Omnibus Law atau UU Ciptaker sekedar akibat saja. Kita perlu merunut lebih jelas akar penyebabnya. Dan tentu saja konsekuensi-konsekuensi ke depannya. Yang dikhawatirkan bisa berdampak negatif. Di sisi lain banyak yang optimis bahwa dampaknya pasti positif.
Menelusuri sebab akibat bukanlah tugas yang mudah. Bahkan mustahil untuk mendapatkan hasil yang sempurna.
Image of Avicenna – Ibnu Sina
“Jadi, UU cipta kerja bertujuan untuk menyediakan lapangan kerja sebanyak-banyaknya bagi para pencari kerja serta para pengangguran,” kata Jokowi dalam siaran langsung jumpa pers via kanal YouTube Sekretariat Presiden, Jumat (9/10/2020).
Dari sini bisa kita lihat bahwa tujuan UU adalah “menyediakan lapangan kerja sebanyak-banyaknya.” Karena tujuan itu maka terciptalah UU Ciptaker. Jadi kita sudah menemukan penyebab sebenarnya dari UU, yaitu menyediakan lapangan kerja.
Semudah itu? Tentu banyak yang tidak percaya! Saya akan mencoba menganalisis sebab akibat ini dari kaca mata para pemikir: Aristoteles, Ibnu Sina, Sadra, Russel, sampai rekannya posmodern: Bernsteins sang pragmatis.
Beragam Sebab
Aristoteles menjelaskan ada banyak sebab. Sedangkan orang awam bisa dengan mudah menyimpulkan hanya ada sebab tunggal. Ibnu Sina mengelaborasi sebab akibat ini lebih detil.
Sebab material
Jelas tapi sering dilupakan adalah sebab materi. Misal seorang tukang membuat meja dari kayu. Apakah tukang sebagai penyebabnya?
Materi kayu, bahan kayu itu sendiri, adalah sebagai sebab material dari meja. Tanpa materi kayu tidak akan tercipta meja. Tukang bukan sebab – bukan sebab material.
Apa sebab material UU Ciptaker? Kertas naskah, tinta, multimedia, dan lain-lain. Tanpa kertas tidak akan ada UU Ciptaker. Sementara kita akan mengabaikan sebab-sebab material ini karena bisa dipandang sebagai netral dan obyektif. Tapi harus kita ingat bahwa sebab material ini punya peran yang nyata.
Sebab formal
Apa yang menyebabkan meja berbentuk meja dari semula kayu? Bentuknya. Itulah sebab formal. Hukum alam, hukum fisika, hukum kimia, dan lain-lain memastikan meja itu konsisten berbentuk meja.
Apa sebab formal dari UU Ciptaker? Berbagai macam hukum alam menyebabkan UU Ciptaker tercipta. Hukum teknologi digital memastikan naskah UU Ciptaker tetap tersimpan di storage. Hukum kekekalan materi menyebabkan naskah UU tetap ada. Dan lain-lain.
Lagi-lagi, sementara, kita bisa mengabaikan sebab formal ini karena bisa kita anggap sebagai bersifat netral dan obyektif. Meski tetap berperan besar.
Sebab efisien
Apa penyebab kayu berubah jadi meja? Tukang kayu adalah penyebabnya. Tukang kayu adalah pembuatnya. Itulah sebab efisien. Jenis sebab yang paling bertanggung jawab.
Maka apa sebab efisien dari UU Ciptaker?
Penyebabnya adalah pemerintah dan dewan mengesahkan UU Ciptaker itu. Sebab efisien ini adalah yang paling bertangung jawab. Bila UU Ciptaker ini berhasil menciptakan jutaan lapangan kerja baru tiap tahun maka kita berterima kasih kepada pemerintah dan dewan.
Tapi bila UU Ciptaker ini justru menyengsarakan rakyat, buruh, wong cilik, atau merusak lingkungan maka pemerintah dan dewan adalah yang paling bertanggung jawab juga.
Dengan sudut pandang sebab adalah beragam ini, manusia bila sukses tidak harus sombong. Karena sukses bukan murni hasil tindakan manusia. Ada lebih banyak sebab lain yang menyebabkan orang sukses. Begitu juga bila seseorang gagal dalam usahanya tidak perlu putus asa. Karena bukan murni kesalahan dia seorang. Ada banyak sebab di luar sana. Yang sedang-sedang saja. Sukses bersyukur, gagal bangkit lagi.
Sebab final
Sebab terakhir. Orang beriman dengan mudah menyebut sebab terakhir adalah Tuhan. Apa penyebab meja? Tuhan. Karena meja menjadi meja sesuai hukum Tuhan dan akan kembali kepada Tuhan sebagai sebab final.
Jadi UU Ciptaker itu juga akan kembali kepada Tuhan? Tentu saja. Semua akan kembali kepada Tuhan.
Bagaimana bila orang tidak percaya Tuhan?
Barangkali kita bisa menganalisis tidak sejauh itu. Meja akan menuju tujuan akhir sesuai hukum termodinamika. Entropi alam semesta terus berkembang yang artinya dunia akan porak-poranda. Meja menjadi meja karena pada jalur menuju kehancuran pada waktunya nanti.
UU Ciptaker pun akan menuju kehancuran pada waktunya nanti, sesuai hukum termodinamika.
Tetapi hukum organisme berbalik dengan termodinamika. Organisme justru menuju keteraturan. Manusia dari kecil, remaja, sampai dewasa justru makin matang, makin teratur, makin sempurna.
UU Ciptaker pun, sebagai produk manusia, menuju suatu keteraturan. Yaitu menuju, salah satunya, terciptanya lapangan kerja baru 4,5 juta per tahun. Itu dari posisi pendukung UU Ciptaker.
Sementara dari yang kontra UU menyatakan bahwa UU Ciptaker berkonsekuensi menindas buruh dan merusak lingkungan.
Mana yang benar?
Pada tulisan berikutnya saya akan membahas sudut pandang Sadra, Russell dan Bernstein.
Presiden Jokowi menyatakan demo menentang omnibus law terkait adanya hoax.
Siapa yang menciptakan hoax? Siapa yang termakan hoax? Siapa yang memakan hoax?
Siapa pun kita sedang diserang hoax, terjebak dalam simulacra, meminjam istilah Budrillard sang tokoh posmodern. Kebiasaan orang yang copas dari copas dari copas… … … dari copas sulit membedakan mana yang asli dan mana yang hoax.
Dikutip dari Detik,
“Saya melihat adanya unjuk rasa, penolakan Undang-undang Cipta Kerja yang pada dasarnya dilatarbelakangi oleh disinformasi mengenai substansi dari undang-undang ini dan hoax di media sosial,” ucapnya – Presiden Jokowi – dalam konferensi pers secara elektronik dari Istana Bogor, Jumat (9/10/2020).
Bagi pendukung UU Ciptaker, ungkapan presiden adalah benar dan sesuai realitas. Selanjutnya simulacra menyiapkan seluruh media sosial agar menggemakan ide-ide yang mirip. Bahwa orang berdemo menentang UU Ciptaker hanya karena hoax. Facebook, youtebu, WA, dan lain-lain menguatkan berita yang sama.
Sebaliknya bagi para pendemo yang menentang UU Ciptaker bisa saja menganggap bahwa kutipan di atas adalah hoax itu sendiri, disinformasi itu sendiri. Misalnya seorang mahasiswa yang sudah mempelajari UU Ciptaker maka melakukan demo karena paham benar bahwa UU Ciptaker itu harus ditentang. Mahasiswa berdemo bukan karena hoax. Mahasiswa demo bukan karena disinformasi.
Menuduh mahasiswa terkena hoax bisa saja itu lah yang hoax sebenarnya. Dan simulacra bekerja menguatkan pesan bahwa yang kena hoax adalah pemerintah dan DPR. Youtube, facebook, IG, dan lain-lain menguatkan pandangan seperti itu.
Mana yang asli dan mana yang hoax? Sekali lagi simulacra tidak berkepentingan dengan itu. Simulacra hanya memperkuat yang ingin Anda pikirkan. Tidak masalah hoax atau asli. Baudrillard tampak benar membaca situasi posmo seperti itu.
Solusi Kasus Omnibus Law
Tidak ada jalan mudah untuk menemukan solusi kasus omnibus law. Sebagai masyarakat yang beradab tentu kita perlu merumuskan berbagai solusi terbaik yang mungkin.
Ruang Dialog
Dialog adalah jalan terbaik. Berbagai pihak terbuka menyampaikan ide dan menerima masukan. Lalu kita memilih yang terbaik.
Tetapi bukankah pemerintah dan dewan sudah melakukan sosialisasi sebelum mensahkan UU Ciptaker? Benar! Tetapi sosialisasi tersebut tampak kurang efektif. Di mana masih banyak aspirasi rakyat, terutama yang menentang UU, tidak terakomodasi. Sehingga kita perlu ruang dialog yang lebih terbuka. Untuk membangun masyarakat terbuka yang demokratis, meminjam istilah Karl Popper.
Dialog ini perlu konkrit detil. Tidak cukup hanya global saja. Saya kira menko PMK sudah memulai membuka pernyataan konkrit.
“Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Muhadjir Effendy mengklaim Omnibus Law UU Cipta Kerja (Ciptaker) memiliki manfaat besar. Salah satunya membuka lapangan kerja untuk 4,5 juta orang per tahun.” (Sumber Detik).
Ungkapan bahwa 4,5 juta lapangan kerja baru per tahun adalah konkrit. Bila dampaknya sebagus ini bukankah kita perlu mendukung? Bagaimana pemerintah bisa menjamin tercapai? Bagaimana tenaga kerja 4,5 juta itu WNI bukan tenaga kerja asing?
Dialog bisa berlangsung dengan lebih konstruktif, membangun.
Dari perwakilan buruh juga sudah memberi pernyataan keberatan yang konkrit, misalnya, pesangon yang semula 32 kali gaji dikurangi menjadi 25 kali gaji.
Bagaimana pemerintah dapat merespon bahwa 25 kali gaji adalah lebih baik? Mudah saja. Dengan matematika sederhana bisa kita selesaikan.
25 x gaji baru > 32 x gaji lama
gaji baru > 1,28 x gaji lama
Selesai.
Artinya bila gaji baru, setelah berlaku UU Ciptaker, adalah 28% lebih tinggi dari semula maka yang diterima buruh adalah lebih besar total pesangonnya. Ditambah lagi gaji baru yang diterima bulanan juga lebih besar.
Bagaimana pemerintah bisa berkomitmen memenuhi itu? Bagaimana buruh bisa berkomitmen memberikan kinerja terbaik? Bagaimana pengusaha dapat mencetak laba tertinggi? Bagaimana investor dapat mencetak profit?
Dialog dapat terus berlanjut demi membangun negeri ini. Pendekatan dialog yang detil seperti di atas dianut oleh para filosof analytic di antaranya, yang baru menerima hadiah Nobel 3 hari kemarin yaitu, Penrose. Ada nama-nama besar dalam jalur filsafat analytic ini misal David Hume, Bertrand Russell, Descartes, Sadra, Ibnu Sina, sampai Aristoteles.
Demo besar-besaran menolak omnibus law UU Cipta Kerja makin membara. Perusakan halte, stasiun, dan fasilitas umum ada di berbagai kota.
Benar saja yang dikatakan Baudrillard, tokoh posmo, manusia berada dalam jebakan simulacra. Tidak jelas lagi mana yang asli, mana yang citra. Tujuannya apa? Tidak ada tujuan. Yang mengesahkan UU adalah membela UU. Yang menolak UU adalah menolak saja.
Jean Baudrillard
Rafly Harun, ahli hukum tata negara, mengatakan bahwa UU Ciptaker adalah zalim – menganiaya.
Mahfud MD, menko polhukam, menyatakan bahwa UU Ciptaker adalah untuk mensejahterakan rakyat. Tidak ada pemerintah yang ingin merugikan warganya sendiri.
Percaya yang mana? Jebakan simulacra akan membuat Anda percaya yang ingin Anda percaya. Jika Anda ingin percaya bahwa UU Ciptaker adalah zalim maka simulacra akan memenuhi seluruh media sosial Anda dengan bukti-bukti bahwa UU memang zalim. Anda makin percaya itu.
Bila Anda percaya bahwa UU adalah upaya pemerintah untuk menyejahterakan rakyat maka simulacra akan mendukung. Media sosial akan menguatkan keyakinan Anda itu.
Mana yang benar?
Posmo tidak menyediakan jawaban tentang mana yang benar. Barangkali kita bisa mencari jawaban dari filsafat analytic untuk menemukan kebenaran. Karl Popper mengusulkan masyarakat terbuka dan demokrasi untuk menemukan solusi terbaik menghampiri kebenaran.
Betrand Russel, yang setia dengan logika Aristoteles dikembangkan Ibnu Sina sampai Sadra, menyarankan untuk menganalisis secara detil. Bagian-bagian penting dari UU Ciptaker dianalisis. Apakah benar UU itu zalim atau UU itu justru membela rakyat? Hasil analisis akan memberikan kepastian.
Di Indonesia tersedia jalur resmi untuk membahas UU Ciptaker yaitu uji materi ke MK dan usulan peraturan pemerintah. Tetapi tampaknya banyak yang tidak percaya begitu saja pada jalur resmi di atas. Maka mereka mengambil jalan demo besar-besaran, yang dijamin sah secara konstitusi. Tentu ada resiko kerusuhan yang perlu diantisipasi oleh semua pihak.
Di sini pentingnya kita membangun “ruang dialog” bagi masyarakat terbuka. Dialog terbuka yang bisa disaksikan oleh seluruh rakyat. Rakyat berhak mendapat informasi yang tepat.
Bagaimana pun, seandainya ruang dialog ini berhasil dibentuk, tetap perlu kita amankan dari jebakan simulacra. Percuma saja ada dialog jika masyarakat termakan hoax oleh simulacra.
Saya yakin para pemuka bangsa bisa bersama-sama membangun dialog terbuka untuk kemajuan negeri ini.
UU Ciptaker, yang baru disahkan DPR dan pemerintah, akan merusak HAM dan demokrasi. Begitulah sedikit ungkapan Fahri Hamzah yang saya lihat di video media sosial. Bagaimana pemerintah dan DPR bisa sepakat untuk merusak HAM dan demokrasi?
Maka wajar saja bila hari ini dikabarkan akan ada demonstrasi besar-besaran menentang UU Ciptaker yang dimotori mahasiswa seluruh Indonesia.
Saya coba menganalisis sedikit ungkapan bahwa “UU Ciptaker merusak HAM dan demokrasi” dengan kaca mata era posmodern. Saya akan sedikit meluaskan kaca mata posmodern meliputi filsafat continental (identik dengan posmo itu sendiri), filsafat analytic, dan filsafat pragmatis.
A)Continental main bahasa bablas
Ciri utama posmo adalah language game – main bahasa – yang bablas lewat batas. Language game sendiri dirumuskan oleh Ludwig Wittgenstein untuk memahami makna bahasa dengan benar. Untuk kepentingan analisis makna.
Wittgenstein
Di tangan tokoh posmo semisal Derrida atau Lyotard maka language game menjadi senjata mematikan makna. Bahkan mematikan penulis.
Jadi, ungkapan “UU Ciptaker merusak Ham dan demokrasi” bisa dimaksudkan benar-benar bermakna merusak seperti itu. Tapi bisa juga itu bermakna metafora, sesuai istilah Pak Bambang di bukunya Postmodern.
Makna metaforanya bisa saja Ciptaker merusak HAM dengan kondisi saat ini untuk kemudian dibangun HAM yang lebih bagus. Merusak demokrasi juga bermakna menghancurkan demokrasi saat ini untuk kemudian mereformasinya menjadi demokrasi yang lebih bagus.
Maka ungkapan Fahri Hamzah, dari kaca mata posmo, benar-benar tidak bermakna. Makna sudah mati. Bisa bermakna merusak tapi bisa juga sebaliknya.
2)Analytic main bahasa beneran
Sekarang kita analisis dengan gaya filsafat analytic yang dipelopori oleh Bertrand Russel termasuk murid terbaiknya Ludwig Wittgenstein sang penemu language game itu.
Ungkapan “UU Ciptaker merusak Ham dan demokrasi” perlu diverifikasi kebenarannya. Tetapi kita tidak punya data untuk verifikasi. UU baru disahkan dan belum punya dampak apa pun. Bila demikian maka ungkapan di atas TIDAK BERMAKNA dan harus ditolak.
Kita masih bisa melangkah lebih jauh dengan silogisme ke masa depan.
[UU Ciptaker] maka ada [Perilaku Tertentu] maka ada [Merusak HAM Demokrasi]
Bila benar dengan UU Ciptaker menyebabkan perilaku tertentu seperti di atas, misal terjadi penindasan kepada buruh, pembatasan hak-hak warga, merugikan negara, dan lain-lain maka ungkapan di atas menjadi benar. Maksudnya UU Ciptaker merusak HAM dan demokrasi jadi benar adanya.
Masalahnya apakah bisa dipastikan bahwa UU Ciptaker menyebabkan perilaku tertentu itu? Tidak bisa dipastikan. Hanya bersifat kemungkinan.
Karena hanya mungkin dan tidak pasti maka ungkapan di atas TIDAK SAH.
Sebaliknya, ungkapan “UU Ciptaker memperkuat demokrasi” juga tidak bisa dibuktikan, tidak bisa diverifikasi.
3)Pragmatisme instrumentalis main bahasa
Filsafat pragmatisme terus berkembang sampai sekarang. Dipelopori William James sampai Bernstein yang menggemakan paham fallibisme.
Pragmatisme memandang bahwa bahasa adalah sekedar alat, instumen, untuk mencapai suatu tujuan pragmatis tertentu.
Apa tujuan dari ungkapan “UU Ciptaker merusak HAM dan demokrasi”?
Barangkali tujuannya agar rakyat dan pejabat waspada. Agar lebih hati-hati menjaga HAM dan demokrasi. Agar kita semua bersatu menuju Indonesia maju berdemokrasi adil dan makmur. Sebuah tujuan yang mulia.
Bisakah tujuannya berbeda dari itu? Bisa jadi. Mungkin saja tujuan pragmatisnya adalah untuk menyatakan bahwa DPR dan pemerintah sudah melakukan kesalahan besar. Mereka harus bertanggung jawab. Kalau perlu mereka harus diganti.
Bisa juga tujuannya lain lagi. Pernyataan itu mengingatkan ada perbedaan persepsi antara pemerintah, DPR, dan rakyat. Maka diperlukan dialog yang demokratis untuk mencapai kehidupan berbangsa adil makmur menjunjung HAM.
Kita patut bersyukur bahwa Undang-Undang Cipta Kerja yang baru saja disahkan ini bertujuan untuk mensejahterakan rakyat. Dan terbukti membuat rakyat Indonesia makin sejahtera.
Rakyat yang mana? Pertanyaan yang sulit dijawab!
Pengusaha adalah rakyat. Buruh juga rakyat. Anggota dewan, yang mensahkan bersama pemerintah, juga rakyat bahkan merangkap wakil rakyat. Di antara mereka pasti ada yang makin sejahtera.
Bagaimana kita mesti menyikapi UU Ciptaker ini? Saya mencoba mencermati dengan perkembangan akal budi dari Auguste Comte, sang pelopor positivisme empiris. Terbukti pendekatan Comte mendorong masyarakat lebih sejahtera di alam modern.
Auguste Comte
1)Akal teofisika
Tahap awal perkembangan akal manusia adalah teofisika, Comte menyebutnya teologis. Di mana akal manusia mencari-cari penjelasan di luar kekuatan kodrat semisal agama.
Dari sudut pandang teofisika, UU Ciptaker adalah sudah kehendak Tuhan. Semua yang dikehendaki Tuhan pasti terjadi. Dan Tuhan sudah memilihkan yang terbaik untuk alam semesta, termasuk UU Ciptaker.
Bagi yang menolak UU Ciptaker mengatakan bahwa penolakan juga kehendak Tuhan. Maka penolakan UU Ciptaker adalah langkah terbaik.
Bagi Comte, berpikir teofisis seperti ini, harus ditinggalkan. Karena tidak akan menghasilkan kebenaran yang memadai.
2)Akal metafisika
Manusia memiliki akal dengan kepastian yang tinggi yaitu akal metafisis. Hukum metafisika berlaku benar secara mutlak semisal hukum identitas, sebab akibat, silogisme dan lain-lain. Metafisika sudah berkembang lebih dari dua ribu tahun yang lalu dari masa Aristoteles, Ibnu Sina, Averrous, Sadra, Francis Bacon, Betrand Russel, dan lain-lain.
Kasus UU Citptaker bisa dinalisis secara teori metafisika akan mensejahterakan rakyat. Membuka usaha makin mudah. Beban usaha lebih ringan. Maka perusahan di Indonesia akan makin maju dan berhasil menciptakan rakyat adil makmur. Itu pandangan dari yag mendukung UU Ciptaker.
Dari yang menolak UU Ciptaker juga bisa berpikir secara metafisis. UU ini akan menyebabkan kerusakan lingkungan, pelemahan kaum buruh, penindasan yang lemah, dan lain-lain.
Dua sudut pandang, yang mendukung atau yang menolak UU, bisa sama-sama valid alasan mereka. Maka Comte menyarankan kita meninggalkan cara berpikir metafisis. Bergerak ke berpikir fisika yang lebih pasti.
3)Akal fisika
Comte menyanjung keunggulan berpikir fisika. Yang bersifat positif dan empiris. Bisa dilakukan pengujian oleh pihak-pihak yang berbeda dengan hasil obyektif. Ini adalah perkembangan akal budi manusia paling maju. Dan terbukti sukses mengantarkan manusia maju dengan peradaban modern saat ini. Kemajuan sain dan teknologi tak tertandingi.
Kasus UU Ciptaker bisa kita analisis dengan akal fisika ini. Sayangnya, untuk saat ini, belum ada yang bisa kita ukur secara fisika. Misal rakyat makin sejahtera karena UU Ciptaker harusnya bisa kita ukur berapa pendapatan rakyat tiap bulannya. Berapa kenaikan gaji buruh tiap bulan. Dan sebagainya.
Atau bagi yang menolak UU Ciptaker bisa mengukur berapa hektar hutan yang rusak, berapa banyak buruh yang di-PHK, dan berapa orang kecil yang makin sengsara karena UU Ciptaker. Dan lain-lain.
Dengan data obyektif di atas maka kita bisa menyimpulkan bahwa UU Ciptaker berhasil atau gagal mensejahterakan rakyat.
Meski akal fisika ini tampaknya obyektif, diunggulkan oleh Comte, tetapi tidak seindah dalam teorinya. Pemikiran posmodern telah menghancurkan ukuran obyektif ini.
4)Akal nirfisika
Akal nisfisika tanpa benda fisis terjadi saat ini: serba digital. Dengan situasi posmodern yang destruktif, pemikiran di jaman digital makin porak-poranda. (Auguste Comte tidak sampai pada jaman digital ini.)
Maksudnya semua data obyektif empiris bisa ditafsirkan berbeda-beda sesuai kepentingan masing-masing. Derrida, tokoh posmo, menyatakan matinya makna. Baudrillad, tokoh posmo juga, melanjutkan, makna sudah mati maka yang terpenting menikmati permainan itu sendiri.
Misal sudah ada data empiris tentang UU Ciptaker. Maka anggora dewan (dan pemerintah) bisa menafsirkan data itu menunjukkan bahwa UU Ciptaker berhasil mensejahterakan rakyat, wong cilik, buruh, dan pengusaha.
Dengan data yang sama di atas, yang menolak UU Ciptaker, bisa menafsirkan bahwa data itu menunjukkan UU Ciptaker gagal mensejahterakan rakyat. Hanya menguntungkan segilintir orang, dan lain-lain.
Proses perdebatan itu sendiri sudah tidak ada makna. Yang penting selamat menikmati proses permainannya. Rakyat silakan menikmati adegan demi adegan.
Semua jadi relatif di tangan posmodern. Tidak ada yang pasti. Adakah solusi?
Posmodern sudah berhasil. Berhasil meruntuhkan bangunan filsafat barat. Berkeping-keping. Dalam kebingungan.
Saatnya untuk kembali membangun. Yang lebih baik. Yang lebih kokoh.
1)Makna telah mati
Lyotard, tokoh Posmo, dengan meruntuhkan metanarasi dan permainan bahasa tanpa batas, sudah berhasil menjadikan segalanya relatif tanpa arti. Makna sudah mati.
Ketika presiden Jokowi menyatakan bahwa penanganan covid 19 di Indonesia tidak buruk, bahkan cukup baik itu adalah benar. Benar dalam arti language game beliau.
Ketika para peneliti menyatakan bahwa penanganan covid 19 di Indonesia buruk maka itu juga benar. Lagi-lagi benar dalam language game mereka. Misalkan organisasi endcorona memasukkan Indonesia pada negara kategori merah, atau buruk, bersanding dengan India, Israel, US, dll. Beda dengan negara hijau, penanganan yang bagus, misal Brunei, Thailand, Vietnam dan lain-lain.
Ketika saya menduga bahwa penanganan corona di Indonesia cukup buruk maka itu benar dalam konteks language game saya juga. Saya berdasarkan pada analisis nilai R nasional Indonesia masih konsisten di atas 1 maka wabah masih terus membara.
Language game, permainan bahasa, dari Wittgenstein yang harusnya berguna untuk membantu kita memahami dengan baik justru berubah menjadi memusingkan makna.
2)Jebakan Simulacra Copas tanpa Batas
Baudrillard, tokoh Posmo, adalah yang paling tegas mengingatkan jebakan simulacra. Reproduksi tanpa henti. Satu berita dicopas lau copas, lalu copas, lalu copas tanpa batas. Orang tidak tahu mana yang asli mana yang copas. Semua hidup dalam kepalsuan.
Yang lebih parah lagi adalah apa yang lebih banyak dicopas, lebih banyak ditonton, lebih banyak share itulah yang lebih sah. Maka jasa buzzer menjadi pilihan.
Kembali contoh kasus bahwa penanganan covid 19 di Indonesia cukup baik. Karena berita Pak Jokowi lebih banyak dicopas dan ditonton maka dialah yang lebih benar.
Masuk akal? Memang begitulah jebakan simulacra posmo.
Kita perlu kembali kepada kearifan dasar. Klarifikasi. Gunakan akal dengan baik. Dengar suara hati.
3)Lepaskan Masa Lalu
Derrida, tokoh Posmo, tampak bersemangat untuk lepas dari logika kuno Aristoteles. Kita dari kecil sudah tahu bahwa yang benar adalah benar. Begitu juga logika Aristoteles.
Tetapi logika posmo bisa beda dengan itu. Yang benar itu juga salah. Yang salah juga benar. Apa artinya? Jangan bertanya arti! Makna sudah mati.
Kembali contoh bahwa penanganan covid Indonesia itu cukup baik. Maka pernyataan itu bisa benar sekaligus juga salah. Parah?
Menurut saya, kaum posmo telah melangkah cukup jauh dari kaum modernis. Descartes yang idealis mencari kebenaran sejati berhasil merumuskan dualisme materi dan jiwa. Disusul Immanuel Kant berhasil merumuskan perpaduan pengetahuan empiris dengan pengetahuan apriori jiwa maka menghasilkan pengetahuan baru.
Dan puncaknya adalah rumusan dialektika Hegel. Setiap ide, tesis, perlu bertemu dengan anti tesis sehingga menghasilkan sintesis. Itulah bentuk pertumbuhan ilmu pengetahuan baru, sintesis baru. Benar saja sain terus berkembang bersama teknologi membentuk masyarakat modern.
Dialektika Hegel ini sering dipahami bahwa dua ide yang saling berkontradiksi akan menghasilkan ilmu baru berupa sintesis. Kontradiksi dalam pengertian ini justru bagus.
Ketika posmo melangkah lebih jauh dengan menerapkan kontrakdiksi Aristotelian ke sebarang proposisi. Maka kekacauan yang terjadi. Yang benar sekaligus salah. Yang salah sekaligus benar.
Penutup
Berhasilnya posmo meruntuhkan modernitas perlu kita lanjutkan dengan membangun peradaban baru, sistem filsafat baru. Belajar dari pengalaman filsafat kuno, filsafat timur, pencerahan, modernitas, dan terakhir posmodernitas maka kita punya bekal yang cukup untuk bangkit kembali.
Sejak tahun 1980-an (atau lebih awal), filsafat telah terkubur dalam reruntuhan modernitas oleh palu posmodernitas. Lebih dari 40 tahun berlalu. Saatnya melaju.
Semiotika adalah ilmu dusta. Pengetahuan yang lengkap dengan filsafatnya untuk berdusta. Dusta ada di mana-mana. Dusta bisa dicopas. Copas dari copas dari copas… dan seterusnya. Dusta bertumpuk dusta jadilah hypersemiotika.
Filsuf posmodern gemar mengembangkan semiotika. Derrida dengan destruksi terhadap teks telah mematikan makna. Setiap orang bebas memproduksi makna termasuk dusta. Baudrillard dengan cengkeraman simulacra, simulasi dari simulasi dari sumulasi, dusta tidak bisa dibedakan dengan dusta lain mau pun aslinya. Semua hanya dusta.
Untung saja kita tidak selalu hidup bersama filsuf posmodern. Maka kita masih bisa hidup tanpa dusta – sesekali waktu. Tapi kita hidup di jaman posmodern. Terpaksa harus bergelut dengan dusta.
Sementara kita bisa menengok ke ilmu pasti fisika. Kepastian ilmu fisika sudah dipastikan oleh Isaac Newton sejak abad ke 17. Fondasi sudah kukuh oleh Galileo Galilei. Ilmu pasti fisika bersifat pasti, tanpa dusta. Pastinya fisika bersanding degan pastinya matematika.
Heisenberg
Masuk abak ke 20 sifat pastinya dari ilmu fisika mulai digoyang. Fisikawan Jerman, Werner Heisenberg, menemukan prinsip “ketidakpastian”. Kelak kita mengenalnya sebagai “ketidakpastian heisenberg” dalam ilmu fisika kuantum.
Ketidakpastian heisenberg sudah teruji valid secara ilmiah. Meski Einstein tampak tidak suka dengan melontarkan ungkapan, “Tuhan tidak sedang bermain dadu.”
“Jangan lagi berduka Alam semesta ada dalam jiwa Yang tumbuh cinta”
Descartes, filosof besar pelopor renaisans, mendapat ilham, “cogito ergo sum” yang begitu terkenal. “Aku berpikir maka aku ada.” Descartes mencari kebenaran yang paling utama. Dia meragukan semua. Dia meragukan ajaran semua filosof yang ada. Dia meragukan agama. Dan semua.
Dari kondisi nol itu muncul satu yang pasti, “Aku berpikir maka aku ada.”
Kita bisa meragukan semua persepsi indera. Tapi kita yakin ada jiwa kita. Kita yakin ada persepsi kita. Kita yakin ada kesadaran kita.
Dari keyakinan jiwa yang sadar, jiwa yang berpikir maka Descartes mengembangkan sistem filsafatnya yang begitu besar. Seperti kita tahu sejarah mencatat masa gemilang Barat setelahnya. Ditinjau dari filsafat, ilmu, ekonomi, dan lain-lain Barat memimpini dunia.
Descartes
Dualisme Jiwa Raga
Descartes menempatkan jiwa manusia pada posisi yang tinggi, suci, dan terhubung kepada Tuhan yang tak terbatas dan bukan materi. Di sisi lain, manusia juga mempunyai raga. Badan manusia yang terbatas oleh ruang dan waktu.
Pandangan yang mengakui ada dua hakikat realitas jiwa dan raga ini selanjutnya dikenal sebagai dualisme. Bagaimana jiwa yang non materi berhubungan dengan raga manusia yang materi ini?
Descartes sulit menjawabnya dengan positif. Bahkan bisa dinyatakan antara jiwa dan raga memiliki dunianya masing-masing.
Dunia materi yang terpisah dengan dunia jiwa ini mendorong ilmuwan lebih berani eksperimen. Isaac Newton tidak lama kemudian berhasil merumuskan teori fisika. Diikuti oleh banyak peneliti lain, ilmu fisika makin pesat. Sementara ilmu jiwa tertinggal di belakang.
Immanuel Kant memberikan rumusan menarik. Benih-benih dialektika ilmu. Bahwa pengetahuan yang diserap oleh indera kemudian akan bertemu dengan ilmu “bawaan” yang sudah ada pada jiwa manusia. Pertemuan dua hal itu melahirkan sintesa ilmu baru. Berkembanglah pengetahuan manusia.
Meski demikian, trend ilmu fisika, yang dilengkapi dengan rekayasa, maju jauh ke depan meninggalkan ilmu jiwa di belakang.
Tiba di era posmodern jiwa makin tersisih. Bahkan terdepak sirna dari pembahasan filsafat. Jiwa sudah tidak ada.
Jiwa Sirna Pun Raga
Yang ada hanya citra. Pencitraan di jaman kontemporer bahkan lebih utama. Jiwa dan raga boleh sirna tetapi citra adalah segala. Dunia digital yang terhubung melalui internet sudah begitu perkasa.
Citra-citra yang merupakan tanda hanya bisa dibaca melalui perbedaan-perbedaan dan hubungan-hubungan. Tidak ada makna. Setiap pembaca pesan, di medsos misalnya, bebas mengartikan pesan itu. Bisa makna pesannya mirip yang diharapkan oleh penulis pesan. Bisa berlawanan sama sekali.
Tiba di masa matinya penulis dan lahirnya sang pembaca. Jacques Derrida, salah satu filosof posmodern, memelopori destruksi – penghancuran segala. Makna hancur berkeping-keping. Tidak ada lagi makna. Semua bebas mengarang makna.
Manusia kini terjebak dalam dunia digital. Terhimpit dalam simulasi virtual. Kata Baudrillard, filosof posmodern, era simulacra mulai berkuasa – simulasi dari simulasi. Manusia tidak bisa membedakan mana yang asli dan mana yang citra. Apalagi citra dari citra. Berlanjut terus citra dari citra dari citra dari citra. Copas dari copas dari copas… dari copas.
Bagaimana hubungan jiwa dan raga? Posmodern tidak merasa perlu menjawabnya. Bahkan keberadaan jiwa raga pun sudah tak dirasa.
Monisme Jiwa Raga
Sementara kita tinggalkan sejenak kaum posmodernis yang terjebak dalam simulacra: copas dari copas dari copas…. dari copas. Kita akan berkenalan dengan ide monisme yang meyakini hakikat segala sesuatu adalah tunggal.
Secara umum ada dua monisme. Monisme material meyakini hakekat realitas adalah materi fisik. Badan kita adalah hakekat sejati. Sedangkan jiwa adalah sekedar “bayang-bayang” dari badan. Filosof modern, setelah era Descartes, cenderung meyakini prioritas materi fisikal ini. Karl Marx melangkah lebih jauh dengan mengutamakan kepentingan ekonomi materialis. August Comte dengan sistematis berhasil menyusun landasan filosofis materialis, empiris, positivis.
Di sisi lain ada monisme spiritual. Hakekat segala sesuatu adalah spirit. Sedangkan materi fisikal hanyalah semacam kendaraan bagi jiwa untuk berpetualang lebih jauh. Guru filsafat kuno, Plato, sudah mengembangkan sistem filsafat yang kokoh untuk mendukung keutamaan jiwa spiritual ini. Berkembang terus menjadi neo-platonis. Dan tampak bersesuaian dengan ajaran-ajaran agama besar di dunia. Manusia adalah makhluk spiritual yang sedang berkelana di dunia material.
Banyak pemikir besar yang mendukung keutamaan jiwa spiritual ini sekaligus mengembangkan konsep-konsep yang lebih canggih.
Bagaimana jiwa berhubungan dengan raga?
Bagi monisme material jawabannya sederhana saja. Yang nyata adalah badan. Jiwa hanya pancaran sifat dari badan itu sendiri. Jiwa tidak nyata. Hubungan antara mereka adalah tidak setara. Hubungannya aksidental belaka. Selanjutnya mereka bisa fokus membahas materialisme saja.
Bagi monisme spiritual, hubungan jiwa raga, adalah bagaikan hubungan sopir dengan mobil. Yang mengendalikan gerak mobil adalah sopir – sang jiwa. Mobil hanya mengikuti kehendak sopir. Bila sopir ingin maju maka majulah mobil. Bila sopir ingin belok maka mobil ikut belok.
Bila sopir ingin meninggalkan mobil maka mobil kosong tanpa sopir. Mobil tidak bisa lagi berbuat apa-apa tanpa sopir. Sopir adalah yang utama. Jiwa adalah yang utama. Raga adalah kendaraan belaka.
Monisme Wujud
Di samping dua monisme di atas, fisikal dan spiritual, terdapat monisme ketiga yaitu monisme wujud. Realitas segala sesuatu adalah wujud itu sendiri. Badan adalah manifestasi wujud. Jiwa juga manifestasi wujud. Mereka, jiwa dan raga, adalah penampakan wujud.
Monisme wujud dikembangkan dengan kokoh oleh Ibnu Arabi. Lebih menggelora dengan sajak-sajak cinta filosofis, gaya metafora posmodern, oleh Maulana Rumi. Dan mencapai puncak sintesa oleh filosof besar Mulla Shadra.
Bagaimana hubungan jiwa raga menurut monisme wujud?
Mereka disatukan oleh wujud itu sendiri. Awalnya hakikat manusia adalah raga itu sendiri, sebagai manifestasi wujud. Kemudian manusia menyempurna dengan memiliki jiwa spiritual, yang juga manifestasi wujud.
Kedua mode manifestasi wujud, jiwa dan raga, tetap nyata dalam kehidupan manusia. Meski demikian, hal ini tidak berarti ada dua wujud. Hanya ada satu wujud dengan dua mode.
Mode jiwa lebih sempurna dari raga. Jiwa lebih intens dari raga. Shadra, meminjam term Suharawardi (Syaih Al Isyraq), mengilustrasikan wujud sebagai cahaya. Jiwa adalah cahaya dengan intensitas lebih kuat, lebih sempurna. Sedangkan raga bagaikan cahaya dengan intensitas lemah. Mereka tetap satu cahaya dengan mode intensitas berbeda.
Equa Penghubung Jiwa Raga
Kita masih tetap berhak mengajukan pertanyaan, “Bagaimana sebenarnya hubungan jiwa dan raga?”
Sejauh ini kita bisa merangkum jawaban sesuai masing-masing prespektif. Bagi dualisme, tidak terlukiskan hubungan badan yang material dengan jiwa yang non material (Descartes).
Bagi monisme material, jiwa hanya bayang-bayang dari materi, terhubung secara aksidental saja (August Comte).
Bagi monisme spiritual, jiwa bagai sopir dan badan adalah kendaraan. Sopir dapat hidup mandiri tanpa kendaraan, terhubung secara aksidental (Plato – neo platonis – dan pemikir kontemporer).
Bagi monisme wujud, jiwa dan badan terhubung sebagai level mode wujud. Jiwa adalah cahaya dengan intensitas lebih sempurna “menyerap” raga yang merupakan cahaya dengan intensitas lemah (Shadra).
Butuh waktu ratusan tahun umat manusia untuk mengungkap lebih jelas hubungan jiwa dan raga ini.
Jiwa
Equa
Raga
Mempertimbangkan monisme wujud dan fisika quantum saya menyusun model hubungan Jiwa – Equa – Raga.
Equa adalah mode wujud yang ambigu, tasykik dalam term Mulla Shadra. Dilihat dari sisi jiwa, maka equa adalah bersifat non materi. Sedangkan dilihat dari sisi raga, maka equa adalah karakter materi.
Fisika kuantum menyebut equa ini adalah fungsi gelombang dari setiap partikel kuantum. Yang saya maksud di sini adalah hakikat fungsi gelombang, bukan formula fungsi gelombang itu sendiri. Hakikat fungsi gelombang adalah karakteristik materi tetapi bukan materi. Dia adalah equa.
Jiwa, sebagai non materi, memiliki fakultas untuk mempersepsi alam materi melalui equa ini, yang juga bersifat non materi. (Saya berencana akan menulis lebih detil tentang equa ini).
Bahagia Jiwa Raga
Untuk mencapai bahagia jiwa raga tampaknya bergantung prespektif masing-masing. Kita perlu menata fisik, sehat, serasi, nyaman agar menghasilkan jiwa bahagia.
Kita perlu menata sikap mental, rohani yang terhubung dengan Tuhan agar jiwa bahagia sejati. Kita perlu menata jiwa dan raga.
Jiwa perlu terus bergerak dari cahaya intensitas lemah menuju cahaya benderang dengan intensitas kuat – sumber cahaya. Itulah bahagia sejati.
Bagaimana pun, semua sepakat, “Cinta adalah bahagia. Bahagia adalah cinta. Tebarkan cinta. Buka mata hati untuk cinta.”
Filsafat sudah mati menjelang tahun 2000. Sampai kini masih tetap mati. Apakah bisa hidup kembali?
Mati lalu hidup kembali adalah hal wajar di dunia filsafat dan keilmuan pada umumnya. Ribuan tahun lalu filsafat sudah mati dihajar kaum skeptis. Lalu hidup lagi oleh Socrates – Plato – Aristoteles. Kemudian mati lagi dan hidup lagi di tangan Al Farabi – Ibnu Sina – Ibnu Rusyd.
Tentu saja mati lagi dan terjaga lagi di era Descartes – renaisans – modernis.
Dan sekarang mati lagi di tangan para postmodernis.
Averrous
Kita sedang menantikan kelahiran kembali filsafat setelah melewati tahun 2000. Pun setelah mengalami pandemi covid-19.
Sedikit catatan, apa yang saya ceritakan di atas adalah sedikit sudut pandang sejarah filsafat. Sudut pandang yang lain bisa saja berbeda.
Misalnya filsafat islam ketika dianggap banyak orang sudah terhenti dengan meninggalnya Averrous (Ibnu Rusyd) pada abad ke 12 M yang terjadi justru sebaliknya.
Filsafat islam tumbuh pesat dengan karakter khas islam dimulai pada pada abad ke 12 M.
Sebut saja filsafat illuminasi dengan tokoh utama Suhrawardi hidup pada tahun 1154 – 1191. Sejaman dengan Averrous tapi luput dari kajian sarjana barat barangkali karena karya filsafat Suhrawardi yang begitu berbeda dengan sebelum-sebelumnya. Tetapi di jaman kontemporer ini, pendekatan Suhrawardi, hikmah Al Isyraq kembali banyak digandrungi.
Ibnu Arabi adalah tokoh besar filsafat islam pada tahun 1165 – 1240. Pernah bertemu dengan Averrous dan hidup sampai sekitar 50 tahun kemudian setelah wafatnya Averrous. Lagi-lagi filsafat Ibnu Arabi begitu besar, komplek, sintesa dengan mistisisme bisa saja luput dari kajian sarjana pada umumnya. Di jaman ini berkembang lagi kajian tentang Ibnu Arabi.
Jalaluddin Rumi tokoh besar yang terkenal dengan sajak-sajak cinta. Hidup setelah masa Averrous (1207 – 1273) dan sejaman dengan Ibnu Arabi. Gaya filosofis Rumi justru mirip dengan posmodern dalam beberapa aspek. Serta mendahului Bergson membahas elan vital, cinta, berjarak 700 tahun sebelumnya.
Mulla Shadra puncak filsafat islam. Shadra berhasil men-sintesa-kan semua aliran filsafat pada jaman sebelumnya dan memperkaya dengan metode iluminasi irfan. Dari ajaran Plato – Aristoteles – Ibnu Sina – Suhrawardi – dan Ibnu Arabi. Shadra memperkuat eksistensialisme, berinovasi dengan tasykik (sistematis ambigu), dan gerak substansial. Semua problem filsafat paling sulit dipecahkan Shadra dengan apik yang hidup pada tahun 1571 – 1635 M. Hampir sejaman dengan Descartes dan Newton.
Saya bermaksud akan menulis serial filsafat sederhana, simple philospy, di sini.