Sketsa Bayangan Hakikat

Vaksin adalah konspirasi. Pandemi juga konspirasi. Tentu kita sulit membuktikan itu. Konspirasi sulit dibuktikan. Jika mudah dibuktikan maka tidak menjadi konspirasi. Ketika kita sudah tahu tidak ada bukti, kemudian, apakah pantas kita percaya terhadap konspirasi seperti itu? Kita perlu solusi. Yang lebih pasti. Bukan sekedar konspirasi.

Coronavirus mutations: what we've learned so far

Saya mencoba membuat sketsa bayangan hakikat untuk mencatat beberapa alternatif solusi. Kita akan fokus kepada solusi ilmu pengetahuan. Khususnya yang bersifat filosofis. Sementara, konspirasi tidak menunjukkan tanda-tanda solusi. Konspirasi hanya asyik sebagai bahan diskusi sana sini. Berikut ini sketsa meniti solusi.

Daftar Isi – Content

A Pendahuluan
B. Being and Freedom
1. Pentingnya mengkaji Being atau Wujud: Hana
2. Freedom: Mungkinkah Secara Pribadi dan Semesta
3. Metodologi: Fenomenologi Spiral

C. Kajian Hana: Memahami Karakter Semesta
1. Hanya Bisa Dikaji Melalui Manifestasi: Caraka
11 Being-in-the-world
12 Being-with-mama
13 Being-with-other
14 Being-with-special
15 Being-with-natural
16 Language
17 Sains
18 Mathematic
19 Dunia Digital
110 Hana Otentik
111 Tenggelam dalam Dunia
112 Tenggelam dalam Rata-rata
113 Tenggelam dalam Digital
114 Real vs Realitas
115 Obyektif dan Subyektif: Estimasi Integratif
116 Cogito Descartes
117 Antinomi Kant
118 Optimisme: Fenomena Sartre
119 World-in-the-Being

2. Filosofi Negasi dan Different: Sawala
21 Perbedaan Geometri dan Kuantitatif
22 Perbedaan Intensitas dan Kualitatif
23 Identitas Aristoteles dan Kontradiksi
24 Negasi dan Nothingness
25 Differensial
26 Ontologi Different: Bergson dan Deleuze
27 Differance: Derrida
28 Perbedaan di Dunia Digital
29 Berbeda adalah Otentik
210 Antinomy
211 Dialektika
212 Integral Kotesis
213 SDG: Konsensus vs Dissensus

3. Kesetaraan dan Peran: Podo Jaya
31 Dominasi Identitas
32 Differend: Lyotard
33 Keadilan: Aritoteles dan Lyotard
34 Peran dalam Semesta
35 Kontribusi dalam Semesta
36 Kontribusi Digital
37 Rasio Gini dan Ketimpangan
38 Prioritas SDG
39 Nihilisme
310 Demokrasi Digital

D. Dinamika Maga: Perubahan Abadi
1. Filosofi Gerak: Maga
11 Gerak Biasa: Aksidental
12 Gerak Relasi
13 Gerak Substansial
14 Gerak Wujud atau Esensi
15 Ambiguitas Sistematis Wujud Sadra
16 Filsafat Proses
17 Sistem Dinamis

2. Karakter Waktu: Doto Selaras Hana
21 Waktu Linear
22 Waktu Sekarang yang Mengalir
23 Durasi: Bergson
24 Ekstase dan Horison: Heidegger
25 Waktu adalah Maga
26 Waktu Akumulatif Unik
27 Waktu Digital: Cepat dan Akumulatif
28 Entitas Abadi: Natural vs Idealisasi

3. Freedom: Free Will dan Warisan
31 Freedom adalah Hana: Sartre
32 Kesadaran
33 Care: Heidegger
34 Pengetahuan: Sadra
35 Genetika Warisan
36 Lingkungan
37 Budaya
38 Manusia adalah Maga
39 Perbuatan vs Milik
310 Moral vs Hukum

4. Ikatan Alam Semesta
41 Sains Obyektif
42 Metanarasi
43 Progresif
44 Teknologi dan Digital

5. Filsafat Sosial: Ekonomi Politik
51 Sejarah
52 Ekonomi
53 Politik
54 Hukum
55 Demokrasi
56. Kritik Sosial

E. Bataga: Mencapai Akhir sebagai Awal Baru
1. Menuju atau Ditarik Bataga
2. Bataga adalah Hana
3. Semesta adalah Hana

F. Dekonstruksi Metafisika
1. Heidegger, Derrida, Deleuze
2. Socrates, Sadra, Kant
3. Russell, Rorty, Habermas
4. Evolusi dan Kosmologi Sains
5. Metafisika Abda 21: Mungkinkah?

G. Enigma Pra-Lahir dan Pasca-Mati
1. Nasib Hana: Spekulasi Pasca-Mati
2. Possibilitas Hana: Pra-Lahir dan Pra-Manusia
3. Hermeunetika: Weak Thougt

H. Alternatif Kajian
1. Sains Empiris
2. Agama
3. Mistisisme

  1. Immanuel Kant, pemikir abad 18, merumuskan transendental fenomenologi. Segala sesuatu yang kita ketahui di dunia ini adalah sekedar fenomena, penampakan belaka. Misal seorang dokter meneliti covid-19 maka apa yang diketahui oleh dokter itu tentang covid-19 adalah penampakannya saja. Sedangkan hakikat covid itu sendiri adalah tetap tersembunyi, transenden, di luar ruang dan waktu. Kant sendiri meyakini bahwa ruang dan waktu tidak bersifat nyata obyektif. Ruang dan waktu adalah intuisi murni dari manusia, subyektif.
  2. Sadra, pemikir abad 17, meyakini bahwa pengetahuan adalah manifestasi dari wujud, atau bahkan wujud itu sendiri. Sehingga kita bisa benar-benar mengetahui sesuatu secara hakiki. Bahkan, Sadra sejalan dengan Aristoteles, meyakini kesatuan antara subyek yang mengetahui dengan obyek pengetahuan itu sendiri. Meski Sadra menerapkan kajian rasional, sayangnya, untuk mengetahui hakikat segala sesuatu tidak cukup hanya berbekal rasionalitas saja. Rasio, menurut Sadra, hanya mengantarkan. Selanjutnya, butuh manusia seutuhnya untuk mencapai pengetahuan sempurna.
  3. Hegel, pemikir abad 19, melangkah lebih maju dengan menyusun dialektika. Suatu pengetahuan bisa kita anggap sebagai tesis. Maka akan berhadapan dengan antitesis, sebut saja anti-pengetahuan. Ketegangan antara pengetahuan dengan anti-pengetahuan akan berproses dialektis sehingga muncul sintesis baru, sebut saja pengetahuan baru, yang lebih bagus. Pengetahuan baru ini akan terus berproses, berdialektika dengan antitesisnya, untuk pengetahuan yang lebih bagus lagi. Sampai akhirnya tercapai pengetahuan absolut. Proses dialektika ini sangat menarik dan dinamis. Tetapi kita berhadapan dengan pertanyaan besar: bagaimana kita tahu pengetahuan absolut itu, bahwa pengetahuan tertentu absolut benar? Sementara jiwa manusia, pengetahuan manusia, memiliki posibilitas yang tak terbatas. Sehingga tidak mudah membatasi pengetahuan manusia.
  4. Husserl, pemikir abad 20, secara sah dapat kita nyatakan sebagai pendiri fenomenologi modern. Kita seharusnya fokus meneliti apa yang hadir kepada kesadaran kita dari sudut pandang orang pertama yang mengalaminya, saran Husserl. Apa yang hadir itu adalah fenomena maka pendekatan Husserl menyelidiki struktur kesadaran ini disebut sebagai fenomenologi. Dengan fenomenologi ini maka filsafat bergerak secara produktif menghasilkan penyelidikan-penyelidikan dengan analisis mendalam. Apakah pengetahuan manusia menjadi lebih dekat, lebih benar, untuk mengetahui hakikat segala sesuatu, dengan pendekatan fenomenologi? Tampaknya struktur kesadaran manusia memang penuh misteri. Bukan jawaban pasti yang kita peroleh dari fenomenologi. Tetapi kita berhasil mendapatkan lebih banyak pertanyaan yang mencerahkan.
  5. Heidegger, pemikir abad 20, lebih dalam mengkaji fenomenologi dengan analisis eksistensial. Langkah Heidegger ini membelokkan filsafat kembali ke arah being, sang-ada. Di mana, menurut Heidegger, filsafat sejak Plato sampai Nietzsche telah terlalu jauh melupakan being. Yang seharusnya justru menjadi fokus utama dari filsafat itu. Dengan arah baru ini, wajar saja, Heidegger menjadi sulit dipahami oleh rekan-rekan filsuf lainnya. Bahkan sering dicurigai sebagai tidak masuk akal. Tetapi argumen Heidegger kuat. Pertama kita perlu fokus kepada being itu sendiri agar mengungkapkan diri apa adanya, analisis eksistensial. Kedua, membatasi kepada apa-apa yang hadir kepada manusia. Menggeser metafisika ke ontologi. Ketiga, kita tidak bisa melakukan klaim preskriptif (menentukan). Yang bisa kita lakukan adalah deskriptif. Maka terbuka peluang interpretasi tak terbatas: hermeneutik.
  6. Sartre, pemikir abad 20, menerapkan analisis eksistensial fenomenologi dengan lebih fokus kepada kesadaran manusia. Dengan menggabungkan pendekatan Husserl dan Heideger, Sartre sampai pada kesimpulan kesejatian manusia adalah kebebasan. Tidak ada manusia tanpa kebebasan. Pun tidak ada kebebasan tanpa manusia. Manusia adalah kebebasan, kata Sartre. Untuk sampai kesimpulan itu, Sartre perlu elaborasi lebih mendalam konsep negasi atau ketiadaan. Lagi-lagi, ini adalah pembahasan yang sulit karena beda dengan nalar sehari-hari. Tetapi pada bagian akhir, Sartre bergerak kepada hal-hal yang praktis dari kebebasan itu sendiri. Kebebasan terus bergerak bebas menuju yang lebih sempurna. Tidak pernah berhenti. Apa yang ada di diri manusia selalu ingin diubah oleh kesadaran manusia itu sendiri. Kebebasan mewujud dalam bentuk suatu kerja nyata serta membebaskan orang lain.
  7. Lyotard, pemikir abad 20 akhir, menghadirkan konsep postmodern ke wacana filsafat. Dengan kredo, “tidak percaya metanarasi,” posmo berhasil menggoyang perdebatan filsafat. Ketika sebagian besar orang percaya dengan narasi modernitas untuk memajukan kemanusiaan, Lyotard justru meragukan narasi tersebut. Bahkan Lyotard berhasil menunjukkan bahwa modernitas hanya sekedar narasi, cerita yang diulang-ulang tanpa menambah nilai kebenaran sama sekali. Lyotard mengusulkan dissensus sebagai solusi untuk mewujudkan manusia yang adil. Menghargai perbedaan setiap pihak. Mendengarkan suara mereka yang tidak bicara. Lyotard membangun argumennya merujuk ke antinomy Kant. Tidak bisa diseragamkan. Adil dalam keragaman. Apakah dissensus bisa diterapkan untuk kehidupan nyata?
  8. Russell, pemikir abad 20, adalah pelopor filsafat analytic. Bersama siswanya, Wittgenstein, Russell berhasil meletakkan fondasi yang kuat untuk filsafat analytic, aliran filsafat yang paling mudah masuk akal. Berawal dengan penyelidikan nilai kebenaran suatu proposisi berkembang ke bahasa – dan matematika. Dengan mengikuti cara berpikir Russell maka kita lebih mudah menentukan sesuatu bernilai benar atau salah, dengan cara analisis yang masuk akal. Sains dan teknologi modern dapat berkembang pesat dengan memanfaatkan analisis ini. Pendekatan analytic konsisten dengan logika Aristoteles misalnya penerapan logika non-kontradiksi. Russell juga sepakat dengan dunia universalia Plato. Pendek kata, dengan pendekatan analytic kita berhasil makin dekat dengan kebenaran sejati atau bahkan berhasil meraih kebenaran sejati. Ideal. Lalu apa masalahnya? Benar, masalahnya filsafat analytic ini hanya berlaku pada bidang tertentu, yang terlalu sempit untuk kemanusiaan. Maka di usa, filsafat analytic berkembang menjadi pragmatisme yang lebih luas. Pada abad 21 bangkit menjadi neopragamatis di tangan Rorty.
  9. Habermas, pemikir abad 21, yang saat ini berusia 92 tahun, adalah pelopor generasi kedua critical theory. Percaya bahwa sistem masyarakat lebih dominan dari peran individu, Habermas mengembangkan pendekatan komunikasi aktif. Kemanusiaan bisa berkembang dengan jalan komunikasi antara semua pihak tanpa manipulasi. Komunikasi ini menerapkan ungkapan-ungkapan rasional sehingga semua pihak dapat menganalisis dengan baik dan diambil konsensus terbaiknya. Habermas percaya proyek modernitas sudah pada arah yang tepat tapi belum tuntas. Maka kita memerlukan kritik-kritik terhadap modernitas untuk menyempurnakan. Wajar saja bila pendekatan Habermas ini mendapat banyak dukungan karena Habermas mendukung modernitas yang sedang berjalan saat ini. Kritik terhadap Habermas, salah satunya, dari Lyotard yang menolak konsensus. Dalam konsensus selalu terdapat peluang bagi pihak yang kuat untuk memanipulasi pihak yang lemah, tidak adil. Tidak ada kata sepakat antara Lyotard dan Habermas. Dan di tahun 2021 ini, Habermas masih terus berkarya.

Sketsa

Dengan mempertimbangkan pemikiran para tokoh-tokoh kontemporer di atas dan melengkapi dengan pemikiran kuno misal dari Thales, Parminides, Zeno, Plato, dan Aristoteles maka saya coba susun sketsa pembahasan.

  1. Fenomenologi. Kita akan melakukan analisis eksistensial dengan bantuan fenomenologi. Karena semua yang kita bahas tentu hadir dalam kesadaran manusia maka fenomenologi menjadi paling tepat. Sifat fenomenolog yang deskriptif memberi kelonggaran hasil analisis untuk lebih beragam.
  2. Spiral fenomenologi. Ketika fenomenologi memulai analisis dari pengalaman sehari-hari, langkah ini memberi pijakan umum. Kemudian fenomenologi melanjutkan analisis lebih mendalam terhadap pengalaman kesadaran manusia itu. Saya akan mencoba melangkah lebih jauh menganilisis pengalaman-pengalaman tokoh penting masa lalu dengan pendekatan spiral fenomenologi.
  3. Non eksistensi. Meski Heidegger dan Sartre sudah mulai membahas non esksistensi atau ketiadaan tetapi pembahasan mereka masih perlu lebih jauh kita elaborasi. Maka saya akan mencoba membahas non eksistensi ini lebih luas dan mendalam.
  4. Possibility vs probability. Perkembangan analytic kontemporer menunjukkan peran kuat dari probailitas (dan statistik). Maka kita akan mengkaji probabilitas secara filosofis dengan bantuan analytic. Di saat yang sama, kita menyadari bahwa probabilitas mengasumsikan mengetahui semesta 100%. Tentu itu hanya asumsi maka kita perlu membuka posibilitas lebih luas, tanpa batas.
  5. Definisi eksistensi. Sudah disepakati para ahli bahwa eksistensi tidak bisa didefinisikan. Maka kita perlu cara-cara baru mendekati definisi eksistensi. Saya memperkenalkan istilah “hana” sebagai padanan baru dari being, eksistensi, dan wujud. Lebih detil saya mendekati hana dengan “equa” yang mempertimbangkan posibilitas tak terbatas dan probabilitas yang lebih fokus.

Bagaimana pun cara kita mengenal realitas sejati, empiris dan rasional, hanya akan mampu mendekati kebenaran realitas itu. Sementara kebenaran mutlak, untuk menemukannya, akan tetap menjadi tugas kemanusiaan untuk mengkajinya sepanjang jaman.

Karakter Hana

Hana sebagai istilah being dari manusia, wujud dari manusia, eksistensi dari manusia akan menjadi fokus utama pembahasan kita. Kita akan menyelidiki apa saja karakter utama dari hana, melakukan interpretasi dari sudut pandang analisis eksistensial.

  1. Gerak atau perubahan. Karakter utama dari hana adalah selalu berubah atau bergerak. Hana berubah dari sisi permukaan, aksidental, misal berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya. Hana juga berubah dari sisi mendalam, substansial, misal seseorang yang dulunya penakut, ketika dewasa menjadi pemberani. Gerak substansial diformulasikan oleh Sadra, pemikir abad 17. Sedangkan gerak aksidental sudah dikenal banyak orang sejak awal dan masuk pembahasan filsafat sejak masa Heraklitus, pemikir abad 5 SM.
  2. Ruang dan waktu. Gerak dari hana berkonsekuensi pentingnya ruang dan waktu. Manusia senantiasa dalam ruang dan waktu, tak terpisahkan. Umumnya, orang menerima begitu saja eksistensi ruang dan waktu. Kant, pemikir abad 18, yang berhasil meyakinkan kita bahwa ruang dan waktu adalah intuisi murni manusia. Heidegger, pemikir abad 20, mengklaim waktu sebagai horison bagi hana untuk mengungkapkan diri. Einstein, pemikir abad 20, merumuskan ruang waktu sebagai relatif terhadap pengamat. Yang absolut adalah kecepatan gerak cahaya, menurut Einstein.
  3. Kesadaran, peduli, dan bebas. Karakter utama berikutnya dari hana perlu kita pertimbangkan. Kesadaran menjadi yang paling utama menurut fenomenologi Husserl. Namun Heidegger lebih mengutamakan peduli, care, sebagai karakter dasar hana. Sartre memilih kebebasan, freedom, sebagai paling utama. Kita perlu mempertimbangkan karakter-karakter penting hana tersebut dan merumuskan struktur eksistensial paling mendasar.
  4. Sistem sosial. Hana menemukan dirinya lahir dari orang tua, yang merupakan Hana juga. Hana selama bersama hana lainnya. Hana berada dalam jaringan sosial. Mewarisi genetika, budaya, bahasa, dan berbagai hal dari masa lalu. Akankah Hana mengalir bersama sistem sosial itu? Ataukah Hana justru bisa mengarahkan aliran sosial itu?
  5. Sistem alam semesta. Hana mengetahui ada banyak hal di sekitarnya. Hana berada dalam alam semesta. Hana memanfaatkan alam semesta dan menjaga alam semesta.

A. Waktu (Tidak) Bisa Mundur
B. Berbeda (Bukan) Masalah
C. Konflik vs Korupsi: Pertumbuhan
D. Akhir Negeri Korupsi
E. Makna Ketiadaan
F. Kosmologi: Mahana – Kosmos – Hana

Moral: Peta yang Salah Arah

Terbayang betapa menyakitkan, sudah menggunakan peta, tetap salah arah tujuan. Saya berangkat dari Bandung dini hari sebelum subuh menuju ke Indramayu hendak memberikan pelatihan multimedia. Panitia pelatihan sudah mengirimkan lokasi lengkap dengan peta digital kota Indramayu. Saya tiba di lokasi, sesuai peta, pukul 6 pagi. Padahal acara pelatihan dimulai pukul 8. Maka saya mencari tempat yang nyaman untuk sarapan dan minum kopi, di sekitar lokasi.

Menjelang jam 8 saya berangkat lagi dari kedai kopi menuju lokasi, kurang dari 5 menit sudah tiba. Saya tidak menemukan acara pelatihan multimedia di lokasi. Setelah bertanya ke orang di situ, ternyata saya salah peta. Lokasi yang saya cari ada di 40 km sebelah barat, sudah saya lewati ketika dari Bandung. Mereka juga cerita, sudah sering ada orang salah arah ke situ dengan menggunakan peta digital.

Salah arah dalam jarak 40 km tidak terlalu bermasalah. Tetapi salah arah dalam moral kemanusiaan lebih berbahaya.

Moral begitu penting dalam kemanusiaan. Sayangnya, moral di jaman kontemporer, bagai peta yang salah arah. Tentu tidak semua moral salah arah. Tetapi, moral salah arah justru di saat yang paling penting. Maka kita perlu kembali melakukan koreksi terhadap arah moral kemanusiaan kita.

Apakah seorang menteri yang korupsi melanggar moral? Apakah seorang pemuda yang mencuri roti melanggar etika? Apakah seorang bapak yang merusak hutan melanggar akhlak? Tepat, semua terjadi pelanggaran. Bagaimana pelanggaran semacam di atas bisa terjadi? Apakah kita bisa menemukan solusi?

Dasar Moral yang Rapuh

Sebagian besar rakyat bisa dipastikan bermoral. Sebagian besar pemimpin juga bisa dipastikan bermoral. Hanya sedikit orang yang tidak bermoral, sudah cukup untuk meruntuhkan sistem ideal bermasyarakat. Pelanggaran moral justru terjadi pada dasar-dasar yang rapuh.

Apa yang dimaksud dengan seuatu yang bermoral, baik, bagus, adil, dan benar?

Pertanyaan di atas jelas pertanyaan filosofis. Maka kita perlu menjawab dengan landasan yang kokoh untuk merumuskan dasar-dasar moral. Untuk sementara, kita menganggap bermakna sama antara moral, etika, dan akhlak. Untuk perbedaan-perbedaannya akan kita bahas di bagian bawah.

Terdapat beberapa pendekatan untuk menjawab pertanyaan dasar di atas: utilitarian (asas manfaat), otentisitas (manusia sejati), dan konsensus (kesepakatan). Berbagai pendekatan ini tidak saling menolak, tetapi kita perlu menyusun prioritas. Meski hanya prioritas, dampaknya sangat besar bagi masyarakat luas.

David Hume, pemikir abad 17, dan Bertrand Russell, pemikir abad 20, mendukung pendekatan utilitarian (asas manfaat). Sartre, Heidegger, pemikir abad 20, Sadra, pemikir abad 17, Ibnu Sina, pemikir abad 11, Aristoteles, pemikir abad 3 SM, meyakini pendekatan otentisitas (manusia sejati). Sedangkan Habermas, pemikir abad 21, dan Immanuel Kant, pemikir abad 18, mendukung konsensus (kesepakatan).

Bagi yang meyakini asas manfaat, sesuatu yang bermoral adalah sesuatu yang memberi manfaat terbesar bagi seluruh manusia dan alam semesta. Hakikatnya tidak ada sesuatu yang khusus untuk dikategorikan sebagai bermoral atau tidak. Kita perlu mengkajinya, untuk menentukan sesuatu itu seberapa besar manfaatnya. Korupsi, misalnya, jelas merugikan masyarakat maka tidak bermoral. Menolong sesama, misalnya, bermanfaat besar bagi masyarakat maka termasuk bermoral.

Sementara, yang berpandangan otentisitas (manusia sejati) menyatakan bahwa ada nilai-nilai khusus pada perilaku manusia. Misalnya, adil, adalah pasti bermoral. Karena manusia, sejatinya, harus selalu bersikap adil. Korupsi adalah tidak bermoral karena tidak adil, tidak sesuai dengan manusia sejati. Pada situasi apa pun, adil selalu bermoral. Apakah adil itu bermanfaat atau tidak, itu adalah pertanyaan kedua, karena adil adalah yang utama. Untuk menentukan sesuatu adil atau tidak dalam situasi tertentu, di situlah pentingnya kecerdasan manusia, dan moral manusia.

Di sisi lain, pendukung konsensus meyakini pentingnya kesepakatan semua pihak. Suatu tindakan yang bermoral adalah yang disepakati oleh semua pihak. Korupsi adalah tidak bermoral karena ada pihak tertentu yang tidak setuju, dirugikan. Menolong sesama adalah tindakan bermoral karena disetujui oleh semua orang. Persetujuan ini, dalam kondisi tertentu perlu eksplisit dan resmi misal dalam perjanjian kerja sama. Di sisi lain, bisa juga persetujuan ini bersifat kajian akal sehat yang adil dan jujur.

Landasan moral akan menjadi rapuh bila prioritas yang dipilih tidak tepat, dilanjutkan dengan penyelewengan di beberapa kasus.

Penyelewengan Moral Manfaat

Dalam kehidupan sehari-hari, manusia terjebak dalam kebutuhan. Maka bimbingan moral yang paling mudah adalah asas manfaat. Apa yang memberi manfaat besar maka pantas kita pilih. Mengapa seorang anak harus belajar? Agar sekolahnya bagus. Mendapat kerja yang baik. Dan menjalani hidup dengan sejahtera. Asas manfaat yang bagus.

Tetapi penyelewengan bisa terjadi sewaktu-waktu. Mengapa pesawat ini harus diterbangkan? Bukankah pesawat ini waktunya diistirahatkan karena sudah terbang 36 jam terus-menerus? Jika pesawat ini diterbangkan maka memberi manfaat yang besar bagi banyak pihak. Keuntungan perusahaan lebih besar, pilot dan pramugari mendapat bonus lebih besar. Semua mendapat keuntungan, semua mendapat manfaat.

Dalam beberapa kali penerbangan terakhir dengan kondisi yang mirip, semua berjalan lancar. Setelah penerbangan itu, direncanakan pesawat akan istirahat dan mendapatkan perawatan sesuai standar. Kejadian pada tahun 2018 berbicara lain. Pesawat terbang dari Jakarta. Beberapa menit kemudian hilang kontak. Dan kabar duka menyelimuti seluruh negeri. Pilot, pramugari, dan ratusan penumpang meninggal dunia dalam kecelakaan pesawat terbang. Tahun 2021 tejadi kecelakan pesawat terbang. Membawa duka yang besar juga. Tapi kita belum mengetahui lebih detil masalahnya. Semoga kita bisa mencegah kecelakaan serupa.

Prioritas moral yang terbaik adalah dengan mengutamakan otentisitas (manusia sejati) kemudian disusul asas manfaat atau konsensus dalam penerapan kehidupan nyata yang lebih praktis.

Misal, untuk penerbangan pesawat, kita bisa mencoba melihat dari otentisitas. Apakah ketika hendak menerbangkan pesawat adalah adil untuk semua pihak? Apakah adil bagi penumpang, pilot, dan pramugari? Bagi perusahaan bisa memberi penghematan. Tetapi resiko bagi penumpang dan kru tetap harus dikaji dengan adil. Jika pesawat tidak layak untuk terbang maka, demi keadilan, pesawat ditunda dari terbang. Keputusan adil ini bisa menurunkan manfaat bagi perusahaan misal tidak jadi untung. Bagi pilot dan pramugari tidak dapat manfaat bonus. Dan bagi penumpang tidak dapat manfaat transportasi karena penerbangan ditunda. Di sisi lain penundaan ini menyelamatkan semua pihak: itulah tindakan bermoral.

Dalam tulisan-tulisan selanjutnya, kita akan membahas masalah moral ini dengan mengambil fokus tema freedom dan pernikahan. Di satu sisi, manusia perlu menjunjung tinggi kebebasan (freedom), di sisi lain, manusia harus mengikatkan diri dengan konsensus nyata ikatan pernikahan (marriage). Apakah freedom dan pernikahan saling bertentangan atau bisa saling bersesuaian? Apa dampak moral secara pribadi dan masyarakat?

Lanjut ke
Freedom: Kebebasan yang tidak Bebas

Kembali ke
Moral: Freedom vs Marriage

Lampiran

Dalam beberapa bagian saya akan melampirkan pembahasan yang lebih detil bagi yang berminat. Lampiran ini bisa dilewatkan saja dan lanjut ke bagian selanjutnya tanpa mengurangi keutuhan pembahasan. Tapi bagi yang teratarik silakan mendalami lampiran demi lampiran.

Etika Aristoteles

Etika, filsafat moral, kuno paling komprehensif barangkali adalah karya Aristoteles: Nicomachian Ethics. Kita berhutang budi kepada sang putra Aristoteles, yang bernama Nicomachian, yang berhasil menyusun karya etika ini. Kita dapat menggolongkan tuntunan moral Aristoteles adalah otentisitas yang memberi nilai moral tinggi kepada sikap manusia sejati yaitu adil.

Plato dan Socrates juga menunjukkan menjunjung tinggi moral manusia sejati. Socrates, kakek guru dari Aristoteles, mendorong manusia untuk terus mencari kebenaran – sebagai sikap moral tertinggi. Sedangkan Plato, guru dari Aristoteles, mementingkan manusia untuk merenungi diri, berkontemplasi menemukan kebenaran sejati. Aristoteles sangat beruntung mendapat bimbingan langsung dari mahaguru, pemikir terbesar pada abad ke 4 atau ke 3 sebelum Masehi.

Aristoteles menyatakan bahwa adil adalah nilai moral tertinggi dan paling tepat. Adil adalah ada di tengah-tengah. Sehingga adil selalu benar. Tidak ada istilah terlalu adil atau kurang adil. Adil adalah sempurna. Berbeda dengan dermawan, salah sati sikap moral yang juga baik. Dermawan itu bisa saja terlalu dermawan. Seseorang yang terlalu besar berderma maka menjadi melampaui batas, terlalu dermawan, menjadi sikap yang buruk. Terlalu dermawan bergeser menjadi boros. Di sisi lain, kurang dermawan juga buruk karena bergeser menjadi kikir. Sementara adil benar-benar di tengah, sempurna. Dengan kata lain, ketika seseorang hendak menjadi dermawan maka, di saat yang sama, dia harus bersikap adil agar bermoral. Maka kita perlu menjadi “masyarakat yang di tengah-tengah.”

Tentu saja, Aristoteles merumuskan beragam karakter manusia yang bermoral tinggi. Misal sikap mau belajar, baik hati, bersahabat, mengendalikan marah, dan lain-lain. Bagi Aristoteles, sikap marah adalah manusiawi. Marah yang tak terkendali jadi berbahaya dan tidak bermoral. Tetapi marah dengan ukuran yang tepat, di saat yang tepat, di tempat yang tepat, kepada orang yang tepat adalah sikap moral yang tinggi.

Etika Sadra

Sadra adalah pemikir besar abad 17 yang paling berhasil merumuskan manusia spiritual. Tindakan moral yang paling tinggi adalah tindakan manusia yang menyempurnakan diri sebagai manusia spiritual. Tindakan moral tersebut adalah tindakan manusia menyempurnakan ilmu pengetahuan. Sadra menunjukkan bahwa pengetahuan sejati adalah pengetahuan spiritual tentang wujud sejati melalui pengalaman nyata.

Pengetahuan sejati mengangkat hakikat manusia ke arah wujud yang lebih tinggi. Pengetahuan sejati, berbuah menjadi tindakan moral, memberikan yang terbaik untuk seluruh alam semesta. Dunia luar, yang tampaknya seperti obyek bagi individu, sejatinya adalah wujud dari diri kita sendiri. Maka ketika seseorang berbuat buruk kepada dunia luar, sejatinya, dia merusak dirinya sendiri. Sedangkan ketika kita, berbuat baik kepada semua orang, sejatinya kita berbuat baik kepada diri sendiri.

Hanya dengan pengetahuan sejati kita dapat menyempurnakan diri. Sadra berhasil membuktikan bahwa proses dan hasil menyempurnakan diri ini tidak berhenti ketika manusia mati. Bahkan ketika manusia sudah mati justru jiwa manusia menjadi lebih sempurna sesuai dengan tindakan moral dan pengetahuannya. Maka nilai moral berlanjut dari masa ketika manusia hidup di dunia sampai setelah dunia ini. Kita adalah manusia spiritual.

Kita bisa menggolongkan etika Sadra sebagai otentisitas. Manusia sejati adalah manusia spiritual yang penuh moral dengan pengetahuan terus meningkat. Sementara, kebodohan adalah sikap tidak bermoral yang menutup beragam potensi manusia yang seharusnya menggapai wujud yang lebih tinggi. Maka pengetahuan sejati adalah tindakan bermoral manusia untuk bergabung ke wujud yang lebih tinggi secara abadi.

Etika Kant

Saya kira Immanuel Kant adalah pemikir terbesar di jaman modern ini. Kant menuliskan karya-karyanya di abad ke 18 sampai abad 19. Analisis yang tajam ditambah wawasan yang luas menjadikan Kant benar-benar istimewa. Kant punya proyek ambisius untuk membangun filsafat moral yang kokoh. Kant merumuskan categorial imperative yang merupakan rumusan moral yang bersifat wajib dan pasti. Apakah Kant berhasil?

Kant beruntung, pada jamannya, pemikiran rasionalis sudah matang dengan tokoh-tokohnya Descartes, Leibniz, Spinoza, dan lainnya. Sedangkan pemikiran empiris juga sudah kuat dengan tokoh-tokohnya Locke, Hume, Newton, dan lainnya. Sehingga Kant berkesempatan untuk membuat sintesa besar dari raionalisme dan empirionalisme itu. Dan formula CI, categorial imperative, adalah hasil nyatanya.

CI mengambil dua bentuk yaitu larangan dan perintah. Contoh perintah CI adalah “Jagalah kehidupan!” yang bersesuaian dengan amar makruf. Sedangkan CI dalam bentuk larangan bersesuaian dengan nahi munkar, contoh, “Jangan membunuh.” Untuk merumuskan CI kita bisa mempertimbangkan empat tes berikut ini. Jika lolos maka bisa jadi CI. Jika tidak lolos maka gagal sebagai CI.

Pertama, bisa dilakukan setiap saat. “Jangan membunuh” lolos dengan tes ini. Tetapi “Peliharalah tanaman” gagal tes ini. Karena ketika tidur, seseorang tidak bisa memelihara tanaman. Sementara, ketika tidur, seseorang tetap bisa mematuhi tidak membunuh siapa pun.

Kedua, bisa dilakukan di setiap tempat. “Jagalah kehidupan” lolos tes ini. Di mana pun kita dapat menjaga kehidupan dengan cara mencegah penghancurannya. Sementara “Dilarang parkir” tidak lolos tes ini karena di tempat tertentu terpaksa kita harus parkir. Atau kadang-kadang kita tidak berurusan sama sekali dengan parkir.

Ketiga, bisa dilakukan setiap orang. Tentu saja, setiap orang bisa mematuhi larangan, “Jangan membunuh.”

Keempat, disetujui setiap orang yang bernalar jujur. Kita tentu setuju dengan perintah “Jagalah kehidupan.” Maka lolos sebagai CI. Barangkali orang jahat tidak setuju itu. Orang-orang yang mau untungnya sendiri juga bisa menolaknya. Tetapi orang yang jujur, secara wajar, akan bisa memberikan penilaian yang memadai.

Dengan pertimbangan di atas maka saya memasukkan filsafat moral Kant sebagai konsensus. Keunggulan Kant adalah praktis untuk menyusun aturan moral secara demokratis. Bisa kita duga akan terjadi perdebatan seru dalam menyusun konsensus terutama bila bersifat detil dan praktis. Habermas, pemikir abad 21, meyakini konsensus sebagai solusi terbaik dengan cara komunikasi aktif secara rasional.

Kant tampak mendukung otentisitas dengan menyatakan kebajikan moral sejati adalah ketika Anda memilih berbuat baik padahal Anda bisa berbuat buruk. Kant juga berhasil membuktikan eksistensi Tuhan. Dan menyusun postulat bahwa jiwa manusia bersifat abadi tidak hancur setelah mati. Tapi cara berpikir Kant yang terbuka dengan beragam ide mengantarkan dia sampai kepada antinomi: paradox. Dalam tataran praktis, antinomi dapat dimaklumi, diselesaikan, dengan cara konsensus.

Etika Russell

Russell, pemikir abad 20, adalah yang paling radikal tentang filsafat moral menurut saya. Russell menyakini utilitirianisme, asas manfaat. Bahwa sesuatu dinilai bermoral dilihat dari manfaatnya. Cara pandang yang jelas dan praktis. Asas manfaat ini sudah digagas oleh Hume, sekitar 200 tahun sebelum Russell. Dan bisa kita lacak benih-benih awalnya ada di para pemikir sofis, sekitar 100 tahun sebelum Aristoteles.

Russell membawa asas manfaat ini dengan menuliskan buku moral yang membahas isu pernikahan di jaman modern secara radikal. Russell meng-klaim bahwa dia memperoleh hadiah Nobel atas karya tulis moralnya itu. Tetapi panitia penghargaan Nobel membantahnya dengan menyatakan bahwa Russell mendapat penghargaan atas beragam karyanya yang luas bukan hanya karya moral.

Asas manfaat mengkaji suatu tindakan atas hasil akhirnya apakah bermanfaat atau tidak. Jika hasil akhir bermanfaat maka tindakan itu bernilai moral. Misal “menanam pohon” apakah bermoral? Kegiatan menanam pohon itu sendiri tidak bisa dikatakan sebagai bermoral atau melanggar moral. Kegiatan itu netral. Maka kita perlu mengkaji dampak dari menanam pohon itu sendiri. Jika setelah menanam pohon alam menjadi indah, aman, dan sejuk, maka menanam pohon adalah bermoral. Dan sebaliknya menebang pohon di hutan sampai gundul menyebabkan banjir di mana-mana adalah tindakan tidak bermoral.

Mari kita pertimbangkan kasus “menanam pohon” di pinggir jalan. Setelah pohon tumbuh besar menghalangi jalan. Sehingga orang-orang yang hendak berlalu di jalan itu menjadi terganggu. Menanam pohon, dalam kasus ini, tidak bermanfaat maka itu adalah tindakan tidak bermoral. Kita perhatikan, bahwa kegiatan menanam pohon itu sendiri bersifat netral. Terbebas dari moral atau tidak.

Russell memandang “pernikahan” dengan cara yang sama, netral. Bisa bermoral, bisa juga tidak bermoral. Kita perlu mengkaji lebih jauh apa manfaat pernikahan itu. Russell mencoba menggali argumen dari jaman kuno mengapa manusia menikah, menganalisis situasi pada jaman ini – jaman Russell, dan memprediksi situasi masa depan, lalu merumuskan seperti apakah seharusnya bentuk pernikahan itu. Dan hasil analisis Russell ini memang radikal. Maka saya akan membahasnya bagian demi bagian pada lanjutan tulisan saya ini.

Etika Lyotard

Lyotard adalah pemikir postmodernis yang berhasil memunculkan istilah postmodern dalam pembahasan filsafat pada tahu 1970an akhir. Sebagaimana pemikir postmo lainnya, Lyotard juga menghargai pluralisme, keanekaragaman. Sehingga kita bisa menggolongkan Lyotard sebagai pemikiran dengan pendekatan otentisitas. Manusia sejati adalah manusia yang menghormati perbedaan, manusia yang bermoral. Lyotard sendiri menulis buku dengan judul “The Differand” – perbedaan.

Dalam beragam tulisannya, Lyotard tampak menaruh komitmen kuat terhadap keadilan. Bahkan menghormati perbedaan, sejatinya, adalah untuk mewujudkan keadilan itu sendiri. Satu deskripsi sederhana dari sikap adil adalah sikap yang mendengarkan semua pihak, termasuk suara pihak yang tidak bersuara. Sedangkan differand itu sendiri adalah situasi yang timpang di mana keadilan tidak bisa dijalankan.

Lyotard menolak pendekatan konsensus sebagai solusi untuk menyelesaikan konflik. Menurutnya, konsensus selalu dipakai oleh pihak yang kuat untuk memanipulasi pihak yang lemah. Maka keadilan tidak terwujud. Konsensus harus ditolak.

Moral: Freedom vs Marriage

Moral menjadi masalah penting di berbagai situasi. Negara yang moralnya tinggi maka akan maju. Mampu mengatasi beragam kesulitan. Sementara, negara yang moralnya roboh maka akan compang-camping. Kita, negara Timur sering mengaku sebagai bangsa yang bermoral luhur. Tetapi kenyataan bisa saja berbeda. Korupsi masih ada di mana-mana. Bahkan menteri sosial, yang seharusnya menunjukkan moral paling tinggi, justru ditangkap KPK dengan jeratan kasus korupsi. Bukan korupsi sembarangan. Tetapi korupsi dana bantuan untuk warga yang terdampak pandemi. Teganya melihat warga miskin yang kelaparan. Apakah masih ada istilah moral di sana?

Two international samples used for large-scale study of gender differences  in moral judgments within cultures

Freedom, kebebasan, menjadi dasar utama bagi manusia untuk bermoral. Manusia bebas bertindak maka ia harus bertanggung jawab terhadap hasil tindakan itu. Pilihan yang bermoral akan memberikan kebaikan bagi semua. Bahkan tindakannya itu sendiri, tindakan bermoral, adalah kebaikan – kebenaran dan keadilan. Amerika, negara yang mengaku menjunjung tinggi kebebasan, menghadapi resiko kebebasan itu. Aksi demonstrasi ke gedung Capitol mengatasnamakan kebebasan berdemokrasi menelan korban tewas sekitar 5 orang. Atas demonstrasi itu, Presiden Trump terancam dilengserkan di akhir masa jabatannya. Kebebasan, yang menjadi modal dasar manusia untuk bermoral, bisa salah arah.

Marriage, pernikahan, adalah ikatan suci antara manusia sejak awal sejarah kita, kini dipertanyakan. Apakah umat manusia saat ini masih perlu pernikahan? Beberapa orang, dikabarkan, sudah menikah dengan boneka. Tuntutan untuk diakuinya pernikahan sesama jenis kelamin merebak di beberapa tempat. Kekerasan dalam rumah tangga tidak menunjukkan perbaikan. Tetapi jelas, sepanjang sejarah manusia, kita membutuhkan pernikahan. Manusia hidup damai dalam pernikahan. Keluarga bahagia terbentuk dalam pernikahan. Kelangsungan generasi manusia terjaga oleh lembaga pernikahan. Apakah di satu sisi ada jenis pernikahan yang bermoral dan di sisi lain ada pernikahan yang tidak bermoral?

Saya akan mencoba membahas tiga tema di atas – moral, freedom, marriage – dalam tulisan ini dengan cara kritis. Analisis rasional akan menjadi alat utama tulisan ini. Kita akan tetap terbuka dengan data alternatif misal emosi, pengalaman pribadi, opini, ajaran agama, juga prediksi teknologi. Tidak bisa dipungkiri, teknologi sudah mengubah cara hidup manusia. Media sosial bisa lebih kuat dari kehidupan sosial itu sendiri. Generasi muda menghabiskan waktu lebih banyak menatap layar digital dibanding menatap realitas alam raya. Boneka cantik lebih sempurna dari tubuh manusia. Bayi yang baru merangkak lebih akrab dengan gadget daripada dengan tetangga. Masa depan lebih banyak tanda tanya. Maka kita makin membutuhkannya: moral!

Berikut ini beberapa tema yang kita bahas.

  1. Moral: Peta yang Salah Arah
  2. Freedom: Kebebasan yang tidak Bebas
  3. Marriage: Ikatan Paling Lemah Paling Indah
  4. Masyarakat Berbasis Pernikahan
  5. Sistem Patriarki: Bos Lawan Budak
  6. Pemujaan Jagoan, Kesederhanaan, dan Dosa
  7. Etika Agama
  8. Cinta Romantis
  9. Kebebasan Wanita
  10. Tabu
  11. Peran Cinta dalam Hidup Manusia
  12. Pernikahan dan Anak
  13. Prostitusi
  14. Pernikahan Uji Coba
  15. Keluarga Abad 21
  16. Keluarga dalam Psikologi Pribadi
  17. Keluarga, Pendidikan, dan Negara
  18. Perceraian
  19. Populasi
  20. Eugenik
  21. Sex dan Kebahagian Individu
  22. Sex dan Nilai Kemanusiaan
  23. Kesimpulan

Epilog: Sejarah Manusia Menuju Retakan

Waktu dan Ruang Hanya Angan

Tidak masalah jika waktu dan ruang itu hanya angan-angan. Yang jadi masalah adalah jika uang hanya ada di angan-angan. Uang harus nyata untuk membiayai kehidupan nyata. Bukankah begitu? Benar begitu dari sisi praktis. Dari sisi yang lebih mendalam, banyak hal yang kita pelajari dari ruang dan waktu, lebih-lebih, dari uang itu sendiri.

Image | Massive Bodies Warp Space-Time | LIGO Lab | Caltech

Masalah ruang dan waktu, space time, sudah menyusahkan para pemikir dari awal sejarah sampai jaman kontemporer, postmodern ini. Beberapa pemikir menyatakan bahwa ruang waktu ada secara obyektif. Umumnya saintis meyakini ini. Newton termasuk yang dengan canggih mengolah ruang dan waktu menjadi sains dan teknologi. Berikutnya, Einstein melakukan beragam inovasi tentang ruang dan waktu dengan teori relativitas yang memungkinan melengkungkan, membelokkan, ruang dan waktu. Waktu obyektif ini disebut sebagai waktu ilmiah oleh Bang Armahedi Mahzar.

Sementara beberapa tokoh menyebut waktu dan ruang hanya bersifat subyektif – atau intersubyektif. Bang Armahedi menyebutnya sebagai waktu sejarah. Perkembangan teknologi yang makin canggih serba cepat memungkinkan pemanfaatan waktu sampai mikro atau nano detik sehingga kita bisa menyebutnya sebagai waktu teknologis. Ketika semua hal, manusia dan teknologi, terhubung melalui dunia siber, dunia internet, dunia digital, maka makin lengkap membentuk waktu mayantara.

1. Waktu Benar Nyata
2. Waktu Hanya Ilusi
3. Waktu Ada Secara Derivatif

Kali ini kita akan lebih fokus kepada eksistensi ruang dan waktu: apakah benar-benar ada? Atau sekedar hanya di angan-angan belaka?

1. Waktu Benar Nyata

Waktu dan ruang benar-benar ada bagi para saintis, ilmuwan, seperti kita sebut di atas. Bahkan, menurut Russell, sains dan teknologi bisa menciptakan lebih banyak ruang dan waktu. Lebih dari sekedar ruang berdimensi 3 ditambah waktu berdimensi 1. Saya menduga bahwa Russell merujuk ke Hilbert Space yang mampu menciptakan ruang vektor berdimensi n, yang lebih besar dari 4.

Tetapi, keyakinan bahwa ruang dan waktu ada secara obyektif ini menghadapi pertanyaan berat yang sulit dijawab.

Jika waktu ada maka sejak kapan ada waktu?
Jika ruang ada maka berada di mana ruang itu?

Saintis. tampaknya, tidak berminat menjawab pertanyaan berat itu. Pun bukan tugas ilmuwan untuk menjawabnya. Barangkali tugas para filosof untuk menjawab dengan baik. Tugas ilmuwan adalah mengolah ruang dan waktu agar menjadi sesuatu yang bermanfaat optimal bagi kemanusiaan.

Kita, dalam kehidupan sehari-hari, dengan mudah meyakini adanya ruang dan waktu. Kita biasa membeli air 1 liter yang disimpan dalam botol di ruang depan. Kita biasa membuat janji bertemu 3 hari setelah hari ini dengan waktu yang sama.

2. Waktu Hanya Intuisi

Immanuel Kant, pemikir abad 18, menyatakan bahwa waktu adalah hanya intuisi manusia. Maka waktu tidak ada secara obyektif. Demikian juga dengan ruang juga hanya intuisi manusia. Kita bisa merujuk ke Parmenides, pemikir abad 6 sebelum masehi, yang menyatakan bahwa semua opini, termasuk ruang dan waktu, sejatinya tidak ada.

Kant menyatakan bahwa ruang adalah intuisi kita tentang geometri. Ketika kita memikirkan “persegi” maka intuisi kita menciptakan suatu ruang yang ditempati oleh “persegi.” Kita tidak bisa membayangkan “persegi” tanpa ruang. Sedangkan bila kita melihat “meja berbentuk persegi” maka “ruang” adalah dampak perluasan dari “meja” itu. Ruang sejatinya tidak ada, hanya dampak dalam intuisi kita.

Sedangkan, waktu adalah intuisi kita tentang aritmetika, masih menurut Kant. Ketika kita menghitung 1 + 2 = 3 maka kita menciptakan waktu dalam intuisi untuk memproses perhitungan. Waktu sejatinya tidak ada, hanya intuisi kita. Jadi waktu, dan ruang, hanya subyektif.

Meski ruang dan waktu hanya intuisi tetapi pengalaman sehari-hari kita tentang tempat dan jam tetap sah. Pengalaman sehari-hari itu adalah realitas intuisi kita. Barangkali, orang bisa mengatakan bahwa ruang dan waktu hanya ilusi.

3. Waktu Ada Secara Derivatif

Sadra, pemikir Persia abad 17, menyatakan bahwa ruang dan waktu tidak ada secara mandiri. Tetapi ruang dan waktu hanya turunan, derivatif, dari “gerak substansial.” Martin Heidegger, pemikir Jerman abad 20, menyatakan bahwa “waktu” dan “ada” saling memberi, appropriation.

Saya kira rumusan Sadra tentang ruang dan waktu sangat kreatif. Sadra memulai dengan formula “gerak substansial”. Segala sesuatu yang ada, suatu substansi, senantiasa bergerak dari suatu tingkat wujud menuju ke tingkat wujud yang lebih kuat. Sejatinya, yang ada adalah gerak itu sendiri. Maka gerak menciptakan efek waktu dan ruang dalam intuisi manusia.

Ketika suatu substansi, misal sepeda, bergerak maka intuisi kita menyatakan perlu “waktu” untuk proses gerak itu. Demikian juga, gerak, memerlukan ruang untuk perpindahan. Maka ruang dan waktu benar-benar ada. Tetapi tidak mandiri, hanya ada karena ada gerak substansial.

Contoh gerak sepeda di atas adalah gerak aksidental. Tetapi kita bisa menganalisis lebih dalam bahwa gerak aksidental ini juga berakar dari gerak substansial.

Bagaimana menurut Anda?

Mati: Misteri Manusia Sejati

Kabar duka. Kematian orang yang dicinta selalu menghujam, terdalam, ke diri manusia. Baru-baru ini, kita mendapat kabar kecelakaan pesawat Sri Wijaya yang menewaskan puluhan orang. Duka untuk seluruh warga.

Salah satunya, seorang bapak, bernama Dedi sebutan, yang sudah siap menunggu di bandara pontianak sejak siang. Dari pagi, Pak Dedi bersiap menjemput kedatangan istri dan 3 anaknya dari Jakarta. Siang hari, Pak Dedi bersenda gurau, bahagia, melalui WA keluarga. Sore harinya, Pak Dedi menunggu dan hanya menunggu di bandara Pontianak. Istrinya dan 3 orang anaknya terbang bersama Sri Wijyaya dari Jakarta. Kecelakaan di udara. Meninggal semua. Hanya air mata yang tak reda, Pak Dedi di bandara. Tidak punya siapa-siapa. Seluruh keluarga telah tiada.

70+ Kata Ucapan Belasungkawa | Sopan, Bijak, Singkat, Menyentuh Hati  [Lengkap] | Kata-kata mutiara, Katolik, Bijak

Mati adalah misteri manusia sejati.

Mati dengan cara yang wajar, misal kerena sudah tua, tetap menembus ke hati. Apa lagi mati yang tidak diharapkan, misal karena kecelakaan atau wabah penyakit, tentu makin menusuk nurani.

Tetapi itu semua, kita melihat dari sisi orang yang hidup. Dari sisi orang yang ditinggal mati. Bagaimana mati jika dilihat dari sisi orang yang mengalami sendiri? Bagaimana jika diri kita yang mati?

Manusia sejati

Manusia sejati pasti mati. Mati adalah eksistensi sejati yang dimiliki manusia sejati. Begitu menurut pendapat Martin Heidegger, pemikir Jerman abad 20. Kita bisa pura-pura kaya, pura-pura bahagia, pura-pura terpesona. Kita juga bisa pura-pura menderita, pura-pura kecewa, dan pura-pura putus asa. Tetapi kita tidak bisa pura-pura mati. Pada waktunya pasti mati secara hakiki.

Data empiris menunjukkan bahwa setiap orang di masa lalu, akhirnya, mati. Orang-orang di jaman sekarang dan masa datang juga diperkirakan akan mati. Meski ini hanya perkiraan, dari berpikir induksi, tetapi kepastiannya hampir pasti benar. Kita akan mati. Tidak ada bukti kuat yang menyatakan bahwa kita tidak akan mati.

Mati adalah sempurna sejati

Dari sisi orang yang ditinggalkan, mati adalah duka. Dari sisi orang yang mengalami, orang yang mati, kematian adalah kesempurnaan. Demikian menurut Sadra, pemikir Persia abad 17. Ketika kita mati bukan berarti kita hilang dari alam semesta. Mati justru mengantarkan kita ke alam yang lebih sempurna. Jiwa kita, ruh kita, bergerak lebih sempurna dengan mengalami kematian badan. Melepaskan badan di dunia ini untuk terus melanjutkan perjalanan diri yang masih panjang.

Orang yang bersiap menghadapi mati, menyiapkan amal terbaik dengan modal yang ada adalah manusia sejati menurut Heidegger. Sebaliknya, orang yang melupakan kematian, menyibukkan diri dengan dunia, memenuhi urusan ini itu dari pagi sampai malam, justru termasuk munafik – tidak otentik. Untuk jadi manusia sejati kita harus selalu sadar bahwa kita sedang menuju mati, memberikan yang terbaik untuk seluruh eksistensi kita.

Konsep husnul khotimah, akhir yang sempurna, adalah ajaran terbaik dari Nabi Muhammad, Nabi abad 7, yang mengajak umat manusia untuk secara sengaja menyiapkan diri meraih kematian yang sempurna. Demikian menurut Pak Muh Zuhri, pemikir Indonesia abad 21. Semua gerak kita, diam kita, tidur kita, kita arahkan untuk meraih husnul khotimah.

Mati lebih dari sekali

Bahkan kita, sejatinya, membutuhkan mati lebih dari sekali. Kita butuh mati berkali-kali. Menjadi manusia sejati berkali-kali. Demikian menurut Rumi, pemikir Timur abad 12. Matilah sebelum mati. Tentu saja bukan mati fisik. Tetapi matinya ego untuk hidup kembali menjadi manusia sejati.

Kita membutuhkan pemimpin yang telah “mati,” pemimpin yang telah selesai dengan dirinya. Pemimpin yang tidak lagi memikirkan kepentingan pribadi. Tidak pernah ada korupsi. Pemimpin yang mencurahkan seluruh hidupnya untuk mengabdi ke rakyat. Memberikan pemikiran dan kebijakan terbaik untuk seluruh rakyat.

Pemimpin idaman itu ada di sana, di kursi para pejabat dan penguasa dunia. Tetapi kita lebih dari itu. Kita butuh pemimpin itu ada di sini. Di dalam diri kita ini. Kita butuh pemimpin ini, di sini, di saat ini. Pemimpin itu adalah diri kita sendiri. Yang menuju mati. Yang diharapkan sudah mati sebelum mati.

Bagaimana menurut Anda?

Komnas HAM Vs Maha Benar

Baru-baru ini Komnas HAM telah mengumumkan hasil investigasi terkait tewasnya 6 orang laskar yang ditembak di sekitar rest area tol Jabar. Komnas HAM menyatakan 4 orang di antara 6 itu ditembak dengan kemungkinan terjadi pelanggaran HAM. Maka diperlukan pengadilan pidana untuk mengungkap lebih jelas pelanggaran HAM (atau tidaknya).

Mengungkap pelanggaran HAM semacam itu tidak mudah atau bahkan hampir mustahil. Lyotard, pemikir postmodern, memberikan penjelasan yang lebih detil tentang kasus yang mirip dalam buku The Differend.

Anggota tim penyidik Bareskrim Polri memperagakan adegan saat rekonstruksi kasus penembakan enam anggota laskar Front Pembela Islam (FPI) di Karawang, Jawa Barat, Senin (14/12/2020) dini hari. Rekonstruksi tersebut memperagakan 58 adegan kasus penembakan enam anggota laskar FPI di tol Jakarta - Cikampek KM 50 pada Senin (7/12/2020) di empat titik kejadian perkara. ANTARA FOTO/M Ibnu Chazar/aww.

Untuk mudahnya kita memisalkan ada Tuan Kritis yang serba benar atau bahkan dia menyebut dirinya Maha Benar. Sekitar pertengahan abad 20, Nazi dituduh menyiksa orang dengan menyediakan kamar gas. Orang yang dimasukkan ke kamar gas maka akan mati. Maka, itu adalah pelanggaran HAM. Bagaimana cara membuktikan pelanggaran HAM itu? Mustahil!

Tuan Kritis hanya mau mengakui keberadaan kamar gas itu bila ada saksi mata dari korban. Sedangkan setiap korban yang masuk ke dalam kamar gas pasti mati. Maka Tuan Kritis akan selalu benar.

A)Tidak ada kamas gas maka tidak ada korban. Sehingga tidak ada saksi mata dari korban.

B)Ada kamar gas maka semua korban mati karena masuk kamar gas. Sehingga tidak ada saksi mata dari korban.

Jadi, Tuan Kritis akan selalu menang. Ada kamar gas atau tidak akan tetap saja tidak ada saksi mata. Karena itu disimpulkan tidak ada kamar gas. Tentu saja hal ini tidak adil. Tetapi situasi semacam ini bisa saja terjadi. Mengapa tidak cari saksi lain, misal petugas pembuat kamar gas, untuk bersaksi? Apakah petugas mau bersaksi yang bisa merugikan diri sendiri? Apakah kesaksian petugas dinilai valid?

Tuan Kritis bisa saja menganalisis kemungkinan pelanggaran HAM terhadap 4 orang laskar yang ditembak. Tuan Kritis hanya percaya bila ada saksi mata dari korban.

A)Tidak ada pelanggaran HAM maka tidak ada korban penembakan. Sehingga tidak ada saksi mata dari pelanggaran HAM.

B)Ada pelanggaran HAM maka korban ditembak. Sehingga tidak ada saksi mata dari pelanggaran HAM.

Tuan Kritis menang lagi dalam situasi ini. Apakah ada pelanggaran atau tidak, maka tetap saja, tidak akan ada saksi mata dari korban. Sehingga Tuan Kritis menyimpulkan tidak ada pelanggaran HAM dalam kasus seperti itu.

Tentu saja kita perlu berjuang untuk menemukan keadilan sejati. Jalan panjang harus ditempuh negeri ini. Barangkali ada banyak cara untuk menjamin negeri ini mencapai adil makmur. Kondisi selalu benar dari Tuan Kritis perlu kita kritisi.

Tuan Kritis bisa kita tanya, “Apakah pendidikan Indonesia bertambah baik?”

Tuan Kritis bisa menjawab dengan benar bahwa pendidikan di Indonesia kualitasnya terus bertambah baik. Tuan Kritis mengambil contoh pendidikan SMA atau sederajat. Dibuktikan dengan makin banyaknya siswa SMA Indonesia yang diterima di ITB. Bahkan fakultas paling favorit semisal STEI ITB. Peningkatan mahasiswa baru yang diterima STEI ITB adalah, menjadi 500an mahasiswa di tahun 2020 dari sekitar 400an mahasiswa beberapa tahun sebelumnya.

A)Ada peningkatan kualitas pendidikan maka yang diterima di STEI ITB meningkat jadi 500 mahasiswa. Sehingga ada bukti peningkatan.

B)Tidak ada peningkatan kualitas pendidikan maka yang diterima di STEI ITB meningkat jadi 500 mahasiswa. Sehingga ada bukti peningkatan.

Tuan Kritis menang lagi, benar lagi. Dia berhasil membuktikan bahwa ada peningkatan kualitas pendidikan SMA dengan menunjukkan makin meningkatnya jumlah siswa SMA yang diterima di STEI ITB menjadi 500 orang. Jumlah sebesar ini bahkan belum pernah terjadi pada tahun-tahun yang lalu. Ini adalah pencapaian yang luar biasa menurut Tuan Kritis.

Tentu saja kita bisa mengkritisi Tuan Kritis. Daya tampung STEI ITB tidak ada hubungannya dengan kualitas pendidikan SMA. Seperti apa pun kualitas pendidikan SMA maka kuota mahasiswa baru STEI ITB memang sudah ditetapkan 500 orang. Siswa SMA hanya perlu bersaing untuk memenangkan kursi mahasiswa baru yang tersedia.

Bagaimana menurut Anda?

Amar Makruf Nahi Munkar: Wajib untuk Semua

Siapa pun Anda, apa pun agama Anda, semua wajib menjalankan amar makruf nahi munkar. Bahkan orang yang tidak beragama pun, wajib melaksanakan amar makruf nahi munkar. Tapi bukankah itu ajaran untuk umat Islam saja? Benar! Ajaran amar makruf nahi munkar bersumber dari Islam tapi bernilai universal.

Amar makruf = mengajak kebaikan
Nahi munkar = mencegah keburukan

Barangkali ada yang keberatan bila setiap orang harus menjalankannya. Tetapi mudah kita pahami bahwa memang benar seharusnya setiap orang menjalankannya. Mari kita mulai dengan contoh agar lebih mudah.

Contoh amar makruf, amar ma’ruf, mengajak kebaikan: “Ayo bersikap adil!”

Siapa pun Anda harus bersikap adil. Bahkan kita perlu mengajak, mempromosikan sikap adil. Baik adil kepada diri sendiri, keluarga, negara, dan bahkan ke seluruh dunia. Negara menanggung beban besar untuk mewujudkan masyarakat adil untuk semua.

Contoh nahi munkar, nahi mungkar, nahy munkar, mencegah keburukan: “Jangan korupsi!”

Siapa pun Anda tidak boleh korupsi. Bahkan harus mencegah korupsi. Mengajarkan anti korupsi sejak dini. KPK punya tugas besar untuk mencegah dan menindak korupsi. Anggaran sekitar 1 trilyun rupiah per tahun, hanya untuk KPK. Belum lagi untuk polisi, hakim, dan lain-lain.

Kriteria makruf vs munkar

Pertanyaan dasar bisa muncul: apa definisi makruf dan munkar itu? Bila makruf seperti “bersikap adil” maka semua setuju untuk mendukungnya. Dan jika munkar seperti “jangan korupsi” maka semua setuju untuk mencegahnya. Bagaimana dengan sweeping restoran yang menjual minuman keras apakah itu termasuk nahi munkar? Apakah menyuruh wanita pakai cadar di tempat umum adalah amar makruf?

Kita bisa menjawab pertanyaan di atas dengan beragam cara. Menurut saya, salah satu jawaban terbaik adalah dari Immanuel Kant, pemikir abad 18 – 19. Kant merumuskannya dengan categorial imperative yang harus lolos dari 4 ujian penting. Bagi yang tidak lulus maka bisa masuk ke dalam conditional imperatif – perintah bersyarat atau tidak selalu wajib.

  1. Bisa dilakukan sepanjang waktu

Perintah kebaikan (amar makruf) dan mencegah keburukan (nahi munkar) harus bisa diterapkan sepanjang waktu. Sejauh orang-orang berakal dapat memikirkannya, perintah makruf harus bisa diterapkan.

“Ayo berbuat adil!” lolos ujian ini karena dapat berlaku kapan saja. Adil bisa dilakukan dari jaman kuno, jaman sekarang, sampai jaman masa depan yang kita belum tahu itu. Maka berpeluang untuk menjadi salah satu contoh kebaikan atau “makruf”.

“Wanita harus pakai cadar” tampaknya tidak lolos tes kesatu ini, tes sepanjang waktu. Karena ada waktu-waktu tertentu ketika wanita boleh tidak pakai cadar misal ketika dia masih kanak-kanak atau sudah tua renta. Sehingga keharusan pakai cadar gagal masuk sebagai makruf tetapi masih berpeluang menjadi kebaikan yang bersyarat. Meski, misalnya, hal ini baik maka harus mempertimbangkan beragam situasi dan kondisi.

2. Bisa dilakukan di setiap tempat

Di mana pun Anda berada maka, seharusnya, Anda dapat menjalankannya.

“Jangan korupsi!” lolos ujian ini. Di mana pun Anda berada maka Anda bisa mencegah untuk tidak korupsi. Maka larangan ini berpotensi menjadi “nahi munkar.”

“Dilarang menjual minuman keras!” tampaknya tidak lolos tes lokasi ini. Karena di tempat-tempat tertentu barangkali diperlukan minuman keras. Misal di tempat yang secara legal dibolehkan. Atau di situasi pelayaran super dingin di laut dekat kutub barangkali diperlukan minuman keras. Meski tidak lolos tetapi berpeluang menjadi larangan bersyarat. Misal dilarang menjual minuman keras di tempat umum.

3. Disetujui semua orang

Semua orang yang berakal sehat dan jujur bisa menyetujui amar makruf dan nahi munkar itu. Seperti contoh di atas “ayo berbuat adil” dan “dilarang korupsi.”

4. Bisa dilakukan oleh warga

Setiap warga punya kemampuan untuk menjalankan amar makruf dan nahi munkar itu. Lagi-lagi kita sudah memberi contoh yang lolos semisal “ayo berbuat adil.” Dan beberapa contoh yang tidak lolos seperti di atas.

Penutup

Kewajiban amar makruf nahi munkar benar berlaku untuk setiap manusia. Juga berlaku untuk setiap organisasi mau pun setiap negara. Meski demikian kriteria makruf dan munkar perlu kita cermati dengan baik. Begitu juga metode pelaksanaan amar makruf dan nahi munkar juga perlu mempertimbangkan berbagai macam sudut pandang.

Bagaimana menurut Anda?

Polisi Adil di Indonesia

Masyarakat Indonesia merasa aman dengan memiliki polisi yang adil dan profesional di seluruh penjuru negeri. Masalah bisa muncul sewaktu-waktu di tengah jalan. Apakah polisi akan tetap bisa bersikap adil? Bila kasus itu melibatkan polisi yang mungkin saja harus diadili?

Adil adalah mendengarkan dari semua pihak. Bahkan pihak yang tidak lagi bisa bersuara. Kita tetap perlu mendengarkan suaranya. Membungkam pihak tertentu maka bisa dipandang sebagai melanggar keadilan. Setiap manusia, termasuk diri kita, perlu bersikap adil.

Penampakan mobil Aiptu ICH rusak akibat kecelakaan maut di Jaksel

Mari kita coba cermati kasus terbaru yang terjadi pada 25 Desember 2020.

“Sambodo menjelaskan, Handana menjadi tersangka karena diketahui menyerempet mobil Toyota Innova dengan nomor pelat B 2159 SIJ yang dikendarai Aiptu Imam Chambali alias IC.

Akibat penyerempetan itu, mobil yang dikendarai Imam hilang kendali hingga menyebrang ke jalur berlawanan, lalu menghantam tiga pengendara motor.

Korban bernama Pinkan Lumintang (30) tewas di lokasi kejadian. Sementara, korban lain, Dian Prasetyo mengalami luka berat dan M Sharif luka ringan. ” (Sumber: Kompas.tv)

A. Handono ditetapkan sebagai tersangka

Sudah sewajarnya polisi menetapkan tersangka dalam kasus yang meyebabkan hilangnya nyawa di jalanan. Polisi sudah mengambil langkah yang baik dalam hal ini.

Apakah masih ada suara dari pihak lain yang perlu didengarkan? Tentu saja. Karena adil adalah mendengarkan suara semua pihak.

B. Pengemudi innova yang menabrak pemotor

Dari berita yang beredar, korban yang mengendarai motor adalah ditabrak mobil innova. Maka penelitian terhadap pengemudi innova menjadi penting. Apakah pengemudi ini harus bertanggung jawab?

Sayangnya, pengemudi innova adalah anggota polisi. Siapa yang harus meneliti anggota polisi? Apakah polisi harus meneliti polisi? Kabar baiknya, polisi Indonesia selalu berusaha konsisten menjalankan tugas dengan profesional.

C. Terjadi cekcok antara pengemudi

Berita, dari beberapa saksi, menyatakan bahwa sebelum kecelakaan, terjadi cekcok antara H (warga sipil, pengemudi Hyundai yang akhirnya menyenggol innova) dengan IC (anggota polisi, pengemudi innova yang akhirnya bertabrakan dengan motor korban). Cekcok ini perlu diteliti dengan baik. Apakah cekcok antara H dan IC ini bertanggung jawab terhadap kecelakaan?

Dan tentu saja masih banyak suara-suara dari pihak lain yang perlu didengarkan. Semoga Indonesia adil makmur!

Bagaimana menurut Anda?

Pengetahuan, Kesesatan, dan Opini

Pengetahuan, khususnya sains dan teknologi, kini, sedang mencapai masa kejayaan. Ledakan teknologi digital merambah ke seluruh dunia. Apakah itu kabar baik? Kabar baik bagi yang diuntungkan. Atau, bagi yang sengaja mengeruk keuntungan. Tetapi, bisa jadi kabar buruk bagi mereka yang dipinggirkan. Bukankah seharusnya pengetahuan menjadi kabar baik bagi seluruh umat manusia? Benar. Namun, pengetahuan bisa terperosok ke kesesatan. Yang membawa manusia ke lembah bencana.

Pengetahuan cinta dan cantik berbeda dengan pengetahuan sains dan teknologi. Pengetahuan cinta, umumnya, selalu bersifat baik. Bahkan kebaikan hidup di alam semesta ini berkah dari cinta. Begitu juga pemandangan alam semesta, sudah cantik alami, memancarkan cinta. Dari dulu kala.

1. Definisi Pengetahuan
2. Pengetahuan Aksiomatik selalu Benar
2.1 Matematika
2.2 Agama
2.3 Moral
2.4 Manfaat Aksioma
3. Pengetahuan Empiris Probabilistik
3.1 Falsifikasi Empiris
3.2 Induksi vs Falsifikasi
4. Pengetahuan Agama selalu Benar
4.1 Interpretasi
4.2 Silogisme Valid
4.3 Perangkap Falasi
5. Pengetahuan Cinta
5.1 Karakter Cinta
5.2 Inspirasi Cinta
6. Opini: Pengetahuan Diharapkan Benar
6.1 Opini Probabilistik
6.2 Hilal Awal Bulan
6.3 Pengembangan Pengetahuan
6.4 Pseudo-sains atau Sains Palsu
7. Ringkasan
8. Diskusi
8.1 Teori Evolusi
8.2 Evolusi Kreatif
8.3 Intelligent Design
8.4 Extended
8.5 Opini

Pada bagian ini, kita akan membahas pengetahuan lengkap dengan bayangan hitamnya berupa kesesatan yang diiringi samar-samar harapan yaitu opini. Dengan mencermatinya, kita berharap bisa terus mendorong kemajuan pengetahuan. Bab ini mengkaji pengetahuan sebagai sistem pengetahuan atau ilmu pengetahuan. Berbeda dengan pembahasan sebelum-sebelumnya, yang, mengkaji pengetahuan sebagai pengetahuan sederhana, pengamatan, pengalaman, atau pernyataan.

1. Definisi Pengetahuan

Pengetahuan adalah susunan dari kebenaran-kebenaran. Dengan susunan yang rapi maka kita lebih mudah untuk memahami kebenaran. Dan memungkinkan dilahirkan kebenaran-kebenaran baru. Sehingga, ilmu mempunyai karakter untuk terus mengembangkan diri. Sebagaimana pernah kita bahas, kebenaran-kebenaran meliputi kebenaran aksiomatik, yang terjamin selalu benar, dan kebenaran probabilistik, yang diharapkan bernilai benar.

Kesesatan adalah pengetahuan, yang pada analisis akhir, bukan kebenaran. Kesesatan mirip dengan pengetahuan tetapi sejatinya bukan pengetahuan. Misal, contoh kesesatan, “Rahasia Ilmu Menggandakan Uang.” Sudah pasti itu kesesatan. Ilmu menggandakan uang sudah pasti tidak benar. Pertama, bila berhasil menggandakan uang dengan nomor seri sama persis dengan uang yang sudah ada maka bersalah melanggar hukum, aspek legal. Kedua, bila berhasil menggandakan uang dengan nomor seri yang baru maka itu uang palsu yang melanggar hukum, aspek legal. Ketiga, bila tidak berhasil menggandakan uang maka itu kebohongan yang nyata.

Opini adalah pengetahuan yang kebenarannya di tengah-tengah. Level keyakinan sekitar 50%. Opini mungkin saja benar dan mungkin saja salah. Tetapi opini diformulasikan dengan cara yang sama valid sebagaimana ilmu pengetahuan.

Kita akan lebih banyak membahas pengetahuan dan beberapa bagian opini. Sedangkan kesesatan tidak kita bahas secara langsung. Karena kesesatan bisa kita kenali dengan cara mengenali pengetahuan itu sendiri. Pengetahuan yang menyeleweng dari kebenaran itulah kesesatan.

2. Pengetahuan Aksiomatik selalu Benar

Wajar saja bila kita menghendaki pengetahuan yang bersifat pasti benar. Dengan jaminan pasti benar maka kita bisa meyakini sepenuhnya. Dan, untungnya, memang ada pengetahuan yang selalu bernilai benar, yaitu pengetahuan aksiomatik. Contoh paling nyata pengetahuan aksiomatik adalah matematika, selalu benar.

Proses pengembangan pengetahuan aksiomatik, salah satu caranya, adalah dengan metode deduksi. Yaitu dari premis-premis dasar yang teruji kebenarannya kemudian ditarik kesimpulan spesifik yang dijamin bernilai benar. Metode yang paling terkenal adalah deduksi dengan metode silogisme.

2.1 Matematika

Misal sudah terbukti bahwa,

A : Setiap bilangan ganjil ditambah 5 maka menghasilkan bilangan genap.

Manusia dengan bantuan teknologi dan komputer makin canggih dalam melakukan perhitungan. Maka bilangan prima terbesar, yang ditemukan manusia, makin bertambah besar. Misalkan bilangan prima tersebut adalah P. Saat ini, tahun 2020, bilangan P terdiri lebih dari 23 juta digit angka. Barangkali tahun 2030 bilangan P terdiri dari 24 juta digit angka. Belum ada yang tahu. Tetapi, dengan deduksi kita bisa memastikan pengetahuan aksiomatik C berikut bernilai benar.

C: Jika P adalah bilangan prima terbesar yang ditemukan pada tahun 2050 maka P ditambah 5 menghasilkan bilangan genap.

Perhatikan kemampuan pengetahuan aksiomatik untuk mengantisipasi kejadian sampai tahun 2050 dan dipastikan benar. Bahkan, saat ini, kita tidak tahu berapakah bilangan P yang ditemukan pada tahun 2050 itu. Tetapi metode deduksi menjamin pengetahuan kita bernilai benar. Silogisme deduksi ini sudah dirumuskan dengan jelas lebih dari 2000 tahun yang lampau misal pada jaman Aristoteles.

A: Setiap bilangan ganjil ditambah 5 maka menghasilkan bilangan genap.
B: P yang merupakan bilangan prima terbesar adalah bilangan ganjil.

Kesimpulan
C: P yang merupakan bilangan ganjil bila ditambah 5 maka menghasilkan bilangan genap. (Sah dan pasti benar).

2.2 Agama

Pengetahuan agama juga merupakan pengetahuan aksiomatik yang selalu benar, sejauh referensi disepakati. Demikian juga dengan pengetahuan moral, legal, konsensus, dan lain-lain merupakan pengetahuan aksiomatik sejauh referensi disepakati.

A: Setiap orang yang beriman masuk surga.
B: Orang yang beramal adalah termasuk orang yang beriman.

Maka kesimpulan,
C: Orang yang beramal, pasti, masuk surga. (Benar dan sah).

Dengan asumsi bahwa premis A dan B, di atas, adalah benar maka silogisme untuk menarik kesimpulan bernilai sah dan menghasilkan kesimpulan yang benar. Pengetahuan deduktif dalam bidang agama ini dijamin selalu benar. Meski terjamin kita perlu hati-hati dalam menerapkan untuk realitas sehari-hari. Ketika kita hendak menilai seseorang sebagai “orang yang beriman” maka melibatkan proses penilaian intuitif praxis yang tidak terjamin kebenarannya. Artinya, pernyataan “Pak Eko adalah orang yang beramal,” nilai kebenarannya tidak terjamin. Bisa benar, bisa juga salah. Karena pernyataan tersebut bersifat partikular khusus berkenaan kepada kasus Pak Eko.

2.3 Moral

Etika atau sistem moral bisa kita pandang sebagai sistem pengetahuan aksiomatik yang selalu bernilai benar. Misal perilaku “menghormati ibu” adalah perilaku moral yang selalu bernilai benar. Dengan logika deduksi maka kita bisa mengembangkan sistem moral yang lebih luas.

2.4 Manfaat Aksioma

Kembali bisa kita tegaskan bahwa pengetahuan yang dikembangkan dengan metode deduksi membentuk pengetahuan aksiomatik yang terjamin bernilai selalu benar. Barangkali satu contoh lagi akan memperjelas kepastian kebenaran aksiomatik. Diadakan penelitian kepada seluruh gajah yang ada di seluruh kebon binatang di pulau Jawa. Diperoleh hasil berikut.

A: Semua gajah berkaki empat.
B: Bonita adalah salah satu gajah.

Kesimpulan,
C: Bonita berkaki empat. (Sah dan benar)

Pertanyaan selanjutnya bukan terhadap nilai kebenaran pengetahuan aksiomatik yang selalu benar. Tetapi manfaat pengetahuan aksiomatik diragukan. Misal pada contoh “Bonita adalah salah satu gajah” sudah terkandung informasi jelas bahwa dia adalah gajah yang berkaki empat. Maka tidak ada manfaatnya mengembangkan pengetahuan deduktif semacam itu. Lebih absurd lagi adalah ketika kita melakukan penelitian dan menunjukkan “Semua gajah berkaki empat” maka dalam pernyataan itu sudah terkandung bahwa Bonita berkaki empat.

Benar adanya bahwa pada contoh kasus si gajah Bonita memang pengetahuan aksiomatik secara deduktif tidak menambah manfaat. Tetapi pada kasus yang lain, pengetahuan aksiomatik melalui deduktif banyak bermanfaat. Misalnya bahwa bilangan prima terbesar P pasti tidak genap. Baik pada tahun 2050 atau tahun 3000 nanti tetap benar. Maka pengetahuan aksiomatik ini berguna untuk menguji apakah P benar-benar prima atau tidak prima, karena genap.

Lebih dari itu, ilmu matematika berkembang pesat berdasar sistem aksiomatik, dan jelas, memberi manfaat yang besar bagi perkembangan sains, teknologi, serta peradaban manusia secara umum. Aksioma bermanfaat besar menjadi dasar bagi setiap pengembangan pengetahuan. Meski, pada akhirnya, sistem aksioma tidak lagi murni aksiomatik, tetapi, berkolaborasi dengan sistem praktis dan, bahkan, dengan seni sehingga memberi manfaat lebih nyata.

Pada kajian lebih mendalam, meski pengetahuan aksiomatik selalu bernilai benar, tetapi kita akan menemukan paradoks sesuai teorema Godel. Setiap sistem aksiomatik tidak konsisten atau tidak lengkap. Bagaimana pun, paradoks ini terjadi hanya pada kasus terbatas. Sehingga, kita tetap bisa mengandalkan sistem aksiomatik dengan baik. Tentu, perlu dilengkapi dengan sikap berpikir terbuka. Sehingga, selalu ada dinamika dalam sistem aksioma.

3. Pengetahuan Empiris Probabilistik

Era modern mendorong berkembangnya ilmu pengetahuan empiris yang kebenarannya bersifat probabilistik. Dengan kesadaran bahwa kebenaran ini bersifat sementara, maka sains dan teknologi terus bergerak maju untuk berinovasi. Bertrand Russell percaya bahwa perkembangan sains melalui metode induksi. Sementara Karl Popper, menolak induksi dengan mengajukan falsifikasi. Meski mereka sama-sama hidup di pertengahan abad 20, tampaknya mereka tidak menemukan kata sepakat. Bagaimana pun, semua pemikir serius, pasti menerima kebenaran universal dari pengetahuan aksiomatik melalui deduksi. (Derrida bisa sedikit kita kecualikan karena ide dekonstruksi diterapkan pada konteks yang berbeda).

Aristoteles, lebih dari 2000 tahun lalu, menekankan pentingnya empirisme. Ibnu Sina, 1000 tahun yang lalu, juga menguatkan peran empirisme. Bahkan Francis Bacon, 500 tahun lalu, berkeinginan kuat untuk merumuskan empirisme. Tapi dunia perlu filsuf besar Descartes serta Copernicus, disusul oleh Newton dan kawan-kawan untuk memantapkan fundamental empirisme sains modern – dan teknologi. Kebenaran empiris, yang tidak terjamin itu, justru menjadi keunggulan: inovasi tiada henti.

Berpikir induksi adalah jantung dari sains empiris, menurut Russell. Ketika kita melihat buah apel jatuh dari pohon maka terpikir semua benda yang dilepas dari atas akan jatuh menuju bawah. Dari satu pengamatan “berinduksi” ke seluruh kejadian umum, semua benda jatuh ke bawah. Tetapi pengamatan itu saja tidak cukup, seperti kita bahas pada bagian sebelumnya, kita perlu menemukan kausalitas, hukum sebab-akibat. Benda jatuh adalah sekedar akibat. Penyebabnya adalah gravitasi bumi.

Newton melangkah lebih jauh dengan menciptakan rumus matematika untuk benda jatuh. Hal ini berbeda dengan Aristoteles, Ibnu Sina, mau pun Bacon. Formula matematika yang digunakan Newton menguatkan pengetahuan empiris menjadi pengetahuan eksak. Menjadi ilmu pasti yang nilai kebenarannya juga pasti benar. Meski di era Newton, abad 17, kita bisa meragukan sifat pasti dari ilmu pasti, tetapi di abad 21 ini, ilmu pasti sudah diasumsikan bersifat pasti.

Dengan pembulatan percepatan gravitasi g = 10 (m/s^2) kita bisa memastikan kecepatan benda yang jatuh bebas dari atas.

kecepatan = 10 x waktu

waktu (detik) maka kecepatan (meter/detik)

0 maka kecepatan = 0
1 maka kecepatan = 10
2 maka kecepatan = 20

Jika ada hasil pengukuran yang berbeda dari perhitungan di atas maka kita perlu mencari gangguan-gangguan, bukan meragukan formula Newton. Dan benar saja, gangguan-gangguan tersebut bisa ditemukan misal gesekan udara. Maka formula Newton tetap berlaku sebagai ilmu pasti, dengan melengkapi gangguan gesekan udara.

Terbukti cara mengembangkan pengetahuan di atas, melalui induksi dilengkapi dengan fomula matematika, maju pesat. Peradaban manusia masuk ke era industri dengan pembangungan pabrik industri besar-besaran di seluruh dunia. Masih dengan pendekatan yang serupa peradaban manusia masuk ke era informasi, seperti yang kita alami dengan merebaknya dunia digital saat ini lengkap dengan media sosial dan simulakra.

Metode induksi, bisa kita ringkas, terdiri dari perumusan masalah dan hipotesa, pengujian empiris terbatas, dan menarik kesimpulan umum. Metode induksi di atas menjadi makin kuat bila kita lengkapi dengan formula matematika yang berlaku universal. Sehingga klaim sebagai ilmu pasti menjadi kuat. Tetapi bisa kita tegaskan, sekuat apa pun klaim ilmu pasti itu maka tetap kebenarannya bernilai probabilistik, tidak 100% benar, karena melibatkan kasus partikular.

3.1 Falsifikasi Empiris

Karl Popper, filsuf abad 20, menolak klaim metode induksi. Popper mengusulkan falsifikasi. Kebenaran empiris tidak bisa dibuktikan kebenarannya secara universal. Tetapi kita bisa menunjukkan letak kesalahan proposisi empiris untuk kemudian berpegang kepada proposisi yang lebih kuat. Lagi pula para ilmuwan tidak menemukan ide melalui induksi. Ide bisa muncul begitu saja melalui intuisi. Kadang ide muncul dalam mimpi. Kadang juga muncul dari respon terhadap pengetahuan yang sudah ada.

Langkah falsifikasi bisa kita rumuskan dengan menyusun hipotesa (atau teori), men-deduksi dari hipotesa suatu proposisi empiris, menguji secara empiris, menarik kesimpulan. Yang menarik dari falsifikasi adalah tujuan dari pengujian empiris, yaitu untuk menolak hipotesa. Artinya jika pengujian empiris itu berhasil maka kesimpulannya adalah hipotesa ditolak. Tetapi jika pengujian itu gagal maka kesimpulannya adalah hipotesa (teori) diterima – untuk waktu itu. Berbeda dengan induksi, di mana pengujian empiris, digunakan untuk memperkuat hipotesa (teori) bila pengujian berhasil. Falsifikasi justru dengan sengaja merancang eksperimen untuk menolak hipotesa.

Kita bisa mencoba menaganalisis teori gerak Newton. Kecepatan total adalah kecepatan orang pertama ditambah (dikurangi) dengan kecepatan orang kedua, sesuai teori relativitas Newton (dan Galileo).

Adi mengendarai mobil ke utara dengan kecepatan 40 km/jam.
Budi mengendarai motor ke selatan dengan kecepatan 30 km/jam.

Maka kecepatan total antara Adi dan Budi adalah 40 + 30 = 70 km/jam.

Eksperimen menunjukkan kebenaran hipotesa di atas. Secara berulang-ulang konsisten benar. Maka, melalui induksi, terbukti kecepatan total adalah penjumlahan dari masing-masing kecepatan. Teori relativitas Newton benar.

Enstein mencoba mencari kejadian-kejadian yang menjadikan teori Newton salah, falsifikasi. Einstein mulai dengan eksperimen pikiran. Adi dan Budi bergerak dengan kecepatan mendekati kecepatan cahaya c.

Adi mengendarai mobil dengan kecepatan 0,7 c ke utara.
Budi mengendarai motor dengan kecepatan 0,5 c ke selatan.

Maka kecepatan total mereka, antara Adi dan Budi, adalah 0,7 + 0,5 = 1,2 c. (Salah). Tidak mungkin ada kecepatan gerak yang lebih besar dari kecepatan cahaya. Teori relativitas Newton berhasil dibuktikan salah, berhasil difalsifikasi. Kesimpulannya adalah relativitas Newton tidak berlaku umum. Hanya berlaku pada kasus khusus yaitu bila kecepatan gerak jauh di bawah kecepatan cahaya. Itu pun berlaku hanya sebagai estimasi. Kita memerlukan teori relativitas yang baru yaitu relativitas Einstein. Yang saat ini dianggap benar.

Apakah teori relativitas Einstein pasti benar? Tidak juga. Dengan perspektif falsifikasi, relativitas Einstein dianggap benar karena belum terbukti salah. Bila suatu saat terbukti salah maka teori itu perlu direvisi untuk mendapatkan teori yang lebih valid lagi. Memang begitulah karakteristik sains, berubah, diperbaiki untuk mendapatkan teori yang lebih baik.

3.2 Induksi vs Falsifikasi

Mana yang lebih baik, induksi atau falsfikasi? Sebagian besar ilmuwan mendukung pendekatan induksi, semisal Russell. Tetapi Karl Popper lebih mendukung falsifikasi. Tampaknya, secara umum lebih ringan memilih induksi yang berkonotasi menemukan pengetahuan baru. Sedangkan falsifikasi, tampaknya, justru mencari-cari kesalahan dari suatu teori. Nyatanya, kita memerlukan keduanya. Induksi untuk memotivasi inovasi-inovasi baru. Sementara falsifikasi menjamin langkah-langkah inovasi sudah sesuai jalur.

Dalam statistik, kita mengenal uji hipotesis, yang mengakomodasi induksi mau pun falsifikasi. Saya akan menggunakan istilah tesis dan antitesis, agar lebih mirip dialektika Hegel dan menjaga tetap membahas konsep bukan angka-angka. Misal kita hendak membuktikan bahwa,

Tesis: Semua presiden Indonesia adalah orang cerdas.

Secara induksi kita perlu menguji beberapa presiden Indonesia dan memastikan bahwa mereka adalah orang yang cerdas. Sebut saja kita berhasil menguji 5 presiden Indonesia dan semuanya memang cerdas. Maka kita berkesimpulan benar, bahwa, semua presiden Indonesia adalah orang yang cerdas.

Metode di atas mudah diragukan, bagaimana dengan presiden ke 6?

Maka statistik memberi ide menarik dengan cara merumuskan antitesis.

Antitesis: Ada presiden Indonesia yang bukan orang cerdas.

Dengan meneliti 5 presiden maka kita akan mem-falsifikasi tesis. Kita ingin menemukan dari 5 presiden itu ada yang tidak cerdas, sesuai antitesis. Ternyata kita gagal, kita tidak berhasil menemukan ada presiden yang tidak cerdas. Jadi kita gagal membuktikan “antitesis: Ada Presiden Indonesia yang bukan orang cerdas.” Akibatnya, sampai sejauh ini, kita harus menerima “tesis: Semua presiden Indonesia adalah orang cerdas.

Meskipun kedua metode, induksi dan falsifikasi, memberi kesimpulan yang sama tetapi spiritnya berbeda. Induksi, seakan-akan, berhasil membuktikan bahwa semua presiden Indonesia adalah orang cerdas. Sedangkan falsifikasi, lebih rendah hati, sejauh ini tidak berhasil membuktikan ada presiden yang tidak cerdas, maka semua presiden adalah cerdas.

Disayangkan bahwa banyak orang lebih mudah terpengaruh dengan ide-ide induksi. Kurang mendalami falsifikasi. Hal ini bisa berakibat kepada sikap berlebihan dalam membela suatu ide.

Sejatinya, dalam kehidupan nyata, hakim lebih sering memanfaatkan falsifikasi. Dakwaan: Menteri melakukan korupsi. Maka hakim akan mengatakan bahwa terbukti menteri melakukan korupsi maka dihukum setimpal. Atau, alternatifnya, hakim mengatakan bahwa tidak terbukti menteri melakukan korupsi sehingga terbebas dari semua tuntutan.

Dalam hal menteri terbebas dari hukuman, para pendukung mengklaim bahwa menteri terbukti tidak korupsi. Tidak begitu sejatinya. Yang benar, menteri hanya tidak terbukti telah korupsi, untuk kasus tersebut. Hakim hanya mem-falsifikasi dakwaan. Hanya menolak dakwaan. Tidak membuktikan kebersihan diri menteri.

Perlu tetap kita ingat, baik induksi mau pun falsifikasi, menghasilkan pengetahuan probabilistik. Di mana, nilai kebenarannya tidak. terjamin, benar 100%. Tetapi, secara terus-menerus bisa direvisi untuk menghasilkan pengetahuan yang lebih bagus. Statistik menyediakan konsep confindence-level dan confindence-interval yang, dengan baik, mengakomodasi pengetahuan probabilistik.

4. Pengetahuan Agama selalu Benar

Kita sudah sebutkan di atas bahwa pengetahuan agama bersifat aksiomatik sehingga terjamin benar 100%. Untuk menjamin kebenarannya, kita perlu memastikan bahwa premis-premis bernilai benar dan proses mengambil kesimpulan juga sah.

Pengetahuan agama bisa terus kita kembangkan dengan menguji premis-premis yang sudah ada dengan tantangan jaman yang baru. Atau bisa juga, dengan cara, kita mengembangkan premis-premis baru tentang pengetahuan agama. Misalnya aturan berbisnis melalui teknologi internet akan menghasilkan pengetahuan agama yang baru. Karena ketika pengetahuan agama dirumuskan, beberapa ratus tahun yang lalu, belum ada teknologi internet. Sedangkan saat ini, umat beragama harus berbisnis menggunakan teknologi internet. Dan masih banyak lagi, pengetahuan agama yang kita perlukan, dalam menghadapi tantangan jaman.

4.1 Interpretasi

Keunggulan dari ajaran agama adalah selalu mampu beradaptasi sepanjang jaman. Untuk bisa beradaptasi dengan lincah, ajaran agama kerap tertuang dalam bentuk bahasa simbolis. Sehingga, umat beragama mampu mengambil inspirasi dari ajaran agama kapan pun dan di mana pun.

Bagaimana pun, inspirasi dinamis ini melibatkan interpretasi dalam kadar sedikit atau banyak. Kelak, inspirasi ini bisa menjadi premis dalam sistem aksiomatik yang menghasilkan kebenaran agama selalu bernilai benar. Meski demikian, kita sadar bahwa interpretasi terbuka dengan peluang keragaman interpretasi. Pada gilirannya, ajaran agama mampu terus bergerak dinamis dengan kesadaran tersebut.

4.2 Silogisme Valid

Berikutnya, deduksi silogisme dapat kita gunakan secara valid untuk beragam pengembangan pengetahuan. Perkembangan logika, termasuk silogisme, saat ini, sudah sangat canggih. Dengan rangkaian logika, kita dapat menyederhanakan setiap sistem logika menjadi operasi paling dasar. Di sini, perlu kita tegaskan bahwa bentuk silogisme paling sederhana dan mudah adalah bentuk implikasi.

(A) JIKA membaca kitab suci MAKA bahagia.

Dengan asumsi premis (A) bernilai benar maka hanya ada dua kemungkinan kesimpulan yang sah atau valid.

(B) membaca kitab suci, kesimpulan: bahagia.

(C) TIDAK bahagia, kesimpulan: (akibat dari dia) TIDAK membaca kitab suci.

Sedangkan kesimpulan (D) dan (E) berikut adalah tidak sah dan kita sebut sebagai falasi dari sisi formal.

4.3 Perangkap Falasi

Kesalahan berpikir, kesalahan menarik kesimpulan, biasa kita sebut sebagai falasi terjadi dalam sisi formal dan informal.

(D) TIDAK membaca kitab suci, kesimpulan: TIDAK bahagia.

Kesimpulan (D) tidak sah. Kita tidak bisa memastikan seseorang sebagai TIDAK bahagia karena TIDAK membaca kitab suci. Karena orang tersebut bisa saja bahagia dengan membaca doa yang sudah dihafalkannya atau bahagia karena beramal baik.

(E) Bahagia, kesimpulan: TIDAK membaca kitab suci.

Kesimpulan (E) tidak sah. Kita tidak bisa mengambil kesimpulan dari orang yang “bahagia.” Karena orang bahagia bisa disebabkan oleh bacaan kitab suci atau lainnya.

Kedua tipe falasi di atas, jenis (D) dan (E), perlu diwaspadai. Karena falasi semacam ini kadang-kadang halus sekali sehingga tidak disadari banyak orang.

Sementara, falasi informal, mestinya, lebih mudah kita kenali. Umumnya, falasi informal merupakan akibat dari interpretasi dogmatis atau penetapan premis yang ceroboh. Dengan berpikir terbuka, kita bisa mengatasi falasi ini.

5. Pengetahuan Cinta

Cinta selalu benar. Pengetahuan cinta juga selalu benar sejauh pengetahuan tersebut adalah pengetahuan sederhana. Ketika kita jatuh cinta, kita tahu sedang jatuh cinta maka pengetahuan tersebut bernilai benar. Tetapi, pada bagian ini, kita mengkaji sistem pengetahuan cinta. Bagaimana kebenaran dari sistem pengetahuan cinta?

5.1 Karakter Cinta

Pertama, kebenaran cinta adalah kebenaran kreatif. Cinta menjadi benar karena kita menciptakan atau menghadirkan cinta tersebut. Untuk menghadirkan cinta banyak faktor berpengaruh: pemahaman, imajinasi, akal, memori, materi, dan lain-lain. Faktor-faktor ini berinteraksi dengan cara bebas tidak deterministik. Akibatnya, formula cinta adalah unik. Tidak ada satu formula tunggal tentang cinta yang berlaku umum. Meski, cinta itu sendiri universal.

Kedua, cinta adalah pengalaman yang indah, kompleks, dan transendental. Tanpa mengalami, seseorang, tidak akan memahami cinta dengan baik. Sehingga sistem pengetahuan cinta, bila ada, akan berbeda jauh dengan pengalaman cinta. Kita perlu merasakan cinta. Sedangkan, sistem pengetahuan cinta akan menjadi asbtraksi yang berbeda dengan rasa.

Ketiga, sejauh ini, tidak ditemukan metode deduksi atau induksi cinta. Barangkali, memang tidak akan pernah ada deduksi cinta atau silogisme cinta. Karena, cinta melibatkan kebebasan atau freedom. Tidak ada kepastian tentang freedom yang bebas itu.

Dengan mempertimbangkan karakter-karakter cinta di atas, maka, kita tidak akan berhasil menyusun sistem pengetahuan cinta. Tetapi, bukankah kita justru memerlukan pedoman pengetahuan cinta? Bukankah cinta sangat penting? Bukankah cinta berpotensi ada bencana?

Benar! Kita membutuhkan sistem pengetahuan cinta.

5.2 Inspirasi Cinta

Karena pengetahuan cinta tidak akan berhasil menjadi sistem pengetahuan, maka, pengetahuan itu hanya bisa menjadi inspirasi cinta. Yaitu suatu pengetahuan yang menjadi inspirasi bagi banyak orang untuk jatuh cinta, merawat cinta, dan bersinar bersama cinta.

Inspirasi cinta menjadi makin penting lagi karena karakternya yang bebas, unik, dan dinamis. Untuk mahir dalam cinta, kita tidak cukup hanya dengan membaca satu buku inspirasi cinta. Barangkali, perlu dua buku sampai sembilan buku inspirasi cinta. Lebih dari itu, kita perlu mengalami cinta untuk bisa jatuh cinta. Cinta kepada sesama, cinta kepada semesta, dan cinta kepada Maha Cinta.

Sebagai catatan, pengetahuan tentang yang cantik memiliki karakter yang mirip dengan pengetahuan cinta. Sehingga, sistem pengetahuan tentang cantik dan cinta adalah sebentuk inspirasi cinta.

6. Opini: Pengetahuan Diharapkan Benar

Sebagaimana kita sebutkan sebelumnya, opini adalah sebentuk pengetahuan, yang nilai kebenarannya, diharapkan bernilai benar. Kita bisa memposisikan opini sebagai pelopor pengetahuan. Di mana, opini mendorong masyarakat untuk membuktikan kebenaran – atau kesalahannya. Sehingga peran opini mirip dengan peran hipotesis. Perbedaanya adalah opini sudah dikaji, sedemikian hingga, diharapkan akan bernilai benar.

Dalam situasi tertentu, kita hanya bisa membentuk opini, tanpa pernah berhasil mendapatkan pengetahuan yang pasti. Sehingga opini, dalam kasus seperti ini, menempati posisi selayaknya pengetahuan yang sudah teruji kebenarannya. Misalnya, pada tahun 2021 ini, kita ingin tahu opini masyarakat tentang siapakah calon presiden yang mereka anggap paling baik untuk pilpres pada tahun 2034? Hasilnya, 30% memilih Andi, 30% memilih Budi, dan 40% tidak memilih. Opini semacam itu akan tetap menjadi opini, tidak bisa diuji secara pasti, karena tahun 2034 adalah masa depan yang tidak terjangkau di masa kini – tahun 2021.

Opini juga penting untuk pengetahuan masa lalu yang tidak bisa diuji. Mengapa waktu itu para wali memilih istilah Wali Songo? Karena tidak ada dokumen resmi, atau bukti resmi, yang menjelaskan alasan pemilihan istilah Wali Songo maka kita bisa mengembangkan beragam opini. Barangkali kita bisa beropini karena “songo” bermakna 9 maka dipilih sebagai angka ganjil terbesar. Para wali menyukai angka ganjil apa lagi yang terbesar. Opini yang lain, barangkali, mengatakan karena saat itu memang ada 9 orang wali maka kebetulan saja. Dengan mempertimbangkan berbagai macam data yang tersedia, kita bisa mengembangkan beragam opini yang masuk akal – dan berguna.

Bahkan pada saat sekarang, kadang-kadang kita hanya bisa membuat opini belaka. Bisa jadi karena bukti-bukti yang kita butuhkan bersifat rahasia atau sulit diperoleh. Perusahaan Andi beropini bahwa perusahaan Budi – kompetitor dari Andi – melakukan manuver XYZ karena ingin mengalahkan perusahaan Andi di kota Bandung. Dengan opini ini, perusahaan Andi bisa menentukan respon yang diperlukan. Mengaitkan “manuver XYZ” sebagai bertujuan “mengalahkan perusahaan Andi” adalah sekedar opini. Untuk membuktikan kebenarannya, kita memerlukan data-data tambahan. Hanya saja, data tambahan itu adalah data rahasia perusahaan Budi, yang tidak layak untuk diperoleh.

Sampai di sini, kita perlu waspada bahwa opini tidak terbukti, atau belum terbukti, nilai kebenarannya. Sehingga, ketika kita bersandar kepada opini, harus sadar dengan beragam resiko yang mungkin terjadi. Bagaimana pun, opini sudah disusun dengan kaidah yang benar. Wajar saja, opini bisa kita percaya dalam beberapa hal. Opini, memang, diharapkan bernilai benar.

6.1 Opini Probabilistik

Cara aman beropini adalah dengan menyadari bahwa opini bersifat probabilistik. Kita coba cermati beberapa implikasi probabilistik.

M = Peluang menang 70%.

Dengan asumsi hanya ada menang dan kalah maka kemungkinan afirmasi dan negasi adalah 4 alternatif berikut.

Kemungkinan khusus atau afirmasi

A1 = Peluang menang 70%

A2 = Peluang kalah 30%

Kemungkinan mutlak atau negasi

N1 = Tidak mungkin untuk menang 100% (karena 70%)

N2 = Tidak mungkin untuk kalah 100% (karena 30%)

Empat makna kemungkinan atau peluang, di atas, adalah valid. Perlu hati-hati ketika menyikapi negasi. “Andi mungkin menang.” Negasi yang tidak sah adalah, “Andi tidak mungkin menang.” Seharusnya, negasi yang sah adalah, “Andi mungkin tidak menang.” Atau, “Andi tidak mungkin, bisa, 100% menang.”

6.2 Hilal Awal Bulan

Kita, di Indonesia, berulangkali, mengalami serunya menentukan awal bulan berdasar tinggi hilal.

MU = Kriteria t = 0.

Bagi MU, jika tinggi hilal di atas t = 0 maka sudah masuk bulan baru. Kriteria ini merupakan pernyataan aksiomatik yang ditetapkan berdasar perhitungan, hisab, atas data-data sebelumnya. Dengan demikian, MU tidak perlu pengamatan empiris atau rukyat.

Tetapi, kriteria t = 0 ini, mudah dikritisi. Berapa toleransinya? Bila tinggi hilal = 0,1 bagaimana? Bila tinggi hilal = 0.0001 bagaimana?

Bagaimana pun, kita perlu menetapkan kriteria di atas 0. Misal 0,5 atau bahkan 1 derajat. Karena, kita selalu perlu toleransi empiris.

NU = Kriteria t = 3.

Bagi NU, jika tinggi hilal di atas kriteria t = 3 maka hilal mungkin bisa teramati. NU melakukan pengamatan empiris, rukyat, untuk memastikan penampakan hilal.

Berdasar pengalaman bertahun-tahun, ketika tinggi hilal lebih dari 3, selalu berhasil hilal teramati. Sehingga, sudah masuk bulan baru. Tentu saja, baik-baik saja dengan pengamatan empiris ini.

Situasi lebih menarik ketika tinggi hilal di bawah 3 derajat. Orang bisa berpikir, “Hilal tidak mungkin bisa diamati.” Karena muncul istilah “tidak mungkin” maka muncul konotasi aksiomatik. Konsekuensinya, jika ada orang berhasil mengamati hilal pada ketinggian di bawah 3 derajat maka laporan orang tersebut ditolak. Dengan demikian, terbentuk sistem aksiomatik.

Situasi seperti ini mengantarkan NU dan MU, sama-sama, memilih sistem aksiomatik dalam menentukan awal bulan. Bedanya, NU dengan kriteria t = 3 dan MU dengan t = 0. Penetapan kriteria tinggi t ini adalah opini yang disepakati oleh banyak pihak. Tentu, berdasar analisis data.

Apakah ada kemungkinan titik temu agar hasil penetapan awal bulan baru selalu serentak? Tentu saja bisa. Jika sepakat t = 1 atau t = 2 maka awal bulan baru akan serentak. Karena, penetapan kriteria memang berdasar kesepakatan dan analisis data.

Bukankah pengamatan hilal adalah sistem empiris? Betul, sistem empiris kombinasi dengan aksiomatik. Tampaknya, saat ini, peran sistem aksiomatik makin besar. Sementara, hasil pengamatan empiris berperan menambah data analisa. Keuntungan sistem aksiomatik adalah kita bisa menetapkan awal bulan baru lebih cepat beberapa bulan sebelumnya. Sehingga, kita terbebas dari urgensi pengamatan empiris atau rukyat di senja akhir bulan.

6.3 Pengembangan Pengetahuan

Opini adalah sarana paling penting untuk pengembangan pengetahuan. Pengetahuan konkret lebih bernilai dari pengetahuan umum – atau pengetahuan genera. Opini bergerak dari genera menuju konkret. Memang ada resiko, karena, opini bisa bernilai salah. Meski bernilai salah, opini tetap bernilai tinggi karena lebih konkret dari genera. Apalagi, ketika opini bernilai benar maka makin penting.

G = genera = matahari terbit pagi hari.
K = konkret = matahari terbit pukul 06.05.

Pernyataan G bernilai benar – dan aman. Sementara, pernyataan K lebih konkret tetapi ada resiko bernilai salah. Kita bisa melakukan pengamatan, misal benar, matahari terbit pukul 06.05 pada hari itu. Maka pengetahuan konkret K lebih bernilai dari pengetahuan genera G. Ilmu pengetahuan berkembang dengan cara bergerak dari genera menuju konkret.

Sering terjadi salah paham. Orang mengira genera G lebih bernilai dari konret K. Mereka mengira genera meliputi, atau mencakup, konkret. Ketika konret K benar, maka, genera G juga pasti benar. Tetapi, ketika konkret K salah, maka, genera G tetap benar. Cara pandang seperti di atas adalah salah.

Cara pandang yang benar adalah konkret K lebih bernilai dari genera G. Karena, ketika K benar bahwa matahari terbit pukul 06.05 maka kita tidak memerlukan G. Dari K, kita bisa menyimpulkan bahwa matahari terbit di pagi hari. Jadi, justru pengetahuan konkret K yang meliputi, atau mencakup, pengetahuan genera G.

Sebaliknya, ketika K salah, juga berlaku pengetahuan konkret lebih bernilai dari genera. Misal ternyata yang benar dalah (L) = matahari terbit pukul 06.03. Dari pengetahuan konkret L, kita bisa menyimpulkan bahwa matahari terbit di pagi hari.

Pernyataan genera paling general barangkali adalah (T) = karena Tuhan menciptakan begitu. Mengapa terjadi pandemi covid? Karena T. Mengapa terjadi metamorfosa kupu-kupu? Karena T. Mengapa ada gaya nuklir? Karena T. Meski T benar, kita tetap membutuhkan pengetahuan yang lebih konkret untuk mengembangkan pengetahuan.

Alternatif genera yang sangat general adalah (S) = karena ada hukum sebab-akibat. Mengapa terjadi krisis ekonomi? Karena S. Mengapa ada bencana alam? Karena S. Mengapa teknologi digital bisa berkembang? Karena S. Lagi, meski S diklaim selalu benar, kita tetap membutuhkan pengetahuan konkret yang lebih berkembang. Pengetahuan genera saja tidak mencukupi. Kita perlu pengetahuan konkret.

Contoh di atas adalah untuk sistem pengetahuan empiris. Untuk sistem pengetahuan aksiomatik tetap berlaku bahwa pengetahuan konkret lebih bernilai dari pengetahuan genera.

G = bilangan-bilangan bisa dijumlahkan.

K = 2 + 1 sama dengan 3

Ketika, seorang anak kecil, atau kita, memahami G maka belum tentu anak kecil itu memahami K. Sebaliknya, jika seorang anak kecil memahami K maka, anak kecil itu, memahami G. Dengan memahami bahwa penjumlahan 2 + 1 sama dengan 3, dia paham bahwa bilangan-bilangan itu bisa dijumlahkan. Pengetahuan konkret lebih bernilai dari pengetahuan genera dalam sistem aksiomatik.

6.4 Pseudo-sains atau Sains Palsu

Pengembangan sains bisa salah arah dengan melanggar etika sehingga menghasilkan pseudo-sains atau sains palsu. Dari sisi penampilan, sains-palsu sama persis dengan sains. Tetapi, pada analisis akhir, terbukti terjadi eksploitasi yang merugikan banyak pihak.

Berikut ini, kita akan fokus kepada empat kriteria untuk menilai bahwa suatu sains adalah palsu. Sebagai ilustrasi, kita akan mengambil kasus Theranos, yaitu, perusahaan yang memproduksi alat kesehatan. Dengan alat tersebut, seseorang bisa melakukan tes darah yang mudah dan cepat guna mengetahui kondisi kesehatan badannya. Theranos berdiri pada tahun 2003 dan menjadi perusahan bernilai 10 milyar dolar hanya dalam waktu 10 tahun – perhatikan, bukan 10 juta dolar tapi 10 milyar.

Non-sains. Pertama, predikat sains-palsu atau pseudo-sains hanya bisa dialamatkan kepada sains itu sendiri atau bidang yang mengaku saintifik. Non-sains tidak bisa menjadi sains-palsu. Seni tidak bisa dinilai sebagai sains-palsu. Karena, seni memiliki kriteria konsep internal yang berbeda dengan sains. Olahraga, hobi, agama, permainan, dan lain-lain adalah non-sains. Sehingga, mereka aman dari predikat sains-palsu.

Tentu saja, kita bisa mengkaji seni atau olahraga secara saintifik. Dengan demikian, ada resiko terjebak ke sains-palsu. Bisa juga, seseorang menolak sains dengan teori tertentu. Meski awalnya, teori tertentu itu bukan sains, pada analisis akhir, bisa dikaji secara saintifik dan ada peluang termasuk sebagai sains-palsu.

Theranos meng-klaim menerapkan metode sains untuk tes darah. Karena itu, Theranos tepat menjadi kajian apakah termasuk sains-palsu.

Tidak obyektif. Sains-palsu bersifat tidak obyektif. Hanya orang-orang tertentu yang bisa menguji kebenarannya. Pihak luar tidak bisa, atau sulit sekali, untuk melakukan pengujian.

Theranos menyembunyikan hasil kajian perusahaannya sehingga tidak obyektif. Pihak luar tidak bisa mengkajinya atau sulit untuk mengkajinya. Pihak luar hanya bisa mempertanyakan validitas dari kajian Theranos. Kelak, Theranos gagal menunjukkan validitas dan obyektivitas kajian tes darahnya.

Buruk atau salah. Sains buruk atau sains salah adalah kajian sains yang tidak memenuhi standar kriteria internal mereka sendiri. Sehingga, hasil kajian tersebut hanya layak sebagai bahan kajian bukan untuk keperluan komersial. Dalam konotasi positif, bisa dipandang sebagai proto-sains.

Tes darah Theranos termasuk sains-buruk atau sains-salah. Dengan kualitas yang rendah, Theranos tidak layak mengkomersilkan produknya.

Eksploitasi melanggar etika menjadi penentu utama sebagai sains-palsu. Sains yang tidak obyektif dan sains buruk, sejatinya, tidak menjadi masalah. Sejauh, kita menempatkan sains buruk pada posisinya. Tetapi, mengeksploitasi sains-buruk memang menggiurkan dengan imbalan materi yang besar.

Theranos sadar bahwa kajian mereka adalah sains-buruk. Kemudian, Theranos justru mengeksploitasi untuk mengeruk keuntungan komersial. Teknologi Theranos murah dan praktis. Sehingga, masyarakat luas membeli produk Theranos – termasuk di pasar saham. Tetapi, karena memang berdasar sains-buruk maka produk Theranos adalah sains-palsu.

Karena etika menjadi paling penting, lalu, bagaimana cara kita menentukan bahwa sesuatu melanggar etika atau tidak? Kita membahasnya di bagian lain. Yang jelas, klaim kebenaran etika sama kuat dengan klaim kebenaran matematika. Etika dan matematika adalah, sama-sama, kebenaran konseptual atau kebenaran sistem aksiomatik.

7. Ringkasan

Pengetahuan, ilmu pengetahuan, adalah susunan kompleks dari kebenaran-kebenaran. Idealnya, susunan kompleks ini akan menghasilkan kebenaran-kebenaran lanjutan. Dan seterusnya, menghasilkan pengetahuan-pengetahuan baru. Pengetahuan aksiomatik bernilai selalu benar – misal pengetahuan matematika. Sementara, pengetahuan empiris bersifat probabilistik – hampir pasti benar tetapi ada kemungkinan salah.

Pengembangan pengetahuan empiris bisa melalui induksi atau falsifikasi. Induksi melakukan generalisasi dari penelitian terbatas agar berlaku umum. Sementara, falsifikasi melakukan pengujian terhadap suatu teori untuk menghasilkan teori yang lebih kuat. Pengetahuan membutuhkan keduanya: induksi dan falsifikasi. Pengetahuan berkembang dari pengetahuan genera, yang bersifat umum, menuju pengetahuan konkret yang bersifat lebih jelas spesifik. Pengetahuan konkret lebih bernilai tinggi dari pengetahuan genera.

Sementara itu, pengetahuan tentang cinta dan cantik adalah sebentuk inspirasi cinta. Berbeda dengan ilmu pengetahuan pada umumnya, pengetahuan cinta melibatkan suatu pengalaman langsung.

Opini adalah pengetahuan yang nilai kebenarannya belum sepenuhnya terjamin. Sementara di pihak lain, kesesatan adalah pengetahuan yang, pada analisis akhir, bernilai salah. Kesesatan bisa dieksploitasi oleh pihak-pihak jahat menghasilkan pseudo-sains atau sains palsu yang melanggar etika. Bagaimana pun, kita mengharapkan opini bernilai benar. Opini dilengkapi beragam asumsi, atau indikator, sedemikian hingga agar bisa dipastikan nilai kebenarannya ketika diperlukan. Opini adalah sebentuk pengetahuan yang sah dan baik.

8. Diskusi

Kita akan mendiskusikan teori evolusi pada bagian ini. Apakah teori evolusi termasuk sebagai pengetahuan, opini, atau kesesatan? Karena teori evolusi merupakan bagian dari sains alam bilogi, maka, wajar bagi kita menyimpulkan bahwa teori evolusi adalah ilmu pengetahuan alam. Kajian lebih mendalam, termasuk analisis filosofis, menunjukkan bahwa klaim seperti itu masih bisa kita perdebatkan.

8.1 Teori Evolusi

Darwin (1809 – 1882) adalah pelopor teori evolusi. Evolusi Darwin mendominasi perkembangan sains alam biologi berabad-abad sampai masa kini. Pro kontra terhadap Evolusi Darwin selalu dinamis. Secara umum, komunitas saintis memenangkan teori evolusi Darwin di atas para pesaing. Hampir di seluruh belahan dunia, pendidikan menengah mengajarkan teori evolusi Darwin sebagai bagian dari kurikulum sains biologi.

Evolusi menyatakan bahwa spesies yang ada di masa kini, misal manusia, berasal dari spesies yang ada di masa lalu. Beragam spesies yang berbeda, misal manusia berbeda dengan kera, bisa saja memiliki nenek moyang berupa spesies yang sama, misal kera-kuno. Dalam bahasa sehari-hari, nenek moyang manusia adalah kera.

Tetapi, siapa nenek moyang dari kera-kuno itu? Nenek moyang dari kera adalah spesies yang ada jutaan tahun sebelum spesies kera ada di bumi. Kita persingkat, nenek moyang dari kera adalah spesies sederhana misal mikroba, yang hanya terdiri dari beberapa sel saja. Lalu, pertanyaan berlanjut, siapa nenek moyang dari mikroba itu? Nenek moyang dari mikroba adalah struktur zat-zat kimia yang memungkinkan hadirnya kehidupan di bumi. Tentu, kita masih boleh bertanya, siapa nenek moyang dari zat-zat kimia itu? Jawaban tuntasnya adalah: big bang atau ledakan besar. Sampai di sini, kita terpaksa harus berhenti bertanya. Karena, sebelum big bang tidak ada apa-apa. Hanya ada kehampaan void sebelum big bang. Bahkan, tidak ada ruang, tidak ada waktu.

Apakan teori evolusi Darwin bisa kita kategorikan sebagai sains?

Sangat sulit untuk jadi sains. Karena, kita tidak akan mampu menunjukkan bukti-bukti empiris yang memadai untuk mendukung teori evolusi. Proses evolusi terbentang sampai jaman jutaan tahun yang lalu. Tentu, kita akan melibatkan banyak interpretasi terhadap data empiris yang ditemukan – dalam rentang jutaan tahun itu. Maka, sulit bagi kita untuk menyimpulkan bahwa teori evolusi adalah sains atau ilmu pengetahuan.

Apakah teori evolusi adalah kesesatan?

Tidak. Teori evolusi bukan kesesatan. Teori evolusi dilengkapi dengan beragam data empiris, fakta sains. Kemudian, dari data itu, para ilmuwan melakukan interpretasi sehingga terbentuk teori evolusi. Tentu saja, kita sadar bahwa interpretasi dari banyak ilmuwan bisa menghasilkan perbedaan hasil interpretasi. Memang terjadi pro kontra, tetapi, bukan kesesatan.

Apakah teori evolusi adalah suatu opini?

Benar, teori evolusi adalah opini. Paling tepat, menurut saya, kita memasukkan teori evolusi sebagai opini. Dalam arti, teori evolusi adalah pengetahuan yang nilai kebenarannya belum dipastikan sebagai benar. Tetapi, kita bisa berharap bahwa teori evolusi bernilai benar.

Deduksi Evolusi

Mari kita cermati proses deduksi yang mengantarkan kita bisa menyusun teori evolusi.

P1: Organisme menghasilkan anak, atau sel reproduksi, jauh lebih banyak dari yang berhasil tumbuh menjadi dewasa.

P2: Jumlah individu dalam populasi atau spesies relatif tetap sama dalam selang waktu yang cukup panjang.

D1: Kesimpulannya adalah banyak sel reproduksi yang mati atau banyak anak-anak yang tidak berhasil hidup sampai dewasa.

P3: Setiap individu tidak identik, meski mirip. Mereka menunjukkan beragam variasi karakter. Individu yang berhasil hidup sampai dewasa dengan karakter tertentu akan menjadi orang tua bagi generasi berikutnya.

D2: Kesimpulannya adalah karakter-karakter tertentu yang mengantarkan mereka hidup sampai tua dan punya anak, adalah, karakter yang mampu beradaptasi dengan lingkungan.

P4: Keturunan mirip dengan orang tuanya, tetapi, tidak persis sama.

D3: Kesimpulannya adalah generasi penerus mewarisi karakter unggul dari orang tuanya dan memperbaikinya melalui proses perubahan gradasi.

Semua proposisi di atas, P1 sampai P4, didasarkan pada data empiris. Sementara, semua kesimpulan deduksi, D1 sampai D3, didasarkan pada analisis logis terhadap proposisi data empiris. Dengan demikian, kita berhasil menyusun teori evolusi berdasar data empiris sains. Proses evolusi terjadi melalui seleksi alam dan mutasi genetika acak. Seleksi alam menyisihkan individu-individu yang tidak mampu beradaptasi terhadap lingkungan. Sementara, mutasi genetika memastikan perubahan gradasi, atau evolusi, terjadi secara turun-temurun dari orang tua ke generasi berikutnya.

Kritik Evolusi

Kritik terhadap evolusi sudah berlangsung sejak awal kemunculannya. Dan, kritik ini valid. Pertama, semua proposisi atau premis didasarkan kepada data empiris sehingga hanya valid secara partikular, tidak universal. Seperti kita tahu, data empiris meski benar, tidak valid untuk mengklaim secara universal. Benar bahwa seorang manusia, misalnya, menghasilkan sel sperma dalam jumlah jutaan. Jauh lebih besar dari dirinya yang seorang diri atau jumlah anaknya. Sementara, organisme sederhana yang membelah diri tidak perlu menghasilkan sel reproduksi dalam jumlah yang jauh lebih besar. Mereka, organisme sederhana, hanya perlu membelah diri saja. Dan, bagaimana dengan organisme di masa depan? Kita tidak bisa mengklaim masa depan organisme hanya berdasar data masa lalu.

Kedua, menarik kesimpulan melalui deduksi data empiris tidak bersifat pasti, tidak niscaya. Sehingga, meski kesimpulan teori evolusi adalah valid secara ilmiah, maka, kesimpulan yang kontra-evolusi bisa sama validnya secara ilmiah. Dengan demikian, pandangan pro kontra terhadap teori evolusi adalah wajar.

Lamarck (1744 – 1829) mengajukan teori evolusi lebih awal setengah abad dari Darwin. Karena teori evolusi Lamarck berbeda dengan Darwin, maka, kita bisa memandang Lamarck sebagai kritik terhadap Darwin – atau sebaliknya. Karakter organ yang sering digunakan, misal leher jerapah untuk mengambil daun di pohon yang tinggi, maka makin berkembang. Kemudian, perkembangan karakter organ ini diwariskan kepada anak turunnya.

Sampai sekarang, beberapa ahli biologi menerima teori evolusi Lamarck, sehingga, kontra terhadap Darwin. Meski demikian, arus utama ahli bilogi saat ini lebih mendukung Darwin. Mengapa?

Deleuze (1920 – 1995) memberi analisis menarik mengapa komunitas saintis memilih Darwin dari Lamarck. Tidak ada argumen ilmiah, yang memadai, untuk menolak Lamarck. Tetapi argumen ideologis bekerja lebih lembut di lingkungan saintis.

Jika kita menerima Lamarck, misal tentang leher panjang pada jerapah, maka kita perlu asumsi ada jerapah berleher pendek di masa lalu. Kemudian, ada pendahulu dari jerapah berleher pendek itu, dan seterusnya. Sampai pada akhirnya, kita mundur tak terbatas. Akibatnya, harus ada Tuhan di ujung sana.

Sebaliknya, Darwin menyelesaikannya dengan mutasi acak. Dari banyak individu jerapah ada yang bermutasi acak menghasilkan leher panjang. Kondisi lingkungan, daun-daun pohon yang tinggi, menyebabkan leher panjang mampu beradaptasi. Kemudian, anak turun jerapah leher panjang terus berkembang atau bertahan. Sementara, jerapah leher pendek akan punah.

Bagaimana mutasi acak itu bisa terjadi? Karena acak, maka, kita tidak bisa memastikan prosesnya. Yang jelas, hasil mutasinya bisa kita amati secara empiris, seperti contoh leher panjang pada jerapah. Dengan demikian, persoalan selesai tanpa meminta bantuan kepada eksistensi Tuhan. Akibatnya, komunitas saintis lebih mendukung Darwin.

Karakter Memudar

Sejak awal, Darwin menghadapi kesulitan dengan teori evolusi dan tidak mampu menyelesaikannya.

Seorang anak hanya mewarisi karakter bapaknya 50%. Karena, 50% sisanya adalah warisan dari karakter ibunya. Cucu mewarisi 50% dari 50% yaitu 25% dari kakeknya. Lama-lama, karakter ini akan habis terkikis. Fenomena ini berlawanan dengan teori Darwin dan Darwin tidak mampu menemukan solusinya.

Lebih rumit lagi, misal, seorang lelaki berambut keriting punya anak berambut lurus. Kemudian, punya cucu berambut keriting mirip dengan kakeknya tetapi beda dengan bapaknya.

Mendel (1822 – 1884) hidup sejaman dengan Darwin. Tampaknya mereka tidak saling berhubungan. Penelitian Mendel tentang genetika berhasil menyelamatkan teori Darwin dari keruntuhan. Tetapi, Darwin tidak mengenal solusi Mendel. Baru pada tahun 1920an, Mendel dan Darwin sudah meninggal puluhan tahun, murid-murid Darwin berhasil mengadaptasi teori Mendel ke dalam teori evolusi.

Menurut Mendel, orang tua mewariskan gen-gen ke keturunannya. Bukan mewariskan karakter yang selalu tampak. Dari genetika, ada gen dominan dan, lainnya, resesif. Gen dominan selalu tampak ke anak turunan. Sementara, gen resesif kadang tampak, kadang tidak. Gen resesif menjelaskan bagaimana karakter tidak muncul pada anak, tetapi kemudian, muncul pada karakter cucu.

Masih menurut Mendel, orang tua mewariskan gen 100% ke anaknya. Akibatnya, anak menerima gen 100% dari ayah dan 100% dari ibu, total 200% atau 2n. Selanjutnya, anak mewariskan gen 100% ke cucu – dikombinasikan gen 100% pasangan anak. Dengan demikian, gen diwariskan 100%. Sehingga, tidak terjadi karakter yang memudar. Yang terjadi, justru, adalah mutasi acak genetika.

Neo Darwin

Teori evolusi Darwin sudah runtuh sejak awal, sejak masa Darwin masih hidup. Menariknya, sains selalu mampu beradaptasi. Sains mampu ber-evolusi. Sehingga, teori evolusi Darwin juga mengalami evolusi itu sendiri.

Sebutan sebagai Neo Darwin, barangkali lebih tepat. Meski, kita menyebut evolusi Darwin, sejatinya, yang kita maksud adalah evolusi neo Darwin. Benar saja, sampai sekarang, neo Darwin mengalami koreksi terus-menerus. Salah satu istilah paling terkenal adalah “missing-link” atau bentuk transisi.

Bentuk transisi menjadi masalah dalam evolusi – dan menjadi masalah filosofis secara luas. Misal, manusia adalah hasil evolusi dari kera, maka kita perlu transisi dari kera menjadi manusia.

Manusia (100, 0)
Transisi (50, 50)
Kera (0, 100)

Transisi (50 , 50) adalah manusia-kera yang memiliki karakter manusia 50% dan karakter kera 50%. Ketika, kita menemukan fosil Transisi (50, 50), maka, kita perlu transisi yang lebih baru lagi.

Manusia (100, 0)
TT (60, 40)
Transisi (50, 50).

Kita bisa menduga bahwa tuntutan transisi ini tidak akan ada habisnya. Ketika TT (60, 40) sudah memiliki karakter 60% manusia, maka, kita menuntut persentase yang lebih tinggi lagi. Bahkan seandainya, kita menemukan fosil yang 99% karakter manusia maka kita masih menuntut persentase yang lebih sempurna lagi. Apakah realistis?

Yang menarik adalah, bahkan pada situasi saat ini, tanpa ditemukan fosil bentuk transisi, para pendukung evolusi Darwin tetap yakin bahwa manusia adalah hasil evolusi spesies kera, atau spesies non-manusia. Sementara, bagi yang kontra Darwin menyatakan bahwa bukti yang ada tidak memadai. Seandainya dilengkapi dengan bukti fosil transisi, tetap saja, bukti-bukti itu tidak memadai.

Pro dan kontra terus terjadi. Bagian selanjutnya, kita akan meninjau evolusi dari perspektif yang lebih luas.

8.2 Evolusi Kreatif

Proses evolusi itu pasti terjadi, harus terjadi, dan memang terjadi. Imajinasi kita memerlukan obyek yang berada dalam ruang dan waktu. Karena itu, setiap obyek pasti mengalami evolusi.

Perhatikan pohon di sebelah rumah Anda. Pohon itu hadir secara evolusi. Maksudnya, pohon itu awalnya kecil, lalu, tumbuh menjadi besar. Bagaimana, seandainya, pohon itu muncul dengan tiba-tiba langsung berupa pohon besar di depan kita? Kita bisa merekam kemunculan pohon itu menjadi video yang durasinya mungkin setengah detik. Dari tidak ada pohon, tiba-tiba, menjadi ada pohon. Kemudian, kita bisa memutar video itu dengan gerak lambat. Durasi video yang setengah detik itu menjadi berjalan dalam 10 menit. Kemunculan pohon yang tiba-tiba menjadi tampak bertahap, menjadi evolusi.

Bayangkan, jaman dahulu kala, hadir orang pertama. Umat beragama menyebut orang pertama tersebut adalah Adam dan Hawa. Di sini, kita menyebut orang pertama, misalnya, adalah Aba. Barangkali, Aba muncul begitu saja di dunia ini. Muncul begitu saja dalam waktu berapa detik? Secepat kilat. Atau, lebih cepat dari kilat. Baik. Dari tidak ada Aba menjadi ada Aba, maka, pikiran kita menuntut adanya proses yang memerlukan waktu atau durasi. Misal durasi tersebut sangat singkat yaitu d.

Lagi, kita bisa membuat skenario untuk merekam kemunculan Aba dengan kamera video. Tentu saja, rekaman video itu berdurasi pendek yaitu d. Tetapi jelas, video itu menunjukkan di suatu tempat, mula-mula, tidak ada Aba. Selang waktu d, lebih cepat dari kilat, muncul Aba. Kemudian, kita memutar video itu dengan gerak lambat menjadi 10 menit. Maka, kita melihat kemunculan Aba secara bertahap, secara evolusi.

Semua materi fisik yang ada di dalam ruang waktu memerlukan proses untuk hadir. Maka, mereka perlu proses evolusi. Sehingga, teori evolusi itu sudah pasti harus ada. Petanyaannya adalah bagaimana proses evolusi itu terjadi?

Evolusi Mekanistik

Bergson (1859 – 1941) menilai teori evolusi Darwin bersifat mekanistik. Manusia dikenai oleh hukum-hukum alam di lingkungan sekitar. Kemudian, sebagian manusia punah akibat hukum alam itu. Seleksi alam. Dan, sebagian kecil darinya tetap hidup sampai kini – anak keturunannya. Mereka bisa berubah karena ada mutasi acak genetika yang lambat laun diwariskan ke anak-cucu.

Teori evolusi mekanistik, seperti di atas, tidak mampu menjelaskan proses kreatif yang terjadi di alam raya. Perhatikan seekor induk kupu-kupu yang hendak bertelur. Dia, kupu-kupu itu, tidak sebarang tempat bertelur. Dia, secara kreatif, mencari tempat bertelur sedemikian hingga, ketika telur menetas menjadi ulat maka ulat tersebut cukup mendapat makanan dari tempat sekitar.

Perhatikan manusia! Seorang anak manusia menulis lagu lalu menyanyikan dengan merdu. Seorang anak manusia menulis rumus matematika yang kelak menjadi program komputer luar biasa. Seorang anak manusia menciptakan pesawat terbang untuk keliling dunia. Seorang anak manusia, memang kreatif, luar biasa.

Kita membutuhkan teori evolusi yang kreatif yang mampu menjelaskan proses kreatif umat manusia dan alam raya.

Simpati

Manusia memiliki kehidupan dengan cara menjalani kehidupan. Manusia menjadi hidup karena menjalani proses kreatif menciptakan kehidupan. Manusia bukan dipaksa untuk hidup. Tetapi, manusia memilih menjalani hidup dengan proses kreatif.

Simpati adalah kesadaran manusia, bahwa, dalam dirinya ada kebebasan, ada freedom. Dan, melalui simpati juga, manusia menyadari bahwa orang lain sama dengan dirinya – memiliki simpati, memiliki kesadaran, dan memiliki kecerdasan.

Kecerdasan

Simpati dan kecerdasan saling terhubung. Lebih dari hanya mengenali bahwa ada orang lain yang punya kesadaran, dengan kecerdasaan, atau dengan intelligence, manusia mampu berpikir secara kreatif melampaui segala rintangan. Di saat yang sama, manusia mampu merancang masa depan yang baru, yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Manusia memiliki tujuan yang pasti. Tetapi bukan tujuan yang tunggal. Tujuan itu bersifat kreatif dan cerdas. Sehingga, kita tidak bisa memastikan kreativitas dari kecerdasan manusia di masa depan.

Evolusi manusia adalah evolusi kreatif, bukan sekedar evolusi mekanistik.

Alam, bisa saja, mendiktekan suatu kondisi kepada manusia. Dengan kreativitas, umat manusia mampu mengatasi batasan alam itu. Bahkan, manusia memanfaatkan alam semesta untuk lebih berkembang lagi. Alam, bisa saja, bermaksud melakukan seleksi kepada manusia berupa seleksi alam. Manusia, dengan kecerdasannya, berhasil meloloskan diri dari setiap seleksi alam. Darwin terbukti salah dengan menganggap populasi dari suatu spesies adalah konstan. Populasi umat manusia adalah 0,5 milyard pada tahun 1500 dan berkembang menjadi lebih dari 6 milyard pada tahun 2000.

Darwin salah merumuskan premis empirisnya sehingga deduksi yang menghasilkan teori evolusi mekanistik juga tidak sah. Kita perlu menggantinya dengan teori evolusi kreatif.

Freedom

Apakah evolusi berjalan dengan kebebasan manusia? Apakah manusia memiliki freedom dalam menjalani evolusi? Bukankah badan manusia, termasuk otak manusia, dikenai hukum alam yang bersifat pasti? Ketika kita menerima bahwa evolusi berlangsung secara kreatif, maka, apakah evolusi tersebut sudah dipastikan oleh hukum alam?

Darwin menjawab bahwa evolusi terjadi karena mutasi acak, sehingga, tidak deterministik. Ada peluang bagi manusia memiliki freedom dalam teori Darwin. Sebaliknya, evolusi kreatif menilai bahwa manusia mempunyai “tujuan” tertentu. Dengan demikian, manusia terikat oleh tujuan tersebut secara intelektual – sadar atau tidak. Di sisi lain, badan manusia terikat oleh hukum fisika. Lengkap sudah, manusia tidak memiliki freedom dengan sudut pandang seperti itu.

Manusia tetap memiliki freedom, memiliki kebebasan, meskipun terikat oleh suatu tujuan dan terikat oleh hukum fisika.

Karena, menurut Bergson, manusia memiliki waktu berupa durasi. Konsep durasi berbeda dengan konsep waktu yang berjalan linear dari masa lalu, masa kini, dan masa depan. Durasi bersifat kumulatif intensif dan terbebas dari pengaruh ruang. Dengan demikian, durasi memberi “waktu” kepada manusia memilih secara bebas, freedom.

Ketika manusia mendapat tekanan dari alam, maka, manusia memiliki durasi untuk memilih respon secara bebas. Manusia bisa merespon mengikuti tekanan alam, atau melawan tekanan alam, atau menghindari tekanan alam, atau respon kreatif lainnya.

Demikian juga, ketika manusia terikat oleh suatu tujuan, maka, manusia memiliki durasi untuk merespon ikatan tujuan itu dengan bebas. Manusia bisa merespon dengan komitmen terhadap tujuan itu, atau meninggalkan tujuan, atau membuat tujuan baru, atau respon kreatif lainnya.

Evolusi kreatif, benar-benar, berlangsung dengan cara kreatif dan bebas.

Elan Vital

Tidak ada jaminan bahwa generasi terakhir lebih kreatif dari generasi sebelumnya. Jadi, apa yang menjamin evolusi kreatif mengantarkan spesies menjadi lebih baik? Apa lagi, jika manusia memiliki freedom untuk memilih, maka apa yang bisa mencegah manusia berbuat keburukan?

Sebaliknya, evolusi mekanistik Darwin lebih menjamin pertumbuhan kebaikan. Mutasi genetika terjadi secara acak. Kemudian, alam melakukan seleksi umum. Hasil mutasi terbaik, dalam arti mampu beradaptasi, akan berhasil bertahan di alam dan berkembang biak dengan melahirkan generasi penerus. Dengan demikian, generasi penerus terjamin lebih baik dari generasi-generasi terdahulu melalui evolusi mekanistik Darwin.

Bergson menjawab bahwa evolusi kreatif digerakkan, didorong dan ditarik, oleh elan vital – kita sebut sebagai elan. Dengan elan, evolusi kreatif cenderung menuju ke arah yang lebih baik. Meski pun, manusia tetap memiliki freedom untuk menentukan sendiri arah evolusinya. Elan adalah energi kehidupan yang “mengingatkan” manusia untuk memilih arah yang terbaik.

Elan memberi tahu manusia bahwa “menghormati ibu” adalah perilaku yang baik. Setiap manusia bebas untuk memilih “menghormati ibu” atau memilih lainnya. Tetapi, elan menunjukkan kepada manusia: mana yang baik dan mana yang tidak baik. Elan pada induk kupu-kupu memberi tahu lokasi mana yang tepat untuk bertelur agar ketika telur menetas, nantinya, ulat-ulat itu memperoleh makanan yang memadai. Elan membimbing manusia untuk sanggup menghadapi segala rintangan. Bahkan, elan menunjukkan jalan pengorbanan untuk memberikan kebaikan terbesar bagi semesta raya. Elan adalah energi kehidupan yang ada pada setiap individu.

Evolusi Eksistensial

Terdapat beberapa alternatif teori evolusi: mekanistik, kreatif, eksistensial, ID, dan ekstended. Semua alternatif di atas mengutamakan analisis faktor imanen kecuali ID. Karena sama-sama imanen, di antara beragam alternatif, bisa saling melengkapi. Sementara ID, yang cukup kuat faktor transenden, cukup sulit untuk saling melengkapi dengan lainnya.

Bergson, dengan sengaja, mengarahkan evolusi kreatif untuk mengkritisi evolusi mekanisitik. Sedangkan, evolusi eksistensial hadir lebih awal dari evolusi mekanistik Darwin. Sehingga, kita harus membuat formulasi khusus untuk mengarahkannya sebagai kritik terhadap teori evolusi mekanistik.

Suhrawardi (1154 – 1191), Ibnu Arabi (1165 – 1240), dan Sadra (1571 – 1640) berhasil meletakkan konsep dasar evolusi eksistensial. Khususnya Sadra, dengan tegas, menyatakan terjadinya gerak-substantial abadi terhadap seluruh realitas alam raya. Gerak-substansial adalah dasar dari evolusi eksistensial.

Pertama, realitas paling fundamental adalah tunggal yaitu monisme-eksistensi. Kadang, kita membuat simbol cahaya untuk mewakili eksistensi. Selain eksistensi adalah tidak ada atau void. Kedua, eksistensi beragam dalam gradasi intensitas – ada yang lebih kuat dan ada yang lebih lemah. Di saat yang sama, eksistensi atau cahaya termodulasi, sehingga, menghadirkan beragam spesies konsep atau barza. Ketiga, setiap realitas dikenai gerak-substansial terus-menerus. Gerak ini satu arah, dari cahaya lemah menuju cahaya lebih kuat. Gerak-substansial terjadi karena cahaya yang kuat melimpahkan cahaya eksistensi ke yang lebih lemah. Sementara, cahaya yang lemah selalu “rindu” untuk meraih cahaya yang lebih kuat.

Mari kita coba menerapkan konsep gerak-substansial ke evolusi-eksistensial.

A: Karena eksistensi-cahaya bergradasi maka kita menyaksikan keragaman spesies dan keragaman individu.

B: Masing-masing spesies atau individu mengalami evolusi-eksistensial dengan “rindu” kepada eksistensi-cahaya yang lebih kuat atau lebih sempurna. Di saat yang sama, cahaya yang lebih kuat menarik, atau mendorong, individu untuk menjadi lebih sempurna. Evolusi-eksistensial ini berlangsung secara terus-menerus.

C: Arah evolusi-eksistensial adalah satu arah, yaitu, menuju eksistensi-cahaya yang lebih kuat, atau lebih sempurna.

Jika kita membandingkan evolusi-eksistensial dengan evolusi-kreatif maka kita akan menemukan beberapa kesamaan dan perbedaan.

Pertama, ada kekuatan, yang lebih besar dari sekedar aturan materi fisik, yang “mendorong” evolusi terus berlangsung. Elan bagi evolusi-kreatif dan gerak-substansial bagi evolusi-eksistensial.

Kedua, kekuatan evolusi bersifat imanen di dunia ini. Bagi evolusi-kreatif terbuka “ruang” tak terbatas pada durasi. Bagi evolusi-eksistensial terbuka “ruang” tak terbatas untuk penyempurnaan eksistensi-cahaya.

Ketiga, sama-sama terbuka terhadap argumen transendental. Sejatinya, evolusi mekanistik Darwin juga masih terbuka terhadap argumen transendental. Tetapi, tampaknya, para pendukungya tidak berminat mengembangkan argumen transendental. Apalagi, realitas transenden.

Berikutnya, kita perlu membahas ID, Intelligent Design, yang terasa kuat muatan transendentalnya.

8.3 Intelligent Design

Sejak awal, Darwin meragukan dalil teologis kreasionisme yang menyatakan bahwa manusia pertama diciptakan begitu saja dari kehampaan. Doktrin kreasionisme tidak memberi pengetahuan baru apa pun tentang asal-mula spesies manusia. Darwin menyusun teori evolusi yang berhasil memberi pengetahuan baru dan mendorong kajian baru tentang alam raya. Dalam sudut pandang ini, Darwin berhasil meraih sukses luar biasa.

Menariknya, konsep kreasionisme itu sendiri mengalami evolusi menjadi lebih matang, yaitu, menjadi Intelligent Design atau ID. Dari namanya, kita sudah bisa menangkap pesan bahwa ID meyakini eksistensi perancang cerdas yang transendental yaitu Tuhan. Lebih dari itu, ID memberi tantangan serius kepada teori evolusi mekanistik Darwin.

Kompleksitas

Kompleksitas yang tidak bisa direduksi. Struktur kompleks yang berfungsi dengan baik tetapi masing-masing komponen tidak bisa mewakili struktur kompleks itu. Misal, perhatikan struktur kompleks pada mobil ada kursi, roda, stir, dan mesin. Kursi saja, tidak bisa berfungsi sebagai mobil. Mesin saja, juga, tidak bisa berfungsi sebagai mobil. Struktur kompleks mobil adalah satu kesatuan. Tidak bisa direduksi menjadi komponen-komponen belaka. Karena, ada perancang cerdas yang merancang mobil menjadi struktur kompleks, sehingga, mobil berfungsi sebagai alat transportasi dengan baik.

Struktur kompleks pada tubuh manusia tersusun oleh mata, kaki, tangan, dan otak. Masing-masing organ tidak bisa mewakili manusia. Manusia merupakan struktur kompleks yang dirancang oleh perancang cerdas, sehingga, terciptalah manusia secara sempurna.

Spesifik

Kompleksitas yang berkembang makin kompleks, di saat yang sama, memiliki tujuan spesifik. Mobil makin kompleks dengan beragam asesoris: spion, nomor, ac, dan lain-lain. Kompleksitas yang meningkat ini memiliki tujuan menjadikan mobil sebagai alat transportasi yang lebih baik. Hal ini sesuai dengan tujuan sang perancang.

Organ manusia, misal organ mata, terdiri dari jutaan sel. Beragam jenis sel berkembang di organ mata, sementara, beragam jenis sel lain tidak berkembang. Jutaan sel di organ mata tersusun dengan kompleks, dengan tujuan spesifik, agar bisa melihat. Tidak ada sel yang menumbuhkan daging di depan kornea, misalnya, karena bisa menghalangi mata. Sementara, sel-sel tumbuh untuk menguatkan otot-otot akomodasi lensa mata. Semua sesuai kehendak sang perancang cerdas.

Penalaan

Fine-tune, atau penalaan, alam raya begitu mempesona. Ketetapan gravitasi, massa proton, kecepatan cahaya, muatan listrik, dan lain-lain begitu sempurna, sehingga, memungkinkan terciptanya alam raya dan lahirnya kehidupan manusia.

Seandainya, ketetapan gravitasi lebih besar dari seharusnya, maka, alam semesta ini terlalu kuat terikat. Sehingga, alam raya tidak mengembang. Alam raya mengkerut sejak awal kemunculannya. Dan, tidak sempat ada kehidupan apa pun di alam semesta – bahkan tidak sempat ada alam semesta. Tetapi, angka ketetapan gravitasi begitu tepat. Sehingga, alam berkembang sampai kehadiran umat manusia yang cerdas. Itu semua sesuai dengan tujuan dari sang perancang cerdas.

Perancang

Siapakah perancang cerdas itu?

Jawabannya adalah Tuhan Sang Maha Cerdas. Tentu saja, itu jawaban yang benar. Jawaban yang sah. Bagi umat beragama berhak untuk mengatakan bahwa alam semesta adalah rancangan dari Tuhan.

Pertanyaannya adalah bagaimana dalil-dalil ID, di atas, bisa membuktikan adanya Tuhan sebagai perancang cerdas? Atau, bagi orang yang tidak percaya, bagaimana membuktikan Tuhan itu ada? Atau, bagaimana Tuhan berhubungan dengan semua alam raya itu?

ID bisa menyusun argumen untuk menjawab semua pertanyaan itu. Tetapi, komunitas saintis menilai argumen ID tidak ilmiah. Sehingga, ID dianggap sebagai bukan sains. Beberapa pihak menilai ID sebagai sains palsu. Sehingga, konsep ID dilarang diajarkan di sekolah.

Salah satu keberatan utama terhadap ID adalah logika ignoran – logika tidak tahu. Karena kita tidak tahu mengapa sel-sel tertentu berubah membentuk organ mata, maka, kesimpulannya adalah karena ada perancang cerdas. Karena kita tidak tahu mengapa banyak hal menakjubkan, maka, kesimpulannya adalah karena ada perancang cerdas.

Sementara, komunitas saintis berharap, ketika kita tidak tahu sesuatu, maka kita perlu mengkajinya.

Secara filosofis, dalil ID bisa saja valid, meski belum tentu benar. Alternatifnya, para pendukung ID bisa saja mengembangkan sistem aksiomatik dengan menerima interpretasi ID sebagai aksioma. Kemudian, sistem aksiomatik itu terus bekembang secara canggih. Realitasnya, sistem aksiomatik ID memang berkembang. Tetapi, mereka sering berbenturan di domain yang sama dengan sains. Sehingga, konflik tak terhindarkan.

Alternatif lain adalah ID bisa mencoba mengadaptasi evolusi-kreatif dan evolusi-eksistensial. Tampaknya, ID lebih dekat ke konsep evolusi-kreatif ini. Tantangan tetap ada: evolusi-kreatif mengandalkan argumen imanensi, sementara, ID mengandalkan argumen transenden. Akankah ID tertarik dengan argumen imanen?

8.4 Extended

Anomali adalah sebentuk pengetahuan. Pengecualian adalah pengetahuan sejati. Perbedaan adalah pengetahuan baru. Sehebat apa pun klaim teori evolusi, tetap saja, kita bisa menemukan beragam anomali. Bukan hanya satu anomali, tetapi, banyak anomali. Sehingga wajar, banyak pihak yang mengusulkan revisi terhadap teori evolusi.

Extended Evolution Synthesis (EES) adalah salah satu usulan solusi yang mengakomodasi beragam anomali dari teori evolusi. Tentu saja, kita bisa menduga, terjadi pro kontra terhadap EES. EES mengusulkan agar beberapa sub-bidang baru menjadi landasan sains biologi di antaranya: plasticity, pengembangan evolusi, epigenetik, dan evolusi kultur.

Plasticity menunjukkan bagaimana suatu organisme dapat berubah dengan sangat lentur, sangat plastis. Perubahan plastis jauh lebih drastis dari yang dipikirkan oleh perubahan evolusi. Barangkali, perubahan plastis bisa dikatakan sebagai revolusi.

Polypterus senegalus adalah ikan dari Senegal yang mampu berubah secara revolusioner. Polypterus memiliki insang dan paru-primordial. Di atas permukaan air, polypterus mampu bernafas dengan paru-primordial. Sementara, sebagian besar hidupnya, polypterus hidup di dalam air dengan memanfaatkan insang. Saintis melakukan eksperimen dengan memindahkan polypterus muda, usia beberapa minggu, ke habitat daratan. Polypterus itu berhasil hidup di daratan dengan mengembangkan paru-primordial menjadi paru-paru, sehingga bisa bernafas dengan baik. Tulang-tulang siripnya berkembang lebih kuat untuk menopang badannya bergerak di darat. Dan, beragam anggota tubuhnya berubah untuk mendukung kehidupan di daratan.

Polypterus ini merupakan, mirip dengan, fosil transisi dari mahkluk air menjadi makhluk darat. Berdasar data fosil, perlu waktu jutaan tahun, untuk transisi seperti polypterus. Sementara, polypterus melakukannya dengan cepat hanya perlu satu generasi. Perubahan evolusi yang revolusioner. Beberapa saintis tidak menyebutnya sebagai revolusioner, tetapi, sebagai transformasi cepat.

EES memiliki banyak data empiris yang menunjukkan simpangan serius terhadap evolusi neo Darwin. Sehingga, EES menuntut revisi besar-besaran terhadap teori evolusi. Sementara, di sisi pendukung evolusi Darwin, menganggap semua simpangan di atas adalah wajar-wajar saja. Semua bisa dijelaskan dengan kerangka evolusi yang sudah ada. Jadi, tidak perlukah revisi terhadap teori evolusi?

8.5 Opini

Kesimpulan akhir: teori evolusi adalah sebuah opini. Teori evolusi bukan sains, tetapi teori sains. Teori evolusi bukan fakta sains, tetapi teori sains. Teori evolusi, juga, bukan kesesatan. Teori evolusi adalah opini yang nilai kebenarannya diharapkan benar, tetapi, belum terbukti sebagai benar.

Bisakah, teori evolusi menjadi sains empiris? Tidak bisa. Karena evolusi melibatkan data fosil dari masa jutaan tahun yang lalu, maka, kita menyertakan banyak interpretasi dalam teori evolusi. Sehingga, tetap menjadi opini yang mungkin bernilai benar.

Bisakah, teori evolusi menjadi sistem pengetahuan aksiomatik? Bisa. Beberapa orang yang menerima interpretasi tertentu sebagai aksioma, maka, selanjutnya, bisa mengembangkan sistem pengetahuan aksiomatik. Tetapi, teori evolusi lebih dekat ke sistem sains empiris dari pada ke sistem aksiomatik matematika atau sistem aksiomatik agama. Barangkali lebih bijak, kita memilih teori evolusi dibiarkan tetap dinamis.

Bisakah, teori evolusi menjadi sistem pengetahuan aksiomatik filosofis? Tentu bisa. Evolusi-kreatif dan evolusi-eksistensial adalah sisten aksiomatik filosofis untuk teori evolusi. Bagaimana pun, kita tetap perlu perkembangan data empiris untuk menguji teori evolusi. Sehingga, meski tersedia sistem aksiomatik filosofis, kita tetap memerlukan revisi berdasar data empiris. Teori evolusi tetap dinamis. Tetap evolusi, atau kadang, revolusi.

Lanjut ke Batas-Batas
Kembali ke Philosophy of Love

Benar Vs Salah

Cinta saya kepada Rara adalah cinta sejati. Kebenaran sejati. Tidak ada keraguan sama sekali. Tetapi bila ditanya berapa tinggi badan Rara maka ada keraguan menjawabnya. Di sekolah, tinggi Rara 165 (cm). Waktu Rara tes mengemudi untuk SIM, tingginya 166. Sehingga saya mengira tinggi Rara sekitar 165 – 166. Mengapa kita tidak bisa tahu tinggi Rara yang sebenarnya?

1. Kebenaran Empiris Aksiomatik
1.1 Kebenaran Korespondensi
1.2 Ketidakpastian Korespondensi
1.3 Problem Relasi
1.4 Kebenaran Aksiomatik
2 Kebenaran Praxis Probabilistik
2.1 Kebenaran Praxis
2.2 Konsensus Praxis
2.3 Dissensus Praxis
2.4 Kebenaran Probabilistik
2.5 Berbohong dengan Statistik
3. Kebenaran Cinta Kreatif
4. Ringkasan
5. Diskusi
5.1 Kebenaran Dinamis
5.2 Kebenaran Verifikasi
5.3 Kebenaran Cakrawala
5.4 Kebenaran Interpretasi
5.5 Kebenaran Pengalaman

Di masa pandemi covid-19, Presiden dengan konsisten menyatakan bahwa kondisi Indonesia senantiasa baik-baik saja. Awal Desember 2020, tiba-tiba Presiden menyatakan bahwa kondisi Indonesia memburuk, semuanya memburuk. Selang satu hari, Presiden menyatakan lagi bahwa Indonesia sudah baik. Hanya sekitar 5 jam setelah itu, kasus positif terinfeksi virus di Indonesia meledak, memuncak, bertambah lebih dari 8 ribu dalam sehari.

Di antara pernyataan Presiden itu, mana yang benar? Mana yang sesat? Apakah semua bisa dianggap benar? Selalu relatif? Pada bagian ini kita akan membahas dengan tegas mana yang termasuk benar, sebagai kebenaran. Dan tentu saja, juga menentukan mana yang salah, sebagai kesesatan atau kebohongan.

Berbohong dengan statistik adalah paling menarik. Karena bohongnya dilengkapi dengan data, persentase, perbandingan, dan lain-lain membuat masyarakat luas mudah percaya. Bohongnya statistik begitu meyakinkan. Tetapi, sejatinya, dengan data statistik yang sama kita lebih mudah mengungkap kebohongan itu. Hanya saja, data yang bisa mengungkap kebohongan itu, bisa disembunyikan oleh pihak-pihak yang berkepentingan.

Pembahasan kita akan dimulai dengan menyelidiki kebenaran yang bersifat korespondensi. Kebenaran ini dianggap paling sederhana yaitu tinggal dicek dengan fakta. Nyatanya tidak semudah itu karena definisi fakta tidak selalu sama. Kemudian kita akan membahas kebenaran aksiomatik yang bersifat pasti semisal kebenaran matematika dan sains teknologi. Pada bagian akhir kita membahas kebenaran probabilistik yang mencakup hampir seluruh pengetahuan manusia.

Dari arah yang berbeda kita perlu mempertimbangkan kebenaran moral. Meski diliputi beberapa perbedaan sudut pandang, kita perlu membahas kebenaran moral, dan kebenaran fundamental, dengan tuntas. Perbedaan-perbedaan, demi keperluan praktis, dapat diselesaikan dengan konvensi, kesepakatan di antara pihak yang berkepentingan.

1. Kebenaran Empiris Aksiomatik
1.1 Kebenaran Korespondensi

“Tinggi badan Rara adalah 165 cm.”

Pernyataan di atas adalah benar secara korespondensi bila ada fakta empiris yang sesuai. Maka kita bisa mengukur tinggi badan Rara secara langsung, secara empiris. Misal hasil pengukuran menunjukkan bahwa tinggi badan Rara 165 cm. Sehingga kita menyimpulkan pernyataan di atas bernilai benar, sebagai kebenaran. Jika tinggi Rara, dari pengukuran, ternyata tidak 165 cm maka pernyataan di atas dianggap salah, sebagai kesesatan.

Situasi lebih menantang adalah bagaimana jika kita tidak bisa secara langsung mengukur tinggi badan Rara? Misalnya kita pada posisi di luar negeri yang membutuhkan informasi tentang tinggi Rara, bisa diinfokan secara online. Barangkali kita bisa melihat dokumen resmi yang memuat informasi tentang tinggi badan Rara. Di KTP tertulis tinggi badan Rara 165 cm. Tapi di SIM tertulis tinggi badan Rara 166 cm. Mana yang benar?

Di sini kita bisa mengambil sikap bahwa kebenaran korespodensi dihubungkan dengan (1) realitas atau (2) sesuatu yang dianggap benar. Dalam kehidupan sehari-hari, dokumen legal adalah termasuk sesuatu yang dianggap benar. Misal KTP Rara yang menyatakan bahwa tinggi badan Rara 165 cm adalah dianggap benar. Dengan demikian, pernyataan di atas, bahwa tingggi badan Rara adalah 165 cm, bernilai benar.

Tetapi mengacu SIM, tinggi Rara adalah 166 cm. Perbedaan tinggi yang hanya 1 cm, dalam kehidupan sehar-hari, masih dapat diterima. Artinya, kita masih dapat menganggap kedua dokumen di atas sama-sama benar. Barangkali tinggi Rara, sejatinya, memang antara 165 – 166 cm. Sehingga ketika diukur, kadang terbaca, pembualatan, menjadi 165 atau 166 cm. Secara praktis, manusia bersikap toleran. Bisa menerima beberapa perbedaan dengan lapang dada. Dan dalam banyak hal kita memerlukan sikap toleran seperti itu.

Kita masih bisa terus bertanya berapa tinggi Rara sejatinya, secara realitas. Barangkali kita bisa melakukan pengukuran beberapa kali agar lebih yakin. Hasilnya, misalnya dalam satuan cm, seperti berikut:

Pengukuran 1 = 165,4
Pengukuran 2 = 165,49
Pengukuran 3 = 165,499
Pengukuran 4 = 165,4999
Pengukuran 5 = 165,49999

Wajar bila KTP menuliskan 165 sebagai pembulatan ke bawah. Dan bisa dipahami SIM menuliskan 166 sebagai pembulatan ke atas. Sekali lagi, sebagai mahasiswa filsafat kita masih bertanya, berapa tinggi Rara sejatinya? Dari hasil pengukuran di atas, sains dan matematika punya jawaban yang meyakinkan. Misalkan makin teliti (presisi) pengukuran tinggi Rara menghasilkan nilai angka di belakang koma adalah 9 terus menerus. Tanda titik 3 di belakang angka 9 menandakan angka 9 diulang tanpa henti.

R = 165,499999…

Bila R dikali 10 maka akan menghasilkan angka yang sama tapi tanda koma digeser ke kanan. Hasil kali ini juga memiliki angka 9 di belakang koma berulang tanpa henti.

10 x R = 1654,99999…

Karena sama-sama memiliki angka 9 berulang tanpa henti maka bila kita kurangkan, angka 9 tanpa henti ini menjadi saling menghilangkan.

10 x R – R = 1654,99999… – 165,499999… = 1489,50

9 x R = 1489,50

R = 1489,50/9 = 165,5

Jadi, tinggi Rara tepat 165,5 cm setelah dilakukan pengukuran berulang-ulang dan dihitung secara matematika. Sampai di sini, kita bisa menyimpulkan bahwa sah KTP menulis 165 cm, SIM menulis 166 cm, untuk tinggi Rara. Angka tersebut cukup akurat sesuai pengukuran sains yang memberikan hasil lebih presisi yatu 165,5 cm.

Pernyataan yang berkebalikan dengan hasil di atas bisa kita nilai sebagai kesesatan, lawan dari kebenaran. Misal pernyataan “tinggi badan Rara adalah 150 cm” adalah kesesatan. Orang juga sering menyebutkan sebagai kebohongan, yang menyesatkan.

1.2 Ketidakpastian Korespondensi

Mahasiswa filsafat masih bisa meniru Socrates yang terus-menerus mempertanyakan keabsahan pengukuran tinggi Rara di atas. Namun demikian, seorang filsuf tetap bisa menjaga diri dalam situasi praktis sehari-hari. Maksudnya, meski angka 165 atau 166 tidak secara tepat menggambarkan tinggi Rara yang sesungguhnya tetapi angka tersebut bisa diterima secara meyakinkan untuk dituliskan dalam dokumen resmi.

Demikian juga ketika ilmuwan menyatakan bahwa tinggi Rara yang lebih presisi adalah 165,5 cm maka kita terima untuk kepentingan sains. Resiko muncul ketika sains mengklaim bahwa angka 165,5 itu benar secara tepat. Meskipun secara matematika bisa dibuktikan bahwa,

R = 165,4999… = 165,5

Tetapi bisa dipastikan bahwa persamaan itu mengandung suatu “error”, yang bisa diterima. Error ini memang kecil tetapi tidak nol. Maka sains melangkah lebih fleksibel dengan memberi rentang toleransi berupa margin dari error. Misalnya, sains menyatakan bahwa tinggi Rara adalah 165,5 dengan toleransi 165 – 166 cm. Maksudnya, sains yakin bahwa tinggi Rara adalah 165,5 tetapi masih bisa menerima jika ada selisih sedikit misal di antara 165 – 166 tersebut.

Lagi, mahasiswa filsafat masih bisa bertanya, sebenarnya bisakah kita mengukur tinggi Rara dengan tepat?

Pertanyaan ini perlu kita tanggapi dengan cermat. Secara filosofis kita hanya bisa mengetahui penampakan Rara saja bukan Rara secara sejati. Sehingga ketika kita mengukur tinggi badan Rara, sejatinya itu hanya penampakan yang bisa kita ukur. Maka bisa kita nyatakan bahwa kita tidak bisa mengukur tinggi Rara dengan tepat. Kita hanya bisa mengukur penampakan belaka. Di sisi alat ukur sendiri, yang bisa diketahui adalah penampakan alat ukur. Bukan alat ukur sejatinya. Jadi, secara filosofis, kita tidak bisa mengukur tinggi Rara secara tepat. Kita hanya bisa melakukan estimasi dengan teliti.

Sains dan teknologi melangkah lebih berani. Dengan menciptakan alat ukur yang lebih canggih, dilengkapi sistem cerdas digital, maka kita memperoleh hasil ukur yang lebih mengagumkan presisi. Alat ukur canggih ini bisa mengarahkan posisi berdiri Rara agar ideal. Hasil pengukuran pun sudah berupa angka digital. Misal dengan kondisi yang sempurna, alat ukur menunjukkan hasil pengukuran,

R = 165,499 999 999 cm

Dengan ketelitian 9 angka di belakang koma. Hasil yang bagus. Sudah mencukupi untuk berbagai keperluan baik praktis, ilmiah, atau lainnya. Hanya satu yang belum terjawab: apakah itu benar-benar tinggi Rara sejati?

Seandainya alat ukur itu dibuat lebih hebat lagi dengan bisa menampilkan 1 digit tambahan. Maka digit tambahan itu akan menunjuk angka berapa? Jika menunjuk angka 9 lagi maka pengukuran sebelumnya adalah terlalu kecil dibanding pengukuran yang terakhir. Agar pengukuran awal memberikan hasil yang tepat maka tambahan digit baru harus menghasilkan angka 0. Dan bila ditambah berapa pun digitnya maka digit tambahan ini semuanya harus bernilai 0.

Mudah bagi kita untuk meragukan bahwa tambahan digit selalu menghasilkan 0. Kita lebih yakin bahwa tambahan digit bisa saja menghasilkan angka bukan 0. Sehingga hasil pengukuran itu tidak bisa kita yakini sebagai mengukur tinggi Rara secara sejati.

Barangkali kelemahan terletak pada alat ukur? Jika kita memiliki alat ukur sempurna apakah bisa mengukur tinggi badan Rara dengan sempurna?

Mari kita cermati dengan membayangkan kita memiliki teknologi sangat canggih sehingga bisa mengukur dengan sempurna. Alat ukur canggih ini berhasil mengukur tinggi Rara adalah 165,5 cm dengan satu masalah yaitu ada satu elektron yang kadang berada di atas rambut Rara. Jika elektron ini menyelinap ke bawah rambut maka tinggi Rara tepat 165,5 cm. Tetapi jika elektron ini berada di atas rambut maka tinggi Rara adalah 165,5 cm + d, di mana d adalah diameter elektron.

Panjang diameter elektron sekitar 10 pangkat -14 meter. Ilustrasinya, bila ada 1 trilyun elektron dipasang sambung menyambung maka panjang totalnya adalah 1 cm. Sehingga ukuran diameter elektron adalah terlalu kecil untuk pengalaman kehidupan sehari-hari.

Mari, kembali kita perhatikan hasil ukur alat yang sangat canggih itu. Hanya ada dua kemungkinan tinggi Rara yaitu tepat 165,5 cm atau 165,5 + d. Tampaknya dengan mudah kita bisa menyelesaikan masalah ini. Kita katakan tinggi Rara adalah tepat 165,5 cm ketika tidak ada elektron di atas rambutnya. Dan tinggi Rara jadi 165,5 cm + d ketika ada elektron di atas rambutnya. Solusi ini benar bila kita hanya menerapkan teori fisika klasik Newton. Tetapi, tidak bisa dibuktikan kebenarannya jika kita menerapkan teori mekanika quantum. Dan, sayangnya, urusan elektron adalah wilayah dari mekanika quantum.

Mekanika quantum menyatakan adanya ketidakpastian Heisenberg. Di mana kita tidak bisa mengetahui lokasi elektron secara pasti. Sehingga alat canggih kita tidak pernah tahu pasti apakah elektron sedang ada di atas rambut Rara atau tidak. Akibatnya, alat canggih kita tidak pernah tahu tinggi Rara secara tepat. Alat canggih kita hanya menduga.

Apakah dengan demikian alat ukur itu tidak berguna? Tentu saja berguna. Bahkan sangat berguna. Kita, sebagai manusia, perlu menyikapi hasil alat ukur itu dengan bijak. Pertama, sesuaikan kebutuhan. Jika kita perlu mengukur tinggi badan untuk kepentingan sehari-hari maka beda pengukuran 1 cm adalah wajar dan bisa diterima. Untuk kepentingan laboratorium, barangkali perlu lebih teliti misal selisih tidak boleh lebih dari 1 milimeter.

Kedua, dalam banyak hal kita lebih mementingkan akurasi. Misal menyatakan tinggi Rara 165 cm adalah benar, akurat. Menyatakan tinggi Rara 166 cm juga benar, akurat. Tetapi menyatakan tinggi Rara adalah 255,999 cm adalah salah. Meski presisi sampai 3 angka di belakang koma namun tidak akurat. Jadi kita anggap sebagai salah, atau informasi salah yang menyesatkan.

Ketiga, sehebat apa pun alat ukur kita, sehebat apa pun pengetahuan kita tentang alam eksternal, adalah tetap sebuah estimasi. Di mana estimasi kemungkinan besar akan bernilai benar namun tetap ada kemungkinan, pihak lain memiliki, hasil pengukuran yang berbeda dengan yang kita miliki. Maka di sini sikap respek antara berbagai pihak yang berbeda menjadi penting. Barangkali bisa dicari titik temu antara pihak yang berbeda. Atau paling tidak bisa saling memahami antara semua pihak.

1.3 Problem Relasi

Teori kebenaran korespondensi menghadapi masalah filosofis lebih serius: tidak pernah bisa terbentuk relasi yang diperlukan oleh korespondensi.

Mari kita tinjau ada meja bulat tinggi 1 meter dan ada meja persegi tinggi juga 1 meter. Kedua meja itu terhubung oleh relasi tinggi yang sama-sama 1 meter. Tetapi, bagaimana kita bisa tahu tinggi mereka adalah 1 meter?

Kita bisa mengukur dengan mistar penggaris dan menyimpulkan bahwa tinggi kedua meja tersebut adalah sama-sama 1 meter. Dalam kasus ini, mistar adalah penghubung, atau relasi, antara meja bulat dengan meja persegi. Pertanyaan berlanjut, “Bagaimana kita bisa membuat relasi antara mistar dengan tinggi meja?”

Kita berasumsi telah membuat relasi korespondensi ketika menempelkan mistar ke meja. Padahal, tidak ada hubungan nyata antara mistar dan meja. Relasi tersebut hanya ada dalam imajinasi kita. Kita berpikir bahwa panjang mistar adalah 1 meter, dalam imajinasi. Kemudian, kita menempelkan mistar ke meja dan membuat imajinasi tinggi meja adalah 1 meter berdasar hasil pengamatan pengukuran. Dalam tahap ini, imajinasi 1 meter adalah relasi yang kita buat.

Pertanyaan masih berlanjut, “Bagaimana imajinasi bisa terhubung dengan mistar?”

Misal, imajinasi terhubung dengan mistar melalui relasi A. Maksudnya, imajinasi terhubung dengan A dan A terhubung dengan mistar. Kita akan perlu membuat relasi lagi antara A dan mistar, misal melalui relasi B. Demikian seterusnya, kita perlu C, D, E, dan F tanpa ujung akhir. Karena itu, kita tidak pernah berhasil membuat relasi antara dua entitas yang dipersyaratkan oleh teori korespondensi.

Meski pun teori korespondensi menghadapi problem filosofis, tetapi tetap berguna. Dengan kata lain, korespondensi itu tidak mencukupi tetapi diperlukan. Karena itu, kita akan memanfaatkan secara luas teori korespodensi. Di saat yang sama, terbuka dengan ragam kemungkinan koreksi.

Beberapa solusi yang mungkin adalah dengan mengenalkan konsep dunia universalia – seperti dibahas di bagian terdahulu – atau dunia imajinasi atau dunia ketiga atau yang lainnya lagi. Di bagian bawah, kita akan membahas pentingnya teori kebenaran cinta-kreatif.

1.4 Kebenaran Aksiomatik

Seperti sudah kita nyatakan di awal, kebenaran aksiomatik bersifat pasti bahkan universal. Pernyataan matematika dan sains ideal adalah kebenaran aksiomatik, selalu bersifat benar. Kebenaran moral juga bersifat aksiomatik, selalu benar, sejauh acuan moral disepakati. Begitu juga kebenaran legal juga bersifat aksiomatik, selalu benar, sejauh acuan legal disepakati. Dan yang paling mengagumkan adalah kebenaran sistem informasi, digital, juga bersifat aksiomatik, selalu benar, sejauh sistem perform.

Tantangan pertama adalah menemukan formula kebenaran aksiomatik. Misalnya dalam geometri dinyatakan, “jumlah besar ketiga sudut dari segitiga adalah 180 derajat.” Pernyataan geometri ini selalu benar dan universal. Barangkali kita bisa mencoba aneka ragam segitiga. Lalu mengukur sudut-sudutnya dan menjumlahkannya. Memang selalu benar jumlahnya selalu 180 derajat, apa pun bentuk segitiganya.

Kita bisa mengubah pernyataan geometri di atas sebagai logika biimplikasi. (Dengan kalimat yang disederhanakan).

Jika segitiga maka total 180 derajat (dan)
Jika total 180 derajat maka segitiga.

Biimplikasi berlaku dua arah. Artinya, jika kita menemukan bangun datar dan jumlah seluruh sudutnya 180 derajat maka bisa dipastikan bangun datar tersebut adalah segitiga.

Di sisi lain, kita perlu waspada bentuk logika yang mirip biimplikasi tetapi berbeda, yaitu implikasi.

Jika suatu bilangan lebih dari 5 maka bilangan tersebut pasti positif.

Pernyataan di atas selalu benar. Kita bisa ambil contoh bilangan 6, 7, 8 atau berapa pun asal lebih dari 5 maka pasti positif juga. Tetapi implikasi pada arah kebalikannya tidak selalu benar.

Jika suatu bilangan positif maka bilangan tersebut lebih dari 5. (Tidak sah).

Berpikir seperti di atas adalah tidak sah. Dalam arti, logika itu bisa salah. Meskipun dalam kasus tertentu bisa saja benar. Di sini kita perlu waspada. Jika kita ambil contoh bilangan positif adalah 7 maka benar 7 adalah lebih dari 5. Tetapi jika kita ambil contoh bilangan positif adalah 2 maka tidak benar dianggap sebagai lebih dari 5.

Dalam kehidupan sehar-hari banyak contoh bisa kita amati.

Jika dia adalah Jokowi maka dia adalah presiden. (Benar dan sah)
Jika dia adalah presiden maka dia adalah Jokowi. (Tidak sah)

Yang terakhir bisa salah karena presiden bisa saja SBY, Mega, Obama, dan lain-lain. Bagaimana pun dengan mematuhi aturan logika kita bisa menjamin bahwa kebenaran aksiomatik berlaku universal, selalu benar. Apa lagi dengan memanfaatkan teknologi digital maka memudahkan perhitungan, simulasi, dan estimasi. (Dalam berbagai kasus, kita memahami bahasa sesuai language game Wittgenstein bukan dekonstruksi Derrida).

Godel (1906 – 1978) adalah ahli sistem aksiomatik yang berhasil menunjukkan kelemahan sistem aksiomatik atau sistem formal. Teorema Godel menyatakan bahwa setiap sistem aksiomatik pasti tidak lengkap atau tidak konsisten. Akibatnya, meski kebenaran askiomatik bersifat pasti, pada gilirannya, kita akan berhadapan dengan masalah paradoks. Dalam sistem aksiomatik akan menghasilkan suatu pernyataan bernilai BENAR dan sekaligus pernyataan tersebut bernilai TIDAK BENAR. Dan, sistem aksiomatik tidak mampu menentukan mana yang “lebih benar.” Sistem aksiomatik menjadi tidak konsisten.

Kabar baiknya, karakter tidak konsisten dari sistem aksiomatik tersebut bisa dibatasi hanya pada kasus tertentu saja. Sehingga, kita masih bisa percaya kepada sistem aksiomatik dalam banyak hal kasus. Sementara, untuk kasus tertentu, kita harus terbuka ada kemungkinan munculnya paradoks yang tidak konsisten.

2. Kebenaran Praxis Probabilistik
2.1 Kebenaran Praxis

Barangkali kita bahagia karena ada kebenaran universal yang selalu bernilai benar yaitu kebenaran aksiomatik. Nyatanya tidak semudah itu. Karena kebenaran universal berlaku pada syarat dan ketentuan, yang menjadi batasannya. Ketika kita hendak menerapkan ke dunia nyata sering dituntut untuk menerjemahkan yang universal menjadi partikular. Maka kita berhadapan dengan kebenaran praxis: penilaian intuitif kasus partikular dengan merujuk universal.

Mari kita ambil contoh pernyataan matematika “2 + 1 = 3” adalah selalu benar secara universal. Saat akan menerapkan ke dunia nyata kita berhadapan dengan kondisi yang berbeda.

beras 2 kg + beras 1 kg = beras 3 kg

Seharusnya persamaan tentang beras di atas benar sesuai formula matematika “2 + 1 = 3”. Tetapi kita tahu bahwa “beras 2 kg” adalah pernyataan praktis yang menuntut kebenaran korespondensi. Sudah kita bahas di atas, bahwa kita tidak bisa mengetahui dengan tepat beras 2 kg. Yang bisa kita ketahui adalah estimasi beras 2 kg. Barangkali beras 2 kg itu kelebihan 1 butir atau kurang 2 butir, malahan.

Dengan merujuk ketidakpastian Heisenberg, kita bisa menduga barangkali beras 2 kg itu kelebihan 1 elektron atau kurang 1 elektron. Tidak ada yang tahu secara pasti. Sesuai kaidah mekanika quantum tentang ketidakpastian Heisenberg.

Akibatnya, beras 2 kg adalah estimasi, beras 1 kg juga estimasi, dan hasilnya beras 3 kg pasti bersifat estimasi. Hasil estimasi ini sah. Hasil ini berguna dalam kehidupan praktis secara luas. Jika Anda membeli beras 2 kg lalu tambah lagi 1 kg maka Anda wajib membayar untuk total beras 3 kg itu. Tidak ada keraguan dalam hal ini.

Yang perlu diwaspadai adalah, dan perlu selalu diingat, bahwa klaim beras 3 kg adalah sekedar estimasi. Maka kita perlu bersikap toleran seandainya ada pihak lain yang berbeda pandangan. Kita yakin, dengan verifikasi, perbedaan pandangan tentang beras 3 kg akan berakhir dengan kata sepakat. Seperti kita sudah bahas pada bab sebelumnya, kasus beras 3 kg ini, termasuk penilaian intuitif yang memungkinkan persetujuan.

2.2 Konsensus Praxis

Habermas barangkali filsuf terbesar dunia yang masih hidup saat ini. Habermas berusia 91 tahun pada 2020. Habermas meyakini bahwa umat manusia akan mampu berhasil membangun peradaban bersama dengan mengedepankan konsensus melalui komunikasi rasional yang aktif. Seperti kita telah bahas dengan contoh di atas, bahwa dalam banyak hal, kita berhasil mencapai konsensus.

Kita bisa ambil contoh lagi untuk konsensus. Saya punya cita-cita mengajarkan matematika kreatif ke seluruh penjuru. Teman saya mempunyai kemampuan membuat program komputer, dan apk mobile. Kami bertemu lalu sepakat membuat kerja sama di bawah konsensus. Masing-masing pihak mempunyai hak dan kewajiban. Saya berkewajiban membuat konten matematika. Dan teman saya berkewajiban membuat program digital. Kerja sama berjalan dengan baik.

Kasus yang lebih serius terjadi pada abad ke 17 di bidang matematika. Siapakah penemu kalkulus? Ilmuwan Inggris mengklaim penemu kalkulus adalah Newton. Tetapi ilmuwan Jerman mengklaim penemu kalkulus adalah Leibniz. Masing-masing memiliki argumen yang sama kuat. Newton terbukti lebih awal mempublikasikan penemuan kalkulusnya. Sedangkan Leibniz terbukti, telah menemukan kalkulus beberapa tahun sebelum Newton, tersimpan dalam catatan pribadi yang belum dipublikasikan.

Sidang penentuan siapa penemu kalkulus digelar. Saat itu dicapai konsensus bahwa penemu kalkulus adalah Newton. Meski pihak Leibniz keberatan, mereka harus menerima konsensus itu. Waktu terus berjalan. Berbagai pihak mengusulkan untuk mengkaji ulang konsensus yang pernah dicapai. Pengkajian lebih mendalam menunjukkan bahwa kalkulus Newton dengan kalkulus Leibniz berbeda tajam dalam hal metode dan notasi-notasinya. Sehingga disimpulkan mereka berdua menemukan kalkulus secara independen. Dan akhirnya dicapai konsensus baru bahwa penemu kalkulus adalah Newton dan Leibniz, yang bekerja secara terpisah.

Habermas mendorong semua pihak untuk berperan dalam menemukan formula konsensus terbaik melalui komunikasi aktif dan rasional. Masing-masing pihak mengungkapkan sudut pandangnya dalam bentuk rasional. Sehingga pihak lain dapat memahami dengan baik, secara rasional. Dengan proses komunikasi aktif ini diharapkan tercapai konsensus terbaik untuk semua pihak.

Habermas menekankan pentingnya mengganti sikap fundamentalis dengan sikap fallibilis. Di mana sikap fundamentalis memandang bahwa sudut pandang dirinya adalah yang paling benar secara fundamental. Tentu sulit mencapai konsensus dengan cara ini. Maka perlu diganti dengan sikap fallibilis, yaitu, sikap terbuka yang meyakini bahwa sudut pandangnya mungkin saja salah. Lalu dicari sudut pandang yang lebih baik. Dengan sikap fallibilis ini maka kita bisa maju mencapai konsensus terbaik.

Tetapi kritik terhadap pendekatan konsensus Habermas ini terjadi dari berbagai sudut pandang. Salah satunya adalah kritik telak dari tokoh posmodern yaitu Lyotard. Mereka, Lyotard dan Habermas, berdebat panjang di akhir abad 20. Di mana, debat mereka akhirnya, tampak tidak berhasil mencapai konsensus.

Kritik terhadap konsensus di antaranya adalah, realitas, bahwa tidak semua pihak bisa aktif berkomunikasi. Juga tidak mudah mengungkapkan pandangan secara rasional. Kadang-kadang pihak yang dominan menemukan cara, meski halus tanpa paksaan, mempengaruhi pihak yang lemah agar menyetujui konsensus. Cara-cara halus ini bisa saja tidak disadari oleh berbagai macam pihak lain, dimanipulasi oleh pihak dominan secara profesional.

Maka Lyotard mengusulkan solusi: dissensus.

2.3 Dissensus Praxis

Lyotard mengusulkan dissensus, berbeda pendapat. Bahkan menolak konsensus. Dan melangkah lebih jauh tidak mempercayai metanarasi. Akibatnya, Lyotard dianggap, meruntuhkan legitimasi sains modern. Dia menilai sains hanya mendapatkan legitimasi dari konsensus belaka, yang sejatinya metanarasi, tidak layak dipercaya. Kali ini kita hanya fokus membahas dissensus saja.

Lyotard melihat ada kasus yang tidak mungkin untuk disatukan menjadi konsensus. Khususnya yang melibatkan penilaian intuitif sublim dan penilaian intuitif khusus. Lyotard merujuk situasi seperti ini kepada antinomy yang dirumuskan oleh Kant. Lyotard memuji Kant yang mengijinkan heterogenitas. Di mana realitas memang heterogen. Di sisi lain, Lyotard mengkritik Heidegger, yang mencoba melampaui heterogenitas tersebut dengan sudut pandang eksistensialisme.

Misalnya orang pinggiran, wong cilik, tidak mungkin mampu bernegosiasi dengan pejabat untuk mencapai konsensus. Pihak dominan akan menemukan cara untuk memenangi konsensus. Pada akhirnya menindas wong cilik. Di sini lah Lyotard menuntut dissensus. Pihak dominan wajib menghormati perbedaan. Wajib menghormati suara wong cilik yang tidak bersuara. Kita bisa melihat misi mulia dari dissensus.

Pada situasi pihak-pihak yang berimbang pun dimungkinkan harus dissensus. Misalkan Adi memeluk agama A sedangkan Budi memeluk agama B. Di antara Adi dan Budi tidak mungkin dipaksakan konsensus untuk memeluk agama yang sama. Mereka memiliki keyakinan agama yang berbeda. Mereka dissensus. Untuk kemudian saling menghormati.

Bahkan dalam satu agama yang sama, sering kita jumpai dissensus. Misalnya NU (Nahdhatul Ulama) dan MU (Muhammadiyah) memiliki pendekatan yang berbeda untuk ikut serta mencerdaskan bangsa. Cara menyelenggarakan program pendidikan NU dan MU berbeda. Bahkan tata cara ibadah ada beberapa perbedaan di berbagai situasi. Tidak sepantasnya, kita memaksa NU dan MU untuk bersepakat dalam satu konsensus.

Kita bisa memperhatikan bahwa di suatu kasus tertentu perlu dissensus, sesuai Lyotard. Sementara di kasus lain lebih tepat konsensus, sesuai Habermas. Menariknya, dua orang tokoh posmodern itu berdebat panjang, masing-masing bersiteguh pada pendiriannya. Mereka tidak sepakat, artinya dissensus. Tentu saja, Habermas tidak bisa memaksa Lyotard agar menyetujui konsensus. Hanya saja dalam praktek pengajaran mereka melalui seminar hal sebaliknya yang sering terjadi. Habermas sering memancing ide-ide kreatif dari peserta yang berbeda-beda. Sehingga terjadi dissensus. Sementara Lyotard sering menyampaikan argumen yang jelas sehingga para peserta setuju kepada Lyotard, terbentuk konsensus.

Di sini, kita kembali fokus kepada nilai kebenaran. Baik konsensus atau pun dissensus kedua-duanya adalah penilaian intuitif praxis. Sehingga nilai kebenarannya adalah estimasi, tidak 100%. Karena itu, keduanya, terbuka untuk dilakukan revisi-revisi untuk mendapatkan praxis yang lebih baik. Bukan kebenaran universal.

2.4 Kebenaran Probabilistik

Saya kira kebenaran probabilistik adalah buah terbaik dari pemahaman manusia – sains, filsafat, seni, keyakinan, dan lain-lain. Probabilitas (dan statistik) bahkan dengan rendah hati tidak menggunakan istilah “kebenaran” dan menggantinya dengan “keyakinan” (confidence). Ahli matematika bisa saja mengklaim teorinya benar 100%. Tetapi ahli statistik tidak bisa mengklaim keyakinan 100%. Bahkan jika dia yakin 100% itu pun hanya keyakinan bukan kebenaran.

Dua istilah penting dalam statistik adalah “level keyakinan” (confidence level) dan “selang keyakinan” (confidence interval), yang saling terkait. Mari kita kembali ke contoh tinggi Rara yang cantik itu. Ahli statistik melakukan pengukuran tinggi Rara berkali-kali, misal 100 kali. Dan diperoleh kesimpulan berikut,

Tinggi Rara = 165 – 166 cm (selang keyakinan)
Dengan level keyakinan 95%.

Makna kajian statistik ini adalah tinggi Rara terletak antara 165 – 166 cm. Statistik tidak bisa memastikan satu angka pasti di sini. Karena dari 100 kali pengukuran memang hasilnya berbeda-beda. Tetapi yakin bahwa tinggi Rara berada pada selang 165 – 166. Seberapa yakin? Level keyakinannya adalah 95% – tidak 100%. Maka saya menilai kebenaran statistik ini sebagai kebenaran probabilistik, penilaian praxis terbaik manusia.

Apa makna level keyakinan 95%?

Makna 95% tampak dekat dengan peluang atau probabilitas 95%. Meski demikian, sebagian ahli statistik menyatakan bahwa 95% itu bukan peluang tetapi distribusi data. Yaitu bila kita melakukan pengukuran tinggi Rara sebanyak 1000 kali maka diharapkan 95% akan masuk pada selang keyakinan 165 – 166 cm. Kita akan memperoleh 950 data ada pada selang 165 – 166 dan 50 data sisanya barangkali di bawah 165 atau di atas 166.

Bisakah statistik mempunyai level keyakinan 100%? Tidak layak, statistik tidak patut mengejar level keyakinan 100%. Yang lebih baik adalah mendekati 100%. Misalnya 99%. Tetapi berdampak kepada melebarnya selang keyakinan. Misalnya untuk tinggi Rara,

Level keyakinan = 99%
Tinggi Rara = 160 – 170 cm

Bisa kita lihat di atas, informasi tinggi Rara menjadi kurang bermakna karena selang terlalu lebar dari 160 – 170. Meski pun kita lebih yakin dengan level keyakinan 99%.

Kita bisa saja eksperimen lebih lanjut seperti kesimpulan di bawah ini.

Tinggi Rara = 140 – 180 cm
Level keyakinan = 99,999%

Meski pun level keyakinan mendekati 100% tetapi kita kehilangan makna informasi tinggi Rara yang di kisaran 140 – 180 cm. Berapa tinggi Rara sebenarnya? Apakah dia termasuk gadis pendek dengan tinggi badan 140 cm? Atau gadis jangkung dengan tinggi badan 180 cm? Kajian statistik di atas kehilangan arti. Maka statistik mengembangkan solusi untuk memilih selang keyakinan yang bermakna, di saat yang sama, level keyakinan yang memadai.

Jadi, statistik membekali kita cara menemukan kebenaran probabilistik dengan bijak. Kita bisa mendapatkan level keyakinan terukur dengan selang keyakinan yang terukur. Dengan statistik ini terbuka bagi manusia untuk terus memperbaiki ilmu pengetahuan.

2.5 Berbohong dengan Statistik

Penyelewengan dengan memanfaatkan statistik memang menarik. Data mudah diperoleh, diolah, untuk kemudian diarahkan sesuai kepentingan tertentu. Para politikus dan pejabat dapat memanfaatkan statistik untuk menguatkan legitimasi. Misal untuk kasus pandemi covid-19, Presiden Trump dan Presiden Jokowi memanfaatkan data statistik.

Trump pernah menyampaikan bahwa covid tidak berbahaya. Covid, virus corona 99,9 % tidak berbahaya sama sekali. Jokowi juga pernah menyampaikan bahwa kondisi pandemi Indonesia baik, lebih baik dari rata-rata dunia. Tentu saja pernyataan seperti di atas didukung oleh data statistik. Tetapi apakah klaimnya benar? Bisa dipertanggungjawabkan? (Besaran angka bisa berbeda sedikit sesuai waktu dan ketelitian, tetapi tetap akurat.)

Trump berhasil meyakinkan bahwa covid tidak berbahaya dengan 99,9% aman di Amerika. Trump tampaknya mengambil data dari jumlah orang meninggal akibat covid, pada Desember 2020 adalah mendekati 300 ribu, dibandingkan dengan jumlah penduduk Amerika yang lebih dari 300 juta jiwa. Maka tingkat kematian di Amerika 300 ribu / 300 juta = 0,001 = 0,1%. Maka sisanya adalah 99,9% diklaim aman oleh Trump.

Tentu saja banyak orang yang tidak setuju dengan klaim Trump. Data yang dipakai memang benar. Tetapi klaimnya bisa salah arah. Misal kita bisa membandingkan dengan jumlah orang yang sembuh adalah sekitar 9 juta. Sehingga yang meninggal dibanding yang sembuh adalah 300 ribu / 9 juta = 1/30 = 0,33 lebih dari 3%. Angka kematian lebih dari 3% adalah tinggi sekali, berbahaya. Jika dibiarkan penyebaran covid sampai menyerang 200 juta penduduk Amerika ada kemungkinan bahwa 6 juta orang di antaranya meninggal dunia. Angka yang sangat besar. Pada akhirnya Trump kalah dalam pemilu presiden Amerika, salah satunya, disebabkan isu covid.

Presiden Jokowi, saya kira, lebih cerdik menggunakan statistik. Presiden menyatakan bahwa pandemi Indonesia lebih baik dari rata-rata dunia. Data yang digunakan adalah persentase kasus aktif. Sayangnya persentase kasus meninggal di Indonesia lebih buruk dari rata-rata dunia. Sekali lagi, klaim presiden tentu didasarkan pada data yang benar. Tetapi apakah klaimnya bahwa Indonesia lebih baik juga benar?

Pertanyaan pertama, apa sah membandingkan kondisi pandemi suatu negara dengan negara lain? Mengingat jumlah penduduk beda, fasilitas tes, fasilitas kesehatan, tingkat ekonomi, dan lain-lain bisa berbeda jauh. Tampaknya sulit membandingkan satu negara dengan negara lainnya. Maka akan lebih baik jika kita menganalisis kondisi pandemi dalam negeri. Membandingkan dengan negara lain hanya untuk studi banding. Bukan untuk klaim lebih baik.

Pertanyaan kedua, apa yang dimaksud dengan rata-rata? Anggap saja bahwa membandingkan antar negara yang berbeda adalah cara yang sah untuk klaim lebih baik atau tidak. Orang memandang rata-rata, umumnya, yang dimaksud adalah nilai pemusatan. Sehingga ada tiga macam rata-rata, nilai pemusatan, yaitu mean, median, dan modus. Sedangkan dalam perhitungan matematika, yang dianggap rata-rata adalah mean.

Sayangnya, menggunakan mean sebagai acuan sering tidak tepat. Misal untuk kasus pandemi ini, kita bisa mencoba mengurutkan total kasus aktif (bukan persen) dari sekitar 200 negara di dunia. Orang akan menebak nilai rata-rata dari 200 negara akan berada di urutan sekitar 100. Tebakan ini benar. Maka yang dimaksud di sini adalah median, sebagai nilai pemusatan. Dengan median kita membagi data menjadi dua kelompok: kelompok A adalah kelompok yang lebih baik dari median, dan kelompok B adalah kelompok yang lebih buruk dari median. Sayangnya, Indonesia adalah urutan negara terburuk ke 20 maka masuk kelompok B, lebih buruk dari median.

Bisa saja dari 200 negara, kita membagi menjadi 5 kelompok A, B, C, D, dan E. Di mana masing-masing kelompok berisi 40 negara. Kelompok A adalah yang terbaik. Kelompok E adalah yang terburuk. Karena Indonesia urutan ke 20 maka masih masuk kelompok E. Sedangkan beberapa negara tetangga masuk kelompok A, kelompok terbaik, di antaranya Brunei, Timor, Laos, Singapura, Vietnam (nilai batas).

Bagaimana pun klaim yang dilakukan Presiden Trump dan Presiden Jokowi sama-sama didukung dengan data yang benar. Meski pihak-pihak tertentu meragukan klaim mereka, tetapi klaim mereka mengandung kebenaran. Justru di sini letak keunggulan statistik: tidak ada klaim mutlak yakin 100%. Sehingga secara alamiah, kebenaran probabilistik, terbuka dengan ragam alternatif klaim interpretasi.

Kiranya bisa kita simpulkan di sini bahwa statistik berguna untuk melakukan banyak analisis. Bahkan ketika kita meragukan klaim tertentu dari analisis statistik maka kita bisa menganalisis kembali dengan berbagai macam sudut pandang. Sehingga, meski pun seseorang bisa saja berbohong dengan statistik, dengan metode yang sama, kebohongan itu bisa diuji.

Kembali perlu kita tegaskan bahwa nilai kebenaran statistik adalah kebenaran probabilistik, tidak 100% sempurna. Di mana masih terbuka untuk menemukan kebenaran-kebenaran baru yang berbeda. Nyatanya, hampir semua pengetahuan kita di dunia nyata bersifat probabilistik. Maka penting bagi kita untuk menyikapi kebenaran probabilistik secara tepat.

3. Kebenaran Cinta Kreatif

Cinta selalu benar, itulah cinta suci. Cantik juga selalu benar, bersifat universal. Tapi cinta bisa diliputi dusta sehingga tidak lagi benar. Ungkapan cinta bisa juga ke mana-mana. Tidak ada lagi jaminan benar. Kita akan mencoba membahas nilai kebenaran cinta yang bersifat kreatif.

Cinta saya kepada Rara selalu benar. Cinta yang suci. Cinta dari seorang ayah kepada anaknya. Bahkan saya rela berkorban apa saja demi Rara, anak saya. Dalam situasi umum, tidak ada masalah cinta ayah ke anaknya. Tetapi situasi yang lebih rumit bisa terjadi.

Seorang ayah yang cinta kepada anak kecilnya iba melihat anaknya menangis karena lapar. Hatinya pedih. Dia sendiri juga menahan lapar. Karena sudah dewasa, ayah bisa memahami pedihnya menahan lapar entah sampai kapan. Sementara, buah hatinya yang masih kecil terus merengek menahan lapar. Demi cintanya kepada anak tercinta, ayah mencari makan yang tidak dia temukan di mana pun. Uang tidak punya. Kerja tidak punya. Air pun tidak punya. Ayah tahu, tidak jauh di luar sana, ada toko swalayan yang pembelinya bebas ambil barang sendiri. Ia pergi ke swalayan. Ambil beberapa potong roti. Lalu pergi tanpa membayarnya. Pulang ke rumah. Menemui buah hatinya yang masih merengek. Ayah memberikan sepotong roti. Buah hatinya sedikit memakannya. Mengubah air mata menjadi tawa bahagia. Ayah memeluk putrinya.

Penjaga toko swalayan bukan tidak tahu apa yang dilakukan ayah. Melalui monitor cctv penjaga tahu bahwa ayah mengambil roti tanpa membayarnya. Penjaga tahu bahwa ayah orang baik meski miskin. Dia menduga ayah pasti punya alasan melakukan itu. Meski penjaga toko beresiko mendapat peringatan dari atasannya karena lalai membiarkan pencurian tapi, meski tidak mudah, dia terima resiko itu.

Sampai di sini kita perlu mengkaji nilai kebenaran cinta. Cinta selalu benar dengan sifatnya yang kreatif. Dalam arti bahwa cinta itu muncul dari dalam diri seseorang. Cinta kreatif muncul dari diri bapak ke anaknya. Cinta muncul dari diri suami ke istrinya. Cinta muncul dari diri pemimpin ke seluruh raknyatnya. Cinta kreatif ini bernilai selalu benar. Sudah kita bahas di bagian sebelumnya juga bahwa cinta ini adalah intuisi transendental.

Ekspresi cinta, selanjutnya, bisa saja bernilai salah. Misal karena cinta, seorang ayah mencuri roti demi anaknya yang menahan lapar. Tindakan mencuri tetap bernilai salah. Meski cinta kepada putrinya benar tetapi ekspresi dalam bentuk mencuri menyalahi aturan legal, moral, dan agama.

Dusta juga sering terlibat dalam cinta. Seorang laki-laki bisa saja berdusta mengaku cinta kepada perempuan. Merayunya sampai mabuk kepayang. Setelah laki-laki itu mendapatkan segala yang diinginkannya, dengan modal dusta atas nama cinta, lalu ia mencampakkan sang perempuan. Kisah cinta berakhir derita. Padahal bukan cinta tapi dusta. Dan masih banyak contoh nyata yang bisa kita temukan berdusta atas nama cinta.

Sehingga cinta, agar bernilai benar dalam ekspresinya, harus konsisten dengan aturan di luar. Termasuk perlu konsisten dengan aturan legal, moral, agama, dan ilmu pengetahuan secara umum. Lalu bagaimana aturan umum itu semua bisa dibentuk oleh umat manusia? Kita akan membahas pada bagian selanjutnya dengan tema pengetahuan, kesalahan, dan opini.

Kebenaran “cinta kreatif” ini membuka wawasan filosofis baru. Apa lagi bila kita sandingkan dengan “ketidakpastian korespondensi.” Cinta kreatif tidak membutuhkan korespondensi. Cinta kreatif menciptakan kebenarannya sendiri. Cinta menjadi benar karena memang ada cinta. Sehingga, cinta tidak dihadapkan kepada “ketidakpastian korespondensi.” Cinta menjadi pasti benar karena eksistensi dirinya sendiri.

Jadi, kebenaran “cinta kreatif” adalah bukan kebenaran korespondensi. Kebenaran adalah “hadirnya” cinta. Kebenaran adalah “tersingkapnya” cinta. Paralel dengan konsep kebenaran ini adalah kebenaran sebagai “tersingkapnya” wujud atau “disclosedness” atau “openness” being. Kebenaran cinta adalah “binuka” yaitu terbukanya cinta itu sendiri.

Suhrawardi (1154 – 1191) mengenalkan konsep ilmu-huduri atau knowledge-by-presence yang selalu bernilai benar. Berbeda dengan teori korespondensi. Huduri terjadi ketika subyek pengamat memiliki kemampuan visi, melihat, kepada obyek yang bersinar, iluminasi, tanpa ada halangan. Visi bersatu dengan iluminasi menjadi satu kesatuan, subyek menyatu dengan obyek. Kesatuan inilah yang membentuk huduri bernilai selalu benar. Pada analisis akhir, semua pengetahuan manusia harus didasarkan kepada huduri agar valid.

Huduri adalah benar otentik. Huduri menghadirkan yang telah hadir mau pun yang tidak hadir. Sehingga, menerjemahkan huduri sebagai “presence” perlu hati-hati. Karena huduri adalah “presencing present and others.” Lebih tepat jika kita menerjemahkan huduri sebagai “openness” atau “binuka.”

4. Ringkasan

Kiranya perlu kita ringkas kembali pembahasan tentang kebenaran (dan kesesatan) di sini. Pertama, kebenaran yang bersifat pasti. Kebenaran ini didasarkan kepada kebenaran aksiomatik. Semisal kebenaran formula matematika yang dijamin pasti benar bahkan universal. Sejauh proses menarik kesimpulannya konsisten maka kebenaran aksiomatik tetap terjaga. Sedangkan di bagian sebelumnya kita sudah membahas kebenaran yang juga dianggap benar yaitu intuisi indera dan intuisi transendental termasuk intuisi cinta.

Kedua, kebenaran probabilistik. Yaitu kebenaran yang kita harap bernilai benar, sesuai nilai probabilitasnya. Meski demikian, kebenaran probabilistik tidak terjamin untuk selalu bernilai benar. Dalam realitas kehidupan praktis hampir semua masalah yang kita hadapi melibatkan kebenaran probabilistik ini. Sehingga perlu sikap respek dari semua pihak untuk mendorong terbentuk konsensus atau dissensus. Kebenaran korespondensi, yang dianggap banyak orang sebagai bernilai pasti, dalam analisis akhir lebih tepat sebagai kebenaran probabilistik.

Ketiga, kesesatan adalah kebenaran yang, pada analisis akhir, bernilai tidak benar. Kesesatan tidak memenuhi kaidah kebenaran aksiomatik, atau kaidah kebenaran korespondensi, atau pun kaidah kebenaran konsensus. Maka, kesesatan seharusnya ditolak.

Perlu kita catat bahwa suatu klaim kebenaran, meski klaim kebenaran aksiomatik, bisa saja ditolak oleh pihak lain. Dengan terjadinya perbedaan klaim kebenaran ini, maka kita perlu mempertimbangkan untuk mencapai konsensus. Dan, dalam banyak situasi, bahkan dissensus. Pada analisis lebih lanjut, setiap klaim kebenaran bisa memunculkan paradoks. Umat manusia tertantang untuk menyelesaikan paradoks. Dengan demikian, pengetahuan umat manusia terus berkembang. Kita akan membahas paradoks pada bagian-bagian selanjutnya.

Terakhir, kebenaran cinta bersifat kreatif. Cinta menghadirkan cinta sejati sebagai kebenaran. Cinta selalu benar meski ekpresi cinta bisa saja tidak benar. Kebenaran cinta yang kreatif ini selaras dengan prinsip ketersingkapan, openness, huduri, dan binuka.

5. Diskusi

Kita menambahkan, di bagian ini, lima karakter kebenaran yaitu pancajati: dinamis, verifikasi, cakrawala, interpretasi, dan pengalaman.

5.1 Kebenaran Dinamis

Segala sesuatu yang ada di alam ini bersifat dinamis. Kebenaran, sejauh ada di alam ini, maka bersifat dinamis. Kebenaran yang kita pahami saat ini adalah hasil dinamika kebenaran dari hari kemarin dan tahun-tahun yang lalu. Serta, harapan dinamika masa depan.

Dengan memahami kebenaran yang bersifat dinamis maka kita berharap lebih bersikap terbuka terhadap beragam prespektif kebenaran. Kita juga perlu terus berjuang, dinamis, untuk mendapat kebenaran paling hakiki. Meskipun kebenaran hakiki itu, kebenaran sejati, juga bersifat dinamis.

Pemahaman kita terhadap rumus matematika 2 + 1 = 3 pun bersifat dinamis. Ketika kita masih kanak-kanak, memahami 2 +1 = 3 dengan cara penuh usaha keras. Saat kita dewasa, dengan mudah memahami kebenaran 2 + 1 = 3. Kebenaran memang dinamis.

Tetapi, bukankah 2 + 1 = 3 itu bersifat pasti, eksak, dan tanpa keraguan? Benar juga. Sejauh kita menjaganya secara ideal. Dalam dunia nyata, 2 kg beras ditambah dengan 1 kg beras maka tidak ada jaminan tepat menjadi 3 kg beras. Bisa jadi hasilnya adalah 3 kg beras lebih 1 butir atau 3 kg beras kurang 5 butir. Tidak ada masalah dengan selisih 1 atau 5 butir beras. Kita menganggap 3 kg beras itu statis, padahal dinamis. Ditambah lagi kita dapat mempertimbangan dinamika beras terhadap waktu. Alam semesta memang dinamis.

5.2 Kebenaran Verifikasi

Kebenaran adalah hasil dari proses verifikasi. Kebenaran bukan sesuatu yang mandiri, bukan independent, di alam ini.

Matematika 2 + 1 = 3 bernilai benar karena merupakan hasil verifikasi yang sah. Semua orang dengan mudah me-verifikasi bahwa 2 + 1 = 3 adalah benar. Tetapi 2 + 1 = 3 itu sendiri tidak mandiri. Misalnya dalam sistem bilangan jam 3an, di mana hanya ada angka 0, 1, dan 2, maka 2 + 1 = 0. Contoh yang lebih nyata adalah pada sistem jam dinding di mana 12 + 1 = 1 bukan 13. (Pada jam dinding tidak ada angka 13).

Bagaimana pun 2 + 1 = 3 bernilai eksak benar dalam konteks sistem verifikasi yang diterima secara umum. Dalam sistem bilangan real, 2 + 1 pasti benar bernilai sama dengan 3.

Tidak ada relativisme di sini. Selama kita konsisten dengan sistem verifikasi maka kita bisa menjamin nilai kebenaran – atau probabilitasnya.

5.3 Kebenaran Cakrawala

Sistem untuk verifikasi kebenaran tersebut adalah cakrawala. Maka benar saja ungkapan orang-orang bijak: perluaslah cakrawala pengetahuan. Dengan luasnya cakrawala pengetahuan maka kita akan lebih bijak dalam menyikapi suatu kebenaran, yang sejatinya, ada di sini, ada dalam diri.

Sebagai contoh kita dapat membandingkan cakrawala jam dinding, yang hanya ada angka 1 sampai 12, dengan cakrawala bilangan real yang seperti kita pahami dalam kehidupan sehari-hari.

2 + 1 = 3 adalah bernilai benar; baik dalam cakrawala jam dinding maupun cakrawala bilangan real sama-sama benar.

12 + 1 = 13 adalah bernilai benar dalam cakrawala bilangan real tetapi bernilai salah dalam cakrawala jam dinding. Yang benar, dalam cakrawala jam dinding, 12 + 1 = 1. Keduanya bersifat eksak. Tidak ada keraguan. Tidak ada relativisme. Pasti benar dalam cakrawala bilangan real. Dan pasti salah, 12 + 1 = 13, dalam cakrawala jam dinding.

Buah jeruk rasanya nikmat. Bernilai benar dalam cakrawala manusia. Bernilai salah dalam cakrawala harimau. Barangkali juga bernilai salah dalam cakrawala alien. Cakrawala yang berbeda akan menghasilkan verifikasi yang berbeda terhadap kebenaran.

5.4 Kebenaran Interpretasi

Semua klaim kebenaran adalah interpretasi. Cakrawala yang kita gunakan untuk menverifikasi kebenaran juga merupakan susunan-susunan interpretasi. Dan tentu saja setiap interpretasi besifat dinamis. Sebagaimana kebenaran juga bersifat dinamis.

“Buah jeruk rasanya nikmat,” adalah interpretasi yang bernilai benar dalam cakrawala manusia pada umumnya. Jelas kita lihat bahwa “rasa nikmat” adalah interpretasi kita terhadap rasa jeruk. Lebih jauh lagi, “buah jeruk” adalah interpretasi kita terhadap “sesuatu realitas.”

Dalam cakrawala harimau, rasa jeruk diinterpretasikan dengan “tidak nikmat”, beda dengan manusia. Nyatanya, harimau tidak mau makan jeruk tetapi mau makan daging, misalnya. Lagi-lagi, itu adalah interpretasi kita sebagai pengamat. Ketika seekor harimau memandang buah jeruk maka harimau itu akan membuat interpretasi, atau persepsi, yang berbeda dengan jeruk yang dipandang oleh manusia.

Kebenaran itu adalah interpretasi. Bukan karena kita mengetahui sesuatu melalui interpretasi, tetapi karena semua yang sampai kepada diri kita adalah memang suatu interpretasi. Dan interpretasi, dalam arti yang canggih, adalah keunggulan unik umat manusia.

Kita bisa saja mengambil contoh eksak, semisal rumus matematika 12 + 1 = 13, adalah interpretasi. Angka 12 dan angka-angka lain adalah interpretasi manusia. Operasi penjumlahan dan tanda sama dengan juga interpretasi dari manusia. Sehingga formula eksak pun penuh dengan interpretasi. Bukankah itu semua adalah simbol?

Sekali lagi tidak ada relativisme di sini. Sekali kita membuat interpretasi maka secara konsisten kita dapat menyusun cakrawala – yang dipengaruhi oleh budaya dan sejarah. Dengan cakrawala ini kita dapat melakukan verifikasi kebenaran. Dan tentu saja dinamis.

5.5 Kebenaran Pengalaman

Dengan interpretasi itu lah kita menjalani hidup sejati. Pengalaman dan interpretasi saling berkaitan erat. Manusia mengalami sesuatu karena meng-interpretasi. Manusia bisa meng-interpretasi karena ada pengalaman.

Apakah kopi pahit terasa nikmat?

Kopi pahit terasa tidak nikmat bagi kita, dulu, waktu masih kanak-kanak. Seiring pengalaman mencicipi kopi yang pahit, ketika dewasa, kopi pahit menjadi nikmat. Pengalaman dan interpretasi saling terkait.

Bagaimana dengan sambal pedas? Pengalaman kita juga mirip. Ketika kanak-kanak tidak suka sambal pedas. Begitu dewasa, kita doyan sambal pedas.

Bagaimana dengan pengalaman interpretasi formula eksak? Sedikit berbeda tetapi ada miripnya. Ketika kanak-kanak kita meng-interpretasikan kuantitas di alam semesta sebagai bilangan asli: bilangan bulat dan positif. Ada 2 jeruk, 5 jeruk, dan sebagainya. Menginjak remaja, seiring pengalaman, kita meng-interpretasikan kuantitas lebih beragam, ada bilangan pecahan, bilangan negatif, irasional, dan bahkan kompleks.

Pengalaman kita adalah interpretasi. Dan interpretasi adalah yang kita alami.

Vattimo, pemikir Itali usia 86 tahun, melangkah lebih jauh dengan menyatakan bahwa segala realitas adalah interpretasi itu sendiri. Tugas manusia berpikir, berfilsafat dan lain-lain, adalah tugas ber-interpretasi.

Sekali lagi, dengan semua analisis kebenaran di atas, tidak ada relativisme di sini. Ketika kita mengambil suatu pengalaman dan interpretasi sebagai suatu acuan maka kita akan mengembangkan cakrawala; dalam cakrawala ini kita mengembangkan proses verifikasi yang absah untuk menghasilkan kebenaran sejati. Dan kita tahu, kebenaran adalah dinamis.

Lanjut ke Pengetahuan, Kesalahan, dan Opini
Kembali ke Philosophy of Love