalnya, dengan memberi hadiah kepada guru. Orang tua siswa juga bisa memberi fasilitas khusus kepada guru sehingga guru cenderung bersikap lebih baik dalam menilai siswa bersangkutan. Atau, guru itu sendiri memang “senang” terhadap siswa sehingga obral nilai.

Dalam arah negatif bisa saja terjadi. Guru “marah” kepada siswa sehingga memberi nilai buruk kepada siswa bersangkutan.

Usulan solusi: menciptakan sistem transenden untuk penilaian siswa. Misal, penilaian siswa ditentukan oleh fakultas pendidikan matematika dari universitas terdekat. Sistem ini bersifat transenden dalam arti siswa, guru, orang tua, kepala sekolah, dan lain-lain tidak bisa mencampuri urusan penilaian.

Dengan sistem transenden seperti di atas, maka, siswa dan guru adalah satu tim untuk mencapai tujuan bersama: meraih kualitas pendidikan terbaik. Salah satunya adalah meraih nilai terbaik. Meski, kita tahu, makna pendidikan lebih luas dari sekedar nilai.

Dengan sistem transenden, guru tidak bisa mengancam siswa dengan ancaman nilai yang buruk bila tidak nurut ke guru. Sebaliknya, guru juga tidak bisa dikendalikan oleh siswa dan orang tua.

Kita semua adalah satu tim untuk menciptakan pendidikan dengan kualitas tertinggi. Guru, siswa, orang tua, dan masyarakat luas bersatu padu untuk maju.

Tentu saja, guru tetap berhak membuat nilai raport sebagai laporan. Nilai raport adalah catatan dari guru untuk menunjukkan kemajuan proses belajar siswa. Dengan raport, semua pihak bisa berkomunikasi. Bagian mana saja, kualitas pendidikan yang perlu ditingkatkan. Nilai raport bukan suatu prestasi, juga, bukan suatu hukuman bagi siswa.

2. Karir dan Tunjangan Guru Transenden

Kita perlu menciptakan sistem transenden untuk menilai guru yang berdampak kepada karir dan tunjangan kesejahteraan.

Dengan sistem transenden, guru hanya fokus untuk meningkatkan kualitas pengabdiannya kepada siswa dan masyarakat. Guru tidak perlu “tersenyum” ke sana ke mari agar karir cemerlang. Dengan kualitas pengabdian yang tinggi, guru terjamin makin sukses.

Tentu saja, siswa dan masyarakat luas bisa memberi masukan kepada guru melalui “kotak saran digital”. Lagi, saran semacam itu adalah media komunikasi untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Bukan ancaman dan bukan penilaian.

3. Penilaian Kualitas Sekolah Transenden

Sejatinya, saat ini, penilaian kualitas sekolah sudah bersifat transenden dari sekolah. Tetapi, tidak transenden terhadap universitas tertentu. Sehingga, kita perlu solusi sistem transenden lagi.

Dampaknya, saat ini, terbentuk citra sekolah favorit. Bukan sekedar citra, tetapi benar-benar nyata favorit. Sehingga, sekolah favorit ini menyalahi tujuan pemerataan kualitas pendidikan.

Ambil contoh, SMA 3 Bandung adalah favorit karena tiap tahun puluhan siswa atau ratusan siswa diterima masuk ITB tanpa tes. Sementara, SMA lain yang berjarak hanya sekitar 50 km dari SMA 3 adalah tidak favorit karena tidak ada siswa yang bisa diterima di ITB melalui jalur tanpa tes.

Penilaian kualitas sekolah ini sudah transenden terhadap SMA tapi tidak transenden terhadap ITB atau beberapa universitas. Dampak susulannya, bisa memperparah proses penerimaan mahasiswa baru melalui jalur mandiri – di samping terjadi ketimpangan sekolah favorit seperti di atas. Seperti kita tahu, ada rektor universitas di Sumatera yang ditangkap KPK akibat kasus korupsi.

Kita perlu membangun sistem penilaian yang transenden. Orang bisa menilai sistem transenden sebagai sistem penilaian yang bersifat obyektif, jujur, dan adil. Ditambah lagi, sistem penilaian transenden bersifat transparan bagi publik, karena pendidikan memang kepentingan publik, maka makin besar peluang kualitas pendidikan nasional melompat tinggi.

Semoga Presiden, Menteri, para pejabat, dan masyarakat luas bisa saling membantu untuk memajukan pendidikan nasional.

Bagaimana menurut Anda?

Worksheet Lembar Kerja APIQ (Level C)

Salam

Worksheet Lembar Kerja APIQ (Level Z)

Salam

Cahaya Cinta: dalam Lima Wacana

Cinta menemukan jalannya sendiri. Cinta menembus setiap batas. Cinta mengetuk hati-hati yang gelisah, monoton, mau pun yang berbunga-bunga. Cinta datang pada pandangan pertama. Datang lagi pada pandangan kedua atau, datang lagi, sampai mata tak bisa memandang.

Tak ada kata yang bisa mengungkapkan cinta. Tapi, cinta memang perlu kata-kata. Tak ada kisah yang bisa menuturkan cinta. Tapi, cinta memang perlu dikisahkan. Tak ada ilmu yang cukup untuk mengkaji cinta. Tapi, cinta memang perlu dikaji.

Cinta hanya bisa menjadi. Cinta menjadi hidup kita masa kini, masa lalu, dan masa depan. Meski, kita tidak akan mampu membahas cinta dalam bentuk kata-kata, kita akan mencobanya membahas cinta dalam lima wacana.

A. Wacana Eksistensi.

B. Wacana Pengetahuan

C. Wacana Kebenaran

D. Wacana Ontologi

E. Wacana Aksiologi

Apa lagi yang diperlukan? Kamu, ya kamu! Kamu adalah cinta. Kamu adalah cahaya cinta. Saatnya telah tiba, lebih bersinar bersama cinta. Saatnya, lebih dalam mendalami cahaya cinta dalam relung hati. Saatnya, untuk beraksi menebarkan cahaya cinta ke seluruh penjuru semesta.

Dinamika Cinta

Bagian Dinamika Cinta membahas aksiologi cinta yang penuh dinamika. Kita fokus dengan mengambil tiga tema paling dinamis: ekonomi, politik, dan agama.

17. Ekonomi Cinta

Ekonomi cinta menyadari bahwa ekonomi adalah aspek kehidupan paling melekat dalam kehidupan manusia masa kini. Segala sisi kehidupan dihitung nilai ekonominya. Dari satu sisi, kita bisa melihat angka-angka ekonomi yang menggambarkan kemajuan manusia – atau kemunduran. Di sisi lain, angka-angka ekonomi ini, justru, menjebak manusia dalam penjara ekonomi.

Ekonomi cinta menyadarkan kita bahwa sistem ekonomi adalah barza, yaitu, ruang temu antara cahaya cinta dengan void kegelapan. Sehingga, ekonomi bisa mengurung manusia dalam gelap. Di saat yang sama, ekonomi bisa menjadi sarana berlatih bagi umat manusia untuk melompat jauh lebih tinggi mencapai cahaya suci abadi. Ekonomi cinta membahas itu semua dan melengkapi dengan beragam rekomendasi untuk mengubah ekonomi dari penjara menjadi sasana cinta.

18. Politisasi Cinta

Politik cinta menegaskan kembali peran penting dari politik. Sistem politik menembus dan mengoyak seluruh realitas alam raya. Secara alamiah, politik memiliki karakter luma yaitu selalu memberi. Hanya saja, manusia kadang berlebihan dalam pemberian politik ini, sehingga, membahayakan umat manusia dan alam raya. Untuk itu, kita perlu menata politik pada ukuran yang tepat. Dan, terciptalah politik tataluma yaitu politik yang selalu memberi dan menata.

Dalam membahas politik tataluma, kita melakukan studi kasus beberapa negara sebagai ilustrasi alternatif jalur pengembangan sistem politik. Dari beragam alternatif jalur ini, kita bisa memilih jalur yang paling tepat sesuai ruang dan waktu. Kesimpulannya adalah ada beragam jalur untuk meraih sistem politik yang adil. Di saat yang sama, ada lebih banyak jalur untuk terperosok ke sistem politik yang bangkrut. Selalu ada dinamika dalam politik.

19. Agama Cinta

Agama cinta, tentu, lebih luas dari semua yang kita bahas. Agama membahas kehidupan masa kini, masa lalu, dan masa depan. Bahkan, agama membahas kehidupan di akhirat kelak.

Beberapa kaum modernis menduga bahwa agama tidak penting lagi bagi kaum modern. Kajian kita menunjukkan sebaliknya. Agama, justru, makin dibutuhkan umat manusia di era modern dan setelahnya. Umat manusia membutuhkan bimbingan agama dalam menghadapi realitas yang makin panas.

Tentu saja, ada pembelokan agama menjadi kedok. Kita perlu kembali meluruskan dan diluruskan oleh agama yang membuka mata, hati, dan diri manusia. Agama selalu terbuka dan membuka kebenaran. Kita berada di waktu dan tempat yang tepat.

POWER: Bicara Efektif

Saya mendapat silver play button dari Youtube Amerika, beberapa tahun lalu, sebagai tanda canel youtube saya sudah meraih 100 ribu subscriber lebih. Ketika anak-anak muda berebut menjadi youtuber terkenal, di saat yang sama, saya menerapkan jurus “trik 7 detik” sebagai youtuber. Beberapa waktu kemudian, saya mendapat silver button dari youtube untuk canel yang kedua. Lengkap, saat ini, saya mendapat dua silver play button youtube. Dengan total subscriber lebih dari 700 ribu orang.

Bagaimana caranya untuk sukses di youtube? Kunci paling penting adalah “POWER: Bicara Efektif.”

POWER adalah Punch, Oneness, Window, Ear, Retention. Dengan fokus hanya ke POWER, kita menjadi mudah untuk berbicara efektif. Tentu saja, kita bisa memanfaatkan POWER secara luas: untuk mengajar, berbicara di seminar, atau untuk konsultasi.

1. Punch

Awali pembicaraan Anda dengan punch, sesuatu yang paling menarik, sesuatu yang paling mengagetkan pendengar. Waktu 8 sampai 32 detik pertama, pendengar sedang memperhatikan Anda sebagai pembicara. Begitu Anda memulai dengan punch, sesuatu yang menarik, maka pendengar akan sepenuhnya memberi perhatian kepada Anda.

Sebaliknya, jika dalam 30 detik pertama tidak ada suatu pembicaraan yang menarik, maka, pendengar akan pesimis atau malas untuk mendengarkan. Tidak mudah bagi pembicara untuk menarik perhatian setelah terjadi kebosanan beberapa menit. Langkah lebih efektif adalah berikan punch, sejak awal, untuk menarik perhatian pendengar. Kemudian kita bisa melakukan beragam improvisasi di waktu selanjutnya.

Contoh punch adalah: pengalaman pribadi yang menarik, pengalaman membaca buku spesial, kutipan dari orang terkenal, kisah singkat, atau kadang humor ringan. Tentu saja, konten dari punch perlu punya hubungan relevan dengan tema pembicaran, baik secara langsung atau tidak.

2. Oneness

Kesatuan tema, atau oneness, menjadi penting agar pesan kita dipahami secara utuh. Oneness memberi pendengar panduan memahami alur pembicaraan kita secara bertahap. Selesai berbicara dengan kita, pendengar dengan mudah bisa mengingat tema utama pembicaraan kita melalui oneness. Meski, untuk data lebih detil, barangkali, kita perlu melihat data dan catatan.

Contoh onenes: jembatan keledai POWER, bagan, mind map, pembagian 3 babak, dan sebagainya.

3. Window

Beri kesempatan pendengar untuk memahami tema dengan membuka beragam jendela pemahaman: window. Barangkali inti pembicaraan kita sudah lengkap dengan oneness. Tetapi, pendengar perlu informasi lebih detil agar mampu memahami tema yang kita sampaikan. Window adalah beragam jendela pemahaman yang memudahkan bagi pendengar kita.

Beberapa window yang bisa kita manfaatkan: contoh nyata, studi kasus, ilustrasi, simulasi, cerita, humor, grafik, tabel, wawancara, dialog, praktikum, dan lain-lain.

Secara umum, window adalah yang menjadikan suatu pembicaraan lebih menarik dan mudah dipahami. Sementara, oneness mengikat erat seluruh tema pembicaraan menjadi satu kesatuan. Kita perlu menghabiskan waktu lebih banyak membahas window dan hanya sedikit untuk oneness.

4. Ear

Kita perlu sadar bahwa kita sedang berbicara kepada orang-orang bukan kepada mesin. Maka, kita perlu menggunakan bahasa yang mudah didengar oleh telinga pendegar: ear. Secara umum, gunakan bahasa sehari-hari. Dan, batasi penggunaan istilah-istilah kompleks yang membingungkan pendengar.

Cara mudah menggunakan bahasa sehari-hari, atau ear, adalah mengungkapkan ide dalam bentuk percakapan.

“Berapa diskon belanja online yang pernah kamu dapatkan?” tanya Ani.
“Diskon 100%,” jawab Budi.
“Gratis dong kalau begitu?”
“Benar. Aku beli bakso online 200 ribu rupiah diskon 100%, gratis. Lalu, baksonya aku bagi-bagi ke teman kos.”
“Lha, kamu kok tidak kasih aku baksonya?”
“Untuk kamu, tidak cukup bakso. Untuk kamu adalah hatiku 100%.”

5. Retention

Pesan kita perlu menempel di pikiran, dan ingatan, pendengar sampai dalam waktu yang lama: retention. Dengan demikian, kita berhasil memastikan pembicaraan kita berhasil sebagai efektif karena pesan diingat terus dalam jangka panjang.

Beberapa cara retention bisa kita kembangkan. Saran saya adalah kombinasi oneness disusul dengan punch yang baru sebagai penutup. Oneness mengingatkan pendengar kesatuan tema terpenting. Dan punch versi baru memberi kesan akhir yang kuat bagi pendengar.

6. Bonus STIKER

Berikut adalah tips bonus yang akan menjadikan pembicaraan kita menarik dan menempel kuat di benak para pendengar bagai stiker: STIKER.

STIKER adalah: Sederhana, Tak terduga, Ilmu, Konkret, Emosi, Roman.

Sederhana

Pilih bahasa yang sederhana. Cara mudah memilih bahasa sederhana adalah dengan cara mengungkapkan ide dalam bahasa percakapan atau cerita.

Tak Terduga

Pastikan ada unsur tak terduga dalam ide anda. Jika semua ide Anda sesuai dugaan, maka, buat apa didengarkan? Siapkan beberapa kejutan yang membuat penasaran.

Ilmu

Kita mempercayai suatu pesan bila pesan tersebut dijamin benar. Hasil penelitan ilmiah, rujukan narasumber, atau analisis keilmuan memberi kekuatan kepada setiap orang untuk percaya.

Emosi

Libatkan emosi, atau suatu perasaan, dalam pesan Anda. Maka, pesan menjadi lebih hidup dan mudah melekat erat ke pikiran dan hati.

Roman

Siapa yang tidak suka kisah roman? Semua orang suka terhadap kisah-kisah inspiratif. Bumbui, atau rangkailah, ide-ide Anda dalam bentuk kisah. Tentu saja, kisah cinta adalah abadi.

Bagaimana menurut Anda?