Paradox Dosa Potensial

Dunia ini penuh dengan paradox. Saya menambahkan satu lagi paradoks yaitu paradoks dosa potensial.

Entrepreneurial Thinking Paradoxes

Setiap orang terjerat dalam dosa potensial. Bahkan, orang yang tidak berdosa pun, terjerat dalam dosa potensial. Memang, itulah paradoxnya. Sementara, orang jahat memang dia berdosa. Tidak ada paradox terhadap orang jahat.

1. Niat Baik Tanpa Ilmu
2. Setiap Ilmu Tak Sempurna
3. Dosa Moral
4. Dosa Potensial
5. Solusi dari Dosa

Hari Filsafat Dunia: Perempuan, Parfum, dan Pengeran

Selamat Hari Filsafat Dunia, Kamis, 18 November 2021.

World Philosophy Day 2019

Mengapa filsafat dunia? Mengapa kita perlu hari filsafat dunia? Ada apa dengan filsafat masa kini? Ke arah mana filsafat akan bergerak?

1. Rumah Manusia
2. Anak Manusia
3. Pandemi Semesta
4. Perbedaan Nyata
5. Perempuan, Parfum, Pengeran: 3P
5.1 Perempuan
5.2 Parfum
5.3 Pengeran

1. Rumah Manusia

Plato, filsuf abad 5 SM, mengatakan bahwa filsafat bermula dari rasa kagum. Pikiran adalah rumah dari filsafat. Di saat yang sama, filsafat adalah rumah kita, filsafat adalah rumah manusia, filsafat adalah rumah setiap umat.

Rumah filsafat melindungi kita dari terik matahari dan derasnya hujan. Rumah filsafat memberi umat, suasana hangat. Sekali waktu, ada bocor di rumah kita. Hal seperti itu wajar terjadi. Kita bisa memperbaiki rumah kita bersama. Kadang kala, gempa mengguncang. Kita lari berhamburan keluar dari rumah. Rumah, yang semula menjadi pelindung, bisa berubah menjadi ancaman – ketika gempa melanda. Bagaimana pun, kita perlu untuk pulang kembali ke rumah. Membangun kembali rumah kita, rumah umat manusia.

Hari ini, Kamis, 18 November 2021, ditetapkan sebagai Hari Filsafat Dunia. UNESCO menetapkan Hari Filsafat Dunia jatuh pada setiap hari Kamis, pekan ketiga bulan November. Pertama kali dirayakan pada 21 November 2002.

Mengapa dunia perlu filsafat?

Umat manusia sadar, saat ini, kita berada dalam masalah besar. Pandemi covid-19, terbukti, meluluh-lantakkan peradaban manusia hanya dengan virus yang mirip dengan virus flu. Bukan hanya penyakit yang mengancam, tetapi perpecahan umat manusia begitu nyata. Di saat pandemi, tidak mudah, bagi negara kaya untuk berbagi vaksin kepada negara miskin. Bahkan, di masing-masing negara, terjadi korupsi terhadap bantuan sosial penanganan pandemi. Lebih-lebih, umat manusia terpecah-belah menilai covid – apalagi untuk meresponnya.

Krisis iklim tampak nyata di depan mata. Kenaikan suhu dunia lebih dari 1,5 derajat celcius bisa terjadi sebelum tahun 2050, bahkan, bisa lebih cepat terjadi di 2030. Dengan kondisi seperti itu, bumi tidak layak dihuni oleh manusia lagi – juga tidak layak untuk makhluk hidup. Memang, pemanasan global akan terjadi secara bertahap dimulai di beberapa wilayah dunia. Tetapi, kita bisa mencegahnya. Mengapa manusia tidak mau mencegahnya? Kita perlu pegangan kepada landasan filosofis yang kokoh untuk sama-sama menyelamatkan bumi.

Masih banyak lagi, ancaman dunia yang bisa menghancurkan bumi. Ancaman senjata nuklir, senjata pemusnah massal, dan senjata biologis adalah beberapa di antaranya. Sementara, kemiskinan dan ketimpangan orang kaya dan orang miskin makin menganga di penjuru dunia. Di beberapa wilayah, perebutan kekuasaan politik kerap mengakibatkan pertumpahan darah dari ribuan warga yang tak berdosa.

Dari arah yang berbeda, teknologi digital menjadi sarana eksploitasi manusia. Media digital, yang sejatinya, menjadi sarana untuk meningkatkan peradaban manusia, berbelok menjadi senjata ampuh eksploitasi antar sesama.

Dan masih banyak lagi berita buruk di hadapan kita.

Tetapi, rumah filsafat menjaga kita. Kita, sebagai umat manusia, memiliki kemampuan untuk mengatasi segala ancaman itu. Dengan empati dan strategi, kita bangkit kembali. Kita bisa berbuat banyak untuk menghentikan kerusakan yang terjadi. Kita bisa, selangkah demi selangkah, begandeng tangan menjaga bumi. Kita bisa menjadi manusia sejati, di rumah bumi, di rumah filsafat dalam hati.

2. Anak Manusia

Sejak lahir, sejak kanak-kanak, kita kagum kepada dunia. Kita kagum kepada segala yang ada. Kita terlahir sebagai filsuf tingkat dunia. Seorang anak, bebas, bertanya tentang apa saja. Dan, seorang anak, suka ria, menerima jawaban dari mana saja. Baik jawaban yang masuk akal, mau pun, jawaban yang memantik imajinasi belaka.

Kita perlu menjadi filosof. Kita perlu menjadi anak-anak kembali. Kita, memang, anak manusia.

Kita boleh bertanya, “Apa makna hidup ini?”

Makna hidup adalah untuk mencari sesuap nasi. Anak manusia tertawa mendapat jawaban seperti itu. Anak manusia, tetap, bersimpati atas semua jawaban. Anak manusia selalu bahagia.

Makna hidup adalah untuk mengabdi kepada Tuhan. Anak manusia menerima jawaban seperti itu. Anak manusia, benar-benar, percaya dengan setiap jawaban. Anak manusia merasa senang selalu dalam penjagaan Tuhan. Anak manusia senang bahwa kebaikan selalu dijamin dibalas oleh kebaikan. Tuhan Maha Baik. Tuhan Maha Bijaksana.

Makna hidup adalah untuk bersenang-senang. Anak manusia makin senang mendengar jawaban ini. Memang asyik, ketika hidup, untuk bersenang-senang. Anak manusia, bersemangat, untuk terus berpetualang.

Itulah kita sebagai anak manusia. Bertanya tentang apa saja. Dan, dengan senang hati, menerima jawaban apa saja.

Jangan dikira, anak manusia lalu diam setelah mendapat jawaban. Meskipun, anak manusia, dengan simpati menerima setiap jawaban, di saat yang sama, dia berpikir kembali. Dia mengajukan pertanyaan lanjutan lagi. Dia bersimpati lagi. Dia berpikir lagi. Dia berpikir terbuka.

Tiba saatnya, bagi kita, untuk kembali menjadi anak manusia – dengan berpikir terbuka.

3. Pandemi Semesta

UNESCO merayakan Hari Filsafat Dunia tahun 2021 ini dengan mengambil tema utama tentang “Pandemi”.

Saya perhatikan, UNESCO lebih fokus kepada aspek aksiologi dari filsafat. Sehingga, mereka berharap, filsafat akan memberi solusi atas beragam masalah yang dihadapi oleh umat manusia saat ini. Saya kira, itu adalah harapan yang pantas. Filsafat, sepantasnya, mampu memberikan jawaban yang memadai atas berbagai macam persoalan itu. Kita berharap, filsafat mampu memberikan solusi terhadap pandemi yang tengah terjadi.

Menariknya, UNESCO juga menekankan pentingnya filsafat kritik. Saya kira, filsafat kritik, adalah pilihan fokus yang tepat. Kita memang perlu mengembangkan kritik terhadap segala yang ada. Dengan kritik, kita mengetahui batasan-batasan dari segala sesuatu. Sehingga, kita bisa fokus kepada kekuatan banyak hal dan mencegah hal-hal negatif yang menjadi resikonya.

Filsafat kritik, memang, berkembang subur hanya di bidang filsafat. Sementara, bidang non-filosofis berkembang melalui inovasi, kreasi, efisiensi, efektivitas, investasi, dan lain-lainnya, adalah perkembangan yang sepantasnya. Bagaimana pun, perkembangan bidang-bidang itu perlu bersanding dengan perkembangan filsafat kritik. Agar semua tetap berada di jalur yang lurus. Menjadikan manusia sebagai manusia. Menjadikan alam raya sebagai rumah bersama.

Pandemi semesta mengingatkan kita untuk tetap waspada menerapkan filsafat kritik di segala bidang kemanusiaan.

4. Perbedaan Nyata

Perbedaan adalah realitas yang, di mana-mana dan kapan saja, selalu ada. Kita harus menerima adanya perbedaan. Bahkan, kita perlu menghormati segala perbedaan.

Aristoteles (abad 4 SM) merumuskan prinsip terpenting dalam berpikir filsafat adalah prinsip identitas dan non-kontradiksi. Segala sesuatu identik dengan dirinya sendiri dan berbeda dengan yang lainnya. Dengan prinsip identitas ini, kita bisa melakukan beragam penyelidikan. Termasuk penyelidikan sains dan teknologi.

Tetapi, prinsip identitas bisa melangkah terlalu jauh. Mereka yang berbeda bisa dianggap sebagai lawan. Atau setidaknya, bisa dianggap sebagai pihak lain. Kemajuan sains dan teknologi, efek samping prinsip identitas, berdampak eksploitasi alam dan bangsa lain. Kolonialisme merebak di belahan dunia. Filsafat perlu melakukan kritik serius terhadap praktek prinsip identitas.

Hegel (1770 – 1831) mengajukan konsep dialektika yang menggeser keutamaan prinsip identitas – tetapi tidak mudah terjadi. Pengetahuan manusia adalah tesis yang tidak pernah sempurna. Setiap tesis mengundang kontradiksi dengan memunculkan anti-tesis. Kemudian, tesis dan anti-tesis, berdialektika menghasilkan sintesis. Pada gilirannya, sintesis itu sendiri adalah tesis yang akan mendorong munculnya anti-tesis. Demikianlah pengetahuan, dan alam raya, terus-menerus berproses dialektika. Dengan dialektika, kita perlu menghormati pihak lain sebagai anti-tesis agar terjadi proses dialektika.

Karl Marx (1818 – 1883) menerapkan konsep dialektika Hegel ke dalam sejarah umat manusia. Kemajuan kapitalis (sebagai tesis) akan mendorong lahirnya kelas proletar (anti-tesis), untuk kemudian, berdialektika menghasilkan masyarakat sosialis (sebagai sintesis). Pandangan Marx ini mengilhami banyak pejuang untuk membela kaum kecil, kaum pekerja, guna melawan kekuatan kapitalis. Bagaimana pun, sosialis menjadi alat ampuh untuk melakukan kritik kepada kapitalis, sampai sekarang.

Secara filosofis, proses dilektika Hegel tidak mudah untuk dipertahankan. Kita perlu mengembangkan kritik terhadap konsep dialektika.

Deleuze (1920 – 1995) mengembangkan konsep metafisika different. Prinsip identitas bukanlah prinsip paling utama dalam filsafat. Prinsip paling utama adalah perbedaan. Kita, manusia, adalah totalitas dari seluruh perbedaan-perbedaan dari semua yang bukan manusia, semua yang bukan kita. Repetisi, pengulangan terus-menerus, dari seluruh totalitas semua yang bukan manusia membentuk identitas diri kita sebagai manusia. Dengan demikian, perbedaan adalah prinsip paling utama. Dari perbedaan ini, kemudian, kita membentuk identitas diri, melalui repetisi perbedaan.

Dengan prinsip different, perkembangan tesis menjadi sinstesis bukan disebabkan oleh kontradiksi terhadap anti-tesis. Tidak diperlukan adanya anti-tesis di sini. Dialektika, hadirnya sintesis, adalah karena munculnya tesis lain yang berbeda. Perbedaan antara beragam tesis itulah yang mendorong hadirnya sintesis sebagai hasil pertumbuhan.

Dengan demikian, kita mengakui, bahkan menghormati perbedaan. Keragaman adalah pendorong pertumbuhan. Prinsip pertama adalah perbedaan (different), kedua adalah identitas, ketiga adalah dialektika dan lain-lain.

5. Perempuan, Parfum, Pengeran: 3P

Pada bagian akhir tulisan ini, saya akan merumuskan filsafat dari yang abstrak sampai yang kongkrit dengan meminjam konsep 3P: Perempuan, Parfum, Pengeran.

Ibnu Arabi (1165 – 1240) mengakhiri karya filsafat terbaiknya, The Bezel of Wisdom, dengan konsep metafisika cinta yang jelas. Berfilsafat adalah jatuh cinta. Hidup yang penuh cinta adalah hidup dalam hikmah filsafat. Filsafat adalah jatuh cinta kepada perempuan, parfum, dan Pengeran.

5.1 Perempuan

Ingatkah ketika Anda jatuh cinta? Hidup terasa berbunga-bunga. Hanya ada bahagia. Hanya ada cinta.

Filsafat adalah jatuh cinta kepada perempuan Anda. Filsafat adalah mencintai istri Anda sepenuh hati. Bukan hanya jatuh cinta pada pandangan pertama waktu itu, tetapi, jatuh cinta dalam abadi. Filsafat adalah hidup, dari cinta menuju cinta, bersama cinta.

Istri Anda adalah perempuan. Ibu Anda adalah perempuan. Barangkali, anak Anda juga perempuan. Filsafat mengajak Anda mencintai mereka. Di saat yang sama, mereka mencintai Anda. Cantiknya perempuan adalah simbol cantiknya semesta. Mencintai perempuan adalah mencintai semesta. Memberikan yang terbaik untuk semesta. Dan, menerima yang terbaik dari semesta.

Apa pun mazhab filsafat yang Anda pegang, harus mengajak Anda mencintai, dan dicintai, perempuan. Jika tidak, barangkali, Anda perlu melakukan kritik tajam terhadap filsafat Anda atau silakan berganti madzhab filsafat.

Perempuan bisa bermakna pasangan. Jika Anda seorang istri, maka filsafat mengajak Anda untuk jatuh cinta kepada suami abadi. Filsafat adalah cinta suci yang abadi. Filsafat ada di sini.

5.2 Parfum

Harum semerbak mewangi. Tak terlihat. Tak tersentuh. Tak terduga. Parfum menebarkan aroma wangi ke alam sekitar.

Filsafat, barangkali, tak terlihat, tak tersentuh, dan tak terpikirkan. Tetapi, aroma harum filsafat harus semerbak memenuhi semesta. Jika Anda mengkaji filsafat tapi tidak menebarkan aroma wangi maka Anda perlu kritik filsafat yang tajam. Atau, Anda bisa mempertimbangkan pindah madzhab filsafat. Karena, filsafat sejati senantiasa menebarkan aroma wangi.

Filsafat mengarahkan sains untuk terus tumbuh berkembang. Filsafat mengarahkan teknologi menyuburkan bumi. Filsafat mengarahkan ekonomi lebih manusiawi. Filsafat bersahabat dengan agama. Filsafat berteman dengan logika. Filsafat menebarkan aroma cinta bagi seluruh semesta.

Parfum adalah benda padat atau cair yang kasat mata. Aroma wanginya menyeruak tanpa terlihat mata. Filsafat mengkaji segala sesuatu yang ada di depan mata. Di saat yang sama, filsafat terbang tinggi melebihi penglihatan dua bola mata.

5.3 Pengeran

Dalam bahasa Jawa, Pengeran bermakna sebagai Tuhan. Filsafat mengajak kita jatuh cinta kepada perempuan, parfum, dan yang sangat pentig, kepada Pengeran, Tuhan.

Pengeran, adalah Sang Maha Cinta, yang bermanifestasi di seluruh penjuru semesta. Perempuan adalah manifestasi cinta. Parfum adalah manifestasi cinta. Pengeran adalah Maha Cinta.

Bagaimana dengan orang ateis yang tidak percaya Tuhan? Misal, Richard Dawkins tidak percaya Tuhan. Dia lebih percaya kepada probabilitas. Maka, tugas dia untuk merumuskan probabilitas agar layak, dia, jatuh cinta padanya.

Jika filsafat tidak mengantar Anda jatuh cinta kepada Pengeran maka Anda boleh melakukan kritik tajam terhadap filsafat. Atau, seperti sebelumnya, Anda bisa pindah ke filsafat madzhab cinta.

Filsafat mengantar kita jatuh cinta kepada Pengeran. Sejatinya, Pengeran senantiasa mencintai kita. Pengeran mencintai alam raya. Kita, selamanya, ada dalam naungan cinta Sang Maha Cinta.

Selamat jatuh cinta!
Selamat Hari Filsafat Dunia!
Selamat berbahagia!

Teorema Godel Era Digital

Teorema Godel memang luar biasa. Hampir 100 tahun, dikaji oleh masyarakat saintis dengan penuh curiga dan penuh pesona, hasilnya, teorema Godel tetap berjaya. Teorema Godel memang paradox, skeptis, dan negatif. Tidak masalah dengan itu. Kita membutuhkan yang seperti itu.

Incompleteness Theorems: Logical Necessity of Inconsistency

Ketika Godel menulis teorema, tahun 1931, teknologi digital belum berkembang. Bahkan, di akhir masa hidup Godel, tahun 1978, media digital juga belum terlalu berkembang. Sehingga, Godel tidak mengeksplorasi aljabar boolean secara mendalam. Godel tetap mendasarkan teorema kepada aksioma Peano.

Dalam tulisan ini, saya mencoba menganalisis Godel dengan mempertimbangkan kemajuan era digital. Lebih dalam, saya memperluas teorema Godel menjadi teorema Emak-Godel.

1. Teorema Godel dan Emak-Godel
1.1 Teorema Godel
1.2 Teorema Emak
1.2 Teorema Emak-Godel

2. Konsep Godel Digital
2.1 Coding Godel Digital
2.2 Logika Diagonal Digital

3. Terbukti Tidak Lengkap
3.1 Bukti Tidak Lengkap
3.2 Bukti Tidak Konsisten
3.3 Solusi Tidak Lengkap

4. Terbukti Emak Godel

5. Artificial Intelligence
5.1 Argumen Penrose
5.2 AI Setara Manusia

6. Debat Paradox
6.1 Paradox Zeno
6.2 Paradox Russell
6.3 Wittgenstein Vs Godel
6.3.1 Keunggulan Godel
6.3.2 Keunggulan Wittgenstein
6.3.3 Kesimpulan Godel Wittgenstein

1. Teorema Godel dan Emak-Godel

Pertama, mari kita formulasikan ulang teorema Godel. Kedua, kita membuat penafsiran singkat dari teorema Godel. Selanjutnya, kita kaji teorema Emak-Godel.

1.1 Teorema Godel:

i) Sistem formal yang konsisten pasti tidak lengkap
ii) Sistem formal yang lengkap pasti tidak konsisten

Sistem formal adalah sistem aksiomatik semisal operasi penjumlahan aritmetika pada bilangan asli. Misal, 1 + 2 = 3 adalah benar secara aksiomatik. Dan akibatnya, konsisten selalu berlaku 1 + 2 = 3.

Karakter konsisten adalah keharusan bagi suatu sistem formal. Karena, dengan konsisten kita bisa mengandalkannya. Sebaliknya, tanpa konsistensi, kita tidak bisa mengandalkan apa pun. Sistem konsisten seperti itu, contohnya, adalah sistem aksiomatik Peano.

Godel membuktikan bahwa sistem yang konsisten seperti itu pasti tidak lengkap. Yaitu, ada suatu pernyataan yang tidak bisa dibuktikan sebagai bisa diterima atau harus ditolak. Akibatnya, sistem tersebut adalah tidak lengkap – karena ada pernyataan yang tidak bisa dibuktikan.

Teorema Godel yang kedua, tentang tidak konsisten, bisa kita pandang sebagai konsekuensi dari teorema yang pertama, tentang tidak lengkap.

Sistem yang konsisten maka tidak lengkap. Sebaliknya, ketika sistem dianggap lengkap maka dalam sistem itu ada pernyataan yang tidak konsisten. Yaitu ada pernyataan yang tidak bisa dibuktikan. Akibatnya, sistem tidak berhasil membuktikan, secara lengkap, bahwa sistem selalu konsisten.

Sistem yang lengkap maka tidak konsisten – karena ada pernyataan yang tidak bisa dibuktikan sebagai konsisten di dalam sistem. Atau, sistem yang lengkap tidak bisa membuktikan dirinya sebagai konsisten.

1.2 Teorema Emak: “Setiap emak-emak punya ibu.”

1.3 Teorema Emak-Godel:

i) Teorema formal: Setiap sistem formal pasti antara tidak lengkap atau tidak konsisten.
ii) Teorema konsep: Setiap konsep pemikiran pasti antara tidak lengkap atau tidak konsisten.

Bukti teorema formal, langsung, mengikuti bukti teorema Godel. Sementara, bukti teorema konsep mengikuti teorema emak-emak yang menyatakan, “Setiap emak-emak punya ibu.”

Teorema konsep mengubah pernyataan emak-emak menjadi, “Setiap konsep didahului konsep lainnya.”

Asumsikan ada sistem konsep pemikiran yang konsisten di mana setiap konsep didahului, didasarkan pada, konsep sebelumnya. Konsep-1 didasarkan pada konsep-2 dan konsep-2 didasarkan pada konsep-3 dan seterusnya.

{konsep-1, konsep-2, … … … konsep-9}

Sistem ini konsisten sampai konsep-8 yang didasarkan pada konsep-9. Sedangkan, konsep-9, kita tidak bisa membuktikan di dalam sistem. Mungkin saja, konsep-9 konsisten karena di dasarkan pada konsep-10. Tetapi, konsep-10 tidak ada dalam sistem. Akibatnya, kita tidak bisa membuktikannya.

Kesimpulannya: terbukti sistem tidak lengkap karena ada konsep, yaitu konsep-9, yang tidak bisa dibuktikan sebagai konsisten dalam sistem tersebut.

Barangkali, kita terpikir, tambahkan saja konsep-10 ke dalam sistem. Benar, konsep-9 jadi terbukti konsisten. Tetapi, konsep-10 menjadi tidak bisa dibuktikan. Demikian seterusnya. Sistem konsep yang konsisten tidak pernah lengkap.

Bagian kedua, tentang sistem yang lengkap pasti tidak konsisten, bisa kita buktikan dengan bukti di atas. Asumsikan ada sistem konsep yang lengkap dari konsep-1 sampai konsep-9. Tampak jelas, ada konsep yang tidak konsisten yaitu konsep-9. Sehingga, sistem tersebut tidak berhasil membuktikan konsisten secara sempurna.

Perlu kita catat di sini bahwa teorema Emak-Godel berhasil membuktikan adanya ketidak-lengkapan dan ketidak-konsistenan dari setiap sistem. Tetapi, teorema Emak-Godel tidak merobohkan seluruh bangunan sistem formal atau pun konsep pemikiran. Teorema Emak-Godel hanya menunjukkan adanya suatu lubang dalam sistem. Sehingga, kita perlu waspada dengan lubang tersebut.

2. Konsep Godel Digital

Godel mengantisipasi perkembangan era digital sejak 90 tahun yang lalu. Untuk membuat teorema yang kokoh, Godel membuat kode-kode prima yang sama hebatnya dengan teknologi digital. Godel memanfaatkan perpangkatan bilangan prima untuk kode-kodenya yang canggih. Sementara, teknologi digital memanfaatkan bilangan biner 0 dan 1.

George Boole (1815 – 1864) sudah mengembangkan aljabar “boolean”, setengah abad sebelum Godel lahir. Dengan aljabar ini, kita bisa melakukan operasi aritmetika apa pun hanya dengan memanfaatkan simbol biner 0 dan 1 saja. Orang-orang tidak menyadari keunggulan aljabar boolean ini sampai pada waktunya lahir revolusi teknologi digital.

Lebih dari itu, aljabar boolean, sejatinya juga bisa kita gunakan untuk membangun sistem formal mau pun sistem konsep. Karena itu, dalam tulisan ini, kita akan mengkaji Godel dengan pertimbangan era digital berbasis aljabar boolean.

2.1 Coding Godel Digital

Godel dengan cerdik membuat kode-kode prima. Dengan kode prima, Godel berhasil menyusun teorema yang kokoh. Di satu sisi, kalangan saintis bisa mengkritisi dengan tegas, di sisi lain, Godel terhindar dari debat berkepanjangan tentang interpretasi makna bahasa.

Terbukti, teorema Godel bertahan sampai sekarang dengan meyakinkan. Kode-kode prima diterima dengan pasti oleh kalangan saintis. Tentu saja, matematikawan berikutnya bisa memodifikasi dan menyempurnakan argumen teorema Godel. Dan, seperti di duga, interpretasi makna teorema Godel secara bahasa adalah beragam. Keragaman interpretasi, sama sekali, tidak mengganggu keabsahan bukti formal kode-kode prima.

Lebih jauh dari itu, kode prima memungkinkan kita berpikir lebih luas dari sistem formal itu sendiri. Bayangkan himpunan bilagan biner {0, 1} dengan operasi penjumlahan.

Di atas kertas, kita hanya bisa menuliskan, misalnya,

0 + 1 = 1

Dengan kode prima, kita bisa menuliskan,

“Jika 0 + 1 = 1 maka 1 + 0 = 1.”

Pernyataan pertama, 0 + 1 = 1, dinyatakan dengan satu kode prima, misal m. Sedangkan, pernyataan kedua dinyatakan dengan satu kode prima berbeda misal n.

Kode prima adalah suatu bilangan unik yang merupakan hasil kali dari bilangan-bilangan prima berpangkat. Mempertimbangkan contoh di atas, kode prima mampu mewakili prinsip logika manusia. Di antaranya prinsip non-kontradiksi, implikasi, biimplikasi, dan lain-lain.

Bandingkan dengan kode biner. Aljabar boolean juga bisa menyatakan kode prima m menjadi bilangan biner. Yaitu, bilangan yang digit-digitnya hanya terdiri dari angka 0 dan 1. Keunggulan bilangan biner adalah bisa dimplementasikan dalam bentuk teknologi digital.

Baik kode prima mau pun kode biner, keduanya, harus kita ubah ke bahasa manusia agar kita mampu memahaminya. Kode prima, hanya para ahli matematika yang mampu menerjemahkan ke bahasa manusia. Sementara kode biner, komputer bisa menerjemahkan ke bahasa manusia dengan menampilkan hasilnya di layar, misalnya.

Kemampuan menampilkan di layar ini, yang akan kita manfaatkan untuk mengkaji teorema Godel.

2.2 Logika Diagonal Digital

Godel lebih kreatif lagi dengan mengembangkan logika diagonal. Dengan logika diagonal ini, sistem formal mampu berbicara tentang banyak hal, termasuk berbicara tentang dirinya sendiri. Meski demikian, serumit apa pun pembicaraan itu, hanya akan berupa satu kode prima saja – bilangan unik hasil perkalian bilangan prima berpangkat.

Mari kita ambil contoh lagi. Sistem formal, barangkali hanya bisa menyatakan,

0 + 1 = 1 .

Dan, kode prima mengatakan pernyataan di atas sebagai bilangan m. Lebih jauh, logika diagonal memungkinkan untuk menyatakan,

“Terbukti bahwa (0 + 1 = 1)”

Misalkan, pernyataan tersebut dinyatakan dengan kode prima bilangan p. Kita bisa menerjemahkan kembali bilangan p ke sistem formal yang asli, misal menghasilkan,

11++=011.

Bagaimana pun, kode prima, dengan logika diagonal tidak bisa sembarangan memproduksi pernyataan. Misal,

“Tidak terbukti bahwa (0 + 1 = 1)”

dinyatakan dengan kode prima bilangan q.

Selanjutnya, ketika kita hendak menerjemahkan q ke sistem formal, ternyata, sistem formal tidak bisa memproduksi q. Sehingga, q adalah tidak valid dalam sistem formal.

Bagaimana dengan logika diagonal bidang digital? Berkembang lebih pesat. Di antaranya, berkembang bahasa program C++, Java, IOS, Android, IPv6, media sosial, dan lain-lain.

Dengan Java, misalnya, kita bisa menyusun pernyataan apa saja. Sebagian pernyataan itu valid sehingga bisa berjalan di sistem digital. Tetapi, bisa saja sebagian pernyataan yang lain tidak valid sehingga tidak bisa dijalankan.

Langkah Godel menyusun logika diagonal ini membuka jalan untuk membuktikan teoremanya.

3. Terbukti Tidak Lengkap

Setiap sistem formal adalah konsisten, minimal sebagian besar adalah konsisten. Kita perlu mengasumsikan bahwa sistem formal adalah konsisten. Karena kebalikannya, yaitu sistem yang tidak konsisten, tidak perlu dikaji.

3.1 Bukti Tidak Lengkap

Mari kita bandingkan beberapa pernyataan.

Baris 1 sudah jelas, kita bahas sebagai contoh di atas. Baris 1 ini mudah karena kita bisa bekerja dari arah mana pun. Kita bisa membuat pernyataan pada sistem formal bahwa “0 + 1 = 1”, kemudian menemukan kode prima adalah bilangan m, dan menampilkan di layar digital “0 + 1 = 1”.

Baris 2 lebih sulit. Kita tidak bisa memulai dari sistem formal. Karena, pernyataan pada sistem formal, hampir, tidak bermakna bagi manusia. (Pernyataan pada sistem formal di atas hanyalah permisalan dengan asumsi valid). Para ahli matematika bisa memulai dari kode prima bilangan p kemudian memahami maknanya. Orang pada umumnya, lebih mudah mulai dari layar digital, “Terbukti bahwa (0 + 1 = 1)”.

FormalKode PrimaLayar Digital
0 + 1 = 1m0 + 1 = 1
11++=011pTerbukti bahwa (0 + 1 = 1)
11==+00tx = 3 jejika 2 + x = 5
1+===0ry = 2 jejika y bukan = 2
11+=+00sada k jejika tidak ada k

Baris 3 adalah landasan utama untuk bukti teorema Godel. Perhatikan kekuatan logika diagonal di pernyataan baris 3 ini. Lagi, kita tidak bisa mulai dari pernyataan sistem formal. Kita, lebih mudah, mulai dari layar digital, “x = 3 jejika x + 2 = 5”. Kemudian, menemukan kode prima adalah bilangan t dan sistem formal adalah “11==+00”.

Berhasil. Contoh-contoh di atas menunjukkan bahwa sistem konsisten. Tetapi, apakah konsisten secara sempurna, konsisten secara lengkap?

Baris 4 adalah bukti utama teorema Godel.

Layar digital, kode prima, dan sistem formal berhasil memproduksi baris 4 dengan baik. Apa konsekuensinya?

Layar digital menampilkan “y = 2 jejika y bukan = 2”, kode prima menghasilkan bilangan r, dan sistem formal menampilkan “1+===0”.

Kita bertanya kepada sistem formal, “Berapa nilai y?” Sistem formal menjawab y = 2. Tetapi implikasinya adalah y bukan = 2. Jadi, apakah y = 2 atau y bukan = 2? Sistem formal tidak bisa membuktikan bahwa y = 2 dan sistem formal tidak bisa membuktikan bahwa y bukan = 2.

Dengan demikian, sistem formal tidak lengkap, terbukti. Karena, ada pernyataan dalam sistem formal tersebut yang tidak bisa dibuktikan.

Baris 5 adalah contoh pernyataan yang lebih kuat karena menyangkut eksistensi sesuatu dalam sistem formal. Apakah k ada? Jika sistem tidak menjawab, diasumsikan, tidak ada k dalam sistem. Implikasinya, maka ada k dalam sistem.

3.2 Bukti Tidak Konsisten

Bukti tidak konsisten bisa, salah satu caranya, dengan analisis logika dari bukti tidak lengkap di atas.

Karena tidak lengkap maka ada pernyataan dalam sistem yang tidak bisa dibuktikan. Akibatnya, ada bagian tertentu dari sistem yang tidak konsisten. Kesimpulannya: sistem tidak konsisten, terbukti.

3.3 Solusi Tidak Lengkap

Bukankah solusinya sederhana? Tambahkan, ke dalam sistem, aksioma khusus. Dalam contoh kita, misalkan tambahkan aksioma bahwa “y = 2”. Maka terbukti y = 2 dan semua pernyataan lain dalam sistem adalah konsisten.

Ide semacam itu menarik dan kreatif. Pada akhirnya, tidak ada pernyataan di layar “y = 2 jejika y bukan = 2”. Dan, tidak ada kode prima bilangan r. Hal semacam itu memang terjadi. Tetapi, kita hanya menggeser masalah saja.

Di layar, kita bisa memproduksi, misalnya, “z = 3 jejika z bukan = 3”. Kode prima berupa bilangan v dan sistem formal menyatakan “111+++”. Dan seterusnya tanpa henti. Ketika ditambah aksioma baru akan ditemukan pernyataan baru.

Pernyataan yang membuktikan teorema Godel, seperti di atas, dikenal sebagai “pernyataan Godel” atau “Godel sentence” dilambangkan sebagai G. Kenyataanya, tidak selalu mudah menemukan G. Bisa jadi, G adalah barang langka, meski ada. Bagaimana pun, ahli matematika yang berpengalaman dibantu komputer, akan berhasil menyusun G.

Perlu kita catat juga, meski teorema Godel berhasil membuktikan bahwa setiap sistem formal pasti tidak lengkap atau tidak konsisten, tetapi, kejadian tidak konsisten jarang terjadi. Tidak konsisten hanya terjadi ketika melibatkan G.

Jika tidak konsisten ini bisa diabaikan, atau bisa mitigasi dengan baik, maka sistem formal tetap bisa diterima sebagai wajar. Tetapi, jika tidak konsisten ini berbahaya maka perlu aksi lanjutan. Bisa jadi, aksi lanjutan adalah menolak sistem formal tersebut. Atau, bisa juga, menambahkan aksioma baru sedemikian hingga, resiko akhir bisa diterima.

4. Terbukti Emak Godel

Kita sudah berhasil menunjukkan keabsahan teorema Godel. Sebelumnya, kita juga sudah menunjukkan keabsahan teorema emak-emak. Dengan demikian, kita sudah sah meng-klaim kebenaran teorema Emak-Godel.

Godel membuktikan bahwa tidak ada sistem formal yang sempurna. Sistem formal pasti tidak lengkap atau tidak konsisten. Sehingga, kita perlu rendah hati untuk menerima kenyataan yang tidak sesempurna harapan. Dari perspektif positif, Godel menunjukkan kelemahan suatu sistem. Selanjutnya, tugas kita untuk memperbaiki sistem atau menggantinya dengan yang lain.

Bagaimana pun, teorema Godel terbukti untuk sistem formal. Sementara, untuk sistem yang lain tidak dibahas. Kita sudah mengembangkan teorema Emak-Godel yang berlaku lebih luas yaitu meliputi sistem konsep pemikiran. Setiap sistem konsep pemikiran pasti tidak lengkap atau tidak konsisten.

Lagi, kita perlu rendah hati menerima bahwa konsep pikiran kita tidak sempurna. Konsep pikiran bisa tidak lengkap, atau bisa tidak konsisten. Emak-Godel menunjukkan kelemahan pikiran kita. Selanjutnya, tugas ada di diri kita. Kita bisa saja memperbaiki sistem konsep pemikiran. Sayangnya, kita tidak bisa mengganti pikiran dan kepala kita.

Dengan teorema Emak-Godel, kita akan mencoba mengkaji “artificial intelligence” atau AI. Dalam format canggihnya menjadi general AI atau strong AI.

5. Artificial Intelligence

AI merupakan bidang penelitian paling prospek saat ini, di samping, blockchain, energi terbarukan, akses internet, dan genetika. AI, dengan kecerdasannya, mampu berpikir layaknya manusia. Apakah benar bisa seperti itu?

5.1 Argumen Penrose

Lucas dan Penrose (1931 – ) berargumen bahwa tidak mungkin AI bisa meniru cara berpikir manusia. Mereka, Lucas dan Penrose, mendasarkan argumennya pada teorema Godel. Alur argumennya, kurang lebih, sebagai berikut.

1. Asumsikan ada sistem formal AI yang mampu meniru pikiran manusia. Berdasar teorema Godel,
2. AI tersebut tidak bisa membuktikan G (pernyataan Godel) benar atau salah. Tetapi,
3. Manusia tahu, bisa membuktikan, bahwa G benar.
4. Karena AI bisa menirukan manusia, maka, AI bisa membuktikan G.
5. Kontradiksi antara (4) dan (2).
6. Kesimpulan: asumsi AI bisa meniru manusia adalah salah. Jadi, AI tidak akan pernah bisa menirukan pikiran manusia.

Chalmers (1966 – ) menilai bahwa argumen Penrose memang problematis. Pemikir-pemikir lain, banyak, yang mengkritik argumen Penrose ( dan Lucas). Menurut saya Chalmers benar, argumen Penrose problematis. Bagaimana pun, menerapkan teorema Godel ke konsep AI memang menarik.

Beberapa pertanyaan bisa kita ajukan.

1. Apakah pikiran manusia adalah sistem formal? Jika bukan sistem formal maka kita tidak bisa menerapkan teorema Godel. Jika pikiran manusia adalah sistem formal, apa saja argumennya?

2. Jika pikiran manusia adalah sistem formal maka pikiran manusia tidak bisa membuktikan G, sama halnya dengan AI. Bukankah itu bukti AI bisa meniru manusia?

Dari sini, tampak, bahwa kita tidak bisa menerapkan teorema Godel terhadap sistem pikiran manusia. Kita perlu meluaskan lebih dulu menjadi teorema Emak-Godel.

5.2 AI Setara Manusia

Sistem pikiran manusia adalah sistem konsep pemikiran. Karena itu, sistem pikiran manusia pasti tidak lengkap atau tidak konsisten – sesuai teorema Emak-Godel.

Apakah AI, dengan demikian, bisa menirukan pikiran manusia? Karena, mereka sama-sama tidak lengkap dan tidak konsisten?

AI dan manusia sama-sama tidak bisa membuktikan G. Apa langkah selanjutnya?

AI diam, tidak tahu apa yang harus dilakukan.

Manusia, berbeda dengan AI, mengembangkan pemikiran spekulatif – melebihi batasan-batasan konsep. Sehingga, manusia bisa membuktikan G sebagai benar (atau sebagai salah) berdasar pemikiran spekulatif.

AI belajar dari pemikiran spekulatif manusia. AI juga bisa membuktikan G. Sehingga AI sejajar manusia.

Berdasar Emak-Godel, maka akan muncul G baru, misal, G(2). Mereka, manusia dan AI, tidak bisa membuktikan G(2).

Manusia akan berpikir spekulatif lagi dan, akhirnya, bisa membuktikan G(2). AI meniru manusia, akhirnya juga, bisa membuktikan G(2). Begitu seterusnya, AI menyamakan diri dengan pikiran manusia.

Dengan begitu, apakah AI berhasil meniru pikiran manusia?

Mari kita tantang AI. Ketika muncul G(3), lalu manusia malas berpikir spekulatif, apakah AI bisa berpikir spekulatif? Kemudian berhasil membuktikan G(3)? Dan, selanjutnya, manusia yang malas berpikir spekulatif itu tinggal meniru AI saja?

Jika demikian, maka, AI melanggar teorema Godel dan teorema Emak-Godel. Konsekuensinya, AI lebih dari sistem formal. AI lebih dari sekedar sistem konsep pikiran. Lalu, apa itu AI?

Dan, bagaimana manusia harus bersikap kepada AI? Apakah ada aturan moral antara manusia dan AI? Apakah, jika manusia memberi tugas kepada AI maka harus ada kesepakatan dengan AI?

Sejauh ini, AI belum menunjukkan tanda-tanda mampu berpikir spekulatif. Sehingga, AI belum bisa membuktikan G(3). AI hanya bisa membuktikan G(3) jika belajar dari pemikiran spekualif manusia.

Kesimpulannya: AI tidak pernah bisa menirukan pikiran manusia sampai hari ini. Entah esok hari. Entah lusa nanti. Entahlah.

Tetapi, ada pertanyaan lebih penting. Siapakah, sejatinya, manusia? Siapakah kamu?

6. Debat Paradox

Teorema Godel dan Emak-Godel, jelas, menimbulkan paradox. Selama ini, orang berpikir bisa membangun sistem formal aksiomatik dengan pasti. Ternyata, tidak ada yang pasti. Sistem tersebut pasti tidak lengkap. Pasti ada sesuatu yang tidak pasti. Berikut ini, kita akan mendiskusikan beberapa paradox.

6.1 Paradox Zeno

Barangkali, paradox Zeno adalah paradox terkenal yang paling tua. Zeno (490 – 430 SM) mengajukan beberapa paradox. Salah satunya, adalah Achiles, sang pelari cepat, tidak akan pernah bisa mengejar kura-kura di depannya.

Kura-kura ada di depan Achiles berjarak 8 m. Kura-kura bergerak pelan menjauhi Achiles. Secepat apapun, Achiles mengejar kura-kura maka tidak akan pernah berhasil. Mengapa?

Karena, ketika Achiles bergerak cepat mendekat 8 m, saat itu juga, kura-kura sudah maju menjauh 8 cm. Achiles maju lagi, dengan cepat, 8 cm. Tapi, di saat bersamaan, kura-kura sudah maju menjauh 8 mm. Dan begitu seterusnya. Memang jarak mereka makin dekat tetapi tidak akan pernah berhasil menyusul. Aneh kan?

Paradox Zeno, saat ini, sudah dianggap selesai dengan solusi matematika kalkulus. Meski pun, beberapa kalangan skeptis, masih bisa saja meragukannya. Jawaban matematika dan sains, tampak, meyakinkan.

Solusi: Apa yang dikatakan oleh Zeno, benar ketika Achiles memang belum berhasil menyusul. Tapi seiring berjalan waktu, dan waktu memang terus mengalir, maka Achiles pasti berhasil menyusul kura-kura.

Untuk memudahkan, misal Achiles maju dengan kecepatan 8 m per menit. Tapi, kura-kura sudah menjauh 4 m per menit. Jarak mereka tinggal 4 m saja – setelah proses 1 menit. Kemudian, kura-kura maju 4 m per menit lagi, jarak menjadi 8 m terpisah. Di saat yang sama, Achiles maju 8 m per menit. Tepat, Achiles berhasil menyusul kura-kura.

Bahkan, bila dilanjutkan, Achiles akan meninggalkan kura-kura, karena waktu terus bergulir.

6.2 Paradoks Russell

Russell mengajukan paradox di masa sekitar peralihan abad 19 ke abad 20. Paradox ini muncul sebagai respon Russell terhadap konsep sistem aritmetika yang dikembangkan Frege.

“X adalah himpunan yang beranggotakan semua himpunan yang tidak beranggotakan dirinya sendiri. Apakah X beranggotakan dirinya sendiri?”

Jika X tidak beranggotakan dirinya sendiri maka X adalah anggota X (paradox).

Jika X beranggotakan dirinya sendiri maka X tidak menjadi anggota X (paradox juga).

Solusi paradox Russell ini dituliskan oleh Russell sendiri (bersama Whitehead) dalam karnyanya Principia. Solusinya, adalah mirip dengan paradox, “Saya berbohong.”

Suatu pernyataan tidak bisa menilai dirinya sendiri, tidak bisa merujuk dirinya sendiri. Pernyataan, hanya bisa, merujuk ke sesuatu yang lain.

“Saya berbohong” adalah suatu pernyataan sebagai domain. Tetapi, makna “Saya berbohong” adalah kegiatan saya di masa lalu sebagai kodomain.

Ketika kegiatan saya di masa lalu, sebagai kodomain, memang berbohong maka pernyataan “Saya berbohong” bernilai benar. Tidak ada paradox. Masalah selesai.

6.3 Debat Wittgenstein

Godel menghadapi lawan debat Wittgenstein dan Russell. Meski mereka hidup sejaman, perdebatan terjadi hanya secara tidak langsung.

Russell mengatakan bahwa dia pernah bertemu langsung dengan Godel, saat itu, ditemani Einstein dan Pauli. Mereka adalah orang-orang hebat, saintis dan pemikir besar, di jamannya. Russell menggambarkan pertemuan itu sebagai tidak nyaman.

Di kesempatan lain, ditanya tentang teorema Godel, Russell menjawab, “Saya sudah selesai dengan filsafat matematika di tahun 1910an, dengan terbitnya Principia. Semua sudah tuntas.”

Banyak pemikir menilai bahwa teorema Godel justru meruntuhkan bangunan Principia – yang sudah ditinggal pemiliknya yaitu Russell. Dengan demikian, perdebatan masih jauh dari kata tuntas.

Wittgenstein, tampak, lebih terang-terangan menolak teorema Godel. Sayangnya, penolakan Wittgenstein, diterbitkan anumerta. Sehingga, ketika Godel membaca penolakan Wittgenstein, dia sudah wafat. Respon Godel banya bisa diarahkan ke komunitas saintis dan filosof saja. Sementara, tanggapan susulan dari Wittgenstein hanya bisa diwakilkan oleh pendukung-pendukungnya.

“I have constructed a proposition (I will use ‘P’ to designate it) in Russell’s symbolism, and by means of certain definitions and transformations it can be so interpreted that it says: ‘P is not provable in Russell’s system’.

Must I not say that this proposition on the one hand is true, and on the other hand is unprovable? For suppose it were false; then it is true that it is provable. And that surely cannot be! And if it is proved, then it is proved that it is not provable. Thus it can only be true, but unprovable. (§8)” (SEP)

Wittgenstein tetap merujuk kepada Principia bahwa kontradiksi terjadi karena suatu pernyataan merujuk ke diri sendiri. Pertimbangkan pernyatan P.

P = “P tidak bisa dibuktikan.”

1) Jika P salah, maka bisa dibuktikan BENAR, maka BENAR tidak bisa dibuktikan.
2) Jika P benar, P tidak bisa dibuktikan, maka BENAR tidak bisa dibuktikan.

Jadi, pernyataan di atas selalu BENAR dan tidak bisa dibuktikan. Itulah teorema Godel, BENAR dan tidak bisa dibuktikan. Definisi Godel terhadap “ketidak-lengkapan” adalah ada penyataan BENAR tetapi tidak bisa dibuktikan. Dan, menurut Wittgenstein, paradox seperti itu sudah tuntas puluhan tahun lalu dengan Principia Russell.

Godel, tentu saja, menolak pendapat Wittgenstein. Bahkan, Godel menilai Wittgenstein sebagai tidak paham teorema Godel atau berpura-pura tidak paham. Pemikir-pemikir serius berikutnya, sebagian besar, setuju dengan Godel. Benarkah begitu?

"Has Wittgenstein lost his mind?  Does he mean it seriously? He intentionally utters trivially nonsensical statements. What he says about the set of all cardinal numbers reveals a perfectly naive view. [Possibly the reference is to RFM: 132 and the surrounding observations.]  He has to take a position when he has no business to do so.  For example, "you can't derive everything from a contradiction."  He should
try to develop a system of logic in which that is true.
It's amazing that Turing could get anything out of discussions with somebody like Wittgenstein."

"He interpreted it as a kind of logical paradox, while in fact it is just the opposite, namely a mathematical theorem within an absolutely uncontroversial part
of mathematics (finitary number theory or combinatorics)." (cs.nyu.edu)
 

Godel meng-klaim bahwa teorema Godel bukanlah paradoks logika – sebagaimana dituduhkan oleh Wittgenstein. Justru, sebaliknya, teoremanya terbukti mutlak tanpa keraguan sebagai bagian dari kepastian matematika. Apakah klaim Godel bisa dibenarkan? Bisa dibuktikan?

6.3.1 Keunggulan Godel

1) Godel benar bahwa pernyataan G tidak merujuk diri. Karena, G adalah sebuah kode prima berupa satu bilangan hasil perkalian bilangan prima berpangkat. Sederhananya, G adalah sebuah bilangan saja.

2) Godel benar bahwa G adalah terbukti konsisten secara matematis – tanpa keraguan sama sekali, dari sudut pandang matematika.

3) Godel benar bahwa G bernilai BENAR tetapi tidak bisa dibuktikan.

6.3.2 Keunggulan Wittgenstein

1) Wittgenstein benar bahwa sumber paradox adalah kontradiksi diri.

2) Wittgenstein benar bahwa kita bisa menciptakan beragam pernyataan paradox bernilai BENAR tapi tidak bisa dibuktikan.

3) Wittgenstein benar bahwa paradox bisa dimunculkan dalam masing-masing “language-game” atau sistem formal.

6.3.3 Kesimpulan Godel-Wittgenstein

Apa kesimpulan akhir yang bisa kita simpulkan? Berdasar teorema Emak-Godel, tidak ada kesimpulan akhir. Karena, kesimpulan akhir merupakan suatu konsep, di mana, dia membutuhkan dukungan konsep lainnya. Begitu seterusnya.

1) Teorema Godel adalah simbol keindahan matematika, dan pikiran manusia. Godel layak mendapat apresiasi yang tinggi.

2) Klaim Godel bahwa teoremanya mutlak tanpa kontroversi hanya valid dalam bidang matematika. Tetapi, Godel sendiri melangkah ke bidang meta-matematika. Sehingga, Godel perlu berbesar hati menerima ragam kontroversi. Dan, teorema Godel tidak lagi mutlak.

3) Godel melakukan interpretasi terhadap sistem formal ketika membuat coding. Kemudian, membuat interpretasi ulang dari kode prima kembali ke sistem formal. Proses interpretasi (ulang) termasuk dalam meta-matematika. Kita perlu lebih terbuka dengan ragam interpretasi.

4) Wittgenstein langsung melompat ke meta-matematika. Tanpa membahas pernyataan G, Wittgenstein, membahas konten G. Dengan satu dan lain cara, konten G memuat kontradiksi. Wittgenstein berhasil melembutkan “kemutlakan” teorema Godel tapi lupa memberi apresiasi bahwa teorema Godel adalah teorema terindah.

5) Wittgenstein dan Godel bisa berdampingan serasi dalam teorema Emak-Godel. Bagi yang fokus ke konsep Emak maka lebih dominan kreativitasnya. Sementara, bagi yang lebih fokus ke konsep Godel maka lebih dominan logikanya. Kita, manusia, memerlukan keduanya. Sehingga, manusia tetap terjaga dalam dinamika.

Bagaimana menurut Anda?


Paradox Godel Versus Emak-Emak

Teorema Godel merupakan teorema matematika paling indah sejak abad 20. Barangkali, sampai sekarang, teorema Godel tetap menjadi yang terindah. Makin indah lagi, meski teorema Godel adalah teorema matematika, tetapi, dampaknya sampai ke kehidupan nyata.

Sayangnya, teorema Godel adalah teorema negatif. Mirip dengan falsifikasi dari Popper. Beda dengan teori fotolistrik dari Einstein dan teori gerak dari Newton yang bersifat positif. Dengan teori fotolistrik Einstein, kita bisa memecahkan masalah fotolistrik dengan solusi yang cantik. Sebaliknya, dengan teorema Godel, kita justru hanya bisa menunjukkan kelemahan suatu solusi.

Dalam tulisan ini, saya mencoba “membenturkan” teorema Godel, yang bersifat paradox, dengan teorema Emak-emak, yang saya rumuskan beberapa waktu lalu. Di bagian akhir, saya mencoba membangun sisi positif dari Godel dan Emak-Emak.

Teorema Emak-Emak: “Setiap Emak-Emak punya Ibu.” Teorema ini konsisten, selalu benar, jika tidak lengkap. Tetapi jika ingin lengkap, dengan memasukkan Bunda Hawa, maka menjadi tidak konsisten. Karena Bunda Hawa tidak punya Ibu.

1. Teorema Godel
1.1 Teorema Tidak Lengkap
1.2 Teorema Tidak Konsisten
2. Teorema Emak-Emak
2.1 Emak-Emak Tidak Lengkap
2.2 Emak-Emak Tidak Konsisten
2.3 Teorema Emak-Godel
3. Konsekuensi Godel dan Emak-Emak
3.1 Membentuk Sistem Lengkap
3.2 Membentuk Sistem Konsisten
3.3 Sistem Tanpa-Sistem
3.3.1 Problem Logika-Formal
3.3.2 Problem Intuisi-Imajinasi
3.3.3 Solusi Sistem
3.3.3.1 Sistem Diri
3.3.3.2 Berpikir Terbuka
3.3.3.3 Demokrasi Diri
3.3.3.4 Obyektif – Subyektif

1. Teorema Godel

Kurt Godel (1906 – 1978) merumuskan teoremanya pada tahun 1931 dan langsung mengguncang dunia – matematika dan filsafat. Teorema Godel ini sejalan dengan beragam paradox, misal Russell paradox. Hanya saja, paradox Godel melesat lebih radikal. Pertama, Godel merumuskan teorema dengan sistem matematika yang kokoh. Kedua, Godel memanfaatkan sistem perpangkatan dari bilangan prima sehingga sangat efektif untuk mencapai kesimpulan akhir. Ketiga, Godel menyediakan prosedur untuk transformasi sistem lain, misal sistem bahasa, menjadi sistem aritmetika. Dengan demikian, dampak teorema Godel sangat luas.

1.1 Teorema Tidak Lengkap

Teorema pertama Godel sering dikenal sebagai teorema “ketidak-lengkapan” atau “incompleteness.” Secara sederhana, bisa kita nyatakan,

“Setiap sistem yang konsisten maka tidak lengkap.”

“Godel’s first incompleteness theorem (as improved by Rosser (1936)) says that for any consistent formalized system F, which contains elementary arithmetic, there exists a sentence GF of the language of the system which is true but unprovable in that system.” (cairn.info)

Setiap sistem, misal aturan hukum, perlu untuk konsisten. Aturan hukum tersebut perlu memastikan bahwa suatu perilaku benar atau salah secara pasti. Bila konsisten seperti itu maka sistem hukum tersebut pasti tidak lengkap. Ada satu perilaku, atau lebih, tidak bisa dipastikan sebagai benar (atau salah).

1.2 Teorema Tidak Konsisten

Teorema kedua Godel bisa kita sebut sebagai teorema tentang “ketidak-konsistenan.” Secara sederhana, bisa kita nyatakan,

“Setiap sistem yang lengkap maka tidak konsisten.”

“Godel’s second incompleteness theorem states that no consistent formal system can prove its own consistency.” (cairn.info)

Mari kita perhatikan kembali sistem aturan hukum. Bagaimana pun, aturan hukum perlu lengkap mengatur segala sesuatu yang mungkin terjadi di masyarakat. Karena lengkap, maka sistem aturan hukum tersebut pasti tidak konsisten. Atau, tidak bisa dibuktikan bahwa aturan hukum tersebut sebagai selalu konsisten.

Tampaknya, dengan teorema Godel ini, kita perlu berbesar hati. Kita tidak bisa lengkap sekaligus konsisten. Bila ingin lengkap, kita harus menerima ada bagian tertentu yang tidak konsisten. Sementara, bila ingin konsisten, kita harus menerima ada bagian yang tidak lengkap.

2. Teorema Emak-Emak

Teorema Emak-Emak sejalan dengan paradoks Godel. Sesuai namanya, teorema emak-emak lebih mudah dipahami karena menggunakan bahasa sehari-hari dan mengambil contoh kasus nyata. Kita bisa saja membuat beragam variasi dari teorema emak-emak ini.

2.1 Emak-Emak Tidak Lengkap

Teorema Emak-Emak menyatakan,

“Setiap Emak-Emak punya Ibu.”

Pernyataan di atas jelas benar. Bahkan, berlaku lebih umum, setiap manusia punya Ibu. Kita akan coba elaborasi teorema emak-emak dengan bahasa yang agak longgar.

Emak pertama bernama Ani. Tentu, Ani punya ibu, misal, bernama Bina. Dan, Bina punya ibu benama Citra. Dan seterusnya. Dalam contoh ini, kita bisa melihat teorema Emak-Emak selalu benar, konsisten. Terbukti, setiap Emak-Emak pasti punya ibu.

Tetapi, apa sudah lengkap?

{Ani, Bina, Citra, … … … }

Tidak lengkap. Karena, setiap kita menambah satu Emak maka dia pasti punya ibu lagi. Jika ibunya itu kita tambahkan maka akan punya ibu lagi. Dan seterusnya. Dengan demikian, kita tidak pernah punya sistem yang lengkap.

Bagaimana jika kita runut sampai Bunda Hawa? Di mana, Bunda Hawa tidak punya ibu lagi.

{Ani, Bina, Citra, Dina, Eni, Fina, Gina, Hawa}

Tepat, sistem jadi lengkap. Jika lengkap apakah tetap konsisten? Pertanyaan ini mengantar pada teorema emak-emak bagian kedua.

[Apa kata Godel seandainya dia membaca teorema Emak-Emak? “Saya bisa menunjukkan, minimal 1 orang, Emak yang ibunya tidak jadi anggota sistem itu. Padahal, Emak itu punya ibu. Emak-Emak memang tidak lengkap.”]

2.2 Emak-Emak Tidak Konsisten

“Jika teorema emak-emak dibuat lengkap maka menjadi tidak konsisten.”

Dengan misalnya, memasukkan Bunda Hawa sebagai ibu dari semua emak-emak maka, akibatnya, Bunda Hawa sendiri menjadi pengecualian. Bunda Hawa adalah ibu pertama, ibu dari semua emak-emak di dunia. Sementara, Bunda Hawa sendiri tidak punya ibu. Terbukti, sistem menjadi tidak konsisten.

Teori evolusi, barangkali ingin melanjutkan mundur ke masa lalu yang lebih jauh agar bisa konsisten. Kita akan sedikit modifikasi teori emak-emak agar lebih luas cakupannya.

“Setiap makhluk hidup punya pendahulu.”

Kita, sebagai manusia, pasti punya pendahulu, yaitu orang tua kita. Demikian juga, orang tua kita juga punya pendahulu. Demikian seterusnya sampai ke pada manusia pertama. Teori evolusi, barangkali, bisa berspekulasi bahwa orang tua dari manusia pertama adalah spesies yang berbeda. Kita bisa lebih pasti menyatakan bahwa, sebelum manusia pertama hadir di bumi, sudah ada pendahulunya.

Manusia mempunyai pendahulu misal binatang. Pengertian pendahulu di sini bisa kita pandang sebagai lebih dulu dalam urutan waktu kronologis. Binatang punya pendahulu tumbuhan dan mikroorganisme.

{manusia, binatang, tumbuhan, mikroorganisme, … … …}

Penelusuran kita ke masa lalu yang jauh berhasil memuaskan hasrat akan konsistensi. Tetapi, pada titik mana kita bisa berhenti?

Jika ingin konsisten, tampaknya, kita tidak boleh berhenti. Akibatnya, sistem kita tidak lengkap. Jika kita memilih suatu titik henti akhir, apa pun bentuknya, maka sistem menjadi lengkap tapi mengakibatkan tidak konsisten.

Mari kita ubah lagi ungkapan teori emak-emak,

“Setiap hari mempunyai pendahulu – misal kemarin.”

Dan, setiap kemarin punya pendahulu yaitu kemarinnya lagi. Begitu seterusnya. Barangkali kita bisa membayangkan adanya titik waktu 0, di mana, tidak ada waktu sebelum titik 0 tersebut. Titik 0 itu adalah peristiwa bigbang. Bagaimana pun, kita masih penasaran, bagaimana bisa tidak ada waktu sebelum bigbang?

Baik, mari kita asumsikan benar bahwa bigbang adalah titik 0 waktu. Maka kita berhasil membuat sistem yang lengkap. Tetapi apakah sistem tersebut konsisten? Tidak. Karena bigbang tidak punya pendahulu. Bigbang adalah pengecualian.

Sampai di sini, teorema emak-emak dan Godel berhasil memaksa kita untuk memilih salah satu: lengkap atau konsisten. Tidak bisa memilih kedua-duanya, hanya bisa satu saja. Bagaimana solusinya? Kita membahasnya di bagian bawah ini.

[Apa kata Godel?
“Katanya, Emak-Emak konsisten selalu punya ibu. Tapi, Emak-Emak itu tidak bisa membuktikan bahwa mereka, seluruhnya, selalu konsisten punya ibu. Emak-Emak memang tidak konsisten.”]

2.3 Teorema Emak-Godel

Tiba waktunya, kita untuk membuat formula teorema Emak-Godel dengan lebih formal.

Teorema (a) Formal: Setiap sistem formal pasti tidak lengkap atau tidak konsisten.

Bukti teorema formal ini mengikuti bukti teorema Godel. Di mana, maksud “tidak lengkap” adalah ada pernyataan Godel G yang bernilai benar dalam sistem tersebut namun tidak bisa dibuktikan. Sedangkan, maksud “tidak-konsisten” adalah sistem tersebut tidak bisa membuktikan konsistensi dari sistem.

Teorema (b) Konsep: Setiap sistem konsep pemikiran pasti tidak lengkap atau tidak konsisten.

Teorema konsep merupakan perluasan dari teorema formal, di mana, berlaku pada seluruh sistem konsep pemikiran, tidak hanya terbatas hanya pada sistem formal. Dengan demikian, teorema konsep bisa menjadikan teorema Godel sebagai obyeknya. Bahkan teorema konsep juga berlaku reflektif terhadap dirinya sendiri.

Bukti teorema konsep kita peroleh dengan mengubah redaksi teorema emak-emak menjadi,

“Setiap waktu (t) selalu didahului waktu lain (t – 1)”

1. Dengan pengamatan konsep waktu saat ini, maka teorema konsep terbukti konsisten; setiap waktu (t) didahului waktu lain (t – 1). Tetapi, sistem konsep ini tidak akan pernah lengkap. Karena, setiap (t – 1) akan didahului oleh (t – 2) dan seterusnya. Ambil (t – n) sebagai konsep waktu paling awal. Maka terbukti bahwa (t – n) adalah konsep waktu tetapi bukan konsep waktu juga – karena tidak didahului oleh waktu lainnya. Sehingga, terbukti bahwa sistem tidak lengkap.

2. Asumsikan bahwa waktu paling dahulu, paling awal, adalah (t – n). Dengan demikian, sistem konsep menjadi lengkap. Tetapi, sistem menjadi tidak konsisten karena waktu (t – n) tidak didahului oleh waktu lain. Terbukti, sistem tidak konsisten.

3. Konsekuensi Godel dan Emak-Emak

Bagaimana pun, kita tidak boleh menyerah kepada Godel. Apalagi menyerah kepada Emak-Emak? Di bagian ini, kita akan mengembangkan sisi positif dari teorema Emak-Godel. Pertama, kita akan mengembangkan sistem yang lengkap dengan menyiapkan mitigasi terhadap resiko kehilangan konsistensi. Kedua, kita mengembangkan sistem yang konsisten dan menyiapkan mitigasi terhadap resiko tidak lengkap. Ketiga, kita mencoba beberapa pendekatan untuk megembangkan sistem yang lengkap sekaligus konsisten. Akankah berhasil?

3.1 Membentuk Sistem Lengkap

Perkembangan peradaban modern adalah contoh sistem yang lengkap tetapi, tentu, tidak konsisten. Sayangnya, para kaum modernis sering tidak menyadarinya. Mereka mengira peradaban modern adalah lengkap dan konsisten – kriteria yang tidak bisa dipenuhi berdasar teorema Emak Godel.

Peradaban modern, misal sistem ekonomi, menjadi lengkap dengan menetapkan ukuran sukses secara mandiri. Keberhasilan ekonomi diukur berdasar pertumbuhan ekonomi, keberhasilan mesin-mesin di pabrik diukur berdasar performa efisiensi, keberhasilan pendidikan diukur berdasar serapan lapangan kerja, dan lain-lain. Tampak tidak ada masalah kan? Seperti sudah lengkap dan konsisten.

Pertumbuhan ekonomi menjadi ukuran keberhasilan ekonomi jelas tidak konsisten. Mengapa pertumbuhan ekonomi berhak menjadi ukuran keberhasilan?

Seperti kita tahu, pertumbuhan ekonomi ini berdampak, salah satunya, mendorong krisis iklim. Balapan ekonomi menyebabkan kerusakan lingkungan. Berapa banyak hutan-hutan di dunia yang menjadi gersang? Bencana kebakaran hutan dan banjir, terus-menerus, hadir.

Solusinya?

Benar, kita membutuhkan sistem yang lengkap – misal sistem ekonomi. Dengan satu solusi tambahan: dinamika. Ketika pertumbuhan ekonomi menjadi ukuran ekonomi, maka, kita bertanya, apakah itu sudah konsisten? Jawabannya, misal, benar sudah konsisten. Dengan demikian, sistem ekonomi kita sudah lengkap dan konsisten.

Masalah menjadi muncul, saat, hilangnya dinamika dalam sistem ekonomi. Pertumbuhan ekonomi, memang awalnya, konsisten sebagai ukuran. Seiring waktu, pertumbuhan ekonomi tidak lagi konsisten karena, terbukti, merusak lingkungan. Kita perlu segera bertindak menggerakkan dinamika sistem ekonomi. Pertumbuhan ekonomi tidak lagi jadi ukuran (paling utama). Ukuran keberhasilan ekonomi, misalnya, adalah kelestarian lingkungan.

Kelestarian lingkungan, pada waktunya, tidak akan memadai lagi sebagai ukuran kesuksesan ekonomi. Kita perlu menggerakkan kembali dinamika ekonomi. Begitu seterusnya, sistem yang lengkap perlu untuk terus bergerak dinamis.

Sementara, suatu sistem yang meng-klaim dirinya sebagai lengkap tanpa ada dinamika maka klaim tersebut adalah klaim hampa. Klaim lengkap perlu dilengkapi dinamika.

Kapan dinamika itu mencapai titik akhir? Kita bahas di bagian selanjutnya.

3.2 Membentuk Sistem Konsisten

Kita lebih mementingkan konsistensi dari lengkapnya suatu sistem (dari sisi pemikiran). Sementara, dari sisi praktis, kita lebih mengutamakan kelengkapan sistem. Seperti sudah kita bahas, teorema Emak Godel mencegah kita mencapai keduanya dengan cara serentak. Kita harus mengorbankan salah satunya.

Sehingga, solusi kita untuk membangun sistem konsisten adalah dengan bersiap mitigasi terhadap resiko tidak lengkap.

Kembali kepada contoh sistem ekonomi, kita bisa menciptakan ukuran sukses ekonomi, misal, adalah pertumbuhan ekonomi. Agar konsisten, pertumbuhan ekonomi ini pun harus mendapat dukungan fondasi. Misal, pertumbuhan ekonomi perlu menjaga kelestarian alam. Pada gilirannya, kelestarian alam pun, perlu dukungan fondasi lagi. Misal, kelestarian alam yang menjaga pemerataan sumber daya ekonomi adil makmur. Dan seterusnya, tanpa henti.

Sistem ekonomi, seperti di atas, memenuhi kriteria konsisten. Seperti kita duga, efeknya adalah sistem ekonomi tersebut tidak pernah lengkap, terus-menerus berubah. Untuk menjamin agar sistem ekonomi bisa lengkap, maka, kita bisa memanfaatkan waktu. Kita menetapkan rentang waktu tertentu bagi sistem ekonomi beroperasi dengan lengkap.

Misal, ukuran sukses ekonomi adalah pertumbuhan ekonomi berlaku dalam 1 tahun. Kemudian, setelah 1 tahun, kita lakukan revisi bahwa ukuran sukses ekonomi adalah menjadi kelestarian alam. Dan seterusnya. Dengan demikian, terbentuk sistem ekonomi lengkap – dan konsisten – minimal dalam 1 tahun, sebagai sistem ekonomi yang dinamis.

Apa bedanya dengan sistem ekonomi, pada umumnya, sekarang? Sistem ekonomi modern mengukur pertumbuhan ekonomi tiap tahun, bisa naik atau turun, memang dinamis juga. Sistem tersebut lengkap tetapi tidak konsisten. Sementara, sistem yang lengkap dan konsisten justru mempertanyakan apakah ukuran pertumbuhan ekonomi itu konsisten? Atau perlu fondasi lain yang lebih kuat? Atau, bahkan, kita perlu sistem ekonomi yang berbeda?

Kita berhasil membangun sistem yang lengkap dan konsisten dengan cara membangun sistem dinamis dan mempertimbangkan jangka waktu tertentu. Di mana, dinamika sistem ini dalam perspektif yang terbuka. Termasuk terbuka terhadap alternatif sistem baru, misal sistem ekonomi baru.

Apakah ada sistem yang lengkap dan konsisten secara serentak, dan realtime? Kita bahas di bawah ini.

3.3 Sistem Tanpa-Sistem

Di bagian akhir ini, kita akan merumuskan solusi sistem yang lengkap dan konsisten. Kita akan mengelaborasi konteks munculnya paradoks Emak-Godel. Kemudian, kita menerapkan pendekatan-pendekatan yang sesuai.

3.3.1 Problem logika-formal. Akhir abad 19 dan awal abad 20, filsafat matematika berkembang dengan subur. Aliran filsafat paling dominan, saat itu, adalah formalisme logika. Godel hidup dalam konteks seperti itu. Sementara, Godel sendiri lebih dekat ke realisme Platonis dengan sedikit pendukung – bahkan sampai sekarang.

Untuk membuktikan keunggulan realisme adalah tugas yang berat. Barangkali, menunjukkan kelemahan logika formal adalah lebih mudah. Godel berhasil dengan baik, dalam hal ini, dengan rumusan teorema Godel.

Formalisme logika meyakini bahwa matematika bisa direduksi menjadi bentuk-bentuk (formal) logika. Sehingga, matematika tidak lain adalah salah satu ekspresi formal dari logika semata. Dengan demikian, matematika tidak memiliki realitas mandiri. Godel menolak itu, tidak dengan kata-kata, melainkan dengan teorema matematika itu sendiri.

Frege menulis “Aritmetika” untuk menguatkan bahwa matematika adalah formalisme logika. Ketika buku “Aritmetika” naik cetak, Russell mengirim surat ke Frege menyatakan bahwa logika “Aritmetika” seperti itu akan mengantarkan ke paradoks. Russell benar, sistem aksiomatik logika “Aritmetika” memang paradoks. Meski, “Aritmetika” gagal megukuhkan matematika sebagai logika, tetapi, telah berhasil membangun fondasi yang kuat.

Russell melanjutkan proyek formalisme logika – bekerja sama dengan dosennya, Whitehead – dengan menulis beberapa volume “Principia” pada 1910an. Proyek besar ini tampak menguras tenaga dan dana bagi Russell. “Principia” berhasil menyelesaikan paradox Russell. Dan, menguatkan bahwa matematika, pada analisis akhir, adalah sistem logika. “Principia” sukses diterima luas hampir di seluruh kampus, di dunia.

Tapi, apakah “Principia” berhasilkan meyakinkan bahwa matematika adalah logika? Dalam beberapa aspek, tampak berhasil. Sementara, di beberapa aspek lain masih ada beberapa kelemahan.

Justru, pada tahun 1931, Godel menulis teorema tentang “ketidak-lengkapan” yang membuktikan sistem logika, formalisme, tidak pernah lengkap atau tidak pernah konsisten. Teorema Godel ini berhasil meruntuhkan harapan untuk membangun sistem logika yang lengkap dan konsisten.

Teorema Godel berhasil dalam langkah pertama, meruntuhkan formalisme, langkah kedua masih jauh di depan. Bagaimana membangun matematika dalam sistem realisme dan rasionalis?

Masih tetap menjadi pertanyaan besar. Menjelang akhir abad 20, dari bidang fisika dan teknologi, Penrose (dan Lucas) mengembangkan teorema Godel untuk membuktikan bahwa “artificial intelligence” tidak akan pernah mampu meniru pikiran manusia. Penrose memberi argumen yang jelas. Di pihak lain, banyak yang tidak setuju dengan argumen Penrose. Bahkan, ada yang mengatakan bahwa teorema Godel tidak penting untuk mengkaji realitas.

Masih banyak tanda tanya di depan kita. Bukankah itu memang tugas manusia? Untuk bertanya, kemudian mencari jawaban, dan membuat pertanyaan baru lagi?

3.3.2 Problem intuisi-imajinasi. Teorema Emak-Emak hadir di era digital yang sudah mewabah hampir di seluruh dunia. Di satu sisi, di era digital, masing-masing orang meng-klaim kebenaran terhadap sudut pandangnya sendiri. Mereka yakin bahwa kubu mereka adalah yang benar. Setiap mereka membuka media sosial, semua informasi mengkonfirmasi bahwa kubu mereka memang yang benar.

Di sisi lain, serangan postmodern tampak berhasil meruntuhkan seluruh fondasionalisme. Tidak ada lagi fondasi, di hadapan kita, hanya ada keping-keping relitivisme. Cara pandang relatif ini, tampak seperti, mendapat dukungan sains dari teori relativitas Einstein. Ditambah lagi, pandangan nihilisme kian meluas.

Boleh saja, kubu-buku itu meng-klaim bahwa kubu mereka yang benar. Klaim semacam itu adalah relatif bahkan hampa. Setiap klaim tidak punya fondasi. Setiap nilai adalah hampa.

Dengan bertebarnya informasi di media sosial bahwa kubu saya yang benar, dan kubu lain yang sesat, maka intuisi seseorang dengan mudah mengkonfirmasi klaim sepihak itu. Sementara, ada pihak yang mengendalikan media sosial, kombinasi AI dan orang cerdas, sengaja mengeksploitasi cara pandang parsial seperti itu untuk keuntungan ekonomi.

Lengkap sudah, intuisi perpecahan diperkuat oleh imajinasi dunia virtual yang secara realtime mensuplai sudut pandang yang sempit.

Teorema Emak-Emak dengan tepat memotret situasi seperti itu. Setiap kubu berhak mengklaim dirinya benar karena dirinya adalah seorang emak yang pasti punya ibu, sebagai fondasi. Sementara, pendukung relativisme mengatakan bahwa klaim seperti itu tidak punya fondasi karena ibunya dari emak masih perlu punya ibu lagi, tiada henti. Hanya relatif.

Paradox seperti itu muncul akibat dari terbatasnya intuisi dan imajinasi. Apakah kita bisa menemukan solusi dengan meluaskan intuisi dan imajinasi?

3.3.3 Solusi Sistem. Apa pun solusi sistem yang kita rancang, pasti, tidak lengkap. Karena, sistem kita pahami sebagai sistem konsep. Sehingga, harapan kita, untuk mendapatkan sistem lengkap dan konsisten, ada di luar sistem. Bagaimana mungkin sistem di luar sistem?

Kita menyebut solusi tersebut adalah sistem tanpa-sistem.

3.3.3.1 Sistem Diri. Immanuel Kant menyadari bahwa kita perlu rujukan yang pasti. Tidak mungkin bagi kita, merujuk ke belakang, ke rujukan dengan regresi tanpa henti. Ketika kita mengukur tinggi meja adalah 1 meter maka kita menggunakan rujukan mistar penggaris. Mistar itu sendiri merujuk ke mana?

Mistar merujuk ke pabrik sebagai produsennya. Pabrik sendiri merujuk ke mana? Ke rujukan, standard internasional. Standard itu merujuk ke mana? Merujuk kesepakatan para ahli. Kesepakatan itu merujuk ke mana? Merujuk ke orang-orangnya, yaitu para ahli. Para ahli merujuk ke mana?

Kita tidak bisa menjawab bahwa para ahli merujuk ke pengalamannya menggunakan mistar. Karena, jawaban ini akan berputar lagi, regresi tanpa henti. Jawaban yang benar, para ahli merujuk kepada diri sendiri. Tentu saja, sebelum memutuskan, para ahli mempelajari segala sesuatunya. Jadi rujukan terakhir adalah diri para ahli. Titik.

Kita bisa meringkas sistem rujukan di atas, adalah dengan merujuk ke diri kita sendiri, ketika melakukan pengukuran dengan mistar. Setelah mengukur tinggi meja dengan mistar, maka, saya menyimpulkan bahwa tinggi meja adalah 1 meter. Titik.

Diri manusia bukanlah sistem formal. Diri manusia juga bukan sistem konsep pemikiran. Dengan cara ini, kita berhasil membentuk sistem tanpa-sistem.

Hasil pengukuran tinggi meja dengan mistar bisa kita susun sebagai sistem formal atau sistem konsep pemikiran.

{pengukuran-1, pengukuran-2, … … … pengukuran-n} ==> Diri

Sistem tanpa-sistem di atas terbukti lengkap (dan konsisten). Aman dari teorema Emak-Godel. Setiap pengukuran didasarkan pada pengukuran lain. Termasuk pengukuran-n didasarkan pada pengukuran oleh Diri. Tetapi Diri tidak perlu didasarkan kepada pengukuran lain. Karena Diri bukanlah pengukuran, bukan konsep, dan bukan sistem formal.

Sehingga, pada analisis akhir, istilah sistem Diri perlu kita waspadai. Dari satu sudut pandang, Diri memang bersentuhan dengan sistem. Dari sudut pandang lain, Diri adalah sistem tanpa-sistem.

Lalu apa sejatinya Diri manusia itu?

3.3.3.2 Berpikir Terbuka. Alternatif membangun sistem tanpa-sistem adalah dengan berpikir terbuka. Berpikir terbuka adalah menggunakan seluruh daya manusia secara terbuka untuk mendapatkan kebenaran, tidak terbatas hanya penggunaan pikiran saja. Berpikir terbuka adalah mendaya-gunakan imajinasi, akal, dan rasa secara terbuka.

Berpikir terbuka selamat dari teorema Emak-Godel karena, pada analisis akhir, bertumpu kepada Diri yang terbuka. Semua konsep didasarkan pada konsep lain. Konsep terakhir didasarkan kepada Diri yang terbuka. Diri yang terbuka tidak perlu lagi landasan lain. Karena, seperti sudah di sebutkan, Diri bukan sistem formal dan bukan konsep.

3.3.3.3 Demokrasi Diri. Sistem tanpa-sistem selamat dari teorema Emak-Godel dengan cara bertumpu kepada Diri. Bagaimana jika tumpuan masing-masing Diri tersebut memberikan penilaian yang berbeda-beda? Atau bahkan saling bertentangan?

Demokrasi menjadi suatu solusi.

Demokrasi berasumsi masing-masing Diri berpikir terbuka. Sehingga, mereka, benar-benar mencari kebenaran terbaik. Ketika ada perbedaan penilaian di antara mereka, maka, mereka menciptakan konsensus. Konsensus merupakan salah satu bentuk keadaban tertinggi umat manusia.

Tentu, perlu dicatat bahwa tidak semua perbedaan harus mencapai konsensus. Banyak kasus yang memungkinkan masing-masing Diri mengambil sikap berbeda. Bagaimana pun, tercapai konsensus atau tidak, masing-masing Diri perlu saling respek.

3.3.3.4 Obyektif-Subyektif. Teorema Emak-Godel adalah teorema tentang sistem formal dan konsep pemikiran obyektif. Tetapi, kajian lebih mendalam mengantar kita ke pengetahuan subyektif – pengetahuan Diri. Ada banyak bidang yang bisa kita kaji tentang pengetahuan Diri. Hanya saja, akan lebih tepat bila kita bahas pada bagian berbeda.

Kita perlu catat lagi bahwa teorema Godel yang murni sistem formal dan matematis mengantarkan diri kita sendiri – matematika dan sains – ke jurang yang curam. Dan, kita tidak berhasil menyelamatkan matematika sains dari kelemahan yang nyata – tidak lengkap serta tidak konsisten.

Meski demikian, tidak berarti teorema Godel meruntuhkan seluruh bangunan sains. Tidak pula teorema Emak-Godel meruntuhkan seluruh sistem konsep pemikiran. Teorema tersebut hanya menunjukkan adanya “celah” dalam setiap sistem formal dan sistem pemikiran. Sementara, di luar “celah” itu, kita tetap bisa mengembangkan sains dan pemikiran. Bahkan, barangkali, di dalam “celah” itu sendiri.

Bagaimana menurut Anda?

Super Digital Man

Di masa depan, bisa lahir manusia yang lebih kuat dari Superman yaitu Super Digital Man. Atau, kita singkat jadi Super Diman.

Superman memang kuat dengan kekuatan super. Seperti kita tahu, Superman bisa kalah oleh manusia biasa. Kita bisa mempelajari sisi lemah Superman, untuk kemudian, meng-eksploitasinya. Apalagi, jika manusia biasa itu adalah Batman yang didukung dana, teknologi, dan kecerdasan yang memadai. Maka Superman, benar-benar, bisa habis.

Super Diman lebih hebat dari Superman. Karena, di samping memiliki kekuatan super, Super Diman menguasai kekuatan digital. Super Diman menguasai AI sehingga dia lebih cerdas dari manusia. Super Diman menguasai media sosial sehingga dia menguasai suara politik sampai berita kepo receh. Super Diman menguasai teknologi blokchain sehingga semua kekayaan ada di tangannya.

Apa yang akan terjadi? Apakah Super Diman adalah baik hati? Apakah Super Diman adalah orang jahat? Bisakah Super Diman menjadi pahlawan bagi manusia untuk mengatasi korupsi politik dunia sampai krisis iklim? Bisakah Super Diman mewujudkan adil makmur alam raya? Atau, Super Diman membentuk kelas elit di antara mereka, kemudian, menindas umat manusia?

Pendahuluan: Lompatan Evolusi

1. Proses Lahir Super Digital Man
1.1 Dari Teknologi ke Manusia
1.2 Dari Manusia ke Teknologi
1.3 Inovasi Abad 21

2. Pahlawan yang Diharapkan
2.1 Runtuhan Demokrasi
2.2 Pahlawan Super Diman
2.3 Penjahat Super
2.4 Kutukan Demokrasi

3. Era Super Human
3.1 Seleksi Manusia Lemah
3.2 Sistem Moral Super Human
3.3 Kita adalah Manusia Purba

Penutup: Titik Henti Evolusi

Filsafat Telah Wafat

Hawking menyatakan, pada tahun 2010, bahwa filsafat telah wafat dalam bukunya “Grand Design.” Kemudian, Hawking mengulang lagi pada konferensi di tahun 2011.

“Traditionally these are questions for philosophy, but philosophy is dead.” (Hawking)

Stephen Hawking author of these Philosophy is Dead quotations

Ketika saya membaca pernyataan Hawking, waktu itu, saya merasa biasa-biasa saja. Saya berpikir bahwa Hawking adalah seorang saintis. Sehingga, wajar baginya berpandangan seperti itu. Saya tidak menemukan bukti-bukti bahwa Hawking serius menekuni filsafat. Tetapi, karena pernyataan Hawking itu dikutip di berbagai media maka saya tertarik sedikit banyak untuk membahasnya.

Sekalian, kita akan membahas kritik dari Ibnu Taimiyah (1263 – 1328) yang menyatakan bahwa “Filsafat adalah sesat.” Dan, bagian akhir, kita akan membahas kritik Heidegger (1889 – 1976) yang menyatakan filsafat sudah berakhir, “The end of Philosophy…”

Filsafat Sudah Mati

Masuk kategori apakah pernyataan Hawking bahwa filsafat telah mati?

Pertama, kita mempertimbangkan pernyataan itu sebagai pernyataan ilmiah. Sehingga, pernyataan ilmiah, bisa kita uji dengan metode induksi atau falsifikasi.

Barangkali, Hawking melakukan survey dari beberapa kasus. Kemudian dia melihat bahwa, dalam kasus-kasus itu, filsafat memang telah mati. Kesimpulan akhir, bagi Hawking, filsafat telah mati. Dengan metode induksi yang seperti itu, kita bisa melakukan survey tandingan ke beberapa fakultas filsafat. Kita menemukan, dalam survey kita, bahwa filsafat masih hidup, terus berkembang, dan tidak mati. Maka kesimpulan akhir adalah filsafat tidak mati.

Dengan metode ilmiah, metode induksi, kita bisa menolak pernyataan Hawking. Kita, bahkan selanjutnya, bisa lebih meyakinkan menolak Hawking dengan metode falsifikasi.

“Apakah ada pengamatan yang menunjukkan bahwa filsafat masih hidup?” “Apakah ada pengamatan yang menunjukkan bahwa filsafat terus berkembang?”

Dengan berkunjung ke salah satu fakultas filsafat di kampus dekat rumah Anda, maka Anda bisa melihat mahasiswa berdiskusi dengan dosen mereka tentang filsafat. Maka terbukti pernyataan Hawking adalah salah. Pernyataan Hawking bisa ditolak berdasarkan falsifikasi ilmiah.

Kedua, pernyataan Hawking bahwa filsafat telah wafat adalah pernyataan filosofis – terlepas dari posisi Hawking sebagai ilmuwan. Pada kesempatan itu, Hawking adalah seorang filsuf. Dengan pandangan ini, metode ilmiah, induksi dan falsifikasi, tidak berhak membantah pernyataan Hawking.

Secara filosofis, mari kita asumsikan bahwa Hawking benar, filsafat telah mati. Karena filsafat telah mati maka pernyataan Hawking juga mati. Dengan demikian, pernyataan Hawking dibatalkan, dan ditolak, oleh dirinya sendiri. Terbukti Hawking salah.

Alih-alih Hawking membunuh filsafat, dia malah menghidupkan filsafat.

Kita masih punya cara menyelamatkan Hawking secara filosofis. Kita bisa menganalisisnya seperti pada pernyataan paradox,

“Saya berkata bohong.”

Jika BENAR maka saya benar-benar berbohong. Akibatnya, sejatinya, saya TIDAK bohong. Maka saya SALAH. Terjadi paradox. Sebaliknya juga paradox.

Jika SALAH maka sejatinya saya jujur. Akibatnya, saya memang bohong. Maka saya BENAR. Paradox juga.

Solusi paradox ini adalah suatu pernyataan (domain) merujuk ke sesuatu yang berbeda dari pernyataan itu (kodomain). “Saya berbohong” adalah pernyataan masa kini (domain). Sedangkan, maknanya adalah perilaku saya di masa lalu (kodomain). Jika perilaku saya di masa lalu, yang dimaksud, memang “BOHONG” maka pernyataan saya BENAR. Sebaliknya juga bisa terjadi. Paradox selesai dengan baik.

Kembali kepada Hawking, kita bisa memahami bahwa filsafat telah mati, adalah jenis filsafat A telah mati (kodomain). Kita bisa menguji apakah benar filsafat A sudah mati. Jika benar maka Hawking memang benar. Sementara, pernyataan Hawking sendiri adalah filsafat jenis B (domain) yang masih terus hidup.

Dalam makna yang paling optimis, filsafat jenis A adalah filsafat yang hidup sejak masa lalu sampai masa 2010, sudah mati. Sementara, filsafat B justru mulai hidup dan bertumbuh kembang. Lalu, apa itu filsafat B? Apakah benar filsafat A memang sudah mati? Untuk menjawabnya, kita perlu lebih mendalam berdiskusi. Akibatnya, filsafat tidak jadi mati.

Apa itu Filsafat

Kita perlu menjawab pertanyaan apa itu filsafat sebelum membahas lebih jauh tentang hidup matinya filsafat. Seperti bisa Anda duga, definisi filsafat, tentu beragam.

Deleuze (1920 – 1995) mendefinisikan filsafat sebagai penciptaan konsep-konsep baru pada bidang imanensi. Selama masih bisa lahir konsep-konsep baru maka filsafat akan tetap hidup.

Russell (1874 – 1972) mendefinisikan filsafat sebagai kajian spekulatif yang mempertimbangkan segala sesuatunya. Konsekuensinya, filsafat, akan mengembangkan pemikiran spekulatif melebihi batas-batas yang ada dengan tetap mempertahankan logika pemikiran yang ilmiah. Sehingga, filsafat terletak di tengah-tengah antara teologi dan sains.

Saya mendefinisikan filsafat sebagai kajian atas pertanyaan fundamental yang menghasilkan solusi, di mana, solusi tersebut mendorong munculnya pertanyaan fundamental baru. Sehingga, selama umat manusia masih bertanya tentang misteri segala sesuatu maka filsafat akan tetap hidup.

“Mengapa jeruk jatuh menuju ke bumi?”

Karena ada gaya gravitasi. Kita bisa menghitung kecepatan jatuh, waktu, dan posisi dengan presisi. Jawaban ini jelas, pasti, dan meyakinkan. Maka itulah sains. Filsafat akan bertanya lagi mengapa ada gravitasi? Tersusun dari apakah gravitasi itu? Dari mana dan mau ke mana gravitasi itu pada akhir masa?

Alternatif jawaban bisa lebih meyakinkan: jeruk jatuh ke bumi karena sudah ditetapkan oleh Tuhan seperti itu. Jawaban ini begitu jelas. Itulah jawaban teologi. Filsafat masih boleh bertanya mengapa Tuhan menetapkan aturan seperti itu? Bagaimana ketetapan Tuhan itu bisa berlaku?

Ketika Anda melihat seorang anak kecil suka bertanya tentang ini dan itu maka anak kecil itu sedang berfilsafat. Setiap anak adalah filosof. Dan, kita pernah jadi filosof ketika anak-anak dulu. Apakah sekarang Anda juga filosof?

Filsafat Sesat

Ibnu Taimiyah menyatakan bahwa filsafat adalah sesat sekitar seribu tahun yang lalu. Tentu, kita bisa menganalisis pernyataan ini apakah pernyataan filosofis?

Pernyataan bahwa filsafat adalah sesat, memang, pernyataan filosofis. Jika benar maka pernyataan itu sendiri juga sesat. Jadi, pernyataan Ibnu Taimiyah ditolak, dan disesatkan, oleh dirinya sendiri. Mirip dengan pernyataan Hawking.

Dengan cara yang sama, kita bisa menyelamatkan paradox Ibnu Taimiyah itu dengan paradox pernyataan bohong.

Yang dimaksud filsafat sesat adalah filsafat F (kodomain). Sedangkan pernyataan Ibnu Taimiyah adalah filsafat G (domain), yang tidak sesat. Sehingga tidak ada paradoks dalam pernyataan Ibnu Taimiyah. Tentu saja, kita boleh bertanya apakah benar bahwa filsafat F sesat? Apa argumennya? Apakah benar filsafat G tidak sesat? Atau, apakah ada filsafat G?

Tampaknya, Ibnu Taimiyah dan murid-muridnya tidak tertarik menjawab pertanyaan-pertanyaan lanjutan itu. Saya juga tidak menemukan murid-murid Hawking membahas lebih lanjut secara serius.

Murid-murid Ibnu Taimiyah lebih beruntung dari murid Hawking. Ketika murid Hawking tidak mudah memanfaatkan argumen sains, di sisi lain, murid Taimiyah lebih leluasa menggunanakan argumen agama. Sehingga, pernyataan Taimiyah di atas bisa dianggap sebagai fatwa agama.

A Ibnu Taimiyah adalah pemberi fatwa
B Fatwa Ibnu Taimiyah selalu benar
C Fatwa berbunyi: filsafat sesat

Dengan dalil teologi, sebagai fatwa agama seperti di atas, maka pernyataan Ibnu Taimiyah dijamin bernilai benar bagi murid-muridnya. Bagaimana bagi orang yang bukan murid Taimiyah? Tentu saja mereka berhak menolak. Baik menolak pernyataan, mau pun, menolak argumen-argumennya.

Akhir Filsafat

Heidegger memulai proyek penghancuran filsafat sejak 1920an dengan bukunya “Being and Time.” Heidegger sendiri adalah seorang filsuf sejati. Sehingga, tidak masuk akal, jika dia benar-benar berniat menghancurkan filsafat. Dengan cerdik, Heidegger menyatakan bahwa destruksi filsafat maksudnya adalah destruksi metafisika.

Saya kira, Heidegger sebagian sukses, dan sebagian gagal. Sukses dalam arti berhasil menggeser metafisika dari singgasananya, untuk kemudian, bersanding dengan ontologi. Gagal dalam arti tidak tercapai untuk menghancurkan metafisika, apalagi menghancurkan filsafat.

Derrida mengganti destruksi-metafisika menjadi dekonstruksi. Gadamer melanjutkan destruksi-metafisika menjadi hermeneutik. Menurut Vattimo, kita memang tidak bisa menghancurkan metafisika. Kita hanya bisa membelokkan metafisika.

“Philosophy is ending in the present age. It has found its place in the scientific attitude of socially active humanity. But the fundamental characteristic of this scientific attitude is its cybernetic, that is, technological character.” (Heidegger)

Akhir dari filsafat terjadi saat ini, tahun 1964 waktu itu. Sains dan teknologi telah mengambil alih peran filsafat. Semua realitas kebenaran yang ditawarkan oleh filsafat bisa digantikan oleh sains. Bahkan, sains memberikan kebenaran dengan meyakinkan: jelas, pasti, dan terukur. Lebih dari itu, sains dan teknologi, memberikan hasil nyata. Berupa kinerja tinggi, efisiensi, menguntungkan banyak pihak tertentu.

Mengapa filsafat tidak berakhir saja dengan situasi seperti itu? Apakah kita masih membutuhkan filsafat? Apakah akhir filsafat, benar-benar, digusur oleh sains teknologi?

Pikiran Terbuka

Heidegger mengusulkan pikiran-terbuka sebagai ganti dari filsafat. Setelah filsafat berakhir, tugas manusia untuk berpikir tetap ada. Berpikir dengan metode baru, dengan konten baru, yaitu pikiran-terbuka.

“Wherever a present being encounters another present being or even only lingers near it — but also where, as with Hegel, one being mirrors itself in another speculatively — there openness already rules, the free region is in play. Only this openness grants to the movement of speculative thinking the passage through what it thinks.

We call this openness that grants a possible letting-appear and show “opening.” In the history of language the German word Lichtung is a translation derived from the French clairiere. It is formed in accordance with the older words Waldung [foresting] and Feldung [fielding].” (Heidegger)

Berpikir-terbuka mengijinkan “being” menampakkan dan membuka diri apa adanya. Berpikir-terbuka menerima apa adanya, mendengar apa adanya, merasa apa adanya, melihat apa adanya, dan berpikir apa adanya. Berpikir-terbuka, meski kita hanya memilih istilah berpikir, bermakna diri yang terbuka, daya-cipta yang terbuka, daya-rasa yang terbuka, daya-karsa yang terbuka, dan daya-karya yang terbuka.

Ibnu Arabi (1165 – 1240) memberi judul karya besarnya sebagai “Futuhat Al-Makkiya” yang bermakna Kota Makkah Terbuka. Sebuah simbol yang menyiratkan ide: terbukanya diri sejati manusia melalui pusat simbol kota suci. Berpikir-terbuka adalah diri yang terbuka terhadap alam raya dan diri yang terbuka terhadap kesucian tanpa batas.

Berpikir-terbuka berbeda dengan sains atau pun metafisika. Meski demikian, sains dan metafisika, bisa mengantarkan kita kepada berpikir-terbuka. Sains berpikir fokus kepada fenomena-fenomena yang menjadi kajiannya. Suatu fenomena di luar kajian akan disisihkan – minimal untuk sementara waktu. Sementara, berpikir terbuka, memang terbuka dengan beragam fenomena. Berpikir-terbuka mengijinkan fenomena membuka diri untuk mengenalkan diri sejati noumena.

Metafisika menetapkan struktur pasti dari suatu bangunan filsafat ideal. Bangunan metafisika itu benar secara pasti – apriori dan universal. Sesuatu yang di luar bangunan metafisika tidak dijamin benar. Bahkan bisa saja sesuatu “yang lain” itu disisihkan. Sementara, berpikir-terbuka, mengijinkan bangunan ideal untuk membuka diri apa adanya. Berpikir-terbuka mengijinkan perkembangan, perubahan, dan perbedaan apa adanya. Masa kini, masa depan, dan masa lalu terbuka apa adanya.

Berpikir-terbuka mengijinkan segala sesuatu membuka diri apa adanya.

Lalu, termasuk sebagai apakah berpikir-terbuka seperti itu? Bukankah itu pemikiran ilmiah? Atau pemikiran filosofis? Atau pemikiran mistis? Atau pemikiran relijius?

Heidegger, tampaknya, tidak mau menjawab pertanyaan itu. Dia menyebut berpikir-terbuka adalah tugas manusia untuk berpikir di jaman “berakhirnya filsafat.”

Saya menilai bahwa berpikir-terbuka ini bisa kita masukkan sebagai berpikir ilmiah, filosofis, mistis, atau relejius. Tapi, sejauh kita menerapkan pendekatan filosofis maka berpikir-terbuka tetap bisa kita masukkan sebagai berpikir-filosofis. Sehingga, mengakhiri filsafat sama artinya dengan memulai filsafat. Membunuh filsafat sama artinya dengan menghidupkan filsafat. Menutup filsafat sama artinya dengan membuka filsafat.

Mati Satu Tumbuh Seribu

Jean-Luc Nancy (1941 – 2021) mencermati ada yang menarik dari gelar PhD – Philosophiae Doctor atau Doctor of Philosophy atau Doktor Filsafat. Di berbagai macam kampus, di belahan dunia, setiap mahasiswa yang lulus program S 3 berhak mendapat gelar PhD – Doktor Filsafat. Dengan demikian, dunia bisa memiliki ribuan doktor filsafat baru tiap tahunnya. Maka, siapa bisa mengatakan filsafat telah mati? Mati satu tumbuh seribu, justru itu yang terjadi.

Yang menarik lagi, doktor filsafat ini bisa saja bidang kajiannya tidak berhubungan dengan filsafat. PhD bisa saja diraih para doktor bidang olahraga, seni, teknologi, tataboga, bisnis, pertanian dan lain-lain. Apakah mereka benar-benar doktor filsafat?

Barangkali, awalnya, para doktor filsafat itu tidak dengan sengaja bermaksud mengkaji filsafat. Karena, akhirnya, dia menyandang gelar doktor filsafat maka wajar bila kemudian dia menekuni filsafat dalam satu dan lain cara. Dengan demikian, potensi bekembangnya filsafat menjadi lebih besar lagi.

Perkembangan filsafat juga bisa kita cermati secara online. Saya sering mengetikkan kata “philosophy” ke google news. Hasilnya, banyak sekali news tentang filsafat. Tentu saja baru dan hangat. Yang paling banyak menggunakan istilah filsafat di antaranya: filsafat olahraga, filsafat agama, sejarah filsafat, filsafat politik, filsafat kehidupan, filsafat bisnis, dan, bahkan, filsafat bercinta.

Menjadi makin sulit, bagi kita, untuk membuktikan bahwa filsafat telah wafat. Lebih mudah, bagi kita, untuk menunjukkan filsafat bertumbuh pesat. Apakah pertumbuhan semacam itu memang sudah tepat?

Kesimpulan

Pernyataan “filsafat telah wafat” sulit dibuktikan kebenarannya. Kita, justru, bisa membuktikan sebaliknya.

Pertama, jika pernyataan “filsafat telah wafat” benar maka berakibat menolak diri sendiri karena pernyataan tersebut juga termasuk filsafat. Sehingga pernyataan “filsafat telah wafat” bisa ditolak.

Kedua, jika yang dimaksud telah wafat adalah filsafat jenis lama maka pernyataan “filsafat telah wafat” adalah filsafat jenis baru. Dengan demikian, ada filsafat yang masih hidup yaitu filsafat jenis baru.

Ketiga, filsafat telah berakhir untuk kemudian digantikan dengan tugas berpikir-terbuka yaitu berpikir yang mengijinkan segalanya untuk menampakkan diri, dan membuka diri apa adanya. Tugas berpikir-terbuka ini, pada gilirannya, adalah tugas filsafat lagi. Dengan demikian, filsafat menjadi paling utama lagi. Dan, tugas berpikir yang penting adalah mengambil keputusan, memberi suatu penilaian yang tepat, ketika tidak tersedia ukuran mau pun pembanding.

Saat ini, bumi sedang berada dalam ancaman kerusakan iklim, perang nuklir, dan bahaya pandemi. Dan, ancaman terbesar adalah kerusakan politik di berbagai tempat, di penjuru bumi. Bagaimana kita bisa menyelamatkan bumi? Bagaimana kita bisa menyelamatkan manusia? Bagaimana kita bisa menyelamatkan semesta? Bagaimana filsafat bisa tampil kembali memberi solusi?

Tantangan besar telah tiba. Saatnya untuk berkarya!

Bagaimana menurut Anda?


History of Philosophy: Perspektif Dinamis

Akhir dari sejarah ada tiga. Pertama, Fukuyama (1952 – ) menyatakan akhir dari sejarah adalah demokrasi kapitalis. Pada tahun 1990an, tembok Berlin runtuh, dan Uni Soviet juga sudah runtuh. Maka, secara efektif, komunisme sudah hancur di bumi ini. Sehingga, hanya ada satu tatanan sejarah dunia: demokrasi-kapitalis. Tampaknya, Fukuyama sudah menganggap tiada tatanan monarki, teokrasi, dan lain-lain. Akhir dari sejarah adalah demokrasi-kapitalis.

The End of History | Wookieepedia | Fandom

Kedua, Vattimo (1936 – ) menyatakan sejarah sudah berakhir dengan hadirnya media digital. Masing-masing orang punya sudut pandangnya sendiri terhadap suatu kejadian. Begitu juga, masing-masing orang punya sudut pandangnya sendiri terhadap suatu sejarah. Jadinya, sejarah sudah berakhir. Dulu, sebelum era digital, penguasa bisa menulis satu jenis sejarah. Kemudian memaksakan satu sejarah itu diterima oleh masyarakat luas. Saat ini, meski ada satu jenis sejarah seperti itu, masing-masing orang bebas menciptakan sejarah dengan versi berbeda-beda.

Ketiga, setiap akhir sejarah adalah awal dari sejarah. Sehingga, sejarah memang berakhir, di saat yang sama, sejarah baru dimulai. Sebut saja Fukuyama benar. Semua sejarah selain demokrasi telah runtuh. Maka, demokrasi sebagai akhir sejarah, memulai babak baru sebagai penuntun sejarah tunggal. Nyatanya, demokrasi terpecah belah tidak tunggal lagi. Demokrasi kiri, tengah, kanan, dan variasi di antara mereka. Benar-benar sejarah demokrasi yang baru.

Anggap saja Vattimo juga benar. Era digital mengakhiri sejarah tunggal. Jalannya sejarah terpecah belah sesuai perspektif subyek di era digital. Benarkah, di era digital, sejarah selalu terpecah belah? Saat ini saja, korporasi raksasa mulai mengendalikan dunia digital. Arah sejarah tampak mulai diarahkan ke satu arah tertentu. Dengan berkembangnya artificial intelligence bisakah arah sejarah manusia ditentukan oleh AI tersebut? Bila demikian, terbentuk sejarah baru, lagi. Sejarah umat manusia yang didominasi oleh AI.

Sejarah dan Filsafat

Sejarah dan filsafat membentuk satu kesatuan yang saling mengikat.

KAJIFI: KAJIan FILSAFAT MEMATIKANMU

Aksiologi: Filsafat Mematikan Anda

Mengkaji filsafat menjadikan Anda mati. Mati dari kehidupan sehari-hari. Untuk berbalik menghidupkan hari demi hari. Anda hidup dengan pertanyaan. Sejak lahir, bayi, Anda selalu bertanya tentang apa saja. Anda terlahir sebagai filsuf. Dan, mati sebagai filsuf. Serta, menjalani hidup sebagai filsuf. Mati sebelum mati.

Being & Freedom: Content – Trik 7 Detik PamanAPiQ.com

Ontologi: Ada-ada Saja

Epistemologi: Anda Tahu bahwa Anda Tahu Apa

Berikut beberapa video tentang kajian filsafat.

Filsafat Cinta

Filsafat Matematika

Filsafat Kritik

Filsafat Dinamis

Filsafat Terbaru

Realitas Kebenaran Sejati Terbukti

Apa realitas kebenaran sejati? Tuhan adalah kebenaran sejati. Begitu, kira-kira, jawaban dari perspektif agama. Sementara, orang-orang yang materialis, orang yang memandang realitas adalah materi, maka realitas kebenaran sejati adalah partikel-partikel fundamental pembentuk materi alam raya. Benarkah begitu? Masih ada banyak alternatif jawaban.

Whizolosophy | The Illusion Of Time; Does Time Exist In Fundamental Reality?

Realitas sejati hanyalah ilusi. Di dunia ini tidak ada apa-apa. Yang tampak di luar seperti meja, pohon, mobil, dan lain-lain adalah ilusi dari pikiran kita. Realitas adalah ilusi pikiran manusia. Dan, manusia, kita sendiri, juga merupakan ilusi. Demikian, kira-kira, pandangan skeptis-idealis.

Realitas sejati di alam raya adalah simulasi komputer super canggih. Kita adalah karakter-karakter pelaku dalam game simulasi kehidupan. Karakter dalam game berjuang untuk memenangkan petualangan. Demikian juga, kita, merasa berjuang untuk meraih mimpi, cita-cita tertinggi. Kita tidak sadar bahwa, sebenarnya, kita hanya ada dalam simulasi game belaka. Begitu, kira-kira, pandangan skeptis-simulasi.

Dunia adalah cinta. Dunia hanya milik kita berdua. Begitu kata mereka yang sedang jatuh cinta. Realitas sejati adalah cinta. Cinta yang menerangi seluruh semesta. Cinta yang membahagiakan, menarik, dan mendorong setiap gerak dunia. Begitu, kira-kira, pandangan romantis.

Dalam tulisan ini, saya tidak akan membahas satu demi satu pandangan di atas. Saya, justru, akan fokus dengan satu solusi untuk menjawab pertanyaan realitas fundamental sejati. Realitas sejati adalah dinamis.

1. Karakter Dinamis
1.1 Pancajati
1.2 Hana Maga Bataga
2. Realitas Cinta
2.1 Konten Cinta
2.2 Bentuk Cinta Tridaya
3. Daya Manusia
3.1 Daya Imajinasi
3.2 Daya Faham
3.3 Daya Akal
3.4 Daya Rasa
4. Bukti Kebenaran
4.1 Bukti Imajinasi
4.1.1 Imajinasi Obyektif
4.1.2 Imajinasi Subyektif
4.1.3 Imajinasi Intuitif
4.2 Bukti Pemahaman Konsep
4.2.1 Bukti Aposteriori Empiris
4.2.2 Bukti Apriori Rasionalis
4.2.3 Bukti Enframing Engineering
4.3 Bukti Idea Akal
4.3.1 Bukti Contoh
4.3.2 Bukti Ilustrasi
4.3.3 Bukti Realisasi
4.4 Bukti Rasa
4.4.1 Bukti Konsensus
4.4.2 Bukti Eksperimen
4.4.3 Bukti Sublim
5. Bukti Diri
5.1 Bukti Obyektif Positivis
5.2 Bukti Subyektif Eksistensialis
5.3 Bukti Cukup Diri

1. Karakter Dinamis

Karakter realitas sejati adalah dinamis. Setiap kita membuat konsep tentang realitas kebenaran maka realitas itu sendiri sudah bergerak dengan dinamis. Umumnya, kita memandang gerak dinamis sebagai perpindahan suatu substansi dalam ruang dan waktu. Gerak semacam itu adalah gerak aksidental, gerak permukaan belaka. Sejatinya, kita bisa lebih dalam melacak gerak sampai kepada gerak substansial dan gerak eksistensial.

1.1 Pancajati

Kita bisa menggunakan rumusan “pancajati” untuk mempelajari realitas yang dinamis ini. 1) realitas kebenaran selalu dinamis, 2&3) kebenaran adalah hasil verifikasi berdasar cakrawala tertentu, 4&5) kebenaran cakrawala dipengaruhi oleh pengalaman dan interpretasi. Lebih lengkap tentang formula pancajati silakan merujuk ke tulisan saya terdahulu. (Kebenaran Sejati Ada Di Sini)

1.2 Hana Maga Bataga

Realitas fundamental kebenaran sejati adalah hana. Karakter kebenaran yang terus-menerus dinamis adalah: maga. Dan, gerak dinamis dari hana ini menghasilkan kebenaran akhir: bataga.

Karena hana adalah realitas paling fundamental maka kita tidak bisa mendefinisikan hana. Justru setiap definisi membutuhkan dukungan dari hana. Maka kita akan memaknai hana – menginterpretasikan hana. Agar hana menjadi lebih nyata, bagi kita, maka kita bisa memandang hana sebagai manusia sejati. Hana adalah manusia sejati yang senantiasa bergerak dinamis.

Kita tahu bahwa manusia sejati, sebagai hana, selalu bergerak maju. Manusia selalu punya cita-cita. Setelah, satu cita-cita berhasil diraih, maka hana menetapkan cita-cita baru. Bahkan, sebelum cita-cita diraih, hana bisa saja menciptakan cita-cita yang lebih banyak. Manusia sejati tidak pernah berhenti. Mengejar cita-cita yang makin tinggi.

Gerak manusia sejati itu adalah maga. Maga adalah gerak sejati, gerak eksistensial, gerak substansial. Maga menggerakkan, mengubah, manusia kanak-kanak menjadi manusia remaja lalu dewasa. Maga mengubah manusia cengeng menjadi manusia gagah perkasa. Maga mengantarkan anak kecil yang tidak mengerti apa-apa menjadi sarjana bijaksana. Maga bergerak dalam jangka waktu bertahun-tahun. Maga juga bergerak tiap detik, tiap saat. Maga menciptakan ruang untuk bergerak. Maga menciptakan waktu untuk bergerak.

Bataga adalah hasil akhir dari hana yang bergerak sebagai maga. Bataga menampung hana dan seluruh hasil gerak maga. Seorang sarjana bijaksana menampung seluruh memori perjalanan dia dari kanak-kanak, remaja, sampai dewasa saat ini. Bataga ini unik. Setiap orang memiliki bataga yang berbeda-beda. Karena masing-masing orang memiliki kisah hidup yang beragam maka totalitas kisah hidupnya itu berkumpul menjadi bataga yang beragam, unik bagi masing-masing individu.

Apa sejatinya bataga itu? Bataga adalah hana yang baru. Yaitu, hana yang sudah melakukan gerak maga maka menjadi bataga. Karena bataga, sejatinya adalah hana, maka bataga itu juga selalu dinamis tidak pernah berhenti. Bataga memiliki karakter yang sama dengan hana. Sehingga, ketika kita membahas hana, sejatinya, kita juga sedang membahas bataga.

2. Realitas Cinta

Hana adalah cinta. Realitas adalah cinta. Realitas dibentuk oleh string-string cinta yang memenuhi jagat raya. Hanya ada hana. Hanya ada cinta.

2.1 Konten Cinta

Terdiri dari apakah realitas fundamental hana itu?

Kita bisa menginterpretasikan pertanyaan ini seperti seorang ilmuwan hendak menjawab pertanyaan terdiri dari apakah benda-benda, materi, di dunia ini. Dalton menjawab setiap materi terdiri dari bagian terkecil berupa atom. Kelak, ilmuwan menemukan bahwa atom bukanlah partikel terkecil. Atom tersusun oleh proton, neutron, dan elektron yang lebih sederhana. Selanjutnya, fisika quantum menemukan bahwa proton itu juga tersusun oleh partikel elementer seperti quark, boson, lepton, dan lain-lain. Apakah partikel elementer ini akan terus bisa digali, dianalisis, menghasilkan partikel yang lebih elementer lagi?

Teori string, lanjutan dari fisika quantum, menetapkan titik henti. Semua partikel elementer tersusun oleh string – partikel yang paling elementer, mirip-titik. Quark dan kawan-kawan itu, pada analisis akhir, tersusun oleh string. Tersusun oleh apakah string itu? String adalah tersusun oleh string itu sendiri. String adalah titik henti. Dalam dirinya sendiri, string tidak punya kekuatan apa-apa. Tetapi ketika beberapa string berkumpul, berinteraksi, maka akan menghasilkan beragam partikel fundamental elementer.

Jadi, tersusun oleh apakah hana itu? Hana tersusun oleh string. Tentu saja, string yang berbeda dengan fisika elementer. String dari hana adalah string cinta.

Hana adalah cinta. Hana selalu jatuh cinta. Hana bergerak karena cinta menuju cinta. Hana memang cinta. Manusia sejati, hana, adalah cinta.

Ketika Anda jatuh cinta, Anda sedang jadi hana, manusia sejati. Memang, Anda adalah hana. Jatuh cinta kepada kekasih adalah manifestasi hana. Cinta kepada anak adalah hana. Cinta kepada tumbuhan adalah hana. Cinta kepada karya sastra adalah hana. Alam raya adalah hana.

Bagaimana dengan orang yang tidak pernah jatuh cinta? Mereka sedang tidak beruntung. Mereka sedang berhenti menjadi hana. Mereka sedang berhenti jadi diri sejati. Maka kita perlu terus untuk jatuh cinta, merawat cinta. Cinta kepada sesama dan cinta kepada seluruh yang ada.

Bagaimana dengan orang yang mengumbar cinta di mana-mana? Apakah mereka adalah hana yang lebih jaya? Cinta sejati adalah suci. Tetapi, manusia bisa membelokkan cinta menjadi nafsu semata. Mengumbar nafsu adalah membelokkan cinta menjadi derita. Kita perlu kembali meluruskan cinta. Meniti jalannya yang suci.

Kita bisa berimajinasi, membayangkan, bahwa hana terdiri dari titik-titik kecil. Di mana, titik-titik kecil itu adalah string cinta. String cinta dalam jumlah yang banyak membentuk kekuatan-kekuatan cinta pada diri manusia. Masing-masing orang, meski terdiri dari string cinta yang sama, berbeda dalam jumlah dan susunan string cinta. Sehingga, kekuatan cinta bisa berbeda-beda. Bagaimana pun, meski berbeda, tetap sama-sama cinta yang mempesona.

Apa saja bentuk kekuatan cinta?

2.2 Bentuk Cinta Tridaya

Ada dua bentuk cinta sejati dan satu bentuk yang tidak imbang. Total menjadi tiga bentuk maka kita sebut sebagai tridaya: tiga kekuatan cinta.

Kita, juga, bisa kembali ke konsep hana. Manusia sejati, hana, terdiri dari string-string cinta dalam jumlah yang sangat besar dan terus bertambah, terus bergerak, maga. String-string cinta ini membentuk 3 kekuatan utama: 1)adil, 2)baik/apik, dan 3)derita.

Sesuai namanya, bentuk cinta sejati hanya dua: adil dan baik/apik. Sedangkan derita adalah pembelokan dari cinta, pembelokan dari hana.

Hana, dengan cinta, bebas bergerak. Hanya ada dua pilihan bentuk gerak cinta. Pertama, adil adalah manifestasi cinta yang sesuai dengan ukuran. Anda memberikan cinta kepada anak pertama sesuai dengan haknya adalah adil. Anda memberikan cinta kepada anak kedua sesuai haknya adalah adil. Begitu juga, Anda membantu tetangga sesuai haknya maka itu adalah adil.

Kedua, apik adalah manifestasi cinta yang lebih dari ukurannya. Apik adalah lanjutan dari adil. Jika adil adalah memberi sesuai haknya maka apik adalah memberi lebih dari haknya. Memberikan pendidikan kepada anak pertama adalah manifestasi cinta sesuai haknya, itu adalah adil. Memberikan pendidikan dengan kualitas tinggi, penuh perhatian, kepada anak pertama adalah lebih tinggi dari hak, itu adalah apik. Manifestasi cinta dari hana.

Menyelesaikan tugas sebagai kepala negara selama lima tahun sesuai tugas dan kewajiban adalah adil, manifestasi cinta dari seorang kepala negara. Membangun negeri selama 5 tahun, kebijakan-kebijakan strategis yang menyejahterakan rakyat kecil, menetapkan undang-undang yang memajukan seluruh masyarakat adalah lebih tinggi dari hak rakyat. Kepala negara seperti itu sudah berbuat baik, sebagai manifestasi cinta.

Ketiga, derita adalah bukan bentuk pilihan cinta. Derita terjadi ketika cinta berbelok arah, atau berbelok ukuran. Manusia bisa salah mengambil langkah sehingga mengakibatkan derita bagi dirinya atau pun orang lain.

Sejatinya, bentuk dari hana, bentuk dari string-string cinta hanya ada dua: adil dan baik/apik. Mari kita terus merawat cinta, hidup bahagia, dengan manifestasi nyata adil dan baik/apik.

3. Daya Manusia

Hana, yang terdiri dari string-string cinta itu, bisa membentuk kekuatan dalam jumlah tak terbatas. Sebagai manusia sejati, kita memiliki daya intelektual utama: imajinasi, daya pemahaman, dan akal. Ki Hajar Dewantara menyebut dengan istilah daya cipta, daya rasa, dan daya karsa. Semua daya kekuatan itu adalah bentukan dari string-string cinta, secara langsung atau tidak.

3.1 Daya imajinasi, daya citra, adalah kemampuan manusia untuk menciptakan citra dalam pikirannya. Citra inilah yang kita lihat, dalam kasus penglihatan. Ketika kita melihat pohon di samping rumah maka cahaya-cahaya dari pohon mengenai mata kita. Kemudian, imajinasi menciptakan citra-pohon dalam pikiran kita, yang bisa kita lihat.

Imajinasi juga bisa menciptakan citra tanpa melihat obyek pohon. Imajinasi bisa saja menciptakan citra dengan mengacu memori atau daya kreativitasnya.

3.2 Daya pemahaman, faham, adalah kemampuan manusia memahami suatu konsep. Ketika, imajinasi menciptakan citra-pohon dalam pikiran, imajinasi tidak paham bahwa itu pohon. Imajinasi hanya menciptakan citra. Kemudian tugas daya-pemahaman untuk memahami bahwa citra itu adalah pohon. Daya-pemahaman pula yang memutuskan sesuatu sebagai benar atau salah berdasar konsep pemahaman.

Imajinasi menciptakan citra berdasarkan pengalaman data-data indera dan kombinasi-kombinasi darinya. Sementara, daya-pemahaman mampu menciptakan konsep-konsep melampaui pengalaman indera. Misal, imajinasi dapat menciptakan citra-citra gambar kreatif sejauh dalam ruang dimensi 3. Tetapi, daya pemahaman bisa menciptakan konsep gambar dalam ruang dimensi 5. Tak bisa dibayangkan oleh imajinasi, bisa dibuatkan konsep oleh daya-faham.

Dalam fisika quantum, misalnya, ada konsep multiverse yang menyatakan bahwa ada banyak alam paralel. Ada Indonesia di alam kita, di sini. Dan, ada Indonesia di alam paralel yang lain. Ada Anda di alam ini, dan ada Anda versi lain di alam paralel yang lain. Daya-faham bisa memahami konsep multiverse. Tapi, imajinasi kita tidak bisa membayangkannya. Jika ada alam paralel lain, kata imajinasi, pasti alam paralel itu ada di ruang sekitar sini juga, hanya saja, bisa jauh atau dekat.

Daya-faham mampu memahami konsep lebih luas dari imajinasi. Sementara, imajinasi bisa menggambarkan citra lebih jelas dari daya-faham. Imajinasi bekerja sama dengan daya-faham dalam diri manusia.

3.3 Daya-nalar, akal, adalah kemampuan kita menciptakan idea-idea baru. Akal mengolah citra dari imajinasi dan konsep dari daya-faham untuk kemudian menghasilkan gagasan-gagasan segar. Apa yang tak terbayangkan oleh imajinasi, dan apa yang tak terpikirkan oleh daya-faham, bisa menjadi ide segar bagi akal.

Akal bisa meng-akali setiap kesulitan untuk kemudian menemukan inovasi baru. Akal, juga, bisa meng-akali pihak lain sampai rugi, demi kepentingan pribadi. Akal memang banyak akal. Akal adalah daya aktif manusia yang bernilai tinggi. Manusia wajib menjaga akalnya demi kebaikan bersama.

Uniknya dari akal adalah kemampuannya bernalar secara asosiasi bebas. Akal mampu membaca suatu obyek sebagai simbol untuk kemudian menciptakan idea segar dari obyek, yang tidak nyambung dengan obyek itu sendiri. Misal, ketika saya melihat anak kecil senang bermain dengan kubus-kubus kecil maka akal saya memunculkan idea bagaimana menciptakan media permainan untuk belajar matematika. Dan, kemudian, akal bekerja sama dengan daya-faham menciptakan konsep, meminta bantuan imajinasi untuk membuat gambaran jelas maka terwujudlah game “dadu milenium.” Sebuah game matematika yang memudahkan anak-anak belajar matematika. Asyik…!

Ketika melihat kebun teh hijau membentang, akal memunculkan ide bahwa itu adalah simbol dari kebahagiaan manusia. Manusia bahagia dengan pemandangan yang begitu sejuk. Kebun teh dan bahagia, sejatinya tidak ada hubungan pasti. Akal kita menciptakan hubungan itu, menghubungkan sesuatu yang, tampaknya, tidak ada hubungan.

Ketiga daya di atas (imajinasi, daya-faham, dan akal) adalah daya aktif. Kombinasi dari string cinta memungkinkan terbentuknya daya-daya lain yang unik. Termasuk di antaranya daya pasif yaitu daya-data, daya-hasrat, dan daya-rasa.

Ketika kita melihat pohon di samping rumah maka mata mengirimkan sinyal-sinyal cahaya ke mata, dan sistem syaraf. Kemudian, secara reflek, daya-data akan memunculkan intuisi pohon masih samar-samar berdasar data yang diterimanya. Selanjutnya, daya-aktif mengambil alih tugas. Imajinasi menciptakan citra yang lebih jelas dari intuisi pohon dan daya-faham menerapkan konsep-konsep sampai bisa memutuskan bahwa citra dari obyek itu adalah pohon.

Di saat daya-data menerima sinyal dari pohon, daya-hasrat secara intuitif (reflek) memberi respon awal apakah berminat atau tidak terhadap pohon tersebut. Selanjutnya, daya-aktif mengolah sinyal minat itu. Dari imajinasi dan daya-faham, kita sudah tahu bahwa obyek tersebut adalah pohon. Akal, kemudian, mengembangkan idea: perlu direspon bagaimanakah pohon itu? Barangkali, respon akal adalah: biarkan saja pohon seperti itu, apa adanya.

Jika obyek pohon kita ganti dengan makanan-lezat, apa respon akal? Apakah makanan-lezat itu dibiarkan saja? Atau disantap lebih nikmat? Atau jika obyek itu adalah gadis cantik, maka apa respon akal? Untuk menjawabnya, kita perlu membahas daya-rasa.

3.4 Daya-rasa, merasakan berbagai macam realitas. Daya-rasa mempunyai karakter pasif dan aktif. Daya-rasa pasif bersifat refleks intuitif, secara langsung, meneruskan sinyal yang diterimanya kepada subyek, kepada kita. Sedangkan, daya-rasa aktif menjadi sangat penting bagi kita. Daya-rasa aktif bisa memberikan rasa yang lebih kuat kepada kita.

Obyek di depan kita, misalkan, makanan lezat. Daya-rasa pasif menerima sinyal makanan-lezat, secara langsung, meneruskan ke daya-aktif. Imajinasi dan daya-faham dengan cepat memastikan bahwa obyek itu adalah makanan-lezat. Dilihat dari tampilan dan aromanya, makanan itu tampaknya benar-benar lezat. Tugas akal, pada akhirnya, harus memutuskan sikap selanjutnya, apakah makanan perlu disantap?

Akal berulang kali berkomunikasi dengan imajinasi dan daya-faham untuk mengambil keputusan. Imajinasi memunculkan citra diri bahwa kita pada kondisi sedang lapar atau kenyang. Daya-faham memastikan sekarang adalah waktu makan yang tepat atau tidak. Dan seterusnya. Akhirnya, akal memutuskan: makan saja itu makanan lezat, misalnya.

Yang menarik, di sini, daya-rasa aktif sebenarnya tidak ada. Akal, bukan daya-rasa, yang memutuskan makan saja. Sementara, daya-rasa pasif memang ada secara mandiri. Daya-rasa pasif ini dibentuk oleh string-string cinta dalam jumlah tertentu. Sedangkan, daya-rasa aktif dibentuk oleh interaksi harmonis imajinasi, daya-faham, dan akal. Meski pun mereka (imajinasi, faham, dan akal) dibentuk oleh string-string cinta, daya-rasa aktif tidak demikian. Akibatnya, daya-rasa aktif memang besifat estetik, bukan logika linear. Interaksi harmonis berbagai macam daya-aktif menghasilkan rasa estetik.

4. Bukti Kebenaran

Sampai di sini, kita bisa menyusun bukti kebenaran dan bukti realitas. Masalah muncul ketika seseorang salah memberi bukti, atau salah menuntut bukti, karena tidak sesuai dengan daya manusia. Kita perlu menyesuaikan bukti dengan daya manusia. Imajinasi, misalnya, menuntut bukti obyektif atau subyektif. Bukti rasional tidak diperlukan di sini. Pernyataan matematika perlu bukti rasional berdasar sistem matematika yang disepakati. Imajinasi tidak diperlukan di sini – meski bisa membantu pemahaman.

4.1 Bukti Imajinasi

Daya-imajinasi menerima umpan dari intuisi-indera untuk kemudian diperkuat menghasilkan citra yang lebih jelas. Daya-imajinasi juga bisa memproduksi citra secara mandiri tanpa umpan dari indera, dengan memanfaatkan memori, akal, dan lainnya.

4.1.1 Imajinasi Obyektif

Ketika Anda melihat meja di depan Anda maka muncul citra meja dalam pikiran. Citra ini adalah hasil imajinasi Anda. Bagaimana cara membuktikan memang ada meja sesuai dengan citra imajinasi Anda? Kita bisa membuktikannya secara empiris-obyektif.

Kita bisa memperhatikan meja berulang kali, menyentuh, bahkan menimbangnya. Setelah hasil pengamatan ini konsisten beberapa kali maka kita berhasil memberikan bukti obyektif terhadap imajinasi kita. Alternatifnya bisa dengan mengundang orang lain untuk mengamati meja tersebut. Bila ada beberapa orang melihat meja yang sama, sambil diskusi sesama pengamat, maka kita berhasil membuktikan secara obyektif-empiris meja yang dimaksud. Sains dan teknologi mempunyai beragam metode untuk bukti obyektif-empiris semacam ini.

Tentu saja, ada kemungkinan kita salah menilai imajinasi. Kita melihat bola voli di depan kita. Setelah kita amati lebih dekat, ternyata, itu bukan bola voli tetapi bola sepak. Bisa juga, orang dengan mata rabun melihat kambing di depannya, ternyata, adalah anjing. Meski kesalahan menilai ini berhubungan dengan imajinasi, sebenarnya, bukan kesalahan imajinasi. Di bagian bawah, kita akan membahas bahwa kesalahan penilaian ini adalah kesalahan daya-faham atau salah paham.

4.1.2 Imajinasi Subyektif

Kita bisa membuat citra imajinasi tanpa berhubungan langsung dengan obyek luar. Ketika melamun, atau bermimpi, kita menciptakan citra tanpa berhubungan langsung dengan obyek luar. Bagaimana cara membuktikan imajinasi subyektif?

Bisa dengan beragam cara – dan umumnya tidak ada masalah dengan cara-cara ini.

“Bayangkan foto presiden Soekarno dengan mengenakan peci di kepalanya. Apa warna peci beliau?”
“Warna hitam.”

Tepat. Anda sudah menciptakan citra presiden Soekarno di imajinasi Anda. Dalam kasus imajinasi-subyektif ini, bisa saja seseorang berbohong. Dia mengatakan membayangkan presiden Soekarno, ternyata tidak. Kita juga bisa membuat citra dengan cara yang lebih kreatif, bebas. Bayangkan seorang pejabat mengenakan peci warna-warni pelangi. Tentu saja, saat ini tidak ada peci warna-warni pelangi tapi kita bisa membuat citranya.

4.1.3 Imajinasi-Intuitif

Imajinasi-intuitif terjadi seketika, refleks. Anda tidak sengaja menginjak duri. Terbentuk imajinasi-intuitif rasa sakit. Bisa juga, tiba-tiba Anda terkenang wajah orang yang Anda cintai, yang sudah meninggal beberapa tahun lalu. Muncul imajinasi-intuitif berupa rasa rindu teriring citra wajahnya.

Bukti imajinasi-intuitif, umumnya, tidak masalah. Karena, kita cenderung menerima pengakuan dari orang yang mengatakannya.

August Kekule (1829 – 1896) waktu itu sedang melakukan penelitian ilmiah struktur kimia. Sampai larut malam, sudah berhari-hari, Kekule tidak menemukan kemajuan. Semua rumusan kimia yang ada tidak berhasil menjelaskan hasil risetnya.

Dalam kondisi mengantuk, atau tertidur, Kekule melihat ada beberapa ular yang melata. Di antara ular-ular itu, ada yang menarik perhatian Kekule, ada ular yang menggigit ekornya sendiri. Dengan menggigit ekornya sendiri maka tubuhnya membentuk lingkaran.

Kekule terjaga, merasa aneh dengan ular yang menggigit ekornya sendiri. Muncul dalam imajinasinya, bagaimana jika struktur molekul membentuk lingkaran? Struktur molekul melingkar ini, pada masanya, menjadi inovasi ilmiah terbesar dalam bidang kimia.

Dari beragam imajinasi di atas, kita bisa membentuk imajinasi kompleks – obyektif, subyektif, dan intuitif. Anda bisa bereksperimen. Menjelang tidur putarlah lagu kesayangan Anda. Kemudian, ketika Anda tidur, bermimpi menonton konser musik yang memainkan lagu kesayangan Anda tersebut. Mimpi tersebut adalah imajinasi kompleks. Obyektif karena Anda mendengarkan lagu. Subyektif karena Anda menciptakan sendiri berbagai citra dalam mimpi. Dan, intuitif karena merespon lagu secara refleks.

4.2 Bukti Pemahaman Konsep

Bukti pemahaman-konsep atau konsep-pemahaman adalah bukti yang paling penting dalam dunia sains dan kehidupan sosial. Sementara, bukti imajinasi bisa kita pandang sebagai ilustrasi dan penguat bagi pemahaman konsep.

4.2.1 Bukti Konsep Aposteriori

Bukti aposteriori adalah bukti yang bisa diuji setelah pengamatan tertentu. “Paman APIQ tinggal di Bandung” adalah pernyataan yang bisa dibuktikan secara aposteriori. Caranya mudah: kunjungi Bandung dan temukan tempat tinggal paman APIQ. Jika berhasil maka pernyataan di atas bernilai benar “setelah” dilakukan verifikasi.

Pernyataan sains, sebagian besar, adalah pemahaman konsep aposteriori. Seperti kita lihat di atas, aposteriori bisa saja positif mengkonfirmasi, tetapi bisa juga, ternyata negatif, atau menolak. Setelah diverifikasi, misalnya ternyata, Paman APIQ tidak tinggal di Bandung sehingga pernyataan ditolak.

Sains dan teknologi modern berkembang pesat dengan mengembangkan pengetahuan aposteriori.

Tetapi, sejatinya, masih ada masalah filosofis di sini. “Paman APIQ tinggal di Bandung.” Orang masih bisa beda pendapat definisi “Paman APIQ.” Begitu juga pengertian “tinggal di Bandung.” Apakah maksudnya kota Bandung? Atau Bandung Barat? Sebagian Bandung atau seluruh Bandung?

Perbedaan pendapat di atas, secara filosofis, bisa saja tidak ada titik temu sehingga dissensus. Dalam kehidupan sehari-hari, kita bisa mencapai konsensus. Apakah kebenaran empiris aposteriori itu, pada analisis akhir, berlandaskan konsensus?

Mari kita cermati dengan contoh yang lebih nyata, “Tinggi meja ini 135 cm.”

Kita, dengan mudah, bisa mengukur tinggi meja itu beberapa kali dan terbukti benar bahwa tingginya 135 cm. Bukti kebenaran empiris berupa fakta yang nyata. Hasil pengukuran aposteriori bisa diterima.

4.2.1.1 Bukti Sains Vs Konsensus

Sains teknologi terbukti benar secara empiris, efisien, dan menguntungkan. Lagi-lagi, kebenaran sains tidak sekuat yang diklaim banyak orang. Kebenaran sains, pada analisis akhir, harus mempertimbangkan konsensus. Sehingga, sains yang selama ini kita anggap sebagai fakta ilmiah perlu kita tinjau kembali. Kita, perlu, berpikir-terbuka.

Tinggi meja 135 cm kita peroleh dari beberapa pengukuran: 135,1; 135,0; dan 134,9. Maka rata-rata tinggi meja = 135 cm.

Berapa tinggi meja sebenarnya, yang bukan rata-rata? Tidak ada hasil pengukuran akurat mutlak. Setiap pengukuran menyertakan suatu margin error – suatu ketidakpastian. Hasil pengukuran sains memberikan hasil estimasi yang bisa diterima oleh komunitas sains. Bukankah itu suatu konsensus di antara para ilmuwan? Dan, jika ada konsensus di komunitas ilmuwan, bukankah pasti sudah mempertimbangkan banyak hal? Sehingga, konsensus pasti bernilai ilmiah?

4.2.1.2 Falsifikasi vs Konsensus

Falsifikasi adalah “metode ilmiah” untuk menguji suatu pernyataan ilmiah dengan menemukan titik kesalahannya.

“Semua angsa berwarna putih.” Hasil dari pengamatan ratusan sampai ribuan angsa menunjukkan bahwa setiap angsa, memang, berwarna putih.

Falsifikasi akan menguji, “Apakah ada angsa yang tidak berwarna putih?” Jika setiap pengamatan menunjukkan bahwa setiap angsa berwarna putih maka pernyataan bisa diterima sebagai benar – sampai saat itu.

Kesimpulan bisa berubah bila ada hasil pengamatan lain.

Ilmuwan A mengamati ada angsa berwarna hitam. Maka pernyataan semua angsa berwarna putih “tidak lolos” di-falsifikasi. Pernyataan tersebut tidak valid sehingga perlu revisi.

Secara filosofis, falsifikasi, tetap perlu mempertimbangkan konsensus. Ketika ilmuwan A mengamati ada angsa berwarna hitam, maka, apakah itu suatu fakta? Kita bisa meminta 5 ilmuwan lain untuk menguji apakah angsa yang diamati A benar-benar hitam. Mereka, misalnya, sepakat warnanya hitam.

Apakah ada jaminan ilmuwan ke-6 akan sepakat bahwa angsa itu berwarna hitam? Tidak ada jaminan. Bisa jadi, ilmuwan ke-6 menyatakan bahwa angsa yang dimaksud adalah berwarna putih. Sehingga, hasil pengamatan ilmuwan A “tidak lolos” di-falsifikasi oleh ilmuwan ke-6.

Lagi-lagi, para ilmuwan perlu mempertimbangkan konsensus di antara komunitas mereka. Konsensus bukanlah suatu aib. Justru, konsensus adalah keunggulan umat manusia.

4.2.1.3 Bukti Konsensus

Meski beberapa orang tidak nyaman bahwa konsensus berperan penting dalam kebenaran sains empiris, sejatinya, konsensus justru menunjukkan kemajuan peradaban manusia. Masyarakat yang berhasil menyepakati konsensus, dan menghormatinya, menjadi masyarakat yang beradab.

Demikian juga, komunitas saintis yang berhasil menghormati konsensus mampu mendorong kemajuan sains teknologi dengan dinamis.

Apakah ada kebenaran ilmiah yang bersifat pasti dan universal? Konsep matematika dan teknologi akan mampu menjawab dengan afirmatif.

4.2.2 Bukti Konsep Apriori Rasionalis

Konsep apriori terbukti benar secara pasti dan universal. Pernyataan matematika, misal 12 + 1 = 13, adalah konsep apriori yang bernilai benar secara pasti dan universal.

Kita bisa mengambil contoh 12 jeruk ditambah 1 jeruk maka akan menghasilkan 13 jeruk. Contoh jeruk tersebut adalah sekedar contoh belaka. Bukan karena contoh maka matematika menjadi benar. Tetapi karena matematika terbukti benar maka contoh jeruk itu bisa menjadi ilustrasi. Displin matematika mengembangkan beragam cara yang canggih untuk membuktikan kebenaran beragam pernyataan matematika dengan pendekatan rasionalis.

Mengapa pernyataan matematika bisa benar secara universal, bahkan apriori? Tanpa pengujian empiris matematika selalu benar – apriori. Di setiap ruang dan waktu bernilai benar – universal.

Matematika bernilai benar secara apriori karena konsep matematika adalah ideal. Jika ada obyek tidak ideal maka obyeknya ditolak. Sementara, konsep matematika tetap diterima secara apriori.

12 + 1 tidak = 13 terjadi pada bilangan jam dinding. Pada jam dinding terjadi 12 + 1 = 1 karena tidak ada angka 13.

Dalam kasus jam dinding, obyek jam dindingnya yang ditolak. Sementara, 12 + 1 = 13 tetap benar karena yang dimaksud adalah bilangan asli seperti umumnya kita pahami. Dengan cara ini, memilih yang ideal, konsep matematika akan selalu benar.

Bukankah itu merupakan suatu konsensus? Sehingga, kebenaran matematika yang universal itu, pada analisis akhir, mengandalkan konsensus?

Meski, barangkali, kita bisa menganggap matematika mengandalkan konsensus, istilah yang lebih tepat adalah aksioma. Pernyataan 12 + 1 = 13 selalu benar dalam sistem aksiomatik bilangan asli. Dan, pernyataan 12 + 1 = 1 selalu benar dalam sistem aksiomatik bilangan jam dinding. Kita perlu memahami konsep sistem aksiomatik yang dimaksud, bukan, kita diharapkan sepakat dengan suatu konsensus.

Dengan demikian, kita secara sah dapat mengatakan bahwa konsep matematika bernilai benar secara apriori.

Dengan keunggulan matematika yang apriori itu maka, wajar, sains menggabungkan pendekatan empiris dan matematis. Sehingga, sains memiliki aspek apriori dan aposteriori.

4.2.3 Bukti Enframing Engineering

Bukti kebenaran makin berkembang dengan bukti enframing engineering. Jika matematika mengembangkan sistem aksiomatik maka teknologi, lebih maju, dengan sistem enframing.

Produsen memproduksi batere mobil listrik yang mampu menempuh jarak 500 km. Janji produsen itu akan terbukti benar dengan enframing. Semua batere, terbukti, benar-benar mampu menempuh jarak 500 km – bahkan bisa lebih. Jika ditemukan batere yang tidak mampu menempuh jarak 500 km maka batere tersebut dianggap cacat. Batere tersebut dicoret dari sistem. Begitulah cara kerja enframing, agar terbukti benar.

Bukti kebenaran enframing akan ditentukan oleh penjamin – produsen batere dalam contoh ini. Ketika produsen berhasil konsisten memproduksi batere dengan daya tempuh lebih dari 500 km maka pernyataan tersebut terbukti benar. Bila ada batere yang cacat, segera diganti dengan batere yang baru, maka kebenaran enframing makin kuat. Dalam dunia engineering, kebenaran enframing bisa menjadi yang paling penting.

Layanan yotube bisa diakses di Indonesia. Jika suatu saat, layanan youtube, tidak bisa diakses di Indonesia maka para ahli, dan teknisi, dari youtube akan memperbaikinya. Sedemikian hingga, youtube benar-benar bisa diakses di Indonesia. Era digital bertabur realitas dengan bukti kebenaran enframing.

Dalam politik sering kita mendengar: kami butuh bukti bukan janji. Politikus bisa memberi bukti dengan memenuhi janji-janjinya selama kampanye. Dengan demikian, politikus dan pejabat, termasuk yang perlu mahir dalam memberikan bukti enframing.

Tetapi, apakah bukti enframing bisa dipertanggungjawabkan? Bukankah enframing adalah sejenis rekayasa? Sejenis manajemen? Atau sejenis manipulasi?

Catatan: Bukti pemahaman konsep, apriori mau pun aposteriori, adalah sejenis bukti yang paling mudah untuk ditunjukkan. Bukti pemahaman konsep ini bisa kita sebut sebagai bukti obyektif. Meski, dalam analisis akhir, bukti pemahaman konsep melibatkan suatu jenis konsensus, hal tersebut, tetap bisa kita anggap sebagai bukti ilmiah. Bahkan, konsensus adalah tanda kemajuan peradaban manusia.

4.3 Bukti Idea Akal

Karakter dari akal adalah kreatif. Akal tertarik untuk berpikir spekulatif memperluas konsep-konsep, bahkan, menciptakan konsep-konsep baru. Akal, dengan kemampuannya yang kreatif, mengembangkan beragam idea-idea orisinal. Ide-ide ini, barangkali, tidak pernah ada. Imajinasi kadang tidak mampu menggambarkan ide dari akal. Begitu juga, daya-faham, kadang tidak mampu memahami ide dari akal. Akal membebaskan pemikiran.

Akal mampu berpikir secara simbolis, perlambang. Ide-ide simbolis ini bisa menembus batas-batas konsep. Sehingga, bukti dari suatu ide tidak bisa dibatasi dengan konsep. Di sini, kita akan menunjukkan bukti dari ide melalui: contoh, ilustrasi, dan realisasi.

4.3.1 Bukti Contoh

“Kebun teh nan hijau adalah sumber kedamaian.”

Pernyataan di atas adalah idea, di mana, akal membaca kebun teh sebagai sumber kedamaian. Bagaimana cara membuktikannya? Kita bisa membuktikannya dengan contoh. Mari kita jalan-jalan santai di kebun teh. Kemudian, rasakan kedamaian dalam diri kita.

“Setiap kebaikan berbalas kebaikan.”

“Kebaikan” adalah idea. “Berbalas” juga idea. Maka kita bisa memberi bukti dengan contoh misal ketika suatu hari saya berbuat baik menolong anak yatim, 3 hari kemudian, saya mendapat kebaikan berupa mendapat rejeki dalam jumlah sangat besar.

Kita bisa saja mendefinisikan “kebaikan” dengan beragam konsep. Dengan cara ini, kita mengubah “idea” menjadi “konsep”. Sehingga, kita bisa membuktikan konsep tersebut dengan cara obyektif. Meski begitu, definisi “kebaikan” akan terbuka dengan definisi yang berbeda. Sebagai akibatnya, terbuka pembuktian yang berbeda pula.

4.3.2 Bukti Ilustrasi

Kadang-kadang idea benar-benar abstrak. Sehingga, tidak mudah bagi kita untuk memberi contoh. Maka, kita bisa memberi bukti berupa ilustrasi.

Saya punya idea “menjadikan seluruh seluruh siswa SD Indonesia jago matematika.”

Seperti apa ilustrasinya? Ketika kelas 1 SD, siswa belajar matematika dengan metode APIQ misal dengan game kartu milenium. Kemudian, siswa belajar perkalian cepat metode Bintang APIQ. Dengan demikian, siswa kelas 3 SD berhasil menjadi jago matematika.

Tentu saja, “jago matematika” adalah sebuah ide. Kita bisa mengubah ide “jago matematika” menjadi suatu konsep dengan definisi yang lebih terukur. Dengan cara ini, kita bisa memberi bukti konsep “jago matematika” dengan obyektif. Bagaimana pun bukti terhadap konsep beda dengan bukti terhadap idea.

“Setiap orang punya kehendak bebas.”

Seperti apa ilustrasinya? Ketika Anda akan makan, maka, bebas bagi Anda hendak makan atau tidak. Begitu juga ketika Anda membaca tulisan ini, maka, bebas bagi Anda hendak lanjut membaca atau tidak. Anda, dan setiap orang, punya kehendak bebas. Setiap orang bebas berkehendak.

Tetapi, idea sebaliknya bisa juga terjadi.

“Kehendak bebas adalah ilusi.”

Seperti apa ilustrasinya? Ketika Anda akan makan, kemudian, Anda benar-benar makan. Anda mengira bahwa itu kehendak bebas – dengan memilih makan. Sejatinya, itu ilusi. Anda memilih makan karena Anda sedang lapar. Kehendak Anda ditentukan oleh rasa lapar – tidak bebas. Jadi, kehendak bebas adalah ilusi belaka.

Kesimpulannya, kehendak bebas memang nyata atau ilusi?

Untuk bisa menarik kesimpulan seperti itu, kita perlu mengubah idea “kehendak bebas” menjadi konsep “kehendak bebas.” Kemudian, konsep ini bisa kita ukur dan kita tentukan kesimpulan akhirnya. Bagaimana pun, kesimpulan tersebut adalah tentang konsep “kehendak bebas” – bukan idea “kehendak bebas.”

Sikap apa yang perlu kita lakukan ketika menghadapi idea yang saling kontradiksi? Kita perlu bersikap dengan berpikiran-terbuka. Ijinkan idea itu berkembang apa adanya. Ijinkan idea itu membuka diri di depan akal Anda. Kemudian, akal Anda akan memberikan idea-idea lanjutan. Bisakah kehendak bebas benar-benar nyata dari suatu sudut pandang? Sementara, dari sudut pandang lain, adalah ilusi?

4.3.3 Bukti Realisasi

Pertimbangkan idea, “Berdoa menjadikan hidup lebih damai.”

Apa buktinya? Kita bisa membuktikannya dengan realisasi. Mari kita coba untuk berdoa. Kemudian, coba kita rasakan, hidup memang lebih damai. Jika hidup masih terasa hambar, belum merasa damai, maka tambahkan lebih banyak doa sampai terasa hidup lebih damai.

Catatan: Bukti idea beda dengan bukti konsep. Kita perlu cermat di sini. Tertukar menyikapi idea dengan konsep akan menyebabkan kebingungan. Konsep bisa dibuktikan secara empiris dan matematis. Bagaimana pun bukti ini tetap mempertimbangkan konsensus dan definisi – sehingga tidak universal. Sementara, idea bisa dibuktikan dengan beragam cara, dengan sikap berpikiran-terbuka terhadap kebenaran yang ada. Pilih dan dukung idea yang mengantarkan ke kondisi adil dan apik.

Bisakah segala realitas dibuatkan konsepnya sehingga bisa dibuktikan secara obyektif? Bisakah semua realitas dibuatkan ideanya sehingga kita bebas berpikir-terbuka? Kita, manusia, memang memiliki daya-faham yang bertugas memahami konsep. Dan, kita juga punya akal yang mendorong munculnya idea-idea. Tentu saja, kita juga punya daya imajinasi yang menjadi dasar semua itu.

4.4 Bukti Rasa

Daya-rasa memegang peran sangat penting dalam diri manusia. Beda dengan daya-daya yang lain, daya-rasa setiap orang, pasti berkembang sampai tahap kematangan tertentu. Untuk memahami konsep, daya-faham perlu belajar kemampuan khusus. Untuk menghasilkan idea-idea kreatif, akal perlu belajar kemampuan khusus. Sementara, untuk merasakan sesuatu, daya-rasa mampu merasakannya secara langsung – tanpa harus belajar dulu.

Kita sering menyebut pusat daya-rasa adalah hati secara metaforis. Sehingga benar adanya ungkapan, “Lihatlah dengan mata hati!” Atau, “Dengarkan baik-baik, suara hatimu!”

Perlu hati-hati karena daya-rasa yang berpusat di hati, sejatinya, tidak ada. Daya-rasa ini merupakan interaksi harmonis dari semua daya-daya lain terutama imajinasi, daya-faham, dan akal. Sehingga, daya-rasa mudah berbalik arah dari satu rasa ke bentuk rasa yang berbeda. Dalam bidang-bidang tertentu, daya-rasa bisa dilatih misal daya rasa terhadap sastra.

4.4.1 Bukti Konsensus

Bukti kebenaran daya-rasa, yang paling mudah, adalah dengan konsensus. “Udara di bandung terasa sejuk.” Untuk membuktikan “terasa sejuk” kita bisa melakukan survey ke beberapa orang di Bandung. Menanyakan apakah mereka merasa sejuk di Bandung, terutama di Lembang?

Barangkali, akan tercapai konsensus bahwa di Bandung memang sejuk – dari hasil survey itu. Ada kemungkinan juga bahwa tidak terjadi konsensus. Tidak ada masalah bila terjadi dissensus. Kita bisa maklum terhadap perbedaan itu.

4.4.2 Bukti Eksperimen

Dalam banyak hal, kita bisa melakukan eksperimen untuk mengumpulkan bukti daya-rasa. “Kopi racikan saya ini rasanya nikmat.” Bagaimana membuktikannya? Kita bisa melakukan eksperimen.

Kita meminta beberapa orang untuk mencicipi kopi racikan saya. Lalu kita minta pendapat mereka, apakah nikmat? Lagi, hasil eksperimen ini bisa mencapai konsensus dari banyak responden atau tidak tercapainya konsensus. Kita bisa memaklumi kondisi itu.

4.4.3 Bukti Sublim

Bukti daya-rasa sublim, indah, dan cantik berlaku universal. Beda dengan konsensus, sublim meski melibatkan peran penting subyek, hasil penilaiannya bersifat obyektif.

“Pemandangan gunung ini begitu indah.” Penilaian daya-rasa ini berlaku universal. Siapa saja yang memandang gunung itu maka akan merasakan keindahannya.

“Wajah Miss Universe itu cantik sekali.” “Deburan ombak laut bebas terasa agung, sublim.” Setiap orang yang memandang wajah Miss Universe akan merasakan kecantikannya. Setiap orang yang memandang deburan ombak akan merasakan keagungannya.

Catatan: Apa artinya bukti daya-rasa bila terjadi banyak hasil penilaian berbeda-beda? Bukti ini sangat berarti. Daya-rasa, memang, punya kemampuan toleran terhadap perbedaan hasil penilaian.

Apakah bisa dibuat konsep rasa sehingga bisa diukur secara obyektif? Kita bisa membuat konsep rasa sejuk, misalnya, adalah suhu di bawah 20 derajat celcius. Ketika kita mengukur suhu di Bandung, hasilnya di bawah 20 derajat, maka Bandung adalah sejuk. Bagaimana pun, yang diukur di bawah 20 derajat itu adalah konsep rasa sejuk. Bukan rasa sejuk itu sendiri.

Sampai di sini, kita mengenal bukti yang beragam oleh daya yang berbeda pada manusia. Pertama, konsep pemahaman bisa dibuktikan secara empiris matematis. Kedua, idea dari akal bisa dibuktikan dengan kreativitasnya menembus batas. Dan, ketiga, rasa dari dalam hati bisa dibuktikan dengan langsung mengalami.

5. Bukti Diri

Dari semua bukti, barangkali, kita bisa mengatakan bahwa bukti diri adalah yang paling utama. Bukan karena bukti diri merupakan bukti yang paling kuat, tetapi, karena semua bukti membutuhkan bukti diri dalam satu atau lain cara.

5.1 Bukti Obyektif Positivis

Pandangan positivisme meyakini adanya kebenaran obyektif yang terbebas dari subyek. Seperti sudah kita bahas bahwa konsep pemahaman bisa dibuktikan obyektif secara empiris matematis. Meski demikian, bukti obyektif ini tetap memerlukan peran diri kita sebagai manusia.

Mari kita perhatikan salah satu hukum Newton (1643 – 1727), yang terbukti obyektif,

“Benda yang yang begerak dengan kecepatan tetap akan bergerak dengan kecepatan tetap bila tidak ada gaya yang mengenainya.”

Mengapa hukum Newton terbukti benar? Karena saya, atau siapa pun yang mempelajari hukum Newton, menyepakati definisi benda, gerak, kecepatan, dan lain-lain. Dari konsensus tersebut berimplikasi hukum Newton benar secara obyektif.

Jika ada orang yang tidak sepakat dengan definisi “kecepatan,” misalnya, maka hukum Newton tidak bisa dibuktikan secara obyektif empiris. Bagaimana kita tahu suatu benda gerak dengan kecepatan tetap? Jika ruang ini tidak selurus yang dikira, misal melengkung karena massa, kecepatan yang dikira tetap itu sejatinya sudah berubah (arah vektornya). Dengan demikian, barangkali, tidak pernah ada kecepatan tetap?

Menurut saya, sebaiknya, kita menyepakati definisi-definisi Newton. Sehingga, kita berhasil membuktikan kebenaran hukum Newton dengan obyektif. Jika ada yang tidak sepakat, misal karena menganggap ruang melengkung akibat massa, maka bisa mengajukan revisi atau hukum alam yang baru. Einstein (1879 – 1955) berhasil melakukan revisi hukum Newton dengan teori Relativitas Umum, dengan asumsi bahwa ruang melengkung akibat massa.

Kita meyakini konsep sains tentang hukum alam adalah obyektif. Di saat yang sama, kita mengakui ada peran diri kita, sebagai manusia, untuk menerima sains benar secara obyektif.

5.2 Bukti Subyektif Eksistensialis

Para eksistensialis mengakui peran penting subyek dalam seluruh realitas. Tampaknya, mudah bagi kita untuk meyakinkan bahwa bukti subyektif eksistensialis didasarkan pada peran diri kita sebagai manusia.

Kita, manusia, terlempar pada situasi tertentu di dalam dunia sebagai fakta yang harus kita hadapi. Di saat yang sama, kita bebas untuk memaknai situasi yang ada. Bahkan, kita bebas untuk mengubah setiap situasi. Untuk kemudian, kita berada dalam situasi yang baru lagi. Kita bebas untuk memaknai atau mengubahnya lagi. Dan seterusnya. Begitulah eksistensi kita – dan alam raya.

Bagaimana kita tahu bahwa eksistensi kita memang seperti itu? Eksistensialis menjawab situasi seperti itu sudah hadir begitu saja. Tugas kita, sebagai manusia, adalah memaknai semua eksistensi yang ada dan (atau) mengubahnya menjadi lebih bermakna.

Lalu, mengapa kita harus percaya dengan pandangan para eksistensialis itu? Lagi-lagi, karena diri kita mau menyepakatinya. Jika kita tidak sepakat maka kita bisa mendebat mereka, terus-menerus dengan berbagai macam argumen tanpa henti. Di sisi lain, jika kita sepakat, maka kita bisa memahami berbagai macam konsep dan ide-ide eksistensialis.

Sampai di sini, kita menyadari bahwa bukti subyektif pun memerlukan diri kita sebagai landasan bukti. Bukti obyektif juga sama, memerlukan bukti diri sebagai landasan. Jika diri kita begitu penting, kemudian pertanyaan kritikalnya, siapakah diri kita? Apa buktinya diri kita ada? Bagaimana kita tahu diri kita seperti itu?

5.3 Bukti Cukup Diri

Kali ini, kita sampai kepada pertanyaan paling sulit untuk menjawabnya: apa bukti bahwa diri kita memang ada?

Bukti Cogito. Descartes (1596 – 1650) pernah meragukan segala sesuatu. Sampai pada suatu titik, Descartes, tidak bisa ragu lagi.

“Saya bisa meragukan segalanya. Tetapi, saya tidak bisa meragukan diri saya sendiri. Saya berpikir maka saya ada.”

Argumen ini, akhirnya, dikenal sebagai dalil cogito, “Cogito ergo sum.” Setelah Descartes berhasil membuktikan bahwa dirinya memang ada maka, selanjutnya, Descartes membuktikan eksistensi alam raya (dan Tuhan). Argumen cogito ini, termasuk, yang menjadi landasan perkembangan sains modern di antaranya oleh Newton.

Bukti Cinta. Realitas paling fundamental adalah manifestasi cinta dari Maha Cinta. Diri kita, sejatinya, juga manifestasi dari cinta. Mereka yang tidak punya cinta tersisih dari realitas. Mereka yang jatuh cinta, benar-benar eksis.

“Aku jatuh cinta maka aku ada. Bahkan, hanya cinta yang ada.”

Selama diri kita jatuh cinta maka di situlah kita ada. Cinta kepada wanita, wewangian, dan doa. Wanita adalah simbol cantiknya semesta. Wewangian adalah simbol daya tarik cinta yang penuh dinamika. Dan, doa adalah cinta tanpa batas.

“Apakah Anda sedang jatuh cinta?”

Bukti Tanpa Bukti. Kita memang harus menghadapinya. Kita harus memberikan bukti ketika tidak ada bukti sama sekali. Kita harus membuktikan diri kita sendiri, ketika, setiap bukti membutuhkan eksistensi diri kita. Bagaimana pun, itu adalah tugas kita, sebagai manusia.

Berpikir-terbuka adalah solusi bagi kita. Berpikir-terbuka mengijinkan segala sesuatu membuka diri, menunjukkan diri apa adanya. Berpikir-terbuka membuka diri terhadap segala. Berpikir-terbuka, termasuk, terbuka terhadap diri sendiri, terbuka terhadap Diri tanpa batas.

Berpikir-terbuka meski menggunakan istilah berpikir, bermakna, membuka segalanya. Berpikir-terbuka bermakna membuka daya-imajinasi, membuka daya-faham, membuka daya-akal, membuka daya-rasa, membuka daya-karsa, dan membuka daya-karya.

Berpikir-terbuka siap menerima cinta, siap memberi cinta. Berpikir-terbuka siap berjumpa dengan cinta Sang Maha Cinta.

Bagaimana menurut Anda?

Bukti Nyata Tuhan ADA

Membuktikan bahwa Tuhan ada adalah tugas paling mudah dan, di saat yang sama, paling sulit. Paling mudah karena bukti Tuhan sudah ada secara apriori, secara fitri, dalam setiap diri manusia. Sehingga, sejatinya, setiap manusia punya keyakinan akan eksistensi Tuhan. Kita, sebagai orang tua misalnya, cukup mengatakan bahwa Tuhan adalah pencipta alam semesta maka anak kita akan meyakininya.

Tidak Ada Bukti bahwa Tuhan Ada atau Tidak – danioyo

Pembuktian ini menjadi tugas yang paling sulit juga. Lantaran, semua bukti bukanlah murni bukti rasional. Sehingga, ketika seseorang menolak bukti tersebut secara rasional maka penolakan tersebut mempunyai argumen tersendiri. Sedangkan, bukti argumen rasional tetap bisa membuktikan bahwa Tuhan memang ada, bagi orang yang bersedia membuka akal dan hatinya.

1. Bukti Tuhan Ada
2. Bukti 1.0: Argumen Rasional 
3. Bukti 1.0A: Argumen Kosmologi
4. Bukti 1.0B: Argumen Ontologi 
5. Bukti 1.0C: Argumen Fisikologi 
6. Antinomi Eksistensi Tuhan
7. Bukti 2.0: Argumen Moral
8. Bukti 1.5: Argumen Moral-Sempurna
9. Bukti 1.5A: Argumen Cantik Sempurna
10. Bukti 1.5B: Argumen Sublim
11. Bukti 1.5C: Argumen Teleologis
12. Bukti 3.0: Argumen Spesial
13. Cara Melihat Tuhan

Berikut ini saya kutipkan tulisan saya tentang bukti bahwa Tuhan itu ada. Bukti-bukti ini meliputi argumen rasional, argumen moral, sampai argumen spesial. Bila kita pelajari dengan cermat dan secara utuh maka bukti-bukti ini bernilai sangat kuat.

1. Bukti Tuhan Ada

Kita bisa membuktikan eksistensi Tuhan secara meyakinkan dengan argumen moral. Terbukti dengan pasti tanpa keraguan. Sementara, pembuktian eksistensi Tuhan dengan argumen rasional menghasilkan bukti dan penolakan yang sama kuat. Di bagian ini, kita akan membuktikan eksistensi Tuhan dengan argumen moral yang meyakinkan. Bagaimana pun, kita akan memulainya dengan argumen rasional.

2. Bukti 1.0: Argumen Rasional membuktikan eksistensi Tuhan, bahwa Tuhan ada, secara rasional. Umumnya, bagi manusia yang mau berpikir maka, akan berhasil membuktikan secara rasional ini. Berikut ini beberapa argumen yang bisa digunakan secara rasional.

3. Bukti 1.0A: Argumen Kosmologi menyatakan bahwa setiap benda ada yang menciptakannya. Misal, sepatu pasti ada yang menciptakannya yaitu tukang sepatu. Begitu juga meja, ada yang menciptakannya yaitu pengrajin meja. Apalagi alam semesta, bumi, bulan, dan matahari pasti ada yang menciptakannya. Penciptanya adalah yang Maha Agung yaitu Tuhan.

4. Bukti 1.0B: Argumen Ontologi menyatakan realitas paling sempurna adalah Tuhan yang Maha Sempurna. Banyak variasi argumen ontologi yang berkembang sepanjang sejarah.

Argumen kebaikan dari Descartes (1596 – 1650) menyatakan bahwa di dunia ini ada kebaikan. Di antara kebaikan itu ada yang lebih baik. Dari yang lebih baik itu, ada yang lebih baik lagi, dan seterusnya, kita sampai kepada yang paling baik yaitu Tuhan yang Maha Baik. Jadi, terbukti bahwa Tuhan ada sebagai yang Maha Baik.

Argumen wujud dari Sadra ( 1571 – 1636) menyatakan bahwa Tuhan adalah wujud paling sempurna.

1) Ada wujud.
2) Wujud adalah sempurna, tidak ada yang lebih dari wujud.
3) Realitas adalah kesempurnaan wujud.
4) Wujud adalah tunggal dan sederhana.
5) Realitas tunggal itu bergradasi dalam intensitas kesempurnaan.
6) Intensitas kesempurnaan wujud mencapai kesempurnaan tertinggi.
7) Tuhan adalah kesempurnaan wujud tertinggi, Ada Maha Sempurna.

Argumen wujud ini berhasil membuktikan Tuhan Ada, Sempurna, dan Tunggal. Sementara, keragaman di alam raya adalah keragaman intensitas kesempurnaan wujud.

Argumen kemungkinan dari Ibnu Sina (980 – 1037) menyatakan bahwa alam semesta ini adalah wujud-mungkin sedangkan Tuhan adalah wujud-pasti. Meja, misalnya, adalah wujud-mungkin. Maksudnya, meja mungkin saja ada tapi mungkin juga tidak ada. Agar meja, benar-benar, menjadi ada maka perlu penyebab menjadi ada. Yaitu tukang kayu yang menciptakan meja itu. Tanpa tukang kayu, meja selamanya hanya menjadi mungkin belaka.

Selanjutnya, tukang kayu itu sendiri adalah wujud-mungkin juga. Sehingga tukang kayu itu juga perlu penyebab agar dirinya menjadi ada. Dan seterusnya, setiap penyebab adalah wujud-mungkin yang memerlukan penyebab lain untuk ada. Seluruh barisan wujud-mungkin ini akan selamanya menjadi kemungkinan tanpa kepastian bila tidak ada yang memastikan. Tetapi, saat ini, kita benar-benar tahu bahwa ada meja, ada alam semesta. Maka di antara wujud-mungkin itu pasti ada wujud-pasti yang menyebabkan, memastikan, semua menjadi ada. Wujud-pasti itu adalah Tuhan yang Maha Pasti. Jadi, Tuhan pasti ada.

Argumen imkanu ashraf (IA) dari Suhrawardi (1154 – 1191). IA atau most-noble-contingency menyatakan bahwa jika sesuatu dengan kemungkinan rendah eksis maka sesuatu dengan kemungkinan lebih tinggi pasti sudah eksis.

Kita bisa menggunakan ilustrasi untuk menjelaskan maksud IA. Misal intensitas sinar matahari di permukaan bumi adalah 5 derajat pada siang itu. Maka, di angkasa, pasti eksis sinar matahari dengan intensitas lebih kuat dari 5 derajat misal 7 derajat. Dan di dekat permukaan matahari, eksis sinar matahari dengan intensitas lebih kuat dari 7 derajat misal 99 derajat.

Kesimpulan sebaliknya tidak pasti terpenuhi. Maksudnya, ketika di dekat permukaan matahari eksis sinar intensitas 99 derajat, maka, belum pasti di permukaan bumi eksis sinar intensitas 5 derajat. Karena bisa jadi sinar terhalang oleh bulan pada peristiwa gerhana matahari. IA menyatakan: jika posibilitas rendah (5 derajat) eksis maka posibilitas lebih tinggi (99 derajat) pasti sudah eksis.

1) Realitas alam raya adalah mungkin. Anggap posibilitas 50%.
2) Karena alam raya eksis maka realitas dengan posibilitas lebih tinggi juga pasti eksis. Misal posibilitas 60%.
3) Posibilitas yang lebih tinggi lagi juga eksis sampai mencapai yang tertinggi yaitu IA, imkanu ashraf, most-noble-contigency.
4) IA adalah niscaya sempurna yaitu Tuhan Maha Sempurna.
5) Terbukti Tuhan Maha Sempurna Ada.

5. Bukti 1.0C: Argumen Fisikologi menyatakan bahwa mesin-mesin fisik mengerjakan tugas-tugas tertentu sesuai tujuan rancangan desainernya. Jam dinding, misalnya, bergerak memutar jarum jamnya dengan tujuan untuk menunjukkan waktu. Maka jam dinding ini punya tujuan, dan menunjukkan adanya desainer. Hewan punya tujuan untuk mencari makan, manusia punya tujuan untuk bekerja, virus covid punya tujuan untuk reproduksi, itu semunya menunjukkan adanya desainer. Desainer, perancang, alam semesta adalah Tuhan yang Maha Cerdas.

Barangkali, di era digital ini, kita bisa mempertimbangkan media sosial. Media sosial menjalankan tugas-tugas tertentu, berbagi gambar, berbagai status, komunikasi pesan, dan lain-lain. Media sosial punya tujuan sesuai desainernya. Jadi, media sosial pasti ada desainernya. Demikian juga, alam raya pasti ada desainernya yaitu Tuhan yang Maha Hebat.

Kita masih bisa menambahkan lebih banyak argumen rasional yang membuktikan bahwa Tuhan memang ada. Sampai di sini, kita bisa menanyakan seberapa efektifkah bukti rasional itu? Sangat efektif.

Khususnya, argumen kosmologi sangat efektif membuktikan bahwa Tuhan memang ada, kepada seluruh lapisan masyarakat. Segala sesuatu ada penciptanya dan pencipta alam semesta adalah Tuhan. Sementara, argumen rasional lainnya menambah keyakinan bagi mereka yang berminat.

Saya mengestimasi hasil argumen rasional ini, mendorong 70 orang atau lebih, yakin bahwa Tuhan memang ada, dari 100 orang yang diamati. Awalnya, asumsikan 50 orang agak yakin bahwa Tuhan ada. Sementara, 50 orang lainnya agak ragu.

Argumen rasional berhasil menambah orang yang lebih yakin bahwa Tuhan memang ada. Estimasi saya,

Yakin = 70 orang
Ragu = 20 orang
Menolak = 10 orang

Kita bisa mengatakan efektifitas argumen rasional adalah 70 orang dari 100 orang.

6. Antinomi Eksistensi Tuhan

Mengapa argumen rasional tidak bisa mencapai 100 orang seluruhnya menjadi yakin eksistensi Tuhan? Immanuel Kant menjawab karena adanya antinomi, atau paradox. Tesis bahwa “Tuhan Ada” tidak bisa dibuktikan langsung secara rasional. Sementara, antitesis bahwa “Tuhan tidak ada” juga tidak bisa dibuktikan langsung secara rasional. Tesis dan antitesis tetap bertentangan tanpa solusi, itulah antinomi.

Antinomi bisa kita selesaikan dengan sintesa-dialektika, pada umumnya. Solusi bisa berupa sintesa aposteriori atau sintesa apriori.

Tesis: matahari terbit pukul 06.00
Antitesis: matahari tidak terbit pukul 06.00

Untuk menyelesaikan paradox di atas, kita bisa melakukan pengamatan pada pukul 06.00 apakah matahari terbit? Jika terbit maka tesis diterima. Jika tidak terbit maka antitesis yang diterima. Sintesa ini kita peroleh setelah ada pengamatan fisik – maka disebut sintesa aposteriori.

Tesis: 1 + 12 = 13
Antitesis: 1 + 12 tidak 13

Paradox di atas dapat kita selesaikan dengan sintesa apriori, tanpa pengamatan. Kita hanya perlu menganalisis tesis dan antitesis dengan lebih teliti. Tesis “1 + 12 = 13” adalah benar bila yang dimaksud adalah penjumlahan bilangan seperti biasa, bilangan real. Tetapi, antitesis “1 + 12 tidak 13” adalah benar jika yang dimaksud adalah operasi bilangan pada jam dinding yang angka paling besar hanya 12 saja.

Kembali kepada tesis “Tuhan Ada,” kita tidak bisa membuat sintesa aposteriori. Karena Tuhan lebih besar dari semua hasil pengamatan. Atau, semua hasil pengamatan pasti bukan Tuhan. Sementara, sintesa apriori juga gagal. Karena kita tidak bisa membatasi definisi Tuhan. Setiap pembatasan, hasilnya, pasti bukan Tuhan. Sehingga, hasil akhir tetap ada antinomi.

Meski ada antinomi, argumen-argumen rasional di atas, menurut estimasi saya, berhasil menguatkan tesis bahwa “Tuhan Ada” mencapai 70 orang dari 100 orang yang diamati – hipotetis. Selanjutnya, kita akan mengembangkan argumen moral untuk meningkatkan efektifitas lebih dari 70.

7. Bukti 2.0: Argumen Moral membuktikan bahwa secara moral Tuhan pasti ada. Argumen moral berbeda dengan argumen rasional yang lebih logis. Argumen moral akan kita uraikan dalam bentuk deskripsi. Penilaian, kita dasarkan pada penilaian estetika yang mengandalkan kekuatan rasa.

Secara moral, kita yakin bahwa manusia bertanggung jawab atas semua pilihan bebasnya. Orang yang menanam jagung berhak memanen jagung. Orang yang mencuri uang harus menanggung resiko dihukum. Orang yang beramal kebaikan berhak mendapat balasan kebaikan. Begitu juga, orang jahat bertanggung jawab atas resikonya.

Kenyataannya, dunia bisa seakan-akan terbalik. Koruptor, para pencuri uang rakyat, hidup mewah dengan pesta pora gemerlap dunia. Sementara, orang-orang baik yang rajin bekerja tetap hidup miskin tersisih di kampung kumuh. Mengapa bisa begitu?

Karena semua yang kita amati adalah dunia fenomena, dunia penampakan. Sementara, dunia noumena, dunia sejati tetap tersembunyi dari pandangan orang biasa. Koruptor yang hidup mewah gemerlap, di dunia penampakan, sejatinya mereka terpuruk sengsara di dunia noumena. Sementara, orang-orang baik yang hidup sederhana di kampung, sejatinya, sedang menjalani hidup bahagia sempurna di dunia noumena.

Hukum moral berjalan dengan pasti di dunia noumena, kebaikan dibalas dengan kebaikan, begitu pula sebaliknya. Sementara, di dunia fenomena, hukum moral tampak ada pembelokan di sana-sini. Pembelokan itu sekedar penampakan, tidak lebih. Sejatinya, semua berjalan dengan hukum moral yang sempurna. Tuhan yang Maha Baik menjamin berjalannya hukum moral dengan konsisten di dunia noumena. Sementara, pembelokan moral di dunia fenomena adalah batu ujian bagi orang-orang bermoral. Mereka yang bermoral justru makin kuat nilai moralnya dengan adanya ujian-ujian.

Hukum moral berjalan dengan tepat bukan karena usaha manusia yang bermoral. Manusia hanya bisa memilih untuk memilih jalan bermoral. Sementara, Tuhan yang Maha Kuasa yang menjamin hukum moral tegak berjalan. Kebaikan dibalas oleh kebaikan bukan karena perilaku manusia yang berbuat baik. Balasan kebaikan terjadi hanya karena Tuhan yang Maha Baik memberi kebaikan bahkan dengan yang lebih baik.

Semua perilaku orang-orang bermoral tidak akan mampu mengubah sesuatu menjadi lebih baik di dunia noumena. Tetapi, sesuatu menjadi lebih baik, di dunia noumena, karena Tuhan menghendaki menjadikannya lebih baik, untuk kemudian, melimpahkan kebaikan itu kepada orang-orang yang bermoral, orang-orang pilihan Tuhan.

Sampai di sini, secara moral, kita berhasil meyakinkan bahwa manusia mempunyai pilihan bebas sehingga bertanggung jawab sesuai hukum moral sejati. Dan, kita juga meyakini hadirnya Tuhan yang Maha Baik yang menjamin hukum moral berjalan dengan tepat.

Masih ada sedikit pertanyaan moral: bila koruptor, pencuri uang rakyat, bisa hidup mewah di dunia ini, bukankah itu pilihan yang menarik? Sementara, di dunia ini, orang-orang baik justru hidup sederhana dengan menjalani banyak ujian.

Jawaban pertanyaan moral itu mengantar kita kepada kehidupan di alam-setelah-dunia ini. Kehidupan seorang anak manusia tidak berakhir dengan kematiannya. Memang benar, dengan mati maka, berakhir kehidupan di dunia fenomena ini. Kematian justru mengantarkan kita ke alam-setelah-dunia, lebih terbuka ke alam noumena. Orang jahat, di alam-setelah-dunia, akan memperoleh balasan setimpal, misal koruptor pencuri uang rakyat. Begitu juga orang baik memperoleh balasan kebaikan yang berlimpah.

Namun perlu diingat bahwa di saat ini pun, para koruptor sedang menjalani kehidupan sengsara di dunia noumena meskipun tampak mewah di dunia penampakan. Sementara, orang-orang bermoral, saat ini, sedang menjalani hidup bahagia di dunia noumena apa pun yang terjadi di dunia penampakan.

Argumen moral, sampai di sini, mengantarkan kita kepada keyakinan yang mantap tentang tanggung jawab moral setiap anak manusia, Maha Baiknya Tuhan, dan kehidupan di alam-setelah-dunia.

Berapa efektivitas argumen moral? Sangat efektif. Saya kira banyak orang meyakini eksistensi Tuhan dengan sentuhan aspek moral. Bila digabungkan dengan argumen rasional, total dengan argumen moral, estimasi saya mendekati 90 orang dari 100.

Yakin: 90 orang
Ragu: 5 orang
Menolak: 5 orang

Selanjutnya, kita akan membahas argumen moral-sempurna untuk meningkatkan efektivitas di atas 90. Meski kita membahas argumen moral-sempurna pada urutan terakhir, sejatinya, argumen ini menyempurnakan dengan cara menghubungkan bukti 1.0: argumen rasional dengan bukti 2.0: argumen moral. Karena itu, saya menyebutnya sebagai bukti 1.5: argumen moral-sempurna.

8. Bukti 1.5: Argumen Moral-Sempurna membuktikan bahwa dengan seluruh kapasitas yang dimiliki manusia, yang bisa dikomunikasikan, meyakini bahwa Tuhan ada. Pembuktian ini, seperti argumen moral pada umumnya, mendasarkan penilaian pada rasa, penilaian estetik.

9. Bukti 1.5A: Argumen Cantik Sempurna menunjukkan bahwa penilaian cantik adalah sempurna dalam dirinya sendiri. Maksudnya, ketika kita menilai sesuatu sebagai cantik maka cantik itu sudah sempurna apa adanya. Alam pegunungan ini begitu cantik, begitu indah. Alam pegunungan itu indah dengan dirinya sendiri. Kita tidak perlu alasan tambahan untuk menilai alam sebagai cantik. Kita tidak perlu survey untuk menguatkan bahwa alam pegunungan itu cantik. Dan, klaim cantik berlaku universal. Siapa pun orangnya, yang melihat alam pegunungan ini maka, akan menilainya sebagai cantik.

Di sisi kita, sebagai subyek, menemukan banyak hal yang bersifat cantik: alam pegunungan, gadis, sawah menghijau, dan lain-lain. Di antara obyek cantik, yang sempurna dalam diri mereka itu, ada yang lebih cantik. Dari yang lebih cantik masih ada yang lebih cantik lagi. Seterusnya sampai yang paling cantik, yang paling sempurna. Dia adalah Tuhan yang Maha Sempurna, Sang Maha Cantik.

10. Bukti 1.5B: Argumen Sublim menyatakan bahwa manusia memiliki kemampuan menilai pengalaman sublim. Letusan gunung berapi, gempa bumi dahsyat, dan gelombang tsunami adalah beberapa contoh fenomena alam yang mengantar kepada pengalaman sublim. Gelombang tsunami itu begitu besar, lebih besar dari seluruh kemampuan kita untuk menyelamatkan diri. Badan kita bisa habis disapu gelombang tsunami. Tapi, di saat yang sama, kita sadar bahwa jiwa kita lebih besar dari gelombang tsunami itu. Pengalaman sublim terbentuk ketika kita merasa lemah, dari sisi badan dan bahkan imajinasi, tapi di sisi jiwa, kita merasa lebih besar. Jiwa kita lebih besar dari gelombang tsunami. Akal kita bisa memahami ada yang lebih besar dari gelombang tsunami. Bahkan ada yang maha besar yaitu Tuhan Maha Agung.

Perasaan sublim ada pada jiwa kita bukan berada pada obyeknya, bukan pada gelombang tsunaminya. Jiwa kita, jiwa manusia, lebih besar dari fenomena alam raya. Klaim sublim ini juga berlaku universal. Setiap orang yang berjiwa akan mampu mengalami peristiwa sublim, mereka menyadari ada jiwa yang lebih besar dari fenomena alam. Dari jiwa yang besar itu masih ada yang lebih besar lagi. Dia adalah Tuhan yang Maha Besar, Tuhan yang Maha Agung.

11. Bukti 1.5C: Argumen Teleologis menyatakan bahwa alam raya mempunyai tujuan akhir. Apa tujuan akhir dari alam semesta? Tujuannya, misalnya, adalah kemajuan ekonomi terbaik. Tetapi kita, sebagai manusia, bisa memikirkan bahwa masih ada yang lebih baik dari kemajuan ekonomi terbaik itu. Kemajuan ekonomi bisa berubah sewaktu-waktu. Sehingga, kemajuan ekonomi tidak bisa menjadi tujuan akhir dari alam semesta.

Apa pun kondisi terbaik dari alam semesta, sewaktu-waktu, masih bisa berubah menjadi lebih baik lagi. Maka kondisi alam semesta tidak bisa menjadi tujuan akhir. Dunia ini selalu berputar.

Tujuan akhir alam semesta adalah hadirnya manusia-manusia bermoral. Apa tujuan dari manusia bermoral? Tujuannya adalah menjadi manusia bermoral itu sendiri. Jadi, manusia bermoral adalah tujuan akhir dari alam semesta.

Mengapa manusia bermoral bisa menjadi tujuan akhir? Sedangkan alam semesta tidak bisa. Karena, manusia hanya bisa menjadi bermoral, akibat dari pilihan bebas manusia tersebut. Manusia bisa memilih jadi jahat tetapi mereka memilih menjadi manusia bermoral. Mereka, manusia bermoral, adalah tujuan akhir dan tujuan tertinggi dari alam semesta ini.

Kita bisa menerima bahwa manusia bermoral adalah tujuan akhir alam raya. Sementara, bila kita lihat alam nyata, banyak orang bermoral hidupnya justru tidak kaya raya. Sedangkan, mereka yang jahat, misal perampok uang rakyat, justru hidup mewah dengan pesta pora. Bagaimana bisa ada fenomena begitu?

Dunia fenomena adalah dunia penampakan belaka, bukan alam yang sebenarnya. Alam sejati adalah dunia noumena yang tersembunyi dari penampakan orang biasa. Di alam noumena, saat ini dan nanti, orang-orang bermoral hidup bahagia. Sedangkan penjahat hidup sengsara. Tuhan yang Maha Baik menjamin itu semua. Orang-orang bermoral mendapat anugerah berlimpah dari Tuhan yang Maha Sempurna.

Perlu dicatat bahwa orang-orang bermoral memperoleh kebaikan di dunia noumena bukan karena usaha mereka yang berbuat baik dan bermoral itu. Usaha mereka tidak akan mampu mengubah sesuatu di dunia noumena menjadi lebih baik. Mereka memperoleh kebaikan yang berlimpah karena Tuhan berkehendak melimpahkan kebaikan itu kepada orang-orang bermoral. Mereka mencapai “Kebaikan Tertinggi Sejati” bukan karena usaha mereka. Tetapi karena Tuhan menganugerahkan itu kepada mereka.

Tuhan Maha Baik. Tuhan Maha Kuasa. Tuhan Maha Sempurna.

Berapa efektivitas argumen moral-sempurna kali ini? Saya mengestimasi lebih dari 99. Tentu saja dengan menggabungkan argumen rasional bahwa segala sesuatu ada yang menciptakan maka Tuhan adalah pencipta alam semesta, ditambah dengan argumen moral bahwa Tuhan adalah yang menjamin orang bermoral berlimpah anugerah, dan argumen moral-sempurna bahwa Tuhan yang mengantarkan manusia bermoral meraih “Kebaikan Tertinggi Sejati.”

12. Bukti 3.0: Argumen Spesial menyatakan bahwa Tuhan hadir pada momen-momen spesial. Efektivitas argumen spesial bisa mencapai 100. Hanya saja, sesuai namanya, argumen spesial hanya berlaku spesial, partikular. Argumen spesial tidak meng-klaim berlaku universal. Masing-masing orang punya momen yang unik. Sementara, orang lain juga tidak berhak menolak argumen spesial. Argumen spesial valid secara partikular.

Covid-19 adalah bukti spesial hadirnya Tuhan. Seorang dokter muda, usia sekitar 30an, merawat banyak pasien. Ketika pandemi covid merebak, makin banyak pasien yang perlu perawatan. Covid bisa kita cegah dengan lebih sering cuci tangan. Dokter muda itu, awalnya, cuek saja masalah agama dan Tuhan. Dia sering melihat teman-temannya, di kantor, melakukan wudu dengan cuci tangan, wajah, dan kaki setiap pagi, siang, dan sore.

Bertahun-tahun, pemandangan teman-temannya berwudu dianggapnya biasa saja. Ketika pandemi, dokter muda melihatnya secara spesial. Orang sering wudu artinya adalah mereka sering cuci tangan. Sehingga, mereka terjaga dari pandemi covid. Dokter muda itu berpikir, “Ajaran wudu itu pasti ajaran dari Tuhan yang Maha Tahu.” Dokter muda itu menjadi yakin Tuhan telah hadir untuknya, kemudian dia memeluk agama Islam dan rajin beribadah sesuai ajaran agama. Bagi dokter muda itu, pandemi adalah momen special. Bukti spesial, argumen spesial bahwa Tuhan memang ada bahkan hadir untuknya.

Bagi orang lain, menyaksikan teman-teman berwudu adalah hal biasa-biasa saja. Bagi dokter muda itu, orang berwudu adalah momen spesial hadirnya Tuhan.

Mimpi adalah bukti spesial hadirnya Tuhan. Seorang suami yang menikahi istrinya lebih dari 20 tahun, sampai sekarang, belum punya anak. Suatu malam, suami itu bermimpi bertemu seorang kakek berbaju putih yang menyuruhnya memberi sedekah ke 7 anak yatim. Suami itu belum bertanya mengapa tetapi kakek menjelaskan bahwa dia akan mendapat anugerah seorang anak.

Terjaga dari mimpinya, suami itu dengan cepat mencari beberapa anak yatim. Kemudian dia memberi sedekah ke anak yatim sampai lengkap 7 orang. Barangkali karena gembiranya, dia menambah sedekah ke 7 anak yatim lainnya lagi. Beberapa hari kemudian, dia mengulangi sedekah ke 7 anak yatim lagi, berulang-ulang.

Dengan menemui sejumlah anak yatim, suami itu merasa bahagia. Dia bahkan merasa seperti sudah punya anak. Bahkan punya anak yang jumlahnya sangat banyak. Apakah dia masih membutuhkan hadirnya anak kandung? Bukankah semua anak adalah anak kita, yang perlu kita cintai?

Tiga bulan setelah kejadian itu, benar saja, istrinya positif hamil. Dan pada waktunya, melahirkan dengan selamat. Lengkap sudah kebahagian mereka. Bagi suami itu, mimpinya bertemu kakek berbaju putih adalah bukti hadirnya Tuhan. Suami itu makin yakin dengan hadirnya Tuhan dalam hidupnya.

Kucing hitam adalah bukti spesial hadirnya Tuhan. Saya sering melihat kucing hitam betina yang melintas di depan rumah saya. Kucing kampung hitam itu, liar tanpa pemilik, punya 3 anak yang masih diasuhnya. Wajar, sebagai induk, kucing hitam itu menyusui anak-anaknya penuh cinta. Mereka, kucing hitam dan anak-anaknya, tinggal 200 meter di sebelah selatan rumah saya. Sementara, ada tempat sampah besar di sebelah utara rumah saya berjarak sekitar 100 meter.

Ketika lapar, kucing hitam itu akan pergi ke tempat sampah mengais-ais sisa tulang atau makanan. Setelah cukup kenyang dari tulang sisa makanan, kucing hitam itu kembali melintas di depan rumah saya menuju sarangnya untuk menyusui anak-anaknya. Saya kagum melihat kucing hitam itu mengasuh anaknya penuh cinta.

Setelah beberapa hari, badan anak-anak kucing itu makin besar. Kebutuhan energi mereka, tampaknya, tidak cukup hanya dari susu induknya. Perlu tambahan sumber energi lainnya.

Kucing hitam, sang induk, seperti biasa melintas di depan rumah saya menuju tempat sampah. Dia tampak lapar. Di tempat sampah, dia menemukan tulang sisa makanan orang, yang cukup besar. Dia memakannya hanya sedikit bagian, meski dia lapar. Kemudian dia menggigit tulang besar itu, membawanya berjalan, melintasi depan rumah saya, dengan mulut yang tetap menggigit tulang sisa makanan. Sampai di sarang, induk kucing itu memberikan tulang ke anak-anaknya. Dengan gembira, anak-anak kucing itu memakan tulang yang dibawakan induknya. Kucing hitam memandangi anak-anaknya dengan penuh kasih sayang.

Saya makin kagum dengan perilaku kucing hitam itu. Dengan kasih sayang, dia menyusui anaknya. Dengan kasih sayang, dia memberi makanan anaknya. Bagi saya, kucing hitam itu adalah bukti Tuhan hadir di depan kita. Tuhan yang Maha Pengasih, Tuhan yang Maha Penyayang, selalu hadir bersama kita.

Orang suci melihat Tuhan dengan mata hati adalah bukti. Orang-orang suci selalu menjaga diri agar bisa berbuat baik dan menghindari kejahatan. Orang yang disiplin, terlatih, untuk konsisten menjaga hati agar bersih, dia melihat Tuhan dengan mata hatinya. Mata hati yang suci adalah bukti yang lebih jelas dari segala penjelas.

Orang ini menatap alam raya dengan hati, menebarkan kebaikan bagi seluruh alam raya. Mencegah kemunduran dari segala yang ada. Di mana dia berada, hanya ada cahaya cinta yang terpancar darinya. Dia berdialog dengan Tuhan dalam sepinya malam. Dia berdialog dengan Tuhan dalam hiruk-pikuk kesibukan. Tuhan adalah segalanya. Kemana saja, kapan saja, ada Tuhan.

13. Cara Melihat Tuhan

Seorang anak kampung mengeluh kepada gurunya,”Mohon maaf guru. Selama ini, guru sudah mengajari kami banyak hal untuk berbuat baik, bermoral, dan berakhlak. Kiranya, guru berkenan mengajari kami cara melihat Tuhan?”

Guru menjawab, “Anakku, apa kamu memiliki saringan?”
“Saya punya saringan, guru.”
“Tolong bawa saringan itu ke mari.”

Murid itu pulang lalu datang lagi dengan membawa saringan.

“Ini saringan saya, guru.”
“Tolong isi penuh saringan itu dengan air,” perintah gurunya.

Murid itu menuruti perintah guru untuk mengisi saringan dengan air. Tentu saja, air bocor dari saringan. Murid itu, lebih banyak, menumpahkan air ke saringan lagi. Hasilnya, saringan tetap tidak terisi penuh dengan air.

“Mohon maaf guru, saya tidak bisa mengisi penuh saringan ini dengan air.”
“Ikuti aku, anakku,” kata guru.

Guru mengambil saringan dari murid, lalu, berjalan menuju sungai. Murid mengikuti guru di belakangya. Tiba di tepi sungai, guru melemparkan saringan ke tengah sungai.

“Perhatikan, saringan itu sekarang terisi penuh dengan air.”

“Kamu tidak bisa melihat Tuhan dengan cara menjauhiNya. Kamu hanya bisa melihat Tuhan dengan cara berani menceburkan diri dalam Maha Baiknya Tuhan.”

Sang murid mencoba memahami maknanya.

Di bagian ini, saya akan membahas cara melihat Tuhan. Kabar baiknya, semua orang bisa melihat Tuhan. Tetapi, tidak semua orang akan berhasil. Karena ada harga yang harus dibayar: berani menceburkan diri dalam Maha Baiknya Tuhan.

(a) Belajar, Bekerja, dan Jatuh Cinta

Belajar adalah kegiatan paling penting bagi manusia untuk mampu mengenali Tuhan. Belajar matematika dan bahasa adalah utama. Lebih utama lagi, belajar untuk selalu berpikir terbuka. Membuka pikiran dan hati untuk menerima kebenaran.

Bekerja adalah memberi kebaikan. Awalnya, bekerja bisa saja tidak dibayar. Selanjutnya, bekerja memang perlu mempertimbangkan bayaran, yaitu, saling memberi dan menerima kebaikan. Lebih dari itu, bekerja adalah tanggung jawab diri kita untuk hidup mandiri dan membantu orang terdekat. Kesulitan dan tantangan kerja menguatkan kita untuk mengenali anugerah Tuhan.

Jatuh cinta menjadikan diri Anda penuh warna, penuh bahagia, dan penuh makna. Jatuh cinta kepada pasangan, suami atau istri, memudahkan Anda mengenal anugerah Tuhan. Jatuh cinta secara umum sama baiknya. Anda bisa mencintai anak, orang tua, saudara, tetangga, dan seluruh alam raya.

Komitmen Anda yang kuat untuk belajar, bekerja, dan jatuh cinta akan membuka mata dan hati Anda untuk melihat Tuhan.

(b) Karya

Awalnya, Anda cukup dengan kerja. Selanjutnya, kerja Anda perlu meningkat menjadi karya. Karya adalah kerja unik menabur kebaikan sesuai situasi paling tepat. Untuk menghasilkan karya, Anda perlu meningkatkan ilmu melalui belajar. Anda perlu sepenuh hati mencurahkan cinta dalam hasil karya. Anda mengenali Tuhan ada di sana dan di dalam dada.

(c) Maha Karya

Karya Anda bukan biasa-biasa saja. Karya Anda melejit menjadi sebuah maha karya. Ada banyak rintangan untuk mempersembahkan maha karya. Tuhan selalu ada di sisi Anda dalam proses mempersembahkan maha karya. Apa maha karya Anda?

(d) Maha Cinta

Cinta, awalnya, menggoda. Akhirnya, makin mempesona. Anda boleh jatuh cinta, bahkan, lanjutkan kepada Maha Cinta. Untuk lebih menghayati Maha Cinta, Anda bisa belajar dari maha karya terdahulu. Anda bisa membaca maha karya dari Ibnu Arabi, Rumi, Iqbal, Sunan Kalijaga, Khalil Gibran, Goethe, dan lain-lain. Tuhan adalah Maha Cinta Sejati.

(e) Serasi

Akhirnya, Anda tidak pernah berakhir menuju tujuan akhir sebagai manusia yang sempurna dalam serasi antara maha karya dan Maha Cinta. Anda sedang menghadapkan wajah kepada Tuhan semesta.