Suci Manusiawi: Peradaban Berkelanjutan

Manusia mempunyai cita-cita luhur membangun peradaban berkelanjutan ke seluruh alam raya. Pembangunan, yang diharapkan makin beradab, acapkali justru menghancurkan keadaban manusiawi. Bahkan mengancam keberlangsungan alam semesta. Manusia membutuhkan suatu konsep untuk membangun masa depan yang adil, merata, dan berkesinambungan dimulai di masa kini.

A.Suci

Pertama, manusia perlu meyakini bahwa masing-masing kita punya misi suci hadir di bumi ini. Misi suci ini sudah banyak dituliskan di berbagai kitab suci dan ajaran-ajaran orang besar sejak jaman dahulu.

Bagi yang ingin merujuk ke selain ajaran agama maka bisa merujuk ke nilai-nilai universal kemanusiaan. Sudah diakui oleh banyak pemikir sepanjang jaman. Dari jaman sebelum Socrates sampai jaman sekarang ini.

B.Manusiawi

Bagaiamana pun suci dan baik di dunia ini perlu kita analisis secara manusiawi. Klaim baik dari satu pihak perlu dipertimbangkan dari ragam sudut yang berbeda. Bahkan jika klaim suci itu atas nama agama maka tetap perlu analisis detil manusiawi.

Klaim suci hanya sah sebagai awal ide. Kesimpulan akhir berdasar anlisis detil manusiawi.

C.Tujuan dalam proses

Suci mengacu pada tujuan. Tersebar merata ke selurh proses yang juga harus suci.

Ramalan Covid Indonesia

Apakah berdosa percaya ramalan?

Percaya itu hanya kepada Tuhan!

Bagaimana pun manusia belajar dari pengalaman. Mengantisipasi masa depan. Merencanakan yang terbaik. Mencegah hal-hal terburuk agar tidak terjadi.

A.Puncak pandemi Juli 2021

Berbulan-bulan lalu saya memprediksi bahwa puncak pandemi akan terjadi di bulan Juli – Agustus 2021 di Indonesia. Hal ini dengan asumsi terbentuk HI – herd immunity.

Grafik di atas saya buat bulan Juli 2020 yang memprediksi puncak pandemi akan terjadi sekitar Juli – Agustus 2021, tahun depan. Bila Januari berhasil produksi massal vaksin yang efektif maka grafik bisa bergeser.

Beberapa hari ini beberapa media memberitakan bahwa para pakar memprediksi puncak pandemi juga Juli 2021. Kok bisa ya?

B.Mencapai 176 ribu kasus pada 1 September 2020

Saya menhitung akan ada 176 ribu kasus pada 1 September 2020. Saya menyebut situasi ini dengan skenario buruk. Tampak hari ini benar-benar akan mencapai 176 ribu kasus ya?

Sepekan lalu saya optimis. Kasus positif baru 150 ribuan. Asumsi 2 ribu nambah tiap hari maka tidak akan mencapai 170 ribu di 1 September 2020.

Tetapi beberapa hari terakhir ini, kasus per hari bisa 3 ribuan. Mendadak di 31 Agustus sudah mencapai 174 ribu kasus. Maka 1 September 2020, kemungkinan besar, menembus 176 ribu kasus atau lebih.

Lengkap dengan prediksi yang masih aktif dirawat atau isolasi sebanyak 41.843 orang di 1 September. Catatan resmi 31 Agustus terdapat 41.120 kasus aktif. Mirip juga ya?

C.Solusi vaksin vs harapan palsu

Dalam model yang saya buat, vaksin berperan penting sebagai solusi pandemi. Tetapi selama vaksin belum ditemukan maka vaksin bisa menjadi sumber harapan palsu.

Kita perlu menempatkan vaksin sebagai harapan utama. Di saat yang sama kita menerapkan solusi manajemen prilaku dan inovasi meningkatkan angka kesembuhan.

Semoga pandemi segera dapat di atasi.

Bagaimana menurut Anda?

Nilai Ketimpangan Tenaga Kerja

Kita bercita-cita mewujudkan negara adil makmur. Pemerataan ke seluruh penjuru negeri. Kesejahteraan meningkat.

Tampaknya ini semua masih menjadi tantangan besar bagi kita semua. Nilai ketimpangan tenaga kerja di Indonesia sangat buruk atau timpang sekali. Tidak merata di berbagai provinsi.

Kabar baiknya, saat ini kita mendapatkan bonus demografi. Di mana jumlah orang pada usia produktif jauh lebih banyak dari orang pada usia non produktif. Di Indonesia ada hampir 200 juta orang pada usia produktif. Sedangkan usia tidak produktif kurang dari 100 juta orang.

Saya menganalisis data tenaga kerja terbitan BPS terbaru, Juli 2020.

1)Nilai ketimpangan n = 3,68 atau rasio Gini G = 0,57

Nilai ketimpangan n lebih dari dari 3 adalah sangat buruk. Sedangkan n provinsi-provinsi di Indonesia adalah 3,68. Yang berarti tenaga kerja di Indonesia timpang hanya ada di lokasi tertentu saja. Sementara provinsi lain tidak tersedia.

2)Hanya 2,4% untuk provinsi terkecil

Provinsi terkecil, 25% terkecil, hanya memperoleh 2,4% dari rata-rata tenaga kerja Indonesia. Dalam banyak hal, ini bisa saja menghambat lajunya pembangunan. Maka kita perlu mengembangkan beragam strategi.

3)Provinsi terbesar 261% tenaga kerja

Sebaliknya provinsi-provinsi terbesar, 25% terbesar, menikmati 261% dari rata-rata nasional. Di satu sisi ini menguntungkan provinsi besar dengan tersedianya banyak tenaga kerja. Tetapi jika skill yang dibutuhkan tidak sesuai ada resiko pengangguran dan ragam kosekuensinya.

Lagi-lagi kita memerlukan strategi pemerataan. Cukup menurunkan nilai ketimpangan dari n = 3,68 menjadi n = 2,00 maka itu sudah bagus.

4)Tingkat pengangguran merata dengan n = 1,4 atau G = 0,17

Tingkat pengangguran terbuka Indonesia senantiasa membaik. Persentasenya mengecil terus. Dan tingkat pengangguran ini merata di seluruh provinsi.

Sayangnya kondisi ini tidak bertahan ketika diterpa pandemi. Provinsi Bali adalah yang terbaik dengan tingkat pengangguran hanya 1,5%. Ketika pandemi covid datang, Provinsi Bali, yang mengandalkan wisata, paling besar terdampak.

Kita bisa banyak belajar dari Bali.

5)Bonus demografi kurang terdidik

Kabar gembira bonus demografi disusul dengan kabar sedih pandemi. Sekolah ditutup. Balai pelatihan diliburkan.

Banyak anak muda tidak sekolah tidak belajar. Resiko besar ada di depan mata Indonesia. Anak muda tidak terdidik.

Kemendikbud sudah merespon dengan baik. Menyarankan pembelajaran jarak jauh, daring, dan luring. Bagi-bagi kuota internet gratis senilai 9 T. Menyususun kurikulum darurat.

Bagaimana pun masih ada kekurangan di sana sini maka perlu kita perbaiki. Kita perlu memastikan bahwa anak-anak muda sebagai bonus demografi benar-benar mendapatkan pendidikan yang terbaik. Sehingga membawa kemajuan bersama.

Bagaimana menurut Anda?

Resesi Mudah Diatasi

Sulit dipercaya!

Dalam kondisi pandemi covid seperti sekarang, ancaman resesi ekonomi mudah saja untuk diatasi. Fokus hanya pada dua hal saja. Tingkatkan konsumsi rumah tangga dan investasi. Hasilnya pun tidak perlu terlalu tinggi. Cukup ekonomi tumbuh 0% saja, kuartal III, maka sudah tidak resesi sampai Maret 2021.

1.Tersedia Anggaran dan Strategi

Bu Menkeu dengan tegas sudah mengetahui strategi untuk mencegah resesi.

“Ia menyebut kontraksi pertumbuhan terbesar pada kuartal sebelumnya disumbang oleh sisi konsumsi dan investasi akibat pembatasan aktivitas selama pandemi virus corona.

Oleh karena itu, ‘jurus’ yang digunakan untuk menyelamatkan Indonesia dari resesi akan menyasar kedua komponen tersebut,” dikutip dari CNN Indonesia.

Hebatnya lagi Bu Menkeu benar-benar ahli untuk mendapatkan anggaran yang dibutuhkan. Lengkap sudah: anggaran tersedia dan strategi tepat sekali. Maka dari sini kita boleh optimis bahwa resesi tidak akan terjadi.

2.Resesi Makin Nyata

Tidak semua orang sepakat bahwa resesi bisa dihindari. Pak Menko Mahfud Md justru menyarankan untuk terbuka: resesi ekonomi bukan krisis ekonomi.

Dengan semangat dan bersatu kita cegah resesi. Toh seandainya resesi tetap terjadi, karena kita sudah di ambang resesi, itu bukanlah suatu krisis ekonomi. Resesi hanya data matematis yang menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi minus berturut-turut dalam 6 bulan (dua kuartal). Beda jauh dengan krisis ekonomi.

3.Solusi agar selamat dari resesi

Berikut saya coba rumuskan beberapa cara mengatasi resesi. Semoga bisa bermanfaat.

a) Perhitungan sederhana

Kuartal II, meski Indonesia minus 5,2% maka hanya perlu kuartal III 0% saja. Tetapi kuartal III sudah hampir berjalan 2 bulan: Juli dan Agustus. Asumsi dua bulan itu masing-masing minus 5% cukup berat untuk kompensasi September agar jadi 0%. Butuh tumbuh 10% di bulan September 2020 (yoy).

Akibatnya, Juli -5, Agustus, -5, dan September +10 total jadi 0%. Selamat dari resesi.

b)Tingkatkan konsumsi rumah tangga

Meningkatkan daya beli secara serempak dapat mendongkrak pertumbuhan ekonomi. Sedangkan ketimpangan ekonomi diyakini menghambat pertumbuhan.

Pemerintah perlu memicu daya beli masyarakat dengan menyalurkan bantuan tunai kepada 250 juta penduduk Indonesia sebesar 500 ribu rupiah per kepala. Total 250 juta orang x 500 ribu rupiah = 125 T rupiah saja.

Dampak ganda 500 ribu rupiah per kepala ini menggelindingkan roda ekonomi. Semua penerima diwajibkan membelanjakan semua dana yang diterima di awal September untuk konsumsi (plus dana lainnya bila ada).

Kita bisa membayangkan tukang bakso gerobak laris manis karena semua pelanggan setia bisa beli bakso seperti biasa. Tukang bakso belanja bahan ke pasar. Pedagang pasar laris pula seperti biasa. Roda ekonomi bangkit seperti biasa.

Tukang jualan mainan anak-anak yang menjerit selama masa pandemi bisa mulai tersenyum. Dagangan mainan anak laris manis dengan dijual keliling dari rumah ke rumah. Anak-anak bergembira bisa beli mainan dari uang yang tersedia. Bapak dan Ibunya ikut bahagia. Imunitas masyarakat meningkat.

Para pejabat dan presiden ikut bahagia. Indonesia bangkit kembali.

c)Pacu investasi

Sudah pasti pemerintah memacu investasi besar-besaran. Pihak swasta juga bergairah untu investasi di Indonesia yang terus menggeliat.

d)Mengentaskan kemiskinan otomatis

Kemiskinan di Indonesia menjadi 0%. Tidak ada orang miskin di Indonesia saat itu.

BPS menetapkan, “Garis Kemiskinan pada Maret 2020 tercatat sebesar Rp454.652,-/ kapita/bulan.”

Ada 26 juta penduduk Indonesia di bawah garis kemiskinan. Dengan bantuan tunai 500 ribu per bulan maka mereka terentas dari kemiskinan secara otomatis.

Karena bantuan mencakup 250 juta penduduk maka hampir semua penduduk dapat bagian. Barangkali bisa dikecualikan sedikit orang meliputi pejabat dan orang supe kaya yang tidak dapat bantuan tunai. Toh apa artinya 500 ribu rupiah bagi pejabat dan orang spuer kaya? Tapi 500 ribu sudah berhasil mengangkat si miskin dari jurang kemiskinan.

e)Resiko terburuk

Resiko terburuk adalah tidak terjadi peningkatan ekonomi padahal pemerintah sudah mengetaskan kemiskinan seluruh penduduk Indonesia. Kemiskinan sudah terhapus dari bumi pertiwi.

Seandainya resiko ini terjadi maka ini adalah resiko terburuk yang paling baik sepanjang sejarah.

Penutup

Strategi seperti di atas perlu segera dilakukan karena kita hanya punya sisa waktu bulan September saja untuk mencegah resesi.

Beberapa program pendukung tentu bisa kita kembangkan. Misal pendanaan 500 ribu per bulan direncanakan dalam jangka waktu 3 bulan. Barang siapa sudah membelanjakan 500 ribu sebelum pertengahan September maka akan dikirim 500 ribu berikutnya pada tanggal 20 September. Rakyat berlomba-lomba meningkatkan konsumsi – memang tersedia dananya.

Penyaluran dana total 125 T ini perlu dikawal KPK untuk menjaga kelancaran. Data penerima bantuan pun mudah didapat karena mencakup hampir seluruh penduduk Indonesia atau bisa saja diperluas untuk seluruh penduduk Indonesia.

Roda ekonomi Indonesia akan berputar dengan cepat dan majulah Indonesia!

Bagaimana menurut Anda?

Mas Nadiem Bagi-bagi 9 Trilyun

Berita gembira. Mas Nadiem bagi-bagi kuota internet total 9 trilyun rupiah untuk siswa, mahasiswa, dan guru dosen di seluruh Indonesia.

Saya mengapresiasi gerak cepat Mas Nadiem. Juga apresiasi kepada Bu Menkeu Sri yang berhasil mengalokasikan dana sebesar itu ke kemendikbud. Maka sebagai masyarakat kita perlu gotong-royong untuk ikut serta mensukseskan program yang bagus dari kementrian.

1)Pemerataan ke pelosok negeri

Indonesia tidak merata. Akses internet di Indonesia sangat timpang. Terjadi kesenjangan parah. Saya sudah menghitung nilai ketimpangan indonesia n lebih besar dari 3. Sangat buruk.

Mas Nadiem punya peluang menyalurkan 9 T ini untuk meng-kompensasi nilai ketimpangan. Dengan mengutamakan siswa yang kesulitan akses internet maka ketimpangan akan berkurang. Kondisi menjadi lebih baik.

Resiko terjadi bila penyaluran disalurkan dengan sama besar maka yang terjadi adalah memperkuat ketimpangan itu. Karena sebagian besar pengguna kuota berada di kota. Maka kota makin jauh meninggalkan pinggiran.

Saya yakin Mas Nadiem punya solusi untuk ini.

2.Lebih dari kuota internet

Mas Nadiem adalah mendikbud maka beliau tentu fokus untuk menyelenggarakan pendidikan yang berkualitas ke seluruh negeri. Bukan hanya fokus bagi-bagi 9 T. Urusan bagi-bagi kuota internet cukuplah jadi urusan provider internet.

Mendikbud perlu memastikan bahwa siswa dapat belajar lebih baik dengan tambahan dana 9 T. Misal daerah yang tidak ada akses internet menjadi bisa akses internet atau jaringan lokal semacam local area network.

Bisa saja dikembangkan jaringan lokal untuk ukuran sekecamatan atau kabupaten. Sehingga siswa-siswa dan guru-guru dapat berinteraksi dengan mudah.

Untuk membangun jaringan lokal ini barangkali bisa mengajak siswa-siswa SMK yang sudah memiliki profesionalisme di bidangnya. Penguatan program vokasi seiring sejalan.

Lebih menarik lagi bila untuk memproduksi konten edukasi mengajak siswa-siswa SMK jurusan multimedia, broadcasting, dan lain-lain untuk berperan serta aktif.

Jika untuk menjalankan pendidikan yang berkualitas di atas ternyata butuh lebih besar dari 9 T maka Mas Menteri bisa kontak lagi dengan Bu Menteri.

3.Pemerataan lebih luas

Masalah kesenjangan juga terjadi dalam akses energi listrik, kualitas guru, sarana, dan lain-lain. Saya berharap Mas Menteri dapat memanfaatkan momentum 9 T ini untuk mengatasi kesenjangan di atas.

Misal untuk sekolah yang belum tersedia akses jaringan listrik maka disiapkan pengembangan solar sel, atau pembangkit mikro atau lainnya. Lagi-lagi Mas Menteri bisa memobilisasi sumber daya SMK untuk mendukung ini. Tentu saja peran universitas sangat penting untuk hasil optimal.

Dan masih banyak lagi yang bisa kita lakukan untuk pendidikan Indonesia yang lebih baik.

Waspada

Beberapa resiko serius dapat terjadi dengan bagi-bagi 9 T oleh Mas Menteri. Misalnya, pertama, siswa menggunakan kuota internet justru untuk hal-hal negatif. Anak-anak milenial punya caranya sendiri untuk menerobos berbagai aturan. Berbagai macam pendekatan yang efektif untuk milenial bisa dikembangkan.

Kedua, dana 9 T makin memperkaya perusahaan provider internet. Tentu saja ini menguntungkan provider. Mendapat order 9 T begitu saja siapa yang tidak berminat? Barangkali Mas Menteri bisa kerja sama dengan KPK untuk memastikan berjalan dengan baik.

Ketiga, salah prioritas. Apakah prioritas utama pendidikan kita adalah kuota internet? Atau dana 9 T akan lebih baik bila digunakan memperbaiki pendidikan Indonesia yang tidak melulu urusan kuota internet? Mas Menteri dapat menjawab ini dengan kajian yang tepat.

Salah prioritas juga bisa terjadi lebih serius. Dari mana Bu Menkeu memperoleh dana 9 T ini?

Sedikit ilustrasi saya pernah dapat kabar bahwa SPP siswa SMA digratiskan. Dana SPP siswa SMA ini diperoleh dengan mengalihkan dana bantuan sosial untuk fakir miskin. Hal semacam ini bisa salah prioritas. Fakir miskin yang harusnya mendapat dana justru dipotong dibagikan untuk SPP SMA yang mungkin saja mereka orang-orang kaya.

Bu Menkeu tentu saja punya kajian dan dapat menjelaskan dengan baik sumber dana 9 T ini.

Dengan semangat, saling membantu, saling mengingatkan semoga kita semua bisa berkontribusi untuk memajukan pendidikan Indonesia.

Bagaimana menurut Anda?

Analisis Covid Tak Berguna

Saya beberapa kali menganalisis perkembangan kasus covid corona di Jogjakarta. Kota Yogya yang unik menjadi penting sebagai miniatur Indonesia.

Tetapi semua analisis covid tak lagi berguna. Bukan hanya di Jogja. Di semua tempat kehilangan makna. Karena semua bergeser ke vaksin. Asumsinya: tunggu vaksin maka semua akan selesai sendiri.

Gitu aja kok repot!?

Kurva Perjalanan Pandemi

Jogja masih bergerak menjauh dari kata selesai. Jauh dari mereda. Seharusnya kurva bergerak kembali ke titik O di kiri bawah.

Jogja masih terus cenderung bergerak ke atas dan ke kanan menunjukkan wabah pandemi masih terus terjadi.

Berada pada jarak 336 orang harus ditangani. Dengan kecepatan positif 0,7 orang per hari yang berarti masih terus bertambah. Seandainya berhasil melandai maka masih perlu waktu 130 hari untuk benar-benar selesai.

Kita lihat dari nilai Reproduksi R dalam sebulan terakhir nyaris di atas 1. Kalaupun berhasil di bawah 1 hanya bertahan sebentar saja. Jadi kondisi Jogja memang masih membara.

Mencegah Resesi

Tugas berat bagi Indonesia untuk mencegah resesi. Barangkali Jogja harus ikut menyumpang kenaikan ekonomi. Maka berbagai kegiatan ekonomi termasuk wisata harus digencarkan lagi.

Vaksin harusnya jadi andalan menahan resesi. Tapi vaksin baru tersedia Januari 2021. Dipercepat, jika bisa, Oktober 2020. Sementara jika sampai September 2020 ekonomi Indonesia masih minus maka secara resmi Indonesia masuk resesi.

Hanya tersisa satu bulan September ini untuk mencegah resesi. Apa bisa?

Tampaknya terlalu mahal bila harus mengorbankan kesehatan masyarakat luas demi menjaga citra tidak resesi.

Sekali lagi, vaksin menjadi harapan. Bisakah itu bukan harapan palsu?

Bosan PJJ Terbit 2021

Sudah membosankan. Boros kuota. Banyak tugas. Itu berapa keluhan PJJ – Pembelajaran Jarak Jauh. Ada luring, ada daring.

Tetaplah semangat! Kita punya rencana besar untuk reformasi pendidikan tahun 2021.

1.Transformasi kepemimpinan kepala sekolah. Kita akan memiliki kepada sekolah profesional. Mampu memimpin sekolah yang mengantarkan para siswa meraih sukses. Segenap guru dan pegawai sukses. Serta sekolah menjadi sukses juga. Masalah filosofis dampai teknis dapat ditangani oleh kepada sekolah profesional.

2.Transformasi pendidikan dan pelatihan guru. Ini yang paling ditunggu-tunggu.

Reformasi Pendidikan 2021

Reformasi dimulai dengan memilih menteri pendidikan yang tepat. Tapi malah ada yang usul agar mendikbud dipecat. Saya kira presiden tidak akan mencopot dalam waktu dekat. Masih ada waktu untuk reformasi cepat.

Apresiasi atas program Kartu Indonesia Pintar dan KIP Kuliah yang membantu sekitar 21 juta siswa dan mahasiswa di seluruh Indonesia. Dengan anggaran sekitar 18 T di tahun 2020. Terbukti IPM (Indeks Pembangunan Manusia) terus meningkat di tahun-tahun terakhir ini.

Masih banyak yang bisa ditingkatkan.

A.Tugas utama mendikbud adalah mempromosikan KIP ini di masyarakat. Agar masyarakat miskin terutama tahu bahwa bisa sekolah dan kuliah gratis. Sejauh ini banyak orang yang menilai bahwa sekolah itu mahal, apalagi kuliah. Dan mereka tidak tahu ada beasiswa itu.

Dengan pengalaman mendikbud mempromosikan gojek berhasil menjadi unicorn-decacorn, saya yakin, mendikbud juga akan berhasil mempromosikan beasiswa.

B.Mekanisme KIP yang jelas. Ini menjadi tantangan mendikbud tersendiri. Dengan sistem yang transparan masyarakat jadi tahu apa yang harus mereka siapkan untuk berhak mendapatkan beasiswa. Masyarakat lebih semangat untuk sekolah dan kuliah.

Selama ini masyarakat hanya tahu begitu saja tiba-tiba dapat KIP bagi yang beruntung. Yang tidak dapat KIP sulit untuk mengajukan ke mana. Lagi, dengan pengalaman mendikbud membangun sistem gojek yang keren, saya yakin mendikbud bisa membangun mekanisme transparan untuk KIP.

C.Menambah kuantitas KIP. RAPBN 2021 mengusulkan KIP bertambah mencakup sekitar 21 juta orang lebih sedikit. Tahun 2020 juga sekitar segitu – beda dikit.

Saya yakin kita bisa menaikkan KIP dua kali lebih besar misal mencakup untuk 50 juta orang siswa dan mahasiswa. Tentu butuh dana yang lebih besar. Dari tahun 2020 yang 18 T mungkin perlu 40 T di tahun 2021. Itu bagus saja untuk beasiswa.

Mendikbud yang sudah berhasil menggaet investor dari seluruh dunia untuk bergabung ke gojek saya kira akan berhasil pula menggaet “investor” pendidikan yang hanya perlu tambahan beberapa puluh trilyun rupiah.

Bagaimana menurut Anda?

(Bersambung)

Nilai Ketimpangan Optimis

Nilai ketimpangan n (dan rasio Gini G) pada dasarnya hanya bisa kita estimasi. Maka kita perlu yakin bahwa hasil estimasi kita itu bersifat optimis (baik sangka) atau pesimis (buruk sangka).

Kesimpulannya: nilai ketimpangan adalah estimasi optimis (baik sangka). Maksudnya adalah hasil estimasi kita cenderung lebih baik dari yang seharusnya. Kesimpulan kita ini juga bersifat estimasi.

Simulasi G = 0,38 dengan kurva mulus

Misalkan suatu populasi dengan nilai G = 0,38 (mirip Indonesia). Nilai estimasi dengan kurva mulus menghasilkan n =

Hasil estimasi n di atas yang akan sering kita pakai karena mudah dihitung dan optimis.

Estimasi kelas k = 100

Kurva mulus berasumsi bahwa ada kelas k sebanyak tak hingga kelas. Dalam prakteknya kita sering menggunakan nilai k berhingga. Dengan mengambil k = 100 dan jumlah deret Riemann trapesium kita peroleh estimasi n,

Hasil n = 2,2259 adalah lebih tinggi dari kurva mulus yang n = 2,2258. Jadi kurva mulus merupakan estimasi yang lebih optimis.

Estimasi kelas k = 10

Kita akan bandingkan dengan estimasi k = 10 berikut,

Hasilnya adalah k = 100 lebih optimis dari k = 10. Dan tetap kurva mulus paling optimis.

Estimasi k = 4

Agar lebih lengkap kita coba k = 4,

Mari kita rangkum dalam tabel.

Kelas kEstimasi nSifat
tak hingga2,2258sangat optimis
1002,2259optimis
102,2454pesimis
42,3596sangat pesimis

Bagaimana menurut Anda?

Target Gini 2021

Sedikit lagi hebat.

Tapi butuh perjuangan yang sedikit lagi itu. RAPBN 2021 memasang target Gini di 0,377 – 0,379.

Padahal bila turun sedikit di bawah 0,375 itu luar biasa.

Target RAPBN yang di atas 0,377 itu masih masuk klasifikasi buruk menurut nilai ketimpangan yang saya kembangkan. Hanya perlu turun 0,002 saja maka masuk klasifikasi sedang – moderat.

Saat Gini di atas 0,377 maka sekitar 25% penduduk Indonesia hanya mengkonsumsi sekitar 15% atau 10% dari rata-rata konsumsi Indonesia. Rata-rata konsumsi Indonesia sudah bagus masuk menengah atas yaitu sekitar 5 juta rupiah per orang per bulan. Tapi dengan Gini yang masih agak tinggi maka akan ada sekitar 70 juta orang Indonesia yang konsumsinya sekitar 500 ribu – 750 ribu rupiah per bulan.

Sedikit berbeda bila kita berhasil menurunkan Gini di bawah 0,375. Kondisi akan lebih baik yaitu 25% populasi termiskin menkonsumsi sekitar 20% dari rata-rata. Yang berarti ada sekitar 70 juta orang Indonesia yang konsumsinya 1 juta rupiah per bulannya – minimal. Anggap satu keluarga terdiri 4 orang maka mengkonsumsi, minimal, 4 juta rupiah per bulan. Cukup bagus meski tidak terlalu bagus.

Sayangnya rasio Gini memang tidak terlalu mudah dirasakan. Maka saya mengembangkan nilai ketimpangan n yang lebih intuitif. Semoga lebih memudahkan untuk mengurangi ketimpangan.

Bagaimana menurut Anda?