Demokrasi Pecat Menteri

Memecat menteri tentu bukan hal kecil. Berdampak kepada kinerja pemerintah, stabilitas, juga politis. Di sisi lain, negara dan rakyat menuntut kinerja tinggi dari setiap kabinet.

Presiden Jokowi yang terpilih dua periode, secara demokratis, memegang tanggung jawab besar untuk memajukan Indonesia. Kita, sebagai rakyat Indonesia, perlu bersatu untuk mendukung suksesnya program-program pemerintah guna menciptakan Indonesia yang adil dak makmur.

“Memecat menteri adalah solusi demokratis.”

6 Wajah Menteri Baru di Kabinet Jokowi, Sandiaga Uno dan Risma Terpilih -  Grafis Tempo.co

Dan terpilihlah menteri baru yang diharapkan lebih besar membawa kebaikan bagi negara. Presiden Jokowi sudah pengalaman dalam mengganti kursi menteri. Barangkali kita bisa berharap proses ini lebih sering dilakukan – dengan harapan jalannya pemerintahan lebih efektif.

Presiden Demokratis

Rakyat tentu saja punya hak untuk mengkritik presiden, siapa pun presidennya, demi kebaikan negeri ini. Namun presiden Indonesia adalah hasil pilpres yang demokratis di Indonesia. Maka kritik kepada presiden harus diarahkan untuk tidak mengutak-atik posisinya sebagai presiden. Posisi presiden perlu dijaga aman dalam periode jabatan sesuai konsitusi.

Dengan demikian arah kritik adalah dalam ranah efektivitas pemerintahan, kebijakan, undang-undang dan sebagainya.

Pergantian Menteri Demokratis

Posisi menteri beda dengan presiden. Menteri bukan pilihan rakyat melalui pemilu. Presiden mempunyai hak prerogratif untuk mengangkat menteri – dan berbagai macam jabatan penting. Maka mengganti menteri dengan lebih sering, lebih cepat, tidak merusak sistem demokrasi. Pertimbangan ini lebih ke arah efektivitas pemerintah dalam menjalankan roda pemerintahan dan meraih cita-cita luhur negara.

Di sisi lain, pergantian menteri yang dinamis dapat memicu dinamika generasi muda. Orang-orang terbaik, yang berminat untuk menjadi menteri, bisa saja berjuang untuk menunjukkan kinerja terbaik, siapa tahu sewaktu-waktu akan ditunjuk oleh presiden untuk menjadi menteri yang baru.

Gubernur, Walikota, dan Bupati

Sama halnya dengan gubernur, walikota, dan bupati adalah pilihan demokratis dari rakyat. Maka jabatan seorang gubernur perlu dijaga aman selama periode masing-masing. Kritik terhadap gubernur adalah dalam ranah efektivitas pemerintahan dan kebijakan, dan lainnya. Sementara posisi kursi gubernur tetap aman.

Gubernur, walikota, dan bupati mempunyai kewenangan yang leluasa untuk mengganti pejabat di jajarannya demi efektivitas pemerintahan. Pergantian ini perlu lebih dinamis untuk memberikan hasil terbaik.

Demokratis Dinamis

Dengan ide bahwa kita bisa mengganti posisi pejabat secara dinamis maka diharapkan kita bisa meraih cita-cita negeri adil makmur. Sementara, di saat yang sama, kita tetap menjaga jabatan kepala negara dan kepala daerah aman sesuai periodenya. Hal ini menjaga suasana demokrasi tetap terjamin kondusif.

Bagaimana menurut Anda?

Tanpa Pemilu Lebih Tenang

Demokrasi, tanpa pemilu lebih tenang. Tentu saja hanya untuk sementara waktu. Saya merasa, saat ini, ada aura yang lebih kondusif berdemokrasi dengan tidak adanya pemilu selama 3 tahun berturut-turut. Pemilu terdekat adalah 2024. Rakyat tetap bisa beda pendapat. Tidak sampai saling menghujat. Kritik-kritik tetap bertaburan memberi petunjuk arah yang lebih tepat.

Sementara itu ada pemilu ikatan alumni sebuah kampus paling bergengsi di negeri ini. Tentu saja suasana seru sekali. Perdebatan berlanngsung hangat sampai panas. Karena perserta pemilu sebagian besar adalah para sarjana, bahkan doktor, maka suasana panas tetap bisa mendingin.

Kembali kepada kasus Indonesia yang tidak ada pemilu, pilkada, selama tiga berturut-turut kali ini, tampak debat di ruang publik terasa lebih asyik. Apakah pilkada sebaiknya dihapus saja?

Pilkada Langsung Dihapus

Pernah muncul ide untuk menghapus pilkada, beberapa tahun lalu. Tetapi ide ini kandas. Salah satu penentangnya adalah Kang Emil, yang saat ini jadi gubernur Jabar. Argumentasinya adalah dengan pilkada langsung bisa dihasilkan pemimpin-pemimpin baru secara adil. Contohnya, terpilihnya Kang Emil sebagai walikota Bandung, dan kemudian terpilih sebagai gubernur Jabar. Barangkali presiden Jokowi juga merupakan buah dari pilkada langsung.

Mengurangi Pilkada

Barangkali kita bisa mempertimbangkan untuk mengurangi pilkada. Saat ini, kita menyelenggarakan pilkada untuk provinsi dan kota/kabupaten. Sehingga jumlah pilkadanya banyak sekali. Lebih dari 100 pilkada tiap tahun perlu diselenggarakan. Sementara proses persiapan, kaderisasi, kampanye, dan pencoblosan, sampai pengesahan bisa lebih dari satu tahun. Akibatnya, seakan-akan, kita dalam situasi kompetisi pemilu sepanjang tahun, sepanjang masa.

Ide mengurangi pilkada adalah dengan memilih salah satu pilkada saja misal pilkada provinsi. Maka kita hanya perlu ada 30an pilkada. Tampak lebih sederhana. Atau memilih hanya pilkada kota/kabupaten saja. Jumlahnya memang masih banyak tetapi jangkauannya terbatas di masing-masing wilayah kota/kabupaten.

Pilkada Serentak Lebih Serentak

Ide alternatif lainnya adalah menyelenggarakan pilkada serentak yang lebih serentak. Maksudnya, seluruh pilkada di Indonesia diadakan dalam waktu serentak, lima tahun sekali. Misal dilaksanakan 2023, 2028, 2033, dan seterusnya. Dengan cara ini, rakyat hanya berkompetisi 5 tahun sekali pilkada, dan 5 tahun sekali pilpres. Sisa waktu lainnya bisa untuk lebih fokus membangun negeri, tidak dalam kompetisi politis.

Pilkada lebih serentak ini bisa juga dikombinasikan dengan pengurangan jumlah pilkada. Dengan cara ini diharapkan energi rakyat, dan pemerintahan, lebih hemat dalam berkompetisi. Dan kita bisa mengarahkan fokus kekuatan untuk membangun negeri.

Bagaimana menurut Anda?

Pendidikan Agama Sejati

Kita baru saja menyantap hidangan pendidikan agama sejati tingkat tinggi. Pertama, tidak adanya frasa “agama” dalam rumusan peta-jalan pendidikan 2035 dari Mas Menteri Nadiem. Kedua, pertemuan dua tokoh beda agama tingkat dunia yakni Ayatullah Al-Sistani dengan Paus Francis, di Najaf Irak.

Top Shiite cleric Sistani tells Pope Francis that Iraqi Christians should  live in 'peace'

Ketika saya jalan-jalan di Najaf Irak dan sekitarnya, tiga tahun lalu, terasa sekali aura penghormatan kepada Ayatullah Sistani yang begitu tinggi menunjunjung nilai-nilai universal kemanusiaan, terilhami oleh ajaran luhur agama Islam. Sementara di Itali, tempat tinggal Paus, sedang berkembang konsep filosofis weak thought, yang begitu antusias menekankan pentingnya saling respek terhadap perbedaan. Vattimo, pemikir Itali yang berusia 86 tahun, menyatakan bahwa weak thought adalah perkembangan filsafat mutahkir saat ini.

Dua tokoh besar agama ini, Ayatullah dan Paus, bersepakat untuk menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, toleransi, saling hormat, kesetaraan, dan demokrasi. Bersepakat pula untuk mengakhiri segala kekerasan atas nama agama. Menghentikan terorisme dalam segala bentuknya. Menciptakan perdamaian di seluruh dunia. Dalam situasi perbedaan agama dan keyakinan.

Itulah sebentuk pendidikan agama sejati.

Hanya ada jalan lurus

Salah satu yang menarik dari Irak adalah hanya ada jalan lurus. Tidak ada jalan belok. Saya tertawa saja ketika pembimbing ziarah menceritakan bahwa bila kita bertanya ke orang Irak tentang tempat suatu lokasi maka mereka akan menunjukkan dengan cara lurus, lurus, lalu lurus lagi. Mereka sambil menggerakkan tangannya ke kanan atau ke kiri. Kita menjadi paham maksudnya karena sambil melihat gerak tangannya. Sementara ucapan mereka tetap saja, lurus, lurus, dan lurus – mustakim dalam bahasa mereka.

Benar saja, suatu ketika saya sama teman-teman berkunjunga ke suatu tempat tanpa pembimbing. Lalu saya bertanya arah kepada salah seorang pemuda Irak yang ada di situ. Dijawabnya, “mustakim, mustakim,,, mustakim.” “Syukron jadid.” Memang benar pemuda itu mejawab lurus, lurus, dan lurus. Saya berterima kasih dan tertawa dalam hati penuh kagum. Barangkali istilah jalan lurus ini menjadi penting sekali karena setiap hari dibaca berulang kali dalam bentuk doa, “Tunjukilah kami jalan yang lurus.” Sehingga mereka hanya mau menunjukkan jalan lurus kepada orang yang tersesat. Mereka tidak mau menunjukkan jalan belok, yang tidak lurus.

Pendidikan Agama Kementerian

Kembali ke pendidikan agama di Indonesia. Saya kira sikap Mas Nadiem sudah benar dengan menerima keberatan beberapa pihak tentang tidak adanya frasa “agama” dalam peta-jalan pendidikan 2035. Mas Nadiem akan melakukan koreksi yang diperlukan.

Tetapi adanya berita yang menyatakan bahwa pelajaran agama akan dihapus di Indonesia adalah berita yang tidak benar. Sejak awal, kementerian tidak berniat menghapus pelajaran agama. Kementerian berniat untuk melanjutkan pendidikan agama.

Saya sendiri, jauh hari, mengusulkan agar pendidikan agama masuk dalam kurikulum utama, yaitu kurikulum paling utama yang diajarkan dengan baik tanpa harus ada ujian formal. Yang diperlukan adalah asesmen untuk meningkatkan kualitas pendidikan itu sendiri. Pendekatan ini berbeda dengan kurikulum inti, misal matematika, yang memang diperlukan ujian formal dengan sistem penilaian yang obyektif dan jelas.

Pendidikan Agama Dihapus

Apakah ada kemungkinan pendidikan agama dihapus? Mungkin saja. Karena sistem pendidikan bisa berubah setiap saat sesuai perkembangan umat manusia itu sendiri.

Apakah pendidikan agama dihapus akan menjadi lebih baik?

Saya kira menghapus pendidikan agama bukan ide yang baik. Tetapi, dengan pendidikan agama seperti sekarang ini, apakah bisa menurunkan angka korupsi? Korupsi tidak hanya urusan pendidikan agama. Melibatkan banyak hal termasuk sistem politik, ekonomi, hukum, dan lain-lain. Maka kita perlu melihat kasus korupsi dengan sudut pandang yang lebih luas.

Sementara penyelenggaran pendidikan agama itu sendiri barangkali perlu terus dikaji untuk menemukan proses terbaik. Pertama, seperti sekarang ini, pendidikan agama ditangani oleh kementerian pendidikan. Kita bisa melihat hasilnya seperti yang terjadi di Indonesia. Masih banyak hal yang bisa diperbaiki.

Kedua, pendidikan agama dihapus dari kementerian pendidikan lalu dipindahkan ke kementerian agama. Dipindahkan dari Mas Nadiem ke Gus Yaqut. Barangkali ide seperti itu ada bagusnya agar masing-masing fokus kepada kompetensi inti. Menteri pendidikan fokus kepada pendidikan dan menteri agama fokus kepada agama. Tentu saja perlu penyesuaian anggaran.

Ketiga, pendidikan agama dihapus dari seluruh kementerian lalu diserahkan kepada masyarakat. Selama ini masyarakat sudah banyak pengalaman dalam menyelenggarakan pendidikan agama secara mandiri. Barangkali ide ini bisa bagus dengan fokus menyederhanakan birokrasi. Banyak yayasan, pensantren, dan lain-lain yang terbukti lebih unggul dalam menyelenggarakan pendidikan agama. Dan, tentu saja, ada penyesuaian anggaran.

Berbagai ide pengembangan pendidikan agama perlu terus kita kaji untuk menemukan yang terbaik sesuai jaman dan tempat.

Bagaimana menurut Anda?

Normal Gak Normal

“Closing schools is more stressful for children and families than keeping them open.”

Sudah saatnya kita kembali membuka sekolah tatap muka. Siswa bergembira. Guru-guru bersuka ria. Orang tua ikut bahagia.

Pandemi segera sirna. Tapi tak pernah kembali seperti sedia kala. Kita kembali normal yang tidak normal. Kita berada pada situasi normal tak normal. Normal gak normal.

Kegiatan masyarakat kembali normal. Ditambah tetap dengan standar prosedur kesehatan yang konsisten. Longgar sedikit, kasus covid bisa melonjak lagi. Dengan disiplin prokes, secara bertahap covid akan terjepit.

Grafik Merah Stabil

Grafik merah mulai stabil agak turun. Grafik merah yang sedikit banyak bisa menggambarkan kondisi sulit dalam pandemi mulai melandai di dunia. Di Indonesia, kasus harian juga mulai turun. Meski demikian grafik hijau belum membaik. Sehingga dalam waktu satu tahun ini, kita belum terbebas dari pandemi. Barangkali memang tidak akan pernah terbebas dari pandemi. Namun kita, sebagai umat manusia, sudah bisa mulai kembali hidup normal, yaitu normal gak normal.

Bisnis vs Sekolah

Bisnis harus jalan, dan memang tetap jalan, meski dengan beragam kesulitan. Bisnis penting bagi kehidupan umat manusia dan sifatnya urgen, mendesak, sehingga tidak bisa ditunda. Berbeda dengan pendidikan, meski penting, bisa ditunda. Pendidikan, dalam bentuk sekolah tatap muka, sudah saatnya untuk kembali berjalan normal, yaitu normal gak normal.

Penutupan sekolah tentu saja tidak masalah untuk saat ini, karena memang bisa ditunda. Berapa kerugian pendidikan akibat penutupan sekolah? Berapa juta siswa Indonesia yang tidak bisa belajar karena tidak ada kelas tatap muka? Berapa mahasiswa yang tidak bisa penelitian karena kampus terbatas? Semua kerugian pendidikan tampak seperti tidak ada. Tapi siapa yang berani melakukan asesmen nasional dengan jujur terhadap kualitas pendidikan semasa pandemi? Kabarnya, rencana asesmen nasional diundur pelaksanaannya. Padahal asesmen itu penting sekali buat Indonesia.

Menteri Penting

Peran menteri pendidikan saat ini benar-benar penting. Tentu saja menteri bisa menginstruksikan agar sekolah tidak buka kelas tatap muka demi menjaga kesehatan. Bagi yang berminat buka kelas, sekolah tersebut bisa mengajukan izin. Kondisi seperti ini perlu didorong untuk lebih maju lagi: menteri memerintahkan seluruh sekolah (dan universitas) membuka kembali kelas tatap muka dengan standar prosedur kesehatan.

Bagi sekolah yang belum memenuhi syarat untuk membuka kelas tatap muka maka kementerian akan membantu agar sekolah tersebut mampu memenuhi persyaratan.

Semester Pendek

Barangkali waktu yang paling tepat untuk membuka kelas tatap muka adalah semester baru terdekat. Sekitar Juli atau Agustus 2021. Ada kesempatan menarik yaitu berbagai universitas dapat membuka kuliah tatap muka lebih awal dalam bentuk semester pendek.

Semester pendek ini sekaligus bisa kita jadikan sebagai model, percontohan, untuk sekolah-sekolah di seluruh Indonesia. Semester pendek, yang biasanya berlangsung 2 bulan, bisa dimulai habis lebaran. Sekitar akhir Mei atau awal Juni sudah bisa dimulai. Kita berharap semester pendek ini berjalan dengan lancar. Dengan demikian, semester baru sudah bisa dimulai dengan normal, yaitu normal gak normal, sesuai jadwal seperti biasanya.

Pandemi Indonesia

Kondisi pandemi di Indonesia memang belum sepenuhnya mereda. Analisis saya menunjukkan nilai Reproduksi R berkisar sedikit di bawah 1 dan kadang naik lagi sedikit di atas 1. Kondisi R yang naik turun di sekitar 1 ini menunjukkan bahwa pandemi di Indonesia mulai mencapai kondisi kesetimbangan dinamis. Situasi stabil dengan adanya penambahan kasus pada jumlah tertentu seimbang dengan jumlah orang yang sembuh.

Untuk mencapai pandemi selesai total perlu waktu sekitar 10 bulan ke depan dengan syarat nilai R stabil di 0,8. Syarat ini sulit dipenuhi bahkan dengan bantuan vaksin pun. Tetapi peran perilaku masyarakat sangat berperan besar untuk mencegah lonjakan kasus baru. Disiplin prokes adalah kuncinya. Target kita untuk sementara cukuplah kestabilan dinamis, normal gak normal. Dan sekolah bisa kembali dibuka dengan kelas tatap muka.

Bagaimana menurut Anda?

Kosmologi: Mahana – Kosmos – Hana

Kosmologi penuh misteri. Makin misterius makin menarik bagi kita untuk menyelidikinya. Masalahnya, makin dalam kita mengkaji konsmologi maka hasilnya makin diliputi misteri.

Cosmology Diploma Course - Centre of Excellence

1. Eksistensi Kosmologi
2. Kosmologi Ilmiah
3. CCC: Conformal Cyclic Cosmology
4. Kosmologi Umum

Misteri ini bisa kita pahami, tetap dipenuhi tanda tanya, lantaran kosmologi membahas masa lalu, jauh di masa lalu. Dan membahas masa depan, jauh di depan. Secara ilmiah, kita tidak bisa mengetahui masa lalu dan masa depan. Apalagi yang begitu jauh.

1. Eksistensi Kosmologi

Terdapat banyak pendekatan untuk memahami kosmologi. Saya menggunakan pendekatan eksistensial dengan menggunakan istilah hana sebagai padanan wujud, being, atau eksistensi. Dalam banyak kasus, hana merujuk kepada eksistensi manusia atau manusia sejati secara eksistensial. Sementara eksistensi mutlak bisa kita sebut sebagai maha-hana = mahana. Secara spiritual, mahana bisa kita artikan sebagai Tuhan.

Kita memandang dunia, termasuk kosmomologi, selalu dalam ruang-dan-waktu. Para saintis, sejak Newton atau Galileo, memandang ruang dan waktu ada secara obyektif. Pandangan saintis ini mulai bergeser sejak Einstein merumuskan relativitas. Ruang dan waktu tidak se-obyektif yang dikira selama ini. Ruang dan waktu bersifat relatif terhadap kerangka acuan pengamat. Sementara, filsuf semisal Immanuel Kant, memandang ruang dan waktu sebagai intuisi paling murni dari manusia, pengalaman subyektif manusia. Sadra, pemikir abad 17, menyatakan ruang dan waktu eksis secara obyektif tetapi merupakan turunan dari gerak eksistensial, gerak substansial.

Maka kosmologi secara ruang bisa saja berbeda dengan kosmologi secara waktu. Kosmologi secara ruang adalah,

mahana – hana – kosmos

Hana, secara ruang, berada di tengah-tengah antara mahana dan kosmos. Hana memiliki sifat perpaduan antara mahana dan kosmos. Hana, manusia sejati, punya peran mewakili mahana untuk memakmurkan kosmos. Di saat yang sama, hana, manusia sejati mewakili seluruh kosmos untuk menghadap kembali ke mahana.

Kosmologi secara waktu adalah,

mahana – kosmos – hana

Hana, secara waktu, adalah yang hadir terakhir. Awal penciptaan alam semesta adalah hadirnya eksistensi kosmos. Kemudian, seiring waktu, kosmos ber-evolusi dari materi elementer – mineral – tumbuhan – hewan – dan puncaknya hadir manusia, hana. Perjalanan ini baru satu arah, dari sumber mahana ke kosmos lalu ke hana. Arah selanjutnya adalah kebalikannya. Karena kosmos telah eksis secara sempurna maka hana melanjutkan evolusi dengan menjelajahi kosmos menuju sang mahana.

1.1 Mengapa Hana

Mengapa kita perlu membahas hana sebagai landasan paling awal?

Karena hana adalah yang paling mewakili karakter kosmologi: selalu berubah. Kosmos setiap saat selalu berubah. Realitas selalu bergerak. Umat manusia, dan seluruh mahkluk hidup, senantiasa berubah. Bahkan gedung-gedung dan gunung-gunung juga terus bergerak bersama bumi mengitari matahari. Sesuai teori Big Bang, alam raya ini pun terus bergerak makin membesar.

Hana, manusia sejati, adalah yang paling cepat dalam gerak perubahan. Detik ini, kita bisa memikirkan kosmologi. Detik berikutnya, kita bisa memikirkan ekonomi. Secara fisik, hana terbiasa berpindah dengan cepat dari satu lokasi ke lokasi lain, misal dengan kendaraan mobil. Karena itu, kita sah memilih hana sebagai pusat kajian kita tentang kosmologi.

Secara epistemologi, hana adalah yang paling dekat, yaitu diri kita sendiri, manusia sejati. Sehingga, kita lebih mudah mempelajari hana dengan cara refleksi diri. Dan, hana memiliki karakter unik: punya badan dan pikiran. Badan manusia yang tersusun oleh materi fisik barangkali mirip dengan materi di alam raya. Tetapi pikiran manusia, yang kemudian berkembang menjadi kebudayaan, tampak khas hanya ada pada hana.

Heidegger (1889 – 1976) memulai kajian ontologinya juga berpijak pada kajian manusia sejati: dasein. Karena, manusia adalah “being” yang senantiasa peduli terhadap eksistensi dirinya. Manusia senantiasa mengantisipasi masa depan, berbekal masa lalu, untuk kemudian menjalani proses masa kini. Manusia bisa saja tenggelam dalam samudera kosmologi. Mereka terbawa arus entah ke mana. Tetapi di antara mereka, tetap ada yang menjadi manusia otentik: selalu peduli dengan eksistensi dirinya. Manusia otentik bertanya, “Apa makna menjadi being?”

Descartes (1596 – 1650) berfokus kepada kajian pikiran manusia: cogito.

1.2 Mahana: Ontological-Gap

Analisis sederhana menunjukkan bahwa diri kita, hana, lahir karena ada ibu dan bapak. Mundur lagi, ibu dan bapak lahir karena ada nenek dan kakek. Dan, kita bisa mundur terus ke masa lalu sambil bertanya, “Siapakah, atau apakah, yang paling awal?”

Realitas fundamental paling awal, atau realitas primordial, adalah mahana. Secara spiritual, kita bisa mengatakan bahwa mahana adalah Tuhan Yang Maha Awal. Para saintis, barangkali, mengidentifikasi mahana sebagai “hampa quantum” yang lebih awal dari Big Bang. Orang lain bisa juga mengidentifikasi mahana sebagai “Prinsip Primordial.”

“Tetapi, apa sebenarnya mahana itu?”

Mahana adalah ontological-gap sehingga kita tidak bisa merumuskannya secara ontologis (metafisis). Selalu ada “gap” antara rumusan ontologi kita dengan mahana. Semua ide, semua konsep, semua ukuran tidak akan mampu membatasi mahana: selalu ada ontological-gap.

Epistemological-gap.

Hermeneutical-gap.


1.3 Luma dan Tata

2. Kosmologi Ilmiah

Berbagai macam teori kosmologi ilmiah sudah dikembangkan. Salah satu paling favorit adalah teori big bang. Sekitar 14 milyard tahun yang lalu tidak ada apa-apa di alam semesta ini. Yang ada hanya hampa quantum. Meski hampa, hampa quantum ini, tidak benar-benar hampa. Kehampaan ini, sejatinya merupakan lautan energi yang tersembunyi dalam samudera hampa quantum. Sedikit gangguan saja akan mengakibatkan ledakan besar, big bang.

Big bang ini terjadi sekitar 13,8 milyard tahun lalu yang kemudian terus mengembang sampai saat ini. Sejak big bang itu, kosmos terus ber-evolusi sampai terbentuk alam semesta seperti sekarang ini. Ada apa sebelum big bang? Tidak ada apa-apa. Tidak ada ruang. Tidak ada waktu. Hanya ada kehampaan, hampa quantum.

Bagaimana dengan masa depan? Alam semesta, sampai saat ini, terus berkembang. Jika “berkembangnya” alam ini terus menerus terjadi maka alam semesta akan menjadi begitu longgar. Ruang menjadi terlalu besar dengan materi yang konstan. Termasuk badan kita, badan manusia, menjadi terlalu longgar berubah jadi benda cair atau gas. Maka alam semesta akan hancur pada waktunya. Alam semesta akan berakhir. Skenario yang berbeda bisa dikembangkan. Alam semesta terus mengembang sampai ukuran tertentu lalu berbalik arak mengkerut, mengecil. Proses yang mengecil terus-menerus menyebabkan alam semesta makin terjepit dengan massa jenis begitu mampat. Alam semesta juga hancur, pada akhirnya.

3. CCC: Conformal Cyclic Cosmology

Perkembangan menarik dari kosmologi ilmiah adalah CCC. Di mana alam semesta berkembang lalu hancur, berkembang lagi, hancur lagi, berulang secara siklis tanpa batas akhir.

Teori big bang dirumuskan berdasar data pengamatan yang menunjukkan bahwa alam semesta saat ini sedang mengembang. Maka bila kita hitung balik, alam semesta adalah mengkerut. Dan diperoleh hasil perhitungan, pada waktu 13,8 milyard tahun yang lalu, radius alam semesta adalah 0 meter. Waktu itulah dianggap sebagai peristiwa big bang. Tidak ada apa pun sebelum big bang.

Hasil pengamatan kontemporer menunjukkan data adanya “jejak cahaya” sebelum waktu big bang (data dan interpretasi masih diperdebatkan). Maka peniliti menyimpulkan sudah ada alam semesta sebelum big bang. Karena itu, teori big bang mulai mendapat tantangan yang serius. Penrose, pemikir abad 21, mengusulkan teori baru sebagai pengganti teori big bang yaitu teori CCC. Dalam teori baru ini, peristiwa big bang merupakan satu bagian dari siklus alam semesta. Masih ada banyak siklus lainnya, tanpa batas.

4. Kosmologi Umum

Bisa kita lihat, kosmologi ilmiah berfokus kepada kosmos. Mereka tidak membahas hana, manusia sejati. Apalagi membahas mahana, tentu tidak. Meski hanya fokus kepada kosmos – materi dan energi – kosmologi tetap penuh misteri. Bagaimana bila kita kembangkan lebih luas: mahana – kosmos – hana? Tentu makin seru.

Bagaimana menurut Anda?

Perpres Miras Makin Jelas

Akhir Februari ini terbit perpres tentang miras – minuman keras. Di beberapa wilayah, di Indonesia, investasi miras menjadi sah, legal, berdasar perpres. Pro-kontra tentu muncul di mana-mana.

Yang kontra, menolak perpres miras, misalnya adalah seorang wakil ketua MPR. Pilpres miras ini bertentangan dengan pancasila, menurutnya. Bila benar bertentangan maka ini menjadi persoalan serius.

Yang pro, mendukung perpres miras, misalnya adalah dari Sulawesi Utara. “Saya pikir dengan ada ini bagus. Kalau bisa kita ekspor. Tapi harus lulus BPOM, kualitasnya bagus, supaya layak untuk dikonsumsi. Tentu ada mekanisme untuk lolos dari pengawasan BPOM dan Dinas Perdagangan,” kata Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPM-PTSP) Sulut, Franky Manumpil ketika dimintai konfirmasi detikcom, di Manado, Sabtu (27/2/2021).

Perubahan

Kita, presiden dan warga Indonesia, perlu fokus kepada solusi di dunia yang penuh perubahan ini. Solusi yang tepat untuk jadi fokus besama. Kesenjangan adalah masalah utama di negeri ini. Kita perlu fokus menemukan solusi kesenjangan – ekonomi, pendidikan, kesehatan, politik, dan lain-lain.

Sedangkan peraturan miras barangkali tidak perlu jadi fokus secara nasional, cukup menjadi fokus beberapa daerah tertentu saja. Dalam kerangka otonomi daerah, mestinya, peraturan miras bisa dirumuskan lebih baik. Dan semua menjadi lebih jelas.

Sementara, secara nasional kita bisa lebih fokus kepada menangani masalah nasional: kesenjangan di Indonesia.

Ukuran Pasti

Dalam hal kesenjangan, BPS sudah secara rutin menerbitkan ukuran yang pasti setiap 6 bulan berupa rasio Gini, saat ini G = 0,385 (tahun ini lebih buruk dari tahun lalu yang G = 0,381). Informasi ini penting dan bagus.

Saya mengusulkan agar BPS lebih sering menerbitkan nilai rasio Gini, atau indeks Gini, karena dengan bantuan teknologi, hal ini mudah dilakukan. Bahkan saya membayangkan grafik nilai Gini bisa realtime. Sehingga, kita bisa mengamati pergerakan kesenjangan di Indonesia. Sekaligus menjadi feedback setiap solusi yang kita terapkan.

Solusi Nasional

Menangani kesenjangan adalah solusi nasional yang terbukti di banyak negara. Artinya, negara miskin atau berkembang, yang kesenjangannya tetap tinggi tidak berhasil menjadi negara maju. Sementara negara yang kesenjangannya rendah maka berhasil bergerak menjadi negara maju. Kita ambil beberapa contoh negara tetangga.

Jepang, pada tahun 1960-an, menerapkan solusi melipatgandakan pendapatan penduduk miskin. Pemerintah dan warga bersatu untuk meningkatkan kesejateraan penduduk miskin, mengatasi kesenjangan. Hanya dalam waktu 7 tahun, Jepang berhasil menjadi negara maju dan mengentaskan kemiskinan dengan cara mengatasi kesenjangan ekonomi.

Sementara di tahun yang hampir sama, Indonesia mendukung konglomerasi yang berhasil mendorong beberapa konglomerat maju pesat. Konglomerat yang super kaya ini diharapkan akan menyerap banyak tenaga kerja dan mengurangi kemiskinan di Indonesia. Yang terjadi, barangkali kita sudah tahu, konglomerat memang tambah kaya tetapi pengangguran dan kemiskininan masih ada di mana-mana. Kita bisa belajar dari pengalaman ini.

Korea Selatan, pada tahun 1970-an sama miskinnya dengan Indonesia, menerapkan program kampung produktif. Di mana negara dan warga bersatu mendukung kemajuan kampung-kampung yang produktif. Benar saja, kampung-kampung produktif ini terus bertumbuh. Sampai-sampai pendapatan orang kampung bisa lebih besar dari mereka yang bekerja di kota. Kesenjangan berkurang, kemiskinan berkurang, dalam waktu beberapa tahun, Korsel berhasil menjadi negara maju.

Kita, akhir-akhir ini, punya program dana desa yang bagus. Program dana desa masih perlu terus kita perbaiki. Salah satu fokus penting adalah mendukung desa produktif. Kita perlu mengenali apa saja kemampuan produktif dari suatu desa untuk kemudian kita dukung menjadi lebih kuat, bahkan produk dari desa-desa ini kita dukung sampai ekspor. Semoga kesenjangan berkurang, kemiskinan berkurang, dan Indonesia menjadi negara maju.

Singapura, pada tahun 1980, mencanangkan program pendidikan gratis dari dasar sampai sarjana. Putra-putri terbaik Singapura berhasil menjalani pendidikan terbaik, gratis sampai sarjana. Setelah mereka menjadi generasi terbaik maka apa konsekuensi selanjutnya? Wajar saja, mereka makin mendorong negara Singapura menjadi negara maju. Kita sudah tahu itu. Tidak ada alasan putus sekolah. Pendidikan berkualitas tersedia untuk seluruh warga.

Akhir-akhir ini, kita di Indonesia, juga sudah mencananangkan pendidikan gratis meski baru sampai SD dan SMP. Banyak hal yang kita bisa dukung untuk lebih maju lagi. Misal kita mendorong agar pendidikan gratis untuk seluruh warga sampai sarjana. Dan gratis ini, benar-benar gratis bagi peserta didik. Tidak perlu ada biaya lain-lain. Tidak perlu ada biaya seragam, biaya LKS, biaya gedung, atau lainnya. Sehingga rakyat Indonesia benar-benar bisa sekolah sampai sarjana.

Apa yang bisa dibayangkan kemudian? Indonesia menjadi negara maju sebagaimana cita-cita kita bersama.

Bagaimana menurut Anda?

Tugas Pemimpin Hanya Satu

Tidak banyak, hanya satu. Tapi bisa diuraikan menjadi banyak cara, banyak target, dan banyak wacana. Tetap saja, tugas pemimpin hanya satu: memberikan hasil yang tepat dengan cara yang benar.

Berlaku bagi Anda pemimpin perusahaan, sekolah, wilayah, keluarga, atau bahkan bagi kita pemimpin terhadap diri sendiri. Karena hanya satu tugas pemimpin maka godaannya lebih banyak. Godaan ini mengaburkan tugas yang satu itu. Menjauhkan, bahkan melupakan.

The 5 Types of Leaders

Menyelesaikan Pekerjaan

Bukan tugas seorang pemimpin untuk menyelesaikan suatu pekerjaan. Pekerjaan membuat aplikasi online bukanlah tugas seorang pemimpin perusahaan dagang, misalnya. Aplikasi tersebut butuh modal, waktu, dan kreativitas. Penuh rintangan, dan akhirnya berhasil diciptakan aplikasi yang keren.

Tugas pemimpin memastikan bahwa aplikasi tersebut memberi hasil yang sesuai, misal meningkatkan penjualan. Bila semua pemakai puas dengan aplikasi tetapi tidak ada peningkatan penjualan maka pemimpin masih gagal. Dan caranya, prosesnya, pun harus benar.

Seorang presiden, gubernur, walikota atau pejabat lainnya bisa saja meresmikan banyak proyek pembangungan. Meresmikan gedung UMKM, bendungan, jalan tol, pasar baru, dan sebagainya. Semua itu bukan tugas pemimpin. Tugas pemimpin masih menunggu: apakah peresmian bendungan memberikan hasil yang diharapkan, misalnya menaikkan pendapatan petani termiskin dua kali lipat?

Peresmian proyek bisa dilakukan oleh siapa pun. Tetapi memberikan hasil yang nyata dengan cara yang benar hanya bisa dilakukan oleh pemimpin sejati. Pemimpin yang sibuk tidak menjamin menjadi pemimpin yang baik. Pemimpin yang memberi hasil tepat adalah pemimpin yang baik. Sibuk atau tidak sibuk bisa saja terjadi.

Sebagai pemimpin pribadi, hasil apa yang sudah kita berikan? Hasil apa yang akan kita berikan? Pastikan dengan proses yang benar pula.

Variasi

Kita butuh ukuran hasil yang tepat. Sehingga semua pihak bisa dengan mudah menentukan apakah hasil yang diberikan oleh seorang pemimpin sudah sesuai atau tidak. Tanpa ukuran, dan proses, yang tepat maka akan terjadi variasi tiada henti. Pemimpin akan gagal dalam kondisi ini. Kita perlu adil dalam menilai hasil kepemimpinan.

Hasil yang diinginkan adalah meningkatkan penjualan 7% (y-o-y) yang diukur oleh auditor independent, yang sudah disepakati. Ukuran ini sudah cukup jelas. Bila laporan penjualan menunjukkan 8% maka kita apresiasi pemimpin sudah berhasil, asumsi proses sudah benar. Bila laporan penjualan justru terjadi penurunan 2% maka pemimpin itu gagal. Tidak peduli apakah pemimpin tersebut sibuk atau tidak, tugas pemimpin memang fokus kepada hasil.

Tanpa ukuran yang jelas, pihak tertentu bisa berselisih. Misal cara mengukur penjualan atau auditor bisa saja berbeda. Ketika laporan menunjukkan penjualan turun 2%, ada pihak lain yang klaim penjualan justru naik 9%. Varaiasi semacam ini harus dihindari sejak awal.

Kita bisa baca menkeu menargetkan rasio ketimpangan di tahun 2020 adalah turun ke 0,380 dari tahun sebelumnya G = 0,381. Yang terjadi justru pada tahun 2020 rasio ketimpangan meningkat jadi G = 0,385. Ukuran tersebut didasarkan pada laporan BPS.

Meski menkeu gagal mencapai hasil barangkali kita bisa maklum karena kondisi sedang pandemi. Tetapi kita sulit paham karena terjadi korupsi di mensos. Dengan korupsi ini sulit diharapkan akan bisa mengurangi kesenjangan ekonomi rakyat.

Penjelasan vs Alasan

Tugas pemimpin memang berat: memberikan hasil. Bila mencapai hasil yang diharapkan maka tugas berikutnya adalah memberi penjelasan bahwa semua proses sudah benar. Tetapi bila gagal mencapai hasil maka tugas berikutnya menjadi lebih berat: penjelasan atau alasan.

Korupsi bisa menjadi alasan gagalnya mencapai hasil. Tetapi alasan sekedar alasan, tidak bisa menjadi pembenaran. Beda hal dengan pandemi, misalnya. Pandemi bisa dijelaskan, sebagai penjelasan. Jika semua proses sudah tepat, seharusnya sukses mencapai hasil, karena ada pandemi jadi gagal. Hal semacam pandemi bisa kita terima sebagai penjelasan.

Karena beratnya tugas pemimpin maka seluruh pemangku kepentingan perlu saling mendukung untuk suksesnya pemimpin. Mari kita ambil peran untuk mendukung pemimpin yang baik demi kebaikan kita bersama.

Bagaimana menurut Anda?

Pandemi Berakhir Juli 2021

Pertanyaan mendasar: kapan pandemi berakhir?

Pandemi berakhir, di Indonesia, pada bulan Juli 2021. Sayangnya akhir pandemi ini tidak kembali normal. Kita akan kembali ke normal yang tidak normal.

Berikut beberapa analisis saya berdasarkan data resmi Indonesia, WHO, dan pendekatan nilai reproduksi covid-19 yang saya kembangkan.

Idul Fitri Mei 2021

Tolok ukur penting ke depan adalah event lebaran 13 Mei 2021. Rakyat Indonesia akan mudik. Tahun kedua lebaran dalam suasana pandemi. Rakyat akan kumpul-kumpul dalam jumlah besar. Disusul acara hajatan, nikahan, dan sebagainya.

Bagaimana pun prokes, prosedur kesehatan, harus secara ketat diterapkan sepanjang lebaran 2021.

Jika setelah lebaran, sampai akhir Mei 2021, terjadi lonjakan kasus covid-19 maka pandemi tidak jadi berakhir di Juli 2021. Sementara, kita berharap, tidak terjadi lonjakan kasus di akhir Mei maka benar-benar pandemi bisa berakhir di Juli 2021.

Peran Mendikbud Mas Nadiem

Untuk mengakhiri pandemi di Juli 2021 peran besar ada di tangan mas menteri Nadiem, tentu perlu didukung presiden. Mas Nadiem perlu menginstruksikan sekolah dan kampus agar kembali membuka kelas tatap muka dengan standar prokes, mulai Juli 2021. Atau disesuaikan dengan semester baru terdekat.

Tidak cukup Mas Menteri memberi ijin saja. Di sini diperlukan komando lebih tegas. Menteri memerintahkan lembaga pendidikan untuk membuka kelas tatap muka dengan standar prokes. Tentu tetap ada persyaratan untuk mendapatkan ijin. Hanya yang lolos persyaratan yang diijinkan. Bagi yang tidak lolos maka akan dibantu oleh kementrian untuk memenuhi beragam persyaratan.

Sebelum pelaksanaan kelas tatap muka maka perlu dibuat simulasi dan strategi yang rapi. Misal jumlah siswa di dalam kelas dibatasi sekitar 5 sampai 10 orang. Lama belajar di kelas 1 sampai 2 jam tiap hari. Dalam seminggu, belajar 2 sampai 4 hari saja. Dan tentu saja kombinasi dengan belajar online tetap dijalankan.

Nilai Reproduksi R

Bulan Februari ini kita mencatat penurunan jumlah kasus baru dibanding bulan Januari. Di Indonesia, sekitar 9 atau 10 ribu orang kasus baru. Sementara beberapa minggu lalu sempat mencapai 15 ribu orang kasus baru dan tampak terus menanjak. Data global di dunia, menunjukkan pola yang mirip. Bulan Februari penambahan kasus baru di kisaran 400 ribu orang. Sebelumnya, pernah lebih dari 700 ribu orang kasus baru dalam sehari.

Analisis nilai R menunjukkan bahwa nilai R sempat turun menuju di bawah 1. Tanda kasus mereda. Lalu naik lagi di atas 1, kasus bertambah lagi. Untuk kemudian turun ke bawah 1 lagi. Saya kira pola ini akan berulang beberapa kali. Akibatnya pandemi berakhir. Kembali normal tapi tidak normal seperti yang dulu.

Prediksi saya, penambahan kasus baru di Indonesia akan berkisar antara 5 ribu sampai 15 ribu per hari. Akan lebih sering dekat-dekat di angka 10 ribuan. Barangkali itu kondisi kesetimbangan dinamis akhir dari pandemi.

Normal tidak Normal

Masyarakat akan kembali hidup normal tidak normal. Kegiatan ekonomi kembali normal. Kegiatan sosial akan kembali normal. Kegiatan keagamaan akan kembali normal. Tetapi akan tetap tidak normal dalam arti sebagian besar masyarakat akan disiplin pakai masker, jaga jarak, rajin cuci tangan.

Sebagian yang lain akan lebih berani tidak pakai masker. Mereka itu yang berpeluang besar berkontribusi ke angka penambahan kasus baru sekitar 10 ribu per harinya.

Vaksin untuk HI

Peran vaksin sangat diharapkan untuk membentuk herd immunity (HI), kekebalan bersama. Tetapi kita tahu proses vaksinasi perlu waktu bertahun-tahun lamanya. Bisa lebih dari 5 tahun di Indonesia. Belum lagi efektivitas (efikasi) vaksin hanya sedikit di atas 50%. Sehingga kita tidak bisa hanya mengandalkan kepada vaksin.

HI secara alami tampak perlu waktu lebih lama lagi. Jika 1 hari ada penambahan kasus sekitar 10 ribu orang maka dalam 1 tahun akan ada 3 jutaan orang imun baru, kebal. Untuk mencapai HI dari penduduk 270 juta jiwa barangkali perlu waktu 60 tahun atau lebih. Karena periode kebal terbatas maka orang yang kebal bisa rawan kembali. Artinya HI alamiah tampaknya tidak pernah terjadi.

Solusi: Normal Tak Normal

Solusi yang tersedia bagi kita tampaknya adalah solusi kesetimbangan dinamis: Normal Tak Normal.

Dilihat dari luar tampak sudah stabil. Dilihat dari dalam terus menerus ada penambahan kasus baru. Di saat yang sama ada yang sembuh dan meninggal. Angka-angka ini hampir seimbang.

Di lihat dari luar, kehidupan tampak kembali normal, dan seharusnya normal. Dilihat dari dalam, harus tetap ketat prokes bagi yang berminat. Yang tidak ketat prokes resiko tertular covid.

Mirip dengan kasus HIV-AIDS, seperti sudah normal tapi tidak normal. Maka solusinya memang normal tak normal.

Bagaimana menurut Anda?

Power Manusia – Kekuatan Nyata

Melengkapi kehendak bebas manusia yang benar-benar bebas, hana mempunyai power yang benar-benar nyata. Sehingga manusia, hana, mampu mengejar cita-cita tertingginya. Karena power ini bersifat lebih nyata maka power manusia terbatas namun tetap tak terhingga banyaknya.

Dengan berkembangnya era digital maka power manusia menjadi lebih besar lagi. Jika abad 20, umat manusia membanggakan diri berhasil menjelajah ke bulan, maka awal abad 21 ini, umat manusia boleh bangga berhasil menjelajah ke planet Mars. Power manusia benar-benar makin besar. Tetapi perlu kita ingat, benar bahwa power makin besar, di saat yang sama, power besar tidak selalu berarti benar. Ada resiko perusakan alam bahkan penindasan di mana-mana oleh power manusia.

Image result for human change

Di bagian ini, kita akan membahas power manusia yang makin besar itu dan berharap, dengan struktur dan arah yang tepat, bertambah besarnya power tersebut ke arah yang benar. Di awal, kita membahas beragam teori power manusia. Lalu lanjut ke langkah praktis pengembangan power. Dan bagian akhir, kita refleksi lebih mendalam tentang power manusia.

Teori Power Manusia

Dari jaman kuno sampai jaman digital ini, semua orang sepakat bahwa power terhebat dari manusia adalah pikirannya. Kita sudah akrab dengan definisi bahwa manusia adalah binatang yang berpikir. Maka kemampuan berpikir ini yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya. Sekaligus, kekuatan berpikir ini menjadi keunggulan unik dari hana, manusia sejati.

Era digital menunjukkan fenomena baru tentang kemampuan berpikir manusia. Hana, manusia sejati, bisa menyuruh orang lain untuk berpikir kemudian hasil pikirannya dimanfaatkan olehnya. Atau bahkan, hana bisa memanfaatkan pikiran orang lain yang sudah tersedia di internet. Orang-orang ini saling bertukar pikiran, di internet, meskipun mereka terpisah jarak ribuan kilometer dan terpisah waktu bertahun-tahun.

Masih di era digital, manusia bisa menyuruh komputer untuk berpikir kemudian hasil pemikiran komputer ini digunakan oleh manusia. Komputer, dan perangkat digital lainnya, kini dilengkapi dengan sistem cerdas. Bahkan kecerdasan buatan, artificial intelligence, kini bisa berpikir lebih cerdas dari manusia itu sendiri dalam banyak aspek. Maka, apakah benar keunggulan manusia adalah kemampuan berpikir?

Manusia Rasional Aristoteles

Kita banyak berhutang jasa kepada Aristoteles, pemikir abad 4 SM. Karya-karya Aristoteles mencerahkan pemikiran manusia pada jamannya sampai saat ini. Aristo meletakkan prinsip-prinsip logika rasional yang kokoh dan terus berkembang. Sebut saja, misalnya, prinsip non-kontradiksi dan silogisme begitu mendasar, menjadi kekuatan analisis rasional umat manusia.

Kita ambil contoh kekuatan prinsip non-kontradiksi. Sebuah negara yang tidak memenuhi syarat sebagai negara maju maka negara tersebut tidak bisa disebut sebagai negara maju. Negara tersebut bukan negara maju. Syarat negara maju adalah pendapatan per kapita 12 000 dolar (PPP). Karena pendapatan per kapita Indonesia tidak mencapai 12 000 dolar maka kesimpulannya Indonesia bukan negara maju. Klaim bahwa Indonesia adalah negara maju akan berkontradiksi dengan pendapatan per kapita yang di bawah 12 000 dolar itu. Kesimpulan yang sah: Indonesia bukan negara maju.

Contoh lebih jelas adalah kasus alibi di bidang hukum. Tuan Dumadi didakwa mencuri uang di Jakarta pada hari Senin. Tuan Dumadi bisa membuktikan bahwa sepanjang hari Senin itu ia berada di Surabaya. Terjadi kontradiksi. Tidak mungkin di waktu yang sama berada di Jakarta sekaligus di Surabaya. Maka Tuan Dumadi selamat dari dakwaan. Tuan Dumadi bukan pencuri uang tersebut. Tuan Dumadi selamat karena prinsip logika non-kontradiksi.

Di era digital, kekuatan prinsip non-kontradiksi makin penting. Apakah Tuan Dumadi adalah calon pembeli yang baik buat saya? Sulit bagi saya menentukan pembeli yang baik, hanya secara online. Lebih mudah bagi saya melihat ciri-ciri pembeli yang buruk. Misalnya, ciri pembeli buruk adalah, pembeli yang menuntut agar harga diturunkan dengan kualitas dinaikkan. Ketika Tuan Dumadi termasuk dalam kriteria pembeli yang buruk ini maka terjadi kontradiksi jika ia adalah pembeli yang baik. Saya menyimpulkan dia calon pembeli yang tidak baik, dia calon pembeli yang buruk.

Masih di era digital, orang-orang yang punya kekuatan nyata, profesional, makin mudah bertumbuh. Pada gilirannya, orang tersebut akan mendapat job terlalu banyak. Lebih banyak pekerjaan yang harus dikerjakan dari waktu yang tersedia. Maka bagaimana kita bisa menentukan pekerjaan terpenting yang harus diutamakan? Terjadi kontradiksi jika semua pekerjaan diterima. Tetapi semua pekerjaan sama pentingnya. Solusinya adalah hindari kontradiksi dengan memilih pekerjaan-pekerjaan yang kurang penting, sisihkan pekerjaan-pekerjaan kurang penting ini. Delegasikan atau outsourcing. Maka kita cukup fokus pada pekerjaan-pekerjaan yang tersisa, yang paling penting saja.

Pemikiran rasional makin matang dalam bentuk sains dan teknologi. Manusia mampu menerbangkan besi yang ukurannya sebesar lapangan tenis, yaitu pesawat terbang. Mampu memindahkan ratusan orang, terbang, lintas negara menempuh jarak ribuan kilometer. Pada abad 20, berhasil mengantarkan astronot mendarat di bulan. Dan pada abad 21 ini, manusia berhasil menjelajahi planet Mars dengan teknologi.

Masih banyak yang bisa kita kaji mengenai kekuatan rasional manusia sejati, hana. Perkembangan sains dan teknologi mutakhir yang begitu fenomenal didasarkan pada pemanfaatan kekuatan rasional. Apakah kekuatan rasional benar-benar kekuatan paling fundamental dari hana? Banyak kritik dan penyempurnaan dari konsep hana sebagai mahkluk rasional.

Manusia Pencerahan Suhrawardi

Kritik terhadap pemikiran Aristo langsung muncul pada masa berikutnya. Berkembanglah pemikiran neo-Platonisme yang merupakan sintesa dari pemikiran Aristo dengan pemikiran Plato, gurunya Aristo. Penyempurnaan makin kuat oleh Ibnu Sina, pemikir abad 11, yang memberikan kedudukan sejajar pemikiran irfan dengan pemikiran rasional. Barangkali Suhrawardi, pemikir abad 12, adalah yang paling berhasil dengan merumuskan iluminasi atau pencerahan.

Suhrawardi keberatan dengan definisi bahwa manusia adalah binatang rasional, binatang yang berpikir. Karena definisi semacam itu mendefinisikan manusia dengan sesuatu yang sama-sama tidak jelas yaitu binatang dan rasional. Apa itu binatang? Kita tidak tahu pasti apa itu binatang. Barangkali kita bisa mendefinisikan binatang adalah tumbuhan yang bergerak bebas. Kita menemui kesulitan yang sama. Kita tidak tahu apa itu tumbuhan. Dan begitu seterusnya, tetap tidak jelas, tanpa henti. Maka kita tidak bisa mendefinisikan manusia sebagai binatang rasional. Belum lagi, kita juga masih bisa mempertanyakan apa itu rasional.

Suhrawardi menawarkan pendekatan iluminasi, pencerahan, untuk bisa mengetahui hakekat segala sesuatu, misal manusia sejati. Subyek bisa mengenali obyek dengan cara subyek dan obyek saling berhadapan dan ada cahaya yang menerangi subyek dan obyek sedemikian sehingga subyek mampu melihat obyek dengan langsung. Pengetahuan melalui pencerahan, cahaya yang menerangi, ini dikenal sebagai pengetahuan dengan kehadiran, knowledge by presence. Berbeda dengan pengetahuan melalui representasi.

Karena sifat pengetahuan ini melalui kehadiran langsung maka tidak mudah bagi kita merumuskan pengetahuan ini dengan cara tidak langsung, representasi. Jadi, pertanyaan apakah hana, manusia sejati, itu? Tidak bisa kita jawab dengan kata-kata. Menjelaskan hana dengan kata-kata maka, sama artinya, mengubah pengetahuan sejati, yang melalui kehadiran langsung, menjadi pengetahuan bentuk tidak langsung. Pasti tidak akurat.

Setelah menunggu sekitar 500 tahun, hadirlah pemikir besar dari Persia yaitu Sadra. Konsisten dengan jalur iluminasi Suhrawardi dan sintesa dengan konsep ketunggalan wujud Ibnu Arabi, Sadra menyatakan bahwa manusia sejati, hana, adalah wujud yang terus menerus bergerak menuju kesempurnaan. Dengan cara ini, Sadra menyelesaikan banyak masalah. Konsep manusia sebagai binatang rasional bisa diterima sebagai salah satu mode dari wujud. Meski demikian, binatang rasional tersebut tidak statis. Melainkan selalu dinamis menyempurnakan diri, menuju wujud yang lebih sempurna. Di saat yang sama, wujud yang lebih sempurna ini tidak menolak wujud yang kurang sempurna. Wujud yang lebih sempurna meliputi, memuat, wujud-wujud yang kurang sempurna. Hana terus-menerus berevolusi, melibatkan badan manusia, rasionalitas, dan pencerahan.

Kekuatan utama manusia bukan sekedar rasional. Manusia sejati adalah wujud, hana, yang terus-menerus bergerak. Saya menyebut gerak sejati ini sebagai maga. Maka kajian kita tidak terbatas hanya rasional. Kita bisa memperluas, misalnya, badan kita juga merupakan mode dari wujud kita. Badan kita, sel-sel otak kita, memiliki kekuatan yang khas, yang perlu kita elaborasi lebih mendalam.

Kekuatan Fisikal Manusia

Sadra mengakui kekuatan awal manusia bersifat fisikal, yaitu tubuh manusia, khususnya ketika janin, pertemuan sel sperma dengan sel telur. Tubuh ini, seiring waktu, ber-evolusi memiliki kekuatan tubuh yang lebih kuat, kekuatan mengindera, sampai kepada kekuatan yang lebih tinggi semisal kekuatan rasional aktif. Russell, pemikir abad 20, tampak sepakat dengan proses evolusi kekuatan manusia. Meski manusia mempunyai kekuatan rasional bawaan, semisal logika non-kontradiksi, tetapi kekuatan rasional ini berkembang secara evolusi seiring dengan pengalaman manusia.

Saya kira Ponty, pemikir abad 20, adalah filosof yang paling berhasil menempatkan kekuatan fisik, badan manusia, dalam pembahasan filsafat. Ponty menyatakan bahwa setiap kesadaran adalah kesadaran persepsi. Pada gilirannya, persepsi, memberikan posisi penting kepada indera fisik manusia. Konsep keutamaan persepsi ini menguatkan bahwa badan manusia adalah satu kesatuan utuh dari manusia, hana, itu sendiri. Badan adalah manifestasi dari hana.

Keutamaan persepsi, dan fisik manusia, ini terus berkembang, salah satunya di bidang olahraga. Tentu saja, para atlet dan pelatih menaruh perhatian ekstra kepada fisik, merawat dan melatihnya dengan baik. Badan yang dilatih dengan baik menunjukkan kekuatan-kekuatan unik melampaui kekuatan badan orang pada umumnya. Atlet renang mampu renang ratusan meter tanpa sedikitpun merasa lelah. Sementara, orang biasa, sudah merasa lelah renang hanya 20 meter. Bahkan banyak orang yang tidak bisa renang sama sekali. Atlet renang adalah orang yang mampu menyempurnakan hana dalam aspek renangnya.

Keterampilan bermain alat musik lebih menarik. Pemusik gitar, misalnya, tangan kiri dan kanannya dengan ringan memainkan gitar. Bahkan tanpa melirik ke gitarnya secara langsung. Sementara, orang yang tidak terlatih main gitar, bahkan tidak mampu memetik gitar meskipun dengan seksama menatap gitarnya. Dan masih banyak contoh-contoh lain yang melukiskan kekuatan nyata dari badan manusia.

Ponty mengklaim bahwa badan manusia tidak berada dalam-dunia. Tetapi badan kita bertindak pada-dunia atau tinggal pada-dunia. Secara eksistensial, bukan badan kita ditambahkan kepada dunia yang sudah ada sebelumnya. Badan kita eksis bersama-sama dengan dunia ini. Badan kita beda dengan benda-benda lain di alam ini. Badan adalah satu kesatuan utuh dari hana.

Dengan sudut pandang ini maka kita perlu lebih menghargai badan kita. Di mana badan kita, termasuk sel-sel otak, mempunyai kedudukan sama penting dengan pikiran kita. Baik badan mau pun pikiran adalah manifestasi dari hana, manusia sejati. Perkembangan lebih lanjut, kekuatan fisikal dan kekuatan rasional manusia berpadu dalam kekuatan digital. Bukan hanya kekuatan satu orang, kekuatan digital merupakan gabungan kekuatan dari banyak orang. Kekuatan digital akan menjadi peluang dan masalah baru bagi hana. Di saat yang sama, kekuatan digital terus berkembang eksponensial.

Kekuatan Digital

Tak pernah terbayangkan ada kekuatan baru yaitu kekuatan digital. Apakah Plato dan Aristo pernah membayangkan suatu saat akan ada teknologi komputer? Apakah Ibnu Sina pernah terbayang bakal ada internet? Apakah Descartes sempat terbesit suatu saat akan ada media sosial? Sulit untuk menjawabnya dengan afirmasi. Tetapi, saya kira pemikir-pemikir jaman dulu pernah membayangkan bahwa manusia bakal bisa terbang ke bulan, dengan analogi burung terbang. Sedangkan teknologi digital sepertinya tidak ada analoginya di jaman dahulu.

Wajar bagi umat manusia kesulitan menghadapi dunia digital. Inovasi-inovasi digital muncul tiap saat. Berbeda jauh dengan versi sebelumnya. Bahkan membuat usang setiap teknologi versi sebelumnya. Terbentuklah generasi baru, generasi digital. Mereka yang lahir setelah tahun 2000 nyaris tidak pernah ada masalah dengan teknologi dan media digital. Sementara, generasi yang lebih tua, sebagian besar gagap terhadap teknologi digital. Umat manusia bagai terbelah menjadi dua generasi yang berbeda.

Kekuatan digital harus kita bedakan dengan sekedar teknologi karya manusia di era-era sebelumnya. Teknologi digital, pertama, bersifat lembut masuk ke ruang terdalam hana. Kekuatan digital mempengaruhi jiwa manusia, bahkan bisa mengendalikan. Seperti membaca novel yang provokatif, pembaca bisa terpengaruh. Novel digital, lebih kuat dari buku novel, mempengaruhi lalu mengendalikan pembaca.

Kedua, kekuatan digital mulai mengendalikan kekuatan fisikal. Awalnya, teknologi digital mampu mengendalikan, dan menggerakkan, mesin-mesin di pabrik. Tapi saat ini, kekuatan digital mampu menggerakkan manusia bahkan kelompok masyarakat.

Ketiga, kekuatan digital punya strategi. Teknologi digital tidak monoton. Algoritma digital punya tujuan mengambil keuntungan tertentu. Tentu ada resiko pihak-pihak tertentu bisa mengalami kerugian. Lebih hebat lagi, teknologi digital mampu mengubah strategi menyesuaikan situasi.

Keempat, kekuatan digital mampu berpikir, lebih cepat dan lebih besar dari kemampuan manusia. Dengan tersebarnya data secara online maka teknologi digital mampu mengolahnya dengan cepat lalu menentukan aksi. Bahkan kekuatan digital mampu mengumpulkan data yang belum tersedia. Menjebak pengguna untuk memberikan data-data rahasia untuk diolah.

Kelima, kekuatan digital mempunyai nyawa ganda. Kehidupan ganda. Duplikasi berkali-kali. Tidak pernah mati. Seandainya teknologi digital di Amerika hancur maka teknologi digital di Asia masih hidup. Semua data yang hancur di Amerika tetap aman ada di Asia dan dengan mudah dipulihkan lagi. Jika di Asia hancur, masih ada di Eropa. Jika semua benua hancur, masih ada data tersimpan aman di luar angkasa. Kekuatan digital punya kekuatan abadi, dibanding masa hidup manusia.

Masih banyak kekuatan dunia digital yang bisa kita kaji. Namun dari beberapa yang sudah kita sebutkan di atas sudah jelas kiranya, kekuatan digital, benar-benar luar biasa. Maka manusia perlu berhati-hati memanfaatkan kekuatan digital agar memberi kebaikan bagi semua. Pertanyaan mendasar bagi hana adalah apakah kekuatan digital tersebut, benar-benar, bisa dimanfaatkan oleh manusia atau manusia yang dimanfaatkan oleh kekuatan digital?

Barangkali kita bisa mendiskusikan pertanyaan tersebut lebih mendalam di bagian lain. Di bagian ini, kita fokus agar manusia tidak dimanfaatkan oleh kekuatan digital semata. Tapi manusia, seharusnya, bisa memanfaatkan kekuatan digital tersebut. Sehingga kekuatan digital menjadi manifestasi dari kekuatan hana, manusia sejati. Hal ini tentu bisa terjadi. Awal perkembangan teknologi digital, memang, untuk memberi manfaat kepada manusia.

Kekuatan digital bisa menjadi perpanjangan dari kekuatan rasional dan kekuatan fisikal manusia. Berbagai tugas besar menghitung rumus matematika dengan mudah kita pecahkan dengan program komputer. Selanjutnya, teknologi digital, kita rancang untuk menerjemahkan bahasa manusia dari satu jenis bahasa ke bahasa lain secara cepat. Proses analisis yang melibatkan banyak data statistik lebih mudah kita lakukan dengan teknologi digital. Dan masih banyak contoh lainnya.

Kekuatan fisikal manusia terbantu dengan kekuatan digital. Telinga manusia hanya mampu mendengar suara dengan jelas pada jarak 10an meter. Teknologi digital membantu telinga manusia mampu mendengar suara temannya pada jarak ribuan kilometer, melalui perangkat telekomunikasi digital. Mata manusia mampu melihat pada jarak dan ukuran yang tebatas. Lagi-lagi, teknologi digital membantu mata manusia mampu melihat pada jarak jauh dan pada ukuran sangat kecil. Kamera digital yang dilengkapi dengan artificial intelligence memberi manfaat besar. Lebih lengkap cara praktis memanfaatkan kekuatan digital, kita bahas di bagian bawah.

Tentu saja ada kelemahan dari teknologi digital, sejauh sampai masa kini. Teknologi digital tidak mempunyai kehendak bebas, sedangkan manusia memilikinya. Ke depan, teknologi digital mengarah untuk memiliki kehendak misalnya dengan strong artificial intelligence. Kita belum tahu apakah proyek itu akan berhasil. Dan satu lagi yang unik milik manusia sejati, hana, adalah kekuatan cinta. Saya tidak yakin teknologi digital akan berhasil memiliki rasa cinta. Bagian selanjutnya, kita akan membahas kekuatan cinta.

Kekuatan Cinta

Anda pernah jatuh cinta? Berbunga-bunga. Segalanya indah. Penuh daya kekuatan. Segala rintangan tak ada arti. Kekuatan cinta benar-benar nyata.

Cinta adalah fenomena unik hana, manusia sejati. Barangkali cinta suami istri, sepasang kekasih, adalah cinta dengan kekuatan paling besar. Cinta seorang ibu kepada anaknya tidak diragukan lagi sangat besar. Dalam banyak kasus, cinta anak kepada orang tuanya sama besar. Cinta menyatukan seluruh anggota keluarga. Cinta hobi, cinta negeri, cinta sesama, cinta agama, cinta semesta, dan masih banyak lagi cinta.

Kita perlu menyelidiki bagaimana cinta bisa membangkitkan kekuatan begitu besarnya.

Rumi, pemikir abad 13, justru menyatakan bahwa hakikat segala sesuatu adalah cinta itu sendiri. Manusia sejati, hana, adalah manifestasi cinta. Gunung yang sejuk, laut yang luas, pelangi warna-warni adalah manifestasi cinta. Ke mana pun, kita menghadapkan wajah, maka hanya wajah cinta yang ada.

Berikut sedikit kutipan dari Rumi,

“You cannot hide love
Love will get on its way
To the heart of someone you love
Far or near, it goes home
To where it belongs
To the heart of lovers.”

“Kamu tidak bisa menyembunyikan cinta
Cinta akan menemukan jalan
Merasuk ke hati seseorang yang kau cinta
Jauh atau dekat, ia pasti pulang
Ke tempat asal
Ke hati sang pecinta”

Cinta adalah eksistensi hana itu sendiri. Manusia hadir di dunia ini buah cinta antara ibu dan bapaknya. Mengapa ibu dan bapak saling jatuh cinta? Cinta karena cinta. Cinta tidak membutuhkan alasan mengapa. Cinta tidak butuh landasan. Kita hanya bisa sedikit melukiskan cinta. Rasa saling cinta dari ibu dan bapak adalah untuk menjaga eksistensi hana. Pada waktunya, ibu dan bapak akan meninggal dunia. Eksistensi dua orang hana, ibu dan bapak, terhenti. Maka, sebelum eksistensi terhenti, ibu dan bapak saling cinta untuk membuahkan eksistensi hana baru, seorang atau beberapa orang anak. Kekuatan cinta adalah kekuatan hana.

Kita, sebagai hana, pada gilirannya juga akan meninggal dunia. Maka kita pun jatuh cinta kepada pasangan. Kita, dengan cinta, mewariskan eksistensi hana kepada generasi berikutnya, anak dan cucu. Begitu seterusnya. Eksistensi hana terus terjaga oleh cinta. Cinta menjaga manusia. Manusia menjaga cinta.

Bergson, pemikir abad 20, menyatakan adanya kekuatan vital yang menggerakkan manusia untuk terus berkembang yaitu elan vital. Manusia berkembang secara kreatif dengan elan vital, yang bermanifestasi dalam bentuk cinta. Elan vital mendorong manusia ber-evolusi ribuan tahun lalu. Dan manusia akan terus ber-evolusi ke masa depan dengan kekuatan elan vital yang mampu mendobrak berbagai kesulitan.

Darwin, pemikir abad 19, menyatakan bahwa manusia ber-evolusi melalui seleksi alam – dan mutasi acak. Penjelasan evolusi ini konsisten dengan proses mekanis teori fisika dan matematika. Sementara, Bergson menganggap gerak mekanis semacam itu tidak memadai menjelaskan proses evolusi manusia yang penuh kreatifvitas. Maka elan vital adalah penggerak utama kreativitas manusia sepanjang sejarah evolusi manusia. Dalam kehidupan sehari-hari manifestasi elan vital kita kenal sebagai cinta. Dan cinta ini yang membimbing manusia lolos dari seleksi alam – dan mutasi acak – dengan cara kreatif.

Barangkali kita bisa meringkaskan bahwa kekuatan paling fundamental dari hana adalah cinta. Tetapi kekuatan cinta, seperti kekuatan manusia yang lain, bisa salah arah. Penipuan berkedok cinta, penindasan karena cinta, kehancuran karena cinta, dan lain-lain. Maka di bagian bawah kita akan membahas beberapa langkah praktis mengembangkan kekuatan cinta. Sebelum itu, kita akan membahas salah satu kekuatan cinta yang fenomenal: cinta kepada agama.

Kekuatan Agama

Agama mencerahkan umat manusia sejak ribuan tahun yang lalu. Lebih dari itu, agama memberikan kekuatan besar kepada manusia: kekuatan cinta agama. Orang yang cinta kepada agamanya maka rela mengorbankan apa saja demi perjuangan agama. Rela mengorbankan hartanya, rela mengorbankan waktunya, bahkan rela mengorbankan hidupnya.

Pada tahap awal-awal, kekuatan agama mencerahkan umat manusia. Bimbingan agama memberi arah kepada manusia bagaimana harus bersikap, berpikir, dan bertindak praktis. Bahkan agama, memberikan bimbingan dalam rentang waktu abadi: sejak sebelum ada manusia sampai setelah manusia tidak ada di dunia ini, dari masa awal sampai masa akhir atau meliputi seluruh masa atau melebihinya. Pada tahap selanjutnya, kekuatan agama makin berperan dalam banyak hal.

Kekuatan agama, terbukti, mendorong kemajuan peradaban manusia. Perkembangan pelayaran, salah satunya, didorong oleh semangat untuk menyebarkan agama. Penyelidikan alam semesta, astronomi, juga didorong oleh kepentingan ajaran agama. Para pedagang berlayar ke luar negeri sambil menyebarkan agama. Pedagang itu hidup di negara baru demi menyebarkan agama. Kekuatan agama memang luar biasa terhadap manusia.

Lebih dari sekedar cinta kepada agama, kekuatan agama juga memberikan keyakinan pasti kepada manusia. Agama menumbuhkan iman, kepada banyak hal. Tentu mudah bagi hana, manusia sejati, untuk meyakini sesuatu yang ada di depan matanya. Tetapi untuk meyakini sesuatu yang jauh di masa lampau, atau jauh di masa depan, hana butuh bimbingan. Agama memberikan bimbingan kepada manusia untuk meyakini masa lalu dan masa depan dengan kokoh.

Kierkegaard, pemikir abad 19, barangkali adalah yang yang paling berhasil menyodorkan tema keyakinan ke pembahasan filsafat. Semua pengetahuan manusia, teoritis mau pun empiris, pada analisis akhir akan mengandalkan kepada keyakinan. Sehingga keyakinan adalah tumpuan utama, paling dasar, dari setiap pengetahuan manusia.

Air mendidih adalah panas. Mengapa? Karena air mendidih terjadi pada temperatur 100 derajat celcius. Mengapa? Karena penelitian menujukkan hal itu. Mengapa? Karena penelitian itu sudah teruji. Mengapa? Pertanyaan mengapa atau pertanyaan jenis lainnya bisa terus kita ajukan, tanpa pernah berhenti. Setiap jawaban masih bisa terus kita pertanyakan. Sampai jawaban akhir: karena saya meyakininya. Keyakinan ini menjadi landasan dasar yang tidak perlu dipertanyakan lebih jauh.

Apakah keyakinan pasti dijamin benar? Tentu saja keyakinan bisa benar, bisa juga salah. Begitu juga sains, bisa benar dan bisa salah. Dalam sudut pandang positif, pengetahuan yang salah akan disisihkan dari sains. Maka sains yang terpilih berupa pengetahuan-pengetahuan yang bernilai benar, sesuai konteks saat itu. Demikian halnya dengan keyakinan, keyakinan yang salah akan disisihkan. Maka keyakinan akan tersusun oleh keyakinan-keyakinan yang benar, sesuai konteks. Dengan nada optimis kita dapat menyatakan bahwa keyakinan adalah kebenaran dan kebenaran adalah keyakinan.

Dengan keyakinan yang kuat ini maka manusia, hana, memiliki kekuatan yang lebih besar lagi. Orang, yang yakin, mampu menyelesaikan beragam tugas besar dengan baik. Orang, yang yakin, mampu melewati beragam kesulitan. Keyakinan mampu mengalahkan segala rintangan.

Dalam keyakinan agama, kita menemukan beragam keyakinan terhadap peristiwa yang tampak di luar nalar manusia. Misalnya, kita sudah akrab dengan kisah Nabi Musa yang bisa membelah lautan dengan tongkatnya. Barangkali kita akan membahas kekuatan-kekuatan, yang tampak supra-natural, itu dalam pembahasan kekuatan spiritual.

Kekuatan Spiritual

Kita akan mencoba sedikit membahas peristiwa bahwa Nabi Musa bisa membelah lautan dengan tongkatnya. Tentu saja ini kekuatan yang luar biasa. Kekuatan ini bisa kita sebut sebagai kekuatan spiritual. Kita masih bisa menemukan lebih banyak contoh lagi tentang kekuatan-kekuatan spiritual. Beberapa contoh kekuatan spiritual bersifat ke dalam diri pelaku misal subyek mampu memahami pengetahuan yang sulit dipahami orang lain. Sementara, contoh yang lain, kekuatan spiritual ini berdampak nyata di dunia luar. Misalnya, peristiwa yang melibatkan kekuatan spiritual, perjumpaan Sunan Kalijaga dengan Sunan Bonang pada kali pertama, terjadi pada abad 15 Masehi.

Waktu itu, Lokajaya adalah lelaki gagah berani yang menjadi pimpinan perampok di hutan tanah Jawa. Lokajaya terkenal sakti dan ditakuti oleh perampok-perampok lainnya. Di saat yang sama, Lokajaya, meski sebagai perampok, adalah seorang pemuda yang baik hati.

Hari itu, Lokajaya melihat seorang lelaki tua melintas di dalam hutan. Lelaki tua itu berjalan perlahan dengan bantuan tongkat. Yang menarik, bagi Lokajaya, tongkat lelaki tua itu terbuat dari emas. Sebagai perampok, Lokajaya segera menghadang lelaki tua itu. Dan memaksa agar menyerahkan tongkat emasnya kepada Lokajaya.

Lelaki tua menjawab bahwa tongkat itu sedang dipakainya, “Jika kamu memerlukan emas ambil itu yang di sebelah sana.” Sambil menunjuk ke arah yang jauh agak ke atas. Lokajaya menengok ke arah yang ditunjukkan tersebut. Lokajaya melihat pohon jambe, mirip pohon kelapa. Tampak bersinar. Batang pohon jambe, beserta buah dan bunganya berubah menjadi emas yang berkilau. Lokajaya mendekati pohon jambe, yang berubah jadi emas, memegang dan meraba untuk memastikan.

Lokajaya terpesona, membatalkan niat untuk merampok lelaki tua itu. Lokajaya justru berlutut, meminta maaf, meminta kesediaan untuk menerima dirinya dijadikan murid oleh lelaki tua. Kisah selanjutnya bisa kita baca di berbagai macam sumber. Lelaki tua itu adalah Sunan Bonang, tokoh senior Walisongo. Dan Lokajaya kelak menjadi tokoh besar anggota Walisongo yang dikenal sebagai Sunan Kalijaga.

Kita akan fokus mengkaji kekuatan spiritual Sunan Bonang yang mampu mengubah pohon jambe menjadi pohon emas itu. Luar biasa.

Pertama, kekuatan spiritual bersifat unik. Hanya Sunan Bonang saja yang mampu mengubah pohon jambe menjadi emas. Tidak ada kejadian seperti itu sebelumnya atau pun sesudahnya. Demikian juga dengan tongkat Nabi Musa yang bisa membelah lautan, unik. Tidak ada kejadian seperti itu baik sebelum mau pun sesudahnya.

Kedua, kekuatan spiritual tidak diulangi. Sunan Bonang tidak mengulangi lagi mengubah pohon-pohon jambe yang lain menjadi emas. Demikian juga Nabi Musa tidak mengulang lagi membelah lautan berkali-kali dengan tongkatnya. Kekuatan spiritual terjadi satu kali itu saja, sesuai konteks yang tepat dan tidak pernah diulangi.

Ketiga, kekuatan spiritual tidak direncanakan. Sunan Bonang tidak menyusun rencana awal bahwa bila sewaktu-waktu ada perampok maka ia akan mengubah pohon jambe jadi emas. Kekuatan spiritual itu hadir ketika dibutuhkan. Nabi Musa juga tidak merencanakan bahwa nanti bila tiba di pantai akan memukulkan tongkat ke laut untuk membelahnya. Nabi Musa, ketika itu baru menerima petunjuk, kemudian memukulkan tongkatnya ke laut.

Dengan memahami tiga karakteristik kekuatan spiritual di atas, kita mampu menyadari bahwa pendekatan rasional sains tidak akan berhasil memverifikasi eksistensi kekuatan spiritual. Karakter sains ilmiah justru berkebalikan dengan yang di atas. Karakters sains adalah berlaku umum, bisa diulangi secara konsisten, dan bisa direncanakan dengan layak. Tetapi kita, manusia sejati, mampu memahami eksistensi kekuatan spiritual. Bahkan sebagai hana, kita, berpotensi untuk mengembangkan kekuatan spiritual. Secara ringkas, kita akan membahasnya di bagian bawah.

Kekuatan Terbatas

Kekuatan manusia tampak seperti tak terbatas. Dari kekuatan rasional, fisikal, digital, sampai spiritual. Bahkan bisa kita tambahkan lagi kekuatan dari luar yang bisa dikendalikan manusia. Misal kekuatan senjata api, kekuatan nuklir, kekuatan energi listrik, dan masih banyak lagi yang lain. Meski jumlah dan jenis kekuatan ini tak terbatas, atau tak terhingga, tetapi letak kekuatan manusia justru pada keterbatasan itu sendiri. Kekuatan menjadi berarti bila ukurannya terbatas, arahnya tepat, dan tersedia pada waktu dan tempat yang tepat. Kekuatan yang berlebihan bisa merusak. Dan kekuatan yang terlalu kecil menjadi tak berarti.

Di bagian ini, kita lebih fokus kepada kekuatan manusia sebagai pendukung elemen fundamental dari struktur manusia yang dinamis. Sehingga kita akan membatasi kepada jenis-jenis kekuatan manusia yang lebih bersifat internal. Meski demikian, kekuatan fundamental hana, tetap bergradasi aneka ragam lapisan.

Kekuatan terluar: fisikal, persepsi, bahasa, digital.
Kekuatan tengah: imajinasi, logika, rasional, emosi, digital.
Kekuatan terdalam: intelek, spiritual, keyakinan, cinta, kehendak, digital.

Saya memasukkan kekuatan digital ada di semua lapisan karena kekuatan digital benar-benar bisa merembes ke seluruh lapisan kehidupan manusia. Dari tiga lapisan di atas kita masih bisa terus mengembangkan menjadi lebih banyak lapisan lagi. Manifestasi dari masing-masing kekuatan bisa saja dalam bentuk yang berbeda-beda.

Kekuatan bahasa menjadi salah satu kekuatan khas manusia sejati, hana. Apalagi bahasa tingkat tinggi seperti teori matematika, filsafat, dan sastra. Makhluk lain, semisal binatang, mempunyai kemampuan komunikasi. Tapi tampaknya komunikasi mereka berbeda dengan komunikasi bahasa manusiawi. Di bab-bab berikutnya kita akan membahas lebih detil dari kekuatan bahasa ini.

Beberapa kekuatan penting fundamental, yang mendorong manusia untuk terus bergerak maju, belum sempat kita elaborasi lebih jauh. Kekuatan persepsi, misalnya, bagaimana manusia mempersepsi dunia luar dan dirinya sendiri. Kekuatan imajinasi, tentu saja krusial, untuk berbagai macam proses kreatif manusia. Kekuatan emosi semisal semangat, amarah, malas, atau hasrat terhadap makanan, hobi, hubungan badan, dan lain-lain masih banyak yang bisa dikaji.

Namun kita perlu memilih ke bagian paling penting berikutnya, yang perlu kita bahas secara khusus, adalah will to power: kehendak untuk berkuasa.

Will to Power

Hakekat terdalam dari hana, manusia sejati, adalah will to power, kehendak untuk berkuasa. Kekuatan ini mendorong manusia untuk terus bergerak maju. Apa pun rintangan dapat dilewati manusia dengan menerapkan kekuatan will to power. Manusia-manusia besar sepanjang sejarah adalah mereka yang mampu berkuasa, mereka yang mampu berjuang, mereka yang mampu menaklukkan, mereka yang mampu memimpin, dan mereka yang mampu menjadi nomor satu.

Pembahasan will to power bisa saja sangat panjang. Kita akan mencoba membahas bagian-bagian intinya. Will to power, kehendak untuk berkuasa, merupakan gabungan dua elemen fundamental hana, manusia sejati. Di satu sisi kita bisa memandangnya sebagai kehendak, will. Di sisi lain, kita bisa memandangnya sebagai kekuatan hana, power.

Nietzsche, pemikir abad 19, adalah yang paling berhasil merumuskan will to power di kancah filsafat. Gaya tulisannya yang begitu dinamis memberi pengaruh besar kepada pembacanya. Tulisannya pun dipenuhi power. Seakan-akan, tulisan Nietzsche itu ingin menguasai para pembacanya. Nietzsche menyatakan bahwa will to power adalah satu-satunya realitas sejati manusia. Kehendak untuk berkuasa adalah jati diri manusia. Sedangkan kehendak yang lain, tata krama, aturan hukum, atau lainnya adalah sekedar topeng bagi manusia. Menjadi penguasa dunia adalah jati diri manusia.

Bahkan makhluk lain, semisal binatang atau tumbuhan pun, juga ingin berkuasa. Mereka ingin mendominasi dunia. Virus, covid-19 misalnya, juga ingin menguasai dunia. Pandemi covid-19 terbukti berhasil mendominasi dunia sepanjang tahun 2019-2020, ada kemungkinan lebih lama lagi. Sehingga will to power adalah realitas sejati dari seluruh alam semesta. Khususnya pada diri manusia, will to power dapat teraktualisasi secara sempurna.

Tentu saja banyak pemikir dunia yang tidak setuju dengan konsep will to power. Nyatanya, konsep will to power ini tidak terlalu banyak mendapat sambutan dari masyarakat dunia di masa Nietzsche dan setelahnya. Baru, pada akhir abad 20, postmodernisme mengangkat kembali konsep-konsep dari Nietzshce ini.

Kita bisa membahas konsep ini sebagai power of will, kekuatan dari kehendak. Dengan cara ini, kita lebih terbuka dengan beragam kekuatan kehendak yang lain. Tidak hanya membatasi ke will to power. Berikut ini beberapa kekuatan kehendak.

Will to live, kehendak untuk hidup adalah kekuatan penggerak manusia untuk terus berkembang. Schopenhauer, pemikir abad 19, mengajukan konsep will to live sebagai hakikat paling fundamental dari manusia sejati, hana. Konsep ini merupakan solusi dari antinomi Kant yang telah sekian lama menghantui para pemikir dunia. Realitas paling dalam dari manusia dan alam semesta adalah kehendak untuk hidup. Maka orang yang mampu mengenali dan mengatur kehendaknya akan meraih sukses dan bahagia di dunia ini. Nietzsche sendiri mengakui bahwa dirinya sangat terinspirasi oleh karya-karya Schopenhauer.

Di masa yang hampir bersamaan, Darwin, pemikir abad 19, mempublikasikan teori evolusi melalui proses seleksi alam, dan kemudian mutasi acak. Bukan makhluk yang kuat yang akan berhasil lolos dari seleksi alam tetapi mereka yang paling mahir beradaptasi adalah yang paling berhasil. Mereka yang punya kekuatan kehendak untuk hidup, beradaptasi, maka akan ber-evolusi menjadi lestari. Mereka yang gagal ber-evolusi akan punah dari dunia ini. Teori evolusi dan konsep will to live ini tampak seiring sejalan.

Will to meaning, kehendak-menciptakan-makna adalah hakekat terpenting dari kemanusiaan. Viktor Frankl, pemikir abad 20, mengajukan formula kehendak-menciptakan-makna ketika menjadi tahanan di kamp konsentrasi Nazi. Dalam situasi apa pun, manusia selalu punya kekuatan untuk menciptakan maknanya sendiri. Banyak orang yang sakit, menderita, dan sampai meninggal selama dalam tahanan. Sangat berat, menjalani kehidupan dalam tahanan kamp konsentrasi. Tetapi Frankl adalah salah seorang tahanan yang kuat. Meski dalam kesulitan juga, Frankl tetap menyempatkan diri untuk membantu teman-temannya yang sama-sama tahanan.

Bagaimana Frankl bisa begitu kuat menghadapi kesulitan yang begitu berat? Kehendak-menciptakan-makna.

Dalam kondisi kurang makan, beban kerja berlebih dalam tahanan itu, Frankl menciptakan makna-makna khusus yang bernilai tinggi. Dia menciptakan makna bahwa kesulitan-kesulitan ini mematangkan jiwanya menjadi lebih sempurna. Bahkan dia, dari berbagai kesulitan, merumuskan secara detil apa makna dari masing-masing kejadian. Frankl senantiasa menguatkan diri, mencari cara, bagaimana caranya agar dapat membantu sesama teman. Kegiatan membantu, adalah kegiatan yang penuh makna, yang menguatkan hana. Dunia bisa saja berlangsung tidak sesuai harapan kita, atau bisa juga sesuai harapan kita. Tetapi kekuatan menciptakan makna dari setiap kejadian ada dalam diri kita, ada dalam hana. Kita selalu mampu menciptakan makna.

Will to pleasure, kehendak-untuk-senang merupakan kekuatan manusia yang tampaknya mudah dipahami. Dalam kehidupan sehari-hari kita memang mencari kesenangan, kenikmatan. Makanan dan minuman, kita memilih yang nikmat. Kasur, kita memilih yang nyaman. Rumah, kita memilih yang bersih. Semua hal, kita mengejar kenikmatan.

Sigmund Freud, pemikir abad 20, adalah tokoh yang berhasil meletakkan tema kenikmatan dalam pembahasan filsafat – dan psikologi. Freud melangkah lebih jauh dengan mengidentifikasi: kesenangan paling fundamental bagi manusia. Freud menemukan kesenangan tertinggi adalah hasrat hubungan badan, hubungan sexual. Kesenangan yang lain, misal kenikmatan makan, adalah turunan atau cabang dari kenikmatan hubungan badan. Bahkan semua aturan hukum atau moral, pada analisis akhir, adalah untuk meraih kenikmatan hubungan badan pula.

Karena setiap orang bisa berkaca kepada diri sendiri tentang ide Freud ini maka ide ini mudah dipahami. Pada gilirannya, ide ini pun banyak disetujui orang. Tentu saja, banyak juga orang yang menolak ide Freud. Salah satunya adalah Frankl di atas, yang merumuskan kehendak-menciptakan-makna. Hubungan badan hanyalah kebutuhan dasar manusia. Tetapi, memiliki makna dalam hidup adalah kebutuhan tingkat tinggi manusia, yang lebih sempurna. Meski demikian, kita, sebagai hana, memang memiliki itu semua: kekuatan dari kehendak. Sehingga kita harus pandai-pandai mengatur semuanya. (Barangkali kita bisa mempertimbangkan hirarki kebutuhan manusia oleh Maslow sebagai pembanding.)

Will to truth, kehendak-menemukan-kebenaran jelas ada pada diri manusia. Manusia bergerak maju karena dorongan untuk menemukan kebenaran. Kajian, penelitian, simulasi dan sebagainya adalah salah satu bentuk proses manusia, hana, untuk menemukan kebenaran. Bahkan menjalani hidup sehari-hari, penuh dengan naik turunnya kesulitan, juga merupakan proses manusia mencari kebenaran. Tampaknya, kehendak mencari kebenaran adalah penggerak utama manusia untuk terus maju.

Meski kita bisa saja sepakat bahwa kekuatan utama manusia untuk maju adalah kehendak menemukan kebenaran, tetapi bentuk dan hasil akhir dari kebeneran bisa beragam. Barangkali ada yang memilih kebenaran hakiki dalam sains, agama, filsafat, seni, dan lain-lain. Diskusi kita di sini, juga bermaksud untuk menemukan kebenaran sebagai tujuan utamanya. Bagi Nietzsche, dan murid-muridnya, will to power itu sendiri adalah kebenaran paling hakiki.

Heidegger, pemikir abad 20, membaca Nietzsche dengan cara yang berbeda dengan orang pada umumnya. Jika banyak orang membaca will to power sebagai kehendak untuk berkuasa, kehendak untuk menang, dan kehendak untuk mendominasi, Heidegger membaca will to power sebagai kehendak untuk mampu mengatasi segala rintangan. Manusia sejati, hana, selalu punya kemampuan mengatasi berbagai rintangan untuk meraih cita-citanya. Kehendak ini tidak harus mendominasi orang lain, tidak harus mengeksploitasi orang lain. Yang jelas, will to power, selalu membantu manusia menembus segala kesulitan. Manusia sejati adalah mereka yang mengejar cita-cita tinggi.

Keutuhan Manusia

Manusia adalah satu kesatuan utuh. Ketika kita mengkaji power maka terhubung dengan kehendak. Karena power dan kehendak, hakikatnya adalah satu, yaitu hana itu sendiri. Karakter paling fundamental dari hana adalah maga, gerak eksistensial. Karena hana atau maga adalah tunggal maka akan lebih mudah dan jelas bila kita membahasnya elemen demi elemen yang menyusun strktur fundamental hana yaitu kehendak, power, sains, dan sign. Bagaimana pun empat elemen tersebut tetap merupakan satu kesatuan dari hana.

Gerak manusia sejati mengikuti pola hana – maga – bataga. Hana adalah eksistensi manusia sejati. Sulit bagi kita untuk melukiskan hana. Karena begitu kita memotret hana maka citra hasil potret kita sudah ketinggalan jaman disebabkan oleh hana yang terus-menerus bergerak, maga. Alternatifnya, kita bisa merekam hana sebagai video, gambar bergerak. Sama saja. Ketika kita melihat hasil rekaman video maka hana, manusia sejati sudah bergerak lagi. Maka pilihan kita adalah mengkaji struktur hana yang terus-menerus bergerak itu. Struktur fundamental hana terdiri dari empat elemen di atas: kehendak, power, sains, dan sign. Hana juga eksis dalam struktur sosial dan universal. Masing-masing struktur akan kita bahas pada bagian tersendiri.

Langkah Praktis Mengembangkan Power

Berikut ini, kita akan menjelaskan beberapa langkah praktis mengembangkan power manusia yang jumlahnya tak terhingga itu. Kita, di sini, hanya akan memilih beberapa power yang paling penting: rasional, digital, fisikal, cinta, dan will to power. Meskipun semua power sama-sama penting.

Mengembangkan Kekuatan Rasional

Kekuatan rasional menjadi kekuatan unik bagi manusia. Maka setiap orang perlu mengembangkan cara-cara khusus untuk terus mengembangkan kekuatan rasionalnya. Berikut ini beberapa cara yang bisa kita lakukan.

1. Pastikan diri kita punya bacaan yang cerdas secara rasional. Secara konsisten bacalah tiap hari meski hanya 1 halaman saja, atau cukup beberapa paragraf. Bacaan cerdas berkualitas ini bisa saja berupa buku cetak atau pun buku digital online.

2. Dari bacaan di atas, apa inti sari dari ide utama? Apakah Anda setuju? Boleh saja tidak setuju. Coba kembangkan ide lebih bagus untuk menyempurnakan ide utama itu agar lebih praktis sesuai tempat dan waktu Anda.

3. Buat catatan ide-ide Anda tiap hari. Lalu baca lagi mingguan atau bulanan. Anda bisa membaca seluruhnya atau sebagiannya saja. Ide lanjutan apa yang bisa Anda kembangkan? Anda akan sangat terbantu bila memanfaatkan media digital.

4. Buat komunitas digital yang berkomitmen untuk mengembangkan kekuatan rasional. Atau bisa juga Anda punya teman diskusi secara digital – online – tidak harus resmi dalam bentuk komunitas. Berdiskusilah dengan aktif, secukupnya, tidak berlebihan sekedar untuk saling berbagi pengetahuan.

5. Berlatihlah terus untuk menemukan beragam kontradiksi. Tetap hormati beragam perbedaan ide. Bacalah berita online. Lalu, bisakah Anda menemukan sutau kontradiksi di dalam satu berita itu? Atau kontradiksi terhadap berita lainnya? Dalam bahasa yang lebih lembut temukan pro dan kontra dari setiap berita.

6. Secara konsisten teruslah berlatih matematika dasar atau berhitung. Bila Anda belanja, maka cobalah menghitung semua harga belanjaan Anda, tanpa kalkulator, tanpa menulisnya. Hitung sekedar estimasinya saja, tidak perlu presisi. Tujuannya hanya untuk melatih kekuatan rasional. Bila ada diskon maka coba hitung besarnya diskon itu, di luar kepala.

7. Melatih terus-menerus cara menarik kesimpulan yang sah, silogisme. Bedakan jenis kesimpulan menjadi tiga: a) sah dan benar, b) tidak sah dan tidak benar, c) tidak sah dan mungkin benar atau salah.

a) Jika kuda maka (kesimpulannya) berkaki empat. [sah dan benar]
b) Jika kuda maka (kesimpulannya) tidak berkaki empat. [tidak sah dan tidak benar]
c) Jika berkaki empat maka (kesimpulannya) adalah kuda. [tidak sah dan mungkin benar atau salah]

Dalam realitas kehidupan, kita akan sering menemui kasus c) yang mungkin benar atau salah. Maka sikap terbuka dan respek menjadi penting di sini.

Mengembangkan Kekuatan Digital

Hana, diri kita, kian hari makin kokoh sebagai manusia digital yang dinamis. Maka kita punya keharusan mengembangkan kekuatan digital dengan serius.

1. Buat akun digital Anda di 2 atau 3 platform yang paling sesuai untuk Anda. Tidak cukup hanya 1 akun karena bila terjadi masalah akan menyulitkan diri sendiri. Tetapi juga tidak perlu lebih dari 3 akun. Terlalu banyak akun bisa menghabiskan terlalu banyak waktu dan energi Anda. Bila Anda punya lebih dari 3 akun maka pilih 3 akun sebagai akun utama.

2. Bangun reputasi digital Anda. Dunia digital adalah dunia nyata saat ini. Kuatkan reputasi Anda di dunia digital. Jadilah manusia digital yang dapat diandalkan banyak orang. Berganti-ganti akun dapat menjatuhkan reputasi digital. Akun yang dibobol pihak lain juga kehilangan reputasi. Dunia digital lebih mengutamakan reputasi dari yang lainnya.

3. Kembangkan kekuatan komunitas digital. Bergabunglah, atau buatlah, grup digital yang menguatkan sinergi berbagai macam pihak. Beberapa grup menjadikan diri Anda makin kuat sebagai manusia digital. Sementara beberapa grup yang lain justru bisa sia-sia belaka. Pilihlah grup digital yang menguatkan Anda.

4. Pilih sumber digital yang menguatkan diri Anda. Tersedia banyak ensiklopedia online yang meluaskan wawasan kita setiap saat. Pelajari dengan rutin sumber digital yang bermanfaat. Barangkali Anda perlu menguasai bahasa internasional untuk memudahkan membaca sumber. Ada baiknya juga kita membaca jurnal-jurnal ilmiah secara online.

5. Update dengan informasi-informasi terbaru. Kita bisa dengan mudah mendapat berita secara digital. Pastikan sumber digital Anda layak dipercaya. Pertimbangkan dari sudut pandang yang beragam, hormati pro dan kontra.

6. Keuntungan finansial secara digital. Secara bertahap, atau tiba-tiba, dunia finansial akan berpindah ke dunia digital. Maka menghasilkan uang melalui media digital perlu menjadi pertimbangan serius untuk Anda.

Lanjut ke Sains – Memahami dan Mengembangkan
Kembali ke Struktur Manusia Dinamis

Kehendak Bebas – Energi Sejati

Terus-menerus tanpa batas. Itulah kehendak bebas. Menerobos possibilitas, menapaki probabilitas.

Image result for human change

Kehendak (will) teruji mendorong manusia meraih pencapaian di luar batas-batas imajinasi. Manusia mampu mendarat di bulan, menyelami dasar lautan, berbincang-bincang dengan kawan yang terpisah jarak 7 000 km dengan realtime. Kehendak adalah elemen fundamental pertama dari struktur manusia sejati, hana. Energi sejati yang tidak pernah punah. Bahkan terus diperbaharui.

Mulai di bagian ini, dan tiga bagian berikutnya, kita akan membahas empat elemen struktur fundamental manusia – kehendak, kekuatan, sains, dan sign. Pertama, kita akan membahas secara teoritis dan spekulatif. Kedua, kita mencoba menyusun ide-ide praktis sehingga kita dapat langsung mempraktekkan di setiap kesempatan. Dan ketiga, kita akan mencoba refleksi untuk mengkaji lebih dalam lagi.

Teori Kehendak Bebas

Sejak awal sejarah manusia, para pemikir besar, meyakini bahwa kehendak bebas adalah energi pendorong kemajuan peradaban manusia. Tetapi kehendak manusia, juga, sebagai sumber beragam penderitaan manusia. Baik penderitaan diri sendiri atau bahkan menyebabkan penderitaan terhadap banyak orang lain. Maka membahas dengan cermat masalah kehendak ini menjadi penting untuk menjamin hana bergerak ke arah yang lebih baik.

Sejak jaman Socrates-Plato-Aristoteles, sekitar abad ke 4 sebelum masehi, umat manusia meyakini bahwa hana memiliki kehendak bebas. Lalu berlanjut ke jaman Farabi-Ibnu Sina-Sadra, mereka, juga meyakini tentang kehendak bebas manusia. Tantangan muncul ketika sains modern mulai bersemi dengan proyek pencerahan. Pemahaman deterministik berkembang, meyakini bahwa manusia tidak memiliki kehendak bebas. Sebelum jaman sains modern, memang ada beberapa pemahaman deterministik tetapi selalu bisa dikompromikan dengan baik.

Sains Modern

Isaac Newton, pemikir abad 17, memanfaatkan matematika dengan cermat untuk ekplorasi fenomena alam. Ketepatan analisis Newton ini menjadi tonggak revolusi sains modern. Kita jadi mengenal sains eksak dan teknologi sebagai penerapannya. Karena bersifat eksak maka deterministik. Segala sesuatu bisa diketahui secara pasti nasibnya di masa depan bila kita memperoleh data-data yang diperlukan.

Konsekuensinya, masa depan manusia juga bisa dipastikan menggunakan sains eksak. Tentu banyak pemikir besar tidak setuju dengan cara pandang deterministik seperti itu. Keunggulan sains eksak adalah bisa diuji berkali-kali, oleh orang-orang yang berbeda, dan memberikan hasil yang konsisten. Bahkan dengan sains eksak ini umat manusia berhasil mengembangkan teknologi mesin pabrik, mesin motor, kereta api, mesin telekomunikasi, komputer, dan teknologi digital.

Maka, ketika, sains modern mengklaim bahwa seluruh alam semesta bersifat deterministik, itu adalah klaim yang benar-benar serius. Meski Newton sendiri tampaknya tidak pernah mengklaim sifat deterministik dari alam semesta. Immanuel Kant, pemikir abad 18, menyadari konsekuensi sains eksak dan mencoba merumuskan ulang kehendak bebas manusia.

Antinomi Kant

Wawasan luas dan ditunjang kecerdasan yang tinggi mengantarkan Kant berhasil menyusun ulang sistem pemikiran, moral, dan penilaian. Sistem moral yang kokoh, menurut Kant, perlu memastikan bahwa manusia memiliki kehendak bebas. Dengan kehendak bebas ini maka manusia mampu mengejar cita-citanya. Dan konsekuensinya, manusia bertanggung jawab atas semua tindakannya karena didasarkan pada kehendak bebas dirinya.

Kant melanjutkan cara berpikir dualisme dari Descartes, pemikir abad 17, yang menyatakan bahwa di alam semesta ini ada dua substansi paling mendasar. Pertama, substansi fisik yang diatur oleh hukum-hukum sains. Dan kedua, substansi jiwa yang terbebas dari hukum sains. Kedua substansi tersebut – fisik dan jiwa – saling tidak berhubungan. Atau, setidaknya, kita tidak tahu bagaimana hubungan antara jiwa dan badan manusia.

Ketika Kant mengkaji alam semesta, termasuk badan manusia, terbukti bahwa alam semesta tunduk kepada hukum-hukum alam yang deterministik, sesuai penyelidikan sains. Hukum kausilatas, misalnya, berlaku dengan tegas. Sementara, ketika Kant mengkaji jiwa manusia, dia menemukan bahwa jiwa manusia diatur oleh hukum-hukum yang berbeda. Jiwa manusia bebas dari hukum alam. Jiwa manusia memiliki kebebasan berkehendak. Dua sudut pandang ini, jiwa yang bebas dan badan yang deterministik, tidak bisa disatukan. Tidak ada cara untuk memutuskan mana yang paling benar. Tidak ada sinstesa antara keduanya. Maka hal ini disebut sebagai antinomi atau paradox.

Sementara itu, Kant sendiri meyakini bahwa manusia benar-benar memiliki kehendak bebas. Bahkan jiwa manusia tetap abadi walau setelah badan manusia mati. Keyakinan ini sejalan dengan pemikir-pemikir besar sepanjang masa dari Plato, Aritoteles, Ibnu Sina, Ibnu Arabi, Sadra, Descartes, dan lain-lain.

Pemikir-pemikir setelah masa Kant mencoba mencari solusi dari antinomi Kant itu. Di antaranya, yang akan kita bahas, adalah Bergson dengan konsep durasi dan Sartre dengan konsep negasi.

Durasi Bergson

Konsep durasi dari Bergson, menurut saya, adalah solusi terbaik untuk menjelaskan hubungan kehendak bebas manusia dengan alam semesta. Terbukti pemikiran Bergson mewarnai pemikiran dunia sepanjang abad 20 di paruh pertama. Saya sendiri melihat konsep durasi ini sangat tepat menggambarkan berbagai macam perilaku hana, manusia sejati, yang unik. Yang berbeda dengan perilaku segala sesuatu di alam semesta, ruang semesta.

Manusia sejati, hana, benar-benar memiliki kehendak bebas, sebebas-bebasnya.

Kita tahu hukum alam bersifat deterministik. Bahkan badan kita terkena hukum alam yang deterministik itu, tidak ada kebebasan. Sel-sel otak manusia juga patuh kepada hukum kausalitas alam deterministik. Namun manusia punya durasi yang terbebas dari pengaruh seluruh alam. Ketika alam, yang deterministik, mengenai manusia maka manusia punya waktu, punya selang waktu, punya durasi. Di dalam durasi ini, hana mempunyai kehendak bebas. Hana bebas menentukan sikapnya terhadap alam dan terhadap lainnya. Alam semesta sama sekali tidak bisa mengganggu durasi maka durasi benar-benar bebas.

Misalkan ada seseorang mengejek kita. Maka kita punya durasi terhadap ejekan itu. Dalam durasi itu kita bebas untuk memilih membalas ejekan, merasa sakit hati, memaafkan orang yang mengejek, justru bersemangat, atau lainnya. Bebas. Jadi manusia benar-benar berkehendak bebas.

Barangkali durasi, selang waktu, bisa kita hitung 1 detik, 2 detik, atau lainnya. Namun angka-angka semacam itu bersifat kuantitas, lebih tepat untuk gambaran ruang. Sedangkan durasi adalah waktu yang bersifat kualitas. Meski pun sama-sama 7 detik, misalnya, kualitas waktu seseorang dengan orang lainnya bisa berbeda-beda. Dan kualitas durasi terus bertambah makin kuat intensitasnya. Masing-masing hana memiliki kemampuan unik untuk mengakses durasi. Makin mahir mengakses durasi maka makin terbebas seseorang dari determinasi alam sekitar. Orang tersebut makin memiliki kebebasan yang besar.

Negasi Sartre

Saya yakin Sartre adalah pemikir abad 20 yang paling ekstrem mendukung kebebasan, freedom. Sartre mendefinisikan hana, manusia, adalah kebebasan dan kebebasan adalah manusia.

Sartre mengaku bahwa ia terinspirasi oleh Bergson dan ingin memecahkan antinomi Kant tentang kehendak bebas manusia. Dengan definisi manusia adalah kebebasan maka Sartre sudah mengumumkan tidak ada masalah dengan kehendak bebas manusia. Sartre lebih suka menggunakan istilah kebebasan (freedom) dari pada kehendak bebas (free will). Kita akan mencoba memahami bagaimana Sartre sampai kepada kesimpulan bahwa manusia adalah kebebasan.

Sartre menerapkan fenomenologi Husserl yang menyatakan kesadaran manusia selalu bersifat intensional, yaitu selalu merupakan “kesadaran akan sesuatu.” Sesuatu yang menjadi obyek kesadaran adalah sesuatu yang lain, bukan kesadaran itu sendiri. Selanjutnya, Sartre mengeksplorasi ketiadaan. Saya memilih istilah orano untuk ketiadaan ini. Ada dua jenis orano yaitu orano absolut yang benar-benar tidak ada maka tidak perlu dibahas. Dan, orano kedua, adalah orano konkret atau spesifik yang penuh makna dan guna.

Contoh orano konkret, ketiadaan konkret, adalah tidak punya uang, ketiadaan uang. Dampaknya jelas dapat kita rasakan. Ketika hendak membeli minuman, ternyata, tidak ada uang maka kita gagal membeli minuman. Contoh kedua, orano konkret, adalah tidak adanya lubang di jalanan. Maka kita dapat melaju di jalan itu dengan lancar karena ketiadaan lubang. Masih banyak contoh-contoh orano yang dapat kita berikan: ketiadaan virus, ketiadaan bahan bakar, ketiadaan data, dan lain-lain.

Orano memang bersifat negatif. Ketiadaan. Negasi. Tetapi peran orano benar-benar nyata.

Kesadaran manusia adalah orano yang bersifat me-negasi terus-menerus. Dan obyek dari kesadaran bukanlah dirinya sendiri. Maka kita ambil contoh bahwa saya adalah seorang guru. Ketika saya menyadari bahwa saya seorang guru maka saya me-negasikannya. Saya bukan guru itu. Kesadaran saya menolak lalu menyatakan saya adalah guru-2. Tapi begitu saya menyadari lagi maka saya menolak lagi, saya bukan guru-2, saya adalah guru-3, dan seterusnya.

Ketika saya menolak guru-2, saya bebas menyatakan bahwa saya guru-3 atau guru-5, atau guru-7, atau lainnya. Itulah kebebasan manusia, freedom. Dan, hanya manusia yang memiliki kebebasan. Beda dengan batu, misalnya. Dari berbagai macam sudut, batu menyatakan diri, “saya adalah batu.” Pada waktu berikutnya, “saya adalah batu.” Batu mengafirmasi dirinya sebagai batu. Batu tidak pernah menolak identitas dirinya sebagai batu. Tidak punya kebebasan. Batu demikian padat, sepenuhnya sebagai batu. Sedangkan manusia, hana, justru menolak dirinya. Aku bukan guru-5, aku bukan guru-7, aku adalah bebas.

Sartre sampai kepada kesimpulan, manusia adalah kebebasan dan kebebasan adalah manusia itu sendiri. Konsekuensi langsungnya adalah manusia mempunyai kehendak bebas yang nyata. Manusia bertanggung jawab penuh atas kehendak bebasnya itu.

Manfaat dan Resiko Kehendak

Kehendak bebas jelas bermanfaat bagi manusia sebagai energi, mendorong, untuk terus maju. Di saat yang sama, kehendak bebas juga berbahaya bagi manusia, berbahaya terhadap eksistensi dirinya dan yang lain. Apalagi di era digital, kehendak bebas makin besar manfaat dan bahayanya.

Kehendak bebas manusia digital. Di era digital, begitu mudahnya kita berkarya, berupa gambar, video, tulisan, musik dan lainnya. Mereka yang memanfaatkan kehendak bebas untuk berkarya di dunia digital benar-benar memperoleh berkah. Yang berniat bisnis, berdagang, berbagi ilmu, dan lainnya dengan mudah mengembangkan kehendak bebasnya melalui media digital. Teknologi digital mendorong kita, sebagai individu dan masyarakat, untuk terus mengembangkan kehendak bebas.

Resiko media digital tentu kita sudah paham. Ketagihan, kecanduan, dan penipuan adalah tiga resiko dari media digital yang menghancurkan kehendak bebas manusia. Ketagihan media digital mengubah kehendak bebas kita menjadi keterpaksaan digital. Bangun tidur ketagihan update status. Sebelum tidur ngobrol panjand di media sosial sampai lupa waktu tidur. Ketika di tempat kerja, curi-curi kesempatan untuk main media digital. Waktu makan dipenuhi dengan menatap layar digital. Tidak ada lagi kehendak bebas. Semua ditagih oleh ketagihan digital.

Kecanduan digital bisa lebih parah. Teknologi digital beda dengan teknologi lampu, misalnya. Teknologi lampu cenderung menurut terhadap perilaku manusia. Jika kita hendak menyalakan lampu maka tinggal kita nyalakan. Ingin memadamkan tinggal padamkan saja. Sedangkan teknologi digital, kita hendak meninggalkannya, dia tiba-tiba mengirim notifikasi. Terpaksa kita melihat notifikasi itu, lalu penasaran. Dikira cukup satu menit. Ternyata ada rekomendasi berita terbaru yang menggoda. Dari satu berita terbaru menyambung ke video-video lanjutan, ke obrolan-obrolan lanjutan, ke diskusi-diskusi tiada henti. Bukan 1 jam, bahkan 3 jam bisa berlalu begitu saja. Kecanduan digital telah menyingkirkan kehendak bebas manusia.

Kita bukan sedang berhadapan dengan laptop atau handphone. Di ujung sana ada kecerdasan buatan, artificial intelligence. Mesin super cerdas, yang bertugas, membuat Anda kecanduan digital. Ada juga perusahaan besar yang mengeruk keuntungan atas kecanduan Anda. Bahkan politikus juga bisa bermain di ujung sana. Anda bukan berhadapan dengan mesin ketika menatap media digital. Anda berhadapan dengan raksasa perkasa yang siap merampas kehendak bebas Anda.

Kasus penipuan melalui media digital terjadi di mana-mana. Kehendak bebas sudah terlepas. Bagai hipnotis yang mengintai setiap saat. Saya tidak perlu memberi contoh untuk kasus penipuan, hoax, sampai kriminal.

Kehendak bebas untuk mempertahankan diri. Hana peduli untuk mempertahankan eksistensi dirinya. Rasa lapar, nafsu makan, adalah manifestasi kehendak bebas untuk mempertahankan diri. Kita makan nasi, buah, sayuran dan lain-lain untuk menjaga tubuh sehat. Di saat yang sama, kita menikmati rasa makanan itu, menambah bahagia manusia sejati, hana. Berbeda halnya dengan lampu. Lampu tidak punya kehendak untuk mengisi energinya, batere-nya. Ketika energi lampu akan habis, baterieatau pulsa token, lampu diam saja dan akhirnya bisa mati. Tetapi manusia punya rasa lapar dan rasa nikmat terhadap makanan. Kita berhasrat, berkehendak, kepada makanan.

Kehendak terhadap makanan mengandung resiko. Hana perlu mengkonsumsi makanan pada batas-batas keseimbangan. Orang yang terlalu suka manis, misalnya, beresiko terserang sakit kencing manis. Bukan eksistensi hana yang terjaga dari makanan tersebut, justru penyakit kencing manis mengancam eksistensi hana. Kurang makan, kurang gizi, juga mengancam eksistensi hana. Resiko maag, tipus, busung lapar dapat berakibat fatal terhadap eksistensi hana. Manusia butuh makanan, menghendaki makanan, dalam batas-batas keseimbangan yang tepat.

Kehendak bebas mengetahui. Barangkali Anda pernah penasaran dengan suatu informasi atau pengetahuan? Rasa ingin tahu terhadap sesuatu adalah manifestasi dari kehendak manusia. Kita menghendaki, menginginkan, pengetahuan. Ada yang ingin memecahkan suatu teka-teki, ada yang ingin tahu hasil akhir dari suatu pertandingan, ada yang ingin tahu pertumbuhan tanaman di kebun dan lain-lain. Saya, pernah, ingin menemukan cara menghitung teorema Pythagoras dengan mudah. Lalu saya mengembangkan berbagai cara dan menemukan rumus cepat teorema segitiga ganjil dan genap. Masing-masing orang bisa saja berhasrat terhadap jenis-jenis ilmu pengetahuan yang berbeda-beda.

Hasrat terhadap pengetahuan juga mengandung resiko. Seseorang yang ingin mengetahui sesuatu yang tidak pantas diketahui maka itu bisa berbahaya. Misalnya, mengetahui urusan pribadi orang lain adalah tidak pantas dan bisa merugikan banyak pihak. Dengan media digital, resiko ini semakin besar. Mencuri tahu nomor pin dan password orang lain bahkan bisa diancam pidana. Pengetahuan untuk merusak lingkungan juga tidak diperlukan bagi kalangan umum. Meskipun kita, hana, punya kehendak bebas untuk mengetahui segala sesuatu maka pengetahuan itu perlu dalam batas-batas keseimbangan. Hal ini justru untuk menjaga eksistensi hana secara pribadi atau pun bermasyarakat.

Kehendak bebas untuk berkarya. Barangkali Anda pernah merasakan ingin sekali untuk memberikan sesuatu yang bermakna? Hasrat ingin berkarya atau memberi sesuatu yang bermakna adalah manifestasi kehendak hana. Seorang ibu ingin menyiapkan masakan yang enak buat seluruh keluarga. Seorang guru ingin mengajarkan pelajaran yang penting ke siswanya. Seorang seniman ingin menghasilkan karya seni. Seorang bapak ingin memberikan fasilitas buat keluarga untuk tumbuh berkembang. Seorang presiden ingin negerinya lebih adil dan makmur. Dan masih banyak contoh lagi yang menunjukkan bahwa hana punya kehendak untuk memberi.

Hasrat untuk memberi tetap harus dijaga dalam batas-batas keseimbangan eksistensial hana. Seorang bapak yang ingin memberikan fasilitas terbaik untuk keluarga bisa saja melampaui batas terlalu banyak bekerja. Sehingga ia bisa jatuh sakit. Bukan eksistensi hana yang terjaga tapi justru resiko mengganggu eksistensi bapak itu sendiri. Seniman yang berhari-hari tidak tidur karena sedang tenggelam dalam berkarya juga beresiko secara eksistensial. Maka apa pun bentuk hasrat kita untuk memberi tetap perlu dalam batas-batas keseimbangan.

Kehendak bebas spiritual. Masing-masing hana bisa memiliki hasrat pengembangan spiritual yang unik. Hasrat ini juga merupakan manifestasi kehendak bebas. Baik orang yang beragama mau pun tidak beragama mempunyai cara-cara tersendiri mengembangkan sisi spiritual. Asyiknya berselancar dalam dunia spiritual tetap perlu memperhatikan batas-batas keseimbangan.

Kehendak bebas cinta. Manifestasi kehendak bebas cinta mengambil bentuk yang beragam. Bahkan tersebar dari bentuk ekstrem terbaik sampai bentuk ekstrem terburuk. Maka menjaga batas-batas cinta menjadi penting di sini. Ekstrem terbaiknya adalah cinta mengantarkan hana rela berkorban untuk eksistensi alam semesta. Sementara ekstrem terburuknya, hasrat cinta, mendorong manusia memperkosa pihak lain sampai kehilangan eksistensi hana. Sejatinya, cinta adalah untuk menjaga eksistensi hana.

Langkah Praktis Mengembangkan Kehendak Bebas

Kehendak bebas, meski benar-benar bebas, tetap perlu memperhatikan batas-batas. Di bagian ini, kita akan membahas langkah-langkah praktis mengembangkan kehendak bebas. Langkah-langkah ini saling berhubungan dengan elemen-elemen fundamental hana lain – power, sains, dan sign. Hal ini menunjukkan hakekat dari hana, manusia, adalah satu kesatuan yang utuh.

Kehendak Digital

Memastikan manusia digital adalah yang mengendalikan dunia digital. Bukan dikendalikan oleh dunia digital.

1. Pilih konten-konten digital yang bermuatan positif. Kunjungi secara rutin, setiap hari atau 2 sampai 3 kali sehari, konten positif yang menginspirasi Anda untuk terus mengembangkan cita-cita luhur.

2. Gunakan media digital untuk berbagi konten positif milik Anda. Bukan hanya share konten orang lain.

3. Akses media digital hanya ketika Anda menghendaki. Bukan karena ketagihan atau kecanduan.

4. Batasi waktu Anda dalam mengakses media digital. Masing-masing orang punya batasan waktu yang berbeda. Mereka yang bekerja di dunia digital perlu waktu lebih banyak dari mereka yang bekerja di lapangan. Pertimbangkan waktu Anda yang paling tepat.

5. Matikan sambungan internet bila tidak diperlukan. Hidupkan internet ketika Anda merasa perlu akses. Cara ini efektif meski tidak harus terus-menerus diterapkan.

Kehendak Dunia Fisikal

Mengendalikan kehendak bebas di dunia fisikal. Dunia fisikal adalah modal bagi hana, bukan penghalang.

1. Jaga nutrisi, makanan Anda secara seimbang. Batasi. Jangan berlebih dalam urusan makan dan minum. Meski Anda masih berhasrat terhadap makanan, hentikan, bila sudah cukup.

2. Jaga kesehatan fisik, badan, Anda. Buat jadwal rutin olahraga harian dan mingguan. Peregangan dapat Anda lakukan tiap pagi dan sore. Sedangkan olahraga mingguan, barangkali yang agak berat, satu sampai tiga kali tiap minggu. Perhatikan batas-batas kemampuan olahraga, jangan berlebih. Apalagi olahraga yang berhubungan dengan hobi.

3. Imbangi kegiatan fisik Anda. Anda yang sering terlalu lama duduk di depan komputer maka perlu lebih sering jeda untuk menggerakkan anggota badan. Anda yang pengrajin mengandalkan tangan dan kekuatan pinggang perlu mengimbangi kegiatan fisik yang sesuai. Saya, yang sering bulutangkis, maka perlu mengimbangi kelebihan mengandalkan kekuatan tangan kanan.

4. Tidur yang cukup. Barangkali belum ada hasil riset yang memastikan jumlah jam ideal untuk tidur. Tetapi sudah cukup banyak bukti bahwa kurang tidur sama buruknya dengan kebanyakan tidur. Anda dapat memperkirakan kebutuhan waktu tidur Anda sendiri. Umumnya, kisaran 4 jam sampai 8 jam dipandang sebagai rentang moderat.

5. Irama fisik. Istirahat sama pentingnya dengan bekerja. Maka temukan irama paling tepat berapa porsi dan kapan bekerja, olahraga, wisata, bermasyarakat, ibadah dan lain-lainnya. Irama ini akan membantu Anda tetap punya kendali terhadap kehendak bebas.

Kehendak Intelektual

Secara intelektual, hana ingin – berkendak – untuk terus bergerak maju. Berikut ini beberapa langkah praktis berkembang secara intelektual.

1. Targetkan setiap pekan membaca satu buku berkualitas – selesai atau hampir selesai. Buku berkualitas bisa Anda baca berulang kali. Pembacaan yang sekarang akan berbeda makna dengan pembacaan tiga bulan lalu.

2. Membaca buku secara online atau digital. Khususnya tema-tema yang bersifat ensiklopedis lebih menguntungkan melalui media online, update-update terbaru dengan cepat tersedia. Tautan-tautan yang saling merujuk memudahkan pemahaman secara utuh.

3. Membaca artikel-artikel ilmiah. Secara online, saat ini, tersedia banyak artikel ilmiah berkualitas sesuai minat Anda. Anda bisa saja berlangganan yang berbayar. Tersedia juga yang versi gratis.

4. Belajar bahasa internasional. Berbagai macam buku tersedia dalam bahasa aslinya atau sebagiannya dalam bahasa internasional. Maka penting bagi kita untuk belajar bahasa inggris, arab, mandarin, dan lainnya sesuai minat.

5. Membaca kitab suci tiap hari. Bagi Anda yang beragama bisa langsung membaca kitab sucinya. Bagi Anda yang tidak beragama barangkali bisa memilih beberapa kitab suci yang sesuai.

Kehendak Emosional

Manusia selalu dalam mood. Jika hana menolak satu mood maka ia akan berada dalam mood yang lain. Mood adalah apriori bagi manusia. Berikut adalah beberapa langkah praktis mengembangkan kehendak bebas yang berhubungan dengan emosi – dan mood.

1. Setiap pagi, bangun tidur, pastikan bersyukur atas karunia eksistensi kita. Sewaktu-waktu, eksistensi manusia bisa hilang. Maka rasa syukur adalah yang pantas bagi setiap manusia dalam mengawali hidupnya. Ulangi afirmasi syukur atas eksistensi ini siang, malam hari, dan lebih sering lebih baik.

2. Temukan cara untuk mensyukuri diri Anda, badan dan mental, tiap saat, apa adanya. Rasa syukur ini membuka gembok-gembok kehendak bebas Anda.

3. Kembangkan optimisme mengantisipasi masa depan. Kuatkan keteguhan hati, dan sabar, menjalani saat ini menuju masa depan.

4. Nikmati karya seni misal musik, syair, novel, atau lainnya untuk meneguhkan hati, menguatkan emosi. Dengan media digital tersedia banyak rujukan karya seni yang bisa kita konsumsi.

5. Bangun hubungan baik dengan orang-orang terdekat Anda, untuk kemudian meluas.

Kehendak Spiritual

Kita dapat mengembangkan kehendak spiritual dengan menjalankan ritual keagamaan masing-masing dengan menambah kekuataan penjiwaan aspek batin bersamaan aspek lahirnya. Barangkali ada juga yang berminat mengembangkan metode tertentu untuk aspek spiritual. Saya tidak terlalu banyak menjelaskan pengembangan kehendak spiritual di bagian ini karena seluruh bagian buku ini dimaksudkan untuk pengembangan kehendak spiritual itu sendiri.

Refleksi Kehendak Bebas

Kajian mendalam menunjukkan bahwa manusia digital menghadapi tantangan yang berbeda dengan manusia tradisional. Sebelum era digital, masalah kehendak bebas nyaris hanya urusan masing-masing personal. Orang lain tidak bisa mengganggu kehendak bebas kita sebagai manusia sejati, hana. Sementara di era digital, kehendak bebas banyak orang, tenggelam dalam lautan media sosial. Mereka dengan sukarela menenggelamkan diri. Atau tanpa sadar ditenggelamkan ke dasar lautan.

Meski demikian, kehendak bebas tetaplah kedendak bebas. Bebas dalam arti sebebas-bebasnya.

Hanya saja, pertama-tama, kita perlu mewaspadai media digital. Jangan sampai terjebak. Yang awalnya, media digital sebagai alat bagi manusia untuk bergerak lebih maju, maga, maka tetap kita posisikan sebagai alat. Kali ini, media digital kita manfaatkan sebagai alat untuk mengembangkan kehendak bebas hana dan kehendak bebas umat manusia.

Kehendak bebas, dalam situasi apa pun, perlu terus kita rawat sebagai sumber energi sejati yang tidak pernah habis, tidak pernah berhenti.

Pada bagian selanjutnya kita akan membahas elemen kedua struktur fundamental manusia digital yaitu power, kekuatan manusia.