Jiwa Raga Bahagia – Simple Philosphy

“Jangan lagi berduka
Alam semesta ada dalam jiwa
Yang tumbuh cinta”

Descartes, filosof besar pelopor renaisans, mendapat ilham, “cogito ergo sum” yang begitu terkenal. “Aku berpikir maka aku ada.” Descartes mencari kebenaran yang paling utama. Dia meragukan semua. Dia meragukan ajaran semua filosof yang ada. Dia meragukan agama. Dan semua.

Dari kondisi nol itu muncul satu yang pasti, “Aku berpikir maka aku ada.”

Kita bisa meragukan semua persepsi indera. Tapi kita yakin ada jiwa kita. Kita yakin ada persepsi kita. Kita yakin ada kesadaran kita.

Dari keyakinan jiwa yang sadar, jiwa yang berpikir maka Descartes mengembangkan sistem filsafatnya yang begitu besar. Seperti kita tahu sejarah mencatat masa gemilang Barat setelahnya. Ditinjau dari filsafat, ilmu, ekonomi, dan lain-lain Barat memimpini dunia.

René Descartes - Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Descartes

Dualisme Jiwa Raga

Descartes menempatkan jiwa manusia pada posisi yang tinggi, suci, dan terhubung kepada Tuhan yang tak terbatas dan bukan materi. Di sisi lain, manusia juga mempunyai raga. Badan manusia yang terbatas oleh ruang dan waktu.

Pandangan yang mengakui ada dua hakikat realitas jiwa dan raga ini selanjutnya dikenal sebagai dualisme. Bagaimana jiwa yang non materi berhubungan dengan raga manusia yang materi ini?

Descartes sulit menjawabnya dengan positif. Bahkan bisa dinyatakan antara jiwa dan raga memiliki dunianya masing-masing.

Dunia materi yang terpisah dengan dunia jiwa ini mendorong ilmuwan lebih berani eksperimen. Isaac Newton tidak lama kemudian berhasil merumuskan teori fisika. Diikuti oleh banyak peneliti lain, ilmu fisika makin pesat. Sementara ilmu jiwa tertinggal di belakang.

Immanuel Kant memberikan rumusan menarik. Benih-benih dialektika ilmu. Bahwa pengetahuan yang diserap oleh indera kemudian akan bertemu dengan ilmu “bawaan” yang sudah ada pada jiwa manusia. Pertemuan dua hal itu melahirkan sintesa ilmu baru. Berkembanglah pengetahuan manusia.

Meski demikian, trend ilmu fisika, yang dilengkapi dengan rekayasa, maju jauh ke depan meninggalkan ilmu jiwa di belakang.

Tiba di era posmodern jiwa makin tersisih. Bahkan terdepak sirna dari pembahasan filsafat. Jiwa sudah tidak ada.

Jiwa Sirna Pun Raga

Yang ada hanya citra. Pencitraan di jaman kontemporer bahkan lebih utama. Jiwa dan raga boleh sirna tetapi citra adalah segala. Dunia digital yang terhubung melalui internet sudah begitu perkasa.

Citra-citra yang merupakan tanda hanya bisa dibaca melalui perbedaan-perbedaan dan hubungan-hubungan. Tidak ada makna. Setiap pembaca pesan, di medsos misalnya, bebas mengartikan pesan itu. Bisa makna pesannya mirip yang diharapkan oleh penulis pesan. Bisa berlawanan sama sekali.

Tiba di masa matinya penulis dan lahirnya sang pembaca. Jacques Derrida, salah satu filosof posmodern, memelopori destruksi – penghancuran segala. Makna hancur berkeping-keping. Tidak ada lagi makna. Semua bebas mengarang makna.

Manusia kini terjebak dalam dunia digital. Terhimpit dalam simulasi virtual. Kata Baudrillard, filosof posmodern, era simulacra mulai berkuasa – simulasi dari simulasi. Manusia tidak bisa membedakan mana yang asli dan mana yang citra. Apalagi citra dari citra. Berlanjut terus citra dari citra dari citra dari citra. Copas dari copas dari copas… dari copas.

Bagaimana hubungan jiwa dan raga? Posmodern tidak merasa perlu menjawabnya. Bahkan keberadaan jiwa raga pun sudah tak dirasa.

Monisme Jiwa Raga

Sementara kita tinggalkan sejenak kaum posmodernis yang terjebak dalam simulacra: copas dari copas dari copas…. dari copas. Kita akan berkenalan dengan ide monisme yang meyakini hakikat segala sesuatu adalah tunggal.

Secara umum ada dua monisme. Monisme material meyakini hakekat realitas adalah materi fisik. Badan kita adalah hakekat sejati. Sedangkan jiwa adalah sekedar “bayang-bayang” dari badan. Filosof modern, setelah era Descartes, cenderung meyakini prioritas materi fisikal ini. Karl Marx melangkah lebih jauh dengan mengutamakan kepentingan ekonomi materialis. August Comte dengan sistematis berhasil menyusun landasan filosofis materialis, empiris, positivis.

Di sisi lain ada monisme spiritual. Hakekat segala sesuatu adalah spirit. Sedangkan materi fisikal hanyalah semacam kendaraan bagi jiwa untuk berpetualang lebih jauh. Guru filsafat kuno, Plato, sudah mengembangkan sistem filsafat yang kokoh untuk mendukung keutamaan jiwa spiritual ini. Berkembang terus menjadi neo-platonis. Dan tampak bersesuaian dengan ajaran-ajaran agama besar di dunia. Manusia adalah makhluk spiritual yang sedang berkelana di dunia material.

Banyak pemikir besar yang mendukung keutamaan jiwa spiritual ini sekaligus mengembangkan konsep-konsep yang lebih canggih.

Bagaimana jiwa berhubungan dengan raga?

Bagi monisme material jawabannya sederhana saja. Yang nyata adalah badan. Jiwa hanya pancaran sifat dari badan itu sendiri. Jiwa tidak nyata. Hubungan antara mereka adalah tidak setara. Hubungannya aksidental belaka. Selanjutnya mereka bisa fokus membahas materialisme saja.

Bagi monisme spiritual, hubungan jiwa raga, adalah bagaikan hubungan sopir dengan mobil. Yang mengendalikan gerak mobil adalah sopir – sang jiwa. Mobil hanya mengikuti kehendak sopir. Bila sopir ingin maju maka majulah mobil. Bila sopir ingin belok maka mobil ikut belok.

Bila sopir ingin meninggalkan mobil maka mobil kosong tanpa sopir. Mobil tidak bisa lagi berbuat apa-apa tanpa sopir. Sopir adalah yang utama. Jiwa adalah yang utama. Raga adalah kendaraan belaka.

Monisme Wujud

Di samping dua monisme di atas, fisikal dan spiritual, terdapat monisme ketiga yaitu monisme wujud. Realitas segala sesuatu adalah wujud itu sendiri. Badan adalah manifestasi wujud. Jiwa juga manifestasi wujud. Mereka, jiwa dan raga, adalah penampakan wujud.

Monisme wujud dikembangkan dengan kokoh oleh Ibnu Arabi. Lebih menggelora dengan sajak-sajak cinta filosofis, gaya metafora posmodern, oleh Maulana Rumi. Dan mencapai puncak sintesa oleh filosof besar Mulla Shadra.

Bagaimana hubungan jiwa raga menurut monisme wujud?

Mereka disatukan oleh wujud itu sendiri. Awalnya hakikat manusia adalah raga itu sendiri, sebagai manifestasi wujud. Kemudian manusia menyempurna dengan memiliki jiwa spiritual, yang juga manifestasi wujud.

Kedua mode manifestasi wujud, jiwa dan raga, tetap nyata dalam kehidupan manusia. Meski demikian, hal ini tidak berarti ada dua wujud. Hanya ada satu wujud dengan dua mode.

Mode jiwa lebih sempurna dari raga. Jiwa lebih intens dari raga. Shadra, meminjam term Suharawardi (Syaih Al Isyraq), mengilustrasikan wujud sebagai cahaya. Jiwa adalah cahaya dengan intensitas lebih kuat, lebih sempurna. Sedangkan raga bagaikan cahaya dengan intensitas lemah. Mereka tetap satu cahaya dengan mode intensitas berbeda.

Equa Penghubung Jiwa Raga

Kita masih tetap berhak mengajukan pertanyaan, “Bagaimana sebenarnya hubungan jiwa dan raga?”

Sejauh ini kita bisa merangkum jawaban sesuai masing-masing prespektif. Bagi dualisme, tidak terlukiskan hubungan badan yang material dengan jiwa yang non material (Descartes).

Bagi monisme material, jiwa hanya bayang-bayang dari materi, terhubung secara aksidental saja (August Comte).

Bagi monisme spiritual, jiwa bagai sopir dan badan adalah kendaraan. Sopir dapat hidup mandiri tanpa kendaraan, terhubung secara aksidental (Plato – neo platonis – dan pemikir kontemporer).

Bagi monisme wujud, jiwa dan badan terhubung sebagai level mode wujud. Jiwa adalah cahaya dengan intensitas lebih sempurna “menyerap” raga yang merupakan cahaya dengan intensitas lemah (Shadra).

Butuh waktu ratusan tahun umat manusia untuk mengungkap lebih jelas hubungan jiwa dan raga ini.

JiwaEquaRaga

Mempertimbangkan monisme wujud dan fisika quantum saya menyusun model hubungan Jiwa – Equa – Raga.

Equa adalah mode wujud yang ambigu, tasykik dalam term Mulla Shadra. Dilihat dari sisi jiwa, maka equa adalah bersifat non materi. Sedangkan dilihat dari sisi raga, maka equa adalah karakter materi.

Fisika kuantum menyebut equa ini adalah fungsi gelombang dari setiap partikel kuantum. Yang saya maksud di sini adalah hakikat fungsi gelombang, bukan formula fungsi gelombang itu sendiri. Hakikat fungsi gelombang adalah karakteristik materi tetapi bukan materi. Dia adalah equa.

Jiwa, sebagai non materi, memiliki fakultas untuk mempersepsi alam materi melalui equa ini, yang juga bersifat non materi. (Saya berencana akan menulis lebih detil tentang equa ini).

Bahagia Jiwa Raga

Untuk mencapai bahagia jiwa raga tampaknya bergantung prespektif masing-masing. Kita perlu menata fisik, sehat, serasi, nyaman agar menghasilkan jiwa bahagia.

Kita perlu menata sikap mental, rohani yang terhubung dengan Tuhan agar jiwa bahagia sejati. Kita perlu menata jiwa dan raga.

Jiwa perlu terus bergerak dari cahaya intensitas lemah menuju cahaya benderang dengan intensitas kuat – sumber cahaya. Itulah bahagia sejati.

Bagaimana pun, semua sepakat, “Cinta adalah bahagia. Bahagia adalah cinta. Tebarkan cinta. Buka mata hati untuk cinta.”

Bagaimana menurut Anda?

Simple Philosophy – Filsafat Sederhana

Filsafat sudah mati menjelang tahun 2000. Sampai kini masih tetap mati. Apakah bisa hidup kembali?

Mati lalu hidup kembali adalah hal wajar di dunia filsafat dan keilmuan pada umumnya. Ribuan tahun lalu filsafat sudah mati dihajar kaum skeptis. Lalu hidup lagi oleh Socrates – Plato – Aristoteles. Kemudian mati lagi dan hidup lagi di tangan Al Farabi – Ibnu Sina – Ibnu Rusyd.

Tentu saja mati lagi dan terjaga lagi di era Descartes – renaisans – modernis.

Dan sekarang mati lagi di tangan para postmodernis.

Drawing of a bearded man in Arabic garb
Averrous

Kita sedang menantikan kelahiran kembali filsafat setelah melewati tahun 2000. Pun setelah mengalami pandemi covid-19.

Sedikit catatan, apa yang saya ceritakan di atas adalah sedikit sudut pandang sejarah filsafat. Sudut pandang yang lain bisa saja berbeda.

Misalnya filsafat islam ketika dianggap banyak orang sudah terhenti dengan meninggalnya Averrous (Ibnu Rusyd) pada abad ke 12 M yang terjadi justru sebaliknya.

Filsafat islam tumbuh pesat dengan karakter khas islam dimulai pada pada abad ke 12 M.

Sebut saja filsafat illuminasi dengan tokoh utama Suhrawardi hidup pada tahun 1154 – 1191. Sejaman dengan Averrous tapi luput dari kajian sarjana barat barangkali karena karya filsafat Suhrawardi yang begitu berbeda dengan sebelum-sebelumnya. Tetapi di jaman kontemporer ini, pendekatan Suhrawardi, hikmah Al Isyraq kembali banyak digandrungi.

Ibnu Arabi adalah tokoh besar filsafat islam pada tahun 1165 – 1240. Pernah bertemu dengan Averrous dan hidup sampai sekitar 50 tahun kemudian setelah wafatnya Averrous. Lagi-lagi filsafat Ibnu Arabi begitu besar, komplek, sintesa dengan mistisisme bisa saja luput dari kajian sarjana pada umumnya. Di jaman ini berkembang lagi kajian tentang Ibnu Arabi.

Jalaluddin Rumi tokoh besar yang terkenal dengan sajak-sajak cinta. Hidup setelah masa Averrous (1207 – 1273) dan sejaman dengan Ibnu Arabi. Gaya filosofis Rumi justru mirip dengan posmodern dalam beberapa aspek. Serta mendahului Bergson membahas elan vital, cinta, berjarak 700 tahun sebelumnya.

Mulla Shadra puncak filsafat islam. Shadra berhasil men-sintesa-kan semua aliran filsafat pada jaman sebelumnya dan memperkaya dengan metode iluminasi irfan. Dari ajaran Plato – Aristoteles – Ibnu Sina – Suhrawardi – dan Ibnu Arabi. Shadra memperkuat eksistensialisme, berinovasi dengan tasykik (sistematis ambigu), dan gerak substansial. Semua problem filsafat paling sulit dipecahkan Shadra dengan apik yang hidup pada tahun 1571 – 1635 M. Hampir sejaman dengan Descartes dan Newton.

Saya bermaksud akan menulis serial filsafat sederhana, simple philospy, di sini.

Bagaimana menurut Anda?

Jogja Lebih Buruk dari Indonesia

Kita tetap semangat menghadapi berbagai situasi pandemi yang tidak pasti. Berbagai macam strategi terus kita kembangkan.

Sayangnya tidak selalu berhasil. Misal situasi Yogyakarta kini lebih buruk dari rata-rata situasi nasional.

Penambahan kasus baru DIY di kisaran 60 orang per hari pada akhir September 2020 ini. Sedangkan nasional sekitar 4000 orang. Bila kita bandingkan maka DIY mengambil porsi 1,5% yang terlalu besar. Maka itu lebih buruk.

Dari pengamatan Maret sampai Juli DIY hanya menyumpangkan sekitar 0,5% dari nasional. Kondisi yang bagus itu seharusnya dipertahankan. Diperbaiki. Dijadikan contoh penanganan covid untuk wilayah lain.

Tetapi dengan lonjakan seperti itu maka kita perlu strategi baru lagi untuk DIY.

Bagaimana menurut Anda?

Jebakan Penyederhanaan Kurikulum 2021

Usahan untuk menyederhanan kurikulum sudah makin kuat berkumandang beberapa tahun terakhir. Mas Mendikbud Nadiem pun menyambut hangat dengan program sosialisasi penyederhanaan kurikulum 21. Kita, sebagai warga negara yang baik, secara aktif ikut serta mencerdaskan kehidupan bangsa.

Kita perlu menghindari “kurikulum seluas samudera dengan kedalaman satu mili”.

Kurikulum 21 berpotensi terjebak ke samudera itu. Maka mari bersama-sama kita jaga demi kemajuan generasi masa depan.

1)Jebakan mata pelajran minimum

Istilah mata pelajaran minimum tampak keren. Tetapi ini jebakan serius.

Hebatnya Penyederhanaan Kurikulum 2021

Kabar gembira muncul dari kemendikbud, yang dipimpin Mas Menteri Nadiem, yaitu: kurikulum baru 2021 akan diluncurkan. Hebatnya kurikulum 2021 ini adalah lebih sederhana dari kurikulum 2013.

Kita perlu bersama-sama mendukung upaya untuk ikut serta mencerdaskan kehidupan berbangsa.

Pelajar Pancasila menjadi salah satu tema utama kurikulum 2021. Mempunyai karakter ideal belajar sepanjang hayat. Siap bersaing secara global di seluruh dunia. Pun mengamalkan Pancasila secara nyata.

Saat ini masih berlangsung program sosialisasi kurikulum 21 sehingga masyarakat bisa ikut memberikan sumbangsih ide dan perbaikan. Kemendikbud sendiri terbuka dengan berbagai macam masukan.

Keberatan

Salah satu respon yang sudah masuk adalah adanya keberatan dengan dihapusnya pelajaran sejarah tingkat SMA. Dari semula pelajaran wajib menjadi pelajaran pilihan untuk siswa kelas 11 dan 12 SMA saja. Sementara siswa kelas 10 SMA tidak belajar sejarah.

Resiko Gagal

Kurikulum 2021 ini pun beresiko gagal. Pertama, persiapan guru sebagai ujung tombak pendidikan perlu proses dan waktu yang memadai. Apalagi guru dituntut makin kreatif dan tanggung jawab.

Kedua, kurikulum 21 menggunakan istilah sebagai kurikulum minimum. Sementara batas maksimum tidak ada. Maka resiko siswa-siswa dijejali kurikulum berlebih bisa terjadi. Makin berat kurikulum dinggap lebih baik. Siswa SMP bisa saja diberikan beban pelajaran SMA. Resiko siswa stress tentu bahaya. Atau siswa muak dengan sekolah justru menolak belajar sepanjang hayat.

Ketiga, dan lain-lain.

Kabar baiknya tetap ada solusi untuk mengatasi beragam masalah di atas.

Bagaimana menurut Anda?

Bagi yang berminat file pdf sosialisasi penyederhanaan kurikulum dapat mencari di internet atau silakan donlot di bawah ini.

Teori Evolusi: Kritik vs Apresiasi

Teori evolusi menggemparkan dunia sejak awal muncul. Bagi pendukung, teori evolusi adalah kemajuan paling hebat dari sain. Tapi bagi yang menolak, teori evolusi adalah teori sesat tanpa dasar ilmiah. Dan jelas-jelas bertentangan dengan ajaran agama.

Saya ingin mencatat beberapa kritik dan apresiasi terhadap teori evolusi. Sedapat mungkin mengkaji dari sudut pandang sain. Di beberapa tempat tentu kita perlu mempertimbangkan pandangan metafisika dan agama.

Universal Darwinism - Wikipedia

1)Teori Evolusi berdampak revolusi

Orang mengakui bahwa Darwin adalah peneliti paling sukses merumuskan teori evolusi. Dampaknya revolusioner. Meski penelitian ilmiah Darwin fokus kepada evolusi biologis dampaknya meluas ke segala bidang: sosial, fisika, metafisika, agama dan lain-lain.

Lebih hebat lagi, teori evolusi dilawankan dengan ajaran agama. Salah satu dari mereka harus salah. Bila agama benar maka teori evolusi harus salah. Pun sebaliknya, bila teori evolusi benar maka agama salah.

Meski ada yang mencoba mengambil jalan tengah tampaknya jalan tengah di sini benar-benar jalan sempit.

Untuk sementara, pendekatan ilmiah terbukti makin diterima masyarakat luas. Maka bisa dibilang teori evolusi sedang lebih unggul.

2)Darwin bukan penemu pertama evolusi

Darwin memang paling hebat. Tapi dia bukan penemu pertama teori evolusi. Beberapa puluh tahun sebelum Darwin, teori evolusi sudah diusulkan oleh Lamarck. Sayang teori Lamarck terbukti salah maka harus ditolak. Digantikan oleh Darwin.

Pun 200 tahun sebelum Darwin, teori evolusi sudah dirumuskan Mulla Shadra dari Persia. Shadra tidak membatasi evolusi hanya pada bidang biologis tetapi berlaku untuk seluruh alam semesta dengan konsep gerak substansial. Shadra tampak terinspirasi oleh filsuf Arab kelahiran Spanyol, Ibnu Arabi, sekitar 400 tahun sebelumnya. Ibnu Arabi juga membahas evolusi untuk seluruh alam raya.

Dari sisi ilmuwan empiris, teori evolusi sudah diusulkan oleh Ibnu Khaldun dalam bukunya yang terkenal Mukadimah, 500 tahun sebelum Darwin. Ibnu Khaldun melengkapi beberbagai macam metode ilmiah untuk mengurangi kesalahan dalam mengambil kesimpulan.

Ahli biologi abad ke-9 dari Timur Tengah, Al Jahiz, sudah menulis buku tentang hewan yang di dalamnya juga membahas teori evolusi untuk dunia binatang. Seribu tahun sebelum Darwin.

Bagaimana pun, Darwin tetap berhak menyandang sebagai penemu teori evolusi. Berbeda dengan filsuf dan ilmuwan sebelum-sebelumnya, Darwin melengkapi dengan data penelitian mahkluk hidup dan beberapa fosil. Serta memberikan penjelasan proses evolusi melalui: mutasi acak dan seleksi alam.

Dua ide tersebut, mutasi dan seleksi alam, terus berkembang sampai jaman kontemporer sekarang ini.

3)Teori Darwin direvisi sejak awal sampai akhir

Suci Manusiawi: Peradaban Berkelanjutan

Manusia mempunyai cita-cita luhur membangun peradaban berkelanjutan ke seluruh alam raya. Pembangunan, yang diharapkan makin beradab, acapkali justru menghancurkan keadaban manusiawi. Bahkan mengancam keberlangsungan alam semesta. Manusia membutuhkan suatu konsep untuk membangun masa depan yang adil, merata, dan berkesinambungan dimulai di masa kini.

A.Suci

Pertama, manusia perlu meyakini bahwa masing-masing kita punya misi suci hadir di bumi ini. Misi suci ini sudah banyak dituliskan di berbagai kitab suci dan ajaran-ajaran orang besar sejak jaman dahulu.

Bagi yang ingin merujuk ke selain ajaran agama maka bisa merujuk ke nilai-nilai universal kemanusiaan. Sudah diakui oleh banyak pemikir sepanjang jaman. Dari jaman sebelum Socrates sampai jaman sekarang ini.

B.Manusiawi

Bagaiamana pun suci dan baik di dunia ini perlu kita analisis secara manusiawi. Klaim baik dari satu pihak perlu dipertimbangkan dari ragam sudut yang berbeda. Bahkan jika klaim suci itu atas nama agama maka tetap perlu analisis detil manusiawi.

Klaim suci hanya sah sebagai awal ide. Kesimpulan akhir berdasar anlisis detil manusiawi.

C.Tujuan dalam proses

Suci mengacu pada tujuan. Tersebar merata ke selurh proses yang juga harus suci.

Ramalan Covid Indonesia

Apakah berdosa percaya ramalan?

Percaya itu hanya kepada Tuhan!

Bagaimana pun manusia belajar dari pengalaman. Mengantisipasi masa depan. Merencanakan yang terbaik. Mencegah hal-hal terburuk agar tidak terjadi.

A.Puncak pandemi Juli 2021

Berbulan-bulan lalu saya memprediksi bahwa puncak pandemi akan terjadi di bulan Juli – Agustus 2021 di Indonesia. Hal ini dengan asumsi terbentuk HI – herd immunity.

Grafik di atas saya buat bulan Juli 2020 yang memprediksi puncak pandemi akan terjadi sekitar Juli – Agustus 2021, tahun depan. Bila Januari berhasil produksi massal vaksin yang efektif maka grafik bisa bergeser.

Beberapa hari ini beberapa media memberitakan bahwa para pakar memprediksi puncak pandemi juga Juli 2021. Kok bisa ya?

B.Mencapai 176 ribu kasus pada 1 September 2020

Saya menhitung akan ada 176 ribu kasus pada 1 September 2020. Saya menyebut situasi ini dengan skenario buruk. Tampak hari ini benar-benar akan mencapai 176 ribu kasus ya?

Sepekan lalu saya optimis. Kasus positif baru 150 ribuan. Asumsi 2 ribu nambah tiap hari maka tidak akan mencapai 170 ribu di 1 September 2020.

Tetapi beberapa hari terakhir ini, kasus per hari bisa 3 ribuan. Mendadak di 31 Agustus sudah mencapai 174 ribu kasus. Maka 1 September 2020, kemungkinan besar, menembus 176 ribu kasus atau lebih.

Lengkap dengan prediksi yang masih aktif dirawat atau isolasi sebanyak 41.843 orang di 1 September. Catatan resmi 31 Agustus terdapat 41.120 kasus aktif. Mirip juga ya?

C.Solusi vaksin vs harapan palsu

Dalam model yang saya buat, vaksin berperan penting sebagai solusi pandemi. Tetapi selama vaksin belum ditemukan maka vaksin bisa menjadi sumber harapan palsu.

Kita perlu menempatkan vaksin sebagai harapan utama. Di saat yang sama kita menerapkan solusi manajemen prilaku dan inovasi meningkatkan angka kesembuhan.

Semoga pandemi segera dapat di atasi.

Bagaimana menurut Anda?

Nilai Ketimpangan Tenaga Kerja

Kita bercita-cita mewujudkan negara adil makmur. Pemerataan ke seluruh penjuru negeri. Kesejahteraan meningkat.

Tampaknya ini semua masih menjadi tantangan besar bagi kita semua. Nilai ketimpangan tenaga kerja di Indonesia sangat buruk atau timpang sekali. Tidak merata di berbagai provinsi.

Kabar baiknya, saat ini kita mendapatkan bonus demografi. Di mana jumlah orang pada usia produktif jauh lebih banyak dari orang pada usia non produktif. Di Indonesia ada hampir 200 juta orang pada usia produktif. Sedangkan usia tidak produktif kurang dari 100 juta orang.

Saya menganalisis data tenaga kerja terbitan BPS terbaru, Juli 2020.

1)Nilai ketimpangan n = 3,68 atau rasio Gini G = 0,57

Nilai ketimpangan n lebih dari dari 3 adalah sangat buruk. Sedangkan n provinsi-provinsi di Indonesia adalah 3,68. Yang berarti tenaga kerja di Indonesia timpang hanya ada di lokasi tertentu saja. Sementara provinsi lain tidak tersedia.

2)Hanya 2,4% untuk provinsi terkecil

Provinsi terkecil, 25% terkecil, hanya memperoleh 2,4% dari rata-rata tenaga kerja Indonesia. Dalam banyak hal, ini bisa saja menghambat lajunya pembangunan. Maka kita perlu mengembangkan beragam strategi.

3)Provinsi terbesar 261% tenaga kerja

Sebaliknya provinsi-provinsi terbesar, 25% terbesar, menikmati 261% dari rata-rata nasional. Di satu sisi ini menguntungkan provinsi besar dengan tersedianya banyak tenaga kerja. Tetapi jika skill yang dibutuhkan tidak sesuai ada resiko pengangguran dan ragam kosekuensinya.

Lagi-lagi kita memerlukan strategi pemerataan. Cukup menurunkan nilai ketimpangan dari n = 3,68 menjadi n = 2,00 maka itu sudah bagus.

4)Tingkat pengangguran merata dengan n = 1,4 atau G = 0,17

Tingkat pengangguran terbuka Indonesia senantiasa membaik. Persentasenya mengecil terus. Dan tingkat pengangguran ini merata di seluruh provinsi.

Sayangnya kondisi ini tidak bertahan ketika diterpa pandemi. Provinsi Bali adalah yang terbaik dengan tingkat pengangguran hanya 1,5%. Ketika pandemi covid datang, Provinsi Bali, yang mengandalkan wisata, paling besar terdampak.

Kita bisa banyak belajar dari Bali.

5)Bonus demografi kurang terdidik

Kabar gembira bonus demografi disusul dengan kabar sedih pandemi. Sekolah ditutup. Balai pelatihan diliburkan.

Banyak anak muda tidak sekolah tidak belajar. Resiko besar ada di depan mata Indonesia. Anak muda tidak terdidik.

Kemendikbud sudah merespon dengan baik. Menyarankan pembelajaran jarak jauh, daring, dan luring. Bagi-bagi kuota internet gratis senilai 9 T. Menyususun kurikulum darurat.

Bagaimana pun masih ada kekurangan di sana sini maka perlu kita perbaiki. Kita perlu memastikan bahwa anak-anak muda sebagai bonus demografi benar-benar mendapatkan pendidikan yang terbaik. Sehingga membawa kemajuan bersama.

Bagaimana menurut Anda?

Resesi Mudah Diatasi

Sulit dipercaya!

Dalam kondisi pandemi covid seperti sekarang, ancaman resesi ekonomi mudah saja untuk diatasi. Fokus hanya pada dua hal saja. Tingkatkan konsumsi rumah tangga dan investasi. Hasilnya pun tidak perlu terlalu tinggi. Cukup ekonomi tumbuh 0% saja, kuartal III, maka sudah tidak resesi sampai Maret 2021.

1.Tersedia Anggaran dan Strategi

Bu Menkeu dengan tegas sudah mengetahui strategi untuk mencegah resesi.

“Ia menyebut kontraksi pertumbuhan terbesar pada kuartal sebelumnya disumbang oleh sisi konsumsi dan investasi akibat pembatasan aktivitas selama pandemi virus corona.

Oleh karena itu, ‘jurus’ yang digunakan untuk menyelamatkan Indonesia dari resesi akan menyasar kedua komponen tersebut,” dikutip dari CNN Indonesia.

Hebatnya lagi Bu Menkeu benar-benar ahli untuk mendapatkan anggaran yang dibutuhkan. Lengkap sudah: anggaran tersedia dan strategi tepat sekali. Maka dari sini kita boleh optimis bahwa resesi tidak akan terjadi.

2.Resesi Makin Nyata

Tidak semua orang sepakat bahwa resesi bisa dihindari. Pak Menko Mahfud Md justru menyarankan untuk terbuka: resesi ekonomi bukan krisis ekonomi.

Dengan semangat dan bersatu kita cegah resesi. Toh seandainya resesi tetap terjadi, karena kita sudah di ambang resesi, itu bukanlah suatu krisis ekonomi. Resesi hanya data matematis yang menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi minus berturut-turut dalam 6 bulan (dua kuartal). Beda jauh dengan krisis ekonomi.

3.Solusi agar selamat dari resesi

Berikut saya coba rumuskan beberapa cara mengatasi resesi. Semoga bisa bermanfaat.

a) Perhitungan sederhana

Kuartal II, meski Indonesia minus 5,2% maka hanya perlu kuartal III 0% saja. Tetapi kuartal III sudah hampir berjalan 2 bulan: Juli dan Agustus. Asumsi dua bulan itu masing-masing minus 5% cukup berat untuk kompensasi September agar jadi 0%. Butuh tumbuh 10% di bulan September 2020 (yoy).

Akibatnya, Juli -5, Agustus, -5, dan September +10 total jadi 0%. Selamat dari resesi.

b)Tingkatkan konsumsi rumah tangga

Meningkatkan daya beli secara serempak dapat mendongkrak pertumbuhan ekonomi. Sedangkan ketimpangan ekonomi diyakini menghambat pertumbuhan.

Pemerintah perlu memicu daya beli masyarakat dengan menyalurkan bantuan tunai kepada 250 juta penduduk Indonesia sebesar 500 ribu rupiah per kepala. Total 250 juta orang x 500 ribu rupiah = 125 T rupiah saja.

Dampak ganda 500 ribu rupiah per kepala ini menggelindingkan roda ekonomi. Semua penerima diwajibkan membelanjakan semua dana yang diterima di awal September untuk konsumsi (plus dana lainnya bila ada).

Kita bisa membayangkan tukang bakso gerobak laris manis karena semua pelanggan setia bisa beli bakso seperti biasa. Tukang bakso belanja bahan ke pasar. Pedagang pasar laris pula seperti biasa. Roda ekonomi bangkit seperti biasa.

Tukang jualan mainan anak-anak yang menjerit selama masa pandemi bisa mulai tersenyum. Dagangan mainan anak laris manis dengan dijual keliling dari rumah ke rumah. Anak-anak bergembira bisa beli mainan dari uang yang tersedia. Bapak dan Ibunya ikut bahagia. Imunitas masyarakat meningkat.

Para pejabat dan presiden ikut bahagia. Indonesia bangkit kembali.

c)Pacu investasi

Sudah pasti pemerintah memacu investasi besar-besaran. Pihak swasta juga bergairah untu investasi di Indonesia yang terus menggeliat.

d)Mengentaskan kemiskinan otomatis

Kemiskinan di Indonesia menjadi 0%. Tidak ada orang miskin di Indonesia saat itu.

BPS menetapkan, “Garis Kemiskinan pada Maret 2020 tercatat sebesar Rp454.652,-/ kapita/bulan.”

Ada 26 juta penduduk Indonesia di bawah garis kemiskinan. Dengan bantuan tunai 500 ribu per bulan maka mereka terentas dari kemiskinan secara otomatis.

Karena bantuan mencakup 250 juta penduduk maka hampir semua penduduk dapat bagian. Barangkali bisa dikecualikan sedikit orang meliputi pejabat dan orang supe kaya yang tidak dapat bantuan tunai. Toh apa artinya 500 ribu rupiah bagi pejabat dan orang spuer kaya? Tapi 500 ribu sudah berhasil mengangkat si miskin dari jurang kemiskinan.

e)Resiko terburuk

Resiko terburuk adalah tidak terjadi peningkatan ekonomi padahal pemerintah sudah mengetaskan kemiskinan seluruh penduduk Indonesia. Kemiskinan sudah terhapus dari bumi pertiwi.

Seandainya resiko ini terjadi maka ini adalah resiko terburuk yang paling baik sepanjang sejarah.

Penutup

Strategi seperti di atas perlu segera dilakukan karena kita hanya punya sisa waktu bulan September saja untuk mencegah resesi.

Beberapa program pendukung tentu bisa kita kembangkan. Misal pendanaan 500 ribu per bulan direncanakan dalam jangka waktu 3 bulan. Barang siapa sudah membelanjakan 500 ribu sebelum pertengahan September maka akan dikirim 500 ribu berikutnya pada tanggal 20 September. Rakyat berlomba-lomba meningkatkan konsumsi – memang tersedia dananya.

Penyaluran dana total 125 T ini perlu dikawal KPK untuk menjaga kelancaran. Data penerima bantuan pun mudah didapat karena mencakup hampir seluruh penduduk Indonesia atau bisa saja diperluas untuk seluruh penduduk Indonesia.

Roda ekonomi Indonesia akan berputar dengan cepat dan majulah Indonesia!

Bagaimana menurut Anda?