Kehendak Bebas – Energi Sejati

Terus-menerus tanpa batas. Itulah kehendak bebas. Menerobos possibilitas, menapaki probabilitas.

Image result for human change

Kehendak (will) teruji mendorong manusia meraih pencapaian di luar batas-batas imajinasi. Manusia mampu mendarat di bulan, menyelami dasar lautan, berbincang-bincang dengan kawan yang terpisah jarak 7 000 km dengan realtime. Kehendak adalah elemen fundamental pertama dari struktur manusia sejati, hana. Energi sejati yang tidak pernah punah. Bahkan terus diperbaharui.

Mulai di bagian ini, dan tiga bagian berikutnya, kita akan membahas empat elemen struktur fundamental manusia – kehendak, kekuatan, sains, dan sign. Pertama, kita akan membahas secara teoritis dan spekulatif. Kedua, kita mencoba menyusun ide-ide praktis sehingga kita dapat langsung mempraktekkan di setiap kesempatan. Dan ketiga, kita akan mencoba refleksi untuk mengkaji lebih dalam lagi.

Teori Kehendak Bebas

Sejak awal sejarah manusia, para pemikir besar, meyakini bahwa kehendak bebas adalah energi pendorong kemajuan peradaban manusia. Tetapi kehendak manusia, juga, sebagai sumber beragam penderitaan manusia. Baik penderitaan diri sendiri atau bahkan menyebabkan penderitaan terhadap banyak orang lain. Maka membahas dengan cermat masalah kehendak ini menjadi penting untuk menjamin hana bergerak ke arah yang lebih baik.

Sejak jaman Socrates-Plato-Aristoteles, sekitar abad ke 4 sebelum masehi, umat manusia meyakini bahwa hana memiliki kehendak bebas. Lalu berlanjut ke jaman Farabi-Ibnu Sina-Sadra, mereka, juga meyakini tentang kehendak bebas manusia. Tantangan muncul ketika sains modern mulai bersemi dengan proyek pencerahan. Pemahaman deterministik berkembang, meyakini bahwa manusia tidak memiliki kehendak bebas. Sebelum jaman sains modern, memang ada beberapa pemahaman deterministik tetapi selalu bisa dikompromikan dengan baik.

Sains Modern

Isaac Newton, pemikir abad 17, memanfaatkan matematika dengan cermat untuk ekplorasi fenomena alam. Ketepatan analisis Newton ini menjadi tonggak revolusi sains modern. Kita jadi mengenal sains eksak dan teknologi sebagai penerapannya. Karena bersifat eksak maka deterministik. Segala sesuatu bisa diketahui secara pasti nasibnya di masa depan bila kita memperoleh data-data yang diperlukan.

Konsekuensinya, masa depan manusia juga bisa dipastikan menggunakan sains eksak. Tentu banyak pemikir besar tidak setuju dengan cara pandang deterministik seperti itu. Keunggulan sains eksak adalah bisa diuji berkali-kali, oleh orang-orang yang berbeda, dan memberikan hasil yang konsisten. Bahkan dengan sains eksak ini umat manusia berhasil mengembangkan teknologi mesin pabrik, mesin motor, kereta api, mesin telekomunikasi, komputer, dan teknologi digital.

Maka, ketika, sains modern mengklaim bahwa seluruh alam semesta bersifat deterministik, itu adalah klaim yang benar-benar serius. Meski Newton sendiri tampaknya tidak pernah mengklaim sifat deterministik dari alam semesta. Immanuel Kant, pemikir abad 18, menyadari konsekuensi sains eksak dan mencoba merumuskan ulang kehendak bebas manusia.

Antinomi Kant

Wawasan luas dan ditunjang kecerdasan yang tinggi mengantarkan Kant berhasil menyusun ulang sistem pemikiran, moral, dan penilaian. Sistem moral yang kokoh, menurut Kant, perlu memastikan bahwa manusia memiliki kehendak bebas. Dengan kehendak bebas ini maka manusia mampu mengejar cita-citanya. Dan konsekuensinya, manusia bertanggung jawab atas semua tindakannya karena didasarkan pada kehendak bebas dirinya.

Kant melanjutkan cara berpikir dualisme dari Descartes, pemikir abad 17, yang menyatakan bahwa di alam semesta ini ada dua substansi paling mendasar. Pertama, substansi fisik yang diatur oleh hukum-hukum sains. Dan kedua, substansi jiwa yang terbebas dari hukum sains. Kedua substansi tersebut – fisik dan jiwa – saling tidak berhubungan. Atau, setidaknya, kita tidak tahu bagaimana hubungan antara jiwa dan badan manusia.

Ketika Kant mengkaji alam semesta, termasuk badan manusia, terbukti bahwa alam semesta tunduk kepada hukum-hukum alam yang deterministik, sesuai penyelidikan sains. Hukum kausilatas, misalnya, berlaku dengan tegas. Sementara, ketika Kant mengkaji jiwa manusia, dia menemukan bahwa jiwa manusia diatur oleh hukum-hukum yang berbeda. Jiwa manusia bebas dari hukum alam. Jiwa manusia memiliki kebebasan berkehendak. Dua sudut pandang ini, jiwa yang bebas dan badan yang deterministik, tidak bisa disatukan. Tidak ada cara untuk memutuskan mana yang paling benar. Tidak ada sinstesa antara keduanya. Maka hal ini disebut sebagai antinomi atau paradox.

Sementara itu, Kant sendiri meyakini bahwa manusia benar-benar memiliki kehendak bebas. Bahkan jiwa manusia tetap abadi walau setelah badan manusia mati. Keyakinan ini sejalan dengan pemikir-pemikir besar sepanjang masa dari Plato, Aritoteles, Ibnu Sina, Ibnu Arabi, Sadra, Descartes, dan lain-lain.

Pemikir-pemikir setelah masa Kant mencoba mencari solusi dari antinomi Kant itu. Di antaranya, yang akan kita bahas, adalah Bergson dengan konsep durasi dan Sartre dengan konsep negasi.

Durasi Bergson

Konsep durasi dari Bergson, menurut saya, adalah solusi terbaik untuk menjelaskan hubungan kehendak bebas manusia dengan alam semesta. Terbukti pemikiran Bergson mewarnai pemikiran dunia sepanjang abad 20 di paruh pertama. Saya sendiri melihat konsep durasi ini sangat tepat menggambarkan berbagai macam perilaku hana, manusia sejati, yang unik. Yang berbeda dengan perilaku segala sesuatu di alam semesta, ruang semesta.

Manusia sejati, hana, benar-benar memiliki kehendak bebas, sebebas-bebasnya.

Kita tahu hukum alam bersifat deterministik. Bahkan badan kita terkena hukum alam yang deterministik itu, tidak ada kebebasan. Sel-sel otak manusia juga patuh kepada hukum kausalitas alam deterministik. Namun manusia punya durasi yang terbebas dari pengaruh seluruh alam. Ketika alam, yang deterministik, mengenai manusia maka manusia punya waktu, punya selang waktu, punya durasi. Di dalam durasi ini, hana mempunyai kehendak bebas. Hana bebas menentukan sikapnya terhadap alam dan terhadap lainnya. Alam semesta sama sekali tidak bisa mengganggu durasi maka durasi benar-benar bebas.

Misalkan ada seseorang mengejek kita. Maka kita punya durasi terhadap ejekan itu. Dalam durasi itu kita bebas untuk memilih membalas ejekan, merasa sakit hati, memaafkan orang yang mengejek, justru bersemangat, atau lainnya. Bebas. Jadi manusia benar-benar berkehendak bebas.

Barangkali durasi, selang waktu, bisa kita hitung 1 detik, 2 detik, atau lainnya. Namun angka-angka semacam itu bersifat kuantitas, lebih tepat untuk gambaran ruang. Sedangkan durasi adalah waktu yang bersifat kualitas. Meski pun sama-sama 7 detik, misalnya, kualitas waktu seseorang dengan orang lainnya bisa berbeda-beda. Dan kualitas durasi terus bertambah makin kuat intensitasnya. Masing-masing hana memiliki kemampuan unik untuk mengakses durasi. Makin mahir mengakses durasi maka makin terbebas seseorang dari determinasi alam sekitar. Orang tersebut makin memiliki kebebasan yang besar.

Negasi Sartre

Saya yakin Sartre adalah pemikir abad 20 yang paling ekstrem mendukung kebebasan, freedom. Sartre mendefinisikan hana, manusia, adalah kebebasan dan kebebasan adalah manusia.

Sartre mengaku bahwa ia terinspirasi oleh Bergson dan ingin memecahkan antinomi Kant tentang kehendak bebas manusia. Dengan definisi manusia adalah kebebasan maka Sartre sudah mengumumkan tidak ada masalah dengan kehendak bebas manusia. Sartre lebih suka menggunakan istilah kebebasan (freedom) dari pada kehendak bebas (free will). Kita akan mencoba memahami bagaimana Sartre sampai kepada kesimpulan bahwa manusia adalah kebebasan.

Sartre menerapkan fenomenologi Husserl yang menyatakan kesadaran manusia selalu bersifat intensional, yaitu selalu merupakan “kesadaran akan sesuatu.” Sesuatu yang menjadi obyek kesadaran adalah sesuatu yang lain, bukan kesadaran itu sendiri. Selanjutnya, Sartre mengeksplorasi ketiadaan. Saya memilih istilah orano untuk ketiadaan ini. Ada dua jenis orano yaitu orano absolut yang benar-benar tidak ada maka tidak perlu dibahas. Dan, orano kedua, adalah orano konkret atau spesifik yang penuh makna dan guna.

Contoh orano konkret, ketiadaan konkret, adalah tidak punya uang, ketiadaan uang. Dampaknya jelas dapat kita rasakan. Ketika hendak membeli minuman, ternyata, tidak ada uang maka kita gagal membeli minuman. Contoh kedua, orano konkret, adalah tidak adanya lubang di jalanan. Maka kita dapat melaju di jalan itu dengan lancar karena ketiadaan lubang. Masih banyak contoh-contoh orano yang dapat kita berikan: ketiadaan virus, ketiadaan bahan bakar, ketiadaan data, dan lain-lain.

Orano memang bersifat negatif. Ketiadaan. Negasi. Tetapi peran orano benar-benar nyata.

Kesadaran manusia adalah orano yang bersifat me-negasi terus-menerus. Dan obyek dari kesadaran bukanlah dirinya sendiri. Maka kita ambil contoh bahwa saya adalah seorang guru. Ketika saya menyadari bahwa saya seorang guru maka saya me-negasikannya. Saya bukan guru itu. Kesadaran saya menolak lalu menyatakan saya adalah guru-2. Tapi begitu saya menyadari lagi maka saya menolak lagi, saya bukan guru-2, saya adalah guru-3, dan seterusnya.

Ketika saya menolak guru-2, saya bebas menyatakan bahwa saya guru-3 atau guru-5, atau guru-7, atau lainnya. Itulah kebebasan manusia, freedom. Dan, hanya manusia yang memiliki kebebasan. Beda dengan batu, misalnya. Dari berbagai macam sudut, batu menyatakan diri, “saya adalah batu.” Pada waktu berikutnya, “saya adalah batu.” Batu mengafirmasi dirinya sebagai batu. Batu tidak pernah menolak identitas dirinya sebagai batu. Tidak punya kebebasan. Batu demikian padat, sepenuhnya sebagai batu. Sedangkan manusia, hana, justru menolak dirinya. Aku bukan guru-5, aku bukan guru-7, aku adalah bebas.

Sartre sampai kepada kesimpulan, manusia adalah kebebasan dan kebebasan adalah manusia itu sendiri. Konsekuensi langsungnya adalah manusia mempunyai kehendak bebas yang nyata. Manusia bertanggung jawab penuh atas kehendak bebasnya itu.

Manfaat dan Resiko Kehendak

Kehendak bebas jelas bermanfaat bagi manusia sebagai energi, mendorong, untuk terus maju. Di saat yang sama, kehendak bebas juga berbahaya bagi manusia, berbahaya terhadap eksistensi dirinya dan yang lain. Apalagi di era digital, kehendak bebas makin besar manfaat dan bahayanya.

Kehendak bebas manusia digital. Di era digital, begitu mudahnya kita berkarya, berupa gambar, video, tulisan, musik dan lainnya. Mereka yang memanfaatkan kehendak bebas untuk berkarya di dunia digital benar-benar memperoleh berkah. Yang berniat bisnis, berdagang, berbagi ilmu, dan lainnya dengan mudah mengembangkan kehendak bebasnya melalui media digital. Teknologi digital mendorong kita, sebagai individu dan masyarakat, untuk terus mengembangkan kehendak bebas.

Resiko media digital tentu kita sudah paham. Ketagihan, kecanduan, dan penipuan adalah tiga resiko dari media digital yang menghancurkan kehendak bebas manusia. Ketagihan media digital mengubah kehendak bebas kita menjadi keterpaksaan digital. Bangun tidur ketagihan update status. Sebelum tidur ngobrol panjand di media sosial sampai lupa waktu tidur. Ketika di tempat kerja, curi-curi kesempatan untuk main media digital. Waktu makan dipenuhi dengan menatap layar digital. Tidak ada lagi kehendak bebas. Semua ditagih oleh ketagihan digital.

Kecanduan digital bisa lebih parah. Teknologi digital beda dengan teknologi lampu, misalnya. Teknologi lampu cenderung menurut terhadap perilaku manusia. Jika kita hendak menyalakan lampu maka tinggal kita nyalakan. Ingin memadamkan tinggal padamkan saja. Sedangkan teknologi digital, kita hendak meninggalkannya, dia tiba-tiba mengirim notifikasi. Terpaksa kita melihat notifikasi itu, lalu penasaran. Dikira cukup satu menit. Ternyata ada rekomendasi berita terbaru yang menggoda. Dari satu berita terbaru menyambung ke video-video lanjutan, ke obrolan-obrolan lanjutan, ke diskusi-diskusi tiada henti. Bukan 1 jam, bahkan 3 jam bisa berlalu begitu saja. Kecanduan digital telah menyingkirkan kehendak bebas manusia.

Kita bukan sedang berhadapan dengan laptop atau handphone. Di ujung sana ada kecerdasan buatan, artificial intelligence. Mesin super cerdas, yang bertugas, membuat Anda kecanduan digital. Ada juga perusahaan besar yang mengeruk keuntungan atas kecanduan Anda. Bahkan politikus juga bisa bermain di ujung sana. Anda bukan berhadapan dengan mesin ketika menatap media digital. Anda berhadapan dengan raksasa perkasa yang siap merampas kehendak bebas Anda.

Kasus penipuan melalui media digital terjadi di mana-mana. Kehendak bebas sudah terlepas. Bagai hipnotis yang mengintai setiap saat. Saya tidak perlu memberi contoh untuk kasus penipuan, hoax, sampai kriminal.

Kehendak bebas untuk mempertahankan diri. Hana peduli untuk mempertahankan eksistensi dirinya. Rasa lapar, nafsu makan, adalah manifestasi kehendak bebas untuk mempertahankan diri. Kita makan nasi, buah, sayuran dan lain-lain untuk menjaga tubuh sehat. Di saat yang sama, kita menikmati rasa makanan itu, menambah bahagia manusia sejati, hana. Berbeda halnya dengan lampu. Lampu tidak punya kehendak untuk mengisi energinya, batere-nya. Ketika energi lampu akan habis, baterieatau pulsa token, lampu diam saja dan akhirnya bisa mati. Tetapi manusia punya rasa lapar dan rasa nikmat terhadap makanan. Kita berhasrat, berkehendak, kepada makanan.

Kehendak terhadap makanan mengandung resiko. Hana perlu mengkonsumsi makanan pada batas-batas keseimbangan. Orang yang terlalu suka manis, misalnya, beresiko terserang sakit kencing manis. Bukan eksistensi hana yang terjaga dari makanan tersebut, justru penyakit kencing manis mengancam eksistensi hana. Kurang makan, kurang gizi, juga mengancam eksistensi hana. Resiko maag, tipus, busung lapar dapat berakibat fatal terhadap eksistensi hana. Manusia butuh makanan, menghendaki makanan, dalam batas-batas keseimbangan yang tepat.

Kehendak bebas mengetahui. Barangkali Anda pernah penasaran dengan suatu informasi atau pengetahuan? Rasa ingin tahu terhadap sesuatu adalah manifestasi dari kehendak manusia. Kita menghendaki, menginginkan, pengetahuan. Ada yang ingin memecahkan suatu teka-teki, ada yang ingin tahu hasil akhir dari suatu pertandingan, ada yang ingin tahu pertumbuhan tanaman di kebun dan lain-lain. Saya, pernah, ingin menemukan cara menghitung teorema Pythagoras dengan mudah. Lalu saya mengembangkan berbagai cara dan menemukan rumus cepat teorema segitiga ganjil dan genap. Masing-masing orang bisa saja berhasrat terhadap jenis-jenis ilmu pengetahuan yang berbeda-beda.

Hasrat terhadap pengetahuan juga mengandung resiko. Seseorang yang ingin mengetahui sesuatu yang tidak pantas diketahui maka itu bisa berbahaya. Misalnya, mengetahui urusan pribadi orang lain adalah tidak pantas dan bisa merugikan banyak pihak. Dengan media digital, resiko ini semakin besar. Mencuri tahu nomor pin dan password orang lain bahkan bisa diancam pidana. Pengetahuan untuk merusak lingkungan juga tidak diperlukan bagi kalangan umum. Meskipun kita, hana, punya kehendak bebas untuk mengetahui segala sesuatu maka pengetahuan itu perlu dalam batas-batas keseimbangan. Hal ini justru untuk menjaga eksistensi hana secara pribadi atau pun bermasyarakat.

Kehendak bebas untuk berkarya. Barangkali Anda pernah merasakan ingin sekali untuk memberikan sesuatu yang bermakna? Hasrat ingin berkarya atau memberi sesuatu yang bermakna adalah manifestasi kehendak hana. Seorang ibu ingin menyiapkan masakan yang enak buat seluruh keluarga. Seorang guru ingin mengajarkan pelajaran yang penting ke siswanya. Seorang seniman ingin menghasilkan karya seni. Seorang bapak ingin memberikan fasilitas buat keluarga untuk tumbuh berkembang. Seorang presiden ingin negerinya lebih adil dan makmur. Dan masih banyak contoh lagi yang menunjukkan bahwa hana punya kehendak untuk memberi.

Hasrat untuk memberi tetap harus dijaga dalam batas-batas keseimbangan eksistensial hana. Seorang bapak yang ingin memberikan fasilitas terbaik untuk keluarga bisa saja melampaui batas terlalu banyak bekerja. Sehingga ia bisa jatuh sakit. Bukan eksistensi hana yang terjaga tapi justru resiko mengganggu eksistensi bapak itu sendiri. Seniman yang berhari-hari tidak tidur karena sedang tenggelam dalam berkarya juga beresiko secara eksistensial. Maka apa pun bentuk hasrat kita untuk memberi tetap perlu dalam batas-batas keseimbangan.

Kehendak bebas spiritual. Masing-masing hana bisa memiliki hasrat pengembangan spiritual yang unik. Hasrat ini juga merupakan manifestasi kehendak bebas. Baik orang yang beragama mau pun tidak beragama mempunyai cara-cara tersendiri mengembangkan sisi spiritual. Asyiknya berselancar dalam dunia spiritual tetap perlu memperhatikan batas-batas keseimbangan.

Kehendak bebas cinta. Manifestasi kehendak bebas cinta mengambil bentuk yang beragam. Bahkan tersebar dari bentuk ekstrem terbaik sampai bentuk ekstrem terburuk. Maka menjaga batas-batas cinta menjadi penting di sini. Ekstrem terbaiknya adalah cinta mengantarkan hana rela berkorban untuk eksistensi alam semesta. Sementara ekstrem terburuknya, hasrat cinta, mendorong manusia memperkosa pihak lain sampai kehilangan eksistensi hana. Sejatinya, cinta adalah untuk menjaga eksistensi hana.

Langkah Praktis Mengembangkan Kehendak Bebas

Kehendak bebas, meski benar-benar bebas, tetap perlu memperhatikan batas-batas. Di bagian ini, kita akan membahas langkah-langkah praktis mengembangkan kehendak bebas. Langkah-langkah ini saling berhubungan dengan elemen-elemen fundamental hana lain – power, sains, dan sign. Hal ini menunjukkan hakekat dari hana, manusia, adalah satu kesatuan yang utuh.

Kehendak Digital

Memastikan manusia digital adalah yang mengendalikan dunia digital. Bukan dikendalikan oleh dunia digital.

1. Pilih konten-konten digital yang bermuatan positif. Kunjungi secara rutin, setiap hari atau 2 sampai 3 kali sehari, konten positif yang menginspirasi Anda untuk terus mengembangkan cita-cita luhur.

2. Gunakan media digital untuk berbagi konten positif milik Anda. Bukan hanya share konten orang lain.

3. Akses media digital hanya ketika Anda menghendaki. Bukan karena ketagihan atau kecanduan.

4. Batasi waktu Anda dalam mengakses media digital. Masing-masing orang punya batasan waktu yang berbeda. Mereka yang bekerja di dunia digital perlu waktu lebih banyak dari mereka yang bekerja di lapangan. Pertimbangkan waktu Anda yang paling tepat.

5. Matikan sambungan internet bila tidak diperlukan. Hidupkan internet ketika Anda merasa perlu akses. Cara ini efektif meski tidak harus terus-menerus diterapkan.

Kehendak Dunia Fisikal

Mengendalikan kehendak bebas di dunia fisikal. Dunia fisikal adalah modal bagi hana, bukan penghalang.

1. Jaga nutrisi, makanan Anda secara seimbang. Batasi. Jangan berlebih dalam urusan makan dan minum. Meski Anda masih berhasrat terhadap makanan, hentikan, bila sudah cukup.

2. Jaga kesehatan fisik, badan, Anda. Buat jadwal rutin olahraga harian dan mingguan. Peregangan dapat Anda lakukan tiap pagi dan sore. Sedangkan olahraga mingguan, barangkali yang agak berat, satu sampai tiga kali tiap minggu. Perhatikan batas-batas kemampuan olahraga, jangan berlebih. Apalagi olahraga yang berhubungan dengan hobi.

3. Imbangi kegiatan fisik Anda. Anda yang sering terlalu lama duduk di depan komputer maka perlu lebih sering jeda untuk menggerakkan anggota badan. Anda yang pengrajin mengandalkan tangan dan kekuatan pinggang perlu mengimbangi kegiatan fisik yang sesuai. Saya, yang sering bulutangkis, maka perlu mengimbangi kelebihan mengandalkan kekuatan tangan kanan.

4. Tidur yang cukup. Barangkali belum ada hasil riset yang memastikan jumlah jam ideal untuk tidur. Tetapi sudah cukup banyak bukti bahwa kurang tidur sama buruknya dengan kebanyakan tidur. Anda dapat memperkirakan kebutuhan waktu tidur Anda sendiri. Umumnya, kisaran 4 jam sampai 8 jam dipandang sebagai rentang moderat.

5. Irama fisik. Istirahat sama pentingnya dengan bekerja. Maka temukan irama paling tepat berapa porsi dan kapan bekerja, olahraga, wisata, bermasyarakat, ibadah dan lain-lainnya. Irama ini akan membantu Anda tetap punya kendali terhadap kehendak bebas.

Kehendak Intelektual

Secara intelektual, hana ingin – berkendak – untuk terus bergerak maju. Berikut ini beberapa langkah praktis berkembang secara intelektual.

1. Targetkan setiap pekan membaca satu buku berkualitas – selesai atau hampir selesai. Buku berkualitas bisa Anda baca berulang kali. Pembacaan yang sekarang akan berbeda makna dengan pembacaan tiga bulan lalu.

2. Membaca buku secara online atau digital. Khususnya tema-tema yang bersifat ensiklopedis lebih menguntungkan melalui media online, update-update terbaru dengan cepat tersedia. Tautan-tautan yang saling merujuk memudahkan pemahaman secara utuh.

3. Membaca artikel-artikel ilmiah. Secara online, saat ini, tersedia banyak artikel ilmiah berkualitas sesuai minat Anda. Anda bisa saja berlangganan yang berbayar. Tersedia juga yang versi gratis.

4. Belajar bahasa internasional. Berbagai macam buku tersedia dalam bahasa aslinya atau sebagiannya dalam bahasa internasional. Maka penting bagi kita untuk belajar bahasa inggris, arab, mandarin, dan lainnya sesuai minat.

5. Membaca kitab suci tiap hari. Bagi Anda yang beragama bisa langsung membaca kitab sucinya. Bagi Anda yang tidak beragama barangkali bisa memilih beberapa kitab suci yang sesuai.

Kehendak Emosional

Manusia selalu dalam mood. Jika hana menolak satu mood maka ia akan berada dalam mood yang lain. Mood adalah apriori bagi manusia. Berikut adalah beberapa langkah praktis mengembangkan kehendak bebas yang berhubungan dengan emosi – dan mood.

1. Setiap pagi, bangun tidur, pastikan bersyukur atas karunia eksistensi kita. Sewaktu-waktu, eksistensi manusia bisa hilang. Maka rasa syukur adalah yang pantas bagi setiap manusia dalam mengawali hidupnya. Ulangi afirmasi syukur atas eksistensi ini siang, malam hari, dan lebih sering lebih baik.

2. Temukan cara untuk mensyukuri diri Anda, badan dan mental, tiap saat, apa adanya. Rasa syukur ini membuka gembok-gembok kehendak bebas Anda.

3. Kembangkan optimisme mengantisipasi masa depan. Kuatkan keteguhan hati, dan sabar, menjalani saat ini menuju masa depan.

4. Nikmati karya seni misal musik, syair, novel, atau lainnya untuk meneguhkan hati, menguatkan emosi. Dengan media digital tersedia banyak rujukan karya seni yang bisa kita konsumsi.

5. Bangun hubungan baik dengan orang-orang terdekat Anda, untuk kemudian meluas.

Kehendak Spiritual

Kita dapat mengembangkan kehendak spiritual dengan menjalankan ritual keagamaan masing-masing dengan menambah kekuataan penjiwaan aspek batin bersamaan aspek lahirnya. Barangkali ada juga yang berminat mengembangkan metode tertentu untuk aspek spiritual. Saya tidak terlalu banyak menjelaskan pengembangan kehendak spiritual di bagian ini karena seluruh bagian buku ini dimaksudkan untuk pengembangan kehendak spiritual itu sendiri.

Refleksi Kehendak Bebas

Kajian mendalam menunjukkan bahwa manusia digital menghadapi tantangan yang berbeda dengan manusia tradisional. Sebelum era digital, masalah kehendak bebas nyaris hanya urusan masing-masing personal. Orang lain tidak bisa mengganggu kehendak bebas kita sebagai manusia sejati, hana. Sementara di era digital, kehendak bebas banyak orang, tenggelam dalam lautan media sosial. Mereka dengan sukarela menenggelamkan diri. Atau tanpa sadar ditenggelamkan ke dasar lautan.

Meski demikian, kehendak bebas tetaplah kedendak bebas. Bebas dalam arti sebebas-bebasnya.

Hanya saja, pertama-tama, kita perlu mewaspadai media digital. Jangan sampai terjebak. Yang awalnya, media digital sebagai alat bagi manusia untuk bergerak lebih maju, maga, maka tetap kita posisikan sebagai alat. Kali ini, media digital kita manfaatkan sebagai alat untuk mengembangkan kehendak bebas hana dan kehendak bebas umat manusia.

Kehendak bebas, dalam situasi apa pun, perlu terus kita rawat sebagai sumber energi sejati yang tidak pernah habis, tidak pernah berhenti.

Pada bagian selanjutnya kita akan membahas elemen kedua struktur fundamental manusia digital yaitu power, kekuatan manusia.

Struktur Fundamental Manusia Digital

Bagian ini akan membahas lebih detil struktur fundamental manusia digital. Struktur paling fundamental dari manusia sejati, hana, adalah maga: gerak sejati. Hana adalah satu kesatuan utuh tak terpisahkan. Manusia bukanlah bagian demi bagian yang kemudian disatukan. Hana adalah satu kesatuan yang utuh. Hanya saja, demi kemudahan kita akan menganalisis hana bagian demi bagian, elemen demi elemen.

Image result for human change

Pertama, kita akan melihat hana sebagai tersusun empat elemen fundamental yang mendorong untuk terus bergerak eksistensial, maga. Kemudian, masing-masing elemen ini kita uraikan lebih detil dan kita lengkapi dengan langkah-langkah praktis. Sehingga kita dapat melatihnya tiap hari untuk menjadi manusia seutuhnya, manusia di jaman digital, manusia digital.

Empat elemen fundamental ini menjamin kita untuk terus melangkah maju. Elemen ini bagaikan energi yang tidak pernah ada habis-habisnya bila dirawat dengan baik. Bahkan energi ini terus tumbuh berkembang menjadi lebih besar tiap hari. Meski terus berkembang, elemen fundamental ini, tidak menjamin arah berkembangnya menuju ke arah yang lebih baik. Yang terjamin adalah menjadi lebih besar karena berkembang, hanya itu.

Untuk menjamin perkembangan ke arah yang lebih baik maka kita perlu acuan arah gerak maga. Kita akan membahas arah ini di bagian berbeda. Bagian ini akan fokus kepada empat elemen fundamental dari hana: kehendak (will), kekuatan (power), sains, dan sign.

Kehendak (Will)

Elemen paling fundamental dari manusia adalah kehendak. Hakekat eksistensi manusia ditentukan oleh kehendaknya. Hana memiliki kebebasan (freedom) dan kehendak bebas (free will). Catatan sejarah menunjukkan bahwa orang-orang besar adalah orang-orang yang mampu memanfaatkan kehendaknya ini dengan baik.

Nyatanya, setiap manusia memiliki kehendak. Sama seperti orang-orang besar yang tercatat dalam sejarah itu.

Kehendak bebas bersifat apriori bagi manusia. Maksudnya, kehendak selalu ada pada manusia. Ketika kita lahir, hana yang masih bayi, langsung berteriak dengan tangisan keras. Menunjukkan kehendak untuk mendapat air susu dari ibu tercinta. Ketika remaja, kita, punya cita-cita sebagai representasi kehendak kita. Bahkan ketika masa tua, hana, berkehendak mengsisi sisa hidup dengan kegiatan-kegiatan penuh makna bahagia.

Sepanjang perjalanan, kehendak bebas, tidak selalu bisa terjaga. Situasi ekonomi sulit bisa mengecilkan kehendak seseorang. Tekanan lingkungan bisa memaksa orang untuk menyerah. Keyakinan yang salah bisa memperparah. Kita perlu memperoleh pemahaman yang jelas tentang kehendak lengkap dengan tips-tips praktis untuk mengembangkannya. Di bagian bawah, kita akan melengkapinya.

Kekuatan (Power)

Elemen fundamental kedua adalah kekuatan (power). Setiap manusia, hana, memiliki kekuatan yang unik. Saling melengkapi kekuatan satu orang dengan orang lainnya. Tak ada keraguan, seorang bayi tumbuh makin kuat menjadi remaja, lalu matang sebagai orang dewasa. Memang ketika masa tua, badan hana makin lemah. Tetapi kekuatan yang lain masih bisa terus bertumbuh: pikiran, rasa, bijaksana, dan sebagainya.

Ditambah lagi dengan jaman digital, hana makin kuat nyaris tanpa batas. Ketika bayi sudah bisa main game digital. Ketika remaja mampu membuat proyek kolaborasi dengan remaja-remaja manca negara. Ketika tua mampu terus berkarya.

Tetapi manusia digital ini tidak selalu ramah. Penipuan di media sosial terjadi berulang kali. Pelanggaran, kekerasan, kriminal juga terjadi melalui media digital. Manipulasi pihak kuat kepada pihak lemah makin mudah dengan teknologi digital. Sehingga kita perlu melindungi diri dan masyarakat dari berbagai ancaman dunia digital.

Pemahaman yang lengkap mengenai kekuatan dunia digital dilengkapi dengan beragam langkah-langkah praktis kita bahas di bagian bawah.

Sains (Pengetahuan)

Pengetahuan, yang terus berkembang menjadi sains yang canggih, jelas-jelas menjadi keunggulan manusia, hana. Sains adalah elemen fundamental ketiga dari hana. Catatan sejarah menunjukkan setidaknya sejak 3000 tahun yang lalu manusia sudah menghargai sains. Thales adalah pemikir besar abad ke 7 sebelum masehi dari Yunani Kuno. Saat itu Thales sudah menemukan cara menghitung tinggi menara, tinggi gunung, jarak kapal laut menggunakan rumus matematika. Thales menyarankan teman-temannya untuk belajar ke Mesir Kuno yang, ilmu dan teknologinya, lebih maju.

Di jaman digital ini, kita, hana makin merasakan peran penting dari ilmu pengetahuan – dan teknologi. Orang-orang yang menguasai data, informasi, dan sains, mereka menguasai dunia digital. Mampu mengambil keuntungan, eksplorasi, dan eksploitasi sesuai kebutuhan mereka. Lebih dari itu, pengetahuan, merupakan ukuran kesempurnaan hana. Maksudnya, di samping bernilai praktis, pengetahuan juga bernilai tinggi untuk kebahagiaan setiap hana.

Tampaknya alamiah juga bahwa pengetahuan hana tidak selalu berkembang. Sebagian orang dapat memperoleh pendidikan dengan sempurna. Sebagian yang lain tidak sempat mengenyam pendidikan. Bagaimana pun, hana selalu bisa mengembangkan pengetahuan dengan sempurna. Di bagian bawah kita akan membahas lebih rinci tentang pengetahuan dan langkah-langkah praktis untuk mengembangkannya.

Sign (Tanda)

Elemen fundamental keempat adalah sign (tanda). Manusia, sebagai hana, mampu membaca tanda-tanda dengan possibilitas tak terbatas. Setiap kejadian bisa kita baca sebagai tanda. Lalu kita bisa menginterpretasikan, menafsirkan, tanda tersebut dengan bebas. Membaca tanda-tanda semacam ini adalah kemampuan khas tingkat tinggi dari hana, manusia sejati.

Tiba-tiba terasa nyeri di pinggang. Investor membaca kejadian semacam itu sebagai tanda-tanda tidak baik. Lalu dia memutuskan untuk membatalkan rencana investasinya. Benar saja, beberapa bulan kemudian terbukti. Seandainya dia benar-benar investasi maka akan rugi jutaan dolar. Kemampuan membaca tanda semacam itu berperan besar bagi hana.

Dalam kehidupan sehari-hari berlalu-lintas, kita memahami banyak tanda khusus. Lampu merah merupakan tanda harus berhenti. Mereka yang melanggar lampu merah beresiko dengan kecelakaan lalu lintas. Atau minimal ditilang oleh petugas. Malam itu rembulan mulai beranjak tinggi. Anak-anak muda yang camping di tepian pantai mampu membaca bahwa itu tanda akan terjadi pasang yang makin tinggi. Berbagai macam perlengkapan di tepi pantai perlu segera diamankan.

Bahasa kita, yang kita pakai berkomunikasi tiap hari, adalah sistem tanda. Kata demi kata adalah tanda. Menyusun kalimat demi kalimat adalah tanda juga. Terbentuklah tanda di atas tanda. Hana yang mahir memanfaatkan bahasa menjadi sukses luar biasa. Sementara mereka yang gagal membaca tanda berakibat menanggung bencana.

Kita menyediakan bagian khusus, di bawah, membahas teori tanda, sign, dan dilengkapi beragam langkah praktis untuk mengembangkannya.

Struktur Lengkap Manusia

Kita sudah membahas secara lengkap, meski sekilas, struktur fundamental manusia sejati, hana. Bagian selanjutnya akan membahas elemen demi elemen dengan lebih rinci dari sisi teori. Kemudian kita lengkapi dengan beberapa langkah praktis sehingga dapat diterapkan dalam kehidupan nyata masing-masing hana.

Demokrasi Cacat: Tetap Semangat

Meski hasil survey terbaru, diumumkan Februari 2021, menyatakan bahwa demokrasi di Indonesia termasuk demokrasi cacat maka itu harus menambah semangat kita untuk memperbaiki. Kita? Kenapa harus kita? Kan mereka yang membuat cacat. Kami hanya rakyat. Di sana banyak pejabat.

Justru karena kita rakyat. Demokrasi adalah pemerintahan oleh rakyat. Maka kita semua bersama-sama jadi lebih kuat. Meski ada wakil rakyat dan pejabat, demokrasi tetap untuk rakyat. Teori bisa beda dengan apa yang ada di masyarakat. Bagaimana pun tetap semangat.

Solusi dari demokrasi cacat adalah demokrasi yang tepat.

Kesetaraan vs Kesenjangan

Solusi paling dasar dari demokrasi adalah kesetaraan bagi seluruh rakyat. Kesetaraan dalam politik, ekonomi, kebebasan, pendidikan, dan lain-lain. Sayangnya baru-baru ini, Februari 2021, BPS mengumumkan bahwa kesenjangan di Indonesia makin melebar. Ditandai dengan rasio Gini yang makin melebar G = 0,385 dari tahun sebelumnya hanya G = 0,381.

Untuk meningkatkan kesetaraan saya sudah membuat model dan simulasi. Sudah saya tuliskan pada tulisan-tulisan saya sebelumnya. Intinya adalah meningkatkan kekuatan, ekonomi, dan pendidikan dari orang-orang lemah maka kesetaraan makin menguat. Di saat yang sama, orang kaya tambah kaya tidak masalah asalkan orang miskin juga ikut meningkat daya ekonominya. Kondisi paling parah adalah yang miskin makin miskin dan yang kaya makin kaya. Salah satunya ditandai oleh melebarnya rasio Gini.

Pemerintah pusat perlu menyusun program pemerataan ekonomi-politik ini dengan serius. Di sisi rakyat juga perlu menyambut program-program penguatan. Serta selalu siap memanfaatkan setiap kesempatan untuk lebih maju.

Pengembangan Manusia

Solusi terpenting kedua memperbaiki demokrasi adalah pengembangan manusia Indonesia seutuhnya. Ketika masyarakat cerdas maka demokrasi berkembang dengan sehat. Rakyat akan memilih wakil-wakil yang tepat. Karena memang tersedia calon-calon yang terpercaya. Pejabat pun diisi oleh orang-orang hebat bermartabat.

Peran pendidikan menjadi sangat penting di sini. Sayangnya, di masa pandemi, program pendidikan tampaknya termasuk paling terpukul. Pendidikan paling hancur. Maka kita perlu bangkit lagi. Kita? Bukannya ada menteri pendidikan? Betul. Mas Menteri dan kita dukung.

Kebebasan

Solusi ketiga adalah menjamin kebebasan. Pemerintah Indonesia sudah berniat baik meminta kritik pedas, beberapa minggu lalu. Sejauh ini kita belum melihat adanya kritik pedas untuk memperbaiki demokrasi Indonesia. Yang kita temui justru pertanyaan mantan wapres, “Bagaimana cara mengkritik ke pemerintah tanpa dipanggil polisi?” Karena resiko dipanggil polisi tentu tidak memudahkan rakyat untuk berpartisipasi.

Revisi UU ITE tampaknya menjadi solusi untuk kembali meningkatkan kebebasan berdemokrasi. Sayangnya tuntutan revisi UU ITE sudah pernah diajukan dan gagal. Apakah kali ini akan gagal? Jika yang merevisi DPR dan pemerintah tentunya tidak ada kata gagal. Bahkan presiden bisa lebih proaktif dengan menerbitkan perppu bila perlu.

Bagaimana menurut Anda?

Struktur MANUSIA DINAMIS

“Arah Transformasi Manusia Digital di Era Retakan Sosial”

Manusia maju melesat, tersesat. Dunia digital makin cepat, padat, dan mampat. Menemukan makna jadi diri sebagai manusia, mana sempat? Bila ada niat, manusia selalu bisa selamat. Masalahnya, tidak ada waktu untuk istirahat. Apalagi berkhidmat. Tapi baktimu selalu ditunggu oleh masyarakat. Dan kamu adalah pilihan paling tepat.

Image result for human change

Struktur Manusia

Anda yang membaca buku ini barangkali sudah punya suatu niat untuk mengantisipasi masa depan umat manusia. Minimal menyiapkan diri dan orang terdekat untuk menghadapi masa depan yang kian tidak pasti. Bahkan di saat ini, kita sudah banyak yang terjebak dalam himpitan dunia digital. Selalu ada jalan keluar. Tidak mudah. Tapi layak diperjuangkan. Demi diri kita, keluarga kita, teman-teman kita, dan umat manusia, serta alam semesta.

Tugas awal kita, saat ini, adalah mencoba mengkaji struktur manusia. Apa sejatinya manusia? Siapa sejatinya manusia? Saya menggunakan istilah hana sebagai padanan dari manusia sejati.

Sejak jaman kuno, kita mendefinisikan hana, manusia sejati, adalah binatang rasional. Sebagai binatang rasional, maka hana mengandalkan pikiran dan logikanya. Pendekatan ini berhasil mengantarkan kemajuan manusia dalam bidang sains dan teknologi, serta ekonomi. Manusia menguasai daratan, lautan, angkasa, dan seluruh alam semesta. Ujung-ujungnya membahayakan umat manusia sendiri. Ancaman perubahan iklim, ancaman senjata nuklir, ancaman senjata biologis, ancaman pandemi, ancaman kesenjangan sosial, dan masih banyak ancaman lainnya lagi.

Kita memerlukan kajian baru. Kita perlu memetakan struktur hana dengan lebih tepat. Hana sebagai hewan rasional benar adanya. Definisi semacam itu hanya memotret sebagian kecil dari manusia. Maka saya mencoba memotret hana, manusia sejati, dengan lebih utuh. Struktur fundamental hana adalah maga: gerak sejati. Karena hana selalu bergerak maka perlu arah yang tepat. Kita, manusia, perlu arah.

Manusia Dinamis

Kita dapat merasakan dengan jelas, karena hana adalah maga, gerak sejati, maka manusia bersifat dinamis. Wajar muncul dalam benak kita, ke arah mana gerak manusia, dan bagaimana gerak perubahan itu berlangsung.

Kita perlu mencatat di sini, maga, sebagai gerak sejati, lebih dari sekedar bergerak pindah ke suatu tempat. Maga bermakna sebagai gerak eksistensial, gerak secara hakikat. Manusia yang bahagia berubah, begerak, menjadi bahagia sekali. Manusia yang bodoh bergerak, dengan proses belajar, menjadi pandai. Manusia yang semula bimbang berubah menjadi penuh cinta. Itu semua adalah beberapa contoh gerak sejati.

Jelas, gerak manusia haruslah ke arah yang lebih baik. Maka kita perlu merumuskan arah yang lebih baik ini. Khususnya di jaman yang, ketika peran dunia digital makin membesar, kita benar-benar perlu arah yang lebih jelas dan tegas. Buku ini akan mendeskripsikan arah gerak tersebut.

Kedua, bagaimana gerak manusia bisa terus terjadi? Manusia butuh energi. Kita akan membahas struktur hana yang memungkinkan manusia untuk terus bergerak maju. Struktur ini melibatkan struktur personal, sosial, dan universal. Pemahaman yang baik tentang struktur hana ini menjamin kita untuk bisa terus bergerak maju ke arah yang lebih baik. Struktur hana adalah struktur manusia dinamis.

Akhir Manusia

Akhirnya, manusia berakhir. Pasti. Kita tidak tahu pasti, seperti apa, nasib akhir dari umat manusia. Tetapi kita tahu pasti bahwa masing-masing dari manusia pasti akan mati. Hana akhirnya pasti mati. Eksistensi hana, sebagai individu, pasti akan terhenti di dunia ini, sewaktu-waktu bisa mati.

Manusia yang hakikatnya bersifat dinamis, selalu bergerak, tiba-tiba harus berhenti total, mati. Tentu kita tidak tahu banyak tentang kematian. Kita tidak pernah mengalaminya. Kita hanya bisa belajar dari pengalaman orang lain. Maka kita perlu kajian yang cermat tentang akhir manusia. Saya memilih kata bataga untuk menyatakan akhir sejati dari manusia.

Nyatanya, bataga, akhir sejati tidak selalu berupa kematian fisik. Setiap saat adalah bataga. Setiap saat adalah akhir. Yang secara serentak juga merupakan awal yang baru. Bataga adalah akhir sekaligus awal yang baru. Justru ini yang membentuk manusia makin dinamis.

Karakter dasar dari bataga, akhir sejati, adalah unik dan akumulatif. Setiap manusia memiliki bataga yang berbeda dengan orang lain. Seluruh perjalanan hana, individu sebagai manusia sejati, direkam dalam bataga secara unik. Setiap perbuatan baik manusia, perjuangan, dan pengorbanannya terkumpul secara akumulatif dalam bataga.

Karena bataga ini juga merupakan awal yang baru maka kita bisa belajar dari pengalaman-pengalaman sebelumnya. Memperbaiki diri untuk kemudian bergerak maju lagi. Kajian yang holistik, dilengkapi dengan beberapa langkah praktis, adalah tujuan utama buku ini.

1 Pendahuluan

2 Struktur Manusia Digital
2-1 Gelombang Media Digital
2-2 Menjadi Manusia Digital
2-3 Struktur Fundamental
2-31 Kehendak Manusia – Langkah Praktis
2-32 Power Manusia – Langkah Praktis
2-33 Sains – Memahami dan Mengembangkan
2-34 Sign – Membaca dan Interpretasi
2-4 Struktur Sosial
2-41 Keluarga
2-42 Masyarakat Terdekat
2-43 Masyarakat Dunia
2-5 Struktur Semesta
2-51 Hidup dan Menghidupi Alam
2-52 Ancaman terhadap dan dari Alam
2-53 Masa Depan Semesta

3 Dinamika Manusia Sejati
3-1 Sikap Dinamis
3-11 Bersikap Adil – Langkah Praktis
3-12 Bersikap Pemurah – Langkah Praktis
3-2 Kemampauan Dinamis
3-21 Visi Kepemimpinan – Langkah Praktis
3-22 Keterampilan Manajerial – Langkah Praktis
3-3 Dinamika Struktur Fundamental
3-31 Sinergi Struktur – Langkah Praktis
3-32 Kompetisi Pengorbanan – Langkah Praktis

4 Akhir Manusia
4-1 Menuju dan Ditarik Akhir
4-11 Possibilitas Tanpa Batas
4-12 Probabilitas Terbatas
4-2 Karakter Akhir
4-21 Karakter Unik
4-22 Karakter Akumulatif Integratif
4-3 Akhir sebagai Awal
4-31 Mati sebelum Mati – Langkah Praktis
4.311 Manusia Tidak Bisa Mati
4-32 Mikro-Makrokosmos – Langkah Praktis

5 Epilog

Ketimpangan Ekonomi: Rasio Gini

Kita harus lebih sabar. Kesenjangan ekonomi di Indonesia makin melebar. Ketimpangan ekonomi makin menganga. Perbedaan miskin dan kaya makin jauh.

Berita terbaru menyatakan rasio Gini = 0,385. Yang makin timpang dibanding tahun sebelumnya yaitu 0,381 (tahun 2019). Padahal target Bu Menteri adalah hendak menurunkan rasio Gini. Yang terjadi justru naiknya kesenjangan.

Makna Ketimpangan

Kita memerlukan pemahaman apa arti rasio Gini. Saya membuat tabel ketimpangan seperti di atas agar memudahkan untuk melakukan perhitungan. Karena rasio Gini = G = 0,385 maka masuk klasifikasi “Buruk”.

Sejatinya, kita tidak bisa “memahami” rasio Gini G itu. Karena proses yang terjadi adalah, pertama, kita perlu memahami kondisi kesenjangan ekonomi. Kedua, dari kesenjangan ekonomi itu maka bisa kita hitung rasio Gini G. Bila proses dibalik maka hasilnya tidak unik. Maksudnya, misalnya di Indonesia G = 0.385, bagaimana kondisi kesenjangan ekonominya? Jawabannya tidak unik. Bisa saja itu buruk, sedang, buruk sekali, atau lainnya.

Maka saya mengembangkan formula nilai ketimpangan n = (1 + G)/(1 – G) yang lebih jelas memberi gambaran kesenjangan ekonomi.

Namun disepakati bahwa rasio Gini yang makin naik maka menunjukkan kondisi makin memburuk. Hal ini terjadi di Indonesia pada laporan terbaru tahun 2021. Barangkali akibat pandemi.

Konsistensi Kesenjangan

Kita memerlukan analisis yang konsisten. Formula nilai ketimpangan n yang saya kembangkan di atas dengan mudah untuk menguji konsistensi ini.

40% penduduk termiskin di Indonesia mengkonsumsi sekitar 12% saja.

Tentu saja itu kondisi kesenjangan yang buruk. Dengan rata-rata pendapatan penduduk Indonesia 51.9 juta per tahun atau setara 4,350 juta per bulan maka ilustrasi akan lebih jelas. Karena rakyat termiskin hanya mengkonsumsi 12% dari yang seharusnya 40% maka per bulan hanya mendapat 1,300 juta rupiah. Atau sehari mengkonsumsi 43,333 ribu rupiah untuk seluruh keperluan hidup: makan, sewa rumah, bayar pulsa, listrik, dan lain-lain.

Tetapi perhitungan saya itu tidak konsisten dengan data resmi BPS yang menyatakan bahwa pengeluaran penduduk termiskin adalah 17,9% maka beda dengan hitungan saya yang 12% itu. Meski begitu koreksi dari BPS itu akan menaikkan pengeluaran atau pendapatan rakyat termiskin menjadi sekitar 60 ribu rupiah per hari. Masih ngeri?

Konsistensi Terbalik

Dengan mengacu pengeluaran 40% penduduk termiskin adalah 17,9% sesuai BPS maka kita bisa menguji konsistensi nilai rasio G.

Kita peroleh nilai rasio Gini, seharusnya, G = 0.304. Masuk klasifikasi “sedang.” Bahkan hampir masuk klasifikasi “baik.”

Sampai di sini, kita menemukan anomali dua klaim yang tampak tidak konsisten. Saat ini, rasio Gini G = 0.385 tidak konsisten dengan pengeluaran penduduk termiskin 17,9%. Maka diperlukan kajian lebih mendalam untuk menemukan anomali tersebut.

Data ke Solusi

Data-data yang kita miliki dapat kita olah untuk memberi petunjuk arah solusi menangani kesenjangan ekonomi. Pada gilirannya, solusi ekonomi, akan memperkuat iklim demokrasi. Semoga Indonesia makin maju, adil, makmur.

Bagaimana menurut Anda?

Struktur Fundamental Manusia Hana

Kali ini kita akan memotret lebih dekat apa struktur fundamental manusia sejati, hana, secara eksistensial. Saya mencoba mempertimbangkan beberapa pemikiran Heidegger, Sartre, Sadra, Ibnu Arabi, Plato, Aristoteles, dan lain-lain.

Manusia Seutuhnya: Hana Maga

Satu istilah paling mendasar yang menggambarkan struktur manusia seutuhnya adalah maga: gerak sejati. Manusia senantiasa bergerak terus menerus. Maga, gerak sejati, ini meliputi gerak permukaan dan gerak eksistensial. Hana tidak pernah diam. Hana terus mengalir.

Image result for human change

Maga adalah sisi lain dari hana itu sendiri. Kita membayangkan bisa memotret hana. Tetapi hana terus bergerak. Maka kita tidak pernah berhasil memotret hana yang diam. Yang kita peroleh selalu rekaman hana yang bergerak yaitu maga itu sendiri.

Sadra menyebut gerak substansial ini sebagai harakah al-jauhariah. Sementara Heidegger memilih istilah care: peduli terhadap eksistensi diri. Tentu saja eksistensi diri di masa depan. Jadi, hana, selalu mengantisipasi eksistensinya di masa depan. Hana terbang bebas ke masa depan.

Sartre memilih karakter negasi dari hana. Menolak yang ini, negasi, menginginkan yang lain. Tidak pernah diam menjadi diri sendiri. Senantiasa menegasikan identitas diri. Bebas menuju identitas lainnya. Sampai di sana, identitas baru, ia tolak lagi. Berubah lagi. Demikian seterusnya.

Struktur Fundamental

Hana merupakan satu kesatuan utuh. Meski demikian kita dapat menganalisis secara parsial untuk memperoleh gambaran lebih detil. Elemen fundamental dari hana, yang mendorong dan menarik maga, adalah: will, power, sains, dan sign.

Will atau kehendak adalah elemen fundamental dari hana, manusia sejati. Pemikir besar sejak awal, misal Plato, Aristoteles, Ibnu Sina, dan lain-lain, mengakui peran besar dari will. Bahkan manusia memiliki free will, kehendak bebas, untuk menentukan nasibnya sendiri. Schopenhauer, pemikir abad 19, menempatkan will sebagai fokus dari pembahasan filsafat.

Power atau kekuatan adalah elemen fundamental kedua dari hana. Bergson, pemikir abad 20, menempatkan kekuatan elan vital sebagai pendorong manusia untuk terus bergerak maju menjalani evolusi sepanjang sejarah. Sedangkan Nietzsche, pemikir abad 19, menyatakan bahwa will to power adalah karakter otentik dari hana. Manusia menginginkan power untuk menjadi unggul.

Sains, atau pengetahuan, adalah elemen fundamental ketiga dari hana. Tak diragukan lagi, pengetahuan adalah karakter utama dari manusia sejati. Sadra, pemikir abad 17, menempatkan pengetahuan sebagai penyempurnaan wujud manusia menuju tingkat wujud paling sempurna. Demikian juga Ibnu Sina, Aristoteles, dan Plato menempatkan pengetahuan sebagai yang paling utama.

Sign atau tanda adalah elemen fundamental keempat dari hana. Sistem tanda, yang paling umum, yang kita pakai adalah bahasa, dalam kehidupan sehari-hari atau pun kepentingan khusus. Bahkan dunia filsafat abad 20 tampak dipenuhi dengan isu bahasa sebagai sistem tanda itu sendiri. Kombinasi language game dari Wittgenstein dan strukturalisme dari Saussure mendominasi diskusi filsafat pertengahan abad 20. Hingga berujung dengan konsep differance dari Derrida yang kontroversi itu.

Sikap Fundamental

Hana terus bergerak maju, maga. Di saat yang sama, hana dapat memilih sikap selama bergerak maju itu. Dua sikap paling fundamental adalah adil dan pemurah. Sayangnya, hana dapat memilih sikap yang sebaliknya yaitu tidak adil dan tidak pemurah.

Dalam bergerak maju, hana perlu bersikap adil terhadap dirinya mau pun terhadap dunia. Mempertimbangkan kehendak diri dan masyarakat luas. Memperhatikan kekuatan diri dan sumber daya yang tersedia. Meluaskan pengetahuan eksak maupun probalistik. Dan memproyeksikan segala possibilitas dari tanda-tanda yang ada mau pun yang tersembunyi.

Di saat yang sama, hana perlu bersikap pemurah. Memberi lebih banyak dari yang dibutuhkan dunianya. Dari awal, hana hadir secara eksistensial berkat kebaikan ibu dan bapaknya yang pemurah. Sepanjang perjalanan, hana perlu bermurah hati kepada semua dunia.

Kemampuan Fundamental

Dua kemampuan fundamental hana adalah kepemimpinan dan manajerial. Hana selalu melihat masa depan eksistensinya. Beragam pilihan yang mungkin dia pelajari. Lalu memilih sebagian masa depan itu. Hana mampu memimpin dirinya dan dunianya untuk meraih eksistensi masa depan itu.

Hana juga menyadari ada realitas yang menjadi fakta diri dan dunianya di masa lalu, dan masa kini. Hana mampu mengelola fakta ini menjadi modal untuk bergerak maju berangkat dari masa kini, menciptakan eksistensi diri yang senantiasa berubah.

Saya menyusun struktur fundamental manusia sejati di atas mengacu kepada konsep hana sempurna dari Ibnu Arabi. Saya menyusun ulang bagian-bagian paling fundamentalnya saja. Masih banyak yang bisa kita kembangkan lebih lanjut.

Bagaimana menurut Anda?

Siapa Manusia Sejati: Kamu

Benar, kamu adalah manusia sejati. Tetapi apa itu manusia sejati? Siapa manusia sejati? Siapa kamu sejati?

Manusia sejati, saya menyebutnya sebagai hana, tidak bisa ditanya dengan “apa”. Pertanyaan yang lebih tepat adalah “siapa.” Siapakah kamu itu?

Manusia adalah Nama

Jawaban yang mudah adalah namanya yang menunjukkan peran unik. Siapakah Soekarno? Soekarno adalah proklamator. Maka Soekarno sudah berhasi menjadi manusia sejati.

Image result for proklamator

Jadi, siapa kamu? Aku adalah Anwar. Apa arti sebuah nama? Jika hanya nama panggilan, tidak menunjukkan peran, maka itu belum menunjukkan siapa diri kita sebenarnya. Anwar adalah sekedar sebutan saja. Tetapi jawaban, saya adalah Khairil Anwar, sang penyair jalang, adalah jawaban sebagai manusia sejati lengkap dengan peran uniknya.

Saya adalah seorang bupati. Saya seorang penjahit. Saya seorang pegawai. Saya seorang petani. Mereka semua masih belum menunjukkan manusia sejati. Mereka semua baru menunjukkan jenis pekerjaan belaka. Perlu peran unik Anda dalam menjalani hidup atau perkerjaan untuk menjadi manusia sejati.

Peran Unik

Di dunia ini ada banyak presiden – atau kepala pemerintahan. Tidak semua presiden dijamin menjadi manusia sejati. Beberapa presiden berhasil menjadi manusia sejati seperti Soekarno, sang proklamator. Jika presiden Trump kira-kira bagaimana? Dia sempat dua kali dalam proses pemecatan dari presiden. Meski tampaknya lolos, kedua-duanya.

Tidak jadi presiden, kita tetap bisa menjadi manusia sejati. Seorang petani miskin di kampung bisa saja jadi manusia sejati. Dia adalah petani dermawan. Setiap panen, hampir setengah hasil panennya ditukar dengan buku dan kitab untuk belajar anak-anak di kampung, gratis. Dia adalah manusia sejati. Dia petani dermawan lengkap dengan peran uniknya.

Jadi, siapa kamu?

Saya adalah paman APIQ. Jika itu hanya panggilan saja maka nama paman APIQ tidak menunjukkan manusia sejati. Apa peran unik dari paman APIQ agar bisa jadi manusia sejati?

Bagaimana menurut Anda?

Covid Indonesia Mereda

Kabar baik bahwa covid di Indonesia sudah mereda. Bahkan tinggal hanya 15% saja. Demikian laporan dari lapangan yang diklaim menteri BUMN. Kita berharap kondisi Indonesia terus membaik.

Tentu saja banyak yang mempertanyakan klaim menteri BUMN tersebut. Bisakah dipertanggungjawabkan?

Jika menggunakan angka semula 200 lalu turun menjada 24 maka benar saja, mereda. Bahkan hanya tinggal 12% saja. Lebih rendah dari klaim yang 15% itu. Apakah cara menghitung seperti itu bisa dibenarkan?

Angka Reproduksi

Banyak parameter yang bisa kita kembangkan. Para ahli menyepakati angka reproduksi R untuk menggambarkan tingkat penularan. Sejatinya hanya ada dua kelompok tingkat penularan.

R di atas 1 maka menular.
R di bawah 1 maka tidak menular

Saat ini, Indonesia R = 1,042
maka masih menular,

Angka Penularan Menurun

Benar adanya bahwa angka penularan R beberapa hari ini memang menurun. Lihat grafik yang saya buat berikut ini.

16 Januari 2021 sampai 24 Januari naik terus. Kemudian mulai turun yang semula R = 1,16 menjadi R = 1,042 di 8 Februari 2021.

Meski angka penularannya turun tetapi covid di Indonesia masih terus menular dengan R = 1,042. Maka saya coba membuat beberapa kelompok penularan lebih rinci agar bisa menjadi pertimbangan lebih detil.

Saya menggunakan periode inkubasi WHO dengan mean 5,2 hari. Tetapi karena periode kehidupan sehari-hari adalah 24 jam maka saya bulatkan menjadi 5 hari saja. Sehingga kita peroleh perbandingan,

5,2/5 = 1,04

sebagai batas kritis penularan.

R (Reproduksi : Penularan)Makna
R di bawah 0,9Mereda
R antara 0,9 – 1,0Tidak Menular
R antara 1 – 1,04Menular
R antara 1,04 – 1,08Sangat Menular
R di atas 1,08Sangat Menular Sekali

Semoga Indonesia dan dunia terus membaik.
Bagaimana menurut Anda?

Memudahkan Belajar

Siang itu cerah. Kami jalan-jalan di kampus ITB. Terlihat seorang dosen menerbangkan layang-layang bersama seorang mahasiswa baru di atas tanah yang lapang.

Saya kenal mereka. Lalu saya ceritakan, “Pak Muh, anak muda itu mahasiswa ITB. Dulu, ketika Pak Muh mengajar kami di Bandung, sering di rumah Kang Ravi, anak muda itu masih bayi.”

Wajar saja, waktu itu sekitar tahun 2001an, sekarang mahasiswa baru.

Lalu Pak Muh menimpali, “Betul itu, ilmu perlu diajarkan dengan cara yang lebih mudah dipahami.” Sehingga generasi muda tumbuh dengan bekal banyak ilmu.

Saya kira, di masa pandemi seperti ini, kita benar-benar perlu ilmu yang memudahkan banyak orang.

Bagaimana menurut Anda?

Being & Freedom: Content

A Pendahuluan
Ekonomi dunia makin maju tapi manusia makin menderita. Teknologi digital makin cepat tapi beban manusia makin berat. Negara-negara makin kaya tetapi kesenjangan makin menganga. Kita butuh solusi. Tidak hanya dari satu sisi. Perlu dari berbagai sisi. Tulisan saya ini berusaha untuk mengajukan solusi dari sudut pandang pemikiran paling mendasar – pemikiran filosofis. Melengkapi beragam solusi yang sudah diajukan oleh banyak pihak.

Secara garis besar saya mengikuti analisis eksistensial Heidegger yang sudah terbit hampir 100 tahun yang lalu. Tentu saja, kita perlu merujuk kepada pemikir-pemikir lintas waktu sampai jauh sebelum Socrates. Misal Parmenides yang menyatakan secara ontologis terdapat satu kebenaran tunggal, Heraklitus yang menyatakan dunia selalu bergerak, dan Sadra, pemikir abad 17, yang berhasil menyusun filsafat eksistensi dengan kokoh.

Image result for freedom

Penting juga bagi kita untuk mengacu pemikir-pemikir kontemporer yang luar biasa. Sebut saja Habermas, lahir di Jerman 2 tahun setelah Heidegger menerbitkan buku analisis eksistensial, yang dengan gigih mengkritik modernitas dan di saat yang sama mendukung terus proyek pencerahan. Lyotard, pemikir Prancis, yang dengan kukuh mendukung konsep keadilan. Kritik Baudrillard terhadap teknologi digital dengan konsep simulacra – simulacrum memberi jalan bagi kita untuk mencari alternatif solusi menghadapi lompatan teknologi yang konsisten eksponensial.

B. Being and Freedom
1. Pentingnya mengkaji Being atau Wujud: Hana
Kajian eksistensial terhadap manusia sejati, hana, menjadi penting karena bisa jadi landasan kajian bidang-bidang lainnya. Meskipun kajian-kajian ini bisa saja seiring sejalan saling melengkapi. Misal kajian biologi juga membahas manusia dari sudut pandang sebagai makhluk hidup. Dengan asumsi eksistensi manusia sudah diberikan, tidak dipertanyakan. Demikian juga psikologi dan anthropologi juga mengkaji manusia dengan asumsi eksistensi manusia sudah diberikan. Sementara, ontologi justru mengkaji apa makna eksistensi manusia, hana, itu sendiri.

2. Freedom: Mungkinkah Secara Pribadi dan Semesta
Kebebasan manusia menjadi pertanyaan dasar dalam beragam bidang kehidupan manusia. Di depan hukum, manusia harus bertanggung jawab karena ia punya kebebasan untuk melakukan suatu tindakan yang berkonsekuensi hukum. Tanpa ada kebebasan, tidak sepatutnya dituntut tanggung jawab. Dari sudut pandang analisis eksistensial apakah bisa dibuktikan bahwa manusia punya kebebasan? Ketika kebebasan adalah hak setiap manusia maka kita perlu mendesain sistem yang menjaga kebebasan hak setiap warga. Mungkinkah?

3. Metodologi: Fenomenologi Spiral
Berbagai macam metodologi kajian dapat kita pertimbangkan. Saya memilih metodologi fenomenologi dengan pertimbangan efektif dan fokus yang tegas kepada fenomena manusia. Analisis eksistensial berusaha untuk mengkaji bagian paling mendasar secara ontologis. Sedangkan pendekatan spiral memberi kesempatan bagi kita untuk berulang-ulang mempertajam kajian interpretif hermeneutik.

C. Kajian Hana: Memahami Karakter Semesta
1. Hanya Bisa Dikaji Melalui Manifestasi: Caraka
Being, ada, atau wujud sudah jelas dengan sendirinya. Kita, misalnya, secara langsung sadar, meja ada. Tanpa perlu penjelasan lebih jauh apa yang dimaksud dengan “ada” itu. Kita paham bahwa meja memang ada.

Maka untuk membahas being ini saya memilih kata hana yang bermakna ada, being, wujud, eksistensi, dan sejenisnya. Kita akan menyelidiki hana secara khusus yaitu hana manusia, eksistensi manusia. Meski demikian, tidak mudah membahas hana secara langsung. Maka kita akan mengkaji manifestasi dari hana yaitu caraka. Segala sesuatu yang ada dalam “ruang” lengkap dengan berbagai macam karakternya adalah termasuk caraka, manifestasi dari hana.

1.1 Being-in-the-world
Hana, manusia sejati, tahu bahwa ada orang lain, ada benda lain, ada sesuatu yang selain dirinya sendiri. Karakter dasar dari hana adalah mengenal yang lain. Hana selalu berada dalam dunia, sebagai being-in-the-world. Sementara dunia yang mengelilingi, dapat dikenali oleh hana sebagai caraka.

1.2 Being-with-mama
Sebagai orang dewasa, kita, barangkali menganggap bahwa uang adalah yang paling penting. Atau jabatan adalah yang paling penting. Tetapi bila kita mencoba mengkaji yang lebih dalam maka bisa kita temukan bahwa yang paling penting bagi kita, sebagai hana manusia sejati, adalah ibu kita. Being-with-mama.

Kita, hana manusia sejati, hadir ke dunia berkat seorang ibu. Kita lahir karena ibu. Sedikit pemikiran lanjutan, menunjukkan bahwa ibu bisa melahirkan kita karena ada peran ayah. Maka jelas, hana, mempunyai hubungan yang sangat erat dengan ibu dan bapaknya. Setiap orang di dunia ini, hana, mempunyai ibu dan bapak. Kita akan mengkaji eksistensi hubungan hana dengan ibu dan bapak.

1.3 Being-with-other
Hana sadar bahwa ada ibu dan bapak, serta ada orang lain yang bukan ibu dan bapak, being-with-other. Mereka mirip dengan saya tapi bukan saya, bukan pula ibu atau pun bapak. Hubungan antara hana dengan orang lain ada kecenderungan saling mempengaruhi, ada kompromi, sehingga berpeluang menarik hana menjada “rata-rata” saja. Hana bisa tenggelam dalam kerumunan menjadi kehilangan karakter diri yang otentik.

1.4 Being-with-special
Di antara banyak orang itu ada beberapa orang yang spesial bagi hana, kita sebagai manusia sejati. Barangkali Anda bertemu dengan orang yang membuat Anda jatuh cinta? Hana menjadi begitu hidup, otentik, ketika berjumpa dengan orang yang dicinta. Dunia serasa hanya milik berdua saja. Orang spesial bisa saja seorang kekasih tapi bisa juga orang yang sangat berjasa bagi kita, misalnya, seorang guru sekolah dasar yang mengubah cara pandang kita terhadap kehidupan ini. Orang spesial mempunyai hubungan eksistensi spesial dengan hana.

1.5 Being-with-natural
Hana bertemu banyak benda di dunia ini. Meja, batu, kursi, pohon, bunga, dan sebagainya. Mereka bukan manusia. Tetapi mereka nyata. Apa sejatinya mereka itu, caraka? Dan bagaimana hana berhubungan dengan semesta?

1.6 Language
Bahasa adalah penting bagi hana. Hana berkomunikasi dengan orang lain menggunakan bahasa. Lebih dari itu, bahasa mengungkapkan berbagai macam hal: benda, perasaan, situasi, harapan, dan lain-lain. Hana memandang bahasa sebagai alat. Tapi ada kemungkinan bahwa hana “dikurung” oleh bahasa itu sendiri.

1.7 Sains
Barangkali sains adalah prestasi terbesar hana sepanjang sejarah. Sains berhasil mengungkap kebenaran. Benarkah demikian? Kebenaran macam apa yang diungkap oleh sains? Beberapa jenis kebenaran, termasuk kebenaran sains, kita kaji pada bagian ini.

1.8 Mathematic
Matematika merupakan cabang ilmu pengetahuan yang menikmati keistimewaan: benar secara absolut, tanpa keraguan. Benarkah begitu, bagaimana caranya?

1.9 Dunia Digital
Hana lebih dari sekedar memahami dunia. Hana bahkan bisa mempengaruhi dan mengedalikan dunia melalui teknologi. Lebih ekstrem lagi, hana bisa menciptakan dunia baru yaitu dunia digital. Tantangan selalu ada, apakah manusia bisa mengendalikan dunia digital? Atau manusia yang dikendalikan oleh teknologi digital? Dengan mempertimbangan perkembangan teknologi cerdas semacam kecerdasan buatan, maka ancaman semacam ini bisa saja terjadi.

1.10 Hana Otentik
Analisis sebelumnya menjelaskan hana berhubungan dengan dunia sekitarnya. Apakah hubungan ini bisa menjaga hana eksis secara otentik? Maka kita perlu merumuskan karakteristik hana yang otentik. Karakter paling dasar dari manusia sejati adalah peduli, menurut Heidegger. Hana peduli terhadap eksistensi dirinya. Selalu bertanya-tanya tentang masa depan eksistensinya. Dengan dikelilingi dunia, hana beresiko tidak peduli lagi tentang masa depan eksistensinya yang otentik. Manusia tenggelam dalam dunia yang tidak otentik.

1.11 Tenggelam dalam Dunia
Manusia, sebagai hana, rentan tenggelam dalam kesulitan alam semesta. Bagi orang yang kesulitan menjalani hidup bisa terjebak sepanjang hayat hanya mencari kebutuhan pokok, sekedar bertahan hidup. Sementara bagi yang berlimpah harta juga rentan mabuk dunia. Sama-sama tenggelam dalam dunia.

1.12 Tenggelam dalam Rata-rata
Menghabiskan banyak waktu kumpul-kumpul dalam kerumunan bisa menjebak hana jauh dari sikap otentik. Dalam kasus tertentu, hana perlu bersatu, berkumpul menyatukan kekuatan untuk menghasilkan karya besar yang nyata. Namun sebagian besar hana tenggelam dalam rata-rata. Di tengah-tengah kawanan banyak orang, hana melepaskan diri dari tanggung jawab.

1.13 Tenggelam dalam Digital
Tak bisa disangkal, begitu kuatnya dunia digital. Manfaat besar di awal bisa berubah jadi petaka global. Maka kita perlu mencermati dengan tepat eksistensi dunia digital. Dunia digital bisa mencengkeram hana. Dunia digital bukan hanya nyata, real. Dunia digital adalah kenyataan, realitas.

1.14 Real vs Realitas
Mendefinisikan ulang dengan lebih tegas perbedaan antara yang Real dan Realitas memudahkan kita menganilisis hana. Real adalah segala sesuatu yang nyata dengan asumsi memisahkan hana dari kajian. Sedangkan Realitas segala sesuatu yang nyata dengan mempertimbangkan hana, kenyataan sejati.

1.15 Obyektif dan Subyektif: Estimasi Integratif
Tugas membuktikan obyektivitas dunia eksternal menjadi tugas berat bagi filsafat sepanjang sejarah. Selalu ada lubang kelemahan. Pendekatan estimasi integratif mampu memberikan penjelasan yang memadai dari sisi ontologis mau pun epistemologis.

1.16 Cogito Descartes
Rumusan cogito dari Descartes telah mendorong pencerahan dunia. Meskipun terdapat beberapa kerumitan, kita dapat melengkapi dengan beberapa analisis kontemporer.

1.17 Antinomi Kant
Barangkali Immanuel Kant adalah pemikir terbesar setelah masa Descartes. Konsistensi Kant dengan analisis rasionalnya menghasilkan maha karya yang luas dan menjadi rujukan sampai masa kontemporer ini. Sikap jujur mengantarkan kajian Kant kepada jalan buntu: antinomi atau paradox. Seperti dikatakan oleh Kant sendiri, antinomi ini tidak bisa didamaikan. Kita akan mencoba berbagai pendekatan alternatif untuk menyikapi antinomi ini.

1.18 Optimisme: Fenomena Sartre
Sikap optimis Sartre barangkali bisa dikatakan sebagai ekstrem, untuk ukuran seorang filosof. Totalitas dari seluruh fenomena menghasilkan being sejati. Sebaliknya, being sejati adalah seluruh fenomena yang dihasilkannya. Kita akan mencoba mempertimbangkan proyek besar Satre ini serta berbagai macam kontribusinya untuk analisis eksistensial.

1.19 World-in-the-Being
Sejauh ini kita membahas hana, manusia sejati, yang berada dalam dunia, being-in-the-world. Selanjutnya, kita perlu mempertimbangkan kebalikannya, dunia dalam hana, world-in-the-being. Analisis ini tampak mengarah ke idealisme. Tetapi kita tidak perlu terjebak dalam pertentangan idealisme vs realisme. Kita akan mencoba lebih dalam melakukan analisis eksistensial.

Ketika kita berhasil membuktikan eksistensi world-in-the-being maka akan berdampak besar kepada hana. Segala tindakan hana kepada dunia, sejatinya, adalah tindakan hana kepada hana sendiri. Seorang yang berbuat jahat, sejatinya, adalah berbuat jahat kepada dirinya sendiri. Merugikan diri sendiri. Begitu juga orang yang berbuat baik, sejatinya, adalah berbuat baik kepada dirinya sendiri. Semua perbuatan, semua realitas, ada dalam diri manusia.

Dari sini kita bisa mengembangkan lebih lanjut melengkapi hukum moral dan hukum positif. Karena semua tindakan, hakikatnya, adalah tindakan kepada diri sendiri maka hukum ini kita sebut sebagai hukum eksistensial. Karakter hukum eksistensial selaras dengan karakter hana itu sendiri terutama bersifat niscaya dan akumulatif. Artinya semua tindakan manusia niscaya berdampak kepada hana dan dampak ini bersifat akumulatif.

2. Filosofi Negasi dan Different: Sawala
Sejak jaman Aristoteles kita berfokus mengenal dunia dengan prinsip identitas. Ketika kita ingin mengetahui apakah adil itu maka kita akan mendefinisikan adil. Kemudian memberi contoh-contoh tentang adil. Kita kurang tertarik dengan yang bukan-adil atau komplemen-adil. Akibatnya, kita terlalu menghargai konsep adil sebagai identitas dan beresiko tidak menghargai yang lain. Baru menjelang abad 21, konsep perbedaan, negasi, dan “yang lain” mendapat perhatian utama. Perbedaan, pertentangan, perselisihan, dan lain-lain adalah sawala. Realitas nyata yang bebar-benar ada di depan mata: sawala.

2.1 Perbedaan Geometri dan Kuantitatif
Tidak ada keraguan bahwa di dunia nyata kita melihat banyak perbedaan. Di dalam pikiran masing-masing orang pun juga memiliki ide yang berbeda-beda. Tampak cukup aneh bila manusia tidak menghormati perbedaan yang nyata-nyata di dunia nyata. Lingkaran beda dengan persegi, batu beda dengan manusia, air beda dengan api. Jenis perbedaan-perbedaan seperti ini adalah perbedaan geometri dan kuantitatif.

2.2 Perbedaan Intensitas dan Kualitatif
Perbedaan intensitas terasa lebih lembut dari perbedaan kuantitas. Jelas kita bisa membedakan antara kuantitas 3 dengan kuantitas 5. Tetapi kita tidak mudah menjelaskan rasa makanan yang lezat dengan yang lebih lezat. Karena lezat adalah intensitas – atau kualitatif. Bagaimana pun kita mengakui perbedaan tingkat kelezatan makanan satu dengan jenis makanan lainnya. Perbedaan intensitas ini sangat berguna untuk analisis eksistensial.

2.3 Identitas Aristoteles dan Kontradiksi
Kita banyak berhutang budi kepada Aristoteles yang telah merumuskan konsep identitas, non-kontradiksi, hukum antara, dan lengkap dengan logika. Tidak ada masalah dengan konsep identitas ini. Tetapi sikap manusia yang terlalu dominan kepada identitas beresiko merendahkan perbedaan.

2.4 Negasi dan Nothingness
Barangkali Heidegger yang pertama memberi tempat terhormat kepada nothingness, ketiadaan, orano. Rasa cemas manusia adalah momen penting untuk menjadi otentik. Rasa cemas ini beda dengan rasa takut. Jika rasa takut jelas takut kepada sesuatu maka rasa cemas adalah cemas terhadap ketiadaan, orano. Selanjutnya, Sartre mengolah orano lengkap dengan negasi menjadi analisis eksistensial yang fenomenal.

2.5 Differensial
Barangkali istilah differensial lebih sering digunakan dalam matematika. Ada baiknya kita mempertimbangkan differensial dalam konteks yang lebih luas. Sesuai dengan kata dasarnya, differensial, memperhatikan peran perbedaan dalam suatu sistem. Eksistensi suatu komponen tertentu hanya bisa ditentukan karena adanya perbedaan-perbedaan. Misalnya kita memperhatikan banyaknya rumput, sebagai makanan, dan banyaknya kijang, sebagai pemangsa di suatu wilayah. Ketika jumlah rumput bertambah maka kijang ikut bertambah lantaran makanan berlimpah. Pada gilirannya, karena kijang bertambah maka rumput makin berkurang. Dan persediaan rumput yang berkurang ini menyebabkan jumlah kijang juga berkurang. Akibat dari berkurangnya kijang maka akan menyebabkan bertambahnya rumput, dan seterusnya. Eksistensi rumput bergantung dengan eksistensi kijang. Perbedaan antara mereka saling menentukan.

2.6 Ontologi Different: Bergson dan Deleuze
Bergson adalah pemikir abad 20 yang berhasil membawa ide different ke ranah filosofis. Dan lebih hebat lagi, Bergson membahas perbedaan kualitatif yang tampaknya abstrak menjadi begitu jelas. Selanjutnya, Deleuze memperluas pembahasan perbedaan ini ke ranah ontologis. Dengan demikian, fenomena perbedaan yang awalnya hanya dipandang sebagai gejala di permukaan menjadi punya landasan ontologis yang kokoh. Bahkan, menurut Deleuze, different lebih prior dari identitas.

2.7 Differance: Derrida
Derrida dengan kreatif mendefinisikan differance – bukan difference. Dalam konsteks post-strukturalisme, differance bermakna berbeda dan menunda. Setiap kata, dalam suatu bahasa, mempunyai makna karena ada perbedaan dengan kata-kata yang lain. Kata itu sendiri tidak mempunyai makna secara instrinsik. Meski demikian, makna dari suatu kata selalu merujuk ke kata lain, yang selanjutnya merujuk ke kata lain lagi, tanpa henti. Sehingga makna dari kata tersebut tidak pernah berhenti sampai makna akhir. Makna suatu kata selalu tertunda. Derrida memperluas konsep differance ke bidang lain, tidak terbatas hanya sistem bahasa.

2.8 Perbedaan di Dunia Digital
Dunia digital makin memperkuat eksistensi perbedaan. Segalanya bisa diukur, maka makin jelas perbedaannya. Seseorang yang mempunyai pengikut seribu tentu beda dengan orang yang mempunyai pengikut 10 juta. Dan jumlah pengikut itu bisa langsung kita lihat di dunia digital. Sebuah tayangan video yang ditonton 5 ribu kali tentu beda dengan video yang ditonton 600 ribu kali. Dunia digital tidak melemahkan perbedaan, justru menegaskan eksistensi perbedaan.

2.9 Berbeda adalah Otentik
Tidak ada masalah dengan perbedaan. Perbedaan adalah realitas yang nyata. Justru berbeda itu adalah otentik. Setiap hana, manusia sejati, berbeda satu dengan yang lainnya. Masing-masing orang mempunyai bakat dan warisan yang berbeda. Mereka juga mempunyai cita-cita yang berbeda. Sudah tiba saatnya, kita lebih menaruh hormat terhadap perbedaan.

2.10 Antinomi
Kita mencermati kembali antinomi dari Kant. Antinomi menunjukkan perbedaan yang nyata dengan menerapkan standar rasional yang ketat. Salah satu antinomi dari Kant adalah tentang ruang. Bila kita berpikir tentang luasnya ruang maka kita bisa membayangkan luas ruang bisa terus kita perluas. Luas ruang adalah besar tanpa batas. Sedangkan bila kita berpikir membagi-bagi ruang menjadi bagian-bagian kecil maka kita bisa membaginya terus tanpa batas, kecil tanpa batas. Sehingga, ruang adalah sesuatu yang luas tanpa batas dan sekaligus kecil tanpa batas. Itulah perbedaan yang paradox.

2.11 Dialektika
Hegel merumuskan konsep dialektika, salah satunya untuk menyelesaikan antinomi Kant. Hasil akhir dari dialektika adalah kebenaran absolut, identitas absolut, tidak ada perbedaan. Tetapi dialektika justru menunjukkan adanya perbedaan nyata pada tahap awal antara tesis dan anti-tesis. Setelah proses dialektika, tesis dan anti-tesis ini menghasilkan sintesis. Yang nyatanya sintesis ini akan bertemu dengan anti-sintesis. Sehingga terus-menerus menunjukkan adanya perbedaan. Meski diharapkan, pada tahap akhir, akan diperoleh sintesis dengan kebenaran absolut, hal tersebut tidak mudah tercapai.

2.12 Integral Kotesis
Saya tertarik mengganti istilah anti-tesis dengan ko-tesis, komplemen tesis. Anti-tesis tampak bermakna negasi dari tesis. Sementara, ko-tesis adalah sekedar komplemen dari tesis sehingga lebih leluasa. Dengan sudut pandang ini, kita bisa melihat proses dialektika sebaga proses ko-kreasi, mengintegrasikan tesis dengan ko-tesis.

2.13 SDG: Konsensus vs Dissensus
Perbedaan jelas ada di mana-mana, sawala. Penampakan alam semesta dan diri manusia, caraka, juga berbeda-beda. Bagaimana kita harus menyikapi perbedaan semua ini? Mufakat dengan jalan konsensus merupakan suatu pilihan. Di saat-saat tertentu justru harus dissensus. Kita perhatikan SDG, sustainable development goals, tiga prioritas tertinggi menunjukkan adanya pengakuan terhadap sawala di penjuru dunia: tanpa kemiskinan, tanpa kelaparan, dan kesehatan merata. Pertama, mengakui kemiskinan terjadi di berbagai tempat tidak merata. Kedua, kelaparan megancam banyak warga sementara di tempat lain berlebih makanan. Ketiga, fasilitas kesehatan di negara miskin begitu mengenaskan.

3. Kesetaraan dan Peran: Podo Jaya
3.1 Dominasi Identitas
Sewajarnya, manusia mencari suatu kepastian untuk pegangan. Lambat laun, proses mencari kepastian itu diganti dengan kepastian itu sendiri. Tanpa ada keraguan terhadap kepastian. Dengan menerapkan logika identitas, kepastian adalah kepastian. Yang berbeda dengan kepastian maka disingkirkan. Pihak lain, yang berbeda, perlu diseragamkan atau dimusnahkan.

3.2 Differend: Lyotard
Lyotard mencatat ada kondisi yang tidak seimbang, tidak adil: differend. Di mana pihak yang lemah, dalam sengketa, tidak bisa bersuara. Jangankan mengajukan pembelaan untuk mencapai konsensus, sekedar berbicara saja tidak bisa. Situasi differend, yang tidak adil ini, perlu diwaspadai dengan serius.

3.3 Keadilan: Aritoteles dan Lyotard
Aristoteles mendefinisikan adil sebagai titik tengah. Adil adalah kebaikan yang tepat. Tidak ada terlalu adil. Tidak ada pula kurang adil. Adil adalah adil. Tidak masalah dengan definisi adil ini. Masalah timbul ketika ada pihak yang mengklaim sebagai adil. Akibatnya, pihak lain yang berdeda dengannya, dianggap tidak adil. Sementara, Lyotard mendefinisikan adil sebagai mendengarkan semua pihak. Termasuk pihak-pihak yang berbeda, yang tidak bisa bersuara.

3.4 Peran dalam Semesta
Setiap pihak, yang berbeda-beda, punya peran khusus dalam semesta. Orang sakit punya peran memberi pekerjaan kepada dokter. Apa yang bisa dilakukan dokter bila tidak ada orang sakit? Orang lapar punya peran memberi kesempatan dermawan untuk berbagi makanan. Apa yang bisa dilakukan dermawan tanpa ada orang kelaparan? Virus covid memberi kesempatan ahli medis untuk mengembangkan vaksin, teknologi kesehatan, dan manajemen kesehatan yang lebih baik. Semua pihak punya peran seimbang, podo.

3.5 Kontribusi dalam Semesta
Adil, sebagai cita-cita bersama, adalah memberi kesempatan kepada setiap pihak untuk berkontribusi dengan peran aktif, jaya. Petani punya peran bertani. Sopir punya peran berkendara. Presiden punya peran memimpin. Semua punya peran berkontribusi. Tentu ada beberapa peran yang perlu dicegah: koruptor, pencuri, dan pembunuh. Peran mereka perlu dicegah karena mengakibatkan pihak lain tidak bisa berperan aktif.

3.6 Kontribusi Digital
Dunia digital membuka kesempatan luas agar setiap orang bisa berperan dengan mudah. Setiap orang menjadi mudah untuk berbagi melalui media digital. Masalah mulai muncul ketika ada pihak tertentu yang mendominasi dunia digital. Memanipulasi dunia digital merugikan masyarakat. Di sisi lain, kesenjangan akses digital membelah dunia menjadi tidak berimbang. Kita perlu menjaga agar dunia digital menjadi sarana setiap orang berkontibusi optimal.

3.7 Rasio Gini dan Ketimpangan
Kesenjangan antara masyarakat bisa kita rasakan. Kita juga bisa mendeskripsikan kesenjangan itu. Matematika memberi kita alat untuk mengungkapkan eksistensi kesenjangan dengan lebih tegas. Kita sudah mengenal rasio Gini. Saya juga mengembangkan nilai ketimpangan untuk menyatakan ketimpangan masyarakat dengan presisi.

3.8 Prioritas SDG
Menghapus kemiskinan menjadi prioritas utama SDG. Kemiskinan sudah mengancam banyak warga, berdampak kepada warga, menjadi tidak mampu berperan dalam semesta. Penting bagi kemanusiaan, menjaga agar setiap warga tetap bisa berperan aktif.

3.9 Nihilisme
Filsafat nihilisme bisa kita baca dengan beragam cara. Saya membacanya sebagai upaya meruntuhkan dominasi pihak tertentu. Semua pihak, setiap warga, punya peran yang sama untuk berkontribusi. Tidak ada asumsi awal yang membedakan satu orang dengan lainnya. Semua orang bebas untuk memberi, jaya. Pro kontra nihilisme perlu kita analisis dengan kritis di sini.

3.10 Demokrasi Digital
Dunia digital berperan ganda terhadap demokrasi. Dunia digital memudahkan demokrasi, setiap warga bersuara dengan cepat dan mudah. Penguasa bisa memahami keinginan dan kebutuhan rakyat melalui dunia digital. Di sisi lain, dunia digital bisa saja hanya dikuasai segelintir kepentingan. Tanpa disadari banyak orang. Dunia digital seharusnya netral. Bisa meruntuhkan demokrasi.

3.11 Cancel Culture
Presiden Trump, mantan, barangkali adalah yang paling menolak cancel culture. Dia menuduh cancel culture sebagai tirani. Apalagi di dunia digital. Akun media sosial Trump di hapus oleh platform, dicancel. Sehingga dia tidak bisa lagi bersuara melalui media sosial. Di satu sisi, cancel culture membatasi kebebasan seseorang. Di sisi lain, cancel culture diperlukan untuk menjaga masyarakat dari bahaya informasi hoax.

D. Dinamika Maga: Perubahan Abadi
4. Filosofi Gerak: Maga
Kita menyaksikan gerak setiap saat. Kita melangkah dari belakang ke depan, gerak. Mobil bergerak. Lebih seksama, kita menyaksikan gerak pohon tumbuh, dari kecil menjadi tinggi. Bahkan, kita juga bergerak dari tidak kenal media sosial jadi mahir menggunakan media sosial. Kita bergerak dari tidak tahu matematika menjadi mengerti penjumlahan ketika mulai sekolah. Semua gerak ini adalah sebagian dari gerak sejati yaitu maga. Di bagian ini, kita akan menganalisis maga secara eksistensial. Kita akan menyelidiki hubungan maga dengan waktu. Mana yang lebih utama antara maga dan waktu.

4.1 Gerak Biasa: Aksidental
Apa yang tampak di depan mata kita sebagai gerak, pada umumnya, kita golongkan sebagai gerak aksidental. Sains fisika mempelajari gerak dengan teliti dalam mekanika. Misal motor bergerak dengan kecepatan tetap 30 km/jam, dari kota Bandung menuju Sumedang. Kalkulus telah menyediakan perhitungan yang lengkap untuk membahas fenomena gerak ini.

4.2 Gerak Relasi
Kajian gerak dalam fisika, umumnya adalah membahas gerak “tempat”. Dari tempat semula ke tempat akhir dalam selang waktu tertentu. Sejak jaman Aristoteles para pemikir sepakat terdapat tiga jenis gerak aksidental. Pertama, gerak pada tempat, seperti contoh tadi. Kedua, gerak pada kuantitas, misal tubuh sapi yang kecil tumbuh, bergerak, menjadi besar. Ketiga, gerak pada kualitas, misal warna kulit buah pepaya dari hijau berubah, bergerak, menjadi kuning. Ibnu Sina, menambah jenis gerak keempat yaitu gerak posisi atau relasi. Contoh, saya diam, tetapi angin bergerak menerpa badan saya. Meski saya tidak bergerak, tetapi posisi saya atau relasi saya terhadap angin adalah berubah, bergerak.

4.3 Gerak Substansial
Dara mana asal mula gerak itu? Atau dari mana asal mula gerak aksidental? Tentu ada penggerak yang menjadi dasar. Sadra menjawab bahwa hakikatnya, gerak, disebabkan oleh gerak substansial, maga. Penampakan gerak aksidental itu bisa kita selidiki, dasarnya, adalah gerak substansial. Substansi dari hana, manusia sejati, yang bergerak. Substansi manusia bergerak dari pandai menjadi lebih pandai dengan proses belajar.

4.4 Gerak Wujud atau Esensi
Ketika hana melakukan gerak substansial, misal dari pandai menjadi lebih pandai, maka yang bergerak adalah substansi hana atau eksistensi hana? Kita bisa memandang dari dua sudut pandang. Pertama, kita memandang bahwa yang bergerak adalah substansinya, dari eksistensi rendah ke eksistensi yang lebih tinggi. Kedua, kita bisa memandang yang bergerak adalah eksistensi yang lebih tinggi, bergerak, melimpahkan eksistensi ke suatu substansi. Cara pandang ini mirip dengan gaya tarik-menarik antara muatan listrik positif dan negatif. Kita bisa memandang muatan positif menarik negatif atau sebaliknya. Sementara, esensi dipandang sebagai tetap.

4.5 Ambiguitas Sistematis Wujud Sadra
Eksistensi atau wujud meski tunggal, di saat yang sama bergradasi intensitasnya. Wujud hana, manusia sejati, adalah tunggal, semua orang sama. Sekaligus wujud hana berbeda-beda dalam intensitasnya: dari lemah sampai paling kuat. Misal orang yang belum belajar, intensitas wujudnya lemah. Setelah belajar, orang tersebut menjadi lebih pandai, intensitas wujudnya lebih kuat. Perbedaan intensitas ini bersifat kualitatif – bukan kuantitatif. Sadra menyebut sifat wujud ini sebagai tasykik, ambiguitas sistematis.

4.6 Filsafat Proses
Whitehead, pemikir abad 20, merumuskan filsafat proses yang tentunya menempatkan karakter dinamis menjadi paling utama. Substansi diam, misal atom, sejatinya hanya abstraksi dari suatu proses – yang bergerak. Realitas sejati adalah proses yang lebih tepat digambarkan oleh dinamika gelombang elekmagnetik – atau gelombang quantum Schrodinger.

4.7 Sistem Dinamis
Dalam mempelajari fenomena alam kita lebih mudah dengan pendekatan sistem dinamis. Bumi bergerak pada porosnya, bulan mengelilingi bumi, dan matahari berputar di jagad raya. Mesin, listrik, digital, ekosistem, perilaku manusia, virus, pandemi, dan lain-lain kita selidiki dengan pendekatan sistem dinamis. Gerak, perubahan, adalah real dan realitas sejati.

5. Karakter Waktu: Doto Selaras Hana
Waktu terasa nyata. Tapi mana? Kemarin, hari ini, dan besok benar-benar jelas nyata. Bahkan kita bisa mencatatnya di kalender. Analisis filosofis waktu sejati, doto menunjukkan banyak misteri. Paling umum, doto, sebagai waktu sejati, diukur dengan jam dan kalender. Kita mudah saja memutar jarum jam untuk mundur. Tapi waktu tidak ikut mundur, tetap bergerak maju. Kita akan menyelidiki lebih dalam misteri waktu di bagian ini.

5.1 Waktu Linear
Pemahanan waktu seperti garis linear, lurus, yang terus bergerak maju sudah umum kita terima. Penggambaran doto seperti itu mudah dipahami. Hal ini praktis dan banyak manfaat. Kita bisa merencanakan tentang kegiatan masa depan. Bisa juga mengkaji peristiwa di masa lalu. Waktu linear seperti ini bisa kita sebut sebagai waktu umum di mana setiap orang bisa menyepakati waktu secara obyektif. Namun penggambaran doto sebagai waktu linear justru mirip dengan caraka, ruang.


5.2 Waktu Sekarang yang Mengalir
Sejak jaman Plato dan Aristoteles sudah dirumuskan konsep waktu yang lebih menarik. Doto dianggap sebagai “waktu sekarang” yang terus mengalir. Cara ini menyempurnakan gambaran waktu linear. Di mana “waktu sekarang” yang mengalir tetap mengakomodasi waktu linear yaitu ada kemarin, sekarang, dan besok. Penyempurnaannya adalah waktu sejati, doto, hanya ada di waktu sekarang. Maka manusia bisa lebih fokus menjalani waktu sekarang dengan lebih baik. Kemarin adalah “waktu sekarang” yang sudah berlalu. Sedangkan besok adalah “waktu sekarang” yang belum datang.

5.3 Durasi: Bergson
Bergson, pemikir abad 20, merumuskan doto sebagai durasi. Rumusan durasi ini berhasil membuktikan bahwa manusia punya freedom, kebebasan hakiki, meski dalam ruang dan waktu. Tak bisa disangkal segala yang ada dalam ruang, caraka, terikat oleh hukum kausalitas deterministik tetapi manusia mempunyai durasi, selang waktu, untuk mengambil sikap yang bebas. Pendekatan waktu sebagai durasi ini membuka pintu untuk menganalisis hana dari sisi doto, melengkapi caraka.

5.4 Ekstase dan Horison: Heidegger
Karakter dasar dari hana adalah peduli terhadap masa depan eksistensinya. Hana melompat bebas ke masa depan yang ia pilih. Lalu balik ke masa lalu, situasi nyata yang ada. Menyatukan masa depan, masa lalu, di masa kini terbentuklah ekstase waktu. Sejak lahir sampai mati. Kesatuan waktu ini bersifat niscaya bagi hana, tak terpisahkan. Doto memberi waktu kepada hana dan hana memberi wujud kepada doto, waktu sejati. Waktu adalah horison bagi hana, demikian pandangan Heidegger.

5.5 Waktu adalah Maga
Waktu sejati atau doto adalah maga. Sampai di sini kita bisa menyadari hakikat dari waktu adalah menggambarkan gerak sejati, maga. Dan pada gilirannya, maga itu sendiri menggambarkan hana. Sehingga doto menggambarkan hana, manusia sejati.

5.6 Waktu Akumulatif Unik
Satu lagi karakter penting dari doto, waktu sejati, yaitu bersifat akumulatif unik. Masing-masing manusia mengalami waktu yang unik. Di saat yang sama, semua waktu yang kita alami selalu kita jumlahkan, akumulatif. Maksudnya, hari ini tentu beda dengan kemarin. Karena hari ini adalah totalitas hari sampai kemarin ditambah dengan satu hari terbaru sampai hari ini.

5.7 Waktu Digital: Cepat dan Akumulatif
Fenomena waktu di dunia digital memberi kita gambaran yang mirip dengan doto, waktu sejati. Di satu sisi, gerak dunia digital makin cepat bagai tanpa batas. Satuan waktu, selang waktu, bisa dibagi-bagi makin kecil penuh arti. Misal milidetik adalah seper seribu detik. Mikro detik adalah seper sejuta detik. Dalam kehidupan sehari-hari, satu mikro detik bagai tanpa arti. Tetapi di dunia digital sungguh berarti. Berikutnya, waktu digital juga bersifat akumulatif. Semua kegiatan kita di dunia digital dijumlahkan. Di simpan dengan aman, kekal di dunia digital.

5.8 Entitas Abadi: Natural vs Idealisasi
Entitas abadi, sesuatu yang abadi, adalah suatu entitas yang tidak berubah seiring waktu. Ada beberapa cara agar kita mendapat entitas abadi ini. Pertama dengan idealisasi. Misal obyek matematika bisa kita pandang sebagai abadi. Angka 7 akan tetap angka 7, abadi sampai kapan pun. Karena bila angka 7 itu berubah maka kita tidak lagi menyebutnya sebagai angka 7 – itulah idealisasi. Kedua, dengan cara asumsi natural. Cincin emas kita anggap tidak berubah dalam 1 hari. Karena perubahan sedikit pada cincin kita anggap sebagai tidak berubah. Cincin adalah abadi secara natural. Tentu saja sewaktu-waktu cincin bisa hancur.

5.9 Time-in-being
Secara umum kita berpikir berada dalam ruang dan waktu. Atau kita sering menyatakan bahwa manusia dalam ruang dan waktu. Kali ini kita perlu mencoba arah kebalikannya yaitu waktu berada dalam manusia atau time-in-being.

6. Freedom: Free Will dan Warisan
6.1 Freedom adalah Hana: Sartre
Manusia adalah freedom, kebebasan. Definisi dari manusia sejati, hana, adalah kebebasan itu sendiri. Tidak ada kebebasan tanpa manusia. Pun tidak ada manusia tanpa kebebasan. Sartre mendefinisikan dengan tegas bahwa karakter dari being-for-itself adalah freedom. Itulah manusia.

6.2 Kesadaran
Kesadaran sudah menjadi tema utama ilmu dan filsafat sejak jaman kuno. Husserl membawa tema kesadaran menjadi satu-satunya yang paling utama dari filsafat pada abad 20. Dengan pendekatan fenomenologi, yang bersifat saintis, kajian tentang kesadaran membuahkan banyak perkembangan. Salah satunya, kesadaran bersifat intensional, yaitu kesadaran selalu bermakna kesadaran akan sesuatu. Sifat intensional mengantarkan lebih banyak formulasi kesadaran yang jelas.

6.3 Care: Heidegger
Struktur paling fundamental dari manusia sejati, hana, adalah care: peduli. Hana selalu memperhatikan eksistensi dirinya. Hana selalu care akan masa depan eksistensinya. Sehingga, hana selalu selangkah di depan dirinya. Karena itu makna dari care adalah temporality. Dengan logika matematika sederhana, Heidegger sampai kepada kesimpulan temporality adalah care, dan care adalah hana, maka temporality adalah hana itu sendiri.

6.4 Pengetahuan: Sadra
Pengetahuan manusia adalah jalan penyempurnaan manusia menuju wujud yang lebih sempurna. Hakikat pengetahuan adalah wujud itu sendiri. Pengetahuan adalah wujud dari hana, manusia sejati. Mengembangkan pengetahuan bermakna mengembangkan wujud manusia, jalan penyempurnaan sejati.

6.5 Genetika Warisan
Kita mewarisi gen-gen dari ibu dan bapak kita. Sains menunjukkan dengan jelas pewarisan gen tersebut. Pengamatan sehari-hari menunjukkan banyaknya kemiripan setiap orang dengan orang tua masing-masing. Hana mempunyai jarak eksistensial terdekat dengan orang tuanya. Karena jarak eksistensial ini maka manusia hanya bisa terlahir dari manusia lainnya – ibunya. Jika evolusi dari makhluk lain bisa berubah jadi manusia maka akan memerlukan waktu ribuan tahun untuk menempuh jarak eksistensial yang jauh. Warisan eksistensial dari orang tua menjadi modal dasar bagi hana untuk bergerak maga.

6.6 Lingkungan
Manusia dibentuk oleh lingkungannya. Bahkan tenggelam dalam lingkungannya. Di saat yang sama eksistensi manusia bisa bergerak maju sesuai pilihan bebasnya. Hana terikat badannya berada dalam lingkungan fisik. Tetapi eksistensi hana bisa, dan selalu, bergerak melebihi semua batasan yang diberikan oleh lingkungan. Hana otentik tidak hanya dibentuk lingkungan tetapi juga aktif membentuk lingkungan.

6.7 Budaya
Hidup dalam aturan yang sudah ditetapkan bertahun-tahun, hana terikat dalam budaya. Hana terus-menerus mencari jati dirinya dalam lautan budaya yang mapan. Kita menerima warisan budaya, bertugas melestarikan budaya, dan di saat yang sama bertugas menciptakan budaya baru.

6.8 Manusia adalah Maga
Karakter paling fundamental dari manusia adalah maga: gerak sejati. Manusia tidak pernah berhenti, sesaat pun. Hana selalu bergerak maju. Selalu melangkah menuju yang lebih sempurna, lebih besar, dan lebih kuat. Hana berbuat, berpikir, dan merasa. Hana proaktif menyongsong masa depan di setiap masa.

6.9 Perbuatan vs Milik
Ada kecenderungan beberapa orang untuk mengumpulkan kekayaan, harta, koleksi mobil, dan sebagainya. Tetapi semua kepemilikan itu tidak pernah memuaskan hana. Karena hana lebih dari sekedar kepemilikian. Lebih dari sekedar konsumsi. Hana ingin menunjukkan eksistensi. Hana ingin berprestasi. Hana ingin berbuat nyata untuk dunia dan diri sendiri.

6.10 Moral vs Hukum
Aturan moral dan hukum jelas-jelas membatasi gerak hana. Aturan itu sendiri, yang membuat juga manusia untuk kebaikan bersama. Lambat laun, aturan moral dan hukum benar-benar mengungkung manusia. Moral hanya menjadi dalih untuk kepentingan segelintir orang belaka. Hana yang punya freedom senantiasa bergerak untuk merevisi aturan moral dan hukum. Aturan yang progresif mendorong hana untuk terus melangkah maju.

7. Ikatan Alam Semesta
7.1 Sains Obyektif
7.2 Metanarasi
7.3 Progresif
7.4 Teknologi dan Digital

8. Filsafat Sosial: Ekonomi Politik
8.1 Sejarah
8.2 Ekonomi
8.3 Politik
8.4 Hukum
8.5 Demokrasi
8.6. Kritik Sosial

E. Bataga: Mencapai Akhir sebagai Awal Baru
9. Menuju atau Ditarik Bataga
10. Bataga adalah Hana
11. Semesta adalah Hana

F. Dekonstruksi Metafisika
1. Heidegger, Derrida, Deleuze
2. Socrates, Sadra, Kant
3. Russell, Rorty, Habermas
4. Evolusi dan Kosmologi Sains
5. Metafisika Abda 21: Mungkinkah?

G. Enigma Pra-Lahir dan Pasca-Mati
1. Nasib Hana: Spekulasi Pasca-Mati
2. Possibilitas Hana: Pra-Lahir dan Pra-Manusia
3. Hermenuetika: Weak Thought

H. Alternatif Kajian
1. Sains Empiris
2. Agama
3. Mistisisme
4. Seni

I. Epilog
Struktur Hana – Maga – Bataga
Satu istilah paling mendasar yang menggambarkan struktur manusia seutuhnya adalah maga: gerak sejati. Manusia senantiasa bergerak terus menerus. Maga, gerak sejati, ini meliputi gerak permukaan dan gerak eksistensial. Hana tidak pernah diam. Hana terus mengalir. Terbentuk struktur dinamis hana – maga – bataga.