Ekonomi Serakah

“Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudaranya setan dan setan itu ingkar kepada Tuhannya.” (QS 17:27)

Pandemi telah meluluh-lantakkan ekonomi nasional, bahkan ekonomi dunia. Solusi untuk memperbaiki ekonomi belum ditemukan sampai saat ini. Lebih sulit lagi, umat manusia belum menemukan solusi untuk pandemi. Sehingga harapan perbaikan ekonomi, tampak, sulit digapai.

1. Ekonomi Konsumsi
2. Mubazir
3. Mikro Global
4. Jalan Takwa

Saya sendirinya merumuskan solusinya adalah puasa: manusia mengendalikan diri, untuk kemudian menjadi orang bertakwa meraih prestasi.

BI Revisi Keatas Pertumbuhan Ekonomi Global di 2020 jadi -3,8% |  Infobanknews

1. Ekonomi Konsumsi

Bu Menteri, beberapa hari lalu, menyerukan agar masyarakat lebih banyak berbelanja. Masyarakat perlu meningkatkan konsumsi. Pada gilirannya, konsumsi yang tinggi akan menggerakkan roda ekonomi nasional. Di sisi lain, pertanyaan dari rakyat, “Untuk belanja pakai uang apa?” Pertanyaan sederhana, sulit jawabannya! Jika rakyat kecil tidak punya uang untuk belanja, maka, bagaimana bisa meningkatkan belanja.

Tetapi, saya kira, Bu Menteri benar dengan sarannya. Teori ekonomi saat ini, diukur pertumbuhannya, berdasar tingkat konsumsi. Makin besar konsumsi maka makin sehat ekonomi nasional suatu negara. Lagi pula, lebih mudah mengukur nilai konsumsi, dibanding mengukur nilai produksi, misalnya.

Sementara itu, pertanyaan wong cilik yang menyatakan tidak bisa belanja karena tidak punya uang juga benar adanya. Pemerintah sudah mencoba bagi-bagi uang berupa bantuan langsung tunai dan sebagainya. Tentu saja, hanya sebagian kecil wong cilik yang menerima bantuan ini. Akibatnya, tidak cukup untuk menggerakkan roda ekonomi.

Sulit bagi saya, pada awalnya, memahami bagaimana konsumsi menjadi andalan untuk meningkatkan ekonomi nasional. Dari kecil kita menerima ajaran, “Hemat pangkal kaya.” Sebaliknya berlaku, “Boros pangkal miskin.” Bagaimana pun, ekonom aliran Keynesian mempercayai peningkatan konsumsi adalah solusi ekonomi makro. Saya, akhirnya, bisa memahami argumen Keynesian, yang sudah berhasil menyelamatkan ekonomi Barat sejak krisis ekonomi 1930an. Dan berhasil memantapkan dominasi ekonomi Barat atas ekonomi dunia sampai akhir-akhir ini. Apakah itu semua kabar baik?

2. Mubazir

Meningkatkan konsumsi, tentu saja, mudah terjebak kepada perilaku mubazir, boros. Konsumsi makanan berlebih, konsumsi kuota terlalu banyak, konsumsi energi tingkat tinggi, dan lain sebagainya.

Lagi pula, kitab suci mengecam perilaku boros sebagai saudaranya setan yang ingkar kepada Tuhan. Kecaman yang sangat keras kepada pihak-pihak mubazir.

“Bermegah-megahan telah membuat kalian lalai. Hingga kalian masuk liang kubur.”

Dampak susulan dari boros, berlebihan, lebih parah lagi: lalai. Manusia lalai, terlena, dengan kenikmatan dunia. Lupa bahwa dunia ini hanya sementara. Ada kehidupan yang lebih hakiki. “Dan sungguh akhirat itu lebih baik bagimu dari yang awal (dunia).”

Resiko-resiko, selanjutnya, hidup hedonis: mengejar kenikmatan nafsu badani. Tidak sensitif terhadap penderitaan rakyat kecil. Korupsi, demi kenikmatan duniawi, terjadi di kalangan pejabat-konglomerat. Bahkan, korupsi, sampai menular ke petugas KPK segala. Ada kasus pencurian emas, barang bukti, sampai suap dari pejabat terkait.

Kita perlu kembali kepada puasa: menahan diri dari hal-hal yang halal. Makan, minum, dan berbagai hal yang halal dijauhi oleh orang yang berpuasa. Apalagi hal-hal haram maka pasti dijauhi lebih tegas lagi. Sikap mengendalikan diri ini bertujuan untuk membangun hidup bersama yang bermartabat, membangun masyarakat yang bertakwa, masyarakat yang meraih prestasi. Hidup jauh dari serakah, hidup penuh berkah.

3. Mikro Global

Teori ekonomi Keynesian, yang mengutamakan konsumsi atau agregat permintaan, sudah mendapat kritik sejak awal. Salah satunya dari para pendukung “Real Business Cycle”. Di mana, ekonomi perlu mempertimbangkan kasus real dari perputaran suatu usaha.

Pada akhirnya berkembang teori ekonomi “dynamic stochastic general equilibrium” yang mempertimbangkan segala aspek ekonomi. Termasuk di dalamnya mempertimbangkan kepentingan bisnis real, tingkat konsumsi, bahkan menggunakan model dinamis serta pendekatan stokastik. Juga mengkaji hubungan ekonomi mikro dengan makro. Intinya, ini adalah model ekonomi paling lengkap nan canggih. Kita bisa mengembangkan model dinamis-stokastik ini dengan bantuan komputer – dan matematika.

Semua berharap, teori ekonomi dinamis yang canggih ini akan bisa menyelesaikan masalah. Nyatanya tidak begitu. Banyak kegagalan di sana-sini. Salah satunya, pendekatan ini terlalu “kaku” karena menggunakan komputer dan matematika. Maka para ekonom lebih suka menggunakan pendekatan “spekulatif” para pakar ekonomi. Di sisi yang paling sulit, bagi teori dinamis, adalah tidak mampu memprediksi perilaku manusia. Secara teori, kita memprediksi bahwa manusia akan memilih profit yang lebih besar. Nyatanya, manusia kadang meninggalkan profit demi suatu kenikmatan. Manusiawi kan? Benar-benar sulit diprediksi.

4. Jalan Takwa

Solusi takwa, kembali, menjadi harapan kita bersama. Puasa mengendalikan diri dari hal-hal yang halal, sudah pasti menjauhi yang haram, apalagi korupsi. Fokus memberi kontribusi, mengukir prestasi, itulah makna takwa sejati. Kita memulai dari masing-masing pribadi, lanjut saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran, kemudian menyusun, atau memperbaiki, struktur sosial yang adil dan transparan.

Update 23 Februari 2023, Presiden Jokowi menyarankan agar rakyat lebih banyak belanja demi mendongkrak ekonomi nasional. Lebih seringlah ke restoran, nonton konser musik, dan jalan-jalan. Jangan biarkan uang mengendap di rekening. Belanjakan sebanyak-banyaknya.

Takwa Belanja

Menariknya, kitab suci menyerukan agar umat beriman lebih banyak membelanjakan hartanya di jalan takwa. Bagaimana caranya?

Perbanyaklah belanja untuk dibagikan kepada fakir miskin. Atau, bagikan uang Anda kepada fakir miskin agar fakir miskin membelanjakan uang itu sesuai kebutuhan mereka. Jangan biarkan uang Anda mengendap di rekening. Gunakan cara-cara bermartabat dalam berbagi.

Secara pribadi, kurangi konsumsi Anda. Kurangi belanja untuk keperluan pribadi. Tetapi, perbanyak belanja untuk keperluan rakyat. Biarkan uang Anda bermanfaat bagi rakyat kecil. Biarkan uang Anda sebagai penolong rakyat di dunia dan akhirat.

Bagaimana menurut Anda?

Persimpangan Takwa

“Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Quran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS 29 : 45)

Takwa memang ada di persimpangan. Titik temu. Sholat, salah satu bentuk takwa, adalah titik temu alam semesta dan Sang Pencipta. Petemuan horisontal dengan vertikal. Ada dalam diri manusia.

Di Persimpangan Jalan ~ Sebuah Tulisan

1. Mencegah Mungkar
2. Sekular Vs Takwa
3. Puasa Tawakkal

Seorang manusia, dan komunitas, menghadap kepada Sang Khalik. Menengadahkan tangan dan hati ke atas, vertikal. Kita, seharian, mengitari bumi, pengembaraan horisontal, sejenak, terbang ke langit. Melapor dan mengadu. Mohon bimbingan dan pertolongan.

1. Mencegah Mungkar

Pasti. Sholat itu mencegah dari tindakan keji dan mungkar. Sholat yang benar. Bila tidak begitu, artinya ada yang salah dalam sholat orang tersebut.

Kita, manusia, adalah mahkluk yang unik, paling sempurna. Manusia tercipta dari tanah – semua unsur horisontal. Di saat yang sama, manusia menerima tiupan Ruh Allah – unsur vertikal. Dalam sholat, kita kembali mempertemukan horisontal dan vertikal itu dalam satu titik temu: jiwa manusia.

Manusia jatuh bangun mengukir prestasi dengan takwa. Berbagai kesulitan terus kita tembus. Demi membangun bumi ini. Kesulitan ekonomi kita cari solusi. Kesenjangan sosial kita rumuskan. Lalu kita pecahkan. Ketimpangan politik, ketidakadilan, penindasan, kita perangi dengan membangun sistem yang adil. Kebodohan kita terangi dengan sistem pendidikan yang mencerdaskan otak dan hati nurani. Sungguh besar tugas untuk bertakwa ini.

Tugas bertakwa makin kompleks dengan datangnya era digital serba online. Teknologi canggih ini berpeluang untuk meningkatkan keadilan. Nyatanya, hanya segelintir orang meraup berjuta keuntungan dari medsos. Sementara berjuta orang lainnya hanya jadi penonton. Penonton yang membayar mahal dengan waktu dan kuotanya – serta hidupnya. Orang bertakwa bertugas mengarahkan kembali dunia digital ke jalan yang lurus. Bukan tugas yang mulus. Tapi harus.

Dalam menjalani tugas yang berat itu, manusia mendapat jalan kekuatan khusus dari Allah yaitu sholat. Manusia menghadap Allah dalam sholat. Melaporkan semua tugas menjalankan takwa yang begitu besar – alam semesta horisontal. Dengan menegaskan kembali komitmen vertikal, mengabdi kepada Allah.

“Kepada Mu kami mengabdi dan kepada Mu kami mohon pertolongan. Tunjukilah kami jalan yang lurus.” (QS 1 : 4-5)

Selama umat manusia menjalani sholat dengan baik maka mendapat bimbingan langsung dari Allah, lengkap dengan pertolonganNya. Dalam mengejar prestasi, manusia mengalami beragam cobaan. Serakah, jalan pintas, main belakang dan lainnya. Semua godaan bisa mengarah ke tindakan keji dan mungkar. Dengan sholat, maka perjuangan umat manusia terjaga dari perbuatan keji dan mungkar.

Kita mengawali sholat dengan mengakui keagungan Allah, Allah Maha Besar, memperkuat komitmen vertikal. Dan mengakhiri sholat dengan salam, menebarkan damai keselamatan ke seluruh pelosok alam semesta, komitmen horisontal yang dijiwai komitmen vertikal.

2. Sekular Vs Takwa

Dunia Barat mengalami kemajuan pesat – ekonomi, politik, sains teknologi – dengan program sekularisasi. Salah satu bentuknya adalah memisahkan klaim ajaran agama dari kepentingan umum. Beberapa negara lain, di berbagai belahan dunia, mencoba untuk menerapkan program sekularisasi. Tampaknya, tidak ada program sekularisasi yang berhasil di negara-negara Islam. Konsep dasar Islam adalah bertakwa – dan tawakkal. Program kemajuan peradaban manusia yang dijiwai nilai-nilai luhur spiritual.

Di Indonesia, ide sekularisasi pernah hangat pada tahun 1970an dan memunculkan polemik yang memanas. Cak Nur sendiri mengkaji bahwa ide sekularisasi di Indonesia terlalu mahal ongkos sosialnya. Sebaiknya kita tidak mengembangkan program sekularisasi di Indonesia.

Saya sendiri mengajukan program Indonesia Bertakwa. Indonesia berkomitmen mengejar prestasi dalam arti luas. Bertanggung jawab sesama umat manusia. Semua program takwa bisa dipertanggung-jawabkan dengan komunikasi rasional. Semua klaim takwa bisa kita diskusikan dengan cakrawala kemanusiaan yang beragam. Takwa mengajarkan umat manusia untuk menegakkan keadilan, menghormati perbedaan, dan menjadikan perdamaian bagi seluruh umat manusia.

3. Puasa Tawakkal

Guru ngaji saya menceritakan perbedaan takwa dan tawakkal. Takwa adalah program transformasi eksternal. Program mengolah seluruh alam semesta menjadi lebih baik demi kebaikan seluruh umat manusia dan alam semesta. Kita menjalani takwa dengan menjalani peran sebagai wakil Tuhan dalam mengelola alam. Semua ini tanggung jawab manusia, hakikat kemanusiaan.

Sementara tawakkal, masih menurut guru ngaji, adalah program menggarap sisi dalam, sisi diri internal kemanusiaan. Banyak rahasia diri dan Tuhan dalam petualangan tawakkal, berserah diri kepada Allah. Semua kebaikan, semua prestasi adalah milik Allah semata.

Kita perlu menerapkan konsep takwa dan tawakkal dengan tepat. Takwa adalah tanggung jawab kemanusiaan. Sementara tawakkal adalah rahasia bersama Tuhan.

Puasa adalah jalan bagi orang beriman untuk meningkatkan takwa dalam situasi yang sangat mendukung untuk tawakkal.

Bagaimana menurut Anda?

Terbakar Amal

Q.S 24:39
وَالَّذِيْنَ كَفَرُوْٓا اَعْمَالُهُمْ كَسَرَابٍۢ بِقِيْعَةٍ يَّحْسَبُهُ الظَّمْاٰنُ مَاۤءًۗ حَتّٰٓى اِذَا جَاۤءَهٗ لَمْ يَجِدْهُ شَيْـًٔا وَّوَجَدَ اللّٰهَ عِنْدَهٗ فَوَفّٰىهُ حِسَابَهٗ ۗ وَاللّٰهُ سَرِيْعُ الْحِسَابِ ۙ

“Dan orang-orang yang kafir, amal perbuatan mereka seperti fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi apabila (air) itu didatangi tidak ada apa pun. Dan didapatinya (ketetapan) Allah baginya. Lalu Allah memberikan kepadanya perhitungan (amal-amal) dengan sempurna dan Allah sangat cepat perhitungan-Nya.”

Puasa adalah proses mengendalikan diri agar bisa menjadi orang yang bertakwa, orang yang berprestasi. Kebalikannya bisa terjadi. Orang-orang mengira sudah melakukan kebaikan, ternyata itu adalah tipuan, itu adalah fatamorgana. Amalnya terbakar. Hangus. Tanpa sisa.

1. Ikhlas Ridha Allah
2. Berkata Kasar
3. Dengki
4. Kendali Takwa

Iri dengki dan berkata kotor dapat menghanguskan segala amal. Niat seseorang juga sangat menentukan. Apakah niat ikhlas untuk bertakwa? Atau hanya mencari muka?

  1. Ikhlas Ridha Allah

Segala amal bergantung pada niatnya. Hanya diri kita sendiri, dan Allah, yang tahu pasti akan niat hati. Niat ikhlas untuk mencari ridha Allah semata mengantarkan orang-orang beriman berperilaku takwa sejati, meraih prestasi penuh arti.

Ketika kita akan bertindak, misal membuat konten digital, maka niatkan itu semua untuk mendapat ridha Allah. Dengan harapan konten digital itu bermanfaat bagi seluruh umat. Berbagi ilmu melalui media sosial. Pendidikan Indonesia menjadi lebih maju. Anak-anak menjadi lebih semangat penuh motivasi belajar online dan offline.

Bila ada komen negatif, nyinyir kepada konten kita maka itu menjadi masukan bagi kita. Tujuan kita bukan mencari pujian, bukan mencari komen dukungan, bukan mencari like yang banyak. Tujuan kita adalah berbagi ilmu, demi meraih ridha Allah. Saya, paman apiq, sudah menerima ratusan atau ribuan komen negatif. Anggap saja itu sebagai masukan, gratis, untuk memperbaiki diri. Apalagi komen positif dan doa-doa yang baik juga berlimpah dari netizen.

2. Berkata Kasar

Disebutkan dalam berbagai riwayat ada orang yang berpuasa namun tidak memperoleh apa-apa kecuali lapar dan dahaga saja. Salah satu penyebabnya adalah mereka masih berkata kasar, kotor, atau menyakiti orang lain. Di era digital ini, mudah sekali untuk berkata kasar. Komen kasar dapat dilakukan oleh setiap orang. Bahkan dengan menggunakan nama akun palsu, mereka mengumbar kata-kata kotor, merasa aman tidak ada yang tahu. Sayang sekali itu semua menghapus kebaikan amal puasa. Tebakar tanpa sisa.

Inti ibadah puasa adalah mengendalikan diri dari hal-hal yang halal, apalagi haram. Makan, minum, hubungan badan adalah hal-hal yang halal. Orang puasa tidak melakukan hal-hal halal itu dari pagi sampai maghrib. Maka kata-kata kasar, yang hukumnya haram, harus lebih jauh ditinggalkan oleh orang-orang yang berpuasa. Selanjutnya orang-orang berpuasa fokus kepada bertakwa, meraih prestasi, dengan memberi kontribusi. Termasuk kontribusi positif melalui media digital. Tentu kita bisa.

Sedekah, berbagi makanan atau uang, adalah sebentuk tindakan takwa yang berdampak sosial positif. Tapi bila diikuti dengan kata kasar, atau mengungkit-ungkitnya, atau pamer, pahala sedekah itu bisa pudar tanpa sisa. Bagai fatamorgana yang menipu orang kehausan.

3. Dengki

Iri dengki, hasad, merupakan penyakit hati yang berbahaya. Menghancurkan kemanusiaan. Kita perlu berlindung dari bahaya iri dengki.

“Dan dari keburukan orang-orang dengki ketika mendengki.”

Pertama, iri dengki bisa mencelakai orang lain sebagai korbannya. Karena iri bisa berlanjut kepada tindakan menyebarkan keburukan orang lain, fitnah, dan lain-lain. Tentu saja hal ini merugikan orang lain. Bahkan dalam kehidupan politik, iri dengki, bisa berbentuk menjatuhkan jabatan politik pihak lain dangan beragam cara, termasuk dengan cara-cara yang keji. Padahal mereka yang berperilaku iri dengki, tetapi masyarakat yang menanggung rugi. Semoga kita terlindung dari orang-orang dengki.

Kedua, iri dengki menghancurkan pelakunya itu sendiri. Orang yang iri hanya fokus untuk memusuhi orang lain. Tidak ada pikiran darinya untuk mendorong kemajuan bersama. Orang yang iri, demi mencapai nafsu amarahnya, bisa melampaui batas dengan melanggar beragam aturan hukum. Pada gilirannya, resiko pidana bisa menimpa dirinya.

4. Kendali Takwa

Takwa menjadi solusi dengan cara mengendalikan diri, dengan latihan puasa. Dengan kesungguhan hati menjalankan puasa, memperbanyak amal kebajikan, memperbanyak mengkaji kitab suci, dan menghiasi dengan amalan-amalan hati semoga kita menjadi orang-orang yang bertakwa.

Bagaimana menurut Anda?

Tangan-Tangan Takwa

“(yaitu) mereka yang beriman kepada yang gaib, melaksanakan salat, dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka.” (QS 2 : 3)

Sebagai orang beriman kita dituntut untuk berbagi sebagian dari rejeki yang Allah berikan kepada kita. Karena kita di era digital, maka berbagi rejeki digital sama pentingnya, bahkan bisa lebih penting.

1. Tangan Di Atas: Strategi Terbaik
2. Sedekah Digital
3. Pengemis dan Pengamen: Masalah Mudah
4. Kesenjangan Ekonomi: Masalah Susah

Untuk bisa berbagi, pertama, kita harus berjuang dengan jalan takwa agar Allah melimpahkan rejeki kepada kita. Allah sudah berjanji dalam AlQuran bahwa Allah memberikan jalan keluar dan rejeki dari arah yang tak disangka-sangka bagi orang yang bertakwa.

Kedua, kita berbagi rejeki itu, yang merupakan karunia Allah, dengan jalan takwa pula. Dengan strategi dan proses terbaik. Membaca situasi lingkungan sekitar, memutuskan apa yang paling dibutuhkan masyarakat, dan menyalurkan dengan proses yang aman.

1. Tangan di Atas: Strategi Terbaik

Barangkali kita sudah akrab dengan ungkapan bahwa tangan di atas lebih baik dari tangan di bawah. Hal ini benar secara jasmani dan ruhani. Orang-orang yang bersemangat memberi, tangan di atas, selalu punya terobosan untuk mencari rejeki. Pikirannya luas, wawasannya makin luas, dan kreatif. Secara jasmani, semangat memberi ini, menghasilkan energi yang begitu kuat bagi kita untuk terus maju.

Posisi tangan di atas lebih banyak manfaatnya bagi kita. Tangan di atas adalah strategi terbaik bagi kita, mau pun, bagi masyarakat luas.

Maka kita perlu mengajak agar lebih banyak orang memposisikan diri sebagai pemberi, tangan di atas. Masyarakat kita menjadi lebih bahagia dengan tangan di atas. Masyarakat juga lebih produktif dengan tangan di atas. Lebih banyak menciptakan lapangan kerja. Dimulai dengan mencipta lapangan kerja untuk diri dan orang terdekat dan terus berkembang.

Tetapi, tangan di bawah tidak lebih buruk.

Barangkali, ada yang mengira bahwa tangan di bawah itu lebih buruk. Tidak. Tidak ada penilaian semacam itu. Kita tidak punya hak menilai orang lain, yang tangannya di bawah, yang menerima uluran tangan adalah tidak lebih buruk. Mereka justru telah berjasa kepada kita, memberi kesempatan bagi kita untuk berperan sebagai orang dengan tangan di atas. Saling membantu sesama teman, saudara, atau kenalan adalah hal yang baik.

Saya pernah bertanya kepada guru ngaji, “Apakah sebaiknya kita memberi sedekah kepada pengemis?”

“Tergantung, pengemis itu datang ke kita lebih dari arah kiri atau kanan?”
“Kalau arah kanan?”
“Berilah dia sedekah. Karena dia mengingatkanmu bahwa rejeki Allah itu amat luas.”
“Kalau dari arah kiri?”
“Berilah dia sedekah. Karena dia mengingatkanmu bahwa ampunan Allah itu luas.”

2. Sedekah Digital

Ada dua sedekah digital yang perlu kita bahas di sini. Pertama adalah pengumpulan dan penyaluran dana secara digital. Yang kedua adalah sedekah yang merupakan konten digital.

Pengumpulan dana melalui media digital memang cepat, mudah, dan murah. Tetapi resiko penipuan bisa terjadi melalui media digital.

  1. Percayalah hanya kepada pihak, panitia, yang Anda sudah pernah bertemu di alam nyata. Hati-hati dengan pihak yang hanya kenal di media sosial belaka.
  2. Pertimbangkan apakah uang sedekah Anda akan disalurkan ke fakir miskin atau digunakan oleh panitia untuk membayar iklan di media sosial? Membayar selebriti digital, youtuber, selebgram, influencer, atau lainnya?
  3. Jika Anda jadi panitia pengumpul sedekah melalui media digital sebaiknya fokus ke calon donatur yang sudah saling kenal di dunia nyata. Hindari menggunakan iklan digital untuk pengumpulan dana. Banyak resiko penyalahgunaan atau penipuan.

Sedangkan sedekah digital yang berupa konten digital adalah tanggung jawab sosial kita sebagai warga dunia digital.

Pernah saya ceritakan bahwa sedekah konten digital yang berupa konten edukatif memang sulit tapi harus dilakukan. Para youtuber besar di Indonesia, dan dunia, perlu komitmen satu kali atau beberapa kali memproduksi konten edukasi untuk penggemar mereka. Kita bisa membayangkan betapa besar manfaatnya bila youtuber dengan subscriber 20 juta orang berbagi konten edukasi. Kita juga memimpikan trending media sosial beberapa kali didominasi oleh konten-konten edukasi. Berapa besar dampak positifnya?

Mari manfaatkan media digital untuk kemajuan bersama!

3. Pengemis dan Pengamen: Masalah Mudah

Pemerintah beberapa kali meluncurkan program untuk memberantas pengemis. Tampaknya, lebih banyak gagalnya dari berhasilnya. Kita benar-benar perlu menemukan strategi untuk menyelesaikan masalah pengemis dan pengamen ini. Salah satunya, pemerintah perlu mengajak dengan baik keterlibatan aktif segenap warga. Tidak cukup hanya melarang warga bersedekah kepada pengemis.

Dengan asumsi bahwa banyak warga yang ingin bersedekah kepada fakir miskin, pengemis, dan pengamen maka program yang baik dari pemerintah pasti akan didukung oleh warga.

4. Kesenjangan Ekonomi: Masalah Susah

Masalah besar bagi negara berkembang adalah kesenjangan ekonomi, termasuk di Indonesia. Lebih-lebih pada kondisi pandemi maka kesenjangan makin melebar, makin bahaya. Sebenarnya, di negara maju juga terjadi kesenjangan ekonomi. Tetapi karena pendapatan orang termiskin di negara maju adalah relatif besar maka kesenjangan ini, dampaknya, tidak separah di negara miskin.

Kemiskinan bisa disebabkan oleh faktor personal, orangnya memang malas, tetapi lebih banyak karena faktor struktural, sistem ekonomi yang tidak adil, terjadi korupsi oleh pejabat dan konglomerat.

Solusi untuk mengatasi kesenjangan ekonomi ini sudah saya bahas di beberapa tulisan saya terdahulu. Di antaranya: meningkatkan kualitas pendidikan dan pemerataan ke seluruh penjuru, penyediaan beasiswa untuk seluruh siswa, penyediaan fasilitas kesehatan, dukungan kepada sektor riil, pembersihan mafia pengadilan, pembersihan korupsi, dan lain-lain.

Dari beragam masalah di atas, tangan di atas, sebagai pemberi adalah salah satu solusi yang bisa kita kembangkan untuk memajukan kehidupan bersama sebagai wujud takwa kita.

Bagaimana menurut Anda?

30 Renungan Takwa: Berprestasi Sepanjang Masa

Makna dari takwa adalah berprestasi. Bukan sebarang prestasi. Takwa adalah prestasi yang diraih sesuai tuntunan ilahi. Semakin Anda bertakwa maka Anda semakin berprestasi.

10 Fakta Unik Masjid Nabawi

Berikut ini adalah 30 Renungan – tulisan singkat – yang saya tuliskan harian, semoga mendapat pertolonganNya, selama Ramadhan 1442 H (2021 M).

Prolog

01. Puasa Agar Berprestasi
02. Gelap Semua
03. Tobat Positif
04. Tolong Menolong Takwa
05. Perilaku Terbaik
06. Akhir Takwa
07. Beda Takwa
08. Jangan Dusta
09. Balasan Kebaikan
10. Masyarakat Takwa Berprestasi
11. Hukum Takwa
12. Tangan-Tangan Takwa
13. Terbakar Amal
14. Persimpangan Takwa
15. Ekonomi Serakah
16. Orang-Orang Unggul
17. Takwa Berpasangan
18. Bakti Anak Ibu Bapak
19. Pernikahan Langit
20. Framing Ayat Suci
21. Kebaikan Berlimpah
22. Struktur Takwa
23. Prospek Sekularisasi
24. Gelombang Sekularisasi
25. Petaka Sekularisasi
26. Candu Agama Dogmatis
27. Takwa Ekonomi Manusia
28. Takwa Virtual Aktual
29. Takwa Manusia Bebas
30. Takwa Awal dan Akhir

Epilog

Hukum Takwa

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu.” (QS 4 : 29)

Hukum untuk menjalankan takwa adalah wajib, khususnya, bagi orang-orang yang beriman. Dan lebih wajib lagi, ketika, bulan puasa. Ditegaskan, tujuan puasa adalah agar kalian menjadi orang-orang yang bertakwa. Yaitu, yang bermakna, agar kalian menjadi orang yang berprestasi sesuai tuntunan ilahi.

Hukum, peraturan dan undang-undang, yang seharusnya sebagai pegangan hidup bersama bermasyarakat, dari dulu, selalu bisa dipelintir untuk menguntungkan pihak-pihak tertentu saja. Kita mengenal istilah mafia hukum, yang bisa mengatur hukum menjadi tajam ke bawah dan tumpul ke atas. Peradaban manusia terancam hancur dengan adanya mafia hukum.

Definisi Ilmu Hukum | Jaringan Dokumentasi dan Informasi Hukum Provinsi  Kalimantan Barat

1. Taat Hukum
2. Mafia Hukum
3. Melanggar Hukum

Untuk meraih prestasi bersama, kita, memerlukan kepastian hukum. Yang menjamin setiap anggota masyarakat bisa bertakwa, berpartisipasi aktif, sesuai kapasitas masing-masing. Bagaimana pun, kekuatan hukum ada batasnya. Maka kita perlu, semangat dari segenap warga, menjalankan hukum yang dijiwai dengan takwa: menjalankan hukum yang senantiasa, penuh kesadaran, diawasi oleh Allah dan dipertanggung-jawabkan kepada Allah.

  1. Taat Hukum

Orang beriman yang takwa, tentu saja taat hukum. Lebih dari itu, orang takwa senantiasa memberi kontribusi lebih besar dari sekedar menjalani tugas. Kita, orang bertakwa, adalah wakil Tuhan di alam ini. Maka kita perlu mencari cara terbaik untuk mengelola alam semesta. Menjaga keseimbangan alam, kelestarian alam, di saat yang sama memanfaatkan alam agar produktif untuk kebaikan bersama.

Dalam menjalankan tugas sebagai wakil Allah, kita, sering berhadapan dengan orang lain, yang juga menjalankan peran sebagai wakil Allah. Ketika bisa kerja sama maka sinergi adalah pilihan terbaik di antara umat manusia. Di saat-saat tertentu, tidak ada titik temu, maka saling respek adalah yang paling penting. Masing-masing pihak, dengan caranya, berbakti berkontribusi untuk kemajuan negeri.

Ada kalanya juga terjadi perselisihan, meski masing-maing pihak sama-sama menjalankan tugas bertakwa, membangun negeri. Maka sistem hukum menjadi solusi agar masing-masing pihak tetap bisa berpartisipasi. Tersedia hukum dagang, hukum waris, hukum pidana, hukum digital, dan lain-lain. Selama setiap pihak taat kepada hukum maka segala perselisihan dapat diselesaikan dengan baik. Secara musyawarah atau pun pengadilan yang adil.

Dan kita tahu, di jaman digital sekarang ini, masalah hukum berdampak besar. Misalnya pencurian data pribadi, secara online, dapat membelokkan arah politik. Yang pada gilirannya bisa merugikan kepentingan umat. Maka orang-orang beriman perlu memahami secara benar hukum di dunia digital agar bisa mewarnai dunia digital dengan nilai-nilai positif.

2. Mafia Hukum

Pelaku pelanggaran hukum adalah suatu masalah. Tetapi mafia hukum lebih parah.

Pelanggar hukum dapat dihentikan dengan hukum. Sementara, mafia hukum tidak bisa dihentikan dengan hukum. Mereka, mafia hukum, justru memanfaatkan hukum untuk kepentingan sepihak. Setiap aturan hukum, ditafsirkan, menguntungkan para mafia hukum.

“Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang bathil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui.” (QS 2 : 188)

AlQuran memberi peringatan yang keras kepada mafia hukum seperti itu. Meski mafia hukum bisa lolos dari hukum dunia tetapi mereka tidak akan lolos dari hukum akhirat kelak – siksa yang amat pedih. Bahkan sewaktu-waktu, adzab bisa saja menimpa mafia hukum di dunia ini. Tak ada yang bisa menolong bila waktunya tiba.

Sewaktu kecil, saya mendapat kisah dari guru ngaji yang menyatakan bahwa mafia hukum adalah dosa terbesar. Karena mereka adalah orang cerdas yang seharusnya memanfaatkan hukum untuk kebaikan, justru, membelokkan hukum demi nafsu syahwat belaka.

“Ada sepasang suami istri yang kaya raya. Mereka tentu wajib membayar zakat dalam jumlah yang besar. Karena kekayaan itu milik Si Suami maka yang wajib membayar zakat adalah Suami. Syarat wajib membayar zakat, secara hukum, adalah sudah memiliki harta kekayaan tersebut dalam satu tahun. Menjelang waktu satu tahun tiba, Si Suami memberikan semua kekayaannya kepada Istri. Karena Istri baru memiliki kekayaan beberapa hari maka ia tidak wajib membayar zakat. Sebelas bulan berikutnya, Istri hampir tiba waktunya membayar zakat. Maka Istri itu menyerahkan semua kekayaannya kepada suami, sehingga tidak wajib bayar zakat. Dan begitu seterusnya, pasangan suami-istri itu tidak pernah membayar zakat. Dan tidak melanggar hukum yang berlaku.”

Mafia hukum sudah ada sejak jaman dulu dan sekarang makin canggih.

Solusi untuk mengalahkan mafia hukum adalah kita memerlukan ahli-ahli hukum yang berintegritas tinggi, beriman, dan bertakwa.

Misal, untuk contoh kasus suami-istri di atas, yang mengakali hukum untuk tidak membayar zakat, bisa dibuatkan hukum pajak atas hibah. Setiap suami menyerahkan hartanya ke istri, hibah, maka kena pajak. Begitu juga, ketika, istri hibah ke suami. Bagaimana pun, mafia hukum akan tetap bisa menemukan cara untuk mengakali hukum hibah yang baru.

3. Melanggar Hukum

Ada kalanya, tanpa sengaja seseorang melanggar hukum ringan. Atau bahkan dengan sengaja melanggar hukum ringan demi kebaikan yang lebih besar.

Ilustrasi yang menarik adalah kartu kuning dalam permainan sepak bola. Wasit memberikan kartu kuning kepada pemain yang melanggar hukum – aturan main sepak bola. Sering kali, pemain terbaik dunia terkena kartu kuning dalam usahanya untuk mencetak gol, mencetak kemenangan. Kartu kuning, akibat pelanggaran hukum, adalah resiko yang sepadan untuk mencetak gol. Pemain yang tidak mau kena kartu kuning maka bisa saja main aman di pinggir lapangan. Dia tidak pernah melanggar, pun tidak pernah mencetak gol. Sementara pemain dunia yang sukses, berulang kali, kena kartu kuning.

Orang beriman sering dihadapkan kepada persimpangan hukum dalam menjalankan takwa. Misal, orang beriman tidak boleh menyentuh kulit aurat lawan jenis.

Terjadi kebakaran rumah secara tiba-tiba. Penghuni rumah itu adalah seorang wanita muda yang sedang mandi, telanjang, terjebak di kamar mandi. Kondisi gawat. Seharusnya, wanita telanjang itu bisa melompat keluar untuk menyelamatkan diri. Tetapi dia panik, hanya bisa teriak histeris. Sementara api makin berkobar, berbahaya. Seorang lelaki, beriman, menerobos api masuk ke kamar mandi itu. Menggendong si wanita, membawa keluar untuk diselamatkan. Dan selamatlah nyawanya.

Dalam situasi seperti itu, lelaki beriman, telah melanggar aturan dengan menyentuh kulit aurat lawan jenis. Lelaki itu pantas kena kartu kuning. Tetapi lelaki itu sudah berhasil menyelamatkan nyawa seorang manusia, berhasil mencetak gol kemenangan.

Selalu ada persimpangan. Tugas bertakwa adalah, termasuk, berpikir memberikan kontribusi terbaik bagi sesama, ketika di persimpangan, ketika situasi kacau, ketika chaos.

Sehingga, umat manusia menjalani hukum bukan seperti robot, yang selalu taat. Bukan seperti komputer, yang selalu patuh terhadap programnya. Bukan pula seperti mafia, yang selalu membelokkan hukum. Tetapi, umat manusia menjalani hukum sebagai orang yang beriman. Yaitu, orang yang punya pilihan untuk taat atau membangkang. Dengan suka atau duka, orang beriman memilih taat kepada aturan ilahi.

Bagaimana menurut Anda?

Masyarakat Takwa Berprestasi

“Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan diri mereka.” (QS 13 : 11)

Perintah berpuasa tidak ditujukan kepada seseorang yang beriman, tetapi ditujukan kepada semua orang beriman. Pun tujuan berpuasa adalah agar semua orang beriman menjadi orang-orang yang bertakwa. Berpuasa dimulai dari individu-individu untuk kemudian bersama-sama membangun masyarakat berprestasi.

Pengertian Masyarakat, Unsur, Ciri, Jenis, Syarat dan Bentuk

1. Teori Personal
2. Teori Sosial
3. Masyarakat Berprestasi

1. Teori Personal

Sebagaimana sering kita bahas bahwa setiap orang bertanggung jawab atas dirinya sendiri. Apalagi, masing-masing dari kita adalah khalifah (wakil) Allah di muka bumi. Hanya manusia, hanya kita, yang terpilih mewakili alam semesta dan mewakili Tuhan secara bersamaan.

Orang-orang yang beriman, mukmin, memiliki karakter unggul secara personal.

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal.” (QS 8 : 2)

Orang-orang beriman tersentuh hatinya ketika dibacakan ayat-ayat suci. Alam semesta adalah ayat-ayatNya. Maka orang-orang beriman selalu berusaha untuk bertakwa di mana pun berada, selalu ada ayatNya. Dia menebar kebaikan, menolong sesama, dan saling menasehati dalam kesabaran. Takwa mereka, prestasi mereka, berlandaskan dan bertujuan untuk mendapat ridha Allah. Ikhlas sepenuh hati.

Mereka adalah agen perubahan menuju masyarakat berprestasi. Mereka adalah individu-individu yang menerima, dengan lapang dada, kondisi lingkungan yang sulit. Mempelajari situasi, lalu berkontribusi sesuai kapasitasnya dalam bidang ekonomi, pendidikan, sosial, kesehatan, politik, dan sebagainya.

Di satu sisi, orang beriman adalah orang yang paling bertakwa, paling berprestasi dengan memberi kontribusi. Di sisi lain, orang beriman adalah orang-orang yang bertawakkal, berserah diri kepada Allah. Mereka yakin semua yang terjadi di alam semesta adalah yang terbaik sesuai skenario Allah. Maka tidak ada keluh kesah bagi orang beriman. Tidak ada nyinyir, tidak ada konspirasi, tidak ada kelicikan, pun tidak ada korupsi bagi orang beriman. Hanya ada takwa dan tawakkal.

2. Teori Sosial

Peran masyarakat sangat besar untuk membentuk karakter masing-masing individu. Barangkali masyhur, terkenal, di masyarakat kita, “Setiap bayi terlahir suci, orang tuanya yang menjadikan dia jadi Majusi atau lainnya.” Peran orang tua dan masyarakat luas sangat besar dalam pendidikan anak.

Dari sudut pandang teori sosial, kemajuan masyarakat dan individu lebih ditentukan oleh sistem sosial. Meski peran masing-masing individu ada, namun, peran terbesar ada pada sistem masyarakat. Maka, peran negara dan pemerintahan menjadi penting. Apalagi, saat ini, kita sedang berada di jaman digital dan pandemi. Kebijakan pemerintah yang tepat, benar-benar, diharapkan menjadi solusi terbaik.

Media online digital, media sosial, bergerak dari suatu inovasi tanpa regulasi. Maksudnya, keunggulan dari media sosial ada pada sifatnya yang bebas. Setiap orang bebas mengungkapkan opini dan pengalamannya melalui media sosial tanpa ada batasan yang ketat dari pemerintah. Seperti kita duga, kebebasan di media sosial melahirkan orang-orang sukses baru sekaligus ancaman terhadap hidup bermasyarakat.

Salah satu yang menjadi sorotan adalah konten digital saat ini nyaris dipenuhi oleh konten pamer kekayaan, obrolan kepo, hiburan receh, dan lain-lainnya. Sementara konten yang bermuatan edukasi teramat sedikit. Lebih parah lagi, konten edukasi yang sedikit kuantitasnya itu, malah lebih sedikit lagi peminatnya. Situasi seperti ini tidak sehat secara sosial. Maka kita perlu ada suatu gerakan atau kebijakan dari yang berwenang agar konten-konten edukasi lebih terangkat sehingga membawa kemajuan bagi masyarakat luas.

3. Masyarakat Berprestasi

Sukses sebagai konten kreator dengan jutaan subscriber dan penghasilan ribuan dolar adalah tanda bahwa ia seorang yang berprestasi. Tetapi saya ragu apakah prestasi seperti itu juga termasuk dalam makna takwa? Sebagaimana sering saya sebutkan, makna takwa adalah berprestasi dengan mengikuti perintah Allah dan menjauhi larangan-laranganNya.

Meski berhasil menggaet jutaan subscriber, bila konten videonya tidak bermanfaat bagi masyarakat maka itu bukan takwa. Barangkali itu sukses dalam arti duniawi. Kita membutuhkan masyarakat yang berprestasi untuk duniawi dan ukhrowi (dunia akhirat). Dan, media digital bisa menjadi salah satu sarana untuk menciptakan masyarakat yang berprestasi.

Saya sendiri mengelola beberapa canel edukasi, yang saya harapkan bisa memberi manfaat bagi masyarakat luas. Beberapa teman pengelola canel edukasi sering menceritakan bahwa membuat konten edukasi sulit karena harus melakukan riset dulu agar kontennya bernilai benar. Meski sulit, penontonnya tetap sedikit. Berbeda dengan konten iseng-iseng yang bikinnya tanpa riset tapi yang nontonnya bisa jutaan orang.

Kita perlu inovasi untuk menemukan cara agar konten edukasi lebih berkembang di masyarakat yang pada gilirannya mendorong terciptanya masyarakat berprestasi. Saya menemukan cara membuat konten video edukasi yang mudah – tidak sulit lagi. Hanya dengan alat seadanya, handphone biasa, kita sudah bisa membuat konten edukasi yang berkualitas. Sedangkan cara agar video edukasi ditonton masyarakat secara luas dan banyak, ternyata memang sulit dilakukan. Meski pun ada beberapa cara yang bisa dicoba.

Beberapa hari lalu saya membuat video edukasi yang menjadi trending di youtube. Sudah ditonton ratusan ribu orang hanya dalam beberapa menit. Tentu itu luar biasa, surprise buat saya. Saat itu masyarakat sedang membutuhkan informasi bagaimana cara menentukan tanggal 1 Ramadhan. Maka saya membuat video edukasi cara menentukan 1 Ramadhan dengan metode hisab rukyat dan beberapa saran untuk menyikapinya dengan baik. Terbukti, video tersebut berhasil menjadi video trending di youtube.

Dengan semangat takwa, meraih prestasi, kita perlu terus saling bekerja sama memajukan negeri dan alam ini.

“Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih.” (QS 76:9)

Kita lakukan semua dengan penuh ikhlas dan hanya mengharap ridho dariNya.

Bagaimana menurut Anda?

Balasan Kebaikan

“Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan.” (QS 55 : 60)

Guru ngaji saya menceritakan, “Itu adalah ayat yang paling indah.” Setiap ayat suci memang indah. Kita, sebagai manusia, mempunyai pengalaman masing-masing yang unik. Ada kalanya, ayat-ayat tertentu begitu mengena ke dalam hati seseorang. Ayat suci itu begitu istimewa menyentuh jiwa kita. Sehingga, saya setuju dengan guru saya. Ayat suci paling indah adalah, “Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan.”

Setiap kita berbuat kebaikan maka, pasti, mendapat kebaikan. Bahkan balasan kebaikan itu lebih besar dari kebaikan pertama yang kita perbuat. Karena kita mendapat balasan kebaikan, maka kita melakukan kebaikan lagi. Dan, pasti, kita mendapat balasan kebaikan lagi yang lebih besar. Dengan demikian, alam semesta ini bertabur, dipenuhi, kebaikan demi kebaikan.

Hidup yang bertabur kebaikan, tentu, menjadi indah. Bila demikian, mengapa ada orang yang berbuat jahat? Mengapa ada orang yang menderita? Mengapa ada orang yang tidak bahagia?

1. Prestasi Kebaikan
2. Memaknai Kebaikan
3. Pengorbanan Sedekah
4. Sedekah Kaya Miskin
5. Godaan Nafsu
6. Kebaikan Abadi

Kita akan membahas secara bertahap.

1. Prestasi Kebaikan

Tujuan kita berpuasa adalah untuk menjadi orang yang bertakwa, orang yang berprestasi. Salah satu wujud nyata dari takwa adalah amal kebaikan. Yang dijamin langsung oleh Allah dibalas dengan kebaikan lagi, yang lebih besar. Balasan ini langsung terjadi di dunia dan berlanjut di akhirat. Semoga kita termasuk orang-orang yang berbuat kebaikan.

“Barang siapa berbuat kebaikan maka untuk dirinya.”

Kebaikan, amal sholeh, bisa berupa kebaikan personal atau sosial. Kebaikan personal, jelas, untuk diri kita sendiri. Bahkan kebaikan sosial juga untuk diri kita sendiri, yang berdampak luas, menjadi kebaikan untuk orang lain.

Di bulan suci, misalnya, kita memperbanyak mengkaji kitab suci. Ini sejenis kebaikan personal. Berdampak baik kepada diri kita sendiri yang membaca AlQuran. Menariknya, membaca AlQuran, meski tidak paham bahasa Arab, tetap merupakan suatu kebaikan. Bahkan lantunan ayat suci ini membawa kebaikan kepada alam sekitarnya. Memperoleh percikan berkah kitab suci. Apalagi bila kita membaca kitab suci sambil mendalami maknanya, dalam bahasa Arab dan terjemahnya, maka itu menjadi kebaikan yang berlipat ganda.

Membayar zakat dan berbagi sedekah adalah kebaikan sosial. Kita perlu meningkatkan kepedulian sosial di bulan suci untuk dilanjutkan di bulan-bulan berikutnya. Berbagi sedekah, tampaknya, membuat harta kita berkurang. Berpindah menjadi milik orang lain, penerima sedekah. Sehingga, kebajikan sosial ini berdampak positif bagi orang lain dan menuntut pengorbanan dari diri kita.

Apa nilai kebaikan dari suatu pengorbanan?

Dari sudut pandang materi, tampaknya, pengorbanan itu merugikan diri kita sendiri. Bila kita kaji lebih jauh, kita akan memperoleh pemahaman lebih mendalam.

2. Memaknai Kebaikan

Kebaikan adalah bergerak menjadi lebih sempurna, menjadi lebih baik. Kita bisa memasangkan kebaikan dengan keadilan agar lebih terasa maknanya.

Keadilan: memberikan sesuai haknya.
Kebaikan: memberikan lebih dari haknya.

Contoh keadilan adalah Anda membeli minuman seharga 5 ribu rupiah, kemudian, Anda membayar sejumlah 5 ribu rupiah. Sesuai ukuran, sesuai kesepakatan, sesuai hak adalah keadilan. Tetapi, jika dengan ikhlas Anda membayar 7 ribu rupiah, lebih besar 2 ribu sebagai sedekah, maka Anda berbuat baik. Kebaikan adalah melanjutkan keadilan.

Lebih utama mana antara kebaikan dan keadilan?

Kebaikan, benar, kebaikan adalah lebih utama dalam kehidupan personal. Menariknya, dalam kehidupan sosial, justru, keadilan harus menjadi utama.

Kita mengenal BOS: bantuan operasional sekolah dan BLT: bantuan langsung tunai. Makna bantuan adalah kebaikan. Karena sekolah perlu dana operasional maka pemerintah berbuat baik dengan cara membantu sekolah. Bentuk bantuan itu adalah BOS: bantuan operasional sekolah.

Pihak sekolah, tenaga pendidik dan siswa, perlu berterima kasih atas bantuan BOS. Wajar, pihak sekolah berterima kasih kepada pihak yang telah berbuat baik.

BOS, dan BLT, adalah kebaikan. Apakah mereka, BOS dan BLT, juga adil? Apakah itu juga merupakan keadilan? Dalam kehidupan sosial, misal pemerintahan, aspek keadilan harus menjadi paling utama.

Apakah sekolah perlu bantuan BOS? Ataukah sekolah hanya butuh keadilan? Anggaran pendidikan yang adil maka, pasti, mencukupi untuk menyelenggarakan pendidikan yang merata berkualitas di seluruh Indonesia. Dengan demikian, sekolah tidak memerlukan bantuan. Sekolah berhak mendapatkan pendanaan. Dan, negara bertanggung jawab menyediakan dana tersebut.

Demikian juga BLT, bantuan langsung tunai, bisa kita analisis dari sisi kebaikan dan keadilan. BLT jelas merupakan kebaikan berupa bantuan. Apakah BLT juga adil? Apakah orang miskin perlu bantuan? Ataukah orang miskin, sejatinya, berhak mendapat pendanaan? Sementara, negara berkewajiban menjamin kehidupan yang layak bagi setiap warga?

Dengan semangat kebersamaan, pemerintah dan rakyat, menegakkan keadilan maka akan tercipta negara yang adil dan makmur. Keberhasilan menjadi negara adil makmur merupakan suatu bentuk kebaikan tertinggi.

Ketika fokus kepada kehidupan personal maka kita lebih mengutamakan kebaikan, dengan tetap menjalankan keadilan. Membantu tetangga yang membutuhkan uang untuk membeli makanan mereka, dengan cara memberi mereka uang misalnya, adalah contoh kebaikan personal Anda. Di saat yang sama, kebaikan personal, berdampak baik kepada tetangga Anda.

Secara personal matematis, ada dua dampak bagi Anda. Pertama, barangkali terjadi “pengurangan” terhadap uang milik Anda. Kedua, barangkali terjadi proses “pengorbanan” terhadap uang milik Anda. Secara hakikat, keduanya, sama-sama baik bagi Anda.

3. Pengorbanan Sedekah

Misalnya, Anda bersedekah uang 20 ribu rupiah kepada tetangga Anda sehingga mereka bisa membeli makanan. Sedekah adalah tindakan kebaikan.

Pertama, sering terjadi, adalah terjadinya “pengurangan” pada uang Anda. Semula ada uang 100 ribu di saku Anda. Kemudian, yang 20 ribu Anda berikan ke tetangga maka uang di saku berkurang, sisa 80 ribu. Dampak “pengurangan” ini membuat Anda hanya bisa membeli sesuatu seharga 80 ribu saja.

“Pengurangan” uang seperti itu hanya terjadi pada dunia fenomena, dunia penampakan, belaka. Sedangkan di dunia sejati, dunia noumena, yang terjadi adalah penambahan bagi diri Anda. Uang Anda, yang mula-mula, 100 ribu itu adalah modal seperti biasa saja, di dunia noumena. Sedangkan, uang 20 ribu yang Anda sedekahkan itu langsung dibalas kebaikan oleh Allah dengan kebaikan yang berlimpah.

“Tiada balasan kebaikan, kecuali kebaikan.”

Bukankah balasan itu menunggu waktu misal pekan depan? Hari ini, saya sedekah 20 ribu lalu, pekan depan, saya mendapat rejeki 500 ribu. Balasan itu berlipat puluhan kali lebih besar. Sehingga, orang-orang menjadi lebih semangat sedekah dengan jaminan balasan seperti itu.

Benar saja, balasan dapat uang 500 ribu adalah balasan yang berlipat. Perlu kita catat, balasan 500 ribu ini terjadi di dunia fenomena, dunia penampakan. Dunia fenomena bisa saja berbelok ke sana ke mari tanpa ada kepastian. Maksudnya, bisa saja balasan itu 500 ribu, bisa 700 ribu, atau bahkan 0 rupiah.

Tetapi, balasan kebaikan sejati, di dunia noumena, benar-benar terjadi ketika Anda berbuat kebaikan. Balasan ini berlipat kebaikan. Bila kita ikhlas maka makin besar berlipatnya kebaikan itu di dunia noumena. Yang menjadikan kebaikan itu berlipat bukan amal kita, bukan ikhlas kita, tetapi Allah yang berkehendak melipatgandakan kebaikan kemudian melimpahkan kepada orang-orang pilihan.

Kedua, terjadi “pengorbanan” terhadap uang Anda. Semula, memang Anda hanya punya uang 20 ribu rupiah untuk membeli buku tulis anak Anda. Karena tetangga membutuhkan maka Anda “mengorbankan” uang 20 ribu itu untuk sedekah ke tetangga. Anda berpikir bahwa masih ada waktu beberapa jam, Anda bisa berdagang atau bekerja sehingga menghasilkan uang 20 ribu guna membeli buku tulis untuk anak Anda.

“Pengorbanan” mempunyai nilai kebaikan lebih tinggi dari “pengurangan.” Pun, butuh perjuangan lebih berat bagi kita untuk “pengorbanan”.

Kebaikan “pengorbanan” Anda langsung mendapat balasan kebaikan yang berlipat di dunia sejati, dunia noumena. Sementara, di dunia fenomena bisa terjadi pembelokan dan bisa juga mendapat balasan berlipat dalam satu dan lain cara.

4. Sedekah Kaya Miskin

Orang miskin bisa berbuat kebaikan dengan banyak momen “pengorbanan”. Sementara, orang kaya bisa berbuat banyak kebaikan dengan hartanya kapan saja, tidak ada habis-habisnya, dengan banyak momen “pengurangan.”

Ketika orang miskin hanya punya uang 20 ribu rupiah lalu dia bersedakah 20 ribu rupiah maka terjadi kebaikan dengan momen “pengorbanan”. Sementara, orang yang lebih kaya misal punya uang 100 ribu, maka perlu sedekah 100 ribu untuk mendapatkan momen “pengorbanan.” Dan, lebih menantang bila ada orang super kaya dengan kekayaan 100 M maka perlu sedekah 100 M agar mendapat kebaikan dengan momen “pengorbanan.”

Baik orang miskin atau pun orang kaya, sama-sama, memiliki kesempatan untuk berbuat kebaikan. “Maka berlomba-lombalah dalam kebaikan…”

5. Godaan Nafsu

Jika setiap kebaikan pasti dibalas dengan kebaikan berlimpah maka mengapa orang-orang tidak berbuat kebaikan saja?

Ya, seharusnya setiap orang yang berakal memilih berbuat kebaikan. Nyatanya, banyak orang yang tidak berbuat kebaikan. Sebagian di antaranya, ditangkap KPK, dijebloskan ke penjara. Apakah mereka tidak berakal? Tentu saja mereka berakal. Hanya saja, akalnya kalah oleh hawa nafsu mereka.

Ketika nafsu berkuasa maka dosa bergema di dunia fenomena. Kita bisa membedakan menjadi 3 jenis pembelokan nafsu. Pertama nafsu hitam adalah kekuatan manusia untuk menaklukkan dunia. Kita punya kekuatan untuk mencangkul, bertani, memotong pohon, dan lain-lain untuk menjaga kehidupan umat manusia. Kekuatan itu bisa dibelokkan manusia untuk merampok, membunuh, melukai orang, dan lain-lain menjadi nafsu hitam yang kejam.

Kedua, nafsu merah. Kita, umat manusia, mempunyai hasrat untuk menikmati makanan, menikmati hiburan, menikmati petualangan, dan lain-lain untuk menjalani hidup dengan bahagia. Ketika dibelokkan maka makanan berlebihan, hiburan melampaui batas, petualangan merusak lingkungan, dan lain-lain menjadi nafsu merah. Serakah, si nafsu merah, berlumur amarah yang tak ramah.

Ketiga, nafsu kuning. Kita punya akal. Bisa menyusun strategi, mengatasi beragam kesulitan, untuk mencapai tujuan kebaikan bersama. Nafsu kuning bisa membelokkan akal sedemikian hingga bisa untuk “mengakali” orang lain dan diri sendiri. Berdalih membantu rakyat kecil, ternyata hanya untuk meraup suara pemilu. Beramal ke rumah yatim piatu ternyata pencitraan untuk kampanye pilkada. Sadar bahwa diri sendiri sudah berdosa, malah berdalih, sewaktu-waktu bisa tobat. Uang korupsi bisa untuk sedekah sehingga suci.

Perpaduan nafsu hitam, merah, dan kuning mencengkeram umat manusia dalam gelimang dosa. Saatnya, kita untuk kembali bertobat. Tobat dengan sebenar-benarnya tobat. Berhenti dan menyesali kesalahan yang terjadi. Komitmen tidak mengulangi. Menebus dengan amal kebaikan di sana-sini. Mumpung masih ada waktu, mari kembali, meniti jalan ilahi.

6. Kebaikan Abadi

Kebaikan itu yang abadi. Sedangkan, nafsu serakah hanya bersifat sementara. Hancur berkeping-keping di dunia fenomena ketika tiba waktunya. Tetapi, kebaikan ada di sini, di dunia ini dan dunia nanti. Kebaikan yang abadi.

Tinggalkan godaan nafsu. Mari meniti jalan kebaikan abadi. Di dunia ini dan dunia nanti, di sini dan di mana-mana, di dunia virtual dan dunia aktual.

Kejahatan sirna, sejatinya, memang tiada. Hanya kebaikan yang ada untuk kita dan semesta.

Bagaimana menurut Anda?

Jangan Dusta

“… Dan saling menasehati dalam kebenaran, dan saling menasehati dalam kesabaran.” (QS 103 : 3)

Tujuan orang berpuasa adalah agar bertakwa. Sering saya sebutkan, salah satu, makna takwa adalah berprestasi. Dengan cara yang spesial, prestasi takwa, yaitu dengan menjalani perintah Allah dan menjauhi seluruh laranganNya. Sehingga, prestasi orang yang bertakwa, senantiasa terhubung dengan Sang Khalik. Tidak pernah sombong ketika sukses besar karena, bagi orang yang takwa, sukses adalah anugerahNya. Pun tidak pernah berputus asa dalam segala kesulitan karena, bagi orang bertakwa, selalu ada rahmat Tuhan. Dan, orang bertakwa, saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran.

1. Nasehat Vs Nyinyir
2. Nasehat Sederhana Mengena
3. Tetap Keras Kepala

Cara menjalankan puasa adalah urusan pribadi: tidak makan, tidak minum, dan tidak hubungan badan. Menjalani puasa adalah urusan pribadi seorang hamba dengan Tuhan. Bisa saja seseorang berdusta, mengaku puasa. Ketika ia di kamar, ia makan dan minum sampai kenyang. Di hadapan orang banyak ia seperti puasa: tidak makan, tidak minum. Tidak ada yang tahu bahwa ia berdusta, kecuali Tuhan Maha Tahu.

Sementara itu, dampak puasa harus bersifat nyata: menjadi orang yang bertakwa. Sukses mengukir prestasi personal dan sosial.

1. Nasehat Vs Nyinyir

Memberi nasehat, di jaman digital, tidak selalu mudah. Maksud yang baik, bisa saja, dianggap oleh pihak sebelah, sebagai nyinyir. Bisa terjadi juga, manusia di jaman digital, sengaja nyinyir karena orang di pihak lain tidak kenal kepada kita, secara langsung. Maka mereka berpikir bebas-bebas saja ngomong kasar, toh tidak pernah bertemu tatap muka dengan kita.

Sebagai orang yang berpuasa, kita, tentu perlu bersabar dengan semua ini.

Pengalaman saya menjadi youtuber yang sudah memiliki ratusan ribu subscriber, tentu saya, sering mendapat nyinyiran netizen. Bahkan kata-kata kasar. Barangkali sudah puluhan atau ratusan kali. Lagi-lagi kita perlu bersikap sabar dalam saling menasehati.

  1. Orang-orang mudah nyinyir melalui media sosial karena mereka tidak kenal secara langsung dengan saya. Mereka hanya kenal sekilas dari satu video saya di youtube. Konteks mereka menonton video pun bisa beda dengan konteks saya ketika membuat video. Maka, ketika mereka nyinyir ke saya, anggap saja mereka sedang memberi nasehat secara gratis, untuk saya.
  2. Sedangkan, orang-orang tidak nyinyir melalui media sosial ke saya ketika mereka sudah kenal saya secara pribadi, pernah tatap muka, atau pernah diskusi lebih mendalam. Misal, di media facebook, orang hampir tidak pernah nyinyir ke saya. Bila terjadi salah paham, dengan diskusi santai, di media sosial yang sama, biasanya bisa jadi beres semuanya.
  3. Sebagai pengguna media digital, media sosial, kita perlu menjaga diri untuk berkata dengan baik dan sopan.

2. Nasehat Sederhana Mengena

Dalam suatu riwayat, sering dikisahkan, ada seorang Badui menghadap Kanjeng Nabi. Orang Badui ini, sebut saja Fulan, ingin bertobat. Masalahnya, dosa Fulan ini terlalu banyak. Maka Fulan ingin mendapat nasehat langsung dari Kanjeng Nabi secara panjang lebar dan detil sebagai solusi yang tuntas. Dosa Fulan di antaranya: judi, ketagihan minuman keras, kecanduan obat terlarang, main perempuan, mencuri, membunuh, dan lain-lain.

Fulan menghadap Kanjeng Nabi mengaku insyaf dan minta nasehat. Kanjeng Nabi memberi nasehat, “Jangan berdusta.” Itu saja. Singkat.

“Hanya itu? Jangan berdusta saja?” pikir Fulan. Mudah sekali.

Tidak ada keharusan berhenti judi, tidak ada keharusan berhenti mabuk-mabukan. Cukup, jangan berdusta. Fulan kembali kepada kehidupannya. Dia ingin berjudi. Tapi terbesit pesan Nabi: jangan berdusta. Bagaimana jika saya nanti bertemu Nabi? Saya tidak boleh dusta. Malu bila ketahuan berjudi. Begitu juga ketika ia hendak main perempuan, Fulan ingat pesan Nabi, jangan berdusta. Akhirnya, Fulan benar-benar tidak pernah maksiat lagi karena selalu ingat pesan Nabi, jangan berdusta. Nasehat Nabi, yang singkat, begitu tepat sasaran.

3. Tetap Keras Kepala

Masalah sering muncul, ketika, yang diberi nasehat tetap keras kepala. Atau bahkan, mereka membalikkan nasehat itu, justru untuk menyerang sang pemberi nasehat.

“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, maka itu adalah untuk dirinya sendiri, dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan, maka itu untuknya, kemudian kepada Tuhanmulah kamu dikembalikan. (QS 45 : 15)

  1. Tugas kita hanya memberi nasehat. Maka jadikan saling menasehati sebagai proses kita bertakwa. Jangan merusaknya dengan amarah yang mengikutinya. Kita perlu tetap bersabar dengannya.
  2. Jika orang itu berubah jadi baik maka memang baik. Jika orang itu tidak berubah maka dia bertanggung jawab atas konsekuensinya.
  3. Jika orang yang dinasehati itu tetap berbuat jahat, keras kepala, dan berdampak pidana maka biarkan proses hukum yang akan mengadilinya. Tugas kita, sekali lagi, adalah saling menasehati dengan penuh kesabaran.

Mari manfaakan bulan suci Ramadhan ini untuk meraih gelar manusia yang bertakwa.

Bagaimana menurut Anda?

Beda Takwa

“Orang-orang Arab Badui itu berkata: “Kami telah beriman”. Katakanlah: “Kamu belum beriman, tapi katakanlah ‘kami telah berislam’, karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu; dan jika kamu taat kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia tidak akan mengurangi sedikitpun pahala amalanmu; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS 49:14)

Kita berada di jaman digital. Jaman yang pasti banyak perbedaan. Yang bersumber dari perbedaan lingkungan, ditambah lebih banyak lagi perbedaan persepsi, interpretasi, dan hikmah.

Apa Beda Rukun Iman dengan Rukun Islam? Ini Penjelasannya

1. Islam Identitas
2. Iman Mendalam
3. Realisasi Takwa
4. Tawakkal Rahasia Bahagia

Iman dan islam jelas dua kata yang berbeda. Apalagi kata takwa, lebih beda lagi. Jika kita renungkan lebih dalam maka akan kita temukan lebih beragam lagi perbedaan. Namun secara sekilas kadang-kadang kita bermaksud mengungkapkan suatu hal yang sama: orang islam adalah orang yang beriman dan orang yang beriman adalah orang yang bertakwa. Satu lagi, kita perlu mengkaji apa itu tawakkal, yang juga berbeda.

  1. Islam Identitas

Kita paling mudah mengenali identitas islam. Siapa saja yang mengaku islam maka bisa masuk islam. Untuk membuktikannya, bila masih ragu, tinggal baca saja syahadat. Beres. Benar-benar sudah islam.

Petugas KUA hanya boleh menikahkan sepasang kekasih yang sama-sama islam. Maka untuk memastikan itu semua, petugas KUA, biasanya, meminta calon mempelai membaca syahadat. Kemudian akad nikah dilangsungkan maka dijamin sah.

Secara legal, kita bisa membaca KTP seseorang. Bila tertulis beragama islam maka orang itu memang diakui sebagai orang islam. Semudah itu untuk menjadi islam. Memang mudah.

Tapi apakah makna islam memang hanya seperti itu? Barangkali kita bisa membedakan islam sebagai identitas, seperti di atas, dengan islam sejati. Dalam bahasa Arab, islam sejati sering diistilahkan dengan muslim. Namun dalam bahasa Indonesia, muslim juga diterjemahkan sebagai orang islam. Padahal lebih tepat sebagai orang islam sejati. Orang yang berislam secara sungguh-sungguh.

Gus Dur, mantan presiden RI, pernah mengatakan bahwa dirinya ingin jadi muslim, orang islam sejati. Dan berdoa agar dirinya termasuk sebagai orang islam sejati, muslim. Di sisi lain, yang sering terjadi adalah, banyak orang mengklaim bahwa dirinya adalah muslim sejati. Padahal, bisa jadi, mereka baru berislam semata.

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Muslim.” (QS 3: 102)

Menjadi muslim adalah tujuan akhir, paling utama, dari setiap manusia.

2. Iman Mendalam

Iman merupakan keyakinan yang mengakar paling dalam dari diri seseorang. Maka kita tidak bisa melihat iman seseorang dari tampilan luarnya. Urusan iman lebih merupakan urusan sisi terdalam seorang manusia. Iman kepada Allah dan hari akhir adalah yang paling utama.

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang sabi’in, siapa saja (di antara mereka) yang beriman kepada Allah dan hari akhir, dan melakukan kebajikan, mereka mendapat pahala dari Tuhannya, tidak ada rasa takut pada mereka, dan mereka tidak bersedih hati.” (QS 2 : 62)

Siapa saja yang beriman dan beramal sholeh maka Allah menjamin pahala baginya. Bahkan, AlQuran menyebut termasuk mereka yang Yahudi, Nasrani, atau Sabiin tetap mendapat pahala. Dan tidak ada rasa takut atau sedih bagi mereka.

AlQuran menggunakan diksi yang berbeda mengenai orang beriman. Seruan puasa adalah wajib bagi “orang yang beriman”, alladina aamanuu. Dengan tujuan puasa adalah untuk menjadi orang yang bertakwa. Sementara, di tempat lain, AlQuran menggunakan istilah mukmin, orang yang beriman sejati, dengan pujian tingkat tinggi.

“Sungguh beruntunglah orang-orang mukmin.” (QS 23 : 1)

Kemudian AlQuran menjelaskan orang mukmin adalah orang yang sholatnya khusuk, berinfak shodaqoh, memenuhi amanah, dan lainnya. Maka orang mukmin tersebut mendapat karunia surga firdaus.

Derajat mukmin, orang beriman sejati, tampak begitu tinggi. Sementara tingkat orang beriman, pada umumnya, adalah dasar untuk melakukan berbagai kebaikan lanjutan: amal sholeh, saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran, berpuasa, bertakwa, dan sebagainya. Semoga kita termasuk orang-orang yang beriman dan mukmin sejati.

3. Realisasi Takwa

Takwa merupakan realisasi dari islam dan iman seseorang. Sehingga kita dapat melihat, merasa, mendengar dampak dari takwa seseorang. Berbagi rejeki adalah bentuk takwa. Menolong fakir miskin atau orang yang membutuhkan adalah bentuk takwa. Berbagi ilmu adalah takwa. Mengkaji kitab suci adalah takwa. Bahkan menyingkirkan duri yang ada di jalan adalah takwa.

Singkatnya, semua kebaikan, yang kasat mata atau dalam hati, terang-terangan atau sembunyi, adalah bentuk realisasi takwa sejauh diniatkan untuk kebaikan dan untuk mendapat ridha Allah.

Untuk bisa bertakwa kita perlu modal, strategi, dan kemampuan eksekusi. Maka saya sering memaknai takwa adalah mengukir prestasi. Sehingga semua pencapaian prestasi adalah bentuk takwa, sejauh diniatkan untuk kebaikan dan untuk mendapat ridha Allah.

Orang yang bertakwa selalu dinamis, optimis, dan kritis. Dia mencari-cari peluang apa saja yang bisa diperbaiki di dunia nyata, digital, atau pikiran. Dia mengeksplorasi peluang itu, menyusun strategi, membangun sinergi, melakukan eksekusi sampai meraih pretasi sukses. Orang yang bertakwa bertanggung jawab atas segala situasi. Dia adalah wakil Allah di bumi ini, khalifah Allah. Dia tidak pernah menyerah, selalu ada jalan keluar bagi mereka yang bertakwa dan mendapat rejeki dari arah yang tak disangka.

Takwa itu tidak pernah berhenti, selalu maju. Selesai dengan satu kegiatan takwa maka disusul dengan kegiatan takwa berikutnya. Tidak ada pengangguran bagi mereka yang bertakwa. Selalu ada peluang untuk berbuat kebaikan. “Maka ketika selesai dengan suatu urusan maka bersegeralah (ke urusan berikutnya). Dan kepada Tuhanmulah kamu beharap.”

Tampak berat sekali, tanggung jawab, menjadi orang bertakwa. Itu merupakan konsekuensi wajar manusia yang bersedia menerima amanah menjadi wakil Tuhan di muka bumi. Akan menjadi lebih berat lagi bila seseorang lupa bahwa dirinya adalah wakil Tuhan. Karena dia lupa bahwa dirinya adalah wakil Tuhan maka dia mengira bahwa semua tanggung jawab berat itu adalah tanggung jawab dirinya. Ketika sukses dia beresiko jadi sombong. Dan ketika gagal beresiko menjadi frustasi. Untuk menjadi takwa yang benar kita membutuhkan cahaya petunjuk dari Tuhan; kita butuh pertolongan Tuhan.

4. Tawakkal Rahasia Bahagia

AlQuran adalah petunjuk yang jelas bagi orang-orang yang bertakwa. Tidak ada keraguan sama sekali di dalamnya.

”Dan barang siapa bertakwa kepada Allah, Dia memberi jalan keluar baginya; Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” (QS 65: 2-3)

Tawakkal adalah proses kembali mewakilkan seluruh urusan kepada Allah, berserah diri kepada Allah semata. Tawakkal adalah kunci hidup bahagia. Allah menjamin mencukupi seluruh keperluan orang yang bertawakkal. Tawakkal adalah pasangan serasi dari takwa. Di mana takwa adalah menerima amanah sebagai wakil Allah di muka bumi dan menjalankan amanah sebaiknya-baiknya, meraih prestasi.

Tawakkal beda dengan takwa dan takwa beda dengan tawakkal. Tetapi keduanya perlu ada pada diri kita.

Kehidupan manusia menjadi rumit ketika menempatkan takwa dan tawakkal secara terbalik. Yang seharusnya bertakwa, meraih prestasi, dia malah bertawakkal, berserah diri. Tentu sulit meraih prestasi. Sementara yang seharusnya bertawakkal, berserah diri kepada Allah, malah dia keras kepala dengan nyinyir atau keluh kesah. Sulit mendapat hidup yang berkah.

Bertakwalah, raih prestasi, terhadap bidang-bidang yang kita punya kendali, punya pengaruh, dan punya kemampuan. Kembangkan terus kekuatan takwa. Sementara bertawakkallah, berserah diri kepada Allah, terhadap bidang-bidang yang kita tidak punya kendali. Biarkan Allah mengurus segalanya. Allah adalah pencipta dan pengelola alam semesta yang terbaik. Hidup jadi bahagia bertabur prestasi. Tawakkal dan takwa.

Bagaimana menurut Anda?