Filosofi Sakina

Masalah terbesar umat manusia, saat ini, adalah manusia menjadi manusia satu dimensi.

Di era kontemporer ini, manusia hanya punya satu dimensi yaitu dimensi ekonomi. Bahkan lebih fokus hanya ke profit. Lebih jauh lagi fokus bergeser hanya ke pertumbuhan kekayaan – bagi segelintir orang. Dampak negatif dari manusia satu dimensi, bisa kita rasakan langsung: kesenjangan ekonomi, kebobrokan politik, perusakan lingkungan, krisis iklim, pandemi, sampai ancaman perang nuklir dan senjata pembunuh massal.

Secara pribadi, manusia satu dimensi hanya bisa menipu diri sendiri. Mereka berpikir dengan makin banyak kekayaan maka makin bahagia. Nyatanya, makin kaya justru makin hampa. Makin banyak fasilitas, hati makin panas. Makin banyak uang, jalan hidup makin bimbang.

Solusinya jelas: berubahlah. Jangan mau jadi manusia satu dimensi. Jadilah manusia dua dimensi. Untuk kemudian, terus bertumbuh menjadi lebih banyak dimensi penuh harmoni. Raihlah bahagia sejati. Hidupkan jiwa. Cahaya jiwa adalah cahaya sakina.

1. End of History
2. Dialektika Kontradiksi
3. Dialektika Keragaman
4. Dialektika Sakina
5. Cahaya Masyarakat Sakina
6. Kejahatan Selalu Ada
7. Semesta Sakina

Sokrates (470 – 399 SM) mengingatkan bahwa manusia punya banyak dimensi. Di antara dimensi-dimensi itu saling berdialog untuk tumbuh menjadi lebih baik. Proses dialog ini, kita kenal sebagai dialektika, berlangsung dengan saling tanya dan jawab secara terbuka.

Fukuyama (1952 – ) menyatakan bahwa kompetisi dunia kapitalis lawan dunia komunis sudah berakhir pada tahun 1990an ditandai dengan runtuhnya Uni Soviet. Dunia menjadi tunggal, satu dimensi, yaitu dunia kapitalis. Sejarah telah mencapai ujung akhir.

Hegel (1770 – 1831) merumuskan dialektika kontradiksi yang memenuhi alam raya. Seharusnya, sejarah tidak akan pernah mencapai ujung akhir. Karena sepanjang sejarah, selalu ada kontradiksi dalam masyarakat sehingga masyarakat terus bergerak mengatasinya.

Marx (1818 – 1883) mengembangkan dialektika kontradiksi materialis. Kaum elit borjuis berkontradiksi dengan kaum bawah proletar, berdialektika, untuk kemudian, membentuk masyarakat yang adil. Kritik Marx kepada kapitalisme menunjukkan beragam cacat kapitalisme. Tetapi, masyarakat adil itu belum juga tiba. Seandainya, masyarakat adil memang terbentuk maka akan tetap ada kontradiksi.

Deleuze (1920 – 1995) merumuskan metafisika “different”: realitas dipenuhi oleh beragam perbedaan. Kita melihat perbedaan-perbedaan nyata di dunia aktual. Lebih dari itu, perbedaan juga terjadi pada dunia virtual. Kapitalisme tidak memerlukan perbedaan yang beragam itu. Kapitalisme memandang semua sama: sumber daya yang bisa dieksploitasi. Problem besar muncul ketika keragaman diberangus. Kita memerlukan solusi yang mengakui keragaman perbedaan.

Dialektika sakina adalah solusi yang mengakui keragaman. Keragaman adalah energi pendorong perubahan. Dialektika sakina membentuk keseimbangan dinamis dari berbagai unsur yang berbeda. Tidak ada formula tunggal untuk keseimbangan dinamis. Banyak struktur berbeda, di saat yang sama, struktur-struktur itu mencapai keseimbangan dinamis. Namun, banyak juga struktur lain yang tidak dinamis juga tidak seimbang.

Dalam proses dialektika sakina, secara personal, muncul rasa bahagia dalam diri setiap orang yang terlibat. Secara sosial politik, dialektika sakina mendorong terciptanya struktur politik dinamis yang menjamin masyarakat adil makmur. Pada bagian akhir tulisan, kita akan mengkaji lebih dalam tema ini dengan harapan terciptanya cahaya masyarakat sakina.

1. End of History

Fukuyama (1952 – ) menyatakan bahwa kompetisi dunia kapitalis lawan dunia komunis sudah berakhir pada tahun 1990an ditandai dengan runtuhnya Uni Soviet. Dunia menjadi tunggal, satu dimensi, yaitu dunia kapitalis. Sejarah telah mencapai ujung akhir.

Dunia ketiga, pada abad 20, tidak diperhitungkan eksistensinya. Hanya ada dunia kesatu, negara kapitalis, melawan dunia kedua, yaitu negara komunis. Proses dialektika kapitalis versus komunis sudah berakhir menjelang abad 21. “End of History” dimenangkan oleh dunia kapitalis.

Vattimo (1936 – ) membaca “End of History” dengan pendekatan berbeda: pendekatan hermeneutika. Hadirnya media digital menyebabkan sejarah berakhir. Kita tidak punya lagi sejarah, dalam arti, tidak ada sejarah tunggal. Setiap negara, atau kelompok, bisa menciptakan narasi sejarah masing-masing. Termasuk sejarah dunia, masing-masing orang punya narasi yang berbeda.

Sayangnya, dunia digital, benar-benar, mengakhiri sejarah. Perusahaan-perusahaan besar mendiktekan narasi besar dengan menguasai media digital. Umat manusia tidak sadar, mereka dalam genggaman korporasi raksasa dunia. Hanya ada sejarah tunggal: sejarah korporasi besar.

Bagaimana pun, dalam diri manusia selalu ada yang tersisa: satu titik sumber cahaya. Meski pun sejarah berakhir, meskipun sejarah mengungkung manusia, titik cahaya itu tetap bersinar. Bahkan, sinarnya senantiasa mencari cara untuk keluar, memenuhi jagat raya. Tidak akan pernah ada akhir, selama ada manusia di sana.

Akhir dari sejarah, sejatinya, adalah awal dari sejarah yang berbeda. Siapa yang akan menulis sejarah baru? Siapa yang menciptakan sejarah baru? Siapa pelaku sejarah baru?

2. Dialektika Kontradiksi

Hegel (1770 – 1831) merumuskan dialektika kontradiksi yang memenuhi alam raya. Seharusnya, sejarah tidak akan pernah mencapai ujung akhir. Karena sepanjang sejarah, selalu ada kontradiksi dalam masyarakat sehingga masyarakat terus bergerak mengatasinya.

Hegel sendiri menyatakan bahwa dialektika akan berakhir manakala tercapai “Spirit Absolute”: di mana tidak ada kontradiksi lagi. Membaca “Spirit Absolute” ini, tentu saja, menimbulkan problem tersendiri. Wajar jika “Spirit Absolute” berkontradiksi dengan spirit-tidak-absolute maka terjadi proses dialektika, lagi. Dengan demikian, dialektika tidak pernah berakhir.

Secara definisi, “Spirit Absolute” adalah hilangnya segala kontradiksi. Justru definisi seperti itu yang mengundang kontradiksi. Bagaimana pun, konsep “Spirit Absolute” mempunyai daya pikatnya tersendiri. Kita jadi memiliki cita-cita jelas untuk meraih cita-cita absolute. Karl Marx mengembangkan konsep masyarakat komunis lebih lanjut.

Marx (1818 – 1883) mengembangkan dialektika kontradiksi materialis. Kaum elit borjuis berkontradiksi dengan kaum bawah proletar, berdialektika, untuk kemudian, membentuk masyarakat yang adil. Kritik Marx kepada kapitalisme menunjukkan beragam cacat kapitalisme. Tetapi, masyarakat adil itu, yang diprediksi Marx, belum juga tiba. Seandainya, masyarakat adil memang terbentuk maka akan tetap ada kontradiksi.

Marx percaya bahwa masyarakat adil itu akan terbentuk dan menjadi akhir dari dialektika materialisme. Sampai akhir abad 20, prediksi Marx tidak terbukti. Bahkan di awal abad 21 ini, tanda-tanda jalannya sejarah menyimpang dari prediksi Marx makin jelas. Kita lebih yakin bahwa masyarakat tidak akan berhenti, masyarakat terus berdialektika.

Bertrand Russell (1872 – 1970), sekitar peralihan ke abad 20, menolak konsep dialektika kontradiksi dari Hegel. Menurut Russell, sains tidak berkembang melalui kontradiksi-kontradiksi yang menyatu dalam dialektika. Sains justru berkembang melalui kajian detil terhadap obyek-obyek dengan batasan yang jelas, tanpa kontradiksi. Setiap penemuan sains akan menjadi pijakan untuk pengembangan sains berikutnya. Kelak, pendekatan Russell ini, sekaligus menolak Hegel, membentuk satu mazhab filsafat yang kokoh: filsafat analitik.

Karl Popper (1902 – 1994), pada pertengahan abad 20, menyerang keras dialektika Hegel, dan Marx, sebagai historisisme. Bagi Popper, historisisme adalah mustahil. Tidak mungkin, kita bisa meramalkan jalannya sejarah ke depan. Karena, kemajuan sejarah umat manusia dipengaruhi oleh perkembangan pengetahuan, dan teknologi. Sementara, perkembangan pengetahuan selalu menampilkan lompatan-lompatan tak terduga dalam bentuk penemuan-penemuan baru. Akibatnya, kita tidak pernah bisa memastikan arah sejarah manusia di masa depan.

Sebaliknya, historisisme justru menyakini jalannya sejarah, ke masa depan, sudah dipastikan melalui jalur tertentu.

Tugas manusia, menurut hitorisisme, sekedar mengikuti jalannya sejarah itu. Bila ada orang yang menyimpang dari jalannya sejarah maka mereka perlu diluruskan agar sesuai jalannya sejarah. Akibat dari historisisme ini adalah totaliterianisme. Dan, kita menyaksikan bencana kemanusia terbesar sepanjang sejarah: perang dunia I dan II. Popper dengan tegas menolak totaliterianisme dan historisisme. Popper mengusulkan terbentuknya “open society”, masyarakat terbuka.

Terbukti, konsep dialektika Hegel nyaris musnah pada akhir abad 19 dan sepanjang abad 20. Serangan Russell dan Popper, tampaknya, berpengaruh besar terhadap meredupnya Hegel. Di saat hampir bersamaan dengan Popper menulis kritik kepada Hegel, Russell menulis buku “Sejarah Filsafat Barat.” Di dalam bukunya, Russell menyerang terang-terangan kepada Hegel.

Kebangkitan

Kajian lebih mendalam menunjukkan bahwa serangan Russell dan Popper terhadap Hegel adalah salah sasaran. Mereka tidak mengkritik dialektika Hegel. Mereka, Russell dan Popper, hanya mengkritik interpretasi terhadap konsep Hegel. Bahkan, mereka salah paham terhadap Hegel.

Akhir abad 20, kita menyaksikan kebangkitan kembali dialektika Hegel. Bahkan awal abad 21 ini, ada yang menilai sebagai masa kegemilangan dialektika Hegel. Pada tahun 1980an, Pippin (lahir 1948 – ) menulis buku tentang dialektika Hegel dari sudut pandang anti-metafisika. Dengan cara ini, kita bisa membaca Hegel dengan intonasi wajar tanpa kecurigaan. Kita membaca Hegel secara rasional dan empiris sehingga sejalan dengan filsafat analitik – dan filsafat lain secara lebih luas.

Zizek (lahir 1949 – ), terang-terangan, menghidupkan kembali ajaran dialektika Hegel. Sikap ini menarik. Karena gerakan Marxisme, sampai saat ini, adalah kisah kegagalan perjuangan. Dengan kembali kepada Hegel setelah dari Marx, maka, terbuka posibilitas lebih besar. Secara intelektual, dialektika Hegel tampak lebih kokoh dari Marx. Tetapi, secara politis, pendekatan Marx barangkali mempunyai dampak lebih besar dan lebih revolusioner.

“Apa makna Spirit Absolute di saat ini?”

Bagaimana pun, kesan totaliter tetap kuat dalam kata “Spirit Absolute”. Pippin membaca spirit sebagai bukan sesuatu yang bersifat spiritual tetapi suatu pendekatan epistemologis. Spirit kita perlukan secara epistemologis untuk pijakan ontologi. Spirit adalah “dasar pengetahuan” yang dengannya, kita bisa mengembangkan pengetahuan lanjutan secara dialektis. Tanpa “dasar pengetahuan,” tanpa spirit, kita tidak bisa mengembangkan pengetahuan apa pun.

Dasar-pengetahuan ini terbatas, sehingga berkontradiksi dengan esensi alam raya. Karenanya terjadi dialektika merangkul dasar-pengetahuan dan esensi alam raya sehingga terbentuk pengetahuan baru. Selanjutnya, pengetahuan-baru ini berkontradiksi dengan esensi alam raya dan berdialektika lagi menghasilkan pengetahuan yang lebih baru lagi. Demikian seterusnya, proses dialektika tiada henti.

Tentu saja, kita bisa memikirkan pertumbuhan pengetahuan melalui dialektika bisa bersifat meluas dan mendalam. Meluas dalam arti cakupan pengetahuan makin luas dengan batas-batas yang melebar, misal teori relativitas dan sosiologi. Sedangkan, mendalam dalam arti tidak meluaskan batas tetapi makin mendalami suatu kajian tertentu, misal mekanika quantum dan psikologi.

Spirit Absolute bermakna pengetahuan yang tidak pernah berhenti, terus-menerus bergerak, secara absolute. Karena realitas alam raya selalu dinamis, termasuk manusia, maka kontradiksi selalu terjadi. Dengan demikian, dialektika secara absolute tidak akan pernah berhenti. Dialektika akan selalu terjadi.

Dalam analisis kita, dialektika Hegel ini memberi dorongan untuk mengembangkan dialektika Sakina yang lebih komprehensif. Dialektika Sakina mengakui keragaman alam raya, dan keragaman manusia, sehingga terjadi kontradiksi, meminjam istilah Hegel. Proses dialektika bertujuan untuk mencapai mode Sakina yang lebih tinggi ditandai dengan hadirnya karakter keseimbangan dinamis dan dinamika seimbang. Dari satu mode Sakina,senantiasa, bergerak maju ke mode Sakina yang baru, sering ditandai dengan hilangnya keseimbangan sementara.

Dialektika Hegel, minimal, mengingatkan kita ada dua sisi realitas yang saling berkontradiksi. Realitas tidak bisa direduksi menjadi realitas tunggal, misal, menjadi realitas ekonomi belaka. Demikian juga, realitas manusia tidak bisa dipandang sebagai realitas tunggal untuk memenuhi kebutuhan ekonomi saja. Realitas selalu jamak, beragam. Bagaimana pun, dalam keragaman realitas, kita tetap terhubung dalam kesatuan alam raya. Sehingga terjadi dinamika untuk meraih yang lebih baik bagi sesama. Dialektika Sakina.

3. Dialektika Keragaman

Deleuze (1920 – 1995) merumuskan metafisika “different”: realitas dipenuhi oleh beragam perbedaan. Kita melihat perbedaan-perbedaan nyata di dunia aktual. Lebih dari itu, perbedaan juga terjadi pada dunia virtual. Kapitalisme tidak memerlukan perbedaan yang beragam itu. Kapitalisme memandang semua sama: sumber daya yang bisa dieksploitasi. Problem besar muncul ketika keragaman diberangus. Kita memerlukan solusi yang mengakui keragaman perbedaan.

Heidegger (1889 – 1976) merumuskan ontological “different”: selalu ada perbedaan ontologis antara interpretasi dengan realitas dalam setiap klaim kebenaran. Apa pun klaim kebenaran yang kita buat maka tidak akan pernah sama persis dengan realitas ontologis. Selalu ada perbedaan di antara keduanya, interpretasi dan realitas, yang tak pernah bisa dihilangkan. Sebagus apa pun interpretasi yang kita buat maka itu adalah sekedar estimasi dari realitas. Masalah lebih serius muncul karena setiap pengetahuan manusia selalu melibatkan interpretasi, dan pengalaman, dalam satu dan lain cara.

Masih di akhir abad 20, Derrida dan Lyotard secara terpisah, juga merumuskan konsep “different” yang berbeda lagi. Sehingga, kita memiliki banyak konsep “different” yang berbeda-beda. Bagi kita di Indonesia, sudah terbiasa dengan istilah “bhineka” atau keragaman atau “different” itu sendiri. Realitas alam raya memang dipenuhi oleh aneka ragam perbedaan.

Deleuze menyatakan bahwa “different” lebih prior dari “identitas”. Cara pandang Deleuze ini berkebalikan dengan prinsip logika yang selama ini kita pegang sejak era Aristoteles. Prinsip identitas adalah yang paling utama, menurut Aristoteles. Kuda adalah kuda dan sapi adalah sapi. Karena ada identitas kuda adalah kuda maka, kemudian, kita bisa membedakan antara kuda dan sapi.

Konsep “different” menyatakan sebaliknya. Kuda berbeda dengan sapi. Kuda berbeda dengan kambing. Kuda berbeda dengan segala yang bukan kuda. Totalitas dari seluruh yang berbeda dengan kuda maka, kemudian, kita mengenali identitas kuda. Awalnya adalah “different”, kemudian, totalitas dari “different” membentuk suatu identitas.

Implikasi dari konsep “different” ini sangat besar. Membalik karakter mandiri identitas menjadi tergantung, atau dipengaruhi, oleh entitas selain dirinya.

Secara teoritis, dan filosofis, konsep “different” mempersulit kita dalam melakukan klaim kebenaran. Karena klaim kebenaran kita harus mempertimbangkan seluruh aspek yang berbeda dari “kebenaran kita” itu. Sementara, kita tidak akan pernah berhasil meraih totalitas dari seluruh keragaman perbedaan. Akibatnya, klaim kebenaran kita tidak pernah sempurna.

Untuk memperbaiki klaim “kebenaran kita” yang tidak sempurna ini maka kita perlu melakukan iterasi mempertimbangkan totalitas keragaman perbedaan. Iterasi tanpa henti ini bisa kita sebut sebagai dialektika keragaman atau dialektika “different”. Meski pun, barangkali, Deleuze tidak akan suka dengan istilah dialektika.

Secara ekonomi, kita tidak bisa lagi melakukan klaim bahwa bisnis kita menguntungkan berdasar analisis data internal kita. Untuk bisa melakukan klaim “kebenaran ekonomi kita” perlu mempertimbangkan totalitas perbedaan dari beragam pihak. Secara politik, demikian juga, kita tidak bisa lagi melakukan klaim kebenaran berdasar analisis internal. Dan, karena klaim ini tidak pernah sempurna maka kita perlu terbuka dengan proses dialektika keragaman bersama banyak pihak lain.

Dialektika keragaman ini lebih fleksibel dibanding dialektika kontradiksi. Karena, keragaman mencakup kontradiksi dan lebih banyak lagi jenis perbedaan lainnya. Selanjutnya, kita perlu membahas dialektika Sakina sebagai kelanjutan dari dialektika keragaman.

Realitas memang beragam. Realitas, sekali lagi, tidak bisa direduksi menjadi hanya satu dimensi, misal dimensi ekonomi belaka. Demikian juga, realitas kemanusiaan juga beragam sehingga tidak mungkin bisa direduksi menjadi hanya satu dimensi.

4. Dialektika Sakina

Sakina adalah rasa bahagia yang hadir dalam proses, dan sebagai hasil, mengatasi keragaman perbedaan. Hasil dari mengatasi keragaman adalah keragaman baru yang lebih matang. Sakina tidak menolak keragaman. Sakina mengatasi keragaman, untuk kemudian, berada dalam keragaman baru.

Dialektika sakina adalah solusi yang mengakui keragaman. Keragaman adalah energi pendorong perubahan. Dialektika sakina membentuk keseimbangan dinamis dari berbagai unsur yang berbeda. Tidak ada formula tunggal untuk keseimbangan dinamis. Banyak struktur berbeda, di saat yang sama, struktur-struktur itu mencapai keseimbangan dinamis. Namun, banyak juga struktur lain yang tidak dinamis juga tidak seimbang.

5. Cahaya Masyarakat Sakina

Dalam proses dialektika sakina, secara personal, muncul rasa bahagia dalam diri setiap orang yang terlibat. Secara sosial politik, dialektika sakina mendorong terciptanya struktur politik dinamis yang menjamin masyarakat adil makmur. Pada bagian akhir tulisan, kita akan mengkaji lebih dalam tema ini dengan harapan terciptanya cahaya masyarakat sakina.

6. Kejahatan Selalu Ada

Benarkah akan selalu ada kejahatan? Pernahkah, di masa-masa tertentu, bersih sama sekali dari kejahatan? Kita menduga akan selalu ada kejahatan selama ada anak manusia.

Kita perlu membedakan tiga istilah: jahat, salah, dan sulit. Kejahatan adalah paling parah.

Kesulitan adalah rintangan tertentu yang menghalangi tercapainya tujuan. Budi ingin masuk SMA setelah lulus SMP. Kesulitannya adalah banyak siswa SMP bersaing untuk masuk SMA pilihan yang sama. Kompetisi, atau persaingan, adalah kesulitan yang wajar. Kesulitan perlu diatasi.

Kesalahan adalah tidak tepat secara konsep, tempat, waktu, ukuran, aturan, atau lainnya. Aturan zonasi berubah menjadi radiusi berdasar jarak adalah contoh kesalahan konsep. Budi tidak bisa masuk SMA pilihan karena jarak rumahnya 1 km dari SMA pilihan; berdasar zonasi, terlalu jauh 1 km itu. Meski Budi rajin belajar tetap gagal. Zonasi adalah contoh kesalahan konsep; lebih salah lagi karena, akhirnya, Budi harus sekolah ke SMA swasta yang jaraknya lebih dari 5 km dan biaya mahal. Kesalahan perlu dikoreksi.

Kejahatan adalah secara sengaja merugikan pihak-pihak tertentu atau menguntungkan pihak sendiri atau sepihak. Aturan zonasi menguntungkan orang-orang yang rumahnya dekat SMA favorit; menguntungkan orang-orang yang mampu membayar KK (kartu keluarga) sehingga jarak dekat sekolah. Zonasi merugikan orang-orang yang tinggal di gunung, di kampung yang jauh dari sekolah favorit. Atau, merugikan orang yang jarak rumah meski dekat tapi disisihkan; misal rumah Budi jarak 1 km disisihkan karena ada KK yang jumlahnya banyak sekali dengan radius hanya 300an meter. Kejahatan perlu dicegah, dikoreksi, dan diatasi.

Bagaimana pun, kejahatan memicu terjadinya dialektika dengan kebaikan. Jadi, apakah kejahatan punya peran penting?

7. Semesta Sakina

Alam semesta ini terus berkembang dengan filosofi sakina.

Bagaimana menurut Anda?

Penilaian Apriori

Presiden Jokowi adalah presiden terbaik. Karena itu, semua program presiden adalah program terbaik. Pemindahan IKN (ibu kota negara) adalah program terbaik. Para ahli sudah mengkaji secara ilmiah, terbukti pemindahan IKN adalah program terbaik. Pembangunan kereta api cepat, pembangunan jalan tol, pembangunan bendungan, dan lain-lain, semuanya, adalah program terbaik.

Bagaimana jika masa jabatan 3 periode? Tentu saja itu yang terbaik. Jika jadi 3 periode maka itu adalah yang terbaik. Dan, jika tidak jadi 3 periode maka tetap yang terbaik.

Cara penilaian seperti itu adalah penilaian apriori.

Penilaian apriori juga bisa ke arah sebaliknya. Dia adalah presiden terburuk. Karena itu, program apa pun yang dilakukannya pasti buruk. Program IKN, kereta cepat, pembangunan tol, dan lain-lain semuanya adalah buruk. Banyak tersedia data, terutama berita, membuktikan itu.

Pro dan kontra, sama-sama, bersifat apriori. Bukankah apriori itu buruk? Apriori banyak bermanfaat dan banyak mudharat juga. Kita akan membahasnya di bawah ini.

1. Analisis Apriori Posteriori
2. Data Empiris
3. Konsep Ideal
4. Apriori vs Posteriori
5. Solusi Sakina

Aristoteles (386 – 322 SM) adalah pemikir awal yang memperhatikan pentingnya analisis apriori dan posteriori. Penilaian apriori menjamin logika silogisme menjadi benar. Sementara, jika tidak ada apriori maka logika silogisme tidak dijamin bernilai benar. Dengan kata lain, tanpa apriori, semua logika manusia adalah ragu-ragu.

1. Analisis Apriori Posteriori

Suhrawardi (1154 – 1191) meragukan validitas konsep apriori dari Aristoteles dan murid-muridnya. Konsep apriori yang dikembangkan sampai jaman itu tidak berhasil mengungkapkan pengetahuan sejati. Suhrawardi memberi solusi dengan epistemologi “ilmu hudhuri” atau “knowledge by presence.”

Immanuel Kant (1720 – 1804) berhasil menempatkan penilaian apriori dan posteriori dengan baik. Apriori berlaku dengan tepat untuk konsep-konsep ideal semisal matematika. Sedangkan, posteriori berlaku untuk kasus-kasus empiris semisal sains, kehidupan sosial, dan bisnis sehari-hari.

Apriori adalah penilaian yang sudah ditetapkan kebenarannya secara universal lebih awal dari pengamatan. Misal, “persegi adalah bangun datar yang memiliki empat sisi.” Lingkaran pasti bukan persegi karena tidak punya empat sisi. Segitiga pasti bukan persegi karena tidak memiliki empat sisi. Kita tidak harus mengamati lingkaran dan segitiga tersebut.

Posteriori adalah penilaian yang hanya bisa ditetapkan kebenarannya setelah ada pengamatan. “Milen, kemarin, ikut sholat Jumat,” adalah posteriori. Kita perlu melakukan pengamatan kepada Milen apakah dia ikut sholat Jumat. Setelah itu, kita baru bisa mengambil kesimpulan. (Bandingkan dengan lingkaran. Tanpa pengamatan, kita sudah tahu lingkaran pasti bukan persegi.)

Tantangan tetap ada di depan kita: semua analisis posteriori, pada langkah akhir, harus didasarkan pada analisis apriori. Di sinilah, tugas kita untuk menjaga dinamika antara apriori dan posteriori. Sehingga, terbentuk alunan serasi dalam hidup ini.

Tantangan kedua, lebih serius, adalah masalah praktis. Kapan kita harus menerapkan analisis apriori dan kapan kita harus menerapkan analisis posteriori. Seperti contoh di atas tentang presiden terbaik, atau sebaliknya, tidak tepat dengan menggunakan analisis apriori. Menentukan presiden terbaik seharusnya dengan menggunakan analisis posteriori. Demikian juga, penilaian program kerja presiden didasarkan pada analisis posteriori.

2. Data Empiris

Kehidupan sehari-hari, pengalaman empiris, menuntut kita untuk menerapkan analisis posteriori. Bagaimana pun, analisis posteriori terhadap data empiris selalu bersifat kontingen, hanya kemungkinan bukan kepastian.

P: “Pawang berhasil mengusir hujan.”

Pernyataan P di atas bisa benar. Meski benar, misalnya, tetap saja kontingen – tidak mutlak. Hasil pengamatan menunjukkan memang benar bahwa pawang berhasil mengusir hujan. Tetapi, pengamatan itu bisa saja salah mengamati. Di mana-mana, era media sosial, bisa terjadi setingan belaka.

S: “Soekarno adalah proklamator RI.”

Pernyataan S jelas benar tetapi kontingen. Catatan sejarah, cerita rakyat, dan bukti-bukti di museum mendukung bahwa S memang benar. Apakah S jadi benar 100%? Tetap kontingen, tidak bisa 100%. Tidak ada masalah dengan kontingen ini. Dalam hidup, kita sering menghadapi kontingensi ini.

Apakah air yang Anda minum 100% sehat? Tidak juga. Tetapi kita berani minum air itu dengan keyakinan yang memadai. Dan hidup kita sehat. Jika ada orang yang menunggu 100% air sehat maka dia tidak akan pernah menemukan itu. Bisa jadi, dia tidak akan pernah minum air sampai membahayakan kesehatannya.

Bahkan hukum sains, misal hukum kekekalan massa, juga bersifat kontingen. Massa, atau materi, tidak bisa diciptakan atau dimusnahkan. Materi hanya bisa berubah bentuk. Es padat berubah jadi air cair, dan bisa berubah lagi jadi uap gas. Reaksi kimia bisa mengubah air menjadi hidrogen dan oksigen. Bagaimana pun, massa tetap sama. Materi hanya berubah bentuk.

Hukum sains kekekalan massa itu menjadi salah, ketika ditemukan, bahwa massa bisa hilang, musnah, berubah menjadi energi. Sehingga, perlu revisi menjadi hukum kekekalan massa-energi. Apakah, dengan demikian, hukum kekekalan massa-energi menjadi benar 100%? Tidak juga. Hukum sains tetap kontingen. Hanya saja, sampai saat ini, hukum sains tersebut masih benar.

Sekali lagi, tidak ada masalah dengan kontingensi. Alam raya empiris ini memang kontingen. Kita perlu bersikap bijak terhadap kontigensi. Kita perlu sikap terbuka, barangkali, pengetahuan kita salah. Barangkali pengetahuan orang lain lebih benar. Barangkali sudut pandang yang berbeda adalah lebih baik. Dan, tentu saja, barangkali pengetahuan kita memang lebih benar.

Hidup menjadi lebih bahagia dengan sikap berpikir terbuka.

3. Konsep Ideal

Kita memiliki konsep ideal dalam matematika dan moral yang benar secara universal – apriori. “Korupsi adalah kriminal,” merupakan penilaian apriori yang benar secara universal. Akibatnya, setiap tindakan korupsi perlu dihukum, atau dicegah.

Persoalan menjadi beda bila, “Mr Fulan melakukan korupsi.” Kali ini, penilaian terhadap Mr Fulan adalah partikular sehingga posteriori. Sehingga kita perlu mengamati bukti apakah Mr Fulan benar-benar melakukan korupsi. Jika terbukti, maka Mr Fulan layak dihukum. Jika tidak terbukti maka Mr Fulan bebas.

Tugas menghakimi adalah tugas kita sebagai manusia. Mau tidak mau, kita harus menghakimi banyak hal. Apakah Anda akan melanjutkan membaca tulisan ini? Anda adalah hakimnya dan harus menghakimi. Apakah Anda akan minum saat ini? Tugas Anda untuk menghakimi. Contoh “membaca” atau “minum” merupakan tugas hakim yang sederhana. Tugas yang lebih kompleks menuntut kita menghakimi sesuatu yang “partikular” masuk dalam kelompok “universal”.

“KC: Pengembangan kereta api cepat bermanfaat bagi rakyat.”

Apakah pernyataan KC di atas adalah benar? Kita dihadapkan pada penilaian partikular “P: Pengembangan kereta api cepat,” dan penilaian universal “M: Manfaat bagi rakyat.”

Setiap program pembangunan pemerintah harus masuk “M: bermanfaat bagi rakyat.” Penilaian apriori ini benar dan dapat diterima oleh semua rakyat dan semua politikus – bisa dicek ketika janji kampanye.

Tetapi, “P: Pengembangan kereta api cepat” adalah partikular. Ketika P dimasukkan ke M maka penilaian akhir kita adalah partikular atau posteriori. Pengujian empiris perlu dilakukan untuk “menghakimi.” Hasilnya, bisa saja benar (B) pengembangan kereta api cepat bermanfaat bagi rakyat. Bagaimana pun B ini tetap partikular. Sewaktu-waktu bisa berubah menjadi salah. Sehingga perlu konsistensi untuk menjaga selama perencanaan, pelaksanaan, dan pasca-pelaksanaan.

Bisa juga hasilnya salah (S), ternyata, pengembangan kereta api cepat TIDAK bermanfaat bagi rakyat. Tentu saja S ini, juga, bersifat partikular. Sehingga bisa dilakukan beragam langkah perbaikan agar bisa jadi bermanfaat bagi rakyat atau memperkecil kerugian rakyat.

4. Apriori vs Posteriori

Sampai di sini, kita bisa menyimpulkan dengan menjawab pertanyaan: mana yang kita pilih penilaian apriori atau posteriori?

4.1 Pilih Posteriori

Secara umum, kita perlu memilih analisis posteriori dengan kesimpulan akhir bersifat kontingen – bisa berubah. Kita tidak bisa sombong. Kita tidak bisa memaksa orang lain. Kita tidak bisa sewenang-wenang. Karena, penilaian kita adalah kontingen, bisa saja salah meski sudah hati-hati.

Sebaliknya, justru kita harus melakukan pengujian data – empiris mau pun rasional. Untuk konsisten, memperbaiki ilmu kita. Kita juga bersifat terbuka dengan beragam pandangan yang berbeda. Barangkali, kita perlu mencari titik temu untuk mencapai konsensus-konsensus.

Tapi, bukankah hidup dengan cara seperti itu menjadi goyah? Tidak stabil? Mudah tertiup angin?

4.2 Pilih Apriori

Pilihlah apriori secara universal. Perlu hati-hati terhadap kasus partikular.

K: “Komitmen mengantar orang jadi sukses.”

Penilaian apriori terhadap K adalah valid. Orang-orang perlu komitmen tinggi agar menjadi sukses. Dengan demikian, menjadi penuh semangat untuk berjuang.

4.3 Pilih Sintesa


5. Solusi Sakina

Filosofi Bahasa

Hanya manusia, satu-satunya makhluk di seluruh bumi, yang berkomunikasi melalui bahasa. Khususnya, bahasa tingkat tinggi. Dengan bahasa, manusia bisa bekerja sama menciptakan gedung pencakar langit, candi megah nan tinggi, sampai pesawat penjelajah angkasa luar.

Masih dengan bahasa, manusia bisa menciptakan puisi, novel, dan karya ilmiah. Dengan bahasa pula, kita mengungkapkan rasa cinta satu sama lain. Tetapi, tetap dengan bahasa, manusia bisa saling menyakiti. Manusia bisa menindas satu sama lain dengan menggunakan bahasa. Penipuan kelas kakap, termasuk korupsi, memanfaatkan bahasa juga.

Sejak jaman kuno, era Aristoteles-Plato-Sokrates dan sebelumnya, orang berpikir bahwa manusia yang menciptakan bahasa. Kita menyebut batu sebagai batu, pohon sebagai pohon, dan lain-lain sehingga terciptalah bahasa Indonesia. Sementara, orang Cina, Arab, Inggris, mereka menciptakan bahasa mereka sendiri.

Sekarang, justru terbalik. Bukan manusia menciptakan bahasa. Tetapi, bahasa menciptakan manusia. Memasuki abad 20, pemikiran “strukturalisme” menunjukkan bahwa bahasa mengikat manusia, menyusun manusia, dan menciptakan manusia.

1. Bahasa Sehari-hari
2. Bahasa Komputer
3. Bahasa Kreatif
4. Strukturalisme
5. Dekonstruksi Hermeneutika

Kita akan memulai diskusi dengan membahas “bahasa sehari-hari” atau “ordinary language philosophy” (OLP). Memang ada, bahasa, yang bukan bahasa sehari-hari? Tentu saja ada! Bahasa filosofis, misalnya, hanya bisa dipahami oleh para filosof. Bahkan, filosof pun, kadang kesulitan memahami bahasa filosofis dari madzhab yang berbeda. Filosof Timur bisa saja kesulitan memahami bahasa filosof Barat, dan sebaliknya. Sering terjadi, filosof analytic kesulitan memahami bahasa filosof continental – padahal sama-sama filosof Barat.

Wittgenstein (1889 – 1951) menengarai bahwa problem filsafat muncul karena kesalahan memahami bahasa belaka. Filosof sering memakai bahasa sehari-hari dalam konteks yang tidak sesuai. Akibatnya, sering terjadi salah paham terhadap filosofi. Solusinya sederhana, menurut Wittgenstein, kembalilah ke bahasa sehari-hari (OLP).

Bahasa komputer berbeda dengan bahasa sehari-hari. Bahasa komputer lebih tegas dan bermakna tunggal. Sehingga, bahasa komputer tidak memerlukan keragaman interpretasi konotasi makna. Dengan demikian, tidak ada salah paham dalam bahasa komputer. Tidak semanis itu bahasa komputer!? Nyatanya, bahasa komputer beragam juga. Bahasa C, misalnya, beda dengan Java. Kadang, ada bagian tertentu yang sama sekali tidak bisa dikomunikasikan.

OLP terbukti tidak memadai, dengan makin pentingya bahasa komputer. Ditambah lagi, kita tetap mengenal bahasa sastra yang berbeda dengan OLP. Seperti kita tahu, sastra mempunyai kekuatan yang sangat kreatif dalam bahasa. Kita akan lihat, OLP juga memiliki daya kreatif lebih besar dari yang umumnya dikira.

Awal abad 20 mulai muncul trend strukturalisme dalam bahasa dan matematika. Bahasa adalah problem dan kekuatan struktur. Kita hanya bisa memahami bahasa dalam konteks struktur – demikian juga matematika. Lebih dari itu, struktur bahasa menentukan struktur pikiran umat manusia. Sehingga, perilaku manusia dan peradaban ditentukan oleh struktur bahasa.

Tahun 1960an adalah puncak strukturalisme bahasa sekaligus titik keruntuhannya. Apa yang dibayangkan sebagai struktur, nyatanya, bersifat cair dan dinamis. Setiap struktur memiliki titik kelemahan. Derrida (1930 – 2004) berhasil mengembangkan konsep dekonstruksi yang mengungkap beragam “lubang” struktur. Dan, Gadamer (1900 – 2002) berhasil mengembangkan hermeneutik yang menunjukkan bahwa bahasa sangat dinamis. Jadi, ayo kita nikmati dinamika bahasa…!

1. Bahasa Sehari-hari

Kita merasa biasa-biasa saja menggunakan bahasa sehari-hari (OLP). Nyatanya, ketika kita mengkaji bahasa sehari-hari, banyak hal-hal di luar dugaan. Bagaimana seorang anak manusia bisa memahami bahasa? Berbagai macam teori dikembangkan, tak satu pun yang berhasil menjawab dengan memuaskan. Singkatnya, mustahil seorang anak bisa memahami bahasa, tapi, nyatanya setiap anak berhasil memahami bahasa.

Noam Chomsky (lahir 1928), barangkali, paling berhasil memberikan jawaban meyakinkan. Seorang anak mampu menguasai bahasa karena ada kemampuan bawaan (innate) pada manusia. Hanya manusia yang memiliki kemampuan bawaan seperti itu. Kita tidak bisa mengajari singa bahasa manusia karena singa tidak memiliki kemampuan bawaan. Kita juga tidak bisa mengajari komputer bahasa manusia karena kamputer tidak memiliki kemampuan bawaan. Bahkan, ketika komputer dilengkapi dengan “operating system” tetap saja komputer tidak bisa berbahasa manusia.

Tentu saja, kita masih boleh bertanya, “Bagaimana dan mengapa manusia bisa memiliki kemampuan bawaan dalam berbahasa?”

Chomsky menjawabnya bahwa kemampuan bawaan itu merupakan hasil perkembangan evolusi spesies manusia. Sayangnya, bukti-bukti empiris kajian evolusi tidak mendukung, belum mendukung, klaim ini. Sementara, kajian rasional masih membutuhkan penjelasan lebih mendalam. Evolusi seperti apa saja, secara rasional, yang dapat membentuk kemampuan bawaan tersebut.

Di sisi lain, ada yang menolak konsep kemampuan bawaan itu. Mereka mengatakan bahwa kemampuan berbahasa diperoleh dari hasil interaksi sosial, nurture. Memang lebih mudah bagi kita meyakini bahwa kemampuan bahasa adalah hasil kombinasi kemampuan bawaan dan interaksi sosial – nature plus nurture. Pertanyaannya, “Sejauh apa batas masing-masing nature dan nurture itu?”

Sementara, Chomsky dan teman-teman terus mengkaji batas-batas kemampuan bawaan sampai hari ini, di lain pihak, sejak pertengahan abad 20, OLP makin terus berkembang. OLP, ordinary language philosophy, secara prinsip mendasarkan kajiannya pada buku “Philosophy Investigation” karya Wittgenstein dewasa. Dan, secara implisit, menganut positivis-logis. Berikut ini, kita akan membahas beberapa konsep penting dari Wittgenstein dewasa.

1.1 Language Game

Bahasa hanya bisa dipahami dalam konteks yang tepat. Tanpa konteks, kita tidak bisa memahami bahasa. Wittgenstein menyebutnya sebagai language-game.

Kata “air” bisa bermakna memberi tahu informasi bahwa ada air. Bisa juga bermakna permintaan tolong untuk diambilkan air. Boleh jadi merupakan peringatan harus hati-hati dengan air. Komplotan penjahat bisa saja menggunakan air sebagai kode untuk melakukan serangan. Kata “air” hanya bisa dipahami sesuai konteks language-game.

Apakah dengan language-game menjadikan bahasa bersifat relatif? Relatif terhadap konteks, benar adanya. Tetapi, bukan relatif sebarang relatif. Justru, language-game memberi tahu kita cara memahami suatu bahasa dengan tepat. Bukan untuk mengaburkan bahasa.

Di era digital ini, kita sering mendengar hoax – berita bohong. Hoax, biasanya, mengandung informasi yang benar, mengandung bahasa dan kalimat yang benar. Tetapi, mereka menerapkan pada konteks yang berbeda, pada language-game yang berbeda. Hasilnya, memberikan makna yang berbeda dan terciptalah hoax berdasar informasi yang benar. Perubahan language-game ini, kita kenal sebagai “framing”.

Untuk melindungi diri dari hoax, salah satunya, dengan cara mewaspadai “framing.” Ujilah berbagai macam language-game yang mungkin.

1.2 Meaning as Use

Dari berbagai macam language-game yang beragam itu, bagaimana kita bisa mengambil satu makna tertentu?

Tidak bisa. Kita tidak bisa mengambil satu makna tertentu. Kita tidak bisa menyimpulkan suatu makna tertentu dari bahasa. Karena makna dari bahasa adalah tidak ada makna. Bahasa tidak punya makna. Kita hanya menggunakan bahasa. Wittgenstein menyebut penggunaan bahasa ini sebagai “meaning as use.”

Problem filosofis yang serius muncul pada tahap ini: gabungan language-game dan “meaning as use.” Cara pandang ini, menempatkan Wittgenstein sebagai anti-realis. Padahal, selama ini, Wittgenstein muda berpandangan realis sejalan dengan tradisi filsafat analytic.

Para realis menilai bahwa bahasa merujuk realitas tertentu. Kata “air” misalnya merujuk realitas air di alam nyata. Meski pun makna air beragam, tetapi, mereka tetap sama-sama masuk dalam kategori air. Demikian juga kata “pedih” merujuk kepada realitas tertentu yang diberi nama pedih. Meski jenis “pedih” adalah beragam, mereka semua tetap masuk dalam kategori pedih.

“Meaning as use” menolak pandangan realis seperti di atas. Bahasa hanya “bermakna” sesuai penggunaannya saja. Tidak ada realitas yang dirujuk oleh bahasa.

Bagaimana pun, kita masih bisa membaca Wittgenstein sebagai realis dengan menganggapnya sebagai dobel anti-realis.

“Meaning as use” adalah anti-realis pada tahap pertama. Tetapi, tahap kedua, karena “use” adalah realitas konkrit penggunaan bahasa maka “meaning as use” adalah realis. Jadi dobel anti-realis adalah anti-anti-realis yang sama artinya dengan realis.

1.3 Form of Life

Bagaimana kata “air” bisa merujuk ke realitas air?

Bagi bahasa sehari-hari (OLP), hal seperti itu sudah terjadi begitu saja secara alamiah. Lagi-lagi, kasus ini tidak semudah penampakannya. Bagi Wittgenstein, kita menggunakan kata “air” untuk merujuk air. Bukan karena ada suatu “rujukan” lalu kita memahami kata “air”. Tetapi, karena kita “menggunakan” kata “air” seperti itu maka kita memahaminya. Wittgenstein menyebut penggunaan kata dasar seperti itu sebagai “form of life.”

“Form of life” yang menolak rujukan terhadap realitas mengantarkan kita pada posisi anti-realis. Tahap selanjutnya, “form of life” mengakui realitas “penggunaan” bahasa maka kembali realis.

Apa sulitnya, bagi Wittgenstein untuk mengakui “realitas rujukan” yang sejalan dengan teori korespondensi? Apa lagi, Wittgenstein muda sudah mengakui “realitas rujukan” dalam bukunya Tractatus? Mengapa Wittgenstein dewasa harus merevisi Wittgenstein muda?

Teori korespondensi tidak bisa dipertahankan secara filosofis, demikian juga, “realitas rujukan”.

Pertama, bagaimana kita bisa menghubungkan kata “air” dengan realitas fisik “air”. Tidak mungkin. Kita tidak bisa membuat suatu hubungan nyata antara kata dengan realitas fisik. Kita hanya bisa membayangkan ada hubungan antara kata dan realitas fisik, tetapi, sejatinya tidak ada hubungan.

Kedua, kita bisa menghubungkan kata “air” dengan realitas fisik “air” menggunakan alam-imajinasi. Kata “air” berhubungan dengan imajinasi “air” dan, kemudian, imajinasi “air” berhubungan dengan realitas fisik “air”. Dengan demikian tercipta hubungan kata dengan realitas melalui jembatan imajinasi.

Pandangan seperti itu, ada penghubung tertentu antara kata dan realitas, bisa kita telusuri sepanjang sejarah filsafat. Plato mengembangkan teori form. Al Ghazali mengembangkan al-mitsal. Bahkan, Wittgenstein muda mengembangkan picture-theory.

Jika kata terhubung dengan imajinasi maka dengan cara apakah mereka terhubung? Misal mereka terhubung melalui A. Pertanyaan selanjutnya, dengan cara apakah A terhubung dengan kata? Misal terhubung melaui B. Maka pertanyaan bisa terus kita lanjutkan tanpa henti. Kesimpulannya, kita tidak bisa membangun hubungan antara kata dan realitas. Kita memahami kata karena penggunaannya – form of life.

Ketiga, ada realitas yang lebih fundamental dari realitas “kata” mau pun realitas “fisik”. Realitas fundamental ini yang menghubungkan kata dan realitas fisik. Ibnu Arabi menyebut realitas fundamental sebagai wujud, Sadra menyebutnya eksistensi, dan Heidegger menyebutnya being.

Russell, mentor dari Wittgenstein, berharap menemukan realitas fundamental seperti itu yang dia sebut sebagai “monisme neutral”. Sayangnya, Russell tidak mengkaji pemikiran Heidegger dengan serius. Seandainya dikaji, Russell bisa menemukan “monisme neutral” itu dari Heidegger. Sebaliknya, Heidegger juga tidak tampak serius mengkaji Russell. Padahal, mereka hidup sejaman sekitar 80 tahun.

Kata adalah mode-of-being (mode dari wujud). Begitu juga, realitas fisik adalah mode-of-being. Being bermanifestasi (disclosedness, tersingkap, opening, membuka diri) dalam mode kata. Demikian juga, realitas fisik adalah manifestasi dari being. Sehingga, kata dan realitas fisik adalah sama-sama mode-of-being. Mereka adalah satu kesatuan dalam rangkulan being.

Dengan cara pandang tersebut, kata dan realitas fisik terhubung melalui being. Tetapi, dalam kasus ini, kita sudah bergeser dari teori korespondensi ke teori “disclosedness of being” (ketersingkapan wujud). Sebuah pergeseran teori yang radikal.

Apakah maksud “form of life” dari Wittgenstein adalah ketersingkapan wujud?

Bisa jadi, jawabannya positif. Kita perlu mempertimbangkan bahwa Wittgenstein lahir di tahun yang sama dengan Heidegger, yaitu 1889. Mereka sama-sama menekuni filsafat. Dan, keduanya sama-sama mahir bahasa Jerman. Bahkan mereka menulis karya filosofisnya, sama-sama, dalam bahasa Jerman. Pada tahun 1930an, Wittgenstein mengaku bisa memahami konsep “nothingness” dari Heidegger yang dikritisi oleh Carnap. Wittgenstein bisa membaca debat itu langsung dalam edisi bahasa Jerman. Sementara, orang lain misal Russell, harus menunggu edisi terjemahan ke bahasa Inggris. Sehingga, kita bisa menduga maksud dari “form of life” adalah “disclosedness of being” atau ketersingkapan wujud.

1.4 Following The Rule

“Apakah seseorang bisa mengikuti suatu aturan?”
“Tidak bisa!” jawab Wittgenstein.

Atau, bahkan selalu bisa mengikuti aturan. Karena aturan baru selalu bisa dibuat-buat.

Saul Kripke (lahir 1940) menulis buku khusus untuk membahas “mengikuti aturan” dan “bahasa privat”. Kripke memberi contoh tentang aturan matematika. Padahal, Wittgenstein sedang membahas aturan bahasa. Di sini, saya akan memberi contoh matematika, mirip Kripke meski beda.

“Berapakah nilai A dari barisan: 1, 2, 3, 4, A, … ?”

A = 5. Sudah jelas benar. Ya, itu jawaban yang benar mengikuti aturan yang dipikirkan orang pada umumnya. Tetapi jawaban yang lain juga benar karena bisa jadi aturan berbeda.

A = 6, adalah jawaban benar sesuai aturan berikut ini:
(1, 2, 3, 4), (6, 7, 8. 9), (11, 12, 13, 14).

A = 50, adalah benar sesuai aturan:
(1, 2, 3, 4), (50, 60, 70, 80).

Jawaban yang benar menurut suatu aturan bisa saja salah menurut aturan yang lain. Sebaliknya bisa juga terjadi. Bahkan, terhadap sesuatu yang belum ada aturan, kita bisa membuat suatu aturan tertentu. Untuk kemudian, berdasar aturan itu, kita menghakimi suatu kasus sebagai benar atau salah. Apakah aturan yang kita buat itu memang benar? Atau, aturan orang lain barangkali yang lebih benar? Atau bahkan, aturan yang benar tidak kita ketahui?

Jean-Luc Nancy (1940 – 2021) menyatakan bahwa tugas filosofi adalah menentukan penilaian di mana tidak ada aturan, tidak ada ukuran, tidak ada pembanding, dan tidak tersedia suatu kepastian. Mudah saja mengukur tinggi badan ketika sudah tersedia mistar pengukur. Mudah saja mengukur berat badan ketika sudah ada timbangan. Tugas kita, sebagai manusia, adalah menentukan ukuran ketika tidak tersedia ukuran.

“Apa itu aturan?”
“Siapa yang menetapkan aturan?”
“Mengapa dia berhak menetapkan aturan?”
“Atas dasar apa, dia mendapat hak itu?”
“Apakah kita harus mengikuti aturan itu?”

Lagi, problem mengikuti aturan dari Wittgenstein ini mengantar kita kepada problem filsafat yang lebih serius. Apakah dengan problem ini menjadikan Wittgenstein relativis dan anti-realis? Saya kira, Wittgenstein tetap realis dengan jalan dobel anti-realis, seperti sudah kita bahas di atas.

Saya justru tertarik debat Wittgenstein versus Godel. Saya kira problem “mengikuti aturan” ini adalah titik temu antara mereka. Wittgenstein meremehkan “teorema incompleteness Godel” karena paradoks semacam itu sudah dibahas oleh Russell pada tahun 1900an dan sudah tersedia solusinya melalui buku “Principia” karya Whitehead dan Russell. Masalah paradoks muncul akibat ada pernyataan yang merujuk ke diri sendiri, pernyataan impredikatif. Sehingga, Godel terlambat 30 tahun.

Wajar saja, Godel marah dengan pernyataan Wittgenstein. Godel menjawab dengan tidak kurang pedas. Wittgenstein ini bisa saja pura-pura tidak paham teorema Godel atau memang tidak mampu lagi memahami teorema Godel. Godel menegaskan, “Tidak ada pernyataan impredikatif sama sekali dalam teorema Godel.”

Secara prinsip, Wittgenstein setuju dengan teorema Godel. Menganggap teorema Godel sebagai akibat dari pernyataan impredikatif memang tidak tepat, seperti sudah dibantah oleh Godel. Tetapi, kita bisa mengatakan bahwa paradoks Godel adalah setara dengan paradoks “mengikuti aturan” Wittgenstein. Atau sebaliknya, paradoks “mengikuti aturan” Wittgenstein setara dengan paradoks Godel. Karena paradoks Godel lebih awal publikasi, yaitu tahun 1930an. Sementara, paradoks Wittgenstein terbit pada tahun 1950an setelah Wittgenstein wafat.

Paradoks Godel, sederhananya, menyatakan, “Setiap sistem formal, misal sistem matematika, pasti tidak lengkap atau tidak konsisten.”

Dalam sistem formal akan selalu ada pernyataan G yang terbukti sah, di saat yang sama, negasi pernyataan G, misal (-G), juga terbukti sah. Dengan demikian, sistem formal tersebut tidak lengkap karena tidak bisa memutuskan apakah G yang benar-benar terbukti sah atau (-G) yang terbukti sah. Karena dua pernyataan di atas, G dan (-G), saling kontradiksi maka salah satunya harus bernilai salah.

Kita umumnya, sebagai manusia, mengetahui bahwa G yang bernilai benar terbukti sah. Karena itu, kita bisa menambahkan aksioma baru pada sistem formal tersebut,

aksioma baru: G bernilai benar.

Dengan demikian paradoks Godel selesai. G bernilai benar dan (-G) bernilai salah. Tetapi, nyatanya tidak begitu, akan ada paradoks baru. Secara mekanis, akibat ada tambahan aksioma baru, kita bisa menemukan pernyataan H yang terbukti sah dan negasi pernyataan H, misal (-H), yang juga terbukti sah.

Dan, begitu seterusnya. Setiap paradoks bisa diselesaikan dengan menambah aksioma baru. Pada gilirannya, aksioma baru ini memunculkan paradoks baru lainnya. Jadi, teorema Godel memang paradoks.

Di sisi lain, paradoks Wittgenstein terjadi pada sistem bahasa. Seperti kita tahu, sistem bahasa lebih dinamis dan fleksibel dari sistem formal matematika. Karena itu, penambahan “rule” atau aturan atau aksioma pada sistem bahasa lebih mudah terjadi dalam interaksi sosial.

Paradoks Wittgenstein bisa kita nyatakan, “Sistem bahasa tidak lengkap atau tidak konsisten.”

Dalam sistem bahasa akan ada suatu kata yang bermakna K dan, di saat yang sama, bermakna negasi K, misal (-K). Sistem bahasa itu tidak bisa memutuskan apakah K yang terbukti sah atau (-K) yang terbukti sah. Jadi, sistem bahasa memang tidak lengkap atau tidak konsisten.

Tentu saja, kita bisa menambahkan “rule baru” yang menyatakan bahwa K adalah yang sah. Paradoks selesai untuk sementara. Pada gilirannya, akibat “rule baru” akan muncul kata baru yang bermakna L dan, di saat yang sama, bermakna negasi L, misal (-L). Begitu seterusnya, akan selalu muncul paradoks dalam bahasa.

Dengan demikian, mereka selaras. Sama-sama paradoks.

Barangkali, lebih menarik lagi, bila kita membahas paradoks “mengikuti aturan” dikaitkan dengan kebebasan (freedom). Baik freedom pada manusia atau freedom secara umum. Demikian juga, kita bisa mengaitkan paradoks “mengikuti aturan” dengan paradoks interpretasi hermeneutik, yang akan kita bahas di bagian bawah.

Rekomendasi akhir dari Wittgenstein sendiri juga paradoks. Dia menyarankan kita untuk kembali ke bahasa sehari-hari (OLP), ke bahasa biasa. Sementara, dia mengajukan konsep-konsep bahasa yang tidak biasa. Saya melihatnya, hal ini menunjukkan sikap realis Wittgenstein melalui jalur dobel anti-realis. Anti-anti-realis sama artinya dengan realis dalam tingkat yang lebih tinggi.

1.5 Bahasa Private

Konsep bahasa private, barangkali, konsep paling sulit dipahami, khususnya pada tahap awal.

“Apakah bisa, seseorang menciptakan bahasa private, bahasa yang hanya dipahami oleh diri sendiri?”
“Tidak bisa,” jawab Wittgenstein tegas.

Jika seseorang bertekad membuat bahasa private maka hasilnya tidak akan pernah menjadi bahasa. Setiap bahasa bersifat publik. Yang tidak publik, tidak akan menjadi bahasa. Seorang agen rahasia tidak akan pernah berhasil membuat bahasa rahasia dalam bentuk bahasa private. Diperlukan, minimal, dua orang agen rahasia untuk membuat bahasa rahasia, akibatnya, tidak lagi jadi bahasa private meski tetap rahasia.

“Apa sulitnya menciptakan bahasa private?”

Kita, atau seseorang, bisa membuat catatan rahasia tiap hari. Catatan ini, sengaja kita susun, terdiri dari kata-kata dan istilah-istilah yang kita ciptakan sendiri. Sehingga, hanya diri kita sendiri yang bisa memahami catatan rahasia tersebut. Setelah catatan itu terkumpul menjadi satu buah buku, bukankah itu adalah bahasa private? Tetapi, kita tidak akan berhasil membuat catatan seperti itu.

Kita coba dengan eksperimen pikiran: tikus dalam kotak.

Bayangkan ada 5 orang, masing-masing membawa kotak tertutup. Di antara mereka tidak ada yang bisa melihat isi kotak orang lain. Mereka hanya bisa melihat isi kotaknya sendiri. Masing-masing dari 5 orang itu menyebut bahwa isi kotak tersebut adalah tikus.

Apa maksud dari tikus itu?

Mungkin saja maksud tikus adalah benar-benar tikus, bisa saja kelinci, atau bahkan bisa kosong, kotak itu tidak ada isi apa pun. Selama, mereka hanya bicara pada diri sendiri maka “tikus” tidak bermakna apa pun atau bisa bermakna apa saja. Bila mereka saling komunikasi, secara publik, maka “tikus” menjadi bermakna. Ada konfirmasi, penolakan, dan koreksi dalam komunikasi.

Bukankah kita bisa konsisten mengatakan “tikus” bahwa yang dimaksud adalah kelinci? Setiap saya melihat kelinci dalam kotak maka saya mencatat dalam buku harian sebagai “tikus”. Dengan demikian, saya punya bahasa private berupa kata “tikus” dengan maksud adalah kelinci. Tidak bisa terjadi. Bahasa private semacam itu tidak akan tercipta.

Saya bisa mengenali bahwa “tikus” yang saya lihat hari ini sama persis dengan ingatan saya tentang “tikus” yang kemarin. Pengenalan saya hari ini bisa benar. Tetapi ingatan saya tentang hari kemarin bisa salah atau, hampir, pasti salah. Hanya komunikasi publik, penggunaan bersama, yang bisa melakukan koreksi terhadap kesalahan bahasa ini.

Saya sering menciptakan istilah-istilah baru dalam matematika: jurus bintang, kutabali, onde milenium, kurva gendut, segitiga ganjil, trik 7 detik, dan lain-lain. Istilah-istilah baru itu sering saya kumunikasikan melalui kelas belajar, training, workshop, youtube, dan sebagainya. Benar saja, istilah-istilah itu menjadi terkenal secara umum. Mereka menjadi bahasa publik, yang bermanfaat, bukan lagi bahasa private.

Yang menarik, ternyata, saya punya buku catatan yang berisi istilah-istilah tertentu dan belum sempat saya komunikasikan kepada banyak orang. Dan, saya sendiri lupa akan arti istilah-istilah yang saya ciptakan beberapa tahun lalu. Saya lupa akan maksud “bahasa private” yang saya buat sendiri. Beruntung, beberapa istilah itu saya tulis lengkap dengan penjelasannya. Sehingga saya bisa segera komunikasikan ke banyak orang, dan, menjadi bahasa publik yang bermakna. Saya gagal membuat “bahasa private” tetapi kita bisa berpartisipasi dalam bahasa publik.

“Apakah manusia yang menciptakan bahasa atau bahasa yang menciptakan manusia?”

1.6 Bahasa Praktis

Kajian di bidang bahasa telah menghasilkan banyak inovasi yang bermanfaat. Di bagian ini, kita akan membahas beberapa manfaat praktis dari bahasa.


2. Bahasa Komputer
3. Bahasa Kreatif
4. Strukturalisme
5. Dekonstruksi Hermeneutika

Idealisme vs Genealogi

Wayang kulit perlu dimusnahkan. Mengapa? Karena budaya wayang bukanlah ajaran agama. Setiap yang bukan ajaran agama maka perlu dibuang. Orang yang berpikir dengan cara seperti itu adalah idealisme. Dia berpikir berdasar ideal-ideal yang diyakininya benar.

Wayang kulit adalah budaya bangsa yang perlu terus dirawat bahkan dikembangkan. Mengapa? Karena agama mengajarkan indahnya perbedaan, pentingnya kreativitas, dan lembutnya hati. Orang yang berpikir seperti itu, juga, berpikir idealis berdasar ideal-ideal yang diyakininya. Dalam tulisan ini, kita akan memandang idealisme sebagai cara berpikir ideal, global, dan universal. Sehingga, idealisme mirip dengan ideologi.

Filosofi dan Makna Wayang Kulit di Jawa - Portal Kudus

Sebaliknya, genealogi justru berpikir dari partikular-partikular yang unik. Mengapa wayang kulit perlu dimusnahkan? Karena ada orang yang bertanya tentang haram atau tidaknya wayang. Lalu, narasumber terdorong untuk memberi penilaian antara haram atau tidak. Melihat situasi yang ada, bagi narasumber, lebih menguntungkan menjawab bahwa wayang adalah haram. Sehingga, wayang perlu dimusnahkan.

Kita bisa mempertimbangkan genealogi yang berbeda. Narasumber melihat ada anak muda yang sangat pandai membuat cerita. Dengan media wayang, cerita anak muda itu makin menarik. Dan, dari cerita-cerita yang menarik itu menjadikan banyak generasi muda terinspirasi untuk berbuat kebajikan. Narasumber menyimpulkan, dari manfaat wayang itu, bahwa wayang sangat penting dan tidak haram. Karena itu wayang harus terus dikembangkan.

1. Idealisme dan Atom Kuno
2. Ideologi Kapitalis Komunis
3. Genealogi Problematis

Dari contoh wayang di atas, kita melihat bahwa seseorang bisa menerapkan cara pikir idealisme atau genealogi terhadap obyek yang sama. Bahkan, ketika kita sama-sama menerapkan idealisme, hasil penilaian bisa berbeda. Demikian juga, ketika kita sama-sama menerapkan genealogi, juga, hasilnya bisa berbeda-beda.

Muncul pertanyaan: kapan kita harus idealis dan kapan kita harus genealogis?

Secara umum, lebih banyak pemikir yang dominan idealis. Dan, hanya sedikit yang genealogis. Karena itu, wajar bagi kita, untuk menambah lebih banyak porsi genealogis dalam beragam kesempatan.

Di bagian awal tulisan ini, kita akan mencermati kecenderungan berpikir idealis ideologis sejak jaman kuno. Di masa itu juga, telah muncul cara berpikir “atom” yang bisa kita pandang sebagai cikal bakal dari genealogi. Kemudian, kita akan sedikit banyak mengkaji ideologi kapitalis versus komunis. Kita menemukan beragam kesulitan dalam ideologi mereka.

Pada bagian akhir, kita membahas lebih dalam tentang genealogi. Bermula dari genealogi Nietzsche yang subversif, lanjut genealogi Foucault yang problematis, sampai genealogi Sakina yang dinamis. Dengan sudut pandang genealogi ini, kita berharap berhasil menemukan kebenaran yang benar-benar dinamis.

1. Idealisme dan Atom Kuno
2. Ideologi Kapitalis Komunis
3. Genealogi Problematis

3.1 Genealogi Subversif

Nietzsche (1844 – 1900) adalah tokoh besar yang mengangkat genealogi menjadi tema penting dalam filsafat. Bagi Nietzsche sendiri, genealogi lebih dekat ke karakter subversif dari pada problematis. Maksudnya, satu metodologi genealogi bernilai benar, sementara, genealogi yang lain bernilai salah secara mutlak. Pendekatan seperti ini, tampaknya, selaras dengan gaya Nietzsche yang begitu kuat dalam tulisan-tulisannya.

Dalam mengkaji asal-usul, genealogi kejahatan atau evil, Nietzsche menyatakan bahwa awalnya hanya ada “baik” dan “buruk.” Tidak ada sesuatu yang bernilai “jahat.” Penilaian moral sesuatu sebagai “baik” atau “buruk” adalah wajar-wajar saja. Tetapi, orang-orang lemah tidak puas dengan kewajaran ini. Maka mereka, orang-orang lemah, menciptakan label “jahat” terhadap perilaku orang-orang kuat. Dengan demikian, orang-orang lemah bangga dengan membela diri bahwa dirinya adalah orang “baik”. Sedangkan, pihak lain adalah orang-orang “jahat”. Penilaian “jahat” seperti itu adalah penilaian hampa makna.

“Baik” adalah ketika Anda berhasil menambah kekuatan “will to power.” Ketika Anda berhasil menaklukkan segala rintangan. Ketika Anda mampu menanggung semua derita untuk kemudian bangkit meraih cita-cita. Ketika Anda berhasil mencapai puncak, kemudian, Anda menciptakan puncak baru yang lebih tinggi. “Baik” adalah ketika “will to power” mengantarkan Anda menjadi “super human.”

Fokus utama kita, di sini, adalah genealogi. Pertama, genealogi menjadi penting. Tidak cukup hanya mengandalkan ideologi. Kedua, genealogi mampu mengungkapkan kebenaran. Tidak seperti ideologi, yang justru, “membelokkan” kebenaran. Ketiga, genealogi bersifat subversif, di mana, nilai kebenaran suatu genealogi menggusur nilai kebenaran pandangan lain.

Foucault (1926 – 1984) mengembangkan pandangan Nietzshce. Dia merevisi karakter subversif dari genealogi menjadi problematis. Nilai kebenaran dari beragam genealogi adalah problematis. Maksudnya, di antara keragaman itu, kita menghadapi problem bagaimana menentukan yang paling benar. Pada analisis akhir, tidak ada cara pasti untuk menjamin bahwa satu genealogi adalah yang paling benar, sementara, menganggap genealogi yang lain sebagai salah. Genealogi memang problematis.

3.2 Genealogi Problematis

Genealogi memang problematis. Sementara, ideologi lebih kuat dengan keyakinannya. Di situlah, letak kelemahan ideologi. Mereka terlalu yakin dengan ideologinya. Sehingga, mereka menutup diri dari alternatif-alternatif yang lebih kreatif. Sementara genealogi, yang problematis, perlu menguji beragam alternatif sehingga menemukan pemikiran terbaik. Genealogi selalu dinamis. Sedangkan, ideologi adalah harga mati.


3.3 Genealogi Sakina
3.3.1 Keseimbangan Dinamis
3.3.2 Dinamika Seimbang

Kosmopolitan

Keluarga menyatukan manusia, di saat yang sama, memecah belah. Jelas, kita adalah anak dari ibu dan bapak kita. Kita adalah anggota keluarga, berbeda dengan keluarga lain. Cara hidup masing-masing keluarga banyak perbedaan. Keluarga menyatukan semua anggota itu. Di saat yang sama, keluarga membedakan diri dengan keluarga lain.

Kepentingan keluarga A bisa saja bertentangan dengan kepentingan keluarga B. Mereka bisa saja bermusuhan. Maka dibentuklah rukun warga untuk menyatukan semua. Lebih besar lagi, dibentuklah pemerintah daerah sampai satu negara. Dengan konstitusi, satu negara bersatu padu.

Bagaimana hubungan satu negara dengan negara lain? Bisa terjadi peperangan di antara mereka. Bisa terjadi invasi atau dominasi. Kita perlu cara pandang yang lebih luas: kosmopolitanisme.

1. Keluarga versus Komunitas
2. Antar Negara
3. Kosmopolitanisme

Cicero (106 – 43 SM) menyadari dilema itu. Di satu sisi, kita butuh kekuatan untuk meyakinkan bahwa setiap warga harus saling menghormati. Di sisi lain, kekuatan itu sendiri menjadi sarana menindas pihak lain. Kita butuh negara untuk menjamin tatanan sosial yang tertib. Tidak jarang, negara sendiri adalah yang paling besar melanggar tatanan sosial itu.

Kontradiksi sosial selalu terjadi. Tugas kita sebagai manusia tidak pernah berhenti. Kita adalah anggota alam raya: kosmopolitan. Kita perlu berperan serta dalam perjalanan alam raya.

1. Keluarga versus Komunitas

Plato (428 – 348 SM) pernah mengusulkan agar lembaga keluarga dihapus saja diganti dengan komunitas. Karena, keluarga menjadi sumber ketimpangan sosial. Bertrand Russell, di abad 20, kembali mendukung usulan Plato ini. Meski usulan tersebut menarik, tampaknya, tidak mendapat respon memadai dari masyarakat luas. Sehingga, ikatan keluarga tetap kokoh sampai saat ini, di seluruh dunia.

Anak yang terlahir dari keluarga kaya akan tetap menjadi kaya karena mendapat warisan, pendidikan mahal, dan berbagai fasilitas spesial. Sementara, anak yang terlahir dari keluarga miskin akan tetap menjadi miskin. Ketika kejadian ini berlangsung berabad-abad maka terbentuklah kesenjangan sosial. Suatu ketimpangan yang membahayakan seluruh umat manusia.

John Rawls (1921 – 2002) mengusulkan prinsip keadilan untuk mengatasi beragam ketimpangan. Prinsip kesetaraan bahwa setiap orang setara dalam kebebasan-kebebasan dasar. Dan, prinsip perbedaan bahwa perbedaan hanya sah bila memberi keuntungan terbesar kepada pihak lemah. Saya menambahkan dengan prinsip dinamis bahwa setiap pihak perlu untuk terus bergerak maju. Kemajuan kelas kaya perlu berkontribusi memajukan pihak lemah.

2. Antar Negara

Cicero menghadapi dilema secara langsung. Di satu sisi, Roma adalah negara terbaik saat itu. Roma menjunjung tinggi nilai-nilai kebajikan. Roma menyebarkan nilai-nilai kebajikan ini ke seluruh dunia. Di sisi lain, Roma memiliki kekuatan besar untuk menaklukkan negara lain, untuk kemudian, mendominasinya. Roma menyebarkan nilai-nilai kebajikan dengan cara melanggar nilai-nilai kebajikan itu sendiri.

Dilema semacam itu, apakah ada solusinya? Di jaman sekarang, apakah kita mengalami dilema yang sama? Benar. Kita tetap mengalami dilema yang sama. Menyebarkan nilai-nilai kebajikan dengan cara melanggarnya.

3. Kosmopolitanisme

Kosmopolitanisme memandang bahwa setiap manusia adalah warga dari dunia (kosmos) yang sama. Sehingga, setiap manusia memiliki kedudukan yang setara. Bahkan binatang, tumbuhan, dan bebatuan juga merupakan anggota kosmos yang sama. Sehingga, semua mendapat kedudukan yang setara – meski berbeda.

Filsafat Manusia: Siapa Saya?

Jawabannya harusnya mudah. Karena masing-masing diri kita adalah manusia. Siapa manusia? Jawabannya, manusia adalah saya. Pertanyaan bisa berlanjut, “Siapa saya?”

Bahan Antropologi – Who Am I – Persekutuan Oikumene

Ada berbagai macam cara untuk menjawabnya. Bisa dari sisi sains, agama, moral, dan lain-lain.

1. Makhluk Pilihan Tuhan
2. Teori Evolusi
3. Manusia Sosial
4. Manusia Robot
5. Manusia Filosofis
5.1 Binatang Berakal (Aristoteles)
5.2 Eksistensi Peduli Eksistensi (Heidegger)
5.3 Jiwa Bercahaya (Suhrawardi)
5.4 Citra Paripurna (Ibnu Arabi)
5.5 Moral Bebas (Kant)
5.6 Spirit Dialektika (Hegel)
5.7 Kebaikan Liar (Schelling)
5.8 Pilihan Bebas (Sartre)
5.9 Dumadi Selaras Diri
6. Manusia Sejati
7. Model Manusia

Manusia adalah makhluk Tuhan paling istimewa. Jawaban dari sisi religius ini bisa kita terima – meski ada beragam pemahaman. Sementara, dari sisi lain, sains tampak mengajukan teori evolusi. Manusia adalah hasil evolusi alam raya sejak jutaan tahun yang lalu. Proses evolusi ini terjadi secara spontan, acak, dan berkelanjutan. Dua jawaban di atas, manusia adalah makhluk Tuhan versus manusia adalah hasil evolusi, tampak saling bertentangan. Dalam tulisan ini, kita akan membahasnya dengan melengkapi beberapa alternatif lainnya.

Di bagian awal kita membahas pemahaman konsep manusia dari sudut pandang agama, sudut pandang sains, dan sudut pandang sosial. Yang lebih menarik adalah robot, saat ini, mulai mirip manusia atau manusia mulai mirip robot. Sehingga, kita perlu membahas manusia robot.

Di bagian akhir, kita membahas konsep manusia dari sisi filosofis. Bagian ini adalah bagian terpanjang dari diskusi kita. Kita perlu membahas konsep manusia dengan cukup mendalam, ditambah panjang dan lebar. Saya menyimpulkan bahwa manusia adalah realitas paling dinamis. Sehingga, kita hanya bisa membuat konsep manusia dengan karakter yang sama dinamisnya. Beberapa konsep manusia yang perlu kita pertimbangkan: binatang berakal (Aristoteles), jiwa bercahaya (Suhrawardi), citra paripurna Tuhan (Ibnu Arabi), kebebasan absolut (Kant), spirit dialektika (Hegel), kebaikan liar (Schelling), eksistensi peduli eksistensi (Heidegger), pilihan bebas (Sartre). Manusia adalah dinamika merdeka. Ayo, maju bersama!

1. Makhluk Pilihan Tuhan

Agama mengajarkan bahwa Tuhan adalah yang menciptakan segala alam semesta, termasuk menciptakan manusia. Tuhan menciptakan manusia untuk menjadi pemimpin di alam raya ini. Bahkan, Tuhan menciptakan seluruh alam raya untuk keperluan manusia menjalankan tugasnya menjadi pemimpin mengelola alam raya.

Di saat yang sama, manusia adalah abdi Tuhan. Sehingga, dalam mengelola alam raya, manusia sekaligus menjalankan tugas pengabdian kepada Tuhan semesta alam. Tampaknya, tugas manusia hanya sederhana: menguasai alam raya dan, di saat yang sama, itu adalah bentuk pengabdian kepada Tuhan. Benarkah tugas seperti itu adalah mudah?

Tidak mudah! Nyatanya, di alam ini, manusia justru sering melakukan peperangan. Perhatikan perang di berbagai negara Afrika, pendudukan Israel di Palestina, resiko ketegangan Rusia dengan Ukraina, dan lain-lain.

Di belahan bumi yang damai pun, banyak orang kaya mendominasi orang miskin. Banyak orang yang berkuasa mengeksploitasi orang lemah. Dan, kejahatan mau pun kekerasan sosial ada di mana-mana.

Jadi, benarkah manusia adalah makhluk pilihan Tuhan?

2. Teori Evolusi

Darwin (1809 – 1882) menggemparkan dunia dengan memunculkan teori evolusi ilmiah. Meski sudah banyak peneliti sebelumnya yang mengajukan teori evolusi, tetapi, hanya Darwin yang mampu melengkapi teori evolusi dengan pengamatan ilmiah dan logika sains. Sehingga, dampak teori evolusi Darwin begitu besar.

Interpretasi terhadap teori evolusi, tentu saja, beragam. Ditambah lagi, tidak semua bagian dari teori evolusi didukung oleh data ilmiah. Sehingga, sebagian dari teori evolusi bersifat spekulatif. Wajar saja, karena manusia memang sering berpikir seperti itu.

Evolusi dimulai sejak sekitar 14 milyard tahun yang lampau ketika terjadi big bang – ledakan besar. Sebelum big bang, tidak ada apa pun di alam raya ini. Bahkan, belum ada ruang dan waktu. Sebelum big bang, hanya ada kehampaan quantum. Saat big bang, mulailah terbentuk alam semesta. Dan, di saat itu pula, terbentuk konstanta, ketetapan, fisika semisal konstanta gravitasi, konstanta gaya listrik, konstanta kecepatan cahaya, dan lain-lain. Dengan konstanta-konstanta yang tepat itu, kemudian, alam raya evolusi sehingga terbentuk galaksi bima sakti, sistem tata surya, dan termasuk bumi.

Di bumi, kemudian, muncul makhluk hidup dari sel satu (sederhana). Terus evolusi terbentuk makhluk hidup ber-sel banyak. Lanjutan evolusi menghasilkan beragam tumbuhan dan beragam binatang. Puncak dari evolusi itu, pada akhirnya, menghadirkan manusia purba. Lanjut evolusi, kemudian, menghasilkan manusia modern, kontemporer, yang ada saat ini.

Menariknya, konstanta yang muncul ketika big bang itu benar-benar tepat sehingga evolusi terjadi dengan cantik. Misal, konstanta gravitasi menjadi lebih besar maka gaya tarik antara benda-benda langit terlalu besar. Akibatnya, setelah big bang, alam tidak sempat mengembang sudah terikat kembali dan hancur – gagal evolusi. Begitu juga, misal, ketetapan gravitasi itu sedikit lebih kecil maka gaya tarik benda-benda langit terlalu longgar. Akibatnya, setelah big bang, alam raya terlalu cepat mengembang dan hancur juga – gagal evolusi.

Lalu, siapa yang menetapkan konstanta-konstanta itu begitu tepat dan cantik? Tidak ada. Semua terjadi secara spontan dan random.

Jika manusia adalah puncak dari evolusi maka apa tujuan manusia hadir di alam raya ini? Tujuan manusia adalah menetapkan tujuan itu sendiri. Manusia memiliki kebebasan untuk menetapkan standar moral, mengembangkan peradaban, sains, dan sebagainya.

Bagaimana pun, teori evolusi masih menyisakan banyak pertanyaan besar. Bagaimana dari benda mati bisa muncul mahkluk hidup? Bagaimana manusia bisa memiliki akal dan kesadaran? Dan, mengapa hampa quantum bisa menghasilkan big bang? Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan besar tersebut kita perlu kajian filosofis.

Lebih spesifik tentang evolusi manusia, mengapa muncul ide-ide kreatif dari manusia? Mengapa Aljabar merumuskan solusi persamaan aljabar? Mengapa Einstein memunculkan teori relativitas? Mengapa teori mekanika quantum tidak menemukan solusi unik? Mengapa matematika tidak pernah berhenti berkembang sebagai ilmu pasti? Dan, mengapa dari setiap solusi, manusia memunculkan pertanyaan baru lagi?

Ringkasnya, teori evolusi tidak berhasil menjawab banyak pertanyaan. Tetapi, teori evolusi itu sendiri juga ber-evolusi. Sehingga, terjadi revisi di berbagai sisi. Akibatnya, teori evolusi terus berkembang dan mampu menjawab lebih banyak pertanyaan dengan meyakinkan. Apakah, dengan demikian, teori evolusi sudah sempurna? Tidak! Karena teori evolusi memang ber-evolusi.

3. Manusia Sosial

Kita mudah menyadari bahwa manusia adalah dumadi sosial, makhluk sosial. Manusia hanya bisa menjalani hidup secara sosial. Kita hidup bersama manusia yang lain. Lebih dari itu, kita hadir karena ada orang lain. Kita hadir karena ada ibu dan bapak kita. Kita punya hutang budi, hutang eksistensi, kepada ibu kita. Kita berbulan-bulan hidup dalam rahim ibu. Begitu lahir, kita hidup dalam pelukan kasih sayang ibu. Hutang eksistensi kita kepada ibu tidak pernah bisa kita lunasi. Meski demikian, kita tetap perlu membayar hutang eksistensi itu dengan amal kebaikan dan doa tulus.

Lebih jauh, manusia hadir selalu dalam situasi, being-in-the-world. Kita tidak bisa lepas dari situasi dunia. Jika kita bisa lepas dari dunia ini, maka, kita akan hadir ke dunia yang lain lagi. Kita hanya bisa lepas dari dunia, untuk kemudian, berada dalam dunia yang lain.

Kita menyatu dengan dunia alam raya. Atau, dunia alam raya menyatu dengan diri kita. Manusia adalah alam raya. Dan, alam raya adalah manusia. Karena itu, kita perlu berbuat baik kepada alam raya, di mana pun, kapan pun. Semua perilaku baik kepada alam raya, sejatinya, adalah perilaku baik kepada diri kita sendiri.

4. Manusia Robot

Robat makin cerdas mirip manusia – lengkap dengan teknologi artificial intelligence AI. Sementara, manusia makin mirip dengan robot – lengkap dengan kungkungan nafsu ekonomi dan penjara media digital. Titik temu mereka adalah manusia robot: manusia mirip robot dan robot mirip manusia. Meski tampak ironi yang ngeri, barangkali situasi seperti ini bisa saja terjadi.

Manusia merdeka akan menolak bila harus bergerak, harus berubah, menjadi mirip robot. Tetapi manusia pada umumnya, bukankah mereka mulai mirip robot? Mereka dikendalikan oleh media digital. Mereka dikendalikan oleh kebutuhan ekonomi. Mereka dikendalikan oleh keserakahan politik. Mereka dikendalikan oleh mesin-mesin raksasa dunia maya. Mereka lupa suara hati. Mereka lupa diri.

Jadi, benarkah akan tercipta manusia robot? Hibrid antara manusia dan robot. Titik temu antara manusia yang mirip robot dengan robot yang mirip manusia. Sehingga, akan tercipta peradaban oleh manusia robot.

5. Manusia Filosofis

Definisi manusia secara filosofis mencoba membuka pandangan kita secara luas dan mendalam.

Manusia adalah binatang berakal. Definisi ini jelas dan berguna. Akal manusia itu sendiri punya banyak makna. Aristoteles (384 – 322 SM) adalah pemikir pertama yang memberi definisi esensialis manusia sebagai binatang berakal. Kemudian, kita menemukan banyak definisi berbeda tentang manusia.

Manusia adalah eksistensi yang peduli dengan eksistensi dirinya, Heidegger (1889 – 1976). Manusia adalah kebebasan menentukan jati dirinya, Sartre (1905 – 1980). Manusia adalah jiwa yang bersinar dan disinari, Suhrawardi (1154 – 1191). Manusia adalah mode wujud yang berpotensi meraih sempurna sejati, Sadra (1572 – 1640). Manusia adalah citra paripurna Tuhan, Ibnu Arabi (1165 – 1240). Dan masih banyak definisi lainnya: manusia adalah binatang yang tertawa, binatang politik, binatang interpretasi, evolusi kontemporer, dan lain-lain.

Manusia adalah dumadi yang menyelaraskan diri. Sebagai dumadi, makhluk ciptaan, kita adalah anggota alam semesta. Uniknya, kita senantiasa berusaha selaras dengan seluruh yang ada. Berbeda dengan dumadi yang lain. Pada umumnya, selain manusia, menjalani proses dengan merespon alam sekitar misal tumbuhan dan binatang. Sedangkan, manusia tidak sekedar merespon. Manusia menciptakan selarasnya diri dengan seluruh dumadi – dan selaras diri dengan Tuhan alam raya ini.

5.1 Binatang Berakal

Binatang sebagai genus. Secara umum, kita memiliki badan, daging, tulang, dan darah mirip dengan binatang. Akal sebagai diferensia-pembeda. Secara khusus, manusia berbeda dengan setiap binatang karena manusia memiliki akal. Akal adalah pembeda esensial antara manusia dengan binatang. Dengan demikian, spesies manusia adalah spesies binatang berakal. Definisi manusia adalah sebagai binatang yang berakal.

Definisi ini menyelesaikan banyak masalah. Pertama, kita mengasumsikan bahwa definisi “binatang” sudah jelas. Kita sudah paham binatang semisal kucing, harimau, kera dan lain-lain. Kedua, kita mengasumsikan bahwa definisi “akal” sudah jelas. Akal adalah kemampuan manusia berpikir. Khususnya berpikir tingkat tinggi semisal berpikir bahasa dan berpikir matematika. Ketiga, sebagai hasilnya, definisi manusia sebagai binatang berakal bisa kita pahami dengan mudah.

Wittgenstein (1889 – 1951) memudahkan kita memahami definisi dengan “language game”. Kita hanya bisa memahami suatu bahasa dalam konteks pemakaiannya atau aturan “game”. Bahasa selalu saling terkait satu dengan lainnya. Sehingga, konsep manusia sebagai “binatang berakal” bisa kita pahami dengan jelas dalam penggunaan “language game.” Kita sudah terbiasa dengan kata “binatang” dan kata “akal”. Dengan demikian, kita bisa memahami konsep manusia sebagai “binatang berakal” dalam konteks “language game.”

Secara ilmiah, definisi dari yang sederhana menjadi kompleks, dari genus menuju spesies dengan menambahkan diferensia, tampak masuk akal. Awalnya, kita bisa meneliti tumbuhan. Kemudian, binatang adalah semacam tumbuhan yang memiliki kemampuan tambahan, misal, leluasa bergerak. Akhirnya, manusia adalah sejenis binatang yang memiliki kemampuan tambahan berakal.

Jadi, sampai di sini, sudah tuntaskah bahwa manusia adalah binatang berakal?

Tentu saja, tidak tuntas. Bahkan, barangkali, tidak akan pernah tuntas. Manusia selalu menyimpan suatu misteri.

Akal

Apa yang dimaksud dengan “akal” itu sendiri?

Mengikuti “language game” dari Wittgenstein, kita bisa mengatakan bahwa makna “akal” sudah jelas sebagai mana kata “akal” itu digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Kita hanya perlu sedikit menegaskan, barangkali, dengan contoh-contoh. Kita, agar lebih jelas, bisa juga menyandingkan konsep “binatang berakal” dengan “binatang rasional” atau “binatang berpikir”.

Dengan akal, manusia mampu berpikir matematika tingkat tinggi. Meski, beberapa binatang mampu berhitung, tetapi, kemampuannya masih pada tingkat dasar. Misal, induk ayam yang memiliki 3 anak akan gelisah mencari anak-anaknya ketika 3 anak ayam itu tidak ada di dekatnya. Sementara, jika masih ada 2 anak ayam di dekatnya maka induk ayam itu tidak merasa gelisah. Dia merasa bahwa anak-anaknya baik-baik saja.

Induk ayam bisa membedakan antara 0 atau 3 anak ayam – mampu berhitung dasar. Dia bisa membedakan antara ADA anak ayam dengan TIDAK ADA anak ayam. Tetapi, induk ayam tidak bisa membedakan antara 2 dengan 3. Dia tidak mampu berhitung tingkat tinggi. Ayam memang bukan manusia. Sementara, manusia mampu berhitung lebih tinggi lagi. Misal 3 + 2 = 5, lanjut 5 x 4 = 20.

Dalam tataran praktis, manusia mampu berhitung jangka panjang. Misal, investasi setiap bulan menghasilkan profit 5 juta rupiah maka dikalikan 3 bulan akan menghasilkan 15 juta rupiah. Dan, kita masih bisa mengembangkan konsep matematika yang lebih canggih lagi.

Berpikir dalam bidang bahasa merupakan contoh, lagi, kemampuan akal manusia. Tentu saja, beberapa jenis binatang berkomunikasi dengan bahasa tingkat dasar. Misal, sekelompok anjing hutan berburu sambil berkomunikasi mengatur strategi untuk mengintai korban. Bagaimana pun, kemampuan berbahasa manusia jauh lebih tinggi dari itu. Dengan bahasa, kita bisa menceritakan dongeng sebelum tidur kepada anak-anak. Kita bisa membuat cerita pendek bahkan sampai novel berseri-seri dengan menggunakan bahasa. Dan, tentu saja kita bisa membuat puisi yang lembut menyentuh hati. Tidak ada binatang yang memiliki kemampuan bahasa secanggih manusia. Bahasa tingkat tinggi merupakan kemampuan khusus bagi manusia.

Moral

Immanuel Kant (1724 – 1804) membedakan akal dengan pemahaman (understanding). Pembedaan ini bernilai sangat penting. Apa saja yang kita bahas di atas, yang melibatkan kecerdasan matematika dan bahasa misalnya, masih termasuk dalam kategori “pemahaman”. Kita memahami suatu pernyataan matematika bernilai benar atau salah. Kita memahami suatu pernyataan bahasa menarik atau tidak. Itu semua tugas “pemahaman” (understanding).

Sementara, tugas akal adalah memutuskan suatu sikap, misal sikap kreatif atau sikap moral. Ketika “pemahaman” memahami formula aljabar, misalnya, akal berpikir: Apakah ada cara yang lebih mudah dari aljabar ini? Apakah aljabar ini berguna untuk kehidupan nyata? Apakah aljabar perlu saya pelajari lebih mendalam?

Akal makin penting perannya dalam menentukan sikap moral. Dengan “pemahaman” kita tahu bahwa “mencuri” atau “korupsi” adalah tindakan jahat. Akal bertanya: Apakah kita perlu korupsi dengan keuntungan harta yang tinggi? Ataukah kita perlu menghindari korupsi meski ada peluang begitu menggoda? Akal bertanya. Dan, akal pula yang memutuskan jawabannya: korupsi atau tidak.

Akal memiliki kebebasan sepenuhnya untuk memilih sikap bermoral atau tidak bermoral. Meskipun dalam prakteknya, manusia perlu beragam fasilitas pendukung untuk menjalankan sikap dari akal. Tetapi, keputusan oleh akal itu sendiri bersifat bebas.

Kant melangkah lebih jauh dengan mengatakan bahwa tujuan alam raya adalah untuk menghadirkan manusia-manusia bermoral. Mereka memilih untuk bertindak bermoral meskipun, sejatinya, mereka bisa memilih untuk berbuat jahat. Mengapa mereka memilih tindakan bermoral? Karena dirinya, memang, orang bermoral.

Hal ini berbeda dengan reproduksi, misalnya. Mengapa manusia punya nafsu hasrat? Karena agar manusia bisa reproduksi berkembang biak. Mengapa manusia perlu reproduksi? Karena untuk melestarikan spesies manusia. Mengapa perlu melestarikan spesies manusia? Dan seterusnya, pertanyaan bisa tanpa akhir.

Sementara, pertanyaan tentang moral akan berhenti kepada diri manusia bermoral. Manusia menjadi bermoral karena tindakannya yang bermoral. Tindakan bermoral ini disebabkan oleh manusia yang bermoral – memilih bermoral. Jadi, manusia bermoral adalah proses dan tujuan dalam dirinya sendiri.

Dengan konsep moral seperti itu, “Siapakah manusia?”

Manusia adalah dumadi bermoral.

Dumadi adalah kejadian, ciptaan, sesuatu, mahkluk, eksistensi, atau being. Manusia adalah “dumadi bermoral” bermakna manusia adalah sesuatu yang esensinya mampu memilih sikap moral, meski pun, mereka bisa juga memilih sikap jahat. Dengan konsep “dumadi bermoral”, tampaknya, banyak manusia yang tidak masuk dalam klasifikasi ini. Karena, seperti kita tahu, beberapa manusia gagal memilih sikap moral.

Binatang

Keberatan utama dari konsep “binatang berakal” adalah kesan kata “binatang” seakan-akan makhluk tak bermoral. Singa terkenal buas, ular terkenal licik, dan anjing sebagai penjilat. Manusia sering mengumpat, menjelekkan pihak lain, dengan menyebut nama binatang. Nama binatang begitu rendah dalam banyak aspek kehidupan manusia.

Padahal, sebagai mana kita maklum, binatang tidak ada yang jahat. Binatang, justru, tidak pernah melakukan dosa. Perhatikan, misalnya, seekor ular yang memangsa tikus hidup-hidup di sawah. Tidak ada perilaku jahat dalam kejadian itu. Ular tidak menjadi jahat karena membunuh tikus. Begitu juga tikus tidak menjadi jahat karena memicu ular untuk membunuh dirinya. Ular tidak pernah memangsa tikus jika dirinya tidak lapar. Meski ada tikus di depannya, ular tidak akan memangsanya bila dirinya sedang kenyang. Ular juga tidak pernah menimbun banyak tikus, sedemikian hingga, agar ular bisa makan tikus dalam jumlah berlebihan. Dan, jelas sekali, ular tidak pernah berternak tikus dengan tujuan untuk kebutuhan konsumsi atau keuntungan lainnya.

Ular, dan binatang lainya, tidak jahat. Bahkan binatang, sampai kapan pun, tidak akan pernah menjadi jahat. Hanya manusia yang bisa menjadi manusia jahat. Meski pun, manusia bisa juga menjadi manusia bermoral.

Seharusnya, kata “binatang” berkonotasi netral. Tidak jahat, pun, tidak harus bermoral. Dalam beberapa kesempatan, nama binatang berkonotasi positif. Jago gitar, Sang Rajawali, Maung Bandung, Kepala Naga, dan lain-lain.

Kita menemukan beberapa perilaku manusia jahat, lalu, melabeli mereka bagai binatang. Pegawai korup licik bagai ular. Pedagang serakah buas bagai srigala. Penipu bingung bagai cacing kepanasan. Lagi-lagi, perilaku jahat pada manusia, lalu, menggambarkan kejahatan yang sama kepada binatang. Tentu saja, penilaian seperti ini tidak fair. Meski demikian, karena sudah menjadi ungkapan dalam kehidupan sehari-hari, maka, sudah menjadi “language game” yang ada.

Bisa jadi, orang-orang tertentu, dengan sengaja, mengambil konsep “binatang berakal” menjadi inspirasi untuk suatu kejahatan mereka.

Keberatan kedua terhadap konsep “binatang berakal” adalah keberatan filosofis. Kita tidak bisa membentuk substansi “manusia” dengan cara menambahkan substansi “berakal” kepada substansi “binatang”. Substansi “manusia” adalah substansi tunggal yang unik, merupakan satu kesatuan. Kita hanya bisa menganalisis secara konseptual bahwa dalam konsep manusia terkandung konsep “binatang” dan konsep “berakal”. Hanya analisis, bukan realitas sejatinya.

Spesies manusia adalah realitas konkret yang lebih nyata dari genus binatang.

Pengalaman kita di dunia mekanika memang tampak beda. Mobil atau sepeda, misalnya, kita desain dengan cara merangkai unsur-unsurnya. Untuk merancang sepeda maka kita “menggabungkan” roda depan, roda belakang, sadel, rantai, dan lain-lain. Masing-masing unsur ini sudah eksis secara nyata mendahului sepeda. Pengalaman kita di dunia mekanika ini tidak bisa kita terapkan untuk manusia. Kita, tidak bisa membentuk manusia dengan cara menyusun kaki, tangan, badan, dan lain-lainnya. Tetapi, sekali lagi, kita punya intuisi bahwa kita bisa menyusun robot manusia dengan cara merangkai komponen-komponennya.

Keberatan filosofis ini memerlukan solusi yang tidak bersifat mekanis. Solusi itu harus berupa suatu konsep manusia yang utuh dengan sedikit tambahan deskripsi.

Beberapa konsep alternatif akan kita bahas di bagian bawah. Barangkali, kita bisa mempertimbangkan konsep,

“Manusia adalah dumadi berakal.”

Lebih spesifik lagi konsep,

“Manusia adalah dumadi bermoral.”

5.2 Eksistensi Peduli Eksistensi

“Siapakah manusia?”

Manusia adalah eksistensi yang peduli dengan eksistensi dirinya. Manusia peduli dengan masa depan eksistensinya, masa lalu, dan masa kini. Manusia bertanya-tanya, “Bagamana keadaanku, eksistensiku, esok hari?” “Apa yang akan terjadi di masa depan?” “Saya pasti akan mati, tetapi, apa yang akan terjadi saat itu dan setelahnya?”

Heidegger (1989 – 1976) mengusulkan konsep bahwa manusia adalah eksistensi yang peduli dengan eksistensi dirinya. Manusia adalah eksistensi yang senantiasa mempertanyakan eksistensi. Manusia adalah eksistensi yang menyelidiki “makna dari eksistensi.” Heidegger menggunakan istilah “dasein” (being-there) untuk maksud manusia sejati. Manusia, benar-benar nyata, ada di sana dan di sini. Dasein.

Kita bisa membandingkan dasein ini dengan “binatang berakal” dan cogito (dari Descartes).

Kita sampai ke konsep “binatang berakal” melalui analisis evolusi, taksonomi, dan mekanis. Sementara, kita sampai kepada dasein dari analisis filosofis terhadap realitas nyata seutuhnya – being as a whole. Atau lebih tepatnya, kita sampai kepada konsep dasein melalui kajian fenomenologi filosofis.

Fenomenologi adalah mengijinkan realitas eksistensi untuk hadir apa adanya. Alam semesta ini hadir apa adanya di sekitar kita. Bahkan, dunia ini sudah eksis, ada secara konkret, sebelum kita lahir. Lalu, mengapa dunia ini eksis? Mengapa saya eksis? Kita bisa menggali histori masa lalu untuk menjawabnya; kita bisa meneliti fosil dan prasasti; tetapi semua jawaban bersifat belum pasti. Mengapa? Karena semua realitas masa lalu selalu bergerak menuju masa depan. Jadi, mengapa Anda membaca tulisan ini? Karena Anda sedang bergerak menuju masa depan. Manusia adalah dasein yang peduli dengan eksistensi masa depan: masa depan diri dan dunia sekitar.

Mengapa menggunakan istilah dasein bukan manusia saja? Karena kita perlu mengkaji eksistensi apa adanya. Dari beragam eksistensi, kita harus memilih salah satu eksistensi sebagai awal kajian: memilih eksistensi yang mana? Kita memilih “eksistensi yang bertanya tentang eksistensi” yaitu dasein. Beberapa orang, manusia, memiliki sikap peduli dengan bertanya tentang apa makna-eksistensinya. Jadi, sebagian manusia adalah dasein itu sendiri; atau secara umum, semua orang memiliki posibilitas untuk menjadi dasein otentik. Manusia sejati adalah dasein otentik; manusia yang peduli eksistensi.

5.2.1 Sebagai Being-in-The-World

Paling dasar, manusia adalah eksistensi dalam dunia; being-in-the-world. Anak muda hidup dalam dunianya sendiri. Orang tua hidup dalam dunianya sendiri. Emak-emak hidup dalam dunianya sendiri. Bumi dan isinya adalah dunia milik kita bersama sebagai manusia. Di saat yang sama, masing-masing dari kita memiliki dunianya sendiri yang berbeda-beda.

Manusia selalu hidup dalam dunia; tidak bisa hidup tanpa dunia; tidak bisa hidup sendiri tanpa bumi, tanpa udara, tanpa ibu tercinta. Andai Anda bisa hidup di luar dunia ini maka Anda akan hidup di dunia yang lain. Dunia adalah segala eksistensi, segala yang ada, yang bermakna bagi Anda. Dunia bisnis, dunia seni, dunia olahraga, dunia pribadi, dunia hiburan, dan dunia-dunia lainnya.

Manusia sebagai dasein berbeda dengan cogito dari Descartes. Sebagai cogito, manusia terasing oleh dunia. Manusia ingin membuktikan apakah dunia itu benar-benar ada atau hanya ilusi belaka. Sayangnya, cogito selalu gagal untuk mendapatkan bukti. Selalu ada peluang bahwa dunia luar adalah sekadar ilusi. Sementara sebagai dasein, manusia memang sudah berada dalam dunia; manusia akrab dengan seluruh dunia. Manusia tidak perlu membuktikan eksistensi dunia luar; manusia tinggal memaknai seluruh eksistensi.

Anda tidak perlu membukti bahwa apakah Anda punya ibu; apakah ibu Anda pernah ada? Kita sudah yakin bahwa kita punya ibu; kita lahir dari ibu tercinta yang mencurahkan cahaya cinta kepada kita sebagai anaknya. Tugas kita bukan untuk membuktikan apakah ibu pernah ada; tetapi, tugas kita adalah untuk berbakti kepada ibu; termasuk berbakti kepada ibu pertiwi.

5.2.2 Anugerah Meraih Sumber

Siapakah manusia? Siapa dasein? Siapa saya?

Manusia adalah anugerah. Anda adalah anugerah buat keluarga, buat tetangga, dan buat masyarakat luas. Anda juga anugerah bagi seluruh dunia. Sebaliknya juga benar: keluarga, tetangga, dan masyarakat adalah anugerah buat Anda. Bila ada orang yang tidak menjadi anugerah bagi sekitarnya maka orang tersebut sedang salah arah. Karena, sejatinya, orang tersebut adalah anugerah.

Dari mana anugerah itu? Kita adalah anugerah berupa manusia yang berasal dari sumber anugerah. Tugas terdalam kita adalah untuk meraih sumber anugerah itu. Untuk meraihnya, kita perlu membuka seluruh posibilitas yang tersedia.

5.2.3 Posibilitas demi Posibilitas

Manusia adalah posibilitas yang terbuka luas. Kita adalah suatu posibilitas yang berubah menjadi posibilitas lain yang lebih luas. Posibilitas demi posibilitas setiap saat memperluas posibilitas.

Posibilitas, peluang, atau kemungkinan adalah hakikat manusia terdalam. Bahkan kematian yang sering kita sebut sebagai niscaya, kita pada waktunya pasti mati, sejatinya adalah posibilitas untuk membuka realitas baru. Ketika kita masih hidup, kita terbatas hanya bisa akses posibilitas di sekitar dunia ini. Ketika kita mati maka tersingkap posibilitas lebih luas. Apa yang kita siapkan untuk menyambut kematian yang akan membuka posibilitas lebih luas?

5.3 Jiwa Bercahaya (Suhrawardi)

Pembeda utama manusia terhadap yang lain adalah jiwanya. Jiwa manusia adalah cahaya yang bersinar. Jiwa bersumber dari Cahaya Maha Cahaya. Kemudian, jiwa menjadi sumber cahaya untuk menyinari banyak hal dengan menerima limpahan Cahaya Maha Cahaya.

Cahaya Solusi Petitio Principii

Manusia adalah jiwa bercahaya. Atau, manusia adalah cahaya. Sedangkan, cahaya adalah realitas yang paling jelas. Semua realitas membutuhkan cahaya agar menjadi jelas. Sementara, cahaya hanya membutuhkan dirinya sendiri untuk menjadi jelas.

Solusi dari Suhrawardi berupa jiwa cahaya ini menyelesaikan problem paling sulit: petitio principii atau beg question atau kembali ke pertanyaan. Kita bisa menjawab, misal, manusia adalah M maka muncul pertanyaan tentang M. Untuk menjawab M itu kita akan kembali mengandalkan pikiran manusia; kembali kepada pertanyaan awal tentang makna manusia. Jadi, kita akan selalu terjebak ke petitio principii. Solusi bahwa manusia adalah cahaya merupakan solusi cerdik. Memang, wajar, kita akan bertanya apa itu cahaya? Selanjutnya, kita perlu mengkaji ontologi cahaya. Kita menyelesaikan petitio principii tetapi menghadapi problem untuk mengkaji ontologi cahaya.

Imkanu Ashraf (IA)

Manusia, sebagai cahaya, adalah posibilitas luas.

Jiwa Meluas Futuristik

5.4 Citra Paripurna (Ibnu Arabi)

Manusia adalah citra paripurna, citra sempurna. Manusia adalah citra sempurna dari Tuhan Yang Maha Sempurna. Di saat yang sama, manusia adalah citra dari alam raya.

5.5 Moral Bebas (Kant)

Manusia adalah pilihan bebas penuh moral. Hakikat manusia adalah kemampuannya untuk bebas memilih tindakan bermoral dibanding tindakan jahat. Kucing bebas memilih lari atau melompat. Tetapi, lari atau melompatnya seekor kucing, sama-sama tidak jahat. Berbeda dengan manusia. Manusia bisa mencuri, maka dia jahat. Manusia bisa bersedekah, maka dia bermoral. Manusia bebas untuk memilih sebagai bermoral.

Mengapa manusia bisa bebas? Bisa freedom? Mengapa akal manusia bisa bebas dengan spontan? Manusia bebas karena manusia adalah bebas itu sendiri; manusia adalah kebebasan. Manusia bukanlah suatu subyek tertentu; kemudian, subyek manusia itu memiliki predikat “bebas”; bukan demikian. Tetapi manusia adalah “bebas” itu sendiri; kemudian, “bebas’ itu bermanifestasi secara konkret sesuai situasi.

Bagaimana proses manusia bisa menjadi bebas? Manusia menjadi bebas karena dipastikan sebagai bebas oleh Tuhan. Manusia menjadi bebas dengan menerima kewajiban sebagai bebas; kewajiban dari Tuhan yaitu amanah sebagai dumadi bebas. Dengan memenuhi kewajiban-kewajiban, manusia menjadi bebas. Manusia wajib bebas.

Bukankah dengan banyaknya kewajiban, manusia menjadi terikat oleh kewajiban; manusia menjadi tidak bebas? Justru makin bebas akibat memenuhi kewajiban itu. Kewajiban adalah pembebasan.

Melanggar kewajiban yang, justru, menjadikan manusia tidak bebas. Awalnya, manusia bebas hidup sehat. Kemudian, dia minum alkohol; melanggar kewajiban hidup sehat. Bertahap, manusia itu ketagihan alkohol sampai kecanduan alkohol. Dia kehilangan kebebasan; dia kehilangan jati dirinya sebagai manusia.

Kewajiban Anda menghormati ibu, membela orang miskin, dan merawat suara hati adalah beberapa contoh kewajiban yang menjadikan diri Anda sebagai manusia; Anda sebagai kebebasan sejati. Lalu, apa makna dari kewajiban?

5.6 Spirit Dialektika (Hegel)

Manusia adalah spirit yang terus bergerak maju menuju spirit absolut. Awalnya, spirit tidak tahu apa-apa. Spirit hanya tahu dirinya sendiri. Ketika menatap alam luar, spirit sadar ada yang beda dengan dirinya. Spirit menghadapi kontradiksi, perbedaan tajam dunia luar dengan dirinya. Kemudian, spirit merangkul pengetahuan dunia luar dan kembali menjadi “becoming” spirit baru yang lebih dewasa. Proses ini disebut sebagai dialektika.

Spirit tidak pernah berhenti, selalu, dialektika untuk menuju sempurna. Dialektika ini bergerak menuju spirit absolut. Jadi, manusia adalah gerak spirit menuju absolut.

5.7 Kebaikan Liar (Schelling)

Manusia adalah kebaikan. Tetapi, bukan kebaikan biasa. Manusia adalah kebaikan tanpa batas, tanpa henti, dan liar. Kebaikan yang meledak-ledak secara terus-menerus.

Kebaikan manusia, disamping meledak-ledak, memiliki kemampuan moderasi. Yaitu kemampuan mengendalikan diri. Ketika, kebaikan itu dimoderasi dengan baik, sesuai ukuran yang tepat, maka manusia menjadi kebaikan yang nyata. Jika kebaikan itu lepas kendali maka menjadi berbahaya. Manusia yang aslinya kebaikan bisa berubah menjadi manusia jahat. Misal nafsu makan yang berlebihan menjadi penyakit. Lebih jauh dari itu, nafsu bisa mendorong manusia mencuri sampai korupsi.

Dalam dirinya sendiri, manusia adalah kebaikan tanpa batas. Dan, manusia memiliki kemampuan mengendalikan diri, sehingga, manusia menjadi kebaikan yang nyata dan tertata.

5.8 Pilihan Bebas (Sartre)

Manusia tidak memiliki kehendak bebas (free will). Manusia adalah kebebasan itu sendiri (freedom). Manusia bebas untuk menjadi apa saja. Manusia bebas untuk menolak apa saja. Free will adalah bagian kecil dari freedom.

5.9 Dumadi Selaras Diri

Manusia adalah dumadi yang mampu menyelaraskan diri. Manusia selalu bergerak menyongsong masa depan. Di saat yang sama, manusia menyelaraskan bekal masa lalu dan modifikasi masa kini agar menjadi masa depan cemerlang yang serasi.

Masa depan banyak pilihan. Tidak kurang hambatan. Tidak sedikit kesulitan. Manusia memilih cita-cita masa depan yang menjadi idaman. Menyelaraskan perjalanan cita agar mampu mengatasi hambatan. Akhirnya, tercapai cita-cita sebagai dumadi yang menyelaraskan diri.

6. Manusia Sejati

Jadi, siapa manusia sejati? Siapa Anda? Siapa saya? Manusia sejati adalah dumadi yang menyelaraskan diri.

Definisi esensial, menyatakan bahwa manusia adalah binatang berakal, merupakan definisi paling dasar. Sementara, definisi manusia sempurna merupakan definisi yang terbuka.

Diferensia Akhir

Akal, atau jiwa rasional, adalah diferensia akhir. Dalam diferensia akhir, tersimpan seluruh karakter dari diferensia yang lebih awal. Sehingga, ketika kita menyebut akal, atau jiwa rasional, sudah terkandung di dalamnya kemampuan badan yang hidup dan bebas bergerak.

Manusia adalah akal atau jiwa rasional.

Jadi, kita bisa menyebut manusia adalah akal saja. Atau, manusia adalah rasional saja. Tentu saja, akal memiliki banyak makna.

Pertanyaan lanjutan: apakah akal bisa berubah menjadi diferensia lebih akhir?

Bisa. Akal bisa berubah menjadi manusia sempurna. Apa itu manusia sempurna? Jika, definisi umumnya, manusia adalah binatang berakal, maka, akal tidak bisa berubah menjadi manusia sempurna. Karena akal sudah menjadi diferensia akhir. Tetapi, kita menggunakan definisi manusia sempurna, sehingga, menjadi lebih terbuka.

Akal Sempurna

Manusia adalah akal yang sempurna. Seperti apakah itu?

Akal adalah model umum dari manusia atau genus. Maksudnya, setiap manusia pasti berakal, pasti rasional. Kemudian, model akal ini akan bergerak menuju diferensia akhir. Karena ada masa depan, maka, akal berubah menuju masa depan.

Diferensia Akhir = {Jujur, Penipu, Petani, Pemimpin, …}

Jujur adalah diferensia akhir dari akal. Ketika seorang manusia jujur maka dipastikan dia memiliki akal, memiliki badan, dan lain-lain. Jadi, jujur meliputi seluruh diferensia yang lebih awal.

Tetapi tidak bisa sebaliknya. Ketika kita tahu manusia adalah akal, maka, kita tidak bisa menyimpulkan bahwa dia jujur. Demikian juga dengan penipu, petani, dan pemimpin. Kita bisa memastikan bahwa setiap penipu pasti berakal. Tidak sebaliknya.

Menariknya, semua diferensia akhir dari manusia adalah tersusun oleh unsur-unsur manusiawi. Tersusun oleh akal, badan, dan situasi sekitar. Jujur, misalnya, tersusun oleh akal yang konsisten membela kebenaran, badan yang sesuai konteks, dan menyesuaikan situasi sekitar yang terjadi.

Sebaliknya, sulit terjadi. Maksudnya, dari akal, badan, dan situasi yang ada, kita sulit memastikan akankah manusia menjadi jujur.

Manusia Dinamis

Definisi manusia menjadi dinamis. Karena, diferensia akhir manusia dinamis. Berbeda dengan definisi binatang yang statis, misalnya.

Binatang adalah tumbuhan yang bebas bergerak.

Kucing adalah binatang. Kucing memiliki karakter seperti tumbuhan yang tumbuh, berkembang biak, butuh makanan, dan lain-lain. Ditambah, kucing bebas bergerak, berbeda dengan tumbuhan. Dari lahir sampai mati, kucing tetaplah kucing. Kucing tetap sebagai tumbuhan yang bebas bergerak. Diferensia akhir dari kucing adalah, tetap, kucing sebagai binatang. Definisi kucing adalah statis.

Definisi manusia adalah dinamis, bahkan, sangat dinamis. Ketika lahir, semua manusia sama, yaitu, berakal atau rasional. Ketika mati, masing-masing manusia berbeda dalam diferensia akhir. Sebagian jadi jujur, sebagian yang lain penipu. Sebagian jadi pahlawan, sebagian yang lain jadi penjahat.

Sempurna = {abdi + wakil}

Mari kita coba cermati definisi manusia sempurna dari Ibnu Arabi (dan Al Jilli). Dari manusia rasional berubah menjadi manusia sempurna, yaitu, abdi Tuhan dan wakil Tuhan.

Abdi adalah manusia menjalani seluruh hidup, dan matinya, sesuai petunjuk Tuhan. Manusia berserah diri kepada Tuhan. Manusia menerima petunjuk melalui wahyu, kitab suci, riwayat, alam semesta, dan diri manusia itu sendiri. Menjadi abdi, seperti ini, baru setengah jalan untuk menuju sempurna.

Menjadi wakil adalah pelengkap sempurnanya manusia. Wakil adalah mengelola seluruh alam raya menuju kebaikan. Merangkul seluruh alam, kemudian, mengajak ke puncak kebaikan dengan jalan kebaikan. Sebagai wakil, manusia melindungi manusia lain, saling menolong dan membantu. Manusia menjaga kelestarian alam. Manusia adalah anugerah bagi alam dan alam adalah anugerah bagi manusia. Sebagai wakil, manusia, merespon situasi dunia dengan cara yang unik. Sehingga, manusia sempurna selalu memiliki kekhasan yang unik.

Evolusi Darwin

Pendukung Darwin mendefinisikan manusia sebagai homo sapiens. Yaitu, sejenis primata atau kera dengan keunikan bisa berbahasa. Homo sapiens adalah hasil evolusi dari primata. Definisi Darwin ini, tampaknya, banyak diterima oleh para ilmuwan.

Sesuai kajian kita di atas, definisi manusia sebagai homo sapiens, adalah definisi model umum belaka. Ketika lahir, barangkali benar. Homo sapiens adalah genus manusia atau diferensia awal manusia. Seiring perjalanan hidup, manusia membentuk definisi dirinya sendiri sebagai diferensia akhir. Misal seseorang, ketika dewasa, menjadi penulis. Diferensia akhir sebagai penulis, pasti, mencakup homo sapiens.

Kita bisa mencermati definisi Aristo bahwa manusia adalah jiwa rasional. Tampaknya, Aristo bermaksud, definisi itu sebagai diferensia awal. Sementara, diferensia akhir tetap dinamis. Aristo sendiri terbukti berhasil mencapai diferensia akhir sebagai filsuf terbesar dalam sejarah. Sadra (dan Sabzivari) adalah pemikir besar yang berhasil mengangkat tema diferensia akhir menjadi definisi paling penting.

7. Model Manusia

Mari kita ringkas diskusi tentang definisi manusia dengan model M. Definisi awal, sebagai diferensia,

“Manusia = M = Akal = Rasional”

Model M

M sebagai diferensia mencakup seluruh diferensia lebih awal, di antaranya, meliputi badan, tumbuh, mineral, dan lain-lain.

M adalah model dasar dari manusia. Setiap manusia harus memenuhi M, berakal. Jika tidak berakal maka gagal sebagai M, gagal sebagai manusia.

Tetapi, model M ini berubah secara dinamis. Sehingga, model M bisa, berubah, menjadi berbeda-beda bagai bumi dan langit, bagai binatang dan malaikat, bagai air dan api. Jadi, M terbuka terhadap perubahan. Seiring waktu, M berubah menjadi lebih sempurna yaitu M(S).

Model M(S)

“Manusia = Akal Sempurna = M(S) = Sempurna = S”

M(S) adalah diferensia akhir. Tentu, M(S) meliputi M, meliputi akal. Atau, M(S) adalah ekstensi dari M itu sendiri.

Karakter S (sempurna) tidak bisa dibaca dari M. Artinya, S tidak bisa diprediksi dari M. Kareda ada faktor “forcing” (Cohen) atau “freedom”. Tetapi, S itu tersusun oleh M. Atau, struktur S terdiri dari unsur-unsur M. Jadi, S tersusun oleh unsur akal, badan, dan situasi serta freedom. Sebagai diferensia akhir, kita bisa menyebut sebagai M(S) = manusia sempurna, atau cukup S = sempurna.

M(S) memiliki karakter universal atau hampir absolut. M(S) bisa muncul di berbagai tempat berbeda dan di berbagai waktu berbeda. M(S) tidak bisa dibatasi oleh “hukum” M. Karena, M tidak bisa mem-prediksi M(S). Meskipun, seiring waktu, M akan bisa memahami M(S). Tetapi, M(S) bisa memprediksi M karena M ada dalam diri M(S).

M(S), di saat yang sama, bersifat unik, partikular, sesuai situasi yang ada dan “freedom” individu. Sehingga, di dunia ini, terdapat ribuan atau jutaan M(S). Dengan perspektif tertentu, setiap individu manusia adalah M(S). Tetapi, perspektif umum, menerapkan M(S) hanya kepada manusia sempurna dalam makna positif.

M(S) adalah tujuan akhir dari manusia, yaitu, menjadi manusia sempurna. Apa yang Anda siapkan untuk menjadi manusia sempurna?

M(S) adalah manusia sempurna, adalah dumadi yang menyelaraskan diri, adalah dumadi serasi, adalah serasi.

M(S) = manusia sempurna = selaras diri = serasi

M(S) = Serasi

Kita fokus kepada serasi. Konsep manusia sempurna bisa kita ringkas menjadi hanya serasi. Apa makna serasi?

(1) Serasi terhadap situasi. Manusia menjaga diri agar serasi dengan situasi alam sekitar. Sebaliknya bisa terjadi. Manusia mengubah alam sekitar agar serasi dengan manusia. Perubahan terhadap diri, dan alam sekitar, bisa saja ekstrem. Manusia akan berusaha membawa, kembali, ke situasi serasi. Dalam situasi serasi seperti ini, M(S) adalah unik. M(S) di Asia berbeda dengan M(S) di Eropa, misalnya. Karena mereka menghadapi situasi yang berbeda. Alam sekitar, di sini, bisa berupa natural dan kultural.

(2) Serasi terhadap diri. Menariknya, diri manusia selalu menyimpan misteri. Sehingga, manusia sempurna perlu menjadi serasi dengan diri sendiri yang banyak misteri. Diri manusia memang tersusun oleh unsur-unsur manusiawi: badan, akal, situasi, dan lain-lain. Tetapi selalu ada “forcing” atau “freedom” yang melampaui unsur-unsur manusiawi yang sudah ada itu. Dengan demikian, manusia bisa selaras dengan dirinya sendiri dengan mencoba selaras terhadap “forcing” atau “freedom” dirinya sendiri.

(3) Serasi kepada Tuhan Maha Absolut. Manusia sempurna berjalan menuju absolut dengan menjadi hampir-absolut. Manusia meraih serasi dengan menjadi hampir-absolut, meski, tidak pernah absolut. Manusia perlu bimbingan melalui wahyu, kitab suci, riwayat, guru, sahabat, dan lain-lain. Dari dalam dirinya sendiri, manusia perlu berpikir terbuka, bersikap terbuka, membuka diri, dan membuka hati, agar mencapai serasi absolut. Tepatnya, serasi hampir-absolut. Manusia bisa berhasil meraih sempurna, hampir-absolut, bukan karena dirinya mampu. Tetapi, karena pertolongan dari sumber absolut.

Selamat menapaki jalan menjadi manusia sempurna…!

Ontologi Moral

Mengapa dunia Barat lebih maju dari dunia Timur?

Karena Barat menguasai sains dan teknologi. Sehingga, Barat menguasai bidang ekonomi, militer, dan politik. Dengan demikian, Barat mendominasi segala bidang. Benarkah seperti itu?

Pantai Timur Versus Pantai Barat, Yang Mana Lebih Indah?

Barangkali, bila kita melihat situasi akhir-akhir ini, memang benar Barat lebih maju dari Timur – secara umum. Bila kita membaca sejarah lebih panjang sampai ribuan tahun yang silam maka kita menemukan bahwa Timur pernah jauh lebih maju dari Barat. Pertimbangkan sejarah besar bangsa-bangsa Timur: Mesir, Persia, Cina, Arab, Baghdad, India, dan lain-lain. Di Indonesia sendiri, kita punya sejarah besar Sriwijaya, Majapahit, Demak, dan lain-lain.

Dalam rentang sejarah yang panjang, Timur dan Barat saling silih berganti memimpin peradaban. Hal seperti itu tampak wajar. Pada tulisan ini, kita akan membahas perbedaan prioritas filsafat Timur dan Barat – dengan asumsi filsafat berkorelasi dengan peradaban. Meski ada titik temu, bahkan sinergi, antara filosofi Timur dan Barat, kali ini kita sengaja akan mencari perbedaannya. Di sini, kita tidak bermaksud mengkaji sejarah. Kita hanya fokus membahas sedikit tema tentang ontologi dan moral.

1. Ontologi Barat

2. Moral Timur

3. Manusia Skepo
3.1 Moral Barat
3.1.1 Stoic
3.1.2 Epicurus
3.1.3 Plotinus

3.2 Ontologi Timur
3.2.1 Ibnu Sina
3.2.2 Suhrawardi
3.2.3 Sadra

3.3 Skepo
3.3.1 Penasaran
3.3.2 Membuka Judgment
3.3.3 Positif Partisipasi

Secara filosofi, Barat lebih mengedepankan ontologi (metafisika). Sedangkan, Timur lebih mengedepankan moral (etika). Sebagai manusia, kita membutuhkan keduanya. Sehingga, tantangannya adalah bagaimana mengambil porsi yang tepat, antara metafisika dan etika. Untuk kemudian, menciptakan alunan harmonis keduanya.

Saya mengusulkan sikap skepo untuk mengakomodasi ontologi dan moral dengan baik.

1. Ontologi Barat

Pertanyaan ontologi (metafisika) begitu kuat di Barat sejak masa-masa pra-Sokrates. Misal, Thales (624 – 548 SM), yang ahli matematika begitu bersemangat menjawab pertanyaan: tersusun oleh apakah alam semesta ini? Secara ringkas, para pemikir kuno menemukan jawaban bahwa alam raya ini tersusun oleh unsur-unsur dasar: api, air, tanah, dan udara. Tampak, unsur-unsur dasar tersebut bersifat materi. Sementara, para pemikir kuno tidak bermaksud membatasi hanya dunia materi. Sehingga, unsur-unsur dasar di atas juga bisa bersifat unsur spiritual.

Russell (1872 – 1970) memuji Demokritus (460 – 370 SM) karena menjawab bahwa penyusun alam raya adalah atom. Bagi Russell, jawaban atom ini adalah jawaban paling ilmiah di jamannya, dan bahkan, tetap relevan sampai saat ini.

Plato (428 – 348 SM) membahas dengan tuntas tema ontologi. Alam raya tercipta dari Idea yang ada di alam ideal dan bayang-bayang dari alam ideal itu membentuk alam nyata kita, yang tidak ideal ini. Kemudian, Aristoteles melengkapi dengan beragam teori termasuk teori bentuk dan materi.

Descartes (1596 – 1650) berhasil memisahkan dengan tegas substansi materi dengan substansi jiwa. Substansi materi, dunia materi, merupakan dunia independent yang dapat kita kaji dengan sains. Isaac Newton (1642 – 1726) berhasil dengan cemerlang menerapkan matematika di dunia sains. Konsekuensinya, kekuatan ilmu pengetahuan menjadi bersifat eksak – bukan sekedar coba-coba. Selanjutnya, perkembangan sains dengan teknologi makin erat. Ditambah dengan kepentingan ekonomi dan politik maka dunia Barat menyebarkan kolonialisme ke penjuru dunia.

Kemajuan sains dan teknologi di Barat begitu luar biasa. Lengkap dengan beragam dampak negatif yang sulit ditangani.

2. Moral Timur

Nabi Ibrahim atau Abraham (2000 SM) adalah tokoh moral agama terbesar di dunia. Ajaran Ibrahim yang berkomitmen tinggi kepada kebenaran sejati, kemudian, berkembang menjadi dasar-dasar moral dan agama Yahudi, Kristen, dan Islam.

Buddha (abad 6 SM) mengajarkan cara hidup bermoral tinggi untuk kebahagiaan seluruh umat manusia. Konghucu (551 SM) mengajarkan umat manusia, baik rakyat atau bangsawan, untuk konsisten dalam amal kebajikan.

Sunan Kalijaga (1450 – 1513) adalah tokoh moral paling terkenal dari Walisongo. Kalijaga dikagumi masyarakat luas lantaran begitu fleksibel mengajarkan prinsip moral ke seluruh kalangan. Bahkan, Kalijaga berkreasi dalam ragam bentuk seni, misal cerita wayang, untuk menanamkan prinsip-prinsip moral: membela kebenaran, sabar, dan pantang menyerah.

Sangkan paraning dumadi” adalah ajaran moral yang mengajak kita untuk merenungi dari mana kita berasal dan ke arah mana kita menuju akhir. Kita berasal dari Tuhan dan kita pasti akan kembali menuju Tuhan pula. Maka dalam hidup ini, kita perlu konsisten hidup dengan moral tinggi sesuai ajaran Tuhan.

Kita perhatikan, fokus moral ini berbeda dengan ontologi. Ketika ontologi bertanya tersusun dari apakah alam raya ini, moral langsung bertanya dari mana dan ke arah mana alam raya ini. Ontologi sibuk merumuskan unsur-unsur dasar api atau atom. Moral sibuk memperbaiki perilaku manusia agar sejalan dengan moral tuntunan Tuhan.

Mamayu hayuning bawana” adalah ajaran moral agar kita ikut serta menciptakan kebaikan alam raya. Kita perlu berpartisipasi menjaga kelestarian lingkungan, membantu orang-orang yang perlu pertolongan, dan berbagi kebaikan.

Lagi, kita perhatikan, ketika ontologi sains menyelidiki hukum gravitasi, moral justru mengajak umat manusia untuk saling berbagi. Mengalahkan nafsu diri yang ingin menikmati fasilitas dunia berlebihan. Membaginya, sumber daya dan fasilitas yang ada, untuk kebaikan umat manusia.

Urip iku urup” ajaran moral yang mengajak kita hidup penuh semangat. Apakah Anda seorang petani? Maka jadilah petani yang semangat. Apakah Anda seorang pedagang, karyawan, atau seniman? Maka hiduplah dengan semangat dalam segala situasi. Urip iku urup adalah hidup itu menyala.

Ontologi teknologi menyelidiki cara meng-eksplorasi alam raya, sementara moral, mengajak kita hidup penuh semangat dengan segala yang alam raya ada.

Tentu, perbandingan berlawanan antara ontologi dan moral, di atas, kita buat agar tajam perbedaannya. Kita masih bisa membuatnya lebih ekstrem lagi perlawanan keduanya. Atau sebaliknya, kita bisa mencari alunan harmonis antara ontologi dan moral.

3. Manusia Skepo

Sebagai manusia, kita membutuhkan keduanya: ontologi dan moral. Sejatinya, para pemikir Timur dan Barat, juga membahas kedua-duanya. Tugas kita adalah menciptakan alunan serasi antara ontologi dan moral. Sebuah tugas yang tidak pernah ada titik hentinya. Mengajak manusia untuk bahagia dari suatu alunan ke alunan berikutnya. Sikap manusia skepo kita perlukan di sini. Skepo adalah skeptis positif.

3.1 Moral Barat

Agar alunan alam raya ini terasa lebih serasi, kita akan membahas moral Barat dan ontologi Timur. Sehingga, kita mendapat gambaran lebih kuat bahwa alunan indah ontologi moral ini memang ada di mana-mana. Meski moral di Barat sudah berkembang sejak awal-awal peradaban, tetapi, dominasi moral tampak sangat jelas sekitar abad ke-3 SM. Lahirlah tiga madzhab moral filosofis: Stoic, Epicurus, dan Plotinus.

3.1.1 Stoic

Zeno (334 – 262 SM) adalah pendiri Stoic (Filosofi Teras) yang terus berkembang sampai saat ini. Silicon Valley, Hollywood, dan Eropa, dikabarkan saat ini, tengah jatuh cinta lagi dengan filosofi Stoic. Bahkan di Indonesia, saat ini, juga berkembang filosofi Teras.

Stoic mengajarkan bahwa tujuan utama filosofi adalah mengajak manusia hidup bahagia sempurna melalui penyempurnaan empat karakter kebajikan utama: bijak, apik, adil, dan berani. Cara mengembangkan empat kebajikan ini adalah dengan fokus kepada hal-hal yang bisa kita kendalikan, untuk kemudian, berkembang makin meluas.

Sementara, kajian filsafat lainnya, semisal ontologi dan epistemologi, diarahkan untuk membantu manusia mengembangkan empat karakter kebijakan utama di atas.

3.1.2 Epicurus

Epicurus (341 – 270 SM) mengembangkan aliran filsafat yang berpengaruh besar, di jaman, bersamaan munculnya Stoic. Mereka, Epicu dan Stoic, bersaing mengajak umat manusia hidup bahagia melalui jalan filosofi moral.

Secara konsep, filosofi Epicu ini sangat kuat. Tetapi, bagi masyarakat awam, butuh perjuangan lebih besar untuk bisa memahami filosofi Epicu. Jefferson, presiden US, mengaku menggunakan filosofi Epicu untuk mendorong kemajuan US. Karl Marx mengkaji filosofi Epicu dalam disertasi doktoralnya, yang kelak, menjadi rujukan utama sosialisme. Deleuze (1920 – 1995) mengkaji teori atom Epicu untuk menjelaskan beragam sumber perbedaan.

Filosofi Epicu dengan tegas menyatakan bahwa tujuan filsafat adalah mengantar manusia bahagia sempurna dengan cara menikmati alam raya secara lahir dan batin. Tentu saja, kita setuju diajak menikmati alam raya secara lahir dan batin. Tetapi, Epicu mengajarkan caranya dengan tepat. Dan, banyak orang berpikir ulang dengan cara Epicu itu.

Pertama, untuk bisa menikmati alam raya, kita perlu membatasi diri – bukan mengumbar nafsu. Anda bisa menikmati makanan dengan cara membatasi jumlah makan. Anda hanya bisa menikmati olahraga dengan cara membatasi kadar olahraga. Anda hanya bisa menikmati musik dengan cara membatasi bermusik. Kedua, untuk menikmati alam raya, kita menjalani hidup berdasar persahabatan. Sahabat adalah orang yang merasa bahagia karena membantu sahabatnya. Hidup ini bukan transaksi dagang, bukan pula transaksi politik. Hidup ini adalah persahabatan. Ketiga, untuk menikmati alam raya, kita perlu mengembangkan pengetahuan seluas-luasnya. Pengetahuan fisik dan pengetahuan ruhani. Kita mendalami ilmu agar mampu membatasi diri tidak mengumbar birahi. Kita mendalami ilmu agar politik penuh arti tidak hanya mengumbar janji. Kita mendalami ilmu sejati adalah bahagia sejati.

3.1.3 Plotinus

Plotinus (204 – 270) adalah pendiri neo-platonisme. Di akhir hayat, Plotinus menegaskan bahwa tugas kita sebagai filosof adalah “membawa cahaya ke dalam diri manusia” atau “membawa diri manusia ke dalam cahaya.” Dan, Plotinus berhasil menjalankan tugas itu dengan baik. Dibimbing oleh gurunya: Ammonius. Dibukukan oleh muridnya: Porphyry.

Pengaruh Plotinus, secara ontologi dan moral, terhadap generasi berikutnya sangat besar baik di Barat mau pun Timur. Tetapi, karena Plotinus berulangkali menyebut ajarannya sebagai Platonisme, maka orang-orang menganggap semua yang diajarkan Plotinus bersumber dari Plato. Meski benar, Plotinus sangat kuat merujuk ke Plato – dan Aristoteles, di saat yang sama, banyak ajaran orisinil dari Plotinus.

Pertama, Plotinus menolak ontologi yang menyatakan hanya ada realitas fisik belaka. Plotinus menegaskan adanya realitas spirit ideal yang lebih tinggi. Kita berasal dari Yang Maha Baik dan kebahagiaan hakiki adalah kita kembali kepada Yang Maha Baik. Kedua, untuk mencapai kebaikan hakiki maka kita perlu menjalani hidup dengan baik secara moral dan profesional. Bertahap, setiap saat, menapaki tangga yang lebih tinggi. Ketiga, jiwa manusia adalah cahaya. Maka hadirkan cahaya dalam jiwa. Atau, hadirkan jiwa dalam cahaya. Hakikat manusia adalah jiwa memancarkan cahaya bahagia.

3.2 Ontologi Timur

Berikutnya, kita akan membahas beberapa tokoh penting dari Timur yang mengembangkan ontologi dengan cemerlang. Dengan demikian, meski di Timur dominan moral, tetap saja kajian ontologi terus berkembang. Ontologi dan moral mengalun serasi dengan seimbang.

3.2.1 Ibnu Sina

Ibnu Sina (980 – 1037) adalah pemikir besar yang terkenal di Timur dan Barat – dikenal sebagai Avicenna. Ibnu Sina mendalami ontologi Plato, Aristoteles, dan Plotinus yang dilengkapi sudut pandang Al Kindi dan Al Farabi. Ketika Ibnu Sina mengalami kesulitan memahami maksud Aristoteles maka dia membaca tulisan Al Farabi. Dengan memahami Al Farabi, Ibnu Sina berhasil memahami Aristoteles.

Pertama, Ibnu Sina berhasil membuktikan eksistensi jiwa manusia yang mandiri dari badan manusia – secara ontologis. Ibnu Sina mengenalkan eksperimen pikiran “manusia terbang”. Ketika Anda di dalam ruangan, pejamkan mata Anda. Lalu bayangkan bahwa diri Anda terbang melayang-layang. Kita berhasil melakukan eksperimen pikiran itu. Jiwa kita, diri kita, tidak terikat pada badan untuk eksis. Kelak, Descartes (1596 – 1650) mengembangkan lebih jauh konsep ini dengan dualisme subtansi: jiwa dan materi.

Kedua, Ibnu Sina membedakan keniscayaan sebagai wajibul-wujud-bidzati dan wajibul-wujud-bighoirihi. Segala sesuatu perlu sebab untuk bisa eksis di alam raya ini. “Sebab” itu sendiri perlu “sebab lain” dan demikian seterusnya. Mereka, yang perlu sebab lain, adalah wajibul-wujud-bighoirihi. Analisis lebih lanjut menunjukkan adanya keharusan sebab yang mandiri yaitu wajibul-wujud-bidzati. Kelak, Leibniz (1646 – 1716) mengembangkan lebih jauh konsep ini menjadi konsep “keniscayaan” dan “kontingensi”.

Ketiga, konsep wajibul-wujud melangkah maju berhasil membuktikan eksistensi Tuhan sebagai Tuhan Yang Maha Ada, Maha Mengetahui, dan Maha Bijaksana. Saat ini, metode pembuktian dengan cara Ibnu Sina kita kenal sebagai bukti ontologis eksistensi Tuhan.

3.2.2 Suhrawardi

Suhrawardi (1154 – 1191) fokus kepada kajian ontologis paling fundamental: logika. Semua pengetahuan manusia, yang valid, didasarkan pada sistem logika yang harus valid juga. Sayangnya, sistem logika sejak Aristoteles sampai Ibnu Sina, justru, rapuh di bagian fondasi.

Apa itu manusia? Bagaimana manusia bisa mengetahui sesuatu? Seberapa meyakinkan kebenaran suatu pengetahuan?

(A): Setiap manusia bisa mati. (B): Suhrawardi adalah manusia. Maka kesimpulan yang sah adalah (C): Suhrawardi bisa mati.

Proses berpikir dari (A) dan (B) untuk menghasilkan kesimpulan (C) adalah silogisme logika yang wajar. Masalahnya, justru, bagaimana kita bisa mengetahui premis, pernyataan (A), bernilai benar? Karena, ketika, pernyataan (A) tidak meyakinkan maka semua kesimpulan logika juga tidak meyakinkan.

Suhrawardi memberi solusi dengan pendekatan logika visi-iluminasi. Pertama, realitas paling nyata adalah “cahaya” sehingga segala sesuatu perlu cahaya untuk bisa dijelaskan. Sementara, cahaya sendiri tidak memerlukan yang lain sebagai penjelas baginya. Tentu, yang dimaksud cahaya di sini bukan cahaya fisik tetapi cahaya ontologis.

Kedua, realitas cahaya berbeda-beda dalam kadar intensitas dan bentuknya. Sehingga, kita bisa menyaksikan keragaman di alam raya. Mereka, manusia dan alam raya, sama-sama cahaya, di saat yang sama, mereka berbeda-beda sesuai kadar intensitas.

Ketiga, untuk bisa mendapatkan pengetahuan (sejati), manusia perlu memiliki kemampuan melihat (visi). Kemudian menghadapkan visi ke obyek yang bercahaya, iluminasi. Di antara subyek (visi) dan obyek (iluminasi) tidak ada penghalang. Sehingga, visi dan iluminasi saling hadir membentuk satu kesatuan utuh pengetahuan sejati, knowledge by presence atau ilmu hudhuri. Pengetahuan visi-iluminasi ini bersifat pasti dan non-proposional.

Langkah selanjutnya, kita bisa mengungkapkan pengetahuan visi-iluminasi melalui simbol-simbol (perlambang) atau pernyataan proposisional (subyek – predikat). Dengan demikian, logika berhasil memperoleh fondasi pengetahuan yang kokoh.

3.2.3 Sadra

Mulla Sadra (1571 – 1635) mengembangkan sistem metafisika (ontologi) dengan canggih.

Pertama, realitas ontologis paling nyata adalah wujud. Yang ada hanya wujud. Realitas wujud adalah tunggal dan beragam. Keragaman wujud adalah identik. Dan, identitas wujud adalah beragam.

Kedua, wujud bergradasi berdasar intensitas, derajat, dan modulasi. Dengan demikian tercipta struktur wujud yang kompleks ambigu. Wujud murni adalah tunggal dan sempurna. Wujud memancar, beremanasi, kepada esensi sehingga kita memahami alam raya sebagai keragaman esensi. Tetapi, esensi hanyalah bayangan dari wujud. Realitas sejati adalah wujud yang bergradasi.

Ketiga, limpahan wujud menyebabkan gerak substansial – dan gerak aksidental. Gerak terjadi satu arah dari wujud lemah menuju wujud lebih kuat. Gerak arah melemah adalah mustahil karena wujud tidak mungkin menjadi tidak wujud. Manusia bergerak menyempurna, misal, dari sedikit ilmu menjadi banyak ilmu. Dengan kata lain, wujud ilmu manusia bergerak dari wujud lemah menjadi wujud lebih kuat. Ruang adalah efek ekstensi dari wujud. Sedangkan, waktu adalah efek dari gerak wujud – gerak substansial atau gerak aksidental.

Dengan tiga prinsip ontologi di atas, kita bisa mengembangkan sistem ontologi – dan metafisika – yang canggih, kompleks, dan dinamis.

3.3 Skepo

Mempertimbangkan luas dan dalamnya kajian ontologi moral di atas, maka, sikap apa yang terbaik bagi kita? Skepo adalah sikap yang baik. Skeptis dan positif. Skepo memiliki tiga karakter utama: penasaran, membuka judgment, dan partisipasi positif.

3.3.1 Penasaran

Sikap penasaran mengajak kita ingin tahu lebih jauh. Ketika kita mengenal ontologi Barat, maka penasaran, bagaimana lebih detilnya? Ketika ada moral Timur, kita penasaran, apa saja keunggulannya? Apa pun tema ontologi moral yang kita hadapi, sikap skepo mengajak kita untuk mempelajari lebih dalam dengan penuh antusias.

3.3.2 Membuka Judgment

Kita pasti melakukan penilaian atau judgment. Skepo mengajak kita membuka judgment. Maksudnya, setiap penilaian kita terbuka terhadap revisi untuk menghasilkan penilaian yang lebih baik. Kita perlu berpikir terbuka dengan membuka pikiran dan hati. Perkembangan sains, teknologi, seni, filosofi, dan lain-lain memberi peluang bagi kita untuk revisi setiap penilaian di setiap saat. Bahkan, kita makin gembira ketika berhasil merevisi penilaian lama dengan menghasilkan penilaian baru yang lebih baik.

3.3.3 Positif Partisipasi

Aktif berpartisipasi secara positif. Skepo mengajak kita untuk bersikap kreatif. Skepo mengajak kita antusias menerima beragam ilmu pengetahuan baik ontologi mau pun moral. Lebih dari itu, sikap skepo mendorong kita menemukan ide untuk berpartisipasi memperbaiki segala situasi. Kita perlu berpartisipasi aktif menyempurnakan ontologi dan moral.

Sebagai manusia, kita selalu berlimpah ide. Dengan bekal skepo, kita terus-menerus mengembangkan ide ontologi dan moral tiada henti.

Adil Permata Tiada Tara

Adil adalah cita-cita paling utama seluruh umat manusia. Bahkan, adil adalah cita-cita untuk seluruh alam semesta. Adil mendorong terwujudnya masyarakat sejahtera. Adil menjaga alam semesta harmoni berkelanjutan. Adil adalah permata tiada tara.

Menariknya lagi, kita semua paham apa itu adil. Meski pun, kita kadang sulit untuk mengungkapkan adil dengan kata-kata. Sementara, kita bisa merasakan bahwa sesuatu itu adil atau tidak – misal adanya kejanggalan.

Dalam kehidupan sosial, adil adalah kriteria paling utama. Menjadi landasan segala kriteria lainnya. Ketika kriteria adil dihapus maka segala kriteria positif di masyarakat menjadi kehilangan arti. Misal kehidupan masyarakat makmur tetapi tidak adil. Maka makmur menjadi tidak berarti karena di masyarakat terjadi ketidak-adilan: penindasan, pembungkaman, perkosaan, dan lain-lain. Pertumbuhan ekonomi yang tinggi juga tidak berarti bila tanpa keadilan. Ketimpangan yang kaya dan miskin makin menganga. Kecemburuan sosial mengancam kehidupan sosial.

Sehingga, kita harus membahas tema adil dengan adil.

1. Konsep Umum Adil
2. Adil sebagai Fairnes
3. Adil sebagai Dinamika
4. Cakupan Adil
5. Tanggung Jawab Etika
6. Diskusi Teori Keadilan
6.1 Justifikasi
6.2 Hasil vs Kesempatan
6.3 Dimensi
6.4 Totalitas
6.5 Distribusi
6.6 Personal vs Institusi
7. Ringkasan

Secara umum, adil adalah memberikan sesuatu sesuai haknya, sesuai ukurannya. Apa itu hak? Apa itu ukuran?

Adil adalah “fairness”, suatu kewajaran. Apa itu fairnes? Untungnya, Rawls sudah mengusulkan ukuran-ukuran fairness.

Adil adalah dinamis. Apa itu dinamis? Untungnya, kita bisa menghitung dinamika sosial dengan beragam cara.

1. Konsep Umum Adil

Sejak jaman Socrates, Plato, dan Aristoteles (abad 4 SM) adil merupakan konsep paling penting bagi manusia sebagai pribadi, masyarakat, alam raya, dan makhluk Tuhan. Demikian juga, filosofi Timur menempatkan adil pada posisi sangat tinggi misal Farabi, Ibnu Sina, Ghazali, Ibnu Arabi, dan Sadra. Di tanah air, kita mengenal konsep Ratu Adil yang menegakkan keadilan untuk seluruh warga semesta.

Adil adalah memberikan sesuatu sesuai haknya, sesuai ukurannya, demikian konsep umum adil. Plato menekankan penting harmoni ideal sebagai ukuran adil. Sementara, Aristoteles memperkuat konsep adil distributif. Segala sumber daya alam perlu disalurkan ke masyarakat secara adil merata.

Tentu saja, adil retributif menjadi dasar. Seorang pencuri wajib mengembalikan barang yang dia curi. Seorang koruptor wajib mengembalikan seluruh kekayaan korupsinya. Seorang pengusaha, dan penguasa, perlu memperbaiki kerusakan lingkungan.

Pemikir Timur, meluaskan konsep adil kepada Tuhan. Setiap manusia perlu mengabdi kepada Tuhan dengan memakmurkan bumi dan memajukan peradaban.

Secara pribadi, kita perlu adil kepada badan kita. Badan perlu istirahat dari beban kerja tiap hari. Olahraga rutin barangkali bisa memenuhi hak badan Anda. Otak perlu asupan vitamin berupa ilmu-ilmu yang luas. Hati meminta gizi hati berkualitas tinggi.

Anak Anda, istri Anda dan keluarga besar Anda, juga perlu mendapat perhatian secara adil.

Meski pun, tugas berbuat adil, tampak, begitu banyak jika kita lakukan semua justru hasilnya lebih baik bagi diri kita. Komitmen kita kepada adil menjamin kebaikan hidup bersama. Pertanyaannya, justru, bagaimana jika ada orang yang melanggar keadilan? Tentu, pelanggaran itu berdampak negatif bagi banyak orang.

Jika pelanggaran itu bersifat kriminal, misal pencurian, maka pengadilan pidana bisa menjadi solusi. Tetapi, jika pelanggaran itu berupa pelanggaran strategis, atau policy, maka apa solusinya?

Apakah pemindahan ibu kota negara (IKN) adalah adil di saat ini?
Apakah proyek kereta api cepat adalah adil bagi rakyat?
Apakah jutaan orang hidup miskin adalah adil?

Untuk menjawab pertanyaan sejenis itu kita perlu membahas konsep adil sebagai “fairness”.

2. Adil sebagai Fairnes

John Rawls (1921 – 2002) berhasil dengan gemilang merumuskan konsep adil yang nyata dalam kancah sosial politik. Sehingga, konsep adil tidak hanya pada tataran normatif. Adil sebagai “fairness” bisa dinyatakan dalam undang-undang atau konstitusi dan bisa diverifikasi secara obyektif.

Rawls menyusun dua prinsip paling mendasar – landasan adil sebagai fairness. Pertama adalah prinsip kesetaraan yang menyatakan bahwa setiap orang memiliki kebebasan yang sama, yang setara.

“Each person is to have an equal right to the most extensive total system of equal basic liberties compatible with a similar system of liberty for all”.

Kedua, prinsip tentang perbedaan. Tampak, Rawls mengakui realitas alam semesta ini dipenuhi dengan beragam perbedaan – meskipun prinsip pertama merupakan prinsip kesamaan. Untuk itu, Rawls menyusun dua prinsip perbedaan, prinsip 2a dan prinsip 2b.

 “Social and economic inequalities are to be arranged so that they are both:

(a) to the greatest benefit of the least advantaged, consistent with the just savings principle, and
(b) attached to offices and positions open to all under conditions of fair equality of opportunity.”

Termasuk kebebasan yang setara, prinsip 1 tentang kesamaan, adalah negara menjamin kebebasan setiap warga untuk bebas berpikir, bebas menentukan pilihan politik, bebas berpendapat, bebas berserikat, bebas memilih pekerjaan, dan kebebasan lain yang ditetapkan oleh negara.

Di sini, tampak jelas, prinsip dari Rawls bisa kita terapkan secara langsung dalam kehidupan bermasyarakat. Sehingga filsafat moral dan filsafat politik tidak hanya berhenti sebagai normatif. Filsafat politik bisa menjadi pegangan nyata dalam kehidupan politik.

Bercermin ke situasi Indonesia saat ini, barangkali, kita bisa menilai bahwa warga negara Indonesia sudah memiliki kebebasan dalam berpolitik, berserikat, memilih pekerjaan, dan lain-lain. Tentu itu adalah kabar baik. Khusus untuk kebebasan berpendapat, tampaknya, menjadi masalah besar bagi Indonesia dan dunia.

Kebebasan berpendapat menjadi masalah dunia dengan sering terjadinya “penghapusan” akun media sosial yang menyatakan pendapat berbeda dengan kekuatan politik tertentu. Misal akun medsos yang mengkritik presiden atau perdana menteri lalu dihapus oleh medsos. Atau akun medsos yang menyuarakan penderitaan orang-orang tertindas semisal Palestina, Kulit Hitam, Suku Asli, dan lain-lain juga terancam untuk diblokir.

Di Indonesia, ancaman pencemaran nama baik bisa lebih besar lagi. Bukan hanya akun medsos yang dihapus, tetapi sampai kepada kurungan pidana bertahun-tahun. Ancaman bagi kebebasan umat manusia. Ancaman bagi keadilan – adil makmur.

3. Adil sebagai Dinamika

Masyarakat perlu terus untuk bergerak maju. Negara perlu menjaga dinamika. Saya menambahkan prinsip dinamika, adil sebagai dinamika, prinsip ke 3 dari keadilan.

(3a) Masyarakat kelompok bawah perlu dijamin untuk terus dinamis menjadi lebih baik. Ukuran dinamika pertumbuhan, bagi kelompok bawah, dipastikan mencapai target tertentu.

(3b) Ukuran dinamika, minimal, mencakup dua parameter yang saling bertentangan.

(3c) Pertumbuhan kelas atas perlu berkontribusi kepada pertumbuhan kelas bawah.

Kita ambil contoh kasus di Indonesia. Berdasar SDG Report 2021, ada sekitar 50 juta orang Indonesia di bawah garis kemiskinan (Rp 450 ribu per bulan setara $ 3,2 US – PPP). Berdasar prinsip dinamika 3a, kelompok 50 juta orang paling miskin ini perlu kita jamin bertumbuh dinamis. Ukuran pertumbuhan bisa banyak hal. Misal dari pendapatan atau pengeluaran mereka meningkat jadi 600 ribu rupiah per bulan pada tahun berikutnya. Bisa juga, jumlah penduduk miskin yang berkurang menjadi di bawah 40 juta orang.

Dalam waktu lima tahun ke depan, diharapkan, 50 juta orang miskin di atas, berpenghasilan lebih dari 2 juta rupiah per bulan per kapita (setara 8 juta rupiah per bulan per keluarga tediri 4 orang). Atau, dalam 5 tahun ke depan, dari 50 juta orang miskin itu, tidak ada lagi yang berada di bawah garis kemiskinan.

Prinsip 3b memastikan ukuran dinamika lebih dari dua dimensi – yang bertentangan. Misal ukuran kerja yang layak. Orang miskin di atas, meski penghasilan menjadi 8 juta rupiah per bulan, menjadi tidak berarti bila mereka wajib bekerja 20 jam sehari. Jam kerja sebanyak itu tidak layak, tidak manusiawi. Sehingga ukuran kerja yang layak, dalam hal ini batasan jam kerja, menjadi kontrol terhadap pertumbuhan ekonomi. Dengan cara ini, kita berharap pertumbuhan ini bersifat harmonis.

Tentu saja, banyak alternatif parameter bisa kita kembangkan. Di antaranya kesehatan lingkungan, persepsi kebahagiaan, keanekaragaman hayati, konservasi lingkungan, dan sebagainya. Dari beragam parameteri ini, prinsip 3b, menyarankan agar kita fokus kepada dua parameter – bertentangan – yang paling penting.

Kelompok kelas atas, kelas kaya, mendapat dukungan untuk dinamis dengan prinsip 3c. Secara umum, kelas kaya mampu bertumbuh lebih dinamis dari kelas lainnya. Dan pertumbuhan kelas kaya ini, diharapkan, mendorong pertumbuhan ekonomi sosial secara umum. Dinamika pertumbuhan kelas kaya, harus, dipastikan berdampak positif terhadap dinamika kelas miskin.

Tahun 2021 ini, kita melihat pertumbuhan kekayaan orang kaya Indonesia yang luar biasa. Misal, Mas Nadiem, sebagai founder Gojek, kekayaannya bertumbuh 400 kali lipat dari semula menjadi lebih dari 4 trilyun rupiah. Demikian juga dengan William, founder Tokopedia. Yang terbaru, Zaki, founder Bukalapak, melejit kekayaannya dengan suksesnya IPO Bukalapak. Semua pertumbuhan orang-orang kaya itu sah dan baik, sejauh berdampak positif kepada orang-orang kelas bawah. Driver gojek penghasilan naik. Penjual di Tokopedia makin laris. Dan pelapak di Bukalapak makin untung.

Dinamika pertumbuhan adil makmur seperti itulah yang kita harapkan. Apakah itu yang terjadi di Indonesia?

IKN: Ibu Kota Negara

Kembali ke contoh pertanyaan awal: apakah pemindahan ibu kota negara (IKN) adalah adil?

Jawaban dari berbagai macam kajian adalah adil. Karena DKI memang sudah terlalu penuh sesak maka pemindahan IKN adalah adil. Apakah adil jika dilakukan saat ini, antara 2022 – 2024, ketika pandemi?

Pertanyaan, memang, bergeser kepada jadwal. Pandemi menyebabkan kemunduran di berbagai bidang: ekonomi, kesehatan, industri, pendidikan, dan lain-lain. Sehingga, ada yang mengusulkan, sebaiknya, Indonesia lebih fokus kepada pemulihan kondisi Indonesia saat dan setelah pandemi ini. Apakah IKN urgen?

Kita bisa menyusun beragam pertanyaan untuk dikaji lebih lanjut:

  1. Apakah IKN menjamin kesetaraan setiap warga? Apakah setiap warga bebas menyampaikan pendapat tentang IKN dan dipertimbangkan?
  2. Apakah IKN memberi keuntungan terbesar bagi masyarakat lapisan bawah? Atau hanya menguntungkan lapisan atas?
  3. Apakah IKN menghormati ragam perbedaan?
  4. Apakah IKN mendorong pertumbuhan lapisan bawah lebih dinamis?
  5. Apakah IKN memberikan pertumbuhan berimbang, mengurangi ketimpangan sosial?

Bagaimana pun sulitnya, bersikap adil, memang itu tugas manusia sejati. Kita perlu komitmen kuat untuk bersikap adil secara sosial mau pun personal. Adil adalah permata tiada tara.

4. Cakupan Adil

4.1 Universal

Adil bersifat universal; semua orang perlu adil; bahkan, terhadap semua dunia, kita perlu adil.

4.2 Konkret

Adil bersifat konkret sesuai situasi masing-masing orang.

4.3 Relasi

Adil bersifat relasional; struktural; jika ada yang dominan maka ada yang didominasi; jika adil di suatu lokasi maka berdampak adil ke lokasi sekitar.

5. Tanggung Jawab Etika

Adil adalah etika way of life. Kita perlu hidup secara adil; hidup sehari-hari mau pun kehidupan profesional.

6. Diskusi Teori Keadilan

Amartya Sen (1933 – ) mengembangkan teori keadilan berdasar kemampuan atau kapabilitas. Kita akan mendiskusikan teori keadilan dengan mengambil contoh teori keadilan kapabilitas. SEP memberikan pembahasan yang sistematis.

“The capability approach is a theoretical framework that entails two normative claims: first, the claim that the freedom to achieve well-being is of primary moral importance and, second, that well-being should be understood in terms of people’s capabilities and functionings. Capabilities are the doings and beings that people can achieve if they so choose — their opportunity to do or be such things as being well-nourished, getting married, being educated, and travelling; functionings are capabilities that have been realized. “

“Pendekatan kapabilitas merupakan kerangka teoritis yang mencakup dua klaim normatif: pertama, klaim bahwa [1] kebebasan untuk mencapai kesejahteraan merupakan kepentingan moral utama dan, kedua, bahwa [2] kesejahteraan harus dipahami dalam konteks kemampuan dan fungsi manusia. [a] Kemampuan adalah tindakan dan keberadaan yang dapat dicapai manusia jika mereka memilihnya — kesempatan mereka untuk melakukan atau menjadi hal-hal seperti mendapatkan gizi yang baik, menikah, mengenyam pendidikan, dan bepergian; [b] fungsi adalah kemampuan yang telah terwujud.”

6.1 Justifikasi

“First, a theory of justice needs to explain on what basis it justifies its principles or claims of justice.”

Teori perlu menjelaskan atas dasar apa prinsip dan klaim keadilan. Keadilan agama paling jelas untuk justifikasi yaitu adil didasarkan kepada kitab suci atau ajaran agama tersebut. Bagaimana pun, ajaran agama berupa “bahasa” sehingga perlu interpretasi. Sehingga muncul pertanyaan, “Interpretasi mana yang adil?”

Teori keadilan konstitusional bisa menjawab klaim adil berdasar teks konstitusi. Tentu saja, klaim ini menghadapi dua pertanyaan berat: [a] apakah konstitusi tersebut adil? [b] interpretasi mana yang adil?

Pertanyaan justifikasi adalah pertanyaan filosofis sehingga kita bisa terus mengkajinya tanpa henti.


6.2 Hasil vs Kesempatan

“Second, as indicated above, in developing a capability theory of justice we must decide whether we want it to be an outcome or an opportunity theory, that is, whether we think that we should assess injustices in terms of functionings, or rather in terms of capabilities, or a mixture.”

Teori keadilan perlu memutuskan apa yang perlu diperhitungkan: [a] hasil yang adil; atau [b] kesempatan yang adil; atau [c] kombinasi hasil dan kesempatan.

Liberal, atau libertarian, cenderung menguatkan kesempatan yang adil. Sosialis cenderung menguatkan hasil yang adil. Pancasila kombinasi sila 2 dan sila 5. Mana yang terbaik? Teori kapabilitas tampaknya mengutamakan untuk memberi kesempatan setiap warga agar mengembangkan kapabilitas sesuai freedom. Pada tahap akhir, teori kapabilitas mementingkan beragam fungsi (ke-berfungsi-an) hasil dari penerapan kapabilitas. Jadi, teori kapabilitas merupakan kombinasi; dengan porsi lebih besar terhadap kapabilitas dibanding fungsi.

6.3 Dimensi

“Third, a capability theory of justice will need, just as all other theories that are derived from the general and underspecified capability approach, to address the issue of selecting, quantifying and aggregating of dimensions.”

Teori keadilan perlu menetapkan dimensi apa saja yang perlu diukur. Umumnya, faktor ekonomi menjadi ukuran utama semisal pendapatan per kapita, misal liberal. Sosialis akan mengusulkan ukuran kesenjangan. Kapabilitas mengusulkan HDI (human development index). Bagaimana pun akan tersedia beragam dimensi dan beragam cara mengukur. Bagaimana cara menggabungkan semua dimensi?

6.4 Totalitas

“Fourth, a capability theory of justice may need to address other ‘metrics of justice’.”

Bagaimana pun tidak akan pernah ada teori keadilan yang 100% sempurna. Awalnya, teori kapabilitas adalah kritik terhadap Rawls. Jadi, asumsi awal, teori kapabilitas melampaui teori Rawls. Tidak bisa setegas itu. Teori Rawls lebih unggul dalam keadilan politik, misalnya. Konsekuensinya, suatu teori keadilan perlu mempertimbangkan totalitas dengan beragam teori alternatif. Lebih-lebih bila kita mengkaji secara filosofis maka histori dari teori menjadi sangat penting. Jangan sekali-kali melupakan sejarah.

6.5 Distribusi

“Fifth, a capability theory of justice needs to take a position on the ‘distributive rule’ (Anderson 2010: 81) that it will endorse: will it argue for plain equality, or for sufficiency, or for prioritarianism, or for some other (mixed) distributive rule?”

Teori keadilan perlu menetapkan bagaimana bentuk konkret distribusi? Apakah semua perlu dibagi sama rata? Atau ada batas minimal yang harus dimiliki, dan batas maksimal? Atau ada pihak-pihak tertentu mendapat prioritas?

6.6 Personal vs Institusi

“Sixth, a capability theory of justice needs to specify where the line between individual and collective responsibility is drawn, or how it will be decided, and by whom, where this line will be drawn.”

Apa tanggung jawab lembaga? Apa tanggung jawab individu? Bagaimana menentukan batas-batas?

7. Ringkasan

Tema keadilan tampak sangat luas. Sehingga sulit, bagi kita, untuk meringkas tema keadilan. Barangkali, kita bisa menekankan bahwa adil perlu ditegakkan secara formal institusional. Dari sisi personal, masing-masing dari kita perlu menjalani hidup hari demi hari dengan sikap adil.

Bagaimana menurut Anda?

Cinta Pertama

Cinta pertama begitu mempesona. Cinta pertama memberi bahagia kepada kita semua. Cinta adalah yang paling utama dan pertama. Kita datang dari cinta dan pulang kembali kepada cinta. Menelusuri jalan cinta.

Jalan Cinta Masa Depan - Foto gratis di Pixabay

Setiap menghela nafas adalah nafas cinta. Setiap mata memandang adalah pandangan cinta. Setiap hati berbisik adalah bisikan cinta.

Ketika cinta begitu mempesona, mengapa banyak orang melupakannya?

1. Pertama dan Utama
2. Filosofi Cinta Mendua
3. Tanpa Cinta untuk Apa

Cinta tidak pernah sirna. Cinta tak pernah musnah. Cinta tak akan retak. Tapi, cinta bisa meredup, bisa melemah, dan bisa salah arah. Pada tulisan ini, kita akan membahas cinta secara filosofi, dengan harapan, bisa lebih mencerahkan cinta di setiap detik hidup kita.

1. Pertama dan Utama

Pertama, kita hadir di dunia karena cinta kedua orang tua kita. Ayah cinta kepada ibu. Ibu cinta kepada ayah. Hadirlah buah cinta mereka yaitu diri kita. Ayah-ibu penuh cinta menyambut hadirnya si kecil kita. Kita, sejak lahir itu, juga cinta kepada ayah-ibu. Segalanya, hanya ada cinta.

2. Filosofi Cinta Mendua

Cinta tidak bisa dibagi dua. Cinta hanya bisa berlipat menjadi dua. Dengan adanya dua cinta ini maka kita menemukan tak terhingga banyaknya cinta. Perhatikan ketika ada dua lambang bilangan 0 dan 1, misalnya, maka kita bisa menyusun banyak bilangan hanya dengan angka 0 dan 1 itu. Teknologi digital adalah teknologi yang hanya menggunakan angka 0 dan 1.

Demikian juga dengan filosofi cinta, berlipat menjadi dua: falsafah dan hikmah. Falsafah memberi cinta sayap rasional penuh ketelitian. Sedangkan, hikmah memberi cinta sayap spiritual penuh keluasan. Kombinasi falsafah dan hikmah melahirkan lebih banyak filosofi cinta tak terbatas.

3. Tanpa Cinta untuk Apa

Hanya cinta yang memberi makna. Bahkan, di surga, juga berlimpah cinta. Atau, cinta mencipta dunia menjadi surga. Tanpa ada cinta, untuk apa semua yang ada?

Pada bagian akhir tulisan ini, saya akan merumuskan filsafat dari yang abstrak sampai yang kongkrit dengan meminjam konsep 3P: Perempuan, Parfum, Pengeran.

Ibnu Arabi (1165 – 1240) mengakhiri karya filsafat terbaiknya, The Bezel of Wisdom, dengan konsep metafisika cinta yang jelas. Berfilsafat adalah jatuh cinta. Hidup yang penuh cinta adalah hidup dalam hikmah filsafat. Filsafat adalah jatuh cinta kepada perempuan, parfum, dan Pengeran.

3.1 Perempuan

Ingatkah ketika Anda jatuh cinta? Hidup terasa berbunga-bunga. Hanya ada bahagia. Hanya ada cinta.

Filsafat adalah jatuh cinta kepada perempuan Anda. Filsafat adalah mencintai istri Anda sepenuh hati. Bukan hanya jatuh cinta pada pandangan pertama waktu itu, tetapi, jatuh cinta dalam abadi. Filsafat adalah hidup, dari cinta menuju cinta, bersama cinta.

Istri Anda adalah perempuan. Ibu Anda adalah perempuan. Barangkali, anak Anda juga perempuan. Filsafat mengajak Anda mencintai mereka. Di saat yang sama, mereka mencintai Anda. Cantiknya perempuan adalah simbol cantiknya semesta. Mencintai perempuan adalah mencintai semesta. Memberikan yang terbaik untuk semesta. Dan, menerima yang terbaik dari semesta.

Apa pun mazhab filsafat yang Anda pegang, harus mengajak Anda mencintai, dan dicintai, perempuan. Jika tidak, barangkali, Anda perlu melakukan kritik tajam terhadap filsafat Anda atau silakan berganti madzhab filsafat.

Perempuan bisa bermakna pasangan. Jika Anda seorang istri, maka filsafat mengajak Anda untuk jatuh cinta kepada suami abadi. Filsafat adalah cinta suci yang abadi. Filsafat ada di sini.

3.2 Parfum

Harum semerbak mewangi. Tak terlihat. Tak tersentuh. Tak terduga. Parfum menebarkan aroma wangi ke alam sekitar.

Filsafat, barangkali, tak terlihat, tak tersentuh, dan tak terpikirkan. Tetapi, aroma harum filsafat harus semerbak memenuhi semesta. Jika Anda mengkaji filsafat tapi tidak menebarkan aroma wangi maka Anda perlu kritik filsafat yang tajam. Atau, Anda bisa mempertimbangkan pindah madzhab filsafat. Karena, filsafat sejati senantiasa menebarkan aroma wangi.

Filsafat mengarahkan sains untuk terus tumbuh berkembang. Filsafat mengarahkan teknologi menyuburkan bumi. Filsafat mengarahkan ekonomi lebih manusiawi. Filsafat bersahabat dengan agama. Filsafat berteman dengan logika. Filsafat menebarkan aroma cinta bagi seluruh semesta.

Parfum adalah benda padat atau cair yang kasat mata. Aroma wanginya menyeruak tanpa terlihat mata. Filsafat mengkaji segala sesuatu yang ada di depan mata. Di saat yang sama, filsafat terbang tinggi melebihi penglihatan dua bola mata.

3.3 Pengeran

Dalam bahasa Jawa, Pengeran bermakna sebagai Tuhan. Filsafat mengajak kita jatuh cinta kepada perempuan, parfum, dan yang sangat pentig, kepada Pengeran, Tuhan.

Pengeran, adalah Sang Maha Cinta, yang bermanifestasi di seluruh penjuru semesta. Perempuan adalah manifestasi cinta. Parfum adalah manifestasi cinta. Pengeran adalah Maha Cinta.

Bagaimana dengan orang ateis yang tidak percaya Tuhan? Misal, Richard Dawkins tidak percaya Tuhan. Dia lebih percaya kepada probabilitas. Maka, tugas dia untuk merumuskan probabilitas agar layak, dia, jatuh cinta padanya.

Jika filsafat tidak mengantar Anda jatuh cinta kepada Pengeran maka Anda boleh melakukan kritik tajam terhadap filsafat. Atau, seperti sebelumnya, Anda bisa pindah ke filsafat madzhab cinta.

Filsafat mengantar kita jatuh cinta kepada Pengeran. Sejatinya, Pengeran senantiasa mencintai kita. Pengeran mencintai alam raya. Kita, selamanya, ada dalam naungan cinta Sang Maha Cinta.

Free Will Berhadapan Super Determinisme

Bukan hanya determinisme, kita berhadapan dengan super determinisme. Suatu kepastian yang bersifat super pasti. Semua alam raya, sejatinya, nasibnya sudah dipastikan. Bahkan pilihan bebas kita, sebagai manusia, juga sudah dipastikan. Tidak bisa berubah, semua yang ada. Tidak ada alternatif, dari semua yang ada. Semua sudah dipastikan dengan super pasti. Kita dan alam raya berada dalam super determinisme.

Paham super determinisme hidup sampai sekarang sejak ribuan tahun yang lalu. Beberapa pendukung, di antaranya, adalah Amy Karofsky dengan menerbitkan bukunya di tahun 2021. Leibniz dan Spinoza adalah pemikir besar abad 17 dan 18 pendukung super determinisme. Imam Al Ghazali merumuskan super determinisme pada abad 12. Dan kita bisa merunut ke Zeno pendiri Stoic abad 3 SM sampai ke Parmenides di sekitar abad ke 6 SM.

Fisika Quantum, di luar dugaan, mendukung super determinisme. Ketika awal muncul, quantum mendukung indeterminisme – tidak deterministik. Akhir abad 20, Bell berhasil menyelesaikan paradox EPR (Einstein Podolsky Rosen). Menurut Bell, solusi tersebut menunjukkan super determinisme quantum.

Apakah semua manusia tidak punya free will, tidak punya kehendak bebas? Semua dalam cengkeraman super determinisme?

1. Konsep Super Determinisme
2. Super Determinisme Barat: Karofsky – Leibniz
3. Super Determinisme Timur: Ghazali
4. Super Determinisme Quantum
5. Nasib Free Will

Dalam tulisan ini, kita fokus membahas super determinisme. Meski pun di berbagai tempat, kita perlu membahas determinisme dan free will. Pembahasan lebih lengkap mengenai determinisme dan free will silakan merujuk ke tulisan saya: Misteri Free Will vs Determinisme.

Pada bagian awal, kita akan membahas konsep super determinisme. Kemudian, kita melanjutkan mengkaji konsep super determinisme Barat, khususnya, konsep dari Leibniz. Konsep super determinisme Timur, kita dasarkan pada konsep Ghazali. Super determinisme quantum merupakan konsep terbaru dari sudut pandang ilmiah. Pada bagian akhir, kita mempertimbangkan konsep free will berhadapan dengan super determinisme. Saya menyimpulkan bahwa konsep free will terpojok oleh konsep super determinisme. Bagaimana pun, konsep free will tetap bisa muncul kembali dengan konsep “kasab” dari Ghazali dan konsep “respon” dari Nietzsche.

1. Konsep Super Determinisme

Paham determinisme mengatakan bahwa apa yang terjadi saat ini, dan di sini, adalah niscaya akibat dari kejadian-kejadian sebelumnya – di sini dan di sana. Pasti dan tidak bisa dicegah. Pandemi covid di Indonesia adalah akibat dari terjadinya penularan-penularan sebelumnya. Mengapa penularan itu terjadi? Karena perilaku manusia yang berkerumun menyebarkan droplet.

Perilaku manusia itu sendiri merupakan akibat dari kejadian-kejadian di sekitarnya – dan sebelumnya. Pikiran manusia merupakan respon “pasti” dari segala yang ada. Pikiran manusia, dan perilaku manusia, tidak bebas tetapi deterministik secara pasti seperti mesin.

Super determinisme melangkah lebih jauh dari determinisme, dalam ruang dan waktu. Bahkan, super determinis bisa melampaui ruang dan waktu. Pandemi covid di Indonesia, saat ini, memang ditentukan oleh penularan-penularan yang terjadi kemarin. Penularan kemarin ini ditentukan oleh penularan tahun lalu bahkan ditentukan oleh penularan pertama yang terjadi 2019. Dan, kejadian 2019 itu, sejatinya, merupakan akibat pasti dari situasi tahun 1019. Masih bisa kita lanjutkan, kejadian tahun 1019 itu ditentukan oleh kejadian di saat big bang, ledakan besar, sekitar 13 milyard tahun yang lalu.

Sehingga, semua kejadian yang terjadi saat ini sudah dipastikan sejak awal. Tidak bisa berubah. Tidak ada alternatif. Bahkan, jika sebelum big bang sudah ada waktu dan ruang maka peristiwa big bang itu sendiri sudah ditentukan oleh peristiwa-peristiwa sebelumnya. Karena, pertimbangkan beberapa pengamatan ilmiah yang menunjukkan adanya jejak sebelum era big bang, misalnya, teori conformal cyclic cosmology oleh Roger Penrose. (Data dan interpretasi terhadap “jejak” masih menjadi perdebatan hangat sampai saat ini.)

Super determinisme ilmiah mengatakan bahwa semua kejadian saat ini, termasuk pandemi covid dan perilaku Anda membaca tulisan ini, sudah ditentukan dan dipastikan sejak milyardan tahun yang lalu oleh alam raya. Tidak bisa berubah. Tidak ada alternatif.

Super determinisme teologis melibatkan peran Tuhan dengan lebih tegas. Semua yang ada saat ini sudah ditentukan oleh Tuhan sejak jaman pertama, jaman azali. Tidak bisa berubah. Tidak ada alternatif.

Free will atau kehendak bebas, di sisi lain, mengakui adanya peran manusia dalam menentukan jalannya sejarah. Kehendak bebas Anda ikut menentukan bahwa Anda membaca tulisan ini. Free will juga akan ikut menentukan apakah Anda akan melanjutkan membaca tulisan ini atau tidak.

Immanuel Kant (1720 – 1804) meyakini adanya antinomi atau paradox yang tidak bisa diselesaikan. Keyakinan adanya free will tidak bisa membatalkan determinisme. Dan, keyakinan adanya determinisme tidak bisa membatalkan free will. Mereka, determinisme dan free will, sama-sama ada dengan saling kontradiksi.

2. Super Determinisme Barat: Karofsky – Leibniz

Amy Karofsky berhasil menerbitkan buku pada Desember 2021 yang mendukung super determinisme. Karofsky perlu berjuang keras untuk bisa menerbitkan buku. Karena, di Barat, paham super determinisme sulit diterima masyarakat. Ide-ide Karofsky menghadapi beragam perlawanan, termasuk penolakan oleh para editor.

Super determinisme, tentu saja, bukan ide baru. Leibniz, pada abad 18, telah merumuskan super determinisme dengan solid. Dan, Parmenides, pada abad 6 SM, sudah menyatakan hanya ada satu realitas tunggal, tidak pernah berubah, super determinisme. Semua perubahan di alam raya ini, hanya ilusi. Dan, opini manusia mudah tertipu oleh ilusi.

Necessitarianism is the view that absolutely nothing about the world could have been otherwise in any way, whatsoever.” (Amy Karofsky

Karofsky menggunakan term “necessitarianism” yang sepadan dengan super determinisme menyatakan bahwa alam raya pasti seperti ini tidak ada peluang berubah menjadi yang lain. Kepastian ini sudah dipastikan sejak masa lampau – milyaran tahun yang lalu. Karofsky mengakui bahwa dia meyakini kebenaran fatalisme – implikasi logis dari super determinisme.

Yang menarik, Karofsky meyakini peran penting perilaku manusia. Jika Karofsky memutuskan untuk tidak menulis buku maka tidak akan ada buku yang terbit. Sebaliknya, jika Karofsky berkomitmen untuk menulis buku dan menemukan penerbit maka bukunya jadi terbit. Memang benar, buku Karofsky terbit Desember 2021.

Keyakinan super determinisme, menurut Karofsky, tidak bertentangan dengan pilihan perilaku manusia. Bagaimana bisa begitu? Mari kita mencoba mencermati ide-ide dari Leibniz. Dengan cerdik, Leibniz membagi beragam jenis keniscayaan (determinisme).

Determinisme mutlak adalah determinisme yang pasti benar dan negasinya pasti salah. Operasi bilangan bulat, misal 1 + 2 = 3, adalah pasti benar. Dan tidak bisa terjadi sebaliknya. Dalam operasi bilangan bulat, tidak bisa 1 + 2 selain menghasilkan 3. Jika menghasilkan yang lain, pada analisis akhir, adalah tautologi. Misal, 1 + 2 = 4 – 1.

Determinisme hipotesis adalah determinisme yang pasti benar tetapi negasinya bisa juga benar. Misal, jika Jokowi menang pemilu maka dia jadi presiden. Tetapi negasinya, bisa saja terjadi. Presiden bisa saja orang lain. Cerita fiksi bisa saja terjadi di dunia nyata – bisa juga tidak terjadi. Tidak ada kontradiksi terhadap cerita fiksi. Determinisme hipotesis ini bisa kita pandang sebagai kontingen – ada peluang.

Determinisme instrinsik adalah determinisme yang terjadi secara pasti karena dirinya sendiri – tidak memerlukan faktor luar. Lagi, beragam kebenaran matematika adalah determinisme instrinsik.

Determinisme ekstrinsik adalah determinisme yang terjadi karena ada pengaruh dari luar dirinya. Matahari bersinar hari ini adalah pasti. Tetapi, untuk bisa bersinar, matahari perlu faktor-faktor eksternal misal tersedianya reaksi nuklir pada matahari. Jika faktor-faktor luar ini tidak ada maka matahari tidak bersinar.

Dengan mengikuti cara Leibniz, kita masih bisa membagi determinisme lebih beragam lagi: determinisme logis, determinisme metafisis, dan lain-lain. Tetapi, dengan pembagian di atas, kiranya sudah cukup bagi kita untuk analisis super determinisme.

Tuhan adalah determinisme mutlak dan instrinsik. Tuhan Maha Mengetahui, Maha Kuasa, dan itu semua karena Dirinya sendiri. Karena Maha Bijak maka Tuhan menciptakan alam raya ini dalam pilihan terbaik di antara pilihan-pilihan lain. Akibatnya, alam raya eksis dalam keadaan terbaik, pasti, tidak bisa yang lain. Super determinisme berlaku untuk seluruh jagad raya.

Tentu saja, sejatinya, alam raya hanya determinis hipotesis. Bisa saja alam yang lain yang ada. Alam raya juga hanya determinisme ekstrinsik, perlu faktor lain untuk mengada. Karena Tuhan memilih alternatif yang terbaik dari beragam alam raya yang mungkin maka alam raya menjadi pasti terbaik. Alam raya adalah super determinisme.

Super determinisme ilmiah barangkali mengganti kata Tuhan dengan yang mereka inginkan. Misal, kehampaan quantum, enigma quantum, atau lainnya.

Dalam alam raya yang super determinisme seperti itu bagaimana nasib free will, kehendak bebas, manusia? Sulit untuk menyelamatkan free will. Memang, para pemikir super determinis, cenderung, menolak adanya free will tetapi mengakui adanya peran usaha manusia mempengaruhi nasib mereka. Tampaknya, mereka berada dalam paradox super determinisme lawan usaha manusia.

Nietzsche (1844 – 1900), barangkali, paling berhasil menyelesaikan paradox itu. Nietzsche mengakui super determinisme dan menolak free will. Manusia memang tidak memiliki free will. Manusia hanya memiliki kemampuan menyesuaikan diri terhadap lingkungan. Untuk itu manusia memiliki otonomi menyelaraskan diri dengan alam raya. Nietzsche menyebutnya dengan “will to power.”

Awalnya, otonomi manusia ini lemah, hanya merespon sekedarnya terhadap lingkungan sekitar. Dengan bertambahnya ilmu dan pengalaman, maka otonomi makin kuat. Bahkan, otonomi yang kuat ini memuncak kepada seorang superhuman. Orang yang mampu menaklukkan segala hambatan, mampu menahan pedihnya kehidupan, dan mampu menikmati alam raya.

Bagi Nietzsche, manusia tidak memiliki free will karena alam raya super determinisme. Manusia hanya memiliki sebutir otonomi. Tetapi, orang lain bisa saja menilai Nietzsche hanya mengganti term free will dengan term otonomi. Sejatinya, manusia punya free will juga, cuma ganti nama jadi otonomi.

3. Super Determinisme Timur: Ghazali

Imam Al Ghazali (1058 – 1111) adalah pemikir paling kreatif di jamannya – barangkali sampai sekarang. Konsep super determinisme Ghazali, kita kenal sebagai sistem atomis. Berbeda dengan atom Demokritus dan atom ilmiah. Atom Ghazali ini lebih selaras dengan teori quantum (Bell Theorem). Memang, Bell juga super determinis.

Ghazali menyatakan bahwa seluruh alam semesta, termasuk perilaku manusia, diciptakan langsung oleh Tuhan secara atomis. Sehingga super determinis. Tentu saja, Ghazali dan para ahli kalam, membedakan determinisme sebagaimana Leibniz. Ghazali, tampaknya merujuk ke Avicena.

Ibnu Sina (980 – 1037), atau Avicena, membedakan determinisme menjadi dua. Pertama, wajibul wujud bidzati adalah keniscayaan atau determinisme yang pasti benar karena dirinya sendiri. Tuhan adalah wajibul wujud bidzati. Bandingkan dengan determinisme instrinsik dari Leibniz.

Kedua, wajibul wujud bighoirihi, adalah determinisme yang pasti benar karena faktor lain. Bandingkan dengan determinisme ekstrinsik dari Leibniz. Alam raya adalah determenisme karena faktor luar – karena diciptakan langsung oleh Tuhan.

Bayangkan seluruh alam semesta ini terdiri dari atom-atom yang kecil. Teori atom ini mirip dengan atom Demokritus. Kemudian, kita memotret alam raya menjadi satu gambar, sebut saja frame1. Pada detik kedua, detik berikutnya, alam raya sudah bergerak berubah. Kita, memotretnya lagi, sebut saja jadi frame2. Dan, seterusnya, kita bisa memotret alam raya sampai terbentuk frame tak terhingga. Jeda waktu pemotretan bisa dipersingkat misal tiap mili detik, mikro detik, atau lebih singkat lagi. Di antara frame-frame itu terpisah secara atomis. Inilah teori atom Ghazali yang kreatif.

Anda melihat kopi (frame1). Tangan Anda memegang cangkir kopi (frame2). Cangkir kopi Anda dekatkan ke bibir (frame3). Anda minum kopi, nikmat (frame4).

Tidak ada hubungan sebab akibat antara frame1 dan frame lainnya. Semua frame, Tuhan menciptakannya langsung. Bisa saja, jika Tuhan menghendaki, setelah frame1 langsung frame4. Jadinya, begitu Anda melihat kopi maka langsung kopi itu bergerak ke bibir Anda untuk diminum. Semua super determinisme.

Analogi frame ini terjadi pada teknologi film movie – gambar bergerak. Pada frame1, misalnya, seorang bayi lahir. Pada frame7, bayi itu berumur 5 tahun. Bisa saja, urutan frame itu kita balik. Bayi berumur 5 tahun, setelah itu, bayi dilahirkan. Karena semua frame kita yang membuat. Dan kita bebas menaruh urutan. Tidak ada hubungan sebab akibat dalam seluruh frame gambar bergerak. Super determinisme.

Jika semua frame, Tuhan langsung yang menciptakannya, mengapa orang harus berbuat baik? Mengapa manusia harus menghindari maksiat? Bukankah tindakan manusia tidak berpengaruh apa-apa?

Kasab adalah solusi dari Ghazali. Manusia memiliki kemampuan untuk berusaha, kasab. Manusia yang lapar berusaha makan kemudian kenyang – tidak lapar lagi. Manusia berusaha berbuat baik kemudian hidupnya bahagia di dunia – dan akhirat. Meski manusia “berusaha makan” (frame1) tidak akan menyebabkannya “kenyang” (frame2). Yang menyebabkan “kenyang” (frame2) adalah karena Tuhan menciptakan frame2 – kenyang itu.

Begitu juga ketika manusia “berbuat baik” (frame5). Kemudian orang itu “masuk surga” (frame6). Bukan “berbuat baik” itu yang menyebabkan manusia “masuk surga”. Tidak ada hubungan sebab akibat antara “berbuat baik” dan “masuk surga”. Orang itu bisa “masuk surga” karena Tuhan langsung yang menciptakannya.

Jika Tuhan bebas menciptakan apa saja, buat apa manusia berusaha berbuat baik?

Karena Tuhan Maha Baik, Tuhan Maha Memenuhi Janji. Barangsiapa berbuat baik maka masuk surga. Sehingga, usaha manusia dijamin manjur oleh Tuhan. Bagaimana pun, bukan usaha manusia yang menyebabkannya masuk surga. Tetapi Tuhan Yang Maha Baik, Tuhan Yang Maha Kuasa, yang menyebabkan manusia masuk surga.

Ghazali bisa saja berpikir manusia tidak punya free will – atau freedom dalam bentuk apa pun. Manusia hanya bisa berusaha, kasab, semata. Orang lain, bisa menilai Ghazali sebagai mengganti term free will dengan kasab. Maknanya, sama saja dengan free will.

Ibnu Arabi (1165 – 1240) melangkah lebih maju dari Ghazali. Tuhan Maha Kuasa, Tuhan Maha Bebas. Tuhan menciptakan manusia sesuai nama dan sifatNya. Maka, manusia juga bersifat bebas. Manusia memiliki free will. Manusia tidak hanya bisa berusaha, kasab, tetapi manusia bisa berpartisipasi – ishtirak.

Sadra (1572 – 1640) mengembangkan lebih jauh ide Ibnu Arabi. Dengan eksplorasi lebih mendalam gradasi wujud, kita bisa merumuskan pastisipasi aktif manusia dan Tuhan dalam alam raya. Untuk menciptakan teknologi komputer, misalnya, manusia berpartisipasi aktif dengan membuat desain komputer dan eksekusi. Tuhan menciptakan beragam bahan yang diperlukan manusia untuk menciptakan komputer, lengkap dengan hukum-hukum alam dan prinsip sains. Bahkan, Tuhan juga yang menciptakan otak manusia, mata, dan tangan manusia. Sehingga, manusia mampu merakit komputer.

Siapa yang menciptakan komputer? Manusia. Anda sudah menjawab dengan benar. Siapa yang menciptakan komputer? Tuhan. Anda menjawab dengan benar juga. Manusia ikut berpartisipasi dalam alam raya.

Dengan beragam modifikasi ini, apakah pandangan Ghazali tidak super determinisme lagi? Tetap. Ghazali tetap super determinisme. Ketika manusia berpartisipasi dengan free will, berapa porsi manusia dalam partisipasi itu? Berapa porsi manusia dibanding alam raya, bumi, dan seluruh galaksi? Berapa porsi manusia dibanding rentang waktu jutaan tahun masa lalu, dan barangkali, ribuan tahun di masa depan? Porsi partisipasi manusia adalah bagaikan satu titik di samudera. Atau, manusia lebih kecil dari satu titik itu. Meski kecil, partisipasi manusia begitu menentukan.

4. Super Determinisme Quantum

Teori quantum mengawali kemunculannya sebagai teori indeterministik – tidak deterministik. Tetapi di era kontemporer ini, di balik indeterminisme quantum, tersimpan konsep super determinisme.

Heisenberg (1901 – 1976) merumuskan ketidakpastian quantum, yang kelak, dikenal sebagai ketidakpastian Heisenberg. Selalu ada ketidakpastian dalam setiap pengamatan sains. Selalu ada ketidakpastian dalam setiap pengukuran sains. Sehingga, kita tidak akan pernah mengetahui suatu obyek secara pasti. Hanya bisa estimasi. Selalu ada kesalahan.

Hasil kali pengukuran posisi dengan pengukuran momentum suatu partikel, misal elektron, nilai keyakinannya selalu di bawah konstanta tertentu. Sehingga, ketika kita ingin mengetahui posisi elektron dengan pasti maka kita menjadi tidak tahu momentum elektron. Begitu juga sebaliknya. Jika ingin lebih pasti momentumnya maka kita menjadi tidak tahu pasti posisinya.

Dengan demikian, Heisenberg menetapkan ketidakpastian epistemologis quantum.

Berbeda dengan fisika klasik Newton, atau Laplace. Mereka meyakini mampu mengukur posisi atau momentum suatu obyek dengan pasti. Laplace pernah mengatakan, “Jika kita mengetahui semua informasi alam raya maka kita bisa memastikan nasib alam raya di masa depan – atau masa kapan pun.”

Pertama, Laplace mengasumsikan bahwa kita akan mampu mengetahui obyek dengan pasti. Determinisme epistemologis. Kedua, dari pengetahuan itu kita bisa meramalkan masa depan alam dengan pasti. Determinisme ontologis. Determinisme epistemologis sudah dibantah dengan tegas oleh Heisenberg. Sedangkan determinisme ontologis dibantah oleh “kucing Schrodinger”.

Teori quantum adalah tidak deterministik. Sehingga, ada peluang untuk hadirnya free will.

Schrodinger (1887 – 1961) merumuskan persamaan gelombang quantum, yang kelak, dikenal sebagai gelombang Schrodinger menjadi dasar hampir semua teori fisika quantum. Gelombang Schrodinger ini, tampaknya, lebih liar dari Schrodinger itu sendiri. Gelombang Schrodinger menyatakan peluang terjadinya situasi quantum tertentu – hanya probabilitas bukan kepastian.

Agar lebih mudah, mari kita ikuti eksperimen pikiran “kucing Schrodinger.” Seekor kucing ditempatkan di suatu kotak, di ruangan tertutup. Di samping kucing itu ada partikel radioaktif (quantum) yang peluang meluruhnya adalah 50% dalam waktu 5 menit ke depan. Jika partikel itu meluruh maka akan memecahkan botol racun di dekatnya dan mengakibatkan kucing mati keracunan. Sebaliknya, jika partikel tidak meluruh maka aman dan kucing tetap hidup.

Setelah 5 menit, apakah kucing hidup atau mati?

Berdasar fisika klasik, ada dua kemungkinan. Pertama, kucing itu pasti sudah mati. Hanya saja kita belum mengetahui. Dengan membuka kotak maka kita yakin kucing memang sudah mati. Kedua, kucing itu pasti masih hidup. Dengan membuka kotak kita menjadi tahu.

Teori quantum tidak begitu. Menurut quantum, saat ini, kucing itu setengah hidup dan setengah mati. Perpaduan antara keduanya. Ketika kita membuka kotak maka situasi kucing akan roboh ke salah satunya, misal, kucing telah mati. Selama kita tidak membuka kotak maka kucing akan tetap berimbang setengah hidup dan setengah mati, bersamaan.

Dan yang lebih menarik, kita benar-benar tidak bisa meramalkan apakah partikel quantum itu akan meluruh atau tidak. Kita tidak bisa meramalkan apakah kucing itu akan hidup atau mati.

Tidak ada determinisme dalam teori quantum. Secara ontologi, quantum memang tidak deterministik.

Einstein (1879 – 1955) termasuk yang tidak setuju dengan interpretasi quantum yang dipenuhi banyak ketidakpastian itu. Einstein melontarkan, “Tuhan tidak sedang main dadu.” Tidak bisa diterima jika prinsip alam bersifat tidak pasti. Tentu, karena ada sesuatu yang belum kita ketahui (hidden variable) sehingga sains bersifat tidak pasti.

Awalnya, Schrodinger mengajukan “kucing Schrodinger” untuk menunjukkan bahwa teori quantum semacam itu, yang tidak pasti, tidak bisa diterima akal sehat. Akhirnya, “kucing Schrodinger” justru menjadi ilustrasi paling jelas dari tidak deterministiknya teori quantum. Ironis!

Sampai di sini, teori quantum memantapkan landasan sebagai teori yang tidak determinisitik. Sedangkan fisika klasik bersifat deterministik.

EPR Paradox merupakan paradox yang menyatakan bahwa teori quantum adalah teori yang tidak lengkap – sehingga bersifat tidak pasti. Einstein, Podolsky, dan Rosen merumuskan paradox ini dengan menunjukkan adanya “hidden variable” atau “variabel tersembunyi” yang belum dimasukkan ke teori quantum. Jika “variabel tersembunyi” ini bisa dimasukkan maka teori quantum menjadi teori yang lengkap dan bersifat pasti – bersifat deterministik.

Bell (1928 – 1990) menyusun formula untuk menyelesaikan EPR Paradox. Di satu sisi, EPR menunjukkan teori quantum sebagai “non-lokal” sehingga bersifat tidak pasti. Kedua, EPR menunjukkan cara menyelesaikan masalah teori quantum itu dengan menemukan “variabel tersembunyi” dan teori quantum menjadi teori yang lengkap. Segala fenomena quantum akan bisa dipastikan secara lokal. Teori quantum tidak akan perlu lagi “non-lokal”.

Formula Bell menunjukkan syarat-syarat yang diperlukan agar “variabel tersembunyi” itu memang ada.

Beberapa tahun kemudian, dirancang alat untuk menguji formula Bell. Hasil eksperimen menunjukkan bahwa “variabel tersembunyi” memang tidak ada. Sehingga, teorema Bell membuktikan bahwa dugaan Einstein ternyata salah. EPR terbukti ditolak. Jadi, tidak ada “variabel tersembunyi”. Kalau pun ada “varibel tersembunyi” maka itu bersifat non-lokal juga.

Usaha EPR untuk menarik kembali teori quantum ke arah determinisme terbukti gagal. Jadi, berdasar teorema Bell, teori quantum memang tidak deterministik. Benarkah demikian?

Super Determinisme

Bell mengagetkan masyarakat dengan mengatakan bahwa teori quantum tidak deterministik secara lokal. Tetapi, teori quantum adalah super deterministik secara non-lokal.

Wajar bagi kita mencari suatu penjelasan dari fenomena. Segala akibat pasti ada sebabnya. Ketika, semua sebab-sebab lokal gagal menjelaskan fenomena quantum maka apa alternatif sebabnya?

Benar, pasti ada sebab non-lokal. Karena non-lokal, mungkin saja, sebab ini sangat jauh. Tetapi, sebab ini begitu kuat dan begitu cepat. Di saat yang sama, sebab non-lokal ini tidak kita ketahui secara pasti. Penuh misteri. Sebab non-lokal itu adalah sebab super determinism. Sehingga, teori quantum bergerak dari determinisme fisika klasik menuju indeterminisme quantum, untuk kemudian masuk super determinisme quantum.

Jadi, apa sejatinya sebab super determinisme quantum itu? Misteri. Tidak ada yang tahu. Itu merupakan enigma quantum, tanda tanya quantum.

Seandainya, suatu saat nanti, enigma quantum ini terpecahkan dengan solusi meyakinkan, maka, akan muncul enigma baru yang lebih misterius. Hipotesis ini sejalan dengan teorema Emak Godel. Setiap sistem aksiomatik yang konsisten pasti tidak lengkap. Teori quantum bisa kita pandang sebagai sistem aksiomatik maka pasti tidak lengkap – terbukti dengan adanya enigma quantum.

Barangkali ada yang keberatan jika teori quantum masuk sebagai sistem aksiomatik. Sehingga, teori quantum tidak bisa dianalisis dengan teorema Godel. Kita bisa memanfaatkan teorema Emak Godel yang menyatakan bahwa setiap sistem konsep yang konsisten pasti tidak lengkap. Dan, teori quantum memang termasuk sebagai sistem konsep. Karena itu, teori quantum pasti tidak lengkap – dengan adanya enigma-enigma baru.

Teori quantum, saat ini, dalam genggaman super determinisme. Ada tiga enigma quantum saat ini. Pertama, runtuhnya prinsip lokal, yang baru kita bahas. Kedua, runtuhnya realisme oleh kucing Schrodinger. Ketiga, runtuhnya freedom para peneliti. Peneliti mengira dirinya bebas memilih apa saja obyek kajiannya, ternyata, pilihan mereka sudah dipastikan oleh super determinisme.

5. Nasib Free Will

Determinisme berkontradiksi dengan free will. Wajar, kita menduga bahwa super determinisme akan menolak free will dengan lebih ekstrem lagi. Tidak seperti itu yang terjadi. Semakin keras, super determinisme menolak free will, maka, free will akan muncul dengan satu dan lain cara.

Nasib free will tetap dinamis bersama super determinisme – atau pun determinisme. Hanya saja, kita perlu mengakui bahwa peran free will memang hanya kecil. Dengan optimis, kita bisa menyatakan,

“Meski kecil, peran free will, sangat menentukan.”

Sebaliknya, juga harus kita sadari,

“Meski free will punya peran, perannya sangat kecil.”

Dari Barat, super determinisme mencapai formulasi sistematis oleh Leibniz. Tuhan menciptakan alam raya dengan kondisi terbaik. Tidak ada yang berbeda dari itu. Berbeda dengan itu, menjadi bukan yang terbaik. Tidak mungkin bagi Tuhan memilih bukan yang terbaik. Karena Tuhan memilih yang terbaik bagi alam semesta maka super determinisme.

Tidak ada tempat bagi free will di alam raya yang super determinis seperti itu. Paling, yang bisa dilakukan manusia hanya sekedar merespon alam sekitar. Menurut Nietzsche, awalnya, respon manusia ini hanya lemah, meski otonom. Bagi orang-orang tertentu, superhuman, kekuatan otonomi ini membesar. Kekuatan otonom yang besar, bagi manusia, adalah semakna dengan free will itu sendiri. Free will hadir berdampingan dengan super determinisme. Free will tidak bisa disingkirkan.

Dari Timur, Ghazali merumuskan super determinisme, dengan kreatif, menggunakan pendekatan atomis. Atom-atom alam raya, layaknya frame-frame dalam movie, langsung diciptakan oleh Tuhan. Sehingga, alam raya super determinisme. Meski begitu, menurut Ghazali, manusia memiliki kemampuan kasab, kemampuan berusaha. Manusia berusaha dan Tuhan yang menciptakan.

Dalam perkembangannya, Ibnu Arabi dan Sadra, mengembangkan lebih jauh kemampuan usaha manusia itu. Meski Tuhan Maha Kuasa menetapkan dan menciptakan segala sesuatu, manusia bisa berusaha ikut berpartisipasi. Kemampuan partisipasi oleh manusia ini memang kecil tapi sangat menentukan. Karena Tuhan Maha Baik berjanji membalas kebaikan sekecil apa pun dengan kebaikan yang lebih besar. Jadi, memang Tuhan yang menciptakan segala kebaikan. Manusia hanya ikut berpartisipasi dengan free will. Lagi, free will hadir berdampingan dengan super determinisme.

Dari sains, teori quantum, Bell mengusulkan interpretasi teoremanya sebagai super determinisme. Bagaimana pun, interpretasi dari Bell adalah sebuah interpretasi – bukan kesimpulan sains empiris. Sehingga, terbuka peluang bagi kita untuk mengembangkan interpretasi-interpretasi lain yang menguatkan peran kesadaran subyek pengamat dalam fenomena quantum – membuka pintu bagi free will. Subyek pengamat sains, para peneliti, merespon lingkungan kemudian memilih melakukan penelitian sains. Pilihan tersebut, melakukan penelitian sains, adalah free will. Dengan demikian, dalam teori quantum, super determinisme bersanding dengan free will.

Apa manfaat membahas super determinisme dan free will?

Pertama, karena Tuhan Maha Baik menciptakan alam semesta menjadi yang terbaik maka kita tinggal menjalani hidup dengan bahagia. Kedua, kita kapan pun dan di mana pun, selalu bisa berpartisipasi dalam kebaikan. Semangat dan optimis! Karena Tuhan berjanji melipatgandakan partisipasi kita yang kecil itu. Ketiga, bila terjadi kesalahan alami atau perilaku orang maka kita lebih terbuka untuk memaafkan. Karena orang berbuat salah itu, tidak 100% kesalahan dirinya. Banyak faktor lain yang terlibat.

Pada akhirnya, dan setiap saat, kita bisa hidup bahagia dengan segala karunia terbaik Tuhan, adanya kesempatan berpartisipasi, dan terbuka saling memaafkan kepada semua.