Akhir Takwa

“Maka apakah orang-orang yang mendirikan bangunan (masjid) atas dasar takwa kepada Allah dan keridaan(-Nya) itu lebih baik, ataukah orang-orang yang mendirikan bangunannya di tepi jurang yang runtuh, lalu (bangunan) itu roboh bersama-sama dengan dia ke dalam neraka Jahanam? Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (QS 9:109)

Dalam, catatan sejarah, di masa Nabi, pernah terjadi perobohan masjid. Tetapi tidak pernah ada perintah perobohan tempat ibadah agama lain. Bahkan perobohan masjid, atau runtuhnya bangunan itu, dinyatakan sampai roboh ke neraka jahanam. Sebuah pilihan diksi yang sangat keras.

1. Awal dan Akhir
2. Pembangunan Konten Digital
3. Ditonton Banyak Dolar

Membangun masjid adalah suatu amal sholeh, kebaikan, yang dilandasi oleh takwa. Namun membangun masjid yang tujuannya memecah belah umat, justu, mendapat ancaman neraka jahanam. Dasar, atau tujuan, membangun masjid menjadi paling penting. Hal yang sama bisa kita tanyakan kepada diri sendiri, atau orang lain, apa tujuan Anda membuat konten digital? Jika yang bentuknya masjid saja bisa diancam dengan neraka jahanam maka bagaimana dengan konten digital yang merusak moral?

  1. Awal dan Akhir

Takwa mesti menjadi awal dan akhir tindakan kita. Dalam bekerja, dan berkarya, meraih prestasi, kita mengawalinya untuk takwa dan menuju kondisi akhir untuk bertakwa lagi.

Pernah ada cerita, sekelompok orang membangun masjid di perumahan. Tapi membangun masjid seperti itu bisa saja tidak dilandasi oleh takwa, sehingga diancam dengan neraka jahanam. Pak Fulan mengumpulkan dana yang besar untuk membangun masjid. Bahkan Fak Fulan juga merupakan donatur terbesar, menyumbang dalam jumlah ratusan juta. Mengapa kebaikan Pak Fulan ini tidak bernilai kebaikan?

Karena Pak Fulan adalah pengurus masjid lama di perumahan. Lantaran Pak Fulan tidak lagi terpilih menjadi ketua pengurus masjid lama maka Pak Fulan membangun masjid baru. Pembangunan ini bisa menyebabkan ancaman neraka. Seandainya, itu terjadi di jaman Nabi maka kita bisa langsung minta petunjuk kepada Kanjeng Nabi untuk menyikapi hal tersebut. Sekarang kita berada di jaman majemuk sehingga kita harus mengambil keputusan lebih hati-hati. Dan bertanggung jawab atas keputusan yang kita ambil. Tidak cukup sekedar klaim meniru Nabi.

  1. Pendekatan musyawarah kepada Pak Fulan agar ditemukan kata sepakat bersama-sama mengembangkan masjid yang lama, yang sudah ada. Kerukunan seluruh umat terjaga. Maka masjid baru tidak perlu dibangun. (Dana pembangunan bisa disalurkan ke kepentingan masyarakat yang lebih manfaat.)
  2. Jika Pak Fulan bersikeras membangun masjid baru maka perlu mendapat ijin berdasar hukum positif untuk membangun rumah ibadah. Semoga yang berwenang tidak memberikan ijin sehingga tidak mengakibatkan perpepecahan.
  3. Jika Pak Fulan dapat ijin dan berhasil membangun masjid baru maka perlu analisis lanjutan. Barangkali masjid baru itu bisa membawa manfaat positif bagi masyarakat. Bila demikian maka tidak masalah. Tapi bila masjid baru itu sering kosong, tidak bermanfaat, maka perlu musyawarah agar lebih bermanfaat. Misal masjid itu diubah menjadi perpustakaan atau tempat anak-anak belajar agama.

2. Pembangunan Konten Digital

Saya, paman apiq, sering mendapat pertanyaan bagaimana bisa konsisten mengembangkan konten digital lebih dari 13 tahun? Saya mengelola dua canel utama untuk kepentingan edukasi sejak 13 tahun lalu. Canel youtube saya adalah pamanapiq dan edujiwa. Masing-masing canel sudah berisi ribuan video edukasi dan terus bertambah.

Paling utama, saya membuat canel youtube adalah untuk berbagi ilmu, edukasi. Bagi saya, youtube sangat membantu untuk menyebarkan ilmu matematika ke seluruh penjuru. Dengan demikian, canel youtube membantu saya untuk meraih prestasi ikut mencerdaskan generasi. Maka tidak ada kesulitan berarti, bagi saya, untuk mengelola canel edukasi.

Saya sering memaknai salah satu makna utama dari takwa adalah berprestasi. Maka mengelola canel edukasi juga merupakan proses, suatu usaha, untuk bertakwa. Semoga memberi manfaat bagi sesama.

Berbeda halnya, jika tujuan seseorang membuat konten digital adalah untuk mendapatkan dolar. Bila berhasil meraih dolar maka dia semangat. Jika dolar kecil maka dia malas. Akhirnya dia gagal dalam mempertahankan konsistensi. Nyatanya, lebih banyak orang yang gagal meraih dolar di dunia digital dibanding yang sukses.

Saya sendiri sering memotivasi agar para pendidik, utamanya guru, membuat konten digital edukasi. Tujuannya adalah untuk berbagi ilmu. Bukan mengejar dolar. Biarkan konten digital menjadi jalan kita untuk bertakwa. Bila ada dolar anggap sebagai bonus saja.

“Dan barang siapa bertakwa kepada Allah, Dia memberi jalan keluar baginya; Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” (QS 65: 2-3)

Fokus kita dalam memproduksi konten digital adalah untuk edukasi. Tentu saja kita perlu mempelajari beragam strategi agar konten edukasi lebih banyak ditonton orang. Memanfaatkan data analytic menjadi senjata utama. Beberapa kali, saya berhasil membuat konten edukasi yang trending di youtube. Saya memanfaatkan data analytic terutama yang menunjukkan video jenis-jenis apa saja yang paling dicari oleh banyak orang.

3. Ditonton Banyak Dolar

Logika sederhana, makin banyak ditonton orang videonya maka makin besar dolar yang dihasilkan. Tidak salah cara berpikir seperti itu. Youtube sendiri menyediakan informasi CPM dan RPM yang maksudnya adalah besarnya dolar yang diterima dalam setiap seribu tayangan. Maka bila ditonton jutaan orang, dolar juga makin besar.

Seorang youtuber menceritakan bahwa dia berjuang keras agar video-videonya ditonton orang banyak. Sehingga ketika Atta membuat video yang berisi pamer harta dengan tujuan agar ditonton banyak orang maka hal seperti itu bisa dipahami. Sementara pakar sosiologi, Ade Armando, mengkritik Atta dan kawan-kawan yang pamer harta melalui konten videonya. Tidak memberi dampak positif bagi masyarakat.

Seorang youtuber, menurut saya, memang punya dua tanggung jawab. Pertama, tanggung jawab internal di mana dia harus berusaha agar video banyak ditonton orang – sehingga juga berdampak ke dolar yang lebih besar. Kedua, tanggung jawab eksternal di mana konten video itu sendiri juga harus bermanfaat bagi masyarakat luas.

Kedua tanggung jawab di atas, internal dan eksternal, bisa seiring sejalan. Apalagi bila tujuan kita membuat video adalah untuk bertakwa maka “Dan (Allah) memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” Perlu kita ingat juga bahwa kita perlu mengembangkan sikap tawakkal. “Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” Semoga kita berhasil meraih prestasi dengan sukses dan bahagia.

Bagaimana menurut Anda?

Perilaku Terbaik

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS 33:21)

Akhlak berdampak nyata dalam kehidupan manusia. Ilmu bagai pohon dan akhlak adalah buahnya. Orang beriman adalah yang paling banyak memberi manfaat.

pengertian akhlak,Fungsi, Ruang Lingkup Ahklak dan Pembahasan

1. Teladan Akhlak
2. Akhlak Sosial
2.1 Ibadah Wajib
2.2 Ibadah Sunah
2.3 Keputusan Pribadi
3. Akhlak Digital
4. Perbedaan Digital
4.1 Perbedaan Ibadah
4.2 Perbedaan Strategi
4.3 Perbedaan yang Menganulir
4.4 Perbedan Kriminal

Orang yang berpuasa, terus-menerus, menempa diri untuk berakhlak mulia. Kata-katanya hanya yang baik-baik saja. Ketika amarah memancing, orang puasa mampu mengelolanya. Memaafkan orang yang salah, menolong yang lemah, menasehati yang serakah. Tidak hanya kata-kata, orang beriman memberi contoh nyata. Bulan Ramadhan, mari jadikan bulan suci sebagai bulan akhlak mulia.

1. Teladan Akhlak

Bahkan Nabi menegaskan diutus sengaja untuk menyempurnakan akhlak mulia. Sejatinya, umat manusia sudah punya akhlak yang baik. Tetapi akhlak yang baik ini bisa saja lambat laun tersingkir, tertutup oleh hawa nafsu. Maka Nabi hadir menerangi, untuk menyempurnakan akhlak mulia ini, menuju kebahagiaan hakiki dunia dan akhirat.

Akhlak Nabi yang mulia nan agung ini terekam sepenuhnya dalam AlQuran. Kita bisa mengkaji mendalam ayat-ayat suci AlQuran untuk mereguk hikmahnya yang tak bertepi. “Dia memberi hikmah kepada siapa saja yang Dia kehendaki. Barang siapa mendapat hikmah maka sungguh itu adalah kebaikan yang agung. Dan tidak akan mampu memahami kecuali orang-orang yang cerdas.”

Mengambil hikmah dari AlQuran adalah pelajaran paling besar. Mengambil hikmah dari pengalaman Nabi adalah pelajaran yang mulia. Mengambil hikmah dari seluruh sisi kehidupan adalah pelajaran nyata.

Perlu kita catat, mengambil hikmah adalah tugas kita dalam proses bertakwa kepada Allah. Kita perlu memanfaatkan segala sumber daya: pikiran, rasa, intuisi, fisik, dan semua yang ada. Hikmah bukan sekedar klaim mengaku yang paling benar. Hikmah bukan sekedar klaim sesuai ayat AlQuran. Hikmah bukan sekedar klaim sesuai hadis Nabi. Hikmah adalah proses menerima dari Sang Pemberi.

Hikmah adalah milik orang beriman. Maka ambillah hikmah di mana pun berada.

2. Akhlak Sosial

Berawal dari akhlak personal yang mulia berdampak ke akhlak sosial yang nyata. Akhlak personal saling terkait dengan akhlak sosial. Kita memahami bagaimana cara menahan diri, menahan amarah, menahan nafsu, dan sebagainya dari guru kita, dari kehidupan sosial kita. Pada gilirannya, kita perlu menerapkan segala akhlak mulia ke bidang sosial secara luas.

Paling nyata adalah berbagi zakat dan sedekah.

Bolehkah pamer dalam bersedekah? Agar banyak orang lain terinsipirasi untuk ikut sedekah?

Kita sering membaca berita bahwa ada orang kaya yang membagi seribu bingkisan sedekah. Orang-orang, fakir-miskin, mengantri berkumpul di rumah orang kaya itu untuk mendapatkan bingkisan. Beberapa jam kemudian bingkisan mulai dibagikan. Meriah sekali.

Boleh kah pamer sedekah seperti itu? AlQuran sudah membahas pamer sedekah ini dengan lembut.

“Jika kamu menampakkan sedekah-sedekahmu, maka itu baik. Dan jika kamu menyembunyikannya dan memberikannya kepada orang-orang fakir, maka itu lebih baik bagimu dan Allah akan menghapus sebagian kesalahan-kesalahanmu. Dan Allah Mahateliti apa yang kamu kerjakan.” (QS 2:271)

Seharusnya kita memamerkan ketakwaan dengan tujuan untuk memberi inspirasi agar lebih banyak orang ikut berbuat takwa. Perlu kita ingat bahwa hanya jenis takwa tertentu yang bisa dipertontonkan. Sementara sebagian besar takwa yang lain justru harus dirahasiakan. Perlu kehati-hatian untuk memilihnya.

Apa saja bentuk ketakwaan yang boleh dipamerkan? Saya merumuskan tiga kriteria berikut untuk jadi pertimbangan. Dan agar niat akhlak mulia, tetap, berbuah akhlak mulia juga.

2.1 Ibadah wajib. Kita boleh memamerkan ibadah wajib misal sholat Jumat. Atau membayar zakat fitrah. Justru karena wajib maka menunjukkan pelaksanaan kewajiban tersebut dapat menjadi reminder bagi orang lain.

2.2 Ibadah sunah sebaiknya disembunyikan. Anda rajin sholat malam? Akan lebih baik bila tidak dipamerkan. Rajin puasa Dawud? Bagus juga bila dirahasiakan. Apalagi ibadah sunah personal.

2.3 Keputusan pribadi. Pertimbangkan banyak hal termasuk keselamatan bersama. Pernah kejadian rumah orang kaya yang dikerumuni ratusan, bahkan ribuan orang, roboh pagarnya. Bahkan ketika orang-orang naik ke lantai atas, rumah itu roboh, memakan banyak korban.

Alternatifnya, dari pada mengumpulkan banyak orang maka kita bisa memilih mengantarkan bingkisan itu langsung ke rumah-rumah fakir-miskin yang berhak menerimanya. Tetapi, karena ini semua adalah keputusan pribadi kita, maka kita perlu berpikir terbuka untuk menerima beragam sudut pandang terbaik.

3. Akhlak digital

Pamer kebaikan di media digital menjadi lebih mudah lagi. Kita tinggal share saja maka konten digital kita langsung bisa diakses di seluruh dunia. Lebih parah lagi, kita tidak bisa mengendalikan penonton digital, subscriber atau follower kita. Akibatnya, apa pun yang kita share di media sosial bisa direspon bebas oleh masing-masing orang. Bahkan bebas di buat framing baru.

Konsekuensinya, kita perlu lebih hati-hati untuk share di media digital. Benar-benar bersihkan hati hanya berniat untuk kebaikan bersama. Dan pertimbangkan beragam kriteria di atas.

4. Perbedaan Digital

Tak bisa dihindari, terjadi banyak perbedaan. Apalagi di era digital maka perbedaan makin beragam, makin tajam. Kita perlu mengembangkan akhlak baru di jaman digital yang bisa kita sebut sebagai akhlak digital.

Masing-masing orang bisa memahami hikmah sesuatu, sesuai kemampuannya. Hikmah ini pun dipengaruhi oleh pengalaman dan interpretasi.

4.1 Perbedaan dalam aturan ibadah ritual maka sebaiknya saling menghormati. Misal ada yang sholat tarawih 11 rakaat dan lainnya 23 rakaat. Masing-masing memiliki dalil dan interpretasi.

4.2 Perbedaan strategi dalam kebaikan dan takwa bisa saling melengkapi. Ada pihak tertentu yang menyalurkan bantuan berupa makanan dan lainnya fasilitas kesehatan. Di antara pihak-pihak bisa mandiri atau sinergi.

4.3 Perbedaan yang menganulir. Kadang-kadang suatu pandangan menganulir pihak lain. Misal, ada yang meyakini bahwa bunga bank adalah riba. Maka haram. Sementara ada pihak yang menyatakan bunga bank bukan riba, maka halal. Pihak yang menyatakan riba bersifat menganulir pihak lain. Dalam kasus ini, semua pihak perlu saling respek. Terutama pihak yang menganulir perlu membatasi diri untuk tidak memaksa pihak lain – sejauh tidak kriminal.

4.4 Perbedaan kriminal. Tetap menjaga rasa hormat, perlu dilakukan mediasi bahkan pengadilan. Semua pihak perlu menghormati proses pengadilan.

Dan barangkali masih banyak perbedaan-perbedaan lain. Bahkan perbedaan ini pun terus bertumbuh kembang. Maka kita benar-benar perlu terus konsisten mengembangkan perilaku terbaik, akhlak terpuji.

Bagaimana menurut Anda?

Tolong Menolong Takwa

“Dan tolong-menolonglah dalam kebaikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam dosa dan pelanggaran. Bertakwalah kepada Allah. Dan sesungguhnya Allah amat berat siksaNya.” (QS 5:2)

Tujuan berpuasa adalah mencapai derajat manusia bertakwa, manusia berprestasi. Dengan cara puasa, mengendalikan diri dari hal-hal yang halal, lebih-lebih dari hal-hal yang haram. Jauhi hal-hal haram dan segala yang dilarang oleh Allah. Ingatlah ancaman siksa yang amat pedih di akhirat, bahkan berdampak di dunia juga.

1. Prestasi Sosial
2. Takwa Digital
3. Organisasi Takwa
4. Pamer Takwa

1. Prestasi Sosial

Pada awalnya, puasanya adalah mengendalikan diri sendiri. Realitas, kita hidup secara sosial bersama yang lain. Maka puasa juga, harus, berdampak kepada kehidupan sosial. Orang bertakwa, orang berpuasa, besifat selektif dalam segala tindakannya. Di antara banyak pilihan kegiatan positif, kita hanya memilih beberapa saja di antara yang positif itu.

Menyantuni fakir-miskin adalah pilihan yang jelas untuk menjadi prioritas. Ketika kita lapar haus karena puasa, mudah bagi kita merasakan beratnya fakir-miskin menanggung lapar haus sepanjang waktu. Kita bisa berharap bahwa ketika maghrib tiba, lapar haus kita hilang dengan berbuka puasa. Tetapi kaum fakir-miskin tidak punya harapan pasti kapan ada makanan dan minuman untuk mereka. Datangilah fakir-miskin ulurkan kebaikan untuk mereka.

Takwa adalah berbuat baik untuk sesama, sesusai perintah Tuhan. Takwa adalah tanggung jawab kita sebagai khalifah, wakil Tuhan, di bumi ini. Itulah tujuan penciptaan manusia: menjadi wakil Tuhan. Fakir-miskin berdoa kepada Allah dengan lapar haus yang jujur. Kapan Allah mengabulkan doa mereka? Bukankah kita wakil Tuhan di bumi? Kabulkan doa mereka. Bantu mereka. Semoga kita berhasil menjadi wakilNya dalam mengabulkan sebagian doa fakir-miskin.

Akhir puasa Ramadhan ditandai dengan kewajiban membayar zakat fitrah. Sebuah kewajiban yang nyaris berlaku bagi semua umat manusia. Jika Anda punya kelebihan harta senilai 30 ribu rupiah maka wajib mengeluarkan zakat fitrah untuk fakir-miskin atau yang berhak. Bahkan ketika Anda punya bayi yang baru berumur satu hari pun maka Anda wajib membayarkan zakat fitrahnya, demi kebaikan sosial masyarakat.

Zakat berfungsi ganda: membantu secara sosial dan mensucikan diri kita secara personal.

2. Takwa Digital

Di era digital kita benar-benar membutuhkan takwa digital. Pertama, kita perlu puasa digital. Membatasi konsumsi digital terhadap konten-konten yang halal. Meski halal, konten tersebut tidak berguna bagi Anda. Bahkan tidak berguna bagi masyarakat. Rugi waktu karena konsumsi konten digital sia-sia. Rugi kuota juga dan energi. Apalagi konten digital haram, jauhi sejauh-jauhnya.

Kedua, jangan tolong-menolong menyebarkan dosa digital. Konten hoax, fitnah, dan sia-sia, jangan ikut menyebarkannya. Jangan ikut share. Sama sekali jangan pernah share konten orang lain. Kecuali konten yang Anda yakin itu benar-benar penuh manfaat. Tidak banyak konten semacam ini.

Ketiga, ayo ikut menciptakan konten digital yang bermanfaat: edukatif dan mencerahkan. Hanya dengan handphone, Anda bisa membuat konten positif. Baik berupa tulisan, gambar, atau video. Kita tidak bisa hanya melarang orang mengakses konten negatif. Kita perlu menyediakan alternatif: konten digital positif.

Mari kita tolong-menolong dalam kebaikan dan takwa.

3. Organisasi Takwa

Kegiatan takwa perlu terorganisir rapi – meski sebagian perlu tetap personal. Dengan organisasi, kita bisa mengerjakan hal-hal yang tidak mungkin bila dikerjakan seorang secara personal. Hasil kerja organisasi lebih besar dari hasil kerja masing-masing individu bila dijumlahkan. Organisasi adalah sebuah sinergi.

1 + 1 = 3 adalah sinergi. Bila 1 + 1 = 2, biasa saja, tidak perlu organisasi.

Kisah lama barangkali bisa jadi inspirasi.

Waktu itu Udin bermimpi diajak oleh malaikat jalan-jalan melihat-lihat surga dan neraka.

“Apakah kamu ingin melihat surga dulu atau neraka dulu?”
“Memang ada apa?” tanya Udin.
“Di surga sedang ada nikmat paling lezat. Sedangkan di neraka sedang ada siksa yang paling pedih.”

Udin berpikir sejenak, “Aku pilih melihat neraka dulu aja.”

Udin dibawa untuk melihat neraka. Siksa paling pedih di neraka adalah penduduk neraka disuruh istirahat berkumpul. Lalu disediakan makanan yang lezat dengan syarat makannya harus pakai sendok yang panjangnya dua meter. Hanya bisa dipegang ujungnya saja. Bila dipegang tengahnya maka akan terbakar. Setiap penghuni neraka akan mengambil makanan itu, lalu mengarahkan ke mulut, selalu jatuh makanannya karena sendok yang terlalu panjang. Penduduk neraka makin merasa tersiksa.

Berikutnya Udin dibawa untuk melihat surga yang sedang menikmati kenikmatan paling lezat.

Penduduk surga dikumpulkan. Lalu dihidangkan makanan yang lezat. Syarat untuk makan harus menggunakan sendok yang panjangnya dua meter. Hanya bisa dipegang ujung-ujungnya saja. Sama dengan penduduk neraka. Bila dipegang tengahnya juga terbakar.

Penduduk surga itu mengambil makanan dengan sendok panjang, lalu menyuapkan makanan ke temannya. Begitu juga temannya, mengambil makanan pakai sendok panjang lalu menyuapkan ke teman lainnya lagi. Apa yang jadi siksa pedih bagi penduduk neraka berubah menjadi nikmat paling lezat bagi penduduk surga. Kerja sama sinergi menjadikan segalanya penuh arti.

4. Pamer Takwa

Akhir-akhir ini kita disuguhi tontonan digital di mana para artis pamer kekayaan dan kemewahan. Sosiolog khawatir bahwa pamer kekayaan ini bisa menimbulkan iri dengki, kemarahan, dan kekecewaan di kalangan masyarakat luas. Di mana, saat ini, penduduk kesulitan mencari kerja sementara para selebritis pamer mudahnya hidup bergelimang harta.

Barangkali sosiolog itu benar. Dia memberi peringatan resiko yang bisa terjadi atas pameran kemewahan itu, sistem sosial yang tidak adil.

Seharusnya kita memamerkan ketakwaan dengan tujuan untuk memberi inspirasi agar lebih banyak orang ikut berbuat takwa. Perlu kita ingat bahwa hanya jenis takwa tertentu yang bisa dipertontonkan. Sementara sebagian besar takwa yang lain justru harus dirahasiakan. Perlu kehati-hatian untuk memilihnya.

“Jika kamu menampakkan sedekah-sedekahmu, maka itu baik. Dan jika kamu menyembunyikannya dan memberikannya kepada orang-orang fakir, maka itu lebih baik bagimu dan Allah akan menghapus sebagian kesalahan-kesalahanmu. Dan Allah Mahateliti apa yang kamu kerjakan.” (QS 2:271)

“Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling bertakwa diantara kamu” (QS 49: 13).

Mari berlomba-lomba dan bekerja sama dalam takwa.

Bagaimana menurut Anda?

Tobat Positif

“Tiada tuhan selain Engkau. Maha Suci Engkau. Sungguh aku termasuk orang dzalim.” (QS 21:87)

Manusia pasti pernah berdosa. Anda punya dosa. Saya juga punya dosa. Siapa pun orangnya, apalagi di jaman digital, pasti punya dosa. Bisa saja dosa itu disengaja. Bisa juga tanpa sengaja. Maka taubat adalah jalan terbaik. Taubat, tobat, adalah proses kembali kepada yang benar, kembali menuju Allah.

Renungan Tobat Ramadhan

1. Menghindari Halal
2. Tobat Digital
3. Drama Kosmis
4. Tobat Positif
5. Diskusi

Bulan Ramadhan adalah bulan suci, penuh ampunan. Saat yang tepat bagi kita untuk bertobat. Dan, setiap bulan adalah bulan suci, yang mengajak kita, untuk bertaubat.

1. Menghindari Halal

Puasa adalah menahan diri, dari hal-hal yang halal. Apalagi hal-hal haram, jauh-jauh buang saja mulai Ramadhan ini. Makan, minum, dan hubungan badan adalah perkara halal. Tetapi dilarang dilakukan selama puasa Ramadhan, dan puasa pada umumnya. Apalagi korupsi!? Haram dilakukan kapan pun. Maka benar-benar terlarang di bulan suci dan semoga terus bisa dijauhi selamanya.

Makan siang, di hari-hari biasa, adalah halal. Kita perlu membatasinya. Selama bulan puasa kita hanya makan sekedarnya di waktu berbuka, senja. Dan kemudian makan sekedarnya lagi di waktu sahur, jelang subuh. Perbedaan kuantitas makan jauh timpang, di antara hari-hari biasa, yang tiga kali dengan masing-masing porsi penuh. Sedangkan, ketika puasa, menjadi hanya dua kali dengan porsi sekedarnya saja.

Ibadah puasa ini, tampak sudah, mengantisipasi bahwa umat manusia pada suatu saat akan mengkonsumsi makanan – dan lain-lainnya – secara berlebihan. Saat ini, kita menghadapi lebih besar resiko penyakit gula, diabetes, dibanding masa beberapa abad lalu. Salah satu penyebabnya adalah pola makan yang lebih besar porsinya. Dengan berpuasa, kita diajak untuk kembali ke pola konsumsi yang seimbang.

Pola hidup seimbang, dan sederhana, menjaga hidup kita lebih sehat, jasmani dan ruhani. Di saat yang sama, kita menyiapkan sumber energi untuk generasi masa depan. Tidak semua energi habis dikonsumsi di masa kini. Yang lebih parah justru terjadinya perusakan lingkungan yang membahayakan generasi masa depan; contoh buruk: penggundulan hutan di Aceh dan Sumatera berdampak bencana banjir dan longsor 2025; sungguh memilukan. Puasa mengajak kita membatasi diri demi diri sendiri, orang lain, dan generasi nanti.

Konsumsi digital sudah menjadi kepastian jaman ini. Apakah orang-orang melahap konsumsi digital dengan seimbang? Tampaknya sulit sekali mengatakan bahwa saat ini kita berada dalam ekosistem digital yang positif.

2. Tobat Digital

Puasa di era digital ini, selayaknya, juga perlu dimaknai sebagai puasa digital. Membatasi konsumsi digital yang tidak berguna. Menghindari share informasi yang hoax, fitnah, atau hasutan semata. Mulai memproduksi informasi-informasi yang bermanfaat penuh makna, hanya informasi yang bermanfaat saja.

Bisa kita ringkas, dosa digital yang sering terjadi dan perlu kita tobat di antaranya adalah:

1. Membaca atau melihat konten digital yang tidak layak.

2. Share atau ikut menyebarkan, bahkan membuat, konten negatif misal hoax atau fitnah.

3. Tidak memproduksi konten positif.

Bentuk tobat kita di antaranya:

1. Menghindari konten yang tidak layak.

2. Tidak share atau tidak berbagi konten sembarangan.

3. Membuat, atau memproduksi, konten positif.

Media digital bisa lebih berbahaya dari teknologi-teknologi lain karena kekuatan “enframing” yang dahsyat. Jika teknologi lain, umumnya, kita yang mengendalikan teknologi tersebut. Tetapi media digital, manusia yang dikendalikan oleh teknologi digital. Lebih parah lagi, teknologi digital mengendalikan manusia tidak hanya atas kekuatan teknologi itu sendiri. Tetapi di ujung sana, ada manusia lain yang mengendalikan teknologi digital untuk kemudian mengendalikan rakyat jelata. Manusia di ujung sana pun, pada akhirnya, juga dikendalikan oleh teknologi digital. Kekuatan “enframing” dari media digital memang mengerikan.

Dengan berpuasa, kita bisa tobat digital. Kembali menggunakan media digital dengan seimbang demi kebaikan bersama.

3. Drama Kosmis

Masalah dosa dan tobat, bisa kita baca, sudah terjadi sejak awal penciptaan manusia. Kitab suci menceritakan bahwa iblis berbuat dosa. Lalu Allah menegur. Bukannya iblis bertobat, justru membela diri dengan sombong, “Engkau ciptakan dia dari tanah, sedangkan aku dari api.” Iblis berbuat salah dilanjutkan dengan kesalahan berikutnya.

Sementara Nabi Adam dan Siti Hawa, kakek dan nenek moyang manusia, juga melakukan kesalahan. Namun segera bertobat. Bahkan sebelum ada teguran sama sekali. Kanjeng Nabi dan Bunda Hawa bertobat, “Wahai Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami. Dan seandainya Engkau tidak mengampuni kami dan mengasihi kami, sungguh kami termasuk orang-orang yang merugi.” Tuhan menerima tobat Nabi Adam dan Siti Hawa. Kemudian mengutus beliau berdua untuk menjadi pemimpin di bumi ini.

Drama kosmis yang diabadikan dalam kitab suci ini bisa kita baca dengan beragam prespektif. Iblis salah karena menilai seseorang dari asal muasalnya. Dia merasa sombong, lebih tinggi, lantaran tercipta dari api. Tentu saja itu pandangan yang salah. Karena, dalam kondisi saat itu, sedang membahas keilmuan, sains, dengan menyebutkan “semua nama.”

Di sisi lain, Nabi Adam, manusia, mendapat banyak karunia bebas menikmati apa pun kecuali satu hal: dilarang mendekati pohon buah khuldi. Nyatanya, manusia tergelincir. Melanggar larangan yang hanya satu-satunya. Tetapi kita, saat ini, menghadapi banyak larangan: dilarang mencuri, dilarang korupsi, dilarang membunuh, dilarang berkerumun, dilarang hoax digital, dilarang menyebarkan kebencian, dan lain-lain. Sanggupkan manusia untuk tidak tergelincir?

Tobat adalah suatu keniscayaan, keharusan, kepastian.

4. Tobat Positif

Semua orang harus bertobat. Tobat adalah tindakan yang baik. Tobat adalah tindakan positif. Tobat sama sekali tidak bermakna negatif. Justru tidak mau bertobat adalah perilaku yang negatif.

Memang, tobat sering diasosiasikan dengan dosa. Sementara, dosa itu bermacam-macam: dosa yang disengaja dan tak disengaja. Dosa yang disengaja jelas harus bertobat. Apalagi pelaku sadar, dengan sengaja, berbuat dosa. Sedangkan dosa yang tak disengaja juga harus tobat. Hanya saja, karena tak sengaja, barangkali, pelaku tidak sadar bahwa ia sudah berbuat dosa.

Saya mencoba merumuskan dosa jenis ketiga: dosa potensial. Secara aktual tidak berdosa, tidak melanggar apa pun. Tetapi secara potensial dapat merugikan, pasti merugikan pihak lain. Maka dosa ini juga perlu tobat.

Misal Andi ikut lomba catur menang dan mendapat hadiah 200 juta rupiah. Bagi Andi, ini adalah suatu prestasi – dan memang prestasi. Tetapi Andi sudah melakukan dosa potensial. Meski Andi tidak melakukan kesalahan, tidak curang, dan tidak licik.

Lawan Andi di final adalah Budi. Karena Budi kalah maka Budi tidak mendapat hadiah 200 juta. Padahal Budi membutuhkan uang 200 juta itu untuk menebus rumah orang tuanya yang terbelit hutang. Akibat tidak tersedia uang hadiah 200 juta itu, orang tua Budi terusir dari rumahnya dan hidup terlunta-lunta tanpa kepastian tempat tinggal. Andi tidak melakukan dosa secara aktual, baik sengaja atau tidak. Tapi Andi sudah berdosa secara potensial. Seandainya Andi kalah, Budi menang, maka bisa menyelamatkan rumah orang tua Budi.

Dengan sudut pandang itu, maka setiap manusia pasti punya dosa. Tapi dosa potensial itu tidak bersifat negatif. Justru bersifat positif ketika seseorang meraih prestasi tertentu. Seorang pemuda yang memenangkan pilkada walikota maka ia berprestasi terpilih sebagai walikota. Di saat yang sama, ia menanggung beban dosa potensial lantaran sudah menyingkirkan calon walikota lainnya, yang mungkin sangat membutuhkan kursi walikota. Demikian juga seorang bapak yang terpilih sebagai presiden adalah suatu prestasi. Di saat yang sama, tentu banyak dosa potensial yang menyertai proses pemilihan presiden. Sekali lagi, prestasi itu sendiri adalah positif. Maka tobat atasnya, kembali kepada Tuhan karenanya, adalah positif.

Sehingga kita perlu sampai kepada tahap tobat positif. Tobat setiap saat.

5. Diskusi

Bagaimana menurut Anda?

Banyak hal yang bisa kita diskusikan. Apakah manusia sebaiknya fokus kepada hal positif? Misal prestasi, kemajuan, pembangunan, dan lain-lain. Atau, manusia perlu lebih fokus kepada hal negatif? Misal dosa, kejahatan, dan kebodohan. Dengan fokus kepada dosa, manusia jadi waspada menjaga diri dari dosa dan bertobat atas dosa.

Solusi awal adalah perlu fokus kepada hal yang positif bagi orang-orang yang lemah. Orang miskin perlu berusaha menjadi kaya; anak muda perlu belajar agar banyak ilmu; orang lemah perlu strategi agar penuh daya. Sementara, bagi mereka yang sudah kuat perlu fokus kepada hal negatif. Pejabat perlu banyak tobat; pengusaha perlu membersihkan diri; para bos perlu instropeksi.

Apa batasan sebagai orang kuat dan orang lemah? Bagaimana menurut Anda?

Gelap Semua

“Sungguh, benar-benar, telah kami ciptakan manusia dalam sebaik-baiknya bentuk.” (QS 95:4)

Kita, manusia, adalah yang terbaik di alam semesta. Kita adalah ciptaan Allah yang paling sempurna. Allah meniupkan ruh kepada manusia. Manusia adalah wakil Allah untuk mengelola alam semesta. Manusia adalah wakil alam untuk menghadap kepada Allah.

Menjadi Manusia Sempurna (Perspektif Sufi) – ARTIKULA.ID

1. Wakil Tuhan dan Alam
2. Gelap dan Cahaya
3. Gelap Semua
4. Diskusi
5. Penutup

Tetapi, manusia juga makhluk yang lemah, yang mudah berkeluh kesah. Pun manusia mudah tersesat. Terjerat pada nafsu serakah. Teperangkap dalam gelap. Hidup dari satu dosa ke dosa lainnya, terlelap.

1. Wakil Tuhan dan Alam

“Sungguh Aku akan menjadikan khalifah di bumi…” Tuhan memilih manusia menjadi wakilNya di bumi. Tuhan melengkapi manusia dengan sifat-sifat mulia. Manusia bisa berpikir cerdas, menciptakan teknologi segala rupa, dan membangun peradaban. Tuhan menundukkan jagat raya, alam semesta, untuk manusia.

Di bumi, manusia bertugas memakmurkan bumi dan isinya. Tetapi, malaikat pernah meragukan manusia. Ada kecenderungan manusia untuk saling menumpahkan darah, saling bermusuhan dan saling fitnah. Keraguan itu pernah terjadi dalam sejarah. Manusia saling berperang. Padahal, kita seharusnya saling mengenal dan saling mengasihi.

Umat manusia bisa bertobat. Memperbaiki kesalahan masa lalu. Untuk kemudian bersama-sama, bersatu, memajukan alam semesta ini. Semoga Allah menerima taubat kita.

“Dan tidak Aku ciptakan jin manusia kecuali untuk beribadah kepada Ku.” Manusia perlu ingat, sesibuk apa pun kita di alam ini, tugas utama kita adalah beribadah kepada Allah. Bahkan ketika kita berkarya, bekerja, sejatinya, adalah untuk beribadah kepada Allah. Di satu sisi, usaha kita memperoleh pahala, di sisi lain bermanfaat bagi umat manusia.

Sebagai abdi Tuhan, kita mengajak seluruh alam untuk bersama-sama kembali kepada Allah. Mari kita kembali ke jalan yang lurus, jalan yang diridhaiNya.

2. Gelap dan Cahaya

Malam itu, Udin kegelapan dalam kamar yang lampunya tiba-tiba mati. Tanpa sengaja kunci kamar di atas meja terlempar ke dalam gelap. Untung saja, di luar kamar suasana terang-benderang. Lalu Udin pergi ke luar. Dia mondar-mandir mencari kuncinya yang hilang. Tidak ia temukan.

Melihat Udin yang mondar-mandir terus, tetangga bertanya,

“Sedang apa kamu, Udin?”
“Aku sedang mencari kunci kamar yang terjatuh.”
“Di mana jatuhnya?”
“Di dalam kamar.”
“Lalu, mengapa kamu mencarinya di luar kamar?”
“Karena di dalam kamar gelap sekali.”

Tentu saja, kita tahu, Udin tidak akan pernah menemukan kunci itu.

Kita, manusia, sering salah tempat mencari kunci, kunci kebahagian. Manusia mencari kunci kebahagiaan dengan mengumpulkan harta kekayaan. Manusia mengira bahwa ia akan hidup bahagia dengan bergelimang harta. Ternyata tidak. Makin banyak harta makin besar gelisahnya. Makin besar rasa tidak puasnya. Seandainya manusia memiliki segunung emas maka ia akan menginginkan gunung emas kedua. Bila punya dua gunung emas maka ingin tiga. Begitu seterusnya tidak pernah puas. Tidak pernah bahagia.

Harta kekayaan bukan tempat yang tepat untuk mencari kebahagiaan.

Harta kekayaan adalah kegelapan. Maka butuh cahaya untuk menjadikannya terang. Dengan cahaya Tuhan maka harta menjadi bermakna. “Allah adalah cahaya langit dan bumi.”

Harta yang kita persembahkan untuk Allah menjadi jalan kunci bahagia. Harta untuk menyantuni fakir-miskin, yatim-piatu, pendidikan, dan orang-orang yang membutuhkan, menjadi cahaya umat manusia. Cahaya di dunia dan akhirat kelak.

Perlu kita ingat, harta bukan tujuan. Tujuannya adalah beribadah kepada Allah. Bila Anda punya harta maka beribadahlah dengan harta Anda. Tetapi Anda punya akal, pasti, maka beribadahlah dengan akal Anda. Kita punya jiwa maka mari beribadah sepenuh jiwa. Dengan harta atau tanpa harta kita tetap bisa beribadah kepadaNya.

Kita punya harta yang paling berharga: cahaya Tuhan dalam diri kita. Mari kita ikuti bimbingan cahayaNya.

3. Gelap Bersama

Sebagai manusia, jelas, kita tidak hidup menyendiri. Kita hidup secara sosial. Maka kita perlu membangun kehidupan sosial yang penuh cahaya.

“Dan peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang zalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya,” (Q 8:25)

Allah mengingatkan bahwa siksaan tidak hanya terjadi kepada pendosa saja. Bahkan orang yang tidak berdosa bisa terkena dampaknya. Gempa bumi tidak pilih-pilih meruntuhkan hanya rumah maksiat saja. Bahkan rumah ibadah bisa juga kena.

Pandemi covid yang tengah melanda dunia tidak hanya menyerang orang-orang yang memangsa kelelawar di alam liar. Covid juga menyerang petugas kesehatan yang mengabdi kepada masyarakat. Pun menyerang juru dakwah yang mengajak ke arah kebaikan.

Korupsi dana sosial tidak hanya merugikan anggaran negara. Korupsi menyengsarakan rakyat yang sudah sulit kerja, sulit makan, makin sulit terjepit pejabat yang tamak mencuri dana rakyat.

Kegelapan malam menyelimuti seluruh penjuru negeri.

Membangun tatanan sosial yang adil sejahtera adalah tanggung jawab kita bersama. Kita bertanggung jawab sesuai kapasitas masing-masing. Presiden bertugas memimpin seluruh negara lolos dari pandemi dan krisis ekonomi. Menteri bertugas menjalankan program-program pemerintah dengan memberikan hasil nyata. Seniman bertugas “membakar” kesadaran masyarakat. Ilmuwan bertugas “mencerahkan” cakrawala warga. Rakyat bertugas bekerja sesuai bidangnya.

Tidak ada yang menganggur di tatanan sosial kita. Pun tidak diperlukan orang-orang yang nyinyir satu sama lain. Benar saja, kita perlu saling memberi nasehat. “…dan saling menasehati dalam kebenaran, dan saling menasehati dalam kesabaran.”

Tiap tahun kita memperoleh karunia bulan suci penuh rahmat kasih sayang. Mari buka mata untuk melihat cahaya. Mari buka mata hati untuk menerima cahaya sejati.

4. Diskusi

Mengapa ada kegelapan? Makna-gelap memang beragam. Penyebab gelap adalah tekonologi modern yang mengandalkan angka-angka. Sejatinya, teknologi justru bisa menghasilkan terang cahaya. Tetapi, beberapa manusia mengubah terang teknologi ini menjadi gelap yang menyelimuti.

Teknologi lampu jelas menghasilkan terang cahaya. Kemudian, lampu itu dihitung angka keuntungannya; angka konsumsi; angka produksi; sampai angka kerusakan alam. Pada gilirannya, lampu yang terang itu berdampak pada kerusakan alam yang makin gersang. Teknologi lampu menjadikan alam gelap gulita. Bukannya itu terbalik?

Teknologi AI (akal imitasi – artificial intelligence) menghabiskan energi sangat boros. Energi listrik dari negara miskin dihisap habis-habisan oleh negara kaya melalui AI. Pada gilirannya, negara miskin mau pun kaya sama-sama gelap semua.

Angka-angka telah menyulap manusia menjadi gelap mata. Apa solusi yang tersedia?

5. Penutup

Gelap dan terang adalah niscaya bagi umat manusia. Habis gelap terbitlah terang. Mahasiswa demo “Indonesia Gelap.” Kita menyongsong Indonesia Emas dengan menapaki jalan gelap dan percik cahaya. Bagaimana menurut Anda?

Puasa Agar Berprestasi

“Wahai orang-orang yang beriman telah diwajibkan atas kalian semua berpuasa, sebagaimana diwajibkannya atas orang-orang sebelum kamu, agar kalian menjadi orang-orang yang bertakwa.” (QS 2: 183)

Tujuan berpuasa adalah menjadi orang yang bertakwa. Apa itu takwa? Takwa adalah berprestasi. Tidak sebarang prestasi. Tapi prestasi yang diraih dengan cara menjalankan perintah-perintah Allah dan menjauhi semua laranganNya.

1. Takwa dan Tawakal
2. Iman dan Islam
3. Masa Lalu Menuju Masa Depan
4. Diskusi
5. Penutup

Tampak kontradiksi, berkebalikan. Bagaimana orang yang puasa, lemah dan lapar, harus mengejar prestasi? Justru ini adalah rahasia yang perlu kita bahas. Kita akan mencoba menyandingkan makna takwa dengan tawakkal, berserah diri.

  1. Takwa dan Tawakkal

Berprestasi adalah usaha manusia, dalam bertakwa, untuk memenuhi tanggung jawabnya memakmurkan alam semesta. Bersesuaian dengan ayat yang mengisahkan bahwa Allah hendak menciptakan khalifah, wakil, di muka bumi ini yaitu Nabi Adam – dan anak cucunya. Manusia bertugas memerankan peran leadership dan manajerial untuk mengelola alam semesta ini.

Ketika manusia berpuasa, ia dituntut untuk bertakwa, meraih prestasi. Tentu saja prestasi ini perlu kita seimbangkan dengan kondisi fisik yang tidak makan dan tidak minum sepanjang hari. Sehingga, prestasi ini lebih banyak menuntut strategi dan pemikiran tingkat tinggi.

Sementara orang-orang dengan tugas yang berat, yang menuntut kekuatan fisik prima, diijinkan untuk tidak berpuasa. Dan dapat mengganti puasa itu di lain hari. Petani yang bekerja di sawah, di bawah terik matahari, barangkali terlalu berat bila harus berpuasa. Petani seperti itu boleh tidak puasa. Maka kita perlu memikirkan sistem pertanian baru, yang lebih mengandalkan strategi pikiran, sehingga para petani tetap dapat menjalankan ibadah puasa di bulan ramadhan – dan makin berprestasi di bidang pertanian.

Allah menjanjikan bagi orang-orang yang bertakwa akan mendapatkan jalan keluar dari arah yang tidak disangka-sangka. Allah juga memberikan kedudukan paling mulia kepada orang-orang yang bertakwa di antara kalian.

Tawakkal adalah pasangan dari bertakwa. Tawakkal adalah berserah diri atau mewakilkan urusan kepada yang Maha Baik yaitu Allah semata. “Dan bertawakkal lah kepada Allah, dan cukuplah Allah sebagai wakil.”

Terhadap perkara yang kita tidak mampu mempengaruhi maka bertawakkal adalah jalan terbaik. Percaya bahwa Allah selalu mengurus segala sesuatu dengan paling baik. Anda lahir dari pasangan ibu dan bapak Anda. Anda tidak bisa memilih agar lahir dari orang lain. Maka bertawakkal terhadap kelahiran Anda, adalah yang terbaik. Berprasangka bahwa Allah telah memilihkan untuk Anda orang tua yang paling tepat. Bersyukur atas pilihan Allah. Dan memang Allah selalu memilihkan yang terbaik.

Kita hidup di bumi ini, tidak bisa memilih untuk hidup di bulan atau Mars, ketika dilahirkan waktu dulu. Kita perlu menyikapi dengan tawakkal: tinggal di bumi adalah pilihan dari Allah yang terbaik untuk umat manusia. Hidup menjadi begitu indah, nyaman, dan tenteram ketika semua orang mampu bertawakkal, berserah diri.

Kondisi lapar, haus, dan lemah ketika menjalani puasa mendorong kita untuk lebih mudah bertawakkal, berserah diri, kepada Allah. Itu dorongan alamiah manusiawi. Tetapi Allah mengingatkan bahwa tujuan puasa adalah agar kalian menjadi orang yang bertakwa, orang-orang yang meraih prestasi. Maka puasa Romadhon adalah proses manusia menuju keseimbangan takwa dan tawakkal, yang utuh.

2. Iman dan Islam

Puasa hanya diwajibkan kepada orang-orang yang beriman. Maka bolehkah orang islam tidak berpuasa? Mungkin saja karena dia hanya islam tapi belum beriman?

Proses berpikirnya bisa dibalik: berpuasalah agar kamu termasuk orang yang beriman. Karena, bagaimana seseorang bisa yakin dirinya sudah termasuk sebagai orang yang beriman dengan benar? Maka puasa adalah sebagai tanda, dan usaha, agar kita termasuk orang-orang yang beriman.

Dalam suatu ayat dikisahkan ada seorang kampung yang mengaku sudah beriman. Tetapi pengakuan itu tidak begitu saja valid. Orang kampung itu bisa jadi sudah islam, dengan membaca syahadat, tetapi untuk menjadi beriman masih perlu jalan panjang dalam taat kepada Allah dan Rasul.

Di Indonesia, kita bisa mengaku sebagai orang islam dengan mudah. Tunjukkan ktp Anda yang bertuliskan sebagai beragama islam maka Anda terbukti sebagai islam. Sedangkan apa bukti Anda sebagai orang yang beriman? Puasa Ramadhan adalah salah satu bukti kita sebagai orang beriman, bertakwa, dan bertawakkal. Semoga Allah menerima amal kita dan mengampuni semua dosa.

3. Masa Lalu ke Masa Depan

Perintah puasa juga telah diwajibkan kepada orang-orang generasi masa lalu. Dan tetap wajib pula bagi generasi masa depan. Puasa adalah ibadah yang berdimensi lintas waktu – masa lalu, masa kini, dan masa depan.

Barangkali kita sudah akrab dengan istilah kepompong Ramadhan. Ulat yang begitu buas memangsa daun dan buah. Menggunduli pohon sampai gersang. Bisa berubah menjadi kepompong. Tidak makan dan tidak minum berhari-hari. Menahan diri dari banyak hal. Ulat berpuasa. Pada akhirnya ulat berubah menjadi kupu-kupu yang begitu indah, bisa terbang. Membantu penyerbukan, pembuahan.

Puasa Ramadhan menuntut manusia untuk jadi kepompong. Membatasi diri dalam konsumsi pribadi. Memperbanyak sedekah membantu orang lain, memudahkan orang lain menjalani hidup ini, meringankan beban mereka.

Penurunan konsumsi – dengan mengurangi makan, minum, dan konsumsi energi – yang tampak baik bagi seseorang bisa berefek buruk bagi sistem ekonomi. Terutama bagi pendukung teori ekonomi Keynesian berasumsi bahwa pertumbuhan ekonomi diukur dari pertumbuhan konsumsi. Jadi penurunan konsumsi di bulan Ramadhan berdampak menurunkan pertumbuhan ekonomi.

Solusi sederhana adalah turunkan konsumsi pribadi Anda dan salurkan konsumsi itu untuk kebutuhan sosial. Maka secara agregat, total konsumsi, akan tetap naik. Di saat yang sama, kita membantu mewujudkan pemerataan ekonomi. Menurunkan ketimpangan konsumsi. Dan berhemat untuk generasi masa depan.

Kita bisa melihat dari sisi futuristik; dari masa depan terbaik yang kita impikan maka perilaku takwa apa yang tepat untuk masa kini? Menolong anak yatim; membantu tetangga yang miskin; membela orang-orang lemah adalah masa depan yang indah. Setelah melihat masa depan, kemudian, kita komitmen dengan masa kini yang sesuai.

4. Diskusi

Bagaimana menurut Anda? Banyak hal yang bisa kita diskusikan lebih lanjut.

Takwa Tanpa Harta

Takwa terbebas dari harta. Takwa tidak harus menggunakan harta. Demikian juga, harta tidak menghalangi takwa. Kita menempatkan harta atau kuasa “sekadar” sebagai teman untuk takwa. Kita tidak mengangkat harta sebagai sarana untuk takwa dan kita tidak meremehkan harta sebagai perusak takwa.

Bersama harta, kita bisa bertakwa; tanpa harta kita juga bisa bertakwa. Makna harta bisa kita perluas sebagai seluruh semesta. Dengan pemahaman ini, setiap manusia selalu bisa bertakwa. Di saat yang sama, kita menghormati alam semesta sebagai teman bagi kita.

5. Penutup

Semoga kita semua menjadi orang-orang yang bertakwa: berprestasi di jalan ilahi dengan menjalankan perintah dan menjauhi larangan.

Mudik Normal Gak Normal

Mudik dilarang di tahun 2021 ini, dari 6 April sampai 17 April, kabarnya.

Teman-teman pekerja dan pengusaha di bidang transportasi bis, angkutan umum, pesawat, dan lain-lain harus berpikir keras menyiasati larangan mudik, yang tentu sulit. Sementara yang BUMN semisal Kereta Api atau Garuda, juga sulit, tapi bisa berharap ada bantuan dari pemerintah, barangkali.

Saya sendiri memandang situasi pandemi saat ini adalah normal gak normal. Kita perlu kembali beraktivitas normal dengan cara tidak normal.

Kasus Dunia Menanjak Lagi

Setelah sempat menurun di bulan Februari, kasus baru di dunia kembali menanjak. Di bulan April kembali ada 600 ribu kasus baru per hari. Mendekati puncak yang hampir 800 ribu per hari di bulan Januari 2021.

Beberapa negara penyumbang kenaikan kasus baru ini di antaranya Prancis, India, Iran, dan Jerman. Prancis di atas 50 ribu per hari.

Sementara Iran di atas 20 ribu kasus baru per hari.

Indonesia Baik

Kondisi pandemi di Indonesia tampak lebih baik relatif terhadap negara-negara yang sedang menanjak di atas.

Meski tampak membaik, standar prokes harus terus kita jalankan. Sedikit lengah kasus dapat melonjak sewaktu-waktu. Barangkali kita bisa belajar dari pengalaman negara tetangga, Malaysia.

Sepanjang Juni – Juli – Agustus 2020, tahun lalu, tampaknya Malaysia sudah berhasil menangani pandemi covid. Nyaris tidak ada kasus baru. Paling hanya 1 atau 2 orang terinfeksi untuk kemudian sembuh dalam beberapa hari. Bulan September ada sedikit lonjakan. Tampaknya tidak bisa dihentikan, lonjakan tersebut, sampai memuncak di Januari 2021 dengan 6 ribuan kasus baru per hari. Hingga April, saat ini, pandemi di Malaysia belum tampak ada tanda-tanda akan usai. Penambahan kasus harian hampir 2 ribu orang.

Larangan Mudik Tepat?

Tepat, dilarang mudik bila tujuannya mencegah penambahan kasus baru. Tidak tepat bila dilihat dari beberapa pihak yang terdampak negatif larangan mudik. Misal dari perusahaan otobis, bisa kesulitan secara keuangan dengan adanya larangan mudik ini. Tetapi barangkali akan ada solusi terbaik untuk itu semua.

Saya kira pemerintah sudah tepat dengan menerapkan “pembatasan mikro,” tidak lagi pembatasan berskala besar. Kita perlu melindungi masyarakat dengan tepat sasaran. Karena pandemi sudah berlangsung lebih dari setahun maka banyak pengalaman dari sisi masyarakat mau pun pemerintah. Masing-masing dari kita dapat beradaptasi sesuai standar prosedur kesehatan.

Larangan mudik apakah termasuk berskala mikro atau berskala besar?

Tampaknya sulit untuk mengatakan sebagai skala mikro. Larangan mudik berlaku di berbagai pulau di nusantara. Berlaku di Jawa, Sumatera, Sulawesi dan lain sebagainya. Berbagai macam resiko perlu kita timbang ulang.

Solusinya adalah: normal tidak normal. Semua pihak beraktivitas secara normal dengan mematuhi prokes. Titik yang rawan perlu pengawasan lebih ketat atau dihentikan sementara secara mikro. Normal sih, tapi tetap tidak normal.

Bagaimana menurut Anda?

Masalah Indonesia: Tidak Ada

Masalah terbesar di Indonesia adalah tidak ada masalah. Semua baik-baik saja. Bahkan Indonesia lebih baik dari negara lain dalam banyak aspek.

Meski pun pandemi covid memorak-porandakan Indonesia tetapi kondisi pandemi di Indonesia lebih baik dari negara lain. Tidak ada masalah. Meski pertumbuhan ekonomi Indonesia negatif di tahun 2020 ini tetapi Indonesia lebih baik dari negara lain. Tidak ada masalah. Meskipun kasus baru infeksi covid harian sekitar 5 ribuan tetapi Indonesia lebih baik dari negara lain. Tidak ada masalah.

Masalah Ekonomi

Sekitar 5 hari yang lalu, BI menyatakan bahwa Indonesia berada dalam lingkaran setan ekonomi. Dan sulit keluar dari jeratan lingkaran setan itu. Tingkat permintaan rendah maka investor tidak berani investasi. Karena investasi rendah maka serapan tenaga kerja rendah. Akibat dari serapan tenaga kerja rendah maka permintaan dan konsumsi jadi rendah. Begitu seterusnya membentuk lingkaran setan.

BI sendiri telah melakukan berbagai macam kebijakan moneter untuk memperbaiki situasi. Tetapi lingkaran setan begitu kuatnya. Saya kira, BI sudah benar dengan meluncurkan beragam kebijakan moneter yang tepat.

Menyusul BI, 3 hari lalu, Bu Menteri Sri Mulyani juga menyatakan bahwa Indonesia sulit lepas dari jebakan pendapatan menengah. Indonesia sulit menjadi negara maju. Terjebak dengan pendapatan menengah ke bawah. Bu Menkeu, tampak, sudah meluncurkan beragam kebijakan fiskal yang tepat sasaran untuk mengatasi jebakan tersebut.

Kita bisa membayangkan betapa rumitnya menghadapi kombinasi problem: lingkaran setan dan jebakan menengah. Pun yang menyatakan itu adalah pihak-pihak yang paling kompeten. BI adalah paling berhak menentukan kebijakan moneter sedangkan menkeu (dan presiden) adalah yang paling berhak menentukan kebijakan fiskal.

Lalu, apa yang bisa kita perbaiki?

Menemukan Masalah

Apakah kita benar-benar sudah menemukan masalah yang tepat? Untuk kemudian kita susun solusi untuk menyelesaikannya? Berapa waktu dan energi yang dibutuhkannya?

Lingkaran setan dan jebakan pendapatan adalah dua masalah yang sudah terungkap. Saya sendiri melihat ada beberapa prospek masalah dan solusi: politik, pendidikan, dan agama. Meski terjadi beberapa kasus korupsi di ranah politik, Indonesia termasuk negara yang demokratis. Kualitas pendidikan Indonesia tidak bagus dalam survey PISA dan TIMSS tetapi siswa Indonesia sering juara di kancah internasional. Akhir-akhir ini kita dihebohkan dengan teror ekstremis tetapi di Indonesia berkembang hidup keberagamaan yang toleran.

Dari semua masalah rumit itu, lingkaran setan dan jebakan, saya menduga masalah utamanya ada di kesenjangan ekonomi. Ukuran kesenjangan ekonomi kita makin memburuk, makin timpang. Di mana tahun 2021, indeks Gini melonjak timpang dari 0,381 menjadi 0,385. Saya sendiri mengembangkan ukuran nilai ketimpangan, nilai kesenjangan, yang juga makin timpang dari 2,22 melonjak ke 2,25. Angka 2,25 ini menunjukkan bahwa ketimpangan pendapatan rakyat Indonesia mengikuti kurva Lorentz berpangkat 2,25 – lebih parah dari timpang kuadrat.

Solusi Fokus

Beragam solusi perlu terus dikembangkan untuk memberikan hasil yang terbaik bagi Indonesia dan dunia. BI memberikan kebijakan moneter yang terbaik. Menkeu (dan presiden) memberikan kebijakan fiskal yang terbaik. Karena BI dan menteri adalah pihak-pihak yang penting bagi negara maka BI dan menteri perlu memastikan bahwa semua kebijakan memberikan hasil sesuai target. Sementara rakyat, kompak bersatu untuk mendukung program memajukan negeri ini.

Di antara banyak solusi itu, saya kira kita perlu fokus kepada salah satu solusi yang prospek: peningkatan kualitas pendidikan bagi seluruh rakyat Indonesia. Di sini peran mendikbud (dan presiden) menjadi penting. Mendikbud bisa menyusun program pendidikan beasiswa penuh dari tingkat SD, SMP, SMA, dan sarjana – negeri atau swasta. Apa yang bisa dibayangkan bila semua generasi muda Indonesia adalah sarjana?

Tentu saja, di saat yang sama, kualitas pendidikan terus kita tingkatkan. Saya sudah menuliskan beragam ide untuk meningkatkan kualitas pendidikan nasional – dengan anggaran murah. Semua generasi muda Indonesia, pada saatnya. berhasil jadi sarjana yang berkualitas. Luar biasa. Hanya membayangkan saja, saya sudah terimbas rasa bahagia.

Lingkaran setan dan jebakan pendapatan dapat diselesaikan dengan kondisi ini.

Generasi muda yang sarjana berhasil meningkatkan pendapatan, relatif terhadap orang tuanya yang tidak sekolah. Pendapatan yang naik mendorong permintaan naik, mendorong investasi naik, mendorong serapan tenaga kerja naik, mendorong pendapat naik. Lingkaran setan terputus. Bahkan berubah menjadi lingkaran malaikat.

Jebakan pendapatan menengah harus lebih hati-hati. Produk dan jasa yang dihasilkan oleh masyarakat perlu diarahkan kepada produk dan jasa yang positif. Para ahli ekonomi masa kini tampaknya lebih fokus kepada pertumbuhan ekonomi. Tanpa terlalu dalam mengkaji dalam bidang apa ekonomi itu tumbuh. Maka, kita perlu hati-hati, ada jebakan pertumbuhan yang berbahaya. Misalnya pertumbuhan di bidang judi, korupsi, minuman keras, obat terlarang, kecanduan digital, dan lain-lain.

Kita perlu mendorong kelas menengah untuk menyadari tanggung jawab internal dan eksternal. Tanggung jawab internal berupa memberikan kinerja terbaik sesuai tanggung jawabnya dan pekerjaan di kantor atau institusi. Menjamin industrinya tumbuh dan meraih profit.

Sedangkan tanggung jawab eksternal adalah setiap orang harus bertanggung jawab terhadap dampak pekerjaan atau lembaganya. Seseorang tidak hanya bertanggung jawab atas gaji, pendapatan, yang ia terima. Dia harus tanggung jawab terhadap dampak umum dari pekerjaannya. Bisnis judi, misalnya, barangkali memberi profit yang besar bagi karyawan dan industrinya. Tetapi merugikan masyarakat luas dalam jangka panjang. Sehingga bisnis judi perlu dihindari atau dibatasi dengan ketat.

Ringkasan Solusi

Mari kita ringkas solusi yang kita usulkan.

1. Mendikbud menjalankan program wajib belajar sampai sarjana dan menjamin program beasiswa, tidak ada pungutan sama sekali dari sekolah atau universitas, negeri atau swasta.

2. Semua, atau sebagian besar, generasi muda adalah sarjana. Mereka bekerja atau berwirausaha yang lebih baik dari generasi sebelumnya.

3. Kinerja generasi muda, yang berpendidikan ini, mendorong pertumbuhan ekonomi: permintaan naik, investasi naik, lapangan kerja naik, permintaan naik, dan seterusnya. Berhasil memotong lingkaran setan.

4. Tanggung jawab internal dan eksternal dari generasi muda terus berkembang. Mereka menjadi lebih sejahtera di saat yang sama menjaga kebaikan seluruh alam semesta. Jebakan pendapatan menengah teratasi dengan cara ini.

5. Generasi muda yang berkembang berasal dari semua kelas, baik kelas kaya mau pun kelas miskin. Perkembangan ini, sudah saya hitung, menurunkan angka ketimpangan ekonomi secara signifikan. Kesetaraan ekonomi meluas. Disusul kemudian kesetaraan politis dan lain-lain untuk menjamin kemajuan bersama.

Pertanyaannya: dari mana kemendikbud bisa membiayai program beasiswa bagi generasi muda sampai sarjana? Ada caranya. Kita punya mendikbud yang kreatif. Ditambah menkeu yang hebat. Pasti bisa.

Bagaimana menurut Anda?

Pancajati: Berani Perang Suci

Bagi beberapa orang tidak masuk akal. Mengapa seseorang berani mengorbankan hidupnya? Bahkan juga menyebabkan jatuh korban terhadap orang lain?

Sulit, bagi kebanyakan orang, untuk memahami. Tetapi kita bisa berusaha untuk memahami. Dan berharap bisa menemukan suatu solusi. Demi kebaikan seluruh penghuni bumi.

Pancajati

Saya merumuskan pancajati yang merupakan lima karakter dari kebenaran sejati. Kali ini, kita akan menerapkan analisis pancajati untuk memahami dan mengkritisi fenomena perang suci yang dikaitkan dengan ajaran agama tertentu. Sebagai pembanding, kita akan menganalisis fenomena lain yang lebih akrab bagi kita: kopi terasa nikmat, berat emas adalah 1 kg, dan rumus matematika 12 + 1 = 13.

Konsep dasar pancajati sudah saya uraikan pada tulisan saya terdahulu: Kebenaran Sejati. Dalam tulisan tersebut saya juga membahas beberapa contoh dinamika konsep eksak formula matematika.

Lima karakter kebenaran adalah, pertama, dinamis yaitu selalu bergerak atau berubah secara dinamis. Kedua, verifikasi yaitu kebenaran merupakan hasil dari proses verifikasi tertentu. Ketiga, cakrawala yaitu kebenaran berlaku pada cakrawala tertentu dan bisa tidak berlaku pada cakrawala berbeda. Keempat dan kelima, interpretasi dan pengalaman, yaitu kebenaran adalah terkait dengan suatu interpretasi dan pengalaman.

Dinamika Perang Suci

Kita bisa melihat dinamika perang dalam sejarah, masa lalu, dan masa kini. Barangkali juga akan menjadi tanda tanya untuk dinamika di masa depan.

A: Perang suci adalah perintah agama

Dengan asumsi bahwa perintah perang suci adalah valid ajaran suatu agama maka perintah tersebut bersifat dinamis. Barangkali perang diperintahkan di masa lalu. Dan saat ini, bisa jadi tidak perlu perang lagi. Atau bisa berubah dinamis sesuai situasi kondisi.

B: Kopi rasanya nikmat

Kopi nikmat bernilai benar saat ini, misal. Dua bulan ke depan, kopi yang sama, bisa saja sudah tidak nikmat, barangkali kadaluarsa atau busuk. Atau sebaliknya, kopi yang saat ini nikmat, dua bulan ke depan, justru makin nikmat karena makin matang. Kebenaran ini bersifat dinamis, bisa berubah.

C. Berat emas adalah 1 kg

Berat emas yang kita timbang saat ini adalah 1 kg bisa berubah dalam 2 tahun ke depan. Apalagi jika Anda menitipkan emas tersebut ke pegadaian maka berat emas tersebut akan berkurang – meski sedikit. Petugas gadai akan menggosok emas Anda sehingga beberapa butir terkelupas untuk diteliti oleh mereka. Kebenaran emas bersifat dinamis. (Untuk yang berminat lebih dalam bisa mempertimbangkan ketidakpastian Heisenberg dan kesetimbangan massa-energi.)

Verifikasi Perang Suci

Perintah perang suci dapat ditelusuri bersumber dari beberapa “kutipan” ajaran agama. Hasil verifikasi ini bisa sah berdasar sumber-sumber agama yang dipilih. Tetapi sumber agama yang sama, misal kitab suci, mengajarkan untuk hidup berdamai dengan sesama manusia. Hasil verifikasi ini menunjukkan justru perang suci itu tidak perlu di saat ini. Dengan meluaskan proses verifikasi dapat dikatakan bahwa perintah perang suci tidak meyakinkan.

Perbedaan verifikasi ini, yang menghasilkan dissensus, mendorong berkembangnya ragam mikrologi-mikrologi. Beberapa mikrologi menguatkan perintah perang suci sedangkan mikrologi lainnya melarang terjadinya perang suci itu. Maka dialog antar mikrologi menjadi penting di sini.

Untuk verifikasi “kopi nikmat rasanya” maka kita bisa langsung mencicipi kopi tersebut. Bisa kita tebak, makin banyak orang yang mencicipi makin beragam hasil verifikasinya. Ada yang setuju nikmat, ada yang menolak, dan ada yang biasa-biasa saja. Kebenaran memang terkait dengan proses dan hasil verifikasi.

“Emas beratnya 1 kg” bisa kita verifikasi dengan neraca digital. Hasil verifikasi menunjukkan hasil timbangan memang benar 1 kg. Tetapi jika proses penimbangan ini dilakukan di atas pesawat terbang, di angkasa, maka hasil pengukuran akan menunjukkan berat emas sekitar 0,999 kg bukan 1 kg lagi. Verifikasi ini berbeda proses dan berbeda hasil. Berat emas terkait dengan gravitasi bumi. Bahkan jika kita sempat menimbang emas yang sama di bulan maka beratnya hanya 0,16 kg. Sekali lagi, kebenaran terkait proses dan hasil verifikasi.

Cakrawala Perang Suci

Kebenaran perintah perang suci barangkali benar dengan satu sudut pandang, dengan satu jenis cakrawala tertentu. Kita bisa membandingkan dengan cakrawala “kemanusian”. Tentu saja tidak boleh memerangi orang lain hanya karena berbeda keyakinan agama. Dari cakrawala kemanusia, manusia dilarang berperang.

Bahkan, masih dalam ajaran agama yang sama, terdapat berbagai macam cakrawala. Misalnya cakrawala NU dan Muhammadiyah melarang terjadinya perang suci di saat ini.

Sedangkan cakrawala nikmatnya kopi bisa benar ketika yang mencicipi kopi adalah penggemar kopi. Sementara cakrawala anak-anak TK mengatakan bahwa kopi adalah pahit, tidak nikmat. Lebih tegas lagi, cakrawala harimau akan menolak minum kopi – tidak nikmat.

Berat emas yang 1 kg itu hanya benar bagi kita, orang-orang pada umumnya. Sedangkan cakrawala alien yang berasal dari luar angkasa mengukur berat emas dengan sistem dan acuan yang berbeda. Alien yang membawa emas ke luar angkasa, yang terbebas dari gravitasi, maka berat emas adalah 0 kg. Tanpa gravitasi maka tidak ada berat.

Kebenaran memiliki cakrawala masing-masing.

Meski demikian, kebenaran tidak bersifat relatif. Tidak ada relativisme di sini. Ketika kita memilih satu cakrawala, lengkap dengan sistem proses verifikasi, maka kebenaran dapat dipastikan – atau estimasi atau probabilitasnya. Dan tentu saja, kebenaran itu bersifat dinamis, seiring waktu.

Interpretasi dan Pengalaman Perang Suci

Perintah perang suci adalah interpretasi terkait dengan pengalaman tertentu – bukan pengalaman obyektif yang independent. Interpretasi dan pengalaman yang berbeda menyatakan bahwa umat manusia dilarang untuk berperang, termasuk dilarang melakukan perang suci. Umat manusia justru harus bersama-sama mewujudkan perdamaian dunia yang penuh dinamika.

Mari kita coba kaji lebih dalam bahwa ini semua adalah tergantung kepada interpretasi dan pengalaman sejak masa-masa awal ajaran agama. Misalkan seorang tokoh agama mendapat wahyu untuk melakukan perang suci, atau mendapat pencerahan, atau mendapat ide. Selanjutnya tokoh tersebut menyuruh muridnya untuk menuliskan perintah perang suci tersebut ke dalam kitab suci. Bukankah itu merupakan suatu interpretasi dari sebuah pengalaman sang tokoh?

Pertama, sang tokoh mengalami pengalaman menerima wahyu, atau pencerahan. Lalu pengalaman ini diinterpretasikan dalam bahasa tertentu. Atau pengalaman itu sudah langsung berupa suatu bahasa tertentu. Selanjutnya, para murid menginterpretasikan ungkapan bahasa dari sang tokoh. Murid mendengarkan, mencoba memahami, lalu mencatatnya. Ini adalah proses interpretasi dari murid pertama. Hasil interpretasi murid pertama ini barangkali berupa kitab atau lembaran-lembaran.

Pada masa selanjutnya, pengalaman dan interpretasi dari murid pertama itu akan sampai kepada murid generasi kedua, ketiga, dan seterusnya sampai generasi sekarang. Barangkali sudah berjarak seribu tahun atau dua ribu tahun yang lalu antara murid pertama dengan kita saat ini. Sudah terjadi banyak pengalaman dan interpretasi ulang dari setiap generasi. Meski inti dari ajaran agama adalah abadi dan asli, tetapi proses dan dinamika sampai ke jaman kita, diperkaya oleh pengalaman dan interpretasi setiap generasi.

Sekarang, kita sendiri, tentu berhadapan dengan tugas meng-interpretasi dan mengalami pengalaman. Ketika kita membaca suatu kitab suci maka kita akan melakukan interpretasi berdasarkan pengalaman – dalam arti luas mencakup pengalaman pribadi, pengalaman orang lain, pengalaman bermasyarakat, kajian keilmuan, pengalaman ruhani, dan lain-lain. Atau jika kita, saat ini, mendengar langsung nasehat dari orang paling suci maka, tetap saja, kita harus mendengarnya dengan baik, lalu melakukan interpretasi dengan mempertimbangkan pengalaman kita secara luas.

Interpretasi dan pengalaman bukanlah merupakan cacat hidup kita. Justru interpretasi dan pengalaman adalah hakikat hidup setiap manusia. Manusia yang hidup senantiasa melakukan interpretasi dan mengalami pengalaman.

Sampai di sini, cukup jelas kiranya bahwa interpretasi dan pengalaman berperan besar dalam menentukan kebenaran. Kembali kepada ajaran perang suci maka itu terkait terhadap interpretasi dan pengalaman masing-masing orang. Pada gilirannya, interpretasi dan pengalaman ini terkait dengan cakrawala yang terkait langsung dengan budaya dan sejarah. Di mana, budaya dan sejarah pun, dipengaruhi oleh interpretasi dan pengalaman. Sekali lagi, penting bagi kita semua untuk konsisten meluaskan cakrawala.

Dalam cakrawala yang luas, sangat jelas, tugas umat manusia adalah menjaga perdamaian untuk seluruh umat manusia. Mencegah perang dalam bentuk apa pun. Berusaha mendamaikan antar sesama.

Diskusi Perang Suci

Ajaran perang suci, saat ini, tidak bisa dibenarkan. Meski demikian, kita tetap memerlukan solusi yang tepat. Menjaga keamanan oleh aparat didukung seluruh rakyat. Membuka dialog antar budaya, antar cakrawala, antar semesta. Menghormati beragam beda pendapat. Menjamin hidup bermartabat dan selamat.

Doktrin perang suci hanya bisa terjadi dalam cakrawala khusus yang sempit. Karena hakikat manusia selalu melakukan interpretasi, meskipun cakrawala tersebut sempit, maka tetap saja bisa dieksploitasi.

Cara hidup damai, saling menghormati dalam keragaman, tenggang rasa, perlu terus kita dorong menjadi budaya bersama. Kekerasan bukanlah jalan keluar. Kekerasan adalah jalan buntu. Hidup adil, saling mengasihi, adalah solusi sejati. Jalan lurus yang pantas kita kejar.

Bagaimana menurut Anda?

Kebenaran Sejati Ada di Sini

Kebenaran sejati dekat dengan diri ini. Tidak harus mencari ke luar negeri, atau luar bumi. Kebenaran sejati selalu menghampiri.

Tapi apa itu kebenaran sejati?

Tampaknya, itu menjadi pertanyaan abadi. Ribuan jawaban sudah ada dari para pemikir dunia. Tetap saja, pertanyaan tentang kebenaran sejati terus menggelora.

3 Langkah Memahami Kebenaran Sejati | Rahasia Hidup Sukses Bebas Hutang  Bahagia Kaya Sejahtera

Kebenaran sejati, atau truth, atau kita singkat sebagai benar, paling mudah kita pahami sebagai kebenaran korespondensi. Sejak era Aristoteles, kebenaran adalah kesesuaian korespondensi antara “pikiran” dan “realitas.” Ide korespondensi yang mantap itu mulai mendapat tantangan serius di era digital: relativisme dan post-truth. Goyangan beragam sudut pandang dan campur-aduknya dengan hoax tidak selalu mudah kita pahami. Segala sesuatu bisa benar dan sekaligus bisa salah. Alternatif dari korespondensi adalah koherensi.

Korespondensi

Ketika Anda berpikir bahwa 2 buah jeruk ditambah dengan 1 buah jeruk akan menjadi 3 buah jeruk dan kemudian di dunia nyata seperti itu adanya maka pikiran Anda benar, secara korespondensi. Apa yang Anda pikirkan bersesuaian dengan dunia nyata, berkorespondensi.

Masalah kebenaran sejati terus bergerak maju. Kebenaran korenspondensi hanyalah salah satu wajah dari kebenaran itu sendiri. Kita akan mencoba membahas lebih detil berikut ini.

Sementara, kebenaran koherensi adalah kebenaran yang koheren dengan kebenaran-kebenaran lain; konsisten dengan sistem-sistem yang diterima sebagai sistem kebenaran.

A. Kebenaran Dinamis
B. Kebenaran Verifikasi
C. Kebenaran Cakrawala
D. Kebenaran Interpretasi
E. Kebenaran Pengalaman

A. Kebenaran Dinamis

Segala sesuatu yang ada di alam ini bersifat dinamis. Kebenaran, sejauh ada di alam ini, maka bersifat dinamis. Kebenaran yang kita pahami saat ini adalah hasil dinamika kebenaran dari hari kemarin dan tahun-tahun yang lalu. Pertimbangkan aspek historal masa lalu dan masa depan.

Dengan memahami kebenaran yang bersifat dinamis maka kita berharap lebih bersikap terbuka terhadap beragam prespektif kebenaran. Kita juga perlu terus berjuang, dinamis, untuk mendapat kebenaran paling hakiki. Meskipun kebenaran hakiki itu, kebenaran sejati, juga bersifat dinamis.

Pemahaman kita terhadap rumus matematika 2 + 1 = 3 pun bersifat dinamis. Ketika kita masih kanak-kanak, memahami 2 +1 = 3 dengan cara penuh usaha keras. Saat kita dewasa, dengan mudah memahami kebenaran 2 + 1 = 3. Kebenaran memang dinamis.

Tetapi, bukankah 2 + 1 = 3 itu bersifat pasti, eksak, dan tanpa keraguan? Benar juga. Sejauh kita menjaganya secara ideal. Dalam dunia nyata, 2 kg beras ditambah dengan 1 kg beras maka tidak ada jaminan tepat menjadi 3 kg beras. Bisa jadi hasilnya adalah 3 kg beras lebih 1 butir atau 3 kg beras kurang 5 butir. Tidak ada masalah dengan selisih 1 atau 5 butir beras. Kita menganggap 3 kg beras itu statis, padahal dinamis. Ditambah lagi kita dapat mempertimbangan dinamika beras terhadap waktu. Alam semesta memang dinamis.

Mengapa dinamis?

Karena meta-teori, meta-perspektif, dan futuristik.

Kebenaran menjadi dinamis karena setiap kebenaran membutuhkan bukti atau argumen. Di mana, bukti yang kuat selalu membutuhkan teori. Pada gilirannya, teori itu sendiri membutuhkan dukungan teori lain lagi, misal disebut, meta-teori. Begitu seterusnya sehingga selalu dinamis.

Meta-teori bisa bergerak ke masa depan. Suatu teori akan menghasilkan proposisi. Kemudian, proposisi ini menghasilkan proposisi baru sehingga makin dinamis. Lebih kreatif lagi, ketika, proposisi baru menghasilkan paradoks. Teori lama tidak memadai untuk menyelesaikan paradoks tersebut dan kita perlu mengembangkan teori baru yang dinamis.

Dinamika juga terjadi dari perkembangan perspektif. Setiap kebenaran pasti, dilihat, dari satu perspektif tertentu. Dengan melihat dari perspektif yang berbeda, maka, akan dihasilkan kebenaran yang berbeda. Sehingga, kebenaran memang dinamis. Penambahan perspektif tidak akan pernah sempurna. Maksudnya, kita tidak bisa melihat kebenaran melalui perspektif utuh seperti perspektif mata-dewa, misalnya. Dinamika kebenaran akibat dinamika perspesktif, saya sebut, sebagai dinamika meta-perspektif.

Meta-perspektif bisa terjadi secara disrupsi – terpisah dari kebenaran lama. Bukan hanya melihat suatu obyek dari perspektif baru. Tetapi, melihat obyek lain, yang baru, yang berbeda sepenuhnya dari obyek lama. Sehingga, kebenaran-kebenaran akan bersaing secara dinamis. Barangkali, hanya satu jenis kebenaran yang bertahan, atau terjadi sinergi, atau lainnya.

Dan, paling jelas, kebenaran menjadi dinamis karena ada aspek temporal, aspek waktu. Karena waktu terus bergulir, maka, kebenaran terus dinamis. Umumnya, waktu dipandang sebagai living-now, yaitu, kejadian masa kini yang terus bergulir dari masa lalu, ke masa kini, dan menuju masa depan. Dengan perspektif ini, waktu adalah ukuran dari gerak aksidental dan gerak substansial.

Perspektif yang lain memandang waktu sebagai bentangan future-past-present dan memberi peran besar kepada aspek future, masa depan. Saya menyebutnya sebagai perspektif futuristik. Future, masa depan, selalu bergerak ke depan. Future membentangkan diri ke masa lalu. Kemudian, merangkul masa lalu menuju masa depan dengan menyusuri masa kini. Tetapi, ketika masa lalu (past) sudah sampai ke masa depan, saat itu juga, future sudah melangkah ke depan lagi. Begitu seterusnya, terjadi dinamika waktu yang membentang dari future ke past dan menyusuri present (masa kini). Karena waktu bersifat dinamis, maka, kebenaran juga bersifat dinamis.

Orang bijak mengatakan, “Janganlah kamu mencela waktu karena waktu adalah (kebenaran) Tuhan.”

Karena kebenaran bersifat dinamis, maka, apakah ada kebenaran absolut? Ada. Kebenaran absolut ada. Tetapi, tidak ada klaim kebenaran yang absolut. Setiap kebenaran, pada analisis akhir, perlu untuk mengacu kepada kebenaran absolut. Akibatnya, kebenaran selalu bersifat dinamis.

B. Kebenaran Verifikasi

Kebenaran adalah hasil dari proses verifikasi. Kebenaran bukan sesuatu yang mandiri, bukan independent, di alam ini.

Matematika 2 + 1 = 3 bernilai benar karena merupakan hasil verifikasi yang sah. Semua orang dengan mudah me-verifikasi bahwa 2 + 1 = 3 adalah benar. Tetapi 2 + 1 = 3 itu sendiri tidak mandiri. Misalnya dalam sistem bilangan jam 3an, di mana hanya ada angka 0, 1, dan 2, maka 2 + 1 = 0. Contoh yang lebih nyata adalah pada sistem jam dinding di mana 12 + 1 = 1 bukan 13. (Pada jam dinding tidak ada angka 13).

Bagaimana pun 2 + 1 = 3 bernilai eksak benar dalam konteks sistem verifikasi yang diterima secara umum. Dalam sistem bilangan real, 2 + 1 pasti benar bernilai sama dengan 3. Konsep kebenaran yang koheren disebut sebagai koherensi.

Tidak ada relativisme di sini. Selama kita konsisten dengan sistem verifikasi maka kita bisa menjamin nilai kebenaran – atau probabilitasnya.

C. Kebenaran Cakrawala

Sistem untuk verifikasi kebenaran tersebut adalah cakrawala. Maka benar saja ungkapan orang-orang bijak: perluaslah cakrawala pengetahuan. Dengan luasnya cakrawala pengetahuan maka kita akan lebih bijak dalam menyikapi suatu kebenaran, yang sejatinya, ada di sini, ada dalam diri.

Sebagai contoh kita dapat membandingkan cakrawala jam dinding, yang hanya ada angka 1 sampa 12, dengan cakrawala bilangan real yang seperti kita pahami dalam kehidupan sehari-hari.

2 + 1 = 3 adalah bernilai benar; baik dalam cakrawala jam dinding maupun cakrawala bilangan real sama-sama benar.

12 + 1 = 13 adalah bernilai benar dalam cakrawala bilangan bulat tetapi bernilai salah dalam cakrawala jam dinding. Yang benar, dalam cakrawala jam dinding, 12 + 1 = 1. Keduanya bersifat eksak. Tidak ada keraguan. Tidak ada relativisme. Pasti benar dalam cakrawala bilangan real. Dan pasti salah, 12 + 1 = 13, dalam cakrawala jam dinding.

Buah jeruk rasanya nikmat. Bernilai benar dalam cakrawala manusia. Bernilai salah dalam cakrawala harimau. Barangkali juga bernilai salah dalam cakrawala alien. Cakrawala yang berbeda akan menghasilkan verifikasi yang berbeda terhadap kebenaran.

D. Kebenaran Interpretasi

Semua klaim kebenaran adalah interpretasi. Cakrawala yang kita gunakan untuk menverifikasi kebenaran juga merupakan susunan-susunan interpretasi. Dan tentu saja setiap interpretasi besifat dinamis. Sebagaimana kebenaran juga bersifat dinamis.

“Buah jeruk rasanya nikmat,” adalah interpretasi yang bernilai benar dalam cakrawala manusia pada umumnya. Jelas kita lihat bahwa “rasa nikmat” adalah interpretasi kita terhadap rasa jeruk. Lebih jauh lagi, “buah jeruk” adalah interpretasi kita terhadap “sesuatu realitas.”

Dalam cakrawala harimau, rasa jeruk diinterpretasikan dengan “tidak nikmat”, beda dengan manusia. Nyatanya, harimau tidak mau makan jeruk tetapi mau makan daging, misalnya. Lagi-lagi, itu adalah interpretasi kita sebagai pengamat. Ketika seekor harimau memandang buah jeruk maka harimau itu akan membuat interpretasi, atau persepsi, yang berbeda dengan jeruk yang dipandang oleh manusia.

Kebenaran itu adalah interpretasi. Bukan karena kita mengetahui sesuatu melalui interpretasi, tetapi karena semua yang sampai kepada diri kita adalah memang suatu interpretasi. Dan interpretasi, dalam arti yang canggih, adalah keunggulan unik umat manusia.

Kita bisa saja mengambil contoh eksak, semisal rumus matematika 12 + 1 = 13, adalah interpretasi. Angka 12 dan angka-angka lain adalah interpretasi manusia. Operasi penjumlahan dan tanda sama dengan juga interpretasi dari manusia. Sehingga formula eksak pun penuh dengan interpretasi. Bukankah itu semua adalah simbol?

Sekali lagi tidak ada relativisme di sini. Sekali kita membuat interpretasi maka secara konsisten kita dapat menyusun cakrawala – yang dipengaruhi oleh budaya dan sejarah. Dengan cakrawala ini kita dapat melakukan verifikasi kebenaran. Dan tentu saja dinamis.

E. Kebenaran Pengalaman

Dengan interpretasi itu lah kita menjalani hidup sejati. Pengalaman dan interpretasi saling berkaitan erat. Manusia mengalami sesuatu karena meng-interpretasi. Manusia bisa meng-interpretasi karena ada pengalaman.

Apakah kopi pahit terasa nikmat?

Kopi pahit terasa tidak nikmat bagi kita, dulu, waktu masih kanak-kanak. Seiring pengalaman mencicipi kopi yang pahit, ketika dewasa, kopi pahit menjadi nikmat. Pengalaman dan interpretasi saling terkait.

Bagaimana dengan sambal pedas? Pengalaman kita juga mirip. Ketika kanak-kanak tidak suka sambal pedas. Begitu dewasa, kita doyan sambal pedas.

Bagaimana dengan pengalaman interpretasi formula eksak? Sedikit berbeda tetapi ada miripnya. Ketika kanak-kanak kita meng-interpretasikan kuantitas di alam semesta sebagai bilangan asli: bilangan bulat dan positif. Ada 2 jeruk, 5 jeruk, dan sebagainya. Menginjak remaja, seiring pengalaman, kita meng-interpretasikan kuantitas lebih beragam, ada bilangan pecahan, bilangan negatif, irasional, dan bahkan kompleks.

Pengalaman kita adalah interpretasi. Dan interpretasi adalah yang kita alami.

Vattimo, pemikir Itali usia 86 tahun, melangkah lebih jauh dengan menyatakan bahwa segala realitas adalah interpretasi itu sendiri. Tugas manusia berpikir, berfilsafat dan lain-lain, adalah tugas ber-interpretasi.

Sekali lagi, dengan semua analisis kebenaran di atas, tidak ada relativisme di sini. Ketika kita mengambil suatu pengalaman dan interpretasi sebagai suatu acuan maka kita akan mengembangkan cakrawala; dalam cakrawala ini kita mengembangkan proses verifikasi yang absah untuk menghasilkan kebenaran sejati. Dan kita tahu, kebenaran adalah dinamis.

Ragam Cakrawala: Sains, Seni, Filsafat

Setiap manusia bersifat unik. Maka pengalaman dan interpretasi masing-masing manusia bisa beragam. Sehingga kita punya banyak cakrawala. Tentu, cakrawala sains adalah yang paling kita kenal dengan buahnya berupa teknologi digital lengkap dengan hoax yang menghiasi media sosial. Cakrawala sains menerapkan kriteria rasional dan empiris untuk verifikasi kebenaran.

Cakrawala seni terbentang luas dalam kehidupan umat manusia. Kriteria rasional meski ada dalam seni tetapi kriteria rasa tampak lebih dominan. Cakrawala filsafat mempertimbangkan “pemikiran” paling mendalam sampai ke pemikiran spekulatif yang mempertimbangkan segala sesuatunya. Dan masih banyak cakrawala-cakrawala lain.

Keragaman adalah realitas alam semesta. Maka sikap respek antar semua pihak menjadi penting untuk terus kita kembangkan. Konsep keragaman ini secara filosofis dapat kita telusuri ke konsep “difference” dari Heidegger yang kemudian dielaborasi lebih jauh oleh Derrida dan Lyotard dengan gaya postmodern.

Sedangkan dinamika kebenaran dapat kita lacak dari konsep dialektika Hegel, yang merujuk istilah yang sama dengan, Plato dan Sokrates. Sebelum itu, Sadra telah merumuskan gerak substansial yang sejalan dengan konsep “kembali naik” dari Ibnu Arabi.

Pada tulisan berikutnya saya akan mencoba menerapkan analisis “kebenaran” ini dalam beberapa kasus. Harapan saya akan terbentuk sikap saling respek antar semua pihak, mengurangi ekstremisme, dan membangun peradaban umat manusia.

Bagaimana menurut Anda?