UU Ciptaker, yang baru disahkan DPR dan pemerintah, akan merusak HAM dan demokrasi. Begitulah sedikit ungkapan Fahri Hamzah yang saya lihat di video media sosial. Bagaimana pemerintah dan DPR bisa sepakat untuk merusak HAM dan demokrasi?
Maka wajar saja bila hari ini dikabarkan akan ada demonstrasi besar-besaran menentang UU Ciptaker yang dimotori mahasiswa seluruh Indonesia.
Saya coba menganalisis sedikit ungkapan bahwa “UU Ciptaker merusak HAM dan demokrasi” dengan kaca mata era posmodern. Saya akan sedikit meluaskan kaca mata posmodern meliputi filsafat continental (identik dengan posmo itu sendiri), filsafat analytic, dan filsafat pragmatis.
A)Continental main bahasa bablas
Ciri utama posmo adalah language game – main bahasa – yang bablas lewat batas. Language game sendiri dirumuskan oleh Ludwig Wittgenstein untuk memahami makna bahasa dengan benar. Untuk kepentingan analisis makna.
Wittgenstein
Di tangan tokoh posmo semisal Derrida atau Lyotard maka language game menjadi senjata mematikan makna. Bahkan mematikan penulis.
Jadi, ungkapan “UU Ciptaker merusak Ham dan demokrasi” bisa dimaksudkan benar-benar bermakna merusak seperti itu. Tapi bisa juga itu bermakna metafora, sesuai istilah Pak Bambang di bukunya Postmodern.
Makna metaforanya bisa saja Ciptaker merusak HAM dengan kondisi saat ini untuk kemudian dibangun HAM yang lebih bagus. Merusak demokrasi juga bermakna menghancurkan demokrasi saat ini untuk kemudian mereformasinya menjadi demokrasi yang lebih bagus.
Maka ungkapan Fahri Hamzah, dari kaca mata posmo, benar-benar tidak bermakna. Makna sudah mati. Bisa bermakna merusak tapi bisa juga sebaliknya.
2)Analytic main bahasa beneran
Sekarang kita analisis dengan gaya filsafat analytic yang dipelopori oleh Bertrand Russel termasuk murid terbaiknya Ludwig Wittgenstein sang penemu language game itu.
Ungkapan “UU Ciptaker merusak Ham dan demokrasi” perlu diverifikasi kebenarannya. Tetapi kita tidak punya data untuk verifikasi. UU baru disahkan dan belum punya dampak apa pun. Bila demikian maka ungkapan di atas TIDAK BERMAKNA dan harus ditolak.
Kita masih bisa melangkah lebih jauh dengan silogisme ke masa depan.
[UU Ciptaker] maka ada [Perilaku Tertentu] maka ada [Merusak HAM Demokrasi]
Bila benar dengan UU Ciptaker menyebabkan perilaku tertentu seperti di atas, misal terjadi penindasan kepada buruh, pembatasan hak-hak warga, merugikan negara, dan lain-lain maka ungkapan di atas menjadi benar. Maksudnya UU Ciptaker merusak HAM dan demokrasi jadi benar adanya.
Masalahnya apakah bisa dipastikan bahwa UU Ciptaker menyebabkan perilaku tertentu itu? Tidak bisa dipastikan. Hanya bersifat kemungkinan.
Karena hanya mungkin dan tidak pasti maka ungkapan di atas TIDAK SAH.
Sebaliknya, ungkapan “UU Ciptaker memperkuat demokrasi” juga tidak bisa dibuktikan, tidak bisa diverifikasi.
3)Pragmatisme instrumentalis main bahasa
Filsafat pragmatisme terus berkembang sampai sekarang. Dipelopori William James sampai Bernstein yang menggemakan paham fallibisme.
Pragmatisme memandang bahwa bahasa adalah sekedar alat, instumen, untuk mencapai suatu tujuan pragmatis tertentu.
Apa tujuan dari ungkapan “UU Ciptaker merusak HAM dan demokrasi”?
Barangkali tujuannya agar rakyat dan pejabat waspada. Agar lebih hati-hati menjaga HAM dan demokrasi. Agar kita semua bersatu menuju Indonesia maju berdemokrasi adil dan makmur. Sebuah tujuan yang mulia.
Bisakah tujuannya berbeda dari itu? Bisa jadi. Mungkin saja tujuan pragmatisnya adalah untuk menyatakan bahwa DPR dan pemerintah sudah melakukan kesalahan besar. Mereka harus bertanggung jawab. Kalau perlu mereka harus diganti.
Bisa juga tujuannya lain lagi. Pernyataan itu mengingatkan ada perbedaan persepsi antara pemerintah, DPR, dan rakyat. Maka diperlukan dialog yang demokratis untuk mencapai kehidupan berbangsa adil makmur menjunjung HAM.
Kita patut bersyukur bahwa Undang-Undang Cipta Kerja yang baru saja disahkan ini bertujuan untuk mensejahterakan rakyat. Dan terbukti membuat rakyat Indonesia makin sejahtera.
Rakyat yang mana? Pertanyaan yang sulit dijawab!
Pengusaha adalah rakyat. Buruh juga rakyat. Anggota dewan, yang mensahkan bersama pemerintah, juga rakyat bahkan merangkap wakil rakyat. Di antara mereka pasti ada yang makin sejahtera.
Bagaimana kita mesti menyikapi UU Ciptaker ini? Saya mencoba mencermati dengan perkembangan akal budi dari Auguste Comte, sang pelopor positivisme empiris. Terbukti pendekatan Comte mendorong masyarakat lebih sejahtera di alam modern.
Auguste Comte
1)Akal teofisika
Tahap awal perkembangan akal manusia adalah teofisika, Comte menyebutnya teologis. Di mana akal manusia mencari-cari penjelasan di luar kekuatan kodrat semisal agama.
Dari sudut pandang teofisika, UU Ciptaker adalah sudah kehendak Tuhan. Semua yang dikehendaki Tuhan pasti terjadi. Dan Tuhan sudah memilihkan yang terbaik untuk alam semesta, termasuk UU Ciptaker.
Bagi yang menolak UU Ciptaker mengatakan bahwa penolakan juga kehendak Tuhan. Maka penolakan UU Ciptaker adalah langkah terbaik.
Bagi Comte, berpikir teofisis seperti ini, harus ditinggalkan. Karena tidak akan menghasilkan kebenaran yang memadai.
2)Akal metafisika
Manusia memiliki akal dengan kepastian yang tinggi yaitu akal metafisis. Hukum metafisika berlaku benar secara mutlak semisal hukum identitas, sebab akibat, silogisme dan lain-lain. Metafisika sudah berkembang lebih dari dua ribu tahun yang lalu dari masa Aristoteles, Ibnu Sina, Averrous, Sadra, Francis Bacon, Betrand Russel, dan lain-lain.
Kasus UU Citptaker bisa dinalisis secara teori metafisika akan mensejahterakan rakyat. Membuka usaha makin mudah. Beban usaha lebih ringan. Maka perusahan di Indonesia akan makin maju dan berhasil menciptakan rakyat adil makmur. Itu pandangan dari yag mendukung UU Ciptaker.
Dari yang menolak UU Ciptaker juga bisa berpikir secara metafisis. UU ini akan menyebabkan kerusakan lingkungan, pelemahan kaum buruh, penindasan yang lemah, dan lain-lain.
Dua sudut pandang, yang mendukung atau yang menolak UU, bisa sama-sama valid alasan mereka. Maka Comte menyarankan kita meninggalkan cara berpikir metafisis. Bergerak ke berpikir fisika yang lebih pasti.
3)Akal fisika
Comte menyanjung keunggulan berpikir fisika. Yang bersifat positif dan empiris. Bisa dilakukan pengujian oleh pihak-pihak yang berbeda dengan hasil obyektif. Ini adalah perkembangan akal budi manusia paling maju. Dan terbukti sukses mengantarkan manusia maju dengan peradaban modern saat ini. Kemajuan sain dan teknologi tak tertandingi.
Kasus UU Ciptaker bisa kita analisis dengan akal fisika ini. Sayangnya, untuk saat ini, belum ada yang bisa kita ukur secara fisika. Misal rakyat makin sejahtera karena UU Ciptaker harusnya bisa kita ukur berapa pendapatan rakyat tiap bulannya. Berapa kenaikan gaji buruh tiap bulan. Dan sebagainya.
Atau bagi yang menolak UU Ciptaker bisa mengukur berapa hektar hutan yang rusak, berapa banyak buruh yang di-PHK, dan berapa orang kecil yang makin sengsara karena UU Ciptaker. Dan lain-lain.
Dengan data obyektif di atas maka kita bisa menyimpulkan bahwa UU Ciptaker berhasil atau gagal mensejahterakan rakyat.
Meski akal fisika ini tampaknya obyektif, diunggulkan oleh Comte, tetapi tidak seindah dalam teorinya. Pemikiran posmodern telah menghancurkan ukuran obyektif ini.
4)Akal nirfisika
Akal nisfisika tanpa benda fisis terjadi saat ini: serba digital. Dengan situasi posmodern yang destruktif, pemikiran di jaman digital makin porak-poranda. (Auguste Comte tidak sampai pada jaman digital ini.)
Maksudnya semua data obyektif empiris bisa ditafsirkan berbeda-beda sesuai kepentingan masing-masing. Derrida, tokoh posmo, menyatakan matinya makna. Baudrillad, tokoh posmo juga, melanjutkan, makna sudah mati maka yang terpenting menikmati permainan itu sendiri.
Misal sudah ada data empiris tentang UU Ciptaker. Maka anggora dewan (dan pemerintah) bisa menafsirkan data itu menunjukkan bahwa UU Ciptaker berhasil mensejahterakan rakyat, wong cilik, buruh, dan pengusaha.
Dengan data yang sama di atas, yang menolak UU Ciptaker, bisa menafsirkan bahwa data itu menunjukkan UU Ciptaker gagal mensejahterakan rakyat. Hanya menguntungkan segilintir orang, dan lain-lain.
Proses perdebatan itu sendiri sudah tidak ada makna. Yang penting selamat menikmati proses permainannya. Rakyat silakan menikmati adegan demi adegan.
Semua jadi relatif di tangan posmodern. Tidak ada yang pasti. Adakah solusi?
Posmodern sudah berhasil. Berhasil meruntuhkan bangunan filsafat barat. Berkeping-keping. Dalam kebingungan.
Saatnya untuk kembali membangun. Yang lebih baik. Yang lebih kokoh.
1)Makna telah mati
Lyotard, tokoh Posmo, dengan meruntuhkan metanarasi dan permainan bahasa tanpa batas, sudah berhasil menjadikan segalanya relatif tanpa arti. Makna sudah mati.
Ketika presiden Jokowi menyatakan bahwa penanganan covid 19 di Indonesia tidak buruk, bahkan cukup baik itu adalah benar. Benar dalam arti language game beliau.
Ketika para peneliti menyatakan bahwa penanganan covid 19 di Indonesia buruk maka itu juga benar. Lagi-lagi benar dalam language game mereka. Misalkan organisasi endcorona memasukkan Indonesia pada negara kategori merah, atau buruk, bersanding dengan India, Israel, US, dll. Beda dengan negara hijau, penanganan yang bagus, misal Brunei, Thailand, Vietnam dan lain-lain.
Ketika saya menduga bahwa penanganan corona di Indonesia cukup buruk maka itu benar dalam konteks language game saya juga. Saya berdasarkan pada analisis nilai R nasional Indonesia masih konsisten di atas 1 maka wabah masih terus membara.
Language game, permainan bahasa, dari Wittgenstein yang harusnya berguna untuk membantu kita memahami dengan baik justru berubah menjadi memusingkan makna.
2)Jebakan Simulacra Copas tanpa Batas
Baudrillard, tokoh Posmo, adalah yang paling tegas mengingatkan jebakan simulacra. Reproduksi tanpa henti. Satu berita dicopas lau copas, lalu copas, lalu copas tanpa batas. Orang tidak tahu mana yang asli mana yang copas. Semua hidup dalam kepalsuan.
Yang lebih parah lagi adalah apa yang lebih banyak dicopas, lebih banyak ditonton, lebih banyak share itulah yang lebih sah. Maka jasa buzzer menjadi pilihan.
Kembali contoh kasus bahwa penanganan covid 19 di Indonesia cukup baik. Karena berita Pak Jokowi lebih banyak dicopas dan ditonton maka dialah yang lebih benar.
Masuk akal? Memang begitulah jebakan simulacra posmo.
Kita perlu kembali kepada kearifan dasar. Klarifikasi. Gunakan akal dengan baik. Dengar suara hati.
3)Lepaskan Masa Lalu
Derrida, tokoh Posmo, tampak bersemangat untuk lepas dari logika kuno Aristoteles. Kita dari kecil sudah tahu bahwa yang benar adalah benar. Begitu juga logika Aristoteles.
Tetapi logika posmo bisa beda dengan itu. Yang benar itu juga salah. Yang salah juga benar. Apa artinya? Jangan bertanya arti! Makna sudah mati.
Kembali contoh bahwa penanganan covid Indonesia itu cukup baik. Maka pernyataan itu bisa benar sekaligus juga salah. Parah?
Menurut saya, kaum posmo telah melangkah cukup jauh dari kaum modernis. Descartes yang idealis mencari kebenaran sejati berhasil merumuskan dualisme materi dan jiwa. Disusul Immanuel Kant berhasil merumuskan perpaduan pengetahuan empiris dengan pengetahuan apriori jiwa maka menghasilkan pengetahuan baru.
Dan puncaknya adalah rumusan dialektika Hegel. Setiap ide, tesis, perlu bertemu dengan anti tesis sehingga menghasilkan sintesis. Itulah bentuk pertumbuhan ilmu pengetahuan baru, sintesis baru. Benar saja sain terus berkembang bersama teknologi membentuk masyarakat modern.
Dialektika Hegel ini sering dipahami bahwa dua ide yang saling berkontradiksi akan menghasilkan ilmu baru berupa sintesis. Kontradiksi dalam pengertian ini justru bagus.
Ketika posmo melangkah lebih jauh dengan menerapkan kontrakdiksi Aristotelian ke sebarang proposisi. Maka kekacauan yang terjadi. Yang benar sekaligus salah. Yang salah sekaligus benar.
Penutup
Berhasilnya posmo meruntuhkan modernitas perlu kita lanjutkan dengan membangun peradaban baru, sistem filsafat baru. Belajar dari pengalaman filsafat kuno, filsafat timur, pencerahan, modernitas, dan terakhir posmodernitas maka kita punya bekal yang cukup untuk bangkit kembali.
Sejak tahun 1980-an (atau lebih awal), filsafat telah terkubur dalam reruntuhan modernitas oleh palu posmodernitas. Lebih dari 40 tahun berlalu. Saatnya melaju.
Semiotika adalah ilmu dusta. Pengetahuan yang lengkap dengan filsafatnya untuk berdusta. Dusta ada di mana-mana. Dusta bisa dicopas. Copas dari copas dari copas… dan seterusnya. Dusta bertumpuk dusta jadilah hypersemiotika.
Filsuf posmodern gemar mengembangkan semiotika. Derrida dengan destruksi terhadap teks telah mematikan makna. Setiap orang bebas memproduksi makna termasuk dusta. Baudrillard dengan cengkeraman simulacra, simulasi dari simulasi dari sumulasi, dusta tidak bisa dibedakan dengan dusta lain mau pun aslinya. Semua hanya dusta.
Untung saja kita tidak selalu hidup bersama filsuf posmodern. Maka kita masih bisa hidup tanpa dusta – sesekali waktu. Tapi kita hidup di jaman posmodern. Terpaksa harus bergelut dengan dusta.
Sementara kita bisa menengok ke ilmu pasti fisika. Kepastian ilmu fisika sudah dipastikan oleh Isaac Newton sejak abad ke 17. Fondasi sudah kukuh oleh Galileo Galilei. Ilmu pasti fisika bersifat pasti, tanpa dusta. Pastinya fisika bersanding degan pastinya matematika.
Heisenberg
Masuk abak ke 20 sifat pastinya dari ilmu fisika mulai digoyang. Fisikawan Jerman, Werner Heisenberg, menemukan prinsip “ketidakpastian”. Kelak kita mengenalnya sebagai “ketidakpastian heisenberg” dalam ilmu fisika kuantum.
Ketidakpastian heisenberg sudah teruji valid secara ilmiah. Meski Einstein tampak tidak suka dengan melontarkan ungkapan, “Tuhan tidak sedang bermain dadu.”
“Jangan lagi berduka Alam semesta ada dalam jiwa Yang tumbuh cinta”
Descartes, filosof besar pelopor renaisans, mendapat ilham, “cogito ergo sum” yang begitu terkenal. “Aku berpikir maka aku ada.” Descartes mencari kebenaran yang paling utama. Dia meragukan semua. Dia meragukan ajaran semua filosof yang ada. Dia meragukan agama. Dan semua.
Dari kondisi nol itu muncul satu yang pasti, “Aku berpikir maka aku ada.”
Kita bisa meragukan semua persepsi indera. Tapi kita yakin ada jiwa kita. Kita yakin ada persepsi kita. Kita yakin ada kesadaran kita.
Dari keyakinan jiwa yang sadar, jiwa yang berpikir maka Descartes mengembangkan sistem filsafatnya yang begitu besar. Seperti kita tahu sejarah mencatat masa gemilang Barat setelahnya. Ditinjau dari filsafat, ilmu, ekonomi, dan lain-lain Barat memimpini dunia.
Descartes
Dualisme Jiwa Raga
Descartes menempatkan jiwa manusia pada posisi yang tinggi, suci, dan terhubung kepada Tuhan yang tak terbatas dan bukan materi. Di sisi lain, manusia juga mempunyai raga. Badan manusia yang terbatas oleh ruang dan waktu.
Pandangan yang mengakui ada dua hakikat realitas jiwa dan raga ini selanjutnya dikenal sebagai dualisme. Bagaimana jiwa yang non materi berhubungan dengan raga manusia yang materi ini?
Descartes sulit menjawabnya dengan positif. Bahkan bisa dinyatakan antara jiwa dan raga memiliki dunianya masing-masing.
Dunia materi yang terpisah dengan dunia jiwa ini mendorong ilmuwan lebih berani eksperimen. Isaac Newton tidak lama kemudian berhasil merumuskan teori fisika. Diikuti oleh banyak peneliti lain, ilmu fisika makin pesat. Sementara ilmu jiwa tertinggal di belakang.
Immanuel Kant memberikan rumusan menarik. Benih-benih dialektika ilmu. Bahwa pengetahuan yang diserap oleh indera kemudian akan bertemu dengan ilmu “bawaan” yang sudah ada pada jiwa manusia. Pertemuan dua hal itu melahirkan sintesa ilmu baru. Berkembanglah pengetahuan manusia.
Meski demikian, trend ilmu fisika, yang dilengkapi dengan rekayasa, maju jauh ke depan meninggalkan ilmu jiwa di belakang.
Tiba di era posmodern jiwa makin tersisih. Bahkan terdepak sirna dari pembahasan filsafat. Jiwa sudah tidak ada.
Jiwa Sirna Pun Raga
Yang ada hanya citra. Pencitraan di jaman kontemporer bahkan lebih utama. Jiwa dan raga boleh sirna tetapi citra adalah segala. Dunia digital yang terhubung melalui internet sudah begitu perkasa.
Citra-citra yang merupakan tanda hanya bisa dibaca melalui perbedaan-perbedaan dan hubungan-hubungan. Tidak ada makna. Setiap pembaca pesan, di medsos misalnya, bebas mengartikan pesan itu. Bisa makna pesannya mirip yang diharapkan oleh penulis pesan. Bisa berlawanan sama sekali.
Tiba di masa matinya penulis dan lahirnya sang pembaca. Jacques Derrida, salah satu filosof posmodern, memelopori destruksi – penghancuran segala. Makna hancur berkeping-keping. Tidak ada lagi makna. Semua bebas mengarang makna.
Manusia kini terjebak dalam dunia digital. Terhimpit dalam simulasi virtual. Kata Baudrillard, filosof posmodern, era simulacra mulai berkuasa – simulasi dari simulasi. Manusia tidak bisa membedakan mana yang asli dan mana yang citra. Apalagi citra dari citra. Berlanjut terus citra dari citra dari citra dari citra. Copas dari copas dari copas… dari copas.
Bagaimana hubungan jiwa dan raga? Posmodern tidak merasa perlu menjawabnya. Bahkan keberadaan jiwa raga pun sudah tak dirasa.
Monisme Jiwa Raga
Sementara kita tinggalkan sejenak kaum posmodernis yang terjebak dalam simulacra: copas dari copas dari copas…. dari copas. Kita akan berkenalan dengan ide monisme yang meyakini hakikat segala sesuatu adalah tunggal.
Secara umum ada dua monisme. Monisme material meyakini hakekat realitas adalah materi fisik. Badan kita adalah hakekat sejati. Sedangkan jiwa adalah sekedar “bayang-bayang” dari badan. Filosof modern, setelah era Descartes, cenderung meyakini prioritas materi fisikal ini. Karl Marx melangkah lebih jauh dengan mengutamakan kepentingan ekonomi materialis. August Comte dengan sistematis berhasil menyusun landasan filosofis materialis, empiris, positivis.
Di sisi lain ada monisme spiritual. Hakekat segala sesuatu adalah spirit. Sedangkan materi fisikal hanyalah semacam kendaraan bagi jiwa untuk berpetualang lebih jauh. Guru filsafat kuno, Plato, sudah mengembangkan sistem filsafat yang kokoh untuk mendukung keutamaan jiwa spiritual ini. Berkembang terus menjadi neo-platonis. Dan tampak bersesuaian dengan ajaran-ajaran agama besar di dunia. Manusia adalah makhluk spiritual yang sedang berkelana di dunia material.
Banyak pemikir besar yang mendukung keutamaan jiwa spiritual ini sekaligus mengembangkan konsep-konsep yang lebih canggih.
Bagaimana jiwa berhubungan dengan raga?
Bagi monisme material jawabannya sederhana saja. Yang nyata adalah badan. Jiwa hanya pancaran sifat dari badan itu sendiri. Jiwa tidak nyata. Hubungan antara mereka adalah tidak setara. Hubungannya aksidental belaka. Selanjutnya mereka bisa fokus membahas materialisme saja.
Bagi monisme spiritual, hubungan jiwa raga, adalah bagaikan hubungan sopir dengan mobil. Yang mengendalikan gerak mobil adalah sopir – sang jiwa. Mobil hanya mengikuti kehendak sopir. Bila sopir ingin maju maka majulah mobil. Bila sopir ingin belok maka mobil ikut belok.
Bila sopir ingin meninggalkan mobil maka mobil kosong tanpa sopir. Mobil tidak bisa lagi berbuat apa-apa tanpa sopir. Sopir adalah yang utama. Jiwa adalah yang utama. Raga adalah kendaraan belaka.
Monisme Wujud
Di samping dua monisme di atas, fisikal dan spiritual, terdapat monisme ketiga yaitu monisme wujud. Realitas segala sesuatu adalah wujud itu sendiri. Badan adalah manifestasi wujud. Jiwa juga manifestasi wujud. Mereka, jiwa dan raga, adalah penampakan wujud.
Monisme wujud dikembangkan dengan kokoh oleh Ibnu Arabi. Lebih menggelora dengan sajak-sajak cinta filosofis, gaya metafora posmodern, oleh Maulana Rumi. Dan mencapai puncak sintesa oleh filosof besar Mulla Shadra.
Bagaimana hubungan jiwa raga menurut monisme wujud?
Mereka disatukan oleh wujud itu sendiri. Awalnya hakikat manusia adalah raga itu sendiri, sebagai manifestasi wujud. Kemudian manusia menyempurna dengan memiliki jiwa spiritual, yang juga manifestasi wujud.
Kedua mode manifestasi wujud, jiwa dan raga, tetap nyata dalam kehidupan manusia. Meski demikian, hal ini tidak berarti ada dua wujud. Hanya ada satu wujud dengan dua mode.
Mode jiwa lebih sempurna dari raga. Jiwa lebih intens dari raga. Shadra, meminjam term Suharawardi (Syaih Al Isyraq), mengilustrasikan wujud sebagai cahaya. Jiwa adalah cahaya dengan intensitas lebih kuat, lebih sempurna. Sedangkan raga bagaikan cahaya dengan intensitas lemah. Mereka tetap satu cahaya dengan mode intensitas berbeda.
Equa Penghubung Jiwa Raga
Kita masih tetap berhak mengajukan pertanyaan, “Bagaimana sebenarnya hubungan jiwa dan raga?”
Sejauh ini kita bisa merangkum jawaban sesuai masing-masing prespektif. Bagi dualisme, tidak terlukiskan hubungan badan yang material dengan jiwa yang non material (Descartes).
Bagi monisme material, jiwa hanya bayang-bayang dari materi, terhubung secara aksidental saja (August Comte).
Bagi monisme spiritual, jiwa bagai sopir dan badan adalah kendaraan. Sopir dapat hidup mandiri tanpa kendaraan, terhubung secara aksidental (Plato – neo platonis – dan pemikir kontemporer).
Bagi monisme wujud, jiwa dan badan terhubung sebagai level mode wujud. Jiwa adalah cahaya dengan intensitas lebih sempurna “menyerap” raga yang merupakan cahaya dengan intensitas lemah (Shadra).
Butuh waktu ratusan tahun umat manusia untuk mengungkap lebih jelas hubungan jiwa dan raga ini.
Jiwa
Equa
Raga
Mempertimbangkan monisme wujud dan fisika quantum saya menyusun model hubungan Jiwa – Equa – Raga.
Equa adalah mode wujud yang ambigu, tasykik dalam term Mulla Shadra. Dilihat dari sisi jiwa, maka equa adalah bersifat non materi. Sedangkan dilihat dari sisi raga, maka equa adalah karakter materi.
Fisika kuantum menyebut equa ini adalah fungsi gelombang dari setiap partikel kuantum. Yang saya maksud di sini adalah hakikat fungsi gelombang, bukan formula fungsi gelombang itu sendiri. Hakikat fungsi gelombang adalah karakteristik materi tetapi bukan materi. Dia adalah equa.
Jiwa, sebagai non materi, memiliki fakultas untuk mempersepsi alam materi melalui equa ini, yang juga bersifat non materi. (Saya berencana akan menulis lebih detil tentang equa ini).
Bahagia Jiwa Raga
Untuk mencapai bahagia jiwa raga tampaknya bergantung prespektif masing-masing. Kita perlu menata fisik, sehat, serasi, nyaman agar menghasilkan jiwa bahagia.
Kita perlu menata sikap mental, rohani yang terhubung dengan Tuhan agar jiwa bahagia sejati. Kita perlu menata jiwa dan raga.
Jiwa perlu terus bergerak dari cahaya intensitas lemah menuju cahaya benderang dengan intensitas kuat – sumber cahaya. Itulah bahagia sejati.
Bagaimana pun, semua sepakat, “Cinta adalah bahagia. Bahagia adalah cinta. Tebarkan cinta. Buka mata hati untuk cinta.”
Filsafat sudah mati menjelang tahun 2000. Sampai kini masih tetap mati. Apakah bisa hidup kembali?
Mati lalu hidup kembali adalah hal wajar di dunia filsafat dan keilmuan pada umumnya. Ribuan tahun lalu filsafat sudah mati dihajar kaum skeptis. Lalu hidup lagi oleh Socrates – Plato – Aristoteles. Kemudian mati lagi dan hidup lagi di tangan Al Farabi – Ibnu Sina – Ibnu Rusyd.
Tentu saja mati lagi dan terjaga lagi di era Descartes – renaisans – modernis.
Dan sekarang mati lagi di tangan para postmodernis.
Averrous
Kita sedang menantikan kelahiran kembali filsafat setelah melewati tahun 2000. Pun setelah mengalami pandemi covid-19.
Sedikit catatan, apa yang saya ceritakan di atas adalah sedikit sudut pandang sejarah filsafat. Sudut pandang yang lain bisa saja berbeda.
Misalnya filsafat islam ketika dianggap banyak orang sudah terhenti dengan meninggalnya Averrous (Ibnu Rusyd) pada abad ke 12 M yang terjadi justru sebaliknya.
Filsafat islam tumbuh pesat dengan karakter khas islam dimulai pada pada abad ke 12 M.
Sebut saja filsafat illuminasi dengan tokoh utama Suhrawardi hidup pada tahun 1154 – 1191. Sejaman dengan Averrous tapi luput dari kajian sarjana barat barangkali karena karya filsafat Suhrawardi yang begitu berbeda dengan sebelum-sebelumnya. Tetapi di jaman kontemporer ini, pendekatan Suhrawardi, hikmah Al Isyraq kembali banyak digandrungi.
Ibnu Arabi adalah tokoh besar filsafat islam pada tahun 1165 – 1240. Pernah bertemu dengan Averrous dan hidup sampai sekitar 50 tahun kemudian setelah wafatnya Averrous. Lagi-lagi filsafat Ibnu Arabi begitu besar, komplek, sintesa dengan mistisisme bisa saja luput dari kajian sarjana pada umumnya. Di jaman ini berkembang lagi kajian tentang Ibnu Arabi.
Jalaluddin Rumi tokoh besar yang terkenal dengan sajak-sajak cinta. Hidup setelah masa Averrous (1207 – 1273) dan sejaman dengan Ibnu Arabi. Gaya filosofis Rumi justru mirip dengan posmodern dalam beberapa aspek. Serta mendahului Bergson membahas elan vital, cinta, berjarak 700 tahun sebelumnya.
Mulla Shadra puncak filsafat islam. Shadra berhasil men-sintesa-kan semua aliran filsafat pada jaman sebelumnya dan memperkaya dengan metode iluminasi irfan. Dari ajaran Plato – Aristoteles – Ibnu Sina – Suhrawardi – dan Ibnu Arabi. Shadra memperkuat eksistensialisme, berinovasi dengan tasykik (sistematis ambigu), dan gerak substansial. Semua problem filsafat paling sulit dipecahkan Shadra dengan apik yang hidup pada tahun 1571 – 1635 M. Hampir sejaman dengan Descartes dan Newton.
Saya bermaksud akan menulis serial filsafat sederhana, simple philospy, di sini.
Kita tetap semangat menghadapi berbagai situasi pandemi yang tidak pasti. Berbagai macam strategi terus kita kembangkan.
Sayangnya tidak selalu berhasil. Misal situasi Yogyakarta kini lebih buruk dari rata-rata situasi nasional.
Penambahan kasus baru DIY di kisaran 60 orang per hari pada akhir September 2020 ini. Sedangkan nasional sekitar 4000 orang. Bila kita bandingkan maka DIY mengambil porsi 1,5% yang terlalu besar. Maka itu lebih buruk.
Dari pengamatan Maret sampai Juli DIY hanya menyumpangkan sekitar 0,5% dari nasional. Kondisi yang bagus itu seharusnya dipertahankan. Diperbaiki. Dijadikan contoh penanganan covid untuk wilayah lain.
Tetapi dengan lonjakan seperti itu maka kita perlu strategi baru lagi untuk DIY.
Usahan untuk menyederhanan kurikulum sudah makin kuat berkumandang beberapa tahun terakhir. Mas Mendikbud Nadiem pun menyambut hangat dengan program sosialisasi penyederhanaan kurikulum 21. Kita, sebagai warga negara yang baik, secara aktif ikut serta mencerdaskan kehidupan bangsa.
Kita perlu menghindari “kurikulum seluas samudera dengan kedalaman satu mili”.
Kurikulum 21 berpotensi terjebak ke samudera itu. Maka mari bersama-sama kita jaga demi kemajuan generasi masa depan.
1)Jebakan mata pelajran minimum
Istilah mata pelajaran minimum tampak keren. Tetapi ini jebakan serius.
Kabar gembira muncul dari kemendikbud, yang dipimpin Mas Menteri Nadiem, yaitu: kurikulum baru 2021 akan diluncurkan. Hebatnya kurikulum 2021 ini adalah lebih sederhana dari kurikulum 2013.
Kita perlu bersama-sama mendukung upaya untuk ikut serta mencerdaskan kehidupan berbangsa.
Pelajar Pancasila menjadi salah satu tema utama kurikulum 2021. Mempunyai karakter ideal belajar sepanjang hayat. Siap bersaing secara global di seluruh dunia. Pun mengamalkan Pancasila secara nyata.
Saat ini masih berlangsung program sosialisasi kurikulum 21 sehingga masyarakat bisa ikut memberikan sumbangsih ide dan perbaikan. Kemendikbud sendiri terbuka dengan berbagai macam masukan.
Keberatan
Salah satu respon yang sudah masuk adalah adanya keberatan dengan dihapusnya pelajaran sejarah tingkat SMA. Dari semula pelajaran wajib menjadi pelajaran pilihan untuk siswa kelas 11 dan 12 SMA saja. Sementara siswa kelas 10 SMA tidak belajar sejarah.
Resiko Gagal
Kurikulum 2021 ini pun beresiko gagal. Pertama, persiapan guru sebagai ujung tombak pendidikan perlu proses dan waktu yang memadai. Apalagi guru dituntut makin kreatif dan tanggung jawab.
Kedua, kurikulum 21 menggunakan istilah sebagai kurikulum minimum. Sementara batas maksimum tidak ada. Maka resiko siswa-siswa dijejali kurikulum berlebih bisa terjadi. Makin berat kurikulum dinggap lebih baik. Siswa SMP bisa saja diberikan beban pelajaran SMA. Resiko siswa stress tentu bahaya. Atau siswa muak dengan sekolah justru menolak belajar sepanjang hayat.
Ketiga, dan lain-lain.
Kabar baiknya tetap ada solusi untuk mengatasi beragam masalah di atas.
Bagaimana menurut Anda?
Bagi yang berminat file pdf sosialisasi penyederhanaan kurikulum dapat mencari di internet atau silakan donlot di bawah ini.
Teori evolusi menggemparkan dunia sejak awal muncul. Bagi pendukung, teori evolusi adalah kemajuan paling hebat dari sain. Tapi bagi yang menolak, teori evolusi adalah teori sesat tanpa dasar ilmiah. Dan jelas-jelas bertentangan dengan ajaran agama.
Saya ingin mencatat beberapa kritik dan apresiasi terhadap teori evolusi. Sedapat mungkin mengkaji dari sudut pandang sain. Di beberapa tempat tentu kita perlu mempertimbangkan pandangan metafisika dan agama.
1)Teori Evolusi berdampak revolusi
Orang mengakui bahwa Darwin adalah peneliti paling sukses merumuskan teori evolusi. Dampaknya revolusioner. Meski penelitian ilmiah Darwin fokus kepada evolusi biologis dampaknya meluas ke segala bidang: sosial, fisika, metafisika, agama dan lain-lain.
Lebih hebat lagi, teori evolusi dilawankan dengan ajaran agama. Salah satu dari mereka harus salah. Bila agama benar maka teori evolusi harus salah. Pun sebaliknya, bila teori evolusi benar maka agama salah.
Meski ada yang mencoba mengambil jalan tengah tampaknya jalan tengah di sini benar-benar jalan sempit.
Untuk sementara, pendekatan ilmiah terbukti makin diterima masyarakat luas. Maka bisa dibilang teori evolusi sedang lebih unggul.
2)Darwin bukan penemu pertama evolusi
Darwin memang paling hebat. Tapi dia bukan penemu pertama teori evolusi. Beberapa puluh tahun sebelum Darwin, teori evolusi sudah diusulkan oleh Lamarck. Sayang teori Lamarck terbukti salah maka harus ditolak. Digantikan oleh Darwin.
Pun 200 tahun sebelum Darwin, teori evolusi sudah dirumuskan Mulla Shadra dari Persia. Shadra tidak membatasi evolusi hanya pada bidang biologis tetapi berlaku untuk seluruh alam semesta dengan konsep gerak substansial. Shadra tampak terinspirasi oleh filsuf Arab kelahiran Spanyol, Ibnu Arabi, sekitar 400 tahun sebelumnya. Ibnu Arabi juga membahas evolusi untuk seluruh alam raya.
Dari sisi ilmuwan empiris, teori evolusi sudah diusulkan oleh Ibnu Khaldun dalam bukunya yang terkenal Mukadimah, 500 tahun sebelum Darwin. Ibnu Khaldun melengkapi beberbagai macam metode ilmiah untuk mengurangi kesalahan dalam mengambil kesimpulan.
Ahli biologi abad ke-9 dari Timur Tengah, Al Jahiz, sudah menulis buku tentang hewan yang di dalamnya juga membahas teori evolusi untuk dunia binatang. Seribu tahun sebelum Darwin.
Bagaimana pun, Darwin tetap berhak menyandang sebagai penemu teori evolusi. Berbeda dengan filsuf dan ilmuwan sebelum-sebelumnya, Darwin melengkapi dengan data penelitian mahkluk hidup dan beberapa fosil. Serta memberikan penjelasan proses evolusi melalui: mutasi acak dan seleksi alam.
Dua ide tersebut, mutasi dan seleksi alam, terus berkembang sampai jaman kontemporer sekarang ini.