Solusi Covid-19: Model Matematis

Tampaknya mudah saja. Ternyata tidak semudah tampaknya.

Solusi untuk corona ada tiga saja. Pertama, perilaku manusia. Kedua, inovasi meningkatkan kesembuhan. Dan ketiga, menemukan vaksin.

Saya membuat model matematika untuk menyusun solusi covid-19. Sebagian besar sudah tuntas. Tetapi sebagian lebih besar masih perlu terus dikembangkan.

  1. Angka reproduksi virus R sudah bisa kita hitung dengan mudah. Sementara kita bisa mengandalkan laporan resmi dari gugus tugas. Sedangkan untuk memperoleh kasus aktual barangkali kita bisa melakukan beberapa koreksi yang diperlukan.

Pembuktian matematis angka R dan cara praktis menghitung sudah saya tuliskan di tulisan-tulisan saya sebelumnya. Silakan kunjungi beberapa di antaranya ada di pamanapiq.com .

2. Simulasi total kasus corona ke depan berdasar nilai R. Mudah saja kita dapat membuat simulasi setelah memperoleh nilai R. Lebih mudah lagi bila kita asumsikan nilai R ada pada rentang tertentu.

Misal untuk Jabar, berdasar data-data yang ada, nilai R kadang di bawah 1 dan di atas 1. Maka bisa kita simulasikan dan hasilnya jelas. Total kasus corona akan terus bertambah. Meski pun total kasus aktif kadang turun lalu naik lagi tanpa pernah berhenti.

Untuk keperluan simulasi kita memanfaatkan persamaan sederhana total kasus aktif.

a[h] = R*a[h-I]

Dari sini kita estimasi total kasus positif.

c[h] = c[h-I] + b

b = kasus baru; Kita estimasi proporsional terhadap a[h]. Jika R > 1 maka b cenderung besar.

3. Manajemen meredakan covid.

Bagian selanjutnya saya menyusun model untuk mengendalikan covid. Barangkali ini paling penting. Tujuan awal adalah menurunkan nilai R ke bawah 1 untuk kemudian R = 0 secara konsisten.

Ditemukannya vaksin yang terjangkau dapat menjadi solusi. Tapi masih harus menunggu waktu yang tidak tentu.

Alternatif yang lebih pasti adalah dengan menajemen perilaku dan inovasi meningkatkan angka kesembuhan.

Parameter perilaku P yang naik, gaya hidup bebas, akan menyebabkan R naik pula dan virus makin menyebar. Sementara kenaikan angka sembuh S akan membuat R makin turun.

Parameter P benar-benar hanya parameter. Sehingga arti nyata dari nilai P barangkali tidak pernah kita ketahui. Kita hanya bisa mengartikan kenaikan atau penurunan nilai P. Juga kita tidak bisa membandingkan nilai P dari sistem satu ke sistem lainnya. Beda sistem maka P juga beda makna.

Sedangkan nilai S juga bisa sekedar parameter seperti P. Tetapi S dapat juga berupa nilai hasil pengamatan yaitu banyaknya orang sembuh dibagi dengan banyaknya orang total aktif. Saya biasanya mengambil banyaknya orang sembuh harian.

Koreksi stokastik

Dari model yang dikembangkan kita bisa menghitung semua besaran ketika tersedia data yang diperlukan. Tetapi beda hal bila kita harus memprediksi kondisi masa depan.

Kita perlu memasukkan faktor koreksi stokastik agar memperoleh hasil yang lebih akurat. Dengan memasukkan parameter terbaru maka perlu kita cek dua besaran terpenting yaitu kasus baru dan perubahan kasus aktif (positif atau negatif).

Umumnya, jika R > 1 maka kita perlu mengalikan dengan faktor koreksi yang lebih besar dari 1 juga kepada kasus baru. Hal ini dapat kita pahami sebagai akibat dari proses stokastik. Misal, kasus covid-19 bahwa kasus baru tidak hanya disebabkan oleh kasus aktif pada h – I saja. Barangkali ada pengaruh kasus aktif pada h-1, h-2, dan lainnya.

Hal yang sama juga perlu kita mengalikan dengan faktor koreksi kepada perubahan total kasus aktif.

Setelah kita peroleh parameter-parameter yang diperlukan maka kita dapat melakukan simulasi dan prediksi ke masa depan.

Simulasi dan Prediksi

Kita banyak memanfaatkan parameter stokastik. Maka perubahan paramater disarankan untuk menggunakan perkalian.

Misal parameter P = 8%. Daripada menyatakan penambahan P menjadi P = 8% + 4% = 12% maka lebih baik perkalian,

P = 8% x 1,5 = 12%

Untuk pengurangan dapat kita ubah menjadi perkalian dengan bilangan kurang dari 1.

Dari pada

P = 8% – 4% = 4%

maka lebih baik,

P = 8% x 0,5 = 4%.

Perubahan berupa perkalian ini menjamin aman, kita terhindar dari bilangan negatif dan pembagian oleh 0.

Bagaimana menurut Anda?

Jejak Amerika Juara Corona

Covid-19 terus melonjak. Amerika menembus di atas 3 juta orang terinfeksi. Dalam sehari bisa lebih 60 ribu kasus positif baru. Di dunia pun penambahan sehari bisa lebih 200 ribu orang.

Apakah Indonesia akan menyusul Amerika yang sudah juara? Anda bisa menebaknya sendiri. Penduduk usa ada 300 juta orang lebih sedikit. Sedangkan penduduk Indonesia 300 juta kurang sedikit.

Pertumbuhan kasus di Amerika sekitar R = 1,07 (bisa lebih) adalah cukup besar.

Meski begitu, Presiden Trump mengklaim, secara salah, bahwa 99% kasus corona tidak bahaya sama sekali.

Apa yang akan terjadi berikutnya di Amerika masih tanda tanya besar. Saya membuat beberapa simulasi untuk Amerika sang juara corona. Barangkali kita bisa belajar dari usa untuk menghindari atau meniru mereka.

Jika angka reproduksi R berkisar di atas 1 kadang di bawah 1 maka kasus tidak akan selesai.

Kasus melonjak mencapai 37 juta orang dalam 40 pekan ke depan. Total aktif sempat terendah di bawah 1 juta tapi bisa naik lagi sampai 2,5 juta. Ini jumlah orang yang terlampau besar untuk dirawat di rumah sakit.

Tetapi dua bulan terakhir saya tidak melihat nilai R di bawah 1. Hampir konsisten di atas 1 nilai reproduksi corona di Amerika. Maka saya buatkan simulasi dengan R = 1,03 konsisten.

Total kasus terus menanjak mencapai 85 juta orang lebih di 40 pekan (10 bulan) ke depan. Total kasus aktif saat itu lebih dari 7 juta orang. Jumlah orang meninggal tentu saja banyak. Barangkali sekitar 3 jutaan orang.

Tentu saja ini kasus yang sangat berat.

Pelajaran apa yang bisa kita ambil dari Amerika?

Kang Emil, Kami Siap Dipimpin: Covid-19

Jawa Barat menghenyakkan Indonesia. Jadi juara dalam penambahan kasus baru sehari kemarin: 962 orang. Plus ada kluster baru, seberang jalan rumah saya, Secapa AD ada 1262 kasus positif.

Sekaligus Indonesia mencetak rekor yang teramat tinggi: 2657 kasus baru dalam sehari. Tapi jangan sombong karena sehari sebelumnya, usa juga mencetak rekor di atas 60 000 kasus baru positif dalam sehari.

Saya ingin menyampaikan suara pribadi, dan barangkali warga Jabar umumnya, “Kang Emil, kami siap dipimpin menghadapi covid-19. Kami dukung program-program Kang Gubernur menangani corona. Pimpin kami ke jalan yang lurus, Kang!”

Ayo warga Jabar kita hadapi pandemi sepenuh hati. Demi masa depan kita dan anak negeri. Kita bisa berkontribusi.

Apa resiko bila gagal menghadapi pandemi?

Resiko seperti saya tampilkan di grafik di atas. Bila kita berperilaku mirip-mirip dengan akhir Juni dan awal Juli maka akan ada 17 ribuan total kasus corona di Jabar pada 8 Agustus 2020. Dan sekitar 11 ribuan orang di antaranya masih harus dirawat. Tentu ngeri. Melebihi DKI bahkan Jatim.

Apa yang bisa kita lakukan?

  1. Menurunkan nilai R

Nilai R di bawah 1 maka pandemi mereda. Maka kita perlu terus membaca setiap saat pergerakan nilai R. Saya sudah membuat grafik nilai R tiap hari update, silakan cek di pamanapiq.com/covid .

2. Manajemen prilaku

Baik secara pribadi atau terpimpin kita perlu manajemen perilaku. Akhir Juni, parameter perilaku Jabar naik di atas 10% sampai menembus 20%. Kita perlu menurunkannya misal menjadi P = 5% maka pandemi berangsur mereda.

Caranya jaga jarak, pakai masker, cuci tangan, hindari keramaian, dan lain-lain. Saya berharap K Emil mempunyai dashboard yang menampilkan parameter perilaku dan nilai R realtime. Kita bisa membuatnya. Kita punya ITB di Tamansari Ganesha.

Jika berhasil menurunkan perilaku jadi P = 5% maka kita mampu menahan kasus hanya di 6000 total pada 8 Agustus. Meskipun masih ada 3000 lebih kasus aktif yang masih dirawat. Ini hasil yang cukup bagus.

3. Meningkatkan angka kesembuhan

Angka kesembuhan Jabar 1,7% bisa ditingkatkan menjadi 3,4% maka seperti grafik di atas.

Semoga kita beruntung dapat meningkatkan angka sembuh menjad S = 6,8% maka seperti grafik di bawah ini.

Nilai R berhasil turun jadi 0,977 dan wabah mulai mereda.

Semoga kita semua sehat selalu!

Bagaimana menurut Anda?

Meredakan Pandemi dari Jogja

Yogyakarta selalu unik. Masa pandemi tetap unik. Kita bisa banyak belajar untuk menyelesaikan pandemi covid-19 dari Jogja.

Pada bulan Juni 2020, pandemi di Jogja sudah hampir reda. Nilai reproduksi R sebagian besar di bawah 1. Menandakan wabah memang mereda. Total kasus aktif pun terjadi di sekitar 40an orang. Dan makin berkurang.

Meski total kasus positif sekitar 200 tapi sebagian besar sudah sembuh. Angka kematian juga terbilang rendah.

Corona, bagaimana pun, memang dinamis. Awal Juli 2020 kondisi berubah. Nilai R menanjak ke atas 1 dan bahkan 8 Juli 2020, R = 1,32. Lebih besar dari R nasional. Pandemi di Jogja berkembang lagi.

Kasus aktif yang semula 42 orang melonjak jadi 56 orang di 8 Juli 2020. Angka kesembuhan termasuk tinggi S = 5,36%. Sayangnya parameter perilaku juga tinggi P = 24,40%.

  1. Skenario normal Yogya makin membara

Solusi apa yang tersedia untuk Yogya? Tentu ada. Semoga segera mereda. Pertama mari kita lihat apa yang akan terjadi bila skenario normal ini berlanjut.

Total kasus menjadi 1057 orang pada 1 September. Total kasus aktif melonjak 676 orang. Tentu hal ini tidak boleh terjadi. Maka solusi manajemen perilaku perlu diterapkan.

2. Manajemen perilaku sosial menekan wabah

Solusi pertama yang bisa kita lakukan adalah dengan manajemen perilaku. Kita bisa memperketat perilaku, misal disiplin pakai masker, jaga jarak, rajin cuci tangan, dindari kerumunan. Misal berhasil menekan P = 20% menjadi P = 10%.

Berhasil menahan laju wabah. Tetapi total kasus masih tinggi 475 orang di 1 September 2020. Bahkan total kasus aktif masih 139 orang. Maka kita perlu kombinasi dengan meningkatkan angka kesembuhan.

3. Meningkatkan angka kesembuhan

Bagaimana pun kita ingin pasien corona sembuh semua. Butuh usaha keras untuk meningkatkan angka kesembuhan. Misal kita berhasil meningkat dari S = 5% menjadi S = 10% maka dampaknya bagus.

Berhasil menahan total kasus aktif di 87 orang pada 1 September. Tetapi angka R = 1,06 masih terlalu tinggi.

Maka kita perlu manajemen perilaku yang lebih ketat lagi agar pandemi mereda.

Berhasil. Total kasus aktif tinggal 31 orang di 1 September. Pun nilai R = 0,91 sudah di bawah 1. Maka pandemi segera mereda di Yogya.

Pelajaran untuk Indonesia

Saya berharap kita bisa belajar banyak dari Yogya. Kita bisa memandang Yogya sebagai miniatur Indonesia. Apa yang berhasil di Jogja maka bisa dikopi untuk diterapkan di seluruh Indonesia. Pun apa yang gagal di Jogja perlu dicegah agar tidak terjadi di Indonesia.

Sedikit catatan tentang perilaku di Jogja. Penularan terakhir, di antaranya, terjadi dari seorang nakes. Di sini kita gagal melindungi nakes dari serangan virus. Maka perlu “perlindungan mumpuni” untuk seluruh nakes kita.

Testing yang cepat sangat penting. Nakes yang positif tidak segera diketahui bahwa dia positif. Sudah terjadi penularan, transmisi lokal, kepada suami dan seorang anak dari nakes tersebut. Lagi, kita perlu sistem yang lengkap melindungi nakes dan orang-orang dekat nakes.

Kasus lainnya adalah berasal dari orang luar Jogja atau orang Jogja yang keluar lalu masuk kembali ke Jogja. Ternyata mereka positif. Dan berpotensi menularkan ke penduduk Jogja. Di sini kita perlu sistem yang lengkap bagaimana orang dari luar agar tetap aman bagi warga Jogja.

Contoh hal-hal di atas adalah yang menyebabkan parameter perilaku P meningkat. Kita perlu manajemen perilaku agar parameter turun. Reproduksi turun. Dan wabah berakhir.

Jogja juga bisa kita pandang sebagai laboratorium Indonesia. Mari bersatu melawan corona. Semoga segera mereda.

Bagaimana menurut Anda?

Anies Baswedan Vs Kang Emil: Adil?

Saya bingung juga. Reproduksi virus di Jakarta R di bawah 1. Tandanya virus mulai mereda. Pak Anies sukses.

Semoga covid-19 segera mereda.

Sedangkan di Jawa Barat, nilai R lebih dari 1. Artinya wabah masih terus berkembang. Maka Kang Emil, sebagai gubernur, belum berhasil meredakan pandemi?

Bisakah disimpulkan bahwa kondisi pandemi Jakarta lebih baik dari Jabar?

Dari sisi nilai R memang benar. DKI sudah mereda. Jabar masih membara.

Tapi dari ukuran jumlah kasus bisa beda. Di Jabar hanya ada sekitar 1800 kasus aktif. Sedangkan di Jakarta ada hampir 4000 kasus aktif. Jakarta dua kali lebih besar dari Jabar, beratnya, dalam menangani kasus aktif corona.

Jadi, saya pikir mempertimbangkan R saja tidak adil. Maka R harus disandingkan dengan besaran lain. Saya mendefinisikan,

M = masa = melandai = magnitude,

dalam satuan hari.

Misal Jakarta, R = 0,96 dan M = 185 hari. Bermakna kasus mulai mereda karena R di bawah 1. Dan dibutuhkan waktu sekitar 185 hari sampai kasus benar-benar selesai.

Sedangkan Jabar, R = 1,25 dan M = 168 hari. Bermakna wabah di Jabar memang masih membara karena R lebih dari 1. Tapi hanya dibutuhkan waktu 168 hari untuk menyelesaikan kasus agar benar-benar selesai.

Jadi, Jabar lebih baik dari Jakarta? Karena lebih cepat mereda kasus coronanya? Silakan dijawab masing-masing.

Saya menghitung M dengan asumsi bahwa wilayah tersebut berhasil menurunkan R = 0,80 secara konsisten. Kasus dianggap selesai bila hanya ada kurang dari 1 orang yang aktif covid-19 (sama saja 0 kasus aktif).

n adalah satuan waktu dalam 5 harian sesuai periode inkubasi virus corona.

Maka saya mengubahnya menjadi harian dengan besaran M,

Misal kita pilih kasus aktif a = 4000

Solusi M = 185 hari adalah mirip dengan kasus di DKI Jakarta.

Sedangkan untuk kasus aktif a = 1800, mirip Jabar,

Solusi M = 167 hari juga mirip dengan kasus Jabar.

Bagaimana menurut Anda?

Amerika Vs Jogja untuk Indonesia

Amerika merupakan potret terburuk di dunia dalam menghadapi pandemi covid-19. Dari 12 jutaan orang di dunia terjangkit corona, ada 3 jutaan sendiri dari USA. Korban jiwa pun lebih dari 100 ribu orang.

Tapi Amerika bukan Indonesia!?

Meskipun banyak hal mirip juga antara usa dan Indonesia. Jumlah penduduk sama-sama 300 jutaan jiwa. Pada tulisan ini saya akan membahas sedikit perkembangan corona di Indonesia, usa, dan Jogja.

  1. Covid-19 di Indonesia masih membara

Sebagian besar wilayah di Indonesia sudah bebas. Tidak ada lagi pembatasan sosial. Maka diharapkan roda ekonomi mulai berputar. Di saat yang sama belum ada tanda-tanda corona mereda.

Awal Juli kasus positif sudah di atas 60 ribu orang. Diprediksi akan mencapai 91 ribu orang lebih di awal Agustus. Dengan angka reproduksi R = 1,10 maka wabah masih terus melanda.

Perlu manajemen perilaku untuk menurunkan parameter perilaku dari 11% menjadi 5% atau ke bawah. Semoga angka kesembuhan makin tinggi di atas 3% atau lebih. Berharap R bisa turun di bawah 1.

Seandainya R = 0,8 konsisten maka perlu waktu 232 hari untuk meredakan covid-19 di Indonesia.

2. Corona di Amerika jadi pembelajaran dunia

Warga dunia bisa belajar dari kasus usa menghadapi covid-19. Sangat mahal resiko yang harus ditanggung Amerika.

Diprediksi pada tengah Agustus akan menembus 4 juta kasus di Amerika. Dan ada 2 juta lebih yang harus dirawat. Beban yang sangat berat.

Sedangkan nilai R = 1,05 belum menunjukkan tanda-tanda menurun.

Manajemen perilaku di usa cenderung bebas akhir-akhir ini cukup mengkhawatirkan. Angka kesembuhan juga hanya 1,4% tidak terlalu tinggi.

Seandainya berhasil menurunkan R = 0,80 konsisten maka perlu waktu 320 hari untuk meredakan kasus – hampir 1 tahun penuh.

Untung saja Indonesia tidak menanggung beban seberat Amerika. Mereka masih punya dolar dalam jumlah besar.

3. Jogja miniatur Indonesia yang dinamis

Yogyakarta hampir saja berhasil menekan corona sampai pertengahan Juni. Sayang sekali R naik ke atas 1 pada awal Juli 2020 ini.

Sulit sekali memprediksi kondisi Jogja akhir-akhir ini. Tiba-tiba nilai R melompat jauh di atas 1. Maka berpotensi ada 624 kasus total di akhir Agustus 2020. Sedangkan kasus aktif ada 285 orang. Ini jauh lebih tinggi dari kasus aktif sekarang yang di kisaran 50 orang.

Padahal angka kesembuhan cukup bagus di 5% yang lebih tinggi dari nasional dan usa sekali pun.

Maka di Jogja diperlukan manajemen perilaku yang efektif menurunkan parameter perilaku P = 20% menjadi 10%. Selanjutnya turun lagi menjadi 5%. Dan berangsur wabah mereda.

Seandainya berhasil menurunkan R = 0,80 secara konsisten maka perlu waktu 86 hari untuk meredakan wabah.

Saya berharap pemerintah pusat dapat menjadikan Jogja sebagai miniatur Indonesia. Melakukan uji coba manajemen perilaku di Jogja. Jika berhasil maka bisa disebarkan ke seluruh Indonesia.

Dengan serius menangani Jogja maka kita akan memperoleh banyak data-data penting tentang corona. Kita bisa menganalisis untuk kemudian menghasilkan kesimpulan.

Jika suatu pendekatan perilaku di Jojga gagal, misalnya, maka kita bisa mengkajinya. Lalu memperbaikinya. Pengalaman menangani Jogja menjadi data nyata untuk mengambil keputusan tingkat pusat. Tidak hanya berdasar kira-kira saja.

Bagaimana menurut Anda?

Manajemen Perilaku untuk Mengakhiri Pandemi Covid-19

Manajemen perilaku menjadi tumpuan utama untuk mengakhiri pandemi corona di suatu daerah. Bahkan untuk dunia. Didukung dengan meningkatkan angka kesembuhan maka akhir pandemi diharapkan segera terjadi.

Indikator utama akhir pandemi adalah nilai R di bawah 1 secara konsisten lalu nilai R menjadi 0 untuk waktu selanjutnya.

Berikut ini studi kasus strategi manajemen perilaku untuk mengakhiri pandemi di suatu daerah. Saya memanfaatkan model matematika dan sistem dinamik untuk analisis dan merumuskan rekomendasi solusi.

  1. Kondisi saat ini R = 1,45

Nilai R di atas 1 menunjukkan bahwa wabah corona masih terus menyebar di daerah tersebut. Angka R = 1,45 tergolong tinggi karena lebih besar dari nasional Indonesia R = 1,12. Maka langkah awal adalah fokus untuk menurunkan R menuju 1 atau ke bawah.

Angka R = 1,45 memprediksi bahwa, misalnya, hari ini ada 100 orang kasus aktif maka 5 hari ke depan akan ada 145 orang kasus aktif. Dan dalam 10 hari ke depan ada sekitar 200 orang aktif. Bila kasus aktif semula lebih kecil maka kasus akhir juga lebih kecil.

2. Skenario normal bisa melonjak

Jika kondisi dibiarkan maka kasus aktif akan makin bertambah dan tentunya total kasus makin banyak.

Total kasus menjadi 1206 orang pada akhir Agustus. Dan kasus aktif yang perlu dirawat ada 1049 orang. Nilai R sekitar 1,43. Tentu hal ini perlu dicegah dengan fokus kepada dua hal: manajemen perilaku dan meningkatkan angka kesembuhan.

2. Manajemen perilaku lebih ketat

Rekomendasi pertama adalah dengan manajemen perilaku dua kali lipat lebih ketat. Perilaku semulai P = 25% menjadi P = 12%. Hal ini dapat dilakukan dengan mencegah orang-orang berkumpul, lebih disiplin pakai masker, dan lain-lain.

Khususnya untuk PDP, ODP, dan OTG maka perlu benar-benar ditangani dengan lebih baik.

Sementara kegiatan ekonomi yang aman masih tetap diijinkan dengan menerapkan protokol kesehatan yang ketat. Pedagang pasar, kerajinan, pembangunan, dan lainnya dengan syarat aman masih bisa dilakukan dengan pertimbangan menggerakkan roda ekonomi.

Hasil simulasi seperti grafik di atas, nilai R = 1,15 di akhir Agustus. Tapi total kasus bertambah menjadi 242 dan total kasus aktif 134 orang. Angka sebesar ini masih terlalu tinggi tampaknya untuk ditanggung suatu daerah. Maka selanjutnya kita perlu strategi lebih ketat dan dilengkapi dengan meningkatkan angka kesembuhan.

3. Meningkatkan angka kesembuhan

Meningkatkan angka kesembuhan dua kali lipat dari semula yang 4% menjadi 8% membantu menyelesaikan wabah.

Dikombinasikan dengan manajemen perilaku yang lebih ketat menjadi 6% maka berhasil menurunkan R menjadi tepat 1,00 di akhir Agustus. Total kasus 148 orang dan kasus aktif bertahan di 36 orang.

Dengan sedikit tambahan konsistensi maka diharapkan R di bawah 1 pada awal September. Dan semoga kasus mereda.

Skenario lebih baik bisa saja terjadi misal, di samping perawatan yang bagus, ternyata kondisi pasien cukup baik. Sehingga angka kesembuhan naik lebih tinggi dari yang diharapkan misal menjadi 12%.

Bahkan di tanggal 15 Juli nilai R sudah 0,97. Di bawah 1 yang menunjukkan wabah mulai mereda. Akhir Agustus total kasus 137 orang dan kasus aktif tinggal 18 orang. Dengan disiplin dan perawatan yang baik maka diharapkan dalam beberapa hari ke depan wabah sudah benar-benar bersih di daerah kita.

Semoga bermanfaat…!

Untuk kajian yang lebih detil akan saya tulis pada bagian-bagian selanjutnya.

Bagaimana menurut Anda?

Model Matematika Akhiri Covid-19

“Setiap model pasti salah. Tapi sebagian di antaranya berguna,” itulah keyakinan yang saya pakai sebagai pemodel.

Model matematika covid-19 yang saya susun juga pasti salah. Tapi saya berharap model tersebut berguna. Misal berguna untuk mengestimasi apakah covid-19 masih berkembang di suatu wilayah. Untuk contoh Jawa Barat, model yang saya buat menunjukkan dalam beberapa hari terakhir masih terus mewabah dengan R di atas 1.

Indikator ini memberi sinyal ke warga Jabar dan pemimpin Jabar untuk lebih waspada menurunkan parameter perilaku agar wabah mereda. Bahkan nilai R Jabar lebih tinggi dari nilai R nasional.

Namun nilai R nasional juga masih di atas 1. Maka Pak presiden Jokowi dan segenap rakyat Indonesia perlu lebih hati-hati menghadapi corona ini. Di saat yang sama kita juga terus menggelindingkan roda ekonomi.

  1. Hasil kajian, dilansir WHO, menunjukkan bahwa periode inkubasi corona adalah 5,2 hari. Tetapi bilangan pecahan tidak sesuai dengan ritme hidup manusia. Maka saya membulatkan menjadi 5 hari diikuti dengan beberapa cara proses koreksi.
  2. Meski sudah bulat 5 hari tetapi ritme laporan manusia adalah harian. Saya coba beragam parameter harian dan 5 harian. Maka yang paling tepat, dari kajian saya, angka Reproduksi R berbasis 5 harian, angka total aktif harian, angka kesembuhan dan kematian juga harian.
  3. Parameter perilaku dapat kita buat 5 harian atau 1 harian. Tetapi karena angka kesembuhan harian maka saya memilih parameter perilaku juga harian.

Model matematika ini cukup baik merepresentasikan data-data laporan di lapangan. Serta mampu mensimulasikan sistem beberapa waktu ke depan. Pendekatan simulasi yang saya pilih adalah multiskenario. Di mana perilaku corona ini sensitif terhadap perilaku manusia. Dan manusia mempunyai pilihan untuk beragam skenario.

Model matematika ini menyarankan kita untuk menurunkan R guna mengakhiri pandemi. Meski bisa saja memilih herd immunity tetapi resikonya tampak terlalu besar.

Guna mengendalikan R maka perlu dilakukan manajemen perilaku dan peningkatan angka kesembuhan. Sementara angka kematian dijaga agar tetap minimal bahkan menuju 0.

Pada tulisan-tulisan berikutnya saya akan mengkaji dan membuat simulasi beberapa wilayah sebagai percontohan agar bisa dimanfaatkan oleh banyak pihak. Saya memilih membuat simulai nasional Indonesia karena itu yang sedang kita hadapi.

Saya juga membuat simulasi kasus Amerika. Karena Amerika bisa kita pandang sebagai contoh negara yang berani ambil resiko terhadap corona. Ukuran penduduk Amerika dan Indonesia juga hanya beda sedikit sekitar 20%. Untuk kasus US, kita berandai-andai, misalnya saat ini berhasil menurunkan R jadi 0,5 maka kondisi masih sulit.

Pandemi memang selesai menyebar karena R = 0,5. Tetapi proses layanan kesehatan butuh waktu sekitar 4 bulan untuk menyelesaikan semua pasien jadi sembuh di US. Apakah Indonesia juga akan begitu?

Saya juga berencana membuat simulasi beberapa kabupaten/kota dan provinsi. Khususnya Yogyakarta adalah spesial. Ukuran pupulasi sekitar 3,4 juta orang dan terdiri dari beberapa kabupaten/kota. Maka bisa kita pandang sebagai miniatur dari Indonesia itu sendiri.

Nilai R Yogyakarta naik turun. Sempat di bawah 1 tapi R kembali naik di atas 1.

Seandainya Jogja berhasil menurunkan R = 0,5 maka pandemi selesai. Dan proses layanan kesehatan hanya butuh waktu sekitar 1 bulan untuk menyelesaikan semua perawatan. Apakah Indonesia ingin seperti Jogja?

Indonesia sendiri, seandainya mampu menurunkan jadi R = 0,5 maka perlu waktu 3 bulan untuk menyelesaikan seluruh proses layanan kesehatan.

Bagaimana menurut Anda?

Solusi Pandemi: 3 Fokus

Hanya perlu fokus kepada 3 hal maka pandemi covid-19 bisa segera diakhiri. Mudah secara teori. Tetapi butuh disiplin dalam prakteknya.

Corona sudah menjangkiti lebih dari 10 juta orang tersebar di dunia. Amerika saja nyaris 3 juta orang. Sementara di Indonesia sudah lebih dari 60 ribu orang terjangkit.

Belum ada tanda-tanda corona mereda di Indonesia. Apalagi di Amerika. Di dunia juga.

Perlu fokus kepada 3 hal berikut untuk mengakhiri corona. Saya sudah menyususn model matematika secara lengkap juga.

  1. Manajemen perilaku

Saat ini perilaku penduduk dunia turut serta menyebarkan virus corona dengan mudah. Berkumpul tanpa masker memperbesar resiko.

Saat ini, di Indonesia, nilai paramater perilaku P = 7,8% maka virus corona dipermudah penyebarannya secara sosial. Bila perilaku ini berlangsung terus menerus maka pandemi tidak pernah berakhir.

Solusinya adalah manajemen perilaku agar parameter perilaku bisa turun. Diharapkan parameter perilaku ini bisa turun sampai P = 1%. Maka pandemi selesai dalam kisaran 2 bulan ke depan.

2. Meningkatkan angka kesembuhan

Sudah jelas, makin banyak yang sembuh maka makin cepat pandemi berakhir. Saat ini angka sembuh Indonesia di kisaran 1% – 2% dari total aktif. Negara-negara lain pada umumnya juga di kisaran itu.

Dengan dukungan dan fokus ke penanganan kesehatan kita berharap angka kesembuhan bisa naik dua kali lipat misal menjadi 4% atau lebih. Maka pandemi segera berakhir. Tentunya kombinasi dengan manajemen perilaku.

3. Kepemimpinan efektif

Pandemi adalah masalah bersama maka kita perlu kepemimpinan efektif. Tidak bisa hanya bergerak sendiri-sendiri. Kita butuh pemimpin yang hebat. Pun butuh yang dipimpin taat.

Hal penting dalam kepemimpinan adalah kejelasan arah. Kita butuh paham ke arah mana seluruh rakyat agar bergerak merespon covid-19. Bila salah arah maka pemimpin akan menunjukkan arah yang benar. Sampai akhirnya tercapai tujuan utama menghadapi pandemi.

Agar pemimpin melihat arah lebih jelas saya mengusulkan pemimpin memiliki data realtime menampilkan nilai R reproduksi virus. Sehingga pemimpin tahu bahwa perilaku masyarakat saat ini apakah menaikkan R maka dihentikan. Bila perilaku rakyat menurunkan R maka didorong untuk dilanjutkan.

Metode membuat data realtime R sudah saya bahas di tulisan-tulisan saya terdahulu.

Semoga kita semua lulus menghadapi ujian pandemi.

Bagaimana menurut Anda?

Prediksi Akhir Covid-19 di Indonesia

Prediksi terbaik pandemi corona di Indonesia akan berakhir 2 bulan ke depan. Awal September 2020 akan berakhir. Itu kondisi terbaik. Kondisi terburuk pandemi covid-19 tidak pernah berakhir di Indonesia.

Bila Indonesia mampu menurunkan angka reproduksi R di bawah 1 secara konsisten maka dalam 2 bulan wabah usai. Setelah itu tetap masih perlu disiplin untuk menjaga jarak agar tidak muncul corona gelombang selanjutnya.

Dari model matematika yang saya susun, seperti grafik di atas, maka awal Agustus akan ada 77 ribuan orang Indonesia terjangkit (total kasus). Dengan R = 1,10 turun menjadi R = 1,07.

Tapi kondisi lebih buruk bisa terjadi bila parameter perilaku sosial tidak terjaga. Nilai R bisa menanjak jadi 1,14 dengan total kasus mencapai 94 ribuan orang pada awal Agustus 2020. Hal ini dikarenakan parameter perilaku naik jadi P = 13%.

Solusi untuk menjadi kondisi lebih baik adalah dengan menurunkan parameter perilaku P = 3,9%. Total kasus bisa ditahan 67 ribuan orang di awal Agustus. Dan R = 1,02.

Angka kesembuhan bisa dinaikkan 2 kali lipat menjadi 4% akan memberi hasil yang lebih baik. Reproduksi berhasil turun di bawah 1 jadi R = 0,99. Pandemi mereda.

Dengan konsisten parameter perilaku bisa diturunkan lagi maka R makin cepat turun dan jauh di bawah 1. Tampaknya, grafik terbaik di bawah ini sulit dicapai. Karena 4 Juli 2020 saja sudah mencapai 62 142 total kasus.

Untuk merespon pandemi dengan baik kita perlu fokus pada dua hal: menurunkan parameter perilaku dan menaikkan angka kesembuhan.

Semoga berhasil dan sehat untuk kita semua.

Bagaimana menurut Anda?