Hidup Mau Mati

Hidup menjadi bermakna karena pasti akan mati. Ketika manusia sadar, bahwa hidupnya terbatas pasti mati, bisa sewaktu-waktu, maka ia bisa mengisi waktunya dengan penuh makna. Heidegger, pemikir abad 20, menyatakan bahwa manusia bisa menjalani hidup seutuhnya secara otentik dengan cara menyadari bahwa dirinya akan mati sewaktu-waktu.

Image result for hidup mati

Dengan cara itu, kita bisa “mendengar” suara hati. Yang mengajak kita ke jalan otentik. Ke jalan manusia sejati. Masing-masing dari kita mempunyai “panggilan” hidup yang unik. Membentang dari lahir sampai kita mati. Apa yang akan kita beri? Untuk diri? Untuk negeri?

Sayangnya, kebanyakan manusia, hidup tenggelam dalam dunia. Sibuk dengan kegiatan harian. Lupa sebentar lagi bisa mati. Bahkan ada yang berani korupsi. Istilah mati sudah jauh pergi. Suara hati tiada arti. Meski di balik jeruji tahanan korupsi, masih bisa berangan-angan merebut jabatan nanti.

Tidak masalah bila cuma begitu. Kamu bertanggung jawab terhadap hidupmu. Tapi korupsi berdampak kepada seluruh negeri. Bertubi-tubi bikin rugi. Mengancam masa depan generasi.

Realitas Diri

Uang adalah nyata. Jabatan adalah nyata. Dunia adalah nyata. Semua itu adalah real. Berbeda dengan korupsi. Karena korupsi adalah kenyataan, realitas. Korupsi adalah real dan realitas. Nyata dan kenyataan. Jadi, korupsi itu lebih dahsyat dari uang itu sendiri.

Orang kecil, gaji kecil, uang sedikit, tidak masalah. Itu adalah real, nyata. Meski gaji kecil, uang pas-pasan tetapi membawa berkah. Kebutuhan serba cukup. Keluarga senantiasa sehat. Hidup terasa damai. Itulah realitas, kenyataan.

Pejabat gaji tinggi. Tunjangan berlimpah. Biaya penunjang operasional dahsyat besarnya. Itu adalah real, nyata. Mengapa hidupnya terasa kering? Uang masih saja perlu tambah. Kesehatan sering terganggu. Sulit tidur malam. Anak istri sering bertengkar. Perlu hiburan ekstra. Maka tergoda untuk korupsi. Itulah realitas, lebih dari sekedar real belaka. Realitas semacam itu adalah realitas yang merugikan diri sendiri dan orang lain.

Salah Siapa

Pinginnya, uang berlimpah, itu real. Hidup juga berkah, itu realitas. Bersyukurlah bila begitu. Jika tidak begitu maka tetaplah bersyukur. Karena kita selalu bisa hidup berkah, bila mau. Memang sesuatu yang real bukan kita yang menciptakan. Tetapi realitas adalah 100% bisa kita ciptakan.

Manusia punya kebebasan. Bahkan manusia adalah kebebasan itu sendiri, freedom. Demikian keyakinan Sartre, pemikir abad 20.

Bila Anda seorang pejabat, itu adalah real. Tugas Anda selanjutnya adalah menciptakan realitas yang baik bermodal jabatan itu. Menjalankan jabatan dengan adil. Membela hak-hak orang yang terpinggirkan. Mengayomi rumah tangga Anda. Itulah realitas yang indah bagi Anda yang pejabat.

Bila Anda orang kecil, penghasilan kecil, itu adalah real. Tugas Anda selanjutnya adalah menciptakan realitas yang baik berbekal yang ada. Anda bisa kerja keras ditambah dengan kerja cerdas. Anda bisa punya banyak waktu luang menikmati hidup bersama keluarga. Anda bisa ngobrol santai di warung kopi sebelah rumah kapan saja. Anda bisa membantu anak Anda mengajukan beasiswa untuk melanjutkan sekolahnya. Anda bisa berbahagia, kapan saja. Itulah realitas terbaik, yang selalu bisa Anda ciptakan.

Salah siapa jika hidup terasa menyiksa?

Bukan salah siapa-siapa. Hidup ini hanya menyodorkan sesuatu yang nyata kepada kita, sesuatu yang real. Selanjutnya pilihan kita untuk menciptakan realitas. Bebas saja.

Bagaimana menurut Anda?

Indonesia Lebih Baik Tidak

Masa depan menjadi tanda tanya kita. Apakah Indonesia selama ini menjadi lebih baik atau lebih buruk? Apa ukuran yang bisa kita pakai untuk menentukannya?

Kita yakin, Indonesia menjadi lebih baik ketika proklamasi. Masa awal-awal meraih kemerdekaan lebih baik dari masa penjajahan. Para pahlawan berjuang meraih kemerdekaan dan selanjutnya mempertahankan kemerdekaan. Tidak ada keraguan bahwa itu adalah masa yang lebih baik’

Presiden Indonesia dari Masa Ke Masa » DIALEKSIS :: Dialetika dan Analisis

Tetapi tahun 2021, sekarang ini, apakah lebih baik dari masa-masa sebelumnya?

Orde Baru

Tahun 1966, Presiden Soekarno, sang proklamator, lengser dari kursi presiden. Kemudian Indonesia masuk masa orde baru dengan dipimpin presiden Soeharto. Apakah masa orde baru lebih baik dari masa orde lama?

Secara ekonomi, banyak data menunjukkan bahwa Indonesia mengalami pertumbuhan signifikan. Secara politik, banyak yang mengkritik bahwa orde baru adalah jaman menakutkan. Bagi pejabat, pebisnis, dan pegawai negeri mengalami masa-masa gemilang.

Jadi, bisa kah kita menyimpulkan bahwa masa orde baru lebih baik dari orde lama? Tampaknya sulit untuk meyakini itu. Nyatanya pada tahun 1998, terpaksa orde baru harus diakhiri. Presiden Soeharto lengser dari kursi presiden. Indonesia memasuki masa reformasi.

Apakah di masa reformasi Indonesia menjadi lebih baik dari masa orde baru? Kebebasan informasi terasa lebih baik. Kebebasan politik juga lebih baik. Ekonomi Indonesia sempat lumpuh di awal reformasi. Lambat laun bangkit. Sampai akhirnya dihantam pandemi covid-19 yang menjadikan kalang kabut semua, seluruh dunia. Sampai di sini, kita masih sulit mengatakan bahwa masa depan selalu lebih baik dari masa lalu.

Keraguan Kant

Imanuel Kant, pemikir abad 19, termasuk yang paling serius memikirkan apakah masa depan lebih baik? Ukuran apa saja yang bisa kita pakai. Tampaknya, Kant tidak berhasil menemukan ukuran yang meyakinkan. Tetapi dengan cara yang kreatif akhirnya Kant menemukan satu cara mengukur kemajuan di masa depan: apakah ditiru di seluruh dunia?

Misalnya, revolusi Prancis apakah membawa kebaikan? Bagi Kant, kita bisa mencoba melihat dampaknya. Kemudian mempertimbangkan apakah revolusi sejenis itu ditiru di belahan dunia yang lain. Jika negara-negara lain ikut meniru revolusi tersebut maka kita menilai bahwa Revolusi Prancis membawa kebaikan. Dan masa itu lebih baik dari masa sebelumnya.

Jelas, dengan kriteria Kant semacam itu maka kita tidak bisa memastikan bahwa masa depan akan selalu lebih baik. Karena banyak kejadian, atau pergerakan, di suatu negara yang akhirnya tidak ditiru oleh negara-negara lain. Bahkan kadang kita menemukan kejadian yang mengerikan. Misal, jatuhnya bom atom di Jepang pada perang dunia kedua. Tentu itu tragedi terbesar di dunia. Justru tahun 1945 itu terjadi kemunduran kemanusiaan.

Lyotard, pemikir abad 20, mencatat bahwa sejarah dunia mengalami beberapa kali kemunduran. Yang jelas, perang dunia kedua adalah kemunduran umat manusia. Kemudian kamp konsentrasi di Jerman juga kemunduran kemanusiaan. Bahkan pendudukan tanah Aborigin oleh kolonialis Australia adalah kemunduran kemanusiaan yang berlangsung sejak lama. Maka Lyotard mengusulkan agar kita dengan sengaja menjaga tatanan dunia berlangung adil untuk semua manusia. Dengan cara menghormati semua warga – termasuk mereka yang berbeda dengan kita.

Dunia Makin Sempurna

Dari sudut pandang analisis eksistensial kita bisa optimis bahwa peradaban akan selalu menuju yang lebih sempurna. Dunia akan menuju kesempurnaan. Makin lama makin sempurna.

Sayangnya optimisme ini tidak selalu bisa kita pertahankan. Memang dunia akan menjadi makin sempurna. Tetapi makin sempurna tidak berarti makin baik, tidak berarti makin adil. Maka tugas mewujudkan Indonesia adil makmur adalah tanggung jawab seluruh warga Indonesia. Mewujudkan tatanan dunia yang adil juga merupakan tanggung jawab warga dunia.

Jadi, ayo tetap semangat berpartisipasi mewujudkan dunia yang adil, sesuai kapasitas masing-masing.

Bagaimana menurut Anda?

Kudeta Myanmar vs PD dan Lingkar Jokowi

Isu kudeta memanas beberapa hari ini. Kudeta militer diberitakan terjadi di Myanmar. Kecaman meluncur dari berbagai penjuru dunia. Di Indonesia, ada kabar kudeta PD (Partai Demokrat), yang katanya melibatkan lingkar Jokowi. Masih terlalu awal kabar itu. Kita belum memperoleh kebenaran dari kabar-kabar itu.

Mengapa kabar seperti itu menjadi seru?

Karena AHY sudah mengidentifikasi 6 sosok yang diduga sebagai pelaku “kudeta” maka bola panas menggelinding dengan jelas.

Manusia Virtual

Kita masuk ke jaman virtual, digital. Maka obrolan demi obrolan makin seru. Ditambah lagi sifat kreatif dari manusia untuk menambahkan makna kepada setiap berita. Isi berita bisa biasa-biasa saja. Tetapi komentar-komentar tentang berita itu yang makin memanaskan suasana. Setiap pihak, setiap orang, terpancing untuk terlibat. Termasuk saya.

Jika obrolan semacam itu mendominasi negeri maka kapan kita membangun negeri ini? Tentu saja, kita sambil membangun negeri ini. Perhitungan matematika sederhana menunjukkan bahwa makin banyak waktu mengurusi kudeta maka makin berkurang porsi waktu untuk membangun negeri. Apalagi harus menyediakan waktu pula untuk mengurusi korupsi, pandemi, serta karir anak istri.

Manusia Tak Terbatas

Kita punya daya yang tak terbatas: imajinasi manusia. Bila diarahkan untuk membangun negeri maka kekuatan tak terbatas itu bermanfaat besar, tak terbatas pula manfaatnya. Tetapi bila disia-siakan maka kesia-siaan pun juga melampaui batas.

Sartre, pemikir abad 20, menggambarkan imajinasi sebagai hasil dari kesadaran bersumber dari kehampaan, ketiadaan, atau orano. Dengan adanya orano itu, benar-benar manusia berkekuatan tanpa batas. Beda dengan benda-benda lain yang selalu terbatas. Saya akan mencoba menjelaskan dengan beberapa susunan angka. Misalkan bola tersusun oleh atom-atom yang jelas dan padat, pasti. Susunan atom-atom dari bola,

Bola = 12345

Susunan atom-atom ini begitu rapat pada bola. Sehingga bola benar-benar jadi bola sejati. Bola tidak mudah bisa berubah jadi bukan bola. Bandingkan dengan manusia yang ada unsur “ketiadaan” atau orano. Seperti biasa orano kita lambangkan 0.

Manusia = 102345 = 120345 = 123450 = … … …

Dan masih banyak lagi susunan yang melibatkan angka 0 sebagai orano ini. Bisa saja orano di kiri, kanan, atas, bawah, miring, dan tak terbatas. Apa sejatinya orano itu? Orano itu sejatinya tidak ada. Orano adalah khas hanya dimiliki pada manusia. Karena sejatinya orano itu tidak ada maka orano itu bebas.

Lagi pula, orano mempunyai karakter selalu berubah, bergerak, atau maga. Dan orano mempunyai memori, penyimpanan tanpa batas, akumulatif.

Terbayang betapa besar potensi manusia. Betapa besar imajinasi manusia. Betapa besar kreativitas manusia.

Saat ini, kita butuh pemimpin yang mengarahkan potensi manusia warga Indonesia yang tak terbatas menuju perbaikan, pembangunan, negeri adil makmur. Bukan hanya manusia yang bergosip tentang kudeta. Kita butuh pemimpin yang menggugah kreativitas anak negeri untuk berprestasi. Kita butuh pemimpin yang menjadi teladan. Benar, pemimpin itu ada di sana, di istana, di senayan, di kantor pusat direksi dan komisaris. Tetapi pemimpin itu juga ada di sini, di dalam hati ini. Di dalam diri kita masing-masing. Kita adalah pemimpin itu sendiri. Kita membutuhkan diri kita untuk bangkit. Berperan aktif membangun negeri ini.

Ayo, semangat langkahkan kaki, sepenuh hati, membangun negeri.

Bagaimana menurut Anda?

Makna Ketiadaan

Ketiadaan punya sejuta makna. Ketiadaan itu tidak ada. Tapi bisa punya makna. Bahkan berjuta makna. Dengan demikian, ketiadaan itu ada. Kita akan bahas ketiadaan dari dua sudut pandang yang mengantarkan berjuta makna itu.

Istilah ketiadaan kita ganti dengan orano yang bermakna tidak ada, nothingness, non-being, bukan wujud, dan sejenisnya. Dengan istilah orano, kita berharap lebih mudah dalam menganalisis.

Angka 0

Yang paling jelas adalah angka 0, yang melambangkan orano, ketiadaan. Angka 0 jelas-jelas bermakna. Maukah uang di rekening anda dihilangkan satu angka 0? Tentu tidak mau. Uang kita berkurang banyak dengan menghilangkan angka 0. Yang kita mau justru menambahkan angka 0 di saldo rekening kita. Berlipat sepuluh kali lipat.

Lebih dari itu, angka 0, sebagai orano juga berperan dalam operasi penjumlahan atau pengurangan. Angka 0, sebagai bilangan, adalah identitas dari operasi penjumlahan atau pengurangan. Berapa pun bilangan bila ditambah dengan 0 maka akan menghasilkan bilangan itu sendiri. Yang lebih dahsyat, angka 0 adalah “super penyerap” dalam perkalian. Berapa pun besarnya suatu bilangan bila dikali 0 maka akan diserap habis, hasilnya menjadi 0.

Orano, yang dilambangkan sebagai angka 0, benar-benar penuh makna.

Dua Macam Ketiadaan

Sartre, pemikir abad 20, menyebut ada dua macam ketiadaan yaitu orano abstrak dan orano konkret. Orano abstrak, yang bersifat absolut, benar-benar tidak bisa kita bahas sama sekali. Orano abstrak ini menyatakan ketiadaan sama sekali. Tidak ada apa pun. Maka tidak ada yang bisa kita bicarakan. Orano mutlak benar-benar tidak ada sama sekali.

Sedangkan orano konkret, seperti angka 0, berjuta makna.

Ketiadaan virus adalah contoh orano konkret, orano nyata. Dengan tidak adanya virus maka hidup menjadi sehat. Masyarakat bebas aktivitas. Peradaban tumbuh maju. Roda ekonomi terus menggelinding. Orano berdampak nyata bagi kemanusiaan.

Barangkali yang paling dekat dengan kita adalah dinding rumah. Ketika disisakan sebagian, atau dilubangi sebagian, untuk menjadi pintu – lubang pintu bukan daun pintu. Menyediakan jalan bagi kita untuk keluar masuk rumah. Bayangkan bila dinding rumah tidak ada lubang pintu seperti apa jadinya. Lubang pintu adalah ketiadaan dinding – orano konkret – yang bermanfaat nyata bagi kita.

Manusia Sejati

Heidegger, pemikir abad 20, memang eksentrik. Dia menulis buku dengan bahasa yang sulit dipahami. Ditambah lagi, Heiddegger menyatakan peran penting dari ketiadaan – yaitu orano. Manusia sejati perlu mengenal orano dengan baik.

Rasa cemas atau gelisah penting bagi manusia. Rasa gelisah melihat kondisi alam. Rasa gelisah terhadap kondisi ekonomi. Rasa cemas akan berbagai macam hal. Rasa cemas akan kematian. Rasa gelisah itu memanggil jati diri kita sebagai manusia sejati – hana. Orang yang gelisah sedang dihadapkan suatu kehidupan yang bermakna. Sementara orang yang tidak pernah gelisah justru terombang-ambing tanpa arah. Dia mengalir kemana arah angin bertiup. Dia tenggelam dalam kerumunan. Dia adalah manusia tidak otentik.

Gelisah berbeda dengan takut. Gelisah tidak jelas terhadap apa. Jika takut jelas, takut kepada ular misalnya. Tetapi gelisah memang tidak jelas. Karena gelisah adalah semacam takut kepada ketiadaan, takut kepada orano. Takut tidak adanya keamanan. Takut tidak adanya perlindungan. Takut tidak adanya ampunan. Gelisah adalah panggilan untuk menjalani hidup yang lebih hakiki.

Dan masih banyak contoh orano lain yang bisa terus kita kaji, berjuta makna.

Bagaimana menurut Anda?

Jokowi: PPKM Tidak Efektif

Presiden menyatakan bahwa PPKM tidak efektif. Saya kira itu benar adanya. Selanjutnya, solusi apa yang tersedia untuk menjaga Indonesia?

Jokowi mengatakan, esensi dari PPKM ialah mengurangi atau mencegah mobilitas masyarakat penularan Covid-19, tapi praktiknya kebijakan tersebut tidak konsisten.

Solusi menangani pandemi ada di depan mata. Tidak mudah. Tetapi bisa dilakukan, bisa dikerjakan.

Pemerintah Membaik

Pernyataan presiden, menurut saya, menunjukkan adanya perbaikan dari pemerintah. PPKM tidak efektif karena pengawasan dan pelaksaan tidak tegas. Pernyataan semacam itu sudah lama saya tunggu, hampir 1 tahun, sejak awal pandemi.

Sebelum-sebelumnya, pemerintah sering menyatakan bahwa pandemi terus membara karena masyarakat tidak taat prokes. Masyarakat masih banyak berkumpul. Masyarakat banyak yang tidak pakai masker. Mobilitas masyarakat masih tinggi. Maka wajar pandemi, angka penularan, terus tinggi. Sikap menyalahkan perilaku masyarakat seperti ini tidak akan memberikan perbaikan penanganan pandemi. Dan benar memang belum tampak perbaikan.

Tetapi, beberapa hari ini, presiden menyatakan bahwa pengawasan yang kurang tegas. Itu pernyataan yang bagus. Artinya, pemerintah fokus kepada usaha apa saja yang bisa dilakukan pemerintah untuk memperbaiki – bukan fokus menyalahkan perilaku masyarakat. Langkah selanjutnya, kita perlu menyusun formula dan strategi yang tepat.

Dua solusi

Saya membuat model yang mengusulkan dua solusi terpenting menangani pandemi covid di Indonesia dan dunia. Solusi pertama adalah manajemen perilaku dan solusi kedua adalah percepatan penyembuhan. Dari model yang saya buat, kita perlu mendeteksi, mengukur dampak perilaku secara realtime.

Saat ini, kita melakukan update data covid secara harian. Itu adalah awal yang baik. Tetapi data harian tidak memadai untuk mengendalikan perilaku dan pandemi. Hipotesis saya, kita memerlukan data per jam. Tentu saja data per jam ini tidak perlu dipublish. Data ini hanya untuk kajian internal. Kita mengolah data internal ini, misal untuk menghitung dinamika R, sesuai model yang saya buat. Kemudian kita bisa mengambil langkah-langkah nyata mengendalikan pandemi. Dan kita memperoleh feedback data tiap jam sebagai perbaikan.

Tipping Point

Sistem dinamik, semisal pandemi, tampak jelas tidak linear. Maka solusi linear tidak akan efektif. Solusi yang menganggap semua masyarakat sebagai sama, atau mirip, tidak akan berhasil meredakan pandemi. Dari model yang kita buat, justru kita perlu mengidentifikasi daerah mana saja yang paling rawan dan daerah mana saja yang aman.

Untuk daerah yang aman, misal daerah pedalaman, maka penerapan pengendalian pandemi bisa lebih longgar. Sementara daerah yang rawan, misal hiburan malam, perlu penerapan pengendalian yang lebih ketat. Semua uji coba penerapan ini kita pantau per jam dari model yang kita buat. Sehingga kita bisa memperbaiki hal-hal yang diperlukan. Kita perlu mencegah lonjakan tipping point.

Kita tidak punya pengetahuan apriori dalam kasus pandemi ini. Maka kita tidak bisa menebak-nebak atau analisis rasional belaka. Semua perlu data nyata. Perlu eksperimen. Perlu data spesifik masing-masing wilayah. Perlu data masing-masing perilaku masyarakat.

Kepala Daerah Pening

Peran kepala daerah tentu penting. Meski bisa bikin pening. Saya kira, kepala daerah bisa meniru sikap kepala negara dalam hal ini.

PPKM tidak efektif karena pengawasan tidak tegas. Penerapan tidak tegas. Maka perlu kita perbaiki dengan strategi yang lebih tepat.

Jangan sampai ada kepala daerah, atau anggota kabinet, atau pejabat lainnya, yang menyatakan bahwa penyebab pandemi adalah masyarakat yang tidak taat prokes. Masyarakat indonesia cenderung bersedia mengikuti aturan. Perhatikan warga Indonesia ketika di Singapura, warga kita juga disiplin. Perhatikan warga kita ketika di Arab, warga kita juga disiplin. Masyarakat memang bisa salah. Tetapi masyarakat bisa dipimpin. Tugas para pemimpin untuk memimpin masyarakat.

Dari sudut pandang masyarakat pun, tidak dibenarkan warga hanya nyinyir kepada pemimpin. Masyarakat perlu mendukung program-program perbaikan yang digulirkan oleh pimpinan. Setiap warga perlu berpartisipasi aktif sesuai kapasitas masing-masing. Semoga kita bisa menangani pandemi dengan baik.

Bagaimana menurut Anda?

Akhir Negeri Korupsi

Akhir bahagia atau akhir sengsara menjadi tanda tanya bagi pelaku korupsi. Yang pasti, mereka akan mati. Pelaku korupsi, pada akhirnya akan mati. Banyak orang menduga, setelah mati, pelaku korupsi akan hidup sengsara. Nyatanya kita tidak bisa melihat langsung. Kita hanya bisa melihat nasib mereka menjelang mati atau ketika ke makam. Banyak cerita seram.

Akhir Tahun, Banyak Kasus Korupsi di Lutim Mandek

Mengapa orang lebih tertarik korupsi daripada membangun negeri?

Menteri, misalnya, bukankah dia punya kesempatan besar untuk membangun negeri. Pendapatan gaji, tunjangan, dan lain-lain dari APBN dalam jumlah berlimpah. Mengapa menteri lebih memilih korupsi? Manusia memang penuh misteri.

Gerak Manusia

Karakter dasar manusia adalah selalu bergerak, selalu bertumbuh. Dan korupsi memberi peluang bertumbuh yang mudah, cepat, dan terasa nikmat. Maka wajar saja bila pejabat memilih korupsi. Pengusaha juga bisa korupsi, sogokan, merusak negeri. Cara pintas yang tak pantas. Apalagi mereka kelas atas.

Akhir negeri yang dijarah pelaku korupsi tentu ngeri.

Seharusnya karakter dasar manusia maga, gerak sejati, adalah untuk menuntun manusia mencapai kebaikan. Maga adalah gerak sejati dari satu situasi menjadi situasi lain yang lebih baik. Maga terus mendorong manusia untuk maju. Tentu saja ada banyak halangan untuk gerak maju. Manusia harus berpikir, menyusun strategi terbaik, lalu menjalankan dengan konsisten. Maga terus mendorong dan menarik manusia untuk mencapai kesempurnaan. Hana, eksistensi manusia, bertujuan menyempurnakan diri.

Negeri yang banyak korupsi tetap saja bisa maju. Sebelum pandemi, tingkat kesejahteraan umat manusia di dunia konsisten meningkat. Di saat yang sama, kesenjangan makin menganga di seluruh dunia. Yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin. Ketika terjadi pandemi covid-19, pertumbuhan ekonomi dunia memang tersendat, melambat. Di sisi lain, kesenjangan ekonomi tetap meningkat. Ditambah kasus korupsi yang terus merebak, ancaman kemanusiaan di depan mata. Umat dunia, makin kaya, makin tidak merata.

Hana, manusia sejati, punya kekuatan untuk mencapai akhir yang baik. Meski banyak tantangan, semisal korupsi dan ketidakadilan. Bataga adalah tujuan akhir yang hendak diraih oleh hana, manusia sejati, melalui perjalanan maga.

Akhir adalah Awal

Perjalanan manusia pasti mengantar sampai akhir, bataga. Yang setelah tiba di bagian akhir kita sadar, itu bukan akhir yang sebenarnya. Bataga adalah akhir yang sekaligus menjadi awal. Bataga adalah awal yang baru. Bataga adalah hana dalam versi baru yang lebih sempurna.

Hana, eksistensi manusia, senantiasa bergerak maju, maga. Tibalah sampai ke tujuan akhir, bataga. Yang tidak lain, bataga adalah hana itu sendiri. Maka berlanjut gerak maju lagi, maga. Demikian seterusnya hana.

Bataga, meski sebagai akhir, bisa saja tidak sempurna. Kecurangan, kejahatan, dan korupsi akan mengantarkan manusia ke bataga yang tidak sempurna, tidak seimbang. Manusia yang tidak mampu mengendalikan diri, tidak mampu menjaga keseimbangan, terperosok ke bataga yang menderita. Dalam tataran fisik pun mudah kita lihat. Orang yang tidak mampu mengendalikan nafsu makan, terlalu banyak makan, tidak mau olahraga, maka riskan terserang penyakit gula, darah tinggi, jantung dan sebagainya. Hanya penderitaan pada akhirnya.

Sementara, gerak manusia yang seimbang dan adil akan mengantar sampai ke tujuan bataga yang sempurna. Akhir yang sempurna menjadi awal yang baik untuk melanjutkan perjalanan berikutnya.

Keterangan foto tidak tersedia.

Jelas, kita perlu meraih bataga yang sempurna, akhir yang baik. Maka kita perlu fokus untuk menjaga keadilan dan keseimbangan. Baik pada skala individu, sosial, dan alam semesta. Salah satu cara paling prospek adalah dengan menguatkan pihak-pihak yang lemah. Secara sistematis, kita perlu menjalankan program penguatan orang-orang kecil. Sehingga orang-orang kecil dapat berperan serta dalam gerak kemajuan, semua orang bisa jaya. Dengan kondisi ini, pelaku korupsi akan makin sulit mencari korban. Makin sulit melancarkan aksi. Semoga negeri ini, dunia ini, makin adil makmur sentosa.

Bagaimana menurut Anda?

Konflik vs Korupsi: Pertumbuhan

Pertumbuhan korupsi di Indonesia makin mengkhawatirkan. Tingkat kebersihan layanan publik merosot, dari urutan 85 menjadi urutan 102 pada tahun 2021 ini, dari 180 negara di dunia yang diteliti. Indeks persepsi kepercayaan (CPI) Indonesia juga merosot dari 40 menjadi 37, jauh di bawah 50, dari nilai sempurna maksimum 100. Di sisi lain, negara-negara yang paling bersih dari korupsi dengan indeks 88 juga tetap terancam adanya korupsi: pencucian uang.

Korupsi makin nyata mengancam kemanusiaan, di seluruh dunia. Lebih ngeri lagi, korupsi terjadi di masa pandemi. Bahkan secara langsung terhubung dengan layanan kesehatan dan bantuan sosial. Bagaimana manusia bisa tega? Rakyat kecil sedang menderita karena pandemi, pejabat melakukan korupsi. Demokrasi juga terancam oleh korupsi.

Transparancy International merekomendasikan 4 cara mengurangi korupsi. Memperkuat lembaga pengawasan, memastikan kontrak yang terbuka dan transparan, perkuat demokrasi dan ruang warga, dan umumkan data yang relevan dan mudah diakses.

Korupsi memang rumit karena terjadi berbagai macam konflik kepentingan. Ketika seorang pejabat melakukan korupsi, apakah atas inisiatif diri sendiri? Apakah dia melakukannya seorang diri? Apakah korupsi demi kepentingan seorang diri? Atau ada kepentingan kelompok? Ada kepentingan melanggengkan karir dan sistem?

Tampaknya sulit untuk mengatakan bahwa korupsi hanya untuk kepentingan diri sendiri. Banyak analisis menunjukkan bahwa korupsi melibatkan kepentingan yang lebih besar. Konflik kepentingan. Di sisi lain, korupsi juga muncul karena nafsu personal. Jebakan kehidupan pribadi yang terpisah dari arti pengorbanan, kebaikan, dan keadilan.

Korupsi sebagai Pertumbuhan

Beberapa waktu lalu, kita disuguhi opini bahwa korupsi adalah pendorong pembangunan, pendorong kemajuan, pendorong pertumbuhan ekonomi. Meski tampak aneh, pendapat itu ada benarnya. Korupsi memperlancar aliran uang, konsumsi meningkat, dan ekonomi tumbuh. Korupsi adalah pelicin pertumbuhan ekonomi. Benarkah begitu?

Benar tapi tidak tepat. Ekonomi bisa tumbuh karena korupsi, namun tidak langgeng. Pada titik tertentu, pertumbuhan ekonomi itu akan hancur akibat korupsi. Maka kita membutuhkan pertumbuhan ekonomi, dan kemanusian, yang benar dan tepat serta langgeng.

Hegel, pemikir abad 19, menunjukkan bahwa pertumbuhan terjadi melalui proses dialektika. Konflik antara tesis dan anti-tesis menghasilkan sintesis baru yang lebih bagus, hasil pertumbuhan. Selanjutnya, sintesis baru itu bisa kita pandang sebagai tesis maka akan dihadapkan anti-tesis baru dan terjadilah dialektika. Menghasilkan sintesis lagi. Begitu seterusnya, proses dialektika mengantarkan kita ke perumbuhan yang terus-menerus menyempurna.

Tetapi korupsi tidak bisa kita pandang sebagai proses dialektika seperti itu. Karena dialektika mengasumsikan ada dua pihak yang berbeda, setara dalam posisi, kemudian berproses. Korupsi justru merusak pihak lain, maka tidak akan terjadi dialektika. Misal bansos, yang seharusnya sampai ke rakyat kecil, dikorupsi di tengah jalan. Sehingga rakyat kecil tidak punya kekuatan, modal, untuk berproses.

Korupsi menciptakan kondisi tidak adil: differend, dalam istilah Lyotard, pemikir abad 20. Differend adalah kondisi di mana, pihak yang lemah tidak bisa menunjukkan adanya kesalahan. Karena bukti kesalahan itu lenyap, telah dibungkam. Wong cilik tidak bisa membuktikan bahwa bansos-nya sudah dikorupsi oleh pejabat. Tidak ada bukti bahwa bansos itu dikorupsi. Karena bansos-nya sendiri sudah tidak ada.

Mensos yang baru, barangkali bisa mencoba melawan kondisi differend ini. Mensos bisa “mencetak” bukti bahwa nama-nama wong cilik tertentu berhak memperoleh bansos dalam jumlah yang jelas dan batas waktu yang jelas. Bukti ini bisa berupa kartu, postingan di medsos, publikasi digital resmi, atau lainnya. (Tetap mempertimbangkan privasi dan sekuriti). Sehingga ketika ada pejabat melakukan korupsi, wong cilik dapat menunjukkan bukti bahwa dia berhak menerima bansos tapi tidak dia terima. Pejabat akan lebih sulit melakukan korupsi.

Pertumbuhan Sejati

Saya mencatat tiga syarat, minimal, agar terjadi pertumbuhan sejati dalam ekonomi, kemanusiaan, dan lain-lain. Pertama, pengakuan dan respek terhadap adanya sawala – perbedaan sejati. Kaya-miskin, besar-kecil, kuat-lemah, memang ada dan perlu dihormati. Kedua, pengakuan terhadap podo – kesetaraan sejati. Ketiga, menjaga agar setiap pihak bisa berperan aktif. Setiap pihak punya kekuatan khas – jaya.

Saya mencoba merevisi istilah anti-tesis dari dialektika Hegel guna mempertimbangkan tiga syarat di atas – sawala, podo, jaya. Anti-tesis saya ganti dengan ko-tesis. Sehingga proses dialektika terjadi antara tesis dan ko-tesis menghasilkan sintesis. Dalam pengertian tertentu istilah dialektika bisa kita samakan dengan ko-kreasi.

Ko-tesis bermakna mengakui perbedaan, sawala. Tetapi perbedaan itu tidak selalu berlawanan, perbedaan itu eksis bersama-sama, podo. Ko-tesis punya peran unik, kekuatan unik, jaya. Ko-tesis tidak hanya melawan tesis, dia memang berproses dengan dirinya. Sejatinya, Hegel sendiri menggunakan istilah being dan nothing ber-dialektika menghasilkan becoming. Sedangkan istilah anti-tesis berkembang dari pemikir-pemikir idealis Jerman abad 19.

Melawan Korupsi

Konflik adalah hal alamiah. Tidak seharusnya konflik kepentingan berbuah menjadi korupsi. Untuk melawan korupsi kita memerlukan pendekatan sistem dan non-sistem. Pendekatan sistem dengan cara memperkuat lembaga pengawasan dan transparansi. Sedangkan pendekatan non-sistem bisa dengan memperkuat posisi korban, pihak lemah.

Pihak lemah, yang sering jadi korban, perlu diperkuat agar mampu berperan – jaya. Misal ketika terjadi pungutan liar di rumah sakit, korban perlu dibekali cara dan media agar bisa melaporkan kasus itu. Di saat yang sama, korban perlu dijamin bahwa layanan rumah sakit tetap jalan. Korban menjadi enggan, tidak melapor, karena bila melapor maka korban tidak ditangani di rumah sakit tersebut dan bisa fatal. Perlu kepastian layanan rumah sakit bagi pelapor.

Vendor yang akan menerima kontrak perlu dipastikan adanya jalan untuk melaporkan pungutan liar. Dengan cara ini maka pejabat menjadi lebih sulit melakukan korupsi. Di saat yang sama, ketika vendor melaporkan pungutan liar perlu dipastikan bahwa kontrak pekerjaan atau proyek tetap berjalan lancar. Bila karena ada laporan maka kontrak dibatalkan untuk semua maka vendor, sebagai korban, malas melaporkan. Laporan berkonsekuensi hilangnya kontrak kerja. Siapa berani?

Pendekatan personal untuk melawan korupsi juga perlu terus edukasi. Kita memang terjebak dalam situasi yang sulit. Namun, diri kita tetap punya kemampuan untuk mencegah diri dari korupsi. Kita memang produk dari sejarah. Di saat yang sama, kita bisa menciptakan sejarah. Sejarah yang bersih dari korupsi.

Bagaimana menurut Anda?

Berbeda (Bukan) Masalah

Perbedaan sering jadi masalah. Padahal perbedaan bisa jadi berkah. Perbedaan pandangan politik bisa menyulut perpecahan. Perbedaan sudut pandang bisa bertengkar. Perbedaan aliran bisa saling menyesatkan. Seperti apakah sejatinya perbedaan itu?

Pengertian dan Makna Bhinneka Tunggal Ika | Gurugeografi.id

Begitu membuka mata, kita akan melihat beragam perbedaan. Fakta di depan mata dipenuhi oleh sesuatu yang berbeda. Perbedaan adalah suatu yang alamiah. Maka mestinya, kita bisa memandang perbedaan sebagai suatu karunia, suatu anugerah. Kita di Indonesia sudah mempunyai semboyan yang menghargai beragam perbedaan: Bhinneka Tunggal Ika.

Perbedaan laki-laki dan perempuan begitu jelas. Karena berbeda, salah satunya, mereka bisa saling jatuh cinta. Begitu indahnya. Lalu menikah. Berumah tangga. Punya anak. Terbentuk keluarga bahagia. Begitulah manusia berkembang dan hidup bahagia karena perbedaan. Bisa dibayangkan apa jadinya bila semua orang adalah laki-laki? Bagaimana jika semua orang adalah perempuan? Pasti manusia akan punah. Tidak bisa berkembang lagi.

Pandangan Perbedaan

Memandang rendah terhadap perbedaan tampak ada di mana-mana, bahkan sejak dulu kala. Siswa yang beda pendapat dengan guru dianggap nakal. Anak yang berbeda pandangan dengan orang tua dianggap durhaka. Rakyat yang berbeda prinsip dengan pejabat dianggap membakang. Oposisi yang mengkritisi penguasa dianggap nyinyir. Dan masih banyak contoh lainnya.

Deleuze, pemikir posmo abad 20, mengklaim penyebab itu semua adalah terlalu kuatnya manusia berpikir identitas. Padahal identitas, menurut Deleuze, bukanlah yang paling utama. Justru perbedaan adalah yang utama. Sawala adalah yang utama. Saya menggunakan istilah baru “sawala” untuk menyatakan perbedaan sejati.

Prinsip identitas sudah matang dirumuskan dengan baik sejak Aristoteles. Jika sesuatu adalah meja maka meja = meja. Begitu jelas, meja = meja. Tampak sederhana tetapi prinsip ini manfaatnya banyak. Misal jika kita beli meja maka meja yang diantar ke rumah kita harus identik dengan meja yang kita pesan itu. Harus sama. Dalam sains dan matematika kita merumuskan banyak persamaan, dan identitas. Persamaan kuadrat, identitas trigonometri, persamaan logaritma, dan lain-lain memenuhi prinsip identitas.

Tetapi realitas alam semesta dipenuhi sawala – perbedaan sejati. Caraka – realitas sejati – dipenuhi sawala.

Maka Deleuze menyatakan bahwa realitas paling utama adalah sawala – perbedaan sejati. Ketika kita mendefinisikan meja maka kita tidak bisa mendeskripsikan meja dengan identitasnya. Tetapi kita mendefinisikan meja sebagai kumpulan sawala, kumpulan beragam perbedaan. Meja adalah bukan kursi, bukan bantal, bukan lantai, bukan pintu, dan lain-lain. Jadi meja adalah selain yang bukan meja. Meja adalah sawala dari yang bukan meja.

Dengan mengangkat posisi sawala maka lebih terbuka bagi kita untuk lebih menghormati perbedaan. Kaya dan miskin adalah sawala. Tidak perlu menganggap kaya lebih baik dari miskin. Tidak pula sebaliknya. Sebagai sawala, kaya dan miskin mempunyai kedudukan yang sama, pada jaya. Bagi orang kaya ada kesempatan untuk berbagi sumber daya kepada orang miskin. Bagi orang miskin ada kesempatan untuk bekerja sesuai kemampuannya. Kaya dan miskin sama-sama terhormat.

Perbedaan Kualitatif

Kita mudah melihat adanya sawala, perbedaan, secara kuantitatif. Orang kaya punya uang lebih banyak dari uang orang miskin. Pejabat punya fasilitas lebih banyak dari rakyat jelata. Beras 10 kg lebih banyak dari beras 2 kg. Bahkan perbedaan kuantitatif ini bisa kita ukur secara obyektif. Dengan timbangan atau catatan rekening masing-masing.

Bergson, pemikir abad 20, menunjukkan adanya sawala kualitatif, perbedaan kualitatif. Dengan memandang waktu sejati, doto, sebagai durasi maka waktu di satu sisi adalah identik tetapi di sisi lain berbeda. Perbedaan pada doto, waktu sejati, adalah perbedaan kualitatif. Kita perlu lebih cermat untuk bisa memahami perbedaan kualitatif ini.

Untungnya, di jaman ini, kita sering menggunakan istilah “waktu yang berkualitas.” Sehingga kita bisa memahami bahwa waktu yang sama-sama 1 jam, misalnya, bisa saja kualitasnya berbeda. Ada orang yang dalam waktu 1 jam menghasilkan pekerjaan 3p, sementara orang lain menghasilkan 5p. Ada juga kebersamaan dalam waktu 1 jam dipakai untuk bertengkar, sementara orang lain menghabiskan 1 jam dengan saling menyayangi.

Lebih dalam, perbedaan kualitas waktu adalah dibandingkan dengan diri sendiri. Tidak dibandingkan dengan orang lain. Saya bisa memanfaatkan waktu 1 jam pagi untuk olahraga, sedangkan waktu 1 jam siang untuk membaca. Jelas 1 jam yang berbeda kualitas, olahraga beda dengan membaca. Tetapi, seandainya yang sama-sama 1 jam pagi dan siang, saya gunakan sama-sama untuk membaca maka kualitasnya tetap berbeda. Ketika saya membaca di siang hari, saya sudah punya modal membaca di pagi hari. Sedangkan ketika saya membaca di pagi hari, saya belum punya pengalaman membaca di siang hari, belum terjadi. Doto, waktu sejati, bersifat akumulatif.

Karena akumulatif, bersifat mengumpulkan, maka untuk mendapatkan waktu berkualitas tetap mempertimbangkan durasi atau lama waktunya. Waktu kebersamaan dengan keluarga di akhir pekan selama 3 jam akan berbeda dengan hanya 1 jam. Durasi yang 3 jam sudah meliputi, memasukkan, yang 1 jam. Tentu saja keseimbangan dalam berbagai macam hal tetap harus kita pertimbangkan dengan adil.

Perbedaan yang Mengancam

Bagaimana pun memang ada perbedaan yang berbahaya. Lyotard, pemikir abad 20, memberi istilah differend sebagai perbedaan yang tidak adil. Pihak yang kuat memanfaatkan kekuatan untuk memanipulasi agar yang lemah, terpaksa, menuruti yang kuat. Tentu tidak adil. Termasuk tidak adil adalah membungkam pihak yang lemah. Agar adil kita perlu mendengarkan semua pihak. Bahkan mendengarkan mereka yang tidak bersuara.

Polisi versus pencuri juga berada pada posisi perbedaan yang mengancam keadilan. Polisi bertugas menjaga keamanan, adil. Sementara pencuri berniat mencuri barang yang bukan miliknya, tidak adil. Dalam kasus seperti ini, pelanggaran terhadap keadilan, tetap perlu ditindak secara tegas.

Perbedaan Mendorong Perubahan

Perbedaan mempunyai kekuatan untuk mendorong perbaikan. Sawala, perbedaan sejati, mendorong untuk berubah menuju lebih baik. Heidegger, pemikir abad 20, menyatakan bahwa manusia punya karakter mengantisipasi masa depan, yang berbeda dengan masa lalu. Dengan pemahaman yang baik tentang masa depan, yang berbeda dengan masa lalu, maka manusia melangkah di masa kini menuju ke arah yang lebih baik.

Orang yang meyakini bahwa dirinya tidak bisa berubah, tidak bisa berbeda, adalah orang yang memiliki keyakinan yang buruk, keyakinan yang salah. Sejatinya, manusia selalu bisa berusaha untuk berbeda dengan masa lalunya. Manusia selalu bisa untuk berbeda, untuk menjadi lebih baik. Sukses selalu…!

Bagaimana menurut Anda?

Waktu (Tidak) Bisa Mundur

Waktu bisa mundur. Hanya ada di kisah-kisah fiksi ilmiah – atau tidak ilmiah. Sejatinya, apakah waktu benar-benar bisa bergerak mundur? Kita akan jawab tuntas dalam tulisan ringkas ini.

Sebelumnya, saya sudah pernah menulis tentang konsep waktu dilihat dari sudut pandang filosofis Kant sebagai intuisi murni. Dari Sadra, waktu sebagai dampak gerak wujud. Dari Newton, waktu sebagai gerak linear ke depan. Dari Heidegger, waktu sebagai horison dari being. Dari Einstein, waktu adalah relatif terhadap kecepatan gerak pengamat.

NASA Memburu Alien Pakai Mesin Waktu di Luar Angkasa

1. Waktu Bisa Mundur
2. Waktu Sejati Doto
3. Waktu Sejati Akumulatif
4. Meraih Masa Lalu
5. Bentangan Masa Depan

Saya perlu menambahkan konsep waktu dari Bergson adalah durasi. Di mana, waktu adalah tunggal tetapi di saat yang sama beragam secara kualitatif. Durasi ini terbebas dari hukum fisika. Maka durasi bebas sehingga manusia mempunyai kebebasan – free will.

1. Waktu Bisa Mundur

Pertanyaan apakah waktu bisa mundur perlu kita bahas. Dari sudut pandang ilmiah, Newton, seharusnya waktu bisa mundur tetapi tidak bisa. Kita bisa menggambarkan waktu seperti garis lurus bergerak maju misal hari Senin, Selasa, dan Rabu. Jika hari ini misal hari Selasa maka harusnya kita bisa bergerak mundur ke hari kemarin yaitu Senin. Gerak mundur ini tidak pernah bisa dilakukan secara ilmiah. Jadi, secara ilmiah, waktu tidak bisa bergerak mundur.

Bagaimana pun, sains terus berkembang. Einstein berhasil merumuskan relativitas khusus yang menunjukkan bahwa waktu adalah relatif. Disusul dengan relativitas umum yang menyatakan bahwa massa bisa membelokkan ruang dan waktu. Yang semula gerak waktu dikira lurus ke depan, ternyata bisa dibelokkan. Jika pembelokan waktu ini cukup kuat maka memungkinkan waktu hampir gerak mundur. Dengan menambahkan “lubang cacing” sebagai lorong waktu maka waktu benar-benar bisa gerak mundur. Tetapi gerak mundur itu masih spekulasi atau bahkan hanya fiksi ilmiah. Jadi, waktu tetap tidak bisa mundur secara ilmiah.

Penelitan yang lebih menjanjikan adalah waktu quantum dari Richard Feynmann. Benar-benar terbukti waktu bisa mundur dalam skala quantum. Kita perlu memahami waktu quantum yang bisa mundur ini apakah benar-benar seperti kita harapkan. Penelitian sub-atomik yang menunjukkan gerak mundur waktu adalah analisis sebab-akibat. Kita coba misalkan agar lebih mudah. Sebuah partikel “hana” mengubah partikel “caraka” dari kondisi A menjadi kondisi B. Pengamatan menunjukkan bahwa caraka pada kondisi B saat ini, berubah dari kondisi A yang selama ini terjadi. Dan diketahui kemudian, hana mengubah caraka dari kondisi A menjadi B pada 100 mikrodetik berikutnya, terlambat dari hasilnya. Maka terjadi waktu mundur quantum.

Mari kita cermati lagi gerak mundur waktu quantum ini. Seharusnya, bila gerak maju, hana mengubah caraka dari A ke B, kemudian caraka berubah dari A menjadi B. Pengamatan quantum menunjukkan waktu mundur yaitu, caraka berubah dari A ke B, kemudian 100 mikro detik berikutnya, hana yang mengubah caraka dari A ke B. “Sebab” nya terjadi 100 mikrodetik terlambat dari “akibat”nya. Itulah gerak waktu mundur secara quantum.

Bisa kita lihat, bahwa gerak waktu mundur quantum ini bukan gerak mundur yang kita harapkan. Jadi secara ilmiah kita tidak bisa menunjukkan waktu bergerak mundur. Dan seandainya bisa, seperti klaim waktu quantum, itu pun terbatas hanya bisa mundur dalam waktu 100 mikrodetik atau kurang.

2. Waktu sejati Doto

Tiba saatnya kita mengkaji waktu sejati: doto. Dan apakah doto ini memungkinkan waktu bisa menjadi mundur. Doto adalah istilah yang saya pilih untuk mewakili waktu sejati. Doto digambarkan sebagai waktu linear oleh fisika Newton. Doto digambarkan sebagai waktu relatif terhadap pengamat oleh Einstein. Dan doto digambarkan sebagai waktu quantum oleh Feynmann dan kawan-kawan.

Secara filosofis, doto digambarkan sebagai intuisi murni oleh Kant. Doto digambarkan sebagai eksistensi derivatif dari gerak wujud (atau substansi) oleh Sadra. Dan doto digambarkan sebagai horison being oleh Heidegger. Serta doto digambarkan sebagai durasi oleh Bergson.

Manusia umumnya, kita, hanya bisa memahami hana – eksistensi sejati – hanya melalui penampakan caraka. Caraka adalah seperti lukisan atau gambar foto. Caraka diam, statis, segala sesuatu yang nyata. Kita, manusia, perlu doto – waktu sejati – untuk memahami dinamika. Dengan caraka dan doto ini kita bisa memahami hana, lengkap dengan keterbatasan dan kelebihan manusia.

Doto bersifat kumulatif, mengumpulkan. Sebagaimana doto adalah mewakili karakter hana yang kumulatif, bergerak satu arah menuju level hana yang lebih kuat. Untuk memahami karakter doto kita perlu memahami karakter dari hana itu sendiri.

Hana, eksistensi, senantiasa bergerak satu arah menuju yang lebih sempurna, lebih eksis. Gerak mundur tidak terjadi pada hana. Karena gerak mundur bermakna mengurangi hana, yaitu mengubah hana menjadi bukan hana, meski misal bisa sebagian. Tetapi bukan hana adalah bukan eksistensi, yaitu ketiadaan. Jadi gerak mundur hana adalah tidak ada. Dengan kata lain, hana tidak pernah bergerak mundur. Hana hanya bergerak maju menuju hana yang yang lebih kuat, intens.

Sedikit ilustrasi gerak maju dari hana barangkali bisa membantu. Dan ilustrasi ini berlaku juga untuk doto – waktu sejati.

Kita hendak mengumpulkan air hujan, curah hujan, dengan menyediakan ember ukuran 5 liter. Awalnya ember terisi sedikit air, lalu 1 liter, kemudian 2 liter, dan seterusnya. Volume air dalam ember hanya bisa bertambah karena curah hujan. Air dalam ember tidak bisa berkurang karena curah air hujan. Selama ada air tercurah maka volume air di ember akan terus begerak, bertambah, akumulatif. Demikian pula karakter dari doto: waktu sejati.

3. Waktu Sejati Akumulatif

Dengan karakter doto, waktu sejati, yang akumulatif maka tidak mungkin waktu bergerak mundur.

Apakah tidak ada waktu untuk bertobat, menebus kesalahan masa lalu? Karena doto selalu bergerak maju.

Selalu ada waktu untuk bertobat. Semua orang harus bertobat. Menutup kesalahan masa lalu dengan kebaikan masa kini. Dan konsisten menuju masa depan yang lebih baik.

Dosa atau kesalahan, sejatinya, adalah hana pada kondisi caraka yang tidak seimbang, tidak adil, tidak indah. Misal korupsi adalah tidak adil maka dosa dan salah. Seorang menteri seharusnya menyalurkan bansos dan dia menerima gaji sebagai menteri. Ketika menteri korupsi, dia mengambil dana bansos (sebagian atau seluruhnya) dan menerima gaji. Maka hana – eksistensi sejati – dari menteri ini bergerak maju dua langkah, mengambil bansos dan menerima gaji. Meski hana menteri makin maju tetapi tidak seimbang, dia berdosa, dia bersalah, dia tidak adil.

Menteri yang korupsi masih bisa tobat. Dengan cara memberikan semua hasil korupsi kepada yang berhak, mungkin perlu ditambah denda dan lain-lain. Tindakan ini membuat hana sang menteri bergerak maju lagi. Tindakan pemberian oleh menteri ini tentu saja tidak berimbang, karena menteri tidak menerima apa pun, tidak adil bila dilihat dari satu kejadian. Tetapi bila dilihat dari rangkaian tindakan korupsi maka tindakan tobat ini diharapkan sebagai pengimbangnya. Sehingga, diharapkan, tobat ini bisa kembali mengarahkan hana sang menteri menjadi adil kembali.

Untuk konsep adil kita bahas di bagian tulisan yang berbeda.

Jadi, dengan karakter doto yang akumulatif ini maka tidak ada gerak mundur pada waktu. Tetapi kita tetap bisa memperbaiki kesalahan masa lalu dengan melakukan tobat dengan sebenar-benarnya tobat.

4. Meraih Masa Lalu

Kita bisa mengubah masa lalu, tentu, dengan cara meraih masa lalu. Padahal, waktu tidak bisa bergerak mundur. Lalu, bagaimana caranya?

Waktu sejati, doto, justru selalu meraih masa lalu, masa kini, dan masa depan. Doto terbentang dari masa depan (future) sampai masa lalu (past) sebagai bentangan melalui masa kini (present).

Fenomena tobat adalah contoh manusia meraih masa lalu, untuk memperbaiki kesalahan masa lalu. Menteri yang korupsi, di tahun 2021, bertobat di tahun 2022. Menteri itu bertobat dengan meraih masa lalu, tahun 2021, dan menebusnya dengan amal kebaikan serta menjalani hukuman denda di tahun 2022.

Ilustrasi doto, waktu sejati, sebagai air di ember yang mula-mula berisi 1 liter, bertambah jadi 2 liter, dan seterusnya menunjukkan kesatuan waktu sebagai bentangan. Misal, air di ember itu berisi 5 liter air, maka, 5 liter itu meliputi 1 liter, 2 liter, dan seluruhnya. Dengan kata lain, doto masa kini (5 liter air) meraih masa lalu (2 liter air). Meraih masa lalu adalah karakter dari doto, waktu sejati.

Apakah kita bisa meraih masa depan? Tentu saja. Tetapi orang-orang mudah terlambat untuk meraih masa depan. Ketika orang-orang tiba di masa depan, saat itu juga, masa depan sudah melangkah jauh ke depan lagi.

5. Bentangan Masa Depan

Kali ini, kita akan mencermati bahwa doto adalah masa depan. Waktu sejati adalah futuristik. Kita hidup di masa depan.

Kita sudah sebutkan bahwa doto adalah bentangan masa depan ke masa lalu dengan membentangkan masa kini. Kita perlu tekankan bahwa kesatuan ekstase bentangan doto ini memiliki karakter utama futuristik.

Jika diringkas, doto adalah masa depan. Sedangkan, present (masa kini) adalah past-of-future, masa lalunya dari masa depan.

Kita perlu hati-hati. Doto adalah bentangan. Tetapi, bukan living-now, bukan masa-kini yang terus bergulir sejak lahir sampai mati.

Apa bukti eksistensi masa depan, future? Bukti masa lalu, past, adalah bukti obyektif misal candi Borobudur. Bukti masa kini, present, adalah bukti obyektif misal saya sedang membaca tulisan ini.

Bukti future adalah lebih dari sekedar obyektif. Future adalah posibilitas terbuka luas, freedom bergerak bebas, dan komitmen sampai tuntas.

Fakta masa lalu candi Borobudur hanya bisa dipahami dengan pandangan masa depan. Borobudur bermakna karena Anda akan cerita tentang Borobudur ke teman-teman Anda di masa depan. Atau, Anda akan sharing foto Borobudur di media sosial suatu saat nanti.

Fakta masa kini Anda membaca tulisan ini menjadi berarti karena Anda ingin memahami informasi setelah ini. Atau, Anda komen setelah membaca ini.

Waktu sejati, doto, memang membentang dari future ke past melewati present. Waktu tidak bisa bergerak mundur. Tetapi, kita selalu merangkul masa lalu dan masa kini dalam dekapan masa depan.

Bagaimana menurut Anda?

Jokowi Vaksinasi 2: Indonesia Imun

Presiden sudah menjalani vaksinasi ke-2. Begitu juga Raffi. Meski kita sempat dibuat heboh dengan Raffi yang datang ke pesta sesaat setelah vaksin pertama. Raffi yang diharapkan menjadi pengaruh baik dalam menangani pandemi justru bertindak sebagai mana artis, sesuai dirinya. Tampaknya, justru Presiden Jokowi yang bisa konsisten memberi contoh baik menjalani vaksinasi.

Jokowi Jalani Vaksinasi ke-2 di Istana, Begini Momennya

Secara pasti, kita tidak tahu kapan pandemi berakhir. Bahkan dengan program vaksinasi pun kita masih belum tahu. Tapi vaksinasi menjadi harapan utama agar Indonesia mencapai imun nasional – herd immunity skala nasional. Masalah utama dalam vaksinasi adalah kecepatan. Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk vaksinasi 180 juta jiwa penduduk Indonesia? Menkes sudah melakukan perhitungan itu. Tampaknya hasilnya terlalu lama. Sehingga bisa mengancam program vaksinasi gagal.

Vaksinasi 8 Tahun

Tanpa percepatan serius, barangkali kita perlu waktu 8 tahun untuk menyelesaikan vaksinasi nasional. Waktu selama itu bisa memastikan hasil vaksinasi tidak efektif. Kajian sejauh ini periode kebal (imun) setelah vaksinasi hanya bertahan beberapa bulan saja. Sehingga orang yang sudah divaksin pun akan menjadi rentan terserang covid dalam waktu lebih dari 1 tahun. Jika perlu waktu 8 tahun, maka dipastikan vaksinasi gagal.

Vaksinasi 2 tahun

Kajian dari seorang ahli menyatakan bahwa Indonesia perlu waktu 2 tahun untuk menyelesaikan vaksinasi nasional. Saya kira ini termasuk hitungan yang optimis. Target 180 juta jiwa, 2 kali suntik vaksin, dalam rentang 24 bulan. Maka rata-rata 360 juta / 24 bulan = 15 juta suntikan tiap bulan. Apakah mampu melakukan suntikan sebanyak 15 juta kali tiap bulan? Tentu perlu diupayakan. Kita beruntung, saat ini punya menkes yang keren.

Bagaimana pun waktu 2 tahun ini masih cukup lama bila dibanding kekebalan seseorang setelah menerima vaksin, misalnya, sekitar 1 tahun. Maka ancaman gagal mencapai HI, herd immunity, tetap ada. Di sini kita perlu kerja sama semua pihak agar tetap patuh prokes untuk bisa mencapai HI.

Bukankah dengan adanya yang terpapar covid juga mempercepat HI? Benar juga. Tapi resiko bagi yang terpapar bisa sampai meninggal dunia. Tidak layak untuk jadi pilihan.

Vaksinasi 6 Bulan Mandiri

Salah satu ide alternatif adalah mempercepat vaksinasi dengan membuka peluang vaksinasi mandiri, berbayar. Masalahnya adalah produsen vaksin itu sendiri ketersediaannya terbatas. Sehingga jika pihak swasta membeli vaksin, karena punya uang, maka belum tentu vaksin yang akan dibeli tersedia. Tidak mudah untuk mempercepat vaksinasi bisa hanya 6 bulan selesai.

Belum lagi isu kesetaraan, keadilan antara yang punya uang dan rakyat miskin. Apakah pantas karena punya uang maka seseorang berhak mendapat vaksin lebih awal? Barangkali ada pertimbangan, selain uang, untuk menyusun prioritas vaksinasi. Dan saya kira prioritas itu sudah disusun saat ini, misalnya, dengan mengutamakan nakes.

Menolak Vaksin

Beberapa kalangan menolak vaksin. Bisa alasan pribadi, keyakinan, atau lainnya. Dalam perhitungan HI memang ada beberapa orang yang tidak perlu divaksin. Untuk kasus Indonesia ada sekitar 90 juta jiwa yang tidak perlu divaksin. Karena cukup dengan 180 juta jiwa yang imun sudah memungkinkan tercapainya HI. Sehingga tidak ada masalah bila ada yang menolak untuk divaksin. Sejauh total yang tidak divaksin terjaga di bawah 90 juta jiwa tersebut.

Tetapi jika penolakan vaksinasi itu mengakibatkan lebih dari 90 juta jiwa tidak divaksin maka mengancam efektivitas program vaksinasi. Saya kira menkes bisa menghitung seberapa besar dampak penolakan ini. Dan bisa menjaga tetap aman untuk mencapai HI nasional – bahkan semoga global.

Bagaimana menurut Anda?