Politisasi Cinta

Politik adalah segalanya. Tidak ada sisi kehidupan yang terlepas dari politik. Kehidupan pribadi perlu politik. Kehidupan rumah tangga, kantor, negara, dan bahkan internasional, semuanya melibatkan politik. Politik adalah universal.

Tetapi, cinta adalah segalanya. Hanya cinta, yang menjadikan segala menjadi bermakna. Seluruh alam raya, termasuk jiwa terdalam manusia, adalah manifestasi cinta. Apakah dengan demikian, politik sama dengan cinta? Setidaknya, politik mengikat erat cinta? Kita akan membahas politisasi cinta di bagian ini.

1. Politik Universal
1.1 Luma
1.2 Tata
2. Subyek
3. Politik Cinta
3.1 Pandemi Cinta
3.2 Ledakan Kesenjangan
3.3 Solusi Tataluma
4. Sistem Kekuasaan
4.1 Kerajaan
4.2 Demokrasi
4.3 Digitalisasi
5. Transformasi
5.1 Konservatif
5.2 Progresif
5.3 Median
5.4 Kudeta
5.5 Perang
6. Ideologi
6.1 Teokrasi
6.2 Sosial
6.3 Liberal
7. Keadilan
7.1 Kebebasan
7.2 Kesenjangan
7.3 Kemajuan
8. Diskusi
8.1 Selalu Meledak
8.2 Alternatif Jalur
8.3 Parameter Keadilan

Politik itu kejam. Bahkan, lebih kejam dari perang. Karena, perang bisa selesai dengan damai. Politik tidak bisa selesai dengan damai: harus ada yang kalah agar ada yang menang. Dalam politik, ketika terjadi koalisi pun, semua pihak harus kalah kecuali yang terpilih jadi presiden, sebagai pemenang tunggal.

Politik adalah kompetisi menang-kalah. Agar seseorang bisa jadi bupati, maka orang lain harus kalah, orang lain tidak boleh jadi bupati. Jika ada bupati tandingan maka masuk kategori makar yang harus ditumpas, harus dikalahkan. Politik adalah merebut kekuasaan untuk mengalahkan semua lawan. Cara pandang politik seperti itu hanyalah satu sudut pandang belaka. Ada banyak sudut pandang yang berbeda.

Politik adalah cahaya. Bahkan, politik adalah cahaya yang sangat kuat menerangi alam raya. Politik mengajak umat manusia menuju cahaya, secara bersama-sama mau pun personal. Cahaya politik menembus setiap lubang semesta, menebarkan percik-percik sinar harapan. Politik adalah matahari kehidupan, yang menghangatkan hati-hati yang beku, meruntuhkan setiap belenggu. Politik adalah kudu.

Kita akan mengawali kajian dengan membahas ontologi politik universal, di mana, politik memang ada di mana-mana. Sambil jalan, pembahasan kita akan bertabur dengan tema cinta. Di bagian akhir, kita membahas yang paling penting dari politik: keadilan. Meski, hampir setiap orang paham bahwa adil adalah yang paling penting, nyatanya, keadilan bagai hanya sebuah impian di kancah politik. Kita merumuskan beberapa solusi untuk meraih politik yang adil.

1. Politik Universal

Politik bersifat universal, dalam arti, politik ada di mana-mana dan kapan saja. Karena politik, sejatinya, adalah tataluma: bersatunya antara karakter luma dan tata. Karakter “luma ” selalu bersifat “meledak” memenuhi segala yang ada. Sementara, karakter “tata” selalu bersifat menata segala yang ada.

1.1 Luma

Realitas ontologi paling fundamental adalah “luma” yang karakter utamanya adalah “selalu memberi.” Tentu saja, kita tidak bisa mendefinisikan luma dengan kata-kata. Kita hanya bisa memaknai “luma.” Luma selalu memberi tanpa henti. Jika luma berhenti memberi maka runtuhlah alam raya ini, runtuhlah segalanya. Segala yang ada bersandar kepada luma. Logika tidak bisa membatasi luma, sebaliknya, logika justru perlu bersandar kepada luma.

Politik adalah pancaran utama dari luma. Tanpa politik, umat manusia hancur. Tanpa politik, peradaban luluh lantak. Seperti dalam luma, dalam politik, logika bisa lumpuh. Logika justru perlu bersandar kepada politik. Politik seperti apakah, yang bisa, menjadi sandaran logika? Politik yang luma.

Dalam realitas politik, luma nyaris tidak pernah terbentuk dengan sempurna. Politik membelokkan luma sehingga politik menjadi bahaya. Secara ontologis, luma bersatu dengan tata, sedemikian hingga, sinaran politik selalu menabur cinta untuk seluruh semesta. Ketika politik memisahkan tata dari luma, maka, politik, yang sejatinya adalah cahaya bening, berubah menjadi hitam atau merah atau kuning.

Hitam adalah politik yang mendominasi pihak lain, menindas pihak lemah, dan mengksploitasi alam raya sampai hancur. Merah adalah politik hitam hanya saja sedikit tampak lebih lembut, yaitu, menindas pihak lain tetapi tidak sampai menghancurkannya. Pihak lemah tidak perlu hancur agar, bisa terus, diperas tenaganya. Sementara, kuning adalah politik tingkat tinggi paling licik. Mereka sejatinya hitam dan merah tetapi punya cara menutupi politik kejamnya dengan satu dan lain cara. Sehingga, kuning mengaku dirinya adalah politik yang suci nan bening bersinar. Bahkan, kuning mampu menipu diri, merasa dirinya adalah yang paling benar.

Kita perlu menyatukan kembali tata dan luma agar politik kembali menjadi bening – tidak hitam, merah, atau kuning. Sarana untuk menyatukan tata dan luma adalah politik itu sendiri. Mana mungkin politik bisa memperbaiki politik? Apakah mungkin manusia bisa memperbaiki manusia? Apakah mungkin kejahatan bisa memperbaiki kejahatan? Dunia ini adalah dunia kemungkinan. Bahkan, melebihi segala kemungkinan.

1.2 Tata

Tata adalah realitas ontologis paling fundamental. Tata adalah luma yang kita kaji dari sudut pandang berbeda. Karakter tata adalah selalu menata untuk mencapai sakina – keseimbangan dinamis. Dalam realitas fundamental, luma dan tata adalah satu kesatuan tak terpisahkan. Luma selalu memberi dan tata selalu menata.

Dalam politik, luma dan tata sering terpisah. Tanpa tata, politik menjadi kacau karena kebanyakan luma, atau kekurangan luma. Politik menjadi hanya mendominasi pihak lain. Politik menjadi lupa bahwa dia harus meraih sakina bersama tata. Sehingga, tugas kita dalam politik adalah untuk kembali menyatukan luma dan tata sehingga tercipta politik sakina. Tentu, itu adalah tugas yang sulit. Barangkali, mustahil untuk berhasil?

Karena politik adalah luma, politik adalah tata, maka politik selalu ada di mana saja.

2. Subyek

Siapa saya? Saya adalah subyek yang bertanya. Saya adalah kulo. Dalam politik, kulo hanya sekedar sumber daya yang memberi suara dalam pemilu, kemudian, dilupakan oleh pejabat pemenang. Kulo yang seharusnya jadi subyek berubah menjadi obyek, bahkan obyek penderita.

Bagaimana pun, kulo adalah subyek. Sehingga, ketika kulo dijadikan obyek, dalam beberapa kesempatan, pasti ada perlawanan. Kulo adalah perlawanan politik. Bahkan, ketika kulo dipastikan menjadi subyek, tetap saja, kulo akan melakukan perlawanan. Kulo adalah kulo. Kulo bukan subyek seperti itu. Lebih-lebih, kulo bukanlah obyek.

Hanya saja, kadang kulo terlalu kuat karakter luma. Sehingga kulo mendominasi pihak lain. Atau, sebaliknya, kulo justru sembunyi dari hiruk-pikuk politik. Kulo perlu tata agar sakina dalam semesta politik. Kulo perlu luma dan tata.

Bagaimana proses terbentuknya subyek kulo? Ada beragam alternatif jawaban: evolusi, agama, void, prosedur, power, dasein.

2.1 Evolusi

Sains empiris menjelaskan bahwa subyek kulo muncul melalui proses evolusi materialis. Ada banyak pandangan dari sains. Pandangan materialisme absolut meyakini bahwa hanya materi yang eksis secara nyata. Sehingga, hanya badan manusia yang eksis secara nyata. Sedangkan, kesadaran subyek hanya ilusi.

Pandangan emergen menyatakan bahwa pada awalnya hanya ada komponen-komponen penyusun sistem saja. Yaitu, hanya ada sel telur dan sel sperma. Kemudian telur dan sperma ini membentuk satu sistem baru dan memunculkan, emergen, karakter kesadaran subyek. Bagaimana pun karakter subyek ini melebihi dari karakter komponen-komponen penyusunnya.

Pandangan dualisme meyakini bahwa subyek dan materi sama-sama eksis secara nyata dan saling independent.

Kajian “subyek” secara sains masih terus berkembang dinamis. Tentu saja, secara politis, lebih dinamis.

2.2 Agama

Pandangan dari agama beragam karena agama sendiri beragam. Barangkali, secara umum, agama memandang bahwa subyek kulo adalah manifestasi ruh suci yang merupakan anugerah dari Tuhan. Dengan demikian, subyek kulo melampaui batasan-batasan materi. Akibatnya, dalam politik, subyek kulo akan memunculkan problem-problem besar. Meski pun, subyek kulo itu sendiri yang harus bertanggung jawab terhadap problem politik yang diakibatkannya.

2.3 Void

Subyek kulo adalah void atau hampa atau nothingness. Konsep void ini kompleks meski sederhana. Void tidak eksis karena memang hampa. Tetapi, konsep void adalah eksis dan konsekuensi dari void juga eksis di alam realitas. Jadi, cukup tepat, void menggambarkan kompleksitas dari subyek kulo.

Subyek kulo sebagai void tidak bisa dibatasi, tidak bisa definisikan, dan tidak bisa diikat. Jadi, kulo adalah freedom murni. Cita-cita politik adalah void yang menampakkan diri dalam bentuk materi. Ketika kulo berhasil meraih cita-cita politik berupa materi, kulo tidak puas. Justru, kulo makin dahaga akan cita-cita politik yang lebih besar lagi. Demikian seterusnya, kulo tidak pernah berhenti mengejar cita-cita politik. Akibatnya, politik tidak akan pernah berhenti dari gejolak dalam rentang waktu yang lama.

2.4 Prosedur

Subyek kulo adalah prosedur. Dari realitas chaos, dampak dari void terhadap realitas, maka muncullah suatu prosedur. Muncul suatu kebiasaan yang berkomitmen mempertahankan kebiasaan. Prosedur itu adalah subyek kulo.

Prosedur, yaitu subyek kulo, akan selalu menghadapi realitas yang chaos. Bagaimana pun, kulo akan konsisten menerapkan prosedur yang sudah dimilikinya. Sampai suatu saat ada realitas tertentu, yaitu event, yang tidak bisa ditangani oleh prosedur. Kulo, dengan terpaksa atau suka rela, mengembangkan prosedur baru.

Sistem politik adalah prosedur yaitu subyek kulo itu sendiri. Setiap saat, sistem politik menghadapi event yang tidak sesuai prosedur. Sehingga, politik terus berubah. Politik menciptakan prosedur baru tanpa henti.

2.5 Power

Subyek kulo adalah relasi power – relasi kekuasaan. Beragam realitas di dunia ini saling berinteraksi dan menciptakan relasi power. Salah satu bentuk relasi power itu adalah subyek kulo. Selanjutnya, subyek kulo menggunakan power untuk menciptakan relasi power yang lebih kompleks.

Sistem politik adalah relasi power yang diciptakan oleh subyek kulo – yang juga merupakan produk dari relasi power. Akibatnya, sistem politik tidak pernah stabil. Sistem politik akan selalu dinamis karena relasi power selalu berubah-ubah.

2.6 Dasein

Subyek kulo adalah istilah lebih sederhana dari dasein. Sementara, dasein adalah being-there adalah wujud-nyata. Dasein menjadi istimewa karena peduli terhadap eksistensi dirinya. Dasein peduli dengan mengajukan pertanyaan bagaimana nasib diriku dan alam sekitarku di masa depan?

Dasein selalu berwawasan masa depan – wawasan futiristik. Sehingga, subyek kulo juga selalu berwawasan masa depan.

Sistem politik yang melibatkan subyek kulo akan terbawa peduli dengan masa depan. Dengan kata lain, masa depan akan menarik sistem politik bergerak untuk menuju masa depan. Sistem politik tidak pernah bisa diam; selalu dinamis. Lebih dinamis lagi karena masa depan adalah posibilitas, freedom, dan komitmen.

Sampai di sini, kita memahami bahwa sistem politik akan selalu dinamis. Jiwa manusia, yaitu subyek kulo, mendorong sistem politik untuk terus berubah. Jiwa adalah luma. Tetapi, sistem politik adalah konteks yang menyediakan kesempatan bagi jiwa untuk gerak maju. Sistem politik adalah tata. Jadi, politik adalah tataluma. Kita membutuhkan keduanya.

3. Politik Cinta

Politik adalah manifestasi cinta. Politik adalah bersatunya kembali luma dan tata. Sehingga, politik adalah tataluma.

3.1 Pandemi Cinta

Saat ini, kita memasuki era pasca pandemi. Politik cinta, sebagai tataluma, menjadi lebih penting lagi. Jika tidak, politik bisa menghancurkan bumi lebih ngeri dari sekedar pandemi. Kita berada pada era pandemi cinta yang akan disusul dengan kemakmuran cinta.

Catatan sejarah menunjukkan bahwa setelah krisis, misal setelah pandemi, akan disusul masa-masa kemakmuran umat manusia. Akan lahir inovasi-inovasi baru. Akan lahir kekuatan-kekuatan politik baru. Akan lahir kekuatan-kekuatan ekonomi baru. Kabar buruknya, ketimpangan sosial makin menganga. Kaum miskin makin tertindas. Wong cilik makin terpinggirkan.

Bagaimana bisa begitu? Kemakmuran meningkat tapi kemiskinan meluas? Mengapa yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin?

Sistem politik dan ekonomi, saat ini, mendukung situasi seperti itu. Maka, kita perlu mengarahkan kembali politik cinta ke jalur tataluma.

3.2 Ledakan Kesenjangan

Dengan sedikit ilustrasi, kita lebih mudah memahami situasi. Sebelum pandemi, atau sebelum krisis, misal rakyat miskin menguasai 20% kekayaan dan rakyat kaya menguasai 80% kekayaan sisanya. Tentu saja, rakyat miskin dipenuhi oleh jutaan jiwa. Sementara, rakyat kaya hanya terdiri segelintir orang saja. Ketika terjadi pandemi, semua tatanan kacau. Kemudian, akan terbentuk tatanan baru, politik dan ekonomi.

Yang jelas terjadi, harga-harga melambung tinggi. Angka inflasi ikut melambung tinggi. Bagaimana pun, angka inflasi akan terkendali pada akhirnya. Pertama, angka inflasi dihitung berdasar berbagai macam parameter kompkles. Sehingga, rakyat tidak mudah menguji keandalan angka inflasi. Kedua, angka inflasi adalah pertumbuhan. Akibatnya, pikiran rakyat, dan politikus, mudah tertipu. Ketiga, ada pihak yang diuntungkan dengan kompleksitas angka inflasi.

20202021Inflasi
50100100%

Harga-harga di tahun 2020 adalah 50 rupiah. Kemudian naik menjadi 100 rupiah di tahun 2021. Maka angka inflasi adalah (100 – 50)/50 = 100%. Angka inflasi setinggi itu tentu bahaya. Semua pihak akan mencari cara untuk menanganinya. Tapi, perhatikan apa yang terjadi di tahun 2022? Semua solusi sudah tersedia.

20212022Inflasi
1001022%

Tahun 2022, harga naik lagi menjadi 102 rupiah dari, yang tahun 2021 adalah, 100 rupiah. Angka inflasi (102 – 100)/100 = 2%. Wow… angka inflasi sudah selesai. Inflasi 2% adalah angka inflasi terbaik untuk sistem ekonomi.

Di sisi rakyat kecil, menjerit penuh derita. Harga-harga melonjak tinggi dari 50 menjadi 102. Ongkos buruh kerja, bagi rakyat kecil, sulit sekali untuk naik. Penghasilan bahkan turun drastis akibat pandemi. Bukankah total uang beredar tetap sama? Bahkan, uang beredar bisa bertambah karena mencetak uang baru? Di mana mereka – uang yang berlimpah itu?

Tentu saja, ilustrasi di atas adalah sangat sederhana. Realitasnya, akan berupa angka-angka yang kompleks. Tetapi, kiranya cukup, memberi ilustrasi bagi kita bagaimana sistem politik dan ekonomi mengarahkan pemahaman kita ke arah yang salah. Tidak selalu salah, kadang benar, bahkan sejatinya memang benar, parameter-parameter yang ada itu. Justru, karena ada campur aduk antara benar dan salah, maka, tugas kita memang tidak mudah.

Mari kita lanjut skenario pasca pandemi. Sebelum pandemi, rakyat miskin menguasai 20% kekayaan, dan rakyat kaya menguasai 80% kekayaan. Setelah pandemi, gaji rakyat miskin, dan penghasilan petani peternak, naik dari 20 menjadi 30 rupiah. Rakyat miskin gembira, penghasilan mereka naik. Tetapi rakyat miskin menangis karena harga-harga naik lebih tinggi.

Ukuran ekonomi melonjak pasca pandemi dari 100 menjadi 200. Sementara, rakyat miskin ikut naik penghasilan mereka dari 20 menjadi 30. Dengan proporsi yang sama, aset juga bisa kita estimasi. Bagaimana dengan penghasilan rakyat kaya? Penghasilan rakyat kaya hanya meningkat sisanya. Yaitu, 200 dikurangi porsi rakyat miskin 30 maka sisa 170. Penghasilan rakyat kaya berlipat dari 80 sebelum pandemi menjadi 170 setelah pandemi. Kabar gembira!

Porsi EkonomiSebelumPasca Pandemi
Miskin2030
Kaya80170

Secara absolut, pertumbuhan ekonomi memang bagus dari 100 menjadi 200, pasca pandemi. Secara nyata, bisa berbeda.

Rakyat miskin, nilai ekonomi, tumbuh dari 20 menjadi 30. Secara proporsi turun dari 20% = 20/100 menjadi 15% = 30/200. Lebih rumit lagi daya beli orang miskin. Karena harga-harga naik berlipat 2 kali, meski inflasi terkendali pada akhir pandemi, daya beli juga turun dari 20% menjadi sekitar hanya 15%.

Rakyat kaya tumbuh dari 80 menjadi 170, pasca pandemi. Secara proporsi juga naik menjadi 85%. Lebih bagus lagi, daya beli juga naik dari 80% menjadi 85%.

3.3 Solusi Tataluma

Solusi apa yang kita perlukan? Solusi politik cinta yaitu tataluma. Tidak ada yang salah dari parameter ekonomi dan politik seperti ilustrasi di atas. Hanya saja, kita perlu melangkah lebih jauh agar, pasca pandemi, poilitik ekonomi tumbuh lebih adil makmur. Yang miskin tambah kaya, dan yang kaya boleh makin kaya. Yang lemah makin berdaya, dan yang kuat boleh lebih berdaya.

Luma, karakter politik yang terus meledak, memang akan mendorong umat manusia bergerak maju. Di saat yang sama, tata perlu menjadi lebih kuat menata sistem politik agar merata seluruh daya.

Langkah pertama paling penting adalah menguatkan posisi politik rakyat kecil. Mereka perlu sadar bahwa mereka adalah umat manusia yang berharga. Setiap jiwa rakyat miskin sama berharganya dengan jiwa orang kaya. Pendidikan bagi rakyat kecil menjadi utama. Mereka, rakyat kecil, mampu berkontribusi tinggi bagi umat manusia sebagai mana rakyat kaya juga bisa berkontribusi nyata. Rakyat kecil memiliki daya tawar yang kuat sebagai mana rakyat kaya. Rakyat kecil adalah orang merdeka, begitu juga orang kaya. Di bagian selanjutnya, kita akan membahas beragam solusi yang terbuka. Solusi kita akan bergerak di sekitar ide politik tataluma.

4. Sistem Kekuasaan

Banyak sistem kekuasaan, baik secara teori mau pun realitas yang beragam. Kita akan mendiskusikan tiga sistem kekuasaan yang paling penting. Sistem kekuasaan ini, bisa saja saling terkait.

4.1 Kerajaan

Sistem kekuasaan kerajaan, barangkali, paling sederhana. Di mana, seorang raja berkuasa dan orang lainnya adalah rakyat atau pegawai kerajaan. Orang, pada umumnya, menganggap sistem kerajaan adalah alamiah. Raja, yang paling berkuasa, mendapat hak sebagai raja karena warisan dari leluhur. Dan, warisan kekuasaan turun-temurun sudah berlangsung ratusan tahun. Hal yang sama berlaku kepada rakyat. Seorang anak mewarisi rumah dari orang tuanya.

Kekuasaan raja bisa jatuh akibat diserang oleh raja lain yang lebih kuat atau dikudeta oleh pihak-pihak tertentu dalam kerajaan itu sendiri. Perpindahan kekuasaan semacam itu kadang diwarnai pertumpahan darah yang mengerikan. Meski demikian, banyak orang memandang kudeta atau perang sebagai hal yang wajar.

Dalam banyak hal, raja perlu menguatkan klaim kekuasaannya. Meski tahta warisan atau kudeta, sudah sah, menjadikan raja sebagai pemegang kekuasaan penuh, tetapi raja perlu respek rakyat yang lebih dari itu. Raja bisa meng-klaim diri sebagai keturunan dewa atau sudah dipilih oleh tuhan untuk menjadi raja.

Dengan klaim transenden seperti itu, menjadikan raja sebagai pribadi istimewa. Kemudian, para cendekiawan bisa mencipta legenda tentang raja. Sehingga, rakyat makin hormat kepada raja sebagai manusia luar biasa.

Bagaimana pun, saat ini, berkembang sistem kerajaan modern yang bisa sejalan dengan demokrasi dan konstitusi. Sistem kerajaan mengalami evolusi menjadi lebih canggih.

Dari analisis politik tataluma, raja yang berkuasa penuh memiliki resiko besar terlalu berkuasa. Sehingga, ada peluang penyelewengan kekuasaan. Kerajaan perlu menguatkan sistem tata, sedemikian hingga, kekuasan penuh oleh raja itu bisa diarahkan untuk kebaikan rakyat semesta. Di sisi lain, raja dengan otoritas penuh bisa memobilasi seluruh kekuatan negara untuk membangun negeri. Ketika raja adalah orang yang bijaksana, maka, sistem kerajaan barangkali menjadi sistem paling efisien. Jika raja adalah seorang manusia yang berjiwa cinta, maka, seluruh kerajaan bertabur cahaya cinta bagi umat semesta.

4.2 Demokrasi

Saat ini, hampir seluruh umat manusia lebih percaya kepada demokrasi dibanding sistem lainnya. Demokrasi menempatkan kekuasaan tertinggi di tangan rakyat. Biasanya, melalui pemilihan umum, referendum, konsultasi publik, dan, tentu saja, penyusunan konstitusi.

Ide dasar demokrasi sederhana saja. Setiap orang adalah manusia bebas dan mampu menentukan jalan terbaik bagi dirinya dan sekitarnya. Karena itu, demokrasi memberi kesempatan kepada setiap orang berpartisipasi dalam kekuasaan politik. Kabar baiknya, di berbagai belahan dunia, demokrasi berhasil menjadi sistem kekuasaan yang terbaik. Di belahan dunia lain, sistem demokrasi bisa saja berlumuran korupsi.

Seiring kemajuan pendidikan umat manusia di seluruh dunia, ide demokrasi memang pantas menjadi pilihan utama. Karena setiap orang makin terdidik maka mereka mampu menentukan sikap terbaik. Salah satunya, rakyat mampu memilih pemimpin negara terbaik melalui pemilihan umum. Dengan proses pemilu, jabatan penguasa, misal presiden atau perdana menteri, terbatas pada periode tertentu. Untuk kemudian, akan dilakukan pemilihan kembali oleh rakyat. Dan, setiap rakyat berhak mencalonkan diri sebagai presiden atau jabatan penting lainnya.

Keunggulan demokrasi adalah mulusnya suksesi kekuasaan. Presiden mundur dari jabatannya secara otomatis karena masa jabatannya sudah habis. Tidak perlu upaya khusus untuk melengserkan presiden. Waktu, yang berjalan, akan melengserkan setiap presiden. Bandingkan dengan raja, misalnya. Bagaimana jika raja tidak mati sampai tua? Apa yang bisa melengserkan jabatan raja? Haruskah terjadi pembunuhan atau kudeta? Bukankah itu resiko yang ngeri?

Di sisi demokrasi, suksesi adalah wajar. Tidak perlu pertumpahan darah atau kudeta untuk suksesi. Banyak nyawa selamat dari resiko tragedi. Dalam kondisi khusus, demokrasi menyediakan kesempatan referendum atau impeachment untuk melengserkan pejabat, lebih awal dari periode yang seharusnya, karena terlibat korupsi atau kejahatan tertentu. Bila kita melihat keunggulan demokrasi dari sisi ini saja, mencegah pertumpahan darah dalam suksesi, maka wajar bagi kita untuk mengunggulkan demokrasi dari sistem lainnya.

Mari kita ringkas keunggulan utama demokrasi dari perspektif politik tataluma. Pertama, demokrasi mencegah pertumpahan darah dalam suksesi kekuasaan. Karakter ini sesuai dengan karakter tata dalam politik tataluma.

Kedua, demokrasi menghormati setiap individu sebagai subyek yang bebas. Hal ini juga selaras dengan politik tataluma yang menempatkan setiap manusia pada posisi terhormat.

Ketiga, demokrasi menyepakati konstitusi untuk pegangan bersama dalam kehidupan politik. Karakter ini juga selaras dengan penguatan karakter tata dalam politik tataluma.

Dengan demikian, apakah demokrasi pasti menjadi pilihan yang terbaik?

Hampir pasti. Tetapi tidak bisa 100%. Karena, pada kondisi tertentu, demokrasi bisa menjebak diri sendiri dalam korupsi. Maka, selamanya, kita perlu mempertimbangkan alternatif-alternatif politik yang lebih baik. Di era digital seperti sekarang, demokrasi bisa saja terjebak dalam penjara keserakahan segelintir orang.

Mari kita ringkas sistem kekuasaan ini dengan teori yang sudah lama dikenal; misal, Plato sudah menjelaskan sistem kekuasaan secara geometris.

[a] Kekuasaan oleh satu orang saja; biasa disebut kerajaan dengan kekuasaan mutlak pada raja. Situasi terbaik adalah [1] monarki bila dipimpin oleh raja bijak atau philosopher-king. Situasi terburuk adalah [2] tirani bila dipimpin oleh raja kejam yang lalim.

[b] Kekuasaan oleh beberapa orang; dipimpin oleh pejabat-pejabat tertentu dengan aturan tertentu. Situasi terbaik adalah [1] aristokrasi yaitu pejabat-pejabat yang memimpin kekuasaan adalah orang-orang yang adil, amanah, dan cerdas. Situasi terburuk adalah [2] oligarki yaitu terjadi korupsi, kolusi, dan nepotisme di antara para pejabat yang berkuasa. Rakyat banyak menjadi korbannya.

[c] Kekuasaan oleh semua orang; kekuasaan dari rakyat oleh rakyat untuk rakyat. Situasi terbaik adalah [1] demokrasi di mana kekuasaan oleh rakyat ini mengantarkan negara adil makmur. Situasi terburuk adalah [2] oklokrasi di mana rakyat saling bermusuhan berebut kekuasaan tanpa henti dengan resiko saling membunuh.

Pandangan sekilas, berdasar hasil beberapa riset, sistem demokrasi di era sekarang ini tidak ada yang sempurna. Demokrasi bisa terjebak dalam oligarki atau oklokrasi. Perkembangan teknologi digital berpotensi untuk bisa memperbaiki situasi.

4.3 Digitalisasi

Satu abad yang lalu, tidak ada orang yang berpikir bahwa kekuatan digital akan menguasai dunia. Lebih dari itu, kekuatan digital, atau digitalisasi, berhasil menguasai dunia sampai menembus ke pikiran terdalam umat manusia. Media digital mengendalikan pikiran dan hasrat manusia. Pada gilirannya, kekuatan digital mengendalikan sistem politik dunia.

Kita akan menggunakan term big power, bio power, dan bit power – untuk menjelaskan kekuatan politik dari digitalisasi.

Big power adalah kekuatan besar yang mendominasi banyak pihak. Kekuatan politik mengerahkan militer untuk menyerang pihak lain kemudian menindas pihak lemah dengan satu dan lain cara. Dalam makna positif, big power adalah kekuatan yang membantu manusia untuk mengelola alam raya. Pisau membantu manusia untuk memotong pohon misalnya.

Bio power adalah kekuatan yang lebih kuat dari big power dengan cara mengendalikan big power, bukan melawan big power. Big power menindas manusia dari luar, misal melalui mesin atau senjata. Sementara, bio power menguasai manusia dari dalam dirinya. Orang-orang berlomba mengejar uang. Kemudian, berlomba-lomba menghabiskan uang. Tidak ada pihak luar yang menyuruh orang untuk mengejar uang dan berfoya-foya. Mereka berhasrat dari dalam dirinya. Pada gilirannya, mereka, orang-orang itu, adalah onderdil kecil dari sistem politik ekonomi kapitalisme yang lebih besar.

Bit power melangkah lebih jauh dengan mengendalikan big power dan bio power. Bayangkan kekuatan internet dengan mesin digital yang sangat besar. Orang mengira punya freedom untuk memilih calon presiden nomor 1. Nyatanya, dia memilih nomor 1 karena dikendalikan oleh media sosial yang super cerdas. Orang, mengira, berhasrat membeli mobil mewah sebagai ekspresi jiwanya. Nyatanya, hasrat itu muncul karena kekuatan bit power internet. Semua kehidupan manusia, politik mau pun ekonomi, dalam genggaman bit power.

Hentakan besar terjadi di awal abad 21 ini. Teknologi blockchain yang canggih bermanifestasi dalam bentuk crypto currency misal bitcoin. Awal kehadirannya, bitcoin seperti produk digital lainnya. Bahkan banyak orang pesimis terhadap bitcoin. Tetapi di tahun 2020an ini, bitcoin melonjak menjadi aset yang sangat berharga. Kekayaan Anda bisa saja berlipat 1000 kali dibanding 8 tahun lalu bila dalam bentuk bitcoin. Selanjutnya, berkembang pesaing bitcoin. Saat ini, ada sekitar 10 ribu uang kripto di pasaran dengan trend jumlah yang terus bertambah.

Kita perlu lebih waspada mencermati bitcoin dan dobrakan bit power, secara umum, karena beberapa alasan. Pertama, jelas kehidupan manusia makin besar bergantung kepada bit power. Keperluan belanja makanan sehari-hari sampai komunikasi pejabat tinggi, semuanya, melalui bit power. Sehingga, bit power mendominasi bentuk sistem politik ekonomi masa kini.

Kedua, bit power bekerja dari dalam pikiran manusia, lebih lembut dari bio power. Kita tidak sadar bahwa bacaan, tontonan, dan jadwal kita, setiap hari, didiktekan oleh bit power. Kita bisa saja merasa sebagai manusia bebas – freedom. Nyatanya, otak kita sudah dicuci oleh bit power. Lebih kompleks lagi, kekuatan bit power yang mencuci otak itu bukan murni bit power. Di balik bit power, di ujung yang jauh, memang ada orang-orang tertentu yang berhasrat memperoleh keuntungan. Mereka adalah orang yang cerdas dengan dukungan bit power yang besar. Bisakah Anda membayangkan, betapa besar, kekuatan yang dihasilkan oleh kombinasi orang-orang cerdas dengan bit power?

Ketiga, fenomena bitcoin bisa menjadi pelajaran penting. Revolusi teknologi yang canggih ini melompat maju jauh lebih cepat dari perkiraan banyak orang. Jika dulu, diasumsikan hanya orang-orang berpendidikan tinggi yang mampu mengadopsi teknologi canggih, maka, hari ini, siapa pun orangnya mampu mengadopsinya. Siapa pun bisa transaksi dengan bitcoin. Dan, bahkan contoh kasus di Indonesia, banyak orang yang awalnya tidak pernah akses komputer, langsung mahir sebagai driver gojek atau pun pedagang di marketplace dengan memanfaatkan teknologi digital versi terbaru.

Khusus untuk bitcoin, dan blockchain, memiliki karakter freedom, nyaris, tanpa batas. Bitcoin bisa diproduksi tanpa bank sentral, tanpa penjamin, dan tanpa mediator. Sehingga, pemilik bitcoin bebas menggunakan bitcoin sesuai freedom tanpa dibatasi atau diawasi siapa pun. Bebas tanpa batas ini, tentu, bisa membalikkan sistem politik dan ekonomi yang sudah ada.

Analisis kita, sejauh ini, tentang digitalisasi menunjukkan bahwa banyak resiko yang akan dihadapi oleh sistem politik ekonomi. Di bagian bawah, kita akan membahas beberapa solusi untuk antisipasi terhadap resiko digitalisasi, sekaligus, kita akan mencermati beragam prospek yang ada.

5. Transformasi

Sistem politik, secara dinamis, terus bertransformasi. Karena, luma selalu mendorong perubahan bahkan secara radikal. Sementara, tata akan melengkapi perubahan itu menjadi tertata.

5.1 Konservatif

Pendekatan konservatif melakukan perubahan dengan lebih fokus pada keamanan, stabilitas, dan tertata. Konservatif menjalankan perubahan secara bertahap dan berencana. Sehingga, pendekatan konservatif adalah pendekatan yang cocok bagi pihak yang besar atau berkuasa.

5.2 Progresif

Progresif melakukan pendekatan perubahan yang revolusioner. Untuk melakukan transformasi yang efektif, sistem politik perlu berubah secara signifikan dengan kecepatan tinggi. Sehingga, pendekatan progresif cenderung cocok untuk para pembaharu.

5.3 Median

Poros tengah atau median mengambil jalan tengah untuk melakukan perubahan politik. Posisi median bisa sangat mudah, di saat yang sama, bisa sangat susah. Posisi median bisa saja menerima segala yang ada sebagai jalan tengah. Tetapi, menerima segala yang ada, bisa berkonsekuensi kepada konflik yang mengakibatkan kemunduran bagi semua.

5.4 Kudeta

Kudeta adalah pergantian kekuasaan yang melanggar aturan pemerintah yang sedang berlaku saat itu. Umumnya, para pemikir mencegah terjadinya kudeta. Tetapi, pada situasi tertentu, kudeta dipandang sebagai perlu.

Kudeta oleh militer termasuk yang sering terjadi. Pemimpin militer merebut kekuasaan dari seorang raja, atau presiden, dengan kekuatan militer. Resiko pertumpahan darah bisa terjadi. Sebagian anggota militer bisa saja setia kepada raja. Sehingga, terjadi pertempuran antara mereka. Jika raja yang berkuasa berhasil menang, umumnya, tidak akan terjadi perubahan politik signifikan. Sementara, jika pimpinan militer, pelaku kudeta, yang menang maka akan terjadi perubahan sistem politik besar-besaran. Myanmar mengalami kudeta militer beberapa tahun lalu.

Kudeta oleh sipil bisa saja terjadi. Revolusi Iran tahun 1979 merupakan revolusi sipil yang berhasil menggulingkan penguasa lama; meski, sedikit banyak, tetap ada peran militer. Di Indonesia, beberapa pengamat menilai pelengseran Gusdur oleh MPR merupakan kudeta sipil. Wajar terjadi pro kontra terhadap penilaian kudeta semacam ini.

5.5 Perang

Filosofi perang penting untuk kita bahas. Hampir semua orang menolak perang; tidak setuju dengan perang. Tetapi, kita melihat perang terjadi di mana-mana; memperebutkan kekuasaan politik dalam satu dan lain cara.

Secara filosofis, kita bisa membedakan perang menjadi tiga jenis: perang adil, perang sengketa, dan perang pertahanan.

[a] Perang adil atau just war adalah perang yang memiliki justifikasi secara adil; perang untuk menuntut keadilan; menegakkan keadilan. Sesuai namanya, perang ini bersifat adil bagi pihak tertentu; tetapi, tidak adil bagi pihak lain. Jadi, perang adil perlu ditolak; perang adil melanggar etika manusiawi.

Sebagai ilustrasi, Belanda menguasai Batavia waktu itu. Lalu, pejuang Indonesia memerangi Belanda dari Batavia; perang menuntut keadilan versi pejuang Indonesia; tetapi, versi Belanda, pemerintah Belanda merasa sudah secara sah menduduki Batavia. Perang adil semacam ini seharusnya tidak terjadi. Lalu, apa solusinya bagi pejuang Indonesia untuk menuntut keadilan? Menuntut kemerdekaan? Diplomasi dan cara-cara damai lainnya merupakan alternatif solusi yang lebih baik.

Pasca kemerdekaan, situasi berbalik. Indonesia sudah secara sah menduduki Batavia; yang bernama Jakarta. Lalu, Belanda datang menyerang untuk merebut Jakarta; karena beberapa tahun lalu, Jakarta adalah milik Belanda; jadi, Belanda menuntut keadilan. Perang semacam ini seharusnya tidak terjadi. Apa alternatif bagi Belanda untuk menunut keadilan? Diplomasi.

[b] Perang sengketa merupakan jenis perang yang harus dihindari; untuk menyelesaikan suatu sengketa dilakukan perang sebagai penentu. Mudah kita pahami bahwa solusi perang adalah solusi yang buruk. Seharusnya, kita mencari solusi alternatif yang lebih manusiawi dan lebih baik. Bagaimana pun, situasi kadang memang memancing untuk terjadi perang.

Misal wilayah perbatasan B antara Indonesia dan Malaysia. Masing-masing meng-klaim wilayah B adalah wilayah negaranya. Cara-cara diplomasi tidak memberi hasil. Maka, perang di perbatasan B adalah penentu sengketa tersebut; pemenang perang adalah yang berhak meng-klaim wilayah perbatasan B. Jelas, perang sengketa seperti ini tidak valid.

Variasi dari perang sengketa adalah perang penaklukan; sama juga, perang penaklukan perlu ditolak. Ekspedisi E datang dari Eropa mendarat ke tanah Amerika. Ekspedisi E menaklukkan penduduk asli Amerika atau mengusir penduduk asli. Kemudian, ekspedisi E menduduki atau menjajah tanah Amerika. Perang penaklukan semacam ini adalah tidak sah.

Apa alternatif solusi bagi sengketa atau penaklukan? Sengketa bisa diselesaikan dengan diplomasi, diskusi, dan usaha saling mengerti. Sementara, penaklukan memang seharusnya tidak terjadi. Sesama umat manusia perlu saling kerja sama dengan menjunjung tinggi nilai kehormatan semua pihak.

[c] Perang pertahanan atau perang mempertahankan diri adalah perang yang sah; hanya perang untuk mempertahankan diri adalah perang yang sah atau valid; satu-satunya. Penduduk asli diserang oleh pasukan ekspedisi E. Kemudian, penduduk asli berperang dengan mengangkat senjata untuk mempertahankan diri terhadap serangan E. Perang pertahanan oleh penduduk asli adalah valid; perang penaklukan oleh pasukan E adalah salah.

Jika satu-satunya perang yang sah adalah perang mempertahankan diri maka, justru, tidak akan terjadi perang. Ketika terjadi ketidak-adilan, atau penindasan, pihak tertindas hanya mempertahankan diri tanpa menyerang; kemudian, beragam diplomasi dikembangkan; pihak penindas juga tidak memperluas serangan penindasan.

Ketika terjadi sengketa, masing-masing pihak hanya mempertahankan diri tanpa menyerang pihak lain; sehingga tidak ada perang; diplomasi yang terjadi. Perdamaian dunia menjadi perdamaian manusiawi.

Tetapi, mengapa masih banyak terjadi perang di berbagai belahan dunia?

Ambil contoh konflik Palestina Israel yang belum usai sampai saat ini. Sulitnya adalah Israel berargumen Israel hanya melakukan perang mempertahankan diri dari serangan Hamas. Tetapi, berita di seluruh dunia begitu nyata, Israel menyerang wilayah Gaza bahkan meruntuhkan bangunan sipil dan menewaskan lebih dari 20 ribu warga sipil. Jadi, sulit diterima argumen Israel sebagai perang mempertahankan diri. Bagaimana pun, semua orang percaya bahwa Israel punya hak mempertahankan diri; demikian juga, kita yakin, Palestina juga punya hak untuk mempertahankan diri. Kita perlu mencoba memahami ideologi di balik perang itu sendiri atau ideologi politik secara luas. Sebelumnya, kita sudah membahas, manusia adalah subyek yang bebas. Sedangkan, politik adalah tataluma tanpa henti.

[d] Perang-pencegahan beda dengan pencegahan perang. Kita mencegah agar tidak terjadi perang adalah pencegahan yang baik. Tetapi perang atas nama pencegahan, yaitu perang-pencegahan, adalah buruk. Jadi perang-pencegahan adalah tidak sah.

Argumen Israel dan, kemudian, Amerika adalah perang-pencegahan yang tidak sah; harus ditolak. Amerika berdalih bahwa Irak akan mengembangkan senjata pemusnah massal. Irak harus dicegah dari itu. Karenanya, Amerika bersama sekutu menyerang Irak dengan dalih perang-pencegahan.

Kemudian di tahun 2025 dan 2026, Amerika dan Israel berdalih perang-pencegahan untuk menyerang Iran. Tentu Amerika tidak sah; juga Israel tidak sah. Amerika menuduh Iran mengembangkan senjata nuklir (bom atom) dan misil balistik; untuk mencegah Iran agar tidak mampu mengembangkan senjata nuklir dan balistik maka Amerika menyerang Iran atas nama perang-pencegahan; sekali lagi, perang-pencegahan adalah tidak sah.

Pacifism: Anti Perang

Pacifism adalah keyakinan yang menolak perang; pacifisme adalah anti perang. Meski demikian, pacifism adalah beragam dari pacifism mutlak sampai pacifism bersyarat atau relatif. Pacifism mutlak adalah menolak perang secara total; apa pun situasinya, apa pun alasannya, perang harus ditolak. Sementara, pacifism bersyarat adalah menolak perang secara umum tetapi mengijinkan perang dalam situasi tertentu; mengijinkan perang, misal, sekadar untuk pertahanan.

Pacifism mengembangkan dua argumen utama untuk mendukung perdamaian: deontologi dan manfaat. Deontologi menyatakan bahwa [a] menjaga damai adalah kewajiban setiap orang dan setiap komunitas. Asas manfaat menyatakan bahwa [b] damai lebih bermanfaat dari perang.

Ketika agresor melanggar kewajiban karena mereka menyulut perang maka agresor kehilangan hak damai. Pengadilan berhak menetapkan agar agresor tersebut dihentikan demi menjaga perdamaian. Penghentian tindakan agresor bisa melalui diplomasi atau pun kekuatan militer. Dalam beberapa kasus, tidak ada pengadilan yang bisa menetapkan penghentian agresor. Sehingga, pihak korban perlu bertindak menghentikan agresor dengan beragam cara.

Pendukung perang menyatakan bahwa perang diperlukan untuk kemajuan: kemajuan militer, kemajuan ekonomi, kemajuan teknologi, bahkan kemajuan budaya. Pacifism menolak klaim itu. Pacifism meyakini bahwa kemajuan bisa dicapai melalui jalan damai; mencegah perang. Kompetisi yang sehat di bidang olah raga, ekonomi, teknologi, budaya, dan lain-lain bisa dikembangkan dengan cara damai; kemajuan bisa dicapai dengan jalan damai. Dan, yang pasti, damai memberi manfaat lebih besar dari perang.

Russell dan Einstein dikenal sebagai pacifism; mereka menolak perang. Tetapi, ketika Nazi menyerang Inggris, mereka menyetujui perang terhadap Nazi. Jadi mereka adalah pacifis bersyarat. Sementara, Mahatma Gandi dikenal sebagai pacifis sejati: perjuangan tanpa kekerasan.

Islam adalah agama damai; secara harfiah, islam bermakna damai; jadi Islam adalah pacifism yang cinta damai. Tetapi, banyak orang sulit memahami Islam sebagai agama damai karena Islam mengijinkan perang dalam situasi tertentu. Pada periode Nabi Muhammad di Mekah jelas tidak ada perang; meski umat Islam diserang, diintimidasi, dan ditindas tetap tidak ada perang. Islam adalah agama damai. Bahkan, sekitar 10 tahun kemudian, umat Islam justru mengalah demi damai. Umat Islam hijrah, migrasi, pergi dari Mekah menuju Madinah.

Situasi di Madinah lebih kompleks. Islam-Madinah diintimidasi dan diserang oleh kafir-Mekah; padahal Mekah terpisah jarak sekitar 500 km dari Madinah. Sejarah mencatat terjadi perang antara kafir-Mekah melawan Islam-Madinah. Bisakah Islam disebut lagi sebagai agama damai? Bisa. Islam adalah agama damai-bersyarat sebagaimana pacifism-bersyarat. Islam-Madinah berperang hanya untuk mempertahankan diri ketika kafir-Mekah menyerang mereka. Tentu saja, situasi perang adalah kompleks saling serang dan adu taktik strategi.

Kita bisa menganalisis hasil perang itu ketika berakhir; setelah terjadi saling serang sekitar 8 tahun. Islam-Madinah berhasil menang dengan menaklukkan kafir-Mekah bahkan nyaris tanpa perang di tahun 8 H. Orang mengira bahwa Islam-Madinah akan balas dendam terhadap kafir-Mekah ketika Islam pada posisi kuat seperti itu. Tidak seperti perkiraan itu. Yang terjadi adalah Islam-Madinah memaafkan kafir-Mekah dan mereka hidup damai berdampingan. Umat Islam tetap hidup di pusat kota Madinah. Sementara, kota Mekah tetap dipimpin oleh orang Mekah itu sendiri. Jadi Islam adalah agama damai. Damai-mutlak ketika awal berkembang di Mekah; damai-bersyarat ketika tumbuh di Madinah; dan benar-benar damai ketika Madinah dan Mekah hidup berdampingan.

Bagaimana era setelah Nabi wafat? Terjadi perang di beberapa tempat. Bahkan terjadi Perang Salib; perang antara tentara Islam melawan tentara Kristen. Di tempat lain, kita menyaksikan perang yang melibatkan agama Yahudi, Hindu, Budha, atau agama lain. Bahkan, perang kadang terjadi di antara pemeluk agama yang sama tetapi berbeda aliran. Sungguh rumit. Secara prinsip, setiap agama mengajarkan hidup damai. Tetapi perjalanan sejarah menunjukkan banyak perang atas nama agama.

Apakah ada cara untuk memastikan dunia damai? Agar tidak ada perang di dunia ini? Politik adalah cinta; perang adalah tataluma; manusia adalah dinamika. Tidak ada cara pasti untuk memastikan perdamaian. Perdamaian mirip dengan seni; selaras dan serasi meski tidak pasti.

Ideologi merupakan satu cara untuk memastikan sesuatu yang sejatinya tidak pasti.

6. Ideologi

Ideologi adalah kerangka berpikir atau sudut pandang yang diyakini sebagai benar. Dengan ideologi, kita menafsirkan segala sesuatu. Fakta obyektif, bisa saja, tidak bermakna. Ideologi yang akan memberi makna kepada fakta.

6.1 Teokrasi

Teokrasi adalah ideologi atau pandangan yang meyakini kekuasaan politik tertinggi adalah di tangan tuhan. Karena itu, pemegang kekuasaan tertinggi adalah dia yang dipilih oleh tuhan, bisa seorang raja, presiden, imam, ketua, atau lainnya.

Teokrasi melengkapi konstitusi yang juga bersumber kepada tuhan. Baik firman tuhan secara langsung atau fatwa dari pemimpin yang sudah ditunjuk oleh tuhan.

Dengan pandangan bahwa segala kekuasaan politik bersumber dari tuhan, maka, politik teokrasi cenderung memiliki kekuatan yang besar untuk menerapkan power kepada masyarakat. Rakyat perlu mematuhi, atau setidaknya menyesuaikan, terhadap keputusan penguasa atau konstitusi.

6.2 Sosial

Ideologi sosial memandang bahwa seluruh manusia adalah sama, atau setara. Sehingga, idealnya, setiap orang memiliki posisi politik ekonomi yang sama. Ideologi sosial sangat menarik bagi pihak-pihak yang tinggi kesadaran sosialnya. Karena saat ini, terjadi banyak kesenjangan sosial di dunia, maka, ideologi sosial cenderung dekat dengan karakter progresif.

6.3 Liberal

Pandangan liberal memberi kebebasan yang tinggi kepada masing-masing individu. Liberal percaya bahwa manusia adalah kebebasan itu sendiri. Di saat yang sama, manusia memiliki kemampuan untuk memanfaatkan kebebasannya demi kebaikan dirinya. Dengan demikian, manusia bebas memilih apa pun dengan syarat tidak melanggar kebebebasan pihak lain. Atau, setiap manusia punya hak, bebas, melakukan apa pun dengan kewajiban tidak melanggar hak pihak lain.

7. Keadilan

Mana lebih utama, apakah, adil atau bebas? Kebebasan atau keadilan? Justice atau freedom?

Secara individu, bebas adalah yang paling utama. Setiap individu adalah bebas. Kita berhak menuntut kebebasan dan bebas menerapkan kebebasan. Karena bebas, maka, setiap individu bertanggung jawab atas segala konsekuensi. Menerapkan kebebasan perlu dengan cara menegakkan keadilan.

Secara lembaga, adil adalah yang paling utama. Negara, konstitusi, dan lembaga sosial perlu mengutamakan keadilan. Setiap institusi perlu menegakkan keadilan, sedemikian hingga, setiap anggota institusi berhasil menerapkan kebebasan personal. Singkatnya, kebebasan dan keadilan sama-sama penting secara politis.

7.1 Kebebasan

Politik adalah kebebasan dan kebebasan adalah politik. Subyek kulo adalah subyek yang selalu bebas. Kulo tidak bisa diikat. Setiap yang terikat adalah bukan kulo. Atau, setidaknya bukan kulo sejati. Pantas bagi kita menetapkan bahwa kebebasan adalah parameter utama dari politik yang adil.

Beberapa parameter bisa kita kembangkan: kebebasan berpartisipasi dalam politik, kebebasan berpartisipasi melalui jalur politik “tidak-normal”, kebebasan berpendapat, kebebasan ekonomi, kebebasan agama, dan lain-lain.

7.2 Kesenjangan

Kesenjangan politik ada di mana-mana. Perbedaan ideologi ada di mana-mana. Perbedaan, memang, realitas alam raya ini. Kita perlu menghormati beragam perbedaan. Sementara, kesenjangan merupakan perbedaan yang terlalu tajam, sehingga, perlu ditolak. Lebih-lebih kesenjangan politik, perlu ditangani dengan serius.

Kita bisa mengembangkan parameter untuk mengukur tingkat kesenjangan politik, kemudian, mengurangi kadar kesenjangan tersebut. Parameter kesenjangan ekonomi, yang kita kembangkan di bagian sebelumnya, bisa kita adaptasi untuk mengukur kesenjangan politik: rasio Gini, rasio Palma, dan rasio Paman.

7.3 Kemajuan

Belajar dari sejarah, kita menemukan bahwa pihak-pihak lemah adalah yang paling sulit untuk bergerak maju secara politik. Secara khusus, kita perlu mengembangkan strategi agar kelompok lemah mampu bergerak maju secara politik. Pada gilirannya, gerak maju kelompok lemah ini akan mendorong kelompok menengah dan kelompok atas untuk lebih maju. Secara keseluruhan, masyarakat bergerak maju.

Aspek paling mendasar adalah membangunkan kesadaran masyarakat. Siapa pun mereka, lebih-lebih kelompok lemah, memiliki hak untuk menjadi orang maju, sukses, dan berkuasa. Mereka perlu memanfaatkan beragam hak yang mereka miliki untuk membela diri dan bahkan melejitkan diri. Beberapa hak paling penting adalah hak untuk berpendapat, hak memperoleh fasilitas kesehatan, hak memperoleh pendidikan berkualitas, dan hak berpartisipasi dalam sistem politik ekonomi. Tentu saja, masyarakat perlu sadar akan kewajiban mereka – demikian juga para pejabat.

Beberapa parameter bisa kita kembangkan. Berapa banyak dari kelompok lemah, absolut dan relatif, yang berhasil menjadi pejabat publik – bupati, gubernur, presiden? Berapa banyak yang menjadi pejabat partai politik? Berapa banyak yang menjadi anggota dewan? Berapa banyak yang menjadi pegawai sipil atau militer? Berapa banyak yang jadi pengusaha menengah dan besar?

8. Diskusi

Di bagian ini, kita akan meringkas seluruh pembahasan kita, kemudian, melakukan diskusi lebih jauh serta merumuskan beberapa prospek dan solusi politik tataluma.

8.1 Politik Tataluma Selalu Meledak

Secara ontologis, politik adalah perpaduan dan perpisahan antara tata dan luma, maka, akan selalu ada ledakan politik sewaktu-waktu sampai kapan pun.

Politik CintaLuma = Selalu MemberiTata = Selalu Menata

Masalah utama politik adalah terlalu kuatnya karakter luma dan lemahnya karakter tata, sehingga terjadi ketidakadilan di mana-mana. Tugas utama politik adalah menyatukan kembali luma dan tata sehingga menjadi politik cinta dengan sarana politik itu sendiri.

8.2 Alternatif Jalur Politik

Berdasar sistem kekuasaan, transformasi, dan ideologi, kita bisa menyusun beragam alternatif solusi politik tataluma.

1. Kerajaan1. Konservatif1. Teokrasi
2. Demokrasi2. Progresif2. Sosial
3. Digitalisasi3. Median3. Liberal

Total, kita memiliki 27 alternatif jalur dari 3 x 3 x 3 = 27. Dengan mempertimbangkan keragaman gradasi di antara mereka, maka, tersedia lebih banyak lagi alternatif jalur politik. Tentu saja, kita bisa menambah kategori lebih dari tiga.

Jalur 111 = kerajaan – konservatif – teokrasi adalah jalur politik paling efisien dan stabil. Sedangkan, jalur 323 = digitalisasi – progresif – liberal adalah alternatif paling dinamis bahkan chaos. Jalur yang lain, tampaknya, berada di antara mereka. Antara stabil dan chaos.

Studi Kasus

Berikut, kita akan mengambil studi kasus beberapa negara secara umum. Kita mulai dengan gambaran umum, lanjut beberapa problem, dan kita akhiri dengan ide alternatif solusi.

8.2.1 Indonesia 233

Indonesia adalah negara demokrasi relijius berdasar Pancasila. Saya membaca situasi politik Indonesia saat ini sebagai 233 = demokrasi-median-liberal. Indonesia melaksanakan pemilu langsung demokratis periodik 5 tahunan, kecuali ada pandemi. Indonesia mengambil jalan tengah, median, di antara transformasi progresif dan konservatif. Tentu saja, tarik ulur beragam kepentingan untuk mengarahkan jalannya reformasi. Secara ideologi, berdasar Pancasila, Indonesia terbuka dengan ragam ideologi. Gotong royong, koperasi, dan kekeluargaan ada di berbagai belahan Indonesia yang menunjukkan dekat dengan sosial. Di saat yang sama, lembaga keagamaan – misal lembaga syariah – tumbuh subur yang menunjukkan Indonesia dekat dengan teokrasi. Dan, perusahaan swasta bebas tumbuh subur secara privat mau pun publik. Secara total, lebih dekat ke liberal.

Problem serius yang dihadapi dunia politik Indonesia, di antaranya, pertama, demokrasi cacat. Hasil kajian lembaga internasional menunjukkan demokrasi cacat. Meski tersedia konstitusi demokratis, proses demokratis, dan lembaga demokratis, tetapi karena cacat, maka ada lubang di sana-sini.

Kedua, kebebasan kalah bersaing. Indonesia adalah negara bebas tetapi sering kalah oleh yang lain. Kebebasan berpendapat dijamin oleh konstitusi. Ketika bertabrakan dengan pencemaran nama baik atau penodaan agama, maka, kebebasan sering kalah.

Ketiga, mobilitas politik relatif rendah. Di era orde baru, KKN memastikan hanya kroni saja yang bisa menjabat jabatan politik penting. Di era reformasi, sudah ada kemajuan. Bahkan, Jokowi dari orang biasa berhasil menjadi walikota, gubernur, dan presiden dua periode. Sebuah tanda mobilitas yang baik. Kemudian, anak dan menantu menjadi pejabat politik – bukan tanda memperbaiki mobilitas politik orang biasa.

Apa solusi yang kita usulkan? Untuk memperbaiki demokrasi yang cacat perlu komitmen serius secara demokrasi memperbaiki demokrasi. Mana mungkin? Memang buntu. Memang sikular. Memang macet. Tetapi, bukankah itu satu-satunya jalan?

Tentu saja ada alternatif: memperbaiki demokrasi dengan cara non-demokrasi. Meski ada peluang, tampaknya, lebih sulit lagi, bagaimana bisa dari non-demokrasi berubah menjadi demokrasi.

Solusi demokratis pertama adalah menguatkan posisi rakyat sebagai agen demokrasi yang aktif. Rakyat Indonesia, yang hampir 300 juta jiwa itu, perlu memiliki edukasi, kesehatan, dan daya ekonomi yang memadai. Kemudian, sebagian “besar” dari mereka aktif secara politis. Maka, tersedia kader-kader politik yang berkualitas tinggi. Di saat yang sama, rakyat yang cerdas adalah kontrol bagi penguasa untuk menjalankan amanah demokrasi. Tentu saja, ini bukan tugas yang mudah.

Solusi kedua, untuk mengatasi “kebebasan” yang sering kalah bertarung adalah dengan menetapkan prioritas konstitusi. Saat ini, prioritas mereka tampak berimbang atau sama penting: kebebasan, pencemaran, dan penodaan. Konstitusi perlu menegaskan bahwa “kebebasan” adalah yang paling utama. Ketika terjadi benturan, maka, “kebebasan” yang dimenangkan. Sementara, pencemaran dan penodaan menyesuaikan – bila masih dianggap perlu.

Ketika saya menulis ini, saya membaca bahwa presiden sedang membahas kebebasan berbicara. Dari detik,

“Apa benar kita kurang bebas berbicara?” cuit Jokowi.

Dalam wawancara itu, Jokowi ditanya soal anggapan yang menyebut kebebasan berbicara masih kurang. Jokowi menepis anggapan itu sambil mencontohkan adanya orang yang menghina presiden.

Dan, di bagian akhir,

“Ya tapi kalau sudah masuk ke menghina orang kemudian orangnya itu marah dan melaporkan ke polisi ya itu sudah wilayah yang lain, itu wilayah hukum yang bekerja,” sambung Jokowi.

Dalam wawancara itu, Jokowi ditanya soal anggapan yang menyebut kebebasan berbicara masih kurang. Jokowi menepis anggapan itu sambil mencontohkan adanya orang yang menghina presiden.

Jika benar bahwa Indonesia sudah bebas maka tidak perlu memperjuangkan kebebasan lagi. Prespektif orang bisa berbeda-beda.

Solusi ketiga, untuk meningkatkan mobilitas politik rakyat, kita dengan mudah menggunakan pengukuran statistik. Persentase, dan data absolut, tentang jabatan politik perlu terus dikaji. Berapa banyak rakyat jelata yang akhirnya jadi pejabat publik? Berapa persen dari total rakyat jelata? Tentu persentasenya kecil. Berapa persen orang kaya yang jadi pejabat? Tentu persentasenya jauh lebih besar orang kaya dari rakyat jelata. Berbagai macam ukuran mobilitas politik ini, kemudian, menjadi panduan memperbaiki demokrasi masa depan.

Tampaknya, Indonesia perlu bersiap bergerak dari 233 menjadi 333 = digitalisasi-median-liberal. Kemajuan tekonologi digital perlu dipastikan menjamin kemajuan demokrasi dan rakyat banyak. Teknologi digital bagai pedang bermata dua bagi demokrasi: bisa menguatkan atau menghancurkan.

8.2.2 Amerika 333

Amerika berada pada 333 = digitalisasi-median-liberal. Untuk liberal, barangkali sudah cukup jelas bagi US. Meski pun, akhir-akhir ini mulai terasa ada ancaman kebebasan. Demokrasi sudah relatif maju meski ada jebakan sistem dua partai dan korporatokrasi. Teknologi digital dan kemajuan ekonomi sudah berkembang maju.

US menghadapi beragam problem politik dan demokrasi: korporatokrasi, dominasi digital, dan diskriminasi. Seperti Chomsky amati: siapa pun pemenang pemilu presiden US, maka, pemenang sejati adalah korporasi raksasa. Baik pemenangnya Demokrat atau Republik, tetap saja, mereka didukung korporasi. Dana kampanye dan lain-lain mendapat dukungan dari korporasi – langsung atau tidak. Sehingga, setelah presiden terpilih, dia akan menetapkan kebijakan yang menguntungkan korporasi – langsung atau tidak. Dengan resiko, mengorbankan kepentingan orang banyak.

Kedua, dominasi digital. Kemajuan media digital yang begitu besar di US dan dunia mengerucut hanya dikuasai oleh segelintir orang kaya. Media digital berbeda dengan teknologi yang lainnya. Media digital memiliki kekuatan untuk mengendalikan opini publik sehingga mampu menentukan pilihan politik masyarakat luas. Dengan media digital, politik tidak lagi bebas, tapi dikendalikan oleh pihak-pihak tertentu. Kasus Cambridge Analytic, misalnya, adalah contoh nyata bagaimana media digital mengendalikan pilihan warga.

Problem ketiga adalah kesenjangan sampai diskriminasi. Perempuan dan kulit hitam adalah beberapa minoritas yang sering menjadi korban perilaku rasis. Kesenjangan politik dan ekonomi tercermin dari beragam data statistik yang menunjukkan bahwa US tidak sedang baik-baik saja.

Solusi politik untuk problem di US tampaknya sulit ditemukan. Karena, US mengalami problem di mana hanya sedikit negara, atau bahkan tidak ada, yang pernah menghadapinya. Problem korporatokrasi di US tampak jauh lebih besar dari negara-negara lain. Bahkan korporatokrasi berimbas sampai ke manca negara. Solusi terhadap korporatokrasi adalah membatasi power dari korporasi. Ketika pembatasan diterapkan, korporasi selalu punya cara untuk mengatasinya. Atau, politikus justru yang mampu menanganinya. Di sisi lain, pembatasan itu sendiri bertentangan dengan prinsip freedom. Saya mengusulkan solusi berupa solusi sistem dan personal.

Kabar menarik, di US saat ini, sedang berkembang filosofi Stoic. Perkembangan Stoic bagus untuk solusi personal. Lebih dari itu, US perlu lebih kuat mengembangkan filosofi Epicurean yang mengandalkan pembatasan diri untuk meraih bahagia sejati. Bisa juga, US mengembangkan filosofi sufi sebagai solusi.

Solusi untuk masalah kedua, dominasi digital, sama peliknya. Teknologi digital berkembang dari “different” bukan dari suatu standar. Sehingga, sangat sulit untuk mengatur teknologi digital. Bandingkan, misal, dengan teknologi jembatan. Untuk membangun jembatan, seorang insinyur wajib memenuhi beragam standar keamanan, kelayakan, dan sebagainya. Sedangkan, teknologi digital adalah freedom. Siapa saja berhak mengembangkan perusahaan start-up, nyaris, bebas tanpa batas. Bagaimana pun, freedom memang keunggulan dari teknologi digital itu sendiri.

Di sini, para pemikir, perlu berpikir ulang tentang aturan anti-monopoli misalnya. Raksasa digital mendominasi semesta digital, di saat yang sama, mereka aman dari aturan anti-monopoli. Karena, aturan anti-monopoli dirancang untuk bisnis pra-digital. Kita perlu mengembangkan konsep baru anti-dominasi digital, misalnya. Demikian juga perlu revisi konsep hak intelektual, hak siar, hak ekonomi, hak politik, dan lain-lain agar mencegah terjadinya dominasi digital. Tentu saja, ini adalah pekerjaan besar yang pelik.

Solusi untuk problem ketiga, kesenjangan sampai diskriminasi, adalah konsep konsumsi sehat yang berupa batas atas dan batas bawah – yang kita bahas di “Ekonomi-Cinta.” Kesenjangan dapat diselesaikan dengan konsep konsumsi sehat karena rakyat termiskin tetap terjamin bisa konsumsi dengan sehat. Sementara, kelas kaya berhak konsumsi sampai batas maksimal yang masih sehat. Jika kelas kaya berniat untuk konsumsi lebih dari batas maksimal maka perlu kompensasi dengan melakukan beberapa “amal” untuk masyarakat.

Dengan cara yang sama, kita bisa merumuskan konsumsi-sehat-politik. Kelas paling lemah, terjamin, memiliki hak politik dalam jumlah yang sehat. Kelas paling kuat memiliki hak politik sampai maksimal sejauh terjaga sehat politik.

Sementara, solusi terhadap diskriminasi jelas berupa penegakan hukum. Karena, diskriminasi termasuk sebagai kriminal. Tanggung jawab berikutnya adalah revisi dan update sistem hukum serta komitmen personal untuk taat hukum.

Secara umum, US menghadapi problem serius dalam sistem politik – dalam dan luar negeri. Problem personal, memang, tidak akan pernah ada solusi tuntas. Karena subyek kulo adalah bebas, tidak bisa tunduk begitu saja kepada sistem politik. Fokus paling penting adalah mencermati pergeseran dari demokrasi ke digitalisasi. Sebagaimana negara lain mengalami juga, US perlu menjamin bahwa digitalisasi bisa memperkuat demokrasi, bukan melemahkan demokrasi. Hanya saja, di US, proses digitalisasi sudah dan sedang terjadi.

8.2.3 Cina 212

Cina mengalami revolusi politik sekitar satu abad yang lalu. Sistem pemerintahan kerajaan diganti menjadi komunis, atau kita sebut sosialis di sini. Sehingga saat ini, Cina berada pada 212 = demokrasi-konservatif-sosial. Di satu sisi, sebelum pandemi, Cina adalah negara paling pesat dalam pertumbuhan ekonomi, budaya, teknologi, dan lain-lain. Di sisi lain, Cina menghadapi masalah besar: lokal dan global.

Problem pertama adalah sistem demokrasi di Cina. Banyak pihak menilai sistem sosialis di Cina mengekang kebebasan para warga. Kekuatan penuh ada pada partai penguasa. Sementara, rakyat banyak cenderung hanya bisa mengikuti aturan yang ada. Misal, dalam menghadapi pandemi, Cina menetapkan kebijakan zero-covid. Meski situasi pandemi Cina sudah membaik, kebebasan masyarakat dibatasi dengan ketat di beberapa tempat.

Problem kedua adalah keterbukaan. Ketika warga dunia menikmati keterbukaan informasi, di Cina, terjadi banyak pembatasan informasi. Akses internet, misalnya, hanya situs-situs tertentu yang boleh diakses.

Problem ketiga adalah krisis global. Cina sering mendapat kritikan keras karena tidak menjaga kelestarian lingkungan. Banyak pihak menuding Cina, sebagai, merusak lingkungan demi pertumbuhan ekonomi. Tentu saja, tudingan semacam itu perlu dikaji dari segala sisi.

Negara, dan warga, Cina tampak sadar dengan masalah yang mereka hadapi. Berbagai macam solusi telah mereka kembangkan. Misalnya, dijinkannya beberapa perusahan berkembang dengan sistem mirip kapitalis. Sehingga, kita mengenal beberapa perusahaan swasta kelas dunia dari Cina semisal Huawei dan Alibaba.

Sementara, solusi untuk menciptakan keterbukaan dan kebebasan, tampaknya, masih belum menemukan jalan terang. Cina perlu terus mengembangkan komitmen yang lebih besar untuk itu.

8.2.4 Palestina 123

Palestina adalah negara yang menanggung banyak beban derita. Wilayah Palestina diduduki oleh Israel, maka, makin mempersulit situasi. Palestina berada pada situasi 123 = kerajaan – progresif – liberal.

Problem pertama adalah kedaulatan negara. Saat ini, Palestina tidak memiliki kedaulatan politik yang mandiri. Untuk melakukan pemilihan umum harus mendapat ijin dari Israel. Anggaran ditentukan oleh Israel. Kegiatan politik, ekonomi, dan budaya diawasi secara ketat oleh militer Israel. Saya menyebut Palestina sebagai kerajaan dalam arti ada kekuatan dari luar bagai raja, yaitu Israel, yang mengendalikan Palestina.

Problem kedua adalah stabilitas yang tidak terjamin. Di Palestina, sewaktu-waktu bisa pecah perang. Warga Palestina bisa saja ditangkap, atau dilumpuhkan, oleh pasukan keamanan Israel dengan hak hukum yang tidak berimbang.

Problem ketiga adalah komplikasi problem itu sendiri. Dengan situasi yang begitu sulit, Palestina terjerat dalam campur aduknya beragam masalah.

Solusi bagi Palestina adalah memastikan kedaulatan negara yang merdeka dari Israel. Di satu sisi, warga Palestina perlu berjuang untuk itu. Di sisi lain, warga dunia perlu membantu. Khususnya, Israel dan US, perlu melepas dominasi mereka terhadap Palestina. Rakyat Palestina adalah manusia seutuhnya yang berhak hidup merdeka sepenuhnya.

Yang cukup aneh juga, dalam situasi yang sulit seperti itu, terjadi korupsi di pemerintahan Palestina – berdasar info beberapa media. Sehingga, Palestina perlu memastikan sistem pemerintahan yang mencegah korupsi. Di sisi lain, solusi personal tetap dibutuhkan. Masing-masing warga Palestina perlu terus berjuang untuk membangun negeri.

8.2.5 Brunei 111

Brunei adalah negara paling unik di masa kini. Brunei berada dalam situasi 111 = kerajaan – konservatif – teokrasi. Dengan situasi seperti itu, kebebasan warga Brunei nyaris terbatas. Menariknya, warga Brunei bisa menjalani hidup dengan baik di bidang sosial, ekonomi, dan lainnya. Sehingga, kita boleh bertanya, “Seberapa pentingkah kebebasan?”

Problem pertama adalah terbatasnya kebebasan. Tentu kita, sebagai pengamat dari luar, menilai bahwa pembatasan di Brunei mengerikan. Sultan dan pejabat adalah turun-menurun dari keluarga Sultan. Rakyat biasa tidak akan bisa menjadi sultan atau pejabat tinggi. Anda perlu lahir dari keluarga bangsawan untuk bisa menjadi sultan.

Problem kedua adalah kesenjangan ekonomi. Tidak banyak data tentang kesenjangan ekonomi di Brunei. Salah satunya menyebutkan bahwa rasio Gini kekayaan adalah di atas 0,7 yang menunjukkan ketimpangan tajam.

Problem ketiga adalah kualitas pendidikan di Brunei masih di bawah rata-rata dunia (OECD). Meski dibanding negara tetangga terdekat, kualitas pendidikan Brunei tidak teralalu buruk, tetapi, tidak memadai untuk menyongsong masa depan yang lebih menantang.

Solusi untuk Brunei adalah meningkatkan kebebasan warga untuk berpartisipasi aktif secara politik. Tetapi kondisi ekonomi warga Brunei, saat ini, sesuai income perkapita adalah baik atau sangat baik. Jadi, mengapa warga harus berpolitik jika kondisi ekonomi baik-baik saja? Bukankah perubahan politik bisa saja, justru, memperburuk situasi ekonomi? Status quo memiliki beragam dalih penguat. Bagaimana pun, setiap negara perlu untuk bergerak menjadi lebih baik. Termasuk Brunei.

Solusi untuk bidang pendidikan, tampaknya, menjadi keharusan bagi Brunei. Dengan kekayaan yang berlimpah, sepatutnya, Brunei meningkatkan kualitas pendidikan menjadi salah satu yang terbaik di dunia. Masa depan Brunei menjadi makin cerah dengan meningkatnya kualitas pendidik bagi seluruh warga.

Ringkasan Alternatif

Dari yang paling demokratis sampai tidak demokratis, dari yang paling stabil Brunei 111 sampai paling chaos US 333, semuanya bisa sukses dalam politik. Pun, semuanya bisa runtuh dalam politik. Dengan demikian, tersedia jalur politik yang beragam bagi umat manusia. Saat ini, sistem demokrasi termasuk yang paling besar mendapat dukungan. Dengan harapan setiap warga dunia mampu menerapkan hak politiknya dengan baik, demokrasi memang paling menjanjikan.

Dari sisi teknologi, berkembang media digital yang mendorong digitalisasi. Umat manusia masih gagap merespon media digital untuk kepentingan politik. Sementara, media digital memiliki kekuatan politik yang sangat besar, bit power, maka semua sistem politik perlu waspada penuh terhadap teknologi digital.

8.3 Parameter Keadilan

Politik tataluma perlu menyusun parameter keadilan yang komprehensif, di saat yang sama, layak untuk dicapai di masa kini.

KebebasanKesetaraanKemajuan

Indikator utama dari keadilan adalah: kebebasan, kesetaraan, dan kemajuan. Selanjutnya, kita perlu menyusun parameter dari masing-masing indikator di atas agar sistem politik berada pada arah yang benar.

Kebebasan: positif, negatif, modal

Kebebasan positif adalah setiap warga bebas menggunakan hak politiknya – tentu saja bebas juga tidak menggunakannya. Ukuran minimal adalah setiap warga bebas, dengan aman, menyuarakan isi pikirannya dan bebas menentukan pilihan politik.

Misal dalam menentukan suara pemilihan presiden, setiap warga bebas melakukan pemilihan meski belum terdaftar. Syarat wajib terdaftar, dan lain-lain, adalah hanya aspek administrasi, yang, bisa diatur sedemikian hingga proses pemilihan berjalan lancar. Bukan sebaliknya. Bukan syarat administrasi membatalkan hak pilih warga.

Ukuran maksimal, barangkali, setiap warga berhak mendaftarkan diri sebagai calon kontestan pemilihan presiden. Pendaftaran bisa melalui media digital, misalnya. Untuk menjamin keluasan akses warga, maka, media pendaftaran bisa beragam, lebih dari satu platform. Selanjutnya, dengan teknologi digital, kita bisa melakukan seleksi awal.

Tentu saja, kebebasan ada batasnya dan perlu modal. Kebebasan menjadi terbatas, atau dilarang, bila kebebasan tersebut mengganggu kebebasan pihak lain. Kita perlu mengaturnya dengan konstitusi. Bagaimana pun, pengaturan ini hanya berjumlah sedikit karena setiap warga memiliki “simpati” yaitu intuisi bahwa sesuatu melanggar kebebasan orang lain atau tidak.

Kebebasan negatif adalah setiap warga terbebas, terlepas, dari setiap ancaman. Setiap warga terbebas dari beban yang tidak wajar. Negara perlu menjamin setiap warga terbebas dari kebodohan misal dengan menyediakan sekolah sampai lulus SMA atau setara D1 dengan gratis sepenuhnya.

Setiap warga negara terbebas dari penyakit. Misal, negara menjamin tersedianya fasilitas kesehatan dasar yang tersebar di seluruh daerah dengan gratis sepenuhnya dan mudah diakses.

Modal awal menjadi penting untuk kebebasan dan kesetaraan. Setiap warga perlu memiliki modal awal yang memadai agar dapat menerapkan kebebasan politiknya. Negara menjamin ketersediaan modal awal ini bagi setiap warga. Tampaknya, belum ada negara di dunia yang menerapkan ini.

Kita bisa mengembangkan ide, contoh kasus di Indonesia, bahwa setiap pemuda mendapat hibah uang 500 juta rupiah ketika berusia 20 tahun. Pemuda itu bebas memanfaatkan sebagai modal awal. Barangkali, dia bisa mulai wirausaha, bertani, menabung, atau lainnya. Pemuda itu memiliki kebebasan – baik dia pemuda kaya atau miskin sama-sama bebas.

Penerapan modal-awal ini bisa bertahap agar lebih stabil.

UsiaModal Awal
20200 juta
21100 juta
22100 juta
2350 juta
2450 juta

Angka 500 juta hanyalah asumsi, bisa diganti dengan angka yang lebih tepat. Kita memerlukan yang tepat, sedemikian hingga, angka itu memberi kebebasan kepada pemuda untuk mengejar cita-citanya. Di saat yang sama, angka itu tidak akan cukup untuk bertahan hidup dalam beberapa tahun ke depan jika pemuda itu malas.

Kesetaraan: hak, modal, kecelakaan

Setiap warga memiliki kedudukan yang setara. Ukuran kesetaraan adalah konstitusi menyatakan dengan jelas kesetaraan politik dan menjamin kebebasan untuk menerapkan hak.

Ukuran hak adalah setiap perkumpulan perlu menyatakan hak dan kewajiban dengan memberi prioritas kepada hak. Atau, pernyataan hak dipisahkan dengan kewajiban. Sehingga, pernyataan hak merupakan pernyataan eksplisit. Sementara, pernyataan kewajiban adalah konsekuensi logis dari pernyataan hak. Pernyataan kewajiban adalah penjelas dari pernyataan hak.

Modal awal adalah modal kesetaraan, seperti di bahas di atas. Setiap warga setara, setidaknya, dalam modal awal: pendidikan minimal lulus SMA, sehat jasmani rohani, dan hibah modal ekonomi 500 juta per orang. Dengan posisi setara, setiap warga siap bersaing dengan bebas dan adil secara politik.

Bagaimana pun, kecelakaan bisa terjadi sewaktu-waktu akibat bencana alam atau ulah manusia. Kecelakaan merubah situasi menjadi tidak setara. Maka, kita perlu menjamin pengaman bagi korban kecelakaan misal dengan sistem asuransi yang dinamis.

Ukuran kesenjangan sudah tersedia di antaranya: rasio Gini, rasio Palma, dan rasio power Paman. Perbedaan adalah realitas fundamental sebagaimana kesetaraan. Tetapi, perbedaan yang terlalu tajam mengakibatkan kesenjangan yang perlu dicegah. Kita perlu menetapkan batas-batas dari kesenjangan. Kemudian memberi koreksi-koreksi yang diperlukan.

Kemajuan: minimal, kecepatan

SDG menetapkan batas garis kemiskinan, misal konsumsi di bawah 2 dolar per hari. Dengan cara yang sama, kita bisa menetapkan batas minimal politik. Misal, minimal 90% penduduk dewasa terdaftar sebagai pemilih. Maksimal 0,01% warga yang tidak bisa, atau tertunda, memberikan suara.

Ukuran kecepatan menjadi penting untuk mengetahui seberapa besar dan cepat perubahan menuju sistem politik yang lebih sehat.

Sistem politik adalah sistem empiris – bukan sistem aksiomatik murni layaknya sistem matematika. Sistem politik lebih mirip dengan sistem statistik. Karena itu, dalam politik, tidak ada klaim kebenaran universal akibat dari karakter empirisnya. Sehingga, setiap ukuran yang kita kembangkan selalu berupa interval – bukan satu titik angka. Kita perlu menetapkan batas atas dan batas bawah bagi setiap ukuran.

Demikian juga tingkat keyakinan, atau kebenaran, dari suatu ukuran selalu dinamis – tidak bisa benar mutlak 100%. Kita perlu mengkaji ulang dan mengukur ulang untuk mendapatkan klaim kebenaran yang diharapkan.

Dengan lengkapnya ukuran yang dinamis, kita berharap sistem politik menjadi manifestasi cinta umat manusia dan alam semesta. Politik adalah perpaduan serasi antara luma dan tata membentuk politik tataluma.

Lanjut ke Agama Cinta
Kembali ke Philosphy of Love

Prolog: Filosofi Cinta

Filosofi adalah cinta kebenaran. Cinta pengetahuan. Cinta kebijaksanaan. Hikmah adalah kebijaksanaan luhur. Hikmah adalah bijaksana dalam pengetahuan, bijaksana dalam hidup, dan bahkan, bijaksana dalam kematian. Filosofi dan hikmah selangkah seirama. Saling melengkapi. Kadang, kita menganggap sama antara filosofi dan hikmah itu sendiri. Boleh-boleh saja.

Di sisi lain, filosofi sering disalah-pahami. Filsafat sempat dituduh sesat. Sudah banyak pandangan negatif. Saatnya kita membahas dari sisi positif, berguna, dan jelas. Masalah-masalah filsafat akan kita tinjau dengan fokus ke cinta, kecantikan, dan tentu saja materi. Tidak ada cara sederhana untuk membahasnya. Kita berusaha untuk memilih cara-cara paling sederhana.

Masalah paling dasar manusia adalah pengetahuan tentang materi alam sekitar. Pembahasan ini bisa menarik tapi bisa terlalu teknis. Maka saya akan mengambil contoh fenomena kecantikan yang tentunya lebih hidup. Meski lebih kompleks dari materi, kecantikan, tetap punya daya tarik. Kemudian kita melangkah lebih jauh ke tema cinta. Banyak orang yang menilai cinta sebagai subyektif, tapi kita akan melihat peran besar cinta dalam membimbing manusia menuju hakikat kebenaran.

Secara garis besar tulisan ini mengadaptasi karya Bertrand Russel, The Problems of Philosophy. Kita akan menemukan bagian yang diringkas. Namun banyak bagian yang diperluas karena kemajuan jaman. Dan tentu saja karena cinta dan kecantikan itu sendiri.

Kemajuan sains dengan mekanika quantum, relativitas Einstein, dan masyarakat digital tentu akan mengubah banyak hal yang kita hadapi. Kebenaran filosofis, yang dulu berhadapan dengan fenomena nyata, kini harus menghadapi fenomena maya belantara tanpa lentera.

Tulisan ini terdiri dari tiga bagian: epistemologi cinta, ontologi cinta, dan dinamika cinta.

Epistemologi cinta adalah pendekatan filosofis untuk mengetahui, memahami, dan memaknai cinta. Untuk mengetahui cinta dengan lebih mudah, kita perlu, lebih awal mengetahui apa itu cantik. Tampaknya, cantik lebih jelas di depan mata. Maka di bagian ini, juga, kita akan membahas epistemologi cantik. Tentu, juga membahas epistemologi materi.

Ontologi cinta hanya terdiri dari tiga bab. Bab awal akan membahas “batas-batas filsafat,” yang sekaligus, menjadi penghubung antara epistemologi cinta dan ontologi cinta. Kita menyelidiki apa saja yang menjadi batas kajian filsafat. Meskipun, kita bisa membuat batas bagi filsafat, tetapi, batas tersebut selalu dinamis berubah-ubah. Pembahasan kita lanjut ke “manfaat filsafat” dan diakhiri dengan pembahasan “materialisasi cinta dan kecantikan.”

Dinamika cinta membahas aksiologi dan realitas alam raya yang dinamis. Kita hanya fokus kepada tiga tema: ekonomi cinta, politisasi cinta, dan agama cinta. Dari tema-tema yang kita pilih di atas, sudah terbayang betapa dinamisnya pembahasan cinta di bagian ini.

Sepanjang pembahasan, saya merujuk ke beberapa pemikir masa lalu dan masa kini. Barangkali, nama-nama pemikir ini akan bisa memudahkan kita memahami aliran pemikiran filosofi cinta.

Bertrand Russell (1872 – 1970) adalah filsuf besar Inggris yang ikut membidani lahirnya filsafat analytic di awal abad 20. Seperti disebut di atas, saya memakai kerangka berpikir Russell di bagian epistemologi. Sebagian besar, saya setuju dengan pemikiran Russell. Di bagian yang lain, saya tidak setuju. Saya melengkapinya dengan pemikiran yang berbeda atau pemikiran baru. Keunggulan Russell adalah pembahasannya jelas, logis, rasional, dan terbuka terhadap beragam sudut pandang. Termasuk, Russell terbuka terhadap kajian metafisika.

Ibnu Arabi (1165 – 1240) adalah pemikir dan penyair besar dari masa kejayaan Arab beberapa abad yang lalu. Pemikiran Ibnu Arabi sangat indah. Tetapi, terkenal sangat sulit dipahami. Kadang-kadang terasa tidak logis dari perspektif umum. Dengan karakter seperti itu, saya sering menempatkan pemikiran Ibnu Arabi di akhir suatu pembahasan.

Immanuel Kant (1724 – 1804) adalah pemikir terbesar Jerman yang mengawali konsep idealisme transendental. Kant, dengan gemilang, membuat sintesa terhadap aliran filsafat-filsafat besar sampai pada jamannya. Sehingga wajar, bagi banyak orang membagi era filosofis sebagai pre-Kant dan pasca-Kant. Trilogi kritik dari Kant berhasil menggeser karakter filsafat yang dulunya dogmatis menjadi lebih kritis, terbuka, dan dinamis. Tetapi, Kant tidak mengakhiri sistem filsafatnya dengan kesimpulan yang kokoh. Justru, Kant mengakhiri dengan paradoks: antinomi.

Living-philosopher adalah pemikir yang masih hidup di masa kini. Membaca pemikiran para living-philosopher tentu menarik. Karena, mereka ikut hidup di jaman digital yang sangat dinamis ini. Habermas (lahir 1929) merupakan pemikir yang aktif berdialog dengan pemikir besar kontemporer. Konsep komunikasi aktif untuk meraih konsensus di kalangan masyarakat menjadi tema utama Habermas.

Vattimo (lahir 1936) terkenal dengan konsep weak-thought dalam hermeneutika. Weak-thougt menyadarkan kita bahwa setiap pemikiran adalah lemah, tidak sempurna. Kita memerlukan proses terbuka untuk terus memperbaiki pemikiran kita dengan respek terhadap pemikiran pihak-pihak lain. Zabala (lahir 1975) adalah murid dari Vattimo yang mengembangkan pemikiran gurunya lebih luas dan mendalam.

Chalmers (lahir 1966) adalah pemikir analytic terbesar yang mengenalkan konsep “hard problem of consciousnes.” Meski sudah 20 tahun lebih, hard-problem ini belum mendapatkan solusi yang memuaskan. Barangkali memang tidak akan pernah ada solusi memuaskan. Chalmers cenderung berpandangan optimis terhadap perkembangan sains dan teknologi. Termasuk, dia mendukung perkembangan virtual reality.

Taylor (lahir 1931) adalah pemikir unik asal Kanada. Di era yang tampaknya makin kuat pertumbuhan sekularisme, Taylor membahas sekularisme dengan nada mendukung peran penting agama. Bagi Taylor, sikap sekular hanyalah sebuah pilihan sikap yang wajar di masa kini. Sementara, peran agama tetap besar di sepanjang masa.

Zizek (lahir 1949) adalah pemikir paling kontroversial. Sebagai pendukung kontradiksi Hegelian, dia, Zizek kerap melontarkan pernyataan kontradiktif. Meski banyak kritikus yang menilai Zizek sebagai tidak konsisten, tetapi, Zizek mengembangkan filosofi politik yang sangat dinamis dan kajian ontologi yang mendalam serta pemberani.

Soroush (lahir 1945) adalah pemikir Iran yang mencetuskan banyak ide progresif dalam filosofi sosial. Soroush banyak menghabiskan masa tuanya di luar negeri dengan berbagi pikiran yang berakar pada situasi kontemporer di Timur. Dengan latar pemikiran Timur yang kuat dan penguasaan pemikiran Barat mutakhir, menjadikan Soroush sebagai pemikir unik.

Di dalam negeri, saya kerap berdiskusi dengan Armahedi Mahzar (filosofi sains), Dimitri Mahayana (filosofi wujud), dan Muhammad Zuhri (filosofi sufi). Sunan Kalijaga merupakan tokoh dalam negeri paling mempesona sepanjang masa. Melalui karya “Serat Dewa Ruci,” Kalijaga berhasil menunjukkan peran penting karya filosofi fiksi yang sangat dinamis – karena berkembang melalui media oral. Sedangkan “Serat Linglung” menunjukkan peran penting karya filosofi sastra.

Barangkali, saya perlu menambahkan bahwa pemikiran postmodern ikut mewarnai diskusi kita. Dari posmo awal, konsep destruksi dari Heidegger (1889 – 1976), sampai posmo akhir, konsep dekonstruksi Derrida (1930 – 2004). Memang diakui, memahami pemikiran posmo adalah sangat sulit. Saya kira konsep differend dari Lyotard (1924 – 1998) adalah termasuk yang paling mudah untuk dipahami. Pemikiran Heidegger banyak kita diskusikan karena selaras dengan eksistensialisme Timur dan Barat.

Meski masih banyak pemikir-pemikir yang menjadi rujukan dalam filosofi cinta ini, kiranya, beberapa nama pemikir di atas sudah cukup menunjukkan karakter dinamis dari filosofi cinta. Selamat membaca! Selamat jatuh cinta! Selamat terpesona oleh cinta!

Lanjut ke Bagian 1: Epistemologi Cinta.
Kembali ke Philosophy of Love

Wacana 2.2: STRUKTUR CAHAYA

Filosofi Visi Iluminasi

1. Pendahuluan
2. Formula Matematika Struktur Cahaya
3. Ketunggalan Cahaya Maha Cahaya
4. Penentuan Batas Barzakh
5. Dominasi Cinta
6. Muncul Keragaman
7. Sains Huduri

1. Pendahuluan

Wacana 2.2 membahas kosmogini menjelaskan bagaimana seluruh eksistensi hadir berkat Cahaya Maha Cahaya. Cahaya Maha Cahaya adalah wujud sederhana sempurna sehingga hanya ada akibat tunggal: “Cahaya Terdekat” atau “Cahaya Pertama”. Cahaya Terdekat ini sama persis dengan Cahaya Maha Cahaya hanya beda sedikit kadar intensitasnya. Demikian halnya, materi pertama harus tunggal sebagai medan segala sesuatu secara homogen. Kita perhatikan gerak semesta, gerak putaran benda-benda langit, tentu saja digerakkan oleh wujud yang hidup. Jadi, benda-benda langit pasti digerakkan oleh cahaya immaterial.

Bagian terluar dari semesta pasti bukan akibat langsung dari Cahaya Maha Cahaya. Mereka eksis karena dark-accident (gelap-aksidental) dari Cahaya Pertama atau cahaya yang lebih rendah. Sebab, cahaya yang memiliki dua relasi dengan Cahaya Maha Cahaya, relasi langsung dan tidak langsung, bisa menghadirkan cahaya lain dan bodi, yaitu, media atau arena atau medan. Karena setiap cahaya saling relasi, saling manifestasi, maka cahaya pada hirarki paling rendah memiliki keragaman aksidental paling banyak. Pancaran sinar cahaya tidak berarti terpisahnya sesuatu dari cahaya. Tetapi, merupakan penciptaan suatu aksiden pada sesuatu yang disinari. Kompleksitas sistem cahaya itu tercermin dalam kompleksitas bintang-bintang di langit dan kompleksitas segala sesuatu di bumi ini.

Berbeda dengan Ibnu Sina, yang menetapkan hirarki akal hanya terdiri 10 intelek, masing-masing dengan tingkat ontologi yang berbeda, Suhrawardi mengijinkan posibilitas cahaya pada tingkat intensitas yang sama tetapi berbeda dalam aksiden. Cahaya dalam “tatanan horisontal” ini adalah sebab dari spesies dan keragaman alamiah dunia sublunar – form Platonis, atau arketip talisman. Terdapat cahaya pengatur bodi, secara langsung, yaitu: jiwa.

Tuhan mengetahui segalanya, partikular mau pun universal, karena segala sesuatu hadir kepada Cahaya Maha Cahaya. Sebuah contoh ilmu huduri paling tinggi, menurut Suhrawardi, adalah ilmu Tuhan. Prinsip umum yang menyatakan segala sesuatu pada bidang ontologi lebih rendah harus memiliki sebab pada bidang ontologi yang lebih tinggi di sebut “the most noble contigency” dan menjadi prinsip fundamental bagi HI. Cahaya yang lebih rendah mungkin saja memiliki sebab majemuk.

Pengetahuan tentang kompleksitas cahaya sejati yang tak terhitung ini adalah hasil pengalaman langsung dari Suhrawardi dan bisa diverifikasi langsung melalui testimoni para pemikir besar masa lalu, baik dari Yunani mau pun dari Timur. Form Platonis bukanlah universal logis tetapi cahaya sejati, immaterial mind, yang menjadi sebab bagi spesies yaitu arketip. Seiring menuruni tangga ontologis, cahaya sejati makin redup dan lebih kompleks. Salah satunya, cahaya sejati menjadi jiwa manusia yang kekuatannya terbatas.

2. Formula Matematika Struktur Cahaya

Bagaimana sesuatu yang tunggal bisa menghasilkan keragaman? Cahaya Segala Cahaya adalah tunggal. Maka dari yang tunggal akan memancarkan efek tunggal juga: Cahaya Pertama. Di mana, Cahaya Pertama (C1) identik dengan Cahaya Segala Cahaya (C0), hanya sedikit berbeda dalam kadar intensitas. Perbedaan tersebut: C0 adalah sebab dan C1 adalah akibat secara intelektual.

(C0) adalah Cahaya Segala Cahaya.

(C1) adalah Cahaya Pertama memancar langsung dari (C0) Cahaya Segala Cahaya.

Bagian selanjutnya, menunjukkan kemahiran Suhrawardi dalam matematika: bagaimana bilangan pangkat 2 menjadi rumus keragaman yang bersumber tunggal.

(C2) Cahaya Kedua mendapat 2 macam sinaran: dari (C0) Cahaya Segala Cahaya dan (C1) Cahaya Pertama.

(C3) Cahaya Ketiga mendapat 4 macam sinaran: C0, C1, [C0+C2], [C1 + C2]

(C4) Cahaya Keempat mendapat 8 macam sinaran: 2 kali lipat dari banyaknya sinaran pada Cahaya Ketiga. Dan seterusnya akan selalu 2 kali lipat. Sehingga, kita bisa memanfaatkan formula matematika 2 pangkat n untuk menghitung kompleksitas struktur cahaya.

Dengan demikian, dari tunggal akan menghasilkan tunggal, pada gilirannya, menghasilkan keragaman. Kita hidup dalam keragaman dan ketunggalan. Keragaman di atas baru mempertimbangkan struktur vertikal. Keragaman akan makin kaya bila kita mempertimbangkan struktur horisontal, dan diagomal. Misal dengan hadirnya C1B, C1C, C1D, dan lain-lain.

3. Ketunggalan Cahaya Maha Cahaya

Cahaya Maha Cahaya adalah tunggal. Cahaya Maha Cahaya = Cahaya Segala Cahaya = Nurul Anwar = Light of Light = C0.

Dari Cahaya Maha Cahaya hanya ada hasil yang tunggal juga. Tidak bisa serentak, cahaya dan gelap, keduanya muncul dari Cahaya Maha Cahaya. Dari yang tunggal hanya menghasilkan tunggal. Dari C0 hanya menghasilkan C1.

Anggap ada hasil ganda yaitu cahaya dan gelap. Tetapi, tidak ada gelap pada C0. Jadi, anggapan ada hasil ganda harus ditolak.

Anggap ada hasil tunggal berupa gelap. Tetapi, tidak ada gelap pada C0. Jadi, hasil berupa gelap tunggal harus ditolak.

Anggap ada hasil tunggal berupa cahaya. Benar, memang ada cahaya pada C0. Jadi, akibat langsung dari C0 adalah cahaya tunggal berupa C1.

C1 dan C0 adalah sama-sama tunggal dan sama-sama cahaya. Jadi, mereka adalah sama persis hanya berbeda tingkat. C1 adalah akibat. C0 adalah sebab.

Asumsikan C0 dan C1 adalah sama-sama gelap yang tunggal. Tetapi, C0 yang gelap tidak bisa menghasilkan efek apa pun. Termasuk, tidak bisa menghasilkan C1. Jadi, asumsi C0 sebagai gelap harus ditolak. Ditambah lagi, saat ini, ada Anda, pernah ada ibu Anda, dan ada alam sekitar. Pasti, C0 adalah cahaya.

(135) A light and a darkness can not both occur from Light of Lights.

(135) Satu cahaya dan satu gelap tidak bisa serentak terjadi dari Cahaya Maha Cahaya.

(136) The incorporeal light, however, has no recipient, so that all lights of other than Light of Lights have perfection and deficiency by reason of the rank of their agent.

(136) Bagaimana pun, cahaya sejati tidak memiliki penerima. Dengan demikian, semua cahaya, selain Cahaya Maha Cahaya, memiliki kesempurnaan dan kelemahan hanya berdasar derajat penyebab, atau agen, mereka.

(138) The Proximate Light is dependent in itself but independent by virtue of the First. The existence of a light from Light of Lights does not happen by separation of something from It, for you know that separation and connection are specific properties of bodies.

(138) Cahaya Terdekat bergantung pada dirinya sendiri dan mandiri berkat yang Awal. Eksistensi cahaya tidak terjadi dengan cara pemisahan dari Cahaya Maha Cahaya, seperti Anda tahu bahwa pemisahan dan penggabungan adalah sifat khusus dari bodi.

Kesempurnaan cahaya sejati adalah berdasar derajat sebab mereka, atau agen mereka. Cahaya Pertama, C1, adalah paling sempurna karena memiliki sebab tertinggi yaitu C0. Cahaya Kedua, C2, sedikit di bawah C1 dalam kesempurnaan. Karena memiliki dua sebab yaitu C1 dan C0. Sedangkan, Cahaya Maha Cahaya adalah Maha Sempurna karena tidak ada sebab. Di sini, kita menggunakan angka-angka sekedar untuk memudahkan pemahaman.

Perlu kita catat bahwa maksud cahaya adalah cahaya immaterial sehingga melampaui ruang dan waktu. Sedangkan pembahasan yang melibatkan ruang dan waktu adalah pembahasan barzakh atau barrier berikut ini.

4. Penentuan Batas Barzakh

Kita selalu bisa menentukan batas atas dan batas bawah. Kemudian, kita bisa melampaui batas-batas itu. Lebih bawah dari batas bawah dan lebih atas dari batas atas. Selanjutnya, kita bisa mengulangi lagi. Demikianlah pengalaman kita di dunia ini dan dunia pikiran. Kita bisa melakukan pembatasan seperti itu pada barzakh atau barrier.

(139) Know that in any direction you may point, there are limits.

(140) Therefore, place is the interior of proximate container, and that which is not contained has no place.

(139) Ketahuilah bahwa ke arah mana pun yang kamu tunjuk, ada batas-batas.

(140) Karena itu, tempat adalah interior dari wadah terdekatnya, dan bahwa yang tidak dimasukkan maka tidak punya tempat.

Ketika kita membahas barzakh, misal benda batu, kita menemukan keragaman batu besar, batu kecil, batu ringan, batu berat, dan lain-lain. Bagaimana keragaman bisa muncul bila Cahaya Maha Cahaya adalah tunggal?

Bahkan, dalam ontologi cahaya sejati, kita sudah bisa menemukan keragaman. Suatu cahaya sejati bisa kita pandang sebagai dominating-light dan managing-light. Ada cahaya tinggi dan ada cahaya rendah. Tetapi, dalam dirinya sendiri, setiap cahaya adalah sama yaitu sama-sama cahaya sejati. Hanya derajat intensitas beragam.

Kembali kepada barrier, atau barzakh atau bodi, mereka selalu berada dalam wadah. Akibatnya, kita selalu bisa mengukur bodi. Kita bisa berpikir untuk mengukur bodi yang lebih kecil dari yang terkecil. Atom, awalnya, dianggap yang paling kecil. Kita bisa berpikir ada bodi yang lebih kecil dari atom, yaitu inti atom dan pinggiran atom. Benar, akhirya, ditemukan inti atom yang lebih kecil dari atom, misal neutron. Dan seterusnya, kita bisa berpikir ada bodi yang lebih kecil dari neutron.

Dalam arah sebaliknya, arah lebih besar, juga sama. Kita selalu bisa berpikir ada bodi yang lebih besar dari alam raya ini. Sains mutakhir meyakini bahwa alam raya selalu bergerak mengembang atau membesar. Jadi, alam raya tahun depan adalah lebih besar dari alam raya tahun lalu.

Dengan pertimbangan di atas, alam raya selalu bisa melampaui batas-batas, maka gerak alam raya adalah bebas. Apalagi, sebab dari gerak alam raya adalah cahaya sejati yang bebas tanpa pembatas.

5. Dominasi Cinta

Cahaya tinggi memiliki karakter sebagai dominating-light. Sesuai namanya, dominating-light bersifat dominan dengan kekuatan yang besar. Setiap cahaya sejati memiliki cahaya lebih tinggi sebagai dominating-light. Sampai berakhir kepada cahaya paling dominan, yaitu, Cahaya Maha Cahaya. Demikian juga, setiap cahaya mendominasi cahaya yang lebih rendah. Sampai berakhir, titik terjauh, cahaya yang tidak mendominasi cahaya lainnya.

(147) The higher light possesses a dominate over the lower light, and the lower has a desire and passion to the higher.

(147) Cahaya yang lebih tinggi memiliki dominasi terhadap cahaya lebih rendah, dan yang lebih rendah memiliki harapan dan rindu kepada yang lebih tinggi.

Cahaya yang lebih tinggi berbahagia dengan melindungi cahaya lebih rendah. Sedangkan cahaya lebih rendah berbahagia penuh cinta ketika dilindungi oleh dominating-light.

6. Muncul Keragaman

Pada awalnya, secara intelektual, hanya ada Cahaya Maha Cahaya yang tunggal (C0). Kemudian memancarkan Cahaya Terdekat (C1) yang juga tunggal. Selanjutnya, menghasilkan C2 yang tidak lagi tunggal. Karena ada ismush (penghubung) antara C2 dengan C0 yaitu C1. Keragaman cahaya mulai muncul pada tahap ini. Keragaman makin subur dengan terpancarnya cahaya C3, C4, C5, dan seterusnya.

(143) Many different things indeed may result from one thing by virtue of differing and multiple states of receptivity.

(143) Satu hal dapat menghasilkan banyak hal berbeda karena perbedaan penerima dan keragaman state penerima.

Keragaman cahaya membuka peluang hadirnya barzakh, yaitu, badan materi. Cahaya yang tidak tunggal, misal C2, bisa memancarkan (1) cahaya lain dan (2) barzakh. Ontologi cahaya memiliki cahaya dalam keragaman derajat sampai ribuan (C1.000), atau jutaan (C1.000.000), atau tak terhitung (Cn). Dengan demikian, keragaman barzakh, keragaman alam raya makin terbuka luas.

Tetapi, di antara keragaman, kita melihat kesamaan. Anda berbeda dengan saya, tetapi di saat bersamaan, Anda dan saya adalah sama, yaitu, sama-sama manusia. Kucing jantan beda dengan kucing betina, tetapi, mereka sama-sama kucing. Kita sama sebagai spesies manusia. Mereka sama-sama sebagai spesies kucing. Demikian juga terdapat cahaya yang beragam tetapi sama-sama dalam satu spesies cahaya yang sama. Mereka adalah cahaya yang derajatnya sama tetapi memiliki perbedaan aksidental.

Dengan sudut pandang spesies kita bisa memahami terdapat ribuan spesies cahaya dan masing-masing spesies beranggotakan jutaan cahaya yang beragam secara aksidental dan sederajat. Sampai di sini, kita bisa memahami sistem ontologi cahaya dan alam raya yang kompleks dan penuh keragaman.

Dalam ontologi cahaya berlaku prinsip “most noble contingency” atau “kemungkingan tertinggi” atau “imkanu ashraf.” Semua cahaya yang lebih rendah hadir secara langsung dalam cahaya yang lebih tinggi. Misal C3, C4, dan C5 adalah hadir dalam C2. Dengan kata lain, C2 mengetahui C3, C4, dan C5 secara langsung melalui kehadiran mereka. Karena Cahaya Maha Cahaya, C0, adalah paling tinggi maka C0 mengetahui semua cahaya secara langsung melalui kehadiran mereka.

7. Sains Huduri

Direct knowledge, atau ilmu huduri, adalah teori pengetahuan orisinal dari HI. Barangkali, kita bisa mengatakan bahwa huduri adalah kontribusi terbesar dari Suhrawardi. Huduri selaras dengan tiga prinsip: (1) pengetahuan positif, yaitu, direct knowledge; (2) most-noble-contigency; (3) cahaya sejati melampaui jiwa.

(160) It is clear that vision is not conditioned on the imprinting of an image or on the emission on something: it is sufficient for there to be no veil between the seer and the object of vision.

(160) Jelas bahwa penglihatan bukan ditentukan oleh penempelan citra atau pada pancaran sesuatu: cukup sekedar tidak ada penghalang antara subyek pelihat dan obyek yang dilihat.

(1) Pengetahuan positif adalah pengetahuan langsung ketika kita mengalaminya. Anda minum air segar adalah karena Anda, mengalami langsung, minum air segar. Berbeda dengan mengatakan Anda minum H2O. Berbeda lagi dengan mengatakan H2O berpindah dari gelas, masuk mulut, lalu masuk perut. Yang benar, Anda mengalami langsung minum air segar secara total.

Makin beda lagi, dengan mengatakan, Anda tidak minum teh. Hanya pengetahuan negatif berupa Anda tidak minum teh adalah pengetahuan yang tidak memadai. Huduri bukan pengetahuan negatif. Huduri adalah pengetahuan positif. Anda minum air segar adalah huduri.

Visi, atau penglihatan, adalah huduri. Visi bukan karena esensi obyek luar terpancar melaui mata lalu tercetak pada otak. Bukan pula visi adalah mata memancarkan sinar kemudian obyek luar terlihat. Visi adalah mata sehat berhadapan langsung dengan obyek tanpa penghalang. Visi adalah hadirnya obyek kepada subyek membentuk kesatuan huduri.

Analisis lebih jauh menunjukkan bahwa yang melihat obyek adalah jiwa kita, diri kita. Bukan mata dan bukan otak yang melihat obyek. Cahaya-subyek berhadapan dengan cahaya-obyek lalu tercipta kesatuan subyek dan obyek berupa huduri. Dalam dirinya sendiri, huduri adalah selalu bernilai benar.

Tuhan mengetahui segala sesuatu, universal dan partikular, secara langsung sebagai huduri. Pengetahuan oleh Cahaya Maha Cahaya adalah hadirnya cahaya sejati dalam Cahaya Maha Cahaya.

(2) Most-noble-contingency, atau imkanu ashraf (IA), memastikan bahwa cahaya tinggi mencakup cahaya rendah. Misal kita hendak menumpuk bata sampai 100 bata. Kita mulai 1 bata, 2 bata, dan 3 bata. Ketika tinggi 3 bata maka dipastikan sudah terjadi 2 bata dan 1 bata. Dengan kata lain, 3 bata meliputi 2 dan 1 bata. Kemudian lanjutkan sampai sempurna 100 bata, maka, 100 bata adalah sempurna. Maksudnya, 100 bata meliputi seluruh bata yang ada. Berapa pun tinggi bata yang Anda sebut, maka, 100 bata akan meliputinya secara langsung. Tidak ada tinggi bata yang terlewat oleh 100 bata.

(164) If a baser contingent exists, a nobler contingent must have existed.

(164) Jika sebuah kontingensi rendah eksis, maka, kontingensi yang lebih tinggi pasti sudah eksis.

Cahaya tinggi meliputi cahaya rendah. Cahaya Maha Cahaya adalah cahaya paling tinggi. Sehingga, Cahaya Maha Cahaya meliputi seluruh cahaya. Tidak ada cahaya yang terlewat dari Cahaya Maha Cahaya. Cahaya Maha Cahaya mengetahui seluruh cahaya dengan huduri.

Tantangan kita lebih menarik karena membahas kontingensi atau imkan. Seorang raja datang akan memberi tanda bintang mungkin pada bata 1 sampai bata 100, hanya 1 tanda bintang saja. Bagaimana kita mengetahui kemungkinan posisi tanda bintang tersebut?

Manusia = M(7) = sampai bata 7
Dominating-light = D(15) = sampai bata 15
Cahaya Terdekat = C(90) = sampai bata 90

Kasus (a) = tanda bintang pada bata 3. Manusia, M(7), benar atau berhasil karena bata 7 meliputi bata 3. Tentu saja, D(15) dan C(90) juga benar karena meliputi mereka semua.

Kasus (b) = tanda bintang pada bata 8. M(7) gagal. Manusia salah menilai, mengira tidak ada tanda bintang padahal ada tanda bintang. Hanya, manusia tidak mampu melihat bata 8 yang ada tanda bintang. D(15) benar karena meliputi bata 8. Tentu saja, C(90) juga benar. Jadi, M(7) bisa gagal tetapi D(15) berhasil.

Kasus (c) = tanda bintang pada bata 21. Maka D(15) gagal. Dan tentu saja, M(7) juga gagal. Tetapi, C(90) berhasil karena meliputi bata 21.

Kasus (d) = tanda bintang pada bata 95. Maka C(90) gagal. Tentu saja, D(15) dan M(7) juga gagal.

Keberhasilan pada cahaya rendah, secara langsung, memastikan keberhasilan pada cahaya tinggi. Cahaya rendah dijamin oleh cahaya tinggi. Kegagalan pada cahaya rendah tidak berpengaruh ke cahaya tinggi. Cahaya rendah tidak mengganggu cahaya tinggi. Keberhasilan pada cahaya tinggi tidak memastikan cahaya rendah jadi berhasil. Cahaya tinggi memiliki kebebasan memilih. Tetapi, kegagalan pada cahaya tinggi memastikan kegagalan, secara langsung, pada cahaya rendah. Tanpa jaminan cahaya tinggi maka cahaya rendah pasti gagal.

(3) Cahaya sejati melebihi jiwa. Meski jiwa adalah anggota dari cahaya sejati tetapi cahaya sejati lebih tinggi dari jiwa tertentu. Jiwa manusia, misal, mengetahui teori sains. Bagaimana pun, pengetahuan sains seorang manusia adalah terbatas. Cahaya sejati meliputi dan melebihi pengetahuan sains yang terbatas itu. Atau, pengetahuan sains oleh jiwa seorang manusia diketahui oleh cahaya sejati melalui huduri. Karena cahaya sejati lebih tinggi dari cahaya jiwa.

(174) We ourselves are only veiled form It by perfection of Its Light and deficiency of our faculties – not because It is hidden.

(174) Diri kita terhalang dari Dia hanya karena sempurnanya CahayaNya dan lemahnya kemampuan kita – bukan karena Dia sembunyi.

Masih ada lebih banyak keajaiban dunia yang mempesona lebih dari sains belaka. Karya seni sangat mempesona. Cinta begitu indahnya. Olah raga membuat gairah membara. Sains tidak punya hak untuk mengaku paling berkuasa dari itu semua.

Lebih dari itu, ada banyak hal misterius di sisi rembulan yang gelap. Ada panas super dahsyat di permukaan matahari. Ada tanda tanya besar di inti bumi. Jiwa manusia tidak pernah tahu itu semua. Dan masih banyak hal-hal menakjubkan lain, yang, jiwa manusia tidak pernah mengalaminya. Tetapi, cahaya sejati mengalami itu semua. Cahaya sejati aktif berpartisipasi lebih luas. Atau, pengaruh jiwa manusia adalah terbatas. Sementara, pengaruh cahaya sejati melampaui batas-batas.

Sedikit kita ringkas lagi konsep huduri. Manusia mengetahui obyek luar secara huduri, pengetahuan langsung. Cahaya sejati mengetahui seluruh pengetahuan manusia, juga secara langsung. Lebih dari itu, cahaya sejati mengetahui banyak hal yang tidak diketahui oleh jiwa manusia. Makin tinggi kedudukan cahaya sejati maka makin luas pengetahuan hudurinya. Huduri berpuncak kepada pengetahuan sempurna oleh Cahaya Maha Cahaya.

Lanjut ke: Wacana 2.3: Dinamika Cahaya
Kembali ke: Filosofi Visi

Lampiran:

Prospek Usaha Ketika Pandemi Sirna

Kita patut bersyukur pandemi sirna. Catatan sejarah menunjukkan bahwa setelah terjadi pandemi akan diikuti lompatan kemajuan peradaban manusia. Kita segera bangkit lebih maju dari yang sebelum-sebelumnya.

Apakah Anda siap?

Siap tidak siap kita harus siap. Menyongsong masa depan cerah mulai saat ini, berbekal pengalaman – termasuk pengalaman pandemi. Berikut ini beberapa solusi dan prospek masa depan yang bisa kita kembangkan.

1. Meningkatkan Konsumsi

Teori ekonomi, yang saat ini banyak dipakai, menyarankan untuk meningkatkan konsumsi. Ketika konsumsi meningkat maka produksi didorong untuk meningkat pula. Barang-barang produksi dan jasa laris manis. Selanjutnya, roda ekonomi berputar.

Barangkali solusi meningkatkan konsumsi lebih tepat dijalankan oleh pemerintah dengan anggaran belanjanya dan perusahaan-perusahaan besar untuk mendorong dinamika.

2. Produksi Strategis

Prospek yang lebih terbuka lebar adalah produk strategis. Di mana, kita bisa mem-produksi barang atau jasa yang dibutuhkan masyarakat, di saat yang sama, aman dari ancaman covid. Misal warung atau restoran yang menerapkan jaga jarak dan prokes. Berdagang secara online membuka banyak prospek baru. Dan masih banyak prospek lainnya.

3. Pendidikan Kreatif

Selama pandemi, barangkali, bidang pendidikan adalah yang paling banyak dikalahkan. Hal semacam itu wajar saja. Karena, kita paham bahwa pendidikan itu penting tetapi tidak kritis. Maksudnya, pendidikan bisa ditunda untuk sekian waktu. Dan, ketika saat ini pandemi usai, maka pendidikan perlu bangkit kembali dengan cara yang kreatif.

Apakah pandemi benar-benar sudah usai? Benar, pandemi telah selesai. Bukan karena tidak ada ancaman covid lagi, tetapi, karena kita sudah 2 tahun lebih hidup bersama covid. Karena itu, kita sudah sanggup hidup bersama covid atau tanpa covid, termasuk adaptasi dengan prosedur kesehatan. Jadi, secara efektif, pandemi telah usai.

Kebangkitan pendidikan kreatif mengambil beragam bentuk: pendidikan formal, informal, dan non-formal.

3.1 Prospek Kursus Matematika

Kursus bahasa, kursus matematika, dan beragam bentuk kursus lainnya menjadi bidang penting untuk kemajuan generasi masa kini. Saya sendiri menyediakan program kerja sama afiliasi APIQ yang membantu Anda membuka kursus matematika dengan mudah. APIQ sudah menyediakan bahan ajar matematika kreatif dengan standar APIQ. Selanjutnya, Anda bisa membuka kursus matematika APIQ di lokasi Anda. Info lebih lengkap silakan kunjungi: program afiliasi APIQ.

3.2 Prospek Pelatihan Guru Kreatif

Para guru memerlukan keahlian baru karena tuntutan jaman, berupa kemajuan teknologi, dan perubahan kurikulum yang bisa terjadi sewaktu-waktu. Guru perlu membekali diri dengan kemampuan kreatif dan memanfaatkan teknologi dengan canggih. APIQ menyelenggarakan program pelatihan kreatif secara rutin bulanan dan bisa diselenggarakan di lokasi Anda. Info lebih lengkap silakan kunjungi: training kreatif APIQ.

3.3 Edukasi Konten Digital

Kita sudah memasuki era digital. Dunia pendidikan juga masuk dunia digital. Tetapi, masa pandemi sudah menunjukkan bahwa program pendidikan melalui media digital online murni adalah gagal. Siswa tidak bisa belajar hanya melalui media online (kelas daring). Siswa tetap membutuhkan kelas tatap muka (kelas luring).

Kita perlu bersikap bijak terhadap media digital. Cukup sekedarnya saja, memanfaat media digital, untuk pendidikan. Tidak berlebihan dan tidak kurang. Dengan ukuran yang tepat dan metode yang tepat, edukasi konten digital akan memberikan pendidikan terbaik bagi generasi muda. Saya membuat beragam konten edukasi matematika melalui canel Paman APIQ.

Sukses selalu untuk kita semua. Bagaimana menurut Anda?

Matematika Ceria: Bahagia Sempurna

Cita adalah siswa kelas 3 SD di kota Bandung. Senyumnya lebar bahagia dengan belajar matematika. Kok bisa?

Di sekolah Cita, disediakan program ekskul, siang, setelah jam sekolah. Anak-anak bebas memilih program olah raga, robotika, menggambar, matematika, dan lain-lainnya. Pilihan siswa paling banyak adalah program matematika bersama APIQ.

“Mengapa kamu memilih matematika?”
“Karena matematika itu seru! Belajarnya lebih asyik dari robotika,” jawab Cita dan teman-temannya.

Matematika APIQ mengajak anak-anak gembira belajar matematika dengan game permainan orisinal (game ori). Mengapa namanya game ori? Karena game ini memang asli matematika bukan selingan belaka. Berbeda dengan game lainnya. Umumnya, game lain adalah selingan ketika anak-anak capek belajar matematika maka main game dulu. Sementara, game ori adalah asli. Dengan anak-anak bermain game ori maka, di saat yang sama, anak-anak jadi mahir matematika. Dalam game ori, sudah terselip petualangan matematika.

Anda bisa bergabung dengan program APIQ, saat ini, melalui WA 0818 22 0898 atau pelatihan terdekat silakan klik: Pelatihan APIQ.

Kita membutuhkan inovasi-inovasi yang menghadirkan matematika dengan riang gembira. Karena, matematika itu sendiri memang mengantarkan umat manusia untuk meraih bahagia sempurna. Disayangkan, saat ini, matematika sering menyulitkan para siswa, guru, dan orang tua.

Siapa pun, usia berapa pun, bisa belajar matematika kreatif APIQ yang asyik. Kakek Badar, saat itu usia 60 tahun, ikut program pelatihan matematika APIQ.

“Apa pertimbangan Pak Badar ikut training matematika APIQ?”
“Saya ini sudah tua,” lanjut Pak Badar,” maka perlu menjaga kesehatan. Dengan belajar matematika asyik, pikiran saya jadi terus aktif sehingga menjadi lebih sehat. Lagi pula, saya bisa mengajarkan matematika APIQ ini ke cucu-cucu saya. Jadi lebih akrab dengan semua keluarga besar.”

Program Matematika APIQ berguna untuk anak usia dini, TK, SD, SMP, SMA, guru, profesional, dan masyarakat luas.

Mari bergembira bersama-sama, membangun generasi muda dengan matematika!

Bagaimana menurut Anda?



Pendahuluan Oleh Suhrawardi

Suhrawardi mengaku menuliskan buku ini bukan dari hasil pemikiran diskursif, tetapi, dari pengalaman langsung. Baru, kemudian, dia mencari-cari pembuktian rasional. Seandainya, tidak ditemukan bukti rasional pun, hal tersebut, tidak mengubah kesahihan buku ini. Nyatanya, buku ini menghadirkan bukti rasional yang kreatif.

(1) O God, glorious is Thy mention and mighty Thy holiness.

(1) Wahai Tuhan, Maha Agung nama-Mu dan Maha Mulia kesucian-Mu

Suhrawardi membuka dengan memuji keagungan Tuhan, memohon anugerah bagi Nabi Muhammad, dan memohon pertolongan dianugerahi Cahaya Tuhan serta bersyukur atas semua karunia.

Awalnya, Suhrawardi tidak berniat menulis buku. Tetapi, karena sahabat-sahabat memintanya untuk mengungkapkan pengalaman dan perolehan dalam renungan suci, maka, Suhrawardi memenuhi permintaan itu. Setiap jiwa manusia, termasuk jiwa kita, memiliki porsi tertentu dari Cahaya Tuhan. Sehingga, setiap orang memiliki kesempatan mencicipi indahnya anugerah Cahaya Maha Cahaya. Pintu langit tidak pernah tertutup bagi umat manusia. Cahaya Tuhan selalu ada.

Sebelum buku ini, Hikmah Al Isyraq (HI), Suhrawardi sudah menulis beberapa buku sesuai metode Peripatetik – pendekatan Aristoteles di dunia Muslim. Tetapi, buku HI ini berbeda dari yang lainnya. HI membahas Peripatetik dengan singkat dan tajam. Lebih sistematis, cermat, dan mudah dipahami. Suhrawardi menulis HI berdasar pengalaman langsung, kemudian, memperkuat dengan dalil rasional.

Pembahasan ilmu ontologi cahaya ini selaras dan saling menguatkan dengan kajian tokoh-tokoh masa lalu: Plato, Hermes, Empedocles, Pythagoras, dan lain-lain. Mereka menggunakan ungkapan simbolis atau bahasa perlambang. Perlambang tidak bisa dibantah. Orang-orang hanya bisa membantah makna literal dari perlambang. Mereka salah memahami makna sejati perlambang. Pengalaman cahaya sejati juga selaras dengan tokoh-tokoh timur: Jamasp, Frahostar, dan Bozogmehr, serta tokoh sebelum mereka.

(4) This world has never been without philosophy or without a person possessing proofs and clear evidences to champion it. He is God’s vicegerent on His earth.

(4) Dunia ini tak pernah kosong dari filosofi atau kosong dari orang yang memiliki pembuktian dan bukti jelas untuk menguasainya. Dia adalah wakil Tuhan di bumi-Nya.

Filsuf dari jaman kuno sampai sekarang sepakat dan sama dalam prinsip-prinsip mendasar. Mereka hanya berbeda dalam bahasa dan tingkat terus terangnya. Mereka sepakat tentang tiga dunia (intelek, jiwa, dan badan) dan sepakat tentang ketunggalan Tuhan.

Tingkat para filsuf beragam, bisa kita kelompokkan: (1) mahir intuisi tetapi lemah diskursif, (2) mahir diskursif tetapi lemah intuisi, (3) filsuf suci yang mahir diskursif dan intuisi, (4) filsuf suci yang mahir intuisi tetapi menengah atau lemah diskursif, (5) mahir diskursif tetapi menengah atau lemah intuisi, (6) murid filosofi intuisi dan diskursif, (7) murid diskursif, dan (8) murid filosofi intuisi. Penguasaan dunia dan peran wakil Tuhan diberikan kepada filsuf yang mahir intuisi dan mahir diskursif. Jika tidak ada maka diberikan kepada filsuf mahir intuisi tetapi menengah diskursif, kemudian, mahir intuisi tetapi lemah diskursif. Dunia ini tidak pernah kosong dari filsuf mahir intuisi.

(5) The vicegerency need direct knowledge. By this authority I do not mean political power.

(5) Kepemimpinan membutuhkan pengetahuan langsung. Otoritas ini tidak mengharuskan kekuatan politik.

Buku HI ini ditujukan kepada murid filosofi intuisi dan diskursif. Buku ini tidak berguna bagi filsuf diskursif yang tidak menguasai intuisi, atau tidak sedang mengasah intuisi. Pembaca diharapkan pernah mengalami cahaya suci pada tingkat tertentu – tidak cukup satu kali tetapi teratur. Orang lain tidak akan memperoleh manfaat dari HI. Bagi yang berminat mengkaji diskursif silakan merujuk metode Peripatetik. HI tidak berkepentingan dengan itu. Andai dalil rasional tidak sanggup mengantarkan ke cahaya suci, maka, jiwa yang bersih akan menggapainya dengan bertahap.

Kami telah menyederhanakan “tool” penjaga pikiran dari kesalahan menjadi hanya sedikit aturan penting paling berguna. Hal ini sudah memadai bagi yang cerdas dan yang sedang mencari pencerahan. Bagi yang berminat lebih detil – ilmu tentang tool – silakan merujuk ke buku-buku lainnya.

Buku ini hanya terdiri dari dua bagian.

Dua bagian tersebut adalah (1) logika dan (2) ontologi cahaya.

Di bagian intro ini, sudah jelas, Suhrawardi menekankan pentingnya pengetahuan langsung atau direct knowledge. Perdebatan rasional diskursif saja tidak memadai. Bahkan, dunia ini tidak pernah kosong dari filsuf intuisi yang mahir direct knowledge. Mereka adalah pemimpin dunia bisa melalui kekuatan politik atau tanpa politik.

Suhrawardi mengkaji pemikiran jaman dulu dari Plato, Aristoteles, dan era sebelumnya. Dari timur, Suhrawardi mengkaji pemikir Persia kuno sampai Ibnu Sina. Suhrawardi, mestinya, mengenal baik karya Al Ghazali yang ditulis setengah abad lebih awal. Tetapi, saya tidak menemukan rujukan kepadanya. Dalam kajian kita kali ini, saya akan menyandingkan HI dengan filosofi kontemporer abad 21. Sebut saja McDowell, Zizek, Heidegger, Iqbal, Hegel, Einstein, Popper, dan Kant. Tentu saja, kita juga perlu menyandingkan dengan Ibnu Arabi, Mulla Sadra, dan Hossein Ziai.

Selamat mengkaji…!

Kembali ke: Filosofi Visi

Lampiran

Kembali ke: Filosofi Visi

Filosofi Visi Iluminasi – Hikmah Isyraq

Filosofi Visi, karya Suhrawardi (1154 – 1191), hanya terdiri dari dua bagian. Bagian satu membahas tentang logika, kritik, dan gagasan solusi. Bagian dua membahas ontologi cahaya sebagai solusi tuntas dari filosofi visi.

Akhir Futuristik

Wacana Awal

Intro oleh Hossein Ziai

Pendahuluan oleh Suhrawardi

Bagian 1: Logika
Wacana 1.1: Semiotika
Wacana 1.2: Logika Formal Silogisme
Wacana 1.3: Kritik Logika dan Falasi

Bagian 2: Ontologi Cahaya
Wacana 2.1 Ontologi Cahaya Sejati
Wacana 2.2: Struktur Cahaya
Wacana 2.3: Dinamika Cahaya
Wacana 2.4: Realisasi Cahaya
Wacana 2.5 Cahaya Masa Depan

Wasiat oleh Suhrawardi

Wacana Lanjutan

Bagian 1: Logika: makna proposisi, silogisme formal, dan kritik logika

Wacana 1.1: Semiotika. Suhrawardi dengan cerdik menyatakan bahwa makna dari suatu ungkapan bahasa bisa beragam: sesuai yang diharapkan, berbeda dengan yang diharapkan, atau bahkan berlawanan dari yang diharapkan. Pengetahuan ada dua jenis: pengetahuan fitri (bawaan) dan pengetahuan non-fitri (bukan-bawaan). Pada analisis akhir, semua pengetahuan didasarkan pada pengetahuan fitri. Bagian akhir dari wacana ini, mengungkapkan kritik Suhrawardi terhadap teori “definisi esensialis” dari Aristoteles yang dikembangkan oleh Ibnu Sina.

Wacana 1.2: Logika Formal Silogisme. Luar biasa! Di abad 12, Suhrawardi berhasil menyederhanakan beragam bentuk silogisme menjadi satu bentuk tunggal yang bersifat: niscaya, universal, dan afirmatif. Kelak, di abad 20, kita mengenal metode Karnaugh Map untuk menyederhanakan sistem digital yang rumit menjadi paling sederhana, dan hemat. Suhrawardi sudah mengantisipasi proses “penyederhanaan” logika 8 abad lebih awal. Dengan kemahiran Suhrawardi ini, maka dia berhak melakukan kritik terhadap logika silogisme, khususnya, pada bagian fondasinya: definisi esensial.

Wacana 1.3: Kritik Logika. Dengan cukup panjang, di bagian ini, Suhrawardi melancarkan kritik keras terhadap logika Aristoteles (Ibnu Sina) dilengkapi dengan alternatif solusi. Di bagian awal, kritik diarahkan pada kesalahan formal dalam menyusun silogisme dan kesalahan semantik itu sendiri. Bagian selanjutnya, Suhrawardi meng-kritik definisi esensial Aristoteles Ibnu Sina.

Definisi esensial tidak akan pernah berhasil “menjadi” pengetahuan. Definisi esensial dibentuk dengan menggabungkan genus dan diferensia. Orang yang tidak paham akan genus atau diferensia, maka, dia tidak akan paham definisi esensial. Sementara, orang yang sudah tahu genus dan diferensia yang dimaksud, maka, sudah paham apa yang akan didefinisikan tanpa perlu definisi esensial. Sehingga, definisi esensial tetap tidak berhasil baik bagi orang yang sudah paham mau pun yang belum paham.

Suhrawardi memberi solusi lengkap terhadap masalah logika ini yang melibatkan epistemologi. Bagian dua, bagian selanjutnya, membahas tuntas solusi Suhrawardi. Dan, sebagai konsekuensi, terbentuklah sistem filsafat lengkap: filosofi visi iluminasi.

Bagian 2: Ontologi Cahaya: cahaya sejati, struktur cahaya, dinamika cahaya, realisasi cahaya, dan cahaya masa depan.

Wacana 2.1 Ontologi Cahaya Sejati. Suhrawardi menyelesaikan problem filosofis melalui prinsip paling dasar: ontologi cahaya. Sejak awal, Suhrawardi mendefinisikan bahwa cahaya adalah realitas yang paling jelas dengan dirinya sendiri. Segala sesuatu yang lain, yang bukan cahaya, membutuhkan cahaya agar menjadi jelas, agar dapat didefinisikan.

Cahaya ini memenuhi dua syarat utama untuk mendefinisikan yang lain: lebih jelas dan lebih awal diketahui. Meski kita bisa memikirkan cahaya secara fisika, tetapi, kita perlu melangkah lebih jauh untuk membahas cahaya sejati sampai Cahaya Segala Cahaya yang bersifat incorporeal.

Wacana 2.2: Struktur Cahaya. Bagaimana sesuatu yang tunggal bisa menghasilkan keragaman? Cahaya Segala Cahaya adalah tunggal. Maka dari yang tunggal akan memancarkan efek tunggal juga: Cahaya Pertama. Di mana, Cahaya Pertama (C1) identik dengan Cahaya Segala Cahaya (C0), hanya sedikit berbeda dalam kadar intensitas.

Bagian selanjutnya, menunjukkan kemahiran Suhrawardi dalam matematika: bagaimana bilangan pangkat 2 menjadi rumus keragaman yang bersumber tunggal.

(C2) Cahaya Kedua mendapat 2 macam sinaran: dari (C0) Cahaya Segala Cahaya dan (C1) Cahaya Pertama.

(C3) Cahaya Ketiga mendapat 4 macam sinaran: C0, C1, [C0+C2], [C1 + C2]

(C4) Cahaya Keempat mendapat 8 macam sinaran: 2 kali lipat dari banyaknya sinaran pada Cahaya Ketiga. Dan seterusnya akan selalu 2 kali lipat.

Dengan demikian, dari tunggal akan menghasilkan tunggal, pada gilirannya, menghasilkan keragaman. Kita hidup dalam keragaman dan ketunggalan.

Wacana 2.3: Dinamika Cahaya. Setiap cahaya memiliki dua karakter: dominating-light dan managing-light. Dominating-light memancarkan sinar ke segala arah dengan kekuatan penuh. Sementara, managing-light mengatur agar arah tepat, ukuran tepat, waktu tepat, dan segala sesuatu dengan tepat. Dua karakter utama dari cahaya ini, yang merupakan satu kesatuan, menjamin bahwa ontologi cahaya bersifat dinamis dan harmonis.

Dari perspektif cahaya-lebih-rendah, cahaya memiliki dua karakter: terlindungi dan cinta. Cahaya-lebih-rendah merasa dilindungi oleh cahaya-lebih-tinggi, di saat yang sama, merasa cinta dan rindu untuk menggapainya.

Wacana 2.4: Realisasi Cahaya. Selanjutnya, Suhrawardi membahas lebih detil ontologi cahaya yang bermanifestasi dalam dunia materi fisik: realisasi. Suhrawardi mengenalkan beragam sifat “barzakh” (perantara, penghalang, jembatan) atau badan fisik. Transparan adalah barzakh yang bersifat meneruskan cahaya seutuhnya. Translusen meneruskan sebagian cahaya. Dan, ada pula yang buram. Di bagian ini, kita bisa belajar banyak hal-hal praktis dan nyata dari ontologi cahaya.

Wacana 2.5 Cahaya Masa Depan. Kita bisa belajar banyak filosofi moral dan etika pada bagian ini. Suhrawardi membuktikan bahwa jiwa manusia tidak sirna akibat kematian badan, immortal. Setiap kebaikan berbalas kebaikan berlimpah. Kejahatan mendapat balasan secara adil.

Lebih dari itu, manusia memiliki potensi untuk mendapat informasi masa depan melalui wahyu, ilham, dan mimpi. Karena ontologi cahaya dinamis maka masa depan, memang, benar-benar dinamis. Selanjutnya, mari kita nikmati dinamika semesta raya!

###

Berikut adalah terjemah Kitab Hikmah Al Isyraq karya Suhrawardi bagian 2 wacana ke 1 atau (2.1).

BAGIAN DUA

###Terjemah dari English ke Indonesia

Tentang Cahaya Sejati, Cahaya dari Cahaya, dan Dasar dan Tatanan dari Eksistensi, dalam Lima Wacana

Wacana Pertama

Tentang cahaya dan realitasnya, Cahaya dari Cahaya, dan apa yang pertama dihasilkan-Nya, dalam sembilan topik dan aturan

Topik [satu]

[Petunjuk bahwa cahaya tidak membutuhkan bukti]

(107) Segala sesuatu dalam eksistensi yang tidak memerlukan definisi atau tidak memerlukan penjelasan adalah terbukti. Karena tidak ada yang lebih terbukti dari cahaya, tidak ada yang kurang dalam membutuhkan definisi.

Topik [dua]

[Definisi tentang mandiri]

(108) Jika bukan esensi atau bukan kesempurnaan dari sesuatu terletak pada yang lain, dia adalah “mandiri.” Jika esensinya atau suatu kesempurnaannya terletak pada yang lain, dia adalah “tidak mandiri.”

###Terjemah dari Arab ke Indonesia

Tentang Cahaya Sejati, Cahaya dari Cahaya, dan Dasar dan Tatanan dari Eksistensi, dalam Lima Wacana

Wacana Pertama

Tentang cahaya dan realitasnya, Cahaya dari Cahaya, dan apa yang pertama dihasilkan-Nya, dalam sembilan topik dan aturan

Topik [satu]

[Tentang: Sesungguhnya cahaya tidak memerlukan definisi]

(107) Segala sesuatu dalam eksistensi yang tidak memerlukan definisi atau tidak memerlukan penjelasan adalah terbukti. Dan tidak ada yang lebih terbukti dari cahaya, maka tidak ada yang lebih sempurna dari cahaya tentang definisi.

Topik [dua]

[Definisi tentang mandiri]

(108) “Mandiri” adalah dia yang esensinya atau kesempurnaannya bukan pada yang lainnya. “Tidak mandiri” adalah dia yang esensinya atau kesempurnaannya terletak pada yang lainnya.

BAGIAN DUA

Melompat ke paragraf (155) tentang dua kelas cahaya: domimating-light dan managing-light.

Bagian intro oleh Hossein Ziai memberi ringkasan yang sangat bagus.

Jangan Berpikir

“Jangan bertindak! Cukup berpikir saja.”

Dalam situasi sulit, seperti sekarang ini, semua tindakan bisa saja salah. Semua perbuatan, bisa saja, memperparah situasi. Maka yang kita butuhkan adalah berpikir. Jangan bertindak apa pun.

“Jangan berpikir, tapi perhatikan!”

Bahkan, berpikir pun bisa salah. Pikiran kita tidak obyektif, tidak jujur, tidak lurus seperti dikira. Pikiran kita banyak dibelokkan oleh prasangka, dugaan-dugaan. Ketika kita menghapus satu prasangka maka kita akan berhadapan dengan prasangka lainnya. Jangan berpikir. Tapi, perhatikan baik-baik. Terima realitas dengan ikhlas.

1. Ikhlas Menerima Realitas
1.1 Membuka Diri
1.2 Dialog Tuhan
1.3 Menata Diri
1.4 Perhatian

2. Berpikir Cerdas
2.1 Berpikir Idealis
2.2 Berpikir Praktis
2.3 Berpikir Realistis
2.4 Kreatif: Inovatif – Disruptif
2.5 Paradoks Kontradiksi
2.6 Self-Reference Pikiran
2.7 Retroaktif

3. Bertindak Bijak
3.1 Puasa Diri
3.2 Kontribusi Terbatas
3.3 Ikhlas Lagi

Urutan yang tepat adalah: (1) terima realitas dengan ikhlas, (2) berpikir dengan cerdas, dan (3) bertindak dengan bijak. Kemudian proses itu kita lanjutkan secara dinamis: ikhlas, berpikir, bertindak, ikhlas, berpikir, bertindak, ikhlas, dan seterusnya. Dalam tulisan ini, kita akan membahasnya secara bertahap.

1. Ikhlas Menerima Realitas

“Jangan diperhatikan, ikhlaskan saja!”

Cara untuk menjadi ikhlas sangat mudah, meski, banyak orang mengira bahwa sulit sekali untuk menjadi ikhlas. Cara menjadi ikhlas cukup hanya dengan, “Ikhlaskan saja.” Maka kita jadi ikhlas. Tuntas.

Orang masih bisa bertanya lagi, “Bagaimana cara ikhlaskan saja itu?”

Ikhlas atau tidak ikhlas adalah sikap dasar dari manusia sejati. Sehingga, tidak ada sebab bagi seseorang untuk menjadi ikhlas atau pun menjadi tidak ikhlas. Mereka bebas memilih untuk ikhlas atau sebaliknya. Jika Anda memilih ikhlas maka Anda jadi ikhlas.

Realitas menjadi tidak jelas karena kita, manusia, berinteraksi dengan lingkungan sosial dan sejarah masa lalu – atau masa depan.

Seseorang bisa ikhlas ketika mendapat uang dalam jumlah besar. Orang lain, bisa saja, tidak ikhlas ketika mendapat uang dalam jumlah yang sama besar. Bahkan, ada orang yang sampai korupsi dan mencuri meski dia sudah memperoleh uang yang besar. Ada orang yang ikhlas menerima berbagai macam cobaan. Sementara, ada orang lain yang tidak ikhlas menerima sebagian cobaan.

Karena tidak ada sebab pasti seseorang bisa menjadi ikhlas, atau segala sesuatu justru bisa menjadi sebab bagi seseorang menjadi ikhlas, maka cara paling mudah untuk ikhlas adalah, “Ikhlaskan saja!”

Terbukti kita semua bisa ikhlas. Ketika kita lahir, sebagai bayi, kita ikhlas. Digendong ibu, kita ikhlas. Disusuin ibu, kita ikhlas. Apa pun yang terjadi, kita ikhlas. Kita perlu belajar kembali ke masa lalu kita, masa bayi kita, yang setiap hari selalu ikhlas.

Bagaimana pun, karakter manusia memang dinamis. Maka sikap ikhlas ini dengan mudah berubah menjadi tidak ikhlas. Karena itu, sebagai orang dewasa, kita perlu berusaha untuk konsisten bersikap ikhlas. Berikut ini beberapa ide yang bisa kita coba untuk mencapai ikhlas: membuka diri, dialog Tuhan, dan menata diri.

1.1 Membuka Diri

Alam raya terus menerus membuka diri. Matahari terbit membuka pagi, menebar kehangatan. Benih tumbuh menjadi pohon yang semerbak membuka kelopak bunga. Bayi-bayi kucing berlari-lari membuka mata dan telinga. Bayi-bayi manusia membuka diri terhadap semua yang ada.

Apakah manusia dewasa bisa membuka diri sebagai mana dia bayi dulu? Alam raya membuka diri kepada manusia. Sebaliknya, manusia juga membuka diri kepada alam raya. Tetapi, manusia dewasa memiliki pilihan bebas: akankah membuka diri atau menutup diri?

Manusia dewasa, sampai kapan pun, selalu bisa membuka diri dengan cara membuka hati. Barangkali, makin tua seseorang maka badannya tidak mampu lagi belajar olah raga dengan beban berat. Sementara, hati orang yang sudah tua tetap bisa terbuka terhadap segala yang ada. Ikhlas dengan semua: duka atau bahagia. Dalam ikhlas, semua sama saja, sama-sama penuh makna.

Bayi manusia, ketika lahir, tidak punya apa-apa. Bayi manusia sangat lemah. Bayi manusia adalah kosong. Beda dengan bayi harimau, misalnya. Ketika lahir, bayi harimau punya badan yang kuat. Kuku-kukunya tajam siap untuk menerkam. Taringnya tajam. Bayi harimau dilengkapi dengan insting yang tajam untuk menyerang mangsa.

Bayi manusia tidak punya apa-apa. Manusia, memang, tidak punya apa-apa.

Tetapi bayi manusia punya yang paling berharga: kemampuan membuka diri. Bayi belajar dari segala yang ada. Bayi belajar dari ibu dan bapak. Ketika remaja, mereka sekolah. Ketika dewasa, mereka bisa menjadi apa saja. Mereka bisa jadi tentara yang senjatanya lebih kuat dari kuku harimau. Bisa menjadi pilot yang terbang lebih tinggi dari elang. Bisa menjadi nahkoda yang menyelami samudera lebih dalam dari ikan-ikan di lautan. Bisa menjadi ilmuwan yang mengungkap misteri alam raya. Manusia bisa menjadi apa saja.

Saatnya, kini, kita kembali membuka diri terhadap semua yang ada. Buka mata, buka telinga, dan buka hati Anda. Siap menerima segala yang ada. Ikhlas kapan saja, di mana saja.

1.2 Dialog Tuhan

Umat beragama memiliki keuntungan besar yaitu bisa berdialog dengan Tuhan. Jika kita ikhlas maka kita bisa berdialog dengan Tuhan. Sebaliknya juga benar, jika kita sedang berdialog dengan Tuhan maka kita ikhlas.

Ada banyak cara berdialog dengan Tuhan. Barangkali, cara paling jelas adalah dialog melalui Utusan Tuhan misal melalui malaikat Jibril. Tampaknya, hanya orang-orang tertentu yang berhasil dialog dengan Jibril. Lebih besar terbuka peluang, dialog dengan cara berbeda, dialog melalui Nabi Khidir. Sampai saat ini, diyakini, Khidir sering menemui manusia-manusia pilihan. Dan sayangnya, banyak orang, merasa tidak pernah bertemu dengan Nabi Khidir.

Kita punya pilihan, cara paling umum dialog dengan Tuhan adalah melalui mimpi.

Tuhan menyapa manusia melalui mimpi. Kita ikhlas merima pesan itu. Baik pesan itu berupa kabar baik, anugerah dariNya, atau pun kadang, berupa kabar akan datangnya suatu musibah. Dengan mengetahui pesan musibah lebih awal, misal akan datangnya musim paceklik, maka kita bisa melakukan berbagai macam persiapan untuk antisipasi.

Sayangnya, banyak orang lupa akan mimpinya semalam. Mereka lupa telah dialog bersama Tuhan. Mimpi itu menjadi bermakna ketika kita mengingatnya dan merenunginya, serta, berusaha memahami pesan yang ada. Setiap malam, kita tidur. Setiap saat, kita berdialog dengan Tuhan. Setiap saat, kita bisa ikhlas. Mari kita belajar merenungi mimpi.

Cara berdialog dengan Tuhan, yang lebih terbuka luas, adalah melalui alam. Alam raya ini adalah media yang menyimpan, dan menyampaikan, pesan Tuhan. Diri kita sendiri adalah bagian dari alam raya. Sehingga, diri kita selalu membawa pesan dari Tuhan. Setiap saat, kita berhadapan dengan alam raya maka kita sedang berdialog dengan Tuhan. Wajar, kita ikhlas. Setiap saat, kita berhadapan dengan diri kita sendiri maka kita sedang berdialog dengan Tuhan. Wajar, kita ikhlas kapan saja, di mana saja.

Bagi Anda yang punya pasangan, suami atau istri, maka dia adalah pembawa pesan Tuhan. Istri yang berdialog dengan suaminya, sejatinya, dia berdialog dengan Tuhan. Suami yang berdialog dengan istrinya, sejatinya, dia berdialog dengan Tuhan. Demikian juga ketika dialog bersama guru, bersama siswa, bersama tetangga, sejatinya, kita sedang berdialog dengan Tuhan. Ikhlas adalah sikap yang paling pantas.

1.3 Menata Diri

Bagaimana pun, sikap ikhlas adalah sikap hati. Sehingga, tidak ada yang bisa memaksa hati untuk ikhlas. Pun, tidak ada yang bisa memaksa sebaliknya. Untuk bisa ikhlas, kita perlu menata diri. Anda bisa ikhlas dalam segala situasi. Sikap hati, bagaimana pun begitu mudah setiap saat, berubah dari ikhlas menjadi tidak ikhlas dan bolak-balik.

Al Ghazali (1058 – 1111) mengilustrasikan hati memiliki pasukan pembela yang menjaga hati untuk tetap ikhlas. Di saat yang sama, hati memiliki gerombolan musuh yang merusak sikap ikhlas hati. Situasinya, gerombolan musuh itu, jumlahnya lebih banyak dari pasukan pembela hati. Sehingga, hati begitu mudah terjatuh kepada sikap tidak ikhlas. Karena itu, kita perlu menata diri agar pasukan pembela selalu siaga menjaga hati tetap ikhlas.

Pasukan pembela hati menjadi siaga dengan cara hidup sederhana dan waspada. Makan hanya sedikit saja, lebih banyak memberi makan untuk orang yang membutuhkan. Harta sekedarnya saja, lebih banyak sedekah dengan yang dimilikinya. Kekuasaan secuil saja, lebih banyak menggunakan kekuatan untuk menguatkan kekuatan masyarakat. Pembela hati menjadi waspada dengan banyak puasa: puasa makanan, puasa harta, puasa politik, dan puasa jiwa.

Immanuel Kant (1720 – 1804) merumuskan bahwa penilaian estetika keindahan, kecantikan, dan sublim merupakan kerja harmonis antara akal, pemahaman, dan imajinasi. Dengan cara yang sama, kita bisa merumuskan sikap hati ikhlas merupakan kerja harmonis antara akal, pemahaman, imajinasi, badan, dan alam raya. Karena itu, akal saja tidak bisa memastikan hati menjadi ikhlas. Demikian juga, badan saja tidak bisa memastikan hati menjadi ikhlas. Butuh kerja sama banyak faktor untuk bisa menjadi ikhlas.

Sikap ikhlas, karena terdiri banyak faktor, maka banyak situasi berbeda mengantarkan kita jadi ikhlas. Demikian juga, banyak situasi lain yang mengantar seseorang menjadi tidak ikhlas. Baik ikhlas atau tidak, sama-sama tidak tunggal melainkan beragam. Sehingga, kita benar-benar perlu menata diri untuk bisa meraih ikhlas.

1.4 Perhatian

Selanjutnya, setelah ikhlas menerima segala realitas, kita perlu memperhatikan sesaksama segala yang ada. Kita memperhatikan alam sekitar, memperhatikan kehidupan sosial, memperhatikan “misteri diri sendiri”, dan memperhatikan pesan Tuhan. Perhatian yang tulus ini akan membuka alam raya untuk tumbuh berkembang, membuka diri untuk lebih sempurna, dan membuka segala yang ada.

Tugas memperhatikan segalanya dengan tulus, tidak mudah dilakukan. Karena, sikap ikhlas bersifat tidak stabil. Sewaktu-waktu, sikap hati tergelincir tidak ikhlas. Padahal perhatian orang yang tidak ikhlas, justru, bisa merusak banyak hal. Sikap perhatian perlu dilandasi sikap ikhlas, di saat yang sama, perlu ditunjang dengan berpikir cerdas. Karakter berpikir cerdas lebih stabil dari sikap ikhlas.

Misal, seseorang yang memahami operasi bilangan bulat 2 + 1 = 3 akan stabil meyakininya dengan pikirannya. Apakah dia sedang lapar, sedang kenyang, sedang marah, atau sedang ceria tetap saja yakin bahwa 2 + 1 = 3. Berbeda dengan orang yang bersikap ikhlas terhadap gaji 3 juta rupiah. Ketika dia membutuhkan jumlah uang yang lebih banyak, bisa saja, berubah menjadi tidak ikhlas terhadap gaji 3 juta.

Sampai di sini, kita menyadari keterkaitan antara ikhlas, perhatian, dan berpikir cerdas. Ikhlas adalah landasan dari segalanya. Perhatian menjadi sarana untuk memahami. Sedangkan berpikir cerdas adalah proses untuk mengkaji dengan teliti segala yang terjadi. Pada gilirannya, berpikir cerdas menguatkan landasannya sendiri: ikhlas dan perhatian. Dan, berpikir cerdas adalah landasan untuk bertindak bijak. Berikutnya, kita akan membahas berpikir cerdas.

2. Berpikir Cerdas

Kita mengawali berpikir cerdas dengan cara berpikir idealis. Pada gilirannya, kita sadar bahwa berpikir idealis tidak memadai. Kita perlu berpikir realistis. Berbeda dengan idealis, berpikir realistis menuntut kita untuk bersikap dinamis.

Secara idealis, kita tahu bahwa 2 + 1 = 3. Secara realistis, 2 kg beras ditambah 1 kg beras bisa saja tidak tepat 3 kg beras. Barangkali ada kebocoran di sana-sini. Atau, ada salah ukur di beberapa tempat. Bagaimana pun, kita menghadapi realitas yang dinamis seperti itu.

Lebih serius lagi, dalam berpikir cerdas, kita akan menghadapi paradoks atau kontradiksi. Secerdas apa pun pikiran kita maka akan menghadapi jalan buntu paradoks. Selalu ada pikiran lain yang berbeda dengan pikiran kita, di saat yang sama, tidak ada cara menghakimi pikiran mana yang lebih benar. Tentu saja, seseorang bisa saja keras kepala dengan menyatakan bahwa pikirannya adalah yang paling benar. Cara seperti itu, justru, menunjukkan bahwa dia berpikir tidak cerdas.

Di bagian ini, kita akan membahas berpikir cerdas bertahap dari berpikir idealis, realistis, paradoks, bahkan sampai retroaktif. Kemampuan retroaktif adalah kemampuan kita berpikir dengan perenungan refleksi mendalam. Di mana perenungan mendalam ini adalah yang membentuk pikiran kita. Sehingga, sejatinya, kita selalu punya kesempatan untuk membentuk pikiran, secara positif, melalui kemampuan retroaktif. Sebuah kesempatan yang perlu kita manfaatkan dengan baik.

2.1 Berpikir Idealis

Berpikir idealis menjadi penting karena sifatnya yang ideal. Meski dunia realitas tidak selalu sesuai dengan ukuran ideal, kita memerlukan ukuran ideal sebagai salah satu petunjuk dan pertimbangan penting. Berpikir idealis adalah berpikir secara simbol – yang bersifat ideal.

Matematika dasar adalah contoh berpikir idealis paling jelas. Dalam operasi bilangan bulat, kita yakin 12 + 1 = 13 berlaku secara ideal kapan saja, di mana saja. Luas persegi yang sisinya 100 meter x 100 meter adalah 10 000 meter persegi atau 1 hektar. Benar secara mutlak.

Aristoteles (384 – 322 SM) mengembangkan sistem logika ideal yang kita kenal dengan silogisme. Logika ideal ini menjadi sarana bagi kita untuk menarik kesimpulan yang valid.

A: Setiap pejabat adalah orang baik.
B: Budi adalah seorang pejabat.

Berdasar logika ideal, kita menyimpulkan secara sah bahwa,

K: Budi adalah orang baik.

Kebalikan dari silogisme logika ideal di atas bernilai belum tentu benar – atau tidak sah. Dengan asumsi premis (A) bernilai benar dan,

C: Catur bukan pejabat.

Kesimpulan (L) berikut adalah tidak sah, bisa bernilai salah atau benar,

L: Catur bukan orang baik. (Tidak sah)

Tetapi, logika kontra posisi bernilai sah setara dengan silogisme.

D: Tuan PQR bukan orang baik.

Maka kesimpulan (M) bernilai benar.

M: Tuan PQR bukan pejabat.

Saya membahas lebih lengkap tema logika ini pada tulisan saya yang satunya: Logika Seberapa Logis.

Perlu sedikit saya tambahkan bahwa “kesepakatan” adalah logika ideal berdasar konsensus. Misal disepakati, “Masa jabatan dibatasi maksimal dua periode.” Jika seorang pejabat sampai menjabat tiga periode maka pejabat tersebut, jelas, melanggar “kesepakatan”.

Demikian juga berpikir berdasar aturan moral, aturan agama, kearifan lokal, hukum positif, dan sejenisnya adalah termasuk berpikir idealis. Maka, kita perlu mencermati dan menghormati berbagai macam aturan yang ada.

Dalam banyak hal, berpikir ideal berhasil membimbing umat manusia. Sedangkan dalam banyak hal lain, berpikir ideal sulit diterapkan karena realitas kehidupan lebih kompleks. Salah satu alternatif yang baik adalah berpikir berdasar manfaat: berpikir praktis.

2.2 Berpikir Praktis

Paham utilitarianisme memberikan solusi sederhana: berpikir praktis berdasar manfaat. Di Indonesia, kita mengenal asas manfaat. “Di antara banyak pilihan yang ada maka pilihlah yang paling besar memberi manfaat kepada sebanyak-banyaknya orang.”

Asas manfaat selaras dengan prinsip, “Sebaik-baik manusia adalah yang paling memberi manfaat kepada manusia.”

Asas manfaat begitu mudah kita pahami. Sebenarnya, cukup mudah juga bagi umat manusia untuk menerapkannya. Hanya saja, kadang, ada godaan yang membelokkan manusia dari asas manfaat. Misal, seorang pejabat bisa saja tergoda untuk korupsi dengan mencuri uang rakyat. Jabatannya menjadi tidak bermanfaat, malah, membahayakan umat.

Bentham (1748 – 1832) adalah pemikir pertama yang merumuskan dengan tegas, “Memberikan manfaat terbesar kepada sebanyak-banyaknya orang adalah ukuran sesuatu sebagai benar atau salah.” Selanjutnya, Bentham mengembangkan beragam cara untuk menghitung dan mengukur suatu manfaat. Dengan demikian, kita menjadi lebih fokus dengan meningkatkan manfaat yang lebih besar banyak orang. Dalam kehidupan sehari-hari, kita punya perasaan bahwa sesuatu itu bermanfaat atau tidak. Jika bermanfaat maka lakukan. Jika tidak bermanfaat maka tinggalkan. Berpikir praktis dengan asas manfaat memang praktis.

John Mill (1806 – 1873) adalah murid dari Bentham yang mengembangkan konsep asas manfaat lebih jauh lagi. Menurut Mill, ukuran suatu manfaat tidak sesederhana yang dipikirkan oleh Bentham. Manfaat, sudah tentu, bisa diukur secara ekonomi, misal kenaikan pendapatan. Atau, kita memberi uang kepada orang miskin, jelas, bermanfaat. Sesuatu yang lebih abstrak, misal membahagiakan orang lain, juga termasuk manfaat. Begitu juga mencerdaskan masyarakat dengan membekali mereka keterampilan kerja juga bernilai manfaat tinggi. Singkatnya, ukuran manfaat menjadi lebih luas lagi.

Karl Popper (1902 – 1994) mendukung konsep asas manfaat negatif. Apa yang kita bahas di atas adalah asas manfaat positif. Yaitu, memberikan manfaat positif kepada masyarakat: meningkatkan pendapatan, memberi ilmu, membuka lapangan kerja. Asas manfaat negatif, lebih penting lagi, yaitu mencegah kerugian atau kejahatan. Contoh mencegah korupsi, mencegah kecelakaan, mencegah penindasan, menghapus kecurangan, melawan kesewenang-wenangan, dan lain-lain. Bagi negara sangat penting mengutamakan asas manfaat negatif. Bagi kita, secara personal, juga penting. Ketika kecurangan dan kejahatan sudah dihapus, maka, dengan sendirinya umat manusia akan mengembangkan asas manfaat positif.

Sekali lagi, berpikir praktis ini bagi kita, sebenarnya memang praktis. Kita hanya perlu meningkatkan manfaat dan mencegah kejahatan. Itu saja. “Tebarkan manfaat dan cegah kerusakan.” “Mengajak kepada kebaikan, mencegah keburukan.”

Benarkah semudah itu? Masih ada tantangan berikutnya. Apa itu manfaat? Apa itu kejahatan? Siapa yang menentukan sesuatu sebagai bermanfaat atau jahat? Kita, memang, bisa menentukan manfaat secara idealis saklek. Nyatanya, realitas tidak selalu seindah alam ideal. Maka kita perlu berpikir realistis. Bagian berikutnya, kita akan membahas berpikir realistis.

2.3 Berpikir Realistis

Berpikir realistis itu mudah saja, yaitu, berpikir apa adanya. Tidak kurang, tidak lebih, cukup berpikir apa adanya. Itulah berpikir realistis yang terbaik.

Dengan berpikir realistis, nyaris kita berpikir dengan sempurna. Ditambah dengan berpikir praktis ( mencari cara memberi manfaat dan mencegah bahaya) serta berpikir idealis (memikirkan skenario-skenario ideal) maka kita siap menghadapi segala tantangan yang Anda. Tantangan realitas ini menjadi makin menarik lantaran sifatnya yang dinamis.

Realitas dinamis. Realitas selalu berubah, selalu bergerak. Pikiran orang yang statis, yang kaku, yang saklek, tentu tidak sesuai dengan realitas. Berpikir yang sesuai dengan realitas adalah berpikir yang dinamis. Berpikir yang menyesuaikan beragam perubahan. Apa artinya suatu pemikiran, suatu teori, jika terus-menerus berubah?

Tentu saja, teori pemikiran itu sangat penting. Teori, umumnya, bersifat tetap dan tidak berubah. Karena, teori mengasumsikan kondisi ideal. Sehingga, teori termasuk kategori berpikir ideal. Dengan demikian, teori bermanfaat untuk menjadi panduan. Dalam prakteknya, di dunia realitas, kita perlu fleksibel untuk menerapkan suatu teori.

Strategi Six Sigma, sebagai contoh, adalah konsep manajemen yang berdasarkan teori statistik. Six Sigma memberikan beragam standar, sedemikian hingga, suatu produk berkualitas tinggi sesuai standar. Seketat apa pun standar ini, nyatanya, Six Sigma tetap memberikan kelonggaran terhadap simpangan. Diijinkan ada 3 atau 4 produk cacat dari 1 juta produk yang dihasilkan. Tentu saja, itu prestasi yang luar biasa. Six Sigma sendiri mengijinkan adanya revisi, improvement berkelanjutan. Sehebat apa pun, teori Six Sigma tetap mengijinkan adanya perubahan.

Ketika teori tidak sesuai dengan realitas, maka, apa yang harus direvisi?

Jawaban singkatnya: teori yang harus direvisi. Karena teori yang harus sesuai dengan realitas. Itulah berpikir realistis. Tetapi, kita harus hati-hati dalam hal ini. Bisa saja, hanya terjadi salah menilai realitas. Sejatinya, teorinya tetap benar sesuai realitas.

Dalam kehidupan personal sehari-hari, kita perlu lebih fleksibel untuk merevisi teori. Sehingga, sifat dari teori adalah dinamis berdasar realitas sehari-hari. Sikap berpikir fleksibel ini akan memudahkan kita menemukan beragam solusi dari setiap situasi. Sementara, sikap keras kepala berpegang pada teori lama yang tidak sesuai realita, justru bisa menimbulkan banyak petaka.

Dulu, kita pakai sms untuk komunikasi. Perkembangan jaman, sms tidak realistis lagi, diganti blackberry (BB). Kemudian, BB tidak realistis lagi, diganti WA. Barangkali beberapa waktu ke depan, WA tidak realistis lagi, maka perlu diganti dengan yang baru. Begitulah realitas, selalu dinamis. Pikiran kita, juga, perlu dinamis.

Heidegger (1889 – 1976) menyatakan bahwa manusia selalu berada dalam situasi dunia tertentu. Kita tidak bisa lepas dari dunia ini. Jika kita lari dari dunia ini maka kita akan berada dalam situasi berbeda, yang nyatanya, dunia lagi. Realitas dari dunia, senantiasa terus-menerus, berubah membuka diri. Tugas kita adalah untuk berusaha memahami dunia, dan memahami diri sendiri, untuk kemudian tumbuh seiring seirama manusia dan dunia.

Ketika kita berpikir realistis apa adanya, maka, apa yang dimaksud dengan “apa adanya” itu?

Pertanyaan sederhana yang kaya akan jawaban. Bahkan, jawaban untuk pertanyaan di atas, tidak ada habis-habisnya. Serta, kita perlu memohon kepada Tuhan agar ditunjukkan yang benar sebagai benar dan yang salah sebagai salah.

Jawaban tentang “apa adanya” adalah sebagai berikut.

Pertama, realitas sosial yang dinamis selalu berubah. Kehidupan Anda bersama keluarga selalu berubah. Kehidupan Anda bermasyarakat, termasuk sosial politik, selalu berubah. Bila ada kehidupan politik yang tidak berubah maka justru itu aneh. Maksudnya, pasti ada sesuatu yang berubah di bidang politik, tetapi ditampilkan seakan-akan tidak berubah. Harga minyak goreng hari ini pasti berubah, bisa naik atau turun. Gaji Anda bulan ini pun, bagi yang gajian, pasti berubah. Jika tidak berubah, itu karena, ada yang mengubahnya sedemikian hingga gaji Anda seperti tidak berubah.

Dengan perubahan kehidupan sosial yang begitu nyata, maka sikap berpikir realistis paling tepat adalah merespon perubahan sebaik-baiknya. Berpikir fleksibel terhadap perubahan, serta menikmati perubahan. Hidup bahagia bersama perubahan. Berpikir “apa adanya” adalah fleksibel berubah.

Kedua, kehidupan pribadi kita, secara psikologis, senantiasa juga berubah. Meski Anda menikmati kopi pagi yang nikmat hari ini seperti nikmatnya hari kemarin, nyatanya, nikmatnya kopi itu berubah. Bisa lebih nikmat. Jika tidak berubah, justru itu yang aneh. Pikiran terhadap kehidupan, dan terhadap kematian, pasti berubah. Waktu kecil, kita berpikir hidup mengalir saja dengan main-main. Ketika muda, hidup lebih serius mengejar cita-cita. Saat sudah tua, hidup adalah persiapan diri menghadapi keabadian. Sejatinya, perubahan pikiran kita terhadap kehidupan terjadi setiap saat – tidak harus perlu waktu bertahun-tahun.

Sungguh aneh, orang yang mengira dirinya tidak berubah. Dia mengira dirinya memang sudah begitu adanya. Padahal, diri kita selalu berubah setiap saat. Maka, berpikir realistis adalah mengarahkan perubahan diri kita menjadi lebih baik. Di saat yang sama, kita menikmati segala perubahan dengan bahagia. Ayo berubah, memang, pasti berubah. Berpikir “apa adanya” adalah diri kita yang fleksibel berubah.

Ketiga, sains juga berubah setiap saat. Sains dianggap sebagai ilmu pasti – yang tidak berubah. Nyatanya, setiap hari ada penemuan sains baru. Jadi, sains berubah setiap saat. Matematika adalah ilmu pasti yang paling pasti. Sehingga, matematika dianggap tidak berubah. Nyatanya, matematika selalu berubah. Ada penemuan teori matematika baru. Ada revisi teori matematika yang lama menjadi baru. Matematika berubah setiap saat. Tidak ada yang tidak berubah. Bahkan perubahan itu sendiri juga berubah – makin cepat dan menghentak.

Singkatnya, berpikir realistis adalah berpikir siap berubah. Berpikir apa adanya.

Jika realitas selalu berubah maka realitas mana yang benar? Atau, apa yang benar-benar Nyata? Apa itu Real Sejati? Pertanyaan ini sulit dijawab dengan satu sudut pandang. Maka kita perlu melihatnya dengan beragam sudut pandang.

Pandangan pertama, Tuhan adalah yang paling Nyata. Tuhan adalah Sang Maha Nyata. “Tuhan ada di sini, di dalam hati ini,” begitu potongan sebuah syair. Kita bisa melihat pohon di samping rumah karena ada terang sinar matahari. Dalam gelap gulita malam, kita tidak bisa melihat pohon itu. Sinar matahari yang menjadikan kita bisa melihat pohon. Meski demikian, mata kita justru tidak mampu melihat matahari, secara langsung, karena saking terangnya. Silau matahari bisa membuat mata buta.

Tuhan adalah Sang Maha Nyata. Segala alam raya menjadi nyata ada berkah karunia Tuhan. Tetapi, mata kita tidak akan mampu menatap Sang Maha Nyata karena begitu terangnya cahaya. Hati, yang bersih, yang akan mampu memandang Tuhan. Maka untuk bisa melihat apa yang benar-benar nyata, kita perlu mendengarkan suara hati, membuka mata hati, dan membersihkan hati. Berpikir realistis adalah berpikir bersama hati bersih.

Pandangan kedua, realisme materialisme menganggap yang paling nyata adalah materi di alam raya.

Interpretasi

Kita selalu bisa menciptakan suatu interpretasi. Karena interpretasi adalah kebebasan bagi setiap manusia. Apakah suatu interpretasi benar atau salah? Benar atau salah, pikiran kita selalu melibatkan sejenis interpretasi.

2.4 Kreatif: Inovatif – Disruptif

Berpikir kreatif adalah berpikir baru; menghasilkan ide baru, produk baru, proses baru, sistem baru, model baru, atau lainnya. Inovasi adalah berpikir kreatif yang berdampak nyata dalam dunia bisnis; inovasi memberi kuntungan besar pada pihak tertentu; inovasi merugikan lebih banyak orang; terjadi disrupsi.

2.5 Paradoks Kontradiksi

Ketika Anda peduli dengan suatu pemikiran maka Anda akan menemukan paradoks atau kontradiksi. Paradoks ini bisa kita selesaikan dengan suatu teori; pada gilirannya, teori itu akan memunculkan paradoks baru.

2.6 Self-Reference Pikiran

Pikiran itu menjadi benar karena dipikirkan. Wah? Tidak kah itu suatu kesombongan?

2.7 Retroaktif

Pada waktunya, kita perlu berpikir retroaktif; berpikir mundur; berpikir reflektif.

3. Bertindak Bijak

Bertindak bijak dan bersikap bijak menjadi sangat penting. Kita butuh lebih banyak hikmah.

3.1 Puasa Diri

Langkah dasar untuk bertindak bijak adalah puasa: puasa ekonomi; puasa politik; dan puasa menghakimi.

3.2 Kontribusi Terbatas

Keinginan nafsu adalah untuk bertambah besar. Bahkan, berbagi kebaikan pun, nafsu mendorong untuk kebaikan yang lebih besar lagi. Apa masalahnya? Masalah sangat besar.

3.3 Ikhlas Lagi

Kita berputar lengkap dengan kembali ikhlas lagi. Urutan yang tepat adalah: (1) terima realitas dengan ikhlas, (2) berpikir dengan cerdas, dan (3) bertindak dengan bijak. Kemudian proses itu kita lanjutkan secara dinamis: ikhlas, berpikir, bertindak, ikhlas, berpikir, bertindak, ikhlas, dan seterusnya. 

Tuhan atau Manusia

Mana yang lebih utama: Tuhan atau manusia?

Sekilas, jawabannya seperti jelas. Tuhan lebih utama, tentu, bagi umat beragama. Benarkah? Bagi umat yang tidak beragama, bagaimana?

Siapakah yang bertanggung jawab atas kejahatan? Tuhan atau manusia? Siapakah yang bertanggung jawab atas kelestarian alam? Siapakah yang bertanggung jawab atas kehidupan?

Pertanyaan bisa sedikit kita ubah: mana lebih utama, ketuhanan atau kemanusiaan?

Kedua-duanya, sama-sama utama. Tetapi, kadang kala, kita memang perlu membuat prioritas. Menyusun daftar sesuai urutan prioritas. Sehingga, kita perlu menjawab, dengan tegas, mana yang lebih utama.

1. Tuhan Utama
2. Manusia Utama
3. Kejahatan Manusia
4. Tanggung Jawab Semesta
5. Teman Dialog

Secara bertahap, kita akan membahas berbagai macam alternatif prioritas di atas. Pada bagian akhir, saya mengusulkan solusi dialektika. Tuhan dan manusia adalah teman dialog. Tentu saja, tidak semua manusia “berhasil” menjadi teman dialog. Hanya orang-orang tertentu yang berdialog dengan Tuhan. Anugerah, bencana, amal, atau pun kejahatan, semua adalah media dialog manusia dengan Tuhan.

1. Tuhan Utama

Tuhan adalah pencipta alam semesta. Tuhan Maha Pengasih. Tuhan Maha Penyayang. Maka Tuhan adalah yang paling utama. Segala perbuatan kita, yang kita niatkan tulus demi Tuhan maka menjadi ikhlas dan bernilai tinggi. Sementara, perbuatan orang-orang yang diniatkan untuk memperoleh pamrih manusia lain, maka, hanya pamer belaka. Tidak bernilai di sisi Tuhan.

Tetapi, bagaimana dengan teroris yang mengatasnamakan Tuhan dalam serangan mereka? Mereka hanya meng-klaim atas nama Tuhan. Memperhatikan bahwa mereka berani berkorban nyawa demi keyakinan mereka, tampaknya, klaim mereka sangat kuat. Apakah Tuhan, dengan demikian, benar-benar paling utama? Atau ada alternatif lain yang lebih utama?

Tentu saja, kita tahu bahwa tidak semua teroris mengatasnamakan Tuhan atau agama. Sebagian, tidak berhubungan dengan klaim Tuhan sama sekali. Bagaimana pun, teroris yang membawa nama Tuhan cukup merepotkan kita untuk justifikasi – Tuhan sebagai yang utama.

Kita bisa membela diri bahwa para teroris itu hanya sebagian kecil saja dari umat beragama. Mereka adalah pencilan, outlier. Karena itu, mereka, para teroris, bisa diabaikan. Mereka tidak mewakili umat beragama. Mereka tidak mewakili orang yang mengutamakan Tuhan. Secara statistik, memisahkan outlier seperti itu adalah metodologi yang sah.

Di sisi lain, orang bisa keberatan dengan argumen outlier ini. Meski mereka, ekstremis, hanya dalam jumlah kecil, tetap saja, mereka mengatasnamakan Tuhan dalam aksi terornya. Sehingga, mereka mengutamakan Tuhan di atas kemanusiaan universal. Dengan demikian, argumen outlier yang mengutamakan Tuhan, bisa ditolak.

Argumen lebih kuat untuk mengutamakan ketuhanan di atas kemanusiaan, barangkali, adalah proporsi. Benar bahwa terjadi penyimpangan dalam proporsi kecil, misal oleh teroris, di bawah 1%. Di sisi lain, lebih 99% orang yang mengutamakan ketuhanan, terbukti, berperilaku baik secara moral mau pun legal. Tidak masuk akal bila penyimpangan 1% membatalkan kebaikan yang 99% itu. Apa lagi, di dunia nyata, tidak ada praktek yang 100% ideal. Justru, karena lebih 99% menunjukkan perilaku yang baik maka kita harus menerima bahwa mengutamakan ketuhanan di atas kemanusiaan adalah sah.

Argumen proporsi ini berhasil menjustifikasi pengutamaan ketuhanan di atas kemanusiaan. Tetapi, argumen ini tidak berhasil menolak alternatif kebalikannya. Maksudnya, argumen proporsi tidak berhasil menolak bahwa kemanusiaan lebih utama dari ketuhanan. Karena itu, kita perlu mengkajinya. Apakah alternatif lain bisa ditolak atau, justru, harus diterima juga?

2. Manusia Utama

Apa pun yang kita pikirkan pasti bersifat manusiawi. Maka manusia adalah yang paling utama.

Bahkan keyakinan kita tentang Tuhan pun bersifat manusiawi. Maksudnya, keyakinan itu adalah keyakinan oleh seorang manusia. Jika tidak ada manusia maka tidak ada keyakinan tentang Tuhan – oleh manusia. Jadi, pada analisis akhir, manusia adalah yang paling utama.

Demikian juga, pengetahuan kita tentang alam raya juga bersifat manusiawi. Sains dan teknologi berkembang karena budaya manusia yang terus berkembang. Semua kemajuan adalah hasil perkembangan manusia. Bagaimana dengan perusakan alam oleh manusia? Bagaimana dengan kekejaman manusia? Bagaimana dengan keserakahan manusia? Apakah manusia bisa menjadi yang paling utama? Bukankah manusia itu jahat dan serakah?

3. Kejahatan Manusia

Sudah jelas bahwa manusia bertanggung jawab atas kejahatan manusia. Umat beragama meyakini bahwa Tuhan Maha Baik. Sedangkan, segala kejahatan adalah karena kesalahan manusia sendiri. Orang ateis, di sisi lain, meyakini kejahatan adalah benar-benar tanggung jawab manusia itu sendiri.

Justru sebagian ateis berargurmen bahwa kejahatan menunjukkan bukti jelas bahwa Tuhan Maha Baik itu tidak ada. Jika benar bahwa ada Tuhan Maha Baik maka Tuhan bisa mencegah kejajahatan dan menggantinya dengan kebaikan bagi seluruh semesta. Karena kejahatan nyata-nyata ada maka kebalikannya yang benar. Mereka memang, karena itu, ateis.

Tentu saja, orang ateis tidak akan mengutamakan ketuhanan. Mereka tidak percaya Tuhan. Mereka mengutamakan kemanusiaan. Kita tahu, tidak sedikit manusia yang jahat. Bagaimana kita bisa mengutamakan kemanusiaan?

4. Tanggung Jawab Semesta

Siapa yang bertanggung jawab menjaga kelestarian alam raya?

Manusia bertanggung jawab untuk menjaga kelestarian alam. Bahkan manusia bertanggung jawab untuk mengembangkan alam. Siapa lagi yang harus bertanggung jawab jika bukan manusia? Tetapi, banyak manusia yang justru merusak alam. Kemajuan teknologi makin canggih, misal bom nuklir, justru mengancam alam semesta.

Tuhan, tentu, dengan mudah bisa menjaga kelestarian alam raya. Jika Tuhan sepenuhnya menjaga kelestarian alam raya, lalu, apa tugas manusia?

Memang Tuhan, di satu sisi, tetap menjaga kelestarian alam. Di sisi lain, manusia memiliki tanggung jawab besar untuk menjaga kelestarian alam. Karena, tanpa beban tanggung jawab ini, justru manusia tidak punya arti hidup di dunia.

Demikian juga ketika ada orang-orang jahat yang justru merusak alam. Maka perilaku jahat seperti itu adalah tantangan yang harus ditaklukkan oleh pelaku itu sendiri dan oleh masyarakat luas. Tantangan ini yang memberikan makna bagi kehidupan manusia.

5. Teman Dialog

Tuhan berdialog dengan manusia. Manusia berdialog dengan Tuhan. Manusia dan Tuhan adalah teman dialog.

Nabi Ibrahim adalah teman dialog Tuhan. Dan, tentu saja, Tuhan adalah teman dialog Ibrahim. Kita tahu Ibrahim adalah bapak semua agama samawi: Yahudi, Kristen, dan Islam. Predikat sebagai teman dialog yang baik adalah predikat tertinggi. Umat manusia perlu meneladani Ibrahim untuk menjadi teman dialog Tuhan.

Al Ghazali (1058 – 1111) menyatakan bahwa bila seseorang mampu mengendalikan diri dalam ekstase jatuh cinta kepada Tuhan maka akan muncul kesadaran baru yang lebih tinggi. Umumnya, orang akan menyebut, “Dia adalah Tuhan.” Tuhan terasa jauh di sana, transenden. Kesadaran baru yang lebih tinggi akan mengatakan, “Aku adalah Tuhan.” Tuhan hadir begitu dekat di dalam diri ini, imanen. Kesadaran lebih tinggi lagi akan mengatakan, “Engkau adalah Tuhan.” Tuhan selalu hadir di hadapan kita sebagai teman dialog, transenden dan imanen.

Ribuan tahun yang lalu, Ibrahim berdialog dengan Tuhan. Di jaman sekarang, apakah manusia masih bisa berdialog dengan Tuhan? Tentu saja bisa. Bahkan ada banyak cara untuk berdialog. Berikut, kita akan membahas beberapa cara dialog bersama Tuhan.

Sunan Kalijaga (1460 – 1513) mengingatkan kita bahwa ada resiko-resiko dalam dialog. Kalijaga menulis “Suluk Linglung” yang menggambarkan bagaimana proses dialog berlangsung. Pertama, kata “suluk” menunjukkan bahwa dialog adalah proses yang perlu dijalani oleh masing-masing diri manusia. Dialog ini bukan sekedar teori yang bisa diajarkan. Tetapi, dialog adalah proses perjalanan yang perlu dijalani dan direnungi.

Kedua, kata “linglung” menunjukkan suatu momen yang menjadikan logika bingung. Logika lama tidak bisa dipaksakan pada momen ini, linglung. Ada logika baru dalam momen dialog penting ini. Tentu saja, setelah kejadian, kita bisa merenungkan kembali momen-momen dialog sehingga memperoleh pemahaman dan formulasi lebih rapi.

5.1 Doa
5.2 Mimpi
5.3 Ilham
5.4 Alam Raya
5.5 Wujud

Kita boleh menolak penyataan, “Segalanya adalah Tuhan.” Tetapi, kita bisa menerima pernyataan, “Tuhan adalah segalanya.” Barangkali, kita bisa mengenang masa-masa jatuh cinta dengan merayu kekasih, “Engkau adalah segalanya.” “You are my everything.”

Tuhan adalah segalanya. Termasuk, Tuhan adalah teman dialog kita. Kapan saja, di mana saja, di setiap saat, di setiap tempat.

Manusia Tidak Bisa Mati

Meski manusia ingin mati, dia tidak bisa mati. Manusia tidak bisa mati. Karena, ketika mati datang, manusia tidak lagi jadi manusia. Badan manusia berubah menjadi mayat, bukan lagi manusia. Jiwa manusia, setelah mati, tidak lagi jadi manusia. Jiwa adalah jiwa itu sendiri atau arwah atau ruh. Atau, justru dia adalah manusia sejati?

Seorang manusia, misalnya Anda, tidak bisa mati. Ketika Anda ada maka tidak mati. Ketika mati tiba maka Anda tidak ada. Diri Anda dan kematian tidak pernah bersama-sama.

Bukankah setiap manusia pasti mati?

Benar saja, pengamatan kita menunjukkan bahwa setiap manusia, pada waktunya, pasti mati. Semua orang yang pernah hidup di masa lalu, akhirnya, mati. Barangkali, kita masih bisa menemukan orang berumur 100 tahun meski jarang. Tetapi, kita nyaris tidak akan bisa menemukan orang yang berumur 200 tahun saat ini. Artinya, orang-orang yang lahir 200 tahun lalu, atau yang lebih lama, semuanya sudah mati. Setiap manusia pasti mati.

1. Paradox Mati
2. Setelah Mati
3. Siap Mati

Pertama, mati memang paradoks. Membingungkan, bahkan menakutkan. Mati adalah akhir kehidupan, di saat yang sama, adalah awal kehidupan. Ketika manusia lahir, sudah dipastikan dia pasti akan mati. Hanya dibentangkan waktu dari lahir sampai mati, pasti. Mati bisa terjadi berkali-kali: mati sebelum mati.

Kedua, apa yang terjadi setelah mati? Tentu saja sulit menjawabnya. Karena, setiap orang yang sudah mati tidak pernah kembali ke sini untuk berbagi informasi. Kaum materialis, barangkali, meyakini setelah mati tidak ada kehidupan. Hati kecil terdalam kita mengharuskan bahwa ada kehidupan setelah mati. Agama-agama besar dunia mengajarkan adanya realitas kehidupan setelah mati, alam kubur dan akhirat. Para pemikir besar dunia juga mengajarkan bahwa realitas kehidupan setelah mati lebih nyata dari kenyataan itu sendiri.

Ketiga, apa yang perlu kita siapkan menghadapi kematian? Kita bisa melupakan kematian, toh, kematian tetap datang. Kita bisa bersiap-siap menghadapi kematian, toh, siap atau tidak siap, kematian tiba-tiba datang. “Dan janganlah kamu mati kecuali kamu dalam keadaan selamat.”

1. Paradox Mati
2. Setelah Mati

3. Siap Mati

Bagaimana pun, dalam hidup ini, kita perlu bersikap terhadap kematian. Kita bisa memilih untuk melupakan kematian. Atau, kita justru bisa memilih untuk terus ingat kematian. Dan, kita bisa bervariasi antara lupa dan ingat mati. Lebih penting dari itu, apa sikap kita selanjutnya? Hidup menjadi bermakna karena ada mati. Hidup menjadi bermakna karena ada batas waktu. Hidup menjadi bermakna karena ada batas kesempatan. Hidup menjadi bermakna karena serba terbatas.

Jika hari ini adalah hari terakhir dalam hidup Anda maka apa yang akan Anda kerjakan? “Dan janganlah kamu mati kecuali kamu dalam keadaan selamat.”

3.1 Melupakan Kematian

Sikap paling mudah bagi manusia adalah melupakan kematian. Kemudian menjalani kesibukan hidup yang tidak ada habisnya. Sibuk kerja, berkarya, pesta pora, doa, dan sibuk apa saja asal bisa untuk melupakan datangnya ajal. Di tengah kesibukan seperti itu, kita bisa lupa mati. Tetapi, mengapa kadang-kadang masih ingat mati juga?

3.11 Sibuk Kerja
3.12 Sibuk Karya
3.13 Sibuk Pesta
3.14 Sibuk Doa
3.15 Sibuk Apa Saja

3.2 Mengingat Kematian

Mengingat mati merupakan sikap yang lebih baik bagi kita. Dengan ingat mati segalanya menjadi penuh arti. Mati adalah jalan pasti bagi kita untuk menempuh perjalanan lebih jauh, lebih hakiki. Mati adalah perpindahan alam masa kini menuju alam nanti – pertemuan masa depan, masa lalu, dan masa kini. Selanjutnya, setelah ingat mati, kita menjalani hidup penuh arti. Sibuk kerja adalah cara kita memberi manfaat kepada kehidupan dan mengumpulkan bekal kematian. Doa adalah penguat kehidupan dan cahaya kematian. Hidup adalah langkah-langkah perjalanan dalam bentangan sajadah panjang kematian.

3.21 Memaknai Mati
3.22 Memaknai Hidup
3.33 Menjalani