Pancajati: Berani Perang Suci

Bagi beberapa orang tidak masuk akal. Mengapa seseorang berani mengorbankan hidupnya? Bahkan juga menyebabkan jatuh korban terhadap orang lain?

Sulit, bagi kebanyakan orang, untuk memahami. Tetapi kita bisa berusaha untuk memahami. Dan berharap bisa menemukan suatu solusi. Demi kebaikan seluruh penghuni bumi.

Pancajati

Saya merumuskan pancajati yang merupakan lima karakter dari kebenaran sejati. Kali ini, kita akan menerapkan analisis pancajati untuk memahami dan mengkritisi fenomena perang suci yang dikaitkan dengan ajaran agama tertentu. Sebagai pembanding, kita akan menganalisis fenomena lain yang lebih akrab bagi kita: kopi terasa nikmat, berat emas adalah 1 kg, dan rumus matematika 12 + 1 = 13.

Konsep dasar pancajati sudah saya uraikan pada tulisan saya terdahulu: Kebenaran Sejati. Dalam tulisan tersebut saya juga membahas beberapa contoh dinamika konsep eksak formula matematika.

Lima karakter kebenaran adalah, pertama, dinamis yaitu selalu bergerak atau berubah secara dinamis. Kedua, verifikasi yaitu kebenaran merupakan hasil dari proses verifikasi tertentu. Ketiga, cakrawala yaitu kebenaran berlaku pada cakrawala tertentu dan bisa tidak berlaku pada cakrawala berbeda. Keempat dan kelima, interpretasi dan pengalaman, yaitu kebenaran adalah terkait dengan suatu interpretasi dan pengalaman.

Dinamika Perang Suci

Kita bisa melihat dinamika perang dalam sejarah, masa lalu, dan masa kini. Barangkali juga akan menjadi tanda tanya untuk dinamika di masa depan.

A: Perang suci adalah perintah agama

Dengan asumsi bahwa perintah perang suci adalah valid ajaran suatu agama maka perintah tersebut bersifat dinamis. Barangkali perang diperintahkan di masa lalu. Dan saat ini, bisa jadi tidak perlu perang lagi. Atau bisa berubah dinamis sesuai situasi kondisi.

B: Kopi rasanya nikmat

Kopi nikmat bernilai benar saat ini, misal. Dua bulan ke depan, kopi yang sama, bisa saja sudah tidak nikmat, barangkali kadaluarsa atau busuk. Atau sebaliknya, kopi yang saat ini nikmat, dua bulan ke depan, justru makin nikmat karena makin matang. Kebenaran ini bersifat dinamis, bisa berubah.

C. Berat emas adalah 1 kg

Berat emas yang kita timbang saat ini adalah 1 kg bisa berubah dalam 2 tahun ke depan. Apalagi jika Anda menitipkan emas tersebut ke pegadaian maka berat emas tersebut akan berkurang – meski sedikit. Petugas gadai akan menggosok emas Anda sehingga beberapa butir terkelupas untuk diteliti oleh mereka. Kebenaran emas bersifat dinamis. (Untuk yang berminat lebih dalam bisa mempertimbangkan ketidakpastian Heisenberg dan kesetimbangan massa-energi.)

Verifikasi Perang Suci

Perintah perang suci dapat ditelusuri bersumber dari beberapa “kutipan” ajaran agama. Hasil verifikasi ini bisa sah berdasar sumber-sumber agama yang dipilih. Tetapi sumber agama yang sama, misal kitab suci, mengajarkan untuk hidup berdamai dengan sesama manusia. Hasil verifikasi ini menunjukkan justru perang suci itu tidak perlu di saat ini. Dengan meluaskan proses verifikasi dapat dikatakan bahwa perintah perang suci tidak meyakinkan.

Perbedaan verifikasi ini, yang menghasilkan dissensus, mendorong berkembangnya ragam mikrologi-mikrologi. Beberapa mikrologi menguatkan perintah perang suci sedangkan mikrologi lainnya melarang terjadinya perang suci itu. Maka dialog antar mikrologi menjadi penting di sini.

Untuk verifikasi “kopi nikmat rasanya” maka kita bisa langsung mencicipi kopi tersebut. Bisa kita tebak, makin banyak orang yang mencicipi makin beragam hasil verifikasinya. Ada yang setuju nikmat, ada yang menolak, dan ada yang biasa-biasa saja. Kebenaran memang terkait dengan proses dan hasil verifikasi.

“Emas beratnya 1 kg” bisa kita verifikasi dengan neraca digital. Hasil verifikasi menunjukkan hasil timbangan memang benar 1 kg. Tetapi jika proses penimbangan ini dilakukan di atas pesawat terbang, di angkasa, maka hasil pengukuran akan menunjukkan berat emas sekitar 0,999 kg bukan 1 kg lagi. Verifikasi ini berbeda proses dan berbeda hasil. Berat emas terkait dengan gravitasi bumi. Bahkan jika kita sempat menimbang emas yang sama di bulan maka beratnya hanya 0,16 kg. Sekali lagi, kebenaran terkait proses dan hasil verifikasi.

Cakrawala Perang Suci

Kebenaran perintah perang suci barangkali benar dengan satu sudut pandang, dengan satu jenis cakrawala tertentu. Kita bisa membandingkan dengan cakrawala “kemanusian”. Tentu saja tidak boleh memerangi orang lain hanya karena berbeda keyakinan agama. Dari cakrawala kemanusia, manusia dilarang berperang.

Bahkan, masih dalam ajaran agama yang sama, terdapat berbagai macam cakrawala. Misalnya cakrawala NU dan Muhammadiyah melarang terjadinya perang suci di saat ini.

Sedangkan cakrawala nikmatnya kopi bisa benar ketika yang mencicipi kopi adalah penggemar kopi. Sementara cakrawala anak-anak TK mengatakan bahwa kopi adalah pahit, tidak nikmat. Lebih tegas lagi, cakrawala harimau akan menolak minum kopi – tidak nikmat.

Berat emas yang 1 kg itu hanya benar bagi kita, orang-orang pada umumnya. Sedangkan cakrawala alien yang berasal dari luar angkasa mengukur berat emas dengan sistem dan acuan yang berbeda. Alien yang membawa emas ke luar angkasa, yang terbebas dari gravitasi, maka berat emas adalah 0 kg. Tanpa gravitasi maka tidak ada berat.

Kebenaran memiliki cakrawala masing-masing.

Meski demikian, kebenaran tidak bersifat relatif. Tidak ada relativisme di sini. Ketika kita memilih satu cakrawala, lengkap dengan sistem proses verifikasi, maka kebenaran dapat dipastikan – atau estimasi atau probabilitasnya. Dan tentu saja, kebenaran itu bersifat dinamis, seiring waktu.

Interpretasi dan Pengalaman Perang Suci

Perintah perang suci adalah interpretasi terkait dengan pengalaman tertentu – bukan pengalaman obyektif yang independent. Interpretasi dan pengalaman yang berbeda menyatakan bahwa umat manusia dilarang untuk berperang, termasuk dilarang melakukan perang suci. Umat manusia justru harus bersama-sama mewujudkan perdamaian dunia yang penuh dinamika.

Mari kita coba kaji lebih dalam bahwa ini semua adalah tergantung kepada interpretasi dan pengalaman sejak masa-masa awal ajaran agama. Misalkan seorang tokoh agama mendapat wahyu untuk melakukan perang suci, atau mendapat pencerahan, atau mendapat ide. Selanjutnya tokoh tersebut menyuruh muridnya untuk menuliskan perintah perang suci tersebut ke dalam kitab suci. Bukankah itu merupakan suatu interpretasi dari sebuah pengalaman sang tokoh?

Pertama, sang tokoh mengalami pengalaman menerima wahyu, atau pencerahan. Lalu pengalaman ini diinterpretasikan dalam bahasa tertentu. Atau pengalaman itu sudah langsung berupa suatu bahasa tertentu. Selanjutnya, para murid menginterpretasikan ungkapan bahasa dari sang tokoh. Murid mendengarkan, mencoba memahami, lalu mencatatnya. Ini adalah proses interpretasi dari murid pertama. Hasil interpretasi murid pertama ini barangkali berupa kitab atau lembaran-lembaran.

Pada masa selanjutnya, pengalaman dan interpretasi dari murid pertama itu akan sampai kepada murid generasi kedua, ketiga, dan seterusnya sampai generasi sekarang. Barangkali sudah berjarak seribu tahun atau dua ribu tahun yang lalu antara murid pertama dengan kita saat ini. Sudah terjadi banyak pengalaman dan interpretasi ulang dari setiap generasi. Meski inti dari ajaran agama adalah abadi dan asli, tetapi proses dan dinamika sampai ke jaman kita, diperkaya oleh pengalaman dan interpretasi setiap generasi.

Sekarang, kita sendiri, tentu berhadapan dengan tugas meng-interpretasi dan mengalami pengalaman. Ketika kita membaca suatu kitab suci maka kita akan melakukan interpretasi berdasarkan pengalaman – dalam arti luas mencakup pengalaman pribadi, pengalaman orang lain, pengalaman bermasyarakat, kajian keilmuan, pengalaman ruhani, dan lain-lain. Atau jika kita, saat ini, mendengar langsung nasehat dari orang paling suci maka, tetap saja, kita harus mendengarnya dengan baik, lalu melakukan interpretasi dengan mempertimbangkan pengalaman kita secara luas.

Interpretasi dan pengalaman bukanlah merupakan cacat hidup kita. Justru interpretasi dan pengalaman adalah hakikat hidup setiap manusia. Manusia yang hidup senantiasa melakukan interpretasi dan mengalami pengalaman.

Sampai di sini, cukup jelas kiranya bahwa interpretasi dan pengalaman berperan besar dalam menentukan kebenaran. Kembali kepada ajaran perang suci maka itu terkait terhadap interpretasi dan pengalaman masing-masing orang. Pada gilirannya, interpretasi dan pengalaman ini terkait dengan cakrawala yang terkait langsung dengan budaya dan sejarah. Di mana, budaya dan sejarah pun, dipengaruhi oleh interpretasi dan pengalaman. Sekali lagi, penting bagi kita semua untuk konsisten meluaskan cakrawala.

Dalam cakrawala yang luas, sangat jelas, tugas umat manusia adalah menjaga perdamaian untuk seluruh umat manusia. Mencegah perang dalam bentuk apa pun. Berusaha mendamaikan antar sesama.

Diskusi Perang Suci

Ajaran perang suci, saat ini, tidak bisa dibenarkan. Meski demikian, kita tetap memerlukan solusi yang tepat. Menjaga keamanan oleh aparat didukung seluruh rakyat. Membuka dialog antar budaya, antar cakrawala, antar semesta. Menghormati beragam beda pendapat. Menjamin hidup bermartabat dan selamat.

Doktrin perang suci hanya bisa terjadi dalam cakrawala khusus yang sempit. Karena hakikat manusia selalu melakukan interpretasi, meskipun cakrawala tersebut sempit, maka tetap saja bisa dieksploitasi.

Cara hidup damai, saling menghormati dalam keragaman, tenggang rasa, perlu terus kita dorong menjadi budaya bersama. Kekerasan bukanlah jalan keluar. Kekerasan adalah jalan buntu. Hidup adil, saling mengasihi, adalah solusi sejati. Jalan lurus yang pantas kita kejar.

Bagaimana menurut Anda?

Kebenaran Sejati Ada di Sini

Kebenaran sejati dekat dengan diri ini. Tidak harus mencari ke luar negeri, atau luar bumi. Kebenaran sejati selalu menghampiri.

Tapi apa itu kebenaran sejati?

Tampaknya, itu menjadi pertanyaan abadi. Ribuan jawaban sudah ada dari para pemikir dunia. Tetap saja, pertanyaan tentang kebenaran sejati terus menggelora.

3 Langkah Memahami Kebenaran Sejati | Rahasia Hidup Sukses Bebas Hutang  Bahagia Kaya Sejahtera

Kebenaran sejati, atau truth, atau kita singkat sebagai benar, paling mudah kita pahami sebagai kebenaran korespondensi. Sejak era Aristoteles, kebenaran adalah kesesuaian korespondensi antara “pikiran” dan “realitas.” Ide korespondensi yang mantap itu mulai mendapat tantangan serius di era digital: relativisme dan post-truth. Goyangan beragam sudut pandang dan campur-aduknya dengan hoax tidak selalu mudah kita pahami. Segala sesuatu bisa benar dan sekaligus bisa salah. Alternatif dari korespondensi adalah koherensi.

Korespondensi

Ketika Anda berpikir bahwa 2 buah jeruk ditambah dengan 1 buah jeruk akan menjadi 3 buah jeruk dan kemudian di dunia nyata seperti itu adanya maka pikiran Anda benar, secara korespondensi. Apa yang Anda pikirkan bersesuaian dengan dunia nyata, berkorespondensi.

Masalah kebenaran sejati terus bergerak maju. Kebenaran korenspondensi hanyalah salah satu wajah dari kebenaran itu sendiri. Kita akan mencoba membahas lebih detil berikut ini.

Sementara, kebenaran koherensi adalah kebenaran yang koheren dengan kebenaran-kebenaran lain; konsisten dengan sistem-sistem yang diterima sebagai sistem kebenaran.

A. Kebenaran Dinamis
B. Kebenaran Verifikasi
C. Kebenaran Cakrawala
D. Kebenaran Interpretasi
E. Kebenaran Pengalaman

A. Kebenaran Dinamis

Segala sesuatu yang ada di alam ini bersifat dinamis. Kebenaran, sejauh ada di alam ini, maka bersifat dinamis. Kebenaran yang kita pahami saat ini adalah hasil dinamika kebenaran dari hari kemarin dan tahun-tahun yang lalu. Pertimbangkan aspek historal masa lalu dan masa depan.

Dengan memahami kebenaran yang bersifat dinamis maka kita berharap lebih bersikap terbuka terhadap beragam prespektif kebenaran. Kita juga perlu terus berjuang, dinamis, untuk mendapat kebenaran paling hakiki. Meskipun kebenaran hakiki itu, kebenaran sejati, juga bersifat dinamis.

Pemahaman kita terhadap rumus matematika 2 + 1 = 3 pun bersifat dinamis. Ketika kita masih kanak-kanak, memahami 2 +1 = 3 dengan cara penuh usaha keras. Saat kita dewasa, dengan mudah memahami kebenaran 2 + 1 = 3. Kebenaran memang dinamis.

Tetapi, bukankah 2 + 1 = 3 itu bersifat pasti, eksak, dan tanpa keraguan? Benar juga. Sejauh kita menjaganya secara ideal. Dalam dunia nyata, 2 kg beras ditambah dengan 1 kg beras maka tidak ada jaminan tepat menjadi 3 kg beras. Bisa jadi hasilnya adalah 3 kg beras lebih 1 butir atau 3 kg beras kurang 5 butir. Tidak ada masalah dengan selisih 1 atau 5 butir beras. Kita menganggap 3 kg beras itu statis, padahal dinamis. Ditambah lagi kita dapat mempertimbangan dinamika beras terhadap waktu. Alam semesta memang dinamis.

Mengapa dinamis?

Karena meta-teori, meta-perspektif, dan futuristik.

Kebenaran menjadi dinamis karena setiap kebenaran membutuhkan bukti atau argumen. Di mana, bukti yang kuat selalu membutuhkan teori. Pada gilirannya, teori itu sendiri membutuhkan dukungan teori lain lagi, misal disebut, meta-teori. Begitu seterusnya sehingga selalu dinamis.

Meta-teori bisa bergerak ke masa depan. Suatu teori akan menghasilkan proposisi. Kemudian, proposisi ini menghasilkan proposisi baru sehingga makin dinamis. Lebih kreatif lagi, ketika, proposisi baru menghasilkan paradoks. Teori lama tidak memadai untuk menyelesaikan paradoks tersebut dan kita perlu mengembangkan teori baru yang dinamis.

Dinamika juga terjadi dari perkembangan perspektif. Setiap kebenaran pasti, dilihat, dari satu perspektif tertentu. Dengan melihat dari perspektif yang berbeda, maka, akan dihasilkan kebenaran yang berbeda. Sehingga, kebenaran memang dinamis. Penambahan perspektif tidak akan pernah sempurna. Maksudnya, kita tidak bisa melihat kebenaran melalui perspektif utuh seperti perspektif mata-dewa, misalnya. Dinamika kebenaran akibat dinamika perspesktif, saya sebut, sebagai dinamika meta-perspektif.

Meta-perspektif bisa terjadi secara disrupsi – terpisah dari kebenaran lama. Bukan hanya melihat suatu obyek dari perspektif baru. Tetapi, melihat obyek lain, yang baru, yang berbeda sepenuhnya dari obyek lama. Sehingga, kebenaran-kebenaran akan bersaing secara dinamis. Barangkali, hanya satu jenis kebenaran yang bertahan, atau terjadi sinergi, atau lainnya.

Dan, paling jelas, kebenaran menjadi dinamis karena ada aspek temporal, aspek waktu. Karena waktu terus bergulir, maka, kebenaran terus dinamis. Umumnya, waktu dipandang sebagai living-now, yaitu, kejadian masa kini yang terus bergulir dari masa lalu, ke masa kini, dan menuju masa depan. Dengan perspektif ini, waktu adalah ukuran dari gerak aksidental dan gerak substansial.

Perspektif yang lain memandang waktu sebagai bentangan future-past-present dan memberi peran besar kepada aspek future, masa depan. Saya menyebutnya sebagai perspektif futuristik. Future, masa depan, selalu bergerak ke depan. Future membentangkan diri ke masa lalu. Kemudian, merangkul masa lalu menuju masa depan dengan menyusuri masa kini. Tetapi, ketika masa lalu (past) sudah sampai ke masa depan, saat itu juga, future sudah melangkah ke depan lagi. Begitu seterusnya, terjadi dinamika waktu yang membentang dari future ke past dan menyusuri present (masa kini). Karena waktu bersifat dinamis, maka, kebenaran juga bersifat dinamis.

Orang bijak mengatakan, “Janganlah kamu mencela waktu karena waktu adalah (kebenaran) Tuhan.”

Karena kebenaran bersifat dinamis, maka, apakah ada kebenaran absolut? Ada. Kebenaran absolut ada. Tetapi, tidak ada klaim kebenaran yang absolut. Setiap kebenaran, pada analisis akhir, perlu untuk mengacu kepada kebenaran absolut. Akibatnya, kebenaran selalu bersifat dinamis.

B. Kebenaran Verifikasi

Kebenaran adalah hasil dari proses verifikasi. Kebenaran bukan sesuatu yang mandiri, bukan independent, di alam ini.

Matematika 2 + 1 = 3 bernilai benar karena merupakan hasil verifikasi yang sah. Semua orang dengan mudah me-verifikasi bahwa 2 + 1 = 3 adalah benar. Tetapi 2 + 1 = 3 itu sendiri tidak mandiri. Misalnya dalam sistem bilangan jam 3an, di mana hanya ada angka 0, 1, dan 2, maka 2 + 1 = 0. Contoh yang lebih nyata adalah pada sistem jam dinding di mana 12 + 1 = 1 bukan 13. (Pada jam dinding tidak ada angka 13).

Bagaimana pun 2 + 1 = 3 bernilai eksak benar dalam konteks sistem verifikasi yang diterima secara umum. Dalam sistem bilangan real, 2 + 1 pasti benar bernilai sama dengan 3. Konsep kebenaran yang koheren disebut sebagai koherensi.

Tidak ada relativisme di sini. Selama kita konsisten dengan sistem verifikasi maka kita bisa menjamin nilai kebenaran – atau probabilitasnya.

C. Kebenaran Cakrawala

Sistem untuk verifikasi kebenaran tersebut adalah cakrawala. Maka benar saja ungkapan orang-orang bijak: perluaslah cakrawala pengetahuan. Dengan luasnya cakrawala pengetahuan maka kita akan lebih bijak dalam menyikapi suatu kebenaran, yang sejatinya, ada di sini, ada dalam diri.

Sebagai contoh kita dapat membandingkan cakrawala jam dinding, yang hanya ada angka 1 sampa 12, dengan cakrawala bilangan real yang seperti kita pahami dalam kehidupan sehari-hari.

2 + 1 = 3 adalah bernilai benar; baik dalam cakrawala jam dinding maupun cakrawala bilangan real sama-sama benar.

12 + 1 = 13 adalah bernilai benar dalam cakrawala bilangan bulat tetapi bernilai salah dalam cakrawala jam dinding. Yang benar, dalam cakrawala jam dinding, 12 + 1 = 1. Keduanya bersifat eksak. Tidak ada keraguan. Tidak ada relativisme. Pasti benar dalam cakrawala bilangan real. Dan pasti salah, 12 + 1 = 13, dalam cakrawala jam dinding.

Buah jeruk rasanya nikmat. Bernilai benar dalam cakrawala manusia. Bernilai salah dalam cakrawala harimau. Barangkali juga bernilai salah dalam cakrawala alien. Cakrawala yang berbeda akan menghasilkan verifikasi yang berbeda terhadap kebenaran.

D. Kebenaran Interpretasi

Semua klaim kebenaran adalah interpretasi. Cakrawala yang kita gunakan untuk menverifikasi kebenaran juga merupakan susunan-susunan interpretasi. Dan tentu saja setiap interpretasi besifat dinamis. Sebagaimana kebenaran juga bersifat dinamis.

“Buah jeruk rasanya nikmat,” adalah interpretasi yang bernilai benar dalam cakrawala manusia pada umumnya. Jelas kita lihat bahwa “rasa nikmat” adalah interpretasi kita terhadap rasa jeruk. Lebih jauh lagi, “buah jeruk” adalah interpretasi kita terhadap “sesuatu realitas.”

Dalam cakrawala harimau, rasa jeruk diinterpretasikan dengan “tidak nikmat”, beda dengan manusia. Nyatanya, harimau tidak mau makan jeruk tetapi mau makan daging, misalnya. Lagi-lagi, itu adalah interpretasi kita sebagai pengamat. Ketika seekor harimau memandang buah jeruk maka harimau itu akan membuat interpretasi, atau persepsi, yang berbeda dengan jeruk yang dipandang oleh manusia.

Kebenaran itu adalah interpretasi. Bukan karena kita mengetahui sesuatu melalui interpretasi, tetapi karena semua yang sampai kepada diri kita adalah memang suatu interpretasi. Dan interpretasi, dalam arti yang canggih, adalah keunggulan unik umat manusia.

Kita bisa saja mengambil contoh eksak, semisal rumus matematika 12 + 1 = 13, adalah interpretasi. Angka 12 dan angka-angka lain adalah interpretasi manusia. Operasi penjumlahan dan tanda sama dengan juga interpretasi dari manusia. Sehingga formula eksak pun penuh dengan interpretasi. Bukankah itu semua adalah simbol?

Sekali lagi tidak ada relativisme di sini. Sekali kita membuat interpretasi maka secara konsisten kita dapat menyusun cakrawala – yang dipengaruhi oleh budaya dan sejarah. Dengan cakrawala ini kita dapat melakukan verifikasi kebenaran. Dan tentu saja dinamis.

E. Kebenaran Pengalaman

Dengan interpretasi itu lah kita menjalani hidup sejati. Pengalaman dan interpretasi saling berkaitan erat. Manusia mengalami sesuatu karena meng-interpretasi. Manusia bisa meng-interpretasi karena ada pengalaman.

Apakah kopi pahit terasa nikmat?

Kopi pahit terasa tidak nikmat bagi kita, dulu, waktu masih kanak-kanak. Seiring pengalaman mencicipi kopi yang pahit, ketika dewasa, kopi pahit menjadi nikmat. Pengalaman dan interpretasi saling terkait.

Bagaimana dengan sambal pedas? Pengalaman kita juga mirip. Ketika kanak-kanak tidak suka sambal pedas. Begitu dewasa, kita doyan sambal pedas.

Bagaimana dengan pengalaman interpretasi formula eksak? Sedikit berbeda tetapi ada miripnya. Ketika kanak-kanak kita meng-interpretasikan kuantitas di alam semesta sebagai bilangan asli: bilangan bulat dan positif. Ada 2 jeruk, 5 jeruk, dan sebagainya. Menginjak remaja, seiring pengalaman, kita meng-interpretasikan kuantitas lebih beragam, ada bilangan pecahan, bilangan negatif, irasional, dan bahkan kompleks.

Pengalaman kita adalah interpretasi. Dan interpretasi adalah yang kita alami.

Vattimo, pemikir Itali usia 86 tahun, melangkah lebih jauh dengan menyatakan bahwa segala realitas adalah interpretasi itu sendiri. Tugas manusia berpikir, berfilsafat dan lain-lain, adalah tugas ber-interpretasi.

Sekali lagi, dengan semua analisis kebenaran di atas, tidak ada relativisme di sini. Ketika kita mengambil suatu pengalaman dan interpretasi sebagai suatu acuan maka kita akan mengembangkan cakrawala; dalam cakrawala ini kita mengembangkan proses verifikasi yang absah untuk menghasilkan kebenaran sejati. Dan kita tahu, kebenaran adalah dinamis.

Ragam Cakrawala: Sains, Seni, Filsafat

Setiap manusia bersifat unik. Maka pengalaman dan interpretasi masing-masing manusia bisa beragam. Sehingga kita punya banyak cakrawala. Tentu, cakrawala sains adalah yang paling kita kenal dengan buahnya berupa teknologi digital lengkap dengan hoax yang menghiasi media sosial. Cakrawala sains menerapkan kriteria rasional dan empiris untuk verifikasi kebenaran.

Cakrawala seni terbentang luas dalam kehidupan umat manusia. Kriteria rasional meski ada dalam seni tetapi kriteria rasa tampak lebih dominan. Cakrawala filsafat mempertimbangkan “pemikiran” paling mendalam sampai ke pemikiran spekulatif yang mempertimbangkan segala sesuatunya. Dan masih banyak cakrawala-cakrawala lain.

Keragaman adalah realitas alam semesta. Maka sikap respek antar semua pihak menjadi penting untuk terus kita kembangkan. Konsep keragaman ini secara filosofis dapat kita telusuri ke konsep “difference” dari Heidegger yang kemudian dielaborasi lebih jauh oleh Derrida dan Lyotard dengan gaya postmodern.

Sedangkan dinamika kebenaran dapat kita lacak dari konsep dialektika Hegel, yang merujuk istilah yang sama dengan, Plato dan Sokrates. Sebelum itu, Sadra telah merumuskan gerak substansial yang sejalan dengan konsep “kembali naik” dari Ibnu Arabi.

Pada tulisan berikutnya saya akan mencoba menerapkan analisis “kebenaran” ini dalam beberapa kasus. Harapan saya akan terbentuk sikap saling respek antar semua pihak, mengurangi ekstremisme, dan membangun peradaban umat manusia.

Bagaimana menurut Anda?


Demokrasi Pecat Menteri

Memecat menteri tentu bukan hal kecil. Berdampak kepada kinerja pemerintah, stabilitas, juga politis. Di sisi lain, negara dan rakyat menuntut kinerja tinggi dari setiap kabinet.

Presiden Jokowi yang terpilih dua periode, secara demokratis, memegang tanggung jawab besar untuk memajukan Indonesia. Kita, sebagai rakyat Indonesia, perlu bersatu untuk mendukung suksesnya program-program pemerintah guna menciptakan Indonesia yang adil dak makmur.

“Memecat menteri adalah solusi demokratis.”

6 Wajah Menteri Baru di Kabinet Jokowi, Sandiaga Uno dan Risma Terpilih -  Grafis Tempo.co

Dan terpilihlah menteri baru yang diharapkan lebih besar membawa kebaikan bagi negara. Presiden Jokowi sudah pengalaman dalam mengganti kursi menteri. Barangkali kita bisa berharap proses ini lebih sering dilakukan – dengan harapan jalannya pemerintahan lebih efektif.

Presiden Demokratis

Rakyat tentu saja punya hak untuk mengkritik presiden, siapa pun presidennya, demi kebaikan negeri ini. Namun presiden Indonesia adalah hasil pilpres yang demokratis di Indonesia. Maka kritik kepada presiden harus diarahkan untuk tidak mengutak-atik posisinya sebagai presiden. Posisi presiden perlu dijaga aman dalam periode jabatan sesuai konsitusi.

Dengan demikian arah kritik adalah dalam ranah efektivitas pemerintahan, kebijakan, undang-undang dan sebagainya.

Pergantian Menteri Demokratis

Posisi menteri beda dengan presiden. Menteri bukan pilihan rakyat melalui pemilu. Presiden mempunyai hak prerogratif untuk mengangkat menteri – dan berbagai macam jabatan penting. Maka mengganti menteri dengan lebih sering, lebih cepat, tidak merusak sistem demokrasi. Pertimbangan ini lebih ke arah efektivitas pemerintah dalam menjalankan roda pemerintahan dan meraih cita-cita luhur negara.

Di sisi lain, pergantian menteri yang dinamis dapat memicu dinamika generasi muda. Orang-orang terbaik, yang berminat untuk menjadi menteri, bisa saja berjuang untuk menunjukkan kinerja terbaik, siapa tahu sewaktu-waktu akan ditunjuk oleh presiden untuk menjadi menteri yang baru.

Gubernur, Walikota, dan Bupati

Sama halnya dengan gubernur, walikota, dan bupati adalah pilihan demokratis dari rakyat. Maka jabatan seorang gubernur perlu dijaga aman selama periode masing-masing. Kritik terhadap gubernur adalah dalam ranah efektivitas pemerintahan dan kebijakan, dan lainnya. Sementara posisi kursi gubernur tetap aman.

Gubernur, walikota, dan bupati mempunyai kewenangan yang leluasa untuk mengganti pejabat di jajarannya demi efektivitas pemerintahan. Pergantian ini perlu lebih dinamis untuk memberikan hasil terbaik.

Demokratis Dinamis

Dengan ide bahwa kita bisa mengganti posisi pejabat secara dinamis maka diharapkan kita bisa meraih cita-cita negeri adil makmur. Sementara, di saat yang sama, kita tetap menjaga jabatan kepala negara dan kepala daerah aman sesuai periodenya. Hal ini menjaga suasana demokrasi tetap terjamin kondusif.

Bagaimana menurut Anda?

Tanpa Pemilu Lebih Tenang

Demokrasi, tanpa pemilu lebih tenang. Tentu saja hanya untuk sementara waktu. Saya merasa, saat ini, ada aura yang lebih kondusif berdemokrasi dengan tidak adanya pemilu selama 3 tahun berturut-turut. Pemilu terdekat adalah 2024. Rakyat tetap bisa beda pendapat. Tidak sampai saling menghujat. Kritik-kritik tetap bertaburan memberi petunjuk arah yang lebih tepat.

Sementara itu ada pemilu ikatan alumni sebuah kampus paling bergengsi di negeri ini. Tentu saja suasana seru sekali. Perdebatan berlanngsung hangat sampai panas. Karena perserta pemilu sebagian besar adalah para sarjana, bahkan doktor, maka suasana panas tetap bisa mendingin.

Kembali kepada kasus Indonesia yang tidak ada pemilu, pilkada, selama tiga berturut-turut kali ini, tampak debat di ruang publik terasa lebih asyik. Apakah pilkada sebaiknya dihapus saja?

Pilkada Langsung Dihapus

Pernah muncul ide untuk menghapus pilkada, beberapa tahun lalu. Tetapi ide ini kandas. Salah satu penentangnya adalah Kang Emil, yang saat ini jadi gubernur Jabar. Argumentasinya adalah dengan pilkada langsung bisa dihasilkan pemimpin-pemimpin baru secara adil. Contohnya, terpilihnya Kang Emil sebagai walikota Bandung, dan kemudian terpilih sebagai gubernur Jabar. Barangkali presiden Jokowi juga merupakan buah dari pilkada langsung.

Mengurangi Pilkada

Barangkali kita bisa mempertimbangkan untuk mengurangi pilkada. Saat ini, kita menyelenggarakan pilkada untuk provinsi dan kota/kabupaten. Sehingga jumlah pilkadanya banyak sekali. Lebih dari 100 pilkada tiap tahun perlu diselenggarakan. Sementara proses persiapan, kaderisasi, kampanye, dan pencoblosan, sampai pengesahan bisa lebih dari satu tahun. Akibatnya, seakan-akan, kita dalam situasi kompetisi pemilu sepanjang tahun, sepanjang masa.

Ide mengurangi pilkada adalah dengan memilih salah satu pilkada saja misal pilkada provinsi. Maka kita hanya perlu ada 30an pilkada. Tampak lebih sederhana. Atau memilih hanya pilkada kota/kabupaten saja. Jumlahnya memang masih banyak tetapi jangkauannya terbatas di masing-masing wilayah kota/kabupaten.

Pilkada Serentak Lebih Serentak

Ide alternatif lainnya adalah menyelenggarakan pilkada serentak yang lebih serentak. Maksudnya, seluruh pilkada di Indonesia diadakan dalam waktu serentak, lima tahun sekali. Misal dilaksanakan 2023, 2028, 2033, dan seterusnya. Dengan cara ini, rakyat hanya berkompetisi 5 tahun sekali pilkada, dan 5 tahun sekali pilpres. Sisa waktu lainnya bisa untuk lebih fokus membangun negeri, tidak dalam kompetisi politis.

Pilkada lebih serentak ini bisa juga dikombinasikan dengan pengurangan jumlah pilkada. Dengan cara ini diharapkan energi rakyat, dan pemerintahan, lebih hemat dalam berkompetisi. Dan kita bisa mengarahkan fokus kekuatan untuk membangun negeri.

Bagaimana menurut Anda?

Pendidikan Agama Sejati

Kita baru saja menyantap hidangan pendidikan agama sejati tingkat tinggi. Pertama, tidak adanya frasa “agama” dalam rumusan peta-jalan pendidikan 2035 dari Mas Menteri Nadiem. Kedua, pertemuan dua tokoh beda agama tingkat dunia yakni Ayatullah Al-Sistani dengan Paus Francis, di Najaf Irak.

Top Shiite cleric Sistani tells Pope Francis that Iraqi Christians should  live in 'peace'

Ketika saya jalan-jalan di Najaf Irak dan sekitarnya, tiga tahun lalu, terasa sekali aura penghormatan kepada Ayatullah Sistani yang begitu tinggi menunjunjung nilai-nilai universal kemanusiaan, terilhami oleh ajaran luhur agama Islam. Sementara di Itali, tempat tinggal Paus, sedang berkembang konsep filosofis weak thought, yang begitu antusias menekankan pentingnya saling respek terhadap perbedaan. Vattimo, pemikir Itali yang berusia 86 tahun, menyatakan bahwa weak thought adalah perkembangan filsafat mutahkir saat ini.

Dua tokoh besar agama ini, Ayatullah dan Paus, bersepakat untuk menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, toleransi, saling hormat, kesetaraan, dan demokrasi. Bersepakat pula untuk mengakhiri segala kekerasan atas nama agama. Menghentikan terorisme dalam segala bentuknya. Menciptakan perdamaian di seluruh dunia. Dalam situasi perbedaan agama dan keyakinan.

Itulah sebentuk pendidikan agama sejati.

Hanya ada jalan lurus

Salah satu yang menarik dari Irak adalah hanya ada jalan lurus. Tidak ada jalan belok. Saya tertawa saja ketika pembimbing ziarah menceritakan bahwa bila kita bertanya ke orang Irak tentang tempat suatu lokasi maka mereka akan menunjukkan dengan cara lurus, lurus, lalu lurus lagi. Mereka sambil menggerakkan tangannya ke kanan atau ke kiri. Kita menjadi paham maksudnya karena sambil melihat gerak tangannya. Sementara ucapan mereka tetap saja, lurus, lurus, dan lurus – mustakim dalam bahasa mereka.

Benar saja, suatu ketika saya sama teman-teman berkunjunga ke suatu tempat tanpa pembimbing. Lalu saya bertanya arah kepada salah seorang pemuda Irak yang ada di situ. Dijawabnya, “mustakim, mustakim,,, mustakim.” “Syukron jadid.” Memang benar pemuda itu mejawab lurus, lurus, dan lurus. Saya berterima kasih dan tertawa dalam hati penuh kagum. Barangkali istilah jalan lurus ini menjadi penting sekali karena setiap hari dibaca berulang kali dalam bentuk doa, “Tunjukilah kami jalan yang lurus.” Sehingga mereka hanya mau menunjukkan jalan lurus kepada orang yang tersesat. Mereka tidak mau menunjukkan jalan belok, yang tidak lurus.

Pendidikan Agama Kementerian

Kembali ke pendidikan agama di Indonesia. Saya kira sikap Mas Nadiem sudah benar dengan menerima keberatan beberapa pihak tentang tidak adanya frasa “agama” dalam peta-jalan pendidikan 2035. Mas Nadiem akan melakukan koreksi yang diperlukan.

Tetapi adanya berita yang menyatakan bahwa pelajaran agama akan dihapus di Indonesia adalah berita yang tidak benar. Sejak awal, kementerian tidak berniat menghapus pelajaran agama. Kementerian berniat untuk melanjutkan pendidikan agama.

Saya sendiri, jauh hari, mengusulkan agar pendidikan agama masuk dalam kurikulum utama, yaitu kurikulum paling utama yang diajarkan dengan baik tanpa harus ada ujian formal. Yang diperlukan adalah asesmen untuk meningkatkan kualitas pendidikan itu sendiri. Pendekatan ini berbeda dengan kurikulum inti, misal matematika, yang memang diperlukan ujian formal dengan sistem penilaian yang obyektif dan jelas.

Pendidikan Agama Dihapus

Apakah ada kemungkinan pendidikan agama dihapus? Mungkin saja. Karena sistem pendidikan bisa berubah setiap saat sesuai perkembangan umat manusia itu sendiri.

Apakah pendidikan agama dihapus akan menjadi lebih baik?

Saya kira menghapus pendidikan agama bukan ide yang baik. Tetapi, dengan pendidikan agama seperti sekarang ini, apakah bisa menurunkan angka korupsi? Korupsi tidak hanya urusan pendidikan agama. Melibatkan banyak hal termasuk sistem politik, ekonomi, hukum, dan lain-lain. Maka kita perlu melihat kasus korupsi dengan sudut pandang yang lebih luas.

Sementara penyelenggaran pendidikan agama itu sendiri barangkali perlu terus dikaji untuk menemukan proses terbaik. Pertama, seperti sekarang ini, pendidikan agama ditangani oleh kementerian pendidikan. Kita bisa melihat hasilnya seperti yang terjadi di Indonesia. Masih banyak hal yang bisa diperbaiki.

Kedua, pendidikan agama dihapus dari kementerian pendidikan lalu dipindahkan ke kementerian agama. Dipindahkan dari Mas Nadiem ke Gus Yaqut. Barangkali ide seperti itu ada bagusnya agar masing-masing fokus kepada kompetensi inti. Menteri pendidikan fokus kepada pendidikan dan menteri agama fokus kepada agama. Tentu saja perlu penyesuaian anggaran.

Ketiga, pendidikan agama dihapus dari seluruh kementerian lalu diserahkan kepada masyarakat. Selama ini masyarakat sudah banyak pengalaman dalam menyelenggarakan pendidikan agama secara mandiri. Barangkali ide ini bisa bagus dengan fokus menyederhanakan birokrasi. Banyak yayasan, pensantren, dan lain-lain yang terbukti lebih unggul dalam menyelenggarakan pendidikan agama. Dan, tentu saja, ada penyesuaian anggaran.

Berbagai ide pengembangan pendidikan agama perlu terus kita kaji untuk menemukan yang terbaik sesuai jaman dan tempat.

Bagaimana menurut Anda?

Normal Gak Normal

“Closing schools is more stressful for children and families than keeping them open.”

Sudah saatnya kita kembali membuka sekolah tatap muka. Siswa bergembira. Guru-guru bersuka ria. Orang tua ikut bahagia.

Pandemi segera sirna. Tapi tak pernah kembali seperti sedia kala. Kita kembali normal yang tidak normal. Kita berada pada situasi normal tak normal. Normal gak normal.

Kegiatan masyarakat kembali normal. Ditambah tetap dengan standar prosedur kesehatan yang konsisten. Longgar sedikit, kasus covid bisa melonjak lagi. Dengan disiplin prokes, secara bertahap covid akan terjepit.

Grafik Merah Stabil

Grafik merah mulai stabil agak turun. Grafik merah yang sedikit banyak bisa menggambarkan kondisi sulit dalam pandemi mulai melandai di dunia. Di Indonesia, kasus harian juga mulai turun. Meski demikian grafik hijau belum membaik. Sehingga dalam waktu satu tahun ini, kita belum terbebas dari pandemi. Barangkali memang tidak akan pernah terbebas dari pandemi. Namun kita, sebagai umat manusia, sudah bisa mulai kembali hidup normal, yaitu normal gak normal.

Bisnis vs Sekolah

Bisnis harus jalan, dan memang tetap jalan, meski dengan beragam kesulitan. Bisnis penting bagi kehidupan umat manusia dan sifatnya urgen, mendesak, sehingga tidak bisa ditunda. Berbeda dengan pendidikan, meski penting, bisa ditunda. Pendidikan, dalam bentuk sekolah tatap muka, sudah saatnya untuk kembali berjalan normal, yaitu normal gak normal.

Penutupan sekolah tentu saja tidak masalah untuk saat ini, karena memang bisa ditunda. Berapa kerugian pendidikan akibat penutupan sekolah? Berapa juta siswa Indonesia yang tidak bisa belajar karena tidak ada kelas tatap muka? Berapa mahasiswa yang tidak bisa penelitian karena kampus terbatas? Semua kerugian pendidikan tampak seperti tidak ada. Tapi siapa yang berani melakukan asesmen nasional dengan jujur terhadap kualitas pendidikan semasa pandemi? Kabarnya, rencana asesmen nasional diundur pelaksanaannya. Padahal asesmen itu penting sekali buat Indonesia.

Menteri Penting

Peran menteri pendidikan saat ini benar-benar penting. Tentu saja menteri bisa menginstruksikan agar sekolah tidak buka kelas tatap muka demi menjaga kesehatan. Bagi yang berminat buka kelas, sekolah tersebut bisa mengajukan izin. Kondisi seperti ini perlu didorong untuk lebih maju lagi: menteri memerintahkan seluruh sekolah (dan universitas) membuka kembali kelas tatap muka dengan standar prosedur kesehatan.

Bagi sekolah yang belum memenuhi syarat untuk membuka kelas tatap muka maka kementerian akan membantu agar sekolah tersebut mampu memenuhi persyaratan.

Semester Pendek

Barangkali waktu yang paling tepat untuk membuka kelas tatap muka adalah semester baru terdekat. Sekitar Juli atau Agustus 2021. Ada kesempatan menarik yaitu berbagai universitas dapat membuka kuliah tatap muka lebih awal dalam bentuk semester pendek.

Semester pendek ini sekaligus bisa kita jadikan sebagai model, percontohan, untuk sekolah-sekolah di seluruh Indonesia. Semester pendek, yang biasanya berlangsung 2 bulan, bisa dimulai habis lebaran. Sekitar akhir Mei atau awal Juni sudah bisa dimulai. Kita berharap semester pendek ini berjalan dengan lancar. Dengan demikian, semester baru sudah bisa dimulai dengan normal, yaitu normal gak normal, sesuai jadwal seperti biasanya.

Pandemi Indonesia

Kondisi pandemi di Indonesia memang belum sepenuhnya mereda. Analisis saya menunjukkan nilai Reproduksi R berkisar sedikit di bawah 1 dan kadang naik lagi sedikit di atas 1. Kondisi R yang naik turun di sekitar 1 ini menunjukkan bahwa pandemi di Indonesia mulai mencapai kondisi kesetimbangan dinamis. Situasi stabil dengan adanya penambahan kasus pada jumlah tertentu seimbang dengan jumlah orang yang sembuh.

Untuk mencapai pandemi selesai total perlu waktu sekitar 10 bulan ke depan dengan syarat nilai R stabil di 0,8. Syarat ini sulit dipenuhi bahkan dengan bantuan vaksin pun. Tetapi peran perilaku masyarakat sangat berperan besar untuk mencegah lonjakan kasus baru. Disiplin prokes adalah kuncinya. Target kita untuk sementara cukuplah kestabilan dinamis, normal gak normal. Dan sekolah bisa kembali dibuka dengan kelas tatap muka.

Bagaimana menurut Anda?

Kosmologi: Mahana – Kosmos – Hana

Kosmologi penuh misteri. Makin misterius makin menarik bagi kita untuk menyelidikinya. Masalahnya, makin dalam kita mengkaji konsmologi maka hasilnya makin diliputi misteri.

Cosmology Diploma Course - Centre of Excellence

1. Eksistensi Kosmologi
2. Kosmologi Ilmiah
3. CCC: Conformal Cyclic Cosmology
4. Kosmologi Umum

Misteri ini bisa kita pahami, tetap dipenuhi tanda tanya, lantaran kosmologi membahas masa lalu, jauh di masa lalu. Dan membahas masa depan, jauh di depan. Secara ilmiah, kita tidak bisa mengetahui masa lalu dan masa depan. Apalagi yang begitu jauh.

1. Eksistensi Kosmologi

Terdapat banyak pendekatan untuk memahami kosmologi. Saya menggunakan pendekatan eksistensial dengan menggunakan istilah hana sebagai padanan wujud, being, atau eksistensi. Dalam banyak kasus, hana merujuk kepada eksistensi manusia atau manusia sejati secara eksistensial. Sementara eksistensi mutlak bisa kita sebut sebagai maha-hana = mahana. Secara spiritual, mahana bisa kita artikan sebagai Tuhan.

Kita memandang dunia, termasuk kosmomologi, selalu dalam ruang-dan-waktu. Para saintis, sejak Newton atau Galileo, memandang ruang dan waktu ada secara obyektif. Pandangan saintis ini mulai bergeser sejak Einstein merumuskan relativitas. Ruang dan waktu tidak se-obyektif yang dikira selama ini. Ruang dan waktu bersifat relatif terhadap kerangka acuan pengamat. Sementara, filsuf semisal Immanuel Kant, memandang ruang dan waktu sebagai intuisi paling murni dari manusia, pengalaman subyektif manusia. Sadra, pemikir abad 17, menyatakan ruang dan waktu eksis secara obyektif tetapi merupakan turunan dari gerak eksistensial, gerak substansial.

Maka kosmologi secara ruang bisa saja berbeda dengan kosmologi secara waktu. Kosmologi secara ruang adalah,

mahana – hana – kosmos

Hana, secara ruang, berada di tengah-tengah antara mahana dan kosmos. Hana memiliki sifat perpaduan antara mahana dan kosmos. Hana, manusia sejati, punya peran mewakili mahana untuk memakmurkan kosmos. Di saat yang sama, hana, manusia sejati mewakili seluruh kosmos untuk menghadap kembali ke mahana.

Kosmologi secara waktu adalah,

mahana – kosmos – hana

Hana, secara waktu, adalah yang hadir terakhir. Awal penciptaan alam semesta adalah hadirnya eksistensi kosmos. Kemudian, seiring waktu, kosmos ber-evolusi dari materi elementer – mineral – tumbuhan – hewan – dan puncaknya hadir manusia, hana. Perjalanan ini baru satu arah, dari sumber mahana ke kosmos lalu ke hana. Arah selanjutnya adalah kebalikannya. Karena kosmos telah eksis secara sempurna maka hana melanjutkan evolusi dengan menjelajahi kosmos menuju sang mahana.

1.1 Mengapa Hana

Mengapa kita perlu membahas hana sebagai landasan paling awal?

Karena hana adalah yang paling mewakili karakter kosmologi: selalu berubah. Kosmos setiap saat selalu berubah. Realitas selalu bergerak. Umat manusia, dan seluruh mahkluk hidup, senantiasa berubah. Bahkan gedung-gedung dan gunung-gunung juga terus bergerak bersama bumi mengitari matahari. Sesuai teori Big Bang, alam raya ini pun terus bergerak makin membesar.

Hana, manusia sejati, adalah yang paling cepat dalam gerak perubahan. Detik ini, kita bisa memikirkan kosmologi. Detik berikutnya, kita bisa memikirkan ekonomi. Secara fisik, hana terbiasa berpindah dengan cepat dari satu lokasi ke lokasi lain, misal dengan kendaraan mobil. Karena itu, kita sah memilih hana sebagai pusat kajian kita tentang kosmologi.

Secara epistemologi, hana adalah yang paling dekat, yaitu diri kita sendiri, manusia sejati. Sehingga, kita lebih mudah mempelajari hana dengan cara refleksi diri. Dan, hana memiliki karakter unik: punya badan dan pikiran. Badan manusia yang tersusun oleh materi fisik barangkali mirip dengan materi di alam raya. Tetapi pikiran manusia, yang kemudian berkembang menjadi kebudayaan, tampak khas hanya ada pada hana.

Heidegger (1889 – 1976) memulai kajian ontologinya juga berpijak pada kajian manusia sejati: dasein. Karena, manusia adalah “being” yang senantiasa peduli terhadap eksistensi dirinya. Manusia senantiasa mengantisipasi masa depan, berbekal masa lalu, untuk kemudian menjalani proses masa kini. Manusia bisa saja tenggelam dalam samudera kosmologi. Mereka terbawa arus entah ke mana. Tetapi di antara mereka, tetap ada yang menjadi manusia otentik: selalu peduli dengan eksistensi dirinya. Manusia otentik bertanya, “Apa makna menjadi being?”

Descartes (1596 – 1650) berfokus kepada kajian pikiran manusia: cogito.

1.2 Mahana: Ontological-Gap

Analisis sederhana menunjukkan bahwa diri kita, hana, lahir karena ada ibu dan bapak. Mundur lagi, ibu dan bapak lahir karena ada nenek dan kakek. Dan, kita bisa mundur terus ke masa lalu sambil bertanya, “Siapakah, atau apakah, yang paling awal?”

Realitas fundamental paling awal, atau realitas primordial, adalah mahana. Secara spiritual, kita bisa mengatakan bahwa mahana adalah Tuhan Yang Maha Awal. Para saintis, barangkali, mengidentifikasi mahana sebagai “hampa quantum” yang lebih awal dari Big Bang. Orang lain bisa juga mengidentifikasi mahana sebagai “Prinsip Primordial.”

“Tetapi, apa sebenarnya mahana itu?”

Mahana adalah ontological-gap sehingga kita tidak bisa merumuskannya secara ontologis (metafisis). Selalu ada “gap” antara rumusan ontologi kita dengan mahana. Semua ide, semua konsep, semua ukuran tidak akan mampu membatasi mahana: selalu ada ontological-gap.

Epistemological-gap.

Hermeneutical-gap.


1.3 Luma dan Tata

2. Kosmologi Ilmiah

Berbagai macam teori kosmologi ilmiah sudah dikembangkan. Salah satu paling favorit adalah teori big bang. Sekitar 14 milyard tahun yang lalu tidak ada apa-apa di alam semesta ini. Yang ada hanya hampa quantum. Meski hampa, hampa quantum ini, tidak benar-benar hampa. Kehampaan ini, sejatinya merupakan lautan energi yang tersembunyi dalam samudera hampa quantum. Sedikit gangguan saja akan mengakibatkan ledakan besar, big bang.

Big bang ini terjadi sekitar 13,8 milyard tahun lalu yang kemudian terus mengembang sampai saat ini. Sejak big bang itu, kosmos terus ber-evolusi sampai terbentuk alam semesta seperti sekarang ini. Ada apa sebelum big bang? Tidak ada apa-apa. Tidak ada ruang. Tidak ada waktu. Hanya ada kehampaan, hampa quantum.

Bagaimana dengan masa depan? Alam semesta, sampai saat ini, terus berkembang. Jika “berkembangnya” alam ini terus menerus terjadi maka alam semesta akan menjadi begitu longgar. Ruang menjadi terlalu besar dengan materi yang konstan. Termasuk badan kita, badan manusia, menjadi terlalu longgar berubah jadi benda cair atau gas. Maka alam semesta akan hancur pada waktunya. Alam semesta akan berakhir. Skenario yang berbeda bisa dikembangkan. Alam semesta terus mengembang sampai ukuran tertentu lalu berbalik arak mengkerut, mengecil. Proses yang mengecil terus-menerus menyebabkan alam semesta makin terjepit dengan massa jenis begitu mampat. Alam semesta juga hancur, pada akhirnya.

3. CCC: Conformal Cyclic Cosmology

Perkembangan menarik dari kosmologi ilmiah adalah CCC. Di mana alam semesta berkembang lalu hancur, berkembang lagi, hancur lagi, berulang secara siklis tanpa batas akhir.

Teori big bang dirumuskan berdasar data pengamatan yang menunjukkan bahwa alam semesta saat ini sedang mengembang. Maka bila kita hitung balik, alam semesta adalah mengkerut. Dan diperoleh hasil perhitungan, pada waktu 13,8 milyard tahun yang lalu, radius alam semesta adalah 0 meter. Waktu itulah dianggap sebagai peristiwa big bang. Tidak ada apa pun sebelum big bang.

Hasil pengamatan kontemporer menunjukkan data adanya “jejak cahaya” sebelum waktu big bang (data dan interpretasi masih diperdebatkan). Maka peniliti menyimpulkan sudah ada alam semesta sebelum big bang. Karena itu, teori big bang mulai mendapat tantangan yang serius. Penrose, pemikir abad 21, mengusulkan teori baru sebagai pengganti teori big bang yaitu teori CCC. Dalam teori baru ini, peristiwa big bang merupakan satu bagian dari siklus alam semesta. Masih ada banyak siklus lainnya, tanpa batas.

4. Kosmologi Umum

Bisa kita lihat, kosmologi ilmiah berfokus kepada kosmos. Mereka tidak membahas hana, manusia sejati. Apalagi membahas mahana, tentu tidak. Meski hanya fokus kepada kosmos – materi dan energi – kosmologi tetap penuh misteri. Bagaimana bila kita kembangkan lebih luas: mahana – kosmos – hana? Tentu makin seru.

Bagaimana menurut Anda?

Perpres Miras Makin Jelas

Akhir Februari ini terbit perpres tentang miras – minuman keras. Di beberapa wilayah, di Indonesia, investasi miras menjadi sah, legal, berdasar perpres. Pro-kontra tentu muncul di mana-mana.

Yang kontra, menolak perpres miras, misalnya adalah seorang wakil ketua MPR. Pilpres miras ini bertentangan dengan pancasila, menurutnya. Bila benar bertentangan maka ini menjadi persoalan serius.

Yang pro, mendukung perpres miras, misalnya adalah dari Sulawesi Utara. “Saya pikir dengan ada ini bagus. Kalau bisa kita ekspor. Tapi harus lulus BPOM, kualitasnya bagus, supaya layak untuk dikonsumsi. Tentu ada mekanisme untuk lolos dari pengawasan BPOM dan Dinas Perdagangan,” kata Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPM-PTSP) Sulut, Franky Manumpil ketika dimintai konfirmasi detikcom, di Manado, Sabtu (27/2/2021).

Perubahan

Kita, presiden dan warga Indonesia, perlu fokus kepada solusi di dunia yang penuh perubahan ini. Solusi yang tepat untuk jadi fokus besama. Kesenjangan adalah masalah utama di negeri ini. Kita perlu fokus menemukan solusi kesenjangan – ekonomi, pendidikan, kesehatan, politik, dan lain-lain.

Sedangkan peraturan miras barangkali tidak perlu jadi fokus secara nasional, cukup menjadi fokus beberapa daerah tertentu saja. Dalam kerangka otonomi daerah, mestinya, peraturan miras bisa dirumuskan lebih baik. Dan semua menjadi lebih jelas.

Sementara, secara nasional kita bisa lebih fokus kepada menangani masalah nasional: kesenjangan di Indonesia.

Ukuran Pasti

Dalam hal kesenjangan, BPS sudah secara rutin menerbitkan ukuran yang pasti setiap 6 bulan berupa rasio Gini, saat ini G = 0,385 (tahun ini lebih buruk dari tahun lalu yang G = 0,381). Informasi ini penting dan bagus.

Saya mengusulkan agar BPS lebih sering menerbitkan nilai rasio Gini, atau indeks Gini, karena dengan bantuan teknologi, hal ini mudah dilakukan. Bahkan saya membayangkan grafik nilai Gini bisa realtime. Sehingga, kita bisa mengamati pergerakan kesenjangan di Indonesia. Sekaligus menjadi feedback setiap solusi yang kita terapkan.

Solusi Nasional

Menangani kesenjangan adalah solusi nasional yang terbukti di banyak negara. Artinya, negara miskin atau berkembang, yang kesenjangannya tetap tinggi tidak berhasil menjadi negara maju. Sementara negara yang kesenjangannya rendah maka berhasil bergerak menjadi negara maju. Kita ambil beberapa contoh negara tetangga.

Jepang, pada tahun 1960-an, menerapkan solusi melipatgandakan pendapatan penduduk miskin. Pemerintah dan warga bersatu untuk meningkatkan kesejateraan penduduk miskin, mengatasi kesenjangan. Hanya dalam waktu 7 tahun, Jepang berhasil menjadi negara maju dan mengentaskan kemiskinan dengan cara mengatasi kesenjangan ekonomi.

Sementara di tahun yang hampir sama, Indonesia mendukung konglomerasi yang berhasil mendorong beberapa konglomerat maju pesat. Konglomerat yang super kaya ini diharapkan akan menyerap banyak tenaga kerja dan mengurangi kemiskinan di Indonesia. Yang terjadi, barangkali kita sudah tahu, konglomerat memang tambah kaya tetapi pengangguran dan kemiskininan masih ada di mana-mana. Kita bisa belajar dari pengalaman ini.

Korea Selatan, pada tahun 1970-an sama miskinnya dengan Indonesia, menerapkan program kampung produktif. Di mana negara dan warga bersatu mendukung kemajuan kampung-kampung yang produktif. Benar saja, kampung-kampung produktif ini terus bertumbuh. Sampai-sampai pendapatan orang kampung bisa lebih besar dari mereka yang bekerja di kota. Kesenjangan berkurang, kemiskinan berkurang, dalam waktu beberapa tahun, Korsel berhasil menjadi negara maju.

Kita, akhir-akhir ini, punya program dana desa yang bagus. Program dana desa masih perlu terus kita perbaiki. Salah satu fokus penting adalah mendukung desa produktif. Kita perlu mengenali apa saja kemampuan produktif dari suatu desa untuk kemudian kita dukung menjadi lebih kuat, bahkan produk dari desa-desa ini kita dukung sampai ekspor. Semoga kesenjangan berkurang, kemiskinan berkurang, dan Indonesia menjadi negara maju.

Singapura, pada tahun 1980, mencanangkan program pendidikan gratis dari dasar sampai sarjana. Putra-putri terbaik Singapura berhasil menjalani pendidikan terbaik, gratis sampai sarjana. Setelah mereka menjadi generasi terbaik maka apa konsekuensi selanjutnya? Wajar saja, mereka makin mendorong negara Singapura menjadi negara maju. Kita sudah tahu itu. Tidak ada alasan putus sekolah. Pendidikan berkualitas tersedia untuk seluruh warga.

Akhir-akhir ini, kita di Indonesia, juga sudah mencananangkan pendidikan gratis meski baru sampai SD dan SMP. Banyak hal yang kita bisa dukung untuk lebih maju lagi. Misal kita mendorong agar pendidikan gratis untuk seluruh warga sampai sarjana. Dan gratis ini, benar-benar gratis bagi peserta didik. Tidak perlu ada biaya lain-lain. Tidak perlu ada biaya seragam, biaya LKS, biaya gedung, atau lainnya. Sehingga rakyat Indonesia benar-benar bisa sekolah sampai sarjana.

Apa yang bisa dibayangkan kemudian? Indonesia menjadi negara maju sebagaimana cita-cita kita bersama.

Bagaimana menurut Anda?

Tugas Pemimpin Hanya Satu

Tidak banyak, hanya satu. Tapi bisa diuraikan menjadi banyak cara, banyak target, dan banyak wacana. Tetap saja, tugas pemimpin hanya satu: memberikan hasil yang tepat dengan cara yang benar.

Berlaku bagi Anda pemimpin perusahaan, sekolah, wilayah, keluarga, atau bahkan bagi kita pemimpin terhadap diri sendiri. Karena hanya satu tugas pemimpin maka godaannya lebih banyak. Godaan ini mengaburkan tugas yang satu itu. Menjauhkan, bahkan melupakan.

The 5 Types of Leaders

Menyelesaikan Pekerjaan

Bukan tugas seorang pemimpin untuk menyelesaikan suatu pekerjaan. Pekerjaan membuat aplikasi online bukanlah tugas seorang pemimpin perusahaan dagang, misalnya. Aplikasi tersebut butuh modal, waktu, dan kreativitas. Penuh rintangan, dan akhirnya berhasil diciptakan aplikasi yang keren.

Tugas pemimpin memastikan bahwa aplikasi tersebut memberi hasil yang sesuai, misal meningkatkan penjualan. Bila semua pemakai puas dengan aplikasi tetapi tidak ada peningkatan penjualan maka pemimpin masih gagal. Dan caranya, prosesnya, pun harus benar.

Seorang presiden, gubernur, walikota atau pejabat lainnya bisa saja meresmikan banyak proyek pembangungan. Meresmikan gedung UMKM, bendungan, jalan tol, pasar baru, dan sebagainya. Semua itu bukan tugas pemimpin. Tugas pemimpin masih menunggu: apakah peresmian bendungan memberikan hasil yang diharapkan, misalnya menaikkan pendapatan petani termiskin dua kali lipat?

Peresmian proyek bisa dilakukan oleh siapa pun. Tetapi memberikan hasil yang nyata dengan cara yang benar hanya bisa dilakukan oleh pemimpin sejati. Pemimpin yang sibuk tidak menjamin menjadi pemimpin yang baik. Pemimpin yang memberi hasil tepat adalah pemimpin yang baik. Sibuk atau tidak sibuk bisa saja terjadi.

Sebagai pemimpin pribadi, hasil apa yang sudah kita berikan? Hasil apa yang akan kita berikan? Pastikan dengan proses yang benar pula.

Variasi

Kita butuh ukuran hasil yang tepat. Sehingga semua pihak bisa dengan mudah menentukan apakah hasil yang diberikan oleh seorang pemimpin sudah sesuai atau tidak. Tanpa ukuran, dan proses, yang tepat maka akan terjadi variasi tiada henti. Pemimpin akan gagal dalam kondisi ini. Kita perlu adil dalam menilai hasil kepemimpinan.

Hasil yang diinginkan adalah meningkatkan penjualan 7% (y-o-y) yang diukur oleh auditor independent, yang sudah disepakati. Ukuran ini sudah cukup jelas. Bila laporan penjualan menunjukkan 8% maka kita apresiasi pemimpin sudah berhasil, asumsi proses sudah benar. Bila laporan penjualan justru terjadi penurunan 2% maka pemimpin itu gagal. Tidak peduli apakah pemimpin tersebut sibuk atau tidak, tugas pemimpin memang fokus kepada hasil.

Tanpa ukuran yang jelas, pihak tertentu bisa berselisih. Misal cara mengukur penjualan atau auditor bisa saja berbeda. Ketika laporan menunjukkan penjualan turun 2%, ada pihak lain yang klaim penjualan justru naik 9%. Varaiasi semacam ini harus dihindari sejak awal.

Kita bisa baca menkeu menargetkan rasio ketimpangan di tahun 2020 adalah turun ke 0,380 dari tahun sebelumnya G = 0,381. Yang terjadi justru pada tahun 2020 rasio ketimpangan meningkat jadi G = 0,385. Ukuran tersebut didasarkan pada laporan BPS.

Meski menkeu gagal mencapai hasil barangkali kita bisa maklum karena kondisi sedang pandemi. Tetapi kita sulit paham karena terjadi korupsi di mensos. Dengan korupsi ini sulit diharapkan akan bisa mengurangi kesenjangan ekonomi rakyat.

Penjelasan vs Alasan

Tugas pemimpin memang berat: memberikan hasil. Bila mencapai hasil yang diharapkan maka tugas berikutnya adalah memberi penjelasan bahwa semua proses sudah benar. Tetapi bila gagal mencapai hasil maka tugas berikutnya menjadi lebih berat: penjelasan atau alasan.

Korupsi bisa menjadi alasan gagalnya mencapai hasil. Tetapi alasan sekedar alasan, tidak bisa menjadi pembenaran. Beda hal dengan pandemi, misalnya. Pandemi bisa dijelaskan, sebagai penjelasan. Jika semua proses sudah tepat, seharusnya sukses mencapai hasil, karena ada pandemi jadi gagal. Hal semacam pandemi bisa kita terima sebagai penjelasan.

Karena beratnya tugas pemimpin maka seluruh pemangku kepentingan perlu saling mendukung untuk suksesnya pemimpin. Mari kita ambil peran untuk mendukung pemimpin yang baik demi kebaikan kita bersama.

Bagaimana menurut Anda?

Pandemi Berakhir Juli 2021

Pertanyaan mendasar: kapan pandemi berakhir?

Pandemi berakhir, di Indonesia, pada bulan Juli 2021. Sayangnya akhir pandemi ini tidak kembali normal. Kita akan kembali ke normal yang tidak normal.

Berikut beberapa analisis saya berdasarkan data resmi Indonesia, WHO, dan pendekatan nilai reproduksi covid-19 yang saya kembangkan.

Idul Fitri Mei 2021

Tolok ukur penting ke depan adalah event lebaran 13 Mei 2021. Rakyat Indonesia akan mudik. Tahun kedua lebaran dalam suasana pandemi. Rakyat akan kumpul-kumpul dalam jumlah besar. Disusul acara hajatan, nikahan, dan sebagainya.

Bagaimana pun prokes, prosedur kesehatan, harus secara ketat diterapkan sepanjang lebaran 2021.

Jika setelah lebaran, sampai akhir Mei 2021, terjadi lonjakan kasus covid-19 maka pandemi tidak jadi berakhir di Juli 2021. Sementara, kita berharap, tidak terjadi lonjakan kasus di akhir Mei maka benar-benar pandemi bisa berakhir di Juli 2021.

Peran Mendikbud Mas Nadiem

Untuk mengakhiri pandemi di Juli 2021 peran besar ada di tangan mas menteri Nadiem, tentu perlu didukung presiden. Mas Nadiem perlu menginstruksikan sekolah dan kampus agar kembali membuka kelas tatap muka dengan standar prokes, mulai Juli 2021. Atau disesuaikan dengan semester baru terdekat.

Tidak cukup Mas Menteri memberi ijin saja. Di sini diperlukan komando lebih tegas. Menteri memerintahkan lembaga pendidikan untuk membuka kelas tatap muka dengan standar prokes. Tentu tetap ada persyaratan untuk mendapatkan ijin. Hanya yang lolos persyaratan yang diijinkan. Bagi yang tidak lolos maka akan dibantu oleh kementrian untuk memenuhi beragam persyaratan.

Sebelum pelaksanaan kelas tatap muka maka perlu dibuat simulasi dan strategi yang rapi. Misal jumlah siswa di dalam kelas dibatasi sekitar 5 sampai 10 orang. Lama belajar di kelas 1 sampai 2 jam tiap hari. Dalam seminggu, belajar 2 sampai 4 hari saja. Dan tentu saja kombinasi dengan belajar online tetap dijalankan.

Nilai Reproduksi R

Bulan Februari ini kita mencatat penurunan jumlah kasus baru dibanding bulan Januari. Di Indonesia, sekitar 9 atau 10 ribu orang kasus baru. Sementara beberapa minggu lalu sempat mencapai 15 ribu orang kasus baru dan tampak terus menanjak. Data global di dunia, menunjukkan pola yang mirip. Bulan Februari penambahan kasus baru di kisaran 400 ribu orang. Sebelumnya, pernah lebih dari 700 ribu orang kasus baru dalam sehari.

Analisis nilai R menunjukkan bahwa nilai R sempat turun menuju di bawah 1. Tanda kasus mereda. Lalu naik lagi di atas 1, kasus bertambah lagi. Untuk kemudian turun ke bawah 1 lagi. Saya kira pola ini akan berulang beberapa kali. Akibatnya pandemi berakhir. Kembali normal tapi tidak normal seperti yang dulu.

Prediksi saya, penambahan kasus baru di Indonesia akan berkisar antara 5 ribu sampai 15 ribu per hari. Akan lebih sering dekat-dekat di angka 10 ribuan. Barangkali itu kondisi kesetimbangan dinamis akhir dari pandemi.

Normal tidak Normal

Masyarakat akan kembali hidup normal tidak normal. Kegiatan ekonomi kembali normal. Kegiatan sosial akan kembali normal. Kegiatan keagamaan akan kembali normal. Tetapi akan tetap tidak normal dalam arti sebagian besar masyarakat akan disiplin pakai masker, jaga jarak, rajin cuci tangan.

Sebagian yang lain akan lebih berani tidak pakai masker. Mereka itu yang berpeluang besar berkontribusi ke angka penambahan kasus baru sekitar 10 ribu per harinya.

Vaksin untuk HI

Peran vaksin sangat diharapkan untuk membentuk herd immunity (HI), kekebalan bersama. Tetapi kita tahu proses vaksinasi perlu waktu bertahun-tahun lamanya. Bisa lebih dari 5 tahun di Indonesia. Belum lagi efektivitas (efikasi) vaksin hanya sedikit di atas 50%. Sehingga kita tidak bisa hanya mengandalkan kepada vaksin.

HI secara alami tampak perlu waktu lebih lama lagi. Jika 1 hari ada penambahan kasus sekitar 10 ribu orang maka dalam 1 tahun akan ada 3 jutaan orang imun baru, kebal. Untuk mencapai HI dari penduduk 270 juta jiwa barangkali perlu waktu 60 tahun atau lebih. Karena periode kebal terbatas maka orang yang kebal bisa rawan kembali. Artinya HI alamiah tampaknya tidak pernah terjadi.

Solusi: Normal Tak Normal

Solusi yang tersedia bagi kita tampaknya adalah solusi kesetimbangan dinamis: Normal Tak Normal.

Dilihat dari luar tampak sudah stabil. Dilihat dari dalam terus menerus ada penambahan kasus baru. Di saat yang sama ada yang sembuh dan meninggal. Angka-angka ini hampir seimbang.

Di lihat dari luar, kehidupan tampak kembali normal, dan seharusnya normal. Dilihat dari dalam, harus tetap ketat prokes bagi yang berminat. Yang tidak ketat prokes resiko tertular covid.

Mirip dengan kasus HIV-AIDS, seperti sudah normal tapi tidak normal. Maka solusinya memang normal tak normal.

Bagaimana menurut Anda?