Mas Nadiem Bagi-bagi 9 Trilyun

Berita gembira. Mas Nadiem bagi-bagi kuota internet total 9 trilyun rupiah untuk siswa, mahasiswa, dan guru dosen di seluruh Indonesia.

Saya mengapresiasi gerak cepat Mas Nadiem. Juga apresiasi kepada Bu Menkeu Sri yang berhasil mengalokasikan dana sebesar itu ke kemendikbud. Maka sebagai masyarakat kita perlu gotong-royong untuk ikut serta mensukseskan program yang bagus dari kementrian.

1)Pemerataan ke pelosok negeri

Indonesia tidak merata. Akses internet di Indonesia sangat timpang. Terjadi kesenjangan parah. Saya sudah menghitung nilai ketimpangan indonesia n lebih besar dari 3. Sangat buruk.

Mas Nadiem punya peluang menyalurkan 9 T ini untuk meng-kompensasi nilai ketimpangan. Dengan mengutamakan siswa yang kesulitan akses internet maka ketimpangan akan berkurang. Kondisi menjadi lebih baik.

Resiko terjadi bila penyaluran disalurkan dengan sama besar maka yang terjadi adalah memperkuat ketimpangan itu. Karena sebagian besar pengguna kuota berada di kota. Maka kota makin jauh meninggalkan pinggiran.

Saya yakin Mas Nadiem punya solusi untuk ini.

2.Lebih dari kuota internet

Mas Nadiem adalah mendikbud maka beliau tentu fokus untuk menyelenggarakan pendidikan yang berkualitas ke seluruh negeri. Bukan hanya fokus bagi-bagi 9 T. Urusan bagi-bagi kuota internet cukuplah jadi urusan provider internet.

Mendikbud perlu memastikan bahwa siswa dapat belajar lebih baik dengan tambahan dana 9 T. Misal daerah yang tidak ada akses internet menjadi bisa akses internet atau jaringan lokal semacam local area network.

Bisa saja dikembangkan jaringan lokal untuk ukuran sekecamatan atau kabupaten. Sehingga siswa-siswa dan guru-guru dapat berinteraksi dengan mudah.

Untuk membangun jaringan lokal ini barangkali bisa mengajak siswa-siswa SMK yang sudah memiliki profesionalisme di bidangnya. Penguatan program vokasi seiring sejalan.

Lebih menarik lagi bila untuk memproduksi konten edukasi mengajak siswa-siswa SMK jurusan multimedia, broadcasting, dan lain-lain untuk berperan serta aktif.

Jika untuk menjalankan pendidikan yang berkualitas di atas ternyata butuh lebih besar dari 9 T maka Mas Menteri bisa kontak lagi dengan Bu Menteri.

3.Pemerataan lebih luas

Masalah kesenjangan juga terjadi dalam akses energi listrik, kualitas guru, sarana, dan lain-lain. Saya berharap Mas Menteri dapat memanfaatkan momentum 9 T ini untuk mengatasi kesenjangan di atas.

Misal untuk sekolah yang belum tersedia akses jaringan listrik maka disiapkan pengembangan solar sel, atau pembangkit mikro atau lainnya. Lagi-lagi Mas Menteri bisa memobilisasi sumber daya SMK untuk mendukung ini. Tentu saja peran universitas sangat penting untuk hasil optimal.

Dan masih banyak lagi yang bisa kita lakukan untuk pendidikan Indonesia yang lebih baik.

Waspada

Beberapa resiko serius dapat terjadi dengan bagi-bagi 9 T oleh Mas Menteri. Misalnya, pertama, siswa menggunakan kuota internet justru untuk hal-hal negatif. Anak-anak milenial punya caranya sendiri untuk menerobos berbagai aturan. Berbagai macam pendekatan yang efektif untuk milenial bisa dikembangkan.

Kedua, dana 9 T makin memperkaya perusahaan provider internet. Tentu saja ini menguntungkan provider. Mendapat order 9 T begitu saja siapa yang tidak berminat? Barangkali Mas Menteri bisa kerja sama dengan KPK untuk memastikan berjalan dengan baik.

Ketiga, salah prioritas. Apakah prioritas utama pendidikan kita adalah kuota internet? Atau dana 9 T akan lebih baik bila digunakan memperbaiki pendidikan Indonesia yang tidak melulu urusan kuota internet? Mas Menteri dapat menjawab ini dengan kajian yang tepat.

Salah prioritas juga bisa terjadi lebih serius. Dari mana Bu Menkeu memperoleh dana 9 T ini?

Sedikit ilustrasi saya pernah dapat kabar bahwa SPP siswa SMA digratiskan. Dana SPP siswa SMA ini diperoleh dengan mengalihkan dana bantuan sosial untuk fakir miskin. Hal semacam ini bisa salah prioritas. Fakir miskin yang harusnya mendapat dana justru dipotong dibagikan untuk SPP SMA yang mungkin saja mereka orang-orang kaya.

Bu Menkeu tentu saja punya kajian dan dapat menjelaskan dengan baik sumber dana 9 T ini.

Dengan semangat, saling membantu, saling mengingatkan semoga kita semua bisa berkontribusi untuk memajukan pendidikan Indonesia.

Bagaimana menurut Anda?

Analisis Covid Tak Berguna

Saya beberapa kali menganalisis perkembangan kasus covid corona di Jogjakarta. Kota Yogya yang unik menjadi penting sebagai miniatur Indonesia.

Tetapi semua analisis covid tak lagi berguna. Bukan hanya di Jogja. Di semua tempat kehilangan makna. Karena semua bergeser ke vaksin. Asumsinya: tunggu vaksin maka semua akan selesai sendiri.

Gitu aja kok repot!?

Kurva Perjalanan Pandemi

Jogja masih bergerak menjauh dari kata selesai. Jauh dari mereda. Seharusnya kurva bergerak kembali ke titik O di kiri bawah.

Jogja masih terus cenderung bergerak ke atas dan ke kanan menunjukkan wabah pandemi masih terus terjadi.

Berada pada jarak 336 orang harus ditangani. Dengan kecepatan positif 0,7 orang per hari yang berarti masih terus bertambah. Seandainya berhasil melandai maka masih perlu waktu 130 hari untuk benar-benar selesai.

Kita lihat dari nilai Reproduksi R dalam sebulan terakhir nyaris di atas 1. Kalaupun berhasil di bawah 1 hanya bertahan sebentar saja. Jadi kondisi Jogja memang masih membara.

Mencegah Resesi

Tugas berat bagi Indonesia untuk mencegah resesi. Barangkali Jogja harus ikut menyumpang kenaikan ekonomi. Maka berbagai kegiatan ekonomi termasuk wisata harus digencarkan lagi.

Vaksin harusnya jadi andalan menahan resesi. Tapi vaksin baru tersedia Januari 2021. Dipercepat, jika bisa, Oktober 2020. Sementara jika sampai September 2020 ekonomi Indonesia masih minus maka secara resmi Indonesia masuk resesi.

Hanya tersisa satu bulan September ini untuk mencegah resesi. Apa bisa?

Tampaknya terlalu mahal bila harus mengorbankan kesehatan masyarakat luas demi menjaga citra tidak resesi.

Sekali lagi, vaksin menjadi harapan. Bisakah itu bukan harapan palsu?

Bosan PJJ Terbit 2021

Sudah membosankan. Boros kuota. Banyak tugas. Itu berapa keluhan PJJ – Pembelajaran Jarak Jauh. Ada luring, ada daring.

Tetaplah semangat! Kita punya rencana besar untuk reformasi pendidikan tahun 2021.

1.Transformasi kepemimpinan kepala sekolah. Kita akan memiliki kepada sekolah profesional. Mampu memimpin sekolah yang mengantarkan para siswa meraih sukses. Segenap guru dan pegawai sukses. Serta sekolah menjadi sukses juga. Masalah filosofis dampai teknis dapat ditangani oleh kepada sekolah profesional.

2.Transformasi pendidikan dan pelatihan guru. Ini yang paling ditunggu-tunggu.

Reformasi Pendidikan 2021

Reformasi dimulai dengan memilih menteri pendidikan yang tepat. Tapi malah ada yang usul agar mendikbud dipecat. Saya kira presiden tidak akan mencopot dalam waktu dekat. Masih ada waktu untuk reformasi cepat.

Apresiasi atas program Kartu Indonesia Pintar dan KIP Kuliah yang membantu sekitar 21 juta siswa dan mahasiswa di seluruh Indonesia. Dengan anggaran sekitar 18 T di tahun 2020. Terbukti IPM (Indeks Pembangunan Manusia) terus meningkat di tahun-tahun terakhir ini.

Masih banyak yang bisa ditingkatkan.

A.Tugas utama mendikbud adalah mempromosikan KIP ini di masyarakat. Agar masyarakat miskin terutama tahu bahwa bisa sekolah dan kuliah gratis. Sejauh ini banyak orang yang menilai bahwa sekolah itu mahal, apalagi kuliah. Dan mereka tidak tahu ada beasiswa itu.

Dengan pengalaman mendikbud mempromosikan gojek berhasil menjadi unicorn-decacorn, saya yakin, mendikbud juga akan berhasil mempromosikan beasiswa.

B.Mekanisme KIP yang jelas. Ini menjadi tantangan mendikbud tersendiri. Dengan sistem yang transparan masyarakat jadi tahu apa yang harus mereka siapkan untuk berhak mendapatkan beasiswa. Masyarakat lebih semangat untuk sekolah dan kuliah.

Selama ini masyarakat hanya tahu begitu saja tiba-tiba dapat KIP bagi yang beruntung. Yang tidak dapat KIP sulit untuk mengajukan ke mana. Lagi, dengan pengalaman mendikbud membangun sistem gojek yang keren, saya yakin mendikbud bisa membangun mekanisme transparan untuk KIP.

C.Menambah kuantitas KIP. RAPBN 2021 mengusulkan KIP bertambah mencakup sekitar 21 juta orang lebih sedikit. Tahun 2020 juga sekitar segitu – beda dikit.

Saya yakin kita bisa menaikkan KIP dua kali lebih besar misal mencakup untuk 50 juta orang siswa dan mahasiswa. Tentu butuh dana yang lebih besar. Dari tahun 2020 yang 18 T mungkin perlu 40 T di tahun 2021. Itu bagus saja untuk beasiswa.

Mendikbud yang sudah berhasil menggaet investor dari seluruh dunia untuk bergabung ke gojek saya kira akan berhasil pula menggaet “investor” pendidikan yang hanya perlu tambahan beberapa puluh trilyun rupiah.

Bagaimana menurut Anda?

(Bersambung)

Nilai Ketimpangan Optimis

Nilai ketimpangan n (dan rasio Gini G) pada dasarnya hanya bisa kita estimasi. Maka kita perlu yakin bahwa hasil estimasi kita itu bersifat optimis (baik sangka) atau pesimis (buruk sangka).

Kesimpulannya: nilai ketimpangan adalah estimasi optimis (baik sangka). Maksudnya adalah hasil estimasi kita cenderung lebih baik dari yang seharusnya. Kesimpulan kita ini juga bersifat estimasi.

Simulasi G = 0,38 dengan kurva mulus

Misalkan suatu populasi dengan nilai G = 0,38 (mirip Indonesia). Nilai estimasi dengan kurva mulus menghasilkan n =

Hasil estimasi n di atas yang akan sering kita pakai karena mudah dihitung dan optimis.

Estimasi kelas k = 100

Kurva mulus berasumsi bahwa ada kelas k sebanyak tak hingga kelas. Dalam prakteknya kita sering menggunakan nilai k berhingga. Dengan mengambil k = 100 dan jumlah deret Riemann trapesium kita peroleh estimasi n,

Hasil n = 2,2259 adalah lebih tinggi dari kurva mulus yang n = 2,2258. Jadi kurva mulus merupakan estimasi yang lebih optimis.

Estimasi kelas k = 10

Kita akan bandingkan dengan estimasi k = 10 berikut,

Hasilnya adalah k = 100 lebih optimis dari k = 10. Dan tetap kurva mulus paling optimis.

Estimasi k = 4

Agar lebih lengkap kita coba k = 4,

Mari kita rangkum dalam tabel.

Kelas kEstimasi nSifat
tak hingga2,2258sangat optimis
1002,2259optimis
102,2454pesimis
42,3596sangat pesimis

Bagaimana menurut Anda?

Target Gini 2021

Sedikit lagi hebat.

Tapi butuh perjuangan yang sedikit lagi itu. RAPBN 2021 memasang target Gini di 0,377 – 0,379.

Padahal bila turun sedikit di bawah 0,375 itu luar biasa.

Target RAPBN yang di atas 0,377 itu masih masuk klasifikasi buruk menurut nilai ketimpangan yang saya kembangkan. Hanya perlu turun 0,002 saja maka masuk klasifikasi sedang – moderat.

Saat Gini di atas 0,377 maka sekitar 25% penduduk Indonesia hanya mengkonsumsi sekitar 15% atau 10% dari rata-rata konsumsi Indonesia. Rata-rata konsumsi Indonesia sudah bagus masuk menengah atas yaitu sekitar 5 juta rupiah per orang per bulan. Tapi dengan Gini yang masih agak tinggi maka akan ada sekitar 70 juta orang Indonesia yang konsumsinya sekitar 500 ribu – 750 ribu rupiah per bulan.

Sedikit berbeda bila kita berhasil menurunkan Gini di bawah 0,375. Kondisi akan lebih baik yaitu 25% populasi termiskin menkonsumsi sekitar 20% dari rata-rata. Yang berarti ada sekitar 70 juta orang Indonesia yang konsumsinya 1 juta rupiah per bulannya – minimal. Anggap satu keluarga terdiri 4 orang maka mengkonsumsi, minimal, 4 juta rupiah per bulan. Cukup bagus meski tidak terlalu bagus.

Sayangnya rasio Gini memang tidak terlalu mudah dirasakan. Maka saya mengembangkan nilai ketimpangan n yang lebih intuitif. Semoga lebih memudahkan untuk mengurangi ketimpangan.

Bagaimana menurut Anda?

Corona Berakhir Dua Bulan

Kajian saya menunjukkan perlu waktu 2 bulan untuk mengakhiri corona covid 19 dalam suatu wilayah. Skenario tercepat ini saya sebut dengan skenario ketat. Jakarta dan Jawa Barat, yang saat ini nilai R di bawah 1, bahkan bisa mengakhiri corona lebih cepat. Perkiraan 1 bulan lebih beberapa minggu.

Skenario paling lambat adalah herd immunity. Perkiraan perlu waktu 10 tahun lebih untuk mengakhiri corona. HI, herd immunity, bisa lebih cepat dicapai bila vaksin ditemukan. Perkiraan 2 tahunan bisa berakhir.

Skenario yang juga lambat atau bahkan tidak berakhir adalah skenario normal. Di mana nilai R kadang naik atau turun. Maka pandemi corona tidak pernah berakhir. Kehidupan manusia mungkin saja beradaptasi pada kondisi ini. Sehingga dampak corona bisa sedang atau bahaya. Musiman.

Setelah corona berakhir, kehidupan tidak bisa kembali normal. Karena kehidupan normal adalah yang mengantar kita ke kondisi pandemi ini. Bahkan ketika sudah ditemukan vaksin pun tidak bisa kembali normal. Vaksin barangkali efektif untuk covid 19. Tetapi gaya hidup normal bisa terancam oleh covid yang lebih baru. Sehingga masyarakat perlu gaya hidup baru. Kita sebut saja new norm.

Multiskenario dan Tahapan

Jika covid bisa berakhir dalam 2 bulan seharusnya kita terapkan sejak Maret maka pada bulan Mei 2020 kita sudah bebas dari corona. Tidak bisa begitu. Kajian yang saya lakukan ini memerlukan histori Indonesia dalam menghadapi covid. Sehingga hanya ketika data histori mencukupi maka kita bisa menghasilkan kajian. Dan kita sudah punya histori yang cukup, data 3 bulan, untuk kajian. Estimasi saya setidaknya kita perlu data histori 1 bulan.

Perkembangan corona sensitif terhadap perilaku manusia. Ketika orang banyak berkumpul habis lebaran maka corona menyebar luas – bisa kita deteksi dari data 2 pekan kemudian. Sedangkan ketika banyak orang menjaga jarak saat pertengahan bulan puasa maka kasus corona juga mereda.

Maka kajian ini berbasis kepada multiskenario. Skenario yang berbeda akan menghasilkan estimasi waktu yang berbeda. Saya membagi menjadi 6 skenario: ketat, moderat ketat, moderat longgar, longgar, normal, dan HI.

Skenario ketat setara yang terjadi di Indonesia pertengahan Ramadhan, sekitar awal dan tengah Mei. Pada kondisi ketat ini, rata-rata kita mampu menurunkan R sebesar 2 poin per hari. (R = 1,00 = 100 poin). Skenario yang lebih longgar akan menurunkan R dengan poin yang lebih kecil.

Sedangkan kondisi saat ini, saya membaca Indonesia ada dalam skenario normal. Di mana nilai R kadang naik dan kadang turun. Sehingga ada resiko corona tidak pernah berakhir.

Skenario Ketat

Butuh waktu sekitar 2 bulan bagi Indonesia untuk mengakhiri covid dengan skenario ketat. Posisi R nasional = 1,11 setara dengan 111 poin. Perlu waktu 5 sampai 6 hari untuk turun ke bawah 1. Lalu konsisten di bawah 1 selama 14 hari, disusul dengan percepatan dan penyelesaian.

Apakah harus total lockdown untuk skenario ketat? Bisa lockdown, bisa PSBB, bisa juga yang lainnya. Yang penting kita harus memiliki indikator realtime untuk membaca pergerakan nilai R. Sehingga feedback dengan cepat kita peroleh untuk melakukan adjustment perilaku sosial agar tetap berhasil menurunkan R sekitar 2 poin per hari.

DKI Jakarta dan Jawa Barat pada kondisi yang lebih baik dari rata-rata nasional kita. Jakarta dan Jabar sudah di bawah 1 nilai R sejak awal bulan Juni. Maka selanjutnya diperlukan langkah konsistensi dan percepatan. Perkiraan cukup 1,5 bulan ke depan akan selesai. Dengan asumsi skenario ketat.

Tetapi Jakarta, pada 13 Juni 2020, kembali menyentuh R = 1,00. Ini akan memperlambat penyelesaian. Sedangkan Jabar juga kembali naik 3 poin meski masih di bawah 1.

Skenario Longgar

Skenario longgar mampu menurunkan nilai R sekitar 1/4 poin dalam 1 hari. Maka perlu waktu 40 hari untuk mencapai R = 1,00 dari semula 1,10. Dilanjutkan langkah konsistensi sampai penyelesaian perlu waktu 15 bulan. Setara 1,25 tahun. Tidak sebentar.

Meskipun tampak lama, lebih dari 1 tahun, skenario longgar bisa jadi pilihan yang menarik. Karena kehidupan masyarakat lebih longgar. Lebih nyaman. Bagaimana pun tetap perlu kemampuan membaca pergerakan nilai R secara realtime. Sehingga kita dapat menjaga agar penurunan R kisaran 1/4 poin atau lebih baik tiap harinya.

Skenario Normal

Barangkali ini adalah skenario paling mudah. Kita hanya hidup secara normal dan sedikit beradaptasi. Jika skenario normal menjadi pilihan maka kita perlu benar-benar sadar dengan resikonya: pandemi tidak berakhir, sewaktu-waktu terjadi ledakan orang sakit, fasilitas kesehatan tidak mencukupi dan lain-lain.

Tetapi skenario normal yang penuh perhitungan bisa saja berhasil. Ketika nilai R naik maka masyarakat merespon dengan hidup lebih ketat. Sehingga nilai R turun. Lalu bisa beradaptasi dengan normal lagi. Bagaimana pun kita perlu memiliki data pergerakan nilai R secara realtime untuk menjaga kondisi ini.

Data Nilai R Realtime

Apa pun skenario yang kita pilih maka kita memerlukan data R realtime agar bisa merespon dengan cepat. Metode perhitungan cepat, mudah, dan realtime sudah saya tuliskan pada tulisan saya sebelumnya.

Kita membutuhkan input data yang cepat dan realtime. Saya kira update data tiap 1 jam sudah memadai. Sehingga para pemangku kepentingan dapat memantau pergerakan nilai R tiap jam. Respon yang kita berikan menjadi tepat waktu, tidak lagi terlambat.

Pendekatan Black Box vs White Box

Kajian yang saya lakukan di sini adalah dengan pendekatan black box. Di mana saya mengkaji sistem perilaku masyarakat dari luarnya. Saya memantau pergerakan R dari perilaku masyarakat.

Kita masih memerlukan pendekatan white box untuk melengkapi. Di mana hubungan sebab akibat suatu perilaku dapat dijelaskan oleh para ahlinya masing-masing. Para epidemiolog, ahli kesehatan masyarakat, ahli kedokteran, dan lain-lain saling mendukung untuk merumuskan solusi terbaik.

Pendekatan black box ini mirip ketika kita mengendarai mobil di jalan tol bebas hambatan dengan kecepatan 100 km/jam (setara R = 1,00). Kita bisa membaca speedometer kecepatan 100. Bila ingin lebih cepat maka tancap gas kecepatan naik jadi 110 (setara R = 1,10). Kita hanya tancap gas tapi tidak tahu proses detil bagaimana hal tersebut mengakibatkan kecepatan jadi naik.

Bila kita ingin memperlambat maka bisa tambah rem sehingga kecepatan turun jadi 90 atau 80 (setara R = 0,80). Kita pun tidak tahu proses pasti pengereman ini. Kita bisa membaca speedometer bahwa kecepatan turun.

Tetapi bila bensin habis meski tancap gas mobil tetap berhenti sendiri kan? Itu mirip kasus herd immunity. Pada akhirnya berhenti sendiri.

Bagaimana menurut Anda?

Ketimpangan Internet

Saat internet sangat diperlukan masyarakat luas terjadi ketimpangan internet di banyak tempat. Di Indonesia ketimpangan antar provinsi sangat parah. Sedangkan kabar baiknya, bahkan sangat baik, bila kita lihat dari perspektif ketimpangan penetrasi. Nilai ketimpangan penetrasi antar provinsi sangat baik atau tidak ada ketimpangan.

Saya mengacu data terbaru dari APJI yang terbit tahun 2019 – hasil pengolahan data survey 2018.

1.Nilai ketimpangan wilayah buruk

Dari data kontribusi pengguna per wilayah saya analisis nilai ketimpangan n = 2,7 dan rasio Gini G = 0,47. Masuk dalam klasifikasi buruk. Maka kita perlu solusi pemerataan pengguna internet ke masing-masing wilayah.

Khususnya bagi wilayah yang kontribusi pengguna masih rendah perlu ditingkatkan. Untuk wilayah yang sudah berkontribusi tinggi juga masih bisa ditingkatkan. Tampaknya kontribusi masing-masing wilayah ini berkaitan dengan porsi nilai ekonomi. Maka meningkatkan kontribusi pengguna internet juga berdampak meningkatkan nilai ekonomi wilayah tersebut.

Kita dapat mengatakan pemerataan internet berdampak kepada pemerataan ekonomi.

2.Nilai ketimpangan provinsi sangat buruk

Analisis saya menghasilkan nilai ketimpangan n = 3,7 dan rasio Gini G = 0,57 yang masuk dalam klasifikasi sangat buruk. Dibanding dengan analisis antar 5 wilayah maka antar provinsi ini lebih buruk. Hal ini wajar saja kerena kita menganalisis sekitar 30 provinsi lebih. Tentu menemukan lebih banyak ketimpangan.

Kita perlu solusi untuk meningkatkan kontribusi dari masing-masing provinsi. Khususnya untuk provinsi yang masih rendah perlu strategi khusus untuk memperbaiki. Sekali lagi, memperbaiki ketimpangan internet juga diyakini akan ikut memperbaiki ketimpangan ekonomi. Pada gilirannya juga akan memperbaiki bidang lain seperti pendidikan, kesehatan, dan peradaban secara umum.

3.Nilai ketimpangan penetrasi sangat baik atau tidak timpang

Kabar baiknya adalah ketimpangan penetrasi antar provinsi tidak terjadi di Indonesia. Nilai ketimpangan rendah, sangat baik, atau tidak ada ketimpangan.

Analisis saya menunjukkan nilai ketimpangan penetrasi internet antar provinsi di Indonesia adalah n = 1,2 setara G = 0,10 adalah sangat baik, sangat rendah. Hal ini menunjukkan tidak terjadi ketimpangan antar provinsi dalam hal tingkat penetrasi pengguna internet. Prestasi ini perlu dipertahankan dan ditingkatkan.

Rata-rata penetrasi di angka 65% masih bisa ditingkatkan lagi. Meningkatkan penetrasi internet ini berdampak meningkatnya nilai ekonomi juga kesehatan dan pendidikan.

Khususnya masa pandemi seperti sekarang maka kita perlu terus meningkatkan akses internet serta mengarahkan untuk kepentingan positif yang lebih produktif.

Dari sudut pandang sebaliknya kita bisa mengatakan sekitar 35% populasi belum mengakses internet. Pertanyaan bagaimana pendidikan jarak jauh online bisa dilakukan untuk mereka? Tentu perlu jawaban yang tepat untuk menangani ini.

Mengacu data di awal, bahwa pertumbuhgan internet Indonesia sekitar 10% per tahun, maka perlu waktu 5 tahun agar seluruh provinsi dapat mengakses internet dengan penetrasi mendekati 100%. Pada kondisi ini, kita berharap terjadi peningkatan dan pemerataan ekonomi, pendidikan, dan fasilitas kesehatan.

Bagaimana menurut Anda?

Bencana Pendidikan

Bencana kesehatan merembet ke bencana pendidikan. Sebelumnya sudah merembet ke bencana ekonomi. Seharusnya kita bisa mencegah bencana pendidikan. Berbagai macam terobosan pendidikan bisa kita munculkan.

Saya setuju dengan Salman Khan, “… digital faculty won’t ever be an ideal alternative for in-person faculty, …”

Belajar online (PJJ) tidak akan pernah bisa menggantikan belajar tatap muka. Saya juga senang bahwa kemetrian sudah merespon keluhan tentang PJJ. Saya sendiri mengusulkan “belajar tatap muka bukan sekolah tatap muka.”

Bagaimana pun di sini saya akan mencoba diskusi sedikit lebih dalam peluang belajar online sebagai penyelamat dari bencana pendidikan.

1.Perbedaan belajar online sinkron vs asinkron

Umumnya orang berpikir belajar online adalah proses belajar sinkron. Di mana guru mengajar di jam belajar dan siswa mendengar, menonton, belajar, dan aktivitas penunjang di saat yang sama. Itu adalah tipe belajar sinkron.

Sebaliknya, tipe belajar asinkron (tidak sinkron, tidak bersamaan) adalah belajar online dengan waktu yang berbeda. Misal belajar melalui media video rekaman youtube. Saya sudah merekam video bulan Juni dan saya upload di youtube. Tetapi siswa mempelajarai video saya di bulan Agustus.

2.Manfaatkan sinkron dan asinkron

Kita perlu memanfaat dua mode belajar online di atas: sinkron dan asinkron. Tetapi karena banyak guru yang mengira belajar online harus sinkron maka ini menjadi tugas yang berat. Akibatnya belajar online justru tidak berlangsung. Guru cukup memberikan tugas, soal, atau pekerjaan rumah untuk siswa. Guru tidak mengajar sama sekali, atau sedikit sekali.

Itulah keluhan siswa dan orang tua.

Guru akan lebih mudah mengajar dengan mode asinkron seperti yang saya lakukan melalui youtube.

3.Manfaatkan belajar sinkron untuk interaksi sosial

Tujuan utama belajar online mode sinkron adalah untuk interaksi antar siswa dan guru. Sedangkan materi belajar cukup sedikit saja. Mode sinkron bisa dilakukan dengan Zoom, WA, FB, youtube live, dan lain-lain.

Guru bisa memberi materi pengantar sekitar 5 menit di awal sambil menyapa para siswa. Lalu memberi soal latihan sederhana yang tujuannya untuk menjalin interaksi. Barangkali mode sinkron cukup hanya 30 – 45 menit per hari.

Untuk pendalaman materi manfaatkan asinkron.

4.Manfaatkan asinkron untuk pendalaman materi

Guru bisa lebih leluasa ekplorasi dengan mode belajar online asinkron. Membuat video dengan beragam gaya. Bisa juga dengan merekam audio tanpa gambar. Penggunaan tulisan berupa file word, ppt, pdf, dan lain-lain. Bahkan game digital juga bisa kita buat untuk proses belajar asinkron lebih kreatif.

Mode asinkron ini juga memberi keleluasaan guru bebas kapan saja menyiapkan materinya. Tidak terikat waktu belajar.

Lebih menarik lagi, mode asinkron memungkinkan guru memanfaatkan materi ajar dari guru lain. Misal MGMP bisa sharing suatu materi unggulan lalu dimanfaatkan oleh semua guru di kabupaten bersangkutan.

Lebih luas lagi, guru bisa memanfaatkan sumber belajar di luar. Misal memanfaatkan video pembelajaran matematika kreatif dari canel youtuber paman apiq.

5.Membuat video belajar bukan membuat movie

Kesalahan besar para pendidik adalah memposisikan diri sebagai bintang film ketika hendak mengajar di depan kamera.

Itu tugas yang sangat berat. Pun tidak masuk akal. Bayangkan membuat sebuah movie barangkali perlu waktu 1 tahun atau 2 tahun. Tetapi guru harus mengajar tiap hari. Mana bisa waktu 1 tahun dimampatkan jadi 1 hari?

Maka kita perlu metode membuat video pembelajaran yang bisa dilakukan tiap hari. Saya sudah mengembangkan metode itu dengan program “edutuber nasional.” Hanya dengan bekal HP biasa maka guru bisa memproduksi video pembelajaran setiap saat.

Dalam hal ini saya tidak sepakat dengan Salman Khan, “…that some academics are replicating their lectures in YouTube video kind, and this has been extremely time consuming and depleting for them.”

Dia menyatakan bahwa membuat video banyak menghabiskan waktu. Tapi saya sudah menunjukkan membuat video justru menghemat banyak waktu. Bila kita tahu caranya.

Sedikit ilustrasi barangkali menjadi lebih jelas. Mendorong sepeda motor dari rumah ke sekolah adalah tugas melelahkan. Apalagi jaraknya lebih dari 3 km. Mungkin perlu waktu 30 menit plus mandi keringat.

Kasus akan berbeda bila kita tidak mendorong sepeda motor dengan tenaga kita. Tapi kita mengendarai motor tersebut. Dengan santai kita berkendara. Mudah saja. Barangkali 5 menit sudah tiba ke tujuan sambil penuh senyuman.

Demikian juga membuat video pembelajaran di youtube memang susah bila Anda “mendorongnya.” Tapi menjadi sangat mudah bila Anda “mengendarainya.” Tentu saja kita perlu belajar untuk “mengendarainya.”

Semoga berbagai usaha kita berhasil mencegah bencana pendidikan.

Bagaimana menurut Anda?

Solusi Jebakan Optimis

Optimis bisa menjebak Anda ke jurang kehancuran. Bila Anda seorang pemimpin maka optimis bisa membawa rakyat Anda terjerumus dalam derita. Solusinya? Hindari jebakan optimisme.

Orang sering meremehkan pesimisme dan terlalu mengandalkan optimisme. Itu bahaya!

Padahal kita bisa memanfaatkan sikap pesimis untuk kemajuan bersama. Dan untuk menghindari jebakan optimisme.

Untuk membahas lebih lanjut saya membagi situasi menjadi 4 kuadran.

1.Kuadran Optimis Positif

Kuadran paling sempurna. Sepakat semua orang. Yang terbaik adalah bersikap optimis dan positif. Orang-orang semangat ada di sini. Pemimpin besar dunia adalah orang yang semangat. Soekarno membakar semangat rakyat Indonesia untuk merebut kemerdekaan.

Pemimpin dalam skala kecil pun perlu optimis dan positif. Seorang tukang becak yang optimis dapat menyekolahkan anaknya sampai lulus sarjana. Berhasil mengentaskan kemiskinan keluarga besar. Mengangkat nama baik keluarga. Berdampak positif.

2.Kuadran Optimis Negatif

Sulit dipercaya, orang optimis akhirnya gagal total. Rugi uang, waktu, dan segalanya.

Seorang broker datang menawari investasi. Profit menjanjikan. Dikelola profesional. Aman. Tuan Optimis sepakat untuk investasi senilai 30 juta rupiah. Bulan pertama bagi hasil 3 juta rupiah. Luar biasa.

Bulan kedua bagi hasil 3 juta rupiah lagi. Makin hebat. Bertambahlah orang-orang ikut investasi. Bagi hasil menggiurkan. Bulan ketiga untung makin besar. Bulan keempat hancur lebur. Si broker adalah penipu.

Apakah Anda pernah menemukan kisah penipuan semacam di atas? Pernahkah optimis mengikuti peta online sampai nyasar ke jalan buntu? Pernahkah percaya kepada seseorang yang akhirnya dia berkhianat?

Jika sikap optimis negatif: ceroboh ini hanya terjadi pada seorang pribadi barangkali dampaknya ringan. Tetapi bila terjadi terhadap seorang pemimpin negara maka bisa bahaya. Seorang menteri pun berbahaya.

Menghadapi pandemi, sifat ceroboh pemimpin sangat merugikan seluruh warga. Covid tidak akan bisa masuk negara kita. Warga negara akan sembuh dengan sendirinya. Kita punya semua penangkal covid.

3.Kuadran Pesimis Negatif

Barangkali semua sepakat ini adalah kuadran terburuk. Sudah pesimis negatif pula. Hidup merana.

Tidak punya harapan melunasi hutang. Dikejar-kejar penagih. Stress. Terjun dari lantai tiga.

Kesepian di ruang isolasi covid. Frustasi. Menerobos dari jendela lantai lima sempat melayang beberapa saat.

Merana, sedih, menderita, frustasi, sakit-sakitan, komplikasi, dan lain-lain berkumpul di kuadran ini. Maka bagaimana pun kita harus menghindar dari kuadran pesimis negatif. Harus mencegah masyarakat luas tidak terjerumus di dalamnya.

4.Kuadran Pesimis Positif

Ini kuadran paling penting: pesimis positif. Apalagi dalam situasi genting seperti pandemi maka kita butuh pemimpin yang bersikap pesimis positif: waspada.

Pemimpin pesimis, dia khawatir rakyat akan terserang covid. Maka menyusun rencana untuk mencegahnya. Plan A itu, dirasa kurang sempurna, maka pemimpin membuat plan B yang lebih bagus lagi.

Karena kondisi ekonomi makin sulit maka pemimpin menyiapkan program melindungi rakyat. Dia pesimis bahwa aparatnya tidak akan menyalurkan bantuan dengan cepat efektif. Maka pemimpin menyusun strategi untuk mencari terobosan. Lagi, pemimpin itu pesimis terobosan A akan berhasil maka dia menyusun strategi XYZ.

Dan seterusnya, pemimpin berhasil menjaga negara dari dampak pandemi mau pun ekonomi. Tetap terdampak tetapi minimal saja.

Diskusi

Mana yang terbaik dari 4 kuadran di atas?

Jelas kuadran 2 dan 3 kita tolak. Berdampak negatif. Baik pesimis atau pun optimis.

Pilihan kita tinggal kuadran 1 dan 4 saja. Berdampak positif baik optimis mau pun pesimis. Kita memerlukan kuadran kanan ini. Hanya saja kita perlu pintar-pintar memilih mana yang lebih tepatnya sesuai situasi dan kondisi.

Jika kondisi aman, normal, damai maka kita perlu bersikap optimis positif. Kita juga membutuhkan pemimpin optimis positif. Bergerak cepat maju dengan inovasi-inovasi berani. Sukses.

Tetapi jika situasi sedang genting maka sikap optimis positif ini, tanpa sadar, bisa tergeser menjadi optimis negatif: ceroboh.

Pada situasi genting kita perlu bersikap pesimis positif.

Pernikahan Optimis Pesimis

Bagaimana pasangan keluarga yang harmonis? Dari beberapa penelitian menunjukkan bahwa sikap optimis pesimis bersikap relatif permanen. Seorang optimis akan tetap optimis dalam rentang waktu yang cukup lama. Begitu juga orang pesimis.

Untuk berubah dari pesimis ke optimis atau sebaliknya butuh usaha besar. Bahkan bisa gagal. Maka bagaimana pasangan suami isteri yang ideal?

Pasangan Optimis Pesimis

Pasangan ini terbukti harmonis. Berhasil membangun rumah tangga yang bahagia. Ketika kita bertanya kepada orang yang optimis mereka sepakat, “Karena ada yang optimis pasti bisa bahagia.” Ketika kita bertanya kepada orang pesimis mereka juga sepakat, “Karena ada yang pesimis maka mereka selamat.”

Pasangan Pesimis Pesimis

Sepakat lagi: pasangan pesimis-pesimis, sebagian besar, gagal membangun rumah tangga ideal. Survey juga mengkonfirmasi.

Pasangan Optimis Optimis

Terjadi respon yang berbeda di sini.

Orang optimis yakin pasangan optimis-optimis akan berhasil membangun rumah tangga ideal. Pasangan ini akan saling mendukung.

Orang pesimis merespon bahwa pasangan optimis-optimis akan gagal membangun rumah tangga ideal. Mereka akan terjerumus karena angan-angan.

Anda optimis atau pesimis?

Orang optimis menjawab, “Betul, saya optimis.”
Orang pesimis menjawab,”Tidak, saya tidak pesimis. Saya realisitis.”

Bagaimana menurut Anda?