Jebakan Sistem Merit Vs Meritokrasi

Dalam debat 2019, capres Jokowi hendak menerapkan sistem merit di Indonesia. Setelah terpilih, maka program sistem merit mulai digulirkan. Sementara di dunia internasional, sistem merit sedang menghadapi krisis besar. Bahkan, perkembangannya sebagai konsep meritokrasi, lebih luas lagi bahayanya.

1. Solusi Jadi Masalah
1.1 Meritokrasi
1.2 Putar Balik Meritokrasi
2. Masalah Meritokrasi
2.1 Ada yang tertinggal karena ada yang di depan
2.2 Ada bakat yang tidak sempat diasah
2.3 Beberapa tanjakan lebih terjal
2.4 Tidak ada ukuran obyektif, hanya interpretasi
2.5 Ada yang tidak bisa dibeli
3. Evolusi Meritokrasi
3.1 Dominasi
3.2 Aristokrasi
3.3 Meritokrasi
3.4 Kolabokrasi
3.5 Dinamokrasi
4. Solusi bagi Meritokrasi
4.1 Prinsip Kesatuan
4.2 Prinsip Kepemimpinan
4.3 Prinsip Tujuan
5. Kompetisi Kolaborasi
6. Ringkasan
7. Diskusi
7.1 Praktek Slavery
7.2 Sejarah Slavery
7.3 Argumen

Dalam tulisan ini, kita akan membahas singkat asal mula sistem merit, dan meritokrasi, kemudian mencermati resiko jebakan-jebakannya. Dan, mencoba merumuskan beberapa solusi yang mungkin.

1. Solusi jadi Masalah

Pada tahun 1883 terjadi pembunuhan presiden Amerika. Pembunuh merasa kesal ke presiden karena presiden tidak mengangkat dirinya sebagai pejabat. Padahal dia, pembunuh itu, merasa banyak berjasa dalam kampanye pemenangan pemilihan presiden. Dia merasa berhak mendapat jabatan tinggi.

Untuk mencegah insiden semacam itu maka ditetapkanlah sistem merit. Semua calon pejabat, dan aparatur negara atau pegawai negeri, akan menghadapi seleksi yang berupa sistem merit itu. Jaman itu, sistem merit berupa tes tertulis untuk menentukan calon pejabat apakah layak untuk menduduki jabatan tertentu sesuai kompetensi masing-masing. Sistem merit terbukti efektif untuk seleksi. Dan menjadi solusi yang tepat.

Di Indonesia, seleksi CPNS tampaknya sudah menerapkan sistem merit di mana tes CPNS terpusat dan komputerisasi. Sehingga CPNS yang tidak layak akan tersingkir otomatis berdasar hasil tes komputer itu. Sangat efisien. Selanjutnya sistem merit dikembangkan untuk karir ASN.

TWK KPK bisa kita pandang sebagai sistem merit. Seperti diberitakan, 75 pegawai KPK tidak lolos TWK – Tes Wawasan Kebangsaan. Maka 75 pegawai KPK ini bisa saja dipecat berdasar sistem merit. Sangat efisien.

Apakah itu solusi yang tepat? Apakah sistem merit itu bagus?

Di US, sistem merit mengalami krisis besar. Yang awalnya, jadi solusi, kini menjadi masalah. Bahkan sumber dari beragam masalah.

“In 1970, the CEO-to-average worker pay ratio was about twenty to one. Since the popularity of options took off, corporate inequality has skyrocketed; the ratio now stands at over three hundred to one.”

“Pada tahun 1970, rasio gaji antara CEO dan pekerja rata-rata berada pada kisaran dua puluh banding satu. Sejak penggunaan opsi saham menjadi populer, ketimpangan di lingkungan korporasi meningkat secara drastis; rasio tersebut kini telah melampaui tiga ratus banding satu.”

Di Indonesia, sistem merit yang berupa TWK KPK jelas-jelas memunculkan kontroversi. Banyak pihak menduga bahwa TWK tidak obyektif. Dan wajar bahwa sistem merit memang tidak obyektif. Sistem merit mengalami krisis. Sistem merit diragukan secara teori mau pun praktis.

1.1 Meritokrasi

Dari sistem merit berkembang lebih luas menjadi meritokrasi. Tahun 1958, Michael Young menerbitkan novel satire tentang meritokrasi. Sejak itu, istilah meritokrasi menjadi begitu populer di kalangan pakar ilmu sosial. Meski Young membahas meritokrasi dengan mengkritik dan menolaknya, tetapi penjelasan Young tentang meritokrasi begitu kuat.

Sejatinya, di waktu hampir bersamaan, Alan Fox sudah lebih awal menulis artikel yang mengkritik meritokrasi secara langsung.

Baik Young mau pun Fox, tampak, sudah menyadari bahwa meritokrasi sudah berkembang di waktu itu. Dan, meritokrasi akan makin kuat mendominasi kehidupan sosial menuju akhir abad 20 sampai melintas ke abad 21. Meritokrasi mendorong suasana kompetisi berlebihan. Kehidupan menjadi pacuan dari umat manusia. Yang kalah, dalam meritokrasi, jelas kalah. Bahkan yang menang pun juga kalah. Jurang ketimpangan orang super kaya dengan orang miskin tidak bisa dijembatani. Ketimpangan sosial, dan ekonomi, menjadi masalah besar. Kemiskinan makin menjalar. Maka meritokrasi harus diakhiri.

Sejak awal, istilah meritokrasi berkonotasi negatif. Istilah meritokrasi dimunculkan sebagai potret sosial waktu itu, tahun 1950an, untuk dikritisi, dihindari, dan diakhiri.

1.2 Putar Balik Meritokrasi

Jalannya sejarah bisa saja berbeda. Young memunculkan istilah meritokrasi untuk dikritik karena memang konotasinya negatif. Masyarakat umum tidak mendengarkan kritik dari Young. Masyarakat justru sepakat dengan Young ketika Young menjelaskan keunggulan meritokrasi. Masyarakat menganggap bahwa meritokrasi adalah positif. Bahkan meritokrasi harus dikejar.

Meritokrasi memberikan kekayaan, dan jabatan, kepada siapa saja yang berjuang dan memenangkan kompetisi. Siswa yang mendapat nilai tertinggi dalam ujian, misal UTBK atau SAT, mereka yang berhak diterima di universitas. Pengusaha yang mampu menjual produknya dengan laris maka mereka berhak mendapat keuntungan dari penjualan itu. Karyawan yang paling berprestasi maka mereka berhak mendapat promosi jabatan. Meritokrasi adalah sistem yang adil dan positif.

Merit = IQ + Usaha

Rumusan “merit” sebagai perpaduan nilai IQ tinggi ditambah usaha kerja keras, dari Young, diterima masyarakat luas. Masyarakat sepakat dengan rumusan Young itu – dan melupakan kritiknya.

Pada tahun 1972, Daniel Bell menulis karya tentang meritokrasi dengan konotasi positif. Meritokrasi adalah cita-cita ideal dari bangunan sosial yang adil. Siapa pun Anda, latar belakang apa saja, asalkan Anda adalah orang yang cerdas dan kerja keras maka Anda dijamin sukses. Masyarakat setuju teori Bell: meritokrasi adalah positif.

Resmi, meritokrasi berputar balik: dari yang semula negatif menjadi positif.

Selanjutnya, di tangan para politikus, tema meritokrasi yang positif ini makin menguat. Presiden Amerika, dari Reagan sampai Clinton, dan Perdana Menteri Inggris, dari Thatcher sampai Blair, secara terbuka mendukung meritokrasi. Obama menguatkan meritokrasi, “Di mana pun kalian lahir maka kalian bisa sukses.” Trump mendukung meritokrasi,”Menciptakan medan laga yang setara antara perusahaan dan pekerja.” Dan di Indonesia, capres Jokowi mencanangkan sistem merit untuk pemerintahan masa jabatan kedua.

Menangkan kompetisi maka Anda berhak mendapatkan hasilnya.

2. Masalah Meritokrasi

Meritokrasi punya beberapa masalah serius. Sedangkan masalah teknis, dan permukaan, dari meritokrasi tidak terlalu signifikan. Karena itu kita perlu mencermati masalah meritokrasi dengan lebih teliti. Bagian ini mengambil banyak inspirasi dari karya Michael Sandel.

Demikian juga, alternatif meritokrasi bukanlah menolak meritokrasi. Lawan meritokrasi adalah nepotisme – atau aristokrasi. Justru lebih berbahaya dari meritokrasi. Tidak mungkin, kita memilih nepotisme dari meritokrasi. Alternatif dari meritokrasi adalah post-meritokrasi: melampaui meritokrasi. Misalnya kolabokrasi yang mengutamakan proses kolaborasi, di saat yang sama, menerapkan bagian-bagian tertentu yang baik dari meritokrasi. Kita akan membahas di bagian berikut ini, diawali dengan masalah-masalah meritokrasi.

2.1 Ada yang tertinggal karena ada yang di depan

Prinsip dasar meritokrasi adalah kompetisi, persaingan. Siapa yang menang maka merekalah yang berhak atas posisi, harta, atau hadiah yang ada. Hanya satu orang yang menang, sisanya, jauh lebih banyak orang, adalah pecundang. Mereka yang menang adalah yang paling merit yaitu mereka yang punya IQ tinggi dan usaha keras.

Konsekuensinya, selalu ada yang tertinggal. Selalu ada yang kalah dalam suatu kompetisi. Bahkan dalam jumlah yang lebih besar, mereka yang kalah. Meritokrasi menghadapi kesulitan nyata seperti ini. Lebih parah lagi, yang menang mau pun yang kalah, sama-sama ada pembenaran. Mereka yang kalah lantaran salahnya sendiri, mereka tidak mau kerja keras. Sebuah pembenaran yang masuk akal.

Sejatinya, masalahnya bukan karena orang kalah tersebut malas. Tetapi, seandainya, orang yang malas tersebut jadi rajin berusaha keras maka dia akan jadi menang. Akibatnya, jadi, orang lain yang akan kalah. Sehingga selalu ada yang kalah. Masalah ini ada bukan lantaran kesalahan personal tetapi memang kesalahan inheren dalam sistem meritokrasi.

2.2 Ada bakat yang tidak sempat diasah

Asumsi bahwa setiap orang berbakat dan punya IQ memadai, tampaknya, sulit diterima. Sementara, dalam sistem meritokrasi, kita mengasumsikan bahwa masing-masing anggota masyarakat punya IQ yang memadai agar bisa terasa adil.

Mudah kita lihat, persaingan berdasar IQ menjadi tidak adil. Lantaran banyak orang yang IQ-nya tidak sempat dikembangkan. Jumlah sekolah tidak memadai untuk menampung siswa. Sehingga ada anak yang bisa sekolah, IQ diasah lebih baik. Dan ada anak yang tidak bisa sekolah, IQ tidak diasah. Makin tinggi sekolah maka makin terbatas daya tampungnya. Misal untuk universitas maka lebih banyak pemuda yang tidak kuliah dari yang bisa kuliah – apa lagi di negara miskin.

Seandainya, kapasitas sekolah mampu menampung semua anak yang berusia sekolah, maka, tetap saja, kualitas masing-masing sekolah berbeda. Maka hasil akhir pengembangan bakat, dan IQ, masing-masing sekolah juga berbeda. Sekali lagi, persaingan berdasar IQ memang tidak pernah adil. Lebih jauh lagi pengembangan IQ, nyatanya, tidak hanya ditentukan oleh sekolah. Lingkungan lebih luas berpengaruh besar terhadap IQ, dan bakat, setiap anak. Termasuk lingkungan keluarga, fasilitas olah raga, instrumen musik, dan sebagainya. Meritokrasi menghadapi masalah pelik dalam hal ini.

Meritokrasi, lebih sulit lagi, dalam menghadapi orang-orang yang tidak beruntung, misal lahir dalam keadaan cacat atau kebutuhan khusus. Meritokrasi memang tidak adil terhadap mereka – dan terhadap banyak orang.

2.3 Beberapa tanjakan lebih terjal

Dengan asumsi semua orang punya bakat dan IQ yang adil pun, meritokrasi, masih menghadapi kesulitan pelik. Tidak semua tanjakan sama terjal. Ada beberapa orang yang dengan mudah meraih prestasi. Sementara, beberapa orang lain, sangat sulit untuk meraih prestasi yang sama itu.

Misalkan dua anak, yang satu anak orang kaya raya dan satunya lagi anak orang miskin, sama-sama diterima di universitas favorit. Untuk lolos seleksi ke universitas, anak orang kaya melengkapi diri dengan fasilitas belajar, buku, bimbingan, uang, dan sebagainya. Sementara, anak orang miskin tidak punya fasilitas yang berarti. Dia harus berjuang ekstra keras dengan keadaannya. Jelas, ketimpangan antara mereka. Meritokrasi memang tidak adil. Seandainya memiliki IQ yang saya, anak miskin menghadapi kesulitan lebih besar dari anak orang kaya.

Ketika kuliah, ketimpangan terjadi lagi. Anak orang kaya dilengkapi dengan beragam fasilitas, kenal baik dengan profesor dan administrasi kampus, dan kehidupan mahasiswa yang mewah. Sementara anak orang miskin, sulit untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari, bayar kos bulanan tidak ada uang, tidak ada relasi khusus dengan profesor, dan sebagainya. Meski mereka sama-sama sebagai mahasiwa unversitas, tanjakan mereka berbeda. Meritokrasi memang tidak memadai.

2.4 Tidak ada ukuran obyektif, hanya interpretasi

Kita tidak pernah bisa mengukur dengan pasti apa itu merit. Yang ada hanya asumsi, atau interpretasi, atau yang terbaik adalah estimasi.

Merit = IQ + Usaha

Pertama, kita tidak bisa mengukur IQ. Kita hanya bisa meng-estimasi IQ seseorang dengan beragam instrumen pengukuran. Di lain pihak, IQ seseorang berubah-ubah setiap saat. Sehingga, apa pun hasil pengukuran IQ bisa diragukan validitasnya.

Kedua, kita lebih sulit lagi mengukur usaha. Ukuran usaha sesuai teori fisika sebagai hasil perkalian gaya dan perpindahan, jelas, tidak tepat di sini. Ukuran usaha yang lain makin tidak bisa disepakati. Sementara, masing-masing orang mempunyai tujuan hidup yang berbeda. Maka mereka akan mengerahkan usaha yang berbeda-beda pula. Makin sulit lagi, bagi kita, untuk mengukur usaha seseorang untuk kemudian dibandingkan.

Ketiga, sebagai akibat dari IQ dan usaha yang tidak bisa diukur, maka merit juga tidak bisa diukur. Lalu bagaimana kita bisa menerapkan meritokrasi ketika merit tidak bisa diukur? Tentu saja, validitas meritokrasi benar-benar diragukan.

Contoh kasus TWK KPK. Apakah wawasan kebangsaan bisa diukur? Tentu tidak bisa. Tetapi kita bisa mengukurnya, sekedar sebagai estimasi, dengan instrumen TWK – Tes Wawasan Kebangsaan. Sehingga, pemecatan anggota KPK, berdasar hasil TWK, sangat sulit dibuktikan validitasnya. Bagaimana pun, hasil TWK ini tetap bisa kita gunakan sebagai bahan dialog. Sistem merit, memang, tidak memadai dalam kasus ini.

2.5 Ada yang tidak bisa dibeli

Uang tidak bisa membeli kebahagiaan. Jika uangnya lebih besar maka akan mampu membeli kebahagiaan. Dan, jika uangnya lebih besar lagi, akan bisa membeli apa saja. Begitulah, ketika ideologi meritokrasi telah mengakar generasi demi generasi. Uang adalah salah satu ukuran merit paling jelas.

Pandemi covid-19 memutarbalikkan kekuatan uang. Jutaan orang telah meninggal karena covid. Uang tidak bisa membeli nyawa mereka. Uang tidak bisa menyelamat saudara-saudara kita dari bahaya pandemi. Uang tidak bisa membelikan anak yatim, setelah bapaknya meninggal karena covid, ayah baru sebagai pengganti. Rasakan, dengan empati, sedihnya ribuan anak yatim akibat pandemi ini.

Uang bukan apa-apa. Uang adalah alat tukar semata yang memudahkan kehidupan sosial kita. Ada banyak hal yang tidak bisa dibeli oleh uang. Meritokrasi menghadapi masalah pelik berkaitan dengan uang.

Dengan lima masalah mendasar dari meritokrasi seperti kita bahas di atas, maka meritokrasi tidak layak menjadi sistem di tatanan sosial kita. Kita harus meninggalkan meritokrasi. Tetapi kita tidak bisa melawan meritokrasi. Yang bisa kita lakukan adalah melampaui meritokrasi. Untuk itu, saya menyusun peta evolusi meritokrasi terdiri dari 5 level. Meritokrasi berada pada level 3. Untuk mengakhiri meritokrasi, kita tidak bisa kembali ke level 1 (dominasi) atau pun level 2 (aristokrasi). Kita justru perlu naik ke level 4 (kolabokrasi) dan level 5 (dinamokrasi).

3. Evolusi Meritokrasi

Konsep meritokrasi dinamis berubah-ubah. Baik berubah dari sisi maknanya atau pun masyarakat berubah dari suatu meritokrasi ke bentuk lainnya. Meritokrasi sendiri bisa bersanding dengan sistem-sistem lainya, misal bersanding dengan demokrasi.

Berikut ini adalah evolusi meritokrasi dalam arti seleksi memilih siapa saja yang berhak atas suatu posisi.

3.1 Dominasi. Pihak yang kuat, menang, dan mendominasi maka mereka yang berkuasa. Praktek dominasi banyak kita jumpai di masa kolonialisme dan imperialisme. Sekarang, seharusnya, sudah tidak ada praktik dominasi. Nyatanya, masih ada saja praktek dominasi ini. Misalnya, di dunia bisnis, terjadi praktek monopoli. Sehingga hanya ada satu pihak saja yang menguasai dan tentu saja dia yang menang.

Dalam dunia politik, kita juga bisa melihat dominasi Israel atas Palestina sejak 1967 sampai sekarang. Israel menduduki Tepi Barat (Palestina) dan mengurung Jalur Gaza (Palestina). Tampaknya, sejauh ini, dunia internasional belum bisa berbuat banyak untuk menghentikan praktek dominasi ini. Barangkali dalam beberapa waktu ke depan akan ada perbaikan situasi.

3.2 Aristokrasi. Pihak yang berkuasa adalah keturunan dari penguasa sebelumnya, misal kerajaan. Kita masih bisa menemukan praktek aristokrasi, kekuasaan turun-temurun, sampai saat ini. Umumnya, aristokrasi di jaman ini, dilengkapi dengan konstitusi sehingga praktek kekuasaan ada batas-batas yang jelas. Misal Inggris, Belanda, Yogyakarta, dan lain-lain.

Meski demikian, ada juga kerajaan yang kekuasaan rajanya nyaris mutlak. Konstitusi pun, dengan cara tertentu, dapat diubah sesuai kepentingan para aristokrat. Di dunia bisnis, barangkali hal ini bisa terjadi pada perusahaan keluarga yang turun-temurun.

3.3 Meritokrasi. Pihak yang lolos berdasar uji sistem merit maka mereka yang berhak mengklaim posisi, misal dalam kompetisi. Pemenang, penguasa, atau pemimpin ditentukan oleh nilai merit = IQ + Usaha. Kompetisi terbuka dan dianggap adil menjadi norma utama. Level meritokrasi ini lah yang perlu kita lampaui menuju level-level berikutnya.

3.4 Kolabokrasi. Pihak-pihak berkolaborasi memilih pemimpin untuk suatu bidang dengan bidang lainnya untuk mencapai tujuan bersama. Sesuai dengan namanya, pemimpin atau pemenang, berkolaborasi dengan anggota untuk menciptakan kemajuan bersama. Pemimpin bukan berhak mengklaim mendapat gaji yang paling besar. Tetapi pemimpin adalah orang yang mendapat wewenang, dan tanggung jawab terbesar, memimpin kesatuan komunitas untuk mencapai cita-citanya.

Pemilihan pemimpin dapat dilakukan secara demokratis, mirip dengan konsep meritokrasi, tetapi melampauinya. Di satu sisi, kolabokrasi membuka kompetisi yang adil. Di sisi lain, kolabokrasi tidak berlebihan dalam berkompetisi. Kompetisi hanya sekedar pemanis dari kolaborasi. Yang utama adalah kolaborasi.

Kolabokrasi memegang tiga prinsip dasar. Pertama, manusia dan alam merupakan kesatuan integral. Kedua, pemimpin adalah orang yang memimpin manusia dan alam mencapai cita-cita tertinggi – bukan demi kekayaan pribadi. Ketiga, seluruh hidup manusia adalah untuk kebaikan manusia dan alam semesta. Kompetisi, meski ada, tidak termasuk dalam tiga prinsip utama. Masing-masing prinsip kolabokrasi saya bahas di bagian bawah.

3.5 Dinamokrasi. Pihak-pihak bergerak dinamis dalam memilih pemimpin dengan mempertimbangkan kadar kolaborasi dan kompetisi. Sifat dasar dari manusia adalah dinamis. Maka tidak ada kisah akhir dari manusia. Manusia selalu mempunyai kisah-kisah baru yang unik. Maka demikian juga dengan tatanan sosial, tidak ada tatanan sosial yang bersifat final. Selalu ada dinamika.

Meski Fukuyama menyatakan The End of History bahwa sejarah manusia sudah berakhir, tatanan sosial manusia mencapai akhir yaitu demokrasi, tetapi Fukuyama tidak bisa mengklaim seperti apa bentuk akhir dari demokrasi itu sendiri. Sehingga demokrasi tetap mengalami perubahan dinamis.

Dinamokrasi adalah tatanan sosial yang dinamis. Bergerak dari satu kadar kolaborasi ke kadar kompetisi yang berbeda-beda. Pada saat tertentu, masyarakat perlu nyaris hampir secara totalitas kolaborasi. Di saat yang lain, barangkali masyarakat perlu menambah kadar kekuatan bumbu kompetisi. Tidak ada rumus baku dalam hal ini. Manusia dan alam benar-benar dinamis.

Kisah ilustrasi evolusi dari meritokrasi

Bejo lahir tanpa keistimewaan apa pun, kecuali sepasang mata yang pelan-pelan belajar membaca dunia. Ia tumbuh di kampung kecil yang sungainya pernah jernih, sebelum pagar besi pabrik berdiri dan menutup alirannya. Warga marah, berteriak, mengadu. Tidak ada yang berubah. Sejak itu Bejo mengerti, bahkan sebelum ia bisa menjelaskannya dengan kata-kata: di dunia ini, yang kuatlah yang menentukan. Bukan yang benar, bukan yang adil. (Ilustrasi dominasi).

Di sekolah, Bejo rajin. Ia belajar keras karena percaya satu hal sederhana: kalau ia cukup pintar dan cukup tekun, dunia akan membuka pintunya. Namun ia juga melihat anak-anak tertentu selalu berada di depan barisan, bukan karena lebih mampu, melainkan karena orang tua mereka dekat dengan kepala sekolah. Bejo menyimpan kecewa itu rapat-rapat. Ia berkata pada dirinya sendiri, nanti, di tempat yang lebih tinggi, pasti lebih adil.

Ketika Bejo akhirnya menembus universitas ternama, harapan itu kembali menyala. Tetapi di sana, ia menemukan dunia yang lebih halus cara memilah manusianya. Ada yang sejak awal “sudah pasti berhasil”, bukan karena kemampuannya, melainkan karena nama keluarganya. Ada pintu-pintu yang tidak tertulis, hanya terbuka bagi mereka yang tahu harus mengetuk ke siapa. Bejo menyadari, aristokrasi tidak selalu memakai mahkota; kadang ia hanya berupa jaringan, warisan, dan silsilah yang tak pernah diumumkan.

Bejo memilih satu jalan yang ia yakini paling jujur: merit. Ia belajar lebih keras. Ia bekerja lebih lama. Ia membiarkan angka, nilai, dan grafik berbicara atas namanya. Ketika ia diterima bekerja di perusahaan besar melalui seleksi ketat, ia merasa akhirnya sampai di tanah yang adil. Tidak ada yang ditanya selain kemampuan. Tidak ada yang dihitung selain hasil. (Ilustrasi meritokrasi).

Dan Bejo memang bersinar. Ia naik jabatan. Ia dipuji. Ia menjadi contoh.
Namun perlahan, sesuatu di dalam dirinya mulai retak.

Ia melihat rekan-rekannya kelelahan, saling mencurigai, takut tertinggal. Mereka bekerja bukan lagi untuk mencipta, melainkan untuk bertahan. Yang gagal mencapai target bukan ditanya keadaannya, melainkan disingkirkan dengan label “tidak cukup kompeten”. Angka-angka naik, tetapi wajah-wajah menjadi kosong. Keputusan yang disebut efisien meninggalkan luka—pada manusia, pada lingkungan, pada kepercayaan.

Di suatu malam lembur, Bejo menatap layar komputer dan bertanya pada dirinya sendiri:
Jika sistem ini adil, mengapa rasanya begitu nyeri?
Jika yang terbaik selalu menang, mengapa ia kesepian?

Krisis besar datang tak lama kemudian. Proyek unggulan perusahaan runtuh bukan karena kurang pintar, melainkan karena terlalu banyak ego yang berlomba. Dalam kekacauan itu, Bejo dan beberapa orang memilih duduk bersama. Tidak untuk bersaing, melainkan untuk saling mendengar. Tidak ada peringkat. Tidak ada pahlawan tunggal. Hanya tujuan bersama dan kesediaan berbagi beban.

Anehnya, dari ruang sederhana itulah sesuatu yang baru tumbuh. Tim kecil itu bergerak lebih lambat, tapi lebih jauh. Bejo tidak merasa paling hebat, namun ia dipercaya. Ia tidak mengambil paling banyak, tetapi ia memikul tanggung jawab paling besar. Untuk pertama kalinya, ia merasakan kepemimpinan bukan sebagai kemenangan, melainkan sebagai pengabdian.

Dari situ Bejo mengerti: hidup bukan soal siapa yang paling tinggi berdiri, tetapi siapa yang membuat yang lain bisa ikut berjalan. (Ilustrasi kolabokrasi).

Tahun-tahun berlalu. Bejo tak lagi mencari sistem yang sempurna. Ia belajar bahwa kadang manusia perlu berkompetisi, dan di waktu lain perlu berhenti berlomba. Bahwa tidak ada tatanan sosial yang final, karena manusia dan alam selalu berubah. Yang penting bukan mempertahankan satu ideologi, melainkan menjaga keseimbangan antara dorongan untuk unggul dan panggilan untuk merawat. (Ilustrasi dinamokrasi).

Suatu sore, Bejo kembali ke kampungnya. Sungai itu masih ada, meski tak sejernih dulu. Ia duduk di tepinya dan tersenyum kecil. Ia menulis di buku catatannya:

“Merit membuatku kuat,
tapi kolaborasi membuatku manusia.
Dan hidup, ternyata, bukan tentang menang—
melainkan tentang berjalan bersama,
tanpa meninggalkan siapa pun di belakang.”

Di situlah Bejo akhirnya merasa pulang.

4. Solusi Meritokrasi

Bukan menolak meritokrasi tetapi melampaui meritokrasi, itu solusi yang kita butuhkan. Bagian yang buruk ditinggalkan, bagian yang baik dijaga. Maka solusi dari meritokrasi adalah kolabokrasi (level 4) dan dinamokrasi (level 5).

Berikut ini, kita akan mendiskusikan tiga prinsip dasar kolabokrasi.

Prinsip 1: Kesatuan; Manusia dan alam adalah satu kesatuan integral yang utuh.
Prinsip 2: Kepemimpinan; Pemimpin adalah orang yang memimpin manusia dan alam mencapai cita-cita tertinggi.
Prinsip 3: Tujuan; Seluruh hidup manusia bertujuan untuk kebaikan manusia dan alam yang beragam.

4.1 Manusia dan alam adalah satu kesatuan

Manusia, kita, bisa eksis hanya karena ada alam semesta. Tanpa alam, manusia tidak bisa eksis. Seandainya, manusia bisa eksis tanpa alam maka manusia juga tidak akan bermakna apa-apa. Manusia tanpa oksigen tidak bisa hidup. Manusia tanpa makanan tidak bisa hidup. Manusia sepenuhnya menyatu dengan alam.

Sebaliknya, alam hanya bisa bermakna karena manusia. Barangkali kita bisa membayangkan alam semesta ini eksis tanpa manusia. Bumi, lautan, gunung, matahari, dan galaksi berjalan sesuai hukum alam. Tetapi apa makna itu semua tanpa manusia? Alam bergerak sesuai tatanan. Tidak ada teknologi digital, tidak ada internet, tidak ada pesawat, dan yang tragis, tidak ada kisah cinta yang begitu indah. Alam semesta menjadi bermakna hanya karena ada manusia.

Manusia butuh alam semesta, dan alam semesta butuh manusia. Manusia dan alam semesta adalah satu kesatuan integral yang utuh. Konsekuensinya, manusia adalah milik alam semesta, dan alam semesta adalah milik umat manusia.

Manusia berkolaborasi dengan alam semesta untuk menjalani misteri waktu. Di antara umat manusia, tak satu orang pun bisa mengklaim dirinya sebagai orang paling berhak memiliki alam – sumber daya misalnya. Karena, alam adalah milik bersama. Ketika seseorang memiliki sawah atau mobil, misalnya, maka sawah itu bukan eksklusif milik orang tersebut. Pemilik sawah tidak berhak merusak sawah miliknya. Pemilik mobil juga tidak berhak menghancurkan mobilnya. Sawah dan mobil, adalah bagian dari alam, merupakan milik umat manusia. Untuk digunakan, secara kolaborasi, memajukan manusia dan alam raya.

Makna seseorang memiliki mobil bukanlah memiliki, eksklusif, seperti yang umumnya dibayangkan. Memiliki, di sini, bermakna mendapat kepercayaan untuk memanfaatkan demi kepentingan bersama. Saya memiliki mobil bermakna bahwa umat manusia, dengan proses sosial tertentu, mempercayakan mobil itu kepada saya untuk saya kelola dengan sebaik-baiknya. Jika ada rumah yang bukan milik saya maka saya, dengan proses sosial tertentu, tidak mendapat kepercayaan untuk mengelola rumah itu. Ada orang lain yang lebih berhak mengelola rumah itu, yaitu pemilik sah rumah itu, untuk memberikan kebaikan bersama.

Pertanyaan muncul, bagaimana proses sosial yang bisa menentukan saya berhak mengelola mobil ini tapi tidak berhak mengelola rumah itu? Proses sosial ini adalah proses kolaborasi, melampaui sekedar kompetisi semata. Proses sosial, tentu, harus bersifat adil bagi semua umat manusia dan alam semesta.

4.2 Pemimpin-memimpin manusia dan alam mencapai cita-cita tertinggi.

Menjadi pemimpin adalah tugas yang amat berat. Karena itu, pemimpin, wajar saja, mendapat fasilitas dan wewenang agar dapat menjalankan tugasnya dengan baik demi kebaikan umat manusia dan alam raya. Jebakannya adalah, bila orang ingin menjadi pemimpin agar memperoleh fasilitas luas, dan wewenang yang terbentang, sementara, dia lupa menjalankan tugas kepemimpinan. Lebih parah lagi, pemimpin semacam itu, mempunyai banyak pembenaran. Termasuk pembenaran mempertahankan jabatan kepemimpinannya itu.

Seorang pemimpin, mewakili seluruh umat manusia dan alam raya, mengarahkan gerak menuju cita-cita tertinggi. Pemimpin perlu mengerahkan seluruh kemampuan untuk mengetahui cita-cita paling luhur itu. Menentukan strategi terbaik untuk meraihnya. Lengkap dengan beragam sumber daya yang diperlukan serta waktu yang diperlukan.

Di saat yang sama, pemimpin perlu mengantisipasi berbagai kendala yang mungkin menghalangi gerak maju peradaban. Kemudian pemimpin menyiapkan beragam strategi alternatif untuk bisa mengatasi kendala itu. Tugas pemimpin menjamin tercapainya cita-cita tertinggi itu. Bukan melaksanakan pekerjaan untuk mencapai cita-cita itu. Dalam melaksanakan pekerjaan itu, pemimpin sesuai wewenangnya, dapat memerintahkan anggota tim secara kolaborasi.

Jika tugas pemimpim adalah menjamin tercapainya cita-cita maka bukankah itu tugas yang berat? Benar. Bahkan tugas yang berat sekali. Karena itu, pemimpin mendapat fasilitas besar untuk bisa memastikan tecapainya cita-cita tertinggi.

Bukankah setiap manusia adalah pemimpin? Maka tugas setiap manusia adalah berat? Benar, karena itu manusia mendapat fasilitas alam raya ini.

4.3 Tujuan seluruh manusia adalah untuk kebaikan manusia dan alam raya.

Masing-masing dari kita, setiap manusia, punya peran untuk menjadikan alam semesta menjadi lebih baik. Termasuk menjadikan orang di sekitar kita, menjadi lebih baik pula. Untuk dapat menjalankan peran itu, kadang, kita bekerja secara mandiri. Dan, lebih banyak, kita bekerja sama dengan orang lain. Nyatanya, kita selalu bekerja sama dengan beragam pihak. Manusia dan alam adalah satu kesatuan utuh.

Kita pasti jadi pemimpin – setidaknya memimpin diri sendiri. Dan, di saat yang sama, kita juga anggota dari suatu komunitas. Maka kita perlu bisa menempatkan diri siap memimpin dan siap dipimpin.

Presiden US, misal Biden, jelas adalah seorang pemimpin. Bahkan dia pemimpin negara terbesar di dunia. Apakah Biden juga anggota yang harus siap dipimpin? Tentu saja. Dia anggota PBB. Maka dia, presiden US, harus patuh kepada ketua PBB. Dalam kehidupan pribadi, Biden, barangkali sebagai anggota komunitas. Maka Biden harus patuh terhadap ketua komunitas tersebut. Siapa pun diri kita, pasti merupakan anggota yang harus siap dipimpin.

Baik sebagai pemimpin mau pun anggota, tujuan kita adalah untuk berperan menjadikan alam semesta dan manusia lebih baik.

5. Kompetisi Kolaborasi

Kompetisi yang banyak berperan dalam meritokrasi tetap terjadi dalam kolaborasi. Hanya saja, kompetisi kali ini, ada dalam naungan prinsip kolaborasi. Kita perlu merumuskan kompetisi yang sejalan dengan kolaborasi. Gagal dalam merumuskan ini, kita dalam resiko terjatuh ke nepotisme – lebih buruk dari meritokrasi.

Kompetisi perlu dijamin bersifat adil – secara luas. Hasil dari kompetisi adalah untuk menjalankan prinsip-prinsip kolaborasi – menjadikan alam dan manusia lebih baik.

  1. Setara dalam peluang
  2. Proses yang terbuka
  3. Hasil: Prinsip Perbedaan

Alternatif pembahasan kompetisi dalam kolaborasi bisa merujuk ke tulisan Jawara Keadilan: kompetisi itu harus adil dan adil itu harus kompetitif.

Setara dalam Peluang (Equal of Opportunity)

Aturan setara dalam peluang tampaknya mudah kita terima. Semua orang yang bersaing mempunyai peluang sama besar untuk menang. Mereka yang berbakat dan komitmen berjuang maka yang paling besar peluang untuk sukses. Tanpa kesetaraan ini, tampaknya sulit bagi kita untuk mengatakan suatu kompetisi sebagai adil.

(1) Proses penerimaan mahasiswa baru di universitas
(2) Pemilihan presiden di suatu negara
(3) Pemilihan ketua kelas di suatu sekolah menengah

Kita akan mencoba menganalisis tiga contoh kasus di atas. Kasus (1) tentang penerimaan mahasiswa baru, tampaknya, dengan mudah bisa dilakukan dengan seleksi semisal UTBK – Ujian Tulis Berbasis Komputer. Mereka yang dapat nilai tinggi dalam UTBK berhak diterima di universitas. Dan setiap siswa yang lulus SMA, dalam 3 tahun terakhir, mempunyai peluang yang sama besar untuk bersaing dalam UTBK. Jadi, UTBK bisa kita nyatakan sebagai kompetisi yang adil. Nyatanya, tidak sesederhana itu.

UTBK tidak bisa, dengan mudah, menjamin suatu kompetisi yang setara. Perhatikan kualitas SMA di kota jauh lebih menguntungkan dibanding dengan SMA di daerah terpencil. Meski siswa di kota dan di daerah terpencil sama-sama boleh berkompetisi di UTBK, namun, bekal kemampuan mereka beda jauh. Siswa di kota akan berpeluang besar untuk menang.

Sehingga, untuk menjamin kesetaraan dalam peluang, kementrian pendidikan perlu menjamin kualitas SMA di seluruh Indonesia setara. Kualitas SMA di daerah terpencil sama dengan kualitas SMA di kota. Sulit untuk dipenuhi. Dan jika kualitas SMA, misalnya, sama-sama setara di seluruh negara, maka masih ada yang bisa mengubah kesetaraan itu. Keluarga kaya akan membekali anak-anaknya dengan belajar tambahan, bimbingan belajar, buku penunjang, gizi, akses internet, dan lain-lain. Akibatnya, anak orang kaya akan berpeluang lebih besar untuk menang dalam kompetisi UTBK. Tentu saja, ada cara untuk mengatasi kesulitan ini. Saya akan membahasnya di tempat lain.

Kasus (2) pemilihan presiden maka semua warga negara berhak mengajukan diri sebagai calon presiden. Tampaknya, kompetisi pilpres ini, sesuai dengan aturan setara dalam peluang. Lagi-lagi tidak sederhana seperti tampaknya.

Proses yang terbuka

Setara dalam peluang saja tidak cukup jika prosesnya sendiri tertutup dari pengawasan. Proses yang terbuka berarti setiap tahapan kompetisi dapat diperiksa oleh siapa saja yang berkepentingan – bagaimana soal ujian disusun, bagaimana nilai dihitung, bagaimana pemenang ditentukan. Tanpa keterbukaan ini, kesetaraan peluang di atas kertas bisa saja diam-diam dikhianati di ruang tertutup: soal bocor kepada segelintir orang, kriteria penilaian diubah di tengah jalan, atau hasil akhir “disesuaikan” demi kepentingan pihak tertentu. Kembali ke contoh UTBK, keterbukaan berarti algoritma penilaian bisa diaudit, bukan hanya diklaim adil oleh penyelenggara.

Proses yang terbuka juga berarti setiap peserta berhak tahu di mana posisinya dan mengapa. Ketika seorang siswa gagal masuk universitas pilihannya, ia berhak memperoleh penjelasan yang jujur: apakah karena skornya memang di bawah ambang batas, atau karena ada faktor lain yang tidak diumumkan. Kasus TWK KPK yang saya singgung di bagian awal adalah contoh proses yang gagal terbuka – banyak pihak menduga hasilnya tidak objektif, tetapi metodologi penilaiannya tidak pernah benar-benar dijelaskan secara memuaskan kepada publik. Proses tertutup, bahkan jika hasilnya kebetulan benar, tetap merusak kepercayaan terhadap keseluruhan sistem kompetisi.

Lebih jauh, proses yang terbuka menuntut adanya jalur banding atau koreksi. Kompetisi yang sehat mengakui bahwa kesalahan bisa terjadi – baik kesalahan teknis maupun kesalahan penilaian manusia – dan karena itu menyediakan ruang bagi peserta untuk mempertanyakan hasil tanpa dicap sebagai pihak yang tidak menerima kekalahan. Federasi sepak bola yang membatalkan gelar juara karena skor diatur, seperti contoh yang sudah saya sebut sebelumnya, adalah bentuk proses terbuka yang bekerja: sistem mengoreksi dirinya sendiri ketika kecurangan terbongkar, bukan mempertahankan hasil demi menjaga muka penyelenggara.

Hasil: Prinsip Perbedaan dalam Keadilan

Setelah peluang setara dan proses terbuka terpenuhi, pertanyaan berikutnya adalah bagaimana kita menilai hasil akhirnya. Di sinilah kompetisi paling rawan disalahpahami: hasil yang timpang sering dianggap otomatis adil selama dua syarat sebelumnya sudah dipenuhi. Padahal kesetaraan peluang dan keterbukaan proses hanya menjamin bahwa kompetisi berjalan jujur — bukan menjamin bahwa ketimpangan hasilnya boleh dibiarkan begitu saja. Prinsip keadilan menuntut satu langkah lebih jauh: ketimpangan hasil kompetisi hanya bisa dibenarkan jika ia pada akhirnya juga membawa manfaat bagi mereka yang berada di posisi paling dirugikan, bukan sekadar menguntungkan mereka yang sudah menang.

Contoh paling jelas adalah gaji CEO dibanding pekerja rata-rata yang saya singgung di bagian awal – rasio yang melonjak dari dua puluh berbanding satu menjadi lebih dari tiga ratus berbanding satu. Kompetisi bisnis boleh saja berjalan sesuai aturan yang sama untuk semua perusahaan, tetapi jika hasil akhirnya adalah ketimpangan sedemikian ekstrem tanpa pernah memperbaiki nasib pekerja di lapisan bawah, maka hasil itu gagal memenuhi prinsip keadilan, sekalipun prosesnya sendiri tidak melanggar aturan apa pun. Kompetisi yang adil secara prosedural tetap bisa menghasilkan masyarakat yang tidak adil secara substantif.

Prinsip perbedaan dalam keadilan inilah yang menjembatani kompetisi kolaborasi dengan tiga prinsip dasar kolabokrasi yang sudah saya bahas: kesatuan manusia dan alam, kepemimpinan sebagai pengabdian, dan tujuan hidup untuk kebaikan bersama. Hasil kompetisi yang adil bukan yang membuat pemenang mengklaim seluruh keuntungan sebagai hak eksklusifnya, melainkan yang mengalirkan sebagian hasil kemenangan itu kembali ke masyarakat yang menopang kompetisi tersebut sejak awal – sebagaimana pemilik mobil, dalam kerangka kolabokrasi, sesungguhnya hanya dipercaya mengelola sesuatu yang pada akarnya adalah milik bersama. Kompetisi boleh menghasilkan satu jawara, tetapi buah dari kemenangan itu harus tetap mengalir untuk kebaikan yang lebih luas, bukan berhenti dan mengendap hanya di tangan yang menang.

    6. Ringkasan

    Awalnya, sistem merit berkembang untuk seleksi, tujuan untuk menyisihkan, orang-orang yang tidak layak menduduki jabatan di akhir abad 19. Pertengahan abad 20, berkembang satire meritokrasi untuk ditolak; meritokrasi adalah buruk sehingga perlu ditolak.

    Akhir abad 20, terjadi salah paham: orang mengira meritokrasi adalah baik. Sehingga berkembang dukungan terhadap meritokrasi sampai awal abad 21 ini. Tentu saja dampak buruk meritokrasi makin nyata di banyak tempat.

    Kita perlu menolak meritokrasi dengan cara melampaui meritokrasi menuju pos-meritokrasi. Penolakan meritokrasi tidak boleh mundur terjatuh ke kolusi atau pun dominasi. Melampaui meritokrasi adalah menuju level lebih tinggi berupa kolabokrasi dan dinamokrasi.

    Salah satu bentuk ekstrem meritokrasi adalah perbudakan atau slavery yang kita bahas di bagian diskusi di bawah. Wajar akan terjadi pro-kontra bahwa meritokrasi bisa ditarik jauh menjadi argumen pendukung perbudakan.

    7. Diskusi

    Bagaimana menurut Anda jika meritokrasi mencapai titik ekstrem? Salah satu titik ekstrem meritokrasi adalah terjadinya perbudakan atau slavery selama ribuan tahun. Budak adalah orang yang layak jadi budak; merit untuk jadi budak. Sedangkan tuan adalah orang yang layak jadi tuan penguasa; merit jadi tuan.

    7.1 Praktek Slavery

    Praktek perbudakan (slavery) sudah terjadi sejak ribuan tahun lalu dan masih terjadi sampai masa kini. Kabar baiknya, masyarakat dunia mulai menolak slavery. “Slavery Abolition Act, (1833), in British history, act of Parliament that abolished slavery in most British colonies, freeing more than 800,000 enslaved Africans in the Caribbean and South Africa as well as a small number in Canada. It received Royal Assent on August 28, 1833, and took effect on August 1, 1834.” (Britanica).

    Pendukung slavery menggunakan argumen meritokrasi untuk justifikasi perbudakan oleh mereka.

    Kulit putih: merit menjadi tuan, penguasa; cerdas IQ tinggi; pandai strategi; kaya harta, pengalaman, sains dan teknologi; keturunan dari orang tua tuan dan kakek-nenek adalah tuan. Jadi kulit putih merit, dan pantas, menjadi tuan.

    Kulit hitam: merit menjadi budak; bodoh IQ rendah; tidak bisa berpikir; miskin; tidak paham sains teknologi; keturunan dari kakek-nekek yang budak. Jadi kulit hitam merit, atau pantas, menjadi budak.

    Argumen di atas bisa diperluas ke kelompok tertentu lain: kulit coklat; kulit kuning; orang kampung; orang pinggiran; orang tidak berpendidikan; dan lain-lain.

    Bagaimana menurut Anda? Tentu, kita menolak perbudakan; menolak slavery; menolak argumen meritokrasi. Problem lebih rumit karena slavery bisa terjadi secara implisit: upah minimum bagi pekerja, yang tidak cukup untuk hidup layak, adalah sebentuk perbudakan/slavery modern.

    7.2 Sejarah Slavery

    Sejarah perbudakan/slavery sudah dimulai sejak awal peradaban manusia; serta tersebar di banyak wilayah. Jadi sulit menentukan di mana terjadi slavery untuk pertama kali. Tetapi, kita bisa mengkaji sejarah slavery dari beberapa data yang tersedia berupa perdebatan tokoh-tokoh besar dunia: Plato, Aristoteles, dan Diogenes; sekitar abad 4 SM.

    Plato (murid Sokrates): melihat slavery sebagai fenomena alamiah. Plato tidak menolak slavery; barangkali agak mendukung slavery karena sifatnya yang memang alamiah.

    Aristo (murid Plato): mendukung slavery karena alamiah. Aristo justru menyusun argumen logis rasional untuk mendukung slavery/perbudakan ini.

    Diogenes (murid Sokrates): menolak slavery karena tidak alamiah; slavery/perbudakan hanyalah rekayasa oleh manusia belaka. Setiap manusia bisa memilih kehidupan masing-masing secara bebas.

    Diogenes menuduh Plato dan Aristo sudah menyimpang dari ajaran Sokrates; mereka bukan lagi pewaris Sokrates. Bahkan, Diogenes mengaku dirinya adalah pewaris Sokrates yang asli; melalui Antisthenes murid terkasih Sokrates.

    7.3 Argumen

    Argumen pendukung slavery/perbudakan bertumpu pada meritokrasi.

    (a) secara alamiah sebagian orang berbakat menjadi tuan; sebagian yang lain berbakat jadi budak.

    (b) orang yang berbakat menjadi tuan dapat dikenali dengan pandai berpikir, komunikasi, dan mengatur; orang yang berbakat menjadi budak adalah orang yang tenaganya kuat secara fisik, lambat berpikir, dan menunggu perintah.

    (c) secara pragmatis, slavery menguntungkan semua pihak. Tuan untung karena mendapat semua manfaat kerja para budak; dan budak untung karena mendapat pekerjaan, atau perintah, dari tuan.

    Penolak slavery atau kontra perbudakan menolak semua argumen merit di atas.

    (x) slavery adalah tidak alamiah tetapi hanya sistem rekayasa oleh manusia.

    (y) bakat setiap orang adalah beragam; bakat tuan dan budak bisa saling ditukar; kulit hitam bisa jadi tuan dan kulit putih bisa jadi budak. Tetapi itu semua bukan bakat alamiah sehingga slavery harus ditolak.

    (z) secara pragmatis, slavery merugikan para budak sehingga harus ditolak.

    Bagaimana menurut Anda?

    Covid Tidak Masalah Tapi Pandemi

    Covid-19 tidak masalah. Virus, sejatinya, memang tidak masalah. Sedangkan pandemi memang masalah – bahkan masalah besar bagi umat manusia.

    Virus covid sudah ada puluhan tahun yang lalu. Di tubuh binatang. Kelelawar dan trenggiling. Mereka baik-baik saja. Memang baik-baik saja.

    Begitu covid berpindah ke tubuh manusia maka mutasinya jadi bahaya. Parahnya, sampai sekarang, kita tidak tahu bagaimana covid bisa masuk ke tubuh manusia. Dugaan kuat, karena manusia memangsa kelelawar maka covid masuk ke tubuh manusia. Ada pula yang menduga dari rekayasa laboratorium yang bocor ke tubuh manusia.

    Covid-19: Mengapa virus corona sangat mematikan? - BBC News Indonesia

    Di dalam tubuh manusia, covid dengan cepat mereplikasi diri menjadi ribuan bahkan jutaan. Lebih dari itu, covid bermutasi lagi sehingga lebih cerdik terhadap segala halangan.

    Covid Tidak Masalah

    Saya kembali menekankah bahwa covid itu sendiri tidak masalah. Mereka, virus corona, adalah penghuni alam – sebagaimana kita manusia.

    Awal corona, covid-19, menyebar di Wuhan Cina, mereka bisa mengendalikan pandemi dalam 2 sampai 3 bulan saja. Dengan sabar, umat manusia di dunia, seharusnya juga bisa mengendalikan corona ini dalam 2 sampai 3 bulan saja. Nyatanya, manusia tidak sabar, pandemi tetap bergejolak bahkan sampai sekarang – setahun lebih.

    Covid mengingatkan manusia untuk lebih sabar. Agar mengurangi bepergian. Mengurangi pemborosan energi yang memuntahkan karbon dioksida dan zat-zat beracun ke alam. Agar manusia menjaga jarak satu sama lain. Agar umat manusia lebih mendekat dengan keluarga inti masing-masing. Bukankah itu peringatan yang bagus?

    Lebih dari itu, covid melindungi manusia dari kerusakan lingkungan, pemanasan global, dan perubahan iklim. Gaya hidup manusia yang normal, seperti sekarang ini, akan menghancurkan bumi dalam 20 atau 30 tahun ke depan. Jika iklim sudah rusak, manusia tidak akan mampu memperbaikinya. Kita tidak bisa kembali ke masa-masa bumi yang indah. Corona mengirim pesan begitu kuat demi umat manusia. Tetapi bisakah manusia bersabar?

    Tampaknya manusia tetap ingin hidup normal – yang membahayakan umat manusia dan alam semesta. Corona tetap sabar, tetap memberi peringatan dengan caranya sendiri.

    Dengan mengubah perilaku kita jadi lebih ramah lingkungan, dekat dengan keluarga, konsumsi sekedarnya saja, maka kita akan mampu mengatasi pandemi ini – dan mencegah kerusakan alam semesta.

    Vaksin Berjasa

    Kemajuan sains teknologi memang luar biasa. Hanya dalam beberapa bulan, umat manusia berhasil menciptakan vaksin untuk covid. Biasanya, diperlukan waktu 2 tahun untuk bisa menciptakan vaksin baru.

    Saya membuat model untuk mengendalikan pandemi covid. Dalam model ini, ada dua cara mengendalikan pandemi: manajemen perilaku dan mempercepat kesembuhan. Vaksin terbukti berjasa terhadap dua cara di atas. Vaksin memperkuat perilaku manusia menjadi lebih kuat terhadap serangan corona. Di saat yang sama, vaksin juga mempercepat kesembuhan bagi yang terinfeksi – gejala lebih ringan dan lebih cepat sembuh.

    Jangkauan vaksin tampak menjadi masalah. Negara kaya, misal US, sudah vaksinasi hampir 200 juta penduduknya. Sementara negara berkembang, misal Indonesia, baru bisa vaksinasi sekitar 5% dari jumlah penduduk. Negara miskin, apa lagi yang sedang terjadi perang, tampak kesulitan sekali untuk vaksinasi. Padahal, vaksinasi hanya efektif jika seluruh penduduk dunia, target sekitar 70%, tervaksin sepenuhnya. Jika ada sebagian penduduk dunia yang tidak tervaksin maka pandemi mudah, sewaktu-waktu, meledak lagi.

    Vaksin Paling Hebat

    Vaksin covid memberi pelajaran penting bagi umat manusia secara khusus – beda dengan vaksin-vaksin yang lain.

    Pertama, vaksin covid tidak menjadikan manusia kebal. Mereka yang sudah vaksinasi tetap bisa terserang covid. Kita bisa mengkonfirmasi sejak dalam tahap pengujian mau pun realitas di lapangan banyak orang sudah vaksin, dua kali atau satu kali, tetap terinfeksi corona. Maka, meski sudah vaksinasi, setiap orang tetap harus ketat menjaga prokes.

    Kedua, vaksin covid tidak menjamin serangan covid menjadi ringan – nyatanya banyak orang yang sudah vaksinasi lalu terinfeksi corona dan meninggal dunia, di antaranya para nakes. Sehingga, kita perlu memandang vaksin hanya sebagai perlindungan tambahan. Sementara sikap taat prokes harus selalu dijaga.

    Pelajaran terhebat dari vaksin covid ini, dua hal di atas, mengajarkan manusia untuk tetap hidup penuh rasa sabar. Ramah terhadap alam sekitar. Manusia menjaga alam dan alam menjaga manusia. Hidup lebih hemat energi. Tidak hura-hura. Konsumsi hanya sekedarnya – penuh respek dan tanggung jawab. Dan, tentu saja, lebih dengan dengan keluarga inti.

    Apa lagi yang bisa kita harapkan dari covid?

    Buku Paling Sulit

    “Bikin hidup lebih hidup dan mati lebih berarti.”

    Buku apa yang paling sulit Anda pahami?

    Saya punya banyak pengalaman sulit memahami isi dari suatu buku. Berikut ini adalah beberapa buku, yang saya ingat, paling sulit saya pahami pada awal-awal membacanya. Untuk di jaman sekarang, buku bisa saja berupa ebook atau konten digital.

    7 Habits

    Sejak SMA saya suka membaca buku-buku motivasi. Karya Dale Carnegie dan seterusnya menjadi santapan menambah motivasi. Ketika membaca buku “The 7 Habits of Highly Effective People” karya almarhum Covey, cara pandang saya berbeda jauh.

    Buku Import The 7 Habits of Highly Effective People (Original & New)

    Pertama, saya tahu buku 7 Habits ini bagus. Kedua, saya tidak bisa memahami isi buku ketika membacanya. Ketiga, saya pantang menyerah untuk berusaha memahaminya.

    7 Habits memang berbeda paradigma dengan buku motivasi pada umumnya. Covey, tampak, lebih menguatkan etika karakter yang jauh beda dengan penulis lain. Sampai pada waktu berikutnya saya sulit melepaskan diri dari pengaruh Covey dalam leadership, manajemen, paradigma, karakter, komunikasi, dan lain-lain.

    Keadilan Ilahi

    Masih SMA saya membaca buku karya Syariati. Sulit, akhirnya bisa dipahami. Membaca buku Cak Nur juga sulit, akhirnya bisa paham. Buku karya Muthahhari, sulit akhirnya bisa juga.

    KEADILAN ILAHI MURTADHA MUTHAHHARI | Shopee Indonesia

    Ketika kuliah membaca buku “Keadilan Ilahi” karya Muthahhari mengapa sulit sekali untuk mengerti?

    Padahal “Keadilan Ilahi” membahas tema paling penting, keadilan, secara rasional dan religius. Tampaknya, saya perlu membacanya berulang-ulang kali. Dan akhirnya, benar-benar mengakui buku “Keadilan Ilahi” memang luar biasa. Bersyukur bisa memahami “Keadilan Ilahi” dalam segala situasi.

    Sarh Manzuma

    Menjelang tahun 2000 saya berminat mendalami metafisika. Ingin kenal lebih mendalam pemikiran Plato, Aristoteles, Al Ghazali, Averous, Descartes, Einstein, Hawking dan lain-lain. Dan saya fokus kepada karya terbesar eksistensialis Timur: Mulla Sadra – yang merupakan sintesa besar dari sebelum Plato sampai Ibnu Arabi dan Rumi.

    Mulla-hadi-sabziwari-4.jpg
    Sabzivari

    Beruntung saya membaca buku “Manzuma” karya Sabzivari yang membahas dengan rinci pemikiran Sadra. Luar biasa, buku ini benar-benar sulit aku pahami. Perlu berulang-ulang untuk membaca – dan diiringi doa. Saya kira karya Sadra, dan buku Manzuma, benar-benar karya yang luasnya tanpa batas. Kadang-kadang saya, tergoda, berpikir bahwa karya-karya pemikir besar berikutnya – Timur dan Barat – adalah catatan kaki dari karya Sadra.

    Tidak sesederhana itu. Banyak karya orisinal di Timur dan Barat dan seluruh penjuru bumi. Semua perlu kita apresiasi.

    Being and Time

    Masa pandemi memberi banyak kesempatan untuk membaca buku. Beberapa karya besar yang, sebelumnya, saya baca dari summary para pemikir hebat, saya coba untuk membaca dari karya aslinya. Pemikir eksistensialis terbesar di era modern (atau postmodern) adalah Martin Heidegger dari Jerman.

    Benar apa yang saya duga: buku “Being and Time” sangat sulit untuk dipahami. Saya perlu mengembangkan beragam cara untuk bisa memahaminya. Untung saja tersedia banyak summary secara online. Sehingga memudahkan bagi saya untuk membandingkan dengan buku aslinya.

    Semula, saya menduga kesulitan ini karena saya membaca buku dalam bahasa Inggris yang diterjemahkan dari aslinya bahasa Jerman. Tampaknya bukan karena itu. Heidegger sengaja men-destruksi bangunan metafisika dari jaman Plato sampai Nietzsche. Sehingga bangunan pemikiran metafisika selama ini memang luluh-lantak untuk membuka bangunan ontologi yang baru.

    Postmodern dan Weak Thought

    Saya tentu saja sulit memahami buku-buku postmodern. Mereka memang bersifat pluralis – kadang relativis – dan dekonstruktif – atau destruktif. Derrida sulit. Baudrillard sulit. Lyotard agak lumayan. Sementara Habermas tidak terlalu sulit karena, menurut saya, Habermas lebih kuat ke modernitas dari postmodernitas itu sendiri.

    Weak Thought by Gianni Vattimo

    Beruntung, pada akhirnya, ada karya postmodern yang lebih sederhana. Buku “Weak Thought” merupakan buah terindah dari pemikir postmo – menurutku. Tentu saja buku, karya Vattimo dkk, ini sulit dipahami. Vattimo mengembangkan ontologi hermeneutik lebih matang melanjutkan gurunya, Gadamer, dan kakek gurunya, Heidegger.

    Lebih seru lagi, karya Vattimo, dikembangkan terus oleh pemikir muda Santiago Zabala, usia 45 tahun tinggal di Spanyol. Mereka terus berkarya melalui beragam tulisan. Vattimo saat ini berusia 86 tahun tinggal di Itali.

    Untuk Apa?

    Wajar muncul pertanyaan: untuk apa membaca buku dan pemikiran yang sulit-sulit?

    Jawaban saya: bikin hidup lebih hidup dan mati lebih berarti.

    Misteri alam semesta dan yang melebihinya terbentang di cakrawala dan dalam diri manusia. Singkapkan misteri yang nyata untuk menemui misteri lagi yang lebih tinggi. Tiada henti.

    Bagaimana menurut Anda?

    Catatan

    Apakah buku matematika tidak sulit untuk dipajami? Tentu saja sulit. Tetapi bagi saya, buku matematika, meski sulit dipahami tetap jelas batas-batas pembahasannya. Matematika modern, matematika abstrak, fisika modern, mekanika quantum, relativitas, dan lain-lain adalah buku-buku yang sulit dipahami. Termasuk buku-buku filsafat analitik juga merupakan buku sulit.

    Akhir Kemiskinan Dunia dan Indonesia

    Para pemimpin dunia, saat ini, mengakui bahwa kemiskinan adalah masalah nomor 1 dunia. Sehingga mereka menempatkan “pengentasan kemiskinan” – no poverty – sebagai tujuan nomor 1 – urutan pertama dalam SDGs.

    Apa itu kemiskinan dan bagaimana cara mengukurnya?

    Bukan pertanyaan yang mudah untuk kita jawab.

    Pada tulisan ini, saya akan mencoba menampilkan ukuran kemiskinan versi Indonesia (BPS) dan versi internasional (SDG Report). Kemudian saya akan menghitung ulang angka kemiskinan tersebut dengan memanfaatkan nilai ketimpangan (dan rasio Gini). Analisis ini menunjukkan hasil yang tidak konsisten. Data BPS cenderung optimis relatif terhadap data SDG Report yang pesimis. Pada bagian akhir saya akan mendiskusikan beberapa starategi mengakhiri kemiskinan.

    Angka Kemiskinan BPS

    Sejatinya, angka kemiskinan Indonesia konsisten turun, membaik, dalam beberapa tahun terakhir. Dengan adanya pandemi covid-19, wajar kiranya angka kemiskinan Indonesia memburuk.

    Dengan garis kemiskinan sebesar Rp 458 947 per bulan, terdapat 27,55 juta jiwa penduduk Indonesia yang miskin – setara dengan 10,19% dari penduduk Indonesia.

    Angka Kemiskinan Internasional

    SDG Report menetapkan pengeluaran $ 3,2 per hari (PPP) sebagai garis kemiskinan. Dengan mempertimbangkan daya beli dolar di Indonesia sekitar 3 kali lipat dari US maka 3,2 dolar setara dengan 15 000 rupiah per hari. Dalam sebulan sekitar 450 000 rupiah. Mirip dengan garis kemiskinan BPS yang 458 947 rupiah itu.

    Terdapat 19,94 % penduduk miskin – kita bulatkan menjadi 20%. Setara dengan 54 juta jiwa orang miskin di Indonesia. Angka sebanyak ini hampir 2 kali lipat dari angka resmi BPS.

    Saya akan mencoba menganalisis dengan mempertimbangkan income per capita Indonesia adalah Rp 57 000 000 per tahun (dibulatkan).

    Nilai Ketimpangan n

    Nilai ketimpangan n kita hitung dari kurva Lorenz. Sayangnya, tidak mudah bagi kita untuk memperoleh kurva Lorenz – kurva kumulatif pendapatan. Kita beruntung mendapatkan rasio Gini G yang bisa kita konversi menjadi nilai ketimpangan n.

    Data BPS: rasio Gini G = 38,5 maka n = 2,25
    Data SDG: rasio Gini G = 50,48 maka n = 3,04

    SDG menghasilkan nilai ketimpangan n = 3,04 – lebih buruk dari BPS – karena melakukan koreksi untuk kelas kaya.

    Polinomial Eksponensial

    Secara umum saya lebih suka menggunakan nilai ketimpangan dengan model polinomial. Meski begitu, kita bisa mengembangkan model eksponensial – lebih tepatnya konvolusi polinomial eksponensial.

    Baik polinomial mau pun eksponensial merupakan summary dari kurva Lorenz, layaknya Gini. Lebih dari itu, nilai ketimpangan, memberi informasi distribusi kekayaan sebagai estimasi Lorenz. Khusus untuk polinomial bersifat intuitif dan sederhana.

    Sekilas, grafik polinomial dan eksponensial seperti sama persis. Mereka, padahal, identik hanya di tiga titik: awal, akhir, dan tengah.

    Dengan kombinasi – konvolusi – polinom dan eksponen maka kita bisa memproduksi jumlah tak terbatas grafik. Tetapi karena kurva Lorenz mensyaratkan monoton naik dan turunan kedua tidak negatif maka semua grafik tersebut akan menghasilkan karakteristik yang mirip-mirip.

    Grafik Skeptis

    Grafik polinom cenderung lebih skeptis untuk kelas bawah sampai menengah. Sedangkan grafik eksponen cenderung lebih skeptis untuk kelas menengah sampai atas.

    Grafik polinom pada posisi di bawah yang bermakna lebih skeptis untuk kelas bawah sampai menengah. Sedangkan pada kelas menengah sampai atas, grafik eksponen pada posisi bawah, yang bermakna lebih skeptis.

    Estimasi Angka Kemiskinan

    Kita akan memanfaatkan nilai ketimpangan n = 2,25 – dari BPS – untuk mengestimasi angka kemiskinan di Indonesia. BPS menyebut 10,19% penduduk di bawah garis kemiskinan.

    Menghasilkan garis kemiskinan di 273 471 rupiah per bulan. Sehingga data 10.19% penduduk miskin adalah data yang optimis. Hitungan kita menunjukkan akan ada lebih banyak orang miskin jika garis kemiskinan 458 947 rupiah per bulan.

    Dengan garis kemiskinan 458 947 maka kita peroleh penduduk miskin sebanyak 15,419%. Setara dengan 41 juta jiwa.

    Berikutnya kita analisis data internasional dari SDG Report yang menyatakan 20% penduduk miskin dengan n = 3,04.

    Menghasilkan garis kemiskinan 178 154 rupiah per bulan – jauh di bawah 450 000. Sehingga data SDG ini bisa kita anggap sebagai terlalu optimis.

    Jika ditetapkan garis kemiskinan = 450 000 rupiah maka kita peroleh 31,49% penduduk berada di bawah garis kemiskinan.

    Perlu kita catat bahwa semua analisis angka kemiskinan adalah sebuah estimasi. Angka pasti dari angka kemiskinan tidak pernah diketahui. Maka kita perlu menguji beragam metodologi untuk memperoleh hasil terbaik yang konsisten.

    Rekayasa Angka Kemiskinan

    Saya menduga angka kemiskinan memang di atas 10% tetapi tidak akan melebihi 20% – semoga. Sedangkan G = 38,5 tampaknya terlalu optimis. Jika kita mempertimbangkan koreksi SDG menghasilkan G = 50,48, tampaknya, terlalu tinggi.

    Mari kita coba G = 45,00 setara dengan n = 2,64.

    Terdapat 24% penduduk miskin. Terasa sangat tinggi. Lebih tinggi dari SDG Report.

    Kita coba G = 40,00 setara dengan n = 2,33.

    Terdapat 17,25% penduduk miskin. Masih terasa tinggi. Tetapi karena kita mempertimbangkan koreksi nilai ketimpangan maka wajar terjadi. Kiranya, untuk sementara ini, kita bisa berasumsi bahwa angka kemiskinan di Indonesia adalah 17,25% yang setara dengan 46,5 juta jiwa. Tentu, ini adalah tugas berat bagi kita semua untuk mengentaskan kemiskinan – no poverty.

    Akhiri Kemiskinan

    Tiga bidang utama bisa menjadi fokus kita untuk mengentaskan kemiskinan: pendidikan, struktur adil, dan revolusi digital.

    Pendidikan

    Barangkali semua sepakat bahwa pendidikan penting bagi kemajuan umat manusia. Indonesia sudah cukup bagus dalam cakupan sebaran pendidikan, meski masih perlu ditingkatkan. Angka partisipasi pendidikan dasar dan menengah mendekati 100%. Belum 100% dan perlu dikejar sampai 100%. Begitu juga dengan literasi dasar, bisa membaca dan menulis, juga mendekati 100%.

    SDG Report mengapresiasi kebijakan pendidikan Indonesia yang melaksanakan pendidikan dasar menengah, selama 12 tahun, secara gratis. Mereka mengacu data UNESCO. Kabar baik bagi kita semua.

    Sebagai warga negara yang hidup di Indonesia kita boleh ragu: di mana ada pendidikan gratis 12 tahun?

    Anak saya memperoleh beasiswa berupa gratis belajar di SMA 3 Bandung karena prestasi meraih medali dalam olimpiade sains nasional. Tetapi, beasiswa gratis ini dibatalkan untuk tahun terakhir karena kepala sekolahnya diganti dengan kepala sekolah yang baru. Dan, tentu saja, sebagian besar siswa yang lain memang tidak gratis bersekolah di SMA.

    Padahal peraturan gubernur Jabar, setahu saya, sejak masa gubernur Aher, menyatakan dengan tegas bahwa pendidikan di Jabar gratis sampai lulus SMA. Kondisi di lapangan tampak banyak perbedaan. Sekolah tidak gratis, ada di berbagai macam tempat.

    Saya kita pemerintah hanya perlu menambahkan kontrol yang baik. Sehingga kebijakan yang baik itu bisa diimplementasikan di lapangan dengan baik pula. KIP, Kartu Indonesia Pintar, misalnya, tampak bagus dalam meringankan beban rakyat miskin. Implementasinya, banyak orang miskin yang kesulitan untuk mendapatkan fasilitas KIP ini. Kita menunggu gebrakan berikutnya dari Mas Nadiem dan Pak Jokowi demi kemajuan pendidikan Indonesia.

    Kondisi lebih sulit adalah kualitas pendidikan Indonesia. Sudah bertahun-tahun, Indonesia menduduki kelas paling bawah dalam survey kualiatas pendidikan dunia, misal PISA dan TIMSS.

    Mas Nadiem, awalnya, punya rencana bagus dengan fokus kepada kualitas literasi dan numerasi. Pandemi covid keburu datang tidak lama Mas Nadiem menduduki jabatan menteri. Program asesmen kompetensi terpaksa ditunda. Padahal, justru, kita perlu program asesmen kompetensi ini untuk mengetahui potret pendidikan nasional setiap waktu.

    Dan masih banyak lagi problem besar dalam kualitas pendidikan – dan pemerataan ke seluruh penjuru negeri. Saya sendiri, paman APIQ, berkomitmen mengembangkan kualitas pendidikan dengan inovasi pendidikan matematika kreatif untuk siswa dan guru. Inovasi berupa program pendidikan tatap muka mau pun digital online.

    SDG Report memberi warna kuning untuk pendidikan Indonesia: masih ada tantangan nyata. Panah hijau menunjukkan arah perbaikan signifikan. Kita berharap benar-benar berhasil mencapai pendidikan berkualitas paling lambat di 2030. Butuh kerja sama semua pihak.

    Struktur Adil

    Mengutamakan sistem sosial yang adil atau ekonomi yang makmur?

    Dengan sistem sosial yang adil, kita pasti berhasil mengentaskan kemiskinan. Kita berhasil memakmurkan seluruh rakyat. Semudah itu cara menyelesaikan kemiskinan di dunia: menciptakan sistem sosial yang adil.

    Masalah muncul ketika kita bertanya bagaimana cara menciptakan sistem sosial yang adil. Caranya adalah dengan meningkatkan pendidikan dan kesejahteraan rakyat. Dengan kata lain, sistem sosial yang adil bisa tercipta bila tidak ada kemiskinan. Sementara untuk menghapus kemiskinan kita perlu sistem yang adil. Kita terjebak dalam lingkaran setan.

    Meski demikian tetap ada harapan untuk memutus lingkaran setan dengan berkomitmen menciptakan sistem struktur sosial yang adil.

    Demokrasi yang transparan. Rakyat, khususnya rakyat miskin, dapat menyuarakan ketidakadilan atau masalah apa pun dengan mudah. Pemimpin, atau pejabat publik, bisa secara langsung mendengar keluhan rakyat sebagai feedback untuk memperbaiki sistem yang lebih adil. Cara ini mudah kita lakukan dengan tersedianya media sosial.

    Bagian sulitnya adalah ketika pejabat tidak mau mendengar jeritan rakyat. Karena, mendengarkan jeritan rakyat susah, tidak menguntungkan secara politis dan ekonomi bagi seorang pejabat. Bisa juga kesulitan muncul ketika ada pihak-pihak tertentu yang sengaja menipu pejabat untuk kepentingan pihak tertentu. Semua kesulitan ini bisa kita atasi dengan tersedianya teknologi digital.

    Hak dan kewajiban rakyat. Rakyat perlu mengetahui dengan jelas hak dan kewajiban. Dengan pengetahuan ini, kita berharap rakyat bisa saling membantu untuk memenuhi kewajibannya dan mendapatkan haknya. Ketika ada rakyat yang melanggar aturan maka ada temannya yang bisa membantu menegur. Sehingga anggaran negara tidak terkuras untuk menjaga keamanan. Demikian juga bila ada pejabat yang melanggar maka rakyat bisa membantu menegurnya dengan baik.

    Contoh hak rakyat miskin adalah beasiswa dan Program Indonesia Pintar (PIP). Rakyat miskin banyak yang tidak tahu tersedianya PIP. Jika mereka pernah mendengar PIP, tetap saja mereka tidak bisa mengajukan diri bergabung dengan PIP. Akibatnya, banyak rakyat miskin tidak bisa sekolah dengan biaya murah. Mereka makin miskin karena beban sekolah yang mahal.

    Termasuk hak rakyat adalah pendidikan 12 tahun gratis, SD-SMP-SMA, sebagaimana laporan UNESCO. Karena rakyat tidak tahu akan hak ini maka mereka harus membayar mahal biaya sekolah misal untuk setingkat SMA. Semua program pemerintah yang baik perlu kita dukung bersama.

    Masih banyak yang bisa kita kembangkan untuk membangun sistem yang adil di Indonesia. Termasuk di dalamnya, kita bisa membahas sistem politik, sistem perpajakan, sistem hukum, pemberantasan korupsi, ekonomi, dan lain-lain. Ringkasnya, kita bisa menyelesaikan banyak persoalan dengan komitmen untuk menciptakan sistem sosial yang adil.

    Kesempatan Terbuka. Paling sederhana, struktur adil perlu menjamin bahwa bagi setiap warga yang sungguh-sungguh mencari kerja maka akan mendapat pekerjaan yang layak. Atau lebih mudah lagi, bagi setiap warga yang sungguh-sungguh berwira-usaha maka mendapat kesempatan berwira-usaha secara terbuka. Di Indonesia, menurut saya, kesempatan berwira-usaha makin terbuka luas. Lebih-lebih ketika revolusi digital melalui media sosial dan market place berkembang. Saya kira, pemerintah perlu memberi dukungan lebih besar lagi untuk pengusaha-pengusaha pemula ini.

    Revolusi Digital

    Revolusi digital menjanjikan masa depan cerah bagi rakyat Indonesia. Bahkan ketika pandemi menerpa, bisnis digital tetap sukses melambung tinggi. Perhatikan salah satu peristiwa merger Gojek dan Tokopedia beberapa waktu lalu. Dengan Goto, gabungan Gojek Tokopedia, maka kekayaan Nadiem berlipat lebih 300 kali menjadi lebih dari 4 Trilyun rupiah. Sementara, kekayaan William berlipat lebih dari 500 kali sehingga menjadi hampir 5 Trilyun rupiah.

    Bagi rakyat, masyarakat bawah, revolusi digital memberi banyak peluang baru. Bukalapak, Tanihub, Grab, facebook, youtube, WA, dan lain-lain memudahkan rakyat biasa untuk berwira-usaha. Beberapa rakyat miskin berhasil terangkat dari kemiskinan memanfaatkan media digital itu.

    Tetap saja, revolusi digital adalah sekedar wahana. Di satu sisi, revolusi digital menjanjikan mengentaskan kemiskinan. Di sisi lain, revolusi digital bisa juga justru mempercuram kemiskinan. Resiko itu harus kita cegah. Revolusi digital memudahkan orang cepat kaya. Maka yang kaya makin kaya. Sedangkan yang miskin tetap sekedar sebagai pasar, makin miskin. Hanya menonton, menghabiskan pulsa dan waktu. Atau kondisi terbaik, sebagai distributor produk-produk impor, makin melebarkan kesenjangan.

    Banyak cara untuk memastikan revolusi digital berdampak positif bagi masyarakat luas. Salah satunya adalah dengan memastikan bahwa media digital mendukung berkembangnya produsen, fokus utama adalah produsen, konsumen dan distributor tentu ikut maju bila produsen maju.

    Alibaba, perusahaan digital terbesar di Cina, menjadi sukses luar biasa dengan mengembangkan produsen-produsen lokal. Sehingga produk-produk Cina lebih mudah dibeli oleh pembeli dalam negeri atau pun luar negeri. Alibaba fokus mengembangkan produk dalam negeri untuk pasar dalam dan luar negeri.

    Di Indonesia, Gojek dan Tanihub, menurut saya, sudah pada arah yang tepat. Gojek menguatkan produsen jasa – driver – dan produsen makanan – warung melalui gofood. Tanihub sudah jelas fokus dengan mengembangkan produsen pertanian. Mereka berpeluang mengentaskan kemiskinan para driver, penjual warung, dan petani. Dan masih banyak revolusi digital yang bisa untuk terus kita kembangkan demi mempercepat pengentasan kemiskinan.

    Ukuran Kemiskinan Realtime

    Sampai di sini, makin kita sadari pentingnya ukuran kemiskinan. Kita perlu tahu, dengan pasti, apakah angka kemiskinan sedang naik atau turun. Apakah suatu program berhasil mengurangi kemiskinan? Atau kemiskinan justru semakin parah?

    Garis kemiskinan sebesar 3,2 dolar (PPP) per hari secara umum bisa kita terima. Angka kimiskinan ini mirip dengan garis kemiskinan versi BPS yang sekitar 450 ribu rupiah per bulan.

    Masalah yang muncul adalah berkenaan dengan metodologi menghitung kemiskinan. Saya mengusulkan menghitung kemiskinan dengan memanfaatkan nilai ketimpangan n. Kemudian kita estimasi grafik Lorenz untuk menentukan persentase jumlah penduduk miskin. Metodologi ini konsisten dengan beragam metodologi lain: Gini dan Palma. Sehingga kita bisa saling menguji hasil perhitungannya.

    Kita juga bisa mengembangkan ukuran kemiskinan secara realtime – misalnya bulanan. Sehingga kita memperoleh feedback dengan cepat. Data bulan-demi-bulan (month-on-month) barangkali terlalu sensitif terhadap perubahan. Maka kita mempertimbangkan koreksi data kemiskinan tahun-demi-tahun, year-on-year, yang diukur tiap bulannya.

    Bagaimana menurut Anda?

    Pandemi Segera Usai: Kampanye MBDK

    Di tengah lonjakan covid di Indonesia yang lebih dari 20 ribu kasus baru per satu hari kemarin, kita bisa menyelesaikan pandemi ini dalam 270 hari ke depan. Kita perlu bertindak segera, terarah, dan konsisten.

    270 hari sama artinya dengan 9 bulan – terlalu lama. Mana bisa kita konsisten selama itu?

    Saya menghitung pandemi selesai dalam 270 hari itu pun dengan asumsi bila kita bisa menurunkan R = 0,80 dengan konsisten. Nyatanya, hari ini R = 1,288, terlalu besar, untuk bisa usai. Bagaimana pun, kita, manusia selalu punya cara menghadapi setiap bencana. Satu tambahan fokus solusi corona adalah: kampanye MBDK!

    MBDK: Makan Bersama Dilarang Keras

    Manusia Bermutasi

    Kita sudah mendengar bahwa virus bermutasi sampai delta yang lebih ganas dalam penularan. Yang terbaru, bahkan sudah mutasi delta plus.

    Kapan manusia juga bermutasi?

    Manusia tidak bisa bermutasi secepat virus. Manusia jauh lebih besar. Terdiri dari jutaan sel. Beranak-cucu perlu waktu puluhan tahun. Sementara virus hanya terdiri dari 1 sel, bahkan hanya setengah sel. Mereka beranak-pinak, reproduksi, bisa dalam tiap detik. Hanya karena panas dan dingin, sedikit tertiup angin, virus barangkali bisa bermutasi.

    Tetapi manusia lebih hebat dalam mutasi dengan bentuk berbeda: adaptasi.

    Kita tambahkan lagi kemampuan komunikasi, komputasi, dan strategi maka manusia menjadi paling cerdas di muka bumi. Tetap saja ada manusia yang tidak beradaptasi. Mereka juga tidak mutasi. Mereka tidak punya strategi. Mereka beresiko mati oleh pandemi.

    Mari kita beradaptasi mengatasi pandemi. Giatkan terus kampanye MBDK: Makan Bersama Dilarang Keras.

    Dan, tentu saja, konsisten prokes. Memakai masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan.

    COVID-19 Bukan Masalah

    Covid sendiri, aslinya, bukan masalah. Covid sudah ada puluhan tahun, atau ratusan tahun, dalam tubuh binatang. Baik-baik saja. Ulah perilaku manusia yang bisa memunculkan masalah. Mereka memburu binatang-binatang tersebut sehingga memindahkan covid dari binatang ke tubuh manusia. Bisa dengan cara tanpa sadar, dengan cara memangsa binatang tersebut. Atau, diduga, bisa secara sadar dengan rekayasa laboratorium.

    Yang jelas, covid bukan masalah. Perilaku manusia yang jadi masalah.

    Mari kembali perbaiki perilaku manusia dengan kampanye MBDK: Makan Bersama Dilarang Keras.

    Dengan pandemi ini bahkan udara di dunia makin sejuk. Pemandangan tanpa polusi makin indah. Semilir angin begitu ramah tanpa suara mesin pecah.

    Mari kembali hidup bersama alam. Manusia menjaga alam. Alam menjaga manusia.

    Bagaimana menurut Anda?

    Kampanye MBDK

    Berikut ini beberapa tulisan saya yang lalu tentang kampanye MBDK.

    1. Kampanye MBDK Basmi Covid
    2. Kampanye MBDK Lagi
    3. Kampanye MBDK

    Miskin Karena Covid: Klasifikasi Ketimpangan Paman

    Pandemi covid telah meluluh-lantakkan optimisme umat manusia. Pertumbuhan ekonomi tidak lagi terjadi. Hanya kontraksi ekonomi di berbagai penjuru negeri. Kondisi ekonomi, makin terpuruk, lebih ngeri.

    Yang miskin makin miskin, tapi seperti pepatah, yang kaya makin kaya.

    Orang-orang super kaya makin super kaya. Terutama mereka yang berkuasa di bidang digital, kekayaan mereka makin melonjak, dengan melonjaknya corona.

    Ketimpangan Yang Tepat

    Pandemi ini menjadi momentum paling tepat untuk mengatasi kesenjangan ekonomi. Negara miskin sulit untuk mendapatkan vaksin. Meski negara kaya sepenuhnya bisa vaksinasi, sewaktu-waktu, pandemi bisa datang lagi ke negara kaya.

    Ketimpangan sosial dan ekonomi perlu kita atasi. Salah-satu instrumen penting, untuk mengatasi kesenjangan, adalah ukuran kesenjangan itu sendiri. Dengan ukuran kesenjangan yang tepat, kita bisa mencermati situasi setiap saat. Kita juga bisa mencoba beragam solusi untuk kemudian memilih yang paling efektif.

    Klasifikasi Paman

    Saya mengembangkan ukuran kesenjangan berupa nilai ketimpangan n – sudah saya uraikan dalam tulisan sebelumnya. Kali ini kita akan membuat klasifikasi ketimpangan berdasar nilai ketimpangan n. Saya membagi populasi menjadi 5 kelas seperti pada gambar di atas.

    Masing-masing kelas kita bedakan berdasar porsi 25% populasi termiskin dibanding dengan mean. Kelas 25% termiskin bisa kita hitung berdasar nilai ketimpangan n. Sementara, nilai mean kita peroleh dari data resmi income per capita.

    Misal untuk Indonesia: nilai ketimpangan n = 2,25 dan income per capita = 4 750 000 rupiah per bulan. Untuk US nilai ketimpangan n = 2,85 dan income per capita = 77 juta rupiah per bulan.

    Kelas Sangat Buruk

    Kelas sangat buruk terjadi ketika nilai ketimpangan n di atas 3 (atau G di atas 0,5). Konsekuensinya: orang termiskin mempunyai penghasilan kurang dari 6,2% terhadap rata-rata, income per kapita.

    Indonesia dan US tidak berada dalam kelas sangat buruk.

    Seandainya Indonesia berada dalam kelas sangat buruk maka 25% penduduk (65 juta orang) mempunyai penghasilan kurang dari 6,2% x 4 750 000 rupiah per bulan = 294 500 per bulan.

    Jika US dalam kelas sangat buruk maka 25% penduduk (82 juta orang) mempunyai penghasilan kurang dari 6,2% x 77 juta rupiah per bulan = 4,8 juta rupiah per bulan.

    Kelas Buruk

    Terdapat 25% penduduk dengan penghasilan kurang dari 19% terhadap rata-rata income per capita. Terjadi ketika nilai ketimpangan n lebih dari 2,2 (setara G = 0,375).

    Indonesia ada dalam kelas buruk ini. Begitu juga US ada dalam kelas buruk ini.

    Indonesia n = 2,25 maka terdapat 25% penduduk dengan penghasilan kurang 840 000 rupiah per bulan. Atau ada 65 juta orang, penduduk Indonesia, dengan penghasilan kurang dari 28 ribu per hari.

    US, Amerika, n = 2,85 maka terdapat 25% penduduk dengan penghasilan kurang dari 6 juta rupiah per bulan atau kurang dari 200 ribu rupiah per hari. Tetapi harga barang dan jasa di US lebih mahal 3 kali lipat dari Indonesia. Sehingga penghasilan 6 juta rupiah per bulan itu setara dengan 2 juta rupiah per bulan di Indonesia.

    Penghasilan 2 juta per bulan tampak kecil. Karena dihitung per jiwa bukan per keluarga. Bila kita anggap setiap keluarga punya 2 anak maka ada 4 anggota keluarga. Sehingga penghasilan keluarga tersebut adalah 8 juta rupiah (nilai rupiah Indonesia). Masih di atas UMR tertinggi di negeri ini.

    Kelas Sedang

    Kelas “sedang” nilai ketimpangan n = 1,8 (setara G = 0,3). Terdapat 25% penduduk dengan penghasilan kurang dari 33% pendapatan rata-rata income per capita.

    Bila Indonesia bisa masuk ke kelas “sedang” maka itu adalah kabar baik. Terdapat 65 juta orang Indonesia dengan penghasilan 33% x 4 750 000 rupiah per bulan = 1 500 000 atau 1,5 juta per bulan.

    1,5 juta tampak kecil karena kita hitung per jiwa. Jika satu keluarga terdiri dari 4 orang maka 4 x 1,5 juta = 6 juta rupiah per bulan. Tidak terlalu besar untuk ukuran Indonesia. Tidak terlalu kecil juga. Memang sedang-sedang saja.

    Kelas Baik

    Kelas “baik” ketika nilai ketimpangan n = 1,5 sehingga 25% penduduk penghasilan kurang dari 50% dari rata-rata income per kapita.

    Jika Indonesia masuk kelas “baik” maka benar-benar kabar baik di Indonesia. Terdapat 65 juta penduduk Indonesia termiskin dengan penghasilan 50% x 4 750 000 rupiah per bulan = 2 400 000 per bulan (dibulatkan ke atas).

    Penghasilan menjadi tampak besar bila kita hitung per keluarga terdiri dari 4 orang maka 4 x 2,4 juta = 9,6 juta rupiah per bulan. Orang-orang termiskin di Indonesia berpenghasilan hampir 10 juta rupiah tiap bulan. Membayangkan saja sudah bisa bikin bahagia. Apalagi menjadi kenyataan.

    Perhitungan di atas tidak mengubah kondisi ekonomi Indonesia. Hanya mengubah kesenjangan, mengubah nilai ketimpangan, maka Indonesia bisa menjadi lebih baik. Tentu saja meningkatkan income per capita juga baik.

    Dengan penghasilan keluarga termiskin di Indonesia mendekati 10 juta rupiah per bulan maka apa dampaknya dengan penghasilan 10% orang terkaya?

    Orang terkaya berpenghasilan sekitar 7 juta rupiah per bulan. Bila satu keluarga terdiri 4 orang maka penghasilan keluarga kaya sekitar 28 juta rupiah per bulan. Mestinya angka ini tidak terlalu besar, pun tidak terlalu kecil. Karena income di sini bisa ditambah dengan pertumbuhan aset dan investasi.

    Mari kita ringkas lagi bila Indonesia masuk kelas “baik” dengan kondisi ekonomi yang sama, income per capita yang sama.

    25% penduduk (65 juta orang) termiskin berpenghasilan 10 juta rupiah per bulan per keluarga.

    10% penduduk (27 juta orang) terkaya berpenghasilan 28 juta rupiah per bulan per keluarga.

    Sebuah cita-cita yang bisa kita raih.

    Kelas Sangat Baik

    Nilai ketimpangan n di bawah 1,5 maka mengantarkan masyarakat masuk ke kelas “sangat baik.”

    Dengan cara yang sama, kita bisa menganalisa kondisi kelas “sangat baik.” Tentu saja, hasilnya lebih baik dari kelas “baik.”

    Pertumbuhan Ekonomi

    Berapakah nilai ketimpangan n terbaik untuk menjamin pertumbuhan ekonomi suatu negara? Tidak ada jawaban pasti untuk pertanyaan ini. Beberapa kajian menunjukkan nilai ketimpangan n di dalam kelas “sedang” dan “baik” adalah yang paling efektif untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.

    Sedangkan untuk kelas “sangat baik,” kita tidak bisa mengkaji secara empiris. Karena sampai saat ini tidak ada negara yang masuk kelas “sangat baik.” Hanya komunitas kecil, lebih kecil dari negara, yang bisa mencapai nilai ketimpangan di bawah n = 1,5 (setara G = 0,20).

    Ada beberapa dalih yang tidak bisa dibuktikan kebenarannya: ketimpangan adalah keniscayaan dari pertumbuhan ekonomi. Yang bisa kita buktikan justru sebaliknya. Kita bisa menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi yang baik justru memperbaiki nilai ketimpangan. Kita bisa membuktikan secara teoritis dan empiris.

    Pandemi covid juga menguatkan kesimpulan kita dari arah berbeda. Kegagalan pertumbuhan ekonomi menyebabkan ketimpangan yang memburuk.

    Selama pandemi terjadi kontraksi ekonomi, pertumbuhan ekonomi negatif.

    Pendapatan orang kaya turun 10%.

    Pendapatan orang menengah turun 15%.

    Pendapatan orang miskin turun 25%.

    Maka jelas nilai ketimpangan makin buruk. Cara menghitung memburuknya nilai ketimpangan ini sudah saya bahas pada tulisan yang lain.

    Terbuka dua jalan untuk memperbaiki kondisi ekonomi masyarakat kita. Pertama, dengan meningkatkan produktivitas sehingga meningkatkan income per capita. Kedua, dengan memperbaiki nilai ketimpangan sehingga kekuatan produksi terdistribusi dengan adil. Semua jalan solusi di atas membutuhkan kualitas pendidikan yang baik dan merata terbuka untuk seluruh warga.

    Bagaimana menurut Anda?

    Mengurangi Kesenjangan: Lorenz, Gini, Palma, dan Paman

    Tujuan paling penting ke-10 di seluruh dunia adalah: mengurangi kesenjangan. SDG, sustainable development goals, ke-10 adalah reduced inequality – mengurangi ketimpangan. Meski secara urutan menempati posisi 10, mengurangi kesenjangan, adalah prioritas pertama. Seluruh kemajuan peradaban manusia menjadi berarti bila dibarengi dengan pengurangan ketimpangan.

    Sekilas, bisa kita lihat pada peta di atas bahwa warna merah mendominasi dunia lalu disusul warna kuning. Dunia berada dalam masalah besar “major challenges” menghadapi ketimpangan. Kita perlu solusi efektif untuk mengatasi ketimpangan ini.

    Pada tulisan ini, saya akan membahas ukuran ketimpangan. Di mana, dengan ukuran yang tepat, kita bisa lebih fokus untuk mengimplementasikan strategi besar mengurangi kesenjangan.

    Kita akan mulai dari kurva Lorentz – yang dengan baik menampilkan grafik kurva kumulatif sebaran pendapatan atau kekayaan dari suatu populasi. Dari kurva Lorenz kita bisa melihat gambaran ketimpangan di suatu masyarakat. Kemudian rasio Gini melengkapi kurva Lorentz dengan suatu angka unik – summary – yang mencerminkan nilai kesenjangan. Dan Palma melangkah lebih jauh dengan fokus membandingan pendapatan kelas terkaya dengan kelas termiskin di masyarakat. Saya sendiri, Paman APIQ, mengenalkan “nilai ketimpangan” yang merupakan “summary” dari Lorenz, Gini, dan Palma serta memberikan informasi ketimpangan secara intuitif.

    Kurva Lorenz

    Max Lorenz, pada 1905, menyusun kurva distribusi kekayaan yang kemudian kita kenal sebagai kurva Lorenz.

    Kurva Lorenz ini menjadi informasi yang sangat berguna menggambarkan ketimpangan. Pertama kita perlu menyusun data kekayaan, atau pendapatan, dari terkecil sampai terbesar. Selanjutnya kita menyusun kurva kumulatif. Agar lebih mudah dibaca maka kita normalisasi sehingga angka-angka pada kurva Lorenz hanya pada rentang 0 sampai dengan 100%.

    Rasio Gini

    Pada tahun 1912, Corrdano Gini mengusulkan suatu angka yang merupakan summary dari kurva Lorenz, kelak kita kenal sebagai rasio Gini, atau koefisien, atau indeks Gini. Rasio Gini menunjukkan derajat ketimpangan pendapatan, atau kekayaan, dari suatu populasi.

    Nilai rasio Gini dalam rentang 0 – 100%. Nilai 0 menyatakan tidak ada ketimpangan sama sekali, kekayaan setiap orang sama besar. Sedangkan 100% atau 1 menunjukkan ketimpangan ekstrem di mana kekayaan terkumpul hanya kepada 1 orang saja.

    Misal, sebagai contoh, rasio Gini Indonesia adalah G = 0,385.

    Mengacu kurva Lorenz di atas, rasio Gini kita hitung sebagai perbandingan,

    G = A/(A + B) = 2A

    Keunggulan Gini adalah kita bisa dengan mudah membandingkan Gini suatu negara dengan negara lain. Misal US lebih timpang dari Indonesia karena di US nilai G = 0,480. Bahkan, kita bisa menghitung nilai Gini tanpa harus menggambar kurva Lorenz. Cukup dengan rumus matematika saja.

    Sebagai summary, Gini kehilangan makna kurva Lorenz. Dua jenis kurva yang berbeda bisa menghasilkan satu rasio Gini yang sama. Sehingga, ketika kita punya G = 0,385 di Indonesia maka kita tidak bisa menggambarkan kurva Lorenz sebaran pendapatan rakyat Indonesia. (Nilai ketimpangan yang saya kembangkan dapat mengatasi kelemahan ini.)

    Rasio Palma

    Jose Palma, tahun 2013, mengembangkan rasio 10% orang terkaya terhadap 40% orang termiskin. Kelak, kita kenal sebagai rasio Palma. Pertimbangan Palma adalah 50% kelas menengah cenderung tidak timpang. Sehingga kita perlu fokus kepada sisanya: 10% orang terkaya dan 40% orang termiskin.

    Rasio Palma di bawah 1 dianggap sebagai ketimpangan yang baik. Angka ini menunjukkan bahwa pendapatan 10% orang terkaya adalah 4 kali lipat dari pendapatan orang termiskin – mean dari 40% orang termiskin. Berpenghasilan 4 kali lipat tampak, memang, tidak terlalu timpang.

    Keunggulan Palma adalah memberi informasi ketimpangan intuitif kepada kita dan fokus kepada kelas terkaya-termiskin. Kesulitannya adalah data kelas terkaya tidak selalu mudah tersedia – orang kaya bisa menyembunyikan kekayaan. Dan Palma tidak memberikan informasi umum untuk seluruh populasi. (Kelemahan ini akan kita atasi dengan formula nilai ketimpangan.)

    Nilai Ketimpangan Paman

    Saya, Paman APIQ, pada tahun 2020, merumuskan nilai ketimpangan sebagai summary dari Lorenz, Gini, dan Palma serta menampilkan nilai ketimpangan yang intuitif.

    Nilai ketimpangan n bernilai lebih besar dari 1. Nilai n ini merupakan estimasi dari pangkat n pada kurva Lorenz. Nilai n = 1 maka kurva linear di mana, bermakna, tidak ada ketimpangan sama sekali. Nilai n = 2 maka terjadi ketimpangan kuadrat di mana kurva Lorenz mengikuti kurva kuadrat. Nilai n = 3 maka terjadi ketimpangan kubik. Secara teori, nilai n bisa besar tak terbatas. Secara praktis, nilai n = 20 adalah sangat timpang sekali – yang sulit terjadi untuk kasus pendapatan atau pengeluaran.

    Cara Menghitung Nilai Ketimpangan

    Pertama, kita estimasi luas daerah di bawah kurva Lorenz, bisa menggunakan jumlah deret Riemann. Kemudian, luas ini kita bandingkan dengan hasil integral polinom pangkat n. Maka kita peroleh nilai ketimpangan n.

    Misal untuk Indonesia, nilai ketimpangan,

    n = 2,25

    Di mana, ketimpangan di Indonesia lebih timpang dari ketimpangan kuadrat.

    Error untuk nilai ketimpangan bisa kita hitung dengan mengestimasi error jumlah Riemann. Secara umum berbanding terbalik dengan banyak data dan berbanding lurus polinomial dengan kecilnya kelas.

    Nilai Ketimpangan dan Gini

    Bagi Anda yang sudah akrab dengan Gini maka dengan mudah bisa mengkonversi Gini G ke nilai ketimpangan n.

    n = (1 + G)/(1 – G)

    Dengan demikian, bisa kita katakan, n adalah summary dari G – dan summary dari Lorenz.

    Misal untuk US dengan G = 0,48 kita peroleh,

    n = (1 + 0,48)/(1 – 0,48) = 2,85

    Nilai Ketimpangan dan Palma

    10% orang terkaya = K = 10^n – 9^n

    40% orang termiskin = M = 4^n

    Maka rasio Palma P kita dapatkan dengan menyelesaikan persamaan,

    P = K/M

    Untuk contoh US dengan n = 2,85 maka kita peroleh,

    P = 3,5

    Nilai P di atas 1 menunjukkan adanya ketimpangan di US.

    Saling Terhubung

    Nilai ketimpangan n meyakinkan kita bahwa Lorenz, Gini, dan Palma adalah saling terhubung. Ketika kita memiliki salah satu data dari data-data tersebut maka kita bisa menghitung data lainnya secara tepat.

    Saling keterhubungan ini bisa kita manfaatkan untuk menguji konsistensi beragam metode statistik untuk membaca, dan mengurangi, ketimpangan di dunia. SDG Report memanfaatkan Gini dan Palma, yang sejatinya, merupakan satu kesatuan. Hal ini sah-sah saja, menunjukkan SDG Report memberi bobot besar terhadap ukuran ketimpangan ini. Bahkan SDG Report juga bisa menambahkan nilai ketimpangan n sebagai indikator.

    Kita berharap kesenjangan di dunia lebih mudah kita baca dengan ukuran yang mudah dan tepat. Untuk kemudian kita bersama-sama mengurangi kesenjangan dunia ini.

    Bagaimana menurut Anda?

    Kampanye MBDK Basmi Covid

    Saat ini kita menghadapi, lagi, lonjakan pandemi. Hari kemarin, penambahan kasus baru melebihi 13 000 orang sakit. Menjadi yang tertinggi sejak Februari 2021 ini.

    Apa solusinya?

    Kampanye MBDK untuk membasmi pandemi covid.

    MBDK: Makan Bersama Dilarang Keras

    Nilai Reproduksi R

    Saya meneliti nilai R, reproduksi, covid-19. Nilai R tidak pernah konsisten di bawah 1. Artinya, virus corona masih terus menyebar dan melonjak. Bahkan nilai R sejak awal Juni sampai akhir Juni 2021 ini terus menanjak. Mencapai R = 1,25 yang sangat tinggi. Waspada.

    Nilai magnitude M = 260 hari menunjukkan bahwa kita perlu waktu 260 hari untuk meredakan pandemi – dengan catatan konsisten mereda. Hampir 9 bulan waktu yang kita butuhkan. Waktu yang terlalu lama untuk bisa konsisten. Maka saya menduga pandemi ini sulit mereda dalam waktu 1 atau 2 tahun ke depan. Kita perlu beradaptasi. MBDK bisa kita kampanyekan – ditambah prokes tentunya.

    Vaksinasi terus berjalan. Saat ini kisaran 12 juta orang yang telah divaksin. Dengan kecepatan seperti sekarang ini, barangkali perlu waktu 5 tahun untuk meyelesaikan vaksin di Indonesia. Perlu inovasi serius. Sementara, penularan virus disertasi mutasi terus melaju.

    Mengapa MBDK?

    Kampanye MBDK menjadi andalan kita. Tugas sederhana tapi tidak mudah – MBDK: Makan Bersama Dilarang Keras.

    Seperti saya tulis pada tulisan saya sebelumnya bahwa makan bersama melanggar semua prokes. Di saat yang sama, makan bersama, sangat bahaya terjadi penularan virus corona. Droplet virus corona bertebaran di mana-mana.

    Pertama, makan bersama pasti tidak pakai masker. Melanggar prokes untuk pakai masker.

    Kedua, makan bersama tidak menjaga jarak. Mereka berdekatan akrab. Melanggar prokes jaga jarak.

    Ketiga, makan bersama tidak cuci tangan berulang kali. Sebelum makan bisa saja cuci tangan. Tetapi ketika makan satu sendok bisa saja droplet berhamburan. Sendokan kedua dan seterusnya tidak cuci tangan. Maka melanggar prokes cuci tangan.

    Singkatnya, makan bersama harus dihindari. Makan bersama adalah kejadian “tipping point” yang membuka lonjakan kasus di mana-mana.

    Beberapa hari lalu saya baca berita. Di jatim, Madiun, ada hajatan nikahan yang menerapkan prokes. Harus pakai masker, cuci tangan, jaga jarak, bahkan semua dicek dengan termo gun – cek suhu badan. Tetapi apa artinya bila ada makan bersama di hajatan nikahan itu?

    Dari 240 orang yang hadir di hajatan itu 60 orang di antaranya dinyatakan positif covid-19. Beberapa hari kemudian, yang positif masih bisa bertambah lagi.

    Mari kampanyekan MBDK: Makan Bersama Dilarang Keras!

    Bagaimana menurut Anda?

    Ketimpangan Ekonomi: Gini Sampai Palma

    Masalah ketimpangan ekonomi dan ketimpangan sosial terjadi di berbagai belahan dunia – termasuk di Indonesia. Solusinya sudah jelas: peningkatan kualitas pendidikan dan pemerataan pendidikan yang terbuka, gratis, untuk seluruh warga. Meski solusi ini tampak jelas, nyatanya, banyak negara gagal menyelesaikan ketimpangan ekonomi – dan sosial.

    Laporan SDR di atas menunjukkan bahwa peta dunia didominasi warna merah – terdapat masalah besar. Disusul warna kuning dan jingga – terdapat masalah nyata. Dan hanya sedikit yang berwarna hijau – berhasil menekan ketimpangan.

    Indeks Rasio Gini

    Ketimpangan ekonomi sering kita nyatakan dalam rasio Gini = G. Di mana makin besar G menunjukkan ketimpangan makin besar. Nilai G berkisar dari 0 sampai 100%. Untuk Indonesia indeks G = 50,48 – sesuai SDR di atas. Sementara BPS, statistik resmi dalam negeri Indonesia, menyatakan G = 38,5.

    Perbedaan di atas karena SDR menerapkan koreksi untuk 10% orang terkaya. Akibatnya, indek G Indonesia melonjak setelah dilakukan koreksi.

    Saya sendiri mengembangkan nilai ketimpangan = n untuk mengukur ketimpangan. Nilai n bisa kita hitung langsung dari data mentah misal kurva Lorentz. Kita bisa juga langsung menghitung dengan konversi dari indeks G.

    G = 38,5 setara n = 2,25
    G = 50,48 setara n = 3,04

    Makna nilai n = 2,25 di Indonesia adalah grafik kurva pendapatan rakyat Indonesia mirip dengan grafik polinom pangkat n = 2,25 (kurva Lorentz). Maka kurva ini bermakna bahwa ketimpangan di Indonesia lebih buruk dari ketimpangan kuadrat. Lebih buruk dari kuadrat – pangkat n = 2.

    Sementara bila kita mempertimbangkan koreksi dari SDR maka n = 3,04. Hal ini menunjukkan bahwa ketimpangan ekonomi di Indonesia lebih buruk dari ketimpangan kubik. Lebih buruk dari ketimpangan pangkat 3.

    Benar-benar tugas besar yang harus kita temukan solusi terbaiknya. Menjadi tugas lebih besar lagi bila kita mempertimbangkan jumlah orang miskin di Indonesia sekitar 20 % (pendapatan di bawah 15 000 rupiah per hari).

    Rasio Palma

    Palma membandingkan pendapatan 10% orang terkaya dengan 40% orang termiskin. Makin kecil rasio Palma maka makin bagus. Kita bisa mengatakan bila rasio Palma P di bawah 1 maka cukup baik. Sementara SDR menetapkan P = 0,9 sebagai target warna hijau.

    Kita bisa menghitung Palma langsung dengan nilai ketimpangan n yang kita peroleh di atas.

    Dengan P = 1,6 tentu saja itu ketimpangan yang buruk. Bila kita mempertimbangkan koreksi SDR maka memberikan hasil lebih buruk dengan P = 4,4. Makin memprihatinkan.

    Nilai n memudahkan kita untuk menghitung rasio Palma 1% terkaya dibanding dengan 4% termiskin. Kita sebut P(1/4). Bisa juga 0,1% terkaya dibanding dengan 0,4% termiskin P(0,1/0,4).

    P(1/4) kita peroleh:

    Nilai P = 534,779 yang, jauh di atas 1 ini, sulit kita lukiskan maknanya dengna kata-kata. Lebih ekstrem lagi, nilai P(0,1/0,4) berikut ini.

    Untuk menghibur diri, kita bisa menghitung Palma perbandingan 20% orang terkaya dengan 80% orang termiskin. P(20/80) memberi hasil di bawah 1 meski masih di atas 0,9 standar SDR.

    Kita bisa membacanya sebagai kelas menengah Indonesia ternyata tidak terlalu kaya. Yang benar-benar kaya adalah kelas super kaya saja.

    Tugas Siapa

    Sesulit apa pun masalah ketimpangan ekonomi ini maka tugas kita untuk menemukan solusinya sebagai manusia beradab. Tugas pemimpin untuk mengarahkan rakyat meraih keadilan sosial. Tugas rakyat untuk taat kepada pemimpin demi maslahat. Tugas cendekiawan untuk menerawang masa depan di masa sekarang.

    Bagaimana menurut Anda?

    Kampanye MBDK Lagi

    Lonjakan pandemi covid kembali mengancam Indonesia. Beberapa hari terakhir peningkatan kasus positif baru sangat tinggi. Mendekati 10 ribu kasus baru dalam sehari.

    Saya mengusulkan lagi “Kampanye MBDK” untuk meredakan pandemi. MBDK adalah Makan Bersama Dilarang Keras.

    Melanggar MBDK adalah melanggar semua protokol kesehatan. Dampaknya, resiko penyebaran corona menjadi menggila. Mari kampanyekan MBDK, prokes, dan meningkatkan imunitas.

    Kita perlu mempertimbangkan resiko yang bisa terjadi seperti di India misalnya. Satu hari, waktu itu, penambahan kasus baru bisa melebihi 400 ribu orang. Tentu rumah sakit tidak cukup. Dokter tidak memadai. Layanan kesehatan gagal jalan. Korban meninggal ribuan nyawa melayang. Kita tidak ingin pandemi yang ngeri terjadi.

    Perhatikan juga negara tetangga kita, Malaysia. Saat ini, mereka terpaksa lock down total. Pandemi mengamuk tak terkendali. Malaysia benar-benar bersebelahan dengan kita, Indonesia.

    Ayo lindungi diri, lindungi keluarga, dan lindungi negara dari pandemi. Ayo kampanyekan MBDK: Makan Bersama Dilarang Keras.

    Solusi Pandemi

    Solusi pandemi ada 3 fokus – seperti pernah saya tulis setahun yang lalu. Solusi ini tampak mudah saja tapi, nyatanya, tidak semudah yang dikira.

    A. Manajemen Perilaku

    Solusi manajemen perilaku adalah solusi terbaik. Semua orang bisa melakukan manajemen perilaku bagi dirinya sendiri dan membantu orang terdekatnya. Pemerintah sudah meng-kampanyekan 3M: memakai masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan pakai sabun. Atau lebih lengkap kita perlu taat sesuai prosedur kesehatan – prokes.

    Kampanye MBDK adalah kampanye prokes sesuai anjuran pemerintah dan para pakar. Melanggar MBDK berdampak melanggar prokes dengan resiko tertular corona sangat besar.

    Orang yang makan bersama, tentu, melanggar prokes maka harus dilarang keras.

    Pertama, tidak memakai masker. Orang yang makan bersama melepas maskernya ketika makan.

    Kedua, tidak menjaga jarak. Orang yang makan bersama ingin akrab dengan berdekat-dekatan.

    Ketiga, tidak mencuci tangan secara berulang. Sebelum makan, mereka bisa cuci tangan. Tapi ketika makan bersama, droplet bertebaran ke mana-mana. Mereka tidak cuci tangan. Berulang-ulang suapan, mereka tidak cuci tangan.

    Patuhi MBDK: Makan Bersama Dilarang Keras.

    B Inovasi Percepatan Kesembuhan

    Para ahli kesehatan – dan terapis – bisa mengembangkan inovasi untuk mempercepat kesembuhan para pasien yang terinfeksi covid. Berbagai jenis obat, terapi, dan vaksin terus dikembangkan.

    Vaksin mempunyai peran ganda. Di satu sisi menguatkan perilaku masyarakat untuk tidak mudah tertular covid. Di sisi lain, diharapkan, bisa menyembuhkan orang yang sakit. Setidaknya, meringankan gejala bagi mereka yang terinfeksi.

    C Kepemimpinan Efektif

    Pandemi bukan sekedar urusan pribadi. Pandemi adalah tanggung jawab sosial. Maka kita perlu pemimpin yang efektif. Di saat yang sama, kita perlu rakyat yang bersikap patuh kepada pemimpin. Kita perlu kepemimpinan yang efektif.

    Pandemi tidak bisa diselesaikan oleh seorang diri. Bahkan superman tidak akan mampu menyelesaikan pandemi. Meski pun dibantu batman, ironman, sampai spiderman tidak akan bisa menyelesaikan pandemi. Kita perlu bergerak selangkah seirama dalam kepemimpinan yang efektif untuk membasmi pandemi.

    Dan solusi sederhana bagi kita: mari kampanyekan MBDK lagi!

    Bagaimana menurut Anda?